HUKUM HAM INTERNASIONAL (INTERNATIONAL HUMAN RIGHT LAW

)

PENGANTAR Ham merupakan wacana (discourse) atau topik pembicaraan utama pada saat ini, di samping masalah lingkungan hidup dan demokrasi. HAM dewasa ini tidak saja merupakan isu nasional tetapi juga telah menjadi isu internasional/global. Antara lain, ditandai dengan adanya kenyataan bahwa saat ini pelanggaran HAM yang terjadi di suatu negara tidak lagi hanya menjadi masalah nasional/domestik negara yang bersangkutan, tetapi juga merupakan menjadi masalah internasional. Hal tersebut disebabkan karena HAM sebagai hak hukum (legal right) yang substansinya bersifat universal di samping telah diatur didalam instrumen hukum nasional (seperti di dalam berbagai konstitusi negara), dewasa ini juga telah diatur dalam berbagai instrumen hukum internasional, antara lain seperti: a. Universal Declaration of Human Right b. International Covenant on Civil and Political Right c. International Covenant on Economic, Social and Cultural Right Suatu negara yang melakukan pelanggaran HAM tidak dapat lagi berlindung di balik kedaulatan (sovereignty). Hal tersebut oleh Hector Gros Espielli dinyatakan sebagai berikut: “The human right issue has thus created to be a matter reserved exclusively to the internal jurisdiction of states and has come, as currently recognized, to be a matter which is governed both by internal law and by international law and in respect of which the exception of internal or reserved jurisdiction cannot be invoked.” “Isu hak asasi manusia dengan demikian telah diciptakan untuk menjadi suatu permasalah yang diatur secara khusus di dalam hukum nasional suatu negara dan yang akan datang, sampai saat ini diakui, menjadi hal yang diatur baik oleh hukum nasional dan oleh hukum internasional dan berkenaan dengan pengecualian hukum nasional atau dilindungi oleh undang-undang tidak dapat dimohonkan.”

PENGERTIAN DAN DEFINISI HAM Terminologi HAM yang dikenal bermacam-macam, antara lain: Human Rights (Hak-hak asasi Manusia) Fundamental Rights (Hak-hak yang mendasar)

XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia “Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati. Baehr “Human rights are internasionally agreed values. TAP MPR No. hak berkomunikasi. dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara. meliputi hak untuk hidup. Hukum HAM internasional mengatur hubungan antara penguasa dengan pihak yang dikuasainya.39 Tahun 1999 tentang HAM dan Pasal 1 angka 1 UU No. “Hak asasi manusia dapat diartikan secara umum dimana hak yang melekat dengan sendirinya dalam diri kita dan tanpa hak tersebut tidak dapat hidup sebagai manusia”. antara lain: Pendapat PBB (Jan Metlerson) “Human rights could be generally defined as those right which are inherent in our nature and without which we cannot live as a human beings”. dan abadi sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.- Droit de l’homme (Hak asasi Manusia) The rights of man (Hak-hak Manusia) Basic rights (Hak-hak dasar) Dan lain sebagainya Hingga saat ini belum ada definisi yang bersifat baku dan mengikat. hukum pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”. Beberapa definisi yang dikenal. hak kemerdekaan. standards of rules regulating the conduct of states towerds their own citizens and towerd non-citizens”. Pendapat Peter R. standart-standart yang disepakati secara internasional atau aturan yang mengatur tingkah laku negara terhadap warga negaranya dan terhadap bukan warga negaranya”. Pasal 1 angka 1 UU No. hak berkeluarga. hak keamanan dan hak kesejahteraan yang oleh karena itu tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh siapapun”. universal. Dengan demikian relasi yang diatur yaitu. yaitu negara dengan individu. hak keadilan. negara memiliki posisi sebagai pihak yang berkewajiban untuk melindungi hak asasi .26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM “HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati. hak mengembangkan diri. “Hak asasi manusia adalah nilai-nilai.

Violation of Right not shall be Imprisioned merely on the ground of inability to fulfil a contractual obligation .15. Aspek luar biasa tersebut ditunjukkan dari adanya penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh aparatur negara atau tindakan salah dari kekuasaan yang sah (incorrect use of lawful powers) yang melatarbelakangi terjadinya pelanggaran HAM. RUANG LINGKUP PELANGGARAN HAM Berdasarkan pasal 6. Violation of Right to not shall be subjected to torture 3.setiap individu adalah pihak yang harus dilindungi hak asasinya. yaitu: 1. Failure to fulfill an obligation.16. Dengan demikian relasi yang terbentuk bersifat vertikal.8. Menurut Victor Conde yang dimaksud dengan pelanggaran Ham. Pelanggaran HAM yang timbul akibat negara lalai/tidak bertindak atau gagal untuk melindungi atau menjamin HAM setiap individu (violation by omission). Perlindungan domestik atau internasional diberikan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh suatu negara”. yaitu: “A failure of states or other party legally obligated to comply with an international human right norm. Pelanggaran yang dilakukan negara secara aktif dengan tindakan yang bersifat langsung (violation by action) sehingga menimbulkan pelanggaran HAM. yaitu antara negara dengan individu. Violation of Right to Life 2.7. PENGERTIAN DAN DEFINISI HUKUM HAM INTERNASIONAL Pelanggaran HAM dikatakan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crimes) bukan kejahatan biasa (ordinary crimes). yaitu: 1. BENTUK PELANGGARAN HAM Pelanggaran HAM pada dasarnya dapat terjadi dengan dua cara. A violation gives to domestic or international remedies for such state conduct”. 2. Violation of Right to not shall be held in slavery and servitude 4. “Sebuah kegagalan negara atau pihak lain yang secara hukum diwajibkan untuk memenuhi suatu norma hak asasi manusia internasional.18 International Covenant of Civil and Political right mengenai hak dasar yang tidak boleh dilanggar (Non-derogable rights). Kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab.11.

Pelanggaran Hak untuk tidak di perbudak dan kerja paksa 4. Pelanggaran Hak untuk diakui dimanapun sebagai pribadi di hadapan hukum 7.5. Violation of Right not shall be held guilty by ex post facto law 6. Pelanggaran Hak kebebasan berpikir. conscience and religion 1. berkeyakinan dan beragama . Violation of Right to freedom of though. Pelanggaran Hak tidak akan dipenjarakan hanya atas dasar ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban kontrak 5. Violation of Right to recognition everywhere as a person before the law 7. Pelanggaran Hak tidak dapat dinyatakan bersalah oleh hukum ex post facto 6. Pelanggaran Hak Hidup 2. Pelanggaran Hak untuk tidak akan dikenakan penyiksaan 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful