P. 1
Evaluasi Program Pengajaran

Evaluasi Program Pengajaran

|Views: 299|Likes:
Published by fradillamuchii

More info:

Published by: fradillamuchii on May 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2014

pdf

text

original

EVALUASI PROGRAM PENGAJARAN Program pengajaran merupakan suatu rencana pengajaran sebagai panduan bagi guru atau pengajar

dalam melaksnakan pengajaran. Agar pengajaran bisa berjalan dengan efektif dan efisien, maka perlu kiranya dibuat suatu program pengajaran. Program pengajaran yang dibuat oleh guru tidak selamanya bisa efektif dan dapat dilaksanakan dengan baik, oleh karena itulah agar program pengajaran yang telah dibuat yang memiliki kelemahan tidak terjadi lagi pada program pengajaran berikutnya, maka perlu diadakan evaluasi program pengajaran. Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah: Apakah yang dimaksud dengan evaluasi program? mengapa evaluasi program perlu dilaksanakan? Apakah yang menjadi objek atau sasaran dari evaluasi? dan Bagaimanakah cara melaksanakan evaluasi program? Menurut Arikunto (1999: 290) "Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat keberhasilan program". Ada beberapa pengertian tentang program itu sendiri, diantaranya program adalah rencana dan kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Jadi dengan demikian melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. Yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan penyusun program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum. Jika sudah tercapai bagaimana kualitas pencapaian kegiatan tersebut, jika belum tercapai bagaimanakah dari rencana kegiatan yang telah dibuat yang belum tercapai, apa sebab bagian rencana kegiatan tersebut belum tercapai, adakah factor lain yang mempengaruhi ketidakberhasilan program tersebut. Untuk menentukan seberapa jauh target program sudah tercapai, yang menjadikan tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan sebelumnya. Sasaran evaluasi adalah untuk mengetahui keberhasilan suatu program. Sebagimana yang dikemukakan oleh Ansyar (1989: 134) bahwa ".evaluasi mempunyai satu tujuan utama yatu untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program" Guru adalah orang yang paling penting statusnya dala kegiatan belajar mengajar, karena guru memegang tugas yang amat penting, yaitu mengatur dan mengemudikan kegiatan kelas. Untuk membuat proses belajar mengajar lebih efektif maka tugas guru adalah menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajara. Untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif tersebut perlu dirancang program pengajaran. Berhasil tidaknya suatu program pengajaran, tentu tidak bisa diketahui begitu saja, tanpa adanya evaluasi program. Oleh karena itu evaluasi program perlu dilaksanakan oleh guru dalam

e. Input Siswa adalah subjek yang menerima pelajaran. Secara umum. yanga meliputi alat pelajaran dan . hal-hal yang ada pada siswa berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Sarana Komponen lain yang perlu dievaluasi oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah sarana pendidikan. evaluasi terhadap metode mengajar merupakan kegiatan guru untuk meninjau kembali tentang metode mengajar. Guru adalah manusia biasa yang mempunyai banyak keterbatasan. Itulah sebabnya guru perlu dibekali dengan kemampuan untuk melakukan evaluasi program. social yang berbeda. Pendek kata. Metode mengajar adalah cara-cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar. emosional. Wilayah Indonesia yang sedemikian luas mengandung keragaman yang tidak sedikit. apanya dari program yang dievaluasi? a. Oleh karena itu dalam pembuatan program pengajaran hendaknya guru juga perlu memperhatikan aspek-aspek individu tersebut. kesesuaian antara sumber yang disarankan dengan materi kurikulum dan sebagainya. b. Metode atau pendekatan dalam mengajar Berbeda dengan evaluasi terhadap kurikulum. termasuk mengevaluasi materi kurikulum. kurikulum berlaku secara nasional karena kita menganut system sentralisasi. Setiap siswa mempunyai bakat intelektual. pemilihan metoda. Ada siswa pandai. Sedangkan strategi pembelajaran menunjuk kepada bagaimana guru mengatur waktu pemenggalan penyajian. kejelasan materi yang terantum dalam GBPP. oleh karena itu untuk menutupi kelemahan guru perlu dilakukan pembinaan dan penataran dalmrangka melaksanakan pembelajaran d. dan tidak pandai.rangka mengetahui seberapa jauh proram pengajaran telah berlangsung atau terlaksana. Dalam melakukan evaluasi program. Guru Guru merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar. evaluasi program dilaksanakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari program pengajaran. Materi atau kurikulum Di Indonesia. Sasaran yang perlu dievaluasi dari komponen kurikulum ini anatara lain. urutan penyajian materi. Guru adalah orang yang diberi kepercayaan untuk meciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajaran. dan jika terlaksana seberapa baik pelaksanaan program tersebut. kejelasan pedoman untuk dipahami. pemilihan pendekatan dan sebagainya. kurang pandai. atau strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kurikulum kepada siswa. namun tidak mustahil bahwa di lapangan masih juga dijumpai kelemahan dan hambatan. c. pendekatan. Meskipun penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah sudah dilakukan secara cermat dan melibatkan banyak pihak.

guru telah memilih alat yang kira-kira dapat membantu melancarkan dan memperjelas konsep yang diajarkan. kemudahannya untuk digunakan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan lingkungan bukan manusia adalah segala hal yang berada di lingkungan siswa yang secara langsung maupun tidak. Apabila guru menjumpai dalam mengajar atau ketidak berhasilan siswa dengan nilai rendah-rendah. yaitu lingkungan manusia dan lingkungan bukan manusia. tetapi siapa saja yang dengan atau tidak sengaja berpengaruh terhadap tingkat hasil belajar siswa. Tatanan perabot kelas yang rapi dapat berpengaruh terhadap kesejukan suasana sehingga siswa dapat belajar dengan tenteram. bahkan sebelum atau sekurang-kurangnya pada waktu menyusun rencana mengajar. dan pegawai tata usaha di sekolah itu. Dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut guru akan memperoleh umpan terhadap apa yang dilakukan.media pendidikan. pedoman pengamatan dan lain sebagainya. jumlah persediaan dibandingkan dengan banyaknya siswa yang memerlukan. mungkin siswa juga dapat dijadikan titik tolak dalam menentukan apakah sarana yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar sudah tepat. Yang termasuk kategori lingkungan bukan manusia misalnya suasana sekolah. Apabila guru ingin melakukan evaluasi program dengan lebih seksama. Sebelum guru memulai kegiatan mengajar. Instrument pengumpulandat bisa berupa angket. Sebagai cara yang paling sederhana adalah menagadakan pendekatan terhadap peristiwa yang dialami sehari-hari di kelas. kecocokan dengan materi yang diajarkan. f. alat tersebut ternyata kurang atau sama sekali tidak tepat. mudah dan sukarnya diperoleh. Sasaran evaluasi yang berkenaan antara lain kelengkapannya. ragam jenisnya. Yang dapat digolongkan sebagai lingkungan masukan lingkungan manusia bukan hanya bukan hanya kepala sekolah. Sebaliknya suasana yang gaduh di luar kelas dapat mengganggu konsentrasi siswa dan menyebabkan siswa tidak dapat seperti yang diharapkan. Akan tetapi guru cukup membuat acuan singkat dan sederhana yang disusun dalm bentuk pertanyaan. Untuk mengevaluasi progam seorang guru tidak perlu dibebani secara sistematis sebagaimana layaknya seorang peneliti. terlebih dahulu hendaknya menyusun rencana evaluasi sekaligus menyusun instrument pengumpulan data. ia dapat mecoba mengadakan evaluasi terhadap sarana yang digunakan. keadaan gedung dan sarana lain. Selain guru. Proses pengajarannya tidak menjadi semakin lancar. pedoman wawancara. berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. guru-guru. Pengaruh lingkungan bukan manusia dapat positif maupun negative. modelnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan objek atau sasaran evaluasi program yang meliputi keenam aspek tersebut di atas. Lingkungan Ada dua macam lingkungan. tetapi mungkin bahkan kacau balau. . Mungkin saja pada waktu menentukan alat pelajaran guru berpikir bahwa pilihannya sudah tepat. Tetapi ternyata di dalam praktek pelaksanaan pengajaran. halaman sekolah.

pengukuran. measurement. 3. Evaluasi program pengajaran ini meliputi 1) Input (masukan). 1999:2). 1999. things according to a set of rules.Pengajaran dan pembelajaran adalah merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan oleh seorang guru. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). 5) Sarana: alat pelajaran ata media pendidikan. Evaluasi Program 1. yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan (Mardapi. dan penilaian (test. Respons peserta tes terhadap sejumlah pertanyaan menggambarkan kemampuan dalam bidang tertentu. Penilaian. Tes merupakan bagian tersempit dari evaluasi. Obyek ini bisa berupa kemampuan peserta didik. 1998:2). yang sering dikenal dengan evaluasi program pengajaran. Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung. 6) lingkungan. or quantifying. maupun motivasi. Tes. minat. 4) Metode atau pendekatan dalam mengajar. 2) materi atau kurikulum. and assessment). sikap. Guilford dalam Griffin dan Nix (1991:3) mendefinisi pengukuran dengan assigning numbers to. 3) Guru. Daftar Pustaka Ansyar. Mohammad. Pengukuran (measurement) dapat didefinisikan sebagai the process by which information about the attributes or characteristics of thing are determinied and differentiated (Oriondo dan Antonio. Jakarta: Bumi Aksara. Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran. Suharsimi. Jakarta: Depdikbud Arikunto. dan Evaluasi Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi. Agar program pengajaran yang telah dilaksanakan itu baik atau tidak perlu dilaksanakan suatu penilaian. Pengukuran. . 1989. yaitu tes. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum.

The Task Group on Assessment and Testing (TGAT) mendeskripsikan asesmen sebagai semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja (performance) individu atau kelompok (Griffin dan Nix. Asesmen sebagai proses yang menyediakan informasi tentang individu siswa. Keadaan individu ini bisa berupa kemampuan kognitif. Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa asesmen atau penilaian merupakan kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran. dan psikomotor. about curricula or programs. misalnya dengan pengamatan. tentang kurikulum atau program. Penilaian (assessment) memiliki makna yang berbeda dengan evaluasi. Hal senada dikemukakan Allen dan Yen dalam Mardapi (2000:1) mendefinisikan pengukuran sebagai penetapan angka dengan cara yang sistematik untuk menyatakan keadaan individu. Guru dapat mengukur karakteristik suatu objek tanpa menggunakan tes. implementation. Pengukuran memiliki konsep yang lebih luas dari pada tes. Dengan demikian. afektif. or about entire systems of institutions. Stufflebeam (2003) mengemukakan bahwa: Evaluation is the process of delineating. and providing descriptive and judgmental information about the worth and merit of some object’s goals. and promote understanding of the involved phenomena.Sementara itu Ebel dan Frisbie (1986:14) berpendapat pengukuran dinyatakan sebagai proses penetapan angka terhadap individu atau karakteristiknya menurut aturan tertentu. Popham (1995:3) mendefinisikan asesmen dalam konteks pendidikan sebagai sebuah usaha secara formal untuk menentukan status siswa berkenaan dengan berbagai kepentingan pendidikan.. obtaining. esensi dari pengukuran adalah kuantifikasi atau penetapan angka tentang karakteristik atau keadaan individu menurut aturan-aturan tertentu. and impact in order to guide decision making. serve needs for accountability. about institutions. . tentang institusi atau segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem institusi. pengukuran maupun tes. design. 1991:3). Boyer dan Ewel dalam Stark dan Thomas (1994:46) mengemukakan assessment is processes that provide information about individual students. rating scale atau cara lain untuk memperoleh informasi dalam bentuk kuantitatif. Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan penilaian.

4) analyzing and interpreting (analisis dan interpretasi informasi). sedangkan penilaian didahului dengan pengukuran. 5) reporting information (pembuatan laporan). Sementara itu National Study Committee on Evaluation dalam Stark dan Thomas (1994:12) menyatakan bahwa evaluation is the process of ascertaining the decision of concern. assessment. desain.Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa (the worth and merit) dari tujuan yang dicapai. Hal ini dipertegas oleh Griffin dan Nix (1991:3) menyatakan: Measurement. and collecting and analyzing information in order to report summary data useful to decision makers in selecting among alternatives. sedangkan evaluasi merupakan penetapan nilai atau implikasi perilaku. yaitu: 1) focusing the evaluation (penentuan fokus yang akan dievaluasi). 2) designing the evaluation (penyusunan desain evaluasi). selecting appropriate information. dan evaluasi bersifat hierarkis. pengumpulan. Menurut rumusan tersebut. penilaian. analisis dan penyajian informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan serta penyusunan program selanjutnya. 6) . dan dampak untuk membantu membuat keputusan. 3) collecting information (pengumpulan informasi). implementasi. Brikerhoff dalam Mardapi (2000) menjelaskan bahwa evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai. the interpretation and description of the evidence is an assessment and the judgement of the value or implication of the behavior is an evaluation. penilaian (assessment) merupakan kegiatan menafsirkan dan mendeskripsikan hasil pengukuran. membantu pertanggung jawaban dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Evaluasi didahului dengan penilaian (assessment). The comparison of observation with the criteria is a measurement. inti dari evaluasi adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. and evaluation are hierarchial. Pengukuran diartikan sebagai kegiatan membandingkan hasil pengamatan dengan kriteria. Pengukuran. Evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan pemilihan. Lebih lanjut Brikerhoff dalam Mardapi (2000) mengemukakan dalam pelaksanaan evaluasi terdapat tujuh elemen yang harus dilakukan.

tetapi juga mencakup semua . menganalisis dan membuat interpretasi terhadap data yang terkumpul serta membuat laporan. diperbaiki atau dihentikan. Weiss dalam Oriondo dan Antonio (1998) menyatakan the purpose of evaluation research is to measure the effect of program against the goals it set out accomplish as a means of contributing to subsuquest decision making about the program and improving future programming. 2) menekankan pada hasil suatu program. dan 7) evaluating evaluation (evaluasi untuk evaluasi). Pencapaian belajar ini bukan hanya yang bersifat kognitif saja. menyusun kebijakan maupun menyusun program selanjutnya. yaitu untuk mengambil keputusan apakah dilanjutkan. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan. dampak/hasil yang dicapai. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas. yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. dan 4) kontribusi terhadap pengambilan keputusan dan perbaikan program di masa mendatang. yaitu: 1) menunjuk pada penggunaan metode penelitian. dilakukan pengumpulan data. evaluator juga harus melakukan pengaturan terhadap evaluasi dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam melaksanakan evaluasi secara keseluruhan. menginterpretasikan dan menyajikan informasi untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan. Ada empat hal yang ditekankan pada rumusan tersebut.managing evaluation (pengelolaan evaluasi). Adapun tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan obyektif tentang suatu program. evaluator pada tahap awal harus menentukan fokus yang akan dievaluasi dan desain yang akan digunakan. Selanjutnya. khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar siswa. efisiensi serta pemanfaatan hasil evaluasi yang difokuskan untuk program itu sendiri. 3) penggunaan kriteria untuk menilai. Hal ini berarti harus ada kejelasan apa yang akan dievaluasi yang secara implisit menekankan adanya tujuan evaluasi. Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan. Selain itu. Bidang pendidikan ditinjau dari sasarannya. Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa dalam melakukan evaluasi. evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang mikro. serta adanya perencanaan bagaimana melaksanakan evaluasi. mendeskripsikan. Selain itu. Informasi tersebut dapat berupa proses pelaksanaan program. juga dipergunakan untuk kepentingan penyusunan program berikutnya maupun penyusunan kebijakan yang terkait dengan program.

8. 12. PERT (Program Evaluation and Review Technique). Evaluasi Model Kirkpatrick . 4. 3. CIRO (Context. Berbagai model tersebut di atas akan diuraikan model yang populer dan banyak dipakai sebagai strategi atau pedoman kerja dalam pelaksanaan evaluasi program pembelajaran. Portraiture Model. Prosess. Daniel Stufflebeam’s CIPP Model (Context. 2. Kaufman’s Five Levels of Evaluation. Process. Product). 2000:2). Model-model Evaluasi Program Pembelajaran Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli yang dapat dipakai dalam mengevaluasi program pembelajaran. Jack PhillPS’ Five Level ROI Model.potensi yang ada pada siswa. Outcome). 1. Illuminative Evaluation Model. 2. 10. Reaction. 9. Robert Stake’s Responsive Evaluation Model. Input. Berbagai model sebagaimana yang dikemukakan oleh Kirkpatrick (2009) adalah: 1. Input. Michael Scriven’s Goal-Free Evaluation Approach. Input. 6. 13. and Product). 11. 5. Eisner’s Connoisseurship Evaluation Models. Alkins’ UCLA Model. 2) Evaluasi Model CIPP (Context. yaitu 1) Evaluasi Model Kirkpatrick (Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model). Jadi sasaran evaluasi mikro adalah program pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah guru (Mardapi. dan 3) Evaluasi Model Stake (Model Couintenance). Robert Stake’s Congruence-Contingency Model. Provus’s Discrepancy Model. 7.

yaitu materi yang diberikan. and/or increase skill as a result of . Partner (2009) mengemukakan the interest. dan level 4 result. 1. people learn better when they react positively to the learning environment. Mengukur reaksi dapat dilakukan dengan reaction sheet dalam bentuk angket sehingga lebih mudah dan lebih efektif. Kepuasan peserta pelatihan dapat dikaji dari beberapa aspek. yaitu: level 1 reaction. level 3 behavior. Disimpulkan bahwa keberhasilan proses kegiatan pelatihan tidak terlepas dari minat. Sebaliknya apabila peserta tidak merasa puas terhadap proses pelatihan yang diikutinya maka mereka tidak akan termotivasi untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut. dan penyajian konsumsi yang disediakan. level 2 learning. attention and motivation of the participants are critical to the success of any training program. Evaluasi Reaksi (Evaluating Reaction) Mengevaluasi terhadap reaksi peserta pelatihan berarti mengukur kepuasan peserta (customer satisfaction). Evaluasi Belajar (Evaluating Learning) Kirkpatrick (1998:20) mengemukakan learning can be defined as the extend to which participans change attitudes. Program pelatihan dianggap efektif apabila proses pelatihan dirasa menyenangkan dan memuaskan bagi peserta pelatihan sehingga mereka tertarik termotivasi untuk belajar dan berlatih.Kirkpatrick salah seorang ahli evaluasi program pelatihan dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM). perhatian. Model evaluasi yang dikembangkan oleh Kirkpatrick dikenal dengan istilah Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model. jadwal kegiatan sampai menu. Dengan kata lain peserta pelatihan akan termotivasi apabila proses pelatihan berjalan secara memuaskan bagi peserta yang pada akhirnya akan memunculkan reaksi dari peserta yang menyenangkan. improving knowledge. strategi penyampaian materi yang digunakan oleh instruktur. fasilitas yang tersedia. Orang akan belajar lebih baik manakala mereka memberi reaksi positif terhadap lingkungan belajar. media pembelajaran yang tersedia. 2. dan motivasi peserta pelatihan dalam mengikuti jalannya kegiatan pelatihan. Evaluasi terhadap efektivitas program pelatihan (training) menurut Kirkpatrick (1998) mencakup empat level evaluasi.

peningkatan pengetahuan maupun perbaikan keterampilan pada peserta pelatihan maka program dapat dikatakan gagal. Oleh karena itu untuk mengukur efektivitas program pelatihan maka ketiga aspek tersebut perlu untuk diukur. sikap dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan untuk diimplementasikan di tempat kerjanya? Karena yang dinilai adalah perubahan perilaku setelah kembali ke tempat kerja maka evaluasi level 3 ini dapat disebut sebagai evaluasi terhadap outcomes dari kegiatan pelatihan. 2) perubahan sikap. Evaluasi Tingkah Laku (Evaluating Behavior) Evaluasi pada level ke 3 (evaluasi tingkah laku) ini berbeda dengan evaluasi terhadap sikap pada level ke 2. perbaikan pengetahuan maupun peningkatan keterampilan. yaitu pengetahuan. Perubahan perilaku apa yang terjadi di tempat kerja setelah peserta mengikuti program pelatihan. sedangkan penilaian tingkah laku difokuskan pada perubahan tingkah laku setelah peserta kembali ke tempat kerja. dan 3) keterampilan yang telah dikembangkan atau diperbaiki. Tanpa adanya perubahan sikap. Terdapat tiga hal yang dapat instruktur ajarkan dalam program pelatihan. Penilaian sikap pada evaluasi level 2 difokuskan pada perubahan sikap yang terjadi pada saat kegiatan pelatihan dilakukan sehingga lebih bersifat internal. Oleh karena itu dalam pengukuran hasil belajar (learning measurement) berarti penentuan satu atau lebih hal berikut: 1) pengetahuan yang telah dipelajari. Dengan kata lain yang perlu dinilai adalah apakah peserta merasa senang setelah mengikuti pelatihan dan kembali ke tempat kerja? Bagaimana peserta dapat mentrasfer pengetahuan. 4. Termasuk dalam kategori hasil akhir . sehingga penilaian tingkah laku ini lebih bersifat eksternal. Penilaian evaluating learning ini ada yang menyebut dengan penilaian hasil (output) belajar. Evaluasi Hasil (Evaluating Result) Evaluasi hasil dalam level ke 4 ini difokuskan pada hasil akhir (final result) yang terjadi karena peserta telah mengikuti suatu program.attending the program. 3. Apakah perubahan sikap yang telah terjadi setelah mengikuti pelatihan juga akan diimplementasikan setelah peserta kembali ke tempat kerja. Peserta pelatihan dikatakan telah belajar apabila pada dirinya telah mengalami perubahan sikap. sikap maupun keterampilan.

seperti misalnya masalah pendidikan yang dirasakan. Beberapa program mempunyai tujuan meningkatkan moral kerja maupun membangun teamwork (tim kerja) yang lebih baik. program maupun institusi. Konsep tersebut ditawarkan Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi adalah bukan membuktikan tetapi untuk memperbaiki. manajemen. and Product) pertama kali dikemukakan oleh Stufflebeam tahun 1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA (The Elementary and Secondary Education Act). dan product. Evaluasi Model CIPP Konsep evaluasi model CIPP (Context. penurunan biaya. Evaluasi model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai bidang. . 2. Hal ini dipertegas oleh Madaus dkk (1983:118) yang mengemukakan the CIPP approach is based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove but to improve. Oleh karena itu evaluasi level 4 ini lebih sulit di bandingkan dengan evaluasi pada level-level sebelumnya. situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam sistem yang bersangkutan. yaitu context. Context. dan pandangan hidup masyarakat. Tidak semua pengaruh dari sebuah program dapat diukur dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama. peningkatan kualitas. keadaan ekonomi negara. penurunan turnover (pergantian) dan kenaikan keuntungan. Dengan kata lain adalah evaluasi terhadap impact program (pengaruh program). Prosess. Sudjana dan Ibrahim (2004:246) menerjemahkan masing-masing dimensi tersebut dengan makna: 1. sehingga model evaluasi yang ditawarkan diberi nama CIPP model yang merupakan singkatan ke empat dimensi tersebut.dari suatu program pelatihan di antaranya adalah kenaikan produksi. seperti pendidikan. Dalam bidang pendidikan Stufflebeam (2003) menggolongkan sistem pendidikan atas empat dimensi. penurunan kuantitas terjadinya kecelakaan kerja. situasi ini merupakan faktor eksternal. perusahaan serta dalam berbagai jenjang baik itu proyek. input. process. Input.

sarana/modal/bahan dan rencana strategi yang ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan. . Process. pembimbingan. dan pelatihan. Product. 3. komponen input meliputi siswa. desain. komponen proses meliputi kegiatan pembelajaran. Input. saran. dan sikap (siswa dan lulusan). guru. 4. kemampuan. komponen produk meliputi pengetahuan.2. dan fasilitas. hasil yang dicapai baik selama maupun pada akhir pengembangan sistem pendidikan yang bersangkutan. pelaksanaan strategi dan penggunaan sarana/modal/bahan di dalam kegiatan nyata di lapangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->