P. 1
Analisis Terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi

Analisis Terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi

|Views: 230|Likes:
Published by Agung Setyadi

More info:

Published by: Agung Setyadi on May 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2015

pdf

text

original

ANALISIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 005/PUU-IV/2006 I.

RINGKASAN PUTUSAN Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 005/PUU-IV/2006 merupakan putusan terhadap perkara permohonan pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UU KY) dan pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU KK) yang diajukan oleh 31 Hakim Agung pada Mahkamah Agung (MA). Dasar dari permohonan ini adalah dengan berlakunya UU KY, hak dan kewenangan para Hakim Agung tersebut dirugikan, yaitu dalam hal: A. Batasan hakim yang diatur dalam ketentuan: 1. Pasal 1 angka 5 bahwa definisi hakim menurut UU KY mencakup semua hakim, termasuk Hakim Agung dan Hakim Konstitusi. 2. Pasal 34 ayat (3) UU KK mengenai pengawasan KY yang melingkupi Hakim Agung dan Hakim. B. Pengawasan hakim yang diatur dalam ketentuan: 1. Pasal 20 terkait tugas KY melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim guna kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim. 2. Pasal 22 ayat (1) huruf e terkait rekomendasi KY terhadap hasil pemeriksaan perilaku hakim yang disampaikan kepada MA, MK dengan tembusan ke Presiden dan DPR. Sementara, ayat (5) terkait kewajiban MA dan/atau MK untuk mengeluarkan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta oleh KY dalam rangka pengawasan hakim. C. Usul penjatuhan sanksi dan penghargaan yang diatur dalam ketentuan: 1. Pasal 21 terkait wewenang KY untuk mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan MA dan/atau MK. 2. Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (5) terkait usul penjatuhan sanksi yang bersifat mengikat dan apabila pembelaan hakim ditolak, maka usul pemberhentiannya diajukan oleh MA dan/atau MK kepada Presiden. 3. Pasal 24 ayat (1) terkait wewenang KY untuk mengusulkan kepada MA dan/atau MK pemberian penghargaan kepada hakim yang berprestasi. 4. Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) terkait wewenang KY untuk mengambil keputusan dengan rapat yang dihadiri sekurang-kurangnya 5 (lima) orang Anggota KY. Khusus untuk pengusulan calon Hakim Agung ke DPR dan pengusulan pemberhentian Hakim Agung dan/atau Hakim MK, harus dihadiri oleh semua Anggota. Namun, setelah 3 kali penundaan, keputusan berlaku sah bila dihadiri 5 orang Anggota KY saja. Dalam putusannya, MK menyatakan bahwa perluasan batasan hakim dalam Pasal 1 angka 5 UU KY menjadi Hakim Konstitusi bertentangan dengan karena dapat memandulkan fungsi MK dalam memutus sengketa antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD.

Selain itu. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. KY dan MA harus bekerja sama erat karena KY merupakan organ pendukung. Sebagai konsekuensinya. Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur. Namun. pasal-pasal dalam UU KY yang mencakup Hakim Konstitusi dinyatakan tidak mengikat oleh MK. rumusan pasal-pasal yang mengaturnya tampak berbeda dengan 24B ayat (1) UUD 1945 Amandemen. melainkan juga pembinaan etika profesional hakim. Selain itu. ´Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. KY pada prinsipnya tidak saja memiliki wewenang pengawasan. sejauh mengenai fungsi pengawasan Hakim dan Hakim Agung. KY bukanlah pelaksana dari kekuasaan kehakiman. MK berpendapat bahwa Hakim Agung termasuk dalam batasan hakim yang tidak luput dari pengawasan KY. Namun. MK berpendapat bahwa pasal tersebut tidak sesuai dengan rumusan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 berbunyi. Pasal 20 UU KY tidak semata-mata merupakan fungsi pengawasan perilaku karena Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 Amandemen memberikan kewenangan lain bagi KY. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang´. Pasal 24 UUD 1945 Amandemen menegaskan bahwa kekuasaaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. telah terjadi peniadaan wewenang KY sehingga Pasal 34 ayat (3) tersebut dinyatakan tidak memiliki kekuatan mengikat. keluhuran martabat. hanya saja Hakim Agung berada pada hierarki hakim paling tinggi dalam peradilan. obyek dan prosesnya sehingga dapat menimbulkan implikasi ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). KY berperan dalam pengusulan calon Hakim Agung. dalam hal ini kekuasaan kehakiman (yudikatif). Bagi MK. sedangkan fungsi pengawasan penuh tetap dipegang oleh MA. KY tidak dapat turut mengawasi kewenangan yustisial MA atau putusan hakim itu sendiri. serta perilaku hakim´. Berbeda dengan Hakim Agung. dalam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim ini. MA dan KY merupakan lembaga yang berada dalam satu kekuasaan yang sama. Berkaitan dengan Pasal 34 ayat (3) UU KK yang berbunyi. Menurut MK. MK berpendapat bahwa kewenangan tersebut bukan untuk mengawasi lembaga peradilan.Selain itu. Selain itu. Namun demikian. Memang. KY sama sekali tidak terlibat dalam pemilihan dan pengangkatan Hakim Konstitusi dan UUD sama sekali tidak bermaksud untuk memberikan kewenangan kepada KY dalam mengawasi perilaku Hakim Konstitusi. Apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). Hakim Agung adalah Hakim. Berkaitan dengan fungsi pengawasan KY. ´Dalam rangka menjaga kehormatan. hubungan MA dan KY bukanlah untuk menerapkan prinsip checks and balances karena hubungan semacam ini hanya terkait erat dengan prinsip pemisahan kekuasaan negara (separation of power). melainkan untuk menjaga dan menegakkan perilaku hakim sebagai individu. tidak ada kejelasan pengaturan subyek. selain berwenang melakukan tindakan-tindakan .

cenderung melihat bahwa putusan MK merupakan langkah mundur dan pertimbangannya keliru. Ikahi (Ikatan Hakim Indonesia) sendiri melihat bahwa pengusulan seleksi Hakim Agung yang berasal dari hakim karier sebaiknya tertutup oleh MA saja. Philipus M. pendapat yang pro membedakan lingkup dari Hakim dan Hakim Agung. pertama. dan tes psikologi tidak perlu dilakukan karena hakim karier sudah teruji [1]. 1 2 3 4 . menyebabkan terjadi kekosongan hukum [3]. Berkaitan dengan pasal-pasal usul penjatuhan sanksi atas pelanggaran kode etik dan perilaku. Di banyak negara. kesadaran. dalam hal tersebut MA agar dilakukan tindakan. Akibatnya. Pendapat yang kontra dengan putusan MK. Seleksi kualitas. Berkenaan dengan batasan hakim. tidak mengikat sepanjang berkaitan dengan MK. pendapat publik cukup beragam.preventif dan korektif. adanya kewenangan YK yang dikurangi dan sama sekali tidak terkait dengan MK. kualitas. II. termasuk untuk mengawasi Hakim Agung. Demikian juga dengan Pasal 24 ayat (1). lembaga semacam KY tidak dibatasi fungsi pengawasannya. Pengecualian terhadap Hakim Agung merupakan tindakan yang diskriminatif dan bertentangan dengan moralitas yang terkandung dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 [4]. PENDAPAT PUBLIK Berkaitan dengan fungsi pengawasan hakim dan definisi hakim. KY juga berwenang dalam peningkatkan pemahaman. harus dilakukan oleh organisasi profesi. Hadjon menyatakan bahwa KY hanya dapat mengawasi hakim tingkat pertama dan banding [2]. Sementara Pasal 25 ayat (3) dan (4) serta Pasal 34 ayat (3) UU KK bertentangan dengan Pasal UU 24. dan komitmen profesional yang bermuara pada tingkat kehormatan. Prof. 24B. KY dapat memberikan rekomendasi kepada organisasi profesi. dan 24C UUD 1945 Amandemen karena rumusannya tidak sesuai. fungsi pengawasan yang dimiliki oleh KY tersebut tidak disertai dengan batasan penormaan tentang sejauh apa yang disebut ³pengawasan´ dan ³perilaku hakim´. keluhuran martabat. Namun. dan perilaku hakim yang diharapkan. kepribadian. tidak melalui KY.

Pendapat bahwa Hakim Agung bukan merupakan hakim ³biasa´ adalah keliru. dalam hal ini terutama mengenai pengawasan hakim. terlihat jelas bahwa yang dimaksudkan dengan hakim adalah semua hakim-hakim yang berada di bawah naungan MA dan MK. terutama pemberantasan korupsi dan mafia peradilan [7]. dengan tegas menyatakan bahwa batasan Hakim mencakup 6 7 . Apalagi. Berkaitan dengan fungsi pengawasan hakim dan definisi hakim. termasuk juga Hakim Agung dan Hakim Konstitusi.Selain pendapat yang pro dan kontra. dalam hal ini Kekuasaan Kehakiman. baik MA. Alasan ini hanya digunakan oleh. Selanjutnya ditegaskan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh MA dan oleh MK. hakim bukanlah manusia setengah dewa dan tetap perlu diawasi serta dikoreksi. UUD 1945 Amandemen. Baik MA. MK dan KY harus samasama bertemu untuk merumuskan fungsi pengawasan hakim sesuai dengan UU yang mereka miliki dan kemudian hasilnya dituangkan dalam bentuk Nota Kesepahaman 5[5]. Pasal 24 UUD 1945 Amandemen menyatakan bahwa Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. MK dan KY sama-sama berada dalam satu lingkup kekuasaan. Mahfud MD sendiri melihat ada beberapa putusan MK yang kontroversial dan kurang berpihak terhadap upaya demokratisasi dan penegakan hukum. Menurut pendapat ini. KY hanya memerinci definisi hakim tersebut sehingga di dalamnya termasuk juga Hakim Agung dan Hakim Konstitusi. dalam Pedoman Perilaku Hakim yang dibentuk oleh MA sendiri. baik oleh Hakim Agung dan MK untuk terlepas dari pengawasan KY. melainkan cenderung mengemukakan adanya keseimbangan dalam wewenang pengawasan kedua lembaga tersebut. muncul juga pendapat yang tidak memihak. ANALISIS Munculnya perseteruan lembaga MA dan KY secara mendasar memberikan sebuah indikasi bahwa telah terjadi benturan kepentingan. fungsi pengawasan ini sangat diperlukan untuk percepatan reformasi di bidang peradilan. pendapat yang pro menyatakan bahwa UU KY tidak menambah ataupun mengurangi makna kata hakim [6]. Padahal. Dari sini. Konflik KY terhadap MK memang tidak mencuat ke permukaan. namun dapat tercermin dari putusan MK yang menganulir semua bagian yang terkait dengan MK. III.

Demikian juga dengan posisi dan peran hakim. termasuk Hakim ad-Hoc sekalipun di semua lingkungan peradilan dan semua tingkatan peradilan [8]. Nilai inilah menjadi jiwa dari lembaga KY seperti yang ditetapkan oleh UUD. Jadi. Sebuah pengawasan tidaklah dapat disebut sebagai sebuah campur tangan internal yang membatasi kebebasan hakim. Dalam hal ini. Hal ini juga sesuai dengan Pasal 22 ayat (1) huruf e UU KY bahwa hasil pemeriksaan KY diberikan dalam bentuk rekomendasi kepada MA atau MK. Dihapusnya kewenangan KY. terutama karena kewenangan yang dimilikinya. Disebutkan bahwa seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan. sama-sama menyebutkan bahwa posisi dan peran hakim menjadi sangat penting. Untuk selanjutnya. bahkan oleh lembaga profesi itu sendiri. Tanpa fungsi pengawasan. Kebebasan ini harus dijamin. Salah satu pertimbangan MK dalam putusannya.seluruh hakim. seharusnya pengawasan kode etik yang dibentuk oleh lembaga profesi dilakukan oleh lembaga di luar profesi sendiri. pengadilan yang mandiri dan netral merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. Memang. Bebas dari pengaruh siapapun juga merupakan salah satu etika dari profesi hakim [11]. Kekuasaan kehakiman yang mandiri pada dasarnya bertujuan untuk memberikan pelayanan umum yang sebaik-baiknya bagi masyarakat dalam bidang peradilan. dalam kasus ini hanya oleh KY. menekankan bahwa pentingnya fungsi pengawasan serta pembinaan etika profesi hakim. maka KY sama sekali tidak berfungsi seperti yang diinginkan oleh UUD 1945. sangat tidak beralasan mengatakan bahwa KY dapat campur tangan terhadap masalah internal MA. mencabut kebebasan warga negara atau bahkan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. Oleh sebab itu. adanya suatu pertanggungjawaban sosial terhadap masyarakat merupakan pengimbang dari kebebasan dan kemandirian kekuasaan kehakiman tersebut [9]. hakim terikat dengan etika. Sebuah etika profesi berperan sebagai alat pengatur yang cukup efisien karena etika profesi mengontrol perilaku anggotanya agar tetap bekerja menurut etika yang sepakatinya [10]. sanksi dapat diberikan oleh lembaga itu sendiri. dalam hal ini termasuk juga Hakim Agung. 8 9 10 11 . Di sinilah pentingnya peranan pengawasan yang dimiliki oleh KY. otomatis jiwa dari UU KY itu sendiri Dalam menjalankan tugasnya. KY dalam hal ini juga berfungsi sebagai wakil masyarakat dalam mengawasi perilaku hakim. Dalam Pedoman Etika Perilaku Hakim yang dibentuk oleh MA dan KY.

dasar yang dijadikan MK pun tidak saling mendukung. melainkan lebih tepatnya tidak harmonis dengan ketentuan pada UUD 1945 Amandemen. MK sendiri memiliki alasan yang benar-benar berbeda dari alasan pemohon. jelas dimengerti bahwa permohonan yang dikabulkan adalah bila didasari dengan alasan yang tepat. Memang. salah satu petunjuk untuk menguji apakah sebuah muatan UU sudah sesuai dengan UUD adalah dengan melihat ketentuan yang dirumuskan dalam [12]. Hal ini tercermin dari pendapat MK bahwa kewenangan KY dianggap kurang rinci sehingga menimbulkan lebih banyak ketidakpastian hukum. Batang Tubuh UUD 1945 terutama dalam hal gramatikal. Selain itu. 24 Tahun 2003 tentang MK menyebutkan bahwa dalam hal Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa permohonan beralasan. pendapat MK bahwa kewenangan KY kurang rinci adalah bertentangan dengan alasan MK yang semula. amar putusan menyatakan permohonan dikabulkan. bila disimak kembali. Sementara. Di sini. seperti yang disebutkan oleh MK. bukanlah dengan kewenangan yang bertentangan. namun didasari dengan pertimbangan yang berbeda dari alasan yang diberikan oleh para pemohon (Hakim Agung). perlu dilakukan perbandingan-perbandingan. Dalam Pasal 56 ayat (2) UU No. MK menghapus semua kewenangan KY dalam hal pengawasan hakim. Dari pernyataan pasal. 12 . Namun. Kewenangan yang tidak rinci. bukan berarti MK dapat begitu saja menghapus kewenangan ini. Dalam hal ini. Alasan MK adalah adanya ketidakjelasan rumusan karena pertukaran posisi kata ³menegakkan´ dan ³menjaga´. ketentuan dalam UU KY sama sekali tidak bertentangan. Dalam kasus ini.Dalam putusannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->