P. 1
Buku Panduan Pemeriksaan LKPD Bab-1-4

Buku Panduan Pemeriksaan LKPD Bab-1-4

|Views: 3,506|Likes:
Published by DS Aji
Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 1-4
1. Pendahuluan
2. Prosedur Analitis
3. Penilaian Resiko
4. Materialitas & TE
Panduan Pemeriksaan LKPD Bab 1-4
1. Pendahuluan
2. Prosedur Analitis
3. Penilaian Resiko
4. Materialitas & TE

More info:

Published by: DS Aji on May 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2013

pdf

text

original

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

PANDUAN PEMERIKSAAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA V AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA VI Jakarta, Mei 2011

NOTA DINAS BERSAMA
No.144/ND/ XVIII/05/2011 No.168/ND/XIX/05/2011 Jakarta,3 Mei 2011 Kepada Yth Dari Lampiran Perihal : : : : Para Kepala Perwakilan Tortama V dan Tortama VI satu buku Penyampaian Buku Panduan Pemeriksaan LKPD

Bersama ini kami sampaikan Buku Panduan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) untuk dimanfaatkan oleh para pemeriksa di lingkungan perwakilan BPK RI dalam pelaksanaan pemeriksaan LKPD. Sesuai Undang-Undang No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara memberikan kewenangan kepada BPK untuk melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara dalam bentuk pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu di dalamnya termasuk pemeriksaan atas LKPD. Pemeriksaan atas LKPD wajib dilakukan oleh BPK sejak tahun 2006 sesuai dengan UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. Buku Panduan Pemeriksaan LKPD disusun dalam rangka untuk menjamin bahwa pemeriksaan LKPD dapat berjalan lebih efektif dan efisien serta memenuhi standar pemeriksaan, yaitu melalui : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Keseragaman metodologi pemeriksaan LKPD; Pemeriksaan yang lebih terstruktur dan terdokumentasi; Perencanaan yang lebih matang; Keseragaman dalam penanganan suatu masalah; Koordinasi dan pengendalian yang lebih efektif; Pemenuhan quality control dan quality assurance; dan Pelaksanaan dan pelaporan tepat waktu Sistimatika Buku Panduan Pemeriksaan LKPD terdiri dari : BAB 1 BAB 2 BAB 3 BAB 4 Pendahuluan Prosedur Analisa Pemahaman dan Penilaian Resiko Materialitas & Tolerable Error

BAB 5 BAB 6 BAB 7 BAB 8 BAB 9 BAB 10 BAB 11

Uji Petik Pemeriksaan (Audit Sampling) Kertas Kerja Pemeriksaan Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD Penyusunan LHP SPI dan Kepatuhan Panduan Penyusunan Opini Pengendalian dan Penjaminan Mutu Perencanaan Pemeriksaan (Pemeriksaan Pendahuluan) BAB 12 Pemeriksaan atas BLUD BAB 13 Frequently Asked Questions (FAQ)

Interim

&

Pemeriksaan

Panduan ini bukan merupakan pengganti dari Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) pemeriksaan yang telah diterbitkan oleh BPK, akan tetapi merupakan operasionalisasi dari juklak dan juknis terkait, dengan tujuan untuk mempermudah pengaplikasiannya dalam pemeriksaan LKPD. Buku ini juga dapat dijadikan rujukan sementara atas hal-hal yang belum diatur atau belum ditetapkan dalam juklak dan juknis pemeriksaan. Buku panduan ini pada dasarnya hanya memuat hal-hal praktis yang diperlukan dalam pemeriksaan LKPD, sehingga tidak memuat semua hal yang berkaitan dengan pemeriksaan. Oleh karena itu perlu diingatkan kepada setiap pemeriksa untuk tetap memahami seluruh perangkat lunak yang telah ditetapkan oleh BPK berkaitan dengan pemeriksaan keuangan. Panduan ini akan terus dikembangkan seiring dengan penerbitan juklak dan juknis oleh BPK, adanya permasalahan yang dihadapi pemeriksa di lapangan, perkembangan dalam pengelolaan dan pemeriksaan keuangan daerah, serta perkembangan ilmu akuntansi dan auditing pada umumnya. Para pemeriksa diharapkan dapat berperan aktif dalam penyempurnaan panduan ini. Demikan Buku Panduan ini disusun untuk dapat dipergunakan dengan sebaikbaiknya. Tortama V Tortama VI

Sutrisno NIP 195201071978031001 Tembusan (sebagai laporan): 1. Yth Anggota V; 2. Yth. Anggota VI.

Abdul Latief 195811301979011001

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 1 Pendahuluan

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1.1 atar Belakang

Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) merupakan salah satu tugas pokok BPK sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keungan. LKPD merupakan pertanggungjawaban kepala daerah, yaitu gubernur/bupati/walikota atas pelaksanaan APBD tahun anggaran tertentu. LKPD tersebut disusun dengan menggunakan suatu sistem akuntansi keuangan daerah dan berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Pemeriksaan atas LKPD merupakan jenis pemeriksaan keuangan yang dilakukan oleh BPK dengan tujuan memberikan pernyataan opini tentang tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam LKPD. Sesuai dengan penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria (i) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, (ii) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), (iii) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan (iv) efektivitas sistem pengendalian intern. Oleh karena itu, pemeriksa diharapkan untuk fokus mengarahkan prosedur pemeriksaannya terhadap tujuan pemeriksaan tersebut. Untuk membantu pencapaian kualitas pemeriksaan sebagaimana dipersyaratkan dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), Panduan Pemeriksaan LKPD ini disusun sebagai pelengkap petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) pemeriksaan yang telah ada di BPK. Panduan Pemeriksaan LKPD ini merupakan pengembangan dari kebijakan umum pemeriksaan LKPD yang dikeluarkan setiap tahun dan mengadopsi sumber literatur lainnya yang relevan dengan kondisi pemeriksaan LKPD, diantaranya Panduan Pemeriksaan LKPP/LKKL (Buku Merah). Dengan adanya Panduan Pemeriksaan LKPD ini, para pemeriksa diharapkan dapat: 1) Melaksanakan prosedur pemeriksaan yang diperlukan dalam pemeriksaan LKPD dengan menggunakan pendekatan pemeriksaan berbasis risiko (Risk Based Audit Approach) secara memadai.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 1 Pendahuluan

2) Memiliki persamaaan cara pandang dan persepsi terkait permasalahan yang ditemukan dalam pemeriksaan LKPD, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pemeriksaan atas LKPD.

1.2 Tahapan Pemeriksaan LKPD
Pemeriksaan atas LKPD merupakan jenis pemeriksaan keuangan yang bertujuan untuk memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan tersebut dalam semua hal yang material sesuai dengan SAP. Dalam proses pemeriksaan tersebut, patokan yang digunakan adalah Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang memberlakukan juga Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), serta tujuan dan harapan penugasan. Selain itu, proses pemeriksaan berpedoman juga pada Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP). Berdasarkan metodologi pemeriksaan LKPD sebagaimana diatur dalam Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas LKPD sesuai Keputusan BPK Nomor 56a/K/IXX.2/9/2007, tahapan pemeriksaan LKPD meliputi tahapan perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan lapangan, dan pelaporan hasil pemeriksaan yang secara ringkas meliputi 24 langkah, yaitu: Perencanaan Pemeriksaan 1) Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan 2) Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa 3) Pemahaman atas Entitas 4) Pemantauan Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan Sebelumnya 5) Pemahaman Sistem Pengendalian Intern 6) Pemahaman dan Penilaian Risiko 7) Penetapan Materialitas Awal dan Kesalahan Tertolerir 8) Penentuan Metode Uji Petik 9) Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal 10) Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 1 Pendahuluan

Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan 11) Pelaksanaan Pengujian Analitis Terinci 12) Pengujian Sistem Pengendalian Intern 13) Pengujian Substantif atas Transaksi dan Saldo Akun 14) Penyelesaian Penugasan: Reviu Kewajiban Kontinjensi, Reviu Kontrak Jangka Panjang, Identifikasi Kejadian Setelah Tanggal Neraca 15) Penyusunan Ikhtisar Koreksi 16) Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan 17) Pembahasan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang 18) Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis 19) Penyampaian Temuan Pemeriksaan

Pelaporan Hasil Pemeriksaan 20) Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan 21) Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Penanggung Jawab Pemeriksaan 22) Penyampaian dan Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Pejabat Entitas yang Berwenang 23) Perolehan Surat Representasi 24) Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan

Seluruh tahapan Pemeriksaan LKPD tersebut telah diuraikan dalam Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas LKPD. Panduan Pemeriksaan LKPD ini memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap tahapan dan permasalahan penting yang sering muncul dalam Pemeriksaan LKPD.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 1 Pendahuluan

1.3 Sistematika Panduan Pemeriksaan LKPD
Panduan Pemeriksaan LKPD ini dimaksudkan sebagai acuan dalam melaksanakan pemeriksaan atas LKPD oleh Perwakilan BPK di seluruh Indonesia. Panduan Pemeriksaan LKPD ini terdiri dari 13 bab, yakni 1 bab tentang pendahuluan, 11 bab yang menguraikan metodologi pemeriksaan LKPD beserta konsep dan teori auditing yang mendasarinya, dan 1 bab yang menguraikan solusi dan kebijakan atas permasalahan-permasalahan yang sering muncul dalam pemeriksaan LKPD Frequently Asked Question (FAQ). Panduan Pemeriksaan LKPD ini juga dilengkapi dengan lampiran yang berisi formulir dan contoh format yang terkait dengan pembahasan masing-masing bab. Lampiran ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Panduan Pemeriksaan LKPD . Seperti dijelaskan sebelumnya hal-hal yang dibahas dalam Panduan Pemeriksaan LKPD hanyalah hal-hal penting atau prosedur yang sering muncul dalam Pemeriksaan LKPD dan pemeriksa biasanya menemukan kesulitan dalam melaksanakannya. Oleh karena itu, urutan antar bab dalam Panduan Pemeriksaan LKPD ini tidak dapat dibaca sebagai urutan pemeriksaan. Pemeriksa diharapkan membaca dan memahami bab yang relevan dengan pelaksanaan prosedur pemeriksaan terkait. Sebagai contoh: Saat pemeriksaan, dalam Program Pemeriksaan (P2) pemeriksa diminta untuk melakukan analisis risiko. Untuk itu, pemeriksa dapat langsung membaca Bab III mengenai Pemahaman dan Penilaian Risiko. Demikian juga, apabila pemeriksa mendapatkan kesulitan untuk memutuskan perlakuan terhadap suatu kasus yang ditemui dalam pemeriksaan di lapangan, pemeriksa dapat langsung mencarinya di Bab XIII yang memuat FAQ. Panduan Pemeriksaan LKPD ini disusun dengan sistematika sebagai berikut. Bab 1 : Pendahuluan Bab ini menjelaskan secara singkat mengenai latar belakang dikeluarkannya Panduan Pemeriksaan LKPD, tahapan pemeriksa dan LKPD dan sistematika Panduan Pemeriksaan LKPD. Bab 2 : Prosedur Analitis Bab ini memberikan panduan bagi pemeriksa dalam melakukan prosedur analitis (analytical procedures) dalam setiap tahapan pemeriksaan, mencakup gambaran umum prosedur analitis dan pelaksanaan prosedur analitis.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 1 Pendahuluan

Bab 3

: Pemahaman dan Penilaian Risiko Bab ini memberikan panduan kepada pemeriksa tentang pemahaman dan penilaian risiko, mencakup gambaran umum risiko dan cara pengisian tabel penilaian risiko.

Bab 4

: Materialitas dan Tolerable Error Bab ini menjelaskan tentang gambaran umum materialitas, hubungan materialitas dan risiko, dan konsep materialitas.

Bab 5

: Uji Petik Pemeriksaan (Audit Sampling) Bab ini memaparkan tentang gambaran umum uji petik, penentuan cakupan (coverage) pemeriksaan dan satker yang akan diperiksa, dan uji petik pemeriksaan.

Bab 6

: Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) Bab ini menguraikan tentang gambaran umum, fungsi dan manfaat dokumentasi pemeriksaan, lingkup dokumentasi pemeriksaan, syarat dan unsur-unsur dokumentasi pemeriksaan, dan tahapan pendokumentasian pemeriksaan LKPD.

Bab 7

: Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD Untuk mempermudah penulisan temuan dan pengklasifikasiannya, para pemeriksa dapat membaca bab ini, yang memuat tentang gambaran umum, panduan umum penulisan TP LKPD, temuan sistem pengendalian intern, temuan kepatuhan, panduan penulisan temuan berulang atau temuan hasil pemeriksaan sebelumnya, dan dilengkapi dengan contoh temuan yang sering muncul dalam pemeriksaan LKPD.

Bab 8

: Penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan atas SPI dan Kepatuhan Bab ini berhubungan erat dengan Bab VII dan menjelaskan mengenai penyusunan LHP SPI dan LHP Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, yang mencakup uraian tentang laporan hasil pemeriksaan keuangan, laporan hasil pemeriksaan atas sistem pengendalian intern, laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan pengungkapann unsur temuan pemeriksaan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 1 Pendahuluan

Bab 9

: Panduan Penyusunan Opini Salah satu tahap penting dalam Pemeriksaan LKPD adalah “menetapkan opini” Bab ini akan memberikan panduan sistematis bagi Penanggung Jawab dan Tim Reviu dalam menetapkan opini pemeriksaan. Bab ini memuat penjelasan tentang gambaran umum, dasar pertimbangan pemberian opini, jenis opini, mekanisme dan matriks perumusan opini, pertimbangan temuan dalam menentukan opini, mengukur salah saji atau potensi kesalahan yang terjadi, dan format dan contoh opini.

Bab 10

: Pengendalian dan Penjaminan Mutu Untuk meningkatkan kualitas pemeriksaan, Quality Assurance terhadap pemeriksaan mutlak dilakukan. Bab ini akan memberikan panduan terhadap hal tersebut.

Bab 11

: Perencanaan Pemeriksaan LKPD: Pemeriksaan Interim dan Pemeriksaan Pendahuluan Bab ini memberikan penjelasan tentang pemeriksaan interim dan pemeriksaan pendahuluan atas LKPD, mencakup gambaran umum, tahapan pemeriksaan interim dan pendahuluan, dan penyusunan program pemeriksaan rinci.

Bab 12

: Pemeriksaan atas BLUD Bab ini memberikan panduan dalam melakukan pemeriksaan BLUD dan pengaruhnya terhadap LKPD, mencakup gambaran umum BLUD, tujuan pemeriksaan satuan kerja BLUD pada LKPD, pengelolaan dan pelaporan keuangan BLUD, dan prosedur pemeriksaan tambahan atas satuan kerja BLUD sebagai entitas akuntansi.

Bab 13

: Frequently Asked Questions (FAQ) Bab ini menjelaskan tentang berbagai macam permasalahan yang ditemukan dalam pemeriksaan LKPD dan solusi/kebijakan atas permasalahan tersebut.

REFERENSI LAMPIRAN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

BAB 2 PROSEDUR ANALITIS 2.1 Gambaran Umum

Prosedur analitis merupakan evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya atau antara data keuangan dengan data non keuangan. Asumsi dasar penerapan prosedur analitis adalah bahwa hubungan yang masuk akal di antara data dapat diharapkan tetap ada dan berlanjut, kecuali jika timbul kondisi yang sebaliknya. Kondisi tertentu yang dapat menimbulkan penyimpangan dalam hubungan ini mencakup antara lain, peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak, atau salah saji. Secara umum, pelaksanaan prosedur analitis dilakukan dengan tahapantahapan sebagai berikut. 1) Pemeriksa terlebih dahulu melakukan pemahaman hubungan keuangan yang bisa diperoleh dengan dimilikinya pemahaman tentang auditee dan proses bisnis utama dari auditee. 2) Mengembangkan harapan atas data yang tercatat atau perbandingan yang seharusnya terjadi antar data terkait. Pengembangan harapan ini berdasarkan hasil pemahaman hubungan keuangan yang masuk akal. Dalam mengembangkan harapan, pemeriksa harus secara hati-hati mempertimbangkan faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi data maupun perbandingan yang akan diukur. 3) Membandingkan data atau perbandingan data yang tercatat dengan harapan yang dikembangkan, serta menelusuri penyebab penyimpangan signifikan yang terjadi. Contoh harapan yang dikembangkan dengan risiko salah saji yang harus ditelusuri tersebut adalah sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Tabel 2.1 Harapan yang dikembangkan dengan risiko salah saji Akun Realisasi Penerimaan Data yang digunakan LRA, BKU dan Rekening Kas Daerah LRA, BKU Harapan Risiko salah saji

Realisasi Penerimaan = Total nilai Kurang/lebih saji kredit Rekening Kasda – penerimaan pengembalian belanja pada tahun berjalan Realisasi belanja = (Total SP2D) + Kurang/lebih saji (Total SP3) – SP2D UP – SP2D TUP – belanja (total pengembalian sisa belanja) Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran Kurang/lebih saji = saldo UP + jumlah pinjaman yang Kas di Bendahara Pengeluaran belum di SP2D kan Potongan pajak yang belum disetor + Kurang saji kas SP2D LS ke bendahara yang belum lainnya dan diberikan kepada yang berhak + bunga setara kas jasa giro Kas di Bendahara Penerimaan = Saldo Kurang/lebih saji Kas di Bendahara kas di BKU Penerimaan Hibah aset tetap yang tidak diungkapkan, penghapusan AT tidak diungkapkan, salah pengelompokkan anggaran, aset tetap kurang/ lebih saji Aset yang dilaporkan tidak ada, aset tetap diperoleh dari hibah belum dicatat di neraca Kesalahan kompilasi

Realisasi Belanja Kas di Bendahara Pengeluaran Kas Lainnya dan Setara Kas

Neraca, BKU

Neraca, BKU

Kas di Bendahara Penerimaan Aset Tetap

Neraca, BKU, SBS

LRA, Neraca, (Belanja Modal + penambahan dari hasil inventarisasi) = (So Aset Tetap per 31 Des 200X) – (So Aset Tetap per 31 Des 200X-1) +/- mutasi masuk/keluar

Neraca, Daftar Inventaris Barang Daerah

Total aset tetap menurut Daftar Inventaris Barang Daerah intrakomptabel = total aset tetap di Neraca

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Akun

Data yang digunakan

Harapan

Risiko salah saji Lebih/kurang saji akun utang atau akun pembiayaan, kekurangan pengungkapan atas selisih yang mungkin terjadi Lebih/kurang saji utang PFK, selisih fisik dan catatan SiLPA

Utang Jangka LRA dan Penambahan/penurunan Utang Panjang dan Neraca Jangka Panjang dan Bagian Lancar Bagian Lancar Utang Jangka Panjang = Utang Jangka Penambahan/penurunan Pembiayaan Panjang

Utang PFK

Neraca dan Utang PFK = saldo utang PFK tahun LAK sebelumnya + penerimaan non Anggaran PFK (diluar penerimaan karena kesalahan rekening) – pengeluaran non anggaran PFK (diluar pengeluaran karena kesalahan rekening)

2.2

Tujuan Prosedur Analitis

Tujuan prosedur analitis terkait erat dengan waktu pelaksanaannya. Prosedur analitis bisa digunakan pada saat perencanaan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan lapangan, dan pada saat pelaporan. Berikut tujuan dan proses yang dilaksanakan di masing-masing tahapan tersebut. 1) Pada tahap perencanaan pemeriksaan, prosedur analitis membantu pemeriksa dalam memahami entitas termasuk transaksi dan kejadian pada tahun berjalan. Selain itu, prosedur analitis membantu perencanaan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit dalam menentukan rencana, desain, dan pengujian materialitas sehingga saldo-saldo akun atau transaksi yang memberikan sinyal adanya risiko inheren dan risiko pengendalian dapat teridentifikasi. Penyimpangan yang terjadi menunjukkan risiko terjadinya salah saji. Untuk itu, pemeriksa diharuskan melakukan evaluasi atas penyimpangan tersebut untuk melihat apakah dibutuhkan perluasan prosedur pemeriksaan terkait siklus atau akun tertentu. 2) Pada tahap pelaksanaan pemeriksaan lapangan, prosedur analitis ditujukan untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi. Selain itu, hasil prosedur analitis di tahapan ini bisa digunakan untuk menilai kecukupan pengungkapan atas setiap perubahan
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

pada akun laporan keuangan yang diperiksa. Di tahap ini, prosedur analitis biasanya dilakukan dengan melakukan analisis data pendukung laporan keuangan baik data keuangan maupun data non keuangan. 3) Pada tahap pelaporan, prosedur analitis dilakukan sebagai reviu menyeluruh informasi keuangan. Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa akun-akun dalam Laporan Keuangan yang berkaitan baik secara vertikal maupun horizontal sudah sinkron dan tidak diperlukan lagi bukti tambahan untuk memastikan kewajaran laporan keuangan.

2.3

Pelaksanaan Prosedur Analitis

Ada tiga cara melakukan prosedur analitis dalam pemeriksaan LKPD, yaitu analisis data, tehnik prediktif dan analisis rasio dan tren dengan uraian sebagai berikut. 2.3.1 Analisis data Analisis data dilakukan dengan menguji ketepatan penjumlahan antar akun dan kecukupan pengungkapannya. Pengujian ketepatan penjumlahan antar akun dan kecukupan pengungkapannya bertujuan untuk mengetahui kesesuaian dan menilai kebenaran angka-angka dalam laporan keuangan. Melalui analisis, dapat diketahui apakah terdapat kesalahan jurnal ataupun kesalahan klasifikasi akun sehingga dapat dilakukan koreksi atas laporan keuangan dimaksud. Setelah BPK menerima laporan keuangan secara resmi dari Pemerintah Daerah, pemeriksa harus terlebih dahulu melakukan pengujian mengenai ketepatan penjumlahan akun-akun dalam laporan keuangan maupun penjumlahan rinciannya di catatan atas laporan keuangan (CaLK). Penjumlahan rincian di CaLK juga harus dipastikan sesuai dengan jumlah yang dicantumkan di laporan keuangan. Pengujian juga meliputi analisis vertikal dan analisis horizontal untuk mengetahui apakah terdapat kesalahan atau ketidaksinkronan dalam laporan keuangan sehingga dapat diperoleh pertimbangan untuk dilanjutkan dengan pengujian substantif.
Perlu diingat bahwa pada saat melakukan prosedur analitis, harus diperoleh keyakinan bahwa seluruh transaksi yang terjadi pada satu tahun anggaran tercermin dalam laporan keuangan pemerintah daerah tahun anggaran tersebut. Hal tersebut harus tercermin dalam LRA, Neraca, LAK dan/atau Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Misalnya : 1) Penerimaan di bendahara penerimaan yang belum disetorkan ke kas daerah pada akhir tahun anggaran harus tercermin dalam kas di bendahara penerimaan dan pendapatan yang ditangguhkan pada Neraca per 31 Desember. 2) Penerimaan hutang pemerintah daerah, harus tercermin dalam penerimaan pembiayaan pada LRA dan pengakuan hutang pada Neraca per 31 Desember. 3) Adanya pengakuan Utang Perhitungan Pihak Ketiga/PFK harus tercermin dalam saldo Kas di Neraca per 31 Desember dan dijelaskan dalam CaLK. Analisis data dilakukan dengan menguji hubungan antar akun-akun dalam Neraca dan LRA, baik vertikal (akun-akun dalam Neraca/LRA) maupun horisontal.
Untuk lebih memudahkan prosedur analitis, dapat dilakukan dalam file excel yang ada di CD terlampir.

2.3.1.1 Analisis Vertikal Analisis dilakukan dengan melihat hubungan akun dalam satu jenis laporan keuangan saja yaitu analisis antar akun Neraca saja atau antar akun LRA saja. Tujuannya yaitu untuk menentukan keseimbangan dan kebenaran saldo tiap akun dalam LRA dan dalam Neraca. Analisis ini dilakukan dengan menjaga keseimbangan antar jurnal kolorali dalam satu laporan, sehingga dapat dipastikan bahwa tiap akun dalam laporan keuangan telah disajikan dengan angka yang benar dan seimbang. 2.3.1.1.1 Analisis vertikal dalam LRA

Analisis vertikal dalam LRA diperlukan untuk memastikan bahwa akun-akun dalam LRA telah disajikan dengan angka yang benar sesuai dengan persamaan dibawah ini:
Tabel 2.2 Analisis vertikal dalam LRA Uraian Persamaan SiLPA tahun berjalan harus sama dengan total SiLPA = Total Pendapatan – Total Belanja pendapatan dikurangi total belanja ditambah + Total Penerimaan Pembiayaan – Total total penerimaan pembiayaan kemudian Pengeluaran Pembiayaan dikurangi dengan total pengeluaran pembiayaan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

2.3.1.1.2

Analisis vertikal dalam Neraca

Analisis vertikal dalam neraca diperlukan untuk memastikan bahwa akunakun dalam Neraca telah disajikan dengan angka yang benar dan disajikan secara seimbang untuk akun-akun yang saling berhubungan.
Tabel 2.3 Analisis vertikal dalam Neraca Uraian Persamaan

Aset harus sama dengan total kewajiban Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana ditambah dengan total ekuitas. SiLPA di neraca harus sama dengan kas di kas daerah ditambah kas di bendahara pengeluaran ditambah setara kas ditambah investasi jangka pendek kemudian dikurangi utang PFK. SiLPA di Neraca = Kas di Kas Daerah + Kas di Bendahara Pengeluaran + Setara Kas + Investasi Jangka Pendek – Utang PFK

Kas di bendahara pengeluaran harus sama Kas di Bendahara Pengeluaran = Sisa Uang dengan sisa Uang Persediaan yang belum Persediaan yang Belum Disetor + Utang disetor ditambah dengan utang PFK di PFK di Bendahara Pengeluaran bendahara pengeluaran. Pendapatan yang ditangguhkan harus sama Pendapatan Ditangguhkan = Kas di dengan kas di bendahara penerimaan ditambah Bendahara Penerimaan + Penerimaan di dengan penerimaan di bendahara pengeluaran. Bendahara Pengeluaran *) Penerimaan di Bendahara pengeluaran harus diungkapkan dalam CaLK Piutang harus sama dengan EDL-cadangan piutang. Persediaan harus sama cadangan persediaan dengan EDLPiutang = EDL - Cadangan Piutang Persediaan = EDL – Cadangan Persediaan Kewajiban Jangka Pendek (kecuali Utang PFK) = EDL - Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek Investasi Jangka Panjang = EDI – Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang Aset Tetap = EDI – Diinvestasikan Dalam Aset Tetap
6

Kewajiban jangka pendek, kecuali utang PFK, harus sama dengan EDL-dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek. Investasi jangka panjang harus sama dengan EDI - diinvestasikan dalam investasi jangka panjang. Aset tetap harus sama dengan diinvestasikan dalam aset tetap.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

EDI-

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Uraian Aset lainnya harus sama dengan EDIdiinvestasikan dalam aset lainnya. Dana cadangan harus sama dengan EDCdiinvestasikan dalam dana cadangan. Kewajiban jangka panjang harus sama dengan dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka panjang.

Persamaan Aset Lainnya = EDI – Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya Dana Cadangan = EDC –Diinvestasikan dalam Dana Cadangan Kewajiban Jangka Panjang = Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang

2.3.1.1.3

Analisis vertikal dalam LAK
Tabel 2.4 Analisis vertikal dalam LAK Uraian Persamaan

Arus kas bersih dari aktivitas operasi harus Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi = sama dengan arus masuk kas dari aktivitas Arus Masuk Kas dari Aktivitas Operasi operasi dikurangi arus keluar kas dari aktivitas Arus Keluar Kas dari Aktivitas Operasi operasi. Arus kas bersih dari aktivitas investasi aset nonkeuangan harus sama dengan arus masuk kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan dikurangi arus keluar dari aktivitas investasi aset nonkeuangan. Arus kas bersih dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan arus masuk kas dari aktivitas pembiayaan dikurangi arus keluar dari aktivitas pembiayaan. Arus kas bersih dari aktivitas nonanggaran harus sama dengan arus masuk kas dari aktivitas nonanggaran ditambah arus keluar kas dari aktivitas nonanggara. Kenaikan/ penurunan kas harus sama dengan arus kas bersih dari aktivitas operasi ditambah arus kas bersih dari aktivitas investasi aset nonkeuangan ditambah arus kas bersih dari aktivitas pembiayaan ditambah arus kas bersih dari aktivitas nonanggaran.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan = Arus Masuk Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan - Arus Keluar Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan = Arus Masuk Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Keluar Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non Anggaran = Arus Masuk Kas dari Aktivitas Non Anggaran + Arus Keluar Kas dari Aktivitas Non Anggaran Kenaikan/Penurunan Kas = Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi + Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan + Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan + Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non Anggaran
7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Uraian

Persamaan

Saldo akhir kas di BUD harus sama dengan Saldo Akhir Kas di BUD = Saldo Awal Kas di saldo awal kas di BUD ditambah kenaikan/ BUD + Kenaikan/Penurunan Kas penurunan kas. Saldo akhir kas harus sama dengan saldo akhir Saldo Akhir Kas = Saldo Akhir di BUD + di BUD ditambah saldo akhir kas di bendahara Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran pengeluaran ditambah saldo akhir kas di + SaldoAkhir Kas di Bendahara Penerimaan bendahara penerimaan.

2.3.1.2 Analisis Horizontal Analisis Horizontal dilakukan dengan melihat hubungan antar akun Neraca dengan akun LRA ataupun kesesuaian dengan nilai yang disajikan dalam Laporan Arus Kas (LAK) dan apakah sudah cukup diungkapkan dalam CaLK. Tujuan dilakukan analisis horizontal adalah untuk menentukan keseimbangan dan kebenaran saldo tiap akun dalam Neraca, LRA, dan Laporan Arus Kas serta kecukupan pengungkapan dalam CaLK. 2.3.1.2.1 Analisis horizontal antara LRA dan Neraca

Analisis horizontal antara LRA dan Neraca diperlukan untuk memastikan bahwa akun-akun yang ada di LRA yang berhubungan dengan akun-akun di Neraca telah disajikan secara benar dan sesuai.
Tabel 2.5 Analisis horizontal antara LRA dan Neraca Uraian Persamaan

SiLPA di LRA harus sama dengan EDL-SiLPA di SiLPA (LRA) = EDL – SiLPA (Neraca) neraca. SiLPA di LRA harus sama dengan kas di kas daerah ditambah kas di bendahara pengeluaran ditambah setara kas ditambah investasi jangka pendek kemudian dikurangi dengan utang PFK di neraca. Pengeluaran Pembiayaan untuk Penyertaan Modal Daerah (LRA) harus tercermin dalam penambahan Nilai Penyertaan Modal Daerah (Neraca) SiLPA (LRA) = Kas di Kas Daerah + Kas di Bendahara Pengeluaran + Setara Kas + Investasi Jangka Pendek – Utang PFK (Neraca) Pengeluaran pembiayaan untuk Penyertaan Modal Daerah (LRA) = penambahan nilai penyertaan modal pemerintah daerah (Neraca).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Uraian Penerimaan pembiayaan pinjaman jangka panjang harus sama dengan utang jangka panjang ditambah bagian lancar utang jangka panjang tahun berkenaan dikurangi utang jangka panjang tahun sebelumnya. SiLPA (LRA) tahun sebelumnya harus sama dengan penerimaan pembiayaan-penggunaan SiLPA (LRA) tahun berjalan dan sama dengan EDL-SiLPA di neraca tahun sebelumnya.

Persamaan Penerimaan Pembiayaan Pinjaman Jangka Panjang (LRA) = Utang Jangka Panjang + Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Tahun berkenaan – Utang Jangka Panjang Tahun sebelumnya (Neraca) SiLPA Tahun sebelumnya (LRA) = Penerimaan Pembiayaan – Penggunaan SiLPA Tahun berjalan (LRA) = EDL – SiLPA Tahun Sebelumnya (Neraca) Catatan : Persamaan ini berlaku jika Pemda mencatat seluruh SiLPA tahun sebelumnya sebagai penerimaan pembiayaan di tahun berjalan. Selisih antara Realisasi Belanja Modal (LRA) – Perubahan Aset Tetap dalam Neraca (Aset Tetap Tahun Berkenaan – Aset Tetap Tahun lalu) harus dijelaskan dalam CaLK Teliti apakah pengungkapan selisih dalam CaLK sudah cukup memadai.

2.3.1.2.2

Analisis horizontal antara LRA dan LAK

Analisis horizontal antara LRA dan LAK diperlukan untuk memastikan bahwa akun-akun yang ada di LRA yang berhubungan dengan akun-akun di LAK telah disajikan secara benar dan sesuai.
Tabel 2.6 Analisis horizontal antara LRA dan LAK Uraian Arus kas masuk dari aktivitas operasi (LAK) harus sama dengan total pendapatan daerah (LRA) dikurangi pendapatan asli daerah lainnya yang berasal dari penjualan aset tetap dan aset lainnya. Arus kas keluar dari aktivitas operasi harus sama dengan belanja operasi ditambah belanja tak terduga (di LRA).
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Persamaan Arus Kas Masuk Dari Aktivitas Operasi (LAK) = Total Pendapatan Daerah (LRA) – Pendapatan Asli Daerah Lainnya yang Berasal dari Penjualan Aset Tetap dan Aset Lainnya (LRA) *) Arus Kas Keluar Dari Aktivitas Operasi = Belanja Operasi + Belanja Tak Terduga (di LRA) *)
9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Uraian Arus kas masuk dari aktivitas investasi (LAK) harus sama dengan pendapatan asli daerah yang berasal dari penjualan aset tetap dan aset lainnya (di LRA). Arus kas keluar dari aktivitas investasi (LAK) harus sama dengan belanja modal (di LRA). Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan (LAK) harus sama dengan penerimaan pembiayaan di LRA (selain penggunaan SiLPA). Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan (LAK) harus sama dengan pengeluaran pembiayaan di LRA.
*)

Persamaan Arus Kas Masuk Dari Aktivitas Investasi (LAK) = Pendapatan Asli Daerah Yang Berasal Dari Penjualan Aset Tetap dan Aset Lainnya (di LRA) Arus Kas Keluar Dari Aktivitas Investasi (LAK) = Belanja Modal (di LRA) Arus Kas Masuk Dari Aktivitas Pembiayaan (LAK) = Penerimaan Pembiayaan Di LRA (Selain Penggunaan SiLPA) Arus Kas Keluar Dari Aktivitas Pembiayaan (LAK) = Pengeluaran Pembiayaan di LRA

Penyimpangan dari persamaan pada tabel diatas dapat diperbolehkan antara lain karena: 1) 2) Pada LRA terdapat pengakuan pendapatan dan belanja non-cash basis sehubungan adanya transaksi pendapatan hibah dalam bentuk barang; Dalam hal terdapat pengembalian belanja (contra post), LAK mungkin menyajikan arus kas secara bruto sedangkan LRA menyajikan belanjanya secara netto;

2.3.1.2.3

Analisis horizontal antara Neraca dan LAK

Analisis horizontal antara LRA dan Neraca diperlukan untuk memastikan bahwa akun-akun yang ada di LRA yang berhubungan dengan akun-akun di Neraca telah disajikan secara benar dan sesuai.
Tabel 2.7 Analisis horizontal antara Neraca dan LAK Uraian Saldo akhir kas tahun lalu (LAK) harus sama dengan saldo awal kas tahun berkenaan (LAK), saldo akhir kas di neraca tahun lalu, dan saldo awal kas di neraca tahun berjalan. Persamaan Saldo Akhir Kas Tahun Lalu (LAK) = Saldo awal Kas Tahun Berkenaan (LAK) = Saldo Akhir Kas Tahun lalu (Neraca) = Saldo Awal Kas Tahun Berjalan (Neraca) Apabila terdapat selisih haru diungkapkan dalam CaLK

Saldo akhir kas di neraca tahun berjalan harus Saldo Akhir Kas Tahun Berjalan (Neraca) = sama dengan saldo akhir kas di LAK tahun Saldo Akhir Kas Tahun Berjalan (LAK) berjalan. Apabila terdapat selisih harus diungkapkan dalam CaLK
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Uraian

Persamaan

Utang PFK di neraca harus sama dengan Utang PFK (Neraca) = Utang PFK di BUD + utang PFK di BUD ditambah utang PFK di Utang PFK pada Bendahara Pengeluaran bendahara pengeluaran. Saldo utang PFK di neraca tahun berjalan harus sama dengan saldo utang PFK di neraca tahun sebelumnya ditambah penerimaan PFK tahun berjalan dikurangi pengeluaran PFK tahun berjalan di LAK. Saldo Utang PFK tahun berjalan (neraca) = Saldo Utang PFK Tahun sebelumnya (Neraca) + Penerimaan PFK Tahun berjalan – Pengeluaran PFK Tahun Berjalan (LAK) Apabila terdapat selisih maka selisih tersebut adalah utang PFK yang ada di bendahara pengeluaran

Apabila terdapat selisih, pemeriksa agar menelusuri penyebab selisih tersebut, yang antara lain dapat disebabkan oleh : 1. Kesalahan penjumlahan 2. Penambahan aset di neraca tidak sama dengan jumlah belanja modal di LRA, hal tersebut bisa dikarenakan adanya aset yang berasal dari hibah berupa barang ataupun adanya kapitalisasi. Untuk tujuan analisis rumus-rumus di atas dapat dikembangkan dalam formula analisis dalam program excel (terlampir dalam compact disk) sehingga pemeriksa hanya perlu menginput satu kali untuk keseluruhan pengujian dalam tabel di atas.

2.3.2 Teknik prediktif Teknik prediktif bisa dilakukan dengan membandingkan realisasi dan anggaran akun-akun di laporan realisasi anggaran. Perbedaan signifikan yang terjadi bisa menjadi indikasi permasalahan yang seharusnya diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan. Selain itu, teknik prediktif dapat juga dilakukan dengan menghitung jumlah tertentu dan membandingkan dengan catatan-catatan atau rumusan lain untuk mengetahui adanya indikasi permasalahan yang akan diuji lebih lanjut dalam pengujian substantif. Contoh teknik ini adalah membandingkan dana transfer yang diterima oleh daerah dengan data transfer dari Pemerintah Pusat. Contoh lain adalah membandingkan penerimaan Pajak Hotel suatu pemda dengan Penerimaan Pajak Hotel di Pemerintah daerah yang lain bila informasi spesifik terkait dengan hal tersebut kita ketahui.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

2.3.3 Analisis rasio dan trend Analisa rasio dan trend merupakan kegiatan untuk menganalisa data keuangan dan atau non keuangan dalam periode tertentu untuk mengetahui perubahan signifikan dalam realisasi anggaran dan posisi keuangan. Contoh analisa rasio dan trend adalah membandingkan belanja tertentu dengan belanja lain atau belanja tertentu tahun sebelumnya. 2.3.3.1 Analisis Rasio Analisis rasio dilakukan dengan menguji hubungan antar akun di dalam laporan keuangan. Beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur akuntabilitas pemerintah daerah yaitu. 1) Rasio Kemandirian Keuangan Rasio ini menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat, yang diformulasikan sebagai berikut.
Pendapatan Asli Daerah Bantuan Keuangan dari Pemerintah Pusat/Provinsi dan Pinjaman

RKK =

X 100%

Berdasarkan formula di atas dapat diketahui sejauh mana ketergantungan pemerintah daerah terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio ini berarti tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pemerintah pusat dan propinsi) semakin rendah, demikian pula sebaliknya. Rasio ini juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen dari PAD. 2) Rasio efisiensi Rasio ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan asli daerah dengan realisasi pendapatan asli daerah yang diterima, yang diformulasikan sebagai berikut.
Rasio Efisiensi = Realisasi Biaya dikeluarkan untuk memperoleh PAD Realisasi Penerimaan PAD X 100%

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

12

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 2 Prosedur Analitis

Dengan rasio tersebut diketahui kesesuaian nilai realisasi biaya pemungutan PAD dengan ketentuan serta apakah terdapat indikasi pemborosan dalam pengeluaran biaya pemungutan PAD. Selain itu, rasio yang dapat digunakan untuk menilai alokasi dana yang dilakukan pemerintah daerah diketahui dengan rasio antara belanja langsung dengan total belanja serta rasio antara belanja tidak langsung dengan total belanja. Dengan rasio ini diketahui apakah dana pemda sebagian besar digunakan sebagian besar untuk pembangunan yang akan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat atau untuk belanja habis pakai seperti belanja pegawai. 2.3.3.2 Analisis Trend Analisis trend adalah analisis yang dilakukan dengan membandingkan akun yang sama untuk periode lebih dari dua tahun, sehingga diperoleh gambaran mengenai kecenderungan dari suatu akun dalam laporan keuangan pemerintah daerah. Analisis kecenderungan ini umumnya digunakan dalam membuat prediksi keuangan. Misalnya prediksi pencapaian pajak daerah pada tahun yang diperiksa berdasarkan data atau informasi kecenderungan pencapaian pajak daerah beberapa periode yang lalu. Analisis trend tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan tabel, perhitungan matematis dalam prosentase ataupun diagram untuk mengetahui kecenderungan dari akun-akun dalam Neraca dan LRA. Analisis tren mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahanperubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa sekarang.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

13

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

A.

Analisis Vertikal Analisis yang dilakukan dengan melihat hubungan akun dalam satu jenis laporan keuangan, yaitu analisis antar akun Neraca saja, LRA saja 1. Analisis vertikal dalam LRA LRA SiLPA = Total Pendapatan -Total Belanja + Total Penerimaan Pembiayaan - Total Pengeluaran Pembiayaan 9 -5+6-7+8 (hasil = 0)

No

Entitas

Opini 2009

Opini 2008

Total Pendapatan

Total Belanja

Penerimaan Pembiayaan

Pengeluaran Pembiayaan

SiLPA

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

1 1 2 3 4 5

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

3 WDP WDP WDP WDP WDP

4 WDP WDP WDP WDP WDP

5 1.309.594.901.208,00 9.742.186.078.074,00 1.184.628.289.469,00 1.695.066.200.909,00 677.762.145.685,00

6 1.362.816.387.414,00 9.020.665.842.979,10 1.239.355.076.029,00 1.689.086.148.835,00 749.800.935.181,00

7 165.893.046.295,00 1.789.756.684.218,00 150.257.654.353,00 121.121.145.154,00 92.189.528.248,00

8 2.008.589.200,00 61.593.571.565,90 92.000.000.000,00 12.049.983.714,00 202.208.253,00

9 110.662.970.889,00 2.449.683.347.747,00 3.530.867.793,00 115.051.213.514,00 19.948.530.499,00

10

11 √ √ √ √ √

-

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

2. Analisis vertikal dalam Neraca Neraca (Evaluasi 1) Aset = Kewajiban + Ekuitas Aset Kewajiban Ekuitas 12-13-14 (hasil = 0) 1 1 2 3 4 5 2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat 3 WDP WDP WDP WDP WDP 4 WDP WDP WDP WDP WDP 12 2.233.021.999.504,46 18.706.718.206.627,80 2.871.265.699.006,43 1.796.682.484.928,86 2.266.138.283.843,38 13 15.724.772.402,00 461.305.532.335,00 1.812.359.644,50 7.726.082.149,00 13.775.899.073,49 14 2.217.297.227.102,46 18.245.412.674.292,80 2.869.453.339.361,93 1.788.956.402.779,86 2.252.362.384.769,89 15 16 √ √ √ √ √

No

Entitas

Opini 2009

Opini 2008

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Neraca (Evaluasi 2)

No

Entitas

Opini 2009

Opini 2008

Aset Lancar

Kewajiban

Kas di Kasda

Kas di Bend Pengeluaran 18

Setara Kas (Deposito 0 3 bln) 19

Investasi jangka Pendek 20

Kas di Kasda + Kas di Bend Pengeluaran + setara Kas + Investasi Jangka Pendek + Kas di BLUD Utang PFK (17+18+19+20+21)-22

Ekuitas Dana Lancar 23 - 24 (hasil = 0) Silpa

Revi u

Keterangan (Penjelasan Selisih)

Kas di BLU 21

Utang PFK 22 23

1
1

2

3

4

17

24

25

26 P

Pemkab Siliwangi

WDP

WDP

108.328.148.656,00

2.268.573.176,00

-

-

412.192,00

110.596.309.640,00

110.662.970.889,00

(66.661.249,00)

2 3

Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro

WDP WDP

WDP WDP

942.515.578.681,00 1.330.478.856,00

119.965.748,00 263.843.801,00

1.500.000.000.000,00 -

7.047.882.716,00 -

441.625.785,50

2.449.683.427.145,00 1.152.696.871,50

2.449.683.347.747,0 0 3.530.867.793,00

79.398,00 (2.378.170.921,50)

4 5

Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

WDP WDP

WDP WDP

114.577.727.590,00 13.663.552.328,00

490.556.019,00 75.325.432,00

5.000.000.000,00

1.210.106.431,00

17.070.095,00 -

115.051.213.514,00 19.948.984.191,00

115.051.213.514,00 19.948.530.499,00

453.692,00

Terdapat kesalahan pada pengakuan pencairan bunga dana cadangan yang diakui sebagai pendapatan lain-lain PAD yang sah (LRA) dan Kas di Bendahara Penerimaan (Neraca). Pencairan tersebut dijurnal pada kas di bendahara penerimaan karena kas baru di transfer ke kas daerah per 6 Januari 2011. selisih sebesar Rp79.398,00 merupakan Jasa giro di bendahara pengeluaran Selisih merupakan Kas di BLUD yang dicatat sebagai kas di bendahara penerimaan sebesar Rp2.378.170.921,50, yang sebesar Rp441.625.785,50 diantaranya adalah utang PFK BLUD selisih sebesar Rp453.692,00 merupakan Jasa giro di bendahara pengeluaran

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Neraca

CaLK

No

Entitas

Opini 2009

Opini 2008 Kas di Bendahara Pengeluaran

Sisa Uang Persediaan di Bendahara Pengeluaran yang belum disetor

Utang PFK di Bendahara Pengeluaran

kas di Bendahara Pengeluaran = Sisa UP yang belum disetor + Utang PFK di Bendahara Pengeluaran 27-28-29 (hasil = 0)

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

1 1 2 3 4 5

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

3 WDP WDP WDP WDP WDP

4 WDP WDP WDP WDP WDP

27 2.268.573.176,00 119.965.748,00 263.843.801,00 490.556.019,00 75.325.432,00

28 2.268.160.984,00 263.843.801,00 74.871.740,00

29 412.192,00 -

30 79.398,00 453.692,00

31 √ √ √ √ √ Jasa Giro di Bendahara Pengeluaran yang belum disetor ke Kas daerah per 31 desember 2010 Jasa Giro di Bendahara Pengeluaran yang belum disetor ke Kas daerah per 31 desember 2010

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud, salah satu penyebab antara lain adalah adanya jasa giro di bendahara pengeluaran

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Neraca

CaLK Pendapatan di Tangguhkan = Kas di Bendahara Penerimaan + Penerimaan di Bendahara Pengeluaran 32-33-34 (hasil = 0)

No

Entitas

Opini 2009

Opini 2008

Pendapatan di Tangguhkan

Kas di Bendahara Penerimaan

Penerimaan di Bendahara Pengeluaran

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

1 1

2 Pemkab Siliwangi

3 WDP

4 WDP

32 -

33 66.661.249,00

34 -

35 (66.661.249,00) √ Terdapat kesalahan pada pengakuan pencairan bunga dana cadangan yang diakui sebagai pendapatan lain-lain PAD yang sah (LRA) dan Kas di Bendahara Penerimaan (Neraca). Pencairan tersebut dijurnal pada kas di bendahara penerimaan karena kas baru di transfer ke kas daerah per 6 Januari 2011. merupakan kas pada RSUD, yang dicatat sebagai bagian dari SILPA

2 3 4 5

Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

WDP WDP WDP WDP

WDP WDP WDP WDP

2.439.451,00 3.350.690.690,00 453.692,00

2.360.053,00 1.936.545.136,00 3.350.690.690,00 -

79.398,00 453.692,00

(1.936.545.136,00) -

√ √ √ √

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Analisis Vertikal - Pasangan di Neraca
Evaluasi 1 Aset Lancar No Entitas Piutang Cadangan Piutang Ekuitas Dana Lancar 3-4 (Hasil=0) Reviu Keterangan (penjelasan Selisih) Persediaan Cadangan Persediaan Aset Lancar Evaluasi 2 Ekuitas Dana Lancar 7-8 (hasil=0) Reviu Keterangan (penjelasan Selisih)

1 1 2 3 4 5

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

3 22.273.103.286,07 14.511.060.394,08 22.316.363.898,00 3.510.029.259,00

4 22.273.103.286,07 14.511.060.394,08 22.316.363.898,00 3.510.029.259,00

5 -

6 √ √ √ √ √

7 9.909.629.484,00 100.549.715.836,84 5.096.028.711,33 16.438.836.843,00 10.254.972.681,10

8 9.909.629.484,00 100.549.715.836,84 5.096.028.711,33 16.438.836.843,00 10.254.972.681,10

9 -

10 √ √ √ √ √

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Evaluasi 3 Investasi Entitas investasi jk pjg diinvestasikan dlm investasi jk pjg 12 82.329.058.832,14 2.140.868.423.191,51 40.013.069.889,25 41.532.164.112,86 50.499.933.214,59 Ekuitas Dana Investasi 11-12 (hasil=0) Reviu Keterangan (penjelasan Selisih)

Evaluasi 4 Ekuitas Dana Investasi Aset Tetap 15-16 (hasil=0) Reviu Keterangan (penjelasan Selisih)

diinvestasikan dlm aset tetap 16 2.030.056.927.557,32 13.296.132.694.126,30 2.087.072.927.745,77 1.595.689.526.051,00 2.179.667.043.803,69

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

11 82.329.058.832,14 2.140.868.423.191,51 40.013.069.889,25 41.532.164.112,86 50.499.933.214,59

13 -

14 √ √ √ √ √

15 2.030.056.927.557,32 13.296.132.694.126,30 2.087.072.927.745,77 1.595.689.526.051,00 2.179.667.043.803,69

17 -

18 √ √ √ √ √

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Evaluasi 5 Ekuitas Dana Cadangan No Entitas Dana Cadangan diinvestasikan dlm Dana Cadangan 20 19-20 (hasil=0) Reviu

Evaluasi 6 Ekuitas Dana Investasi Keterangan (penjelasan Selisih) Aset lainnya 23-24 (hasil=0) Reviu Keterangan (penjelasan Selisih)

diinvestasikan dlm aset lainnya 24 63.000.550,00 697.208.482.989,11 1.226.516.561,00

1 1 2 3

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro

19

21 -

22 √ √ √

23 63.000.550,00 697.208.482.989,11 1.226.516.561,00

25 -

26 √ √ √

4 5

Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

-

-

-

√ √

2.286.619.725,00 2.257.320.694,00

2.286.619.725,00 2.257.320.694,00

-

√ √

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Evaluasi 7 Ekuitas Dana lancar No Entitas Jumlah Kewajiban Jangka Pendek Utang PFK Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek 29 (15.724.360.210,00) (460.803.289.495,00) (1.812.359.644,50) 27-28+29 (hasil=0) Reviu Keterangan (penjelasan Selisih) Jumlah Kewajiban Jangka Panjang

Evaluasi 8 Ekuitas Dana Investasi Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka panjang 33 502.242.840,00 Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek masih memperhitungkan Utang PFK di RSUD sebesar Rp441.625.785,00 (Lakukan koreksi) (502.242.840,00) 32-33 (hasil=0) Reviu Keterangan (penjelasan Selisih)

1 1 2 3

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro

27 15.724.772.402,00 460.803.289.495,00 1.812.359.644,50

28 412.192,00 441.625.785,50

30 (441.625.785,50)

31

32

34 -

35 √ √ √

4 5

Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

6.461.338.288,00 10.501.092.574,00

17.070.095,00 -

(6.444.268.193,00) (10.501.092.574,00)

-

1.264.743.861,00 3.274.806.499,49

(1.264.743.861,00) (3.274.806.499,49)

-

√ √

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Analisis Vertikal Laporan Arus Kas
LAK(Evaluasi 1) Arus Kas Bersih Aktivitas Operasi = Arus Masuk kas Arus Keluar dari aktivitas Operasi 5-6-7 (hasil = 0) 1 1 2 3 4 5 2 5 1.309.287.780.383,00 9.741.359.951.894,00 1.184.628.289.469,00 1.695.066.200.909,00 677.359.865.155,00 6 1.177.186.176.319,00 7.965.129.101.962,10 1.091.105.658.217,00 1.534.354.232.316,00 609.435.224.044,00 7 132.101.604.064,00 1.776.230.849.931,90 93.522.631.252,00 160.711.968.593,00 67.924.641.111,00 8 9 10 307.120.825,00 826.126.180,00 402.280.530,00 11 185.630.211.095,00 1.055.536.741.017,00 148.249.417.812,00 155.205.402.443,00 140.365.711.137,00 12 (185.323.090.270,00) (1.054.710.614.837,00) (148.249.417.812,00) (155.205.402.443,00) (139.963.430.607,00) LAK(Evaluasi 2) Arus Kas Bersih Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan= Arus Masuk kas - Arus Keluar dari aktivitas Investasi Aset Non Keuangan 10-11-12 (hasil = 0) 13 14

No

Entitas

Arus Kas Masuk dari Aktivitas Operasi

Arus Kas Keluar dari Aktivitas Operasi

Arus Kas Bersih Aktivitas Operasi

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

Arus Kas Masuk dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan

Arus Kas Keluar dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan

Arus Kas Bersih Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

LAK(Evaluasi 3)

No

Entitas

Arus Kas Masuk dari Aktivitas Pembiayaan

Arus Kas Keluar dari Aktivitas Pembiayaan

Arus Kas Bersih Aktivitas Pembiayaan

Arus Kas Bersih Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan= Arus Masuk kas - Arus Keluar dari aktivitas Investasi Aset Non Keuangan 15-16-17 (hasil = 0) 18 -

LAK(Evaluasi 4) Arus Kas Bersih Aktivitas Non Anggaran = Arus Masuk kas - Arus Keluar dari aktivitas Non Anggaran 20-21-22 (hasil = 0) 19 20 105.478.087.474,00 52.178.732.372,00 50.722.287.171,03 117.792.126.167,00 60.748.022.067,00 21 105.498.382.828,00 52.178.732.372,00 50.722.287.171,03 117.792.126.167,00 60.755.155.589,00 22 (20.295.354,00) (7.133.522,00) 23 24

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

Arus Kas Masuk dari Aktivitas Non Anggaran

Arus Kas Keluar dari Aktivitas Non Anggaran

Arus Kas Bersih Aktivitas Non Anggaran

Reviu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

1 1 2 3 4 5

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

15 30.523.546.344,00 92.650.000.000,00 -

16 2.008.589.200,00 61.593.571.565,90 92.000.000.000,00 12.049.983.714,00 202.208.253,00

17 28.514.957.144,00 (61.593.571.565,90) 650.000.000,00 (12.049.983.714,00) (202.208.253,00)

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

LAK(Evaluasi 5)

No

Entitas

Arus Kas bersih dari Aktivitas Operasi

Arus Kas bersih dari Aktivitas Investasi Non Keuangan

Arus Kas bersih dari Aktivitas Pembiayaan

Arus Kas bersih dari Aktivitas Non Anggaran

Kenaikan/Penurunan kas

Kenaikan/Penuru nan Kas = Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi+Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Non Anggaran +Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan + Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non Anggaran 29-25-26-27-28 (hasil = 0) 30
-

Neraca (Evaluasi 2)

Re viu

Keterangan (Penjelasan Selisih)

Saldo akhir kas di BUD

Saldo awal kas di BUD

Kenaikan/Penuruna n Kas

Saldo Akhir Kas di BUD = Saldo Awal Kas di BUD + Kenaikan/penurun an kas

Re viu

Keteran gan (Penjela san Selisih)

31-32-33(hasil = 0) 30
110.663.383.081,00 kenaikan/pen urunan kas di BLUD 2.449.683.347.748,00 3.530.867.793,00 114.577.727.590,00 19.948.530.499,00

1 1 2 3 4 5

Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

2

132.101.604.064,00 1.776.230.849.931,90 93.522.631.252,00 160.711.968.593,00 67.924.641.111,00

25

(185.323.090.270,00) (1.054.710.614.837,00) (148.249.417.812,00) (155.205.402.443,00) (139.963.430.607,00)

26

28.514.957.144,00 (61.593.571.565,90) 650.000.000,00 (12.049.983.714,00) (202.208.253,00)

27

(20.295.354,00) (7.133.522,00)

28

(24.726.824.416,00) 661.455.740.284,00 (54.076.786.560,00) (6.543.417.564,00) (72.248.131.271,00)

29

31

135.390.207.497,00 1.820.060.110.218,00 57.607.654.353,00 121.121.145.154,00 92.196.661.770,00

32

(24.726.824.416,00) 661.455.740.284,00 (54.076.786.560,00) (6.543.417.564,00) (72.248.131.271,00)

33

34

-

(1.529.076.755,00) -

(31.832.502.754,00) -

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

12

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Analisis Horizontal Analisis yang dilakukan dengan melihat hubungan antar akun neraca dengan LRA ataupun kesesuaian dengan nilai yang disajikan dalam LAK
1. Analisis horizontal antara Neraca – LRA Hubungan akun di Neraca dan LRA Evaluasi 1 LRA No Entitas Silpa EDL - Silpa 3-4 Neraca Ket Reviu LRA Penerimaan Pembiayaan (Penggunaan silpa tahun berjalan) 6
√ √ 135.369.499.951,00 1.789.756.684.218,00

Evaluasi 2 LRA Neraca EDL silpa tahun Lalu 8
135.369.499.951,00 1.820.060.110.218,00

Ket Reviu 6-7 6-8 Keterangan (penjelasan selisih)

Silpa tahun lalu

1 1 2

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit

3
110.662.970.889,00 2.449.683.347.747,00

4
110.662.970.889,00 2.449.683.347.747,00

5

7
135.369.499.951,00 1.820.060.110.218,00

9
(30.303.426.000,00)

10
(30.303.426.000,00) √ √ selisih disebabkan adanya koreksi SiLPA tahun sebelumnya sebesar Rp30.303.426.000,00 dan kenaikan/penurunan di BLUD sebesar Rp1.529.076.754,00

3 4 5

Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

3.530.867.793,00 115.051.213.514,00 19.948.530.499,00

3.530.867.793,00 115.051.213.514,00 19.948.530.499,00

-

√ √ √

57.607.654.353,00 121.121.145.154,00 92.189.528.248,00

57.607.654.353,00 121.121.145.154,00 88.985.593.242,28

57.607.654.353,00 121.121.145.154,00 97.834.709.782,07

3.203.935.005,72

(5.645.181.534,07)

√ √ √

selisih sebesar Rp3.203.935.005,72 adalah saldo akhir tahun lalu Kas di BLUD Gunung Jati

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

13

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

Evaluasi 3 LRA No Entitas Realisasi Blj Modal Aset tetap Aset tetap tahun lalu Neraca D Aset tetap (1213) 14 185.630.211.095,00 870.620.376.265,00 91.251.776.912,00 185.437.027.411,00 123.614.885.970,00 Ket blj modal - D Aset tetap (11-14) 15 184.916.364.752,00 56.997.640.900,00 (30.231.624.968,00) 16.750.825.167,00 CaLK Menjelaskan selisih kolom 15 16 Selisih Reviu 15-16 Keterangan

1 1 2 3 4 5

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

11 185.630.211.095,00 1.055.536.741.017,00 148.249.417.812,00 155.205.402.443,00 140.365.711.137,00

12 2.030.056.927.557,32 13.296.132.694.126,30 2.087.072.927.745,77 1.595.689.526.051,00 2.179.667.043.803,69

13 1.844.426.716.462,32 12.425.512.317.861,30 1.995.821.150.833,77 1.410.252.498.640,00 2.056.052.157.833,69

17 184.916.364.752,00 56.997.640.900,00 (30.231.624.968,00) 16.750.825.167,00     

19

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

14

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

2. Analisis horizontal antara LAK – NERACA
Cek kebenaran saldo awal dan saldo akhir di LAK Cek Kebenaran saldo kas di LAK dan di neraca
Evaluasi 1 LAK Apabila selisih diungkapkan dalam CaLK atau Temuan Pemeriksaan (ada/tidak) LAK Evaluasi 2 Neraca CaLK Neraca Evaluasi 3 LAK (Non Anggaran) CALK

No

Entitas Saldo akhir kas tahun lalu Saldo awal kas

3-4

Reviu Saldo akhir kas Saldo kas

7-8

Apabila selisih, lihat penjelasan di CaLK (ada/tidak)

Reviu Utang PFK Tahun Berjalan Saldo PFK BUD

PFK di Bendahara Pengeluaran

11-12-13 (hasil = 0)

Reviu

Keterangan

1 1

2

3 135.390.207.497,00

4 135.390.207.497,00

5 -

6 √

7 110.663.383.081,00

8 110.663.383.081,00

9 -

10 √

11 412.192,00

12 (20.295.354,00)

13 412.192,00

18 20.295.354,00 √ Pemerintah Kabupaten Siliwangi memasukan utang PFK Bendahara Pengeluaran tahun lalu sebesar Rp20.707.546,00 (Neraca) ke Pengeluaran PFK BUD (LAK/Aktivitas Non Anggaran) dan memasukan PFK Bendahara Pengeluaran tahun berjalan sebesar Rp412.192,00 (Neraca) ke Penerimaan PFK BUD (LAK/Aktivitas Non Anggaran). √ √ √ √

Pemkab Siliwangi

2 3 4

Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

1.820.060.110.218,00 57.607.654.353,00 120.711.791.351,00 88.992.726.764,28

1.820.060.110.218,00 57.607.654.353,00 121.121.145.154,00 92.196.661.770,00

(409.353.803,00) (3.203.935.005,72) selisih sebesar Rp3.203.935.005,72 adalah akhir tahun lalu Kas di BLUD Gunung Jati

√ √ √ √

2.449.683.347.748,00 3.530.867.793,00 114.577.727.590,00 19.948.530.499,00

949.685.787.198,00 3.530.867.793,00 118.418.974.299,00 14.948.984.191,00

1.499.997.560.550,00 (3.841.246.709,00) 4.999.546.308,00

√ √ √ √

441.625.785,50 17.070.095,00 -

(7.133.522,00)

-

441.625.785,50 17.070.095,00 7.133.522,00

5

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

15

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

LRA – LAK Cek: kebenaran dan akurasi angka-angka dalam LAK dibandingkan dengan LRA
1 LAK No Entitas Arus kas masuk aktivitas operasi arus kas masuk aktivitas investasi 4 307.120.825,00 826.126.180,00 LRA Ket Reviu pendapatan 3+4-5 Realisasi Belanja (Tidak termasuk belanja transfer) 7 √ √ √ √ 1.356.259.698.319,00 6.955.920.679.594,00 1.239.355.076.029,00 1.689.071.148.835,00 LRA Belanja Transfer atau Belanja Bagi hasil 2 LAK Arus kas keluar dari aktivitas operasi LAK arus kas keluar dari aktivitas investasi Ket Reviu Belanja Modal (7+8)-10-11 Penjelasan selisih 3 Ket

1 1 2 3 4

2

3 1.309.287.780.383,00 9.741.359.951.894,00 1.184.628.289.469,00 1.695.066.200.909,00

5 1.309.594.901.208,00 9.742.186.078.074,00 1.184.628.289.469,00 1.695.066.200.909,00

6

8 6.556.689.095,00 2.064.745.163.385,10 15.000.000,00

9 185.630.211.095,00 1.055.536.741.017,00 148.249.417.812,00 155.205.402.443,00

10 1.177.186.176.319,00 7.965.129.101.962,10 1.091.105.658.217,00 1.534.354.232.316,00

11 185.630.211.095,00 1.055.536.741.017,00 148.249.417.812,00 155.205.402.443,00

12 (473.485.924,00)    

13 adanya sisa uyhd sebesar Rp473.485.924,00 di bendahara pengeluaran yang dimasukkan di dalam arus kas keluar dari aktivitas operasi

Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi

5

Pemkab Mangkurat

677.359.865.155,00

402.280.530,00

677.762.145.685,00

-

749.800.935.181,00

-

140.365.711.137,00

609.435.224.044,00

140.365.711.137,00

-

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

16

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

LRA – LAK Cek: kebenaran dan akurasi angka-angka dalam LAK dibandingkan dengan LRA 1 LAK No Entitas Arus kas masuk aktivitas operasi 1 1 2 3 4 5 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat 2 3 1.309.287.780.383,00 9.741.359.951.894,00 1.184.628.289.469,00 1.695.066.200.909,00 677.359.865.155,00 arus kas masuk aktivitas investasi 4 307.120.825,00 826.126.180,00 402.280.530,00 LRA pendapatan 5 1.309.594.901.208,00 9.742.186.078.074,00 1.184.628.289.469,00 1.695.066.200.909,00 677.762.145.685,00 Ket Reviu 3+4-5 6 √ √ √ √ √

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

17

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

3 LRA No Entitas Realisasi Belanja (Tidak termasuk belanja transfer) 7 1.356.259.698.319,00 6.955.920.679.594,00 1.239.355.076.029,00 1.689.071.148.835,00 Belanja Transfer atau Belanja Bagi hasil 8 6.556.689.095,00 2.064.745.163.385,10 15.000.000,00 Belanja Modal 9 185.630.211.095,00 1.055.536.741.017,00 148.249.417.812,00 155.205.402.443,00 LAK Arus kas keluar dari aktivitas operasi 10 1.177.186.176.319,00 7.965.129.101.962,10 1.091.105.658.217,00 1.534.354.232.316,00 LAK arus kas keluar dari aktivitas investasi 11 185.630.211.095,00 1.055.536.741.017,00 148.249.417.812,00 155.205.402.443,00 Ket Reviu (7+8)-10-11 12 (473.485.924,00) adanya sisa uyhd sebesar Rp473.485.924,00 di bendahara pengeluaran yang dimasukkan di dalam arus kas keluar dari aktivitas operasi Penjelasan selisih 13 √ √ √ Ket Reviu

1 1 2 3 4

2 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi

5

Pemkab Mangkurat

749.800.935.181,00

-

140.365.711.137,00

609.435.224.044,00

140.365.711.137,00

-

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

18

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran Bab 2

4 CaLK LRA No Entitas Lain-lain PAD yg sah, penjualan aset 14 307.120.825,00 826.126.180,00 402.280.530,00 402.280.530,00 LAK arus kas masuk dari aktivitas investasi 15 307.120.825,00 826.126.180,00 Ket Reviu 14-15 16 ^^ ^^ ^^ ^^ ^^ 17 Keterangan

1 1 2 3 4 5 Pemkab Siliwangi Pemkot Majapahit

2

Pemkab Diponegoro Pemkab Ratulangi Pemkab Mangkurat

*) jika terjadi selisih, telusuri lebih lanjut penyebab terjadinya selisih dimaksud

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

19

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

BAB 3 PEMAHAMAN DAN PENILAIAN RISIKO 3.1 Gambaran Umum

Pendekatan Pemeriksaan Berbasis Risiko (Risk Based Audit Approach RBAA) digunakan di BPK dalam pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan termasuk Pemeriksaan LKPD. Penggunaan pendekatan ini sangat penting di BPK di antaranya mengingat keterbatasan waktu pemeriksaan sesuai ketentuan perundang-undangan dan jumlah auditor di beberapa Perwakilan terkait dengan pesatnya penambahan entitas pemeriksaan. Dengan RBAA, Perwakilan dapat lebih memaksimalkan sumber daya yang ada dalam Pemeriksaan LKPD dengan tetap mematuhi ketentuan perundang-undangan. Tim Pemeriksa nantinya dapat memfokuskan prosedur pemeriksaan yang lebih lengkap terhadap suatu area berisiko tinggi, sementara itu untuk area berisiko rendah hanya digunakan prosedur pemeriksaan sederhana seperti ”memeriksa kebenaran mutasi”.
Dalam pelaksanaannya, Pemeriksa akan mendokumendasikan penilaian risiko seperti formulir yang disajikan pada Lampiran 3.3. Formulir Penilaian Risiko ini digunakan untuk menetapkan akun-akun berisiko tinggi, medium dan rendah. Adapun akhir dari aktifitas penilaian risiko adalah suatu program pemeriksaan yang telah memiliki strategi pemeriksaan berdasarkan risiko akun atau siklus akun. Walaupun dalam formulir tersebut banyak kolom yang harus di isi, tetapi praktik RBAA dalam menentukan area berisiko tinggi secara sederhana dilakukan dengan menganalisis: 1) apakah akun tersebut signifikan (melebihi TE)? dan 2) apakah kesalahan penyajian besar kemungkinan akan terjadi (ditunjukkan dari hasil pengujian internal control)?. Apabila salah satu dari kedua hal ini diindikasikan memiliki nilai High (risiko tinggi), maka akun dan siklus akunnya dikategorikan berisiko tinggi dan akan menjadi perhatian dalam pemeriksaan.

Sementara itu penjelasan penilaian risiko secara teori dapat di baca pada penjelasan berikut ini. Pemeriksa selalu menghadapi ketidakpastian (risiko) dalam melaksanakan pemeriksaan. Misalnya, ketidakpastian terhadap ketepatan bukti, efektivitas pengendalian internal auditee, dan ketidakpastian apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar setelah pemeriksaan selesai dilaksanakan. Pemeriksa yang dapat memperhitungkan risiko tersebut dengan tepat dalam pelaksanaan pemeriksaannya merupakan kunci untuk mencapai hasil pemeriksaan yang bermutu.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Dalam pemeriksaan keuangan, kita mengenal ada empat jenis risiko yaitu sebagai berikut.
1) Risiko Pemeriksaan yang Dapat Diterima (Acceptable Audit Risk (AAR))

Risiko pemeriksaan adalah risiko yang timbul karena pemeriksa, tanpa disadari, tidak memodifikasi opininya sebagaimana mestinya atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Dalam mempertimbangkan risiko pemeriksaan untuk laporan keuangan secara keseluruhan, pemeriksa harus mempertimbangkan risiko salah saji material yang terkait dengan laporan keuangan dan berpotensi mempengaruhi asersi. Pemeriksa juga harus mempertimbangkan risiko pada level yang lebih rinci melalui serangkaian pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan atas saldo akun, kelas transaksi, ataupun atas kecukupan pengungkapan (disclosure). Risiko pemeriksaan pada tingkat saldo akun, kelas transaksi, dan pengungkapan (disclosure), meliputi:
(1) Risiko bahwa asersi terkait saldo, kelas transaksi, atau pengungkapan

mengandung salah saji yang mungkin material terhadap laporan keuangan ketika digabungkan dengan salah saji pada saldo, kelas transaksi, atau pengungkapan yang lain (risiko bawaan dan risiko pengendalian). deteksi).

(2) Risiko bahwa pemeriksa tidak mampu mendeteksi salah saji (risiko

Model risiko pemeriksaan dapat diformulasikan seperti berikut.
AAR = IR X CR X DR Ket: AAR : Risiko Pemeriksaan yang Dapat Diterima IR CR DR : Risiko Bawaan : Risiko Pengendalian : Risiko Deteksi

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

2) Risiko Bawaan (Inherent Risk (IR))

Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang terkait. Setiap saldo atau golongan transaksi memiliki risiko bawaan yang berbedabeda sehingga salah saji dapat terjadi pada saldo atau golongan transaksi tertentu yang berbeda dengan saldo atau golongan transaksi yang lain. Risiko bawaan dapat terjadi pada keseluruhan akun atau akun-akun tertentu dalam laporan keuangan. Pemeriksa dapat mengidentifikasi risiko bawaan tersebut pada langkah-langkah dalam tahap perencanaan pemeriksaan yaitu pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan; pemahaman entitas; pemantauan tindak lanjut; dan prosedur analitis awal. Penilaian terhadap risiko bawaan oleh pemeriksa biasanya tidak berubah selama tidak ditemukan fakta-fakta baru selama proses pemeriksaan. Namun jika selama proses pemeriksaan ditemukan fakta-fakta baru yang mempengaruhi penilaian risiko bawaan, maka pemeriksa harus merevisi Risiko Bawaan yang telah ditetapkan dengan melakukan penyesuaian berdasarkan kecukupan bukti-bukti pemeriksaan.
3) Risiko Pengendalian (Control Risk (CR))

Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian internal entitas. Risiko ini merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian intern untuk mencapai tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas. Risiko pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian internal. Agar dapat menilai risiko pengendalian dengan tepat, pemeriksa harus memahami pengendalian internal entitas dan melaksanakan prosedur pengujian pengendalian untuk menentukan apakah pengendalian tersebut telah berjalan dengan efektif. Pemeriksa menilai keseluruhan tingkat risiko pengendalian setiap asersi atas masing-masing akun atau kelompok transaksi. Penilaian terhadap risiko pengendalian untuk asersi tertentu membutuhkan pengalaman dan pertimbangan (judgement) khusus, terutama jika terdapat perbedaan penilaian risiko untuk proses-proses yang mendasari asersi tersebut.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

4) Risiko Deteksi (Detection Risk (DR))

Risiko deteksi adalah risiko bahwa pemeriksa tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi merupakan fungsi efektivitas prosedur pemeriksaan dan penerapannya oleh pemeriksa. Risiko ini timbul karena ketidakpastian yang ada pada saat pemeriksa tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan transaksi, dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang ada, walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut diperiksa 100%.

3.2 Cara Pengisian Formulir Penilaian Risiko
Penilaian risiko merupakan prosedur terakhir dari tahap perencanaan sebelum penyusunan program pemeriksaan terinci. Namun hasil dari penilaian risiko ini akan terus disesuaikan dengan kondisi yang ditemui Tim Pemeriksa di lapangan. Besaran risiko ini juga akan dipertimbangkan pada saat pengambilan opini atas laporan keuangan. Tahapan penilaian risiko sebagai berikut.
1) Tentukan AAR

Pemeriksa dapat menetapkan AAR melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dengan menetapkan AAR dengan tiga kategori yaitu:
(1) Tingkat risiko pemeriksaan yang dapat diterima rendah. (2) Tingkat risiko pemeriksaan yang dapat diterima sedang. (3) Tingkat risiko pemeriksaan yang dapat diterima tinggi.

Sedangkan penilaian AAR dengan pendekatan kuantitatif dilakukan dengan merujuk pada pedoman penilaian risiko ASOSAI khususnya untuk entitas sektor publik. Pedoman tersebut mengklasifikasikan AAR dalam tiga tingkat risiko berdasarkan ciri-ciri entitas yang diperiksa yaitu:
(1) Tingkat AAR sebesar 5%, artinya tingkat keyakinan pemeriksa atas opininya

sebesar 95% (AAR = 1 - tingkat keyakinan). Tingkat ini berlaku untuk entitas pada umumnya atau sebagian besar entitas yang diperiksa. sebesar 97%. Tingkat ini dinilai cukup memadai untuk beberapa entitas sektor publik yang sangat sensitif atau berisiko tinggi.
4

(2) Tingkat AAR sebesar 3%, artinya tingkat keyakinan pemeriksa atas opininya

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

(3) Tingkat AAR sebesar 1%, artinya tingkat keyakinan pemeriksa atas opininya

sampai 99%. Tingkat ini berlaku bagi beberapa entitas sektor publik dengan ciri-ciri sebagai berikut:
(1))

Entitas sektor publik tersebut mempunyai pengguna eksternal yang sangat ekstensif perhatiannya terhadap laporan keuangan entitas tersebut, dan/atau Entitas sektor publik tersebut cukup rentan akan terjadinya salah saji material dan secara politik sensitif dan/atau adanya harapan publik atas kewajaran laporan keuangan entitas publik tersebut sehingga pemeriksa membutuhkan tingkat keyakinan yang sangat tinggi.

(2))

Adapun cara penentuan berapa besar tingkat AAR adalah dengan menggunakan pembobotan nilai terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat AAR yaitu:
(1) Nilai 9-14 : tingkat AAR = rendah (1%) (2) Nilai 15-21 : tingkat AAR = menengah (3%) (3) Nilai 22-27 : tingkat AAR = tinggi (5%)

Cara menetapkan AAR dengan menilai faktor-faktor yang mempengaruhinya diilustrasikan pada Lampiran 3.1. Pemeriksa harus menentukan AAR berdasarkan identifikasi kondisi entitas yang diperiksa dan juga informasi penting lainnya yang berkaitan. Pemeriksa juga perlu mempertimbangkan harapan penugasan atas entitas yang diperiksa apalagi jika entitas tersebut mempunyai stakeholders yang luas. Hasil penetapan AAR ini digunakan untuk penghitungan tingkat materialitas awal dan TE pada tahap berikutnya.
2) Menghitung materialitas awal dan menghitung tolerable error (TE)

Perhitungan materialitas awal dan TE ini hanya untuk setiap akun yang disajikan pada laporan keuangan, bukan untuk akun pada ledger karena akan terlalu banyak akun yang dihitung. Cara perhitungan besaran materialitas awal dan TE ini dapat dilihat pada Bab IV Materialitas dan Tolerable Error.
3) Identifikasikan dan beri penilaian IR untuk level entitas dan akun/siklus

Pemeriksa menilai IR yang terkait dengan entitas, akun/kelompok akun tertentu dengan asersi laporan keuangan terkait. Analisis atas IR pada level entitas
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

dilakukan melalui Matriks Risiko Bisnis (Business Risk Matrix (BRM)) sebagaimana yang diatur pada Konsep Juknis Penilaian Risiko. Sedangkan analisis IR pada level akun/kelompok akun dilakukan melalui Matriks Penilaian Risiko. IR yang ditetapkan dalam Matriks Penilaian Risiko ini merupakan hasil dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi akun/kelompok akun tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi akun-akun tertentu dalam rangka penilaian IR tersebut merupakan hasil pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan, pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya, dan prosedur analitis awal. Faktor-faktor tersebut meliputi:
(1) Sifat bisnis/industri klien (2) Hasil pemeriksaan sebelumnya (3) Integritas personel kunci (4) Penugasan pertama vs penugasan berulang (5) Hubungan dengan pihak-pihak terkait (6) Jenis-jenis transaksi (rutin/non rutin) dan tingkat kompleksitasnya (7) Dorongan dan motivasi klien (8) Tingkat subyektivitas atas pertimbangan-pertimbangan yang disyaratkan oleh

standar akuntansi

(9) Tingkat kerentanan terhadap pencurian/penyalahgunaan aset (10) Faktor-faktor terkait dengan salah saji dikarenakan adanya kecurangan

terhadap laporan keuangan

Cara menetapkan tingkat risiko bawaan dengan menilai faktor-faktor yang mempengaruhinya diilustrasikan pada Lampiran 3.2.
4) Identifikasikan dan beri penilaian CR untuk masing-masing akun dan Siklus

terkait

Pada pemeriksaan pertama kali, pemeriksa dapat melakukan dokumentasi sistem pengendalian untuk mengidentifikasi pengendalian-pengendalian yang diterapkan entitas dalam rangka memitigasi risiko bawaaan yang telah diidentifikasi diatas. Berdasarkan dokumentasi tersebut, pemeriksa melakukan analisis mengenai disain sistem yang ada dan menguji efektivitas pelaksanaannya.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Pemberian nilai awal atas risiko pengendalian dengan ukuran kualitatif dilakukan dengan panduan sebagai berikut:
(1) Jika tingkat kelemahan pengendalian adalah material maka secara umum

pemeriksa dapat menyimpulkan bahwa risiko pengendalian awal adalah tinggi;

(2) Jika tingkat kelemahan pengendalian adalah signifikan maka secara umum

pemeriksa dapat menyimpulkan bahwa risiko pengendalian awal adalah sedang; dan

(3) Risiko pengendalian disimpulkan rendah jika tidak terdapat kelemahan

pengendalian atau terdapat kelemahan pengendalian akan tetapi tingkat kelemahan pengendaliannya adalah sangat rendah, terdapat pengendalian pengganti (compensating controls).

Sedangkan penilaian risiko pengendalian secara kuantitatif dapat menggunakan pedoman sebagai berikut:
Tabel 3.1 Pedoman Penentuan Risiko Pengendalian Pedoman Penentuan Risiko Pengendalian Penilaian Subyektif Keyakinan auditor sangat terjamin Keyakinan auditor cukup terjamin Keyakinan auditor tidak terjamin Level Risiko Rendah Sedang Tinggi Rentang Risiko Pengendalian 30% 70% 100%

Sumber: Dimodifikasi dari AICPA Statistical Sampling Sub Committe (1983)

Pemeriksa menilai bahwa pengendalian intern adalah efektif, maka penilaian risiko pengendalian sebesar 30%. Apabila pemeriksa menilai risiko pengendalian adalah “rendah”, pemeriksa perlu melaksanakan test of controls untuk mengkonfirmasikan bahwa pengendalian telah beroperasi secara efektif sepanjang periode. Pemeriksa mengevaluasi kecukupan dari bukti yang sudah diperoleh serta apakah bukti ini mendukung penilaian "rendah". Jika pemeriksa menyimpulkan bahwa bukti-bukti pemeriksaan tidak mendukung penilaian ini, pemeriksa mempertimbangkan kembali evaluasinya atas efektivitas pengendalian. Jika pengendalian ditemukan ternyata tidak efektif, pemeriksa menilai risiko pengendalian sebagai "tinggi".

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Penilaian “Sedang” menunjukkan bahwa keyakinan pemeriksa cukup terjamin atas efektivitas pengendalian intern dengan risiko pengendalian sebesar 70%. Pemeriksa menyimpulkan bahwa desain dari pengendalian adalah efektif, tetapi pemeriksa tidak melakukan test of controls untuk mengkonfirmasikan efektifitas pelaksanaannya sepanjang periode. Pemeriksa juga mempertimbangkan apakah pelaksanaan walkthrough yang dilakukan oleh pemeriksa terhadap pengendalian memberikan bukti yang cukup untuk menilai risiko sebagai "sedang". Jika pemeriksa menyimpulkan bahwa bukti tidak mendukung penilaian ini, pemeriksa mempertimbangkan untuk mendapatkan bukti-bukti tambahan untuk mendukung penilaian “sedang”, atau menilai risiko pengendalian sebagai "tinggi". Penilaian risiko pengendalian ini tidak berlaku untuk akun-akun atau asersi-asersi yang dipengaruhi oleh transaksi-transaksi yang bersifat estimasi, seperti penyusutan, penyisihan piutang ragu-ragu. Penilaian “Tinggi” menunjukkan bahwa keyakinan pemeriksa tidak terjamin atas efektivitas pengendalian intern dengan rentang risiko pengendalian sebesar 100%. Pemeriksa menilai risiko pengendalian sebagai tinggi ketika (1) bukti pemeriksaan mengindikasikan bahwa pengendalian tidak efektif, atau (2) setelah memperoleh pemahaman yang memadai mengenai proses entitas yang diperiksa:
(1) Pemeriksa meyakini bahwa pengendalian tidak efektif, atau (2) Pemeriksa sudah mengidentifikasi prosedur-prosedur uji substantif yang

efisien dan efektif yang diyakini penting untuk mendukung saldo akun terkait.

5) Buat simpulan risiko gabungan

Risiko gabungan merupakan risiko bawaan setelah dikurangi dengan bagian dari risiko bawaan yang bisa dimitigasi oleh pengendalian intern yang efektif. Untuk mengisi risiko gabungan, maka gunakan matriks berikut ini sebagai panduan:

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Gambar 3.1 Matriks Risiko Gabungan
RISIKO GABUNGAN/RESIDUAL RISK INHERENT RISK / IR

High
CONTROL RISK\CR

Medium H M L

Low M L L

High Medium Low

H H M

6) Tetapkan besaran risiko deteksi

Risiko deteksi yang ditetapkan akan dipengaruhi oleh ketiga risiko lain dalam model yaitu risiko pemeriksaan yang diterima (AAR), risiko bawaan (IR), dan risiko pengendalian (CR). Berubahnya salah satu unsur risiko dalam model tersebut, akan merubah risiko deteksi yang ditetapkan. Risiko deteksi ditetapkan untuk menentukan berapa banyak bukti substantif yang akan dikumpulkan oleh pemeriksa. Banyaknya bukti yang akan dikumpulkan berbanding terbalik dengan risiko deteksi yang ditetapkan pemeriksa. Jika risiko deteksi yang ditetapkan kecil, maka bukti yang harus dikumpulkan besar/banyak. Meningkatnya risiko pemeriksaan yang diterima, akan mengakibatkan risiko deteksi yang direncanakan juga akan meningkat, dan bukti pemeriksaan yang direncanakan menurun. Meningkatnya risiko bawaan dan risiko pengendalian, akan mengakibatkan risiko deteksi yang direncanakan menurun dan bukti pemeriksaan yang direncanakan meningkat. Demikian sebaliknya. Penjelasan lebih lengkap mengenai hubungan masing-masing risiko dengan jumlah bukti pemeriksaan yang direncanakan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.2 Hubungan masing-masing risiko dengan jumlah bukti pemeriksaan Kondisi 1 2 3 4 5 AAR Tinggi Rendah Rendah Moderat Tinggi IR Rendah Rendah Tinggi Moderat Rendah CR Rendah Rendah Tinggi Moderat Moderat DR Tinggi Moderat Rendah Moderat Moderat Jumlah Bukti Pemeriksaan Rendah Moderat Tinggi Moderat Moderat
9

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Hubungan antara AR, IR, CR dan DR secara kuantitatif akan mempengaruhi lingkup pengujian terinci. Hubungan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut.
Tabel 3.3 Pengaruh masing-masing risiko terhadap lingkup pengujian terinci AR 5% 5% 5% 5% 5% 5% IR 30% 30% 30% 70% 70% 70% L L L M M CR 30% 70% 100% 30% 70% L M H L M H L M H L M H L M H L M H L M H DR 56% 24% 17% 24% 10% 7% 17% 7% 5% 33% 14% 10% 14% 6% 4% 10% 4% 3% 11% 5% 3% H M M M M L M L L M M M M L L M L L M L L Lingkup Pengujian Terbatas Moderate Moderate Moderate Moderate Mendalam Moderate Mendalam Mendalam Moderate Moderate Moderate Moderate Mendalam Mendalam Moderate Mendalam Mendalam Moderate Mendalam Mendalam Materialitas Tinggi Moderate Moderate Moderate Moderate Rendah Moderate Rendah Rendah Moderate Moderate Moderate Moderate Rendah Rendah Moderate Rendah Rendah Moderate Rendah Rendah

M 100% 30% 70% 100% 30% 70% 100% 30% 70%

5% 100A% H 5% 5% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 1% 1% 1% 100% 100% 30% 30% 30% 70% 70% 70% 100% 100% 100% 30% 30% 30% H H L L L M M

M 100% H H H L L L 30% 70% 100% 30% 70% 100%

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

AR 1% 1% 1% 1% 1% 1%

IR 70% 70% 70% 100% 100% 100% M M

CR 30% 70% L M H L M H

DR 5% 2% 1% 3% 1% 1% L L L L L L

Lingkup Pengujian Mendalam Mendalam Mendalam Mendalam Mendalam Mendalam

Materialitas Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah

M 100% H H H 30% 70% 100%

Range untuk DR : L M H : 1–9 : 10 – 40 : 41 – 56

7) Identifikasi strategi pemeriksaan yang akan dilakukan, serta buat link risiko

yang teridentifikasi ke program pemeriksaan.

Strategi pemeriksaan untuk menentukan sifat, saat, dan seberapa jauh prosedur pengujian substantif, didasarkan pada masing-masing tingkat risiko deteksi yang berbeda, contohnya: Strategi pemeriksaan pada tingkat DR yang rendah Sifat: Pengujian pemeriksaan atas seluruh asersi signifikan dengan menggunakan prosedur pemeriksaan sebagai berikut. Pemeriksaan fisik atas saldo akhir
(1) Reviu eksternal dokumen (2) Konfirmasi (3) Reperfomance

Saat: Seluruh pekerjaan yang signifikan dilaksanakan pada akhir tahun. Luas lingkup: Pengujian yang lebih luas (ekstensif/luas atas akun atau transaksi yang signifikan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Strategi pemeriksaan pada tingkat risiko deteksi yang tinggi Sifat: Pengujian pemeriksaan dengan menggunakan prosedur pemeriksaan sebagai berikut. Pemeriksaan fisik (dilakukan pada tahap interim date)
(1) Prosedur analitis (2) Pengujian substantif atas transaksi dan saldo

Saat: dilaksanakan pada interim dan akhir tahun Luas lingkup: Pengujian yang lebih terbatas atas akun atau transaksi. Penilaian risiko ini didokumentasikan dalam Formulir Penilaian Risiko pada tahap perencanaan, yaitu:
Tabel 3.4 Formulir penilaian resiko Saldo Signifi Siklus (Rp) kansi terkait 3 4 5 INHERENT RISK Identi H/M/L fikasi 6 7 CONTROL RISK Identi fikasi 8 H/M/L 9 Risiko Gabungan 10

No

Akun

1

2

Berikut petunjuk pengisian masing-masing kolom formulir penilaian risiko. Kolom 1 (Nomor) Diisi dengan nomor urut. Kolom 2 (Akun) Diisi dengan nama akun pada laporan keuangan. Misalnya : group akun Aset Tetap terdiri dari Sub Akun Tanah, Bangunan, Jalan, Peralatan dan Mesin, serta Konstruksi dalam Pengerjaan. Maka kolom 2 akan diisi dengan Sub Akun Tanah, Bangunan, Jalan, Peralatan dan Mesin, dan Konstruksi dalam Pengerjaan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

12

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Kolom 3 (Saldo) Diisi dari Laporan Keuangan Audited dari periode sebelumnya, dan nantinya harus disesuaikan dengan kondisi Laporan Keuangan Unaudited periode yang diperiksa. Kolom 4 (Signifikansi) Signifikansi akun ditentukan dengan kriteria kuantitatif dan judgement professional pemeriksa dengan pertimbangan sebagai berikut.
(1) Kriteria kuantitatif adalah planning materiality. Jika saldo akun lebih besar

daripada 50% planning materiality, maka akun tersebut signifikan. Misalnya : saldo akun piutang Rp60miliar. Planning materiality adalah Rp100miliar, maka akun piutang signifikan secara kuantitatif (lebih besar dari 50% x Rp100miliar). tersebut dapat menjadi signifikan berdasarkan pertimbangan nilai transaksi yang besar dan judgement professional pemeriksa. Misalnya: Akun Kas pada Bendahara Pengeluaran yang bersaldo Rp23juta ditetapkan sebagai akun signifikan walaupun planned materiality sebesar Rp500miliar. Penetapan ini karena risiko Kas pada Bendahara Pengeluaran tinggi sehingga adanya kemungkinan kesalahan yang tinggi pada akun kas ini.

(2) Saldo akun mungkin berada dibawah 50% dari planned materiality, tetapi akun

Kolom 5 (Siklus Terkait) Diisi dengan kegiatan-kegiatan/transaksi yang akan menambah atau mengurangi nilai akun terkait. Misal:
(1) Akun Kas dipengaruhi transaksi/kegiatan penerimaan (+) dan pengeluaran (-); (2) Akun Piutang dipengaruhi oleh penerbitan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD)

yang belum dibayar (+), pelunasan SKPD (-) dan penghapusan piutang (-);

(3) Akun aktiva tetap dapat dipengaruhi oleh transaksi/kegiatan pembelian (+),

pembangunan (+), penghapusan (-), penjualan (-), revaluasi (+/-) dan inventarisasi (+/-); dan lain-lain.

Kolom 6 (Inherent Risk : Identifikasi) Untuk mengidentifikasi inherent risk pada kolom ini, hubungkan kegiatankegiatan/transaksi yang mempengaruhi akun sesuai yang tercantum dalam kolom 5 dan sifat/karakteristik dari akun dengan kemungkinan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan/transaksi tersebut sebelum mempertimbangkan adanya pengendalian.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 13

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Misalnya :
(1) Akun Kas. Apa yang mungkin salah dalam transaksi penerimaan kas. Mungkin

dapat terjadi penerimaan kas kurang daripada seharusnya, penerimaan kas tidak disetor ke Kas Negara dan tidak dicatat, atau salah rekening. Kemudian apa yang mungkin salah dalam transaksi pengeluaran kas? Mungkin fiktif, dicuri, terlalu besar, dan lain-lain. Mungkin tanah dalam sengketa, nilai pembelian lebih besar daripada seharusnya, dll. Apa yang mungkin salah dalam revaluasi? Mungkin revaluasi tidak sesuai dengan harga wajar, ada aset yang tidak direvaluasi atau hanya menggunakan nilai historisnya, dll.

(2) Akun aktiva tetap (tanah). Apa yang mungkin salah dalam pembelian tanah?

Kolom 7 (Inherent Risk : H/M/L) Simpulan (High, Medium, Low) berdasarkan pertimbangan pengaruhnya akun dan siklus terkait ke LK, signifikansi, dan kemungkinan keterjadiannya. Selain itu risiko bawaan pada akun-akun dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sifat bisnis entitas (semakin banyak satker maka semakin tinggi risiko bawaan), jenis transaksi rutin/non rutin, hubungan dengan pihak tertentu dan faktor kecurangan serta penyalahgunaan aset. Dengan menggunakan pendekatan COSO maka lingkungan pengendalian yang buruk akan mengakibatkan inherent risk cenderung tinggi. Untuk akun yang dikategorikan signifikan, dapat dipertimbangkan inherent risk cenderung medium sampai high. Kolom 8 (Control Risk : Identifikasi) Kelemahan yang diidentifikasi bisa berupa ketiadaan sistem yang memadai ataupun ketidakefektifan pelaksanaan pengendalian. Untuk pemeriksaan selanjutnya, cara paling sederhana mengidentifikasikan control risk adalah dengan melihat temuan hasil pemeriksaan sebelumnya. Kolom 9 (Control Risk : H/M/L) Simpulan (High, Medium, Low) berdasarkan kelemahan yang ditemukan dari hasil reviu dan test serta temuan sebelumnya. Tingkat risiko pengendalian bisa langsung dinyatakan tinggi apabila berdasarkan hasil reviu tidak terdapat disain pengendalian yang memadai atau terdapat temuan tahun lalu yang belum selesai ditindaklanjuti oleh entitas.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

14

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Namun, pemeriksa tidak bisa langsung menetapkan risiko pengendalian yang rendah tanpa melakukan pengujian atas pengendalian (test of control). Pengujian pengendalian ini dilakukan untuk memastikan efektivitas disain pengendalian. Kesimpulan Control Risk :
(1) Low bila pengendalian didisain dan dilaksanakan secara efektif (tidak ada

temuan SPI).

(2) Medium bila pengendalian didisain dan dilaksanakan, tapi kita tidak cukup yakin

menyatakan telah beroperasi efektif (ada temuan SPI tetapi tidak material). operasinya).

(3) High bila pengendalian tidak efektif (Temuan SPI material, baik disain maupun

Kolom 10 (Risiko Gabungan) Isi kolom ini dengan nilai risiko gabungan yang telah diperoleh. Kolom 11 (Risiko Deteksi) Risiko deteksi merupakan risiko bahwa pemeriksa tidak dapat mendeteksi salah saji material pada saat melaksanakan prosedur substantif. Semakin tinggi risiko deteksi, semakin rendah efektifitas pelaksanaan prosedur substantif. Sebaliknya, semakin rendah risiko deteksi, semakin tinggi efektivitas pelaksanaan prosedur substantif. Risiko deteksi berbanding terbalik dengan risiko gabungan. Semakin tinggi risiko gabungan, maka semakin rendah risiko deteksi. Demikian sebaliknya. Dengan mempertimbangkan risiko pemeriksaan yang dapat terima dan risiko gabungan tersebut di atas maka dapat ditentukan risiko deteksi. Secara kualitatif, hubungan antara risiko deteksi dan risiko gabungan adalah sebagai berikut.
Tabel 3.5 Hubungan risiko deteksi dan risiko gabungan Risiko Gabungan High Medium Low Risiko Deteksi Low Medium High

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

15

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

Kolom 12 (Strategi Pemeriksaan) Sesuai risk based audit maka penentuan strategi pemeriksaan didasarkan pada tingkat risiko deteksi pada suatu akun. Semakin rendah risiko deteksi maka semakin tinggi efektivitas prosedur substantif yang dilaksanakan. Dengan demikian, pemeriksa bisa mengalokasikan sebagian besar sumber daya baik dari jumlah pemeriksa, cakupan dan kedalaman prosedur pemeriksaan substantif atas akun tersebut.
Tabel 3.6 Tabel strategi pemeriksaan umum Risiko Deteksi Rendah Strategi Pemeriksaan Umum • Menjadi fokus pemeriksaan. • Tidak atau sedikit mengandalkan pengendalian. • Pengujian Substantif mendalam. Pilih apakah mengutamakan substantif saldo atau transaksi, atau dua-duanya dengan intensitas yang sama. Berdasarkan kondisi yang ada, pilih juga penekanan pada asersi tertentu yang paling berpengaruh, misalnya eksistensi, atau kepemilikan, sesuai dengan keadaan. • Prioritas pertama untuk alokasi sumber daya (jumlah dan kualitas) • Prosedur analitis dan uji akurasi tetap harus dilakukan. Medium • Walaupun tidak menjadi fokus, tetapi harus ada perhatian yang cukup. • Sebagian mengandalkan pengendalian. • Pengujian substantif tidak terlalu mendalam. Pilih apakah mengutamakan substantif saldo atau transaksi. Berdasarkan kondisi yang ada, pilih juga penekanan pada asersi tertentu yang paling berpengaruh, misalnya eksistensi, atau kepemilikan, sesuai dengan keadaan. • Sample menengah. • Prioritas kedua untuk alokasi sumber daya (jumlah dan kualitas). • Prosedur analitis dan uji akurasi tetap harus dilakukan. Tinggi • Tidak menjadi fokus pemeriksaan. • Dapat mengandalkan pengendalian. • Pengujian substantif terbatas atau tidak dilakukan. Bila dilakukan dapat hanya substantif saldo saja.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

16

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 3 Pemahaman dan Penilaian Risiko

• Sampel kecil atau tidak diuji. • Prioritas ketiga atau tidak diuji. • Prosedur analitis dan uji akurasi merupakan prosedur utama.

Strategi diatas merupakan strategi umum. Pemeriksa dapat menambahkan strategi lain yang lebih spesifik sesuai dengan pertimbangan profesional masing-masing. Misalnya: untuk akun aset tetap dengan risiko revaluasi tidak wajar, pemeriksa mengusulkan penggunaan tenaga ahli appraisal dari luar BPK atau dari pemeriksa BPK yang sudah tersertifikasi penilai aset. Kolom 13 (Reff Program Pemeriksaan / P2) Diisi dengan refference pada program pemeriksaan. Misalnya reff pada program langkah 1.a.1, sesuai dengan indeks di program. Contoh pengisian Formulir Penilaian Risiko dapat dilihat pada Lampiran 3.4.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

17

Panduan Pemeriksaan LKPD No. Indeks

Lampiran 3.1 : : : : (3) (4) (5) (6)

Pemeriksaan atas LKPD..............(1) Tahun…..(2) BPK RI

Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

Penetapan Nilai Risiko Pemeriksaan yang Dapat Diterima
No Faktor Kriteria Keterjangkauan terhadap entitas. Semakin sulit suatu entitas untuk dijangkau, maka bobot penilaiannya semakin kecil. Besarnya nilai aset dibandingkan dengan entitas sejenis. Semakin besar nilai aset entitas, maka bobot penilaiannya semakin kecil. Besarnya anggaran yang dikelola dibandingkan dengan entitas sejenis. Semakin besar nilai anggaran entitas, maka maka bobot penilaiannya kecil. Semakin tinggi tingkat ketergantungan pengguna atas laporan keuangan entitas, maka bobot penilaiannya kecil. Semakin banyak jumlah satker yang dimiliki suatu entitas pelaporan, maka bobot penilaiannya semakin kecil. Semakin buruk hasil pemeriksaan tahun sebelumnya, maka bobot penilaiannya semakin kecil. Semakin rendah tingkat kepastian going concernnya, maka bobot penilaiannya semakin kecil. Kondisi Bobot Penilaian 1 2 3 1

1

Geografis

Sulit terjangkau

2

Nilai aset

Sedang

2

3

Anggaran yang dikelola

Sedang

2

4

Tingkat ketergantungan pengguna terhadap laporan keuangan entitas Jumlah satker

Sangat tergantung

1

5

Sedikit

3

6

Hasil pemeriksaan tahun sebelumnya

Baik

2

7

Going concern

Tinggi

3

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD No 8 Faktor Integritas manajemen Sistem informasi yang digunakan Kriteria Semakin rendah tingkat integritas manajemennya, maka bobot penilaiannya semakin kecil. Semakin buruk sistem informasi entitas, maka bobot penilaiannya semakin kecil. Sub Total TOTAL Kesimpulan Tingkat AAR Kondisi Tinggi

Lampiran 3.1 Bobot Penilaian 3

9

Baik 2

2 8 19 9

Sedang (3%)

Untuk setiap faktor pengukur, terdapat 3 skor sebagai ukuran nilai dari pengaruh faktor terhadap risiko pemeriksaan yang dapat diterima. Nilai 1 (satu) mewakili nilai risiko pemeriksaan terendah, dan nilai 3 (tiga) mewakili nilai risiko pemeriksaan tertinggi. Skor nilai untuk masing-masing faktor pengukur diberikan dengan dasar perbandingan kriteria dan kondisi yang ada serta menggunakan penilaian profesional. Skor nilai total untuk keseluruhan faktor kemudian dijumlahkan. Berdasarkan jumlah nilai tersebut, ditentukan 3 kategori tingkat risiko pemeriksaan dalam 3 rentang nilai sebagai berikut: 9 – 14 15 – 21 22 – 27 Keterangan: (1) (2) (3) (4) (5) (6) : : : : : : Diisi dengan entitas yang diperiksa. Diisi dengan tahun yang diperiksa. Diisi dengan nomor indeks. Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP tersebut. : Rendah (1%) : Sedang (3%) : Tinggi (5%)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.2

No. Indeks

: : : :

(3) (4) (5) (6)

Pemeriksaan atas LKPD..............(1) Tahun…..(2) BPK RI
Penetapan Nilai Risiko Bawaan

Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

No. Faktor-faktor Spesifik akun 1. Sifat bisnis/industri entitas. 2. Hasil pemeriksaan sebelumnya. 3. Integritas personel kunci.

Kriteria Semakin kompleks struktur bisnis entitas maka semakin tinggi risiko bawaan akun-akun tertentu. Semakin banyak temuan pada tahun sebelumnya atas akun tersebut, maka semakin tinggi risiko bawaannya. Semakin rendah kompetensi dan pengalaman personil entitas, maka semakin tinggi risiko bawaannya. Penugasan pertama pemeriksaan atas suatu entitas akan cenderung ditetapkan risiko bawaan yang lebih tinggi daripada entitas yang telah diperiksa sebelumnya.

Input Pemahaman entitas. Pemantauan tindak lanjut pemeriksaan sebelumnya. Pemahaman entitas. Pemahaman entitas Pemantauan tindak lanjut pemeriksaan sebelumnya.

Akun-akunnya

Siklus Terkait

Bobot Penilaian 1 1 2 3

4. Penugasan pertama vs penugasan berulang.

Aset tetap masih ada permasalahan hukum; Persediaan masih belum di stock opname Akun kas diketahui sangat rentan karena bendaharanya belum memiliki keahlian akuntansi yang memadai.

Siklus pencatatan Aset Tetap dan Persediaan Siklus kas.

3

2

1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.2

No. Faktor-faktor Spesifik akun 5. Hubungan dengan pihakpihak terkait.

Kriteria Semakin entitas bertransaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa maka semakin rentan transaksi dan akun terkait. Semakin tidak sering transaksi tersebut, maka semakin tinggi risikonya atau semakin kompleks transaksi, maka semakin tinggi risiko bawaannya. Semakin subjektif akun tersebut, maka semakin tinggi risikonya.

Input Prosedur analitis dan pemahaman SPI. Prosedur analitis.

Akun-akunnya Akun aset tetap jalan menjadi sangat rentan ketika rekanan yang mengerjakan proyek tersebut adalah saudara dari pimpinan entitas. Akun aset lainnya yang berkurang menjadi rentan barangkali ada aset yang dihapuskan dan dijual sehingga menimbulkan pemasukan. Akun piutang pajak yang berdasarkan asumsi tertentu dari entitas. Kas, Aset tetap dan Persediaan

Siklus Terkait Siklus pengadaan aset

Bobot Penilaian 1 2 3 3

6. Jenis-jenis transaksi (rutin/non-rutin) dan tingkat kompleksitasnya.

Siklus penghapusan aset

2

7. Dorongan dan motivasi klien. 8. Tingkat subyektivitas atas pertimbangan-pertimbangan yang disyaratkan oleh standar akuntansi. 9. Tingkat kerentanan terhadap pencurian / penyalahgunaan aset.

Beberapa jenis aset mempunyai kerentanan tinggi karena mudah dibawa/dicuri dan mempunyai nilai ekonomis tinggi yang mengakibatkan tingginya risiko bawaaan.

Pemahaman tujuan pemeriksaan dan harapan penugasan. Laporan inspektorat dan Laporan internal SKPD atas kehilangan

Siklus pendapatan pajak. Siklus pencatatan Kas, Aset Tetap dan Persediaan Siklus pengadaan aset tetap dan persediaan

3 3

3

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.2

No. Faktor-faktor Spesifik akun 10 Faktor-faktor terkait dengan salah saji dikarenakan adanya kecurangan terhadap laporan keuangan.

Kriteria Semakin rentan siklus/akun terhadap manipulasi atau kerugian pada saat dilakukan prosedur analitis, maka semakin tinggi risiko bawaannya.

Input Prosedur analitis.

Akun-akunnya Akun aset tak berwujud berdasar prosedur analitis terjadi mutasi kurang, maka harus diteliti aset tersebut apakah dihapuskan atau ditransfer keluar entitas.

Siklus Terkait Siklus penghapusan asset.

Bobot Penilaian 1 1 2 3

Sub Total TOTAL Kesimpulan Tingkat IR

3

4 15 22 Sedang (70%)

Untuk setiap faktor pengukur, terdapat 3 skor sebagai ukuran nilai dari pengaruh faktor terhadap risiko pemeriksaan yang dapat diterima. Nilai 1 (satu) mewakili nilai risiko bawaan terendah, dan nilai 3 (tiga) mewakili nilai risiko bawaan tertinggi. Skor nilai untuk masing-masing faktor pengukur diberikan dengan dasar perbandingan kriteria dan kondisi yang ada serta menggunakan penilaian profesional. Skor nilai total untuk keseluruhan faktor kemudian dijumlahkan. Berdasarkan jumlah nilai tersebut, ditentukan 3 kategori tingkat risiko bawaan dalam 3 rentang nilai: 10 – 16 17 – 23 24 –30 : Rendah (30%) : Sedang (70%) : Tinggi (100%)

Keterangan: (1) : Diisi dengan entitas yang diperiksa. (2) : Diisi dengan tahun yang diperiksa. (3) : Diisi dengan nomor indeks. (4) : Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut. (5) : Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut. (6) : Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.3

No. Indeks

: : : :

(3) (4) (5) (6)

Pemeriksaan atas LKPD..............(1) Tahun…..(2) BPK RI
Dokumentasi Strategi Pemeriksaan Terinci Berdasarkan Risiko IR Identifikasi 6 H/M/L 7 8 CR Identifikasi H/M/L 9

Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

No 1

Akun 2

Saldo (Rp) 3

Signifikansi Akun 4

Siklus terkait 5

Risiko Gabungan 10

Risiko Deteksi 11

Strategi Pemeriksaan 12

Reff P2 13

Keterangan: (1) (2) (3) (4) (5) (6) : : : : : : Diisi dengan entitas yang diperiksa. Diisi dengan tahun yang diperiksa. Diisi dengan nomor indeks. Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.3

Petunjuk Pengisian Formulir Penilaian Risiko Berikut petunjuk pengisian masing-masing kolom formulir penilaian risiko. Kolom 1 (Nomor) Diisi dengan nomor urut. Kolom 2 (Akun) Diisi dengan nama akun pada laporan keuangan. Misalnya : group akun Aset Tetap terdiri dari Sub Akun Tanah, Bangunan, Jalan, Peralatan dan Mesin, serta Konstruksi dalam Pengerjaan. Maka kolom 2 akan diisi dengan Sub Akun Tanah, Bangunan, Jalan, Peralatan dan Mesin, dan Konstruksi dalam Pengerjaan. Pemeriksa dapat mempertimbangkan apakah menggunakan grup Aset Tetap atau masing-masing jenis aset, tergantung pada keadaan di lapangan. Kolom 3 (Saldo) Diisi dari Laporan Keuangan Audited tahun 2009, dan nantinya harus disesuaikan dengan kondisi Laporan Keuangan Unaudited Tahun 20xx. Kolom 4 (Signifikansi) Signifikansi akun ditentukan dengan kriteria kuantitatif dan judgement professional pemeriksa dengan pertimbangan sebagai berikut. 1) Kriteria kuantitatif adalah planning materiality. Jika saldo akun lebih besar daripada 50% planning materiality maka akun tersebut signifikan. Misalnya : saldo akun piutang Rp 60 miliar. Planning materiality adalah Rp100 miliar, maka akun piutang signifikan secara kuantitatif (lebih besar dari 50% x Rp100 miliar). 2) Saldo akun mungkin berada dibawah 50% dari planned materiality, tetapi akun tersebut dapat menjadi signifikan berdasarkan pertimbangan nilai transaksi yang besar dan judgement professional pemeriksa. Misalnya: Akun kas bendahara pengeluaran yang bersaldo Rp23 juta ditetapkan sebagai akun signifikan walaupun planned materiality sebesar Rp500 miliar. Penetapan ini karena risiko kas di Bendahara Pengeluaran tinggi sehingga adanya kemungkinan kesalahan yang tinggi pada akun kas ini. Kolom 5 (Siklus Terkait) Diisi dengan kegiatan-kegiatan/transaksi yang akan menambah atau mengurangi nilai akun terkait.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.3

Misal: 1) Akun Kas dipengaruhi transaksi/kegiatan penerimaan (+) dan pengeluaran (-); 2) Akun piutang dipengaruhi oleh Surat Ketetapan Pajak Daerah yang belum dibayar (+), pelunasan piutang pajak (-) dan penghapusan piutang (-); 3) Akun aktiva tetap dapat dipengaruhi oleh transaksi/kegiatan pembelian (+), pembangunan (+), penghapusan (-), penjualan (-), revaluasi (+/-) dan inventarisasi (+/-); dan lain-lain. Kolom 6 (Inherent Risk : Identifikasi) Untuk mengidentifikasi inherent risk, hubungkan kegiatan-kegiatan/transaksi yang mempengaruhi akun sesuai yang tercantum dalam kolom 5 dan sifat/karakteristik dari akun dengan kemungkinan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan/transaksi tersebut sebelum mempertimbangkan adanya pengendalian. Misalnya : 1) Akun Kas. Pikirkan apa yang mungkin salah dalam transaksi penerimaan kas. Mungkin dapat terjadi penerimaan kas kurang daripada seharusnya, penerimaan kas tidak disetor ke Kas Negara dan tidak dicatat, atau salah rekening. Kemudian pikirkan apa yang mungkin salah dalam transaksi pengeluaran kas? Mungkin fiktif, dicuri, terlalu besar, dan lain-lain. 2) Akun aktiva tetap (tanah). Apa yang mungkin salah dalam pembelian tanah? Mungkin tanah dalam sengketa, nilai pembelian lebih besar daripada seharusnya, dll. Apa yang mungkin salah dalam revaluasi? Mungkin revaluasi tidak sesuai dengan harga wajar, ada asset yang tidak direvaluasi atau hanya menggunakan nilai historisnya, dll. Kolom 7 (Inherent Risk : H/M/L) Simpulan (High, Medium, Low) berdasarkan pertimbangan pengaruhnya akun dan siklus terkait ke LK, signifikansi, dan kemungkinan keterjadiannya. Selain itu risiko bawaan pada akun-akun dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sifat bisnis entitas (semakin banyak satker maka semakin tinggi risiko bawaan), jenis transaksi rutin/non rutin, hubungan dengan pihak tertentu dan faktor kecurangan serta penyalahgunaan aset. Dengan menggunakan pendekatan COSO maka lingkungan pengendalian yang buruk akan mengakibatkan inheren risk cenderung tinggi. Contoh : Akun aktiva tetap (Konstruksi dalam Pengerjaan/KDP). Inherent Risk misalnya pembayaran KDP tidak sesuai dengan kemajuan fisik pekerjaan. Pengaruh ke L/K adalah nilai KDP terlalu tinggi, nilai TE signifikan, dan kemungkian keterjadian tinggi. Dengan pertimbangan tersebut, pemeriksa menetapkan IR High.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.3

Contoh lain, Menteri yang berafiliasi pada satu parpol, dapat mengakibatkan risiko belanja sosial cenderung tinggi, karena ada kemungkinan belanja sosial untuk kepentingan karir politik sang menteri kepada konstituennya. Untuk akun yang dikategorikan signifikan, dapat dipertimbangkan inheren risk cenderung medium sampai high. Kolom 8 (Control Risk : Identifikasi) Pada pemeriksaan pertama kali, pemeriksa dapat melakukan dokumentasi sistem pengendalian untuk mengidentifikasi pengendalian-pengendalian yang diterapkan entitas dalam rangka memitigasi risiko bawaaan yang telah diidentifikasi diatas. Berdasarkan dokumentasi tersebut, pemeriksa melakukan analisis mengenai disain sistem yang ada dan menguji efektivitas pelaksanaannya. Kelemahan yang diidentifikasi bisa berupa ketiadaan sistem yang memadai ataupun ketidakefektifan pelaksanaan pengendalian. Untuk pemeriksaan selanjutnya, cara paling sederhana mengidentifikasikan control risk adalah dengan melihat temuan hasil pemeriksaan sebelumnya. Contoh : Persediaan. Dalam pemeriksaan pertama kali, berdasarkan reviu prosedur, wawancara, dan hasil walkthrough, entitas tidak melakukan stock opname pada akhir tahun. Catatan persediaan di gudang pun tidak tersedia secara lengkap. Kolom 9 (Control Risk : H/M/L) Simpulan (High, Medium, Low) berdasarkan kelemahan yang ditemukan dari hasil reviu dan test serta temuan sebelumnya. Tingkat risiko pengendalian bisa langsung dinyatakan tinggi apabila berdasarkan hasil reviu tidak terdapat disain pengendalian yang memadai atau terdapat temuan tahun lalu yang belum selesai ditindaklanjuti oleh entitas. Namun, pemeriksa tidak bisa langsung menetapkan risiko pengendalian yang rendah tanpa melakukan pengujian atas pengendalian (test of control). Pengujian pengendalian ini dilakukan untuk memastikan efektivitas disain pengendalian. Kesimpulan Control Risk : 1) Low bila pengendalian didisain dan dilaksanakan secara efektif (tidak ada temuan SPI) 2) Medium bila pengendalian didisain dan dilaksanakan, tapi kita tidak cukup yakin menyatakan telah beroperasi efektif (ada temuan SPI tetapi tidak material) 3) High bila pengendalian tidak efektif (Temuan SPI material, baik disain maupun operasinya).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.3

Kolom 10 (Risiko Gabungan) Isi dengan risiko gabungan yang telah ditetapkan Kolom 11 (Risiko Deteksi) Risiko deteksi berbanding terbalik dengan risiko gabungan. Semakin tinggi risiko gabungan, maka semakin rendah risiko deteksi. Demikian sebaliknya. Dengan mempertimbangkan risiko pemeriksaan yang dapat terima dan risiko gabungan tersebut di atas maka dapat ditentukan risiko deteksi. Secara kualitatif, hubungan antara risiko deteksi dan risiko gabungan adalah sebagai berikut: Risiko Gabungan High Medium Low Kolom 12 (Strategi Pemeriksaan) Sesuai risk based audit maka penentuan strategi pemeriksaan didasarkan pada tingkat risiko deteksi pada suatu akun. Semakin rendah risiko deteksi maka semakin tinggi efektivitas prosedur substantif yang dilaksanakan. Dengan demikian, pemeriksa bisa mengalokasikan sebagian besar sumber daya baik dari jumlah pemeriksa, cakupan dan kedalaman prosedur pemeriksaan substantif atas akun tersebut. Risiko Deteksi Rendah Strategy Pemeriksaan Umum • • • Menjadi fokus pemeriksaan Tidak atau sedikit mengandalkan pengendalian. Pengujian Substantif mendalam. Pilih apakah mengutamakan substantif saldo atau transaksi, atau dua-duanya dengan intensitas yang sama. Berdasarkan kondisi yang ada, pilih juga penekanan pada asersi tertentu yang paling berpengaruh, misa4lnya eksistensi, atau kepemilikan, sesuai dengan keadaan. Prioritas pertama untuk alokasi Sumber daya (jumlah dan kualitas) Prosedur analitis dan uji akurasi tetap harus dilakukan. Risiko Deteksi Low Medium High

• •

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.3

Risiko Deteksi Medium

Strategy Pemeriksaan Umum • • • • • • Walaupun tidak menjadi fokus, tetapi harus ada perhatian yang cukup. Sebagian mengandalkan pengendalian. Pengujian substantif tidak terlalu mendalam. Pilih apakah mengutamakan substantif saldo atau transaksi. Berdasarkan kondisi yang ada, pilih juga penekanan pada asersi tertentu yang paling berpengaruh, misalnya eksistensi, atau kepemilikan, sesuai dengan keadaan. Sample menengah Prioritas kedua untuk alokasi sumber daya (jumlah dan kualitas) Prosedur analitis dan uji akurasi tetap harus dilakukan. Tidak menjadi fokus pemeriksaan. Dapat mengandalkan pengendalian. Pengujian substantif terbatas atau tidak dilakukan. Bila dilakukan dapat hanya substantive saldo saja. Sampel kecil atau tidak diuji. Prioritas ketiga atau tidak diuji. Prosedur analitis dan uji akurasi merupakan prosedur utama.

Tinggi

• • • • • •

Strategi diatas merupakan strategi umum. Pemeriksa dapat menambahkan strategi lain yang lebih spesifik sesuai dengan pertimbangan profesional masing-masing. Misalnya: untuk akun aset tetap dengan risiko revaluasi tidak wajar, pemeriksa mengusulkan penggunaan tenaga ahli appraisal dari luar BPK atau dari pemeriksa BPK yang sudah tersertifikasi penilai aset. Kolom 13 (Reff Program Pemeriksaan/P2) Diisi dengan reference pada program pemeriksaan. Misalnya reff pada program langkah 1.a.1, sesuai dengan indeks di program. Contoh penilaian risiko beserta P2 dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2. Contoh Dokumentasi Strategi Pemeriksaan Terinci Berdasarkan Risiko untuk Kabupaten A TA 2010 dapat dilihat pada contoh berikut (di halaman selanjutnya):

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 3.3

Entitas Tahun Buku

: Kabupaten ABCD : 2010

FORMULIR PENILAIAN RISIKO
Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

Indeks A.09 : : :
Strategi Pemeriksaan 11

No 1

Akun 2 Kas di Kasda

Saldo (Juta Rp) 3 98.291,93

Signifikan 4 Ya

Siklus terkait 5 Penerimaan Kas

INHERENT RISK Identifikasi 6 - Pengeluaran kas daerah tidak menggunakan SP2D dan BG H/M/L 7 H

CONTROL RISK Identifikasi / Kelemahan 10 - Terdapat penerimaan dana Jamkesmas dan retribusi pelayanan kesehatan yang tidak masuk rekening kas daerah (penggunaan langsung) -. Terdapat sisa UUDP yang terlambat dan belum disetorkan oleh bendahara SKPD - penggunaan Dana Dana Bantuan Bencana Alam yang diterima dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada Dinas PU tidak melalui mekanisme APBD sehingga tidak dicatat dan diungkapkan dalam Laporan Keuangan H/M/L 9 H

Risiko Gabungan

Risiko Deteksi

Ref P2 12

ASET LANCAR H L - Menjadi fokus pemeriksaan

Pengeluaran Kas

- Pengeluaran tidak dianggarkan dalam APBD - Penerimaan daerah tidak masuk rekening kas daerah

- Penggunaan langsung penerimaan dan pengeluaran sehingga tidak tercatat di Kas Daerah -Adanya rekening di luar rekening kas daerah yang tidak dilaporkan (rekening liar) - Perbedaan jumlah kas di Neraca dengan versi bank (konfirmasi Bank) - Penggelapan uang kas di bendahara. - Saldo kas yang dilaporkan dalam laporan keuangan dikuasai oleh pihak lain secara tidak sah.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD
INHERENT RISK Identifikasi 6 - Kas milik pemda yang dikuasai pihak lain tidak dicatat - Penerimaan dan pengeluaran kas di Kas Daerah direalisasikan dan dicatat tidak berdasarkan bukti yang memadai, dintaranya dokumen pendukung dalam bentuk bukti penerimaan dan pengeluaran yang belum diotorisasi oleh pejabat yang berwenang H/M/L 7 CONTROL RISK Identifikasi / Kelemahan 10 H/M/L 9 Risiko Gabungan Risiko Deteksi Strategi Pemeriksaan 11

Lampiran 3.3

No 1

Akun 2

Saldo (Juta Rp) 3

Signifikan 4

Siklus terkait 5

Ref P2 12

-Pemalsuan dokumen transaksi penerimaan dan pengeluaran kas - Salah penghitungan (overstated dan understated) Kas di Bendaharawan Pengeluaran 720,593 Ya - Pembentukan dana UP - Pengeluaran kas - Penggunaan fiktif - Pengeluaran Tidak semestinya (Kas bon) M - Bendahara terlambat dalam meyetorkan UUDP M M M - Tidak menjadi fokus pemeriksaan, tetapi tetap mendapat perhatian - Prosedur pengujian subtantive terbatas dengan penekanan pada asersi kelengkapan dan eksistensi dan bukti setor UUDP di tahun 2011 sebagian pengujian mendalkan pengendalian

- Pencatatan dan pelaporan Aset

- Tidak ada pertangungjawaban penggunaan - Sisa UP tidak disetor atau salah rekening penyetoran - Kas di brankas hilang - Pengeluaran tidak bisa ditagihkan - Ketidakcukupan pengungkapan

sampel dalam jumlah menengah prosedur analitis dan uji akurasi tetap dilakukan

Kas di Bendaharawan Penerimaan

0,00

Tidak

- Penerimaan Kas - Pencatatan Pendapatan yang Ditangguhkan

- Penggunaan langsung - Penggelapan - Tidak ada pertanggungjawaban penggunaannya - Tidak dicatat atau menunda pencatatan (lapping) - Ditunda atau salah rekening saat penyetoran

H

Tidak ada temuan untuk akun ini

L

L

H

- Tidak menjadi fokus audit

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD
INHERENT RISK Identifikasi 6 - Piutang tidak didukung bukti yang valid - Penghapusan ilegal - Pengungkapan tidak memadai. H/M/L 7 H CONTROL RISK Identifikasi / Kelemahan 10 - Dispenda tidak melakukan Konfirmasi penerimaan PPJ dari PLN tiap bulannya . H/M/L 9 H H L - Menjadi fokus audit Risiko Gabungan Risiko Deteksi Strategi Pemeriksaan 11

Lampiran 3.3

No 1

Akun 2 Piutang Pajak

Saldo (Juta Rp) 3 536,30

Signifikan 4 Ya

Siklus terkait 5 - Penagihan Pajak

Ref P2 12

- Pencatatan dan pelaporan piutang atau estimasi piutang - Penghapusan piutang

- Pengujian dengan prosedur analitis - Pengujian subtantif atas saldo dan transaksi dengan penekanan pada asersi kelengkapan, penilaian, keterjadian dan pengungkapan

Piutang Lainnya

7881,339

Ya

- Penerimaan Kas - Pencatatan dan penghapusan piutang

- Piutang tidak tercatat - Penghapusan illegal

M

Tidak ada temuan untuk akun ini

L

L

H

- Tidak menjadi fokus audit - Pengujian dengan prosedur analisis dan uji akurasi merupakan prosedur utama Pengujian substantif terbatas hanya pada saldo saja

Persediaan

3.361,20

Ya

- Penerimaan barang

- Barang hilang

M

Beberapa SKPD tidak melakukan cek fisik pada 31-12-2010 Bendahara Barang tidak tertib membuat laporan mutasi barang

H

H

L

- menjadi fokus audit

- Pendistribusian

- Salah catat dan pengungkapan

- Pengujian substantif secara mendalam dengan prosedur analisis dan uji akurasi dengan penekanan pada asersi eksistensi dan penilaian Tidak mengandalkan pengendalian yang ada

- Pelaporan

SKPD tidak tertib melaporkan persediaan 31-12-2010 ke Bagian Keuangan

- Inventarisasi INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non Permanen 400,00 Ya - Pengeluaran Kas - Pengelolaan Dana Investasi tidak tertib H - Terdapat penerimaan dana Jamkesmas dan retribusi pelayanan kesehatan yang tidak masuk rekening kas daerah (penggunaan langsung) H H L

Jumlah sampel yang banyak

- Menjadi fokus audit

- Penerimaan Kas

- Tidak ada pertanggungjawaban penggunaannya

- Pengujian subtantif secara mendalam atas saldo dan transaksi dengan penekanan pada asersi kelengkapan, penilaian, keterjadian dan pengungkapan pengujian tdk mengandalkan pengendalian

- Tidak dicatat atau menunda pencatatan (lapping) - Ditunda atau salah rekening saat penyetoran - Persetujuan pengeluaran dana untuk investasi

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD
INHERENT RISK Identifikasi 6 - Pengelolaan Dana Investasi tidak tertib - Tidak dicatat atau menunda pencatatan (lapping) - Ditunda atau salah rekening saat penyetoran H/M/L 7 H CONTROL RISK Identifikasi / Kelemahan 10 Tidak ada temuan untuk akun ini H/M/L 9 L L H Risiko Gabungan Risiko Deteksi Strategi Pemeriksaan 11 - Tidak menjadi fokus audit

Lampiran 3.3

No 1

Akun 2 Investasi Permanen

Saldo (Juta Rp) 3 403,00

Signifikan 4 Ya

Siklus terkait 5 - Pengeluaran Kas

Ref P2 12

ASET TETAP 6.681,72 Ya - Pengeluaran Kas - Pembelian dengan harga tidak wajar H - Prosedur rekonsiliasi antara Bidang Perlengkapan dan Bidang Keuangan cq Akuntansi tidak optimal dan sampai dengan audit interim berakhir, bagian perlengkapan belum membuat Buku Inventaris Pemda H H L - Menjadi fokus audit dan tidak mengandalkan pengendalian

Tanah

- Pencatatan dan penghapusan Aset Tetap

- Inventarisasi tidak lengkap

- Belum dilakukan sertifikasi atas tanah yang dimiliki Pemda

- Pengujian substantif baik untuk transaksi maupun saldo, dengan menekankan pada eksistensi, valuasi,dan kepemilikan pengungkapan - Jumlah sampel banyak

- Tanah tidak tercatat dan tidak dilaporkan

- Apprisal baru dilakukan 4 dari 7 kecamatan atas aset hibah dari Lampung Selatan, dan atas hasil apprisal ini belum dicacat pada Neraca

- Kapitalisasi tidak dibukukan - Valuasi tidak terlalu rendah/tinggi 41.680,84 Peralatan dan Mesin - Penghapusan ilegal - Tidak didukung bukti kepemilikan - Dikuasai pihak lain 27.186,89 Gedung dan Bangunan 83.750,47 Jalan. Irigasi dan Jaringan 9.862,60 Aset Tetap lainnya

Konstruksi Dalam Pengerjaan

10.677.685,00

Terdapat pekerjaan Kantor Bupati yg belum selesai tetapi tidak tercatat pada penambahan KDP di neraca

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD
INHERENT RISK Identifikasi 6 H/M/L 7 CONTROL RISK Identifikasi / Kelemahan 10 H/M/L 9 Risiko Gabungan Risiko Deteksi Strategi Pemeriksaan 11

Lampiran 3.3

No 1

Akun 2

Saldo (Juta Rp) 3

Signifikan 4

Siklus terkait 5

Ref P2 12

ASET LAINNYA Tagihan Piutang Penjualan Angsuran Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Aset Lain-Lain 0,00 Tidak Penerimaan kas dan pencatatan/penghapusan aset Penerimaan kas dan pencatatan/penghapusan aset Penerimaan kas dan pencatatan/penghapusan aset Tidak tercatat dan dilaporkan L Tidak ada temuan untuk akun ini L L H Tidak Menjadi Fokus Audit

8.677,50

Tidak

Tidak tercatat dan dilaporkan

L

Tidak ada temuan untuk akun ini

L

L

H

Tidak menjadi Fokus audit

0,00

Tidak

Tidak tercatat dan dilaporkan

L

Tidak ada temuan untuk akun ini

L

L

H

Tidak menjadi Fokus audit

KEWAJIBAN Utang Perhitungan Pihak Ketiga Utang Jangka Pendek Lainnya PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah 13.229,97 Ya Penerimaan Kas - PAD tidak ditagih dan tidak disetor ke Kasda/rekening penerimaan H - untuk Retribusi tidak melalui penetapan SKRD tetapi hanya melalui kuitansi/tanda terima - PAD yang dipungut oleh SKPD disetor kepada Dispenda, tidak langsung ke Rekening Kas Daerah, dan kemudian Dispenda yg menyetorkan ke Kas Daerah. Atas penyetoran SKPD kepada Dispenda tidak dilakukan rekonsiliasi penerimaan H H L - menjadi fokus audit 24,21 Tidak Pengeluaran Kas Tidak tercatat dan dilaporkan L Terdapat setoran pajak atas SP2D yang batal Tidak ada temuan untuk akun ini L L H Tidak menjadi Fokus audit

9.313,74

Ya

Pengeluaran Kas

- Pembayaran utang retensi sesuai dengan prestasi fisik

M

M

M

M

- Tidak menjadi fokus pemeriksaan, tetapi tetap mendapat perhatian

Pencatatan dan pelaporan piutang - PAD tidak disetor ke rekening kasda

- pengujian subtantive untuk saldo dan transaksi dengan menekankan pada asersi kelengkapan dan keterjadian.

- Perhitungan tarif tidak sesuai dengan ketentuan - Perbedaan pencatatan antara SKPD Pengelola dengan BUD - Terdapat penggunaan langsung atas retribusi pelayanan umum dan retribusi calon pengantin pada Dinas Kesehatan - SKP-D digunakan hanya untuk kelengkapan administrasi, bukan menjadi dasar pemungutan pajak daerah.

- Sample luas dengan jumlah yang banyak

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD
INHERENT RISK Identifikasi 6 - DBH, DAU, dan DAK tidak disetor ke rekening kasda H/M/L 7 H CONTROL RISK Identifikasi / Kelemahan 10 - DBH 2010 belum disetor sepenuhnya oleh provinsi - Bagian Keuangan kurang melakukan koordinasi dengan BUD Provinsi untuk mengetahui hak Kab. Pesawaran atas pendapatan transfer dari Provinsi H/M/L 9 H H L Risiko Gabungan Risiko Deteksi Strategi Pemeriksaan 11 - Menjadi fokus audit dan tidak dapat mengandalkan pengendalian - pengujian subtantive untuk saldo dan transaksi dengan menekankan pada asersi kelengkapan dan keterjadian.

Lampiran 3.3

No 1

Akun 2 Pendapatan Transfer

Saldo (Juta Rp) 3 492.339,20

Signifikan 4 Ya

Siklus terkait 5 Penerimaan Kas

Ref P2 12

Pencatatan dan pelaporan piutang - Perhitungan tarif tidak sesuai dengan ketentuan

- Perbedaan pencatatan antara BKU BUD dengan R/K Kasda

Lain-lain Pendapatan yang sah

8.000,00

Tidak

Pencatatan dan pelaporan

Tidak tercatat dan dilaporkan

L

Tidak pernah ada temuan mengenai hal ini

L

L

H

- Tidak menjadi fokus audit dan mengandalkan pengendalian - Pengujian subtantif dilakukan dengan prosedur analitis dan uji akurasi.

BELANJA Belanja Pegawai 299.162,15 Ya - Pengeluaran Kas - Pencatatan dan Pelaporan Kewajiban - Pembayaran gaji kepada pegawai yang tidak aktif - Perhitungan gaji salah M Tidak pernah ada temuan mengenai hal ini L L H - Tidak menjadi fokus audit dan mengandalkan pengendalian - Pengujian subtantif dilakukan dengan prosedur analitis dan uji akurasi.

Belanja Barang Akun terkait:

79.479,38

Ya

- Pengeluaran kas - Pencatatan dan pelaporan Aset Tetap

- SPJ fiktif - Pembebanan mata anggaran tidak tepat

H

Pekerjaan Jasa Konsultan tidak dikapitalisasi ke aset Pekerjaan Rehab bangunan tidak dikapitalisasi ke aset

M

H

L

- Menjadi fokus audit - Pengujian subtantive untuk saldo dan transaksi dengan menekankan pada asersi kelengkapan dan keterjadian. Lihat pula strategi audit untuk persediaan dan aktiva tetap (jika ada). - Jumlah sampel banyak

Persediaan Kas di Bendahara Pengeluaran

- Barang tidak tepat jumlah, waktu dan mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD
INHERENT RISK Identifikasi 6 - Belanja Modal Fiktif H/M/L 7 H CONTROL RISK Identifikasi / Kelemahan 10 - Prosedur Rekonsiliasi antara Bidang Perlengkapan dan Bidang Akuntansi tidak optimal dan sampai dengan audit interim berakhir Bagian Perlengkapan Belum dapat menyusun daftar inventaris Pemda H/M/L 9 H H L Risiko Gabungan Risiko Deteksi Strategi Pemeriksaan 11 - Menjadi fokus audit dan tidak dapat mengandalkan pengendalian

Lampiran 3.3

No 1

Akun 2 Belanja Modal

Saldo (Juta Rp) 3 99.478,95

Signifikan 4 Ya

Siklus terkait 5 - Pengeluaran kas

Ref P2 12

Akun terkait:

- Pencatatan dan pelaporan Aset Tetap

-Terdapat pengadaan belanja modal yg realisasinya diberikan kepada kelompok masyarakat dan masih tercatat pada aset Neraca Pemda - Pembebanan mata anggaran tidak tepat Pekerjaan Lapen pada Dinas PU batal direalisasikan karena ketidakmampuan kontraktor. Atas kejadian ini jaminan pelaksanaan belum dicairkan oleh PPTK

- Pengujian subtantive untuk saldo dan transaksi dengan menekankan pada asersi kelengkapan dan keterjadian. Lihat pula strategi audit untuk aset tetap dan aktiva tidak berwujud (jika ada) - Sample luas dan jumlahnya banyak

Aset Tetap

Aset Tidak Berwujud - Pencatatan dan pelaporan - Aset yang diterima tidak tepat jumlah, waktu dan mutu Untuk Semua Akun dan non Akun Risiko Konsolidasi - Konsolidasi laporan dari SKPD sampai dengan BUD - Data yang disampaikan tidak lengkap/salah/valid. H Laporan Keuangan SKPD tidak digunakan oleh Bagian Keuangan dikarenakan tidak sesuai dengan SAP M H L

- Tidak mengandalkan pengendalian

- Menjadi fokus audit.

- Penyusunan laporan keuangan secara berjenjang.

- Uji kelengkapan pengiriman ADK dan laporan keuangan untuk setiap sakter. - Bila dimungkinkan, dilakukan analisis menggunakan TABK

Pengungkapan

-

-

Proses Penyusunan laporan keuangan konsolidasian

Pengungkapan yang tidak memadai, mencukupi atau berlebihan

H

- Pengungkapan kebijakan akuntansi tidak lengkap - penggunaan Dana Dana Bantuan Bencana Alam yang diterima dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada Dinas PU tidak melalui mekanisme APBD sehingga tidak dicatat dan diungkapkan dalam Laporan Keuangan

H

H

L

- Menjadi fokus audit.

Prosedur analitis dan uji akurasi menjadi fokus utama

- penggunaan Dana Jamkesmas pada Puskesmas tidak melalui mekanisme APBD sehingga tidak dicatat dan iungkapkan dalam Laporan Keuangan

- Mengevaluasi LK & CALK dan mengidentifikasi hal2 relevan yang perlu diungkapkan tetapi belum diungkapkan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

BAB 4 MATERIALITAS DAN TOLERABLE ERROR 4.1 Gambaran Umum
Standar Pemeriksan Keuangan Negara (SPKN) mensyaratkan pemeriksa untuk merencanakan pemeriksaan sebaik-baiknya, menguji pengendalian intern, dan memperoleh bukti kompeten yang cukup untuk dapat menyatakan suatu pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa. Dalam pelaksanaan pemeriksaan tersebut, biasanya pemeriksa selalu dihadapkan dengan berbagai keterbatasan seperti waktu, sumber daya manusia, dan biaya sehingga pemeriksa tidak mungkin melakukan pengujian atas seluruh transaksi dalam suatu entitas yang diperiksa. Keterbatasan tersebut menimbulkan kebutuhan bagi pemeriksa untuk mempertimbangkan “materialitas” dalam pemeriksaan. Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut. Dalam penetapan materialitas pada pemeriksaan atas laporan keuangan, BPK telah menetapkan Petunjuk Teknis (juknis) Nomor 100.003/2008 dengan Keputusan BPK Nomor 05/K/I-VIII.2/5/2008 tanggal 30 Mei 2008. Hal yang diatur dalam juknis meliputi penetapan dasar materialitas, tingkat materialitas, penentuan materialitas awal (planning materiality/PM) dan kesalahan yang dapat ditoleransi (tolerable error/TE). Sesuai dengan juknis tersebut, konsep materialitas juga dapat dikelompokkan menjadi:
1) Materialitas kuantitatif; materialitas yang menggunakan ukuran kuantitatif

tertentu seperti nilai uang, jumlah waktu, frekuensi maupun jumlah unit.

2) Materialitas kualitatif; materialitas yang menggunakan ukuran kualitatif yang

lebih ditentukan pada pertimbangan profesional. Pertimbangan profesional tersebut didasarkan pada cara pandang, pengetahuan, dan pengalaman pada situasi dan kondisi tertentu.

Penerapan materialitas pada bab ini lebih ditujukan untuk perencanaan pemeriksaan yang meliputi kedalaman dan cakupan pemeriksaan. Sedangkan penerapan materialitas untuk tujuan penentuan opini dapat dilihat pada Bab 9 Panduan Penyusunan Opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

Perlu dipahami bahwa dalam konsep pemeriksaan berbasis risiko, ada hubungan kait mengait antara penentuan materialitas dengan tingkat risiko, cakupan pemeriksaan, dan uji petik (sampling) pemeriksaan. Penentuan tingkat risiko diharapkan dapat diselesaikan pada pemeriksaan pendahuluan atas LKPD, sehingga informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk penyusunan (pemutakhiran) program pemeriksaan terinci atas LKPD yang dilaksanakan kemudian. Penilaian risiko yang memadai pada tahap perencanaan pemeriksaan diharapkan dapat membantu auditor untuk merancang prosedur pemeriksaan yang dapat mendeteksi adanya risiko salah saji material dalam laporan keuangan. Prosedur pemeriksaan dengan pendekatan risk based auditing yang memfokuskan pemeriksaan pada area-area yang berisiko tinggi akan semakin meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemeriksaan dan permasalahan keterbatasan sumber daya akan dapat teratasi.

4.2 Konsep Materialitas
4.3.1 Materialitas Kuantitatif Dalam konsep materialitas secara kuantitatif, pemeriksa melakukan langkah-langkah yaitu penentuan dasar penetapan materialitas, penentuan tingkat materialitas, penetapan nilai materialitas awal dan penetapan kesalahan yang dapat ditoleransi. 4.3.1.1 Dasar Penetapan Materialitas Juknis memberikan panduan bahwa penentuan dasar penetapan materialitas dapat menggunakan nilai laba bersih sebelum pajak, total aset, ekuitas, total penerimaan, atau total belanja/biaya. Dalam memutuskan nilai yang akan dijadikan dasar, pemeriksa sebaiknya mempertimbangkan:
1) Karakteristik (sifat, besar dan tugas pokok) dan lingkungan entitas yang

diperiksa;

2) Area dalam laporan keuangan yang akan lebih diperhatikan oleh pengguna

laporan keuangan;

3) Kestabilan atau keandalan nilai yang akan dijadikan dasar.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

Bervariasinya acuan dasar penetapan materialitas sebagaimana dikemukakan di atas, perlu diseragamkan dengan memilih dasar yang paling sesuai dengan karakteristik pemeriksaan LKPD. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dalam pemeriksaan LKPD pemeriksa dapat menggunakan total realisasi belanja sebagai dasar penetapan materialitas dengan pertimbangan:
1) Secara karakteristik berdasarkan sifat, besar dan tugas pokok entitas yang

diperiksa (pemerintah daerah) realisasi belanja merupakan nilai yang cukup tinggi disajikan dalam laporan keuangan; laporan keuangan (pemerintah daerah, DPRD, masyarakat); dan

2) Penggunaan dana/pengalokasian belanja lebih diperhatikan oleh pengguna 3) Nilai realisasi belanja merupakan nilai yang relative andal.

4.3.1.2 Penentuan Tingkat Materialitas yang Direncanakan (Planning Materiality (PM)) Berdasarkan juknis, jika mengambil dasar penetapan materialitas adalah total realisasi belanja maka tingkat materialitas untuk pemeriksaan LKPD berkisar antara 0,5% s.d. 5% dari total realisasi belanja tersebut. Juknis secara lebih lanjut tidak memberikan panduan dalam penentuan besaran tingkat materialitas dalam kisaran tersebut. Juknis hanya memberikan panduan bahwa dalam penentuan tingkat materialitas mempertimbangkan risiko pemeriksaan dan kondisi sistem pengendalian intern pada entitas. Sesuai juknis tersebut, pemeriksa LKPD dapat menentukan tingkat materialitas awal berdasarkan pada dua pertimbangan, yakni opini yang diperoleh pada waktu pemeriksaan sebelumnya dan hasil penilaian risiko pada saat pemeriksaan pendahuluan. Secara rumus, perhitungan tingkat materialitas yakni sebagai berikut:
PM = rate x total realisasi belanja

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

Pertimbangan opini terhadap penetapan tingkat materialitas (rate) dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 4.1 Pertimbangan Opini Terhadap Tingkat Materialitas
Opini Tahun Sebelumnya Adverse / Disclaimer WDP WTP Akan mempengaruhi % PM yang akan digunakan Tim Pemeriksa Perkembangan terakhir dari pemeriksaan pendahuluan (penilaian risiko tingkat entitas) 0,5% s.d. 1% 1% s.d. 3% 3% s.d. 5%

%

1% s.d. 0,5% 3% s.d. 1% 5% s.d. 3%

Opini tahun sebelumnya mencerminkan memadai tidaknya kondisi sistem pengendalian intern entitas serta risiko pemeriksaan pada waktu pemeriksaan sebelumnya. Kondisi pengendalian dan risiko pemeriksaan pada periode sebelumnya sebagai dasar awal penetapan tingkat materialitas. Semakin lemah pengendalian dan berisiko pemeriksaan maka tingkat materialitas juga lebih rendah. Selain opini tahun sebelumnya, pemeriksa perlu mempertimbangkan hasil penilaian risiko pada saat pemeriksaan pendahuluan. Hasil penilaian risiko pada saat pemeriksaan pendahuluan tersebut merupakan pemutakhiran perkembangan terakhir kondisi sistem pengendalian intern dan risiko pemeriksaan pada entitas yang dapat berubah. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, tingkat materialitas yang ditetapkan dapat ditetapkan pada tingkat tertinggi atau diturunkan menjadi tingkat tertentu. Hasil penilaian risiko bawaan (inherent risk, IR) saat pemeriksaan pendahuluan memuat kesimpulan akhir tingkat risiko yang disimpulkan dalam kategori risiko rendah, sedang dan tinggi. Penilaian tingkat risiko bawaan tersebut sebagaimana dijelaskan pada Bab 3. Kesimpulan akhir atas risiko pemeriksaan tersebut memiliki kontribusi terhadap tingkat penentuan materialitas, yang dapat ditetapkan sebagaimana pada tabel berikut:

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

Tabel 4.2 Persentase Kontribusi Risiko Entitas Risiko pada Tingkat Entitas*) Rendah Sedang Tinggi Persentase Kontribusi 91% s.d 100% 66% s.d. 90% 50% s.d 65%

*) kesimpulan risiko bawaan pada saat pemeriksaan pendahuluan Untuk mendapatkan tingkat materialitas, persentase berdasarkan penilaian risiko tersebut kemudian dikalikan dengan tingkat materialitas tertinggi yang dapat ditetapkan berdasarkan opini tahun sebelumnya. Untuk lebih jelasnya penetapan tingkat materialitas dapat dilihat pada contoh sebagai berikut:
Pemerintah Kabupaten ABC, tahun sebelumnya memperoleh opini WTP, maka tingkat materialitas yang dapat ditetapkan s.d. 5%. Berdasarkan penilaian risiko pada waktu pemeriksaan pendahuluan, pemeriksa menyimpulkan bahwa risiko bawaan adalah “sedang”. Dengan demikian, tingkat materialitas yang dapat ditetapkan untuk pemeriksaan saat ini yakni: Tingkat materialitas (opini WTP) Risiko bawaan “sedang” : 3% s.d. 5% : 66% s.d 90%

Tingkat Materialitas Pemeriksaan : 5% x 72% = 3,60%

Juknis juga memberikan panduan agar pemeriksa menggunakan tingkat materialitas yang paling rendah (paling konservatif) pada pemeriksaan atas laporan keuangan entitas yang baru kali pertama diperiksa. Karenanya, tingkat materialitas untuk pemerintah daerah yang belum pernah dilakukan pemeriksaan menggunakan tingkat materialitas yang paling rendah yakni sebesar 0,5%. 4.3.1.2.1 Penetapan Nilai Materialitas Awal / Planning Materiality (PM) Tahap selanjutnya dalam penetapan materialitas secara kuantitatif adalah menetapkan nilai materialitas awal (PM) yang merupakan nilai materialitas untuk tingkat laporan keuangan secara keseluruhan. Nilai PM yang diperoleh merupakan besarnya kesalahan yang mempengaruhi pertimbangan Pengguna Laporan Keuangan. Nilai PM tersebut merupakan perkalian antara persentase tingkat materialitas yang telah ditentukan dengan dasar penetapan materialitas. Untuk memperoleh nilai PM dengan perhitungan persentase tingkat materialitas dikalikan dengan dasar penetapan materialitas. Perhitungan nilai PM lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut:
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

Pemerintah Kabupaten ABCD dengan tingkat materialitas yang sudah ditetapkan sebesar 3,60%. Total realisasi belanja (nilai sebelum audit) sebesar Rp466.160.251.000,00. Perhitungan nilai PM untuk pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD sebagai berikut. Tabel 4.3 Contoh Perhitungan PM Dasar penetapan materialitas Tingkat Materialitas Nilai Total Belanja pada LK PM : : : : Total Belanja 3,6% Rp466.160.251.000,00 3,6% X Rp466.160.251.000,00 = Rp16.781.769.036,00

KKP penentuan PM awal dapat dilihat pada Lampiran 4.1. 4.3.1.2.2 Penetapan Tingkat Kesalahan yang Dapat Ditoleransi/Tolerable Error (TE) Setelah nilai PM ditetapkan, pemeriksa pada tahap selanjutnya menetapkan tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi atau disebut tolerable error (TE). TE merupakan alokasi materialitas awal (PM) pada setiap akun atau kelompok akun. Materialitas pada tingkat akun (TE) merupakan salah saji minimum pada saldo akun yang dapat menyebabkan akun tersebut dianggap mengandung salah saji material. Alokasi materialitas pada setiap akun dilakukan dengan tujuan untuk menentukan akun/kelompok akun dalam laporan keuangan yang memerlukan tambahan prosedur pemeriksaan, memastikan adanya kemungkinan salah saji yang material yang berasal dari penggabungan salah saji yang jumlahnya lebih kecil daripada materialitas awal, dan mempertimbangkan risiko deteksi. Pedoman pengalokasian PM dalam perhitungan TE adalah sebagai berikut. 1) Perhitungan TE hanya dilakukan terhadap akun-akun yang dilakukan pengujian. Akun-akun seperti ekuitas dana tidak mendapatkan alokasi PM (tidak dihitung TE-nya) karena hanya merupakan akun penyeimbang dari akun terkait. 2) Perhitungan alokasi nilai PM hanya dilakukan pada akun-akun utama (akun signifikan). Sebagai acuan, akun dianggap signifikan jika jumlah saldonya (unaudited) minimal 50% dari nilai PM.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

3) Namun demikian, pemeriksa dapat juga mempertimbangkan akun lain yang saldonya (unaudited) di bawah 50% dari PM untuk tetap diberikan alokasi PM dengan pertimbangan kualitatif bahwa akun tersebut secara “nature” berisiko tinggi (seperti kas) atau berdasarkan pertimbangan professional lainnya. 4) Alokasi nilai PM dilakukan secara masing-masing, yakni untuk akun-akun neraca atau akun-akun laporan realisasi anggaran (LRA). 5) Alokasi nilai PM pada akun-akun dengan menggunakan rumus:
TE = PM * N T

Keterangan: TE = batas minimal salah saji pada akun yang bersangkutan PM = nilai PM hasil perhitungan N = nilai saldo akun yang bersangkutan (akun-akun neraca atau LRA) T = jumlah nilai saldo seluruh akun neraca atau LRA yang akan diberikan alokasi PM Jumlah dari seluruh TE tidak lebih dari dua kali nilai PM

Contoh perhitungan TE dapat dilihat pada Lampiran 4.2

4.3.2 Materialitas Kualitatif Pemeriksa dapat memodifikasi nilai PM dan TE yang telah ditentukan sebelumnya jika pada saat pelaksanaan pemeriksaan ditemukan kesalahan yang dapat mempengaruhi penyajian banyak hal dalam laporan keuangan atau kesalahan tersebut berdampak keseluruhan terhadap laporan keuangan yang diperiksa. Selain penetapan materialitas secara kuantitatif, pemeriksa dapat menggunakan penetapan materialitas secara kualitatif. Faktor kualitatif tersebut dipertimbangkan oleh pemeriksa dalam menentukan tingkat materialitas pada tingkat akun (TE)/materialitas keseluruhan (PM) dengan melihat pengaruhnya apakah hanya pada tingkat akun tertentu atau sudah berdampak terhadap keseluruhan laporan keuangan. Sebagai contoh pertimbangan kualitatif adalah kecurangan yang dilakukan oleh manajemen pada penyajian laporan keuangan, walaupun nilainya
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 4 Materialitas dan Tolerable Error

di bawah materialitas. Hal tersebut secara kualitatif menjadi material jika manajemen dengan sengaja melakukan suatu manipulasi terhadap laporan keuangan untuk suatu tujuan tertentu. Atas kondisi ini pemeriksa perlu menyesuaikan tingkat materialitasnya pada tingkat kesalahan yang ditemukan tersebut. KKP perubahan materialitas dapat dilihat pada Lampiran 4.3.

4.3

Hubungan Materialitas dan Risiko

Tujuan pemeriksaan atas laporan keuangan adalah untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Bertitik tolak dari tujuan tersebut, pada dasarnya penentuan tingkat materialitas memegang peranan yang sangat penting dalam mengevaluasi hasil-hasil pelaksanaan seluruh prosedur pemeriksaan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 4.1

Indeks KKP No. : Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Prov/Kab/Kota……. Tahun 20XX Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Disusun/Tgl :

Direview/Tgl : Disetujui/Tgl :

Perhitungan Materialitas Awal (Planning Materiality/PM) Dasar Penetapan Materialitas Nilai dalam Laporan Keuangan Rate (%) : : : Total Belanja ( tidak termasuk Pengeluaran Pembiayaan TA 20XX ) Unaudited Rp466.160.251.000,00 3,60% Alasan penetapan rate tersebut: a. Opini tahun lalu Wajar Tanpa Pengecualian b. Kesimpulan atas risiko bawaan moderate (sedang) PM : [3,60% x Rp466.160.251.000,00] = Rp16.781.769.036,00

Ketua Tim

Pengendali Teknis

Penanggung Jawab

(......................................) NIP.

(......................................) NIP.

(..............................................) NIP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 4.2

Indeks KKP No. : Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Prov/Kab/Kota……. Tahun 20XX

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia

Disusun/Tgl : Direview/Tgl : Disetujui/Tgl :

Worksheet Perhitungan Batas Kesalahan yang Dapat Ditolerir (Tolerable Error /TE)
Perhitungan PM Jumlah yang Mendasari (Total Realisasi Belanja) Tingkat Materialitas Planning Materiality (PM) 466.160.251.000,00 3,60% 16.781.769.036,00

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan 2

Akun-akun yang diaudit 3

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Nilai Akun Signifikan Signifikan (50% PM) 4 5

Alokasi TE (dengan rumus) dan pertimbangan lain 6

1 NERACA ASET ASET LANCAR Kas dan Bank Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Kas di Bendahara BLU Investasi Jangka Pendek Piutang Piutang Pajak Daerah Piutang Retribusi Daerah Piutang PAD Lainnya Piutang Dana Bagi Hasil dari Pusat Piutang Dana Alokasi Umum Piutang Dana Alokasi Khusus Piutang Trasfer Lainnya dari Pusat Piutang Pendapatan Bagi Hasil dari Propinsi Piutang Transfer Antar Daerah Piutang Kelebihan Transfer Bagian Lancar Dana Bergulir Bagian Lancar Tagihan Penj. Angs. Bagian Perbendaharaan Lancar Tuntutan

48.609.629.944,00 692.605.027,00 55.550.274,00 618.161.790,00 31.034.862,00 364.186.991,44 4.634.591.936,67 1.506.989.802,00 56.512.750.627,11

48.609.629.944,00 692.605.027,00 55.550.274,00 618.161.790,00 31.034.862,00 364.186.991,00 4.634.591.937,00 1.506.989.802,00 -

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

48.609.629.944,00 692.605.027,00 55.550.274,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4.634.591.937,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

500.000,00 500.000,00 500.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 65.616.473,71 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi Piutang DPRD Piutang Bunga Piutang Lainnya Penyisihan Piutang Tak Tertagih Persediaan Belanja Dibayar Dimuka JUMLAH ASET LANCAR

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Nilai Akun Signifikan Signifikan (50% PM)

Alokasi TE (dengan rumus) dan pertimbangan lain

INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non Permanen Pinjaman Kepada Perush. Negara Pinjaman Kepada Perush. Daerah Pinjaman Kepada Pemda Lainnya SUN dan SBI Proyek Pembangunan Pinjaman angsuran Berjangka Dana Bergulir Investasi Non Permanen Lainnya Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemda Investasi Permanen Lainnya JUMLAH INVESTASI JGK PANJANG

5.000.000.000,00 10.340.897.230,00 15.340.897.230,00

5.000.000.000,00 10.340.897.230,00 -

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10.340.897.230,00 0,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 146.406.246,86 0,00

ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi, dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan JUMLAH ASET TETAP

184.417.773.886,00 137.774.484.240,00 302.018.438.363,00 464.275.829.690,00 20.999.810.200,00 4.812.634.600,00 1.114.298.970.979,00

184.417.773.886,00 137.774.484.240,00 302.018.438.363,00 464.275.829.690,00 20.999.810.200,00 4.812.634.600,00 -

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

184.417.773.886,00 137.774.484.240,00 302.018.438.363,00 464.275.829.690,00 20.999.810.200,00 0,00 0,00

2.610.983.701,74 1.950.608.801,34 4.275.971.906,47 6.573.209.289,37 297.314.955,15 0,00 0,00

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Nilai Akun Signifikan Signifikan (50% PM)

Alokasi TE (dengan rumus) dan pertimbangan lain

DANA CADANGAN Dana Cadangan JUMLAH DANA CADANGAN ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan Tagihan Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan Dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain JUMLAH ASET LAINNYA TOTAL ASET KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PPK) /Utang Belanja Utang Bagi Hasil Pjk & Ret. Ke Desa Utang Bunga Bagian Lancar Utang Dalam Negeri Bagian Lancar Utang Jgk Pjg Lainnya Utang Jangka Pendek Lainnya JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

-

-

8.390.884.518,00

0,00

0,00

11.209.540.700,00 11.209.540.700,00 1.197.362.159.536,11

11.209.540.700,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 11.209.540.700,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 158.704.486,31

292.873.088,00 292.873.088,00

292.873.088,00 -

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

292.873.088,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

4.146.492,19 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri Utang Jangka Panjang Lainnya JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PANJANG TOTAL KEWAJIBAN EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Pendapatan yang Ditangguhkan Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Cadangan Belanja Dibayar Dimuka Dana yang Harus Disediakan utk Pembayaran Utang Jangka Pendek JUMLAH EKUITAS DANA LANCAR

292.873.088,00

-

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 0,00

0,00 0,00

48.316.756.856,00 55.550.274,00 6.340.580.607,11 1.506.989.802,00 -

56.219.877.539,11

EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dlm Investasi Jgk Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek

15.340.897.230,00 1.114.298.970.979,00 11.209.540.700,00

-

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan 1.140.849.408.909,00

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Nilai Akun Signifikan Signifikan (50% PM)

Alokasi TE (dengan rumus) dan pertimbangan lain

JUMLAH EKUITAS DANA INVESTASI

EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dalam Dana Cadangan JULAH CADANGAN TOTAL EKUITAS TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS Jumlah EKUITAS DANA

-

1.197.069.286.448,11 1.197.362.159.536,11 1.197.655.032.624,00 1.185.322.024.579,00 16.084.462.353,15

Cara Pengisian: Kolom 1: Diisi sesuai nama akun sesuai dengan LK Unaudited Kolom 2: Diisi sesuai saldo akun dalam LK Unaudited Kolom 3: Diisi sesuai dengan akun-akun yang akan diperiksa (selain ekuitas dana) Kolom 4: Diisi sesuai dengan nilai batas akun signifikan, yakni 50% dari PM Kolom 5: Diisi sesuai dengan nilai saldo akun yang dianggap signifikan dalam LK Unaudited. Di dalam perhitungan akun signifikan di atas memasukkan juga diantaranya akun Kas di Bendahara Pengeluaran dan Kas di Bendahara Penerimaan serta akun lainnya yang signifikan "by nature" Kolom 6: Diisi alokasi PM dalam perhitungan TE masing-masing akun berdasarkan proporsinya, dengan pertimbangan profesional lainnya. Misalnya, TE untuk akun Kas dibatasi sampai dengan jumlah yang sangat minimal (sebesar nilai pembukaan rekening di bank) dikarenakan sifatnya yang sangat berisiko "by nature"

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD Indeks KKP No. :

Lampiran 4.2

Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Prov/Kab/Kota……. Tahun 20XX Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Disusun/Tgl : Direview/Tgl : Disetujui/Tgl :

Worksheet Perhitungan Batas Kesalahan yang Dapat Ditolerir (Tolerable Error /TE)
Perhitungan PM Jumlah yang Mendasari Realisasi Belanja) Tingkat Materialitas Planning Materiality (PM)

(Total

466.160.251.000,00 3,6% 16.781.769.036,00

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Signifikan (50% PM) 4

Alokasi TE

1 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah JUMLAH PENDAPATAN ASLI DAERAH PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus JUMLAH TRANSFER DANA PERIMBANGAN TRANSFER PEMERINTAH PUSAT LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian JUMLAH TRANSFER PUSAT LAINNYA TRANSFER PEMERINTAH PROPINSI BAGI HASIL PENDAPATAN Pendapatan Bagi Hasil Pajak Daerah Pendapatan Bagi Hasil Retribusi Daerah Pendapatan Bagi Hasil Lainnya JUMLAH TRANSFER BAGI HASIL PENDAPATAN

2

3

(dengan rumus) dan Nilai Akun Signifikan pertimbangan lain 5 6

1.710.279.019,00 4.545.147.701,00 980.492.636,00 6.464.234.102,00 13.700.153.458,00

1.710.279.019,00 4.545.147.701,00 980.492.636,00 6.464.234.102,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

1.710.279.019,00 4.545.147.701,00 0,00 0,00

29.782.434,37 79.148.233,46 0,00 0,00

21.283.985.583,00 2.689.291.952,00 330.359.350.000,00 64.583.000.000,00 418.915.627.535,00

21.283.985.583,00 2.689.291.952,00 330.359.350.000,00 64.583.000.000,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

21.283.985.583,00 2.689.291.952,00 330.359.350.000,00 64.583.000.000,00

500.000,00 500.000,00 500.000,00 500.000,00

0,00 13.544.327.400,00 13.544.327.400,00

0,00 13.544.327.400,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 13.544.327.400,00

500.000,00 500.000,00

4.122.564.552,00 0,00 0,00 4.122.564.552,00

4.122.564.552,00 0,00 0,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

4.122.564.552,00 0,00 0,00

71.789.460,56 0,00 0,00

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Signifikan (50% PM) Nilai Akun Signifikan

Alokasi TE (dengan rumus) dan pertimbangan lain 0,00 0,00 0,00

TRANSFER PEMERINTAH PROPINSI - LAINNYA Bantuan Keuangan dari Propinsi Bantuan Dana Pemekaran dari Propinsi Bantuan Keuangan Lainnya dari Propinsi JUMLAH TRANSFER PROPINSI LAINNYA JUMLAH PENDAPATAN TRANSFER LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Bantuan Keuangan Provinsi JUMLAH LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH TOTAL PENDAPATAN

0,00 0,00 0,00 0,00 436.582.519.487,00 0,00 0,00 0,00 2.890.000.000,00 2.890.000.000,00 453.172.672.945,00

0,00 0,00 0,00 0,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 0,00 0,00

0,00 0,00 0,00 2.890.000.000,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 0,00 0,00 0,00

0,00 0,00 0,00 0,00

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Signifikan (50% PM) Nilai Akun Signifikan

Alokasi TE (dengan rumus) dan pertimbangan lain

BELANJA BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Bantuan Sosial JUMLAH BELANJA OPERASI BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya JUMLAH BELANJA MODAL BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga JUMLAH BELANJA TAK TERDUGA TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL PENDAPATAN KE DESA Bagi Hasil Pajak ke Desa Bagi Hasil Retribusi ke Desa Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Desa Bantuan Keuangan ke Desa (ADD) JUMLAH TRANSFER TOTAL BELANJA SURPLUS/DEFISIT (Total PendapatanTotal Belanja) PEMBIAYAAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri Penerimaan Kembali Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman angsuran Berjangka Penerimaan Kembali Dana Bergulir Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PPK)/Utang Belanja Penerimaan Piutang Daerah Penerimaan Selisih Pihak Ketiga JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

255.282.419.185,00 76.248.838.487,00 0,00 0,00 1.576.100.000,00 13.664.887.166,00 346.772.244.838,00 1.093.396.870,00 20.892.525.730,00 51.535.504.396,00 41.246.831.166,00 4.607.148.000,00 0,00 119.375.406.162,00 12.600.000,00 12.600.000,00

255.282.419.185,00 76.248.838.487,00 0,00 0,00 1.576.100.000,00 13.664.887.166,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

255.282.419.185,00 4.445.433.645,32 76.248.838.487,00 1.327.781.024,28 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 13.664.887.166,00 237.957.433,03

1.093.396.870,00 20.892.525.730,00 51.535.504.396,00 41.246.831.166,00 4.607.148.000,00 0,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 20.892.525.730,00 51.535.504.396,00 41.246.831.166,00 0,00 0,00

0,00 363.817.990,73 897.428.291,00 718.263.527,95 0,00 0,00

12.600.000,00

8.390.884.518,00

0,00

0,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 466.160.251.000,00 (12.987.578.055,00)

0,00 0,00 0,00 0,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 0,00 0,00 0,00

0,00 0,00 0,00 0,00

61.996.939.938,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 61.996.939.938,00

61.996.939.938,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

61.996.939.938,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

500.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

0,00 0,00

0,00 0,00

8.390.884.518,00 8.390.884.518,00

0,00 0,00

0,00 0,00

3

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Signifikan (50% PM) 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 Nilai Akun Signifikan

Alokasi TE

Pembayaran Pokok Utang Pinjaman Dalam Negeri Pemberian Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah

0,00 0,00 0,00

0,00 0,00 0,00

(dengan rumus) dan pertimbangan lain 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Uraian (akun)

Nilai dalam Laporan Keuangan

Akun-akun yang diaudit

Pengujian Akun Signifikan (> 50% dari PM) dan Pertimbangan Lain Batas Akun Signifikan (50% PM) 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 8.390.884.518,00 Nilai Akun Signifikan

Alokasi TE

Pemberian Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi SUN dan SBI Investasi Proyek Pembangunan Pinjaman angsuran Berjangka Penyaluran Dana Bergulir Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PPK)/Utang Belanja JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN BERSIH SISA LEBIH ANGGARAN (SiLPA) Jumlah PEMBIAYAAN

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 61.996.939.938,00 49.009.361.883,00

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

(dengan rumus) dan pertimbangan lain 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

981.329.863.883,00

963.705.892.275,00 8.174.902.040,70

Kolom 1: Diisi sesuai nama akun sesuai dengan LK Unaudited Kolom 2: Diisi sesuai saldo akun dalam LK Unaudited Kolom 3: Diisi sesuai dengan akun-akun yang akan diperiksa Kolom 4: Diisi sesuai dengan nilai batas akun signifikan, yakni 50% dari PM Kolom 5: Diisi sesuai dengan nilai saldo akun yang dianggap signifikan dalam LK Unaudited. Di dalam perhitungan akun signifikan di atas memasukkan juga diantaranya akun Pendapatan Pajak Daerah, Pendapatan Retribusi Daerah, serta akun lainnya yang signifikan "by nature" Kolom 6: Diisi alokasi PM dalam perhitungan TE masing-masing akun berdasarkan proporsinya, dengan pertimbangan profesional lainnya. Misalnya, TE untuk akun Pendapatan Transfer dan Silpa dibatasi sampai dengan jumlah yang sangat minimal (sebesar nilai pembukaan rekening di bank) dikarenakan sifatnya yang sangat berisiko "by nature"

Cara Pengisian:

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 4.3

Indeks KKP No. : Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Prov/Kab/Kota……. Tahun 20XX Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Disusun/Tgl :

Direview/Tgl : Disetujui/Tgl :

Pertimbangan Kualitatif atas PM/TE Penetapan PM/TE secara kuantitatif Jumlah salah saji yang ditemukan pada LK/Akun Pertimbangan-pertimbangan kualitatif : [nilai PM/TE disertai dengan rujukan pada KKP penetapan PM atau TE secara kuantitatif] [nilai salah saji yang ditemukan pada LK atau akun] [alasan-alasan kualitatif yang menjadi bahan pertimbangan untuk mengubah batas materialitas pada LK atau akun sehingga salah saji yang ditemukan dapat dianggap material]

: :

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->