P. 1
Birokrasi Menempati Posisi Yang Strategis Dalam Memainkan Peran Politiknya Sebagai Regulator

Birokrasi Menempati Posisi Yang Strategis Dalam Memainkan Peran Politiknya Sebagai Regulator

1.0

|Views: 438|Likes:
Published by Sinosuke Nohara

More info:

Published by: Sinosuke Nohara on May 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

Birokrasi menempati posisi yang strategis dalam memainkan peran politiknya sebagai regulator, perumus kebijakan, pelaksana kebijakan

sekaligus juga berperan melakukan evaluasi kebijakan. Peran yang sangat dominan pada masa Orde Baru menciptakan strategi politik korporatisme Negara yang bertujuan untuk mendukung penetrasinya ke dalam masyarakat, sekaligus mengontrol publik secara penuh. Strategi politik birokrasi tersebut merupakan strategi dalam mengatur sistem perwakilan kepentingan melalui jaringan fungsional non-ideologis. Strategi politik tersebut membawa implikasi pada hilangnya kemajemukan atau pluratis sosial, politik, maupun budaya yang terdapat dalam masyarakat Indonesia. Kehidupan sosial dan politik yang serba tunggal untuk memudahkan mobilisasi oleh birokrasi pemerintah, seperti pembentukan Korpri, HKTI, KUD; PKK, Kadin, KNPI dan sebagainya. Pada masa Orde Baru, birokrasi menjelma menjadi sebuah kekuatan politik yang dominan dalam merumuskan berbagai kebijakan pembangunan. Pola birokrasi seperti itu kemudian melahirkan hubungan patrimonial yang sangat kuat dalam struktur birokrasi Indonesia. Munculnya birokrasi patrimonial di Indonesia, merupakan kelanjutan dan warisan dari system nilai tradisional yang tumbuh di masa kerajaan-kerajaan masa lampau dan bercampur dengan birokrasi gaya kolonial. Jadi, selain tumbuh birokrasi modem tetapi warisan birokrasi tradisional juga mewarnai dalam perkembangan birokrasi di Indonesia. Sama seperti halnya abdi dalem dan priyayi yang juga berlapis-lapis, pegawai negeri pun terdiri dari berbagai pangkat, golongan dan eselon. Semboyan pegawai negeri adalah abdi negara, mengandung makna berorientasi ke atas, sehingga mirip dengan birokrasi kerajaan, ambtenaar. Birokrasi, yang terjadi, lebih menekankan pada ke atas dari pada sebagai ke bawah, memberikan pelayanan kepada masyarakat. PENDAHULUAN Dalam sebuah Negara, birokrasi diperlukan sebagai alat Negara dalam penyelenggaraan negara dan melayani masyarakat. Negara tercipta atas kontrak sosial yang menghendaki terciptanya kesejahteraan bagi rakyatnya. Untuk melayani kepentingan rakyat inilah, Negara memerlukan sebuah unit pemerintahan atau yang dikenal dengan birokrasi. Dalam kehidupan berbagai negara bangsa di berbagai belahan dunia, birokrasi berkembang sebagai wahana utama dalam penyelenggaraan negara dalam berbagai bidang kehidupan bangsa dan dalam hubungan antar bangsa. Birokrasi bertugas menerjemahkan berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan publik, dan berfungsi melakukan pengelolaan atas pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut secara operasional, efektif, dan efisisen. Oleh sebab itu, disadari bahwa birokrasi merupakan faktor penentu keberhasilan keseluruhan agenda pemerintahan, termasuk dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih atau clean government dalam keseluruan skenario perwujudan kepemerintahan yang baik (good governance). Penyelenggaraan pemerintahan di setiap Negara dalam menjalankan fungsinya melayani kepentingan masyarakat selalu berbeda tergantung pengaruh pengalaman sejarahnya serta kondisi sosial politik Negara tersebut. Negara yang pernah mengalami masa kolonialisme pasti pada awal terbentuknya Negara memiliki corak birokrasi warisan kolonial. Begitu juga halnya

Kemudian disusul oleh bangsa Belanda yang menjajah negeri ini hingga kurang lebih 350 tahun lamanya. membuat segala corak sistem pemerintahan di Indonesia dipengaruhi oleh gaya pemerintahan jaman kolonial Belanda. Birokrasi pemerintahan yang terbentuk pada saat itu adalah birokrasi kerajaan. Indonesia dijajah oleh Jepang. 4. Sebagian besar wilayah Indonesia sebelum kedatangan bangsa asing pada abad ke-16. pucuk pimpinan ada di tangan raja sebagai pemegang kekuasaan tunggal dan absolute. menganut sistem kekuasaan dan pengaturan masyarakat yang berbentuk sistem kerajaan. Sebagai bangsa pendatang yang ingin menguasai wilayah nusantara baik secara politik maupun ekonomi. Dalam praktiknya. sedangkan pada sisi lain. Struktur. ³Gaji´ dari raja kepada bawahan pada hakikatnya adalah anugerah yang juga dapat ditarik sewaktu-waktu sekehendak raja. Indonesia mengalami masa penjajahan yang begitu lama. norma. sistem tradisional ( Inheemsche Bestuur ) masih tetap dipertahankan. Sedangkan pada masa kolonial Belanda. Kondisi ini memberikan warna bagi dinamika birokrasi di Indonesia pasca . Para pejabat kerajaan dapat bertindak sekehndak hatinya terhadap rakyat. Selama pemerintahan kolonial terjadi dualisme sistem birokrasi pemerintahan. 2. bukan sebaliknya untuk mengatur pemerintah dalam tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat.dengan Indonesia. 3. pelayanan publik tidak terlepas dari sistem administrasi pemerintahan yang berlangsung pada saat itu. Di satu sisi telah mulai diperkenalkan dan diberlakukan sistem administrasi kolonial (binnenlandcshe Bestuur) yang mengenalkan sistem birokrasi dan administrasi modern. birokrasi di Indonesia adalah warisan kolonial yang sarat kepentingan kekuasaan. Segala keputusan ada di tangan raja dan semua masyarakat harus patuh dan tunduk pada kehendak sang Raja. yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut : 1. 5. Kedatangan penguasa kolonial tidak banyak mengubah sistem birokrasi dan adminitrasi pemerintahan yang berlaku di Indonesia. motif utamanya adalah menanamkan pengaruh politiknya terhadap elite politik kerajaan. Administrasi adalah perluasan rumah tangga istana. pemerintah kolonial menjalin hubungan politik dengan pemerintah kerajaan yang masih disegani oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan misi utama birokrasi yang dibangun oleh kolonial adalah untuk mempertahankan kekuasaan dan mengontrol perilaku individu. Tugas pelayanan ditujukan kepada pribadi sang raja. nilai. dan regulasi birokrasi yang demikian diwarnai dengan orientasi pemenuhan kepentingan penguasa daripada pemenuhan hak sipil warga negara. seperti halnya dilakukan oleh raja. Sejarah bangsa ini pada jaman pra kemerdekaan begitu diliputi oleh praktek penjajahan dan otoritarianisme. Dimulai dari kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol. Penguasa menganggap dan menggunakan administrasi publik sebagai urusan pribadi. Kemudian terakhir. Dalam perspektif sejarah bangsa. struktur dan proses yang dibangun merupakan instrumen untuk mengatur dan mengawasi perilaku masyarakat. Begitu lamanya Belanda menjajah bangsa ini. Dalam sistem kerajaan.

peran seorang presiden sangat dominan dalam mengatur segala kebijakan baik dari tingkat daerah hingga pusat terkendali di tangan seorang Presiden. segala program departemen yang tidak sesuai dengan garis kebijakan partai yang berkuasa dengan mudah dihapuskan oleh menteri baru yang menduduki suatu departemen. Seringnya terjadi pergantian kabinaet menyebabkan birokrasi sangat terfragmentasi secara politik. Lantas bagaimanakah dinamika birokrasi di Indonesia sejak masa awal pasca kemerdekaan. Kedua. berganti-gantinya kabinet mempengaruhi jalannya kinerja pemerintah. Birokrasi pada masa itu benar-benar mengalami politisasi sebagai instrumen politik yang berkuasa atau berpengaruh. bagaimana cara menempatkan pegawai Republik Indonesia yang telah berjasa mempertahankan NKRI. Jika melihat peta politik pada masa orde lama. telah menjurus ke arah disintegrasi bangsa dan keutuhan aparatur pemerintahan. Negara ini berusaha mencari format pemerintahan yang cocok untuk kondisi saat itu. PEMBAHASAN A. Negara ini mengalami perubahan bentuk Negara. Perubahan bentuk Negara dari kesatuan menjadi federal berdasarkan konstitusi RIS melahirkan dilematis dalam cara pengaturan aparatur pemerintah. Dalam tataran kinerja birokrasi di bawahnya. termasuk dalam pengaturan birokrasinya. Sistem ini dikenal sebagai sistem demokrasi terpimpin. Banyak kebijakan atau program birokrasi pemerintah yang lebih kental nuansa kepentingan politik dari partai yang sedang berkuasa atau berpengaruh dalam suatu departemen. Pada masa awal kemerdekaan. Karl D Jackson menyebutnya sebagai bureaucratic polity. Birokrasi masa Orde Lama Setelah memperoleh kemerdekaan. Di dalam birokrasi tejadi tarik-menarik antar berbagai kepentingan partai politik yang kuat pada masa itu. yaitu sejak orde lama hingga jaman reformasi saat ini? Kemudian bagaimana kaitan antara penyelenggaraan birokrasi dengan praktek-praktek politik pada masa-masa tersebut ? Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai perkembangan atau dinamika penyelenggaraan birokrasi di Indonesia pasca kemerdekaan hingga reformasi serta hubungannya dengan praktek politik yang terjadi. Model ini merupakan birokrasi dimana negara menjadi akumulasi dari kekuasaan dan menyingkirkan peran masyarakat dari politik dan pemerintahan. Berakhirnya masa pemerintahan kolonial membawa perubahan sosial politik yang sangat berarti bagi kelangsungan sistem birokrasi pemerintahan. Pertama. tetapi relatif kurang memiliki keahlian dan pengalaman kerja yang memadai. dan ini yang berimplikasi pada pengaturan aparatur Negara atau birokrasi. Dalam memandang model birokrasi yang terjadi seperti ini. tetapi dianggap berkhianat atau tidak loyal terhadap NKRI. Kinerja birokrasi sangat ditentukan oleh kekuatan politik yang berkuasa pada saat itu. Setidak-tidaknya terdapat dua persoalan dilematis menyangkut birokrasi pada saat itu. Dampak dari sistem pemerintahan . Perbedaan± perbedaan pandangan yang terjadi di antara pendiri bangsa di awal masa kemerdekaan tentang bentuk Negara yang akan didirikan. bagaimana menempatkan pegawai yang telah bekerja pada Pemerintah belanda yang memiliki keahlian.kemerdekaan. Selain perubahan bentuk Negara.

Menurut Bahtiar Effendy (dalam Maliki. Ada juga yang menyebutnya sebagai birokrasi patrimonial dengan ciri-cirinya adalah (1) para pejabat disaring atas dasar kriteria pribadi. Setiap pejabat atau menteri baru selalu menerapkan kebijakan yang berbeda dari pendahulunya yang berasal dari partai politik yang berbeda. sulit rasanya menemukan suatu periode pemerintahan yang memperlakukan birokrasi sebagai institusi yang bebas dari politik. urusan yang berbelit-belit. baik di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. dan tidak efesien. Richard Robinson dan King menyebut birokrasi di Indonesia sebagai bureaucratic Authoritarian. PKI. demokrasi pancasila. 2000: xxvii). Tak heran jika untuk memperkuat posisi kekuasaan presiden. dikarenakan pergantian kabinet. Untuk dapat mengontrol rakyat yang kritis dan dianggap membahayakan. (2) jabatan dipandang sebagai sumber kekayaan dan keuntungan. dan periode transisional sesudahnya. tetapi lebih pada pertimbangan loyalitas politik terhadap partainya. Sementara itu. Dari penjelasan tersebut. dan lainnya. NU. Maka tidak heran jika sebuah kebijakan tidak dapat dilaksanakan hingga tuntas. Namun kekuatan politik terbesar ada pada presiden serta PKI sebagai partai terbesar setelah PNI. Kementrian Agama dikaitkan dengan dengan kekuatan politik Masyumi atau NU. . dan (4) setiap tindakan diarahkan oleh hubungan pribadi dan politik. seperti PNI. bisa diartikan bahwa pada masa Orde Lama. Sehingga apabila orang berbicara tentang birokrasi berkonotasi negatif. sejak Indonesia mempunyai perangkat birokrasi. Birokrasi adalah lamban. menghalangi kemajuan. birokrasi cenderung terbelah menjadi faksi-faksi dan mesin politik bagi partai-partai politik. demokrasi terpimpin. PKI. interplay antara politik dan birokrasi merupakan sesuatu yang jelas adanya. Kebijakan yang diturunkan pada birokrasi di tingkat bawah ditentukan oleh partai apa yan berkuasa. Birokrasi Masa Orde Baru Birokrasi di Indonesia.parlementer telah memunculkan persaingan dan sistem kerja yang tidak sehat di dalam birokrasi. Jackson. (3) para pejabat mengontrol baik fungsi politik maupun fungsi administrasi. sedikit berbeda dengan pendapat Karl D. Melihat realitas birokrasi di Indonesia. birokrasi tidak pernah dapat melaksanakan kebijakan atau program-programnya karena sering terjadi pergantian pejabat dari partai politik yang memenangkan pemilu. dan TNI. Pada masa Demokrasi Parlementer dan terpimpin misalnya. B. adanya politisasi birokrasi bisa dilihat dari adanya anggapan bahwa Kementrian Pendidikan diasosiasikan dengan PNI. cenderung memperhatikan prosedur dibandingkan substansi. Baik pada masa demokrasi parlementer. atau perkumpulan lainnya yang bertujuan sebaai penampung aspirasi mereka. dibentuklah serikat-serikat atau organisasi yang berbasiskan profesi. Kekuatan politik pada saat itu yang ada adalah Sokarno sebagai seorang Presiden berikut kekuatan pendukungnya. Pengangkatan dan penempatan pegawai tidak berdasarkan merit system. sepanjang Orde Baru kerap mendapat sorotan dan kritik yang tajam karena perilakunya yang tidak sesuai dengan tugas yang diembannya sebagai pelayan masyarakat. Birkrasi menjadi tidak professional dalam menjalankan tugas-tugasnya. Soekarno ³memelihara´ PKI sebagai kekuatan pendukung.

Masing-masing tahap tersebut membawa corak birokrasi sendiri. Birokrasi Orwel merujuk pada pola birokratisasi yang merupakan proses perluasan kekuasaan pemerintah yang dimaksudkan sebagai pengontrol kegiatan ekonomi. Ada pula yang berpendapat bahwa birokrasi di Indonesia pada jaman orde baru sebagai birokrasi Parkinson dan Orwel. pelindung dan yang dilindungi. Hubungan demikian oleh James Scott dikategorikan sebagai "patronclient relationship" (dalam Ismani. (2) militer yang aktif berpolitik. sistem politik didominasi atau bahkan dihegemoni oleh Golkar dan ABRI. Dari model yang diutarakan di atas dapat dikatakan bahwa birokrasi yang berkembang di Indonesia adalah birokrasi yang berbelit-belit. Kedua kekuatan ini telah menciptakan kehidupan politik yang tidak sehat. Birokrasi ini mendasarkan pada hubungan bapak buah dengan anak buah (patron client) sehingga segala yang dikerjakan bawahan hendaknya harus sesuai dengan keinginan atasan. Timbullah hubungan ketergantungan. bahwa . Sistem birokrasi yang berlaku di Indonesia pada masa orde baru tidak dapat dilepaskan dari sejarah masa lalu dalam pemerintahan kerajaan. Sikap atau perilaku yang demikian dibarengi dengan timbulnya perasaan dan kepercayaan rakyat bahwa pihak kerajaan akan melindungi para kawula dari segala macam gangguan dan ancaman. Dalam birokrasi timbul hubungan "bapak-anak buah´ secara khusus sebagaimana berlaku di Indonesia setelah kemerdekaan. Akibatnya. Birokrasi model Parkinson ini menjelaskan fenomena birokrasi dimana setiap organisasi birokrasi memerlukan dua sifat dasar. Birokrasi Indonesia saat ini tidak bisa terlepas dari faktor sejarah. Kepatuhan harus diwujudkan dengan melaksanakan segala peraturan dan perintah kerajaan dan tidak untuk mempertimbangkan untung rugi dan dampaknya. Seperti dalam pandangan William Liddle. 2001: 35). dan (3) birokrasi sebagai pusat pengambilan kebijakan (dalam Maliki. pemerintahan kolonial dan pemerintahan Orde Lama. Jajaran birokrasi diarahkan sebagai instrument politik kekuasaan Soeharto pada saat itu. Budaya patronase menimbulkan rasa ewuh pakewuh yang berlebihan terhadap atasan. Hal ini menimbulkan bawahan selalu tergantung pada atasan. Hal ini disampaikan oleh Hans Dieter Evers. kekuasaan orde baru terdiri dari (1) kantor kepresidenan yang kuat. politik dan sosial dengan menggunakan regulasi yang bila perlu ada suatu pemaksaan. tidak efisein dan mempunyai pegawai birokrat yang makin membengkak. Hal itu bisa dilihat adanya hegemonic party system diistilahkan oleh Afan Gaffar (1999). sebagai kelompok elit pemerintahan. yaitu setiap pejabat Negara berkeinginan untuk meningkatkan jumlah bawahannya dan mereka saling memberi kerja yang tidak perlu. Pada masa orde baru ini terlihat sekali terjadinya politisasi terhadap birokrasi yang seharusnya lebih berfungsi sebagai pelayan masyarakat. Sedangkan menurut William Liddle.Pada masa orde baru. 2000: xxiii) . Birokrasi Parkinson merujuk pada pertumbuhan jumlah anggota serta pemekaran struktural dalam birokrasi yang tidak terkendali. Dalam zaman kerajaan dimana feodalisme menjadi landasan birokrasi maka dituntut kesetiaan dan kepatuhan sepenuhnya terhadap raja dan para punggawa kerajaan. birokrasi cenderung meningkatkan terus jumlah pegawainya tanpa memperhatikan tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Sejarah telah menciptakan birokrasi patrimonial.

Golkar merupakan kontestan Pemilu dan itu berarti dia adalah partai politik. inilah yang dimaksud birokrasi Parkinson dan Orwell. Oleh sebab itulah Golkar selalu menang dalam setiap Pemilu. karena mereka lebih mementingkan kepentingan partai politiknya. Membutuhkan biaya tinggi karena ada pungutan-pungutan liar. Namun permasalahannya. sebagian anggota Fraksi Karya Pembanguan (FKP) di DPR dan DPRD. Dalam zaman orde baru juga ada suatu kebijakan yang disebut zero growth. birokrasi wajib mendukung Golkar sebagai partai pemerintah. Meskipun pada awalnya. F-KP dan F-ABRI adalah "fraksi birokrasi" yang lebih melayani kepentingan birokrasi ketimbang aspirasi masyarakat. Singkatnya. baik dalam perumusan kebijakan maupun proses politik pada umumnya. Adanya kebijakan zero growth yang menyebabkan jumlah anggota birokrasi makin membengkak.Soeharto sebagai politisi yang mempunyai otonomi relatif. Pegawai negeri yang menjadi pengurus partai selain Golkar. orang atau sekelompok orang yang tidak berpihak pada Golkar. tetapi hanya sebagai golongan kekaryaan. dan partai politik tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. militer. Misalnya saja dalam pelayanan dan pengurusuan administrasi masih saja berbelit-belit dan memerlukan waktu yang lama. Anggota keluarga dari pegawai pemerintah pun harus turut mendukung Golkar. Pada masa orde baru. Keterlibatan birokrasi dalam partai politik membuat pelayanan terhadap masyarakat menjadi diabaikan. Struktur DPR sejak Pemilu 1971 sebenarnya sudah didominasi oleh unsur-unsur birokrasi negara. Pada situasi seperti itu. karena jumlah pegawai negeri di Indonesia sangat banyak jumlahnya. Sehingga tak berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam praktek. merupakan pelaku utama transformasi²meskipun tidak penuh²model pemerintahan yang bersifat pribadi kepada yang lebih terinstitusionalisasi. belum ditambah lagi dengan anggota keluarganya. Begitu juga dengan kekuatan militer sebagai pendukung pemerintahan pada saat itu. Karena itu. maka pembangunan akan sangat tertinggal karena pemerintah lebih mengutamakan daerah yang merupakan basis Golkar. Dukungan yang diberikan oleh PNS atau birokrasi tidak hanya sampai di situ. maka dia akan tersingkirkan dari jajaran birokrasi. Hal ini menjadikan birokrasi tidak efisien karena jumlah pekerja dengan pekerjaannya tidak sebanding. Setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah anggota Partai Golkar. Golkar tidak ingin disebut sebagai partai. baik itu anggota Korpri maupun ABRI. jelas bahwa birokrasi. Keberpihakan birokrasi terhadap suatu partai. Jika suatu wilayah tidak merupakan basis Golkar. Birokrasi dijadikan alat mobilisasi masa guna mendukung Soeharto dalam setiap Pemilu. Pembangunan fisik pun juga . perlakuan khusus bagi birokrasi dengan menciptakan fraksi tersendiri bagi mereka di DPR akan mempertajam ketimpangan kekuasaan antara unsur-unsur masyarakat yang tak berdaya dan negara yang kekuasaannya sudah berlebih. tentu saja dalam hal ini Golkar. Selain itu. pemerintahan yang baik belum terlaksana. akan mengurangi profesionalisme dari birokrasi tersebut. Hampir semua orang tahu bahwa birokrasi Negara²dalam pengertian ini termasuk ABRI² sesungguhnya sudah lama mengambil alih peran partai politik dan Golkar. maka bisa dipastikan akan mendapat perlakuan diskriminatif dalam birokrasi.

Selain itu. birokrasi merupakan penyedia dana bagi usaha pemenangan Golkar dalam setiap Pemilu (Afan Gaffar. masalah korupsi juga terkait erat dengan birokrasi. Birokrasi dalam pemrintahan Orde Baru merupakan sebuah instrumen politik yang sangat efektif dalam memobilisasi massa demi memelihara format politik orde baru. dengan skala penilaian yang sama antara nol yang terbaik hingga sepuluh yang terburuk. Untuk memperluas wewenang pemerintah baru dalam rangka mengkonsolidasikan pengendalian atas daerah-daerah. Di tahun 2000 Indonesia memperoleh skor 8 (yaitu kisaran skor nol untuk terbaik dan 10 untuk yang terburuk) yang berarti jauh dibawah rata-rata kualitas birokrasi di negara-negara Asia. Indonesia menempati ranking/urutan ke 89 dari 91 negara yang disurvei. Memindahkan wewenang administratif kepada eselon atas dalam hierarki birokrasi. Strategi politik birokrasi tersebut merupakan strategi dalam mengatur system perwakilan kepentingan melalui jaringan fungsional non-ideologis. Adapun wujudnya dapat berupa: pertama. sekaligus dalam rangka mengontrol publik secara penuh. menurut penelitian tersebut. yang bertujuan untuk meniadakan konflik antar kelas atau antar kelompok kepentingan dalam masyarakat yang memiliki konsekuensi terhadap hilangnya pluralitas sosial. juga dilengkapi dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh PERC (2001) dan Price Water House Cooper (2001) tentang ranking negara-negara Asia dalam implementasi good governance. Sistem pemerintahan yang sentralistis didukung penuh oleh sistem birokrasi yang menganut monoloyalitas kepada Partai Golkar. Hasil penelitian dari PERC (Political and Economic Risk Consultancy.91 untuk korupsi. Birokrasi diarahkan pada : 1. 2. birokrasi Orde Baru hanya menjadi instrumen hegemonik berupa aparatur . 1999). Reformasi birokrasi yang dilakukan pada masa orde baru bersifat semu.masih sering terbengkalai atau lamban dalam perbaikan. hal ini seperti yang dilaporkan oleh ICW (Indonesia Corruption Watch) pada tahun 2000[1]. Hasil penelitian tersebut. Terpuruknya Indonesia dalam kategori korupsi dan birokrasi. dan dari sisi competitiveness Indonesia menempati urutan ke-49 dari 49 negara yang diteliti. Birokrasi pada masa Orde Baru menciptakan strategi politik korporatisme Negara yang bertujuan untuk mendukung penetarsinya ke dalam masyarakat. ketiga. seperti monopoli atau perizinan. kedua. dukungan langsung kepada Golkar pada setiap Pemilu.09 untuk kroniisme diantara negara-negara Asia. Akhirnya. menempatkan Indonesia pada peringkat bawah atau tergolong pada negara dengan tingkat korupsi yang sangat parah. Di lain pihak. dimana sistem tersebut memberikan berbagai lisensi pada kelompok fungsional dalam masyarakat. birokrasi terlibat secara langsung dalam proses pemenangan Golkar pada Pemilu. politik maupun budaya. 3. Masih banyak KKN yang terjadi dalam lingkungan birokrasi khususnya dalam sektor pelayanan publik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa masa orde baru. Berbagai fenomena dan sejarah perkembangan korupsi di Indonesia tersebut menunjukkan adanya kaitan erat antara KKN dengan perilaku kekuasaan dan birokrasi yang melakukan penyimpangan. Dalam hubungan ini birokrasi Indonesia dinilai termasuk terburuk. dan 9. 2000) yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat korupsi tertinggi dan sarat kroniisme dengan skor 9. peran partai politik dan parlemen lemah. Untuk membuat agar birokrasi responsif terhadap kehendak kepemimpinan pusat. peran birokrasi di bidang politik sangat menonjol.

who is not specialist" ²Max Weber (1947) . Generally speaking. tidak memihak dan obyektif (Kuncoro. sebab masih banyak kalangan birokrasi yang terlibat dalam pertarungan politik. Dengan demikian diharapkan pelayanan kepada masyarakat yang diberikan birokrasi netral. Hubungan antara pejabat politik (political leadership) dan birokrasi yang akan menjadikan suatu hubungan yang konstan (bersinambung) antara fungsi kontrol dan dominasi dalam hubungan seperti ini maka akan senantiasa timbul persoalan. the Cabinet minister. Menurut Miftah Thoha (2003). Politik blok birokrasi atau (bahasa Inggris: building blocks) dalam administrasi publik adalah menyangkut umumnya dilakukan oleh para politisi hasil dari sebuah pemilu dan para birokrat dalam kriteria normatif kebijakan untuk mengalokasikan tugas pembuat kebijakan oleh politisi non birokrat dalam pendelegasian dan menunjukkan bidang kerja birokrasi yang bersinambung bahwa keduanya umumnya dapat berbeda secara umum disebut jabatan karier dan non karier dalam bentuk dan tatanan yang mengandung struktur dan kultur. And such control is possible only in a very limited degree to persons who are not technical specialists. Daftar isi [sembunyikan] y y y y 1 Administrasi dan politik o 1. 2007: 52).1 Indonesia 2 Lihat pula 3 Referensi 4 Pustaka [sunting] Administrasi dan politik "The question is always who controls the existing bureaucratic machinery. siapa mengontrol siapa dan siapa pula yang menguasi. birokrasi atau pemerintah yang bukan merupakan kekuatan politik ini seharusnya dibebaskan dari pengaruh dan keterjalinan ikatan politik dengan kekuatankekuatan yang sewaktu-waktu bisa masuk birokrasi. sehingga dalam hal pelayanan menjadi tidak obyektif dan cenderung diskriminasi. the trained permanent official is (more) likely to get his way in the long run than his nominal superior. Namun dalam pelaksanaannya justru hal ini dilanggar.negara yang mendukung otoritarianisme. misalnya dalam Pemilu. memimpin dan mendominasi siapa. struktur yang mengetengahkan sebuah susunan dari suatu tatanan dan kultur yang mengandung nilai (values). sistem kebiasaan yang dilakukan oleh para pelakunya yang dapat mencerminkan perilaku dari sumberdaya manusianya. persoalan ini sebenarnya merupakan persoalan klasik sebagai perwujudan dikotomi politik dan administrasi kemudian timbul dua pertanyaan yakni apakah birokrasi sebagai subordinasi dari politik (executive ascendancy) atau birokrasi sejajar dengan politik (bureaucratic sublation)[1].

public interest. kepemimpinan pejabat politik atas birokrasi itu timbul dari perbedaan fungsi antara politik dan administrasi. dan adanya asumsi tentang superioritas fungsi-fungsi politik atas administrasi. slogan klasik pernah juga ditawarkan bahwa manakala fungsi politik berakhir maka fungsi administrasi itu mulai (when politic end. dalam hasil sistim pemilu multi partai tahun 1999 terdapat pengangkatan seorang sekretaris jenderal yang berasal dari satu partai dengan menteri kehutanan [2]dan di beberapa kantor kementerian antara lain Diknas. bila memperhatikan hal-hal seperti ini. pejabat birokrasi yang terlatih secara profesional mempunyai kekuatan tersendiri sebagai suatu pejabat yang permanen yang mempunyai catatan karier yang panjang jika dibandingkan dengan pimpinannya pejabat politik yang bukan spesialis. melainkan sebanding (co-equality with the executive). dalam teori supremasi mandat dapat diperoleh oleh kepemimpinan politik itu berasal dari Tuhan atau berasal dari masyarakat. masing-masing berusaha mengusai sumber daya bagi partainya masing-masing. dengan demikian birokrasi bertindak sebagai kekuatan yang a politic but highly politized dalam artian bahwa birokrasi bukan merupakan bagian dari partisan politik akan tetapi karena keahliannya dapat mempunyai kekuatan untuk membuat kebijakan yang profesional. 1992 dan 1997 terlibat langsung dan menyalurkan aspirasi politiknya melalui Golkar (karena waktu itu Golkar menyatakan dirinya bukan sebagai partai politik melainkan sebagai perwakilan dari golongan fungsional) sebagai jalur B berarti dari lingkungan birokrasi. administraion begin). BUMN dan lain sebagainya diangkat beberapa eselon satu yang juga berasal dari satu partai politik dengan menterinya[3] . 1987. kontrol berjalan dari otoritas tertinggi masyarakat melalui perwakilannya (political leadership) diberikan pada birokrasi sebagai kekuasaan untuk melakukan kontrol seperti ini yang diperoleh dari masyarakat disebut sebagai ³overhead democracy´. supremasi mandat ini diligitimatisasi dapat melalui pemilihan atau penerimaan secara de facto oleh masyarakat. dalam model sistem demokrasi. karena dalam kedudukannya tidak sekedar sebagai subordinasi dan mesin pelaksana. slogan ini mengartikan bahwa birokrasi pemerintahan sebagai mesin pelaksana kebijakan politik yang dibuat oleh pejabat politik. [sunting] Indonesia Kedudukan birokrasi dalam kepentingan partai politik dimulai dari hasil pemilu 1955 dimana terdapat empat partai besar yang muncul sebagai pemenang pemilu kemudian setelah peristiwa prri berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 200 Tahun 1960 partai Masyumi dibubarkan dan menyisakan tiga partai besar lainnya sebagai partai politik yang besar yang merupakan elemen dari politik nasakom pada waktu itu. Bureaucratic sublation didasarkan dari anggapan bahwa birokrasi pemerintah sesuatu negara itu bukanlah hanya berfungsi sebagai mesin pelaksana.Executive ascendancy diturunkan dari suatu anggapan bahwa kepemimpinan para pejabat politik itu diperoleh berdasarkan kepercayaan. menurut Max Weber bahwa birokrasi yang real (sebagai lawan dari ³tipe ideal´) itu mempunyai kekuasaan yang terpisah dari kekuasaan yang dilimpahkan oleh pejabat politik. birokrasi dapat disebut mempunyai kekuatan yang seimbang dengan pejabat politik. dari semangat dan keinginan seperti ini membuat birokrasi dan netralitas birokrasi terhadap kekuatan partai politik mulai menjadi sulit bisa terhindarkan berlanjut dengan pemerintahan selanjutnya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 82 Tahun 1971 tanggal 29 Nopember 1971 didirikan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) sebagai organisasi merupakan wadah tunggal bagi seluruh pegawai pemerintahan Indonesia yang selanjutkan dalam pemilu tahun 1977. 1982.

selanjutnya pada pemerintahan lanjutan hasil pemilu selanjutnya para ketua partai melalui jabatan menteri mulai berusaha untuk mengikuti cara-cara sebelum tahun 1998 dijalankan kembali dengan mengaburkan antara jabatan karier dan non karier dengan mengeser jabatanjabatan karier birokrasi berpindah ke tangan orang-orang partai politik non karier dan birokrasi[4]. .

yaitu : pertama. Pemerintahan Soeharto yang bercirikan otoritarianisme dimana kekuasaaan eksekutif begitu besar dan personifikasi Soeharto dalam negara menjadikan birokrasi sebagai kepanjangan tangannya dalam mengontrol masyarakat disamping ABRI. terutama para perwira militer dan pejabat tinggi yang terkenal sebagai teknokrat. yang sebagian adalah merupakan kelemahan parpol dan secara timbal balik menguatkan birokrasi . Jackson dalam konteks Indonesia. birokrasi tidak banyak melibatkan kekuatan sosial politik. Akibatnya biaya politik (polical cost) yang harus dibayar karena timbulnya kepolitikan yang tidak berimbang (unbalanced polity). sosial. sedangkan kedua parpol lainnya lebih sebagai pelengkap penderita untuk mengkooptasi orang-orang yang tidak bersedia masuk dalam jalur A. dan kelompok-kelompok kepentingan berada dalam keadaan lemah. peletakan jaringan pasar dan infra struktur. Sementara penetrasi birokrasi didalam kehidupan kehidupan ekonomi. lemahnya control sosial. Jackson menulis: bureucratic-polity adalah suatu sistem politik yang mana kekuasaan dan partisipasi politik dalam pengambilan keputusan nyaris terbatas sepenuhnya pada para penguasa negara. Ketiga kekuatan ini merupakan pondasi utama langgengnya kekuasaan Soeharto selama 32 tahun. politik dan cultural. bahwa Golkar lebih digunakan sebagai alat memobilisasi dukungan masyarakat (melalui pemilu dan lembaga wakil rakyat) baik terhadap kebijakan pembangunan maupun terhadap kelompok penguasa tersebut. Kekuasaan tidak diakibatkan oleh artikulasi kepentingan sosial dan geografi desekitar masyarakat. Kecenderungan yang makin menguatnya peranan birokrasi. disebut bureaucratic polity yang tercermin dalam besarnya kekuasaan birokrasi vis-avis lembaga-lembaga perwakilan dan infra struktur. politik seperti partai politik dan ormas.. Berbagai tindakan yang didesain untuk mempengaruhi keputusan-keputusan pemerintah berasal dari elit itu sendiri tanpa banyak memerlukan partisipasi atau mobilisasi massa. dalam hal ini militer dan birokrasi tidak bertanggungjawab kepada kekuatan-kekuatan politik lain seperti partai-partai politik. Ketiga. nampak dalam proses pengambilan keputusan. Fenomena seperti ini oleh Jackson. Dalam memahami karateristik politik dan birokrasi di Indonesia pada masa orde baru dapat digunakan model bureaucratic-polity. semakin meningkat Kondisi seperti ini akan membawa akibat segala kebijaksanaan lebih banyak ditentukan oleh birokrat dengan keputusan-keputusan yang amat dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan teknokratis yang non politis. birokrasi pernah menjadi salah satu kekuatan utama. lembaga politik yang dominan adalah birokrasi. B dan G dan sebagai pemberi legitimasi agar rezim Orba seolah-olah demokratik Selama ini pandangan teknokrat amat menentukan didalam meletakkan arah pembangunan ekonomi yang menekankan stabilitas.. kelompok-kelompok kepentingan atau organisasi masyarakat. partai politik.. berhimpitnya . mencatat bahwa bureaucratic-polity (masyarakat politik birokrati) di Indonesia mengandung tiga ciri utama. Tidak salah bila Ramlan berpendapat. dan lebih banyak bertumpu pada teknokrat. Dengan mendefinisikan secara lebih sempit. massa di luar birokrasi secara politik dan ekonomis adalah pasif. politik investasi terbuka dan sebagainya. sehingga tidak mampu mengimbangi atau mengontol kekuatan birokrasi. anggaran berimbang. Model ini digunakan oleh Karl D. lembaga-lembaga politik lainnya seperti parlemen. Crouch. dimana Birokrasi bersama ABRI dan Golkar mendiominasi kehidupan pemerintahan.Pengaruh Birokrasi dalam proses pengambilan kebijakan Dalam sistem politik Indonesia. Kedua. Hal itu terjadi di masa Orde Baru.

bahwa pada suatu saat birokrasi akan menjadi kue politik yang dibagi-bagikan sebagai imbalan jasa. dan pada gilirannya lembaga legislatif tersebut berada dibawah bayang-bayang eksekutif. siapa yang memberi. fasilitas. kaburnya batas penguasa dengan penguasa. bersifat kaku terhadap rencanarencana yang telah ditetapkan serta prosedur-prosedur yang birokratis. Dominasi para birokrat di DPR di lain pihak menyebabkan pengaruh parpol semakin lemah. memiliki otoritas mengalokasikan sumber-sumber pembangunan. Ini dapat dilihat dari kuatnya unsur-unsur birokrasi dan eks ABRI dalam komposisi anggota DPR dan Golkar. Peran birokrasi dalam pengambilan keputusan politik lebih nyata lagi dengan kemenangan Golkar mulai pemilu 1971 hingga 1997. . kapan.struktur ekonomi dengan struktur politik. maupun kenegaraan . Penetapan kebijaksanaan dilakukan dengan pendekatan top-down semakin membuat kekuatankekuatan politik diluar birokrasi (selain ABRI dan Golkar) semakin lemah. dan bentuk-bentuk subsidi. dan bentuk-bentuk subsidi yang ditawarkan cenderung sidah ditentukan dan seragam. sepenuhnya merupakan kebijaksanaan birokrasi. dirumuskan dalam perencanaan dan proyek yang terjadwal. Keputusan-keputusan tentang program-program pembangunan. Tjokroaminoto menambahkan . pada saat yang lain menjadi penentu atau boss politik yang dapat mengatur atau mempengaruhi perikehidupan politik dan kemasyarakatan. serta bagaimana diberikan. Kekuatan diluar birokrasi tersebut tidak berdaya ketika berhadapan dengan birokrasi sehingga tidak ada pilihan lain selain melaksanakan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh birokrasi. Keputusan tentang jenis. Mencermati fenomena seperti ini Syakur Abdullah sampai pada satu pendapat. kadang-kadang otoriter. dan siapa yang memberikan. Rencana itu dirumuskan oleh satu unit perencanaan pusat yang kuat. dengan kemenangan Golkar tersebut berarti semakin kuatnya pengaruh birokrasi dalam pengambilan keputusan. di mana dan kapan. rakyat diharapkan menerima secara pasif apapun pelayanan sosial. di mana. dan sebagainya. rencana dan proyek tadi dilaksanakan melalui birokrasi terpusat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->