Majas Sajak-sajak Simfoni Dua Karya Subagio Sastrowardoyo

Heru Supriyadi
Pendahuluan Simfoni Dua merupakan kumpulan sajak karya Subagio Sastrowardoyo yang keenam, diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, 1990. Kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Simphoni (1957), kedua Daerah Perbatasan (1970), ketiga Keroncong Matinggo (1975), keempat Buku Harian (1979), kelima berjudul Hari dan Hara (1982). Kumpulan sajak Simfoni Dua terdiri atas dua kumpulan yaitu Simfoni I (h. 19-42), dan Simfoni II (h. 43-103). Kumpulan sajak Simfoni I pada prinsipnya merupakan sajaksajak yang termuat dalam Simphoni (1957), sedangkan Simfoni II terdiri atas sajaksajaknya yang dicipta setelah diterbitkan Hari dan Hara (1982). Simfoni I terdiri atas 19 sajak, antara lain berjudul "Dewa telah Mati", "Jarak", "Stasion", "Sajak", "Ali Baba", "Adam di Firdaus", "Kapal Nuh", "Bulan Ruwah", "Ekspresi", "Rasa Dosa", "Sodom dan Gomorha". Simfoni II terdiri atas 46 sajak, antara lain sajak "Doa Seorang WTS", "Dunia Kini Tidak Peka", "Gending Dolanan", "Lamunan Aborijin", "Motif II", "Berilah Aku Kota", "Petualangan", "Soneta Laut", "Perempuan Tua", "Senja", "Pertemuan", "Pada Daun Gugur", "Variasi pada Tema Maut", dan "Nada Akhir". Kumpulan sajak Simfoni I terdiri atas sajak-sajak religius. Simfoni II didominasi sajaksajak yang mengungkap situasi sosial, tentang kebobrokan moral dan kemiskinan. Berkaitan dengan judul makalah, penulis hendak membuat deskripsi dan eksplanasi sajak-sajak Simfoni Dua dalam hubungannya dengan penggunaan majas. Aminuddin (1990:72) sehubungan dengan hal tersebut berpendapat bahwa analisis majas dapat digunakan untuk memahami puisi secara keseluruhan. Dalam analisis ini pendekatan yang digunakan ialah eklektik. Pendekatan ini menggabungkan dua atau lebih pendekatan sekaligus dengan maksud untuk menghasilkan analisis yang lebih berbobot dan lebih komprehensip (M. Atar Semi, 1993: 91-92). Pendekatan eklektik dalam makalah ini, penulis menggabungkan antara pendekatan objektif dan ekspresif. M.H. Abrams (1958:28) mendefinisikan pendekatan objektif sebagai berikut: ".... the objective orientation which on principle regards the work of art in isolation from all these external points of reference, analyzes it as a self sufficient entity constitued by its parts in their internal relations, and sets out to judge it solely by criteria intrinsic to its own mode of being." Hal tersebut diperjelas oleh Yudiono K.S. (1984: 32) yang menyatakan bahwa pendekatan objektif memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dari siapa pengarang dan lingkungan budaya jamannya, sehingga karya sastra dapat dianalisa berdasar strukturnya sendiri. Pendekatan ekspresif oleh Atmazaki (1990: 36) didefinisikan sebagai pendekatan yang menitikberatkan kajiannya terhadap pengarang.

Majas Perbandingan Berdasarkan observasi. Majas penegasan terdiri atas pleonasme. Sajak Untuk Aida". dan anakronisme. "Berilah Aku Kota". sinisme. "Di Stasiun". metaforalah yang paling dominan. Majas pertentangan terdiri atas paradoks. tropen.. antitesis. Abrams (1971: 61) dalam hal ini mengatakan "In a metaphor a word which in standard usage denotes one kind of thing. metonimia. Istilah tersebut disebut juga bahasa kiasan atau bahasa figuratif (Atmazaki. inversi. Raymond Chapman (1973: 76) sejalan dengan itu berpendapat "Metaphor is a term sometime used to include the particular types of figure." M. "Petualang". kontradiksi interminis. repetisi. majas perbandingan dalam sajak-sajak Simfoni Dua terdiri atas metafora. alusio. majas sindiran. okupasi. 1993: 49). alegori. "Lamunan Aborijin". retoris. elipsis. Sodom Dan Gomorrha Tuhan Tertimbun di balik surat pajak . Majas perbandingan terdiri atas metefora.H.Analisis Majas Sajak-Sajak Simfoni Dua (Sebuah Pendekatan Objektif-Ekspresif) Kata "majas" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 545) berarti cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakan dengan sesuatu yang lain. "Simfoni". Mohamad Ngafenan (1990: 105) dan Liberatus Tengsoe (1989: 201) menyatakan bahwa majas skupnya meliputi majas perbandingan. eksklamasi. Majas sindiran terdiri atas ironi. dan preterito. "Salam Kepada Heidegger". in the from of a statemen of identity instead of comparation. parabel. "Menunggu Sampai Pagi". dan preterito. eufemisme. majas penegasan. asosiasi. personifikasi. metafora sering dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan yang bersifat emosional. polisindeton. Leech (1976: 151) mengatakan "Every metaphor is implicitty of the form. simbolik. simbolik. asindeton. majas ini terdapat pada sajak "Sodom dan Gomorrha". (1986: 187) berpendapat bahwa majas sebagai ciri khas bagi jenis sastra puisi." Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua. enumerasia. interupsi.paralelisme. Masalah majas penulis gunakan sebagai skup analisis makalah ini karena aspek majas dalam sajak-sajak Simfoni Dua sangat dominan." Menurut hemat penulis. dan majas pertentangan. "Ilir-Ilir". personifikasi. Untuk memperoleh gambaran secara konkret antara lain dapat dilihat melalui kutipan sajak di bawah ini. antiklimaks. or action is applied of another. "Motif III". koreksio. sinekdoke. Sejalan dengan itu Geoffrey N. quality. dan "Tamu". Panuti Sudjiman (1993: 29) sehubungan dengan itu mendefinisikan bahwa metafora adalah merupakan majas perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna. dan sarkasme. "Abad 20". Berkaitan dengan hal tersebut. Dick Hartoko. litotes. "Penantian". "Om". "Kampung". "Wasiat". hiperbola.. Dari ketiga majas tersebut. tautologi. antonomasia. klimaks. "Pada Daun Gugur" "Variasi Tema Maut".

. 1990: 33) Untuk melukiskan kekuatan. Gambaran keadaan yang abstrak menjadi konkret karena dimetaforakan.. (1966: 242). Selain itu penyair memperbandingkan "Masa depan" dengan "malam yang panjang tanpa setitik cahaya di langit kelam". H. melainkan penjelmaan. "Motif IV"..berita politik pembagian untung dan keluh tangga kurang air (Simfoni Dua. "Motif V"... Pada sajak yang lain. (Simfoni Dua." "Jendela". "Riwayat. "Perempuan Tua". Jassin (1965: 99) maupun S........ "Pengakuan". Slametmuljana (1951: 39) menamakan majas tersebut bukan personifikasi atau pun pengorangan. "Om".. Dalam sajak tersebut penyair mengungkapkan bahwa orang-orang yang tidak mengakui adanya kehebatan Tuhan dimetaforiskan dengan "Tuhan tertimbun di balik surat pajak". antara lain dapat dilihat melalui sajak "Motif 2" dan "Sajak tak Pernah Mati" di bawah ini....... Sejalan dengan hal itu Hulon Willis mengatakan "Personifictaion attributes human qualities to nonhuman objects. Majas ini diartikan sebagai majas yang melekatkan sifatsifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak (Henry Guntur Tarigan. dan "Sunyi". "Senja".. Untuk memperoleh gambaran secara konkret. .. Dengan memanfaatkan majas metafora.. . "Pada Daun Gugur". Dalam hal ini Tuhan dibandingkan sesuatu benda tertimbun di balik surat pajak. Suharianto (1981: 86) mengatakan bahwa personifikasi disebut juga majas pengorangan. pernyataan menjadi lebih intensif. Masa lalu adalah panas terik di padang pasir dan berkelana di zaman mimpi tak bertepi Masa kini adalah berkeliaran di pinggir kota dan melupakan diri dalam bir dan wiski Masa depan adalah malam yang panjang tanpa setitik cahaya di langit kelam. "Mabuk". "Sajak tak Pernah Mati.. 1990: 33) Judul sajak "Sodom dan Gomorrha" diambil dari nama dua kota yang dikutuk oleh Tuhan karena para penghuninya berakhlak sangat buruk.... Pemanfaatan majas tersebut menjadikan pernyataan lebih konkret. "Bunga"...B. 1985: 17).. Berikut ini majas personifikasi... metafora dapat dilihat pada sajak "Lamunan Aborijin" di bawah ini. penyair memperbandingkan "Masa lalu" dengan "panas terik di padang pasir dan berkelana di zaman mimpi tak bertepi".. Majas personifikasi dalam sajak-sajak Simfoni Dua terdapat pada sajak "Motif II"......

Untuk memperoleh gambaran secara konkret. "Soneta Laut". Majas tersebut oleh Putu Arya Tirtawijaya (1983: 30) diartikan sebagai hasil yang diperoleh dari alat untuk landasan buat meluncurkan pikiran maupun perasaan secra ringkas bernas.. Berikut ini majas simbolik.symbol is applied only to a word or set of words that signifies an object or event which suggests a range of reference beyond itself" (1971: 168). Majas personifikasi dalam sajak-sajak Simfoni Dua memegang peranan penting untuk menghidupkan lukisan. "Motif II". yang statis menjadi dinamis karena dipersonifikasikan. Dengan memanfaatkan majas personifikasi. 1990: 58) Pada sajak di atas penyair mengungkapkan masalah penderitaan yang sangat dalam.. Hal ini dipersonifikasikan. Abrams mengartikan simbolik dalam sastra sebagai berikut: ". sajak (beda mati) menyuarakan penderitaan. Hal itu didapat dari latar belakang kata-kata itu berada. tulus dan kalis dari dosa Seperti bunyi suling.Motif II Nada-nada lembut mendambakan hidup murni. Dewa Telah Mati Tak ada dewa di rawa-rawa ini Hanya gagak yang mengakak malam hari Dan siang terbang mengitari bangkai pertapa yang terbunuh dekat kuil. ungkapanungkapan yang tampak abstrak menjadi konkret. Di samping itu "jerit sakit" dipersonifikasikan "menyayat malam sunyi". "Surat" dan "Di Seberang Mimti". M. Pendapat tersebut diperjelas oleh Adhy Asmara (1982: 38) bahwa simbolik merupakan kata-kata yang kaya akan pengertianpengertian tambahannya.H. antara lain dapat dilihat melalui kutipan-kutipan sajak beserta uraian di bawah ini. Dewa telah mati di tepi-tepi ini Hanya ular yang mendesir dekat sumber Lalu minum dari mulut pelacur yang tersenyum dengan bayang sediri Bumi ini perempuan jalang yang menarik laki-laki jantan dan pertapa ke rawa-rawa mesum ini . Sehubungan dengan itu. gender dan rebab yang menyentuh sanubari Kesepian harus diterima sebagai nasib yang tersurat (Simfoni Dua. Dalam sajak-sajak Simfoni Dua majas simbolik terdapat pada sajak "Dewa telah Mati".

ingat. ya mas. jujur. Dalam sajak tersebut diungkapkan bahwa Tuhan telah mati (hilang dari bumi). dan "pertapa". dan "mengatruh". Karena tak tahan malu aku tutup telingaku. ular sebagai simbul kejahatan. dan kalis dari dosa. Nada-nada lembut mendambakan hidup murni. Aku yang gelisah terguncang dari kenanaran. "rebab". Biduan menghimbau aku: Ya mas. Kata "gagak" mengandung arti nama burung yang berbulu hitam. Berdasarkan mitologi. murni. kulitnya bersisik. gender. (Simfoni Dua. ya mas. ketiga kata tersebut bersimbul kehidupan yang tulus. dan rebab merupakan instrumen musik tradisional. Suling. "ular". Kata tersebut dapat pula bersimbul kesedihan. "gagak". pemakan bangkai dan suaranya keras. Kata "dewa" dapat berarti makhluk Tuhan yang berasal dari sinar yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam. dan lepas dari dosa. tubuhnya agak bulat. tulus. orang suci tersebut ke dunia mesum. Seperti bunyi suling. Berikut ini penulis kutip sajak "Motif II". memanjang. gagak digunakan sebagai simbul pembawa berita kematian. Simbul-simbul yang terdapat pada sajak tersebut ialah kata "senja". tidak berkaki. Bukankah hanya manusia susila yang selamat sampai ke sorga? Condrolukito! Jangan terus dendangkan gending "megatruh". hidup di tanah atau di air. Motif II Siapa yang mencipta lagu ini yang mengisi ruang-ruang tak berhuni? Aku tak terlambat hadir dan masih sempat mendengarnya di waktu senja sebelum gelap tiba. Dalam sajak tersebut mengisyaratkan anggapan bahwa Tuhan telah tiada (telah hilang dari bumi). kata "senja" mengandung simbul yang melukiskan kurun waktu nyaris penghabisan. Simbul-simbul tersebut dalam sajak "Dewa Telah Mati" oleh Subagio Sastrowardoyo digunakan untuk mengekpresikan kehidupan orang-orang kafir. 1990: 58) Kata "senja" secara harafiah berarti waktu (hari) setengah gelap sesudah matahari terbenam. Kata "pertapa" berarti orang suci atau orang yang tidak banyak dosanya. . Kesepian harus diterima sebagai nasib yang tersurat. Dalam sajak tersebut. "suling". Dalam sajak "Motif II". gender dan rebab yang menyentuh sanubari.dan membunuhnya pagi hari (Simfoni Dua. Kata "ular" mengandung arti binatang menjalar. Yang ada hanya orang-orang jahat. 1990: 19) Simbul yang mewakili sajak tersebut adalah kata "dewa". Kata "dewa" dapat pula berarti orang atau sesuatu yang sangat dipuja-puja. Yang lebih ngeri. Dalam sajak "Dewa Telah Mati". "gender".

"Petualangan". tidak terdapat di dalamnya. dan retoris.. bumi hitam iblis hitam dosa hitam Karena itu: aku bumi lata . sometimes used of verbal repetition in general. "Adam di Firdaus". "Dunia Kini Tidak Peka". majas penegasan yang terdapat di dalamnya berupa anafora. "Senja". Anafora diartikan sebagai majas repetisi (perulangan) kata pada awal larik atau awal kalimat (Henry Guntur Tarigan. pernyataan yang abstrak menjadi konkret. melainkan menggunakan kata yang sebaliknya. dengan memanfaatkan majas simbolik. "Lamunan Aborijin". Dalam sajak tersebut kata "megatruh" sebagai simbul yang melukiskan kekecewaan atau kesedihan yang mendalam. Raymond Chapman (1973: 79) berpendapat "Anaphore. "Afrika Selatan". paralellisme. berarti bentuk komposisi tembang macapat. Di samping itu. 1986: 192).kulihat dalam buku injil bergambar dan arca-arca gereja dari marmer Orang putih bersorak: "Hosanah!" Tapi kulitku hitam Dan sorga bukan tempatku berdiam. Untuk memperoleh gambaran secara konkret. "Bulan Ruwah'. "Sajak". "Berilah Aku Kota". Majas Penegasan Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua. "Ali Baba". Dalam keadaan demikian si aku lirik merasa malu dan kecewa. Si aku lirik dalam hal ini terkadang gelisah karena terguncang kenanaran. "Motif II".. "Gending Dolanan". pernyataan menjadi lebih intens. murni. Secara global simbul-simbul tersebut di atas digunakan oleh Subagio untuk mengungkapkan bahwa si aku lirik nyaris terlambat menikmati kehidupan yang tulus." Majas ini dalam Simfoni Dua terdapat pada sajak "Jarak". Majas seperti itu dalam sajak-sajak Simfoni Dua. "Variasi Pada Tema Maut". is specifically the repetition of a word or phrase at beginning successive stages. Majas Sindiran Seseorang dalam menyampaikan maksud terkadang tidak menggunakan kata-kata yang sebenarnya. antara lain dapat dilihat pada kutipan sajak "Afrika Selatan" dan sajak "Dunia Kini Tidak Peka" berserta uraiannya. jujur. "Stasiun".Kata "megatruh". Dengan memanfaatkan majas simbul. "Pertemuan". "Pada Daun Gugur". "Perempuan Tua". Afrika Selatan Kristus pengasih putih wajah . "Soneta Laut". Dalam hal ini dimaksudkan untuk menyindir. Sehubungan dengan hal tersebut. dan kalis dari dosa. dan "Air".

..... 1990: 51) Pada sajak di atas penyair mengungkapkan nasib buruh kecil yang serba salah serta hubungan dengan majikan yang disharmonis. antara lain dapat dilihat di bawah ini. Dengan demikian perulangan-perulangan yang nampaknya merupakan pemborosan kata. dan sampah masyarakat..... "Kenikmatan-Kenikmatan".. Mereka menganggap Kristus pengasih orang-orang kulit putih.... Majas tersebut berasal dari kata "paralel" dan "isme". Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua.. Kata "paralel" mengandung arti sejajar... majas paralel terdapat pada sajak "Ekspresi". Kata "aku" sebagai kata kunci diulang secara beruntun.. Hal tersebut diartikan sebagai suatu cara berbahasa berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.. "Variasi Pada Tema Maut" dan "Mabuk". (Simfoni Dua....aku iblis laknat aku dosa melekat aku sampah di tengah jalan (Simfoni Dua... Berikut ini majas paralel. Majas di atas menunjukkan perulangan bervariatif. oleh Subagio digunakan secara efektif. "Rasa Dosa".. Hal tersebut ditekankan dengan majas anafora berupa kata "kepada" dan "yang" diulang-ulang pada awal larik....... Geofrey N.... Dunia Kini Tidak Peka . Leech (1956: 67) dalam hal ini mengatakan "Every parallelism sets up a relationship of equivalence between two or more element: the element which a singled out by the pattern as being parallel". sehari lamanya orang menyayangkan nasibmu dan melemparkan kesalahan: kepada binimu yang selalu bilang kau tak becus cari duit kepada anakmu yang malu bapanya hanya buruh kecil kepada majikanmu yang tidak menaikkan upah kerja .. "Simfoni". sedangkan orang-orang kulit hitam adalah orang-orang jahat... Untuk memperoleh gambaran secara konkret. Perulangan tersebut menjadikan pernyataan lebih intens.. 1990: 31) Pada sajak di atas penyair mengekspresikan ras diskriminasi orang-orang Afrika Selatan yang tidak puas dengan eksistensinya... Majas ini lahir dari struktur kalimat yang beimbang (Henry Guntur Tarigan.. Perulangan tersebut justru menimbulkan sajak menjadi lebih intens.. penuh dosa. Ekspresi Kepada Affandi Luka terlalu parah . 1986: 136). sedangkan "isme" berarti aliran.. Hal tersebut ditekankan dengan majas anafora.

1990: 25) Sajak di atas ditujukan kepada Affandi. . sajak di atas tampak lebih puitis. (Simfoni Dua. tampak pada larik keempat dengan larik kedelapan dan kesebelas yang berbunyi "sepi menepiskan bentuk".tak tertampung dalam cermin. Bahkan merah hitam yang terpalut di atas kanpas tak kuasa menjeritkan derita .menepiskan bentuk. Bait ketiga struktur dan bentuknya paralel dengan bait keempat. Pemecahannya diperlukan semangat hidup.menikam dalam" dan "di dinding . Berikut ini sajak "Rasa Dosa". lima. Hanya darah. mungkin. siap dengan segala resiko. seorang pelukis beraliran ekspresionisme.jari yang gemetar dalam lapar.jari yang gemetar dalam lapar". Darah sendiri yang tergarit dengan jari di dinding . Majas paralel yang demikian ini oleh penyair dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan berdosa yang selalu diselimuti suasana tidak menyenangkan. Rasa Dosa muka putih di jendela mengikut aku dari subuh semua kekal nyawa jejak membekas di lumpur hati kata Suara bergema di ruang abadi tangan jari gemetar menyaput sajak mata kenangan akhir membakar diri muka putih di jendela mengikut aku dari subuh tanganku lumpuh (Simfoni Dua. 1990: 26) Dengan struktur dan bentuk yang paralel. Tubuh yang terbayang sepi . pernyataan menjadi lebih jelas dan membuat larik-larik sajak mudah diingat. Sajak tersebut mengungkapkan penderitaan hidup yang begitu mencekam sehingga diekspresikan melalui seni lukis saja tidak cukup. dan enam. "derita . Hal tersebut ditekankan dalam majas palalel.menikam dalam. terdiri atas delapan bait. Dengan memanfaatkan majas paralel.

. Nabi.. Kalau anak semalam batuk-batuk...... "Paskah di Kentucky Fried Chiken". "Bulan Ruwah"..... bujang dan makan sehari. Majas ini memanfaatkan kalimat tanya yang tidak menghendaki jawaban (Gorys Keraf. Dengan memanfaatkan majas retoris.. "Sajak".. (Simfoni Dua. Adakah di sorga kasih dan derita ini dengan senang sebentar menjelang. Sajak Apakah arti sajak ini.... Dalam sajak-sajak Simfoni Dua. "Ananda Sayang". Setasion Adakah sorga seperti setasion ini tempat kereta lelah berhenti dengan tulang besi-besi bersilang dengan muka penumpang gilap berkeringat dan debu arang mengendap Adakah gerimis itu di jendela dan puntung rokok mengepul Dan berita politik dari koran dengan inflasi. kelaparan dan bunuh diri. Kalau terbayang pantalon sudah sebulan sobek tak terjahit..Berikut ini majas retoris. akan tetapi hendak menyatakan sesuatu dengan setegas-tegasnya. majas retoris terdapat pada sajak "Stasion". penyair tidak bermaksud bertanya... 1981: 120).... Kalau istri terus mengeluh tentang kurang tidur. Apakah arti sajak ini kalau saban malam aku lama terbangun: hidup ini makin mengikat dan mengurung .. Hal tersebut terjadi karena dalam majas ini sebenarnya sudah terkandung jawaban yang pasti.... Untuk memperoleh gambaran secara konkret antara lain dapat dilihat di bawah ini. . dan "Seakan-akan"..... Nabi. bau vicks dan kayu putih melekat di kelambu... aku terlalu sayang kepada petualangan ini di mana hati kembali bocah lagi orang asing menjadi sobat dan gadis alim di sudut menjadi iseng karena resah berharap. tentang gajiku yang tekor buat bayar dokter.. 1990: 22) Secara universal pembaca tahu bahwa sorga adalah alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya dalam keabadian.. aku ingin masuk sorga..... Dengan demikian ungkapan berupa pertanyaan penyair pada sajak bergaris bawah tertera di atas tidak perlu dijawab.

.. "Motif IV". Tempat-tempat tersebut secara konvensional berkonotasi tidak menyenangkan..... Dalam sajak tersebut justru sebaliknya. Hal ini dikemukakan oleh Rene Wellek dan Austin Warren "duice et utile" (1977: 30).. pernyataan dapat dinalar. 1990: 46) Pada sajak di atas. Akan tetapi bila dikaji lebih dalam.... Kenikmatan-kenikmatan ada di mana-mana: di kolong jembatan.. "Kenikmatan-Kenikmatan"... Lain halnya pada sajak di atas........ Demikian juga larik "kenikmatan-kenikmatan ada di mana-mana: di kolong jembatan...Ah. Dalam sajak-sajak Simfoni Dua. Majas seperti itu berfungsi untuk menggugah imajinasi pembaca... sajak sebagai salah satu cipta sastra sebaiknya menyenangkan dan berguna.. Kenikmatan-Kenikmatan Jangan dilarang saya merasakan kenikmatan-kenikmatan: lezat. hidup ini makin mengikat dan makin mengurung. Subagio mengungkapkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak konvensional. (Simfoni Dua. majas paradoks terdapat pada sajak "Adam di Firdaus".... di comberan kota-kota ... dan untuk makan sehari. mengingatkan aku kepada langit dan mega .. di muka pintu toko-toko. "Doa Seorang W. misalnya karena sangat lapar atau karena sudah adaptasi dengan lingkungan yang kotor....... (Simfoni Dua...... dan "Mabuk". sajak ini.. 1990: 23) Berkaitan dengan sajak di atas.... Akan tetapi jika dianalisis lebih lanjut....... "Di Stasion"........ di muka pintu toko-toko....... serta terbayang pentalon sudah sebulan sobek tak terjahit. antara lain dapat dilihat melalui kutipan sajak sebagai berikut..... kulit pisang yang saya pungut di pinggir jalan saya mamah pelan-pelan" tidak akan terjadi suatu kenikmatan. paradoks menyatakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi..... di comberan kota-kota"... kulit pisang yang saya pungut di pinggir jalan saya memamah pelan-pelan . bisa saja hal itu menjadi suatu kenikmatan.. Untuk memperoleh gambaran secara konkret. Dengan memanfaatkan majas retoris tersebut. anak semalam batuk-batuk. "Rumah".. gaji tekor buat dokter. sajak menjadi tidak berarti karena situasi yang menyedihkan. majas pertentangan yang terdapat di dalamnya berupa paradoks. Majas ini menarik perhatian karena kebenarannya. .. bujang..S..". Tempat-tempat tersebut terdapat kenikmatan... Majas ini oleh Ahmad Badrun (1983: 199) didefinisikan sebagai majas yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada...T........................ Secara sepintas larik yang berbunyi "lezat. menjadikan sajak lebih intens.. Majas Pertentangan Dalam sajak-sajak Simfoni Dua.. Jika ditinjau secara sepintas.

.... dan mengejutkan. Simfoni I dan Simfoni II..... . tetapi mengandung arti yang sangat dalam dan luas.. Hal ini diperlukan karena membicarakan atau menganalisis karya sastra tanpa melakukan penilaian menjadi kehilangan sebagian rasanya. Berkaitan dengan hal tersebut James Reeves (1975: 176) dalam pembicaraannya tentang "The Language of Poetry" berpendapat "Poetry.. dapat disimpulkan sebagai berikut. yang menarik adalah sifat seninya...... Simfoni II terdiri dari atas sajak-sajak yang mengungkap situasi sosial....Berikut ini sajak "Di Stasion"... Subagio Sastrowardoyo dalam sajak-sajak Simfoni Dua menggunakan bahasa sederhana....... tapi makin dalam makin terbenam hati dalam kesepian . Dalam sajak ini justru sebaliknya.. penulis membuat penilaian. Perkenalan yang membicarakan sampai pada masalah yang sangat pribadi biasanya dapat melupakan kesepian dan kesedihan.... segar... tentang kebobrokan moral dan kemiskinan. suatu .. Cara pemanfaatan bahasa seperti tersebut di atas secara implisit menunjukkan bahwa Subagio dalam sajak-sajak Simfoni Dua menggunakan majas secara vital.. Julian L.. 1990: 73) Larik-larik sajak tersebut membuat pembaca berkontemplasi untuk mendapatkan penalaran yang terdapat di dalamnya.. Dalam suatu karya sastra. Untuk memperoleh gambaran secara konkret dapat dilihat pada kutipan sajak sebagai berikut. Untuk membuat deskripsi dan eksplanasi sajak-sajak Simfoni Dua dalam hubungannya dengan penggunaan majas. dan estetiknyalah yang dominan (Pradopo.. penulis menggunakan pendekatan eklektik. style and mode of expression must necessarily vary from poet to poet... Sejalan dengan hal tersebut Maline. (Simfoni Dua....." Kesimpulan Berdasarkan diskripsi dan eksplanasi yang telah penulis lakukan... Stale language will be ineffective..... Dalam sajak ini Subagio mengungkapkan sesuatu yang sangat paradoksal.... 1994: 30).... Kumpulan sajak Simfono Dua terdiri atas dua kumpulan... Subagio sering menggunakan kata yang tidak biasa digunakan oleh penyair lain.. Kumpulan sajak Simfoni I terdiri atas sajak-sajak religius.. serta mengkonkretkan pernyataan. fresh and surprising language.... and James Berkley menekankan "... Setelah penulis menganalisis sajak-sajak Simfoni Dua. Hal tersebut menjadikan perasaan lebih kesepian. than is vital..... commonplace language will have no impact. Dua makhluk asing menemukan kejemuan Perkenalan memang saling menggali sampai relung paling rahasia.. Dari hasil observasi." (1967: 6).....

Ini pun jumlahnya tidak dominan. Dari ketiga majas ini. dan simbolik. Dari analisis yang penulis lakukan. Dengan demikian. Dari deskripsi dan eksplanasi yang telah penulis lakukan pada titik pangkalnya. meliputi anafora. Subagio Sastrowardoyo dalam Simfoni Dua mengungkapkan masalah religius (Simfoni I). Meskipun demikian. Majas pertentangan dalam Simfoni Dua hanya paradok. Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua. Di samping itu. dan situasi sosial tentang kebobrokan moral dan kemiskinan (Simfoni II). menarik. dan retoris. Dari ketiga majas tersebut. dan mengkonkretkan pernyataan .pendekatan yang menggabungkan beberapa pendekatan secara konprehensif. Hal ini oleh Subagio diungkapkan dengan bahasa yang sederhana. sinisme. majas anafora lebih dominan. personifikasi. Dalam analisis ini penulis menggabungkan pendekatan objektif dan ekspresif. Majas penegasan dalam Simfoni Dua. anaforalah yang paling dominan. pemakaian majas dalam Simfoni Dua membuat sajak-sajaknya lebih segar. metaforalah yang paling dominan. majas-majas tersebut tidak terdapat di dalamnya. dan sarkasme. ia sering menggunakan kata-kata yang tidak biasa dipakai oleh penyair lain. majas tersebut menambah nuansa keanekaragaman majas dalam Simfoni Dua. Jika dibandingkan dengan metafora. namun mengandung arti yang luas dan dalam. majas perbandingan dalam Simfoni Dua terdiri atas metafora. paralelisme. Majas sindiran skupnya meliputi ironi.