ISU TENTANG INVESTASI DALAM OBLIGASI ISLAM

Setiap orang yang beragama islam pastinya ingin mencapai falah, yaitu kualitas

yang nyata terhadap pencapaian kesenangan Allah. Kesejahteraan manusia seperti yang dipercaya Muslim dapat dicapai tanpa benturan kepentingan asli dari kehidupan duniawi dan akhirat. Apabila kita berbicara agama dan perusahaan Tujuan
akuntansi dan pendanaan perusahaan haruslah bisa dipertanggung jawabkan baik antar sesama manusia dan allah, pada peraturan islam hendaknya seorang akun tan atau perusahaan menganut zakat sebagai tujuan utama, karena dengan demikian

cenderung menghindari praktek-praktek yang tidak diinginkan kecurangan atau 'window dressing' karena ia percaya bahwa akuntabilitas kepada Allah SWT adalah penting.
Namun akan terjadi dilema ketika ada beberapa imam muslim yang berbeda pendapat dan akhirnya terjadi perdebataan. Seperti yang terjadi Di malaysia sistem obligasi islamnya menggunakan bay al dain dan bay al inah (mengandung riba) dan sistem ini tidak diterima oleh investor-investor timur tengah karena bertentangan dengan ajran agama, oleh karena itu malaysia sekarang lebih sulit memperoleh investor lagi. Penelitianpun dilakukan apabila tidak ditemukan bukti bay al inah dan bay al dayn maka investor timur tengah akan banyak yang kembali menanamkan modalnya di malaysia. Investor timur tengah lebih suka dengan obligasi yang bersistem islam seperti lainnya.

Obligasi islam di malaysia

Menurut Baydoun dan Willett's (1997) berpendapat bahwa setidaknya ada
empat tujuan pengungkapan akuntansi untuk sebuah perusahaan Islam, dimana dua

yang pertama adalah persyaratan khusus yang ditetapkan oleh syari'ah untuk menghindari riba dan membayar zakat. Kedua kedua tujuan didasarkan pada persyaratan umum disimpulkan yang dapat disebut sebagai 'akuntabilitas sosial' dan penuh keterbukaan.

Untuk lebih memahami peran bay al-dayn di pasar obligasi Islam, layak untuk melihat tiga langkah utama terlibat dalam penerbitan obligasi, yaitu: (2)

Kurangnya pasar sekunder namun tidak harus berarti bahwa isu -isu perdagangan tidak lagi signifikan. sertifikat hutang bisa vaild hanya jika didukung oleh aset dalam islam (sistem ini mengarah ke sistem konvensional) kecuali obligasi khasanah yang dijamin pemerintah yan g jika memilikinya maka akan punya hak untuk menjual atau membeli komoditas perikanan. Seperti disebutkan di atas. -3.Langkah 1: Sekuritisasi . obligasi diperdagangkan di pasar sekunder sangat penting. perusahaan penerbit akan menjual sertifikat utang atau obligasi kepada investor. tidak adanya instrumen obligasi di sebagian besar almurabahah proyek keuangan negara-negara timur tengah dapat dijelaskan oleh kontroversi pada validitas menggunakan bay 'al-'inah di sekuritisasi yang proses dan aplikasi menggunakan bay al dayn dengan diskon obligasi dalam perdagangan sekunder memunculkan pertanyaan masalah mendasar apa di balik kontroversi tentang legitimasi bay al-'inah dan bay 'al-dayn dalam hukum Islam? Apa yang bisa menjelaskan penolakannya di negara-negara Timur Tengah sementara mendapatkan penerimaan di Malaysia. -1.Hal ini biasanya terjadi di pasar primer dimana dalam menyelesaikan utang. Seperti disebutkan di atas. Di malaysia perdagangan ini disebut bay al-dayn namun perdagangan obligasi ini ditolak oleh investor timur tengah karena tiap penjualan mengandung dengan riba. Itulah alasannya di timur tengah sampai saat ini blm terjadi kesepakatan tentang penjualan bay al-dayn. hampir semua obligasi Islam saat ini dibeli untuk investasi jangka panjang. -2.Penerbitan sertifikat utang -Shahdah al-dayn Langkah 3: Perdagangan sertifikat utang .jual beli sertifikat utang di pasar sekunder dengan menggunakan kontrak bay 'al dayn. .Pembentukan aset bay 'al-'inah Langkah 2: isues Obligasi . pemodal pembelian aset dari penerbit dan menjualnya kembali ke pihak yang sama dengan harga kredit (menggunakan 1 harga kesepakatan). Namun.Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.Dalam bay al-'Inah sekuritisasi aset. Salah satu tujuan dalam penerbitan obligasi Khazanah adalah untuk menciptakan sebuah pasa sekunder yang dinamis.

untuk kontrak pinjaman. karena ada yang jelas bukti bahwa jumlah tindakan tersebut. Jelas bahwa Bay al-inah adalah perangkat hukum dalam rangka mengatasi larangan riba dan tidak dianggap suatu tindakan penjualan. Debitur (calon) menjual kepada kreditur (calon) beberapa o byek untuk kas yang akan dibayarkan segera. Namun. Poin kedua adalah bahwa di balik validitas pengakuan syafi i (Sahih) Bay al-inah sebagai pendapat pribadinya (Ra'y) dan tidak didasarkan pada interpretasi otoritas Islam yang otentik. untuk efek itu adalah berkaitan dengan kutipan perkataan nadi SAW. kontrak tersebut telah berkembang pada periode awal Islam dan ada untuk alasan mendasar bahwa pinjaman untuk bunga dilarang karena sama dengan riba. Perbedaan antara kedua harga mewakili bunga. Bay al-inah umumnya dikenal sebagai penjualan berdasarkan transaksi Nasi'ah (Delay). Jika kita fokus pada struktur obligasi Malaysia seperti disebutkan di atas. b. Singkatnya obligasi adalah pinjaman dengan bunga yang akan dibayarkan penuh pada tanggal jatuh tempo. kita dapat menyimpulkan pada dua metode operasi tidak dapat diterima berdasarkan standar Syariah. Syariah menganggap pinjaman sebagai Ribawi kontrak dan dengan demikian ketika peminjam atau peminjam akan mengamankan apapun manfaat baik dalam jangka waktu uang atau jenis lain pertimbangan adalah riba. Dengan pengertian konvensional diatas satu kesimpulan saya bahwa obligasi merupakan sifat dari kontrak pinjaman. pada dasarnya.1. Adapun kesimpulan dari diskusi ulama yaitu : a. yang sedang terjadi. Bay al-inah. . Oleh karena itu. sesuai dengan sekolah lain larangan penjualan tersebut didasarkan pada konsensus para ahli hukum (Ijmac al-ulama') pada otoritas sumbersumber hukum Islam. The BIMB Securities Sdn Bhd menguraikan bahwa obligasi Islam Malaysia terstruktur berdasarkan Bayc al-inah (Refinancing aktiva) dan selanjutnya diperdagangkan di dasar Bayc al-Dayn (Debt-trading). debitur segera membeli secara simultan objek yang sama dengan jumlah yang lebih besar untuk masa mendatang. dilarang karena didasarkan pada pengayaan (fadl bil mal a ciwad) Atau "menerima keuntungan moneter tanpa memberikan countervalue ".

Namun. atau pihak ketiga. Syariat membolehkan bila pembayaran dilakukan segera dan dengan jumlah yang setara. (36) tidak diperbolehkan menjual al Dayn non-debitur atau pihak ketiga sama sekali. Menurut sebagian besar ulama yaitu Hanafi. Hanbali dan ahli hukum Shafis. Dayn didefinisikan sebagai masalah karena jumlah uang yang dimiliki oleh suatu debitur tertentu. tidak ada indikasi bahwa kontroversi ada di bay 'al-dayn dimana obligasi dijual atau ditebus sebesar nilai nominal. atau komoditas.c. Berdasarkan tersebut di atas al-Dayn. bay al-dayn Masalah bay 'al-dayn muncul ketika obligasi tersebut diperdagangkan di pasar sekunder dengan harga diskon. Menurut al-Majallah. Kondisi ini bertujuan untuk menghindari . Hal ini layak untuk dicatat bahwa pembeli di pasar sekunder biasanya spekulator. bahwa mereka yang tidak berniat menyimpan obligasi untuk jangka panjang investasi tujuan. sehingga dia tidak akan menyangkal penjualan. Penjualan yang penjual tidak memiliki. Debitur harus mampu finansial. harus menerima dan mengakui penjualan. Dayn harus Mustaqir (Dikonfirmasi hutang) dan kontrak harus dilakukan di tempat. tidak ditangguhkan dalam rangka untuk menghindari hubungan dengan penjualan utang untuk utang yang dilarang oleh Islam hukum. Begitu juga sejumlah uang tidak ada dianggap hutang. Al-Dayn dapat berupa moneter. Poin ketiga adalah bahwa hampir tidak ada bukti yang memuaskan yang memungkinkan seseorang untuk mengatakan bahwa al syafi i dengan tegas menyatakan bahwa al-Inah menjadi (Halal). Dan arti harfiah Bay al-Dayn dapat kita definisikan sebagai penjualan hak hutang debitur baik untuk dirinya sendiri. jenis penjualan ini biasanya untuk pembayaran langsung atau untuk pembayaran ditangguhkan(Nasi'ah al). pendapat tersebut didasarkan atas penjualan terlarang Kali al Bil Kali. Tujuan utama mereka adalah untuk membuat keuntungan modal cepat atas dasar likuiditas pasar dan suku bunga gerakan. Namun meurut imam maliki. 2. Penjualan Gharar. b. Sesuai dengan sabda Nabi SAW. hanafi dan beberapa ahli hukum imam syafi i penjualan kepada pihak ketiga diperbolehkan dengan kondisi : a. makanan atau logam.

penjualan tidak harus didasarkan pada menjual emas dengan perak atau sebaliknya. yang lagi-lagi tidak memiliki hubungan dengan Dha'wa Ta'ajjal karena hanya memenuhi syarat diskon utang oleh kreditur kepada debitur dan bukan sebaliknya seperti diterapkan oleh penerbit obligasi Khazanah. DISKON UTANG ISLAM Hal ini dibolehkan bagi kreditur yang ingin melunasi hutang sebelum jatuh tempo untuk menerima pengurangan jumlah karenanya. Dalam kasus obligasi Islam Khazanah. dan debitur harus mudah diakses sehingga kreditur mengetahui apakah dia memiliki kemampuan untuk membayar utang atau tidak. Muqarada obligasi. . debitur menjual obligasi dengan diskon kepad a kreditur. -pemegang tercatat sebagai pemegang sebesar kepemmilikan. Keunggulan obligasi muqarada : -untuk meningkatkan modal ekuitas bagi mudarib. yang menyarankan kreditur untuk menerima pembayaran mengurangi hutang dalam pengakuan penyelesaian sebelum jatuh tempo. maka nilai harganya harus Rp 1000 juga). Hal ini disebut Dha'wa Ta'ajjal dan didasarkan pada Hadis Nabi (saw). OBLIGASI MUQARADA ALTERNATIF UNTUK OBLIGASI ISLAM Obligasi muqarada Merupakan solusi untuk mengatasi dilema masalah paradigma para imam ini. karena setiap pertukaran antara barang-barang ini membutuhkan kepemilikan langsung. Iniadalah produk dari ulama Muslim dan pemikir yang mengembangkan dan merancang instrumen keuangan di mana bunga atau bentuk semacam pengembalian yang Islam telah tegas dilarang benar2 dihindari. c.sengketa antara para pihak. namun nilai pasar yang bervariasi dengan harapan keuntungan. jadi mudorib mendapat sebanyak yang dikeluarkan perusahaan. -menggunakan sistem bagi hasil antara mudarib dan investor. -merupakan layanan investasi. dan jika utang itu adalah uang atau harga utang lain harus sama dalam hal jumlah kuantitas (jika utang itu Rp 1000. -bisa diperdagangkan namun harus sesuai dengan hukum islam yg disebutkan diatas. adalah sebuah ikatan Islam di mana tidak ada bunga yang diperoleh.

Ini tidak berbeda dari Sukuk muqarada. dan terjadi penolakan dan dilema. Sebelum pembelian aset. so lusi untuk masalah ini adalah obligasi muqarada dll. produk yang disewa guna usaha menerbitkan sertifikat Ijarah kepada investor dengan keuntungan yang telah ditentukan. . Misalnya penyewa membuat pembayaran sewa berkala kepada produk yang disewa guna usaha yang pada gilirannya akan menggunakan hasilnya untuk membayar pemodal.Adapula pembiayaan lain yang sesuai dengan hukum islam yang biasa disebut al-ijarah yaitu sistem pembiayaan seperti sewa guna usaha. Hal ini berlaku karena dalam Ijarah keuangan lessor selalu dapat menetapkan sewa di muka sehingga sehingga memungkinkan untuk menjamin keuntungan bagi investor. Selain itu ada sukuk musharaka ini adalah investasi pada sukuk yang mewakili kepemilikan ekuitas Musharaka. Selanjutnya sukuk Salam atau Istisna ' Ini adalah sukuk yang mewakili penjualan komoditi berdasarkan pengiriman ditangguhkan terhadap segera pembayaran. Komoditas ditangguhkan adalah utang dalam bentuk terhadap pemasok karena mengacu pada komoditas yang diterima berdasarkan deskripsi penjual Kesimpulan : ulama beda pandangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful