P. 1
Si Kabayan

Si Kabayan

|Views: 6,296|Likes:
Published by David Setiadi

More info:

Published by: David Setiadi on May 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2013

pdf

text

original

Si Kabayan: Antara Dongeng Jenaka dengan Film dalam Balutan Modernitas David Setiadi

Pendahuluan Tradisi Lisan menjadi media terindah yang pernah dan akan selalu ada di Nusantara. Sebelum munculnya tradisi tulis, hampir cerita-cerita yang ada di Nusantara berkembang melalui budaya oral tersebut. Salah satunya adalah dongeng, yang menjadi cerita tutur yang banyak berkembang hampir di daerah atau budaya yang ada di Indonesia. Tidak berbeda jauh baik dari segi tema selalu memunculkan muatan didaktis dalam setiap penyajiannya, karena pada dasarnya setiap cerita yang tersaji selalu menjadi alat untuk mendidik selain sebagai menghibur yang menjadi sajian utamanya. Pada umumnya dongeng-dongeng yang banyak terdapat di Indonesia menurut pemunculan tokohnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu dongeng yang bercerita tentang binatang (fabel) dan dongeng tentang manusia. Dongeng tentang binatang bisanya kita diingatkan oleh tokoh si Kancil yang cerdas, kurakura yang selalu kalah atau dibohongi oleh seekor kera, dan masih banyak lainnya. Termasuk cerita asal-usul sebuah daerah yang dipengaruhi oleh binatang seperti cerita kota Surabaya yang berasal dari pertarungan antara ikan hiu Sura dengan Buaya, sehingga saat ini dinamakan sebagai Surabaya. Tidak berbeda jauh dengan dongeng tentang binatang, dongeng manusia pun banyak ragamnya mulai dari Sangkuriang, Mundinglaya, Ciung Wanara, Si kabayan, dan masih banyak lainnya. Dongeng tentang manusia ini banyak memunculkan gambaran dari sifat manusia yang sewajarnya, seperti Sangkuriang yang salah mencintai ibu kandungnya sendiri, Mundinglaya yang merupakan anak raja yang malang, lalu tokoh si Kabayan yang digambarkan sebagai manusia cerdas, bodoh, jenaka, banyak akal, dan sebagainya sebagai manusia yang utuh. Dongeng tentang manusia terutama si Kabayan adalah tokoh yang paling terkenal. Berkat sebuah drama yang digubah oleh Utuy Tatang Sontani dalam bahasa Indonesia, nama si Kabayan tidak hanya terkenal dalam lingkungan orang Sunda saja. Drama tersebut telah dipertunjukkan di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Rusia.

Alih wahana dalam konteks modernitas tentunya menjadi hal yang lumrah terjadi untuk saat ini. Begitupun yang banyak terjadi dalam perkembangan dongeng yang ada di Indonesia, sehingga untuk saat ini bisa dinikmati dalam bentuk audio visual dalam sebuah bentuk film. Sebut saja dongeng si Kabayan, dongeng yang berasal dari khazanah kesusastraan Sunda ini telah banyak dialihwahanakan dalam bentuk film. Setidaknya dongeng si Kabayan pada medio 90-an menjadi tontonan yang menarik dan banyak ditonton. Sehingga menaikkan popularitas aktor yang memerankan tokoh si Kabayan tersebut yaitu Didi Petet, dan tentunya banyak aktor/aktris lainnya seperti Aom Kusman, Desi Ratnasari, Paramitha Rusady, dan Nike Ardila. Hingga yang terbaru di tahun 2010 muncul film Si Kabayan Jadi Milyuner garapan sutrada Guntur Soeharjanto, yang mengangkat kembali dongeng si Kabayan dalam era millennium dan konteks kekinian. Dalam tulisan ini saya membandingkan dongeng si Kabayan sebagai cerita rakyat Sunda dengan film Si Kabayan Jadi Milyuner garapan sutradara Guntur Soeharjanto dalam kerangka pengkajian sastra bandingan. Tentunya pengkajian ini saya batasi pada beberapa aspek yang menjadi memang dapat dikaji dalam rangka sastra bandingan, seperti aspek tema, aliran, dan genre.

Dongeng si Kabayan: “Si Kabayan Pergi ke Hutan” Dongeng tentang tokoh Kabayan yang saya kaji adalah dongeng “Si Kabayan Pergi ke Hutan”. Dongeng tersebut terdapat pada antologi kumpulan dongeng Sunda yang terangkum dalam buku Jalan ke Surga atawa Si Kabayan karya Ajip Rosidi terbitan penerbit Nusantara. Untuk lebih lanjut akan saya paparkan ringkasan cerita sebagai berikut. Si kabayan seorang yang pemalas. Kerjanya hanya tidur dan makan saja, lalu tidak pernah pergi keluar rumahnya. Melihat kelakuan si Kabayan yang sangat pemalas tersebut membuat dongkol kedua mertuanya yaitu abah dan ambu. Keduanya saling menyalahkan dan menyesal mengawinkan anak semata wayangnya yaitu nyi Ikem kepada si Kabayan. Pada suatu hari, ketika di dapur mertua perempuan menyuruh si Kabayan untuk pergi ke Hutan untuk mencari kayu dan siapa tahu mendapatkan rezeki untuk orang yang ada di rumah. Tak lama kemudian, si Kabayan pun pergi menuruti permintaan mertuanya tersebut.

Hutan tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Orang-orang kampung biasanya jika pergi ke hutan hendak mencari kayu, buah-buahan, atau berburu. Namun lain dengan si Kabayan. Ia hanya berputar-putar saja sambil menikmati kesejukan suasana di hutan. Hingga ia sampai di dalam hutan, lalu diam sejenak disebuah pohon yang rimbun untuk istirahat. Semilir angin yang menghembus membuatnya jadi mengantuk. Belum sejenak kantuknya hilang karena ada sebuah binatang yang mengganggunya, kemudian ditepasnya binatang tersebut. Saat menoleh ke atas, ternyata pada pohon tersebut terdapat sarang lebah yang banyak mengahasilkan madu. Si Kabayan tidak tertarik dengan sarang lebah tersebut, lalu ia pergi pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah si Kabayan kemudian menceritakan pengalamannya di hutan kepada mertuanya. Tak disangka oleh si Kabayan ternyata mertuanya tersebut marah kepadanya, karena tidak membawa sarang labah tersebut. Mertuanya mengingatkan kepada si Kabayan, apabila nanti di hutan menemuka untung lagi jangan lupa bakar pantatnya dengan obor. Tak lama setelah itu si Kabayan pun pergi keesokan harinya ke hutan. Si Kabayan kembali ke hutan untuk mencari untung kembali. Setelah lama berjalan akhirnya ia menemukan seekor rusa yang sedang diam di tengah huta. Rusa tersebut tidak bergerak seperti yang sudah mati. Kemudian si Kabayan mendekati rusa tersebut, tak lama kemudian ia ingat akan pesan mertuanya bahwa jika menemukan untung harus cepat dibakar pantatnya. Tidak lama kemudian si Kabayan pun membakar pantat rusa tersebut, dengan serta merta rusa tersebut lari karena kepanasan. Si Kabayan tak habis pikir mengapa rusa itu pergi. Ia pun langsung pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah kembali ia dimarahi oleh mertuanya setelah menceritakan kejadian yang terjadi di hutan tadi. Mertua kemudian mengingatkan kembali jika nanti di hutan menemukan kembali yang seperti itu cepat ditombak lalu dagingnya bisa dibuat dendeng. Keesokan harinya si Kabayang kembali ke hutan, tentunya dengan membawa tombak yang seperti diingatkan oleh mertuanya. Si Kabayan masuk ke hutan dan terus berjalan hingga di kedalaman hutan ia melihat sesosok wanita dari kejauhan. Si Kabayan terus mendekati, dalam hatinya ia berkata mungkin ini yang dimaksud oleh mertuanya. Tak lama kemudian si Kabayan pun menombak wanita tersebut, hingga wanita

tersebut tertutusuk dan darah mengalir deras dari tubuhnya lalu mati. Ia bersuka cita sembari mencabut tombak yang tertancap ditubuh wanita yang sudah mati tersebut. Si Kabayan jadi takut melihat mayat wanita itu, lalu bergegas pulang. Sampai di rumah kemudian ia menceritakan kembali apa yang ditemukannya di hutan, tak disangka olehnya mertuanya kembali marah. Ia disebut bodoh karena telah membunuh wanita tadi. Setelah beberapa hari si Kabayan pun hendak pergi kembali ke hutan. Sebelum pergi ia kembali diingatkan oleh mertuanya, katanya nanti jika menemukan sesuatu di hutan abaikan saja jangan dihiraukan. Si Kabayan pun pergi berangkat kembali ke hutan untuk mencari kayu bakar. Tak lama kemudian ia sampai di sebuah desa, dan menemukan sebuah rumah yang ramai sedang ada kenduri. Banyak orang yang datang dan banyak makanan yang tersedia. Si Kabayan pun ditawari oleh si empunya hajat untuk singgah dan makan. Namun ia terus pergi dan pulang, karena ia ingat pesan mertuanya bahwa jika menemukan sesuatu hal abaikan saja jangan dihiraukan. Ia pulang karena menjalankan amanat yang dipesankan oleh mertuanya. Berdasarkan ringkasan cerita yang telah dipaparkan di atas dapat terlihat watak dari tokoh si Kabayan tersebut. Di mana si Kabayan digambarkan sebagai seorang lelaki yang pemalas dan kerjanya hanya tidur dan makan saja. Namun, di balik sikap pemalasnya tersebut si Kabayan sangat mencintai istrinya yaitu nyi Ikem, juga sangat patuh dan menghormati mertuanya. Hal tersebut dapat terlihat ketika si Kabayan sedang pergi ke hutan untuk mencari untung, walaupun akhirnya konyol si namun Kabayan pada intinya dibalik kekonyolan yang dan kebodohannya tersebut sangat menjaga pesan selalu

diingatkan oleh mertuanya. Hingga disuatu peristiwa, ketika seharusnya ia bisa makan dengan enak di pesta kenduri namun ia malah mengingat pesan mertuanya untuk mengabaikan segala sesuatu yang ia temui di dalam perjalannya ke hutan. Dari cerita ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa setiap amanah yang diberikan pada kita harus dijalankan dan ditepati, tentunya dengan sikap yang cerdas pula dalam menjalankannya.

Film si Kabayan: Si Kabayan Jadi Milyuner

Film Si Kabayan Jadi Milyuner digarap dengan serius oleh Guntur Soeharjanto sebagai sutradara. Film produksi Starvision ini tayang untuk pertama kalinya di penghujung tahun 2010, dengan menampilkan berbagai macam kekurangan dan kelebihan dari isi cerita dan peran aktor dan aktris yang berperan dalam film ini. Sebagai awal pemaparan dari analisis terhadap film ini, saya paparkan ringkasan cerita dari film Si Kabayan Jadi Milyuner sebagai berikut. Film ini bercerita tentang kehidupan disebuah desa yang asri, tempat tinggal si Kabayan yang dalam hal ini diperankan oleh Jamie Aditya. Di desa tersebut tinggal pula ustad Soleh yang diperankan oleh Slamet Raharjo sebagai tetua yang sangat dihormati oleh penduduk disekitar pesantren tersebut. Cerita kemudian berlanjut ketika datang seorang pengusaha yang bernama bos Rocky diperankan oleh Christian Sugiono akan membeli tanah pesantren tersebut dengan cara yang licik dan menipu. Ustad Soleh sebagai tetua memercayakan keputusannya kepada si Kabayan yang sudah diberi amanah untuk menjaga pesantren dan desa tersebut. Si Kabayan jatuh cinta terhadap sekretaris boss Rocky yang bernama Iteung diperankan oleh Rianti Cartwright. Mengetahui si Kabayan mencintai Iteung, kemudian boss Rocky memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjalankan misinya. Iteung dijadikan umpan untuk si Kabayan mau menandatangani surat jual beli tanah tersebut. Ada pergolakan batin yang terjadi pada diri Iteung, yang disatu sisi merasa kasihan dengan kepolosan sifat si Kabayan, namun di sisi lain ia harus menjalankan perintah atasannya. Akhirnya si Kabayan tergoda untuk menandatangani surat jual beli tanah tersebut, setelah sebelumnya dijanjikan akan menikah dengan Iteung. Tugas yang dilakukan oleh Iteung telah berhasil, dan Iteung kembali ke kota untuk mengurusi kerjaannya yang lain. Si Kabayan sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Iteung. Ia tidak sadar bahwa dirinya telah ditipu oleh Iteung. Ketika waktunya tiba si Kabayan dengan diiringi oleh Amasan, ustad Soleh, dan seluruh warga desa menunggu kedatangan Iteung untuk menghadiri pernikahan dengannya. Namun setelah menunggu seharian, ternyata Iteung tidak datang juga. Akhirnya si Kabayan baru sadar jika dirinya telah ditipu oleh Iteung, dan proyek penggusuran warga desa sudah disiapkan oleh kontraktor yang akan membangun real estate di desa tersebut. Sadar akan kesalahannya, si

Kabayan berjanji kepada ustad Soleh dan seluruh warga desa untuk menebus kesalahannya tersebut dengan pergi ke kota untuk menemui boss Rocky. Akhirnya si Kabayan dengan ditemani oleh Armasan (Amink) pergi menuju kota untuk menemui Iteung. Perjalanan mereka akhirnya tiba disebuah apartemen tempat Iteung tinggal bersama orang tuanya. Setelah menemukan Iteung kemudian si Kabayan mengatakan maksudnya ke Abah dan Ambu untuk bisa menikahi Iteung dan ingin menyelamatkan desa yang akan digusur. Tak disangka ternyata dengan polosnya Abah member syarat jika Kabayan ingin menikahi Iteung harus menyiapkan uang sebanyak satu milyar. Tanpa pikir panjang si Kabayan menyanggupi permintaan Abah tersebut. Segala cara dilakukan oleh si Kabayan untuk mendapatkan uang satu milyar tersebut. Ia terus diingatkan oleh Armasan bahwa tidak mungkin ia mendapatkan uang satu milyar tersebut, namun dengan polosnya si Kabayan tetap yakin bahwa ia pasti mampu mendapatkannya. Singkat cerita akhirnya tidak sengaja si Kabayan bertemu dengan Joni Kemod, sahabat lamanya yang sekarang sudah menjadi anggota Dewan. Lalu pada Joni Kemod tersebut Kabayan mengatakan maksudnya datang ke Kota. Ia menceritakan pula bahwa ia membutuhkan uang satu milyar untuk mneikahi Iteung. Joni Kemod dengan baiknya mengabulkan semua keinginan si Kabyan tersebut. Diakhir cerita akhirnya Kabayan berhasil menggagalkan penggusuran di desanya, lalu stelah itu si Kabayan akhirnya dapat menikah denga Iteung stelah mendapat persetujuan dari Abah dan Ambu. Mereka hidup damai dan bahagia di desa.

Berdasarkan ringkasan cerita film tersebut terlihat bahwa secara umum tema dari cerita ini sederhana yaitu tentang cinta dan kepatuhan. Cinta tersebut meliputi cinta si Kabayan terhadap Iteung, dan juga kecintaannya terhadap desa yang menjadi tempat tinggalnya. Tema kepatuhan ada sebagai bagian dari cerita, di mana si Kabayan sangat patuh terhadap ustad Soleh yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Hal lain yang menarik untuk di bahas adalah tentang gambaran tokoh si Kabayan dan Iteung yang masing-masing diperankan oleh Jamie Aditya dan Rianti Cartwright, terasa tidak pas untuk

memerankan kedua tokoh jenaka ini. Imej si Kabayan (dalam film) seolah tidak bisa dilepaskan dari sosok Didi Petet yang sebelumnya telah mempopulerkan tokoh si Kabayan tersebut. Ditambah lagi dengan kehadiran Didi Petet yang berperan sebagai Abah, seolah-olah penonton mau tidak mau membandingkan peran Jamie Aditya sebagai Kabayan dan Didi Petet sebagai Kabayan dulu. Sebagai kita bentuk transformasi cerita, film ini mengajak saya pikir kita jauh untuk untuk

bernostalgia dengan cerita tentang si Kabayan dalam sebuah film. Namun, jika perbandingkan dengan film-film sebelumnya dibandingkan. Pertama dari segi pemeran tokoh-tokoh utama cerita, peran si Kabayan dan Iteung terasa tidak cocok diperankan oleh Jamie Aditya dan Rianti, entah mengapa karena dalam imajinasi saya gambaran kedua aktor dan aktris ini terlalu ‘bule’ untuk Si Kabayan dan Iteung yang merupakan pemuda dan gadis desa asli Indonesia. Mungkin inilah transformasi yang dilakukan oleh sutradara yang mencoba untuk mengubah imej si Kabayan yang di era modern ini menjadi Kabayan yang maskulin dan good looking.

Perbandingan Dongeng Si Kabayan dengan Film Si Kabayan Dalam perbandingan terhadap dua cerita si Kabayan ini saya akan membatasi pada persamaan yang terdapat pada keduanya, persamaan tersebut akan meliputi pada persamaan tema, tokoh dan penokohan. Pertama, tema. Tema yang disajikan pada kedua cerita ini, baik yang terdapat pada dongeng maupun film yaitu tentang kepatuhan. Kepatuhan tersebut dilakukan oleh si Kabayang sebagai bentuk rasa hormatnya terhadap orang yang dituakan. Dalam dongeng diceritakan bagaimana si Kabayan selalu menuruti amanat yang selalu disampaikan oleh ibu mertuanya. Seperti terdapat pada kutipan cerita di bawah ini: “Ada seekor rusa. Ia lagi tidur. Saya ingat pesan Emak. Lalu pantatnya saya bakar dengan obor…”. “Terlalu kau Kabayan!” teriak mertuanya dengan mendelu. “Masa pantat rusa kau bakar! Lain kali kalau kau pergi ke hutan dan menemui yang seperti itu pula, kau tusuk saja dengan tobak biar mati…” (Rosidi, p. 2324) Dalam perjalanan pulang, ketika ia masuk ke ujung kampung ada orang sedang kenduri. Doa sudah dibaca, makanan sudah dihidangkan. Waktu orang-orang yangsedang kenduri itu melihat si Kabayan lewat, segera

mereka mengundang mampir, mengajak si Kabayan makan bersamasama. Tetapi si Kabayan sangat patuh akan pesan mertuanya. Ia tidak menghiraukan ajakan orang-orang itu! Menoleh puntidak. Ia berjalan terus. (Rosidi, p. 27)

Berdasarkan kutipan di atas, terlihat jelas bahwa si Kabayan walaupun konyol dan bodoh namun ia patuh terhadap sesuatu yang telah diamanatkan kepadanya. Kepatuhan tersebut menjadi cermin yang sarat muatan didaktis, mengajak pembacanya untuk selalu memegang amanah yang sudah diberikan tentunya dengan dibekali dengan kecerdasan diri. Dalam film Si Kabayan jadi Milyuner tema kepatuhan tersebut ada pada cerita, di mana kepatuhan tersebut merupakan kepatuhan si Kabayan terhadap ustad Soleh tetua yang sangat dihormati oleh si Kabayan, dan sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Diceritakan ketika desa akan digusur, kemudian si Kabayan diberi amanah oleh ustad Soleh untuk pergi ke kota dan mencari cara untuk menyelematkan desanya yang akan digusur. Dengan serta merta si Kabayan melaksanakan perintah tersebut sebagai bentuk kepatuhannya, hingga diakhir cerita ia pun berhasil menyelamatkan desa tersebut dari penggusuran. Dari segi tema yang ada, Guntur Soeharjanto sebagai sutradara sadar benar bahwa sebagai cerita jenaka, film tentang si Kabayan ini harus memenuhi muatan didaktis sebagai bagian dari alat pendidikan untuk masyarakat. Sehingga dari segi tema persamaan dengan dongeng dan film-film yang ada sebelumnya terdapat sebuah afirmasi, dan kalaupun ada muatan nilai yang baru itu semata-mata disesuaikan dengan konteks jaman saat ini. Aspek kedua yang saya perbandingkan adalah penokohan sosok si Kabayan. Si Kabayan baik dalam dongeng maupun film Si Kabayan jadi Milyuner, sama digambarkan sebagai pemuda yang malas. Hal tersebut terlihat pada dongeng bahwa yang menjadi kerjaannya si Kabayan jika tidak tidur adalah makan, dan hal tersebut menjadi rutinitas yang dilakukannya setiap hari. Si Kabayan seorang pemalas…, kerjanya tidur saja. Sore-sore ia sudah masuk bilik. Keesokan harinya ia bangun ketika hari sudah siang. Setelah menggisik matanya yang terasa berat mengantuk itu, si Kabayan berjalan kea rah dapur. (Rosidi, p. 17).

Kutipan di atas menunjukkan sifat pemalas si Kabayan, seolah hal itu menjadi ciri yang khas melekat pada diri si Kabayan. Ciri khas yang melekat tersebut menjadi patokan bagi seorang Guntur Soeharjanto untuk tidak sulit menggambarkan citra malas yang melekat pada diri si Kabayan. Sehingga dalam film tersebut digambarkan di awal si Kabayan sedang tidur di bawah pohon rindang dengan malas-malasan sambil meniup suling. Si kabayan pun diceritakan sebagai sosok pemuda yang bodoh namun jenaka. Dalam dongeng terlihat bahwa si Kabayan sering melewatkan kesempatan untuk mendapatkan untung yang ada di depan matanya, dengan alasan karena patuh terhadap amanat mertuanya, si Kabayan pun tak menghiraukan kesenangan yang mungkin bisa ia dapatkan. Dalam perjalanan pulang, ketika ia masuk ke ujung kampung ada orang sedang kenduri. Doa sudah dibaca, makanan sudah dihidangkan. Waktu orang-orang yangsedang kenduri itu melihat si Kabayan lewat, segera mereka mengundang mampir, mengajak si Kabayan makan bersamasama. Tetapi si Kabayan sangat patuh akan pesan mertuanya. Ia tidak menghiraukan ajakan orang-orang itu! Menoleh puntidak. Ia berjalan terus. (Rosidi, p. 27)

Kutipan di atas menunjukkan kebodohan si Kabayan, padahal ia bisa makan dengan enak sebelum pulang kembali ke rumah dari perjalanannya seharian di hutan. Karena ingin mematuhi perintah mertuanya yang mengatakan bahwa jika menemukan sesuatu di hutan jangan dihiraukan pergi saja, lalu si Kabayan pun pergi dengan tidak menghiraukan ajakan orang untuk makan bersama. Satu sisi kebodohan tersebut sangat konyol, namun jika ditilik kebodohan tersebut semata-mata terjadi karena sifaf amanah yang sudah ada pada diri si Kabayan. Dalam film Si Kabayan jadi Milyuner sifat bodoh tercermin ketika dengan bodohnya si Kabayan menandatangani surat jual beli tanah, setelah diperdaya oleh cintanya kepada Iteung. Karena cinta yang berlebihan terhadap Iteung membuat si Kabayan terlena sehingga dengan mudah aksi licik Iteung pun dengan mudah membodohi si Kabayan.

Konklusi

Sebagai sebuah penutup, saya akan memaparkan sebuah simpulan yang menjadi temuan yang menarik dalam perbandingan terhadap dongeng dan film tentang si Kabayan ini. Pertama, dari segi tema kedua cerita tentang si Kabayan ini baik dalam dongeng maupun di film sama-sama bertemakan kepatuhan tokoh Kabayan terhadap orang yang dihormatinya. Kedua, dari segi penokohan. Sifat pemalas dan bodoh seolah melekat pada sosok si Kabayan, dan hal tersebut terlihat jelas di kedua cerita ini baik di dongeng maupun filmnya. Alih wahana yang dilakukan oleh Guntur Soeharjanto dalam film Si Kabayan jadi Milyuner semata-mata merupakan langkah nostalgia untuk mengingatkan kembali film yang pernah popular pada masanya yang diadaptasi dari khazanah cerita rakyat Sunda. Tidak ada perubahan yang mendasar dari subtansi isi cerita, hanya dari segi pemeran dan setting disesuaikan dengan konteks jaman sekarang. Beranjak dari kelebihan dan kekurang yang ada pada film ini, setidaknya kita dapat mengambil muatan nilai yang terkandung di dalamnya.

Daftar Pustaka Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sastra Bandingan. Ciputat: editum. Rosidi, Ajip. 2008. Jalan ke Surga atawa Si Kabayan. Bandung: Penerbit Nuansa. Film Si Kabayan Jadi Milyuner. Produksi Starvision, 2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->