KEPERAWATAN MATERNITAS II

ASKEP BBL DENGAN HIPERBILIRUBIN

OLEH :
AGUSTIN AYU KUSUMA WARTIANI (08060144) (08060161)

PROGRAM STUDI ILMUM KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2010-2011

Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. 2 April 2011 Penulis . Terselesaikannya laporan ini karena adanya bantuan dan kemudahankemudahan yang di berikan oleh orang-orang terdekat. Malang. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :Kedua orang tua kami atas dukungan dan Doa-nya. kami berharap tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua. kami juga menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna.KATA PENGANTAR Dengan Rahmat Allah SWT serta tidak lupa mengucap syukur ke hadiratNya karena atas restu-Nyalah kami dapat menyelesaikan tugas KEPERAWATAN MATERNITAS II ini yang berjudul ASKEP BBL DENGAN HIPERBILIRUBIN. guna perbaikan untuk masa yang akan datang serta sebagai kelanjutan studi kami nantinya.

................................................................................................................................................................6 MANIFESTASI KLINIS..............................................................................................................................22 ..........................................................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG.....................................15 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI...................... PENCEGAHAN………………………............................................................................................................................14 INTERVENSI............... 20 BAB IV PENUTUP KESIMPULAN................................................................................. PATOFISIOLOGI.................................................................................................2 DAFTAR ISI.... PENATALAKSANAAN..................................................................................................................5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA PENGERTIAN...........7 KLASIFIKASI…………………………………………..........................................................................................................................4 TUJUAN ......6 ETIOLOGI....................................................................................................................................................................14 DIAGNOSA KEPERAWATAN...14 POHON MASALAH....................... KOMPLIKASI……..............................DAFTAR PUSTAKA COVER KATA PENGANTAR................................................21 DAFTAR PUSTAKA .................... BAB III TINJAUAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN.......... PEMERIKSAAN PENUNJANG...........................

Saat lahir hati bayi belum cukup baik untuk melakukan tugasnya. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Kejadian ini berbeda-beda untuk beberapa negara tertentu. LATAR BELAKANG Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Keadaan bayi kuning (ikterus) sangat sering terjadi pada bayi baru lahir. Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G 6 PD). Banyak sekali penyebab bayi kuning ini. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam pengelolaan BBL ynag pada akhir-akhir ini mengalami banyak kemajuan. dan disabilitas neonatus. terutama pada BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal. Beberapa kondisi yang dapat beresiko terhadap bayi. Pada bayi usia sel darah merah kira-kira 90 hari. dan hemolisis. morbiditas. Yang sering terjadi adalah karena belum matangnya fungsi hati bayi untuk memproses eritrosit ( sel darah merah). memar. BBLR menjadi ikterus disebabkan karena sistem enzim hatinya tidak matur dan bilirubin tak terkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien 4-5 hari berlalu. Hasil pemecahannya. antara lain: • • • • Infeksi yang berat.BAB I PENDAHULUAN A. TUJUAN • • • Mengetahui definisi Hyperbilirubin pada anak Mengetahui patofisiologi pada BBL dengan Hyperbilirubin Mengetahui Askep untuk BBL dengan Hyperbilirubin . bilirubin ini yang menyebabkab kuning pada bayi. B. Kejadian ikterus pada bayi baru lahir (BBL) sekitar 50% pada bayi cukup bulan dan 75% pada bayi kurang bulan (BBLR). eritrosit harus diproses oleh hati bayi. Ikterus dapat diperberat oleh polisitemia. bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupan di masa depan. infeksi. beberapa klinik tertentu di waktu tertentu. Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin Beberapa penyakit karena genetik (penyakit bawaan atau keturunan). BBLR ini merupakan faktor utama dalam peningkatan mortalitas. Sisa pemecahan eritrosit disebut bilirubin.

Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. Marlon. kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin. ABO. hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase. konjungtiva. 4. G. PENGERTIAN Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum. Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. (Suzanne C. mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuan bayi mengeluarkannya . membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith. Gangguan Transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hepar. dan sepsis. piruvat kinase. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. Buku kuliah 3. 2002) Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat. 3. defisiensi enzim G–6-PD. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. golongan darah lain. ( Ilmu Kesehatan Anak. sulfafurazole. 1998). Smeltzer. perdarahan tertutup. 1991:314). B. Gangguan dalam proses ‘ uptake’ dan konjugasi hepar Disebabkan oleh imaturitas hepar. ( Ngastiyah. 2. p 197 ). Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan. akibat asidosis. Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata. misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkomptabilitas darah Rh. (Markum. 1985 . 1988). juga dapat menimbulkan ikterus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ETIOLOGI 1. kulit. Perawatan Anak Sakit. Hiperbilirubinemia adalah keadaan meningginya kadar bilirubin didalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit. gangguan fungsi hepar. defisiensi protein Y dalam hepar yang berperanan penting dalam ‘uptake’ bilirubin ke hepar. FKUI. Gangguan Dalam Eksresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar.

dan akan hilang pada hari ke 14. enzim Glukoronyl transferase yang belum cukup jumlahnya. memendeknya umur eritrosit janin/bayi.  Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi. polisitemia. KLASIFIKASI 1. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Terdapat ikterus pada sklera. pada BBLR 10 mg %. berat badan naik biasa • Kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih dari 12 mg %. terdapatnya penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan.C. • Bayi tampak biasa. Ikterus Fisiologi Timbul pada hari ke 2 atau ke 3. gangguan ambilan bilirubin plasma. atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik 2. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada keadan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain. minum baik. meningkatnya bilirubin dari sumber lain. E. • . kuku/kulit dan membran mukosa. • Penyebab ikterus fisiologis diantaranya karena kekurangan protein Y dan Z. bilirubin ini akan bersifat toksik (terutama bilirubin indirek yang larut dalam lemak) dan merusak jaringan tubuh.  Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. sepsis atau ibu dengan diabetik atau infeksi. • • • • • • • • • • • MANIFESTASI KLINIS Kulit berwarna kuning sampe jingga Pasien tampak lemah Nafsu makan berkurang Reflek hisap kurang Urine pekat Perut buncit Pembesaran lien dan hati Gangguan neurologik Feses seperti dempul Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl. misalny pada bayi anoksia/hipoksia Pada derajat tertentu. D. tampak jelas pada hari ke 5-6 dan menghilang pada hari ke 10. PATOFISIOLOGI Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan: 1. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit.

dsb. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Pemeriksaan bilirubin serum . 4. galaktosemia 6.2. sodium benzoat. hipoglikemia. penyakit hemolitik. p 198) F. dan sepsis ) • Bilirubin direk lebih dari 1 mg % atau kenaikan bilirubin serum 1 mg % /dl/jam atau lebih 5 mg/dl/hari • Ikterus menetap sesudah bayi umur 10 hari ( bayi cukup bulan ) dan lebih dari 14 hari pada BBLR • Berikut adalah beberapa keadaan yang menimbulkan ikterus patologis : 1. Perawatan Anak Sakit. rubela. serum bilirubin total > 12 mg % • Peningkatan kadar bilirubin 5 mg % atau lebih dalam 24 jam • Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada BBLR dan 12. salisilat . kelainan dalam se darah merah seperti pada defisiensi G-6-PD 3. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis.Pada bayi premature. obstruksi usus letak tinggi. serosis hati. dsb. mekonium ileus. seperti abses hati atau hepatoma • Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic. • Biopsy hati Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis. • Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati. (Ngastiyah.5 mg % pada bayi cukup bulan. obat2an yang menggantikan ikatan bilirubin dengan albumin seperti : sulfonamid. gentamisin. 7. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis. stenosis pilorik. kelainan metabolik. perdarahan karena trauma lahir. kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir. hepatitis 5. hematoma. . infeksi : septisemia. bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. penyakit hirschsprung. hemolisis. • Peritoneoskopi . hepatoma. 2. isoantibodi karena ketidakcocokan golongan darah ibu dan anak seperti Rhesus antagonis. meningitis. ABO. penyakit karena toksoplasmosis. Ikterus Patologis Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan.Pada bayi cukup bulan. sifilis. • Ikterus yang disertai proses hemolisis ( inkomptabilitas darah. infeksi saluran kemih. defisiensi enzim G-6-PD. polisitemia. Pirau enteropatik yang meninggi.

