P. 1
Bahan Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari

Bahan Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari

|Views: 1,020|Likes:
Published by uskiii

More info:

Categories:Types, Research
Published by: uskiii on May 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

Gambar 1.

Berbagai macam bahan kimia Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghasilkan produk-p roduk industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari. Bahan kimia ya ng telah diketahui manfaatnya dikembangkan dengan cara membuat produk-produk yan g berguna untuk kepentingan manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu, kita per lu mengetahui jenis, sifat-sifat, kegunaan, dan efek samping dari setiap produk yang kita gunakan atau kita lihat sehari-hari.

A. Bahan Kimia yang Ada di Rumah Z at-zat yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari kebanyakan tidak dalam keadaan murni, melainkan bercampur dengan dua atau lebih zat lainnya. Seperti telah kamu pelajari sebelumnya, campuran suatu zat akan tetap mempertahankan sifat-sifat u nsurnya. Oleh karena itu, suatu bahan kimia akan dipengaruhi oleh sifat, kegunaa n, atau efek dari zat-zat yang menyusunnya. Kekuatan pengaruh sifat masing-masin g zat bergantung pada kandungan zat dalam bahan yang bersangkutan. Banyak ragam bahan kimia yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada bab ini hanya akan dibahas beberapa kelompok bahan kimia saja. Bahan kimia yang dimaksud, di antar anya adalah: 1. pembersih; 2. pemutih pakaian; 3. pewangi; 4. pestisida; 5. zat aditif makanan; 1. Bahan Kimia Pembersih Gambar 2. Sabun dan Detergen Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai bahan kimia pembersih, di an taranya sabun dan detergen, seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Sabun dan deterge n dapat menjadikan lemak dan minyak yang tadinya tidak dapat bercampur dengan ai r menjadi mudah bercampur. Sabun dan detergen dalam air dapat melepaskan sejenis ion yang memiliki bagian yang suka air (hidrofilik) sehingga dapat larut dalam air dan bagian yang tidak suka akan air (hidrofobik) sehingga larut dalam minyak atau lemak. Jika dalam pakaian yang dicuci dengan detergen terdapat kotoran lem ak maka bagian ion yang bersifat hidrofobik masuk ke dalam butiran lemak atau mi nyak dan bagian ion tersebut yang bersifat hidrofilik akan mengarah ke pelarut a ir Keadaan ini menyebabkan butiran-butiran minyak akan saling tolak-menolak kare na menjadi bermuatan sejenis. Akibatnya, kotoran lemak atau minyak yang telah le pas dari pakaian tidak dapat saling bersatu lagi dan tetap berada dalam larutan. Kita perlu hati-hati dalam memilih bahan pembersih, bahan tersebut jangan sampa i menimbulkan pengaruh yang buruk terhada lingkungan. Beberapa jenis detergen su kar diuraikan oleh pengurai. Jika detergen ini bercampur dengan air tanah yang d ijadikan sumber air minum manusia atau binatang ternak maka air tanah tersebut a kan membahayakan kesehatan.

Oleh karena itu, kita sebaiknya memilih detergen yang limbahnya dapat diuraikan oleh mikrorganisme (biodegradable). Pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan oleh pemakaian detergen yang tidak selektif atau tidak hati-hati adalah:

a. rusaknya keindahan lingkungan perairan; b. terancamnya kehidupan hewan-hewan yang hidup di air; dan c. merugikan kesehatan manusia.

2.

Pemutih Pakaian

Gambar 3. Pemutih Pakaian Pemutih biasanya dijual dalam bentuk larutannya (lihat Gambar 3) dan digunakan u ntuk menghilangkan kotoran atau noda berwarna yang sukar dihilangkan dengan hany a menggunakan sabun atau detergen. Larutan pemutih yang dijual di pasaran biasan ya mengandung bahan aktif natrium hipoklorit (NaOCl) sekitar 5%. Selain digunaka n sebagai pemutih dan membersihkan noda, juga digunakan untuk desinfektan (memba smi kuman). Pada umumnya, bahan pemutih yang dijual di pasaran sudah aman untuk dipakai selama pemakaiannya sesuai dengan petunjuk. Selain dengan noda, zat ini juga bisa bereaksi dengan zat warna pakaian sehingga dapat memudarkan warna paka ian. Oleh karena itu, pemakaian pemutih ini harus sesuai petunjuk.

3.

Pewangi

Gambar 4. Pewangi Pewangi merupakan bahan kimia lain yang erat kaitannya dengan kehidupan kita seh ari-hari. Kita dapat memperoleh bahan pewangi dari bahan alam maupun sintetik. B ahan pewangi alami yang sudah kita kenal di antaranya diperoleh dari daun kayu p utih, kulit kayu manis, batang kayu cendana, bunga kenanga, bunga melati, dan bu ah pala. Bahan pewangi sintetik biasanya dipakai dalam berbagai pewangi atau par fum dalam kemasan, seperti pada Gambar 8.4. Selain zat yang menimbulkan aroma wa ngi, pewangi yang dijual di pasaran biasanya mengandung zat-zat lain, seperti al kohol untuk pewangi yang berbentuk cair dan tawas untuk pewangi yang berbentuk p adat. Selain alkohol, masih terdapat beragam zat tambahan lainnya yang sengaja d itambahkan ke dalam pewangi agar parfum mudah disemprotkan (zat tersebut berfung si sebagai propelan). Di antara zat-zat tambahan yang dapat berfungsi sebagai pr opelan tersebut ada yang dapat mencemari lingkungan. Propelan tertentu jika lepa s ke udara kemudian masuk ke atmosfer bagian atas akan merusak lapisan ozon (sua tu lapisan di udara bagian atas yang melindungi manusia dari sinar-sinar berener gi tinggi, seperti sinar ultra violet). Untuk itu, kita harus selektif ketika me mbeli produk berupa parfum, jangan sampai mengandung bahan kimia yang dapat menc emari lingkungan. 4. Pestisida

Gambar 5. Pestisida Botani Bahan kimia jenis pestisida erat sekali dengan kehidupan para petani. Pestisida dipakai untuk memberantas hama tanaman sehingga tidak mengganggu hasil produksi pertanian. Pestisida meliputi semua jenis obat (zat/bahan kimia) pembasmi hama y ang ditujukan untuk melindungi tanaman dari serangan serangga, jamur, bakteri, v irus, tikus, bekicot, dan nematoda (cacing). Pestisida yang biasa digunakan para

petani dapat digolongkan menurut fungsi dan sasaran penggunaannya, yaitu: a. Insektisida, yaitu pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga, seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Beberapa jenis insektisida juga dipak ai untuk memberantas sejumlah serangga pengganggu yang ada di rumah, perkantoran , atau gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh insektisida adalah basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, dan diazinon. Gam bar 6 merupakan contoh produk insektisida untuk memberantas nyamuk. Gambar 6. Insektisida b. Fungisida, yaitu pestisida yang dipakai untuk memberantas dan mencegah p ertumbuhan jamur atau cendawan. Bercak yang ada pada daun, karat daun, busuk dau n, dan cacar daun disebabkan oleh serangan jamur. Beberapa contoh fungisida adal ah tembaga oksiklorida, tembaga(I) oksida, karbendazim, organomerkuri, dan natri um dikromat. Gambar 7. Fungisida Botani c. Bakterisida, yaitu pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Pada umumnya, tanaman yang sudah terserang bakteri sukar untuk disembuhkan. Oleh kare na itu, bakterisida biasanya diberikan kepada tanaman yang masih sehat. Salah sa tu contoh dari bakterisida adalah tetramycin, sebagai pembunuh virus CVPD yang m enyerang tanaman jeruk. Gambar 8. Bakterisida d. Rodentisida, yaitu pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanam an berupa hewan pengerat, seperti tikus. Rodentisida dipakai dengan cara mencamp urkannya dengan makanan kesukaan tikus. Dalam meletakkan umpan tersebut harus ha ti-hati, jangan sampai termakan oleh binatang lain. Contoh dari pestisida jenis ini adalah warangan. Gambar 9. Rodentisida Antikoagulan e. Nematisida, yaitu pestisida yang digunakan untuk memberantas hama tanama n jenis cacing (nematoda). Hama jenis cacing biasanya menyerang akar dan umbi ta naman. Oleh karena pestisida jenis ini dapat merusak tanaman maka pestisida ini harus sudah ditaburkan pada tanah tiga minggu sebelum musim tanam. Contoh dari p estisida jenis ini adalah DD, vapam, dan dazomet. Gambar 10. Nematisida f. Herbisida, yaitu pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman penggan ggu (gulma), seperti alang-alang, rerumputan, dan eceng gondok. Contoh dari herb isida adalah ammonium sulfonat dan pentaklorofenol. Gambar 10. Herbisida

Penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak yang negatif, baik itu bagi keseha tan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, penggunaannya harus dilakukan sesuai dengan aturan. Beberapa dampak negatif yang dapat timbul akibat penggunaan pestisida, diantaranya: a. Terjadinya pengumpulan pestisida (akumulasi) dalam tubuh manusia karena bebe

rapa jenis pestisida sukar terurai. Pestisida yang terserap tanaman akan terdist ribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Jika tanaman ini dimakan hewan ata u manusia maka pestisidanya akan terakumulasi dalam tubuh sehingga dapat memuncu lkan berbagai risiko bagi kesehatan hewan maupun manusia. b. Munculnya hama spesies baru yang lebih tahan terhadap takaran pestisida. Ole h karena itu, diperlukan dosis pemakaian pestisida yang lebih tinggi atau pestis idalain yang lebih kuat daya basminya. Jika sudah demikian maka risiko pencemara n akibat pemakaian pestisida akan semakin besar baik terhadap hewan maupun lingk ungan, termasuk juga manusia sebagai pelakunya. Ternyata, penggunaan pestisida selain memberikan keuntungan juga dapat memberik an kerugian. Oleh karena itu, penyimpanan dan penggunaan pestisida apapun jenisn ya harus dilakukan secara hati-hati dan sesuai petunjuk. Untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida dapat dilakukan dengan cara menggunakan pestisida alami at au pestisida yang dibuat dari bahan-bahan alami. Misalnya, air rebusan batang da n daun tomat dapat dipakai dalam memberantas ulat dan lalat hijau. Selain contoh tersebut, masih banyak tumbuhan lain yang dapat bertindak sebagai pestisida ala mi, seperti tanaman mindi, bunga mentega, rumput mala, tuba,kunir, dan kucai.

B. Zat Aditif dalam Bahan Makanan S etiap hari kita memerlukan makanan untuk mendapatkan energi (karbohidrat dan lem ak) dan untuk pertumbuhan sel-sel baru, menggantikan sel-sel yang rusak (protein ). Selain itu, kita juga memerlukan makanan sebagai sumber zat penunjang dan pen gatur proses dalam tubuh, yaitu vitamin, mineral, dan air. Sehat tidaknya suatu makanan tidak bergantung pada ukuran, bentuk, warna , kelezatan, aroma, atau kesegarannya, tetapi bergantung pada kandungan zat yang diperlukan oleh tubuh. Suatu makanan dikatakan sehat apabila mengandung satu ma cam atau lebih zat yang diperlukan oleh tubuh. Setiap hari, kita perlu mengonsum si makanan yang beragam agar semua jenis zat yang diperlukan oleh tubuh terpenuh i. Hal ini dikarenakan belum tentu satu jenis makanan mengandung semua jenis zat yang diperlukan oleh tubuh setiap hari. Supaya orang tertarik untuk memakan sua tu makanan, seringkali kita perlu menambahkan bahan-bahan tambahan ke dalam maka nan yang kita olah. Bisa kita perkirakan bahwa seseorang tentu tidak akan punya selera untuk memakan sayur sop yang tidak digarami atau bubur kacang hijau yang tidak memakai gula. Dalam hal ini, garam dan gula termasuk bahan tambahan. Kedua nya termasuk jenis zat aditif makanan. Zat aditif bukan hanya garam dan gula saj a, tetapi masih banyak bahan-bahan kimia lain. Zat aditif makanan ditambah kan dan dicampurkan pada waktu pengolahan makanan untuk memperbaiki tampilan mak anan, meningkatkan cita rasa, memperkaya kandungan gizi, menjaga makanan agar ti dak cepat busuk, dan lain sebagainya (perhatikan Gambar 1.1). Bahan yang tergolo ng ke dalam zat aditif makanan harus dapat: 1. memperbaiki kualitas atau gizi makanan; 2. membuat makanan tampak lebih menarik; 3. meningkatkan cita rasa makanan; dan 4. membuat makanan menjadi lebih tahan lama atau tidak cepatbasi dan busuk.

Gambar 1.1

Zat-zat aditif tidak hanya zat-zat yang secara sengaja ditambahkan pada saat pro ses pengolahan makanan berlangsung, tetapi juga termasuk zat-zat yang masuk tanp a sengaja dan bercampur dengan makanan. Masuknya zat-zat aditif ini mungkin terj adi saat pengolahan, pengemasan, atau sudah terbawa oleh bahan-bahan kimia yang dipakai. Zat aditif makanan dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1.Zat aditif yang berasal dari sumber alami, seperti lesitin dan asam sitrat; 2.Zat aditif sintetik dari bahan kimia yang memiliki sifat serupa dengan bahan a lami yang sejenis, baik susunan kimia maupun sifat/fungsinya, seperti amil aseta t dan asam askorbat. Berdasarkan fungsinya, baik alami maupun sintetik, zat aditif dapat dikelompokka n sebagai zat pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap rasa. Zat aditif dalam pr oduk makanan biasanya dicantumkan pada kemasannya. 1. Zat Pewarna Pemberian warna pada makanan umumnya bertujuan agar makanan terlihat lebih segar dan menarik sehingga menimbulkan selera orang untuk memakannya. Zat pewarna yan g biasa digunakan sebagai zat aditif pada makanan adalah: a. Zat pewarna alami, dibuat dari ekstrak bagian-bagian tumbuhan tertentu, misalnya warna hijau dari daun pandan atau daun suji, warna kuning dari kunyit, seperti ditunjukkan pada gambar 1.2, tahu yang berwarna kuning berasal dari kuny it .Karena jumlah pilihan warna dari zat pewarna alami terbatas maka dilakukan u paya menyintesis zat pewarna yang cocok untuk makanan dari bahan-bahan kimia. Gambar 1.2 b. Zat pewarna sintetik, dibuat dari bahan-bahan kimia. Dibandingkan dengan pewarna alami, pewarna sintetik memiliki beberapa kelebihan, yaitu memiliki pilihan warna yang lebih banyak, mudah disimpan, dan lebih tahan lama. Beberapa zat pewarna sintetik bisa saja memberikan warna yang sama, namun belum tentu semua zat pewarna tersebut cocok dipakai sebagai zat aditif pada mak anan dan minuman.

Perlu diketahui bahwa zat pewarna sintetik yang bukan untuk makanan dan minuman (pewarna tekstil) dapat membahayakan kesehatan apabila masuk ke dalam tubuh kare na bersifat karsinogen (penyebab penyakit kanker). Oleh karena itu, kamu harus berhati- hati ketika membeli makanan atau minuman yang memakai zat warna. Kamu h arus yakin dahulu bahwa zat pewarna yang dipakai sebagai zat aditif pada makanan atau minuman tersebut adalah memang benar-benar pewarna makanan dan minuman. Gambar 1.4

Tabel 8.1 berikut ini adalah daftar zat pewarna, baik alami maupun sintetik yang aman dipergunakan sebagai zat pewarna makanan dan minuman. Warna 1. Nama Zat Warna Nomor Indeks Nama Zat Pewarna Alami

Merah Merah Kuning Kuning Kuning Kuning Hijau Biru Cokelat Hitam Hitam Putih 2. Zat Pewarna Sintetik Merah Merah Merah Oranye Kuning Kuning Hijau Biru Biru Ungu Alkanat Karmin Annato Karoten Kurkumin Safron Klorofil Ultramin Karamel Karbon hitam Besi oksida Titanium oksida Carmoisine Amaranth Erythrosine Sunset yellow FCF Tartrazin Quineline yellow Fast green FCF Briliant Blue FCF Indigocarmine (indigotine) Violet GB 75520 75470 75120 75130 75300 75100 75810 77007 â 77266 77499 77891

14720 16185 45430 15985 19140 47005 42053 42090 73015 42640 Berdasarkan sifat kelarutannya, zat pewarna makanan dikelompokkan menjadi dye da n lake. Dye merupakan zat pewarna makanan yang umumnya bersifat larut dalam air. Dye biasanya dijual di pasaran dalam bentuk serbuk, butiran, pasta atau cairan. Lake merupakan gabungan antara zat warna dye dan basa yang dilapisi oleh suatu zat tertentu. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air maka zat warna kelompok ini cocok untuk mewarnai produk-produk yang tidak boleh terkena air atau produk yang mengandung lemak dan minyak. 2. Zat Pemanis Zat pemanis berfungsi untuk menambah rasa manis pada makanan dan minuman. Zat pe manis dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: a. Zat pemanis alami. Pemanis ini dapat diperoleh dari tumbuhan, seperti ke lapa, tebu, dan aren. Selain itu, zat pemanis alami dapat pula diperoleh dari bu ahbuahan dan madu. Zat pemanis alami berfungsi juga sebagai sumber energi. Jika kita mengonsumsi pemanis alami secara berlebihan, kita akan mengalami risiko keg emukan. Orang-orang yang sudah gemuk badannya sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang mengandung pemanis alami terlalu tinggi. Gambar 1.5

Gambar 1. 6

b. Zat pemanis buatan atau sintetik. Pemanis buatan tidak dapat dicerna ole h tubuh manusia sehingga tidak berfungsi sebagai sumber energi. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki penyakit kencing manis (diabetesmelitus) biasanya men gkonsumsi pemanis sintetik sebagai pengganti pemanis alami. Contoh pemanis sintetik, yaitu sakarin, natrium siklamat, magnesium sikl amat, kalsium siklamat, aspartam (lihat Gambar 1.6), dan dulsin. Pemanis buatan memiliki tingkat kemanisan yang lebih tinggi dibandingkan pemanis alami. Garam-g aram siklamat memiliki kemanisan 30 kali lebih tinggi dibandingkan kemanisan s ukrosa. Namun, kemanisan garam natrium dan kalsium dari sakarin memiliki kemanis an 800 kali dibandingkan dengan kemanisan sukrosa 10%. Walaupun pemanis buatan m emiliki kelebihan dibandingkan pemanis alami, kita perlu Menghindari konsumsi ya ng berlebihan karena dapat memberikan efek samping bagi kesehatan. Misalnya, penggunaan sakarin yang berlebihan selain akan menyebabkan rasa makana n terasa pahit juga merangsang terjadinya tumor pada bagian kandung kemih.Conto h lain, garam-garam siklamat pada proses metabolisme dalam tubuh dapat menghasilkan senyawa sikloheksamina yang bersifat karsinogenik (senyawa yang dapat menimbulkan penyakit kanker). Garam siklamat juga dapat memberikan e fek samping berupa gangguan pada sistem pencernaan terutama pada pembentukan zat

dalam sel. Gambar 1. 7

Gambar 1.8

3. Zat Pengawet Ada sejumlah cara menjaga agar makanan dan minuman tetap layak untuk dimakan ata u diminum walaupun sudah tersimpan lama. Salah satu upaya tersebut adalah dengan cara menambahkan zat aditif kelompok pengawet (zat pengawet) ke dalam makanan d an minuman. Zat pengawet adalah zat-zat yang sengaja ditambahkan pada bahan maka nan dan minuman agar makanan dan minuman tersebut tetap segar, bau, dan rasanya tidak berubah, atau melindungi makanan dari kerusakan akibat membusuk atau terke na bakteri/jamur. Karena penambahan zat aditif, berbagai makanan dan minuman mas ih dapat dikonsumsi sampai jangka waktu tertentu, mungkin seminggu, sebulan, set ahun, atau bahkan beberapa tahun. Dalam makanan atau minuman yang dikemas dan di jual di toko-toko atau supermarket biasanya tercantum tanggal kadaluarsanya, tan ggal yang menunjukkan sampai kapan makanan atau minuman tersebut masih dapat dik onsumsi tanpa membahayakan kesehatan.Seperti halnya zat pewarna dan pemanis, zat pengawet dapat dikelompokkan menjadi zat pengawet alami dan zat pengawet buatan . a. Zat pengawet alami berasal dari alam, contohnya gula (sukrosa) yang dapat di pakai untuk mengawetkan buah-buahan (manisan) dan garam dapur yang dapat digunak an untuk mengawetkan ikan. b. Zat pengawet sintetik atau buatan merupakan hasil sintesis dari bahan-bahan k imia. Contohnya, asam cuka dapat dipakai sebagai pengawet acar dan natrium prop ionat atau kalsium propionat dipakai untuk mengawetkan roti dan kue kering. Gara m natrium benzoat, asam sitrat, dan asam tartrat juga biasa dipakai untuk mengaw etkan makanan. Selain zat-zat tersebut, ada juga zat pengawet lain, yaitu natriu m nitrat atau sendawa (NaNO3) yang berfungsi untuk menjaga agar tampilan daging tetap merah. Asam fosfat yang biasa ditambahkan pada beberapa minuma penyegar ju ga termasuk zat pengawet.

Gambar 1.9 Selain pengawet yang aman untuk dikonsumsi, juga terdapat pengawet yang tidak bo leh dipergunakan untuk mengawetkan makanan. Zat pengawet yang dimaksud, di antar anya formalin yang biasa dipakai untuk mengawetkan benda-benda, seperti mayat at au binatang yang sudah mati. Pemakaian pengawet formalin untuk mengawetkan makan an, seperti bakso, ikan asin, tahu, dan makanan jenis lainnya dapat menimbulkan risiko kesehatan. Selain formalin, ada juga pengawet yang tidak boleh diperguna kan untuk mengawetkan makanan. Pengawet yang dimaksud adalah pengawet boraks. Pe ngawet ini bersifat desinfektan atau efektif dalam menghambat pertumbuhan mikrob a penyebab membusuknya makanan serta dapat memperbaiki tekstur makanan sehingga lebih kenyal (perhatikan Gambar 1.11).

Boraks hanya boleh dipergunakan untuk industri nonpangan, seperti dalam pembuata

n gelas, industri kertas, pengawet kayu, dan keramik. Jika boraks termakan dalam kadar tertentu, dapat menimbulkan sejumlah efek samping bagi kesehatan, di anta ranya: a. gangguan pada sistem saraf, ginjal, hati, dan kulit; b. gejala pendarahan di lambung dan gangguan stimulasi saraf pusat; c. terjadinya komplikasi pada otak dan hati; dan d. menyebabkan kematian jika ginjal mengandung boraks sebanyak 3â 6 gram. Gambar 1.11.

4. Zat Penyedap Cita Rasa Di Indonesia terdapat begitu banyak ragam rempah-rempah yang dipakai untuk menin gkatkan cita rasa makanan, seperti cengkeh, pala, merica, ketumbar, cabai, laos, kunyit, bawang, dan masih banyak lagi yang lain. Melimpahnya ragam rempah-rempa h ini merupakan salah satu sebab yang mendorong penjajah Belanda dan Portugis te mpo dulu ingin menguasai Indonesia. Jika rempah-rempah dicampur dengan makanan s aat diolah, dapat menimbulkan cita rasa tertentu pada makanan. Gamabar 1.12 Gamabar 1.13

Selain zat penyedap cita rasa yang berasal dari alam, ada pula yang berasal dari hasil sintesis bahan kimia. Berikut ini beberapa contoh zat penyedap cita rasa hasil sintesis: a. oktil asetat, makanan akan terasa dan beraroma seperti buah jeruk jika dicamp ur dengan zat penyedap ini; b. etil butirat, akan memberikan rasa dan aroma seperti buah nanas pada maka nan; c. amil asetat, akan memberikan rasa dan aroma seperti buah pisang; d. amil valerat, jika makanan diberi zat penyedap ini maka akan terasa dan berar oma seperti buah apel. Selain zat penyedap rasa dan aroma, seperti yang sudah disebutkan di atas, terda pat pula zat penyedap rasa yang penggunaannya meluas dalam berbagai jenis masaka n, yaitu penyedap rasa monosodium glutamat (MSG) seperti ditunjukkan pada Gambar 1.14. Zat ini tidak berasa, tetapi jika sudah ditambahkan pada makanan maka aka n menghasilkan rasa yang sedap. Penggunaan MSG yang berlebihan telah menyebabkan â Chinese restaurant syndromeâ yaitu suatu gangguan kesehatan di mana kepala terasa pus ng dan berdenyut. Bagi yang menyukai zat penyedap ini tak perlu khawatir dulu. K ecurigaan ini masih bersifat pro dan kontra. Bagi yang mencoba menghindari untuk mengonsumsinya, sudah tersedia sejumlah merk makanan yang mencantumkan label â tidak mengandung MSGâ dalam kemasannya. Pada pembahasan sebelumnya, kamu sudah mempelajar i tentang pengelompokkan zat aditif berdasarkan fungsinya beserta contoh-contohn ya. Perlu kamu ketahui bahwa suatu zat aditif dapat saja memiliki lebih dari sat u fungsi. Gamabar 1.14 Seringkali suatu zat aditif, khususnya yang bersifat alami memiliki lebih dari s atu fungsi. Contohnya, gula alami biasa dipakai sebagai zat aditif pada pembuata n daging dendeng. Gula alami tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tet api juga berfungsi sebagai pengawet. Contoh lain adalah daun pandan yang dapat b erfungsi sebagai pemberi warna pada makanan sekaligus memberikan rasa dan aroma khas pada makanan. Untuk penggunaan zat-zat aditif alami, umumnya tidak terdapat batasan mengenai jumlah yang boleh dikonsumsi. perharinya. Untuk zat-zat aditif sintetik, terdapat aturan penggunaannya yang telah ditetapkan sesuai Acceptable Daily Intake (ADI) atau jumlah konsumsi zat aditif selama sehari yang diperbole hkan dan aman bagi kesehatan. Jika kita mengonsumsinya melebihi ambang batas mak a dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->