P. 1
Contoh Korupsi Di Indonesia

Contoh Korupsi Di Indonesia

3.0

|Views: 14,649|Likes:
Published by Nawy Morrison

More info:

Published by: Nawy Morrison on May 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

Contoh Korupsi di Indonesia: Berkembang secara sistemik.

Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah. Perkembangan korupsi di Indonesia juga mendorong pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun hingga kini pemberantasan korupsi di Indonesia belum menunjukkan titik terang melihat peringkat Indonesia dalam perbandingan korupsi antar negara yang tetap rendah. Hal ini juga ditunjukkan dari banyaknya kasus-kasus korupsi di Indonesia. Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum oleh Presiden SBY merupakan langkah berani dan sekaligus menyiratkan pengakuan keberadaan organisasi mafia hukum dalam praktik sistem peradilan pidana selama 65 tahun kemerdekaan Indonesia. Mafia hukum di Indonesia identik dengan the web of the underworld government yang memiliki kekuatan destruktif terhadap ketahanan negara dan kewibawaan pemerintah, termasuk lembaga penegak hukumnya. Pertaruhan nasionalisme dan keteguhan dalam pemberantasan mafia hukum sedang dalam ujian di mata masyarakat dalam negeri dan luar negeri. Namun, pembentukan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum bukanlah solusi yang tepat untuk mencegah dan mengatasi keberadaan mafia hukum.Yang tepat seharusnya memperkuat keberadaan KPK serta koordinasi dan sinkronisasi antara KPK,Polri,dan KejaKorupsi di BAPINDO Tahun 1993, pembobolan yang terjadi di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dilakukan oleh Eddy Tanzil yang hingga saat ini tidak ketahuan dimana rimbanya, Negara dirugikan sebesar 1.3 Triliun.

HPH dan Dana Reboisasi Hasil audit Ernst & Young Kasus HPH dan Dana Reboisasi Hasil audit Ernst & Young pada 31 Juli 2000 tentang penggunaan dana reboisasi mengungkapkan ada 51 kasus korupsi dengan kerugian negara Rp 15,025 triliun (versi Masyarakat Transparansi Indonesia). Yang terlibat dalam kasus tersebut, antara lain, Bob Hasan, Prajogo Pangestu, sejumlah pejabat Departemen Kehutanan, dan Tommy Soeharto. Bob Hasan telah divonis enam tahun penjara. Bob dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi proyek pemetaan hutan senilai Rp 2,4 triliun. Direktur Utama PT Mapindo Pratama itu juga diharuskan membayar ganti rugi US$ 243 juta kepada negara dan denda Rp 15 juta. Kini Bob dikerangkeng di LP Nusakambangan, Jawa Tengah. Prajogo Pangestu diseret sebagai tersangka kasus korupsi dana reboisasi proyek hutan tanaman industri (HTI) PT Musi Hutan Persada, yang diduga merugikan negara Rp 331 miliar. Dalam pemeriksaan, Prajogo, yang dikenal dekat dengan bekas presiden Soeharto, membantah keras tuduhan korupsi. Sampai sekarang nasib kasus taipan kakap ini tak jelas kelanjutannya.

Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Kasus BLBI pertama kali mencuat ketika Badan Pemeriksa Keuangan mengungkapkan hasil auditnya pada Agustus 2000. Laporan itu menyebut adanya penyimpangan penyaluran dana BLBI Rp 138,4 triliun dari total dana senilai Rp 144,5 triliun. Di samping itu, disebutkan adanya penyelewengan penggunaan dana BLBI yang diterima 48 bank sebesar Rp 80,4 triliun. Bekas Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono dianggap bertanggung jawab dalam pengucuran BLBI.

Sebelumnya, mantan pejabat BI lainnya yang terlibat pengucuran BLBI?Hendrobudiyanto, Paul Sutopo, dan Heru Soepraptomo?telah dijatuhi hukuman masing-masing tiga, dua setengah, dan tiga tahun penjara, yang dianggap terlalu ringan oleh para pengamat. Ketiganya kini sedang naik banding. Bersama tiga petinggi BI itu, pemilik-komisaris dari 48 bank yang terlibat BLBI, hanya beberapa yang telah diproses secara hukum. Antara lain: Hendrawan Haryono (Bank Aspac), David Nusa Widjaja (Bank Servitia), Hendra Rahardja (Bank Harapan Santosa), Sjamsul Nursalim (BDNI), dan Samadikun Hartono (Bank Modern). Yang jelas, hingga akhir 2002, dari 52 kasus BLBI, baru 20 dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Sedangkan yang sudah dilimpahkan ke pengadilan hanya enam kasus Abdullah Puteh: Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam yang kini non aktif ini menjadi tersangka korupsi APBD dalam pembelian helikopter dan genset listrik, dengan dugaan kerugian Rp 30 miliar. Profesionalisme (profésionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional. Profesionalisme berasal daripada profesion yang bermakna berhubungan dengan profesion dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, (KBBI, 1994). Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualiti dari seseorang yang profesional (Longman, 1987) Ciri-ciri profesionalisme Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang profesionalEtika terlalu banyak diberikan oleh pelbagai pihak dari semasa ke semasa. Istilah etika berasal dari perkataan Greek 'ethos', yang bermaksud khusus kepada 'character', ataupun perwatakan dan kep

Baca buku 8 Etos Kerja Profesional, seperti mengulang lagi semua materi yang pernah disampaikan dalam seminarnya Bapak Jansen Sinamo hanya aja lebih dalem dan lebih detail. Butuh waktu lumayan buat menyelesaikan membaca buku ini, berhubung harus disimak bener dan diinget-inget. Buat aku pribadi, di seminar sehari itu aku seperti ditampar dengan caranya Bapak Jansen. Sungguh, disitu aku diingatkan tentang banyak hal. Ketika aku melanjutkannya dengan membaca buku ini, sekali lagi penulis seperti menyentil aku dengan caranya. Ada 4 bagian kualitas yang saling berhubungan untuk bekerja profesional. Empat bagian tersebut adalah: SQ (Spiritual Quotient) Adalah proses-proses transendensi terutama dari wilayah material menuju wilayah spiritual. EQ (Emotional Quotient) Ada dua arah. Ke dalam: kesadaran, penerimaan, hormat dan pimpin diri yang lebih jernih dan kuat. Ke luar: kemampuan memahami, menerima, memercayai, dan memimpin orang lain. AQ (Adversity Quotient) Adalah kecerdasan menghadapi kesulitan-kesulitan hidup pada umumnya dan problem-problem kerja khususnya. FQ (Financial Quotient) Adalah kercerdasan dalam bergaul dengan uang meliputi pemahaman akan eksistensi uang, pengenalan akan karakter uang, pengertian akan gerak dan dinamika uang, hubungan antara kerja dan uang, sikap-sikap yang atraktif terhadap uang, serta teknik-teknik cerdas dalam mengelola, menggandakan, dan mendayagunakan uang secara sehat dan efektif dengan tujuan akhir: agar kita-sang maestro uang-bisa mengalami kebebasan finansial.

Sementara itu, dari 4 bagian tersebut dijabarkan lagi menjadi 8 Etos Kerja Profesional: 1. Kerja adalah Rahmat Aku Bekerja Tulus Penuh Syukur 2. Kerja adalah Amanah Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab 3. Kerja adalah Panggilan Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas 4. Kerja adalah Aktualisasi Aku Bekerja Keras Penuh Semangat 5. Kerja adalah Ibadah Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan 6. Kerja adalah Seni Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas 7. Kerja adalah Kehormatan Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan 8. Kerja adalah Pelayanan Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati Jadi, apa sebenernya yang aku dapet setelah ikut satu hari seminar ditambah baca bukunya? Banyak banget! Diantaranya, engga boleh ngeluh ketika overload, engga boleh ngeluh ketika aku udah menyanggupi untuk mengerjakan satu kerjaan dan itu sebisa mungkin harus sampai selesai dan hasilnya harus maksimal, harus kreatif juga, biarkan hasil kerja kita yang menjadi alat marketingnya kita untuk mengatakan pada dunia bagaimana kita bekerja dan seperti apa hasilnya.
eribadian. Gluck (1986 : 176) telah mendifinasikan etika sebagai, " kajian filosofikal terhadap moraliti". Shea (1988 : 17) pula mendefinasikan etika sebagai "prinsip-prinsip bertingkahlaku yang mengawal individu atau profesyen" dan sebagai "satu standard tingkahlaku ". Manakala istilah etika dikalangan teknokrat merujuk kepada kajian-kajian mengenai isu-isu 'standard moral' yang melibatkan para teknokrat yang boleh membantu meningkatkan integriti profes

Baca buku 8 Etos Kerja Profesional, seperti mengulang lagi semua materi yang pernah disampaikan dalam seminarnya Bapak Jansen Sinamo hanya aja lebih dalem dan lebih detail. Butuh waktu lumayan buat menyelesaikan membaca buku ini, berhubung harus disimak bener dan diinget-inget. Buat aku pribadi, di seminar sehari itu aku seperti ditampar dengan caranya Bapak Jansen. Sungguh, disitu aku diingatkan tentang banyak hal. Ketika aku melanjutkannya dengan membaca buku ini, sekali lagi penulis seperti menyentil aku dengan caranya. Ada 4 bagian kualitas yang saling berhubungan untuk bekerja profesional. Empat bagian tersebut adalah: SQ (Spiritual Quotient) Adalah proses-proses transendensi terutama dari wilayah material menuju wilayah spiritual. EQ (Emotional Quotient) Ada dua arah. Ke dalam: kesadaran, penerimaan, hormat dan pimpin diri yang lebih jernih dan kuat. Ke luar: kemampuan memahami, menerima, memercayai, dan memimpin orang lain. AQ (Adversity Quotient) Adalah kecerdasan menghadapi kesulitan-kesulitan hidup pada umumnya dan problem-problem kerja khususnya. FQ (Financial Quotient) Adalah kercerdasan dalam bergaul dengan uang meliputi pemahaman akan eksistensi uang, pengenalan akan karakter uang, pengertian akan gerak dan dinamika uang, hubungan antara kerja dan uang, sikap-sikap yang atraktif terhadap uang, serta teknik-teknik cerdas dalam mengelola, menggandakan, dan mendayagunakan uang secara sehat dan efektif dengan tujuan akhir: agar kita-sang maestro uang-bisa mengalami kebebasan finansial.

Sementara itu, dari 4 bagian tersebut dijabarkan lagi menjadi 8 Etos Kerja Profesional: 1. Kerja adalah Rahmat Aku Bekerja Tulus Penuh Syukur 2. Kerja adalah Amanah Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab 3. Kerja adalah Panggilan Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas 4. Kerja adalah Aktualisasi Aku Bekerja Keras Penuh Semangat 5. Kerja adalah Ibadah Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan 6. Kerja adalah Seni Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas 7. Kerja adalah Kehormatan Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan 8. Kerja adalah Pelayanan Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati Jadi, apa sebenernya yang aku dapet setelah ikut satu hari seminar ditambah baca bukunya? Banyak banget! Diantaranya, engga boleh ngeluh ketika overload, engga boleh ngeluh ketika aku udah menyanggupi untuk mengerjakan satu kerjaan dan itu sebisa mungkin harus sampai selesai dan hasilnya harus maksimal, harus kreatif juga, biarkan hasil kerja kita yang menjadi alat marketingnya kita untuk mengatakan pada dunia bagaimana kita bekerja dan seperti apa hasilnya. Baca buku 8 Etos Kerja Profesional, seperti mengulang lagi semua materi yang pernah disampaikan dalam seminarnya Bapak Jansen Sinamo hanya aja lebih dalem dan lebih detail. Butuh waktu lumayan buat menyelesaikan membaca buku ini, berhubung harus disimak bener dan diinget-inget.

Buat aku pribadi, di seminar sehari itu aku seperti ditampar dengan caranya Bapak Jansen. Sungguh, disitu aku diingatkan tentang banyak hal. Ketika aku melanjutkannya dengan membaca buku ini, sekali lagi penulis seperti menyentil aku dengan caranya. Ada 4 bagian kualitas yang saling berhubungan untuk bekerja profesional. Empat bagian tersebut adalah: SQ (Spiritual Quotient) Adalah proses-proses transendensi terutama dari wilayah material menuju wilayah spiritual. EQ (Emotional Quotient) Ada dua arah. Ke dalam: kesadaran, penerimaan, hormat dan pimpin diri yang lebih jernih dan kuat. Ke luar: kemampuan memahami, menerima, memercayai, dan memimpin orang lain. AQ (Adversity Quotient) Adalah kecerdasan menghadapi kesulitan-kesulitan hidup pada umumnya dan problem-problem kerja khususnya. FQ (Financial Quotient) Adalah kercerdasan dalam bergaul dengan uang meliputi pemahaman akan eksistensi uang, pengenalan akan karakter uang, pengertian akan gerak dan dinamika uang, hubungan antara kerja dan uang, sikap-sikap yang atraktif terhadap uang, serta teknik-teknik cerdas dalam mengelola, menggandakan, dan mendayagunakan uang secara sehat dan efektif dengan tujuan akhir: agar kita-sang maestro uang-bisa mengalami kebebasan finansial.

Sementara itu, dari 4 bagian tersebut dijabarkan lagi menjadi 8 Etos Kerja Profesional: 1. Kerja adalah Rahmat Aku Bekerja Tulus Penuh Syukur 2. Kerja adalah Amanah Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab 3. Kerja adalah Panggilan Aku Bekerja Tuntas Penuh Integritas 4. Kerja adalah Aktualisasi Aku Bekerja Keras Penuh Semangat 5. Kerja adalah Ibadah Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan 6. Kerja adalah Seni Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas 7. Kerja adalah Kehormatan Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan 8. Kerja adalah Pelayanan Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati Jadi, apa sebenernya yang aku dapet setelah ikut satu hari seminar ditambah baca bukunya? Banyak banget! Diantaranya, engga boleh ngeluh ketika overload, engga boleh ngeluh ketika aku udah menyanggupi untuk mengerjakan satu kerjaan dan itu sebisa mungkin harus sampai selesai dan hasilnya harus maksimal, harus kreatif juga, biarkan hasil kerja kita yang menjadi alat marketingnya kita untuk mengatakan pada dunia bagaimana kita bekerja dan seperti apa hasilnya.

MAKALAH PENDIDKAN PROFESIONAL BEKERJA
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata pelajaran profesional bekerja

Disusun oleh : Widi a¶dawiyah Kelas X Akuntansi

YAYASAN TAMAN PENDIDIKAN AL-KHOERIYAH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) AL-KHOERIYAH
Bidang keahlian : Bisnis manajemen Tehknik informatika dan komunikasi terakreditasi : ³A/B´ Jl.raya Manonjaya No.34 tlp.0265 381548

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->