LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP) PDGK 4501

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENGHITUNG VOLUME PRISMA SEGI TIGA DAN TABUNG LINGKARAN MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI PERMANA UTAMA, KECAMATAN MADUKARA, KABUPATEN ASTINAPURA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK 4501)

Penyusun: Nama NIM Program Studi Pokjar Masa Registrasi

: : : : :

CITRA RESMI 817800529 S.1 – PGSD INDRAPRAHASTA 2010.2

UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ JONGRING SALAKA 2010
1

ABSTRAK CITRA RESMI – NIM. 817800529. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura. Laporan PKP. S.1-PGSD. Universitas Terbuka. 2010. UPBJJ – Jongring Salaka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura dalam menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran dengan menggunakan alat peraga buatan sendiri berbentuk prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan melalui pembelajaran kontekstual fokus pemodelan. Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura dengan jumlah siswa sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura ini merupakan tempat tugas peneliti. Metode penelitian yang digunakan adalah metode tindakan (action research) dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus tindakan dan masing-masing siklus terdiri atas tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pada siklus I diperoleh fakta bahwa siswa masih canggung dalam penggunaan alat peraga. Kegiatan diskusi kelompok selama ini yang dilakukan siswa baru sebatas saling menyalin hasil pekerjaan jika memperoleh tugas mengerjakan soal. Hasl perolehan nilai rata-rata pada siklus I penelitian ini adalah 64,80 dengan nilai tertinggi sebesar 87,50 dan nilai terendah sebesar 50,00. Rata-rata perolehan nilai ini masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimum yang dipersyaratkan, yakni 65, sehingga diperlukan penelitian tindakan siklus II. Pada penelitian tindakan siklus II dilakukan beberapa perbaikan yang meliputi perubahan komposisi anggota kelompok, pengarahan atas materi pokok yang lebih jelas, serta latihan-latihan soal pendahuluan. Hasil pembelajaran yang diperoleh meliputi rata-rata nilai hasil pembelajaran siklus II adalah 81,25 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 68,75. Di samping itu, tingkat ketuntasan pembelajaran pada siklus II ini mencapai 100 % yang ternyata lebih tinggi dari prasyarat ketuntasan klasikal sebesar 85 % Oleh karena itu, tidak diperlukan perlakuan pembelajaran pada siklus berikutnya.

2

DAFTAR ISI
halaman LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................ LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN ........................................... FORMAT KESEDIAAN SEBAGAI TEMAN SEJAWAT DALAM PENYELENGGARAAN PKP ……………………………………………. SURAT PERNYATAAN TEMAN SEJAWAT …………………………... KATA PENGANTAR …………………………………………………….. HALAMAN JUDUL PKP EKSAK .............................................................. ABSTRAK .................................................................................................. DAFTAR ISI .............................................................................................. BAB I PENDAHULUAN .............................................................. A. Latar Belakang Masalah ................................................ B. Identifikasi Masalah ..................................................... C. Analisis Masalah ........................................................... D. Rumusan Masalah ......................................................... E. Tujuan Penelitian .......................................................... F. Manfaat Penrlitian ......................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA ...... A. Landasan Teoretis ............................................................. 1. Hakikat Belajar ......................................................... 2. Hasil Belajar .................................................................. 3. Prinsip-prinsip Mata Pelajaran Matematika .................... 4. Evaluasi Pelajaran Matematika ........................................ 5. Alat Peraga ....................................................................... ii iii iv v vi viii ix x 1 1 3 3 4 4 4 6 6 6 7 11 13 14

3

6. Materi Pokok Bahasan Menentukan Volume Bangun Ruang ..... B. Kerangka Berpikir ........................................................ C. Hipotesis Tindakan ....................................................... BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PEMBELAJARAN ...... A. Subjek Penelitian ........................................................... 1. Lokasi Pelaksanaan Penelitian .......................................... 2. Waktu Penelitian ..................................................... 3. Karakteristik Siswa ................................................. B. Deskripsi Persiklus ....................................................... 1. Siklus I ................................................................... 2. Siklus II .................................................................. C. Sumber Data dan Cara Pengambikan Data .............................. D. Tolok Ukur Keberhasilan ........................................................ BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................. A. Hasil Penelitian ............................................................. 1. Siklus I ................................................................... 2. Siklus II .................................................................. B. ........ BAB V Pembahasan ...........................................................

19 20 21

22 22 22 22 22 23 23 25 26 27

28 28 28 31 35 40 40 41 42 44

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................... A. Kesimpulan .................................................................... B. Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut ..............................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................

4

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Mata pelajaran Matematika di Sekolah Dasar merupakan mata pelajar-an yang dianggap paling sulit oleh siswa sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar mata pelajaran tersebut. Padahal matematika merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan bagi siswa sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Jumlah jam mata pelajaran matematika cukup banyak dibandingkan dengan mata pelajaran IPA dan IPS. Kemampuan baca tulis dan berhitung bagi siswa SD merupakan syarat naik ke kelas IV. Tes Kemampuan Dasar (TKD) menjadi acuan dalam peningkatan mutu pendidikan khususnya SD kelas III. Persyaratan tersebut dipandang satu keharusan yang harus dikuasai siswa sebelum memasuki kelas tinggi (kelas IV-VI). Matematika merupakan mata pelajaran yang melatih anak untuk berpikir rasional, logis, cermat, jujur dan sistematis. Pola pikir yang demikian sebagai suatu yang perlu dimiliki siswa sebagai bekal dalam kehidupan seharihari.

5

6 .Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari akan dapat membantu manusia dalam memecahkan masalahmasalah kehidupan dalam berbagai kebutuhan kehidupan. Menurut hasil analisis ulangan harian. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada kesulitan yang cukup berarti bagi siswa kelas VI dalam memecah-kan dan menyelesaikan soal kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”. Karena kondisi yang demikian pentingnya. Kabupaten Astinapura di mana hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika merupakan urutan yang terbawah dari semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas VI. Kecamatan Madukara. maka matematika diberikan sejak anak memasuki bangku sekolah sejak kelas I sampai kelas XII (SMA). diketahui bahwa pada Tahun Pelajaran 2008/2009 hasil belajar siswa pada pokok bahasan menentukan volume bangun ruang baru mencapai rata-rata 56 dan pada tahun 2009/2010 baru mencapai rata-rata kelas 59. Hal tersebut masih sangat perlu diupayakan peningkatannya. hasilnya baru mencapai rata-rata kelas 5. SMP maupun SMA. maka perlu upaya peningkatan kemampuan melalui upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh guru. Diketahui bahwa pada kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” dari ulangan harian yang dilakukan selama dua kali. Namun demikian matematika masih kurang diminati anak didik baik di tingkat SD.6. Hal yang demikian perlu mendapatkan perhatian bagi guru untuk memperbaiki metode serta pendekatan dalam belajar mengajar sehingga anak didik merasa senang dan termotivasi untuk belajar matematika. Sebagaimana yang terjadi di kelas VI SD Negeri Permana Utama.

B. Kebaikan alat peraga bagi pembelajaran juga membuat anak lebih bersemangat karena tidak merasakan kejenuhan. Alat peraga yang tepat untuk menerangkan ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” di antaranya bentuk prisma dan tabung lingkaran satuan. Kecamatan Madukara. Kabupaten Astinapura adalah sebagai berikut. Sifat alat peraga itu sendiri membantu memperjelas konsep-konsep abstrak agar menjadi konkret.Upaya peningkatan kemampuan siswa terhadap pokok bahasan kegiatan volume bangun ruang antara dapat lain melalui penggunaan alat peraga. Identifikasi Masalah Permasalahan pembelajaran matematika yang dapat teridentifikasi di SD Negeri Permana Utama. Alat peraga akan merangsang minat siswa sekaligus mempercepat proses pemahaman siswa ketika mendapati hal-hal yang abstrak dan yang sulit dimengerti anak. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran yang diharapkan siswa meningkatkan konsep-konsep mudah. Pembelajaran dengan alat peraga mudah dicerna anak didik dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat verbalistik. Konsep kemampuan matematika pemahaman terhadap dengan dipelajarinya matematika seperti bangun ruang akan mudah dimengerti anak didik pada saat pembelajaran berlangsung. Alat peraga tersebut menjadikan anak akan mampu memecahkan masalah melalui pengamatan. penganalisisan dan pembuktian secara terpadu sehingga konsep volume bangun ruang akan mudah diselesaikan anak didik pada saat mempelajari konsep volume bangun ruang. 7 .

Hasil belajar matematika pada semua tingkat kelas menempati urutan terbawah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Kabupaten Astinapura”. C. 3.6. Analisis Masalah Sejalan dengan latar belakang masalah dan identifikasi masalah mendalam tersebut yang di atas maka penulis bermaksud lebih “Upaya mengadakan penelitian tindakan untuk dalam mengkaji judul dirumuskan Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama. 1. Kegiatan pembelajaran masih berlangsung secara konvensional. Sepengetahuan peneliti. 4. Kecamatan Madukara. judul tersebut belum diangkat dan diteliti oleh peneliti terdahulu. merasa perlu untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar tersebut yang nilai rata-ratanya baru mencapai 5. Matematika masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Adapun peneliti tertarik memilih judul tersebut dengan pertimbangan sebagai berikut. Kabupaten Astinapura Utama.1. Proses pembelajaran matematika belum dapat menarik perhatian siswa sehingga motivasi belajar siswa belum terangsang. 2. Peneliti sebagai guru kelas VI SD Negeri Permana Kecamatan Madukara. 2. Peneliti bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dengan mengupayakan pengadaan alat matematika 8 . Kelengkapan media pembelajaran yang ada di sekolah masih sangat terbatas. 5. 3.

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama. volume prisma segi tiga dan tabung 9 . Kabupaten Astinapura dalam menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran dengan menggunakan alat peraga buatan sendiri berbentuk prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan melalui pembelajaran kontekstual fokus pemodelan. Meningkatnya hasil belajar pada kompetensi dasar menghitung lingkaran. D. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dan analisis masalah di atas. dan sekolah.peraga buatan peneliti bersama siswa serta menggunakannya dengan tepat dan optimal. Manfaat Penelitian Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi siswa. Kabupaten Astinapura?” E. Meningkatnya motivasi belajar matematika. b. guru. ”Apakah penggunaan alat peraga prisma segi tiga dan tabung lingkaran satuan dapat meningkatkan hasil belajar menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran pada siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama. Bagi Siswa a. Kecamatan Madukara. 1. disusun rumusan masalah sebagai berikut. Kecamatan Madukara. F.

b. 10 . 3. Bagi guru a. Merupakan umpan balik keberhasilan siswa dalam menguasai kompetensi dasar menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran. Meningkatnya rasa percaya diri. Meningkatkan gairah dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Meningkatkan kualitas pembelajaran karena dengan kegiatan PTK ini guru lebih terampil menggunakan alat peraga.c. c. Bagi Sekolah Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan dan kontribusi positif bagi sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat dijadikan model pembelajaran oleh guru sekolah dasar lain dalam pembelajaran kompetensi dasar menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran. 2.

dan c) terjadi karena ada upaya. keterampilan dan sikap-sikap. perubahan-perubahan pengetahuan. Crow and Crow menyatakan bahwa belajar adalah perbuatan untuk memperoleh kebiasaan. Sumadi Suryabrata (1984:249) menyatakan bahwa kegiatan belajar mencakup tiga hal yaitu: a) membawa perubahan. 11 . Belajar pada dasarnya adalah berusaha mendapatkan sesuatu kepandaian (Poerwadarminta. belajar identik dengan mengerjakan soal-soal.198:36). 1984:16). biasanya orang awam mengartikan belajar identik dengan membaca. Landasan Teoretis 1. Pengertian belajar seperti tersebut masih sempit. Sedangkan menurut istilah populer bahwa pengertian belajar adalah proses perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai bentuk pengalaman-peng-alaman atau praktik (David R. Perubahan itu relatif konstan dan berbekas (WS Winkel. b) terjadi karena didapatkan kecakapan baru.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Menghafal tidak dinamakan belajar. Loster D. Hakikat Belajar Pengertian belajar dalam kehidupan sehari-hari seringkali sering diartikan yang kurang tepat. 1996:2). Menutrut Winkel bahwa belajar diarti-kan sebagai suatu aktivitas aktif mental/psikis dengan dalam yang berlangsung yang dalam interaksi lingkungan menghasilkan pemahaman. ilmu pengetahuan dan berbagai sikap (Kasijan.1988:108).

Karena belajar adalah suatu proses merubah kondisi seseorang yang terwujud dalam tiga ranah. pemahaman.1998:34). yang bukan pula se-kedar adanya mengingat perubahan (Sardiman. pemahaman. dan sikapnya. keterampilan. 2. Belajar pada dasarnya merupakan suatu ditandai dengan pengetahuan.Dengan demikian belajar adalah perubahan-perubahan yang relatif konstan dan berbekas menyangkut pengetahuan. Hasil Belajar Hasil belajar pada dasarnya berkaitan pula dengan hasil yang dicapai dalam belajar. Ada beberapa teori belajar yang akan penulis paparkan dalam pembahasan 12 . Belajar berasal dari kata “ajar” mendapat awalan “bel-” yang kemudian menjadi kata jadian “belajar” mengandung makna proses belajar. Pengertian hasil belajar itu sendiri dapat diketahui dari pendapat ahli pendidikan. yang mengarah pada suatu. Hasil belajar berasal dari kata hasil dan belajar. Agar tidak menyimpang dari pengertian sesungguhnya maka perlu dijelaskan secara per kata terlebih dahulu. bukan sekedar proses menghapal. Belajar adalah proses yang aktif. Belajar pada hakikatnya perubahan pada diri seseorang sebagai subjek didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. maka bagaimana agar belajar benar-benar terjadi. dan sikap-sikap. yaitu mereaksi semua situasi yang berada disekitar individu. Kata belajar menunjuk arti apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran.

Hal tersebut berarti hasil belajar merupakan hasil dari proses belajar. Hasil belajar dari gabungan kata hasil dan kata belajar. Hasil belajar merupakan keberhasilan yang telah dirumuskan guru berupa kemampuan akademik. Hasil belajar diartikan sebagai keberhasilan usaha yang dapat dicapai (Winkel.1998:162).ini untuk melihat bagaimana hakikatnya belajar yang sesungguhnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain dibagi menjadi dua kategori yaitu faktor internal dan eksternal. afektif. 1) 2) 3) 4) Kesehatan anak Rasa aman Kemampuan dan minat Kebutuhan diri anak akan sesuatu yang akan dipelajari (Rustiyah NK. 1995:123). Faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut. Faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut. Belajar dipengaruhi pula oleh faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar. Winarno Surachmad (1981:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan nilai hasil belajar yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. dan psikomotor (Sunaryo. 13 . Dalam hasil belajar meliputi kemampuan kognitif. Dari berbagai kajian definisi hasil belajar di atas maka yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika yang berupa kemampuan akademis siswa dalam mencapai standar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya dan harus dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.1983:4).

Keberhasilan belajar siswa dapat dilihat dari segi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.1) Lingkungan belajar. waktu. afektif maupun dari segi psikomotornya. Adapun faktor yang datang dari luar diri anak. 2) Motivasi dari luar (Rustiyah NK. Sedangkan faktor eksogen adalah seperti sikap orang tua. Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil akademis yaitu hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang telah dirumuskan guru baik berupa segi kognitif. Untuk dapat meningkatkan belajar dengan baik maka guru harus mengenal anak dengan baik pula karena setiap anak tidak sama persis kesulitan dan permasalahan yang dihadapinya. yaitu dari sekolah tempat anak belajar seperti guru. kurikulum.1995:123). Untuk memudahkan guru dalam mengukur keberhasilan belajar maka guru harus menentukan tujuan pembelajaran khusus yang baik. Dengan demikian guru harus mampu meneliti setiap kekurangan-kekurangan dalam hasil belajar siswa. sosial ekonominya. suasana lingkungan. Mengukur keberhasilan belajar siswa atau hasil yang dicapai siswa harus mampu mengevaluasi belajar siswa. dan teman belajar. juga siswa mengalami hambatan-hambatan dalam belajar baik itu bersifat endogen maupun bersifat eksogen. dan suasana belajar. iklim. dan sikap budayanya. Selain faktor-faktor yang mempe-ngaruhi hasil belajar. materi. Dalam proses belajar dan mengajar seorang guru wajib menentukan tujuan pembelajaran baik tujuan pembelajaran umum maupun khusus. Ada beberapa kriteria dalam pembuatan 14 . sarana dan prasarana belajar. Yang bersifat endogen adalah faktor biologis dan faktor psikologis siswa.

Kesulitan belajar yaitu di mana anak didik atau siswa tidak mampu belajar sehingga hasil di bawah potensi intelektualnya (Alan O Ross. afektif maupun psikomotorik. perhitungan dan penggunaan proses yang keliru dan tulisan yang tidak terbaca. berupa hasil belajar yang berupa hasil akademik siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. a) b) c) Mengandung satu jenis perbuatan. nilai tempat. Hasil akademik ini berupa angka kuantitas yang dituliskan dalam buku raport. 1999:262) adalah kekurang pahaman tentang simbol. Dinyatakan dalam kualitas dan kuantitas Kondisi yang bagaimana yang diinginkan penguasaan siswa. Hasil belajar yang dicapai siswa ber-kaitan erat dengan kesulitan belajar dan keberhasilan belajar. Sedangkan dalam kaitannya dengan penelitian ini.1981:28). Jadi hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang telah dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan proses belajar dan mengajar.TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus) yang baik yaitu sebagai berikut. baik yang menyangkut segi kognitif. hasil belajar adalah peningkatan keberhasilan siswa dalam mencapai tuju-an pembelajaran yang ditetapkan guru. 1974:103). Mulyono Abdurrahman. 15 . Kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dapat diketahui dari ciricirinya. Menurut Lerner (1931:367) dalam buku pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. guru (Surakhmad. (Dr. Hasil yang dimaksudkan dalam penelitian tindakan kelas ini.

b. Perverasi. Lambat dalam melakukan tugas belajar. Menurut Kuffman dan Lloyd (1985:14) dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (1996:6) bahwa kesulitan belajar adalah gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran berpikir. Gangguan penghayatan tubuh. tersebut diartikan ketidakmampuan belajar. Gangguan membaca. e. 1999:259). atau tulisan. Kesulitan dalam bahasa dan membaca h. d. Hasil yang dicapai dengan usaha tidak seimbang. Kesulitan mengenal dan memahami simbol. c. b. berbicara. Adanya gangguan dalam hubungan keruangan. berhitung. g. 16 . memungkinkan mengeja atau menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan. tersebut menulis. c.Menurut Terjemahan Mulyono Abdurrahman sebagai (1996:6) bahwa kesulitan belajar adalah terjemahan dari learning disability. Performance IQ jauh lebih rendah daripada sektor verbal IQ (Abdurrahman. Gejala adanya kesulitan belajar meliputi : a. Hasil yang rendah di bawah rata-rata kelompok kelas. a. f. ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar seperti berikut ini. Abnormalitas persepsi visual. Jadi rendahnya kesulitan belajar matematika disebabkan terkait kemampuan intelegensi. banyaknya dengan kesulitan memahami konsep visual dan adanya gangguan assosiasi visual motorik. Assosiasi visual motorik. Learner berpendapat.

1991:89). (e) kurang motivasi dalam belajar. berpura-pura dusta dan lain-lain. (d) penempatan kelas.d. e. a. Dengan demikian bahwa anak yang perlu mendapat bantuan dari guru dalam hal ini adalah layanan bimbingan belajar. agar peserta didik dapat melaksanakan kegiatan belajar secara baik dan terarah. 3. Prinsip-prinsip Mata Pelajaran Matematika Mata struktur pelajaran sistem matematika siswa bilangan berkaitan dengan kemampuankemampuan dasar mengenai daripada pemahaman mempel-ajari keterampilan dan fakta-fakta hafalan. (c) lambat belajar. Jenis kesulitan belajar menurut Erman Amti. Mata pelajaran matematika menerapkan prinsip-prinsip basic skill movement yang mencerminkan beberapa kemampuan dasar matematika bagi siswa SD yang meliputi hal sebagai berikut. Pelajaran matematika sesuai dengan kurikulum SD tahun 2006 (Standar Isi yang dikembangkan menjadi KTSP) menekankan mengapa dan bagaimana matematika melalui penemuan dan eksplorasi. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan (Supriyono. Menunjukkan sikap kurang wajar seperti acuh tak acuh. (1992:67) masalah belajar pada dasarnya digolongkan atas: (a) sangat cepat dalam belajar. (f) sikap dan kebiasaan yang buruk dalam belajar dan kehadiran di sekolah sering tidak masuk. Maju dari konkret ke abstrak 17 . b) keterlambatan akademik. Menyiapkan anak untuk belajar matematika b.

Penyediaan program matematika yang seimbang. Oleh karena itu ada beberapa pendekatan dalam pengajaran mate-matika di SD. Belajar Tuntas Dalam Sasaran pembelajaran harus matematika diukur guru dan harus diamati. d. Perlunya membangun fondasi yang kuat tentang konsep atau keterampilan matematika g. yaitu sebagai berikut. Urutan belajar yang bersifat perkembangan Dalam hal ini guru diharapkan memberikan pelajaran matematika sesuai dengan tingkat perkembangan anak. (Mulyono. Generalisasi ke dalam situasi baru e. Pemecahan Masalah (Mulyono. b. 1999:255) 18 . Strategi belajar Strategi belajar matematika memusatkan bagaimana siswa belajar agar dapat mengembangkan stratgi belajar metakognitif yang mengarah-kan proses mereka dalam belajar. sedang ke tingkat yang sukar. tersebut dapat menguraikan langkah-langkah yang sudah dikuasai oleh siswa dari soal mudah. 1999:273). Bertolak dari kekuatan dan kelemahan siswa f. Penyediaan kesempatan kepada anak untuk berlatih dan mengulang d. dan mengurutkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan. a.c. Tidak akan ada manfaatnya mengajarkan anak suatu konsep atau keterampilan matematika sebelum mencapai tahap perkembangan tersebut karena tidak akan berhasil. menentukan sasaran atau tujuan pembelajaran khusus. c.

Strategi belajar matematika dengan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan matematika. juga dituntut lebih aktif dan cermat melakukan strategi pembelajaran agar siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak merasa ditinggalkan tetapi terlayani dengan baik dengan cara kemampuannya sendiri dan mampu mengikuti setahap demi setahap. a. Dalam hal kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh guru mata pelajaran matematika menurut Learner. masalah kaitannya dengan soal-soal 4. Dengan demikian bagaimana proses pengerjaannya dan bagaimana hasil jawabannya. 19 . Keempat pendekatan dalam pembelajaran matematika di SD tersebut. Dalam evaluasi pelajaran matematika keberhasilan siswa diukur dari proses pengerjaan dan diukur dari kebenaran dalam jawaban yang dihasilkan. Memutuskan apa yang akan diukur. dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. tentunya menuntut kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Evaluasi matematika di Sekolah Dasar merupakan salah satu cara atau kegiatan pembelajaran untuk mengetahui kemajuan belajar siswa dan pen-capaian tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi Pelajaran Matematika Evaluasi pembelajaran matematika secara umum sama dengan evaluasi mata pelajaran lainnya baik jenis evaluasi maupun bentuk-bentuk soalnya.

Ketiga ranah tersebut dievaluasi dengan tes hasil belajar yang menggunakan berbagai ragam bentuk soal tes sesuai dengan materi yang akan diukur kemajuan dan keberhasilannya. j. Ranah yang diungkapkan dalam evaluasi pembelajaran matematika yaitu kognitif. Mengadministrasikan tes. Istilah ini kepada sesuatu yang membawa informasi ke penerima tercetak.b. Memilih atau mengembangkan instrumen. media dan teknologi telah mempengaruhi pendidikan. Memutuskan di mana memulai. afektif. Memeriksa. Menurut Heinrich (1996) menyatakan bahwa keseluruhan sejarah. komputer dan 20 . Melaksanakan tes. Memilih atau mengembangkan suatu herarki keterampilan. Melengkapi catatan dan rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus (Mulyono. Menganalisis temuan dan meringkaskan hasil. d. h. Mencatat kekeliruan dan gaya kinerja. i. dan psikomotorik. Media merupakan jamak dari kata medium adalah suatu saluruh untuk komunikasi. Diturunkan dari bahasa Latin yang berarti “antara”. 1999:266). Pengertian Alat Peraga Alat peraga disebut juga alat bantu pelajaran. e. g. Alat Peraga a. k. maka pembelajaran menjadi lebih berkualitas. c. 5. f. Alat peraga yang diguna-kan sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Memperkirakan alasan kekeliruan dan menentukan bidang yang akan diperiksa.

(6) serta media yang digunakan untuk belajar jarak jauh (UPI. Alat peraga sebagai media pembelajaran dapat menjadikan materi pelajaran yang disampaikan lebih konkret sehingga mudah dicerna siswa. matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami. sajian dan model-model. Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkret dan karena dan antara itu lebih dipahami dan pada dimengerti. Alat peraga menambah konkretnya materi pelajaran yang disampaikan guru sehingga pembelajaran yang dilaksanakan akan lebih bermakna bagi kehidup-an siswa. 2001:200). 21 . (5) komputer. Baik siswa maupun guru. diagram. multimedia. 3. (2) media projektif antara lain slide. 2. Karena itulah guru matematika yang dalam pembelajaran meng-gunakan alat peraga akan memperoleh keuntungan sebagai berikut. Siswa dan guru dalam kegiatan proses belajar mengajar lebih termotivasi. transparansi.instruktur. dan komputer proyektor. Beberapa media yang dikenal dalam pembelajaran antara lain. (4) media gerak seperti vidio dan film. (1) media non projektif antara lain fotografi. Yang demikian ini dipandang sebagai media ketika mereka membawa pesan dengan suatu maksud pembelajaran. (3) media dengar seperti radio kaset. terutama siswa menjadi tumbuh minatnya terhadap pelajaran yang sedang diajarkan. Hubungan dapat konsep ditanamkan abstrak tingkattingkat yang lebih rendah. 1. filmstrif.

Media dan alat peraga memiliki perbedaan yaitu sebagaimana digambarkan dalam diagram berikut. guru melakukan pembelajaran dari sumber bukan manusia atau guru bermedia ( UPI. Dalam praktik kegiatan pendidikan. Oleh karena itu dalam hal ini peneliti tidak akan memper-soalkan penggunaan istilah tersebut. 2001:200). b. lainnya dalam pembelajaran. Secara harfiah kata media memiliki arti “perantara” atau “pengantar” atau peraga (Depag RI. dan d. 22 . guru sebagai pengendali siswa.Alat peraga dapat disebut pula alat bantu dalam pembelajaran. guru mengggunakan sebagai sumber alat bersama peraga dengan dalam sumber pembelajaran. Ada empat pola guru dalam pembelajaran yaitu: a.2004:11). alat peraga sering pula disebut dengan media pembelajaran. guru c.

pada prinsipnya media dan alat peraga me-rupakan perantara dalam kegiatan pembelajaran. Guru mengggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Meskipun ada perbedaan. a. c. Ada empat pola guru dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut. Pembelajaran diupayakan yang dilakukan guru alat sedapat peraga. Kaitannya dengan pembel-ajaran matematika maka alat peraga yang dapat digunakan dalam pembelajar-an sesuai dengan materi yang akan diberikan pada saat itu. Di antaranya alat peraga dalam kegiatan pembelajaran 23 .Skema 1: Model Pembelajaran yang dilakukan guru (Nana Sujana. Model pembelajaran yang tampak pada skema di atas menunjukkan keragaman bahwa ada guru yang menggunakan media dan ada guru yang menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran. d. mungkin hal ini menggunakan dimaksudkan agar materi pelajaran yang disampaikan dapat dimengerti dan mudah dicerna oleh siswa sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat dicapai secara optimal. disini tugas guru adalah melakukan manajemen kelas dan mengukur kemajuan balajar siswa secara bertahap dan berkelanjutan. Guru melakukan pembelajaran dari sumber bukan manusia (guru bermedia). b. Guru sebagai sumber bersama dengan sumber lainnya dalam pembelajaran artinya baik guru maupun media pembelajaran yang lain dijadikan sumber belajar.1991:13). Guru sebagai pengendali siswa.

gunting. spidol. dan tabung lingkaran satuan 1) Alat dan bahan a. Perkakas cutter/pemotong 2) Cara pembuatan alat peraga. Model Kubus. 24 . karton duplek. Alternatif bahan 2 : Styrofoam. Alternatif bahan 1 : karton tebal/karton duplek. untuk menunjukkan volum/isi prisma. spidol. untuk menunjukkan volum/isi tabung atau selinder. Jika bahan yang dipergunakan karton tebal. prisma segitiga satuan. dan Tabung Model kubus satuan. lem. plastik jilid. b. Prisma. b.menentukan volume kubus bangun ruang adalah sebagai berikut. atau styrofoam maka cara membuat alat : kuas. c. Alat Peraga Satuan 1) Fungsi • • • Alat peraga model kubus satuan memiliki fungsi Alat peraga model prisma satuan memiliki fungsi Alat peraga model tabung satuan memiliki fungsi untuk menunjukkan volum/isi kubus atau balok. 2) Bentuk Alat Bentuk alat-alat peraga yang dibuat sendiri sebagai berikut.

segitiga. lidah dan tabung lingkaran. Selanjutnya bentuklah jaring-jaring kubus sebagaimana gambar Model jaring-jaring Kubus Model jaring-jaring Prisma Segitiga 25 .. Untuk menghubungkan sisi yang satu dengan yang lain pada jaring-jaringnya.peraga yaitu dengan membuat jaring-jaring kubus. prisma buatlah berikut.

dan volume prisma segitiga. KTSP Matematika SD Edisi Tahun 2006 Kelas VI/ Semester I Standar Kompetensi : 3. 26 . Tunjukkan pada siswa bahwa 1 (satu) buah kubus didefiniskan sebagai satu satuan Siswa diminta menyebutkan banyaknya kubus satuan pada gambar berikut ini.3 Menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran 2. isi b. Menghitung luas segi banyak sederhana. Penggunaan Alat Menghitung Volume Kubus a. luas lingkaran. Kompetensi Dasar : 3.Model Jaring-jaring Tabung Lingkaran 3) Penggunaan Alat dalam Kegiatan Belajar Mengajar 1.

Untuk menghitung volume prisma segi tiga. tinggi segi tiga kemudian menghitung luas segi tiga. siswa ditugaskan untuk mengukur masing-masing sisi rusuk prisma. siswa diajak kembali untuk menemu-kan volume kubus dengan uraian materi sebagai berikut. kemudian menghitung luas lingkaran.Siswa disuruh mengisi setiap kotak transparan yang telah disiapkan dengan kubus satuan. Sedangkan dalam menentukan volume tabung lingkaran. Untuk sekedar mengingatkan siswa. pokok bahsan yang dijadikan penelitian yaitu menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran. Menentuan volume kubus 27 . 6. siswa ditugaskan untuk mengukur jari-jari lingkaran serta panjang rusuk. dan menghitung banyak-nya kubus satuan yang dapat mengisi masing-masing kotak. Materi Pokok Bahasan Menentukan Volume Bangun Ruang Dalam kegiatan penelitian ini. a.

Keterlibatan alat-alat indera menggairahkan siswa dalam belajar sehingga akan mudah terangsang untuk mencoba melakukan sesuatu hal yang diperlukan. menaksir. Menentukan volume kubus rumusnya adalah sebagai berikut. Kerangka Berpikir Sebagaimana teori yang dikaji tersebut di atas. dan meramalkan berbagai hal baik melalui indera peng-lihat. Alat peraga berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan siswa karena melalui penggunaan alat peraga siswa dapat mengamati. bahwa alat peraga memiliki fungsi untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pel-ajaran yang disampaikan. peraba maupun pendengar. yakni: Volume prisma segitiga = luas alas × tinggi = c. Penggunaan alat peraga prisma dan tabung buatan sendiri dalam pembelajaran kompetensi dasar “menghitung 28 . Menentukan volume tabung Penentuan volume tabung lingkaran didasarkan kepada rumus selinder sebagai berikut. sisi x sisi x sisi= volume Volume dinyatakan dengan satuan kubik (3) b.Penentuan volume kubus didasarkan pada rumus volume kubus. Menentukan volume prisma Penentuan volume prisma segitiga didasarkan pada rumus volume prisma. Volume Tabung = π x r x r x t 1 ×a×b×t 2 = π x r2 x t B.

C. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan maka kemampuan siswa dalam menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran akan meningkat. menaksir dan menangkap apa yang seharusnya kemudian dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi yaitu Menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran secara tepat. dapat meningkatkan perhatian dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Kemudahan yang akan diperoleh siswa melalui penggunaan alat peraga tersebut yaitu siswa dapat mengukur.volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”. Kemampuan inilah yang menjadikan hasil belajar siswa akan mudah untuk ditingkatkan. Kebermaknaan langsung maupun terhadap alat dan kemudahan baik siswa menyerap benda akan materi pelajaran dapat dilakukan melalui latihan mengukur secara benda-benda sehingga langsung memiliki peraga kemampuan keterampilan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajarinya. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “melalui penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran 29 . Kecepatan dan ketepatan siswa dalam menyelesaikan masalah tersebut memungkinkan lebih meningkat hasil belajarnya. Sebaliknya jika pembelajaran matematika kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” dalam pembelajaran di kelas tidak menggunakan alat peraga. mengamati. maka hasil belajar siswa kurang dapat diterima siswa yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa.

satuan maka hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama. a. b. Kabupaten Astinapura dalam kompetensi dasar menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran dapat ditingkatkan”. Kabupaten Astinapura ini merupakan tempat tugas peneliti. 30 . Kelas VI SD Negeri Permana Utama. Subjek Penelitian 1. Siklus II Siklus II dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 30 Juli 2010 jam ke-1 dan ke-2. BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PEMBELAJARAN A. Kecamatan Madukara. Lokasi Pelaksanaan Penelitian Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura dengan jumlah siswa sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 14 siswa lakilaki dan 5 siswa perempuan. Waktu Pelaksanaan Waktu pelaksanaan penelitian terdiri atas dua siklus dengan masing-masing terdiri atas satu pertemuan. Penentuan pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II tersebut didasarkan pada jadwal pelajaran mata pelajaran matematika di kelas. Siklus I Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 27 Juli 2010 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5. Kecamatan Madukara. 2. Pelaksanaan pembelajaran pada masing-masing siklus adalah sebagai berikut.

Siklus I Sesuai dengan perencanaan bahwa siklus I dilaksanakan pada hari hari Selasa tanggal 27Agustus 2010 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5.3. Sementara itu. Perencanaan 1) Dokumentasi kondisional meliputi data hasil ulangan materi “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”. 2) Guru memberikan soal-soal pada siswa. 31 . prestasi belajar matematika para siswa kurang begitu menggembirakan sehingga pada siswa yang berjumlah 19 orang tersebut tidak ada siswa yang menonjol dalam prestasi belajar matematika. Sebagaimana kebanyakan siswa di daerah. b. Langkah kegiatan yang dilakukan pada siklus I adalah sebagai berikut. 2) Identifikasi masalah. B. terdapat 2 siswa yang rata-rata prestasi belajarnya di bawah rata-rata. a. Pelaksanaan 1) Guru menyiapkan rencana pengajaran. dan observasi terhadap pembelajaran matematika yang berlangsung. Karakteristik Siswa Subjek penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah siswa kelas VI SDN Permana Utama Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura yang berjumlah siswa sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Deskripsi Per Siklus 1. 3) Merancang rencana pembelajaran. Identifikasi dan klarifikasi semua masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar. 3) Guru mengevaluasi tingkat daya serap siswa terhadap proses pembelajaran.

Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian disimpulkan bagaimana hasil belajar siswa dan bagaimana hasil pembelajaran guru yang teah dilakukan. Kemudian direfleksikan berupa hasil analisis yang telah dikerjakan. Refleksi Data dikumpulkan kemudian direfleksi oleh peneliti. diskusi dan lain sebaginya. baik data pembelajaran (guru) maupun data pembelajaran siswa. 5) Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran seperti bertanya. Refleksi dilakukan dengan cara mengukur baik cara kuantitatif maupun kualitatif. mengungkapkan pendapat. d. Pengamatan Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan data aktivitas pembelajaran.4) Guru menjelaskan materi tentang kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” dilanjutkan dengan memberikan contoh-contoh soalnya. c. 1) Apakah terjadi peningkatan kualitas belajar sebelum diterapkan pembelajaran dengan alat peraga? 2) Apakah alat peraga yang digunakan dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman siswa konsep bangun ruang dalam kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”? 3) Berapakah jumlah siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar setelah dilakukan pembelajaran dengan alat peraga? 32 . Peneliti menyiapkan angket observasi yang dilakukan dengan data pengukur. 7) Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus 1. 6) Guru memberikan soal-soal latihan setiap akhir pertemuan.

b. 2) Rencana tindakan Penerapan pembelajaran dengan meningkatkan efektivitas penggunaan alat peraga harus lebih ditekankan lagi terutama agar lebih mengoptimalkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Perencanaan Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. 2) Guru memberikan soal-soal latihan. a. Guru melakukan semua tindakan sebagaimana pada 33 .4) Sudahkah mencapai target yang diinginkan sesuai dengan yang diharapkan guru? 5) Sudahkah guru menerapkan struktur pengajaran matematika yang baik? 6) Sudahkah guru mengadakan pendekatan kepada siswa dengan baik dan menggunakan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan? 2. maka diadakan perencanaan sebagai berikut. Siklus II Siklus II dilaksanakan sebanyak dua pertemuan yakni pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2010 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5 dan hari Jumat tanggal 3 September 2010 jam ke-1 dan ke-2 dengan langkahlangkah sebagai berikut. Pelaksanaan 1) siklus I. 1) Identifikasi masalah Masalah siklus 1 yang belum berhasil pada kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”.

apakah penelitian perbaikan dilaksanakan ke siklus berikutnya ataukah cukup sampai pada siklus II saja. Refleksi terhadap keberhasilan siklus II menjadi dasar pertimbangan untuk menentukan keberhasilan pembelajaran. yang lebih banyak dan variatif. menggunakan alat peraga dalam pembelajaran konsep bangun ruang dalam kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”. 6) d. C. Siswa diberi soal-soal latihan untuk dibahas 34 . Sumber Data Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus 2. kemudian melakukan refleksi terhadap tindakan kelas yang telah dilaksanakan. Pelaksanaan atau tindakan siklus 2 sesuai dengan perencanaan yang diprogramkan yaitu: 1) 2) 3) 4) Atas dasar hasil siklus 1. dipahami siswa dengan contoh-contoh soalnya secara sistematis.3) 4) c. 5) kembali. Refleksi Peneliti merefleksi semua tindakan pada siklus 1 dan siklus 2. Pengamatan Menjelaskan materi lanjutan dengan alat peraga Mengadakan Tes akhir siklus II. maka permasalahan dapat Mengontrol siswa yang kurang aktif dengan cara Guru menerangkan kembali materi yang kurang Merencanakan kembali pembelajaran dengan diidentifikasi dan dirumuskan. mengadakan pendekatan dan bimbingan khusus. Sumber Data dan Cara Pengambilan Data 1.

35 . rata-rata kelas yang dicapai adalah 56. Tolok Ukur Keberhasilan Sebagaimana hasil belajar pada kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” pada siswa kelas VI SDN Permana Utama tahun pelajaran 2009/2010 rata-rata kelas baru dicapai sebesar 59 dan pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun pelajaran 2008/2009. c) Data pelaksanaan pembelajaran oleh guru. b) Data situasi kondisi KBM diambil melalui pengamatan kelas. b) Data situasi pembelajaran. yang terdiri dari: a) Hasil belajar siswa. 2. 3. Jenis Data Data yang didapatkan dalam PTK ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Cara Pengambilan Data a) Data Hasil belajar diambil melalui tes setiap akhir siklus. d) Data pelaksanaan pembelajaran diambil melalui observasi guru peneliti oleh guru mitra. Jumlah sumber data siswa sebanyak 19 orang siswa dan 2 guru (teman sejawat dan kepala sekolah). Dengan demikian tolok ukur keberhasilan penelitian tindakan kelas ini yang penulis tetapkan apabila siswa pada kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” yatu mencapai nilai rata-rata kelas minimal 65. c) Data refleksi dan perubahan-perubahan yang terjadi di kelas diambil melalui jurnal keberhasilan yang dibuat guru. D.Sumber data dalam penelitian ini meliputi siswa kelas VI SDN Jatimanggung Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura dan guru peneliti serta guru teman sejawat.

pengamatan. deskripsi proses pembelajaran pun akan disinggung jika data yang ditampilkan memerlukan penjelasan yang rinci.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. dan refleksi. Masing-masing siklus terdiri atas tahap-tahap perencanaan. Akan tetapi. Kabupaten Astinapura semester 1 tahun pelajaran 2010-2011” dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil Penelitian Penelitian perbaikan pembelajaran dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan judul ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama. Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang dikemukakan pada Bab I. Data hasil penelitian yang diperoleh dari siklus I dan II penelitian tindakan ini dapat disajikan dalam uraian berikut ini. pelaksanaan tindakan. 36 . Kecamatan Madukara. maka penelitian ini akan memfokuskan kepada peningkatan hasil pembelajaran sebagai tujuan penelitian.

1) Proses Pembelajaran Pada awal kegiatan diskusi kelompok. Kabupaten Astinapura semester 1 tahun pelajaran 2010-2011 ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan pada hari Selasa tanggal 27 Juli 2010 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5.1. 2) Hal kedua yang merupakan kegiatan baru bagi para siswa adalah mempresentasikan konsep yang ditemukannya dalam presentasi kelas. luas segi empat. 37 . Penguasaan komunikasi yang relatif masih kurang menjadi hambatan siswa dalam mengungkapkan gagasannya. Pada pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus I ini dilakukan pula pengamatan atas proses pembelajaran dan diperoleh beberapa data temuan sebagai berikut. Kegiatan menemukan sendiri (inkuiri) konsep materi ’volume prisma segitiga’ dan ’volume tabung lingkaran’ bagi siswa merupakan hal yang relatif cukup sulit karena melibat-kan beberapa konsep prasyarat seperti penguasaan cara menghitung luas segitiga. Siklus I Siklus I pembelajaran kompetensi dasar ’menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran’ melalui penggunaan alat peraga bangun ruang pada siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama. Jalannya proses diskusi banyak didominasi oleh siswa-siswa yang aktif dan biasa memperoleh prestasi baik. Apalagi siswa harus mempelajari sendiri materi pembelajaran melalui LKS yang dibagikan. Kecamatan Madukara. Hal ini menjadi catatan peneliti bagi perbaikan siklus berikutnya. 3) Proses diskusi yang berjalan pada setiap kelompok tampak tidak seimbang. pada siswa masih merasa canggung dengan situasi umumnya pembelajaran. dan luas lingkaran. a.

003 0506.25 75. Data empirik hasil penelitian siklus I ini dapat dilihat pada tabel berikut.019 0607.75 75.016 0506. Penilaian hasil pembelajaran ini dilakukan segera setelah siswa melaksanakan kuis sehingga siswa mengetahui secara langsung hasilnya serta hal apa saja yang seharusnya mereka perbaiki. b.01.015 0506. Iqbal Ibduloh Mufti Abdurahman Riskawati Rudianto Syamsul Mukarom Sela Astiana Ade Nursalam Yoga Wijaya Saepul Ilham L L L L P P L L L L P L L P L L L 10 10 14 8 11 11 9 9 12 9 12 10 8 14 8 11 12 62. Tabel 4.008 0506.50 50.01.013 0506.006 0506.01.02.01.75 68.01.01.01.01. Kecamatan Madukara.01.002 0506.25 56.00 87.01.01.005 0506. Hasil Pembelajaran Data hasil pembelajaran yang diperoleh adalah dalam bentuk akumulasi skor dan nilai perolehan siswa.50 62.001 0506.011 0506.25 75.50 50. Kabupaten Astinapura pada siklus I No NIS Nama Siswa L /P Jumlah Skor Nilai Perolehan Ketuntasan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 0506.4) Alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran ternyata tidak mencukupi sehingga diperlukan tambahan waktu untuk pelaksana-an kuis atau tes akhir.037 Aris Munandar Abdul Sopyan Ari Sutiawan Andri Cucu Nurmalia Detia Fitriani Jang Akbar Pamungkas Kasman Moh.014 0506.004 0506.00 62.01.01.50 50.01.00 Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas 38 .1 Data empiris hasil pembelajaran menghitung volume prisma dan tabung kelas VI SDN Permana Utama.012 0506.50 87.00 56.007 0506.00 68.75 56.01.009 0506.00 68.01.

37 14 8 16 50.03.37 %. Data grafik perolehan hasil pelajar dapat ditampilkan sebagai berikut.25 64.00. 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Nilai Ratarata Nilai Tertinggi Nilai Terendah 87 . Kecamatan Madukara yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 64.5 6 4.030 Dewi Novitasari JUMLAH SKOR RATA-RATA SKOR SKOR TERTINGGI SKOR TERENDAH SKOR IDEAL KKM % KETUNTASAN BELAJAR 47.37 Tabel di atas menunjukkan data perolehan hasil belajar siklus I siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama. Sebagaimana diketahui bahwa batas taraf ketuntasan pembelajaran di tingkat kelas harus mencapai sekurang-kurangnya 85 %.80 dengan nilai tertinggi sebesar 87.00 68.80 87.025 Sutisna L P 8 11 197 10. Jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan (> 65) adalah 9 orang dari jumlah siswa 19 atau sebesar 47.5 50 100 65 Belum Tuntas Tuntas 9 0708.75 1231.03.8 5 0 9 Jumlah Siswa Tuntas 1 0 Siswa Belum Tuntas 39 .50 dan nilai terendah sebesar 50.No NIS Nama Siswa L /P Jumlah Skor Nilai Perolehan Ketuntasan 18 19 0708.

Kabupaten Astinapura pada Siklus I Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran siklus I belum mencapai keberhasilan yang diharapkan sehingga perlu diperbaiki dalam bentuk tindakan siklus berikutnya.1 Grafik Perolehan Nilai Hasil Pembelajaran Siswa kelas VI SDN Permana Utama Kecamatan Madukara. a. 2. Pada siklus II ini beberapa hal meng-alami perbaikan dan penyesuaian sesuai dengan data temuan yang diperoleh selama pembelajaran dan hasil pembelajaran siklus I. peneliti dengan dibantu teman sejawat melakukan layanan 40 .Gambar 4. 1) Pembagian kelompok siswa diubah dengan cara menyebar kembali siswa-siswa berkemampuan tinggi ke dalam 4 kelompok baru. Proses Pembelajaran Pada pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan sejumlah perbaikan dan penyesuaian bagi siswa agar siswa dapat menyerap pembelajaran dengan baik. 2) Dampak pertama yang dapat dilihat dari perubahan kelompok ini adalah jalannya proses diskusi menjadi lebih dinamis dan hampir seluruh siswa terlibat dalam diskusi kelas. Di sisi lain. Kecamatan Madukara. Kabupaten Astinapura” ini merupa-kan siklus tindakan tahap kedua dan merupakan perbaikan dari pelaksana-an siklus tindakan tahap pertama. Jumlah kelompok belajar di dalam kelas tetap tidak berubah. demikian juga siswa-siswa yang memiliki kemampuan menengah dan rendah. Siklus II Siklus II tindakan pembelajaran ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama. hanya anggotanya komposisinya.

Kuis atau tes akhir pembelajaran terpaksa dilaksanakan di luar jam pembelajaran selama 20 menit. Tabel 4.individual kepada siswa-siswa tertentu yang sulit memahami konsep materi yang sedang dipelajari. yang terdiri atas alat peraga bangun ruang prisma segitiga dan tabung lingkaran.00 75.00 Ketuntas an Tuntas Tuntas 41 .01. waktu yang tersedia ternyata masih belum cukup juga. Kabupaten Astinapura pada Siklus II No 1 2 NIS 0506.2 Data empirik hasil pembelajaran siswa kelas VI SDN Permana Utama Kecamatan Madukara.01. 3) Alat peraga yang digunakan. b. diperbanyak dengan menggunakan kertas manila karton dan dibagikan kepada masing-masing kelompok. Hasil Pembelajaran Siklus II penelitian ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama. 4) Meskipun proses pembelajaran secara keseluruhan sudah berjalan lancar dan siswa tidak lagi canggung melaksanakan kegiatan demi kegiatan. ternyata siswa lebih mudah memahami konsep materi pembelajaran jika dibandingkan dengan kegiatan yang sama pada siklus I. Dengan bantuan alat peraga yang dipegang oleh setiap anggota dalam kelompok ini. Perbaikan ini dilakukan berdasarkan temuan dan masukan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian tindakan siklus I. Kabupaten Astinapura semester 1 tahun pelajaran 2010-2011” merupakan tahap perbaikan tindakan. Kecamatan Madukara.00 Nama Siswa Aris Munandar Abdul Sopyan L / P L L Jumlah Skor 12 12 Nilai Perolehan 75. Hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut.00 1 0506.

03 7 Saepul Ilham 0708.75 75.01.00 93.75 75.01.01 3 Rudianto 0506.01.25 100 68.00 1543.01.01.01.01.75 75.50 68.01 2 Riskawati 0506.00 3 Ari Sutiawan 0506.01 5 Sela Astiana 0506.01 9 Yoga Wijaya 0607.75 87.02.03.00 93.00).00 75.00 75.75.75 81.25 100.01 4 Syamsul Mukarom 0506.00 9 Moh.01 1 Mufti Abdurahman 0506.00 81.01.00 75.02 5 Sutisna 0708.01.01.No NIS Nama Siswa 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 2 0506. Iqbal Ibduloh 0506.00 7 Jang Akbar Pamungkas 0506.25 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 68.01.00 6 Detia Fitriani 0506.00 75.01.75 100 65 Ketuntas an Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas 19 100 % Berdasarkan data tabel di atas diketahui bahwa rata-rata nilai hasil pembelajaran siklus II adalah 81.01 6 Ade Nursalam 0506.00 16 11 16 Nilai Perolehan 93. Jika nilai tersebut dikomparasikan dengan kriteria ketuntasan minimum (65.03.00 5 Cucu Nurmalia 0506.50 87. maka proses pembelajaran 42 .01.03 0 Dewi Novitasari JUMLAH SKOR RATA-RATA SKOR SKOR TERTINGGI SKOR TERENDAH SKOR IDEAL KKM % KETUNTASAN BELAJAR L / P L L P P L L L L P L L P L L L L P Jumlah Skor 15 12 13 16 12 12 12 12 15 12 12 15 14 14 14 11 12 247 13.00 4 Andri 0506.50 87.00 75.01.00 8 Kasman 0506.

75 Jumlah S iswa Tuntas S iswa Belum Tuntas Gambar 4. Pembahasan Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Nilai RataNilai Nilai rata Tertinggi Terendah 19 0 100 81. Oleh karena itu. jumlah siswa yang mencapai ketuntasan pada siklus II ini sebanyak 19 orang dengan tingkat ketuntasan pembelajaran mencapai 100 % yang ternyata lebih tinggi dari prasyarat ketuntasan klasikal sebesar 85 %.kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” telah dianggap tuntas.25 68. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005).2 Grafik Perolehan Nilai Hasil Pembelajaran Siswa kelas VI SDN Permana Utama Kecamatan Madukara. Di samping itu. pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang 43 . Kabupaten Astinapura pada Siklus II B. Data grafik perolehan hasil pelajar dapat ditampilkan sebagai berikut. strategi. tidak diperlukan perlakuan pembelajaran pada siklus berikutnya.

untuk mencapai suatu pembelajaran. Oleh karena itu. strategi. dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. penggunaan alat peraga sebagai bentuk pemodelan pembelajaran kontekstual dalam kompetensi dasar ’menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran’ dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa yang berakibat meningkatnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal penghitungan volume prisma segitiga dan tabung lingkaran. pendekatan serta teknik pembelajaran. akan dapat dilihat terjadinya peningkatan hasil belajar baik secara klasikal maupun secara individual sebagaimana terlihat pada tabel berikut. serta dari subject centered ke clearer centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa (Setiawan. Pembelajaran kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang berusaha mengaitkan ilmu pengetahuan dengan dunia nyata di sekitar kita. Dengan pemilihan metode. Penggunaan alat peraga pada konsep-konsep abstrak prisma segitiga dan tabung lingkaran pada faktanya dapat memperjelas konsep pembelajaran sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya. Alat peraga pada konteks CTL merupakan model ideal yang menghubungkan konsep keilmuan matematika yang abstrak dengan pemikiran siswa yang didominasi oleh kemampuan berpikir secara visual. 2005). Tabel 4. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan. dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning.3 44 . melaksanakan. Apabila dikomparasikan hasil pembelajaran siklus I dan siklus II. dari belajar individual ke kooperatif. diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding).

01.03.01.50 87.37 % Nilai Siklus II 75.00 8 Kasman 0506.00 93.00 2 Abdul Sopyan 0506.01.00 75.01.75 18.50 62.00 93.25 18.01.25 56.01.5 18.00 5 Cucu Nurmalia 0506.02.75 12.75 87.01 4 Syamsul Mukarom 0506.25 100.75 12.75 6.75 56.01.00 87.00 1 Aris Munandar 0506.75 75.00 68.01.50 87.5 16.75 100 65 100 % Besar Peningkatan 12.01.01 3 Rudianto 0506.00 75.01 1 Mufti Abdurahman 0506.75 81.50 87.03 0 Dewi Novitasari JUMLAH SKOR RATA-RATA SKOR SKOR TERTINGGI SKOR TERENDAH SKOR IDEAL KKM % KETUNTASAN BELAJAR 56.5 12.01.75 75.5 25 6.00 1543.25 75.00 3 Ari Sutiawan 0506.01 5 Sela Astiana 0506.00 81.00 4 Andri 0506.75 68.03 7 Saepul Ilham 0708.25 75.75 0506.01.75 0 18.63 45 .45 12.00 7 Jang Akbar Pamungkas 0506.03.00 56.01.01. Kabupaten Astinapura pada Siklus I dan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 NIS Nama Siswa L / P L L L L P P L L L L P L L P L L L L P Nilai Siklus I 62.80 87.01.50 50. Iqbal Ibduloh 0506.5 18.25 100 68.00 68.Data perbandingan hasil pembelajaran siswa kelas VI SDN Permana Utama Kecamatan Madukara.00 50.00 9 Moh.01 6 Ade Nursalam 0506.75 1231.50 50.50 50.5 31.25 312.01 2 Riskawati 0506.00 68.75 75.01.00 75.01 9 Yoga Wijaya 0607.00 75.00 75.00 62.75 18.00 6 Detia Fitriani 0506.25 64.50 68.5 50 100 65 47.00 93.25 37.25 25 12.02 5 Sutisna 0708.5 18.75 75.00 75.5 6.01.

Dan juga siswa akan menggunakan pengalaman-pengalaman yang ia temui di lingkungan sebagai media yang dapat mengantarkan siswa agar lebih mudah memahami suatu permasalahan yang dimaksud. sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam mempelajari dan memberikan pengalaman-pengalaman yang nyata yang merangsang aktifitas diri sendiri untuk belajar. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hamalik (1994) bahwa manfaat media pengajaran adalah menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu terutama melalui media benda asli. Bagi guru media ini dapat mempermudah dalam penyampaian materi pembelajaran dan bagi siswa dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam menelaah materi. selain itu media juga dapat memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. sehingga sistem pembelajaran yang terjadi dapat menimbulkan ketertarikan atau minat dan motivasi pada siswa. Dengan keaktifan siswa ini akan meningkatkan motivasi pada siswa untuk belajar. yang pada akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual disertai dengan penggunaan media mirip aslinya berupa alat peraga bangun ruang prisma segitiga dan selinder yang terbuat dari bahan karton.Dari tabel di atas dapat dilihat peningkatan selalu terjadi pada setiap individu siswa. Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual dengan memfokuskan pada penggunaan alat peraga sebagai pemodelan pada kompetensi dasar ’menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran’ dapat berhasil. Molenda dan Russel dalam Prayitno (1998) yang menyatakan bahwa media pengajaran dalam membelajarkan dapat mengkonkritkan ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual. Secara tidak langsung siswa akan aktif berpikir dan berupaya mencari jawaban yang sesuai untuk setiap permasalahan yang muncul. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai. Media benda asli berupa kerangka bangun ruang dan alat peraga lainnya dalam penelitian ini bertujuan untuk membantu siswa dalam 46 . Hal ini sejalan dengan pendapat Heinich.

Pendekatan kontekstual di dalam proses pembelajarannya memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran. setting belajar yang tidak selalu di dalam kelas dan dapat memanfaatkan media apa saja untuk belajar. karena pembelajaran menjadi lebih menarik disebabkan di dalam pembelajarannya menggunakan suatu media yang bersifat langsung dalam bentuk objek nyata (Ibrahim dan Syaodirh. Pendekatan kontekstual dalam penelitian ini mempunyai kelebihan karena berlangsung secara ilmiah dalam bentuk siswa mengalami atau mengamati sendiri. Dengan kegiatan tersebut maka dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengalami sendiri situasi yang sesungguhnya dan juga di dalam pembelajarannya siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk mempermudahkan di dalam pengamatan dan diskusi. Selain itu di dalam pembelajaran kontekstual siswa dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok untuk mempermudahkan dalam kegiatan pengamatan dan diskusi.memahami sesuatu yang abstrak dan sukar untuk menambah minat. Dalam hal ini. menjawab. mengemukakan pendapat). menurut Fajar (2002) guru dalam pembelajaran berfungsi sebagai fasilitator (pemberi kemudahan dalam belajar) sehingga guru harus dapat mengubah pola tindakan peran siswa dalam pembelajaran dari konsumen gagasan (seperti menyalin. mendengar. 47 . meneliti. memperbanyak materi dan merangsang terjadinya perubahan kognitif. tidak hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Cara yang ditempuh oleh guru dalam proses pembelajaran adalah dengan membawa objek nyata tersebut ke dalam kelas dan membawa siswa keluar kelas untuk mengamati benda-benda nyata yang serupa dengan bangun prisma segitiga (bangunan atap sekolah) dan tabung lingkaran (drum minyak tanah). materi tumbuhan biji yang sulit dan mungkin membosankan akan dapat lebih mudah diterima siswa. 2000). menghafal) menjadi peran produsen gagasan (seperti bertanya.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian pembelajaran berjudul ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama. Kabupaten Astinapura dalam kompetensi dasar menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran dapat ditingkatkan” dapat diterima. Kecamatan Madukara. Dengan demikian. Kecamatan Madukara. 48 . hipotesis penelitian “melalui penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan maka hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama.Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat memperkuat ingatan siswa pada materi yang telah diberikan guru di kelas yang pada akhirnya dapat menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi pada siswa dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar. Kabupaten Astinapura semester 1 tahun pelajaran 2010-2011” telah berhasil.

45.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 2. 1.80 menjadi 81. Maka. penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama. Kesimpulan Pada dasarnya.25 pada siklus II yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16. Kecamatan Madukara. Terjadi peningkatan prestasi pembelajaran dari siklus I yang memperoleh rata-rata nilai sebesar 64. Kabupaten Astinapura dalam menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran dengan menggunakan alat peraga buatan sendiri berbentuk prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan melalui pembelajaran kontekstual fokus pemodelan. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual dengan fokus pemodelan melalui penggunaan alat peraga bangun ruang ternyata efektif meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 49 . Proses pembelajaran pada siklus I yang berlangsung kaku dan canggung telah berkembang jauh lebih baik pada siklus II dan siswa menyatakan lebih senang. berdasarkan hasil analisis dan pembahasan atas data hasil penelitian diperoleh fakta sebagai berikut.

Kecamatan Madukara. Oleh karena itu. pembelajaran matematika pada kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” sebaiknya menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual dengan memfokuskan pada penggunaan alat peraga sebagai bentuk pemodelan. Kabupaten Astinapura semester I tahun pelajaran 2010-2011 pada kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dapat mengait-kan konsep ilmu dengan kenyataan yang terdapat di sekitar siswa. pengadaan alat peraga atau media pembelajaran ini seharusnya menjadi perhatian yang sungguh-sungguh dari guru pengajar sehingga konsep-konsep abstrak dalam matematika dapat menjadi konkret. 2. Oleh karena itu. 3. Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut Saran-saran yang dapat disampaikan pada akhir laporan ini adalah sebagai berikut. 1. B. Penggunaan alat peraga (media pembelajaran) dalam matematika memiliki nilai strategis bagi peningkatan motivasi dan pemahaman belajar siswa. Pendekatan pembelajaran kontekstual dapat pula dicoba untuk diterapkan pada kompetensi dasar lainnya sesuai dengan kebutuhan siswa dan kebutuhan pembelajaran.Permana Utama. 50 .

Hollands Roy.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Lisnawati Simanjutak. 1992. Erlangga. 1984. Jakarta: Rineka Cipta Poerwadarminta. 1999. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Gramedia Dady Permana dan Triyati. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Balai Pustaka. 2002. Jakarta: Bumi Aksara 51 . Kamus Matematika. 1988. 1995.DAFTAR PUSTAKA Abdurahman. Bersahabat dengan Matematika untuk Kelas VI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Diagnostik Kesulitan Belajar Anak. Mulyono. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan Erman Amti. Jakarta Kasijan. Kesulitan Belajar Matematika. Metode Mengajar Matematika I. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. 1991. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 2008. Dasar-dasar Proses Pembelajaran. Rustiyah NK. Jakarta: Gramedia. Masalah-Masalah Keguruan.

Psikologi Belajar. 1999.D Sumanto. Jakarta: Rineka Cipta Y. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Rajawali Pres Suyitno Amin. Heny Kusumawati. Matematika Sekolah 1. 2001. Dirjen Dikti P2GSM Tim MKPBM. Motivasi dan Interaksi Belajar. 1998. 2001. FMIPA UNNES. Nur Aksin. Semarang Tim Pelatih Proyek PGSM.Sardiman. Semarang. Winkel. 2008. Gemar Matematika 5: untuk kelas VI SD/MI. Psikologi Pengajaran. 1981. Jakarta: Gramedia Widodo Supriyono. Struktur Pengajaran Matematika. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.dkk. Bandung: Jurusan MIPA UPI Winarno Surahmad. 1991. 1998. Metodologi Pengajaran. 52 .2001. Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. UPI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful