KEPERAWATAN MATERNITAS II

ASKEP BBL DENGAN HIPERBILIRUBIN

OLEH :
AGUSTIN AYU KUSUMA WARTIANI (08060144) (08060161)

PROGRAM STUDI ILMUM KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2010-2011

Terselesaikannya laporan ini karena adanya bantuan dan kemudahankemudahan yang di berikan oleh orang-orang terdekat. kami berharap tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua. 2 April 2011 Penulis . Malang. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :Kedua orang tua kami atas dukungan dan Doa-nya. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan.KATA PENGANTAR Dengan Rahmat Allah SWT serta tidak lupa mengucap syukur ke hadiratNya karena atas restu-Nyalah kami dapat menyelesaikan tugas KEPERAWATAN MATERNITAS II ini yang berjudul ASKEP BBL DENGAN HIPERBILIRUBIN. kami juga menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. guna perbaikan untuk masa yang akan datang serta sebagai kelanjutan studi kami nantinya.

..............................................................................................14 INTERVENSI................................................................................................................................................................................................................ PENCEGAHAN……………………….............................................................5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA PENGERTIAN.................................................2 DAFTAR ISI...............6 MANIFESTASI KLINIS.......................................21 DAFTAR PUSTAKA .........6 ETIOLOGI..........................DAFTAR PUSTAKA COVER KATA PENGANTAR... 20 BAB IV PENUTUP KESIMPULAN...............................................15 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI..............22 ............................................................................................................................................................................................................................................................................................ KOMPLIKASI…….................................. BAB III TINJAUAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN...............................................................................7 KLASIFIKASI…………………………………………......... PENATALAKSANAAN.........................................................................14 DIAGNOSA KEPERAWATAN.....................................................................................14 POHON MASALAH.............................................3 BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG...... PEMERIKSAAN PENUNJANG.................................4 TUJUAN .............................................................................................................................. PATOFISIOLOGI...........................................

BBLR ini merupakan faktor utama dalam peningkatan mortalitas. morbiditas. bilirubin ini yang menyebabkab kuning pada bayi. Saat lahir hati bayi belum cukup baik untuk melakukan tugasnya. infeksi. LATAR BELAKANG Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Sisa pemecahan eritrosit disebut bilirubin. Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin Beberapa penyakit karena genetik (penyakit bawaan atau keturunan). Pada bayi usia sel darah merah kira-kira 90 hari. Beberapa kondisi yang dapat beresiko terhadap bayi. Ikterus dapat diperberat oleh polisitemia. Kejadian ini berbeda-beda untuk beberapa negara tertentu. Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G 6 PD). Kejadian ikterus pada bayi baru lahir (BBL) sekitar 50% pada bayi cukup bulan dan 75% pada bayi kurang bulan (BBLR). dan hemolisis. antara lain: • • • • Infeksi yang berat. B. Banyak sekali penyebab bayi kuning ini. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam pengelolaan BBL ynag pada akhir-akhir ini mengalami banyak kemajuan. Yang sering terjadi adalah karena belum matangnya fungsi hati bayi untuk memproses eritrosit ( sel darah merah). TUJUAN • • • Mengetahui definisi Hyperbilirubin pada anak Mengetahui patofisiologi pada BBL dengan Hyperbilirubin Mengetahui Askep untuk BBL dengan Hyperbilirubin .BAB I PENDAHULUAN A. eritrosit harus diproses oleh hati bayi. Hasil pemecahannya. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Keadaan bayi kuning (ikterus) sangat sering terjadi pada bayi baru lahir. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal. dan disabilitas neonatus. bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupan di masa depan. beberapa klinik tertentu di waktu tertentu. terutama pada BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). BBLR menjadi ikterus disebabkan karena sistem enzim hatinya tidak matur dan bilirubin tak terkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien 4-5 hari berlalu. memar.

akibat asidosis. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. sulfafurazole. PENGERTIAN Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum. Buku kuliah 3. gangguan fungsi hepar. defisiensi enzim G–6-PD. perdarahan tertutup. 1985 . (Markum. ABO. golongan darah lain. FKUI. ( Ngastiyah. Gangguan Transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hepar. defisiensi protein Y dalam hepar yang berperanan penting dalam ‘uptake’ bilirubin ke hepar. ( Ilmu Kesehatan Anak. 1998). membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hiperbilirubinemia adalah keadaan meningginya kadar bilirubin didalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit. hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase. Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. (Suzanne C. p 197 ). 2. Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan. juga dapat menimbulkan ikterus. Gangguan Dalam Eksresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. 4. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat. Perawatan Anak Sakit. kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin. 3. 2002) Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. Marlon. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkomptabilitas darah Rh. Gangguan dalam proses ‘ uptake’ dan konjugasi hepar Disebabkan oleh imaturitas hepar. 1991:314). dan sepsis. 1988). B. konjungtiva. ETIOLOGI 1. kulit. Smeltzer. piruvat kinase. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuan bayi mengeluarkannya . G. mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning.

minum baik. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada keadan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain. Ikterus Fisiologi Timbul pada hari ke 2 atau ke 3. • .  Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. polisitemia. bilirubin ini akan bersifat toksik (terutama bilirubin indirek yang larut dalam lemak) dan merusak jaringan tubuh. • Penyebab ikterus fisiologis diantaranya karena kekurangan protein Y dan Z. dan akan hilang pada hari ke 14. enzim Glukoronyl transferase yang belum cukup jumlahnya. misalny pada bayi anoksia/hipoksia Pada derajat tertentu. berat badan naik biasa • Kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih dari 12 mg %.C. meningkatnya bilirubin dari sumber lain. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit. • • • • • • • • • • • MANIFESTASI KLINIS Kulit berwarna kuning sampe jingga Pasien tampak lemah Nafsu makan berkurang Reflek hisap kurang Urine pekat Perut buncit Pembesaran lien dan hati Gangguan neurologik Feses seperti dempul Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl. E. tampak jelas pada hari ke 5-6 dan menghilang pada hari ke 10. pada BBLR 10 mg %. sepsis atau ibu dengan diabetik atau infeksi. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. PATOFISIOLOGI Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan: 1. • Bayi tampak biasa. KLASIFIKASI 1. atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik 2. memendeknya umur eritrosit janin/bayi.  Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi. D. gangguan ambilan bilirubin plasma. Terdapat ikterus pada sklera. kuku/kulit dan membran mukosa. terdapatnya penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan.

meningitis. dsb. salisilat . perdarahan karena trauma lahir. (Ngastiyah. • Peritoneoskopi . seperti abses hati atau hepatoma • Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic. obat2an yang menggantikan ikatan bilirubin dengan albumin seperti : sulfonamid. p 198) F. hepatitis 5. • Biopsy hati Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis. bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. serosis hati. Pirau enteropatik yang meninggi. defisiensi enzim G-6-PD. hemolisis.5 mg % pada bayi cukup bulan. penyakit hemolitik. • Ikterus yang disertai proses hemolisis ( inkomptabilitas darah. infeksi : septisemia. kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir. 4. penyakit karena toksoplasmosis. rubela. . gentamisin. isoantibodi karena ketidakcocokan golongan darah ibu dan anak seperti Rhesus antagonis. polisitemia. Ikterus Patologis Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan. infeksi saluran kemih. dan sepsis ) • Bilirubin direk lebih dari 1 mg % atau kenaikan bilirubin serum 1 mg % /dl/jam atau lebih 5 mg/dl/hari • Ikterus menetap sesudah bayi umur 10 hari ( bayi cukup bulan ) dan lebih dari 14 hari pada BBLR • Berikut adalah beberapa keadaan yang menimbulkan ikterus patologis : 1. penyakit hirschsprung. hepatoma. 2.2.Pada bayi cukup bulan. dsb. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Pemeriksaan bilirubin serum . 7. serum bilirubin total > 12 mg % • Peningkatan kadar bilirubin 5 mg % atau lebih dalam 24 jam • Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada BBLR dan 12. galaktosemia 6. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis. obstruksi usus letak tinggi. mekonium ileus. kelainan dalam se darah merah seperti pada defisiensi G-6-PD 3. kelainan metabolik. • Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis. hipoglikemia. sifilis. stenosis pilorik. sodium benzoat.Pada bayi premature. Perawatan Anak Sakit. hematoma. ABO.

Mempercepat proses konjugasi. Contohnya : pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas. Laparatomi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. • Imunisasi yang baik pada bayi baru lahir • Pemberian makanan yang dini. Pemebrian glukosa perlu untuk kojugasi hepar sebagai sumber energi. contoh :sulfaforazol. . • Pencegahan infeksi. I. Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Pengobatan dengan cara ini tidak begitu efektif dan membutuhkan waktu 48 jam baru terjadi penurunan bilirubin yang berarti. tinja.• Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. Mungkin lebih bermanfaat bila diberikan pada ibu kira kira 2 hari sebelum melahirkan. KOMPLIKASI - Bilirubin Encephalopathy ( komplikasi serius ) Retardasi mental . • Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus. Selain itu pada terapi sinar ditemukan pula peninggian konsentrasi bilirubin indirek dalam cairan empedu duodenum dan menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu kedalam usus sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan keluar bersama feses. G. H. Melakukan dekompensasi bilirubin dengan fototerapi Terapi sinar diberikan jika kadar bilirubin darah indirek lebih dari 10 mg %. misalnya dengan pemberian fenobarbital. Terapi sinar menimbulkan dekomposisi bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam air dan dikeluarkan melalui urin. • Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus. PENCEGAHAN Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan : • Pengawasan antenatal yang baik • Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi dan masa kehamilan dan kelahiran. 3. Albumin dapat diganti dengan plasma dosis 15 – 20 ml/kgbb. Kernikterus. 2. oksitosin. sehingga kadr bilirubin menurun.Kerusakan neurologis Gangguan pendengaran dan penglihatan Kematian. PENATALAKSANAAN 1. novobiosin.

4. Komplikasi terapi sinar : 1. bayi dengan kadar hemoglobin tali pusat kurang 14 mg % dan uji coomb’s positif. terapi dihentikan walaupun belum 100 jam. Jika suhu naik terus lampu semua dimatikan sementara. Indikasi untuk melakukan transfusi tukar adalah : 1. 7. Kadar bilirubin diperiksa setiap 8 jam setelah pemberian terapi 24 jam 8. Setelah 1 jam kontrol kembali suhunya. yaitu 0. Kenaikan suhu akibat sinar lampu. . bayi dikompres dingin. Transfusi tukar.5 37 C. Baringkan bayi telanjang. Terjadi dehidrasi karena pengaruh sinar lampu dan mengakibatkan peningkatan insesible water loss. Dapat dengan kain kasa yang dilipat lipat dan dibalut. agar sinar merata. Kedua mata ditutup dengan penutup yang tidak tembus cahaya. Pertahankan suhu bayi agar selalu 36. Jika terjadi kenaikan suhu matikan sebentar lampunya dan bayi diberikan banyak minum.5 mg % atau kurang. 9. Komplikasi pada gonad yang menurut dugaan dapat menimbulkan kelainan ( kemandulan ) tetaapi belum ada bukti. Selanjutnya hubungi dokter. 6. Posisi bayi sebaiknya diubah ubah. Jika tetap hubungi dokter. 10. dan berikan ektra minum. Pada kasus ikterus karena hemolisis. hanya genitalia yang ditutup ( maksmal 500 jam ) agar sinar dapat merata ke seluruh tubuh. Mungkin perlu transfusi tukar. Bila kadar bilirubin telah turun menjadi 7.6 jam sekali. 5. telentang.Pelaksanaan Terapi Sinar : 1. Jika hal ini terjadi sebagian sinar lampu dimatikan terapi diteruskan. kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg % 2. Sebelumnya katupkan dahulu kelopak matanya. dipangku. anemia berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung 4. 7. Perhatikan asupan cairan agar tidak terjadi dehidrasi dan meningkatkan suhu tubuh bayi. Frekuensi defekasi meningkat sebagai akibat meningkatnya bilirubin indirek dalam cairan empedu dan meningkatkan peristaltik usus. dam observasi suhu tiap 4. tengkurap. setiap 6 jam bila mungkin. 2. 5. Perhatikan apakah terjadi iritasi atau tidak. 6. kadar Hb diperiksa tiap hari. 3. 4. kenaikan kadar bilirubin indirek cepat. coba lihat kembali apakah lampu belum melebihi 500 jam digunakan. Pada waktu memberi bayi minum. Timbul kelainan kulit sementara pada daerah yang terkena sinar ( berupa kulit kemerahan ) tetapi akan hilang jika terapi selesai. ( untuk mencegah kerusakan retina ) 3. dikeluarkan. Jika setelah terapi selama 100 jam bilirubin tetap tinggi / kadar bilirubin dalam serum terus naik. 2.3 – 1 mg % / jam 3. penutup mata dibuka. Gangguan retina jika mata tidak ditutup.

menurunkan kadar bilirubin indirek. .Tujuan transfusi tukar adalah mengganti eritrosit yang dapat menjadi hemolisis. dan memperbaiki anemia. membuang natibodi yang menyebabkan hemolisis.

TTV tidak stabil terutama suhu tubuh (hipertermi). 4) Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Infeksi. B. 3) Resiko terjadi cidera berhubungan dengan fototerapi atau peningkatan kadar bilirubin.d fototerapi . Apakah bayi ada demam.risiko gangguan integritas kulit b. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan jaundice atau radiasi.kurangnya pengetahuan b. pemeriksaan tonus otot (kejang/tremor).B. urine. DIAGNOSA KEPERAWATAN : a. Bagaimana kebutuhan pola minum.d fototerapi 1. Pemeriksaan fisik. Hidrasi bayi mengalami penurunan. 5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan 1. 2) Gangguan temperature tubuh (Hipertermia) berhubungan dengan terpapar lingkungan panas. 2.Pada bayi premature. BB turun. Riwayat keluarga.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN HIPERBILIRUBIN A. sclera mata kuning (kadang-kadang terjadi kerusakan pada retina) perubahan warna urine dan feses. risiko kurangnya volume cairan b. . Apakah anak sudah mendapat imunisasi hepatitis B Terdapat gangguan hemolisis darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau golongan darah A.risiko injury internal b..O). ibu menderita DM. risiko injury pada mata b. kulit. dan tinja. Inspeksi warna : sclera. konjungtiva.d kurangnya pengalaman orangtua 1. Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan. Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan Tanyakan berapa lama jaundice muncul dan sejak kapan.d dengan kondisi bayi dan gangguan bonding e.Kadar bilirubin 12mg/dl pada cukup bulan. membran mukosa mulut. Kulit tampak kuning dan mengelupas (skin resh).d peningkatan serum bilirubin sekunder dari pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi bilirubin 1. f. c. gangguan metabolisme hepar obstruksi saluran pencernaan. hematoma.d hilangnya air ( insensible water loss ) tanpa disadari sekunder dari fototerapi. kadar bilirubin mencapai 15mg/dl. kecemasan orantua b. PENGKAJIAN Keadaan umum lemah. Hasil Laboratorium : . Reflek hisap pada bayi menurun.

2. IMPLEMENTASI 1. temperatur dalam batas normal. 4. 6. Bayi terbebas dari injury yang ditandai dengan bilirubin serum menurun.4 jam dan catat ·Berikan fototerapi sesuai program ·Monitor kadar bilirubin 4 –8 jam sesuai program ·Antsipasi kebutuhan transfusi tukar ·Monitor Hb dan Ht 1. tidak ada jaundice. tidak terdapat sepsis. 4. membran mukosa. ubun2. dengarkan rasa takutnya. Mengurangi rasa cemas pada orangtua • • • Perahankan kontak mata orangtua dan bayi Jelaskan kondisi bayi. 5. orangtua tidak nampak cemas yang ditandai dengan orangtua mengekspresikan perasaan dan perhatian pada bayi dan aktif dalam partisipasi perawatan bayi. membran mukosa normal. Mencegah adanya injury ( internal ) • • • • • ·Kaji hiperbilirubin tiap 1. dan perhatian orantua . 3. refleks moro normal. refleks hisap dan menelan baik. orangtua memahami kondisi bayi dan alasan pengobatan dan berpartisipasi dalam perawatan bayi : dalam peberian minum dan mengganti popok. ubun ubun tidak cekung. bayi tidak menunjukkan tanda tanda dehidrasi yang ditandai dengan urine output ( pengeluaran urine ) kurang dari 1-3 ml/kg/jam. dan tidak ada ruam macular eritematosa. perawatan dan pengobatannya Ajarkan orangtua untuk mengekspresikan perasaanya. turgor kulit.3. Mencegah terjadinya kurangnya volume cairan • • • • • • ·Pertahankan intake cairan ·Berikan minum sesuai jadwal ·Monitor intake dan output ·Berikan terapi infus sesuai program bila ada indikasi ·Kaji dehidrasi. bayi tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit yang dtndai dengan tidak terdapat rash. 7. mata ·Monitor temperatur tiap 2 jam 1. PERENCANAAN 1. Mencegah gangguan integritas Kulit • • • • • ·Inspeksi kulit tiap 4 jam ·Gunakan sabun bayi ·Merubah posisi bayi dengan sering ·Gunakan pelindung daerah genital ·Gunakan pengalas lembut 1. bayi tidak mengalami injury pada mata yang ditandai dengan tidak ada konjungtivitis.

Pohon masalah .1. hindarkan penekanan pada mata yang berlebihan. 1. kekauan otot. tidak mau makan. kejang. menangis terus. Mencegah injury pada mata • • Gunakan pelindung mata pada saat fototerapi Pastikan mata tertutup. pengobatan Libatkan dan ajarkan orangtua dalam perawatan bayi Jelaskan komplikasi dengan mengenal tanda dan gejala : letargi. Orangtua memahami kondisi bayi dan mau berpartisipasi dalam perawatan • • • Ajak orangtua untuk diskusi dengan menjelaskan tentang fisiologis. alasan perawatAn.

mikroangiopati atau hemoglobinopati) Hemoglobin ikterus hemolitik Konjugasi dan transfer bilirubin berlangsung normal Penur unan konju gasi hepati k tapi suplai bilirubin tak terkonjugasi melampaui kemampuan sel hati Disebabkan: Hemoglobin abnormal (cickle sel anemia hemoglobin). Kelainan eritrosit (sferositosis heriditer). bilirubin tak terkonjugasi meningkat dalam darah tidak larut dalam air tidak dapat diekskresikan tidak terjadi bilirubinuria tapi pembentukkan urobilinogen ekskresi dalam urine feces (warna gelap) Disebabkan: defisiensi enzim glukoronil transferase. novobiosin dapat mempengaruhi .85 %)+eritrosit muda (15 .20 %) + hasil metabolisme protein yg mengandung heme + enzim yang mengandung heme Over produksi Bilirubin Penurunan ambilan hepatik Eritrosit hemolisis intravaskuler (kelainan autoimun. Obatobatan. Inkompatibilitas transfusi). Sindroma Crigler Najjar I.penghancuran eritrosit tua (80 . Beberapa obat-obatan seperti asam flavaspidat. Terjadi pada : Sindroma Gilberth. Antibodi serum (Rh. Sindroma Crigler Najjar II Penurunan ambilan hepatikPengambilan bilirubin tak terkonjugasi dilakukan dengan memisahkannya dari albumin dan berikatan dengan protein penerima.

uptake ini. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful