P. 1
Analisis-Kekuasaan Di Tangan Rakyat. Oleh Randi

Analisis-Kekuasaan Di Tangan Rakyat. Oleh Randi

|Views: 25|Likes:
Published by Aan Zt Innovations
Diposkan dalam Buletin El-Wijhah edisi.XXIV
Diposkan dalam Buletin El-Wijhah edisi.XXIV

More info:

Published by: Aan Zt Innovations on May 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2011

pdf

text

original

Analisis

janji-janji kampanyenya. Kredibel lebih te ga s l a g i d i ga m b a r ka n d e n ga n pemimpin yang tidak korupsi dan membiarkan korupsi merajalela di negerinya. Pemimpin juga harus connected (pemimpin selalu terkonek dengan warga negaranya). Presiden yang terkonek adalah presiden yang mau mendengarkan apa yang menjadi harapan sekaligus kecemasan dari rakyatnya. Ia juga selalu mendengarkan apa yang menjadi aspirasi rakyat. Pemimpin juga terbuka pada kritik dan bukan pembelaan diri. Selain itu, pemimpin harus melindungi rakyatnya,seperti yang tertulis di sebuah hadits; "imam adalah perisai, di mana dia akan melindungi orang-orang yang berperang di belakangnya, dan menjadi benteng bagi mereka.(HR. Muslim)" dan jangan mempersulitkannya. Keterangan dari Sayidatina Asiyah RA. Pernah mendengar Rasulullah berkata ; "Ya Allah, barang siapa yang memerintah suatu dari umatku, lalu ia persulit urusan itu atas mereka maka persulit pulalah urusannya. Dan barang siapa yang memerintah sesuatu dari umatku, lalu ia sayang pada mereka maka sayangi pulalah mereka. (Riwayat Muslim)" Apabila seorang pemimpin tidak dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut maka kekuasaan berada di tangan rakyat. Apabila rakyat mempunyai hak untuk mengangkat khalifah maka berhak pula bagi rakyat untuk melepas jabatan pemimpin tersebut. Tetapi Rosulullah melarang untuk menentang pemimpin itu selagi ia masih mau melaksanakan shalat. Sebuah hadits mengatakan :

Oleh : Randi Julianto. XD

Kita tentu sangat prihatin menyaksikan beberapa Negara yang baru-baru ini sedang didera konflik besarbesaran antara sang pemimpin dan yang dipimpin. Selain pemimpin Mesir Hosni M u b a ra k s e r ta p e m i m p i n L i bya Muammar Khadafi, saat ini presiden Syria Basyar Al Assad dan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh juga digoyang dengan gelombang revolusi agar dirinya segera meletakkan jabatannya. Dapat kita saksikan berbagai reaksi rakyat menyikapi situasi ini. Ada yang mencemooh, kecewa, marah, bahkan secara emosional melakukan pembrontakan terhadap pemimpin tersebut. Jauh sebelum itu, Indonesia pernah mengalami hal serupa saat terjadi demo besar-besaran pada tahun 1998 untuk menjatuhkan presiden Soeharto yang menguasai Indonesia selama 32 tahun. Sesungguhnya hal seperti ini bukanlah hal yang baru dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

"Tiadalah Allah mengutus seorang pemimpin melainkan terdapat bagi dua (golongan) penyeru, yaitu penyeru yang

memerintah kepada kebaikan serta mendorong melakukannya dan penyeru yang memerintahkan kepada kejahatan serta mendorong untuk melakukanny. Orang yang selamat adalah orang yang dipelihara Allah." Dengan hadits ini, dapat kita ambil pengertian bahwa pada setiap pemimpin, akan selalu terdapat dua tabiat manusia yang selalu berlawanan. Oleh karena itu antara kebaikan dan keburukan akan selalu saling berlomba dan berebut pengaruh di tengah-tengah masyarakat. Mungkin hal ini disebabkan oleh kesalahan pemimpin itu sendiri. Rakyat menilai para pemimpin tersebut sebagai sosok otoriter, bertangan besi, menyalahgunakan kekuasaan dengan jalan korupsi, memperkaya keluarga, menjalankan pembangunan yang timbang dengan terus menekan kelompok miskin, dan sebagainya. Peran pemimpin memang harus dideferensikan. Pemimpin bekerja bukan untuk dirinya, keluarganya, partainya, tapi benar-benar untuk semua rakyatnya. Tugas seorang pemimpin memang sangatlah berat. Seorang pemimpin itu harus adil kepada rakyat dalam segala tindak tanduknya. Pemimpin harus bisa kredibel. kredibel. Kredibel tidak lain adalah bisa dipercaya alias tidak membohongi rakyatnya. pemimpin harus bisa mewujudkan apa yang menjadi

"tidak seorang penguruspun yang mengurus rakyat muslim, kemudian ia mati sedang dalam keadaan menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan atasnya surga." Namun, bila seorang pemimin sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, rakyat wajib patuh dan taat kepada pemimpin itu. Berdasarkan hadits dari ibnu Amir berkata ; Rosulullah pernah bersabda ;

"Wajib atas seorang muslim patuh dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang disukai atau dibenci. Kecuali bila disuruh maksiat maka tidak wajib mendengar dan taat." Dari hadits-hadits di atas, dapat kita mengerti bahwa mentaati pemimpin adalah suatu kewajiban dengan syarat dalam hal yang bukan menyebabkan maksiat atau durhaka kepada Allah dan Rasulnya. Memiliki pemimpin yang adil, bijaksana dan merakyat adalah idaman semua masyarakat. Namun, mencari orang yang berwatak demikian sangatlah susah. Untuk menciptakan pemimpin yang berwatak demikian, pemuda-pemuda seperti kita ini harus mengikuti pendidikan kepemimpinan sejak dini. Agar Negara kita semakin maju dan tidak tercipta pemimpin otoriterisme. refrensi : ilmu hadits

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->