P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 324|Likes:
Published by Bayuo Praditya

More info:

Published by: Bayuo Praditya on May 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2014

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik

2.1.1 Pengertian Karakteristik Karakteristik adalah sifat khas dengan perwatakan tertentu. mencakup hal-hal sebagai Karakteristik

berikut: umur, pendidikan, pelatihan, lama kerja,

kepuasan kerja dan lainnya (Depdikbud, 2000).

Soeroso (2003) menerangkan bahwa setiap individu yang dapat dipercaya pada hakikatnya merupakan fungsi karakter dan kompetensi seseorang. Kemudian ia menambahkan bahwa kepemimpinan pada tingkat antarindividu terjadi apabila seseorang yang memiliki karakter dapat dipercaya melakukan komunikasi dengan orang lain dan bekerja secara sinergis serta menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada apabila mereka bekerja sendirian.

2.1.2 Ruang Lingkup Karakteristik Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada ruang lingkup karakteristik yang mencakup umur, pendidikan, lama kerja dan jenis kelamin, pelatihan dan ekonomi. Adapun ruang lingkup karakteristik adalah sebagai berikut:

9

1997). 2005). umur adalah lama hidup seseorang yang dapat dikelompokkan menjadi tiga. Dalam hal ini Koentjaraningrat (1997) menambahkan bahwa umur seseorang yang relatif tua dapat berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimilikinya. 2004). Sementara Anderson (1989) dalam Herlina (2002) menyatakan bahwa pengetahuan bermanfaat jika pengetahuan tersebut didasarkan atas tindakan atau hal-hal apa saja yang dimengerti. semakin banyak umur semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki.2. kecerdasan dan keterampilan mempertinggi budi pekerti.1. 2. 20-35 tahun dan <35 tahun (Depdikbud.2. memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan cinta tanah air. pada umumnya jenis kelamin perempuan kurang berpengaruh terhadap tindakan penanganan pasien amuk dibandingkan dengan perawat laki-laki (Kusumo Lelono. Jenis kelamin merupakan keadaan tubuh penderita yang dibedakan secara fisik.1 Umur Umur merupakan lama hidup seseorang.2 Jenis Kelamin Jenis adalah sifat jasmani atau rohani yang membedakan dua makhluk sebagai betina dan jantan atau wanita dan pria. 2.1. Umur ditentukan dengan hitungan tahun. Dalam penanganan pasien amuk.2/1978 adalah usaha sadar untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. yaitu: <20 tahun.2.1. Sedangkan pendidikan menurut Ketetapan MPR No.2. Usia adalah kata lain dari umur.3 Pendidikan Menurut John Dewey (2000) pendidikan adalah suatu proses untuk memperoleh kemampuan untuk kebiasaan berfikir untuk suatu kegiatan yang intellegent atau ilmiah dalam memecahkan masalah di dalam kegiatan. S. salah satunya adalah ilmu. 10 . jenis kelamin laki-laki atau perempuan (Depdiknas.

keuletan yang besar. Pelatihan (Training) sebenarnya merupakan upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang secara langsung terkait dengan peningkatan keterampilan. 11 . 2003). rasa tanggung jawab terhadap keselamatan negara dan bangsa serta kemanusiaan. yang sering adalah pelatihan. kecakapan dalam meniru asli dan meniru bebas. (Koentjaraningrat. S1. Pendidikan perawat adalah pendidikan formal yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SPK. D3. 1995). (Soeroso. di industri perumahsakitan keadaannya berbeda.1. jasmani yang sehat dan kuat. 2. S2 yang diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam masing-masing klasifikasi (Depkes RI.Kemahiran menyerap pengetahuan akan meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap seseorang terhadap pengetahuan yang diserapnya. perasaan peka dan halus. aktivitas yang besar. sedangkan pendidikan adalah pengembangan sumberdaya manusia yang bersifat “People Building Concept”. kecakapan untuk mencipta yang baru. keyakinan demokrasi dalam hak dan kewajiban. 1997).2.4 Pelatihan Istilah pendidikan (Education) pelatihan jarang digunakan dalam bidang industri. Adapun tujuan pendidikan menurut Syafei Muhammad (1996) tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia Indonesia yang memiki seperangkat kepelengkapan sikap yaitu. Namun. ketajaman berfikir serta logis. sifat kemanusiaan setinggi mungkin.

perubahan peran dalam pengembangan perawat atau memperkuat hasil pelatihan sebelumnya.1. Dalam setiap organisasi kesehatan rumah sakit atau sejenisnya sering kali diperlukan suatu program orientasi perawat yaitu prosedur untuk memberikan gambaran kepada perawat baru tentang informasi latar belakang. pekerjaan terbagi atas tetap dan tidak tetap. Pelatihan kembali (re-training) adalah pelatihan kembali perawat dalam rangka menindaklanjuti penilaian prestasi kerja.6 Lama Kerja Lama kerja yang dimaksud disini adalah lamanya waktu yang telah digunakan untuk bekerja pada rumah sakit jiwa.2. tugas kewajiban. 2003).2. jenis pekerjaan dan tidak terfokus pada satu 2. Perawat yang sudah lama bekerja atau berpengalaman menangani tindakan pasien amuk (kedaruratan) memiliki 12 .5 Pekerjaan Menurut Depdiknas (2005) pekerjaan adalah barang apa yang dilakukan (diperbuat. sedangkan pekerjaan tidak tetap yaitu pekerjaan yang dilakukan dari berbagai pekerjaan saja. dipekerjakan. pekerjaan tetap adalah pekerjaan yang dilakukan hanya terfokus pada satu pekerjan saja. dan sebagainya). sejarah dan peraturan dasar tempat kerjanya yang baru (Soeroso. Pelatihan dibutuhkan sebagai pendidikan tambahan (sumber informasi baru) bagi perawat yang menangani pasien amuk. 2.Pelatihan adalah proses pengajaran kepada karyawan dalam hal ini perawat baru atau perawat yang telah ada tentang keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka sebagai individu maupun sebagai anggota tim untuk mencapai sasaran yang ditetapkan oleh organisasi dengan sebaik-baiknya.1.

Ekonomi merupakan penghasilan yang diperoleh selain dari penghasilan sebagai pegawai negeri (PNS) atau tetap. Kebutuhan rumah tangga b. Biaya pendidikan c. pemanfaatan uang. negara). Perawat dengan ekonomi biasanya kurang memberikan perhatian terhadap pasien yang ditanganinya. karena memiliki pengalaman menangani pasien amuk dibandingkan dengan perawat yang baru bekerja.kemampuan dalam menangani pasien. Rekreasi Dalam hal ini Soeroso (2003) menambahkan bahwa penghasilan/ekonomi tenaga kerja perawat yang minim dapat mempengaruhi prestasi kerjanya. cakupan urusan keuangan rumah tangga (organisasi. distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan. tenaga. Menabung d.7 Ekonomi Menurut Depkdiknas (2005) ekonomi adalah ilmu mengenai asas-asas produksi.2. Ekonomi dalam penelitian ini adalah menyangkut penghasilan perawat dan diklasifikasikan sebagai berikut: a. 2. waktu dan sebagainya yang berharga.1. 13 .

2. 2003). Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. Trial dimana subjek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni: indera penglihatan.1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bahasa Indonesia pengetahuan (Knowledge) adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. rasa dan raba. 2.2 Pengetahuan 2. penciuman.2 Adopsi Pengetahuan Apabila suatu pembuatan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan. 14 . Pengetahuan atau Kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tertentu disini sikap subjek sudah mulai timbul.2.2. dan apabila manusia mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses sebagai berikut: Awarness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya terhadap stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. pendengaran.

2. prinsip atau teori. menjelaskan atau meringkas tentang sesuatu. Namun. konsep. 4.3 Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang dicakup dalam bidang atau ranah kognitif mempunyai enam tingkatan bergerak dari yang sederhana sampai pada yang kompleks yaitu : 1. 2. Jenjang C4 Analisa (Analisis) Analisa adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen. Oleh karena itu pengetahuan merupakan tingkat yang paling rendah. Seperti menggambarkan 15 . Mengetahui dapat menyangkut bahan yang luas atau sempit seperti fakta (sempit) dan teori (luas). apa yang diketahui hanya sekedar informasi yang dapat disingkat saja. 2. Jenjang C2 Pemahaman (Comprehension) Pemahaman adalah kemampuan memahami arti sebuah ilmu seperti menafsirkan. 3. dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. Jenjang C3 Penerapan / Aplikasi (Aplication) Penerapan adalah kemampuan menggunakan atau penafsirkan suatu ilmu yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru seperti menerapkan suatu metode.- Adoption. tetapi masih dalam satu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan suatu samalainnya. Jenjang C1 mengetahui/Tahu (Know) Mengetahui berdasarkan mengingat kepada bahan yang sudah dipelajari sebelumnya.

bagan). misalnya dapat menyusun.4 A m u k 2. menanggapi dan dapat menafsirkan dan sebagainya.(membuat sebagainya. Ciri-ciri khas tersebut yang menjadikan individu memiliki kepribadian yang berbeda-beda.4. 6. memisahkan.1 Pengertian Amuk merupakan perilaku kekerasan digambarkan sebagai suatu tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. 2. menyelesaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. Misalnya dapat membandingkan. merencanakan. Jenjang C6 Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkenaan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membuat penelitian terhadap suatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu.3 Hubungan antara Karakteristik dengan Pengetahuan Notoatmodjo (2003) menggambarkan bahwa keterkaitan antara karakteristik dengan pengetahuan merupakan hasil dari proses belajar (pengalaman yang dimiliki) dengan ciri-ciri khas pada umumnya yang terdapat pada setiap individu. membedakan. meringkas. 2. 16 . Jenjang C5 Sintesis (Syntesis) Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. mengelompokkan dan 5.

1990). merusak lingkungan (Stuart & Sundeen. Reaksi manusia yang normal pada rangsang tertentu yang membuat orang tersinggung harga dirinya/membuat kecewa dan frustasi karena segala sesuatu tidak berjalan seperti yang diinginkan (Wedge. Amuk merupakan salah satu jenis dari berbagai macam perilaku kekerasan selain marah dan agresif. Perilaku destruktif disebabkan oleh frustasi.Perilaku destruktif tetapi tidak terkontrol. 1989) Pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon pada kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart dan Sundeen. Pada saat marah individu kehilangan kontrol emosi dan intelektual (Depkes RI. dan yang paling berat adalah melukai / merusak secara serius. 1990) Agresif adalah satu cara dari seseorang untuk mengekspresikan marah. merusak diri sendiri. perilaku yang dimaksudkan untuk mengancam atau melukai harga diri korban ini berarti melawan atau menyerang (Warren. 1991). 1998). Perilaku ini timbul dalam rangka membalas atau respon untuk bertahan (Depkes RI:1990). merusak orang lain. 1999). Klien tidak mampu mengendalikan diri (Anna Keliat. 17 . memberi kata-kata ancaman melukai disertai melukai pada tingkat ringan. Prilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan.

Proses terjadinya marah (Becks. Williams.2 Proses Terjadinya Marah sampai dengan amuk Ancaman / Kebutuhan (Stressor) Merasa Kuat Menentang Masalah tidak Teratasi Marah Berkepanjangan Stres Cemas Merasa tidak adekuat Melarikan diri Marah Mengingkari marah Diungkapkan secara verbal Menjaga keutuhan Oranglain Lega Ketegangan menurun Rasa marah Teratasi Muncul rasa permusuhan Rasa bermusuhan menahun Ekspresikan marah (-) Marah pada diri sendiri Marah pada orang lain/lingkungan DEPRESI PSIKO SOMATIK AGRESIF / MENGAMUK Gambar 2.4. Rawlins.2. 1986) 18 .1.

1997). Bila keadaan gaduh gelisah di bawa ke fasilitas pelayanan psikatrik dalam keadaan bingung dan gaduh.2. termasuk orang lain dan barang-barang. tetapi hanya menunjuk pada suatu keadaan atau sindroma dengan sekelompok gejala tertentu dengan ciri utama yaitu gaduh dan gelisah (Depkes RI. dimana klien tidak mampu mengungkapkan perasaannya. merusak lingkungan.4. Amuk : prilaku destruktif tetapi tidak terkontrol. 2.2. Agresif : perilaku destruktif tetapi masih terkontrol. Rentang Respon Marah (Stuart dan Sundeen. bicara kasar.5 Penanganan Kegawatdaruratan Psikatri Keadaan gaduh gelisah bukanlah merupakan suatu diagnosa. merusak orang lain. menuntut. Kebingungan dan gaduh ini tidak hanya melanda pasien tidak jarang keluarga atau yang 19 . merusak diri sendiri. Keadaan gaduh gelisah dapat dimasukkan ke dalam golongan kedaruratan psikiatrik karena keadaan ini berbahaya bagi pasien maupun lingkungannya. muka masam.3 Rentang Respon Amuk Respon Adaptif Respon Maladaptif Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk Gambar 2. 1991) Asertif : kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain. Pasif : respon lanjut. Frustasi : kegagalan mencapai tujuan oleh karena tidak realistis/terhambat. mencaci.

mengantar dilanda kebingungan dan ikut gelisah.1 Pendekatan Psikologik Adalah sikap serta kata-kata yang diucapkan yang bertujuan untuk menenangkan pasien. dia tidak boleh kehilangan sikap dan kemampuan profesionalismenya (Depkes RI. 20 . Penderita gaduh gelisah bisa kita jumpai dalam keluarga. Tetapi keadaan ini toleh terjadi sampai melanda para petugas pelayanan itu sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut. RSU dan Rumah Sakit Jiwa (RSJ). sentuhan tangan tidak diperlukan karena keadaan ini dapat disalahtafsirkan pasien sebagai ancaman/serangan fisik terhadap dirinya. Ruang Rawat Inap dan Unit Rehabilitasi.5. Perkenalkan diri Jika pasien gelisah sekali. Tujuan penanganan : Pasien mampu menguasai dirinya dan berfungsi kembali dengan baik. 1997). masyarakat. di puskesmas. Masalah : Dalam keadaan gaduh gelisah dapat terjadi bahaya terhadap diri pasien ataupun lingkungan. maka masalah yang ada dapat diatasi dengan pendekatan psikologik. 2. namun pendekatan mana yang lebih diutamakan atau didahulukan tergantung pada keadaan dan kondisi pasien (Depkes RI. Di RSJ keadaan ini dapat dijumpai atau terjadi di Poliklinik Rawat Jalan. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian: 1. 1997). biologik dan sosiokultural. Ketiga segi pendekatan ini pada prinsipnya diusahakan pada setiap keadaan gaduh gelisah. Petugas tidak boleh menjadi bingung dan tidak dapat mengendalikan diri.

Kendalikan diri dan sadarilah bahwa kita yang mampu mengatasi keaadaan tersebut. Amati pasien sekurang-kurangnya 30 menit. seperti pengekangan atau pemberian psychofarmaka dan sebagainya. Coba berikan kepercayaan kepada pasien untuk mengendalikan dirinya sendiri 21 . perhatikan hal-hal berikut: 1) Tanda-tanda vital: tekanan darah. “Pengekangan ini maksudnya untuk menolong saudara sementara saudara belum dapat menguasai diri agar tidak terjadi kecelakaan/kelelahan” c. 4. respirasi 2) Bila pasien tenang: pertimbangkan untuk melepas kekangan. Janganlah terburu-buru melepas ikatan pasien b. dan lain-lain) pendekatan psikologis ini lebih diutamakan. 3. nadi. pisau. Prosedur dan teknik pengekangan: 1. 2.2. berikan suntikan sesuai instruksi (dokter) sebelum ikatan pasien diganti dengan ikatan milik rumah sakit.2 Pendekatan Biologik Adalah segala tindakan yang bersifat biologik/fisik yang dilakukan untuk menguasai penderita. Pasien sudah dalam keadaan terikat/terkekang: a. senjata tajam.5. kayu. Hendaklah dimengerti keadaan pasien. tunjukkan sikap menerima dan usaha untuk menolong pasien. Bila pasien bersenjata (pistol. Jelaskan/katakan kepada pasien sebelum pengekangan dilakukan. Bila pasien masih gelisah.

BAK) berikan kesempatan kepada pasien untuk dapat melakukan sendiri 2. tali temali) serta tenaga (diperlukan sekurang-kurangnya 4 orang) b. BAB. Siapkan alat-alat yang diperlukan (selimut. atau benda-benda lainnya agar tidak dirampas pasien dan dipergunakannya untuk melukai orang lain. kelumpuhan. Pada waktu-waktu tertentu (waktu makan. Bila pasien mengenggam senjata (pisau. d. Keselamatan semua pihak harus menjadi perhatian utama. dan lain-lain) utamakanlah pendekatan psikologis. Sebaiknya perawat menyimpan dulu kacamata. pistol. Jangan mendekati pasien dari depan karena bisa disepak. mandi. lapar. 22 . dicakar.3) Bila pasien masih gelisah: Perhatikan apakah fiksasi terlalu ketat Tanyakan apakah ada kebutuhan-kebutuhan pasien yang mendesak seperti BAB/BAK. minum. dan lain-lain. pena. luxatio. dan lain-lain. rasa nyeri. c. Pasien gaduh gelisah yang belum difiksasi: Usahakan untuk melakukan pengekangan/fiksasi dan untuk itu hendaknya diperhatikan keadaan-keadaan sebagai berikut: a. digigit. golok. Segera berikan pertolongan yang diperlukan Cegah kemungkinan komplikasi yang akan terjadi bila fiksasi masih harus dilanjutkan seperti decubitus. d.

6.3 Pendekatan Sosiokultural Adalah setiap tindakan dalam menciptakan suatu lingkungan sosial yang memungkinkan pemberian rasa aman dan tenang pada pasien (Depkes RI. Pengerahan tenaga: Di ruangan. Unit Rawat Inap atau di Unit Rehabilitasi maka langkah yang dapat diambil adalah: 1. Kira-kira kunjungan keluarga setelah 7 sampai 10 hari pasien dirawat. dan sebagainya). Usahakan untuk dapat mempertemukan pasien dengan keluarga bila keadaan sudah tenang sekaligus amati penerimaan pasien terhadap keluarga.2. satpam.5. rehabilitasi. Beritahu keluarga bahwa apa yang kita perbuat bukanlah merupakan hukuman bagi pasien tetapi adalah tindakan pengobatan. Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penanganan pasien gaduh gelisah: Bila kita jumpai pasien gaduh gelisah baik di Unit Rawat Jalan. Berusaha agar keluarga atau penanggung jawab/pengantar juga dapat mengerti keadaan pasien. poliklinik dapat menghubungi tenaga/petugas dari ruangan yang lain. Bila penderita masih gelisah dan tak kooperatif dianjurkan keluarga untuk tak menjenguk pasien dahulu. 23 . sehingga pasien dapat dibawa ke rumah sakit. 3. Berusaha mengenal/mengetahui situasi dimana terjadi keadaan gaduh gelisah 2. Hal-hal yang perlu diusahakan/diperhatikan sebagai berikut: 1. 1997). bila perlu dapat minta bantuan orang lain yang disegani oleh pasien (keluarga. Perhatikan siapa yang dapat memberikan/menciptakan suasana tenang. 4. 5.

decubitus. dapat dipakai brandcard tanpa roda atau tanpa brandcard asalkan cara membawa baik dan sopan. bila perlu disuap atau berikan sonde. d. Bila tangan terikat dan non kooperatif dapat dibawa dengan kursi dorong atau brandcard dengan beberapa petugas dibagian kiri/kanan dan bagian belakang yang mendorong. 24 . Bila susah makan dan minum usahakan dengan beberapa cara.2. 3. sprei. Bila perlu pengekangan. Siapkan kamarnya dengan tempat tidur lengkap dengan kasur. Petunjuk pengangkutan pasien a. maka untuk mencegah terjadinya lecet. perlu cairan. Melakukan pendekatan psikologik agar dapat dengan mudah pasien dibawa c. bantal. Peralatan lainnya seperlunya saja atau sama sekali tidak ada bila pasien sangat gelisah. Untuk mempertahankan kondisi tubuhnya. Menyiapkan ruang dan alat Petugas dari Unit Rehabilitas. Berikan suntikan sesuai instruksi dokter b. dirubah posisi bila perlu digosok dengan kamper spiritus 4. luxatio dan sebagainya pasien harus dibaringkan di atas kasur. Bila tidak ada peralatan yang disebutkan tersebut. Untuk mempertahankan kondisi tubuhnya. Pemberian makan/cairan Pada pasien gaduh gelisah terjadi kelelahan dan kekurangan cairan. sarung bantal. Alat seperti tali temali/selimut dan sebagainya harus senantiasa disiapkan di tiap ruangan. perlu diperhatikan berapa banyak makanan dan minuman yang masuh juga BAB dan BAK-nya.

Pendidikan . dan dengan cara pendekatan sosiokultural. bijaksana dan tegas. pelatihan dan ekonomi mampu mempengaruhi perubahan atas pasien dengan gawatdarurat psikatrik. 2003) digambarkan kerangka teori sebagai berikut: Karakteristik Perawat . Kerangka Konsep 25 . Bila pasien gaduh geliah diinfus. pendidikan. Dalam hal ini karakteristik perawat seperti umur.Umur .6 Kerangka Teori Diketahui bahwa hal terpenting dalam penanganan kegawatdaruratan adalah dengan cara melalui. pendekatan psikologik. Pengekangan usahakan tidak menahan jalannya infus. kontrol tensi. lama kerja. sedangkan pendekatan dengan cara sosiokultural digunakan untuk menciptakan suasana lingkungan yang bersahabat kepada pasien. pendekatan biologik. jenis kelamin. 2.Jenis Kelamin . karena kegelisahannya dapat mengganggu jalannya infus. harus mendapat perawatan khusus. 1997).Pelatihan . pendekatan secara biologik ditujukan agar dapat mengguasai penderita dari terapi yang diberikan saat penanganan.Pekerjaan .Ekonomi - Pengetahuan Baik Buruk Gambar 2. respirasi (sesuai perintah dokter) (Depkes RI. Pendekatan dengan cara psikologik ditujukan untuk menenangkan pasien melalui sikap serta kata-kata yang diucapkan. Dari uraian ini dapat digambarkan karakteristik yang berhubungan dengan pengetahuan (Notoatmodjo.Berikan pelayanan yang baik. nadi.3.Lama Kerja .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->