P. 1
MAKALAH

MAKALAH

|Views: 1,373|Likes:
Published by Welly Kartiansyah

More info:

Published by: Welly Kartiansyah on May 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Perkembangan kehidupan kenegaraan Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar terutama berkaitan dengan gerakan reformasi 1998. Oleh karena itu, materi perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan tidak mungkin dilepaskan dari perkembangan kenegaraan tersebut agar kadar keilmiahan serta obyektivitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Banyak tuduhan dialamatan kepada sosok Pendidikan Kewarganegaraan dan tuduhan itu barangkali juga ada benarnya. Beberapa tuduhan itu antara lain (i) Pendidikan Kewarganegaraan sering bersifat politis daripada akademis, lemah landasan keilmuannya, (ii) tidak tampak sosok keilmiahannya, dan (iii) sering dititipi kepentingan politik penguasa. Berdasarkan kenyataan tersebut sudah merupakan keharusan untuk menata ulang materi kuliah Pendidikan Kewarganegaraan agar sesuai dengan perkembangan zaman, terutama tuntutan reformasi. Dalam proses penyusunan ulang materi Pendidikan Kewarganegaraan penulis berupaya untuk mengumpulkan bukubuku referensi yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan. Penulis dapat senantiasa terbuka menerima masukan untuk perbaikan naskah buku ini. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini membantu kelancaran perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.

Malang, 12 Mei 2011 Penulis.

1

DAFTAR ISI
Kata pengantar...............................................................................1 Daftar isi........................................................................................2 Bab I Pendahuluan..........................................................................3 Bab II Ruang Lingkup......................................................................7 Bab III Langkah-langkah pelaksanaan..............................................8 Bab IV Realisasi.............................................................................10 Bab V Penutup..............................................................................34 Daftar Pustaka..............................................................................35

2

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hakikat negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan--atau nasionalisme--yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbedabeda agama, ras, etnik, atau golongannya. [Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1998]. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan Konstitusi Negara Indonesia perlu ditularkan secara terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara historis, negara Indonesia telah diciptakan sebagai Negara Kesatuan dengan bentuk Republik.

3

Untuk itulah pemahaman yang mendalam dan komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat. Indonesia di masa depan diharapkan tidak akan mengulang lagi sistem pemerintahan otoriter yang membungkam hakhak warga negara untuk menjalankan prinsip demokrasi dalam kehidupan masyarakat. bangsa. pemerintahan. Kehidupan yang demokratis di dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. Kemanusiaan yang adil dan beradab. berbangsa. dan organisasi-organisasi non-pemerintahan perlu dikenal. serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dan negara.Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa. masyarakat. Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. [Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945] Dalam perkembangannya sejak proklamasi 17 Agustus 1945 sampai dengan penghujung abad ke-20. 4 . rakyat Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa yang mengancam persatuannya. dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan Konstitusi Negara Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia. sekolah.

Keluarga. Demokrasi dalam suatu negara hanya akan tumbuh subur apabila dijaga oleh warga negara yang demokratis. Berkenaan dengan hal-hal yang diuraikan di atas. sekolah memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mempersiapkan warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. tetapi juga harus memikul tanggung jawab secara bersama-sama dengan orang lain untuk membentuk masa depan yang cerah.dimulai. diinternalisasi. dan diterapkan demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia. Warga negara yang demokratis bukan hanya dapat menikmati hak kebebasan individu. kehidupan yang demokratis adalah cita-cita yang dicerminkan dan diamanatkan oleh para pendiri bangsa dan negara ketika mereka pertama kali membahas dan merumuskan Pancasila dan UUD 1945. B. Sesungguhnya. Upaya yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai kemampuan sebagai seorang warga negara melalui mata pelajaran Kewarganegaraan (Citizenship). dan lembaga-lembaga lainnya dapat bekerjasama dan memberikan kontribusi yang kondusif terhadap tanggung jawab sekolah tersebut. tokoh-tokoh keagamaan dan kemasyarakatan. PENGERTIAN Kewarganegaraan (Citizenship) merupakan mata pelajaran 5 . media masa.

(3)berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya. Tujuan Tujuan mata pelajaran Kewarganegaraan adalah untuk memberikan kompetensi-kompetensi sebagai berikut: (1)berpikir secara kritis. 2. bahasa. rasional. dan bernegara. C. dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat.yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama. terampil. dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. usia. 1. TUJUAN DAN FUNGSI Kewarganegaraan di SMA dan MA mempunyai tujuan dan fungsi berikut ini. sosio-kultural. dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas. Fungsi Mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas. dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. dan 6 . (4)berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. terampil. (2)berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab. berbangsa.

kesusilaan.Persatuan bangsa dan negara 2.berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.Nilai dan norma ( agama. BAB II RUANG LINGKUP Ruang lingkup mata pelajaran Kewarganegaraan dikelompokkan ke dalam komponen rumpun bahan pelajaran dan sub komponen rumpun bahan pelajaran sebagai berikut: ASPEK SUB ASPEK SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA 1. kesopanan dan hukum ) 7 .

Hak Asasi Manusia 4. Menggunakan bahasa untuk memahami.Masyarakat demokratis 7.Globalisasi BAB III LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN Standar Kompetensi Lintas Kurikulum merupakan kecakapan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan dan harus dicapai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar.3. Langkah-langkah pelaksanaan ini meliputi: 1.Pancasila dan konstitusi negara 8. dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi.Kekuasaan dan politik 6. sesuai dengan agama yang dianutnya 2. mengembangkan. Memiliki keyakinan. serta untuk 8 .Kebutuhan hidup warga negara 5. menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban. saling menghargai dan memberi rasa aman.

geografis. 9. 7. dan teknologi. pola. Berkreasi dan menghargai karya artistik.berinteraksi dengan orang lain. Memilih. 6. budaya. dan historis. kritis. dan berkontribusi aktif dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya. teknikteknik. dan hubungan. 3. 9 . percaya diri. Memahami dan menghargai lingkungan fisik. Menunjukkan motivasi dalam belajar. mencari. Memilih. dan menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber. struktur. keterampilan. bekerja mandiri. 4. makhluk hidup. dan bekerja sama dengan orang lain. dan nilainilai untuk mengambil keputusan yang tepat. dan menerapkan konsep-konsep. 5. memadukan. dan menggunakan pengetahuan. 8. dan lateral dengan memperhitungkan potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan. dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab. Berpikir logis. Berpartisipasi. berinteraksi.

Secara konseptual-epistemologis. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pembangunan Watak dan Peradaban bangsa Indonesia Sebagaimana diketahui bahwa Pendidikan Kewarganegaraan pada hakikatnya merupakan pendidikan yang mengarah pada terbentuknya warga negara yang baik dan bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai dan dasar negara Pancasila. Atau dengan perkataan lain merupakan pendidikan Pancasila dalam praktek. pendidikan Pancasila dapat dilihat sebagai suatu integrated knowledge system (Hartonian: 1996.BAB IV REALISASI A. Winataputra:2001) yang memiliki misi menumbuhkan potensi peserta didik agar memiliki “civic intelligence” dan “civic participation” serta 10 .

dan negara Kesatuan Republik Indonesia ke depan (proses nation’s character building). dan Pendidikan Kewarganegaraan tahun 2003. Sementara itu di perguruan tinggi sudah dikenal Pancasila dan Kewiraan Nasional tahun 1960-an. yakni: “Citizenship education” (UK). 2006). Pendidikan Kewargaan Negara dan Kewargaan Negara tahun 1968. atau “ta’limatul 11 . Sebagaimana berkembang di berbagai belahan dunia. Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewiraan tahun 1985. tercatat adanya berbagai nomenklatuur untuk itu. yakni: pendidikan Pancasila sebagai kemasan kurikuler (mata pelajaran atau mata kuliah). sebagai proses pendidikan (praksis pembelajaran). dan sebagai upaya sistemik membangun kehidupan masyarakat. bangsa. Dalam kurikulum sekolah sudah dikenal. Apakah makna pendidikan Pancasila dalam pembangunan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat? Untuk menjawab pertanyaan ini. Pendidikan Pancasila sebagai kemasan kurikuler Kemasan kurikuler pendidikan Pancasila secara historis-kurikuler telah mengalami pasang surut (Winataputra:2001). termasuk di dalamnya “civic education” (USA) atau disebut juga pendidikan kewarganegaraan (Indonesia). mulai dari Civics tahun 1962. Pendidikan Pencasila dan Kewarganegaraan tahun 1994. Di negara lain kemasan kurikuler serupa itu dikenal sebagai civic education dalam konteks wacana pendidikan untuk kewarganegaraan yang demokratis menurut konstitusi negaranya masing-masing. dan Pendidikan Kewarganegaraan tahun 2003. pendidikan Pancasila perlu dilihat dalam tiga tataran.“civic responsibility” sebagai warga negara Indonesia dalam konteks watak dan peradaban bangsa Indonesia yang ber-Pancasila (Winataputra. 1. 2001. Pendidikan Moral Pancasila tahun 1975.

dan pendidikan kewarganegaraan. berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sisdiknas dikenal dua muatan wajib yakni Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 3 pendidikan Pancasila. yakni pada pasal 37 menggariskan program kurikuler pendidikan kewarganegaraan sebagai muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta pendidikan tinggi. Pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dua muatan wajib ini dirumuskan menjadi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Perubahan ini ternyata menimbulkan kesan di kalangan komunitas dosen pengasuh kedua mata kuliah itu bahwa Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan dua kemasan kurikuler yang berbeda. Sebelumnya. Untuk Indonesia pada saat ini. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. atau “Civics and moral education” (Singapore) (Kerr: 1999. Semua itu merupakan wahana pendidikan karakter ( character education) yang bersifat multidimensional (Cogan and Derricott: 1998) yang dimiliki oleh kebanyakan negara di dunia. Pendidikan Pancasila dianggap sebagai 12 . sedang di Perguruan Tinggi dirumuskan menjadi dua mata kuliah. yakni Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewiraan.muwwatanah/at tarbiyatul al watoniyah (Timur Tengah) atau “educacion civicas” (Mexico). Pada tahun 1985 mata kuliah Pendidikan Kewiraan berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. atau “Sachunterricht” (Jerman) atau “civics” (Australia) atau “social studies” (New Zealand) atau “Life Orientation (Afrika Selatan) atau “People and society” (Hungary). Winataputra:2001).

atau Menurut Heri Ahmadi yang bersama dengan Noor Syam dan penulis menjadi pembicara dalam Seminar Pendidikan dan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila pada tanggal 8 Juni 2006 di Jakarta. Sesungguhnya. ditegaskan bahwa core dari pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia adalah Pancasila. kemudian disepakati sebagai kesimpulan Seminar tersebut. Dualisme ini masih menyisakan kontroversi tentang perlu tidaknya di perguruan tinggi ada dua mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan yang sama-sama merupakan wahana kurikuler pendidikan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain dapat dirumuskan bahwa pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia secara filosofik dan substantifpedagogis/andragogis. Oleh karena itu dengan cara berfikir konsistensi dan keherensi. Adanya dua persepsi ini ternyata masih terbawa sampai saat ini. pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia adalah pendidikan Pancasila. bila kita kembali pada konsepsi bahwa setiap negara memerlukan wahana edukatif untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya dan menjamin kelanggengan kehidupan negaranya. yang secara filosofik dan substantifpedagogis merupakan pendidikan kewarganegaraan ala Indonesia. pendidikan kewarganegaraan itu adalah pendidikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. merupakan pendidikan untuk memfasilitasi 13 . maka dualisme persepsi antara Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan tidak perlu terjadi.kemasan kurikuler untuk pendidikan nilai-nilai Pancasila. sedangkan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kemasan kurikuler pendidikan kewiraan dan pendidikan pendahuluan bela negara. Telah dikemukakan di atas bahwa pada dasarnya untuk Indonesia. ketika memahami konsepsi muatan pendidikan kewarganegaraan menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas.

Untuk pendidikan tinggi sebaiknya bagaimana? Peserta didik di perguruan tinggi adalah pemuda dan orang dewasa yang mulai matang. dan globalisasi. Pancasila. norma hukum dan peraturan. Untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah. komitmen utuh telah dicapai sesuai dengan legal framework yang ada. demokratis dan bertanggung jawab. kebutuhan warga negara. Secara multidimensional Pancasila dapat kita bagi dalam tiga tataran. mencakup persatuan dan kesatuan bangsa. namun dalam pengorganisasian isi dan pengalaman belajar hendaknya ditempatkan sebagai core atau concerto dalam orkestrasi kesemua aspek untuk mencapai tujuan akhir dari pendidikan Pancasila secara generik. dan berkeadilan. Walaupun dalam enumerasinya Pancasila ditempatkan sejajar dengan aspek lain. yakni (a) Pancasila pada tataran filosofik-ideologik. hak azasi manusia. konstitusi negara. bukan anak usia sekolah yang secara psikologis masih dalam proses perkembangan menuju kematangan. berjiwa persatuan Indonesia.perkembangan pribadi peserta didik agar menjadi warga negara Indonesia yang religius. berkeadaban. bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran wajib pada semua satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah. dan (c) Pancasila pada tataran psikososial-individual dan kolektif. Pada tataran filosofikideologik Pancasila perlu dilihat sebagai integrated knowledge 14 . Aspek-aspek yang menjadi lingkup mata pelajaran ini. (b) Pancasila pada tataran instrumental-sociokultural. Dengan demikian untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 4 dikembangkan pendidikan kewarganegaraan yang koheren dengan pendidikan nilai-nilai Pancasila. kekuasaaan dan politik.

dan mekanisme kehidupan bermasyarakat. berbangsa. komponen bangsa. Pertama. Dalam konteks ini Pancasila harus dilihat sebagai ideologi terbuka untuk pengembangan secara keilmuan. ada dua alternatif pengemasan pendidikan Pancasila di perguruan tinggi.system yang memiliki dimensi ontologi.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. ketiga tataran pendidikan Pancasila (filosofik-ideologik. epistemologi. Dalam konteks ini Pancasila harus dilihat sebagai sistem nilai dan moral yang melandasi kelembagaan. dengan beban belajar 3-4 sks. Dengan argumen tersebut. Pada tataran psikososial-individual dan kolektif. dan bernegara Indonesia. yang seyogyanya dikaji secara normatifinferensial. secara kurikuler. tataran instrumental -sociokultural dan psikososial-individual dan kolektif) dikemas utuh dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Karena itu Pancasila harus diperlakukan sebagai parameter untuk menakar nilai substatif dari keseluruhan instrumentasi kehidupan kebernegaraan Indonesia. Pancasila harus dilihat sebagai sistem nilai moral yang seyogyanya diwujudkan dalam pengetahuan. norma. Kedua. dan warga negara Indonesia. yang seyogyanya dikaji secara akademik/ilmiyah. konsisten dengan pasal 37 UU No. Karena itu Pancasila harus diperlakukan sebagai sumber rujukan prilaku yang perlu diinternalisasi oleh individu dalam perannya sebagai anggota masyarakat. dan bernegara Indonesia. dan aksiologi. berbangsa. sikap. Pada tataran instrumental-sociokultural Pancasila merupakan sistem nilai yang menjadi ingredient dan spirit/ ethos dari keseluruhan sistem konstitusi dan kehidupan berkonstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan keterampilan sosialkultural individu dalam keseharian kehidupan bermasyarakat. pendidikan 15 .

Pancasila dikemas dalam dua mata kuliah. and conflict resolution.instruction in the values and attitudes of good citizenship. the study of electoral processes. encompassing education and training of both youths and adults in and outside of schools. yang di Indonesia disebut pendidikan kewarganegaraan dalam makna generik pendidikan Pancasila. Civic education can also take place through radio and televition broadcasting and othr means. kini menjadi konsep yang lebih multifaset. “Civic education involves many things: the study of constitutions. Pendidikan Pancasila sebagai Proses Pendidikan: Praksis Pembelajaran 16 . 2. Adalah CIVITAS International (2006) yang merumuskan kosep tersebut secara lebih luas seperti berikut. dan Pendidikan Kewarganegaraan dengan beban belajar masing-masing 2 sks. Mata kuliah Kajian Pancasila yang dikembangkan sebagai program kurikuler yang mewadahi pendidikan Pancasila pada tataran filosofik-ideologik dan instrumental-sosiokiltural. issues of human rights and intergroup relations. yakni Pendidikan Pancasila.Civic education is Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 5 pedagogy. marilah kita lihat konsep civic education secara generik-akademik. particularly in the developing world. Sebagai benchmark. the rule of law and the operations of public institutions. sedangkan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dikembangkan sebagai program kurikuler yang mewadahi pendidikan Pancasila pada tataran psikososial individual dan kolektif. the development of the skills of government and politics. Distance learning techniques are increasingly important.

Semua proses pendidikan pada akhirnya harus menghasilkan perubahan prilaku yang lebih matang secara psikologis dan sosiokultural. institut. dalam Pasal 1 butir 20 UU No. Dalam kontes itu. bukan hanya dibatasi pada konteks klasikal mata pelajaran atau mata kuliah. SMK/MAK. SMA/MA. menjadi sangat relevan dalam upaya menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai ingredient pembangunan watak dan peradaban Indonesia yang bermartabat. dan universitas) merupakan suatu lingkungan belajar pendidikan formal yang terorganisasikan mengikuti legal framework yang ada. sekolah tinggi. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. termasuk pendidikan Pancasila adalah belajar atau learning. Karena itu inti dari pendidikan. harus diwujudkan dalam keseluruhan proses pembelajaran. SMP/MTs. proses belajar merupakan misi utama darai proses pembelajaran atau instruction. Dalam konteks itu maka satuan pendidikan seyogyanya dikembangkan sebagai satuan sosiokultural-edukatif yang mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan satuan pendidikan yang membudayakan dan mencerdaskan. Satuan pendidikan (SD/MI. dirumuskan bahwa ”Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Secara normatif. bukan hanya dalam pembelajaran mata pelajaran/mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan Kajian Pancasila. maka pendidikan Pancasila dalam pengertian generik. Oleh karena itu proses belajar dan pembelajaran harus diartikan sebagai proses interaksi sosiokulturaledukatif dalam konteks satuan pendidikan. 17 . Dalam konteks pendidikan formal dan nonformal. Karena itu konsep pembudayaan Pancasila yang menjadi tema sandingan pendidikan Pancasila.

dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke depan: Proses nation’s character building. Lalu terpilihnya Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) telah memungkinkan reformasi demokrasi terus berlanjut. adil. Bangsa. Gerakan reformasi yang masif di Indonesia pada akhir dasawarsa 1990-an. Pada kurun waktu tiga Presiden pasca Soeharto inilah dihasilkan Perubahan ke 1 sampai ke 4 atas UUD 1945 yang secara konseptual dan normatif diyakini merupakan konstitusi yang lebih mewadahi cita-cita dan demokrasi yang tepat untuk Indonesia. telah berujung dengan jatuhnya Presiden Soeharto selaku penguasa Orde Baru. dan transparan. Proses demokratisasi di Indonesia yang Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 6 berdasarkan Pancasila telah menjadi semakin luas jangkauannya dan semakin tinggi intensitasnya. Atas dasar UUD 1945 yang telah diamandemen ini untuk pertamakalinya diselenggarakan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. yang mengantarkan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Mohamad Jusuf Kala (MJK) sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pendidikan Pancasila sebagai Upaya Sistemik Membangun Kehidupan Masyarakat. Kemudian naiknya Presiden Habibie telah berhasil memancangkan tonggak awal demokratisasi berupa kebebasan pers yang bertambah luas.3. Namun demikian ternyata semakin banyak pula anomalinya pada semua tataran. Dengan Pancasila seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan Perubahannya atas batang tubuh UUD 1945 kehidupan berkonstitusi mengalami banyak perubahan baik pada tataran instrumental maupun pada tataran praksis. Pemilu yang jujur. Dengan naiknya Presiden Megawati Soekarnoputri (Mbak Mega) reformasi demokrasi terus bergulir. seperti disharmoni antar peraturan perundang-undangan pada tataran 18 .

instrumental. kesadaran identitas nasional. Semua unsur akhlak kewarganegaraan itu diyakini akan saling memupuk 19 . memberi ilustrasi bahwa ternyata untuk membangun kehidupan berdemokrasi konstitusional yang berdasarkan Pancasila itu tidaklah semudah yang diduga kebanyakan orang. Selain dalam Upacara dimana Pancasila dibaca serempak dibawah pemandu Pembina Upacara. atau tokoh masyarakat yang malu-malu kucing menyebut Pancasila. dan fenomena proses demokrasi yang cenderung anarkhis. yaitu: “…the degree of economic development. hubungan kesejajaran/egaliter. dan semangat kemasyarakatan. dan pengalaman sejarah serta budaya kewarganegaraan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan demokrasi suatu negara. solidaritas. Keadaan ini memang benar-benar menyedihkan. karena memang kehidupan demokrasi konstitusional tidak bisa dibangun seketika atau dalam waktu singkat.” Maksudnya adalah bahwa tingkat perkembangan ekonomi. … historical experience and elements of civic culture. Apakah hal ini mencerminkan bahwa telah terjadinya inkonsistensi dan disharmoni dari instrumentasi dengan idea dan sistem nilai Pancasila? Fenomena tersebut di atas. kehidupan yang kooperatif. tampaknya banyak pejabat. saling percaya dan toleran. Salah satu unsur dari budaya kewarganegaraan adalah “civic virtue” atau kebajikan atau akhlak kewarganegaraan yang terpancar dari nilai-nilai Pancasila mencakup keterlibatan aktif warganegara. …a sense of national identity. Sangat banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya demokrasi dalam suatu negara. dosen. Bahmuller (1996:216-221) menidentifikasi sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan demokrasi suatu negara.

Dengan kata lain tumbuh dan berkembangnya masyarakat madaniPancasila bersifat interaktif dengan tumbuh dan berkembangnya akhlak kewarganegaraan (civic virtue) yang merupakan unsur utama dari budaya kewarganegaraan yang ber-Pancasila (civic culture). Masyarakat madani-Pancasila atau “civic community” atau “civil society” yang ditandai oleh berkembangnya peran organisasi kewarganegaraan di luar organisasi kenegaraan dalam mencapai keadilan dan kesejahteraan sosial sesuai Pancasila. partisipasi warganegara yang luas dalam pengambilan kebijakan 20 . extension participation of citizens in public decision making at various levels. penghormatan terhadap hak azasi manusia. respect for human rights. Dalam waktu bersamaan proses pendidikan tersebut harus mampu memberi kontribusi terhadap berkembangnya budaya Pacasila yang menjadi inti dari masyarakat madanipancasila yang demokratis.dengan kehidupan “civic community” atau “civil society” atau masyarakat madani untuk Indonesia yang berdasarkan Pancasila.1999:2). and implementation of the new form of civic education to develop smart and good citizens”. enforcement of rule of law. Inilah tantangan konseptual dan operasional bagi pendidikan Pancasila untuk membangun demokrasi konstitusional di Indonesia. perlu dipatri oleh kualitas pribadi “…true belief and sacrifice for God. Maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan masyarakat madani tersebut harus terwujudkan kualitas pribadi yang ditandai oleh keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.(Sudarsono. perwujudan negara hukum. Oleh karena itu diperlukan adanya dan berperannya pendidikan pancasila yang menghasilkan demokrasi konstitusional yang mampu mengembangkan akhlak kewarganegaraanPancasilais.

Karena itu pula negara harus mempunyai komitmen untuk memperlakukan semua wara negara sebagai individu dan memperlakukan semua individu secara sama. Oleh karena itu Civic culture merupakan salah satu sumber yang sangat bermakna bagi pengembangan dan perwujudan civic education 21 . agama. bangsa dan negara Indonesia.atau seperangkat ide-ide yang dapat diwujudkan secara efektif dalam representasi kebudayaan untuk tujuan pembentukan identitas warganegara.Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 7 publik dalam berbagai tingkatan. dalam pengertian setiap orang harus belajar bagaimana melihat dirinya dan orang lain sebagai individu yang merdeka dan sama tidak lagi terikat oleh atributatribut khusus dalam konteks etnis. atau kelas dalam masyarakat. Masyarakat sivil yang demokratis tidak mungkin berkembang tanpa perangkat budaya yang diperlukan untuk melahirkan warganya. dan pelaksanaan paradigma baru pendidikan kewarganegaraan untuk mengembangkan warganegara (Indonesia) yang cerdas dan baik. Dari situ dapat ditangkap tantangan bagi pendidikan demokrasi konstitusional di Indonesia adalah bersistemnya pendidikan Pancasila dengan keseluruhan upaya pengembangan kualitas warganegara dan kualitas kehidupan ber-Pancasila dan berkonstitusi UUD 1945. konsep civic culture atau budaya Pancasila terkait erat pada perkembangan democratic civil society atau masyarakat madani-Pancasila yang mempersyaratkan warganya untuk melakukan proses individualisasi. Secara spesifik civic culture merupakan budaya yang menopang kewarganegaraan yang berisikan …a set of ideas that can be embodied effectively in cultural representations for the purpose of shaping civic identities. dalam masyarakat. Secara teoritik.

22 . bukan karakter komunitarian suku.(http://www.socialstudies help.). dalam pengertian diwujudkan (http://www. masyarakat lokal) ke dalam ikatan budaya kewargaan suatu negara/ kewarganegaraan. Sedangkan political culture berada dalam domain makro masyarakat negara. para pejabat negara dan organisasi nonpemerintah secara substantif dan praksis menggambarkan karakter ke Indonesiaan. termasuk para pelaku politik dalam berbagai latar. Sementara itu budaya politik atau political culture diartikan sebagai Distinctive and patterned way of thinking about how political and economic life ought to be carried out. suku. Di satu pihak civic culture memberi kontribusi dalam membangun identitas kewarganegaraan atau ke-Indonesiaan setiap warga negara. Dari kedua pengertian tentang civic culture dan political culture dapat dikatakan bahwa civic culture berada dalam domain sosiokultural yang berorientasi pada pembentukan kualitas personal-individual warga negara.civsoc.com/ APGOV _Notes_WeekFour. Secara konseptrual antara civic culture dengan political culture satu sama lain memiliki saling ketergantungan (interdependence).com/nature/nature1). Perbedaannya adalah dalam hal civic culture berkenaan dengan proses adaptasi psikososial individu dari ikatan budaya komuniter (keluarga. jadi bersifat sosiopolitis dalam konteks kehidupan demokrasi. Dengan demikian prilaku politik dari para pelaku politik seperti anggota dewan perwakilan rakyat. jadi bersifat psikososial. Keduanya memiliki kesamaan yakni sebagai hasil pemikiran yakni civic culture sebagai perangkat gagasan atau set of ideas sedangkan political culture sebagai perangkat pemikiran atau distinctive and patterned way of thinking. agama. atau pemikiran yang khas dan terpolakan tentang bagaimana kehidupan politik dan ekonomi seharusnya diselenggarakan.

dkk (1991:11) yang dimaksud dengan civic dispositions adalah …those attitudes and habit of mind of the citizen that are conducive to the healthy functioning and common good of the democratic system atau sikap dan kebiasaan berpikir warganegara yang menopang berkembangnya fungsi sosial yang sehat dan jaminan kepentingan umum dari sistem demokrasi. Yang dimaksud dengan civic virtue adalah …the willingness of the citizen to set aside private interests and personal concerns for the sake of the common good (Quigley. Civic virtue merupakan domain psikososial individu yang secara substantif memiliki dua unsur.1991:11). Sedangkan civic committments adalah …the freely-given. Di lain pihak.golongan dan partai politik. dkk. Sebagaimana dirumuskan oleh Quigley. Kedua unsur dari civic virtue tersebut 23 . Identitas pribadi warganegara yang bersumber dari civic culture perlu dikembangkan melalui pendidikan kewarganegaraan dalam berbagai bentuk dan latar. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 8 ekonomi. yaitu civic dispositions dan civic commitments. dan kultural yang memungkinkan warga negara baik secara perseorangan maupun kelompok mau dan mampu berpartisipasi secara cerdas (intelligent) dan bertanggungjawab (responsible) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.atau kemauan dari warganegara untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. political culture memberi kontribusi dalam membangun konteks sosial. politik. Elemen civic culture yang paling sentral dan sangat perlu dikembangkan adalah civic virtue. reasoned committments of the citizen to the fundamental values and principles of constitusional democracy atau komitmen warganegara yang bernalar dan diterima dengan sadar terhadap nilai dan prinsip demokrasi konstitusional.

Kesemua itu. Secara konseptual civic dispositions meliputi sejumlah karakteristik kepribadian. tanggungjawab individual. compassion atau keterharuan .1991:11) Proses politik yang berjalan dengan efektif untuk memajukan kepentingan umum dan memberi kontribusi berarti terhadap perwujudan ide fundamental dari sistem politik termasuk di dalamnya perlindungan terhadap hak-hak individu itu adalah ciri kehidupan politik yang ditopang kuat oleh civic culture. sikap kompromi yang mencakup prinsip-prinsip konflik dan batas-batas kompromi. toleration of diversity atau toleransi atas keberagaman. individual responsibility atau tanggung jawab individual. kemurahan hati. mengenal ambiguitas). open-mindedness (terbuka. keharuan. pengenalan terhadap kemenduaan. (Quigley. keterbukaan pikiran yang mencakup keterbukaan. civic-mindednes atau kepekaan terhadap masalah kewargaan. patience and persistence atau kesabaran dan ketaatan. yakni keadaban yang mencakup penghormatan dan interaksi manusiawi.diyakini akan mampu menjadikan proses politik berjalan secara efektif untuk memajukan the common good atau kemaslahatan umum dan memberi kontribusi terhadapperwujudan ide fundamental dari system politik termasuk …protection of the rights of the individual” atau pelindungan hak-hak azasi manusia (Quigley.1991:13-14). kepedulian terhadap masyarakat. compromise (prinsip konflik dan batas-batas kompromi). toleransi pada keragaaman. skeptis. disiplin diri. dan kesetiaan terhadap bangsa dan segala 24 . kesabaran dan keajekan. yakni civility atau keadaban (hormat pada orang lain dan partisipatif dalam kehidupan masyarakat). skeptisisme.dkk. generosity atau kemurahan hati. and loyalty to the nation and its priciples atau kesetiaan pada bangsa dan segala aturannya. dkk. self-discipline atau disiplin diri.

yang meliputi…popular souvereignty. economic. individual rights (life. and patriotism. pemisahan kekuasaan. dalam hal ini di Amerika. federalism. Sedangkan civic commitments adalah kesediaan warga negara untuk mengikatkan diri dengan sadar kepada ide dan prinsip serta nilai Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 9 fundamental demokrasi konstitusional.1991:14-16). atau pendidikan Pancasila untuk Indonesia. prinsip negara hukum. truth. hak-hak minoritas. pemerintahan konstitusional.dan kebahagiaan). economic). kebhinekaan. political. kebenaran. civilian control of the military. hak-hak individual yang mencakup hak hidup. kepentingan umum. kekuasaan anggaran belanja. federalisme. liberty: personal. (Quigley. power of the purse. separation of church and state. Dimensi civic participation dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan …the knowledge and skills required to participate effectively. separation of powers. common good. checks and balances. Tentu saja tidak semua hal tersebut berlaku untuk Indonesia. ekonomi).prinsipnya merupakan karakter intrinsik dari sikap warganegara. hak kebebasan (pribadi.…practical experience in participation designed to foster among students a sense of competence and 25 . justice. legal. equality (political. and the pursuit of happiness). sosial. dkk. kontrol dan penyeimbangan. social. hukum. Pengembangan dimensi civic virtue merupakan landasan bagi pengembangan civic participation yang memang merupakan tujuan akhir dari civic education. Kesemua itu adalah kedaulatan rakyat. minority rights. kontrol masyarakat terhadap meliter. dan cinta tanah air. constitutional government. politik. pemisahan negara dan agama. diversity. ekonomi. keadilan. the rule of law. persamaan (dalam bidang politik.

a disposition to act in accord with the traits of civic characters. (Quigley. digariskan dengan dengan tegas. yang dalam konteks Indonesia harus ditempatkan dalam konteks nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Yang dimaksud dengan semua hal tersebut di muka adalah pengetahuan tentang konsep fundamental. 22 tahun 2006 secara normatif dikemukakan bahwa ”Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas. contemporary events. “adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. and facts related to the matter and the capacity to apply this knowledge to the situation. Untuk dapat berperan secara aktif tersebut diperlukan A knowledge of the fundamental concepts. Dalam Lampiran Permendiknas No. history. isu dan peristiwa aktual. 26 . dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.” Sedangkan tujuannya. yakni pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk berperanserta secara efektif dalam masyarakat.efficacy dan mengembangkan … an understanding of the importance of citizen participation (Quigley. terampil. sejarah.1991:39). 1991:39). pengalaman berperanserta yang dirancang untuk memperkuat kesadaran berkemampuan dan berprestasi unggul dari siswa. issues. dan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan watak dari warganegara. dkk.dkk. dan mengembangkan pengertian tentang pentingnya peranserta aktif warganegara. and a commitment to the realization of the fundamental values and principles. dan fakta yang berkaitan dengan subsantsi dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan itu secara kontekstual.

dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat. Sumpah Pemuda. dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan 2. Partisipasi dalam pembelaan negara. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab. Berpikir secara kritis.” Berdasarkan Permendiknas N0. Persatuan dan Kesatuan bangsa. Sikap positif 27 . Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.” Sementara itu ditetapkan pula bahwa ”Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.1. 1. serta anti-korupsi Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 10 3. 22 tahun 2006 Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk pendidikan dasar dan menengah secara umum meliputi aspek-aspek sebagai berikut. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Cinta lingkungan. meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan. dan bernegara. rasional. berbangsa. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya 4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan seharihari. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara. Hukum dan peradilan internasional 3. dan peraturan. Menghargai keputusan bersama. Demokrasi dan sistem politik. Pemerintahan daerah dan otonomi. meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga. Pers dalam masyarakat demokrasi 7. hukum. Harga diri sebagai warga masyarakat. Kebebasan berorganisasi. Tata tertib di sekolah. Budaya demokrasi menuju masyarakat madani. Kemerdekaan mengeluarkan pendapat. Hak dan kewajiban anggota masyarakat. Norma. Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong. Sistem pemerintahan. Pancasila sebagai ideologi terbuka 28 . Pemajuan. Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama. Prestasi diri . penghormatan dan perlindungan HAM 4. Instrumen nasional dan internasional HAM. Keterbukaan dan jaminan keadilan 2. Hubungan dasar negara dengan konstitusi 6. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak. Norma yang berlaku di masyarakat. Pemerintah pusat. Persamaan kedudukan warga negara 5. Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara. meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan. Budaya politik. Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia. Kekuasan dan Politik. Peraturan-peraturan daerah. Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sistim hukum dan peradilan nasional.

Hubungan internasional dan organisasi internasional. Tuntutan pedagogis ini memerlukan persiapan mental. 29 . Guru seyogyanya siap memberi contoh dan menjadi contoh. Oleh karena itu sesungguhnya substansi Pancasila harus menjadi core dari ke 7 (tujuh) butir substansi lainnya itu. Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya. Ia merupakan pendidikan nilai demokrasi. dan hubungan sosial guru-murid yang kohesif. profesionalitas. dan masalah pendidikan politik. it is learned (Herman 1966). Ingatlah pada postulat bahwa Value is neither tought now cought. Alasannya antara lain sebagai berikut.” Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 11 Namun demikian perlu diberi catatan bahwa enumerasi ke 8 (delapan) substansi. Proses pendidikan yang dituntut dan menjadi kepedulian PKn adalah proses pendidikan yang terpadu utuh. Namun yang paling menonjol adalah sebagai pendidikan nilai dan pendidikan moral. dan Mengevaluasi globalisasi. pendidikan moral. pendidikan sosial.8. termasuk di dalamnya terdapat Pancasila. Dampak globalisasi. memberi kesan yang kuat bahwa Pancasila belum menjadi core-nya PKn. Nilai tidak bisa diajarkan atau pun ditangkap sendiri tetapi dicerna melalui proses belajar. Oleh karena itu secara singkat PKn dinilai sebagai mata pelajaran yang mengusung misi pendidikan nilai dan moral. Oleh karena itu nilai harus termuat dalam materi pelajaran PKn. Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi. yang juga disebut sebagai bentuk confluent education (McNeil:1981). PKn merupakan mata pelajaran dengan visi utama sebagai pendidikan demokrasi yang bersifat multidimensional.

intelektual. and persons of common sense down through history. the sages. Bila buah pemikiran Lickona (1992) tersebut kita kaitkan dengan karakteristik PKn SD. and moral behavior atau konsep moral. 2. sastra. literary stories. 3. nampaknya kita dapat menggunakan model Lickona itu sebagai kerangka pikir dalam melihat sasaran belajar dan isi PKn. 30 . dalam pandangan Lickona (1992) disebut “educating for character” atau “pendidikan watak”. rasa dan sikap moral dan perilaku moral. Sebagai pengayaan teoritik. Proses pembelajarannya menuntut terlibatnya emosional. Artinya suatu perpaduan yang harmonis dari berbagai kebajikan yang tertuang dalam keagamaan. 51) memandang karakter atau watak itu memiliki tiga unsur yang saling berkaitan yakni moral knowing. sikap moral.1. pandangan kaum cerdik-pandai dan manusia pada umumnya sepanjang zaman. dan perilaku moral. dan sosial dari peserta didik dan guru sehingga nilainilai itu bukan hanya dipahami (bersifat kognitif) tetapi dihayati (bersifat afektif) dan dilaksanakan (bersifat perilaku). Materi PPKn adalah konsep-konsep nilai Pancasila dan UUD 45 beserta dinamika perwujudan dalam kehidupan masyarakat negara Indonesia. Setiap nilai Pancasila yang telah dirumuskan sebagai butir materi PKn pada dasarnya harus memiliki aspek konsep moral. Lickona mengartikan watak atau karakter sesuai dengan pandangan filosof Michael Novak (Lickona 1992 : 50-51). Oleh karena itu Lichona (1992. pendidikan nilai dan moral sebagaimana dicakup dalam PKn tersebut. Sasaran belajar akhir PKn adalah perwujudan nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata kehidupan sehari-hari. moral feeling. yakni Compatible mix of all those virtues identified by religions traditions.

Rasa percaya diri kita untuk senantiasa berlaku jujur pada orang lain 3. untuk menanamkan nilai kejujuran dalam pembelajaran PKn harus menyentuh ketiga aspek seperti berikut: Konsep Moral 1. Manfaat kejujuran di masa depan Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 12 4.Contohnya. Alasan perlunya kejujuran 5. Pemahaman tentang kejujuran 3. Pengendalian diri kita untuk selalu berlaku jujur 6. Kemampuan bersikap dan berlaku jujur 2. Bagaimana cara menerapkan kejujuran 6. Empati kita terhadap orang yang jujur 4. Kata hati kita tentang kejujuran 2. PKn sebagai mata pelajaran yang memiliki aspek utama sebagai pendidikan nilai dan moral pada akhirnya akan bermuara pada pengembangan watak atau karakter peserta didik sesuai dengan dan merujuk kepada nilai-nilai dan moral Pancasila. 31 . Kemauan untuk senantiasa berusaha jujur 3. Kesadaran perlunya kejujuran 2. Penilaian diri sendiri mengenai kejujuran Sikap Moral 1. Kebiasaan untuk selalu bersikap dan berbuat jujur Dari pembahasan kita mengenai PKn sebagai pendidikan nilai dan moral dikaitkan dengan konsep pendidikan watak kiranya kita dapat mencatat hal-hal sebagai berikut: 1. Rasa hormat kita kepada orang lain yang berlaku jujur Perilaku Moral 1. Cinta kita terhadap kejujuran 5.

prinsip dan konsep 32 . sebagaimana hal itu menjadi komitmen MPR. sikap moral dan perilaku moral Pancasila dan UUD 45. strategi. 2. Bahwa Pembukaan UUD 1945. Kebijakan Kurikulum PKn untuk Masa Depan Ada beberapa asumsi normatif dan asumsi positif mengenai PKn masa depan. sebagai berikut. Bahwa pembangunan demokrasi konstitusional Indonesia mengandung missi pembangunan ide. Watak ini pembentukannya harus dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi keterpaduan konsep moral. Nilai dan moral Pancasila dan UUD 45 dapat dikembangkan dalam diri peserta didik melalui pengembangan konsep moral. Pendidikan yang memusatkan perhatian pada pengembangan manusia Indonesia seutuhnya. dan nuansa confluent education.2. sikap moral. Oleh karena itu bagi pendidikan di Indonesia PKn merupakan program pembelajaran nilai dan moral Pancasila dan UUD 45 yang bermuara pada terbentuknya watak Pancasila dan UUD 45 dalam diri perserta didik. B. Dengan demikian pula kita dapat menegaskan kembali bahwa PKn merupakan suatu bentuk mata pelajaran yang mencerminkan konsep. tidak akan berubah karena diterima sebagai inti komitmen nasional kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. dan perilaku moral setiap rumusan butir nilai yang telah dipilih sebagai materi PPKn. Bahwa tatanan kehidupan demokrasi Indonesia pada dasarnya merupakan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang bersumber dari dasar negara Pancasila sebagaimana tersurat pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. 1. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 13 3. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk final ketatanegaran RI. nilai.

memiliki fungsi sebagai pendidikan untuk membangun karakter bangsa. pola sikap. yang secara substansial dirancang secara nasional. pendidikan untuk membangun demokrasi. dan diwujudkan sebagai praksis pendidikan yang konsisten dan koheren dengan komitmen kebangsaan Indonesia pada tingkat satuan pendidikan. dan epistemologis pada domain akademik. melainkan berwawasan kosmopolit guna menghasilkan warganegara Indonesia yang baik. pendidikan melalui demokrasi. 33 . 7. yang di dalamnya terkandung kehidupan berdasar pada rule of law yang memberikan implikasi pada pentingnya pendidikan kewarganegaraan untuk menumbuhkan kesadaran hukum warga negara. Bahwa sebagai wahana pendidikan demokrasi. pendidikan kewarganegaraan berfungsi mewujudkan kesatuan pola pikir. Demokrasi konstitusional dapat diartikan sebagai demokrasi yang berlandaskan pada prinsip negara hukum. cerdas. 5. 4. tidak bersifat chauvinistik. dan bertanggung jawab sekaligus menjadi warga dunia yang toleran.demokrasi melalui instrumentasi demokrasi dalam berbagai latar kehidupan dan pendidikan demokrasi untuk generasi muda sebagai pewaris bangsa di masa depan yang berdasarkan konstitusi. Bahwa pendidikan untuk kewarganegaraan Indonesia yang demokratis yang menjadi missi PKn. dan pola tindak yang koheren dari konsepsi pendidikan tentang demokrasi. Bahwa pendidikan kewarganegaraan sebagai muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. 6. dalam pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia. partisipatif. sosio-andragogis pada domain sosial-kultural. Bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan wahana psikopedagogis pada domain kurikuler.

1. 2. dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk final ketatanegaran RI. nilai. prinsip dan konsep demokrasi Pancasila. dalam konteks historis dan sosio-politis tumbuh dan berkembangnya komitmen nasional kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Sebagai instrumentasi dari ide dan norma inti Pancasila dan UUD 1945. dan epistemologis pada domain akademik dalam pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia agar lebih efektif dan mampu diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai tuntutan zaman. ada beberapa substansi kebijakan nasional tentang Kurikulum PKn Masa depan sebagai berikut. perlu kajian mendalam secara komprehensif terhadap tatanan kehidupan demokrasi Indonesia sebagai sistem kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang bersumber dari dasar negara Pancasila dan UUD 1945. perlu kajian mendalam terhadap ide dan nilai yang secara substantif terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Diperlukan reposisi. Dalam rangka pembangunan demokrasi konstitusional Indonesia yang mengandung missi pembangunan ide. 4. perlu kajian mendalam secara komprehensif terhadap visi dan missi nasional dari instrumentasi demokrasi dalam berbagai latar kehidupan dan aras pendidikan demokrasi untuk generasi muda sebagai pewaris bangsa di masa depan. 3. Sebagai sumber ide dan norma inti dari PKn. sosio-andragogis pada domain sosialkultural. dan reaktualisasi pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana: psiko-pedagogis pada domain kurikuler. rekonseptualisasi. 34 .Bertolak dari ke 7 asumsi tersebut.

yang dapat memberi masukan yang secara akademik valid. partisipatif. Pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana pendidikan demokrasi. Pendidikan kewarganegaraan sebagai muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. perlu difungsikan sebagai wahana pendidikan yang mampu mewujudkan kesatuan pola pikir. 35 . pendidikan untuk membangun demokrasi. yang secara substansial-nasional dapat diwujudkan sebagai praksis pendidikan yang konsisten dan koheren dengan komitmen kebangsaan Indonesia pada tingkat satuan pendidikan. dan secara psiko-pedagogis dan sosio-andragogis layak bagi pengembangan dan perwujudan pendidikan kewarganegaraan Indonesia. 6. tidak bersifat chauvinistik. Ke 7 (tujuh) substansi kebijakan kurikulum tersebut merupakan kebijakan dasar yang diharapkan menghasilkan pemikiran komprehensif tentang pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia untuk berbagai domain. pola sikap. dan bertanggungjawab dan sekaligus menjadi warga dunia yang toleran. 7. melainkan berwawasan kosmopolit dalam menghasilkan warganegara Indonesia yang baik. cerdas.Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 14 5. secara sosio-politis dan sosiokultural akseptabel. pendidikan melalui demokrasi. Perlu dilakukan antisipasi yang komprehensif agar pendidikan untuk kewarganegaraan Indonesia yang demokratis melalui PKn. dan pola tindak semua unsur bangsa Indonesia secara koheren dengan konsepsi pendidikan tentang demokrasi. perlu dirancang secara sistematis dan sistemik untuk membangun karakter bangsa.

jenjang. Kerangka sistemik proses pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. antara lain: 1. dan jenis pendidikan. dan jenis pendidikan. dan jenis pendidikan. 6. BAB V PENUTUP Kesimpulan 36 . Kerangka akademik penelitian dan pengembangan pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. 5. dan jenis pendidikan. jenjang. jenjang. Grand design pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Elemen pendidikan kewarganegaraan yang memerlukan reposisi. jenjang. jenjang. 3. jenjang. dan jenis pendidikan. Kerangka sistemik kompetensi kewarganegaraan lulusan pada berbagai jalur. Kerangka sistemik isi pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. Kerangka sistemik dan programatik pendidikan dan pelatihan guru/tutor pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. 4. 7. dan jenis pendidikan. dan reaktualisasi untuk masa depan. Kerangka sistemik asesmen dalam pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. 2. rekonseptualisasi.

2002. dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.blogspot. Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia. DAFTAR PUSTAKA http://pengetahuankita-pengetahuankita. terampil. 37 .Mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas.com/ Bahar. Saafroedin. Jakarta: Penerbit Pustaka Sinar Harapan.

com/tag/pendidikan/ 38 .ekonomirakyat.htm http://supardiyo.http://id.wordpress.id/otonomi/detail_berita.php?id=27 http://www.org/wiki/Sistem_politik http://www.wikipedia.ditjen-otda.go.org/edisi_2/artikel_9.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->