Majas Sajak-sajak Simfoni Dua Karya Subagio Sastrowardoyo

Heru Supriyadi
Pendahuluan Simfoni Dua merupakan kumpulan sajak karya Subagio Sastrowardoyo yang keenam, diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, 1990. Kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Simphoni (1957), kedua Daerah Perbatasan (1970), ketiga Keroncong Matinggo (1975), keempat Buku Harian (1979), kelima berjudul Hari dan Hara (1982). Kumpulan sajak Simfoni Dua terdiri atas dua kumpulan yaitu Simfoni I (h. 19-42), dan Simfoni II (h. 43-103). Kumpulan sajak Simfoni I pada prinsipnya merupakan sajaksajak yang termuat dalam Simphoni (1957), sedangkan Simfoni II terdiri atas sajaksajaknya yang dicipta setelah diterbitkan Hari dan Hara (1982). Simfoni I terdiri atas 19 sajak, antara lain berjudul "Dewa telah Mati", "Jarak", "Stasion", "Sajak", "Ali Baba", "Adam di Firdaus", "Kapal Nuh", "Bulan Ruwah", "Ekspresi", "Rasa Dosa", "Sodom dan Gomorha". Simfoni II terdiri atas 46 sajak, antara lain sajak "Doa Seorang WTS", "Dunia Kini Tidak Peka", "Gending Dolanan", "Lamunan Aborijin", "Motif II", "Berilah Aku Kota", "Petualangan", "Soneta Laut", "Perempuan Tua", "Senja", "Pertemuan", "Pada Daun Gugur", "Variasi pada Tema Maut", dan "Nada Akhir". Kumpulan sajak Simfoni I terdiri atas sajak-sajak religius. Simfoni II didominasi sajaksajak yang mengungkap situasi sosial, tentang kebobrokan moral dan kemiskinan. Berkaitan dengan judul makalah, penulis hendak membuat deskripsi dan eksplanasi sajak-sajak Simfoni Dua dalam hubungannya dengan penggunaan majas. Aminuddin (1990:72) sehubungan dengan hal tersebut berpendapat bahwa analisis majas dapat digunakan untuk memahami puisi secara keseluruhan. Dalam analisis ini pendekatan yang digunakan ialah eklektik. Pendekatan ini menggabungkan dua atau lebih pendekatan sekaligus dengan maksud untuk menghasilkan analisis yang lebih berbobot dan lebih komprehensip (M. Atar Semi, 1993: 91-92). Pendekatan eklektik dalam makalah ini, penulis menggabungkan antara pendekatan objektif dan ekspresif. M.H. Abrams (1958:28) mendefinisikan pendekatan objektif sebagai berikut: ".... the objective orientation which on principle regards the work of art in isolation from all these external points of reference, analyzes it as a self sufficient entity constitued by its parts in their internal relations, and sets out to judge it solely by criteria intrinsic to its own mode of being." Hal tersebut diperjelas oleh Yudiono K.S. (1984: 32) yang menyatakan bahwa pendekatan objektif memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dari siapa pengarang dan lingkungan budaya jamannya, sehingga karya sastra dapat dianalisa berdasar strukturnya sendiri. Pendekatan ekspresif oleh Atmazaki (1990: 36) didefinisikan sebagai pendekatan yang menitikberatkan kajiannya terhadap pengarang.

Majas Perbandingan Berdasarkan observasi. "Motif III". majas perbandingan dalam sajak-sajak Simfoni Dua terdiri atas metafora. "Berilah Aku Kota". "Di Stasiun". "Simfoni". Masalah majas penulis gunakan sebagai skup analisis makalah ini karena aspek majas dalam sajak-sajak Simfoni Dua sangat dominan. Sejalan dengan itu Geoffrey N. Panuti Sudjiman (1993: 29) sehubungan dengan itu mendefinisikan bahwa metafora adalah merupakan majas perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna. simbolik. in the from of a statemen of identity instead of comparation. Berkaitan dengan hal tersebut.. eksklamasi. dan anakronisme. "Ilir-Ilir". Dari ketiga majas tersebut. polisindeton. Raymond Chapman (1973: 76) sejalan dengan itu berpendapat "Metaphor is a term sometime used to include the particular types of figure. alegori. koreksio. tropen. asosiasi. antitesis. Istilah tersebut disebut juga bahasa kiasan atau bahasa figuratif (Atmazaki. "Kampung". majas penegasan. eufemisme. inversi. "Penantian". "Salam Kepada Heidegger". okupasi. Majas penegasan terdiri atas pleonasme. Majas perbandingan terdiri atas metefora. 1993: 49). dan majas pertentangan. metafora sering dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan yang bersifat emosional. "Wasiat"." Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua.H. personifikasi. Sajak Untuk Aida". dan "Tamu"." Menurut hemat penulis. kontradiksi interminis. metaforalah yang paling dominan. asindeton." M. dan preterito. personifikasi. Sodom Dan Gomorrha Tuhan Tertimbun di balik surat pajak .. "Lamunan Aborijin". "Petualang". "Om". antonomasia. "Abad 20".Analisis Majas Sajak-Sajak Simfoni Dua (Sebuah Pendekatan Objektif-Ekspresif) Kata "majas" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 545) berarti cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakan dengan sesuatu yang lain. parabel. tautologi. Majas pertentangan terdiri atas paradoks. dan preterito. "Pada Daun Gugur" "Variasi Tema Maut". sinisme. or action is applied of another. litotes. elipsis. majas ini terdapat pada sajak "Sodom dan Gomorrha". Dick Hartoko. simbolik. (1986: 187) berpendapat bahwa majas sebagai ciri khas bagi jenis sastra puisi. "Menunggu Sampai Pagi". majas sindiran. Untuk memperoleh gambaran secara konkret antara lain dapat dilihat melalui kutipan sajak di bawah ini. retoris. dan sarkasme. Leech (1976: 151) mengatakan "Every metaphor is implicitty of the form.paralelisme. Majas sindiran terdiri atas ironi. Abrams (1971: 61) dalam hal ini mengatakan "In a metaphor a word which in standard usage denotes one kind of thing. klimaks. metonimia. sinekdoke. hiperbola. repetisi. quality. enumerasia. antiklimaks. interupsi. alusio. Mohamad Ngafenan (1990: 105) dan Liberatus Tengsoe (1989: 201) menyatakan bahwa majas skupnya meliputi majas perbandingan.

antara lain dapat dilihat melalui sajak "Motif 2" dan "Sajak tak Pernah Mati" di bawah ini." "Jendela". (Simfoni Dua. "Pada Daun Gugur". "Pengakuan"... "Bunga". Pemanfaatan majas tersebut menjadikan pernyataan lebih konkret. "Motif V".berita politik pembagian untung dan keluh tangga kurang air (Simfoni Dua. H........ "Om". Masa lalu adalah panas terik di padang pasir dan berkelana di zaman mimpi tak bertepi Masa kini adalah berkeliaran di pinggir kota dan melupakan diri dalam bir dan wiski Masa depan adalah malam yang panjang tanpa setitik cahaya di langit kelam. "Perempuan Tua". Berikut ini majas personifikasi. "Sajak tak Pernah Mati. pernyataan menjadi lebih intensif.. (1966: 242). Sejalan dengan hal itu Hulon Willis mengatakan "Personifictaion attributes human qualities to nonhuman objects... . Dengan memanfaatkan majas metafora. Untuk memperoleh gambaran secara konkret. Dalam sajak tersebut penyair mengungkapkan bahwa orang-orang yang tidak mengakui adanya kehebatan Tuhan dimetaforiskan dengan "Tuhan tertimbun di balik surat pajak".. dan "Sunyi".... Pada sajak yang lain. Selain itu penyair memperbandingkan "Masa depan" dengan "malam yang panjang tanpa setitik cahaya di langit kelam". . "Senja".. Jassin (1965: 99) maupun S. "Motif IV". penyair memperbandingkan "Masa lalu" dengan "panas terik di padang pasir dan berkelana di zaman mimpi tak bertepi". 1985: 17).. Gambaran keadaan yang abstrak menjadi konkret karena dimetaforakan.. melainkan penjelmaan. 1990: 33) Judul sajak "Sodom dan Gomorrha" diambil dari nama dua kota yang dikutuk oleh Tuhan karena para penghuninya berakhlak sangat buruk. "Riwayat........... Dalam hal ini Tuhan dibandingkan sesuatu benda tertimbun di balik surat pajak. Slametmuljana (1951: 39) menamakan majas tersebut bukan personifikasi atau pun pengorangan.B. metafora dapat dilihat pada sajak "Lamunan Aborijin" di bawah ini. Majas personifikasi dalam sajak-sajak Simfoni Dua terdapat pada sajak "Motif II".... 1990: 33) Untuk melukiskan kekuatan.. Majas ini diartikan sebagai majas yang melekatkan sifatsifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak (Henry Guntur Tarigan.. "Mabuk".. Suharianto (1981: 86) mengatakan bahwa personifikasi disebut juga majas pengorangan...

M. "Soneta Laut".symbol is applied only to a word or set of words that signifies an object or event which suggests a range of reference beyond itself" (1971: 168). Abrams mengartikan simbolik dalam sastra sebagai berikut: ". Dalam sajak-sajak Simfoni Dua majas simbolik terdapat pada sajak "Dewa telah Mati".. Dewa telah mati di tepi-tepi ini Hanya ular yang mendesir dekat sumber Lalu minum dari mulut pelacur yang tersenyum dengan bayang sediri Bumi ini perempuan jalang yang menarik laki-laki jantan dan pertapa ke rawa-rawa mesum ini . antara lain dapat dilihat melalui kutipan-kutipan sajak beserta uraian di bawah ini. Hal itu didapat dari latar belakang kata-kata itu berada. Pendapat tersebut diperjelas oleh Adhy Asmara (1982: 38) bahwa simbolik merupakan kata-kata yang kaya akan pengertianpengertian tambahannya. Dewa Telah Mati Tak ada dewa di rawa-rawa ini Hanya gagak yang mengakak malam hari Dan siang terbang mengitari bangkai pertapa yang terbunuh dekat kuil. Majas tersebut oleh Putu Arya Tirtawijaya (1983: 30) diartikan sebagai hasil yang diperoleh dari alat untuk landasan buat meluncurkan pikiran maupun perasaan secra ringkas bernas. 1990: 58) Pada sajak di atas penyair mengungkapkan masalah penderitaan yang sangat dalam. Sehubungan dengan itu. Dengan memanfaatkan majas personifikasi.H. yang statis menjadi dinamis karena dipersonifikasikan. sajak (beda mati) menyuarakan penderitaan. gender dan rebab yang menyentuh sanubari Kesepian harus diterima sebagai nasib yang tersurat (Simfoni Dua. Hal ini dipersonifikasikan.Motif II Nada-nada lembut mendambakan hidup murni. tulus dan kalis dari dosa Seperti bunyi suling. Berikut ini majas simbolik. ungkapanungkapan yang tampak abstrak menjadi konkret. Di samping itu "jerit sakit" dipersonifikasikan "menyayat malam sunyi". "Surat" dan "Di Seberang Mimti".. Majas personifikasi dalam sajak-sajak Simfoni Dua memegang peranan penting untuk menghidupkan lukisan. Untuk memperoleh gambaran secara konkret. "Motif II".

. Karena tak tahan malu aku tutup telingaku. Berikut ini penulis kutip sajak "Motif II". tubuhnya agak bulat. Dalam sajak tersebut mengisyaratkan anggapan bahwa Tuhan telah tiada (telah hilang dari bumi). Kata "ular" mengandung arti binatang menjalar. memanjang. Kata "dewa" dapat pula berarti orang atau sesuatu yang sangat dipuja-puja. Dalam sajak "Dewa Telah Mati". kata "senja" mengandung simbul yang melukiskan kurun waktu nyaris penghabisan. "ular". Biduan menghimbau aku: Ya mas. Nada-nada lembut mendambakan hidup murni. orang suci tersebut ke dunia mesum. Bukankah hanya manusia susila yang selamat sampai ke sorga? Condrolukito! Jangan terus dendangkan gending "megatruh". hidup di tanah atau di air. tulus. ular sebagai simbul kejahatan. Berdasarkan mitologi. murni. (Simfoni Dua. dan rebab merupakan instrumen musik tradisional. gagak digunakan sebagai simbul pembawa berita kematian. pemakan bangkai dan suaranya keras. ya mas. ingat. ya mas. Simbul-simbul yang terdapat pada sajak tersebut ialah kata "senja". dan "mengatruh". Dalam sajak tersebut. gender dan rebab yang menyentuh sanubari. Motif II Siapa yang mencipta lagu ini yang mengisi ruang-ruang tak berhuni? Aku tak terlambat hadir dan masih sempat mendengarnya di waktu senja sebelum gelap tiba. Suling. Dalam sajak "Motif II". Yang ada hanya orang-orang jahat. "gender". tidak berkaki. ketiga kata tersebut bersimbul kehidupan yang tulus. Dalam sajak tersebut diungkapkan bahwa Tuhan telah mati (hilang dari bumi). 1990: 58) Kata "senja" secara harafiah berarti waktu (hari) setengah gelap sesudah matahari terbenam. Kata tersebut dapat pula bersimbul kesedihan. gender. "rebab". Kesepian harus diterima sebagai nasib yang tersurat. dan lepas dari dosa. Aku yang gelisah terguncang dari kenanaran. "suling". 1990: 19) Simbul yang mewakili sajak tersebut adalah kata "dewa". jujur.dan membunuhnya pagi hari (Simfoni Dua. Kata "dewa" dapat berarti makhluk Tuhan yang berasal dari sinar yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam. "gagak". Seperti bunyi suling. Kata "pertapa" berarti orang suci atau orang yang tidak banyak dosanya. dan kalis dari dosa. kulitnya bersisik. Simbul-simbul tersebut dalam sajak "Dewa Telah Mati" oleh Subagio Sastrowardoyo digunakan untuk mengekpresikan kehidupan orang-orang kafir. Yang lebih ngeri. dan "pertapa". Kata "gagak" mengandung arti nama burung yang berbulu hitam.

. Dalam keadaan demikian si aku lirik merasa malu dan kecewa. Afrika Selatan Kristus pengasih putih wajah . "Senja". Sehubungan dengan hal tersebut. "Stasiun". dan "Air". "Ali Baba". Majas seperti itu dalam sajak-sajak Simfoni Dua. "Bulan Ruwah'. murni. Majas Sindiran Seseorang dalam menyampaikan maksud terkadang tidak menggunakan kata-kata yang sebenarnya. majas penegasan yang terdapat di dalamnya berupa anafora. "Gending Dolanan". Dalam hal ini dimaksudkan untuk menyindir.. "Pada Daun Gugur". Raymond Chapman (1973: 79) berpendapat "Anaphore. Dalam sajak tersebut kata "megatruh" sebagai simbul yang melukiskan kekecewaan atau kesedihan yang mendalam. "Lamunan Aborijin". melainkan menggunakan kata yang sebaliknya. Si aku lirik dalam hal ini terkadang gelisah karena terguncang kenanaran. Dengan memanfaatkan majas simbul. Secara global simbul-simbul tersebut di atas digunakan oleh Subagio untuk mengungkapkan bahwa si aku lirik nyaris terlambat menikmati kehidupan yang tulus. dan kalis dari dosa. "Afrika Selatan". Majas Penegasan Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua. "Variasi Pada Tema Maut".Kata "megatruh". "Berilah Aku Kota". paralellisme. 1986: 192). jujur." Majas ini dalam Simfoni Dua terdapat pada sajak "Jarak". Di samping itu. "Perempuan Tua". Anafora diartikan sebagai majas repetisi (perulangan) kata pada awal larik atau awal kalimat (Henry Guntur Tarigan. "Dunia Kini Tidak Peka". "Soneta Laut". "Pertemuan". Untuk memperoleh gambaran secara konkret. "Petualangan". dengan memanfaatkan majas simbolik.kulihat dalam buku injil bergambar dan arca-arca gereja dari marmer Orang putih bersorak: "Hosanah!" Tapi kulitku hitam Dan sorga bukan tempatku berdiam. bumi hitam iblis hitam dosa hitam Karena itu: aku bumi lata . sometimes used of verbal repetition in general. tidak terdapat di dalamnya. pernyataan yang abstrak menjadi konkret. pernyataan menjadi lebih intens. antara lain dapat dilihat pada kutipan sajak "Afrika Selatan" dan sajak "Dunia Kini Tidak Peka" berserta uraiannya. "Motif II". is specifically the repetition of a word or phrase at beginning successive stages. dan retoris. "Adam di Firdaus". "Sajak". berarti bentuk komposisi tembang macapat.

.... Untuk memperoleh gambaran secara konkret. Dunia Kini Tidak Peka .. Ekspresi Kepada Affandi Luka terlalu parah . oleh Subagio digunakan secara efektif... Kata "paralel" mengandung arti sejajar.aku iblis laknat aku dosa melekat aku sampah di tengah jalan (Simfoni Dua. "Rasa Dosa". (Simfoni Dua.... sehari lamanya orang menyayangkan nasibmu dan melemparkan kesalahan: kepada binimu yang selalu bilang kau tak becus cari duit kepada anakmu yang malu bapanya hanya buruh kecil kepada majikanmu yang tidak menaikkan upah kerja .... Perulangan tersebut menjadikan pernyataan lebih intens. 1990: 31) Pada sajak di atas penyair mengekspresikan ras diskriminasi orang-orang Afrika Selatan yang tidak puas dengan eksistensinya.. antara lain dapat dilihat di bawah ini. Perulangan tersebut justru menimbulkan sajak menjadi lebih intens. Mereka menganggap Kristus pengasih orang-orang kulit putih.. Majas di atas menunjukkan perulangan bervariatif.. 1990: 51) Pada sajak di atas penyair mengungkapkan nasib buruh kecil yang serba salah serta hubungan dengan majikan yang disharmonis..... Hal tersebut diartikan sebagai suatu cara berbahasa berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua. Kata "aku" sebagai kata kunci diulang secara beruntun.. "Variasi Pada Tema Maut" dan "Mabuk". Dengan demikian perulangan-perulangan yang nampaknya merupakan pemborosan kata. Majas ini lahir dari struktur kalimat yang beimbang (Henry Guntur Tarigan.. dan sampah masyarakat. Geofrey N.... Hal tersebut ditekankan dengan majas anafora... "Simfoni".... Majas tersebut berasal dari kata "paralel" dan "isme". Leech (1956: 67) dalam hal ini mengatakan "Every parallelism sets up a relationship of equivalence between two or more element: the element which a singled out by the pattern as being parallel". "Kenikmatan-Kenikmatan".. majas paralel terdapat pada sajak "Ekspresi".... sedangkan "isme" berarti aliran. 1986: 136)...... penuh dosa.. Berikut ini majas paralel. sedangkan orang-orang kulit hitam adalah orang-orang jahat.. Hal tersebut ditekankan dengan majas anafora berupa kata "kepada" dan "yang" diulang-ulang pada awal larik..

Rasa Dosa muka putih di jendela mengikut aku dari subuh semua kekal nyawa jejak membekas di lumpur hati kata Suara bergema di ruang abadi tangan jari gemetar menyaput sajak mata kenangan akhir membakar diri muka putih di jendela mengikut aku dari subuh tanganku lumpuh (Simfoni Dua.menikam dalam.jari yang gemetar dalam lapar. Bait ketiga struktur dan bentuknya paralel dengan bait keempat.tak tertampung dalam cermin. Pemecahannya diperlukan semangat hidup. lima. Darah sendiri yang tergarit dengan jari di dinding . siap dengan segala resiko. (Simfoni Dua. dan enam. Hal tersebut ditekankan dalam majas palalel.menikam dalam" dan "di dinding .jari yang gemetar dalam lapar".menepiskan bentuk. sajak di atas tampak lebih puitis. Bahkan merah hitam yang terpalut di atas kanpas tak kuasa menjeritkan derita . Majas paralel yang demikian ini oleh penyair dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan berdosa yang selalu diselimuti suasana tidak menyenangkan. Dengan memanfaatkan majas paralel. mungkin. 1990: 25) Sajak di atas ditujukan kepada Affandi. Hanya darah. seorang pelukis beraliran ekspresionisme. . pernyataan menjadi lebih jelas dan membuat larik-larik sajak mudah diingat. Tubuh yang terbayang sepi . Berikut ini sajak "Rasa Dosa". tampak pada larik keempat dengan larik kedelapan dan kesebelas yang berbunyi "sepi menepiskan bentuk". Sajak tersebut mengungkapkan penderitaan hidup yang begitu mencekam sehingga diekspresikan melalui seni lukis saja tidak cukup. "derita . terdiri atas delapan bait. 1990: 26) Dengan struktur dan bentuk yang paralel.

... Dengan demikian ungkapan berupa pertanyaan penyair pada sajak bergaris bawah tertera di atas tidak perlu dijawab. "Ananda Sayang".. penyair tidak bermaksud bertanya. "Sajak". dan "Seakan-akan"..... bujang dan makan sehari. Untuk memperoleh gambaran secara konkret antara lain dapat dilihat di bawah ini. kelaparan dan bunuh diri... aku terlalu sayang kepada petualangan ini di mana hati kembali bocah lagi orang asing menjadi sobat dan gadis alim di sudut menjadi iseng karena resah berharap. aku ingin masuk sorga.. .. Kalau terbayang pantalon sudah sebulan sobek tak terjahit.. "Bulan Ruwah". Nabi.. Setasion Adakah sorga seperti setasion ini tempat kereta lelah berhenti dengan tulang besi-besi bersilang dengan muka penumpang gilap berkeringat dan debu arang mengendap Adakah gerimis itu di jendela dan puntung rokok mengepul Dan berita politik dari koran dengan inflasi.. Kalau istri terus mengeluh tentang kurang tidur. Dalam sajak-sajak Simfoni Dua.. 1981: 120).. Majas ini memanfaatkan kalimat tanya yang tidak menghendaki jawaban (Gorys Keraf...... 1990: 22) Secara universal pembaca tahu bahwa sorga adalah alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya dalam keabadian. Apakah arti sajak ini kalau saban malam aku lama terbangun: hidup ini makin mengikat dan mengurung . "Paskah di Kentucky Fried Chiken". majas retoris terdapat pada sajak "Stasion". Hal tersebut terjadi karena dalam majas ini sebenarnya sudah terkandung jawaban yang pasti. Sajak Apakah arti sajak ini... Nabi. Kalau anak semalam batuk-batuk..... (Simfoni Dua.. akan tetapi hendak menyatakan sesuatu dengan setegas-tegasnya. Dengan memanfaatkan majas retoris.. tentang gajiku yang tekor buat bayar dokter...Berikut ini majas retoris.. bau vicks dan kayu putih melekat di kelambu.. Adakah di sorga kasih dan derita ini dengan senang sebentar menjelang.....

........ "Motif IV".... 1990: 23) Berkaitan dengan sajak di atas.. .. dan untuk makan sehari.. bisa saja hal itu menjadi suatu kenikmatan... Majas ini oleh Ahmad Badrun (1983: 199) didefinisikan sebagai majas yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada... Untuk memperoleh gambaran secara konkret..".. Tempat-tempat tersebut secara konvensional berkonotasi tidak menyenangkan... paradoks menyatakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.. (Simfoni Dua.... "Rumah". gaji tekor buat dokter. majas paradoks terdapat pada sajak "Adam di Firdaus". di comberan kota-kota"...Ah. bujang...S... Dalam sajak tersebut justru sebaliknya. Dengan memanfaatkan majas retoris tersebut........ Subagio mengungkapkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak konvensional... kulit pisang yang saya pungut di pinggir jalan saya memamah pelan-pelan . Akan tetapi bila dikaji lebih dalam. Demikian juga larik "kenikmatan-kenikmatan ada di mana-mana: di kolong jembatan.. "Di Stasion". serta terbayang pentalon sudah sebulan sobek tak terjahit..... hidup ini makin mengikat dan makin mengurung.. anak semalam batuk-batuk. Akan tetapi jika dianalisis lebih lanjut. sajak menjadi tidak berarti karena situasi yang menyedihkan..... Jika ditinjau secara sepintas. mengingatkan aku kepada langit dan mega ... Secara sepintas larik yang berbunyi "lezat... di comberan kota-kota .. "Doa Seorang W. Kenikmatan-Kenikmatan Jangan dilarang saya merasakan kenikmatan-kenikmatan: lezat. Lain halnya pada sajak di atas. misalnya karena sangat lapar atau karena sudah adaptasi dengan lingkungan yang kotor..... majas pertentangan yang terdapat di dalamnya berupa paradoks... Majas ini menarik perhatian karena kebenarannya.. Kenikmatan-kenikmatan ada di mana-mana: di kolong jembatan.. Dalam sajak-sajak Simfoni Dua..... (Simfoni Dua. Tempat-tempat tersebut terdapat kenikmatan. Majas Pertentangan Dalam sajak-sajak Simfoni Dua... Hal ini dikemukakan oleh Rene Wellek dan Austin Warren "duice et utile" (1977: 30)........ di muka pintu toko-toko. kulit pisang yang saya pungut di pinggir jalan saya mamah pelan-pelan" tidak akan terjadi suatu kenikmatan......T... dan "Mabuk".. 1990: 46) Pada sajak di atas...... sajak ini..... pernyataan dapat dinalar.... "Kenikmatan-Kenikmatan".. di muka pintu toko-toko....... antara lain dapat dilihat melalui kutipan sajak sebagai berikut.. Majas seperti itu berfungsi untuk menggugah imajinasi pembaca.. sajak sebagai salah satu cipta sastra sebaiknya menyenangkan dan berguna.... menjadikan sajak lebih intens.

Berkaitan dengan hal tersebut James Reeves (1975: 176) dalam pembicaraannya tentang "The Language of Poetry" berpendapat "Poetry.. dan estetiknyalah yang dominan (Pradopo...... Sejalan dengan hal tersebut Maline.. 1990: 73) Larik-larik sajak tersebut membuat pembaca berkontemplasi untuk mendapatkan penalaran yang terdapat di dalamnya.... 1994: 30). Dalam sajak ini justru sebaliknya. Dua makhluk asing menemukan kejemuan Perkenalan memang saling menggali sampai relung paling rahasia.... Simfoni II terdiri dari atas sajak-sajak yang mengungkap situasi sosial. Setelah penulis menganalisis sajak-sajak Simfoni Dua.. Untuk memperoleh gambaran secara konkret dapat dilihat pada kutipan sajak sebagai berikut.. Hal tersebut menjadikan perasaan lebih kesepian... Hal ini diperlukan karena membicarakan atau menganalisis karya sastra tanpa melakukan penilaian menjadi kehilangan sebagian rasanya.. dan mengejutkan. suatu . Kumpulan sajak Simfoni I terdiri atas sajak-sajak religius..... segar.. and James Berkley menekankan "..... Julian L. Cara pemanfaatan bahasa seperti tersebut di atas secara implisit menunjukkan bahwa Subagio dalam sajak-sajak Simfoni Dua menggunakan majas secara vital.. tentang kebobrokan moral dan kemiskinan..... Dalam sajak ini Subagio mengungkapkan sesuatu yang sangat paradoksal.... yang menarik adalah sifat seninya... serta mengkonkretkan pernyataan.. Perkenalan yang membicarakan sampai pada masalah yang sangat pribadi biasanya dapat melupakan kesepian dan kesedihan... Untuk membuat deskripsi dan eksplanasi sajak-sajak Simfoni Dua dalam hubungannya dengan penggunaan majas... than is vital... penulis membuat penilaian.. Dari hasil observasi.. Kumpulan sajak Simfono Dua terdiri atas dua kumpulan.. Subagio Sastrowardoyo dalam sajak-sajak Simfoni Dua menggunakan bahasa sederhana. dapat disimpulkan sebagai berikut.... (Simfoni Dua.." (1967: 6)." Kesimpulan Berdasarkan diskripsi dan eksplanasi yang telah penulis lakukan.Berikut ini sajak "Di Stasion". Subagio sering menggunakan kata yang tidak biasa digunakan oleh penyair lain... style and mode of expression must necessarily vary from poet to poet. Dalam suatu karya sastra... commonplace language will have no impact. tetapi mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Simfoni I dan Simfoni II.... penulis menggunakan pendekatan eklektik........... tapi makin dalam makin terbenam hati dalam kesepian . . fresh and surprising language.... Stale language will be ineffective...

Dengan demikian. Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua. dan retoris. Dari analisis yang penulis lakukan. pemakaian majas dalam Simfoni Dua membuat sajak-sajaknya lebih segar. Jika dibandingkan dengan metafora. Majas pertentangan dalam Simfoni Dua hanya paradok. paralelisme. majas perbandingan dalam Simfoni Dua terdiri atas metafora. meliputi anafora. anaforalah yang paling dominan. Subagio Sastrowardoyo dalam Simfoni Dua mengungkapkan masalah religius (Simfoni I). Dalam analisis ini penulis menggabungkan pendekatan objektif dan ekspresif. sinisme. Majas penegasan dalam Simfoni Dua. majas anafora lebih dominan. ia sering menggunakan kata-kata yang tidak biasa dipakai oleh penyair lain. dan simbolik. dan mengkonkretkan pernyataan . Majas sindiran skupnya meliputi ironi. dan situasi sosial tentang kebobrokan moral dan kemiskinan (Simfoni II). menarik. dan sarkasme. Ini pun jumlahnya tidak dominan. namun mengandung arti yang luas dan dalam.pendekatan yang menggabungkan beberapa pendekatan secara konprehensif. personifikasi. Dari ketiga majas tersebut. majas-majas tersebut tidak terdapat di dalamnya. Dari deskripsi dan eksplanasi yang telah penulis lakukan pada titik pangkalnya. Dari ketiga majas ini. metaforalah yang paling dominan. Di samping itu. Meskipun demikian. majas tersebut menambah nuansa keanekaragaman majas dalam Simfoni Dua. Hal ini oleh Subagio diungkapkan dengan bahasa yang sederhana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful