P. 1
Otobiografi Ahmad Syafii Maarif

Otobiografi Ahmad Syafii Maarif

|Views: 326|Likes:
Published by Yudhi Akhdiyanie

More info:

Published by: Yudhi Akhdiyanie on May 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/19/2013

pdf

text

original

Sections

  • I. BUMI KELAHIRAN, IBU-BAPAK, dan SAUDARA- SAUDARAKU
  • II. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF
  • III. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN
  • IV. MENITI BIDUK KEHIDUPAN
  • V. MUSIBAH SILIH BERGANTI
  • VI. SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN
  • VII. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN
  • VIII. MASA DEPAN INDONESIA
  • IX. AKHIRNYA

1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

I.

BUMI KELAHIRAN, IBU-BAPAK, dan SAUDARASAUDARAKU

A.

Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad ke19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru

2

setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern, sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus

3

setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan

4

unsur Jawa. Tetapi setelah raja Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagangpedagang Muslim. Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap
Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 17841847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1 2

Ibid., halaman 63 - 64

5

bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur
3 Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya IndonesiaLKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

6

Hindu-Budhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah alMukarramah di Arabia ketika Islam mulai menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan
5

Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.

7

keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh 4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak.O. atau bahkan di . Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini. Apalagi V. Secara kultural. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai). ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman.C. 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602. Tetapi bahwa korban pasti ada. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20. Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban.8 itu. kita tidak tahu. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat.000 jiwa. orang lalu berpindah ke kawasan lain. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. masih galau bagiku.

Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri. parewa ini belum hilang. seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. rasanya cukup punya alasan. bukan kultur otak. maha Pencipta. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. setidak-tidaknya secara statistik. sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. suatu on-going process. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. di sisi meningkatkan kualitas dirinya. Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. peran organisasi kemasyarakatan. Kultur preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot.9 masa Islam sampai hari ini. kata teori antropologi. santun. dan bertanggungjawab. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata . Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka.

Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. Apakah di sekitar tempat ini dahulu . Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya.10 sulit sekali. atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani. Yang pokok bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau. Maninjau. Pelopor utamanya adalah Dr. Itu hanyalah urusan administrasi. jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuantujuan ekonomi. dan diikuti oleh generasi sesudahnya. Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah. Dr. Abdulkarim Amrullah. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. Hamka.R. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi. pada tahun 1925. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. Sutan Mansur. H. dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. Jusuf Amrullah.D. tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. A. Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. (Perang Dunia) II (1939-1945).

dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. tidak dapat diperbarui lagi. sedangkan emas jika sudah habis. amat sulit untuk disimpulkan. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan sejarah masa lampau ini tentang kampungku. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Dari kawasan inilah a. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya. Tentu mereka semua buta huruf Latin.11 terdapat tambang emas.R. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka.l. Mengapa kukatakan mereka buta huruf. semuanya gelap bagiku. ya habis. kemudian ke Eropa. itu berdasarkan alasan yang sederhana saja. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu. Aku menyelesaikan . berupa sebuah S. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan.

teman sekelas di S. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. Pernah juga terjadi sekali-kali perkelahian sesama pelajar. sekolah ini sudah muncul. S. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di mana-mana.D. sewaktu aku masih kecil. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Sumpur Kudus. kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya . Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. Anak Sumpur banyak yang sombong. dan Mangganti. tidak dia dan tidak aku. Silantai. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. Satu nagari saja bisa punya lima S. Umumnya dengan kaki telanjang. terjadi pulalah pemekaran pusat-pusat pendidikan dasar. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan. Dalam soal pendidikan dasar ini. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Dengan perubahan positif ini. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm.). Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. Rasanya tidak ada yang kalah. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah.12 sekolah di sini pada tahun 1947. Sejalan dengan pertambahan penduduk. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh pemerintah kolonial. sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. termasuk aku.D. antar anak Sumpur dan anak Calau.R. Sumpur Kudus ini. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. antar anak Sumpur dan anak Silantai.

dengan Kabun sebagai nagari termuda. Ibid. propinsi. Dari sisi ini. Durian Gadang. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. Biasanya jika ada pembukaan sebuah kampung baru. indeks buku Dobbin hlm. Pada berbagai forum dan kesempatan. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak. aku pun tidak bisa menjelaskan7. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru. kota. kabupaten. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. Dengan bertambahnya jumlah penduduk. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. mekar pulalah nagari. 298. memisah dengan induknya. Mangganti. . dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. rakyat meneroka (babat alas. Kumanis. Siluka. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. Karena 7 8 Lih. dan lainlain.13 makna yang sangat berarti. Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”. Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahuntahun belakangan ini saja diperhatikan. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus. mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian. kecamatan. Unggan. asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh.

2005. 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”. Lih. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru. Jika perpecahan ini yang berlaku. Jakarta: Maarif Institute. Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan. 369 9 . Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya. Tidak dibuat-buat. 369). Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif. 2005. hlm. atau propinsi. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal. kabupaten. kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri. tidak pula untuk mencari posisi duniawi. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik.9 Jakarta: Maarif Institute.14 sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati.). hlm. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke-21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi.

Bagindo Tanomeh. pakaiannya putih necis. Orangnya berkumis. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt. (Tanomeh= sutan emas). Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). Banyak sekali teman sambil bersoraksorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. agak langsing. juga nama kecamatan di era modern. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk. Jangan main-main dengannya. Tranportasi perahu sangat menyenangkan. Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau.15 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. hanya orang kafir yang tidak bersunat. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu. berdenyut sampai ke otak. persis seperti anak-anak kampung yang lain. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. Kata orang kampungku. Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. ketika upacara khitan itu berlangsung. aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik . Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. tinggi sedang. Di kala kecil. rasanya masih perih sekali.

tetapi jauh dari suasana renungan.16 perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh. karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. jika bukan tumpul sama sekali. Ada juga bacaan Arab-Melayu. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S. tetapi aku sudah lupa judulnya. Pulang ke asalnya. Bacaan lain sangat langka. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku. Prosesnya berjalan lamban sekali. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. Bacaanku nol. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul. karena aku tokh bisa berenang. Maklumlah masih dalam usia S. Apa yang mau direnungkan. belum menggeliat. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi. siapa pun dia. berjudul Cahaya. persis seperti manusia. Bagaimana mau menggeliat.R. sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau.R. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. tak seorang pun yang mampu mengelak .

Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang dari pepohonan. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. bersenda gurau. Oleh sebab itu para perusak hutan. Dari tanah kita berasal. dan mencari makan. kera. tupai. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. ke tanah kita pasti akan kembali. tempat burung. sebelum . kabarnya sudah hampir punah. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab. Dan memang tidak perlu mengelak. Kemudian di Muaro Sijunjung. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas.17 dari ketentuan Langit ini. Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang jauh lebih perkasa. Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. saling mendukung. demi upeti. tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. Masing-masing saling memerlukan. hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. dan bermacam jenis makhluk bermain. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan.

Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. Prilakunya mesti dipelajari. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. Jangan main-main dengan air. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota. bahkan peradaban.18 semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk. Tinggallah kesigapan dan kemampuan . Tetapi jika manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. Tidak hanya berhenti di situ. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin. oleh siapa pun. Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan. sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. sawah dan ladang. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. Air sungai ini pun larut menjadi asin. Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun. Manusia dapat kehilangan segala-galanya.

R. sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. sewaktu masih di S. Semakin lama orang berpisah dengannya. Semuanya mengalir begitu saja. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini. Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok. tidak ada kesan yang mendalam. Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. Selama menganggur. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro Sumpu ini.19 manusia untuk menanggulanginya. Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu. Bahkan sudah . bersamaan dengan bergantinya musim. Tidak urut. tidak teratur. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angananganku. Semuanya berlalu begitu saja. puitis sekali. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. bertukarnya tahun. garagara orang menzalimi hutan dan lingkungan. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa. Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. khususnya pada musim hujan. ke rumah adik-adik seayahku.

di mana pula aku dapat uang? . seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim. Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur mati-matian. belum terlalu lama hilangnya. rampok. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. B. Zulfahmi (Emi). Ke mana-mana seekor ayam jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini. Sekiranya pakai taruhan. Fisik pun sudah mulai renta. dan sabung ayam sebagai profesinya. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. penyebar Islam di kampungku. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. yaitu menyabung ayam dengan bertaruh. Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut. asalkan tidak pakai taruhan. Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang.20 berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. pertanda usia sudah semakin mendekati hari-hari terakhir. adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus. aku pun tidak tahu. sampai saat menulis bagian ini.

Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempat- . Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Kita kembali ke Tanah Bato. Tidaklah bernama makan tanpa nasi. Di saat kecilku. Ia menggigit dan terus menggigit. darah siapa pun. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang terletak di seberang Batang Sumpur. sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. Bukankah makan bersama anakanak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku. Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato. sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. Aku kenal sekali dengan binatang ini. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah.21 Ayahku pasti akan marah. si warna merah penghisap darah. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. tidak peduli darah apa pun.

tidak bisa memisahkan mana yang sejarah. tergantung dari sisi mana orang melihatnya. pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah. aku tidak lagi ke sana. mana pula yang berbau syirik. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. untuk tujuan baik tentunya. Menurut cerita Zulfahmi lagi. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka. Bahkan lebih dari itu. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. Karena dia memasuki kawasan hitam. . seperti kuburan. serba puritan. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. sekalipun kadang-kadang merugikan dari sisi sejarah. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato). sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. Dalam kasus semacam ini. Pertanyaannya adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya. Tetapi ada segi buruknya. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh.22 tempat yang dianggap keramat.

Sjamsu Anwar. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. dalam mengembangkan Islam. Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of . Kota Sawahlunto. desa. dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya.23 Tempat ini dulunya dilingkari pohon-pohon tinggi yang rindang. yang lain mungkin makam pembantunya. sejarah nagari Tamparungo. dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. Sanusi Latief. Kota Klaten. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. seperti sejarah Kota Solok. taratak Talao di Calau.J. nagari Unggan. jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. Ini pun sebenarnya tidak aneh. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. jorong. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu. tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. dan Jafri Dt. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini. alangkah bagus dan elok nama itu. Kota Banjarmasin. Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. karena ada sejumlah ribuan nama kota. entah yang ke berapa. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato. sebagaimana A. Kota Semarang. M. Bandaro Lubuk Sati. nagari. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya.

selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. Jika kehendak hati diperturutkan. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya. Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. Umur manusia terbatas. sejarah terbatas. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan. sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. kemampuan juga terbatas. Sekali .24 History. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan. Tetapi setidak-tidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti. yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti. 12 jilid. betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya. Di antara sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh.

Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah. padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak.”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s. ketegangan itu tidak begitu dirasakan. yang menghidupkan bumi setelah mati. merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam.25 cahaya itu padam. 10 11 Makna ayat al-Qur’an s. al-Jatsiyah : 13 . Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. dan pada perkisaran angin. bahkan saling berlawanan. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini. tanpa pilih kasih. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang. parah sekali. setelah itu menghilang tanpa bekas.

Ia sepenuhnya . Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. setelah itu menghadap Allah. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah bata untuk bangunan. pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial.26 Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan. sekiranya mereka punya minat. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. sempit. Atribut serba maha ini bukan milik manusia. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam. bangunan peradaban. dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan. subjektif. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. Dengan kata lain. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. oleh otak jenius sekalipun. Allah maha tahu segala-galanya. dan merasa serba cukup serta bangga diri.

sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ.27 kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. Kanada. McGill. Montreal. Tentang penciptaan Adam. Ditambah 1000 tahun lagi. selain sebagai pusat bisnis.” meninggal dalam usia 27 tahun. lih. serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu. tetapi tidak mungkin kecapaian. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan. Jika kemauan hati tidak dikendalikan. reaksi malaikat dan iblis. al-Qur’an s. Thaha: 115-124. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm. Maka tidaklah heran kita. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. sebagai dosen tamu. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Penyair Chairil Anwar (19221949) yang mau “hidup seribu tahun lagi. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai. al-Baqarah: 30-39 12 . al-A’raf: 11-25. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segala-galanya. s.). Protes malaikat tidak mempan. juga tidak akan cukup. 1993-1994. menteri agama waktu itu. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya.12 Kembali kepada cerita kampungku. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban.

daerah lain kurang lebih sama kondisinya. tetapi hanya sekadar itu. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. yaitu bendi. sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garisgaris nasib yang tidak kukuasai. kuda tunggang. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. batu bersurat. Diperbaiki berulang kali. Bukankah sampai abad ke-18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau. aku sudah lama diberi tahu.28 Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. dan kuda beban. Rasa ingin tahuku selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. perahu. Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan. kecuali dalam bentuk cerita remang-remang di atas yang kudengar sambil lalu. kampungku tetap terpencil. pedati. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan . Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu.

tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Tanpa rantau. 500 per kg. menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. dan terakhir soklat. ranah tidak mungkin berkembang. apalagi untuk pembangunan. Yang aku heran. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung.A. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar 30%. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas. Bahkan P. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. termasuk heran terhadap diri sendiri. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang. samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. Kata orang. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. gambir.D. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. sama dengan ongkos Padang-Jakarta. karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat.29 julukan Makkah Darat itu. Sekali terbuka. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. setelah lebih setengah abad kutinggalkan. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. Hasil-hasil alam seperti karet. . Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak.

khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. politik. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. Mengenang ini semua. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional dan global: agama. tetapi yang . dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. Satu saat. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. dan dunia Muslim pada umumnya. entah kapan. Bukan untuk apa-apa. aku juga seorang kolumnis. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. Pada usiaku menjelang malam. kebudayaan. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. Sekali-sekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti. objektif. sekalipun kondisi alamnya serba sulit.30 Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. Sebagai seorang peminat sejarah. baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. pemikiran.

empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (1821-1837) melawan kaum adat dan Belanda.31 tetap punya ikatan batin dengan kampung halamannya. bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri. Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. sedangkan dua puteranya terbunuh. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam)..cit. yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan senjata. yaitu Rajo Ibadat. sekarang karena pemekaran wilayah. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya. 136-137 . Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat. maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat temanteman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. hlm. Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. tokoh Paderi.13 Sejak itu 13 Dobbin. op. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta. berkedudukan di Sumpur Kudus. berpusat di Lintau.

tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. banyak yang melarat. kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah raja-raja ini. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau. Mereka tak punya kebanggaan apa-apa lagi. itulah profesi kaum arkeolog. Tugasnya menggali dan menggali. Tidak mustahil memang. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak.32 Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan. dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur. jika perlu . karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka. Yang jauh pun dikaji orang. sebuah pekerjaan yang berat sekali. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. Tetapi sebagai bagian dari sejarah. karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari Pagaruyung. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara. apalagi belum terlalu jauh. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa. atau puti bagi perempuan. asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. pelacakan itu memang diperlukan. jika bukan sebuah penyimpangan.

tertinggal. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr.33 sampai ke pitala bumi. Herman Darnel Ibrahim.L. Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen. Sumpur Kudus masih memelihara apa- . Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka. miskin. gelap (bila malam). Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung. direktur produksi dan transmisi P. Ir. tanpa ikatan nasional sama sekali. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920an dan 1940-an. apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif.N. ternyata ada juga segi positifnya. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. disambut dengan tari gelombang segala. yang ada Hindia Belanda. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad. Sebelum itu tidak ada Indonesia. Lengang. menelusuri dan mencari jejakjejak peninggalan manusia purba.

Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan .L. Dari sisi inilah barangkali P. pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. Semoga rakyatnya patuh dan disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku.L. mungkin malah rugi. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu.N. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. C.34 apa yang bercorak Minang. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan.R.D. aliran api ke kampungku tidak menguntungkan. hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat.. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu. Sejak cahaya itu masuk. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku.N. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi. sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari.

kupanggil kaktuo Hima. Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S. jika ingatanku tidak keliru. seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam. tidak ada yang keras atau lembut. Solok Selatan. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang. atau mendung. padahal belum terlalu lama dibangun ayahku. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus.D. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. Bagiku hari itu sama saja. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa. Bagaimana keadaan kampung ini. almarhumah Rahima. (Sekolah Rakyat). panas. Sehari sebelum itu. hujan. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. Menurut cacatan kakak sulungku. aku lahir pada hari Sabtu. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk). diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P. dan di lokasi mana seseorang berada.I.R. Dengan listrik ini.R. tetapi bukan . 31 Mei 1935.35 masyarakat desa. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau. akan kututurkan pada saatnya. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. Asai makhluk kecil dan lembut. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. yaitu tanggal 28 Januari.

bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu.” kata peribahasa Melayu. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. lambat tetapi pasti. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an. dan seperti tak berguna. kecuali kayu besi.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini. jati. Dalam serba kelemahannya itu. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku 14 lih. kayu dibuatnya tak berkutik. sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup merugikan. betapa pun terlihat lemah. tersembunyi kekuatan dahsyat. “di luar tampak rata dan licin. tidak pernah sia-sia. dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 . kecil. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah. “Bak kayu dimakan bubuk. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar. di dalam remuk.36 main ganasnya.

tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu. Dalam ijazah dan riwayat hidupku. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan. sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. lahir dengan bantuan dukun beranak. karena itu yang lebih dulu kuketahui. termasuk aku. kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. masalahnya tentu menjadi lain. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis.37 menemukan catatan ayahku bahwa aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anakanak kampung. Namun bagi diriku. tidak bisa dikejar lagi. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. Kalau ada bedanya. . Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak. Mana yang benar di antara dua catatan itu. karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. Pasti semua anak. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. tetapi semuanya sudah berlalu. aku menggunakan tanggal 31 Mei. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri. setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat.

Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. Untung ada . sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. saudagar gambir. tetapi dicarikan pihak keluarga. Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung. tetapi aku tidak mengenal wajahnya. seperti yang berlaku pada masa modern. Aku tidak mencari jodoh sendiri. tetapi memang itulah aku. Sudah merantau ke mana-mana. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. sementara ibuku Fathiyah. sebab jika tidak. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). mana mungkin ayahku mau mengawininya. batang usiaku sudah berangkat jauh. Dari sisi ini. bini saja harus dicarikan. yaitu 68 tahun 92 hari. Dalam catatan ayahku itu. bahkan kuno. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905.38 sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. aku tidaklah tergolong modern. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. Mungkin saja demikian. terpaut lima tahun usia keduanya. sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900.

Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama ibu. orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup . sebab berkat kemajuan komunikasi dan informasi. t. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. aku tidak bisa mengatakannya.. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. Memang belakangan ini. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. Jarang yang memanggil suaminya uda. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga. Apakah mereka selalu akur saja. dan uni.39 gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. uda. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. Ada yang memanggilnya kaktuo. kakoncu. dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku. onga. karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. tante. udo. Kata-kata om.v. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406). Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. aku pun tidak tahu.

. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. Jika semuanya sudah beruda-uda. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga. ber-om-om. sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. Bahkan tidak jarang berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu. tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa. Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. Kembali kepada lingkungan ayah-ibuku. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. mak oncu. dan kakoncu.40 kota. kakudo. bertante-tante. kakonga. Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. di mana panggilan kaktuo.

kulihat tak seorang pun yang . kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. lahir tahun 1939. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim.41 Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. sebelum Saiful Wahid. Sepengetahuanku. Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri. Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Orang yang menemui ayahku. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. semua orang kampung mengakui. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. Karena ibuku wafat masih muda. Bahwa ayahku cerdas. Alangkah sedihnya. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat. keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. adik sepupuku. Untuk ibuku. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. alangkah pilunya. Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku.

sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak. dana teman-teman itu masih . semoga telah mengenai sasarannya. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting. Seorang lagi.M. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial. tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya. karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U. pendidikan. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa. dan kemanusiaan. tidak saja untuk kampungku. tetapi tidak punya nyali untuk hidup di rantau.S.42 bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung. (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana. bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari. cucu kakakku Nursiah. Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005).P. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong.. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. bertani dan menyadap karet. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya. Aku bersyukur di hari tuaku. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya.U.

bukan kewajiban orang lain. (Sekolah Teknik Menengah). tanpa masa depan yang jelas. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan. yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV Fakultas Hukum pada universitas itu. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama. Tetapi sudahlah.T. Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib. Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. sekalipun modalnya dari S. Bahwa mereka umumnya miskin. seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal. betul. Beranak pinak di situ. biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005.43 tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari.M. tetapi . Namanya Indra Kurniawan. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah. Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya. beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh.

B. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun. . Tetapi aku tidak pernah patah harapan untuk terus belajar. sukuku. bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar. seperti yang bertahun-tahun kualami. kakak beradik). Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asalusul. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa. sementara aku. sekiranya mereka memang punya citacita itu. juga dari suku Caniago. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita. Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan. seperti sering kututurkan setelah dewasa. Aku bangga dengan mereka. demi ilmu.T. Di antara orang kecamatanku. anak-anak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. Jalannya panjang dan berliku-liku. umumnya berhasil menjadi sarjana. Mereka yang tabah dalam penderitaan. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I.44 sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana.

Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. 26 tahun sepeninggal ayahku. ayahku jarang sekali mengeluh. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung. Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu. bahkan tidak jarang harus menggadaikan barang yang ada. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. demi sekolah anak. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. karena . Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. dari menyadab karet. tetapi jumlahnya sangat kecil. Betapa pun berat beban yang dipikul. adalah contoh yang ditinggalkannya. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. tanpa mobilitas menaik. bertukang. Menurut logika biasa. akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini.45 Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas.

Nama-nama yang kusebut ini. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang. sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan. Imam Bonjol. Riau. demi . adalah di antara contoh manusia tabah. Tamparungo.46 memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka. Semula sebagai Kepala Biro A. Unggan. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan.A.I.K. anak Rahima.N. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia. jika bukan mereka yang terdidik. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses pengangkatan Novirman ini berjalan lancar. sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka.U. dan Jambi. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi. kemudian beralih karier sebagai dosen.A. dan Sisawah. Mangganti. tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006). Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras. pada I. lahir batin.

I. tidak dapat ditawar. Ruswandi Aswad.N. orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi. kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak. dosen Fak. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. tetapi belum pernah menetap di Sumpur. seperti layaknya anak kampung yang lain.D. (Angkatan Darat). setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. Painan.. demi cita-cita dan mobilitas sosial.A. ayah dari Tarusan. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk . Dari keluarga isteriku. yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A. Namanya Sabiruddin. Imam Bonjol Padang.47 mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U.D. Dakwah I.R.K. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya. (Universiti Kebangsaan Malaysia).M. pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A. yaitu Mayor dr. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta. dengan ibu Sumpur Kudus. Sekiranya Indonesia tidak merdeka. Oleh sebab itu.

demi lepas dari penjajahan durjana. tabah. akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. otak-otak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan . Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. Nasib seseorang. di samping di tangan Allah. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras. sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya.48 berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa. Setelah dilepas ke gelanggang. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anak-anak bangsa. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. hidup tanpa inisiatif. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya beban derita yang telah mereka tanggungkan.” Sungguh padat dan padu kalimat ini. Benarlah Pembukaan U. dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. sekalipun itu sesuatu yang halal.U.D. Tanpa kemauan keras untuk maju. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu.

. baik di kota mau pun di desa. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan.49 membaca peluang untuk maju. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. aku sering mengunjunginya. sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan menjadi asin. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus. Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. Aku tidak tahu apakah kakak-kakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. membangun rumah di tanah suku isterinya. seperti yang telah kusinggung di muka. Peluang itu tentu tidak selalu datang. apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. Aku tidak tahu mengapa begitu. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. Sekalipun belakangan ini aku kadangkadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana. setelah ayahku mengawini ibuku. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku. sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. lahir di Tepi Balai. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. Di hari tuaku. Boleh jadi.

. sungguh ruwet untuk dipertahankan. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental. tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. Malang bagi yang tidak. Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. bila berlaku perceraian. karena memang tidak praktis. Pencarian apa yang disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini.50 Penyimpangan tentu selalu ada. dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman. anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. Repotnya adalah bila terjadi perceraian. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini. Sekarang di Minangkabau. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Kembali ke masalah rumah. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. Jika rumah orang tua tidak mencukupi. untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. Jika bisa bertahan 5075 tahun sudah cukup bagus. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga.

dan memang harus ditinggalkan. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. Bagiku. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah. Bergantung kepada tanah semata. tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. jangan percaya kepada kegagalan. jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. atau pekarangan. Syaratnya hanya satu. beban melulu. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. Untuk kelangsungan hidupnya. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya . Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan.51 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. kebun. Berpikir terus dan terus berpikir. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. dunia ini akan terasa semakin sempit. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan. Jumlah anggota bertambah terus. ladang. Tanah adalah milik suku atau keluarga. sekalipun pada masa modern ini. jangan menyerah kepada rintangan. risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. dan sulit untuk bernapas lega. Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. Lahan sempit sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak. kolam ikan. jelas tidak memadai.

tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. ranah Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. Setelah proklamasi kemerdekaan. Ranah dan rantau saling melengkapi. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang. kawin lintas suku itu alamiah belaka. Sebagian besar “merantau Cina”. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. Tanpa rantau. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau.52 untuk tidak menyerah kepada rintangan. tidak kembali ke kampung secara permanen. sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan. sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat. . Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak. baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik.

si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya. merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang.” Dengan berpegang kepada filosofi ini. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru. Secara filosofis. seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari. dan .53 semuanya telah mencair dan berganti. orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah. pengguna harta pusaka. Jika semuanya merantau. sekalipun bukan tanpa gesekan. demokratik. dan pewaris adat Minang. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam. penyandang gelar suku. Dalam masalah dasar ini. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. Dalam perspektif ini. tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacara-upacara tertentu. tidak saja terkurung dalam kategori pengecut. tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Bagiku tidak ada masalah. apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. berani. tidak mungkin netral. aku jelas seorang yang berpihak.

Halim. Suliki. tidak betah lama-lama tinggal di kampung. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau. mungkin seperasaan denganku. ranah Minang itu bak sri-gunung. sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual. bahwa dalam beberapa hal. dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru. potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang. memang adalah sebuah kenyataan. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau. Natsir. Hamka. Hatta. Namun orang juga harus jujur. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang. setelah didekati terlihat banyak boroknya. intelektual.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto. tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau. Isa Anshary. Rusjad Nurdin. tetapi kebanggaan . Sjahrir.54 egalitarian. Assaat. dikungkung oleh alam Minang yang sempit. Sjabilal Rasjad. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Sumatera Barat. Bahder Djohan. adalah Minang belaka. khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsurunsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang. Tokohtokoh seperti Agus Salim. Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman. jauh terlihat cantik. dan ekonomi.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masing-masing.

Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. bupati. nagari. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. 2005. seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. semua orang setaraf dan sederajat. Kalau ada yang lebih. camat. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka.55 mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. dan lain-lain. tetapi mungkin sudah tak . Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. itu semata-mata karena capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. wali kota. etekku. di mana penguasa sajalah yang benar-benar merdeka.” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. juga rumah untuk adiknya Bainah. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. Ayahku telah membangun beberapa rumah. masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. tak lapuk karena hujan. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu. Selain rumah tempat kelahiranku ini. Memang kantor gubernur. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. rumah kakakku itu masih berdiri.

kecuali kabarnya digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan.I. Ada yang masih bertahan. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah. kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P. alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik. Kedatangan tokoh-tokoh P. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana.D.I. tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia. Sekalipun tersuruk.R. pedagang gambir terkenal. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern.R. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang. Aku bayangkan. anak.D. demi membela kemerdekaan.R.D.56 layak huni. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk.I. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai . disambut hangat oleh orang kampungku. dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. itu yang memang tinggal di rumah ayahku.

Setelah pengakuan kedaulatan. seperti jalan yang beraspal dan listrik. sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. juga dibuatkan rumah oleh ayahku. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi. dan komoditas lain. berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Kembali kepada ibuku. Revolusi banyak membawa bencana dan korban. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern. tetapi semuanya sudah hancur. ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau. terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung. ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. kerbau. sapi. Jasadnya . Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua.57 1949 di samping uang.

tanah sebagai asalmuasalnya. bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. paman-paman. Nursahih. dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku.58 telah luluh menyatu dengan tanah. yaitu tiga orang kakakku. sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia sekitar 10 tahun. sebab mereka cukup lama hidup bersama. Alangkah bahagianya sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. dan seperti apa pula ketika dia menggendong anak-anaknya. Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005. Mengapa sewaktu ayah. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. kakak-kakakku. yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya. Rahima. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama. Kepada kakakku . Dan jelas tak seorang pun. seperti apa senyumnya. termasuk aku dan keluargaku. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin. dan pamanpamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman. aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu. lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku.

Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan. Zainal dan adik-adiknya betul-betul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti. sebab rahasianya bukan di tangan manusia. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku. Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal. tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang. . kita hanya bisa mengira-ngira. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. jangankan dokter. orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. tidak lebih dari itu. Pada masa itu. menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku.59 Nursahih yang dekat denganku. aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit.

Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid. menurut pemahamanku. syarifah. sultan. ekonomi.60 sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabadabad. atau bahkan keturunan nabi. jika anda mau mengatakannya demikian. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. hulubalang. dan 1001 gelar lain. kultur. Posisi . yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya. Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Mereka yang mendewakan keturunan raja. habib. sejarah. Bagiku gelar-gelar sayid.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini. karena mengabaikan filsafat sebagai metode berpikir kritikal. atau keturunan raja. terbuka bagi seluruh orang beriman. ulama. amir. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. yang mengaku keturunan nabi. dan rasional. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. dan apa pun. radikal. menjadi budak spiritual. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja. wali. Untuk merebut posisi taqwa. akan runtuh berkeping-keping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa.

berkumis agak tebal. di tempat ibu tiriku mak Maran. tinggi sedang. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. tempat pendidikanku yang terakhir. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. dan bila berjalan melenggok. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. ibu tiriku yang lain. tidak oleh yang lain. karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar al-Qur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago.61 seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. Dengan paradigma semacam ini. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. Atas . di tanah persukuan orang Melayu. kemudian etek Lamsiah. Makamnya terdapat di Tapi Selo. sekalipun sudah menua. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. kulit agak hitam. Wajahnya bersih. Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. kualitas iman dan amalnya. sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad. bukan hanya karena keturunan. Kebiasaannya pakai kopiah sutera hitam.

Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama. nagari tetangga Sumpurkudus. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. Ayah dan ibuku. suku ayahku. kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. pamanku. Adiknya yang lain A. beristirahatlah di sana. dalam umur yang setua ini. salah seorang dipanggil Ani. khususnya dengan ibuku. anak bungsumu ini rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. di alam yang lain sama sekali. Pada saat-saat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an. Setelah ibu-ayahku pergi. yang kata orang rupanya mirip ibuku. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. lain ayah dengan ibuku. Aku memanggilnya ande . sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. Wahid. Entah ayahbundaku. aku pun tidak tahu. Sayang aku lupa namanya. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. entah di bumi mana. dan tidak jarang aku menangis sendirian. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana.62 saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu. sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil.

Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku.63 Ani. Pada saat wafatnya. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. Semuanya sudah tiada. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. Baili. Nurbahri. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke mana-mana. sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit. . Oncu Naksan amat menyayangiku. Karena tidak bergaul sejak dari kecil. dan Ahmad. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. Mattudin Rauf. baik laki-laki atau pun perempuan. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Karimah. Siti Dariyah. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. kontak psikologisku dengan saudara-saudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. Yang masih hidup tinggal satu. Saidina Hasan. tetapi punya dua keturunan perempuan. Bainah. Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat. dan Jiwahur (wafat waktu kecil). Beberapa tahun yang lalu. sementara dua adik laki-lakinya yang kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. merangkap dukun.

jumlahnya aku tidak tahu. dari suku Domo. hubunganku cukup dekat. Aku memanggilnya uwo. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Lebih dari itu. ayam. Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. ular. Orang tua ayahku Abd. Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat). Sampai tua uwo . Matanya tajam menembus. Mangsanya tidak hanya ikan. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. Pak enek Wahab hampir seumur denganku. dan A. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. tikus.64 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang. dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. gelar Manti Besar. Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. Ayahku sangat menghormati ibunya. Raadin. Wahab. Rauf (dipanggil Badurau). Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam.

Mungkin karena ibuku wafat muda. Sekiranya itu aku lakukan. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. / S.65 Bailam di bawah tanggungan ayahku. seorang guru S. Suami Rahima. Nalam (alumnus Normaal School). yang pandai berbahasa Belanda. adalah salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku. Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung). begitu juga dengan abangku Nursahih. tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku. Oleh sebab itu. M. Yang aku sedikit menyesal. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. seperti telah kusinggung. hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku.D. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain.R. . Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah. watak dan sifat-sifatnya bagaimana. di samping membantu adik-adiknya. Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. sukuku sendiri.

bertebaran di seluruh nusantara. dan Surakarta.Y.I. aku pun tidak tahu. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta. Dari kampus I.-I. Dengan kakakkakak perempuanku. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan. antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun.I.P. Antara Rahima dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi . dan Malaysia.I. dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun.S. hubungan itu terasa biasa saja. khususnya Sumatera. dan menetap di kota ini sampai saat tua. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982. Lombok.66 kupanggil onga Sahih. Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb). apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masing-masing. U. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugastugas kemasyarakatanku telah usai.N. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi.K.P.K.K. (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. Aku sudah sulit mengenal mereka semua. Jawa. Ohio University (Athens). Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F.

aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. membaca. aku juga gemar memuja kampungku. kadang-kadang juga tidak jelas benar. yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. tak seorang pun yang dapat menentukan. . dan ikannya tidak pernah jinak. Bahwa aku seorang pekerja keras. semuanya itu adalah rahasia Allah. alamiah. majalah. kecuali yang sakit atau pingsan.67 kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. dan ikannya jinak. kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. Dalam kamar inilah aku menulis. sekalipun penduduknya serba sederhana. pasirnya putih. dan merenung. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. mungkin banyak orang yang sudah tahu. Di kala kecil. semuanya serba dilebihlebihkan. dan banyak yang miskin. karena sempitnya ruangan yang tersedia. sumber penghidupan para petani yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran. Apa yang direnungkan. Banyak dokumen yang tidak berguna. karena memang di situ duniaku. Pun di mana aku akan berkubur. Sungai ini tak pernah kering. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). semuanya serba dielokkan. Sesaat setelah ibuku wafat. Semboyanku sederhana saja.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga. tebingnya landai. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. dan dokumen yang tak sempat kuatur.

68 Sampai setua ini. ande Karang. Selagi sehat kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya. ibunda Sanusi Latief. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. Saat sering pulang. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). membantunya dalam batas-batas kemampuanku. masyarakat dapat memakluminya. kakak sesukuku di kampung. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. kemudian menjadi kakak iparku. tidak lebih dari itu. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus. Selain ibuku yang sering menunggang kuda. mak Rasia. dan tentu mengotori lingkungan. berasap. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. aku masih sering berkunjung ke kampung. Terasa teramat dalam dan tulus. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. . adalah mak Sarialam. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. ande Lia. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. seorang perempuan kaya di kampungku.

69 Aku bayangkan betapa gagahnya perempuanperempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. petai. dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. berangkat hari Senen. yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. karet. durian. Kembali kepada perempuan dan kuda. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini. terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten. Mereka menunggang kuda dengan jarak sekitar 60 km. Mengapa mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main. Payakumbuh. kaum perempuan . Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. Di Minang. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. seperti dari Tanah Datar. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. Juga pasar kera dan beruk. Di sana terdapat pula pasar ternak. dengan syarat disediakan makanan bergizi. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. dan hasil hutan lainnya. seperti telor dan tebu. kembali hari Rabu. dan lainlain. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. mangga.

bensin. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. terutama untuk menarik delman (bendi). orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. Fathiyah. Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin. matahari sudah tidak akan bersinar lagi. Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban. kebiasaan perempuan naik kuda. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan.70 melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. . tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. tetapi kebiasaan menunggang kuda. setelah ada mobil. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. Di sebuah nagari yang tersuruk. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. Tetapi iman menyebutkan. karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. Dengan budaya naik kuda. dan solar. Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. dipanggil Patiah. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan. tak seorang pun yang bisa mengatakan. Entah untuk berapa miliar tahun lagi. bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan.

khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku. Aku bangga memang dengan si bagak ini. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. Seingatku. yang kemudian kawin dengan pamanku A. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat. Wahid. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. sapi putih yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan.71 Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. aku juga membantu bekerja di sawah. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. . Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. jika pulang kampung. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku. Bersama paman dan bibiku. Sebelum aku pergi merantau. adik ayahku. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan pamanku. adik ibuku seibu. adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya. Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga. Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah.

Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadang-kadang menggelikan. Aku dan . tak diraskan ketika itu. Tak lama kemudian kami jemput lagi. sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik. Jelas saja Husin menangis sejadi-jadinya. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup. Tidak saja bersianyut. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km. menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban.72 Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam. Orang kampung yang tak pandai berenang. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. Namanya Husin yang tak pandai berenang. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. warnanya keruh kemerah-merahan. tanpa anganangan yang membubung ke langit tinggi. Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami. apalagi laki-laki. lalu ditinggal di seberang sana. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadang-kadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. juga memerlukan kepandaian berenang.

Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan. ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga.” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang. dengan segala tantangan dan risikonya. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul. tak pernah terkalahkan. tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat.73 teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya. Cukup berat batinku dibuatnya. entah di mana. apalagi hewan itu bagak sekali. Mungkin aku . Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih. memandang hidup ini dari sisi negatif melulu. Bagiku. dan sering menggerutu. sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau. Seorang yang tungkainya gagah perkasa. aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Alangkah kagetnya aku kemudian. Kembali ke sapi. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. Islam menyatakan “ya” terhadap hidup. jika hal itu boleh digunakan di sini. merengek. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. aku pun tidak tahu. tetapi semangat hidupnya lembek. biasanya tak pernah berjaya. Andaikata engkau mengerti. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa).

Nietzsche. dan Armayulis. Amrina. 2006) berjumlah sembilan: Safinar. di samping bertani juga berdagang gambir dan karet. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Yusnaini. Kondisi nagari ini. punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. Seluruhnya sudah berkeluarga. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima.74 dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. Rajo Malayu. Syukri. Sumatera Barat. jangankan punya cucu. tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang. Agustar. Jawa Barat. Aurina Radiati. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku. Asnarti. Penduduknya umumnya bertani. tersuruk. 30 km dari jalan raya. filosuf Jerman. sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup). Nursiah.” Iqbal sampai batasbatas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh juga oleh sebagian gagasan F. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo. Nursahih. sebagaimana telah kusebut . Nurhayati. sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. apalagi usia ibuku. dan aku). Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi. sangat sederhana. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. 244 meter di atas permukaan laut. bahkan sebagian sudah punya cucu. Adik-adikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. yang kontroversial itu. kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus.

tidak ada angan-angan untuk jadi apa atau siapa.K. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya.K. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu.75 sebelumnya. baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (1966-1998) yang berlanjut sampai sekarang. aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A.K. Sudah merasa dihargai orang banyak. adik . Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung. Andaikan itu terjadi. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945.R. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. karena memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih. Rahman Gafur (guru S. boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya. Budaya P. pengaruh kota belum menjalar ke kampungku. sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah.).K. Semasa kecilku. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari. Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. nagari. sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. rasanya sudah luar biasa.K. karena televisi saat itu belum lagi ada.K. karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan). P.

dan gembala sapi. Tetapi ungkapan “gedebak-gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. Kab. Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung. Di tempat baru ini. .” Sebagai pengagum pidato orang. menembak burung dengan senapan angin milik abangku. tidak banyak yang menjadi beban.R. membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. Dasar anak kampung. mengadu ayam. kelahiran Calau lagi. Wahab. mengadu sapi. salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. seperti telah disinggung di atas.D. tetapi cita-cita untuk jadi D. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Itu terjadi antara tahun 1947-1950. sudah tentu wawasanku sudah semakin luas. adik bungsu ayahku lain ibu. mengail. menjala. sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu.P. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebak-gedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia.76 Muchtar Gafur. sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda. kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku.

semuanya di kota Bandung. jauh sepeninggal ayah kami. Tempat tinggalku di Lintau berpindah-pindah. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu. Belakangan ini adik-adik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya. Ada yang jadi dokter. kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Sekiranya kami semua masih . Dua dari adik Lintauku. saja sudah sangat dihormati. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan S. hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab.A. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur. aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. di Tapi Selo. Jangankan terbayang. insinyur. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya. jauh melebihi orang tuanya sendiri. Pernah juga di rumah etek Lamsiah. baru Syafril (alm. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana. Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya. Di antara adik-adikku. tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin.M.77 sarjana tidak terbayang sama sekali.A. Sesekali kami masih saling mengunjungi.M. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masing-masing. sebuah sikap yang patut dipuji.. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S. karena populasinya masih sangat langka.

aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah. nama- .R. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman. dalam waktu yang bersamaan. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali. salah seorang dari nagari Sisawah. Atau tidak akan bergerak ke mana pun. tetapi tidak punya keturunan. tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah. aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. sulit untuk dikatakan. pengetahuannya di atas rata-rata orang kampung. sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain. buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Setelah wafat. lima tahun. setahun setelah ibuku wafat. berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus. tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. ayahku cukup disegani masyarakat. Sekiranya masih tersimpan dengan baik. tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. Seingatku. Allah mengatur semuanya ini. karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu. tidak lebih dari itu.78 “terbenam” di Calau. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang. ayahku pernah hidup bersama tiga isteri. yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938. Sebagai kepala suku Malayu. tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya.

Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15. saling menarik rambut. ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini. Tanpa bimbinganMu ya Allah. Di antara 15 bersaudara. Jangan Engkau . Amerika Serikat. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau kecamatan. Semua anaknya dirawat. Arwah ayahbundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat. aku lebih daripada bersyukur. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anakanaknya. Sampai saat ibuku wafat pada 1937. ayahku tidak menambah isterinya. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi. tetapi tidak bertahan lama. lalu beranak pinak di sekitar itu. karena pendidikanku sampai tuntas. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku. atau S.D. sebagian sudah wafat.D. sekalipun hanya sampai S. dari Universitas Chicago (1983).M. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana.79 nama yang telah kusebut di atas.R. yaitu aku. S. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu.P. celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali. Ph. Tentu ketika saling menarik rambut itu. (Syafril). dan dididiknya.. Demi menenggang perasaan ibuku. Sepengahuanku. dibesarkan. cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. Sewaktu ibuku masih hidup. dan madrasah Muallimin. mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa. Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. Kariman.

dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern . seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi. Tidak berbeda dengan ayahku. Sebagian lakilaki orang kampungku bila sudah bercerai. Aspal sudah. anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. pamanku Mattudin. kecuali dengan diesel. Di usia lanjutku. desa tertinggal. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawin-cerai sebagai suatu yang enteng saja.80 biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. juga ada yang berpoligami. Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. tanpa batas. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang. Yang tidak masuk akal adalah. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri. Sebuah tabiat yang buruk sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab. ni’matMu yang tanpa putus. tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya. Sumpur Kudus. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. Aku heran. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa.

Di antara pejabat P. mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat. 4. 3 miyar. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa . pusat yang paling berjasa adalah Dr. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005. kemudian membengkak menjadi Rp. Bahkan Bung Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu. kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro.P. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. Muhammadiyah (periode 1998-2005). Aku senantiasa berharap pada waktu itu. Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. Muhammadiyah Jakarta. mantan menteri era reformasi. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung. Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah.81 dengan aspal dan listrik. akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. sahabat kakakku Nursahih. sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol. Herman Darnel Ibrahim.P.L. salah seorang direktur.3 milyar. aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S. yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi.R. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P.N. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu.

Kadangkadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. semuanya tidak teratur. seperti orang membawa lampu minyak tanah saja.82 ke kampung. Pada masa revolusi. sampai-sampai merotasikan letak celananya. tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi). tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan. Aneh memang. tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun.R. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. maka pendidikan S. namun proses belajar-mengajar tetap berlangsung. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. Guruguru pun tidak pernah lengkap. semuanya berantakan. bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah . Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa.R. Seharusnya aku baru tamat pada 1948. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung. Alangkah hinanya. Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak-anak kampung. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an.

Nalam (suami Rahima. jam 6. Mattudin Rauf (adik ayahku. Muchtar Gafur. Kecuali Kahar. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. Dari famili senenek pihak ibu. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). Rivai Dt. Suki Khatib Rajo. Wahid. Terasa sekali bahwa pada masa-masa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. Tari. tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian. saling berebut . Rusjid. wafat pada 3 Jan. A. Zulkifli Mahmud. juga berjasa dalam mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Syamsuar. Maangkat. tokoh Muhammadiyah dari Lintau. aku tidak tahu.83 Sumpur Kudus. Rajolelo. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral. M. Tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik. sebagian pendukung Muhammadiyah. M. A. Makkah. Mengapa demikian. Rajo M. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. Sutan Bachtiar. sebagian besar pendukung Perti. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. wafat pada 2 Mei 2004. Latief Dt. Wahid. pamanku. Rajo Malayu. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. seperti telah disinggung di muka. dan Kahar.

Sisawah. permulaan puasa dan hari raya. dan yang sebangsa itu. Mangganti. ushalli. ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. Palingpaling berdebat tentang persoalan khilafiah. Tanjung Bonai Aur. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. Nagari-nagari yang lain: Unggan. Ya. anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. Namun sejak tahun 2000. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam nonmazhab ini. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. Dalam perjalanan waktu. tetapi kemudian diam-diam diikuti. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. dan masalah kenduri orang mati.84 pengaruh. telah dilawan dan dimusuhi. dan Kumanis. soal qunut subuh. Sudah tentu aku bangga mengikuti perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P. Tamparungo. rakaat tarawih. Muhammadiyah. antipati. hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus.P. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan .

85 dihabiskan untuk masalah khilafiah.R. Melalui metode dan pendekatan model ini. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun . Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. prilaku hidup yang jujur. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur. khususnya setelah aku belajar di Chicago. sekalipun bukan tujuan. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif. Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. Suatu metode da’wah yang menguras tenaga. penyantunan. penyadaran. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting. bersih. hubungan antar tauhid dan keadilan. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. lambat atau cepat. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S. dan pencerahan. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan. dan prinsip egalitarian. konsep persaudaraan universal sesama Muslim dan antar Muslim dan non-Muslim.

Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku. aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. tanpa bumbu masak yang aneh-aneh. Bagi sementara orang. karena memang aku orang desa. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan. Betul. Bahkan lebih jauh dari itu. Jika pulang bersama keluarga. cara hidupku ini terlalu bersifat desa. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. asal tidak untuk perjalanan yang terlalu jauh. tanpa ajinomoto. sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku. . sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. Dalam budaya hidup mandiri ini.86 sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. aku sering minta diajari isteriku. tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. Jika pulang kampung. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. jika isteriku tidak ada di rumah. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan. karena itulah aku. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman.

dan sebaliknya. salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. Lintau. dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. Seorang tokoh Chairul Saleh. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. berasal dari Lubuk Jantan. Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah. Tetapi dari tuturan sejarah. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. Kemudian pusat itu berpindah. . Rajo Alam di Pagarruyung. yaitu sekitar 48 km. Rajo Adat di Buo. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. maka Sumpur Kudus ditinggalkan. dan lain-lain. berjalan kaki pun mungkin. orang penting pada era Bung Karno.87 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain. kopi. Jadi jika aku belajar ke sana. dan lokasinya pun mudah dicapai. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku. Lintau jauh lebih maju. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. di samping pusat perdagangan emas. Bila terpaksa. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km. Pertama. dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin. memang sudah sepantasnya. Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat. sekalipun tidak selalu. dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo.

Ketiga. Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk. Nawadir Makkah. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Damhuri Gafur. Enam teman ini setahun di atasku. Kedua. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua. Sjafril Tahar. aku diturunkan menjadi nomor enam. keduanya dari Sumpur Kudus. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya . Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus.R. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. aku semula meraih ranking nomor lima.88 Jika rata-rata 5 km per jam. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S. Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. Namun karena berasal dari desa terpencil. aku terpaksa diterima juga. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. tetapi harus melalui ujian masuk. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu.-ku sama sekali tidak memadai. Ismael Rusyid. Sjamsu Kamar.

murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu. Pada saat-saat menjelang ujian. Indonesia sudah merdeka? Keempat. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. gara-gara revolusi kemerdekaan. Tidak dapat ranking pun. apakah pada 17 Agustus 1945. . kecuali ujian terakhir kelas tiga. Mungkin jika tidak naik kelas. Pada ujian penghabisan. Perasaanku ketika itu.A. orang kampung bisa naik sepeda. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi. tetapi bangganya bukan main. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah. aku gembira. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini. Payakumbuh. diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi. Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. tentu aku akan merasa malu. demi menjaga mutu. Dalam keadaan normal.89 mendapat nomor dua. Selain ujian sekolah. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. bertempat di Bunian. semula terlupa tidak dimasukkan. atau yang sederajat. Bayangkan. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah.M.

Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. di dalam hutan yang jauh sekalipun. aku tak mungkin mengembara begini jauh. Indomadjo. tempatku belajar selama tiga tahun. Adapun kampungku demikian sunyinya. populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. kadang-kadang di kala malam. Kelima. Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau. sekalipun sewaktu mengganas. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt. Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. Akibat menghilangnya harimau ini. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai. orang kampung pernah diterkamnya. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. guru . Tanpa didikan mereka. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt. Dengan cara ini.90 Rancak (bagus). Kini sebagian besar mereka telah tiada. Pada saat tulisan ini dibuat. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni.

belanja dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan. Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. berlaku perkisaran secara mendasar. selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari. Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau. Keenam. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. Sanusi kelahiran . sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku. tiga pelajaran yang sangat kugemari. sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai.91 Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang). Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau. Sanusi Latief. Dt. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus.

Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. pada waktu itu belum dibayangkan. . Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. entah untuk berapa lama. A. mungkin karena mengingat biaya. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. Akhirnya dia berjaya.92 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. tetapi penting bagi pembentukan karakter. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF M. Pokoknya melangkah dan terus melangkah. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban. Untuk selanjutnya. Di Jogja untuk mempertahankan hidup. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. II. demi ilmu pengetahuan.

Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. apalagi ke tanah Jawa. seperti telah kusinggung di atas. berkat Sanusi Latief. Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. dan memancing. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau. milik kakakku.93 Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung. sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. Tanpa Sanusi Latief. Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampur-aduk. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. Tanpa Sanusi Latief. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami . aku barangkali akan tetap sibuk dengan senapan angin. Aku tidak akan ke mana-mana. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. tibalah kami di kota tujuan. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-lautdarat. menjala.

sementara aku cukup tidur di atas tikar. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apa-apa untuk masuk ke kelas empat. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. kasur saja harus diangkut dari kampung. Di antara yang berempat itu. . Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. sisa zaman Belanda. karena di kampung pun aku tidur tanpa kasur. Azra’i dan Suwardi. Coba bayangkan pada waktu itu. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. membawa kasur dari kampung. oleh karena itu perlu disantuni. Sekiranya aku ditolak masuk.94 berpisah tempat. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno. Di dek kapal kasur itu dipakainya. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. Kami masak bersama secara bergantian. Sampai di Jogja. sekalipun tidak kemenakan kandung. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. Bahkan tidak jarang aku tidur di selasela goni gambir milik ayahku. tentu kisah hidupku akan berbeda dengan apa yang aku jalani kemudian. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. jika tak salah. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. jalan ke Mangganti. kemenakan ayahku dari suku Melayu. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal.

Jadi bangku tidak tersedia untukku. jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini. Akibatnya aku harus menganggur. tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena katanya kualitas tidak sama. dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. termasuk . Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. Pertama. Kita boleh saja berandai-andai. karena gedung baru di Jl. Namun aku tetap bersyukur. karena memang tidak terjadi. Tamansari No. Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. Kedua. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. kelas empat sudah penuh. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti. tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. sampai saat tuaku ini. tetapi di sini tak perlu diteruskan. apalagi sesama Muhammadiyah. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini.95 entah bagaimana jadinya. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat .

teori dan praktik. Ngabean (sekarang Jl. sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir.P. dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti sekolah montir di Jl.M.96 goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. swasta juga tidak betah lama di sana. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. sekalipun dengan perasaan terhina.M. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Setelah sekian bulan belajar montir. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. aku lulus. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu.A. masuk S. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada. Azra’i yang semula masuk S. Ahmad Dahlan). Muhammadiyah dan terus ke S. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai. Tidak peduli berhadapan dengan siapa. kembali mengikuti irama hidup secara kampung. Dalam keadaan seperti itu. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. Lalu pulang ke kampung. Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. Suwardi pindah ke Unggan . Adapun Suwardi bernasib lebih baik.P. Muhammadiyah.M.

Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi. Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang. meniti titian nasib masing-masing. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. ayah kandung Sanusi Latief. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai. Luar biasa aku menyukainya. kesukaan kepada bakmi tetap berlanjut. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. Azra’i kini bergelar Dt.97 mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu. sekitar 1 km dari Calau. tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. sesuatu yang harus diterima apa adanya. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. paman kandung Azra’i. jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. Suka dan duka terekam dalam memori itu. gelar yang dulu disandang oleh A. Tak terasa. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta. tetapi jalan hidupnya berbeda. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. Latief. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? .

semuanya ini lumrah belaka. pada hari pertama aku masuk kelas. semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. Kembali kepada masalah sekolah. guru ini bahkan menancapkan pisau ke . sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah. cukup bergairah dalam masalah ini. tidak perlu dijadikan gesekan. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali. Bagiku. Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu.98 Masih tentang bakmi. kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. Nurkhalifah. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. Tidak jarang. aku bisa mengikuti pelajaran. perbedaan itu sering mengemuka. Dengan perasaan yang serba bercampur. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. kalau tak salah. ibunya. dia mengajakku berdebat dalam soal politik. Bukan saja dalam selera makan. juga tidak jarang dalam selera politik. Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat. Tidak sekadar marah.

semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. Djindar Tamimy.P. juga pernah belajar di Mu’allimin. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P. Untunglah di kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. Melihat panorama ini. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8. tetapi tidak jadi rampung. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. memang tidak pernah sangat tinggi. Aljabar. sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh. sekalipun diawali dengan tancapan pisau. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja. Tetapi A. Muhammadiyah barulah aku.. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini. 7. kemudian .99 punggung meja dengan tangan bergetar. yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja. Sebab jika dia tetap mengajar. aku cukup ngeri.P. Tanpa tancapan pisau ini. Ilmu Ukur. dan kami harus mendengarnya. Bila semuanya ini kukenang kemudian. Sampai tahun 2005. aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung. Tetapi betapa pun jua. dan 6. 7. Nilaiku dalam Ilmu Hitung. dan Ilmu Alam.R. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo. Dengan tancapan pisau di meja. sekalipun belum tentu menarik. pernah menjadi wakil ketua. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas.

dan masih banyak yang lain. Wiludjeng (Bahasa Inggris).100 malah terpilih menjadi Ketua P. Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir). Ternyata paham agamanya kuno. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak. Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris). Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah). Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. masih sangat muda. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini. Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Rowijan (Aljabar). Mohammad Mawardi (Ilmu Guru). aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun.H. Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni. Sudiro (Ilmu Alam). Beberapa nama perlu kusebut di sini: K. Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. K.H. tamatan Mekkah. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh). Muhammad Djamil (Ilmu Hayat). Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. Balija Umar (Musthallah Hadits). Fakih (Bahasa Arab). Muhammad Thajib namanya.P. . Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. tak terekam dengan baik dalam ingatanku. setelah aku berpisah dengannya sejak 1953.

sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah. Kadang-kadang sangat keras. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman. di sisi sifatnya yang penyabar.101 Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. tak peduli dengan siapa pun. Terjadilah perdebatan berkalikali dengan guru ini. yang aku . Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung.W.Hassan dalam buku soaljawabnya yang sangat kusukai. Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja. Sewaktu berdebat. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. A. Aku amat berutang budi kepadanya. Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala. sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana. Pak Djazarie. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A. tetapi sopan dalam pembawaan. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H. suka berdebat. sekalipun kadangkadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat.

Kalau tidak khilaf.W. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet. pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H.M. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya.M. sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai.I. gembiraku luar biasa.K. Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P. Itulah sebabnya . setelah tamat sekolah. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis. apa bukan hebat.102 banggakan itu. Begitulah perasaanku ketika itu. sekalipun pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Muhammadiyah (1998-2005).P. tetapi pasti yang harga murah.M. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). milik dan suara resmi Partai Masyumi. Tulisan itu baru dimuat pada 1957. Tulisantulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan anti-P.P. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin. Bengkulu Utara. Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader. Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini. Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis.

karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin. Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. dalam dan luar negeri. Tetapi pada tataran moral politik. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. sebab ibuayahku jelas tidak pernah menyusun karangan.103 bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah . sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. aku sudah turut kampanye Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum. Pada usia senja menjelang malam ini. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. Mungkin bukan dari siapa-siapa. aku tetap saja menulis dan menulis.

125. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau. Faried Ali. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. tetapi karena sudah ditinggal orang tua. anak sulung dari etek Lamsiah. Fotoku yang . Syafril Maarif. Sewaktu ayahku wafat. 175 per bulan. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H.104 terpampang di pelupuk mata. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. Muhammad. B. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya. karena tanggungannya yang juga cukup berat. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. Terimakasih Muallimin. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. Penulis R. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing-masing. madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. jauh dari diriku. Mawardi dan Penulis Moh. Djazarie. Aku masih ingat betul. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi.

Sekiranya itu aku lakukan. tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. air mataku meluncur tak tertahankan. aku tidak paham apa makna kematian itu. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek. Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. Setiap mengingat sosok ayahku. Bila peristiwa perih ini kukenang. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat. tanpa payung pelindung. Semuanya berantakan. Ayah. ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. batinku benarbenar remuk dan tercabik-cabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. aku tak ingat lagi. Jika sewaktu ibuku wafat. di samping tidak ada biaya untuk itu. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana. apalagi itu berlaku jauh dari diriku. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya. semuanya mengalir begitu saja. tampaknya seperti baju kaos.105 tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. seperti umumnya orang kampungku. kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Mengapa batinku begitu remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga. sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya . kecuali dalam do’a.

Sekiranya niat itu dapat diwujudkan.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin. sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun.106 meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. Mendengar ini. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecilkecilan. karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat. bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja. setidaktidaknya untuk Sumpur Kudus. mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selamalamanya. tetapi aku juga tidak pernah dimanja. aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. kembali ke nagari asalnya. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan. tempatku dididik oleh Muhammadiyah. Kemudian jauh sepeninggal ayahku. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar . Hubungan abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali. jiwaku bergetar lagi.

pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa.” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. tebingnya landai. seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api. Solok. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. kereta api. Bagi orang kampungku. sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan. sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa. ikannya jinak.107 Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. menginap di hotel. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air. Jangankan berlayar ke Jawa. pasirnya putih. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku. khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. Banyak di antara mereka yang berhasil secara . Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. aku berkunjung ke Padang saja misalnya. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia. dan yang sebangsa itu. tetapi mereka tidak pernah jera. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang. Tentu saja cerita-cerita sepele. dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini.

Masih segar dalam ingatanku. Ahli debat yang cukup dikenal. sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. berangkatlah aku ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun.108 finansial. Lombok Timur. Alangkah baiknya orang tua itu. Harist. sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya. pada hari raya ‘Idul Fithri. Alangkah mulia hatinya. Dengan bekal pas-pasan. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. Konsul itu adalah H. Pringgabaya. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan. Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN A. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun. tamatan Darul Hadist Mekkah. aku kini menuju Lombok. Pak Djazarie turut mengantarkanku. Lintau) dan aku. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. III. Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja. menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat. Paham agamanya modern. datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan. sebuah pulau yang belum .

Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Selama menginap di rumahnya. Pokoknya tidak banyak. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram. padahal bekal perjalananku sedikit sekali. karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. aku tak ingat berapa jumlahnya. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. aku bebas makan dan minum. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. menginap semalam di rumah Pak Asmo. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah.109 pernah kukunjungi sebelumnya. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. aku bayarlah sewa becak itu. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu. Bismillah. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Malu rasanya. minta ditambah lagi. Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anak-anaknya yang masih kecil. Sampai di tempat tujuan. aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. tetapi . Maka dari pada bertengkar. Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Bang becak dengan kasar menolak. aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri. Inginnya meneruskan sekolah.

dari Blitar. Tampaknya tamatan S. adik kandung H.110 bagaimana lagi. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Mungkin untuk mengajar S. karena memang tidak ada pilihan lain. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P. Yang jelas sakit perutku telah sembuh. Aku ditempatkan di kampung Batuyang. adalah teman mengajarku di sana. Santoso.A.A. Sebab kalau tidak. terpaksa juga aku lakukan. Memang tamatan Mu’allimin kelas lima.D.G. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat. yang tidak terlalu kuingat lagi. Tetapi apa boleh buat. bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam.G. jelas perlu tambahan ilmu. Untuk sekolah menengah. Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. ilmu yang kita dapat sebenarnya serba tanggung. Harist yang juga sebagai kepala desa. sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu.A. Akhirnya bisa juga. di rumah Pak Subki. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. agama dan umum. nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja. tidak ada masalah. tetapi jelas tidak memuaskan. karena aku tidak menguasai ilmu itu. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Seperti terlihat dalam ijazahku. sesuatu yang harus kulakukan. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu.G. bisa keluar keringat dingin. tamatan S. Aku pegang macam-macam. lebih siap dibandingkan aku untuk . Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai.

aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur . Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang. berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas. aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana. untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Demikianlah. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja. Sebagai alumnus Mu’allimin. Tetapi karena berasal dari keluarga desa. tetapi di situlah nikmatnya. aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). dan tidak pernah kapok.111 mengajar mata pelajaran umum. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini. hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun. tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Kalau perkara khotbah ini. Dipungut dari sana-sini. Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masing-masing. yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi.

Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas. sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. Tetapi itu perlu direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi . Merantau beberapa bulan di Lombok. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar. Waktu terus bergulir tanpa terasa. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. tidak terus dengan truk ke Kumanis. pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus.) dan Rosma. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Semua anaknya aku kenal. termasuk yang puteri: Rahmah (alm. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah. kami terus saja main. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun. Memang pedas. yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang. sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada).112 Kudus.

datang menemuiku. Kemudian kami berpisah. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu. Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. anak orang kaya itu. jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Di kampung aku punya seorang .113 yang harus ditempuh dengan jalan kaki. sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah lain lagi. tetapi jika itu aku jalani. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung. aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. Luluh juga perasaan pada waktu itu. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu. seperti ayam kehilangan induk. karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. B. Syukri Maarif (dipanggil Buyung). Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. Untuk itu aku harus mencarinya. Aku langsung ke kampung. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga.

T.I. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. ia harus pulang kampung. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adik-adik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. alumnus Mu’allimin Lintau. Bukan karena apa-apa. namanya Bachtasar Tahar.L. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi.A. aku semula ragu akan melanjutkan ke mana. dan ia bersedia.R. Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi. sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung).R. Mungkin tidak sampai setahun. Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. adik kelasku di Mu’allimin. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena . jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas. Tetapi setelah ditimbang-timbang.114 teman. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta.

I.P.P. sekalipun bertele-tele. serta Pengetahuan Sejarah. Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu.I. Jelas aku dirugikan. lalu ujian. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh. Jogjakarta. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. ijazah aku terima juga. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri. Karena pergolakan daerah. kasir.K. Setelah setahun aku belajar. Bukan karena apa-apa. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu.A.K. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. Bermacam tugasku di toko ini: pelayan. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang.S. 1957-1964. sekalipun dengan perasaan mendongkol.I. Aku lulus dengan baik.K.M. Pengetahuan Umum. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F. jurusan Sejarah Budaya pada 1964. Teman- .I. tetapi karena ingin cepat rampung. dan Bahasa Inggris hilang entah kemana. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I. hubungan putus dengan kampung. Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah.115 memang disediakan oleh universitas.

dan aku. bagian pengajaran. kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. Dari segi disiplin presensi aku jelas salah.K. Jusuf.R. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. Maka pindahlah aku ke F. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum.I.R. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah. jurusan Sejarah-Budaya. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. aku tidak mungkin bisa. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain. Hawari. yang presensinya dipegang oleh Jusuf. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini. . Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah.P. Jusuf banyak menolongku dalam masalah presensi ini. M. Nasai.116 teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M.I. berasal dari Sulawesi Utara. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo. Korban pergolakan daerah. Muchktar. Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965. mahasiswa Cokroaminoto. tetapi karena kuliahnya teratur.

tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. Karena merugi. Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika. kepala sekolah. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. Sampai menjelang usia 70 tahun ini. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. ayam dan kambing.117 Namanya Murdijo. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. kami lalu jualan rokok. tetapi semuanya merugi. tidak dapat dikatakan. yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. Untunglah selain itu. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. tembakau. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami. Mula-mula dagang kecil-kecilan. pemilik warung di Baturetno. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. dan lain-lain bersama Pak Markum. sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota kecamatan itu. Surakarta.N. Sebagai guru honorer. sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta. Baturetno. Sekiranya aku punya ijazah negeri. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana. dapat jugalah aku .P. asal Baturetno. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap.T. Pak Sujadi. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau.

karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka. Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto. Pada saat menulis catatan ini. Revolusi. adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. kemudian menyusullah masa pembangunan. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah .R. atau suatu permanent revolution dalam istilah V. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adil-makmur terwujud di Indonesia. Undang-undang Dasar 1945. Bagi Hatta. tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek (Manifesto Politik. Sosialisme Indonesia. kata Hatta. dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Demokrasi Terpimpin.118 melangsungkan hidup secara sederhana. Ekonomi Terpimpin). Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Tampil dengan gaya Bung Karno. Lenin. Aku harus tabah bergumul dengan realitas.B.I.

sehingga dapat “mempesona” orang lain. dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. Mr. Mendengar kutipan mentereng ini. padahal Bahasa Inggrisku masih terbata-bata. jadilah aku diangkat sebagai guru di S.119 rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. akan . Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan cara yang benar. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan. Andaikan aku punya ijazah negeri. Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. di atas. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri. Tetapi cara itulah yang kulakukan. Soekarno tokoh nasional dan dunia. kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka.T. dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. Maka tak lama kemudian. dan ada buahnya untuk tambahan rezki. Abdullah Sjahir. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. aku hanyalah menghafal-hafal kutipan dari kutipan orang lain. entah dari sumber mana diambilnya. tetapi kosong itu. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. aku tidak menyia-nyiakannya.

dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri.120 menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali).M. Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat.M. Itulah aku. beberapa tahun setelah itu.D. aku bakal terpilih jadi Ketua P. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda.P. komentator yang tajam. Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P. dasar anak desa. aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P. malah menambah abrabnya persahabatan kami. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M. tentu tidak akan terlalu sukar bagiku. setidaknya majelis tingkat P.P. karena kita . Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah. Jika itu yang terjadi. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P..P. Sebagai kader Muhammadiyah. sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno. dan aku malah bangga menuturkannya kembali. tentu pada suatu hari sebagai Ketua P. Amien Rais..D.P. untuk menjadi ketua cabang Baturetno. Aku percaya bahwa pengurus tentu akan menyetujui saranku. Bung Amien. Pada suatu ketika. dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. dengan terkekeh itu saja. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku.M. alumnus Mu’allimin Jogja lagi. aku tinggal mengikutinya saja.D.

T. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek. sesuatu yang selalu aku banggakan. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. Wonogiri yang memohon anggota P.T. Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran. ..T. Sekalipun hanya dalam posisi G. Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. Siapa yang takkan bangga. Di samping dapat sekadar uang. asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. Tetapi sebagai selingan. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu.T. Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P. untuk berkunjung ke sana.121 memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas.M. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya itu sekarang ini.D. tidak akan ada ujungnya.P. Demikianlah kalau kita berandai-andai. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat. bangga juga aku rasanya ketika itu. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis.

S. Abdullah Sjahir. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu. untuk memahami satu alinea saja.D.A. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun. adalah di antara penulis favoritku. tentu kamus harus dibuka. Mudah mengagumi orang-orang pintar yang kreatif dan produktif.I. di samping Sidi Gazalba. Cukup lama juga aku bolak-balik SoloBaturetno dengan kereta api. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ. tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara SoloBaturetno. aku juga mengajar di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N. pimpinan Pak Suhardi. alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan. sekalipun jumlahnya juga tidak banyak. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai.M. Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing. Andaikan punya akses. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim.122 Pada tahun 1960-an itu. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara. Jika kukenang semuanya ini. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus. M. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. . S. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu.M.

123 K. dan Kanada.A. M. Sanusi Latief dan Prof. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini. adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun. Dr. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. sebagai guru selingan. dan rakyat umum. Amien Rais. M. Sanusi Latief pernah mengajarku. Malaysia. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul). M. manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. Dr. Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukanbukan. karena cara inilah satu-satunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu. Prof. dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan. maka alm. anak sekolah. Amien Rais adalah sahabat yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun . Samasekali tidak ada bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat.A.

rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid . Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat. tentu sebagian besar rakyat Indonesia. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku. Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Tokh. Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku. Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaan-perbedaan kecil itu. kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia.H. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku. Mereka telah berperan penting pada saat-saat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan.124 1979-1982. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual.A. akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin. apalagi masyarakat kampungku. Dengan demikian.

Lifuarda (namanya sewaktu di S. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup. teman sekelasku di S. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap. dikenalkan kepadaku melalui surat. seperti telah kusinggung di depan. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh. Bagiku. seorang menteri kesehatan di Simalanggang. secara diam-diam telah menghubungi etekku Bainah. . Tidak hanya dikenalkan. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah). adik kandung Rahma. suami Rahma.P. St. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. MENITI BIDUK KEHIDUPAN Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun. aku sempat termenung. Teman ini. tetapi mau dijodohkan.M.R. anak Sarialam-Halifah. Tanjung Ampalu. Allah sajalah orang boleh IV. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga A.125 yang hanya kepada menghambakan diri. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal.) . Sumpur Kudus dan sepupu jauhku. Payakumbuh. jika aku dan yang bersangkutan bersedia. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil. terjadi perkembangan baru dalam hidupku. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept. ini merupakan hiburan yang membanggakan.

Bersamaku.126 perasaanku antara senang dan bimbang. dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok. bila kukenang ini semua belakangan. Bulan Maret tahun 1957. Seperti biasa. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. jika bukan kurang dari itu. Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. Padang. Alangkah geli bercampur malunya rasanya. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. dan besoknya aku menompang truk miliknya. tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. Aku agak lupa. kalau mungkin sampai ke Kumanis. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). Rasanya tidak sampai ke Kumanis. isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959. aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan. tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun. Bukan sebagai pedagang yang mapan seperti umumnya orang Minang. sampai di mana aku menompang truknya. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini. seperti telah kututurkan. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman .

Dalam hati kecilku aku hanya bergumam. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. adiknya. Akan dilirik kakak-kakaknya.127 Mu’allimin Lintau di sana. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu. juga tidak mungkin. sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara. datanglah surat Ismael di atas. Enam tahun kemudian. Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. sebentar muncul sebentar menghilang. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap. karena tidak ikut main. miskin lagi. apalagi usia terpaut jauh. Tetapi hanya sekadar sampai di situ.R. Semuanya berlalu begitu saja. matanya tajam. Rahma (bintang desa) dan Rosma. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. ada gadis dengan celana panjang merah. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. masih belum mendingin betul. rambutnya panjang terurai. . sebab aku sadar betul akan posisiku.R. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung. lincah juga gadis ini.I.

aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda rumah. hanya badanku agak kurus. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup. Dari kejauhan. karena tak punya apaapa. malu. apalagi di kalangan orang kampungku. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. Di depannya beberapa truk biasa diparkir. aku pulang kampung pada tahun 1963 itu. Truknya diberi nama Sumpur Kudus. ragu jangan-jangan dia sudah berbalik arah dan haluan.128 Tak lama kemudian. semula dari posisi sebagai sopir selama bertahuntahun. dan malu. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk. ada . Rumahnya gagah dan kokoh. diambil dari nama kampung yang samasama kami cintai. jika bukan ke Rimbo Kaluang. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak). dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. karena akan bertemu dengan si kecil. sekalipun sudah sakit-sakitan karena asma. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. Padang. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. setidaktidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat. Kalau tak salah. ragu. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh. tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. Senang. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal.

Jika itu aku lakukan.129 Rosma (juga sudah punya anak). dalam keadaan apa adanya. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. aku tentu tak dapat berbuat apaapa. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di . Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. sekiranya di Padang aku punya teman. mungkin kurang gizi. bibiku Bainah. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos. aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada. tetapi tidak autentik. sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. pandai bertanam tebu di bibir. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja. Dalam serba kesederhanaan. Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam. mencari yang lain. Aku memang tidak berbakat jadi aktor. bukanlah caraku. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. Umpamanya. Sebuah risiko harus dihadang. aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. ada si kecil. tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok. demi gensi. bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib. agar kelihatan agak sedikit parlente. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah.

Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. pada 1964. sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B.130 lingkungan keluarganya selalu tersedia. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh. Dalam kondisi semacam itu. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. 2006 di Jakarta).A. Herry Komar (wafat 13 Feb. sekalipun tidak lapar.P. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas. Bagaimana akan siap. Teman sekelas si kecil di S. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama. ada kejadian kecil yang mungkin baik . Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu. Sampai tahun 1963 itu. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan.M. Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir semakin larut. dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. mantan wartawan senior Indonesia. sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. aku belum punya pekerjaan tetap. pengalaman hidup. juga terbentang jarak psikologis.

aku akan pasrah. Ia baru datang dari Padang.131 juga diungkapkan di sini. sebagaimana yang akan kututurkan. Aku hanya meliriknya sepintas lalu. Seingatku ia pakai baju putih. Sebelum berbelok ke rumahnya. karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. agak menjauh ke tepi jalan. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. Semuanya biar . Sumpur Kudus. Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan. rezki secara berangsur terus mengalir. Tampaknya ia sangat pemalu. Kami tidak saling berteguran. baju anak sekolah. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya. Aku ini anak Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macammacam di luar bingkai dan alur tauhid. dia membuang muka ke arah lain. tidak jauh dari Simpang Balai. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. Yang jelas aku menyukainya. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan. pada suatu pagi aku dan teman-teman. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut. termasuk Manirun. yang memburu kekayaan. bukan atas inisiatif kami berdua. berselisih jalan dengannya. langkahnya bergegas. kakak sepupuku dari pihak ayah.

Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada. . Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa. Muhammad sungsang. Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. Tetapi betapa pun perihnya hati. jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Qul huwallah sungsang. tentu batin ini akan terluka juga. Bagiku pada sisinya yang terdalam. tidak akan berganjak sedikit pun. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. Dalam perkara ini. Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti bacabacaan yang serba karut itu. aku sangat kokoh.132 berjalan secara alamiah. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku. yang berbau syirik.

Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau. Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. Masuk sekalian tawar.133 Akan dirantai Allah-lah engkau. semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan. sebab ada gelar malin dan ungkapan-ungkapan bernafas Islam. Goncang batinku . Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Aku memantrakan obat parang sijundai. Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang. sebab tak terjangkau oleh kantongku. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar.

Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. Mudah-mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. . Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini. Interaksiku dengan tokoh-tokoh lintas agama. para jenderal. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku. tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. tetapi dengan segala keterbatasan. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak.P. lupa lautan. birokrat. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. tidak memperhatikan orang miskin. lintas etnis. Oleh sebab itu. dan pengusaha. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan. sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidaktidaknya mengerti apa yang aku maksud.134 juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian. Muslim dan non-Muslim. apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. lintas kultural. aku paham benar apa makna kemiskinan.

Jika muncul masalah. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku. yaitu sembilan tahun. Aku hanya senyum-senyum ketika mendengarnya. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. Entah bagaimana akhirnya. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan. Mungkin karena jarak usia yang jauh.135 Kita kembali kepada alur cerita semula. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. ini perkara jodoh. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. karena aku belum punya peta masa depan. Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. Aku masih gamang. Sudahlah. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. Selama beberapa hari di kampung. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. apa yang akan diagendakan? Seperti . sekiranya itu menjadi kenyataan. tidak ada kelanjutannya. tidak jelas bagiku. sebab siapa tahu. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. apakah ada akar sejarah masa lampau. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu.

Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. dan sedikit sebatas propinsi. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. antri bensin dan antri apa lagi. 1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia. juga tidak memberi saran apa-apa. abang. Bukankah pada masa itu.R. Bung Karno sebagai P. Paman. kabupaten. . membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa). dan mungkin kekanak-kanakan. karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing. dan famili yang lain. tetapi itulah aku dalam keadaan polos. Antri beras. antri minyak. lugu. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan.136 seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu. (Demokrasi Terpimpin. antri garam. Dengan kalimat lain. lapar.T. sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centang-perenang secara ekonomi dan politik. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik. antri sabun.B.

137 Atap-atap rumah. gedung-gedung. Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. argumentatif. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang masalah demokrasi di Indonesia. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya. Selama periode yang panas ini. Di antara pengeritik yang paling vokal. semuanya dihiasi dengan tulisan Manipol-Usdek dengan hurufhuruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum selesai. dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta.” (Jika anda tidak mampu memukul mereka. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. Aku yang sudah agak mengerti politik dan . paling-paling seumur penciptanya. apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besar-besaran dalam masyarakat Indonesia. join them. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama. Suasana politik bangsa panas sekali. Sekalipun Hatta tidak ditangkap. ikuti mereka). sekolah. demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko.

U..K. Aku pun heran. tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain.I.I. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. Salah seorang tokoh P. Akhirnya Bung Karno “menyerah.T.I. Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh.. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P. aku tidak tahu. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P.Masyumi-N.I. Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari. Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian. P. tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. diplomat ulung. . Ali Sastroamidjojo. juga larut dalam kompetisi manipolis ini. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi.I.C. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang.).N.I.I. yang mendukung D. dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya.138 simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan. P..K. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu. mantan duta besar di Washington D. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar. kecuali Hatta dan para pengikutnya.. (Ali-Roem-Idham.R. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P. terpaksa atau sukarela.T.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A.

sebab Jerman yang maju itu. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. dan diharapkan tidak terulang lagi. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya.139 Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D. Tentu akan ada yang bertanya. sekalipun mulai agak melemah. karena tidak ada jawabannya. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. aku pun tidak bisa menjelaskannya. sebuah usia yang layak untuk berumah tangga. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir.T? Inilah politik yang kadang-kadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. Di mana rasionalitas. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini. termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (18891976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. Menengok fenomena ini. Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. di mana akal sehat. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. . pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu. Aku tidak bertanya apakah si kecil mengikuti politik atau tidak. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita.

seperti halnya P. Bagaimana mau menikahi seseorang. di samping darah anak bangsa yang . inilah pertanyaannya. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U.D. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini.? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis..I.D.P.I.R. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar.R. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat. wartawan kawakan Indonesia. perlu kajian ulang. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil.D. seperti dia cemburu kepadaku kemudian. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah. sementara awak tak punya apa-apa.R.140 Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya.R. tetapi keterlibatannya dalam P. yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat.M.I. itu adalah bagian dari sikap nekatku.I.R.R. tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia. 1958-1963. temannya sewaktu belajar di S.U. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk.

R..D. jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik.I. aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin.R. yang .R. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta. Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia.I. Aku yang semula proP.D. sama sekali tidak menyebut P.I. Bukankah Bung Karno dalam istilah W.R. tetapi melihat korban yang begitu banyak. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P.D. seperti baru saja kukatakan. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku. Aku yang pada masa itu pro-P.S. karena kami sama-sama sering berbicara tentang P..R.I.S. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal.141 tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara siasia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang. dan pemimpinnya. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu.R..I.I.R. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan.

Sebuah kehilangan yang berat bagi kami. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul. dari suku Caniago. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu. adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S.R. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka.I. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada di atas angin. Dia korban sengketa politik daerah-pusat.R. Dia panggilku kakoncu. menjatuhkan bom di desa itu. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P.R. bukan karena dipilih. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka. Jumlah anggota P. Bayangkan ketika itu. sekalipun mereka lapar. Di pedesaan P.K. P.I.K.U. tetapi karena diangkat. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu.. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati. kelas 1). Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. Sungguh berlaku yang aneh-aneh.K.142 aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu.K. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri.I.I.M.I. ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak. seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban.P. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu.I. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa. dan .

sekalipun tidak secara langsung.R. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk .R. tetapi juga di arena kehidupan yang lain. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P.143 sekaligus menjadi wali nagari.R. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masing-masing. khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang. sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang.I. naluri saudagarnya “berdansa” terus. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga. kalah perang. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti. Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. tidak saja di dunia dagang. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. Semuanya ini berlaku terutama karena P. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut.M. Dalam keadaan sulit.A. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan. B. jika ingatanku tidak salah. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam mendampingi suaminya. Negeri di sana. mengelola perusahaan.I. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik.R.

aku dan si kecil selalu bersurat-suratan. aku merasa malu. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. Sampai Desember 1964. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. tetapi aku sedang kepepet. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya. Kenyataannya. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini. Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang. di seberang makam. entah di mana. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup.144 kubawa ke Jawa. saling menjajaki. Damailah di sana. jangankan menghidupkan orang lain. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. peran mak Sarialam begitu besar. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. mungkin aku sudah lama berumah tangga. menghidupi diri . tidak punya pilihan lain. Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya. sementara pak Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya.

. termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku. sangat kontras dengan perjalanan hidupku. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja.T. Dengan apa kubelikan. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. karena masih ingin sekolah juga. Sejak di Mu’allimin Lintau. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau. Apalagi pada era D.145 sendiri saja bertele-tele. Dia beli sendiri. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari. sekalipun harus hidup menderita. para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak . batinku rasanya sudah agak tenang. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. Rendang ini kubawa sampai ke Jawa. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. Jodoh memang tidak dapat direncanakan. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. sampai tahun 1960-an itu. Terima kasih mak! Sejak bertunangan. Jogja.

Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil.146 perlu kututupi. sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. dan lain-lain. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. . Untungnya. Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan. Si kecil memang berhati keras. Si kecil tahu betul keadaanku. Perkara kondisi tidak seimbang. tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. aku banyak belajar padanya. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain. baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. paman. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. Dalam masalah ini. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. Dari pihak keluargaku. yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. kakak. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita.

Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. entah apa sebabnya. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus. Ternyata itu tidak kumiliki. seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Potong kambing segala.Wahid. Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Ini berbeda kabarnya dengan upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. Suami etekku A. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. Pada tingkat usia 30 tahun itu. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. entah dari mana ia dapat “ilmu”. sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. Ini dapat dipahami karena dua hal.147 Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. Pertama. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. mak . Bagaimana tidak akan lancar. sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama. tokoh spiritual Perti.

si kecil. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953. sekalipun jauh dari suasana mewah. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. untuk seterusnya kupanggil Lip. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya. karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. Masa membujangku berakhirlah sudah. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. Kenekatanku akhirnya memetik hasil. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana. Kedua. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku Rahima dari suku Caniago. Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus.148 Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. sekalipun cukup membahagiakan. Selama . sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini.

kecuali seorang kakak iparku itu. dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal. aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. Bukan main pihak keluarga senangnya.149 beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain. Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya. Di akar rumput. maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. Beberapa hari sebelum perkawinanku. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. termasuk abangku Nursahih. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. yaitu Islam. tetapi ia masih tetap dalam agamanya. maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. Sebenarnya pihak keluarganya. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar . entah apa penyebabnya. khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama anaknya ini. Yang hadir ramai sekali. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam.

mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku . tahan bantingan sejarah. Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus.150 puluhan tahun yang lalu. tetapi yang ketika itu belum membuahkan hasil yang berarti. Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F.K. jurusan sejarah Universitas Cokroaminoto. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian. anak pak Burhan. Sayangnya. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap.P. induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. tetapi mencakup nilai-nilai fundamentalnya yang universal. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana. seperti telah kujelaskan. C. Sekarang dari sisi agama. Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar. aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa.I. Setelah beberapa hari di kampung. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam.K.I.P. sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan.

K.I. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm.I.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto. Maka bantuan Drs. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. Jika aku tak salah ingat Drs. Lafran Pane. M.I.K.S.I. Terjadilah sedikit gesekan antar kami.S.K.N.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I. R. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya. yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I.K. Wuryanto.P.K.I.A. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri.R. entah apa sebabnya. Kabar itu sebenarnya tidak betul.M. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I.P.P.-I. pendiri H. Semarang dan anggota D.I. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku. sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur.P.I.I. Negeri Yogyakarta. . tetapi hikmahnya cukup besar. ketua jurusan pendidikan sejarah F.151 katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis. Drs.

Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini. Muhammadiyah. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof.S. Kahar dalam berbagai pertemuan. salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah. tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof. Selain memperoleh ilmu dari Prof. mertuaku. aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm.). apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. . Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm.152 Melalui berbagai upaya itu. K.H.I.K. Abdul Kahar Muzakkir. Yogyakarta. Kahar sebagai imamnya. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. Aku diajaknya menulis bersama.I. Prof.-I. sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa.Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir. Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini.P. tempat alm.K. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F.P. abang Bakir Amir. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah.

(Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia.P. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman.G. yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu.P.I.A. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K. Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana. Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak. Negeri Surakarta. milik seorang pedagang Sunda.A. masalah ibadah.153 Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami.M. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan antikomunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta.I.I. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari. sementara aku sedang kuliah. Ada tawaran dari pak . berkeluarga. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting.K. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam.K. dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu. usiaku sudah bergerak tua. Sekalipun masih mahasiswa. dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi. miskin lagi.U. Dia sendiri adalah guru P.A. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P.

A. dan alm. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah. T. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P.I. H. Kasur pun hanya punya separo.H. Di samping sebagai korektor. Ekonomi morat-marit.V. Andaikan ada. K. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan. aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek. khusus .P. (Suara Muhammadiyah). Jl. tokh aku tidak mungkin memilikinya. bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar.A. tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya. aku tetap saja kuliah sambil bekerja. Sebagai seorang yang bukan aktor. seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya. Untung ada beberapa koran di kantor S.I.. Basuni. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. B.. Ada lagi sedikit tambahan penghasilan.154 Halifah untuk menambah kiriman. Untuk perlengkapan tempat tidur. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi.K. Mohammad Diponegoro. karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas. karena sudah terbiasa sejak kecil. masih belum ada ketika itu. demonstrasi merebak di mana-mana.Dahlan 99.A. aku lupa-lupa ingat berapa.M. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini. Muhammadiyah yang lama. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara. Mungkin sebagian kecil hasil iklan terselip dalam kantongku.K. lantai II Kantor P. pimpinan alm.

karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan. Selama di Kotagede. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S. Untung dia punya perhiasan. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya. Setelah sekian lama aku jadi korektor. Bukan main bahagianya perasaan. tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. Perkembangan fisiknya berjalan lambat. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana.M. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. 20 dari sebuah majalah di Solo. Jika aku masih sendirian. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. pagi dan kuliah sore hari.M. posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku . tentu tidak ada persoalan. Masalah beras cepat teratasi. bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan. tetapi jumlahnya tidak seberapa.155 untuk anak yang baru lahir. sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku. Lip tidak pernah gemuk. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. Kalau aku apa yang mau digadaikan.. Beban mentalku menjadi berat.

Sangat disayangkan. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain.K.156 sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972. Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan. dituduh sebagai kekuatan anti Manipol. kini telah berubah menjadi penyambung lidah P. Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis. Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang.K. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja.I. Manifes atas desakan P. MUSIBAH SILIH BERGANTI A. V.K. . Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P.I.I.. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964. salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer. tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah.

bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat. padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. Suasana negara dalam masa peralihan dari . Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan. Amin. Pada saat-saat sulit itu. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu. sebab jika dibantu pula. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. sekalipun masih serba kurang. Setelah Lip dan Salman berada di Padang. Anaknya sudah diberikan. Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. Jika kukenang sekarang. Coba kalau tidak. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. ayahnya “diperas” lagi. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga.157 Ayahnya jauh di rantau. sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah. seperti telah kusebutkan di depan. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. untung ia mau membantu. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. sebuah angka yang sangat mengerikan. yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp.

sampai ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.I.K.K. sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F. Dengan kenyataan ini. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak.I. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana.K. pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs.S.K.I.P.I. Jika kinerjaku dinilai baik.P.P.I.K. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F. baik sekali. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F.S. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I.P.I. M. Yogyakarta. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya.158 era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. Yogyakarta. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala.S. Nasib pegawai negeri kempas-kempis. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri. I. tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya.-I. di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U.I. .K.I. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar..K. Tanpa pintu itu.I. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya.

Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm.I. kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku.M. mata kuliah ini dipegang oleh Drs. aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto. gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu.I. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. seorang dosen yang ahli di bidang ini. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear. Untuk Sejarah Indonesia Kuno. sejak dari Solo. Entahlah.). .M.K. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya. sekalipun sudah kelebihan gizi. selalu berliku-liku. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti.I. kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. Malang. Kembali kepada suasana rumah tanggaku. perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi. Sekalipun pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa. pengusaha batik.R.159 tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Seperti ayahku juga. Selain mak Sarialam. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan.P. apalagi aku adalah anggota H. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku. pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Pitono dari I. Lafran Pane adalah pendiri H. teman sekelasku di Cokroaminoto. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua.

realitas yang sebenarnya memanglah demikian. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997. tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. dalam keadaan “perang dan damai. . setidak-tidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi. Untunglah iklim semacam itu datang sekalisekali. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya. setelah dua faktor itu hilang. Dia menderita. sementara karierku tetap saja melaju dan melaju. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama. tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan. aku menulis: “Kepada isteriku Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka.” Ungkapan “perang dan damai. semakin menjadi pula sifat yang satu ini.” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju.” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas. Bisa jadi.160 ada tiga yang diberi keturunan. tidak usah dibicarakan. “penyakit” yang satu itu tetap setia.” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip. tinggal di Tanjung Ampalu. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Bagaimana seterusnya. aku pun menderita. Gaduh ya gaduh. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir. atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen. semakin sempurna gizi. sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekali-kali.

Lip sangat rapi dalam mengatur rumah. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk. Pergilah kami ke toko Ramai.161 Kesulitan telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga. Lumaian jugalah. Seperti telah kukatakan. sampai-sampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu. Kelebihan lain. sekalipun di hari tuanya agak menurun. Masalah kebersihan. sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. di kawasan perbelanjaan di Jogja. harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede. dialah juaranya. aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. seperti pengakuan Bung Komar. jangan ditanya lagi. Tanah. karena memang aslinya adalah bunga kelas. sekalipun badan kurus. Untuk makanan anaknya saja. Sebelum kawin denganku. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak. tanaman. dibasuhnya berkali-kali. sekalipun aku banyak belajar padanya. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit. bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. misalnya. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat.” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. dan bunga adalah sahabatnya yang . dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal. terasa berat sekali. ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang. cantik juga kelihatan. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon.

Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005). tetapi ditambah dengan kata Sumpur. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya.I.S.” Bayangkan perasaanku waktu itu sungguh remuk. berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Sewaktu Salman wafat. sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. engkau pergi tanpa dosa. Kuburan Salman di pinggir laut. aku sering benar meminjam nama anak ini.P. kecuali merelakan kepergian anak pertama kami. Yogyakarta.K. termasuk di malam hari. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya. pergi untuk tidak kembali. Sebagai orang beragama. aku dan Lip tidak punya pilihan lain.162 setia. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku. Salman belum bisa. Aku cukup banyak menggendongnya. engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun. Sungguh nak. apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan. Dalam tulisan-tulisanku. Setelah sakit beberapa lama di Padang. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang.I. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat. Pada waktu aku pulang ke Padang. Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. “Anakku. ketika Lip sudah sangat lelah.K. dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. jurusan sejarah. sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. I. demi cintaku kepada anak ini. . aku masih duduk pada doktoral dua F.

163

tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayahibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967

164

Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat. Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulan-bulan aku dan Asnin

165

bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi. Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadang-kadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat

166

Iwan tidak boleh sampai terlambat, dan itu sangat kami utamakan, sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968, bulan-bulan menjelang Iwan lahir. Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (19301954),” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono, dosen Sejarah Asia Tenggara. Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik, sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme, khususnya Amerika Serikat. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F.K.I.S. Dochak Latief, Sekretaris Gading Tua Siregar (alm.), dan Rektor I.K.I.P. Sutrisno Hadi dengan materai Rp. 1. (Bandingkan dengan materai senilai Rp. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia Selatan, Kapita Selekta Sejarah Eropa, Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno, Kapita Selekta Sejarah Afrika, Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara, Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru, Teori Sejarah, Bimbingan Tesis, Manipol/Pancasila. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm. Drs. Sasjardi, dosen senior jurusan sejarah. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila, aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus

167

Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U.G.M., yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar, tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. Yang berlalu, biarlah berlalu, tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi, demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. Untuk teman-teman seangkatan, aku adalah lulusan pertama. Bangga juga rasanya, sekalipun usia sudah 33 tahun. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian ini. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis), mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi, sementara aku tak punya. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah, berasal dari Curup, kemudian menjadi anggota D.P.R. Pusat dari P.A.N. (Partai Amanat Nasional), periode 2004-2009, sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005, sebuah karier yang cukup panjang, bukan? Dari kampus I.K.I.P. atau U.N.Y. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah, tenaga pengajar, dan atau

168

sebagai tamu undangan. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat, tercatat Singapura, Malaysia, Thailand, Pakistan, India, Iran, Iraq, Jordan, Malta, Libia, Saudi Arabia, Qatar, Chad, Jerman, Inggris, Belgia, Belanda, Australia, Kanada, Italia, Roma, Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat), dan Hong Kong. Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan, sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan. Selama menyiapkan tesis, aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu. Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. Bukan saja warnanya yang telah berubah, pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Aku memang agak urakan, mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. Sekalipun masih pinjam baju segala, keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S.M. (Suara Muhammadiyah). Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan, tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S.M. Bermacam topik yang kutulis, tetapi umumnya menyangkut masalah

169

agama, sejarah, dan politik. Sewaktu bekerja pada S.M., aku pun pernah menjadi anggota P.W.I. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Kartuku ditandatangani oleh alm. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P.W.I. Pusat ketika itu. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah, mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S.M.. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F.K.I.S. untuk sejarah Asia Barat, salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif, apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Indonesia. Baru setelah belajar di Chicago, aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini, sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. Mulai terasa perbedaan-perbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh-tokoh yang aku banggakan itu. Adapun sikap moralnya, aku junjung tinggi sampai sekarang. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu, apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang, apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. Nama-nama mereka itu

sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U.170 adalah: Soekiman Wirjosandjojo. Adapun kritikku kepada partai ini. Mohammad Sardjan. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami. Zainal Abidin Ahmad.U. dan Burhanuddin. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P.. Soekapti Mangunpuspito. Amelz. Muhammad Isa Anshary. Hafni Abu Hanifah. C.D. Mohamad Roem. sementara Natsir. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama. Prawoto Mangkusasmito. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya. Sjafruddin. tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua.R. yaitu Soekiman Wirjosandjojo. akan kujelaskan pada ruang yang lain. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. Kasman Singodimedjo. yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. Mohammad Natsir. Burhanuddin Harahap. Jusuf Wibisono. Abu Hanifah. Sjafruddin Prawiranegara.R. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik Indonesia: Natsir.. Soekiman. Ny. dan Prawoto Mangkusasmito. Junan Nasution.I. Ny. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka. Mohammad Natsir. Junan Nasution.

karena proses dan perkembangan pemikiran tidak datang dengan tiba-tiba. dan aku turut memberi kata pengantar. Kegemaran menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959. Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar. Ini amat disayangkan. . Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. sekalipun batin sering goncang. Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia.A. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H.171 redaksi Suara Muhammadiyah. Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali. Salim di Cornell tahun 1953. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan.

Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu sampai aku kuliah di Chicago awal 1980-an. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani.U. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik. Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini. Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. Periode ini. (Northern Illinois University). mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut. tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). Dr. Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman. DeKalb. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini. mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam. I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman. anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof.). Dr. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. Pemeliharaan Iwan .172 Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. kalaulah iman tidak kuat. Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak. Dengan segala pertimbangan keluarga. tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam). Menginjak dua tahun usia Iwan.I. Ismangoen (alm. Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya.

Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan . Dr. masih di bawah pengawasan Dr.A. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. Seperti telah kusinggung di atas. Terasa banyak kemajuan. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya.173 kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya. Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester. Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. Dini hari. dalam sejarah. aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu. Ismangoen. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran. sehingga sulit melangkah sendiri. lupakan kuliah. Iwan jatuh sakit lagi. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan. Tetapi Allah punya ketetapan lain. Iwan meninggalkan dunia fana ini. tegateganya meninggalkan anak yang sedang sakit. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. di depan lapangan sepak bola. kembali kepada Pemilik yang sebenarnya. sekalipun tidak parah pada mulanya. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M. kadang-kadang bergantian.

Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir. isteriku. Jogja). (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. “Anakku. wajahnya selalu terbayang. Pada saat Iwan wafat. usiaku sudah 38 tahun.D. anak ini cukup ceria. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). kepala S. Muhammadiyah Wirobrajan. Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. Demi meringankan beban batin. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. Jika kutanyakan siapa nama ibunya. delapan . Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S.174 Iwan. untuk sebutan Nurkhalifah. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman. ke rumah pak Sukadijono. di Jogja-Padang-Jogja. aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. akan dijawab: Nun Epah. adalah kelucuannya. panggilannya sehari-hari. Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad.D. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya. Tempat ini di daerah pegunungan yang sepi dan dingin. Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan.

bukan anak. jauh dari stabil.20 pagi tanggal 3 Desember 2005. memberi kuliah. Kalaulah boleh digantikan. Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu. Mengapa cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami. air mataku meluncur tak tertahankan).” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08. Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia.175 bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. . sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. aku bertugas seperti biasa. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A. VI. Hilang satu. nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. Memang serba dilematis. aku pun tidak dapat menjawabnya. Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil. hilang dua.

K. demi perbaikan ekonomi.U. Alhamdulillah kami tidak diterima. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal. sekalipun semula terasa sangat berat.S.K. kemudian baru boleh dibawa pulang. Mudah-mudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat. Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2. kecuali penyandangnya dikenal luas oleh lembagalembaga asing. teman dosen jurusan sejarah.176 seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. P. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R. sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya . Pengalamanku di DeKalb. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. Gelar doktorandus memang tidak laku jual. suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku. alhamdulillah tidak terbukti. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. Hardjo Djojodarmo (alm). siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon. Adapun aku saat itu. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius. Tiap hari kami berulang ke P.U.20 kg.

Dr.P. Prof. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L.K. Nasution. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu.177 hidup sederhana dari bulan ke bulan.P. Setelah mengikuti tes. S. sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. agak sedikit . Dr.D. Supardjo. dan Bahasa Inggris (B). Kepemimpinan & Manajemen (B). Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+). Mereka adalah Prof. Achmad Sanusi. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar. Sikun Pribadi. Prof. atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku. Sampai awal abad ke-21. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. dengan nilai tanpa A. Dr. dari lima mata kuliah.P. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+). Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia. yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+). Prof. sementara Husain berhasil. dan masih ada yang lain. Itulah prestasi akademikku di Bandung. Garnadi Prawirodirdjo. apakah tidak akan menggangu asap dapur.P. sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. Dr.P. Bandung.D.I. Dr. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester.

sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof.178 memalukan. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof. termasuk milikku tentunya. aku jelas tidak puas. Isteri Prof. Sikun. Pada suatu malam aku dan teman dari I.K. Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. Semarang diundang ke rumahnya untuk ditemukan dengan Suryadi. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. tokoh spiritual Prof.D.I. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhantuhan itu. tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa.A. (Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. Prof.P. Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan. terimalah apa adanya. nilaiku jauh lebih baik.P. Tanpa nilai A. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U. padahal sewaktu belajar di DeKalb. Sikun bersikap lebih banyak diam.N. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program . Sikun.

Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati. Dalam perkara ini. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja. yang hubungannya denganku cukup baik. Univeritas Ohio) di Athens. sekalipun masih di bawah 600. jenderal.P. Hasil tes lumayan.D. pada .P. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya. aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O. Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu. klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. Ternyata seorang guru besar filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. (Ohio University. Tentu aku senang.H. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan.A.179 L. sudah di atas 500.

Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. dan A.180 departemen sejarah. di Universitas Chicago. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan. Di Athens. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979.H. (Indeks Prestasi Kumulatif)3. B+. A-. sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio.D.A. Frederick.P. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi. Ratarata A. A-. tanpa nilai A satu pun.. Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M. Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit. Di sinilah peran penting dari Prof. Cukup lumaian bukan. A. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago. seorang seniman dari suku Sunda. Aku hanya mengambil delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+. B. Setelah meraih gelar M.67.D. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977. bila dibandingkan dengan nilaiku di L.P. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. Bahkan terlalu baik. Ph.. A-.A. William H. tahun ke-176 dari usia universitas. A.atau I.P. Frederick yang selalu memberikan “komando” dari . Doddy Soejono. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. tetapi mereka rela.untuk tesis. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof.K.D. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph..

dan A.181 Athens agar aku tetap menggarap tesis. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman. . dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti. dan gagasan tentang negara Islam. B. seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis. Iqbal. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus. dan dari sana meluncur ke Athens. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara. Masyumi. (Muslim Students’ Association). Seakan-akan dengan merek serba Islam itu. Dorongan semacam ini sangat penting. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. semuanya akan menjadi beres. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas. kampus lamaku. Alhamdulillah.S. Maryam Jameela. Frederick.A. tokoh-tokoh Ikhwan. yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. belum reflektif dan kontemplatif. Apalagi aku aktif dalam M. Gerald Doxie. Di samping Prof. Jadi tidak terlalu buruk. Aku masih terpasung dalam status quo. tim penguji yang lain adalah Prof. bukan? Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. Masih berkutat pada Maududi.

M. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia. Dengan membaca peta semacam ini. .S.A.S. Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M. Iraq. yang masih serba belia.S.A. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya. sungguh bagus. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus. Di Athens. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim. Mesir. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara.A. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing.S. sementara usiaku sudah di atas 30 tahun.. Libia.S. Jadi secara moral.A.A. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab. Kuwait. aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia.A. Dari segi moral pergaulan. dunia M. Di lingkaran M. M. Itu belum lagi kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim.182 Di Athens aku tinggal bersama teman-teman Malaysia yang juga aktivis M. Aljazair. Ilmu Barat dipelajari.S. sangat berjasa. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim. dan saling menjaga. seperti Saudi dan Kuwait misalnya. hati-hati. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari.

Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalah-masalah mendasar itu belum diatasi. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu. Nasr bukanlah tipe itu. pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi. Pokoknya dengan negara Islam. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh. Muslim dan Barat. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.S. Beberapa pemimpin M. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. ilmu. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami. tetapi cara berpikirnya terasa . Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat.183 ekonomi. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. tokoh syi’ah moderat dari Iran. Sebagai penulis prolifik. dan teknologi. dunia kita atur. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr.A. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an.

Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir.184 kaku dan buntu. sementara dimensi intelektual dilupakan. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakangerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. di samping seorang aktivis. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Dari sisi terobosan intelektual Islam. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab. Mereka yang tamatan Barat . Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah.

dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950. Qutb bukanlah . dan proZionisme. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Qutb. dan ulama yang konservatif. dermawan. Di Athens. 1995. umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri.185 sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. (Lih. Sharough Akhavi. New York. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. “Qutb. hlm. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo.). lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh. Para pendukung Maududi. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. otoritarian.A. New York-Oxford: Oxford University Press. Sebuah paradoks berlaku di sini. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme. Esposito (ed. Sayyid” dalam John L. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. kebebasan seks. Setidak-tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. karena berhadapan dengan penguasa yang korup. yang mengeritik Barat in toto. 401). Bahkan mendapatkan M. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World.

tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang dada saja. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat.186 termasuk pendiri Ikhwan. Dalam usia 43 tahun. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika. adil. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. wawasan keislamanku tidak pernah melampaui . rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya. tidak menyentuh realitas. Bukan saja bersentuhan. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu. sebab Barat-Timur itu milik Allah. jangan ekstrem anti sesuatu. dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun. Bahkan sebagian mereka menjadi puritan.

C. Dalam arti intelektual. tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan.S. memang banyak yang idealis. Dengan al-Faruqi. Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya.A. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M. dan teman dekatku.S. Al-Attas kelahiran Bogor. Teman-teman M. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental.187 Ikhwan. Malaysia. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. Dominasi politik begitu terasa. Pada saat usia yang sudah demikian jauh. Dr. Proyek I. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati. kemudian hijrah ke Malaysia.A. tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah. dan Masyumi. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat . sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. Nor Wan Daud. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof.T. Wan Mhd. seakan-akan al-Ghazali adalah segala-galanya. Aku hormat kepada alGhazali. aku belum pernah berdialog secara langsung. salah seorang murid Rahman di Chicago.A. Maududi.S. aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya.

S. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph.S.A. kehilangan kemandiriannya. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago. Karena proyek al-Attas berupa I.D.C. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia.D. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidaktidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu.T.S. Bantuan sahabatku M.A.C. Kalau Rahman masih . tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas.T. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas. C. beasiswa itu kudapatkan. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak. melalui perwakilannya di Jakarta. sebagaimana telah kukatakan terdahulu. ruhnya menjadi sirna. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh.A. Amien Rais.S. Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I.A.C. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam.T.I. dalam pemikiran Islam.188 strategis bagi pengembangan pemikiran Islam. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana. Amat disesali.

Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. Gila bukan? Otak sudah tua. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. seperti telah kujelaskan sebelumnya. periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebasbebasnya. disuruh cari nilai A lagi. Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih . Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar.189 belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam. Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu.

apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Yang menguntungkanku. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. Jika upaya itu kandas. Aku mendaftar di Departemen Bahasa-Bahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Sekarang aku harus belajar Bahasa . jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Aku punya rasa takut dan cemas. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan. maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya.” seperti telah kukutip terdahulu. sekalipun hakekatnya tidak banyak berbeda. tentu semua langkah akan terhenti seketika. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago. sekalipun dia menderita. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia.190 beradab kedengarannya. Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu. Lip tidak melarangku untuk terus belajar. tidak mungkin bergerak lebih jauh. Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai.

191 Arab lagi plus Bahasa Persi. sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. aku lulus dengan angka P+. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. padahal hasilnya belum jelas. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. artinya baik sekali. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang. bukan sematamata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga . Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. Syafii hanya memikirkan diri sendiri. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu.” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A. Selama semester pertama aku harus belajar keras. sekalipun sekarang sudah lupa semua. padahal hasiahnyo alun jaleh. Andaikan kuusulkan untuk menggadai. Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. Bunyinya kira-kira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri. Biaya sendiri mana mungkin. Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam. Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”).

Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu.192 setelah sekian tahun. Aku tentu bangga dengan ini semua. Bukan main rasa syukurku. Mungkin . aku lupa. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Di kalangan keluarga dekatku. Apalagi jika menyandang gelar suku. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak. Nilai A= keluarga datang. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. Alhamdulillah. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Sekiranya tidak merantau. harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. dan menempuh ujian akhir. Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah. menulis makalah. Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. berkat rantau. bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan. Dalam perjalanan sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. lantaran desakan hidup misalnya. kelakuan semacam ini juga terjadi. Biaya cukup.

Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. nama anak kami. Mungkin karena lelah. bahasa Inggris itu akan dipahami juga. mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. Karena anak kecil. yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Tokh dalam pergaulan harian.193 dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . Lip tidak betah menganggur. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Liku-liku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu. dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami.. kadang-kadang menegangkan. Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. Hafiz. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. Sebelum masuk S. tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. Hafiz sekolah. Tidak langsung ke Chicago. Perjalanan panjang itu kini telah jadi kenangan. Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti. aku hampir tiap hari ke kampus.D. Rintangan bahasa dapat diatasi. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. Setelah beberapa minggu di Chicago. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. harus singgah di jalan. Lip akhirnya dapat kerja . Sampai di Chicago masalah lain datang pula. Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. cari informasi ke sana dan ke mari.

Beasiswaku ya sekitar itu. 868 per bulan. 750. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam. Pernah juga kuantar dengan mobil. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya.000. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp. Pinto ini kujual kepada teman bengkel kulit . Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih).50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan. tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan. 60. demi membantu beasiswaku yang kecil. Cuaca dingin sekali. Sebelum pulang ke tanah air. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi. Lip telah jadi “orang kaya” baru.000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja. Di musim panas. Dengan kerja delapan jam per hari. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. bukan? Tahun 1979. Kurs ketika itu $1=Rp. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp. gajiku sekitar Rp. isteri Kristen). Lip punya sifat tabah ini. Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. 419.419.000=Rp.000 per bulan. demi menambah beasiswaku. 838. 419.194 sebagai baby sitter (pengasuh anak). Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900. dia berangkat dengan sepeda. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga.

Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K. Selama bekerja. apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. sebagaimana yang baru saja kujelaskan. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu.R.195 hitam dengan harga $250. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985. Luas tanahnya 230 m2. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah. sungguh jauh nian bedanya. D. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu. setelah dikaryakan sekitar empat tahun. begitu juga berpuasa. Sudah kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. yaitu lima dolar per jam. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. puasa dengan membayar fidyah. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. melaksanakan salat menjadi cukup sulit. Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran. penghasilan isteriku cukup tinggi. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. Cukup fantastik hasilnya.P. AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal. termasuk acuan dalam . Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi. Sebelum pulang ke tanah air.

termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. di Inggris. Salim. Pergumulanku dengan kuliah-kuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah- . Keinginan Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan.D. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai.A. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya. kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph. Bandingannya untuk Indonesia adalah H. terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun.196 berpolitik. Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman. Ilmu seorang alim ada di tangannya. Bedanya. dan tak kunjung selesai.

dan dari negara lain. kelasik dan modern. Ada Muslim (sunni dan syi’i). Fazlur Rahman (Pakistan). Mohammad Natsir (Indonesia). Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). Muhammad Asad (Austria/Pakistan). Muhammad Arkoun (Aljazair). Hamka. Natsir. Khaled M. Abdulaziz Sachedina (Iran). Iraq. ada Yahudi. Muhammad Amin Abdullah (Indonesia). al-Faruqi. Saudi. Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko). Amerika Serikat. Ada Shah Wali Allah (India). Bassam Tibi (Suria). Ahmad Khan (India).197 kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman. semuanya dengan tekun mengikuti kuliah-kuliahnya yang selalu hangat dan menantang. Malaysia. Mungkin baginya. Al-Attas. Rasyid Ridha. Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan). Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi. Hamka (Indonesia). Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup banyak dan bermutu. ibarat sumur tanpa dasar. Ismail al-Faruqi (Palestina/Amerika). Muhammad Abduh (Mesir). ada Kristen. Ada dari Eropa. Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Indonesia. Muhammad Rasyid Ridha (Suria). Nurcholish Madjid (Indonesia). Muhammad Al-Naquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). Kanada. Iqbal (India/Pakistan). dan Hossein Nasr yang . Abou El Fadl (Kuwait). Kecuali Shah Wali Allah. Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Hossein Nasr (Iran).

dan masih ada yang lain. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. tegas. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. Pokoknya di Universitas Chicago. mendalam. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. teori politik Islam. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam. kritikal. modernisme Islam. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. hukum. Banyak persamaan di antara mereka. tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai . bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajak-sajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris. filsafat Islam. please give me one fourth of your knowledge of Islam. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. tasawuf. dan komprehensif. Selama belajar di Chicago. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. obyektif. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya.198 kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik.

Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3. tiga B.84. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. yang kuperoleh adalah 3. pada saat aku sudah berada di tanah air. Dalam menghadapi peristiwa penting ini.15 A.P. Berdasarkan angka-angka itu. sekalipun . Nurcholish Madjid dan Salim Said. dan itu dari Rahman. Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan. aku didampingi oleh dua sahabatku alm. Terlalu banyak yang dihafalnya. biasa disingkat U.199 A+ kudapatkan. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. maka I. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal. Dengan demikian nilai A menjadi 16.67. Yang aku agak heran. lima B+.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu. Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. Selama kuliah di Chicago. Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna.C. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982.K. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan. padahal gelar M.A. satu A-. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago. wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983.

200

kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka. Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. Di luar itu, merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka, sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama. Dengan kata lain, sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. Tanpa pembongkaran ini, Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal. Dari perspektif ini, aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga, fikiran, dan dana. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa

201

sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia, sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan, jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu, tampak tetapi tak terasa; pakailah filsafat garam, tak tampak tetapi terasa,” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara. Oleh sebab itu, Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu, sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata, tetapi dikhianati dalam laku, hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini, sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. Dengan cara ini, masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. Setelah 60 tahun merdeka, sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. Masih saja misalnya muncul kelompokkelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik, tetapi merupakan sebuah

202

halusinasi politik yang sia-sia. Selama empat tahun lebih di Chicago, perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis, biarlah tuduhan itu diteriakkan terus, sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan, bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. Amat disayangkan, pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan. Semuanya bermasalah. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. Dalam ungkapan lain, nama Tuhan sering dibajak untuk tujuan-tujuan rendah. Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini. Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya alQur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Jika upaya serba radikal ini gagal, dan memang tidak punya syarat untuk berhasil, maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi, bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. Ada mereka bangun semacam teori, tetapi belum

203

berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan sunnah nabi secara autentik. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. Pasti akan sia-sia. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara, setidak-tidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan. Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi, tesis, dan bahkan kabarnya juga disertasi. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah (1998-2005). Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmen-fragmen, tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Masalah toleransi inter dan antar agama, juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago. Sementara keyakinanku kepada Islam Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh, sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. Bukan saja terhadap pemeluk agama lain, aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas

204

dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan, dan berbeda dalam persaudaraan.” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku, karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. Dengan formula ini, imanku rasanya tidak semakin lemah, malah semakin kokoh, sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir, hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam surat al-Baqarah: 256, surat Yunus: 99, dan masih ada beberapa ayat lagi. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam, tetapi untuk semua, apakah mereka beriman atau pun tidak. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi, maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi, itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. Dalam ungkapan lain, mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan, maka itulah

205

mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain, tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini, masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur, sungguh-sungguh, dan cerdas. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita, jika kita tidak siap menolong diri sendiri. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik, toleran, dan berkualitas tinggi. Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan, sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan al-Qur’an sebagai hakim yang tertinggi. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation), sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan, sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. Kita ambil contoh, sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% anggotanya. Dalam sistem demokrasi Barat, judi dengan demikian menjadi halal. Dalam sistem politik syura, hal

206

itu tidak mungkin berlaku, sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. Dalam sistem syura, di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun, kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa, demi mempertahankan hidup seseorang. Dalam kondisi normal, memakan daging babi adalah haram mutlak, sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar, sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim, rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas, tidak perlu diperpanjang lagi, kecuali dalam konteks yang sangat memerlukan. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi, hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan.” Tanpa keadilan, sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. Banyak contoh sudah dalam sejarah, demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Jika ini yang berlaku, maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan

Tafsiran mana yang mendekati kebenaran. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan. bermoral. Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. asal diperjuangkan dengan sungguhsungguh. Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. Tentu tidak asal perempuan. gubernur.207 dipilih jadi bupati. laki-laki mau pun perempuan (lih. sekiranya ia masih bersuami. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan . Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima. Tidak saja pada masa kelasik. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi terbuka lebar. dan bahkan presiden.

Memang dalam . Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan. Dalam masalah ini. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah. tidak terkecuali di dunia Islam. Sebenarnya dalam sejarah nusantara. Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan. Dalam wacana modern. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami.208 perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad. monogami atau poligami. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat.

maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin. tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. praktik poligami itu sangat merebak. Sebelum berangkat ke Chicago. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan . sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di atas. Dengan memadukan kedua ayat ini. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. Isteri satu. Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri. kecuali bagi yang tidak mau. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan.209 surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata.

baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme. tidak berkepingkeping. Munculnya kelompok Suni. Sepanjang pengetahuan saya. terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. 22 Maret 2005.210 berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang. Ironisnya lagi. pada masa nabi Muhammad. Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. dan Khawarij . struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat al-Jandal yang menghebohkan itu. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. umat Islam tunggal. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. Syai’i. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. sementara bapaknya entah siapa. sesuatu yang bila tidak dihentikan. praktik seks bebas ini juga mulai menggejala. Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. sehingga seks bebas. halaman 12 dengan sedikit modifikasi. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini.

sadar atau tidak sadar. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. sedangkan dua yang lain selamat. Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al- .211 baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). Dengan terbunuhnya Ali. padahal kemenangan sudah hampir di tangan. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawabawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan. Ali.

Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. isteri nabi. yang dimenangkan pihak Ali. Tak seorang pun. puteri nabi bersama Khadijah. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. yang anti terhadap keduanya. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. Siapa yang meragukan kualitas iman mereka ini semua. sekalipun bukan mustahil. Syi’i. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. dan Khawarij. pembela Ali. sesuatu yang sudah lama diincarnya. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadiankejadian tragis itu dengan penuh kearifan. sekalipun isteri Ali. sepupu dan menantu nabi. al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan . sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan. Jika tidak demikian. Dengan kata lain. dan Ali. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. sesuatu yang tidak selalu mudah.212 Khulafa al-Rasyidun. Fathimah.

jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. seperti yang berlaku berabad-abad. Timbul pertanyaan. Palestina. Afghanistan. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. . Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai.213 kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman.Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan. kecuali jika kita memang mau membuang alQur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme. al-Furqan: 30). tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar. tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua. mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga. dan isme apa lagi.” 15 15 (Lih. sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin. syi’isme. Saya ingin mereka bersedia mendekati al. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. al-Qur’an s. dan di mana lagi. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku.

jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan. Bagiku. dada lapang. tetapi Islam tidak sama dengan Arab. perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. banyak yang bahlul tentang Indonesia. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalahmasalah besar yang menyangkut hari depan umat . sekiranya semua pihak memakai pikiran jernih. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa al-qulub al-salimah). pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur.214 Kalau realitasnya memang demikian. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. Tetapi setidak-tidaknya. Harapan. Perkisaran Abad. apalagi saling bertentangan secara tajam. Tentu sebagai manusia yang relatif. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A. Islam lahir pertama kali di Arabia. adil. Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. VII. dan punya ilmu yang memadai.

” (Lih. terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan. Just Commentary. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika. tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. hlm. Dua tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. 8. Dunia memang belum berakhir. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. 14 Juni 2005. No. hlm. Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi. tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini. 1998. Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu. Adalah Richard Falk. betapa pun belum mendalam.215 manusia. 12) dengan perubahan dan tambahan di sanasini. Afghanistan . Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. 1). khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. Jan. Amerika Serikat.

Indonesia.216 berantakan. Memang pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban. tetapi laku manusia pada umumnya sudah . situasinya terbalik 180 derajat. diawali terutama sejak renaisans. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi. masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah. padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. khususnya Amerika Serikat. dan Palestina belum juga merdeka. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. demi manusia. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. Iraq kacau balau. Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat. di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini. keadaannya setali tiga uang.

Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali mengenal Tuhan. dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi. Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja.217 lama tidak menghiraukan-Nya. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih . tetapi belum pernah efektif. rasanya sudah sangat berat. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia. P. tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. Tetapi. Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan.B. (Perserikatan BangsaBangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya.B. di mana aku sering juga terlibat. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai.

tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan. Dalam ungkapan lain.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2. semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan. . Bumi kehilangan wasit sejati. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. Imajinasi kita dapat menjadi liar. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan. Untuk berapa lama? Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis. tanpa sapaan Langit. ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan.218 belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. Tetapi menurut apa yang kurenungkan. Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. lupa hakekat. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. “Maka. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang.

Jika pikiran itu dinilai sudah usang.K. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan. I.I..I.P. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu. . syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima. Bila itu terjadi.I.I. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut.S.I. Universitas Negeri Yogyakarta). Batin meronta keras. kemudian berubah menjadi F.P. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.S.K. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I. Yogyakarta (sekarang F..P. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya. Alangkah mulianya tujuan missi ini. aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah. tidak lagi menantang. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan.P.P.I.219 Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. termasuk aku di dalamnya.S. karena tidak ada halhal baru yang dilontarkan. Fakultas Ilmu Sosial. namun realitas tidak beranjak juga. 2006). ke universitas. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindahB. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb. F. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F.S.P.

D. tamatan Amerika.P.P. dan U. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P. selain mengemban tugas pokokku di I. Aku yang sudah beroleh Ph.I. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad. Nitibuana yang berpusat di Kudus.. U. dan bahkan Pancasila. negeri atau swasta. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22.P.R.S. Rektor .N.N. itu adalah bak sarang merpati. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat.I.M. pemikiran ideologi.R. agama. teman lama sejak dari DeKalb. Semua pegawai bernasib sama.D.. Dua perguruan tinggi I. Solusinya adalah aku harus memberi kuliah di perguruan lain. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun.P. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph. Baru akhir tahun 1985. Ya.A. kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K. Tahun 1984 I.I. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana. Ada sejarah Islam.A.220 pindah karena belum punya tempat tinggal permanen. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu.I. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K..G. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA. Untuk pembayaran uang muka rumah K. mantan rektor U.K.N.T. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar.R.. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago. Miskin bukan. Cara ini harus ditempuh. adalah tempatku memberikan kuliah. membuka program pasca sarjana. Mata kuliah yang kupegang bervariasi.I.

221 I.I. Terjadi dialog. Vembriarto. St.I.. Atas kebaikan awak bus. aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas. “Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”.I. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta.P.K. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota.P.M. Gaji tidak besar. Maka aku dan Prof. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir. aku tidak mau tinggal diam. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja. Barnadib. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia.K. pickup tua ini diantar ke Nogotirto. mantan rektor I. Agak aneh bin ajaib. sekalipun S.3. sama-sama berangkat ke universitas yang sama. dan berhasil. kala itu adalah mendiang Drs. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua. Dijawab: “Itu antara lain.P. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga.” .

A. Muhammadiyah pimpinan H. Jl. tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P. semua keangkuhan itu menjadi berguguran. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P.A. B.P. Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P. Majelis pimpinan M. .P. paham kelakuanku ini.H.K.P.A.P. Muhammadiyah yang dipimpinnya.P.K. Ternyata manusia ini begitubegitu saja. Aku adalah di antara sedikit dosen I. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres.I. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. Jogjakarta.P. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerah-daerah. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. Basuni. Sejak tahun 1985 atas dorongan M. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok. K. yang lama. Semua orang di I.I. Rais.3 saya ditandatangani secepatnya. Muhammadiyah ini. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri. Dahlan 99. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah.A.222 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru. yang sekaligus pimpinan majalah. “Mohon D.P.A.

Di samping Rais. dalam P. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta.P. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini. Fachruddin. aku menempati nomor buntut kedua dari bawah. tidak saja secara lisan. yaitu 12.P. tidak terlalu tergantung pada bendahara P. Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini. Yang lain mengikuti. Sekalipun berada pada angka 12. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas . sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi. Posisi 13 diisi oleh A. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput. A. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol..K. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U.P. penerbitan pun digalakkan. sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan. Dr. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. Muhammadiyah. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua. karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan. tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku.M. Seakan-akan majelis ini adalah P. aku sudah masuk ke dalam jajaran P.R.223 Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan. posisi bendahara diberikan kepadaku. Teman-teman P.P.P.P. 1990-1992.

Bagiku. Rusjdi Hamka (774). Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja. sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total.P. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini. sebab jika ada perbedaan. Aku pada waktu itu masih partisan. Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia. Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin. selesaikan melalui mekanisme musyawarah.224 aktif. yang lain. budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. Ismail Suny (890). kader . Dalam daftar di atas. s. seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih. al-Syura: 38). A. Para pemilih kadang-kadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P. Ali ‘Imran: 159. dalam organisasi seperti Muhammadiyah. Abdurrozak Fachruddin (516). s. Prodjokusumo (638). M. Ramli Thaha (671). Fahmy Chatib (701).P. itu. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. Ahmad Syafii Maarif (557). seperti tersebut di atas. Amien Rais (993). Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. Djarnawi Hadikusumo (676). Sama sekali tidak sehat. kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997). Sutrisno Muhdam (830). Rosjad Sholeh (748). Ahmad Watik Pratiknya (655). belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. S.

sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir. Bang Imad memberi tahukan bahwa U. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama. Amien Rais. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu.M.I.D.K. tanpa berfikir panjang dan dalam. Wakil Ketua: Ismail Suny.M. dengan tetap menerima gaji bulanan. ikut-ikut teman.. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P.. Semoga Allah memaafkan. tetapi tanpa tunjangan .225 Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini. dalam kajian Islam. Dua tahun aku bertugas di U..K. sekalipun dengan persetujuan P.P.M.P. Yang lain di samping sebagai anggota P. Imaduddin Abdul Rahim.P. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai.I. Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr.P. kecuali A. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia dengan kualifikasi Ph. juga merangkap ketua bidang. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim.P. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia.K. bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara. Yogya dan proses pelamaran untuk U. Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan. Ir. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. Rapat anggota P.P. Statusku tetap sebagai dosen I. tujuan utama tercapai juga. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I. Semua proses ini relatif berjalan lancar. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha. Wakil Ketua: M.. Bendahara: S.K.K.

I. anak kami satu-satunya. Selama belajar di S.K. berakhir. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku.P.K.M. sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara.K. belum guru besar. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan.K. dan Hafiz.M. Pasti berliku-liku. disesuaikan dengan kepangkatanku di tanah air. 8 Jogja sampai rampung. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U.M.K. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S.P. karena berbagai pertimbangan. Indonesia.I.K. Hafiz kembali ke Jogja. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun. Karena I. sebab pendapatan di U.M.A. maka gaji yang diterima di U.P.M.I. terlalu berbaik hati. Indonesia di Kuala Lumpur. Teknis tranportasi dari Kajang ke . Ini bagiku menguntungkan. Tidak masalah bagiku. Lip. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana.A. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia. Semula kami berangkat tiga beranak: aku. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi.. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I.226 fungsional.M. Setelah setahun belajar di S. Dengan kata lain.A.

Kecuali Ahad.M. Islam dan Perubahan Sosial di Asia Tenggara. seorang dosen di U. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. Kebetulan kami memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu.M. Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U. Di U.K. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur.K.M.K.K. Berbeda dengan Indonesia.. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang.227 Kuala Lumpur juga tidak sederhana.K.M.M. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan. Cukup menguras fisik dan mental. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U. harus berada di kampus sehari penuh. Dr. berakhir. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia. Ini semua kujalani selama dua tahun. Pada tahun 1992. Karena itu aku harus pulang . Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. Sore kembali ke Sungai Jelok. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi. Lip juga akan turut. Kadang-kadang sewaktu pulang.

padahal pihak U. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau meneruskan kontrak. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P. Muhammadiyah secara langsung.228 dengan tidak memperpanjang kontrak di U. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian.P. aku dan Lip memutuskan untuk pulang. semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti.K. Profesor Dr. dekan Fakulti Pengkajian Islam. apalagi pihak U. Hafiz . baru tahu betul apa makna amanah itu. Di lingkungan Muhammadiyah. ada ketentuan moral yang harus ditaati. Kajang. tidak hanya menjadi bendahara tituler.. Setelah ditimbang masak-masak. Agar aku memperkuat barisan P. Faisal Othman. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan.M. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa.K. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U. (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok. Abdullah Zin.P. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan. Tidak ringan memang.M. berkat telepon sahabatku Dr. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji. dan Dr. Watik yang bertujuan mulia itu. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani.P. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng. Alhamdulillah. maka imbauan Watik yang menang.K. Aku sendiri setelah aktif di P.M. Aku terpilih.K.M. benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi.

Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. Terhadap ayahnya. Sederhana. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup. Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. rasanya aku sudah bahagia. terutama oleh ibunya. Enaknya punya ibu. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto. Hafiz terbiasa manja. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan. Semuanya berantakan. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami. entah di mana. . inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil.229 kembali berkumpul dengan orang tuanya. Aku cukup terlatih. Mencuci pakaian. adalah bagian dari kerja masa kecilku. bukan? Tetapi sisi negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. masya Allah. harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya. Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini. sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. terserah sajalah. Semuanya disiapkan. kecuali dia hidup secara benar. tidak kikir. Tidak ada yang kami harapkan dari anak. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. dan entah jadi siapa. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. Rupanya. Benar. dan tidak pernah lupa beribadah. membersihkan kamar tidur. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. Hafiz tinggal menggunakan.

Aku sendiri tidak tahu. apakah aku ikhlas atau tidak. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat.W. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P.N. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. Bahasa Inggris lancar.U. (Badan Usaha Milik Negara). Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu.230 sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Biarlah Allah yang menilai. apakah itu jadi pejabat eksekutif. Jika tidak. Dosen tamu di Singapura. pahala jauh itu pun tidak akan diraih. Kalau dalam partai politik. diakui atau tidak. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus.M.M.M. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat. Sangat giat mendatangi daerah.W. Sumbar tidak asing baginya. dan sederetan kiprah yang lain. Inilah tempat beramal yang tepat bagiku. legislatif. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan. Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. aku mulai sibuk. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri. atau posisi di B. Tetapi . waktu itu sebagai Ketua P. selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan.

aku tidak bisa mengatakannya. Yunahar Ilyas. terutama bila bersentuhan dengan isu politik. . anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka.P. kemudian Yunahar malah balik bertanya. tetapi untuk Indonesia. memang di luar dugaan. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah. Tetapi betapa pun juga. Tidak mudah kujawab. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. Shofwan tidak terpilih. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri. sebagaimana semua kita perlu berkaca. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah. Bagiku kejadian ini luar biasa. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah. Dia terpental ke nomor 43. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Kepada Dr. ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. kejadian dramatis ini telah kusampaikan. tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku. khususnya untuk Sumatera Barat. Apakah karena sikap-sikap politiknya. tidak saja untuk Sumatera Barat. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu. salah seorang Ketua P.231 mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. Dijawab. Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39.

Aku berangkat lagi bersama Lip. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill. Hubungannya denganku cukup akrab. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatahpetitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang. sulit untuk mengatakannya. Ke depan orang harus lebih hati-hati dalam memimpin Muhammadiyah. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya.232 Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat.P. Kesimpulan cepat diambil. Balum begitu lama pulang dari Malaysia. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. . Tetapi sudahlah. Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. Belum sampai setahun aku aktif di P.P. Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu. kini pergi pula Kanada.M. bukan tanpa alasan. Muhammadiyah. tetapi belum tentu benar. Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap.A. yang berlalu biarlah berlalu. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y. Jalan hidupku memang tidak pernah linear.” (Belum terkilat sudah terbayang). Kanada.

ini sampai tahun 2005. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Jepang. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat .233 Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan. termasuk mengenai sumber-sumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. sekalipun rezim telah berganti. termasuk Islam di Indonesia. tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. Kanada. sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. suasana telah berubah. dan Indonesia. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. dan lain-lain. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran. syi’ah.A. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. Sebenarnya gagasan ini cukup mulia. tidak terasa. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu al-sunnah wa al-jama’ah. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa dipertanyakan dengan mengambil al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah. Mesir.P.M. sanggahan-sanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. di McGill perpustakaannya hampir lengkap. Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah. salafiyah. biasanya perdebatan menjadi ramai.

dan cerdas. Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. Kelemahanku terletak pada kenyataan bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam. akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. maka ada dua kemungkinan penyebabnya. sekalipun masih saja terasa kurang. Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. Aku ternyata juga manusia lemah. dan Qur’ani.234 diselesaikan. Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan al-Qur’an berbicara tentang dirinya. Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu. egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. sementara usia sudah lari dan lari . pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit. asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. autentik. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. Kedua. Dengan kata lain. kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini. disadari atau tidak disadari. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan. Pertama. surat al-Anbiya: 107). sistematis.

Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karya-karya kreatif yang bermutu tinggi. aku wajib bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima.235 menuju perhentian terakhir. sepenuhnya di tangan Allah. Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. Sebagai anak kampung yang tersuruk. atau sebaliknya. sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalanpersoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. Tetapi di atas itu semua. liberal. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. M. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen. C. aku pun tidak bisa mengatakannya. Penilaian terakhir. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. Entahlah. Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. bukan otak-otak besar yang culas dan curang. Sanusi dimakamkan di .

aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik. Anak bungsu pasangan Sanusi-Salima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya. Pelopor pencerahan intelektual Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. intelektual.P.P. dua puteri dan satu putera. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief.P. dari suku Caniago lagi. tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. musibah kedua terjadi lagi. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masing-masing. tidak ada kepastian. P. menulis. dan mengurus Muhammadiyah. Terima kasih ongaku. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief. Tetapi bulan Juni 1994. Muhammadiyah. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P. musibah kedua ini benar-benar menggoncangkan. sukuku. Padang. Ketua P. Muhammadiyah berduka dalam. tidak jauh dari bandara Tabing. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu. .236 pekuburan Tunggul Hitam.

Keduanya adalah sababatku. Paling-paling menjadi saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. anggota “mafia Chicago. Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. (Perang Dunia) II. Kampung Kemasan (Solo). sedangkan aku adalah generasi kedua.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga.D. Muhammadiyah era Azhar.P.” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat . Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang. dan untuk apa pula. Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina.” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali. “tanah airku. Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana. Keduanya tidak mungkin mengenalku. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku. Tidak ada alasan sama sekali. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah. Tetapi retak tangan telah menentukan lain.237 alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). Mohammad Amien Rais. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi.

Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang . Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam itu. Adapun aku dan M.P. sekretaris P. tak menentu.P. Bertahun-tahun aku bergaul dengan Cak Nur. Banyak persamaan. Benarlah Bung Haedar Nashir. Jika aku mengeritik Muhammadiyah. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengah-tengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. akan berlaku dalam gerakan apa pun. Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang. jika bukan pembusukan. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. Di bawah nahkoda M. Tanpa kritik diri. berbagai masalah kami bicarakan. proses kemunduran. di samping ada perbedaan di sani-sini. Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. terobosan M. Amien Rais. di masaku dan salah seorang ketua P. Saya rasa M. itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. pasca Muktamar Malang bahwa M.238 cendekiawan besar Indonesia. Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993. M.

tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. Paling-paling saling menggerutu. suasana panas tidak membawa perpecahan. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat . Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini. Cukup panas suasana tanwir waktu itu. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. Bukan saja meni’mati. setelah itu mendingin kembali.239 menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. M. Ini berbeda denganku. Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu. M. M. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar. tentu bukan karena substansinya. Amien Rais itu.

Nama M. merasa kecut dengan gagasan M. dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku. sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan ke luar. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis. Amien Rais itu. . Korankoran terus saja mengulasnya. bukanlah pertanda buruk. Kadang-kadang bertele-tele juga. tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi.P. Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai. tetapi mereka segan untuk berterus terang. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu. dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. Kembali ke Surabaya. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada.240 presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. Amien Rais.

M. Habibie sebagai wakil presiden masa itu punya hubungan yang baik dengan M. Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain. Duka Muhammadiyah belum lagi hilang. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. M.241 Para peserta tanwir yang pegawai negeri. tetapi .M. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. Bagi M. Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang.J. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Amien Rais dalam mengeritik rezim. tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M. tetapi gagasannya menakutkan. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). Amien Rais dicintai. Amien Rais. Namun cinta mereka terhadap M. Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya. Keduanya juga sebagai tokoh I. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.C.I. Pak Azhar baru saja wafat. B.I. Amien Rais tidak pernah menyusut. Di sinilah dilema itu terletak.C. M. Untungnya M.

242

aku mendukungnya, dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M. Amien Rais, ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya, Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995), pihak istana berusaha keras agar M. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah. Tetapi M. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah, di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini, memang sudah pada tempatnya, tidak berlebihan. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. Tak ada gunanya. Warga yang penakut pun akan memilih M. Amien Rais, karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali, apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P.P. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya, dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa, posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. Amien Rais. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik, sekalipun belum tentu didengar dan

243

diperhatikannya. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. Amien Rais. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. Ketegangan hubungan M. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. Dalam rapat-rapat P.P. Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi, apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Amien Rais, sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan, seperti baru saja disinggung di atas. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan

244

memburuk, dampaknya akan dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air, di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “rajaraja lokal” yang membebek ke Jakarta. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P.A.N. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M.A. Rais. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit, karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu, sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah, khususnya mereka yang sudah agak berumur. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan, sekalipun tidak bisa dihindari. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Saransaran Kasman Singodmedjo dan A. Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun, sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan.

245

Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat, sekalipun tidak diakui terus terang. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga, sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. Dalam berpolitik, tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. Gesekan di lapangan pasti terjadi, keras atau lunak. Jika itu yang digunakan, maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka, Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. Politik di mana pun di muka bumi ini, pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu, tidak peduli siapa pelakunya, beragama atau ateis. Ini fakta keras dalam sejarah. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. Tergantung kemudian, apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Jika dibuang, kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. Kalau pun ada, jumlahnya tentu sedikit sekali, dan akan tersingkir dari persyarikatan, lambat atau cepat.

246

Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik. Menurut tuturan R.B. Khatib Kayo, Ketua P.W.M. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005, dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik,” sebuah penegasan yang patut direnungkan. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan, paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu, demi menjaga independensi Muhammadiyah. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi, risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan.” Dengan bergulirnya waktu, Muktamar Aceh semakin mendekat. Persiapan secara finansial, seperti kukatakan, bukan masalah besar. Tetapi gesekan politik antara M. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P.P. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Amien Rais. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. Amien Rais. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P.P. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima

247

Presiden Soeharto di Istana Negara, dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais. Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu. Aku melihat bibir M. Amien Rais selalu komatkamit, entah apa yang dibacanya, sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. M. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau, tetapi juga tidak boleh sombong. Kami anggota P.P. yang lain berupaya bersikap biasa saja, sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden, mengaku Muhammadiyah lagi. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu, kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. M. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu, kemudian diikuti oleh yang lain. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. Komandan pertemuan dari pihak Muhammadiyah adalah M. Amien Rais, bukan aku. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah, ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. M. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P.P. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Seperti yang diharapkan dari awal, ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. Bantuan

248

akan diguyurkan setengah milyar, sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. Bukan karena keleledoran Soeharto, tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini, suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Maka sekarang bereslah segalanya. Kendala politik telah teratasi. M. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan. Dengan iklim semacam ini, diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Ilmu kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. Amien Rais. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar, semua yang tampak di permukaan seakanakan tidak ada persoalan antara M. Amien Rais dengan Soeharto, aman-aman saja, sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikap-sikap politik Ketua P.P. itu. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M. Amien Rais memang terasa sekali. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”. Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu, adalah persoalan adaptasi belaka, sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. M. Amien Rais terus melaju dengan agenda-agendanya, baik dalam tanwir, muktamar, maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan

249

yang segera akan muncul. Ada sementara kader Muhammadiyah, a.l. Lukman Harun, Din Sjamsuddin, Hajriyanto Y. Thohari, dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H.S. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P.P. di medan muktamar. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah, tak seorang pun yang meragukan. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono, tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif, Muljadi sering dipuji Bung Karno. Keduanya bahkan saling memuji. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan, posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman, sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah, tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus, karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan, demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. Inilah politik, kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa, betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. Aku yang mengusung M. Amien Rais untuk menjadi nahkoda, terpaksa sedikit bergesekan dengan

250

Lukman dan Din di arena muktamar. Ya, gesekan ala Muhammadiyah, tidak menjurus kepada permusuhan abadi. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat, tetapi untuk membendung M. Amien Rais, dicoba diusung juga. Dalam gesek menggesek ini, aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. Lukman, sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993. Untuk itu aku mohon dimaafkan. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku.” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. Tetapi bukan terhadap semua orang. M. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. Djazman alKindi, persahabatanku dengan pendiri I.M.M. ini tetap utuh, tak berubah, sampai dia wafat. Berbagai pandangannya tentang M. Amien Rais sering disampaikan kepadaku, padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. Amien Rais. Lukman dan M. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah, bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman, yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. Dari Parmusi ke P.P.P. (ini masih nalar), lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya), kendaraan politik ORBA. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”, tetapi itulah caraku memandang politik. Namun di atas itu semua, Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. Amien Rais dalam Muhammadiyah.

251

Lukman, sang politikus, tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak, padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang, katanya. Betul, aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung, tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta, apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke puncak, kalau warga menginginkan. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. Itu bukan watak dan tabiatku. Semua orang Muhammadiyah paham ini. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk timtim sukses agar menang, karena aku tahu secara diamdiam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto. Biasa, Muhammadiyah dipuji. Tetapi ada yang di luar kebiasaan. Di luar teks pidato, presiden berucap, kira-kira a.l. berbunyi: “Tanpa tedeng aling-aling, aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia.” Mungkin tidak persis demikian, tetapi intinya begitu. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. Muktamar gaduh dalam kesenangan. Ada bibit yang menjadi presiden. Berbulan-bulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga Muhammadiyah. Mereka merasa mendapatkan

252

perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. Bukan karena latah tentunya, tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah, sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. Menarik dan menegangkan. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian, bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis, bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. Inilah dunia, tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. M. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung, akhirnya masuk pula dalam pencalonan, dan kemudian terpilih menjadi anggota P.P. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990. Aku sendiri masuk nomor tiga, selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam, yang berada pada urutan kedua, sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Jika pada Muktamar Jogja, aku berada pada nomor bontot kedua, di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah, sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. Bagiku, komentar-komentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup, aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Tidak ada

253

gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan, serumah berlain rasa,” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah, betapa pun terdidiknya mereka. Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P.P. Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. Amien Rais (1245), Sutrisno Muhdam (1048), Ahmad Syafii Maarif (1047), A. Watik Pratiknya (886), A. Rosjad Sholeh (874), Yahya A. Muhaimin (866), Ramli Thaha (852), Asjmuni Abdurrahman (802), M. Muchlas Abror (730), Lukman Harun (660), Anhar Burhanuddin (628), Rusjdi Hamka (624), M. Sukriyanto (589). Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang satu di bawah Sutrisno Muhdam. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta, aku telah melompati sembilan nama. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah. Dari 13 nama itu, ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. Amien Rais, Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam, Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif, Sekretaris: A. Rosjad Sholeh, Sekretaris: M. Muchlas Abror, Bendahara: Anhar Burhanuddin, Bendahara: M. Sukriyanto A.R. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-case-nya. Memang selama muktamar berlangsung, hampir tidak ada gangguan yang berarti, sebab pengamanan sangat ketat. Tetapi pada tahun 1995 itu, situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman. Peluru dari G.A.M. dan T.N.I. masih saling menyalak. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti.

tetapi diakui bahwa Jakarta telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya. T. bukan partai. muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas.254 Dari sisi ini. Di atas itu semua. Banda Aceh. Amat disesali. beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut dalam kemasan berani. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. . Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. Terserah sajalah segala penilaian itu. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh.

bumimu mengandung kekayaan minyak. dibuka oleh bibit. Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. Sebagai pencinta Aceh. emas. aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh. tembaga. dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. . sebagai wujud dari harga diri untuk melawan si kafe dan kezaliman.255 Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah. dan mungkin yang lain. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit. Aceh. laki-laki dan perempuan. juga dari sisi sejarah. engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. kayu. engkau adalah bumi pahlawan. tapi hanya 30 tahun. Sejak itulah engkau resmi dijajah. Perang Aceh berakhir pada 1912. beberapa hari pasca tsunami. dari sisi sejarah. Sampai hari ini. Aceh. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela.

karena engkau turut mendirikannya. sekalipun telah dianiaya. Sebagian besar rakyatmu ingin tetap bersama Indonesia. engkau kembali melawan. Tanahmu lepas dari Belanda. tanpa ada tanda-tanda. untuk kemudian berdamai. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. dengan meninggalkan korban dan dendam. engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu. Aceh. Engkau bela republik dengan darah. Aceh. di masa revolusi kemerdekaan. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. pada tahun 1950-an. Tanpa dinyana. Belanda sangat takut kepadamu.256 Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang. perang saudara belum usai. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat. Aceh. karena engkau pantang dijajah. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun. Tapi tidak bertahan lama. . engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar.

akibat kemurkaan alam. Indonesia meratap tanpa air mata. halaman 12. Jakarta: Grafindo. Tanah Rencong. sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. 131-132. 4 Januari 2005. berserakan di mana-mana. Dunia berduka dan terluka. 1 Jan. Anton Syafriuni. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu. Tanah Pahlawan. karena sudah kering.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’. Itulah Aceh. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Akibat gesekan lempeng bumi. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh . Sekitar 200. 2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. hlm. dengan penyunting Hery Sucipto. Allahu ‘alam! Jogja. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah. 2005. dan Husni Amriyanto Putra.257 alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua.

muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu. selamat Indonesia. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amal-baktinya semasa hidup di dunia. dan berhasil. akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah.258 harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. Peluru masih mendesing di mana-mana. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. Jakarta harus lebih arif menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama.. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005. Tentu dengan . Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. biarlah berlalu.A. damai. Yang berlalu.M. tidak terkecuali di Banda Aceh.M. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G. seperti tersebut di atas. Lukaluka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah. jangan diulang lagi. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. dan alhamdulillah berhasil. Mari kita saling memaafkan. Maka adalah sebuah rahmat Allah. darah sudah tak tertumpah lagi.A. Allah maha tahu segala akibat perkara. Selamat Bumi Rencong.

Segera disusun pengurus lengkap P. disusul oleh majelis. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I. sementara G. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas. karena masing-masing pihak. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali.. tetapi di balik itu ada saja segi positifnya. menuntut keadilan.. . Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P. Usul ini disetujui rapat pimpinan.N. Surjadi Sudirdja. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah. Posisi M.M. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam. Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. semula sama-sama keras kepala. M.P. Ali Yafie. Kembali ke Muhammadiyah. Tsunami memang merupakan kiamat kecil.I. di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta.M. dan lembaga. bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh. Di bawah komandan Rais P. Jakarta dan G. badan.A. yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap.A. Sunankalijaga. Untuk ketuanya aku usulkan Dr. Nurcholish Madjid. Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai tahun 2005.A.P.A.259 pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan.N.

Ini akan sangat merugikan warga jika . Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis. Di bawah kepemimpinan Abdullah. Dikhawatirkan berbagai aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah. Dari sudut pandangan ini mungkin benar. sesuai dengan nama baru yang disandangnya. P.260 Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini. Majelis Tarjih sekalipun diprotes. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. juga di bumi Muslim. sebab salah satu akibatnya adalah otak-otak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. buku ini tetap saja beredar sampai sekarang.P. Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga. di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat. karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran al-Qur’an. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan.

Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengah-tengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. liberal. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. Bahkan dia bergaul kaum komunis. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. atau semakin beriman. Pendiri Muhammadiyah. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. sementara al-Qur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing. . Sebab bila hal itu terjadi. Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerja-kerja intelektual. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. Belakangan anak-anak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan.261 Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. Ahmad Dahlan. Kristen. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. dan siapa saja. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985.

Amien Rais. Keruntuhan Rezim. Muhammadiyah. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya.262 Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. Dengan keterangan ini. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman. D. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah. Semua teman tahu. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik. dan tetap anak kampung. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. Adapun pikiranku telah menerawang jauh . dan Aku Dengan sub judul ini. tetapi agama tidak disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan. Sama sekali tidak. Habibie. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. berkat M. Aku adalah anak kampung.

Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. I. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya.. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. Aku tak peduli lagi. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh.F. susahnya bukan main.M. Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah. tuduhantuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat.F. Akan ke luar.M. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand. Presiden Soeharto gelagapan. Apa yang digulirkan M. tetapi tak satu pun yang mujarab. Dengan keterangan ini. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. Resep terus diberikan. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang . Tidak punya dasar. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya.F.M. Dalam keadaan bingung. tawaran itu diterima.263 memasuki berbagai arus peradaban. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I. (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I. itu.

suatu penegasan yang berani sekali.F. . Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. hlm. Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan..M. (Lih. Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat. Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I.M. Mahathir Mohamad. hlm.F.F. 2202.F. dan badan-badan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa). Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I.M. pemerintah harus meminjam dari I.M.. Globalisation and the New Realities. 15).M. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I.F. 122). Dengan ekonomi yang compang-camping. campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neoimperialisme yang berlagak dermawan. Subang Jaya: Pelanduk Publications. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan-perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan.264 dikuasai Amerika ini. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu. ibid. penjaga kedaulatan ekonomi negaranya. (Lih. untuk dibantai. itu. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I.

Amien Rais bukan main sibuknya. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. Muhammadiyah di bawah nahkoda M. Dalam situasi yang sangat kritikal itu. . Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing.265 Pada tanggal 21 Mei 1998. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. karena faktor M. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. M. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik. hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang.J. sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki. Dua tokoh yang semula begitu akrab. Amien Rais sangat pro-aktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Hubunganku dengan M. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen.

Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik dengan banyak orang. Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi . Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Saya rasa M.7). peran M. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. Amien Rais di P. sikapnya semakin dingin terhadap M. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis.P. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan. secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya. kecuali hubungan baik. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk. Aku banyak belajar pada tahun-tahun transisi yang menegangkan itu. terutama dengan Eropa. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi.266 Pada waktu Habibie membentuk kabinet. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. Amien Rais. termasuk dengan M. 15. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6. Amien Rais. Habibie berhasil. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh.

Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998. hlm. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K. Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B. (Kabinet Reformasi Pembangunan).P.R. Di dalamnya berkumpul kekuatan . umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. Ini tantangan terberat bagi Habibie.267 tuntutan masyarakat. khususnya kaum elit dan para mahasiswa. Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R. 6. Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya. di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: Minggu ketiga bulan Mei 1998 benar-benar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit. yang ketiga.I.J.

H. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orangorang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. lugu. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. Bahwa Habibie seorang jujur. Menurut A. Nasution. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu . Ini dilema terbesar baginya. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. tak seorang pun yang meragukan. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Habibie tampaknya tidak cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi. Pemungutan suara dalam DPR baru-baru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas. posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. Di sinilah terletak kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Seharusnya menurut saran saya. salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa.268 reformasi dan kekuatan anti-reformasi.

dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal. Anggota P. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998. tetapi diabaikan saja. Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah. kadang-kadang juga memunculkan riakriak yang agak mengganggu. bijak. Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet.P. sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot. dan efektif. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku.269 paket dengan Habibie. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat. punya watak negarawan. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti. adakalanya dengan perasaan khawatir. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang . Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai. Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan.

menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden.P. Pada waktu itu aku benar-benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. Kalau mandi. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas.P. Lukman masih bagian dari Golkar. pada bulan Mei itu bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. Setelah berdiskusi agak lama. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik. karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat. Sampai jatuhnya Orba. Untuk menentukan sikap P. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. kendaraan politik Soeharto selama ini. Watik berpendapat lain.270 dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan. jangan kepalang basah. sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Dengan kata lain. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat.P. Aku dan Dr. dia akan . teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini. diadakanlah rapat pleno P. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini. sebagian besar anggota P.

tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik. bahkan turut bersuara memberi masukan kepada peserta. Yang lain juga mengikuti. Pucuk dicinta ulam tiba. mantan tahanan politik ORBA. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah.P.P. seperti A. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru. itu. sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah. rumah tangga asli mereka. Ramai sekali yang hadir.P. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi. tetapi tidak sekuat Amien Rais. Dalam rapat di atas P. itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah . Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P. karena memang di situ habitat yang tepat baginya. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia.M. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. Fatwa. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P. Jelas di sini aku juga punya naluri politik. Fatwa.M. Perlu langkah-langkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah.271 berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan.W.

Rais dan pendukungnya. Di ujung upaya. Muhammadiyah? P. Antara Juni-Agustus 1998. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil. Rais sendiri semula agak ragu-ragu. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. tanpa merasa . Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar. Muhammadiyah selain memimpin partai.P. bertindak cepat. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia.P. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik. tetapi kuhargai seperti biasa. kecuali sahabatku K.W. bertempat di kantor P. untuk maksud baik atau sebaliknya.N. Ini luar biasa memang. tidak boleh terlambat. Ketua P. (Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais.P. bukan yang lain. Biasa. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. jawabanku lugu.P. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu.272 menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju.H. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu. maka berdirilah P. Djamaluddin Amin. Entah dipengaruhi siapa. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P.A. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P.M.P. Politik bukan duniaku. Muhammadiyah Jakarta. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya. termasuk aku.

Namanya disebut di mana-mana. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya. persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh. Sampai hari ini. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin.. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya. apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah.N. tingkat wilayah. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang telah membawa Muhammadiyah bersinar terang.A. Nasehat ini mungkin didengarnya. Ini tidak mengherankan.P. aku akan tenggelam. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut bermain di arena politik praktis. Alasannya sederhana saja. tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang. aku semula merasa agak gamang juga.273 tersinggung sedikit pun. bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang. orang Minang kedua sesudah . Aku tidak terlatih menjadi orang pertama. Inilah sosok yang aku gantikan. Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri. tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah.

Bukan aku. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah. tetapi orang seumurku mungkin memang . K. dunia kampus.I. P. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. Des. budayawan. Tetapi harus kuakui. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung.R. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup. Hindu.” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apa-apa tentang masalah ini. tanyakan langsung saja nanti. Budha. Kata orang. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. warga Muhammadiyah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku.A. Sutan Mansur. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. Orang kantor Akbar Tanjung.. atau siapa saja..U.W. 1998. biarlah orang banyak yang menjawab. pejabat. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku. (Dewan Pertimbangan Agung).I. Lip menjawab: “Saya tidak tahu.Tanyalah tokohtokoh N. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati.. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu. militer.P. politisi.274 A. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D. Bagiku hal ini baik saja.G. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku. cendekiawan.

mantan anggota parlemen. D. dan Megawati. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D. Kemudian pada akhir tahun 2003. kecuali oleh B.R. Para mantan menteri.P. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu.A.J. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. Abdurrahman Wahid. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan. Baramuli. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat.A. maupun Achmad Tirtosoediro.P. termasuk Sutrisno Muhdam..A. aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. mantan jenderal. Habibie.. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya. dilikuidasi karena M.275 dinilai cocok sebagai penasehat presiden.P.A.. Itulah .A.P.P. mantan sekretaris jenderal. dan mantan-matan petinggi lainnya. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B.P. aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. menganggapnya tidak diperlukan lagi. juga dari Muhammadiyah. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D.P. pada tahun itu juga.A. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut.A. bukanlah urusan D.J.A. D. baik A. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. Dari pengamatanku. Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D. yang lain.P. politisi.

A. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota . Bagiku apa pun kata orang. secara berangsur telah menjadi teman baikku. baik sipil maupun militer. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir. aku sungguh banyak belajar dari anggota-anggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. Ini juga meringankan P. Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta.P.P. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta. kiyai. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik. Sewaktu aku masuk D. mereka terlalu baik denganku. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono. untuk D. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo.. menteri pertahanan dalam kabinet SBY-Kalla.A. dekat istana presiden. aku hampir saban minggu bolak-balik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D.P. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota. tokoh masyarakat. umurku sudah menginjak 63 tahun. Apakah itu jenderal. tanpa kecuali. agak jauh di atasku. Semua anggota D. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat.276 sebabnya barangkali ada orang yang membaca D. di samping A.P.A.P. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur.P. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua. Muhammadiyah. Sutrisno Muhdam. sebagai Dewan Pensiunan Agung. Wakil Ketua P.A. politisi.P.A. marsekal. aku banyak dikenal di kalangan korps marinir. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan. Melalui Gafur.

. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali.R. banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. “Tidak. karena pribadinya selalu kalem dan tulus. sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Rasa humornya tinggi. Apakah kemudian Muhammadiyah benarbenar selamat. Begitu menyatunya hubungan itu. dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk.P. karena wafat setelah sakit beberapa lama. yang terlama. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda. biar lambat asal selamat. dan sedikit menggelikan. segar. mertua Muhdam. Kepemimpinan Pak A. cepat selamat. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut.P. Muhdam adalah menantu A.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. Itulah gaya Pak A. Hanya soal waktu.R.. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D. Karena upaya beraninya ini.R. dan semua kita pasti akan menyusul pula. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya.R. ketua P. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”. Fachruddin. Semoga Allah menerima semua amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua . Aku tidak tahu. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan). Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka.R. Satu ketika aku bertanya: “Pak A.A.A. penuh kharisma. hanya satu-satu. biarlah publik yang menilai.P. cepat.277 D.

Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh. Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras. semua orang tahu. aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab. Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang antidemokrasi ke era demokrasi. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. termasuk Amien Rais.278 sesudah Hatta. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. Seluruh dunia memujinya. Tetapi ada catatan lanjutannya. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. Dalam menghadapi Habibie. Dalam situasi serba dilematis ini. pemerintah tampaknya cukup khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan. Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan . apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto. masyarakat menjadi liar. Inilah yang kurang diapresiasi para elit. Habibie memang telah melangkah terlalu jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. Keadaan sukar sekali dikontrol.

bahkan sering dipuji oleh I. Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain. Setelah referendum diadakan. Dengan kata lain. pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie.M. langkah pemerintah cukup antisipatif.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia. Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto.F. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum . Hanya sekitar 22. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim.279 berpihak kepada Indonesia. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. dan Bank Dunia. sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan. hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu.

Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Tidak selang lama setelah sidang. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh. sekalipun tidak ada aturan . Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya.280 lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab.U. sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya.P. Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie. akan menolak pertanggungjawaban Habibie. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi.P. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya. Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N. Sidang M. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M. Kritik terhadapnya semakin merebak.R.R.R. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan.P. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M. Ringkas kaji. dan ternyata memang itulah yang terjadi.

tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masamasa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk. termasuk Amien Rais. di Indiana.P. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. penasehat dan salah . Aku senantiasa mengamatinya dari dekat. Fuad Bawazir. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.R. tidak peduli siang atau malam. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr. sekalipun telah membidik dirinya sendiri. Disiplin ilmunya pun. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie.. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya. Habibie sangat tahu diri dan menghormati keputusan M. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang.P. apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P.281 konstitusi yang melarangnya. persahabatan kami tidaklah rusak. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya. Maklumlah. politik adalah habitat yang sebenarnya baginya.

U. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P. jawabannya adalah: “Jujur saja. Sekalipun N. P.P.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22. (Partai Kebangkitan Bangsa). gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak . Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis. dan Golkar..49/51.D. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik. dan P..P.P.R. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie.P. Sejak N.I. P.D. Dengan membentuk Poros Tengah. termasuk Wahid.S. sebenarnya punya naluri politik yang tinggi.P.U.U.D. Inilah dilema N.) merasa sejajar dengan P.A.S.R. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil. yang tidak mudah diatasi.282 seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik.B.N. dalam Sidang M.K.K. dan Golkar.. P.. tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis. maka mereka (P.A.P.U. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N.N.P.I.P. Intinya dari tokoh-tokoh P.U. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah.I. Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. 1984 di Situbondo. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P.P. mengalahkan Matori Abdul Djalil dari P. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ).K.

jika Rais yang maju. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju. Mereka yang akan mengatasi. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada tanggal 21 Oktober 1999 subuh.” Situasinya memang rumit sekali. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini. Seperti mereka faham saja watak umat .-Muhammadiyah. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N. Ibarat jago silat.P. Dawam Rahadjo. Yusril Ihza Mahendra. Hamzah Haz. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai.U. Tetapi siapa tahu pula. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. banyak yang lain. Akbar Tandjung. Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman.283 belakang dengan harapan itu. ini aku dengar dari Rais sendiri. di akar rumput bisa gaduh. Marzuki Darusman. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu. di antaranya Jenderal Wiranto. Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari. tetapi tetap ditolaknya. baru teringat silatnya. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan. dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M. Selain itu.R. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa. setelah babak belur. sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. Adi Sasono. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais.U.

Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie. Azidin. atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia.P. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A. S. dan massa Muhammadiyah. Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A. Dinihari itu A.284 di akar rumput. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie. Rahman Wahid ini.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu. padahal Habibie waktu itu masih berkuasa. Muhammadiyah Jakarta. Umpamanya dalam huru-hara itu ada yang mati. Rahman Wahid yang berharap macammacam itu. Tetapi itulah A.U. atau Gus Dur yang akan menemuinya.P. Jadi memang serba dilematis. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Sekitar bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden. A. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. diobat oleh para kiyai.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N. Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota . Shihab hanya senyum-senyum mendengar A.E..

Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A.I.A. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M.B.D. dan masyarakat tertentu. Aneh bin ajaib kemudian berlaku. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M.” Padahal Matori bukan preman setahuku. perlu dipimpin oleh preman.-P.P. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M.P. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati. tempat . mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie.P. Di samping berbicara tentang kabinet. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng. Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya.P.R.R. yang tidak mau kehilangan segala-galanya. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D.285 D. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya.R.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi seorang calon presiden.M.R. Dan Abdurahman Wahid terpilih betul. sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati.P. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D.P.R. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan teman-teman P. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini.

R. kakek Abdurahman Wahid. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia. Abdurahman Wahid mewakili puak N. Hubungan N..A. Amien Rais puak Muhammadiyah.U.U. Lebih dari itu. dalam lingkup nasional. tokoh P. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat. Mereka semuanya gembira. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden. ini kongsi politik yang sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana. Fatwa. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai golongan dalam masyarakat plural Indonesia. untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid.286 berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi.P. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D. Akbar puak H. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid.P.N. sampai sujud syukur di gedung M. apalagi dengan kondisi moral . Amien Rais.P. Hindu.R.R.I.M. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M. dan Budha. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini.U. Kristen. seorang A. bapak spiritual N. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat. Teman-temanku dari pihak Katolik. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid. sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab. Bukan saja mereka.M.

tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masingmasing. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. Sebelum jatuh sama sekali. Abdurahman Wahid. dan Dr. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang. seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M. tidak saja di kalangan elit. Tiga figur santri: Amien Rais. cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu.” tetapi sudah bertarung. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal. Deddy Julianto. Iklim politik menjadi panas.287 bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. bukan . sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati.. Tetapi alangkah sukarnya. serumah berlain rasa. Sepintas lalu. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. seorang pengusaha pribumi.R. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan.” Belum sampai dua tahun. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjangganjing politik yang diciptakan para elit. dan memang keduanya adalah petarung sejati.P. M. Aku. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara.

warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. Fasich..P. masjid-masjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak. Nadjib . A. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu.R. termasuk dengan Ketua Umumnya K. Khususnya di Jawa Timur. Hasjim Muzadi. Drs. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa. tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. Karena kejadian itu cukup menegangkan. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. Amien Rais. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif.288 Amien Rais.W. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M. N.B. H.U. Dalam situasi serba sulit ini. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N. maka pernyataan P. Akibatnya sangat nyata. P. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu.H. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi.M. karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. dan H. DR. Apt. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid. dan ketuanya M.U. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan.

Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P. Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. 4. yang dekat denganku terus dihubungi agar menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan. tertanggal 5 Februari 2001.W. Anak-anak muda N.U. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas. Cukup banyak milik . Jawa Timur. S. (Lih. 3. Kontak dengan P.289 Hamid. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional. hlm. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini. Faaisol Taselan. Ainur R. Jawa Timur terus dilakukan. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan. Nadjib Hamid. 2002. Surabaya: P. tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan. perlu kukutip di bawah ini. tanpa menyebut golongan mana mereka. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik.W. yang lain. 1.Sos.M.M. Sophiaan. 2. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan..P. 89).

Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. tetapi pasti.” ( Ibid.M. Dien Syamsuddin. Kata orang. hlm. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas.U. benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini. (Ibid. Tetapi awal .U.U.290 Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya. Fatwa: …bajingan negara.H. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl.W.. A. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi. hubungan N. aku cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini. Bagiku semuanya harus dimaafkan. N. P. Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N. Tetapi P..M.-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali. K. tetapi isi tidak berubah). 94). Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan. Kholil Gresik.U.B.. 55. dengan sedikit perbaikan ejaan. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang. hlm.

periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif. A. Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. Malik Fadjar. Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Sukriyanto A.P. Din Syamsuddin. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. . M. Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P. A. Malik Fadjar (1041). 8-11 Juli 2000.291 tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya. Amin Abdullah. Sukriyanto A.P. Bendahara: M. M. Rapat Pleno P. Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir. (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo).R. Wakil-wakil Ketua: A. Rosjad Sholeh. M. Ahmad Watik Pratiknya (803). Din Syamsuddin (1048). Amin Abdullah (940). di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi. Muchlas Abror (788). Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M. Rosjad Sholeh (1034).P. Ismail Suny (921).W. Daerah Khusus Jakarta.R. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta. Tidak lama sesudah itu.R. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban. M. A. M. Haedar Nashir (748). Muhaimin (971). Mohammad Dawam Rahardjo (910). Yahya A. (706). Asjmuni Abdurrahman (769).M. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku. Gambaran urutannya adalah sebagai berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282).

P. Ketua M. kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap. Inilah a. Ketua D. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya. Amien Rais.R. isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985. Akbar Tandjung.292 Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan. apalagi memberhalakannya. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali. dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan jumlahnya. aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden Abdurrahman Wahid.P.l. UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern.R. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana. Analog dengan ini pula. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. dan banyak yang lain. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang . Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi. M.

Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Oleh sebab itu. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini. masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia.293 masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. Bangsa ini adalah milik kita semua. rasulnya. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. dan untuk jangka panjang. maka Allah. Oleh sebab itu dalam kapasitas dan posisi kita masing-masing. Lalu kepadamu akan . Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-Dan katakan: “Beramallah kamu. dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam.

Masyarakat memang demam pertandingan. aku betul-betul terjungkal. A. terserah saja kepada para pemilih di muktamar. tanpa melihat latar belakang sosial. dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. tetapi masih . karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif. Muktamar Jakarta cukup semarak. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. suku. dan sejarah. seperti biasa. tetapi pers. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi. agama. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik.294 diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan…. apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Biar orang lain yang dipilih. Jawabanku biasa dan datar. Bilamana sebaliknya yang berlaku. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. apalagi pertarungan antar figur. Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. ya diterima saja. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. sekalipun tanpa tim sukses. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. sesuatu yang memang tidak kusukai. pada umumnya lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. Malik Fadjar. menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan.

Suasana partai politik jangan ditanya lagi. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi menetapkanku sebagai ketua. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik. Permainan uang seakan telah menjadi norma. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. Sepengetahuanku. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktik-praktik busuk dan pengap itu.P. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. misalnya.295 dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. Anggota yang lain setuju saja. Semoga begitu seterusnya. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme. seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P. sebab jika usia masih . Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik. Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Dalam perkara yang satu ini. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. mentalku harus benar-benar disiapkan.P. seperti main uang. sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini. Dengan kenyataan ini. Muhammadiyah untuk periode 2000-2005. Dalam rapat kilat itu.

Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it. Bravo. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah.P.P. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka. Jadi. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?]. aku terlihat “mengalah. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed. Muhammadiyah.” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. periode lima tahun cukup berat bagiku. Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi. buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir.” (SMS pada . Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P. tak seorang pun yang mempengaruhiku. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself. sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda. namun tidak bisa didikte oleh MAR.296 dipanjangkan.

I would have listened gladly. khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. Aku mau berdamai dengan siapa saja. bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan. Tetapi jika tidak demikian. ejaan disesuaikan). Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. if you ordered me to pull my support for MAR.30. Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar.297 6 Januari 2006 jam 22.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004. Jawaban buya sangat jelas: Jangan. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. demi menjaga keutuhan Muhammadiyah. Bagiku sendiri. aku kadang-kadang merasa seperti bika. Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah.24. bika tidak akan masak. saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya. . Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia. ejaan disesuaikan). Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. Dalam suasana yang tidak normal itu. di bawah panas di atas panas. bantulah dia sebisanya. asal dilakukan dengan tulus dan autentik. jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi.

sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.P. Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di . Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku kepada masalah kepemimpinan.298 Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P. Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama. Muhammadiyah. Dan bertaqwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. menggunting dalam lipatan”. baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik. jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar. sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya.” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang.

aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan. Bali. Apa yang kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir. Dan undangan itu dikabulkannya. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir. sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya.P. Rapat Pleno P.299 Sidang Tanwir Denpasar.P. Kami anggota P. M. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural. . tetapi sia-sia belaka. tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta. 24 Januari 2002.

dan aku mendukung. jam 17. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini. P. P. Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. lalu meninggalkan Bali. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini. yang mengundang Mega.15).” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers.300 Yang benar bukan begitu. Amien Rais dari Muhammadiyah. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat jelas. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006. maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu. Dr. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais. mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa. jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului. aku pun dari Muhammadiyah.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan . Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden. Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais.P.P. bukan kemauan seseorang.

Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadangkadang begitu emosional dan temperamental.R. Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek. Aku melihat permainan politik itu kejam. Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. pimpinan M. asing atau domestik. aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi.301 politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis. Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P. tidak ada urusan . Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas. ganas. Dalam perseteruan ini. Kearifan dalam bersikap sering pupus begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M. sebab merekalah yang mengatur agendaku. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. Amien Rais setelah M.R.P. memang dapat membutakan hati manusia. Kekuasaan itu. siang dan malam. mobilitasku memang meningkat drastis.P.P. kata orang. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. Keduanya cukup profesional. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid. Muhammadiyah Jakarta. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta.P. Tamu-tamu berdatangan ke P.

Pdt. . Gewanggoe.302 yang tidak beres. Hidayat Nur Wahid. A. Adnan Buyung Nasution. M. Todung Mulia Lubis. Romo Benny. Dawam Rahardjo.S. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. Tidak saja dari mereka. Josef Handojo. H. Dengan kata lain. Megawati. Bambang Sudibyo. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. Muchlas Abror.. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. Dillon.P. Weinata Sairin. Sri-Edi Swasono. Fuad Bawazir.S. Salim Said. Sejak aku muncul sebagai Ketua P. budayawan/seniman.A. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang.J. Achmad Tirtosudiro. jenderal. Abdurrahman Wahid. mantan menteri. Tarub. Muhammadiyah dan sesudahnya. Amien Rais. Din Syamsuddin. Gunawan Mohamad.A. Nurcholish Madjid. M. Kaban. Hatta Rajasa. M. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. mungkin karena ada gelombang yang sama. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik. M. Franz Magnis Suseno. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Fuad Amsyari. Biku Pannyavaro. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. Susilo Bambang Yudhoyono. dan banyak yang lain. menteri. Habibie. Ajib Rosidi. Jusuf Kalla. sekalipun lelah. pengusaha. Denny J.

Mustofa Bisri. Sulasikin Murpratomo. Lu Shumin (Cina). Ahmad Hasyim Muzadi. Muljadi. Deddy Julianto. Jeffrie Geovanie.M.. Salahuddin Wahid. T. Achmad Bagdja. Gafur Chalik. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Watik Pratiknya. Jusuf Wanandi. Hamid Basyaib. Bambang Widjojanto. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. A. Rizal Sukma. Taufiq Ismail. M. Fasli Djalal. A. Mas’udi.M. tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. A. A. Haedar Nashir. Sulaiman Abdul Manan. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide. Sudhamek AWS. Fatwa. Hendropriyono. Rosjad Sholeh. Kuntowijoyo. Syamsir Siregar. Jacob. Ramadhan K. Sofyan Wanandi. Boyce (Amerika). Malik Fadjar. Siswono Yudo Husodo. aku sungguh banyak belajar. Dasron Hamid. M. Handojo S. Matori Abdul Djalil. Amin Abdullah. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. Umar Wahid. Rosihan Anwar. Masdar F.H.303 Anas Urbaningrum. Rusdi Latif. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. dan puluhan yang lain. Yunahar Ilyas. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. Herman Darnel Ibrahim. Muhammad Muqoddas. Edward Lee (Singapura). Zamroni. Pertukaran pikiran dengan berbagai kalangan itu. Sjafri Sairin. Dengan duta besar Ralph L. Muhammad Najib. Albert Hasibuan. Taufik Abdullah. Sutrisno Bachir. A. Richard . Jakob Utama. Suyanto.

aku dan dia bersimpang jalan. aku belum punya bukti. pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. untuk menyebut hanya berapa nama. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. a. tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya. tokoh yang pada tahun 1980an sangat populer di Indonesia. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif . Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan.l. sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir. terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. aku sudah bertemu dan berbincang.: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan. Dengan Boyce malah sering. Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie.304 Gozney (Inggris). tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris.

Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. seorang Yahudi.Y. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya. surat itu dikirimkan . Menurut keterangan Rektor U. Fachruddin cukup hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto. Bantul. Kabarnya konon para Ketua P. Toffler.M. Ya. Entah apa alasan dan daya pikatnya. tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Dasron Hamid (ketika itu). maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar. Menariknya. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. itu dipercaya banyak pihak. Allah maha pemurah. termasuk dengan beberapa pengusaha. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya.P. Pak A. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab. tetapi katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi.R. dan ini sangat Qur’ani. tetapi belum cukup.305 tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. Memang dari amal-usaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta.

Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto. tanpa meminta kuitansi. Hubungan baik dan akrab sahabat-sahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. Ada yang datang langsung ke P. Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan. tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A. 500. kepercayaanku kepada diri sendiri semakin kuat. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. seperti yang kulakukan juga. termasuk dari sahabat-sahabat non-Muslim. Jumlahnya Rp.P. Ternyata. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui . Pada waktu itu kami belum akrab. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar. Dasron Hamid sungguh besar. sekalipun sudah saling mengenal nama. aku pun bisa.000. Dalam upaya pencarian dana ini. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P. Semoga aku pandai menjaga amanah. besar-besar lagi. Donatur yang lain berdatangan satu persatu.000.R. dana itu telah turun dengan mudah.306 via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara). Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. Melihat kenyataan ini. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar.P. sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. Hasilnya memang di luar dugaan. sebuah angka yang cukup besar kala itu. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto. Tidak perlu menunggu lama.

S. P. reaksinya sangat biasa. Maka tugasku dan teman-teman P.000 dengan pecahan Rp. Abdurrahman Wahid. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%.P. datar.307 para donatur yang telah kutentukan. Dana datang tanpa diduga. Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu. Jenderal Muchdi.K.J. Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu. Hendropriyono. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini. ternyata kemudian kempis. Habibie. Hatta Rajasa. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah. Al Hilal Hamdi. Tanpa uluran tangan mereka. Jenderal A. M. Herianto). tidak menjadi kenyataan. Fuad Bawazir.I. 500. H. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar. Tetapi untunglah. Ada sekadar catatan kecil lagi. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat.M. Dana-dana besar yang pernah kuterima dari pihak luar.M. D. Kadang-kadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. Uang . dan masih ada yang lain. Kaban. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku. Tidak sekali cara ini kualami.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya).000. 50.W. tidak saja untuk muktamar.

aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa. 23. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp. Jogja. menristek ketika itu. tetapi jika tak punya. Masih ada yang lain. kuajak meninjaunya. Oleh sebab itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita.P.P.308 tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini. 400. Hampir Rp. Muhammadiyah. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda. tentu sambil “merogoh” kantongnya.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang.P.75. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. juga dibantu Rajasa. dia pusing juga. Itu pun dikabulkannya. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. di akhir masa jabatanku di P.000. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. yang baru di Jl. Cik Di Tiro No. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla.000. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. . Coba kalau isteri mata duitan.000. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia. Salah seorang sahabatku Sudhamek. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini.

E. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua. Di Era Orba.P. Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994. Muhammadiyah. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkahlangkahku sebagai Ketua P. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia. Muslim dan non-Muslim.P. Sekiranya aku menjadi politikus. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah.P. Sebagai Ketua P. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek. Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan. Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P. Tetapi aku senantiasa belajar dan .P. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya.309 Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P. suasana semacam ini belum lagi tercipta.. Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. seperti telah disinggung sebelumnya.

termasuk sejarah Muhammadiyah. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah.N. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais. Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati. Namanya sedang jadi buah bibir publik. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994. untuk memimpin P. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan.P. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais. seorang alim yang tidak punya naluri politik. Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir. malang yang tak dapat ditolak. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. Mujur yang tak dapat diraih. Suasana inilah yang kemudian mendorongku untuk menggantikan posisinya.A. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif.P. Muhammadiyah periode 1995-2000. tetapi Ahmad Azhar Basjir. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P.310 mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat.P.P. . Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan.

tidak saja dengan wilayah. yaitu Gorontalo.M. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua. maka periodeku menjadi tujuh tahun.D. Hampir semua wilayah telah kudatangi. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. tetapi tidak mungkin ditandangi. bahkan ranting pernah pula didatangi.311 Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998. secara kuantitatif. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan . Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua. Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. tetapi beberapa P. Satu dua cabang. dan Sulawesi Barat Daya. apalagi seumurku. Bangka-Belitung.D. Sekitar 400 jumlah P. Keinginan warga. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit. Suasana semacam ini memang memprihatinkan. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi.M. jika mungkin. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan gerakan sosial lain di Indonesia. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005.

Hilman Latief. sebagian yang lain muncul sebagai penulis-penulis bebas. Hery Sucipto. Muslim Abdurrahman.312 Islam. Zakiyuddin Baydhawi. Abd. gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. tidak lebih dan tidak kurang. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Selama tujuh tahun sebagai ketua. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. seorang kiyai-antropolog. Zuly Qodir. Sebagian dekat dengan Dr. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. Menurut Fuad Fanani. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif. Pradana Boy ZTF. Norma . Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. di antaranya Ahmad Najib Burhani. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Saleh Partaonan Daulay. Asep Purnama Bahtiar. A. Ahmad Fuad Fanani. baik untuk pendidikan. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. Rohim Ghazali. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. kesehatan.

Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyakbanyaknya. Nur Hidayah. Promono U. Berbagai masalah pasti muncul. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. Kuni Khoirun Nisa’. Fajar Riza Ul Haq. M. Rahayu Arman. sekuat-kuatnya secara kritikal.313 Permata. Ada contoh yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005. padalah niat semula adalah untuk beramal. Thantowi. tetapi dengan cita-cita persyarikatan. Kita aktif di . kita belum bisa mengatakan. Andar Nubowo. karena alasan tertentu. bergabung dengan yang lain. Budi Asyhari Arman. Hilaly Basya. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi.P. Sukidi Mulyadi. Keterikatan kita bukan dengan manusia. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. Sirry. Mun’im A. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P. Jawabanku adalah: “Jangan. Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain. M. kadang-kadang bertubi-tubi. Abduh Hisyam. Ilham Mundzir. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional. Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele.

di tingkat P. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan.314 Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur.P. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif. hal serupa terjadi. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman. Karena masyarakat terus bergerak. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan.P. jangan dibiarkan membusuk. kritikal. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam. Posisi ini . Sekalipun tidak sempat aktif benar. tidak saja di tingkat bawah. itu bukan hal baru. tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan. Yordania.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif. Kekuatan Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan. seperti telah kukatakan. kecuali kembali kepada ruh agama. bukan karena yang lain. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah.R. pun.” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. hampir satu abad yang lalu.C.

hlm.P. Alamat kantor pusat W. Suharyo agak berlebihan menilai peranku. aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. William F. Vendley. seorang sahabatku Dr. . U. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah.C.C. 16 Lih.. tetapi aku mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. Kantor pusat W.S.R. inspiratif. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002.cit. Suharyo. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay. op. 555.315 sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N. adalah: 777 United Nations Plaza.A. terbuka.R. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah. setelah pertemuan Amman. I. Abd. berada di New York dengan sekjennya Dr. Uskup Agung Semarang. New York.U.P. seorang Katolik yang taat. Dalam pergaulan lintas iman. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiranpemikiran beliau yang cerdas. Yang jelas. dan langkah-langkah moral beliau yang berani— dan kita harapkan akan terus memerankannya. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan. Selama dalam pergaulan lintas iman itu. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. NY 10017. menulis: “Melepaskan diri dari belenggu-belenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat.16 Rasanya Dr.

Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas. Ramadhan K. Dr. wartawan. Dini. Kusumo.. . atas dorongan seniman W. Slamet Abdul Syukur. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002. Ahmad Syafii Maarif. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh. Taufik Abdullah. Toeti Heraty N.” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A. aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii. Rooseno. Misbach Yusa Biran. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman. Rendra. Ratarata usia anggota A.316 Rupanya sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. Saini K. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan. Pada saat Prof. Sardono W. A.J.D.S. di atas 60 tahun. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain.S. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu. dan para penulis terkenal.J. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat.. Kami memilih Prof. cendekiawan.M.J. Nh. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar.H. Endo Suanda. Firous. Rektor Institut Kesenian Jakarta. Sardono W. Ajib Rosidi. Gunawan Mohamad.J. Anggota A. Tatiek Maliyati W. aku dimasukkan menjadi anggota A.. Kusumo. Rendra.

Kaum intelektual. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. 22 Nopember 2005 lalu. TIM. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. ungkapnya.J. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A. Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar. Anggota A.J. di Gedung Graha Bhakti Budaya. Kenggotaanku dalam A.J. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”. Tapi sebaliknya. akan menjadi berkah pada umat.J. jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. jika dia gunakan .” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A.317 Dengan belajar ini. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang.

[Endo Suanda]. ejaan disesuaikan). “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. dan pribadi pengarangnya. karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. akan terbaca buaya. Jadi. pena. memang. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta.318 kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya. Ya.17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya. Salam”. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini. aku sering dipanggil buya. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara bu dan ya. melainkan titik-titik yang merentang panjang. No. sadar ataupun tidak. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato. Kejujuran di situ terasa. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu.(SMS tanggal 15 Feb. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato. sangat menentukan. ketika kita membaca suatu karya sastra. untuk bisa jujur. 16:23:58. 3. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. 77/VIII/2006. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. tangan. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. hlm. . Karena berasal dari ranah Minang. pantangannya jangan berdusta. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap. 2006. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii…. setelah para buya masuk 17 Lih.

S.. VIII. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik.. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya. Muhammadiyah dan N. Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi. aku. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang. . Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang A. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku.R. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan.K. integritasnya sebagai buya sering berantakan. S. Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan.K. Adalah Nursam.U.U. menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. MASA DEPAN INDONESIA Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K.R. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan. wibawanya merosot ke titik nol. H. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N.319 politik. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut.S.

Pemberantasan Korupsi. 290.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini.. sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah Lih.S. Gemanya luar biasa. tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita.cit. sebagai orang dalam. “Syafii Maarif. Sebaliknya jika gagal. belum tidur benar. N. mungkin masih ada masa depan. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. Jika berhasil. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua. katanya.320 sangat sulit. op. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya. Dillon.U. H.U. hlm. Saya berada di belakang gerakan sipil ini. ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu. Saya. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. 18 . Menurut catatan Dillon. Tetapi dengan deklarasi di atas. setidak-tidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim.

U. bukan gerakan eksekutor. Diharapkan dengan gerakan moral di atas. sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil langkah kontroversial itu. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N.U. sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan.321 pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan Muhammadiyah-N. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah . Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama. Sebagai gerakan penyadaran. ini.

Tentang pencalonan K.Ag. (Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H. dapat kujelaskan sebagai berikut.R. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005. ini merupakan pelaksanaan TAP M.U.A. akan ditangani K. dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas...M.322 menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. Anakanak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N. Adanya K.Si. kemudian ditegaskan lagi dalam U. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K.. tetapi menurut para pengamat. bersama kekuatan lintas agama. VI/2000 tentang Persatuan Nasional. surat keterangan dari ..R. Dikatakan bahwa pelanggaran H. Hoc. S. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras.R.P. masih belum terlalu fokus. maka pemerintah tidak boleh mainmain dalam perkara yang satu ini.U.M. M. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata.K. No.K. di antaranya Rizaluddin. Ad. No. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N. 26/2000 pasal 43.A. a. yang bertugas mencari solusi terhadap konflik-konflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada.l.R.U.K.R. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota. ada beberapa syarat yang harus ada. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa.K.

R. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan. juga akan melacak akar-umbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. dan mereka saling memaafkan. Dr. Asvi Warman Adam. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. Dr.323 dokter. Namun setelah dua seleksi berjalan. Karena itu. termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. Dr. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap mundurku berdalil bahwa komisi . Anhar Gonggong. Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya. Dr. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah. Bukankah K. Di mata mereka K. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul. Deliar Noer.R. tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan. Melihat gelagat semacam ini. kata Rizaluddin. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anak-anak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing. Menurut Rizaluddin. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali. Natan Setiabudi. aku akan menjadi kecil. kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan.K.K. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi.

324 itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus.P. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). seandainya aku diterima sebagai anggota K. Dr. orang tua. Nah. Menurut sahabat ini. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini. mantan Ketua Umum P. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. sekalipun dahulunya mereka.. dalam Muktamar Malang. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih . Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. seorang sahabatku. Muhammadiyah. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya.P. atau nenek mereka telah saling membinasakan.G. Umumnya karena perbedaan ideologi politik. Dalam hati kecilku. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P. jika aku diterima masuk bersama dengannya. Agar masalah ini tidak terus mengambang.R.K. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. sekalipun sekiranya aku masuk.I. Natan Setiabudi. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan.

dan yang sebangsa itu. jika masih diperlukan.K. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara. energetik. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini. bersedia sementara P.K. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K. Orang seperti aku. jika benarbenar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi.I. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini.I dan sisa-sisa pendukungnya.K.K.R.K.R. (sampai tanggal 23 Peb.P. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. komisi ini belum juga diumumkan.R.R. pelindung. komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya. (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih. Muhammadiyah ditinggalkannya. Tidaklah elok bagi semua.325 misalnya menjadi ketua. Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda. cukuplah menjadi penasehat. 2006 pada saat bagian digarap. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K. kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau.K.R. K. nama-nama anggota K. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang. entah mengapa). aku tentu dengan senang hati akan memberikannya. dan punya waktu yang lebih banyak. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis. tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan. khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah .

P.I. sebuah bank swasta yang diakusisi. Aku yang tidak paham soal bank. di dalam diri sendiri ada masalah B. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P.I. S. Bahkan Bung Dawam tidak tanggung-tanggung mengatakan bahwa untuk dana .326 dan teman-teman L. M. maka kasus B. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu Muhammadiyah dalam masalah keuangan. B. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. Muhammadiyah di bawah komandan Prof.P.P. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo.P. Teman-teman Majelis Ekonomi P.S.M. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini.P. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku.I.I. Kita satu. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin. Masalah B. (Lembaga Swadaya Masyarakat). Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002.P. selama lebih tiga tahun. tidak ada perbedaan di antara kita. Komitmen kebangsaan dinilai sudah semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri. Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi.E.P. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P. Dawam Rahardjo.

Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah.P. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B.I. M. kecuali kebaikan.P. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah.I. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B.N. Thohari. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya. yaitu aku sendiri..P.I. Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal.P. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus.P. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benar-benar berniat baik untuk Muhammadiyah. Muhammadiyah itu bahlul. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama).E. dan M. Jadi ini adalah saham fiktif. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini.I. Ungkapan semacam . Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu. Tetapi Lulu dan temanteman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B.. itu tidak benar.327 Muktamar Muhammadiyah yang akan datang. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B.P. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu.P.I. S. kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar. (waktu itu) Saefuddin Hasan. tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P. termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y.. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P. Tidak ada motif macam-macam.A. termasuk di dalamnya perbankan. Dalam sebuah rapat P.

. tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik.I. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes.P. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui.328 kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku.P. lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan. Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P. Baru di saatsaat terakhir setelah keadaan semakin parah. seperti tersebut di atas. Suatu hari melalui Hajri.. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda.P. tetapi kutolak dengan sopan. melepaskan sahamnya di B. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman. aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony.I. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku.P.P. orang kepercayaan Lulu. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak. Sekiranya kuterima. Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini. Membaca gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah. Ketua P. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu.

J. Kalau aku melakukan refleksi tentang B. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank.J. semakin memburuk dari hari ke hari.I. Semua permintaan Hajri kujalankan.J.I.329 Karena kondisi B.J.K.K.P. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P.) dalam upaya mencari jalan ke luar.K. dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru.P.I.I. Berkalikali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B. maka tunggu sajalah saat kehancurannya. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku. Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B.I. sampai aku merasa malu sendiri dengan M.K. tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku. benarlah ucapan M.P. tetapi alangkah sulitnya. aku memang tidak bisa lepas tangan.P.P. Setelah terlihat titik-titik terang. Jawaban langsung dari M. aku kirim SMS kepada M. ini.K.. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula. karena seringnya pertemuan itu. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya. kalau ada masalah B.” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya . dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya.I. sekalipun masih ada ganjalan hukum.J.P.P. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan.

B. anak Kuantan.. untuk membubuhi kata pengantar. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof. (Ikatan Remaja Muhammadiyah). Ph. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia. sementara Rizal di U.330 dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio. dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satusatunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. R. (Universitas Indonesia). Riau. dan berdarah Minang. . Toni. mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I.I.D. sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan. William Liddle. Columbus.M. Amerika Serikat. Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal). Pada masa yang akan datang. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah. Jakarta: PSAP. pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris.R. 2004. yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. guru besar Universitas Negeri Ohio.

Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. Muhammad Najib. W. Deddy Julianto. Akbar Tandjung. Taufiq Ismail.S. tentu tidak boleh diremehkan. H. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif. Dillon. Namun.” Di ujung kata pengantarnya. Kini. bertempat di Hotel Aryaduta. pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama. atau pulau lain. Jakob Utama.S. terutama dalam bidang ilmu. hlm.331 Athens. Tamu yang hadir cukup banyak. sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. Jawa. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. Jeffrie Geovannie. XX). Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. di antaranya Muhammad Jusuf Kalla. terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. bagiku. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004. Wiranto. Douglas Rumage. Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’. M. apakah dari Sumatra. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. Natan Setiabudi. Rendra. Salahuddin Wahid. Jakarta. Rizal Sukma. Din Syamsuddin. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. Syafii Maarif. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. pasti akan menyokong pesan ini (lih. Rosihan Anwar. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. sahabat. .

. tebal 317 dengan indeks. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. melampaui usia nabi. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. 2005. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya). Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. 2005. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. termasuk dari penulis asing. sebagaimana sudah membudaya di Indonesia. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun. 2005. maka dibuat buku (2) dengan editor sama. yaitu Abd. berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. Jakarta: Maarif Institute. sebagian cukup panjang. dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto. Husni Amriyanto Putra. usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. sementara tulisan teman-teman yang masuk masih ada. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku. dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. tebal 267 halaman dengan indeks. Jakarta: Maarif Institute. seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. Anton Syafriuni. (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku.332 baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Jakarta: Grafindo.

Hasyim Muzadi. Sjafri Sairin. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute.000. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah.P.S. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. 700. Sebuah angka yang sangat besar bagiku.. Sutrisno Bachir. Malik Fadjar. dan banyak dermawan yang lain. Rizal Sukma. Kardinal Julius Darmaatmadja. Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini. Deddy Julianto dan teman-temannya. Hatta Rajasa. A. Masih ada teman-teman P. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. Herman Darnel Ibrahim. Thohari.000 dana yang masuk untuk keperluan ini.S. Tidak kurang dari Rp.333 Hidayat Nur Wahid. Ada dari pengusaha Handojo S. Akbar Tandjung. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F. Jeffrie Geovanie. Muljadi. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin. Universitas Negeri Yogyakarta. M. . Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet.P. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. Dana yang masuk melaluiku. Fadilah Supari. H. Deddy Julianto. C. sumbangan datang dari berbagai penjuru. Syamsir Siregar. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P. Natan Setiabudi.I. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005. Dasron Hamid. Salahuddin Wahid. Hajriyanto Y. Suyanto. Karena sudah lama kupertimbangkan. A. Sudhamek. Bambang Sudibyo. Jakob Utama. M. Dani Pratomo (Dirut Indofarma). Dillon. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional).

S. Alhamdulillah.P. baru ditetapkan.L.A. M. Prof. Rais. khususnya M. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan. Amien Rais. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah. tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat.M. termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus.. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof.H. dan beradab. L. Prof. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses. Muhammadiyah.A. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan. anggun. M.. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A. Dr. dan benar-benar menjadi tenda bangsa.A. Bagaimana . Asjmuni Abdurrahman. demi kemenangan jagonya. Tetapi praktik main uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya. terarah. semua yang hadir. Abdurrahim Nur. harapanku ini menjadi kenyataan. sesuatu yang tak mungkin kulakukan. Dr.. dan Ahmad Syafii Maarif.P. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk. Maka jadilah P. Ismail Suny. Akhirnya dengan berat hati aku setujui.334 maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat.P. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P. M.. tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat.

hlm. 3-8 Juli 2005. berlangsumg dengan aman. Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. Din Syamsuddin. 12). Tanwir berjalan dengan mulus. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. Tetapi. anggun. dan beradab.335 penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005). produktif. melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. adalah agar muktamar ini . dalam bingkai moral yang prima. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini. Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. Anggun. apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke-45 Muhammadiyah di Malang. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu. 12 Juli 2005. sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. kecemasan di atas sudah jauh berkurang. terbersit juga sedikit kekhawatiran jangan-jangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. dan Beradab”(Republika.

Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar. penuh warna. saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis). karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. saya tidak punya kosa kata lain. Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. seperti yang telah disinggung di atas.336 tetap berlangsung mulus dan beradab. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005. Memang. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik. tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen. selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala . Kepada para sahabat yang tulus ini. patut disyukuri. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. agar keutuhan tetap terjaga. Memang. gesekan terselubung pasti terjadi. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan.

Dalam muktamar Jakarta. Muhammadiyah. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi.P. Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan benda. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya. saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural. “Memimpin adalah untuk melepaskan. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P. Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur.337 doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain. pejabat-pejabat negara. sekalipun belum tentu seagama. “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. tahun 2000. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya. para pengusaha. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk tim-tim sukses. Akhirnya. Kepada dua-tiga wilayah .” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah. saya mohon maaf. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir. yang masih berharap agar terus.

itulah aku. baru dua yang kukabulkan. tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. saya juga mohon dimaafkan. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. Pasca Malang. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. di mana aku memberikan makalah. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. dan undangan departemen luar negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu. baik di dalam mau pun di luar. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju. khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. Beberapa undangan dari luar negeri. Karena aku sudah semakin tua. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah. Apa yang kukatakan. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas.338 baru yang belum sempat dikunjungi. yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. Cara berjalanku kadang-kadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Filipina pada bulan Maret 2006. dinamis. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. kreatif. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih . Bagiku.

(Kredit Prumahan Rakyat) kepada B. tetapi belum mendapatkan porsi khusus. D.339 dikritik orang juga. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati. artinya banyak air. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan.P. kita tidak dapat memaksa.T. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini.N. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka.T. Kami mengangsur perumahan K. . Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air). Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah. Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masingmasing. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985.R. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya. Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk. mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku. Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana. lebih 20 tahun yang lalu. kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P. warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun.

Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu. pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp. Mohtar . Dari jenis profesi.670. Sumatera. karyawan RRI. 87. dan agama yang berbeda. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo. dokter manusia dan dokter hewan. polisi. Dr. dosen negeri dan swasta. dinas pubakala. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis. Ada yang berasal dari Kalimantan. dan dari lain-lain pulau. wiraswasta. Ada Prof.340 bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya. jaksa. di antara mereka ada karyawan bank. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. pertamina. dimulai sejak Desember 1985. jenis kerja. Madura. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. tentara. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. pegawai departemen pendidikan nasional. tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. belum sampai 15 tahun.D. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980-an itu terasa cukup berat. bisa jadi dapur tidak berasap. Beberapa pemegang Ph.

Suyanto.P. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. pimpinan P. Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan. tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali.G. Marchaban. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Sewaktu menulis bagian ini. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Dr.W. Djumari. alumnus Perancis. ada juga Dr. Teman karibku ini pandai sekali . Tetapi setelah masjid berdiri pada tahun 1989. Prof. Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. sekalipun untuk tingkat R. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah. keduanya tamatan Amerika. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang. Sekitar empat tahun kami melakukan itu. ada saja rombongan yang berangkat. Beberapa tahun menjabat ketua R. Agak sedikit emosional.341 Masoed. yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun. Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo). H.T. (Rukun Wilayah). Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid. Tidak pernah putus saban tahun. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. terbayang olehku wajah Drs. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan.P. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah. Hubungannya denganku sangat dekat. H. Ada Drs. tergantung keadaan masing-masing.

Si.. juga tarawih. Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs.W. pernah menjabat Ketua R. Kemudian Ahmad Syamlawi. Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya. Ada lagi H.. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat.. VII. S.M. adalah yang paling menonjol. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan. Ada lagi bung Drs. Semua urusan di tangannya beres. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa.342 menyiasati harga tanah. M.E. Teman ini diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto. dosen fakultas psikologi UII. H. B. maghrib. S.K. Negeri Jogjakarta.. maka nama Kastolani.I. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh.Si.A. Sumenep. dan karyawan pada sebuah bank. 16. mantan kepala R. Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih. Heru. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid. Sosok ini aktif sekali dalam . Muhammad Bachtiar. tidak ada yang tidak selesai. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah. mantan jaksa.M.H.T. Duriat Subekti. entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini. Berasal dari Prembun (Kebumen). sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S.R. dan ‘isya’. pengurus R. H. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta.

dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir. Dadanya lapang. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. di samping khatib Jum’at. M. beberapa tahun menjadi ketua takmir. di samping ketua Y.” Ada lagi Drs. Thohar Fuaedy. tidak boleh dilupakan. Tidak saja itu. Selama bulan puasa. Jika komputerku sedikit rewel. dialah ahlinya. dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang.. karyawan perusahaan .S. seorang ahli komputer.S.Pd. Kalau ada urusan pengeras suara. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka. aku pernah minta tolong kepadanya. H.. Mohammad Hatta. ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. pemaaf.M. Tak jauh dari rumah Bung Thohar.N.seorang sarjana teknik listrik.A. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto). Inilah sosok yang punya naluri L. M. Sekalipun baru pertama kali. M.Si. S. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging.I. Namanya Hartoyo. (Lembaga Swadaya Masyarakat). Eko Supriyanto. dan humoris.H. H. Pd. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing. Tampak pula wajah Dr.Si. Nama Ir. Tinggal agak ke utara masjid. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin. M..343 kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto. Irawadi Buyung.T. ada Drs. sesekali juga bertindak sebagai muazzin. M... Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan.

dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia). Riau Daratan.. Setiap ‘Idul Qurban. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di berbagai media cetak. Yulian Yamit. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs. ada kalanya terlalu sibuk di luar. Teringat juga sosok Drs. Miska Amin. M. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain. Namanya H. sudah puluhan jika bukan ratusan. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. hilang kala tertawa. Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang.Si. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. Berat badannya mungkin di atas 80 kg. Kadangkadang rajin ke masjid. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”. Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. berasal dari Bengkulu. dari Manna.A. Ada pula si Minang kelahiran Jogja.. Berasal dari Lirik. M. maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Dia teliti sekali.344 minyak itu. di samping sebagian sudah kesebut di atas. Apalagi matanya. M. Usmar Salam. Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban. . juga dari Bengkulu. Yang lain adalah Drs. Orang tuanya berasal dari Sulit Air. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku. Hermansyah. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak. Aku pernah berkunjung ke kampungnya. tugas pokoknya adalah menimbang daging. Perawakannya tinggi semampai.

sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. H. Aku tidak tahu apa alasannya. seperti wajah teman-teman lain. Jarang absen. di samping H. Keduanya sama-sama ekonom. dan Hawaii. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman. Ada pula drh. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya. M. Berat badannya sekitar 80 kg.I. Abdul Aziz dari pertamina. S. adalah wajah ikhlas. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. dan H. Pernah dua periode menjabat dekan.E.I. dari unit Syari’ah bank B. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat ekonomi yang lain. Warsono Muhammad. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban. untuk maghrib dan ‘isya sering datang. Kecuali untuk jama’ah subuh. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing. Rasanya pernah dikatakannya. apalagi pada hari Juma’at dan hari-hari raya.. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji.. H. Aku melihat wajah ketiga teman ini. agar citra santrinya lebih kentara. Marsono. Hermanlah orangnya. berasal dari Bojonegoro.A. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah. Dalam rangka mengurus daging korban. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging.R. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke . alumnus U.I.345 Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid.

I. Universitas Negeri Yogyakarta. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid.M. U. M. Ada Drs. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. Idam Nawawi. di samping sekolah mereka yang lancar. Teman-teman lain masih banyak. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid. Universitas Muhammadiyah .P. Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto.M.I. ‘isya’. mengajar dan belajar sesama mereka. M. H.M. S. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto. adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah. pemilik apotik di Bantul. pindahan dari Kalimantan Tengah. dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.. H. khususnya untuk maghrib. asal Sumatera Selatan. begitu juga dr. Ada lagi Suharwidjono.Si. dari pimpinan Bank Mandiri U.P. Hilman Nadjib. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah. Teman lain adalah Bambang Samiyo. Sudiyono. spesialis anak.Sc. Siswojo. Jama’ah lain adalah H. dan subuh.. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. Hampir setiap malam mereka membaca al-Qur’an. Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid. (Lembaga Pendidikan Perkebunan). berasal dari Kudus.. mantan kepala L.E. Kadang-kadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus.346 tempat pembelian.G.

A. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”.T. dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab. VII perumahan Nogotirto. 6. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah.N. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y.000. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan. 500. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp. Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R. Sebelum dihidangkan kepada tamu.N. mereka selalu diikutsertakan.000.S. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat.I.000.I. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku jawab dengan mengangkat ibu . Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto. rata-rata Rp.S. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto. Dalam kegiatan kepanitiaan. istilah Minang untuk jutawan. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. Tidak semua mahasiswa. Seperti telah kukatakan.347 Yogyakarta. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan.000 per bulan. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya.A. 200. di samping juga turut membayar iuran untuk Y.

Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan.M. Berbagai jenis masakan dihidangkan. M. salah satu kelemahanku adalah suka makan.I. Bukan saja aku. M. Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. tidak jauh dari perumahan Nogotirto. Bung Rusli adalah seorang aktivis Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. Aku benarbenar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. . Dia wafat dalam usia yang relatif muda. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya. seperti yang telah kusebut terdahulu. tempatku memberi kuliah selama dua tahun.K. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto. Muhammadiyah pun kehilangan. Di antaranya Drs. Setiap Hari Raya Qurban. (Universiti Kebangsaan Malaysia). sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban. Sebagai manusia kelahiran Minang. asal Palembang. Disertasinya telah rampung ditulis. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. biasanya setelah salat zuhur. seorang penulis prolifik. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. Dia dimakamkan di pemakaman kampung. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto.348 jari. dinihari sudah dipanggil Allah. beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami. Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik.. khususnya pada Hari Raya Qurban ini. Rusli Karim.A. Biaya kuliahnya pada I.K.P. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan. mantan jaksa.

Harapanku adalah bahwa pada satu saat. . Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora. politik. sekalipun sering aku peringatkan. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. jika anak tidak tertarik untuk belajar. rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja.349 Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz. apalagi sejarah. agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin.I. pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. Tetapi aku akan naik pitam. Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. kajian agama. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Perbedaan ini wajar saja. Berbeda denganku. seorang sarjana teknik U. karena harus bersaing dengan buku dan kertas. Hafiz. dan S2 di Rotterdam (Belanda). Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu. Alhamdulillah.I.

Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. Sangat praktis. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik.I. suasana lingkungan perumahan Nogotirto cukup nyaman untuk didiami oleh masyarakat majemuk. politik. Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan. Ringkas kata. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. seperti sakit atau kematian. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktuwaktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau yang sangat tajam. Kami biasa bersenda gurau. Teman ini adalah pensiunan B. Apalagi temanteman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokohtokoh puncak mereka di Jakarta. Di perumahan Nogotirto ini. ekonomi. bicara macam-macam. Angka pengangguran malah semakin bertambah.350 Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. terakhir bertugas di Jayapura. . Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini.R.. ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas.

dibantu oleh Drs. Bandung. Atas gagasan Prof. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai. Lintau. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006. yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. . dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. Novirman Djamarun. Sijunjung. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta. maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. Kopertis Sumatera Barat. Di bawah kordinasi M. Jambi. Riau.351 Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. Muaro. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam E. Dr. Solok. Padang. halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. Deddy Julianto. seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya.

Tamu dari Jakarta a. saya hitung-hitung lebih dari satu milyar. surau. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. dirut Indofarma dan staf. salah seorang direktur PLN Pusat. seperti tersebut di atas. Nilai keseluruhan bantuan. direktur IGM (Indofarma Global Medica). Ir. Sudirman. mantan dirut BNI. panti. TK dan panti. dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. Sebelum bertolak ke . mantan dirut BNI. M. masjid. tetapi karena mendadak dipanggil presiden. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. karo kesra wakil presiden. TK. Herman Darnel Ibrahim.352 suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Juga ada obatobat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma. ketrampilan.M. Hatta Rajasa akan hadir. dua orang dari Maarif Institute. suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. staf khusus menteri pendidikan nasional. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. baik berupa voucher mau pun uang kontan. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. Apalagi semula diperkirakan Menhub M. dua dari departemen perhubungan. rektor Universitas Negeri Jakarta.l. Tidak ketinggalan Ir. dan beberapa anak miskin. karo keuangan departemen pendidikan nasional.

.353 Silantai sesudah Subuh 29 Jan. bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. Bupati Darius Apan malam 28 Jan. sesudah oksigen. Seperti perhelatan besar saja. Kabarnya di atas 50. PLN. yaitu 27%. seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. Indofarma. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. baik yang disediakan dephub. jika orang tidak membaca informasi tentang sumbangan di atas. serta kendaraan pribadi. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa . mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya. akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan. padahal penduduknya hanya 270 juta. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. Menurut Darnel. Amerika adalah yang terbanyak memakainya. jika tidak waspada. saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. Sepintas lalu.

000 per orang. lambat atau cepat. Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang. seperti telah kusebutkan di . 200. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapan-ungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar. akan punah dimakan musim. seni khas daerah itu pasti.000 s/d Rp. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. 31 Januari 2006 untuk Republika.354 Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. 150. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota.

terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal. aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan. maka pertemuan kali ini jauh lebih besar.P. Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata.355 atas.N. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus.M. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah.000. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”.A. Sumpur Kudus. 20. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masing-masing Rp.000. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu. IX.L. 50. Alam . Dibandingkan dengan peresmian masjid Y.000 dan Rp. Dari seorang anak piatu di desa Calau. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini. Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman.000. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak. Aku meminta takmirnya agar kebersihan betul-betul dijaga.

Aku tumbuh dan berkembang bersama teman-teman desa yang serba sederhana. aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Bahkan lebih dari itu. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur.R. Seingatku sejak masa kanak-kanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S. hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh. Aku menjala. Sampai setua ini. memancing ikan di Batang Sumpur. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. mengadu ayam bersama mereka. Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang. karena sudah terlatih sejak kecil. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. mengadu sapi.356 Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler. Topik perdebatan tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah. . Lintau.

sungguh sangat besar. Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi. seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten. Cita-cita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam. A. Amerika Serikat. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku . Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta. tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. Wahid dan M. Harun Malik. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. tetapi tidak tetap.357 Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun. jika bukan semakin menguat. paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. dengan segala kritikku kepadanya. Wawasan semakin luas. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. Bahkan sampai aku belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Peran Fazlur Rahman. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga.

Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. syi’i. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan.358 mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. Pandangan Mohammad Hatta dan H. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. Sebagaimana nenek mereka terdahulu. Untuk Indonesia ke depan. diterima atau ditolak. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam . dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. dan kritikal. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. jujur. bukan dari Rahman. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya.A. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. bukan milik kita. khawarij.

Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini. akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan cara-cara yang radikal yang sia-sia itu. sesungguhnya dapat dicari akar-umbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final. ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata. Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika . di samping Bahasa Indonesia. tidak pernah berhenti. akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan.359 dan Indonesia itu. Dalam ungkapan lain. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau.

keluar tidak mengurangi. Adapun muncul kelompok . Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. Apakah angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata. sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian. karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku.” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya. tidaklah penting bagiku. Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu. Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri. betapa pun kecilnya. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. Masuk tidak menggenapkan. Tetapi setidaktidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini. khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang.360 kurang tepat. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago.

Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk.P. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban.. sekalipun secara selektif. Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan.D. tetapi hanya sedikit yang dapat . Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. ternyata tidak demikian. Karierku sebagai Ketua P. sosial. atau setengah gagal. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian. Tidak untuk saling menggusur. 19982005. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil. domestik atau pihak asing. Muhammadiyah.361 kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. gagal. dan kultural secara nasional. telah membawaku ke pusaran perkembangan politik. (Inpres Desa Tertinggal) itu. seminar. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. Kampungku Sumpur Kudus setidak-tidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja. setengah berhasil. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. apalagi saling meniadakan. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar.T.P. simposium. Diskusi.

S. jika tidak lupa. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. alhamdulillah. termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri. Sebagai pembawaan dari Minang. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi. selera makanku belum menyusut.Ag. Muhammadiyah Jakarta. Selama hidup. Mungkin karena terlalu lelah.E.362 kukabulkan. dunia terasa berputar kencang sekali. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. karyawan P. mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal. S.E. dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E. ada saja yang . Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi. Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi. dapat dikontrol sebaikbaiknya. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu.P. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. dan Zainuddin. tentu di sanasini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku.. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. S.. aku masih terlihat sehat. jangan sampai merepotkan orang lain. aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004.

Jawa no. aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan. atau bahkan dibuang. ditambah. Tetapi sudahlah. Muhammadiyah dan Bung Nursam. dari Penerbit Ombak Jogjakarta. 19. sejarawan. tidak ada gading yang tak retak. Jogjakarta 55292) .00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20. bisa jadi akan berlarutlarut. Oleh sebab itu. Halmahera D/76.P. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10. dikurangi lagi.42 di Perum Nogotirto Elok II. demikian seterusnya tanpa putus. Jl. Kepada para sahabat yang kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan. Jl. dikurangi. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis. Dibaca ulang. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. diperbaiki. tidak akan ada ujungnya. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P.363 perlu ditambah.

. . . . . . 214 B. . . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta . . . . . . . . . . . . . . dan Lahirnya Ikhwan C. . . . . . . . . . . . . 181 C. . . . Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi B. . . . . . . . . . . . . . 150 . . . . . . . . . . . . . . . . . . 156 B. . . . 219 C. 214 A. . . . . . . . . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah . . 170 . . . . . . . Chicago II: Setelah Titik Kisar VII SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . . . . 1 1 20 34 76 92 92 . . Habibie. . Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah . .R. . . 309 . . . . . Belajar Sambil Bekerja V MUSIBAH SILIH BERGANTI A. . . 164 . . . IBU-BAPAK. . . C. . . . . . Kembali ke Jogja. . . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 VI A. . . 188 . . . Makkah Darat. . . . . . . . . . Perkisaran Abad. . . . . . . . . . . dan Perdagangan . . . . . . . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) . . . . . . . . . . . . . . . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago . . . 125 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . A. dan SAUDARA-SAUDARAKU . . . . . B. . . . Muhammadiyah. . . . . . . . . . D. . . . . . . Sumpur Kudus. . . . . . . . .P. . . . . . . . . . 104 UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . dan Aku . . . . . . . . . . Bertugas di Lombok Timur . . . . . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya . . . . . . . .I .. . . 1998-2005 . . . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau II KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A. . . . . . .D. . dan Kecemasanku . . . . . . . . 125 . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran D. 108 A. . . . . . 235 D. . . . . . . . . . 156 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Harapan. . 108 B. . . . . . . . . . M. . . . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. . . Keruntuhan Rezim. . . 195 BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN . . . . . Sebagai Ketua P. . . . . . . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu III B. . Lulus S1. . 113 IV MENITI BIDUK KEHIDUPAN A. . . Chicago I: Sebelum Titik Kisar . . . . . . . . . . Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah . . . . . . . . . 143 C. . . . . . . . . . . . 175 B. Mulai Dijodohkan . . . . . . . . . . .364 DAFTAR ISI BAB I Halaman BUMI KELAHIRAN. . . . . . . . Muhammadiyah. . 262 E. . . . 175 .

. . . . . . . . . . . . . . . . Komunitas Nogotirto-Trianggo . . 319 B. . . . 339 E. . . . . . . . . . . . . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . . . . . . 355 . . . . . . . . . 351 IX AKHIRNYA . .K. Syukuran Listrik . . . . . . Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 330 C. 319 A. . .365 VIII MASA DEPAN INDONESIA . 333 D. . . . . . . . . .R. . . . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

panggilan isteri terhadap suami bermaya (Malaysia) = berhasil rumah “mande” = rumah ibu etek = bibi uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau wanita oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi 62 64 67 68 71 .366 GLOSSARY Halaman 1 5 6 8 9 12 13 15 16 20 21 22 23 24 31 36 38 42 52 55 61 Makah Darek = Makkah Darat Rajo = Raja Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman on-going process = proses yang terus berjalan bacakak = berkelahi babat alas = pembukaan sebuah kampong baru dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas Muaro Sumpu = Muara Sumpur Koto Ijau = Koto Hijau kundang = bawa jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = jorong = puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo. inyo. kakoncu. udo. onga.

367 74 76 90 91 98 99 élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->