P. 1
wakaf

wakaf

|Views: 557|Likes:
Published by Gilang S Jatnika

More info:

Published by: Gilang S Jatnika on May 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2012

pdf

text

original

One Stop Wakaf Service Friday, 22 October 2010 09:52 Oleh : Veldy V.

Armita "Kami serahkan tanah ini untuk dikelola Tabung Wakaf Indonesia dengan pengelolaan untuk kemaslahatan ummat dan jika untuk kepentingan tersebut tanah ini perlu dijual dan akan lebih manfaat, kami persilakan," sepenggal ikrar dan pesan dari wakif (orang yang berwakaf), menggetarkan hati kami sebagai nadzhir (pengelola wakaf). Instrumen ekonomi ummat berupa wakaf sedikit demi sedikit mulai digemari oleh masyarakat luas. Masyarakat semakin sadar bahwa perlunya donasi reusable, donasi yang secara otomatis manfaatnya akan berulang, untuk ketahanan dan kebangkitan ekonomi ummat di dunia sekaligus mendapatkan pahala abadi di akhirat kelak. Saat ini Tabung Wakaf Indonesia menerima dan mengelola berbagai jenis wakaf, antara lain : 1. Wakaf tunai, berupa uang yang akan diasetkan dalam usaha produktif 2. Wakaf natura, berupa barang bergerak (laptop, mobil, motor, dll) maupun tidak bergerak (tanah, bangunan). Wakaf natura ini akan dikelola untuk diproduktifkan. 3. Wakaf surat berharga, berupa wakaf uang (uang sebagai aset yang akan diinvestasikan), wakaf saham, dan wakaf obligasi. Kategorisasi ini kami buat untuk memudahkan para wakif menunaikan wakafnya. Harta apapun dapat diwakafkan, dan wakif tinggal memberikan arahan kemana manfaat wakafnya diperuntukkan, apakah untuk pendidikan, kesehatan, atau pemberdayaan sosial dan ekonomi. Saat ini dari pengelolaan 3 jenis wakaf di atas Tabung Wakaf Indonesia menginisiasi beberapa program : A. WAKAF NATURA KOMBINASI DENGAN WAKAF TUNAI 1. Depok Waqf Junction (DWJ) Merupakan bangunan wakaf dengan 2 lantai. Lantai 1 terdiri dari 3 toko yang disewakan dan lantai 2 dipergunakan untuk program perpustakaan dan rumah baca (Rumah Cahaya). Hasil penyewaan toko dari lantai 1 menjadi masukkan untuk pembiayaan kegiatan Rumah Cahaya. 2. Countrywood Waqf Junction (CWJ) Terletak di kawasan Ciputat, area ini masih dalam proses studi kelayakan untuk dikembangkan secara produktif. Salah satu alternatif yang sedang dikaji adalah mendirikan lapangan futsal dan pusat jajanan. Manfaat sewa dari aset produktif ini akan disalurkan untuk pembiayaan operasional SMART Ekselensia Indonesia, sekolah gratis yang dikelola Lembaga Pengembangan Insani-Dompet Dhuafa Republika. 3. Zamrud Waqf Foodcourt (ZAWAF), terletak di Bekasi, kawasan ini telah dibangun area foodcourt yang disewakan kepada para pedagang kecil. Manfaat sewa dari aset produktif ini disalurkan melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC), layanan kesehatan gratis yang dikelola oleh Dompet Dhufa Republika.

4. Waqf Town House (WTH), masih dalam proses analisis, direncanakan dibangun di area Sawangan, Depok. Program ini masih membutuhkan dukungan dalam merealisasikannya 5. Kebayoran Waqf Area (KWA), masih dalam proses analisis, sebidang tanah di sekitar Jl. Kelapa Gading, Kelurahan Gandaria Selatan, dekat dengan jalan Radio Dalam. Program ini masih membutuhkan dukungan dalam merealisasikannya. 6. Wakaf Wardah dan Jannah (WWJ), gedung wakaf di Islamic Village, Karawaci, disewakan untuk Institut Kemandirian, sebuah program pelatihan ketrampilan dan wirausaha. Sebagian area gedung juga disewakan untuk kegiatan rapat , pelatihan, dan seminar. 7. Wakaf perkebunan karet di Lahat, Sumatera Selatan dan Wakaf perkebunan coklat di Banggai, Sulawesi Tengah. Surplus dari wakaf ini diserahkan kepada nadzhir lokal untuk disalurkan manfaatnya kepada masyarakat setempat. 8. Beberapa ruko yang sudah disewakan dan tanah yang masih dalam proses analisis. B. WAKAF SURAT BERHARGA 1. Wakaf Saham, saat ini TWI mengelola beberapa portofolio saham perusahaan besar/Multi National Company. 2. Tabung Wakaf Fund (TWF) dan Tabung Wakaf Ritel (TWR). TWI bekerja sama mengelola wakaf uang dengan dengan BMT Ventura, sebuah usaha ventura yang memiliki akses kepada ratusan Baitul Maal Wa Tamwil seluruh Indonesia. Wakif dapat berwakaf uang dengan nominal berapa pun melalui seluruh BMT yang menjadi anggota BMT Center, untuk kemudian dikelola sebagai investasi melalui BMT-BMT dengan pengelolaan oleh BMT Ventura. C. LAIN-LAIN (WAKAF NATURA DAN WAKAF TUNAI UNTUK PROGRAM SOSIAL) 1. SMART Ekselensia Indonesia di Parung, Jawa Barat. Bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Republika mendirikan sekolah gratis bagi siswa dari keluarga dhuafa dari seluruh Indonesia. 2. Layanan Kesehatan Cuma-Cuma di Ciputat. Bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Republika mendirikan klinik layanan kesehatan gratis bagi masyarakat tak mampu. 3. Wisma Mualaf di Bintaro. Sebuah tempat persinggahan bagi para mualaf untuk mendapatkan penguatan nilai agama dan mental sebelum akhirnya bersosialisasi di masyarakat luas. 4. Rumah Sehat Terpadu (RST) di Zona Madina, Parung. Bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Republika mendirikan sebuah layanan kesehatan komprehensif bagi masyarakat tak mampu, saat ini masih dalam proses pembangunan dan masih sangat membutuhkan dukungan dari masyarakat luas/para wakif. 5. Beberapa masjid yang dibangun dan direnovasi. Semoga dengan keragaman pilihan pengelolaan wakaf ini aset-aset wakaf yang terhimpun menjadi semakin produktif hingga mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk ummat. Last Updated on Tuesday, 16 November 2010 02:45

Wakaf Uang, Saham dan Manfaat
Diposting oleh : Administrator Kategori: Wakaf Tunai Spektakuler - Dibaca: 228 kali

Wakaf secara bahasa, adalah al-habs (menahan). Kata al-waqf adalah bentuk masdar dari ungkapan waqfu al-syai¶i, yang berarti menahan sesuatu. Terdapat perbedaan pendapat tentang pengertian wakaf. Wakaf menurut para Fuqaha, yaitu : Menurut Hanafiyyah; Menahan benda yang statusnya tetap milik si wakif dan yang disedekahkan adalah manfaatnya saja. Malikiyyah ; Menjadikan manfaat benda yang dimiliki, baik yang berupa sewa atau hasilnya untuk diserahkan kepada orang yang berhak dengan bentuk penyerahan berjangka waktu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh yang mewakafkan. Syafi¶iyyah: Menahan harta yang dapat diambil manfaatnya dengan menjaga utuhnya barang. Hanabilah : Menahan kebebasan pemilik harta dalam membelanjakan hartanya yang bermanfaat dengan tetap utuhnya harta itu sedangkan manfaatnya dimanfaatkan pada suatu kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping definisi diatas terdapat pula perbedaan terhadap mauquf bih, antara benda bergerak dan benda tidak bergerak sebagai mauquf bih, yang mana dalam hal ini Hanafiyyah tidak memperbolehkan mewakafkan benda bergerak karena mauquf bih yang tidak bergerak dipastikan µain-nya memiliki sifat kekal dan memungkinkan dapat dimanfaatkan terus menerus, namun Madzhab Hanafi memberikan pengecualian pada benda yang bergerak dengan syarat bahwa benda bergerak itu mengikuti benda tidak bergerak dan ini ada dua macam; barang tersebut mempunyai hubungan dengan sifat diam di tempat dan tetap, dan yang kedua benda bergerak yang digunakan untuk membantu benda tidak bergerak. Sedangkan menurut Ulama Syafiiyyah bahwa benda yang diwakafkan haruslah barang yang kekal manfaatnya, baik berupa barang tak bergerak, barang bergerak maupun barang kongsi.

Pedebatan boleh atau tidaknya mewakafkan aset bergerak semakin berkembang ketika aset bergerak tersebut berupa uang bukan berupa barang. Kajian mengenai wakaf uang atau biasa disebut dengan wakaf tunai ´cash waqf´ diperdalam dan dimodifikasi produknya agar sesuai dengan perkembangan laju sistem ekonomi dan keuangan modern, ditambah lagi dengan adanya wakaf yang berupa surat-surat berharga seperti halnya saham, obligasi maupun SUN. Dalam sejarah Islam, wakaf telah memerankan peran yang sangat penting dalam pengembangan kegiatan-kegiatan sosial, ekonomi dan kebudayaan masyarakat. Institusi wakaf telah menjalankan sebagian dari tugas-tugas pemerintah atau kementerian-kementerian khusus, seperti Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Sosial. Kondisi tersebut tentu sangat didukung oleh adanya paham dan orientasi wakaf yang memiliki pandangan sosial yang jauh ke depan. Wakaf dipahami secara dinamis, bahwa ajarannya tidak diposisikan sebagai ¶barang mati¶ yang terbebas dari reintrepetasi atau ijtihad, namun wakaf terus dikembangkan menjadi social capital yang terbuka bagi inovasi dan kreatifitas untuk dikembangkan demi kemajuan umat. Rumusan Masalah Menyikapi wakaf yang memunculkan permasalahan baru sesuai dengan deskripsi di atas, maka akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya; 1. Bagaimana status wakaf uang, serta bagaimana penjelasan para Ulama¶? 2. Bagaimana korelasi wakaf uang dengan wakaf saham? 3. Bagaimana aplikasi dan interpretasi dari wakaf manfaat?

1. Kajian Teoritik Secara teoritik tidak ada dalil baik dari Al Qur¶an maupun hadits yang menjelaskan secara rinci mengenai perwakafan khususnya mengenai wakaf manfaat/uang bahkan saham, namun dalam hal ini konsensus Ulama menjadikan landasan bagi perwakafan diantaranya, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. QS. Ali Imran : 92 Dari Ibn Umar, ia berkata: Umar mengatakan kepada Nabi SAW saya mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin menyedekahkannya. Nabi SAW mengatkan kepada Umar: Tahanlah (jangan jual, hibahkan dan wariskan) asalnya (modal pokok) dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah´ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari dua dalil di atas para ulama¶ telah menetapkan hukum bagi masalah perwakafan, dalam hal ini akan dikutip beberapa pendapat ulama yang menjadi sentral bahasan dalam makalah ini; AlBakri mengemukakan pendapat Syafi¶I tentang wakaf uang, yaitu tidak boleh. Karena dirham dan dinar akan lenyap ketika dibayarkan sehingga tidak ada wujudnya. Sedangkan inti ajaran wakaf adalah pada kesinambungan hasil dari modal dasar yang tetap lagi kekal, tidak habis sekali pakai. Oleh karena itu ada persyaratan agar benda yang akan diwakafkan itu adalah benda yang tahan lama, tidak habis dipakai. Kedua, uang seperti dinar dan dirham diciptakan sebagai alat tukar yang memudahkan orang melakukan transaksi jual beli, bukan untuk ditarik manfaatnya dengan mempersewakan zatnya. Begitu juga pendapat Kamal Ibn Hammam bahwa tidak boleh mewakafkan harta yang bermanfaa tetapi musnah dalam hal ini seperti emas, perak, makanan, dan minuman, berdasarkan pendapat fuqoha secara umum. Dan yang dimaksud dengan emas dan perak adalah (mata uang) dinar dan dirham. Jumhur ulama (Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah) selain Syafiyah, membolehkan wakaf uang dan menjawab alasan Hanafiyah yang menyatakan bahwa dalam wakaf uang telah hilang makna wakaf yaitu ³menahan asalnya´ yang memiliki makna berkesinambungan sebagaimana hadits Umar dan Abi Tholhah. Dijawab oleh jumhur ulama bahwa wakaf uang tidak menghilangkan makna menahan dengan ungkapan mereka bahwa dalam setiap objek yang ditahan tentu ada batasannya, jika objek yang ditahan itu memiliki kelestarian yang berkesinambungan maka itulah batasannya, seperti tanah misalnya, tapi jika yang ditahan itu objek yang dalam kurun waktu tertentu akan punah, maka saat kepunahan itulah batasannya. Dan ulama Malikiyah menyatakan bolehnya wakaf uang sebagaimana yang diungkap oleh Ibn Rusd Al Jadd dalam Muqoddimahnya. Imam Bukhari di dalam Shahih-nya meriwayatkan sebuah riwayat dari Az-Zuhri mengenai orang yang memberikan seribu Dinar untuk fi sabilillah yang ia berikan kepada anak laki-lakinya yang menjadi pedagang yang berdagang dengan modal uang tersebut serta menjadikan keuntungannya sebagai sedekah untuk orang-orang miskin dan kaum kerabat (Ibnu Hajar Al-'Asqallani¸ Fath AlBari 'ala Shahih Al-Bukharib.) Benda apa saja sepanjang ia tidak dapat musnah setelah diambil manfaatnya, dapat diwakafkan. Uangpun termasuk benda yang dapat diwakafkan (wakaf tunai), sepanjang uang tersebut dimanfaatkan sesuai dengan tujuan akad wakaf dan tidak habis atau musnah. Jadi uang dapat saja diwakafkan dengan mekanisme membelanjakan uang tersebut pada benda-benda yang memiliki sifat tidak musnah. Namun, dalam kasus wakaf tunai yang bersifat temporer (temporary wakaf), uang diposisikan juga sebagai harta yang dapat diwakafkan. Dan harta yang diwakafkan bukanlah perpindahan kepemilikan fisik atau materi harta tapi hanya sekedar mewakafkan manfaat kegunaan uang tersebut, yang secara fisik atau materi kepemilikannya tidak berubah. Ta¶rif yang cenderung diambil oleh mazhab Maliki, Hambali dan Syafi¶i bahwa definisi harta tidak terbatas pada materi tapi juga pada manfaatnya, bahkan unsur manfaat inilah yang menjadi elemen penting dalam mendefinisikan harta. Sehingga konsekuensi pemahaman ini adalah munculnya perbedaan dalam aplikasi-aplikasi syariah yang melibatkan harta, misalnya dalam mekanisme wakaf yang kita bahas saat ini. Abu Hanifah bahkan secara spesifik berpendapat bahwa wakaf kemudian tidak harus ada perpindahan materi harta tapi cukup pemanfaatan kegunaan harta saja oleh pihak yang membutuhkan.

Begitupun masalah terkait saham yang merupakan selembar kertas yang merupakan bentuk sahnya kepemilikan terhadap suatu perusahaan dalam hal ini saham bisa dianalogikan seperti uang yang mana sama-sama memiliki nilai atau harga. Dalil syara¶ tentang dibolehkannya wakaf saham ini bisa diklasifikasikan sebagai benda bergerak, sama saja halnya dengan uang. 2. Kerangka Konseptual Dari kajian teoritik di atas telah dijelaskan bahwa wakaf memiliki dimensi yang lebih dari sekedar ibadah kepada Allah, dan saat ini lebih ditekankan dengan dihadapkannya pada isu-isu kontemporer yang memerlukan reinterpretasi wakaf, diantaranya isu ekonomi sosial yang bersentuhan langsung pada subyek wakaf. Untuk memecahkan hal tersebut perlu dibagun kerangka konseptual agar dimensi yang tertuju tepat sasaran. 3. Analisis a. Wakaf Uang Para ulama berijtihad mengklasifikasi dan merinci jenis-jenis benda mana yang dapat diwakafkan dan yang tidak dapat diwakafkan. Imam Muhyiddin al-Nawawi mensyaratkan agar benda wakaf itu mempunyai daya tahan agar manfaat dan keuntungan dari benda wakaf itu tetap terjaga. Menurutnya, benda wakaf itu tidak dapat berupa sesuatu yang dapat dimakan dan tidak pula dalam bentuk minyak wangi. Ia membolehkan mewakafkan binatang ternak dan bendabenda bergerak lainnya. Abu Ishaq al-Syirazi, dalam rangka menafsirkan potongan Hadits mengatakan bolehnya mewakafkan setiap sesuatu yang dapat diambil manfaatnya secara terus menerus. Senada dengan Muhyiddin al-Nawawi dan Abu Ishaq al-Syirazi, Sayyid Sabiq, seorang ulama kontemporer, mengatakan bahwa tidak sah mewakafkan benda yang berpotensi rusak dan musnah atau menjadi hilang jika dimanfaatkan semisal uang, parfum, makanan, minuman dan juga tidak sah mewakafkan benda-benda yang cepat rusak seperti yang terbuat dari parfum dan wewangian. Maka, nyatalah klasifikasi dan rincian jenis benda-benda mana yang dapat diwakafkan dan yang tidak dapat diwakafkan di atas terkait erat dengan prinsip langgengnya manfaat (dawam alintifa¶). Dengan kemajuan teknologi barangkali benda yang dulu dianggap tidak ada manfaatnya akan menjadi sebaliknya dan itu berarti dapat diwakafkan. Dan bisa jadi, dengan kemajuan teknologi, benda yang dulu tidak tahan lama akan menjadi tahan lama dan itu berarti dapat diwakafkan. Barangkali dulu orang menganggap bahwa uang menjadi tidak ada lagi jika ditukarkan (dibelikan) karena uang dipandang sebagai alat tukar belaka. Berbeda halnya dengan kondisi kini dimana uang dapat dijadikan komoditi dagang yang menguntungkan, uang dapat didepositokan yang setiap jangka waktu tertentu dapat diambil keuntungannya, dan uang dapat diinvestasikan dalam bentuk saham-saham perusahaan yang dalam periode tertentu dapat menerima keuntungan. Persoalan ini dapat dikembalikan jawabannya pada prinsip langgengnya manfaat (dawam al-intifa¶) di atas.[3] b. Wakaf Saham

Saham adalah bentuk paling murni dan sederhana dari kepemilikan perusahaan. Saham adalah selembar kertas yang menyatakan kepemilikan dari sebagian perusahaaan. Saham merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan, selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemiliknya (berapapun porsinya/jumlahnya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut. Selembar saham mempunyai nilai atau harga. Investasi finansial dalam ketentuan syariah Islam harus berkaitan langsung dengan sektor riel atau dalam istilah investasi disebut mempunyai underlying transaction. Investasi ini dapat dilakukan dalam bentuk penerbitan surat berharga yaitu saham dan obligasi. Saham merupakan salah satu sekuritas diantara sekuritas-sekuritas lainnya yang mempunyai tingkat risiko yang tinggi. Risiko tinggi tercermin dari ketidakpastian return yang akan diterima oleh investor di masa datang. Hal ini sejalan dengan definisi investasi menurut Sharpe bahwa investasi merupakan komitmen dana dengan jumlah yang pasti untuk mendapatkan return yang tidak pasti di masa depan. Di atas telah dijelaskan hal ihwal pelarangan dan kebolehan mewakafkan uang, dalam hal ini terkait masalah mewakafkan saham bisa dianalogikan dengan wakaf uang karena pada dasarnya dalam sistem perekonomian masa lalu tidak keterangan yang menunjukkan wakaf saham. Perlu dicatat pula bahwa Prinsip dasar transaksi menurut syariah dalam investasi keuangan yaitu: (1) Transaksi dilakukan atas harta yang memberikan nilai manfaat dan menghindari setiap transaksi yang dzalim. Setiap transaksi yang memberikan manfaat akan dilakukan bagi hasil; (2) Setiap transaksi harus transparan tidak menimbulkan kerugian atau unsur penipuan disalah satu pihak, baik secara sengaja maupun tidak sengaja (gharar). Diharamkan praktek insider trading, cornering, netting dan short selling; (3) Risiko yang mungkin timbul harus dikelola sehingga tidak menimbulkan risiko yang besar atau melebihi kemampuan menanggung risiko (maysir); (4) Dalam Islam setiap transaksi yang mengharapkan hasil harus bersedia menanggung risiko; (5) Manajemen yang diterapkan adalah manajemen Islami yang tidak mengandung unsur spekulatif dan menghormati hak asasi manusia serta menjaga lestarinya lingkungan hidup. Saham sebagai barang yang bergerak juga dipandang mampu menstimulus hasilíhasil yang dapat didedikasikan untuk kepentingan umat kebanyakan. Bahkan, dengan modal yang besar, saham malah justru akan memberi konstribusi yang cukup besar di banding jenis komoditas perdagangan yang lain Hukum mewakafkan uang tunai merupakan permasalah yang diperdebatkan di kalangan ulama fikih. Hal ini disebabkan karena cara yang lazim dipakai oleh masyarakat dalam mengembangkan harta wakaf, seperti tanah, gedung, rumah dan semacamnya. Adapun jenis instrumen pasar modal yang jelas diharamkan syariah adalah sebagai berikut: (1) Preffered Stock (saham instimewa). Saham jenis ini diharamkan oleh ketentuan syariah karena terdapat dua karakteristik utama, yaitu: a. Adanya keuntungan tetap (pre-determinant revenue), hal ini menurut kalangan ulama dikategorikan sebagai riba; b. Pemilik saham preferen mendapatkan hak istimewa terutama pada saat likuidasi. Hal ini mengandung unsur ketidakadilan. 2. Forward Contract. Forward contract diharamkan karena segala bentuk jual beli utang (dayn bi dayn) tidak sesuai dengan syariah. Bentuk kontrak

forward ini dilarang dalam Islam karena dianggap jual beli utang/piutang terdapat unsur-unsur ribawi, sedangkan terjadinya transaksi jual beli dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo. 3. Option. Option merupakan hak, yaitu untuk membeli dan menjual barang yang tidak disertai dengan underlying asset atau real asset. Transaksi option ini bersifat exist dan dinilai oleh kalangan ulama bahwa kontrak option ini termasuk future mengandung unsur gharar (penipuan/spekulasi) dan maysir (judi). Kecuali jika transaksi option atau hak tersebut merupakan representasi dari nilai intangible asset tersebut, maka dianggap sebagai nilai real asset dan dapat dibenarkan menurut syariah. Misalnya, pentium intel yang merupakan intangible asset karena merupakan Hak Atas Karya Intelektual (HAKI) yang melekat pada produk komputer yang memanfaatkan teknologi tersebut, maka transaksi ini halal jika jual beli dilakukan juga pada aktiva berwujudnya. Jadi instrumen investasi syariah tersebut bebas dari jenis riba apapun, baik riba nashiah yaitu pinjam meminjam uang maupun riba fadl, yaitu riba dalam perdagangan, gharar (penipuan) dan maysir (judi). c. Wakaf Manfaat Pada dekade akhir-akhir ini hak harta dan manfaat semakin meluas dan itu merupakan salah satu bentuk dari berbagai macam harta yang bisa diwakafkan. Mungkin hal inilah yang disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang memberikan isyarat ±walaupun jauhtentang adanya hak adabi. Untuk memahami manfaat kontekstual wakaf dapat dilihat dari sistem pengelolaannya, apakah secara tradisional atau modern. Kalau pengelolaan tradisional hanya menempatkan kekekalan benda berada pada posisi teratas dengan mengesampingkan sistem pengelolaan. Sedangkan pengelolaan modern lebih mengedepankan pada aspek kemanfaatan benda melalui pengelolaan produktif dengan tetap menjaga eksistensi bendanya tetap ada dan tidak berkurang. Substansi perintah Nabi adalah menekankan pentingnya menahan eksistensi benda wakaf dengan cara mengelola secara profesional, sementara hasilnya untuk kepentingan kebajikan umum. Pemahaman yang paling mudah untuk dicerna dari maksud Nabi adalah bahwa substansi ajaran wakaf itu tidak semata-mata terletak pada pemeliharaan bendanya (wakaf), tapi yang jauh lebih penting adalah nilai manfaat dari benda tersebut. Kalau konsisten memegangi maksud hadits Nabi di atas, maka harusnya tidak ada benda-benda wakaf yang terbengkelai. Problemnya adalah karena ada sebagian ulama yang bersiteguh memahami wakaf lebih kepada keutuhan benda-benda wakaf, meskipun telah rusak atau tidak memberi manfaat sedikitpun untuk masyarakat banyak. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa benda-benda wakaf tidak boleh ³diutak-atik´ tanpa sentuhan pengelolaan dan pengembangan yang lebih bermanfaat harus kita mulai tinggalkan. Hal ini kita lakukan agar dapat menciptakan sebuah kondisi dimana segala sesuatu akan bisa memberikan nilai manfaat (ekonomi) apabila dikelola secara baik. Sejarah berdirinya masjid Nabawi di masa Rasulullah yang dulunya hanya terbuat dari pelepah kurma dan sekarang sudah dirombak sedemikian rupa hingga menjadi salah satu masjid termegah dan termewah di

dunia dengan segala fasilitas modern lainnya merupakan gambaran betapa pentingnya pengembangan potensi (kekayaan) umat Islam untuk kemanfaatan yang lebih besar. Terdapat tiga makna kontekstual bahwa benda wakaf akan mendapatkan nilai pahala yang terus mengalir karena kemanfaatannya, yaitu: 1. Benda tersebut dapat dimanfaatkan (digunakan) oleh orang banyak. Ketika seseorang mewakafkan tanah atau bangunan untuk mendirikan sekolah misalnya, maka masyarakat umum akan bisa memetik kemanfaatan yang begitu besar terhadap kehadiran sekolah itu. Terlebih jika biaya sekolah itu sangat murah atau gratis setelah disubsidi dari dana pengelolaan wakaf, maka masyarakat sekitar sangat terbantu dalam menyekolahkan anak-anaknya. Itu baru satu contoh kecil, masih banyak contoh-contoh lain dari benda wakaf yang memberikan manfaat lebih banyak lagi terhadap kepentingan kebajikan. Dengan kehadiran benda wakaf yang memiliki nilai guna sangat tinggi itu, maka paradigma baru wakaf harusnya didasari oleh aspek tersebut, sehingga jika ada benda wakaf yang hanya memberikan kemanfaatan kecil atau tidak sama sekali, sudah selayaknya benda tersebut diberdayakan secara produktif dalam rangka meningkatkan fungsi yang berdimensi ibadah dan memajukan kesejahteraan umum sebagaimana maksud wakifnya. 2. Manfaat immaterial benda wakaf melebihi manfaat materialnya. Atau bisa disederhanakan dengan bahwa nilai ekstrinsik benda wakaf melebihi nilai intrinsiknya. Karena titik tekan wakaf itu sendiri sejatinya lebih mementingkan fungsi untuk orang lain dari pada benda itu sendiri. Sehingga dengan demikian, orang yang mewakafkan tanah untuk mendirikan bangunan fasilitas ibadah, misalnya, harusnya bisa pula dimaknai secara lebih luas tentang ibadah sendiri itu apa, sehingga tidak hanya terfokus pada pendirian bangunan masjid semata. Sebagai contoh, tanah wakaf yang berada dalam lokasi yang sangat strategis tidak cukup hanya di bangun sebuah masjid atau musholla yang fungsinya hanya untuk sholat, tapi harusnya bisa dibangun dengan mempertimbangkan letak tanah tersebut. Paradigmanya, masjid tetap didirikan di atas tanah tersebut bersamaan dengan tempat-tempat usaha yang bisa menguntungkan dengan desain yang memungkinkan sesuai Syari¶ah. Sehingga dengan demikian, nilai tanah tersebut lebih kecil dibandingkan dengan nilai immaterialnya, yaitu bisa untuk ibadah (ritual formal seperti shalat), pusat koordinasi dakwah, pusat perniagaan Islami, pusat santuan kaum lemah, pusat koordinasi pemberdayaan ekonomi lemah dan sebagainya. 3. Harta benda wakaf itu bukan berupa benda yang dapat menimbulkan bahaya (madharat) bagi orang lain (mauquf µalaih) dan juga wakif sendiri. Jadi tidak dinamakan wakaf jika ada seseorang yang menyerahkan sebagian hartanya untuk dibuat tempat perjudian, misalnya. Atau bisa jadi bukan tempat yang haram, namun bisa juga yang mengarah kepada kemaksiatan, seperti menyumbangkan tanah untuk dibangun tempat bilyard. Secara substansi hukumnya tempat bilyard tidak haram selama untuk sarana olah raga atau hiburan yang benar. Namun, kecenderungan saat ini tempat-tempat bilyard cenderung digunakan untuk arena perjudian (taruhan) atau tempat bercampurnya kaum laki-laki kepada kaum perempuan non muhrim. Oleh karena itu, benda wakaf harus yang memberikan manfaat bukan mendatangkan bahaya. Paradigma yang melekat pada masyarakat mengenai wakaf perlu direinterpretasi karena pada dasarnya hukum Islam mengalami perkembangan sejalan dengan kondisi sosial-ekonomi

ataupun politik pada waktu tertentu, Para ulama¶ terdahulu telah memberikan klasifikasi terhadap persyaratan pada mauquf bih bahwa harus dawam al intifa¶. Di samping itu terdapat persyaratan pula bahwa mengenai benda mauquf bih haruslah benda tak bergerak, namun dari penjelasan di atas berdasarkan kerangka teoritik bahwa kita akan mendapatkan adanya kongklusi mengenai wakaf yang lebih menitikberatkan pada nilai guna benda yang diwakafkan, karena tidak terdapat dalil yang secara eksplisit menjelaskan mengenai wakaf uang ataupun saham. Dengan pengelolaan dan menejemen perwakafan yang lebih modern akan didapatkan suatu perbedaan mendasar wakaf sebagai hal yang tidak dapat di¶utak-atik¶ atau wakaf sesuai dengan tujuan Rosulullah yakni memberikan manfaat pada masyarakat yang membutuhkan, hari ini telah berkembang berbagai macam sistem perwakafan uang, disamping itu telah dijelaskan pula dengan kebangkitan sistem ekonomi yang berasaskan Syariah maka dari sini ditepis keraguan mengenai perwakafan yang berupa surat berharga atau dikenal dengan saham. Sejalan dengan keterangan di atas berkembang pula perwakafan mengenai manfaat suatu benda yang mungkin saja tidak tergolong pada benda tidak bergerak ataupun benda bergerak, dan yang akhir-akhir ini telah ada, wakaf hak milik ma¶nawi seperti hak cipta mengarang, hak nama atau merk dalam perdagangan, Wakaf pelayanan, seperti pelayanan pengangkutan mushhaf ke masjid, Dan jasa Pendidikan ataupun Pelatihan-pelatihan tertentu, yang mana semua itu telah menekankan pada kemanfaatan sesuai tujuan syariah. Maka, sudah saatnya pemahaman manfaat kontekstual wakaf yang lebih menekankan pentingnya aspek pengembangan manfaat menjadi semacam ³gizi´ baru untuk memberdayakan benda-benda wakaf secara produktif .

DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pemberdayaan Wakaf Departemen Agama RI, 2006, Wakaf Tunai di Indonesia, Jakarta. 2007, Fiqh Wakaf, Jakarta. Muhammad Abid Abdullah al Kabisi, 2004, Hukum Wakaf, IIMAaN Press, Jakarta.

Latar Belakang Wakaf
Pengertian Wakaf ialah salah satu ibadah menyerahkan harta yang kita miliki untuk kegunaan umum masyarakat dengan niat sebagai ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Contoh Amalan Wakaf ialah apabila Baginda Rasulullah SAW membina Masjid Quba¶ yang dibina di atas tanah yang diwakafkannya ketika penghijrahan Baginda dan para sahabat ke Madinah. Begitu juga dengan pembinaan Masjid Nabawi di Madinah yang juga dibina dengan sumber wakaf. Dalil pensyariatan wakaf di dalam menggalakkan umat Islam menyumbangkan hartanya untuk manfaat umat Islam terdapat pada Firman Allah SWT pada ayat 96 Surah Ali Imran:

Maksudnya : ³Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai (hakikat) kebajikan dan kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu dermakan sebahagian dari apa yang kamu sayangi. Dan sesuatu apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.´ Firman Allah SWT lagi :

Maksudnya : ³Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.´ (Surah Al Baqarah : Ayat 261) Rasulullah SAW sendiri juga menggalakkan umatnya memperbanyakkan sedekah seperti hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

Maksudnya : " Apabila mati anak Adam, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, SEDEKAH JARIAH, ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh yang mendoakan kepadanya." (Hadis Riwayat Muslim) Wakaf juga dikenali sebagai Sedekah Jariah, para Ahli Fiqh dan ulama¶ berpendapat amalan wakaf adalah satu-satunya ibadah yang berbentuk sedekah jariah yang menjanjikan ganjaran pahala yang berkekalan dan mengalir kepada pewakaf hingga ke hari akhirat selagi harta tersebut kekal dan dimanfaatkan. Malahan amalan wakaf ini juga bukan hanya sebagai satu ibadah sahaja, malahan merupakan satu sistem yang berpotensi untuk menyumbang kepada kesejahteraan masyarakat Islam melalui konsep pengumpulan harta bersama. APA ITU SAHAM WAKAF?

Saham Wakaf Selangor adalah satu cara berwakaf melalui wang tunai. Iaitu dengan cara membeli unit-unit saham yang ditawarkan oleh Majlis Agama Islam Selangor (MAIS) sebagai pemegang amanah dan mewakafkan unit-unit saham tersebut selama-lamanya kerana Allah SWT dengan tujuan demi kepentingan dan kebajikan umat Islam. Penyertaan adalah terbuka kepada semua umat Islam dan syarikat-syarikat perniagaan yang dimiliki oleh orang Islam tanpa had maksimum. Konsep saham wakaf adalah sama dengan konsep perlaksanaan wakaf kaki, wakaf hasta, dan wakaf lantai yang dipraktikkan di sesetengah negeri di Malaysia ini. PANDANGAN ULAMA¶ TERHADAP WAKAF MELALUI WANG TUNAI Ulama¶ mempunyai beberapa pendapat mengenai amalan wakaf melalui wang tunai. Secara umumnya di dalam ibadah wakaf, Ulama Fiqh telah bersepakat bahawa harta wakaf itu hendaklah sesuatu yang bernilai, jelas dan diketahui tentang harta tersebut serta dimiliki sepenuhnya oleh pemiliknya sama ada harta itu berbentuk harta alih (manqul) atau pun harta tidak alih (I¶qar). Di dalam Kitab Al-Wasoya Wal-Awqof yang ditulis oleh Dr. Muhamad Kamaluddin Imam, menyatakan bahawa Ulama¶ Fiqh dengan jelas telah membahagikan harta wakaf kepada dua bentuk iaitu : 1. Harta alih (manqul) iaitu harta yang boleh dipindah alih seperti baju, Al-Quran, wang dan lainlain 2. Harta tidak alih (I¶qar) iaitu harta yang kekal pada asalnya seperti rumah, tanah atau bangunan Walaupun terdapat perselisihan pendapat di atas penerimaan harta alih untuk dijadikan sebagai harta wakaf akan tetapi Jumhur Ulama¶ iaitu Mazhab Syafie, Hanafi, dan Hambali mengharuskan wakaf manqul berasaskan kepada kenyataan bahawa semua harta yang harus dijual dan boleh mendatangkan manfaat dan kekal zatnya, maka boleh diwakafkan. Di dalam membahaskan perkara ini, Mazhab Hanafi mempunyai pandangan yang berlainan dan tidak membenarkan wakaf melalui harta alih kerana ianya berlawanan dengan pengertian wakaf itu sendiri iaitu menahan harta untuk diambil manfaatnya. Kesimpulannya, Mazhab Hanafi berpendapat, harta yang boleh diwakafkan adalah harta yang berbentuk kekal contohnya seperti tanah. Walau bagaimanapun, Mazhab Hanafi mengharuskan wakaf dengan harta alih pada tiga keadaan berikut : 1. Jika keadaan harta alih itu kedudukannya terletak pada harta tidak alih seperti pokok yang terdapat di atas tanah yang diwakafkan 2. Jika terdapat nas di dalam Al-Quran dan hadith yang menjelaskan bentuk harta alih yang boleh diwakafkan. Contohnya, mewakafkan kuda dan senjata perang, kerana terdapat beberapa hadith yang menunjukkan bahawa Khalid Ibnu Walid telah mewakafkan kuda dan senjatanya

di medan perang. Begitu juga hadith yang menyatakan Talhah bin Ubaidillah telah mewakafkan perisainya untuk tentera-tentera Islam dalam peperangan 3. Sekiranya harta alih tersebut telah menjadi kebiasaan di suatu tempat dan negara untuk dijadikan harta wakaf seperti wakaf hasil-hasil penulisan, Al-Quran dan wang tunai. Tambahan pula u¶ruf atau kebiasaan amalan masyarakat adalah menjadi sumber hukum yang masyhur pada Mazhab Hanafi Mazhab Maliki pula mengharuskan sepenuhnya wakaf harta alih tanpa di syaratkan kekal fizikalnya. Mazhab Maliki berpendapat bahawa harus wakaf dengan menggunakan wang tunai seperti yang telah disebut di dalam Kitab Muqaddimah Ibnu Ar-Rushd Al-Ka¶bi kerana bagi Mazhab Maliki, tujuan asal wakaf itu adalah untuk mendapat manfaat daripada harta tersebut. Dalam konteks kita di Malaysia, penggunaan wang tunai dalam ibadah wakaf ini masih baru untuk diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bekalan dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sejajar dengan hadith Qudsi iaitu :

Maksudnya : ³Sesungguhnya hambaku dapat menghampirikan diri kepadaKu dengan melakukan ibadahibadah sunat.´ Ibadah wakaf yang dilakukan oleh orang-orang tua dan generasi terdahulu lebih dilakukan dengan cara individu (fardi). Ibadah ini dilakukan atas kemampuan yang ada pada individu tersebut untuk berwakaf sama ada mewakafkan tanah, rumah, atau aset-aset yang lain. Tetapi senario hari ini, dengan adanya perlaksanaan Skim Saham Wakaf Selangor maka ianya akan lebih mudah dan rasional untuk dipraktikkan oleh masyarakat yang rata-rata kurang memiliki harta yang berbentuk aset tetap. Skim yang dilaksanakan ini menjurus kepada wakaf am yang dilakukan secara berkelompok (jama¶ie) oleh pewakaf-pewakaf yang menyertainya melalui sumbangan wang tunai. Berdasarkan kepada kupasan-kupasan yang diberikan maka dapatlah dirumuskan bahawa Jumhur Ulama¶ mengharuskan wakaf harta alih termasuklah wang tunai yang ketika ini menjadi amalan di beberapa negeri di Malaysia.

FATWA NEGERI SELANGOR i. Hasil daripada wang Skim Saham Wakaf Selangor hendaklah dibelanjakan bagi tujuan pembelian aset kekal. Manakala wang manfaat wakaf Selangor boleh dibelanjakan untuk memberi bantuan dan perbelanjaan lain yang difikirkan sesuai oleh Majlis Agama Islam Selangor.

(Jawatankuasa Fatwa Negeri Selangor yang bersidang pada 5 September 2006 ) FATWA KEBANGSAAN WAKAF WANG TUNAI Berwakaf dalam bentuk wang tunai adalah dibolehkan di dalam Islam. ( Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia kali Ke-77 yang bersidang pada 10-12 April 2007 di Primula Beach Resort, Kuala Terengganu )

ENAKMEN WAKAF NEGERI SELANGOR Merujuk kepada buku Enakmen Wakaf Negeri Selangor No. 7 Tahun 1999 Seksyen 17 (1) menyatakan : "Majlis boleh menawarkan saham wakaf terhadap apa-apa harta yang diperolehinya atau yang akan diperolehinya kepada mana-mana orang untuk saham-saham itu dibeli dan kemudiannya diwakafkan kepada Majlis." Seksyen 17 (2) pula menyatakan : "Apa-apa harta yang dibangunkan daripada apa-apa hasil di bawah subseksyen (1), hendaklah menjadi wakaf am."

WAKAF PRODUKTIF

Islam, sebagai agama moral, tertantang tidak saja untuk menghancurkan ketimpangan struktur sosial yang terjadi saat ini, melainkan juga berkehendak untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Karena di sini, Islam tidak hanya sebagai agama yang sarat dengan nilai elitis normatif yang sama sekali tidak memiliki kepedulian sosial, tetapi Islam secara integral merupakan bangunan moral yang berpretensi untuk turut berpartisipasi dalam berbagai problem sosial kemasyarakatan. Lebih dari itu, Islam juga merupakan agama keadilan. Pelabelan sebagai agama keadilan lebih karena kandungannya terhadap cita cita keadilan sosial yang mengejawantah dalam doktrin doktrinnya. Karena itu, dalam konteks masyarakat Indonesia, pengabaian atau ketidakseriusan penanganan terhadap nasib dan masa depan puluhan juta kaum dhuafa yang tersebar di seluruh tanah air

merupakan sikap yang bahkan berlawanan dengan semangat dan komitmen Islam terhadap solidaritas kemanusiaan dan keadilan sosial. Dalam pada itu, wakaf merupakan pranata keagamaan dalam Islam yang memiliki keterkaitan langsung secara fungsional dengan upaya pemecahan masalah masalah sosial dan kemanusiaan, seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi umat. Demikian ini karena wakaf sesungguhnya memiliki elan besar dalam mewujudkan tata sosial yang berkeadilan. Dominasi Wakaf Konsumtif Sebagaimana diketahui, wakaf telah mengakar dan menjadi tradisi umat Islam di seantero dunia umumnya, Indonesia khususnya. Dalam konteks negara Indonesia, wakaf telah dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam sejak agama Islam masuk ke Indonesia. Sebagai salah satu lembaga Islam, wakaf telah menjadi salah satu penunjang perkembangan masyarakat Islam. Ini karena sebagian besar rumah ibadah, perguruan Islam dan lembaga lembaga keagamaan Islam lainnya dibangun di atas tanah wakaf. Islam, selama ini mengenal lembaga wakaf yang merupakan sumber aset yang memberikan pemanfa'atan sepanjang masa. Namun pengumpulan, pengelolaan dan pandayagunaan harta wakaf secara produktif di tanah air kita ini masih sedikit dan ketinggalan dibanding negara lain. Begitu pun, studi perwakafan di tanah air kita masih terfokus kepada segi hukum fiqh an sich, dan belum menyentuh pada manajemen perwakafan. Padahal, semestinya wakaf dapat dikelola secara produktif dan memberikan hasil kepada masyarakat, sehingga dengan demikian harta wakaf benar benar menjadi sumber dana dari masyarakat dan ditujukan untuk masyarakat. Dalam kondisi ekonomi yang masih memprihatinkan ini, sesungguhnya wakaf di samping tak dapat dipungkiri peran dan fungsi instrumen instrumen ekonomi Islam lainnya seperti zakat, infaq, shadaqah dan lain lainnya sangat berperan penting dalam upaya mewujudkan perekonomian nasional yang sehat. Dalam jangkauan yang lebih luas, kehadiran wakaf dapat pula dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di bidang ekonomi, terutama sekali jika wakaf dikelola dengan manajemen yang rapi, teratur dan profesional disertai kualitas para pengelolanya. Namun demikian, fungsi wakaf secara khusus sebagai pemberdaya ekonomi masyarakat masih sangat minim, jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah disosialisasikan ke khalayak umum. Selama ini, distribusi aset wakaf di Indonesia cenderung kurang mengarah pada pemberdayaan ekonomi umat dan hanya berpretensi untuk kepentingan kegiatan kegiatan ibadah mahdlah. Ini dapat dimaklumi, karena memang pada umumnya ada keterbatasan umat Islam akan pemah aman wakaf, baik mengenai harta yang diwakafkan, peruntukan (distribusi) wakaf maupun nadzir wakaf. Pada umumnnya, umat Islam di Indonesia memahami bahwa peruntukan wakaf hanya terbatas untuk kepentingan peribadatan dan hal hal yang lazim dilaksanakan di Indonesia seperti tercermin dalam pembentukan masjid, mushalla, sekolah, makam dan lain lain, sebagaimana telah sebutkan diatas.

Peruntukan yang lain yang lebih menjamin produktivitas dan kesejahteraan umat nampaknya masih belum diterima sebagai yang inheren dalam wakaf. Model distribusi wakaf, dalam deskripsi di atas, juga kelihatan sangat konsumtif, dalam pengertian tidak dapat dikembangkan untuk mencapai hasil hasil yang lebih baik, terutama untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan umat Islam. Pun, bahwa orientasi wakaf yang konsumtif seperti ini, jelas jelas selain tidak mendewasakan umat, juga cenderung membuat mereka malas dan menjauhi usaha usaha yang produktif. Wajar kalau karena alasan ini pula, umat kemudian tidak kreatif menemukan solusi solusi persoalan kemiskinan struktural yang dijangkiti oleh hampir mayoritas umat Islam. Umat dalam jangka pendek, akan tidak dapat memenuhi basic need (kebutuhan mendasar) dalam kehidupan, terutama bagi mereka yang miskin. Dan dalam jangka panjang, akan membuat umat tidak akan mampu bersaing dengan ekonomi global yang kian tak terkendalikan Karena itu, sejenis penafsiran lain mengenai wakaf penting dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan yang mendesak umat Islam. Bukan hal yang salah jika wakaf produktif, sebagai salah satu bentuk penafsiran yang relatif baru mengenai wakaf, sangat diharapkan mampu menginjeksi ekonomi umat (Islam) yang telah lama terpuruk. Wakaf Produktif Sebagai Solusi Pemunculan wakaf produktif, karenanya menjadi pilihan utama, ketika umat sedang dalam keterpurukan kemiskinan akut. Wakaf produktif, berarti bahwa wakaf yang ada memperoleh prioritas utama ditujukan pada upaya yang lebih menghasilkan. Tentu dengan ukuran ukuran paradigma yang berbeda dengan wakaf konsumtif, memberi harapan harapan baru bagi sebagian besar komunitas umat Islam. Wakaf ini tidak berkehendak untuk mengarahkan wakaf pada ibadah mahdlah an sich, sebagaimana yang diarahkan wakaf konsumtif. Wakaf produktif memiliki dua visi sekaligus; menghancurkan struktur struktur sosial yang timpang dan menyediakan lahan subur untuk mensejahterakan umat Islam. Visi ini secara langsung digapai ketika totalitas diabdikan untuk bentuk bentuk wakaf produktif yang selanjutnya diteruskan dengan langkah langkah taktis yang mengarah pada capaiantersebut. Langkah taktis, sebagai derivasi dari filosofi disyari atkannya wakaf produktif dimana lebih berupa teknis teknis pelaksanaan wakaf yang produktif. Jenis wakaf produktif ini tentu saja juga sangat berdimensikan sosial. Ia semata mata hanya mengabdikan diri pada kemaslahatan umat Islam. Sehingga, yang tampak dari hal ini, adalah wakaf yang pro kemanusiaan, bukan wakaf yang hanya berdimensikan ketuhanan. Makanya juga, yang tampak dalam wakaf jenis ini adalah wakaf lebih menyapa realitas umat Islam yang berujud kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan.

Wakaf produktif, dengan demikian, merupakan pengembangan dari penafsiran penafsiran lama tentang wakaf. Wakaf produktif seperti dikemukakan di atas, dapat diselenggarakan paling kurang, dengan dua cara, sebagaimana keterangan berikut: 1. Wakaf Uang. Wakaf uang, dalam bentuknya, dipandang sebagai salah satu solusi yang dapat membuat wakaf menjadi lebih produktif. Karena uang di sini tidak lagi dijadikan sebagai alat tukar menukar saja, lebih dari itu; ia merupakan komoditas yang siap memproduksi dalam hal pengembangan yang lain. Oleh sebab itu, sama dengan jenis komoditas yang lain, wakaf uang juga dipandang dapat memunculkan sesuatu hasil yang lebih banyak. Uang, sebagai nilai harga sebuah komoditas, tidak lagi dipandang semata mata sebagai alat tukar, melainkan juga komoditas yang siap dijadikan alat produksi. Ini dapat diwujudkan dengan misalnya, memberlakukan sertifikat sertifikat wakaf uang yang siap disebarkan ke masyarakat. Model ini memberikan keuntungan bahwa wakif dapat secara fleksibel mentasharufkan hartanya dalam bentuk wakaf. Demikian ini karena wakif tidak perlu memerlukan jumlah uang yang besar untuk selanjutnya dibelikan barang produktif. Juga, wakaf seperti ini dapat diberikan dalam satuan satuan yang lebih kecil misalnya, Rp. 5000. Wakaf uang juga memudahkan mobilisasi uang di masyarakat melalui sertifikat tersebut karena beberapa hal. Pertama, lingkup sasaran pemberi wakaf bisa menjadi luas dibanding dengan wakaf biasa. Kedua, dengan sertifikat tersebut, dapat dibuat berbagai macam pecahan yang disesuaikan dengan segmen muslim yang dituju yang dimungkinkan memiliki kesadaran beramal tinggi. Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan dalam wakaf uang, maka umat akan dengan mudah memberikan konstribusi mereka dalam wakaf tanpa harus menunggu pengumpulan kapital dalam jumlah yang sangat besar. Karena, meskipun sangat kecil jumlahnya, wakaf dalam bentuk uang ini masih saja dapat menerimanya, disesuaikan dengan tingkat kesejahteraan wakif. Wakaf uang, sebagaimana di atas, dapat mengambil bentuk seperti "wakaf tunai", yang telah diujicobakan di Bangladesh. Wakaf tunai (cash wakf) istilah yang dipopulerkan oleh Profesor A. Mannan, pemikir ekonomi Islam asal Bangladesh alam konsepnya merupakan bagian menjadikan wakaf sebagai sumber sumber dana tunai. Wakaf uang sudah sejak lama diselenggarakan, yakni di masa Dinasti Uthmaniyah. Salah satu kelebihan wakaf uang adalah pemberian peluang unik bagi penciptaan investasi di bidang ekonomi, termasuk bidang keagamaan, pendidikan dan pelayanan sosial. Sehingga, wakaf dalam bentuk ini lebih meluas sifatnya, dari pada sekedar benda bergerak yang lainnya, sebagaimana yang telah diselenggarakan dalam wakaf konsumtif.

Salah satu tindakan riil operasional wakaf tunai adalah sertifikat wakaf tunai yang dipelopori oleh M.A Manan dengan Social Investment Bank. Ltd (SIBL) nya. Operasionalisasi Sertifikat Wakaf Tunai sebagaimana yang diterapkan oleh SIBL adalah sebagai berikut: 1. Wakaf Tunai harus diterima sebagai sumbangan sesuai dengan shari'ah. Bank harus mengelola Wakaf tersebut atas nama Wakif. 2. Wakaf dilakukan dengan tanpa batas waktu dan rekeningnya harus terbuka dengan nama yang ditentukan oleh Wakif. 3. Wakif mempunyai kebebasan memilih tujuan tujuan yang diinginkan asal tidak bertentangan dengan shari'ah. 4. Wakaf Tunai selalu menerima pendapatan dengan tingkat (rate) tertinggi yang ditawarkan oleh bank dari waktu kewaktu. 5. Kuantitas wakaf tetap utuh dan hanya keuntungannya saja yang akan dibelanjakan untuk tujuan tujuan yang telah ditentukan oleh wakif. Bagian keuntungan yang tidak dibelanjakan akan secara otomatis ditambahkan pada wakaf dan profil yang diperoleh akan bertambah terus. 6. Wakif dapat meminta bank mempergunakan keseluruan profil untuk tujuan tujuan yang telah ia tentukan. 7. Wakif dapat memberikan wakaf tunai untuk sekali saja, atau ia dapat juga menyatakan akan memberikan sejumlah wakaf dengan cara melakukan deposit pertama kalinya dengan jumlah tertentu. Deposit deposit berikutnya juga dapat dilakukan dengan jumlah setoran pertama atau kelipatannya. 8. Wakif dapat juga meminta kepada bank untuk merealisasikan wakaf tunai pada jumlah tertentu untuk dipindahkan dari rekening wakif pada SIBL 9. Atas setiap setoran wakaf tunai harus diberikan tanda terima dan setelah jumlah wakaf tersebut mencapai jumlah yang ditentukan, barulah diterbitkan sertifikat 10.Prinsip dan dasar dasar peraturan shari'ah wakaf tunai dapat ditinjau kaembali dan dapat berubah. Beberapa poin yang terdapat dalam Wakaf Tunai di atas, tak lebih dari eksperimentasi Prof. A. Mannan. Makanya, ketika beberapa poin dibuat, A. Mannan masih membuka kemungkinan perubahan menuju yang lebih baik. Karenanya, tradisi ekspe rimentasi A. Mannan bersifat tidak absolut dan, oleh karenanya, harus dipandang sebagai teladan yang cukup baik dalam komunitas umat. 2. Wakaf Saham

Termasuk juga bagian yang disebut dalam wakaf produktif adalah wakaf saham. Saham sebagai barang yang bergerak juga dipandang mampu menstimulus hasil hasil yang dapat didedikasikan untuk kepentingan umat kebanyakan. Bahkan, dengan modal yang besar, saham malah justru akan memberi konstribusi yang cukup besar di banding jenis komoditas perdagangan yang lain. Dalam sebuah perusahaan, seorang penguasa dapat mengkhususkan perun tukan sebagian sahamnya sebagai harta wakaf yang hasilnya (deviden) untuk senya tanya digunakan untuk kemaslahatan umat. Wakaf saham boleh juga diambil dari keuntungan seluruh saham yang dimiliki pemiliknya. Semua itu tergantung pada keinginan dan kehendak pemilik saham. Sebab, yang penting bukanlah nominal besar kecilnya hasil saham, melainkan lebih pada komitmen keberpihakan para wakif terhadap kesejah teraan umat Islam. Walhasil, wakaf saham, hanya hendak mewakafkan sebagian hasil saham yang dimiliki wakif kepada umat. Pangsa pasar yang dibidik oleh wakaf saham dengan begitu hanya terbatas para pemegang saham yang kebanyakan kelas menengah ke atas. Demikian ini sangat tepat, mengingat kebanyakan umat Islam, terutama mereka yang secara ekonomi telah mapan, terpaksa dibuat bingung untuk mendayagunakan hartanya di jalan Allah Swt. Dengan adanya wakaf saham, maka sedikit banyak harta mereka dapat digunakan untuk kesejahteraan ekonomi umat yang ada di bawah garis kemiskinan. Wakaf Produktif Antara Harapan dan Hambatan Besar harapan, dengan dua model wakaf produktif di atas dalam bentuk wakaf uang, wakaf saham atau juga wakaf yang lain disebut sebut sebagai yang lebih mampu mensejahterakan umat. Dengan cara ini pula, gapaian gapaian yang senantiasa jauh dari asa dalam cita keadilan sosial sedikit akan mendapatkan momentumnya. Kendati tidak secara total dan langsung menjadi (being), modul wakaf produktif dipandang salah satu terobosan baru untuk mencita citakan kesejahteraan sosial umat. Namun persoalannya justru muncul dari massa akar rumput, umat yang dalam konteks Indonesia, telah membentuk karakter sosial yang dalam batas batas tertentu malah menghambat eksistensi wakaf produktif. Karakter sosial, sebagaimana dimaksud, misalnya bangunan berpikir madhab. Karena itu, pertanyaannya kemudian adalah, apakah umat dapat begitu saja menerima jenis wakaf produktif tersebut? Bukankah mindset umat Islam Indonesia khususnya sedemikian rupa telah terbentuk, utamanya karena mereka telah memiliki logika hukum Islam yang bersandarkan mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali? Tidak salah kiranya, kalau kemudian jenis wakaf produktif baik yang dalam bentuk wakaf uang, wakaf saham dan wakaf sementara harus dihubungkan dengan landasan hukum yang terdapat dalam madzhab empat. Pilihan madzhab empat lebih karena mayoritas umat Islam di Indonesia adalah penganut fanatik paham ahlussunah wal al jama ah yang dilandasi oleh pemikiran fiqh empat madhab. Lebih jauh, karena empat madhab ini dipandang mu tabar dalam arti lebih dipandang sistematis dalam cara berpikirnya, banyak referensi yang mengokohkannya dan juga dipandang lebih adaptif dalam setting masyarakat Indonesia.

Sumber: www.fai.uhamka.ac.id

from:wacanaislam.blogspot.com

Wakaf Saham Friday, 19 November 2010 04:03

Termasuk dalam kategori wakaf produktif adalah wakaf saham. Saham sebagai barang yang bergerak yang dipandang mampu menstimulus hasilíhasil yang dapat digunakan untuk kepentingan umat. Bahkan, dengan modal yang besar, saham mampu memberikan konstribusi yang cukup besar di banding jenis komoditas perdagangan yang lain. Dalam sebuah perusahaan, seorang penguasa dapat mengkhususkan peruntukan sebagian sahamnya sebagai harta wakaf yang hasiln/devidennya dialirkan untuk kemaslahatan umat. Wakaf saham boleh juga diambil dari keuntungan seluruh saham yang dimiliki sang pemilik. Semua tergantung pada keinginan dan kehendak sang pemilik saham. Sebab, yang penting bukanlah nominal besaríkecilnya hasil saham, melainkan lebih pada komitmen keberpihakan para wakif terhadap kesejahteraan umat Islam. Wakaf saham telah dikelola oleh Tabung Wakaf Indonesia per Muharram 1427. TWI telah menerima sejumlah wakaf saham dari masyarakat. Salah satunya adalah wakaf dari wakif Mun Kusmanti senilai Rp 200 juta . Wakaf tersebut bersumber dari saham di 39 perusahaan. Wakaf lainnya adalah dari wakif Muhammad Fuadi senilai Rp 3 juta.
KEPUTUSAN FATWA KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Tentang WAKAF UANG Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia setelah Menimbang :

1. bahwa bagi mayoritas umat Islam Indonesia, pengertian wakaf yang umum diketahui, antara lain, adalah: yakni menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tesebut, disalurkan pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada, (al-Ramli. Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, [Beirut: Dar alFikr, 1984], juz V, h. 357; al-Khathib alSyarbaini. Mughni al-Muhtaj, [Beirut: Dar al-Fikr, t.th], juz II, h. 376); atau Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam dan Benda wakaf adalah segala benda, balk bergerak atau tidak bergerak, yang memiliki daya tahan yang tidak hanya sekali pakai dan bernilai menurut ajaran Islam (Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Buku III, Bab I, Pasal 215, (1) dan (4)); sehingga atas dasar pengertian tersebut, bagi mereka hukum wakaf uang (waqf al-nuqud, cash wakaf) adalah tidak sah; 2. bahwa wakaf uang memiliki fleksibilitas (keluwesan ) dan kemaslahatan besar yang tidak dimiliki oleh benda lain; 3. bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang hukum wakaf uang untuk dijadikan pedoman oleh masyarakat. Mengingat : 1. Firman Allah SWT : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaijakan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (QS. Ali Imron [3]:92). 2. Firman Allah SWT : Perumpamaan (nafkah yang dikeluar-kan oleh) orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir. seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. al-Baqarah [2].261-262). 3. Hadis Nabis s.a.w.: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r:a. bahwu Rasulullah s.a.w. bersabda, Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah (pahala) amal perbuatannya kecuali dari tiga hal, yaitu kecuali dari sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya (H.R. Muslim, alTirmidzi, alNasa i, dan Abu Daud). 4. Hadis Nabi s.a.w.: Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa Umar bin alKhaththab r. a. memperoleh tanah (kebun) di Khaibar; lalu ia datang kepada Nabi s.a.w untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut. Ia herkata, Wahai Rasulullah. Saya memperoleh tanah di Khaibar; yang belum pernah saya peroleh harta Yang lebih haik bagiku melebihi tanah tersebut; apa perintah Engkau (kepadaku) mengenainya? Nabi s. a. w menjawab: Jika mau, kamu tahan pokoknya dan kamu sedekahkan (hasil)-nya. Ibnu Umar berkata, Maka, Umar menyedekahkan tanah tersebut, (dengan men ysaratkan) bahwa tanah itu tidak dijual,

tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan. Ia menyedekahkan (hasil)-nya kepada fugara, kerabat, riqab (hamba sahaya, orang tertindas), sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa atas orang yang mengelolanya untuk memakan diri (hasil) tanah itu secara ma ruf (wajar) dan memberi makan (kepada orang lain) tanpa menjadikannya sebagai harta hak milik. Rawi berkata, Sava menceritakan hadis tersebut kepada Ibnu Sirin, lalu ia herkata ghaira muta tstsilin malan (tanpa menyimpannya sebagai harta hakmilik) . (H.R. al-Bukhari, Muslim, al-Tarmidzi, dan al Nasa i). 5. Hadis Nabi s.a.w.: Diriwayatkan dari Ibnu Umar r. a.; ia berkata, Umar r a. berkata kepada Nabi s. a. w., Saya mempunyai seratus saham (tanah, kebun) di Khaibst, belum pernah saya mendapatkan harta yang lebih saya kagumi melebihi tanah itu; saya bermaksud menyedekahkannya. Nabi s.a.w berkata Tahanlah pokoknya dan sedekahkan buahnya pada sabilillah. (H.R. al-Nasa i). 6. Jabirr.a. berkata : Tak ada seorang sahabat Rasul pun yang memiliki kemampuan kecuali berwakaf/. (lihat Wahbah alZuhaili, al-Fiqh al-Islami wu Adillatuhu, [Damsyiq: Dar al-Fikr, 1985], juz VIII, hi. 157; al-Khathib alSyarbaini, Mughni al-Muhtaj. [Beirut: Dar al-Fikr, t.th', jus II, h. 376). Memperhatikan : 1. Pendapat Imam al-Zuhri (w. 124H.) bahwa mewakafkan dinas hukumnya boleh, dengan cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal usaha kemudian keuntungannya disalurkan pada mauquf 'alaih (Abu Su'ud Muhammad. Risalah fi Jawazi Waqf al-Nuqud, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 1997], h. 20-2 1). 2. Mutaqaddimin dari ulaman mazhab Hanafi (lihat Wahbah al-Zuhaili, al Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, [Damsyiq: Dar al-Fikr, 1985], juz VIII, h. 162) membolehkan wakaf uang dinar dan dirham sebagai pengecualian, atas dasar Istihsan bi al- Urfi, berdasarkan atsar Abdullah bin Mas ud r.a: Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dalam pandangan Allah adalah baik, dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin maka dalam pandangan Allah pun buruk . 3. Pendapat sebagian ulama mazhab al-Syafi i: Abu Tsyar meriwayatkan dari Imam al-Syafi i tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham (uang) (alMawardi, al-Hawi al-Kabir, tahqiq Dr. Mahmud Mathraji, [Beirut: Dar al-Fikr,1994[, juz IX,m h. 379). 4. Pandangan dan pendapat rapat Komisi Fatwa MUI pada hari Sabtu, tanggal 23 Maret 2002,. antara lain tentang perlunya dilakukan peninjauan dan penyempurna-an (pengembangan) definisi wakaf yang telah umum diketahui, dengan memperhatikan maksud hadis, antara lain, riwayat dari Ibnu Umar (lihat konsideran mengingat [adillah] nomor 4 dan 3 di atas : 5. Pendapat rapat Komisi Fatwa MUI pada Sabtu, tanggal 11 Mei 2002 tentang rumusan definisi wakaf sebagai berikut: yakni menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya atau pokoknya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (menjual, memberikan, atau mewariskannya), untuk disalurkan (hasilnya) pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada, 6. Surat Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf Depag, (terakhir) nomor Dt.1.IIU5/BA.03.2/2772/2002, tanggal 26 April 2002. MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTANG WAKAF UANG Pertama : 1. Wakaf Uang (Cash Wakaf/Wagf al-Nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai. 2. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.

3. Wakafuang hukumnya jawaz (boleh) 4. Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar ia 5. Nilai pokok Wakaf Uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Ditetapkan : Jakarta, 28 Shafar 1423H 11 Mei 2002 M

Artikel ini ditulis pada 4 June 2010 at 08:05 oleh Choir Wakaf selama ini diketahui merupakan investasi sosial yang dapat dimanfaatkan untuk selamanya. Namun dalam UU No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan PP No 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU Wakaf, wakaf dapat pula dilakukan secara berjangka dalam waktu tertentu. Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Mustafa Edwin Nasution, mengatakan dalam peraturan yang ada wakaf berjangka memang dapat dilakukan. ´Umumnya saat ini wakaf yang ada tidak berjangka. Wakaf uang di bank syariah juga bisa dilakukan berjangka, tetapi untuk wakaf uang ini juga perlu ada penjaminan,´ katanya kepada Republika, Rabu (2/6). Ia menuturkan, penjaminan diperlukan untuk meminimalisir risiko jika suatu hal terjadi di bank syariah karena pokok wakaf tidak boleh berkurang. Dalam pasal 27 PP No 42 disebutkan pada saat jangka waktu wakaf berakhir, nazhir wajib mengembalikan jumlah pokok wakaf uang kepada wakif. Mustafa menyatakan, wakaf berjangka juga memungkinkan untuk penempatan dana haji calon jamaah yang telah mendapat porsi haji melalui bank syariah. Namun, tambah dia, di tahap awal ini untuk sementara wakaf uang hanya bisa ditanamkan di produk perbankan syariah yang harus ada jaminan. ´Saat ini BWI sedang membahas untuk penjaminan risiko, jaga-jaga jika bank kolaps. Salah satu yang kita mulai bahas adalah membuat sistem seperti pengumpulan dana wakaf produktif dan dari sejumlah hasil yang diperoleh dari wakaf produktif, dananya untuk penjaminan risiko,´ jelas Mustafa. sumber : republika.co.id Artikel ini ditulis pada 15 December 2010 at 01:57 oleh Choir

Negara-negara Islam hendaknya dapat membentuk lembaga wakaf di negara masing-masing sebagai bagian rencana mempromosikan ekonomi dan keuangan syariah. Deputi Presiden Malaysian Islamic Chamber of Commerce (MICC), Tan Sri Muhammad Ali Hashim, mengatakan lembaga wakaf lebih lekat dengan komunitas. ³Sekarang ini banyak orang di negara barat enggan dengan sistem konvensional terutama setelah krisis ekonomi 2008. Kelemahan sistem itu semakin jelas saat ini,´ kata Ali, dimuat laman Bernama, Selasa (14/12). Karena itu, ia mengusulkan negara-negara muslim membentuk lembaga wakaf demi kepentingan umat dan agar dapat memberi keuntungan lebih besar bagi masyarakat, termasuk non muslim. Ali menambahkan setelah negara-negara Islam memperkenalkan konsep korporasi waqaf, maka konsep tersebut pun dapat diperluas ke negara-negara lainnya. ³Mulai dengan negara-negara Islam pertama. Lakukan dengan benar. Buktikan dampak positif dengan laba menghasilkan dan dampaknya dirasakan oleh banyak orang,´ tukas Ali. Ia memaparkan dalam kondisi dunia yang didominasi oleh sistem Barat, negara-negara Islam harus bersama-sama beralih ke sistem ekonomi Islam yang lebih berfokus pada kepentingan umum daripada kepentingan orang tertentu saja. ³Tidak terlambat untuk menerapkannya. Sistem ekonomi Islam adalah jalan bagi kita untuk keluar dari masalah dalam sistem keuangan saat ini,´ ujar Ali. Jika konsep wakaf diterapkan dengan benar, tambahnya, hal itu akan menguntungkan masyarakat karena sistem keuangan Islam menawarkan potensi yang baik. Menurutnya sistem ekonomi konvensional yang dibawa negara Barat telah mendominasi sistem ekonomi seluruh dunia. Namun ketidakseimbangan sistem yang dibawanya telah memperluas kesenjangan antara kaya dan miskin. Sementara, di Indonesia sendiri wakaf cukup berkembang dengan digalakkannya wakaf uang dalam beberapa bulan terakhir. Dalam memajukan wakaf produktif, Badan Wakaf Indonesia (BWI) pun menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan syariah seperti bank syariah sebagai penerima setoran wakaf uang. Wakil Ketua BWI, Mustafa Edwin Nasution, mengatakan kerja sama BWI dengan bank syariah agar informasi tentang wakaf yang disampaikan lebih konkret. ³Salah satu bentuk kerja sama ini

adalah agar dana wakaf tersebut dapat digunakan untuk investasi produktif tertentu,´ kata Mustafa. Ia menambahkan penerimaan setoran wakaf melalui bank syariah diharapkan juga akan dapat turut mendorong industri perbankan syariah. Dengan penerimaan setoran wakaf melalui bank syariah, tambah dia, lembaga tersebut juga akan memperoleh dana untuk dikelola. ³Bank berfungsi sebagai lembaga intermediasi dan dengan ditaruhnya dana wakaf di bank syariah dan bisa diolah, maka akan turut memperbesar pangsa perbankan syariah,´ ujar Mustafa. Bank-bank syariah penerima setoran wakaf uang adalah Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, UUS Bank DKI, BNI Syariah, Bank Mega Syariah, UUS BTN, Bank Syariah Bukopin, dan UUS BPD Yogyakarta. Mustafa mengatakan, saat ini pihaknya lebih berusaha untuk menggalakkan wakaf di masyarakat dengan terus mendorong pengelolaan produktif di lahan wakaf. BWI pun berencana membuat kantor perwakilan di beberapa daerah untuk dapat menjangkau sosialisasi kepada masyarakat dan menggali potensi wakaf, seperti di Kalimantan Timur, Riau, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo. Sumber : Republika

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->