I. PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Minyak nilam merupakan minyak atsiri yang diperoleh dari tanaman nilam melalui proses penyulingan. Minyak nilam tersebar di berbagai daerah di Indonesia, terutama di daerah Sumatera. Dalam dunia perdagangan minyak ini lebih dikenal sebagai patchouly oil. Minyak nilam bersama dengan 14 jenis minyak atsiri lainnya adalah komoditas ekspor penghasil devisa. Minyak nilam Indonesia sudah dikenal dunia sejak 65 tahun yang lalu, bahkan Indonesia merupakan pemasok utama minyak nilam dunia. Ekspor nilam Indonesia berfluktuasi dengan laju peningkatan ekspor sekitar 12% per tahun atau berkisar antara 700 ton - 2.800 ton minyak nilam per tahun. Sementara itu kebutuhan dunia berkisar 1.200 ton – 1.500 ton dengan pertumbuhan sebesar 5% per tahun. Sebagai komoditas ekspor, minyak nilam mempunyai prospek yang cukup baik, karena permintaan akan minyak nilam sebagai bahan baku industri parfum, kosmetik, sabun dan lainnya akan terus meningkat. Fungsi minyak nilam dalam industri parfum adalah untuk memfiksasi bahan pewangi dan mencegah penguapan sehingga wangi tidak cepat hilang, serta membentuk bau yang khas dalam suatu campuran (Ketaren dalam Emmyzar dan Yulius, 2004). Hal ini menyebabkan minyak nilam mutlak diperlukan dalam industri parfum. Semakin meningkatnya permintaan baik dari industri-industri dalam negeri maupun luar negeri yang menggunakan minyak nilam sebagai bahan dasar atau bahan tambahan, menuntut adanya industri yang mampu menyuplai bahan tersebut, namun salah satu kendala yang muncul adalah kualitas minyak nilam Indonesia yang masih dibawah standar, hal ini dikarenakan sebagian minyak nilam masih diproduksi dengan alat sederhana sehingga mutu dan efisiensi serta produktifitasnya belum optimal, oleh karena itu PT. Indesso Aroma hadir untuk mengatasi hal ini. PT. Indesso Aroma yang tidak hanya terkenal dengan savoury dan natural extract (ekstrak alami), tapi juga dengan aromatic chemical (kimia aromatik).

1

Salah satu produk aromatic chemical dari PT. Indesso Aroma adalah patchouli oil (minyak nilam) yang telah dilakukan proses pencampuran dan proses peningkatan kualitas. Dalam proses peningkatan kualitas minyak nilam memerlukan penanganan yang lebih khusus agar diperoleh produk akhir dengan kualitas yang sesuai standar. Penanganan khusus yang dimaksud adalah dimulai dengan penanganan bahan baku, proses produksi, hingga penanganan pada produk akhir selama penyimpanan. Selayaknya perusahaan yang selalu ingin berkembang, PT. Indesso Aroma selalu menerapkan pengembangan produk, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Strategi pengembangan ini tidak hanya dilakukan terhadap pemilihan bahan baku tetapi juga terhadap dilakukan terhadap efisiensi produksi serta pengawasan mutu yang sesuai dengan standar yang berlaku. Dengan demikian, proses produksi minyak nilam di PT. Indesso Aroma menjadi sangat menarik untuk dipelajari selain juga karena perusahaannya sudah memiliki skala yang besar. Didasari oleh kesenjangan antara teori yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah dengan realitas kebutuhan masyarakat, serta tuntutan masyarakat atas lulusan perguruan tinggi yang memiliki academic knowledge, skill of thinking, management skill, communication skill, dan siap mengantisipasi arah pembangunan bangsa, maka Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB mewajibkan mahasiswanya untuk melaksanakan praktek lapangan. Melalui praktek lapangan ini diharapkan mahasiswa mampu mewujudkan tridharma perguruan tinggi, yaitu mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat. Dalam praktek lapangan ini dipilih topik mengenai proses produksi dan pengawasan mutu munyak nilam. Dipilihnya topik ini karena aspek tersebut memegang peranan penting bagi sebuah perusahaan, dimana perusahaan dituntut untuk selalu produktif dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Oleh karena itu, ketepatan dalam setiap production line sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta peningkatan mutu dari produk yang dihasilkan.

2

B.

Tujuan Kegiatan praktek lapangan ini memiliki beberapa tujuan, yaitu:
1. Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan kemampuan mahasiswa melalui

penerapan ilmu, latihan kerja, dan pengamatan teknik-teknik yang diterapkan secara langsung di lapangan dalam bidang keahlian yang sesuai dengan program studinya.
2. Mempelajari aspek proses produksi dan pengawasan mutu di PT. Indesso

Aroma Cileungsi, Bogor.
3. Mendekatkan perguruan tinggi kepada masyarakat dan meningkatkan

kurikulum perguruan tinggi sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun tujuan khusus dari pelaksanaan praktek lapangan ini adalah: 1. Mempelajari berbagai aspek proses produksi dan pengawasan mutu terhadap produk minyak nilam di PT. Indesso Aroma. 2. Melatih kemampuan mahasiswa dalam menganalisis, melakukan

observasi, dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada di industri berdasarkan teori yang telah diberikan di bangku kuliah
3. Memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja sesuai dengan profesi

dan pengetahuan yang diterima di bangku kuliah terutama sesuai dengan dengan tema yang diangkat. C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan Praktek Lapangan ini dilaksanakan di PT. Indesso Aroma yang berlokasi di Jalan Alternatif Cibubur Cileungsi KM. 9 Bogor. Dengan waktu pelaksanaan selama 40 hari kerja efektif antara tanggal 23 Juni 2010 hingga 21 Agustus 2010.

3

D.

Metodologi Dalam pelaksaan Praktek Lapangan digunakan metode sebagai panduan

dalam meghasilkan data dan analisis data yang tepat, yaitu: 1. Pengamatan dan berperan serta di lapangan Hal ini dilakukan dengan mengamati secara langsung berbagai proses yang terjadi di dalam industri yang bersangkutan dan ikut berperan serta dalam kegiatan di lapangan untuk mengetahui perkembangan industri yang bersangkutan. 2. Wawancara Dilakukan untuk mengklarifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan dengan menanyakan langsung kepada pihak terkait baik supervisi maupun operator yang bertugas. 3. Studi pustaka Dilakukan untuk mencari referensi dan literatur yang berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan.

4

II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

A.

Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Perusahaan mengawali operasinya dari usaha keluarga tahun 1968 dengan

menyuling daun cengkeh. Usaha keluarga yang dirintis oleh R. H. Gunawan, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Direktur perusahaan berkembang secara bertahap dari langkah awal yang sederhana. Pengukuhan sebagai Badan Hukum CV Indesso diawali melalui Akta No. 2 yang dibuat dihadapan Khirman Gondodiwirjo, notaris di Semarang pada tanggal 2 Agustus 1968. Akta tersebut kemudian mengalami beberapa perubahan sehingga akhirnya diperbaharui dengan Akta No. 27 yang dibuat di hadapan Lily Sulyanti, SH., notaris di Jakarta pada tanggal 20 Februari 1974. Pada tanggal 30 Juni 1992, melalui Akta Pendirian No.167 yang dibuat di hadapan Lily Sulyanti SH., notaris di Jakarta, perusahaan kemudian menjadi PT. Indesso Aroma yang berkedudukan di Purwokerto.

5

PT. Indesso Aroma dalam perkembangannya lebih lanjut mulai melihat peluang yang lain. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya menyuling minyak daun cengkeh saja, tetapi mulai melakukan pengolahan minyak daun cengkeh yang dihasilkan oleh petani menjadi produk-produk turunannya yang memiliki potensi ekspor. Komitmen pimpinan perusahaan terhadap mutu produk yang selalu prima ditingkatkan dengan merekrut sejumlah tenaga profesional untuk mengembangkan produk. Dari sisi proses, penggunaan peralatan mutakhir dan peningkatan efisiensi proses dilakukan guna menghasilkan produk bermutu tinggi secara konsisten. Dalam perkembangannya kemudian, perusahaan mampu mendorong masyarakat yang ada di sekitar lingkungan pabrik tumbuh menjadi industriindustri kecil untuk menyuling minyak daun cengkeh. Hubungan antara industri dengan industri kecil tersebut berkembang dalam suasana kekeluargaan dan saling membutuhkan sehingga berkembang pola Bapak Asuh. Perusahaan mulai membantu industri kecil yang ada di sekitarnya dengan bantuan permodalan dan bimbingan teknis yang hingga saat ini masih dilakukan secara konsisten. Karena komitmen tersebut, sejak bulan Januari 1996 perusahaan menerapkan Sistem Pemastian Mutu ISO 9001 yang sertifikasinya berhasil diperoleh pada tanggal 23 Juli 1996. Pencapaian ini kemudian diikuti dengan didapatnya sertifikasi ISO 22000 tentang Keamanan Pangan (food safety) pada tahun 2008. Sertifikasi lain yang diperoleh PT. Indesso Aroma adalah Sertifikat Kosher, yaitu sertifikat jaminan bahwa produk-produk PT. Indesso Aroma halal dan dapat dipasarkan di Timur Tengah. Beberapa produk bahan aroma juga sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI. Pencapaian tersebut mengindikasikan bahwa produk PT. Indesso Aroma dapat diterima dunia internasional sebagai produk berkualitas yang ditunjang dengan sistem rencana mutu, manual mutu, dan prosedur mutu yang handal. Bisnis yang semakin besar membuat pihak pimpinan perusahaan memandang perlu adanya ekspansi. Perluasan dilakukan dengan membangun pabrik kedua yang berlokasi di Cileungsi, Jawa Barat. Pabrik yang mulai

6

beroperasi pada tahun 2001 ini dikhususkan untuk memproduksi kimia aromatik dan ekstrak alami dengan menggunakan teknologi yang lebih modern. Terhitung mulai tanggal 1 Januari 1998, perusahaan melakukan Restrukturisasi dengan membagi perusahaan sebagai berikut :
1. PT Indesso Primatama 2. PT Indesso Aroma 3. PT Indesso Niagatama

: Holding Company : Manufacturing Company : Trading Company

Pada saat ini dan pada waktu yang akan datang perusahaan lebih banyak mengembangkan ke arah industri kimia aromatik yang merupakan tahapan pengembangan lebih lanjut dari minyak atsiri. Dengan masuknya perusahaan ke dalam industri kimia aromatik dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan di dunia internasional. Selain kimia aromatik, sejak beberapa tahun terakhir ini perusahaan juga telah mengembangkan produk-produk yang merupakan bagian dari ekstrak alami. Adapun, bahan-bahan baku yang digunakan juga berasal dari Indonesia. Saat ini Perusahaan sudah menyelesaikan tahap 1 dari pembangunan Pabrik II yang terletak di Jalan Alternatif Cibubur-Cileungsi, Bogor. Kebutuhan pabrik tersebut memang sangat diperlukan mengingat keterbatasan pabrik di Purwokerto dan adanya produk-produk baru yang membutuhkan fasilitas yang tidak mungkin dikerjakan di Pabrik I. Pabrik II telah mulai beroperasi sejak 1 September 2001. Perusahaan ini mempunyai misi mendayagunakan sumber alam Indonesia dan menjadi pelopor dari produk-produk baru yang bermutu dan potensial untuk dipergunakan dalam industri flavor (bahan aroma) dan fragrance (bahan pewangi). Falsafah PT. Indesso Aroma dapat dirumuskan dalam 4 prinsip dasar : 1. Prinsip kekeluargaan 2. Profesionalisme 3. Integritas pribadi 4. Sumber daya manusia sebagai aset perusahaan

7

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, perusahaan senantiasa berusaha menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi karyawan. Hal ini terlihat hubungan kerja yang ada adalah hubungan “long life employment”. Selain itu perusahaan juga memiliki kebijakan yang berkaitan dengan keamanan dan mutu pangan perusahaan, yaitu: 1. Perusahaan memiliki komitmen untuk terikat pada standar tertinggi produksi melalui penerapan teknologi mutakhir serta pengendalian mutu dan keamanan pangan yang ketat. 2. Perusahaan ini juga mendayagunakan kemampuannya secara profesional untuk konsisten mengendalikan mutu dan keamanan produk melalui sistem manajemen mutu dan keamanan pangan, dan senantiasa berupaya melakukan perbaikan berkesinambungan dan memberikan pelayanan yang terbaik demi kepuasan pelanggan. Sasaran mutu dan keamanan pangan perusahaan dicapai dengan memberdayakan segenap kemampuan untuk : 1. 2. 3. 4. 5. Memuaskan pelanggan dengan mempertahankan konsistensi mutu dan keamanan produk serta ketepatan waktu pengiriman. Mengembangkan produk baru sesuai dengan persyaratan pelanggan. Mempertahankan pertumbuhan yang berkesinambungan. Menyediakan lingkungan kerja yang berkualitas sesuai standar keselamatan dan kesehatan yang tinggi untuk karyawan. Mengembangkan kemampuan karyawan dengan pelatihan yang memadai.

B. Lokasi dan Tata letak Perusahaan PT. Indesso Aroma mempunyai dua buah lokasi pabrik yang terletak di Purwokerto dan Cileungsi, serta kantor pusat (Head Office) yang terletak di Jakarta yang beralamat di Jl. Tanah Abang 2 no. 78 Jakarta. Pabrik PT. Indesso Aroma sendiri terdiri dari Pabrik I yang terletak di Jalan Raya Baturaden km 10, Purwokerto dengan luas tanah 10000 m2 dan luas bangunan pabrik 2500 m2 dan

8

Pabrik II terletak di Jalan Raya Alternatif Cibubur-Cileungsi km 9, Bogor dengan luas tanah 45000 m2 dan luas pabrik 4500 m2. Lokasi Pabrik II PT. Indesso Aroma yang dibangun pada tahun 2001 terletak di kawasan Cileungsi. Adapun alasan pembangunan tersebut adalah: 1. 2. 3. Lokasi pabrik dekat dengan pelabuhan sehingga lebih mudah dalam pendistribusian produk. Tersedianya lahan yang lebih luas dibandingkan dengan Pabrik I sehingga mendukung peningkatan kapasitas produksi. Lokasi pabrik terletak relatif lebih dekat dari kantor pusat di Jakarta sehingga lebih mudah dalam melakukan komunikasi dan koordinasi perusahaan. Tata urutan dan letak pabrik memegang peranan yang cukup penting dalam pendirian pabrik, karena akan berpengaruh terhadap efisiensi lahan yang digunakan. Semakin efisien penataan letak bangunan pabrik dan peralatan yang digunakan, maka lokasi pabrik dapat digunakan untuk dipersiapkan untuk ekspansi. Terdapat 2 macam tata letak pabrik yaitu: 1. Tata letak pabrik 2. Tata letak bagunan di luar bangunan pabrik dan fasilitas lain. Tata letak yang paling penting dari 2 macam tata letak di atas, yaitu tata letak pabrik. Tata letak pabrik menggambarkan tata letak mesin, peralatan, dan bangunan yang digunakan dalam pabrik seperti pabrik ekstrak, pabrik aromatik, pabrik savoury, kantor, ruang kontrol, gudang bahan baku dan produk, ruang rapat, perpustakaan, ruang R&D, toilet, dan ruang ibadah. Sistem utilitas, unit pengolahan limbah, gudang bahan berbahaya (flammable dan korosif), asrama, dan tempat parkir merupakan bangunan di luar bangunan pabrik. Tata letak pabrik didesain sedemikian rupa dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1. 2. Penggunaan lahan yang optimal. Tersedia sisa lahan untuk kemungkinan ekspansi pabrik. membangun fasilitasfasilitas lain seperti lapangan parkir, kantin, tempat ibadah, toilet, dan lahan yang

9

3. Kedekatan peralatan dengan ruang kontrol sehingga mempermudah

pengendalian. 4. Menjamin keselamatan tenaga kerja. dengan fungsinya terhadap proses produksi.
5. Letak bangunan pendukung terhadap bangunan pabrik utama disesuaikan

C.

Struktur Organisasi Perusahaan Struktur organisasi memiliki peranan yang sangan penting dalam sebuah

perusahaaan agar perusahaan dapat terkelola dan berjalan dengan sebaik mungkin demi perkembangan dan kemajuan suatu perusahaan. Struktur oganisasi di PT. Indesso Aroma sendiri dipimpin oleh seorang presiden director yang dibantu oleh seorang food safety leader dan management representatif. Selain itu perusahaan juga dibagi menjadi 4 bagian yang masing-masing dipimpin oleh seorang wakil presiden diantaranya adalah Director Manufacturing and Logistic yang membawahi bagian plant 1, plant 2 dan bagian logistic. Vice President Operation yang membawahi bagian Personel and General Affair, Information Technologi, Accounting and Tax, Finance dan System And Audit. Vice President Export and Bussiness Excellence yang membawahi bagian quality control, laboratorium aplikasi, ekspor, dan SAP, serta Vice President Sales and Marketing Domestic yang membawahi marketing lokal dan Bussiness Development, CNI dan Savoury. Struktur organisasi Indesso Cileungsi (INCIL) sendiri dipimpin oleh seorang kepala pabrik yang dibantu oleh seorang kepala bagian produksi, kepala bagian maintenance, kepala bagian Accounting and Finance dan kepala bagian Personel and General Affair. Masing-masing kepala bagian dibantu oleh beberapa supervisor dan operator.

D.

Ketenagakerjaan Dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan perusahaan yang cepat direksi

memutuskan untuk melakukan restrukturisasi perusahaan dengan memisahkan

10

manufaktur dan perdagangan, dengan suatu harapan masing-masing bidang akan bisa tumbuh dengan lebih baik dan pengelolaan perusahaan pun akan menjadi lebih profesional, sehingga diharapkan perusahaan akan lebih berperan di masa yang akan datang. Pada saat ini dan waktu yang akan datang perusahaan lebih banyak mengembangkan ke arah industri kimia aromatik yang merupakan tahapan pengembangan lebih lanjut dari minyak atsiri. Dengan masuknya perusahaan ke dalam industri kimia aromatik akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan di dunia internasional. Selain kimia aromatik, sejak beberapa tahun terakhir ini perusahaan juga telah mengembangkan produk-produk yang merupakan bagian dari ekstrak alami. Total karyawan perusahaan pada tanggal 1 Juli 2007 adalah 230 orang dan rinciannya sebagai berikut : 1. Jakarta 2. Cileungsi 3. Semarang 4. Surabaya 5. Purwokerto : 57 orang : 79 orang : 11 orang : 11 orang : 72 orang

sedangkan jumlah pegawai khususnya di PT. Indesso Cileungsi pada tanggal 6 Maret 2009 berjumlah 106 pegawai dengan rincian: 1. Adminstrasi 2. Aplikasi
3. Engineering 4. Logistic 5. Maintenance 6. Management

: 2 orang : 1 orang : 3 orang : 15 orang : 8 orang : 8 orang : 31 orang : 3 orang : 3 orang : 6 orang : 5 orang : 2 orang

7. Produksi
9. Purchasing 10. Quality Assurance 11. Quality Control 12. Reasech & Development 13.Savoury

8. Personnel & General Affair : 19 orang

11

jumlah tersebut, 60% terdiri dari tenaga muda dan profesional yang diharapkan akan membawa perusahaan kepada cita-cita dan misi perusahaan, yaitu mendayagunakan sumber daya alam Indonesia dan menjadi pelopor produkproduk baru yang bermutu dan potensial untuk dipergunakan dalam industri bahan aroma dan bahan pewangi. Dalam menjalankan tugasnya karyawan bagian ekstrak bekerja sebanyak lima hari kerja, yaitu : Senin-Jum’at pukul 08.00-17.00, dan terbagi dalam tiga shift, yaitu : 1. 2. 3. Pukul 07.00-16.00 Pukul 15.00-24.00 Pukul 23.00-08.00 Karyawan yang bekerja di PT. Indesso Aroma berjumlah relatif sedikit karena dalam proses produksi, kinerja pabrik sudah menggunakan sistem secara otomatis yaitu mesin dan peralatan yang digunakan merupakan mesin yang canggih dan yang pasti sudah diuji kelayakan prosesnya yang dapat digunakan untuk produksi skala besar seperti PT. Indesso Aroma dan sistem kinerja perusahaan yang sudah terciptanya sistem secara professional. Karyawan yang bekerja di PT. Indesso Aroma mempunyai hak-hak, diantaranya gaji bulanan yang disesuaikan dengan level jabatan, tunjangan hari tua, tunjangan kesehatan berupa setiap dua tahun sekali bagi karyawan yang berkaca mata dapat memeriksakan matanya, tunjangan kesehatan lainnya misalnya bila karyawan sakit, Jamsostek berupa kecelakaan kerja dan kematian, tunjangan untuk anak dan istri bagi yang sudah berkeluarga, berupa tunjangan kesehatan untuk istri dan anak yang maksimal berjumlah tiga dengan maksimal umur anak 23 tahun masih berstatus sebagai mahasiswa, yang tunjangan ini jumlahnya disesuaikan dengan level jabatan karyawan yang bersangkutan. Apabila yang sakit karyawan wanita maka status penghitungan tunjangan kesehatannya dianggap sebagai karyawan lajang, kemudian bila terdapat karyawati yang melahirkan maka akan mendapatkan haknya berupa kebijakan dari perusahaan yang didapatkan maksimal sampai anak kedua yang besarnya bergantung pada level jabatan karyawati yang bersangkutan, sedangkan pada tunjangan tambahan yang didapatkan karyawan berupa hak untuk sekolah lagi (jenjang yang lebih tinggi) dapat digunakan, yaitu untuk

12

mendapatkan beasiswa melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dengan cara mengajukannya ke kepala divisi bersangkutan selanjutnya diajukan ke bagian manajemen masing-masing divisi yang bersangkutan, persetujuan bisa tidaknya beasiswa ini bergantung kepada manajemen masing-masing divisi yang bersangkutan.

E. adalah: 1.

Jenis Produk Produk-produk yang diproduksi oleh PT. Indesso Aroma diantaranya

Unit Natural Aromatic Untuk unit natural aromatic yang diproduksi adalah turunan minyak

cengkeh diantaranya adalah Benzyl Isoeugenol 903, Eugenyl Acetate 905, Isoeugenyl Acetate 908, Dihydroeugenol 909, Isoeugenol HT 914, Isoeugenol S 915, Isoeugenol LT 916, Methyl Eugenol 921, Methyl Isoeugenol 922, Caryophyllene Acetate 927, Propenyl Guaethol 929, Methyl Eugenol A931, Caryophyllene HG 939, dan Caryophyllene HG 949. Selain turunan minyak cengkeh di unit aromatic ini juga memproduksi patchouli diantaranya Patchouli oil 865, Patchouli oil Light P 868, Patchouli oil Light J 871, dan Patchouli oil 887. Kode-kode tersebut menggambarkan kapasitas produksi dalam 1 batch, pereaksi yang ditambahkan dan masih banyak lagi.

2.

Unit Natural Ekstrak Natural ekstrak yang diproduksi oleh PT. Indesso Aroma diantaranya

adalah Paprika oleoresin 704, Capsicum Oleoresin WS 706, Capsicum Oleoresin WS 707, Capsicum Oleoresin 717, Green Tea Extract 725, Black Tea Extract 726, Capsicum Oleoresin 727, Green Tea Extract FB 735, Black Tea Extract FBB 737, Green Tea Extract FBB 738, Green Tea Extract Powder 739, Black Tea Powder 740, dan Green Tea Powder 751.

13

3.

Unit Savoury Savoury merupakan unit produksi yang bergerak dibidang pembuatan

flavour dan fragrance. Produk-produk yang bisa dibuat pada unit produksi ini adalah bumbu-bumbu yang digunakan oleh produsen makanan ringan yang ada di dalam negeri misalnya adalah flavour untuk keripik kentang, singkong dan lain sebagainya.

F.

Kapasitas Produksi Proses produksi patchouli oil dilakukan secara batch. Berdasarkan

kapasitas yang terpasang pada alat produksi, kapasitas produksi untuk produk patchouli oil adalah sekitar ± 2,6 ton/batch basis produk. Namun, perusahaan berproduksi tidak berdasarkan kapasitas yang terpasang pada alat tetapi berdasarkan pada jumlah produk yang dipesan oleh vendor-vendor yang dimiliki oleh PT. INDESSO AROMA. Untuk produk patchouli oil kapasitas produk yang diproduksi lebih kecil daripada produk yang dipesan, yang artinya permintaan produk besar namun perusahaan kadang tidak bisa memenuhinya. Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini bahan baku sangat sulit diperoleh. Oleh karena itu, patchouli oil diproduksi sesuai dengan kode 868 ± 40 ton.
III. TINJAUAN PUSTAKA

keberadaan bahan baku yang bisa

didapatkan oleh perusahaan. Pada tahun 2009 kapasitas produksi patchouli oil

A. Tanaman Nilam Tanaman nilam merupakan salah satu tanaman atsiri yang perkembangannya cukup pesat di Indonesia. Secara botani, Tanaman nilam masuk ke dalam famili Labiate, ordo Lamialles, kelas Angiospermae dan divisi

14

Spermatophyta yaitu tanaman yang perdu atau semak dengan tinggi 0,3–1,3 meter yang memiliki aroma khas (Ketaren, 1986). Menurut Mangun (2005), Tanaman nilam merupakan tanaman perdu wangi yang berakar serabut, daunnya halus seperti beludru apabila diraba dengan tangan, dan bentuk daun agak bulat lonjong, serta warnanya hijau pucat. Bagian bawah daun beranting halus, batangnya berkayu dengan diameter 10–20 mm, serta sebagian besar daun yang tumbuh pada ranting hampir selalu berpasangan satu sama lain. Jumlah cabangnya banyak yang bertingkat mengelilingi batang sekitar 3-5 cabang pertingkat. Saat berumur lebih dari 6 bulan, ketinggian tanaman nilam dapat mencapai 2-3 kaki atau sekitar 6090 cm dengan radius cabang sekitar 60 cm. Penanaman nilam sebaiknya dilakukan didaerah yang memiliki kondisi ideal, yaitu berada pada suhu rata-rata antara 22-28ºC dan tingkat kelembaban udara rata-rata diatas 75%. Tanaman nilam membutuhkan tingkat penyinaran yang cukup, terlebih saat tanaman mendekati masa panen (Mangun, 2005). Ketaren (1986) menyatakan bahwa tanaman nilam dapat tumbuh subur didaerah tropis dengan tanah subur yang curah hujan merata yaitu sebanyak 2300-3000 milimeter setiap tahun. Menurut Imran (1994), tanaman nilam membutuhkan kondisi lahan terbuka (open space). Tanaman nilam apabila diberi pelindung (berupa tanaman atau lainnya) akan berdau lebar, tipis serta hijau tetapi kandungan minyak atsirinya rendah. Sebaliknya apabila tidak diberi tanaman pelindung pertumbuhan tanaman nilam menjadi agak kerdil, daunnya kecil tebal, berwarna merah kekuning-kuningan, namun memiliki kandungan atsiri yang tinggi. Kesesuaian tanah dan iklim bagi tanaman nilam dapat dilihat pada lampiran. Variasi tanaman nilam disebabkan perbedaan tanah, iklim, dan penanamannya (Ketaren, 1986). Menurut Mangun (2005), pada dasarnya terdapat beberapa jenis tanaman nilam yang telah tumbuh dan berkembang di Indonesia. Namun nilam aceh lebih dikenal dan ditanam secara meluas. Selain itu, dikenal pula nilam jawa dan nilam sabun. Secara garis besar, jenis-jenis tanaman nilam yang terdapat di Indonesia adalah :
1. Nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth)

15

Nilam Aceh merupakan tanaman standar ekspor yang direkomendasikan karena memiliki aroma khas yang menyegarkan dan rendemen minyak yang tinggi, yaitu 2,5%-5%. Menurut Guenther (1984), bagian tepi daun nilam jenis ini bergerigi, membulat seperti jantung dan pada permukaan bagian bawah daun berbulu sehingga daun tampak pucat. Jenis tanaman ini berasal dari Filiphina, yang kemudian ditanam dan dikembangkan ke wilayah Malaysia, Madagaskar, Brazil, dan Indonesia.
2. Nilam Jawa (Pogostemon heyneatus Benth)

Nilam jawa dikenal juga dengan nama nilam hutan. Nilam ini berasal dari India dan tumbuh liar di beberapa hutan di wilayah pulau Jawa. Jenis tanaman nilam ini memiliki kandungan minyak sekitar 0,5%-1,5%. Jenis daun dan rantingnya tidak memiliki bulu-bulu halus seperti nilam aceh serta memiliki ujung daun yang meruncing.
3. Nilam sabun (Pogostemon hortensis Backer)

Zaman dahulu, jenis nilam ini sering digunakan untuk mencuci pakaian, terutama kain jenis batik. Daun nilam sabun ini lebih tipis dari nilam aceh, tidak berbulu dan memiliki permukaan daun yang tampak mengkilap dan berwarna hijau. Jenis nilam ini hanya memiliki kandungan minyak sebesar 0,5%-1,5%. Selain itu, komposisi kandungan minyak yang dihasilkan tidak baik, sehingga minyak dari jenis nilam ini ataupun nilam jawa tidak memperoleh pasaran dalam bisnis minyak nilam. Nilam dapat dipanen setelah tanaman berumur 5-7 bulan dan panen selanjutnya dilakukan setiap 2-3 bulan sekali, tergantung dari jadwal dan program penanaman yang dilakukan (Mangun, 2005). Menurut Ketaren (1986) pemanenan nilam dilakukan dengan cara memotong bagian dahan atau tangkainya sepanjang 3-5 ruas dari pucuk atu disisakan sekitar 20 cm dari permukaan tanah. Panen dilakukan sebelum daun berwarna coklat dan dipetik saat pagi hari atau menjelang malam untuk mendapatkan daun dengan kadar minyak yang tinggi. Apabila panen dilakukan siang hari, maka sel-sel daun akan melakukan proses metabolisme yang akan mengurangi laju pembentukan minyak, daun yang kurang elastis dan mudah

16

sobek sehingga kehilangan minyak akan lebih besar, disamping transpirasi daun lebih cepat sehingga jumlah minyak yang dihasilkan akan berkurang. Pada tanaman nilam, minyak atsiri terkandung oleh semua bagian tanamannya baik itu daun, batang maupun akar. Dari semua bagian tersebut rendemen minyak dari akar dan batang nilam umumnya lebih rendah bila dibandingkan dengan yang berasal dari daun (Sundaryani dan Sugiharti, 1998).

B. Minyak Nilam dan Komposisinya

Minyak nilam diperoleh dari campuran daun, batang, dan cabang nilam dengan cara penyulingan. Minyak yang dihasilkan terdiri dari komponen bertitik didih tinggi seperti patchouli alkohol, patchoulen, kariofilen dan norpatchounelol yang berfungsi sebagai zat pengikat (fiksatif) (Ketaren, 1985). Menurut Imran (1994), minyak nilam dan komponen kimianya merupakan hasil dari metabolit sekunder yang disimpan didalam vakuola daun. Komponen kimia yang menyusun minyak nilam terbagi dalam dua golongan, yaitu golongan terpen dan golongan terpen-O. Golongan terpen-O merupakan golongan hidrokarbon yang memiliki ikatan dengan oksigen. Persenyawaan ini merupakan senyawa terpenting dalam kelompok minyak atsiri (termasuk nilam) karena memiliki aroma yang lebih baik dibandingkan senyawa terpen (Ketaren, 1986). Komponen utama minyak nilam adalah patchouli alkohol (pathoulol), yang merupakan senyawa yang menentukan bau minyak nilam dan merupakan komponen terbesar penyusun minyak nilam. Komponen yang memberikan wangi khas pada minyak nilam adalah norpathchoulenol yang terdapat dalam jumlah kecil. Komponen lainnya yang merupakan komponen minor diantaranya adalah patchoulene, azulene, eugenol, cinnamaldehide, keton, dan senyawa seskuiterpen lainnya (Anonimous, 1980). Selama ini petani nilam di pulau Jawa hanya mampu menghasilkan minyak nilam dengan kandungan patchouli alkohol 26%-28%, sedangkan pabrik penyulingan dengan peralatan suling baja antikarat (stainless steel) mampu

17

menghasilkan minyak

nilam dengan kandungan patchouli alkohol 31%-35%

(Sarwono,1998). Patchouli alkohol merupakan komponen penyusun utama yang menentukan mutu minyak nilam dengan kadar tidak boleh kurang dari 30%. Dalam perdagangan minyak nilam dunia patchouli alkohol merupakan syarat mutu yang sangat mempengaruhi harga minyak nilam. Ditinjau berdasarkan titik didihnya beberapa komponen minyak nilam mempunyai titik didih sebagai berikut: Tabel 1. Titik Didih Komponen Minyak Nilam Komponen Minyak Nilam Patchouli Alcohol Eugenol Benzaldehyde Cinnamic aldehyde Caniden Titik Didih 140ºC pada 8 mmHg 252,66ºC pada 760 mmHg 178,07ºC pada 760 mmHg 251,00ºC pada 760 mmHg 274ºC pada 760 mmHg

Sumber : Guenther (1949;1987) Beberapa senyawa penyusun minyak nilam antara lain : a. Patchouli Alkohol Patchouli alkohol adalah komponen utama minyak nilam (sekitar 40%) yang menentukan parameter mutu minyak nilam terutama dari karakteristik bau yang dihasilkannya. Menurut Ketaren (1986), Patchouli alkohol tergolong dalam golongan terpen-O (oxygenated terpen). Persenyawaan ini mempunyai nilai kelarutan yang tinggi dalam alkohol encer (kecuali beberapa persenyawaan aldehida), serta lebih stabil terhadap oksidasi maupun resinifikasi. Patchouli alkohol merupakan seskuiterpen alkohol yang dapat diisolasi dari minyak nilam dan mempunyai sifat tidak larut dalam air, larut dalam alkohol, eter atau pelarut organik lainnya, memiliki titik didih 140ºC/8 mmHg, dalam bentuk kristal berwarna putih dengan titik leleh 56ºC (Sastrohamidjojo, 2002). Karakteristik patchouli alkohol dapat dilihat pada tabel 2.

18

Tabel 2. Sifat Fisik Patchouli Alkohol Sifat Bobot Jenis (20/4ºC) Putaran Optik (pada khloroform) Indeks bias (20ºC) dan (25ºC) Titik didih (8 mmHg) Nilai 1.0284 (-) 97º 42' 1.5245 dan 1.52029 140ºC

Sumber : Sastromidjojo (2002)

Gambar 1. Rumus bangun patchouli alkohol (Sastromihamodjojo, 2002) b. Eugenol Eugenol merupakan senyawa golongan hidrokarbon O dengan rumus molekul C10H12O2, mempunyai bobot molekul 164.2, berupa cairan berbentuk minyak, tidak berwarna, atau sedikit kekuningan dan akan menjadi coklat jika kontak dengan udara (Arthur, 1956). Kekentalan dan warna eugenol akan meningkat apabila selama penyimpanan kontak dengan udara dan sinar. Dari rumus bangunnya eugenol adalah suatu alkohol siklis monohidrat (alkohol tersier) atau suatu fenol, sehingga dapat bereaksi dengan basa kuat. Eugenol sulit larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik (Furia dan Bellaca, 1975). Guenther (1987) menyatakan bahwa eugenol larut dalam 5:6 dengan alkohol 50%, 2:3 dengan alkohol 60% dan 1:2 dengan alkohol 70%.

19

Gambar 2. Rumus Bangun Eugenol c. Patchoulene Pathcoulene memiliki titik didih berkisar antara 255ºC -250ºC. Bobot jenisnya 0.9296, putaran optik (-) 38 dan indeks bias sekitar 1.4984. Berikut ini adalah rumus bangun patchoulene.

Gambar 3. Rumus bangun patchoulene d. Benzaldehid Benzaldehid adalah komponen minyak yang merupakan cairan tidak berwarna dan memiliki bau almond dengan rumus molekul C7H6O6 dan bobot molekul sebesar 106.12. Benzaldehid memiliki bobot jenis 1.0484, indeks bias 1.5456, dan titik didih 178ºC. Zat ini memiliki kemampuan untuk mengkondensasi dengan beberapa macam aldehide untuk membentuk nilai tinggi pada parfum. Berikut rumus bangun molekul benzaldehid.

20

Gambar 4. Rumus bangun benzaldehid e. Sinnamaldehid Sinnamaldehid dikenali pula dengan sebutan ß-fenilakrolein dan merupakan senyawa aldehid aromatik dengan titik didih 68ºC pada bentuk cis dan 80ºC pada bentuk trans. Sinnamaldehid dapat teroksidasi pada gugus aldehidnya sehingga pada ikatan rangkap akan terbentuk asam sinamat, yang pada akhirnya akan membentuk asam benzoate serta benzaldehid. Berikut ini adalah proses oksidasi pada senyawa sinnamaldehid.

Gambar 5. Oksidasi senyawa sinnamaldehid

f. Alpha-pinen Senyawa alpha-pinen memiliki berat molekul 136.24 dan rumus molekul C10H16. Senyawa ini bersifat larut dalam alkohol pekat dan tidak larut dalam air. Senyawa alpha-pinen ini telah dijual bebas bersama senyawa beta-pinen. Rumus bangun senyawa alpha-pinen terdapat pada gambar berikut.

21

Gambar 6. Rumus bangun alpha-pinen g. Beta-pinen Beta-pinen memiliki titik didih 166ºC dengan bobot jenis 0.87. Senyawa ini larut dalam alkohol pekat dan sukar larut dalamalkohol encer. Berikut ini adalah rumus bangun dari senyawa beta-pinen.

Gambar 7. Rumus bangun beta-pinen

C.

Sifat Fisiko Kimia Minyak Nilam a. Sifat Fisik Menurut Guenther (1948), masing-masing sifat fisik dan sifat kimia pada minyak atsiri sering memiliki korelasi satu sama lain. Sifat fisik minyak atsiri merupakan suatu tetapan konstan pada kondisi yang tetap. Uji sifat fisik dilakukan sebagai sarana untuk mengetahui kemurnian minyak. Sedangkan analisa sifat kimia bertujuan untuk menentukan mutu dan presentase jumlah senyawa kimia yang terdapat dalam minyak atsiri tersebut (Ketaren, 1986). Sifat fisik minyak nilam meliputi indeks bias, bobot jenis, dan putaran optik. Menurut Forma (1979), indeks bias dipengaruhi oleh panjang rantai karbon dan jumlah ikatan rangkap. Semakin panjang rantai karbon dan semakin banyak jumlah ikatan rangkap maka indeks bias semakin tinggi. Lama pengeringan dan proporsi batang yang lebih banyak pada penyulingan akan menghasilkan minyak

22

dengan indeks bias yang tinggi. Pada minyak nilam, komponen beratnya merupakan senyawa yang bertitik didih tinggi dan merupakan molekul berantai panjang. Menurut Rusli et al (1979), indeks bias minyak atsiri semakin tinggi dengan semakin lamanya waktu penyulingan. Hal ini disebabkan banyak minyak yang tersuling mengandung seskuiterpen yang merupakan senyawa molekul siklis berantai panjang dan berikatan rangkap. Indeks bias suatu minyak atsiri juga dipengaruhi oleh kondisi dari proses penyulingan minyak. Besarnya api saat penyulingan akan mengakibatkan fraksi berat dalam minyak akan tersuling dalam jumlah lebih banyak serta makin banyak pula jumlah ikatan tidak jenuhnya. Semakin besar nilai indeks bias minyak nilam, maka semakin baik mutunya (Rusli dan Hasanah, 1976). Komponen berat dalam minyak nilam merupakan senyawa yang bertitik didih tinggi dan merupakan molekul yang berantai panjang. Hal inilah yang menyebabkan nilai indeks bias minyak nilam semakin besar. Nilai indeks bias berhubungan dengan struktur dan komposisi senyawa organik di dalam suatu bahan (Formo et al, 1978). Minyak atsiri memiliki kemampuan untuk melakukan perputaran pada bidang polarisasi cahaya baik itu kearah kanan (dextro rotary) maupun ke arah kiri (levo rotary) dengan tanda masing-masing adalah positif (+) dan negatif (-). Putaran optik sangat dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya daun dan batang yang tersuling. Hal ini disebabkan karena pada bagian batang lebih banyak mengandung atom karbon simetris yang memutar bidang polarisasi cahaya ke arah kiri. Sifat optik suatu minyak atsiri ditentukan dengan polarimeter dan nilainya ditentukan dengan derajat rotasi. Derajat rotasi dan arahnya penting untuk menentukan nilai derajat kemurnian. Derajat optik sangat dipengaruhi oleh perbandingan banyaknya daun dan batang. Hal ini disebabkan karena pada bagian batang lebih banyak terdapat komponen yang mengandung atom karbon simetris yang memutar bidang polarisasi sebelah kiri. Kecenderungan minyak nilam

23

memutar ke sebelah kiri disebabkan oleh adanya patchouli alkohol yang memiliki daya optik aktif ke kiri (-) yang cukup besar (Pomeranz dan Meloan, 1977). b. Sifat Kimia Menurut Ketaren (1986), sifat kimia minyak atsiri ditentukan oleh persenyawaan kimia yang terdapat di dalamnya, terutama persenyawaan tidak jenuh (terpen), ester, asam, aldehida, dan beberapa jenis persenyawaan lainnya yang termasuk golongan oxygenated hydrocarbon, misalnya alkohol, eter, dan keton. Perubahan sifat kimia minyak atsiri merupakan ciri dari kerusakan minyak yang menyebabkan penurunan mutu. Beberapa proses yang dapat menyebabkan sifat fisika kimia minyak atsiri adalah proses oksidasi, hidrolisis, polimerisasi (resinifikasi), dan penyabunan (Ketaren,1986). Sifat kimia minyak nilam meliputi bilangan asam, bilangan ester serta kelarutan dalam alkohol 90%. Bilangan ester penting peranannya dalam menentukan mutu minyak atsiri, terutama dalam masalah aroma. Menurut Ketaren (1986), beberapa minyak atsiri mengandung ester yang umumnya berbasa satu (RCOOR’) dengan R dapat berupa radikal alifatis (alkil), aromatik (aril) atau alisiklis. Semakin lama penyulingan dilakukan maka akan semakin besar bilangan ester yang dihasilkan (Anonimous, 1980). Menurut Guenther (1948), sebagian minyak atsiri mengandung sejumlah asam organik bebas yang terbentuk secara alamiah atau yang dihasilkan dari proses oksidasi dan hidrolisa ester. Bilangan asam dari suatu minyak didefinisikan sebagai jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam bebas dalam 1 gram minyak. Dalam penentuan bilangan asam, biasanya digunakan larutan alkali lemah untuk menghindari penyabunan persenyawaan ester yang terdapat dalam minyak atsiri. Bilangan asam dari suatu minyak atsiri akan bertambah bila umur simpan minyak juga bertambah, terutama apabila perlakuan penyimpanan yang kurang baik sehingga akan mengakibatkan terjadinya oksidasi dan hidrolisa ester yang akan menambah jumlah bilangan asam. Minyak yang telah dikeringkan dan

24

dilindungi dari udara dan sinar memiliki jumlah asam bebas yang relatif kecil (Ketaren, 1986). Menurut Guenther (1948), komponen minyak sangat menentukan kelarutan minyak dalam alkohol. Minyak yang mengandung terpen-O (oxygenated terpene) lebih mudah larut dibandingkan minyak yang mengandung terpen. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kelarutan minyak nilam antara lain adulteration (pencampuran) dengan bahan lain. Tingkat kelarutan minyak dalam alkohol dipengaruhi jenis dan konsentrasi senyawa-senyawa yang dikandung minyak tersebut.

D.

Mutu Minyak Nilam Menurut Somaatmaja (1978), mutu minyak nilam dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis atau variasi tanaman nilam, umur panen, perlakuan pendahuluan sebelum penyulingan, bahan dasar alat penyulingan yang digunakan, metode penyulingan, perlakuan terhadap minyak nilam setelah penyulingan dan penyimpanan minyak. Parameter mutu minyak nilam berdasarkan berbagai standar dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 3. Spesifikasi persyaratan mutu minyak nilam berdasarkan SNI 06-23851998 Karakteristik Syarat SNI 06-2385-1998 Kuning muda sampai Warna Bobot Jenis 20ºC/20ºC Indeks Bias 25ºC(nD25) 1.506 - 1.516 Larutan (jernih) atau Kelarutan dalam alkohol 90% opalensi ringan dalam perbandingan volume 1:1 1.507 – 1.515 Larutan (jernih) atau opalensi ringan dalam perbandingan volume 1:10 0.943 - 0.983 0.950 – 0.975 cokelat tua Essential Oil Association Kuning muda sampai cokelat tua

25

Bilangan asam maksumal Bilangan ester maksimal Minyak kruing Minyak lemak Zat-zat asing : a. Alkohol tambahan b. Lemak c. Minyak Pelikan Negatif Negatif 10.0 Negatif Negatif Maks 20 Negatif Negatif 5.0 Maks 5

Selain syarat mutu yang telah disebutkan diatas, terdapat pula syarat mutu lain yang dijadikan acuan untuk mengetahui mutu minyak nilam. Rekomendasi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4. Spesifikasi rekomendasi persyaratan mutu minyak nilam Jenis Uji Bau Putaran Optik Patchouli Alkohol Persyaratan Segar, khas minyak nilam (-47º) - (-66º) Dicantumkan sesuai hasil uji

Sumber : Ketaren (1986)

E.

Kegunaan Minyak Nilam Minyak nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang dikenal sebagai fixative aging (zat pengikat) karena memiliki komponen-komponen yang bertitik didih tinggi yaitu zat yang mampu mengikat bau wangi sekaligus dapat membentuk bau yang harmonis dalam suatu senyawa parfum, seperti yang dinyatakan oleh Ketaren (1986). Zat pengikat adalah suatu senyawa yang

26

mempunyai daya menguap lebih rendah atau titik uapnya lebih tinggi dari zat pewangi, sehingga kecepatan penguapan zat pewangi dapat dikurangi atau dihambat. Penambahan zat pengikat ini dalam parfum bertujuan untuk mengikat bau wangi dengan mencegah laju penguapan zat pewangi yang terlalu cepat, sehingga bau wangi tidak cepat hilang. Komposisi minyak nilam yang digunakan dalam suatu parfum dapat mencapai 50%. Selain itu, karena wanginya yang khas maka minyak nilam sering digunakan langsung sebagai parfum selendang, pakaian, industri sabun, kosmetik, dupa, parfum, karpet, dan barang-barang tenunan. Menurut Guenther (1948) minyak nilam memiliki sifat-sifat antara lain adalah sulit tercuci, sukar menguap dibandingkan minyak atsiri lainnya, dapat larut dengan baik dalam alkohol dan mudah dicampurkan dengan minyak atsiri lainnya. Sifat-sifat ini yang menyebabkan minyak nilam digunakan sebagai fiksatif dalam berbagai industri wewangian, kosmetik, sabun, dan farmasi. Peranan minyak nilam sebagai fiksatif belum dapat digantikan oleh minyak manapun sehingga sangat penting dalam dunia parfumery (Lutony et al, 1994). Fungsi minyak nilam antara lain sebagai obat luka, obat sakit gigi dan gatalgatal (Anonimous, 1980). Selain itu, minyak nilam juga dapat digunakan sebagai bahan baku insektisida nabati (Nurdjanah et al,1998). Menurut Dummond (1960) nilam dapat digunakan sebagai insektisida terutama untuk mengusir ngengat kain (Thysanura) karena didalamnya mengandung zat yang tidak disukai oleh serangga tersebut, karena terdapat dalam komponen minyak nilam seperti alpha-pinen dan beta-pinen. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukan bahwa minyak nilam dapat digunakan sebagai pengendali populasi serangga karena sifatnya sebagai bahan penolak dan penghambat pertumbuhan serangga. Sebagai pengendali hama, minyak nilam mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai salah satu bahan baku insektisida nabati. Mardiningsih, dkk (1998) melaporkan bahwa minyak nilam dapat digunakan untuk mengendalikan hama, baik hama gudang maupun hama tanaman. Minyak nilam mampu mematikan populasi Stegobium paniceum, yang merupakan hama bagi ketumbar selama penyimpanan. Dengan mengoleskan sedikit minyak nilam

27

disekitar dinding tempat penyimpanan, populasi Stegobium paniceum dapat berkurang sebesar 25-42% setelah penyimpanan 9 hari. Selain itu dari hasil penelitian Mardiningsih, dkk (1994) minyak nilam bersifat menolak beberapa jenis serangga seperti ngengat kain (Thysanura lepimatidae), Sitophilus zeamais (kumbang jagung), dan Carpophilus sp. (kumbang buah kering). Menurut Grainge dan Ahmed (1987) minyak nilam juga bersifat menolak Aphid (kutu daun), nyamuk, dan Pseudaletia unipuncta. Selain sebagai pengikat wangi pada parfum, kosmetika, dan sabun serta sebagai pestisida ternyata minyak nilam berkhasiat sebagai antibiotik dan antiradang karena dapat menghambat pertumbuhan jamur dan mikroba. Dapat digunakan untuk deodoran, obat batuk, asma, sakit kepala, sakit perut, bisul, dan herpes. Minyak nilam merupakan minyak eksotik yang dapat meningkatkan gairah dan semangat serta mempunyai sifat meningkatkan libido. Biasanya digunakan untuk mengharumkan kamar tidur untuk memberi efek menenangkan dan membuat tidur lebih nyenyak (anti insomnia). Dalam hal psikoemosional, minyak nilam termasuk dalam aroma terapi yang belakangan ini semakin populer sebagai salah satu aspek pengobatan alternatif, karena minyak nilam mempunyai efek sedatif (menenangkan), sehingga digunakan untuk menanggulangi gangguan depresi, gelisah, tegang karena kelelahan, stres, kebingungan, lesu, dan tidak bergairah serta dapat meredakan kemarahan (Mardiningsih, dkk. 1998). Sisa dari hasil penyulingan minyak nilam masih dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuat dupa, karena mempunyai aroma yang khas/harum. Ampas tersebut dijemur kemudian digiling dan siap digunakan sebagai bahan baku pembuat dupa berbentuk lidi (joss stick). Bubuk halus dari ampas dicampur dengan bahan perekat (gum Arabic dan dentrose), tepung onggok, tepung tempurung, pewarna, dan pewangi lainnya. Semua bahan tersebut dicampur dalam wujud adonan dan selanjutnya dicetak menjadi lidi.

F. Kerusakan Minyak Nilam

28

Kerusakan minyak nilam diartikan sebagai perubahan dari sifat fisika-kimia minyak nilam yang pada umumnya berakibat pada penurunan nilai mutu. Kerusakan yang sering terjadi pada minyak nilam adalah kerusakam pada komponen kimianya. Kerusakan jenis ini disebabkan oleh terjadinya proses hidrolisa, oksidasi, resinifikasi, tercampurnya dengan bahan lain serta pencemaran oleh wadah kemasan (Ketaren, 1985). Kerusakan minyak nilam yang mudah teridentifikasi adalah warnanya yang menjadi gelap, keruh, dan timbulnya bau yang tidak dikehendaki. Hal ini disebabkan telah terjadinya proses kimia pada minyak nilam. Kerusakan minyak atsiri disebabkan oleh beberapa hal, misalnya karena panas, oksigen bebas, air, cahaya, dan katalisator. Menurut Swern (1979), minyak atsiri yang masih mengandung air akan mengalami kerusakan akibat terjadinya proses hidrolisa. Air tersebut akan bereaksi dengan senyawa ester dalam minyak membentuk asam organik, reaksi ini akan dipercepat dengan peningkatan suhu. Asam organik hasil proses hidrolisa dan asam organik yang ada di dalam minyak nilam secara alamiah kemudian akan mengikat ion logam, garam logam ini yang kemudian akan mempengaruhi warna dari minyak nilam menjadi lebih gelap. Menurut Ketaren (1986), proses oksidasi merupakan penyebab kerusakan pada minyak akibat adanya aksi oksigen. Oksidasi oleh oksigen akan terjadi secara spontan jika bahan dibiarkan kontak dengan udara dalam kondisi suhu yang tinggi. Kecepatan oksidasi tergantung kondisi pada saat penyimpanan. Faktor yang mempengaruhi kecepatan dari proses oksidasi dapat dibagi menjadi empat kelas, yaitu : radiasi, bahan pengoksidasi, katalis metal, dan sistem oksidasi. Senyawa aldehid pada minyak nilam akan berubah menjadi asam organik bila terjadi proses oksidasi, senyawa seperti benzaldehid dan sinamaldehid bila teroksidasi akan berubah menjadi asam benzoat dan asam sinamat.

G. Penyulingan Minyak Nilam

Stephen di dalam Guenther (1948) menyatakan bahwa penyulingan merupakan kegiatan pemisahan komponen suatu campuran dari dua jenis cairan atau lebih

29

berdasarkan perbedaan tekanan uap dari masing-masing zat tersebut. Proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air (Ketaren, 1985). Menurut Guenther (1949), penyulingan daun nilam sebaiknya dilakukan sesuai dengan keadaan bahan. Kumpulan daun yang mengandung banyak tangkai memerlukan perlakuan yang berbeda dengan bahan yang hanya terdiri dari daun saja. Penambahan ranting disini bertujuan untuk mencegah terjadinya jalur uap yang dapat menurunkan rendemen minyak. Perbandingan antara ranting dan daun yang tidak sesuai menyebabkan penurunan rendemen dan mutu minyak. Semakin banyak proporsi tangkai dalam campuran akan mengakibatkan rendemen semakin rendah sedangkan bobot jenis, indeks bias, putaran optik (ke arah levo) dan komponen berat yang polar dalam minyak meningkat. Sudaryani dan Sugiharti (2002) menyatakan bahwa ada dua cara penyulingan yang dapat digunakan untuk memperoleh minyak nilam, yaitu penyulingan dengan air dan uap serta penyulingan dengan uap. Pada sistem penyulingan air dan uap (kukus), air diletakan tepat di bawah bahan yang diberi alat pemisah berupa logam berlobang. Keadaan uap yang selalu basah dan bahan yang berhubungan langsung dengan uap adalah ciri khas dari metode ini. Pada metode penyulingan yang kedua, yaitu penyulingan dengan uap, air sebagai sumber uap panas ditampung dalam sebuah ketel yang letaknya sudah terpisah dari ketel suling. Uap yang digunakan adalah uap jenuh atau uap kelewat panas pada tekanan lebih dari satu atmosfer (Guenther, 1948). Menurut Rusli (1991) cara penyulingan sebaiknya menggunakan cara kukus dengan lama penyulingan 5-6 jam, kepadatan bahan dalam ketel 90-130 g/l pada ketel 600 l, kecepatan penyulingan 32-36 l/jam. Sukirman dan Aiman (1979) menyatakan bahwa jenis logam yang paling baik digunakan untuk ketel suling adalah besi yang tahan karat karena bahan ini mampu menyuling bahan baku yang bersifat asam tanpa mampu mengakibatkan korosi. Alat penyulingan yang terbuat dari logam (Fe dan Al) dapat mengakibatkan minyak yang dihasilkan berwarna gelap dan mempunyai bilangan asam yang tinggi (Rusli dan Hasanah, 1977).

30

Rusli (1991) menyatakan bahwa minyak nilam yang dihasilkan oleh petani pengrajin bermutu rendah, hal ini disebabkan karena cara penyulingan yang dilakukan masih kurang memenuhi syarat, selain itu ketel yang digunakan untuk menyuling tanaman nilam berupa drum bekas yang sudah berkarat sehingga terjadi pengotoran oleh karat tersebut akibatnya minyak yang dihasilkan berwarna kehitaman.

H. Pemucatan Minyak Nilam Menurut Guenther (1987), pemucatan merupakan suatu proses yang bertujuan untuk memisahkan zat warna yang tidak dikehendaki yang berada dalam minyak. Berdasarkan sifatnya pengerjaan proses ini dibedakan menjadi dua cara, yaitu fisika dan kimia (Kirk dan Othmer, 1985). Secara fisika pemucatan minyak nilam dapat dilakukan dengan metode penyulingan hampa udara terfraksi, penyulingan ulang, dan adsorpsi (Guenther, 1948) sedangkan pemucatan secara kimia meliputi flokulasi (Ketaren, 1985). Ketaren (1986) mengatakan bahwa pemucatan dapat dilakukan dengan menggunakan sejumlah kecil adsorben seperti lempung aktif dan arang aktif. Selain itu dapat juga menggunakan bahan pembentuk kompleks. Proses pemucatan minyak nilam umumnya menggunakan tiga jenis bahan pemucat, yaitu bentonit, asam sitrat, dan arang aktif. Menurut Kirk dan Othmer (1965), senyawa pembentuk kompleks merupakan sejenis molekul organik dan anorganik (ligan) yang menyebabkan sebuah ion logam memiliki lebih dari satu posisi, misalnya melalui dua atau lebih grup elektron donor dalam ligan. Pembentukan senyawa kompleks dapat terjadi jika ada reaksi antara ion logam yang dinamakan ion inti dengan komponenkomponen lain yang disebut ion negatif atau molekul yang disebut ligan. Dalam pembentukan senyawa kompleks ligan akan mengikat ion logam melalui ikatan koordinat kovalen, dimana yang bertindak sebagai donor elektron disini adalah ligan. Senyawa kompleks yang terbentuk bisa bermuatan negatif, positif, atau nol (Winarno, 1985).

31

Senyawa pembentuk kompleks dibedakan menjadi dua golongan, yaitu berdasarkan jumlah grup koordinasi yang dihasilkan dan jumlah cincin pengikat yang dapat terbentuk dengan ion logam. Senyawa ini berfungsi untuk mengurangi aktivitas ion-ion logam didalam produk, menghilangkan ion-ion logam yang membentuk endapan yang tidak diinginkan dan mengurangi sifat racun dari ion logam beracun. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pembentuk kompleks adalah asam sitrat, asam oksalat, asam tartarat, asam glukonat, asam etilen diamin tetra asetat (EDTA), asam nitrotriasetat (NTA), polifosfat, poliamin, dan asam isoaskorbat (Kirk dan Othmer, 1965). Asam sitrat atau β-3-hidroksi trikarbosiklis, 2-hidroksi-1,2,3-propana

trikarbosiklis, mempunyai rumus kimia C6H8O7. Sifat dari asam sitrat adalah agen pengkelat (chelating agent) dimana senyawa ini dapat mengikat logam-logam divalen atau lebih, seperti Mn, Mg dan Fe yang sangat diperlukan sebagai katalisator dalam reaksi oksidasi sehingga reaksi ini dapat dihambat dengan penambahan asam sitrat (Winarno dan Laksmi, 1974). Menurut Winarno dan Laksmi (1974), asam sitrat berfungsi sebagai agen pengkelat dimana senyawa ini memiliki kemampuan untuk mengikat logamlogam divalen seperti Mn, Mg, dan Fe. Asam sitrat merupakan larutan asam yang paling populer digunakan untuk tujuan ini karena selain dapat mengikat ion logam juga dapat membersihkan oksigen bebas, dan memecah sabun pada minyak (Petterson, 1992) di dalam (Ragina F. S., 2002). Rumus bangun dari asam sitrat dapat dilihat pada gambar 8.

Gambar 8. Rumus bangun asam sitrat (Kirk dan Othmer, 1985)

Adanya ion logam Fe2+ dalam minyak nilam akan bereaksi dengan asam organik membentuk senyawa organologam. Senyawa organologam ini dapat

32

dipisahkan dari minyak dengan penambahan asam sitrat . jika suatu partikel padat telah terpisah secara sempurna dan bereaksi secara elektrolik, maka partikelpartikel tersebut akan saling tolak menolak dan tetap terpisah. Jika senyawa dengan muatan yang berbeda seperti flokulan ditambahkan ke dalam campuran tersebut, maka partikel-partikel yang telah terpisah akan membentuk, maka partikel-partikel yang telah terpisah akan membentuk kumpulan yang lebih besar dan lebih cepat mengendap (Treybal, 1968).

(3-X)-

Lx Gambar 16. Reaksi ikatan kompleks antara ion logam dengan asam sitrat. Menurut Petterson (1992) di dalam (Ragina F. S., 2002), penambahan asam sitrat sebesar 0.05% b/b terhadap bobot minyak dalam bentuk larutan 50% dalam air sesaat sebelum penambahan adsorban akan sangat nyata meningkatkan aktivitas penyerapan logam oleh adsorban tersebut. Bahkan penggunaan asam sitrat dengan jumlah seperlima dari konsentrasi di atas aktivitas penyerapan cukup efektif. Pada metode ini logam yang telah terkompleks bersama asam sitrat menjadi lebih efektif diadsorpsi oleh adsorban. Hasil penelitian Purnawati menunjukan kadar logam Fe, Mg, dan Cu pada minyak nilam berturut-turut adalah 509.2 ppm, 369.5 ppm, dan 1.8 ppm. Metode pemucatan kimia menggunakan campuran 1% asam sitrat dan 1% asam tartarat

33

berhasil menurunkan kadar Fe dan Mg menjadi 50.26 ppm dan 2.09 ppm, sedangkan kadar Cu pada minyak nilam hasil pengkelatan diperoleh 0 ppm. Berdasarkan pada penelitian sebelumnya asam sitrat terbukti sebagai senyawa pengkelat paling efisien untuk logam Fe (Abrahamson et al.,1994; Ekholm et al., 2003); Mg (Demir et al.,2003; Ekholm et al., 2003); Zn dan Mn (Ekholm et al., 2003); dan Pb (Chen et al., 2003). Hasil penelitian Marwati (2005) menyatakan bahwa asam sitrat terbukti sebagai senyawa pengkelat yang lebih efektif daripada asam tartarat. Kemudian Marwati (2005) melanjutkan bahwa kadar asam dalam asam sitrat lebih tinggi daripada asam tartarat, sehingga berdasarkan perhitungan stokiometri akan mengikat logam lebih banyak. Selain itu, asam sitrat memiliki tiga gugus karboksilat dimana jumlah ini lebih tinggi daripada asam tartarat.

IV. ASPEK PROSES PRODUKSI A. Bahan Baku dan Bahan Tambahan Proses produksi yang dilakukan oleh PT. Indesso Aroma pada patchouli oil adalah proses pencampuran (mixing) dan peningkatan kualitas, sehingga bahan baku utama yang dipakai adalah tanaman nilam yang telah melalui proses penyulingan dalam bentuk minyak yang masih banyak mengandung pengotor dan berkadar patchouli alcohol rendah. Minyak nilam yang digunakan sebagai bahan baku utama banyak didapat dari daerah Jawa yang biasa mendapat sebutan 087 dan daerah Bengkulu dengan sebutan 0861. Pada proses terdahulu pernah

34

digunakan minyak nilam yang berasal dari daerah Padang (0862), namun karena kelangkaan bahan, proses kini hanya menggunakan bahan baku dari Jawa (087) dan Bengkulu (0861). Untuk bahan tambahan yang dipakai pada pembuatan produk ini adalah citric acid 107, sodium carbonate 132 dan hyflosupercell. Sebelum digunakan pada proses produksi bahan baku dan bahan tambahan dari supplier diuji standar mutunya oleh bagian quality control (QC) dengan parameter yang diukur oleh alat titrasi, gas liquid chromatograf (GLC), tintometer, polarimeter, refraktometer, nilai dari penampakannya, dan alat-alat lainnya. Berikut merupakan spesifikasi bahan baku dan bahan tambahan yang disyaratkan perusahaan: SPESIFIKASI 0861 Adulterant (Fat) Adulterant (Fat) Slight viscous oily liquid Slight viscous oily liquid Acid value (titration) 0,0 - 8,0 Pale Yellow - Reddish Brown Pale Yellow – Reddish Brown a-Copaene content (GLC) 0,0% - 0,5% Hexylene Glycol (GLC) 0 ppm - 150 ppm Optical Rotation (25ºC) (-55,0) - (-45,0) Organoleptic (odor) Organoleptic (odor) Patchouli Alcohol Content (GLC) Refractive Index (n20/D) Spesific Gravity (d25/25) 30,00% - 80,00% 1,507 – 1,512 0,950 – 0,970 Solubility in 10 parts vol. 90%

Soluble in 10 parts vol. 90% alcohol Tabel 5. Spesifikasi Bahan Baku 0862 SPESIFIKASI 087 Adulterant (Fat) Adulterant (Fat) Slight viscous oily liquid Slight viscous oily liquid Acid value (titration) 0,0 – 8,0 Pale Yellow - Reddish Brown Pale Yellow - Reddish Brown a-Copaene content (GLC) 0,00% - 0,50% Hexylene Glycol (GLC) 0 ppm – 200 ppm

35

Optical Rotation (25ºC) Organoleptic (odor) Patchouli Alcohol Content (GLC) Refractive Index (n20/D) Spesific Gravity (d25/25)

(-55,0) - (-48,0) Organoleptic (odor) 29,50% - 70,00% 1,507 – 1,512 0,950 – 0,970 Solubility in 10 parts vol. 90%

Soluble in 10 parts vol. 90% alcohol Tabel 6. Spesifikasi Bahan Baku 087 CITRIC ACID 107 Characteristic Spesific Limit Description Value Crystal Crystal White White HALAL HALAL pH at 25ºC 1,5 - 1,9 Purity (titration) 99,0% - 99,9% Tabel 7. Spesifikasi Bahan Tambahan 107 SODIUM CARBONATE 132 Characteristic Spesific Limit Description Crystal White Moisture content Value Crystal White

(105ºC) 0,0 - 3,0 Purity (titration) 99,0 - 99,9 Tabel 8. Spesifikasi Bahan Tambahan 132 HYFLO SUPERCELL Powder Powder pH at 25ºC 8,50 - 14,0 Tabel 9. Spesifikasi Bahan Tambahan Hyflo Supercell

36

B.

Proses Produksi Tahapan awal yang dilakukan dalam proses produksi ini adalah persiapan

alat dan bahan. Bahan yang harus dipersiapkan adalah :
a. b. c. d. e.

Crude Patchouli oil 0861 Crude Patchouli oil 087 Recovery 67105 Citric acid 107 Sodium carbonate 132 Hyflosupercell Selain kesiapan bahan, status kesiapan peralatan dari maintenance dan

f.

quality control pun juga turut diperiksa. Para operator dan supervisor yang melakukan proses produksi pun juga harus melengkapi dirinya dengan peralatan food safety, seperti masker, sarung tangan, kaca mata, shoes cover (sepatu boot), dan topi (head cover). Selain itu hal yang tidak kalah penting adalah status kesiapan utilitas seperti nitrogen (N2), pompa vakum, udara tekan, air pendingin, steam dan sebagainya. Setelah melalui tahapan persiapan alat dan bahan, proses produksi pun dimulai. Di bawah ini adalah diagram alir yang menggambarkan proses produksi patchouli oil:

CrudePatchouli oil

Proses Deironized

Proses Netralisasi

Filtrasi Hyflo Supercell

Aerasi

Mixing dan Pengemasan 37

Gambar 9. Diagram Alir Pembuatan Patcouli Oil (Minyak nilam)

a.

Proses Deironized Proses deironized bertujuan untuk mengurangi kadar Fe di dalam minyak

nilam menggunakan asam sitrat (citric acid). Reaksi ini dimulai dengan pengecekan terhadap kondisi reaktor yang digunakan pada proses. Pada proses ini hanya digunakan satu jenis reaktor berpengaduk, yaitu reaktor 8. Sebelum memasuki proses, semua valve diperiksa keadaannya agar dalam kondisi tertutup. Setelah dipastikan semua valve tertutup, pompa vakum mulai dihidupkan dan valve vakum yang menuju ke reaktor 8 dibuka untuk memasukan Crude Patchouli oil. Proses pemasukan bahan berlangsung selama kurang lebih satu jam untuk kapasitas produk ini. Setelah bahan baku masuk semua, reaktor 8 dikondisikan pada keadaan atmosfer dengan membuka valve atmosfer. Lalu dimulailah proses pengadukan dan pemasukan citric acid melalui man hole. Citric acid yang digunakan sesuai dengan kadar Fe yang diinginkan. Pada proses yang terdahulu kadar Fe yang disyaratkan sebesar < 1 ppm, sehingga untuk mencapai kadar tersebut citric acid sangat banyak digunakan. Namun karena kelonggaran standar yang disyaratkan kadar Fe menjadi < 5 ppm, citric acid yang digunakan dalam proses menjadi lebih sedikit. Jika citric acid yang digunakan sedikit, proses penetralan, pengendapan, dan sentrifugasi setelah reaksi ini tidak perlu dilakukan dan bahan tetap pada reaktor 8.

Gambar . Pemasukan Asam Sitrat melalui man hole b. Proses Netralisasi

38

Setelah melalui reaksi citric acid, proses dilanjutkan dengan reaksi netralisasi. Reaksi ini merupakan reaksi akibat dari citric acid. Reaksi netralisasi dilakukan dengan menambahkan sodium carbonate yang bersifat basa merupakan penetralan kembali bahan setelah dimasukan asam (citric acid). Reaksi juga dimulai dengan pengecekan valve yang selanjutnya dilanjutkan dengan proses pengadukan dan pemasukan sodium carbonate melalui man hole. Banyaknya sodium carbonate 132 yang dimasukan dipengaruhi oleh banyaknya citric acid yang digunakan dan standar pH yang disyaratkan. Karena standar kadar pH juga telah dilonggarkan menjadi dibawah 8, reaksi ini untuk beberapa batch terakhir telah dihilangkan. Setelah reaksi di dalam reaktor 8 selesai dilakukan, bahan dikeluarkan dari reaktor untuk menuju proses selanjutnya (drain). Drain dilakukan dari bagian bawah reaktor 8 secara perlahan, jika padatan tidak terikut keluar, lanjutkan drain langsung ke unicube, akan tetapi jika padadan terikut keluar, drain ke vessel terlebih dahulu sampai padatan tidak terikut kemudian langsung drain ke unicube. Setelah minyak berada pada unicube-unicube proses dapat dilanjutkan ke proses filtrasi atau menunggu batch selanjutnya untuk difiltrasi bersama.
c.

Filtrasi Hyflo Supercell Filtrasi minyak dilakukan dengan menggunakan klico yang telah dilapisi

dengan precoat hyflo Supercell. Filtrasi dilakukan secara berulang-ulang menggunakan pompa gould sampai didapat warna minyak yang diinginkan. Setelah proses filtrasi, minyak kembali dimasukan kedalam unicube untuk menuju ke proses aerasi. d. Aerasi Proses aerasi ini dilakukan didalam tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan jaket dan coil. Proses aerasi dapat menggunakan udara tekan, nitrogen, atau panas digunakan untuk mempercepat reaksi sehingga organoleptik lebih cepat muncul dan menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan (contoh : terpen yang menyebabkan proses oksidasi). Setelah minyak mengalami proses aerasi maka disebut patchouli oil light, patchouli oil light siap didrain keluar

39

menggunakan pompa vacuum menuju unicube untuk penyimpanan sementara. Minyak tersebut disimpan untuk dilakukan proses mixing dan pengemasan. e. Pencampuran dan Pengemasan Proses ini bertujuan untuk mencampurkan sisa minyak nilam tidak terkemas yang dihasilkan pada batch sebelumnya dengan minyak nilam yang dihasilkan pada batch yang baru agar dapat menyeragamkan mutu minyak nilam yang akan dikemas. Bahan baku yang digunakan dalam proses ini, antara lain : a. Metal drum 209 L b. Cap seal ¾” white 358 c. Cap seal 2” white 356 d. Minyak nilam batch saat ini e. Minyak nilam sisa yang tidak terkemas Minyak nilam yang telah diproses atau patchouli oil light yang tersimpan dalam unicube-unicube dimasukan kembali kedalam reator aerasi menggunakan pompa vakum. Pengadukan dilakukan selama 1 jam, kemudian minyak nilam dilakukan pemeriksaan ke bagian quality control. Setelah lulus uji minyak siap dikemas kedalam drum yang terbuat dari metal berukuran masing-masing 200 kg. Pada proses ini tidak semua minyak dapat dikemas, jika kurang dari 200 kg minyak akan ditampung ke dalam unicube untuk dicampurkan ke dalam batch selanjutnya. Pada reaksi citric acid dan sodium bicarbonat, jika penggunakan keduanya cukup banyak pada akhir reaksi akan didapat Crude Patchouli oil dari bahanbahan tersebut yang telah mengalami proses sentrifugasi. Crude patchouli ini disebut recovery dan akan digunakan kembali sebagai bahan baku pada batch selanjutnya.

C.

Mesin dan Peralatan Produksi Mesin dan peralatan produksi untuk setiap unit berbeda-beda. Unit mesin

dan peralatan produksi terdiri dari mesin inti, perlengkapan pendamping, dan mesin utilitas.

40

Secara umum mesin inti yang digunakan di Unit Aromatic Chemical and Essential Oil di PT Indesso Aroma adalah Reaktor, Unit Fraksinator, SPD, Blending Tank with Heater dan Pfaudler. Untuk reaktor yang digunakan terdapat 8 buah, yaitu : Reaktor Hong-Dou, Reaktor Multiphase, Reaktor 2, Reaktor 3, Reaktor 4, Reaktor 6, Reaktor 7, dan Reaktor 8. Pada produk yang difraksinasi terdapat 3 unit Fraksinator yang digunakan, yaitu : Unit Fraksinator 0, Unit Fraksinator 2, dan Unit Fraksinator 5, sedangkan untuk Pfaudler terdapat Pfaudler 1 dan Pfaudler 2. 1. Mesin inti Pada proses produksi patchouli oil light 868 dan patchouli oil light 871 mesin inti yang digunakan adalah Reaktor 8 dan Blending Tank with Heater. Untuk Reaktor 8 berikut spesifikasinya : Spesifikasi Reaktor 8 Reaktor ini digunakan untuk memproduksi Patchouli oil. Berikut spesifikasi tangki Reaktor 8 : Capacity 3m3 Material SUS 316 Design Pressure 3 kg/cm 2 . G Radiography Test None Design Temperature AMB DEG C Joint Efficiency 0.7 Hydrostatic Test Kg/cm 2 .G Pneumatic Test None kg/cm 2 .G MFR'ING No 50565 Corr. Allowance 0 mm Empty Weight 662 kg Tabel 18. Spesifikasi tangki Reaktor 8 Selain Reaktor 8 dan Blending Tank with Heater, ada metode lain yang dipakai untuk meningkatkan kualitas minyak nilam yaitu dengan metode distilasi molekular. Alatnya dikenal dengan SPD (Short Path Distillation) merupakan salah satu alat tercanggih di dunia untuk distilasi. Distilasi molekular, biasanya digunakan dalam mengisolasi komponen cair yang sensitif terhadap panas atau untuk memisahkan substansi yang memiliki titik didih yang sangat tinggi. Dimana campuran didistilasi dengan mereduksi tekanan, sehingga menurunkan titik

41

didihnya. Pada penggunaanya alat ini dioperasikan untuk distilasi pada produk patchouli oil. Alat ini terdiri atas : a. Degasser Section Degasser Section yang dilengkapi dengan satu buah rotary vane vacuum pump, feeding pump, chiller untuk pendingin trapping, receiver trapping serta preheater. Degasser section berfungsi untuk menghilangkan komponen volatil yang mungkin terdapat dalam bahan baku. Komponen volatil yang dimaksud disini adalah komponen yang mudah menguap. Dengan alat SPD ini komponen yang mempunyai titik didih lebih dari 150ºC dapat dihilangkan. Tujuan menghilangkan komponen volatil ini adalah untuk mengurangi gangguan vakum pada SPD evaporator, mengurangi laju penguapan pada kolom, serta agar dapat menggunakan suhu yang sangat rendah untuk trapping. Proses yang terjadi adalah : Bahan baku dipompa dengan feeding pump dilewatkan dulu ke preheater, setting suhu preheater dilakukan manual melalui komputer. Besarnya suhu yang ditentukan tergantung dari kondisi vacuum pada degasser section sehingga komponen volatil dapat berupa uap, namun diupayakan suhu preheater adalah serendah mungkin untuk menghindari burnt character. Uap komponen volatil tersebut kemudian dikondensasikan dan masuk ke receiver trapping, sementara komponen non volatil akan masuk ke SPD evaporator. b. SPD Evaporator SPD Evaporator yang dilengkapi dengan satu buah rotary vane vacuum dan satu buah roots vacuum pump, residu dan distilate pump, chiller untuk pendingin trapping, receiver trapping, serta kolom evaporator yang didalamnya terdapat internal kondensor serta wiper basket. SPD evaporator berfungsi untuk memisahkan distilat berdasarkan titik didih. Proses yang terjadi adalah : Dalam kolom evaporator, produk yang sudah dihilangkan komponen volatilnya akan diputar dan terlempar ke dinding evaporator karena gaya sentrifugal, wiper basket memastikan pendistribusian yang seragam dan wiper roller menggilas produk di dinding evaporator sehingga terbentuk lapisan film. Uap akan dikondensasikan oleh internal kondensor dan mengalir melalui nozzle

42

distilate, sedangkan residu akan terkumpul dalam cup yang mengalir melalui nozzle residu. Uap yang tidak terkondensasi akan dihisap masuk ke trapping.

Gambar. SPD (Short Path Distilationi) Namun, dalam laporan ini tidak membahas hasil pemurnian minyak nilam menggunakan SPD karena tidak ada permintaan untuk minyak nilam jenis pemurnian SPD pada saat itu sehingga alat tidak dijalankan. 2. Unit Utilitas dan Perlengkapan Pendamping
a. Pompa Deep Well

Diameter Berat Kapasitas Temperatur
a.

: 4 inch : 21 kg : 200 L/mnt : 40°C

Perlengkapan pendamping : Pompa Booster 1 Pompa deep well Pompa IDO : untuk memompa air sumur dalam
b. Pompa Booster 2 c.

d.

Fungsi

b. Pompa IDO (Industry Diesel Oil)

Berat Temperatur

: 11 kg : 60°C

43

Fungsi : untuk memompa bahan bakan IDO untuk digunakan sebagai bahan bakar boiler. c. Tangki air bersih Diameter Tinggi Kapasitas
a.

:5m : 7,7 m : 150.000 L

Perlengkapan pendamping : Level gauge ukuran 10 m Sand filter b.

Fungsi : untuk menampung air bersih d. Tangki solar Jumlah Bentuk Diameter Panjang Kapasitas : 2 buah : silinder horizontal : 2,2 m :4M : 15.000 L

Perlengkapan pendamping: Flowmeter 1 buah untuk mengecek pengisian dan 1 buah untuk cek pemakaian ke incinerator dan boiler. Fungsi: untuk menampung minyak diesel
e. Booster pump/Pompa suplai

Jumlah Tinggi Kapasitas Suhu maks.

: 2 buah : 60 cm : 6000 L/jam : 120°C

Perlengkapan pendamping : Sistem tangki air bertekanan, tekanan maks. 125 psi: temperatur maks. Saat operasi dalam 38°C, luar 49°C Fungsi : untuk memompa air ke tempat-tempat yang dibutuhkan

44

f. Pompa hydrant

Ukuran Berat

: 0,7x0,34x1,55m3 : 337 kg

Perlengkapan pendamping : Manometer 0-16 kg/cm2 Fungsi : untuk memompa air saat terjadi kebakaran g. Pompa air pendingin Jumlah Ukuran Berat Kapasitas Temperatur Manometer Fungsi : memompa air pendingin dari cooling tower ke dalam proses h. Cooling tower Jumlah Bentuk Ukuran
a.

: 8 buah (5 untuk aromatik 3 untuk ekstrak) : (1x0,35x0,35) m3 : 118 kg : 15 L/s : 40°C

Perlengkapan pendamping :

: 4 buah (2 untuk aromatik 2 untuk ekstrak) : persegi : 2,5x 2,5x3 m

Perlengkapan pendamping : Actuator out dan actuator return tekanan maks. 10 bar Kipas pendingin 7,5 kw Panel b. c.

Fungsi : mendinginkan air pendingin yang telah menjadi panas setelah digunakan sebagai air pendingin dalam proses. i. Boiler Diameter Panjang : 1,99 m :4m

45

Tekanan Kapasitas Temperatur a. b. c.
e.

: 10-12 kg/cm2 : 3000 kg/ jam : 200°C

Perlengkapan pendamping : Kontrol panel (1 buah) Pompa air umpan (2 buah) Tangki air umpan diameter 1,1 m, panjang 2,75 m, kapasitas 2000 L Header untuk steam Tangki IDO harian diameter 1,1 m, panjang 2,75 m, kapasitas 2000 L

d. Tangki blow down

f.

g. Super heated diameter 0381 m h. Pembakar bertekanan 63-290 kg/cm2 i.

Unit softener

Fungsi : mensuplai kebutuhan steam j. VGL Nitrogen Jumlah Diameter Tinggi Berat Kapasitas Fungsi
k. Tangki Chiller

: 2 buah : 0,508 m :1,559 m :123 kg : 14 kg : menyimpan nitrogen cair

Temperatur Kapasitas a. b.

: 20°C sampai dengan 100°C : 420 L

Perlengkapan pendamping : Pompa vakum 3 buah Level alarm

Fungsi : mendinginkan air pendingin yang membutuhkan suhu di bawah suhu lingkungan.

46

l. Perpipaan Untuk sistem perpipaan, PT. Indesso Aroma memiliki sistem pengaturan yang rapi dalam membedakan pipa-pipa yang digunakan dalam berproduksi. Hal ini bertujuan untuk membedakan jenis bahan yang dialirkan. PT Indesso Aroma membedakan jenis pipa dengan pemberian warna yang berbeda. Jumlah jenis warna pipa ada 8, seperti pada Tabel. 24 berikut dapat dilihat masing-masing fungsi pipa sesuai dengan warnanya. No 1 2 3 4 5 6 7 8 Warna Pipa Pipa Biru Pipa Hijau Pipa merah Pipa Abu-abu Pipa Kuning Pipa Perak Pipa Coklat Pipa Ungu Fungsi mengalirkan Air Fresh Air pendingin Air Pemadam Kebakaran Udara Tekan Nitrogen Steam Buangan Steam (Air Kondesat) Air Panas

Tabel 24. Sistem Perpipaan di PT. Indesso Aroma

D. Sarana Penunjang (Sistem Utilitas dan Pengolahan Limbah) Sarana penunjang yang digunakan di PT. Indesso dalam berproduksi

terdiri dari unit pembangkit tenaga listrik, air bersih untuk memasok air umpan boiler, pendinginan, proses produksi, air hydrant, dan kebutuhan rumah tangga pabrik, gas inert yaitu N2, dan unit pengolahan limbah baik padat atau cair . 1. Unit Pembangkit Tenaga Listrik Sumber energi listrik di PT. Indesso Aroma ada 2 macam, yaitu PLN dan Genset. Listrik dari PLN memiliki daya sebesar 345 kVA. Sedangkan genset yang dimiliki PT Indesso Aroma memiliki daya sebesar 500 kVA. Sebelumnya

47

perusahaan ini memiliki genset dengan daya sebesar 250 kVA, karena tidak mencukupi dilakukan penggantian dengan genset yang memiliki daya yang lebih tinggi. Sumber utama yang digunakan adalah listrik dari PLN sedangkan genset hanya digunakan saat terjadi pemadaman listrik oleh PLN. Genset ini dapat menyala secara otomatis dalam waktu kira-kira 1/2 menit setelah terjadinya pemadaman listrik. 2. Unit Penyediaan Air Penggunaan air bersih di PT. Indesso Aroma antara lain untuk kebutuhan air umpan boiler, pendinginan, proses produksi, air hydrant, dan kebutuhan rumah tangga pabrik. Air bersih ini diperoleh dari pengolahan air sumur dalam. Dipilih air sumur karena air sumur ini saja sudah bisa untuk mencukupi kebutuhan pabrik. Selain itu, sungai di sekitar pabrik juga sudah sangat kotor sehingga akan jauh lebih sulit pengolahannya. Air yang digunakan untuk hydrant dan kebutuhan rumah tangga pabrik tidak perlu diolah. Air sumur dalam tadi sudah cukup bersih untuk digunakan. Air ini dipompa keluar dan langsung digunakan. Sedangkan untuk kebutuhan air umpan boiler, air pendingin, dan air proses, perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Air sumur dalam dipompa lalu masuk ke dalam sebuah bak dan diberi zat kimia berupa kalium permanganat (KMnO4) untuk mengendapkan kotoran yang mungkin terbawa. Pompa yang digunakan berkekuatan 5 HP dan berkapasitas 200 L/menit. Dari bak itu, air lalu masuk ke dalam sand filter. Dari sand filter air masuk ke tangki penyimpanan dengan kapasitas 150 m3. Untuk mengalirkan air dari tangki ini, digunakan 2 buah pompa berkapasitas 17 m3/jam dan 6 m3/jam dengan tekanan maksimum 4 bar. Pompa utama yang digunakan adalah pompa dengan kapasitas 6 m3/jam. Jika tidak mencukupi kebutuhan, pompa yang besar akan menyala secara otomatis sehingga digunakan 2 buah pompa. Untuk air pendingin, air dari tangki penyimpanan dialirkan ke pipa-pipa untuk digunakan. Setelah digunakan sebagai pendingin, air dialirkan ke cooling

48

tower untuk didinginkan. Perusahaan ini memiliki empat buah cooling tower, 2 untuk proses di gedung ekstrak dan 2 sisanya untuk proses di gedung aromatik dengan ukuran masing-masing (2,5x2,5x3,0) m dan 8 buah pompa. Lima pompa diantaranya digunakan untuk aromatik dan 3 pompa sisanya untuk ekstrak yang digunakan untuk mengalirkan kembali air yang telah didinginkan. Pompa ini masing-masing memiliki kekuatan 15 HP, kapasitas 15 L/detik, dan tekanan maksimum 4 bar. Suhu air yang telah didinginkan berkisar antara 21°C-29°C. Pompa ini masing-masing membutuhkan daya sebesar 11 kW. Beberapa pendinginan tidak dapat dilakukan dengan air pendingin biasa. Untuk itu diperlukan chiller. Pabrik ini memiliki sebuah chiller dengan kapasitas 373L/menit. Chiller ini dapat mendinginkan air pendingin hingga 5°C. Selanjutnya air dingin tersebut dialirkan melalui pipa. Selain air pendingin juga diperlukan air pemanas, air panas di gedung aromatik digunakan plate heat exchanger. Sedangkan di gedung ekstrak air panas yang dihasilkan menggunakan steam. Air umpan boiler juga diambil dari tangki penyimpanan. Air ini masuk kedalam boiler yang dapat menghasilkan saturated steam sebanyak 3 ton/jam, pada tekanan 10 bar, dan suhu 185°C. Jenis boiler yang digunakan adalah boiler pipa api. Namun kebutuhan steam pabrik saat ini hanya 1200 kg/jam. Bahan bakar untuk boiler ada dua macam, yaitu solar dan IDO (Industry Diesel Oil). Kedua bahan bakar ini digunakan secara bergantian. Bahan bakar utama adalah IDO dengan kebutuhan sebesar 45 L/jam. Solar hanya digunakan sebagai cadangan karena solar juga merupakan bahan bakar genset dan harganya lebih mahal dibandingkan IDO. Untuk keperluan air proses, setelah dari tangki penyimpanan masih diperlukan pengolahan lebih lanjut. Air dimasukan kedalam dua buah kantung filter secara berurutan dengan ukuran filter 5 mikron dan 1 mikron. Selanjutnya air yang akan digunakan di unit aromatic chemical masuk ke dalam catridge filter yang mempunyai ukuran 1 mikron. Sedangkan air proses yang akan digunakan di unit natural extract harus melalui carbon filter untuk membersihkan air dari zat kimia yang mengganggu. Setelah air itu tadi masuk kedalam alat demineralisasi

49

yang terdiri dari atas cation exchanger dan anion exchanger. Kapasitas alat demineralisasi ini adalah 3 m3/jam. Cation exchanger berfungsi untuk mengikat ion-ion positif yang ada di alam air sehingga air bebas dari ion positif. Sedangkan anion exchanger berfungsi untuk mengikat ion-ion negatif yang ada di dalam air sehingga air bebas dari ion negatif. Setelah itu melalui alat demineralisasi air dialirkan dan disinari dengan sinar ultra violet (UV). Tujuannya adalah untuk membunuh bakteri-bakteri yang ada di dalam air. Setelah itu air proses siap digunakan. 3. Unit Penyediaan Gas Inert (Gas Bertekanan) Gas bertekanan yang digunakan disini adalah gas N2. Ada dua jenis N2 yang digunakan, yaitu N2 cair dan N2 gas. N2 cair digunakan sebagai penyuplai utama. Tujuan penggunaan N2 cair adalah untuk penghematan tempat karena dalam bentuk cair volum N2 akan lebih kecil. N2 cair ini disimpan dalam tabung VGL dengan kapasitas 114 kg. Tabung ini dilengkapi dengan pengontrol katup guna mengatur tekanan di dalam tabung. Tekanan dalam tabung semakin lama semakin meningkat akibat pengaruh suhu, sehingga ada nitrogen yang berubah menjadi gas. Jika tekanan tabung meningkat terlalu tinggi melebihi batas yang diizinkan, pengontrol katup akan terbuka dan sebagian nitrogen ada yang keluar. Dengan demikian kekurangan penggunaan nitrogen cair ini adalah meskipun tidak digunakan, nitrogen dapat habis dengan sendirinya. Perusahaan hanya memiliki 2 buah tabung VGL yang terbuat dari bahan stainless steel. Namun hanya satu yang berada di lokasi sedangkan yang lainnya berada di supplier unuk diisi kembali yang digunakan secara bergantian.saat terjadi pergantian tabung kebutuhan nitrogen disuplai dari nitrogen gas. Gas ini disimpan dalam beberapa tabung kecil yang terbuat dari besi dengan kapasitas 6 m3. Perusahaa memiliki 14 tabung. Empat buah terhubung dengan pipa penyuplai dan sisanya untuk cadangan. 4. Unit Pengolahan Limbah

50

Limbah yang dihasilkan di pabrik Indesso Aroma dibedakan menjadi 2, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat diolah dalam incinerator. Sedangkan limbah cair diolah dalam bak-bak pengolahan limbah. Dikarenakan proses relatif sedikit menghasilkan limbah gas sehingga tidak diperlukan pengolahan secara khusus sebelum dibuang ke lingkungan. Incinerator di PT. Indesso Aroma mempunyai dimensi sebesar (1,4x1,4x0,9) m dengan kapasitas 1,5 m3/450 kg. Incinerator ini dilengkapi dengan 4 buah blower untuk memasukan udara pembakaran. Alat ini terdiri dari dua bagian, yaitu pembakar utama dan burner thermo reactor (reaktor pembakar panas). Pembakar utama mempunyai suhu operasi sebesar 400°C. Fungsinya adalah untuk membakar limbah yang berupa zat-zat padat. Sedangkan reaktor pembakar panas mempunyai suhu operasi sebesar 1000°C. Fungsinya adalah untuk membakar asap hasil pembakaran utama agar asap yang keluar dari incinerator tidak hitam (tidak berwarna). Limbah cair dihasilkan adalah air bekas proses pencucian proses dan air dari laboratorium QC. Unit pengolahan limbah cair terdiri dari kolam-kolam yaitu, oil separator, kolam karantina, kolam equalisasi, buffer basin, kolam aerasi, kolam sedimentasi, dan kolam pembuangan akhir. a. Oil Separator Kandungan minyak pada limbah perlu dihilangkan terlebih dahulu sebelum masuk ke kolam aerasi karena beban organik minyak terlalu tinggi. Unit oil separator dibagi menjadi 2, yaitu bak untuk memisahkan minyak berat dan bak untuk memisahkan minyak ringan. Limbah dari proses produksi terlebih dahulu dipisahkan kandungan minyak beratnya, kemudian dilanjtkan dengan pemisahan dari kandungan minyak ringannya. a. Kolam Karantina Kolam karantina berfungsi untuk menyeimbangkan laju alir dan beban limbah sebelum masuk ke kolam aerasi agar tidak terjadi fluktuasi yang terlalu besar. Fluktuasi yang terjadi biasanya bergantung pada proses produksi yang dijalankan. Beban limbah yang terlalu fluktuatif akan mengganggu pertumbuhan mikroorganisme lumpur aktif.

51

b.

Kolam Ekualisasi Kolam ekualisasi berfungsi sebagai tempat berlangsungsnya homogenisasi limbah lebih lanjut.

c.

Buffer Basin, Kolam Aerasi I dan II Proses di dalam kolam aerasi akan terjadi kontak antara limbah, lumpur aktif dan O2 yang berasal dari permukaan aerator. Mikroorganisme lumpur aktif akan mengkonsumsi kandungan karbon dalam limbah, sehingga terjadi penurunan COD/BOD limbah. Kebutuhan oksigen disuplai oleh surface aerator, untuk kebutuhan nutrisi lain seperti nitrogen dan fosfor didapatkan dari pupuk yaitu urea dan TSP. Urea merupakan zat yang larut di dalam air sehingga dapat dibuat larutan dengan berbagai konsentrasi sedangkan TSP sukar larut di dalam air sehingga dibuat larutan dengan konsentrasi yang kecil maka dibuat perbandingan BOD:N:P=100:5:1. Bakteri yang ada di dalam akan mengoksidasi sebagian dari limbah menjadi CO2 dan air. Bakteri juga akan mensintesis bagian yang lain menjadi sel-sel mikroba baru.

d.

Kolam Sedimentasi Kolam sedimentasi pada unit IPAL berjumlah dua buah dengan konfigurasi rectangular tank. Pada kolam sedimentasi terjadi pemisahan antara effluent limbah dengan lumpur aktif. Lumpur aktif akan terendapkan di bagian bawah kolam sedangkan effluent limbah terkumpul di bagian atas. Satu kali setiap hari lumpur yang terendapkan dipompa untuk dikembalikan ke kolam aerasi (buffer basin). Bakteri hidup yang terkandung dalam lumpur akan menjadi penyeimbang populasi bakteri di kolam aerasi sedangkan bakteri mati akan menjadi bahan makanan bagi bakteri hidup.

e.

Kolam Pembuangan Akhir Kolam pembuangan akhir merupakan kolam bulat yang berfungsi untuk menampung limbah yang sudah diolah sebelum dibuang ke sungai. Di kolam ini dipelihara ikan sebagai bio-indikator, jika ikan mampu hidup limbah yang akan dibuang dapat dianggap tidak mencemari perairan.

52

Berikut merupakan alur pengolahan limbah cair dari produksi : Air Limbah

Pemisahan minyak dengan air dalam oil

Pemberian Nutrien dan Fosfor

Penyeragaman dalam bak ekualisasi

Penetralan pH

Aerasi dalam buffer basin (bak besar) Aerasi dalam bak aerasi I dan II

Separasi air lumpur dalam bak sedimentasi

Pemastian kualitas air terhadap ikan

Sungai (COD, BOD < 100 mg/L)

53

Gambar 11. Alur pengolahan limbah dari produksi Sumber : Lab QC PT. Indesso Aroma (2007)

Tabel 2. Nilai Baku Mutu Limbah Cair Industri No Parameter Satuan Nilai baku mutu limbah cair Gol. I Gol. II 6-9 6-9 50 150 100 300 200 400 1 5 20 30 1 3 5 10

1 pH 2 BOD5 Ppm 3 COD Ppm 4 TSS Ppm – 5 NH3 N Ppm 6 Nitrat (NH3 N) Ppm 7 Nitrit (NH2 -N) Ppm 8 Senyawa aktif biru metilen Ppm Sumber : Lab QC PT. Indesso Aroma (2007)

E.

Karakteristik Produk Produk patchouli oil yang dihasilkan oleh PT. Indesso Aroma berupa

cairan kental dengan warna kuning sampai kuning kecoklatan. Produk ini merupakan bahan baku bagi industri kosmetik, farmasi, makanan, minuman dan aroma terapi. Produk patchouli oil ini biasa dikemas di dalam metal drum dengan kapasitas 200 kg. Pada Tabel 25 dan Tabel 26 dapat dilihat parameter yang harus dimiliki produk patchouli oil sebelum dipasarkan. Tabel 25 merupakan spesifikasi pachouli oil 868 yang berbahan baku murni crudepatchouli oil 087.

SPESIFIKASI PATCHOULI OIL P 868 Slight viscous oily liquid Slight viscous oily liquid Acid value (titration) 0,0 – 8,0 Yellow-Brown Yellow-Brown

54

a-Copaene content (GLC) 0,00% - 0,50% Iron content (Spectrophotometer) 0,00 ppm – 5,00 ppm Hexylene Glycol (GLC) 0 ppm – 200 ppm Color L (Lovibond 1 cm cell) 82,0 – 94,0 Color R (Lovibond 1 cm cell) 6,0 – 14,0 Color Y (Lovibond 1 cm cell) 60,0 – 82,0 Optical Rotation (25ºC) (-55,0) – (-48,0) Organoleptic (odor) Organoleptic (odor) Patchouli Alcohol Content (GLC) 30,00% - 70,00% Refractive Index (n20/D) 1,507 – 1,512 Spesific Gravity (d25/25) 0,950 – 0,970 Tabel 25. Spesifikasi PATO 868 Tabel 26 merupakan spesifikasi pachouli oil 871 yang berbahan baku campuran antara crudepatchouli oil 087 dan crudepatchouli oil 0861. SPESIFIKASI PATCHOULI OIL LIGHT J 871 Slight viscous oily liquid Slight viscous oily liquid Acid value (titration) 0,0 - 8,0 Yellow-Brown Yellow-Brown a-Copaene content (GLC) 0,00% - 0,50% Iron content (Spectrophotometer) 0,00 ppm - 5,00 ppm Optical Rotation (25ºC) (-55,0) - (-48,0) Patchouli Alcohol Content (GLC) 29,50% - 70,00% Refractive Index (n20/D) 1,507 - 1,512 Spesific Gravity (d25/25) 0,950 - 0,970 Tabel 26. Spesifikasi PATO 871

55

V. ASPEK PENGAWASAN MUTU Standar mutu merupakan panduan penting dalam menentukan kualitas suatu bahan berdasarkan persyaratan tertentu. Persyaratan standar mutu minyak atsiri biasanya ditetukan oleh karakteristik alamiah dari masing-masing minyak tersebut, bahan-bahan yang tercampur didalamnya, dan bahan asing yang tercampur didalamnya. Selain itu, faktor lain yang dapat menentukan mutu minyak atsiri adalah sifat fisika dan kimia, seperti bilangan asam, bilangan ester, komponen utama minyak, dan perbandingan dengan standar mutu perdagangan yang ada (Rusli, 2010). Pengawasan mutu (quality control) adalah suatu tindakan atau kegiatan sehubungan dengan keinginan untuk menghasilkan suatu produk yang baik, dapat memuaskan konsumen dan produsen, bermutu tinggi dengan tingkat mutu yang dapat dipertahankan untuk setiap produksinya. Pengawasan mutu yang dilaksanakan di industri seluruhnya mengarah kepada pencapaian produk akhir yang sesuai dengan standar mutu produk yang berlaku dan produk yang seragam. PT Indesso Aroma juga sangat memperhatikan mutu dari produk yang dihasilkan. Pangsa pasar dari PT Indesso Aroma yang merupakan pasar internasional yang biasanya sangat sensitif terhadap mutu produk, memaksa perusahaan ini untuk bekerja keras menjamin mutu produk yang dihasilkan. Untuk itu, pengawasan mutu terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini dimulai dari bahan baku yang akan diolah, pengawasan selama proses produksi dan pengawasan terhadap produk akhir yang dihasilkan. A. Pengawasan Mutu Bahan Baku Pada proses penerimaan bahan baku dari suplier, hal pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan dokumen dari suplier yang berupa surat jalan. Surat jalan adalah surat yang dibuat suplier sebagai bukti pengiriman barang yang berisi Purchase Order (PO) dari perusahaan. Surat jalan tersebut akan distempel tanggal kedatangan, paraf, dan nama pengirimnya. Kedatangan bahan baku diinformasikan ke bagian gudang. Bagian gudang kemudian menginformasikan jenis bahan baku, jumlah, dan nama suplier ke petugas Quality Control (QC). Petugas tersebut kemudian mengambil sampel dan

56

melakukan pemeriksaan atau inspeksi terhadap bahan baku. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk memastikan pasokan bahan baku telah memenuhi standar spesifikasi yang dibutuhkan. Pemeriksaan dilakukan secara acak untuk semua bahan baku dengan menggunakan teknik sampling seadanya dan dalam jumlah sampel yang tidak dapat ditentukan. Pemeriksaan penerimaan bahan baku meliputi data teknis, kode produksi, kondisi kemasan, jumlah barang yang dikirim dan pemeriksaan parameter mutu lainnya. Pemeriksaan data teknis bahan terlampir bertujuan agar dapat melakukan penyesuaian mutu bahan dengan standar produksi, sehingga dapat mencegah kerusakan produk jadi. Pemeriksaan parameter mutu setiap barang berbeda, hal tersebut tergantung pada atribut mutu masing-masing barang. Parameter pemeriksaan penerimaan bahan baku berbeda untuk setiap jenis barang. Setiap barang memiliki standar penerimaan tersendiri. PT Indesso telah memiliki standar tersendiri terhadap setiap bahan baku yang diterima. Untuk Crude Patchouli oil yang merupakan bahan baku dari patchouli oil standar yang dipakai adalah: Adulterant (Fat) Slight viscous oily liquid Acid value (titration) Pale Yellow - Reddish Brown a-Copaene content (GLC) Hexylene Glycol (GLC) Optical Rotation (25ºC) Organoleptic (odor) Patchouli Alcohol Content (GLC) Refractive Index (n20/D) Spesific Gravity (d25/25) Adulterant (Fat) Slight viscous oily liquid 0,0 - 8,0 Pale Yellow – Reddish Brown 0,0% - 0,5% 0 ppm - 150 ppm (-55,0) - (-48,0) Organoleptic (odor) 30,00% - 70,00% 1,507 - 1,512 0,950 - 0,970 Solubility in 10 parts vol. 90%

Soluble in 10 parts vol. 90% alcohol Tabel 27. Standar Crude Patchouli oil

B.

Pengawasan Mutu Proses Produksi

57

Pemeriksaan parameter produksi bertujuan memantau konsistensi proses produksi. Pemeriksaan parameter produksi dilakukan dengan membandingkan keadaan aktual suatu tahapan proses dengan parameter standar proses. Kegiatan ini meliputi proses pendataan keadaan aktual tahapan proses produksi dengan menggunakan process production checklist form. Hasil pendataan merupakan gambaran keadaan aktual proses produksi. Pemeriksaan parameter produksi dilakukan setiap hari selama

berlangsungnya produksi dan dilakukan pada setiap tahapan proses untuk semua produk, mulai dari tahapan pemasukan bahan baku sampai pada tahapan pengemasan. Pendataan keseluruhan tahapan proses produksi dicatat pada bacth sheet secara kontinyu untuk setiap batch produksi. Jam dan batch untuk setiap tahapan proses pemeriksaan parameter produksi harus terdokumentasi dengan baik dan jelas. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan proses pelacakan jika terjadi suatu kesalahan pada proses produksi. Pendataan awal pada pemeriksaan parameter produksi dimulai pada tahap pemeriksaan terhadap kesiapan operator, peralatan produksi, dan bahan baku, misalnya untuk operator apakah sudah memenuhi standar, untuk peralatan produksi apakah sudah lulus uji dari bagian QC dan maintenance, dan untuk bahan baku berapa formulasi yang dipakai untuk membuat produk tersebut. Setelah tahap persiapan alat dan bahan selesai, pemeriksaan dilakukan saat pemasukan bahan baku. Pada pemeriksaan bahan baku, ketepatan bahan yang digunakan dengan karakteristik yang diminta oleh vendor dan sesuai dengan yang telah ditetapkan perusahaan akan menentukan karakteristik produk akhir. Selain dari segi ketepatan jumlan bahan bakunya sendiri, kondisi saat pemasukkan bahan baku juga harus diperhatikan. Untuk produk patchouli oil ini mensyaratkan bahan baku masuk dalam keadaan vakum. Hal ini ditujukan agar tidak terjadi proses lain yang tidak diinginkan yang nantinya akan berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan, begitu juga saat pemasukan bahan tambahan. Pemeriksaan ini diawali dengan memastikan semua kondisi dari valve dari alat dalam keadaan tertutup. Proses pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk menjaga kelancaran selama proses dan menghindari terhentinya proses produksi karena kondisi alat yang

58

tidak siap. Setelah bahan baku crude masuk ke dalam reaktor pemeriksaan pada valve juga dilakukan untuk memastikan kondisinya tertutup kecuali pada valve atmosfer yang sengaja dibuka untuk menciptakan kondisi atmosfer. Setelah kondisi atmosfer dan direaksikan dengan citric acid, pemeriksaan kembali ke bagian quality control. Dicek apakah kandungan Fe < 5 ppm, jika reproses maka lanjutkan reaksi cek PDP 1 (Pemeriksaan Produk Dalam Proses 1).

Gambar. Pemeriksaan pada quality control Tahap selanjutnya adalah pemasukan bahan tambahan sodium karbonat, bahan ini dimasukan juga dengan sistem vakum. Sebelum dilakukan reaksi karbonat kondisi valve kembali diperiksa untuk memastikan semua valve dalam keadaan tertutup, kecuali untuk valve atmosfer. Setelah bahan tambahan karbonat masuk dan direaksikan ke dalam reaktor, drain dilakukan ke dalam vessel untuk memeriksa apakah padatan ikut keluar sebelum dilanjutkan drain langsung ke dalam unicube. Sebelum di drain dilakukan pemeriksaan kembali ke bagian quality control yang dinamakan PDP 2 (Pemeriksaan Produk Dalam Proses 2), di cek apakah kadar asam berada diantara pH 0 hingga 8 dengan menggunakan proses titrasi. Tahap terakhir merupakan tahap penyaringan minyak menggunakan klico, pada tahap ini harus dicatat selama berapa kali minyak disaring menggunakan klico, berapa banyak, dan berapa jumlahnya. Pemeriksaan dilakukan berulang kali untuk memastikan apakah minyak yang dihasilkan sudah jernih. Pemeriksaan dalam proses terakhir adalah PDP 3, dimana pemeriksaan dilakukan dengan cara manual oleh operator apakah masih keruh dan kotor. Jika minyak masih terlihat keruh atau kotor maka filtrasi dilakukan kembali dan begitu seterusnya.

59

C. Pengawasan Mutu Produk Akhir Pengawasan terhadap produk akhir meliputi pengawasan terhadap kesesuaian spesifikasi produk dengan permintaan dari vendor. Setelah pemeriksaan dilakukan beberapa tahap yaitu pada saat proses atau disebut PDP (Pemeriksaan Produk Dalam Proses), pemeriksaan keseluruhan dari produk tersebut juga dilakukan sebelum produk dikemas atau disebut PDA (Pemeriksaan Produk Dalam Akhir). Pengecekan kembali dilakukan oleh bagian quality control (QC) meliputi: SPESIFIKASI PATCHOULI OIL P 868 Slight viscous oily liquid Slight viscous oily liquid Acid value (titration) 0,0 – 8,0 Yellow-Brown Yellow-Brown a-Copaene content (GLC) 0,00% - 0,50% Iron content (Spectrophotometer) 0,00 ppm – 5,00 ppm Hexylene Glycol (GLC) 0 ppm – 200 ppm Color L (Lovibond 1 cm cell) 82,0 – 94,0 Color R (Lovibond 1 cm cell) 6,0 – 14,0 Color Y (Lovibond 1 cm cell) 60,0 – 82,0 Optical Rotation (25ºC) (-55,0) – (-48,0) Organoleptic (odor) Organoleptic (odor) Patchouli Alcohol Content (GLC) 30,00% - 70,00% Refractive Index (n20/D) 1,507 – 1,512 Spesific Gravity (d25/25) 0,950 – 0,970 Tabel 28. Standar pada Produk Akhir Setelah produk dinyatakan sesuai standar maka patchouli oil siap untuk difilling ke dalam drum yang terbuat dari metal berukuran masing-masing 209 L dengan head space sebesar 5 – 10% dari isi drum. Karena untuk tujuan ekspor, pada bagian luar drum diberi keterangan dengan cat seal yang tidak mudah luntur, yaitu nama barang, negara asal produk, nama perusahaan, berat netto, berat bruto, negara tujuan dan keterangan yang diperlukan.

60

VI. PEMBAHASAN

Proses produksi minyak nilam di Indonesia banyak memiliki kelemahan dari teknologi yang digunakan. Teknik penyulingan minyak nilam yang selama ini diusahakan para petani masih dilakukan secara sederhana dan belum menggunakan teknik penyulingan secara baik dan benar. Rusli (1991) menyatakan bahwa minyak nilam yang dihasilkan oleh petani pengrajin bermutu rendah, hal ini disebabkan karena cara penyulingan yang dilakukan masih kurang memenuhi syarat, selain itu ketel yang digunakan untuk menyuling tanaman nilam berupa drum bekas yang sudah berkarat sehingga terjadi pengotoran oleh karat tersebut akibatnya minyak yang dihasilkan berwarna kehitaman. Teknik penyulingan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan minyak. Selain itu, penanganan hasil setelah produksi belum dilakukan secara maksimal, seperti wadah yang tidak sesuai dan penyimpanan yang tidak benar sehingga terjadi reaksi yang tidak diinginkan, seperti oksidasi, hidrolisis, dan polimerisasi (resinifikasi). Biasanya minyak yang dihasilkan akan terlihat lebih gelap dan berwarna kehitaman atau sedikit kehijauan akibat kontaminasi dari logam Fe dan Cu, minyak yang terbakar maupun resinifikasi. Hal ini akan berpengaruh terhadap sifat fisika kimia minyak (Hernani dan Marwati, 2006). Selain itu, minyak yang berwarna gelap dapat menyebabkan rendahnya harga minyak sehingga tidak dapat diekspor karena bermutu rendah dan tidak memenuhi standar perdagangan atau Standar Nasional Indonesia (SNI). Sukirman dan Aiman (1979) menyatakan bahwa jenis logam yang paling baik digunakan untuk ketel suling adalah besi yang tahan karat karena bahan ini mampu menyuling bahan baku yang bersifat asam tanpa mampu mengakibatkan korosi. Alat penyulingan yang terbuat dari logam (Fe dan Al) dapat mengakibatkan minyak yang dihasilkan berwarna gelap dan mempunyai bilangan asam yang tinggi (Rusli dan Hasanah, 1977).

61

Penyebab timbulnya warna dalam minyak atsiri adalah zat warna alamiah yang terdapat dalam bahan yang mengandung minyak, dan ikut terekstrak bersama minyak pada proses ekstraksi, atau warna yang timbul sebagai hasil reaksi antar komponen, degradasi dari zat warna alamiah dan reaksi senyawa dalam minyak dengan ion logam (Karmelita, 1991). Berdasarkan permasalahan tersebut, strategi pengembangan yang harus dilakukan adalah menerapkan teknologi pemurnian minyak yang tepat untuk memperoleh mutu minyak nilam terstandar. Pemurnian minyak merupakan salah satu cara dalam meningkatkan stabilitas dan mutu minyak atsiri selama penyimpanan dan pengangkutan. Pemurnian merupakan salah satu tingkat pengolahan minyak yang bertujuan untuk memisahkan zat warna yang terdapat dalam minyak (Ketaren, 1985). Secara umum yang dimaksud pemurnian adalah menghilangkan bahan/benda asing yang mengotori suatu zat/senyawaan. Pada minyak atsiri bahan yang mengotori antara lain adalah debu, oksida logam (karat), resin dan sebagainya yang terlarut, terdisperasi atau teremulsi di dalam minyak (Ketaren, 1985). Pemucatan adalah salah satu teknik pemurnian pada minyak nilam. Menurut Guenther (1987), pemucatan merupakan suatu proses yang bertujuan untuk memisahkan zat warna yang tidak dikehendaki yang berada dalam minyak. Berdasarkan sifatnya pengerjaan proses ini dibedakan menjadi dua cara, yaitu fisika dan kimia (Kirk dan Othmer, 1985). Untuk proses fisika dari segi biaya akan jauh lebih mahal daripada proses kimia. Salah satu pemurnian menggunakan cara kimia adalah dengan senyawa pembentuk kompleks. Menurut Kirk dan Othmer (1965), senyawa pembentuk kompleks merupakan sejenis molekul organik dan anorganik (ligan) yang menyebabkan sebuah ion logam memiliki lebih dari satu posisi, misalnya melalui dua atau lebih grup elektron donor dalam ligan. Pembentukan senyawa kompleks dapat terjadi jika ada reaksi antara ion logam yang dinamakan ion inti dengan komponen-komponen lain yang disebut ion negatif atau molekul yang disebut ligan. Dalam pembentukan senyawa kompleks ligan akan mengikat ion logam melalui ikatan koordinat kovalen, dimana yang bertindak sebagai donor elektron disini adalah ligan. Senyawa kompleks yang terbentuk bisa bermuatan negatif, positif, atau nol.

62

Senyawa pembentuk kompleks dibedakan menjadi dua golongan, yaitu berdasarkan jumlah grup koordinasi yang dihasilkan dan jumlah cincin pengikat yang dapat terbentuk dengan ion logam. Senyawa ini berfungsi untuk mengurangi aktivitas ion-ion logam didalam produk, menghilangkan ion-ion logam yang membentuk endapan yang tidak diinginkan dan mengurangi sifat racun dari ion logam beracun. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pembentuk kompleks adalah asam sitrat, asam oksalat, asam tartarat, asam glukonat, asam etilen diamin tetra asetat (EDTA), asam nitrotriasetat (NTA), polifosfat, poliamin, dan asam isoaskorbat (Kirk dan Othmer, 1965). Asam sitrat atau β-3-hidroksi trikarbosiklis, 2-hidroksi-1,2,3-propana

trikarbosiklis, mempunyai rumus kimia C6H8O7. Sifat dari asam sitrat adalah agen pengkelat (chelating agent) dimana senyawa ini dapat mengikat logam-logam divalen atau lebih, seperti Mn, Mg dan Fe yang sangat diperlukan sebagai katalisator dalam reaksi oksidasi sehingga reaksi ini dapat dihambat dengan penambahan asam sitrat (Winarno dan Laksmi, 1974). Adanya ion logam Fe2+ dalam minyak nilam akan bereaksi dengan asam organik membentuk senyawa organologam. Senyawa organologam ini dapat dipisahkan dari minyak dengan penambahan asam sitrat . Jika suatu partikel padat telah terpisah secara sempurna dan bereaksi secara elektrolik, maka partikelpartikel tersebut akan saling tolak menolak dan tetap terpisah. Jika senyawa dengan muatan yang berbeda seperti flokulan ditambahkan ke dalam campuran tersebut, maka partikel-partikel yang telah terpisah akan membentuk, maka partikel-partikel yang telah terpisah akan membentuk kumpulan yang lebih besar dan lebih cepat mengendap. Menurut Petterson (1992) di dalam (Ragina F. S., 2002), penambahan asam sitrat sebesar 0.05% b/b terhadap bobot minyak dalam bentuk larutan 50% dalam air sesaat sebelum penambahan adsorban akan sangat nyata meningkatkan aktivitas penyerapan logam oleh adsorban tersebut. Bahkan penggunaan asam sitrat dengan jumlah seperlima dari konsentrasi di atas aktivitas penyerapan cukup efektif. Pada metode ini logam yang telah terkompleks bersama asam sitrat menjadi lebih efektif diadsorpsi oleh adsorban.

63

SPESIFIKASI MINYAK NILAM YANG DIBELI Adulterant (Fat) Adulterant (Fat) Slight viscous oily liquid Slight viscous oily liquid Acid value (titration) 0,0 - 8,0 Pale Yellow - Reddish Brown Pale Yellow – Reddish Brown Iron content < 10 ppm a-Copaene content (GLC) 0,0% - 0,5% Hexylene Glycol (GLC) 0 ppm - 150 ppm Optical Rotation (25ºC) (-55,0) - (-45,0) Organoleptic (odor) Organoleptic (odor) Patchouli Alcohol Content (GLC) Refractive Index (n20/D) Spesific Gravity (d25/25) Soluble in 10 parts vol. 90% 30,00% - 80,00% 1,507 - 1,512 0,950 - 0,970 Solubility in 10 parts vol. 90% alcohol

Tabel 29. Spesifikasi Minyak Nilam Awal Pada Tabel di atas ditampilkan karakteristik minyak nilam sebelum pemurnian. Terdapat perbedaan karakteristik antara minyak nilam sebelum pemurnian dengan mutu yang dipersyaratkan pada tabel 28 terutama pada warna, kejernihan, putaran optik dan kadar besi di dalam minyak. Warna minyak yang gelap menyebabkan tingkat kejernihan minyak sangat rendah, dan hal ini disebabkan oleh kandungan besi yang tinggi. Menurut Brahmana (1991), warna gelap pada minyak nilam disebabkan oleh kandungan besi. Rusli (2002) berpendapat bahwa kontaminasi oleh besi terjadi selama proses penyulingan yang menggunakan ketel yang terbuat dari logam besi, seperti drum atau plat besi. Payne (1964) mengatakan bahwa ion logam selain secara langsung dapat menimbulkan warna, juga dapat memacu reaksi oksidasi yang menghasilkan senyawa pembentuk warna dari gugus >C=C< atau >C=O dengan ikatan rangkap yang terkonyugasi.

64

Warna gelap menyebabkan rendahnya kejernihan serta nilai putaran optik yang tidak terukur. Warna dan kekeruhan merupakan parameter yang mudah tampak, oleh karena itu keduanya sangat mempengaruhi penerimaan konsumen dan dapat menurunkan mutunya. Menurut Ketaren (1985) dan Rusli (1991) minyak atsiri yang berwarna gelap dapat dimurnikan dengan cara penyulingan ulang (redistilasi) atau dengan cara pengkelatan, namun menurut Rusli (2003) metode pengkelatan lebih mudah dan lebih menguntungkan dibanding cara penyulingan ulang. Pengkelatan merupakan proses pengikatan logam dalam suatu cairan oleh suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu pasang elektron bebas. Pengikatan ion logam tersebut menyerupai penjepitan (pengkelatan), senyawa yang menjepit disebut senyawa pengkelat (chelating agent) dan ion logam dinamakan ion pusat, karena berada dititik pusat. Mekanisme pengkelatan ini terjadi karena adanya penggunaan elektron bersama (sharing electron) antara ion logam dan ion bahan pengkelat, sehingga terbentuk senyawa kompleks antara logam dengan bahan pengkelat (Werner, 1984 dan Haryadi, 1994). Proses pengikatan logam merupakan proses keseimbangan pembentukan kompleks logam dengan senyawa pengkelat. Berarti proses pengkelatan dipengaruhi oleh konsentrasi senyawa yang ada. Secara umum keseimbangan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut :

. Gambar. Reaksi saat proses deironized secara umum Kejernihan merupakan parameter utama yang ingin dicapai oleh proses pemurnian karena kejernihan merupakan indikator yang menunjukan tinggi rendahnya kandungan bahan pengotor di dalam minyak nilam. Untuk mencapai kejernihan ini, logam Fe harus dikurangi dengan menggunakan bahan pengkelat. Pada proses ini digunakan asam sitrat sebagai bahan pengkelat. Keasaman asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton

65

dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Ion sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion logam membentuk garam sitrat. Setelah kadar Fe turun karena ion logam Fe sudah terikat dengan ion sitrat menjadi garam yang mengendap pada minyak. Proses selanjutnya adalah mengubah suasana pada minyak agar pH menjadi netral. Akibat dari penambahan asam sitrat pH patchouli oil menjadi naik, untuk membuat pH tetap stabil maka perlu direaksikan dengan garam yang bersifat basa. Natrium bikarbonat adalah senyawa kimia dengan rumus NaHCO3. Dalam penyebutannya kerap disingkat menjadi bicnat. Senyawa ini termasuk kelompok garam yang bersifat basa dan telah digunakan sejak lama. Senyawa ini disebut juga baking soda (soda kue), sodium bikarbonat, natrium hidrogen karbonat, dan lain-lain. Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk. Proses yang terjadi dinamakan netralisasi, jika digambarkan adalah sebagai berikut : Garam Sitrat (Asam) + Garam Sodium Bikarbonat (Basa)  pH netral

Gambar 14. Natrium Bikarbonat Setelah melalui proses deironized dan netralisasi, proses selanjutnya adalah filtrasi minyak dilakukan dengan menggunakan klico yang telah dilapisi dengan precoat hyflo Supercell. Precoating merupakan proses pelapisan filter aid sebelum masuk ke filter press sehingga akan terbentuk pori-pori penyaringan kotoran yang memiliki ukuran sangat kecil. Dengan penyaringan ini minyak nilam akan terbebas dari kotoran. Menurut Huisman (1994), filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida yang membawanya menggunakan suatu medium berpori atau bahan berpori lain untuk menghilangkan sebanyak mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan koloid. Filtrasi dilakukan secara berulang-ulang menggunakan pompa gould sampai didapat warna minyak yang diinginkan.

66

Gambar 15. Klico untuk menyaring garam pada patchouli oil Setelah proses filtrasi, minyak kembali dimasukan kedalam unicube untuk menuju ke proses aerasi. Proses aerasi ini dilakukan didalam tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan jaket dan coil. Proses aerasi menggunakan udara tekan, nitrogen, dan panas ini digunakan untuk mempercepat reaksi sehingga organoleptik lebih cepat muncul dan menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan (contoh : terpen yang akan mempercepat proses oksidasi). Metode penghilangan senyawa terpen atau terpenless biasa dilakukan terhadap minyak atsiri yang akan digunakan dalam pembuatan parfum, karena minyak yang dihasilkan akan memberikan aroma yang lebih baik (Hernani et al., 2002; Sait dan Satyaputra, 1995). Setelah minyak mengalami proses aerasi, minyak siap didrain keluar menggunakan pompa vakum untuk kemudian disimpan ke dalam unicubeunicube.

Gambar 16. Tempat menampung patchouli oil (unicube)

67

Penyimpanan minyak nilam dalam unicube ini bertujuan untuk penyimpanan sementara sebelum minyak dilakukan proses mixing dan pengemasan. Minyak nilam yang telah diproses atau patchouli oil light yang tersimpan dalam unicube-unicube dimasukan kembali kedalam reator aerasi menggunakan pompa vakum. Pengadukan dilakukan selama 1 jam, kemudian minyak nilam dilakukan pemeriksaan ke bagian quality control. Setelah lulus uji minyak siap dikemas kedalam drum yang terbuat dari metal berukuran masing-masing 200 kg. Pada proses ini tidak semua minyak dapat dikemas, jika kurang dari 200 kg minyak akan ditampung ke dalam unicube untuk dicampurkan ke dalam batch selanjutnya. Nita (2007) menyatakan bahwa minyak nilam yang dihasilkan disimpan dalam wujud cairan, dikemas dalam drum bersih, kering, keadaan baik, berat netto 200 kg dengan head space sebesar 5 – 10% dari isi drum. Drum penyimpanan minyak nilam harus terbuat dari alumunium atau plat timah putih atau plat besi yang berlapis timah putih, plat besi yang galvanis atau yang didalamnya dilapisi dengan lapisan yang tahan minyak nilam. Untuk tujuan ekspor, pada bagian luar drum harus diberi keterangan dengan cat yang tidak mudah luntur, yaitu nama barang, negara asal produk, nama perusahaan, berat netto, berat bruto, negara tujuan dan keterangan yang diperlukan.

VII.

KESIMPULAN

Produksi minyak nilam Indonesia tidak stabil dan mutunya tidak tetap serta beragam. Tidak stabilnya produksi dan mutu minyak nilam Indonesia disebabkan karena maraknya praktek pemalsuan dan pencampuran dan teknologi pengolahannya yang belum berkembang dengan baik. Sebagian penyulingan minyak nilam masih menggunakan alat penyuling yang terbuat dari logam besi, hal ini menyebabkan minyak nilam yang dihasilkan berwarna gelap dan keruh. Oleh karena itu diperlukan penyeragaman mutu minyak nilam melalui proses pemurnian. PT. Indesso Aroma melakukan pemurnian melalui beberapa tahap.

68

Selama proses pemurnian minyak nilam harus benar-benar diperhatikan agar reaksi dapat berjalan secara efektif dan efisien serta rendemen yang dihasilkan tinggi. Pada dasarnya tahapan pemurnian nilam sangatlah sederhana yaitu proses pengikatan ion Fe oleh ion sitrat, netralisasi dengan sodium bikarbonat, kemudian sisa garam disaring menggunakan klico, dan untuk mempercepat munculnya aroma dari minyak nilam ditambahkan proses aerasi. Agar produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan dari pemesan (vendor) maka selama jalannya proses mulai dari penerimaan bahan baku dengan memeriksa standar bahan baku yang diterima, memeriksa proses produksi yang berlangsung dan memeriksa produk yang dihasilkan. Selain melakukan pemeriksaan oleh quality control juga dilakukan pencatatan dalam sebuah batchsheet sehingga dokumentasi yang dilakukan lebih rapi.

DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 1980. Hasil Penelitian Minyak Nilam. Komunikasi No. 21. Periode 1979/1980. Balai Penelitian Kimia, Aceh. Brahmana HR. 1991. Pengaruh Penambahan Minyak Kruing dan Besi Oksida terhadap Mutu Minyak Nilam (patchouly oil). Komunikasi Penelitian 3(4): p.330-341.

69

Dunmond, H.M., 1960. Patchouli oil. Journal of Perfumery and Essential Oil Record. 484-492 p. Formo, M. W. 1978. Physical Properties of Fats and Fatty Acids. di dalam D. Swern (ed.). Bailey’s Industrial Oil and Fats Products. John Willey and Sons, New York. Furia. S dan Bellanca. 1975. In vitro evaluation of antioxidant activity of essential oils and their components. Flavour and Fragrance Journal, 15, 12-16. Guenther, E. 1948. The Essential Oils. Volume I. Robert E. Krienger Publishing Company, New York. Guenther, E. 1948. The Essential Oils. Volume IV. Robert E. Krienger Publishing Company, New York. Imran. 1994. Pengaruh Peubah Lingkungan Fisik Terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Kandungan Minyak Nilam (Pogostemon cablint Bent). Tesis. FatetaIPB, Bogor. Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. PN Balai Pustaka, Jakarta. 293p. Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Penerbit Balai Pustaka, Jakarta. Lutony, T.L dan Y. Rahmayanti. 1994. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta. Mangun, M.S.H. 2005. Nilam. Penebar Swadaya. Jakarta. Mardiningsih, T. L., Wikardi, E. A, Wiratno dan Ma’mun. 1998. Nilam Sebagai Bahan Baku Insektisida Nabati. Monograf Nilam. Balai Besar Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. Nita. 2007. Minyak Nilam Sebagai Bahan Parfum. http://ikm.depperin.go.id/ Publikasi. Payne. 1964. Organic Coating Technology. John Wiley & Sons. New York. 220p.

70

Rusli, S dan M. Hasanah. 1976. Cara Penyulingan Daun Nilam Mempengaruhi Rendemen dan Mutu Minyaknya. Pemberitaan No. 24. Lembaga Penelitian Industri, Bogor. Rusli, S. I.M. Tasma, Pandji L dan Kemala. 1979. Potensi, Budidaya, Mutu, dan Paket Usaha Beberapa Jenis Tanaman Minyak Atsiri. Makalah Temu Tugas Perkebunan. Balai Besar Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Rusli, S. 1991. Peningkatan Mutu Minyak Nilam dan Daun Cengkeh. Prosiding Pengembangan Tanaman Atsiri di Sumatera, Bukittinggi, 4 Agustus 1991, Bogor. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat: p.89-96. Rusli, S. 2002. Diversifikasi Ragam dan Peningkatan Mutu Minyak Atsiri. Makalah Workshop Nasional Minyak Atsiri. Deperindag. Jakarta. 13p. Rusli, S. 2003. Teknologi Penyulingan dan Penanganan Minyak Bermutu Tinggi. Booklet Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat : 18p. Sastroamidjojo. B. 2002. Isolasi, Identifikasi, dan Sintesis Turunan Patchouli Alkohol dari Minyak Nilam. Tesis fakultas Pasca Sarjana. Yogyakarta : UGM

71

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful