AD/ART NU

ANGGARAN DASAR NAHDLATUL ULAMA 2010 ِ ِ ّ ِ َ ْ ّ ّ ِْ ِ ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ ِ
MUQADDIMAH Bahwa agama Islam merupakan rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) dengan ajaran yang mendorong terwujudnya kemaslahatan dan kesejahteraan hidup bagi segenap umat manusia di dunia dan akhirat. Bahwa para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Indonesia terpanggil untuk melanjutkan dakwah Islamiyah dan melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar dengan mengorganisasikan kegiatan-kegiatannya dalam suatu wadah organisasi yang bernama NAHDLATUL ULAMA, yang bertujuan untuk mengamalkan ajaran Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama'ah. Bahwa kemaslahatan dan kesejahteraan warga NAHDLATUL ULAMA menuju Khaira Ummah adalah bagian mutlak dari kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Maka dengan rahmat Allah Subahanahu wa Ta'ala, dalam perjuangan mencapai masyarakat adil dan makmur yang menjadi cita-cita seluruh masyarakat Indonesia, Perkumpulan/Jam'iyah NAHDLATUL ULAMA beraqidah/berasas Islam menganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaid al-Bagdadi dan Abu Hamid al-Ghazali. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, NAHDLATUL ULAMA berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila bagi umat Islam adalah keyakinan tauhid bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa cita-cita bangsa Indonesia dapat diwujudkan secara utuh apabila seluruh potensi nasional diberdayakan dan difungsikan secara baik, dan NAHDLATUL ULAMA berkeyakinan bahwa keterlibatannya secara penuh dalam proses perjuangan dan pembangunan nasional merupakan suatu keharusan. Bahwa untuk mewujudkan hubungan antar bangsa yang adil, damai dan manusiawi menuntut saling pengertian dan saling memerlukan, maka NAHDLATUL ULAMA bertekad untuk mengembangkan ukhuwah Islamiyah, berpegang al-‘adalah ukhuwah teguh Wathoniyah pada dan ukhuwah dan Insaniyah yang mengemban kepentingan (keadilan), nasional at-tawassuth internasional al-ikhlash (moderasi), dengan

prinsip-prinsip

(ketulusan), at-tawazun

(keseimbangan) dan at-tasamuh (toleransi). Bahwa Perkumpulan/Jam’iyyah Nahdlatul Ulama tetap menjunjung tinggi semangat yang melatarbelakangi berdirinya dan prinsip-prinsip yang ada dalam Qanun Asasi. Menyadari hal-hal di atas, Perkumpulan/Jam'iyah sebagai suatu organisasi maka disusunlah Anggaran Dasar NAHDLATUL sebagai berikut: BAB I NAMA, KEDUDUKAN DAN STATUS Pasal 1
1. Perkumpulan/Jam'iyah

ULAMA

ini

bernama

Nahdlatul

Ulama

disingkat NU.
2. Nahdlatul Ulama didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab

1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M untuk waktu yang tak terbatas.

Pasal 2

Nahdlatul Ulama berkedudukan di Jakarta, Ibukota Negara Republik Indonesia yang merupakan tempat kedudukan Pengurus Besarnya.

Pasal 3
1. Nahdlatul

Ulama

sebagai Badan

Hukum Perkumpulan

bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial.
2. Nahdlatul Ulama memiliki hak-hak secara hukum sebagai

Badan Hukum Perkumpulan termasuk di dalamnya hak atas tanah dan aset-aset lainnya. BAB II PEDOMAN, AQIDAH DAN ASAS Pasal 4 Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas. Pasal 5 Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlusunnah wal Jama’ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam alJunaid al-Bagdadi dan Abu Hamid al-Ghazali. Pasal 6 Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nahdlatul Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. BAB III LAMBANG Pasal 7

berpengetahuan luas dan terampil. semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau. bangsa dan negara. sedang 4 (empat) bintang lainnya terletak melingkar di bawah garis khatulistiwa. Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlusunnah wal Jama'ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan. .Lambang Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul. serta berguna bagi agama. dengan tulisan NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri. Pasal 9 Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana Pasal 8 di atas. mengupayakan terlaksananya ajaran Islam yang menganut faham Ahlusunnah wal Jama'ah. Nahdlatul Ulama adalah perkumpulan/jam’iyyah diniyyah islamiyyah ijtima’iyyah (organisasi sosial keagamaan Islam) untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat. 2. dikitari oleh 9 (sembilan) bintang. berbudi luhur. Di bidang pendidikan. dan ketinggian harkat dan martabat manusia. BAB IV TUJUAN DAN USAHA Pasal 8 1. 5 (lima) bintang terletak melingkari di atas garis khatulistiwa yang terbesar di antaranya terletak di tengah atas. Di bidang agama. kemajuan bangsa. maka Nahdlatul Ulama melaksanakan usaha-usaha sebagai berikut: a. pengajaran dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta pengembangan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam untuk membina umat agar menjadi muslim yang taqwa. kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta. b.

c. Pengurus Majelis Wakil Cabang. HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 10 1. d. dan pendampingan masyarakat yang terpinggirkan (mustadl’afin). kemaslahatan dan ketahanan keluarga. Keanggotaan Nahdlatul Ulama terdiri dari anggota biasa. BAB VI STRUKTUR DAN PERANGKAT ORGANISASI Pasal 12 Struktur Organisasi Nahdlatul Ulama terdiri dari : a. Pengurus Ranting. Pengurus Wilayah. Pasal 13 . mengupayakan dan mendorong pemberdayaan di bidang kesehatan. Di bidang sosial. Di bidang ekonomi. 2. Pasal 11 Ketentuan mengenai hak dan kewajiban anggota serta lain-lainnya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. Ketentuan untuk menjadi anggota dan pemberhentian keanggotaan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. anggota luar biasa. mengupayakan peningkatan pendapatan masyarakat dan lapangan kerja/usaha untuk kemakmuran yang merata. e. d. Pengurus Cabang/Pengurus Cabang Istimewa. Pengurus Anak Ranting. e. Mengembangkan usaha-usaha lain melalui kerjasama dengan pihak dalam maupun luar negeri yang bermanfaat bagi masyarakat banyak guna terwujudnya Khaira Ummah. dan anggota kehormatan. b. f. Pengurus Besar. BAB V KEANGGOTAAN.c.

Pengurus Wilayah Harian Tanfidziyah. Pasal 15 1. a. 3. d. 5. b. Mustasyar adalah penasehat yang terdapat di Pengurus Besar. f. Pengurus Besar Lengkap Syuriyah. BAB VII KEPENGURUSAN DAN MASA KHIDMAT Pasal 14 1. Mustasyar Pengurus Wilayah. 4. Pengurus Besar Harian Syuriyah. Pengurus Wilayah Harian Syuriyah. b. .Untuk melaksanakan tujuan dan usaha-usaha sebagaimana dimaksud Pasal 8 dan 9. 2. c. Mustasyar Pengurus Besar. Pengurus Cabang/ Pengurus Cabang Istimewa. Kepengurusan Nahdlatul Ulama terdiri dari Mustasyar. e. 2. Pengurus Wilayah Lengkap Tanfidziyah. Pengurus Besar Harian Tanfidziyah. e. Pengurus Wilayah. Nahdlatul UIama membentuk perangkat organisasi yang meliputi: Lembaga. d. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama terdiri dari : f. c. Tanfidziyah adalah pelaksana. Pengurus Besar Pleno. Pengurus Wilayah Pleno. Pengurus Wilayah Lengkap Syuriyah. Pengurus Besar Nadhlatul Ulama terdiri dari : a. Ketentuan mengenai susunan dan komposisi kepengurusan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. Syuriyah adalah pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama. Lajnah dan Badan Otonom yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan organisasi Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Syuriyah dan Tanfidziyah. dan pengurus Majelis Wakil Cabang. Pengurus Besar Lengkap Tanfidziyah.

3. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama terdiri dari :

a.
b. c. d. e. f.

Mustasyar Pengurus Cabang. Pengurus Cabang Harian Syuriyah. Pengurus Cabang Lengkap Syuriyah. Pengurus Cabang Harian Tanfidziyah. Pengurus Cabang Lengkap Tanfidziyah. Pengurus Cabang Pleno. Mustasyar Pengurus Cabang. Pengurus Cabang Harian Syuriah. Pengurus Cabang Lengkap Syuriah. Pengurus Cabang Harian Tanfidziyah. Pengurus Cabang Lengkap Tanfidziyah. Pengurus Cabang Pleno.

4. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama terdiri dari: a. b. c. d.

e.
f.

5. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama terdiri

atas:
a. b. c. d. e. f.

Mustasyar Pengurus Majelis Wakil Cabang. Pengurus Majelis Wakil Cabang Harian Syuriyah. Pengurus Majelis Wakil Cabang Lengkap Syuriyah. Pengurus Majelis Wakil Cabang Harian Tanfidziyah. Pengurus Majelis Wakil Cabang Lengkap Tanfidziyah. Pengurus Majelis Wakil Cabang Pleno. Pengurus Ranting Harian Syuriyah. Pengurus Ranting Lengkap Syuriyah. Pengurus Ranting Harian Tanfidziyah. Pengurus Ranting Lengkap Tanfidziyah. Pengurus Ranting Pleno.

6. Pengurus Ranting Nadhlatul Ulama terdiri atas:

a. b. c. d. e.

7. Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama terdiri dari: a. Pengurus Anak Ranting Harian Syuriyah. b. Pengurus Anak Ranting Lengkap Syuriyah. c. Pengurus Anak Ranting Harian Tanfidziyah. d. Pengurus Anak Ranting Lengkap Tanfidziyah. e. Pengurus Anak Ranting Pleno.

8. Ketentuan mengenai susunan dan komposisi pengurus

diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 16
1. Masa Khidmat Kepengurusan sebagaimana dimaksud pada

Pasal 14 adalah lima tahun dalam satu periode di semua tingkatan, kecuali Pengurus Cabang Istimewa selama 2 (dua) tahun.
2. Masa

jabatan

pengurus

Lembaga

dan

Lajnah

disesuaikan dengan masa jabatan Pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat masing-masing.
3. Masa Khidmat Ketua Umum Pengurus Badan Otonom adalah 2

(dua) periode, kecuali Ketua Umum Pengurus Badan Otonom yang berbasis usia adalah 1 (satu) periode.

BAB VIII TUGAS DAN WEWENANG Pasal 17 Mustasyar bertugas dan berwenang memberikan nasehat kepada Pengurus Nahdlatul Ulama menurut tingkatannya baik diminta ataupun tidak. Pasal 18 Syuriyah bertugas dan berwenang membina dan mengawasi pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi sesuai tingkatannya.

Pasal 19 Tanfidziyah mempunyai tugas dan wewenang menjalankan pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi sesuai tingkatannya. Pasal 20 Ketentuan tentang rincian wewenang dan tugas sesuai pasal 17, 18 dan 19 diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB IX PERMUSYAWARATAN Pasal 21 1. Permusyawaratan adalah suatu pertemuan yang dapat membuat keputusan dan ketetapan organisasi yang diikuti oleh struktur organisasi di bawahnya. 2. Permusyawaratan Daerah. Pasal 22 1. Permusyawaratan tingkat nasional yang dimaksud pada pasal 21 terdiri dari: a. b. c. d. Muktamar Muktamar Luar Biasa Musyawarah Nasional Alim Ulama Konferensi Besar Pasal 23 Permusyawaratan tingkat daerah yang dimaksud pada pasal 21 terdiri: a. Konferensi Wilayah b. Musyawarah Kerja Wilayah c. Konferensi Cabang/Konferensi Cabang Instimewa d. Musyawarah Kerja Cabang/Musyawarah Kerja Cabang Istimewa e. Konferensi Majelis Wakil Cabang f. Musyawarah Majelis Wakil Cabang g. Musyawarah Ranting h. Musyawarah Anak Ranting Pasal 24
1. Permusyaratan di lingkungan Badan Otonom Nahdlatul Ulama

di

lingkungan

Nahdlatul

Ulama

meliputi

Permusyawaratan Tingkat Nasional dan Permusyawaratan Tingkat

meliputi permusyawaratan Tingkat Nasional dan Tingkat Daerah.

b. . Permusyawaratan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) pasal ini terdiri dari: a. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. Badan Otonom Harus meratifikasi hasil permusyawaratan Nahdlatul Ulama. Rapat Harian Tanfidziyah. e. yang dilakukan di masing-masing tingkat Pasal 28 Ketentuan lebih lanjut tentang rapat-rapat sebagaimana tersebut pada pasal 27 akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. Pasal 27 Rapat-rapat di lingkungan Nahdlatul Ulama terdiri dari: a. 4. Rapat Pleno. BAB X RAPAT-RAPAT Pasal 26 Rapat adalah suatu pertemuan yang dapat membuat keputusan dan ketetapan organisasi kepengurusan. Peraturan-Peraturan Organisasi Nahdlatul Ulama dan PeraturanPeraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Rapat-rapat lain yang dianggap perlu. Pasal 25 Ketentuan lebih lanjut mengenai permusyawaratan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. Permusyawaratan Badan Otonom merujuk kepada dan tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar. d. Anggaran Rumah Tangga. c. Rapat kerja 3. Rapat Harian Syuriyah.2. Kongres b.

b. Uang pangkal. Dalam hal Muktamar yang dimaksud ayat 1(satu) Pasal ini tidak dapat diadakan karena tidak tercapai quorum. Ketentuan penerimaan dan pemanfaatan keuangan yang termaktub dalam ayat 1 (satu) dan ayat 2 (dua) pasal ini diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. 2. 3. memenuhi syarat dan ketentuan yang sama Muktamar dapat dimulai dan dapat mengambil keputusan . umat Islam.BAB XI KEUANGAN DAN KEKAYAAN Pasal 29 1. 2. BAB XII PERUBAHAN Pasal 31 1. Keuangan Nahdlatul Ulama digali dari sumber-sumber dana di lingkungan Nahdlatul Ulama. c. Sumber dana Nahdlatul Ulama diperoleh dari: a. maka ditunda selambat-lambatnya 1 (satu) bulan dan selanjutnya dengan yang sah. Anggaran Dasar ini hanya dapat diubah oleh Keputusan Muktamar yang sah yang dihadiri sedikitnya dua pertiga dari jumlah pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang/Pengurus Cabang Istimewa yang sah dan sedikitnya disetujui oleh dua pertiga dari jumlah suara yang sah. d. Uang I’anah Syahriyah Sumbangan Usaha-usaha lain yang halal. maupun sumbersumber lain yang halal dan tidak mengikat. Pasal 30 Kekayaan organisasi adalah inventaris dan aset Organisasi yang berupa harta benda bergerak dan atau harta benda tidak bergerak yang dimiliki/dikuasai oleh Organisasi/Perkumpulan Nahdlatul Ulama.

Pembubaran Perkumpulan/Jam'iyah Nahdlatul Ulama sebagai suatu organisasi hanya dapat dilakukan apabila mendapat persetujuan dari seluruh anggota dan pengurus di semua tingkatan. 2. maka segala kekayaannya diserahkan kepada organisasi atau badan amal yang sefaham dengan persetujuan dari seluruh anggota dan pengurus di semua tingkatan. . Apabila Nahdlatul Ulama dibubarkan.BAB XII PEMBUBARAN ORGANISASI Pasal 32 1. BAB XIII PENUTUP Pasal 33 Muqaddimah Qanun Asasy oleh Rais Akbar Hadratus Syaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari dan Naskah Khittah Nahdlatul Ulama merupakan bagian tak terpisahkan dari Anggaran Dasar ini.

4. tujuan dan usaha-usaha Nahdlatul Ulama. b. Anggota luar biasa. . Apabila tidak ada Pengurus Ranting di tempat tinggalnya maka pendaftaran anggota dilakukan di Ranting terdekat. Anggota biasa disahkan oleh Pengurus Cabang. Anggota biasa yang berdomisili di luar negeri diterima melalui Pengurus Cabang Istimewa. 3. namun yang bersangkutan berdomisili secara tetap di luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.ANGGARAN RUMAH TANGGA NAHDLATUL ULAMA 2010 ِ ِ ّ ِ َ ْ ّ ّ ِْ ِ ‫بسم ال الرحمن الرحيم‬ ِ BAB I KEANGGOTAAN Pasal 1 Keanggotaan Nahdlatul Ulama terdiri dari: a. BAB II TATACARA PENERIMAAN DAN PEMBERHENTIAN KEANGGOTAAN Pasal 2 1. sudah aqil baligh. Anggota biasa diterima melalui Pengurus Ranting atas rekomendasi Pengurus Anak Ranting setempat. dan menyatakan diri setia terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi. menganut faham Ahlusunnah wal Jamaah dan menurut salah satu Mazhab Empat. Anggota biasa adalah setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam. menyetujui aqidah. 2. c. adalah setiap orang yang beragama Islam. baligh. Anggota kehormatan adalah setiap orang yang bukan anggota biasa atau anggota luar biasa yang dinyatakan telah berjasa kepada Nahdlatul Ulama dan ditetapkan dalam keputusan Pengurus Besar. asas.

3. 2. 2. 3. b. Ketentuan tentang prosedur penerimaan anggota diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. 3. maka kepada yang bersangkautan diberikan surat keputusan sebagai anggota kehormatan. Pasal 4 1. Anggota luar biasa yang berdomisili di luar negeri diterima dan disahkan oleh Pengurus Cabang Istimewa. Anggota luar biasa di dalam negeri diterima dan disahkan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama setempat.Pasal 3 1. Anggota Kehormatan berhak mendapatkan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama Khusus. Pasal 5 1. Dalam hal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memberikan persetujuan. Anggota kehormatan diusulkan oleh pengurus Cabang. Pengurus Cabang Istimewa atau Pengurus Wilayah kepada Pengurus Besar. Apabila tidak ada Pengurus Cabang Istimewa di tempat tinggalnya maka penerimaan dan pengesahan dilakukan di Pengurus Cabang Istimewa terdekat. permintaan sendiri diberhentikan . Pasal 6 1. Pengurus Besar menilai dan mempertimbangkan usulan sebagaimana tersebut dalam ayat 1 pasal ini untuk memberikan persetujuan atau penolakan. Kartu Nahdlatul 2. Seseorang dinyatakan berhenti dari keanggotaan Nahdlatul Ulama karena: a. Anggota biasa maupun Tanda anggota Anggota luar biasa berhak Ulama mendapatkan (KARTANU).

Ukhuwah Wathoniyah dan Ukhuwah Insaniyah serta persatuan nasional dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Organisasi pada tingkatannya. Memilih dan dipilih menjadi pengurus atau menduduki Mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Memberikan usulan dan masukan sesuai ketentuan yang jabatan lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bersungguh-sungguh mendukung dan membantu segala langkah Organissi serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang diamanahkan kepadanya. 4.2. b. Pasal 8 1. Ketentuan mengenai prosedur pemberhentian keanggotaan diatur dalam Peraturan Organisasi. d. mengemukakan pendapat dan memberikan suara. d. dan menjaga nama baik Organisasi. Memupuk dan memelihara Ukhuwah Islamiyah. c. BAB III KEWAJIBAN DAN HAK ANGGOTA Pasal 7 Anggota Nahdlatul Ulama berkewajiban: a. c. Membayar i’anah yang jenis dan jumlahnya ditetapkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 3. berlaku. Setia. Menghadiri Musyawarah Anggota. b. . Anggota biasa berhak: a. Seseorang berhenti dari keanggotaan Nahdlatul Ulama karena permintaan sendiri yang diajukan kepada Pengurus Ranting secara tertulis dengan tembusan kepada Pengurus Anak Ranting. taat. Seseorang diberhentikan dari keanggotaan Nahdlatul Ulama karena dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya sebagai anggota atau melakukan perbuatan yang mencemarkan dan menodai nama baik Nahdlatul Ulama.

f. Pengurus Besar (PB) untuk tingkat Nasional dan berkedudukan di Jakarta. BAB IV TINGKATAN KEPENGURUSAN Pasal 9 Tingkatan kepengurusan dalam organisasi Nahdlatul Ulama terdiri dari: a. Pembentukan Wilayah Nahdlatul Ulama diusulkan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pengurus Ranting (PR) untuk tingkat Kelurahan/desa.e. c. Pengurus Wilayah (PW) untuk tingkat Propinsi dan berkedudukan di wilayahnya. . perlindungan dan pelayanan Organisasi. d. 2. asas. Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) untuk tingkat Kecamatan dan berkedudukan di wilayahnya. Anggota Biasa dan Luar Biasa Nahdlatul Ulama tidak diperkenankan merangkap menjadi anggota organisasi sosial keagamaan lain yang mempunyai aqidah. Membela diri dan mendapatkan pembelaan. Anggota luar biasa dan anggota kehormatan mempunyai hak sebagaimana hak anggota biasa kecuali hak memilih dan dipilih. Ibukota Negara. Pengurus Cabang (PC) untuk tingkat Kabupaten / Kota dan berkedudukan di wilayahnya. g. b. Pengurus Anak Ranting (PAR) untuk kelompok dan atau suatu komunitas. Pasal 10 1. 3. Pengurus Cabang Istimewa (PCI) untuk Luar Negeri dan berkedudukan di wilayah negara yang bersangkutan. e. dan tujuan yang berbeda atau merugikan Nahdlatul Ulama.

. 3. Pengurus Ulama Besar masa melalui Rapat Harian Syuriyah dan Surat Tanfidziyah. Pembentukan Cabang Nahdlatul Ulama diusulkan oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang melalui Pengurus Wilayah kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama. Nahdlatul percobaan Ulama kepada memberikan Pengurus Keputusan 4. Pembentukan Cabang Nahdlatul Ulama diputuskan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui Rapat Harian Surat Syuriyah dan Tanfidziyah. Besar mengeluarkan Surat Keputusan Penuh setelah melalui masa percobaan selama 1 (satu) tahun. 5. Pasal 12 1. Dalam hal-hal yang menyimpang dari ketentuan ayat (1) diatas disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk dan luasnya daerah atau sulitnya komunikasi dan atau faktor kesejarahan. Pengurus Wilayah berfungsi sebagai koordinator Cabang- Cabang di daerahnya dan sebagai pelaksana Pengurus Besar untuk daerah yang bersangkutan. Pembentukan Wilayah diputuskan oleh Pengurus Besar Nahdlatul 3. 2. pembentukan Cabang diatur oleh kebijakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Besar mengeluarkan Surat Keputusan Penuh setelah melalui masa percobaan selama 2 (dua) tahun. Pembentukan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama dilakukan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atas permohonan sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) orang anggota.2. Pengurus Besar masa Nahdlatul percobaan Ulama kepada memberikan Pengurus Keputusan 4. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama. 5. Pasal 11 1.

4. Pembentukan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama diputuskan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. 3. 2. Pembentukan Ranting Nahdlatul Ulama diputuskan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. Pasal 13 1. 3. Pengurus Cabang mengeluarkan Surat Keputusan setelah melalui masa percobaan selama 6 (enam) bulan. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama memberikan Surat Keputusan masa percobaan kepada Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama. Pengurus Wilayah mengeluarkan Surat Keputusan setelah melalui masa percobaan selama 6 (enam) bulan. 3. Pengurus Besar masa Nahdlatul percobaan Ulama kepada memberikan Pengurus Surat Keputusan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama. Pembentukan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama diusulkan oleh Pengurus Ranting melalui Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kepada Pengurus Wilayah. Pembentukan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama diputuskan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. . 4. Pembentukan Ranting Nahdlatul Ulama diusulkan oleh Pengurus Anak Ranting melalui Majelis Wakil Cabang kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama. 2. Pasal 14 1. Pengurus Besar mengeluarkan Surat Keputusan setelah melalui masa percobaan selama 1 (satu) tahun. 4.2. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama memberikan Surat masa percobaan kepada Pengurus Ranting Keputusan Nahdlatul Ulama.

b. Pembentukan Anak Ranting Nahdlatul Ulama diputuskan oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. Pembentukan Anak Ranting Nahdlatul Ulama diusulkan oleh anggota melalui Ranting kepada Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama.Pasal 15 1. 2. Pasal 16 Ketentuan mengenai syarat dan tatacara pembentukan kepengurusan Organisasi diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. Pembentukan Anak Ranting Nahdlatul Ulama dapat dilakukan jika terdapat sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) anggota. Badan Otonom. c. Lembaga adalah perangkat departementasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan . Cabang Keputusan setelah melalui masa percobaan selama 3 (tiga) bulan. Pasal 18 1. Pengurus Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama. Lajnah. Lembaga. 4. BAB V PERANGKAT ORGANISASI Pasal 17 Perangkat organisasi Nahdlatul Ulama terdiri dari: a. Pengurus Majelis Surat Majelis Wakil Keputusan Wakil Cabang masa Nahdlatul percobaan mengeluarkan Ulama kepada Surat memberikan 5. 3.

bertugas melaksanakan pengembangan kebijakan agama Nahdlatul Islam yang Ulama di bidang faham menganut Ahlussunnah wal Jamaah. Lembaga kebijakan Nahdlatul Ulama pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Perekonomian Nahdlatul Ulama disingkat bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan ekonomi warga Nahdlatul Ulama. Pembentukan dan penghapusan Lembaga ditetapkan melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah pada masingmasing tingkat kepengurusan Nahdlatul Ulama. 6. Ketua Lembaga ditunjuk langsung dan bertanggung jawab kepada pengurus Nahdlatul Ulama sesuai dengan tingkatannya. lingkungan hidup dan eksplorasi kelautan. disesuaikan dengan kebutuhan penanganan program. e. Ketua Lembaga dapat diangkat untuk maksimal 2 (dua) masa jabatan.Nahdlatul Ulama berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan. Rabithah Ma'ahid al Islamiyah disingkat RMI. b. 5. Lembaga sebagaimana dimaksud pada Pasal 18 butir (a) dan ayat 1 Pasal 17 adalah: a. Pembentukan Lembaga di tingkat Wilayah. 3. c. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama disingkat LP2NU. Cabang dan Cabang Istimewa. Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama disingkat LP Maarif NU. bertugas dibidang LPNU melaksanakan d. . Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama disingkat LDNU. bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama dibidang pendidikan dan pengajaran formal. 2. bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pertanian. 4.

Lembaga Amil Zakat Nahdlatul Ulama disingkat LAZNU. bertugas dan melaksanakan pendampingan. bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang kesejahteraan keluarga. bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan dan pemberdayaan Masjid. Lembaga Waqaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama disingkat LWPNU. Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama disingkat LBMNU. n. l.f. Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama disingkat LTMNU. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia disingkat LAKPESDAM. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama disingkat LKNU. bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di sumber daya manusia. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama disingkat LKKNU. k. i. bertugas menghimpun. Pasal 19 1. . bertugas membahas masalah-masalah maudlu'iyah (tematik) dan waqi'iyah (aktual) yang akan menjadi Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. m. mengelola serta mengembangkan tanah dan bangunan serta harta benda wakaf lainnya milik Nahdlatul Ulama. sosial dan kependudukan. bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama dibidang pengembangan seni dan budaya. h. bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang kesehatan. g. Lajnah adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan program Nahdlatul Ulama yang memerlukan penanganan khusus. konsultasi. mengelola dan mentasharufkan zakat dan shadaqah kepada mustahiqnya. bertugas mengurus. bidang pengkajian dan pengembangan kajian kebijakan hukum. Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia disingkat LESBUMI. j. Lembaga Bantuan Hukum disingkat LBHNU. penyuluhan.

Ketentuan lebih lanjut tentang Lajnah diatur dalam Peraturan Organisasi. b. Pasal 20 1. c. 4. 2. bertugas mengelola masalah ru'yah. asas dan tujuan Nahdlatul Ulama. Badan Otonom dikelompokkan dalam katagori Badan Otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu. disingkat LFNU. penerjemahan dan bertugas penerbitan kitab/buku serta media informasi menurut faham Ahlussunnah wal Jamaah. Lajnah Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama. disingkat LTNNU. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama. 5.2. mengembangkan penulisan. Lajnah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama. Badan Otonom adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan. Lajnah sebagaimana yang dimaksud Pasal 17 butir (b) dan ayat 1 Pasal ini adalah: a. 4. disingkat LPTNU. Badan Otonom harus memberikan laporan perkembangan setiap tahun kepada Nahdlatul Ulama di semua tingkatan. 3. 3. Pembentukan dan penghapusan Lajnah ditetapkan melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah pada masing-masing tingkat kepengurusan Nahdlatul Ulama. bertugas mengembangkan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama. Badan Otonom berkewajiban menyesuaikan dengan aqidah. dan Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya. hisab dan pengembangan IImu Falak. . Pembentukan dan pembubaran Badan Otonom diusulkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ditetapkan dalam Konferensi Besar dan dikukuhkan dalam Muktamar.

Serikat Buruh Muslimin Indonesia disingkat SARBUMUSI anggota Nahdlatul Ulama yang berprofesi sebagai untuk e. b. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama disingkat IPPNU untuk pelajar dan santri perempuan Nahdlatul Ulama yang maksimal berusia 30 (tiga puluh) tahun. e. Badan kebijakan intelektual. Badan Otonom berbasis profesi dan kekhususan lainnya: a. Muslimat Nahdlatul Ulama disingkat Muslimat NU untuk Fatayat Nahdlatul Ulama disingkat Fatayat NU untuk anggota perempuan Nahdlatul Ulama.6. Pagar Nusa untuk anggota Nahdlatul Ulama yang bergerak Persatuan Guru Nahdlatul Ulama disingkat PERGUNU untuk pada pengembangan seni bela diri. c. anggota Nahdlatul Ulama yang berprofesi sebagai guru dan atau ustadz. untuk anggota Nahdlatul Ikatan Sarjana Nahdlalul Ulama disingkat ISNU adalah Otonom yang berfungsi membantu melaksanakan Nahdlatul Ulama pada kelompok sarjana dan kaum anggota Nahdlatul Ulama pengamal tharekat yang mu'tabar. b. f. . Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama disingkat GP Ansor untuk anggota laki-laki muda Nahdlatul Ulama yang maksimal berusia 40 (empat puluh) tahun. c. Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah untuk Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh. anggota perempuan muda Nahdlatul Ulama berusia maksimal 40 (empat puluh) tahun. NU d. buruh/karyawan/tenagakerja. 7. d. Ulama yang berprofesi Qori/Qoriah dan Hafizh/Hafizhah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama disingkat IPNU untuk pelajar dan santri laki-Iaki Nahdlatul Ulama yang maksimal berusia 30 (tiga puluh) tahun. Jenis Badan Otonom berbasis usia dan kelompok masyarakat tertentu adalah: a.

Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan. 2. Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua Umum. BAB VI SUSUNAN PENGURUS BESAR Pasal 22 1. Katib ‘Am dan beberapa Katib. Ketentuan lebih lanjut berkait dengan Badan Otonom diatur dalam Peraturan Organisasi. Wakil Ketua Umum. BAB VII SUSUNAN PENGURUS WILAYAH Pasal 25 . Lajnah dan Badan Otonom pada tingkat masing-masing. Pengurus Lengkap Tanfidziyah terdiri dari Pengurus Harian Tanfidziyah. Mustasyar Pengurus Besar terdiri dari beberapa orang sesuai dengan kebutuhan. beberapa Ketua. mengayomi dan dapat mengambil tindakan organisatoris terhadap Lembaga. 3. beberapa Wakil Sekretaris Jenderal. Ketua Lembaga dan Ketua Lajnah Pusat. Pengurus Lengkap Syuriyah. Pasal 23 1. beberapa Rais. Pasal 21 Pengurus Nahdlatul Ulama berkewajiban membina. Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara. Pengurus Lengkap Tanfidziyah dan Ketua Umum Badan Otonom tingkat pusat. 2. Sekretaris Jenderal. Pasal 24 Pengurus Pleno terdiri dari Mustasyar. Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais ‘Am.g. Wakil Rais ‘Am.

3. beberapa Wakil Rais. 3. pengurus Lengkap Syuriyah. Sekretaris. 2. Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua. Mustasyar Pengurus dari Cabang beberapa dan Pengurus sesuai Cabang dengan Istimewa kebutuhan. Katib dan beberapa Wakil Katib. Katib dan beberapa Wakil Katib. beberapa Wakil Rais. Pengurus Lengkap Tanfidziyah terdiri atas Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Lembaga dan Lajnah tingkat Wilayah. terdiri orang 2. Pasal 29 . Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais. Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara. Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais. 2. beberapa Wakil Sekretaris. Mustasyar Pengurus Wilayah terdiri dari beberapa orang sesuai dengan kebutuhan. Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan. beberapa Ketua.1. pengurus Lengkap Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat Wilayah. BAB VIII SUSUNAN PENGURUS CABANG DAN PENGURUS CABANG ISTIMEWA Pasal 28 1. Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan. Pasal 27 Pengurus Pleno terdiri dari Mustasyar. Pasal 26 1.

Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua. 2. beberapa Ketua. beberapa Ketua. Pasal 33 Pengurus Pleno terdiri dari Mustasyar. 2. 3. Pasal 32 1. beberapa Wakil Rais. Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais. Katib dan beberapa Wakil Katib. Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua. Sekretaris. Pengurus Lengkap Tanfidziyah terdiri atas Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Lembaga dan Lajnah tingkat Cabang. Mustasyar Pengurus Majelis Wakil Cabang terdiri dari beberapa orang sesuai dengan kebutuhan. . 2. Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara. Pengurus Lengkap Tanfidziyah terdiri atas Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Lembaga dan Lajnah tingkat Majelis Wakil Cabang. Pengurus Lengkap Syuriyah. pengurus Lengkap Syuriyah. Sekretaris. Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan. Pengurus Lengkap Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat Majelis Wakil Cabang. BAB IX SUSUNAN PENGURUS MAJELIS WAKIL CABANG Pasal 31 1. pengurus lengkap Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat Cabang. Pasal 30 Pengurus Pleno terdiri dari Mustasyar. beberapa Wakil Sekretaris. beberapa Wakil Sekretaris.1. Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara.

Katib dan beberapa Wakil Katib. Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara. beberapa Wakil Rais. beberapa Wakil Sekretaris. 2. beberapa Ketua. BAB XI SUSUNAN PENGURUS ANAK RANTING Pasal 37 1. Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua. beberapa Wakil Rais. Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan. 2. Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais. Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A'wan. . Sekretaris. Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara. Pasal 36 Pengurus Pleno terdiri dari pengurus Syuriyah dan pengurus Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat ranting. Pasal 38 1. 2. beberapa Wakil Sekretaris. Sekretaris.BAB X SUSUNAN PENGURUS RANTING Pasal 34 1. beberapa Ketua. Katib dan beberapa Wakil Katib. Pasal 35 1. Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua. 2. Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais. Pengurus Lengkap Tanfidziyah terdiri atas Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Lembaga tingkat Ranting. Pengurus Lengkap Tanfidziyah terdiri atas Pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Lembaga.

seorang calon harus sudah aktif menjadi anggota Nahdlatul Ulama atau Badan Otonomnya. 2. BAB XIII SYARAT MENJADI PENGURUS Pasal 40 1. Pengurus Badan Otonom terdiri dari Ketua Umum. beberapa Sekretaris. Untuk menjadi Pengurus Wilayah. Sekretaris Umum. 3. Untuk menjadi Pengurus Harian Anak Ranting Nahdlatul Ulama seseorang sudah terdaftar sebagai anggota Nahdlatul Ulama. Pemilihan dan penetapan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sebagai berikut: . Kelengkapan susunan Pengurus Badan Otonom diatur dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Badan Otonom. Untuk menjadi Pengurus Besar.BAB XII SUSUNAN PENGURUS BADAN OTONOM Pasal 39 1. beberapa Ketua. Bendahara Umum dan beberapa Bendahara. 2. seorang calon harus sudah aktif menjadi anggota Nahdlatul Ulama atau Badan Otonomnya sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun. seorang calon harus sudah aktif menjadi anggota Nahdlatul Ulama atau Badan Otonomnya sekurang-kurangnya selama 4 (empat) tahun. 4. Untuk menjadi pengurus Ranting atau Majelis Wakil Cabang. Untuk menjadi Pengurus Cabang. 5. BAB XIV PEMILIHAN DAN PENETAPAN PENGURUS Pasal 41 1. seorang calon harus sudah aktif menjadi anggota Nahdlatul Ulama atau Badan Otonomnya sekurang-kurangnya selama 3 (tiga) tahun.

Ketua Umum terpilih dan Wakil Ketua Umum bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyyah dan Tanfidziyah dengan dibantu oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Muktamar. 2. Wakil Ketua Umum ditunjuk oleh Ketua Umum terpilih dengan mempertimbangkan aspirasi yang berkembang. Pemilihan dan penetapan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama sebagai berikut: a. Pengisian A'wan. Rais ‘Am terpilih. b. 3. Ketua Lembaga dan Ketua Lajnah ditetapkan oleh Pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. Rais dan Ketua terpilih bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyyah dan Tanfidziyah dengan dibantu . 4. Rais Aam dipilih secara langsung oleh muktamirin melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Muktamar setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya. Wakil Rais ‘Am. Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Wilayah setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya. Ketua dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Wilayah dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya dan mendapat persetujuan dari Rais terpilih. Ketua Umum dipilih secara langsung oleh muktamirin melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Muktamar. c. Pasal 42 1. Wakil Rais Aam ditunjuk oleh Rais Aam terpilih dengan mempertimbangkan aspirasi yang berkembang.a. Pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dapat membentuk tim tertentu untuk menyusun kelengkapan Pengurus Lembaga dan Lajnah. dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya secara lisan atau tertulis dan mendapat persetujuan dari Rais ‘Am terpilih. b. d. 2.

3. Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Cabang Istimewa setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya. Pasal 43 1. Ketua dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Cabang Istimewa dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya dan mendapat persetujuan dari Rais terpilih. Ketua dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Cabang dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya dan mendapat persetujuan dari Rais terpilih. b. 3. Pemilihan dan penetapan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama sebagai berikut: a. Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Cabang setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya. Rais dan Ketua terpilih bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyyah dan Tanfidziyah dengan dibantu oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Konferensi Cabang. Pemilihan dan penetapan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama sebagai berikut: a. b. Pengurus Cabang lembaga Harian dan Nahdlatul Ulama bertugas Harian membentuk lajnah melalui Rapat Syuriyah dan Tanfidziyah. Pengurus Wilayah lembaga Harian dan Nahdlatul Ulama bertugas Harian membentuk lajnah melalui Rapat Syuriyah dan Tanfidziyah. Pasal 44 1.oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Konferensi Wilayah. . 2.

Ketua dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Ranting dengan terlebih . Pemilihan dan penetapan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama sebagai berikut: a. Rais terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya dan mendapat persetujuan dari Rais terpilih. Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Majelis Wakil Cabang setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya. Rais dan Ketua terpilih bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyyah dan Tanfidziyah dengan dibantu oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Konferensi Cabang Istimewa. b. Pasal 46 1. Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Ranting setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya. 3. b. Pengurus Majelis Wakil Cabang Harian Nahdlatul Ulama bertugas membentuk lembaga dan lajnah melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. Pemilihan dan penetapan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama sebagai berikut: a. 3. dan Ketua terpilih bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyyah dan Tanfidziyah dengan dibantu oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Konferensi Cabang. Pasal 45 1. Pengurus Cabang Istimewa Harian Nahdlatul Ulama bertugas membentuk lembaga dan lajnah melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.2. Ketua dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Majelis Wakil Cabang dengan 2.

Apabila Wakil Rais ‘Am berhalangan tetap. maka Wakil Rais ‘Am menjadi Pejabat Rais ‘Am. BAB XV PENGISIAN JABATAN ANTAR WAKTU Pasal 48 1. 3. maka Rais ‘Am atau Pejabat Rais ‘Am menunjuk salah seorang Rais untuk menjadi Wakil . Rais dan Ketua terpilih bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyyah dan Tanfidziyah. Pengurus Ranting Harian Nahdlatul Ulama bertugas membentuk Lembaga dan Lajnah melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. 2. Rais dan Ketua terpilih bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyyah dan Tanfidziyah dengan dibantu oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Konferensi Ranting. Apabila Rais ‘Am berhalangan tetap. Ketua dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Musyawarah Anggota dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya dan mendapat persetujuan dari Rais terpilih. 2. Pasal 47 1. Pemilihan dan penetapan Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama sebagai berikut: a. b. Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Musyawarah Anggota setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya. Pengurus Anak Ranting Harian Nahdlatul Ulama bertugas membentuk Lembaga dan Lajnah melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. 2.dahulu menyampaikan kesediaannya dan mendapat persetujuan dari Rais terpilih. 3.

Apabila Rais ‘Am dan Wakil Rais ‘Am berhalangan tetap dalam waktu yang bersamaan. Apabila Ketua Lembaga atau Ketua Lajnah berhalangan tetap maka pengisiannya diusulkan oleh Pengurus Harian Lembaga atau Lajnah yang bersangkutan.Rais ‘Am dengan mempertimbangan aspirasi yang berkembang dalam Rapat Lengkap Pengurus Besar Syuriyah . Apabila Mustasyar. Pasal 49 1. Apabila Ketua Umum berhalangan tetap. maka Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menetapkan Pejabat Rais Aam dan Pejabat Wakil Rais Aam. 5. 4. Sekretaris. dan Bendahara berhalangan tetap maka pengisiannya ditetapkan melalui Rapat Pengurus Besar Harian Tanfidziyah. Bendahara Umum. 4. Apabila Wakil Ketua Umum berhalangan tetap. maka Wakil Ketua Umum menjadi Pejabat Ketua Umum. Apabila Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum berhalangan tetap dalam waktu yang bersamaan. 6. Apabila Ketua Tanfidziyah. 3. dan A'wan berhalangan tetap maka pengisiannya ditetapkan melalui rapat Pengurus Besar Harian Syuriyah dan disyahkan dengan Surat Keputusan Pengurus Besar. Katib Aam. maka Ketua Umum atau Pejabat Ketua Umum menunjuk salah seorang Ketua untuk menjadi Wakil Ketua Umum dengan mempertimbangan aspirasi yang berkembang dalam Rapat Harian Pengurus Besar Tanfidziyah. ditetapkan melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dan disyahkan dengan Surat Keputusan Pengurus Besar. 3. 2. maka maka Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menetapkan Pejabat Ketua Umum dan Pejabat Wakil Ketua Umum. Apabila anggota tetap Pengurus maka Lembaga atau diusulkan Lajnah oleh berhalangan pengisiannya . Sekretaris Jenderal. Katib. Rais Syuriyah.

BAB XVI RANGKAP JABATAN Pasal 51 1. Pasal 50 Apabila Pengurus Wilayah. dan Pengurus Anak Ranting berhalangan tetap maka proses pengisian jabatan tersebut disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam ketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal 48 dan 49 Anggaran Rumah Tangga ini. dan atau c. dan atau e. Jabatan Pengurus Harian Organisasi Kemasyarakatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perjuangan dan tujuan Nahdlatul Ulama. dan atau b. Jabatan Pengurus Harian Partai Politik. Pengurus Cabang Istimewa. Pengurus Cabang. Jabatan Ketua Badan Otonom Nahdlatul Ulama tidak dapat dirangkap dengan: a.Pengurus Harian Lembaga atau Lajnah yang bersangkutan dan disahkan Pengurus Besar. Jabatan Pengurus Harian Lembaga dan Lajnah Nahdlatul Ulama tidak dapat dirangkap dengan Jabatan Pengurus Harian Lembaga atau Lajnah lainnya pada semua tingkat kepengurusan. Jabatan Pengurus Harian Organisasi yang berafiliasi kepada Partai Politik. jabatan pengurus harian pada semua tingkat kepengurusan Badan Otonom. Pengurus Majelis Wakil Cabang. 2. Jabatan pengurus harian Lembaga dan Lajnah dan Badan Otonom. Ranting. Dan atau .dan atau d. 3. Jabatan pengurus harian pada semua tingkat kepengurusan Nahdlatul Ulama. Jabatan pengurus Harian Nahdlatul Ulama tidak dapat dirangkap dengan: a.

Wakil Rais ‘Aam. maka yang bersangkutan harus mengundurkan diri atau diberhentikan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Apablia Rais dan Ketua Pengurus Wilayah dan atau Rais dan Ketua Pengurus Cabang mencalonkan diri atau dicalonkan. Walikota. Jabatan Pengurus Harian Partai Politik. Pengurus Wilayah. 5. Rais ‘Aam. dan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar. DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Apablia Rais ‘Aam. maka yang bersangkutan harus mengundurkan diri atau diberhentikan. Wakil Rais ‘Aam. Menteri. 2. 6. Ketua Umum. 7. Gubernur. Jabatan Pengurus Harian Organisasi yang berafiliasi kepada Partai Politik. Ketua Umum. Wakil Walikota. Wakil Gubernur. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama disusun dan disahkan oleh Rais ‘Aam. 8. 4. Wakil Presiden.b. Pengurus Cabang dan Pengurus Cabang Istimewa disahkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ketua Umum dan dibantu mede Formatur. dan atau c. dan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar mencalonkan diri atau dicalonkan. lebih dalam lanjut pasal mengenai ini akan rangkap diatur jabatan dan dalam Peraturan BAB XVII PENGESAHAN DAN PEMBEKUAN PENGURUS Pasal 52 1. 3. Bupati. Wakil Bupati. Pengajuan pengesahan Besar Pengurus dengan Cabang disampaikan Pengurus kepada Wilayah. Yang disebut dengan Jabatan Politik dalam Anggaran Rumah Tangga ini adalah Jabatan Presiden. Pengurus rekomendasi . DPR RI. Rais dan Ketua Rais dan Ketua Pengurus Wilayah dan Cabang tidak diperkenankan Pengurus mencalonkan diri atau dicalonkan dalam pemilihan jabatan politik. Ketentuan pencalonan Organisasi.

4. Pengurus Cabang dapat membekukan Kepengurusan Majelis Wakil Cabang dan Kepengurusan Ranting melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Cabang. Pengurus Anak Ranting disahkan oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang dengan rekomendasi Pengurus Ranting. Pengurus Ranting disahkan oleh Pengurus Cabang dengan rekomendasi Pengurus Majelis Wakil Cabang. 3. Pengurus Majelis Wakil Cabang dapat membekukan Kepengurusan Anak Ranting melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang. 2. Pengurus Harian Badan Otonom di tingkat Wilayah dan Cabang disahkan oleh Pengurus tingkat pusat Badan Otonom yang bersangkutan. Pengurus Besar dapat membekukan Kepengurusan Wilayah. Pengajuan pengesahan Pengurus Cabang Istimewa disampaikan kepada Pengurus Besar. 5. Pengurus Lengkap Lajnah dan Lembaga disusun dan disahkan oleh Pengurus Harian Lajnah dan Lembaga yang bersangkutan. 6. 2. Kepengurusan Cabang dan Kepengurusan Cabang Istimewa melalui Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar. 2. Pengurus Harian Lembaga dan Lajnah ditetapkan dalam Rapat Gabungan Syuriyah Tanfidziyah dan disahkan dengan Surat Keputusan Pengurus Nahdlatul Ulama pada tingkatannya. Pengurus Majelis Wakil Cabang disahkan oleh Pengurus Wilayah dengan rekomendasi Pengurus Cabang. Pasal 54 1. . Pasal 55 1. Pengurus Harian Badan Otonom Pusat disahkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 7. Pasal 53 1.

Pasal 56 Ketentuan tentang tatacara pengesahan dan Pembekuan kepengurusan diatur dalam Peraturan Organisasi. Mustasyar mempunyai wewenang menyelenggarakan rapat internal yang dipandang perlu. d. Bersama organisasi yang bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama. pengalihan. tukarmenukar. Tugas Rais Aam adalah: . Bersama Ketua Umum menandatangani keputusan-keputusan Ketua Umum membatalkan keputusan perangkat penting Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. koordinasi. penyerahan wewenang penguasaan atau pengelolaan dan penyertaan usaha atas harta benda bergerak dan atau tidak bergerak milik atau yang dikuasai Nahdlatul Ulama dengan tidak mengurangi pembatasan yang diputuskan oleh Muktamar baik di dalam atau di luar pengadilan. Kewenangan Rais Aam adalah: a. 2. c. Pasal 58 1. b. BAB XVIII WEWENANG DAN TUGAS PENGURUS Pasal 57 1. Merumuskan kebijakan umum Organisasi. penjaminan. maupun informasi. pertimbangan dan atau nasehat diminta atau tidak baik secara perorangan maupun kolektif kepada Pengurus menurut tingkatannya. Bersama Ketua Umum mewakili Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam hal melakukan tindakan penerimaan. e. 2. Mustasyar bertugas memberikan arahan. Mewakili Pengurus Besar Nahdlatul Ulama baik keluar maupun ke dalam yang menyangkut urusan keagamaan baik dalam bentuk konsultasi.

b. Tugas Rais adalah: a. Memimpin. dan mengawasi pelaksanaan kebijakan umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.a. c. Merumuskan pelaksanaan bidang khusus masing-masing. mengkoordinasikan dan mengawasi tugas-tugas di antara Pengurus Besar Syuriyah. Pasal 60 1. Mewakili Rais ‘Aam apabila berhalangan. mengatur. Kewenangan Rais adalah: a. Konferensi Besar. Rapat Pleno. Memimpin Rapat Harian Syuriyah dan Rapat Pengurus Lengkap Syuriyah. c. b. Melaksanakan bidang tertentu yang ditetapkan oleh dan atau bersama Rais ‘Aam. 2. Bersama Rais ‘Aam memimpin. Pasal 59 1. Musyawarah Nasional Alim Ulama. Membantu tugas-tugas Rais ‘Aam dan atau Wakil Rais ‘Aam . Tugas Wakil Rais ‘Aam adalah: a. Menjalankan wewenang Rais ‘Aam dan atau Wakil Rais ‘Aam ketika berhalangan b. Membantu tugas-tugas Rais ‘Aam. Mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan keputusan- keputusan Muktamar dan kebijakan umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 2. d. Kewenangan Wakil Rais ‘Aam adalah: a. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. b. Menjalankan kewenangan Rais ‘Aam ketika Rais ‘Aam berhalangan. Bersama Ketua Umum memimpin pelaksanaan Muktamar.

2. Melaksanakan bidang khusus masing-masing. Pasal 62 1. 2. c. Mendampingi Rais-Rais sesuai bidang masing-masing 2. Mewakili Katib ‘Aam apabila berhalangan c. Tugas A’wan membantu pelaksanaan tugas-tugas Pengurus Besar Syuriyah. Membantu Rais ‘Aam. Melaksanakan kewenangan-kewenangan Katib ‘Aam apabila berhalangan b. Mengatur dan mengkordinir pembagian tugas di antara Katib. . Merumuskan dan mengatur pengelolaan kekatiban Pengurus Besar Syuriyah. b. Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal menandatangani keputusan-keputusan Pengurus Besar. Katib mempunyai kewenangan-kewenangan sebagai berikut: a.b. Membantu tugas-tugas Katib ‘Aam b. Melaksanakan tugas khusus yang diberikan Katib ‘Aam Pasal 63 1. Katib mempunyai tugas-tugas sebagai berikut: a. Kewenangan A’wan memberi masukan kepada Pengurus Besar Syuriyah. Merumuskan dan Mengatur manajemen administrasi Pengurus Besar Syuriah. Wakil Rais ‘Aam dan Rais-Rais dalam menjalankan wewenang dan tugasnya. b. Pasal 61 1. Tugas Katib ‘Aam adalah: a. Bersama Rais ‘Aam. Kewenangan Katib ‘Aam adalah: a. Mewakili Rais ‘Aam dan atau Wakil Rais ‘Aam apabila berhalangan c.

mengatur dan mengkoordinasikan pelaksanaan keputusan-keputusan Muktamar dan kebijakan umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. d. Bersama Rais ‘Aam memimpin pelaksanaan Muktamar. Memimpin. Memimpin Rapat Harian Tanfidziyah dan Rapat Pengurus Lengkap Tanfidziyah. b. b. Wewenang Ketua Umum adalah sebagai berikut: a. 2. Tugas Ketua Umum adalah sebagai berikut: a. Mewakili Pengurus Besar Nahdlatul Ulama baik ke luar maupun ke dalam yang menyangkut pelaksanaan kebijakan organisasi dalam bentuk konsultasi. tukarmenukar. . c. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah. Memimpin. Bersama Rais Rais ‘Aam ‘Aam menandatangani membatalkan keputusan-keputusan keputusan perangkat organisasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.Pasal 64 1. pengalihan. penjaminan. Bersama organisasi yang bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama. Rapat Pleno. e. c. Musyawarah Nasional Alim Ulama. Menjalankan kewenangan Ketua Umum ketika berhalangan. d. Konferensi Besar. Bersama Rais ‘Aam mewakili Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam hal melakukan tindakan penerimaan. mengkoordinasikan dan mengawasi tugas-tugas di antara Pengurus Besar Tanfidziyah. Merumuskan kebijakan khusus Organisasi. penyerahan wewenang penguasaan/ pengelolaan. Kewenangan Wakil Ketua Umum adalah: a. koordinasi maupun informasi. Pasal 65 1. dan penyertaan usaha atas harta benda bergerak dan atau tidak bergerak milik atau yang dikuasai Nahdlatul Ulama dengan tidak mengurangi pembatasan yang diputuskan oleh Muktamar baik di dalam atau di luar pengadilan.

Membantu tugas-tugas Ketua Umum. Menjalankan wewenang Ketua Umum dan atau Wakil Ketua Umum apabila berhalangan. Pasal 66 1. b. Tugas Wakil Ketua Umum adalah: a. Merumuskan dan mengatur pengelolaan kesekretariatan Jenderal Pengurus Besar Tanfidziyah. Membantu tugas-tugas Ketua Umum. dan pelaksanaan program Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. dan mengawasi pelaksanaan kebijakan umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. c. 2. b. b. 2. Menjalankan tugas-tugas Ketua Umum berdasarkan pembidangan sebagai berikut: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Bidang Dakwah Keagamaan Organisasi dan Kaderisasi Bidang Ekonomi Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kesehatan dan Sosial Bidang Hubungan Luar Negeri Bidang Hukum dan Kebijakan Publik Bidang Lingkungan Bidang-bidang lain yang dipandang perlu. Merumuskan dan menjalankan bidang khusus masing-masing. b. Melaksanakan bidang tertentu yang ditetapkan oleh dan atau bersama Ketua Umum. Pasal 67 1. Tugas Ketua-Ketua adalah: a. Merumuskan naskah rancangan peraturan. Kewenangan Ketua-Ketua adalah: a. mengatur. keputusan. . Kewenangan Sekretaris Jenderal adalah: a. Mewakili Ketua Umum apabila berhalangan.b. Membantu Ketua Umum memimpin.

Membantu Ketua Umum. Tugas Sekretaris adalah: a. . b. b. Kewenangan Sekretaris adalah: a. 2. b. c. Wakil Ketua Umum dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Mengatur dan mengkoordinir Sekretaris. Melaksanakan kewenangan Sekretaris Jenderal apabila berhalangan b. Melakukan pembagian tugas kebendaharaan dengan Bersama Ketua Umum menandatangani surat-surat bendahara. Merumuskan manajemen administrasi. Ketua Umum dan Katib ‘Aam menandatangani surat-surat penting Pengurus Besar. pembagian memimpin tugas di dan antara mengkoordinasikan Sekretariat. Tugas Sekretaris Jenderal adalah: a. b. Bersama Rais ‘Aam. penting Pengurus Besar yang berkaitan dengan keuangan. c. Mewakili Sekretaris Jenderal apabila berhalangan c. Pasal 69 1. 2. Membantu tugas-tugas Sekretaris Jenderal. Membuat Standard Operating Procedure (SOP) keuangan. c. Membantu Ketua Umum. Melaksanakan tugas khusus yang diberikan Sekretaris Jenderal. Mengatur pengelolaan keuangan Pengurus Besar. Merumuskan manajemen dan melakukan pencatatan keuangan dan aset. Tugas Bendahara Umum adalah: a.c. Kewenangan Bendahara Umum adalah: a. Mendampingi Ketua-Ketua sesuai bidang masing-masing. Pasal 68 1. Wakil Ketua Umum dan Ketua-Ketua dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. 2.

b. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban secara tertulis sesuai dengan tingkat dalam permusyawaratan kepengurusannya. Prinsip-prinsip pokok tentang wewenang dan tugas pengurus sebagaimana diatur dalam pasal-pasal dalam bab ini berlaku secara mutatis mutandis (dengan sendirinya) untuk seluruh tingkat kepengurusan. c. e. keputusan dan peraturan organisasi sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk kepentingan auditing keuangan. Pasal 70 1. Menjaga dan menjalankan amanat dan ketentuan-ketentuan organisasi. Pengurus Nahdlatul Ulama berkewajiban: a. Menetapkan kebijakan. Lajnah dan Badan Otonom untuk meningkatkan kinerjanya. Menjaga keutuhan organisasi kedalam maupun keluar. BAB XIX KEWAJIBAN DAN HAK PENGURUS Pasal 71 1. Ketentuan lebih lanjut berkait dengan wewenang dan tugas Pengurus diatur dalam Peraturan Organisasi. 2. Pengurus Nahdlatul Ulama berhak: a. BAB XX PERMUSYAWARATAN TINGKAT NASIONAL .d. b. dan anggaran program pengembangan atau rintisan Pengurus Besar. 2. Memberikan arahan dan dukungan teknis kepada Lembaga. Menyusun dan merencanakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Rutin.

Muktamar Luar Biasa dapat diselenggarakan atas usulan sekurang-kurangnya 50 persen plus satu dari jumlah Wilayah dan Cabang. Ketentuan tentang peserta dan keabsahan Muktamar Luar Biasa merujuk kepada ketentuan Muktamar. 3.Pasal 72 1. Pengurus Wilayah. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.Muktamar membicarakan dan menetapkan: a. Muktamar Luar Biasa dapat diselenggarakan apabila Rais ’Aam dan atau Ketua Umum Pengurus Besar melakukan pelanggaran berat terhadap ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Memilih Rais ’Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. f. c. Muktamar Luar Biasa dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 5. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. c.Muktamar dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun.Muktamar adalah sah apabila dihadiri oleh dua pertiga jumlah Wilayah dan Cabang/Cabang Istimewa yang sah. 2.Muktamar dihadiri oleh : a. Garis-garis Besar Program Kerja Nahdlatul Ulama 5 (lima) tahun. Pengurus Cabang/Cabang Istimewa. Pasal 73 1. Pasal 74 . Masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan. 4. Rekomendasi Organisasi. b. e. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang disampaikan secara tertulis. d. b. 2. 3. 4.Muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi di dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

5. Konferensi Besar dihadiri oleh anggota Pleno Pengurus Besar dan Pengurus Wilayah. Musyawarah Nasional Alim Ulama juga dapat diselenggarakan dari jumlah atas permintaan sekurang-kurangnya separuh Wilayah yang sah. keputusan Muktamar dan tidak memilih Pengurus baru. 4. Konferensi Besar adalah sah apabila dihadiri oleh sekurang- kurangnya 2/3 dari jumlah Wilayah. 3. 4. Musyawarah Nasional Alim Ulama diadakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam masa jabatan Pengurus Besar. 6. 5. Pasal 75 1. 7. Konferensi Besar tidak dapat mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Musyawarah Nasional Alim Ulama membicarakan masalah- masalah keagamaan yang menyangkut kehidupan umat dan bangsa. mengkaji perkembangan dan memutuskan Peraturan Organisasi. 3. 2. . Konferensi Besar membicarakan pelaksanaan keputusan- keputusan Muktamar. Musyawarah Nasional Alim Ulama dihadiri oleh anggota Pengurus Besar Pleno dan Pengurus Syuriyah Wilayah.1. 2. Musyawarah Nasional Alim Ulama tidak dapat mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. baik dari dalam maupun dari luar Pengurus Nahdlatul Ulama sebagai perserta. Konferensi Besar merupakan Muktamar forum yang permusyawaratan dipimpin dan tertinggi setelah diselenggarakan oleh Pengurus Besar. Musyawarah Nasional Alim Ulama merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Muktamar yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Besar. Musyawarah tersebut dapat mengundang Alim Ulama. keputusan Muktamar dan tidak memilih Pengurus baru. pengasuh Pondok Pesantren dan Tenaga Ahli.

b. b. 4. e. Pokok-Pokok Program Kerja Wilayah 5 (lima) tahun merujuk kepada Garis-Garis Besar Program Kerja Nahdlatul Ulama. d. Pasal 77 1. Pengurus Cabang. Memilih Rais dan Ketua Pengurus Wilayah. 2. Musyarawah Kerja Wilayah membicarakan pelaksanaan keputusan-keputusan Konferensi WIlayah dan mengkaji . Masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Rekomendasi Organisasi. Konferensi Besar diadakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam masa jabatan Pengurus Besar. Musyarawah Kerja Wilayah merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Konferensi Wilayah yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah. BAB XXI PERMUSYAWARATAN TlNGKAT DAERAH Pasal 76 1. Konferensi Wilayah dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun. Konferensi Wilayah sah apabila dihadiri oleh sekurang- kurangnya 2/3 dari jumlah Cabang di daerahnya. 5. 3. Konferensi Wilayah dihadiri oleh : a.6. Untuk meningkatkan pembinaan dan pengembangan organisasi Konferensi Wilayah dapat dihadiri oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama. Konferensi Wilayah membicarakan dan menetapkan: a. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama yang disampaikan secara tertulis. 2. Konferensi Wilayah adalah forum permusyawaratan tertinggi untuk tingkat Wilayah. c. 6.

Pengurus . Konferensi Cabang adalah forum permusyawaratan tertinggi untuk tingkat Cabang 2. Masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan pada umumnya d. Musyarawah Kerja Wilayah sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 jumlah Cabang. b. 4. Memilih Rais dan Ketua Pengurus Cabang. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama. Pokok-Pokok Program Kerja 5 (lima) tahun merujuk kepada Pokok-Pokok Program Kerja Wilayah dan Garis-Garis Besar Program Kerja Nahdlatul Ulama. Pengurus Majelis Wakil Cabang. Musyarawah Kerja Wilayah dihadiri oleh anggota Pleno Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang. 3. c. Konferensi Cabang membicarakan dan menetapkan: a. 6. Pasal 78 1. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama yang disampaikan secara tertulis.perkembangan masyarakat. Konferensi Cabang dihadiri oleh : a. Rekomendasi Organisasi e. b. Pengurus Ranting 5. Konferensi Cabang sah apabila dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah ranting dan Majelis Wakil Cabang di daerahnya dan dalam pengambilan keputusan. Musyawarah Kerja Wilayah tidak dapat melakukan pemilihan Pengurus. 4. organisasi serta peranannya di tengah 3. Konferensi Cabang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun. Musyarawah Kerja Wilayah diadakan sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam masa jabatan Pengurus Wilayah. 5. c.

5. b. 3. Musyarawah Kerja Cabang diadakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali dalam masa jabatan pengurus Cabang. 4. Konferensi tertinggi Wakil untuk Majelis Cabang membicarakan menetapkan: a.Cabang sebagai institusi dan tiap-tiap Majelis Wakil Cabang dan Ranting yang hadir mempunyai hak satu suara. Musyawarah Kerja Cabang tidak dapat melakukan pemilihan Pengurus. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama yang disampaikan secara tertulis. Pokok-Pokok Program Kerja 5 (lima) tahun merujuk Pokok-Pokok Program Kerja Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang. Pasal 80 1. Musyarawah Kerja Cabang membicarakan pelaksanaan Konferensi serta Cabang dan di mengkaji tengah organisasi peranannya keputusan-keputusan perkembangan masyarakat. Untuk meningkatkan pembinaan dan pengembangan organisasi konferensi Cabang dapat dihadiri oleh Pengurus Ranting. Musyarawah Kerja Cabang dihadiri oleh anggota Pleno sah apabila dihadiri oleh Pengurus Cabang dan Pengurus Majelis Wakil Cabang. 6. Musyarawah Kerja Cabang merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Konferensi Cabang yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Cabang. Musyarawah Kerja Cabang sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Majelis Wakil Cabang. 6. Pasal 79 1. . 2. Konferensi Majelis Wakil Cabang tingkat adalah Majelis forum Wakil dan permusyawaratan Cabang 2.

Konferensi Majelis oleh Wakil Pengurus Cabang Majelis dipimpin Wakil dan diselenggarakan Cabang Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun. b. 3. 4. Rekomendasi Organisasi. Konferensi Majelis Wakil Cabang sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Ranting di daerahnya. Pasal 81 1. Untuk meningkatkan pembinaan dan pengembangan organisasi Konferensi Majelis Wakil Cabang dapat dihadiri oleh Pengurus Anak Ranting. Musyarawah Kerja Majelis Wakil Cabang dihadiri oleh anggota Pengurus Majelis Wakil Cabang Pleno dan Pengurus Ranting. 6. 2. 4. Pengurus Majelis Wakil Cabang. d.c. Memilih Rais dan Ketua Pengurus Majelis Wakil Cabang. 5. Pengurus Ranting. 3. Musyarawah Kerja Majelis Wakil Cabang merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Konferensi Majelis Wakil Cabang yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang. Pasal 82 . e. Konferensi Majelis Wakil Cabang dihadiri oleh : a. Masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan pada umumnya. Musyarawah Kerja Majelis Wakil Cabang membicarakan pelaksanaan keputusan-keputusan Konferensi Majelis Wakil Cabang dan mengkaji perkembangan organisasi serta peranannya di tengah masyarakat. Musyarawah Kerja Majelis Wakil Cabang sah apabila dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah peserta sebagaimana dimaksud ayat (3) Pasal ini.

Konferensi Ranting dihadiri oleh : a. Konferensi Ranting sah apabila dihadiri oleh sekurang- kurangnya 2/3 dari jumlah Anak Ranting di daerahnya. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama. Rekomendasi Organisasi e. Musyarawah Kerja Ranting merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Konferensi Ranting Konferensi Ranting yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Ranting. Musyarawah Kerja Ranting dihadiri oleh anggota Pengurus Ranting Pleno dan utusan Pengurus Anak Ranting. Musyarawah Kerja Ranting sah apabila dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah peserta sebagaimana dimaksud ayat (3) Pasal ini. 2. Konferensi Ranting membicarakan dan menetapkan: a. Memilih Rais dan Ketua Pengurus Ranting. 4.1. Konferensi Ranting adalah forum permusyawaratan tertinggi untuk tingkat Ranting. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama yang disampaikan secara tertulis b. 3. 3. 5. Masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan. b. Musyarawah Kerja membicarakan Ranting dan pelaksanaan mengkaji keputusan-keputusan perkembangan organisasi serta peranannya di tengah masyarakat. 2. Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama. 5. c. d. Musyarawah Kerja Ranting diadakan sekurang-kurangnya 4 (empat) kali dalam masa jabatan pengurus Ranting. Pasal 83 1. Konferensi Ranting dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun. Pokok-Pokok Program Kerja 5 (lima) tahun merujuk kepada Poko- Pokok Program Kerja Pengurus Cabang dan Majelis Wakil Cabang. . 4.

Musyawarah Anggota sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota di wilayahnya. Musyawarah Anggota dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun. b. Pasal 85 1. c. Memilih Rais dan Ketua Pengurus Anak Ranting. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama yang disampaikan secara tertulis. 2. Pokok-Pokok Program Kerja 5 (lima) tahun merujuk kepada Pokok-Pokok Program Kerja Pengurus Majelis Wakil Cabang dan Ranting. e. Musyawarah Kerja Ranting tidak dapat melakukan pemilihan Pengurus. b. Masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Rapat Kerja Anak Ranting dihadiri oleh anggota Pleno Pengurus Anak Ranting. Musyawarah Anggota dihadiri oleh : a. 3. 4. d. Musyawarah Anggota membicarakan dan menetapkan: a. 2. 3. Anggota Nahdlatul Ulama. Rekomendasi Organisasi. 5.6. . Pasal 84 1. Rapat Kerja Anak tertinggi Ranting setelah merupakan Musyawarah forum Anggota permusyawaratan Ranting. Pengurus Anak Ranting. Musyawarah Anggota adalah forum permusyawaratan tertinggi untuk tingkat Anak Ranting. Rapat yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Anak Kerja Anak Ranting membicarakan pelaksanaan organisasi serta peranannya di tengah keputusan-keputusan Musyawarah Anggota dan mengkaji perkembangan masyarakat.

5. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dihadiri oleh Pengurus Besar Harian Syuriyah dan Pengurus Besar Harian Tanfidziyah. Rapat Pleno membicarakan pelaksanaan program kerja. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah membahas kelembagaan Organisasi. pelaksanaan dan pengembangan program kerja. Ketua Lajnah. 2. . 3. Rapat Pleno diadakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. Rapat Kerja Anak Ranting tidak dapat melakukan pemilihan Pengurus. Ketua Lembaga dan Ketua Badan Otonom. 6. BAB XXIII RAPAT-RAPAT Pasal 87 1. Pengurus Harian Tanfidziyah. 2. Rapat Pleno adalah rapat yang dihadiri oleh Mustasyar. BAB XXII PERMUSYAWARATAN BADAN OTONOM Pasal 86 Permusyawaratan Badan Otonom diatur tersendiri dan dimuat dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Badan Otonom yang bersangkutan. 3.4. Pengurus Harian Syuriyah. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah diadakan sekurang- kurangnya 3 (tiga) bulan sekali. Rapat Kerja Anak Ranting sah apabila dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah anggota. Pasal 88 1. Rapat Kerja Anak Ranting diadakan sekurang-kurangnya lima kali dalam masa jabatan pengurus Anak Ranting.

Rapat Harian Tanfidziyah diadakan sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan sekali. Sumber keuangan Nahdlatul Ulama diperoleh dari: a. 3. pelaksanaan dan pengembangan program kerja. Rapat Harian Tanfidziyah dihadiri oleh Pengurus Harian Tanfidziyah. 3. 2. Rapat Harian Tanfidziyah membahas kelembagaan Organisasi. BAB XXIV KEUANGAN DAN KEKAYAAN Pasal 93 1.Pasal 89 1. Uang pangkal adalah uang yang dibayar oleh seseorang pada saat mendaftarkan diri menjadi anggota. Pasal 90 1. Uang i’anah syahriyah adalah uang yang dibayar anggota setiap bulan. Rapat Harian Syuriyah dihadiri oleh Pengurus Harian Syuriyah dengan mengikutsertakan Mustasyar. 2. pelaksanaan dan pengembangan program kerja. Rapat Harian Syuriyah membahas kelembagaan Organisasi. Pasal 92 Ketentuan mengenai rapat-rapat diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. . Rapat Harian Syuriyah diadakan sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan sekali. b. Pasal 91 Rapat-rapat lain yang dianggap perlu adalah rapat-rapat yang diselenggarakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

Kekayaan Nahdlatul Ulama dan perangkat organisasinya berupa dana. . Lembaga.c. pengalihan. badan usaha atau perorangan yang ditunjuk atau dikuasakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hanya dapat dipergunakan untuk kepentingan dan kemanfaatan Nahdlatul Ulama dan atau Perangkat Organisasinya. d. 5. Usaha-usaha lain adalah badan-badan usaha Nahdlatul Ulama dan atau atas kerjasama dengan pihak lain. dan pengelolaan kekayaan serta penerimaan dan pengeluaran keuangan Nahdlatul Ulama diaudit setiap tahun oleh akuntan publik. Perolehan. Sumbangan adalah uang atau barang yang berupa hibah. Pasal 94 1. Pengurus Cabang Istimewa. Pengurus Cabang. Pengurus Majelis Wakil Cabang. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dapat memberikan kuasa atau kewenangan secara tertulis kepada Pengurus Wilayah. badan otonom. lajnah. harta benda bergerak dan atau harta benda tidak bergerak harus dicatatkan sebagai kekayaan organisasi Nahdlatul Ulama sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Badan Otonom dan atau Badan Usaha yang dibentuk untuk melakukan penguasaan dan atau pengelolaan kekayaan baik berupa harta benda bergerak dan atau harta benda tidak bergerak. Kekayaan Nahdlatul Ulama yang berupa harta benda yang bergerak dan atau harta benda yang tidak bergerak tidak dapat dialihkan hak kepemilikannya kepada pihak lain kecuali atas persetujuan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 3. 2. hadiah dan sedekah yang diperoleh dari anggota Nahdlatul Ulama dan atau simpatisan. 4. Segala kekayaan Nahdlatul Ulama baik yang dimiliki atau dikuasakan secara langsung atau tidak langsung kepada lembaga. Lajnah.

BAB XXV mengenai diatur keuangan lebih lanjut dan dalam kekayaan Peraturan organisasi/perkumpulan . Pasal 96 Ketentuan Organisasi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tidak dapat mengalihkan harta benda bergerak dan atau harta benda tidak bergerak yang diperoleh atau yang dibeli oleh perangkat organisasi NU tanpa persetujuan pengurus perangkat organisasi yang bersangkutan. usaha 40% untuk membiayai kegiatan Anak Ranting 20% untuk membiayai kegiatan Ranting. Pasal 95 1. f. 5% untuk membiayai kegiatan Pusat. Uang dan barang yang berasal dari sumbangan dan usaha- organisasi/perkumpulan. e. Uang pangkal dan uang i’anah syahriyah yang diterima dari anggota Nahdlatul Ulama digunakan untuk membiayai kegiatan organisasi/perkumpulan dan dimanfaatkan dengan perimbangan sebagai berikut: a. d. Kekayaan organisasi/perkumpulan yang berupa inventaris dan aset dipergunakan untuk kepentingan organisasi/perkumpulan. lain dipergunakan untuk kepentingan 2. c.6. 10% untuk membiayai kegiatan Cabang/Cabang Istimewa. 10% untuk membiayai kegiatan Wilayah. 15% untuk membiayai kegiatan Majelis Wakil Cabang. 7. Apabila karena satu dan lain hal terjadi pembubaran atau penghapusan perangkat organisasi NU maka seluruh harta bendanya menjadi milik organisasi/Perkumpulan Nahdlatul Ulama. b. 3.

Pengurus Besar. Konferensi Besar dan Rapat Pleno. Pengurus Wilayah menyampaikan laporan perkembangan organisasi secara berkala kepada: a. Pengurus Ranting menyampaikan laporan perkembangan organisasi secara berkala kepada: a. Laporan yang disampaikan dalam permusyawaratan tertinggi pada tingkatannya. b. Pengurus Nahdlatul Ulama di setiap tingkatan membuat laporan pertanggungjawaban secara tertulis di akhir masa khidmahnya 2. Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang. b. 2. b. b. Keuangan organisasi d. c. Pengurus Cabang menyampaikan laporan perkembangan organisasi secara berkala kepada: a. Pengembangan kelembagaan Organisasi. pertanggungjawaban Pengurus Nahdlatul Ulama yang telah diamanatkan oleh memuat: a. Pengurus Besar dan Pengurus Wilayah. Musyawarah Kerja Cabang dan Rapat Pleno. 4. Pengurus Cabang dan Pengurus Majelis Wakil Cabang. Pengurus Majelis Wakil Cabang menyampaikan laporan perkembangan organisasi secara berkala kepada: a. 5. Pasal 98 1. Capaian pelaksanaan program permusyawaratan tertinggi pada tingkatannya. Musyawarah Kerja Ranting dan Rapat Pleno. Musyawarah Kerja Wilayah dan Rapat Pleno 3.LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN Pasal 97 1. Musyawarah Kerja Majelis Wakil Cabang dan Rapat Pleno. inventaris dan aset organisasi. b. . Pengurus Besar menyampaikan laporan perkembangan organisasi secara berkala dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama.

Segala sesuatu yang belum cukup diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi. 2. Lembaga dan Badan Otonom menyampaikan laporan pelaksanaan program setiap akhir tahun kepada Pengurus Nahdlatul Ulama pada tingkatan masing-masing. Peraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan atau Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Hafidz Usman (Ketua) 1.6. TIM PERUMUS KOMISI ORGANISASI: KH. 2. 5. BAB XXVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 100 1. Sholeh Hayat (Anggota) (Anggota) ……………………………………. Hj. 3. 6. A. Abdullah (Anggota) ……………………………………. Hizbiyah Rochim H. Ketentuan pasal 20 ayat 6 tentang batasan usia berlaku setelah permusyawaratan tertinggi Badan Otonom terdekat. 4. Anggaran Rumah Tangga ini hanya dapat diubah dalam Muktamar. ……………………………………. …………………………………… H. A. Pengurus Anak Ranting secara menyampaikan berkala kepada laporan Rapat perkembangan organisasi Anggota. Pasal 99 Pengurus Lajnah. Pengurus Ranting dan Majelis Wakil Cabang. Miftah Faqih (Anggota) …………………………………… H. Malik Haromain (Sekretaris) …………………………………… H. . 3. Taufiq R.

7. Amas Muda Siregar (Anggota) ……………………………………. .H.

peringatan yang baik dan bantulah mereka dengan yang lebih baik. Rembang) Menjelang Muktamar ke-27 NU Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada hambaNya agar menjadi pemberi peringatan kepada sekalian umat dan menganugerahinya hikmat serta ilmu tentang sesuatu yang ia kehendaki. Dan agungkanlah seagung-agungnya” “Dan sesungguhnya inilah jalanKu (AgamaKu ) yang lurus. Sungguh Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya. Mustofa Bisri. pemberi kabar gembira dan penyeru yang menyinari “ “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana. aku utus engkau sebagai saksi.Demikianlah Allah memerintahkan agar kami semua bertaqwa “ kepada ( Agama ) Allah serta sebagai pelita .Dan Dia Maha mengetahui orang orang yang mendapat hidayah” “Maka Merekalah berilah kabar gembira hamba-hambaKu yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik darinya. tak mempunyai sekutu penolong karena ketidak mampuan.maka benar benar mendapat keberuntungan yang melimpah.Mukaddimah Al-Qaanunil Asaasy Oleh : Rais Akbar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama KH. orang orang yang diberi hidayah oleh Allah dan merekalah orang orang yang mempunyai akal “ “Dan katakanlah : Segala puji bagi Allah yang tak beranakan seorang anakpun. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya ) : “Wahai Nabi. Maka ikutilah Dia dan jangan ikuti berbagai jalan (yang lain ) nanti akan mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.A. Dan barangsiapa di anugerahi hikmah.Muhammad Hasyim Asy’ari (Diterjemahkan oleh KH.

mereka itulah orang orang yang beruntung. taatilah Allah dan taatilah Rasul. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah di antara kamu semua.” “Dan orang orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansor ) pada berdoa : Ya Tuhan ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami beriman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman : Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “Wahai manusia. membantunya dan mengikuti cahaya (Al-Qur’an ) yang di turunkan kepadanya. kemudian jika kamu berselisih dalam satu perkara.” Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba hambaNya hanyalah Ulama. maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul. bertaqwalah kamu kepada Allah dan beradalah kamu bersama orang orang yang jujur “ “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu “ “Maka bertanyalah kamu kepada orang orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahuinya “ . “Maka Yang demikian itu lebih bagus dan lebih baik kesudahannya. kalau mau benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. sesungguhnya Aku telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.“Wahai orang orang yang beriman. lalu di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada yang menunggu mereka sama sekali tidak pernah merubah (janjinya )” “Wahai orang-orang yang beriman. serta Ulil amri di antara kamu. “Diantara orang orang yang mukmin ada orang orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.” orang-orang yang beriman kepadaNya (Kepada Rasulullah) maka memuliakannya.

ialah mereka yang pelak (tidak mau mendengar kebenaran) dan bisu (tidak mau bertanya dan menuturkan kebenaran ) yang tidak berfikir. “Barang siapa menentang Rasul setelah petunjuk yang jelas padanya dan dia mengikuti selain ajaran ajaran orang mukmin. padahal tidak ada yang mengetahui taqwilnya kecuali Allah. maka kamu akan di sentuh api neraka . “Kami beriman kepada ayat ayat yang mustasyabihat itu. maka Aku biarkan ia menguasai kesesatan yang telah dikuasainya (terus bergelimang dalam kesesatan ) dan Aku masukkan mereka keneraka Jahanam. menurut Allah.” “Wahai orang orang yang beriman. maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mustasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan mencari cari takwilnya. Sedang orang-orang yang mendalam ilmunya mereka mengatakan. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat dahsyat siksaNya” “Janganlah kamu bersandar kepada orang orang dzalim. Dan neraka Jahanam itu adalah seburuk buruknya tempat kembali. semuanya dari sisi Tuhan kami” Dan orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya ). “Dan janganlah kamu seperti orang orang yang mengatakan “Kami mendengar”. jagalah diri-diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” . “Takutlah kamu semua akan fitnah yang benar-benar tidak hanya khusus menimpa orang orang dzalim di antara kamu. keras dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan kepada mereka.“Janganlah kami mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya“ “Adapun orang-orang yang dalam hati mereka terdapat kecenderungan menyeleweng.” “Sesungguhnya seburuk buruk makhluk melata. di atasnya berdiri Malaikat-malaikat yang kasar. Padahal mereka tidak mendengar.

menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. dan ingatlah ni’mat Allah yang dilimpahkan kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan lalu Allah merukunkan antara hati-hati kamu.“Dan hendaklah ada di antara kamu.” “Dan janganlah kamu saling bertengkar. sesungguhnya Allah benarbenar bersama orang-orang yang berbuat baik.” “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah.” “Dan orang-orang yang berjihad dalam (mencari) keridloanKu. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuknya dan bersalamlah dengan penuh penghormatan. maka damaikanlah antara kedua Saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah. bersabarlah kami dan kuatkanlah kesabaranmu serta berjaga-jagalah (menghadapi serangan musuh diperbatasan). niscaya Aku anugerahkan kepada mereka pahala yang agung dan Aku tunjukan mereka jalan yang lempang. “Sesungguhnya orang-orang itu bersaudara. pasti Aku tunjukan mereka kejalanKu. janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat keberuntungan. Dan mereka itulah orang orang yang beruntung. niscaya akan lebih baik bagi mereka dan memperkokoh (iman mereka).” “Kalau mereka melakukan apa yang dinasehatkan kepada mereka. nanti kami jadi gentar dan hilang kekuatanmu dan tabahlah kamu.”.” . sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah.” “Dan saling tolong-menolong kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan. sesungguhnya Allah sangat dahsyat siksanya.” “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat bershalawat untuk Nabi. supaya kamu dirahmati.” “Wahai orang-orang yang beriman. kemudian kamupun (karena nikmatnya) menjadi orang-orang yang bersaudara. Dan kalau memang demikian.

banyak tanya dan menyia.” “…. dan jadilah kamu. Kamu saling memperbaiki dengan orang yang di jadikan Allah sebagai pemimpin kamu. Dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka ( Muhajirian dan Anshar) dengan baik. saling membenci dan janganlah sebagian kamu menjual atas kerugian jualan sebagian yang lain. Apabila diantara jama’ah itu ada yang memencil sendiri.“Dan (apa yang ada disisi Allah lebih baik dan lebih kekal juga bagi) orang-orang yang mematuhi seruan Tuhan mereka. sebab seorangpun tak mungkin . saling membantah .nyiakan harta benda’’ “Janganlah kamu saling dengki. bercampur dengan yang lain. saling bermusuhan. bersaudara” Suatu Umat bagaikan jasad lainnya Orang-orangnya ibarat anggota anggota tubuhnya Setiap anggota punya tugas dan perannya Seperti di maklumi. Betapa tidak. manusia tidak dapat bermasyarakat. Dan Allah membenci bagi kamu .” “Allah Ridho kamu sekalian menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun “ Kami sekalian berpegang teguh kepada tali (agama) Allah seluruhnya dan tidak bercerai berai.” Amma ba’du Sesungguhnya pertemuan dan saling mengenal persatuan dan kekompakan adalah merupakan hal yang tidak seorangpun tidak mengetahui manfaatnya. saling menjerumuskan. maka syaithanpun akan menerkamnya seperti serigala menerkam kambing. Allah ridla kepada mereka. hambahamba Allah. mendirikan shalat dan urusan mereka (mereka selesaikan) secara musyawarah anatara mereka serta terhadap sebagaian apa yang aku rizqikan. mereka menafakahannya. Rasulullah SAW benar-benar telah bersabda yang artinya: “Tangan Allah bersama jama’ah.

Firman Allah SWT “ Wa aatainaahu min kulli sya’in sababa” “Dan Aku telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. berkumpul yang membawa kebaikan bagi umatnya dan menolak keburukan dan ancaman bahaya daripadanya Karena itu. jalan-jalan menjadi lancar. Beberapa banyak negara negara yang menjadi makmur. negeri-negeri menjadi maju. hambahamba menjadi pemimpin yang berkuasa. perhubungan menjadi ramai dan masih banyak manfaat lain dari hasil persatuan merupakan keutamaan yang paling besar dan merupakan sebab dan sarana paling ampuh. Rasulullah SAW telah mempersaudarakan sahabat-sahabatnya sehingga mereka (saling kasih. cawan-cawan enggan pecah bila bersama ketika bercerai. pembangunan merata. kendati jumlah mereka sedikit. sendiri-sendiri. . mereka bangun kerajaan-kerajaan dan mereka lancarkan jalan-jalan.sendirian memenuhi segala kebutuhan-kebutuhannya. Dia mau tidak mau dipaksa bermasyarakat. persatuan. mereka taklukan negeri negeri. ikatan bathin satu dengan yang lain saling bantu menangani satu perkara dan seia-sekata adalah merupakan penyebab kebahagiaan yang terpenting dan faktor paling kuat bagi menciptakan persaudaraan dan kasih sayang . mereka bentangkan payungpayung kemakmuran. saling menyayangi dan saling menjaga hubungan ) tidak ubahnya satu jasad. pemerintahan ditegakkan. jangan bercerai-berai. Mereka tundukkan raja-raja.” Benarlah kata penyair yang mengatakan dengan bagusnya “Berhimpunlah anak-anakku bila Kegentingan datang melanda. mereka buka kota-kota. apabila satu anggota tubuh mengeluh sakit seluruh jasad ikut merasa demam dan tidak dapat tidur. Itulah sebabnya mereka menang atas musuh mereka.

mereka kocar-kacir tak karuan . atau karena saling berebut. semula hidup dalam keadaan makmur. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan. bisanya menjalar meracuni runtuh berantakan. Si kambingpun jatuh antara si perampas dan si pencuri. Perpecahan adalah penyebab kelemahan. Berbagai binatang buas telah mengepungnya. padahal hati mereka berbeda-beda.individu yang berkumpul dalam arti jasmani belaka. Dan rumah-rumah mereka . Dan yang menangpun akan menjadi perampas dan yang kalah menjadi pencuri. Lalu sebagian mengalahkan lain. maka mereka tidak akan melihat sesuatu tempatpun bagi kemaslahatan bersama. Mereka telah menjadi seperti kata orang “Kambing-kambing yang berpencar an dipadang terbuka.satu-satu pecah berderai “ Sayidina Ali karamallahu wajhah berkata “ Dengan perpecahan tak ada satu kebaikan dikaruniakan Allah kepada seseorang baik dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang datang belakangan “ Sebab. Kalau sementara mereka tetap selamat. Betapa banyak keluarga keluarga besar. Mereka bukanlah bangsa yang bersatu tapi hanya individu. satu kaum apabila hati-hati mereka berselisih dan hawa nafsu mereka mempermainkan mereka. Hati dan keinginan-keinginan mereka saling selisih. telah menyebabkan binatang-binatang buas itu saling berkelahi sendiri antara mereka. rumah. hati mereka dan Syaithan pun melakukan perannya.rumah penuh dengan penghuni. mungkin karena binatang buas belum sampai kepada mereka (dan pasti suatu saat akan sampai kepada mereka). sampai satu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka. sumber keruntuhan dan kebinasaan. dan penyebab kehinaan dan kenistaan. kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Engkau mengira mereka menjadi satu.

Wahai Ulama dan para pemimpin yang bertaqwa di kalangan Ahlussunah wal Jamaah dan keluarga mazhab imam empat Anda sekalian telah menimba ilmu-ilmu dari orang-orang sebelum anda. Dan anda sekalian selalu meneliti dari siapa anda menimba ilmu agama anda itu. Musuh-musuh mereka tak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka. searah setujuan. dengan jalan sanad yang bersambung sampai kepada anda sekalian. membuka lembaran yang tidak sedikit dari ikhwal bangsa-bangsa dan pasang surut zaman serta apa saja yang terjadi pada mereka hingga pada saat saat kepunahannya. dan bagi menjaga kekuatan dan keselamatan . seia-sekata. kebanggaan yang pernah mereka sandang. Itulah bangsa yang mentarinya di jadikan Allah tak pernah terbenam senantiasa memancar gemilang. Rumah-rumah tidak dimasuki kecuali dari dan kedaulatan mereka. dan merekapun mencapai tujuan-tujuan mereka dengan gemilang. menghormati mereka karena wibawa mereka. malahan menundukkan kepala. dan musuh-musuh mereka tak dapat mencapai sinarnya.Sahabat Ali Karamallahu Wajhah berkata dengan fasihnya: “Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan dan kebathilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakkan. akan mengetahui bahwa kekayaan yang pernah menggelimang mereka. Maka dengan demikian. yaitu mereka bersatu dalam cita. dan kemuliaan yang pernah menjadi perhiasan mereka.cita. orang-orang sebelum anda menimba dari orang-orang sebelum mereka. pikiran-pikiran mereka seiring. tidak lain adalah karena berkat apa yang secara kukuh mereka pegang. anda sekalian penjaga-penjaga ilmu dan pintu gerbang ilmu-ilmu itu. Maka inilah faktor paling kuat yang mengangkat martabat benteng paling kokoh ajaran mereka.” Pendek kata siapa yang melihat pada cermin sejarah.

Orang. Maka kesesatanpun semakin jauh. disitu. memilih bid’ah dan bukan sunah-sunah Rasul dan kebanyakan orang mukmin yang benar hanya terpaku. Mereka tidak mendengar sabda Rasulullah SAW. padahal sedikitpun mereka mereka tidak bertolak dari sana. memungkarkan makruf dan memakrufkan kemungkaran . Mereka Mereka mengajak kepada tidak berhenti kitab Allah. sampai malahan mendirikan perkumpulan pada perilaku mereka tersebut. disebut pencuri.orang yang malang pada memasuki perkumpulan itu. Maka para ahli bid’ah itu seenaknya memutar balikkan kebenaran.pintu-pintu siapa yang memasukinya tidak lewat pintunya. Sementara itu segolongan orang yang terjun kedalam lautan fitnah. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful