PENGARUH KETERAMPILAN BERPROSES MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN SEGITIGA PADA SISWA

SMP N 15 SEMARANG

SKRIPSI Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata I untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: Nama NIM Program Studi Jurusan : Heni Susilowati : 4101403571 : Pendidikan Matematika : Matematika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

ABSTRAK

Heni Susilowati. 2007. Pengaruh Keterampilan Berproses Model Pembelajaran Problem Solving Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segitiga Pada Siswa SMP N 15 Semarang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika. Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci : Model Pembelajaran Problem Solving, Keterampilan Berproses, Hasil Belajar.

Model Pembelajaran Problem Solving menjadi salah satu alternatif model pembelajaran. Pembelajaran ini diawali dengan pemberian masalah kepada siswa untuk dipecahkan, diharapkan dapat mencapai tujuan lebih baik. Melihat kondisi pembelajaran matematika di SMP N 15 Semarang, diusulkan dalam penelitian ini dilaksanakan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Problem Solving. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Apakah ada pengaruh keterampilan berproses model pembelajaran Problem Solving pada pokok bahasan segitiga terhadap hasil belajar siswa SMP N 15 Semarang? (2) Apakah pembelajaran matematika pokok bahasan segitiga dengan model pembelajaran Problem Solving dapat mencapai ketuntasan belajar? Standar ketuntasan hasil belajar yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah 68, sedangkan untuk keterampilan berproses adalah 70. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang positif keterampilan berproses dengan model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar (2) untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan model Problem solving dapat mencapai ketuntasan belajar. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII yang terdiri dari tujuh kelas SMP N 15 Semarang dengan rataan 44 siswa. Sampel dilakukan dengan Cluster random sampling untuk mengambil satu kelas yaitu VII G. Variabel bebas adalah keterampilan berproses dan variabel terikat hasil belajar dengan model pembelajaran problem solving. Cara pengambilan data dengan lembar pengamatan dan tes. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan analisis regresi dan analisis uji t satu sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R2 sebesar 67,8% artinya keterampilan berproses mempengaruhi hasil belajar sebesar 67,8% sedangkan masih ada pengaruh variabel lain sebesar 32,2%. Pencapaian ketuntasan hasil belajar 70,16 dan untuk keterampilan berproses 71,15. Simpulan, (1) Adanya pengaruh yang positif antara keterampilan berproses dengan model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar. (2) Pembelajaran dengan model Problem Solving telah mencapai ketuntasan belajar. Saran, pembelajaran di kelas sebaiknya lebih memberi kesempatan siswa untuk aktif, di mana guru berfungsi sebagai fasilitator. Inovasi terhadap pendekatan pembelajaran dapat dilakukan dengan mengevaluasi diri kondisi setempat sehingga guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran problem solving.

ii

PENGESAHAN SKRIPSI

PENGARUH KETERAMPILAN BERPROSES MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN SEGITIGA PADA SISWA SMP N 15 SEMARANG Skripsi ini telah dipertahankan dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang Hari : Selasa Tanggal : 28 Agustus 2007

Panitia Ujian, Ketua, Sekretaris,

Drs. Kasmadi Imam S., M.S NIP. 130781011 Pembimbing Utama

Drs. Supriyono, M.Si NIP. 130815345 Penguji Utama

Prof. Dr. YL Sukestiyarno NIP. 131404322 Pembimbing Pendamping

Drs. Amin Suyitno, M.Pd. NIP. 130604211 Anggota Penguji I

Drs. Wardono, M.Si NIP. 131568905

Prof. Dr. YL Sukestiyarno NIP. 131404322 Anggota Penguji II

Drs. Wardono, M.Si NIP. 131568905

iii

Ketua Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang. vi . Untuk itu dengan rendah hati.KATA PENGANTAR Segala puji hanya bagi Allah SWT. MM. Prof.Si. Dalam menyusun skripsi ini. Sudijono Sastroatmodjo. penulis memperoleh bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak. arahan. Si. Rektor Universitas Negeri Semarang. M. YL Sukestiyarno. Prof. dengan limpahan rahmat-Nya.. arahan. M. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan bekal ilmu yang tidak ternilai harganya selama belajar dan menuntut ilmu di Jurusan Matematika. 5. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang. dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi. penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. 7. Drs. S. 6. M.Wardono.Pd. Supriyono. Dosen pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan. Dosen pembimbing pendamping yang telah memberikan bimbingan. Kepala SMP N 15 Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.S. Drs. M. dan saran kepada penulis selama penyusunan skripsi. Dr. 3. Drs. Kasmadi Imam S.Si. ini sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Semarang. 2. Endang Triningsih. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Pengaruh Keterampilan Berproses Model Pembelajaran Problem Solving Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segitiga Pada Siswa SMP N 15 Semarang”. 4. Dr.

Semarang. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Siswa-siswi kelas VII SMP N 15 Semarang tahun ajaran 2006/ 2007 atas ketersediaanya menjadi responden dalam pengambilan data penelitian ini. Bapak dan Ibu guru SMP N 15 Semarang atas segala bantuan yang diberikan. Agustus 2007 Penulis vii . Nurhenny Marwiasih. penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi pembaca yang budiman.Pd. 9. S.8.. Guru matematika kelas VII SMP N 15 Semarang yang telah membantu terlaksananya penelitian ini. 10. Harapan penulis. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan. 11.

(HR. Kaka’q yang selalu memberikan semangat. Dengan ilmu hidup menjadi mudah. terima kasih atas semuanya. v . Teman-teman seperjuangan Pendidikan matematika 2003. Bukhari dan Muslim) PERSEMBAHAN Skripsi ini kuperuntukkan kepada: Ibu dan Bapak tercinta yang senantiasa memberikan kasih sayang dan doa tiada henti-hentinya. Sebaik-baiknya manusia diantaramu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Jajo. dengan agama hidup menjadi terarah.MOTTO Orang yang bahagia bukanlah orang yang berlimpah harta maupun berpangkat tinggi. Decy. Adeku angga dan ningrum tersayang. Puji & Cah Trio ‘R’). melainkan orang yang mampu dan selalu mensyukuri nikmat-Nya sekecil apapun. dengan dzikir hidup menjadi indah. dan dengan tali silaturahmi hidup menjadi bergairah. Sahabat-sahabatku (Kaozal.

Si Hasil Bimbingan Ttd Pembimbing . Wardono. Dr.UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUAN ALAM KARTU BIMBINGAN SKRIPSI Nama Mahasiswa NIM Prodi Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping No Tanggal Materi bimbingan : Heni Susilowati : 4101403571 : Pend. YL Sukestiyarno : Drs. M. Matematika : Prof.

........... iii PERNYATAAN ................................................................................................... LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A..................................................................... Belajar dan Pembelajaran ..... v KATA PENGANTAR .. 12 2... 12 1....... Penegasan Istilah.............................. 14 3.... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................... Latar Belakang Masalah ....... Rumusan Masalah .......................................................... 10 BAB II............................................................................................. i ii PENGESAHAN ............................................................................................................................... 20 viii .................................... Sistematika Penulisan Skripsi ...................................................... xii BAB I............................................................................................... 1 6 6 8 E.......................................................... Hasil Belajar ... Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................. D.............. x DAFTAR TABEL .............................................................................................. ABSTRAK ................................................................................................................... PENDAHULUAN A................................................................................................................................................................ Pembelajaran Problem Solving .................................... vi DAFTAR ISI ..................................... viii DAFTAR LAMPIRAN ... Keterampilan Berproses .............................. B....................................... Landasan Teori .............. 16 4..................................... C..................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...............................................

.......................... Metode Penentuan Obyek Penelitian ......................... SIMPULAN DAN SARAN A........................................................................................................................................5.... Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian ......... 36 C....... 62 B.............................................................................. 33 BAB III.................................. Kerangka Berpikir .................................................................... Uraian Pokok Bahasan Segitiga ............................... 34 B.................... 36 D................................................................................ 23 B................................... Ketuntasan Belajar .... Saran............ 44 F....................................................... Metode Pengumpulan Data .. Pembahasan ........... Hipotesis.................. Analisis Data ............. 62 DAFTAR PUSTAKA .. 29 D..................... Simpulan ..................................................... Hasil Penelitian ........................................... 51 B..................... 57 BAB V. 40 E..................................................... Contoh Model Pembelajaran Problem Solving ....... 30 E............. 64 ix ................................................................................. Instrumen Penelitian .... Analisis Uji Coba Instrumen Penelitian ................... 23 C............................................................................ HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A....................................... METODE PENELITIAN A... 49 BAB IV.........................................

baik dalam proses pembelajaran matematika di sekolah maupun dalam meningkatkan mutu pendidikan matematika pada umumnya.BAB I PENDAHULUAN A. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih baik di masa mendatang. Pendidikan sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas hidup manusia. namun sampai saat ini belum memperoleh hasil yang optimal. gagasan atau inovasi dalam dunia pendidikan matematika yang sampai saat ini diterapkan secara luas ternyata belum dapat memberikan perubahan positif yang berarti. Pada intinya pendidikan bertujuan . 2005). Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan matematika di Indonesia. Fenomena ini dapat dilihat dari indikator hasil belajar. telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. antara lain dari Nilai Ebtanas Murni (NEM) atau Nilai Ujian Akhir Nasional (NUAN) matematika siswa yang masih rendah. Latar Belakang Masalah besar yang dihadapi oleh dunia pendidikan pada saat ini adalah adanya krisis paradigma yang berupa kesenjangan dan ketidaksesuaian antara tujuan yang ingin dicapai dan paradigma yang dipergunakan (Sumadi. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa berbagai pendekatan.

Hal ini juga berlaku bagi siswa. mendengarkan dengan aktif. merubah tingkah laku serta meningkatkan kualitas hidup. Tujuan pendidikan menengah menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah meningkatkan kecerdasan. Untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan berkomunikasi. kepribadian akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.2 untuk memanusiakan manusia. mau menyampaikan pendapat . Kecakapan matematik yang dimaksud meliputi pemahaman konsep. Kecakapan matematika merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kecakapan hidup dan diperlukan untuk dapat menghadapi dunia di sekitarnya. Keberlanjutan perkembangan proses belajar sebenarnya dapat diamati. Pendidikan tidak hanya mengajarkan fakta dan konsep tetapi juga harus membekali siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. pengetahuan. Pemerintah membuat perubahan-perubahan baru diantaranya Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Saat kerjasama dengan orang lain. serta untuk berhasil dalam karirnya. Kecakapan hidup seseorang tidak terjadi dengan sendirinya tetapi melalui suatu proses yang terus berlanjut. penalaran adatif. berani bertanya. dimana perkembangan keterampilan berproses seorang siswa selama proses pembelajaran dapat diikuti atau diamati. mendewasakan. Kurikulum ini menekankan pada kecakapan – kecakapan yang berguna untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan.

Pembelajaran hendaknya lebih . Rendahnya keterampilan berproses akan mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah. Seluruh tindakan dalam proses belajar mengajar akan menciptakan kondisi belajar yang melibatkan siswa aktif. Proses menuju ke arah kecakapan hidup tersebut perlu suatu latihan serta membutuhkan suatu proses yang disebut dengan keterampilan berproses. namun demikian kegunaan matematika bukan hanya memberikan kemampuan dalam perhitungan-perhitungan kualitatif tetapi juga dalam penataan cara berpikir. sendiri fakta siswa dan akan mampu serta menemukan mengembangkan konsep menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai. terutama dalam pembentukan kemampuan menganalisis. Dengan menggunakan dan keterampilan berproses. Dengan kenyataan ini bahwa matematika mempunyai potensi yang sangat besar dalam hal memacu terjadinya perkembangan secara cermat dan tepat maupun dalam mempersiapkan masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan dengan cara berpikir dan bersikap pula. Keterampilan berproses merupakan aspek yang sangat penting dalam belajar matematika. dan kreatif dalam memecahkan masalah merupakan salah satu ciri kecakapan hidup. Matematika merupakan salah satu unsur dalam pendidikan. melakukan evaluasi hingga kemampuan memecahkan masalah. Mata pelajaran matematika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat dasar sampai ke jenjang yang lebih tinggi. membuat sintesis. khususnya mengenai pemecahan masalah.3 atau menjawab pertanyaan.

sedikit sekali yang melakukannya. bukan pada apa yang dipelajari siswa. Kalaupun siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Selain itu siswa kurang terlatih dalam mengembangkan ide-idenya di dalam memecahkan masalah.4 menekankan pada bagaimana upaya guru mendorong atau memfasilitasi siswa belajar. khususnya mata pelajaran matematika adalah dengan menerapkan model pembelajaran problem solving atau pemecahan masalah. Jadi. Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyesuaian. Salah satu metode pembelajaran yang digunakan oleh guru di SMP N 15 Semarang adalah metode ekspositori. siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang . Guru tidak mengikutsertakan siswa dalam pembelajaran. ekspositori Keterampilan siswa selama karena pembelajaran dengan metode belum memuaskan pembelajaran berlangsung satu arah saja. Dan dalam pembelajarannya kurang memperhatikan keterampilan berproses siswa. Siswa masih minder atau pasif. belum mampu berpikir kritis dan berani mengungkapkan pendapat. pembelajaran matematika merupakan upaya guru mendorong atau memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi pemahamannya akan matematika. Keberhasilan guru dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil belajar siswa tetapi juga pada proses dari pembelajaran tersebut. Hal ini karena siswa masih takut atau bingung mengenai apa yang akan ditanyakan. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan berproses belajar siswa.

Proses pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam mempelajari. siswa terlebih dahulu dilatih keterampilan-keterampilan proses memecahkan masalah.5 sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. prinsip atau simpulan. . berada dalam tugas. Agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Dengan begitu peneliti merasa perlu melakukan penelitian dengan judul PENGARUH KETERAMPILAN BERPROSES MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN SEGITIGA PADA SISWA SMP N 15 SEMARANG. Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SMP/MTs yang harus dikuasai siswa kelas VII SMP salah satunya adalah tentang geometri dan pengukuran. mencari. Oleh karena itu. Materi yang mendukung dalam penguasaan geometri dan pengukuran salah satunya adalah pokok bahasan segitiga. mendengarkan secara aktif. dan sebagainya. menjawab pertanyaan/menanggapi. dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep. Alasan pemilihan materi segitiga dalam penelitian ini adalah karena geometri merupakan materi yang abstrak dan memerlukan kemampuan pemecahan masalah dan nantinya siswa juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan berproses secara lisan maupun tulisan. Keterampilan-keterampilan tersebut antara lain mengajukan pertanyaan. dalam pembelajaran pokok bahasan segitiga diperlukan keterampilan berproses dalam memecahkan masalah. menyampaikan ide/pendapat.

Apakah ada pengaruh keterampilan berproses model pembelajaran problem solving pada pokok bahasan segitiga terhadap hasil belajar siswa SMP N 15 Semarang? 2. 1. Keterampilan berproses adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah . Keterampilan Berproses Saat kerja sama dengan orang lain. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas. Penegasan Istilah Penegasan Istilah dimaksudkan untuk memperoleh pengertian yang sama tentang istilah dalam penelitian ini dan tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda dari pembaca. Apakah pembelajaran matematika pokok bahasan segitiga dengan model pembelajaran problem solving dapat mencapai ketuntasan belajar (keterampilan berproses dan hasil belajar)? C. Proses menuju kearah kecakapan hidup tersebut perlu suatu latihan serta membutuhkan suatu proses yang disebut keterampilan berproses. Istilah-istilah yang perlu diberi penegasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. mau menyampaikan pendapat/menjawab pertanyaan dan kreatif dalam memecahkan masalah merupakan salah satu ciri kecakapan hidup. berani bertanya. mendengarkan dengan aktif. 1.6 B. rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

jika siswa tersebut : a. . 2. 3. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku ke arah positif. memiliki pengetahuan/materi prasyarat untuk menyelesaikan soalnya. Model Problem Solving Problem solving atau disebut juga pemecahan masalah adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan memberikan persoalan untuk dipecahkan oleh siswa dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. akibat/dampak yang dihasilkan. hingga menutup strategi tersebut.7 laku proses aktif yang kompleks dan tersusun rapi sacara mulus dan sesuai dengan strategi pembelajaran yang disusun untuk mencapai hasil tertentu. d. Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. proses. Keterampilan berproses akan menjadi ciri kekhasan suatu rancangan strategi pembelajaran dari mulai rancangan awal strategi diterapkan. Hasil Belajar Hasil Belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Suatu soal matematika akan menjadi masalah bagi siswa. punya keinginan untuk menyelesaikannya. c. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik saja melainkan pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif. b. diperkirakan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan soal tersebut. belum mempunyai algoritma atau prosedur untuk menyelesaikannya.

Tujuan dan Manfaat 1. a. memilih strategi penyelesaian dan menyelesaikan masalah). Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar atau disebut juga daya serap adalah pencapaian taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru dalam tujuan pembelajaran setiap satuan pelajaran. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang positif keterampilan berproses model pembelajaran problem solving pada pokok bahasan segitiga terhadap hasil belajar siswa SMP N 15 Semarang. pembelajaran matematika diukur dari tiga aspek yaitu pemahaman konsep (siswa mampu mendefinisikan mengidentifikasi dan memberi contoh atau bukan contoh dari konsep). Dalam penelitian ini hanya akan dibahas mengenai aspek pemecahan masalah. aspek penalaran dan komunikasi (siswa mampu memberikan alasan induktif dan deduktif juga mampu menyatakan gagasan matematika secara lisan. D. tertulis. atau mendemonstrasikan). . dan aspek pemecahan masalah (siswa mampu memahami masalah. Ketuntasan belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ketuntasan hasil belajar dan keterampilan berproses.8 penilaian hasil belajar atau tingkat keberhasilan dan efisiensi suatu aspek konsep. 4. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

(2) Memberikan bekal mahasiswa sebagai calon guru matematika untuk siap melaksanakan tugas di lapangan sesuai kebutuhan di lapangan. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika pokok bahasan segitiga dengan model pembelajaran problem solving dapat mencapai ketuntasan belajar (keterampilan berproses dan hasil belajar). Bagi Siswa: (1) Menumbuhkembangkan keterampilan berproses siswa dalam memecahkan masalah. c. Manfaat Penelitian Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. pengalaman langsung dalam pelaksanaan . a. (2) Meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. 2. b.9 b. (3) Membantu pengembangan kompetensi siswa dalam pembelajaran matematika. Bagi Peneliti: (1) Mendapatkan pembelajaran. Bagi Guru: Dengan dilaksanakan penelitian ini guru berkesempatan menerapkan model pembelajaran yang dikembangkan.

yaitu: BAB I Pendahuluan. tujuan dan manfaat penelitian. penegasan istilah. 2. rumusan masalah. berisi hasil penelitian dan pembahasannya. analisis data penelitian. dan bagian akhir skripsi. . mengemukakan tentang latar belakang masalah. dan sistematika penulisan skripsi. instrumen penelitian. kata pengantar. halaman pengesahan. analisis hasil ujicoba instrumen. abstrak. meliputi populasi dan sampel penelitian. daftar isi. BAB II Landasan Teori dan Hipotesis. dan daftar lampiran. variabel penelitian. BAB III Metode Penelitian. BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. Sistematika Penulisan Skripsi Sistematika penulisan tentang isi keseluruhan skripsi ini terdiri dari bagian awal skripsi. metode pengumpulan data. 1. uraian pokok bahasan yang terkait dengan pelaksanaan penelitian dan hipotesis penelitian. halaman motto dan persembahan. dan hasil ujicoba instrumen.10 E. membahas teori yang melandasi permasalahan skripsi serta penjelasan yang merupakan landasan teoritis yang diterapkan dalam skripsi. Bagian inti skripsi terdiri dari lima bab. Bagian awal skripsi berisi tentang halaman judul. desain penelitian. bagian inti skripsi.

.11 BAB V Simpulan dan Saran. 3. berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran. mengemukakan simpulan hasil penelitian dan saran.saran yang diberikan peneliti berdasarkan simpulan. Bagian akhir skripsi.

to listen. . mengamati. penyesuaian diri. Kegiatan belajar memiliki beberapa maksud. b. to read. Mengetahui suatu kepandaian. atau konsep yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Belajar dan Pembelajaran Menurut Sardiman (2006:20) ada beberapa definisi tentang belajar. Geoch. c. to try something themselves. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan. minat. watak.12 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. mengatakan : Learning is a change in performance as a result of practice. mendengarkan. to follow direction. meniru dan lain sebagainya. Harold Spears memberikan batasan : Learning is to observe. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca. sikap. kecakapan. harga diri. a. pengertian. Dari ketiga definisi di atas. maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. keterampilan. Cronbach memberikan definisi : Learning is shown by a change in behavior as a result of experience. to imitate. antara lain : a. Landasan Teori 1. tetapi juga berbentuk kecakapan. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut.

bakat. pengetahuan. Sedangkan kegiatan mengajar merupakan kegiatan dalam upaya menciptakan suasana yang mendorong inisiatif. potensi. yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. Matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tata cara berpikir dan mengolah logika. d. minat. dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa dalam mempelajari matematika tersebut. baik tingkah laku maupun keterampilan. Dengan demikian pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya. baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. konsep. dan tanggung jawab pada siswa untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan melalui kegiatan belajar sepanjang hayat“. Dapat memahami dan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. . bakat. Dapat mengerjakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dibuat.13 b. minat. Mampu mengkombinasikan dua pengetahuan (atau lebih) ke dalam suatu pengertian baru baik keterampilan. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno. 2004:2). maupun sikap dan tingkah laku. Menurut Supriyadi (2005:12) menyatakan: “kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa untuk membangun makna atau pemahaman terhadap suatu objek atau suatu peristiwa. c. potensi. motivasi.

rasa ingin tahu. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa. 2002:11) hasilhasil belajar berupa: a. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep. diagram dalam menjelaskan gagasan. c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Hasil Belajar Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. tujuan pembelajaran matematika adalah : a. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan. b. catatan.14 Dalam Kurikulum 2004. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. grafik. eksperimen. d. eksplorasi. Pemilikan informasi verbal memungkinkan individu berperan dalam kehidupan. menunjukkan kesamaan. dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen. b. . Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi. membuat prediksi dan dugaan. peta. orisinil. Hasil belajar dapat dikatakan sebagai ukuran keberhasilan siswa yang telah mengikuti suatu proses pembelajaran dengan membandingkannya terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. baik lisan maupun tertulis. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi. intuisi. d. serta mencoba-coba. 2. sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. misalnya melalui kegiatan penyelidikan. perbedaan. Menurut Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono. c. e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut. konsisten dan inkonsistensi.

dalam proses adalah hasil belajar aspek pemecahan memahami merencanakan pemecahan masalah. Pada kenyataannya. aspek penalaran dan komunikasi matematik. menafsirkan hasilnya. Penilaian dapat dilakukan secara holistik (keseluruhan) atau analitik (perbagian). menyelesaikan masalah (melaksanakan rencana pemecahan masalah). secara otomatis siswa tersebut dikatakan berhasil. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Penilaian terhadap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah disarankan memecahkan mencakup masalah. dapat dilihat seberapa jauh kemampuan siswa dalam memecahkan masalah ditinjau dari kemampuan-kemampuan tersebut. Aspek pemecahan masalah Pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal. setiap mata pelajaran khususnya matematika memiliki standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) untuk setiap aspek penilaian. dan aspek pemecahan masalah. Aspek penilaian dalam mata pelajaran matematika terdiri dari tiga.15 Apabila siswa memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Dari hasil karya siswa dalam memecahkan masalah . yaitu aspek pemahaman konsep. Dalam penelitian ini hasil belajar yang dinilai masalah. demikian pula sebaliknya. siswa sering terhalang dalam memecahkan masalah karena lemahnya (tidak terbiasa) mengembangkan . kemampuan yaitu yang terlibat masalah.

terlebih dahulu membahas tentang masalah atau problem. f. Pengertian Sebelum memberikan pengertian tentang pengertian problem solving atau pemecahan masalah. c. Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat. Mengembangkan strategi pemecahan masalah. 2005:79) Penilaian proses pembelajaran dilakukan terus menerus pada tiap pertemuan dengan mengacu pada semua indikator yang telah ditetapkan di setiap kompetensi dasar. . 3. Pembelajaran problem solving a. b. Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah jika seseorang tidak mempunyai aturan tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah menyelesaikan masalah yang tidak rutin. (Tim PPPG Matematika. e. Mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah. Indikator keberhasilan memecahkan masalah ditunjukkan oleh kemampuan : a. d. Menyajikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk. Menunjukkan pemahaman masalah. Dari hasil penilaian beberapa pertemuan pada pembelajaran satu kompetensi dasar akhirnya akan diperoleh deskripsi atau gambaran pencapaian kompetensi tiap siswa pada satu kompetensi dasar yang mencakup semua indikatornya.16 strategi pemecahan masalah dan kurangnya pemahaman konsep atau prosedur yang terkandung dalam penyelesaian masalah.

2003:150). Bagian utama dari masalah adalah sebagai berikut. Kita harus mencari variabel masalah tersebut. Sedangkan pengajaran penyelesaian masalah merupakan tindakan guru dalam mendorong siswa agar menerima tantangan dari pertanyaan bersifat menantang. Pembelajaran pemecahan masalah adalah suatu kegiatan yang didesain oleh guru dalam rangka memberi tantangan kepada siswa melalui penugasan atau pertanyaan matematika (Tim PPPG Matematika. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Masalah yang diberikan harus masalah yang pemecahannya terjangkau oleh kemampuan siswa. Penyelesaian masalah merupakan proses dari menerima tantangan dan usaha-usaha untuk menyelesaikannya sampai memperoleh penyelesaian. Masalah yang diluar jangkauan kemampuan siswa dapat menurunkan motivasi mereka. terdapat dua macam masalah : (1) Masalah untuk menemukan. dan mengarahkan siswa agar dapat menyelesaikan pertanyaan tersebut (sukoriyanto. kemudian mencoba untuk mendapatkan. Fungsi guru dalam kegiatan itu adalah memotivasi siswa agar mau menerima tantangan dan membimbing siswa dalam proses pemecahannya. (a) Apakah yang dicari? (b) Bagaimana data yang diketahui? (c) Bagaimana syaratnya? (2) Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya. abstrak atau konkret. termasuk teka-teki. 2005:93). . dapat teoritis atau praktis. menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis objek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.Kita harus menjawab pertanyaan : ”Apakah pernyataan itu benar atau salah ?”. 2001:103).17 Munurut Polya (dalam Hudojo.

menjelaskan bahwa langkah-langkah yang diikuti dalam penyelesaian problem solving yaitu sebagai berikut. .18 b. (1) Menyajikan masalah dalam bentuk umum. Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Hudojo (2003:155). (2) Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa. c. (4) Menyelesaikan masalah. (3) Menentukan strategi penyelesaian. (2) Menyajikan kembali masalah dalam bentuk operasional. Langkah-langkah Pembelajaran Problem Solving Adapun langkah-langkah yang harus diperhatikan oleh guru di dalam memberikan pembelajaran problem solving yaitu sebagai berikut. (3) Potensi intelektual siswa meningkat. 2003:162). Tujuan Pembelajaran Problem Solving Berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan yang hendak dicapai. (1) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya. (4) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan. Sedangkan menurut Hudojo dan Sutawijaya (dalam Hudojo. yaitu sebagai berikut.

(3) Melaksanakan perencanaan. sebab akibat dan alternatif penyelesaian. keterampilan mengambil keputusan dan kesimpulan. (5) Pembuktian hipotesis: cakap menelaah dan membahas data.19 (1) Pemahaman terhadap masalah. menganalisis masalah dari berbagai sudut. (2) Perencanaan penyelesaian masalah. (3) Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek. (2) Menelaah masalah: menggunakan pengetahuan untuk memperinci. (3) Merumuskan hipotesis: berimajinasi dan menghayati ruang lingkup. (4) Melihat kembali penyelesaian. (4) Mendidik siswa percaya diri sendiri. Dewey (dalam Hudojo. (2) Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi. Strategi belajar mengajar penyelesaian masalah adalah bagian dari strategi belajar mengajar inkuiri. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran problem solving Kelebihan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut. (4) Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis: kecakapan mencari dan menyusun data. menghitung dan menghubungkan. (6) Menentukan pilihan penyelesaian: kecakapan membuat alternatif penyelesaian kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap langkah. gambar. Penyelesaian masalah menurut J. (1) Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis. d. . menyajikan data dalam bentuk diagram. ada enam tahap: (1) Merumuskan masalah: mengetahui dan menemukan masalah secara jelas. 2003:163).

Terdapat dua kebaikan dalam pendekatan keterampilan berproses: a. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik saja melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif”. 2006:8) menyatakan: “Keterampilan berproses adalah kemampuan pola tingkah laku proses aktif yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan strategi pembelajaran yang disusun untuk mencapai hasil tertentu. sehingga dapat menyiapkan siswa untuk masa depan. maka siswa yang pandai akan mendominasi dalam diskusi sedang siswa yang kurang pandai menjadi pasif sebagai pendengar saja. Memberi bekal bagaimana cara memperoleh pengetahuan.20 Kelemahan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut. Menurut Depdikbud (dalam Dimyati dan Mudjiono. karena para siswa aktif melakukan kegiatan ilmiah sendiri sehingga dapat meningkatkan cara berpikir dan cara mendapatkan pengetahuan. (2) Kalau di dalam kelompok itu kemampuan anggotanya heterogen. Menurut Margono (dalam Supriyadi. b. mengemukakan pendekatan keterampilan berproses adalah suatu pendekatan pengajaran yang menekankan pada keterlibatan siswa pada kegiatan-kegiatan dalam penyusunan atau penemuan konsep sendiri. 4. Keterampilan Berproses Menurut Syah (dalam Sukestiyarno dan Budi Waluyo. 2005:20). (1) Memerlukan waktu yang cukup banyak. Merupakan pendekatan yang kreatif. 2002:138). pendekatan keterampilan berproses dapat diartikan sebagai wawasan .

sosial. tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan.21 pengembangan keterampilan intelektual. fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Mengamati Melalui kegiatan mengamati. Dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi belajar. Jenis-jenis keterampilan proses : a. Mengajar dengan kemampuan proses berarti memberi kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan. Kegiatan pembelajaran di sekolah secara operasional adalah membelajarkan siswa agar mampu memproses dan memperoleh pengetahuan. . keterampilan dan sikap bagi dirinya sendiri. Mengamati merupakan tanggapan kita terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan menggunakan indera. dan meneliti lebih lanjut. memikirkan. apabila terjadi proses perubahan tingkah laku pada diri siswa sebagai hasil dari suatu pengalaman. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena alam dengan panca indra. mempertanyakan. kita belajar tentang dunia sekitar kita yang fantastis. Informasi yang kita peroleh dapat menuntun keingintahuan. melakukan interpretasi tentang lingkungan kita. Sebenarnya melalui pembelajaran matematika tidak semata-mata hanya menanamkan pengetahuan saja. tetapi melalui pembelajaran matematik sangat mungkin diterapkan pembentukan sikap positif dan keterampilan cermat dan kritis.

visual. e. berdasarkan perkiraan pada pola atau kecanderungan . mengklasifikasikan. konsep. c. d. atau suara visual.22 b. sehingga didapatkan golongan sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud. serta mengkomunikasikan secara tepat dan efektif kepada yang lain. Mengklasifikasikan Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilih berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai menyampaikan dan memperoleh fakta. Mengukur dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan ukur tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Memprediksi Memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang. dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara. dan membandingkan segala sesuatu di sekeliling kita. Mengukur Pengembangan yang baik terhadap keterampilan-keterampilan mengukur merupakan hal yang sangat penting dalam membina observasi kuantitatif. Mengkomunikasikan Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain merupakan dasar untuk segala yang kita kerjakan.

5. Ketuntasan Belajar Ketuntasan belajar atau disebut juga daya serap adalah pencapaian taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru dalam tujuan pembelajaran setiap satuan pelajaran (Supriyadi. Kompetensi Dasar : 1. dan prinsip yang diketahui. 2005:20). konsep. f.23 tertentu. Standar ketuntasan keterampilan berproses yang diterapkan dalam penelitian ini adalah 70 sedangkan standar minimal ketuntasan hasil belajar adalah 68. Menyimpulkan Menyimpulkan dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta. Ketuntasan belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ketuntasan hasil belajar dan keterampilan berproses. dan prinsip ilmu pengetahuan. Uraian Pokok Bahasan Segitiga Kompetensi Dasar dan indikator pada pokok bahasan segitiga adalah sebagai berikut. . B.Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga berdasarkan sisi dan sudutnya. atau hubungan antara fakta. Keterampilan siswa selama melaksanakan proses pembelajaran dapat diamati dan dinilai tingkat perkembangannya dalam suatu indikator dan taraf keterampilan proses. konsep.

BC. Menjelaskan jenis-jenis segitiga bardasarkan sisi – sisinya. B. Melukis garis tinggi. garis berat.Melukis segitiga. Indikator :1. Unsur-Unsur Segitiga C Unsur Sisi Sudut A D B Alas Tinggi Nama Unsur AB. garis berat dan garis sumbu. . 4.24 2. Menyelesaikan soal mengenai sudut dalam segitiga. Melukis segitiga sama kaki dan sama sisi. dan C AB CD Segitiga adalah bidang datar yang dibatasi oleh tiga garis lurus dan membentuk tiga sudut. 3. Menghitung keliling dan luas segitiga. 6. garis bagi. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas segitiga. garis bagi. dan AC A. 7. Menjelaskan jenis-jenis segitiga berdasarkan sudutnya. garis tinggi. 2.Menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. 3. dan garis sumbu. 5.

25

1. Jenis-Jenis Segitiga a. Jenis segitiga berdasarkan panjang sisinya 1) Segitiga sama kaki C

A

B

Segitiga sama kaki adalah segitiga yang memiliki dua sisi yang sama panjang. Gambar di atas menunjukkan bahwa sisi AB = AC. 2) Segitiga sama sisi C

B A Segitiga sama sisi adalah segitiga yang ketiga sisinya sama panjang. Gambar di atas menunjukkan bahwa AB = BC = AC dan ∠ A = ∠ B = ∠ C. 3) Segitiga sembarang C B

A

Segitiga sembarang adalah segitiga yang ketiga sisinya tidak sama panjang. Gambar di atas menunjukkan bahwa AB ≠ BC ≠ AC dan ∠ A ≠ ∠ B ≠ ∠ C. b. Jenis segitiga berdasarkan besar sudutnya 1) Segitiga Lancip, adalah segitiga yang ketiga sudutnya merupakan sudut lancip (sudut yang besarnya antara 00 dan 900).

26

M

K

L

2) Segitiga siku-siku, adalah segitiga yang salah satu sudutnya merupakan sudut siku-siku (sudut yang besarnya dan 900). M

K

L

3) Segitiga tumpul, adalah segitiga yang salah satu sudutnya merupakan sudut tumpul (sudut yang besarnya antara 900 dan 1800). M

K c. Melukis garis-garis pada segitiga 1) Melukis garis tinggi segitiga

L

Langkah-langkah melukis garis tinggi segitiga adalah sebagai berikut. a) Gambarlah segitiga ABC. b) Dengan pusat titik A lukislah busur lingkaran dengan sembarang jari-jari r. Busur lingkaran tersebut memotong sisi BC di titik P dan Q. c) Lukislah dua busur lingkaran berjari-jari r, yang berpusat di P dan Q. Kedua busur lingkaran ini berpotongan di titik D.

27

d) Hubungkan titik A dan titik D. Garis AD ini memotong sisi BC di titik E. Garis AE inilah yang disebut garis tinggi.
C D P

E
Q A B

2) Melukis garis bagi segitiga a) Gambarlah segitiga ABC. b) Dengan pusat A, lukislah busur lingkaran yang memotong sisi AB dan AC berturut-turut di titik P dan Q. c) Lukislah dua busur masing-masing berpusat di P dan Q dengan jari-jari sembarang yang sama. Kedua busur ini berpotongan di titik R. d) Hubungkan titik A dan R. Garis AR ini memotong sisi BC di titik D. Garis AD inilah yang disebut garis bagi.
C

Q
● ●

A

D

A

P

B

3) Melukis garis berat dan garis sumbu segitiga a) Gambarlah segitiga ABC. b) Lukislah dua busur lingkaran masing-masing berpusat di B dan C dengan jari-jari sembarang. Kedua unsur lingkaran barpotongan di titik P dan Q.

Garis PQ disebut garis sumbu ruas garis BC. C Q D P A B d. d) Garis PQ memotong sisi BC di titik D. C γ α A β B D . C γ α + β + γ = 1800 β A α B 2) Hubungan sudut dalam dan sudut luar segitiga. Garis AD disebut garis berat segitiga. Panjang BD = panjang CD. Sudut CBD disebut sudut luar segitiga.28 c) Hubungkan titik P dan Q. Sudut-Sudut Segitiga 1) Jumlah besar sudut-sudut suatu segitiga adalah 1800. γ disebut sudut dalam segitiga. Hubungkan titik A dengan titik D. Garis AB diperpanjang hingga ke titik D. Sudut-sudut α . β .

setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan kelompok lain memberi tanggapan. guru memberikan soal tentang pengertian dan jenis-jenis segitiga kepada siswa sebagai sebuah masalah. . Setiap siswa mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan mendengarkan pendapat teman kelompoknya. Keliling dan Luas Segitiga C A B 1) Keliling Segitiga K = AB + BC + AC 2) Luas Segitiga 1 L = x AB xAC 2 1 = x alas x tnggi 2 C. Secara lengkap bisa dilihat pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lampiran 1 halaman 66.29 e. Guru memberikan umpan balik/pemecahan kepada siswa. Contoh Model Pembelajaran Problem Solving Pada Pokok Bahasan Segitiga Siswa membentuk kelompok. Setelah selesai.

hanya sedikit siswa saja yang melakukannya. Model problem solving dapat mendidik siswa berpikir secara sistematis. bakat. Kerangka Berpikir Pembelajaran merupakan upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. kalaupun siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Dengan demikian diharapkan siswa mampu mengambil keputusan melalui proses yaitu memahami masalah. merencanakan penyelesaian masalah. Guru tidak mengikutsertakan siswa dalam pembelajaran. potensi. Salah satu model pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran problem solving. kegiatan pembelajaran terpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Dalam metode pembelajaran ekspositori yang masih banyak dianut oleh guru saat ini. dan mengecek kembali hasil pemecahan masalah. sehingga pembelajaran berlangsung satu arah saja.30 D. dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. minat. yaitu pembelajaran yang didesain guru dalam rangka memberi tantangan kepada siswa melalui penugasan (pertanyaan) matematika. melaksanakan rencana pemecahan masalah. Guru sebagai motivator siswa agar mau menerima tantangan dan membimbing siswa dalam proses memecahkannya. Dalam kehidupan sehari-hari siswa sering dihadapkan oleh berbagai masalah. mampu mencari berbagai jalan keluar dari . Oleh karena itu perlu sedini mungkin siswa dibiasakan untuk menyelesaikan masalah.

maka perubahan keterampilan siswa selama melaksanakan proses pembelajaran juga dapat diamati dan dinilai tingkat perkembangnnya dalam suatu indikator dan taraf keterampilan berproses. menjawab pertanyaan atau menanggapi. berada dalam tugas. serta dapat membantu siswa memperoleh pengetahuannya melalui siswa lain dalam diskusi kelompok sehingga nantinya siswa juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan berproses secara lisan maupun tulisan.31 suatu kesulitan yang dihadapi. Keterampilan berproses siswa dapat dilihat dengan mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu. Dengan demikian ada pengaruh yang positif . Pengukuran ini diberi nama variabel hasil belajar. menyampaikan ide atau pendapat. Geometri merupakan materi yang dianggap siswa masih abstrak dan memerlukan kemampuan pemecahan masalah. yaitu peningkatan hasil belajar. dalam pembelajaran materi segitiga diperlukan keterampilan berproses dalam memecahkan masalah. Selanjutnya setelah proses pembelajaran berakhir maka akan dapat diukur hasil belajar dengan suatu indikator kemampuan kognitif. dan sebagainya. maka akan dapat memberikan kontribusi yang baik. mendengarkan secara aktif. Kegiatan tersebut diberi nama variabel keterampilan berproses. Apabila ketermpilan berproses seseorang menunjukkan adanya perkembangan. dapat belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek dan dapat mendidik siswa percaya diri. Pokok bahasan segitiga merupakan salah satu aspek dalam geometri. Hasil proses belajar dapat diamati.

32 keterampilan berproses terhadap hasil belajar. Dan pada akhirnya tercapai ketuntasan hasil belajar dan keterampilan berproses. Bagan kerangka berpikir adalah sebagai beikut Siswa Masalah pada pokok bahasan segitiga Model Pembelajaran yang sesuai (Model Pembelajaran Problem Solving) Siswa belajar dalam kelompok Pengamatan keterampilan berproses Pengaruh keterampilan berproses model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar Kemampuan memecahkan masalah matematika Ada pengaruh positif keterampilan berproses model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar Mencapai ketuntasan belajar .

2. Pembelajaran matematika pokok bahasan segitiga dengan model pembelajaran problem solving dapat mencapai ketuntasan belajar (keterampilan berproses dan hasil belajar). . 1. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Keterampilan berproses model pembelajaran problem solving pada pokok bahasan segitiga mempunyai pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa SMP N 15 Semarang.33 C.

materi berdasarkan pada kurikulum yang sama dan pembagian kelas tidak ada kelas unggulan.34 BAB III METODE PENELITIAN A. . Kelas VII terdiri dari delapan kelas yaitu kelas VIIA sampai dengan kelas VIIH. Sampel penelitian Penentuan sampel dalam penelitian ini dipilih dengan teknik cluster random sampling dari populasi normal yang diasumsikan homogen dengan pertimbangan siswa duduk pada jenjang kelas yang sama. setiap kelasnya terdiri dari 44 siswa. 2. Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa SMP N 15 Semarang kelas VII yang berjumlah 352 siswa pada semester genap tahun pelajaran 2006/2007. guru yang mempunyai kemampuan sama. dipilih 1 (satu) kelas yang akan menjadi sampel yaitu kelas VII G (nama responden terdapat pada lampiran 27 halaman 134) dan 1 (satu) kelas untuk uji coba yaitu kelas VII F (nama responden terdapat pada lampiran 26 halaman 133). Metode Penentuan Obyek Penelitian 1. Dari populasi yang tersebar dalam 7 (tujuh) kelas.

4. . a.35 3. Hasil belajar yang akan dinilai dalam penelitian ini adalah aspek pemecahan masalah. Pada pelaksanaan ini diterapkan model pembelajaran problem solving. menganalisis dan menetapkan instrumen penelitian. d. b. Peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian pada sampel dengan pengamatan untuk mengukur keterampilan berproses dan tes untuk mengukur hasil belajar. Variabel penelitian Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Peneliti membuat instrumen penelitian yang akan digunakan untuk penelitian. c. Peneliti merancang kelas yang akan dijadikan sampel. Peneliti melaksanakan uji coba instrumen penelitian. e. Peneliti melaksanakan pembelajaran pada sampel penelitian. 1) Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah keterampilan berproses pembelajaran matematika dengan model problem solving (X).. 2) Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar (Y) siswa kelas VII SMP N 15 Semarang pada pokok bahasan segitiga. Desain Penelitian Langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti pada saat penelitian adalah sebagai berikut.

Metode Pengumpulan Data 1. Lembar Observasi/pengamatan Lembar pengamatan dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan data tentang keterampilan berproses siswa kelas VII G SMP Negeri 15 Semarang pembelajaran matematika dengan model problem solving. c. C. b. Tes Tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa pada pokok bahasan segitiga setelah proses pembelajaran. B. Menentukan materi yang diujikan. Metode Penyusunan Perangkat tes Penyusunan tes dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Peneliti menyusun dan melaporkan hasil-hasil penelitian. Menentukan tipe soal. g. . Instrumen Penelitian 1. Menentukan jumlah soal berdasarkan pertimbangan dan tingkat kesulitan soal. 2.36 f. Bentuk tes yang digunakan adalah bentuk soal uraian. Materi dan Bentuk Tes Materi tes yang digunakan adalah materi kelas VII semester II yaitu segitiga. 2. a. Peneliti menganalisis/mengolah data yang telah dikumpulkan dengan metode yang telah ditentukan.

daya beda dan tingkat kesukaran. a. j. i. Mengujicobakan instrumen. Menentukan komposisi atau jenjang. Keterampilan siswa dalam pembelajaran secara global. bentuk lembar jawab. 3. Memilih item soal yang sudah teruji berdasarkan analisis yang sudah dilakukan. dan penentuan skor. Indikator keterampilan berproses I. h. k. Keterlibatan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Menganalisis hasil uji coba dalam hal validitas. f.37 d. Membuat kisi-kisi. Indikator Kinerja Indikator kinerja yang akan dinilai dalam penelitian ini adalah keterampilan berproses dan hasil belajar. . (3) (4) (5) Keterampilan membuat catatan penting materi pelajaran. (1) (2) Kesiapan siswa untuk menerima pelajaran. Keterampilan siswa mengingat kembali materi/pengetahuan prasyarat. g. reliabilitas. e. Menentukan alokasi waktu untuk mengerjakan soal. Menulis butir soal. kunci jawaban. Menuliskan petunjuk mengerjakan soal. Konsentrasi dalam mengikuti pelajaran.

(10) Kedisiplinan menyelesaikan tugas. Keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan matematis (21) Kesiapan siswa menghadapi masalah dalam pembelajaran. Keterampilan siswa dalam berkomunikasi menanggapi hasil jawaban.38 II. (19) Keterampilan menyajikan hasil diskusi. (15) Memberi kesempatan teman kelompok untuk aktif. (14) Keterampilan berinteraksi melalui bertanya/siap menjawab pertanyaan dalam pembelajaran. (6) (7) (8) (9) Membuat daftar pertanyaan yang berkualitas. IV. (11) Keterampilan mengungkapkan pendapat. (13) Kereaktifan siswa dalam melontarkan kritik. III. (12) Keterampilan menjawab pertanyaan yang diberikan. (17) Keterampilan beradaptasi dengan teman. V. . Membuat rangkuman materi yang berkualitas. Keterampilan menyelesaikan tugas rumah yang diberikan. (16) Adanya kerja sama antar sesama anggota kelompok. (18) Keterampilan mengkomunikasikan jawaban. Jumlah jawaban soal yang coba diselesaikan. Reaksi/tanggapan siswa terhadap tugas yang diberikan. (20) Keterampilan melaksanakan cara kerja sesuai dengan petunjuk. Keaktifan dalam pembelajaran.

Indikator hasil belajar (1) Menjelaskan jenis segitiga berdasarkan sisi-sisinya. (7) Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas segitiga.39 (22) Keterampilan memecahkan masalah ketika siswa mengerjakan evaluasi. memprediksi suatu konsep dan menunjukkan rumus. menghitung. Penilaian keterampilan berproses menggunakan skala likert 1 sampai dengan 5. Penilaian skoring dengan rentang 0 sampai dengan 100. dan garis sumbu. Berdasar sekolah yang diteliti yaitu SMP N 15 Semarang. standar minimal ketuntasan hasil belajar adalah 68. menafsirkan. (24) Keterampilan membuat kesimpulan hasil pembelajaran. (5) Melukis garis tinggi. (23) Keterampilan mengukur. b. dengan pertimbangan keterampilan berproses harus lebih tinggi dari pada hasil belajar yang dicapai. (6) Menghitung keliling dan luas segitiga. garis bagi. Standar ketuntasan keterampilan berproses yang diterapkan dalam penelitian ini adalah 70. (25) Keterampilan dalam mengikuti evaluasi individu. garis berat. (3) Menyelesaikan soal mengenai sudut dalam segitiga. . (4) Melukis segitiga sama kaki dan sama sisi. (2) Menjelaskan jenis segitiga berdasarkan sudutnya.

Analisis Uji Coba Instrumen Penelitian 1. Menurut Sugiyono (2003:270) instrumen yang berupa tes perlu diuji validitas isi dan validitas konstruksi. sedangkan untuk variabel hasil belajar kelas sampel pengukurannya dengan tes tertulis. Indikator-indikator variabel keterampilan berproses akan diuji validitas isinya dengan bimbingan dosen pembimbing. D. yaitu : . maka langkah selanjutnya yaitu melakukan uji validitas isi dengan cara mengkonsultasikan instrumen tersebut dengan para ahli yang dalam hal ini adalah dosen pembimbing. Instrumen yang telah disetujui oleh para ahli diujicobakan pada sampel lain dalam populasi yang sama.40 Dalam pelaksanaan penelitian. Setelah instrumen dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek yang akan diukur dengan landasan teori tertentu. daya beda dan tingkat kesulitan soal. Validitas Soal Untuk mengetahui validitas isian digunakan rumus korelasi product moment. Instrumen berupa non tes hanya cukup diuji validitas konstruksinya. sedangkan untuk variabel hasil belajar akan dilakukan validitas dan reliabilitas. teknik pengambilan data pada variabel keterampilan berproses dilakukan dengan lembar pengamatan (observasi).

2. n ∑τ i ) r11 = (1 − n −1 ∑τ t2 2 keterangan: r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan . Adapun rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen tes soal berbentuk uraian adalah dengan rumus Alpha. kemudian dikonsultasikan dengan r kritik product moment dengan taraf signifikan α = 5% .41 rxy = {N ∑ X 2 − (∑ X ) 2 }{N ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 } N ∑ XY − ∑ X ∑ Y keterangan: rxy N = koefisien korelasi = banyaknya peserta tes = jumlah skor butir = jumlah skor total = Skor butir = Skor total ∑X ∑Y X Y (Arikunto. dan sebaliknya. 2002:72) Setelah diperoleh harga rxy. Reliabilitas Soal Reliabilitas instrumen atau alat evaluasi adalah ketepatan alat evaluasi dalam mengukur. jika rxy > rtabel maka soal dikatakan valid.

42 n = banyak item soal 2 i ∑τ = jumlah varians skor tiap-tiap item = varians total ∑τ 2 t Rumus varians butir soal. . Tingkat Kesukaran Butir Soal Tehnik perhitungan tingkat kesukaran soal adalah dengan menghitung berapa persen testi yang gagal menjawab benar atau ada dibawah batas lulus untuk tiap butir soal (Arifin. Kriteria yang cocok digunakan dalam penelitian ini adalah butir-butir soal yang berdistribusi normal. Rumus yang digunakan untuk mencari tingkat kesukaran soal bentuk uraian adalah sebagai berikut. 2002:109) 3. (Arikunto. artinya tes tersebut mencakup semua tingkat kesukaran baik itu mudah. yaitu: σ i2 = ∑X 2 − ( ∑ X) 2 n n Rumus varians total yaitu: σt2 = ∑Y 2 − (∑ Y ) 2 n n Nilai r11 yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan rtabel product moment dengan ketentuan jika r11 > rtabel maka tes tersebut reliabel. 1991:135-136). sedang. maupun sukar.

c. Daya Beda Soal Daya pembeda soal diperlukan untuk mengetahui seberapa akurat soal tersebut dalam membedakan siswa yang pandai dengan siswa yang tidak pandai. a. (Arifin. Untuk menginterpretasikan nilai tingkat kesukaran dapat digunakan tolok ukur sebagai berikut.43 TK = Jumlah testi yang gagal x 100% Jumlah peserta tes Dalam penelitian ini tes dikatakan gagal jika tingkat kebenaran dalam menjawab kurang dari 50%. b. Soal dianggap baik apabila siswa yang menjawab benar pada kelompok siswa pandai lebih banyak dari siswa yang menjawab benar pada kelompok siswa kurang pandai. Jika jumlah testi yang gagal 72% ke atas. 1991:135) 4. termasuk sedang. Jika jumlah testi yang gagal antara 28% sampai dengan 72%. termasuk sukar. Daya pembeda untuk soal uraian digunakan rumus uji t : t= MH − ML ∑x +∑x 2 1 2 2 n1 (n1 − 1) keterangan : t MH = Uji t = Mean kelompok atas . Jika jumlah testi yang gagal mencapai 27%. termasuk mudah.

Statistik yang dipakai adalah uji Chi-Kuadrat. Analisis Data 1 Untuk menguji hipotesis 1 digunakan uji normalitas dan analisis regresi. yang paling penting adalah untuk menentukan apakah menggunakan statistik parametrik atau non parametrik. tabel maka daya beda soal E. a. Rumusan hipotesis H0 : data berdistribusi normal H1 : data tidak berdistribusi normal ii. Menentukan α = 5 %. Berikut langkah-langkah uji normalitas : i. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk menentukan statistik yang akan digunakan dalam mengolah data. 1991:141). . iii.44 ML = Mean kelompok bawah 2 1 ∑x ∑x n1 N = jumlah deviasi skor kelompok atas = jumlah deviasi skor kelompok bawah = jumlah responden pada kelompok atas atau bawah (27% x N) = jumlah seluruh respon yang mengikuti tes 2 2 Hasil perhitungan t dikonsultasikan dengan t tabel dengan dk = (n1-1) + (n2-1) dan taraf signifikansi 5 %. jika t hitung > t tersebut signifikan (Arifin.

Analisis Regresi (1) Regresi Linier Sederhana ) Rumus yang digunakan : Y = a + bX (∑ Y )(∑ X ) − (∑ X )(∑ X Y ) a= n∑ X − (∑ X ) i 2 i i i i 2 i 2 i b= n∑ X i Yi − (∑ X i )(∑ Yi ) n∑ X i2 − (∑ X i ) 2 (Sudjana.b = koefisien regresi (2) Uji Keberartian dan Kelinieran Regresi Sederhana Menurut Sudjana (2002:331) uji ini digunakan untuk menguji apakah model linier yang telah diambil itu betul-betul . 2002:315) Dimana : X = variabel bebas ) Y = variabel terikat a. Simpulan jika H0 diterima maka data berdistribusi normal.45 iv. b. 2002:273) vi. Statistik yang digunakan adalah χ 2 = ∑ i =1 k (Oi − Ei )2 Ei Keterangan: χ2 Oi Ei : harga Chi-Kuadrat : frekuensi hasil pengamatan : frekuensi yang diharapkan (Sudjana. Kriteria pengujian adalah tolak H0 jika x 2 ≥ x(1−α )( k −1) v.

v. Rumusan hipotesis Ho: β = 0.(1.46 cocok dengan keadaannya atau tidak. Berikut langkah-langkah uji kelinieran regresi : i. iii. Statistik hitung yang digunakan Untuk pengujian kelinieran digunakan tabel berikut: Sumber dk Variasi Total Regresi (a) Regresi (b) n 1 1 JK KT F ∑Y 2 i ∑Y 2 2 i 2 (∑ Y ) i /n (∑ Y ) i /n 2 s reg JKreg = JK (b a) S2reg =JK (b a) Residu n-2 ) JK res = ∑ Yi − Yi ( ) 2 2 S res = ∑( ) Yi − Yi n−2 ) 2 2 s res Tuna cocok k-2 JK (TC) 2 sTC = JK (TC ) k −2 Kekeliruan n-k JK (E) s e2 = JK ( E ) n−k 2 sTC s e2 (Sudjana. Statistik yang digunakan adalah Uji-F. 2002:331). Menentukan α = 5 %. . vi.2). Simpulan H0 ditolak artinya signifikan atau model adalah linier.n .α ). iv. Kriteria pengujian H0 ditolak jika Fhitung ≥ F(1. regresi linier ii. regresi tidak linier H1 : β ≠ 0.

α ). v. 2005:250) Dengan : rxy n X Y : koefisien korelasi : jumlah subyek : variabel bebas : variabel terikat vi. (3) Analisis Korelasi Perhitungan Koefisien Korelasi i. Rumus statistik yang digunakan adalah sebagai berikut. Kriteria pengujian H0 ditolak jika rhitung ≤ r(n. iv. Rumusan hipotesis Ho: koefisien korelasi tidak signifkan H1 : koefisien korelasi signifikan ii. . Statistik yang digunakan adalah korelasi product moment. Menentukan α = 5 %. Simpulan H0 ditolak maka koefisien korelasi signifikan. rxy = [n(∑ X n(∑ XY ) − (∑ X )(∑ Y ) 2 2 2 ) − (∑ X ) ][n(∑ Y ) − (∑ Y ) ] 2 (Sugiyono. iii.47 Jika didapat bahwa koefisien regresi berarti dan persamaan regresi benar-benar linier maka persamaan regresi dapat digunakan untuk mengukur. (a) Koefisien Determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh X terhadap Y.

2002:370). Rumusan hipotesis Hipotesis statistik yang digunakan untuk variabel hasil belajar adalah H0 : rata-rata hasil belajar siswa = 68 H1 : rata-rata hasil belajar siswa ≠ 68 Hipotesis statistik yang digunakan untuk variabel keterampilan berproses adalah H0 : rataan nilai keterampilan berproses siswa = 70 H1 : rataan nilai keterampilan berproses siswa ≠ 70 ii. Statistik yang digunakan adalah uji-t. n −1) 2 < t hitung < t 1 (1− α . . 2002:227) − 1 (1− α . Rumus statistik yang digunakan X − μ0 t= s n (Sudjana. iii. n −1) 2 . iv. Kriteria pengujian H0 diterima jika − t v. 2 Untuk menguji hipotesis 2 digunakan uji hipotesis satu sampel i.48 Rumus yng digunakan : r2 = b{n∑ XY − (∑ X )(∑ Y )} n∑ Y 2 − (∑ Y ) 2 r2 = koefisien determinasi b = koefisien arah regresi (Sudjana. Menentukan α = 5 %.

479 sedangkan rtabel = 0. Tes Hasil Belajar Matematika a. Soal tidak valid dikarenakan r hitung < rtabel. Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian Uji coba instrumen diberikan kepada siswa kelas VII di luar sampel. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 14 halaman 99.297. dengan taraf signifikansi 5 % didapat r tabel sebesar 0. 1. yaitu kelas VII F akan tetapi masih termasuk dalam populasi.49 Keterangan : t − = nilai t yang dihitung X = rata-rata hasil belajar μ 0 = nilai yang dihipotesiskan s = simpangan baku n = jumlah anggota sampel vi. 4. yaitu soal nomor 1. Validitas Soal Setelah tes pokok bahasan Segitiga kepada 44 siswa kelas VII F.297. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 14 halaman 99. . Dari hasil perhitungan ternyata dari 14 item soal ada 3 item soal yang tidak valid. F. Jadi rhitung > rtabel sehingga tes yang diujicobakan reliabel. 5. Simpulan terima H0 artinya mencapai tuntas belajar. Nama siswa dan kode responden uji coba dapat dilihat pada lampiran 26 halaman 133. Reliabilitas Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus Alpha terhadap hasil uji coba diperoleh rhitung = 0. b.

7). 6. 10. Sedangkan soal yang tidak dipakai adalah soal nomor 1. Daya Pembeda Soal Dari hasil perhitungan daya pembeda signifikan pada nomor 3. 13 dan 14. 4.Sedangkan nomor 1. 7. 2. dan 5 tidak signifikan. 12. 6. dan 3 item soal mudah (soal nomor : 4.50 c. 13. 11. 7 item soal sedang (soal nomor : 5. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 14 halaman 99. 9. 2. 11. Penentuan Instrumen Berdasarkan hasil perhitungan analisis validitas. 8. 2. Selengkapnya terdapat pada lampiran 16 halaman 109. 10. d. 11. 13 dan 14. dan daya pembeda soal. 9. 8. 12. . reliabilitas. 2. 9). 9. 4 dan 5. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 14 halaman 99. 10. maka item soal uji coba yang dipakai sebagai instrumen untuk mengambil data pada penelitian ini adalah soal nomor 3. didapat 4 item soal sukar (soal nomor : 1. 7. 14). Tingkat Kesukaran Butir Soal Dari hasil perhitungan taraf kesukaran tes pokok bahasan Segitiga. 12. 3. tingkat kesukaran. 6.

95(3) = 7. Sehingga diperoleh 2 x hitung = 6. diperoleh mean 73. nilai terendah 50. Terlihat bahwa xhitung < xtabel . nilai tertinggi 94. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 28 halaman 135. . dilaksanakan pada saat proses pembelajaran sesuai dengan jadwal pelajaran kelas VII G SMP N 15 Semarang semester genap tahun pelajaran 2006/2007 yaitu pada tanggal 7. Hasil Penelitian Penelitian pengaruh keterampilan berproses model pembelajaran Problem Solving. terlebih dahulu menentukan materi dan menyusun rencana pembelajaran.35. hal ini berarti bahwa sampel berdistribusi normal atau dapat dikatakan populasi juga berdistribusi normal. dan 16 Mei 2006.81 . simpangan baku 12. dan lembar observasi/pengamatan keterampilan berproses untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pokok bahasan yang dipilih adalah segitiga. 1.57 dengan taraf signifikansi sebesar 5 % dan dk = 6–3 = 3 2 2 2 2 diperoleh xtabel = x0. Sebelum kegiatan penelitian ini dilaksanakan. Hasil Uji Normalitas Perhitungan uji normalitas untuk sampel dengan menggunakan data awal ulangan harian pokok bahasan Garis dan Sudut.61. 14.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. banyak kelas interval = 6 dan panjang kelas interval = 8. 9.

hal ini berarti bahwa sampel berdistribusi normal. Terlihat bahwa xhitung < xtabel .73 dengan taraf signifikansi sebesar 5 % dan dk = 6 . nilai tertinggi 94. 2.70. Dari perhitungan diperoleh mean 70. banyak 2 kelas interval = 6 dan panjang kelas interval = 8. sehingga x hitung = 6.3 = 3 diperoleh 2 2 2 2 xtabel = x0. ^ .95(3) = 7. diperoleh data hasil belajar pokok bahasan segitiga dengan menerapkan model pembelajaran problem solving. Pernyataan di atas dapat diuji sebagai berikut.52 Setelah penelitian dilaksanakan. Pada bab II bagian hipotesis pertama tertulis. nilai terendah 54. Uji Linieritas antara Keterampilan Berproses terhadap Hasil Belajar Untuk menguji kelinieritasan antara keterampilan berproses terhadap hasil belajar dalam persamaan regresi Y = a + bX dapat dilihat pada tabel koefisien pada lampiran 35 halaman 142 yaitu tabel 1.16.81 . Data ini diuji normalitasnya. simpangan baku 8.0. Pengaruh Keterampilan Berproses terhadap Hasil Belajar Siswa Untuk menguji ada tidaknya pengaruh keterampilan berproses terhadap hasil belajar siswa perlu dilakukan uji analisis data dengan SPSS versi 10. ada pengaruh yang positif keterampilan berproses model pembelajaran problem solving pada pokok bahasan segitiga terhadap hasil belajar. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 29 halaman 136.

Error -21.53 Tabel 1.289 .793 1. Positif mengandung arti bahwa variabel keterampilan berproses terhadap hasil belajar mempunyai hubungan linier.204 9. Dengan melihat nilai koefisien β yang terstandar seperti terlihat pada tabel 1 adalah 0.823 t -2. hubungan antara keterampilan berproses dan hasil belajar tidak berarti. Uji Kelinieran antara Keterampilan Berproses dan Hasil Belajar a Coefficients Model 1 (Constant) KET_PROS Unstandardized Coefficients B Std.823 maka secara teoritis nilai tersebut menunjukkan sama dengan nilai koefisien korelasi. Karena koefisien β untuk X adalah positif 1.137 Standardi zed Coefficien ts Beta . .585 9. H1 : β ≠ 0.033 .396 Sig.289X. Dependent Variable: HSL_BLJR Dari tabel di atas dapat dibaca persamaan regresinya Y = -21. Uji Keberartian Ho: β = 0. hubungan antara keterampilan berproses dan hasil belajar berarti.000 a.585 + 1. Untuk menguji hipotesis tersebut dapat dilihat Anova output pada ^ lampiran 35 halaman 142 yaitu pada tabel 2 Keberartian Regresi dibawah ini.289 maka dikatakan hubungan tersebut adalah positif. .

Tabel 3. Untuk melihat besar pengaruh atau kontribusi keterampilan berproses (X) terhadap hasil belajar (Y) dapat dibaca dari nilai R Square.0 dari lampiran 35 halaman 142.670 5.0 dengan nilai Sig=0. Dependent Variable: HSL_BLJR Dari tabel di atas diperoleh Anova output SPSS versi 10.643 3255. Error of R R Square R Square the Estimate . KET_PROS .823a .886 df 1 42 43 Mean Square 2206.243 1049. Karena mempunyai hubungan linier maka dikatakan antara keterampilan berproses dan hasil belajar mempunyai hubungan yang berarti.992 F 88.000=0% lebih kecil dari 5%.678 . Predictors: (Constant). .000a a.243 24.00 Model 1 a. KET_PROS b. maka Ho ditolak yang mempunyai arti bahwa antara keterampilan berproses dan hasil belajar mempunyai hubungan yang linier. Keberartian Regresi b ANOVA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 2206. Kontribusi Keterampilan Berproses Terhadap Hasil Belajar Model Summary Adjusted Std. Predictors: (Constant).280 Sig. Dari tabel 3 model summary dapat dilihat nilai R square yang diperoleh dari hasil olahan SPSS versi 10.54 Tabel 2.

akan dipilih uji dua pihak.2 %. Untuk mendiskripsikan data output yang ada.15 dan nilai ketuntasan 70. Dari tabel di atas dapat dilihat nilai R2 = 0.55 Nilai R square menunjukkan besarnya kontribusi X yaitu keterampilan berproses terhadap Y nilai hasil belajar.8 %. sedangkan masih ada pengaruh variabel lain sebesar 32.678 = 67. 3. Ketuntasan Variabel Keterampilan Berproses Untuk mengetahui pencapaian ketuntasan variabel hasil belajar digunakan uji statistik t compare mean one sample.8 % artinya keterampilan berproses mempengaruhi hasil belajar sebesar 67. Berdasar data hasil penelitian variabel keterampilan berproses pada lampiran yang diolah dengan SPSS versi 10. Untuk variabel keterampilan berproses dengan nilai rataan 71. Ketuntasan Target Pencapaian a.0 diperoleh output yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 34 halaman 141. maka penyimpulan output secara teoritis didasari pada diterima atau ditolaknya Ho dengan ketentuan seperti di bawah ini H0 : rataan nilai keterampilan berproses siswa = 70 H1 : rataan nilai keterampilan berproses siswa ≠ 70 .

155 Dari perhitungan diperoleh t hitung = 1.379 df Mean Sig.16 dan skor ketuntasan 68. (2-tailed) Difference 43 . Dengan kata lain. taraf signifikansi 5 % dan dk = (n-1). Berdasarkan perbandingan t hitung dengan t tabel memperlihatkan bahwa − t tabel < t hitung < t tabel . b. Untuk mendiskripsikan data output yang diperoleh. maka dihasilkan output yang dapat dilihat pada lampiran 33 halaman 140. diperoleh 2 t tabel = 2.0. maka dipilih uji dua pihak. Ketuntasan Variabel Keterampilan Berproses One-Sample Test Test Value = 70 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -.175 1.844 KET_PROS t 1. Kemudian dengan 1 peluang (1 − α ) . Berdasar data hasil penelitian hasil belajar pada lampiran 31 halaman 138 yang diolah dengan SPSS versi 10.534 2. maka penyimpulan output . Maka nilai rataan keterampilan berproses sama dengan 70. Oleh karena skor rataan hasil belajar 70. telah mencapai target ketuntasan belajar.56 Tabel 4. sehingga Ho diterima. Ketuntasan Variabel Hasil Belajar Untuk mengetahui pencapaian ketuntasan variabel hasil belajar digunakan uji statistik t compare mean one sample.017.379.

57 secara teoritis didasari pada diterima atau ditolaknya Ho dengan ketentuan seperti di bawah ini H0 : rata-rata hasil belajar siswa = 68 H1 : rata-rata hasil belajar siswa ≠ 68 Tabel 5. (2-tailed) 43 . Maka hasil belajar dengan model pembelajaran Problem Solving telah mencapai target ketuntasan 68.16 Dari perhitungan diperoleh t hitung = 1.107 Mean Difference 2.017. Pembahasan Hasil analisis statistik yang menerima nilai rataan variabel keterampilan berproses sama dengan 70 dan nilai hasil belajar dengan target ketuntasan sama dengan 68. sehingga Ho diterima.646 df Sig. taraf signifikansi 5 % dan dk = (n-1). Ketuntasan Variabel Hasil Belajar One-Sample Test Test Value = 68 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -.379. diperoleh 2 t tabel = 2. Kemudian dengan 1 peluang (1 − α ) . B.49 4. menunjukkan bahwa standar ketuntasan keterampilan berproses dan hasil belajar telah tercapai.80 HSL_BLJR t 1. Berdasarkan perbandingan t hitung dengan t tabel memperlihatkan bahwa − t tabel < t hitung < t tabel . .

Bentuk pelibatan siswa yaitu kerja sama antar teman untuk dapat memecahkan soal-soal pemecahan masalah.15 dan rataan nilai hasil belajar 70. ternyata koefisien korelasi berarti. ini menunjukkan bahwa hubungan antara Y dan X berbanding lurus. Y akan meningkat jika nilai X meningkat dan sebaliknya.289X.823 (R ≠ 0). Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar akan meningkat jika keterampilan berproses meningkat berdasarkan kelebihan pembelajaran Problem Solving antara lain : ^ . Diketahui nilai b positif. Kemudian uji regresi linier juga menunjukkan persamaan regresi adalah linier. Setelah diuji keberartiannya ternyata persamaan regresi linier tersebut berarti artinya persamaan tersebut dapat digunakan untuk menaksir harga Y jika X diketahui. kecakapan praktis yang berwujud generalisasi yang merupakan gambaran dalam menghadapi problem atau masalah baru. diperoleh persamaan estimator regresi linier sederhana Y = -21. siswa terlibat secara aktif.58 Dengan hasil uji statistik rataan keterampilan berproses 71. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan berproses dengan hasil belajar.16 membuktikan bahwa pembelajaran Problem Solving dapat mengembangkan siswa dalam berpikir dan memberikan pengetahuan. siswa dibimbing untuk bisa menemukan solusi pemecahan masalah sendiri. Setelah diuji keberartiannya. Dari hasil perhitungan diperoleh harga R = 0. Dalam pembelajaran ini. Berdasarkan hasil perhitungan. ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel X dengan variabel Y.585 + 1.

pemecahan masalah serta perubahan aspek-aspek lain dalam individu yang belajar. keterampilan. Kemudian melakukan pembagian kelompok. selanjutnya guru memberikan petunjuk untuk menjelaskan . Setelah kelompok belajar terbentuk. Salah satu penyebab terjadinya perubahan keterampilan dan pemecahan masalah didukung oleh adanya model pembelajaran yang diberikan yaitu model pembelajaran Problem Solving. Mendidik siswa percaya diri sendiri Koefisien determinasi menunjukkan besarnya pengaruh antara variabel X dengan variabel Y.8 %.59 1 2 3 4 Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis. Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek. Besarnya pengaruh keterampilan proses terhadap hasil belajar sebesar 67.678 dari perhitungan memberikan arti bahwa besarnya pengaruh keterampilan berproses terhadap hasil belajar matematika siswa adalah 0. Model pembelajaran Problem Solving adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan memberikan persoalan untuk dipecahkan oleh siswa dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi. Koefisien determinasi R2 = 0. kecakapan.678 atau 67. kebiasaan. sikap dan tingkah laku.8 % memperkuat pendapat Muhibbin (2003) yang menegaskan bahwa proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan seperti perubahan pengetahuan. Langkah pertama yang dilakukan guru adalah menyiapkan materi bahan ajar yang berupa LKS yang berisi soal –soal pemecahan masalah yang akan diselesaikan oleh siswa secara kelompok dan individu. penalaran.

Dengan adanya bimbingan dari guru dan antar teman lain maka . kemudian siswa melakukan diskusi dengan bantuan LKS secara berkelompok. Sedangkan guru harus mampu memotivasi dan membimbing siswa untuk mengaktifkan kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran Problem Solving berpengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan siswa. Siswa yang aktif dan siswa yang pasif akan dinilai menurut skor yang telah ditentukan dalam daftar indikator keterampilan berproses. menjelaskan maka mereka akan lebih menguasai pengetahuan dan keterampilan barunya. siswa dapat bekerja sama dengan siswa lain dan dapat berkreasi untuk menganalisis serta mengambil keputusan dalam memecahkan masalah dengan model Problem Solving.60 batasan-batasan materi yang akan dipelajari. guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya dengan model pembelajaran Problem Solving. mereka harus dapat memecahakan masalah dengan tepat. Jadi masing-masing siswa merasa bahwa seseorang pasti dihadapkan dengan masalah. Pada kegiatan penutup pembelajaran Problem Solving. Setiap siswa diamati segala bentuk aktivitasnya sebagai keterampilan berproses oleh beberapa observator. Setiap anggota kelompok saling bekerja kerja sama untuk memecahkan permasalahan. dan mampu menjadi fasilitator dan evaluator pada kegiatan pembelajaran. Dalam kesempatan ini setiap kelompok diberi kesempatan untuk menampilkan hasil diskusi kelompok dan diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas dari materi yang telah didiskusikan. saling membantu.

Dilihat dari tercapainya ketuntasan belajar masing-masing variabel dan hubungan antara keterampilan berproses terhadap hasil belajar siswa. secara deskriptif dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Problem Solving dapat mengefektifkan pembelajaran matematika kelas VII SMP N 15 Semarang sehingga mempercepat pencapaian keterampilan berproses. . sehingga siswa tidak mudah lupa dengan materi yang dipelajari. Dengan demikian hal tersebut di atas sangat mendukung terselenggaranya pembelajaran yang lebih baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.61 dapat membantunya untuk lebih menguasai materi.

dapat disimpulkan sebagai berikut.8 %. Saran Sesuai dengan hasil penelitian. . Adanya pengaruh yang positif antara keterampilan berproses dengan model pembelajaran Problem Solving terhadap hasil belajar ditunjukkan dengan persamaan regresi Y = -21.585 +1.16 dan keterampilan berproses yang mempunyai nilai rataan 71.15 telah mencapai target ketuntasan. Dengan demikian pembelajaran dengan Problem Solving dikatakan berhasil mencapai target ketuntasan. ^ B. 2. maka diharapkan dapat memberikan sedikit sumbangan berupa pemikiran yang digunakan sebagai usaha untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang pendidikan yang khususnya pada bidang matematika. 1.2 %. Besarnya pengaruh keterampilan berproses terhadap hasil belajar diketahui dari nilai R2 sebesar 67. Saran yang dapat penulis sumbangkan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Variabel hasil belajar yang mempunyai nilai rataan 70.62 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A.289X yang bersifat linier. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV. variabel lain yang mempengaruhi hasil belajar sebesar 32.

Penggunaan model pembelajaran Problem Solving sebagai upaya untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa hendaknya disesuaikan dengan materi pelajaran dan kondisi kelas. sebab berdasarkan penelitian ini telah terbukti bahwa keterampilan berproses dalam pembelajaran dengan model tersebut mempunyai pengaruh positif terhadap nilai hasil belajar . untuk model pembelajaran Problem Solving. mengingat penerapan pembelajaran tersebut belum tentu cocok untuk diterapkan pada semua materi pelajaran matematika dan pada semua kelas.63 1. Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar hendaknya guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing yang senantiasa melibatkan siswa secara maksimal. Bentuk pelibatan siswa yaitu kerja sama antar teman untuk dapat memecahan soalsoal pemecahan masalah. 3. 2. Untuk meningkatkan nilai hasil belajar siswa dapat dipilih model pembelajaran Problem Solving. siswa dibimbing untuk bisa menemukan solusi pemecahan masalah sendiri. .

Sardiman. Strategi Belajar Mengajar. Syah. M. A. Gulo. Muhibbin. Belajar dan Pembelajaran.depdinas. Jakarta: Rineka Cipta. Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran Matematika. S. 2004. 2003. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Belajar IPA Siswa SLTP. H. dkk.go. 2002.Psikologi Belajar. 2006. Hudojo. (http://www. W. Jakarta: BSNP.id/jurnal/45/perdy_karuru. Jakarta : Grasindo. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Dahar. R. Hamamik. diakses 18 Februari 2007). P. Badan Standar Nasional Pendidikan. 2002. Jakarta :Esis. Dimyati dan Mudjiono. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Grasindo. Junaidi. (online). Ridho. Evaluasi Instruksional. Kurikulum 2003: Standar Kompetensi Matematika Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Bandung: Remaja Rosdakarya. Bandung: Erlangga. M. Arifin. O. 1991. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. W. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2001. Depdiknas. Evaluasi Terpadu Mandiri dan Rekreasi Matematika SMP Kelas VII. 2002. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.64 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. 2003. 1996. 2006. Jakarta : Bumi Aksara. Jakarta : Bumi Aksara. Teori-Teori Belajar. Z. Matematika SMP untuk kelas VII. Jakarta: Raja Grafindo Persada. S.htm. Karuru. Malang : JICA. 2003. .

Sugiyono. Jakarta : Balai Pustaka. Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Membentuk Mahasiswa Menjadi Matematikawan yang Filsafati Melalui Pembelajaran Filsafat Ilmu dengan Strategi Student Team Heroic Leadership. Semarang. 2000. Bandung :Tarsito. Technology and Society (SETS) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas V di SD N 2 Kec. Kamus Besar Bahasa Indonesia. T. M. 2005. Semarang : Depdikbud. 2005. Sumadi. 2006. 2003. Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tesis Program Pascasarjana Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. 2001. Sukestiyarno dan Budi Waluyo. A. Materi Pembinaan Matematika SMP. No 1 Th. Supriyadi. Model Pembelajaran Matematika. Tengaran Kab. 2005. 2005. 2004. I. Denpasar: IKIP Singaraja. Yogyakarta : Depdikbud. Bandung : ALFABETA. 2002. Semarang: UNNES. Suhito. Dalam Jurnal Matematika atau Pembelajarannya. Pengembangan Keterampilan Proses Bervisi Science Environment. XXXVIII Januari 2005). Langkah-langkah dalam Pengajaran Matematika dengan Menggunakan Penyelesaian Masalah. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika. Suyitno. Statistika untuk Penelitian. Sukoriyanto. Metode Statistika. Tim PPPG Matematika. Semarang: UNNES.65 Sudjana. Semarang: UNNES. Malang : JICA. Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik Siswa Kelas II SLTP Negeri 6 Singaraja (dalam Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Singaraja. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful