P. 1
Sejarah Multimedia

Sejarah Multimedia

|Views: 396|Likes:
Published by Eka Juliantara
Sejarah Multimedia
Sejarah Multimedia

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: Eka Juliantara on May 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

SEJARAH MULTIMEDIA

By : Eka Juliantara 

Istilah multimedia berawal dari teater, bukan computer. Pertunjukan yang memanfaatkan lebih dari satu medium seringkali disebut pertunjukan multimedia.

Sistem multimedia dimulai pada akhir 1980-an dengan diperkenalkannya Hypercard oleh Apple pada tahun 1987 dan pengumuman oleh IBM pada tahun 1989 mengenai perangkat lunak audio visual connection(AVC) dan video adhapter card ps/2

 

Pada tahun 1994 diperkerkirakan ada lebih dari 700 produk dan sistem multimedia dipasaran. Multimedia memungkinkan pemakai komputer untuk mendapatkan output dalam bentuk yang jauh lebih kaya dari pada media table dan grafik konvensional. pemakai dapat melihat gambar tiga dimensi, foto, video bergerak atau animasi dan mendengar suara stereo, perekaman suara atau alat musik.

Beberapa sistem multimedia bersifat interaktif, memungkinkan pemakai memilih output dengan mouse atau kemampuan layar sentuh untuk mendapatkan dan menjalankan aplikasi itu.

Pengertian multimedia  Multi-banyak, Media-sarana berkomunikasi untuk melewatkan informasi.  Suatu sistem yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak dan alat – alat lain seperti televisi, monitor video dan sistem piringan optik atau sistem stereo yang dimaksudkan untuk menghasilkan penyajian audio visual yang utuh.

Beberapa pakar mengartikan multimedia sebagai berikut :

1. Multimedia secara umum merupakan kombinasi 3 element yaitu suara,gambar dan teks (Mc Cormick,1996) 2. Multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit 2 media input atau output dari data,media ini dapat audio (suara, musik), animasi, video, teks, grafik, dan gambar (Turban dkk, 2002) 3. Multimedia merupakan alat yang dapat menciptakan prestasi yang dinamis dan intraktif yang mengkombinasikan teks grafik, animasi, audio dan gambar video (Robin dan Linda, 2001) 4. Multimedia adalah pemanfaatan computer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berintraksi, berkreasi dan berkomunikasi (Hofstetter, 2001) “ Multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi) dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi, dan berkomunikasi “

Kelebihan Multimedia

Dari berbagai media informasi, multimedia memilki suatu kelebihan tersendiri yang tidak dapat digantikan oleh penyajian media informasi lainya.

Kelebihan dari multimedia adalah menarik indra dan menarik minat, karena merupakan gabungan antara pandangan,suara dan gerakan.

Lembaga riset dan penerbitan komputer yaitu Computer Technology Research (CTR) menyatakan bahwa orang hanya mampu mengingat 20 % dari yang dilihat dan 30 % dari yang didengar. Tetapi orang mengingat 50 % dari yang dilihat dan didengar dan 80 % dari yang dilihat, didengar dan dilakukan sekaligus.

Komponen Multimedia

Menurut James A. Senn, multimedia terbagi dalam beberapa element-element multimedia, seperti yang rerlihat dalam gambar dibawah ini :
Text

Audio Multimedia

Image

Video

Animation

a. Teks Bentuk data multimedia yang paling mudah disimpan dan dikendalikan adalah teks. Teks dapat membentuk kata, surat atau narasi dalam multimedia yang menyajikan bahasa. Kebutuhan teks bergantung kepada penggunaan aplikasi multimedia. b. Image (grafik) Alasan untuk menggunakan gambar dalam presentasi atau publikasi multimedia adalah karena lebih menarik perhatian dan dapat mengurangi kebosanan dibandingkan dengan teks. Gambar dapat meringkas menyajikan data yang kompleks dengan cara yang baru dan lebih berguna. Gambar juga dapat berfungsi sebagai ikon, yang bila dipadukan dengan teks, merupakan opsi yang bisa dipilih.

c. Bunyi (audio) PC multimedia tanpa bunyi hanya disebut unimedia, bukan multimedia. Bunyi dapat ditambahkan dalam multimedia melalui suara, musik dan efekefek suara. Seperti halnya grafis, dapat membeli ataupun menciptakan sendiri.

d. Video Video menyediakan sumberdaya yang kaya dan hidup bagi aplikasi multimedia.

e. Animasi Dalam multimedia, animasi merupakan penggunaan komputer untuk menciptakan gerak pada layer. f. Virtual Reality Virtual reality merupakan penggunaan multimedia untuk penerapan secara langsung.

NTSC System NTSC (National Television System Committee) merupakan sistem milik Amerika Serikat dengan lebar layar 525 baris, digunakan di negara Kanada, Greenland, Mexico, Kuba, Jepang, Philipina, Puerto Rico dan beberapa negara di Amerika Selatan. Resolution : NTSC NTSC DV 640 X 480 720 X 480

NTSC WideScreen 720 X 480 NTSC D1 720 X 486

NTSC Square Pix 720 X 540 Frame Rate : 30 fps

PAL dan SECAM System Banyak negara yang menggunakan kedua sistem ini yakni PAL (Phase Alternating Line) atau SECAM (Sequential Color and Memory). Kedua sistem ini memiliki lebar layar 625 baris Resolution : PAL D1/DV PAL D1/DV Square Pix PAL D1/DV WideScreen Frame Rate : 25 fps : 720 X 576 : 768 X 576 : 720 X 576

HDTV HDTV (High Definition Television) adalah standar internasional baru untuk dunia televisi. HDTV dapat digunakan dalam 1.125 baris. Resolution 1280 X 720 Frame Rate 29.9 Fps

Software Multimedia 1. Viewing: Untuk melihat hasil pemgolahan multimedia (Winamp, power DVD) 2. Capturing : Untuk mendapatkan hasil rekaman yang didapat melalui device multimedia. (software scanner, capture, camdig) 3. Editing : Untuk mengolah bahan multimedia menjadi senuah sajian (adobe) 4. Authoring : Software Multimedia untuk keperluan interaktif (director, flash)

PERBEDAAN NTSC dengan PAL 1. FPS atau frame per second yang lebih tinggi dari PAL, dimana pada pal system, fpsnya adalah 25fps, yang berarti dalam 1 detik video kamera merekam 25 gambar, sedangkan pada NTSC menggunakan fps 29,97.

2. Resolusi gambar ntsc adalah 720×480 sedangkan PAL adalah 720×576, yang berarti pada PAL gambar sedikit lebih besar atau „tinggi‟ daripada NTSC

KEKURANGAN: 1 Apa dampak dari perbedaan fps dan resolusi? salah satunya adalah bila Anda melakukan „backup‟ atau transfer data ke media lain misalnya ke hardisk untuk melakukan editing, maka waktu untuk editing dan rendering data dari handycam NTSC akan relatif lebih lama untuk diproses karena lebih banyaknya data yang ada (+- 20%) apabila dibandingkan dengan PAL system.

2 Bila Anda hendak menggabungkan hasil shooting dari handycam NTSC dengan hasil shooting handycam PAL, maka banyak software editing video mengalami kesulitan untuk bekerja dengan 2 color system dan resolusi yang berbeda tersebut, sehingga muncul peringatan ataupun error. Dalam hal ini, biasanya salah satu format color system harus di-convert terlebih dahulu sehingga kedua video memiliki color system yang sama (nstc yang diconvert ke pal, atau sebaliknya)

3 Kesulitan untuk menjual kembali, dikarenakan banyak orang tidak menginginkan handycam dengan color system NTSC, karena dianggap format „asing‟ yang memang biasanya barang bawaan dari luar negeri, dan tanpa disertai garansi.

KELEBIHAN: 1 kelebihan menggunakan video camcorder berformat NTSC adalah tingginya FPS, yang menyebabkan lebih banyak jumlah gambar yang tertangkap, dan hal ini sangat bermanfaat bagi para penggemar video shooting atau movie maker yang membutuhkan efek ‟slow motion‟. Sehingga dengan video kamera NTSC, diperoleh hasil perlambatan yang lebih smooth karena data gambar tersedia lebih banyak, lain halnya dengan PAL, yang bila diperlambat akan lebih blurry karena kemampuan tangkap gambar 25 gambar per detik

2. Gambar yang dihasilkan bila di-play ke televisi langsung, juga tampak sedikit lebih smooth bagi mereka yang dapat membedakannya, juga dikarenakan fps yang lebih tinggi dari PAL.

3. yang ketiga, bila data video perlu di-backup ke vcd atau dvd video dan dikirimkan ke relasi di luar negeri yang negaranya menganut color system NTSC, maka tidak ada kesulitan dengan hal ini. catatan: tv kita biasanya diset menjadi auto color system, sehingga otomatis switch antara pal (stasiun tv) dan ntsc (dvd movie)

Konsep dasar video
Digital video adalah jenis sistem video recording yang bekerja menggunakan sistem digital dibandingkan dengan analog dalam hal representasi videonya. Biasanya digital video direkam dalam tape, kemudian didistribusikan melalui optical disc, misalnya VCD dan DVD. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk menghasilkan video digital adalah camcorder, yang digunakan untuk merekam gambar-gambar video dan audio, sehingga sebuah camcorder akan terdiri dari camera dan recorder. Sebuah video terdiri dari beberapa element yang dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Frame Rate Ketika serangkaian gambar mati yang bersambung dimainkan dengan cepat dan dilihat oleh mata manusia, maka gambar-gambar tersebut akan terlihat seperti sebuah pergerakan yang halus. Jumlah gambar yang terlihat setiap detik disebut dengan frame rate. Diperlukan frame rate minimal sebesar 10 fps (frame per second) untuk menghasilkan pergerakan gambar yang halus. Film-film yang dilihat di gedung bioskop adalah film yang diproyeksikan dengan frame rate sebesar 24 fps, sedangkan video yang dilihat pada televisi memiliki frame rate sebesar 30 fps (tepatnya 29.97 fps). Frame rate digunakan sebagai format standar NTSC, PAL dan SECAM yang berlaku pada negara-negara didunia. 2. Aspect Ratio Pixel aspect ratio menjelaskan tentang ratio atau perbandingan antara lebar dengan tinggi dari sebuah Pixel dalam sebuah gambar. Frame aspect ratio menggambarkan perbandingan lebar dengan tinggi pada dimensi frame dari sebuah gambar. Sebagai contoh, D1 NTSC memiliki pixel aspect ratio 0.9 (0.9 lebar dari 1 unit tinggi) dan memiliki pula pixel aspect ratio 4:3 (4 unit lebar dari 3 unit tinggi). Beberapa format video menggunakan frame aspect ratio yang sama tetapi memakai pixel aspect ratio yang berbeda. Sebagai contoh, beberapa format NTSC digital menghasilkan sebuah 4:3 frame aspect ratio dengan square pixel (1.0 pixel aspect ratio) dan dengan resolusi 640 x 480. sedangkan D1 NTSC menghasilkan frame aspect ratio yang sama yaitu 4:3 tetapi menggunakan rectangular pixel (0.9 pixel aspect ratio) dengan resolusi 720 x 486. Pixel yang dihasilkan oleh format D1 akan selalu bersifat rectangular atau bidang persegi, akan berorientasi vertikal dalam format NTSC dan akan berorientasi horisontal dalam format PAL. Jika menampilkan rectangular pixel dalam sebuah monitor square pixel tanpa alterasi maka gambar yang bergerak akan berubah bentuk atau mengalami distorsi. Contohnya lingkaran akan berubah menjadi oval. Tetapi

bagaimanapun juga apabila ditampilkan pada monitor broadcast, gambar gerak akan ditampilkan secara benar. 3. Resolusi Spasial dan Frame Size Lebar dan tinggi frame video disebut dengan frame size, yang menggunakan satuan piksel, misalnya video dengan ukuran frame 640×480 piksel. Dalam dunia video digital, frame size disebut juga dengan resolusi. Semakin tinggi resolusi gambar maka semakin besar pula informasi yang dimuat, berarti akan semakin besar pula kebutuhan memory untuk membaca informasi tersebut. Misalnya untuk format PAL D1/DV berukuran 720×576 piksel, format NTSC DV 720×480 piksel dan format PAL VCD/VHS (MPEG-1) berukuran 352×288 piksel sedangkan format NTSC VCD berukuran 320×240 piksel. 4. Level Bit Dalam dunia komputer, satuan bit merupakan unit terkecil dalam penyimpanan informasi. Level bit atau Bit depth menyatakan jumlah atau banyaknya bit yang disimpan untuk mendeskripsikan warna suatu piksel. Sebuah gambar yang memiliki 8 bit per piksel dapat menampilkan 256 warna, sedangkan gambar dengan 24 bit dapat menampilkan warna sebanyak 16 juta warna. Komputer (PC) menggunakan 24 bit RGB sedang sinyal video menggunakan standar 16 bit YUV sehingga memiliki jangkauan warna yang terbatas. Untuk itu perlu berhati-hati apabila membuat video untuk ditayangkan di TV, karena tampilan warna di layar monitor PC berbeda dengan tampilan di layar TV. Penentuan bit depth ini tergantung pada sudut pemisah antara gambar yang diterima oleh kedua mata. Sebagai contoh, pada layar datar, persepsi kedalaman suatu benda berdasarkan subyek benda yang tampak. 5. Laju Bit Laju bit disebut juga dengan nama laju data. Laju bit menentukan jumlah data yang ditampilkan saat video dimainkan. Laju data ini dinyatakan dalam satuan bps (bit per second). Laju data berkaitan erat dengan pemakaian dan pemilihan codec (metode kompresi video). Beberapa codec menghendaki laju data tertentu, misalnya MPEG-2 yang digunakan dalam format DVD dapat menggunakan laju bit maksimum 9800 kbps atau 9,8 Mbps, sedangkan format VCD hanya mampu menggunakan laju bit 1,15 Mbps. Sama halnya dengan file suara dan gambar, teknik kompresi dari video menghasilkan banyak format file video bermunculan. Berikut adalah formati file video yang lazim digunakan: ASF (Advanced System Format) 1. Dibuat oleh Microsoft sebagai standar audio/video streaming format

2. Bagian dari Windows Media framework 3. Format ini tidak menspesifikasikan bagaimana video atau audio harus di encode, tetapi sebagai gantinya menspesifikasikan struktur video/audio stream. Berarti ASF dapat diencode dengan codec apapun. 4. Dapat memainkan audio/video dari streaming media server, HTTP server, maupun lokal. 5. Beberapa contoh format ASF lain adalah WMA dan WMV dari Microsoft. 6. Dapat berisi metadata seperti layaknya ID3 pada MP3 7. ASF memiliki MIME “type application/vnd.ms-asf” atau “video/x-ms-asf”. 8. Software : Windows Media Player MOV (Quick Time) 1. Dibuat oleh Apple 2. Bersifat lintas platform. 3. Banyak digunakan untuk transmisi data di Internet. 4. Software: QuickTime 5. Memiliki beberapa track yang terdiri dari auido, video, images, dan text sehingga masing-masing track dapat terdiri dari file-file yang terpisah. MPEG (Motion Picture Expert Group) 1. Merupakan file terkompresi lossy. 2. MPEG-1 untuk format VCD dengan audio berformat MP3. 3. MPEG-1 terdiri dari beberapa bagian: Synchronization and multiplexing of video and audio. Compression codec for non-interlaced video signals. Compression codec for perceptual coding of audio signals. MP1 or MPEG-1 Part 3 Layer 1 (MPEG-1 Audio Layer 1)

MP2 or MPEG-1 Part 3 Layer 2 (MPEG-1 Audio Layer 2) MP3 or MPEG-1 Part 3 Layer 3 (MPEG-1 Audio Layer 3) Procedures for testing conformance. Reference software 4. MPEG-1 beresoluasi 352×240. 5. MPEG-1 hanya mensupport progressive scan video. 6. MPEG-2 digunakan untuk broadcast, siaran untuk direct-satelit dan cable tv. 7. MPEG-2 support interlaced format. 8. MPEG-2 digunakan dalam/pada HDTV dan DVD video disc. 9. MPEG-4 digunakan untuk streaming, CD distribution, videophone dan broadcast television. 10. MPEG-4 mendukung digital rights management. DivX 1. Salah satu video codec yang diciptakan oleh DivX Inc. 2. Terkenal dengan ukuran filenya yang kecil karena menggunakan MPEG4 Part 2 compression. 1. Versi pertamanya yaitu versi 3.11 diberi nama “DivX ;-)” 2. DivX bersifat closed source sedangkan untuk versi open sourcenya adalah XviD yang mampu berjalan juga di Linux. Windows Media Video (WMV) 1. Codec milik Microsoft yang berbasis pada MPEG4 part 2 2. Software: Windows Media Player, Mplayer, FFmpeg. 3. WMV merupakan gabungan dari AVI dan WMA yang terkompres, dapat berekstensi wmv, avi, atau asf.

Secara sederhana, video dapat diilustrasikan sebagai setumpuk gambar dengan ukuran frame yang sama dimana gambar-gambar tersebut ditampilkan secara berurutan dengan frekuensi pemunculan tertentu. Sehingga video memiliki tiga dimensi yaitu dua dimensi spatial (horizontal dan vertikal) dan satu dimensi waktu. Di dalam video sendiri terdapat dua hal yang dapat dikompresi yaitu frame (still image). Terdapat dua hal penting yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan kompresi video yaitu redundancy spatial (warna dalam still image) dan redundancy temporal (perubahan antar frame). Penghilangan redundancy spatial (spatial / intraframe compression) dilakukan dengan mengambil keuntungan dari fakta bahwa mata manusia tidak terlalu dapat membedakan warna dibandingkan dengan brightness, sehingga image dalam video bisa dikompresi (teknik ini sama dengan teknik kompresi lossy color reduction pada image). Penghilangan redundancy temporal (temporal / interframe compression) dilakukan dengan mengirimkan dan mengenkode frame yang berubah saja sedangkan data yang sama masih disimpan. Standar Pengkodean H.264/AVC

H.264 (MPEG-4 Part 10) atau lebih dikenal dengan Advance Video Coding (AVC) merupakan sebuah codec video digital yang memiliki keunggulan dalam rasio kompresi (tingkat kompresi yang tinggi) dengan memanfaatkan metoda blok transformasi adaptif yang efektif. H.264 dikembangkan oleh ITU-T Video Coding Expert Group (VCEG) bersama-sama dengan ISO/IEC Moving Picture Expert Group (MPEG) yang dinamakan Joint Video Team (JVC) pada tahun 2003. Tujuan pengembangan H.264/AVC adalah untuk membuat suatu standar video digital yang dapat menghasilkan kualitas video yang baik pada bitrate yang lebih kecil dibandingkan dengan standar video digital sebelumnya (MPEG-2, H.263, maupun MPEG-4 Part 2) tanpa harus melakukan perubahan yang kompleks dan dapat diimplementasikan dengan biaya yang murah. Tujuan lain dari pengembangan H.264 adalah dapat digunakan dalam berbagai macam aplikasi seperti video broadcast, DVB strorage, RTP/IP packet networks, dan ITU-T multimedia telephony systems. Standar pengkodean H.264/AVC disusun atas dua lapis konsep (gambar 2.3) yaitu video coding layer (VCL), yang bertujuan untuk efisiensi konten video, dan network abstraction layer (NAL), yang memformat keluaran video dari VCL dan memberi informasi header dengan tepat untuk diteruskan ke transport layer atau media penyimpanan. Pictures). Picture (frame) yang merupakan bagian dari GOP adalah primary coding unit dari video sequence. Merepresentasikan nilai luminance (Y) dan 2 chrominance (Cb dan Cr). Dalam pengkodean H.264/AVC menggunakan format 4:2:0, yaitu komponen chrominance memiliki porsi setengah dari komponen luminance. Sedangkan macroblock dikenal sebagai basic coding unit pada algoritma MPEG.16x16 pixel segment dalam sebuah frame. Macroblock mencakup

area segi empat dengan ukuran 16x16 pixel untuk komponen luminance(Y) dan 8x8 pixel setiap 2 komponen chrominance (Cb dan Cr). Block adalah coding unit terkecil pada algoritma MPEG. 8x8 pixel atau 4x4 pixel dapat berupa salah satu dari luminance(Y), red chrominance(Cr),atau blue chrominance(Cb). Sejumlah makroblok, disebut sebagai slice, diproses untuk dikodekan. Slice dibedakan menjadi lima tipe I-,P-,B-,SI-dan SP-slice. Urutannya dari kiri-kanan, atas bawah. Penting untuk error handling. Bila terjadi error maka di-skip ke slice berikutnya.

H.264/AVC CODEC Seperti pada standar pengkodean sebelumnya (seperti H.263 dan MPEG-1,2), H.264/AVC merupakan standar pengkodean yang berbasiskan pada hybrid video coding. Gambar di bawah ini menunjukkan blok diagram encoder dan decoder H.264/AVC.

Citra masukan dibagi menjadi makroblok (macroblocks). Setiap makroblok terdiri dari tiga komponen Y, Cr dan Cb. Komponen Y disebut sebagai luminance yang merepresentasikan tingkat kecerahan (brightness). Sedangkan Cb dan Cr disebut sebagai chrominance yang merupakan representasi intensitas warna dari keabuan hingga merah dan biru. Suatu makroblok terdiri dari satu blok 16x16 piksel komponen luminance dan dua blok 8x8 piksel komponen chrominance. Sejumlah makroblok, disebut sebagai slice, diproses untuk dikodekan. Slice dibedakan menjadi lima tipe I-,P-,B-,SI-dan SP-slice. Pada I-slice, semua makroblok dikodekan dengan mode intra. P-slice, semua makroblok diprediksikan menggunakan motion compensated prediction dengan satu frame referensi, untuk B-slice menggunakan dua frame referensi. SI-dan SP-slice merupakan slice khusus yang tidak ada pada standar pengkodean sebelumnya. SP-slice dikodekan sedemikian hingga efisien untuk pertukaran antara aliran video yang berbeda. Sedangkan SI-slice dikodekan untuk perbaikan kesalahan ketika menggunakan intra prediction. Pada proses decoding H.264/AVC , entropy decoder mendekodekan koefisien kuantisasi dan data gerakan yang digunakan untuk motion compensated prediction. Seperti pada proses encoding, sinyal prediksi dihasilkan dari intraframe atau motion compensated prediction, yang ditambahkan dengan invers koefisien transformasi. Setelah deblocking filter, makroblok telah selesai didekodekan dan disimpan di memori untuk prediksi berikutnya.

Deblocking filter Deblocking filter merupakan elemen baru dalam standar kompresi video MPEG. Dalamvstandar MPEG sebelum MPEG4/H.264 (MPEG1, MPEG2, MPEG4/H.261, MPEG4/H.263), elemen ini tidak dijumpai. Fungsi utama dari deblocking filter adalah untuk mengurangi distorsi blocking pada setiap decoded macroblock. Pada encoder, deblocking filter diaplikasikan setelah inverse transform dan sebelum proses rekonstruksi dan penyimpanan macroblock untuk prediksi berikutnya. Sementara, pada decoder, aplikasi deblocking filter dilakukan setelah inverse transform dan sebelum proses rekonstruksi dan penampilan macroblock Deblocking filter digunakan untuk memperbaiki kualitas gambar yang pada intinya adalah menghaluskan (mengurangi) efek blocking yang biasa terjadi pada video digital. Deblocking filter diaplikasikan dalam setiap 4x4 block maupun 16x16 macroblock sehingga menghasilkan kualitas video yang lebih baik. Filter ini memiliki dua keuntungan yaitu : a. Sisi-sisi dari block dan macroblock lebih halus sehingga meningkatkan kualitas dari gambar yang didecode. b. Macroblock yang difilter digunakan untuk prediksi motion-compensated dari frame berikutnya (pada encoder), yang menghasilkan “residu” yang lebih sedikit pada saat proses prediksi Profiles and Levels Profile didefinisikan sebagai suatu set perangkat atau algoritma pengkodean yang digunakan untuk menghasilkan bitstream yang sesuai, sedangkan level bertujuan untuk membatasi nilai dari parameter-parameter algoritma yang digunakan. H.264/AVC mendefinisikan tiga macam profile: baseline profile (untuk video conference dan aplikasi wireless), main profile (digunakan untuk layanan broadcast) dan extended profile (digunakan dalam aplikasi streaming).

Setiap level memiliki batas atas nilai dari ukuran gambar (dalam makroblock), rata-rata waktu proses decode (dalam makroblock perdetik), ukuran multipicture buffer, bitrate video, dan ukuran buffer video.

H.261 : CODING UNTUK VIDEO CONFERENCING

Standar H.261 : video coding/decoding untuk transmisi digital melalui ISDN dengan rate p x 64 kbit/s (p = 1-30) Ditujukan untuk kebutuhan: videophone, videoconferencing dan service audiovisual lainnya Struktur coding seperti codec generic (lihat kuliah lalu)

 interframe DCT-based coding
 

Interframe prediction pertama-tama dilakukan dalam domain pixe prediction error ditransformasikan ke dalam frekuensi domain

 kuantisasi untuk reduksi bandwidth

Motion compensation dapat dilaksanakan pada tahap prediksi (optional) H.261 : CODING UNTUK VIDEO CONFERENCING

Teknik dikembangkan supaya codec efisien dan cocok untuk komunikasi/transmisi Rekomendasi menspesifikasikan apa yang diharapkan dari decoder

 tidak memberi informasi bagaimana mendisainnya (informasi lebih sedikit mengenai decoder  disain oleh manufacturer  memenuhi syntax bitstream standar

Reference model adalah software-based codec untuk mempelajari elemen inti sebagai basis untuk spesifikasi disain hardware yang fleksibel Versi terakhir : reference model eight (RM8) sebagai basis H.261 saat ini STRUKTUR DAN FORMAT VIDEO

 

Preprocessor mengkonversikan video CCIR-601 (output kamera) ke format lain Parameter coding dari video terkompres di multiplex dan digabung dengan audio, data dan end-to-end signaling untuk transmisi

Transmission buffer mengontrol bit rate

 dengan mengubah ukuran step quantiser  reduksi frame rate

Dalam CIF dan QCIF , blok DCT digrupkan kedalam macroblock : empat luminance dan dua blok chrominance Cb dan Cr yang sesuai Macroblok digroupkan ke dalam layer  Groups of Blocks (GOB)

 Frame CIF : 12 GOB  Frame QCIF : 3 GOB BLOCK, MACROBLOCK & GOB untuk CIF & QCIF Tujuan membentuk macroblock dan layer:

Mode coding inter/intra untuk blok luminance dan chrominance pada area yang sama Penggunaan satu motion vector baik untuk blok luminance dan chrominance coding yang efisien untuk sejumlah besar blok DCT 8 x 8 yang diharapkan tanpa coded information dalam interframe coding  code VLC untuk coded block patern (CBP) dan macroblock addressing memungkinkan sinkronisasi dibangun kembali jika bit-bit terkorupsi  penyisipan start code pada header GOB  error transmisi hanya menyebabkan degradasi pada sebagian gambar untuk membawa informasi tambahan yang sesuai untuk GOB, macroblock atau layer yang lebih tinggi (format gambar, temporal references, tipe macroblock, index quantiser, dll) CODING ELEMENT ENCODER H.261

 

COMP Comparator untuk menentukan mode coding inter/intra untuk sebuah MB

   

Th Threshold, untuk memperluas range kuantisasi T Transform coding blok 8 x 8 pixels T-1 Inverse transform Q Quantisastion untuk koefisien DC

        

Q-1 Inverse quantisation P Picture memory dengan motion compensated F Loop filter p Flag untuk inter/intra t Flag untuk transmitted atau tidak q Quantisation index untuk koefisien transform qz Quantiser indication v Informasi motion vector f Switching on/off loop filter PREDICTION

Prediction adalah inter-picture (dapat dengan motion compensation  pada H.261 optional) Decoder menerima satu motion vector per macroblock Komponen horizontal dan vertikal dari motion vector mempunyai harga integer tidak melebihi ą 15 pixels/frame Motion estimation hanya didasarkan pada pixel-pixel luminance

 

 vector digunakan untuk motion compensation untuk semua blok (4) luminance pada macroblock  Komponen motion vector untuk blok chrominance (2) : setengah komponen motion vector untuk luminance (integer)

Untuk transmisi motion vector, perbedaannya dikodekan VLC (1-D)

 perbedaan diantara motion vector yang berurutan dalam satu baris GOB (untuk macroblock pertama pada GOB, initial vector diset 0)

KEPUTUSAN MC/NO_MC
 

Tidak semua macroblock pada sebuah gambar harus motion compensated Tergantung seberapa besar motion compensated prediction dapat mereduksi prediction error

Jika motion compensated error kecil, tetapi tidak secara signifikan lebih kecil daripada non-motion compensated error

 pilih non motion compensated (overhead MC tidak dapat menjustifikasi keuntungan KEPUTUSAN INTER/INTRA

Scene cuts atau dalam hal „violent motion‟ interframe prediction mungkin tidak akan lebih kecil daripada intraframe (intraframe dapat dikodekan dengan bit rate yang lebih kecil) Gambar dengan code intraframe mempunyai ketahanan terhadap channel error yang lebih baik

Kadang-kadang lebih menguntungkan mengkodekan macroblock secara intraframe daripada interframe, alasan: FORCED UPDATING

Intraframe coded MB meningkatkan ketahanan codec H.261 terhadap channel error Dalam kasus keputusan inter/intra macroblock tidak menghasilkan mode intra yang dipilih  beberapa frame dalam macroblock dipaksa untuk dikodekan secara intra Rekomendasi menspesifikasikan sebuah macroblock harus diupdate paling sedikit setiap 132 frame

 untuk CIF dengan 396 macroblock perframe: rata-rata 3 MB dari tiap frame dikodekan intraframe (memberikan pengaruh yang sangat besar pada kualitas gambar)

TIPE-TIPE MACROBLOCK Pada H.261 ada delapan tipe macroblock berbeda:

Inter coded : interframe coded macroblock tanpa motion vector atau dengan motion vector 0

MC coded : motion compensated MB, dimana MC-error cukup signifikan dan perlu dikodekan DCT MC not coded : motion compensated error MB, dimana motion compensated error tidak signifikan  tidak perlu DCT coded Intra : intraframe coded macroblock

Not-coded : jika semua enam blok pada suatu macroblock, tanpa motion compensation mempunyai energi yang tidak signifikan, maka tidak dikodekan  MB seperti ini disebut “Skipped”, “Not-coded” atau “Fixed” (Fixed MB tidak ditransmisikan dan pada decoder di-copy dari frame sebelumnya) TIPE-TIPE MACROBLOCK

Karena ukuran step kuantisasi ditentukan pada awal setiap GOB atau baris dari GOB  ukuran step kuantisasi harus ditransmisikan ke penerima  MB pertama harus diidentifikasi : tipe macroblock baru: - Inter coded + Q - MC coded + Q - Intra + Q DECISION TREE UNTUK TIPE MACROBLOCK ADDRESSING MACROBLOCK

Jika semua komponen terkuantisasi suatu blok dari enam blok pada sebuah MB nol, blok tersebut dideklarasikan sebagai not coded

Jika semua enam blok not coded MB  dideklarasikan not coded MB atau Skipped else

MB dideklarasikan coded C dikodekan VLC:

- Codeword pendek : inter code MB - Codeword panjang : intra+Q

MB mempunyai enam blok (4 luminnace dan 2 chrominace)

 ada 26 = 64 kombinasi berbeda blok coded/non-coded

Kecuali semua enam blok nol (fixed MB) tidak dikodekan, 63 lainnya diidentifikasi dalam 63 pola berbeda

 coded block pattern (CBP) ADDRESSING MACROBLOCK
 

Coded Block Pattern (CBP) : indikasi coded/non-coded blok pada macroblock Dengan urutan pengkodean Y0, Y1, Y2, Y3, Cb dan Cr informasi pola blok atau pattern number didefiniskan:

Pattern_number = 32Y0 + 16Y1 + 8Y2 + 4Y3 + 2Cb + Cr dimana : coded block dialokasikan “1” non-coded block dialokasikan “0”

Jika MB intracoded (atau intra+Q) informasi pola tidak ditransmisikan (pada intra frame coded MB, semua block mempunyai energi yang signifikan  tentu coded)

CONTOH CODED BLOCK PATTERN Contoh pola bit untuk mengindikasikan blok-blok coded/not-coded pada sebuah MB (hitam coded, putih not coded)

RELATIVE ADDRESSING DARI CODED MB

Setelah tipe macroblock diidentifikasi dan dikodekan VLC, posisinya dalam GOB harus ditentukan Overhead informasi untuk addressing posisi coded MB akan minimum jika merupakan address relatif satu terhadap lainnya

Address relatif direpresentasikan dengan runlength, yang merupakan jumlah fixed MB sebelum Coded MB berikutnya Relatif address selanjutnya dikodekan VLC

KUANTISASI DAN CODING

Setiap blok dari enam blok MB yang dipilih di-transform kodekan dengan 2DDCT Koefisien DCT dari tiap blok kemudian dikuantisasi dan dikodekan Dua tipe quantiser:

 

- Tanpa dead zone  untuk koefisien DC dari intra-MB (standar H.261 menggunakan ukuran step fixed 8) - Dengan dead zone  koefisien AC dan koefisien DC dari interframe coded (MC atau NO-MC)

Threshold, th mungkin ditambahkan pada quantiser scale  dead zone ditambah  koefisien nol lebih banyak untuk kompresi yang efisien Informasi threshold dikirim ke penerima Ratio antara koefisien terkuantisasi terhadap ukuran step kuantisasi (index) yang dikodekan

 

KUANTISASI DAN CODING Quantiser uniform dengan threshold

VARIABLE LENGTH CODING DUA-DIMENSI

Untuk transmisi index kuantisasi  urutan zigzag digunakan yang meningkatkan efisiensi „penangkapan‟ komponen tidak nol 2D-VLC diadopsi, dilaksanakan dalam dua tahap

 tahap 1: event dibangkitkan untuk tiap non-zero index (event = kombinasi

index magnitude dan jumlah nol (run) sebelum index) ZIGZAG SCANNING DAN PEMBANGKITAN RUN-INDEX contoh coder mempunyai step quantiser q = 16 dengan level threshold = q

VARIABLE LENGTH CODING DUA-DIMENSI

Pada 2D-VLC karena range index : -127 s/d +127 dan range run: 0 s/d 63

 ada 2 x 128 x 64 = 16384 kemungkinan event

Disain Huffman code untuk sejumlah besar simbol ini tidak praktis (suatu codeword dapat mempunyai panjang samapi 200 bit!) Gunakan modifikasi Huffman code  semua simbol dengan probabilitas kecil digrupkan bersama dan diidentifikasi dengan simbol ESCAPE Simbol ESCAPE mempunyai probabilitas = jumlah semua simbol yang merepresentasikannya Event-event yang paling sering muncul dan simbol ESCAPE dikodekan VLC (Huffman code) seperti biasa Event dengan probabilitas rendah diidentifikasi dengan fixed length run dan index yang „ditambahkan‟ pada code ESCAPE

VARIABLE LENGTH CODING DUA-DIMENSI
 

Kode EOB juga satu simbol yang dikodekan VLC (2 bit) Pada H.261: ESCAPE = 6 bit (“000001”)

 event yang jarang dengan 6 bit run (0-63) dan 8 bit index (-127 - +127) memerlukan 20 bit

DC./Intra index dikuantisasi secara linier dengan ukuran step 8 dan tanpa dead zone

 hasilnya dikodekan dengan resolusi 8 bit

Gambar di bawah memperlihatkan tabel 2D-VLC untuk harga index positif diturunkan dari statistik coding deretan test image “Claire” Contoh: RUN & INDEX FREQ dan HASIL TABEL 2D-VLC

LOOP FILTER

Pada bit rate rendah  ukuran step kuantisasi besar  banyak koefisien DCT nol  gambar rekonstruksi tampak blocky

Jika posisi area blocky berubah dari satu frame ke frame lainnya  tampak seperti noise frekuensi tinggi  mosquito noise

 Distorsi ini dapat dikurangi dengan loop filter (low pass filter)
 

Loop filter diintrodusir setelah motion compensator untuk meningkatkan prediksi Loop filter mengakibatkan blurring effect  hanya diaktifkan untuk blok dengan motion Loop filter hanya didefinisikan pada H.261 (tidak ada video codec lain yang menggunakannya) dan diaktifkan untuk semua 6 blok DCT dari sebuah macroblock Filtering diaplikasikan untuk rate coding < 6 x 64 kbit/s (386 kbit/s) dan di-switch of untuk rate > 386 kbit/s

RATE CONTROL

Bit rate hasil algortima coding DCT-based berfluktuasi bergantung pada natur video (kecepatan gerak objek, ukuran, texture, dll) Tujuan dari rate controller adalah untuk mendapatkan bit rate konstan untuk transmisi melalui jaringan circuit switched Buffer transmisi biasanya diperlukan untuk smoothing fluktuasi bit rate Metoda umum untuk kontrol bit rate adalah dengan memonitor pendudukan buffer dan merubah step kuantisasi sesuai dengan kepenuhan buffer

 

Step kuantisasi dikalkulasi sebagai fungsi linier dari isi buffer :

p  p x 64 kbit/s

H.264 (MPEG 4)
H.264 (MPEG-4 Part 10) atau lebih dikenal dengan Advance Video Coding (AVC) merupakan sebuah codec video digital yang memiliki keunggulan dalam rasio kompresi (tingkat kompresi yang tinggi) dengan memanfaatkan metoda blok transformasi adaptif yang efektif. H.264 dikembangkan oleh ITU-T Video Coding Expert Group (VCEG) bersamasama dengan ISO/IEC Moving Picture Expert Group (MPEG) yang dinamakan Joint Video Team (JVC). Tujuan pengembangan H.264/AVC adalah untuk membuat suatu standar video digital yang dapat menghasilkan kualitas video yang baik pada bitrate yang lebih kecil dibandingkan dengan standar video digital sebelumnya (MPEG-2, H.263, maupun MPEG-4 Part 2) tanpa harus melakukan perubahan yang kompleks dan dapat diimplementasikan dengan biaya yang murah. Tujuan lain dari pengembangan H.264 adalah dapat digunakan dalam berbagai macam aplikasi seperti video broadcast, DVB strorage, RTP/IP packet networks, dan ITU-T multimedia telephony systems. Struktur video Serupa dengan MPEG-4 (karena dikembangkan berdasarkan MPEG-4) H.264 memiliki beberapa bagian yaitu GOP, slice, macroblock dan block. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan yang merupakan penyempurnaan dari MPEG-4 yang salah satunya adalah ukuran blok yang lebih kecil yaitu 4x4.

Berikut beberapa pengertian dari istilah di atas : a.Video Sequence, diawali dengan sequence header, berisi satu group gambar atau lebih, diakhiri dengan kode end-of-sequence b.GOP (Group of Pictures), sebuah header dan rangkaian satu gambar atau lebih c.Picture, primary coding unit dari video sequence. Merepresentasikan nilai luminance (Y) n 2 chrominance (Cb dan Cr) d.Slice, satu atau lebih macroblock. Urutannya dari kiri-kanan, atas-bawah. Penting untuk error handling. Bila terjadi error maka akan di-skip ke slice berikutnya. e.Macroblock, basic coding unit pada algoritma MPEG.16x16 pixel segment dalam sebuah frame. Macroblock terdiri dari 4 luminance, 1 Cr, dan 1 Cb. f.Block, coding unit terkecil pada algoritma MPEG. 8x8 pixel,dapat berupa salah satu dari luminance rec chrominance,atau blue chrominance. Profile dan level H.264/AVC memiliki tiga profile, yaitu : 1. Baseline profile (untuk video conference dan aplikasi wireless) a. Hanya mendukung I-picture dan P-picture (tidak mendukung Bpicture) b. Mendukung in-loop deblocking filter

c. ¼ sample motion-compensation d. Mendukung ukuran block sampai dengan 4x4 e. Mendukung adaptive frame/field f. CAVLC (VLC-based entropy coding) 2. Main profile (digunakan untuk layanan broadcast) a. Mendukung semua fitur baseline-profile kecuali penambahan fitur error resilience b. Mendukung B- picture c. CABAC (context-adaptive binary arithmetic coding) d. Mendukung interlaced picture e. Menggunakan MB-level pada saat pergantian frame/field f. Prediksi P-picture dan B-picture secara adaptive 3 Extended Profile (digunakan dalam aplikasi streaming) a. Mendukung semua fitur baseline-profile b. Mendukung B-picture c. Mendukung error resilience d. Mendukung pergantian frame/field dengan SP/SI Setiap level memiliki batas atas nilai dari ukuran gambar (dalam macroblock), rata-rata waktu proses decode (dalam macroblock perdetik), ukuran multipicture buffer, bitrate video dan ukuran buffer video. Kompresi intraframe Memanfaatkan redudansi spasial yang terdapat dalam suatu frame. Ada beberapa metode kompresi intraframe yaitu: a) Sub Sampling Hal ini merupakan dasar dari kebanyakan kompresi images/video, metode ini mengupayakan untuk mengurangi jumlah bit untuk merepresentasikan suatu image. Subsampling dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan mengambil piksel-piksel pada baris dan kolom ganjil saja. Kedua, dengan mengambil rata-rata dari sekolompok piksel dan menggunakan

nilai tersebut sebagai ganti kelompok piksel. Cara ini lebih kompleks, tetapi menghasilkan kualitas yang lebih baik. b) Pengurangan Kedalaman Bit Metode ini dilakukan dengan mengurangi jumlah bit yang digunakan untuk merepresentasikan suatu piksel misalnya dari 16 bit/piksel diturunkan menjadi 8 bit/piksel. Dengan konsekuensi akan menurunkan kualitas video dibandingkan video sebelumnya. c) Transform Coding Metode yang lain digunakan dalam kompresi intraframe adalah mentransformasikan data dari domain ruang ke dalam domain frekuensi. Cara ini menghasilkan data yang lebih mudah diproses untuk kompresi lebih lanjut.Transformasi yang popular digunakan misalnya: Discrete cosine transform (DCT ) dan Wavelet. Proses transformasi dan kuantisasi yang bersifat lossy, serta pengkodean yang bersifat lossless. Disini digunakan Discrete Cosinus Trasnform (DCT). Kemudian dilanjutkan dengan kuantisasi yang mana digunakan untuk memotong hasil transformasi. Proses selanjutnya dalam pengkodean dengan menggunakan run legth encoding (RLE) dan variabel length coding (VLC).

Prinsip dasarnya yaitu untuk melakukan proses transformasi dari domain ruang ke domain frekuensi. Dengan menggunakan transformasi ini maka data vital akan terkumpul pada frekuensi DC. Dengan adanya transformasi ini sangatlah menguntungkan untuk kompresi data, karena pada domain frekuensi inilah diperoleh sifat-sifat yang mendukung serangkaian proses selanjutnya. Masukan proses DCT berupa matriks data dua dimensi N x N. Persamaan blok matrik berukuran N x N adalah :

Dan pada proses dekomposisi untuk mentransformasikan kembali data dari domain frekuensi ke domain ruang menggunakan Inverse Discrite Cosine Trasnsform (IDCT).

d) Kuantisasi Prinsip dasar dari kuantisasi yaitu bertujuan untuk mengurangi jumlah bit yang diperlukan untuk menyimpan suatu nilai dengan cara membaginya dengan nilai yang ditentukan dalam matrik kuantisasi. H.264 menggunakan skalar kuantisasi.Ada 52 kuantisasi step standar yang digunakan di H264 yang ditandai dengan kuantisasi parameter(QP).setiap kuantisasi step berhubungan dengan kuantisasi parameter (QP).

Proses kuantisasi pada encoding : a. Input 4x4 blok,misal X b. Ditranformasikan dengan c. Proses kuantisasi

Blok alur kuantisasi :

e) RLE RLE (Run length encoding) adalah proses serangkaian simbol yang berurutan dikodekan menjadi suatu kode yang yang terdiri dari symbol tersebut dan jumlah perulangannya. Hasil dari proses transformasi yang dikuantisasi cenderung nol untuk frekuensi tinggi. Untuk melakukan RLE secara efektif, keluaran proses kuantisasi tadi dibaca secara linier dari frekuensi rendah sampai tinggi. Cara yang digunakan adalah cara zig-zag dimulai dari koefisien DC (0.0) kemudian koefisien DC (0.1) dan seterusnya.

f) Entropy coding Proses mengkodekan tiap piksel tertentu yang mempunyai panjang yang berbeda. Teknik algoritmik yang digunakan berbeda antara proses pengkodean satu dengan yang lainya. H.264 menggunakan CABAC (Context-based Adaptive Binary Arithmetic Coding) atau CAVLC (Context Based Adaptive Variable Length Coding).

f.1. CABAC Context-based Adaptive Binary Aritmethic Coding (CABAC) adalah suatu bentuk coding yang merupakan pengembangan dari aritmethic coding. CABAC terdiri atas 3 bagian coding yaitu binarization, context modeling, binary aritmethic.blok diagram CABAC sebagai berikut:

f.1.1. Binarization pengurangan alphabet dilakukan oleh binarization untuk tiap non binary element menghasilkan suatu intemediate unik codeword biner untuk unsur sintaksis yang ditentukan yang disebut bin string. f.2.2. Context modeling Context modeling digunakan untuk membersihkan interface antara modeling dan model. Setiap distribusi model akan diberi symbol yang kemudian didalam langkah coding selanjutnya, memandu coding engine to generate suatu urutan bit sebagai code pada symbol menurut distribusi model. f.2.3. Binary Arimethic Coding Binary aritmethic coding adalah berdasarkan pada prinsip pengulangan interval [lower, upper) yang melibatkan operasi perkalian dasar dan juga berdasar pada arithmethic coding.dengan aturan: Lower` = lower+width*low/maxfreq Width` = width*symb_width/maxfreq Upper` = lower` + width` = lower + width * (low + symb_width)/maxfreq = lower + width * up/maxfre

dengan : width = upper – lower (interval lama) width`= upper` - lower` (interval baru) symb_width = up – low (model frequency) Kompresi interframe Kompresi yang mana menggunakan redudansi temporal yang terdapat dalam sekelompok frame yang diantaranya yaitu : a) Subsampling Yaitu dengan cara mengurangi laju frame data video. Pengurangan itu dilakukan dengan hanya menggunakan frame tertentu saja. b) Difference coding Metode ini, frame dibagi menjadi beberapa block yang tidak tumpang tindih. Tiap blok tersebut dibandingkan dengan block yang bersesuaian pada frame yang sebelumnya. Hanya block yang mengalami perubahan signifikan saja yang disimpan. c) Motion Compensation Metode ini juga mengunakan pembagian block yang sama namun block tersebut dibandingkan dengan frame yang sebelumnya, hingga ditemukan blok yang paling mirip. Perbedaaan lokasi antara block tersebut dengan blok yang mirip pada frame yang sebelumnya disebut vektor gerak (motion vector). Metode ini efektif karena hanya vektor gerak saja yang disimpan atau ditrasmisikan.

VIDEO STREAMING
Streaming adalah sebuah teknologi untuk memaninkan file video atau audio secara langsung ataupun dengan pre-recorder dari sebuah mesin server (web server). Dengan kata lain, file video ataupun audio yang terletak dalam sebuah server dapat secara langsung dijalankan pada UE sesaat setelah ada permintaan dari user, sehingga proses running aplikasi yang didownload berupa waktu yang lama dapat dihindari tanpa harus melakukan proses penyimpanan terlebih dahulu. Saat file video atau audio di stream, akan berbentuk sebuah buffer di komputer client, dan data video - audio tersebut akan bulai di download ke dalam buffer yang telah terbentuk pada mesin client. Dalam waktu sepersekian detik, buffer telah terisi penuh dan secara otomatis file videoaudio dijalankan oleh sistem. Sistem akan membaca informasi dari buffer dan tetap melakukan proses download file, sehingga proses streaming tetap berlangsung ke mesin i. Real Time Encoding dan Pre-encoded (stored) Video atau Audio Video atau audio dapat diencode untuk keperluan komunikasi secara real time atau dapat juga di pre-encoded dan disimpan dalam format CD-DVD untuk dijalankan pada saat dibutuhkan. Salah satu aplikasi yang membutuhkan real time encoding adalah videophone dan video conferencing. Sedangkan aplikasi yang membutuhkan pre-encoded antara lain DVD, VCD, yang dikenal dengan penyimpanan secara local atau Video on Demand (VoD), yang penyimpanannya dilakukan secara remote di server yang dikenal dengan video streaming. Transfer Video via File Download dan Transfer Video via Streaming Sebuah file video yang akan ditampilkan di user dapat menggunakan dua metode transfer file. Pertama, dengan mendownload file video tersebut dan yang kedua dengan melakukan proses streaming. Kedua metode ini memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Sebuah file video yang diambil dari server dengan cara download tidak dapaat ditampilkan dalam sebuah file video tersebut selesai tersalin ke buffer. Metode ini memerlukan media penyimpanan yang cukup besar dan waktu yang diperlukan untuk proses download cukup lama karena file video biasanya berukuran besar. Metode kedua yang dapat digunakan adalah proses streaming. Metode ini berusaha untuk mengatasi masalah yang terdapat dalam metode download. Ide dasar dari video streaming ini adalah membagi paket video menjadi beberapa bagian, mentransmisikan paket data tersebut, kemudian penerima (receiver) dapat mendecode dan memainkan potongan paket video tersebut tanpa harus menunggu keseluruhan file selesai terkirim ke mesin penerima.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->