ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS BELAJAR BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

A. Efektivitas 1. Pengertian efektivitas Proses belajar mengajar yang ada baik di sekolah dasar maupun di sekolah menengah, sudah barang tentu mempunyai target bahan ajar yang harus dicapai oleh setiap guru, yang didasarkan pada kurikulum yang berlaku pada saat itu. Kurikulum yang sekarang ada sudah jelas berbeda dengan kurikulum zaman dulu, ini ditenggarai oleh sistem pendidikan dan kebutuhan akan pengetahuan mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan zaman. Bahan ajar yang banyak terangkum dalam kurikulum tentunya harus disesuaikan dengan waktu yang tersedia pada hari efektif yang ada pada tahun ajaran tersebut. Namun terkadang materi yang ada dikurikum lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Ini sangat ironis sekali dikarenakan semua mata pelajaran dituntut untuk bisa mencapai target tersebut. Untuk itu perlu adanya strategi efektivitas pembelajaran. Efektivitas berasal dari bahasa inggris yaitu Effective yang berarti berhasil, tepat atau manjur. Efektivitas menunjukan taraf tercapainya suatu tujuan, suatu usaha dikatakan efektif jika usaha itu mencapai tujuannya. Secara ideal efektivitas dapat 15 dinyatakan dengan ukuran-ukuran yang agak pasti, misalnya usaha X adalah 60% efektif dalam mencapai tujuan Y. Di dalam kamus bahasa Indonesia Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efektif, pengaruh atau akibat, atau efektif juga dapat diartikan dengan memberikan hasil yang memuaskan. Dari uraian diatas dapat dijelaskan kembali bahwa efektivitas merupakan keterkaitan antara tujuan dan hasil yang dinyatakan, dan menunjukan derajat kesesuaian antara tujuan yang dinyatakan dengan hasil yang di capai.

1

Kurikulum Kurikulum berasal dari bahasa latin yaitu “cuciculum”semula berarti “a running course. presensi siswa dan prestasi belajar. kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai rencana belajar. Smith memandang bahwa kurikulum sebagai “a sequence of potencial experience of disciplining children and youth in group ways of thinking acting” yaitu penekanannya pada aspek sosial. Para ahli mencatat bahwa konsep-konsep tentang kurikulum mulai berkembang sejak dipublikannya sebuah buku yang berjudul “The Curriculum” yang ditulis oleh Franklin Bobblilt pada tahun 1918. or race cource. Kemudian istilah itu dipergunakan untuk sejumlah “cource” atau mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah. Daya serap yang di maksud disini adalah kemampuan siswa untuk menyerap atau menguasai materi/bahan ajar yang di pelajarinya sesuai dengan bahan ajar tersebut yang meliputi: 2 . a.2. daya serap. Kriteria Efektivitas Pembelajaran Didalam proses belajar mengajar banyak faktor yang mempengaruhi terhadap berhasilnya sebuah pembelajaran. Daya Serap Didalam kamus besar bahasa Indonesia. b. yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat. Dari uraian diatas telah jelas bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus dicapai/diselesaikan oleh peserta didik untuk mendapatkan ijazah (STTB). presensi guru. especially a chariot race cource” dan dalam bahasa perancis “courier” yang berarti “to run” (berlari). antara lain kurikulum. Sebelum abad ke 20 setelah kurikulum belum banyak digunakan dalam kontek pendidikan. daya serap diartikan sebagai kemampuan seseorang atau suatu menyerap. Yang pada garis besarnya berisi tentang kurikulum sebagai rencana pelajaran atau bahan ajaran.

yang memiliki arti yaitu aktivitas perubahan tingkah laku. Pada kenyataannya pembelajaran adalah merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dimana saja tanpa ada ruang dan waktu. Dasar-dasar Tujuan Pembelajaran Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara adekuat dalam kehidupan masyarakat. karena memang pembelajaran biasa dilakukan kapan saja dan dimana saja. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS BELAJAR Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran. Dari uaraian diatas maka dapat ditarik benang merahnya yaitu pembelajaran merupakan kegiatan perubahan tingkah laku secara kognitif. berakhlak mulia. afektif dan psikomotorik. berilmu. antara lain : 3 . kreatif. sehat. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.B. Pembelajaran 1. C. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.c akap. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. yaitu Alinea keempat yang berbunyi “Mencerdaskan kehidupan bangsa” b. walaupun banyak orang beranggapan bahwa pembelajaran hanya dilakukan disekolah atau lembaga tertentu. dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. 2. Adapun dasar-dasar tujuan pembelajaran ialah: a. Pengertian pembelajaran Pembelajaran berasal dari kata belajar. Perubahan tingkah laku yang dimaksud itu nyata memiliki arti yang sangat luas yaitu perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu. Berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lingkungan sosial. Belajar pada keadaan udara yang segar. dsb. c. Adapun uraian mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : a. Faktor environmental input (yakni faktor lingkungan). Faktor raw input (yakni faktor murid itu sendiri). baik itu lingkungan alami maupun lingkungan sosial. yang didalamnya antara lain terdiri dari : 1) kurikulum 2) program/ bahan pengajaran 3) sarana dan fasilitas 4) guru (tenaga pengajar): Faktor pertama disebut sebagai “faktor dari dalam“. kepengapan udara. Lingkungan fisik/ alami termasuk didalamnya adalah seperti keadaaan suhu. sedangkan faktor kedua dan ketiga sebagai “faktor dari luar“. kelembaban.a. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/ alam dan lingkungan sosial. Seseorang yang sedang belajar memecahkan soal yang 4 . Faktor instrumental input. Faktor dari luar (Eksternal) 1) Faktor Environmental Input (Lingkungan) Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. akan lebih baik hasilnya daripada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap. dimana tiap anak memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam : 1) kondisi fisiologis 2) kondisi psikologis b. baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.

baik kondisi fisiologis maupun psikologis anak. dsb. seperti gedung perlengkapan belajar. Faktor dari dalam (Internal) Diantara faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah faktor individu siswa. Lingkungan sosial yang lain. perpustakaan. Karena itulah. 5 . dsb dan juga faktor-faktor lunak (software). bercakap-cakap didekatnya dengan suara keras. bahan/ program yang harus dipelajari. Faktor-faktor instrumental dapat berwujud faktor-faktor keras (hardware). khususnya penglihatan dan pendengaran anak didiknya. akan terganggu jika ada orang lain keluar-masuk. dsb juga berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan belajar yang telah dicanangkan. tentu akan memperhatikan bagaimana keadaan pancaindera. Disamping kondisi yang umum tersebut. 2) Faktor-faktor Instrumental Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. lalu-lintas dan pasar. b. maka dalam lingkungan pendidikan formal. pedoman belajar. Guru yang baik. hiruk-pikuk lalu lintas.rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi. seperti suara mesin pabrik. 1) Kondisi Fisiologis Anak Secara umum.dsb. kondisi fisiologis ini seperti kesehatan yang prima. terutama indera penglihatan dan pendengaran. dsb akan sangat membantu dalam proses dan hasil belajar. Karena pentingnya penglihatan dan pendengaran inilah. orang melakukan berbagai penelitian untuk menemukan bentuk dan cara menggunakan alat peraga yang dapat dilihat sekaligus didengar (audio-visual aids). ramainya pasar. seperti kurikulum. disarankan agar lingkungan sekolah berada di tempat yang jauh dari keramaian pabrik. yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa adalah kondisi pancaindera. tidak dalam keadaan cacat jasmani. tidak dalam keadaan capai. alat-alat praktikum.

dapat ditimbulkan oleh rangsangan dari luar. Hasil dari pengukuran kecerdasan. dapat dibedakan menjadi dua motif. ia tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. bahwa kecerdasan memegang peran besar dalam menentukan berhasil-tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti suatu program pendidikan. untuk merealisasikan sumbangannya terhadap masyarakat maupun terhadap dirinya. tugas guru adalah untuk dapat menarik minat belajar siswa. anak berbakat adalah anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi. yaitu : 6 . Maka. Orang yang lebih cerdas. Oleh karena itu. yang dianggap utama dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar : a) Minat Minat sangat mempengaruhi dalam proses dan hasil belajar. dengan menggunakan berbagai cara dan usaha mereka. c) Bakat Disamping Intellegensi. karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang tinggi. b) Kecerdasan Telah menjadi pengertian relatif umum. d) Motivasi Motivasi merupakan dorongan yang ada didalam individu.2) Kondisi Psikologis Anak Dibawah ini akan diuraikan beberapa faktor psikologis. jika seseorang mempelajari sesuatu dengan minat. Begitu pula sebaliknya. Anak tersebut adalah anak yang membutuhkan program pendidikan berdiferensiasi dan pelayanan diluar jangkauan program sekolah biasa. maka hasil yang diharapkan akan lebih baik. Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu. tetapi munculnya motivasi yang kuat atau lemah. Secara definitif. pada umumnya akan lebih mampu belajar daripada orang yang kurang cerdas. biasanya dinyatakan dengan angka yang menunjukkan perbandingan kecerdasan yang terkenal dengan sebutan Intelligence Quetient (IQ). Kecerdasan seseorang biasanya dapat diukur dengan menggunakan alat tertentu. bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa.

kurang melakukan identifikasi masalah yang ada dan dirasakan sehari-hari oleh para pendidik di depan kelas. dan aspek psikomotorik. guru. aspek afektif. bahwa sampai sekarang pengukuran kognitif masih diutamakan untuk menentukan keberhasilan belajar seseorang. orangtua. e) Kemampuan-kemampuan Kognitif Walaupun diakui bahwa tujuan pendidikan yang berarti juga tujuan belajar itu meliputi tiga aspek. Disamping itu penyebarluasan hasil penelitian kepada guru (praktisi) sangat jarang dan memakan waktu yang sangat lama. yaitu aspek kognitif. mereka kurang memahami. Namun belum terwujud. namun hasilnya kurang dirasakan dampaknya dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. motif intrinsik lebih efektif dalam mendorong seseorang untuk lebih giat belajar daripada motif ekstrinsik. dsb adalah mengatur faktor-faktor tersebut agar dapat berjalan seoptimal mungkin PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) Penelitian tindakan sudah sering dilakukan oleh para peneliti. Setelah diketahui berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar seperti diuraikan diatas. Hal ini terutama disebabkan karena penelitian pendidik yang dilakukan oleh lembaga penelitian permasalahan yang diangkat kurang mengangkat kondisi nyata yang terjadi di sekolah. Para pendidik sangat berharap ada masukan dari hasil penelitian yang mampu membantu mengatasi masalah pembelajaran di kelas.1) Motif Intrinsik 2) Motif Ekstrinsik Motif Intrinsik adalah motif yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan. kemampuan kognitif akan tetap merupakan faktor penting dalam belajar siswa / peserta didik. Pada umumnya. maka hal penting yang harus dilakukan bagi para pendidik. Sedangkan aspek afektif dan aspek psikomotorik lebih bersifat pelengkap dalam menentukan derajat keberhasilan belajar anak disekolah. Namun tidak dapat diingkari. bahkan 7 . Sedangkan motif ekstrinsik adalah motif yang timbul akibat rangsangan dari luar. Oleh karena itu. mengingat. kurang berkaitan langsung dengan sumber masalahnya. Kemampuan kognitif yang paling utama adalah kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi. tanpa rangsangan atau bantuan orang lain. dan berpikir.

dengan melakukan penelitian tindakan. Dalam PTK guru secara refektif dapat menganalisis mensintesis terhadap apa yang telah dilakukan di kelas. Upaya peningkatan kompetensi\'pendidik tenaga kependidikan. Bahkan McNiff (1992 : 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian yang reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri kurikulum. Canada. Pendek kata. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris. Australia. penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investasi akan dapat meningkatkan kualitas isi. Justru dengan melakukan PTK akan dapat meningkatkan kualitas proses dan produk 8 . Pertama. untuk menyelesaikan masalahmasalah pembelajaran akan memberi dampak positif dan ganda. Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan memberikan kesempatan kepada para pendidik atau tenaga kependidikan untuk menyelesaikan masalahmasalah pembelajaran dan lainnya secara profesional dan kolaboratif lewat penelitian tindakan. proses.pendidik sendiri kemampuan meneliti masih rendah. peningkatan kedua kemampuan tersebut akan bernuansa pada peningkatan kualitas lulusan. mengapa demikian ? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat pada siswa. akan dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran sehingga menjadi lebih efektif. pengembangan sekolah. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini manaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. meningkatkan prestasi belajar. saranaJprasarana. masukan. Dalam PTK pendidik dapat melihat sendiri terhadap praktek pembelajaran atau bersamaan guru lain yang ia dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari segi aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Rendahnya kemampuan para pelaksana pendidikan di lapangan sangat berpengaruh positif terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. kemampuan dalam mengatasi dan penyelesaikan masalah pembelajaran akan semakin meningkat. kedua. Amerika. dan hasil belajar. ketiga. Haruslah pendidik mengobankan proses pembelajaran demi melakukan PTK? Jawabnya tentu tidak. pengembangan keahlian mengajar dan sebagainya.

guru juga dapat melakukan PTK untuk 9 . seperti mencoba cerita-cerita lokal. umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan di kelas efektif. Sebaliknya jika sebenarnya siswa telah memiliki minat baca yang tinggi. dan sebagainya. Sebagai contoh. Disamping itu dapat dibuktikan suatu teori belajar mengajar untuk diterapkan dengan baik di kelas yang ia tekuni.pembelajarannya. Dengan penelitian tindakan kelas dapat dicoba berbagai tindakan yang berupa program pembelajaran tertentu. Jika dengan penghayatannya itu dapat disimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti : pemberian pekerjaan rumah kepada siswa yang terlalu banyak. dengan melibatkan siswanya sendiri melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncakan. dan di evaluasi. Penelitian tindakan kelas tidak harus membebani pekerjaan pendidikan dalam. Dengan demikian diperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini terjadi karena kegiatan tersebut dilaksanakan sendiri. Selanjutnya PTK. optimal. menggunakan buku yang memiliki cerita lucu. jika pendidik menghadapi persoalan rendahnya minat baca siswa. jika pendidik ini sangat menghambat rendahnya minat baca siswa. dilaksanakan. cara bertanya pendidik kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk berfikir dan sebaliknya maka dapat dirumuskan secara tentatif tindakan tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur PTK. Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek pendidikan. kesehariannya. dirasakan dan dihayati kemudian muncul pertanyaan apakah praktek-praktek pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi di kelasnya. sehingga konsisi ini sangat menghambat pencapaian tujuan kurikuler. dilihat. akan tetapi tidak dapat memanf\'aatkan bahan bacaan secara tepat. di kelas sendiri. Dari program pembelajaran yang dirancang sebagai bentuk PTK akhirnya guru dapat memperbaiki persoalan rendahnya minat baca siswanya. Oleh sebab itu pendidik tidak perlu takut terganggu dalam mencapai target kurikulumnya jika akan melaksanakan PTK. PTK terkait dengan persoalan praktek pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh para guru. Jika dilakukan secara kolaboratif yang bertujuan memperbaiki proses pembelajaran tidak akan mempengaruhi materi pelajaran. melalui PTK pendidik dapat mengadaptasikan teori lain untuk kepentingan proses dan atau produk belajar yang lebih efektif. fungsional.

kolaboratif dan spiral. 1. melainkan selalu memiliki komitmen untuk meraih hari esok lebih baik dari hari sekarang. (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari Guru sendiri. Adapun manfaat_manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat memberikan manfaat sebagai inovasi pendidikan yang tumbuh dari bawah. Tujuan utama kedua. proses. Tujuan sertaan. tujuan utama dan tujuan sertaan. bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah. Tujuan utama pertama. (2) proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on. tidak dalam situasi artifisial. melaksanakan tindakan. 2. Dengan kata lain. bahwa hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dijadikan sumber masukan dalam rangka melakukan pengembangan kurikulum. guru melakukan perencanaan. Dorongan ini muncul dari rasa kepedulian untuk memecahkan masalah_masalah praktis dalam kesehariannya. karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan. cara kerja. isi. melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait dengan pembelajaran. melakukan evaluasi. dan refleksi.mencari dan memilih secara tepat terhadap kesalahan siswa dalam memanfaatkan bahan bacaan yang kurang fungsional. kemudian mencoba secara sistematis berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah pembelajaran. Tujuan_tujuan tersebut adalah sebagai berikut. Dengan secara kontinu melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Guru sebagai pekerja profesional tidak akan cepat berpuas diri lalu diam di zone nyaman. Manfaat lainnya. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi. sehingga secara keilmuan menjadi lebih berani mengambil prakarsa yang patut diduganya dapat memberikan manfaat perbaikan. Proses pengembangan kurikulum tidak bersifat netral. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting. karena Guru adalah ujung tombak pelaksana lapangan. melakukan perbaikan dan peningkatan layanan profesional Guru dalam menangani proses pembelajaran. dan situasi. kompetensi. (3) produknyas adalah sebuah nilai. menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru. Rasa percaya diri tersebut tumbuh sebagai akibat Guru semakin banyak mengembangkan sendiri pengetahuannya berdasarkan pengalaman praktis. 3. Dengan PTK Guru menjadi lebih mandiri yang ditopang oleh rasa percaya diri. 10 . yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sistem. melainkan dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang saling terkait mengenai hakikat pendidikan. Dari uraian di atas dapat diartikan bahwa penelitian tindakan sebagai suatu bentuk investigasi yang bersifat reflektif partisipasif. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat digolongkan atas dua jenis.

pengetahuan. Dengan menggunakan PTK kita dapat melihat faktor luar dan dalam dapat ditemukan dengan demikian kita dapat merangsang dengan menggunakan metode PTK sehingga efektifitas Belajar dapat maksimal. 11 . KESIMPULAN Faktor yang mempengaruhi efeksitas belajar siswa secara garis besar dibagi dua yakni faktor luar (lingkungan) faktor dari dalam yaitu dari anak itu sendiri. dan pembelajaran yang dihayati oleh Guru di lapangan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat pendidikan secara empirik.

Yogyakarta: Safira Insania Press. (2001).html.com/isjoni3. 4 November). Tingkatkan Kualitas SDM melalui Pendidikan Kejuruan. Jakarta: PT.com/2009/02/oa1xxx682. Gie. Pengendalian Mutu Sekolah Menengah: Konsep. [8 Desember 2007] Jubaedah. Edisi 2. Tersedia: http://re-searchengines. Artikel Pendidikan Network [online].wordpress. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pendidikan dan Pelatihan Produktif Bidang Keahlian Seni Tari SMK Negeri 10 Bandung. (2001). & Mukaram. Pendidikan Partisipatif. T. (2005). Orgazinational Behaviour. Robbin. Sunaryo. Air Agung Putra. Muis Saad.files. (2000). Prinsip. halaman 1. (2001).REFERENSI : Ekasari. Pikiran Rakyat (24 Oktober 2007) Marwansyah. (1989). Telaah Implementasi Pendekatan Competency Based Training Berdasarkan Standar Kompetensi Nasional pada Kegiatan Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Pariwisata. SMK dan Permasalahanya. Hani. dan Instrumen. Handoko. Isjoni. Ensiklopedi Administrasi. Tenth Edition. S. Yogyakarta : BPFE UGM.jpg 12 . Oxford: Oxford University Press. Third Edition. Sumber gambar: http://mipsos. Tesis Magister pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan. New Jersey: Pearson Educational International. Oxford Learner’s Pocket Dictionary. Kartadinata. (2002). Tesis Magister pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan. Manajemen. (2007). The Liang. Bandung: Remaja Rosda Karya. (2003. [CD-ROM]. Oxford University. Bandung: Pusat Penerbit Admistrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. Oxford University. (2003). Nana. Manajemen Sumber Daya Manusia. (2004). Concise Oxford Dictionary. Stephen P. Iman. Yoyoh (2005). Oxford: Oxford University Press. Sukmadinata.

13 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful