KARAKTERISTIK PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM BERITA “TRANG SANDYAKALA” DI STASIUN TELEVISI TERANG ABADI THE CHARACTERISTICS OF THE

USE OF JAVANESE IN “TRANG SANDYAKALA” NEWS ON SURAKARTA TERANG ABADI TELEVISION
Sumarlam Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami, Kentingan Surakarta Telp. (0271) 854276 / HP. 081548511334 ABSTRACT The present research deals with the characteristics of the use of Javanese in “Trang Sandyakala” news on Surakarta Terang Abadi Television. The study aimed at identifying the rhetoric, diction, and use of word forms, phatic categories, and kinds of sentences based on the discourse message. The results of analysis indicated the following: (1) the rhetoric of “Trang Sandyakala” Javaneese news consisted of three sections, the Opening Host Program (OHP), the content of news, and the Closing Host Program (CHP); (2) the diction in the forms of expression could be classified into two kinds, namely constant expression and temporary expression including contextual and non-contextual expression; and (3) the phatic category consisted of words and phrases. The phatic category of phrases included thanks, greetings, compliments, and farewells. The dominant kind of sentence used in “Trang Sandyakala” Javaneese news was declarative sentence. The “Trang Sandyakala” Javaneese news also used imperative sentences to express requests, suggestions, and expectations. Kata kunci: retorika berita, diksi, kategori fatis, ungkapan tetap

PENDAHULUAN Bahasa merupakan salah satu sarana komunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Bahasa Jawa (BJ) sebagai sarana komunikasi digunakan dalam media massa
Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam ... (Sumarlam)

23

kategori fatis. dan jenis kalimat berdasarkan amanat wacananya? Secara garis besar ada tiga teori yang relevan dengan topik penelitian ini. Siaran berita termasuk salah satu bentuk retorika. Menurut Keraf (1994:24). untuk mencapai tujuan tertentu. yaitu pembaca berita menyampaikan berita secara singkat. pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan pemakaian kata. kategori fatis. Perbedaan itu di antaranya berkenaan dengan ihwal retorika berita. Diksi berkaitan dengan pemakaian bahasa baik secara tertulis (dalam karang-mengarang) maupun secara lisan (dalam berbicara di depan umum) untuk tujuan tertentu. serta jenis-jenis kalimat berdasarkan amanat wacananya. Menurutnya.audio (radio). dan gramatika (bentuk kata. 1983:35). Oleh karena itu. Edisi Khusus. dan media massa cetak (surat kabar. Hendrikus (2006:14) menjelaskan pengertian retorika. tabloid). Diksi (diction) ialah “pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di depan umum atau dalam karang-mengarang” (Kridalaksana. Siaran berita. Salah satu media massa audio-visual yang menyiarkan berita dengan BJ adalah Terang Abadi Televisi (selanjutnya TATV) Surakarta dalam program siaran berita BJ Trang Sandyakala (selanjutnya TS). misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi. Secara lebih khusus. majalah. audio-visual (televisi/TV). Bahasa Jawa dalam siaran berita TS di TATV Surakarta merupakan ragam bahasa tersendiri yang berbeda karakteristiknya dengan BJ ragam-ragam lainnya. 24 Jurnal Penelitian Humaniora. diksi. Masyarakat yang diikat oleh berbagai norma. yang menjadi titik tolak retorika adalah berbicara. baik melalui media audio (radio) maupun audiovisual (TV) termasuk bagian dari berbicara di depan umum. jelas. Juni 2006: 23-41 . karakteristik pemakaian BJ tersebut menarik dan perlu diteliti dan dideskripsikan. yakni teori retorika. dan mengesankan kepada khalayak dengan tujuan untuk menyampaikan informasi-informasi penting yang diperlukan oleh masyarakat. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang/sekelompok orang. pilihan kata dan ungkapan. dan dengan demikian perlu memperhatikan bagaimana pilihan kata secara tepat serta pelafalan kata secara benar dan jelas. padat/efektif. dan jenis-jenis kalimat berdasarkan amanat wacananya). menghendaki agar setiap kata yang dipergunakan harus cocok atau serasi dengan norma-norma masyarakat dan sesuai dengan situasi yang dihadapi. tetapi juga mempersoalkan apakah kata yang dipilih itu dapat juga diterima atau tidak merusak suasana yang ada. masalah yang diteliti dirumuskan sebagai berikut: (1) bagaimanakah retorika berita dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta? (2) bagaimanakah pilihan kata dan ungkapan (diksi) yang digunakan dalam menyampaikan berita BJ TS di TATV Surakarta? (3) bagaimanakah karakteristik pemakaian BJ dalam siaran berita TS di TATV Surakarta dilihat dari segi bentuk kata.

.Dilihat dari bentuknya. (2) turut berduka cita: digunakan pada waktu pembicara menyampaikan belasungkawa. kalimat responsif. Kategori fatis bertugas memulai. dalam ragam tulis biasanya diberi tanda baca tanya (?).. kata ulang. Kategori fatis merupakan ciri ragam lisan.). selamat hari jadi. kalimat aditif. kata dapat dibagi menjadi kata dasar dan kata jadian. dan amanat wacananya. selamat jalan. di antaranya adalah (1) frasa dengan selamat: untuk memulai/mengakhiri interaksi pembicara-mitra bicara sesuai dengan keperluan dan situasinya. (3) asalamu’alaikum: digunakan pada waktu pembicara memulai interaksi.1985:163). Jenis kalimat ini ditandai pula oleh partikel –lah. mengapa…. Kategori fatis yang berbentuk partikel adalah – lah dan pun. selamat jumpa. tetapi terdapat juga dalam konteks monolog seperti berita karena di dalam siaran berita pembicara dan mitra bicaranya jelas. selamat ‘ucapan kepada mitra bicara yang mendapat/mengalami sesuatu yang baik’. mempertahankan. dan frasa fatis (Kridalaksana. kata monomorfemik. Kategori fatis yang berbentuk frasa fatis. Selain bentuk kata. Wacana siaran berita TS di TATV merupakan contoh pemakaian bahasa ragam lisan baku yang juga menggunakan kategori fatis. baik pemakaian ragam tidak baku maupun ragam baku. baik kata dasar. (Sumarlam) 25 . Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengandung intonasi interogatif. Kalimat deklaratif adalah kalimat yang mengandung intonasi deklaratif.. Berdasarkan amanat wacananya. atau kata tanya seperti apa…. kalimat dapat dibedakan atas kalimat deklaratif. dsb. Kategori fatis biasanya terdapat dalam konteks dialog. dkk.. dan kalimat interjektif ( Kridalaksana. 1985:110). Kategori fatis yang berbentuk kata. sedangkan mitra bicaranya adalah para pendengar/pemirsa siaran berita tersebut. misalnya. terima kasih: digunakan setelah pembicara merasa mendapatkan sesuatu dari mitra bicara. dalam ragam tulis biasanya diberi tanda titik (. (5) insya Allah: diucapkan oleh pembicara ketika menerima tawaran mengenai sesuatu dari mitra bicara. semuanya digunakan dalam siaran berita TS di TATV Surakarta. kata fatis. Jenis-jenis kalimat dapat ditandai oleh jumlah klausa. berwujud partikel. dan kata-kata yang mengalami perubahan bunyi). kalimat imperatif. atau mengukuhkan pembicaraan antara pembicara dan mitra bicara. bagaimana …. atau kata-kata seperti hendaklah Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam . Kalimat imperatif adalah kalimat yang mengandung intonasi imperatif. kata majemuk. Pembicara adalah pembaca berita. struktur. Kata-kata. dkk.. Jenis kalimat ini ditandai juga oleh partikel tanya seperti –kah. maupun kata polimorfemik. kategori fatis juga mempunyai fungsi yang sangat penting dalam siaran berita.. Kategori fatis terbagi atas tiga macam. seperti selamat pagi. (4) wa’alaikumsalam: digunakan untuk membalas mitra bicara yang mengucapkan asalamu’alaikum. kata turunan (kata berafiks. kalimat interogatif. dalam ragam tulis biasanya diberi tanda (!).

dan April 2006. 16. beberapa berita juga direkam dalam bentuk CD. 15. Sumber data lisan berupa tuturan BJ yang disiarkan oleh pembaca berita pada berita BJ TS di TATV Surakarta. Penyimakan dilakukan secara bersama-sama dengan teknik rekam. kecuali tanggal 15 Januari diganti tanggal 16 Januari karena sesuatu dan lain hal tanggal 15 Januari 2006 peneliti tidak berhasil merekam berita dimaksud. Mugi Panjenengan tansah manunggal nyawiji kaliyan “Trang Sandyakala”. Sampel penelitian ini adalah tuturan dalam siaran berita BJ TS yang disiarkan di TATV Surakarta pada bulan Januari. Tuturan dimaksud adalah siaran berita BJ yang disiarkan oleh TATV dalam program siaran Trang Sandyakala (TS).dan jangan. tuturan itu 26 Jurnal Penelitian Humaniora. Juni 2006: 23-41 . berupa tuturan dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta. ‘Semoga Anda tetap menyatu bersama Trang Sandyakala’. Kalawau enjing ‘Tadi pagi’. dan 25 Februari 2006. Pada setiap bulan tersebut diambil data yang disiarkan pada setiap tanggal 10. yakni merekam penggunaan bahasa yang berupa tuturan/siaran berita yang disampaikan oleh penyiar dengan menggunakan alat rekam (tape recorder) ketika siaran berita itu berlangsung. 15. Misalnya. 1993:133). 20.00 sampai dengan 17. METODE PENELITIAN Data utama penelitian ini adalah data lisan. Inggih menika nalika negari ngadhepi kawontenan ekonomi kados negari-negari sanesipun ingkang nembe ngrembaka ‘Yaitu ketika negara menghadapi keadaan ekonomi seperti negaranegara yang sedang berkembang’. dan 25 Januari 2006. Kalimat interjektif adalah kalimat seruan. sampel ini berupa tuturan siaran berita BJ yang disiarkan dalam 16 (enam belas) kali siaran yaitu: (1) siaran berita BJ pada tanggal 10. dan 25. Setelah direkam. Penyimakan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menyimak tuturan pada siaran berita BJ TS di TATV Surakarta pada tanggal-tanggal yang ditentukan tersebut. tanggal 10. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dan teknik rekam. Misalnya. Penyiaran berita tersebut berlangsung selama 30 menit. 15. Maret. Edisi Khusus. Berita BJ TS di TATV tersebut secara rutin setiap hari disiarkan. Wulan kapengker ‘Bulan yang lalu’. Misalnya. pada pukul 17. dan 25 April 2006. Februari. 20. Metode simak atau penyimakan adalah metode pengumpulan data dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto. baik lengkap maupun tidak. 20.30 WIB. 20. Nembe tindak manca nagari ‘Sedang pergi ke luar negeri’. kecuali hari Minggu. tanggal 10. baik terikat maupun tidak. Kalimat aditif adalah kalimat terikat yang bersambung pada kalimat pernyataan. Kalimat responsif adalah kalimat terikat yang bersambung pada kalimat interogatif. Selain direkam dalam kaset. Dengan demikian. baik lengkap maupun tidak. 15. 20. serta siaran berita BJ pada tanggal 10. dan 25 Maret 2006.

Kegunaan teknik ganti adalah untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori unsur pengganti apakah sama dengan tataran terganti (Sudaryanto. 1992:74). peneliti mengamati dengan cara membaca (sambil sesekali pada waktu yang lain mendengarkan rekaman) sambil memberi tanda-tanda tertentu pada kata. dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud. 1993:12). Retorika Siaran Berita Siaran berita termasuk salah satu bentuk retorika. klausa. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Satuan-satuan kajian atau unit-unit analisis yang terkait dengan masalah penelitian ini. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik pilah unsur penentu. Setelah data terkumpul. jelas. Disebut demikian karena cara yang digunakan pada awal kerja analisis adalah membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur. lalu dicatat ke dalam kartu data yang telah disiapkan. yakni untuk membedakan mana bagian pembukaan. Metode padan yang digunakan di sini adalah metode padan referensial dengan alat penentu referen untuk mengetahui isi siaran berita BJ TS di TATV. dengan teknik hubung banding memperbedakan sebagai teknik lanjutan. Teknik lesap digunakan untuk mengetahui kadar keintian unsur yang dilesapkan. padat/efektif. Selain digunakan metode padan. terlepas. dan bagian penutup berita TS di TATV. Teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik lesap dan teknik ganti.. Langkah selanjutnya. metode distribusional juga digunakan sebagai metode analisis dalam penelitian ini. lalu diseleksi dan diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini dan dilanjutkan dengan analisis data. (Sumarlam) 27 . dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik Bagi Unsur Langsung (BUL). yakni pembaca berita menyiarkan berita secara singkat.kemudian ditranskripsikan dalam bentuk tulisan agar lebih mudah diamati sebagai bahan penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah metode padan dan metode distribusional. dan mengesankan kepada Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam .. yang telah ditandai tersebut. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar. atau ungkapan-ungkapan yang diperkirakan akan diambil sebagai data. 1993:48). frasa. Metode distributional adalah metode analisis data yang alat penentunya unsur dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto. 1993:15). bagian isi. Teknik ganti adalah teknik yang dilakukan untuk menyelidiki adanya keparalelan atau kesejajaran distribusi antarsatuan lingual atau antarbentuk lainnya ( Subroto. kalimat. Metode distribusional (disebut juga metode agih) digunakan untuk menganalisis tuturan/siaran berita BJ TS di TA TV Surakarta.

dan segmen ketiga 6 menit. terdapat istilah-istilah baik dari bahasa Indonesia maupun bahasa asing yang tidak ada padanan katanya dalam BJ. Di dalam berita itu terdapat sepuluh berita dengan durasi waktu 30 menit yang dibagi menjadi tiga segmen. 2. Tiap segmen berita diawali dengan pembukaan dan diakhiri dengan penutupan yang disebut Opening Host Segmen (OHS) dan Closing Host Segmen (CHS). Dengan demikian. sedangkan antara berita pada segmen-2 dan segmen-3 ada iklan kedua (Break-2). sebagaimana retorika pada umumnya. Dengan demikian. pada segmen-2 diawali dengan OHS2 dan diakhiri dengan CHS-2. Berita bahasa Jawa TS di TATV Surakarta disiarkan setiap Senin sampai dengan Sabtu sore. sedangkan pada segmen-3 diawali dengan OHS-3 dan langsung diakhiri dengan CHP sebagai penutup program siaran berita. tiap break durasi waktu siarnya 2 menit. dan Segmen-3 terdiri atas dua berita (berita 6 dan 7) dengan durasi waktu siar 6 menit. retorika siaran berita TS di TATV Surakarta terdiri atas tiga bagian. yakni bagian pembuka. Edisi Khusus. Break-1 dan Break-2 memerlukan durasi waktu siar 4 menit. Bahasa yang digunakan yaitu BJ baku ragam krama. Secara garis besar. Di antara berita pada segmen-1 dan segmen-2 ada jeda iklan pertama (Break-1). 9 menit sisanya digunakan untuk pembacaan tinjauan pers (tiga berita penting dari harian/koran nasional) oleh penyiar selama 5 menit dan 4 menit untuk jeda iklan. Segmen pertama memerlukan waktu 9 menit. bagian isi terbagi atas tiga segmen berita (tiap segmen juga ada pembuka dan penutup). Sementara itu. Selanjutnya. khusus pada bagian isi terdiri atas sepuluh berita yang terdistribusi ke dalam Tinjauan Pers (tiga berita) dengan durasi waktu siar 5 menit. Trang Sandyakala artinya terang di waktu senja. Secara harfiah.00 WIB. dan 3) dengan durasi waktu siar 9 menit. segmen kedua 6 menit. Segmen-1 terdiri atas tiga berita (berita 1. Bagian pembuka dari seluruh berita disebut Opening Host Program (OHP). 28 Jurnal Penelitian Humaniora. pukul 17. Jadi. Trang Sandyakala adalah salah satu program berita on-air (siaran langsung) yang menggunakan BJ. pada segmen-1 diawali dengan OHS-1 dan diakhiri dengan CHS-1. trang berarti ‘terang’ dan sandyakala berarti ‘waktu senja’. dan bagian penutup dari seluruh berita disebut Closing Host Program (CHP). maka diberi nama Trang Sandyakala. Judul Trang Sandyakala itu pada dasarnya diambil dari ‘terang abadi’.khalayak dengan tujuan untuk menyampaikan informasi-informasi penting yang diperlukan oleh masyarakat. Di samping itu. dan bagian penutup. Oleh karena berita tersebut disiarkan pada waktu sore. Segmen-2 terdiri atas dua berita (berita 4 dan 5) dengan durasi waktu siar 6 menit. Juni 2006: 23-41 . kecuali pada segmen terakhir (segmen ke-3) pada bagian penutupan langsung diakhiri dengan Closing Host Program (CHP). bagian isi.

. (Sumarlam) 29 .Berdasarkan rincian di atas. retorika siaran berita BJ TS di TATV Surakarta dapat digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut. Bagan Retorika Siaran Berita BJ TS di TATV Surakarta Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam .. PEMBUKA PROGRAM (OPENING HOST PROGRAM) ISI TINJAUAN PERS (3 Berita) SEGMEN-1 OHS-1 Berita-1 Berita-2 Berita-3 CHS-1 5 menit 9 menit BREAK-1 (Iklan Pertama) 2 menit SEGMEN-2 OHS-2 Berita-4 Berita-5 CHS-2 6 menit BREAK-2 (Iklan Kedua) 2 menit SEGMEN-3 OHS-3 Berita-6 Berita-7 6 menit PENUTUP PROGRAM (CLOSING HOST PROGRAM) Gambar 1.

’ Saderengipun. misalnya: Selasa Paing. 30 Jurnal Penelitian Humaniora. ‘Berita disampaikan secara jelas.’ Makaten ugi sampun ngantos ketinggalan. Selasa Paing. dan bijaksana. silakan Anda memperhatikan tiga buah berita penting yang sudah disediakan dari wilayah Subosukawonosraten. silakan Anda memperhatikan petikan berita-berita penting dari harian atau koran nasional menurut tinjauan pers.’ Pamirsa saged mirsani pawartos ingkang enggal tur wigati. sewu sangangatus tigangdasa wolu. pada sore hari ini Anda sedang menyaksikan program berita bahasa Jawa “Trang sandyakala”. yang memberitakan kondisi sosial-politik nasional terkini. khususnya dari sekitar wilayah Karesidenan Surakarta. keparenga migatosaken tigang pawartos wigati ingkang sampun sumadya saking wewengkon Subosukawonosraten. Pamirsa. utawi sedasa Januari kalih ewu enem). atau 10 Januari 2006. ingkang martakaken kawontenan sosial-politik nasional paling enggal. Juni 2006: 23-41 .Berikut ini adalah beberapa contoh representasi tuturan retorika siaran berita BJ TS di TATV Surakarta. segera dilanjutkan dengan pembacaan Tinjauan Pers dengan High Light yang memberitakan beberapa berita penting yang disarikan dari beberapa harian nasional serta tiga berita penting yang telah dipersiapkan dari daerah Subosukawonosraten. kemudian dilanjutkan dengan representasi tuturan OHS-1 seperti tersebut di bawah ini. seimbang. ‘Demikian juga jangan sampai terlewatkan. imbang. ing sonten menika Panjenengan katemben mirsani program pawartos basa Jawi “Trang Sandyakala” (dilanjutkan dengan keterangan waktu. Representasi Tuturan OHP Representasi tuturan pembuka program (OHP) pada siaran berita BJ TS di TATV Surakarta terdiri atas lima pernyataan sebagai berikut. Edisi Khusus.’ Setelah lima representasi tuturan OHP selesai dibacakan. mugi Panjenengan migatosaken pethilan pawartospawartos wigati saking ariwarti utawi koran nasional miturut pamawasing pers. ‘Sebelumnya. mliginipun saking saindhenging wewengkon Karesidhenan Surakarta. 10 Besar 1938. ‘Pemirsa dapat menyaksikan berita baru dan penting. sedasa Besar. lan wicaksana. ‘Pemirsa.’ Pawartos kaaturaken kanthi gamblang.

‘Pemirsa. dan kemudian dilanjutkan dengan representasi tuturan pembuka segmen-2 (OHS2).. sampun nilaraken papan palenggahan. ‘Pemirsa.’ Salajengipun kula pun Sruti Respati. (Sumarlam) 31 .Representasi Tuturan OHS-1 Representasi tuturan pembuka segmen-1 (OHS-1) siaran berita BJ TS di TATV Surakarta tampak pada dua contoh berikut.. seperti tuturan di bawah ini. jangan beranjak dari tempat duduk. makaten kalawau tigang pawartos wigati “Trang Sandyakala” ing sonten menika.’ Mugi Panjenengan tansah manunggal nyawiji kaliyan “Trang Sandyakala”. karena sesudah jeda iklan masih ada berita-berita penting. Pamirsa. lalu disusul dengan representasi tuturan penutupan segmen-1 (CHS-1) sebagai berikut. demikian tadi tiga berita penting “Trang Sandyakala” pada sore (hari) ini. awit sasampunipun pariwara taksih wonten pawartos-pawartos ingkang wigati. Anda masih bersama dengan berita bahasa Jawa “Trang Sandyakala”’ Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam . Matur nuwun. 2. dan 3. Panjenengan taksih sesarengan ing pawartos basa Jawi “Trang Sandyakala”. ‘Terima kasih. Representasi Tuturan OHS-2 Representasi tuturan pembuka segmen-2 (OHS-2) berupa ucapan terima kasih karena pemirsa masih bersama-sama dengan program berita BJ TS. badhe sesarengan kaliyan panjenengan sadangunipun tigangdasa menit. ‘Selanjutnya saya Sruti Respati. Representasi Tuturan CHS-1 Pamirsa. ‘Semoga Anda tetap menyatu bersama “Trang Sandyakala”’ Setelah disampaikan CHS-1 segera disusul dengan jeda iklan pertama (Break1). akan bersama-sama dengan Anda selama 30 menit. yakni berita-1.’ Setelah OHS-1 selesai dibacakan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tiga berita secara berturut-turut.

kula kaliyan tim redhaksi ingkang ngayahi jejibahan. ‘TATV tetap menjaga lestarinya bahasa dan budaya Jawa. Juni 2006: 23-41 . TATV tetep ngleluri lestarining basa lan budaya Jawi.’ b. demikian berita Trang Sandyakala pada sore ini. yakni berita-6 dan berita-7. terdiri atas dua tuturan. saha mbangun menika. Representasi Tuturan OHS-3 Tuturan ini berupa ucapan terima kasih karena pemirsa masih setia bersama “Trang Sandyakala”. Tuturan CHP sebagai penutup program cukup panjang yang dapat dibagi menjadi tiga bagian dan tiap bagian terdiri atas beberapa bagian lagi. Pungkasaning atur. Representasi tuturan penutup segmen-2 ini mirip dengan representasi tuturan penutup segmen-1. ‘Pemirsa. ‘Akhir kata. Edisi Khusus. Pamirsa. ngaturaken panuwun awit kawigatosan Panjenengan. akurat.’ Sesudah OHS-3 segera dibacakan dua berita berturut-turut. ‘Terima kasih. saya bersama tim redaksi yang bertugas. ‘Semoga Anda tetap setia pada chanel informasi yang aktual.’ (2)a. semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu bersama kita.’ b. Representasi Tuturan CHP (1)a. winantu ing suka basuki. Anda masih setia dengan Trang Sandyakala. menyampaikan terima kasih atas perhatian Anda. Pamirsa. Usai pembacaan berita-6 dan 7 langsung ditutup dengan tuturan penutup program siaran berita secara keseluruhan (CHP). Matur nuwun. seperti di bawah ini. Setelah CHS-2 segera disusul dengan jeda iklan kedua (Break-2). Representasi CHP secara lengkap dapat diperhatikan pada tuturan berikut. ‘Pemirsa. dan membangun ini.’ 32 Jurnal Penelitian Humaniora.’ c. Setelah berita pada segmen-2 selesai dibacakan maka diakhiri dengan representasi tuturan penutup segmen-2 (CHS-2). yakni berita-4 dan 5. mugi rahayu ingkang sami pinanggih. dan dilanjutkan dengan representasi tuturan pembuka segmen-3 (OHS-3). makaten pawartos Trang Sandyakala ing sonten menika.Setelah OHS-2 selesai disampaikan maka segera dilanjutkan dengan berita pada segmen-2 yang terdiri atas dua berita. Panjenengan taksih setya kaliyan “Trang Sandyakala”. akurat. Mugi Panjenengan tetep setya ing cenel informasi ingkang aktual.

kata pasuryan ‘muka.’ Kelompok kata pasuryan ingkang gambira ‘wajah yang gembira’ merupakan salah satu contoh diksi yang kurang tepat. Sragen. Diksi (Pilihan Kata dan Ungkapan) Pilihan kata yang dilakukan oleh tim redaksi dalam menyusun informasi yang kemudian disiarkan oleh pembaca berita ada yang sudah tepat dan ada pula yang kurang tepat. Karanganyar. Kecamatan Jebres. Wonogiri.. Ketepatan pilihan dan penggunaan kata pamirsa ‘pemirsa’ juga terbukti dipilih dan digunakannya kata mirsani ‘melihat. Kekurangtepatannya terletak pada dua hal. Representasi tuturannya tampak pada kutipan berikut. seperti televisi. Kula Sruti Respati / Satriyo Kusumo ngaturaken sugeng sonten. keparenga migatosaken tigang pawartos wigati ingkang sampun sumadya saking wewengkon Subosukawonosraten”. terhindar dari bahaya. Akronim tersebut mengacu pada tujuh wilayah kota/kabupaten di eksKaresidenan Surakarta. mendapatkan perlindungan dan kasih Tuhan. Kata pamirsa ‘pemirsa’ digunakan sebagai kata sapaan kepada para pendengar berita yang disampaikan melalui media audio-visual. silakan Anda memperhatikan tiga buah berita penting yang sudah disediakan dari wilayah Subosukawonosraten. yakni Surakarta. (Sumarlam) 33 .’ 2. “Makaten ugi sampun ngantos ketinggalan.” ‘Anda sedang menyaksikan program berita bahasa Jawa Trang Sandyakala.’ (3)a. ‘Semoga tetap jaya.’ b. Pilihan kata dalam berita BJ TS di TATV yang sudah tepat di antaranya kata pamirsa ‘pemirsa’ dan Subosukawonosraten. dan Klaten. Sukoharjo. Nuwun. seperti tampak pada tuturan “Panjenengan katemben mirsani program pawartos basa Jawi Trang Sandyakala.c. sirna memala pinayungan sih ing Gusti.’ Subosukawonosraten sebagai sebuah akronim yang dipilih dan digunakan untuk penyebutan wilayah-wilayah yang menjadi tempat/objek berita TS di TATV sungguh sangat tepat. wajah’ biasanya berkolokasi dengan kata Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam . lan salam TATV. dan salam TATV.. ‘Demikian juga jangan sampai terlewatkan. Boyolali. Pertama. menyaksikan’ sebagai pasangannya. Terang Abadi Televisi sebagai TV lokal yang berada di wilayah Kelurahan Mojosongo. ‘Saya Sruti Respati / Satriyo Kusumo mengucapkan selamat sore. Jaya-jaya wijayanti. Kota Surakarta memang lebih mengekspos berita-berita dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tujuh wilayah tersebut. Kata yang dipilih bukanlah pamiyarsa ‘pendengar’ karena kata pamiyarsa ‘pendengar’ hanya khusus digunakan untuk menyapa para pendengar berita di radio sebagai media audio. ‘Permisi.

dimungkinkan terdapat kelompok kata atau ungkapan manah/ penggalih ingkang gembira ‘hati yang riang gembira’. yaitu yang kontekstual dan yang 34 Jurnal Penelitian Humaniora. TATV tetep ngleluri lestarining basa lan budaya Jawi. gembira’ ini biasa berkolokasi dengan kata ati. gembira’ dalam bahasa Jawa adalah gembira (Prawiroatmojo. Diksi yang berupa ungkapan dapat dikelompokkan menjadi dua. Juni 2006: 23-41 . mugi rahayu ingkang sami pinanggih. Edisi Khusus. mendapatkan perlindungan dan kasih Tuhan. Ungkapan tetap adalah ungkapan-ungkapan pernyataan yang isi dan redaksinya relatif tetap dan selalu digunakan di dalam setiap siaran berita TS di TATV. 1981:127). atau sumunar ‘bersinar’. dan tidak tetap. dapat dikategorikan sebagai pernyataan yang berupa ungkapan tetap. Closing Host Segmen (CHS). gambiralaya artinya ‘tempat yang dalam’ atau ‘lautan’ (Prawiroatmojo. Ungkapan temporer adalah ungkapan yang sifatnya sementara. Kedua. terhindar dari bahaya. bukan gambira. Contohnya dapat diamati kembali tuturan-tuturan yang telah dipaparkan terdahulu. serta memohon agar TATV tetap jaya. 1981:138). terhindar dari bahaya.’ Jaya-jaya wijayanti. Tuturan pada Opening Host Program (OHP). pilihan kata gambira untuk arti ‘gembira’ kurang tepat karena gambira adalah bahasa Sanskerta atau bahasa Kawi yang berarti ‘dalam’. Ungkapan temporer ada dua macam. yakni ungkapan yang bersifat tetap dan ungkapan yang bersifat temporer. ‘Pemirsa. riang. dan Closing Host Program (CHP). winantu ing suka basuki. manah. Dengan demikian. semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu bersama kita.’ Ketiga ungkapan tersebut merupakan ungkapan tetap yang selalu disampaikan oleh pembaca berita dalam siaran BJ TS di TATV Surakarta. ‘Semoga tetap jaya. dan mendapatkan perlindungan dan kasih Tuhan. ‘TATV tetap menjaga lestarinya bahasa dan budaya Jawa. Tuturan kedua dan ketiga merupakan ungkapan pernyataan pembaca berita dan semua tim redaksi yang selalu menyampaikan doanya agar para pemirsa selalu mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Ungkapan tetap yang sangat mencolok dan yang sekaligus menjadi ciri khas (karakteristik) bagi TS di TATV Surakarta. Kata gembira ‘senang. bukan dengan gambira ‘gembira’. Kata yang berarti ‘senang.sumringah ‘cerah ceria’. sporadis. sirna memala pinayungan sih ing Gusti. riang. atau penggalih yang berarti ‘hati’.’ Pamirsa. Opening Host Segmen (OHS). Tuturan pertama merupakan ungkapan pernyataan sikap TATV dalam upayanya untuk tetap memelihara dan melestarikan bahasa dan budaya Jawa. misalnya ungkapan yang terdapat pada tuturan penutupan program (CHP) berikut ini.

ungkapan tersebut merupakan ungkapan yang sifatnya sementara. lebih kurang 30-an ungkapan kemudian ditampilkan secara urut satu per satu setiap hari tanpa mempertimbangkan konteks ungkapan tersebut dengan isi berita yang disiarkan. khususnya berkaitan dengan struktur kata. seperti tuturan di bawah ini. baik yang berstruktur monomorfemis maupun polimorfemis. 3. dan Jenis Kalimat Ditinjau dari penggunaan kata. tidak sesuai dengan konteks pemberitaan. Dari hasil wawancara dengan pembuat/penyusun kata-kata bijak diketahui bahwa kata-kata bijak yang ditampilkan memang tidak/belum dikaitkan dengan isi berita yang disampaikan pada hari itu. kepada pemirsa di mana pun berada. nanging kapriye anggone urip. Penulis kata-kata bijak menyusun sejumlah ungkapan.. Ungkapan temporer kontekstual adalah tuturan pernyataan yang bergantung pada konteks dan isi berita pada saat itu. Hampir tiap penutupan program selalu disampaikan kata-kata bijak. Kedua.non-kontekstual.’ Tuturan tersebut merupakan ucapan selamat berhari raya Idul Adha tahun 2006. dasarnya bukan berapa lamanya hidup. siaran berita BJ TS di TATV juga menggunakan kata-kata yang strukturnya sama seperti BJ pada umumnya. Artinya. isi atau maksud ungkapan tersebut tidak bergantung pada konteks. sporadis. Struktur Kata. ‘Keluarga besar TATV mengucapkan selamat hari raya Idul Adha 2006. dalam berita TS di TATV juga menggunakan kata-kata baik yang berstruktur kata dasar maupun kata jadian. 20 Januari 2006) ‘Sebenarnya hidup yang sejati itu. Artinya. dhasare dudu pira suwening urip. dhumateng pamirsa ing saindhenging papan.. misalnya: Mungguh urip kang yekti iku. ungkapan tersebut berbeda-beda bentuknya atau wujud tuturannya pada tiap siaran berita TS di TATV. (Jumat Paing. Kulawarga ageng TATV ngaturaken sugeng ari raya Idul Adha tahun kalih ewu enem. Kata yang berstruktur kata jadian dibentuk Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam . maka representasi tuturannya terkait dengan peringatan Idul Adha.’ Ungkapan tersebut dikategorikan sebagai ungkapan temporer non-kontekstual karena dua alasan. pemberitaan pada tanggal 10 Besar 1938 atau 10 Januari 2006 konteksnya adalah konteks Idul Adha. (Sumarlam) 35 . yang diucapkan oleh keluarga besar TATV kepada para pemirsa. Kategori Fatis. dan tidak tetap. tetapi bagaimana caranya hidup. Pertama. Ungkapan temporer yang non-kontekstual tampak pada ungkapan atau katakata bijak yang disampaikan pada bagian penutup program (CHP). Misalnya.

bahasa dalam siaran TS di TATV tergolong bahasa lisan baku. Kategori fatis tersebut berfungsi untuk mengakhiri seluruh siaran berita TS di TATV. serta gegayutan dan sesambetan. Kata gegayutan dan sesambetan sama-sama merupakan kata jadian yang dibentuk melalui reduplikasi dwipurwa berkombinasi dengan sufiks –an. bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana kaidahnya. dan dengan reduplikasi dwipurwa menjadi gegayutan dan sesambetan ‘berkaitan. lugas. berhubungan’. 36 Jurnal Penelitian Humaniora. Digunakannya kedua kata tersebut merupakan upaya tim redaksi untuk menampilkan variasi bentuk kata yang berbeda dengan arti relatif sama. kok. dan “sesambetan kaliyan kirang raketipun Bupati lan Wakil Bupati” ‘berkaitan dengan kurang eratnya (hubungan) Bupati dan Wakil Bupati’. misalnya gumathok dan cetha. termasuk bentukbentuk kata yang digunakan juga bentuk-bentuk kata yang lazim dan sederhana. namun ternyata baik dalam ragam tulis baku (naskah berita) maupun ragam lisan baku (siaran berita di TATV) juga digunakan kategori fatis. Hal yang perlu dikemukakan di sini adalah digunakannya bentuk-bentuk kata yang berbeda dengan arti lebih kurang sama.baik melalui afiksasi. dari kata gayut dan sambet ‘kait. dan ditempatkan pada akhir setiap CHP. Bahasa pada siaran berita mempunyai karakteristik tersendiri di dalam penggunaan kategori fatis. maupun dengan modifikasi intern. di tengah siaran (pada OHS dan CHS). komposisi. sementara itu. kategori fatis justru digunakan secara frekuentatif dan efektif baik pada awal siaran (pada tuturan OHP). Kata gumathok dan cetha mempunyai arti lebih kurang sama. dhing. dan informatif. atau mengukuhkan pembicaraan antara pembicara dan mitra bicaranya. Kategori fatis seperti lho. Kata nuwun ‘permisi’ digunakan secara konsisten oleh pembaca berita sebagai kata penutup pada setiap berita. yaitu ‘jelas’. dan sebagainya tidak ditemukan dalam siaran berita TS di TATV. hubung’ mendapat sufiks –an menjadi gayutan dan sambetan ‘hubungan’. Kategori fatis berupa kata yang ditemukan dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta hanya satu kata saja. Kategori fatis pada umumnya digunakan dalam ragam lisan takbaku. Sesuai dengan sifatnya. mempertahankan. Misalnya tampak pada tuturan “gegayutan kaliyan kathahipun proyek pambangunan …” ‘berkaitan dengan banyaknya proyek pembangunan …’. yaitu kata nuwun ‘permisi’. karena kategori-kategori fatis seperti itu cenderung digunakan dalam bahasa lisan takbaku. Yaitu. Edisi Khusus. reduplikasi. melainkan berupa kata atau frasa. Juni 2006: 23-41 . singkat. Agar isi berita yang disampaikan mudah dipahami oleh khalayak (para pemirsa). bahasa berita harus jelas. maupun pada akhir siaran (pada CHP). Kategori fatis pada umumnya berfungsi untuk memulai. Realitas menunjukkan bahwa di dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta. Kategori fatis yang digunakan dalam siaran berita TS di TATV pada umumnya tidak berupa partikel seperti yang biasa digunakan pada ragam bahasa lisan takbaku.

atau deklarasi aktual yang disampaikan oleh pembaca berita dan dianggap perlu diketahui oleh pendengar/pemirsa. ‘Keluarga besar TATV mengucapkan selamat hari raya Idul Adha 2006. Contoh penggunaan kalimat deklaratif pada tinjauan pers: Ing pungkasaning minggu menika Detik Com nglaporaken. dan 3 pada segmen-1.Kategori fatis berupa frasa yang ditemukan dalam siaran TS di TATV di antaranya adalah frasa matur nuwun ‘terima kasih’ dan sugeng sonten ‘selamat sore’. Anda masih bersama dalam berita bahasa Jawa Trang Sandyakala. (sesuai dengan kondisi saat berita disampaikan kepada pemirsa). dan salam TATV ‘salam TATV’. high light.’ Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kategori fatis yang berupa frasa dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta merepresentasikan ucapan terima kasih.’ (kalimat aditif). lan salam TATV. Kalimat deklaratif paling dominan digunakan karena hampir seluruh berita pada hakikatnya merupakan informasi. misalnya: Selasa Paing. baik tinjauan pers. sewu sangangatus tigangdasa wolu. ucapan selamat ……. kemudian dilanjutkan dengan keterangan waktu. maupun berita6 dan 7 pada segmen-3. interogatif. kalimat imperatif. berita-4 dan 5 pada segmen-2. 10 Besar 1938. berita-1. dan ucapan salam perpisahan.. ‘Terima kasih. sedasa Besar. ucapan selamat sore. responsif. Kalimat deklaratif ini apabila diperlukan keterangan tambahan maka akan digunakan jenis kalimat aditif. yakni deklaratif. Pada siaran berita BJ TS di TATV Surakarta.’ Kulawarga ageng TATV ngaturaken sugeng ari raya Idul Adha taun kalih ewu enem. ing sonten menika Panjenengan katemben mirsani program pawartos basa Jawi “Trang Sandyakala” ‘Pemirsa. Dari keenam jenis kalimat.’ Kula Sruti Respati/Satriyo Kusumo ngaturaken sugeng sonten. dan salam TATV. sugeng ari raya Idul Adha ‘selamat hari raya idul Adha’. dan kalimat aditif. atau 10 Januari 2006. pada sore hari ini Anda sedang menyaksikan program berita bahasa Jawa “Trang sandyakala”’ (kalimat deklaratif). aditif. Contoh: Pamirsa. 2. imperatif. yaitu kalimat terikat yang bersambung pada kalimat pernyataan (kalimat deklaratif). pemberitahuan. semuanya menggunakan jenis kalimat deklaratif. yaitu kalimat deklaratif. Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam . Kategori fatis tersebut dapat diamati pada contoh berikut ini. utawi sedasa Januari kalih ewu enem ‘Selasa Paing. pengumuman. ‘Saya Sruti Respati/Satriya Kusumo mengucapkan selamat sore. dan kalimat interjektif hanya tiga jenis kalimat yang sering digunakan dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta. Panjenengan taksih sesarengan ing pawartos basa Jawi Trang Sandyakala. Matur nuwun. (Sumarlam) 37 ..

kalawau enjing dipunprotes dening pelamar CPNS ingkang badhe mangertosi pengumuman resmi. ‘Demikian juga jangan sampai terlewatkan.]’ Contoh penggunaan kalimat deklaratif pada high light: Badan Kepegawaian Daerah Pemkab Boyolali. (Berita TS-1. 18 Maret 2006).’ Contoh penggunaan kalimat deklaratif pada segmen berita: Ujian ingkang sakalangkung awrat kadosipun kedah dipunadhepi dening para pegawe honorer ingkang sedinten saderengipun sampun dipunnyatakaken katampi minangka dados CPNS jalaran pihak Propinsi Jateng mbatalaken pengumuman tumrap honorer ingkang sampun dipunnyatakaken katampi minangka CPNS kalawau.’ Selain menggunakan jenis kalimat deklaratif.’ Kalimat imperatif yang menyatakan makna permintaan/anjuran di dalam tuturan ditandai dengan adanya penggunaan kata sampun ‘jangan’ atau frasa sampun 38 Jurnal Penelitian Humaniora. Edisi Khusus. keparenga migatosaken tigang pawartos wigati ingkang sampun sumadya saking wewengkon Subosukawonosraten.rancangan Jaksa Agung ingkang badhe mbebasaken para-para ingkang ngemplang BLBI […. tadi pagi diprotes oleh pelamar CPNS yang akan mengetahui pengumuman resmi. Penggunaan jenis kalimat imperatif dapat berupa ungkapan permintaan/anjuran ataupun ungkapan harapan. ‘Pada akhir minggu ini Detik Com melaporkan. Contoh kalimat imperatif bermakna permintaan/anjuran: Makaten ugi sampun ngantos ketinggalan.] (Tinjauan Pers. siaran berita BJ TS di TATV Surakarta juga menggunakan jenis kalimat imperatif. (High Light. 17 Maret 2006). ‘Badan Kepegawaian Daerah Pemkab Boyolali. ‘Ujian yang lebih berat tampaknya harus dihadapi oleh para pegawai honorer yang sehari sebelumnya sudah dinyatakan diterima menjadi CPNS karena pihak Propinsi Jateng membatalkan pengumuman kepada honorer yang sudah dinyatakan diterima menjadi CPNS. Juni 2006: 23-41 . silakan Anda memperhatikan tiga buah berita penting yang sudah disediakan dari wilayah Subosukawonosraten. 18 Maret 2006). rencana Jaksa Agung yang akan membebaskan para peminjam BLBI [….

Bagian isi terdiri atas sepuluh berita. yakni: bagian pembuka disebut Opening Host Program (OHP). Segmen-2 dua berita (berita 4 dan 5).. yaitu tinjauan pers (tiga berita). bagian isi terbagi atas tiga segmen berita. Secara umum. yaitu pembaca berita meminta/menganjurkan kepada pemirsa agar jangan sampai melewatkan berita-berita penting yang sudah dipersiapkan dari wilayah Subosukawonosraten. Di antara berita pada segmen-1 dan 2 terdapat jeda iklan pertama (Break-1). mugi rahayu ingkang sami pinanggih. sedangkan ungkapan temporer bersifat Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam .’ Kalimat imperatif bermakna harapan di dalam siaran berita BJ TS di TATV ditandai dengan adanya penggunaan kata mugi atau mugi-mugi ‘semoga’. durasi waktu siaran berita BJ TS di TATV Surakarta adalah 30 menit. ‘Pemirsa. dan harapan/permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar keselamatan dan kebahagiaan selalu bersama kita (pembaca berita. Tuturan tersebut termasuk jenis kalimat imperatif yang menyatakan makna permintaan/anjuran. ungkapan tetap dan ungkapan temporer. Secara keseluruhan.. Tiap segmen berita diawali dengan pembukaan dan diakhiri dengan penutupan yang disebut Opening Host Segmen (OHS) dan Closing Host Segmen (CHS). ‘Semoga Anda tetap menyatu bersama “Trang Sandyakala”’ Pamirsa. Diksi yang berupa ungkapan diklasifikasikan menjadi dua macam. Segmen-1 tiga berita (berita 1. dan bagian penutup disebut Closing Host Program (CHP).ngantos ‘jangan sampai’. kecuali pada segmen terakhir (segmen ke-3) pada bagian penutupan langsung diakhiri dengan Closing Host Program (CHP). (Sumarlam) 39 . Ungkapan tetap bersifat konstan dan selalu muncul dalam setiap siaran berita. Tuturan di atas menyatakan suatu harapan yang disampaikan oleh pembaca berita agar pemirsa tetap menyatu bersama Trang Sandyakala. pilihan kata dan kelompok kata dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta sudah tepat. dan pemirsa). dan Segmen-3 dua berita (berita 6 dan 7). winantu ing suka basuki. SIMPULAN Retorika siaran berita BJ TS di TATV Surakarta terdiri atas tiga bagian. dan pada segmen-2 dan 3 terdapat jeda iklan kedua (Break2). 2. Contoh kalimat imperatif bermakna harapan: Mugi Panjenengan tansah manunggal nyawiji kaliyan “Trang Sandyakala”. dan 3). semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu bersama kita. tim redaksi.

Jenis kalimat yang paling dominan digunakan dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta adalah kalimat deklaratif. H. Dori Wuwur. Edisi Khusus. Walaupun demikian..sporadis dan situasional. PERSANTUNAN Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Prof. Felicia Utorodewo. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Hermin Sutarni. Ucapan yang sama juga kami sampaikan kepada tim redaksi siaran berita TATV Surakarta atas bantuannya dalam pengumpulan data. dan harapan. Direktur Program Pascasarjana UNS. 1985. 1982. Juni 2006: 23-41 . 2005. Gorys. seperti pada siaran berita TS di TATV. Retorika: Terampil Berpidato. Lucy R.. Simon Djilalu. M. Keraf.1994. Siswanto. anjuran. Drs. Tata 40 Jurnal Penelitian Humaniora. DAFTAR PUSTAKA Djoko Kentjono (penyunting). Kategori fatis yang berupa frasa dalam siaran berita BJ TS di TATV Surakarta merepresentasikan ucapan terima kasih. Bala. Kategori fatis tersebut berupa kata dan frasa. Berargumentasi. Martha H. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. siaran berita BJ TS di TATV Surakarta juga menggunakan kalimat imperatif untuk menyatakan permintaan. Bentuk-bentuk kata dalam siaran berita TS di TATV adalah bentuk-bentuk kata BJ yang lazim digunakan di dalam masyarakat tutur Jawa. Savitri Elias. Di dalam siaran berita TS di TATV ditemukan adanya ungkapan temporer kontekstual dan ungkapan temporer non-kontekstual. Kategori fatis juga digunakan dalam ragam lisan baku.A. dan ucapan salam perpisahan. Montolulu. Hendrikus. Ph. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ucapan selamat (sesuai dengan kondisi saat berita disampaikan kepada pemirsa). Stefanus E. Digunakannya dua bentuk kata yang berbeda dengan arti relatif sama (bentuk-bentuk bersaing) merupakan upaya tim redaksi untuk menampilkan variasi bentuk kata sehingga dapat digunakan secara bergantian. Kridalaksana. Berdiskusi.D. Bernegosiasi. Diksi dan Gaya Bahasa. Haris Mudjiman. ucapan selamat sore. Dasar-Dasar Linguistik Umum. atas izin dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Harimurti.

1983. Harimurti.Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. 1993. Edi D. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Jakarta: Gunung Agung. Bausastra Jawa-Indonesia I dan II. Kamus Linguistik. Sudaryanto. Subroto. (Sumarlam) 41 . 1981. 1992. Karakteristik Penguunaan Bahasa Jawa dalam . S. Surakarta: Sebelas Maret University Press.. Pengantar Metoda Linguistik Struktural. Kridalaksana.. Prawiroatmojo. Jakarta: Penerbit PT Gramedia. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful