P. 1
KONVERSI AGAMA

KONVERSI AGAMA

|Views: 1,299|Likes:
Published by Amos Sukamto

More info:

Published by: Amos Sukamto on May 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

KONVERSI AGAMA

:
Telaah Teoritis dan Empiris Sukamto, M.Div. Pendahuluan Studi mengenai Konversi Agama di lingkungan para ahli Psikologi mulai diminati ketika William James (1842-1910) diundang oleh Yayasan Gifford di Universitas Edinburgh pada tahun 1901-1902 untuk memberikan kuliah tentang Agama Alamiah (Natural Religion) di empat universitas di Skotlandia (Crapps, 1993:146; Thouless, 2000:1-2). Bahan-bahan kuliah tersebut pada tahun 1902 diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul The Varieties of Religious Experience.1 Meskipun sebenarnya gerakan baru terhadap penelitian ilmiah dalam bidang Psikologi Agama sudah mulai dirintis sejak tahun 1899 yaitu ketika Starbuck murid William James melakukan kajian secara kuantitatif terhadap konversi agama di lingkungan anak-anak remaja. Dalam studi tersebut disimpulkan bahwa pengalaman pertobatan dalam arti tertentu berkaitan dengan intensitas emosional masa remaja (Crapps, 1993:119). Hasil dari penelitian tersebut kemudian dibukukan dengan judul The Psychology of Religion.2 Orang-orang yang ikut menyemarakkan berkembangnya Psikologi Agama dan di dalamnya dibahas juga konversi agama adalah Hall, Leuba, Coe, Thouless dan Sargant.3 Di lingkungan para ahli sosiologi kajian mengenai konversi agama diminati setelah munculnya fenomena sosial keagamaan di Amerika yang disebut dengan new-religion.4 Ketertarikan pada fenomena konversi agama baik di antara para ahli Psikologi, Sosiologi dan Antropologi masih berlangsung sampai sekarang. Hasil studi-studi baru bermunculan khususnya berkenaan dengan fenomena perkembangan konversi ke Protestan di antara orang-orang Katholik di Amerika Latin dan non-Kristen Asia. Mereka yang menaruh minat pada
1

Lihat William James, The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature, (New York: The Modern Library, 1902). Pembahasan mengenai Konversi Agama secara khusus dibahas pada bab IX dan X. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Pengalaman-pengalman Religius, (Yogyakarta: Jendela, 2003).
2

Lihat Edwin D. Starbuck, The Psychology of Religion, (New York: Schribner’s,
3

1899). Adapun buku-buku yang mereka terbitkan sebagai berikut: G. Stanley Hall, Adolesence, Vols. 1,2 (New York: Appleton, 1904); James H. Leuba, A Psychological Study of Religion, (New York: Macmillan, 1912); George A. Coe, The Psychology of Religion, (Chicago: University of Chicago Press, 1916); R. H. Thouless, An Introduction to the Psychology of Religion, (Cambridge, 1923); William Sargant, The Battle for the Mind, (London: Heinemann, 1967). Lihat evaluasi yang dibuat Greil & Rudy atas beberapa hasil penelitian pada New-Religion yang dilakukan oleh beberapa sarjana misalnya pada Hare Krishna, Divine Light Mission, Nichiren Shoshu Buddhism, a UFO cult, Church of the Sun, Crusade House, Christ Communal Organization, Mormons dan Levites (Greil dan Rudy, 1984:306-323).
4

1

Java Saga: Christian Progress in Muslim Java.” The Journal of Asian Studies 46:3 (1987). 1993). 1983:78). Levtzion (eds). tetapi kata ini lebih menitikberatkan aspek upacara penerimaan resmi seorang anggota baru ke dalam suatu kumpulan keagamaan (Hendropuspito. Kacung Marijan. menerima berkah. William James. Hefner. menghayati agama. “Of Faith and Commitment: Christian Conversion in Muslim Java. W. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. 2001:78). 1975). misalnya. Secara etimologi istilah konversi berasal dari Bahasa Latin conversio yang berarti masuk agama atau berpindah agama (Hendropuspito. “Islamizing Java? Religion and Politics in Rural Java. 7 6 5 2 . Pemahaman Istilah Konversi Agama Konversi7 agama (religious conversion) secara umum dapat diartikan berubah agama ataupun masuk agama (Jalaluddin. hlm. 1983:78). (Berkeley: University of California Press. 99-125. (New York: Holms and Meir . Robert W. baik secara gradual maupun Untuk konversi non-Kristen di Asia lihat buku yang diedit oleh R. 533-554. studi tentang keberagamaan orang Jawa telah banyak mendapat perhatian. R.studi konversi agama non-Kristen di Asia5 dan khususnya untuk studi perkembangan kelompok Evangelikal Protestan di negara-negara underdeveloped. adalah para ahli Antropologi dan Sejarah (Yang. Robert W. mendapatkan jaminan. Hefner. (London: OMF Books. Ricklefs. namun yang menaruh minat secara khusus pada konversi agama boleh dikatakan masih sedikit. in N. Robert W. dalam buku klasiknya yang berjudul The Varieties of Religious Experience mendefinisikan konversi sebagai berikut: Melakukan konversi. Pengertian konversi dalam tulisan ini berbeda dengan apa yang sering disebut orang dengan lahir baru (born again) (Rambo.” dalam Hefner. Untuk studi tentang konversi dari Hindu ke Islam: M. 2001). Conversion to Christianity: Historical and Anthropological Perspectives on a Great Transformation. Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan inisiasi. Conversion to Christianity: Historical and Anthropological Perspectives on a Great Transformation. C. (Princeton: Princeton University Press. meskipun pada dasarnya substansinya sama. 1985). Sedangkan untuk studi konversi ke Kristen Protestan lihat David Bentley Taylor. Hefner. Istilah ini berbeda dengan istilah initiatio. ed.6 Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis masalah yang berkaitan dengan konversi agama yaitu: pertama faktor-faktor yang mendorong seseorang beralih agama dan kedua mengangkat telaah empiris atas konversi antar intern agama pada sebuah komunitas PentakostaKharismatik di Bandung. Hefner. Secara terminologi istilah konversi didefinisikan dengan cara yang berbeda oleh ahli Sosiologi maupun oleh ahli Psikologi. Jurnal Studi Indonesia 8:2 (Agustus 1998). “Islamization of Java: From Hindu-Buddhist Kingdoms to New Order Indonesia”.. Istilah ini memang dapat berarti masuk agama. ‘Six Century of Islamization in Java”. Conversion to Islam. 1993). W. 1998). meskipun usaha-usaha studi ke arah itu sudah mulai diperhatikan. 1979). adalah kata-kata yang menunjukkan proses. hlm. (Berkeley: University of California Press. Di Indonesia khususnya di Jawa. terlahir kembali.

(2) sedang mencari alternatif bagi pemecahan masalahnya. (4) berjumpa dengan kelompok baru pada titik balik kehidupannya. 2000:189). (2) konversi bisa terjadi antar agama misalnya. proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba (Thouless. . yaitu: Stress. . Lofland & Stark berdasarkan penelitian dengan menggunakan pendekatan life histories dari anggota-anggota mula-mula Unification Church memformulasikan sebuah “value-added model” yang menggambarkan tujuh hal yang dilalui jika seseorang beralih agama: Untuk bisa terjadi konversi seseorang harus (1) mengalami penderitaan. (7) mengalami interaksi yang intensif (Greil dan Rudy. (3) yang mengarah kepada pendefinisian dirinya sebagai pencari agama. dari penganut agama Kristen kemudian menjadi penganut agama Islam. 2003:239). 1. (James. Faktor-Faktor Penyebab Konversi Agama Mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa beralih agama? Motivasi pendorong terjadinya konversi agama tidak hanya melibatkan satu faktor tunggal: “There is usually no single motivation that drives people to convert. baik yang ditulis berdasarkan penelitian empirik maupun hanya pada aras teoritis ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya proses konversi agama. 8 3 . misalnya dari gereja Protestan pindah ke gereja PantekostaKharismatik atau sebaliknya. Teori yang dikembangkan oleh Lofland & Stark ini dikemudian hari menjadi pijakan bagi para peneliti lain meskipun hasilnya tidak selalu seirama dengan hasil temuannya. stress yang cukup lama. peristiwa ini meliputi sebuah kualitatif perubahan dalam pengalaman dan dalam level komitmen tanpa memperhatikan previous mindset (Heirich. (5) membentuk ikatan baru dengan seseorang atau lebih para convert. (6) melupakan kegiatan agama yang lama. merupakan situasi yang menekan batin dan tidak dapat Thouless mendefinisikan konversi agama sebagai istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan. Bisa juga terjadi antar intern agama. 1998) ada banyak faktor psiko-sosiologis yang saling berkait antara satu dengan yang lain. Prosesnya bisa secara tiba-tiba (sudden) maupun bisa secara perlahan-lahan (graddual). 1977:654).8 Heirich mendefinisikan konversi sebagai sebuah perputaran haluan yang dramatis –baik penerimaan sebuah sistem kepercayaan maupun tingkah laku (jalan). Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan: (1) konversi adalah sebuah proses perubahan atau peralihan agama yang terjadi pada seseorang atau bisa sekelompok orang.mendadak. 1984:306).secara kuat berlawanan dengan cognitive structure dan actions sebelumnya.” (Rambo. Berdasarkan kajian beberapa literatur. . demikian juga sebaliknya.

sehingga memerlukan kekuatan dari dunia lain. peristiwa pertobatan mulai terjadi pada umur 7 sampai 8 tahun. 1984). secara bertahap bertambah pada umur 10 sampai 11 tahun. 1977:663). atau bapak rohani. kesepian. Lingkungan. Starbuck orang pertama yang meneliti konversi agama dengan menggunakan metode kuantitatif menyimpulkan bahwa gejala pertobatan dapat dipahami berhubungan erat dengan gejala masa remaja. misalnya berubah atau kehilangan pekerjaan. Misalnya seseorang pindah agama karena diajak atau dikenalkan oleh orang-orang yang dekat atau dipercaya. kehilangan anggota pribadi. 1984:181). mereka yang masuk ke gereja mormon: “tend to be younger than the average population and tend somewhat more often to be women . dan khususnya di Indonesia pada masyarakat Jawa. imam. Sependapat dengan Yang. Anak yang tertua biasanya mengidentifikasikan dirinya dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Stress ini bisa berasal dari: Keluarga. kemudian berkurang cepat pada umur 20 tahun dan menjadi jarang sesudah 30 tahun (Crapps. adalah faktor sosio-ekonomi dan politik. . masalah seks. Pengalaman stress bisa membuat seseorang menemukan pandangan-pandangan baru yang dapat mengalahkan motif-motif atau patokan hidup terdahulu yang selama itu ditaatinya (Hendropuspito. misalnya masalah dengan salah satu anggota keluarga. dalam tulisan ini saya berasumsi bahwa ada faktor-faktor lain yang penting yang perlu mendapat perhatian kecuali faktor-faktor yang lebih bersifat invidual di atas. Usia. seperti teman akrab. Pada orang-orang yang ditelitinya. menjadi janda. faktor sosio-ekonomi dan politik merupakan faktor yang mendorong mengapa orang Hindu masuk Islam di Besuki dan Tengger Jawa Timur (1993). tekanan pada pendidikan dan sebagai pendatang baru. ketegangan dalam pernikahan. Biasanya berumur sekitar 20-an tahun (Snow dan Machalek. guru. Demikian juga dengan konversi ke Kristen. 1993:118). Pengaruh sosial (social influence) merupakan variable yang dianggap paling penting oleh para sosiolog agama untuk menerangkan mengapa orang berpindah agama (Snow dan Machalek. 1983:80). Pertama. dan dengan cepat bertambah pada umur 16 tahun..” (1977:663).” (1992). Seperti yang dilaporkan oleh Smith. Jenis Kelamin. Urutan Kelahiran.diatasi oleh dirinya sendiri. ke agama Hindu dan Budha yang terjadi pada tahun 1965-66 juga terjadi disebabkan oleh faktor politik. Terutama penyebab konversi agama di negara-negara underdeveloped. Pada tahun 1965 terjadi pembunuhan 4 . menurut hasil kajian-kajian penelitian tentang konversi agama wanita jauh lebih banyak memainkan peranan dalam keagamaan dibanding laki-laki (Heirich. sebagian besar hasil studi menunjukkan bahwa mereka yang mengikuti atau masuk dalam gerakan-gerakan agama baru adalah anak-anak muda. . Bisa juga orang berpindah agama karena menghadiri secara berulang-ulang pertemuan agama. Heirich berasumsi bahwa: “middle children are more susceptible to conversion than others. Menurut penelitian Hefner.

dalam sejarah gereja terbukti bahwa kekristenan di tempat-tempat di mana sudah terdapat agama yang kuat dan terorganisasi maka gereja sukar untuk berkembang. setiap individu akan kehilangan “rasa aman” (security) yang ia peroleh dari lembaga tradisional tersebut. Modernisasi bekerja seakan-akan palu baja raksasa yang menghambat dan memusnahkan lembaga-lembaga dan struktur nilai-nilai tradisional.5 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia (Hefner. Hindu dan Budha. Dalam hali ini konversi penganut Kristen ke Hinduisme sukar sekali terjadi. 2001:194). atau 1. 2001:304). Misalnya. masuk Islam karena desakan anak lakilaki dan istrinya. karena pada keluarga-keluarga dengan agama campuran kerapkali terjadi pertentangan mengenai cara pemakaman yang dilakukan (Beatty. (Jakarta: LP3ES. dan Budha) banyak orang abangan yang beralih ke Kristen. jika seorang Hindu akan menikah maka dia harus ke Kantor Catatan Sipil yang letaknya jauh dan biayayanya jauh lebih mahal dibanding menikah secara Islam. Faktor ketiga adalah meminjam istilah O’Dea dengan sebutan disorganisasi sosial atau oleh Berger disebut situasi anomie. Menurut tafsiran Hefner jumlah total yang pindah ke Agama kristen sekitar 3 persen dari keseluruhan penduduk Pulau Jawa. sehingga ketika pemerintah Orde Baru hanya mengakui lima agama (Islam. seorang wanita Kristen yang kawin dengan seorang Hindu menolak untuk pindah agama. ia kini memperoleh kesempatan baru untuk melakukan pilihan berupa suatu kebebasan yang baru. Selain itu. sayap pemuda dari NU dan PNI. pemimpin dusun. 2001:306). Akibatnya. Ia kini menjadi orang yang secara teratur pergi ke mesjid (Beatty. Sebaliknya. Katolik. 178-195. 1993). Menikah secara Islam hanya cukup di Kantor Agama lokal di kecamatan. Sehingga banyak penganut agama Hindu muda mengambil jalan untuk menikah secara Islam (Beatty. namun kebebasan ini haruslah ia beli dengan harga yang sangat tinggi. Protestan. Akibat dari pembunuhan ini banyak orang abangan yang tidak simpati kepada Islam. Ia sendiri tak punya tanah dan hidup menumpang istrinya.9 Temuan-temuan Beatty dalam penelitiannya di wilayah Banyuwangi Jawa Timur. dalam Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Pembunuhan ini dilakukan oleh militer. Kendala-kendala birokrasi juga menjadi pemicu bagi konversi dari Hindu ke Islam. Kedua adalah faktor Sosio-religious masyarakat. Para sarjana ilmu sosial telah 10 9 5 . 2001:305).kepada orang-orang abangan yang diduga sebagai anggota PKI.10 Di daerah Magelang banyak juga terjadi konversi agama ke Islam seperti dilaporkan oleh M. Hindu. Bambang Pranowo. juga mengindikasikan bahwa faktor situasi sosial ekonomi berpengaruh terhadap konversi agama dari Hindu ke Islam: Pak T. “Partai Politik dan Islamisasi di Pedesaan Jawa”. Kematian sekalipun tidak dapat mengakhiri konflik tersembunyi ini. hlm. Peraturan tersebut juga menjadi faktor pemicu bagi konversi ke Islam dari pemeluk agama asli atau agama rakyat. Akses kepada tanah keluarga istrinya tergantung pada iktikad baiknya. kawin campur kerapkali menjurus kepada perpindahan ke agama Islam (jarang sekali salah seorang pasangan masuk Hindu)-baik karena alasan “demi” anak-anak atau karena tekanan keluarga (Beatty. 2001:305).

6 . komunitas” yakni pencarian nilai-nilai baru yang akan menjadi anutan mereka dan kelompok-kelompok di mana mereka akan bergabung. Reach the family. Sejarah Komunitas Salem merupakan sebuah gerakan keagamaan yang memberi interpretasi baru mengenai agama yang sudah ada khususnya agama Kristen yang telah menjadi denominasi-denominasi gereja yang kuat dan mapan. Berdasarkan penuturan dari salah satu staf yang bekerja secara full time sekaligus juga sebagai saksi mata dari perjalanan sejarah komunitas ini.11 di mulai dengan sebuah persekutuan doa untuk siswa-siswi di sebuah Sekolah Menengah Umum Negeri Bandung. jenis kelamin. Build a strong local church. sehingga ia akan kehilangan pula pengertian yang memberikan petunjuk yang menyangkut tujuan dan arti hidupnya di dunia ini (Berger. menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan hakekat “harga” yang sangat tinggi itu. Komunitas ini berawal pada tahun 1989.1.Perubahan sosial akan mengakibatkan hilangnya konsensus budaya dan solidaritas kelompok. 12 11 Dalam leaflet ditulis dalam bahasa Inggris: Vision. Secara umum konversi agama bisa disebabkan oleh faktor-faktor baik dari dalam (internal) seseorang misalnya stress. Konversi bisa terjadi antar agama atau lintas agama tetapi juga bisa terjadi antar intern agama. Sebagai sebuah komunitas Kristen organisasi ini memiliki visi:12 Reach people. Konversi –penerimaan agama baru. yakni anomie yang artinya suatu keadaan dimana setiap individu kehilangan ikatan yang memberikan rasa aman dan kemantapan dengan sesama manusia. dan disorganisasi sosial. usia dan dari luar (eksternal) misalnya masalah-masalah. dimana prosesnya bisa secara tiba-tiba (sudden) maupun bisa secara perlahan-lahan (gradual). dan misi sebagai berikut: Empower the individual to be a Christian worker (Warta Jemaat 13 Januari 2002). 2. Karena status tempatnya meminjam maka persekutuan ini sering berpindah-pindah tempat. 1983:35). Konversi Antar Intern-Agama: Studi Kasus Pada Komunitas Salem di Bandung 4. sosio-religious. Dari panjangnya pembahasan di atas dapat disimpulan dengan kalimat yang lebih ringkas sebagai berikut: konversi agama adalah sebuah proses perubahan atau peralihan agama yang terjadi pada seseorang atau bisa sekelompok orang. dan ini akan membuat manusia berada dalam situasi “mencari. Adapun faktor-faktor penyebab konversi agama bisa bermacam-macam. 1995:116).itu sendiri erat hubungannya dengan kebutuhan dan aspirasi yang sangat dipengaruhi oleh keadaan sosial orang-orang yang terlibat di dalamnya (O’Dea. sosial politik. Persekutuan dimulai di sebuah rumah yang berlokasi dekat dengan SMUN tersebut.

sehingga menjadi organisasi yang formal. Misalnya sebagai yayasan tidak bisa mengeluarkan surat baptis. Bentuk organisasi Komunitas Salem berkembang sejalan dengan perkembangan kebutuhan anggota komunitas ini. Kemudian didasarkan atas pertimbangan legalitas sebuah organisasi supaya dapat dipertanggung jawabkan secara hukum maka pada tahun 1998 komunitas ini resmi didaftarkan sebagai yayasan di akta notaris dengan nama Yayasan Salem. sehingga tidak bisa membaptis anggotanya yang minta dibaptis. Setelah kurang lebih empat tahun organisasi komunitas ini berbentuk yayasan. informal dan tidak tetap. Jikalau ada anggota yang meminta dibaptis maka dititipkan di gereja lain. tidak mungkin berdamai dengan Tuhan kalau tidak berdamai dengan sesama. Pada awal perintisan kepengurusan dan organisasi bersifat sangat sederhana. Kedua hal ini menurutnya mempunyai korelasi antara satu dengan yang lain. Ketiga menjadi organisasi yang mapan dan mengambil berbagai macam bentuk organisasi (1996:155-161).Perubahan Bentuk Organisasi Antara Tahun 1990-2002 Menurut Nottingham pola organisasi dan ritual dari sebuah gerakan keagamaan akan mengalami tiga fase: pertama gerakan keagamaan tersebut sangat dipengaruhi oleh kharisma dan kepribadian pendirinya. Figur 1 7 . Demikian juga sebaliknya. Adapun struktur organisasi Yayasan Salem dapat dilihat pada Figur 1. Tidak mungkin bisa damai dalam arti sesungguhnya dengan manusia kalau tidak berdamai terlebih dahulu dengan Tuhan. Kedua ada pemaksaan untuk memecahkan dan menjelaskan masalah-masalah penting mengenai organisasi. Pola perkembangan organisasi ini juga ditemui dalam Komunitas Salem. Salem artinya damai dengan Tuhan dan damai dengan sesama. Ciri dari fase pertama ini adalah mempunyai watak kelompok yang utama. Dengan dibentuk menjadi gereja maka jauh lebih mudah untuk menjelaskannya kepada keluarga mereka masing-masing. ternyata dalam perjalanannya dijumpai banyak keterbatasan-keterbatasan. Demikian juga menurut salah satu perintis ada tuntutan dari keluarga masing-masing pengurus yang selalu menanyakan status pelayanan mereka.

tidak membutuhkan waktu yang lama. terutama dalam hal kemandirian atau kedewasaan gereja lokal tidak perlu membutuhkan waktu yang lama.Pada tanggal 8 Juli 2001 komunitas ini secara resmi bergabung dengan sebuah sinode gereja yang berpusat di Semarang. Berkembangnya bentuk organisasi dari yayasan ke bentuk gereja berpengaruh juga terhadap bentuk struktur ke-organisasiannya. Begitu bergabung pada saat yang bersamaan dianggap sudah dewasa. Struktur organisasi tersebut berkembang menjadi seperti tampak pada figur 2. Sinode ini menjadi pilihan karena Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya-nya (AD & ART) dinilai sangat fleksibel. Figur 2 8 . Demikian juga dengan proses pentahbisan pendeta muda (Pdm) tidak terlalu rumit.

Pada awalnya diadakan hanya sekali dalam dua minggu. namun setelah resmi menjadi bentuk gereja yaitu pada tanggal 8 Juli 2001 diadakan setiap minggu. Pujian dan penyembahan lebih banyak mendapat tekanan atau porsi yang banyak dalam acara ini. Doa bersifat spontanitas dalam arti tidak ditulis seperti dalam liturgi atau dihafalkan. acara ini dilaksanakan dalam kelompok besar di mana setiap anggota saling membagikan berkat atau menyaksikan cinta kasih Tuhan yang sudah dialami kepada anggota-anggota lainnya. Pemberitaan Firman Tuhan bukan merupakan satu-satunya acara klimaks ibadah. Games atau permainan.” Kedua. Sharing and glory. mereka merasa bahwa pengenalan terhadap Tuhan semakin mendalam. Namun bisa dikatakan bahwa pada dasarnya mereka mempunyai dua keuntungan dalam beribadah di komunitas ini: pertama. Setiap anggota mempunyai penghayatan yang berbeda-beda terhadap acara ibadah yang mereka ikuti. karena menurut penuturan salah seorang anggota: “Jika dalam penyembahan terasa kehadiran hadirat Tuhan. Ibadah raya ini mulai dijalankan atau diadakan pada tanggal 25 Februari 2001 sebagai persiapan proses menuju pembentukan gereja. Juga bersyukur boleh diterima sebagai saudara di tempat ini. pemberitaan Firman Tuhan juga bisa diganti dengan berbagai cara misalnya: Simulasi. Setelah puji-pujian. namun ini tergantung situasi. Mereka beribadah dengan menggelar tikar atau karpet.00-10. ibadah dimaknai sebagai sarana untuk menjalin persahabatan dengan saudara seiman.” Menurut penuturan salah seorang anggota. kadang-kadang pemberitaan Firman Tuhan menjadi tidak ada. Sangat menyenangkan karena Tanty bisa lebih dekat ama Tuhan. Setelah berdoa kemudian menyanyikan tiga sampai lima pujian. anggota dibagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok kecil kemudian membahas satu topik tertentu. Ibadah Raya.Perubahan Bentuk Ritual Komunitas Salem Antara Tahun 19902002 Persekutuan. Setelah anggota yang hadir dirasa cukup maka seorang yang bertugas memimpin ibadah mulai membuka dengan doa. namun tidak digunakan dalam Ibadah Raya atau Hari Minggu. Pada mulanya pola ibadah dalam Komunitas Salem tidak se-formal setelah menjadi bentuk gereja. Ibadah raya atau dalam warta jemaat mereka sebut dengan menggunakan istilah Bahasa Inggris Sunday Services diadakan pada hari Minggu jam 08. Makna Ibadah.00 WIB. Pola ibadah seperti ini masih tetap dipertahankan dalam persekutuan. setiap anggota yang datang duduk membentuk lingkaran besar. Sebagaimana diungkapkan oleh dua anggota Komunitas Salem sebagai berikut: Melalui persekutuan ini saya diberkati. karena membuat kita lebih dalam pada Tuhan. Saya bisa lebih mengenal Tuhan secara pribadi. acara berikutnya adalah pemberitaan Firman Tuhan. bisa mengenal Tuhan lebih dekat dan bisa 9 . Seperti yang dituturkan oleh seorang anggota: “bagus.

Huria Kristen Batak Protestan. Mereka yang bergama Kristen berasal dari berbagai denominasi gereja baik yang beraliran Pentakosta seperti Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah.mendapatkan teman seiman. Tionghoa. Gereja Masehi Injil Minahasa. Gereja Penyebaran Injil maupun yang beraliran Protestan (mainline churches) seperti Gereja Kristen Indonesia. sebagai pelajar SMU satu orang dan SLTP 2 orang. hanya ada 7 responden yang keluarganya tinggal di luar Bandung. Agama sebagian besar responden sebelum mengalami konversi ke Komunitas Salem adalah Kristen (95%) dan Katholik (5%). Sedangkan yang berada pada kisaran 15 sampai 20 tahun sebanyak 3 responden (15%) dan antara 26 sampai 30 tahun sebanyak 2 responden (10%). Gereja Kristen Kemah Daud. Tionghoa 2 orang. Berdasarkan garis patriakhal sebagian besar responden berasal dari suku Batak (65%). Toraja dan Menado. Keluarga responden sebagian besar sebagai pendatang dan menetap di Bandung. Toraja 3 orang.2. Penekanan terhadap pentingnya arti menjalin hubungan antara anggota dengan pemimpin kelompok dan begitu sebaliknya agaknya menjadi hal yang biasa ditemui dalam kelompok-kelompok keagamaan baru. 4. Latar Belakang Para Convert Jumlah keseluruhan yang tercatat sebagai anggota tetap Komunitas Salem pada tahun 2002 adalah 34 orang. sisanya berasal dari Jawa. Dari ke 34 total anggota Komunitas Salem hanya 7 orang yang sudah bekerja. Gereja Pantekosta di Indonesia. Dari 22 orang yang berstatus sebagai mahasiswa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia sangat menikmati persekutuan dalam komunitas ini karena anak-anaknya bodor (lucu) dan tulus. 10 . Perpindahan ke Komunitas Salem di antara para mahasiswa ini terjadi sejak tahun 1992 sampai 2001. Pada waktu itu mereka masih duduk di bangku sebuah Sekolah Menengah Umum Negeri Bandung. Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat. dan lainnya dari Timor 2 orang. Kebanyakan anggota berasal dari suku Batak yaitu 22 orang (65%) sedangkan dari suku-suku lain misalnya Jawa sebanyak 5 orang. sebagian besar mereka masih berstatus sebagai mahasiswa yaitu 22 orang. Dari 34 orang tersebut 14 orang berkelamin laki-laki dan 20 orang berkelamin perempuan. Hal ini memperkuat dugaan van den End dan Weitjens yang mengatakan bahwa: “rata-rata yang beralih ke Pentakosta berasal dari gereja-gereja lain bahkan anggota gereja-gereja Pentakosta yang terbanyak (sekitar 80%) tinggal di daerah-daerah yang sudah terdapat banyak orang Kristen (2000:275). Dari sampel tersebut diperoleh gambaran sebagai berikut: Umur responden pada tahun 2002 terbanyak berada pada kisaran 21 tahun sampai 25 tahun (75%). 20 di antaranya dijadikan sampel dalam penelitian ini. hanya ada satu responden yang menyatakan bahwa dirinya belum mempunyai afiliasi gereja sebelumnya.

kakak kelas. Semangat seperti ini pada umumnya dimiliki oleh anggota gereja yang bercirikan Pentakosta-Karismatik. Kondisi Psikologis Para Convert Sama dengan temuan-temuan beberapa ahli Psikologi maupun ahli sosiologi seperti Starbuck (1899). mengajak ke pertemuan-pertemuan ibadah yang diselenggarakan oleh Komunitas Salem. Kondisi Sosio-Religious Para Convert Sebagian besar yang mengalami konversi ke Komunitas Salem (75%) adalah alumni dari sebuah SMU Negeri Bandung hanya ada 5 responden (25%) yang berasal dari sekolah lain. sebagai pengisi waktu kosong dan tidak mengalami kasih Tuhan. membina hubungan. sedangkan yang terjadi pada usia 21 tahun ke atas hanya 10%.3. mengajak secara terus menerus untuk ikut bersekutu bersama-sama dengan komunitas salem. 4. pembimbing rohani dan kenalan baru.4. Hal ini menguatkan temuan Starbuck yang menyimpulkan bahwa gejala pertobatan dapat dipahami berhubungan erat dengan gejala masa remaja (Crapps. Heirich (1977) dan Smith (1992) bahwa perempuan lebih mempunyai kecenderungan berpindah agama atau denominasi. Adapun cara yang dilakukan untuk mencari anggota baru misalnya: melalui undangan untuk ikut Kebaktian Penyegaran Rohani. 4. Ikatan identitas sosial yang telah terbentuk pada masa pendidikan di SMU cukup berpengaruh terhadap afiliasi agama mereka pada masa-masa perkembangan berikutnya. 11 . Menguatkan temuan Swanson bahwa dalam penelitian ini 60% peralihan ke Komunitas Salem dialami oleh mereka yang dalam urutan lahirnya ada di antara anak sulung dan bungsu (middle children). dalam penelitian ini ditemukan 12 (60%) dari 20 responden berkelamin perempuan dan 8 (40%) berkelamin laki-laki. hanya ada dua yang pernah aktif di gereja yaitu sebagai Guru Sekolah Minggu dan aktif di Navigator.5.4. Hal ini dikuatkan karena rata-rata mereka mengenal Komunitas Salem sewaktu menjadi siswa di SMU tersebut. dan menunjukkan perubahan hidup. sebagian besar mereka adalah anggota Komunitas Salem. Proses Konversi Ke Komunitas Salem Para convert rata-rata mengenal Komunitas Salem dari temanteman. 1993:118). Sebagian besar (90%) bukan aktivis gereja. Hidup keagamaan sebelum mereka bergabung dengan Komunitas Salem pada umumnya rajin ke gereja tetapi oleh mereka hal ini dilihat sebagai hal yang sifatnya hanya rutinitas. saudara. Meskipun juga ditemui beberapa responden yang status kelahirannya sebagai anak bungsu yaitu 5 orang (25%) dan sulung ada 3 orang (15%). Dilihat dari usia peralihan ke Komunitas Salem sebagian besar (90%) terjadi pada umur antara 14 tahun sampai 20 tahun. mati. Ini menunjukkan semangat untuk mencari anggota baru yang dimiliki oleh anggota Komunitas Salem.

Jan S. Keadaan anomie ini bisa diatasi ketika mereka berjumpa dengan teman-teman baru di komunitas ini. Sebagai pendatang baru di sebuah sekolah para convert juga mengalami apa yang oleh Berger disebut sebagai keadaan anomie. Orang tua. sang pengkotbah-pun cukup dengan menggunakan baju casual dan celana jeans.Motivasi para convert bergabung dengan Komunitas Salem karena mereka merasakan di dalam komunitas inilah bisa mengenal Firman Tuhan dengan lebih dalam sehingga mengakibatkan pertumbuhan iman. Menarik untuk diamati lebih jauh bahwa faktor sosialisasi tampak sangat berpengaruh dalam mendorong seseorang untuk masuk Komunitas Salem. Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa proses konversi ke Komunitas Salem dipengaruhi oleh faktor psikologis individual dan keadaan sosio religious para convert sebelumnya. guru biasanya melarang mereka mengikuti persekutuan yang diselenggarakan oleh Komunitas Salem karena dianggap sesat. Daftar Pustaka: Buku Aritonang. Terutama bagi mereka yang jauh dari keluarga. Hal ini disebabkan dalam gereja asal para convert ibadah dilaksanakan sangat formal tertata rapi mengikuti kaidah-kaidah liturgi yang njlimet sehingga tidak sesuai dengan dinamika perkembangan sosio-psikologis mereka. Kecuali tanpa liturgi. Para convert rata-rata mengatakan tidak mendapatkan pengalaman keagamaan dalam denominasi gereja tempat mereka beribadah sebelumnya. Beatty. Dalam menghadapi larangan tersebut para convert tidak mengindahkan larangan tersebut karena mereka meyakini apa yang mereka lakukan adalah melakukan kebenaran Firman Allah. Sedangkan di Komunitas Salem ibadahnya jauh dari suasana formal. Faktor berikutnya yang sangat menentukan adalah perhatian yang diberikan oleh anggota Komunitas Salem antara satu dengan yang lain sehingga menyebabkan perasaan diterima bagi para pendatang baru yang masuk dalam komunitas ini. Kemudian sosialisasi ini ditambah dengan perasaan psikologis bahwa mereka merasa diterima dalam komunitas yang baru yang memang pada waktu itu mereka mencarinya. Andrew 2001 Variasi Agama Jawa: Suatu Pendekatan Antropologi. 2000 Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja. sedangkan sebagian besar yang lain meresponi dengan cara diam namun mendoakannya dan tetap aktif di acara-acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Salem. Jakarta: 12 . Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Yogyakarta: Kanisius. 1993 “Of Faith and Commitment: Christian Conversion in Muslim Java. R. Edisi Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. James. Jalaluddin. Jakarta:ISAI. Berkeley: University of California Press. Jakarta: BPK Gunung Mulia.” Dalam Conversion to Christianity: Historical and Anthropological Perspectives on a Great Transformation. Ricklefs. Berger. Pranowo. Peter L. Th.C. 1983 Sosiologi Agama. Hefner. Jakarta:LP3ES. William 2003 Pengalaman-pengalaman Religius. Crapps. van den dan J. 1983 Piramida Politik. Yogyakarta: Kanisius. Hefner. Yogyakarta: Jendela. H. Robert W. M. Robert W. 13 . Pp. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Thomas F. Jakarta: LP3ES. O`Dea. M. 1993 Dialog Psikologi dan Agama: Sejak William James hingga Gordon W.Murai Kencana. D. Allport. 2001 Civil Islam: Islam dan Demokratisasi di Indonesia. Hendropuspito. W. ed.” Dalam Pembangunan dan Kebangkitan Islam di AsiaTenggara. Bambang 1993 “Partai Politik dan Islamisasi di Pedesaan Jawa. 2001 Psikologi Agama. 1995 Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal. Nottingham 1996 Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Sosiologi Agama. Elizabeth K. Jakarta: Rajawali. End. Robert W. Hefner. 99-125. Weitjens 2000 Ragi Carita 2: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-ansekarang.

Rambo. 2001. Lofland. May 29-31. John. Heirich. (Available from http://psywww.. The World Wide Web James. Online. Arthur L." Sociological Focus 17(4):306-323. 14 . Rudy 1984 "What Have We Learned from Process Models of Conversion? An Examination of Ten Studies.” Journal for the Scientific Study of Religion 20:373-385. Pp. Internet. 100-127." Annual Review of Sociology 10:167-190. ed. William 1902 The Varieties of Religious Experience. N. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 1965 "Becoming a World-Saver: A Theory of Conversion to a Deviant Perspective.” Journal of Asian Studies 46: 533-554.” Makalah yang disampaikan pada International Coafition for Religious Freedom confrence on “Religious Freedom and the New Millenium” Berlin Germany. 1981 "Conversion Motifs.com. New York: Holms and Meir.” American Journal of Sociology 83:653-680. Lofland. Jurnal Greil. 14." American Sociological Review 30:862875. Snow. David and Richard Machalek 1984 "The Sociology of Conversion. Robert 1987 “Islamizing Java? Religion and Politics in Rural East Java. John and Norman Skonovd. Lewis 1998 “The Psychology of Religious Conversion. Robert H. Hefner. and Rodney Stark. Levtzion. Chapter IX dan X.. Internet.1979 “Six Century of Islamization in Java. Max 1977 “Change of Heart: A Test of Some Widely Held Theories About Religious Conversion. Online. 2000 Pengantar Psikologi Agama. Thouless.) Accessed August. and David R.” Dalam Conversion to Islam.

2001. Macmillan: Macmillan Publishing Company. Fenggang 1998 “Chinese Conversion to Evangelical Christianity: the Importance of Social and Cultural Contexts.. Online.(Available from http://www.religiousfreedom. Kay H.mormons.” Encyclopedia of Mormonism. 2001. Yang. Vol. 21..” Sociology of Religion Fall..org. 2001.findarticles.) Accessed Sept. Internet. (Available from http://www. Online.com. 1992 “Conversion. 1.com. Internet.) Accessed August.) Accessed Sept. Smith. 04. 15 . Warta Warta Jemaat Minggu 13 Januari 2002. (Available from http://www. 29.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->