P. 1
Panduan Pemeriksaan LKPD Bab %-10

Panduan Pemeriksaan LKPD Bab %-10

|Views: 1,400|Likes:
Published by DS Aji
Bab 5-10
5. Audit Sampling
6. KKP
7. Formulasi TP
8. Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan
9. Penyusunan Opini
10.
Bab 5-10
5. Audit Sampling
6. KKP
7. Formulasi TP
8. Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan
9. Penyusunan Opini
10.

More info:

Published by: DS Aji on May 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

BAB 5 UJI PETIK PEMERIKSAAN (AUDIT SAMPLING) 5.1 Gambaran Umum
Uji Petik Pemeriksaan atau Audit Sampling adalah penerapan prosedur pemeriksaan terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut. Uji petik dapat menjadi alat untuk memperoleh informasi mengenai suatu populasi tanpa melakukan pengkajian terhadap populasi tersebut secara keseluruhan. Namun demikian, uji petik tidak dapat diterapkan pada seluruh prosedur pemeriksaan. Banyak prosedur pemeriksaan yang tidak dapat menerapkan uji petik, diantaranya permintaan keterangan (inquiry), observasi, prosedur analitis, scanning dan reviu catatancatatan untuk mengidentifikasi transaksi yang tidak wajar. Uji petik yang dilakukan dalam prosedur pemeriksaan tertentu bertujuan untuk memperoleh bukti audit yang kompeten dan cukup untuk mendukung kesimpulan hasil pemeriksaan. Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan “Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan”. Pelaksanaan uji petik tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan nonstatistik dan pendekatan statistik. Uji petik non statistik merupakan pendekatan pemeriksa dalam memilih sampel dan menilai hasil pemeriksaan sampel berdasarkan pertimbangan profesionalnya. Sedangkan uji petik statistik adalah pendekatan uji petik dengan menggunakan ilmu matematika sebagai sarana untuk menentukan perencanaan, pemilihan, dan evaluasi sampel. Penggunaan kedua pendekatan tersebut memerlukan pertimbangan profesional pemeriksa dalam perencanaan, pemilihan, dan evaluasi hasil sampel serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

5.2

Penentuan Cakupan (Coverage) Pemeriksaan dan Satker yang Akan Diperiksa

Mengingat karakteristik akuntansi pemerintah daerah yang menggunakan sistem terdistribusi, maka dokumen-dokumen atau unit sampel sebagian besar berada pada satker-satker atau SKPD-SKPD yang merupakan entitas akuntansi. Oleh karena itu, sebelum dapat menentukan jumlah sampel dan unit sampel yang akan dipilih, perlu terlebih dahulu, dengan pertimbangan tertentu dan profesional, menentukan cakupan (coverage) pemeriksaan dan satker yang akan diperiksa, karena dokumen-dokumen atau unit sampel yang akan diuji tersebar di satkersatker. Untuk tujuan pengujian ini, pemeriksa dapat menggunakan hasil analisa risiko yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Langkah-langkah mengkaitkan hasil penilaian risiko dengan penentuan cakupan (coverage) pemeriksaan dan satker yang akan diperiksa adalah sebagai berikut:
1) Penentuan risiko gabungan untuk masing-masing akun atau kelompok transaksi

Seperti yang telah dijelaskan dalam Bab 3 mengenai “Pemahaman dan Penilaian Risiko”, Pemeriksa melakukan penilaian risiko gabungan atas individual accounts atau kelompok transaksi, dengan contoh sebagai berikut.
Akun Kas Piutang Aset tetap Aset lainnya PNBP Belanja Risiko Bawaan High Medium High Medium High High Risiko Pengendalian High Medium Medium Low High High Risiko Gabungan High Medium High Low High High

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Penentuan risiko gabungan tersebut menggunakan matrik formula sebagai berikut.
Risiko Bawaan High Risiko Pengendalian High Medium Low H H M Medium H M L Low M L L

2) Penentuan persentase coverage pemeriksaan berdasarkan rating risiko

gabungan:

Risiko Gabungan High Medium Low

Coverage Pemeriksaan > 50% - 100% > 30% - 50% 20% - 30%

Dengan demikian coverage pemeriksaan untuk masing-masing individual accounts atau kelompok transaksi berdasarkan hasil penilaian risiko gabungan tersebut adalah:
Akun Kas Piutang Aset tetap Aset lainnya PNBP Belanja Risiko Gabungan High Medium High Low High High Coverage pemeriksaan 100% > 30% - 50% > 50% - 100% 20% - 30% > 50% - 100% > 50% - 100%

3) Penentuan basis nilai yang akan dipakai untuk menentukan coverage

pemeriksaan sebaiknya menggunakan basis nilai berupa saldo individual accounts atau kelompok transaksi pada LKPD-unaudited yang akan di uji petik, dengan contoh sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Akun Kas Piutang Aset tetap Aset lainnya Pendapatan Daerah Belanja Daerah

Saldo di LKPD (unaudited) Rp5.000.000.000 Rp2.500.000.000 Rp600.000.000.000 Rp10.000.000.000 Rp280.000.000.000 Rp300.000.000.000

% Cov. 60% 40% 50% 25% 50% 60%

Coverage* pemeriksaan ** Rp100.000.000 Rp300.000.000.000*** Rp2.500.000.000 Rp140.000.000.000 Rp180.000.000.000

* Jika dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan lapangan terhadap suatu akun tertentu, Pemeriksa menemukan salah saji yang akan mengubah saldo akun tersebut sangat material, maka pemeriksa dapat merubah overage pemeriksaannya ** Untuk pemeriksaan kas, diambil dari nilai transaksi dari tahun anggaran berjalan (mutasi debet dan kredit) bukan dari saldo akhir pada tanggal pelaporan. *** Khusus untuk pemeriksaan aset tetap, penentuan coverage pemeriksaan dapat menggunakan basis nilai mutasi aset tetap tahun berjalan, sepanjang berdasarkan hasil pemeriksaan sebelumnya, entitas telah melakukan inventarisasi ulang dan penilaian kembali atas aset tetap serta telah didokumentasikan, dicatat, dan dilaporkan secara memadai.

Untuk masa mendatang, dengan penerapan e-audit (electronic audit), cakupan pemeriksaan untuk akun kas dan pendapatan daerah (khususnya pendapatan transfer) dapat diambil secara populasi, mengingat adanya kemudahan akses data secara elektronik.
4) Berdasarkan perhitungan cakupan pemeriksaan untuk masing-masing akun

atau kelompok transaksi tersebut, pemeriksa memilih SKPD yang akan diuji petik untuk dapat memenuhi nilai coverage pemeriksaan. Dalam memilih satker-satker yang akan diuji petik/sampling, pemeriksa harus mempertimbangkan beberapa hal:
(1) Karakteristik akun tersebut, sebagai contoh: akun kas, penentuan coverage

pemeriksaan dilakukan secara populasi, hal ini terkait dengan tingkat risiko bawaan dari akun kas yang sangat tinggi. Sedangkan untuk pemeriksaan atau satker yang diuji petik untuk pemeriksaan akun “Belanja Daerah” akan tersebar di semua SKPD, sedangkan untuk pemeriksaan akun “Pendapatan Daerah” akan terpusat di DPPKAD/Dispenda atau satkersatker tertentu yang mengelola pendapatan.
4

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(2) Hasil pengambilan sampling pada pemeriksaan sebelumnya, baik

pemeriksaan pendahuluan, PDTT, dan pemeriksaan kinerja (sepanjang cakupan pemeriksaan sebelumnya meliputi tahun anggaran yang sama dengan tahun pelaporan keuangan). Pemeriksa harus memprioritaskan untuk memilih satker-satker yang belum diuji petik pada pemeriksaan sebelumnya, kecuali terdapat pertimbangan-pertimbangan lain yang cukup signifikan, sehingga mengharuskan pengambilan sampel yang sama dengan pemeriksaan sebelumnya. risiko kesalahan dan/atau kecurangan yang tinggi.

(3) SKPD yang memperoleh alokasi anggaran cukup besar dan/atau memiliki

Contoh : Sesuai hasil perhitungan tersebut di atas, coverage pemeriksaan untuk akun “Belanja Daerah” adalah Rp180milyar. Pemeriksa harus menentukan SKPDSKPD yang akan diuji petik untuk dapat memenuhi nilai coverage pemeriksaan Rp180milyar, yaitu :

Beberapa pertimbangan pemilihan satker adalah sebagai berikut.
1) Menetapkan SKPD atau satker lainnya yang akan dipilih sebagai sampel

dengan pertimbangan nilai, risiko, sampel pemeriksaan sebelumnya. Misal: SKPD A dipilih karena jumlah satker yang tidak terlalu banyak namun nilai transaksi tinggi, SKPD B dipilih karena dianggap memiliki risiko kesalahan (mungkin ada informasi mengenai kejadian korupsi, dll) meskipun nilainya paling kecil, SKPD C dipilih karena nilai tertinggi, dan SKPD D dipilih karena

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

belum pernah diperiksa selama ini. Total nilai cakupan pemeriksaan adalah Rp180milyar. Pemeriksa dapat menambah cakupan pemeriksaan menjadi Rp200milyar, jika hal tersebut dianggap layak dan sumber daya yang ada memadai.
2) Memilih bidang-bidang atau unit-unit dibawah SKPD sehingga nilai coverage

pada SKPD terpenuhi, missal: SKPD A, Rp40milyar, sampel terpilih adalah Bidang A1 dan A2 yang memiliki nilai realisasi belanja masing-masing Rp15milyar dan Rp25milyar. Pertimbangan untuk memilih bidang/unit dapat berdasarkan nilai, risiko, jumlah satker, pertimbangan pemeriksaan sebelumnya atau hal lain yang menurut pemeriksa lebih layak.

5.3

Uji Petik Pemeriksaan

Setelah pemeriksa menetapkan cakupan (coverage) pemeriksaan dan satker yang akan diperiksa untuk masing-masing akun atau kelompok transaksi, maka pemeriksa harus menetapkan tujuan pengujian atau asersi yang akan dilakukan. Pemeriksa harus memilih prosedur pemeriksaan yang tepat untuk tujuan pengujian dan asersi yang diuji. Tidak semua pengujian atas suatu asersi menerapkan uji petik, misalnya permintaan keterangan (inquiry), observasi, prosedur analitis, scanning dan reviu catatan-catatan untuk mengidentifikasi transaksi yang tidak wajar. Pemeriksa harus dapat menentukan, berdasarkan pengalamannya, apakah suatu pengujian menerapkan uji petik atau tidak. Beberapa contoh pengujian yang mengharuskan menggunakan uji petik, yaitu:
1) Dalam pengujian pengendalian atas transaksi belanja, salah satu atribut yang

diuji adalah semua SPM yang telah diotorisasi oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran. Sedangkan deviasinya adalah SPM yang tidak diotorisasi atau diotorisasi oleh pejabat yang tidak berwenang.

2) Pengujian

asersi keberadaan aset tetap kendaraan bermotor, pemeriksa harus melakukan inspeksi langsung dengan cek fisik kendaraan bermotor untuk menghasilkan bukti fisik. kendaraan bermotor, pemeriksa dapat memutuskan untuk menggunakan prosedur pemeriksaan inspeksi atas dokumen surat-suratnya dan siapa yang bertanggung jawab atas penyimpanannya. Pada saat inspeksi tersebut akan diketahui apakah terdapat deviasi (penyimpangan) dari kondisi yang ditetapkan. Contoh: kendaraan bermotor tersebut ternyata tidak mempunyai surat-surat, berarti ada deviasi atas pengendalian atas hak dan kewajiban aset tersebut dari yang seharusnya.

3) Pengujian pengendalian untuk mengetahui hak dan kewajiban aset tetap

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Secara umum tahap-tahap yang harus dilakukan baik dalam pelaksanaan uji petik dengan pendekatan non-statistik maupun statistik adalah sebagai berikut.
1) Penentuan tujuan pengujian

Pemeriksa harus menetapkan tujuan pengujian atau asersi yang akan dilakukan. Asersi akan menentukan pengujian apakah pengujian pengendalian atau pengujian substantif. Pengelompokan ini diperlukan pula untuk menetapkan jenis pendekatan uji petik apa yang akan digunakan (misalnya, jika menggunakan uji petik statistik, apakah atribut atau variabel). Misalnya, untuk asersi keberadaan melalui pengujian substantif atas aset tetap kendaraan bermotor, pemeriksa harus melakukan observasi langsung dengan cek fisik kendaraan bermotor untuk menghasilkan bukti fisik.
2) Pendefinisian populasi dan unit uji petik

Populasi merupakan seluruh data yang ingin digeneralisir oleh pemeriksa. Sedangkan unit uji petik merupakan unsur atau elemen didalam populasi, baik itu dokumen, transaksi, ataupun item-item yang memiliki karakteristik yang akan diukur oleh pemeriksa untuk membuat estimasi mengenai karakteristik seluruh populasi. Berarti berkaitan dengan tujuan menguji keberadaan kendaraan bermotor maka populasinya merupakan seluruh kendaraan bermotor pada akun aset tetap, sedangkan unit uji petiknya bisa berupa kendaraan roda empat dan roda dua.
3) Penentuan ukuran sampel

Dalam tahap ini jumlah ukuran sampel ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Hasil pengujian pengendalian akan mempengaruhi pengujian selanjutnya. Contoh: ketika hasil pengujian pengendalian ternyata kendaraan roda empat tidak memiliki garasi sendiri dan tidak dilengkapi surat kepemilikian, maka pengujian substantif atas kendaraan harus diperbanyak untuk bisa menjawab kecukupan bukti kesimpulan bahwa keberadaan kendaraan roda empat tidak bisa diyakini kebenarannya.
4) Seleksi unit sampel dan pelaksanaan pengujian

Pada tahap ini, pemeriksa harus mempertimbangkan bagaimana sampel akan dipilih sehingga sampel yang dipilih dapat mewakili populasi dan setiap anggota populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Setelah sampel yang mewakili populasi terpilih dilakukan pengujian terhadap unsurunsur yang terpilih sebagai sampel tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Dalam pelaksanaan, pemeriksa harus menentukan teknik pemilihan sampel yang akan dilakukan, misalnya random sampling atau stratified sampling. Keputusan pemeriksa untuk menentukan teknik pengambilan sampel tertentu akan tergantung pada kondisi populasinya. Jika sudah melihat populasi kendaraan bermotor dan bisa dikelompokkan lagi menjadi roda empat jenis sedan atau jenis mobil niaga, maka pemeriksa harus menentukan teknik pemilihan sampelnya, apakah masing-masing kelompok diambil wakilnya (stratified sampling) atau random terhadap seluruh kendaraan bermotor yang berada di kantor pusat saja (teknik pengambilan sampel secara rinci akan dibahas pada bagian berikutnya pada bab ini). Tahap pemilihan sampel dan pelaksanaan pengujian serta tahap evaluasi merupakan bagian dari tahap pelaksanaan pemeriksaan, yakni dalam rangka mengumpulkan bahan bukti untuk menguji suatu asersi.
5) Evaluasi dan dokumentasi

Tahap evaluasi merupakan tahapan penerjemahan hasil, ekstrapolasi/proyek hasil, pertimbangan aspek kualitatif, sampai pengambilan kesimpulan. Ketika memproyeksikan suatu hasil pada populasi untuk menarik kesimpulan, pemeriksa harus mempertimbangkan risiko uji petik, seperti apakah hasil yang diperoleh. Uji petik pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan statistik dan non-statistik (judgement). Selain itu kedua pendekatan tersebut dapat diterapkan untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif, dengan uraian sebagai berikut. 5.3.1 Pendekatan Uji Petik Non-Statistik (Judgement) Dalam menentukan sampel dengan pendekatan non-statistik, pemeriksa harus sudah melakukan atau memiliki:
1) pemahaman yang baik terhadap proses bisnis entitas; 2) reviu internal control telah dilakukan secara memadai; dan 3) prosedur analitis.

Penggunaan metode judgement dapat dilakukan juga untuk pengujian pengendalian maupun pengujian substantif. Proses penentuan uji petik yang dilakukan untuk kedua pengujian tersebut tidak berbeda, tetapi tergantung karakter akun yang akan diuji. Tahapan-tahapan penentuan sampel dengan pendekatan non-statistik adalah sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

1) Penentuan tujuan pengujian

Dalam hal pengujian pengendalian, misalnya pemeriksa menetapkan tujuan pengambilan uji petik untuk menguji atas approval dan authorization yang terdapat pada penerbitan SPM.
2) Pendefinisian populasi dan unit uji petik/sampel

Berkaiatan dengan tujuan uji petik untuk menguji approval dan authorization dalam penerbitan SPM, maka populasinya adalah jumlah seluruh SPM yang diterbitkan dalam periode tersebut. Sedangkan unit uji petiknya dapat berupa beberapa SPM yang diterbitkan pada bulan-bulan tertentu sesuai dengan pertimbangan pemeriksa.
3) Penentuan ukuran sampel

Setelah pemeriksa menentukan unit sampel yang akan diambil maka pemeriksa menentukan jumlah sampel yang mencukupi berdasarkan pertimbangan profesional. Misalnya: Setelah memilih unit sampel belanjabelanja di akhir tahun sebagai target pemilihan dan pengujian sampel, pemeriksa perlu menentukan berapa belanja di akhir tahun yang akan diuji. Untuk menetapkan besarnya jumlah dan nilai unsur yang akan diambil harus mempertimbangkan hasil penentuan coverage pemeriksaan dan satker yang akan diperiksa seperti yang telah diuraikan di atas untuk akun yang telah ditetapkan, yaitu:
Akun Kas Piutang Aset tetap Aset lainnya Pendapatan Daerah Belanja Daerah Saldo di LKPD (unaudited) Rp5.000.000.000 Rp2.500.000.000 Rp600.000.000.00 0 Rp10.000.000.000 Rp280.000.000.00 0 Rp300.000.000.00 0 % Cov. 60% 40% 50% 25% 50% 60% Coverage pemeriksaan Rp3.000.000.000*) Rp1.000.000.000 Rp300.000.000.000*) Rp2.500.000.000 Rp140.000.000.000 Rp180.000.000.000

* Untuk pemeriksaan kas diambil dari nilai transaksi dari tahun anggaran berjalan (mutasi debet dan kredit) bukan dari saldo akhir pada tanggal pelaporan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

** Khusus untuk pemeriksaan aset tetap, penentuan coverage pemeriksaan dapat menggunakan basis nilai mutasi aset tetap tahun berjalan, sepanjang berdasarkan hasil pemeriksaan sebelumnya, entitas telah melakukan inventarisasi ulang dan penilaian kembali atas aset tetap serta telah didokumentasikan, dicatat, dan dilaporkan secara memadai.

Selain pertimbangan tersebut, pemeriksa juga masih memungkinkan mempertimbangkan kelayakan jumlah sampel disesuaikan dengan kondisi senyatanya, dengan memperhitungkan:
(1) Cost dan benefit (2) Waktu pemeriksaan (3) Jumlah SDM yang dimiliki (4) Signifikansi akun yang diuji terhadap laporan keuangan

Misalnya: Populasi adalah 2000 dokumen senilai Rp2milyar dan risiko gabungan tinggi. Setelah menggunakan pertimbangan sebelumnya, didapatkan jumlah sampel sebesar 10% x 2000 = 200 atau senilai Rp500juta. Namun demikian, waktu pemeriksaan sangat sempit dan SDM yang dimiliki hanya sedikit. Oleh karena itu pemeriksa memutuskan untuk mengurangi sampel menjadi 100 sampel. Jika pemeriksa memutuskan untuk memodifikasi jumlah sampel berdasarkan pertimbangan profesional, maka pemeriksa harus menuangkan pertimbanganpertimbangan tersebut dalam kertas kerja pemeriksaan.Pemeriksa dapat

memperbesar cakupan pemeriksaan jika berdasarkan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa nilai akun dikoreksi secara signifikan.

4) Menentukan unit-unit sampel yang akan dijadikan target pengambilan sampel

Dalam menentukan unit-unit sampel yang akan dijadikan target pengambilan dan pengujian, pemeriksa mempertimbangkan hasil pemahaman SPI, analytical review, dan analisa risiko yang telah dilakukan. Contoh–contoh penggunaan judgement dalam menentukan unit sampel yang akan diambil antara lain sebagai berikut:
(1) Jika dari hasil penilaian internal control pemeriksa menemukan adanya

kelemahan signifikan yang spesifik dan berpengaruh terhadap laporan keuangan, maka pemeriksa dapat melakukan pengujian yang terfokus pada kelemahan yang ditemukan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Contoh : (1)) Pemeriksa menemukan adanya kelemahan dalam sistem pemungutan dan penyetoran Pendapatan Daerah, maka pemeriksa melakukan uji substantif pada bukti-bukti yang mengarah pada permasalahan, antara lain: Surat Ketetapan Pajak Daerah/SKPD atau SKRD, bukti-bukti setor atau surat tanda setoran, nota debet atau nota kredit, rekening koran dan lain-lain. (2)) Pemeriksa menemukan adanya kelemahan dalam system pembayaran Belanja Pegawai, maka pemeriksa melakukan uji substantif pada buktibukti yang mengarah pada permasalahan, antara lain: SP2D belanja pegawai ke SKPD, jumlah pegawai sesuai data kepegawaian di BKD, daftar nominatif dan kuitansi penerimaan gaji dari pegawai, dan lainlain. (3)) Belanja sosial (bansos) tanpa prosedur pertanggung- jawaban, maka pemeriksa melakukan uji substantif pada rincian pengeluaran bansos, dasar/bukti-bukti pengeluaran bansos, dokumen penyerahan bansos ke sasaran dan sebagainya.
(2) Jika pengelolaan kas di Bendahara Pengeluaran tidak tertib atau tidak

menyelenggarakan Buku Kas Umum dan buku-buku pembantu lainnya, pemeriksa harus melakukan cash opname dan pengujian atas bukti-bukti pertanggungjawaban uang persediaan dan bukti setor kembali ke Kas Daerah. belanja akhir tahun yang pertanggungjawabannya tidak valid maka sampel yang dipilih adalah dokumen-dokumen belanja yang terjadi akhir tahun. normal antar akun, misal akun belanja modal dengan aset tetap, atau adanya tren yang tidak normal misal realisasi belanja modal menumpuk di akhir tahun, maka sampel yang akan dipilih difokuskan pada berita-berita acara serah terima di akhir tahun karena kemungkinan besar terdapat proyek yang belum selesai akan tetapi berita acara sudah dibuat selesai dan dibayar. Jika terjadi ketidaksejalanan antara perubahan belanja pegawai dengan perubahan jumlah pegawai entitas, pemeriksa disarankan agar melakukan sampling terhadap pengeluaran belanja pegawai tersebut untuk bulan-bulan dimana terjadi kondisi tersebut.

(3) Jika tujuan langkah pemeriksaan sudah jelas, misalnya untuk menemukan

(4) Jika dalam analytical review, pemeriksa melihat adanya hubungan tidak

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(5) Jika terjadi belanja yang signifikan diluar siklus yang normal, disarankan

agar pemeriksa melakukan sampling terhadap belanja tersebut. Contoh: pengeluaran belanja yang signifikan pada Badan Koordinasi Penanganan Bencana umumnya terjadi pada saat terjadi bencana atau satu sampai dengan dua bulan setelah terjadinya bencana. Oleh karena itu, jika terjadi pengeluaran belanja yang signifikan pada periode bulan keempat setelah terjadinya bencana atau sebelum terjadinya bencana, disarankan agar pemeriksa melakukan sampling terhadap pengeluaran belanja tersebut. pemeriksa melakukan sampling terhadap pengeluaran belanja tersebut. Contoh: Pencairan SP2D oleh SKPD di akhir tahun anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencairan SP2D bulan-bulan sebelumnya. Jika hal tersebut terjadi, disarankan agar pemeriksa melakukan uji petik pengeluaran belanja pada SKPD A pada bulan-bulan tersebut.

(6) Jika terjadi pola pengeluaran belanja yang tidak biasa, disarankan agar

Dalam memilih unit sampel berupa akun yang akan disampel dan diuji, pemeriksa mempertimbangkan siklus akun terkait. Misalnya: ketika pemeriksa memutuskan akan mengambil sampel akun belanja modal, maka pemeriksa sekaligus akan mengambil sampel pada akun aktiva tetap terkait belanja modal tersebut.
5) Evaluasi Hasil Uji Petik

Setelah melakukan pengujian dan menemukan ada beberapa kesalahan. Pemeriksa tidak dapat langsung memroyeksikan kesalahan tersebut ke populasi. Pemeriksa harus menggunakan judgement dengan beberapa pertimbangan:
(1) Besarnya nilai temuan dibandingkan TE. Jika melebihi TE, maka akun

tersebut dapat dipertimbangkan mempengaruhi opini.

(2) Frekuensi terjadinya kesalahan. Jika kesalahan yang ditemukan hanya

kasus yang terjadi pada satu waktu tertentu maka kesimpulan akan berbeda dengan kesalahan yang sudah umum terjadi dan frekuensi keterjadiannya pada beberapa waktu tertentu dalam satu tahun. Misalnya, kesalahan yang terjadi 3 kali dalam setahun dan umum terjadi seperti kesalahan mata anggaran belanja barang ke belanja modal akan menyebabkan pemeriksa berkesimpulan kesalahan serupa banyak terjadi dan mempengaruhi kewajaran akun. Sedangkan kesalahan yang tidak umum terjadi dan hanya terjadi dalam satu waktu tertentu mungkin menyebabkan pemeriksa berkesimpulan kesalahan sejenis tidak banyak terjadi dan tidak mempengaruhi kewajaran akun.
12

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(3) Unsur tindak pidana. Jika terdapat unsur tindak pidana dalam satu temuan

maka pemeriksa harus waspada dan berupaya memperluas pengujian untuk mendapatkan keyakinan awal bahwa indikasi tindak pidana eksis atau tidak. Pemeriksa sebaiknya mempertimbangkan bahwa tindak pidana tersebut mempengaruhi kewajaran akun. kesalahan personil. Jika kesalahan disebabkan karena kelemahan sistem aplikasi maka kemungkinan besar kesalahan akan mempengaruhi kewajaran akun.

(4) Penyebab kesalahan apakah disebabkan oleh sistem aplikasi atau

6) Mendokumentasikan perencanaan, pemilihan, pengujian dan evaluasi hasil.

Pemeriksa mendokumentasikan setiap langkah penetapan uji petik dan hasilnya dalam Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). Dokumentasi setidaknya berisi dasar penentuan lokasi/satker yang akan diperiksa, pendekatan sampel yang digunakan dan alasannya, tujuan pengujian, definisi populasi dan unit sampling, ukuran sample, pemilihan sampel, hasil pelaksanaan pengujian, dan evaluasi hasil pengujian. 5.3.2 Pendekatan Uji Petik Statistik

Berbeda dengan pendekatan non-statistik (judgement), dalam melakukan pengujian pengendalian (Control Testing) dan pengujian substantif (substantive testing) metode uji petik yang digunakan berturut-turut adalah Attribute Sampling dan Monetary Unit Sampling/Variable Sampling. Berikut merupakan tabel hubungan metode uji petik dengan jenis pengujian yang digunakannya.
No. 1. 2. 3. Metode Uji Petik Attribute Sampling Variable Sampling Monetary unit Sampling Jenis Pengujian Pengujian Pengendalian Pengujian Substantif Pengujian Substantif

Apakah dalam setiap pemeriksaan pengujian pengendalian harus selalu dilakukan? Jawabannya tidak. Pemeriksa dapat melihat kaitan antara risiko pengendalian awal yang telah ditetapkan dengan pendekatan yang digunakan dalam strategi pemeriksaan sebagai berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

13

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Risiko Pengendalian High (Maximum)

Pendekatan Pemeriksaan Sangat tidak mengandalkan pengendalian. Pemeriksa dapat melakukan pengujian substantif langsung tanpa test of control (substantive approach). Sebagian mengandalkan pengendalian. Pemeriksa dapat melakukan test of control yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian substantif. (Test of control and substantive approach) Sangat mengandalkan pengendalian. Pemeriksa dapat melakukan test of control saja. Jika diperlukan, pengujian substantif sangat terbatas seperti analytical substantive procedure. (Test of control approach)

Medium

Low

Dengan mempertimbangkan risiko pengendalian awal dan kaitannya dengan pendekatan pemeriksaan, maka pemeriksa dapat menentukan apakah melakukan pengujian pengendalian dan atau substantif. Berikut merupakan tahapan-tahapan penentuan sampel dengan pendekatan statistik dalam pengujian pengendalian dan pengujian substantif:
1) Pengujian Pengendalian (Attribute Sampling)

Pengujian pengendalian meliputi langkah-langkah sebagai berikut.
(1) Penetapan tujuan pengujian

Dalam attribute sampling, tujuan pengujian adalah untuk mengetahui apakah sampel-sampel yang mewakili populasi telah sesuai dengan atribut yang sebelumnya telah didefinisikan.
(2) Pendefinisian populasi dan unit uji petik/sampel

Atribut merupakan kualitas/sifat yang berkaitan dengan populasi yang diuji petik, sedangkan deviasi merupakan atribut yang negatif atau defektif, terkadang disebut pula sebagai kekeliruan (error). Misalnya, di dalam pengujian pengendalian dan substantif atas transaksi belanja, salah satu atribut yang diuji adalah bahwa semua SPM telah diotorisasi oleh Pengguna Anggaran, sedangkan deviasinya adalah jika ada SPM yang dicairkan namun tidak diotorisasi atau diotorisasi oleh pejabat yang tidak berwenang. Misalnya, di dalam pengujian pengendalian atas transaksi belanja, ditetapkan populasi adalah seluruh SPM yang telah diterbitkan dan telah dicairkan melalui penerbitan SP2D dari KPPN selama tahun anggaran
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

yang diperiksa. Dalam hal ini diketahui bahwa jumlah SPM yang telah diterbitkan adalah 20.000 lembar sehingga populasinya adalah 20.000 dan unit samplingnya adalah dokumen SPM beserta dokumen pendukungnya.
(3) Penentuan ukuran sampel

Untuk menentukan ukuran sampel, pemeriksa terlebih dahulu menentukan parameter-parameter sebagai berikut. (1))Penetapan tolerable exception rate (TER) Tolerable Exception Rate (TER) atau Upper Error Limit (UEL) merupakan tingkat kekeliruan di dalam sampel yang diuji yang masih dapat diterima untuk tetap menyimpulkan bahwa pengendalian berjalan efektif dan/atau jumlah salah saji di dalam transaksi yang ditemukan masih dapat diterima. Contoh, jika untuk atribut adanya otorisasi dari Pengguna Anggaran pada SPM, pemeriksa menetapkan TER atau UEL 5%, hal ini berarti pemeriksa memutuskan bahwa jika ditemukan 5% dari sampel SPM tidak diotorisasi, maka pengendalian masih efektif sesuai dengan risiko pengendalian yang ditetapkan pada perencanaan pemeriksaan. Penentuan besarnya TER sangat tergantung pada penilaian pemeriksa terhadap keandalan pengendalian intern. Dalam juknis ini terdapat tiga tingkatan TER yang disarankan untuk masing-masing tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
Risiko Pengendalian Awal High (Maximum) Medium Low TER Tidak melakukan pengujian pengendalian 6%-10% 3%-5%

(2)) Penetapan tingkat keandalan atau tingkat keyakinan Tingkat keandalan atau tingkat keyakinan merupakan probabilitas benar dalam mempercayai efektivitas pengendalian intern. Tingkat keandalan atau tingkat keyakinan merupakan kebalikan dari Accepted Risk of Assesing Control Risk Too Low (ARACR). ARACR merupakan tingkat risiko yang masih dapat diterima oleh pemeriksa karena telah menyimpulkan bahwa pengendalian masih berjalan efektif ketika pada
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

kenyataannya pengendalian tidak berjalan efektif. Dalam pengujian pengendalian, umumnya pemeriksa dapat menggunakan tingkat keandalan sebesar 90%, 95% atau 99%. Penentuan besarnya tingkat keandalan yang akan digunakan akan tergantung kepada kepercayaan pemeriksa terhadap pengendalian intern entitas yang diperiksa. (3)) Penetapan expected error rate (EER) Expected Error Rate (EER) merupakan jumlah kesalahan yang diperkirakan akan terjadi dalam populasi. Hal ini biasanya ditetapkan berdasarkan pengalaman pemeriksa sehingga memerlukan pertimbangan professional Misalnya, berdasarkan pengalaman tahun lalu pemeriksa memperkirakan bahwa kesalahan yang ditemukan tidak lebih dari 2%, dengan demikian EER adalah 2%. Namun dalam hal pemeriksa tidak memiliki pengalaman mengenai besarnya kesalahan dalam suatu populasi, maka ia dapat mengambil 50 sampel awal untuk menaksir tingkat kesalahan yang terdapat dalam populasi. Misalnya dari pemeriksaan atas 50 sampel, ditemukan satu penyimpangan, maka taksiran expected error rate-nya adalah sebesar 2% (1:50). Setelah menetapkan parameter-parameter diatas, ukuran sampel dapat ditetapkan dengan menggunakan software pemeriksaan seperti ACL dengan menggunakan perintah Size setelah memasukkan parameter jumlah populasi, tingkat keandalan, EER dan UEL, atau secara manual dengan menggunakan tabel Penentuan Ukuran Sampel sesuai dengan tingkat keandalan seperti yang dapat dilihat pada Lampiran 5.1. Dari penentuan ukuran sampel ini sekaligus akan diperoleh jumlah kesalahan yang masih dapat diterima (NTE) oleh pemeriksa tanpa harus menurunkan atau menaikkan tingkat risiko pengendalian yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada tabel Penentuan Ukuran Sampel, NTE ditunjukkan dengan angka dalam tanda kurung.
(4) Pemilihan Sampel dan Pelaksanaan Pengujian

Setelah mendapatkan jumlah sampel, Pemeriksa dapat melakukan pemilihan sampel dengan menggunakan metode random (probabilistic approach) secara otomatis di ACL, metode sistematik dengan menggunakan penambahan nilai tertentu (mis: incremental 10 angka), stratifikasi atau menggunakan judgment untuk memilih item-item mana saja yang akan dipilih.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

16

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(5) Evaluasi Hasil Uji Petik

Jika dari hasil uji petik ditemukan kesalahan/deviasi lebih kecil atau sama dengan NTE, maka hasil uji petik tersebut mendukung kesimpulan tentang tingkat keandalan (ARACR) serta tingkat UEL. Misalnya, jika dengan tingkat keyakinan 95%, EER 2% serta UEL 5% yang ditetapkan didapatkan nilai NTE sama dengan 6, dan hasil uji petik ditemukan deviasi sebanyak 5, maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian telah berjalan efektif namun terdapat risiko sebesar 5% bahwa pemeriksa salah memberikan kesimpulan. Bila tidak demikian, misalnya ditemukan deviasi lebih dari pada 6, maka pemeriksa perlu memperbaiki tingkat EER ataupun ARACR yang ditetapkan. Baik deviasi yang ditemukan lebih besar maupun lebih kecil daripada NTE, pemeriksa perlu meng-update matriks penilaian risiko terutama jika ada perubahan tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan pada tahap penilaian risiko. Contoh penggunaan metode uji petik atribut (attribute sampling) dapat dilihat pada Boks 1 di bawah ini.
Boks 1 CONTOH PENERAPAN METODE UJI PETIK ATRIBUT (ATTRIBUTE SAMPLING) Sebagai bagian dari pengujian atas pos belanja, pemeriksa melakukan pengujian pengendalian terhadap otorisasi Surat Perintah Membayar (SPM). Penetapan tujuan pengujian: uji petik ini dilakukan untuk menguji apakah proses pengendalian dalam penerbitan SPM sebagai dokumen otorisasi untuk transaksi belanja berjalan efektif. Penetapan atribut dan deviasi: Karena pengujian ditujukan untuk mengetahui pengendalian terhadap otorisasi SPM, maka atributnya yang ditetapkan adalah SPM telah diotorisaasi oleh Pengguna Anggaran, sedangkan deviasinya adalah jika ada SPM yang dicairkan namun tidak diotorisasi atau diotorisasi tapi tidak oleh pejabat yang berwenang. Pendefinisian populasi dan unit sampling: Populasi yang akan diambil sampelnya berupa 20.000 lembar SPM. Penentuan metode pemillihan sampel: simple random sampling. Penetapan TER: Pemeriksa menetapkan tingkat tolerable error (TER) sebesar 5%. Penetapan tingkat keandalan: Pemeriksa menetapkan tingkat keandalan sebesar 95%, atau tingkat ARACR (risiko menilai risiko pengendalian terlalu rendah) sebesar 5%. Penetapan EER: Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya pemeriksa menetapkan expected error rate (EER) sebesar 2%. Penentuan ukuran sampel ditetapkan dengan merujuk pada table ukuran sampel untuk uji petik atribut dengan tingkat keandalan/keyakinan 95% seperti yang tercantum pada Lampiran 5.1. Pada tabel tersebut dengan tingkat keyakinan 95%, pilih EER sebesar 2%
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 17

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

dan TER sebesar 5%, diperoleh jumlah sampel sebesar 181 unsur. Dengan melihat tabel tersebut, selain diperoleh ukuran sampel, juga diperoleh nilai NTE (kesalahan yang masih dapat diterima) yang ditunjukkan dengan angka dalam kurung disamping ukuran sampel, yaitu 4. Pemilihan sampel: Setelah jumlah sampel yang harus dipilih diketahui, maka pemeriksa harus memilih sampel tersebut dari keseluruhan populasi. Dalam hal ini pemeriksa harus memilih 181 unsur diantara 20.000 lembar SPM yang ada. Teknik penyeleksian 181 unsur dari 20.000 dapat dilakukan dengan memilih teknik pemilihan sampel tertentu, misalnya simple random sampling. . Pelaksanaan pengujian: Setelah 181 SPM terpilih sebagai sampel, pemeriksa memeriksa atribut yang ditetapkan sebelumnya, berupa SPM yang ditandatangani oleh Pengguna Anggaran. Pemeriksa harus mencatat berapa kali ia menemukan SPM yang tidak diotorisasi dengan semestinya.

. Evaluasi hasil uji petik: Misalnya, setelah memeriksa 181 SPM, pemeriksa menemukan

terdapat 3 lembar SPM yang tidak diotorisasi dengan semestinya, jumlah kesalahan tersebut kemudian dibandingkan dengan NTE yang diperoleh sebelumnya, yaitu 4. Karena jumlah kesalahan yang diperoleh masih lebih kecil dari nilai NTE, maka pemeriksa dapat menyimpulkan bahwa pengendalian telah berjalan efektif namun terdapat risiko sebesar 5% bahwa pemeriksa salah memberikan kesimpulan.

2) Pengujian Substantif (Monetary Unit Sampling)

Pengujian substantif meliputi langkah-langkah sebagai berikut.
(1) Penetapan tujuan pengujian

Dalam juknis ini, uji petik satuan mata uang ditetapkan untuk digunakan dalam pengujian substantif. Karena itu tujuan yang ditetapkan adalah menguji apakah akun-akun yang terdapat pada laporan keuangan telah disajikan secara wajar.
(2) Mendefinisikan populasi dan unit samplingnya. Misalnya, untuk pengujian

substantif atas transaksi belanja, ditetapkan populasi adalah seluruh SPM yang telah diterbitkan dan telah dicairkan melalui penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dari BUD selama tahun anggaran yang diperiksa. Dalam hal ini diketahui bahwa jumlah SPM yang telah diterbitkan adalah 20.000 lembar sehingga populasinya adalah 20.000 dan unit sampling-nya adalah dokumen SPM beserta dokumen pendukungnya. risk). Risk of incorrect acceptance (β risk) adalah risiko yang masih dapat diterima oleh pemeriksa karena telah menerima bahwa hasil uji petik mendukung kesimpulan bahwa saldo yang tercatat tidak mengandung
18

(3) Menentukan tingkat reliability factor untuk risk of incorrect acceptance (β

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

salah saji material padahal sebenarnya terdapat salah saji material. Untuk memilih nilai β risk auditor harus menggunakan judgment dan mempertimbangkan risiko. Namun, mengingat kondisi akuntabilitas pemerintah yang saat ini masih banyak memiliki kelemahan sistem pengendalian dalam hampir semua kegiatan/transaksi maka β risk yang layak dipilih adalah 1-10%. Namun juga auditor memiliki pertimbangan lain yang layak maka auditor dapat memiliki tingkat risiko β yang lain.
(4) Menentukan

tolerable misstatement, expected misstatement, dan expansion factor. Tolerable misstatement adalah sama dengan tolerable error per akun yang telah dialokasikan pada saat penentuan tolerable error. Expected misstatement adalah perkiraan nilai kesalahan yang mungkin terjadi. Untuk menentukan EM maka auditor harus mempertimbangkan temuan-temuan tahun sebelumnya atau hasil pemeriksaan interim. Jika auditor menghitung EM maka Expansion Factor harus dipilih menggunakan tabel pada lampiran 5.2.

(5) Penentuan ukuran sampel

Rumus menentukan besarnya sampel adalah:

Keterangan: N BV RF : : : Ukuran Sampel Nilai buku (Nilai yang tercatat untuk setiap unsur) Faktor keandalan (Reliability Factor), yaitu suatu faktor untuk menyatakan risiko atas penerimaan yang salah, dengan asumsi tidak ada kekeliruan (nol kekeliruan). RF 0 (untuk kekeliruan yang diharapkan = nol, atau U) disajikan pada Lampiran 5.2. Salah saji yang dapat diterima (Tolerable Misstatement), yaitu salah saji maksimum yang boleh ada dalam populasi tanpa membuat laporan keuangan dianggap memberikan pandangan/ pengarahan yang salah (misleading). Salah saji yang diharapkan (Expected Misstatement), yaitu estimas Pemeriksa pemeriksa atas salah saji moneter dalam populasi. Biasanya hal ini diestimasikan berdasarkan pengalaman masa lalu dan pengetahuan mengenai entitas yang diperiksa : Faktor ekspansi (Expansion Factor), yaitu suatu faktor atas salah saji yang diharapkan, juga menggambarkan penerimaan yang salah. Nilai faktor ekspansi disajikan pada Lampiran 5.2.

TM

:

EM

EF

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

19

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

(6) Pemilihan Sampel dan Pelaksanaan Pengujian

Tahap pemilihan sampel dan pelaksanaan pengujian pada monetary unit sampling meliputi: (1))Pemilihan Sampel Pemilihan sampel dapat dilakukan dengan menggunakan software pemeriksaan seperti ACL dengan memasukkan perintah random setelah memasukkan beberapa parameter seperti yang telah disebutkan di atas, atau secara manual dengan menggunakan tabel nomor acak seperti telah diilustrasikan pada bagian metode pemilihan sampel. (2))Melakukan prosedur pemeriksaan Lakukan prosedur pemeriksaan terhadap sampel yang terpilih sesuai dengan tujuan pemeriksaan yang ingin dicapai.
(7) Evaluasi Hasil Uji Petik

Setelah auditor menyelesaikan pengujian pemeriksaan atas unit fisik yang terkait dengan unit moneter yang dipilih, ia akan mengevaluasi kekeliruan yang ditemukan. Untuk mengevaluasi kekeliruan yang ditemukan langkah yang dilakukan adalah mengevaluasi nilai salah saji moneter maksimum (Max) yang kemudian dibandingkan dengan nilai salah saji yang dapat diterima (TM). Apabila nilai max sama atau lebih kecil dari nilai TM, maka hasil pemeriksaan sampel akan mendukung kesimpulan pemeriksa, bahwa populasi yang terwakili dengan sampel tersebut tidak mengandung salah saji. Cara menghitung nilai max adalah:

Ket: Max BV UMLx N : : : : Salah saji moneter maksimum Nilai buku Batas atas salah saji (upper misstatement limit) Jumlah/ukuran sampel

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

20

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Estimasi nilai salah saji moneter maksimum di dalam populasi dapat disaring kembali dengan menggunakan informasi tambahan yang diperoleh di dalam sampel, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Batasan dasar (Basic bound) Jika tidak ditemukan adanya mengestimasikan Max sebagai. salah saji, pemeriksa akan

Dengan tidak adanya salah saji, nilai tersebut akan merupakan batasan dasar (basic bound). Apapun hasil pengujian sampel, pemeriksa akan selalu mengestimasikan jumlah moneter maksimum dari overstatement setidaknya sebesar batasan dasar (basic bound) untuk tingkat risiko yang telah ditetapkan. 2) Kesalahan (tainting)

Tentukan nilai tainting t untuk setiap unit fisik yang mengandung kesalahan, catat setiap t dalam salah satu dari dua kelompok berikut: understatement atau overstatement. Setelah seluruh tainting ditentukan, urutkan setiap kelompok mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil (t1 = tainting dengan nilai salah saji relatif yang terbesar, t2 = tainting dengan nilai salah saji relatif terbesar kedua, dan seterusnya). Kemudian hitung Max, setelah memperhitungkan tainting. 3) Overstatement saja Peningkatan dalam Pemeriksaan overstatement adalah: dengan ditemukannya satu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

21

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

4) Overstatement dan understatement Ketika ditemukan baik overstatement maupun understatement dalam sampel yang dipilih, apabila ukuran sampel telah cukup memadai, maka nilai bersih overstatement maksimum adalah:

Jika auditor menemukan bahwa dengan menerapkan pendekatan di atas ternyata menghasilkan nilai bersih yang lebih kecil dari batasan dasar (basic bound) atau jumlah kesalahan understatement melebihi jumlah kesalahan overstatement, maka auditor perlu secara teliti menguji kembali pertimbangannya dalam menggunakan pendekatan Monetary Unit Sampling (MUS). Jika diperlukan, auditor perlu mengganti pendekatan MUS yang digunakannya dengan pendekatan yang menggunakan sampel variabel. Jika auditor memutuskan, setelah melakukan pengujian ulang, bahwa penggunaan pendekatan MUS tetap sesuai, maka auditor akan mengestimasi NetMax o/s setidaktidaknya sebesar batasan dasar (basic bound), untuk tingkat risiko yang telah ditetapkan. Dalam melakukan evaluasi, auditor harus menyimpulkan apakah nilai buku yang dilaporkan dapat diterima dengan membandingkan antara max atau NetMax o/s , yang relevan dengan TM.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

22

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Contoh penggunaan metode MUS dapat dilihat pada Boks di bawah ini.
Boks 2 : CONTOH PENERAPAN METODE UJI PETIK SATUAN MATA UANG (MONETARY UNIT SAMPLING) Pemeriksa menggunakan metode uji petik satuan mata uang untuk menilai kewajaran saldo piutang. Akun piutang bernilai Rp50.000.000.000, pemeriksa mentolerir risiko beta sebesar 5%, Besarnya kesalahan maksimum yang dapat ditolerir adalah Rp600.000.000 pemeriksa memperkirakan adanya kesalahan sebesar Rp50.000.000. Diasumsikan bahwa pekerjaan lapangan menunjukkan bahwa terdapat dua overstatement, yaitu Rp5.000.000 dari nilai buku Rp10.000.000 dan Rp16.000.000 dari nilai buku Rp20.000.000. Dari contoh tersebut, maka diketahui: BV TM β EM RF EF = 50.000.000.000 = 600.000.000 = 5% = 50.000.000 = 3 (Lihat lampiran 5.2 RF dengan risiko 5%) = 1,6 (Lihat lampiran 5.2 EF dengan risiko 5%)

UML0 = 3 (Lihat lampiran 5.3 UML dengan risiko 5%) UML1 = 4,8 (Lihat lampiran 5.3 UML dengan risiko 5%) UML2 = 6,3 (Lihat lampiran 5.33 UML dengan risiko 5%) 1. Hitung ukuran sampel n: = 288 unsur 2. Hitung tainting t1 dan t2: t1 = Rp5.000.000/10.000.000 = 0,5 t2 = Rp16.000.000/20.000.000 = 0,8 3. Hitung Max :

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

23

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

= 885.416.667 4. Kesimpulan Dengan hasil di atas, auditor 95 persen yakin bahwa nilai moneter dari overstatement dalam akun piutang tidak melebihi Rp885.416.667. Namun karena nilai ini melebihi TM, yaitu Rp600 juta, maka pemeriksa mungkin menolak BV berdasarkan hasil pengujiannya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

24

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Lampiran 5.1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

25

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Lampiran 5.2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

26

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 5 Uji Petik Pemeriksaan

Lampiran 5.3

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

27

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

BAB 6 KERTAS KERJA PEMERIKSAAN 6.1 Gambaran Umum

Dalam rangka melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja pemeriksaan (KKP). Dokumentasi pemeriksaan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksa. Selain itu dokumentasi pemeriksaan harus mendukung opini, temuan, simpulan dan rekomendasi pemeriksaan.

6.2

Fungsi dan Manfaat Dokumentasi Kertas Kerja Pemeriksaan

Dokumentasi pemeriksaan berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban pemeriksaan yang dilakukan pemeriksa, bahan penilaian kualitas pemeriksaan, serta satu di antara sumber atau referensi pemeriksaan berikutnya. Manfaat dokumentasi pemeriksaan adalah untuk: 1) Dasar penyusunan laporan hasil pemeriksaan atau alat penghubung antara pekerjaan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan. 2) Alat mereviu, mengendalikan dan mengawasi pekerjaan para pelaksana pemeriksaan. 3) Alat pembuktian yang mendukung laporan hasil pemeriksaan. 4) Sarana mengevaluasi seluruh atau sebagian hasil pemeriksaan.

5) Sumber data atau informasi bagi kelanjutan pemeriksaan dan perencanaan
pemeriksaan berikutnya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.3

Lingkup Dokumentasi KKP

Dokumentasi pemeriksaan meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa (perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan), bukti-bukti pemeriksaan yang kompeten, relevan, dan cukup untuk mendukung catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa.

6.4

Syarat dan Unsur-Unsur Dokumentasi Pemeriksaan

Agar KKP sesuai dengan fungsi dan manfaat, KKP harus memenuhi syarat akurat atau tepat, relevan, lengkap, ringkas, kompeten, cukup, jelas, sistematis, rapi, aman, mudah diakses dan bersih. Untuk memenuhi syarat tersebut, dokumentasi pemeriksaan perlu dibuat dengan kode dan simbol tertentu secara konsisten dan sistematik. Kode dan simbol tersebut meliputi indeksasi dokumentasi pemeriksaan, simbol analisis (tickmark), referensi silang (cross reference) antar dokumentasi pemeriksaan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan serta dokumentasi pemeriksaan sebelumnya.

6.5

Tahapan Pendokumentasian Pemeriksaan LKPD

Tahapan pendokumentasian pemeriksaan LKPD meliputi perencanaan indeksasi KKP, penyusunan KKP, pemberian tanda simbol analisis, pemberian referensi silang, pereviuan KKP, pelabelan KKP, penyerahan KKP, pengendalian mutu KKP, dan penyimpanan KKP. 6.5.1 Indeksasi KKP Pemeriksaan LKPD diklasifikasikan dalam tiga kelompok indeksasi yaitu: 1) KKP Indeks A KKP Indeks A meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dalam tahap perencanaan pemeriksaan yang menghasilkan surat tugas, P2, PKP, Pemahaman Entitas, Stuktur Organisasi, Peraturan-peraturan terkait LKPD, Pemahaman Sistem Pengendalian Intern, Pemahaman dan Penilaian Risiko, dan Prosedur Analitikal Awal.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Untuk setiap tahapan diberikan indeksasi A.1, A.2, A3,…,A19. Indeksasi secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 6.1. 2) KKP Indeks B KKP Indeks B meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dalam pelaksanaan pemeriksaan yang menghasilkan simpulan dan temuan pemeriksaan (TP) serta pengakhiran pemeriksaan. Untuk setiap tahapan diberikan indeksasi B.1, B.2, B3,….,B11. Indeksasi secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 6.1. Pengujian akun-akun Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran yang dibuat KKPnya adalah akun dengan indeks tiga digit. Setiap akun tersebut disusun satu kesatuan dengan urutan sebagai berikut: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Lembar Sampul (cover sheet) disingkat CS, format dapat dilihat pada Lampiran 6.2; Hasil Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan disingkat HP3, format dapat dilihat pada Lampiran 6.3; Lembar Utama (lead schedule) disingkat LS, format dapat dilihat pada Lampiran 6.4; Lembar Pendukung (supporting schedule) disingkat SS, format dapat dilihat pada Lampiran 6.5; Lembar Pelaksanaan Pengujian Substantif (substantive test) disingkat ST; Lembar Pelaksanaan Pengujian Pengendalian (control test) disingkat CT ; Lembar Pelaksanaan Pengujian Penyajian dan Pengungkapan disingkat PD; Dokumen/bukti relevan yang diperoleh dari auditee disingkat BA; Berita Acara Pengujian Cek Fisik/Opname disingkat BF;

(10) Hasil konfirmasi dari pihak ketiga disingkat BK;dan (11) Hasil wawancara secara tertulis disingkat BW.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Sebagai contoh KKP pengujian akun Kas di Kas Daerah dengan kode indeks B.1.1.1 mempunyai dua lembar pendukung dan enam prosedur pengujian substantif, penomoran KKP-nya adalah sebagai berikut:
Tabel 6.1 Kode Indeksasi akun Kas di Kas Daerah No 1 Keterangan Lembar Sampul Kode KKP B.1.1.1.CS.01 No 7 Keterangan Kode KKP

Lembar B.1.1.1.PD.01 Pelaksanaan Pengujian Penyajian dan Pengungkapan Dokumen/bukti B.1.1.1.BA.01 yang diperoleh dari B.1.1.1.BA.02 auditee ….dst. Berita Acara Cash B.1.1.1.BF.01 Opname Hasil konfirmasi B.1.1.1.BK.01 dari pihak ketiga Hasil wawancara B.1.1.1.BW.01 secara tertulis

2

Hasil Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan Lembar Utama Lembar Pendukung Lembar Pelaksanaan Pengujian Substantif Lembar Pelaksanaan Pengujian Pengendalian

B.1.1.1.HP.01

8

3 4 5

B.1.1.1.LS.01 B.1.1.1.SS.01 B.1.1.1.SS.02 B.1.1.1.ST.01 B.1.1.1.ST.02 ….dst B.1.1.1.ST.06 B.1.1.1.CT.01

9 10 11

6

Setiap bukti/dokumen yang diperoleh dari entitas, analisis yang dibuat oleh pemeriksa dan diperoleh dari pihak ketiga harus diberikan nomor indeksasi. Untuk setiap koreksi atas akun harus didokumentasikan pada lembar induk, jurnaljurnal tersebut akan dikumpulkan dalam KKP Daftar Jurnal Koreksi yang terlebih dahulu disetujui oleh Pengendali Teknis sebelum diajukan kepada auditee. Jurnal koreksi yang diajukan oleh pemeriksa diberi kode PAJE#XX (XX= nomor dua digit)
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

dan jurnal reklasifikasi diberi kode PRJE#XX. Contoh dapat dilihat pada KKP dalam bentuk CD yang merupakan satu kesatuan dengan panduan ini. Sedangkan jurnal koreksi yang diajukan oleh entitas diberi kode CAJE#XX. Namun demikian pengajuan jurnal oleh auditee belum ada dasar hukum yang mengatur apakah diperbolehkan audite mengajukan jurnal koreksi setelah dilakukannya penyerahan LKPD oleh kepala daerah untuk diperiksa. 3) KKP Indeks C KKP Indeks C meliputi catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dalam tahap pelaporan pemeriksaan. Untuk setiap tahapan diberikan indeksasi C.1, C.2, C3, dan C.4 Indeksasi secara keseluruhan dapat dilihat pada Lampiran 6.1. 6.5.2 Penyusunan KKP KKP disusun memuat informasi mengenai identitas BPK (simbol dan nama), pernyataan “Kertas Kerja Pemeriksaan”, entitas dan tahun yang diperiksa, nomor kode indeks KKP, nama/initial, tanggal dan paraf, simbol analisis (tickmark) dan pemberian referensi Silang (cross reference). 6.5.3 Pemberian Tanda Simbol Analisis (Tickmarks) Tickmarks adalah tanda berupa simbol/huruf/angka yang digunakan untuk menandakan bahwa suatu prosedur pemeriksaan telah dilakukan oleh pemeriksa, atau menandakan pemberian penjelasan lebih lanjut atas suatu informasi. Tickmarks digunakan untuk menyederhanakan pendokumentasian pekerjaan yang telah dilakukan dan kondisi yang ditemukan selama pelaksanaan pemeriksaan. Tanda tickmarks ini diletakan di dekat/di sebelah data yang dijelaskannya. Penulisan tanda tickmark sebaiknya menggunakan warna yang berbeda dengan warna tulisan yang merupakan isi dari dokumen pemeriksaan tersebut. Setiap penggunaan tanda tickmark ini harus disertai dengan label keterangan (legenda) yang menjelaskan maksud dari penggunaan tanda tersebut pada kertas kerja. Legenda tersebut sebaiknya singkat dan cukup dapat menjelaskan hasil dari prosedur pemeriksaan yang dilakukan. Tickmark tidak boleh diberikan apabila prosedur tersebut tidak atau tidak dapat dilakukan oleh pemeriksa. Contoh tickmarksdapat dilihat pada tabel 6.2 berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Tabel 6.2 Daftar Tickmarks No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 ∧ < PY L / D Vo J C CB RD RPO NR PBC Document Vouching Journal Chaque Confirm Balance Report Different Return Post Office No Respon Prepared By Client Prior Year Ledger Tickmark Keterangan Footing Penambahan dan Pengurangan) Cross Footing (Penambahan dan Pengurangan) Sudah sesuai dengan saldo tahun lalu Telah dicocokkan dengan buku besar Telah dicocokkan dengan buku pembantu Telah diperiksa dokumen (perjanjian, polis, kontrak) Vouching Telah dicocokkan dengan Jurnal Pemeriksaan cek batal Jawaban Konfirmasi yang cocok Jawaban Konfirmasi yang tidak cocok Jababan konfirmasi dikembalikan oleh Kantor Pos Bila tidak ada jawaban untuk tujuan lain Untuk menadakan bahwa schedule dibuat oleh auditee Penempatan Ditempatkan di bawah angka total Ditempatkan di samping kanan angka total Ditempatkan di bawah angka total Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disamping kanan angka Diletakkan disudut kiri atas dan ditulis tanggal terimanya
6

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.5.4 Pemberian Referensi Silang (Cross Reference) Catatan dan/atau hasil pekerjaan pemeriksa dapat saling berkaitan antara satu KKP dengan KKP yang lain. Anggota Tim pemeriksa memberikan referensi silang pada KKP yang disusunnya. Referensi silang tersebut menghubungkan KKP dalam satu indeks dengen KKP indeks lain yang relevan antara lain sebagai berikut: 1) 2) 3) 4)
5)

KKP Indeks A dengan KKP Indeks B, sesama KKP Indeks B, serta KKP Indeks B dengan KKP Indeks C. Lembar Sampul dengan Lembar Utama/Lembar Pendukung. Lembar Utama dengan Lembar Pendukungnya. Lembar Utama dengan Lembar Pendukung dari Lembar Utama yang lain Lembar Pengujian dengan dokumen yang dicopy dari auditee/konfirmasi dari pihak ketiga.
Gambar 6.1 Contoh Hubungan antar KKP & Referensi Silang

INDEKS A
Indek: A.2 PROGRAM PEMERIKSAAN Prosedur KKP Ref Catatan 1. periksa.. A.3.1

INDEKS B
Indek: B.1 LEMBAR SAMPUL Akun yang diperiksa: KAS Hasil Pemeriksaan: Terjadi selisih karena penggunaan kas untuk dipinjam oleh karyawan sebesar Rp 400 Usulan jurnal koreksi: D Piutang Pegawai K Kas di Bendahara Kesimpulan: Akun disajikan secara wajar.

INDEKS C
Indek: C.1 Draft Laporan Hasil Pemeriksaan Kondisi Krteria Sebab Akibat Lihat B.1

Akun a. Kas.. b. Piutang dst

lihat B.1.1

Indek: A.3.1 PROGRAM KERJA PERORANGAN Nama Pemeriksa: XXXXXXXX Akun Prosedur KKP Ref Catatan a. Kas.. 1. periksa fisik B.1 2.tarik mundur b. Piutang kas dst

Nama Akun KAS

Indek: B.1.1 KERTAS KERJA UTAMA AKUN KAS Kode Akun KKP Ref Saldo AJE (D) AJE (K) Audited 121.001 B.1.1.1 15.000 0 400 14.600

Indeks: C.2 Risalah Diskusi Temuan 1 & 2 digabung Perbaikan substansi kondisi

ke C.3

Indek: B.1.1.1 KERTAS KERJA PENDUKUNG AKUN KAS Kode Akun KKP Ref Saldo AJE (D) AJE (K) Audited 121.001 B.1.1.1.1 650 0 400 250 122.001 B.1.2 4.500 0 0 4.500 dst... dst... dst... dst... dst... dst.. 15.000 14.600 Ke B.1.1

Nama Akun Kas di PK Kas di BPD dst... Total

Indek: C.3 Draft Final Laporan Hasil Pemeriksaan Gabungan TP 1 dan 2 Lihat C.2

Indeks: B.1.1.1.a Berita Acara Pemeriksaan Kas Terdapat selisih fisik kas sebesar Rp 400 ke B.1.1.1

Indeks: B.1.1.1.1 Hasil Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan Prosedur: PKP a.1. Pemeriksaan fisik kas di bendahara B.1.1.1.a Tujuan: Menguji asersi keberadaan dan kelengkapan saldo kas di bendahara Hasil Pemeriksaan: selisih kas Rp 400 Kesimpulan: .......................

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Langkah-langkah yang dimuat dalam P2 dihubungkan dengan PKP masingmasing anggota tim yang ada di indeks A. Prosedur pemeriksaan yang dituangkan dalam PKP dihubungkan dengan KKP lembar muka atau HP3 yang ada di indeks B. Referensi silang ini untuk mempermudah kontrol atas pelaksanaan P2/PKP. KKP lembar muka untuk pemeriksaan keuangan dihubungkan dengan KKP Utama. KKP utama dihubungkan dengan KKP Pendukung, KKP Pendukung dihubungkan dengan HP3, dan HP3 dihubungkan dengan bukti-bukti pendukungnya. Konsep final Temuan Pemeriksaan (TP) dihubungkan dengan masing-masing lembar muka yang relevan. Kriteria dalam TP pun dapat dihubungkan dengan permanent file atau KKP tentang kriteria yang digunakan dalam pemeriksaan. KKP Indeks B yang memuat temuan pemeriksaan diberikan referensi silang dengan KKP Indeks C tentang konsep final LHP yang memuat temuan pemeriksaan tersebut. Demikian pula, pada KKP Indeks C diberikan referensi silang KKP Indeks B tersebut. 6.5.5 Pereviuan KKP Pereviuan KKP dilakukan oleh Ketua Tim, Pengendali Teknis, dan/atau Penanggung Jawab Pemeriksaan sesuai dengan kewenangannya. Hasil reviu dituangkan dalam lembar reviu (review sheet) dan/atau lembar muka KKP dengan membuat catatan dan simpulan reviu. Apabila digunakan lembar reviu tersendiri, lembar reviu tersebut digabungkan dalam lembar KKP yang direviu. Contoh lembar reviu dapat dilihat pada Lampiran 6.6. Pereviu KKP memberikan identitas nama/initial, paraf, dan tanggal penyampaian hasil reviunya untuk ditindaklanjuti oleh Anggota Tim apabila diperlukan atau tanggal penyampaian ke jenjang lebih tinggi untuk pereviuan dan/atau persetujuan. 6.5.6 Pelabelan KKP KKP yang telah selesai direviu oleh Pengendali Teknis, dimasukan ke dalam kardus sesuai dengan urutan/ hasil pekerjaan pemeriksa (perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan) dan setiap kardus diberikan label kardus seperti gambar 6.2 berikut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

Gambar 6.2 Label Kardus

Setiap kardus dan odner juga dibuatkan daftar isi (Lampiran 6.7) untuk mempermudah pencarian dokumen. Daftar isi kardus berisi rangkuman dokumen apa saja yang tersimpan dalam kardus tersebut seperti gambar 6.3.
Gambar 6.3 Daftar Isi Kardus

Jika dalam satu odner terdiri dari beberapa dokumen KKP, maka untuk mempermudah pencarian KKP, diberikan penanda batas untuk setiap KKP sepeti gambar 6.4.
Gambar 6.4 Penanda Batas KKP

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.5.7 Penyerahan KKP Ketua Tim pemeriksaan menyerahkan seluruh KKP dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan kepada Kepala Sub Auditorat dengan tembusan kepada pemberi tugas paling lama 15 hari kerja setelah tanggal surat keluar LHP. Penyerahan KKP dilakukan sesuai dengan Berita Acara Serah Terima KKP seperti pada Lampiran 6.8. 6.5.8 Pengendalian Mutu KKP KKP yang telah diserahkan kemudian direviu untuk memperoleh keyakinan mutu, dan diberikan tanda TPRM pejabat. Pengendalian mutu dibahas lebih lanjut pada BAB X tentang Pengendalian dan Penjaminan Mutu atas pemeriksaan. 6.5.9 Penyimpanan KKP KKP yang telah diberi tanda TPRM kemudian disimpan dalam tempat penyimpanan satuan kerja pelaksana BPK yang bersangkutan secara rapi, sistematis dan aman selama dua tahun dari tahun pemeriksaan. Dokumetasi pemeriksaan disusun harus memenuhi syarat akurat atau tepat, relevan, lengkap, ringkas, kompeten, cukup, jelas, sistematis, rapi, aman, mudah diakses dan bersih untuk mendukung opini, temuan, simpulan dan rekomendasi pemeriksaan. Dokumen pemeriksaan secara utuh mulai dari perencanaan, pelaksanan dan pelaporan pemeriksaan dapat dilihat pada CD yang merupakan satu kesatuan dengan penduan ini. Dalam CD ini tetap menyajikan seluruh KKP pengujian akun-akun Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran. Namun, tim pemeriksa hanya membuat KKP atas akun dan prosedur pemeriksaan yang dilakukan pengujian. 6.5.10 Hubungan Panduan tentang KKP dengan Sistem Aplikasi LKPD (SiAp LKPD) Pada saat ini, BPK sedang mengembangkan sebuah sistem aplikasi berbasis teknologi informasi (IT) guna membantu mengefisienkan dan mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaan atas LKPD, yang dinamakan dengan SiAP LKPD. SiAP LKPD ini nantinya akan membantu memfasilitasi dan mendokumentasikan seluruh proses pemeriksaan LKPD, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pekerjaan lapangan, dan pelaporan. Diharapkan KKP elektronis yang difasilitasi dengan SiAP LKPD tersebut dapat dilakukan sinkroninasi dengan substansi materi tentang KKP sebagaimana diatur dalam Panduan Pemeriksaan LKPD ini.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 6 Kertas Kerja Pemeriksaan

6.6

Penutup

Kertas kerja pemeriksaan berguna sebagai dasar penyusunan laporan hasil pemeriksaan, sarana mengevaluasi seluruh atau sebagian hasil pemeriksaan, dan sumber informasi bagi kelanjutan pemeriksaan dan perencanaan pemeriksaan berikutnya. Untuk itu, pendokumentasikan keseluruhan proses pemeriksaan dalam bentuk KKP yang memadai, merupakan sebuah keharusan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD
Matriks KKP Indeks A INDEKS A Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Surat Tugas Program Pemeriksaan Program Kerja Perseorangan Indeks Kertas Kerja Pemeriksaan Struktur Organisasi Entitas Peraturan-Peraturan & Perjanjian Peraturan Negara [UU, PP, Perpu, Kepres, Inpres, Permen, dll] Peraturan Daerah [Perda, SK Gubernur, dll ] Kontrak/Perjanjian Jangka Panjang/MOU Hasil Pemeriksaan BPK & APIP Sebelumnya Pemantauan Tindak Lanjut LHP Sebelumnya Rencana Aksi Peningkatan Opini dan Pemantauannya Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan Pemahaman atas Entitas Pemahaman atas Sistem Pengendalian Intern Pemahaman dan Penilaian Risiko Pengujian Teknologi Informasi Penentuan Tingkat Materialitas Awal dan Kesalahan Tertolerir [PM dan TE] Penentuan Metode Uji Petik Pemeriksaan Laporan Keuangan Unaudited Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal Surat Pemberitahuan Pemeriksaan dan Permintaan Data Awal A.16 A.17 A.18 A.19 Lihat BAB V Dalam CD Lihat BAB II Dalam CD Indeks A.1 A.2 A.3 A.4 A.5 A.6 A.6.1 A.6.2 A.6.3 A.7 A.8 A.9 A.10 A.11 A.12 A.13 A.14 A.15 Lihat BAB IV Lihat BAB III Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Contoh Dalam CD Lihat BAB..... Dalam CD Dalam CD Lampiran 6.1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD
Matriks KKP Indeks B INDEKS B Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Pengujian Akun-Akun Neraca Aset Lancar Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Kas di BLUD Investasi Jangka Pendek Piutang Bagian Lancar Pinjaman Jangka Panjang Bagian Lancar TP TGR Persediaan Belanja Dibayar Dimuka Investasi Jangka Panjang Investasi Non Permanen Investasi Permanen (Penyertaan Modal Pemerintah Daerah) Aset Tetap Aset Tetap Dana Cadangan Dana Cadangan Aset Lainnya Aset Lainnya Kewajiban Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Pengujian Akun-Akun Laporan Realisasi Anggara (LRA) Pendapatan Pendapatan PAD Pendapatan Transfer Pusat Indeks B.1 B.1.1 B.1.1.1 B.1.1.2 B.1.1.3 B.1.1.4 B.1.1.5 B.1.1.6 B.1.1.7 B.1.1.8 B.1.1.9 B.1.2 B.1.2.1 B.1.2.2 B.1.3 B.1.3.1 B.1.4 B.1.4.1 B.1.5 B.1.5.1 B.1.6 B.1.6.1 B.1.6.2 B.2 B.2.1 B.2.1.1 B.2.1.2 Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Contoh

B.1.1.10 Dalam CD

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD
INDEKS B Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Pendapatan Transfer Pusat Lainnya Pendapatan Transfer Provinsi *) Pendapatan Transfer Provinsi Lainnya *) Lain-lain Pendapatan yang Sah Belanja Belanja secara Umum Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Bunga Belanja Subsidi Bantuan Hibah Belanja Bansos Belanja Modal Belanja Tidak Terduga Transfer Transfer /Bagi Hasil Pendapatan Transfer Lainnya /Bantuan Keuangan Pembiayaan Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Ikhtisar Jurnal Koreksi Persetujuan Pengendali Teknis Ikhtisar Jurnal Koreksi Persetujuan Entitas Worksheet Notulen Pertemuan Awal Berita Acara Penolakan Pemeriksaan/Pembatasan Audit Penyelesaian Penugasan & Cakupan Pemeriksaan Penyelesaian Penugasaan Cakupan Pemeriksaan Reviuw Sheet KKP Konsep Temuan Pemeriksaan Indeks B.2.1.3 B.2.1.4 B.2.1.5 B.2.1.6 B.2.2 B.2.2.0 B.2.2.1 B.2.2.2 B.2.2.3 B.2.2.4 B.2.2.5 B.2.2.6 B.2.2.7 B.2.2.8 B.2.3 B.2.3.1 B.2.3.2 B.2.4 B.2.4.1 B.2.4.2 B.3 B.4 B.5 B.6 B.7 B.8 B.8.1 B.8.2 B.9 B.10 Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Lampiran 6.1 Contoh Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD
INDEKS B Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Surat Pengantar Penyampaian Konsep TP Konsep Temuan Pemeriksaan Risalah Diskusi TP/Notulen Pertemuan Akhir Daftar Konsep TP Batal Surat Pengantar Penyampaian LTP Laporan Temuan Pemeriksaan [TP Final dan Komentar Instansi] Laporan Pelaksanaan Kerja Pemeriksa *) Hanya ada di Kabupaten/Kota Indeks B.10.1 B.10.2 B.10.3 B.10.4 B.10.5 B.10.6 B.11 Dalam CD Contoh Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD
Matriks KKP Indeks C INDEKS C Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Risalah Diskusi Penyusunan Konsep LHP Nota Penyampaian & Konsep LHP Analisa/reviu Konsep LHP oleh Pengendali Teknis Analisa/reviu Konsep LHP oleh Tim Reviuw Analisa/reviu Konsep LHP oleh Penanggung Jawab Laporan Kendali Pelaksanaan Laporan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Hasil Analisis Surat Pengantar Penyampaian Konsep LHP kepada Entitas Tanggapan atas Konsep LHP oleh Pimpinan Entitas dan Rencana Aksi Risalah Pembahasan Konsep LHP dengan Pemberi Tugas Nota Penyampaikan Kembali Konsep LHP Final Laporan Hasil Pemeriksaan Surat Keluar LHP Surat Representasi Manajemen Laporan Hasil Pemeriksaan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan [Bahan Hapsem] Matriks Hasil Pemeriksaan Berita Acara Serah Terima KKP Indeks C.1 C.1.1 C.1.2 C.1.3 C.1.3 C.1.3 C.1.4 C.1.5 C.1.6 C.1.7 C.1.8 C.1.9 C.2 C.2.1 C.2.2 C.2.3 C.3 C.3.1 C.4 Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Dalam CD Contoh Lampiran 6.1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 6.2 Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan…..(1) Tahun…..(2)
BPK RI

No. Indeks Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

: : : :

(3) (4) (5) (6)

LEMBAR SAMPUL Nama Akun Kode Akun Deskripsi Akun Saldo Akun : : : : (7) (8) (9) a. saldo sebelum pemeriksaan : ....... (10) b. penyesuaian : ....... c. saldo setelah penyesuaian : ....... (Lembar sampul merupakan kertas kerja yang berisi ringkasan hasil pemeriksaan atas akun yang diperiksa. Lembar sampul ini dibuat setelah seluruh prosedur pemeriksaan telah dilakukan dan angka dalam laporan keuangan sudah dinyatakan final. Lembar sampul ini diletakkan di bagian terdepan dari setiap akun yang diperiksa, dilampiri dengan Kerta Kerja Utama, Kertas Kerja Pendukung dan Hasil Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan ) 1. Hasil Pemeriksaan (11) ………………………………………………………………………………………….... …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………(Ref:…..) 2. Simpulan (12) ………………………………………………………………………………………….... …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………… Keterangan: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) : : : : : : Diisi dengan laporan keuangan yang diperiksa. Diisi dengan tahun yang diperiksa. Diisi dengan nomor indeks. Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP tersebut. : Diisi dengan nama akun dalam laporan keuangan yang diperiksa dan bukan kelompok akun, contoh: kas di bendaharawan, piutang pajak, dan pendapatan pajak daerah.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD (8) (9) (10) (11) (12) : Diisi dengan kode akun. : Diisi dengan keterangan singkat mengenai akun dan saldo normal akun. : Diisi dengan saldo atas akun sebelum diperiksa (unaudited), nilai koreksi atas saldo (koreksi pemeriksaan) dan saldo akhir setelah diperiksa (audited) : Diisi dengan hasil pemeriksaan dan dilengkapi dengan referensi indeks KKP. Pada kolom ini juga dapat diisi dengan temuan pemeriksaan yang berkaitan dengan SPI maupun kepatuhan, yang diperoleh pada saat pemeriksaan. : Diisi dengan simpulan atas hasil pemeriksaan. Simpulan ini berisi tentang penilaian pemeriksa atas kewajaran penyajian saldo akun dalam laporan keuangan.
Lampiran 6.2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 6.3 Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan…..(1) Tahun…..(2)
BPK RI

No. Indeks Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

: : : :

(3) (4) (5) (6)

HASIL PELAKSANAAN PROSEDUR PEMERIKSAAN Prosedur Pemeriksaan : (7)

(KKP tentang Hasil Pelaksanaan Prosedur Pelaksanaan Pemeriksaan ini berisi analisis dan kesimpulan dari suatu prosedur pemeriksaan yang telah dilakukan oleh pemeriksa). 1. Tujuan Pemeriksaan (8) ………………………………………………………………………………………….... …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………(Ref:…..) 2. Hasil Pemeriksaan (9) ………………………………………………………………………………………….... …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………(Ref:…..) 3. Simpulan (10) ………………………………………………………………………………………….... …………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………… Keterangan: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) : : : : : : : Diisi dengan laporan keuangan yang diperiksa. Diisi dengan tahun yang diperiksa. Diisi dengan nomor indeks. Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP tersebut. Diisi dengan kode referensi silang dengan P2/PKP, sesuai dengan kode numbering prosedur tersebut dalam P2/PKP yang dilakukan dan dianalisis pada lembar ini. Contoh: Apabila dalam PKP, prosedur/langkah-langkah pemeriksaan ini sudah disebut, dengan kodering 2.1 sampai dengan 2.4, maka pada kolom prosedur ini dapat ditulis referensi silang ke PKP tersebut dengan menulis ”lihat PKP 2.1 s/d 2.4”.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD (8) (9) (10) : : : Diisi dengan kode referensi silang dengan P2/PKP, sesuai dengan kode numbering tujuan tersebut dalam P2/PKP tentang prosedur pemeriksaan yang dilakukan dan dianalisis pada lembar ini. Diisi dengan hasil pemeriksaan dan dilengkapi dengan referensi indeks KKP ke dokumen pendukungnya. Diisi dengan simpulan atas hasil pemeriksaan. Simpulan pemeriksaan ini merupakan jawaban dari tujuan dari prosedur yang dilakukan.
Lampiran 6.3

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

9

Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 6.4 Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan…..(1) Tahun…..(2)
BPK RI

No. Indeks Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

: : : :

(3) (4) (5) (6)

Keterangan: Digunakan untuk Pemeriksaan Keuangan KERTAS KERJA UTAMA
Nama Akun (7) Kode Akun (8) KKP Ref (9) Saldo Akun Tahun X (10) Koreksi Pemeriksa Jurnal Penyesuaian Debet Kredit (11) (12) Jurnal Reklasifikasi Debet Kredit (13) (14) Saldo setelah diperiksa (15) Saldo Akun Tahun X-1 (16)

Keterangan: (1) (2) (3) (4)-(6) (7) (8) (9) (10) (11), (12) (13), (14) (15) (16) : : : : : : : : : : : : Diisi dengan nama entitas yang diperiksa. Diisi dengan tahun laporan keuangan yang diperiksa. Diisi dengan nomor indeks. Diisi dengan nama dan paraf pemeriksa yang membuat, yang mereviu dan yang menyetujui KKP disertai dengan tanggal pelaksanaan kegiatan tersebut. Diisi dengan nama akun dalam laporan keuangan yang diperiksa dan bukan kelompok akun, contoh: kas di bendaharawan, piutang pajak, dan pendapatan pajak daerah. Diisi dengan kode akun. Diisi dengan referensi indeks KKP. Diisi dengan saldo akun tahun berjalan yang belum diperiksa (unaudited current year balance). Diisi dengan jurnal koreksi penyesuaian hasil pemeriksaan (adjustment journal entries). Diisi dengan jurnal koreksi reklasifikasi hasil pemeriksaan (reclassification journal entries). Diisi dengan saldo akhir setelah diperiksa (audited balance). Diisi dengan saldo akun yang telah diperiksa tahun sebelumnya (prior year audited balance).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

10

Panduan Pemeriksaan LKPD Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan…..(1) Tahun…..(2)
BPK RI Keterangan: Digunakan untuk Pemeriksaan Keuangan

No. Indeks Dibuat oleh Direviu oleh Disetujui oleh

: : : :

Lampiran 6.5

(3) (4) (5) (6)

KERTAS KERJA PENDUKUNG Nama Akun Kelompok Akun Saldo Akun
Uraian (10) Kantor Pusat Total Kantor Pusat Kantor Perwakilan (11) …………………... …………………... …………………... …………………... …………………... …………………... Total Kantor Perwakilan (10) Total Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan Saldo per buku Selisih (dalam rupiah) Selisih (dalam Persen) Penjelasan selisih : (20) Kesimpulan : (21) …………………... …………………... (11) …………………... …………………... …………………... (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)

: : :

(7) (8) (9)
Kode Akun (12) Saldo Tahun Berjalan (13) Koreksi Pemeriksa Jurnal Penyesuaian Debet (14) Kredit (15) Jurnal Reklasifikasi Debet (16) Kredit (17) Saldo setelah diperiksa (18) KKP Ref (19)

Keterangan: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

: : : : : : : : :

Diisi dengan laporan keuangan yang diperiksa. Diisi dengan tahun yang diperiksa. Diisi dengan nomor indeks. Diisi dengan nama dan paraf pembuat KKP serta tanggal pembuatan KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang mereviu KKP serta tanggal reviu KKP tersebut. Diisi dengan nama dan paraf yang menyetujui KKP serta tanggal persetujuan KKP tersebut. Diisi dengan nama akun dalam laporan keuangan yang diperiksa dan bukan kelompok akun, contoh: kas di bendaharawan, piutang pajak, dan pendapatan pajak daerah. Diisi dengan kelompok akun, misalnya kelompok akun Kas, Aset Tetap, dan sebagainya. Diisi dengan saldo akun tahun yang diperiksa . 11

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 6.5
(10) (11) (12) (13) (14)-(15) (16)-(17) (18) (19) (20) (21) : : : : : : : : : : Cukup jelas Diisi dengan rincian dari akun (sub akun) Diisi dengan kode tiap rincian dari sub akun Diisi dengan saldo tahun berjalan yang belum diperiksa Diisi dengan nilai jurnal penyesuaian pemeriksaan Diisi dengan nilai jurnal reklasifikasi pemeriksaan Diisi dengan saldo akhir setelah koreksi pemeriksaan Diisi dengan referensi indeks KKP atas kertas kerja pendukung yang lebih rinci Diisi dengan penjelasan pemeriksa atas selisih yang ditemukan berdasarkan hasil analisanya (bila ada) Diisi dengan kesimpulan pemeriksa tentang akun ini, berdasarkan hasil pemeriksaannya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

12

Panduan Pemeriksaan LKPD
Lampiran 6.6

Pemeriksaan Atas .....….. Tahun…..
BPK RI

LEMBAR REVIU KKP (Review Sheet)
Prosedur Pemeriksaan No. 1. Catatan Pereviu Ketua Tim: a. ……….. b. ……….. Pengendali teknis a. ………. b. ………. Penanggung jawab a. ………. b. ………. : Paraf & tanggal ...................................................................... Tindak Lanjut Uraian & tanggal Ref. Paraf & tanggal Persetujuan Pereviu

2.

3.

Keterangan: Pereviu dapat menggunakan P2 atau Program Kerja Perorangan, untuk memonitor apakah prosedur yang ditentukan telah dipenuhi oleh pemeriksa

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

13

Panduan Pemeriksaan LKPD Lampiran 6.7 Pemeriksaan Atas .....….. Tahun…..
BPK RI

DAFTAR ISI KKP KKP Indeks A Dokumen-dokumen yang dikelompokkan dalam KKP Indeks A: Index A.1 A.2 A.3.1 A.3.2 Judul Kertas Kerja Pemeriksaan Surat Tugas Program Pemeriksaan Program Kerja Perorangan – A Program Kerja Perorangan – B

Dan seterusnya

Keterangan: 1. Untuk daftar isi yang dilekatkan pada ordner /map, daftar isi KKP ini diletakkan di bagian dalam sampul ordner/map. Isi KKP dalam daftar isi ini harus sesuai dengan setiap judul KKP yang dikelompokkan dalam kelompok KKP ini. 2. Untuk daftar isi yang dilekatkan pada kardus, daftar isi KKP ini diletakkan pada bagian samping kardus. Isi KKP dalam daftar isi cukup diisi dengan jenis/kelompok akun yang diperiksa, untuk pemeriksaan keuangan, atau jenis area kunci/obyek tertentu untuk pemeriksaan kinerja atau PDTT.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

14

Panduan Pemeriksaan LKPD
Lampiran 6.8
Pemeriksaan Atas .....….. Tahun….. BPK RI

BERITA ACARA SERAH TERIMA KERTAS KERJA PEMERIKSAAN BPK Pada hari ini, ............ tanggal ............. kami menyerahkan berkas-berkas KKP yang sudah diberi nomor kode indeks dan direviu secara berjenjang, kami nyatakan telah sesuai standar yang diatur dalam pedoman pemeriksaan BPK. Pihak yang menyerahkan : Nama : _________________ NIP : _________________ Jabatan : Ketua Tim Pemeriksaan Pihak yang menerima : Nama : _________________ NIP : _________________ Jabatan: Kasubaud....................... Pihak yang Menerima Pihak yang Menyerahkan

_________________ NIP. Keterangan:

__________________ NIP.

Berita Acara Penyerahan KKP ini sebaiknya dilampiri dengan Daftar Indeks KKP yang berisi tentang seluruh isi KKP yang diserahterimakan beserta indeksasinya.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

BAB 7 FORMULASI TEMUAN PEMERIKSAAN LKPD 7.1 Gambaran Umum
Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, dan Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, BPK bertugas memeriksa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Output dari pemeriksaan BPK yaitu Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), yang didalamnya terdapat opini atas LKPD serta temuan-temuan hasil pemeriksaan. Berdasarkan Keputusan BPK RI No.5/K/I-XIII.2/8/2010 tanggal 27 Agustus 2010 tentang Petunjuk Teknis Kodering Temuan Pemeriksaan, temuan pemeriksaan terdiri dari Temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan Temuan Ketidakpatutan terhadap peraturan perundang-undangan serta Temuan 3 E (Ekonomis, Efisien dan Efektif). Temuan SPI yaitu temuan yang berhubungan dengan kelemahan struktur/design sistem pengendalian intern dan aplikasi sistem pengendalian intern. Temuan kepatuhan yaitu temuan yang berhubungan dengan ketidakpatuhan pengelolaan keuangan daerah terhadap peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah maupun peraturan daerah terkait lainnya. Temuan kepatuhan terdiri dari empat jenis yaitu temuan yang mengindikasikan terjadinya kerugian negara, potensi kerugian negara, kekurangan penerimaan, dan administrasi temuan 3E yang merupakan bagian dalam pelaporan temuan kepatuhan. Menurut Pedoman Manajemen Pemeriksaan (PMP), yang dikeluarkan oleh BPK tahun 2008, TP merupakan temuan atau indikasi permasalahan yang diperoleh selama pemeriksaan. Pada dasarnya, TP terkait dengan: 1) Ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundangundangan, penyimpangan, dan ketidakpatutan yang material untuk dilaporkan; 2) Kelemahan sistem pengendalian intern yang material untuk dilaporkan;

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

3) Kegagalan suatu program yang diperiksa; dan 4) Ketidaksesuaian kondisi dengan kriteria yang ditetapkan. Temuan pemeriksaan yang dihasilkan oleh BPK sebaiknya memenuhi beberapa prinsip, antara lain: 1) Prinsip Keadilan, maksudnya temuan pemeriksaan BPK tidak boleh merugikan suatu pihak demi menguntungkan pihak yang lain. Karena pada dasarnya, temuan pemeriksaan itu harus memberikan manfaat langsung dan tidak langsung terhadap proses pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik. 2) Prinsip Kejujuran, artinya setiap temuan pemeriksaan BPK harus mengungkapkan secara menyeluruh (full disclosure) atas fakta dan data yang ditemukan oleh auditor selama melaksanakan pemeriksaan tanpa ada yang ditutup-tutupi. 3) Prinsip Profesionalisme, artinya temuan pemeriksaan BPK harus dihasilkan oleh auditor yang kompeten dan menguasai bidang/obyek pemeriksaan yang menjadi temuan. Supaya, kualitas temuan pemeriksaan menjadi lebih tinggi. Untuk memberikan panduan dalam membuat laporan atas temuan hasil pemeriksaan LKPD supaya setiap auditor BPK memiliki persamaan persepsi tentang penyusunan temuan pemeriksaan yang berkualitas, maka dinilai perlu untuk menyusun formulasi TP atas LKPD tersebut. Formulasi TP atas LKPD ini bertujuan untuk: 1) Memudahkan penyusunan temuan pemeriksaan LKPD oleh anggota tim pemeriksa; 2) Mempermudah ketua tim dalam menyusun dan mengkonsolidasikan temuan pemeriksaan; 3) Memberi pedoman mengenai informasi yang seharusnya diungkapkan dalam temuan terkait. Walaupun demikian, tim pemeriksa hendaknya selalu menyesuaikan template tersebut dengan kondisi dan data yang paling relevan di entitas terkait. Template ini juga tidak membatasi kemungkinan adanya permasalahan lain yang seharusnya dilaporkan dalam laporan hasil pemeriksaan atas LKPD.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Penyusunan formulasi TP LKPD dilakukan dengan pendekatan-pendekatan sebagai berikut: 1) Temukan permasalahan yang signifikan atas penyajian akun dalam laporan keuangan. Serta tentukan efek kumulatif ketidakwajaran penyajian akun tersebut terhadap laporan keuangan secara menyeluruh; 2) Bedakan permasalahan tersebut dalam permasalahan yang sedang berjalan (current) dan permasalahan saldo awal (past). Hal ini penting untuk menghindari adanya akumulasi temuan yang berulang serta membedakan apakah temuan tersebut terjadi atas saldo awal atau penyajian saldo pada tahun berjalan; 3) Identifikasi temuan-temuan yang berulang kali terjadi dan temuan-temuan yang terjadi di banyak LKPD berdasarkan hasil pemeriksaan LKPD dan PDTT pada tahun-tahun sebelumnya; 4) Penelaahan atas laporan hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya untuk mengetahui kekurangan dalam pengungkapan temuan pemeriksaan sebagai pertimbangan untuk melakukan perbaikan; 5) Pemutakhiran peraturan-peraturan yang menjadi kriteria TP LKPD; dan 6) Menentukan informasi minimal yang perlu dicantumkan dalam TP LKPD.

7.2 Panduan Umum Penulisan TP LKPD
Unsur-unsur TP terdiri judul, kondisi, kriteria, sebab dan akibat. Saat TP disusun dalam Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (KLHP) yang nantinya akan direviu secara berjenjang untuk menjadi LHP, perlu ditambahkan unsur rekomendasi. Kendala dalam penulisan TP adalah bagaimana mensinkronkan bahasa pada setiap unsur TP tersebut sehingga TP menjadi lebih mudah dipahami oleh pembaca LHP serta memberikan keseragaman metode dan teknik penulisan TP antar auditor BPK. Salah satu cara yang paling mudah adalah untuk mempermudah penyusunan dan mensinkronkan tiap unsur TP yaitu membuat matriks temuan pemeriksaan. Lihat lampiran 7.1. Dengan membuat matriks, pemeriksa akan lebih mudah mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian penulisan dan pengungkapan dari tiaptiap unsur TP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

7.2.1 Panduan Penulisan Judul Judul merupakan unsur awal dalam penyusunan TP, judul memberikan gambaran awal kepada pembaca TP untuk memperoleh informasi yang singkat dan jelas tentang permasalahan yang dimuat dalam TP tersebut. Salah satu teknik pengungkapan Judul yaitu memberikan simpulan/gambaran atas kondisi permasalahan yang terjadi, atau dapat juga mengkombinasikan antara kondisi dengan akibat, menggunakan bahasa yang singkat dan jelas.
Penyajian Investasi Permanen dalam Neraca Pemerintah Daerah Kabupaten A TA 2009 sebesar Rp123.456.789,00 Tidak Berdasarkan Metode Ekuitas

7.2.2 Panduan Penulisan Kondisi Kondisi adalah gambaran tentang situasi yang ada. Kondisi yang diungkapkan dalam TP harus berisi data/informasi/bukti atas suatu keadaan yang disajikan secara obyektif dan relevan berdasarkan fakta yang ditemukan pemeriksa di lapangan. Pelaporan lingkup atau kedalaman dari kondisi dapat membantu pengguna laporan dalam memperoleh perspektif yang wajar. Untuk menuangkan kondisi agar mudah dipahami dalam TP, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: 1) Dalam pemeriksaan atas laporan keuangan, paragraf awal TP harus menjelaskan saldo atas akun yang menjadi TP serta tentukan berapa anggaran dan realisasinya serta bandingkan dengan saldo tahun sebelumnya. Hal ini penting, agar pembaca TP dapat memahami posisi saldo awal atas akun tersebut; 2) Pemeriksa dapat menguraikan hasil telaahan atas akun atau asersi tertentu terkait akun tersebut disertai penjelasan atas bukti-bukti relevan yang ditemukan di lapangan; 3) Sebutkan pula pihak-pihak yang terkait langsung dengan permasalahan yang ada dalam TP tersebut. Gunakan insial dalam menulis nama orang, perusahaan atau organisasi tertentu; 4) Pilihlah bahasa yang mudah dipahami dan langsung pada pokok permasalahan supaya tidak meluas pada permasalahan lainnya yang tidak berhubungan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan kondisi dalam TP.
Temuan – Sistem Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap pada Pemerintah Kabupaten X Belum Memadai dan Belum didukung Bukti Kepemilikan sebesar Rp . . . . Pemerintah Kabupaten X menyajikan aset tetap senilai Rp443.485,97 juta dalam Neraca per 31 Desember 2010. Jumlah yang tersaji tersebut meningkat sebesar Rp57.980,00 juta atau 15,03% dibandingkan saldo aset tetap dalam Neraca audited per 31 Desember 2009 senilai Rp385.505,97. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) Pemerintah Kabupaten X Tahun 2010 pada Paragraf 3.e.5 menyatakan bahwa Aset Tetap tersebut terdiri dari 1) Tanah, 2) Peralatan dan Mesin, 3) Gedung dan Bangunan, 4) Jalan, Irigasi dan Jaringan, 5) Aset Tetap Lainnya, dan Konstruksi dalam Pengerjaan. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa sistem pengendalian atas aset tetap pada Pemerintah Kabupaten X belum memadai sebagai berikut. 1) Nilai aset tetap yang diungkapkan dalam Neraca Pemerintah Kabupaten X belum didasarkan pada inventarisasi aset tetap dan belum didukung bukti kepemilikan sebesar Rp . . . . .

7.2.3 Panduan Penulisan Kriteria Kriteria memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna laporan hasil pemeriksaan untuk menentukan keadaan seperti apa yang diharapkan. Kriteria akan mudah dipahami apabila dinyatakan secara wajar, eksplisit, lengkap, dan sumber dari kriteria dinyatakan dalam laporan hasil pemeriksaan. Kriteria, harus detail dan rinci tidak boleh menggunakan kriteria yang bersifat umum (general) agar tidak membiaskan kriteria utama yang dilanggar dalam temuan pemeriksaan. Hal penting yang perlu dipahami pemeriksa dalam menentukan kriteria adalah hal-hal apa saja yang dilanggar atau tidak dilaksanakan sehingga muncul permasalahan yang ada dalam kondisi. Dalam pemeriksaan atas LKPD, kriteria yang bisa digunakan pemeriksa yaitu Standar Akuntansi Pemerintah (SAP), Buletin Teknis SAP, Peraturan perundang-undangan yang berlaku sehubungan dengan penyusunan LKPD, kontrak pengadaan barang/jasa sehubungan dengan kewajaran penyajian belanja dalam LKPD serta kebijakan dan prosedur lain yang terkait dengan asersi laporan keuangan yang dinilai pemeriksa. Untuk menyajikan kriteria dalam TP, pemeriksa dapat mengutip kriteria dari satu atau lebih kriteria yang paling spesifik dan relevan dengan permasalahan yang diungkapkan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Salah satu hal yang terpenting dalam menentukan kriteria adalah hindari menggunakan aturan “sapu jagat”, yang mencakup hal-hal yang terlalu umum sehingga pelanggaran dalam temuan tersebut menjadi sulit dipahami oleh pembaca laporan. Berikut ini contoh pengungkapan kriteria dalam TP yang spesifik.
Tabel 7.1 Tabel Kriteria TP yang spesifik No 1 Judul TP Aset tetap Tanah yang disajikan dalam Neraca Pemerintah Kabupaten B tanpa ada bukti kepemilikan aset tetap sebesar Rp123.456.789,00 Kriteria TP Keadaan diatas tidak sesuai dengan PSAP No.7 tentang Aset Tetap paragraph 20 yang menyatakan bahwa “Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya berpindah”

2

Temuan kekurangan Kontrak pekerjaan yang bersangkutan, disesuaikan dengan volume pekerjaan atau pasal-pasal yang dilanggar keterlambatan penyelesaian pekerjaan Belanja Perjalanan Dinas Ganda Pada Beberapa Kegiatan Di Dinas Kesehatan Sebesar Rp123.456.789,00 Pengendalian Internal Dan Pertanggungjawaban Belanja Bantuan Hibah, Bantuan Sosial, Bantuan Keuangan Dan Bagi Hasil Ke Desa Sebesar Rp123.456.789,00 Tidak Memadai Keadaan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Bupati A Nomor 78 Tahun 2007 Pasal 7 yang menyatakan bahwa Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, dan Pegawai Tidak Tetap dilarang menerima biaya perjalanan dinas rangkap (dua kali atau lebih) untuk perjalanan dinas yang dilakukan dalam waktu yang sama Keadaan di atas tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 133 Ayat (2) Penerima subsidi, hibah, bantuan sosial dan bantuan keuangan bertanggungjawab atas penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawabannya penggunaannya kepada Kepala Daerah dan Ayat (3) yang menyebutkan bahwa Tata Cara Pemberian dan pertanggungjawaban subsidi, hibah, bantuan sosial, dan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah.

3

4

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan kriteria dalam TP yang terlalu umum (bias).
Tabel 7.2 Tabel kriteria TP yang umum No 1 Judul TP Pengadaan Barang Dan Jasa Pada Kegiatan Di Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, Perdagangan Dan Pertanian Kota Cimahi Melebihi Ketetapan Harga Tertinggi Sebesar Rp123.456.789,00 Kekurangan Volume Pekerjaan pada Kegiatan pembangunan Gedung Sekolah pada Dinas Pendidikan Kota D Tahun Anggaran 2009 Senilai Rp123.456.789,00 Nilai Penyertaan Modal Berupa Aset Tetap ke PD Pasar Bermartabat Sebesar Rp123.456.789,00 Tidak Dapat Diyakini Kewajarannnya Kriteria TP Permasalahan tersebut melanggar Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan bahwa keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan dan manfaat untuk masyarakat Keadaan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 95 tahun 2007 tentang Perubahan Ketujuh atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

2

3

Hal tersebut bertentangan dengan PP 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah, Lampiran II, yg menyatakan bahwa Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dpt memenuhi tujuannya. Salah satunya pada poin (b) Andal yaitu Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan

Kriteria yang sering digunakan dalam pemeriksaan LKPD dapat dilihat Lampiran 7.2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

7.2.4 Panduan Penulisan Akibat Akibat merupakan pengungkapan yang memberikan hubungan yang jelas dan logis untuk menjelaskan dampak dari adanya perbedaan antara apa yang ditemukan oleh pemeriksa dilapangan (kondisi) dengan keadaan yang diharapkan (kriteria). Akibat lebih mudah dipahami bila dinyatakan secara jelas, terinci, dan apabila memungkinkan, dinyatakan dalam angka. Signifikansi dari akibat yang dilaporkan ditunjukkan oleh bukti yang meyakinkan. Akibat dapat terdiri dari dua hal yaitu : 1) Permasalahan finansial (dalam bentuk angka) atas dampak yang ditimbulkan menurut kondisi; 2) Permasalahan non-finansial seperti tidak tercapainya suatu tujuan/program ataupun aktivitas pengendalian yang diterapkan. Hal penting lainnya dalam teknik pengungkapan akibat yaitu adanya hubungan yang logis, termasuk perhitungan angka secara matematis, antara judul dengan akibat serta adanya kemudahan dalam pemberian rekomendasi pada saat TP menjadi LHP. Berikut ini contoh pengungkapan akibat dalam TP.
Hal tersebut mengakibatkan : 1) 2) Penyajian akun Penyertaan Modal senilai Rp123.456.789,00 tidak dapat diyakini kewajarannya; Penyertaan Modal kurang saji sebesar Rp123.456.789,00.

7.2.5 Panduan Penulisan Sebab Sebab memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor yang menjadi sumber utama perbedaan antara kondisi dan kriteria, jadi harus benar-benar dari akar permasalahan utama (rootcause) bukan faktor yang bersifat umum. Dalam melaporkan sebab, pemeriksa harus mempertimbangkan apakah KKP (bukti) yang diperoleh oleh pemeriksa cukup memadai atau tidak, sehingga memberikan argumen yang meyakinkan dan memadai bahwa sebab yang diungkapkan merupakan faktor utama terjadinya perbedaan. Sebab dapat terdiri dari dua hal yaitu : 1) Sumber daya manusia yaitu orang yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan tersebut, seperti kepala daerah, kepala dinas, bendahara, ataupun pihak lainnya yang terkait.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

2) Sistem/prosedur yang mengakibatkan kelemahan permasalahan tersebut terjadi. Seperti tidak dilaksanakannya prosedur, ataupun ketiadaan prosedur/sistem tersebut. Dalam pengungkapan sebab, Pemeriksa juga perlu memperhatikan apakah sebab yang diungkapkan tersebut nantinya dapat dilanjutkan untuk menjadi dasar pemberian rekomendasi. Dalam situasi temuan terkait dengan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dimana tidak dapat ditetapkan dengan logis penyebab temuan tersebut, pemeriksa tidak diharuskan untuk mengungkapkan unsur sebab ini. Salah satu hal yang penting yaitu tidak memaksakan orang-perorangan untuk menjadi sebab, sehingga nantinya akan berdampak pada sulitnya pemberian rekomendasi. Berikut ini contoh pengungkapan sebab dalam TP.
Hal tersebut terjadi karena Kepala Bidang Aset DPKBD belum melakukan rekonsiliasi aset tetap secara memadai dengan Pengguna Barang SKPD.

7.2.6 Panduan Penulisan Rekomendasi Rekomendasi merupakan arahan, saran, dan/atau masukan untuk perbaikan dan peningkatan suatu sistem, proses, prilaku organisasi dan kepemimpinan dari suatu entitas yang diperiksa atas permasalahanpermasalahan yang timbul sehingga dapat memberikan perbaikan atas pelaporan LKPD pada tahun yang akan datang. Rekomendasi disajikan dalam TP pertama kali yaitu pada saat penyusunan KLHP. Tujuan pemberian rekomendasi yaitu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang telah dijelaskan dalam kondisi serta akibatakibat yang ditimbulkan atas permasalahan tersebut. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam menyajikan rekomendasi, antara lain: 1) Memberikan arahan kepada entitas yang diperiksa agar dapat meminimalisir akibat yang ada dalam TP serta melakukan tindakan pencegahan supaya akibat yang sama tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang; 2) Menghilangkan sebab, artinya rekomendasi dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh sebab serta memberikan langkah-langkah perbaikan supaya sebab tersebut tidak muncul lagi di masa yang akan datang; 3) Memberikan masukan perbaikan sistem pengelolaan keuangan negara sehingga ada nilai tambah (added value) yang bisa diberikan oleh BPK kepada pemerintah pusat dan daerah.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan rekomendasi
BPK merekomendasikan kepada Bupati Kabupaten B untuk menginstruksikan Kepala Bappeda supaya mengembalikan kelebihan pembayaran honorarium sebesar Rp123.456.789,00 ke kas daerah

7.3 Temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI)
Berdasarkan Paragraf 20 Standar Pelaporan SPKN, kelemahan pengendalian intern atas laporan keuangan yang dianggap sebagai ”kondisi yang dapat dilaporkan”. Secara khusus, kondisi yang dapat dilaporkan adalah persoalan yang menarik perhatian auditor, yang menurut pertimbangannya, harus dikomunikasikan dengan auditee, karena merupakan kekurangan material dalam desain atau operasi pengendalian intern, yang berakibat buruk terhadap kemampuan organisasi tersebut dalam mencatat, mengolah, mengikhtisarkan, dan melaporkan data keuangan yang konsisten dengan asersi dalam laporan keuangan. Berdasarkan Juknis Kodering Temuan Pemeriksaan, temuan kelemahan sistem pengendalian intern terbagi atas kelompok temuan sebagai berikut: 1) Kelompok temuan kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan; 2) Kelompok kelemahan sistem pendapatan dan belanja; pengendalian pelaksanaan anggaran

3) Kelompok kelemahan struktur pengendalian. Selain itu, disajikan juga contoh-contoh jenis temuan SPI pada lampiran 7.3 untuk membantu penentuan klasifikasi.

7.4 Temuan Kepatuhan
Sesuai dengan Paragraf 13 Standar Pelaporan SPKN, temuan kepatuhan terdiri dari: 1) ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan baik berupa penyimpangan administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, dan penyimpangan yang mengandung unsur pidana; atau 2) ketidakpatutan yang signifikan.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Jenis temuan kepatuhan menurut Juknis Kodering yaitu temuan kerugian negara, temuan potensi kerugian, temuan kekurangan penerimaan, temuan administrasi, dan temuan 3E (Ekonomis, Efisien dan Efektif), Contoh-contoh jenis temuan Kepatuhan dapat dilihat pada lampiran 7.4.

7.5 Panduan Penulisan Temuan Berulang atau Temuan Hasil Pemeriksaan Sebelumnya
Pemeriksa seringkali menemukan permasalahan yang sama dengan permasalahan yang telah diungkapkan dalam laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan tahun sebelumnya. TP tetap dinyatakan berulang walaupun terjadi pada satker yang berbeda. Berulangnya permasalahan tersebut bisa terjadi karena tindak lanjut belum selesai atau belum dilaksanakan oleh pemerintah daerah terkait. Pemeriksa tetap melaporkan TP berulang dalam LHP agar permasalahan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah terkait untuk menindaklanjutinya. Dalam mengungkapkan TP berulang, pemeriksa harus terlebih dahulu menjelaskan pengungkapan TP dimaksud dalam LHP tahun sebelumnya. Hal-hal yang perlu diungkapkan adalah uraian singkat kondisi, rekomendasi yang diberikan, dan tindak lanjut yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah daerah terkait. Secara teknis, hal yang harus dilakukan pemeriksa selanjutnya yaitu mengupdate data pemantauan tindak lanjut atas temuan sebelumnya, dengan mengklasifikasikannya sebagai temuan yang sudah ditindaklanjuti sesuai rekomendasi (TS). Sedangkan temuan yang baru akan mengganti temuan sebelumnya dalam pemantauan tindak lanjut. Pemeriksa juga bisa mengungkapkan temuan hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) yang dilaksanakan sebelumnya yang berakibat pada penyajian atas LKPD. Dalam mengungkapkan temuan seperti ini, pemeriksa harus terlebih dahulu menjelaskan pengungkapan TP dimaksud dalam LHP terkait (sebutkan nomor dan judul LHP terkait) yaitu uraian kondisi dan rekomendasinya. Selanjutnya, pemeriksa menguraikan kaitan masalah tersebut dengan pengungkapan salah satu akun di LKPD yang diperiksa.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 7 Formulasi Temuan Pemeriksaan LKPD

Berikut ini contoh pengungkapan TP berulang.
Temuan – Sistem Pencatatan dan Pelaporan Aset Tetap pada Pemerintah Kabupaten X Tidak Memadai Pemerintah Kabupaten X melaporkan jumlah aset tetap sebesar Rp443.485,97 juta dalam Neraca per 31 Desember 2010. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) Pemerintah Kabupaten X Tahun 2010 pada Paragraf 3.e.5 menyatakan bahwa Aset Tetap tersebut terdiri dari 1) Tanah, 2) Peralatan dan Mesin, 3) Gedung dan Bangunan, 4) Jalan, Irigasi dan Jaringan, 5) Aset Tetap Lainnya, dan Konstruksi dalam Pengerjaan. Dalam pemeriksaan atas Pemerintah Kabupaten X Tahun 2009, BPK melaporkan beberapa kelemahan Sistem Pengendalian Intern atas pengelolaan aset yaitu belum seluruh satker pada Pemerintah Kabupaten X melakukan inventarisasi aset tetap serta terdapat aset tetap yang belum memiliki sertifikat hak kepemilikan yang sah. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, BPK menyarankan agar Pemerintah Kabupaten X segera melakukan inventarisasi aset tetap serta mengurus sertifikat hak kepemilikan atas aset miliki pemerintah daerah. Menindaklanjuti rekomendasi tersebut, selama tahun 2010, Pemerintah Kabupaten X telah menginstruksikan rekomendasi BPK tersebut ke seluruh satker di bawahnya. Berdasarkan pemeriksaan BPK atas LK Pemerintah Kabupaten X Tahun 2010, masih terdapat kelemahan dalam pengendalian intern atas pengelolaan aset sebagai berikut. 1) Aset tetap pada lima satker masih belum memiliki daftar inventarisasi aset tetap sebesar Rp123.456.789,00; 2) Aset tanah pada pada dua satker sebesar Rp123.456.789,00 masih belum memiliki sertifikat hak kepemilikan yang sah . . . .

Pemeriksa sering menghadapi permasalahan dalam mengelompokkan TP ke dalam temuan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan atau temuan Sistem Pengendalian Intern (SPI). Sebagai panduan untuk memudahkan pengelompokan TP LKPD, berikut diuraikan pendekatan yang digunakan sesuai dengan SPKN yang juga konsisten dengan klasifikasi temuan dalam penyusunan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semesteran (IHPS).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

12

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.1

FORMAT MATRIKS TEMUAN PEMERIKSAAN

Matriks Temuan Pemeriksaan Jenis Pemeriksaan Entitas Tahun Anggaran
No 1

: Pemeriksaan Laporan Keuangan Daerah : Pemerintah Kabupaten X : 20xx
Judul Akibat Sebab

Dibuat oleh Direviue oleh Disetujui oleh

: : :
Rekomendasi

2 3

4

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.2

KRITERIA YANG SERING DIGUNAKAN DALAM PEMERIKSAAN LKPD 1. Undang-Undang a. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. b. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. c. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan atas Pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan Negara. d. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah. 2. Peraturan Pemerintah a. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. b. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. c. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang SAP. d. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara atau Daerah. e. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Peraturan Perubahannya. f. Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah g. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah h. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 3. Peraturan Menteri Dalam Negeri a. Permendagri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. b. Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. c. Permendagri No. 25 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010. d. Permendagri No. 55 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya. e. Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah 4. Standar Akuntansi Pemerintah a. SAP Pernyataan No. 01 Penyajian Laporan Keuangan b. SAP Pernyataan No. 02 Laporan Realisasi Anggaran c. SAP Pernyataan No. 03 Laporan Arus Kas d. SAP Pernyataan No. 04 Catatan Atas Laporan Keuangan e. SAP Pernyataan No. 05 Akuntansi Persediaan f. SAP Pernyataan No. 06 Akuntansi Investasi g. SAP Pernyataan No. 07 Akuntansi Aset Tetap

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.2

SAP Pernyataan No. 08 Akuntansi Kontruksi Dalam Pengerjaan SAP Pernyataan No. 09 Akuntansi Kewajiban SAP Pernyataan No. 10 Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa k. SAP Pernyataan No. 11 Laporan Keuangan Konsolidasian l. Buletin Teknis No. 01 Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Pusat m. Buletin Teknis No. 02 Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Daerah n. Buletin Teknis No. 03 Penyajian LKPD sesuai dengan SAP dengan Konversi o. Buletin Teknis No. 04 Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah p. Buletin Teknis No. 05 Akuntansi Penyusutan q. Buletin Teknis No. 06 Akuntansi Piutang r. Buletin Teknis No. 07 Akuntansi Dana Bergulir s. Buletin Teknis No. 08 Akuntansi Utang t. Buletin Teknis No. 09 Akuntansi Aset Tetap u. Buletin Teknis No. 10 Akuntansi Belanja Bantuan Sosial

h. i. j.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.3

JENIS TEMUAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN
No. I Jenis Temuan Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan 1 2 3 4 5 Contoh Temuan Pencatatan tidak/belum dilakukan atau tidak akurat Proses penyusunan laporan tidak sesuai ketentuan Entitas terlambat menyampaikan laporan Sistem Informasi Akuntansi dan Pelaporan tidak memadai Sistem Informasi Akuntansi dan Pelaporan belum didukung SDM yang memadai Perencanaan kegiatan tidak memadai Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan serta penggunaan Penerimaan negara/daerah/perusahaan dan hibah tidak sesuai ketentuan Penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang teknis tertentu atau ketentuan intern organisasi yang diperiksa tentang pendapatan dan belanja Pelaksanaan belanja di luar mekanisme APBN/APBD Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat hilangnya potensi penerimaan/pendapatan Penetapan/pelaksanaan kebijakan tidak tepat atau belum dilakukan berakibat peningkatan biaya/belanja Kelemahan pengelolaan fisik aset Entitas tidak memiliki SOP yang formal untuk suatu prosedur atau keseluruhan prosedur SOP yang ada pada entitas tidak berjalan secara optimal atau tidak ditaati Entitas tidak memiliki Satuan Pengawas Intern Satuan Pengawas Intern yang ada tidak memadai atau tidak berjalan optimal Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai

II

Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja

1 2

3

4 5 6 7 III Kelemahan struktur pengendalian intern 1 2 3 4 5

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.4

JENIS TEMUAN KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
No. I Jenis Temuan Kerugian Negara/Daerah/Perusahaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Contoh Temuan Belanja atau pengadaan barang/jasa fiktif Rekanan pengadaan barang/jasa tidak menyelesaikan pekerjaan Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang Pemahalan harga (Mark up) Penggunaan uang/barang untuk kepentingan pribadi Pembayaran honorarium dan/atau biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi standar yang ditetapkan Spesifikasi barang/jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrak Belanja tidak sesuai atau melebihi ketentuan Pengembalian pinjaman/piutang atau dana bergulir macet Kelebihan penetapan dan pembayaran restitusi pajak atau penetapan kompensasi kerugian Penjualan/pertukaran/penghapusan aset negara/daerah tidak sesuai ketentuan dan merugikan negara/daerah Pengenaan ganti kerugian negara belum/tidak dilaksanakan sesuai ketentuan Entitas belum/tidak melaksanakan tuntutan perbendaharaan (TP) sesuai ketentuan Penghapusan hak tagih tidak sesuai ketentuan Pelanggaran ketentuan pemberian diskon penjualan Penentuan HPP terlalu rendah sehingga penentuan harga jual lebih rendah dari yang seharusnya Jaminan pelaksanaan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak dapat cairkan Penyetoran penerimaan negara/daerah dengan bukti fiktif Kelebihan pembayaran dalam pengadaan barang/jasa tetapi pembayaran pekerjaan belum dilakukan sebagian atau seluruhnya Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak selama masa pemeliharaan

II

Potensi kerugian Negara/Daerah/Perusahaan

1 2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.4

No.

Jenis Temuan 3 4 5 6 7 8 9 10

Contoh Temuan Aset dikuasai pihak lain Pembelian aset yang berstatus sengketa Aset tidak diketahui keberadaannya Pemberian jaminan dalam pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan Pihak ketiga belum melaksanakan kewajiban untuk menyerahkan aset kepada negara/daerah Piutang/pinjaman atau dana bergulir yang berpotensi tidak tertagih Penghapusan piutang tidak sesuai ketentuan Pencairan anggaran pada akhir tahun anggaran untuk pekerjaan yang belum selesai Penerimaan negara/daerah atau denda keterlambatan pekerjaan belum/tidak ditetapkan dipungut/diterima/disetor ke kas negara/daerah atau perusahaan milik negara/daerah Penggunaan langsung penerimaan negara/daerah Dana Perimbangan yang telah ditetapkan belum masuk ke kas daerah Penerimaan negara/daerah diterima atau digunakan oleh instansi yang tidak berhak Pengenaan tarif pajak/PNBP lebih rendah dari ketentuan Koreksi perhitungan bagi hasil dengan KKKS Kelebihan pemerintah pembayaran subsidi oleh

III

Kekurangan Penerimaan

1

2 3 4 5 6 7

IV

Administrasi

1 2 3 4 5 6

Pertanggungjawaban tidak akuntabel (bukti tidak lengkap/tidak valid) Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan (tidak menimbulkan kerugian negara) Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan Pelaksanaan lelang secara proforma Penyimpangan terhadap peraturan per-UU-an bidang pengelolaan perlengkapan atau barang milik negara/daerah/perusahaan

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 7.4

No.

Jenis Temuan 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Contoh Temuan Penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan bidang tertentu lainnya seperti kehutanan, pertambangan, perpajakan, dll. Koreksi perhitungan susbsidi/kewajiban pelayanan umum Pembentukan cadangan piutang, perhitungan penyusutan atau amortisasi tidak sesuai ketentuan Penyetoran penerimaan negara/daerah atau kas di bendaharawan ke Kas negara/daerah melebihi batas waktu yang ditentukan Pertanggungjawaban/penyetoran uang persediaan melebihi batas waktu yang ditentukan Sisa kas di bendahara pengeluaran akhir Tahun Anggaran belum/tidak disetor ke kas negara/daerah Pengeluaran investasi pemerintah tidak didukung bukti yang sah Kepemilikan aset tidak/belum didukung bukti yang sah Pengalihan anggaran antar MAK tidak sah Pelampauan pagu anggaran Melawan hukum atau menyalahgunakan kewenangan dan dapat merugikan keuangan negara Suap-menyuap Penggelapan dalam jabatan Pemerasan oleh pegawai negeri Perbuatan curang dalam proses pengadaan barang/jasa Benturan kepentingan pengadaan barang/jasa Gratifikasi dalam proses

V

Indikasi tindak pidana korupsi

1

2 3 4 5 6 7

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

BAB 8 PENYUSUNAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS SPI DAN KEPATUHAN 8.1 Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan
Selain menyusun Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang memuat Opini BPK dan Laporan Keuangan entitas yang diperiksa, dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam Pernyataan Standar Pemeriksaan (PSP) 03 tentang Standar Pelaporan Keuangan Paragraf 5 b) dan c) juga diatur tentang pelaporan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan dan pelaporan pengendalian intern. Lebih lanjut dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Pemeriksaan Keuangan, disebutkan juga jenis Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Keuangan berupa LHP Atas Sistem Pengendalian Intern (SPI) dan LHP Atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-Udangan Dalam Kerangka Pemeriksaan LKPD. LHP yang memuat opini harus menjelaskan bahwa pemeriksa juga menerbitkan laporan-laporan tersebut, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Sebagaimana disebutkan dalam SPKN, apabila pemeriksa menerbitkan laporan atas SPI dan Kepatuhan, laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus memuat suatu paragraf yang merujuk kepada laporan tersebut.

8.2 Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern
Laporan atas pengendalian intern harus mengungkapkan kelemahan dalam pengendalian intern atas pelaporan keuangan yang dianggap sebagai “kondisi yang dapat dilaporkan”, sebagaimana dinyatakan dalam SPKN. Pengungkapan temuan pengendalian intern yang perlu dilaporkan, dilakukan sebagai berikut.
1) Apabila temuan pengendalian intern tersebut secara material berpengaruh

pada kewajaran laporan keuangan, pemeriksa mengungkapkan uraian singkat temuan tersebut dalam LHP yang memuat opini atas kewajaran laporan keuangan sebagai alasan pemberian opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

2) Pengungkapan semua temuan pengendalian intern secara terinci dilaporkan

dalam Laporan atas Pengendalian Pemeriksaan laporan keuangan.

Intern

dalam Kerangka

Beberapa contoh “kondisi yang dapat dilaporkan” adalah sebagai berikut. 1) Tidak ada pemisahan tugas yang memadai sesuai dengan tujuan pengendalian yang layak; 2) Tidak ada reviu dan persetujuan yang memadai untuk transaksi, pencatatan akuntansi atau output dari suatu sistem; 3) Tidak memadainya berbagai persyaratan untuk pengamanan aktiva; 4) Bukti kelalaian yang mengakibatkan kerugian, kerusakan atau penggelapan aktiva; 5) Bukti bahwa suatu sistem gagal menghasilkan output yang lengkap dan cermat sesuai dengan tujuan pengendalian yang ditentukan oleh entitas yang diperiksa, karena kesalahan penerapan prosedur pengendalian; 6) Bukti adanya kesengajaan mengabaikan pengendalian intern oleh orang orang yang mempunyai wewenang, sehingga menyebabkan kegagalan tujuan menyeluruh sistem tersebut; 7) Bukti kegagalan untuk menjalankan tugas yang menjadi bagian dari pengendalian intern, seperti tidak dibuatnya rekonsiliasi atau pembuatan rekonsiliasi tidak tepat waktu; 8) Kelemahan dalam lingkungan pengendalian, seperti tidak adanya tingkat kesadaran yang memadai tentang pengendalian dalam organisasi tersebut; 9) Kelemahan yang signifikan dalam disain atau pelaksanaan pengendalian intern yang dapat mengakibatkan pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan yang berdampak langsung dan material atas laporan keuangan; dan 10) Kegagalan untuk melakukan tindak lanjut dan membentuk sistem informasi pemantauan tindak lanjut untuk secara sistematis dan tepat waktu memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pengendalian intern yang sebelumnya telah diketahui. Format LHP atas SPI dimuat pada Lampiran Suplemen.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

8.3 Laporan Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan
Laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus mengungkapkan bahwa pemeriksa telah melakukan pengujian atas kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian laporan keuangan. Ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang undangan yang ditemukan dalam pemeriksaan keuangan, dimuat sebagai temuan pemeriksaan dalam LHP atas kepatuhan. Pengungkapan ketidakpatuhan yang perlu dilaporkan dilakukan sebagai berikut.
1) Apabila ketidakpatuhan

tersebut secara material berpengaruh pada kewajaran laporan keuangan, pemeriksa mengungkapkan uraian singkat ketidakpatuhan tersebut dalam LHP yang memuat opini atas kewajaran laporan keuangan sebagai alasan pemberian opini. semua temuan terkait ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang ditemukan selama pemeriksaan secara terinci dilaporkan dalam Laporan atas Kepatuhan dalam kerangka pemeriksaan laporan keuangan. LHP tentang kepatuhan dapat mengungkapkan:

2) Pengungkapan

1) ketidakpatuhan

terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan termasuk pengungkapan atas penyimpangan administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, maupun penyimpangan yang mengandung unsur tindak pidana, pemeriksa mengungkapkan unsur atau dugaan pelanggaran hukum tersebut dalam LHP terkait dengan kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan, dan

2) dalam hal ditemukan atau diduga ada unsur pelanggaran hukum,

3) ketidakpatuhan yang signifikan.

Format LHP atas Kepatuhan dimuat pada Lampiran Suplemen.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 8 Penyusunan LHP SPI & Kepatuhan

8.4 Pengungkapan Unsur Temuan Pemeriksaan
Sejauh memungkinkan, dalam menyajikan temuan pemeriksaan SPI dan Kepatuhan, pemeriksa harus mengembangkan unsur-unsur temuan pemeriksaan berupa kondisi, kriteria, akibat, dan sebab untuk membantu manajemen entitas yang diperiksa atau pihak berwenang dalam memahami perlunya mengambil tindakan perbaikan. Apabila pemeriksa dapat mengembangkan secara memadai temuan-temuan tersebut, pemeriksa harus membuat rekomendasi guna tindakan perbaikan. Berikut ini adalah pedoman dalam melaporkan unsur-unsur temuan pemeriksaan.
1) Kondisi; memberikan bukti mengenai hal-hal yang ditemukan pemeriksa di

lapangan. Pelaporan lingkup atau kedalaman dari kondisi dapat membantu pengguna laporan dalam memperoleh perspektif yang wajar. laporan hasil pemeriksaan untuk menentukan keadaan seperti apa yang diharapkan. Kriteria akan mudah dipahami apabila dinyatakan secara wajar, eksplisit, dan lengkap, dan sumber dari kriteria dinyatakan dalam laporan hasil pemeriksaan. pengaruh dari perbedaan antara apa yang ditemukan pemeriksa (kondisi) dan apa yang seharusnya (kriteria). Akibat lebih mudah dipahami bila dinyatakan secara jelas, terinci, dan apabila memungkinkan, dinyatakan dalam angka. Signifikansi dari akibat yang dilaporkan ditunjukkan oleh bukti yang meyakinkan. sumber perbedaan antara kondisi dan kriteria. Dalam melaporkan sebab, pemeriksa harus mempertimbangkan apakah bukti yang ada dapat memberikan argumen yang meyakinkan dan masuk akal bahwa sebab yang diungkapkan merupakan faktor utama terjadinya perbedaan. Pemeriksa juga perlu mempertimbangkan apakah sebab yang diungkapkan dapat menjadi dasar pemberian rekomendasi. Dalam situasi temuan terkait dengan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dimana tidak dapat ditetapkan dengan logis penyebab temuan tersebut, pemeriksa tidak diharuskan untuk mengungkapkan unsur sebab ini.

2) Kriteria; memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna

3) Akibat; memberikan hubungan yang jelas dan logis untuk menjelaskan

4) Sebab; memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor yang menjadi

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

BAB 9 PANDUAN PENYUSUNAN OPINI 9.1 Gambaran Umum

Tujuan dari pemeriksaan laporan keuangan adalah untuk memberiksan opini atas laporan keuangan. Opini merupakan pernyataan profesional sebagai kesimpulan pemeriksa mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Dalam perumusan opini, pemeriksa mengacu kepada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang memberlakukan empat standar pelaporan SPAP yang ditetapkan IAPI, disamping menambahkan enam standar tambahan. Walaupun SPKN telah mengatur mengenai standar pelaporan, tetapi dalam penerapannya masih mengalami beberapa kendala terutama karena standar tersebut masih menimbulkan penafsiran yang berbeda diantara para pemeriksa, khususnya dalam hal pertimbangan dalam penetapan opini maupun format penyajian opini tersebut. Untuk itu diperlukan panduan untuk mempersempit perbedaan penafsiran atas standar pelaporan tersebut khususnya dalam pemberian opini LKPD. Panduan berikut secara garis besar memuat dasar pertimbangan opini, jenis opini, mekanisme pemberian opini, dan format opini dalam pemeriksaan atas LKPD

9.2

Dasar Pertimbangan Pemberian Opini

Opini merupakan pernyataan profesional sebagai kesimpulan pemeriksa mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam LK yang didasarkan pada (i) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, (ii) kecukupan pengungkapan, (iii) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan (iv) efektivitas sistem pengendalian intern. Dengan memperhatikan kriteria pemberian opini tersebut, pada dasarnya terdapat dua kondisi menentukan opini yaitu:
1) 2)

Pembatasan lingkup audit atau kecukupan bukti; dan Penyimpangan dari prinsip akuntansi atau salah saji.

Kedua hal tersebut harus dikaitkan dengan tingkat materialitas dan dampaknya terhadap LK secara keseluruhan (pervasiveness).

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.2.1 Pembatasan Lingkup Audit atau Kecukupan Bukti Audit Dalam standar pekerjaan lapangan dijelaskan bahwa pemeriksa wajib mengumpulkan bukti yang kompeten melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. Auditor diharuskan untuk meyakinkan dirinya bahwa prosedur audit yang dilaksanakan pada akhirnya dapat menghasilkan bukti audit yang cukup memadai untuk menyatakan kesimpulan. Ketidakmampuan auditor dalam memeroleh bukti adalah merupakan pembatasan lingkup bagi auditor dalam memenuhi stadar pemeriksaan. Pembatasan lingkup yang mengakibatkan pemeriksa tidak dapat memperoleh cukup bukti dapat terjadi karena tiga hal: 1) Keadaan di luar kendali entitas, misalnya : (1) Catatan akuntansi hancur (karena kebakaran misalnya) (2) Catatan akuntansi telah disita oleh aparat pemerintah untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. (3) Adanya ketidakpastian 2) Keadaan terkait sifat dan waktu penugasan, misalnya : (1) Waktu yang tersedia untuk penghitungan persediaan tidak cukup (2) Pengendalian entitas tidak efektif dan pemeriksa tidak dapat menerapkan prosedur alternatif untuk memperoleh bukti yang cukup (3) Ketidakcukupan catatan akuntansi 3) Pembatasan oleh manajemen, misalnya manajemen membatasi auditor melaksanakan prosedur peninjauan fisik, konfirmasi kepada pihak ketiga, ataupun pembatasan lainnya dalam pemeriksa melaksanakan prosedur pemeriksaan. Ketidakmampuan auditor dalam menerapkan suatu prosedur tidak boleh dianggap sebagai pembatasan audit apabila auditor dapat melakukan prosedur alternatif untuk mengumpulkan bukti yang diperlukan. Auditor baru boleh berhenti dalam mengumpulkan bukti dan menyimpulkan bahwa bukti yang cukup tidak dapat diperoleh apabila auditor tidak dapat menjalankan prosedur alternatif.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.2.2 Penyimpangan dari prinsip akuntansi yang mengakibatkan salah saji. Pemberian opini atas laporan keuangan harus didasarkan pada keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum. Penyajian laporan keuangan secara wajar artinya bahwa tidak terdapat salah saji yang material dalam pelaporan keuangan. Salah saji yang mempengaruhi opini adalah salah saji yang tidak dapat dikoreksi dengan alasan (1) entitas tidak bersedia melakukan koreksi akuntansi, (2) secara teknis koreksi tersebut memang tidak bisa dilakukan karena terikat pada peraturan atau kebijakan (sebagai contoh, dalam kebijakan audit BPK, salah saji yang terkait dengan pelampauan atau kesalahan pembebanan tidak dapat dikoreksi). Salah saji dapat diklasifikasikan: 1) Kesesuaian Pilihan Kebijakan Akuntansi (1) Kebijakan akuntansi yang dipilih tidak konsisten dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; atau (2) Laporan keuangan, termasuk catatan terkait, tidak merepresentasikan transaksi dan kejadian yang sebenarnya (underlying transactions and events) sehingga penyajian yang wajar tidak dapat dilakukan. 2) Penerapan kebijakan akutansi terpilih (1) Manajemen tidak secara konsisten menerapkan kebijakan akuntansi tersebut sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan, termasuk ketika manajemen tidak menerapkan kebijakan akuntansi secara konsisten antarperiode atau antartransaksi yang sejenis (konsistensi penerapan); atau (2) Terjadi kesalahan penerapan kebijakan akuntansi (misalnya karena kesalahan yang tidak disengaja dalam menerapkan kebijakan akuntansi). 3) Kesesuaian atau kecukupan pengungkapan dalam laporan keuangan (1) Laporan keuangan tidak memasukkan semua hal yang perlu diungkapkan sesuai yang dipersyaratkan dalam SAP; (2) Pengungkapan dalam laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan SAP; atau
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

(3) Laporan keuangan tidak mengungkapkan hal-hal yang dipersyaratkan untuk mencapai penyajian yang wajar (fair presentation). Salah saji dapat disebabkan oleh (1) ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan; (2) kecurangan (fraud); dan (3) ketidakpatutan (abuse). Ketidakpatutan merupakan perbuatan yang tidak masuk akal dan di luar praktikpraktik yang lazim. Salah saji juga dapat terjadi karena tidak efektifnya pengendalian intern. Jika kita mengacu pada SPAP, makna dari ketidaksesuaian dengan SAP seyogyanya dapat diperluas bukan hanya untuk hal-hal yang diatur dalam PSAP, akan tetapi dapat diperluas sebagai berikut.
1) Prinsip akuntansi yang sudah diatur dalam PSAP dan Interprestasinya serta

Buletin Teknis dalam hal ini termasuk kerangka konseptual. misalnya Permendagri, Peraturan Meteri Keuangan.

2) Ketentuan atau peraturan yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang, 3) Praktik atau pernyataan resmi yang sudah diakui secara luas berlaku umum

karena sudah merupakan praktik yang lazim dalam pemerintahan.

Untuk itu pemeriksa dapat melihat Kerangka Prinsip Akuntansi yang berlaku umum di SPAP seksi 411 Paragraf 2. 9.2.3 Materialitas Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut. Definisi tersebut mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Tingkat materialitas diukur terhadap: 1) Tolerable Error (TE), yaitu tingkat materialitas terhadap suatu akun hanya mempunyai konsekuensi maksimal pengecualian terhadap akun tertentu tersebut (apabila tidak dapat dilakukan koreksi). Akan tetapi, hal ini tidak berpengaruh terhadap penyajian LK secara keseluruhan; 2) Planning Materiality (PM), yaitu tingkat materialitas yang mempunyai konsekuensi maksimal terhadap laporan keuangan secara keseluruhan (apabila tidak dapat dilakukan koreksi).
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Sebuah salah saji dapat dikatakan material apabila kesalahan penyajian tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pengguna laporan. Dalam penerapan konsep materialitas ini, terdapat tiga tingkatan nilai yang digunakan untuk menentukan jenis opini yang akan diterbitkan. 1) Tidak Material Kesalahan penyajian dapat terjadi tetapi salah saji tersebut tidak mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh pengguna laporan keuangan. Klasifikasi tidak material ini biasanya menyangkut jumlah-jumlah salah saji yang kecil apabila dibandingkan dengan nilai batas tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi (TE). 2) Material tetapi tidak mempengaruhi keseluruhan penyajian laporan keuangan. Kesalahan penyajian dapat mempengaruhi keputusan seorang pengguna laporan keuangan, tetapi secara keseluruhan laporan keuangan tetap disajikan secara wajar dan tetap dapat digunakan. Sebagai contoh, bila diketahui terdapat kesalahan penyajian aktiva tetap yang bernilai cukup besar, hal ini kemungkinan dapat mempengaruhi pengguna laporan keuangan, misalnya DPRD, untuk membuat keputusan penganggaran. Namun, salah saji tersebut tidak memiliki pengaruh menyeluruh pada kewajaran laporan keuangan, karena dampaknya hanya terjadi pada akun tersebut. 3) Sangat material sehingga mempengaruhi kewajaran penyajian seluruh laporan keuangan Yang dimaksud dengan salah saji sangat material terhadap keseluruhan laporan keuangan adalah apabila salah saji tersebut secara nilai sangat material dan/atau mempunyai pengaruh secara luas terhadap akun dan/atau laporan lainnya. Tingkat materialitas tertinggi terjadi apabila terdapat probabilitas yang sangat tinggi bahwa pengguna laporan keuangan akan membuat keputusan yang tidak benar jika dalam pembuatan keputusannya didasarkan pada informasi yang dihasilkan dari keseluruhan laporan keuangan. Pada tingkat ini, salah saji yang terjadi dikatakan sebagai pervasive. Contoh, apabila salah saji terjadi terkait dengan transaksi Kas di Kas Daerah yang jumlahnya sangat besar, salah saji tersebut memiliki pengaruh terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sehingga pengguna laporan keuangan dapat membuat keputusan yang salah. Dalam hal ini, transaksi Kas di Kas Daerah
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

memiliki pengaruh yang besar pada laporan keuangan karena menyangkut akun lain seperti SiLPA.
Perlu dipahami bahwa, total salah saji (misstatement) atau pembatasan lingkup yang nilainya di atas PM tidak selalu mengakibatkan opini Tidak Wajar ataupun Tidak Memberikan Pendapat. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah masalah tingkat pervasiveness.

Saat menentukan tingkat materialitas dari suatu kesalahan penyajian, auditor juga harus mempertimbangkan seberapa besar pengaruh salah saji tersebut terhadap bagian-bagian laporan keuangan lainnya. Pengaruh semacam ini disebut sebagai tingkat resapan atau rembetan (pervasiveness). Suatu salah saji dikatakan pervasive apabila salah saji tersebut memiliki pengaruh pada akun lain. Pertimbangan atas pervasive dapat didasarkan pada 3 faktor berikut. 1) Kompleksitas Kompleksitas akun diukur dari tingkat pengaruh akun tersebut terhadap akun lain dalam laporan keuangan. Beberapa akun dalam laporan keuangan menurut sifatnya memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena pengaruhnya pada akun lain. Kompleksitas berkaitan dengan dampak permasalahan pada suatu akun terhadap akun lainnya atau laporan lainnya dan atau banyaknya asersi yang terpengaruh. Beberapa akun dalam laporan keuangan menurut sifatnya memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena pengaruhnya pada akun lain. Contohnya, suatu pemda dengan anggaran belanja sebesar Rp1,3triliun ditemukan adanya 10 transaksi belanja modal fiktif sebesar Rp75miliar. Hal tersebut dapat mengakibatkan salah saji pada pos belanja modal, aset tetap, dan ekuitas, sehingga dapat dikatakan bahwa temuan terkait belanja modal tersebut bersifat kompleks. Dalam kasus ini, jika tidak diungkapkan dalam CaLK, pemeriksa dapat mempertimbangkan memberikan opini Tidak Wajar walaupun secara proporsi belum mencapai 20% dari nilai akun yang diperiksa. Contoh lain, penerimaan hibah dari negara donor sebesar Rp40miliar dikelola di luar APBD, sehingga pendapatan dan belanja menjadi kurang saji, sisa kas tidak dicatat, dan aset tetap yang dihasilkan juga tidak dicatat. Hal tersebut dapat dipertimbangkan pemeriksa untuk memberikan opini TW atau TMP. Tingkat kompleksitas akun diuraikan dalam guideline untuk sektor publik sesuai Lampiran 9.1.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

2) Proporsi Tidak ada ukuran baku yang menjadi besaran proporsi yang bersifat substansial karena ini lebih didasarkan pada pertimbangan auditor. Untuk memudahkan penilaian, auditor bisa menetapkan kebijakan mengenai batasan proporsi yang dianggap fundamental, misanya 20% dari total akun yang diperiksa dapat dianggap berpegaruh secara keseluruhan secara kuantitatif. Sebagai contoh, dampak potensi salah saji (kurang saji) akibat adanya aset yang tidak tercatat dan pemda tidak bersedia dikoreksi adalah sebesar Rp500miliar dari total akun yang diperiksa sebesar Rp1,2triliun. Dampak tersebut dapat dipertimbangkan pervasive karena sudah lebih dari 20% total akun yang diperiksa, sehingga dapat dipertimbangkan untuk opini Tidak Wajar dari pada hanya WDP. Contoh lain, misalnya pemeriksa menemukan dua permasalahan dari total akun yang diperiksa sebesar Rp1,2 triliun, yaitu (1) piutang tidak ada bukti sebesar Rp50 miliar; dan (2) penyertaan pada BUMD senilai Rp20 miliar dengan kepemilikan di atas 20% masih dicatat dengan harga perolehan karena belum ada laporan keuangan BUMD yang mutakhir. Dalam kondisi ini, pemeriksa dapat mempertimbangkan untuk memberikan opini WDP dari pada TMP. 3) Pengungkapan yang bersifat fundamental Pengungkapan dikatakan fundamental apabila dapat mempengaruhi pengguna laporan keuangan membuat keputusan atau terdapat penilaian yang berbeda apabila tidak diungkapkan. Apakah pengungkapan dapat mempengaruhi opini? Jawabannya “ya”. SPAP Seksi 431 paragraf 3 intinya mengatur : Bila manajemen menghilangkan dari laporan keuangan, informasi yang seharusnya diungkapkan sesuai dengan prinsip akuntansi, termasuk catatan atas laporan keuangan, auditor harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar karena alasan tersebut dan harus memberikan informasi yang cukup dalam laporannya. Contoh: Pemda menolak untuk mengungkapkan adanya aset yang masih dalam sengketa, padahal pada tingkat pengadilan negeri pemda sudah dikalahkan. Jika nilai aset mencapai lebih dari PM, pemeriksa dapat mempertimbangkan untuk tidak memberikan opini WTP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.3

Jenis Opini

UU Nomor 15 Tahun 2004 menyatakan bahwa opini atas laporan keuangan terbagi menjadi empat jenis:
1) Wajar Tanpa Pengecualian (WTP); 2) Wajar Dengan Pengecualian (WDP); 3) Tidak Wajar (TW); 4) Tidak Memberikan Pendapat (TMP).

9.3.1 Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Opini WTP menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (Standar Akuntansi Pemerintahan). Opini WTP merupakan penilaian tertinggi atas laporan keuangan, dimana ini bisa tercapai apabila memenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut. 1) Bukti pemeriksaan yang cukup memadai telah terkumpul, dan pemeriksa telah melaksanakan penugasan sedemikian rupa sehingga mampu menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah dipatuhi; 2) Semua aspek dari standar umum SPKN telah dipatuhi dalam penugasan pemeriksaan; 3) Seluruh laporan keuangan (neraca, laporan realisasi anggaran, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan) telah lengkap disajikan; 4) Laporan keuangan yang disajikan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (Standar Akuntansi Pemerintahan). Hal ini juga berarti bahwa pengungkapan informatif yang cukup telah tercantum dalam catatan atas laporan keuangan serta bagian-bagian lainnya dari laporan keuangan tersebut; 5) Tidak terdapat situasi yang membuat pemeriksa merasa perlu untuk menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau memodifikasi kalimat dalam laporan pemeriksaan. Dalam hal terjadi keadaan tertentu yang perlu penjelasan, pemeriksa dapat menambahkan suatu paragraf penjelasan dalam laporan hasil pemeriksaannya.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Dalam kondisi ini, pemeriksa dapat menyatakan opini modifikasi yaitu WTP Dengan Paragraf Penjelasan. Adapun kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya penambahan penjelasan adalah sebagai berikut. 1) Tidak ada konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum Suatu paragraf penjelasan diperlukan baik untuk perubahan prinsip akuntansi yang dilakukan secara sukarela maupun yang terjadi kerena adanya pernyataan akuntansi yang baru. 2) Ketidakpastian atas kelangsungan hidup organisasi (going concern) Meskipun bukan merupakan isu penting dalam sektor publik, persoalan keberlangsungan hidup organisasi pemerintah juga harus menjadi pertimbangan pemeriksa. 3) Ada penekanan pada suatu masalah Dalam beberapa situasi, pemeriksa mungkin ingin memberikan penekanan pada beberapa masalah tertentu yang terkait dengan laporan keuangan, meskipun ia bermaksud memberikan opini wajar tanpa pengecualian. Biasanya informasi tambahan yang menjelaskan masalah tersebut harus dinyatakan pada suatu paragraf terpisah dalam laporan pemeriksaan. Contohnya, apabila pemeriksa mempertimbangkan bahwa ia harus menjelaskan transaksi dengan pihak lain yang bernilai sangat besar dan terjadi peristiwa penting setelah tanggal neraca. 4) Terkait laporan yang melibatkan pemeriksa lain Pemeriksa mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan apabila menyandarkan diri pada pemeriksa lain (misalnya kantor akuntan publik) untuk melaksanakan sebagian proses pemeriksaan. Dalam hal ini yang dilakukan biasanya memberikan referensi dalam laporan, karena pemeriksa tidak mungkin melakukan reviu atas pekerjaan pemeriksa lain, terutama apabila proporsi laporan keuangan yang diperiksa oleh pemeriksa lain material terhadap keseluruhan laporan keuangan. 9.3.2 Wajar Dengan Pengecualian (WDP) Opini WDP menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas entitas sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum, kecuali untuk dampak hal-hal yang yang dikecualikan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Kondisi-kondisi yang menyebabkan pemeriksa menyatakan opini WDP adalah adanya salah saji sebagai berikut: 1) WDP karena adanya penyimpangan dari prinsip akuntasi (salah saji) Pemeriksa, setelah memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai, menyimpulkan bahwa salah saji yang terjadi baik secara individual maupun agregat, adalah material, tapi tidak pervasive, terhadap laporan keuangan; atau 2) WDP karena adanya pembatasan lingkup (ketidakcukupan bukti) Pemeriksa tidak dapat memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai untuk dijadikan dasar opini, tetapi pemeriksa menyimpulkan bahwa dampak yang mungkin terjadi (possible effects) pada laporan keuangan atas salah saji yang tidak terdeteksi, apabila ada, adalah material tetapi tidak pervasive. 9.3.3 Tidak Wajar (TW) Kondisi yang menyebabkan pemeriksa menyatakan opini TW adalah ketika pemeriksa, setelah memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup memadai, menyimpulkan bahwa penyimpangan dari prinsip akuntansi (salah saji) yang ditemukan, baik secara individual maupun agregat, adalah material dan pervasive pada laporan keuangan. Sifat pervasive (berpengaruh secara keseluruhan) diantaranya dapat dilihat dari kompleksitas, proporsinya terhadap laporan keuangan secara keseluruhan, dan persyaratan pengungkapan yang bersifat fundamental. 9.3.4 Tidak Memberikan Pendapat (TMP) Kondisi yang menyebabkan pemeriksa menyatakan opini TMP adalah adanya pembatasan lingkup yang luar biasa sehingga pemeriksa tidak dapat memperoleh bukti yang cukup memadai sebagai dasar menyatakan pendapat (opini). Dalam kondisi ekstrim yang melibatkan banyak ketidakpastian, pemeriksa menyimpulkan bahwa, terlepas dari perolehan bukti pemeriksaan yang cukup memadai terkait setiap ketidakpastian, pemeriksa tidak mungkin merumuskan opini atas laporan keuangan karena adanya interaksi potensial dan dampak kumulatif yang mungkin terjadi pada laporan keuangan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Hubungan antara masing-masing kondisi yang mendasari opini dengan bukti audit dan salah saji material (termasuk pervasiveness) dijabarkan dalam bagan sederhana berikut.
Gambar 9.1 Bagan Alur Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Atau dapat digambarkan dalam bagan alur sebagai berikut :
Mulai

Ya

Auditor dapat memperoleh semua bukti audit yang diperlukan?

Tidak

Ya

Auditor menemukan penyimpangan dari prinsip akuntansi (salah saji) material?

Tidak

Tidak

Dampak yang mungkin (possible effect) atas salah saji yang tidak terdeteksi material?

Ya

Apakah salah saji bersifat pervasive?

Tidak

Ya

Apakah auditor menemukan kondisi yang perlu dilaporkan?

Tidak

Dampak yg mungkin atas salah saji yang tidak terdeteksi bersifat pervasive?

Ya

Tidak
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)

Ya

WTP dengan paragraf penjelas

Wajar Dengan pengecualian (WDP) Tidak Wajar (TW) (adverse)

Tidak Memberikan Pendapat (Disclamer)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

12

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.4

Mekanisme dan Matriks Perumusan Opini

Berdasarkan temuan pemeriksaan yang telah diungkap dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, masingmasing temuan dijabarkan ke dalam matriks analisa temuan (Lampiran 9.2) untuk kemudian dilakukan analisa dari segi kecukupan bukti, salah saji dan materialitas (termasuk aspek pervasiveness) dengan langkah sebagai berikut.
1) Tentukan apakah temuan berakibat pada terjadinya salah saji, jika berakibat

maka tentukan nilai salah saji yang terjadi; (ada tidaknya pembatasan lingkup);

2) Tentukan apakah temuan telah didukung dengan bukti audit yang memadai 3) Tentukan apakah nilai salah saji akun atau dampak potensi adanya salah saji

(jika ada) dari adanya pembatasan lingkup bersifat material, yaitu bila melebihi Tolerable Error (TE). TE merupakan materialitas tingkat akun yang merupakan batas kesalahan yang dapat ditolerir;

4) Tentukan apakah akun yang terpengaruh bersifat pervasive

dengan mempertimbangkan faktor kompleksitas, proporsi dan pengungkapannya.

Jika seluruh temuan telah dianalisa, auditor menyimpulkan opini dengan langkah sebagai berikut (Lampiran 9.3).
1) Kelompokkan temuan sebagai berikut: (a) kelompok temuan yang mengandung

salah saji (misstatement); dan (b) kelompok temuan yang tidak didukung dengan bukti audit yang memadai (pembatasan lingkup);

2) Tentukan materialitas salah saji atau pembatasan lingkup pada tingkat laporan

keuangan di masing-masing kelompok temuan, apakah melebihi Planning Materiality yang telah ditentukan; Untuk temuan yang berkaitan dengan ketidakcukupan bukti (pembatasan lingkup), nilai yang diukur adalah kemungkinan dampak salah saji jika ada, atau besarnya nilai yang tidak bisa ditemukan dengan prosedur audit. tidak dengan mempertimbangkan proporsi, pengungkapan dan kompleksitas; alur opini;

3) Tentukan apakah masing-masing kelompok temuan bersifat pervasive atau 4) Tentukan opini untuk masing-masing kelompok temuan berdasarkan bagan 5) Simpulkan opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

13

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Jika masing-masing kelompok temuan (masalah mistatement dan pembatasan lingkup) sama-sama pervasive, opini yang diberikan cenderung Tidak Memberikan Pendapat.

9.5

Pertimbangan Temuan Dalam Menentukan Opini

Suatu temuan dapat berpengaruh terhadap opini jika temuan tersebut secara material berkaitan dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan, Setiap atau sifat yang membatasi lingkup pemeriksaan pemeriksa. pengecualian atau keberatan pemeriksa di dalam paragraf opini seyogyanya termuat pula dalam laporan kepatuhan atau laporan pengendalian intern. Sebagaimana diuraikan di atas, temuan akan berpengaruh terhadap opini apabila berkaitan dengan kedua faktor sebagai berikut:
1)

Faktor pembatasan ruang lingkup (pembatasan oleh auditee, dokumen tidak lengkap, dan ketidakpastian) yang bararti pemeriksa tidak dapat menerapkan prosedur pemeriksaan (penyimpangan dari standar audit) Faktor laporan keuangan tidak disajikan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum dan tidak diterapkan secara konsisten (penyimpangan dari prinsip akuntansi)

2)

Suatu temuan dapat dikategorikan sebagai temuan yang berkaitan dengan pembatasan lingkup jika temuan tersebut berkaitan dengan ketidakcukupan bukti bagi pemeriksa untuk melakukan prosedur audit, ketidakcukupan catatan akuntansi, dan/atau kelemahan sistem pengendalian intern sehingga pemeriksa berkesimpulan bahwa sistem gagal dalam menyajikan informasi yang wajar. Hal penting yang harus diingat dalam temuan katagori ini adalah bahwa pemeriksa tidak dapat menerapkan prosedur audit secara memadai, dan pemeriksa juga tidak meyakini kewajaran suatu akun. Sebelum menyimpulkan adanya pembatasan lingkup, pemeriksa harus terlebih dahulu meyakinkan bahwa dia telah melakukan prosedur alternatif. Temuan ini dapat berupa temuan kepatuhan maupun temuan pengendalian intern. Indikasi-indikasi temuan jenis ini dapat dilihat pada kesimpulan (akibat) pada temuan, misalnya : • • • • Hal ini mengakibat akun …. tidak dapat diyakini kewajarannya Nilai aktiva tidak dapat diketahui dengan pasti Adanya potensi asset tidak tercatat minimal sebesar …. Piutang tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya Sementara itu, temuan yang berkaitan dengan penyimpangan dari
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 14

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

prinsip akuntansi haruslah diperoleh setelah pemeriksa dapat melaksanakan audit sesuai dengan standar, dalam arti tidak ada pembatasan lingkup. Pelanggaran terhadap prinsip akuntansi meliputi pertimbangan atas: (1) apakah prinsip akuntansi yang dipilih untuk diterapkan sudah berlaku umum, prinsip akuntansi sudah tepat sesuai keadaan, dan laporan keuangan beserta catatannya memberikan informasi yang cukup dapat mempengaruhi penggunaan, pemahaman dan penafsiran, (2) apakah informasi diiktisarkan dengan semestinya, (3) apakah laporan keuangan mencerminkan peristiwa atau kejadian yang mendasarinya, dan (4) apakah prinsip akuntansi telah diterapkan secara konsisten dengan penjelasan mengenai alasan dan dampaknya. Beberapa petunjuk yang mengisyaratkan adanya pelanggaran terhadap PABU, misalnya dalam kesimpulan pemeriksa menyatakan: • Akun …. lebih saji/kurang saji sebesar • Informasi …. yang tidak diungkap dapat menyesatkan pembaca laporan keuangan • Hal ini tidak sesuai dengan PSAP … • Inkonsistensi tersebut dapat mengakibatnya terganggunya daya banding LK Untuk temuan ketidakpatuhan, jika pemeriksa yakin bahwa tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh entitas mempunyai dampak material terhadap laporan keuangan, dan pelanggaran tersebut belum dipertanggungjawabkan/dikoreksikan dan belum diungkapkan secara memadai, pemeriksa harus menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar, tergantung pada tingkat materialitas dan dampak pelanggaran tersebut pada laporan keuangan (pervasiveness). Jika pemeriksa dihalangi atau tidak dapat memperoleh bukti yang cukup untuk mengevaluasi apakah dampak tersebut tersebut telah atau akan memiliki dampak material terhadap laporan keuangan, pemeriksa dapat memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan, tergantung pada besarnya pos atau kemungkinan dampaknya (pervasiveness) terhadap laporan keuangan secara keseluruhan. Untuk temuan pengendalian, jika terdapat pengendalian intern yang lemah mengakibatkan catatan akuntasi yang tidak lengkap dan/atau dokumen yang tersedia tidak memadai dan/atau sistem tidak menghasilkan data akuntasi yang valid. Ketiga hal tersebut merupakan kondisi yang tidak memungkinkan pemeriksa melaksanakan prosedur pemeriksaan secara memadai sehingga dapat mengakibatkan pemeriksa memberikan opini WDP karena pembatasan lingkup (jika material tetapi tidak pervasive) atau opini TMP (jika material dan pervasive). Demikian juga jika ternyata sistem yang dibangun ternyata didesain tidak sejalan dengan prinsip akuntansi dan entitas tidak mengoreksikan dampak salah saji
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 15

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

tersebut, pemeriksa tidak dapat memberikan opini WTP karena adanya pelanggaran terhadap prinsip akuntansi.

9.6

Mengukur Salah Saji atau Potensi Kesalahan yang Terjadi

Setelah menetapkan besaran salah saji atau potensi kesalahan dari permasalahan-permasalahan yang ditemukan, langkah selanjutnya adalah mengukur apakah salah saji/potensi kesalahan tersebut material atau tidak. Pengukuran ini dilakukan dengan membandingkan salah saji atau potensi kesalahan dengan tingkat materialitas yang telah ditetapkan. Pada saat perencanaan, pemeriksa telah menetapkan dua jenis materialitas sesuai dengan Juknis penetapan batas materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan yaitu:
1) 2)

Planning materiality (PM), yaitu materialitas untuk tingkat keseluruhan laporan keuangan. Tolerable error (TE), yaitu materialitas terkait kelas-kelas transaksi, saldo akun, dan pengungkapan.

PM dan TE tersebut harus ditetapkan dengan hati-hati dan prudent. Jika ada kesalahan dalam penentuan PM di awal, kesalahannya akan terbawa sampai dengan opini yang diberikan. Panduan penetapan PM dan TE dapat dilihat pada Bab IV. Pada saat tahap pelaporan, pemeriksa harus mengevaluasi PM tersebut dengan hasil penerapan prosedur audit yang dilakukannya. Pada tahap ini pemeriksa harus mempertimbangkan apakah PM yang ditetapkan semula masih valid, setelah pemeriksa memperoleh pemahaman mengenai risiko audit dan pengendalian intern (termasuk hasil uji pengendalian). Pada saat ini pula pemeriksa harus membuat pertimbangan secara lebih cermat mengenai hal-hal kualitatif. Jika pemeriksa menyimpulkan bahwa pengendalian intern sudah efektif sehingga risiko gabungan menjadi lebih rendah, pemeriksa dapat menaikkan tingkat materialitas. Setelah mengevaluasi penetapan PM dan TE berdasarkan pemahaman mengenai risiko audit dan pengendalian intern, pemeriksa membandingkan salah saji/potensi kesalahan setiap akun dengan TE dan membandingkan total kesalahan dengan PM yang sudah dievaluasi tersebut.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

16

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Perbandingan ini harus mempertimbangkan baik aspek materialitas kuantitatif maupun kualitatif. Panduan pertimbangan materialitas kuantitatif adalah sebagai berikut.
1)

Jika total salah saji/potensi kesalahan yang ditemukan lebih kecil dari PM dan salah saji pada tingkat akun masing-masing tidak lebih besar daripada TE akun tersebut, maka pemeriksa bisa memberikan opini WTP; atau Jika total saji/potensi kesalahan yang ditemukan lebih besar dari PM dan/atau salah saji/potensi salah saji di masing-masing akun lebih besar dari TE, pemeriksa bisa mempertimbangkan untuk tidak memberikan opini WTP. Opini yang bisa dipertimbangkan adalah WDP, Tidak wajar, atau Tidak Memberikan Pendapat. Hal ini tergantung dari nilai salah sajinya/potensi salah sajinya yang mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan atau tidak, asersi yang terpengaruh, dan pertimbangan kualitatif yang relevan menurut tim pemeriksa

2)

Dalam memilih opini yang tepat, pemeriksa perlu mempertimbangkan faktor-faktor kualitatif sebagai berikut.
1)

Penting tidaknya salah saji atau potensi salah saji dikaitkan dengan asersi. Jika hanya menyangkut asersi valuation dan presentation, opini yang diberikan bisa WDP. Namun, jika menyangkut asersi existency atau occurrence, right and obligation dan completeness, opini yang diberikan dapat Tidak Wajar atau Tidak Memberikan Pendapat, dan Luas atau tidaknya akibat dari salah saji atau risiko kemungkinan salah saji baik jumlah akun yang terpengaruh maupun jumlah laporan yang terpengaruh. Sebagai contoh: (1) Kelemahan pengendalian intern dalam pencatatan aset tetap di satu satker saja (tidak terjadi di satker lain), tidak mengharuskan pemeriksa melakukan pengecualian atas seluruh akun aset tetap. (2) Temuan mengenai adanya aset tetap yang belum direvaluasi, harusnya hanya berpengaruh terhadap aset yang diperoleh sebelum tahun 2004. Dengan demikian, kualifikasi dapat dilakukan terhadap aset tetap yang diperoleh sebelum tahun 2004, bukan terhadap keseluruhan aset tetap. (3) Kelemahan pengendalian dalam pengelolaan Kas di Bendahara Pengeluaran bisa jadi tidak hanya berpengaruh terhadap kewajaran saldo Kas di Bendahara Pengeluaran, tetapi juga mungkin berpengaruh terhadap kewajaran belanja yang dikeluarkan melalui mekanisme Uang Persediaan.

2)

Contoh lain penerapan pertimbangan materialitas kualitatif dalam penentuan opini atas LKPD dapat dilihat pada Lampiran 9.4.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

17

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

9.7

Format dan Contoh Opini

Untuk memenuhi kesesuaian dengan SPKN, berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengungkapan opini pemeriksaan. 1) Panduan umum (1) Sebelum merumuskan opini, pemeriksa harus mempunyai pemahaman yang cukup mengenai entitas termasuk risikonya; (2) Jika ada pembatasan lingkup, apakah prosedur alternatif sudah dilakukan; (3) Jika ada penyimpangan dari SAP, apakah koreksi atau penyempurnaan telah diusulkan oleh pemeriksa; (4) Pada prinsipnya gunakan format dan bahasa yang diatur (dicontohkan dalam SPAP), kecuali diatur lain oleh juknis, juklak, atau panduan tertulis; (5) Jika laporan keuangan entitas komparatif, maka sebaiknya opini komparatif; 2) Opini WTP Untuk opini WTP dapat mengikuti bahasa standar, kecuali untuk hal-hal tertentu yang diatur lain. Sementara itu, apabila diperlukan paragraf penjelasan, pemeriksa dapat memberikan opini WTP Dengan Paragraf Penjelas dengan panduan sebagai berikut: (1) Bahasa penjelasan sifatnya menjelaskan hal-hal yang sudah ditentukan; (2) Seyogyanya bahasa penjelasan tidak menjelaskan mengenai keterbatasan lingkup yang material, adanya risiko yang tidak dapat dicover, atau penyimpangan prinsip akuntansi tetapi tidak dapat diterima oleh pemeriksa. Hindari bahasa yang dapat ditafsirkan sebagai pengecualian. 3) Opini WDP Apabila opini WDP diberikan karena pembatasan lingkup, maka pemeriksa perlu memperhatikan panduan berikut. (1) Situasi itu harus dijelaskan dalam paragraf penjelasan terpisah sebelum paragraf opini; (2) Penjelasan sedapat mungkin mengacu pada pos, atau catatan atas laporan keuangan;
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 18

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

(3) Kata-kata pada paragraf opini, harus menunjukkan bahwa pengecualian tersebut berkaitan dengan dampak yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan dan bukan terhadap pembatasan itu sendiri; (4) Opini harus dimulai dengan prase “kecuali”. Demikian juga dalam paragraf lingkup, harus dimulai dengan prase “kecuali”. Apabila opini WDP diberikan karena adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi, pemeriksa perlu memperhatikan hal-hal berikut. (1) Jelaskan semua alasan yang menyebabkan pemeriksa berkesimpulan bahwa terdapat penyimpangan dari PABU dalam paragraf penjelasan terpisah sebelum paragraf opini; (2) Penjelasan sedapat mungkin mengacu pada pos laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan. Paragraf penjelasan harus menjelaskan dampak dari pemyimpangan tersebut; (3) Jika laporan keuangan sudah mengungkap penjelasan atas penyimpangan, maka dapat mengacu pada penjelasan tersebut. (4) Pada paragraf scope tidak perlu ada prase “kecuali”. Pada paragraf opini, yang dikecualikan adalah dampak dari penyimpangan terhadap SAP, bukan akunnya. 4) Opini Tidak Memberikan Pendapat (1) Diberikan jika pemeriksa tidak dapat merumuskan opini karena tidak dapat melaksanakan audit yang lingkupnya cukup untuk menyatakan pendapat. (2) Kemukakan semua alasan substantif yang menyebabkan tidak memberikan pendapat. (3) Tidak boleh ada kalimat yang menyatakan BPK sudah melaksanakan audit sesuai dengan standar. 5) Opini Tidak Wajar (1) Pemeriksa harus menjelaskan dua hal dalam laporan yaitu, semua alasan yang mendukung dan dampak utama yang menyebabkan pendapat tersebut. (2) Semua alasan harus dikemukakan pada paragraf terpisah sebelum paragraf opini.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

19

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 9 Panduan Penyusunan Opini

Contoh-contoh mengenai opini dapat dilihat pada Lampiran 9.5. Contoh-contoh tersebut terdiri dari: 1) Opini Wajar Tanpa Pengecualian 2) Opini Wajar Tanpa Pengecualian untuk Tahun Sekarang dan Opini Wajar Dengan Pengecualian untuk Tahun Lalu 3) Opini Wajar Tanpa Pengecualian untuk Tahun Sekarang dan Opini Tidak Memberikan Pendapat untuk Tahun Lalu 4) Opini Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan 5) Opini Wajar Dengan Pengecualian (Karena Pembatasan Ruang Lingkup) 6) Opini Wajar Dengan Pengecualian (Karena Adanya Penyimpangan Standar Akuntansi Pemerintahan) 7) Opini Wajar Dengan Pengecualian untuk Tahun Sekarang (Karena Pembatasan Ruang Lingkup) dan Opini Tidak Memberikan Pendapat untuk Tahun Lalu 8) Opini Tidak Wajar 9) Opini Tidak Memberikan Pendapat.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

20

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.1

GUIDELINE UNTUK SEKTOR PUBLIK UNTUK TINGKAT KOMPLEKSITAS AKUN Akun Kas di Kasda Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Kas di BLUD Piutang – Pinjaman Piutang – Non Pinjaman Persediaan Investasi Non Permanen Investasi Permanen Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Hutang PFK Hutang Jk Pendek Lainnya Hutang Jk Panjang Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Transfer Lain-lain Pendapatan yg Sah Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bansos Belanja Tak Terduga Belanja Transfer Pengeluaran Pembiayaan – Pemberian Pinjaman Pengeluaran Pembiayaan – Bayar Utang Pengeluaran Pembiayaan – Penyertaan Modal Penerimaan Pembiayaan – Silpa Tahun Lalu Penerimaan Pembiayaan – Lainnya Kompleksitas Akun Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.2

MATRIKS ANALISIS TEMUAN PEMERIKSAAN LKPD PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ………….. TA ……
Akun yang terpengaruh 2 Kas di Kasda Judul Temuan 3 SPI No.1 Kepatuh an No.7 Nilai (Rp) 4 Apakah Ada Batas Nilai Apakah Pembatasan Materialitas Materialitas Unaudited Proporsi Misstatement? Lingkup? (Nilai TE) (Rp) Terhadap FS 5 6 7 8 9 10 Pervasiveness Pengungkapan 11 Kompleksitas 12

No 1 1

2

Pendapatan Pajak

Total Akun yg diaudit: ……………… Keterangan: Kolom 5 : diisi ya atau tidak (sifat masalah pengakuan, penyajian, atau pengungkapan) Kolom 6 : diisi ya atau tidak Kolom 8 : diisi ya atau tidak, material jika nilai (kolom 4) melebihi nilai TE (kolom 7) Kolom 10 : diisi prosentase nilai akun terpengaruh (kolom 4) terhadap keseluruhan nilai laporan keuangan (akun) yang diperiksa Kolom 11 : diisi apakah terdapat keharusan memerlukan pengungkapan atau tidak (atas permasalahan yang ditemukan) Kolom 12 : diisi apakah dampak permasalahannya (baik misstatement ataupun tidak cukup bukti) bersifat kompleks atau tidak (lihat guideline untuk sektor publik)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.3

MATRIKS KESIMPULAN OPINI LKPD PROVINSI/KOTA/KABUPATEN …………..TA ……….. A. TEMUAN SALAH SAJI/PELANGGARAN TERHADAP PRINSIP AKUNTANSI (MISTATEMENT) No 1 2 Akun yang terpengaruh Kas di Kasda Belanja Modal JUMLAH (A) PM (B) SELISIH (A-B) B. TEMUAN TIDAK CUKUP BUKTI (PEMBATASAN LINGKUP) No 1 2 Akun yang terpengaruh Pendapatan Pajak Belanja Modal JUMLAH (C) PM (B) SELISIH (C-B) KESIMPULAN: URAIAN SALAH SAJI PEMBATASAN LINGKUP MATERIAL Tidak Material / Material/sangat Material* Tidak Material / Material/sangat Material* KESIMPULAN AKHIR OPINI PERVASIVE *) Ya/Tidak* (Proporsi…..%) Ya/Tidak* (Proporsi…..%) OPINI WTP/WDP/TW* WTP/WDP/TMP* WTP/WDP/TW/TMP* SELISIH (= …. Kali dari PM) Judul Temuan Nilai (Rp) Proporsi (%) Pengungkapan Kompleksitas SELISIH ( = … Kali dari PM) Judul Temuan Nilai (Rp) Proporsi (%) Pengungkapan Kompleksitas

* Pervasive = dipertimbangkan secara keseluruhan, baik masalah proporsi, kompleksitas dan pengungkapan.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.4

DAFTAR PANDUAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS KUALITATIF DALAM PENENTUAN PENGARUH SUATU MASALAH TERHADAP OPINI LKPD
No 1 Masalah Asersi Terkait Pembatasan Lingkup Pengaruh terhadap Materialitas Contoh Paragraf di Opini yang Pernah Ada

Pendapatan yang diguna-  Kelengkapan kan langsung tanpa melalui APBD/LRA (misalnya pendapatan Jamkesmas di RSUD non BLUD, retribusi, pendapatan sewa kekayaan daerah dll)

2

Dalam belanja barang  Pengungkapan sebesar Rp100 miliar  Kelengkapan diantaranya sebesar Rp59

-

Pada prinsipnya semua Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.1.3.2 pendapatan dan belanja APBD Pemerintah Kabupaten ABC menyajikan PAD Tahun 2010 dan 2009 masing-masing sebesar dilaporkan dalam LRA. Rp55miliar dan Rp54miliar. Jumlah tersebut Jika nilai yang dikelola di luar belum termasuk pendapatan dari pengelolaan APBD sudah diadministrasikan dana Jamkesmas pada RSUD masing-masing dan dipertanggungjawabkan sebesar Rp10miliar dan Rp8,2miliar, karena secara tertib serta pemeriksa dapat pendapatan tersebut digunakan langsung untuk menguji bukti-bukti, maka : operasional di RSUD non BLUD. Jumlah penggunaan langsung dana Jamkesmas untuk  Jika nilainya lebih kecil dari belanja Tahun 2010 dan 2009 masing-masing 50% PM, maka cukup dapat sebesar Rp9miliar dan 8miliar, sehingga masih dipertimbangkan diungkap-kan terdapat sisa dana sebesar Rp1,2miliar. Dalam dalam CaLK tanpa belanja tersebut diantaranya digunakan untuk mempengaruhi opini. membeli aset tetap masing-masing sebesar  Jika nilainya melebihi 50% dari Rp500juta dan Rp700juta, namun aset tetap PM, maka dapat dipertimbang- tersebut tidak dicatat dalam neraca Pemkab kan untuk mempengaruhi opini. ABC. Jika Pemkab ABC mengakui pendapatan dan belanja dari dana Jamkesmas Tahun 2010 dan 2009 tersebut, maka PAD akan bertambah sejumlah masing-masing sebesar Rp10 miliar dan Rp8,2miliar, serta belanja akan bertambah masing-masing sebesar Rp9 miliar dan Rp8 miliar sesuai dengan jenis belanjanya. Selain itu kas akan bertambah masing-masing sebesar Rp1miliar dan Rp200juta, serta aset tetap akan bertambah sebesar Rp500juta dan Rp700juta. Dalam membuat pertimbangan Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.2.3.1 materialitas pada kasus salah Pemda ABC menyajikan anggaran belanja klasifikasi, pemeriksa harus barang Tahun 2010 sebesar Rp110miliar 1

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD No Masalah miliar digunakan untuk pengadaan aset tetap. Asersi Terkait (aset tetap) Pembatasan Lingkup Pengaruh terhadap Materialitas mepertimbangkan risiko kesalahan klasifikasi tersebut, serta intensi (niat) mengapa terjadi salah klasifikasi. Jika salah klasifikasi menimbulkan adanya aset tetap yang tidak tercatat, maka materialitasnya dapat menggunakan nilai sekitar 50% dari PM. Jika salah saji tersebut tidak menimbulkan risiko lain, hanya masalah salah klasifikasi (risiko informasi) maka dapat digunakan pertimbangan berikut: • Jika nilai kesalahan klasifikasi di bawah 10% dari total belanja dan telah diungkapkan dalam CaLK , serta aset tetapnya sudah dicatat di neraca maka tidak perlu mempengaruhi opini. Jika nilai kesalahan klasifikasi di atas 10% dari total belanja, maka dapat dipertimbangkan untuk mempengaruhi opini. 3 Permasalahan klasifikasi belanja barang, belanja sosial dan hibah. Jika hibah/bantuan sosial dalam bentuk barang dianggarkan dalam belanja barang dan atau belanja modal, maka dapat dipertimbang-

Lampiran 9.4 Contoh Paragraf di Opini yang Pernah Ada dengan realisasi sebesar Rp100miliar. Dari jumlah realisasi tersebut diantaranya sebesar Rp59miliar merupakan realisasi belanja untuk pengadaan aset tetap pemda. Standar Akuntansi Pemerintahan mengatur bahwa pengadaan aset tetap diklasifikasikan pada anggaran belanja modal. Adanya kesalahan klasifikasi dapat memberikan informasi yang keliru pada belanja barang dan belanja modal. Lebih lanjut, aset tetap yang diperoleh dari belanja barang tersebut belum disajikan sebagai aset tetap pada Neraca per 31 Desember 2010, sehingga akun aset tetap menjadi kurang saji sebesar Rp59 miliar.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

2

Panduan Pemeriksaan LKPD No Masalah Asersi Terkait Pembatasan Lingkup Pengaruh terhadap Materialitas kan tidak mempengaruhi opini, karena ada permasalahan pengaturan di Permendagri dan SAP, sepanjang sifat dari pembelian barang tersebut adalah untuk diberikan kepada masyarakat. Namun jika belanja barang dan atau belanja modal digunakan untuk hibah dalam bentuk tunai, maka dapat dipertimbangkan mempengaruhi opini, dengan pertimbangan materialitas sebesar 50% dari PM. 4 Terhadap persediaan per  Kelengkapan 31 Desember 2010,  Penilaian pemda hanya melakukan stock opname pada 3 SKPD dari 30 SKPD, sehingga persediaan di neraca hanya meliputi 3 SKPD. Diantara SKPD yang tidak melakukan inventarisasi adalah SKPD yang umumnya mempunyai persediaan dalam jumlah material yaitu Dinas Kesehatan, RSUD dan Dinas Pendidikan. Pemeriksa tidak dapat melakukan perhitungan fisik atas persediaan Tidak dapat memperoleh bukti persediaan per 31 Des 20xx Terhadap kasus ini, pemeriksa dapat mepertimbangkan materiallitas sekitar 50% PM. Karena permasalahan ini adalah pembatasan lingkup, maka pemeriksa harus memperhitungkan kemungkinan risiko nilai persediaan yang tidak disajikan pada 27 SKPD. Apakah risiko tersebut mungkin menjadi material. Oleh karena itu pemeriksa harus mempertimbang-kan apakah SKPD yang belum melakukan stock opname adalah SKPD yang secara normal memiliki persediaan yang nilainya cukup material. Sebelum memutuskan

Lampiran 9.4 Contoh Paragraf di Opini yang Pernah Ada

Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.3.1 Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABC Tahun 2010, Pemerintah Kabupaten ABC mencatat persediaan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp10 miliar dan Rp8miliar. Saldo persediaan per 31 Desember 2010 sebesar Rp10miliar merupakan nilai persediaan pada tiga SKPD dari 30 SKPD yang ada pada Pemkab ABC. Terhdadap 27 SKPD lainnya, Pemkab ABC belum melakukan inventarisasi, sehingga nilai persediaan tidak dapat disajikan dalam neraca per 31 Desember 2010. Nilai persediaan dapat berbeda secara signifikan jika pemerintah kabupaten ABC melakukan inventarisasi persediaan secara menyeluruh dan mencatatannya di dalam neraca. BPK tidak adanya dapat menerapkan prosedur pemeriksaan yang 3

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD No Masalah tersebut, karena sistem pencatatan persediaan yang tidak tertib. Seluruh persediaan dinilai berdasarkan harga perolehan saat pembelian (bukan nilai perolehan terakhir). Piutang tidak lengkap dan tidak didukung dengan bukti yang memadai Asersi Terkait Pembatasan Lingkup Pengaruh terhadap Materialitas pembatasan lingkup, maka pemeriksa harus menerapkan prosedur alternatif misalnya dengan meminta pemda melakukan stock opname, kemudian nilainya ditarik mundur.  Eksistensi  Kelengkapan  Penilaian Tidak dapat memperoleh bukti keberadaan dan nilai piutang Untuk akun piutang yang tidak lengkap dan atau tidak didukung dengan bukti yang memadai pemeriksa dapat mempertimbangkan menggunakan materialitas sekitar 50% dari PM.

Lampiran 9.4 Contoh Paragraf di Opini yang Pernah Ada memadai untuk dapat meyakini nilai persediaan karena Pemda Kabupaten ABC tidak menyelenggarakan administrasi persediaan secara memadai.

5

Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.3.1 Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABC Tahun 2010, Pemerintah Kabupaten ABC menyajikan saldo piutang per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp64miliar dan Rp35miliar. Dalam piutang tersebut diantaranya terdapat piutang pajak daerah yang ditetapkan berdasarkan estimasi, dan tidak dilengkapi dengan bukti-bukti penetapan ataupun penagihan. Jumlah tersebut juga tidak dapat ditelusuri ke rincian piutang untuk masing-masing debitur. Dokumen dan catatan yang tersedia tidak memungkinkan BPK untuk dapat melaksanakan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk dapat memperoleh keyakinan mengenai piutang per 31 Desember 2010. Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.3.7 Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABC Tahun 2010, Pemkab ABC mencatat aset tetap per 31 Desember 2010 dan 2009 masingmasing sebesar Rp800miliar dan Rp700miliar. Dalam jumlah terebut diantaranya termasuk aset tetap yang diperoleh sebelum Tahun 2004. Pemerintah Kabupaten ABC belum melakukan inventarisasi dan penilaian atas aset tetap yang 4

6

Inventarisasi dan  Eksistensi revaluasi aset tetap yang  Penilaian diperoleh sebelum Tahun  Kelengkapan 2004

Tidak dapat memperoleh data aset tetap dan nilai yang sebenar-nya

Untuk aset tetap jenis ini, pemeriksa dapat menggunakan pertimbangan materialitas sekitar 50% dari PM. Jika masalahnya hanya ini, maka pemeriksa dapat mempertimbangkan bukan sebagai masalah yang perpasive, sehingga cenderung memberikan opini WDP karena pembatasan lingkup.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD No Masalah Asersi Terkait Pembatasan Lingkup Pengaruh terhadap Materialitas

Lampiran 9.4 Contoh Paragraf di Opini yang Pernah Ada diperoleh sebelum Tahun 2004 sebagaimana yang disyaratkan oleh Standar Akuntansi Pemerintah. Nilai aset tetap dapat berbeda secara signifikan jika Pemerintah Kabupaten ABC telah melakukan inventarisasi dan penilaian kembali atas aset tetap yang diperoleh sebelum Tahun 2004.

7

Administrasi aset tetap tidak tertib. Tidak ada KIB. Aset tetap secara masif tidak dapat ditelusuri rinciannya ke SKPD. Rincian yang ada tidak mencerminkan data yang sebenarnya secara massif.

 Eksistensi  Kelengkapan  Penilaian  Hak dan kewajiban.

Pemeriksa tidak dapat menjalankan prosedur audit untuk meyakini eksistensi, kelengkapan maupun penilaiannya.

Untuk aset tetap, pemeriksa dapat memberikan pertimbangan kualitatif materialitas sekitar 50% dari PM. Aset tetap biasanya merupakan nilai yang dominan dibanding aset lainnya. Sehingga secara proporsi dapat menjadi perpassive (sangat material), sehingga mungkin dapat mengakibatkan opini TMP.

Sebagaimana dijelaskan dalam catatan B.7.1 Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten ABC mencatat aset tetap per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp450 miliar dan Rp400miliar. Nilai tersebut merupakan nilai aset tetap berdasarkan data yang dimiliki DPKAD. Pemerintah Kabupaten ABC tidak melakukan administrasi asset tetap secara memadai, antara lain tidak adanya kartu inventaris pada masing-masing SKPD, sehingga nilai aset tetap yang disajikan di neraca tidak dapat ditelusuri rinciannya pada masing-masing SKPD. Selain itu, Pemerintah Kabupaten ABC belum melakukan inventarisasi dan penilaian atas aset tetap yang diperoleh sebelum Tahun 2004 sebagaimana yang disyaratkan oleh Standar Akuntansi Pemerintah. Dokumen dan catatan yang tersedia tidak memungkinkan BPK melakukan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk dapat meyakini nilai aset tetap per 31 Desember 2010 dan 2009.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

FORMAT DAN CONTOH OPINI 1. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN” 1.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

2

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

1.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No. D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

4

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

2. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN UNTUK TAHUN SEKARANG” DAN ”WAJAR DENGAN PENGECUALIAN UNTUK TAHUN LALU” 2.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Dalam Laporan BPK Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN, DAN TAHUN], BPK menyatakan pendapat, kecuali untuk dampak penyesuaian, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan atas [NAMA DAMPAK YANG DIKECUALIKAN], Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS], menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Pada tahun 20X1, [NAMA ENTITAS] telah melakukan……dst. [NAMA ENTITAS] tidak menyajikan kembali Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS] tahun 20X0. Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. [Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

2.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Dalam Laporan BPK Nomor 12/LHP/XV/04/2009 tanggal 30 April 2009, BPK menyatakan pendapat, kecuali untuk dampak penyesuaian, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan atas Aset Tetap jika Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan inventarisasi dan penilaian kembali yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Desember 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan inventarisasi dan penilaian kembali atas seluruh Aset Tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 dan telah disajikan dalam Neraca per tanggal 31 Desember 2008. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak menyajikan kembali Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2008. Menurut pendapat BPK, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

3. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN UNTUK TAHUN SEKARANG” DAN OPINI ”TIDAK MEMBERIKAN PENDAPAT” UNTUK TAHUN LALU” 3.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Kecuali dijelaskan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Dalam Laporan BPK Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN, DAN TAHUN], BPK tidak menyatakan pendapat atas Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut karena masalah-masalah: (1)….; (2)….; dst

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Pada tahun 20X1, [NAMA ENTITAS] telah melakukan……dst. [NAMA ENTITAS] tidak menyajikan kembali Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS] tahun 20X0. Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

3.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Kecuali dijelaskan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Dalam Laporan BPK Nomor 13/LHP/XV/04/2009 tanggal 30 April 2009, BPK tidak menyatakan pendapat atas Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut karena masalah-masalah: (1) belum dikonsolidasikannya Laporan Badan Layanan Umum Daerah; (2) belum dikonsolidasikannya neraca pada 12 SKPD; (3) belum dicatatnya pendapatan dan belanja yang berasal dari hibah; (4) tidak dilakukannya inventarisasi

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

fisik atas persediaan; dan (5) belum dilakukannya Inventarisasi dan penilaian kembali Aset Tetap. Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan hal-hal berikut, yaitu: (1) Konsolidasi laporan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD); (2) mengkonsolidasikan neraca pada seluruh SKPD; (3) mencatat seluruh hibah yang diterima di LRA; (4) inventarisasi persediaan akhir tahun; dan (5) Inventarisasi dan penilaian kembali sebagian Aset Tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak menyajikan kembali Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2008. Menurut pendapat BPK, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

12

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

4. OPINI “WAJAR TANPA PENGECUALIAN DENGAN PARAGRAF PENJELASAN” 4.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat BPK, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

13

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Seperti telah dijelaskan dalam Catatan … atas Laporan Keuangan, ….[DITAMBAHKAN PENJELASANNYA]. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

14

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

4.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat BPK, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2010, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

15

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Seperti telah dijelaskan dalam Catatan 15 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Daerah Kabupaten ABCD sedang menghadapi gugatan dari pihak ketiga atas tanah seluas 20 ha yang saat ini dimiliki dan dikuasai oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Keputusan pengadilan negeri memenangkan Pemerintah Kabupaten ABCD atas kepemilikan aset tersebut, tetapi pihak penggugat saat ini sedang mengajukan banding. Pemerintah Kabupaten ABCD berkeyakinan sesuai dengan dokumen kepemilikan, pemerintah daerah yang bersangkutan adalah pemilik yang sah dari tanah tersebut. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

16

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

5. OPINI “WAJAR DENGAN PENGECUALIAN” (KARENA PEMBATASAN RUANG LINGKUP) 5.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. BPK tidak dapat melakukan ……[DIISI DENGAN HAL-HAL YANG MEMBATASI RUANG LINGKUP PEMERIKSAAN]. Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan jika BPK memeriksa [DIISI DENGAN HAL YANG MEMBATASI], Neraca [NAMA

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

17

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. [Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

18

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

5.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 13 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten ABCD menyajikan persediaan per 31 Desember 2009 senilai Rp1,76 triliun. Nilai tersebut merupakan nilai persediaan yang dilaporkan oleh 5 dari 20 satuan kerja di Pemerintah Kabupaten ABCD. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak melaksanakan pencatatan yang memadai dan tidak melakukan inventarisasi atas persediaan tersebut. Catatan dan data yang tersedia tidak

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

19

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

memungkinkan BPK untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk memperoleh keyakinan atas nilai persediaan per 31 Desember 2009 tersebut. Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan jika BPK dapat memeriksa bukti-bukti persediaan per 31 Desember 2009, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal–tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No. D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

20

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

6. OPINI “WAJAR DENGAN PENGECUALIAN” (KARENA ADANYA PENYIMPANGAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN) 6.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan ....atas Laporan Keuangan,...........................dst. Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak ……[DIISI PENJELASAN MENGENAI HAL YANG DIKECUALIKAN] yang diuraikan dalam paragraf di atas, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

21

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR L APORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. [Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

22

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

6.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggaltanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlahjumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 12 atas Laporan Keuangan, aset tetap per 31 Desember 2009 dan 2008 disajikan masing-masing sebesar Rp15,13 miliar dan Rp13,20 miliar. Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan penilaian aset tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 masing-masing untuk tahun 2009 dan 2008 sebesar Rp11,93 miliar dan Rp12,00 miliar. Namun demikian hasil penilaian kembali tersebut belum disajikan dalam Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD tanggal 31 Desember 2009 dan 2008 sebagaimana diatur

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

23

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

dalam Standar Akuntansi Pemerintahan. Jika hasil penilaian kembali atas aset tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 tersebut telah disajikan seluruhnya, maka nilai aset tetap tersebut masing-masing akan menjadi sebesar Rp17,93 miliar dan Rp15,00 miliar per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008. Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak tidak disajikannya aset tetap berdasarkan hasil penilaian kembali seperti yang diuraikan dalam paragraf di atas, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

24

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

7. OPINI “WAJAR DENGAN PENGECUALIAN” UNTUK TAHUN SEKARANG (KARENA PEMBATASAN RUANG LINGKUP) DAN OPINI “TIDAK MEMBERIKAN PENDAPAT” UNTUK TAHUN LALU 7.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Dalam Laporan BPK Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN, dan TAHUN], BPK tidak menyatakan pendapat atas Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 20X0 karena masalah-masalah: (1)….; (2)…; dan (3)…. Dst.

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

25

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Pada tahun 20X1, [NAMA ENTITAS] telah melakukan: (1)…..; (2)……; dan (3)…. Dst. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan ....atas Laporan Keuangan, [DIISI DENGAN HAL YANG DIKECUALIKAN KARENA RUANG LINGKUP]...........................dst. Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan atas [SEBUTKAN HAL-HAL YANG DIKECUALIKAN], Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1, realisasi anggaran, arus kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. [Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

26

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

7.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Dalam Laporan BPK Nomor 13/LHP/XV/04/2009 tanggal 30 April 2009, BPK tidak menyatakan pendapat atas Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang yang berakhir pada tanggal tersebut, karena masalah-masalah berikut: (1) belum dikonsolidasikannya Laporan Badan Layanan Umum Daerah; (2) belum dikonsolidasikannya neraca pada 12 SKPD; (3) belum dicatatnya pendapatan dan belanja yang berasal dari hibah; (4) tidak dilakukannya inventarisasi fisik atas persediaan; dan (5) belum dilakukannya Inventarisasi dan penilaian kembali Aset Tetap. Pada tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan: (1) Konsolidasi laporan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD); (2) konsolidasikan neraca pada seluruh SKPD; (3) mencatat seluruh hibah yang diterima di LRA; dan (5) Inventarisasi dan penilaian kembali sebagian Aset Tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak menyajikan kembali Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2008. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 13 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten ABCD menyajikan persediaan per 31 Desember 2009 senilai Rp1,76 triliun. Nilai tersebut merupakan nilai persediaan yang dilaporkan oleh 5 dari 20 satuan kerja di Pemerintah

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

27

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Kabupaten ABCD. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak melaksanakan pencatatan yang memadai dan tidak melakukan inventarisasi pada akhir tahun atas persediaan tersebut. Catatan dan data yang tersedia tidak memungkinkan BPK untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk memperoleh keyakinan atas nilai persediaan per 31 Desember 2009 tersebut. Menurut pendapat BPK, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika ada, yang mungkin perlu dilakukan jika BPK dapat memeriksa persediaan, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi .......... Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No.D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

28

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

8. OPINI “TIDAK WAJAR” 8.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK) telah memeriksa Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, buktibukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh [NAMA ENTITAS], serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan .... atas Laporan Keuangan...........................dst. Catatan …. atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan…. dst. Catatan …. atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan…. dst.

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

29

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Menurut pendapat BPK, karena dampak hal yang diuraikan dalam paragraf di atas, Neraca [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut tidak menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan [NAMA ENTITAS] per tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN] tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

[Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

30

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

8.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-undang terkait lainnya, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu pemeriksaan meliputi eksaminasi, atas dasar pengujian, buktibukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Prinsip Akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten ABCD, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 12 atas Laporan Keuangan, aset tetap per 31 Desember 2009 dan 2008 disajikan masing-masing sebesar Rp15,13 miliar dan Rp13,20 miliar. Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan penilaian aset tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 masing-masing untuk tahun 2009 dan 2008 sebesar Rp17,93 miliar dan Rp15,00 miliar. Namun demikian hasil penilaian kembali tersebut belum disajikan dalam Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD tanggal 31 Desember 2009

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

31

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

sebagaimana diatur dalam Standar Akuntansi Pemerintahan. Jika hasil penilaian kembali atas aset tetap yang diperoleh sebelum tanggal 31 Desember 2004 tersebut telah disajikan seluruhnya, maka nilai aset tetap tersebut masing-masing akan menjadi sebesar Rp11.925,35 miliar dan Rp12.000,00 miliar per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 10 atas Laporan Keuangan, penerimaan asli daerah lainnya Tahun 2009 dan 2008 masing-msing sebesar Rp11,00 miliar dan 12 miliar. Pemerintah Kabupaten ABCD belum mengakui penerimaan dari 20 SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten ABCD masing-masing sebesar Rp100,00 miliar dan Rp90 miliar. Penerimaan tersebut digunakan langsung oleh SKPD dlingkungan Pemerintah Kabupaten ABCD untuk membiayai operasinya masing-masing sebesar Rp97 miliar dan 96 miliar. Jika Pemerintah Kabupaten ABCD mengakui penerimaan bukan pajak yang digunakan langsung senilai Rp100,00 miliar dan 90 miliar maka pendapatan asli daerah Pemerintah Kabupaten ABCD tahun 2009 dan 2008 akan bertambah senilai tersebut. Sementara itu jika pemerintah daerah mengakui belanja yang digunakan langsung tersebut, maka belanja akan bertambah masing-masing sebesar Rp97 milar dan 96 milair. Sebagaimana di jelaskan dalam catatan 13 atas laporan keuangan, Pemerintah Kabupaten ABCD mencatat nilai penyertaan sebesar masing-masing Rp75 milair. Penyertaan tersebut merupakan penyertaan kepada dua BUMD sebesar nilai perolehan. Kepemilikan pemerintah daerah atas BUMD tersebut adalah 100%. Sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan, nilai investasi tersebut seharusnya dicatat berdasarkan metode ekuitas. Jika Pemerintah Kabupaten ABC mencatat investasi tersebut dengan metode ekuitas, maka nilai investasi akan menjadi sebesar Rp50 milair untuk tahun 2009 dan Rp60 miliar untuk Tahun 2008. Penurunan ekuitas terjadi karena kedua BUMD tersebut mengalami kerugian sesuai dengan laporan keuangan yang telah diaudit pada kedua perusahaan tersebut. Menurut pendapat BPK, karena dampak hal yang diuraikan dalam Paragraf di atas, Neraca Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut tidak menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, realisasi anggaran, arus kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

32

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No.D-1606.

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

33

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

9. OPINI ”TIDAK MEMBERIKAN PENDAPAT” 9.a. Format Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 56 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan undang-undang terkait lainnya, [NAMA ENTITAS] pada tanggal …. telah menyampaikan Laporan Keuangan [NAMA ENTITAS] Tahun 20X1 kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa. Laporan keuangan tersebut terdiri dari Neraca tanggal 31 Desember 20X1 dan 20X0, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan tersebut merupakan tanggung jawab [NAMA ENTITAS]. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan.... atas Laporan Keuangan, ...........................dst. Catatan.... atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan ...........................dst. Catatan.... atas Laporan Keuangan juga mengungkapkan ...........................dst Karena permasalahan yang diuraikan dalam Paragraf di atas dan BPK tidak dapat menerapkan prosedur pemeriksaan, lingkup pemeriksaan BPK tidak cukup untuk memungkinkan BPK menyatakan, dan BPK tidak menyatakanpendapat atas laporan keuangan [NAMA ENTITAS] Tahun 20X1 dan 20X0. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor [NOMOR LAPORAN] dan Nomor [NOMOR LAPORAN]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

34

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

tanggal [TANGGAL, BULAN DAN TAHUN], yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini. [Kota kedudukan Perwakilan BPK], [Tanggal] BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perwakilan [Nama Perwakilan BPK], Penanggung Jawab Pemeriksaan, [Tanda Tangan] [Nama Penanggungjawab] [Nomor Register Akuntan]

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

35

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

9.b. Contoh Opini

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Berdasarkan Pasal 56 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan undang-undang terkait lainnya, Pemerintah Kabupaten ABCD pada tanggal 15 Maret 2010 telah menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2010 kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk diperiksa. Laporan Keuangan tersebut terdiri dari Neraca per tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan Keuangan tersebut merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten ABCD. Dalam Tahun Anggaran 2009 dan 2008, Pemerintah Kabupaten ABCD telah menerima hibah luar negeri dalam bentuk dana tunai untuk membiayai kegiatan-kegiatan tertentu yang telah ditetapkan dalam perjanjian dengan pemberi hibah. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak melaporkan dana yang diperolehnya tersebut kepada Menteri Keuangan untuk mendapat pengesahan, sehingga penerimaan hibah dan belanja yang berasal dari hibah tersebut dikelola di luar mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan tidak dipertanggungjawabkan dalam Laporan Realisasi Anggaran. Sementara itu, saldo kas, persediaan, dan aset tetap yang berasal dari hibah tidak dicatat di neraca maupun diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Dari catatan yang diperoleh BPK, jumlah hibah yang diterima Pemerintah Kabupaten ABCD dalam Tahun 2009 dan 2008 adalah sebesar USD2,924,640.52 dan Rp7,10 miliar. Pemerintah Kabupaten ABCD tidak dapat menyediakan data secara lengkap mengenai jumlah keseluruhan hibah yang diterima selama tahun 2009 dan 2008, dan saldo kas, persediaan, serta aset tetap yang diperoleh dari hibah tersebut per 31 Desember 2009 dan 2008. Akun-akun yang berkaitan dengan hibah tersebut dapat berpengaruh secara signifikan bila informasi dan dokumen yang berkaitan dengan hibah tersebut tersedia. BPK juga tidak dapat memperoleh keyakinan yang memadai atas akun-akun yang berkaitan dengan hibah tersebut melalui prosedur pemeriksaan yang dilakukan BPK. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 12 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten ABCD melaporkan persediaan per 31 Desember 2009 dan 2008, masing-masing sebesar Rp25,00 miliar dan Rp9,00 miliar. Satuan Kerja pengelola persediaan di lingkungan Pemerintah

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

36

Panduan Pemeriksaan LKPD

Lampiran 9.5

Kabupaten ABCD tidak menyelenggarakan kartu persediaan untuk mencatat mutasi persediaan secara memadai. Satuan Kerja juga tidak melakukan inventarisasi fisik atas persediaan yang dimilikinya per 31 Desember 2009 dan 2008. Catatan-catatan dan dokumen yang tersedia tidak memungkinkan BPK untuk melakukan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk meyakini nilai persediaan tersebut. Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan 13 atas Laporan Keuangan, Pemerintah Kabupaten ABCD melaporkan Aset Tetap per 31 Desember 2009 dan 2008 masing-masing sebesar Rp272,00 miliar dan Rp256,00 miliar. Dalam tahun 2009, Pemerintah Kabupaten ABCD telah melakukan inventarisasi dan penilaian kembali atas Aset Tetap yang diperoleh sebelum 31 Desember 2004, namun hasilnya belum dicatat karena masih terdapat permasalahan mengenai hasil penilaian tersebut. Nilai Aset Tetap dapat terpengaruh secara signifikan jika Pemerintah Kabupaten ABCD telah mengakui hasil penilaian kembali atas Aset Tetap yang diperoleh sebelum 31 Desember 2004. Karena permasalahan yang diuraikan dalam Paragraf di atas dan BPK tidak dapat menerapkan prosedur pemeriksaan, lingkup pemeriksaan BPK tidak cukup untuk memungkinkan BPK menyatakan, dan BPK tidak menyatakan, pendapat atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten ABCD Tahun 2009 dan 2008. Sebagai bagian dari pemerolehan keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK melakukan pemeriksaan terhadap sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan disajikan dalam Laporan Nomor 15.B/LHP/XV/04/2010 dan Nomor 15.C/LHP/XV/04/2010 tanggal 30 April 2010, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan ini.

Jakarta, 30 April 2010 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Pewakilan Provinsi DKI Jakarta Penanggung Jawab Pemeriksaan, Budi Santoso, Ak. Akuntan, Register Negara No. D-1606

BPK RI Perwakilan Provinsi…….

37

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BAB 10 PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam pernyataan standar umum keempat mensyaratkan bagi setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan, untuk memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang berkompeten. Hal ini telah diatur lebih lanjut dalam suatu Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu. Pengendalian mutu merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa proses pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan pemeriksaan dan harapan penugasan pemeriksaan, serta telah memenuhi SPKN. Pengendalian mutu pemeriksaan LKPD terdapat pada berbagai perangkat lunak yang ada di BPK mulai dari SPKN, PMP, Juklak Pemeriksaan Keuangan dan Juknis LKPD. Pengendalian mutu dilaksanakan melalui 2 bentuk pengendalian, yaitu:
1) 2)

Pengendalian mutu oleh Tim dilakukan secara berjenjang oleh Ketua Subtim/Ketua Tim, Pengendali Teknis dan Penanggungawab Tim; Pengendalian mutu oleh penanggung jawab untuk memastikan bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan SPKN dan Laporan Hasil Pemeriksaan telah sesuai dengan harapan penugasan.

Sedangkan penjaminan mutu merupakan tindakan untuk memastikan bahwa proses pengendalian mutu telah dilaksanakan. Penjaminan mutu pemeriksaan LKPD terdapat pada berbagai perangkat lunak yang ada di BPK mulai dari SPKN, PMP, Juklak pemeriksaan Keuangan dan Juknis LKPD dan Juklak Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu. Sesuai dengan PMP, sebelum LHP atas LKPD dari penanggung jawab diterbitkan, BPK melalui pejabat strukturalnya harus memastikan bahwa penjaminan mutu telah berjalan. Penjaminan mutu ini menjadi dasar bagi BPK untuk menerbitkan LHP tersebut. Untuk melaksanakan ini, perwakilan dapat membentuk tim reviu di perwakilan yang hasilnya menjadi dasar bagi kepala perwakilan menerbitkan surat keluar penyampaian LHP.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

1

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

TAHAPAN PENJAMINAN MUTU PEMERIKSAAN LKPD
LKPD diterima Supervisi Pemeriksaan

Persiapan Pemeriksaan

Pelaksanaan Pemeriksaan

Pelaporan hasil Pemeriksaan

Proses Reviu Tim Reviu

Surat Perintah Persiapan Pemeriksaan

Surat Tugas Pelaksanaan Pemeriksaan

Selesainya Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan

Konsep LHP yang telah disetujui Penanggungjawab

Penerbitan LHP dengan Surat Keluar Kepala Perwakilan Cold Reviu

Hot Reviu

Untuk menjamin adanya sinkronisasi perlakuan pemeriksa atas seluruh LKPD secara nasional. Tortama akan membentuk organisasi pemeriksaan LKPD. Organisasi pemeriksaan LKPD meliputi pengarah, koordinator, komite pengkaji, dan komite ikhtisar permasalahan dan pelaporan, serta sekretariat.
STRUKTUR ORGANISASI TIM PENGKAJI NASIONAL PEMERIKSAAN LKPD
PENGARAH

PENGARAH

1. ANGGOTA V 2. ANGGOTA VI 1. TORTAMA V 2. TORTAMA VI 1. Ka Sub Aud MIA V 2. Ka Sub Aud MIA VI 1. TENAGA AHLI 2. STAF AHLI

KOORDINATOR

KOORDINATOR

SEKRETARIAT

SEKRETARIAT

KOMITE PENGKAJI KOMITE PENGKAJI KOMITE IKHTISAR PERMASALAHAN & PELAPORAN KOMITE IKHTISAR PERMASALAHAN & PELAPORAN

1. Ka Aud V B 2. Ka Aud VI B

Pembagian tugas pengarah, koordinator, komite pengkaji, komite ikhtisar permasalahan dan pelaporan, serta sekretariat adalah sebagai berikut:
1) Pengarah bertugas untuk mengarahkan pemeriksaan atas LKPD; 2) Koordinator

bertugas untuk mengendalikan dan mengkoordinasikan pemeriksaan dan menjamin kualitas pemeriksaan yang sesuai dengan SPKN dan kebijakan pemeriksaan BPK.
2

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

3) Komite

Pengkaji bertugas untuk mempersiapkan, mengembangkan metodologi, menyediakan hasil kajian, dan memberikan konsep solusi atas semua permasalahan dalam pelaksanaan pemeriksaan. ikhtisar nasional atas semua permasalahan dalam pelaksanaan pemeriksaan dan menyusun iktisar nasional atas semua pelaporan hasil pemeriksaan.

4) Komite Ikhtisar Permasalahan dan Pelaporan bertugas untuk mempersiapkan

5) Tim Sekretariat bertugas untuk membantu kelancaran pemeriksaan melalui

penyiapan sarana prasarana serta menampung dan mengkomunikasikan semua informasi pemeriksaan dalam organisasi pemeriksaan.

Hubungan antara tim reviu di perwakilan dan organisasi pemeriksaan LKPD Nasional adalah:
HUBUNGAN ANTARA TIM REVIU DI PERWAKILAN DAN ORGANISASI PEMERIKSAAN LKPD NASIONAL
Tim Pemeriksaan • Penanggungjawab • Pengendali Teknis • Ketua Tim • Ketua Sub Tim • Anggota Tim Mengajukan permasalahan yang perlu dikaji : - Forum Auditor - Surat ke Helpdesk Kepala Perwakilan Kepala Sub Auditorat Kepala Seksi Tim Reviu Berdasarkan SK Kepala Perwakilan

ND Tortama tentang hasil kajian

Tim Nasional (Helpdesk) terdiri dari semua unsur Perwakilan Dimoderatori Tenaga Ahli

Penjaminan mutu dilaksanakan oleh:
1) 2)

Penanggung jawab: untuk memastikan bahwa pengendalian mutu oleh Tim telah dilaksanakan.

seluruh

proses

Itama: untuk memastikan bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan telah memenuhi persyaratan yang dimuat dalam SPKN. Pihak lain yang berkompeten: untuk memenuhi ketentuan perundangan dalam rangka peer review.

3)

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

3

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

MEKANISME SISTEM PENGENDALIAN MUTU PEMERIKSAAN LKPD
Quality Dokumentasi Dibuat Kasie Form Kebutuhan Auditor Set Kalan Daftar kompetensi Kasie Risalah penetapan Konsep Surat Tugas Kasub KT

No A

Tahapan Pemenuhan kebutuhan pemeriksa

Kegiatan

Bentuk Pengendalian Penentuan kebutuhan jumlah auditor Pertimbangan kompetensi auditor Penentuan tim Penerbitan Surat Tugas

Direviu Kasub Kasub Kasub Kalan PT

Disetujui Kalan Kalan Kalan Kalan PJ

Ket

B

Perencanaan Pemeriksaan

1

Penyusunan Pemahaman Tujuan dan Form Pemahaman P2 Harapan Penugasan Tujuan dan Harapan Penugasan Pemahaman entitas Pemantauan tindak lanjut LHP sebelumnya; Pemahaman sistem pengendalian intern; Penetapan materialitas Form Pemahaman Entitas Form Pemantauan Tindak Lanjut Form Pemahaman SPI Form Penetapan Materialitas

Juklak LK

AT AT AT KT

KT KT KT PT

PT PT PT PJ

Lampiran 4.2 Juknis Lampiran 4.3. Juknis Lampiran 4.4 Juknis Bab 3 4

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

No

Tahapan

Kegiatan

Bentuk Pengendalian Penilaian Risiko Penetapan Fokus dan Strategi Pemeriksaan Perumusan prosedur Pemeriksaan Penetapan Metode Sampling Pelaksanaan prosedur analitis awal Perumusan P2

Quality Control Dokumentasi Form Penilaian Risiko Form Penetapan Fokus dan Strategi Form Prosedur Pemeriksaan per Akun Kertas kerja penentuan uji Kertas Kerja Prosedur Analitis Awal Program Pemeriksaan Form Pembagian Tugas Program Kerja Perorangan Jadwal Pemeriksaan

Dibuat AT KT AT AT AT KT KT AT AT

Direviu KT PT KT KT KT PT PT KT KT

Disetujui PT PJ PT PT PT PJ PT KT KT

Ket Bab 2 Bab 1

Lampiran 4.5 Juknis Juknis LKPD Lampiran 4.6 dan 4.7 Juknis

2

Pembagian Pembagian tugas tugas kepada anggota tim Penyusunan PKP setiap anggota tim Penyusunan jadwal

PMP

3

Persiapan mulai

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

5

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

No

Tahapan

Kegiatan

Bentuk Pengendalian Pemberitahuan Pemeriksaan Perencanaan entry Meeting Penyampaian informasi penting kepada pimpinan entitas Pengujian analitis Pengujian pengendalian Pengujian substantif

Surat Pemberitahuan kepada Auditee Panduan Entry Briefing Notulen pertemuan awal Cover sheet per akun Cover sheet per akun Cover sheet per akun Lead Schedule Supporting Schedule Cover Sheet hasil reviu

Quality Control Dokumentasi

Dibuat AT KT AT AT AT AT AT AT AT

Direviu KT PT KT KT KT KT KT KT KT

Disetujui KT PT KT PT PT PT PT PT PT

Ket PMP Bab 1 PMP Juknis LKPD Juknis LKPD Juknis LKPD Juknis LKPD Juknis LKPD Juknis LKPD

B

Pelaksanaan Pemeriksaan

1 2

Komunikasi awal (Entry Briefing) Pelaksanaan P2

Reviu akhir penyelesaian penugasan (kewajiban kontinjensi, komitmen jangka panjang, kejadian setelah tanggal neraca) Penyusunan konsep TP Penyusunan ikhtisar Koreksi BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Konsep TP Ikhtisar koreksi

AT AT

KT KT

PT PT 6

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

No

Tahapan

Kegiatan

Bentuk Pengendalian Pembahasan TP dan Koreksi Penyerahan TP

Risalah Pembahasan TP dan Koreksi Surat Pengantar TP

Quality Control Dokumentasi

Dibuat AT AT KT AT AT KT AT AT KT KT KT

Direviu KT KT PT KT KT PT KT KT PT PT PT

Disetujui PT KT PJ KT KT PJ PT PT PJ PJ PJ

Ket

3

Supervisi dan Reviu Internal Tim

Perubahan P2

Form Usulan Perubahan P2

Rapat internal tim (mingguan) Risalah rapat Penyusunan laporan kemajuan Laporan Kemajuan Pekerjaan pekerjaan (mingguan) Review Sheet Notulen pertemuan akhir Konsep LHP Risalah Pembahasan Risalah Pembahasan Permintaan Surat Representasi Manajemen

4 C Pelaporan Pemeriksaan 1

Revew KKP Penyampaian informasi Komunik penting kepada asi akhir pimpinan entitas (exit Penyusunan Penyusunan konsep LHP konsep LHP Pembahasan konsep LHP dengan PJ Pembahasan konsep LHP dengan pejabat Perolehan surat representasi

2

Finalisasi LHP

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

7

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

No

Tahapan

Kegiatan

Bentuk Pengendalian Penyusunan konsep akhir LHP LHP Reviu akhir PJ Penyampaian LHP Pemantauan tindak Lanjut

Quality Control Dokumentasi

Dibuat KT KT KT Kasub AT Sekre TPP

Direviu PT PT PT-PJ Kaaud KT PJ dan TPP Katim Itama

Disetujui PJ PJ kalan kalan PT PJ dan TPP Irtama

Ket

Form Quality Assurance Surat Keluar Risalah Tindak Lanjut Laporan Kemajuan Pekerjaan Pemeriksaan Risalah Pembahasan Opini LKKL Form Quality Assurance

2 3

Pelaksanaan Pelaporan

Pemantauan Tim Konsinyering III Quality Assurance LKPD secara uji petik

Tim Itama

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

8

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

CHECKLIST SISTEM PENGENDALIAN MUTU PEMERIKSAAN LKPD BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Entitas Pemeriksaan Jenis Pemeriksaan Tahun Pemeriksaan Tahun Yang Diperiksa

Tim Pemeriksa 1. Penanggung Jawab 2. Pengendali Teknis 3. Ketua Tim

: : : : Tanggal Reviu

Penjelasan Sistem Pengendalian Mutu: • Jika kesimpulan pada pertanyaan tertentu positif, tanda harus dimasukkan dalam kolom "Y (Ya)". • Jika kesimpulannya negatif, tanda harus dimasukkan pada kolom "T (Tidak)", diikuti dengan alasan/penjelasan yang tepat dalam kolom komentar. Sebagai contoh, apabila ada jawaban tidak, maka komentar harus diisi penjelasan yang masih dalam lingkup memadai. Hal ini berarti ketua tim, pengendali teknis dan penganggung jawab mengetahui dan menyadari adanya situasi seperti itu. • Jika suatu pertanyaan tidak dapat diaplikasikan, tanda harus dimasukkan dalam kolom "Abstain (tidak dapat diaplikasikan)", bersama dengan penjelasan yang memadai.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

9

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

10

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

11

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

12

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

13

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

14

Panduan Pemeriksaan LKPD

Bab 10 Pengendalian & Penjaminan Mutu

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->