PENDAHULUAN

Penggunaan tes BERA dalam bidang ilmu audiologi dan neurology sangat besar manfaatnya dan mempunyai nilai obyektifitas yang tinggi bila dibandingkan dengan pemeriksaan audiologi konvensional. Penggunaannya yang mudah, tidak invasive, dan dapat dilakukan pada pasien koma sekalipun; menyebabkan pemeriksaan BERA ini dapat digunakan secara luas.1

BRAIN Evoked Response Audiometry atau BERA merupakan alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi dini adanya gangguan pendengaran, bahkan sejak bayi baru saja dilahirkan. Istilah lain yang sering digunakan yakni Brainstem Auditory Evoked Potential (BAEP) atau Brainstem Auditory Evoked Response Audiometry (BAER). Alat ini efektif untuk mengevaluasi saluran atau organ pendengaran mulai dari perifer sampai batang otak.2

Tes BERA ini dapat menilai fungsi pendengaran bayi atau anak yang tidak kooperatif. Yang tidak dapat diperiksa dengan cara konvensionil.1

Berbeda dengan audiometry, alat ini bisa digunakan pada pasien yang kooperatif maupun non-kooperatif seperti pada anak baru lahir, anak kecil, pasien yang sedang mengalami koma maupun stroke,tidak membutuhkan jawaban atau respons dari pasien seperti pada audiometry karena pasien harus memencet tombol jika mendengar stimulus suara. Alat ini juga tidak membutuhkan ruangan kedap suara khusus.2

1

sehingga bisa juga dimanfaatkan untuk screening medical check up. tidak nyeri.2 BERA mengarah pada pembangkitan potensial yang ditimbulkan dengan suara singkat atau nada khusus yang ditransmisikan dari transduser akustik dengan 2 .R. Administrasi dan pelaksanaan tes ini biasanya oleh para ahli audiologi. Pertama kali diuraikan oleh Jewett dan Williston pada tahun 1971.E.A (BRAINSTEM EVOKE RESPONSE AUDIOMETRI) Brainstem Evoke Response Audiometri (BERA) merupakan tes neurologik untuk fungsi pendengaran batang otak terhadap rangsangan suara (click).3 Berbagai kondisi yang dianjurkan untuk pemeriksaan BERA antara lain bayi baru lahir untuk mengantisipasi gangguan perkembangan bicara/bahasa. beberapa teknik BERA khusus dan berbagai hal lainnya yang berkaitan dengan teknik telah dihilangkan. Untuk tujuan kejelasan dan untuk mempersingkat tinjauan. mungkin salah satu sebabnya karena anak tersebut tidak mampu menerima rangsangan suara karena adanya gangguan di telinga. Pemeriksaan ini relatif aman. BERA merupakan aplikasi yang paling umum digunakan untuk menilai respon yang dibangkitkan oleh rangsangan suara.B. Artikel ini memberikan gambaran dari tes tersebut dan penggunaannya yang paling umum. Jika ada anak yang mengalami gangguan atau lambat dalam berbicara. dan tidak ada efek samping. mengevaluasi brainstem (batang otak).2 BERA juga dapat dimanfaatkan untuk menentukan sumber gangguan pendengaran apakah di cochlea atau retro choclearis. serta menentukan apakah gangguan pendengaran disebabkan karena psikologis atau fisik.

dan hasil yang didapat harus dapat dihubungkan dengan hasil audiometri yang biasa digunakan. jika tersedia. Bentuk gelombang yang ditimbulkan dari respon tersebut dinilai dengan menggunakan elektrode permukaan yang biasannya diletakkan pada bagian vertex kulit kepala dan pada lobus telinga. Gelombang selanjutnya mungkin menggambarkan aktivitas postsinaptik pada pusat auditori batang otak utama that secara bersamaan menimbulkan bentuk gelombang puncak dan palung.menggunakan earphone atau headphone (headset).3 FISIOLOGI Brainstem Evoke Response Audiometri (BERA) biasanya menggunakan rangsangan suara klik yang menghasilkan respon dari regio basilar cochlea.3 3 . Sinyalnya berjalan melalui jalur pendengaran/auditori pathway dari kompleks inti cochlear.3 Meskipun BERA memberikan informasi mengenai fungsi dan sensitivitas pendengaran. namun tidak merupakan pengganti untuk evaluasi pendengaran formal. Puncak positif dari bentuk gelombang menunjukkan aktivitas aferen kombinasi (dan kemungkinan juga eferen) dari jalur axonal pada batang otak auditory. proksimal ke colliculus inferior. Puncak dari gelombang yang timbul ditandai dengan I-VII. Pencatatan rata-rata grafiknya diambil berdasarkan panjang gelombang/amplitudo (microvoltage) dalam waktu (millisecond). Gelombang BERA I dan II berkaitan dengan potensial aksi yang benar. mirip dengan EEG. Bentuk gelombang tersebut normalnya muncul dalam periode waktu 10 millisecond setelah rangsangan suara (click) pada intensitas tinggi (70-90 dB tingkat pendengaran normal/normal hearing level [nHL]).

3 Reaksi yang timbul sepanjang jaras-jaras saraf pendengaran dapat dideteksi berdasarkan waktu yang dibutuhkan (satuan milidetik) mulai dari saat pemberian impuls sampai menimbulkan reaksi dalam bentuk gelombang. bentuk gelombang biasanya di plot dengan elektroda pada vertex dengan amplifier tegangan input positif. dan V.. sehingga menimbulkan gelombang puncak pada I. III. Gelombang yang terjadi sebenarnya ada 7 buah. Di negara-negara lainnya. III.Di Ameriksa Serikat.1 Gambar yang menunjukkan penempatan BERA electrodes Komponen Bentuk Gelombang Gelombang I: Respon gelombang BERA I merupakan gambaran yang luas dari potensial aksi saraf auditori gabungan pada bagian distal dari nervus cranialis (CN) VIII. namun yang penting dicatat adalah gelombang I. Respo tersebut dipercaya berasal dari aktivitas aferen dari serabut saraf CN VIII 4 . gelombangnya di plot dengan tegangan negatif. dan V.

Gelombang II: gelombang BERA II ditimbulkan oleh nervus VIII proksimal saat memasuki batang otak. yang sering memiliki puncak yang sama dengan gelombang V.(neuron urutan pertama) saat meninggalkan cochlea dan masuk ke canalis auditori internal. Gelombang BERA V merupakan komponen yang paling sering di analisa pada aplikasi klinis BERA. Aktivitas neuron urutan kedua mungkin secara sekunder mempengaruhi beberapa hal dalam pembentukan gelombang V. Meskipun terdapat beberapa database mengenai hal yang tepat dalam pembentukan gelombang V. Literatur menyatakan bahwa gelombang III ditimbulkan pada bagian caudal dari pons auditori.000 neuron. Colliculus inferior merupakan sebuah struktur yang komplex. Gelombang V: pembentukan gelombang V kemungkinan merupakan dari aktivitas dari struktur auditori anatomik multipel. gelombang V dipercaya berasal dari sekitar colliculus inferior. Gelombang III: gelombang BERA III muncul dari aktivitas aktivitias saraf urutan kedua arises from (diluar CN VIII) di dalam atau di dekat nukleus cochlearis.3 5 . Nukleus cochlearis mengandung hampir 100. diperkirakan muncul dari neuron urutan ketiga pontine yang kebanyakan terletak pada kompleks olivary superior. kebanykan dipersarafi oleh sembilan serabut saraf. tetapi kontribusi tambahan untuk terbentuknya gelombang IV dapat datang dari nukleus cochlearis dan nukleus dari lemniskus lateral. tetapi tempat pembentukan sebenarnya masih diragukan. Gelombang VI dan VII: Gelombang VI dan VII dianggap berasal dari thalamus (medial geniculate body). dengan lebih dari 99% akson dari regio auditori batang otak bawah melewati lemniskus lateral ke colliculus inferior. Gelombang IV: gelombang BERA IV.

3 Symptom Pada Patologi Nervus Delapan Gejala klinis dapat meliputi yang dibawah ini. batasan pengujian. banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan BERA. dan faktor- 6 . gambaran BERA yang abnormal yang menyarankan adanya patologi retrocochlear memiliki indikasi untuk perlu dilakukannya pemeriksaan MRI pada cerebellopontine. kehilangan pendengaran asymmetris. Meskipun demikian. termasuk derajat kehilangan pendengaran sensorineural.3 y Evaluasi Respon Pendengaran/Auditori Batang Otak Dalam hal patologi retrocochlear.APLIKASI Identifikasi Patologi Retrocochlear Brainstem Evoke Response Audiometri (BERA) dipertimbangkan sebagai alat screening yang efektif dalam mengevaluasi audiometry kecurigaan patologi retrocochlear seperti acoustic neuroma atau vestibular schwannoma. tapi tidak terbatas hanya pada gejalagejala tersebut saja: y y y y Kehilangan pendengaran sensorineural asimetris atau unileteral Kehilangan pendengaran frekuensi tinggi asimetris Tinnitus unilateral Tingkat mengenali kata-kata yang buruk secara unilateral atau bilateral yang dibandingkan dengan derajat kehilangan pendengaran sensorineural Merasakan adanya distorsi suara saat pendengaran perifer normal.

pemeriksaan BERA menujukkan sensitivitas lebih dari 90% dan spesifisitas mendekati 70-90%. Pemeriksaan BERA dapat diulangi jika terdapat indikasi. Sebagai alternatif lain.3 Secara umum.3 Sensitivitas BERA sensitivity dalam mendiagnosa tumor CN VIII dengan ukuran berdasarkan pada beberapa studi berikut ini: 7 .3 Sensitivitas untuk tumor kecil tidak sebesar nilai tersebut diatas. I-V. pasien-pasien yang asimptomatik dengan hasil pemeriksaan BERA normal sebaiknya menjalani audiogram dalam 6 bulan untuk memonitor perubahan yang terjadi terhadap sensitivitas pendengaran atau tinnitus.faktor pasien lainnya.3 Penemuan yang menandakan adanya patologi retrocochlear pathology dapat meliputi satu atau lebih dari tanda berikut ini: y y y Perbedaan latensi gelombang V interaural absolut (IT5) ± memanjang Interval antar puncak gelombang I-V interaural . III-V ± memanjang dibandingkan dengan data normatif y Tidak adanya respon auditori batang otak pada telinga yang dilakukan pemeriksaan. dimana telah menjadi patokan standard. Pengaruh ini dapat terjadi saat melakukan pemeriksaan maupun saat menganalisa hasil pemeriksaan BERA.memanajang Latensi absolut dari gelombang V ± memanjang dibandingkan dengan data normatif y Latensi absolut dan latensi interval antar puncak gelombang I-III. MRI yang diperkuat dengan gadolinium. dapat digunakan untuk mengidentifikasi vestibular schwannoma yang sangat kecil (3-mm). Karena alasan tersebut.

98% untuk tumor ukuran sedang 1.1% untuk tumor yang lebih kecil dari 1 cm dan sensitivitas sebesar 100% untuk tumor yang berukuran lebih dari 3 cm. dan Devgan melaporkan sensitivitas sebesar 83.6-2 cm. dan Dinces melaporkan sensitivitas sebesar 89% untuk tumor yang lebih kecil dari 1 cm. 94% untuk tumor berukuran 1. Hasil pemeriksaan BERA memiliki nilai prediktif positif hanya sebesar 23%. sensitivitasnya adalah 93% untuk tumor yang berukuran lebih kecil dari 1 cm. Sensitivitas keseluruhannya adalah 90%. 89% untuk tumor berukuran 1-1. y Pada tahun 2001 dilaporkan oleh Schmidt. sensitivitas sebesar 58% untuk tumor berukuran kurang dari 1 cm. dan 100% untuk tumor yang berkuran lebih dari 2 cm. Sensitivitas keseluruhannya adalah sebesar 92%. Zappia. Newman. dan 100% untku tumor yang berukuran lebih dari 1. Spiegel.1-1. 86% untuk tumor berukuran 1. y Pada tahun 1997. y Pada tahun 1995. Wiet.5 cm.5 cm. Chandrasekhar.1-2 cm. dan Hoehmann. dan 100% untuk tumor yang berukuran lebih dari 2 cm. Helms. sedangkan nilai prediktif negatif adalah sebesar 96%. Tujuh dari 31 kasus-kasus positif memiliki lesi 8 . in dalam menemukan penyebab lesi untuk kehilangan pendengaran oral dan pendengaran asimetris (termasuk vestibular schwannoma.y Pada studi tahun 1994 yang dilakukan oleh Dornhoffer. Cueva menemukan bahwa BERA menghasilkan sensitivitas dan spesifisitas sebesar 71% dan 74%. y Pada sebuah studi prospective besar yang membandingkan BERA dengan MRI yang diperkuat dengan bahan kontras (patokan standard) pada 312 pasien dengan kehilangan pendengaran sensorineural asymmetris. y Pada studi tahun 1995. Sataloff. Gordon dan Cohen melaporkan sensitivitas sebagai berikut: 69% untuk tumor yang berukuran kurang dari 9 mm. Brackmann. dan Myers. sensitivitas keseluruhannya adalah sebesar 95%.5 cm. O'Connor. tetapi tidak terbatas pada itu saja).

tumor yang sangat kecil dapat dideteksi dengan lebih akurat. Aplikasi lain dari BERA terus dikembangkan. dikombinasikan dengan audiometri BERA tadisional. mungkin segera akan dapat memungkinkan untuk mendeteksi tumor yang sangat kecil dengan tingkat akurasi mendekati 100% dengan menggunakan audiometri BERA. Teknik baru ini.3 Aplikasi lainnya dari BERA. BERA juga telah digunakan untuk mengetahui prognostik pasien-pasien koma.3 9 .3 Meskipun pengukuran BERA tradisional BERA menurun sensitivitasnya karena faktor unkuran tumor.lain yang tidak dapat diidentifikasi oleh BERA sebagai penyebab dari kehilangan pendengaran. pasien-pasien tersebut memiliki latensi yang lebih panjang dari pada pasien-pasien kontrol tanpa tinnitus. Penelitian menemukan bahwa pasien-pasien dengan GCS (Glasgow coma scale) 3 dan yang memiliki hasil pemeriksaan BERA secara signifikan abnormal memiliki kemungkinan yang lebih besar terhadap kematian dari pada yang memiliki hasil pemeriksaan BERA normal. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan bahwa meskipun latensi gelombang BERA keseluruhan masih dalam batas normal pada pasien dengan tinnitus. studi yang sebelumnya dilakukan telah menunjukkan bahwa dengan menggunakan pita BERA baru yang mengukur amplitudo. Hal tersebut menunjukkan bahwa BERA dapat berguna dalam memonitor dan memahami tinnitus.

000 kelahiran. yaitu sekitar 1 . Screening pendengaran universal telah direkomendasikan karena sekitar 50% dari bayi yang kemudian teridentifikasi mengalami kehilangan pendengaran karena tidak dilakukan pengujian. Gangguan pendengaran bawaan merupakan salah satu kelainan bawaan yang angka kejadiannya cukup tinggi di antara kelainan bawaan lainnya. sedangkan lainnya dapat mengalami kehilangan pendengaran selama masa kanak-kanak awal. berhubung pengujian hanya dilakukan 10 . Oleh karena itu.SCREENING PENDENGARAN PADA BAYI YANG BARU LAHIR Teknologi Brainstem Evoke Response Audiometri (BERA) telah digunakan untuk menguji bayi yang baru lahir sejak 15 tahun yang lalu.anak yang pendengarannya normal.3 Gangguan pendengaran dapat terjadi karena faktor bawaan (sejak lahir) atau didapat (gangguan pendengaran yang terjadi setelah lahir). The Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) di Amerika dan American Academy of Pediatric merekomendasikan agar fungsi pendengaran dan ketulian pada setiap bayi sudah dapat dipastikan saat usia 3 bulan. diperkirakan 80 . Angka ini meningkat pada kelompok bayi yang mempunyai risiko.4 Berdasarakan sejarah. sebuah komite yang menangani masalah pendengaran pada bayi. Sedikitnya 1 dari setiap 1000 anak lahir tuli. sehingga diharapkan pada usia 3 tahun mereka mempunyai pola bicara yang tidak jauh berbeda dengan anak. Banyak lainnya yang lahir dengan derajat penurunan pendengaran yang tidak terlalu parah. dan bayi yang tuli mendapat penanganan yang sesuai mulai usia 6 bulan. hanya bayi yang memiliki 1 atau lebih kriteria resiko tinggi yang di uji.90% bayi dengan gangguan pendengaran menetap mempunyai kelainan dari sejak usia neonatal (0-28 hari).3 per 1.

kejang demam. Tes AABRs untuk melihat ada atau tidaknya gelombang V pada tingkat rangsangan yang ringan. tidak invasif.3 OAE dan BERA merupakan pemeriksaan yang efekitf. Sebelumnya. pada bayi-bayi yang baru lahir. kedua pemeriksaan ini akan memberikan informasi yang saling melengkapi tentang pendengaran. dengan intensitas rangsangan yang diberikan sebesar 35-40 dB nHL. tidak menyakitkan. sehingga dapat dilakukan di rumah sakit sebelum bayi pulang. dengan sensitivitas sebesar 100% dan spesifisitas sebesar 96-98%. AABR dapat digunakan dalam 11 . epilepsi. Program teresbut dapat dijalankan karena adanya kombinasi dari kemajuan teknologi dalam metode pengujian BERA dan oto acoustic emissions (OAE) dan ketersediaan peralatannya. dimana dapat memberikan evaluasi yang akurat dan dengan biaya yang efektif. setiap telinga dapat dievaluasi secara terpisah.3 bulan bila bayi mempunyai faktor risiko untuk gangguan pendengaran. mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi serta dapat dilakukan pada bayi berusia mulai 24 jam.3 Saat digunakan sebagai ambang untuk menyaring pendengaran normal. Hasil yang baik dari pemeriksaan tersebut harus diulang pada usia 1 . keluar cairan dari telinga. Tidak dibutuhkan interpretasi oleh operator. rumah sakit di Amerika Serikat telah mengimplikasikan program screening pendengaran pada bayi yang baru lahir. BERA yang dirangsang oleh suara kllik sangat berhubungan dengan sensitivitas pendengaran dalam kisaran frekuensi dari 1000-4000 Hz. Algo-1 Plus) sebagai alat screening yang efektif dalam mengevaluasi pendengaran pada bayi yang baru lahir. Dan selama itu juga orang tua harus mencatat setiap gangguan kesehatan yang mungkin menyebabkan ketulian seperti campak. pilek yang sering berulang serta penggunaan obat-obatan. Bila dilakukan secara bersama.pada kelompok yang beresiko tinggi saja.4 Beberapa uji coba klinis telah menunjukkan pengujian automated auditory brainstem response (AABR) (misalnya. gondongan (parotitis). trauma kepala.

osteopetrosis. displasia bronchopulmonal. seperti neurofibromatosis.3 The 2000 Joint Committee on Infant Hearing telah merekomendasikan bahwa bayi yang memiliki paling kurang 1 dari indikator resiko berikut ini untuk terjadinya kehilangan pendengaran progresif atau yang onset tertunda yang meskipun telah melewati screening pendengaran. dan/atau kelambatan berkembang y Riwayat keluarga adanya kehilangan pendengaran permanen pada masa kanak-kanak y Adanya Stigmata atau penemuan lainnya yang berkaitan dengan sindom yang dikenal meliputi kehilangan pendengaran konduktif atau sensorineural atau disfungsi tuba eustachius y Infeksi post natal yang berkaitan dengan kehilangan pendengaran sensorineural. rubella. sebaiknya mendapat monitor audiologik setiap 6 bulan sampai usia 3 tahun: y Adanya kekhawatiran keluarga atau pihak yang merawat mengenai pendengaran. dan anatomi craniofacial (Lieu dan Champion baru-baru ini telah mengkonfirmasi hasil-hasil ini. herpes. hipertensi pulmonal persisten pada bayi yang berubungan dengan ventilasi mekanik. bahasa. berbicara. syphilis. khususnya hyperbilirubinemia pada kadar serum yang membutuhkan transfusi penggantian. dan Usher syndrome 12 .kamar perawatan/bangsal dan selama terapi oksigen tanpa gangguan dari suara lingkungan. dan toxoplasmosis y Indikator neonatal. infeksi cytomegalovirus. termasuk meningitis bakterial y Infeksi dalam uterus seperti cytomegalovirus.) y Sindroma yang berkaitan dengan kehilangan pendengaran progresif. kondisi-kondisi yang membutuhkan penggunaan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO).

sering digunakan secara intraoperatif dengan electrocochleography. dapat memberikan identifikasi awal dari perubahan pada status neurofisiologi dari sistem saraf pusat. bayi-bayi yang baru lahir tersebut dapat memiliki hasil screening BERA yang abnormal walaupun pendengaran perifer normal. seperti Friedreich ataxia dan Charcot-Marie-Tooth syndrome Trauma kepala Otitis media dengan efusi.5 ABRs dapat digunakan untuk mendeteksi neuropati auditori atau kelainan y y y konduksi saraf pada bayi baru lahir. Informasi tersebut 13 .3 Bayi-bayi yang tidak lulus screening pendengaran belum tentu memiliki masalah pendengaran. seperti Hunter syndrome.y Kelainan neurodegenerative. maka dijadwalkan pemeriksaan follow up ambang diagnostik BERA untuk mengetahui status frekuensi pendengaran spesifik. Karena ABRs menggambarkan fungsi saraf pendengaran dan batang otak. Penilaian frekuensi pendengaran spesifik dapat diperoleh dengan menggunakan stimulasi nada cepat. seperti nada/suara keras. berulang atau persisten selama paling kurang 3 bulan Penggunaan obat-obatan ototoksik (aminoglycosida).3. Jika dicurigai adanya masalah pendengaran karena hasil pemeriksaan BERA abnormal.3 BERA DALAM PEMBEDAHAN Monitoring Intraoperative Brainstem Evoke Response Audiometri (BERA). atau neuropati motorik sensorik.

Latensi gelombang I-V memberikan informasi mengenai integritas CN VIII terhadap batang otak auditori.berguna untuk mencegah disfungsi neurotologik dan terjadinya kehilangan pendengaran postoperatif. keterlambatan waktu potensial terjadi antara kemunculan aktual dari perburukan dan saat muncul perubahan pada gelombang V. memberikan informasi yang berharga mengenai aliran darah ke cochlea. Dan juga. Untuk banyak pasien dengan tumor pada CN VIII atau pada daerah cerebellopontine.3 Evaluasi ABR Gelombang I. yang ditimbulkan oleh ujung cochlear CN VIII.3 Interval puncak gelombang I-II dan I-III dapat memberikan informasi distal dan proksimal selama pembedahan CN VIII. pendengaran dapat menurun atau hilang sama sekali postoperatif.3 Batasan Perubahan gelombang V yang terjadi intraoperatif belum tentu menunjukkan adanya perubahan dalam status pendengaran. Karena iskemia merupakan penyebab kehilangan pendengaran yang berkaitan dengan pembedahan.3 14 . gelombang I di monitor secara seksama untuk melihat adanya perubahan pada latensi atau penurunan amplitudo. Perubahan pada latensi dapat disebabkan oleh tidak sinkronnya neuron atau faktor-faktor luar lainnya. Pasien-pasien dengan kehilangan pendengaran sensorineural yang telah ada sebelumnya kemungkinan akan memiliki morfologi bentuk gelombang yang buruk dan tidak ada respon gelombang I. meskipun jika nervus auditori masih baik secara anatomis. Gelombang V dan latensi interval puncak gelombang I-V dimonitor untuk melihat adanya perubahan pada latensi dan amplitudo.

3 15 .Penggunaan BERA Intraoperatif Memonitor fungsi cochlear langsung pada kondisi pendengaran y y y y y Reseksi tumor daerah Cerebellopontine (pembedahan acoustic neuroma) Dekompresi Vascular pada neuralgia trigeminal Seksi nervus Vestibular untuk meredakan vertigo Eksplorasi nervus facialis untuk dekompresi nervus facialis Dekompresi Endolymphatic sac pada Mèniére disease.3 Memonitor integritas batang otak y y Reseksi tumor batang otak Kliping aneurisma batang otak atau reseksi malformasi arteri vena.

THT. Bhattacharyya. T. 2003 2. 2007 BERA.co. Dr. Balasubramanian M. Dr. Fakultas Kedokteran UI.drtbalu.qiandra. dikutip dari situs: http://hennykartika.S.medscape. 2008 4. Henny.html.DAFTAR PUSTAKA 1. D. 5. Apakah http://pr. Neil.com. Efiaty AS.in/bera. 2008 3.wordpress. Auditory Brainstem Response Audiometry. BERA. Jakarta. Wijana. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher Ed. dikutip dari situs: 16 .L.O. dikutip dari situs: 5. 2007 Bayiku Tuli?. http://www.id.com. Sp.net. dikutp dari situs: http://emedicine.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful