P. 1
18120772-pembinaan-disiplin-kelas (1)

18120772-pembinaan-disiplin-kelas (1)

3.0

|Views: 231|Likes:
Published by praditatio

More info:

Published by: praditatio on May 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2015

pdf

text

original

PEMBINAAN DISIPLIN KELAS BAGI SISWA TAMAN KANAK-KANAK OLEH JAMRIDAFRIZAL,S.AG.S.S.M.

HUM

A. Pentingnya Pembinaan Disiplin Kelas
Kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, merupakan modal dasar yang sangat penting bagi kehidupan yang sukses di masa depan. Berkaitan dengan hal ini, peran guru membantu anak menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga anak merasa bahagia dan mampu menerima dirinya (self acceptance). Pembiasaan disiplin pada diri anak penting karena dengan berdisiplin dapat memantapkan peran sosial anak. Rua (2003) mengemukakan bahwa rahasia keberhasilan adalah kedisiplinan. Orang yang terlatih disiplin akan lebih besar kemungkinannya meraih keberhasilan ketimbang orang yang tidak disiplin. Tujuan dari disiplin adalah membentuk perilaku anak, yang sesuai dengan peran yang ditentukan lingkungan atau kelompok sosialnya. Untuk itu dalam penanaman disiplin ini perlu peran orang tua di rumah maupun guru di sekolah. Di rumah orang tua dan anggota keluarga lainnya merupakan model yang ditiru anak dalam pembentukan disiplin diri. Selain itu arahan-arahan dan bimbingan orang tua merupakan pedoman anak bertingkah laku agar dapat melakukan penyesuaian diri di lingkungannya. Begitu pula halnya di sekolah, seluruh personil sekolah adalah model bagi anak, sedangkan arahan dan bimbingan serta aturan-aturan di sekolah umumnya dan aturan guru dalam kelas khususnya dapat membentuk perilaku anak dan mantapnya pembentukan perannya dalam lingkungannya. Dalam pendisiplinan anak, khususnya disiplin anak di TK banyak aspek-aspek yang berkaitan, di antaranya adalah menyangkut peran orang tua dan guru dalam pendisiplinan anak, penyesuaian diri anak dan penerimaan lingkungan pada anak. Namun dalam tulisan ini hanya dilihat dari aspek rasional dan pengertian disiplin, elemen-elemen penting disiplin dan teknik-teknik pendisiplinan anak serta bentuk penerapan disiplin di TK.
B. Pengertian Disiplin

Disiplin dapat dikatakan sebagai alat pendidikan bagi anak, sebab dengan disiplin anak dapat membentuk sikap teratur dan mentaati norma aturan yang ada. Untuk itu disiplin sudah bisa dibiasakan dalam kehidupan anak sejak usia dini. Disiplin berkaitan pula dengan motivasi, karena dengan adanya disiplin anak terdorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu untuk mencapai apa yang

ia harus didisiplinkan. sehingga perlunya dilakukan tindakan pendisiplinan dengan cara menghukum. karena dalam penerapan disiplin banyak berpegang kepada aturan-aturan untuk melihat dan menilai perilaku anak. Seperti pernyataan anak itu sering merusak alat-alat sekolah. Pengertian disiplin sebagai hukuman adalah karena tindakan pendisiplinan mengarah kepada perilaku-perilaku anak yang menyimpang.diharapkan orang lain darinya. Dengan demikian konsep tentang disiplin disamakan dengan hukuman. Disiplin diartikan pula sebagai kontrol. Pada awalnya disiplin memang dirasakan sebagai suatu aturan yang mengekang kebebasan anak. Untuk itu peran orang dewasa. Disiplin dikatakan pula suatu bentuk latihan bagi anak. Dalam penanaman disiplin anak dilatih untuk mengontrol diri dalam berperilaku agar sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan. yang ditandai dengan adanya kesadaran anak dan kemampuan dalam pengendalian diri sendiri. baik orang tua. maupun guru berperan penting dalam menanamkan pembiasaan disiplin ini pada anak. Dengan adanya latihan ini menjadikan timbulnya disiplin diri sendiri. Artinya disiplin tidak lagi merupakan suatu yang datang dari luar dirinya yang memberikan keterbatasan tertentu. . Selain itu disiplin dapat pula membantu anak mengembangkan hati nurani dari dalam diri yang membantunya dalam membuat keputusan dan mengendalikan tingkah lakunya. apakah itu keluarga. guru. Dalam hal ini disiplin telah merupakan suatu aturan yang datang dari dalam diri sebagai suatu aturan tentang suatu hal yang wajar dilakukan anak dalam kehidupan sehari-hari. dan ada pula yang mengartikan sebagai bentuk pelatihan. maupun teman-temannya. Dalam tindakan kontrol ini akan dilihat apakah perilaku anak sesuai atau berpedoman kepada aturan yang ditetapkan. Jika ternyata perilaku tersebut menyimpang dari aturan yang ditetapkan maka dilakukan tindakan disiplin. pelaksanaan fungsi kontrol. Dalam kehidupan sehari-hari kata disiplin diartikan banyak orang dengan sudut arti yang berbeda. dalam arti ia harus dihukum karena telah melakukan pengrusakan. Dalam hal ini guru dan orang tua dapat menjadi model. pembimbing dan pengarah anak dalam berperilaku yang baik yang diterima lingkungannya. maka lama kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan yang baik menuju kearah disiplin diri sendiri (self discipline}. Pembiasaan hidup disiplin pada diri anak baik di rumah maupun di sekolah akan berpengaruh positif bagi anak dalam perkembangannya. Ada yang mengartikan kata disiplin sama dengan hukuman. Akan tetapi bila aturan tersebut dirasakan sebagai suatu yang memang seharusnya dipatuhi secara sadar untuk kebahagiaan diri anak dan kebaikan bersama.

Dalam pengetahuan disiplin berarti ilmuyang dipelajari. Diharapkan. ketaatan terhadap tertib hidup atau aturan hidup sehari-hari. Bagi anak tujuan jangka pendek dari disiplin ialah membuat anak supaya terlatih dan terkontrol. standar-standar dan aturan-aturan yang sudah menjadi milik sendiri. Karena itu di sekolah guru haruslah secara aktif dan terus menerus berusaha. Dengan demikian disiplin yang diterapkan pada anak diharapkan dapat mengajarkan tingkah laku. dengan secara bertahap melakukan pengembangan dan pengendalian disiplin pada anak sehingga anak mampu melakukan pengarahan diri sendiri kelak.Jika ditinjau dari arti katanya disiplin berasal dari bahasa latin discipline berarti pelajaran. atau seseorang yang mengikuti ajaran. Dalam hal ini yang menyampaikan ajaran itu adalah orang tua dan guru. kelak disiplin diri akan membuat mereka hidup bahagia. rasa kesetiaan. Pengendalian diri berarti menguasai tingkah laku diri sendiri dengan berpedoman norma-norma yang jelas. dan penuh kasih sayang. Anak adalah orang yang belajar mengenai cara-cara hidup agar menjadi manusia yang berguna. Di dalam kelas terciptanya disiplin pada diri anak. maka secara dini banyak hal-hal yang baik secara berangsur ditanamkan pada anak seperti. Disiplin sebagai pelajaran diberikan kepada orang yang mau belajar (disciple) yang artinya orang yang belajar atau yang secara sukarela mengikuti ajaran yang disampaikan kepadanya. sedangkan dalam agama disebut juga dengan ajaran. Inti dari disiplin ialah untuk mengajar. akan merupakan salah satu syarat untuk terciptanya suasana yang kondusif bagi berlangsungnya pembelajaran yang efektif bagi anak. Dalam hal ini disiplin kelas dapat diartikan . Disiplin kelas yang terbentuk dengan baik akan mendukung kelancaran proses pembelajaran anak. dengan mengajarkan mereka bentuk-bentuk tingkah laku yang pantas dan yang tidak pantas atau yang masih asing bagi mereka. dan moral pada anak yang dapat diterima kelompoknya. berhasil. Sedangkan tujuan jangka panjang dari disiplin adalah untuk perkembangan pengendalian diri sendiri dan pengarahan diri sendiri (self control and self direction) yaitu dalam hal mana anak dapat mengarahkan diri sendiri tanpa pengaruh dan pengendalian luar. Santoso (2002) menyatakan disiplin merupakan kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri seseorang sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan. saat mereka sangat tergantung kepada disiplin diri. Di dalam penataan perilaku anak. Rimm (2003) mengemukakan bahwa tujuan disiplin pada anak adalah mengarahkan anak agar mereka belajar mengenai hal-hal baikyang merupakan persiapan bagi masa dewasa. untuk memainkan peranan yang makin kecil dari pekerjaan pendisiplinan itu.

(b) disiplin harus disertai sanksi. . berani. misalnya berjalan. punya rasa ingin tahu yang besar. cermat. (c) disiplin sebaiknya dikaitkan dengan imbalan/ penghargaan. Penerapan aturan dalam pembentukan perilaku anak dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan yang terwujud dalam beberapa aspek berikut: (1) gerakan. hukuman. mengeluarkan pendapat. khususnya sanksi negatif. (2) berbicara. tenang. Di dalam kelas guru dapat memberitahu anak tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan anak di kelas dan di lingkungan sekolah. (3) pekerjaan anak. Pemberian aturan bertujuan agar adanya pedoman bagi anak dalam bertingkah laku. konsisten.suatu kesadaran. Contoh: Tidak ribut waktu belajar. mematuhi aturan dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. C. membereskan mainan setelah dipakai. menggambar. ganjaran (hadiah). misalnya: bertanya. aturan. Elemen-elemen Disiplin Yang termuat didalamnya sebagai berikut : (a) disiplin harus merupakan petujuk atau pegangan bagi tingkah laku seseorang. sikap dan pengertian anak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diberlakukan di dalam kelas. mengacungkan tangan. meletakkan bekal. baik pada guru maupun sesama teman. sehingga dapat diterima sesuai situasi dan kondisi sekolah dan kelas. Atas dasar rambu-rambu penerapan disiplin di atas maka penerapan disiplin pada anak haruslah meliputi empat elemen penting yang harus diperhatikan yaitu. Aturan merupakan suatu tuntutan terhadap anak untuk berperilaku tertentu sesuai dengan batas-batas yang digariskan. Untuk jangka panjang aturan merupakan suatu sikap atau perbuatan yang mesti ditanamkan atau dikuatkan secara berulang-ulang untuk waktu yang lama. menjawab. meletakkan tas. hati-hati. menerima dan mengantar buku ke depan. duduk. dan (d) disiplin harus konsisten. masuk dan keluar kelas. menulis. duduk ditempat duduk yang telah ditentukan. misalnya: mau menerima pekerjaan dan menyelesikannya dengan baik. Aturan merupakan elemen penting dalam pembinaan disiplin anak.

sopan santun. dan aturan itu sendiri. perhatikan fisik. (7) bahan-bahan/alat-alat. "Nurul kumpulkan dan letakkan mainan ditempat yang sudah disediakan setelah dipakai". dan kesanggupan anak. Jelas dan spesifik Sampaikanlah pada anak aturan dalam suatu kata yang ringkas. Jangan guru berkata. misalnya berpakaian bersih dan rapi. misalnya menjaga keamanan diri waktu bekerja dan bermain. menyimpan alat permainan setelah digunakan. sebelum belajar anak harus berdoa. serta menyimpan alat/bahan tesebut ditempat yang sudah ditentukan. tapi katakan. Adalah lebih baik untuk menguatkan lima aturan dengan pelaksanaannya seratus persen. 2. santai dan belajar. tenang dan rapi dalam bertindak. Diharapkan tuntutan tersebut diharapkan tidak melanggar atau menyalahi kebutuhan-kebutuhan anak untuk beristirahat. Buatlah aturan-aturan yang masuk akal Waktu memberikan suatu tuntutan terhadap seorang anak. misalnya menjaga kebersihan ruangan kelas dan tempat bermain. "Saya ingin kamu tidak ribut dalam kelas". " Di dalam kelas supaya tenang !" 3. Hindari pengarahan yang samar dan subjektif. misalnya membiasakan anak untuk menampilkan pekerjaannya dengan bersih. dan teratur. sabar.(4) penyajian. misalnya menjaga kebersihan dan memelihara kerusakan alat-alat belajar dan alat-alat untuk bermain. tolong menolong. serta mengikuti aturan dalam berpakaian. Berhematlah dengan pembatasan-pembatasan Dalam membuat aturan-aturan haruslah lebih dahulu yakin bahwa semua aturanaturan anda adalah penting atau sangat diperlukan untuk anak. misalnya dalam berinteraksi bersikap tenggang rasa. dan mengembangkan sosialisasi. Contoh. yaitu dengan berpakaian seragam. Contoh. daripada sepuluh aturan yang pelaksanaannya hanya lima puluh persen. (5) keselamatan. Penerapan aturan yang efektif perlu dilakukan guru dengan memahami hakekat anak. maka ia berkata. (8) perilaku sosial. menciptakan keakraban. tingkat perkembangan. Schaefer (1996) memberikan garis-garis pedoman yang dapat menolong guru dalam penerapan disiplin pada anak. bersikap tertib. yaitu: 1. guru Ani melihat Nurul yang telah memakai mainan tapi tidak dikumpulkan. (6) ruang. dan (9) berpakaian. menghormati orang lain. bertanggung jawab. rapi. dengan nada suara yang mendorong dan menguatkan. .

Berkatalah dengan nada menunjukkan dan bersifat menentukan Sampaikanlah perintah dengan suatu cara yang positif. "Boby bicaralah dengan suara yang lembut. yaitu letakkan lebih banyak tekanan dalam pemberitahuan kepada anak mengenai apa yang akan dilakukanya. maka diharapkan positif pula sikap anak terhadap aturan itu. 7. Kalau guru mengharapkan anak untukjrientaati aturan-aturan yang layak. Contoh. 6. Contoh. 9. Konsisten atau jalankan terus aturan-aturan itu Dalam memberikan suatu perintah pada anak. "bukan mengatakan. Berilah tenggang waktu Berikanlah pada anak suatu peringatan lebih dulu tentang batas waktu. Buanglah setiap aturan. Jika sikap guru positif terhadap aturan. dengan demikian kesannya lebih bersifat menyuruh. 5. Contoh. 8. Secara bertahap Guru sebaiknya jangan menuntut anak untuk melakukan suatu aktivitas secara kompleks tanpa melalui tahapan-tahapannya. memastikan tugas itu telah dilaksanakan. karena anak sukar untuk merubah kegiatan mereka yang sedang mereka lakukan. "Anak-anak kalau pekerjaannya selesai kumpulkan karena lima menit lagi kita istirahat". anak akan bersedia membereskan meja bila sebelumnya sudah bertangung jawab memindahkan dan menyimpan alat pelajaran ditempatnya. Harapkanlah kerelaan Ada suatu kecenderungan dari guru untuk memperoleh apa yang diharapkan dari anak. maka anak dengan penuh kerelaan akan mau melakukannya. dan mengenali dan memahami perasaan-perasaan anak.4. Bangunlah hubungan tinibal balik Aturan akan diikuti oleh anak kalau guru mempunyai hubungan yang akrab dengan anak sehingga mereka merasakan bahwa guru sangat menaruh perhatian terhadap keinginan-keingan mereka. atau mengajak bukan melarang. terlebih dahulu pastikan banwa anda akan menjalankan aturan itu secara konsisten. menentukan suatu batas waktu untuk penyelesaian perintah-perintah anda. dimana anda tidak bermaksud menjalankannya dengan sepenuhnya. . Tiga tahap yang harus dipahami tersebut adalah. "jangan berkata seperti berteriak!".

10. analisislah apakah anak mengerti dengan menggunakan umpan balik. tetapi bertanyalah "Apakah aturan tentang membanting pintu?". menurut kamu apa yang kamu lakukan jika ingin ke luar kelas. Pengaruh umpan balik Jika perintah atau pengarahan guru sukar bagi anak. Contoh. Tinjauan berkala Aturan-aturan yang diterapkan pada anak perlu ditinjau dan ditimbang lagi secara teratur. " Taruh lagi buku itu ke meja depan!". untuk selanjutnya anak akan mengingat dan mentaatinya. Berikan contoh anak yang mentaati peraturan dan menyampaikan kepada keluarga mengapa ia dipuji dan dihargai. Anak haruslah mengatakan aturan itu secara keseluruhan. Tingkatkanlah pengaturan diri sendiri Bagi anak. Berilah suatu pilihan Perintah-perintah dimana seorang anak diberi kebebasan untuk memilih cenderung mengahasilkan sedikit perlawanan. bila Ibu sedang berbicara di depan kelas?". " Yana. "Letakkan kembali buku itu!". Karena itu berilah anak-anak pengalaman dalam membuat suatu keputusan dan mengatur tingkah laku mereka sendiri. Biarkan anak untuk mengajukan suatu pilihan dan memberikan pertimbangan Makin banyak anak-anak diikutsertakan dalam menentukan suatu aturan makin banyak mereka menyetujui aturan yang diberikan. 16. Mendesak Jika anak lupa akan suatu aturan maka janganlah ingatkan dia. daripada mengatakan kepada anak . 15. 11. 12. guru mengatakan pada anak. Makin besar anak haruslah makin sedikit aturan-aturan. 14. Contoh. lebih baik guru mengatakan. makin sedikit perintah yang anda berikan akan makin baik". Pujian Usahakanlah untuk tersenyum dan menghargai anak-anak karena menuruti aturan-aturan. seringkali lebih baik untuk mengajukan suatu pertanyaan daripada memberikan suatu perintah. Dalam membuat aturan-aturan bicarakanlah bersama untuk melakukan kompromi. Ingatlah. 13. .

maka sebagai gantinya sarankanlah suatu alternatif. guru yang memberi perintah akan menolong anak untuk menghindari perasaan diawasi atau dimandori. Alasannya adalah karena mereka mengalami pertambahan otonomi atau kebebasan. 17. sebagai gantinya ajukanlah permintaan.pembatasan terhadap tingkah laku mereka hendaklah secara bertahap dikurangi. Dalam hal ini sebaiknya . biasanya guru berkata tidak. kamu tidak boleh bermain sekarang ". Ketidakpastian tindakan guru akan dirasakan oleh anak sehingga mereka akan menolak untuk melakukan apa yang dikehendaki guru. "Tidak. Keyakinan Pastikanlah bahwa guru mempunyai keyakinanr dalam melakukan sesuatu.Contoh. Hal ini merupakan suatu tanda atau peringatan kepada anak bahwa perbuatannya bukan saja tidak pantas. namun belum tentu anak akan dapat melakukan semua aturan itu dengan baik. Contoh. Makin tanggap guru terhadap permintaan seorang anak." Ya Joko. maka makin mudahlah anak menuruti permintaan-permintaan guru. "Silahkan istirahat sebentar". 18. Penerapan hukuman dimaksudkan agar anak dapat menghentikan perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima oleh kelompok sosialnya. guru melihat Budi yang sedang mencoret meja. guru bertanya. tetapi guru sendiri mengetahui dan menyadarinya. Buatlah suatu plus dari pada suatu minus Jika anak meminta untuk melakukan sesuatu yang tidak disenangi karena situasi yang tidak mengizinkan. "Budi. Untuk itu perlu suatu ketegasan dalam bentuk sanksi-sanksi tertentu terhadap pelanggaran aturan-aturan yang sudah ditetapkan. apa yang sedang kamu kerjakan?". pembatasan. Pengurangan secara bertahap Secara ideal. Untuk efektifnya penerapan aturan itu pada anak di TK. 20. seiring dengan makin besarnya anak. kamu dapat bermain kalau kamu sudah selesai belajar" jadi bukan mengatakan. Hukuman merupakan stimulus yang tidak menyenangkan bagi anak. maka garis-garis pedoman di atas perlu dipahami oleh guru dalam penerapan aturan pada anak yang diasuhnya. Walaupun anak sudah diberi tahu tentang aturan-aturan. Misalnnya. 19. Permintaan Jangan memberi perintah.

Setelah adanya batas waktu penyelesaian tugas guru perlu untuk memastikan bahwa tugas yang diberikan telah dilaksanakan. apabila ia melakukan pelanggaran. konsistensi membuat anak menghargai aturan dan figur otoritas. Konsisten amat diperlukan dalam penerapan disiplin. misalnya mencegah anak pergi keluar kelas sebelum tugasnya diselesaikan. (b) pastikanlah tugas itu telah dilaksanakan. mengeluh atau reaksi emosional lainnya. konsisten mempunyai nilai pendidikan. ___ Kegiatan yang ditetapkan untuk dilakukan anak perlu ditentukan batas waktu untuk melaksanakannya. juga harus memperhatikan keadaan anak. Tidak dapat tidak. Kedua. (c) kenali dan pahamilah perasaan-perasaan anak.dalam menetapkan aturan anak diikutsertakan. konsistensi dapat meningkatkan motivasi. misalnya anak yang selalu mendapat hadiah setiap menunjukkan perilaku tertentu sehingga anak termotivasi untuk mempertahankan tingkah laku tersebut. pertama. Buatlah batas waktu itu dari suatu kejadian. . yaitu: (a) tentukan suatu batas waktu untuk penyelesaian perintah-perintah. aturan. Ketiga. guru haruslah mencegah untuk terlibat dalam suatu perdebatan dengan seorang anaky ang dilanda emosi tentang kegunaan aturan itu. Dalam keadaan anda menunjukkan keprihatinan terhadap perasaanperasaan dan keinginan anak. Konsistensi pada anak oleh guru. Contoh. hukuman dan ganjaran kepada anak. Ganjaran (hadiah) merupakan stimulus yang diberikan pada anak yang menunjukkan perilaku yang diharapkan dan dicapainya prestasi tertentu. Hal ini termasuk pencegahan terhadap anak untuk melakukan kegiatan lain atau kegiatan rutin lainnya. Alasan pentingnya konsistensi adalah karena. aturan yang konsisten mempercepat anak untuk mempelajarinya. Dengan demikian anak akan mengetahui konsekwensi tertentu. misalnya anak akan menghargai dan menghormati gurunya. Pada umumnya hadiah dapat mempunyai pengaruh yang positif pada diri anak karena dengan pemberian hadiah akan mendorong anak untuk semakin memperbaiki perilakunya dan meningkatkan kemung-kinan-nya untuk mengulang kembali perilaku tersebut atau mencapai prestasi yang telah pernah diraihnya. Biarkanlah anak anda menyatakan atau mengeluarkan perasaan-perasaannya. anak akan menguji suatu aturan yang baru itu dan cenderung memprotes. Guru harus mengenali dan memahami perasaan-perasaan anak. Bantulah mereka untuk mengenal dan mengakui perasaanperasaannya. mi-salnya. Untuk itu Schaefer (1996) mengemukakan langkah-langkah dalam mewujudkan konsistensi aturan pada anak. anak harus merapikan susunan bangkunya sebelum pulang.

permisif. Pengekangan terkesan kaku sekali. maka anak akan dihukum. Anak dalam setiap tindakannya dibayangi oleh perasan takut berbuat salah. Pada disiplin otoriter yang tidak terlalu kaku. Penerapan hukuman pada anak bertujuan untuk memperkuat kepatuhan anak akan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Teknik Pembinaan Disiplin Ada tiga macam teknik yang sudah dikenal dalam pembinaan disiplin yaitu teknik otoriter. D. anak harus berperilaku sesuai dengan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. dan anak tidak diperbolehkan membuat membuat keputusan sendiri. bila anak bertingkah laku sesuai dengan aturan. Dalam hal ini anak tidak diberikan kesempatan untuk belajar bagaimana mengendalikan perilaku mereka sendiri. dan demokratis. Dalam pengekangan yang kaku. 1. patuh. dua kali kepada anak dan kemudian dapat mengabaikan setiap protes lebih lanjut yang dilancarkan oleh anak. karena kesalahan dan pelanggaran dari aturan yang ditetapkan akan berakibat hukuman. tenang menjadi anak yang manis. Bila anak melakukan pelanggaran terhadap aturan tesebut.Perdebatan dalam keadaan seperti itu tidak ada gunanya. Teknik ini dibedakan berdasar-kan bagaimana aturan diterapkan pada anak. Satu kelebihan dari teknik ini adalah guru mencoba memahami keinginan-keinginan anak. Dalam penerapan tehnik ini hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali penguatan positif seperti senyuman. tapi anak secara diam-diam menaruh rasa tidak puas terhadap tokoh otoritasnya yang memberikan aturan-aturan kepada anak dalam berperilaku. . bahkan anak bisa tumbuh menjadi seorang yang licik dalam segala tindak tanduknya. Namun kadang-kadang terlihat adanya larangan-larangan tidak masuk akal masih digunakan guru untuk mengendalikan perilaku anak. Teknik otoriter Dalam teknik ini disiplin ditegakkan secara kaku. Kepribadian anak menjadi kaku. pengekakangan pada anak agak kurang ditonjolkan. namun pengaturan terhadap perilaku anak tetap ada. Pengekangan pada anak sangat menonjol sekali terlihat dalam penerapan disiplin dengan teknik otoriter ini. pujian. tidak luwes dan sulit melakukan penyesuaian diri dengan kelompoknya. tapi kadang kala bisa juga terkesan tidak terlalu kaku. Untuk itu guru perlu menerangkan alasan-alasan dari aturan itu sekali. maka untuk melindungi diri anak akan berbohong. Guru punya otoritas yang sangat tinggi dalam menetapkan perilaku yang harus ditampilkan. Namun jika kesalahan dan pelanggaran terlanjur dilakukan. walaupun anak sering tidak paham mengapa harus berperilaku seperti itu. Penerapan teknik disiplin ini dapat menjadikan anak berperilaku yang diinginkan.

sehingga anak merasa tidak takut dan melakukan tindakan berdasarkan kemauan sendiri. kreatif. Teknik demokratis Penerapan teknik disiplin demokratis menekankan pada pemberian kesempatan pada anak untuk tumbuh dan berkembang secara wajar. 2. mandiri. karena sedikit sekali pengawasan yang diberikan guru pada anak. 3. Dasar pemikiran dari teknik ini adalah mengembangkan kendali tingkah laku sehingga anak mampu melakukan hal yang benar tanpa harus diawasi dengan ketat. Sebaliknya anak akan menjadi agresif. Dalam penerapan teknik ini anak berhak untuk mengeluarkan pendapat. Anak diperbolehkan untuk melakukan apa saja. Teknik ini tidak mengarahkan anak untuk berperilaku yang sesuai dengan aturan dan kebiasaan yang ada dalam kelompoknya. Dalam hal ini campur tangan guru yang berlebihan dianggap suatu hambatan bagi anak dalam menentukan segala tindakannya dalam berperilaku. sehingga membuat anak merasa puas. Untuk itu guru sering memberikan menggunakan penjelasan. Teknik ini jika diterapkan pada anak dalam kelas terkadang dapat menimbulkan kekacauan. Teknik disiplin demokratis dapat mengembangan kendali diri pada anak. kecuali kalau guru mempunyai kemampuan yang cukup dalam mengelola menguasai kelas. dan ramah. percaya diri. Pemahaman anakyang masih rendah dan minimnya pengalaman dan pengetahuan mereka membuat mereka bingung untuk berperilaku yang pantas. . Untuk itu guru harus bersikap tegas dan punya banyak pengalaman dan pengetahuan tentang apa-apa yang harus dilakukan anak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya. diskusi dan mengemukakan alasan-alasan dalam mengajarkan anak berperilaku. Pola pengasuhan yang serba membolehkan ini dapat menimbulkan kesulitan bagi anak untuk memutuskan sesuatu karena tidak ada patokan sama sekali dalam berperilaku. Hal ini mengakibatkan tumbuhnya rasa cemas.Dalam penerapan teknik ini guru harus mempunyai kewibawaan dan otoritas terhadap anak. Pada teknik ini guru memberikan kebebasan kepada anak dalam mengembangkan perilakunya. Di sinilah letak kearifan guru dalam menanamkan disiplin. dan inisitif. Anak biasanya menjadi seorang yang dapat diajakbekerja sama. yang menunjukkan bahwa ia mempunyai kelebihan dan kekuasaan terhadap anak yang dihadapinya. usul. Teknik permisif Teknik permisif ini merupakan lawan dari teknik otoriter. namun dalam penentuan keputusan anak akan dibantu oleh guru. dan takutyangberlebihan. Dalam penerapan teknik disiplin ini guru bisa saja berpindah dari satu teknik ke teknik yang lain.

Beberapa bentuk perilaku yang diharapkan dari anak dalam aktivitas ini adalah: (a) untuk selalu tertib dan patuh pada per-aturan. Dengan kata lain. baik diprogram guru maupun secara spontan. yang dimulai se-be-lum kegiatan pembelajaran berlangsung dan sampai berakhirnya pem-bel-ajaran. (b) norma kedisipinan dapat dikaji ulang. Sebelum masuk keruangan kelas anak berbaris di depan kelas. sebab anak merasa diberi kepercayaan dan peluang untuk meng-atur tingkah lakunya. Berbaris memasuki ruangan kelas. Penerapan Disiplin Kelas Pembinaan perilaku untuk anak TK dilakukan melalui pembiasaan pe-rilaku. 1. dalam kegiatan pembelajaran berlangsung. Namun demikian banyak orang cenderung ber-pendapat bahwa dalam menanamkan disiplin pada anak pendekatan demokratis yang paling baik. (b) tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. (f) guru atau orang tua mempunyai hubungan dengan anak yang hangat dan bersahabat. mengendalikan diri dengan tenang dan bersikap ra-mah pada orang lain.Ketiga teknik di atas mempunyai kelebihan dan kekurangannya. (d) dapat membina penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Alasannya adalah: (a) karena anak diajak ber-bincang-bincang. maka sebelum memasuki ruang-an kelas anak bersenam dan berolahraga kecil sambil menyanyi dan menari. Jika pekarangan sekolah memungkinkan. . (c) tidak ada hukuman. mulai de-wa-sa. dan (e) mengajarkan orang untuk bekerjasama. terutama yang usia pubertas. dan (g) dapat memuaskan anak. penerapan disiplin kelas harus dilakukan guru se-belum pembelajaran dimulai. se-lama istirahat/makan/bermain dan sesudah pelajaran berakhir. sehingga menjalin kerjasama. bertukar pikiran dan beradu argumentasi. E. jadi tidak ada teknik mana yang lebih baik dibandingkan dengan teknik lainnya. kemudian dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pe-san-pesan yang bersifat membimbing dan mengarahkan anak keperilaku yang diharapkan.

dan (g) mengembangkan sosialisasi. 3. termasuk kerapihan dan keber-sihan kuku. (b) menunjukkan reaksi dan emosi yang wajar. (c) berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. telinga dan lain-lain. (e) menciptakan suasana keakraban. Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain Pada waktu mengucapkan salam diharapkan perilaku anak. (f) mela-tih keberanian. . (c) rapi dalam bertindak. (d) mau menerima dan menyelesaikan tugas. dan (k) tolong menolong sesama teman dalam merapikan pakaian. (f) berpakaian bersih dan rapi. (i) berbaris dengan rapi. an-tara lain: (a) sopan dan santun. (b) berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Berdoa sebelum dan sesudah kegiatan Pada waktu berdoa diharapkan anak berperilaku. dan (f) mematuhi peraturan/tata tertib. dan tenang dalam berdoa. (h) menjaga kebersihan badan. (e) bersikap tertib. 2. (g) mau memakai pakaian seragam. (d) berani dan mempunyi rasa ingin tahu yang besar.(c) sabar me-nunggu giliran. gigi. rambut. datang tepat waktu/tidak ter-lambat. (j) bediri tegap pada saat berbaris. (e) berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. antara lain: (a) memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. (d) meng-hormati orang lain.

Dalam kegiatan pembelajaran Dalam kegiatan pembelajaran. (j) meminta tolong dengan baik. berpakaian dan bekerja.4. (n) menjaga keamanan diri. (c) rapi dalam bertindak. (h) sabar menunggu giliran. (b) tolong. (k) mengucapkan terima kasih dengan baik. (h) menjaga keamanan diri. (m) menyimpan alat permainan setelah digunakan. (d) merasa puas atas prestasi yang dicapai dan ingin terus meningkatkan. Waktu Istirahat/Makan/Bermain Pada waktu istirahat/makan/bermain diharapkan anak berperi-laku: (a) berdoa sebelum dan sesudah kegiatan. (f) menjaga kebersihan lingkungan. berpakaian dan bekerja. (g) mengendalikan emosi. (1) membuang sampah pada tempatnya. (i) dapat membedakan milik sendiri dan orang lain. (e) bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. . 5. diharapkan anak berperilaku: (a) rapi dalam bertindak. (f) mengurus diri sendiri. (i) sopan. (c) berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. (b) berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan.menolong sesama teman. (o) mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. dan (j) tenggang rasa terhadap keadaan orang lain . (g) tenggang rasa terhadap keadaan orang lain.

(p) mau dan dapat makan sendiri. (r) tidak berebut mainan. (a) memberikan hormat kepada guru yang akan meninggalkan kelas. Tapi dalam kasus-kasus tertentu barangkali guru tidak dapat memberikan respons saat itu saja melainkan perlu menerapkan serangkaian kegiatan untuk penyelesaian masalah pelanggaran disiplin itu. Dalam beberapa hal bentuk pelanggaran disiplin barangkali guru cukup hanya memberikan respons tertentu pada saat anak melakukan pelanggaran seperti. 6. (d) meminta supaya menghentikan perilakunya. saat anak terlambat. (c) meneliti tempat duduknya agar tidak ada barang yang ketinggalan. (b) berjalan mendekati. (f) memindahkan tempat duduk. maka guru perlu menempuh tindakan dan prosedur berikut: (a) menatap dengan seksama. (h) menulis surat untuk orang tua. (q) mau membersihkan dan merapikan tempat makan. (b) berdoa sesudah selesainya kegiatan pembelajaran. . (c) memanggil ke depan. Waktu pembelajaran berakhir (pulang) Pada waktu pembelajaran berakhir. (s) menjaga kebersihan dan kesehatan. dimana respon guru saat itu tidak efektif lagi dalam mengatasi masalah disiplin kelas. Dalam masalah tertentu. (g) menentukan hukuman. diharapkan anak berperilaku. (e) mendiskusikan masalahnya. Oleh karena itu guru perlu menyediakan prosedur dan bentuk penerapan disiplin kelas bagi anak dalam kelas. Pengelolaan kelas yang efektif menuntut kemampuan guru dalam menciptakan. Kemudian dengan mem-perhatikan kondisi anak maka penerapan disiplin juga harus memperhati-kan aspek perkembangannya. dan (d) mengantri saat ke luar kelas. dan (i) memanggil orang tua. mengganggu kelas dan menciplak. memelihara dan mengembalikan kondisi sehingga lingkungan belajar efektif.

menepuk bahu anak dan mengacungkan jembol untuk keberhasilan anak. dengan contoh. maka cara yang positif inilah yang lebih efektif. guru memberikan peng-hargaan. maka guru dapat melalui kontak pandang. dan hadiah. persuasi. Dibandingkan dengan cara yang negatif. kecemasan dan perasaan salah. sesalan. adalah jika guru dalam mengajar anak cara-cara berperilaku yang baik. yang menyakiti anak secara fisik dan kejiwaan. seperti hu-kum-an dan omelan. mendekat pada anak sambil tersenyum. ejekan. pukulan dan sebagai-nya. Di samping dengan kata-kata.Banyak penelitian ilmiah tentang bagaimana mengajar anak untuk berdisiplin. dan ungkap-an. guru akan lebih meman-dang dan memperlakukan anak sebagai teman dari pada sebagai seorang lawan. yang bersifat hukuman. "Ibu guru senang sekali kalau anak-anak bisa saling tolong-menolong". teladan. (b) tetap terpelihara harga diri anak. misalnya. Pendekatan yang positif dalam pendisiplinan anak. me-nimbulkan ketakutan yang sangat. dorongan dan peneriman anak sebagai dirinya. bukan menentangnya. akan menghilangkan harga diri anak. dan (c) selalu ada ada suatu hubungan yang dekat dengan anak. karena itu haruslah dihindari. Banyak cara dapat dikemukakan guru melalui kata-kata. dan bayak pula metode yang efektif yang dapat dipakai. . Dalam suatu pendekatan yang positif. tapi kemudian akan merusak jiwa anak juga. Cara-cara negatiiseperti ini kadang-kadang efektif juga untuk semen-tara menghentikan perilaku anak yang tidak baik. Pendekatan yang negatif. Untuk itu dalam penerapan disiplin haruslah memperhatikan kriteria tetentu: (a) menghasilkan suatu keinginan perorangan atau pertumbuhan diri anak. Contoh-contoh dari cara menghukum seperti itu ialah: hinaan. dorongan. pujian. dukungan. "Ibu sangat senang. tetapi tidak semua guru dapat memahaminya dengan baik. bentakan. Sudah menjadi tanggung jawab guru seharusnya untuk lebih menekankan aspek positif yang dimiliki anak daripada aspek negatif. Namun ada cara yang efektif untuk mendisiplin anak tesebut adalah dengan penggunaan pendekatan yang positif. Sebagai hasil anak akan merasa bahwa guru bersama dia. karena anak-anak telah menunjukkan usa-ha yang sungguh-sungguh dalam membuat patung-patung atau taman-taman di bak pasir ini". Tek-nik-teknik pendidikan bersifat menghukum seperti ini merendahkan harga diri anak sebagai manusia. sokongan.

D. Rajawali Bauer M. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia Gary. Managing Classroom to Facilitate Learning. (1984). T. Ricard dan Ted Wragg. Anne. (1991).A.DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. New York: Me GrawHill Book Company Bolla. Pengelolaan Kelas dan Siawa (Sebuah Pendekatan Evaluatif). (1996). Thomas. (1985). Mental Health in the Classroom. (1987). Jhon I. Sapona H. Washington : NAEYC Depdikbud. Abu dkk. Jakarta: Rajawali Hadiyanto (2000). Regina. New Jersey: Prentice-hall. Effective Teaching Methods. Boston: Allyn Bacon Bernard. Jakarta Dunne. (1998). Jakarta: CV. Jakarta: Depdiknas Bredekamp. Terjemahan Anwar Yasin.Guru yang Efektif : Cora Mengatasi Kesulitan dalam Kelas : Alih Bahasa Mudjito. ManajemenPeserta Didik. Padang: UNP Press . Pembelajaran Efektif. Pengelolaan Pengajaran. (1996). Raka Joni dan G. Suharsimi.K. Keterampilan Mengelola Kelas. (1992). Inc Gordon. Sue. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto. Wardani. Borich. (1985). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Program Serving Children from Birth Through Age 8. (1970). Harold W. Metodik Khusus Program Pembentukan Perilaku di Taman Kanak-Kanak. ed.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->