PENYEDIAAN AIR BERSIH MAKALAH KELOMPOK V

³Kualitas Mikrobiologi Air Bersih Water Washed Diseases Hubungannya Dengan Penyakit Kulit´

OLEH: Munira I. Lestaluhu (K 111 08 537) Wakurnia Wati (K111 09 595) Qalbia M. Nur (K111 09 611) Mukrimah Rahman (K111 09 530) Evi (K111 10 660) Effi Ekayanti (K111 09 254) Masliah (K111 09 992)

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar 2011

Parameter yang ketiga adalah parameter biologis meliputi jenis dan kandungan mikrooganisme baik hewan maupun . yaitu kebutuhan akan air bersih. senyawa beracun. persampahan dan sanitasi. Karena untuk mendapatkan air yang bersih.BAB I PENDAHULUAN A. rasa. Oleh karen itu seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia berbagai upaya dilakukan untuk menyediakan air bersih yang aman bagi kesehatan . saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia.(Wakurnia Wati) Masalah air merupakan masalah yang utama. maupun masalah penyaluran dan pngelolaan air buangan penduduk dan industri. bau. Air sangat dibutuhkan oleh semua mahluk di dunia. Dan ketergantungan manusia terhadap air pun semakin besar sejalan dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat. kekeruhan . warna. (Mukrimah Rahman) Salah satu kebutuhan penting akan kesehatan lingkungan adalah masalah air bersih. dan suhu. Adapun air yang sehat harus memenuhi empat kretiria parameter. LATAR BELAKANG Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Parameter kedua adalah parameter kimiawi yang terdiri atas berbagai ion. baik masalah penyediaan air bersih di kota dan didesa. pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat serta pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal tersebut meyebabkan pendangkalan saluran/sungai. sesuai dengan standar tertentu. Parameter pertama adalah parameter fisik yang meliputi padatan terlarut. limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya. kandungan oksigen terlarut dan kebutuhan oksigen kimia. tersumbatnya saluran/sungai karena sampah pada saat musim penghujan selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit. baik limbah dari kegiatan rumah tangga.

Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan higiene perorangan yang jelek di negara berkembang merupakan kelompok masyarakat yang paling banyak menderita penyakit Scabies. TUJUAN . Bagaimana hubungan antara kualitas mikrobiologi air dengan water washed diseases ? 3. serta kepadatan p enduduk. perilaku yang tidak mendukung kesehatan. Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang. kelembapan udara fasilitas sanitasi yang jelek dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama. pakai pakaian bergantian dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan berbagai macam penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta. penulis menguraikan rumusan masalah sebagai berikut : 1.L). (Masliah) Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang kurang baik meliputi kebersihan rumah. (Munira I. Adapun untuk Scabies. Apa yang dimaksud dengan water washed diseases ? 2.tumbuhan. Faktor yang berperan dalam penularan adalah sosial ekonomi yang rendah. lingkungan yang tidak saniter. Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan. hygiene perorangan yang jelek. kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. pendidikan. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang diatas dapat yang ada maka. Bagaimana hubungan antara penyakit kulit kaitannya dengan water washed diseases (scabies dan leprosy) ? C. (Effi Ekayanti & Qolbiyah) B. dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Parameter yang terakhir adalah parameter radioaktif meliputi kandungan bahan ± bahan radioaktif.

Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan water washed disease. 3. Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan hubungan antara kualitas mikrobiologi air dengan water washed diseases. 2. Mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan mengenai penyakit kulit kaitannya dengan water washed diseases (scabies dan leprosy). .Adapun makalah ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui : 1.

(Wakurnia Wati). Disentri Basiler b) Penyakit infeksi kulit dan selaput lendir. Penyakit yang erat kaitannya degan Hygiene perorangan yang buruk : infeksi fungus pada kulit. Banyak terdapat di daerah tropis. antara lain : a) Penyakit infeksi saluran pencernaan : bersifat fecaloral seperti Diare. lingkungan yang tidak saniter. Hepatitis Infektiosa. Kholera. serta kepadatan p enduduk. Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang kurang baik meliputi kebersihan rumah. Leprosy dsb. Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan higiene perorangan yang . pakai pakaian bergantian dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan berbagai macam penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta. (Munira I. hygiene perorangan yang jelek.L). conjunctivitis c) Penyakit yang disebabkan oleh insekta pada kulit & selaput lendir. kelembapan udara fasilitas sanitasi yang jelek dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama. Louse borne relapsing fever. perilaku yang tidak mendukung kesehatan. Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial ekonomi yang rendah. Thypoid.BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Water Washed diseases Water Washed Disease adalah penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air & tidak terjaminnya kebersihan untuk pemeliharaaan kebersihan (Hygiene Perorangan). Penyakit yang ditentukan oleh tersedianya air bersih untuk hygiene perorangan untuk mencegah invasi parasit pada tubuh dan pakaian : Sarcoptes. Penyakit : Dipengaruhi oleh penularannya & sangat banyak. Scabies.

Nur) Gatal merupakan gejala utama sebelum gejala klinis lainnya muncul. rasa gatal biasanya hanya pada lesi tetapi pada skabies kronis gatal dapat dirasakan pada seluruh tubuh. penularan penyakit atau infeksi dapat dikurangi dengan penyediaan air tambahan. Hubungan antara kualitas mikrobiologi air dengan water diseases. Penyakit Kulit Oleh Water Washed Disease a. mudah menular dari manusia ke manusia. Antara lain yaitu water washed disease. dari hewan ke manusia atau sebaliknya. 3. dalam hal ini kualitasnya tidak perlu setaraf dengan air minum. Scabies Scabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit.jelek di negara berkembang merupakan kelompok masyarakat yang paling banyak menderita penyakit Scabies. Penyakit scabies dan leprosy tersebut merupakan penyakit kulit yang tergolong dalam water washed disease. Secara garis besarnya penyakit water washed diseases dapat terjadi apabila air yang masuk ke dalam tubuh tercemar oleh kotoran dapat pula ditukarkan dapat pula ditularkan dengan kotoran yang lebih langsung yaitu antara faecea dan mulut. ruam kulit yang terjadi terutama di bagian sela- . dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes scabiei (Buchart. washed Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan oleh air yang mengandung mikrobiologi maupun senyawa-senyawa pencemar lainnya. Gejala yang timbul antara lain ada rasa gatal yang hebat pada malam hari. (Qolbiyah M. leprosy dan sebagainya. Rosendal 1997). (Effi Ekayanti & Qolbiyah) 2. Penyakit yang tergolong dalam water washed disease antara lain : scabies. Dalam kondisi hieginis yang buruk karena tidak tersedianya air bersih yang cukup untuk pencucian. 1997.

1978. 1997). 1997). Kabulrachman. Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial ekonomi yang rendah. 1992). lingkungan yang tidak saniter. serta kepadatan p enduduk. Pada kenyataannya kebutuhan air bersih untuk mandi. dan kelembaban ruangan. sekeliling siku. hygiene perorangan yang jelek. mencuci dan kebutuhan kakus sebagian besar Ponpes . dan permukaan depan pergelangan. alat kelamin. Sanitasi lingkungan Ponpes yang diteliti meliputi parameter sanitasi gedung.sela jari tangan.01). Hasil uji statistik Chi kuadrat menunjukkan bahwa diantara parameter tersebut yang berperan terhadap prevalensi penyakit Scabies adalah sanitasi kamar mandi (p <0. perilaku yang tidak mendukung kesehatan.01). Diperkirakan sanitasi lingkungan yang buruk di Pondok Pesantren (Ponpes) merupakan faktor dominan yang berperan dalam penularan dan tingg inya angka prevalensi penyakit Scabies diantara santri di Ponpes (Dinkes Prop Jatim. kepadatan hunian kamar tidur. pinggang. dan kelembaban ruangan (p <0. sanitasi kamar mandi.05). karena penyakit Scabies merupakan penyakit yang berbasis pada persyaratan air bersih (water washed disease) yang dipergunakan untuk membasuh anggota badan sewaktu mandi (Azwar. kepadatan hunian kamar tidur (p <0. di bawah ketiak. sistem pembuangan air limbah. 1995). pengelolaan sampah. (Effi Ekayanti) Prevalensi penyakit Scabies di Indonesia adalah sekitar 6-27% dari populasi umum dan cenderung lebih tinggipada anak dan remaja (Sungkar. aerola mammale (area sekeliling puting susu). Penyediaan air bersih merupakan kunci utama sanitasi kamar mandi yang berperan terhadap penularan penyakit Scabies pada para santri Ponpes. Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan higiene perorangan yang jelek di negara berkembang merupakan kelompok masyarakat yang paling banyak menderita penyakit Scabies ini (Carruthers.

Peran Faktor Sanitasi Lingkungan. pakaian dan handuk dipakai bergantian. diperlukan peningkatan respon . Penilaian higiene perorangan dalam penelitian ini meliputi antara lain frekuensi mandi. ketiganya dengan p <0. Dalam melawan bakteri misalnya bakteri penyebab leprosy. keramas. Faktor sanitasi lingkungan yang dimaksud disini adalah merupakan parameter keseluruhan yang dibentuk variabel penelitian sanitasi lingkungan Ponpes. Higiene Perorangan. Selain itu. Dapat menyebabkan lesi kulit. Perilaku Sehat. Leprosy Penyakit kusta (Leprosi) adalah penyakit menular dan merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. dan kebersihan alas tidur. 1991). Mycobacterium leprae merupakan obligat intraselular yang menginfeksi makrofag dan sel Shwann. mati rasa.di Kabupaten Lamongan dipasok dari air sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu. Perilaku sehat diukur melalui tiga parameter yaitu pengetahuan. juga dapat merusak sistem saraf bahkan menyebabkan terjadinya kelainan bentuk dan cacat. 2003). tidur bersama dan berhimpitan dalam satu tempat tidur. memakai sabun at au tidak. frekuensi mencuci pakaian dan handuk. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernafasan atas. higiene perorangan dan perilaku sehat yang berperan dalam penularan penyakit Scabies (Suparmoko. Kusta juga dikenal sebagai Hansen¶s disease (Fitness. sikap. Ketiga parameter tersebut menunjukkan peran yang nyata terhadap prevalensi penyakit Scabies (Chi kuadrat. dan tindakan terhadap penyakit Scabies. Perilaku yang tidak mendukung tersebut diantaranya adalah seringmemakai baju atau handuk bergantian dengan teman. dan kelumpuhan pada tangan dan kaki. dkk. dan lesi pada kulit adalah tanda yang biasa diamati dari luar.01). b.

L) Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Banyak hal-hal yang tidak dapat di terangkan mengenai penularan ini sesuai dengan hukum-hukum penularan seperti halnya penyakitpenyakit terinfeksi lainnya. terlalu sedikit orang yang tertular penyakit kusta secara kontak kulit dengan kasus-kasus lepra terbuka..selular dan humoral (antibodi atau Ig M) dalam tubuh (Kwenang. pakai pakaian bergantian dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan berbagai macam penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah : y Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa . al. diluar masih dapat hidup 2±7 x 24 jam. b. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita. Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Mocrobakterillm Leprae dan daya tahan tubuh penderita. Menurut Cocrane (1959). kelembapan udara fasilitas sanitasi yang jelek dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama. yakni selaput lendir hidung. Melalui sekret hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah: a. et. keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis. 2007& Fitness. (Munira I. Kontak kulit dengan kulit. basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering. dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun. (Masliah) Klinis ternyata kontak lama dan berulang-ulang ini bukanlah merupakan faktor yng penting. 2002). Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang kurang baik meliputi kebersihan rumah.

biologi. ada bagian tubuh tidak berkeringat. dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi. .y y y Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti Kesadaran sosial :Umumnya negara-negara endemis kusta adalah Negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah y Lingkungan : Fisik. rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka. merah. yang kurang sehat Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain. kulit mengalami bercak putih. sosial.

danau. serta higiene perorangan yang buruk dari para santri. Faktor risiko lingkungan berpengaruh yaitu kondisi sanitasi yang kurang baik meliputi kebersihan rumah. Faktor sanitasi lingkungan yang berperan terhadap tingginya prevalensi penyakit Scabies dikalangan para santri Ponpes di Kabupaten Lamongan adalah sanitasi Ponpes (terutama sanitasi dan ventilasi kamar tidur para santri). SARAN Berdasarkan pembahasan makalah diatas maka saran yang dapat kami berikan ialah : . secara umum dapat digunakan sumber air yang berasal dari air sungai. dan air hujan yang telah dihilangkan zat-zat kimianya. rumah tangga dan industri. kelembapan udara fasilitas sanitasi yang jelek dan juga kebiasaan masyarakat tidur bersama-sama. Dalam hal ini kita telah membahas mengenai akibat dari konsumsi air tersebut yang mengandung mikrobiologi khususnya dalam water washed disease dimana akan menyebabkan manusia yang menggunakan air terse but terkena penyakit seperti Scabies (akibat Sarcoptes scabiei) dan Leprosi( akibat dari Mycrobacterium leprae). maka perlu perhatian dan penanganan lebih lanjut terhadap perilaku sehat dan sanitasi lingkungan. sumur. mata air. gas racun. KESIMPULAN Untuk keperluan air minum. perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat terhadap penyakit Scabies. pakai pakaian bergantian dan BAB di kebun juga dapat memicu terjadinya penularan berbagai macam penyakit dan tidak menutup kemungkinan kusta.BAB III PENTUP A. B. atau kuman-kuman yang berbahaya. Melihat bahaya dari penyakit tersebut bagi manusia.

kerudung dan jaket. higiene tangan yang tepat dapat menurunkan atau mencegah terjadinya infeksi nosokomial. pakaian. Higiene tangan sangat diperlukan di bidang mikrobiologi maupun di tempat perawatan atau tempat-tempat yang rawan terjadi penyebaran mikroorganisme melalui media tangan kita.  Hindari pemakaian bersama sisir. Yang paling penting harus memperhatikan kondisi air yang dikonsumsi untuk menggunakannya baik serbagai air minum maupun air cuci. Di rumah sakit. atau dicuci kering (dry-cleaned).  Keringkan topi yang bersih. sikat rambut dan perhiasan rambut dengan cara merendam di cairan antiseptik. . sprei dalam air sabun hangat dan gunakan seterika panas untuk membunuh semua telurnya.  Cuci tangan adalah suatu hal yang sederhana u ntuk menghilangkan kotoran dan meminimalisir kuman yang ada di tangan dengan mengguyur air dan dapat dilakukan dengan menambah bahan tertentu. Dengan higiene tangan (hand hygiene) yang tepat dapat mencegah infeksi dan penyebaran resistensi anti mikroba. Dengan cuci tangan diharapkan akan mencegah penyebaran kuman patogen melalui tangan. (Evi)  Suci hamakan sisir.  Cuci semua handuk. mukena atau jilbab.

Kadek Diana Harmayani dan I G. 2. 3. Isa Ma¶rufi1). Konsukartha (Dosen Jurusan Teknik Sipil. Didik MM. Darmono. . Hari Basuki Notobroto3). Perbandingan Angka Kuman Pada Cuci Tangan Dengan Beberapa Bahan Sebagai Standarisasi Kerja Di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Nur. Mukrimah Rahman. Budi S. Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit Skabies pada Pesantren di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2007. M. 5. Analisa Kualitas Fisik. Farida Juliantina Rachmawati dan Shofyatul Yumna Triyana. Jurnal. Skripsi. Wakurnia Wati. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Pencemaran Air Tanah Akibat Pembuangan Limbah Domestik di Lingkungan Kumuh Studi Kasus Banjar Ubung Sari. Berkat Putra. Munira I. 4. Kelurahan Ubung. Effi Ekayanti.DAFTAR PUSTAKA 1. 6. Kajian Potensial Faktor Risiko Penularan Penyakit Kusta dan Intervensinya Di Puskesma Pragaan kabupaten Sumenep Tahun 2007. Evi. Tesis. Bakteriologis Dan Kimia Air Sumur Gali Serta Gambaran Keadaan Konstruksi Sumur Gali Di Desa Patumbak Kampung Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdangtahun 2010. Jurnal. Yudied AM. Buletin Human Media Volume 03 nomor 03 tahun 2008. Fakultas Teknik Universitas Udayana). Lestaluhu. Soedjajadi Keman2). Qalbia M. Faktor Sanitasi Lingkungan yang Berperan Terhadap Prevalensi Penyakit Scabies Studi Pada Santri di Pondok Pesantren Kabupaten Lamongan.

. Penyakit Kusta Dan Masalah Yang Ditimbulkannya. Zulkifli.7. dr.Si. M. Masliah. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.