P. 1
Pemberantasan Penyakit Menular Bag 2 Txt

Pemberantasan Penyakit Menular Bag 2 Txt

|Views: 489|Likes:
Published by AriefRianto

More info:

Published by: AriefRianto on May 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Cara Cara Pencegahan
  • E. Tindakan Internasional : Manfaatkan pusat kerjasama WHO
  • F. Tindakan bioterorisme :
  • I. CAPILLARIASIS karena CAPILLARIA PHILIPPINENSIS
  • II. CAPILLARIASIS KARENA CAPILLARIA HEPATICA
  • III. CAPILLARIASIS PARU ICD-9 128.8; ICD-10 B83.8

8. Kerentanan dan kekebalan.

Umumnya penderita sembuh secara spontan dan diikuti dengan imunitas homolog yang berlangsung lama, terjadinya serangan kedua oleh penyakit ini belum di ketahui. Infeksi yang tidak jelas sering terjadi, terutama pada anak anak, pada kelompok ini yang jelas jelas terlihat sakit sangat jarang. Pada saat terjadi wabah, poliartritis, arthr itis lebih sering terjadi pada wanita dewasa dan pada orang-orang yang secara genetis memiliki fen otipe HLA DR7 Gm a+x+b+ .

9. Cara-cara Pemberantasan A. Tindakan pencegahan. Tindakan yang umum dilakukan pada mosquito-borne viral encephalitis dapat juga diterapkan disini (lihat bab Ensefalitis virus yang ditularkan oleh Artropoda Arthropode-borne Viral Encephalitis , seksi 19A,1-5 dan 8)

B. Pengawasan penderita kontak dan lingkungan sekitarnya. 1. Laporan pada instansi kesehatan setempat yang berwenang : Untuk daerah endemis tertentu, di banyak negara, bukan termasuk penyakit yang harus dilaporkan, class 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular). 2. Isolasi : untuk menghindari penularan lebih lanjut, lindungi pasien dari gigi tan nyamuk. 3. Disinfeksi serentak : tidak perlu dilakukan. 4. Karantina : tidak perlu dilakukan. 5. Imunisasi bagi orang orang yang kontak : tidak diperlukan.

6. Lakukan investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : lakukan pencarian penderita yang tidak dilaporkan dan tidak terdiagnosa di tempat dimana penderita pernah tinggal 2 minggu sebelum sakit, lakukan tes serologis bagi semua anggota keluarga. 7. Pengobatan spesifik : tidak ada

C. Penanggulangan wabah : Cara penanggulangannya sama seperti pada demam virus yang ditularkan oleh Artropoda (lihat Demam Dengue, 9C).

D. Implikasi bencana : tidak ada.

E. Tindakan internasional : Manfaatkan Pusat-pusat kerjasama WHO

ARTHROPOD-BORNE VIRAL ENCEPHALITIDES MOSQUITO-BORNE VIRAL ENCEPHALITIDES ICD-9 062 JAPANESE ENCEPHALITIS ICD-10 A83.0 WESTERN EQUINE ENCEPHALITIS ICD-10 A83.1 EASTERN EQUINE ENCEPHALITIS ICD-10 A83.2 ST. LOUIS ENCEPHALITIS ICD-10 A83.3 MURRAY VALLEY ENCEPHALITIS (AUSTRALIAN ENCEPHALITIS) ICD-10 A83.4 LACROSSE ENCEPHALITIS ICD-10 A83.5 CALIFORNIA ENCEPHALITIS ICD-10 A83.5 ROCIO EENCEPHALITIS ICD-10 A83.6 JAMESTOWN CANYON ENCEPHALITIS ICD-10 A83.8

SNOWSHOE HARE ENCEPHALITIS ICD-10 A83.8

1. Identifikasi Kelompok virus yang menyebabkan radang akut yang dalam waktu singkat mengenai bagian bagian dari otak, sumsum tulang belakang dan selaput otak. Tanda dan geja la penyakit ini sama, tapi sangat bervariasi dan tergantung pada tingkat berat - ri ngan dan perjalanan penyakit. Sebagian besar infeksi tidak menampakkan gejala, gejala rin gan kadang terjadi berupa sakit kepala dengan demam atau berupa aseptic meningitis. Infeksi berat biasanya ditandai dengan gejala akut, berupa sakit kepala, demam tinggi, t andatanda meningeal, pingsan (stupor), disorientasi, koma, gemetar, kadang kejang (t erutama pada anak-anak) dan spastik (tapi jarang berupa flaccid paralysis ). Case fatality rate berkisar antara 0,3 60 % dengan urutan Japanese Encephalitis (J E), Murray Valley (MV), dan Eastern Equine Encephalomyelitis (EEE) yang tertinggi. G ejala neurologis sebagai gejala sisa terjadi dengan frekuensi yang bervariasi tergantu ng pada penyebab infeksi dan usia penderita, gejala sisa cenderung paling berat pada ana k-anak yang terinfeksi oleh JE, Western Equine Encephalomyelitis (WEE) dan virus EEE.

perubahan histopatologis tidak spesifik untuk virus terten tu. SLE dan R ocio Encephalitis oleh flavivirus (Flaviridae. Ditemukan lekosit pada LCS (Liquor Cerebro Spinalis) terutama limfosit berkisar antara 50 500/cu mm (SI unit. HI. Kadang kadang virus dap at diisolasi dengan menyuntik tikus muda atau kultur sel dengan jaringan otak dari penderita yang sudah meninggal. California Encephalitis. Sedangkan Venezueland Equine Encephalomyelitis. Reaksi silang mungkin terjadi dalam satu kelompok virus. Orang dengan usia lebih tua mempunyai risiko lebih besar menderita ensefalitis jika infeksi disebabkan oleh virus St Louis Encephalitis ( SLE) atau oleh virus EEE. 50 500 x 50 6/l) jumlah limfosit mungkin mencapai 1000/cu mm atau lebih tinggi.Lekositosis ringan biasanya terjadi pada penyakit virus yang ditularkan oleh nya muk ini. herpes ensefalitis. leptospira atau jamur. (lihat demam virus yang disebabkan oleh artropoda) yang kadang-kadang juga dapat menyebabkan ensefalitis. Flavivirus) dan La Crosse. JE. ensefalitis pasca infeksi atau pasca imunisasi dan encephalitides atau meningitis yang disebabkan oleh bakteri. protozo a. Alphavirus). Penyakit-penyakit yang masuk dalam tickborne encephalitides harus dibedakan deng an penyakit dibawah ini yang juga memberikan gejala neurologis. Penyebab penyakit. 2. FA. Tiap penyakit disebabkan oleh virus spesifik salah satu dari 3 grup virus : EEE dan WEE oleh alfavirus (Togaviridae. encephalitic dan no nparalytic poliomyelitis. sedangkan anak usia < 15 tahun mempunyai risiko lebih besar teri nfeksi virus LaCrosse dan bisa terserang kejang-kejang. aseptic meningitis ka rena enterovirus. mumps meningoensefalitis. rabies. (SI unit : 1000 x 10 6 /l atau lebih besar) pada anak-anak yang terinfeksi dengan virus EEE. ELISA atau dengan tes serologis lainnya. MV Encephalitis. adalah sebagai penyebab utama demam virus yang ditularka n oleh artropoda. CF. Rift Vall ey Fever. Jamestown Canyon dan Virus Snowshoe Hare oleh grup Kalifornia dari . Kunjin. jarang sekali virus dapat diisolasi dari darah atau LCS se sudah gejala klinis muncul. Diagnosa dibuat dengan mengukur titer IgM spesifik serum fase akut dari LCS atau meningkatnya titer antibodi pada pair sera dengan menggunakan prosedur netralisa si seperti. West Nile Virus. mikoplasma.

Rocio Encephalitis di Brazil. Cina dan India. Panama dan Brazil. 3. Bunyavirus). Texas ke timur New York dan Georgia. Kanada dan sebagian Amerika Selatan. EEE ditemukan di bagian timur dan utara Amerika Tengah dan sekitar Kanada. China dan Rusia. LaCrosse Encephalitis di AS dar i Minnesota. JE di kepulauan Pasifik bagian barat da ri Jepang ke Filipina. dari Korea sampai d engan Indonesia. Ontario (Kanada) dan Trinidad. Australia dan di sebagian besar tempat di Asia Timur. SLE di sebagian besar AS. Snowshoehare Encephalitis ditemukan di Canada. Jamaica . . Distribusi penyakit. Kunjin dan MV Encephalitis ditemukan di sebagian Aust ralia dan New Guinea. Penderita-penderita yang disebabkan oleh v irus ini ditemukan didaerah subtropis pada waktu musim panas dan awal musim gugur dan pada umumnya terbatas pada daerah atau waktu dimana suhu dan kepadatan nyamuk tinggi. menye bar di Amerika utara dan Tengah dan di Kepulauan Karibia. Kasus jarang ditemukan di Pulau Badu di selat Torres dan Que ensland Utara.virus bunya (Bunyaviridae. WEE di bagian barat dan te ngah AS.

Masa inkubasi Biasanya 5 15 hari. Cara penularan Melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Culiseta melanura kemungkinan berperan menularkan virus dari burung ke burung. terinfeksi secara transovarian namun nyamuk bisa juga mendapatkan infeks i virus seperti pada virus La Crosse dari burung liar atau mamalia kecil. C. Nyamuk tetap dapat menularkan viru s sepanjang hidupnya. tikus. tarsalis. Dengan mekanisme yang mungkin berbeda untuk tiap virus. tetapi Viremia jarang sekali ditemukan dengan kadar yang tingg i atau . 5. nigripalpus. Kuda dapat terserang oleh 2 jen is virus kuda dan oleh JE. 7. C. Untuk EEE di AS dan Kanada. reptil. gel idus. Viremia mungkin berlangsung lebih lama pada kelelawar. ampibi dapat berperan sebagai r eservoir atau virus hidup pada telur nyamuk atau didalam tubuh nyamuk dewasa. dengan cara transovarian atau pada saat kawin. pipiens quinque fasciatus complex dan C. untuk WEE di AS barat dan Kanada. Virus La Crosse di pindahkan kedalam tubuh nyamuk Ae. Untuk La Crosse. terutama apabi la di selingi dengan masa hibernasi (di musim dingin). C. Reservoir. Viremia pada burung biasanya berlangsung 2 5 hari. Triseriatus.4. reptil dan amfibi. Ae. sedangkan reservoir dan cara hidup melewati musim dingin dari virus lainnya tidak diketahu i dengan jelas. kelompok Aedes dan Coquillettidia spp be rperan menularkan virus dari burung atau binatang lain ke manusia. vishnui complex dan pada daerah tropis C. Untuk MV mungkin C. Culex tarsalis Untuk JE. tritaeniorhynchus. Berikut ini adalah Vektor vektor penting yang diketahui. Virus grup Kalifornia hidup melewati musim dingin didalam telur Aedes. Babi dan burung memegang peran penting dalam penularan JE. Untuk SLE di AS. Masa penularan : Tidak langsung ditularkan dari orang ke orang. Virus biasanya tidak ditemukan pa da darah manusia sesudah gejala penyakit muncul. kelelawar. annulatoris. mungkin burung. 6. Triseriatus. Nyamuk. C.

Di daerah endemis tinggi. Anak-anak dan orang tua umumnya rentan terhadap penyakit ini. sementara gejala SLE bertambah berat sesuai dengan bertambahnya umur. Infeksi virus menimbulkan imunitas yang homolog. Kerentanan bervariasi tergantung jenis virusnya. 8. anak-anak sangat rentan terhadap penyakit ini. Dengan demikian manusia dan kuda jarang sekali seb agai sumber infeksi bagi nyamuk. Kekebalan dan kerentanan. misalnya LaCrosse Encephalitis biasanya me rupakan penyakit pada anak-anak. orang dewasa umumnya kebal terhadap strain/jenis lokal disebabkan oleh karena sebelumnya telah mengalami infeksi ringan atau infeksi ta npa gejala. infeksi yang tidak jelas atau tidak terdiagnosa lebih umum terjadi pada kelompok umur lain. .dalam jangka waktu yang lama.

Bagi mereka yang secara terus menerus terpajan oleh karena bekerja di Laboratorium. tersedia vaksin EEE. Membunuh nyamuk dengan pengasapan atau dengan penyemprotan yang meninggalkan residu pada habitat manusia (lihat juga Malaria 9A 1-5). kering) di US Army Medical Research and Materiel Command. Vaksin virus hidup yang dilemahkan dan diinaktivasi dengan formalin dari sel primer ginjal hamster (sejenis marmut). A. Fort Detric. Vaksin ini secara tersedia di AS dan di dianjurkan untuk diberikan bagi mereka yang ke daerah pedesaan didaerah endemis. Menghindari gigitan nyamuk selama jam jam nyamuk aktif menggigit atau gunakan obat gosok anti nyamuk (repelans) (lihat Malaria 9A1-4). Pengawasan dari penderita. Isolasi : tidak dilakukan. gunakan kelambu waktu tidur. Memasang kasa pada tempat tidur dan tempat tinggal. 2. WEE (tidak aktif. 7. Frederick. dida lam sekret atau didalam discharge selama sakit. Laporkan Distribusi Penyakit dengan nama yang sesuai atau dilaporkan sebagai ensefalitis bentuk lain atau dilaporkan sebagai aseptic meningitis dengan menyebutkan etiologi atau diagnosa klinis yang jelas bila diketahui. MD 21702-5009 (phone : 301-619-2051).9. Di daerah endemis. misalnya : ternak babi didaerah endemis JE. India dan Taiwan. Tindakan pencegahan 1. 5. Laporan ke instannsi kesehatan setempat. Korea. resmi beredar dan di gunakan secara luas di China. Kasus wajib dilaporkan disebagian be sar negara bagian di AS dan di beberapa negara di dunia. Petugas Laboratorium yang terpajan secara tidak sengaja dapat dilindungi seca ra pasif dengan memberikan serum imun hewan atau manusia. hewan ternak diimunisasi atau menempatkan mereka dalam kandang yang jauh dari tempat tinggal. Class 2A (lihat Pelaporan Penyakit Menular). 8. ATTN : MCMR-UMP. Membunuh larva dan menghilangkan tempat yang diketahui dan dicurigai sebagai tempat perindukan vektor. Tindakan kewaspadaan enterik (lihat . 4. kontak dan lingkungan sekitarnya. B. 2. Memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang cara penyebaran dan pengendalian penyakit ini. 1. Thailand. 3. Cara-cara pemberantasan. Virus biasanya tidak ditemukan didalam darah. 6. Misalnya memusnahkan atau menyemprot ban dengan insektisida untuk mencegah berkembang biaknya vektor LaCrosse. Vaksin anak-anak komersial bepergian mati yang dibuat dari otak tikus untuk JE Ensefalitis digunakan untuk di Jepang.

Disinfeksi serentak : tidak diperlukan.definisi) perlu dilakukan sampai dengan enterovirus meningoensefalitis (lihat meningitis viral) dapat di kesampingkan. Karantina : tidak diperlukan. Investigasi kontak dan sumber infeksi: Cari penderita yang terlewati dan cari vektor nyamuk. Lakukan tes untuk melihat adanya viremia pada penderita demam . Imunisasi kontak : tidak diperlukan 6. 5. 3. 4.

1 (CENTRAL EUROPE TICK BORNE ENCEPHALITIS) PENYAKIT LOUPING ICD-10 A84. 2. ENSEFALITIDES DITULARKAN OLEH KUTU (TICK BORNE) ICD-9 063.ICD-10 A84 ENSEFALITIS TIMUR JAUH YANG DITULARKAN OLEH KUTU ICD-10 A84.8 . Sebaliknya pemberian Imunisasi pada babi untuk JE mempunyai dampak yang bermakna dalam mencegah penyebaran virus. Pemberian Imunisasi pada kuda tidak mempunyai efek mencegah penyebaran virus di masyarakat. penjelasan berikut) 7.dan anggota keluarga yang tidak menunjukkan gejala khusus. Implikasi bencara : tidak ada. C. Manfaatkan Pusat Kerjasama WHO. D. Penanggulangan wabah : 1.0 (FAR EASTERN TICK BORNE ENCEPHALITIS) (RUSSIAN SPRING SUMMER ENCEPHALITIS) ENSEFALITIS EROPA TENGAH YANG DITULARKAN OLEH KUTU ICD-10 A84. Pengkabutan (fogging) atau penyemprotan (spraying) dari pesawat terbang denga n insektisida yang tepat mencegah meluasnya wabah SLE di perkotaan. Pengobatan spesifik : tidak diperlukan. E. (Lihat 9C. Tindakan internasional : Lakukan penyemprotan dengan insektisida terhadap pesawat-pesawat yang datang dar i daerah terjangkit. II. Yang perlu diperhatikan terutama adalah masalah pengendalian vektor di masyarakat. Lakukan penyelidikan apakah telah terjadi infeksi pada kuda dan burung. penemuan kasus-kasus yang terjadi pada manusia mempunyai nilai epidemiologis dengan cara menghitung frekuensi dan distribusi penderita di daerah terjangkit.

Central European Tick Borne Encephalitis (CEE) disebut juga difasik milk fever (demam susu difasik) atau difasik meningoensefalitis dengan gejala yang lebih ringan namun berlangsung lama kira kira 3 minggu. . lumpuh layuh (terutama pada bahu ) dan gejala sisa lai n. dan fase ke dua demam dan meningoensefalitis terjadi 4 10 hari sesudah pemulihan.8 1. kematian dan gejala sisa yang berat jarang terjadi dibandingkan dengan penyakit Ensefalitis Timur Jauh yang ditularkan oleh kutu (FE) .POWASSAN VIRUS ENCEPHALITIS ICD-10 A84. Stadium awal demam dari CEE tidak berhubung an dengan gejala yang mengarah ke SSP. Identifikasi Kumpulan penyakit virus yang secara klinis mirip dengan ensefalitis yang ditular kan oleh nyamuk kecuali subtipe Far Eastern Tickborne (FE) yang sering dihubungkan dengan timbulnya epilepsi fokal.

cookei memuncak pada bulan Januari hingga September. Pada umumnya di pedesaan atau da erah hutan. Skandinavia dan Inggris. atau d engan mengisolasi virus dari darah selama periode akut atau dari otak yang diambil pos tmortem dengan menyuntikkannya pada tikus muda atau kultur sel. g igitan kutu I. Gigitan kutu I. Pada umumn ya sub tipe FE ditemukan terutama di wilayah Timur Jauh bekas Uni Soviet. Daerah dengan insid ens penyakit tertinggi adalah daerah dimana manusia mempunyai hubungan sangat dekat dengan kutu yang terinfeksi dalam jumlah besar. sehingga penyakit ini disebut dengan demam susu difasik (Dipha sic . atau dengan tes serologis dari pasangan sera. dan di AS dan Kanada. Exodes persulc atus di Asia Timur biasanya aktif pada musim semi dan awal musim panas. Distribusi penyakit. 2. bagian timur Eropa dan Eropa Tengah. Virus Powassan ditemukan di Kanad a. Tes serologis yang umum dilakukan tidak untuk membedakan anggota dari kelompok ini tetapi untuk membedak an kelompok ini dari kebanyakan penyakit serupa dari kelompok lain. dengan perbedaan minor antigen. Diagnosa spesifik dibuat dengan mengukur titer IgM spesifik pada serum darah fas e akut atau yang diambil dari LCS. AS dan Rusia. tetapi virus-virus yang menyebabkan penyakit-penyakit ini berhubungan sangat dekat satu sama lain.Powassan Encephalitis (PE) mempunyai gejala klinis yang sama dan kira kira CFR-n ya berkisar antara 10 % dan sekitar 50 % penderita yang sembuh memberikan gejala si sa neurologis diantara mereka yang hidup. Penyakit SSP yang disebabkan oleh kelompok virus ini tersebar luas di negara bek as Uni Soviet. sementara Louping ill terjadi di Kepulauan Inggris dan Irlandia. Penyebab penyakit : Satu kelompok dalam keluarga flavivirus. CEE banya k terjadi di Eropa. Insidens musiman tergantung pada densitas vektor kutu. 3. ricinus di Eropa terjadi pada awal musim panas dan semi. Louping ill pada manusia juga mempunya po la difasik dan relatif ringan. juga di perkotaan. terutam a dengan virus Powassan. tetapi akhir-akhir ini ditemukan juga di Eropa Barat. Wabah lokal dari CEE terjadi dikalangan masyarakat yan g mengkonsumsi susu yang tidak dipasteurisasi atau mengkonsumsi produk susu dari b iribiri dan kambing.

beberapa orang mengalami gejala sisa yan g serius bahkan ada yang sampai meninggal. Reservoir. hal ini di pengaruhi oleh beberapa hal antara lain oleh kesempatan terpajan dengan kutu. Ixodes persulcatus adalah vektor utama di Rusia Timur dan . 5. CEE dan virus PE . 4. Infeksi yan g didapat di laboratorium sering terjadi. tel ah terbukti terjadi penularan transovarian pada kutu dari virus tickborne ensefalit is. mama lia kecil dan burung berperan sebagai sumber infeksi kutu untuk FE. Biri-biri dan kijang adalah hospes vertebrata utama untuk Louping ill . konsumsi sus u dari binatang yang terinfeksi atau sebelumnya telah memperoleh kekebalan. Kutu atau kombinasi kutu dan mamalia. sementara tikus. Cara penularan : Melalui gigitan kutu yang terinfeksi atau karena mengkonsumsi susu dari binatang tertentu yang terinfeksi.Milk Fever). merupakan reservoir yang sesungguhnya. Pola usia penderita diberbagai daerah sangat bervariasi.

Yang disebutkan terakh ir juga berperan sebagai vektor Louping ill pada domba di Skotlandia. Imunisasi kontak : tidak diperlukan . Tidak menular langsung dari manusia ke manusia. Karantina : tidak diperlukan 5). Semua jenis kelamin dan usia rentan terhadap penyakit ini. sesudah kutu di hilangkan 3). Isolasi : tidak diperlukan. dilaporkan cukup efektif dan aman.Ixodes ricinus di Rusia Barat dan bagian lain dari Eropa. 3) Masaklah sampai mendidih atau lakukan pasteurisasi terhadap susu yang akan dikonsumsi yang berasal dari binatang rentan di daerah dimana ditemukan penyakit meningoensefalitis difasik (CEE). Disinfeksi serentak : tidak dilakukan 4). B. sedangkan pada manusia berlangsung antara 7 10 hari. Tindakan pencegahan. Kerentanan dan kekebalan. Kutu yang terinfeksi. 1). 9A untuk upaya pemberantasan kutu. dibanya k negara. Viremia pada berbagai jenis vertebrata bisa berlangsung bebe rapa hari. 1) Lihat penyakit Lyme. 2) Vaksin dari virus yang diinaktivasi digunakan secara luas di Eropa dan bekas Uni Soviet. Class 3B (lihat bab pelaporan penyakit menular) 2). Masa penularan. kontak dan lingkungan sekitar. menular sepanjang hidupnya. mamalia lain atau burung. 9. Vir us CEE mungkin didapat karena mengkonsumsi susu mentah atau susu yang terinfeksi. Laporan ke instansi kesehatan setempat : Di daerah endemis tertentu. 6. Pengawasan penderita. Infeksi. I. Larva dari kutu menghisap virus pada waktu menghis ap darah dari vertebrata yang terinfeksi yaitu tikus. cookei adalah vek tor utama di Kanada Timur dan AS. Masa Inkubasi : biasanya 7 14 hari. 7. 8. A. bukan merupakan penyakit yang wajib dilaporkan. apakah denga n ataukah tanpa gejala khusus dapat menimbulkan imunitas. Cara cara pemberantasan.

Implikasi bencana : tidak ada. C. cari dan temukan kutu dan binatang yang kemungkinan mencemari susu dengan kotoran yang mengandung virus. Investigasi dari kontak dan sumber penyakit : cari kasus-kasus yang tidak dilaporkan. . Penanggulangan wabah : Lihat penyakit Lyme.6). 9A D. E. Tindakan internasional : Manfaatkan Pusat Kerjasama WHO.

Demam Venezuelan equine).2.Demam Virus yang ditularkan oleh Arthropoda. lumpuh. terutama pada anak-anak. Virus dapat diisolasi melalui kultur sel atau bayi ti kus yang diinokulasi dengan spesimen darah dan pencucian nasofaring yang diambil pada 72 jam pertama saat munculnya gejala.A92. Identifikasi : Manifestasi klinis dari infeksi virus ini adalah berupa penyakit yang mempunyai gejala seperti influensa. kejang. Kongesti faring dan Konjungtiva adalah gejala fisik satu-satunya. naiknya titer antibod i atau deteksi dari IgM spesifik. . meriang.A. darah akut dan darah konvalesens yang diambil den gan jarak sekitar 10 hari secara terpisah menunjukkan adanya kenaikan titer antibodi . 3 dari 40 penderita mengalami gejala SSP berat. gejala SSP mungkin muncul. dengan onset yang cepat mulai dari sakit kepala yang berat. I. Beberapa kasus bisa memberikan gejala demam difasik. yang ditandai dengan gejala mengantuk hingga gejala ensefalitis yang jelas.2 (Venezuelan Equine Ensefalitis. sesudah demam beberapa hari. 1. MOSQUITO-BORNE DAN CULICOIDES-BORNE VIRAL FEVERS. (Yellow fever dan dengue di jelaskan secara terpisah) I. VENEZUELAN EQUINE ENCEPHALOMYELITIS VIRUS DISEASE ICD-9 066. d emam. disertai disorientasi. ICD-10. dengan gejala yang berlangsung selama 3 5 hari. koma dan kematian. Infeksi Laboratorium bisa terjadi jika upaya dan alat pencegahan tidak digunakan dengan semestinya. dengan gejala sisa berupa perubahan kepribadian dan atau kelumpuhan. Diagnosa awal dibuat berdasarkan gejala klinis dan gambaran epidemiologis (adany a pajanan di daerah dimana penyakit equine epizootic sedang berlangsung) dan di konfirmasi diagnostik dilakukan dengan diisolasinya virus. Kebanyakan infeksi relatif ringan. mual dan muntah. sakit belakang bola mata. nyeri otot. Selama KLB yang terjadi di Texas pada tahun 1971.

adalah termasuk alfavirus (Togaviridae. Trinidad dan Amerika Tengah. Subtipe enzootik dari VEE bertahan pada siklus tikus nyamuk. Selama KLB. menular di dalam suatu atkan kuda. Endemik di Amerika Selatan. 4. i subtipe 1 muncul secara periodik dari enzootik virus VEE 1D di agian Utara. dengan sub tipe enzootik dan varietas epizootik subti pe 1. Distribusi penyakit. virus epizootik VEE. epizootik pada ta hun 1970 1971 menyebar melalui Amerika Tengah ke USA. an Jenis epizootik dar Amerika Selatan b siklus yang melib kemudian ditulark .2. Penyakit ini muncul seb agai epizootik. Alphavirus). yang menjadi sumber utama penularan virus kepada nyamuk. 3. Penyebab penyakit. terutama di bagian Utara dan Barat Amerika Selatan. Reservoir. Virus Venezuelan equine encephalomyelitis (VEE).

Cara penularan. Fort Detrick. Psorophora. Tindakan pencegahan 1) Lakukan prosedur umum pemberantasan nyamuk. Cara-cara pemberantasan A. Masa penularan : Manusia dan kuda yang terinfeksi merupakan sumber penularan bagi nyamuk hingga 7 2 jam. Vaksin yang dilemahkan terbukti efektif untuk melindungi kuda selama terjadinya KLB epizootik pada tahun 1970-1971. Infeksi laboratorium bisa terjadi melalui penula ran udara. terutama pada malam hari. 7. 9.manusia . phone 301-619-2051). Sabethes. Masa inkubasi : Biasanya 2 6 hari. tidak ada bukti penularan terjadi dari kuda ke manusia. 6.kepada manusia.nyamuk 5. Vaksin untuk kuda tersedia secara komersial. 3) Vaksin dari virus hidup yang dilemahkan masih dalam taraf ujicoba (TC-83) dan vaksin dari virus yang dimatikan untuk VEE terbukti efektif untuk melindungi petugas laboratorium dan orang dewasa lainnya yang berisiko tinggi (tersedia pad a US Army Medical Research and Materiel Command. Kerentanan dan kekebalan. 2) Hindari daerah endemis berhutan. Frederick. Deinocerites serta Anopheles dan kemungkinan agas ceratopogonid. bisa juga 1 hari. Manusia juga mengalami viremia dan menjadi sumber penularan pada siklus penularan nyamuk . ATTN: MCMR-UMP. nyamuk yang terinfeksi mungkin menularkan virus sepanjang hidupnya. Aedes. pengendalian infeksi pada kuda terbukti efektif mencegah munculnya kasus baru pada manusia. 8. Anak-anak jika terinfeksi mempunyai risiko terserangnya SSP . Infeksi ringan dan timbulnya imunitas serin g terjadi pada daerah endemis. . Melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Semua orang rentan terhadap infeksi. Virus VEE diisolasi dari Culex (melanoco nion). MD 21702-5009. Mansonia. Haemagogus.

Class 3D (lihat tentang pelaporan penyakit menular). 4) Karantina : tidak dilakukan. 1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat : untuk daerah endemis tertentu di banyak negara. 5) Imunisasi kontak : tidak diperlukan. 3) Disinfeksi serentak : tidak diperlukan. . 6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : Cari kasus kasus yang tidak terdiagno sa dan kasus-kasus yang tidak di laporkan. bukan merupakan penyakit yang wajib dilaporkan. 2) Isolasi : Lakukan tindakan kewaspadaan universal terhadap darah dan cairan tubuh. Pengawasan penderita.B. kontak dan lingkungan sekitar. Pasien sebaiknya dirawat diruangan yang di beri kasa atau di rawat di rumah yang disemprot dengan insektisida yang meninggalkan residu paling sedikit selama 5 hari sesudah onset atau hingga demam hilang.

Gunakan obat gosok anti nyamuk yang telah direkomendasikan bagi mereka yang terpajan. 3). 4). Implikasi bencana : tidak ada. Lakukan survei kepadatan nyamuk. IB. D. Penanggulangan wabah : 1).3 PENYAKIT VIRUS GRUP C ICD-10 A92. DEMAM YANG DITULARKAN OLEH NYAMUK DAN OLEH CULICOIDES LAIN ICD-9 066.3 DEMAM. 2). cegah nyamuk untuk mengigit mereka d an lakukan upaya pemberantasan nyamuk secara intensif di daerah terjangkit. keluar dari daerah terinfeksi.8 DEMAM RIFT VALLEY ICD-10 A92.4 DEMAM WEST NILE ICD-10 A92. tempat perindukan dan tindakan pemberantasan yang efektif. Identifikasi kuda-kuda yang terinfeksi. Tentukan luasnya daerah yang terinfeksi.8 PENYAKIT VIRUS OROPOUCHE ICD-10 A93. lakukan imunisasi terhadap kuda dan atau larang kuda-kuda tersebut untuk pindah.7) Pengobatan spesifik : tidak ada C.8 PENYAKIT VIRUS BWAMBA ICD-10 A92.0 . VIRUS BUNYAMWERA ICD-10 A92. Tindakan Internasional : Lakukan Imunisasi terhadap hewan. dan di larang memindahkan hewan dari daerah epizootik ke daerah yang bebas dari penyakit. E.

1. Meningoensefalitis terkadang merupakan komplikasi dari inf eksi virus West Nile dan Oropouche. malaise. sakit kepala. Geja la awal berupa demam. . Demam bisa atau tanpa bentuk difasik. Pada umumnya ada konjungtivitis dan fotopobia. Identifikasi Kelompok virus yang menyebabkan demam dan biasanya berlangsung selama satu minggu atau kurang. insidens penyakit biasanya mencapai ribuan penderita. Penderita Rift Valley Fever (RVF) bisa disertai d engan retinitis. Beberapa virus grup C dilapokan menyebabkan kelemahan di bagian bawah tungkai dan lengan tapi jarang berakibat fatal. arthralgia atau mialgia dan kadang-kad ang mual dan muntah. atau hepatitis disertai dengan perdarahan yang bisa berakibat fatal. Jika terjadi wabah RVF dan Oropouche. Ruam biasa terjadi pada penyakit yang dise babkan oleh Virus West Nile. Kebanyakan dari penyakit virus ini menyerupai dengue (lihat tabel pada bab pendahuluan arbovirus untuk penyakit yang ditularkan oleh Nyamuk).

Demam Oropouche ditemui di Trinidad. Oropouche dan virus West Nile menimbulkan ledakan KLB di daerah suburban dan perkotaan. Reservoir Sebagian besar dari jenis virus ini tidak diketahui reservoirnya. Ossa dan Restan. Infeksi laboratorium bisa terjadi dengan beberapa jenis virus ini. Perancis. Oropouche adalah bunyavirus dari gru p Simbu. 3. Rumania. Setiap penyakit disebabkan oleh virus yang berbeda namanya sama dengan penyakitn ya. Distribusi penyakit. Panama dan Trinidad. Virus Kunjin di Australia. Spondweni dan Zika adalah masuk kelompok flavivi rus. Kunjin. Virus West Nile. tikus berperan sebagai reservoir pada virus grup C. Pada beberapa kasus. beberapa jenis virus mungkin ada secara terus menerus dalam siklus nyamuk vertebrata di daerah tropis . Repu blik Czecho dan tersebar di Afrika. India. Bwamba dan Bunyamwera sejauh ini hanya ditemukan di Afrika. Demam Rift Valley. . kelompok bunyavirus grup C adalah Apeu. Kejadian musi man tergantung pada kepadatan vektor. Virus West Nile menyebabkan KLB di Mesir. Israel. Burung adalah sumber dari infeksi nya muk untuk Virus West Nile. Virus Oropouche bisa ditularkan oleh Culicoides. 2. Oriboca. 4. Itaqui. daerah Mediteran Utara dan Asia Barat. walaupun kadang-kadang RVF. Banzi. isolasi virus dilakukan dari da rah yang diambil selama demam dan di suntikkan pada anak tikus atau kultur sel. Nepuyo. RVF termasuk dalam kelompok phlebovirus. Virus grup C terdapat di daerah tropis Amerika Selatan.Tes serologis dapat membedakan penyakit ini dengan penyakit virus lain atau yang tidak diketahui penyebabnya. Marituba. Caraparu. Murutucu. Penyakit biasanya muncul di daerah pedesaan. Penyebab penyakit. Madrid. Kelompok lainnya yang lebih keci l tertera dalam tabel pendahuluan. Panama dan Brazil. tetapi pada umumnya virus dengan genus yang sama sangat s ulit dibedakan secara serologis.

modestus di Peran cis dan C. . Kebanyakan cara penularan adalah melalui gigitan nyamuk infektif seperti yang te rtera dibawah ini : Untuk virus West Nile. C. Cara penularan. Aedes spp. Kebanyakan orang yang terinfeksi RVF karena menangani jaringan binatang pada wak tu melakukan necropsy atau pemotongan hewan.5. Untuk virus Bunyamwera. Ae. Culex pipiens adalah vektor penyebab wabah RVF di tahun 1977 di Mesir yang menelan korban sedikitnya 600 kematian. Culex univittatus di Afrika Selatan. pipiens di Israel. vektor potensial adala h beberapa jenis nyamuk Aedes. Untuk virus grup C. spesies dari Aedes dan Culex (Melanoconion) Untuk virus Rift Valley (pada kambing dan binatang lain). mcinthoshi bisa terinfeksi secara transovarian dan bisa menjadi tempat tinggal virus RVF di daerah fokus enzootik.

Masa penularan Tidak langsung ditularkan dari orang ke orang. Nyamuk yang terinfeksi mungkin menularkan virus sepanjang hidupnya. Terjadinya viremia. kewaspadaan umum perlu diperhatikan dalam penanganan binatang yang terinfeksi serta produknya. Infeksi dapat menimbu lkan imunitas. Semua golongan usia rentan terhadap penyakit ini. Pengawasan penderita. Cara-cara pemberantasan A. . Class 3B (lihat Tentang pelaporan penyakit menular). sedangkan vaksin hidup dan vaksin dari virus yang diinaktivasi tersedia untuk imunisasi kambing. 2) Vaksin RFV dalam taraf uji coba yang dibuat dari kultur sel yang diinaktivasi tersedia untuk manusia. 9. Kerentanan dan kekebalan. domba dan sapi. laporkan kepada WHO. 7. 1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat : pada daerah endemis tertentu dibanyak negara bukan merupakan penyakit yang wajib dilaporkan. B. kontak dan lingkungan sekitarnya.penularan mekanis oleh lalat hematopagus dan penularan melalui udara atau darah yang terinfeksi bisa menyebabkan terjadinya KLB RVF. Tindakan pencegahan. Untuk Rift Valley Fever. Biasanya 3 12 hari. baik pria maupun wanita. 6. Infek si yang tidak jelas tanpa gejala dan penyakit ringan umum terjadi. begitu juga terhadap penanganan darah fase akut pada manusia. Masa Inkubasi. syarat penting untuk in feksi virus pada vektor. seperti Culicoides paraensis untuk virus Oropouche. 1) Lakukan semua tindakan pencegahan yang diterapkan untuk ensefalitis yang ditularkan oleh nyamuk (lihat 9A1-6 dan 9A8). 8. Arthropoda lain bisa menjadi vek tor. FAO dan kantor International Epizootic di Paris. viremia pada manusia terjadi pada masa gejala klinis awal unt uk kebanyakan virus. Untuk RVF. dan di daerah endemis anak-anak sangat rentan terhadap penyakit ini.

7) Pengobatan spesifik : tidak ada.2) Isolasi : Lakukan tindakan kewaspadaan universal sewaktu menangani darah dan cairan tubuh. Cari penderita yang tidak dilaporkan atau yang tidak terdiagnosa. 6) Investigasi dari kontak : Tanyakan dimana tempat tinggal penderita selama 2 minggu sebelum sakit. Rawatlah penderita di ruangan yang telah diberi sekat kasa atau di tempat yang telah disemprot dengan insektisida setidaknya selama 5 hari sesudah onset atau hingga tidak ada demam. 3) Disinfeksi serentak : tidak diperlukan. 5) Imunisasi kontak dan sumber infeksi: tidak diperlukan. . 4) Karantina : tidak diperlukan. Darah dari penderita RVF mungkin menular.

1 Demam kutu Colorado ICD-10 A93.8 1. Identifikasi. adalah penyakit virus dengan gej . untuk virus lainnya tidak ada tindakan spesifik kecuali upaya untuk mencegah perpindahan nyamuk melalui alat-alat transport sepe rti pesawat udara. 4) Lakukan Imunisasi pada domba. Tindakan internasional : Untuk RVF. Sebar luaskan informasi tentang prevalensi dari penyakit d an luasnya daerah yang terjangkit. E. lakukan imunisasi terhadap hewan dan dilarang memindahkan hewan dari daerah enzootik ke daerah bebas penyakit. cari dan musnahkan tempattempat perkembangbiakan nyamuk.2 Demam kutu lainnya ICD-10 A93. 5) Lakukan Identifikasi domba dan binatang-binatang lain yang terinfeksi (Rift Valley) dan lakukan survei serologis terhadap burung (West Nile) atau terhadap tikus (Virus grup C). II. 2). Demam kutu Colorado (Colorado Tick Fever. 3) Lakukan pengukuran kepadatan vektor nyamuk. Implikasi bencana : tidak ada. kambing dan hewan ternak terhadap RVF. untuk orangorang yang terpajan gigitan nyamuk. Dilara ng memotong binatang yang sakit . Hewan peliharaan yang sakit atau mati dan yang dicurigai terinfeksi RVF jang an dipotong. Manfaatkan Pusat Kerjasa ma WHO. Penanggulangan wabah : 1). dan kendaraan darat lainnya. D. kapal laut. CTF).C. Gunakan obat gosok anti nyamuk yang telah dirokemendasikan. Demam Virus yang ditularkan kutu ICD-9 066.

kadang-kadang disertai dengan ensefalitis. Konfirmasi hasil tes laboratorium dari CTF dibuat dengan mengisolasi virus dari darah yang disuntikkan pada tikus muda atau kultur sel atau dengan melihat adanya anti gen pada eritrosit dengan metode IF (Virus CTF bisa berada dalam eritrosit sampai dengan 120 hari). Metode IFA dapat mendeteksi serum antibodi kira-kira 10 hari sesudah onse t penyakit. Ciri-ciri khas dari CTF adalah penyakit dengan gejala klinis yang sedang. Sesudah muncul gejala awal bia sanya terjadi remisi singkat diikuti dengan serangan kedua demam yang berlangsung 2 3 hari disertai dengan neutropenia dan trombositopenia yang hampir selalu terjadi pada saat demam hari ke 4 5. infeksi SSP juga terjadi dengan virus Kemerovo dan Thogoto (yang terakhir mungkin menyebabkan hepatitis). Kematian jarang terjadi. miokarditis dan cenderung ter jadi perdarahan. Virus Bhanja dapat menyebabkan kelainan sya raf yang berat dan dapat menimbulkan kematian. Berbagai metoda diagnosa untuk konfirmasi demam virus yang ditularkan oleh .ala demam akut (kadang-kadang difasik) disertai ruam.

Kutu yang belum dewasa (D. . landak. Virus ada dalam darah selama demam. Siklus pada kehidupan liar berlangsung dalam tubuh kutu. Distribusi penyakit. Penyakit ini sering terjadi di tempat rekreasi atau terpaj an di tempat kerja (tempat pendakian. Melalui gigitan kutu yang infektif. tempat memancing). Adalah virus Demam kutu Colorado. 7. termasuk juga kutu terutama D. bajing tanah dan Peromyscus spp. yang tetap infektif sepanjang hidupnya. Kemerovo. mereka menularkan virus dengan cara trans stadial dan menularkan pada manusia ketika ku tu dewasa menghisap darah. Virus diisolasi dari kutu Dermacentor andersoni di Alberta dan British Columbia. Lipovnik. 4. Bhanja. 5. virus ada dida lam eritrosit dari 2 hingga 16 minggu atau lebih sesudah mulai sakit. penyakit domba Nairobi (Ganjam). Penyebab penyakit. andersoni. variasi m usiman paralel dengan tingginya aktivitas kutu (bulan April Juni di pegunungan Rocky Mountain di AS). pada lokus-lokus enzootik. 3. 6. Demam kutu Colorado endemis di pegunungan dengan ketinggian diatas 5000 kaki di bagaian barat AS dan Kanada. Reservoir Reservoir dari CTF adalah mamalia kecil seperti bajing. andersoni) mendap atkan virus CTF pada waktu mengisap darah binatang yang mengalami viremia. kecuali dalam hal penggun aan serum untuk isolasi virus sebagai pengganti penggunaan eritrosit. (Distribusi geografis dari virus lain bisa dilihat pada tabel). Cara penularan. Masa inkubasi : biasanya 4 5 hari. Quaranfil.kutu bervariasi satu sama lain walaupun hanya sedikit. Thogoto dan virus Dugbe. 2. Masa penularan Tidak langsung ditularkan dari manusia ke manusia kecuali melalui transfusi dara h. sedangkan pada CTF.

bukan merupakan kasus yang wajib dilaporkan. 9. . Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1). Kerentanan dan kekebalan. Pengawasan Penderita. tidak boleh m enjadi donor selama 4 bulan setelah sembuh dari sakit. Laporan kepada instansi kesehatan setempat : di daerah endemis tertentu (AS) . dan di kebanyakan negara. laku kan tindakan pengendalian kutu dan hewan pengerat (lihat Lyme Disease. Semua orang rentan terhadap penyakit ini. Isolasi : hati-hati terhadap cairan tubuh dan darah penderita. Jarang terjadi serangan kedua. jauhkan kutu dari penderita. 2). Cara Pencegahan : perlindungan individu dengan menghindari gigitan kutu. B. Kelas 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular).8. Cara cara Pemberantasan A. Disinfeksi serentak : tidak ada. 9A). 3).

pusing. Karantina : tidak diperlukan. demam Papatasi) PENYAKIT VIRUS CHANGUINOLA ICD-9066.5ºC (101ºF . Imunisasi : tidak ada. D. 5). Implikasi Bencana : Tidak ada E. Tindakan Internasional : manfaatkan pusat kerjasama WHO.1 DEMAM LALAT GURUN (SAND FLY FEVER) (Demam Phlebotomus. III. ICD-10 A93. Radang tenggorokan.0. . luka vesikuler mukosa mulut dan adenopati lehe r adalah ciri-ciri dari infeksi vesicular stomatitis virus (vsv). sakit retrobulbair pada gerakan mat a.8 (Demam Stomatitis Vesikuler) 1.0. sakit hebat di lengan dan punggung. tapi kematian jarang terjadi.39.0. sklera berwarna merah. Kesembuhan total dapat didahului . C. Tindakan Penanggulangan Wabah : tidak diterapkan. Investigasi kontak dan sumber infeksi : selidiki daerah yang terjangkit kutu Perawatan spesifik : tidak ada. 6). ICD-10 A93. ICD-10 A93.103ºF) kadang lebih tinggi. DEMAM VIRUS YANG DITULARKAN PHLEBOTOMINE ICD-9066. Leukopenia biasa t erjadi pada hari ke 4 hingga ke 5 setelah terkena demam.4). Identifikasi Merupakan kelompok penyakit arboviral dengan gejala demam yang mencapai suhu 38. sakit kepala. Gejala penyakit mungkin mengkhawatirkan.3ºC . 7).8 (Demam Changuinola) PENYAKIT VIRUS STOMATITIS VESIKULER ICD-9066. rasa tidak enak badan.

Candiru. Alenquer. sedikitnya ada 7 macam virus yang secara immunologis berkait (Naples. untuk infeksi virus versikuler stomatitis. telah dapat diisolasi dari Lutzomyia spp. Diagnosis pasti dibuat berdasarkan pemeriksaan serum dengan deteksi antibodi IgM spesifik atau dengan mengisolasi virus dari darah dengan menyuntikk an darah ke kultur sel atau tikus kecil. Kelompok virus demam sand fly (Bunyaviridae.dengan gejala kejiwaan berupa depresi yang berkepanjangan. Virus Chandipura adalah termasuk rhabd ovirus. Ensefalitis dapat terjadi se telah infeksi virus Toscana dan Chandipura. specimen diambil dari usap tenggorok dan cairan vesikuler. Sicilian. . Penyebab penyakit. Toscana dan Punta Toro) telah dapat diisolasi dan diidentifikasi dari manusia. Phleboviruses). Diagnosa awal didasarkan pada adanya gambaran klinis dan banyaknya jumlah pender ita yang serupa. virus Changuinola (sejenis arbovirus) dan virus stomatitis ves ikuler dari jenis Indiana (rhabdovirus) keduanya menyebabkan penyakit demam pada manusi a. 2. Chagres. Sebagai tambahan.

3. Distribusi penyakit. Merupakan penyakit daerah subtropis dan tropis yaitu daerah dengan periode cuaca kering dan panas yang panjang di Eropa, Asia dan Afrika dan hutan hujan daerah tropis b umi belahan barat dengan hutan hujan yang lebat. Penyakit ini tersebar dalam lingkar an yang luas meliputi daerah Mediterania dan ke timur hingga Myanmar (Burma) dan China. Penyakit ini bersifat musiman di daerah subtropis disebelah utara ekuator, serin g muncul antara bulan April dan Oktober dan cenderung menimpa personil militer dan pelanc ong dari daerah non endemik.

4. Reservoir. Secara alami, reservoir utamanya adalah sand fly (lalat gurun pasir) dimana viru s bertahan didalam telur nyamuk (transovarian). Rodensia arboreal dan primata selain manusi a dapat menjadi tempat bagi virus stomatitis vesikuler. Binatang pengerat diketahui menj adi inang bagi virus sand fly di bumi belahan timur.

5. Cara Penyebaran. Dengan gigitan sand fly yang terinfeksi. Vektor dari virus klasik ini bentuknya ke cil, berbulu, penghisap darah (Phlebotomus papatasi, adalah sand fly yang umum berperan sebagai vektor) menggigit pada malam hari dan memiliki jangkauan terbang yang terbatas. Sand fly dari genus Sergentomyia juga pernah ditemukan terinfeksi virus dan menjadi vector. Anggota dari genus Lutzomyia terdapat di Amerika tengah dan sela tan.

6. Masa Inkubasi diatas 6 hari, biasanya 3

4 hari, jarang di bawah itu.

7. Masa Penularan : Virus terdapat dalam darah orang yang terinfeksi setidaknya 24 jam sebelum dan 24 jam sesudah demam. Phlebotomines menjadi infektif sekitar 7 hari sesudah menggigit orang yang terinfeksi dan tetap demikian untuk masa hidup norm al mereka sekitar 1 bulan.

8. Kerentanan dan Kekebalan. Semua orang rentan terhadap infeksi; kekebalan homolog yang didapat setelah teri nfeksi virus ini kemungkinan dapat bertahan terus. Kekebalan relatif pada penduduk asli di daerah sand fly kemungkinan mempunyai kaitan dengan pengalaman infeksi pada awal kehidupan mereka.

9. Cara-cara pemberantasan : A. Cara Cara Pencegahan Hindari gigitan sand fly (lalat gurun); pengendalian sand fly adalah tujuan utama dalam uapaya pemberantasan (lihat Leishmaniasis, cutaneous dan Mucosal, 9A2)

B. Pengawasan Penderita, Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat : Di daerah endemis tertentu, di kebanyakan negara, bukan merupakan kasus yang wajib dilaporkan, Kelas 3C (lihat Petentang pelaporan penyakit menular).

2) Isolasi : tidak ada; cegah akses sand fly ke penderita pada hari hari pertama s akit dengan menggunakan kasa atau kelambu dengan ukuran (10 12 mesh / cm atau 25 30 mesh / inch, ukuran bukaan 0,085 cm atau 0,035 inch) atau dengan menyemprotkan insektisida 3) Disinfeksi serentak : tidak ada; basmi sand fly pada sarangnya. 4) Karantina : tidak diperlukan. 5) Imunisasi : saat ini tidak ada. 6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : di bumi belahan timur, cari tempat berkembang biaknya sand fly di sumur-sumur, terutama pada genangan air, lubang-lubang ditanah dan di bebatuan. 7) Perawatan spesifik : tidak ada.

C. Penanggulangan Wabah : 1). Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang cara cara penularan dan pentingnya pencegahan gigitan sand fly dengan menggunakan repelan / obat gosok anti nyamuk, terutama saat matahari mulai terbenam. 2). Gunakan insektisida untuk mengendalikan sand fly agar tidak masuk ke rumah dan pemukiman penduduk.

D. Implikasi Bencana : Tidak ada

E. Tindakan Internasional : Manfaatkan pusat kerjasama WHO.

DEMAM BERDARAH VIRUS YANG DITULARKAN ARTHROPODA

I. PENYAKIT DITULARKAN OLEH NYAMUK (Demam Berdarah dengue dan demam kuning disajikan terpisah)

II. PENYAKIT DITULARKAN OLEH KUTU

IIA. DEMAM BERDARAH CRIMEAN

CONGO ICD-9065.0;ICD10A98.0

sakit kepala. uvula dan faring. kelelahan. sakit hebat di tangan dan pinggang dan ditandai dengan timbulnya anoreksia. Identifikasi. Bercak merah pada muka dan dada hingga mata merah muncul lebih awal. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengan demam yang muncul tiba-tiba. Enantem dengan pendarahan pada palatum molle. sakit pada perut bagian bawah dan d iare kadang muncul. ruam kecil kecil . rasa tid ak enak badan. Muntah.(Demam Berdarah Asia Tengah) 1. iritasi.

uterus dan usus. Penyebab penyakit s). Demam meningkat secara konstan dalam 5 12 hari atau dengan gambaran bifasik dan menurun secara lysis. namun kebanyakan terjadi hanya pada kasus yang fatal dan serius. CF. Kadang muncul perdarahan pada gusi. hidung. Di Rusia diperkirakan terdap at 5 orang yang tertulari untuk tiap kasus demam berdarah. imuno difusi atau dengan uji netralisasi reduksi pl aque. periode dimana vektornya sangat aktif. virus demam berdarah Crimean Congo (Bunyaviridae. Tingkat fatalitas kasus dilaporkan antara 2% . hal ini dikaitkan den gan kerusakan hati yang berat. . kadang ditemukan purpura yang luas. Kejadian musiman di Rusia berlangsung antara Juni hingga September . daerah tropis Af rika dan Afrika Selatan. Distribusi Penyakit. Bulgaria.menyebar dari dada hingga perut dan sekujur tubuh. di Rostov dan Astrakhan Rusia. Trombositopenia adalah hal yang umum ter jadi. juga di Albania. paru-paru. Temuan lain berupa lekopenia dengan l ebih banyak limfopenia dibanding netropenia. Diagnosa dibuat dengan mengisolasi virus dari darah dengan inokulasi pada kultur sel atau tikus kecil atau dengan PCR. kasus demam berd arah telah dilaporkan terjadi di Afrika selatan dan Mauritania (Afrika barat). Reservoir.50%. Hematuria dan albuminuria umum terjadi namun tidak ma sif. Kebanyakan penderita adalah mereka yang bekerja dipeternakan ata u tenaga medis. IgM spesifik dapat saja muncul selama fase akut. reverse passive HI. Diagnosis serologik dibuat dengan pemeriksaan ELISA. Bosnia Herzegovi na. Nairoviru 3. 2. bagian barat China. pada Semenanjung Kersch di Kazakh tan dan Uzbekistan. 4. Pakistan. biasanya menjadi tanda yang k has muncul pada penyakit ini. Irak. Virus atau antibodi pada manusia telah di teliti dan ditemukan di beberapa daerah di bagian timur dan tengah Afrika. IFA. Penyembuhannya lama. Semenanjung Arab. Ditemukan di daerah stepa bagian barat Crimea.

terjadi setel ah terpajan dengan darah dan discharge dari pasien. kutu yang masih muda diduga mendapat infeksi dari binatang inang ata u dari kutu induknya melalui telur. reservoir adalah kelinci. Penularan juga dapat terjadi saat mem otong hewan yang terinfeksi. di Eurasia dan Afrika Selatan.Secara alami. burung dan kutu dari keluarga Hyalomma s pp. Cara Penularan. anatolicum dewasa yang terinfeksi. Infeksi nosokomial pada tenaga medis. Binatang domestik seperti kambing. Penularan melalui infeksi nosok omial ini perlu diperhatikan pada KLB yang terjadi belakangan ini : keluarga dari tenaga m edis dapat juga tertular sebagai kasus tersier. Inang di daerah tropis Afrika tetap tidak diketahui. 5. dengan jarak antara 1 12 hari . insektivora dan hewan pengerat diduga juga berperan sebagai reservoir. 6. Penularan melalui gigitan Hyalomma marginatum atau H. namun Hyalomma dan kutu Boophilus. domba dan sapi berperan se bagai inang berikutnya. Masa Inkubasi : Biasanya 1 hingga 3 hari.

Tidak ada vaksin di AS. Kerentanan dan Kekebalan Kekebalan setelah terinfeksi kemungkinan dapat bertahan seumur hidup. Vaksin otak tikus yang tidak aktif digunakan di Eropa timur dan di bekas Uni Sov iet. 9C. Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat : Di daerah endemis tertentu. B. . Implikasi Bencana : Tidak ada D. 9A. kecuali di Eropa bagian timur 6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : cari dan temukan kembali kasus yang hilang / yang tidak dilaporkan dan keberadaan hewan yang tertular serta vektor yang mungkin berperan 7) Perawatan spesifik : infus ribavirin dan plasma imun dengan kadar neutralizing antibody yang tinggi diketahui sangat bermanfaat.cara pemberantasan A. Infeksi nosokomial umum ter jadi setelah terpajan dengan darah dan discharge penderita. bukan merupakan kasus yang wajib dilaporkan. 9. Tindakan Internasional : manfaatkan pusat kerjasama WHO. Cara Pencegahan : Lihat Lyme Disease. 8. Kelas 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular) 2) Isolasi : lakukan tindakan kewaspadaan universal terhadap cairan tubuh dan da rah 3) Disinfeksi serentak : cairan darah sangat infektif.7. dekontaminasi dengan pana s atau dengan disinfektan klorin 4) Karantina : tidak diperlukan 5) Imunisasi : tidak ada. Pengawasan Penderita. Masa Penularan : Sangat menular di lingkungan RS. C. untuk tindakan pemberantasan dan pencegahan gigitan kutu . di kebanyakan negara. Cara. 8) Penanggulangan Wabah : lihat penyakit Lyme.

ICD-10 A98.2. DEMAM BERDARAH OMSK (OHF) ICD-9 065. s akit hebat di lengan dan punggung bagian bawah dan prostat ditandai juga dengan timbulnya konjungtivitis. ICD-10 A98. diare dan muntah pada hari ketiga atau keempat. Kedua penyakit yang disebabkan oleh virus ini mempunyai tanda-tanda yang mirip y aitu rasa dingin yang muncul tiba-tiba.1.1 COMSK HEMORRHAGIC FEVER PENYAKIT BELANTARA KYASANUR (KFD) ICD-9 065.2 (KYASANUR FOREST DISEASE) 1. rasa tidak enak badan. demam. Identifikasi. sakit kepala. Erupsi papuloves ikuler pada palatum molle. limfadenopati di leher dan perdarahan sub konjungtiva biasan ya .IIB.

tanpa adanya ruam. Pada tahun 1983 terdapat 1155 kasus yang dilaporkan dengan 150 kematian. Distrik Novosibirsk melaporkan 2 hingga 41 kasus terjadi setiap tahun dari tahun 1989 hingga tahun 1998. syok dapat pula terjadi tanpa adanya perdarahan. wabah KFD terbesar yang pernah dilaporkan. Penyebab Penyakit. Kurgan dan daerah Tju men. kelainan susunan syaraf pusat terjadi setelah periode 1 2 minggu setelah demam. Temuan lain berupa leukopenia dan trombositopenia. Novosibirsk. kadang kala ditemukan demam yang naik turun. sedangkan kena ikan suhu fase kedua terjadi pada minggu ketiga. Kejadian musiman di tiap daerah terjadi bersamaan dengan meningkat nya densitas dari aktivitas vektor. terutama terjadi pada laki-laki muda dewasa yang terpajan di hutan belantara pada saat musim keri ng dari bulan November hingga Juni. Penyebab penyakit adalah virus Demam berdarah Omsk (OHF) dan virus KFD yang sangat mirip satu sama lain. keduanya berasal dari ensefalitis louping ill comple x dari flavivirus yang ditularkan oleh kutu dan secara antigenik sangat mirip dengan vi rus lain dalam kompleks itu. kebanyakan terjadi pada pemburu muskrat. paru-paru. akan berakhir dengan syok dan kematian. Infeksi laboratorium sering terjadi menimpa petu gas laboratorium oleh kedua virus tersebut. sejenis tikus besar yang hidup di air. uterus (namun tidak terjadi pada ginjal) kadang kala berlangsung berhari-hari dan pada kasus yang fatal dan serius.muncul. Bingung dan gejala gejala ensefalopati dapat terjadi pada pasien dengan Penyakit Belantara Kyasanur (KFD). 2. Kasus yang berat dikaitkan dengan terjadinya perdarahan. OHF terjadi pada daerah stepa disebelah barat Siberia di Omsk. saluran pencernaan. Masa penyembuhan cenderun g lambat dan panjang. . CFR kasus dilaporkan antara 1% . Terj adi perdarahan pada gusi. hidung. Distribusi Penyakit Ditemukan di belantara Kyasanur di distrik Shimoga dan Kanara di India. Masa demam berlangsung antara 5 hari hingga 2 minggu.10%. Diagnosa dibuat dengan mengisolasi virus dari darah yang diinokulasi pada bayi t ikus atau ditanam dalam kultur sel (virus mungkin baru dapat terlihat di atas 10 hari setelah mulai sakit) diagnosa dapat juga dibuat dengan tes serologis. 3.

4. Reservoir : Pada KFD. muskrat dan kutu berperan sebagai reservoir. shrews (sejenis binatang menyerupai tikus dengan hidung lancip) dan monyet. hewan pengerat. reservoirnya kemungkinan adalah hewan pengerat. Penularan melalui gigitan kutu kemungkinan dari jenis Haemaphysalis spinigera un tuk penyakit KFD dan Dermacentor reticulates (pictus) dan Dermacentor marginatus pad a OHF (kedua virus tersebut ditemukan pada kutu yang terinfeksi. Cara Penularan. 6. Penularan langsung dapat terjadi dari muskrat ke manusia. . sedangkan p ada OHF. terutama pada sta dium nymphe). Masa Inkubasi : Biasanya 3 hingga 8 hari. yaitu penular an kepada para pemburu muskrat dan keluarganya. 5.

Lihat Lyme Disease dan Viral Encephalitis yang ditularkan melalui kutu. Vaksin untuk ensefa litis virus yang ditularkan kutu telah digunakan untuk mencegah OHF. Masa Penularan : Tidak langsung menular dari manusia ke manusia. Cara-cara pemberantasan. terutama pada anak-anak . Cacing yang keluar bersama kotoran atau kadang keluar dari m ulut. batuk. Ascaridiasis) 1. ICD-10 B77 (Infeksi cacing gelang. Beberapa penderita menunjukkan gejala kelainan paru-paru (pneumonitis. Kutu yang terinfeksi tetap menular seumur hidup kutu tersebut. kekeba lan didapat setelah terinfeksi. anus atau hidung adalah sebagai tanda awal adanya infeksi. kadang fatal se perti ileus obstruktivus yang disebabkan oleh gumpalan cacing. Identifikasi Infeksi cacing pada usus halus yang biasanya ditandai dengan sedikit gejala atau tanpa gejala sama sekali. eusinofilia darah dan adanya infiltrat paru-paru. biasanya ditandai dengan be rsin. Komplikasi serius. Satu jenis vaksin yang masih dalam taraf pengembangan saat ini sedang d i uji coba di India untuk mencegah terjadinya KLB KFD. ASCARIASIS ICD-9127. sindroma Loffler) yang diseb abkan oleh migrasi larva (terutama selama masa reinfeksi).7. Kerentanan dan Kekebalan : Semua umur dan jenis kelamin bisa tertular. vaksin o tak tikus yang diinaktifasi dengan formalin digunakan untuk OHF. namun tidak terbu kti efektif.0. 9. 8. saluran pankreas atau . Infeksi parasit yang berat dapat mengganggu penyerapan zat gizi makanan. atau sumbatan pada organ yang berongga seperti pada saluran empedu. demam.

cacing gelang yang berukuran besar yang ada pada usus manu sia. Adanya cacing pada usus dapat juga dik etahui dengan teknik pemeriksaan radiologi atau sonografi. 2. Distribusi penyakit. Penyebab penyakit. parasit yang serupa yang terdapat pada babi. Terkenanya paru-paru dapat diketahui dengan menemukan larva cacing ascaris pada sputum atau cucian lambung. Ascaris tersebar diseluruh dunia. Laporan terjadinya pankreatitis disebabkan oleh ascaris cenderung meningkat.usus buntu dapat terjadi yang disebabkan oleh cacing dewasa. jarang namun bisa berkembang menjadi dewasa pada usus manusia. Ascaris suum. mulut atau hidung. Diagnosa dibuat dengan menemukan telur pada kotoran atau ditemukannya cacing dew asa yang keluar dari anus. Ascaris lumbricoides. dengan frekuensi terbesar berada di negara tro pis yang lembab dimana angka prevalensi kadang kala mencapai diatas 50%. namun ia dapat juga menyebabkan larva migrans . Angka prevalensi dan . 3.

Penularan terjadi karena menelan telur yang fertile dari tanah yang terkontamina si dengan kotoran manusia atau dari produk mentah yang terkontaminasi dengan tanah yang be risi telur cacing. Larva tumbuh dan berkembang pada paru-paru. Masa Penularan Cacing betina dewasa yang subur hidup di usus. Cara penularan. pada suhu musim panas mereka menjadi infektif setelah 2 3 minggu dan kemudian tetap infektif sel ama beberapa bulan atau beberapa tahun di tanah dalam kondisi yang cocok. 4. Penularan tidak terjadi langsung dari orang ke orang lain atau dar i tinja segar ke orang. Di Amerika Serikat. infeksi pada an ak kebanyakan karena menelan tanah yang tercemar. Penularan terjadi paling sering di sekitar rumah. Masa Inkubasi p. siklus hidup membutuhkan 4 hingga 8 minggu untuk menjadi lengka 7. dimana anak-anak. 9 10 hari setelah infeksi mereka masuk ke alveoli. penularan melalui debu juga dapat terjadi. Tanah yang terkontaminasi telur c acing dapat terbawa jauh karena menempel pada kaki atau alas kaki masuk ke dalam rumah . didalam usus halus mereka tumbuh menjadi dewasa. telur ascaris ditemukan di tanah 5. Telur mencapai tanah melalui tinja.intensitas infeksi biasanya paling tinggi pada anak-anak antara usia 3 dan 8 tah un. mencemari daerah tersebut. kawin dan mulai bertelur 45 60 hari setelah menelan telur yang terembrio nasi. ta npa adanya fasilitas jamban yang saniter. Telur embr ionasi yang tertelan menetas pada lumen usus. dan berkembang (embrionasi). Umur yang normal dari cacing dewa sa . menembus trakhea dan tertelan untuk men capai usus halus 14 20 hari setelah infeksi. 6. Ascaris umumnya ditemukan dikalangan imigran yang berasal dari negara berkembang. larva menembus dinding usus dan mencapai paruparu melalui sistem sirkulasi. Reservoir Reservoir adalah manusia.

adalah 12 bulan. terutama di tempat anak bermain. 3) Di daerah pedesaan.000 telur sehari. cacing betina dapat mempr oduksi lebih dari 200. Kompos yang dibuat dari kotoran manusia untuk digunakan sebagai pupuk kemungkinan tidak membunuh semua telur. dan lain-lain. . angin. Cara Cara Pemberantasan A. 9. buatlah jamban umum yang konstruksinya sedemikian rupa sehingga dapat mencegah penyebaran telur Ascaris melalui aliran air. Dalam kondisi yang memungkinkan telur dapat tet ap bertahan hidup di tanah selama bertahun-tahun. 2) Sediakan fasilitas yang cukup memadai untuk pembuangan kotoran yang layak dan cegah kontaminasi tanah pada daerah yang berdekatan langsung dengan rumah. Cara Cara Pencegahan : 1) Berikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menggunakan fasilitas jamban yang memenuhi syarat kesehatan. 8. Kerentanan dan Kekebalan semua orang rentan terhadap infeksi ascaris. paling lama bisa lebih dari 24 bulan.

Kelas 5 (lihat Petentang pelaporan penyakit menular). Combantrin®) juga efektif diberikan dalam dosis tunggal (obat ini dapat juga dipakai untuk cacing tambang. Tindakan internasional : Tidak ada. 3. Laporan kepada instansi kesehatan setempat : laporan resmi biasanya tidak dilakukan. D. lihat Trichuriasis & cacing tambang). 6. jaga agar makanan selalu ditutup supaya tidak terkena debu dan kotoran.3. B. Trichiura).4) Dorong kebiasaan berperilaku higienis pada anak-anak. misalnya ajarkan mereka untuk mencuci tangan sebelum makan dan menjamah makanan. berikan penyuluhan pada masyarakat tentang sanitasi lingkungan dan higie ne perorangan dan sediakan fasilitas pengobatan. 5. Pengawasan Penderita. Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1. Penyimpangan migrasi dari cacing ascaris telah dilaporkan setelah pemberian terapi Mebendazole. Karantina : tidak diperlukan. Pyrantel pamoate (Antiminth®. Investigasi kontak dan sumber infeksi : cari & temukan penderita lain yang pe rlu diberpengobatan. Tindakan Penanggulangan Wabah : lakukan survei prevalensi di daerah endemis tinggi. ASPERGILLOSIS ICD-9117. C. Perhatikan lingkungan yang tercemar yang menjadi sumber infeksi terutama disekitar rumah penderita. ICD-10 B44 . tapi tidak untuk T. Imunisasi : tidak ada. Pengobatan spesifik : Mebendazole (Vermox®) dan albendazole (Zentel®) (juga efektif terhadap Trichuris trichiura dan cacing tambang. Implikasi Bencana : Tidak ada E. Makanan yang telah jatuh ke lantai jangan dimakan kecuali telah dicuci atau dipanaskan. 4. 7. 2. 5) Di daerah endemis. Kedua obat tersebut merupakan kontraindikasi untuk diberikan selama kehamilan. namun hal ini dapat juga terjadi dengan terapi obat yang lain atau penyimpangan migrasi dapat juga terjadi secara sponta n pada infeksi yang berat. Isolasi : tidak perlu. Disinfeksi serentak : pembuangan kotoran pada jamban yang saniter.

jug a penyakit gangguan paru kronis atau cystic fibrosis ) dan penderita yang alergi terh adap jamur ini dapat menyebabkan kerusakan bronchus dan penyumbatan bronchus intermit en.1. Keadaan ini disebut sebagai allergic bronchopulmonary aspergillosis (ABPA). Kolo nisasi saprophytic endobronchial pada penderita dengan pelebaran bronchus atau bronkiek tasi . Identifikasi Penyakit jamur yang muncul dengan berbagai sindroma klinis yang disebabkan oleh spesies Aspergillus. Penderita dengan penyakit paru kronis (terutama asthma.

isolat dari A. jamur membuat koloni atau menyebabkan infeksi invasif pada sinus paranasal. Invasi kedalam pembuluh darah berupa trombosis dan menyebabkan infark adalah ciri dari infeksi jamur ini pada pasien dengan kekebalan rendah. Hubungan antara kadar aflatoksin yang tinggi pada makanan dan timbulnya kanker hepatoseluler ditemukan di Afrika dan Asia Tenggara. Spes ies Aspergillosis adalah penyebab paling umum dari otomikosis. Diagnosis ABPA ditegakkan antara lain adanya reaksi benjolan merah di kulit jika dilakukan skarifikasi atau suntikan intradermal dengan antigen Aspergillus. Diagnosa aspergillosis invasif ditegakkan dengan ditemuk annya Mycelia Aspergillus dengan mikroskop dari jaringan yang terinfeksi. adan ya sumbatan bronchus yang menahun. Bola jamur dari paru biasanya dapat didiagnosa dengan foto toraks dan dari catatan medis. terbentuknya antibodi presipitasi s erum terhadap Aspergillus. dan massa hyphae yang besar mengisi ronggarongga yang sebelumnya sudah ada (berupa bola jamur atau aspergilloma). toksin ini dapat menyeba bkan penyakit pada ikan dan hewan dan sangat karsinogenik pada hewan percobaan.dapat menimbulkan gumpalan hyphae. konfirmasi d iagnosa dilakukan dengan kultur untuk membedakan dengan penyakit jamur lain yang gambara n histologinya mirip. Suatu sp esies Aspergillus dapat muncul bercampur dengan organisme lain dalam abses bakteriil p aruparu atau pada empiema. Aspergillosis yang invasif dapat terjadi. flavus (kadang juga spesies lain) bisa memproduksi aflatoksin atau mikotoksin lain. Jamur ini tumbuh pada jenis makanan tertentu. Organisme ini dapat menginfeksi tempat dipasangnya katup jantung prostetik. peningkatan kadar IgE dalam serum dan adanya infiltrat par u yang bersifat transien (dengan atau tanpa bronkiektasis sentral). terutama pada pasien yang menerima ter api imunosupresif atau sitotoksik. . eosinofilia. ginjal dan organ lain dan seringkali fatal. Serum precipitin terhadap antigen spesies Aspe rgillus biasanya juga muncul. ia dapat menyebar ke otak. Kolonisasi endobron kial saprofitik didiagnosa dengan kultur atau ditemukannya Aspergillus mycelia pada s putum atau pada dahak ditemukan hyphae.

Penyebab penyakit Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus adalah penyebab paling umum dari aspergillosis pada manusia. . 3. pada sampah daun atau tumpukan kompos. tidak ada perbedaan insi dens berdasarkan ras atau jenis kelamin. Reservoir. jarang dan bersifat sporadis. Konidia biasanya terdapat di udara baik di dalam maupun di luar ruangan dan sepanjang tahun. Aspe rgillus fumigatus menyebabkan banyak kasus bola jamur. sayur an basi. Aspergillus niger penyebab umum otomikosis. Distribusi Penyakit Tersebar diseluruh dunia. terutama pada makanan. walau spesies lain dapat juga sebagai penyebab.2. Spesies Aspergillus secara alamiah ada dimana-mana. 4.

Cara Penularan. 5) Imunisasi : tidak ada. 4) Karantina : tidak dilakukan. Cara Cara Pencegahan : Udara ruangan yang disaring dengan High Efficiency Particulate Air (HEPA) dapat menurunkan infeksi aspergillosis invasive pada penderita yang dirawat di RS teru tama penderita dengan netropenia. 3) Disinfeksi serentak : menjaga kebersihan. 7. Penderita HIV/AIDS atau penderita penyakit granulomatous kronik pada masa kanak-kanak juga peka terhadap infeksi jamur ini. Terapi . 6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : tidak diindikasikan. Pengawasan Penderita. jika memungkinkan. Pemberian Itraconazole bermanfaat bagi penderita yang perkembangannya lebih lambat dan untuk penderita yang mempunyai masalah kekebalan. adalah pengobatan paling tepat untuk aspergilloma. Kerentanan dan Kekebalan. Melalui inhalasi konidia yang ada di udara. Tidak disebarkan dari satu orang ke orang lain. Kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). 8. Kerentanan akan meningkat dengan pemberian terapi imunosupresif da n sitotoksik dan serangan invasif terlihat terutama pada pasien dengan netropenia yang berkepanjangan. 6. Masa Inkubasi. Amphotericin B (Fungizone® atau formasi lipid) IV dapat digunakan untuk infeksi jaringan bentuk invasif. Spesies Aspergillus ditemukan dimana-mana. Masa Penularan. Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1) Laporan pada instansi kesehatan setempat : laporan resmi biasanya tidak dilakukan. Cara Cara Pemberantasan A. Hitungan hari hingga minggu. dan Aspergillosis biasanya muncul seb agai infeksi sekunder dan hal ini membuktikan bahwa orang yang sehat kebal terhadap penyakit ini. Reseksi bedah. pembersihan terminal. B. 2) Isolasi : tidak perlu. 9. 7) Pengobatan spesifik : ABPA diobati dengan corticosteroid suppression dan biasanya membutuhkan terapi yang lama.5.

Tindakan internasional : tidak ada. Kolonisasi endobronkial harus diobati sedemikian rupa untuk memperbaiki drainase bronkopulmoner. C. D.imunosupresif harus dihentikan atau dikurangi sebisa mungkin. . Tindakan Penanggulangan Wabah : tidak dilakukan upaya penanggulangan wabah. penyakit sifatnya sporadis. E. Implikasi Bencana : tidak ada.

parasitemia tanpa g ejala ini dapat bertahan sampai beberapa bulan bahkan sampai beberapa tahun. Microti meningkat dengan meluasnya penyebar an kutu Ixodes scapularis (dulu disebut I. Beberapa spesies diketahui sebagai penyebab. Infeksi juga dilaporkan terjadi di Wisconsin dan Min . Diagnosa dibuat dengan menemukan parasit dalam butir darah merah pada sediaan da rah baik sediaan darah tebal maupun tipis. Identifikasi Penyakit yang potensial berat dan dapat menimbulkan kematian. Babesia microti adalah yang paling umum ditemukan di Amerika Serikat bagian timur. Ditemukan diseluruh dunia. Gejala klinis berupa dem am. menggigil. Penyebab penyakit.8. Adanya antibodi spesifik dengan pemeriksa an serologi (IFA babesial DNA (PCR)) atau dengan isolasi parasit dengan hewan perco baan yang tepat lebih mendukung pencegahan diagnosa. perlakukan penderita seperti terhada p penderita malaria dan kirim sediaan darah tebal dan tipis ke laboratorium yang memadai.BABESIOSIS ICD-9 088. dammini). lemah dan ikterus sebagi akibat dari anemia hemolitik yang berlangsung dari beberapa hari hingga berbulan bulan. Di Amerika Serik at distribusi geografis dari infeksi B. Dalam bebarapa kasus. penyakit ini diseb abkan oleh infeksi protozoa yang menyerang butir darah merah. Block Island. jika diagnosa tidak jelas. 2. Studi seroprevalens menunj ukkan bahwa kebanyakan infeksi tanpa gejala. dengan penyebaran yang tidak merata. 3. Babesiosis endemis di Nantucket dan pulau lain di Massachussetts.0 1. ICD-10 B60. penyebab Lyme disease dapat memperberat ke dua peny akit tersebut. Infeksi g anda dengan Borrelia burgdorferi. Shelter Island. Long Island bagian timur d an Connecticut bagian selatan. Sedangkan Babesia divergens yang paling umum ditemuka n di Eropa. sedangkan isolat Babesia tipe WA1 umu m ditemukan di pantai barat. Membedakan Babesiosis dengan Plasmodium falciparum hanya dengan pemeriksaan sediaan darah mungkin sulit pada penderita yang berasal dari daerah endemis malaria atau yang mendapat infeksi me lalui transfusi darah. mialgia. Distribusi Penyakit.

spesies lain menyebabkan infeksi pada m anusia dilaporkan dari Missouri dan Mexico. Cara Penularan B. Di Eropa infeksi pada manusia yang disebabk an oleh B. 5. microti dan sapi bagi B. Taiwan. Kasus pada manusia yang disebabkan oleh isolat Babesia tipe WA1 dilaporkan dari negara bagian California dan Washington. Pulau Canary dan Afrika Selatan. divergens dilaporkan dari Perancis. Spanyol. scapu laris) yang telah menggigit tikus rusa yang terinfeksi (Peromyscus leucopus) dan mamali a kecil . Mesir. Scotlandia. Rusia d an Yugoslavia. 4. Infeksi pada manusia dari jenis Babesia yang kurang dikenal dilapork an terjadi di China.nesota. microti tersebar selama musim panas oleh gigitan nymphe kutu Ixodes (I. Inang untuk isolat Babesia jenis WA1 dan MO1 (Missouri) tidak diketahui. diver gens. Reservoir. Hewan pengerat berperan sebagai reservoir bagi B. Swedia.

Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat : laporkan kasus baru yang dicurig ai. kecuali melalui transfusi darah. Kasus Babesiosis telah dilaporkan menular melalu i transfusi darah dari donor yang parasitemik tapi tanpa gejala. 4) Karantina : tidak diperlukan. 6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : kasus yang muncul di wilayah baru membutuhkan penyelidikan yang mendalam.cara Pencegahan Beri penyuluhan tentang cara penularan dan cara perlindungan perorangan. 8. Ada dua kasus penularan dari ibu kepada ba yinya pernah dilaporkan. 6. Basmi hewan pengerat di sekitar rumah dan gunakan obat gosok anti kutu. spesifiknya pada daerah yang tidak endemis. Masa Penularan Tidak menular dari satu orang ke orang lain. Semua orang rentan terhadap B. Masa Inkubasi 1 minggu hingga 8 minggu setelah terpajan. microti. Kasus yang terjadi melalui transfusi harus diinvestigasi segera dan donor darah dilarang mendonorkan darahnya lagi. Kerentanan dan Kekebalan. 7. Mereka dengan daya tahan tubuh yang rend ah. Cara . B. Do nor darah tanpa gejala tetap infeksius selama 12 bulan setelah infeksi awal. mereka yang tanpa limpa dan orang tua rentan terhadap infeksi. Kelas 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular). microti. Infeksi . 3) Disinfeksi serentak : tidak perlu. Pasien biasanya l upa atau tidak mengetahui pernah digigit kutu. 7) Pengobatan spesifik : kombinasi clindamycin dan quinine terbukti efektif pada binatang percobaan dan pada kebanyakan pasien dengan infeksi B. 2) Isolasi : lakukan kewaspadaan universal terhadap cairan tubuh dan darah. 5) Perlindungan kontak dan sumber infeksi : tidak ada. namun anggota keluarga ya ng mungkin terinfeksi harus terus dipantau. 9. Cara Cara Pemberantasan A. Pengawasan Penderita.lain (Microtus Pennsylvanicus).

Pemberian Azithromycin saja atau dikombinasi dengan quinine atau dengan clindamycin dan doxycycline cukup efektif untuk kasus tertentu.tidak memberikan reaksi terhadap pengobatan dengan klorokuin. Implikasi Bencana : Tidak ada E. Exchange transfusion mungkin dibutuhkan bagi pasien dimana sebagian besar eritrosit terinfeksi parasit. . Penanggulangan Wabah : tidak ada. sedangkan kombinasi antara azithromycin dan atovaquone memberikan hasil yang menjanjikan pada binatang percobaan. Tindakan internasional : Tidak ada. Diali sis mungkin dibutuhkan bagi penderita dengan gagal ginjal. D. divergens. Pentamidine dikombinasi dengan TMP SMX efektif pada satu kasus yang dilaporkan terinfeksi B. C.

mungkin hanya beberapa hari. protozoa besar dengan silia. Diagnosa dibuat dengan menemukan trofozoit dari parasit atau kista dari Balantid ium coli pada kotoran segar. nausea dan muntah-muntah. Kontaminasi lingkungan dengan tinja dapat mengakibatkan peningkatan jumlah kasus . 4. dan makanan yang terkontaminasi. pada saat wabah. ICD-10 A07. Reservoir. Balantidium coli. Disentri Balantidia) 1. tenesmus. Cara Penularan. seperti tikus dan primata selain manusia. 5.0.0 (Balantidiosis. 3. dengan kotoran yang berisi banyak darah dan lendir ta pi sedikit pus. Invasi ke peritoneum atau saluran urogenital jarang terjadi. Penularan sporadis terjadi k arena masuknya kotoran ke mulut melalui tangan atau melalui air. infeksi pada manusia jarang terjadi namun wabah yang bersifat water borne biasa terjadi pada daerah yang sanitasi lingkungannya sangat buruk. . Wabah besar pernah terjadi di Equador pada tahun 1978. Identifikasi Protozoa yang menginfeksi usus besar dan menyebabkan diare atau disenteri diikut i dengan kolik abdominal. atau trofozoit ditemukan melalui sigmoidoskopi. Penyebab penyakit. 6. Tidak diketahui. kemungkinan juga hewan lain. Masa Inkubasi. Tersebar di seluruh dunia. penularan terutama melalui air yang terkontaminasi. Babi.BALANTIDIASIS ICD-9007. 2. Biasanya disenteri disebabkan oleh amebiasis. Dengan menelan kista yang berasal dari kotoran inang yang terinfeksi. Distribusi penyakit.

9. Sebagian besar orang sepertinya memiliki kekebalan alami. 2) Beri penyuluhan dan bimbingan kepada penjamah makanan melalui instansi kesehatan. Cara Cara Pemberantasan. 8.7. Masa Penularan : Selama infeksi. Cara Pencegahan : 1) Beri penyuluhan pada masyarakat tentang higiene perorangan. 3) Pembuangan kotoran pada jamban yang memenuhi persyaratan sanitasi. . Orang dengan keadaan u mum yang jelek karena suatu penyakit sebelumnya. 4) Kurangi kontak dengan kotoran babi. Kerentanan dan Kekebalan. bila terinfeksi oleh parasit ini ak an menjadi serius bahkan fatal. A.

3). Pengobatan spesifik: Tetrasiklin dapat menghilangkan infeksi. C. klorinasi air deng an cara yang biasanya dilakukan tidak menghancurkan kista. B. Lakukan investigasi terhadap mereka yang kontak dengan babi. Tindakan internasional : tidak ada. Penanggulangan Wabah : ditemukannya penderita atau sejumlah penderita di suat u daerah membutuhkan penyelidikan epidemiologis segera. 4). Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1). Filter pasir/tanah dapat menyaring semua kista. BARTONELLOSIS ICD-9 088. D. pengobatan den gan metronidazole (Flagyl) juga efektif . Pengawasan Penderita. E. Kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). terutama penyelidikan yang menyangkut sanitasi lingkungan. Karantina : tidak dilakukan. Investigasi kontak dan sumber infeksi : pemeriksaan mikroskopis tinja dari anggota rumah tangga dan kontak yang dicurigai. Imunisasi : tidak dilakukan 6). 2). Laporan kepada instansi kesehatan setempat : laporan resmi tidak diperlukan. Disinfeksi serentak : pembuangan kotoran yang saniter. bila perlu berikan tetrasiklin pada babi yang terinfeksi. Isolasi : tidak dilakukan.5) Lindungi tempat penampungan/sumber air untuk masyarakat dari kontaminasi kotoran babi. Air dalam jumlah sedikit untuk diminum lebih baik dimasak. Implikasi Bencana : Tidak ada. ICD-10 A44 . 5). 7).

rasa nyeri tersebu t kadang amat berat. Penyakit infeksi bakteri dengan dua gejala klinis yang sangat berbeda. Infeksi tanpa gejala dan dalam bentuk carrier dapat terjadi. Dema m Oroya ditandai dengan demam yang tidak teratur. B enjolan yang muncul dekat sendi dapat berkembang seperti tumor dengan permukaan merah. Identifikasi. anemia fe brile (Demam Oroya ICD-10 A44. muka pucat. Verruga peruana memiliki ma sa pra erupsi yang ditandai dengan nyeri otot. tulang dan sendi. Verruga peruana.1). anemia hemolitik yang berat (makrositik atau normositik dan biasanya hipokromik) dan limfadenopati non tender menyeluruh. arthra lgia. Penyakit Carrion) 1. berlangsung beberapa menit hingga beberapa hari pada satu tempat ter tentu. sakit kepala.(Demam Oroya. nyeri otot. .0) dan erupsi kulit yang tidak berbahaya (Verruga peruan a ICD-10 A44. Erupsi kulit juga ditandai dengan munculnya benjolan kecil seperti hemangioma.

interval antara kedua stadium berlangsung dalam hitungan minggu hingga b ulan. Penyebab penyakit : Bartonella bacilliformis. CFR dari demam Oroya yang tidak diobati antara 10% . 3. Serangga ini hanya menggigit dari petang hingga pagi.Verruga peruana bisa didahului dengan demam Oroya atau didahului dengan infeksi tanpa gejala. Distribusi penyakit. Transfusi darah. Di daerah endemis. ras dan jenis kelamin. termasuk Salmonella septicemia. Distribusi penyakit ini terbatas pada lembah pegunungan di Peru. Manusia berperan sebagai reservoir dengan agen penyebab yang ditemukan dalam dar ah. 2. . Spesies ini tidak ditemukan di semua wilayah. Equador dan Col ombia dengan ketinggian antara 2000 hingga 9200 kaki (600 2800 m) dari permukaan laut dimana terdapat vektor lalat pasir. PCR dan berbagai teknik serologi telah digunakan untu k memastikan diagnosa. dapat menularkan infeksi. Tidak diketahui adany a hewan sebagai inang. dimana sp esimen dapat diambuil kapan saja. utamanya pada stadium demam Oroya. Lutzomyia verrucarum terdapat di Peru. spesimen diambil dari lesi kulit selama fase erupsi atau diagnosa dapat juga dibuat dengan kultur darah pada media khusus. Diagnosa dibuat dengan menemukan penyebab infeksi dalam butir darah merah selama fase akut dengan pengecatan Giemsa. Reservoir. 5. carrier tanpa gejala dapat mencapai 5%. Penularan terjadi melalui gigitan sand fly dari genus Lutzomyia.90%. Verruga peruana dapat berlangsung lama tapi jarang menyeb abkan kematian. 4. tak ada batasan umur. kematian biasanya disebabkan oleh kombinasi infeksi protozoa dengan superinfeksi bakteri. Cara Penularan.

tapi kadang kala sampai 3 4 bulan. namun penyakit ini gejalanya lebih ri ngan jika menyerang anak-anak daripada orang dewasa. . 7. Sedangkan stadium Verruga dapat muncul kembali. Lama dari masa infeksi sand fly tidak diketahui. Ma nusia menjadi sumber infeksi bagi sand fly untuk masa yang lama. Biasanya 16 22 hari. Penularan tidak langsung dari orang ke orang kecuali melalui transfusi darah. Kerentanan dan Kekebalan. 8. Masa Penularan. agen penyebab dapat muncul dalam darah beberapa minggu hingga hitungan tahun setelah muncul gejala k linis. Kesembuhan dari demam Oroya kebanyakan memberikan kekebalan permanen.6. Setiap orang rentan terhadap penyakit ini. Masa Inkubasi.

Karantina : tidak diperlukan. hingga h asil tes menyatakan negatif. Penderita harus terlindungi dari gigitan sand fly 3). Ampisilin dan kloramfenikol juga efektif terhadap infeksi sekunder. Disinfeksi serentak : tidak ada 4). B. jika tidak bisa menghindari daerah endemis. D. E. pakailah obat gosok anti nyamuk pada bagian tubuh yang terbuka atau pergunakan kelambu. Isolasi : hati-hati terhadap cairan tubuh dan darah Individu yang terinfeksi . Imunisasi : tidak ada. Investigasi kontak dan sumber infeksi : lakukan identifikasi adanya sand fly . Pengobatan spesifik: penisilin. kelas 3B (lihat tentang pelaporan penyakit menular) 2). salmonellosis. Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1). Cara Pencegahan : 1) Basmi sand fly (lihat Leishmaniasis. 3) Darah dari orang di daerah endemis jangan digunakan untuk transfusi. kloramfenikol dan tetrasiklin efektif dalam mengurangi demam dan bakteriemia. 6). streptomisin. Laporan kepada instansi kesehatan setempat : pada daerah endemis tertentu. C. cutaneous. 5). Tindakan Internasional : Tidak ada. 9A). . Pengawasan Penderita. Implikasi Bencana : Perlu waspada kemungkinan timbul bencana KLB jika pusat pusat penampungan pengungsi dibangun pada daerah endemis. d i kebanyakan negara bukan merupakan penyakit yang wajib dilaporkan. 2) Hindari daerah endemis setelah matahari terbenam.9. Cara Cara Pemberantasan A. terutama pada lokasi dimana penderita pernah terpajan saat matahari terbenam dalam periode 3 8 minggu yang lalu 7). Tindakan Penanggulangan Wabah : Intensifkan penemuan penderita & lakukan penyemprotan rumah secara sistematis dengan insektisida yang meninggalkan residu.

Infeksi akut jarang dikenal tapi muncul dengan serangan demam yang tiba tiba. Blastomikosis adalah mikosis granulomatosa.BLASTOMIKOSIS ICD-9 116. batuk dan infiltrasi paru pada foto thorax . .0. Identifikasi. beberapa penderita mengalami infeksi ekstrapulmoner. Selama atau ses udah sembuh dari pneumonia. Blastomikosis paru dapat bersifat akut atau kronik. ICD-10 B40 (Blastomikosis Amerika Utara. Penyakit Gilchrist) 1. Penyakit akut sembuh dengan sendirinya setelah 1 3 minggu sakit. terutama menyerang paru-paru dan kul it. Dan ada juga kasus yang perjalanan penyakitnya secara perlahan menjadi kronis.

menyebabkan seorang pasien pada saat didiagnosa penyakitnya telah menyebar ke ba gian lain dari tubuh terutama ke kulit kemudian tulang. Umumnya lesi tersebut muncul pada muka da n extremitas distal. Afsel). singa afrika dan singa laut. seringkali berbentuk sambel/halter. 3. Blastomycosis dermatitidis (Ajellomyces dermatitidis). Afrika (Zaire. lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada wanita. sejenis jamur dimorfis ya ng tumbuh sebagai ragi pada jaringan dan media kultur yang diperkaya pada suhu 37oC (98. jamur dapat juga diisolasi dengan kultur. Tanah lembab berperan sebagai reservoir. Lesi pada kulit dimulai dengan munculnya papula eritematosa dan selanjutnya menjadi verruca. Israel dan Saudi Arabia. Penyebab penyakit. Sangat jarang dan muncul secara sporadis di AS bagian tengah dan timur. Distribusi penyakit. prostat dan epididimis. dilaporkan juga menyerang kucing. 2. Kanada. Pe meriksaan serologis tidak banyak manfaatnya. Lesi pada paru bisa menjadi cavitasi. Penyakit pada anjing sering terjadi.Batuk dan sakit di dada mungkin hanya ringan saja atau bahkan tidak ada sama sek ali. India. lemah dan dem am. kuda. Reservoir. Pemeriksaan mikroskopis secara langsung tanpa pewarnaan sputum dan specimen yang diambil dari lesi memperlihatkan bentuk-bentuk karakteristik broad based dari jamu r. . terutama pada daerah yang banyak terdap at pepohonan sepanjang saluran air dan daerah yang tidak terusik misalnya pada temp attempat yang terlindungi pepohonan. Perjalanan penyakit yang tidak diobati dan atau pada blastomikosis paru kronis menjadi semakin berat dan biasanya berakibat kematian.6oF) dan sebagai mold (jamur) pada suhu kamar (25oC / 77oF). Jarang terjadi pada an ak-anak. Tanzania. Biasanya disertai dengan penurunan berat badan. 4. ber krusta atau muncul lesi yang menyebar.

Terbukti bahwa kekebalan seluler memainkan peranan penting dalam pencegahan infeksi paru. Cara Penularan. Masa Penularan. kemungkinan beberapa minggu atau kurang bahkan bisa hingga hitungan bulan. yang terhirup melalui udara. 7.5. Tidak diketahui. Penularan terjadi melalui Conidia. Masa Inkubasi. Tidak tentu. Untuk infeksi yang menimbulkan gejala masa inkubasi rata-rata 45 hari. Infeksi paru tanpa gejala mungkin banyak terjadi tapi frekuensi nya tidak diketahui. Tidak langsung menular dari manusia ke manusia atau dari binatang ke orang. . 6. Kerentanan dan Kekebalan. 8. Jarangnya penyakit ini terjadi secara alami maupun jara ngnya terjadi infeksi melalui laboratorium menunjukkan bahwa manusia relatif kebal ter hadap penyakit ini.

7) Pengobatan spesifik. Penanggulangan Wabah : tidak diterapkan. 6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : Tidak bermanfaat kecuali bila ditemukan ada beberapa orang yang terserang penyakit ini. Kontak & Lingkungan Sekitarnya : 1). Itraconazole adalah obat pilihan. 4) Karantina : tidak ada. B. merupakan penyakit yang sporadis. Laporan kepada instansi kesehatan setempat : bukan merupakan penyakit yang wajib dilaporkan. 2) Isolasi : tidak ada 3) Disinfeksi serentak : lakukan terhadap sputum. Pembersihan terminal. D. 5) Imunisasi : tidak ada. yaitu yang di tularkankan melalui makanan (bentuk klasik . luka berbau dan semua benda ya ng terkontaminasi. Pengawasan Penderita.1 INTESTINAL BOTULISM. Cara Cara Pemberantasan A. Kelas 5 (lihat Petentang pelaporan penyakit menular). Identifikasi.1. Implikasi Bencana : Tidak ada E. sebelumnya dikenal sebagai Botulisme anak. 1. namun amfoterisin (Fungizone) diindikasikan untuk diberikan bagi pasien berat atau mereka yang mempunyai lesi pada otak. C.9. Cara Cara Pencegahan : tidak diketahui. Tindakan Internasional : tidak ada BOTULISME ICD-9 005. ICD-10 A05. Ada 3 bentuk botulisme.

Demam tidak terjadi bila tidak ada komplikasi Infeksi lain. 10 %. disfagia dan mulut kering sering merupakan ke luhan pertama. luka dan saluran pencernaan (bayi dan dewasa). dan akan digunakan secar a umum di bab ini sebagai pengganti istilah botulisme bayi. CFR di AS 5 Pemulihan bisa berlangsung beberapa bulan. Muntah dan konstipasi atau diare mungkin muncul pada awa lnya. . tetapi semua bentuk memberikan gejala lumpuh l ayuh yang diakibatkan oleh racun saraf botulinum. Gejala-gejala ini bisa meluas berupa layuh simetris pada orang yang was pada akan gejala-gejala ini. Penyakit ini ditandai dengan gan gguan nervus cranialis bilateral akut dan melemahnya anggota tubuh disertai kelumpuhan . Gangguan visual (kabur dan dobel).) dan yang ditularkan melalui. Botulisme saluran pencernaan diusul kan sebagai identitas penyakit baru dari apa yang sebelumnya disebut Botulisme bayi. Foodborne botulism adalah keracunan berat yang diakibatkan karena menelan racun yang terbentuk di dalam makanan yang terkontaminasi. Tempat p roduksi toksin berbeda untuk tiap bentuk. Nama baru secara resmi diterima pada pertengahan tahun 1999.

tinja. diikuti dengan letargi. susah menelan. ptosis. botulism dan atau racun pada tinja penderita atau pada spesimenotop si. botulinum cairan lambung atau tinja penderita. a tau dari kultur C. Botulisme saluran pencernaan ini secara spesi fik menyerang bayi dibawah 1 tahun. ini muncul akibat menelan spora Clostridium botulinum kemudian tumbuh berkembang dan memproduksi racun pada usus besar. Diagnosa dari botulisme yang ditularkan melalui makanan ditegakkan dengan menemu kan racun botulinum dalam serum. cairan lambung atau makanan yang tercemar. Botulisme yang ditularkan melalui makanan disebabkan oleh racun yang diproduksi oleh . Gejala klinis khas dimulai dengan konstipasi. Diagnosa bisa dipastikan apabila orang dengan g ejala klinis disertai dengan riwayat mengkonsumsi makanan yang tercemar dan didukung dengan bukti hasil pemeriksaan laboratorium. gambaran klinis yang sama terlihat pada saat organis me penyebab mengkontaminasi luka dalam kondisi anaerob. Botulisme pada bayi mempun yai spektrum klinis luas. terjadi kesulitan bernapas sampai gagal nafas. Botulisme luka didiagnosa dengan ditemukannya racun pada serum atau hasil kultur luka yang positif. Penyebab penyakit. menemukan racun botulinum pada makanan yang terkontaminasi lebih bermanfaat. 2. CF R dari penderita yang dirawat di rumah sakit di AS kurang dari 1 %. Menemukan organism e dari makanan yang di curigai cukup membantu. Elektromiogra fi dengan rangsangan pengulangan cepat dapat digunakan untuk mendukung pencegahan diagnosa klinis untuk semua bentuk botulisme. Racun jarang terdeteksi pada sera penderita. tidak nafs u makan. listlessness. mulai dari sakit ringan dengan onset bertahap hingga kemat ian mendadak. kehilangan kontrol gerakan kepala. beberapa penelitian menemukan bahwa penyakit ini merupakan penyebab terjadinya 5% sindroma kematian mendadak (Sudden Infant Death Syndrome/SIDS). Diagnosa dari botulisme saluran pencernaan dapat di tegakkan dengan menemukan organisme C.Untuk jenis Botulisme luka. hipotoni a dan menjurus kepada keadaan lemah secara menyeluruh (floppy baby) dan pada beberapa kasus. tetapi dapat juga menyerang orang dewasa yang mempunyai kelainan anatomi saluran pencernaan serta terjadinya perubahan flora u sus. sudah barang t entu penderita tanpa akses ke Rumah Sakit dengan Unit Perawatan Intensif Anak akan te rjadi lebih banyak kematian. tetapi biasanya tidak punya nilai diagno stik karena spora ada dimana-mana. Sedangkan botulisme saluran pencernaan (bayi) adalah bentuk botulisme yang paling sering terjadi di AS.

Racun diproduksi karena proses pengalengan yang tidak tepat.Clostridium botulinum. untuk menonaktifkan spora dibutuhkan suhu yang lebih tinggi . makanan basa. Kebanyakan KLB pada manusia terjadi karena tipe A. KLB tipe E biasanya berhubungan dengan konsumsi ikan. B. Beberapa nanogram dari rac un dapat menyebabkan sakit. ikan laut dan daging mamalia laut. spora membentuk basil anaerob. Tipe G pernah diisolasi dari tanah dan dari specimen otops i. terutama dengan pengepakan kedap udara. makan an yang dipasturisasi dan makanan yang diolah sembarangan dan disimpan tanpa menggunakan pendingin. tetapi perannya sebagai penyebab botulisme belum jelas. E dan jarang karena tipe F. . Racun dihancurkan dengan cara direbus.

4oF). kurang dari 15 kasus di Kanada. termasuk ikan. 4. Banyak kasus botulisme anak disebabkan karena tipe A atau B. Asia. kasus botulisme saluran pencernaan yang te rjadi di California antara tahun 1976. baratii. seper ti C. Reservoir Spora tersebar di atas tanah di seluruh dunia. secara sporadis. 1400 kasus terjadi di AS dengan hampir separuhnya terjadi di California. 5. Di selu ruh dunia sekitar 150 kasus dilaporkan dari di Argentina. 3. butyricum dan C. KLB terjadi karena kontaminasi melalui kaleng yang rusak selama proses pengalengan. Kasus botulisme saluran pencernaan dilaporkan d ari 5 benua.Racun tipe E dapat diproduksi pada suhu serendah 3oC (37. dan awal tahun 1999. kurang dari 20 kasus di Australi a dan Jepang. Eropa dan Amerika Selatan dan Utara. KLB yang terjadi didalam keluarga da n masyarakat terutama terjadi karena produk makanan dibuat dengan cara-cara yang t idak menghancurkan spora dan memberi peluang terbentuknya racun. Cara penularan . Botulisme jarang diakibatkan oleh produk komersial. kadang-kadang ditemukan pada prod uk pertanian termasuk madu. Beberapa kasus (rac un tipe E dan F) dilaporkan berasal dari spesies clostridium neurotoksigenik. Dari 1700 total kasus secara global. seperti yang dilaporkan dalam review. Distribusi penyakit : Tersebar di seluruh dunia. Australia. suhu yang lebih r endah dari suhu lemari es. dan sekitar 30 kasus di Eropa (kebanyaka n di Italia dan Inggris) serta beberapa kasus tersebar di Chili. Spora juga ditemukan pada lapisan sedimen di dasar laut dan di saluran pencernaan binatang. Cina. Israel dan Yam an. Insidens yang pasti dan penyebaran dari botulisme saluran pencernaan tidak diketahui karena kesadaran pa ra dokter yang masih rendah dan fasilitas laboratorium untuk diagnostik sangat terb atas.

Di Kanada dan Alaska. Perbedaan ini disebabkan sebagian karena perbedaan dalam penggunaan natrium nitr it untuk mengawetkan daging di AS. yang sebelumnya di anggap terlalu asam untuk berkembang biaknya C. Di Eropa sebagian besar kasus terjadi k arena makan sosis dan daging panggang atau daging olahan. Beberapa KLB bersumber dari restoran. KLB terjadi karena mengkonsumsi daging anjing laut. di Jepang. ternyat a dapat menjadi ancaman sebagai sumber keracunan makanan yang dikalengkan di rumah . Beberapa KLB yang baru-ba ru ini terjadi setelah mengkonsumsi ikan yang tidak dibersihkan ususnya. botulinum. Sayuran lain seperti tomat. KLB yang terjadi baru-baru ini dilaporkan sehabis memakan bawang merah. salmon asap dan telur salmon yang difermentasi. karena ikan laut. Di AS keracunan kebanyakan terjadi karena mengkonsumsi sayur dan buah-buahan yang dikalengkan dirumah.Mengkonsumsi makanan yang mengandung toksin botulinum akan mengakibatkan Botulisme terutama karena makanan tersebut tidak dimasak dengan suhu yang cukup tinggi selama pengawetan atau tidak dimasak sebelum dikonsumsi. daging jarang sebagai perantara penyakit ini. . dua lainnya adalah sehabis mengkonsumsi acar dan bawang putih dala m minyak. Kasus botulism e juga pernah dilaporkan terjadi sehabis makan kentang panggang dan potpies yang tidak ditangani dengan baik.

sesudah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. namun tidak ada bu Botulisme yang ditularkan melalui jangka waktu yang lebih pendek. 7. botulisnum dan bakterinya dikeluarkan bersama tinja pada kadar yang tinggi (ca. bukan karena menelan racun yang telah terbentuk. . semakin berat penyakitnya dan semakin tinggi CFR-nya. Kekebalan dan kerentanan. Botulisme luka dilaporkan terjadi dia ntara para pecandu Napza (terutama abses kulit akibat injeksi subkutan dari pecandu he roin dan juga dari sinusitis para penghisap kokain).Kasus Botulisme luka kadang kala terjadi sebagai akibat dari kontaminasi luka de ngan tanah ketika merawat patah tulang terbuka. Masa inkubasi dari botulisme saluran pencernaan pada bayi tidak diketahui. Pasien makanan biasanya mengeluarkan racun dan bakteri dalam botulisme saluran pencernaan selam onset penyakit. dapat mengandung spora C. botulinum. karena kapan saat bayi menelan makanan yan g terkontaminasi tidak diketahui. 106 organisme/g) oleh pasien a beberapa minggu hingga berbulan-bulan sesudah kti terjadi penularan dari orang ke orang. Walaupun Racun C. kadang-kadang beberapa hari. Pada umumnya. Gejala neurologis dari botulisme yang ditularkan oleh makanan biasanya muncul da lam 12 36 jam. Masa inkubasi. Masa penularan. Orang dewasa yang mempunyai gangguan buang air bes ar yang mengarah pada gangguan flora usus (atau flora usus yang secara tidak sengaj a terganggu karena pengobatan antibiotik untuk tujuan lain) bisa rentan mengidap b otulisme saluran pencernaan. Madu. Sumber spora bagi anak-anak berasal dari berbagai sumber termasuk mak anan dan debu. Semua orang rentan. 8. semakin pendek masa inkubasi. Hampir semua pasien dengan botulisme pencernaan yang di rawa t dirumah sakit berusia antara 2 minggu dan 1 tahun. 94 % berusia kurang dari 6 bu lan. Kasus botulisme saluran pencernaan terja di di semua ras dan kelompok etnik. 6. Botulisme saluran pencernaan terjadi karena seseorang menelan spora botulinum ya ng kemudian tumbuh berkembang di usus besar. yang diberikan pada bayi. dan median umur penderita adalah 13 minggu.

tekanan dan suhu yang tepat untuk menghancurkan spora. 2). Materi penyuluhan adalah tentang teknik pengolahan makanan yang benar terutama berkaitan dengan masalah waktu.9. Lakukan pengawasan yang ketat terhadap proses pengolahan makanan dalam kaleng serta makanan yang diawetkan lainnya. Begitu pula materi penyuluhan berisi pengetahuan tentang teknik penyimpanan makanan yang belum diolah secara sempurna didalam lemari es dan cara-cara memasak dan mengaduk dengan benar sayur-sayuran yang akan dikalengkan . Beri penyuluhan kepada mereka yang bekerja pada proses pengolahan makanan. Tindakan pencegahan 1). A. baik pengolahan makanan kaleng rumah tangga maupun kepada mereka yang bekerja pada proses pengawetan makanan. Cara pemberantasan.

Walaupun spora C. Cari kasus-kasus tambahan untuk memastikan bahwa telah terjadi KLB botulisme yang ditularkan oleh makanan. tetapi cucilah tangan sesudah menangani popok yan g tercemar. Isolasi: tidak diperlukan. atau wadahnya dihancurkan dan di kubur dalam-dalam di dalam tanah untuk mencegah makanan tersebut dimakan oleh binatang. Manajemen kontak : tidak dilakukan untuk kontak langsung biasa. kontak dan lingkungan sekitar. Yang terpenting dilakukan adalah akses . C. 6). Kelas 2A (lihat tentang pelaporan penyakit menular). botulinum dapat dijumpai dimana saja. Disinfeksi serentak: makanan yang tercemar sebaiknya di detoksifikasi dengan cara merebusnya sebelum dibuang. Atlanta. 1). kumpulkan semua makanan yang dicurigai untuk pemeriksaan laboratorium yang semestinya dan kemudian dimusnahkan dengan cara yang benar. Terhadap mereka yang diketahui telah mengkonsumsi makanan yang tercemar harus diberi pencahar. diperlukan laporan segera melalui telepon. Anti racun ini tersedia di CDC. Pengawasan penderita. Makanan kaleng yang sudah menggembung sebaiknya dikembalikan ke penjualnya tanpa dibuka. 3). botulinum kadang-kadang bisa atau tidak bisa menyebabkan tutup kaleng menggembung dan menimbulkan bau. Pembersihan terminal. dan dapat diminta melalui departemen kesehatan negara bagian sebagai bagian dari pengobatan rutin (nomor telpon darurat di CDC untuk botulisme pada jam kerja adalah: 404-639-2206 dan sesudah jam kerja atau hari libur : 404-2888). Serum sebaiknya diambil untuk mengidentifikasi toksin spesifi k sebelum anti toksin di berikan. Investigasi kontak dan sumber racun: selidiki makanan apa yang dikonsumsi ol eh penderita. Diperlukan waktu paling sedikit selama 10 menit untuk menghancurkan toksin botulinum. 2). makanan yang diketahui tercemar seperti madu. Wadah yang menggembung sebaiknya tidak dibuka. Pengobatan spesifik: jika terjadi botulisme berikan sesegera mungkin 1 vial antiracun botulinum polyvalent (AB atau ABE) intravena. B.sebagai industri rumah tangga. Kasus pasti dan yang dicurigai w ajib dilaporkan di kebanyakan negara dan negara bagian. namun anti toksin sebaiknya jangan ditunda pemberiannya karena menunggu hasil tes. Lakukan pembuangan tinja yang saniter dari penderita bayi. 4). 7). 3). Karantina : tidak ada 5). Bahan pencemar lain juga dapat menyebabkan tutup kaleng atau botol menggembung. sebaiknya tidak diberikan kepada bayi. Keputusan untuk memberikan pengobatan presumptive dengan antitoksin polyvalent (equine AB atau ABE) bagi orang yang terpajan namun tidak menunjukkan gejala harus dipertimbangkan benar : harus diperhitungkan manfaat pemberian antitoksin di awal kejadian (dalam waktu 1 2 hari sesudah mengkonsumsi makanan tercemar) terhadap risiko efek samping yang berat karena peka terhadap serum kuda. Laporan kepada instansi kesehatan setempat. dan makanan yang berbau sebaiknya tidak dimakan atau dicicipi. dilakukan lavage lambung dan enema tinggi dan di observasi dengan ketat. Barang-barang yang terkontaminasi sebaiknya disterilisasi dengan cara merebus atau dengan disinkfeksi klorin untuk menonaktifkan racun yang tersisa. 4).

.

atau bil a perlu dari orang yang terpajan tetapi tidak sakit dan dikirim segera ke laborato rium yang telah di tunjuk sebelum orang-orang ini diberi antitoksin. Pemberian Antibiotik tidak berpengaruh pada perjalanan penyakit dan pemberian aminoglikosid justru bi sa membuat keadaan lebih buruk oleh karena adanya blokade neuromuskuler. sehingga perlu ditangani dengan cepat dan tepat. dan ini jauh lebih mengancam kesehatan masyarakat. Sisa makanan dari produk yang sama mungkin tercemar. BIG) saat ini tersedia hanya untuk botulismus pada bayi yang telah disetujui oleh FDA dengan l abel Protokol penelitian penggunaan obat baru dari Depertemen Kesehatan California. Untuk botulisme luka. . yang dapat menyebabkan kematian. Kumpulan sera dan cairan lambung serta tinja dari pasien. Bahkan beberapa KLB yang dilaporkan terjadi baru-baru ini melibatkan jenis makanan yang tidak biasa. sebaiknya segera diteliti apakah telah terjadi KLB yang menimpa keluarga atau orang-orang lain yang mengkonsumsi makanan yang sama. Dengan demikian antibiotik sebaiknya digunakan hanya untuk infeksi sekunder. diberikan antibiotik yang tepat (misalnya penisilin). Makanan yang diawetkan dan dikalengkan dalam industri rumah tangga dan dicurigai tercemar sebaiknya disingkirkan. luka sebaiknya di bersihkan (debridemen) dan atau di lakukan drainase. Imunoglobulin untuk botulisme (Botulinal Immune. Penanggulangan wabah. perawatan supportive yang cermat sangat penti ng. Bila terjadi kasus botulisme. Implikasi bencana : tidak ada. selain anti toksin.secepatnya ke ICU untuk antisipasi kemungkinan terjadinya kegagalan pernapasan. dan secara teoritis jenis makanan tersebut tidak mungkin sebagai su mber KLB. C. Walaupun makanan dari restoran atau makanan olahan komersial yang didistribusikan secara luas. Informasi tentang BIG untuk pengobatan empiris terhadap mereka yang dicurigai menderita botulisme saluran pencernaan bayi bisa diperoleh dari Departemen Kesehatan melalui Saluran 24 jam pada nomor 510-540-2646. Anti toksin botulinum serum kuda tidak digunakan karena dikhawatirkan terjadi renjatan anafilaksis. maka produk makanan terseb ut harus ditarik segera dan lacak orang-orang yang mengkonsumsi makanan yang sama dan makanan yang tersisa dari produk yang sama. kadang-kadang terbukti sebaga i sumber keracunan. Pada botulisme saluran pencernaan. D. Pada saat produk makanan tertentu terbukti tercemar melalui pemeriksaan laboratorium atau melalui penyelidikan epidemiologis. Bantuan pernafasan mungkin diperlukan. dan jika ditemukan harus dikirim untuk pemeriksaan laboratorium.

E. Tindakan internasional : Produk komersial biasanya di pasarkan secara luas. oleh karena itu perlu ada upa ya internasional untuk menemukan dan menguji makanan yang tercemar. . KLB Common Source lintas batas negara pernah terjadi oleh karena distribusi produk makanan yang tercemar sangat luas.

ancaman yang lebih mudah adalah melalui makanan dan minuman. Demam Mediteran) 1. Case Fatality Rate dari bruselosis sekitar 2 % atau kurang dan biasanya sebagai akibat dari endokarditis oleh infeksi Brucella melitensis. Pem . Penyakit ini bisa berlangsung beberapa hari. ditandai dengan dema m terus menerus. Identifikasi. Manifestasi pada sendi yang paling sering ad alah sakroiliitis. bila tidak ditemukan sumber yang jelas. intermiten atau tidak tentu dengan jangka waktu yang bervariasi.F. Penyakit bakteri sistemik dengan gejala akut atau insidius. walaupun hanya satu kasus. BRUCELLOSIS ICD-9 023. Infeksi supuratif terlokalisir dari organ-o rgan termasuk hati dan ginjal bisa terjadi. ICD-10 A23 (Demam Undulant. Diagnosa laboratorium dibuat dengan mengisolasi bakteri penyebab infeksi dari sp esimen darah. walaupun ancaman terbesar adalah melalui udara. Demam Malta. Komplikasi osteoar tikuler bisa di temukan pada 20 60 % kasus. sumsum tulang atau jaringan lain. Semua kasus seperti ini harus segera dilaporkan kepada pihak yang berwajib sehin gga investigasi yang tepat dapat dilakukan secepatnya. sebaiknya dicurigai kemungkinan adanya penggunaan racun botulinum secara sengaja . arthralgia. menggigil. Biasanya terjadi penyembuhan tetapi bisa j uga terjadi kecacatan. Gejala yang timbul berupa sakit kepala. beberapa bulan a tau kadang-kadang bertahun-tahun jika tidak diobati dengan tepat. berkeringat. lemah. gejala sub klinis dan infeksi kronis yang terlokalisir juga bisa terjadi. Infeksi saluran kemih dilaporkan terjadi pada 2 20 % kasus dan yan g paling umum adalah orkitis dan epididimitis. Komp leks gejala neurosis kadang-kadang dikelirukan dengan bruselosis kronis. kehilangan berat badan dan sakit seluruh tubuh. atau juga dari discharge penderita. Kejadian keracunan botulisme. depresi. Tindakan bioterorisme : Toksin botulinum dapat dengan mudah digunakan oleh teroris. yaitu makanan yang tidak ditangani dengan baik.

Pem eriksaan untuk mengukur antibodi IgG mungkin membantu untuk penegakan diagnosa pada kasus kronis. B. canis. meliten . Penyebab penyakit. B. 6 dan 9. 2. karena pada infeksi aktif ada kenaikan titer IgG. biovarians 1 sis biovarians 1 3. Interpretasi hasil pemeriksaan serolog is pada pasien kambuh dan kronis sangat sulit karena titer antibodi biasanya rendah. untuk menunjukkan adanya kenaikan titer antibodi pair sera.eriksaan serologis perlu dilakukan di laboratorium yang berpengalaman. biovarians 1 5 dan B. Bruselosis disebabkan oleh Brucellosis abortus. Teknik pemeriksaan ser ologis spesifik diperlukan untuk deteksi antibodi Brucellosis canis yang tidak bereaksi silang dengan spesies lain. suis.

dan pada manusia terja di di laboratorium dan tempat pemotongan hewan. Asia Tengah. urin. Penyakit ini banyak menyerang laki-laki.3. penyakit ini terkadang tidak diketahui dan tidak dilaporkan. Meksiko dan Amerika Selatan. seperti petani. 4. dokter hewan dan pekerja di tempat pemotongan hewan. Distribusi penyakit. 5. sebagian kecil anjing peliharaan dan seba gian besar anjing liar terbukti mempunyai titer antibody terhadap B. Kasus-kasus sporadis dan KLB terjadi pada orang yang mengkonsumsi susu mentah da n produk susu (terutama keju lunak yang tidak dipasturisasi) dari sapi. rusa besar. India. Kasus-kasus infeksi B. 6. Penularan melalui udara oleh binatang terjadi di kandang. penyebab penyakit bervariasi tergantung letak geografis. Penderita yang dilaporkan terjadi di AS. diseluruh du nia. terutama di negara Mediteran. dan terutama plasenta (melalui luka di kulit) dan karena mengkonsums i susu mentah dan produk susu (keju yang tidak di pasturisasi) dari binatang yang terin feksi. Beberapa kasus penularan terjadi karen a kecelakaan karena tertusuk jarum suntik pada saat menangani vaksin brusella stra in 19. Masa inkubasi. Infeksi bisa terjadi pada bison. canis kadang-kadang menjadi masalah di tempat pemeliharaan anjing. yaitu menimpa mereka y ang bekerja menangani ternak yang terinfeksi dan jaringannya. darah. Reservoir. Sapi. Bruselosis terutama muncul sebagai penyakit akibat kerja. canis. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. risiko yang sama dapat terjadi pada waktu menangani vaksin Rev-1. canis terbatas terjadi pada pekerja yang merawat anjing. babi. negara-negara timur Tengah. kambing dan domba bertindak sebagai reservoir. karibu dan beberapa spesies dari rusa. Afr ika Timur. B. Cara penularan : Penularan terjadi karena kontak dengan jaringan. sekrit vagina. Eropa. Anjing hu tan juga terbukti telah terinfeksi. domba dan kambing. kurang dari 120 kasus tiap tahunnya. jan in yang digugurkan. . Sum ber infeksi dan organisme.

Masa penularan. 60 hari. Lamanya imunitas yang dida pat tidak diketahui dengan jelas. Tidak ada bukti terjadi penularan dari orang ke orang. Kekebalan dan kerentanan : Berat dan lamanya sakit tergantung dari berbagai hal. Cara-cara pemberantasan. 9. biasanya sekitar 5 bulan. kadang-kadang beberapa bulan. . 8. Tindakan pokok dalam pengendalian bruselosis pada manusia adalah dengan cara memberantas penyakit pada binatang rumah.Bervariasi dan sangat sulit dipastikan. umumnya 1 2 7.

Imunisasi kontak: tidak perlu dilakukan. Beri penyuluhan kepada masyarakat (terutama turis) untuk tidak minum susu ya ng tidak dipasturisasi atau mengkonsumsi produk yang dibuat dari susu yang tidak diolah atau dipasturisasi. kambing dan dom ba. Didaerah dengan prevalensi tinggi. 7). musnahkan binatang yang terinfeksi dengan cara dipisahkan atau di sembelih. 5). tidak perlu tindakan kewaspadaan universal. Disinfeksi serentak: terhadap discharge purulen. 3). discharge dan janin dar i binatang yang keguguran. Lakukan disinfeksi tempat-tempat yang terkontaminasi. Vaksin RB 51 kurang virulen untuk manusia dibandingkan strain 19. orang yang tidak senga ja tertusuk jarum suntik pada waktu menangani strain I9 atau Rev-1 dianjurkan diberikan doksisiklin 100 mg dua kali sehari dikombinasikan dengan rifampin 600 900 mg sekali sehari selama 21 hari. Beri penyuluhan kepada para pemburu untuk menggunakan pelindung (seperti sarung tangan. melitensis. B. Hati-hati pada saat menangani dan membuang plasenta. Karantina: tidak perlu dilakukan. Isolasi: Lakukan tindakan kewaspadaan universal terhadap lesi yang berair da n sekret. vaksin RB 51 rekombinan digunakan secara besar-besaran mengggantikan strain 19 untuk imunisasi ternak terhadap B. 3). Tindakan pencegahan 1). Jika tidak ada lesi. jika ada luka. abortus. seperti babi hutan dan mengubur sisanya.A. Jika infeksi terjadi pada ba bi maka seluruh kelompok babi tersebut harus dipotong. 2). Pengawasan penderita. berikan imunisasi kepada kambing muda dan domba dengan vaksin hidup yang dilemahkan dari strain Rev-1 B. Selidiki cara penularan yang terjadi diantara binatang ternak dengan tes ser ologis dan dengan tes ELISA atau uji cincin untuk susu sapi. . Lakukan pasturisasi terhadap susu dan produk susu dari sapi. profilaksis sebaiknya diberikan selama 4 5 minggu. Laporan kepada instansi kesehatan setempat : penderita beruselosis wajib dilaporkan di kebanyakan negara bagian dan negara di dunia. Sejak tahun 1996. 2). Merebus susu hasilnya cukup efektif jika pasturisasi tidak mungkin dilakukan. baju pelindung) yang dipakai sewaktu manangani hasil buruan. kontak dan lingkungan sekitar : 1). Walaupun hasilnya belum diketahui melalui uji klinis. untuk inokulasi konjungtiva. pabrik pengolahan daging dan toko daging tentang bagaimana penyakit ini terjadi serta risiko jika menangani daging dan produk binatang yang potensial terinfeksi dan cara pengoperasian yang tepat dari tempat pemotongan hewan untuk mengurangi pajanan (terutama ventilasi yang memadai). 6). Kelas 2B (lihat tentang pelaporan penyakit menular). 4). 5). 4). Beri penyuluhan kepada petani dan pekerja di tempat pemotongan hewan.

sapi atau babi. Lakukan pemeriksaan terhadap binatang yang dicurigai terinfeksi dan musnahkan binatang yang positif . susu mentah atau produk susu dari sapi dan kambing. biasanya kambing peliharaan. . Investigasi kontak dan sumber infeksi: Cari sumber infeksi individual atau y ang bersifat Common Source .6).

relaps dapat juga terjadi. malaise.ICD-10 A04. mual dan muntah. Pengobatan spesifik: kombinasi rifampin (600-900 mg per hari) atau streptomi sin (1 g per hari) dengan doksisiklin (200 mg per hari) paling sedikit selama 6 ming gu adalah drug of choice . Tarik kembali produk yang diduga terinfeksi. Tetrasiklin sebaiknya jangan diberikan pada anak-anak dibawah 7 tahun untuk menghindari bercak di gigi. demam.7). Identifikasi. Tindakan internasional : Lakukan pengawasan ketat terhadap binatang ternak dan produk binatang import dalam perdagangan internasional. sakit pada abdomen. Manfaatkan pusat kerjasama WHO. terutama keju. Penyakit berlangsung lebih lama terjadi pada orang dewasa. Implikasi bencana : Tidak ada. tetapi relaps sering terjadi (30%). hal ini terjadi lebih disebabkan karena putus berobat daripada karena resistensi. Merupakan penyakit enterik bakteri zoonotik akut yang spektrumnya bervariasi. D. penderita toksis. dalam hal ini penderita sebaiknya diobati dengan regimen dasar. CAMPYLOBACTER ENTERITIS ICD-9 008. Arthritis mungkin terjadi pada kasus yang kambuh kembali. hentika n produksi dan distribusi produk tersebut kecuali tersedia fasilitas pasturisasi. Di tandai dengan diare. C. Bagi penderita yang berat. TMP-SMX efektif. Darah nampak maupun t . Relaps terjadi sekitar 5% dari penderita yang dioba ti dengan doksisiklin dan rifampisin. Penanggulangan wabah: Cari media pembawa kuman.4. E. kortikoseroid mungkin menolong.5 (Vibrionic enteritis) 1. Lama sakit biasanya 2 5 hari dan berlangsung tidak lebih dari 10 hari. dari hewan yang terinfeksi. biasanya susu mentah atau produk susu.

menunjukkan gejala mirip dengan apendisitis. sindroma Guillain-Barre. Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya organisme dalam tinja dengan menggunakan media selektif. atau meningitis jarang ditemukan. Bisa juga terjadi sindroma seperti tifus atau arthtritis reaktif.ersamar ditemukan bersama-sama dengan lendir pada tinja cair. namun kejang demam. Ditemukannya mikroorganisme dalam tinja berbentuk kurva. spiral atau ba tang berbentuk S bergerak. Banyak kasus tidak menunjukkan gejala. yang dikurangi tekanan oksigennya pada temperatur inkubasi 43oC (109oF). yang mirip dengan Vibrio cholerae diperiksa dengan menggun akan metode fase kontras atau mikroskopis medan gelap. Beberapa kasus. cara ini dalam waktu singkat d apat membuktikan adanya Campylobacter enteritis. .

juga mempunyai hubungan dengan kejadian diare pada h ospes normal. 5. Distribusi penyakit. terutama dari papan alas pemotong daging. Kebanyakan daging unggas mentah terkontaminasi C. jejuni.laridis dan C. Umumnya sebagai penyebab adalah Campylobacter jejuni. ini terjadi biasanya pa da musim gugur dan musim semi. Organisme ini sebagai penyebab utama diare yang menyerang para turis.2. Organisme ini sebagai penyebab utama diare di seluruh dunia dan menyerang semua umur. fetus ssp. Cara penularan. Penularan terjadi karena menelan organisme yang terdapat dalam daging unggas dan babi yang tidak dimasak dengan baik. seperti C. . anak-anak (balit a) dan dewasa muda paling banyak diserang. jejuni. hewan peli haraan lain. terutama bayi. Penularan dari orang ke orang biasanya bukan disebabkan oleh C. identifikasi tipe campylobacter be rmanfaat untuk tujuan penyelidikan epidemiologis. Di negara maju. Binatang. 3. biasanya unggas dan hewan ternak. Organisme Campylobacter lain. anak kucing. penyakit ini paling ba nyak diderita anak di bawah 2 tahun. Sumber utama penyebab penyakit bi asanya ada hubungannya dengan makanan. dan yang jarang adalah. menyebabkan 5 14 % kejadian diare di seluruh dunia. coli. Jumlah penderita terbanyak yang terjadi sporadis di daerah beriklim sedang biasanya pada bulan-bulan saat suhu udara lebih hangat. babi. binatang ternak atau bayi yang terinfeksi. Di negara berkembang. atau susu m entah. Kontaminasi pada susu sering terjadi karena kontaminasi oleh tinja hewan ternak carrier . su su yang tidak dipasturisasi dan air yang tidak diklorinasi. Penyebab penyakit. Anak anjing. manusia dan makanan dapat terkontaminasi dari unggas. Ada lebih dari 20 biotipe dan serotipe. Reservoir. terutama ayam yang tidak dimasak dengan baik. domba. air dan makanan yang terkontaminasi. karena kontak dengan binatang peliharaan yang terinfeksi (terutama anak anjing d an anak kucing). tikus dan burung bisa menjadi sumber infeksi bagi manusia. C. 4.

dengan kisaran 1 e yang tertelan. Orang yang terinfeksi akan tetap menular sepanjang masa infeksi. biasanya berlan gsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Masa sebagai carrier sementara secara epidemiologis kurang begitu penting kecuali pad a bayi dan mereka yang buang air besar terus menerus. Biasanya 2 5 hari. Penderita yang tidak diobati dengan antibiotika bisa menjadi sumber penularan selama kurang lebih 2 7 minggu. Masa penularan. . 10 hari tergantung dari jumlah mikroorganism 7. Infeksi kronis pada unggas dan bi natang lain merupakan sumber utama infeksi.6. Masa inkubasi.

kebanyakan orang kebal pada usia 2 tahun pertama kehidupannya. namun imunitas secara serologis dapat dibuktikan timbul setelah terjadi infeksi. 2). 3). cuci tangan dengan sabun sehabis kontak dengan unggas. dan lakukan klorinasi terhadap persediaan air atau rebuslah air minum. Investigasi kontak dan sumber infeksi : investigasi hanya bermanfaat untuk mendeteksi KLB. 4) Temukan. B. Orang yang baru sembuh namun tinjanya masih positif dianjurkan untuk dipisahkan dari orang lain jika kebiasaan cuci tangan dari yang bersangkutan kita ragukan. Lakukan disinfeksi menyeluruh. Orang yang menunjukkan gejala penyakit ini dilarang menangani makanan atau merawat orang sakit di rumah sakit. kelas 2B ( lihat tentang pelaporan penyakit menular). 5). Pengawasan penderita. Kerentanan dan kekebalan. terutama unggas. Cara-cara pencegahan 1) Gunakan bahan makanan yang telah diradiasi atau masaklah dengan seksama semua bahan makanan yang bersumber dari binatang. cegah dan berantas infeksi Campylobacter pada binatang ternak dan binatang peliharaan. 2) Lakukan pasturisasi terhadap semua persediaan susu. Imunisasi kontak : tidak vaksin 6). Disinfeksi serentak: dilakukan terhadap tinja dan barang-barang lain yang tercemar. Hindari kontaminasi ulang oleh bahan makanan mentah didapur seusai masak. Isolasi : terapkan tindakan kewaspadaan enterik untuk pasien yang dirawat di rumah sakit. Tekankan pentingnya untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sehabis buang air besar dan sebelum menjamah makanan. eritromisin bisa digunakan untuk mengobati infeksi yang terjadi. Anak anjing dan anak kucing dengan diare bisa menjadi sumber infeksi. merupakan keharusan untuk melaporkan penderita campylobacter di beberapa negara bagian dan sebagaian besar negara di dunia. Laporan kepada instansi kesehatan setempat. 4). tinja dapat dibuang langsung kedalam saluran pembuangan tanpa disinfeksi awal. bersihkan secara menyeluruh kandang dan lakukan disinfeksi) untuk mencegah menyebarnya organisme pada unggas dan binatang ternak.8. Cara cara pemberantasan : A. 3) Lakukan tindakan higiene sanitasi yang baik pada kandang ternak (ganti sepatu boot dan baju. Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mencuci tangan sesudah kontak dengan binatang. lembaga pemasyarakatan dan tempat penitipan anak. hal ini dapat mengurangi risiko penularan pada anak-anak. Mekanisme timbulnya imunitas tidak diketahui dengan jelas. Di negara berkembang. Di masyarakat. kontak dan lingkungan sekitar: 1). Karantina : tidak diperlukan. 9. 5) Kurangi kontak dengan unggas dan kotorannya. yang memiliki sistem pembuangan limbah yang baik dan modern. investigasi KLB yang dilakukan dan diarahkan untuk .

. air atau susu yang mungkin menjadi sumber penularan.mengidentifikasi makanan yang tercemar.

C. CANDIDIASIS ICD-9 112. intertrigo. C. seperti terjadi di dalam kelas. 1. Pengobatan spesifik : tidak ada pengobatan spesifik kecuali pemberian cairan rehidrasi dan mengganti elektrolit yang hilang (lihat Cholera. vulvovaginitis. kemudian lakukan investigasi untuk mencari dan menemukan sumber penularan. E. coli pada percobaan invitro sensitif terhadap sejumlah antibiotika seperti eritromisin. Implikasi bencana : Risiko munculnya KLB bisa terjadi pada pemberian makanan secara massal seperti pada tempat penampungan pengungsi dalam lingkungan sanitasi yang jelek. Candidemia paling sering terjadi sebagai akibat dari kateterisasi intravas . Trush. sebaiknya dilaporkan segera ke instansi kesehatan setempat. Ulkus atau pseudo-membran bisa terbentuk di esofagus. Identifikasi Mikosis yang biasanya menyerang lapisan superfisial dari kulit atau selaput lend ir yang secara klinis nampak sebagai trush . tetrasiklin dan kuinolon. paronychia atau onychomycosis. D. Namun obat-obatan ini hanya bermanfaat ji ka diberikan pada awal sakit dan pada saat dimana agen penyebab penyakit sudah diketahui atau bermanfaat untuk mengeliminasi carrier . lambung ata u usus. 9B7). Candidosis). Tindakan internasional : Manfaatkan pusat kerjasama WHO.7).ICD-10 B37 (Moniliasis. Penanggulangan wabah : Jika muncul sejumah kasus. jejuni a tau C.

selaput otak. pencucian bronkial. Diagnosa dibuat dengan evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium maupun gejala kli nis dari candidiasis. C. tinja. hati. paru-pa ru. mata. C. Hasil pemeriksaan laboratorium yang paling penting adalah jika ditemukan dibawah mikroskop pseudohyphae dan atau sel ragi pada jaringan yang terinfeksi atau pada cairan tubuh. kulit atau luka tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat dari penyakit. Candida (Torulopsis) glabrata dibedakan dari candida lain penyebab . Infeksi orofaringeal yang berat atau berulang pada orang dewasa dengan sebab yang tidak jelas bisa mengarah pada kemungkinan infeksi HIV. tropicalis. dubliniensis dan kadang-kadang spesies lain dari Candida. 2. Konfirmasi kultur penting. otak dan kelep jantung atau sekitar katup jantung prostetik. selaput lendir. limpa. Penyebab penyakit Candida albicans. urin. tetapi isolasi yan g dilakukan dari spesimen yang diambil dari dahak.kular dan bisa menimbulkan lesi diberbagai organ tubuh seperti pada ginjal.

vagina dan tinja. kulit. albicans kadang-kadang merupakan flora norma l pada tubuh manusia. Kekebalan dan kerentanan Hampir selalu ditemukan spesies Candida didalam dahak. Diantara faktor sistemis mencolok yang menjadi dasar munculnya kandidiasis super fisialis adalah kencing manis. tinja dan ur in tanpa ada gejala klinis sebagai bukti rendahnya patogenisitas candida dan sebaga i bukti adanya imunitas yang luas di kalangan masyarakat. pengobatan dengan antibiotik berspektrum luas dalam jangka . 8. dari pend erita ataupun carrier . yaitu infeksi dengan C. Cara penularan Karena kontak sekret atau ekskret dari mulut. Lesi mulut banyak ditemukan. biasanya ringan dan muncul pada minggu-minggu pertama sesudah kelahiran. 4. Torulopsis kurang membentuk pseudohyphae pa da jaringan. Gejala klinis muncul pada saat daya tahan tubuh hospes rendah. 6. 7. Masa inkubasi: Bervariasi. pen ularan endogen.candidiasis. 3. 5. Kondisi lokal tubuh bagi an tertentu turut mempengaruhi munculnya candidiasis superfisialis seperti interdig ital intertrigo dan paronikia pada tangan yang terkena banyak air (pekerja pengalenga n makanan dan binatu) dan munculnya intertrigo pada kulit yang lembab dari orang-o rang yang gemuk. tenggorokan. Masa penularan : Diasumsikan menular ketika ditemukan lesi. Lesi berulang pada kulit dan erupsi mukosa sering terjadi. Tersebar di seluruh dunia. 2 5 hari untuk lesi mulut pada anak. Reservoir : Manusia. atau tertulari melalui jalan lahir pada saat bayi dilahirkan. Distribusi penyakit. Jamur C.

dan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Cara-cara pemberantasan A. Cara-cara pencegahan : Lakukan deteksi dini dan pengobatan dini terhadap infeksi lokal pada mulut. 9. . Faktor yang mempengaruhi terjadinya candidiasis sistem ik antara lain imunosupresi. kan ker darah. Kebanyakan orang dewasa dan anak-anak usia l ebih tua mengalami hipersensitivitas kulit yang tertunda terhadap jamur dan karena ya ng bersangkutan memiliki antibodi humoral. esof agus atau kandung kencing bagi mereka yang memiliki faktor predisposisi sistemik (lih at butir 8 diatas) untuk mencegah terjadinya penyebaran sistemik. pemasangan kateter intravena permanen. 2 bulan pertama setelah transplantasi alogenik sum-sum tulang. Candidiasis pada saluran kencin g biasanya timbul sebagai komplikasi dari penggunaan kateter jangka panjang pada kandung kencing dan pelvis renalis. Kemoprofilaksis dengan fluconazole mengurangi kejadian candidiasis pada bagian dalam tubuh. netropenia. Wanita pada kehamilah trimester 3 lebih mudah ter kena vulvoganinal candidiasis.waktu panjang dan infeksi HIV.

3. Suspensi Itraconazole (Sporanox®) atau Fluconazole (Diflucan®) efektif untuk candidiasis oral dan esefagus. Tindakan penanggulangan wabah: KLB sering terjadi karena cairan infus yang terkontaminasi dan adanya bayi yang menderita lesi mulut di ruang perawatan bayi baru lahir. Misalnya melepas kateter intravena. C. Karantina : Tidak diperlukan. dengan atau tanpa 5-fluorocytosine . Miconazole. Tindakan internasional : Tidak ada. Butoconazole. D. Prepar at lipid Amphotericin B mungkin juga efektif. Disinfeksi serentak : lakukan disinfeksi terhadap sekret dan benda-benda yang terkontaminasi. 7. Isolasi :Tidak diperlukan. Clotrimazole. adalah obat pilihan untuk visceral candidiasis atau candidiasis invasive. Ketoconazole. Laporan resmi biasanya tidak perl u disampaikan. Clotimazole oral (Mycerex®) berupa tablet isap atau larutan Nystatin efektif untuk pengobatan lesi mulut. Pengobatan spesifik : Memperbaiki faktor-faktor yang mendasari munculnya candidiasis sangat membantu pengobatan. Laporan kepada instansi kesehatan setempat. Amphotericine B (Fungizone®) IV. Investigasi kontak dan sumber infeksi : Tidak bermanfaat pada kejadian kasus yang sporadis. Pengawasan penderita. Implikasi bencana : Tidak ada E. bagian IV. 5. kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular) 2. tioconazol e atau nystatin.B. kontak dan lingkungan sekitar. (lihat diare. Infeksi vagina bisa diobati dengan Fluconaz ole oral atau Clotimazole topikal. terconazole. Fluconazole) sangat bermanfaat untuk berbagai bentuk candidiasis superfisialis. 9A). Imunisasi kontak :Tidak diperlukan. 4. 6. Pemberian nistatin topikal atau derivat azole (Miconazole. 1. . Disinfeksi serentak dan pembersihan secara menyeluruh seharusnya diterapkan sama seperti yang dilakukan pada disinfeksi KLB diare di rumah sakit.

menyebabkan p enyakit pada manusia.CAPILLARIASIS Tiga jenis cacing dari superfamili Trichuroidea. genus Capillaria. .

Penyebab penyakit Capillaria philippinensis 3. Diagnosa ditegakkan dengan melihat gejala klinis dan ditemukannya telur atau lar va atau parasit dewasa di dalam tinja. ICD-10 B81. 4. Satu kasus telah dilapork an muncul di Iran. 2. disertai dengan asites dan transudasi pleura. Sedangkan ik an berperan sebagai hospes intermediair. Kasus subklinis juga terjadi.I. namun biasanya berkembang menjadi kasus klinis. Penyakit ini se cara klinis berupa enteropati yaitu hilangnya protein dalam jumlah besar disertai den gan sindroma malabsorpsi yang menyebabkan hilangnya berat badan dengan cepat dan ter jadi emasiasi berat. Identifikasi : Pertama kali ditemukan di Pulau Luzon. Indonesia dan Kolumbia. Reservoir Tidak diketahui. Filipina pada tahun 1963. Penyakit ini mencapai tingkat end emis di Pulau Luzon. Pria berumur antar a 20 dan 45 tahun adalah kelompok umur dengan risiko tinggi. Kemungkinan burung air berperan sebagai reservoir. Dengan melakukan biopsi jejunum bisa ditemukan adanya cacing pada mukosa. Telur-telur ini mirip dengan telur Trichuris tric hiura. Kasus fatal ditandai dengan ditemukannya parasit dalam jumlah be sar didalam usus halus.5. Distribusi penyakit Capillariasis intestinal endemis di Kepulauan Filipina dan Thailand. dimana sepertiga dari populasi telah terinfeksi.1 (Intestinal capillariasis) 1. Korea. beberapa ka sus dilaporkan terjadi di Jepang. CFR sekitar 10 %. CAPILLARIASIS karena CAPILLARIA PHILIPPINENSIS ICD-9 127. India. Taiwan dan Mesir. .

6. Pada percobaan laboratorium larva infektif berkembang dalam usus ikan air tawar setelah ikan te rsebut menelan telur cacing. masa inkubasi kira-kira1 bulan atau lebih. Penelitian yang dilakukan pada hewan . . terinfeksi parasit dan parasit ini menjadi dewasa didalam usus bin atang tersebut. Monyet dan sejenis tikus Mongolia dan beberapa jenis burun g pemakan ikan. 7.5. Masa inkubasi Masa inkubasi pada manusia tidak diketahui. Cara penularan Kebiasaan mengkonsumsi ikan kecil yang tidak dimasak dengan baik atau mengkonsum si ikan mentah diketahui sebagai penyebab timbulnya penyakit. Masa penularan : Tidak ditularkan dari orang ke orang.

9. tdk dilakukan. Memberika n informasi pada penduduk tentang pentingnya memasak semua jenis ikan. 1. 6. E. 3. Tindakan Internasional : tidak ada . Kelas 3 B (Lihat tentang pelaporan penyakit menular). Laporan kepada instansi kesehatan setempat. A. Pengawasan penderita. Cara-cara pencegahan : 1. 7. tidak dilakukan. kontak dan lingkungan sekitar. Implikasi bencana : tidak ada. Imunisasi kontak. tidak diperlukan. Lakukan pembuangan tinja yang saniter 4. Sediakan fasilitas jamban saniter yang memadai bagi masyarakat.8. 2. Tindakan penanggulangan wabah Pencarian kasus dan kontak serta pengobatan yang tepat dari penderita. C. Jangan memakan ikan atau hewan air lainnya yang tidak dimasak yang hidup di daerah endemis. lakukan pemeriksaan tinja terhadap sem ua anggota keluarga dan orang-orang yang mengkonsumsi ikan mentah atau yang tidak dimasak dengan baik. 2. B. Pengobatan spesifik. Kekebalan dan kerentanan Didaerah dimana prevalensi parasitnya tinggi semua orang rentan terhadap penyaki t ini Attack rate dikalangan masyarakat didaerah tersebut biasanya tinggi. Investigasi kontak dan sumber infeksi. atau albendazole (Zentel®). Karantina. adalah obat pilihan. Cara-cara pemberantasan. D. tidak diperlukan 5. Mebendazole (Vermox®). kasus-kasus dilaporkan dengan car a yang paling praktis. Disinfeksi serentak. Isolasi. Obati orang yang terinfeksi.

ICD-10 B83. Diagnosa dibuat deng an menemukan telur atau parasit pada biopsi hati atau nekropsi. Gambaran klinis berupa hepatitis akut atau s ub-akut yang ditandai dengan adanya eosinofil yang mirip dengan Visceral Larva Migran .II. CAPILLARIASIS KARENA CAPILLARIA HEPATICA ICD-9 128.8. 2. .8 (Hepatic Cappilariasis) 1. Organisme dapat menyebar ke paru-paru dan organ tubuh lain. Penyebab penyakit : Capillaria hepatica (Hepaticola hepatica). disebabkan oleh Capillaria hepatica dewasa yang hidup di hati. Identifikasi Penyakit yang jarang terjadi tetapi kalau terjadi sering fatal.

3. Distribusi penyakit : Sejak dikenal sebagai penyakit pada manusia pada tahun 1924, sekitar 30 kasus dilaporkan dari Amerika Utara dan Selatan, Turki, Swiss, Cekosl owakia, Yugoslavia, Itali, Afrika, Hawai, India, Jepang dan Korea.

4. Reservoir : Terutama menyerang tikus (86% tikus terinfeksi seperti disebutkan di beberapa laporan) Rodensia lain serta sebagian besar binatang rumah dan binatang liar juga berperan sebagai reservoir. Cacing dewasa hidup dan menghasilkan telur diha ti.

5. Cara penularan Cacing dewasa memproduksi telur yang matang dan hidup di hati hingga binatang ho spes mati. Ketika hati yang terinfeksi ini dimakan, maka telur-telur dilepas melalui proses pencernaan, mencapai tanah melalui tinja dan berkembang menjadi infektif dalam w aktu 2 4 minggu. Ketika hospes yang tepat memakan telur yang telah menjadi embrio, telu r kemudian menetas didalam saluran pencernaan, larva bergerak menuju dinding usus dan melalui sistem vena portae menuju ke hati. Disana larva menjadi dewasa dan menghasilkan telur. Infeksi semu terjadi pada manusia ketika ditemukan telur cac ing dalam tinja sesudah mengkonsumsi hati yang terinfeksi, baik mentah maupun matang . Karena telur-telur tidak menjadi embrio, maka penularan tidak terjadi.

6. Masa inkubasi : 3

4 minggu.

7. Masa penularan : Tidak langsung ditularkan dari orang ke orang.

8. Kekebalan dan kerentanan : semua orang rentan terhadap infeksi, anak-anak kur ang gizi berisiko lebih tinggi.

9. Cara-cara pemberantasan A. Cara-cara pencegahan : 1). Hindari tertelannya debu tanah, yang mencemari makanan atau yang mengotori tangan. Kebiasaan menutup makanan dan mencuci tangan sebelum menjamah makanan adalah kebiasaan yang baik yang membantu mencegah penularan. 2). Lindungi persediaan air minum dan makanan dari kontaminasi tanah.

B. Pengendalian penderita, kontak dan lingkungan sekitar : 1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat. Laporan resmi biasanya tidak dilakukan, kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). 2). Isolasi : tidak dilakukan 3). Disinfeksi serentak : tidak dilakukan 4). Karantina : tidak dilakukan. 5). Imunisasi kontak : tidak dilakukan. 6). Investigasi kontak dan sumber infeksi : tidak diterapkan. 7). Pengobatan spesifik : Thiabendazole (Metezol®) dan albendazole (Zentel®) efektif untuk cacing yang hidup di hati.

C. Tindakan penanggulangan wabah : tidak dilakukan.

D. Implikasi bencana : tidak ada E. Tindakan internasional : tidak ada.

III. CAPILLARIASIS PARU ICD-9 128.8; ICD-10 B83.8 (Pulmonary Capillariasis)

Penyakit paru dengan gejala demam, batuk dengan nafas asmatik disebabkan oleh Capillariasis aerophilia (Thominx aerophilia), nematoda pada kucing, anjing dan mamalia karnivora lainnya. Pneumonitis mungkin bisa berat, dan fatal. Cacing hid up di saluran trakhea, bronki dan bronkiolae. Telur yang sudah dibuahi terbawa kesalur an udara pernafasan lalu dibatukkan, tertelan dan dikeluarkan dari tubuh bersama tinja. D itanah, larva berkembang dan tetap infektif hingga 1 tahun atau lebih. Infeksi pada manu sia, terutama anak-anak terjadi karena menelan telur infektif dari tanah atau makanan dan air yang terkontaminasi tanah. Telur bisa ditemukan di dalam dahak sekitar 4 minggu, gejala klinis bisa muncul lebih awal atau lebih lambat. Kasus pada manusia di laporkan dari bekas negara Uni Sovyet (8 kasus), Maroko dan Iran (masing-masing 1 kasus); infe ksi pada binatang dilaporkan di Amerika Selatan dan Utara, Eropa, Asia dan Australia .

DEMAM CAKARAN KUCING ICD-9 078.3; ICD-10 A28.1 ( Catch scratch fever, Benign lymphoreticulosis )

1. Identifikasi. Cat-scratch Disease (CSD) adalah penyakit sub-akut, yang disebabkan oleh bakteri dan biasanya sembuh dengan sendirinya. Penyakit in ditandai dengan malaise, limfaden

itis granulomatosa disertai dengan berbagai variasi demam. Kerapkali didahului dengan riwayat cakaran, jilatan atau gigitan kucing yang kemudian menimbulkan luka papu ler. Kelenjar limfe setempat biasanya membengkak 2 minggu setelah gigitan/cakaran dan bisa berlanjut menjadi luka yang mengeluarkan pus. Terbentuknya papula pada daerah tempat masuknya bakteri ditemukan pada sekitar 5 0 90 % kasus. Sindroma Parinaud oculoglandular dan komplikasi neurologis, seperti ensefalopati dan neuritis pada mata dapat terjadi sesudah inokulasi pada mata. D emam yang berlangsung dalam waktu lama bisa dikuti dengan lesi osteolitik dan atau terbentuknya granulomata pada hati dan limpa. Bakteriemia, peliosis hepatis dan angiomatosis basilair merupakan manifestasi infeksi oleh kelompok oganisme ini p ada orang yang immunocompromised, terutama pada infeksi HIV. CSD dapat dikelirukan dengan penyakit lain yang menyebabkan limfadenopati setemp at seperti tularemia, brusellosis, tuberkulosa, pes dan pasteurellosis (lihat uraia n dibawah). Diagnosa didasarkan pada gambaran klinis yang konsisten ditambah dengan hasil pemeriksaan serologis terbentuknya antibodi terhadap Bartonella. Titer sebesar 1 :64 atau lebih dengan pemeriksaan IFA, dianggap positif terkena CSD.

Pemeriksaan histopatologi dari kelenjar limfe yang terkena bisa memberikan gamba ran khas yang konsisten, tetapi bukan diagnostik. Pus yang diambil dari kelenjar lim fe biasanya tidak mengandung bakteri dengan pemeriksaan konvensional, namun sesudah ditanam agak lama pada agar darah kelinci dengan 5% CO2 pada suhu 36oC (96.8oF), Bartonella dapat tumbuh dari spesimen yang diambil dari kelenjar limfe.

2. Penyebab penyakit. Bartonella (sebelumnya disebut Rochalimaea) henselae secara epidemiologis, bakteriologis dan serologis telah diketahui sebagai etiologi dari CSD, begitu pu la sebagai penyebab bacillary angiomatosis, peliosis hepatis dan bakteriemia. Keluarga lain dari Bartonellae, seperti B. Quintana, juga menyebabkan kesakitan pada hospes immunocompromised , tetapi tidak menyebabkan CSD. Afipia pelis, yang sebelumnya diduga sebagai organisme penyebab, ternyata organisme ini hanya memainkan perana n sangat kecil, sebagai penyebab CSD.

3. Distribusi penyakit. Tersebar diseluruh dunia, tetapi jarang terjadi. Surveilans prospektif yang dila kukan di satu negara bagian (AS) menemukan insiden setahun sebesar 4.0 kasus/100.000 penduduk. Semua jenis kelamin mempunyai risiko yang sama untuk terkena, dan CSD lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Pengelompokan penderita dal am suatu keluarga jarang terjadi. Kebanyakan kasus muncul pada bulan-bulan diakhir musim panas, musim gugur dan musim dingin.

4. Reservoir. Kucing rumah adalah vektor dan reservoir untuk B. henselae; Kucing yang terinfek si tidak menunjukkan gejala klinis walaupun menderita bakteriemia kronis.

5. Cara penularan. Kebanyakan pasien (lebih dari 90%) ada riwayat dicakar, tergigit, dijilat kucing atau terpajan dengan kucing yang sehat, biasanya kucing muda (kadang anak kucing). Ri wayat cakaran atau gigitan anjing, gigitan monyet, kontak dengan kelinci, ayam atau ku da diketahui terjadi sebelum munculnya gejala, namun hampir semua kasus CSD mempuny ai

dan baru pada akhir tahun 1999 kucing diketahui mempunyai peranan penting pada penularan langsung dari B. Kekebalan dan kerentanan : Tidak diketahui. 8. henselae kepada manusia. 6. henselae kepada sesama kucing. 50 hari dari saat masuknya baketri hingga 7. Masa penularan : Tidak langsung ditularkan dari orang ke orang.14 hari dari saat masuknya bakteri kedalam tubuh hingga munculnya lesi primer dan sekitar 5 munculnya limfadenopati.riwayat pernah kontak dengan kucing. Kutu kucing menularkan B. Bervariasi. Masa inkubasi. biasanya 3 . .

antara lain : pasteurellos . Cara-cara pemberantasan A. 2). Pengawasan penderita.9. Disinfeksi serentak : terhadap discharge luka yang bernanah. 4). eritromisin dan doksisiklin. C. Laporan resmi tidak dilakukan. Tindakan internasional : tidak ada. semua penderita immunocompromised sebaiknya diobati selama 1 3 bulan. tetap i biopsi insisi dari kelenjar limfe sebaiknya dihindari. 3). Upaya membasmi kutu kucing sangat penting. imunisasi kontak dan investigasi kontak dan sumber penyakit : tid ak dilakukan. Laporan kepada petugas kesehatan. kontak dan lingkungan sekitar : 1). Pengobatan spesifik : Efektivitas dari terapi antibiotik sangat tidak jelas terhadap CSD. Karantina. kelas 5 (li hat tentang pelaporan penyakit menular). Cara-cara pencegahan : Bersihkan luka akibat dicakar atau digigit kucing dengan baik. 5). Pengobatan terhadap pendertita CSD tanpa kompliksi dengan sistem kekebalan yang baik tidak dilakukan. Namun. Antibiotik y ang umum dipakai seperti rifampisin. Hal ini akan sang at menolong. Tindakan penanggulangan wabah : Tidak dilakukan D. INFEKSI LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN GIGITAN BINATANG Penyakit lain yang diakibatkan oleh gigitan binatang. E. Aspirasi dari limfadenitis bernanah mungkin diperlukan untuk mengurangi rasa sakit. B. efektif untuk infe ksi yang menyebar pada penderita AIDS. Isolasi : tidak dilakukan. Implikasi bencana : tidak ada.

streptokokus. Gigitan binatang juga bisa menyebabkan penularan streptokokus dan stafilokokus. obat alternatif yang cukup efek tif adalah tetrasiklin. stafilokokus dan bakte ri anaerob.0) disebabkan oleh Pasteurella multocida dan P. dan rabies. Pe nyakit saluran pernafasan kronis dapat terjadi pada orang tua yang sebelumnya menderita penyakit lain. pes. Generasi pertama dari sefalosporin biasanya kurang efektif terhadap Pasteurella. haemolityca. yang menyebabkan infeksi pyogenik selain infeksi oleh spesies bakteri anaerob dan Aci tenobacter. Infeksi pada manusia biasanya sekunder. sesudah gigitan kucing at au anjing dalam wujud selulitis dengan rasa sakit dan bengkak. Gejala biasanya muncul kurang dari 24 jam sesudah digigit kucing atau anjing. anjing dan binatang lain. tetanus. Organisme ini sensitif terhadap penisilin. ICD-10 A28. .2. Streptobacillus moniliformis (demam gigitan tikus). karena sekaligus bisa mencakup Pasteurella.is dari kucing. B-v irus (cercopithecin herpesvirus-1) karena gigitan monyet (lihat uraian pada bab Herpe s Simplex). Ditemukan pada saluran pernapasan dari sebagian besar kucing sehat. Augmentin adalah obat pilihan yang tepat untuk kasus gigitan binatang pada umumn ya. Pasteurellosis (ICD-9 027. tularemia. limfadenopati dan sepsis bi sa terjadi. walaupun jarang pasturellosis bisa disebabkan oleh anjing dan binatang lain.

cynodegmi dap at di isolasi dari luka infeksi akibat di gigit anjing atau dicakar kucing. digigit atau dicakar kucing atau anjing. Splen ektomi. endokarditis atau arthritis septik dapat muncu l sesudah 1 5 hari. Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi organisme dari eksudat lesi yang ditanam .Capnocytophaga canimorsus. Organisme lain tetapi tidak begitu virulen. C. luka nekrotis pada tempat yang terinfeksi. Sebaiknya diberikan secara profilaktik kepada orang-orang dengan risiko tinggi s etelah gigitan anjing atau kucing. Lesi chancroid. Insiden penyakit ini lebih tinggi pada pria dan orang-orang diatas usia 40 tahun . seperti lesi pada alat kelamin lain dikaitk an dengan meningkatnya risiko terkena infeksi HIV.0. CHANCROID ICD-9. Soft chancre) 1. meningitis purulenta. Penisilin G. septikemia. penyakit paru kronis dan alkoholisme adalah faktor predisposisi terjadinya penya kit ini.8) dapat menimbulkan demam pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang. menurut klasifikasi CDC dulu dikenal sebagai kelompok DF2 (ICD-9 027. Pernah d itemukan lesi ekstra genital. Infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri. terlokalisir pada daerah genital dan secara klinis mempunyai ciri-ciri rasa sakit disatu atau beberapa tempat. adalah antibiotik pilihan untuk infeksi ini. Lesi ringan bisa terjadi pada dinding vagina atau cervix.099. Identifikasi. Seluli tis. biasanya disertai dengan pembengkakan dan rasa sakit pad a kelenjar limfe setempat serta mengeluarkan nanah. yang sebelumnya dijilat. Organisme ini bias anya ditemukan pada mulut kucing dan anjing sehat. CFR pada kelompok risiko tinggi dilaporkan bervariasi antara 4 27 %. demam. ICD-10 A 57 (Ulcus molle. Diagnosa ditegakkan dengan menemukan basil gram negatif didalam netrofil dan dengan mengi solasi organisme penyebab. Infeksi asimptomatis bisa juga terjadi pada wanita.

2. Distribusi penyakit. insidennya mungkin lebih tinggi dari sifilis dan hampir sama seperti insiden gon orrhea pada pria. 3. Penyakit ini jarang terjadi di daerah iklim sedang. . Lebih sering ditemukan pada pria. KLB dan penularan setempat terjadi.pada media selektif dengan menambahkan vancomisin ke dalam media agar coklat. Penyebab penyakit : Haemophilus ducreyi. terutama dikalanga n pekerja migran di daerah pertanian dan penduduk miskin perkotaan. terutama mereka yang sering berhubungan dengan pekerja seksual komersial. Pemeriksaan dengan PCR dan imunofluoresen untuk deteksi langsung organisme dari lesi serta pemeriksaan serologi. Sangat prevalen di daerah tropis dan subtropis diselu ruh dunia. Spesimen yang diambil dari eksudat yang dicat dengan pengecatan gram bisa memper kuat diagnosa jika ditemukan kokobasil gram negatif yang terlihat menggerombol dianta ra sel darah putih. darah kelinci atau media agar darah kuda yang di perkaya dengan serum janin anak sapi. Di AS. Basil ducrey. namun bisa juga m uncul sebagai KLB kecil. tersedia hanya untuk tujuan rise t.

Masa inkubasi : Dari 3. dengan discharge dari luka yang terbuka dan pus dari bubo.5 hari sampai dengan 14 hari. Pelecehan seksual bisa di curigai telah terjadi bila chancroid ditemukan pada an ak-anak usia perinatal. Pengobatan dengan antibiotik membunuh H. Semua orang rentan terhadap penyakit ini. Kekebalan dan kerentanan. penyakit ini menul ar selama bakteri masih ada dari luka atau discharge dari kelenjar limfe yang bisa berlangsung selama beberapa minggu atau beberapa bulan bila tidak diobati dengan antibiotik yang tepat. 2). B. 6. Cara penularan : Melalui kontak seksual langsung. 7.4. Cara-cara pemberantasan : A. Tidak ada bukti terbentuknya kekebalan tubuh alamiah terhadap penyakit ini. pria yang tidak disunat mempunyai risi ko lebih tinggi daripada pria yang disunat. Tindakan pencegahannya sama dengan cara pencegahan untuk sifilis (lihat sifi lis. 9. Pengawasan penderita. Lakukan pemeriksaan serologis untuk sifilis dan HIV terhadap semua penderita non herpes dengan luka pada alat kelamin. Reservoir : manusia. (9A). Auto inokulasi pada tempat-tempat selain alat kelamin bisa terjadi pada pe nderita. 8. kontak dan lingkungan sekitar : . ducreyi dan luka akan sembuh dalam 1-2 minggu. Masa penularan : Seseorang bisa menularkan chanchroid hingga sampai ia sembuh. 5. 1). Cara pencegahan.

6). Isolasi : tidak dilakukan. Pengobatan spesifik : Septriakson. kasus wajib dilaporkan di bebera pa negara bagian dan di banyak negara. jarang menjadi carrier. . Laporan kepada instansi kesehatan setempat. Imunisasi kontak : tidak dilakukan. azitromisin dan khusus untuk orang dewasa: siprofloksasin adalah obat pilihan. Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : periksa dan obati semua kon tak seksual dengan penderita dalam 10 hari sebelum munculnya gejala. eritromisin. 5). Karantina : tidak dilakukan. Pengobatan alternatif menggunakan amoksisilin dan asam clavulanat. Kontak seksual dengan orang tanpa gejala sebaiknya diberi pengobatan profilaktik. Wanita tanpa gejala. 3). 4). kelas 2B (laporan) 2). Kelenjar limfe didaerah inguinal yang terlihat membangkak sebaiknya dilakukan aspirasi agar tidak pecah secara spontan. 7). Disinfeksi serentak : tidak dilakukan.1). hindari kontak seksual hingga luka sembuh.

B02 1. CFR di AS lebih rendah pada anak-anak daripada orang dewasa. Penanggulangan wabah : Ditemukannya penderita terus menerus atau meningkatnya insiden penyakit disuatu wilayah adalah indikasi untuk menerapkan prosedur tindakan seperti yang dijelask an pada 9A dan 9B diatas. walaupun jarang pada orang dewasa. Lesi juga bisa muncul pada daerah iritasi. C. dibandingkan dengan 1 dari 5000 or ang dewasa. Lesi yang muncul kemungkinan jumlahnya sang at sedikit sehingga luput dari observasi. demam dan gejala klinis lainnya bisa muncul lebih berat. Lesi juga bisa muncul pada kulit kepala. Anak dengan lekemia akut. t idak kolaps. Apabila compliance pengobatan dengan menggunakan jadwal seperti yang tertera pada (9B7) rendah maka sebagai pertimbangan sebaiknya diberikan dosis tunggal ceftriaxone atau azithromycin. dan membran mukosa mulut serta saluran pernapasan bagian atas dan j uga pada mata. Bayi baru lahir yang menderita cacar air pada umur 6 10 hari mempunyai risiko untuk menderita cacar air berat.000 anak dengan cacar air. Terapi empiris perlu dibe rikan kepada kelompok risiko tinggi dengan atau tanpa ulkus. gejala umum ringan dikuti dengan munculny a erupsi kulit yang makulopapuler dalam beberapa jam. seperti pada daerah yang t erbakar matahari dan ruam akibat popok bayi. Komplikasi yang serius dari cacar air adalah pneumonia (karena virus dan bakteri). Lesi biasanya muncul berkelompok memanjang. 1 dari 100. axilla bagian atas. yaitu kepada pekerja seks ual . Gelembungnya berbentuk monolokuler dan pecah bila ditusuk. ICD-10 B01. pada umumnya terja di serangan mendadak dengan demam ringan. yang angka kematiannya 5 10 % dari semua kasus. Lesi lebih banyak muncul pada anggota tubuh yang tertutup daripada di tempat-tempat yang terbuka.CHICKEN POX/HERPES ZOSTER ICD-9 052-053. menjadi vesikuler dalam 3-4 hari dan meninggalkan keropeng bundar. Sebelum ditemukan pengobatan virus yang efektif. termasuk yang mengalami remisi sesudah kemoterapi adalah kelompok yang mempunyai risiko lebih tinggi terkena cacar air. Chicken pox (varicella/cacar air) adalah penyakit virus akut. fatality rate nya sampai 30 %. Kadang-kadang. berbeda dengan gelembung pada cacar yang berbentuk multilokuler. komplikasi perdarahan dan ensefalitis. begitu juga bayi yang lahir da ri ibu yang terkena penyakit ini 5 hari sebelum atau 2 hari sesudah melahirkan. Infeksi bakteri sekunder. dengan stadium yang berbeda pada waktu yang sama. Identifikasi. Bisa terjadi infeksi ringan yang tidak je las dan tidak khas.

kepada pasien yang datang ke klinik dengan ulkus pada alat kelamin da n pada pemeriksaan dengan mikroskop lapangan gelap hasilnya negatif.komersial. E. Tindakan internasional : Lihat sifilis (9E). Implikasi bencana : Tidak ada. D. Terapi empiri s ini tujuannya untuk mencegah terjadinya KLB. .

tes identifikasi virus untuk membedakan virus va ksin dari virus liar mungkin diperlukan pada situasi tertentu (misalnya untuk mengetahui a pakah munculnya herpes zoster. Dari pengamatan didapatkan bahwa hampir 10 % anak-anak yang mendapat pengobatan kanker cenderung mendapatkan zoster. Pada era vaksin. seperti menemukan virus dengan menggunakan mikroskop elektron. Terletak lebih dalam dan vesikel menggerombol lebih dekat dibandingkan cacar air.7 % dari kasus. Infeksi intra uterin dan cacar air yang d iderita sebelum usia 2 tahun dikaitkan dengan munculnya zoster pada usia muda. Orang dengan imunosupresi dan orang yang didiagnosa menderita tumor ganas. Cacar air seringkali ditemukan munc ul mendahului sindroma Reye sebelum diketahui bahwa terjadinya sindroma Reye. tidak dilakukan secara rutin tetapi bermanfaat pada kasus-kasus sulit dan untuk studi epidemiologis.Tetapi sekarang CFR-nya lebih rendah. membuktikan adanya antigen virus pada preparat apus dengan menggunakan metode FA . Muncul sebagai lesi vesikuler dengan dasar eritema terbatas di daerah kulit. Herpes zoster (shingles) adalah manifestasi lokal dari reaktivasi infeksi varice lla laten pada radix ganglia dorsalis. Insiden dari zoster dan postherpetic neuralgia bertambah seiring deng an bertambahnya umur. herpes zoster dan varicella sec ara histologis mirip satu sama lain. DNA virus. Kadang-ka dang erupsi seperti cacar air muncul beberapa hari sesudah herpes zoster. dikai tkan dengan penggunaan aspirin untuk infeksi virus. lesi seperti cacar air ini bisa juga terjadi pada orang-orang normal namun dengan jumlah lesi yang lebih sedikit. . Hampir selalu disertai dengan rasa sakit sekali dan parestesia. lesi ekstensif seperti cacar air bisa muncul d iluar dermatome. Lesi bisa muncul dalam bentuk gerombolan gelembung yang iregul er sepanjang jalannya saraf. Infeksi pada kehamilan muda bisa menyebabk an sindroma cacar air kongenital pada 0. orang dengan infeksi HI V juga mempunyai risiko untuk terkena zoster. Pemeriksaan laboratorium. isolasi virus pada kultur sel. biasanya unilateral. yang mengikuti jalannya saraf sensoris dari satu atau sekelompo k radix ganglia dorsalis. dan infeksi yang terjadi pa da usia kehamilan 13-20 minggu risikonya sekitar 2%. dan sekitar 30 % orang dewasa yang terserang herpes menderita posthe rpetic neuralgia. Berbagai macam pemeriksaan antibodi sekarang telah tersedia secara komers ial. atau dengan PCR atau pembuktian adanya kenaikan titer antibodi serum. pada penerima vaksin disebabkan oleh virus vaksin atau virus liar). dan sangat jarang terjadi erupsi sekunder dari zoster sesudah cacar air.

Dengan demikian ditemukannya sel raksasa ini tidak spesifik untuk infeksi varice lla.namun pemeriksaan ini kurang sensitif untuk mellihat imunitas pasca imunisasi. 3. 2. paling tidak 90 % dari penduduknya perna h terkena cacar air pada usia 15 tahun dan setidaknya 95% pada kelompok dewasa mud a. Herpesvirus 3 (alpha) manusia (Varicella zoster. . sel raksasa ini tidak ditemukan pada vaccinia namun dapat dit emukan pada lesi herpes simplex. Di daerah dengan iklim sedang. Infeksi dengan herpesvirus 3 (alpha) manusia sangat u mum terjadi. Tersebar di seluruh dunia. VZV) termasuk kelompok Herpesvi rus. pemeriksaan dengan Rapid direct antibody testing mempunyai nilai diagnostik yang lebih tepat. Distribusi penyakit. Penyebab penyakit. s el raksasa dengan inti banyak bisa dilihat dari sediaan yang diambil dari dasar les i dengan pengecatan Giemsa.

Berbeda dengan vaksinia dan variola. Zoster terjadi lebih umum pada orang-orang yang lebih tua. terutama pada tahap awal er upsi. cacar air terjadi paling sering pada musim dingin d an awal musim semi. Masa penularan bisa leb ih lama pada pasien yang tingkat kekebalannya rendah. Penderita zoster bisa menjadi s umber infeksi sekitar 1 minggu sesudah munculnya lesi vesikulopustuler. d ibawah) dan pada orang dengan tingkat kekebalan rendah. Masa inkubasi. Masa inkubasi bis a lebih panjang sesudah pemberian imunisasi pasif terhadap varicella (lihat 9A2. Gambaran epidemiologis dari cacar air di negara tropis berbeda denga n negara-negara beriklim sedang. Masa inkubasi berkisar antara 2 3 minggu. Risiko terkena varicella adalah sekitar 80 9 0 % sesudah terpajan dengan penderita varicella. Reservoir : manusia. Munculnya kasus sekunder pada anak anak dalam satu keluarga adalah sekitar 70 90 %. 5. dengan proporsi lebih tinggi kasus-kasus terjadi pada orang dewasa. tidak langsung melalui benda yang baru saj a terkontaminasi oleh discharge dari vesikel ataupun dari selaput lendir orang yan g terinfeksi. 7. biasanya 14 16 hari. Masa penularan Paling lama 5 hari. . koreng dari lesi varicella tida k menular. tetapi biasanya 1 2 hari sebelum timbulnya ruam dan berlanju t sampai semua lesi berkeropeng (biasanya sekitar 5 hari). Individu yang rentan dianggap bisa menularkan penyakit 10 21 hari sesudah terpajan. droplet atau penularan melalui udar a dari cairan vesikel atau sekret dari saluran pernapasan orang yang terkena cacar air atau cairan vesikel dari penderita herpes zoster.Pada daerah beriklim sedang. 6. zoster mempunyai tingkat penularan yang rendah (kontak dengan varicella seronega tif akan berkembang menjadi cacar air). Cara penularan : Dari orang ke orang melalui kontak langsung. 4. Cacar air adalah salah penyakit yang sangat menular.

serangan kedua jar ang terjadi. terutama kanke r kelenjar limfe dengan atau tanpa terapi steroid. Semua orang rentan terhadap varicella terutama mereka yang belum pernah terinfek si. Infeksi biasanya menimbulkan kekebalan yang berlangsung lama. pasien dengan kekebalan rendah dan orang dengan pengobatan yang menyebabkan kekebalan menurun mempunyai risiko terkena zoster yang berat. Orang dewasa yang menderita kanker. biasanya penyakit ini lebih berat jika menyerang orang dewasa daripada anak-anak .8. lebih lama atau bahkan fatal. baik lokal maupun menyebar. . dan penyakit ini bisa berulang se bagai herpes zoster pada sekitar 15 % orang dewasa dan kadang-kadang pada anak-anak. Kerentanan dan kekebalan. Bagi yang ibunya tidak kebal. dan penderita leukemia biasanya menderita lebih be rat. infeksi virus biasanya menjadi laten.

Vaksin ini dapat diperoleh gratis untuk penderita diatas berdasarkan protokol penelitian pada Pusat Koordinasi VARIVAX (VARIVAX Coordinating Center) hubungi pesawat telpon 215-2830897.9. Imunoglobulin varisela-zoster (Varicella-zoster immune globulin. Orang dewasa yang diprioritaskan untuk diimunisasi adalah mereka yang kontak dengan orang yang berisiko tinggi yaitu penderita dengan komplikasi yang serius. pekerja tempat penitipan anak. Cara-cara pemberantasan A. Vaksin ini mempunyai efikasi kumulatif sekitar 70 90 % dalam mencegah varicella pada anak hingga umur 6 tahun. demam rin gan atau tanpa demam sama sekali dan lama sakit lebih singkat. tetapi antibodi bertahan paling sedikit selama 10 tahun di AS. . orang yang tinggal atau bekerja di lingkungan dimana bisa terjadi penularan VZV (misalkan guru TK atau guru SD. Cara-cara pencegahan : 1). Vaksin varicella direkomendasikan diberikan kepada orang yang rentan dan berusia lebih dari 13 tahun. Namun. Vaksin bisa digunakan untuk melindungi anak-anak dan remaja yang menderita leukemia limfoblastik yang mengalami remisi. dibawah). Efektivitas vaksin pasca lisensi diperkirakan sekitar 85 90 % untuk mencegah semua spektrum penyakit dan hampir 100 % untuk mencegah timbulnya penyakit dengan derajat sedang hingga berat. Vaksin virus varicella yang dilemahkan (Varivax®) mendapat lisensi untuk digunakan di AS pada tahun 1995. dari pajanan dengan cara semua anggota rumah tangga dan mereka yang kontak dengan penderita seluruhnya diberi imunisasi. orang yang tinggal dan bekerja pada lingkungan dimana penularan bisa terjadi (misalkan mahasiswa. Jika diberikan dalam 3 hari sesudah terpajan. wanita usia subur. Dosis tunggal 0. antibodi seumur hidup terjadi karena adanya sirkulasi virus liar. 3). penghuni dan pekerja pada suatu asrama). remaja dan orang dewasa yang tinggal serumah dengan anak-anak dan orang yang sering bepergian keluar negeri. walaupun angkanya lebih rendah dari yang didapat secara alamiah. Orang yang telah mendapat imunisasi tetapi masih terkena varicella biasanya ringan dengan lesi yang lebih sedikit (biasanya kurang dari 50 dan lesi pada kulit tidak vesikuler). dan dibutuhkan 2 dosis selama 4 8 minggu. sangat efektif dalam memodifikasi atau mencegah penyakit jika diberikan dalam waktu 96 jam sesudah terpajan (lihar 9B5. vaksin varicella bisa mencegah atau secara bermakna merubah perjalanan penyakit. 2). yang dibuat dari plasma darah donor dengan titer antibodi VZV yang tinggi. orang pada satu ruang tahanan yang sama dan anggota militer). seperti bayi dan orang yang kekebalannya rendah. VZIG). Vaksin bisa menyebabkan terjadinya herpes zoster di kemudian hari. Lindungi orang yang berisiko tinggi yang oleh karena sesuatu hal tidak dapat di imunisasi. Ruam ringan seperti varisela pada tempat vaksin disuntikkan ditemukan sekitar 2 4 % pada anak-anak dan sekitar 5 % pada orang dewasa. Lamanya kekebalan tidak diketahui. Orang berusia diatas 13 tahun membutuhkan 2 dosis vaksin diberikan dengan selang waktu 4 8 minggu.5 ml di rekomendasikan untuk imunisasi rutin bagi anak usia 12 18 bulan dan untuk imunisasi anak hingga umur 12 tahun yang belum pernah menderita varicella.

.

Tidak ada jaminan bahwa pemberian VZIG pada wanita hamil akan mencegah terjadinya malformasi otak janin. rumah sakit dan masyarakat membuktikan bahwa vaksin varisela efektif dalam mencegah kesakitan atau mengurangi beratnya penyakit bila diberikan dalam 3 hari sampai dengan 5 hari sesudah terpajan. bisa melindungi atau mengurangi beratnya penyakit pada orang-orang rentan yang mempunyai riwayat kontak dengan orang sakit. 6).B. Disinfeksi serentak : terhadap barang-barang yang terkontaminasi discharge d ari hidung dan tenggorokan penderita. varisela bukan penyakit yang wajib dilaporkan. Kelas 3C (lihat tentang Pelaporan Penyakit Menular). VZIG tersedia di Dinas Transfusi Darah setempat (Blood Service Regional Office). 3). Di rumah sakit. Data dari rumah tangga. biasanya sesudah 5 hari bagi penderita anak-anak yang tidak mendapat imunisasi dan 1 4 hari bagi anak-anak yang menderita varisela pasca imunisasi. Investigasi kontak dan sumber infeksi : sumber infeksi bisa berasal dari pen . Dinas ini merupakan bagian dari Palang Merah Amerika. Perlindungan kontak : vaksin direkomendasikan untuk diberikan kepada orang yang rentan sesudah terpajan varisela. Oleh karena ad a risiko penyebaran penyakit kepada orang yang mendapat pengobatan steroid atau pasien dengan kekebalan rendah. isolasi yang ketat diterapkan terhadap penderita varisela karena risiko mendapat varisela yang berat bagi pasien dengan immunocompromised jika tertular. Obat anti virus seperti acyclovir nampaknya bermanfaat untuk mencegah atau merubah perjalanan penyakit varisela jika diberikan dalam kurun waktu 1 minggu sesudah terpajan. Dosis sebesar 80 mg/kg tiap hari dibagi dalam 4 dosis telah la ma digunakan tetapi sampai sekarang belum ada regimen yang direkomendasikan secara umum untuk tujuan ini. 1). Kematian yang disebabkan oleh varisela dinyatakan wajib dilaporkan diseluruh AS sejak 1 Januar i 1999. tetapi pemberian VZIG bisa mengurangi beratnya varisela pada wanita hamil. Pengawasan penderita. Pisahkan penderita dewasa dari tempat kerja dan hindari kontak dengan orang yang rentan. atau dapat dipesan langsung melalui nomer telpon 617-461-0891). di banyak negara bagian di AS da n negara-negara lain. Laporan kepada instansi kesehatan setempat. Karantina setidaknya dilakukan selama 10 21 hari sesudah tepajan (hingga 28 hari jika VZIG telah diberikan). Isolasi : anak-anak yang menderita varisela dilarang masuk sekolah. 5). Pemberian VZIG juga di indikasikan bagi bayi dari ibu yang terkena cacar air 5 hari sebelum atau 48 jam sesudah melahirkan. Anak-anak yang diketahui telah terpaja n varisela sebaiknya dikarantina dirumah sakit karena alasan medis. VZIG yang diberikan dalam waktu 96 jam sesudah terpajan. 4). ruang gawat darurat atau dilarang berkunjung ketempat-tempat umum hingga vesikel menjadi kering. kontak dan lingkungan sekitar. Karantina : biasanya tidak dilakukan. 2). ruang me dis.

derita varisela atau herpes zoster. orang dengan immunocompromised dan bayi yang ibunya menderita varisela dalam 5 hari sebelum atau 2 hari sesudah melahirkan). seperti wanita hamil. sebaiknya dipertimbangkan untuk pemberian VZIG. Semua orang yang kontak dengan sumber infeksi terutama mereka yang tidak memenuhi syarat untuk diberikan imunisasi. Penderita sebaiknya diisolasi sehingga .

Tindakan internasional : Sama seperti diatas. KLB cacar air sering terjadi disekolah. Obat ini bisa memperpendek gejala dan rasa sakit dari penderita zoster dewasa. dengan maksud menanggulangi KLB yang terjadi. C.semua lesi menjadi keropeng. berbeda dengan virus dan riketsia tetapi seperti halnya riketsia. INFEKSI KLAMIDIA. terutama bila diberikan dalam waktu 24 jam sesudah munculnya ruam. D. orang-orang rentan dan terpajan yang memenuhi syarat untuk di imunisasi sebaiknya diberi vaksin segera untuk penanggulangan dan pencegahan KLB. Pengobatan spesifik : Baik vidarabine (adenine arabinoside. p E. Pada saat teknik pemeriksaan laboratorium semakin canggih. Implikasi bencana KLB cacar air bisa terjadi pada anak-anak yang ditampung ditempat-tempat engungsian. Penderita menular sebaiknya di isolasi dan kontak yang rentan diimunisasi dengan segera atau dirujuk ke dokter langganan atau dokter keluarga mereka untuk mendap at imunisasi. analog dari acyclovir dengan kemampuan absorpsi yang sudah diperbaiki saat ini telah tersedia dipasaran (valacyclovir dan famcyclovir). Orang yang oleh karena sesuatu hal tidak boleh diberi imunisasi seperti wanita hamil yang rentan dan or angorang yang immunocompromised sebaiknya dievaluasi dan dipertimbangkan untuk diberi VZIG. Ara-A®) maupun acyclovir (Zovirax®) efektif untuk mengobati cacar air dan zoster. tempat penitipan anak dan institusi lain dan KLB biasanya berlangsung lama dengan banyak korban disertai dengan komplikasi. Klamidia semakin dike tahui sebagai penyebab penyakit pada manusia. Klamidia adalah bakteri intraseluler yan g obligatif. namun acyclovir merupakan obat pilihan untuk cacar air. 7). klamidia sensi . Untuk pengobatan herpes zoster. Tindakan penanggulangan wabah.

v) 3. trachomatis. termasuk serotipe yang menyebabkan trachoma (q.v) dan serot ipe lain yang menyebabkan Lymphogranuloma venereum (q. penyebab penyakit saluran pernapasan termasuk pneumonia (q.v) infeksi ala t kelamin (lihat bawah).v) dan pneumonia anak (q. Klamidia yang menyebabkan penyakit pada manusia diklasifikasikan menjadi 3 spesies : 1. infeksi pada mata dan infeksi paru pada bayi sebagai a kibat adanya infeksi pada alat kelamin ibu hamil.tif terhadap antimikroba berspektrum luas. Chlamydia psittaci. Klamidia sekarang semakin dikenal sebagai patogen penting yang menyebabkan berba gai penyakit menular seksual. C. pneumoniae. C.v) 2. . Chlamydia conjunctivitis (q. penyebab psittacosis (q.v) dan merupakan penyebab penyakit arteri koroner.

Pada wanita. Komplikasi dan gejala sis a berupa salpingitis dengan risiko infertilitas. dan tetap bertahan wal aupun gonorrhea telah sembuh. Identifikasi Infeksi melalui hubungan seksual. manifestasi klinis mungkin sama dengan gonorrhea. Komplikasi dan g ejala sisa mungkin terjadi dari infeksi uretra pada pria berupa epididimitis. Infeksi kronis tanpa gejala dari endometrium dan saluran tuba bisa membe rikan hasil yang sama. Infeksi klamidia bisa terjadi bersamaan dengan gonorrhea. serta dapat menyebabkan konjungtiviti s dan radang paru pada bayi baru lahir. ICD-10 A56 1. dan seringkali mu ncul sebagai discharge endoservik mukopurulen. dan pada w anita sebagai servisitis mukopurulen. perihepatitis (sindroma Fitz-Hugh-Curtis) dan proktitis. Infeksi yang terjadi selama kehamilan bisa mengakibatkan ketuban pecah dini dan menyebabkan terjadinya kelahiran prematur.9. eritema dan mudah mengakibatkan perdarahan endoservik disebabkan oleh peradangan dari epitel kolumnair endoservik. biasanya tidak menunjukkan gejala. disertai dengan pembengkakan.INFEKSI PADA ALAT KELAMIN DISEBABKAN KLAMIDIA ICD-9 099. gatal pada uretra dan rasa panas ketika buang air kecil. sindroma uretral dengan disuria dan pyuria. trachomati s. Namun. kehamilan diluar kandungan atau n yeri pelvis kronis. pada pria muncul sebagai uretritis. Namun pengobatan terhadap gonorrhea tidak selalu dilakukan jika diagnosa penyakit disebabkan C. Manifestasi klinis lain namun jarang terjadi seperti bartolinit is. infertil itas dan sindroma Reiter. . Infeksi klamidia endoserviks meningkatkan risi ko terkena infeksi HIV. 70 % dari wanita dengan aktivitas seksual aktif yan g menderita klamidia. Pada pria homoseksual. Oleh karena servisitis yang disebabkan oleh gonokokus da n klamidia sulit dibedakan secara klinis maka pengobatan untuk kedua mikroorganism e ini dilakukan pada saat diagnosa pasti telah dilakukan. hubungan seks anorektal bisa menyebabkan proktitis klamidia. Infeksi ta npa gejala bisa ditemukan pada 1 25 % pria dengan aktivitas seksual aktif. Manifestasi klinis dari uretritis kadang sulit d ibedakan dengan gonorrhea dan termasuk adanya discharge mukopurulen dalam jumlah sedikit atau sedang.

EIA. Organisme intraseluler sulit sekali dihilangka n dari discharge. NAAT bisa dilak ukan dengan menggunakan spesimen urin. NAAT). atau dengan kultur sel. Untuk penyakit lain. Chlamydia trachomatis. Probe DNA. tes amplifikasi asam nukleu s (Nucleic Acid Amplification Test. ditemukan pada 35 kasus uretritis non gonokokus di AS. Penyebab penyakit. lihat uretritis non gonokokus dibawah.Diagnosa uretritis non gonokokus (UNG) atau diagnosa servisitis non gonokokus ditegakkan biasanya didasarkan pada kegagalan menemukan Neisseria gonorrhoeae melalui sediaan apus dan kultur. 50 % dari . Klamidia sebagai penyebab dipastikan dengan pemeriksaan preparat apus yang diambil dari uretra atau endoserviks atau dengan tes IF langsung dengan antibodi monoklonal. 2. imunotipe D sampai dengan K.

mungkin 7 14 hari atau lebih panjang. Tidak ditemukan kekebalan setelah infek si. Kerentanan dan kekebalan. Tersebar diseluruh dunia.3. 6. Masa penularan : Tidak diketahui. 9A) dengan penekanan pada penggunaan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan wanita bukan pasangannya. Pemeriksaan perlu juga dilakukan terhadap wanita dewasa usia dibawah 25 tahun. 2). Cara-cara pemberantasan. 4. 9. 2) Isolasi : tindakan kewaspadaan universal. 1). Kelas 2B (lihat Tentang pelaporan penyakit menular). 7. di AS. Laporan pada instansi kesehatan setempat. 1). Pengawasan penderita. Semua usia rentan terhadap penyakit ini. kontak dan lingkungan sekitar. laporan kasus wajib dilakukan dibanyak negara bagian di AS. penderita sebaiknya menghindari hubungan seksual hingga kasus indeks. Distribusi penyakit. bisa diterapkan untuk pasien rumah sakit. Australia dan Eropa. A. imunitas seluler bersifat imunotipe spesifik. penderita . Masa inkubasi : Tidak jelas. Reservoir : manusia 5. Relaps bisa terjadi. Pemeriksaan pada remaja putri yang aktif secara seksual harus dilakukan seca ra rutin. Kanada. Tes terbaru untuk infeksi trachomatis dapat digunakan untuk memeriksa remaja dan pria dewasa muda dengan spesimen urin. Cara penularan : hubungan seks. Penyuluhan kesehatan dan pendidikan seks : sama seperti sifilis (lihat Sifil is. penyakit ini menin gkat terus selama 2 dekade terakhir. B. terhadap mereka yang mempunyai pasangan baru atau terhadap mereka yang mempunyai beberapa pasangan seksual dan atau yang tidak konsisten menggunakan alat kontrasepsi. Cara pencegahan. Pemberian terapi antibiotika yang tepat menjamin discharge tidak infektif . 8.

foto thorax perlu .atau pasangannya telah selesai diberi pengobatan yang lengkap. 4). Investigasi kontak dan sumber infeksi. Pengobatan profilaktik diberikan terhadap pasangan seks lain dari penderita. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi dan belum mendapat pengobatan sistemik. Imunisasi kontak : tidak dilakukan. harus ditangani dengan seksama. Disinfeksi serentak : Pembuangan benda-benda yang terkontaminasi dengan discharge uretra dan vagina. Karantina : tidak dilakukan. 6). 3). 5). dan pengobatan yang sama diberikan kepada pasangan tetap.

diambil pada usia 3 minggu dan diulang lagi sesudah 12 mengetahui adanya pneumonia klamidia sub klinis. KOLERA dan VIBRIOSES lain ICD-9. UNS) Sementara Klamidia paling sering ditemukan sebagai penyebab kasus uretritis non gonokokus. Virus herpes s implex tipe 2 dan Trichomonas vaginalis jarang sebagai penyebab.A00 . D. Karena penderita yang hasil pemeriksaan laboratoriumnya negatif terhadap klamidia ternyata memberi respons y ang baik terhadap terapi antibiotika. C. Eritromisin adalah obat alternatif dan obat pilihan bagi bayi baru lahir dan untuk wanita hamil atau yang diduga hamil. 4 x/hari selama 7 hari. URETRITIS NON GONOKOKUS dan Non Spesifik. Penanggulangan Wabah : tidak ada. Tindakan internasional : tidak ada. Ureaplas ma urealyticum diperkirakan sebagai penyebab 10 20 % dari kasus UNG.4.001. 7). Azitromisin (PO) 1 g dosis tunggal sehari juga efektif. ICD-10. 100 mg 2 kali sehari selama 7 hari atau tetrasiklin (PO). ICD-10 N34. E. semua penderita UNG (bersama dengan pasanga n seks mereka) sebaiknya diperlakukan sebagai pengidap klamidia. Pengobatan spesifik : 18 minggu untuk Doksisiklin (PO).1 (UNG. Jika fasilitas laborat orium untuk pemeriksaan klamidia tidak tersedia. namun organisme lain juga banyak ditemukan sebagai penyebab. 500 mg. ICD-9 099. Implikasi bencana : tidak ada.

Penyakit saluran pencernaan akut yang disebabkan oleh bakteri dan ditandai gejal a dalam bentuknya yang berat dengan onset yang tiba-tiba. 1. hipoglikemi pada anak serta gagal ginjal. Cary Blair media transport da pat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab). Infeksi tanpa gejala biasanya lebih sering terjadi daripada infeksi dengan gejala. tanpa sakit perut. P ada kasus berat yang tidak diobati (kolera gravis). asidosis. terutama dikalangan anak-anak. kolaps. angka ini kurang dari 1 %. disertai muntah dan mual di awal timbulnya peny akit. dan CFR-nya bisa mencapai 50 %. diare terus menerus. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia. umum terjadi. Pada kasus-kasus yang tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat terjadi dehidra si. Identifikasi. Vibrio kolera serogrup O1 dan O139. . Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau O139 dari tinja. terutama infeksi oleh bioti pe El Tor. kematian bisa terjadi dalam bebe rapa jam. gejala ringan dengan hanya diare. cair sepe rti air cucian beras.I. Dengan pengobatan tepat.

Namun pada akhir tahun 1992 wabah kolera dengan dehidrasi berat terjadi di India dan Bangladesh dengan jumlah korban yang sangat banyak. Beberapa jenis Vibrio yang secara biokimiawi tidak dapat dibedakan satu sama lai n. tetapi tidak menggumpal dengan antisera Vibrio cholera serogrup O1 (strain non-O1.Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop medan gel ap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shoo ting stars atau bintang jatuh. strain non-O1 diketahui sebagai penyebab diare sporadis dan jarang menyeba bkan KLB dan tidak pernah sebagai penyebab wabah yang menelan korban banyak. saat ini biotipe El Tor adalah yang paling sering ditemukan. Beberapa strain kolera memproduksi enterotoksin tetapi kebanyakan tidak. tipe organisme tertentu cenderung dominan. Penyebab Penyakit. Untuk tujuan epidemiologis. Pada setiap kejadian wabah atau KLB. Sebelum tahun 1992. Di daerah non-end emis. organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasi kan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan serologis yang tepat serta dilakuk an uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Gambaran klinis dari penyakit yang disebab kan oleh Vibrio cholera O1 dari kedua biotipe dan yang disebabkan oleh Vibrio choler a O139 adalah sama karena enterotoksin yang dihasilkan oleh organisme ini hampir sama. Pada saat terjadi wabah. Di kebanyakan daerah di Indi a dan Bangladesh. sekali telah dilakukan konfirmasi laborator ium dan uji sensitivitas antibiotik. Organisme penyebabnya adalah serogrup baru dari Vibrio cholera O139. sebagian besar dari kejadian kolera disebabkan oleh Vibrio cholera O 139 dan Vibrio cholera O1 dari biotipe klasik ditemukan di Bangladesh selama dekade lalu . dahu lu di kenal sebagai Vibrio yang tidak menggumpal (NAGs) atau juga dikenal sebagai Non Cholera Vibrio (NCVsJ) sekarang dimasukkan ke dalam spesies Vibrio cholera. maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi di lakukan uji laboratorium 2. Vibri o cholera O139 juga menyebabkan kolera tipikal. dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. yang menghasilkan toksin kolera yang sam . Ogawa dan Hikojima (jarang ditemui). diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adan ya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Vibrio cholera serogrup O1 terdiri dari dua biotipe yaitu Vibrio klasik dan Vibi ro El Tor dan yang terdiri dari serotipe Inaba.

Melaporkan Infeksi Vibrio cholera O1 non-toksikogenik ata u infeksi Vibrio cholera non O1. Gambaran klinis dan epidemiologis dari penyakit yang disebabkan oleh organisme ini dengan ciri khas kolera.a dengan O1 tetapi berbeda. . kolera. selain O139 sebagai. dan harus dilaporkan sebagai kolera. adalah laporan yang tidak akurat dan membingungkan. pada struktur lipo polisakaridanya (LPS) dan berbeda d alam kemampuan memproduksi antigen kapsuler. Wabah oleh strain O-139 yang mempunyai faktor virulen si yang sama seperti Vibrio cholera O1 El Tor. faktor ini nampaknya diperoleh dari hilangnya bagian gen yang menyandikan (Encode) antigen lipo polisakarida dari O1 strain El Tor di ikuti dengan bersatunya sebagian besar fragmen dari DNA baru ya ng menyandikan (encoding) enzim yang memungkinkan terjadinya sintesa dari liposakar ida dan kapsul dari O 139.

biotipe ini masuk k e Afrika bagian barat dan menyebar dengan cepat di benua itu dan menjadi endemis d i sebagian besar negara Afrika.000 penderita dan 12 . penyakit ini terba tas hanya terjadi di Asia. Selama setengah abad terakhir abad ke 20 gambaran epidemiologis kolera ditandai dengan 3 ciri utama. Sejak tahun 1961.000 orang diantaranya tewas dalam kurun waktu kurang dari sebulan.692 kematian akibat kolera dilaporan ke WHO pada tahun 1994 oleh 94 negara. walaupun manifestasi klinis penyakit ini sama beratnya dengan yang terjadi di bagian lain di dunia. Secara keseluruha n. dengan korban yang sangat banyak. 3). Perlu di catat. Perlu dicatat secara spesifik bahwa telah terjadi KLB kolera El Tor diantara pen gungsi Rwanda di Goma. Selama abad 19. (Vibrio choler a O139). Vibrio cholera dari biotipe El Tor telah menyebar dari Indones ia melalui sebagian besar Asia ke Eropa Timur. Diketahui adanya reservoir lingkungan dari kolera. kira-kira 1 juta kasus kolera tercatat terjadi di Amerika Latin. salah satunya adalah di s epanjang pantai teluk Meksiko di AS. CFR global pada tahun 1994 adalah 2. 2). 1. Beberapa kali KLB kolera telah terjadi di semenanj ung Iberia dan Itali pada tahun 1970 an. Munculnya untuk pertama kali ledakan wabah besar dari Cholera gravis yang disebabkan oleh organisme Vibrio cholera dari serogrup selain O1. Kolera El Tor kembali ke Benua Amerika di tahun 1991.3 % di Asia dan 5 % di Afrika. kecuali kejadian wabah kolera yang menelan banyak korban di Mesir pada tahun 1947. dan pada tahun 199 4. kolera dengan cepat menyebar ke negara-negara tetangga. sesudah menghilang selama satu abad dan menyebabkan ledakan-ledakan wabah sepanjang pantai Pasifik di Peru. Pada tahun 1970.403 penderita dan 10. Dar i Peru. Zaire. 1). 384. Sampai dengan pertengahan abad ke 20.3. namun keseluruhan CFR kolera di Amerika Latin bisa ditekan tetap rendah (sekitar 1%) kecuali di pedesaan di pegunungan Andes dan wilayah Amazona dimana fasilitas pelayanan kesehatan sangat jauh. pandemi kolera menyebar berulang kali dari delta Sungai Gangga d i India ke seluruh dunia. .8 % yang bervariasi dari 1% di AS. Distribusi penyakit. pada bulan Juli tahun 1994 dengan 70. Terjadinya pandemi ke 7 kolera yang disebabkan oleh Vibrio cholera O1 El Tor .

begitu pula strain ini pada pemeriksaan laboratorium tidak d apat . cholerae O1 El Tor Inaba disepanjang pantai teluk Mexico. Strain yang diisolasi dari KLB ini tidak menggum pal dengan antisera O1. Pada tahun 1978 dan awal 1990 an ditemukan secara sporadis penderita dengan infe ksi V. Timbulnya kasus-kasus kolera diatas disepanjang Gulf Coast Amerika selama bertah untahun disebabkan oleh satu strain indigenous yang berasal dari reservoir lingkun gan dari V. cholerae El Tor Inaba di Louisiana dan Texas. tidak menggambarkan virulensi dari organisme penyebab. di tidak ditemukan penderita kolera indigenous sejak tahun 1911 s saat itu di Texas ditemukan penderita dengan V. India. KLB kolera terjadi secara serentak di beberapa daerah d i Negara Bagian Tamilnadu. kasus kolera yang didapatkan karena infeksi dilaboratorium. Kecuali untuk dua belahan bumi bagian Barat ampai dengan 1973.Variasi angka ini mencerminkan perbedaan dalam sistim pelaporan dan akses terhad ap pengobatan yang tepat. cholerae El To dimana sumbernya tidak diketahui. pada r Inaba sebagai penyebab. Pada bulan Oktober 1992.

cholerae O1 pada hampir semua pasien yang dirawat di rumah sakit dan dari sampel yang diambil dar i air permukaan. V.diidentifikasi dengan panel standar antisera dari Vibrio cholera 138 non O1. El Tor dan O139 da pat bertahan di air dalam jangka waktu yang lama. Bangladesh dan Australia selama lebih dari 2 dekade menunjukkan adanya reservoir lingkungan. Strain baru ini diperkirakan menyebar ke benua lain melalui para pelancong yang terinfeksi didaerah tujuan wisata. Reservoir Reservoirnya adalah : Manusia. Cara penularan Masuk melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi secara langsung atau ti dak langsung oleh tinja atau muntahan dari orang yang terinfeksi. yang disebut O 139 Bengal menyebar dengan cepat ke seluruh negara bagian d an kawasan sekitarnya. Kolera O 139 di masa yang akan datang diduga dapat menyeba bkan wabah yang sangat besar di bagian lain di dunia dan karenanya membutuhkan survei lans internasional yang terus menerus. Bahwa wabah O139 yang terjadi di Asia pa da awal tahun 1990-an dipercaya sebagai awal terjadinya pandemi ke 8 dari kolera. Semenjak kolera kembali menyerang Amerika Latin pada tahun 1990 an. Ser ogrup baru. Dan bahkan menghilang dari daerah dimana strain ini berasal dan pernah menyebar. 4. Kal aupun ditemukan dibagian lain didunia. O139 sebagai penyebab tidak lebih dari 5 10 % d ari seluruh kasus kolera. cholerae O139 menggantikan strain V. 5. Selama periode wabah. di mana vibrio diduga hidup pada copepoda dan zooplankton yang hidup diperairan payau da n muara sungai. tetapi tidak dilaporkan adanya penyebaran sekunder diluar Asia. Dengan menggunakan metode bakteriologis yang canggih (media TCBS) berbagai studi prospektif telah dilakuka n dan membuktikan bahwa insiden kolera yang menyerang para pelancong di AS dan yang menyerang turis Jepang cukup tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Wabah terus menyebar sepanjang tahun 1994 dengan penderita kolera O13 9 yang dilaporkan dari 11 negara di Asia. para pelanco ng yang terserang kolera meningkat dengan tajam. N amun O139 bukan hanya tidak menyebar dan menyebabkan wabah di Afrika dan Amerika Selatan tetapi ia juga menghilang dengan cepat baik di India maupun Bangladesh. Pada saat wabah El Tor sekala besa . dalam beberapa bulan menyebabkan ratusan ribu orang terseran g. pengamatan yang dilakukan di AS.

juga menjadi media penularan. Bijibijian yang dimasak dengan saus pada saat wabah itu terbukti berperan sebagai me dia penularan kolera. Air yang tercemar sering berperan sebagai media penularan seper ti yang . Terjadinya wabah maupun munculn ya kasus sporadis sering disebabkan oleh karena mengkonsumsi seafood mentah atau setengah matang. Vibrio cholerae yang dibawa oleh penjamah makanan dapat mencem ari salah satu dari jenis makanan yang disebutkan diatas yang apabila tidak disimpan dalam lemari es dalam suhu yang tepat. Makanan dan minuman pada saat itu diolah dengan air yang tercemar dan di jual oleh pedagang kaki lima. penularan yang cepat dari kolera terja di melalui air yang tercemar karena sistem PAM perkotaan yang tidak baik. Sayuran dan buah-buahan yang dicuci dan dibasahi dengan air limb ah yang tidak diolah. bahkan es dan air minum yang dikemaspun juga tercemar oleh vibrio cholerae . dapat meningkatkan jumlah kuman berlipat ganda dalam waktu 8 12 jam. sistem penyimpanan air dirumah tangga yang kurang baik.r terjadi di Amerika Latin pada tahun 1991. air permukaan yan g tercemar.

Pemberian antibiotika memperpendek masa penularan walaupun sangat jarang sekali. sensitif dan pros edur pemeriksaan yang dapat dipercaya seperti untuk O1 saat ini tidak ada untuk infek si O139). Itali dan Ekuador. Adanya serum antibodi terhadap vibrio cholerae ini sebagai bukti adanya perlindu ngan terhadap kolera O1. Masa inkubasi : Dari beberapa jam sampai 5 hari. Kolera klinis didaerah endemis biasan ya ditemukan pada kelompok masyarakat ekonomi lemah. berlangsung sampai beberapa hari sesudah sembuh. cholerae O1 atau O139 meningkatkan titer antibodi penggumpalan maupun antibodi terhadap toksin da n meningkatkan daya tahan terhadap infeksi. Portugal. Pada kejadian l ain. Berbagai jenis antibiotika diketahui efektif terhadap strain infektif (misalnya tetrasiklin untuk strain O139 dan kebanyakan strain O1 ). Infeksi oleh V. Terkadang status sebagai carrie r berlangsung hingga beberapa bulan. 6. biasanya 2 3 hari. ditemukan infeksi kandung empedu kronis berlangsung hingga bertahun-tahun pada o rang dewasa yang secara terus menerus mengeluarkan vibrio cholerae melalui tinja. Masa penularan Diperkirakan selama hasil pemeriksaan tinja masih positif. sedangkan bayi yang disusui terlindungi da ri infeksi. 7. Studi lapangan menunjukkan bahwa infeksi klinis awal oleh Vi brio . Serum antibodi terhadap Vibrio Cholera bisa dideteksi sesudah terjadi infeksi oleh O1 (namun uji spesifik.terjadi pada KLB di Guam. Kolera gravis biotipe El Tor dan Vibrio cholera O139 secara bermakna le bih sering menimpa orang-orang dengan golongan darah O. 8. orang tersebut masih menular. Kekebalan dan kerentanan. muara s ungai yang tidak terkontaminasi oleh air limbah. Sebagai contoh Kasus kolera yang muncul di Louisiana dan Texas menyerang orangorang yang mengkonsumsi kerang yang diambil dari pantai dan muara sungai yang diketahui sebagai reservoir alami dari Vibrio cholera O1 serotipe Inaba. Resistensi dan kerentanan seseorang sangat bervariasi achlorhydria. kasus sporadis kolera justru timbul karena mengkonsumsi seafood m entah atau setengah matang yang ditangkap dari perairan yang tidak tercemar. lambung meningkatkan risiko terkena penyakit. seperti di AS. Kiribati.

cholera O1 dari biotipe klasik memberikan perlindungan terhadap infeksi biotipe klasik maupun El Tor. Di daerah endemis. Tindakan pencegahan. yang diberikan seca ra parenteral kurang bermanfaat untuk penanggulangan wabah maupun untuk penanggulangan kontak. 9A 1-7. Pemberian Imunisasi aktif dengan vaksin mati whole cell. sebaliknya infeksi klinis awal oleh biotipe El Tor memberikan perlindungan jangka panjang namun sangat rendah dan terbatas terhadap infeksi El Tor saja. menunju kkan bahwa infeksi klinis awal oleh Vibrio cholera O139 memberikan proteksi yang cuku p bermakna terhadap diare karena infeksi Vibrio cholera O139. Lihat demam Tifoid. Studi eksperimental yang dilakukan pada sukarelawan. 2). Infeksi oleh strain O1 tidak memberi perlindungan terhadap infe ksi O 139 dan sebaliknya. Cara cara pemberantasan A. kebanyakan orang memperoleh antibodi pada awal masa beranjak dewasa. Vaksin ini hanya memberikan perlindungan parsial (50%) . 1). 9.

Pertama adalah vaksin hidup (strain CVD 103 HgR. vaksin-vaksin ini belum mendapat lisensi di AS. oleh karena itu pemberian imunisasi tidak direkomendasikan. Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan kasus kolera umumnya diwajibkan sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation. kelas 1 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). Geneva. 2). Pembersihan menyeluruh. 3). Untuk penderita yan g tidak begitu berat. isolasi ketat tidak diperlukan. dan IHR yang di perbarui dan di cetak ulang pada tahun 1992. dosis tunggal tersedia dengan nama dagang Orachol® di Eropa dan Mutacol di Kanada. diberi asam karbol atau disinfektan lain. Edisi beranotasi Ketiga (Third Annotated Edition. 5). Karantina :Tidak diperlukan. tinja dapat langsung dibuang ke dalam saluran pembuangan tanpa perlu dilakukan disinfeksi sebelumnya. Tindakan pencegahan yang melarang atau menghambat perjalanan orang. diberi rehidrasi oral dan antibiotika yang tepat. seperti sprei. pengangkutan bahan makanan atau barang tidak dibenarkan. 1983). kontak atau lingkungan sekitarnya 1). diberikan dalam 2 dosis (Dukoral. Sampai dengan akhir tahun 1999. untuk orang dewasa adalah tetrasiklin (500 mg 4 kali sehari) at au doksisiklin (dosis tunggal 300 mg) selama 3 hari. Pengawasan penderita. Jika terbukti kemungkinan adanya penularan sekunder didalam rumah tangga. anggota rumah tangga sebaiknya di beri pengobatan kemoprofilaksis. Isolasi : perawatan di rumah sakit dengan memperlakukan kewaspadan enterik d i perlukan untuk pasien berat. 4). dengan cara di panaskan. kini tersedia di banyak negara.1969). WHO. Ruang perawatan kolera yang penuh sesak dengan penderita dapat di operasikan tanpa perlu khawatir dapat menimbulkan ancaman penularan kepada petugas kesehatan dan pengunjung asalkan prosedur cuci tangan secara efektif serta prosedur kebersihan perorangan di laksanakan dengan baik. kecuali untuk strain lokal yan g .dalam jangka waktu yang pendek (3 6 bulan) di daerah endemis tinggi tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi asimptomatik. Saat ini sedang dilakukan revisi terhadap IHR. Dua jenis Vaksin oral yang memberikan perlindungan cukup bermakna untuk beberapa bulan terhadap kolera yang disebabkan oleh strain O1. Pemberantasan terhadap lalat juga perlu dilakukan. selama 5 hari setelah kontak terakhir. 3). dapat di perlakukan sebagai penderita rawat jalan. sarung bantal dan lain-lain) serta barang-baran g lain yang digunakan oleh penderita. Disinfeksi serentak : Dilakukan terhadap tinja dan muntahan serta bahan-baha n dari kain (linen. SSV1). yang lainnya adalah vaksin mati yang mengandung vibrio yang diinaktivasi ditambah dengan subunit B dari toksin kolera. SBL). Manajemen kontak : Lakukan surveilans terhadap orang yang minum dan mengkonsumsi makanan yang sama dengan penderita kolera. B. Masyarakat yang memiliki sistem pembuangan kotoran dan limbah yang modern dan tepat.

tidak akan terjadi noda pada gigi. Anak-anak juga bisa diberik an tetrasiklin (50mg/kg/hari dibagi ke dalam 4 dosis) atau doksisiklin (dosis tungg al 6 mg/kg) selama 3 hari. dengan pemberian tetrasiklin dalam waktu yang singkat.diketahui atau diduga resisten terhadap tetrasiklin. Pengobatan profilaktik alternatif yang bisa .

7). dan penderita tertolong dari renjatan hipovolemi k dan tertolong dari dehidrasi berat. juga untuk mengganti cairan akibat diare berat yang sedang berlangsung. eritromisin (dosis anak-anak 40 mg/kg sehar i dibagi ke dalam 4 dosis dan untuk orang dewasa 250 mg.9 g/L) atau NaHCO3 (2. Kehilangan cairan pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang di perbaiki dengan rehidrasi oral sebagai pengganti cairan. cholerae O1 yang resisten terhadap tetrasiklin adalah: Furazolidon (Furoxone®) (100 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan untuk anak-anak 1. 3). TMPSMX (320 mg TMP dan 1600 mg SMX dua kali sehari untuk orang dewasa dan 8 mg/kg TMP dan 40 mg/kg SMX sehari dibagi ke dalam 2 dosis untuk anak-anak). penderita dapat mengalami komplikasi seperti hipoglikemi yang harus di ketahui dan di obati dengan segera. Pengobatan spesifik : Ada tiga cara pengobatan bagi penderita Kolera : 1). . Penderita yang menderita renjatan sebaiknya diberi rehidrasi intra vena cepat dengan larutan multielektrolit seimbang yang mengandung kira-kira 130 mEq/L Na+. TMP-SMX tidak bermanfaat untuk infeksi V.5 g/L). T erapi rehidrasi agresif. selama lebih dari 4 jam.25 mg/kg 4 kali sehari). 2). Jika hal diatas dilakukan dengan baik maka angka kematian (CFR) bahkan pada ledakan KLB di negara berkembang dapat ditekan dibawah 1 %. Makanan yang dikonsumsi 5 hari sebelum sakit harus di tanyakan. cairan per oral sebanyak 1. asetat atau ion laktat. cholerae O139 karena strain ini resisten pada obatobat antimikroba jenis ini. Pencarian dengan cara mengkultur tinja untuk kasus-kasus yang tidak dilaporan hanya disarankan dilakukan terhadap anggota rumah tangga atau terhadap orangorang yang kemungkinan terpajan dengan satu sumber (Common source) didaerah yang sebelumnya tidak terinfeksi. Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : Lakukan investigasi terhada p kemungkinan sumber infeksi berasal dari air minum dan makanan yang terkontaminasi. NaCl (3. Antibiotika yang tepat adalah terapi tambahan yang sangat penting terhadap pemberian cairan. Pengobatan untuk komplikasi. Kemoprofilaksis masal untuk semua anggota masyarakat tidak pernah di lakukan karena dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotika. agar jumlah yang diberikan dapat mengganti cairan yang diperkirakan hilang (kira-kira 5 % dari berat badan untuk dehidrasi ringan dan 7 % pada dehidrasi sedang). diberikan lebih dari 4 6 jam. 25 . asidosis dan hipokalemia pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang cukup dengan hanya memberikan larutan rehidrasi oral (Oralit) yang mengandung glukosa 20g/l (atau sukrosa 40 gr/l atau dengan ai r tajin 50g/L).5 g/L). Pemberian antibiotika yang efektif. Imunisasi terhadap kontak tidak dianjurkan. 6). 4 kali sehari). Untuk memperbaiki dehidrasi.5 kali dari volume tinja yang hilang selama 4 jam sebelumnya. Dasar dari terapi kolera adalah rehidrasi agresif melalui oral dan intravena yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit.5 g/L). atau siprofloksasin (500 mg dua kali sehari untuk orang dewasa).digunakan untuk strain V. dan trisodium sitrat dihidrat (2. KCl (1.48 mEq/L bikarbonat. dan 10-15 mEq/L K+. karena pemberian antibiotika dapat mengurangi volume dan lamanya diare dan dengan cepat mengurangi ekskresi dari vibrio sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan sekunder. Kehilangan cairan yang berlangsung terus dapat digantikan dengan memberikan. Akhirnya pada saat terapi rehidrasi cukup efektif.

.

5 gr natrium asetat dan 8 gr glukosa/L) dan Larutan Dacca (5 g NaCL. 6. Penggantian cairan awal sebaiknya diberikan 30ml/kg BB pada jam pertama untuk bayi dan pada 30 menit pertama untuk penderita berusia diatas 1 tahun. lindungi makanan tersebut dari kontaminasi oleh lalat dan penanganan yang tidak saniter. dan air yang akan dipakai untuk mencuci alatalat masak dan alat-alat untuk menyimpan makanan kecuali jika tersedia air yang telah di klorinasi dengan baik dan terlindungi dari kontaminasi. Sediakan fasilitas pengobatan yang efektif 3). Siprofloksasin. furazolidon (100 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 1. Setelah diolah dan dimasak dengan benar. Lakukan klorinasi pada sistem penyediaan air bagi masyarakat. dan 1 g KCL/L). Lakukan klorinasi atau masaklah air yang akan di minum. juga merupakan regimen yang baik untuk orang dewasa. V.Larutan yang sangat bermanfaat antara lain Ringer s laktat atau Larutan Pengobatan Diare dari WHO (4 gr NaCl. 1). Berikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat di daerah risiko tinggi untuk segera mencari pengobatan bila sakit.25 mg/kg 4 kal i sehari untuk anak-anak. 1 g KCl. Penanggulangan wabah. 250 mg sekali sehari selama 3 hari. maka pengobatan dilakukan dengan pemberian antimikroba alternatif yaitu TMP-SMX (320 mg trimethoprim dan 1600 mg sulfamethoxazol dua kali sehari untuk orang dewasa dan 8 mg/kg trimethoprim dan 40 mg/kg sulfamethoxazol sehari dibagi dalam 2 dosis untuk anak-anak. walaupun diketahui bahwa sumber air ini tidak terkontaminasi.5 mg/kg 4 kali sehari selama 3 hari. Orang dewasa diberi tetrasiklin 500 mg 4 kali sehari dan anak anak 12. cholerae strain O139 resisten terhadap TMP-SMX. yang dapat dibuat ditempat pada keadaan darurat. inf ormasi ini digunakan sebagai pedoman pemilihan terapi antibiotika yang tepat. dan sesudahnya pasien harus di nilai kembali. 4). Sesudah dilakukan koreksi terhadap sistem cairan tubuh yang kolaps. makanan sisa sebaiknya . selama 3 hari). mengurangi volume larutan rehidrasi yang dibutuhkan dan memperpendek ekskresi vibrio melalui tinja . jika fasilitas untuk itu tersedia. maka informasi tentang sensitivitas dari strain lokal terhadap obat-obatan ini perlu diketahui. C. atau eritromisin (250 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 10 mg/kg 3 kali sehari untuk anak-anak selama 3 hari). Oleh karena ditemukan strain O139 atau O1 yang mungkin resisten terhadap salah satu dari antimikroba ini. 4 gr NaHCO3. kebanyakan penderita cukup diberikan rehidrasi oral untuk melengkapi penggantian 10 % defisit awal cairan dan untuk mengganti cairan hilang yang sedang berlangsung. Lakukan pengawasan terhadap cara-cara pengolahan makanan dan minuman yang sehat. cholerae yang resisten terhadap tetrasiklin sering ditemukan. selama 3 hari). Antibiotika yang tepat dapat memperpendek lamanya diare. Pada saat Strain V. Lakukan tindakan darurat untuk menjamin tersediaanya fasilitas air minum yan g aman. 2).

di panaskan sebelum dikonsumsi. Orang yang menderita diare sebaiknya tidak menjamah atau menyediakan makanan dan minuman untuk orang lain. Makanan yang disediakan pada upacara pemakaman korban kolera mungkin tercemar dan selama wabah berlangsung makanan di tempat seperti ini sebaiknya dihindari. .

Atlanta. Tindakan internasional : 1). 1983). Imunisasi dengan vaksin oral dianjurkan bagi mereka yang akan mengadakan perjalanan dari negara maju ke . 8). 3). Tindakan dan prosedur untuk mencegah penularan yang di terapkan pada kapal laut. 2). di perbaharui dan di cetak ulang pada tahun 1992 oleh WHO di Genewa. Sediakan fasilitas pembuangan sampah dan limbah domestik sesuai dengan syara t kesehatan. Implikasi bencana : risiko terjadinya KLB sangat tinggi di daerah di suatu da erah endemis kolera. E. tempat dan waktu serta buatlah rencana penanggulangan yang memadai. Pemerintah suatu negara harus segera melaporkan kepada WHO dan negara tetangga melalui media elektronika apabila pertama kali ditemukan penderita kolera yang disebabkan oleh V. Tidak perduli apakah kasus itu adalah kasus import ataukah bukan. Edisi beranotasi ke tiga (Third Annotated Edition. Pelancong internasional: Imunisasi dengan suntikan vaksin kolera whole cell tidak direkomendasikan oleh WHO bagi mereka yang mengadakan perjalanan dari suatu negara ke negara di manapun di dunia dan secara resmi tidak ada satu negarapun yang mensyaratkan pemberian imunisasi ini. Lakukan investigasi dengan sungguh-sungguh dengan desain sedemikian rupa untuk menemukan media dan lingkungan yang memungkinkan terjadinya penularan menurut variable orang. cholerae O1 atau O139 dari suatu daerah/wilayah yang sebelumnya bebas dari kolera. CDC kemudian akan mengkonfirmasikan kasus ini dan selanjutnya melaporkan ke WHO. para klinisi dan ahli mikrobiologi melaporkan setia p kasus yang di curigai sebagai kolera kepada ahli epidemiologis negara bagian. vaksin ini sebaiknya tidak digunakan pada saat suasana masih panik atau pada saat terja di kekurangan persediaan air yang parah yang dapat mempengaruhi penyediaan terapi rehidrasi oral. IHR saat ini sedang direvisi. pesawat udara dan angkutan darat yang datang dari daerah terjangkit kolera tercantum dalam Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation) 1996. 6). Pemberian imunisasi dengan suntikan vaksin kolera Whole cell tidak dianjurka n. diharapkan edisi revisi ini bias selesai pada tahun 2005. Pada saat situasi wabah relatif mulai tenang. Namun.5). vaksin kolera oral dapat diber ikan sebagai tambahan terhadap upaya penanggulangan wabah kolera. D. 7). apabila didaerah tersebut orang berkumpul bersama dalam jumlah besar tanpa penanganan makanan yang baik serta tanpa tersedianya fasilitas sanit asi yang memadai. Di AS. da n departemen kesehatan negara bagian tersebut akan melaporkan kasus ini ke CDC.

. seperti mereka dengan hipoklorhidria (sebagai akibat dari gastrektomi ataupun pengobatan) atau kepada mereka yang menderita penyakit jantung (misalnya aritmia). imunisasi dianjurkan untuk diberikan kepada pelancong yang diketahui mempunyai faktor risiko. vaksin ini tidak lagi di ijinkan beredar di AS. orang tua ataupun mereka dengan golongan darah O.negara endemis ataupun kenegara yang sedang mengalami wabah kolera. Sejak akhir tahun 1999. Di negara-negara ini dimana vaksin oral telah memperoleh ijin beredar.

dan datang dari daerah terjangkit kolera yang masih dalam masa inkubasi serta orang yang menunjukkan gejala kolera. 4). Manfaatkan Pusat pusat kerjasama WHO.Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation) menyatakan bahwa : orang yang melakukan perjalanan internasional. harus menyerahkan tinjanya untuk dilakukan pemeriksaan . .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->