Sejarah dan Perkembangan Hermeneutika

Posted by: abdurrahmanbinsaid on: 1 Februari, 2010 Kita berhak bertanya, apakah istilah Hermeneutika telah digunakan dalam tradisi filsafat kuno? Sebagaimana dalam berbagai buku dinyatakan bahwa istilah tersebut yang dalam bahasa inggris hermeneutics, berasal dari kata dalam bahasa Yunani hermeneuine dan hermenia yang masing berarti menafsirkan dan penafsiran .[1] Persoalannya, kata latin hermeneutica belum muncul sampai abad ke-17, namun baru muncul pertama kali saat diperkenalkan oleh seorang teolog Strasborg bernama johann Konrad Danhauer (1603-1666) dalam bukunya yang berjudul : Hermeneutica sacra, Sive methodus Eksponendarums Sacrarum Litterarum, yamg menilai bahwa Hermeneutika adalah syarat terpenting bagi setiap ilmu pengetahuan yang mendasarkan keabsahannya pada interpretasi teks-teks. Ia secara terbuka mendeskripsikan inspirasinya dari Risalah Peri hermeneias (de interpretations) Aristoteles, yang mengklain bahwa ilmu interpretasi yang baru berlaku tidak lain menjadi pelengkap dari Organon Aristotelian.[2] Istilah Hermeneutika pada masa ini mengandung dua pengertian, yaitu Hermeneutika sebagai seperangkat prinsip metodologis penafsiran dan sebagai penggalian filosofis dari sifat dan kondisi yang tidak bisa dihindari dari kegiatan memahami.[3] Sementara Wilhelm Dilthey, sejarawan pertama tradisi Hermeneutika, menyatakan bahwa hermenetika telah muncul satu abad lebih awal oleh Protestantisme, sesaat setelah lahirnya prinsip Sila Scriptura Luther.[4] Namun dari laporan Dilthey, kita akan kesulitan menemukan dari tulisan-tulisan apa yang dapat disebut Hermeneutika dalam semangat Luther. Baru dalam karya para pengikut Luther seperti Philipp Melanchton (1497-1560) dan Flacius Illyricius (1520-1575).[5] Pada gilirannya seorang filosof pengikut protestan berkebangsaan Jerman Schleiermacher dinilai sebagai orang yang bertanggung jawab membawa Hermeneutika dari ruang biblical studies ke ruang lingkup filsafat, sehingga ia kemudian dianggap sebagai pemrakarsa Hermeneutika modern . Menurutnya apa saja yang berbentuk teks dapat menjadi objek Hermeneutika, dan tidak terbatas hanya pada teks kitab suci. Selanjutnya Hermeneutika dikembangkan oleh Wilhelm Dilthey sendiri yang menggagas hermeneurika sebagsi landasan ilmu-ilmu kemanusiaan, lalu Hans-Georg Gadamer yang mengembangkannya menjadi metode filsafat, dan dilanjutkan oleh para filosof kontemporer seperti Paul Ricoeur, Jurgen Habermas, Jacques Derrida, Michel Foucault, Lyotard, Jean Baudrillard, dan yang lain.[6] Sementara dalam filsafat kuno sebetulnya telah terlihat tradisi mencari hal-ihwal yang dapat dianggap sebagai Hermeneutika dalam teks-teks klasik seperti De Interpretation Aristoteles, yang sering diterjemahkan dalam bahasa Jerman dengan Hermeneutika Aristoteles .[7] Orang Yunani menggunakan kata ermenia untuk mendeskripsikan apa yang sekarang kita sebut sebagai penerjemahan, atau lebih tepat diartikan sebagai penafsiran.[8] Sementara ketika bahasa tulis (teks) muncul, Aristotels menegaskan bahwa tanda-tanda tertulis itu hanyalah simbol bagi ucapan lisan , sebagaimana penegasan Plato tentang hal ini, bahwa wacana tertulis, yang paling baik sekalipun, tetap saja berfungsi sebagai rememorasi . Di sini, keduanya sepakat untuk mengembalikan media tertulis ke kata yang terucap, sedangkan kata terucap ini adalah simbol bagi kata batin (inner word).[9] Kata Batin Kata Terucap Kata Tertulis.

seorang filosof. Ketertarikannya pada kajian ini menguat sejak di Universitas Halle. The more we learn about an author. jika dilandasi dengan pengetahuan tentang latar belakang sejarah pengarang teks.[14] Mengenai pertanyaan di atas. Artinya. Namun dalam kurun berikutnya. menurut perspektif Hermeneutika jenis ini. Berpijak dari keduanya. Sehingga pemahaman hanya dapat diperoleh tidak hanya dari pemahaman kesejarahan dan budaya pengarang saja.[13] Tokoh dari pemahaman ini adalah Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834). Dan penafsiran akan semakin baik.[10] Beberapa Varian Hermeneutika Hermeneutika tidak secara tiba-tiba menjadi satu disiplin ilmu dalam khazanah filsafat. yaitu F. menurutnya tidak ada jaminan bahwa kata tertulis akan dapat dipahami dengan tepat. ia dianggap sebagai pemrakarsa Hermeneutika modern karena menjadi filosof jerman pertama yang terus-terus menerus memikirkan Hermeneutika.[12] 1. ada pada lima unsur yang terlibat dalam proses memahami sebuah wacana. Hermeneutika Romantis Sebagai sistem metodologi pemahaman. Hal ini disebabkan oleh keadaran bahwa dalam wilayah filsafat kontemporer yang terpecah-pecah. kata tertulis tanda yang dengan persis mewakili kata batin. Hermeneutika romantis berangkat dari pertanyaan sederhana: sebenarnya bagaimana pemahaman manusia dan bagaimana pemahaman itu terjadi? . teks. the better equipped we are for interpretation . penulis sengaja akan sedikit mengungkapkan beberapa informasi historis yang akan menekankan pada perkembangan Hermeneutika menjadi berbagai varian-varian prinsip dan metodologis. Hermeneutika menjadi sebuah intuitive understanding. namun pada awalnya ia hanya sebatas subdisiplin teologi yang sudah muncul sejak awal dalam sejarah peradaban manusia yang mencakup kajian metodologis tentang autentitas dan penafsiran teks. ketika ia bertemu dengan tiga serangkai pemikir lainnya.[15] Menurut Schleiermacher. Sementara Plato menekankan perbedaan antara horizon-horison itu. namun lebih dari itu harus melibatkan subjektivitas pengarang.A. yaitu: penafsir. filolog dan tokoh sekaligus pendiri Protestanisme Liberal berkebangsaan Jerman. Filsafat yang mencoba menghadapi situasi seperti ini bisa disebut sebagai Hermeneutika . sehingga dapat menghidupkannya kembali sebagai seni penafsiran dalam tradisi gereja. dalam setiap kalimat yang .[11] Dan pada bagian ini. maksud pengarang. dan konteks kultural. Reil seorang professor kedokteran dan Steffens seorang filosof. Dan jawaban bagi pertanyaan ini. kita sedikit sekali dapat menemukan kesamaan antara satu dengan lain. Jadi proses penafsiran berawal dari penafsir ke teks melalui konteks sejarah dan cultural untuk menangkap kembali maksud penulis aslinya.Dari tiga horizon ini. teolog. Schleiermacher mengajukan dua teori pemahaman Hermeneutikanya: pertama: pemahaman ketatabahasaan (grammatical understanding) terhadap semua ekspresi. Wolf seorang filolog klasik. Hermeneutika perkembang menjadi kajian penafsiran secara menyeluruh dengan ruang lingkup yang lebih luas. Sebagaimana dinyatakan Thiselton yang dikutip Mudjia. yang bertugas untuk merekonstruksi pikiran pengarang. yaitu diskursus yang bercirikan interpretasi. Aristoteles mengasumsikan bahwa tidak ada yang benar-benar hilang dalan rangkaian transmisinya. kecuali fakta bahwa kita benar-benar hidup pada diskursus filosofis yang terpecahpecah. konteks historis. dan kedua: pemahaman psikologis terhadap pengarang.

sedangkan pemahaman harus dicari. Namun perbedaannya.[18] Secara ringkas. Oleh karena itu pemahaman dapat dicari dengan cara menelusuri segala kesalahpahaman yang dapat dan mungkin terjadi. Sehingga makna bukan sekedar apa yang dibawa oleh bahasa. teks merefleksikan kerangka mentalnya sendiri. karena manusia adalah produk system social yang membentuknya sedemikian rupa. pembicara mempunyai aspek tempat dan waktu. karena ia adalah pencipta sejarahnya sendiri. manusia merupakan makhluk eksistensial. Sehingga pada akhirnya.[21] Hermeneutika metodis berawal dari kritik tajam terhadap teori Schleiermacher dalam Hermeneutika romantisnya yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk bahasa. Dan pemahaman harus mengikuti hukum bahwa kesalahpahamanlah yang justru muncul secara otomatis atau alamiah. Hermeneutika Fenomenologis Hermeneutika fenomenologi adalah pemahaman teks dengan cara membebaskan diri dari prasangka dan membiarkan teks berbicara sendiri.diucapkan terdapat dua momen pembahasan. Hal ini karena bisa saja terjadi apa yang dikatakan penutur bahasa tidak sama dengan yang ia pikirkan. dan bahasa yang cenderung dimodifikasi menurut kedua hal itu.[26] . Artinya. Selain itu. namun lebih dari itu. tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah.[20] Sebagaimana teori sebelumnya dalam Hermeneutika romantic. ia sebenarnya pengagum berat Schleiermacher dengan kemampuannya dalam menggabungkan teologi dan kesusastraan dengan karya-karya filsafat.[19] 2. tapi pada saat yang sama dapat menyembunyikannya rapat-rapat. Hermeneutika pada dasarnya bersifat menyejarah.[24] Maka sisi psikologi manusia tidak dapat dipisahkan dari sisi eksternal-nya . menulis dan membaca untuk kemudian mehamami dan menafsirkan. Mudjia menyontohkan penulisan sejarah Indonesia yang tidak hanya ditulis sekali untuk selamanya. ia berbeda dengan Schleiermacher.[23] Dan manusia akan dapat memahami sejarah. yaitu apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dan apa yang dipikirkan oleh pembicara. Kritik ini dilontarkan oleh Willhem Dilthey (1833-1911) seorang filosofis historis dari Jerman. yang dalam bahasa Gadamer disebut historical romanticism. dan kedua: penangkapan muatan emosional dan batiniah pengarang secara intuitif dengan menempatkan diri penafsiran dalam dunia batin pengarang. model kerja Hermeneutika romantis meliputi dua hal: pertama: pemahaman teks melalui penguasaan terhadap aturan-aturan sintaksis bahasa pengarang. Hermeneutika metodis juga menekankan pada sisi psikologis pengarang untuk memahami suatu pernyataan. manusia tidak sekedar makhluk bahasa. ini tergantung pemakainya.[25] 3. yang hanya mendengar. dimana ekspresi kebahasaan adalah hasil dari pengalaman penutur bahasa. Hermeneutika Metodis Hermeneutika Metodis adalah tekanik memahami akspresi tentang kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan . Hermeneutika metodis lebih menekankan pada sisi sejarah (history) pengarang.[22] Namun dalam hal ini. sebab bahasa dapat mengungkap sebuah realitas dengan sangat jelas.[17] Dimana pengarang dan segala latar belakang subjektivitasnya menjadi sentral kebenaran dari pemahaman suatu teks. menurutnya. dan penafsir harus netral dan menjauhkan diri dari unsureunsur subjektifnya atas objek. yang berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah berhenti pada satu masa saja . yang memahami dan menafsirkan dalam setiap aspek kehidupannya.[16] Perspektif seperti ini yang membuatnya disebut sebagai Hermeneutika romantis. menurutnya.

Yaitu dengan cara menerima apa yang sebenarnya terlihat dalam fenomena. walaupun tidak sepenuhnya. apa yang kita andaikan sebagai dunia objektif sudah diwarnai oleh apparatus sensor yang tidak sempurna dari tubuh manusia dan dari aktivitasaktivitas rasional maupun dari abstraksi pikiran.[28] Husserl menawarkan fenomenologi untuk melacak keteraturan sistemik dalam persepsi dan pemahaman melalui kepastian terhadap pengetahuan dunia objektif. ketika berusaha meraih pengetahuan yang pasti tentang dunia objektif. Namun kendati demikian. Karier puncak Gadamer pada tahun 1960 ketika ia manulis karya yang cukup monumental berjudul Wahrheit und Methode (kebenaran dan metode) yang kemudian menjadi rujukan kajian Hermeneutika kontemporer sampai saat ini. Karena. kepentingan praktis bahasa dan budaya. salah satu murid Husserl yang sejak awal tertarik dengan filsafat. namun yang ada adalah keragaman makna dan dinamika eksistensial.Tokoh penggagas teori ini adalah Edmund Husserl (1889-1938). tidak hanya dengan melacak makna yang letakkan oleh pengarang dalam teks. Ini berarti makna bukan sesuatu yang tunggal. akan tetapi fenomena itu sendiri yang menarik baginya.[27] Mengenai fenomena. Hermeneutika Kritis . dapat dipastikan itu diluar maksud utamanya. Menurutnya. Hermeneutika Dialektis Hermeneutika dialektis adalah upaya intepretasi dengan asumsi bahwa pemahaman adalah sesuatu yang muncul dan sudah ada mendahului kognisi. namun juga harus dikaitkan antara keberadaan kita dengan sesuatu yang ditunjukkan oleh teks tersebut. Husserl alergi terhadap pemikiran yang kita pandang sebagai Hermeneutika . Hermeneutika Dialogis Hermeneutika dialogis adalah interpretasi dengan asumsi bahwa pemahaman yang benar akan dapat dicapai malalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. khususnya fenomenologi Husserl. Menurutnya. Dengan demikian.[30] Tokoh teori ini adalah Martin Heidegger (1889-1976).[31] 5. yang mengharuskan netralitas penafsir. pikiran penafsir juga menceburkan diri kedalam pembangkitan kembali makna teks. untuk memahami teks. seorang filosof kelahiran Marbug bernama Hans-Georg Gadamer (1900-2002).[29] 4. ia adalah filosof yang dengan keras menentang Hermeneutika fenomenologi Husserl. Dengan demikian. Husserl menganggap bahwa pengetahuan dunia objektif bersifat tidak pasti. yang sebenarnya jika ada sumbangsih-nya pada Hermeneutika. pembacaan dan penafsiran akan selalu merupakan pembacaan ulang dan penafsiran ulang. seorang filosof aliran fenomenologi. sesungguhnya kita sedang memastikan dunia persepsi kita dunia fenomena . proses pemahaman adalah proses peleburan antara sekurangkurangnya dua horizon. menurut teori ini. pemahaman harus didahului dengan prasangka-prasangkan akan objek. gagasannya tentang teori interpretasi fenomena bukan yang fundamental. Dengan begitu. sehingga pembacaan satu teks secara baru akan mendatangkan pemahaman dengan makna yang baru pula. Artinya. Pengarang dan konteks historis dari teks dipertimbangkan dalam proses itu bersama dengan prasangka-prasangka penafsir seperti tradisi.[32] Tokoh dari teori ini adalah murid Martin Heidegger sendiri. dan menggambarkannya secara jujur. Karena itu.[33] 6.

dan jaringan atau rajutan tanda ini disebut teks . Menurutnya. cakupan dan konteksnya. pengetahuan atau jargon-jargon yang dipakai dalam sains dan agama. apa sebenarnya makna ?. Fungsi dan Metodologi Tugas Hermeneutika. meaning is contextualized to the relationship between the text and its reader . Makna atau dalam bahasa inggris meaning . maka bagi Habermas pemahaman didahului oleh kepentingan. dengan asumsi bahwa. yang diartikan (unsure makna) dan yang mengartikan (unsure bunyi). suku. analisis suatu fakta dilakukan melalui hubungan simbol-simbol sebagai simbol dari fakta. Sejalan dengan Gadamer. Dalam filsafat bahasa. Keduanya disebut sebagai intralingual dan merujuk pada suatu referen (seperti maksud) yang merupakan unsure ekstralingual. seorang penafsir harus mampu mengambil jarak atau melangkah keluar dari tradisi dan prasangka.Hermeneutika kritus adalah interpretasi dengan pemahaman yang ditentukan oleh kepentingan social (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest) sang interpreter. Itu sebabnya makan sbuah teks bias lebih luas dari pada maksud penulis sekalipun.[38] B. baik yang tertulis ataupun yang terucap. dengan menghubungkan kembali kepada maksud. Makna tulisan akan selalu mengalami perubahan. yaitu makna yangvtidak mengandung arti tambahan. dari sejak plato sampai sekarang. dan makna konotatif. bahasa dan sistem simbol lainnya merupakan sesuatu yang tidak stabil. makna asli. Hermeneutika Dekonstruksionis Hermeneutika dekonstruksionis adalah pemahaman yang didapatkan melalui upaya membangun relasi sederhana antara pananda dan petanda. ekonomi. objek timbul dalam jaringan tanda.[40] Makna adalah tanda linguistic. atau nilai rasa tertentu disamping makna dasar yang umum. Sehingga untuk memahami suatu teks. yang menunjuk pada pengertian: ada di pikira atau benar .[39] Jika demikian. Sebab. termasuk bias strata kelas. Dan dalam kaitannya dengan teks. tergantung pada konteks dan pembacanya. sebab segala sesuatu yang ada selalu ditandai dengan tekstualitas. Dan pada umumnya. tafsir atas teks nyaris tidak terbatas dan tidak sepenuhnya bias . berasal dari bahasa Jerman meinen . ia memberikan analisis yang cukup cermat. social. Artinya. Secara metodologis.[37] Tokoh dari teori ini adalah Jacques Derrida (1930-) seorang filosof post-strukturalisme kelahiran Aljazair. yaitu makna yang mengandung arti tambahan. Kalau menurut Gadamer. Tidak ada sesuatu diluar teks. Derrida membedakan antara tanda dan simbol . konsekkuensinya kita harus curiga dan waspada (kritis) terhadp bentuk tafsir. Artinya teori ini lebih mengedepankan refleksi kritis penafsir dan menolak kehadiran prasangka dan tradisi. maka yang menjadi pertanyaan adalah. perasaan tertentu. Pertanyaan ini adalah jantung pembahasan Hermeneutika. kata memiliki makna majemuk.[35] Hanya saja Hermeneutika dialogis Gadamer dianggapnya kurang memiliki kesadaran social yang kritis. Setiap kata memiliki makna denotative. pemahaman didahului dengan pra-penilaian (pre-judgement).[36] 7. dengan menggunakan metode ini.[34] Tokoh dari teori ini adalah Jurgen Habermas (1929-) seorang filosof Jerman yang juga belajar politik. Sebab. dan gender. yang tiap tanda terdiri atas dua unsure. teori ini dibangun di atas klaim bahwa setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias-bias dan unsure-unsur kepentingan politik. ia juga menempatkan bahasa sebagai unsure fundamental Hermeneutika. adalah untuk mempertahankan makna hakiki kata.

2007. 2008. Jogjakarta. Heidegger. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. hal: 27. tulisan merupakan fait accompli. 2007. Ar-Ruzmedia. seorang pakar peripatetic. paling tidak terdapat tiga jenis makna. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. 2007. sejarah Hermeneutik. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. Prinsip Sola Scriptura digunakan untuk meruntuhkan otoritas tradisi yang disokong Gereja Katolik. Lihat juga: Mudjia Raharjo. hal: 49-51. Palmer.[41] Berdasarka jenisnya. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. menurut Brodbeck. hal: 89. hal: 54. hal: 14-15. bahasa secara kodrat adalah tulis . Lihat juga: Jean Grondin. maksud si penulis pun bukan satu-satunya tafsir terbaik. [5] Ibid. UIN-Malang Press. dan sebagai penggalian filosofis dari sifat dan kondisi yang tidak dapat dihindari dalam kegiatan memahami. Bahkan. dan 3) makna intensional. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. hal: 45-46. hal: 53. 2) arti istulah itu sendiri. [11] Mudjia Raharjo. [10] Jean Grondin. hal: 48. yang juga menulis tentang ini. 2007. hal: 95 . Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. [12] Jean Grondin. namun ada Demetrius. Malang. Dannhauer memberikan dua pengertian tentang Hermeneutika. idea tau konsep. 2007. UIN-Malang Press. Hermeneutika. 2007. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. yaitu sebagai seperangkat prinsip metodologis penafsiran. Jogjakarta. sesuatu yang sudah selesai pada saat orang berbicara. sejarah Hermeneutik. hal: 30 dan 37. Kesimpulan ini berbeda dengan tesis Derrida (1930-) seorang filosof kontemporer aliran post-strukturalis asal Aljazair dengan Hermeneutika dekonstrusinya yang memprioritaskan bahasa tulis. Pustaka Belajar. hal: 63. atau teks tergantung pada maksud produsernya sendiri.dikontrol oleh si penulis sendiri. Ricoeur menegaskan. Lihat ibid. Jogjakarta. pikiran. merupakan satu-satunya norma penafsiran Injili (Biblical exegesis). Lihat: Mudjia Raharjo. 2005. sejarah Hermeneutik. hal: 56. hal: 17. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. Ar-Ruzmedia. edisi terjemahan Indonesia oleh Mansur Hery dan Damanhuri Muhammed. Jogjakarta. 2008. [9] Ibid. hal: 62-63. 2007. Hermeneutika Gadamerian. Jogjakarta. Lihat: Mudjia Raharjo. [2] Mudjia Raharjo. hal: 45-46 [3] Mudjia Raharjo. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. interpretation theory in Schleirmacher. [7] Jean Grondin. Hermeneutika Gadamerian. and Gadamer. lambing. yaitu makna suatu istilah yang berupa objek. hal: 29 [4] Jean Grondin. hal: 47 [6] Mudjia Raharjo. 1) makna referensial. yaitu arti suatu istilah. Sebenarnya Aristoteles bukan satu-satunya dalam zaman yunani kuno yang membahas Peri Hermeneias. 2008. dimana lambing atau istilah itu berarti sejauh ia berhubungan dengan istilah atau konsep lain.[42] [1] Lihat misalnya : Mudjia Raharjo. Ar-Ruzmedia. bukan sebaliknya. Malang. 2007. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. sejarah Hermeneutik. teori mengenai interpretasi. 2008. hal: 56 [8] Ibid. yang dikutip Mudjia. Ar-Ruzmedia. Hermeneutics. Dilthey. Dengan demikian. 2008. hal: 57. ArRuzmedia. 2008. [13] Mudjia Raharjo. sebab yang menjadi asal-mula arti adalah agasan yang didasarkan atas jejak. Ibid. sejarah Hermeneutik. Menurutnya. Lihat juga: Richard E. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian.

[30] Ibid. 2007. hal: 38-39. [24] Ini adalah pernyataan yang digemakan Marx dan Dilthey. interpretasi gramatis dan psikologis. [29] Ibid. Dan pengertiannya yang longgar. 2008. 2007. UIN-Malang Press. hal: 11 [18] Jean Grondin. Hermeneutika Gadamerian. hal: 73. hal: 42. hal: 95. hal: 40. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. Jogjakarta. hal: 25. Lihat juga: Mudjia Raharjo. Dua tradisi yang mempengaruhi Schleiermacher dalam pembentukan Hermeneutikanya. hal: 63. Fajar Pustaka baru. hal: . Lihat: Ibid. hal: 62. Lihat juga: Mudjia Raharjo. hal: 24. [23] Lihat: Ibid. Yogyakarta. hal: 63. hal: 60. [22] Ibid. [31] Ibid. hal: 37. Schleiermacher sebenarnya membagi romantismenya dalam dua bagian. 2007. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. [17] Mudjia Raharjo. 2004. Lihat juga: Mudjia Raharjo. Husserl lebih memilih istilah Deuntung dan Auslegung untuk makna interpretasi. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. Fajar Pustaka baru. Hermeneutika Gadamerian. Lihat: Josef Bleicher. Sehingga pemahaman dibiarkan berjalan secara alamiah. Hermeneutika Gadamerian. 2003. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. yaitu filsafat transidental dan romantisisme. Lihat: Mudjia Raharjo. Malang. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. [28] Mudjia Raharjo. Jogjakarta. hal: 58. hal: 10. Yogyakarta. UIN-Malang Press. Karena itulah. Malang. Volume: V. Jean Grondin membahasnya dalam satu bab penuh berjudul Sumbangan diamdiam Husserl terhadap Hermeneutika . Ar-Ruzmedia Jogjakarta. dan ini sangat jarang.. [27] Jean Grondin. Dikutip dari: Maulidin. Gerbang No. hal: 64. 2007.[14] Mudjia Raharjo. Hermeneutika Gadamerian. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. [25] Mudjia Raharjo. sejarah Hermeneutik. . Yogyakarta. UIN-Malang Press. Hermeneutika Kontemporer. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. 2007. Hermeneutika Kontemporer. Sketsa Hermeneutika. LKiS. 2008. Ar-Ruzmedia. Malang. sejarah Hermeneutik. Dan lihat: Nashr Hamid Abu Zayd. hal: 58-59. Pengertiannya yang ketat sebagaimana yang dicontohkan dalam tulisan ini. Ibid. UINMalang Press. hal: 62. hal: 97. Malang. 14. [19] Mudjia Raharjo. hal: 97. 2008. 2008. 2008. [20] Ibid. yang sistematikanya terdiri dari dua bagian. hal: 96 [16] Mudjia Raharjo. 2003. 2008. 2003. yaitu Hermeneutika yang hanya sebagai ilmu bantu pada ungkapan-ungkapan ambigu saja. hal: 41. hal: 61. Lihat: Josef Bleicher. Hermeneutika Inklusif. 2007. hal: 65. Lihat juga: hal: 43 [32] Ibid. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. hal: 16-17. Lihat juga: Mudjia Raharjo. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. [21] Karena itu Hermeneutika metodis disebut juga dengan nama Hermeneutika historis. Ar-Ruzmedia. [26] Ibid. hal: 13-14. [15] Ibid.

[33] Ibid. Lihat juga: Ibid. [38] Ibid. hal: 64. hal: 69-70. melainkan melalui dialektika. sebab metode justru dapat merintangi kebenaran. 2007. [34] Mudjia Raharjo. Ia ingin mencapai kebenaran bukan melalui metode. Lihat juga: Ibid. [35] Ibid. Lihat juga: Ibid. [36] Ibid. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. [42] Ibid. Jogjakarta. 2008. Lihat juga: Ibid. hal: 112. hal: 64. dan dalam bahasa jerman Wahrheit und Methode. Malang. Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. Lihat juga: Ibid. hal: 68. hal: 58-59. [41] Mudjia Raharjo. hal: 58. Lihat juga: Mudjia Raharjo. UIN-Malang Press. hal: 64. Malang. [39] Jean Grondin. UIN-Malang Press. hal: 68. Ar-Ruzmedia Jogjakarta. [37] Ibid. hal: 47-48. [40] Mudjia Raharjo. Ar-Ruzmedia. berkali-kali Gadamer menolak Hermeneutika sebagai metode. judul asli dalam bahasa inggris Truth and Method. Lihat juga: Ibid. sejarah Hermeneutik. hal: 72. hal: 49-51. hal: 64. 2007. hal: 64. Hermeneutika Gadamerian. hal: 64. Walaupun bukunya berjudul kebenaran dan metode . Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian. hal: 64. hal: 73. Lihat juga: hal: 45. Hermeneutika Gadamerian. 2007. 2008. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful