A.

Judul Penelitian Penggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara bagi Siswa SMPN 3 Tarakan Kalimantan Timur oleh Yones P B. Bidang Kajian Penelitian ini meliputi Bidang Kajian sebagai berikut: 1 Keterampilan Berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. 2 Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. C. Pendahuluan Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara. Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP, khususnya keterampilan berbicara, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu siswa terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun siswa dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9). Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. Keterampilan berbicara siswa SMP berada pada tingkat yang rendah; diksi (pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancu, alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif. Demikian juga keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan, Kalimantan Timur. Berdasarkan hasil observasi, hanya 20% (8 siswa) dari 40 siswa yang dinilai sudah terampil berbicara dalam situasi formal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam berbicara, di antaranya kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata. Paling tidak, ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam berbicara, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses komunikasi seharihari, banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah

tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Akibatnya. Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. 2000). rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas. Kalimantan Timur. monoton. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa. Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa klas VII-A SMPN 3 Tarakan. metode. Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut. melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang berbicara. atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Pembelajaran keterampilan berbicara pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa. yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Dari faktor internal. interaktif. membangun pola penalaran yang masuk akal. dalam berbicara. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia. Dengan cara demikian. Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa. dan menyenangkan. siswa diajak untuk berbicara dalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif. Ini artinya. pendekatan pembelajaran. keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif. dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara. yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). memilih kata (diksi) yang tepat. pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. bukan tidak mungkin keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP akan terus berada pada aras yang rendah. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif. Dalam konteks demikian. Melalui pendekatan pragmatik. siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur. guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku. dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. Dalam pendekatan pragmatik. efektif. guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. dan berbudaya. menarik. dan membosankan. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan berbicara yang inovatif dan kreatif. kreatif. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar. efektif. sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif.masyarakat. aktif. tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis. Akibatnya. dan menyenangkan. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Artinya. Pada umumnya. dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi. media. menyusun struktur kalimat yang efektif. kreatif. apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa berbicara sesuai konteks dan situasi tutur. . belum manunggal secara emosional dan afektif. kritis. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya. Dengan kata lain.

para siswa SMP akan mampu menumbuhkembangkan potensi intelektual. Yang tidak kalah penting. para siswa juga akan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku. D. mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Perumusan dan Pemecahan Masalah 1. Melalui prinsip-prinsip pemakaian bahasa semacam itu.1 untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP. dan dewasa. dan emosional yang ada dalam dirinya. pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan berbicara mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional. yaitu (1) penggunaan bahasa dengan memperhatikan aneka aspek situasi ujaran. . dan afektif. Tujuan Penelitian 3. kognitif. Selain itu. mereka juga akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif. khususnya bagi siswa SMP. 4. serta mampu memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. sehingga kelak mereka mampu berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara matang. serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. baik secara lisan maupun tulis. 1.1 Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP? 1.1 Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Pemecahan Masalah 3. untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMP setelah pendekatan pragmatik digunakan dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Manfaat Penelitian Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 4. (3) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kerja sama. (2) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesantunan.2 Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP? 2. sosial.Prinsip-prinsip pemakaian bahasa yang diterapkan dalam pendekatan pragmatik. Melalui penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara. emosional.Perumusan Masalah 1. arif. dan (4) penggunaan bahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu tindak komunikatif.

berbicara. 4. nasional. dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. seperti SD/MI. seperti SMA/SMK/MA. tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak-anak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. surat-surat pembaca. keterampilan berbahasa.. I. koran. 1988). Menulis laporan ilmiah atau laporan perjalanan Membuat surat lamaran pekerjaan Berbicara di depan umum atau berdiskusi Berpikir kritis dan kreatif dalam membaca Membuat karangan-karangan bebas untuk majalah. membaca. serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. sosial. khususnya tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs secara eksplisit dinyatakan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual. dan sebagainya.4. seperti 1.2 Keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan. diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia. Melalui harapan tersebut. regional. 5. baik secara lisan maupun tulis. 4. Kajian Teori dan Pustaka Untuk mengkaji penggunaan pendekatan pragmatik dalam meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP digunakan teori yang berkaitan dengan keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan teori yang berkaitan dengan pendekatan pragmatik sebagai inovasi tindakan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Kalimantan Timur. brosur-brosur. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. 1987 dan Sadtono. Itu berarti agar anak-anak mampu menyimak. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya. pengajaran bahasa Indonesia dikelola agar anak-anak memiliki keterampilanketerampilan praktis berbahasa Indonesia. dan budaya orang lain. atau yang lebih tinggi. dan menulis dengan baik menggunakan media bahasa Indonesia (Samsuri. dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Secara garis besar. E. Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia semacam itu diharapkan: . bahkan guru bahasa Indonesia di tingkat satuan pendidikan yang lebih rendah. yang menjadi subjek penelitian ini mengalami peningkatan yang signifikan. mengemukakan gagasan dan perasaan. dan global. Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Apa pun bahan atau aturan-aturan bahasa yang diberikan kepada anak-anak.3 Para guru bahasa Indonesia SMP diharapkan menggunakan pendekatan pragmatik dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara. 2. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan.1 Keterampilan berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Saat ini. budayanya. dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. 3. arah pembinaan bahasa Indonesia di sekolah dituangkan dalam tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan praktis semacam itu.

menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Sementara itu. dan (6) 6. 5. 4. 2. (3) membaca. dan minatnya. Keterampilan berbicara memiliki posisi dan kedudukan yang setara dengan aspek keterampilan mendengarkan. 3.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif 2. kebutuhan. serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana . dan(4) menulis. standar kompetensi dan kompetensi dasar keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs kelas VII semester berdasarkan Standar Isi dalam lampiran Peraturan Mendiknas Nomor 22/2006 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Keterampilan Berbicara Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII Semester I Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Berbicara 2. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa keterampilan berbicara merupakan salah salah satu aspek kemampuan berbahasa yang wajib dikembangkan di SMP. 3.kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek: (1) mendengarkan. Sedangkan. 5. ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakupi komponen. menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. 4. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar. 1. serta kematangan emosional dan sosial. Adapun tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan: 1. serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. 2. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah. baik secara lisan maupun tulis.1.2. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku. membaca. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia. memperhalus budi pekerti. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan berbicara dan menyampaikan pengumuman 2. menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan. menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. dan menulis. (2) berbicara.

Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengembangkan kompetensi dasar siswa kelas VII semester I dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku secara lisan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada. atau melahirkan pendapat (dengan perkataan. dan perasaan. berbicara dinyatakan sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasangagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. yaitu: (1) menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif. bercakap. Berbicara juga dipahami sebagai bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor fisik. keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk menceritakan. menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka. keterampilan berbicara bisa dipahami sebagai keterampilan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan. Fokus penelitian ini relevan dengan kegiatan pembelajaran aspek keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP yang diarahkan agar siswa memiliki kemampuan untuk: 1. psikis. gagasan. Sementara itu. menyatakan. sebagai bentuk atau wujudnya. dan linguistik secara ekstensif sehingga dapat digunakan sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan kontrol sosial. neurologis. dan (2) menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana. menyatakan. Merujuk pada pendapat tersebut. Tarigan (1983:15) dengan menitikberatkan pada kemampuan pembicara menyatakan bahwa berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atas kata-kata untuk mengekspresikan. 1996:144) dijelaskan bahwa berbicara adalah “berkata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kridalaksana. seta menyampaikan pikiran. Hal senada juga dikemukakan oleh Mulgrave (1954:3-4). Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat dikemukakan bahwa berbicara pada hakikatnya merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. 2. tulisan. dan penempatan jeda. gagasan. berbahasa. dinyatakan bahwa berbicara merupakan sistem tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan otototot dan jaringan otot manusia untuk mengomunikasikan ide-ide. serta kematangan emosional dan sosial. ed. .) atau berunding”. aktivitas berbicara dapat diekspresikan dengan bantuan mimik dan pantomimik pembicara. gagasan. dan perasaan. siswa kelas VII SMP diharapkan mampu mengembangkan dua kompetensi dasar. Selanjutnya. dan perasaan kepada orang lain. menyampaikan pikiran. 1. 2. dsb. tekanan. menyatakan. menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Dalam konteks demikian. Sedangkan. mengekspresikan. semantik. menyampaikan pikiran.Berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut dapat disimpulkan bahwa pada semester I. Dia menyatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa atau katakata untuk mengekspresikan pikiran.

berbicara. Matlin. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa dan konteks komunikasi. dan menyenangkan. Dengan kata lain. dan budaya orang lain. sementara itu tugas-tugas komunikasi yang kompleks adalah inti kemahirwacanaan tingkat tinggi (high literacy) (CED. secara jujur harus diakui bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP belum berlangsung seperti yang diharapkan. Apa yang kita amati dari hasil pembelajaran di sekolah dasar dan menengah di Indonesia adalah ketidakmampuan anak-anak menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sehari-hari (Direktorat SLTP. dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. pembelajaran Bahasa Indonesia terlepas dari konteks pengalaman dan lingkungan siswa. Selanjutnya. guru yang memberi pengalaman kepada siswa dengan pembelajaran terpadu melalui lingkungan mahir literasi (literate environment) ternyata dapat meningkatkan pembelajaran karena mereka (siswa) menggunakan proses-proses yang saling berkaitan antara membaca. Guru yang memberi siswa kesempatan mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks akan meningkatkan pembelajaran karena mereka (guru) memberi siswa pelatihan di dalam keterampilan yang terintegrasi dengan literasi tingkat tinggi. diperlukan upaya serius melalui penggunaan pendekatan yang inovatif dan kreatif agar pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP bisa berlangsung dalam suasana yang kondusif. menulis. 2001). Siswa hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta. 2002). siswa diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan intelektual. dan mendengarkan untuk komunikasi alamiah senyatanya (authentic commmunication) (Salinger. 1989:2). Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. menarik. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya. khususnya yang berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP/MTs. Pengembangan bahasa pada anak memerlukan kesempatan menggunakan bahasa. dan emosional. Akibatnya. Oleh karena itu. kita membutuhkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan yang banyak atau kaya bagi siswa untuk menggunakan bahasa di dalam cara-cara yang fungsional (Gay Su Pinnel dan Myna L. dinamis. sebagian hanya hafalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. sementara keterkaitan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah belum mereka kuasai. baik secara lisan maupun tulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia lebih cenderung bersifat teoretis dan kognitif daripada mengajak siswa untuk belajar berbahasa Indonesia dalam konteks dan situasi yang nyata. belajar melalui bahasa. berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. mengemukakan gagasan dan perasaan. 2001). Hal itu sejalan dengan pernyataan dalam lampiran Peraturan Mendiknas RI Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. terbuka. Namun.I. serta . sosial. interaktif. sosial. Apa yang anak-anak peroleh di sekolah. budayanya. Dalam konteks demikian. dan belajar tentang bahasa. sehingga mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar sesuai dengan konteks dan sitiuasinya. Dalam lampiran tersebut secara eksplisit ditegaskan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual. Melalui proses pembelajaran semacam itu. Komunikasi adalah inti pengajaran language arts. apa yang diperoleh siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak bisa diterapkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.2 Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SMP Menurut Halliday (1975) siswa itu belajar berbahasa.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu menciptakan suasana yang kondusif. dikembangkan melalui tiga cara. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemerolehan bahasa dapat dipilah menjadi dua golongan. Anak-anak dengan tingkat pembangkitan input yang tinggi (high input generating) memperoleh kemampuan berbahasanya dari bertanya. dan dalam variasi yang luas. yaitu: (1) anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan memproduksi ujaran dalam bahasa target secara lebih sering. dan 3. Lingkungan mikro adalah keadaan lingkungan kelas tempat anak-anak belajar. Secara umum ada korelasi antara perilaku aktif ini dengan perolehan belajar anak. kreatif. Anak-anak yang lambat belajar. (2) Anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan cara mengolah input dari ujaran orang lain. 2. inovatif. Proses pemerolehan bahasa mempersyaratkan adanya interaksi yang bermakna dalam bahasa sasaran. khususnya keterampilan berbicara.menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. 1986). Faktor eksternal masih dipilah menjadi dua macam lagi. Faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan bahasa seseorang. sedangkan faktor internal berkaitan dengan keadaan intern di dalam diri pelahar bahasa. Pendekatan pragmatik termasuk salah satu pendekatan komunikatif yang mulai digunakan dalam pengajaran bahasa sejak munculnya penolakan terhadap paham behaviorisme melalui metode Drill-nya. Hymes menciptakan istilah communicative competence. yaitu pengikutsertaan anak-anak dalam latihan komunikasi itu amat penting. 1. Hal itulah yang kemudian menjadi cacatan penting dalam penelitian pengajaran bahasa. dan (3) anak-anak mengembangkan bahasa keduanya melalui pelibatan diri dalam tugas atau interaksi yang menuntut adanya kemampuan kreatif berkomunikasi dengan orang lain (Ellis. Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa dirintis oleh Michael Halliday dan Dell Hymes. menarik. yaitu lingkungan bahasa makro dan lingkungan bahasa mikro. kealamiahan bahasa. dinamis. l982). yaitu kompetensi berbahasa yang tidak hanya menuntut ketepatan gramatikal. terbuka. berarti ia juga pasif dalam berlatih berbahasa nyata atau pasif dalam berkomunikasi menggunakan bahasa. Lingkungan makro terdiri atas: 1. ketersediaan model atau contoh yang bisa ditiru. yaitu bagaimana guru bisa menciptakan kelas agar anak-anak bisa belajar keterampilan berbahasa. yaitu faktor eksternal dan faktor internal (Chaika. hasil penelitian dalam bidang . interaktif. peranan anak-anak dalam berkomunikasi. menjawab. tetapi juga ketepatan dalam konteks sosial (Zahorik dalam Kurikulum 2004: Naskah Akademik Mata pelajaran Bahasa Indonesia 2004:4). Dari berbagai penelitian tentang pengajaran bahasa disimpulkan bahwa keterampilan berbahasa anak. Inti dari temuan itu adalah bahwa keaktifan anak-anak di kelas dalam pembelajaran bahasa perlu dilakukan melalui aktivitas berlatih berujar secara nyata. Penelitian-penelitian itu pada akhirnya menghasilkan sejumlah hipotesis baru tentang pembelajaran bahasa. tersedianya sumber yang dapat membetulkan untuk menjelaskan makna. bukan hanya tahu tentang bahasa saja. lebih tepat. dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. Dengan kata lain. menyanggah. dan beradu argumen dengan orang lain.

Prinsip pertama menyarankan agar pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh. Dengan kata lain. target penguasaan sistem bahasa itu dicapai melalui proses mengatasi hambatan berkomunikasi. ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif. 4. saling mengoreksi. 6. diskusi. yaitu siswa diajak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam konteks nyata. atau menulis yang sebenarnya). 3. 5. 6. hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. baik lisan maupun tulis. 2. dengan cara memberi makna pada pengalamannya. bukan sebagai tujuan. terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif. 8. agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari. maka pengetahuan itu tidak pernah stabil. Prinsip kedua menekankan bahwa melalui pengajaran bahasa Indonesia. 9. Oleh karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri. antara lain pengintegrasian antara bentuk dan makna. pembelajaran terjadi di berbagai konteks dan setting (Zahorik dalam Kurikulum 2004: Naskah Akademik Mata pelajaran Bahasa Indonesia 2004:21-22). pengetahuan tata bahasa bahasa Indonesia yang sangat linguistis. kompetensi komunikatif menjadi tujuan utama. berdasarkan motivasi intrinsik. 7. siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia. pembelajaran bahasa dilakukan dengan pendekatan komunikatif. Prinsip ketiga mengharapkan agar di kelas terjadi suasana interaktif sehingga tercipta masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. Tidak ada peran guru yang dominan. membaca. kelancaran dan keberterimaan bahasa menjadi tujuan. Siswa didorong untuk selalu berinteraksi dengan siswa lain (Brown. 4. 1. baik secara lisan maupun tertulis. penekanan pada kemampuan berbahasa praktis. Penilaian hanya sebagai sarana pembelajaran bahasa. hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri. sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru.pengajaran bahasa menyarankan adanya program pengajaran bahasa yang menekankan pada pembangkitan input anak-anak (latihan bercakap-cakap. misalnya. Pembelajaran kompetensi komunikatif yang menjadi muara akhir pencapaian pembelajaran bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri: 1. berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok. dan interaksi yang produktif antara guru dengan siswa. bukan item bahasa. 2001:45). serta mampu mengungkapkan gagasan dalam bahasa Indonesia. pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. 2. Penggunaan pendekatan pragmatik dalam pengajaran Bahasa Indonesia juga didasari oleh prinsip bahwa guru mengajarkan bahasa Indonesia sebagai sebuah keterampilan. mengalahkan struktur dan bentuk. konteks itu penting. seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya. makna itu penting. bukan sekedar ketepatan bahasa. 3. selalu berkembang (tentative & incomplete). keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. belajar bahasa itu belajar berkomunikasi. Guru diharapkan sebagai “pemicu” . membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran. siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis. 5. Penggunaan pendekatan paragmatik dalam pengajaran Bahasa Indonesia juga dilandasi oleh semangat pembelajaran kontruktivistik yang memiliki ciri-ciri: perilaku dibangun atas kesadaran diri. bukan kompetensi kebahasaan.

tempat adegan. situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan. seperti situasi. ada sejumlah faktor yang menandai keberadaan peristiwa itu. yaitu: 1. atau pihak lain. Makna sebuah kalimat baru dapat dikatakan benar apabila diketahui siapa pembicaranya. faktor-faktor itu berjumlah delapan. Memperhitungkan situasi tutur amat penting di dalam pragmatik. pengumuman. yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap peserta tutur. Lebih lanjut dikemukakan bahwa ciri-ciri konteks itu mencakupi delapan hal. 1. . yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur. act. siapa pendengarnya. Bentuk amanat sebagai unsur konteks. yaitu jenis kegiatan. Di dalam komunikasi. topik. esai. key. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik memperoleh gambaran penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks dan situasi yang nyata. latar atau scene. Pertanyaan apakah yang dihadapi itu berupa fenomena pragmatis atau fenomena semantis dapat dijawab dengan kriteria pembeda yang berupa situasi tutur. topik tuturan. kode (dialek atau gaya). bentuk amanat. saluran atau media.kegiatan berbahasa lisan dan tulis. yaitu penutur. Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana pemerjelas suatu maksud. diskusi. sedangkan konteks yang berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian disebut konteks (contex) (Rustono 1999:20). kode. Menurut Hymes (1968) (melalui Rustono 1999:21). 2. Menurut Alwi et al. instrument. Di dalam novel. 4. Konteks yang berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud disebut koteks (co-text). konteks tuturan tampak pada dialog antartokoh yang memenuhi ciri-ciri konteks sebagaimana dikemukakan oleh Hymes (1968). amanat atau pesan. 1. participant. pendengar. tidak ada tuturan tanpa situasi tutur. yaitu nada suara dan ragam bahasa yang digunakan di dalam mengekspresikan tuturan dan cara mengekspresikannya. yaitu alat elalui telepon atau bersemuka. konteks terdiri dari unsur-unsur. yaitu penutur. sedangkan situasi tutur merupakan sebabnya. mitra tutur. yaitu: 1. Di dalam peristiwa tutur. dan sebagainya. (1998:421). 3. Penentuan maksud tuturan tanpa mengalkulasi situasi tutur merupakan langkah yang tidak akan membawa hasil yang memadai. norm atau norma. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan bahwa tuturan merupakan akibat. Ciri lain yang menandai adanya penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara adalah penggunaan konteks tuturan. kampanye. seperti wawancara. Maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidentifikasi melalui situasi tutur yang mendukungnya. pembicara. dan sarana. waktu dan tempat bertutur. end atau tujuan. antara lain dapat berupa surat. iklan. berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud. mitra tutur. Komponen-komponen situasi tutur menjadi kriteria penting di dalam menentukan maksud suatu tuturan. dan peristiwa atau kejadian. berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian. dan sebagainya. Sarana itu meliputi dua macam. dan lain-lain (Lubis 1993:57). pemberitahuan. waktu. Menurut Rustono (1999:26). peristiwa. dan 2. kapan diucapkan. 2. dan (8) genre. yaitu tindakan yang dilakukan penutur di dalam peristiwa tutur. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa Indonesia agar dihindari.

Di dalam tata bahasa. tingkat pendidikan. Yang berbeda adalah bagian tubuh yang berperan. sedangkan berbicara atau bertutur adalah tindakan verbal. Di dalam peristiwa tutur. Metode Penelitian Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi masalah atau refleksi awal terhadap rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. yaitu orang yang menyatakan tuturan tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Hal ini berarti tidak mungkin ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan.Menurut Leech (1983:13-15). tujuan tuturan. Yang semula berperan sebagai penutur pada tahap berikutnya dapat menjadi mitra tutur. kaki. konteks berarti semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tuturnya. konteks tuturan mencakupi semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresi. Mencubit dan menendang adalah tindakan nonverbal. Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pragmatik sebagai inovasi dalam pengajaran keterampilan berbicara di SMP dimaksudkan untuk melatih dan membiasakan siswa untuk berbicara sesuai dengan konteks dan situasi tutur senyatanya sehingga siswa dapat memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi sehari-hari. Berdasarkan refleksi awal ditemukan penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. Akibatnya. yaitu penutur dan mitra tutur. Komponen situasi tutur yang keempat adalah tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. F. Di dalam pragmatik. Jika mencubit yang berperan adalah tangan dan menendang yang berperan adalah kaki. Tuturan itu merupakan hasil suatu tindakan. Komponen ini menjadi hal yang melatarbelakangi tuturan. Sementara itu. Komponen situasi tutur yang kedua adalah konteks tuturan. tuturan itu merupakan produk tindak verbal. tingkat keakraban. Di dalam peristiwa komunikasi. Karena tercipta melalui tindakan verbal. diperlukan pendekatan pembelajaran yang diduga mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata sehingga siswa memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa . dan alat ucap adalah bagian tubuh manusia. jenis kelamin. Komponen situasi tutur yang kelima adalah tuturan sebagai produk tindak verbal. peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti. Tindakan manusia dibedakan menjadi dua. demikian pula sebaliknya. tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. yaitu tindak mengekspresikan kata-kata atau bahasa. Aspek-aspek yang terkait dengan penutur dan mitra tutur antara lain usia. yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Komponen situasi tutur yang ketiga adalah tujuan tuturan. sedangkan konteks latar sosial lazim dinamakan konteks. yaitu tindakan verbal dan tindakan nonverbal. Tangan. proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. konteks tuturan. Komponen lain yang dapat menjadi unsur situasi tutur antara lain waktu dan tempat pada saat tuturan itu diproduksi. mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam peristiwa tutur. Komponen ini mengandung maksud bahwa tindak tutur merupakan tindakan juga tidak ubahnya sebagai tindakan mencubit dan menendang. berbagai tuturan dapat diekspresi untuk mencapai suatu tujuan. Komponen situasi tutur yang pertama adalah penutur dan mitra tutur. Tuturan yang sama dapat memiliki maksud yang berbeda akibat perbedaan waktu dan tempat sebagai latar tuturan. Semua tuturan orang normal memiliki tujuan. yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata atau terlepas dari konteks dan situasi tuturan. pada tindakan bertutur alat ucaplah yang berperan. Konteks yang bersifat fisik. latar belakang sosial ekonomi. Penutur adalah orang yang bertutur. dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Konteks berperan membantu mitra tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur. situasi tutur mencakupi lima komponen. Oleh karena itu. yaitu fisik tuturan dengan tuturan lain yang biasa disebut dengan ko-teks.

Teori yang digunakan adalah teori yang berkaitan dengan aspek keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan teori yang berkaitan dengan pendekatan pragmatik sebagai inovasi tindakan yang dilakukan dalam upaya dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP. ketepatan pilihan kata (diksi). yaitu penggunaan pendekatan pragmatik dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP. dilakukan refleksi untuk memperbaiki langkah-langkah yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya. Bersama kolaborator. . peneliti melakukan tindakan sesuai dengan replanning yang telah disusun dengan melibatkan kolaborator untuk mengamati efektivitas pelaksanaan tindakan. untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Langkah selanjutnya adalah menyusun replanning (rencana tindakan) untuk siklus II berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan bersama kolaborator. dilakukan analisis terhadap data keterampilan berbicara siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur dibandingkan dengan indikator keberhasilan untuk direfleksi bersama kolaborator. Pada siklus II. Ini artinya. yaitu: 1. Jika hasilnya belum signifikan. peneliti melakukan refleksi terhadap hasil analisis data. Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Selanjutnya. Langkah selanjutnya adalah melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana dengan melibatkan seorang kolaborator untuk melakukan observasi terhadap tindakan yang dilakukan. dirumuskan masalah yang akan diteliti. dilakukan perencanaan tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP klas VII-A SMPN Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. dilakukan kajian teori sehingga pendekatan yang ditawarkan sebagai solusi dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Jika hasil analisis data belum menunjukkan hasil yang signifikan.komunikasi seharihari. dan kontak mata. dan 2. Berdasarkan rumusan tujuan. tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. Berdasarkan penggunaan pendekatan pragmatik yang ditawarkan sebagai solusi. Data tersebut dibandingkan dengan indikator keberhasilan penggunaan pendekatan pragmatik. struktur kalimat. dan 2. Selanjutnya. dilakukan analisis data yang diperoleh dari hasil keterampilan berbicara siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMP setelah pendekatan pragmatik digunakan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan dan observasi. Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Jika penggunaan pendekatan pragmatik sudah menunjukkan hasil yang signifikan dengan indikator keberhasilan. kelogisan (penalaran). Dari hasil kajian teori dirumuskan hipotesis tindakan. yaitu 70% (28 siswa) dari 40 siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur terampil berbicara berdasarkan aspek kelancaran berbicara. Berdasarkan rumusan hipotesis tindakan. yaitu: 1. dilakukan replanning untuk siklus III. dirumuskan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini. penggunaan pendekatan pragmatik dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP seperti yang telah dirumuskan dalam hipotesis tindakan.

Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan yang terdiri atas 40 siswa. Materi pembelajaran berseumber dari standar isi dalam lampiran Peraturan Mendiknas No.2.2 Siswa mencatat identitas penutur dan mitra tutur. dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif.4 Siswa mencatat tujuan tuturan.2. 7. yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur berdasarkan pengalaman yang akan diceritakan. siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur yang dinilai sudah mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif baru sekitar 20% (8 siswa) dari 40 siswa. khususnya keterampilan siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan refleksi awal.2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Menceritakan Pengalaman yang Paling Mengesankan dengan Menggunakan Pilihan Kata dan Kalimat Efektif Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Berbicara 2.2.2.2 Pemecahan Masalah Seperti telah peneliti kemukakan bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan berbicara. antara lain sebagai berikut: 7.2.2. 22/2006 tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs seperti pada tabel 7. 7. yaitu latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan mitra tutur. 7.1. Lokasi dan Subjek Penelitian Lokasi penelitian adalah SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur.1 berikut ini.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif. yaitu 75%. dengan rincian 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Data ini masih jauh dari standar ketuntasan belajar minimal secara nasional. 7. Tabel 7. yaitu orang-orang yang terlibat dalam pengalaman yang akan diceritakan. Bentuk tindakan verbal berupa tindak tutur yang dihasilkan oleh alat ucap.6 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan nonverbal untuk memperjelas tindakan verbal yang telah dilakukan. Masalah rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif akan dipecahkan dengan menggunakan pendekatan pragmatik melalui enam langkah.5 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan verbal berdasarkan hal-hal yang telah dicatat sebelumnya. berupa kata-kata dan kalimat. 7. mimik. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan berbicara dan menyampaikan pengumuman 2.3 Siswa mencatat konteks tuturan. Tindakan nonverbal berupa tindak tutur yang dihasilkan melalui kontak mata. F. .F.1 Siswa memilih dan mencatat pengalaman mengesankan yang ingin diceritakan.

indikator. standar kompetensi. pilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan dalam berbicara sangat ditentukan oleh konteks dan situasi tutur yang telah ditentukan oleh siswa.4 Peneliti menganalisis data hasil keterampilan siswa dalam berbicara mengenai pengalaman mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif.3. aspek. sedangkan guru hanya memberikan rambu-rambu sebagai pedoman bagi siswa dalam berbicara. kompetensi dasar. F. Melalui alur penggunaan pendekatan pragmatik tersebut. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator. identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran. alokasi waktu).3 Guru melaksanakan tindakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun. antara lain sebagai berikut. F. peneliti melibatkan kolaborator untuk mengamati pelaksanaan tindakan.3. F.3.3 Rencana Tindakan Rencana tindakan yang akan dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif.3.gerak tangan. Artinya.2 Guru mengembangkan silabus Menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat komponen: nama sekolah. Jika penggunaan pendekatan pragmatik dinilai belum memberikan hasil . identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran.1 Guru menyusun silabus berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar keterampilan berbicara mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII semester I seperti yang tercantum dalam Standar Isi (lampiran Permendiknas No. sumber belajar. penilaian dan pedoman penilaian. metode pembelajaran. komponen. alur penggunaan pendekatan pragmatik yang digunakan untuk memecahkan masalah rendahnya tingkat keterampilan siswa kelas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur. kelas/semester. F. alokasi waktu. penilaian (teknik. F. Pada tahap ini. kegiatan belajar. F. kelas/semester. Dalam silabus dicantumkan nama sekolah. 22/2006). materi pokok.5 Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan pendekatan pragmatik. dan standar kompetensi). Pendekatan ini memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih dan menentukan pengalaman yang hendak diceritakan. dan contoh instrumen). indikator. kompetensi dasar. komponen. tujuan pembelajaran.3. aspek. siswa diharapkan dapat menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif sesuai konteks dan situasi tutur. atau gerak anggota badan yang lain. materi pembelajaran. bentuk. Secara garis besar. dan sumber/media belajar. langkahlangkah kegiatan pembelajaran.

3. sumber belajar. F. Secara garis besar.2.4. F. peneliti yang sekaligus sebagai guru menyiapkan silabus. F.1 Tahap Persiapan Tindakan Pada tahap persiapan tindakan. F.1. F.3.2. F.9 Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes siklus I untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan pendekatan pragmatik.8 Peneliti menganalisis data hasil keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif.3. F.1 Tindakan Awal F.4. instrumen.7 Peneliti melaksananakan tindakan pada siklus II sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun. penelitian dinyatakan selesai dan tinggal melakukan tindakan pemantapan kepada siswa (subjek penelitian).4. RPP. tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus sesuai dengan yang tersusun dalam RPP antara lain sebagai berikut.yang signifikan. Jika penggunaan pendekatan pragmatik dinilai sudah memberikan hasil yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan.4. F.1 Apersepsi: peneliti mengaitkan materi pembelajaran tentang dengan pengalaman siswa. peneliti kembali melakukan refleksi bersama kolaborator untuk merencanakan tindakan perbaikan (replanning) yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. F.4 Tahap Pelaksanaan Tahap-tahap yang dilakukan pada tahap pelaksanaan tindakan terinci sebagai berikut. Namun.3. kolaborator memberikan masukan dan bersama-sama dengan peneliti melakukan langkah-langkah perbaikan untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. peneliti melaksanakan tindakan sesuai rencana yang tersusun dalam RPP.2 . dan media belajar yang digunakan untuk mendukung efektivitas pelaksanaan tindakan.2 Pelaksanaan Tindakan Pada tahap pelaksanaan tindakan.4. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator.2. jika hasil analisis data belum menunjukkan hasil yang signifikan.1.6 Peneliti melakukan replanning untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil refleksi bersama kolaborator.

F.4..4.3 Siswa memilih dan mencatat pengalaman mengesankan yang ingin diceritakan..2.2Tindakan Inti F.4.2.3.1 Siswa bersama peneliti menyimpulkan cara menceritakan pengalaman mengesankan dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif. F.6 Siswa mencatat tujuan tuturan..2 Siswa melakukan tanya jawab dengan guru dan teman sekelas untuk menentukan langkah-langkah menceritakan pengalaman mengesankan berdasarkan contoh cerita yang disimak.4. F.2.3Tindakan Akhir F..2. F.2.2.4.4. F.2..4.2.4.4.4.2.4 Siswa mencatat identitas penutur dan mitra tutur.2..2. yaitu orang-orang yang terlibat dalam pengalaman yang akan diceritakan.2. F. yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur berdasarkan pengalaman yang akan diceritakan.2.2.2.2.7 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan verbal berdasarkan halhal yang telah dicatat sebelumnya.4. F.1 Siswa menyimak contoh cerita pengalaman yang mengesankan yang disampaikan oleh peneliti.Motivasi: peneliti memberikan motivasi kepada siswa agar gemar menceritakan pengalaman yang mengesankan kepada orang lain.8 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan nonverbal untuk memperjelas tindakan verbal yang telah dilakukan.2. yaitu latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan mitra tutur.5 Siswa mencatat konteks tuturan.4.2 . F.2.. F.3.... F.2.2.

yaitu 70% (28 siswa) dari 40 siswa klas VII-A SMP Negeri 3 Tarakan Kalimantan Timur terampil berbicara berdasarkan aspek kelancaran berbicara.Siswa bersama peneliti melakukan refleksi untuk mengetahui kesan siswa ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan pendekatan prgmatik.5 Cara Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang valid. kesesuaian antara rencana dan implementasi tindakan. Pada saat melakukan refleksi. 2. baik dalam tindakan awal. yaitu kelancaran berbicara. ketepatan pilihan kata. dan kontak mata.4. keefektifan kalimat. kelogisan (penalaran). anggota peneliti sebagai kolaborator melakukan pengamatan terhadap situasi yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. F. peneliti menganalisis data yang diperoleh berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan siswa ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif.2 Nontes Teknik nontes yang digunakan dalam penelitian ini.5. ketepatan pilihan kata (diksi). tindakan inti. Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama kolaborator. 1. yaitu kelancaran berbicara. dan 1. di antaranya: 1. F. F.5.3 Pelaksanaan Pengamatan Ketika peneliti melaksanakan tindakan. antara lain sebagai berikut: . kelogisan penalaran. Unsurunsur yang dianalisis. Berdasarkan hasil analisis data akan diketahui unsurunsur mana saja yang masih menjadi hambatan siswa dalam menceritakan pengalamannya yang mengesankan. data dikumpulkan melalui cara/teknik berikut ini: F. Hal-hal yang perlu diamati dan dicatat oleh kolaborator dalam lembar observasi. kelogisan (penalaran).1 Tes Teknik tes digunakan untuk mengetahui tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang mengesankan kepada orang lain. ketepatan pilihan kata (diksi). respon siswa. Penelitian tidak perlu dilakukan lagi pada siklus berikutnya jika hasil analisis data menunjukkan pengingkatan yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan.4 Analisis dan Refleksi Pada tahap ini.4. dan kontak mata. struktur kalimat. dan kemampuan menjalin kontak mata. Aspek-aspek yang dinilai. maupun tindakan akhir. F. perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran. kolaborator memberikan masukan kepada peneliti berdasarkan hasil pengamatan yang telah dicatat untuk melakukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. keterampilan guru dalam menggunakan pendekatan pragmatik. struktur kalimat.

Selain peneliti.5. kelogisan (penalaran). juga dideskripsikan jumlah skor. inovatif. Selain itu.2.2. dan 3. ketepatan pilihan kata (diksi).. respon siswa terhadap penggunaan pendekatan pragmatik.F. Hasil tindakan pada setiap siklus dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui persentase peningkatan keterampilan siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan dalam menceritakan pengalaman yang mengesankan. efektif. struktur kalimat..1 Observasi (pengamatan): teknik ini digunakan oleh kolaborator untuk mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Pelaksanaan wawancara dilakukan di luar kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pedoman wawancara.6 Teknik Analisis Data Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik tabulasi data secara kuantitatif berdasarkan hasil tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus. DIarsipkan di bawah: Kreasi Tunas Bangsa « Nilai Mata Kuliah Konsep Dasar IPS Kelas c Ketrampilan Menjelaskan dan Bertanya » . kekurangpuasan peneliti terhadap pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. dan rata-rata skor untuk aspek kelancaran berbicara. siswa juga membuat jurnal setiap kali mengikuti kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk mengungkapkan: (1) respon siswa (baik yang positif maupun negatif) terhadap penggunaan pendekatan pragmatik.2. rata-rata nilai. F. dan tingkat daya serap. dan (3) kemampuan peneliti dalam menciptakan pembelajaran yang aktif.5. 2.3 Jurnal: teknik ini digunakan oleh peneliti setiap kali selesai mengimplementasikan tindakan. daya serap. (2) metode pembelajaran yang disukai siswa. situasi pembelajaran.2 Wawancara: teknik ini digunakan oleh peneliti dan kolaborator untuk mengetahui respon siswa secara langsung dalam berbicara dengan menggunakan pendekatan pragmatik. kreatif. dan kontak mata. dan menyenangkan.5. Pada setiap siklus dideskripsikan jumlah skor yang diperoleh semua siswa. dan ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus. Wawancara terutama dilakukan kepada siswa yang menonjol karena kelebihan atau kekurangannya. F. Jurnal tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi diri bagi peneliti untuk mengungkap aspek: 1. jumlah nilai. F.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful