P. 1
Jurnal Jamur Morfologi_aspergillus Sp

Jurnal Jamur Morfologi_aspergillus Sp

|Views: 2,157|Likes:
Published by saffi na

More info:

Published by: saffi na on May 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2015

pdf

text

original

Manusia dan Lingkungan;

Val. VlII, No.2, Aguslus 2001, hal. 70-8/ Pusat Stud; Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mado Yogyakarra; Indonesia

BIOSORPSI DAN REDUKSI KROM LIMBAH PENYAMAKAN KULIT DENGAN BIOMASSA Fusarium sp DAN Aspergillus niger (Biosorpstion and Reduction of Chromium Bearing Tannery Wastewater Using the Biomass of Fusarium sp. and Aspergillus niger) Suharjono Triatmojo*, D.T.H. Sibombing**, S. Djojowidagdo*, T. R. Wiradarya ** * Fakultas Petemakan, UGM, Yogyakarta ** Fakultas Peternakan, IPB, Bogar Abstrak
Tujuan penelitian ini ialah untuk. membuktikan bahwa biomass a Fusarium sp dapat mereduksi Cr(VI), dan biornassa Aspergillus niger dapal digunakan untuk. mengambil ion krom dan larutan. Fusarium sp ditumbuhkan pada media cair kentang dektrosa cair, ditambah KZCrpl atau sludge limbah penyamakan kulit. Selanjutnya diamati perubahan warnanya, bila terjadi perubahan warna dati oranye ke ungu atau tak berwama maka telah terjadi reduksi krom valensi VI menjsdi krom valensi III. Aspergillus niger ditumbuhkan pada media Potato dectrose agar (PDA) padat, dipindahkan ke media eair yang berisi bakto pepton, bakto dektrose dan mikronutrien. Produksi biomassa dilakukan pada labu erlenmeyer, setelah 5 hart dipanen dan dibuat bubuk Bubuk ini digunakan untuk mengambil krom dan larutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biornassa Fusarium sp dapat digunakan untuk mengambil krom dari larutan yangmengandung KZCrp7 at au sludge limbah penyamakan kulit, Waktu inkubasi yang lebih lama meningkatkan absorbsi krom oleh biomass a Fusarium sp. Fusarium sp mampu mereduksi Cr(VI) menjadi CrCIII). Biomassa Asperglllus niger dapat digunakan untuk rnengambil krom dari larutan. Hasil terbaik diperoleh pada konsentrasi awal 100 mgIl, pada pH 2,0, berat biomassa 0,1 g, dan waktu kontak 12 jam, yaitu 96,23% untuk Cr(UI) dan 96,30% untuk Cr(VI). Fusarium sp dan A. niger dapat digunakan sebagai biorernediator daIam penanganan limbah penyamakan kulit seeara biologi. Kata kunci: biosorpsi, reduksi, Aspergillus niger. krorn, sludge limbah penyamakan kulit, Fusarium sp,

Abstract
The objective of this research was to study the biosorption and reduction of chromium bearing tannery wastewater using biomass of Fusarium sp and Aspergillus niger. The study used two species of fungi, i. e Fusarium sp and Aspergillus niger. Fusarium sp was used to investigate bioaccumulation and reduction of chromium in K1Cr20rsolution and solution containing sludge of leather tanning waste, and Aspergillus niger was used to investigate biosorption of Cr( /Il) and Cr(VJ) in solution. Fusarium .vp was grown 011 strerilized potato dextrose liquid medium, added with K2CrzOrsolution or sludge of leather tanning waste solution. Chromium content of Fusarium sp biomass was determined by diphenyl carbazide method. Aspergillus niger was grown in potato dextrose agar

70

Penelitian sebelumnya menunjukkao babwa biomassa jamur dapat digunakan sebagai biosorben untuk mengambil ion logarn berat dari larutao (Gadd. daging dan jaringan tubuh lainnya. Identifikasi dan uji resistensi jamur pada kompos menunjukkan bahwa jamur Fusarium sp dan Aspergilus niger cukup resisten terhadap krom. baik Cr(Vl) rnaupun Cr(III). Penelitian Triatmojo (1999) dan (2000) menunjukkan bahwa logam krom dapat diabsorpsi oleh tanaman caisin dan kacang tanah. tidak mobil dan lebih sulit menembus dinding sel tanaman maupun hewan. Cr(Ill) bersifat kurang toksik. Cr(VI) dapat direduksi dengan proses pengomposan. and I2 hours contact time. Fusarium sp was able to reduce Cr(VJ)'IO Cr(IIJ). 1998).23% for Cr(lllJ and 96. Hijauanyang kandungankromnya tinggi bila diberikan kepada temak juga dapat membahayakan organ tubuhnya. Latar Belakang Penyamakan kulit rnenghasilkan limbah pad at. sludge of leather tanning waste. Kapoor & Viraraghavan. meskipunjumlahnya cukup rendah (1-5%). 1992. Aspergillus niger. Key words: bioaccumulation. karena krom dapat terdeposisi di dalam hati. Kandungan logam Cr yang tinggi sangat membatasi penggunaan sludge sebagai pupuk ataupun pembenah tanah. 2001). dapat mengalarni transfonnasi bila kondisi lingkungannya sesuai.0. PENDAHULUAN A. reduction. lni tidak berarti bahwa yang terdapat di dalam sludge tidak berbahaya karena yang terdapat di dalam sludge juga ada yang dalam bentuk terlarut. respectively. niger dapat digunakan untuk mengambil ion Ni. Oleh karena itu ingin dibuktikan bahwa kedua mac am jarnur benang tersebut dapat digunakan untuk mengasorpsi dan mereduksi krom dari larutan sehingga nantinya dapat digunakan sebagai bioremediator dalarn penanganan limbah kulit secara biologi. chromium. Cu. The best result was obtained from 100 mgll initial concentration of chromium. Limbab padat dan cair mengandung krorn valensi 6 atau Cr(Vn dan krom valensi 3 atau Cr(lll). and then ground and sieved at 150 um. I. Logam krom ini pada lirnbah padat (sludge) terdapat dalarn jumlah yang sangat tinggi (90%). kelarntannya rendab. ginjal. Sludge limbah penyamakan kulit karena kandungan unsur haranya masih cukup tinggi.Biosorpsi dan Reduksi (PDA) solid medium for 5 days and then transfered to liquid medium containing bacto dextrose. 71 . Krom. Fusrium sp. 1998). 96. baik Cr(VI) maupun Cr(lII). pH 2. eair dan gas. The result indicated that Fusarium sp biomass could be used to remove chromium from solution containing K~Cr207 or sludge of leather tanning waste. biosorption. dapat masuk ke dalam tanaman. bersifat karsinogenik dan mutagenik.e. tetapi belum pemah digunakan untuk mengambil ion Cr(VI) dan Cr(III) dari larutan. Longer incubation time increased chromium absorption by Fusrium sp biomass. ini diduga dilakukan oleh jamur benang (Triatmojo. Cr(Vl) sangat toksik. 0.30% for Cr(VI). The biomass of Aspergillus niger could be used to remove chromium from solution. The powder was used 10 remove Cr(lll) and Cr(VIJfrom solution. Di alam logam krom. sedangkan pada larutan sekitar 10% dari krom yang terdapat dalam limbah. sering digunakan untuk memupuk tanaman pertanian. bacia pepton and micronutrien: The biomass was dried. Penggunaan sludge sebagai pupuk ataupun pembenah tanah tanah sang at berbahaya karena Cr(I1I) yang terkandung di dalamnya di dalam tanah dapat berubah seeara spontan menjadi Cr(VI) yang sangat toksik. Pb.1 g biomass weight. Penelitian Triatmojo (2000) menunjukkan bahwa logam krom yang" terlarut (misalnya yang terdapat pada limbah cair) lebih berbahaya daripada yang terdapat di dalam sludge karena yaIlg terlarut Iebih mudah masuk ke dalarn tanaman. hew an dan manusia. dan Cd dari larutan (Kapoor & Viraraghavan. Biomassa jamur A. i.

1993). dan reduksi Cr(VI) memerlukan bioreduktoryang menginduksi pembentukan ikatan silang pad a rnolekul DNA Reduksi Cr(VI) dapat dikerjakan baik oleh bakteri. Reduksi kromat ditandai dengan berubahnya warna oranye atau kuning menjadi bijau sampai ungu atau menjadi tidak berwarna (Wang & Xiao. Cr(IIl) tidak mudab diserap oleh tanaman karena keterlarutan dan mobilitasnya yang rendah pada tanah pH tinggi (Macchi et al. II. Ion logam berat biasanya diambil dengan cara presipitasi. 1991. Cr(VI) sering dijumpai pada limbah penyamakan kulit yang menggunakan kaput untuk rnengendapkan limbah penyamakan.. 1995). 1999). Pad a pH di atas 4 Cr(lll) membentuk presipitat Cr (OH)3 (Manahan. yeast maupun jamur (Gadd. mudah larut. Toksisitas Cr(VI) diyakini karena reduksi Cr(VI) dapat merusak molekul protein dan ikatan silang DNA. 1995). Manfaat Penelitian Diharapkan dapat diperoleh penanganan limbah penyamakan kulit secara biologi menggunakan jamur Fusarium sp dan Aspergillus niger. 1991 dan Manahan (1992). J995. 1999). Reduksi kromat di dalam tubuh hewan ataupun manusia bersifat toksik. 1994). Logam krom dapat diabsorpsi baik oleh tanaman tingkat rendah maupun tinggi (Grubinger et al. Balamurugan. sedangkan yang terjadi di Iingkungan yang dilaknkan oleh oksidator anorganik maupun mikrobia bersifat detoksifikasi (Ning & Grant. 1992. 1992). reakif. Sebaliknya. Cr(III) dalam jumIah yang kecil merupakan logam yang esensial untuk metabolisme karbohidrat dan lernak baik pada ternak maupun rnanusia (Rutland. Tanaman tingkat rendah misalnya alga (Grubinger et al. 1995). B. tukar ion dan reverse osmosis (Gadd. 1991) dan Ca(OH)z membentuk senyawa bikromat (Winter. et al. Metode ini mempunyai beberapa . 2000). Cr (Ill) akan teroksidasi oleh oksidator yang cocok seperti Mn02 (Macchi et al. C. 1991). 1995). 1993). 1991). Cr(lll) relatif tidak berbahaya dan keterlarutannya rendah dibandingkan dengan Cr(VI) (Wang & Xiao. Cr(VI) dikenal sangat toksik. 1991. kelemahan antara lain ion logam yang diambil tidak dapat diprediksi. 1992). TINJAUAN PUSTAKA Penyamakan kulit menggunakan logam krorn valensi tiga dalam bentuk garam krom (born sulfat) ataupun oksidanya (kromoksida). Reduksi senyawa kromat oleh mikrobia biasanya dilakukan secara enzimatis (Wang & Xiao. Kapoor & Viraraghavan.. Tujuan Penelitian Penelitian ini dikerjakan dengan tujuan untuk mempelajari biosorpsi dan reduksi krom pada limbah penyamakan kulit menggunakan biomassa jamur benang Fusarium sp dan Aspergillus niger. Wang & Xiao... dan menghasilkan sludge dalamjumlah yang sangat besar (Kapoor el al. mutagenik dan karsinogenik (Manahan.. Cr(VI) dikenal sebagai oksidator yang kuat dan mampu bergerak menembus dinding membran biologis (Losi & Frankenberger. memerlukan banyak reagen. Oleb karena itu. (1991) adaoya ligan organik di tanah dan kondisi asam akan meningkatan mobilitas Cr(IJI) sehingga dapat diserap tanaman. Menurnt Macchi et al. Pengambilan ion logam berat dari limbah cair perlu dilakukan karena toksisitasnya sangat berbahaya bagi kehidupan air dan manusia. yaitu oleh kromat reduktase (misal. Cr(VI) di dalam sel berikatan dengan protein intrasel dan berinteraksi dengao asam nukleat (Losi & Frankeberger. 1994).Suharjono Triatmojo dick. perlu dicari teknologi barn untuk 72 . sedangkan tanaman tingkat tinggi Caisin atau Brassisca chinensis (Triatmojo. E colt). menurut Money (1991) logam krom di tanah sukar diabsorpsi oleh tanaman karena keterlarutannya rendah dan terikat pada partikel lempung. 2000). 1999) dan kacang tanah (Triatmojo. Rutland. 1985) yang bersifat sangat toksik dan lebih mobil (Macchi et al.

Cu dan Ni dari larutao secara efektif. Jamur genus Rhizophus dan Penicillium telah dilaporkan sebagai biomassa yang sangat potensial untuk rnengambil ion logam dari larutan (Gadd. jamur merupakan biornassa yang murah dan mudah didapat serta ekonomis untuk mengambil ion logam berat dari larutan. misalnya produksi enzim. Logam krorn akan terikat pada gugus fungsional seperti amina. dan ion logam yang terserap mudah didesorpsi (Kapoor & Viraraghavan. Sel jamur hidup dan yang telah mati mampu menyerap ion logam berat dari larutan (Gadd.5% berat kering (Gadd. 1990. 2000. baik secara pasif maupun aktif Pada biomassa hidup. Membran sel jarnur bersifat perrneabel. Kapoor et al. 1995.. konsentrasi awal ion Iogam. 1992. Jamur juga mudah tumbuh pada berbagai media yang murah dan teknologi fennentasinya sederhana. tetapi bila bertemu dengan oksidator yang sesuai (misalnya Mn02) dapat teroksidasi menjadi Cr(V1) yang sangat toksik. kondisi kultur. Penggunaan se l mati mempunyai beberapa keuntungan. Sag & Kutsal. Pengambilan ion logam berat denganjamur rnerupakan pilihan untuk mengambil ion logam berat dari Iirnbah cairo Biomassa jamur mudah diperoleh dalam jumlah yang cukup besar dari industri fermentasi. Pengambilan ion logam berat dapat terjadi di bagian luar sel maupun di bagian dalam struktur set Metode pengambilan ion logam berat yang tidak tergantung pada siklus metabolisme sel disebut biosorpsi atau pengambilan ion logam secara pasif. 1995. dan Sag et ai. Ada banyak cara pengambilan logam berat dengan rnenggunakan mikroorganisme. sedangkan yang tergantung pada siklus metabolisme dan masuk ke dalam sel disebut bioakumulasi atau penyerapan secara aktif. Kapoor & Viraraghavan. 1996b. Landasan Teori Penyamakan kulit hanya menggunakan Cr (III) saja. Baik Cr(VI) maupun Cr(lll) dapat diarnbil oleh biomassa jamur. (2) penyerapanion masuk ke dalam seI. niger untuk mengambil ion krom dari larutan. 2000). Proses biologi untuk mengambil ion logam dari larutan dapat dibagi menjadi tiga: (1) adsorpsi logam pada pennukaan sel mikroorganisme. 2000). 1990). Menurut Kapoor dan Viraragbavan (1995) bakteri. Pengambilan ion logarn berat oleh sel hidup dipengaruhi oleh lamanya kontak. dan (3) transfonnasi kirnia ion logam oleh mikroorganisme (Gaad. Gadd. dan konsentrasi sel dalam larutan (Kapoor & Viraraghavan. 1992. Menurut Sag & Kutsal (2000) biomassa rnikroba mati mempunyai kemampuan rnenyerap ion logam lebih tinggi daripada yang hidup. pH larutan logarn. 1992). alkohol dan asam asetat. 1995. fenol dan karboksilat. III. I 995). tetapi penelitian ten tang pengambilan logam krom menggunakan biomassaFusarium sp dan Aspergillus niger masih sangat sedikit. biosorpsi dapat dilakukan secara pasif maupun aktif. Yesim Sag & Kutsal. Cd. LANDASAN TEORI DAN IDPOTESIS A. deogan efisiensi yang sarna. Oleh karena ito. tetapi belum pernah melakukan penelitian penggunaan biomassa A. lebih besar ataupun lebih kecil daripada biomass a mikrobia hidup (Kapoor & Viraraghavan. jamur dan alga dapat mengikat ion log am beracun. ]995). tidak memerlukan medium pertumbuhan dan nutrieo. Kapoor & Virarghavan. Aspegillus nigerdapat menyerap uranium dan tborium sebesar 21. Cr(VI)-karena molekulnya 73 . Pengambilan ion Iogam oleh mikroorganisme hidup dapat terjadi secara aktif maupun pasif.5% dan 18. Biomassa mikroba mati dapat digunakan untuk mengambil ion logam dari Iarutan. Sag & Kutsal. yaitu: sistem tidak terpengaruhi oleh toksisitas logarn berat. Sag & Kutsal. Kapoor dan Viraraghavan (1998) mernperlihatkan bahwa Aspergillus niger mampu menyerap logam Pb. 1998). 1996a.Biosorpsi dan Reduksi mengambil ion logarn berat dari larutan. .

Hasil pengamatan secara visual pada wama kulturyaitu adanya perubahan wama oranye (krom valensi 6) rnenjadi hijau atau ungu (krom valensi 3). Hipotesis 1. UGM. Whatman 40. Materi dan Alat Penelitian Materi utama yang digunakan di dalarn penelitian adalah jarnur Fusarium sp.1. difenil karbazid. Alat yang digunakan adalah autoklaf merek. lemari pendingin rnerek National. B. pipet ukur. dan cawan petri. agar. sedangkan Cr(III) akan meningkat keterlarutannya bila terdapat ligan organik. Biomassa Aspergillus niger dapat digunakan untuk mengambillogam Cr(VI) dan Cr(lll) dari larutan. atau dikeluarkan lagi sehingga tidak mengganggu metabolisme sel. Natriumazida. spektrofotometer merek Shimadzu. ke dalam media kentang dektrosa cair yang mengandung K2Cr207 atau sludge lirnbah penyamakan kulit dengan konsentrasi 100 mgll. dan tidak menyebabkan keracunan. karena krom rnerusak protein DNA sehingga akan terjadi keracunan. MET ODE PENELITIAN A. Medium POA (baeto). Yogyakarta dan Laboratorium Biosystem. Jepang. Reagen Tween 80. HzD. IV. Baeto pepton. Bacto dektrosa. timbangan analitik merek Sartorius kapasitas 150g. Penelitian dilakukan mulai buJan Januari sampai dengan Agustus 2000. Jurusan Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan. Transfonnasi ini pada jarnur yang tidak resisten akan mengganggu metabolisme. buffer fosfat. dapat mereduksi Cr(Vn menjadi Cr(llI) dalam larutan yang mengandung logam krorn. Materi oleh Fusarium sp. Prakultur jamur benang diinkubasikan di dalam media yang mengandung krom (K2Cr2 07) selama 7 hari.Suharjono Triatrnojo dkk. KZCr207 standar. Biomassa Fusarium sp. Bila jumlah Cr(VI) sangat besar rnaka akan diisolasi pada vakuola. sentrifus. reinst (NaN3). University of Tsukuba. Biornassa Fusarium sp. AAS Shimadzu AA6800. dapat digunakan untuk mengambillogam Cr dari larutan. air mumi serta akuades. NaHC03. MgS04 ' Fe(S04)Z' 7 H20. 3. gelas ukur. gelas beaker. kertas saring Wbatman No. NaOH. di atas penggojok orbital 74 . Perubahan warna media menunjukkan telah terjadinya reduksi Cr(VI) menjadi (CrIII). NaCl. spektrofotometer UV-1601 PC UV-visih/e. Ca CIl . penyaring berbagai ukuran. 4. CrCI3 standar. dan sludge c. Percobaan biosorpsi dilakukan dengan cara menanam isol at jamur Fusarium sp. dan Aspergillus niger yang diisolasi dan telah diuji resistensinya terhadap logam Cr(Vl) pada penelitian sebeJurnnya. shaker orbital. dan Aspergillus niger dapat digunakan sebagai bioremediator dalarn penanganan limbah penyamakan kulit seeara biologi. Biomassa Fusarium sp. H2S04. Bahan kimia yang digunakan adalah HN03. Media dan biornassa ditumbuhkan pada suhu kamar. filter vakum. KzHP04. limbah penyarnakan kuJit yang diperoleh dari pabrik penyamakanan kulit Budimakmur Jaya Murni. labu erlenmeyer. D. timbangan digital merek Acculab kapasitas 200g. Tidak semua Cr(VI) dapat direduksi menjadi Cr(lII). laminar UV. kawat ose. Tommy. KZCr207. labu ukur berbagai ukuran. Tanur merek Memmert. pH meter wrw pH 90 dengan elektrode tipe ESO. HC}. mikropipet. yaitu perubahan valensi dari 6 menjadi 3 oIeh aksi enzimkromat reduktase. oven merek Mernmert. Percobaan Reduksi dan Biosorpsi Krom dan Metode Penelitian ini dikerjakan di Laboratorium Bioteknologi PAU-UGM. KCI. Di dalam sel Cr(VI) akan mengalami transformasi kirnia. dan akan masuk ke dalam sel. lebih kecil dari Cr(lll) dan bersifat reaktif dan mobil-mampu menembus membran sel. ~02' H3P04. Yogyakarta. 2.

Cr total ditentukan dengan cara sebagai berikut: sampel dilarutkan di dalam akuades steril.5 g ~HP04' 0. biomassa dicuei dengan air mumi (deionized water). 1976). Ditambahkan 2 mJ tarutan difenil karbazid. Percobaan Biosorpsi Cr(VI) dan Cr(lll) dengan Biomassa A. Aspergillus niger di dalam media agar miring dipindah ke dalampotato dextrose agar (PDA) dengan eara diapus dengan usa. Pemanenan biornassa dilakukan dengan cara menyaring dengan saringan berukuran 150 urn.lg Ca C12. Larutan kernudian didinginkan dan ditambahkan 5 tetes (0. niger. dapat ditambahkan lagi I ml NaN3" Penasan dilanjutkan sampai mendidih selarna 1 menit. didiamkan 1O~15 menit sampai warna tetap.Biosorpsi dan Reduksi dengan putaran 125 rpm selama 8 hari.2 g NaCl. Pemanenan dilakukan pada hari ke~4 dan ke-B. 0. Selanjutnya. 1976). diinkubasikan pada suhu 30"C selama 5-7 hari. Kadar Cr(IlI) dihitung dengan mengurangkan kadar Cr(VI) dari krom total (Anonim. Larutan yang sudah dingin dipind ahkan ke dalam gelas ukur l00mI dan diencerkan sampai tanda batas. kemudian ditambah KMnQ41N setetes demi setetes sampai terbentuk warna KMn04 yang konstan yaitu kuning kecoklatan. ditambahkan 1 ml NaN3 dan terus dipanaskan. Medium pertumbuhan setiap liter tersusun dari: 20 g Bacto dektrosa. C.25 ml) Hl04. Pada saat inokulasi. 0. Spora dan miselium jamur dipindah dari PDA ke dalamlabu erlenmeyer volume 250 ml berisi 100 rnl medium pertumbuhan. Selanjutnyadiambil subsampel untuk dibaca absorbansinya dengan spektrofotmeter Shimadzu pada panjang gelombang 540mm. hingga warnanya hilang. 140. O. Penentuan kadar krom total. Setelah dicuei. J2' 75 . Cr(VI) dan Cr(lll) dilakukan dengan metode difenil karbazid (Anonim. ditunggu 1O~ menit atau hing15 ga wama ungu. Setelah 5 hari dipindah ke PDA Iagi dengan cara diapus. Dididihkan beberapa saat. biomassa dikeringkan pada oven suhu 60° C selama 12 jam dan dibuat bubuk dengan cara digiling dengan mortar. Sebelum diantoklaf pH medium pertumbuhan diatur ke pH 5 dengan IN HCl. labu erlenmeyer digojok dengan penggojok elektrik dengan putaran 125 rpm selama 5 hari pada suhu kamar.0~7. Pada penelitian ini hanya digunakan biomassa praperlakuan sebagai absorben untuk mengarnbil krom dari larutan. Pemindahan dilakukan seeara rutin 5~7 hari sekali dan barn dibiakkan pada medium pertumbuhan eair setelah dipindah ke PDA sebanyak tiga kali. Penentuan Kadar Cr Total. Biomassa yang telah dicuci ini disebut biomassa hidup. Cr(VI) dan Cr(III). 1976).05 g NaHC03. B. volume dibuat seperti semula. Pemanasan dilanjutkan selama 2 menit. dicampur hingga homogen.2). selanjntnya dicuci dengan air murni hingga pH larutan bekas cueian pada kisaran netral (7. Apabila warna kuning kecoklatan tidak berubah dengan pemanasan 30 menit. 10 g Baeto pepton. ditambah H2S04 4N sebanyak 3-4 ml dan dilanjutkan dengan penambahan "202 30% sebanyak 3 ml dan diberi batu didih.1 g KCI. niger Produksi biomassa A. Selanjutnya.0005 g Fe(SO 7 H20. Pertumbuhan telah tampak pada hari kedua. ditambah HNO) (pH 1) ± 3 tetes dan ditambah difenil karbazid 2 ml. Biomassa jamur dibiakkan di dalam meilium cair dengan metode digojokldigoyang dalam Iabu erlenmeyer rnenggunakan alat penggojok dengan putaran 125 kali per menit. Kemudian biomassa direbus dengan 250 rnl IN NaOH selama 15 menit. Diperiksa dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 run. Bubuk biomassa yang diperoleh disebut pretreated biomass (biomassa praperlakuan). Selanjutnya. 0. Kandungan Cr(VI) ditentukan dengan eara sebagai berikut: sampel dieneerkan dengan perbandingan 1:5 atau 1 bagian sampel diencerkan dengan lima bagian asam suIfat Sampel dibuat 100 rnl. 0.25 g MgS04 dan 0. Kandungan krom yang tidak diikat oleh jamur dapat ditentukan dengan metode difenil karbasid (Anonim.

0. Sampel untuk uji kandungankromyang tidak diabsorpsi diambil dari supernatan. 50. koordinasi. dan bikrornat berwama oranye. mllarutan Cr(lll) atau Cr(VI) di dalam 250 m1 labu erlenmeyer. pH larutan krom diatur dengan IN NaOH dan IN H2S04. disebutkan bahwa pengambilan logam berat dari larutan mengikutsertakan prosesproses pengkompleksan. tukar ion. 1995). Fusa- J amur Fusarium sp. nilai rerata digunakan dalam analisis data. V. diperoleh konsentrasi 1000 mgll Cr. Selanjutnya diarnbil 2 ml sampel untuk ditentukan kadar kromnya dengan AAS. HASIL DAN PEMBAHASAN A. amina. Berbagai gugus fungsional diyakini ikut serta dalam pengikatan ion logam berat antara lain gugus karboksil. Konsentrasi awal 25. 1995).5 g KzCrz07 di dalam 1 liter air suling. Reduksi dan Biosorpsi Krom oleh riumsp. Bikromat dalam larutan asam direduksi menjadi senyawa Cr(lll) yang berwama hijau atau ungu. mampu mereduksi Cr(VI) menj adi Cr(lll). maka diperoleh konsentrasi 1000 mgll Cr. Menurut Senthilkumaar et al. Pada mikroorganisme. 76 . Pengujian krom dengan AAS pada panjang gelombang 357.. Cr adalah ion logam sekaligus anion sehingga dapat terikat seeara elektrostatis pada gugus karboksil dan sulfat (Saq & Kutsal. niger.% ion krom dapat diambil dari larutan (Tabell. lni ditunjukkan dengan adanya perubahan wama larutan. Hasil penelitian Chili et al. Percobaan dilakukan dua kali. Labu erlenmeyer digojok pada alat penggojok dengan kecepatan putaran 125 rpm selama 12 jam pada suhu kamar. Konsentrasi krom diukur dengan Spektrofotometer serapan atom Shimadzu AAS 6800 pada panjang gelombang 357.77 g Cr2 (S04)3 di dalam air suling yang diasamkan dengan H2S04 eneer untuk mencegah hidrolisis. termasuk reaksi tukar ion dan pengompleksan dengan gugus fungsional. Sebelum dieampur dengan biomassa Aspergillus niger. Semua pereobaan biosorpi dilakukan pada tabung erlenmeyer ukuran 250 m1 dan digojok dengan alat penggojok orbital pada 125 rpm pada suhu kamar. 1996).03. ReOO'. yaitu dari wama oranye menjadi ungu (Wang & Xiao. dan P04-bertanggung jawab terhadap bioakumulasi Iogam berat. polisakarida dan polimer ekstraselular yang mengandung gugus SO/". pada sistem yang lain logam berat mengalami presipitasi sebagai hidroksida di dalam dinding sel (Solisio et al. kelasi. dinding selnya sebagian besar tersusun dari kitin dan kitosan. Pada jamur. sedangkan pada lingkungan basa ion Cr(III) berubah menjadi cr02. Mekanisme bioakumalsi logam berat belum semuanya dapat dijelaskan (Solisio et al. (1996) menunjukkan bahwa 95% ion Cr(UI) dapat diarnbil dengan kitin kulit udang. (2000) beberapa biomolekul termasuk protein. 1995). senyawa krornat kuning.Suharjono Triatmojo ill.) Biosorpsi ion logam terutama terjadi oleh ikatan permukaan. kedua bahan ini mernpunyai afinitas yang tinggi dalam mengikat logam berat (Kapoor & Viraraghavan. Larutan Cr (VI) dibuat dengan eara melarutkan 2. hidroksil dan sulfhidril (Kapoor & Viraraghavan. sedangkan oksida krom (Crp3) berwama hijau.. Larutan Cr (III) dibuat dengan cara melarutkan 3. I g biomass a pra-perlakuan dicampur dengan 75. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 72.9 nm. 75 dan 100 ml konsentrasi 1000 mg/l larutan krom sulfat (Cr III) dan larutan kalium bikromat (CrVI) menjadi 1 liter dengan air suling. 50. 2000)..9 run. Senyawa krom mernpunyai variasi wama menurut besarnya valensi. polisakarida penyusun dinding sel dapat bertindak sebagai tempat pengikatan logam berat. fosfat. adsorpsi dan mikropresipitasi. 2000). Biomassa dipisahkan dari larutan dengan cara disaring dengan kertas saring selanjutnya disentrifus pada kecepatan 3000 rpm selama 30 menit.yang berwama hijau. Selanjutnya.0 dengan IN NaOHdan IN H2S04. pH larutan diatur pada pH 2. dan 100 ppm dibuat dengan eara mengencerkan 25. Percobaan Biosorpsi Krom VI dan Krom III dengan BiomassaA. D.

sehinggasisi pengikatan pada dinding sel juga bertambah. Tingginya penyerapan ion-ion logam ke dalam sel jamur karena dinding sel jamur tersusun dari kitin dan kitosan.82%).996 mgIl (84. Cr(In) mobilitasnya juga 1ebih rendah dari-pada Cr(VI). 1990).03%) dari konsentrasi awal sebesar 141. diatur oleh membran sitoplasma. Pada biornassa jarnur yang hidup. Peningkatan biosorpsi pada hari ke. (3) pembentukan presipitat yang mengandung logarn hasil reaksi dengan polimer ekstrasel. Pada hari ke 8 serapar total krom menjadi 103. maka mikroorganisme akan menanggapinya dengan melakukan mekanisme pertahanan diri agar tetap hidup (Gadd. baik di daIam sel maupun di 1uM sel.Biosorpsi dan Reduksi Bila di Jingkungan hidup mikroorganisme terdapat bahan beracun seperti logam berat.592 mgll.196 mg/l (66. 112 mgll (47.transpor aktif dan translokasi gugus suatu senyawa. Menurut Manahan (1992) transpor nutrien ke dalam sel dan keluamya sisa metabolisme ke luar sel bakteri. Cr(VI) sebesar 62.97%). Cr(VI) akan mengalarni reduksi menjadi Cr(lll). Reduksi Cr(VI) rnenjadi Cr(IlI) diduga terjadi. Jamur mampu menga1cumulasi mikronutrien seperti Cu. Setelah masuk ke dalam sel . mekanisme absorpsinya dapat secara aktif maupun pasif. 1992). Tenaga penghela untuk transpor nutrien adalah gradien konsentrasi. 1995). sedangkan di dalam sel dilakukan oleh enzim-enzim reduktase intrasel. Gadd (1990) menyatakan bahwa mekanisme detoksifikasi terhadap ion-ion logam berat dapat berupa sintesis protein khusus (metallothionin). Pada hari ke-4 terjadi penyerapan krom total sebesar 93. Pada 'Tabel 1 tampak adanya peningkatan penyerapan total krom dan Cr(V1) pada biomass a jamur. Bila Cr yang rnasuk ke dalam sel terlalu banyak.280 dan Cr(lll) sebesar 24. 1996).57%) dari konsentrasi awal sebesar93.oleh enzim kromat reduktase. atau ektrapolimer yang dapat mengikat ion logam tersebut.137 mgll (47.012 mgll (66. . maka akan ditempatkan di dalam vacuola atau dikeluarkan lagi dari sel (Gadd. Pada hari ke-4 terjadi penyerapan krorn total sebesar 91. 1990). Masuknya krom (CrIll dan CrVI) ke dalam sel jamur dapat melalui satu atau .312 mgll. Cr(VI) mampu masuk ke dalam sel dalamjurnlah yang lebih besardari Cr(III).060 mgll. pengeluaran kernbali serta pengasingan ion logam berat yang masuk ke dalam sel (Asmara. dan (4) detoksifikasi oksidasi/reduksi enzimatik menjadi bentuk yang kurang atau tidak toksik.132 mgll (71. Cr dan Mn serta logam non-nutrien dalam jumlah yang jauh melebihi kebutuhannya (Gadd. akibatnya penyerapan juga meningkat. 1986 cit. Cr(VI) sebesar 77 .8 disebabkan oleh masih adanya pertumbuhan jamur Fusarium sp. karena Cr(VI) bersifat mobil dan mampu menembus membran sel.69%) dan Cr(IIl) tidak berubah 24. Jamur juga menghasilkan fitokelatin dan metalotbionin yaitu peptida berberat rnolekul rendah dan kaya cystein yang mampu mengikat ion logam berat esensial maupun non-esensial tennasuk hom (Gadd. Hughes dan Poole (1989) menjelaskan teori penyisihan dan penyerapan logam berat sebagai berikut: (1) pengikatan kation logam pada permukaan sel atau di dalam sel yang melibatkan pengubahan sistem transport. Kapoor & Viraraghavan. Reduksi di luar sel dilakukan oleh enzim ekstrasel. Mekanisme tersebut pada garis besamya berupa pencegahan masuknya ion logam berat.92%) dari konsentrasi awal 50. (2) translokasi logam berat ke dalam sel yang melibatkan sistern transport.124 mgll (63. Tabel 2 menunjukkan adanya peningkatan penyerapan total krom dan Cr(lll) pada biomassa jamur. Cr(VI) menjadi 78.lebih mekanisme absorpsi tersebut.46%) dari konsentrasi awal sebesar 143. Kedua senyawa ini rnampu mengikat ion logam krom. dan akan meningkat bila ada ligan organik yang mengikat dan membawa-nya masuk ke dalam sel. Zn . maka kalah bersaing dalam mendapatkan sisi pengikatan pada dinding sel. Cr(lII) karena molekulnya lebih besar dari Cr(VI) dan kelarutannya rendah.

pada konsentrasi awa125 ppm hanya 53.~l~~f~:l.26%) dan Cr(lll) meningkat menjadi 23.275 mgll (93. 75.134 Keterangan: a. tetapi efisiensi reduksi kromnya rendah.42%). Setelah ditingkatkan sampai perlakuan 2 yaitu 50 ppm.012 8 103.0 dan menggunakan 0.915 mgl 1 (32.~~m:ll:l!!!!t !I!lm. niger.56%) dari konsentrasi awal sebesar 85. Hasil yang Iebih baik dicapai oleh biomass a A.iJlt~t~::I. Menurnt Gadd (1992) biosorpsi log am berat oleh sel hid up dapat terjadi secara aktif maupun pasif.:11. Pada konsentrasi awal 25 ppmhanya 48. yaitu pada gugus Tabel 1. Kandungan Cr total. transport aktif dan translokasi gugus suatu senyawa.12% Cr(lll) dapat diabsorpsi oleh biomassa. niger dalam mengikat Cr(VI) (Tabel 4). Biosorpsi pada permukaan dinding sel terjadi sangat cepat (10 rnenit pertama). Dari kedua tabel tersebut tampak adanya kemiripan pola reduksi Cr(VI) menjadi Cr(lll) dan pola bioakumulasi krom oleh jamur Fusarium sp .:::iil•..96%. b.312 91. terbukti dengan rendahnya Cr(lll) pada biomassa.05) 78 .ijll!:i.~~. Cr(IlI) dan Cr(VI) Biomassa Fusarium sp. masuknya logam berat ke dalam sel secara aktif memerlukan tenaga dari ATP. tetapi pada konsentrasi 75 ppm meningkat menjadi 72. B. mgtl Cr(III).24%.:11:1. •. Logam krom berikatan pada sisi-sisi pengikatan di dinding sel biomassa.· l. Penyerapan Cr(VI) tampak lebih baik pada medium yang ditambah sludge Iimbah penyamakan kulit.281 mgll (88. Tenaga penghela untuk transpor nutrien adalah gradien konsentrasi. Menurut Gadd (1992). pada Medium Potato Dekstrosa Cair yang Diberi K2Cr207 dengan Waktu Inkubasi 4 dan 8 hari :. mgll 143. Pada hari ke 8 serapan total krom menjadi ]02..!.132 l8.280 50.lll··il~~~~~~. Diduga logam Cr(VI) hanya sedikit yang tereduksi.1 g biomassa.Suharjono Triatmojo dkk.01 %). pada baris yang sama menunjukkan ada beda nyata (1'>0.216 mgll (42.~~t~~.00 1 dan Cr(UD sebesar 17.112 24.!.i Total Cr. Biosorpsi logam krom oleh sel mati hanya terjadi secara pasif.!:l! j!l·llIl:. Menurut Kapoor dan Viraravaghan (1995) biomassa sel mati mempunyai efisiensi biosorpsi yang lebih besar dibandingkan sel hidup karen a tidak terpengaruhi oleh toksisitas logam berat.. sedangkan untuk Cr(VI) penyerapan pada konsentrasi awal l 00-300 mgl 1 dapat men-capai lebih dari 90%.996 b b 8 24.77% yang dapat diabsorpsi.. diatur oleh mernbran sitoplasma.592 93. mgll Cr(VI). penyerapan Cr(IIIj dapat mencapai 70-90%. penyerapan meningkat menjadi 93.59% dan konsentrasi awal 100 ppm meningkat menjadi 96. Cr(VI) menjadi 79. Menurut Manahan (1992) transpor nutrien ke dalam sel dan keluarnya sisa metabolisme ke luar sel bakteri.491 mgll (72. Dari Tabel 3 dan 4 tampak bahwapada konsentrasi awal 100-300 mgll pad a pH 2.124 62.66%). Biosorpsi Logam Krom dengan Biomassa Aspergillus niger Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi awallarutan krom meningkatkan jumJah krom yang diabsorpsi oleh biomass a A. dan Cr(VI) ini hanya disimpan di organel di dalam sel saja. sedangkan ke dalam sel tergantung pada metabolisme sel.:ii.

li::~~r~~1t~M~~~.!i!: ::!il!llijim!I~~~m{i!. VI.001 55.634 212. mampu mereduksi Cr(VI) menjadi Cr(III) berdasarkan perubahan warna dan konsentrasi Cr(VI) dan Crtlll) pada biomassa.•. karboksilat dan hidroksil (Gadd. Penyerapan Cr(lll) oleh BiomassaA.:i:!·:j:.053 21. KESIMPULAN Biomassa Fusarium sp. hanya dalam waktu 12 jamhampir 100% logam Cr dapat diambil dari larutan.068 12.724 79.II:i[. Penyerapan Cr(VI) oleh Biomassa A.778 123.I'iim~~~tj~i·l. ini berati bahwa sisi pengikatan pada biomassa rnasih cutup menampung logam berat pada konsentrasi sampai dengan 300 mgll.227 18.~!~. niger pada Berbagai Konsentrasi Awal 79 .~~~~~::~~~!I:i.851 7. Peningkatan konsentrasi meningkatkan penyerapan ion krom.12 58. Kandungan Cr total. Ada kerniripan pola sera pan Tabel3.05) fungsional seperti amina.376 11. pada Medium Potato Dekstrosa Cair yang Diberi Sludge Limbah Penyamakan Kulit dengan Waktu Inkubasi 4 dan 8 han 1!:!:·!li.91S a b Keterangan: a.927 115. Pada penelitian ini biornassa sudah direbus dengan IN NaOH.491 79.206 109.Biosorpsi dan Reduksi Tabel 2.•• iilffl~~~~~:w)t~rn~t~·i: 25 50 75 100 40.260 93.41 72.160 25.:~~~. 1992).13 96. cr(nl) dan Cr(VI) Biomassa Fusarium sp.060 85.i.196 a 102.235 296.174 53. pada baris yang sarna menunjukkan ada beda nyata (1)>0.132 382.374 285.1.2tS b b 75. niger pada Berbagai Konsentrasi Awal 25 50 75 100 23. mgll Cr(lll).920 14.·:1i :: .212 367. p~nyerapan logam berat jauh lebih cepat.77 93.i\1 Total Cr.275 23. Dibanding biomassa hidup.I!~~·1mrn~~~~m~lr . Perbedaan ini diduga karena adanya perbedaan penyusun dan tingkah laku komponen dinding sel di antara spesie s jamur (Kapoor & Viraraghavan.144 14.mm~·mr~~ll!·:!.065 223.:·II!.016 10.j.281a 17. Logam Cr(VI) bersifat mobil dan aktif sehingga mampu menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel lewat pori sel.96 95.431 10.58 96.!!!lI: !!i·!'i!!·J:!!~~Mi·j!. mgll 141. 1995 dan 1998).24 .861 11. kornponen dinding sel sudah dirusak oleh basa.[~~I! . 1995).482 29. mgll Cr(VI).:i:ci':c:.27 Tabel 4. b. kitin berubah rnenjadi kompleks kitosan-glukan yang mempunyai afinitas lebih besar dalam pengikatan logam berat (Kapoor & Viraraghavan.692 48.

Chromium(III). Kapoor. K. 1992. "Biosorption. Rutzke & D. ------. M. J. 1991. A & T. et Bioph. "Heavy Metal Pollutans: Environmental and Biotechnological Aspects". 22(4): 463-468. P. Luong. 63: 109-113. Chapman and Hall. and Nickel(II) from Solutions Using Crude Shrimp Chitin Packed in Small Columns.. 28: 717. 1976. Inc. Bioresource Technology. Hydroxypentaarnmine chromium(J1I) Promoted Phosphorylation of Bovine Serum Albumin: Its Potential Implications in Understanding Biotoxicity of Chromium. 1983.. 1998. biosorption-An alternative treatment option for heavy metal bearing wastewaters: A review.E. DAFTAR PUSTAKA Anonim. &R. Viraraghavan.W. pada medium yang mengandung K2Crz07 atau yang mengandung sludge lirnbah penyamakan kulit. Gutenmann. Viraraghavan. &M.. 1996. N. 53: 195-206.T.. 1019-1026. Grant. G. Pettine. O:M. Terdapat perbedaan kecepatan penyerapan di antara spesies jamur. Huges. Rajaram. P. 1999. 1996.J. Bioch. Biomassa Aspergillus niger dapat digunakan untuk mengambil logam Cr(Ill) dan Cr(VI) dari larutan. Hampir 90% Cr(VI) yang terdapat pada mediumllarutan dapat diambil oleh biomassa Fusarium sp. Lisk. Ramasami. lnt . 1992.S. Fungal . 1991. & G.. Bioresource Technology. Academic Press. hidup dan Aspergillus niger mati dapat digunakan sebagai bioremediator dalarn. 357-366. M..D. 73 % ion logamkrom dapat diambil dari larutan.E. 2"d. Ning. C. Viraraghavan D. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. M. Water.. Academic Press. Yogyakarta September 1996. 1994. Pagano. Lokakarya Bioakumulasi Metal. Biomassa jamur Fusarium sp. Macchi. Chromium in Swiss Chard grown in Soil Amended with tannery meal fertilizer. juga antara sel hidup dan mati.Tecnol. Removal of Heavy Metal Using the Fungus Aspergillus niger. Tiravanti. Toxicological Chemistry. Metals and Microorganism.1 g dan konsentrasi awal 100-300 mglllogam Cr(III) 70-90% dapat diambil dari larutan. W. PAU Bioteknology UGM dan International Instititut Biotechnology. Biosorption of Heavy Metals on A. Ma. V.Suharjono Triatmojo dkk. Tokyo. R. Vasant. Biores -. Chui. A.· APHA. and W... Roycullimare. sedangkan untuk Cr(VI) lebih dari 90% dapat diambil dari larutan. K. Ng. A. Losi. B.0. 80 . Mok. penanganan limbah cair penyamakan kulit secara biologi. biomassa Fusarium sp. Env. & T. V. dalam Encyclopedia of Microbiology. Inc . H. Water Res. Doss. M. Gadd. Lewis Publ. Bioakumulasi Metal Berat pada Mikroorganisme dan Aspek Genetik Biosorpsi dan Bioakumulasi Logam Bernt. K. Grubinger. 70: 95-104. berat biomassa 0. 1989. Volume 2. Frankenberger. J. 74: 405-413. M. Chromium (VI)induced Cytotoxicity to Osteoblast derived Cell. Manahan. Acta 1427. Toxicology in Vitro. 1990. W. W. G. & T. C.K. M. 13: 879-887. & K. Asmara. Chromium-resistent Microorganism Isolated from Evaporation Ponds a Metal processing Plant. 1999.J. T. niger: Effect of Pretreatment.H. Santori. Jr. Removal and recovery of Copper(II). Poole. 14th ed. Chemosphere. London. dalam Encyclopedia of Microbiology. 1995. Vol 2 : 351-360. 2000. Kapoor. Air and Soil Polution. Kapoor. A Bench Study on Chromium Recovery from Tannery Sludge. Chemistry and Industry". Washington. Balamurugan. Pad a pH 2.

Sag. Buletin Peternakan. Y. Y. 1996a. Y. c. 2000. Edisi tambahan: 227-223. 81 . Process Biochemistry. 1985. S. D. Bharathi. Kutsal. 801807. Innsburck. Water Res. 1991. Bioresource Technology. Z. 75. Buletin Peternakan. 24: 118-125. 1995. C. 33: 273-281 Sag. Y. 2000. Determination of Biosorption Activation of Biosorption Activation Energy of Heavy Metal Ions on Zooglea ramigera and Rhizopus arrhizus. Biosorption of toxic heavy metals from aqueous solutions. Delborghi. & V. 31: 561-572. A Converti & M. Senthilkumaar. JALCA. Winter. Techno-economic Study on Measures to Mitigrate the Environmental impact of Leather Industry.. Aksu and T. 11: 2467-2474. Environmental Compatibility of Chromium-Containing Tannery and Other Leather Product Waste at Land Disposal Site. Wang. arrhizus: Use of the Competitive Langmuir Model. 2000. A.Biosorpsi dan Reduksi Rutland.. 1998..H. Solisio. tanah yang dipupuk kompos yang mengandung kromosal. Arrhizuz: Process Biochemistry. Kutzal. U. & T. 1996b. Penyerapan logam krom pada tanaman caisin (Brassisca chinensis L) yang diberi ktomosal dan sludge lirnbah penyamakan kulit. Process Biochemistry. Y. F. Sag. & T. Sag. Waler Res. The Selective Biosorption of Chromium (VI) and Copper (II) Ions from Binary Metal Mixtures by R. biosorption of Cr (VI) and Fe(III) on C. A. Kandungan krom kacang. Fully Competitive Biosorption of Chromium (VI) and Iron (III) Ion from Binary Metal Mixtures by R.T. & T. Nithyanandhi. Kutzal. Triatmojo. S. Lodi. The effect of acid pretreatment on the biosorption of chromium(lJI) by Sphaerotillus natans from industrial wastewater. arrhizus: application of the cornpetetive adsortion models. Triatmojo. A comparative study the simultaneous . 163165. 12: 3174-3178. Factors Affecting Hexavalent Chromium Reduction In Pure Cultures of Bacteria. vulagaris and R. 35. Kutzal.. S. Subburarn. 31(6): 573-585. D. UNIOQ. S. 2000. 86: 365-375. Particulary in Developing Countries. Process Biochemistry. & Xiao. 1999.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->