P. 1
Teori Keseimbangan Umum Dan Kesejahteraan Ekonomi

Teori Keseimbangan Umum Dan Kesejahteraan Ekonomi

|Views: 8,897|Likes:

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Nda Nugraha Julystira on May 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

TEORI KESEIMBANGAN UMUM DAN KESEJAHTERAAN EKONOMI

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah mikro ekonomi

Disusun Oleh: 1) Irwan Sudara ( 41152010090149 ) 2) Sanda Nugraha ( 41152010090145)

Universitas langlangbuana bandung Fakultas ekonomi

Teori Keseimbangan Umum Dan Kesejahteraan Ekonomi
PENDAHULUAN
Untuk memahami interaksi antar pasar, ekonom menyusun model ekonomi keseimbangan umum ( general equilibrium model ). Dengan model ini dijelaskan proses tercapainya keseimbangan ( harga dan kuantitas ) diseluruh pasar ( industri ) secara simultan. Studi keseimbangan umum yang paling sederhana mengasumsikan bahwa dalam perekonomian hanya ada dua industri atau pelaku ekonomi. Dalam studi tingkat yang lebih tinggi, khususnya dengan penggunaan ekonomatrika dan komputer, dapat disusun asumsiasumsi yang lebih mendekati realita.

TUJUAN
Untuk mengetahui proses bagaimana individu ( konsumen ) dan produsen ( perusahaan ) mencapai keseimbanagan dengan cara mengefisiensikan penggunaan (alokasi ) sumber daya ekonomi, serta mekanisme pasar mampu menjadi alat distribusi kesejahteraan melalui mekanisme pertukaran. Lewat pertukaran tersebut terjadi distribusi kekayaan dan atau pendapatan dengan pembayaran atas penggunaan faktor produksi dan atau pembelian barang dan jasa. Yang menjadi masalah adalah bahwa proses tercapainya keseimbangan tersebut diasumsikan berlangsung dalam satu pasar yang terisolasi dengan pasar lainnya. Padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Keadaan di pasar yang satu mempengaruhi pasar lainnya. Jika perusahaan-perusahaan dari industri lain ( terutama yang mengalami kerugian ) untuk memasuki industri sepatu. Proses masuk keluar tersebut berhenti pada saat seluruh perusahaan dalam seluruh industri menikmati laba normal.

PEMBAHASAN

Model keseimbangan umum yang paling sederhana digambarkan dalam diagram berikut : Diagram 13.1 Model keseimbangan umum ( simultan ) sederhana

(a) Industri garmen

(b) industri sepatu sebut saja industri adalah persaingan

Dalam perekonomian diasumsikan hanya ada dua industri, pembuatan pakaian jadi ( garmen ) dan sepatu. Struktur pasar

sempurna. Keseimbangan awal masing-masing industri pada titik A ( Pg0 , Qg0 ) dan B ( Ps0 , Qs0 ) dimana setiap perusahaan dalam setiap industri hanya menikmati laba normal ( kurva AC = kurva permintaan ). Jika industri garmen menghadapi peningkatan permintaan ( kurva Dg0 Dg1 ), harga meningkat ke Pg1 ( dengan output Qg1 ) yang menyebabkan perusahaan-perusahaan dalam industri garmen menikmati laba super normal. Sementara itu industri sepatu mengalami penurunan permintaan ( Ds0  Ds1 ), sehingga harga turun dari Ps0 ke Ps1. Perusahaanperusahaan dalam industri sepatu mengalami kerugian ekonomi. Hal ini ditambah dengan adanya laba super normal pada industri garmen, memotivasi perusahaan-perusahaan dalam industri sepatu meninggalkan industri tersebut dan memasuki industri garmen. Akibat nya penawaran di industri garmen meningkat ke Sg1 yang mengakibatkan harga turun kembali ke Pg0 dengan jumlah output Qg2. Perusahaan-perusahaan dalam industri garmen akhirnya hanya menikmati laba normal. Dalam industri sepatu, karena ada ( banyak ) perusahaan yang pergi, kapasitas produksi menurun. Akibatnya penawaran menurun ke Ss1 yang mendorong haraga naik kembali ke Ps0 dengan output Qs2. Perusahaan-perusahaan yang masih bertahan dalam industri sepatu mengalami perbaikan, sehingga dapat kembali menikmati laba normal. Jika

kedua industri telah mencapai keseimbangan , perekonomian dikatakan telah berada dalam keseimbangan umum. Penjelasan diatas menunjukan bahwa dalam perekonomian dua pasar bila satu pasar mencapai keseimbangan , maka pasar yang satunya juga mencapai keseimbangan. Prinsip ini dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas. Dalam suatu perekonomian yang terdiri dari n pasar, jika n-1 pasar berada dalam keseimbangan, maka pasar ke n akan mengalami keseimbangan. Pernyataan ini disebut sebagai hukum Walras ( Walras Law ).

 EFISIENSI PERTUKARAN ( AFFICIENCY IN EXCHANGE ) Perkonomian dikatakan efisien jika individu-individu dalam perekonomian ( konsumen – produsen ) telah berada dalam kondisi keseimbanagan, melalui mekanisme pertukaran. Dengan kata lain perekonomian telah berjalan efisien bila : a) Terjadi mekanisme pertukaran yang efisien ( effisiency in exchange ) b) Produksi berjalan efisien ( effisiency in production ) Model Pertukaran Edgeworth ( Edgeworth Box ) Menurut Alfred Pareto, alokasi sumber daya dikatakan efisien bila barang dan jasa yang tidak dapat direalokasikan ( reallcated ) antar konsumen tanpa membuat salah satu konsumen dirugikan ( tingkat kepuasan menurun ). Prinsip ini disebut prinsip Optimalisasi Pareto ( Pareto efficiency ). Untuk dapat memahami pernyataan diatas, kita menyusun sebuah model ekonomi sederhana. Dalam perekonomian dirumuskan hanya terdapat dua individu, A dan B, dan juga dua barang, pakaian (X) dan makanan (Y). Pakaian dan makanan didistribusikan antara A dan B seperti yang digambarkan dalam diagram 13.2.a dandan 13.2.b, dimana A memiliki pakaian sebanyak Xa dan makanan sebanyak Ya. B memiliki pakaina sebanyak Xb dan makanan sebanyak Yb. Dari informasi tersebut dapat disusun kotak pertukaran Edgeworth ( Edgeworth Box), seperti pada diagram 13.2.c, dimana D merupakan titik kepemilikan awal ( initial andowmen ), titik dimulainya pertukaran antara A dan B.

Diagram 13.2

Konsturksi kotak Pertukaran Edgeworth ( Edgeworth Box )

(c) Pakaian dan makanan milik

perekonomian

Dengan kotak Edworth kita dapat menganalisis proses pertukaran antar individu dalam perekonomian sampai mereka mencapai kondisi efisien. Titik D dalam diagram 13.3 menunjukan kepemilikan awal ( initial endowmen ) A dan B. Preferensi A digambarkan dengan kurva indeferensi A1, sedangkan preferensi B, kurva indiferens B1. Dengan slove masing-masing kurva indiferensi terlihat perbedaan MRSyx ( berapa jumlah Y yang harus dikorbankan untuk memperoleh tambahan konsumsi 1 unit X ) yang memungkinkan terjadi pertukaran. Tujuan pertukaran dalah meningkatkan kepuasan masing-masing individu. Secara grafis hal itu ditunjukan dengan letak kurva indiferensi A, dimana A1<A2<A3 dan seterusnya. Demikian juga B1<B2<B3 dan seterusnya. Bagi A, pertukaran akan menguntungkan jika kepuasannya meningkat ( ditunjukan oleh kurva A yang berada disebelah kanan atasnya ). Sebaliknya bagi B pertukaran akan menguntungkan jika kepuasan menungkat ( kurva B yang berada di sebelah bawahnya )

Menurut prinsip optimalisai Pareto, proses pertukaran antara A dan B akan berhenti apabila A tidak ldapat lagi meningkatkan kepuasan tanpa mengorbankan kepuasan B. Secara matematis hal ini akan terjadi bila MRSyx untuk A sama sama dengan MRSyx untuk B ( MRSyx A = MRSyx B ). Jika dalam perekonomian ada lebih dari dua individu, efisiansi tercapai bila nilai MRSyx untuk seluruh individu sudah sama, MRSyx A = MRSyx B......MRSyx Z. Berdasarkan teori keseimbangan konsumen , pada saat itu MRSyx =.....Py/Px. Jai efisiensi Pareto tercapai bila :

MRSyx A = MRSyx B=....=MRSyx Z= Py/Px....(13.1)

Kondisi seperti digambarkan dalam persamaan (13.1), dalam diagram 13.3 ditunjukan misalnya oleh titik-titik E, F, G. Pada titik tersebut slove kurva indiferensi A adalah sama dengan slove kurva indiferensi B, yaitu pada saat kurva indiferensi A bersinggungan dengan kurva indiferensi B ( selama kurva indeferensi A dan B masih saling berpotongan, pertukaran masih dapat terus dilakukan ). Kombinasi tak terhingga dari berbagai kemungkinan keseimbangan digambarkan oleh garis OAOB yang disebut kurva kontrak (contrac curve) yaitu kurva lokus ( tempat kedudukan ) titik-titik keseimbangan Pareto sebagai hasil pertukaran antar individu.  EFISINSI PRODUKSI (EFFICIENCY IN PRODUCTION) Produksi dikatakan efisien bila penggunaan faktor produksi maupun penjualan output sudah efisian. a) Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi (input effisiency) Penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara tekhnis bila faktor produksi yang digunakan untuk memproduksi output yang satu tidak dapat direalokasikan untuk menambah output yang lain tanpa mengurangi produksi output yang bersangkutan. Untuk lebih memahaminya, model Edgeworth ( pada diagram 13.3 ) dapat diadaptasi dengan mengasumsikan bahwa output dalam perekonomian terdiri atas pakaian (X) dan makanan (Y), sedangkan faktor produksi yang digunakan adalah mesin (K) dan tenaga kerja (L). Harga penggunaan satu faktor produksi mesin adalah r, sedangkan harga penggunaan seorang tenaga kerja adalah w. Kurva X1,X2,X3 adalah isokuan untuk pakaian dimana X1<X2<X3. Kurva Y1.Y2,Y3 adalah isokuan untuk makanan dimana Y1<Y2<Y3 (diagram 13.4). Titik-titik A,B,C adalah beberapa kombinasi penggunaan faktor produksi yang efisien karena MRTSIk untuk memproduksi pakaian sama dengan MRTSIk untuk memproduksi makanan.

Bila perusahaan beroperasi dalam pasar factor produksi persaingan sempurna, keseimbangan tercapai bila MRTSlk sama dengan rasio harga ke dua factor produksi ( MRTAlk = w/r ). Karena dalam perekonomian ada lebih dari satu perusahaan yang beroperasi, kondisi efisien pareto tercapai apabia: ( MRTSlkX = MRTSlkY = ….. = MRTSlkA = w/r Lokus titik – titik keseimbangan Pareto dari penggunaan factor produksi juga disebut kurva kontrak ( contract curve ), yang dalam diagram 13.4 digambarkan oleh garis OxOy. Dari kurva OxOy dapat dikonstruksi kurva batas kemungkinan produksi ( production Possibilities Frontier disingkat PPF ), seperti pada diagram 13.5 di bawah ini. Kurva PPF merupakan kurva yang menunjukan berbagai kemungkinan kombinasi produksi yang efisien, dengan jumlah factor – factor produksi ( tenaga kerja dan mesin ) yang digunakan tidak berubah ( tetap ).

Kurva PPF menurun dari kanan atas ke kiri bawah ( downward slopely ) karena adanya masalah ekonomi ( kelangkaan ). Untuk menambah produksi 1 unit pakaian ( X ), maka sejumlah makanan ( Y ) harus dikorbankan. Begitu sebaliknya. Karena itu sudut kemiringan kurva PPF menggambarkan derajat tranformasi marjinal makanan untuk pakain ( marginal rete of transformation atau MRTyx ), yang menggambarkan berapa unit barang Y ( makanan ) harus dikorbankan untuk menambah produksi 1 unit barang X ( pakaian ). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa titik A biaya marjinal untuk memproduksi pakaian relative lebih rendah dibandingkan titik C. Sebaliknya, di titik A biaya marjinal memproduksi makanan lebih tinggi dibandingkan di titik C. Dengan demikian sebenarnya dapat dikatakan bahwa titik – titik singgung sepanjang kurva PPF merupakan rasio antara biaya marjinal memproduksi makanan dengan biaya marjinal memproduksi pakaian. a) Efisiensi Output ( output efficiency ) Sebuah perekonomian dikatakan mencapai efisiensi output ( efficiency in output ) bila: ➢ Barang dan jasa diproduksi dengan biaya paling rendah ( minimum cost )
➢ Produsen mencapai keseimbangan ( producer’s equilibrium ), dimana MRTyk = Px/Py

➢ Barang dan jasa yang diproduksi memenuhi kebutuhan konsumen untuk mencapai keseimbangan konsumen ( consumer’s equilibrium ), dimana MRSyx = Px/Py. Kondisi diatas dapat dijelaskan dalam diagram 13.6 berikut ini.

Dalam diagram di atas kondisi keseimbangan tercapai di titik D, pada titik persinggungan kurva PPF dengan kurva indiferensi masyarakat ( U1 ), dengan kombinasi output ( X0,Y0 ). Pada saat itu rasio harga factor produksi digambarkan oleh garis Px */ Py*. Di titik tersebut konsumen mencapai keseimbangan karena MRSyx = Py / Px. Produsen juga mencapai keseimbangan karena MRTSlk = w/r. di luar titik D, keseimbangan simultan tidak akan terjadi. Di titik D, jumlah barang yang diminta konsumen sama persis dengan jumlah barang yang ingin ditawarkan produsen. Keseimbangan Ekonomi Secara Umum ( general equilibrium ) akan tercapai untuk semua barang yang ada dalam perekonomian, jumlah yang diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan. Pada saat itu MRTyx = MRSyx. CONTOH KASUS Pengurangan Subsidi BBM dan Peningkatan Efisiensi Perekonomian Salah satu kebijakan pemerintah yang dianggap paling tidak disukai rakyat adalah pengurangan atau penghapusan subsidi, khususnya subsidi bahan bakar minyak ( BBM ). Pihak – pihak yang menolak umumnya berargumentasi bahwa penghapusan subsidi BBM akan semakin memberatkan hidup rakyat. Penghapusan subsidi juga dianggap dapat memicu inflasi.

Sebaliknya, pihak yang mendukung kebijakan pengurangan atau penghapusan subsidi BBM menyatakan bahwa subsidi BBM justru dinikmati oleh kelompok menengah ke atas. Merekalah yang banyak menikmati subsidi karena banyak mengkonsumsi BBM, khususnya untuk kendaraan pribadi. Selain itu subsidi BBM tidak mendidik rakyat, khususnya kelompok menengah ke atas untuk hidup efisien. Sebab harga BBM yang murah menimbulkan kesan bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia masih banyak padahal di abad 21 ini Indonesia akan segera menjadi Negara pengimpor minyak bumi. Tabel 13.1 di bawah ini menunjukan perkembangan subsidi BBM selama beberapa tahun terakhir. Tabel 13.1 Perkembangan Besarnya Subsidi BBM di Indonesia, 2000-2002 ( Rp triliun ) TOTA 2000 Total Subsidi Subsidi BBM Porsi Subsidi BBM ( % ) 85,8 88,3 78,0 85,1 62,7 53,8 2001 77,5 68,4 2002 40,0 31,2 L 180,2 153,4

Sumber : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

Dari table 13.1 di atas terlihat bahwa uang Negara yang dikeluarkan untuk subsidi BBM selama tahun 2000-2002 sangat besar, yaitu 153,4 triliun rupiah, subsidi BBM selama 2000-2002 mencapai 85,1 % dari total subsidi. Persentase tertinggi terjadi pada tahun 2001, yang mencapai 88,3 %. Pertanyaanya adalah apakah subsidi tersebut bermanfaat? Jawabannya adalah: ya! Namun yang menjadi persoalan adalah apakah manfaatnya sebanding dengan uang yang dikeluarkan? Apakah juga yang paling menikmati subsidi tersebut memang rakyat kecil? Untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan di atas, kita gunakan konsep biaya ekonomi ( opportunity cost ) dari subsidi BBM. Manfaat apa saja yang diperoleh bila dana untuk

subsidi BBM dialokasikan untuk yang lain. Untuk itu kita bandingkan dengan dana yang dialokasikan untuk anggaran kepolisian ataupun anggaran pembangunan lainnya. Jika dibandingkan dengan dana yang dikeluarkan untuk kegiatan kepoliasian yang pada tahun 2002 hanya sekitar Rp. 1,3 triliun, maka dengan subsidi BBM puluhan kali lipat besarnya. Padahal kepolisian sangat dibutuhkan untuk menjaga ketertiban hokum, melindungi dan melayani masyarakat. Berdasarkan data – data ini adalah tidak proporsional jiga menuntut pemerintah menyediakan aparat kepolisian dalam jumlah cukup, berkualitas dan tanggap, tetapi tidak disediakan anggaran memadai. Andaikan sejak beberapa tahun yang lalu subsidi BBM dikurangi 10 % saja dan dialokasikan untuk kepolisian, maka kita sudah memiliki jajaran kepolisian yang jauh lebih baik dari sekarang. Demikian juga jika sebagian dari subsidi BBM dialokasikan untuk anggaran pendidikan, kesehatan masyarakat, atau pembangunan daerah, jelas manfaatnya lebih besar dan terasa bagi masyarakat. Jika sudah dilakukan sejak 10 tahun yang lalu, saat ini Indonesia telah memiliki SDM yang berkualitas baik, juga sarana – saran kesehatan dan pendidikan yang memadai.

Tabel 13.2 Perkembangan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, 2000-2002 (ribu unit) Pertumb 2 000 2001 2002 uhan 20002002 (%tahun)

Kendaraan bermotor 8.975

1

20.927

22.985

10,0

Mobil penumpang 039

3.

3.189

3.403

5,8

Bus 66

6

685

714

3,5

Truk 707

1.

1.777

1.865

4,5

Sepeda motor 3.563

1

15.275

17.002

11,9

Sumber : statistik Indonesia 2002. BPS. Dari tabel diatas diperoleh faktorfaktor yang menakjubkan, yaitu selama tahun 2000-2002 tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor yang 10 % per tahun, jauh lebih tinggi dari tingkatpertumbuhan ekonomi yang sekitar 3 % per tahun. Tingkat pertumbuhan tertinggi adalah sepeda motor yang mencapai 11,9 % per tahun. Sementara itu pertumbuhan mobil penumpang mencapai 5,8 % per tahun. Ini dalah sangat menakjubkan karena dua alasan: 1) Tingkat pertumbuhan itu terjadi pada periode krisis ekonomi 2) Harga mobil pada saat ini beberapa puluh kali lipat harga sepeda motor Penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan justru menimbulkan masalah inefisiensi. Misalkan, jarak 30 KM bila ditempuh dengan kendaraan pribadi sendirian akan membutuhkan setidak-tidaknya 3 liter bensin senilai Rp. 6000,00. Belum lagi biaya perawatan dan penyusutan mobil. Tetapi bila ada transportasi umum yang memadai, seperti bus kota yang nyaman dan mampu menampung 50 orang penumpang, biaya transportasi per orang akan jauh lebih murah. Andaikan jarak 30 KM itu, karena ditempuh dengan bus, membutuhkan bensin sebanyak 6 liter, maka biaya bensin yang dibutuhkan adalah Rp. 12.000,00, tetapi karena mengangkut 50 orang maka biaya bensin per orang adalah Rp. 240,00.

Berdasarkan data juga terdeteksi bahwa subsidi BBM justru paling banyak dinikmati oleh penduduk DKI Jakarta yang memiliki kendaraan khususnya mobil pribadi. Data tahun 2002menunjukan bahwa dari sekitar 3,4 juta unit mobil penumpang yang ada di Indonesia, sekitar 1,5 juta ( 43%) berada di Jakarta. Padaha luas jakarta hanya sekitar 700 KM2 atau 0,04% luas daratan Indonesia. Dengan jumlah keluarga yang mencapai sekitar 2 juta, sebenarnya secara rata-rata 80 % keluarga di Jakarta seharusnya memiliki sebuah mobil. Tetapi kenyataan nya tidak demikian. Masih sangat banyak keluarga di Jakarta yang tidak memiliki mobil. Ironisnya, tidak jarang terjadi, satu keluarga memiliki lebih dari 5 mobil. Interaksi antara pasar mobil dan BBM Dengan menggunakan analisis keseimbangan umum, yang mempertimbangkan interaksi antara dua pasar yang berkaitan akan terlihat hubungan antara subsidi BBM dengan konsumsi kendaraan bermotor. Sebab harga BBM adalah salah satu faktor yang turut dipertimbangkan dengan membeli atau menggunakan mobil. Hubungan mobil dengan BBM bersifat komplementer. Kenaikan penggunaan mobil akan menaikan konsumsi BBM. Analisis denghan menggunakan diagram 13.7 di bawah ini menunjukan hubungan antara subsidi BBM dengan konsumsi mobil pribadi. Diagram 13.7

(a) BBM

(b) Mobil

Pada diagram 13.7 (a), titik A adalah keseimbangan pasar BBM, jika tidak ada subsidi BBM. Pada saat itu jumlah BBM yang di konsumsi adalah Q1b dengan harga jual per

liter adalah P1b pada diagram 13.7 (b), titik G adalah titik keseimbangan pasar mobil, bila harga BBM tidak disubsidi. Harga mobil per unit adalah P1m sedangkan konsumsi mobil Q1m. Asumsikan pemerintah menetapkan subsidi BBM, sehingga harga BBM hanya sebesar P b. Hal itu menyebabkan biaya operasional penggunaan mobil menjadi lebih murah, sehingga permintaan mobil menjadi lebih besar (kurva permintaan bergeser ke kanan dari D1m ke D2m). Penigkatan permintaan mobil ini akan menstimulir penawaran mobil ( dari S1m ke S2m ). Bila diasumsikan harga keseimbangan tidak berubah maka titik keseimbangan bergeser ke H. Konsumsi mobil dengan adanya subsidi ( yaitu sebesar Q2m ) menjadi lebih banyak dibanding dengan tidak ada subsidi BBM. Peningkatan konsumsi mobil menyebabkan konsumsi BBM meningkat, sebut saja sebesar Q2b. Jika tidak ada subsidi, maka harga jual BBM seharusnya adalah P3b per liter. Tetapi pemerintah telah menetapkan harga BBM adalah P2b. Untuk setiap liter BBM pemerintah mengeluarkan subsidi sebesar P3b – P2b. Dengan demikian untuk konsumsi BBM sebanyak Q2b, pemerintah harus memberi subsidi sebesar luas segiempat P2bBCP3b. Subsidi BBM yang diberikan menumbuhkan persepsi bahwa pemerintah akan terus memberikan subsidi. Hal ini akan menstimulir permintaan ( dari D1m ke D2m ) dan penawaran mobil ( dari S2m ke S3m ) di masa selanjutnya. Dengan asumsi harga keseimbangan mobil tidak berubah. Maka persepsi tidak dihapuskannya subsidi BBM akan meningkatkan konsumsi mobil menjadi Q3m ( titik I pada diagram 13.7 (b) ). Akibatnya konsumsi naik menjadi sebesar Q3b. Pada saat konsumsi BBM sebesar Q3b, harga jual seharusnya adalah P4b. Dengan harga jual BBM yang hanya sebesar P4b – P2b. Dengan demikian untuk konsumsi sebanyak Q3b, subsidi yang diberikan menjadi lebih besar lagi dibanding periode sebelumnya, yaitu P2bDEP4b. Jika pemerintah terus memberi subsidi BBM, maka persepsi bahwa subsidi akan diberikan semakin menguat, yang mendorong peningkatan konsumsi mobil. Tentu saja hal ini akan memperbesar anggaran subsidi, seperti yang telah diuraikan di atas, belum tentu efisien secara ekonomis.
2

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->