oksitosin. Terapi sinar menimbulkan dekomposisi bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam air dan dikeluarkan melalui urin. • Pencegahan infeksi. G. Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Mempercepat proses konjugasi. PENCEGAHAN Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan : • Pengawasan antenatal yang baik • Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi dan masa kehamilan dan kelahiran. sehingga kadr bilirubin menurun. H. Selain itu pada terapi sinar ditemukan pula peninggian konsentrasi bilirubin indirek dalam cairan empedu duodenum dan menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu kedalam usus sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan keluar bersama feses. contoh :sulfaforazol. • Imunisasi yang baik pada bayi baru lahir • Pemberian makanan yang dini. • Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus. Pemebrian glukosa perlu untuk kojugasi hepar sebagai sumber energi. Contohnya : pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas. Pengobatan dengan cara ini tidak begitu efektif dan membutuhkan waktu 48 jam baru terjadi penurunan bilirubin yang berarti. Kernikterus. KOMPLIKASI - Bilirubin Encephalopathy ( komplikasi serius ) Retardasi mental . . • Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus. 2. Mungkin lebih bermanfaat bila diberikan pada ibu kira kira 2 hari sebelum melahirkan. I. misalnya dengan pemberian fenobarbital. Laparatomi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. Melakukan dekompensasi bilirubin dengan fototerapi Terapi sinar diberikan jika kadar bilirubin darah indirek lebih dari 10 mg %. 3. Albumin dapat diganti dengan plasma dosis 15 – 20 ml/kgbb.• Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. novobiosin. PENATALAKSANAAN 1. tinja.Kerusakan neurologis Gangguan pendengaran dan penglihatan Kematian.

Pelaksanaan Terapi Sinar : 1. Indikasi untuk melakukan transfusi tukar adalah : 1. Transfusi tukar. 5. Kadar bilirubin diperiksa setiap 8 jam setelah pemberian terapi 24 jam 8. Komplikasi terapi sinar : 1.6 jam sekali. coba lihat kembali apakah lampu belum melebihi 500 jam digunakan. Perhatikan apakah terjadi iritasi atau tidak. Gangguan retina jika mata tidak ditutup. kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg % 2. terapi dihentikan walaupun belum 100 jam. Jika setelah terapi selama 100 jam bilirubin tetap tinggi / kadar bilirubin dalam serum terus naik. Jika tetap hubungi dokter. anemia berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung 4. dipangku. 3. penutup mata dibuka. setiap 6 jam bila mungkin.5 37 C. Kenaikan suhu akibat sinar lampu. Bila kadar bilirubin telah turun menjadi 7. Jika suhu naik terus lampu semua dimatikan sementara. 7. Pertahankan suhu bayi agar selalu 36. Pada waktu memberi bayi minum. kenaikan kadar bilirubin indirek cepat. Timbul kelainan kulit sementara pada daerah yang terkena sinar ( berupa kulit kemerahan ) tetapi akan hilang jika terapi selesai. dikeluarkan. 10. 5. Mungkin perlu transfusi tukar. Sebelumnya katupkan dahulu kelopak matanya. bayi dikompres dingin. Kedua mata ditutup dengan penutup yang tidak tembus cahaya. Dapat dengan kain kasa yang dilipat lipat dan dibalut. bayi dengan kadar hemoglobin tali pusat kurang 14 mg % dan uji coomb’s positif.5 mg % atau kurang. 7. agar sinar merata. Pada kasus ikterus karena hemolisis. 2. tengkurap. ( untuk mencegah kerusakan retina ) 3. 4. dam observasi suhu tiap 4. yaitu 0. Jika terjadi kenaikan suhu matikan sebentar lampunya dan bayi diberikan banyak minum. dan berikan ektra minum. Baringkan bayi telanjang. Frekuensi defekasi meningkat sebagai akibat meningkatnya bilirubin indirek dalam cairan empedu dan meningkatkan peristaltik usus. Posisi bayi sebaiknya diubah ubah. . Perhatikan asupan cairan agar tidak terjadi dehidrasi dan meningkatkan suhu tubuh bayi. 4. 6. 9. 6. Jika hal ini terjadi sebagian sinar lampu dimatikan terapi diteruskan. Setelah 1 jam kontrol kembali suhunya. Komplikasi pada gonad yang menurut dugaan dapat menimbulkan kelainan ( kemandulan ) tetaapi belum ada bukti. Selanjutnya hubungi dokter. telentang. Terjadi dehidrasi karena pengaruh sinar lampu dan mengakibatkan peningkatan insesible water loss. kadar Hb diperiksa tiap hari. 2.3 – 1 mg % / jam 3. hanya genitalia yang ditutup ( maksmal 500 jam ) agar sinar dapat merata ke seluruh tubuh.

Tujuan transfusi tukar adalah mengganti eritrosit yang dapat menjadi hemolisis. dan memperbaiki anemia. menurunkan kadar bilirubin indirek. . membuang natibodi yang menyebabkan hemolisis.

d kurangnya pengalaman orangtua 1. pemeriksaan tonus otot (kejang/tremor). membran mukosa mulut. BB turun. kadar bilirubin mencapai 15mg/dl. 5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan 1. gangguan metabolisme hepar obstruksi saluran pencernaan. Apakah anak sudah mendapat imunisasi hepatitis B Terdapat gangguan hemolisis darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau golongan darah A. 2. Hasil Laboratorium : . sclera mata kuning (kadang-kadang terjadi kerusakan pada retina) perubahan warna urine dan feses. risiko injury pada mata b. Infeksi. Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan Tanyakan berapa lama jaundice muncul dan sejak kapan.. Apakah bayi ada demam. 4) Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. 3) Resiko terjadi cidera berhubungan dengan fototerapi atau peningkatan kadar bilirubin.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN HIPERBILIRUBIN A. dan tinja. kecemasan orantua b.kurangnya pengetahuan b. Bagaimana kebutuhan pola minum. PENGKAJIAN Keadaan umum lemah.d fototerapi .Pada bayi premature. B.d fototerapi 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan jaundice atau radiasi. Inspeksi warna : sclera.d hilangnya air ( insensible water loss ) tanpa disadari sekunder dari fototerapi. risiko kurangnya volume cairan b.d dengan kondisi bayi dan gangguan bonding e. urine. Riwayat keluarga. Hidrasi bayi mengalami penurunan. DIAGNOSA KEPERAWATAN : a. TTV tidak stabil terutama suhu tubuh (hipertermi).d peningkatan serum bilirubin sekunder dari pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi bilirubin 1. hematoma.B. kulit.Kadar bilirubin 12mg/dl pada cukup bulan. Reflek hisap pada bayi menurun. konjungtiva. Pemeriksaan fisik. 2) Gangguan temperature tubuh (Hipertermia) berhubungan dengan terpapar lingkungan panas.O). ibu menderita DM. Kulit tampak kuning dan mengelupas (skin resh). f. Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan.risiko gangguan integritas kulit b. . c.risiko injury internal b.

Mengurangi rasa cemas pada orangtua • • • Perahankan kontak mata orangtua dan bayi Jelaskan kondisi bayi. 6. ubun2. bayi tidak mengalami injury pada mata yang ditandai dengan tidak ada konjungtivitis. Bayi terbebas dari injury yang ditandai dengan bilirubin serum menurun. membran mukosa. IMPLEMENTASI 1. orangtua memahami kondisi bayi dan alasan pengobatan dan berpartisipasi dalam perawatan bayi : dalam peberian minum dan mengganti popok. refleks moro normal. Mencegah adanya injury ( internal ) • • • • • ·Kaji hiperbilirubin tiap 1. 7. bayi tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit yang dtndai dengan tidak terdapat rash. tidak terdapat sepsis. 5. dan perhatian orantua . temperatur dalam batas normal. mata ·Monitor temperatur tiap 2 jam 1. orangtua tidak nampak cemas yang ditandai dengan orangtua mengekspresikan perasaan dan perhatian pada bayi dan aktif dalam partisipasi perawatan bayi. 4. ubun ubun tidak cekung. tidak ada jaundice.3. perawatan dan pengobatannya Ajarkan orangtua untuk mengekspresikan perasaanya. dengarkan rasa takutnya. turgor kulit. 2. bayi tidak menunjukkan tanda tanda dehidrasi yang ditandai dengan urine output ( pengeluaran urine ) kurang dari 1-3 ml/kg/jam. 3. refleks hisap dan menelan baik. Mencegah gangguan integritas Kulit • • • • • ·Inspeksi kulit tiap 4 jam ·Gunakan sabun bayi ·Merubah posisi bayi dengan sering ·Gunakan pelindung daerah genital ·Gunakan pengalas lembut 1.4 jam dan catat ·Berikan fototerapi sesuai program ·Monitor kadar bilirubin 4 –8 jam sesuai program ·Antsipasi kebutuhan transfusi tukar ·Monitor Hb dan Ht 1. membran mukosa normal. PERENCANAAN 1. Mencegah terjadinya kurangnya volume cairan • • • • • • ·Pertahankan intake cairan ·Berikan minum sesuai jadwal ·Monitor intake dan output ·Berikan terapi infus sesuai program bila ada indikasi ·Kaji dehidrasi. 4. dan tidak ada ruam macular eritematosa.

1. 1. pengobatan Libatkan dan ajarkan orangtua dalam perawatan bayi Jelaskan komplikasi dengan mengenal tanda dan gejala : letargi. kejang. Orangtua memahami kondisi bayi dan mau berpartisipasi dalam perawatan • • • Ajak orangtua untuk diskusi dengan menjelaskan tentang fisiologis. menangis terus. hindarkan penekanan pada mata yang berlebihan. Mencegah injury pada mata • • Gunakan pelindung mata pada saat fototerapi Pastikan mata tertutup. kekauan otot. tidak mau makan. alasan perawatAn. Pohon masalah .

85 %)+eritrosit muda (15 . Sindroma Crigler Najjar I.20 %) + hasil metabolisme protein yg mengandung heme + enzim yang mengandung heme Over produksi Bilirubin Penurunan ambilan hepatik Eritrosit hemolisis intravaskuler (kelainan autoimun. Obatobatan. Kelainan eritrosit (sferositosis heriditer). Inkompatibilitas transfusi). Antibodi serum (Rh. bilirubin tak terkonjugasi meningkat dalam darah tidak larut dalam air tidak dapat diekskresikan tidak terjadi bilirubinuria tapi pembentukkan urobilinogen ekskresi dalam urine feces (warna gelap) Disebabkan: defisiensi enzim glukoronil transferase.penghancuran eritrosit tua (80 . Terjadi pada : Sindroma Gilberth. mikroangiopati atau hemoglobinopati) Hemoglobin ikterus hemolitik Konjugasi dan transfer bilirubin berlangsung normal Penur unan konju gasi hepati k tapi suplai bilirubin tak terkonjugasi melampaui kemampuan sel hati Disebabkan: Hemoglobin abnormal (cickle sel anemia hemoglobin). novobiosin dapat mempengaruhi . Beberapa obat-obatan seperti asam flavaspidat. Sindroma Crigler Najjar II Penurunan ambilan hepatikPengambilan bilirubin tak terkonjugasi dilakukan dengan memisahkannya dari albumin dan berikatan dengan protein penerima.

.uptake ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful