P. 1
Islam Kelas VII-1

Islam Kelas VII-1

|Views: 2,529|Likes:
Published by 12ndhamster

More info:

Published by: 12ndhamster on May 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

ISL.VII.1.1.01 s.d. ISL.VII.1.4.

08

MODUL SMP TERBUKA

Mata Pelajaran Kelas Semester

: Pendidikan Agama Islam : VII : 1

KEGIATAN SISWA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

KATA PENGANTAR
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di SMP Terbuka, perlu adanya penyempurnaan modul sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini. Oleh karena itu Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama berupaya melakukan penyempurnaan modul SMP Terbuka agar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dapat memenuhi kebutuhan siswa, keadaan sekolah dan masyarakat sekitar. Seiring dengan dinamika penyempurnaan tersebut, ditetapkanlah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Kedua peraturan tersebut merupakan pedoman dalam penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Modul sebagai sumber belajar utama dalam proses pembelajaran bagi siswa SMP Terbuka ini telah disusun sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam pembahasannya modul ini telah mencakup seluruh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mencapai kompetensi lulusan minimal tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan disempurnakannya modul SMP Terbuka ini diharapkan siswa memiliki kompetensi yang memadai sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku. Mengingat Kurikulum yang digunakan dalam penulisan modul ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka masukan dan saran dari lapangan sangat diharapkan untuk penyempurnaan baik isi maupun perwajahan modul ini di masa yang akan datang. Semoga modul ini dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga mutu pendidikan SMP Terbuka mengalami peningkatan sesuai dengan tuntutan jaman. Jakarta, Januari 2009 Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

Didik Suhardi, SH., M. Si. NIP. 131270212

PETUNJUK BELAJAR Buku ini memuat 8 (delapan) modul untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII Semester 1. Modul ini harus Kamu pelajari dan selesaikan dalam jangka waktu satu semester, baik melalui kegiatan belajar di TKB (Tempat Kegiatan belajar) maupun belajar di luar TKB. Dalam mempelajari modul ini supaya diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Belajar dengan modul keberhasilannya tergantung dari kedisiplinan dan ketekunan Kamu dalam memahami dan mematuhi langkah-langkah belajarnya. 2. Belajar dengan modul dapat dilakukan secara mandiri atau kelompok, baik di TKB atau di luar TKB. 3. Langkah-langkah yang perlu Kamu ikuti secara berurutan dalam mempelajari modul ini adalah sebagai berikut: a. Usahakan Kamu (bila memungkinkan) memiliki buku paket Pendidikan Agama Islam Kelas VII sebagai bahan pengayaan atau pendalaman materi, karena dalam modul ini diutamakan pada materi esensial/materi pokok/materi utama. b. Baca dan pahami benar-benar tujuan yang terdapat dalam modul ini. Perhatikan materi pokoknya dan uraian materinya. c. Bila dalam mempelajari tersebut mengalami kesulitan, diskusikan dengan temanteman yang lain. Dan bila inipun belum terpecahkan sebaiknya Kamu tanyakan pada guru pamong di TKB atau guru bina pada waktu tatap muka. d. Setelah Kamu merasa memahami materi pelaharan tersebut, kerjakanlah tugastugas yang tercantum dalam modul ini, dalam lembar jawaban yang terpisah atau pada buku tulis Kamu. e. Periksalah hasil penyelesaian tugas tersebut melalui kunci yang tersedia. Dan bila ada jawaban yang belum betul, pelajari sekali lagi materi yang bersangkutan. Bila semua kegiatan dalam satu modul sudah dapat diselesaikan dengan baik Kamu berhak mengikuti tes akhir modul yang diselenggarakan oleh guru bina atau guru pamong. f. Bila dalam tes akhir modul Kamu dapat mencapai nilai 6,5 Kamu dapat mempelajari modul berikutnya. 4. Urutan kegiatan di atas harus Kamu taati, agar Kamu lebih cepat berhasil mempelajari modul ini.

ISL.VII.1.1.01

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 1 6 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi : Drs. H. Murhanuddin, MM H. M. Sholeh M.Yunus : Moh. Sofyan S.Ag

HUKUM BACAAN ALIF LAM SYAMSIYAH DAN ALIF LAM QAMARIYAH
Penyelaras : Abdul Rozak S.Ag

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN

Anak-anakku yang tercinta, kembali kita berjumpa pada hari ini, semoga kamu semua dalam keadaan sehat wal’afiat. Anak-anakku yang berbahagia, sekarang kita mempelajari tentang modul yang berhubungan dengan Tajwid, yaitu tata cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Materi yang akan kamu pelajari adalah hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Qomariyah. Ikutilah tiga kegiatan yang terdapat dalam modul ini : Kegiatan 1 : Hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah. Kegiatan 2 : Membaca surat Ad-Dhuha. Kegiatan 3 : Membaca surat Al-Adiyat. Jika ingin lebih banyak mengetahui tentang materi ini dan menemui kesulitan, kamu dapat meminjam buku tentang Tajwid di perpustakaan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang sedang kamu pelajari. Setelah selesai mempelajari modul ini, diharapkan kamu dapat mempraktekkan saat membaca Al-Qur’an, semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan pemahaman yang baik bagi kamu. Ingat jangan sampai lupa, mulailah pelajaran dengan membaca “Basmalah”.

Selamat Belajar

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah 1. Standar Kompetensi Menerapkan hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah 2. Kompetensi Dasar Menjelaskan, membedakan dan menerapkan hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah selesai mempelajari modul ini, diharapkan siswa dapat : - Menjelaskan pengertian Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah - Menyebutkan contoh-contoh bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah surat Ad-Dhuha dan Al-Adiyat. 4. Materi Pokok Hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah 5. Uraian Materi :

Sudah tentu membaca Al-Qur’an harus dengan fasih dan benar. Oleh karena itu ketika sedang membaca Al-Qur’an harus diperhatikan bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah. a. Pengertian Alif Lam Syamsiyah Alif Lam Syamsiyah yaitu apabila Alif Lam bertemu dengan huruf Syamsiyah yang jumlahnya 14 yaitu:

،‫ت، ث، د، ذ، ر، ز، س، ش‬ ‫ص، ض، ط، ظ، ل، ن‬

Siswa sedang membaca ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan hukum bacaan Al-Qur’an atau Tajwid

Maka cara membacanya, bunyi Alif Lam ( ‫ ) ال‬tidak dibaca jelas, lamnya dimasukkan ke dalam huruf syamsiyah. Ada tulisannya tetapi tidak terdengar dalam bunyi bacaannya. contoh : dibaca At-Takatsur, tidak dibaca Al-Takatsur.

b. Pengertian Alif Lam Qomariyah Alif Lam Qomariyah yaitu apabila jumlahnya 14 yaitu :

( ‫ ) ال‬bertemu dengan “huruf Qomariyah yang

‫ا، ب، ج، ح، خ، ع، غ، ف، ق، ك، م، و، ه، ي‬

Maka cara membacanya, bunyi Alif Lam ( dibaca jelas. Contoh :

‫ ) ال‬didzahirkan

dengan baris mati dan

dibaca alhamdu. jelas bunyi alif lamnya.

c. Contoh-contoh Bacaan Alif Lam Syamsiyah Setelah kamu mengetahui Pengertian Alif lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah, cobalah sekarang kita mencoba mempraktekkan dengan contoh di bawah ini: 1. Alif Lam Syamsiyah Huruf ( ‫ ) ت‬pada lafadz Huruf ( ‫ ) د‬pada lafadz Huruf ( ‫ ) ز‬pada lafadz 2. Sedang Alif Lam Qomariyah Huruf (‫ ) ب‬pada lafadz Huruf ( ‫ ) ع‬pada lafadz Alif Lamnya dibaca jelas Al-baitu. Alif Lamnya dibaca jelas Al-‘aadiyatu. dibaca At-takatsur, tidak dibaca Al-takatsur. dibaca Ad-diinu, tidak dibaca Al-diinu. dibaca Az-zakaatu, tidak dibaca Al-zakaatu.

Rangkuman : Alif Lam Syamsiyah yaitu apabila Alif Lam Syamsiyah yang jumlahnya 14, yaitu :

( ‫) ال‬

bertemu dengan huruf-huruf

‫ت، ث، د، ذ، ر، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ل، ن‬ Sedangkan cara membacanya, bunyi Alif Lam ( ‫ ) ال‬tidak dibaca jelas
Lam (

“lam” nya dimasukkan ke dalam huruf Syamsiyah. Adapun Alif Lam Qomariyah yaitu apabila Alif

‫ ) ال‬bertemu dengan huruf-huruf Qomariyah yang jumlahnya 14 yaitu : ‫ا، ب، ج، ح، خ، ع، غ، ف، ق، ك، م، و، ه، ي‬ Cara membacanya, yaitu bunyi Alif Lam ( ‫“ ) ال‬Lam” nya dibaca jelas dengan baris
mati.

Kegiatan 2 : Membaca Surat Adh-Dhuha 1. Standar Kompetensi Mengamalkan ajaran Al-Qur’an/Hadist dalam kehidupan sehari-hari. Surat Adh-Dhuha dan hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Qomariyah. 2. Kompetensi Dasar Siswa mampu menerapkan bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah dalam surat Adh-Dhuha. 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Siswa dapat menelaah hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah dalam QS. Adh-Dhuha. 4. Materi Pokok Hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah dalam surat Adh-Dhuha 5. Uraian Materi :

Bacaan Surat Adh-Dhuha surat ke 93 ayat 1 – 11.

Untuk membantu agar dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, lakukan beberapa langkah berikut : 1) Bentuklah kelompok membaca! 2) Pilihlah teman yang membaca Al-Qur’an! bias membimbing kamu

3) Al-Qur;an Juz 30, tentukan Surat Adh-Dhuha, 93, ayat 1–11!

Perhatikan dan ikuti bacaan berikut ini : a. Wad Dhuha : Demi waktu matahari naik sepenggalah b. Wal Laili idzaa sajaa : Dan demi malam apabila telah sunyi c. Maawadda’aka rabbuka wamaa qolaa : Tuhan mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepada mu. d. Walal akhirotu khairul laka minal Uula : Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu dari pada permulaan. e. Walasaufa yu’tika robbuka fatardha : Dan kelak Tuhan mu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. f. Alam yajidka yatiiman fa awa : Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ? g. Wawajadaka dhoolan fahadaa : Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. h. Wawajadaka ‘ailan fa agna : Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan. i. Faammal yatiima fala taqhar : Sebab itu terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang j. Waammas saaila fala tanhar : Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. k. Waamma bini’mati rabbika fahaddits : Dan terhadap nikmat Tuhan mu maka hendalah kau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). Apa yang harus kamu lakukan ? 1. Bacalah Q.S. Adh-Dhuha, 93 ayat 1 – 11 ! 2. Perhatikan harakat panjang dan pendeknya ! 3. Lakukan secara bergantian dengan kelompokmu ! 4. Mintalah penjelasan kepada guru/teman yang lebih baik bacaannya ! 5. Perhatikan ketentuan makhraj dan tajwid-Nya! - Makhraj : tempat keluarnya huruf, sehingga pengucapannya benar - Tajwid : ilmu yang membahas tentang ketentuan membaca Al-Qur’an - Fasih : benar-benar lancar Keterangan bacaan : a. Alif Lam ( b. Alif Lam (

‫ ) ال‬bertemu dengan huruf ‫ض‬

maka huruf Alif Lam ( = Wadh Dhuhaa

‫ ) ال‬dianggap

tidak ada (Alif Lam Syamsiyah).

c.

‫ ) ال‬bertemu dengan huruf ‫ س‬maka huruf Alif Lam ( ‫ ) ال‬dianggap tidak ada (Alif Lam Syamsiyah). َ = Waammas Saa ila Alif Lam ( ‫ ) ال‬bertemu dengan huruf ‫ ي‬maka huruf Alif Lam ( ‫ ) ال‬dibaca jelas
(Alif Lam Qomariyah) = Faammal yatiima

Kegiatan 3

:

Membaca Surat Al ‘Aadiyat

1. Standar Kompetensi Surat Al ‘Aadiyaat dan hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah 2. Kompetensi Dasar Menerapkan hukum bacaan Alif Lam Syamsiyah dan Alif Lam Qomariyah dalam surat Al ‘Aadiyaat. 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Peserta didik dapat menelaah hukum bacaan Al-Syamsiyah dan Al-Qomariyah dalam surat Al ‘Aadiyaat. 4. Materi Pokok Hukum bacaan Al Syamsiyah dan Qomariyah dalam surat Al ‘Aadiyat 5. Uraian Materi :

Surat Al ‘Aadiyaat terdiri atas 11 ayat dan termasuk surat Makiyah. Surat Al ‘Aadiyaat diturunkan setelah Surat Al ‘Ashr. Nama Al ‘Aadiyaat dikutip dari kata Al ‘Aadiyaat yang terdapat pada ayat pertama. Kata Al ‘Aadiyaat artinya kuda yang berlari kencang. Bacaan surat Al ‘Aadiyaat, surat ke 100 ayat 1 – 11.

Untuk membantu agar dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, lakukan beberapa langkah berikut. 1) Bentuklah kelompok membaca ! 2) Pilihlah teman yang bias membimbing kamu membaca Al-Qur’an ! 3) Al-Qur’an Juz 30, tentukan Surat Al ‘Aadiyaat, 100 ayat 1 – 11 !

Perhatikan dan ikuti bacaan berikut ini : 1. Wal’Aadiyaati dhobha : Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. 2. Falmuuriyaati qodha : Dan kuda yang mecetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya) 3. Falmugiirooti subha : Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi 4. Faatsarna bihii naqaa : Maka ia menerbangkan debu 5. Fawasatna bihi jam’aa : Dan menyerbu ke tengahtengah kumpulan musuh 6. Innalinsaana lirobbihi lakanuud : Sesunggunya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. 7. Wa innahu ‘alaa dzalika lasyahiid : Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkaran-nya. 8. Wa innahu lihubbil khairi lasyadid : Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. 9. Afalaa ya’lamu idza bu’tsira maa fil kubuur : Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. 10. Wa hussila maa fis suduur : Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. 11. Inna rabbahum bihim yaumaidzil lakhobiir : Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka Apa yang harus kamu lakukan ? 1. Bacalah Q.S. Al ‘Aadiyaat, 100 ayat 1 – 11 ! 2. Perhatikan harakat panjang dan pendeknya ! 3. Lakukan secara bergantian dengan kelompokmu ! 4. Mintalah penjelasan kepada guru/teman yang lebih baik bacaannya ! 5. Perhatikan ketentuan makhraj dan tajwid-nya !  Tajwid : tempat keluarnya huruf sehingga pengucapannya benar !  Fasih : Ilmu yang membahas tentang ketentuan membaca Al-Qur’an Keterangan bacaan : a. Alif Lam (

‫ ) ال‬bertemu dengan huruf ‫ ,ع‬maka Alif Lam ( ‫ ) ال‬dibaca jelas (Alif
= Wal ‘aadiyaati

Lam Qomariyah). b. Alif Lam (

‫ ) ال‬bertemu dengan huruf ‫ ,ص‬maka Alif Lam ( ‫ ) ال‬dianggap tidak
= As suduuri

ada (Alif Lam Syamsiyah).

C. PENUTUP Keberhasilanmu mempelajari modul ini sangat bergantung dengan semangat dan kerja kerasmu dalam belajar. Teruslah belajar dan buktikan keberhasilanmu dengan emminta tes akhir modul kepada guru pamong dan guru bina. Raihlah nilai 6,5 agar kamu dapat melanjutkan modul selanjutnya dan jangan patah semangat kalau nilai yang diperoleh kurang dari 6,5, itu artinya kamu harus lebih semangat lagi dalam menguasai modul ini. Yakinlah bahwa rahmat Allah menyertai orang-orang yang menuntut ilmu.

ISL.VII.1.1.02

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 1 6 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi Penyelaras : Drs. H. Murhanuddin, MM H. M. Sholeh M.Yunus : Moh.Sofyan S.Ag : Abdul Rozak S.Ag

IMAN KEPADA ALLAH

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN Anak-anakku saya ucapkan selamat bertemu. Setelah selesai mempelajari modul 1 sekarang mari kita pelajari modul yang membahas tentang Iman Kepada Allah dan Sifat-sifat Nya. Agar dalam mempelajari modul ini kamu tidak banyak mengalami kesulitan, maka kamu dapat meminjam buku-buku perpustakaan atau buku lain yang ada kaitannya dengan materi pokok yang sedang kamu pelajari. Modul ini ada empat kegiatan dan harus dapat kamu selesaikan dalam waktu 6 x 40 menit. Kegiatan 1 : Membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Kegiatan 2 : Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Kegiatan 3 : Iman kepada Allah dan sifat-sifat Allah Kegiatan 4 : Iman kepada Allah dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan lupa kamu juga harus menyediakan buku tulis untuk mencatat rangkuman dan mengerjakan tugas-tugas untuk mengetahui kemampuan atau prestasi belajarmu. Setelah mempelajari modul ini diharapkan kamu dapat menyakini dan mengimani bahwa Allah SWT memiliki sifat kesempurnaan dan mengetahui dalilnya. Ingat jangan lupa sebelum mempelajari modul ini bacalah “Basmalah”.

Selamat Belajar

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah 1. Standar Kompetensi Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-sifatnya 2. Kompetensi Dasar Membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Membaca ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat Nafsiyah (wujud) - Membaca ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Salbiyah (Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lil hawadisi, Qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyah). - Membaca ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat ma’ani (Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, sama’, Bashar, dan Kalam). 4. Materi Pokok Iman Kepada Allah 5. Uraian Materi Sebelum memasuki pembahasan tentang keimanan perlu difahami terlebih dahulu tentang ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifatsifat Allah. a. Ayat-ayat Al Qur’an yang dengan sifat Nafsiyah (wujud) (Q.S. Al Baqarah 163) berkaitan

Wailahukum ilaahu wahid, Laa ilaaha illaa huwarrahmaanurrahiim Sifat Nafsiyah ialah sifat yang hanya dimiliki oleh Allah yaitu wujud artinya Allah SWT wajib ada dan hanya Allah SWT yang meciptakan langit dan seisinya. b. Ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat Salbiyah (Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lil hawadisi, Qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyah) Sifat Qidam (QS. Al Hadid : 3)

Huwal awwalu wal akhiru wad dzhoohiru wal baathinu wahuwa bikulli syain ‘aliim

-

Sifat Baqa’ (QS. Ar Rahmaan : 26 – 27)

Kulluman alaiha faan - Wayabqo wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam Mukhalafatu lil hawadisi (QS. ASy Syuura : 11)

Laisa kamislihi syai’un – wahuwas sami’ul basyiir Sifat Qiyamuhu binafsihi (QS. Ali Imran : 2)

Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum Sifat Wahdaniyah (QS. Al Ikhlas : 1 – 4)

Qul huwallahu Ahaad (1) Allahus Shomad (2) Lam yalid walam yuulad (3) Walam yaqullahu kufuwan ahad (4) Sifat Salbiyah ialah sifat yang membedakan Allah SWT dengan makhluk yang lainnya, yaitu Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lil hawadisi, Qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyah.

c. Ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat Ma’ani (Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, sama’, Bashar, dan Kalam). Sifat Qudrat (QS. Al Baqarah : 20)

Innallaha ‘alaa kulli syain qodiir

-

Sifat Iradat (QS. Yasin: 82)

Innamaa amruhuu idzaa arooda syai’an – ayyaquula lahu kun fayakuun Sifat Ilmu (QS. Al Isra’ : 85)

Wamaa uutiitum minal’ilmi illaa qoliilaa Sifat Hayat (QS. Al Baqarah : 255)

Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum lata’huduhu sinatuw walaa nauum Sifat Sama’ (QS. Al Maidah : 76)

Wallahu huwas sami’ul ‘aliim Sifat Bashar (QS. Al Muluk : 19)

Innahu bikulli sayin basyiir. Sifat Kalam (Qs. An Nisa’ : 164)

Wakallamallahu musaa takliimaa Sifat Ma’ani ialah sifat Allah yang dimiliki Allah SWT juga dimiliki oleh makhluk yang lainnya yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, sama’, Bashar, dan Kalam. Untuk membantu agar dapat membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan baik dan benar, lakukan beberapa langkah berikut : 1. Bentuklah kelompok membaca ! 2. Pilihlah teman yang bias membimbing membaca Al Qur’an 3. Bacalah Q.S pilihan dari modul yang ada secara bergantian ! 4. Perhatikan secara seksama ayat demi ayat akan ketentuan makhraj dan tajwidnya !

Keterangan Bacaan : a. Hukum bacaannya Idgham Mutamassilain adalah dua huruf yang sama makhrajnya bertemu yang pertama huruf mati yang kedua huruf hidup, maka harus dilebur. Hukum bacaannya Iqlab artinya membalik atau menukar. Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf (‫ ) ب‬maka cara membacanya bunyi nun mati atau tanwin berubah menjadi huruf mim. c. Hukum bacanya Idghom Bigunnah artinya memasukkan/melebur dengan dengung apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf idgham bigunnah yiatu (

b.

‫) ي، م، ن، و‬

Kegiatan 2 : Mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah 1. Standar Kompetensi Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-sifatNya. 2. Kompetensi Dasar Menyebutkan arti ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Menerjemahkan ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Nafsiyah (wujud) - Menerjemahkan ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Salbiyah (Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lil hawadisi, Qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyah) - Menerjemahkan ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Ma’ani (Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, sama’, Bashar, dan Kalam). 4. Materi Pokok Iman kepada Allah 5. Uraian Materi Terjemahan ayat-ayat pilihan yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. a. Allah memiliki sifat Nafsiyah (Wujud) QS. Al Baqarah : 163 Waa ilahukum ilahu wahidu laailaahu warahmaanurrahiim “Dan Tuhan mu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

-

Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut : = = = = Dan Tuhan mu Adalah Tuhan Yang Maha Esa Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

b. Allah memiliki sifat Salbiyah Sifat Qidam (QS. Al Hadid : 3) Huwal awwalu wal akhiru wad dhoohiru wal baathinu wahuwa bikulli syain ‘aliim “Dialah yang awal dan yang akhir yang Zahir dan yang Batin dan dia Maha Mengetahui segala sesuatu” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = = = Dialah yang awal dan yang akhir Yang zahir dan yang bathin Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu

Sifat Baqa’ (QS. Ar Rahmaan : 26 – 27) Kulluman alaiha faan - Wayabqo wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam “Semua yang ada dibumi itu akan binasa, dan tetap kekal Dzat Tuhan mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”

-

Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = = = = Semua yang ada di bumi Semua itu akan binasa Dan tetap kekal Dzat Tuhan mu Yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan

-

Sifat Mukhalafatu lil hawadisi (QS. ASy Syuura : 11) Laisa kamislihi syai’un – wahuwas sami’ul basyiir

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha melihat” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Tidak ada yang serupa dengan Dia = Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat Sifat Qiyamuhu binafsihi (QS. Ali Imran : 2) Allahu laa ilaaha illaa huwal haiyul qoyyuum “Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Allah = Tidak ada Tuhan melainkan Dia = Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri Sifat Wahdaniyah (QS. Al Ikhlas : 1 – 4) Qul huwallahu Ahaad (1) Allahus Shomad (2) Lam yalid walam yuulad (3) Walam yaqullahu kufuwan ahad (4) “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang maha Esa. Allah adalah tempat meminta Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Katakanlah: Dialah Allah Yang maha Esa = Allah adalah tempat meminta = Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakan = Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan dia c. Allah memiliki sifat Ma’ani (Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, sama’, Bashar, dan Kalam). Sifat Qudrat (QS. Al Baqarah : 20) Innallaha ‘alaa kulli syain qodiir “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini :

= Sesungguhnya Allah = Atas segala sesuatu = Berkuasa Sifat Iradat (QS. Yasin: 82) Innamaa amruhuu idzaa arooda syai’an – ayyaquulalahu kun fayakuun “Sesungguhnya keadaanNya apabila Dia menghendaki sesautu hanyalah berkata kepada-Nya, “Jadilah” maka terjadilah ia” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Sesungguhnya keadaan-Nya = Apabila Dia menghendaki sesuatu = Hanyalah berkata kepada-Nya = “Jadilah!” maka terjadilah ia Sifat Ilmu (QS. Al Isra’ : 85) Wamaa uutiitumminal’ilmi illaa qoliilaa “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Dan tidaklah kau diberikan = Akan ilmu pengetahuan = Melainkan sedikit Sifat Hayat (QS. Al Baqarah : 255) Allahu laailaaha illa huwal hayyul qoyyum lata’huduhu sinatuw walaa nauum “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengusus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur”

-

Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Allah

= Tidak ada Tuhan melainkan Dia = Dia yang hidup kekal = Tidak ada bagi-Nya = Mengantuk dan tidak tidur Sifat Sama’ (QS. Al Maidah : 76) Wallahu huwas sami’ul ‘aliim “Dan Allah lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Dan Allah lah = Yang Maha Mendengar = Yang Maha Mengetahui Sifat Bashar (QS. Al Muluk : 19) Innahu bikulli sayin basyiir. “Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Sesungguhnya Allah = Atas segala sesuatu = Maha Melihat Sifat Kalam (Qs. An Nisa’ : 164) Wakallamallahu musaa takliimaa “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini : = Dan Allah telah berbicara = Kepada Musa = Dengan bicara langsung Rangkuman :

-

Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang sifat Nafsiyah Allah terdapat dalam surat Al Baqarah : 163 Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang sifat Salbiyah Allah terdapat dalam surat Al Hadid : 3, Al Ikhlas : 14 Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang sifat Ma’ani Allah terdapat dalam surat Ali Imran : 26, Yasin : 82, Al Isra’ : 8, Al Baqarah : 255, Al Maidah : 76, At Thulk : 14, An Nisa’ : 164.

Latihan : Isilah tabel berikut ini dengan isian yang cocok, antara kutipan ayat-ayat dengan terjemahannya.
No 1 2 3 4 5 Potongan Ayat Isian Yang Benar No. : No. : No. : No. : No. : Terjemahan 1. Tidak ada Tuhan melainkan Allah 2. Atas segala sesuatu 3. Maha Mendengar lagi maha Melihat 4. Apabila Dia menghendaki sesuatu 5. Yang hidup kekal lagi berdiri sendiri

Kegiatan 3 : Iman kepada Allah dan Sifat-sifat Allah SWT 1. Standar Kompetensi Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-sifat-Nya. 2. Kompetensi Dasar Siswa menunjukkan tanda-tanda adanya Allah SWT 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Menjelaskan pengertian iman kepada Allah - Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam semesta. - Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui ciptaan-ciptaanNya - Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui dalil Naqli. 4. Materi Pokok Iman kepada Allah 5. Uraian Materi

Sebelum mempelajari Modul ini, tentunya kamu ingat pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD/MI Tentang Iman Kepada Allah. Apakah kamu ingat tentu masih ingat bukan? a. Pengertian Iman kepada Allah SWT Pengertian iman menurut bahasa artinya percaya. Sedangkan menurut istilah artinya mempercayai adanya Allah SWT dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan dan diikuti dengan amal perbuatan. Kita wajib beriman kepada Allah SWT, sebagai zat yang Maha Pencipta Alam Semesta, yang memiliki sifat-sifat kesempurnaanya. Zat yang memiliki kesempurnaan inilah yang harus diikuti segala perintah-Nya dan menjauhi laranganNya. Karena Dia-lah sebagai Tuhan yang wajib disembah oleh semua makhluknya. Sifat-sifat Allah SWT Untuk lebih menyakinkan iman kita kepada Allah Allah SWT, maka kamu harus mengetahui sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah SWT, antara lain : 1. Sifat wajib bagi Allah artinya sifat yang pasti dimiliki oleh Allah, jumlahnya ada 13 (tiga belas) 2. Sifat mustahil bagi Allah SWT, artinya sifat yang pasti tidak dimiliki oleh Allah, jumlahnya ada 13 (tiga be;as) 3. Sifat Jaiz bagi Allah artinya sifat yang mungkin dimiliki dan boleh tidak dimiliki oleh Allah SWT. Jumlahnya ada 1 (satu) Nah, sekarang perhatikan skema berikut dengan baik dan hafalkan : Sifat-sifat Allah
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. WAJIB Wujud Qidam Baqo’ Mukholafatu Lilhawaditsi Qiyamuhu Binafsihi Wahdaniyah Qudrat Irodat Ilmu Hayat Sama’ Bashar Kalam 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. MUSTAHIL Adam Huduts Fana Mumasalatu Lihawaditsi Ihtiyaju Lighoirihi Ta’addud Ajzum Karahun Jahlun Mautun Shummun Umyun Bukmun JAIZ Fi’lu kuli syaiin au tarkuhu

b. Tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam semesta tertulis dalam Qur’an surat Yunus ayat 5.

Al-

Artinya :

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya (memantulkan cahaya) dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu), Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak”.

Jelas bukan, bahwa fenomena alam semesta ini bukti bahwa Allah itu ada dan yang menciptakan semuanya. Keberadaan alam semesta beserta isinya, telah mengisyaratkan kepada manusia bahwa penciptanya pasti ada, ketentuan alam semesta ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, tetapi diatur dan ditata indah oleh sang maha pengasih yaitu Allah SWT. Beriman dan beramal saleh, melaksanakan semua perintah-Nya dan penjauhi semua laranganNya, berbudi pekerti yang mulia adalah bukti bahwa seseorang itu telah mengakui keberadaan Allah SWT. Banyak orang yang mengakui percaya dengan adanya Allah, tetapi mereka tidak melaksanakan perintah dan tidak menjauhi larangan-Nya. Bagaimana menurut pendapatmu? c. Tanda-tanda adanya Allah melalui ciptaan-ciptaannya bisa kita lihat di sekitar kita. Mungkin di sekitar rumahmu banyak terdapat pepohonan, gunung yang menjulang tinggi, sawah, ladang yang menghambar luas, binatang seperti : sapi, kambing, dan lain-lainnya. semuanya itu menunjukkan kebenaran Allah SWT dan tak terhitung, semua ciptaan Nya. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim harus beriman kepada Allah, dengan sifat-sifat yang dimiliki Nya. Nah sekarang kamu pelajari sifat-sifat wajib bagi Allah. Tanda-tanda Allah melalui sifat-sifatNya dapat dibuktikan dengan dalil Aqli (secara akal) dan Naqli (secara tertulis) dalam firman Allah. 1) Wujud artinya Ada Allah tidak mungkin Adam, artinya : tidak ada Bukti secara akal : jika kamu perhatikan semua yang ada di alam ini, mulai dari yang kecil sebagai sampai yang besar, semua itu tentu ada yang membuat. Contoh : adanya kursi tentu ada yangmembuat, yaitu tukang kayu, begitu juga matahari, bulan, dan adanya alam semesta ini tentu ada yangmembuatnya, yaitu Allah SWT.

Dengan demikian Allah SWT itu ada, mustahil tidakada. Sedangkan bukti secara dalil naqli, coba kamu baca Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat : 62 atau kamu baca, dengan kelompokmu.

....
Artinya : ………… Dan tidak ada Tuhan selain Allah (Q.S. Ali-Imran 62) Dari ayat di atas jelaslah bahwa kita hendaknya meyakini bahwa Allah SWT ini ada. 2) Qidam artinya : terdahulu Allah tidak mungkin Hudus, artinya : Baru Bukti secara akal : setelah kamu mempercayai bahwa segala sesuatu itu pasti ada yang mencipta, tentunya yang mencipta pasti lebih dahulu dari yang diciptakan. Contoh : mungkin kamu masih ingat contoh tentang meja, bahwa meja dibuat tukang kayu. Sebelum meja ada, maka tukang kayu (yang membuat) lebih dahulu ada. Begitu pula yang mencipta alam ini yaitu Allah SWT, pasti adanya lebih dahulu daripada Alam yang diciptakan-Nya. Bagaimana menurut pendapatmu, tentunya setuju bukan? Sesuai dengan ayat, cobalah baca Al-Qur’an Surat Al-Hadid ayat 3 atau kamu baca dengan kelompokmu yang berbunyi:

Artinya : Dialah yang awal dan yang akhir, yang zhahir dan yang bathin. Dia mengetahui segala sesuatu (Q.S. Al-Hadid : 3) Dari ayat di atas dijelaskan bahwa Allah itu adalah zat yang awal (dahulu) dan yang akhir, maksudnya Allah itu yang paling awal dan yang paling akhir. 3) Baqa’ artinya : Kekal Allah tidak mungkin Fana’ artinya : rusak Bukti secara akal : setelah kamu mempercayai bahwa alam semesta ini ciptaan Allah SWT, maka kamu harus percaya juga bahwa alam semesta atau setiap makhluk pasti akan rusak/musnah atau Fana. Nah, sekarang seandainya Allah SWT itu rusak, maka terhentilah pengaturan alam padahal alam semesta ini harus diatur sampai alam akhirat. Untuk itu Allah itu kekal dan tidak mungkin Allah itu akan rusak. Sedangkan bukti secara dalil naqli, cobalah baca Al-Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 26-27 atau kamu baca dengan kelompokmu, yang berbunyi :

Artinya : Semua yang di bumi akan musnah dan akan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempumyai kebesaran dam kemuliaan (Q.S. Ar-Rahman 26-27) Dari ayat di atas jelaslah bahwa setiap orang (makhluk) akan rusak dan musnah sedangkan zat Allah akan tetap kekal, hidup selama-lamanya. 4) Mukhalafatu Lil Hawaditsi, Artinya : Berbeda dengan Makhluk Allah tidak mungkin Mumatsalatu lil hawaditsi, artinya : Allah tidak mungkin sama dengan makhluk-Nya. Bukti secara akal, kamu telah mempercayai bahwa Pencipta Allam ini adalah Allah, dan jika diperhatikan keadaan di alam ini, setiap sesuatu ada yang menciptakan. Contoh : Boneka dibuat oleh manusia, dibuat sedemikian rupa mirip dengan manusia. Namun selamanya tidak akan menyerupai apalagi sama dengan manusia, walaupun wujudnya mungkin dapat sama tetapi sifatnya tidak sama dengan penciptanya. Begitu pula alam yang diciptakan oleh Allah itu, tidak akan sama dengan Penciptaannya. Jadi Allah SWT sebagai pencipta wajib tidak sama dengan ciptaan-Nya. Bukti secara dalil naqli, coba kamu baca Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 11, atau kamu baca dengan kelompokmu yang berbunyi :

Artinya : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. (Q.S. As-Syura : 11) Hal ini lebih dipertegas lagi dalam surat Al-Ikhlas ayat 4 yang berbunyi :

Artinya : Dan tidak ada bagi-Nya (Allah) satupun yang menyamainya. (Q.S. Al-Ikhlas : 4) Dari kedua ayat tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada satupun yang menyamai Allah SWT.

5) Qiyamuhu Binafsihi artinya : Berdiri Sendiri Tidak mungkin Allah Ihtiyaju Lighairihi, artinya : butuh atau berhajat pada yang lain. Buktinya, kamu telah mempercayai bahwa Pencipta Alam ini adalah Allah SWT. Hal ini berarti sewaktu Allah mencipta alam ini, Allah sendirian tidak ada

yang membantu. Allah tidak perlu bantuan, untuk out bagaimana menurut pendapat kamu, percaya bukan? Sebab Allah mempunyai sifat berdiri sendiri dan mustahil kalau Allah minta bantuan orang lain. Bukti secara dalil naqlinya, coba kamu baca Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 2 atau kamu baca dengan kelompokmu, yang berbunyi :

Artinya : Allah SWT tidak ada Tuhan melainkan Dia yang kekal, lagi senantiasa berdiri sendiri. (Q.S. Ali-Imran : 2). Dari ayat di atas jelas bahwa Allah SWT itu hidup kekal dan berdiri sendiri. Hal ini berarti Allah tidak butuh bantuan yang lain (ihtiyaju lighairihi). 6) Wahdaniyah artinya Esa Tidak mungkin Allah Ta’addud, artinya berbilang atau lebih dari satu. Buktinya masuk akal, jika kamu perhatikan pemimpin suatu sekolah (Kepala Sekolah), Kepala Negara, dan Sopir hanya satu. Mengapa demikian? Jika kepala Sekolah, Kepala negara dan Sopir lebih dari satu orang, tidak mungkin sekolah, negara dan kendaraan dapat dikendalikan dengan baik. Mungkin karena kehendaknya berbeda-beda, sama-sama kuasa, dan lain-lain. Apa yang terjadi, maka pemimpin/pimpinannya akan menjadi kacau. Begitu pula pengendali alam ini (Allah) harus hanya satu, jika tidak maka alam ini akan kacau/rusak. Untuk itulah Allah mempunyai sifat Esa dan mustahil Allah lebih dari satu. Dalil naqlinya, coba kamu baca Al-Qur’an surat AlIkhlas ayat 1-4 atau bacalah dengan kelompokmu, yang berbunyi :

Artinya : ”Katakanlah Dia-lah Allah yang Maha Esa Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Q.S. Al-Ikhlas: 1-4) Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah SWT itu hanya satu. Tidak ada satupun yang menyamai-Nya, jika ada tuhan lebih dari satu, tentu langit dan bumi akan hancur. 7) Qudrat artinya : Kuasa

Tidak mungkin Allah Ajzun, artinya : lemah Bukti secara akal jika kita perhatikan, segala sesuatu tentu ada perciptanya. Yang membuat, tentu dapat membuat sesuatu yang dibuat. Jika ia tidak dapat berbuat, pasti yang dibuat itu tidak akan jadi. Contoh pembuat kursi, tentu dapat membuat kursi, pembuat radio tentu dapat membuat radio, dan lain-lain. Begitu juga Allah SWT adalah pencipta dan pengatur alam, maka Allah pasti kuasa membuat dan mengatur alam. Karena alam ini ada yang mengatur dengan baik. Maka Allah bersifat Qudrat dan mustahil bila Allah itu lemah. Sedangkan bukti dalil naqli, coba kamu baca AlQur’an surat Al-Baqarah ayat : 20 atau bacalah dengan kelompokmu, yang berbunyi :

Artinya : Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah itu berkuasa atas segala sesuatu Kekuasaan Allah SWT tidak terbatas hanya mencipta dan mengatur saja, tetapi sampai pada memelihara, merusak dan membinasakan kekuasaan manusia. 8) Irodah artinya : Berkehendak Bukti secara akal jika kkamu perhatikan bahwa manusia melakukan sesuatu tentu berkehendak. Contoh ; Kamu belajar, tentu dengan kehendak agar menjadi pandai, begitu juga Allah mencipta alam tentu diiringi dengan kehendak-kehendak Allah itu mutlak artinya tidak dapat dipengaruhi oleh orang lain. Jadi Allah itu atas kehendakNya sendiri, tanpa mendapat perintah dari yang lain dan tidak dapat dihalangi oleh siapapun. Sedangkan dalil naqlinya kamu dapat membaca Al-Qur;an surat yasin ayat 82.

Artinya : “Sesungguhnya jika Dia (Allah) menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya “jadilah” maka lantas jadi”. (Q.S. Yasin 82) Dari ayat di atas jelaslah bahwa jika Allah SWT, menghendaki sesuatu hanya berkata “jadilah” dan langsung jadi apa yang dikehendaki-Nya. 9) Ilmu artinya Mengetahui Tidak mungkin Allah Jahlun, artinya Bodoh Bukti secara akal jika ada seseorang yang ingin mengendarai sepeda motor, tetapi ia tidak mengetahui cara menghidupkan mesin, cara mengganti perseneling dan cara mengerem, orang tersebut pasti tidak dapat melaksanakan

kehendaknya. Kehendak itu terlaksana, apabila orang tadi mengetahui segala hal yang ada hubungannya dengan yang dikehendakinya. Allah SWT mencipta dan mengatur alam, kenyataannya alam ini jadi teratur dengan baik, maka jelaslah bahwa Allah bersifat mengetahui dan Allah mustahil Bodoh. Dalil naqlinya, coba kamu baca Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 18, atau kamu baca dengan kelompokmu yang berbunyi. :

Artinya : Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al_hujurat 18). Dari ayat di atas dijelaskan bahwa Allah SWT itu mengetahui yang ada di dada (hati) yang di langit dan yang di bumi. Jadi Allah bersifat mengetahui. 10) Hayat artinya : Hidup Tidak mungkin Allah mautun, artinya mati. Bukti secara akal kamu dapat berbuat dan dapat mengetahui sesuatu apabila kamu hidup. Jika kamu mati, maka sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk itu, Allah selalu dapat mencipta dan mengetahui segalanya, maka Allah bersifat hidup. Jika Allah yang mengatur alam ini mati, maka alam ini tidak teratur. Dalil naqlinya, coba kamu baca AlQur’an surat Al-Baqarah ayat 255 atau kamu baca dengan kelompokmu yang berbunyi:

Artinya : “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal”. (Q.S. Al Baqarah 255). Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah SWT, itu hidup kekal dan tetap mengurus alam semesta (mengatur alam). 11) Sama’ artinya : mendengar Tidak mungkin Alah Shumun, artinya Tuli. Buktinya secara akal manusia adalah ciptaan Allah SWT, ermasuk kita pada umumnya kita dapat mendengar, karena Allah itu pencipta dan lebih sempurna dari pada kita, maka Allah telah sempurna dari pada manusia. Jadi Allah bersifat mendengar, mustahil Allah itu tuli. Dalil naqlinya, coba kamu baca Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 76 atau kamu bisa baca dengan kelompokmu, yang berbunyi:

Artinya : “Katakan mengapa kamu menyembah selain daripada Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak memberi manfaat? Dan Allah lah Yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui”. (Q.S. Al-Maidah 76) 12) Bashar artinya : Melihat Tidak mungkin Allah Umyun, artinya Buta Bukti secara Akal manusia ciptaan Allah SWT seperti kita, dapat melihat karena Allah itu pencipta dan lebih sempurna dari manusia, maa Allah lebih melihat, jadi Allah bersifat melihat dan mustahil bersifat buta. Contoh : Dimana pun kita berbuat jahat, Allah pasti dapat melihatnya, dalil naqlinya coba kamu baca Al-Qur’an surat al-Mulk ayat 19 atau kamu baca dengan kelompok yang berbunyi :

Artinya : ”Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan menyatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu” (Q.S. Al-Mulk: 19) Dari ayat di atas jelaslah, bahwa Allah SWT selalu melihat segala sesuatu yang kita perbuat 13) Kalam artinya : Berfirman Allah tidak mungkin Bukmun, artinya Bisu Bukti secara akal manusia adalah ciptaan Allah, seperti kita, dapat berbicara karena Allah itu Pencipta, dan lebih sempurna dari kita, maka Allah lebih dapat berbicara, jadi Allah bersifat berfirman atau berkata-kata dan mustahil bersifat bisu. Contoh : Bukti bahwa Allah berfirman atau berkata-kata adalah firman-firman Allah yang terdapat dalam kitab suci seperti di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 164, atau kamu baca dengan kelompokmu yang berbunyi :

Artinya : “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Q.S. An-Nisa 164).

Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah SWT langsung berbicara dengan Nabi Musa As. Setelah kamu mempelajari sifat-sifat Allah secara panjang lebar dengan bukti-bukti yang dapat direnungkan dengan akal akliyah, cobalah sekarang diulang kembali sifat-sifat itu agar kamu dapat lebih memahaminya sampai kamu hafal. Dengan cara belajar demikian akan menghasilkan daya nalar yang lebih baik. Semoga berhasil. Rangkuman : Allah SWT wajib memiliki sifat kesempurnaan dan mustahil memiliki kelemahannya. Semua sifat Allah tak terbatas, sedangkan sifat makhluk terbatas. Iman yang ada pada kita perlu dikembangkan, dipelihara, dijaga dan disempurnakan jangan sampai rusak. Kegiatan 4 : Iman kepada Allah dan Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 1. Standar Kompetensi Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-sifatNya. 2. Kompetensi Dasar Menampilkan perilaku sebagai cermin keyakinan akan sifat-sifat Allah SWT 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Menyerahkan diri kepada Allah dengan cara bertaubat - Belajar giat untuk mendapatkan nikmat dan karunia - Berbuat baik terhadap sesamanya dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi 4. Materi Pokok Iman kepada Allah 5. Uraian Materi Pembahasan terakhir tentang keimanan kepada Allah dalam modul ini adalah bagaimana menampilkan perilaku sebagai cermin keyakinan akan sifat-sifat Allah. a. Menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan cara bertawakal. Pengertian tawakal secara bahasa, tawakal artinya menyerahkan dan menyadarkan. Sedangkan secara pengertiannya tawakal adalah membebani diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan segala keputusanNya baik tentang urusan dunia dan akhirat. Kata lain dari Islam yang berarti percaya dan mengenal, merupakan dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Tidak cukup hanya percaya saja namun tidak menyerah (Islam). Menyerah juga tidak sempurna jika tidak disertai percaya dengan yakin (Iman), tanda percaya kepada Allah dengan tunduk dan patuh kepada seluruh

perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, fungsi iman diantaranya sebagai berikut : 1) Memperoleh ketenangan dan ketentraman karena apa yang telah diprolehnya adalah kehendak Allah semata.

...
Artinya : “…..Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS. Al Baqarah : 20). 2) Tidak terperdaya oleh keindahan dunia. Orang yang bertawakal memurnikan ketaatannya kepada Allah. Dunia bukanlah tujuan hidupnya karena kehidupan Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan bersifat abadi.

Artinya: “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. (QS. Mumtahanah : 4) 3) Mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang bertawakal tentunya bergantung kepada Allah dengan sungguh-sungguh dalam meraih kebaikan dan mencegah kemungkaran, tanpa dibekali iman, seseorang akan berada dalam kerugian. Sebagaimana fiman Allah SWT berikut ini.

Artinya : “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Asr: 1-3) b. Belajar giat untuk mendapatkan nikmat dan karunia Allah Ahli Hikmah berkata: Belajar dengan giat adalah awal dari seseorang yang ingin maju dan sukses dalam hidupnya terutama dalam keberhasilan studi (Belajar) nya. Cirinya dengan tekun membaca, menghafal berlatih, mencoba dan menganalisis suatu ilmu pengetahuan. Orang yang berilmu akan memperoleh nikmat yang baik dan derajat yang tinggi. Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS, Mujadalah: 11). Sesungguhnya yang di dalam kehidupannya sellau giat didalam mencari ilmu dengan iman kepada Allah akan diberikan karunia oleh Allah kenikmatan berupa derajat yang tinggi dihadapan Allah dan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Sehingga menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. c. Berbuat baik terhadap sesama dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Ikatan persaudaraan di dalam Islam lebih popular disebut Ukhuwah Islamiyah, menjaga keharmonisan dengan sesame, merupakan tujuan orang-orang beriman sebagai rohmatan lil alamiin, membentuk ketenangan dan ketentraman antara sesama. Allah SWT berfirman :

Artinya : Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapata rahmat. (QS. Al-Hujarat : 10) Agar tetap dalam kerukunan, kedamaian dan kebersamaan antar sesame manusia khususnya orang-orang mukmin, maka Allah perintahkan agar senantiasa berpegang teguh kepada tali (agama) Allah. Ajaran agama Islam tentang tolong menolong, membantu terhadap orang yang membutuhkan dan saling menghargai merupakan cermin dari orang-orang yang beriman kepada Allah. Cobalah kamu amalkan dengan demikian akan mendapatkan hasil yang maksimal. Rangkuman : Bertawakalah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan mencari ridho serta giat dalam belajar agama mendapatkan nikmat dan derajat yang tinggi dari Allah, serta selalu menjaga Ukhuwah Islamiyah antara umat Islam dan yang hanya merupakan cermin sikap orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.

C. PENUTUP Tidak ada yang sulit jika kita mau berusaha dan kerja keras. Sebaliknya perkara yang dianggap mudah akan menjadi sulit jika diadukan dan disembronokan. Jika kamu yakin dengan kemampuanmu menguasai modul tentang surat Al-Aadiyat ini. Mintalah tes akhir modul kepada guru pamong atau guru bina untuk membuktikan keberhasilanmu. Ingat nilai yang harus kamu raih adalah 6,5 sebagai syarat untuk melanjutkan ke modul selanjutnya. Tetap semangat, yakin dan percaya diri.

ISL.VII.1.2.03

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 2 4 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi Penyelaras : Drs. H. Murhanuddin, MM H. M. Sholeh M.Yunus : Moh.Sofyan S.Ag : Abdul Rozak S.Ag

MEMAHAMI ASMAUL HUSNA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN Selamat, karena kamu telah berhasil mempelajari modul yang lalu. Selanjutnya kamu akan mempelajari modul yang membahas tentang 10 Asma’ul Husna kegiatannya adalah : 1. Membaca dan mengartikan ayat-ayat yang berkaitan dengan 10 Asma’ul husna 2. Mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul husna Bacalah buku lain untuk menambah wawasan dan pengetahuanmu tentang Asma’ul Husna Selamat belajar dan mulailah dengan berdoa.

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Sepuluh Asma’ul Husna “As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur” 1. Standar Kompetensi Memahami Asma’ul Husna 2. Kompetensi Dasar Siswa mampu menyebutkan arti ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan 10 Asma’ul husna. 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah selesai mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan 10 Asma’ul Husna (AsSalam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, AlQoyyum, Al-Hadi, As-Sabur) - Menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan 10 Asma’ul Husna (AsSalam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, AlQoyyum, Al-Hadi, As-Sabur) 4. Materi Pokok 10 Asma’ul Husna : As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur 5. Uraian Materi

Salah satu bentuk kekuasaan Allah SWT, menciptakan langit dan bumi serta segala isinya

Pada kegiatan 1 ini, kamu mempelajari tentang sifat Allah, sekarang kamu akan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan 10 Asma’ul Husna (As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur).

-

Asma’ul Husna begitulah selalu nama-nama yang baik dan indah yang dimiliki oleh Allah SWT dan sudah tidak asing lagi dikenal dikalangan umat Islam di dunia, khususnya di kalangan umat Islam Indonesia. Karena Asma’ul Husna selalu diperkenalkan oleh para ulama kepada Jama’ahnya sebagai do’a dan amalan sehari-hari, sedangkan Asma’ul Husna itu sendiri pun terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW serta do’a-do’a Nabi SAW selalu dihiasai nama-nama itu untuk memuji kepada Allah.

Sebagai Bukti Kekuasaan Allah, menciptakan keindahan dunia

a. Membaca Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan 10 Asma’ul Husna: 1. As-Salam (QS. Al Hasyr : 23)

“Huwaallahul ladzii laa ilaaha illa huwal malikul quddus salaamul azizil jabbar mutakabbir subhanallahi ‘amma yusrikun” 2. Al-Aziz (QS. Al-Jumu’ah : 1)

“Yusabbihu lillahi maafissamawaati wamaa fil ardhi almalikul kuddusil ‘azizil hakiim”

3. Al-Khaliq (QS. Al-hasyr : 24)

“Huwallahu khaliqul baariul mushowwiru lahul asmaaul husnaa……” 4. Al-Ghaffar (QS. As-Shad : 66)

“Robbissamawaati wal ardhi wamaa bainahumal ‘azizil ghoffaar”. 5. Al-Wahhab (QS. Ali-Imran : 8)

“Rabbanala tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wahablana miladunka rahmata innaka angtal wahhaab”. 6. Al-Fattah (QS. A-sSaba : 26)

f h‫ي‬j َ h‫ ال‬f ‫ا‬o َ h‫ َ ال‬f َ t َ ‫ل‬h‫ا‬j ‫ َ َا‬h‫ َي‬f َ h‫ َف‬o f ‫ َ َا َ | َا‬h‫ َي‬f َ h‫ َج‬h‫ل‬f ‫ق ي مع ب نن ربن ثم ي تح ب نن ب حق وهو فت ح عل م‬
“Qul yajmau baynana rabbunaa tsumma yaftahu baynana bilhaqqi wahuwwal fathaahul ‘aliim”. 7. Al-Adl (QS. Fussilat : 46)

‫م‬o َ j َ‫ َا َ َا ر |ك‬h‫ َ َآ َ َ َ َي‬h‫ َ َن‬j ‫س‬h‫ َف‬j َ ‫ا‬Ž j ‫لَ َا‬j َ h‫َن‬ ‫ه وم اس ء فعل ه وم َب بظل‬j ‫م عم ص لح فلن‬ ‫د‬h‫ي‬j َ h‫ل‬j ‫ل عب‬
“Man amila sholihan palinafsihi waman saa’a fa’alaihaa wamaa rabbuka lidhollaamin lil ‘abiid”. 8. Al-Qoyyum (QS. Ali-Imran : 2)

“Allahu laailaaha illahuwal hayyul qoyyuum” 9. Al-Hadi (QS. Al-Qoshash : 56)

‫ َم‬h‫ َ َع‬f َ f ‫ش‬o h‫ى َن‬j h‫ ا َ َه‬o j ‫ َ َل‬h‫ َب‬h‫ َح‬h‫ى َن‬j h‫كَ َ َه‬o j ‫ان ل ت د م ا ب ت و كن ل ي د م ي َآء وهو ا ل‬ ‫ن‬h‫ي‬j َ h‫ه‬f h‫ال‬j ‫ب م تد‬
“Innaka laa tahdi man ahbabta walakin nallaha yahdii manyasaa”.

10. As-Sabur (QS. Al-Anfal : 46)

‫م‬f َ h‫ي‬j َ ‫ه‬h‫ا َتذ‬h‫و‬fَ h‫ا َ َغ‬h‫و‬f ‫ َلَ َ َاز‬j j h‫و‬f ‫ ا َ َر‬f h‫ي‬j ََ ‫واط ع ل و َس له و تن َع فت شل و َ َب ر خك‬ ‫ن‬h‫ي‬j j ‫ا‬o ‫ ال َ َ ال‬o j ‫ا‬h‫و‬f j h‫َاص‬ ‫و بر ان َ مع ص بر‬
Waatiiullaaha warasuulihi wala tatanaza’uu fataghsyaluu watadzhabu ryhukum wasbiruu, innallaha maa’ shobiriiin” b. Menerjemahkan Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan 10 Asma’ul Husna: 1. As-Salam (QS. Al Hasyr : 23)

‫ار‬o َ h‫ز ال‬h‫ي‬j َ h‫ ال‬f َ o ‫ ال‬f h‫دو‬Ž h‫ ال‬f j َ h‫ َ ال‬f o j َ‫ َه‬j‫ى ل‬j o‫ ا‬f ‫ َ ا‬f ‫ جب‬f ‫ | س سلم عز‬f ‫هو ل لذ ال ال هو ملك‬ ‫ق‬ ‫ن‬h‫و‬f j h‫ش‬f ‫ا‬o َ ‫ َا َ ال‬h‫ب‬f f t َ َ f h‫ال‬ ‫ عم ي رك‬j ‫متكبر س ح ن‬
“Huwaallahul ladzii laa ilaaha illa huwal malikul quddus salaamul azizil jabbar mutakabbir subhanallahi ‘amma yusrikun” “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci. Yang Maha Sejahtera, Yang mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah, dari apa yang mereka persekutukan” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫ى‬j o‫وَ ال ا‬f ‫ لذ‬f ‫ه‬ ‫ا ه ال هو‬ َ f o j َ ‫ل‬j‫ل‬ ‫ملك قد س‬ f h‫ |و‬f h‫ ال‬f j َ h‫ال‬ ‫ز‬h‫ي‬j َ h‫ ال‬f َ o ‫ال‬ f ‫سلم عز‬ ‫جب ر متكبر‬ f t َ َ f h‫ ال‬f ‫ا‬o َ h‫ال‬ ‫سحن ل‬ f ‫ َا َ ا‬h‫ب‬f َ‫ن‬h‫كو‬j h‫ش‬f ‫ا‬o َ f ‫عم ي ر‬

= Dialah Allah = Tiada Tuhan selain Dia = Raja Yang Maha Suci, = Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, = Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan = Maha Suci Allah = dari apa yang mereka persekutukan

2. Al-Aziz (QS. Al-Jumu’ah : 1)

‫س‬h‫ |و‬f h‫ ال‬j j َ h‫ ال‬j h‫ َر‬h‫ َ َا فى ا‬j‫ الس َا َات‬j ‫ل َا ف‬j f t َ f ‫ ل ض ملك قد‬j ‫م و وم‬o ‫ م ى‬j ‫يسبح‬ ‫م‬h‫ي‬j ‫ح‬h‫ ال‬j h‫ي‬j َ h‫ال‬ ‫عز ز َك‬
“Yusabbihu lillahi maafissamawaati wamaa fil ardhi almalikul kuddusil ‘azizil hakiim” “Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫ح لله‬t ‫يس‬ j ¨ j f ‫ َب‬f ‫م و ت‬o ‫م ى‬ j ‫ الس َا َا‬j ‫َا ف‬ ‫وم ى َ ض‬ j h‫لر‬h‫ ا‬j ‫َ َاف‬ ‫مل قد س‬ j h‫ |و‬f h‫ ال‬j‫ك‬j َ h‫ال‬ ‫عز ز حك م‬ j h‫ي‬j َ h‫ ال‬j h‫ي‬j َ h‫ال‬

= Telah bertasbih kepada Allah = apa yang ada dilangit = dan apa yang ada di bumi = Raja Yang Maha Suci, = Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

3. Al-Khaliq (QS. Al-hasyr : 24)

‫ َى‬h‫س‬f h‫ َآء ال‬h‫ َس‬h‫ ا‬f َ f t َ f h‫ ال‬f ‫ َار‬h‫ ال‬f j ‫ َا‬h‫ ال‬f ‫ َ ا‬f ‫ ح ن‬f ‫ئ مصور له ل م‬j ‫هو ل خ لق ب‬
“Huwallahu khaliqul baariul mushowwiru lahul asmaaul husnaa……” “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik.....”. Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫هو ل‬ f ‫ َا‬f ‫خ لق ب رئ‬ f j ‫ َا‬h‫ ال‬f j ‫ َا‬h‫ال‬ ‫مصورله‬ f َ f t َ f h‫ال‬ ‫ َى‬h‫س‬f h‫ ال‬f ‫ َس َآ‬h‫ا‬ ‫م ء ح ن‬h ‫ل‬

= Dialah Allah = Yang Menciptakan, Yang Mengadakan = Yang Membentuk Rupa = Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik

4. Al-Ghaffar (QS. As-Shad : 66)

‫ار‬o َ h‫ ال‬j h‫ َزي‬h‫ َا ال‬f َ h‫ض َ َا َي‬h‫ َر‬h‫ َا‬j‫ الس َا َات‬t َ j ‫ ز غف‬j ‫ وم ب نهم ع‬j ‫م و و ل‬o ‫رب‬
“Robbissamawaati wal ardhi wamaa bainahumal ‘azizil ghoffaar” “Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya. Yang Maha Perkasa Lagi Maha Pengampun”. Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫ر | سم و ت و َ ض‬ j h‫لر‬h‫ َا‬j ‫ َا َا‬o ‫َب ال‬ ‫ َا‬f َ ‫َ َا َي‬ ‫نهم‬h ‫وم ب‬ f ‫ا‬o َ h‫ال‬f ‫ي‬j َ h‫ال‬ ‫ز غف ر‬h ‫عز‬

= Tuhan langit dan bumi = dan apa yang ada diantara keduanya = Yang Maha Perkasa Lagi Maha Pengampun

5. Al-Wahhab (QS. Ali-Imran : 8)

‫ت‬h‫ َ َن‬o j َ َ h‫كَ رح‬h‫ لدن‬h‫ن‬j ‫ َ َا‬h‫ َ َا َ َب‬h‫ذ َ َي‬j َ h‫ َ َا َع‬h‫و‬ff h‫غ‬j f َ ‫ َا‬o َ ‫ َ مة انك ا‬f َ ‫ هد تن وه لن م‬h ‫ربن ل تز قل بن ب د ا‬ ‫اب‬o َ h‫ال‬ ‫وه‬
“Rabbanaa la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wahablana miladunka rahmata innaka antal wahhaab”. “Ya Allah Tuhan kami, janganlah engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi engkau, karena sesungguhnya engkaulah Maha Pemberi (karunia)”. Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫ َ َا‬h‫و‬ff h‫غ‬j f َ ‫َب َا‬ ‫ن لتز قل بن‬o ‫ر‬ ‫ت َا‬h‫ َ َي‬h‫ذ‬j َ ‫َع‬ ‫ د ا ه د َن‬h ‫ب‬ ‫وه لن م لد ك ر مة‬ Ž َ h‫ َ َح‬h‫ن‬f َ h‫ن‬j ‫ َ َا‬h‫َ َب‬ ‫انك ا ت وه ب‬ f ‫ا‬o َ h‫ َ ال‬h‫ َ َن‬o j
6. Al-Fattah (QS. As-Saba : 26)

= Ya Allah Tuhan kami, janganlah engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan = sesudah engkau memberi petunjuk kepada kami = dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi engkau = karena sesungguhnya Pemberi (karunia) engkaulah Maha

f h‫ي‬j َ h‫ ال‬f ‫ا‬o َ h‫ َ ال‬f َ t َ h‫ال‬j ‫ َ َا‬h‫ َي‬f َ h‫ َف‬o f ‫ َ َا َ | َا‬h‫ َي‬f َ h‫ َج‬h‫ل‬f ‫ق ي مع ب نن ربن ثم ي تح ب نن ب حق وهو فت ح عل م‬
“Qul yajmau baynana rabbunaa tsumma yaftahu baynana bilhaqqi wahuwwal fathaahul ‘aliim”. “Katakanlah: Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudia Dia memberi keputusan antara kita dengan benar, Dan Dia-lah Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui”. Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫ َي َ َا َ | َا‬f ‫م‬h‫ َج‬h‫ل‬f ‫نن ربن‬h ‫ق ي َع ب‬ t َ ‫ل‬h‫ا‬j ‫ن َا‬h‫ َي‬f َ h‫م َف‬f ‫ ي تح ب َن ب حق‬o ‫ث‬ ‫وهو فت ح عل م‬ f h‫ي‬j َ h‫ ال‬f ‫ا‬o َ h‫ َ ال‬f َ

= Katakanlah: Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua = kemudia Dia memberi keputusan antara kita dengan benar = Dan Dia-lah Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui

7. Al-Adl (QS. Fush shilat : 46)

‫م‬o o ‫ل‬j َ | ‫ َا َ َا ر‬h‫ َآ َ َ َلي‬h‫ َ َن‬j ‫س‬h‫ َف‬j َ ‫ا‬Ž j ‫لَ َا‬j َ h‫َن‬ ‫ه وم س ء فعَ ه وم َبك ل ضل‬j ‫م عم ص لح فلن‬ ‫د‬h‫ي‬j َ h‫ل‬j ‫ل عب‬
“Man amila sholihan palinafsihi waman saa’a fa’alaihaa wamaa rabbuka lidhollaamin lil ‘abiid”. “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hambaNya” Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫َ عمل ص لح فلن سه‬ j j h‫ َف‬j َ ‫ا‬Ž j ‫ َ َا‬j َ h‫من‬ ‫ َا‬h‫ َ َآ َ َ َ َي‬h‫َ َن‬ ‫وم اس ء فعل ه‬ ‫د‬h‫ي‬j َ h‫ل‬j - o َ j َ‫َ َا َبك‬ j ‫وم ر | بظلم ل عب‬

= Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri = dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri = dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya

8. Al-Qoyyum (QS. Ali-Imran : 2)

‫و حي قي م‬f ‫ل اله ال‬ f h‫ َ |و‬h‫ َ | ال‬h‫ ه َ ال‬o j َ َ j‫ ل‬f ‫ا‬
“Allahu laailaaha illahuwal hayyul qoyyuum” “Allah- tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri”. Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

َ‫و‬f ‫ل‬j َ ‫ل‬j‫ ل‬f ‫ا‬ ‫ه‬o‫ل اها‬ f h‫ َ |و‬h‫ َ | ال‬h‫ال‬ ‫ح ى قي م‬

= Allah- tidak ada Tuhan melainkan Dia = Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri

9. Al-Hadi (QS. Al-Qashash : 56)

‫ َم‬h‫ َع‬f ‫ َا‬f ‫ َآ‬o h‫ى َن‬j h‫ ا َ َه‬o j َ َ َ h‫ َب‬h‫ َح‬h‫ى َن‬j h‫كَ َ َه‬o j ‫ان ل ت د م ا ب ت ولكن ل ي د م يش ء و ل ا ل‬ ‫ن‬h‫ي‬j َ h‫ه‬f h‫ال‬j ‫ب م تد‬
“Innaka laa tahdi man ahbabta walakin nallaha yahdii manyasaa Wahuwaa a’alamu bil muhtadiin”. “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang kehendakinya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.

Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫ى‬j h‫ َ َ َه‬o j ‫انك ل ت د‬ ‫م ا بت‬ َ h‫ َب‬h‫ َح‬h‫َن‬ ‫ى‬j h‫ ال َه‬o j ‫َل‬ ‫و كن َ ي د‬ f ‫ َآ‬o h‫َن‬ ‫م يش ء‬ ‫وه ا لم ب م تد ن‬ َ h‫ي‬j َ h‫ه‬f h‫ال‬j f َ h‫وَ َع‬f َ
10. As-Sabur (QS. Al-Anfal : 46)

= Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk = kepada orang yang kamu kasihi = tetapi Allah memberi petunjuk = kepada orang yang kehendakinya = dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk

‫م‬f ‫ح‬h‫و‬f ‫ا‬h‫و‬f ‫ه‬h‫ا َ َذ‬h‫ َلو‬h‫ا َ َغ‬h‫و‬f ‫ َلَ َ َاز‬j j h‫و‬f ‫ا ا َ َر‬h‫و‬f h‫ي‬j ََ ‫ك‬f ‫ وت َب ر‬f‫واط ع ل و َس له و تن َع فت ش‬ ‫ن‬h‫ري‬j ‫ا‬o ‫ ا َ َ َ ال‬o j ،‫ا‬h‫و‬f j h‫َاص‬ j ‫و بر ان ل مع ص ب‬
Waatiiullaaha warasuulihi wala tanaza’uu fataghsyaluu watadzhabu ryhukum wasbiruu, innallaha maa’ shobiriiin” “Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantahbantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Perhatikan penggalan ayat/suku kata dengan artinya berikut ini:

‫واط ع َ ورس له‬ j j h‫و‬f َ َ ‫ ال‬f h‫ي‬j ََ ‫ا‬h‫و‬f َ ‫َ َ َ َا‬ ‫ول تن زع‬ h‫م‬f َ h‫ي‬j َ َ h‫ا َتذ‬h‫و‬f‫ش‬h‫َ َغ‬ ‫فت َل و َ هب ر خك‬ ‫ا‬h‫و‬f j h‫َاص‬ ‫و بر‬ َ‫ين‬j j ‫ا‬o ‫ ال َ َ ال‬o j h ‫ان َ مع ص بر‬

= Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya = dan janganlah kamu berbantah-bantahan = yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu = dan bersabarlah = Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar

Untuk membantu agar dapat membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar, lakukan beberapa langkah berikut : 1. Bentuklah kelompok membaca ! 2. Bacalah surat-surat pilihan dan modul yang ada secara bergantian ! 3. Perhatikan secara seksama ayat demi ayat akan ketentuan makhraj dan tajwidnya.

Keterangan bacaan : a.

َ‫نك‬f َ h‫من‬ h ‫ لد‬j ‫ت‬h‫ َب‬h‫ َح‬h‫من‬ َ ‫َ ا ب‬ ‫ش ء‬o َ f ‫ ي َآ‬h‫من‬

= Hukum bacaannya idghan bilagunnah artinya memasukkan/melebur tanpa berdengung. Hal ini terjadi manakala nun mati/tanwin bertemu dengan huruf idgham bilagunnah dan dibaca tanpa dengung. = Hukum bacaan idzhar artinya dibaca jelas dan pendek tanpa berdengung apabila nun mati bertemu dengan huruf : = Hukum bacaan idgham bigunnah artinya memasukkan/melebur dengan dengung. Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf idgham yaitu : maka wajib dibaca dengan berdengung (bigunnah)

b.

c.

Kegiatan 2 : Sepuluh Asma’ul Husna “As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur” 1. Standar Kompetensi Memahami Asma’ul Husna 2. Kompetensi Dasar Siswa mampu mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul husna (As-Salam, Al-Aziz, AlKhaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur). 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah selesai mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Menjelaskan pengertian Asma’ul husna - Mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul husna (As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, AlGhaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur) di lingkungan keluarga - Mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul husna (As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, AlGhaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur) di lingkungan sekolah - Mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul husna (As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, AlGhaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur) di lingkungan masyarakat 4. Materi Pokok 10 Asma’ul Husna : As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur 5. Uraian Materi Setelah kamu mempelajari kegiatan 1, sekarang kamu lanjutkan dengan kegiatan 2, semoga kamu dapat nilai yang terbaik dan memahami materi kegiatan 2 ini Pada kegiatan 1, kamu mempelajari cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan 10 Asma’ul Husna, sekarang kamu akan mempelajari pengertian 10 Asma’ul

husna (As-Salam, Al-Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur). a. Pengertian Asma’ul Husna Asma’ul Husna ialah nama-nama Allah SWT yangbaik dan agung. Jika kamu membaca dan menyebut Asma’ul Husna untuk berdzikir kepada Allah maka akan mendapat pahala. Coba kamu baca Hadits Rasulullah SAW atau kamu baca dengan kelompokmu yang berbunyi :

‫ َا َا‬h‫ َح‬h‫دا َن‬Ž jَ o j Ž َ ‫ا‬j ‫ا‬Ž h‫س‬j َ h‫ي‬j h‫س‬j َ ° َ h‫س‬j j ‫ل‬j o j ‫ه ت عة وت ع ن ا م م ئة ال واح م ا ص ه‬o‫ان ل‬
(‫)رواه البخارى‬
Artinya : Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, barang siapa menghafalnya ia akan masuk surga. yang

Maksud hadits tersebut di atas adalah barang siapa yang menyebut atau membaca nama-nama Allah SWT tersebut maka akan memperoleh pahala dan manfaatnya.

Allah SWT menciptakan langit sebagai salah satu kekuasaan-Nya

Oleh karena itu, sebutlah nama-nama Asma’ul husna setiap saat. Apakah kamu juga mengamalkannya? Mudah-mudahan demikian. 1) As-Salam (Yang Maha Selamat) As-Salam artinya Yang Maha Selamat, keselamatan bagi Allah berarti terhindar dari segala aib, kekurangan, dan kepunahan yang dialami oleh makhluk-Nya. Allah SWT adalah tempat berlindung bagi makhluk-Nya dari segala kejahatan dan marabahaya. Tidak ada perbuatan Allah SWT yang bertujuan menyakiti makhluk-Nya meskipun pada saat kita sakit atau mendapat kesulitan mengira itu atas kehendak-Nya. Padahal bisa jadi hal itu karena perbuatan kita sendiri. 2) Al-Aziz (Yang Maha Perkasa) Al-Aziz artinya Yang Maha Perkasa. Betapa perkasanya Allah SWT mencipta api yang panas, matahari yang terdiri dari gumpalan api yang panasnya sampai ke bumi, padahal jaraknya jauh sekali. Ini membuktikan betapa perkasanya

Allah SWT. Api menyalapun dapat dijadikannya dingin seperti ketika Nabi Ibrahim As dibakar oleh Raja Namrud, Allah SWT memerintahkan kepada api supaya menjadi dingin, maka dinginlah api itu. Keperkasaan Allah SWT, disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 49, yang artinya “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana”. Apakah kamu juga selalu membaca Al-Aziz, tentunya melakukan demikian bukan? 3) Al-Khaliq (Allah Yang Menciptakan) Al-Khaliq artinya Allah Yang Menciptakan segala sesautu Allah tidak diciptakan, alam semesta ini adalah salah satu ciptaan Allah. Setiap ciptaan Allah pasti ada manfaatnya. Seperti Allah menciptakan nyamuk, berbadan kecil tetap bisa terbang begitu cepat. Sehingga manusia membuat pesawat terbang terinspirasi dari nyamuk yang bisa terbang. 4) Al-Ghaffar (Maha Pengapun) Al-Ghaffar berarti Maha Pengampun, pengampunan Allah SWT berlaku terhadap dosa-dosa hamba-Nya, selama ia bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahannya tersebut. Manusia tidak luput dair berbuat salah dan dosa, akan tetapi kalau ingin mendapat pengampunan atau magfiroh dari Allah harus bertobat dengan sungguh-sungguh. 5) Al-Wahhab (Maha Pemberi) Al-Wahab artinya Allah itu Maha Pemberi, yang memberikan karuniaNya kepada semua makhluk yang ada di alam semesta ini, baik yang beriman ataupun yang tidak beriman. Allah SWT memberikan kehidupan kepada semua makhluknya. Tidak ada tempat kita mengadu, memohon, bermunajat dan tempat meminta kecuali kepada Allah SWT. Yang Maha Memberi, Maha Rahman dan Rohim, dan siapa yang meminta dan menyembah selain kepada Allah orang tersebut menjadi musyrik. Sebagai seorang muslim kita wajib berusaha dan berdoa. Seandainya usaha itu tidak dikabulkan, maka kita tidak boleh putus asa, tetapi harus semakin bertawakal, sabar dan tabah atas apa yang diterima dari Allah SWT. Apakah kamu juga demikian jika mengalami kesulitan atau cobaan, tentulah demikian bukan? Karena Allah Maha Pemberi, maka hanya kepadaNyalah kita memohon dan meminta pertolonganNya. 6) Al-Fattah (Maha Pembuka) Al-Fatah artinya Yang Maha Pembuka, seperti dapat kita rasakan Allah SWT telah membukakan pikiran kita sehingga dapat menerima pelajaran, membukakan hati kita sehingga kita iman kepada Allah SWT dengan segala sifat-Nya baik yang wajib, mustahil dan yang jaiz. Kita dapat menerima dan menyakini kekuasaan Allah SWT. Sehingga kita termasuk orang yang beriman kepada Allah SWT dan kitapun pemeluk agama Islam yang taat. Kita tahu semua orang dapat beriman dan tidak semua orang beragama Islam dengan taat, yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya,

karena tidak beriman dengan taat itu dalam hatinya ada penyakit dan dirinya telah dipengaruhi oleh godaan syetan. 7) Al-Adl (Maha Adil) Al-Adl artinya Maha Adil, keadilan Allah SWT adalah keadilan yang sebenarbenarnya artinya Allah SWT memutuskan dan menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Keadilan Allah bersifat mutlak dan sempurna, yakni Allah SWT tidak membebani terhadap makhlukNya melainkan sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya. 8) Al-Qoyyum (Allah Maha Berdiri Sendiri) Al-Qoyyum artinya Allah Maha Berdiri Sendiri dalam menciptakan seluruh makhluk di alam jagad raya ini. Bila kita merenungkan sejenak dengan hati yang bersih dan akal sehat serta menatap alam yang luas, maka kita pasti bertanya dalam hati “siapa yangmencipta alam semesta ini?”, tentunya Allah SWT bukan? Allah SWT menciptakan alam ini sendiri saja, tanpa bantuan orang lain. Coba kamu baca Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 1-2 atau kamu baca dengan kelompokmu.

٢﴿

f h‫ َ |و‬h‫ َى ال‬h‫ َ ال‬f o j َ‫له‬j‫﴾الم ﴿١﴾ ال ل‬ ‫ ا ال هو ح | قي م‬f

Artinya : Alif laam mim, Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri (QS. Ali-Imran : 1-2). 9) Al-Hadi (Allah Maha Pemberi Petunjuk) Al-Hadi ialah bahwa Allah SWT itu Maha Pemberi Petunjuk, Allah memberikan petunjuk atau hidayah kepada hamba-hambanya yang dikehendaki. Kamu mungkin pernah mendengar cerita Nabi Nuh, walaupun ayahnya seorang Nabi, tetapi anaknya tak beriman. Paman Rasulullah sendiri, yaitu Abu Thalib ia pun tidak mau masuk Islam, semua itu memang belum mendapatkan petunjuk atau hidayah dari Allah SWT. 10) As-Shabur (Maha Sabar) As-Sabur artinya Maha Sabar, kesabaran Allah SWT tidak terbatas. Allah SWT tidak menunda sesuatu di luar waktu yang telah ditentukan-Nya atau gagal menyelesaikannya. Allah SWT tidak tergesa-gesa menguak para pelaku perbuatan dosa, melainkan memberi kesempatan kepada mereka rezeki, melindungi mereka dari bahaya dan tetap membiarkan mereka hidup sampai batas waktu yang telah ditentukanNya. Seorang muslim yang mu’min dituntut untuk bersabar karena sabar merupakan cermin dari sifat Allah SWT. Selesaikanlah segala urusan di dunia dengan sabar karena Allah SWT mencintai orang-orang yang sabar.

b. Mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul Husna (As-Salam, Al-Aziz, AlKhaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, AsSabur) dalam lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga perlu sekali akan pengamalan Asma’ul Husna seperti AlGhaffar = Maha Pemaaf/Pengampun, seorang anak yang selalu senang berbuat kesalahan kepada orang tua maka dia wajin meminta maaf kepadanya, selalu orang tua untuk memberikan maaf akan kesalahan-kesalahan anaknya, sehingga tidak ada dosa di antara anak dan orang tua. Begitu juga As-Sabur = Maha Penyabar, ada keluarga terlalu banyak cobaan-cobaan seperti kelaparan dan kemiskinan, sifat sabar harus dimiliki oleh setiap orang sehingga dalam menghadapi masalah penuh kesabaran disertai usaha yang maksimal maka akan menghasilkan sesuatu yang membahagiakan bagi dirinya dan keluarga. c. Mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul Husna (As-Salam, Al-Aziz, AlKhaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, AsSabur) dalam lingkungan sekolah Dalam menuntut ilmu seorang siswa harus selalu belajar dengan tekun dan tidak lupa berdo’a kepada Allah dan do’a belajarnya adalah :

‫ا‬Ž h‫ى َه‬j h‫ق‬f ‫ار‬o ‫ا‬Ž h‫ل‬j ‫ى‬j h‫ زد‬t ‫َب‬ ‫ز ن ف م‬h ‫ ن ع م و‬j ‫ر ى‬
Agar sifat Al-Fattah (Maha Pemberi) kepuasan, ilmu yang merupakan pemberian dari Allah, kalau dengan tidak atas sudah barang tentu ilmu itu tidak berguna, tetapi dengan memohon kepada-Nya, siswa yang menuntut ilmu dengan kesungguhan akan mendapatkan ilmu yang berguna. d. Mengamalkan isi kandungan 10 Asma’ul Husna (As-Salam, Al-Aziz, AlKhaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, AsSabur) dalam lingkungan masyarakat. Kekuasaan yang dimiliki manusia di dunia ini akan binasa jabatan dalam lingkungan masyarakat untuk membantu orang yang kesusahan maka akan dibalas oleh Allah dengan kebutuhan. Orang yang memiliki harta yang banyak hendanya dapat melindungi yang lemah dengan membantunya, sehingga tidak ada kesenjangan social di tengah-tengah masyarakat. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur;an dalam surat Al-Qashash ayat : 56 yang artinya. “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Q.S. Al-Qashash: 56). Sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah SWT meskipun hanya satu ayat. Dan jika mereka tidka mau menerima kebenaran itu, kita serahkan kepada Allah SWT karena Allah Yang Maha Pemberi Petunjuk yang akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

Rangkuman : Di antara nama-nama baik Allah SWT (Asma’ul Husna) adalah As-Salam, Al-Aziz, AlKhaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-Adl, Al-Qoyyum, Al-Hadi, As-Sabur. Orang yang mengamalkan Asma’ul Husna baik dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat akan mendapat pertolongan dan kemuliaan dari Allah SWT.

C. PENUTUP Saya ucapkan selamat, bahwa kamu telah berhasil menyelesaikan kegiatan-kegiatan pada modul ini. Mudah-mudahan keberhasilanmu dapat mendorong semangatmu untuk terus mempelajari modul demi modul. Setelah kamu selesai modul ini, semoga kamu memperoleh nilai yang memuaskan. Dan jangan lupa mintalah Tes Akhir Modul kepada Guru Pamong atau Guru Binamu. Apabila hasil tesmu mencapai 6,5 atau lebih maka kamu sudah berhak untuk mempelajari modul berikutnya yaitu modul tentang “membiasakan perilaku terpuji”. Tetapi apabila hasilnya kurang dari 6,5 sebaiknya kamu pelajari kembali modul tentang 10 Asma’ul Husna, terutama yang belum kamu kuasai. Pelajari terus menerus, jika perlu dengan temanmu atau Guru Pamong dan Guru Binamu.

ISL.VII.1.2.04

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 1 6 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi : Abdul Rozak S.Ag : Moh.Sofyan S.Ag

MEMBIASAKAN PERILAKU TERPUJI ( TAWADHU, TAAT, QONA’AH DAN SABAR )

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN Bagaimana kabar kamu? Tetap semangat! Selamat atas keberhasilanmu menyelesaikan modul yang lalu. Selanjutnya kamu akan meningkatkan kepada modul yang membahas tentang “Membiasakan Perilaku Terpuji” Dalam mempelajari modul ini akan dibagi ke dalam tiga kegiatan yaitu : Kegiatan 1 : Menjelaskan pengertian Tawadhu, Taat, Qona’ah dan Sabar Kegiatan 2 : Menampilkan contoh-contoh perilaku Tawadhu, Taat, Qona’ah dan Sabar Kegiatan 3 : Membiasakan perilaku Tawadhu, Taat, Qona’ah dan Sabar Waktu yang disediakan sebanyak 6 x 40 menit, pergunakanlah waktumu dengan sebaikbaiknya. Bacalah buku lain yang berkaitan dengan materi ini guna menambah wawasan dan pengetahuanmu. Selamat belajar dan mulailah dengan berdoa. Ingat jangan lupa sebelum mempelajari modul ini bacalah “Basmalah”.

Selamat Belajar

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Pengertian Tawadhu, Taat, Qona’ah dan Sabar 1. Standar Kompetensi Membiasakan Perilaku Terpuji 2. Kompetensi Dasar Menjelaskan pengertian Tawadhu, Taat, Qona’ah dan Sabar 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah selesai mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Menjelaskan pengertian Tawadhu dan menjelaskan dalil naqlinya - Menjelaskan pengertian Taat dan menjelaskan dalil naqlinya - Menjelaskan pengertian Qona’ah dan menjelaskan dalil naqlinya - Menjelaskan pengertian Sabar dan menjelaskan dalil naqlinya 4. Materi Pokok Perilaku Terpuji (Tawadhu, Taat, Qona’ah dan Sabar) 5. Uraian Materi Pada kegiatan 1 ini, kita mempelajari tentang Perilaku Terpuji (Tawadhu, Taat, Qona’ah dan Sabar) dengan disertai dalil naqlinya a. Tawadhu

f h‫و‬f َ o ‫ال‬ ‫توض ع‬

Tahukah kamu apa arti tawadhu itu ? Tawadhu artinya merendahkan diri, sedangkan tawadhu secara pengertiannya adalah merendahkan diri karena Allah sehingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya, maka orang tersebut akan mendapatkan kemulyaan dari Allah SWT. Firman Allah QS. Al-Hijr : 88.

Kesombongan hanya akan menimbulkan kerusakan

َ‫ن‬h‫ي‬j j h‫ؤ‬f h‫ َ ال‬j َ‫ َ َك‬o ‫ ا‬j َ j َ َ ‫ ج َا‬h‫ض‬j h‫َاخ‬ ‫َن حك لمن تبع من م من‬ ‫و ف‬
Artinya : Rendahkan sayapmu (sikapmu) terhadap pengikutmu dari kaum mu’min (Al Hijr: 88). Sikap seseorang dibaratkan sayap, maka dengan merendahkan sayap tersebut menjadi tidak sombong apa yang ada dalam diri seseorang.

b. Taat

h‫ا َة‬o ‫ال‬ ‫طع‬

Taat adalah melaksanakan suatu perintah tanpa paksaan sesuai dengan batas kemampuannya. Firman Allah dalam Q.S. Al-Anfal : 20, berbunyi:

‫ا‬h‫و‬f h‫ي‬j ََ َ ‫ا ا‬h‫و‬f h‫ي‬j َ ‫ا‬h‫و‬f َ ‫ َ آ‬h‫ي‬j o‫َآَ | َاا‬ ‫ي ايه لذ ن من اط ع ل واط ع‬ ‫َه‬h‫ل‬h‫سو‬o ‫ال‬ ‫ل‬ َ f‫ر‬

Membaca Al Qur’an salah satu ketaatan

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya”. Seorang muslim wajib taat banyak ke perintah Allah dan Rasul-Nya, taat pada perintah-Nya. Dalam hal sesuatu yang disetujui ataupun tidak disetujui Rasulullah bersabda :

h‫م‬f h‫ل‬t f ‫ا‬o h‫م‬f h‫ا َ َ َي‬h‫و‬ft f ‫ َا‬h‫م‬j h‫ َا َ َي‬o j‫ا ف‬h‫و‬f h‫ي‬j ََ ‫ا‬h‫و‬f َ h‫س‬j ‫ا مع واط ع َإنم عل ه م حمل وعل ك م حم ت‬
(‫)رواه مسلم‬
Artinya : Dengarlah dan taatlah. Maka sungguh bagi masing-masing kewajiban bagi mereka ada tanggung jawab di atas kan ada tanggung jawabmu sendiri. (HR. Muslim) c. Qona’ah

h‫ َ َ َة‬h‫ال‬ ‫قنع‬

Qonaah yaitu menerima yang ada. Maksudnya adalah menerima sesuatu yang datangnya dari Allah tanpa adanya perasaan tamak/rakus. Firman Allah QS. Hud : 6

‫ َا‬f h‫ رز‬j ‫ َ َى ا‬o j j h‫ َر‬h‫ - فى ا‬o ‫ َآ‬h‫ن‬j ‫َ َا‬ ‫ قه‬j ‫ ل ض ال عل ل‬j ‫وم م د بة‬
Artinya : “Tidak ada suatu binatang melata (makhluk Allah yang bernyawa) pun bumi ini melainkan Allah lah yang mengaturnya rezeki-Nya”. Allah SWT yang memberi rizki kepada manusia dan seluruh makhluk yang lainnya supaya manusia tidak lupa akan kelebihan harta yang diterimanya, tidak berlaku boros dan memberikan sebagian hartanya bagi orang yang berlebihan. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Tangan diatas lebih baik dari tangan yang dibawah, Maksudnya adalah tangan yang diatas adalah tangan yang memberi sedekah, tangan yang dibawah adalah tangan yang menerima.” d. Sabar

‫صر‬ f h‫ب‬o ‫ال‬

Memohon hanya kepada Allah SWT

Apa arti sabar itu? Sabar adalah tabah dalam menghadapi cobaan atau ujian dari Allah dengan selalu meminta pertolongan hanya kepada Allah. Allah memberikan cobaan/ ujian sesuai dengan tingkat kesabaran orang yang menerimanya. Orang yang beriman ia selalu bersabar dan selalu minta pertolongan hanya kepada Allah. Firman Allah SWT QS. Al Baqarah:153

َ h‫ي‬j j ‫ا‬o ‫ ا َ م َ ال‬o j j َ o ‫ر َال‬h‫ب‬o ‫ال‬j ‫ا‬h‫و‬f h‫ي‬j َ h‫س‬j ‫ا‬h‫و‬f َ ‫ َ آ‬h‫ي‬j o‫َآَ | َاا‬ ‫ و صلة ان ل َع ص بر ن‬j ‫ي ايه لذ ن من ا تع ن ب ص‬
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Rangkuman : Tawadhu adalah merendahkan diri karena Allah dari sikap sombong sehingga orang tersebut akan mendapatkan keuntungan. Taat adalah melaksanakan perintah tanpa paksaan sesuai batas kemampuannya. Qonaah adalah menerima sesuatu yang datangnya dari Allah tanpa perasaan tamak atau rakus. Sabar adalah tabah dalam menghadapi cobaan atau ujian dari Allah dengan selalu meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT.

Kegiatan 2 : Menampilkan contoh-contoh perilaku tawadhu, taat qona’ah dan sabar. 1. Standar Kompetensi Membiasakan perilaku terpuji 2. Kompetensi Dasar Menampilkan contoh-contoh perilaku tawadhu, taat, qana’ah dan sabar 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah selesai mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Menampilkan contoh perilaku tawadhu - Menampilkan contoh perilaku taat - Menampilkan contoh perilaku qana’ah - Menampilkan contoh perilaku sabar 4. Materi Pokok Tawadhu, taat, qana’ah dan sabar 5. Uraian Materi a. Menampilkan contoh perilaku tawadhu

Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat, baik itu nikmat lahir ataupun nikmat bathin, maka wajib bagi kita untuk selalu mensyukuri nikmat Allah tersebut, sebab janji Allah bagi orang yang mau mensyukuri nikmat-Nya pasti akan ditambahkan, akan tetapi bila tidak maka akan diambil nikmat tersebut dengan diturunkan-Nya bencana dengan tidak dikira-kira.

Allah menurunkan musibah sebagai peringatan kepada manusia agar selalu mengingat Allah SWT

Sebagaimana diterangkan dalam Q.S. Ibrahim: 7.

‫د‬h‫ي‬j َ ‫ى ل‬j ‫ َ َا‬o j h‫م‬f h‫ َفر‬h‫ن‬j َ َ h‫م‬f o ‫د‬h‫ي‬j َ َ h‫م‬f h‫ َ َر‬h‫ن‬j َ ° ‫لئ شك ت لز َنك ولئ ك َ ت ان عذ ب َشد‬
Artinya : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Kenikmatan dengan segala kelebihan yang kita miliki tidak menjadikan kita sombong, akan tetapi kita harus merendahkan diri karena Allah SWT, dengan hidup bagaikan padi yang kosong dan tidak berisi berdiri dengan tegaknya. Sedangkan padi yang berisi akan merunduk, begitu juga manusia semakin diberikan kelebihan, maka harus semakin tawadhu (merendahkan diri). Dijelaskan dalam QS. Lukman: 18.

‫ب‬j f َ َ ‫ ا‬o j ‫ا‬Ž ‫ َر‬j h‫ َر‬h‫ فى ا‬j h‫ َلَ َم‬j ‫ا‬o ‫ل‬j َ o ‫ خ‬h‫ر‬t َ f َ‫َل‬ ‫ ل ض م َح ان ل ل يح‬j ‫و تصع َدك ل ن س و ت ش‬ ‫ر‬h‫و‬f َ - ‫ َا‬h‫ح‬f o f ‫كل م ت ل فح‬
Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. b. Menampilkan contoh perilaku taat

Bersegera dalam taat menjalankan shalat

Taat artinya disiplin sebagai seorang muslim yang beriman, mempunyai kewajiban masing-masing yang harus ditaati, seperti kita mentaati kewajiban shalat dengan shalat pada waktunya, harus mentaati kewajiban membayar zakat jika sudah nisabnya. Seseorang merupakan pemimpin bagi dirinya masing-masing dalam menjalankan kewajibannya, yang akhirnya nanti akan dimintakan pertanggung jawabannya. Nabi bersabda yang artinya: “Setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab akan apa yang dipimpinnya”. c. Menampilkan contoh perilaku qana’ah Setuap ajaran Islam yang disampaikan kepada umat Rasulullah SAW., pasti mengandung hikmah yang sangat besar, demikian pula sikap qana’ah mengandung hikmah diantaranya: 1) Selalu merasa bersyukur terhadap pemberian dari Allah SWT. Dan diyakini dengan syukur kepada Allah, pastilah Allah akan menumbuhkan nikmat kepadanya. 2) Jiwa selalu tenang dan tentram, tidak berkeluh kesah, karena ridla dengan pemberian Allah SWT. 3) Selalu yakin terhadap pertolongan dari Allah, bahwa usaha dan ikhtiar bila dengan sungguhsungguh akan memperoleh hasil, karena itu tidak pernah putus asa. Firman Allah SWT:

Bekerja dengan niat ibadah kepada Allah SWT

‫م‬h‫ َو‬h‫ ال‬o j ‫ ال‬j‫ح‬h‫ رو‬h‫ن‬j َ َ h‫ لَ َاي‬f o j j ‫ ا‬j h‫و‬o h‫ن‬j ‫ا‬h‫و‬f َ h‫َلَ َاي‬ ‫ ال ق‬j o ‫و ت ئس م ر ح ل انه ي ئس م‬ ‫ن‬h‫ي‬j j ‫ َا‬h‫ال‬ ‫ك فر‬
Artinya : Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang yang kafir (QS. Yusuf: 87). 4) Mempunyai sifat rendah hati, tetapi bukan rendah diri, meyakini bahwa rizki pada hakikatnya Allah yang mengaturnya, manusia hanyalah berusaha dan bekerja. Orang yang memiliki sikap qana’ah tidak akan memiliki sikap iri, sebab qana’ah memupuk manusia untuk hidup dalam kebersamaan, saling menghormati dan saling toleran terhadap lingkungan. d. Menampilkan contoh perilaku sabar Firman Allah surat Al-Baqarah: 153.

َ h‫ي‬j j ‫ا‬o ‫ ا َ م َ ال‬o j j َ o ‫ر َال‬h‫ب‬o ‫ال‬j ‫ا‬h‫و‬f h‫ي‬j َ h‫س‬j ‫ا‬h‫و‬f َ ‫ َ آ‬h‫ي‬j o‫َآَ | َاا‬ ‫ و صلة ان ل َع ص بر ن‬j ‫ي ايه لذ ن من ا تع ن ب ص‬
Artinya : “hai orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Coba kamu cermati arti ayat di atas, jelas bahwa sabar merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang, bagi orang-orang yang beriman, Allah memerintahkan untuk senantiasa memohon kesabaran kepada-Nya, bahkan agar sabar senantiasa ada dan terpelihara ada dan terpelihara pada diri orang-orang yang beriman. Begitu pula dalam menjalankan seluruh perintah Allah SWT, salah satunya adalah menjalankan salat fardu lima waktu. Salat tersebut wajib dilaksanakan secara terus menerus sepanjang hayat. Kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan shalat hanya dimiliki kesabaran. Bagi orang-orang yang malas dan rendah imannya tidak mungkin sabar dalam melaksanakan. Tugas dan beribadah kepada Allah SWT, khususnya menjalankan shalat lima waktu. Firman Allah SWT:

‫ َا‬h‫ َ َي‬h‫ر‬j َ h‫ َاص‬j َ o ‫ال‬j َ َ h‫ َه‬h‫ر‬f h‫َأ‬ ‫و م ا لك ب صلة و طب عل ه‬
Artinya : “Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya”. (QS. Thaha: 132). Rangkuman : Menampilkan contoh tawadh bisa diibaratkan bagaikan bagaikan padi, sebatang padi yang tidak berisi akan berdiri tegak bagaikan orang yang sombong, sedangkan padi yang telah berisi gabah dan akan menjadi beras merunduk karena berisi diibaratkan seorang yang tawadhu yaitu merendahkan diri karena Allah SWT. Menampilkan contoh taat yaitu dengan menjalankan semua kewajiban yang nanti akan dimintai pertanggung jawabannya. Contoh qona’ah bisa dengan menghindari sikap iri sebab qona’ah memupuk manusia untuk hidup dalam kebersamaan, saling menghormati dan saling toleransi terhadap lingkungan. Orang-orang yang malas dan rendah imannya tidak mungkin sabar dalam melaksanakan tugas shalat lima waktu.

-

-

Kegiatan 3 : Membiasakan perilaku tawadhu, taat qona’ah dan sabar. 1. Standar Kompetensi Membiasakan perilaku terpuji 2. Kompetensi Dasar Mempraktekkan perilaku terpuji tawadhu, taat, qana’ah dan sabar bersama teman-teman dan guru disekolah 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Setelah selesai mempelajari modul ini diharapkan siswa dapat : - Membiasakan perilaku tawadhu - Membiasakan perilaku taat - Membiasakan perilaku qona’ah - Membiasakan perilaku sabar 4. Materi Pokok Membiasakan perilaku Tawadhu, taat, qana’ah dan sabar 5. Uraian Materi a. Membiasakan perilaku tawadhu Dalam kegiatan sebelumnya telah dijelaskan bahwa tawadhu adalah merendahkan diri karena Allah SWT dengan tidak berlaku sombong atas segala nikmat berlebih yang telah diberikan Allah kepada kita. Banyak cara dalam membiasakan sikap tawadhu yaitu : 1. tidak merasa lebih dibandingkan orang lain dalam berbagai hal. 2. merasa masih banyak kekurangan yang harus dicari sebagai cermin seorang mukmin yang berikhtiar/berusaha. 3. nikmat berlebih yang diberikan oleh Allah kepada kita harusnya dikeluarkan 2½ % nya untuk membantu dan menolong orang-orang yang kekurangan. Inilah cermin dalam perilaku tawadhu dan harus ditanamkan di dalam hati. b. Membiasakan perilaku taat Taat adalah melaksanakan aturan baik yang tertulis ataupun yang tidak tertulis merupakan etika yang harus dimiliki seseorang. Ada hal-hal yang tidak kita bisa tinggalkan dari suatu tempat dan daerah tentang taat seperti halnya orang tua melarang anaknya untuk tidak keluar rumah pada malam hari khususnya anak perempuan yang keluar pada malam hari dianggap masyarakat bukan perempuan baik-baik kecuali ada keperluan yang penting dan mendesak. Hal inilah yang wajib ditaati karena berkaitan dengan etika moral dan disiplin seseorang.

c. Membiasakan perilaku Qonaah Qonaah adalah satu akhlakul karimah dalam kehidupan sebagai seorang muslim, karena rela dan ikhlas menerima pemberian dari Allah. Namun demikian Qanaah bukan berarti merasa puas dan cukup dengan apa yang dimilikinya dan bukan berarti juga harus hidup bermalas-malasan dan cukup dengan apa yang ada. Justru qanaah adalah orang yang selalu giat dan gigih berusaha secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, tetapi apabila hasil yang diperoleh dan dicapainya tidak sesuai dengan harapannya, diterima dengan lapang dada, tanpa mengeluh apalagi frustasi, diterimanya hasil yang diperolehnya itu dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Di dalam Al Quran, Allah SWT menjelaskan tentang dalil naqli yang berhubungan dengan sikap qanaah, diantaranya dalam surat Al Baqarah ayat 273.

‫ا فى‬Ž h‫ َ َر‬h‫و‬f h‫ي‬j َ h‫ َ َس‬j ‫ ا‬j h‫ي‬j َ j ‫ا ف‬h‫و‬f j h‫ح‬f َ h‫ي‬j o‫ف َ َآء ا‬h‫ل‬j ‫ لذ ن ا صر ى سب ل ل ل ي تط ع ن ض ب‬j ‫قر‬f ‫ل‬ ‫م‬f ‫ َا‬h‫سي‬j h‫م‬f ‫ف‬j h‫ َع‬j ‫ َف‬o ‫نَ ال‬j َ ‫ َآ‬j h‫ َغ‬f j ‫ل َا‬h‫ ا‬f f f ‫س‬h‫ َح‬j h‫ َر‬h‫ا‬ ‫ م ه‬j ‫ه ب‬f ‫ل ض ي َبهم ج هل ا ني ء م تع |ف ت ر‬ ‫فا‬Ž‫ح‬h‫ل‬j َ ‫ا‬o ‫نَ ال‬h‫و‬fَ h‫َ َس‬ ‫ن س ا َا‬ ‫لي ئل‬
Artinya : (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada hamba Allah yang sangat dalam agamanya, selalu menahan diri (iffah) tidak pernah meminta, selalu merasa cukup, bahkan sampai disangka orang kaya, padahal kehidupannya susah, tetapi tidak menjerumuskan atau mengeluarkan dirinya untuk meminta-minta. Demikian pula dalam Surat Hud ayat 6 dinyatakan :

‫ َا‬f h‫ رز‬j ‫ َ َى ا‬o j j h‫ َر‬h‫ - فى ا‬o ‫ َآ‬h‫ن‬j ‫َ َا‬ ‫ قه‬j ‫ ل ض ال عل ل‬j ‫وم م د بة‬
Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya. Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap binatang yang melata yaitu setiap makhluk yang bernyawa diatas dunia akan dicukupi rizkinya oleh Allah SWT. Pendek kata di seluruh muka bumi ini telah disediakan oleh Allah SWT makanan yang cukup untuk seluruh. Oleh karena itu manusia tidak usah khawatir akan kekurangan.

d. Membiasakan perilaku Sabar Kehidupan masalah, konflik berada di mana-mana, perkelahian antar pelajar, antar kampung, antar pendukung sepak bola, antar pendukung musik dan lain-lain, sering terjadi, karena tidak berfungsinya sabar dalam diri mereka. Sabar memiliki fungsi yang sangat penting dalam hidup ini. Sabar dapat menjadikan kehidupan ini penuh kesejukan, dapat mengubah dunia penuh kedamaian, dapat mengubah kehidupan penuh prestasi dan bermanfaat. Apa fungsi sabar dalam kehidupan kita? Simak rincian berikut : • Mendorong tercapainya cita-cita. • Mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. • Memiliki semangat hidup dan tidak mudah putus asa. • Dapat menciptakan kedamaian hidup. • Terhindar dari hal-hal yang buruk, selamat dari godaan hawa nafsu.

C. PENUTUP Selamat atas keberhasilanmu menyelesaikan modul ini teruslah belajar dan buktikan keberhasilanmu dengan meminta tes akhir modul mepada guru pamong dan guru bina. Raihlah nilai 6,5 agar kamu dapat melanjutkan ke modul selanjutnya jangan pasrah semangat jika nilai yang kamu dapat kurang dari 6,5 itu berarti kamu harus lebih semangat lagi dalam modul ini, tumbuh sikap percaya diri kamu dan yakinlah bahwa usahamu akan menemukan keberhasilan. Jangan lupa untuk selalu berdoa memohon pertolongan dan ridho Allah SWT.

ISL.VII.1.3.05

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 1 6 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi Penyelaras : Drs. Muh. Suhandak : Moh.Sofyan S.Ag : Abdul Rozak S.Ag

THAHARAH

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN Selamat Kamu telah memutuskan memilih belajar di SMP Terbuka. Mudah-mudahan semangat belajarmu dapat mempermudah pelaksanaan kegiatan belajar pada setiap mata pelajaran. Bahan belajar yang paling pokok di SMP Terbuka adalah modul. Melalui modul Kamu dapat mempelajari secara mandiri atau kelompok. Setelah mempelajari modul ini diharapkan Kamu akan memiliki pengetahuan tentang Thaharah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan modul ini adalah 6 x 40 menit. Modul ini terdiri dari dua kegiatan yaitu: Kegiatan 1 Kegiatan 2 : Tentang Wudhu dan Tayamum, sebab-sebab Wudhu dan Tayamum, syarat rukun Wudhu dan Tayamum. : Tentang mandi wajib, dan perbedaan hadas dan najis.

Ingat, jangan lupa sebelum mempelajari modul ini bacalah “Basmalah”.

Selamat Belajar!

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Thaharah, Wudhu dan Tayamum 1. Standar Kompetensi Memahami ketentuan-ketentuan thaharah (bersuci) 2. Kompetensi Dasar Siswa mampu menjelaskan ketentuan wudhu dan tayamum 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Diharapkan setelah mempelajari modul ini siswa dapat : - Menjelaskan pengertian wudhu dan dasar hukumnya. - Menjelaskan pengertian tayamum dan dasar hukumnya. - Menjelaskan tata cara wudhu dan tayamum. - Mengetahui hal-hal yang membatalkan wudhu dan tayamum. - Mengetahui perbedaan antara wudhu dan tayamum. - Menyebutkan perbedaan antara wudhu dan tayamum. - Mempraktikkan cara berwudhu dan tayamum. 4. Materi Pokok Thaharah, wudhu dan tayamum 5. Uraian Materi Apa yang dimaksud dengan Thaharah ? Thaharah menurut bahasa adalah bersuci. Thaharah menurut hukum Islam artinya bersuci untuk menghilangkan hadast dan najis karena akan melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Setiap orang Islam dituntut agar bersih jasmani dan rohani, khususnya akan sholat. Sebab syahnya sholat disyaratkan suci dari hadas dan najis baik badan, pakaian, maupun tempatnya. Kamu setiap hari melaksanakan ibadah bersuci bukan? Bersuci itu ada dua macam, yaitu : 1. Bersuci dari hadas, khususnya pada badan dengan cara berwudhu, mandi wajib atau tayamum. 2. Bersuci dari najis, yaitu menghilangkan najis atau kotoran dari badan, pakaian dan, tempat ibadah. Adapun alat yang dipergunakan bersuci yaitu : 1. Air yaitu untuk berwudhu, mandi dan menghilangkan najis dan kotoran. 2. Batu atau benda-benda keras yang kering lainnya, dapat digunakan untuk istinja (bersuci) sehabis buang air besar atau air kecil. 3. Debu atau tanah untuk tayamum jika tidak ada air atau berhalangan menggunakan air (sakit) Setelah kamu mengerti tentang thaharah, sekarang kamu akan membahas tentang pengertian wudhu dan dasar hukumnya sebagai berikut :

1. Wudhu a. Pengertian Wudhu Wudhu menurut bahasa artinya bersih sedangkan menurut syara’ ialah membasuh anggota badan tertentu dengan air dan syaratsyarat tertentu, Coba kamu baca Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 6 atau kamu baca dengan kelompokmu yang berbunyi:
Salah satu kegiatan berwudhu

‫م‬f َ h‫جو‬f ‫ا‬h‫لو‬j h‫ َاغ‬j َ o ‫ل َ ال‬j h‫م‬f h‫م‬f ‫ َا‬j ‫ا‬h‫و‬f َ ‫ َ آ‬h‫ي‬j o‫َآَ | َاا‬ ‫ هك‬f ‫ و‬f‫ي ايه لذ ن من اذ ق ت ا ى صلة ف س‬ ‫ن‬h‫ َي‬h‫ َع‬h‫ل َ ال‬j h‫م‬f َ ‫ج‬h‫ َار‬h‫م‬f j h‫و‬f f j ‫ا‬h‫و‬f َ h‫ َام‬j‫ق‬j ‫ َ َا‬h‫ل َ ال‬j h‫م‬f َ j h‫ََي‬ ‫لك ا ى ك ب‬f َ‫وا ديك ا ى مر ف و سح برؤ سك و‬
“Ya ayyuhalladziina aamanu idzgumtum ilash shalaati fagsiluu wujuuhakum waaidiyakum ilal maraafiqi wamsahuu biru-uusikum wa arjulakum ilal ka’baini”. Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu, kedua tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu, basuhlah kakimu sampai dengan mata kaki (Q.S. Al-Maidah ayat 6). Dari ayat di atas, jelaslah bahwa jika kita hendak shalat, maka kita harus berwudhu. b. Sebab-sebab harus wudhu Mungkin kamu tahu akan melaksanakan kegiatan apa saja yang mengharuskan berwudhu? Nah, berwudhu diperlukan jika akan melakukan shalat dan thawaf di Baitullah. 1) Shalat Wudhu wajib dilakukan apabila kita hendak shalat fardhu maupun sunat. Dalil naqlinya Q.S. Al-Maidah ayat 6, juga hadist Rasulullah SAW yang artinya: “Allah tidak menerima shalat salah seorang diantaramu bila ia berhadast, sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhori dan Muslim). 2) Thawaf di Baitullah (Ka’bah) Thawaf yaitu mengelilingi Ka’bah di Mekkah, sebelum thawaf diharuskan berwudhu terlebih dahulu. 3) Membaca atau membawa Al-Qur’an Salah satu kegiatan tawaf Al-Qur’an adalah kitab suci, jika seseorang ingin membaca dan menelaahnya hendaknya dalam keadaan suci yaitu dengan cara berwudhu, Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya

berbunyi:”Tidaklah seseorang menyentuh atau memegang Al-Qur’an melainkan ia dalam keadaan suci dari hadas besar hadas kecil”. c. Syarat Wudhu Syarat-syarat wudhu ialah: 1) Islam 2) Mumayyiz 3) Tidak berhadast besar 4) Memakai air suci mensucikan 5) Tidak ada yang menghalangi sampainya air ke kulit d. Rukun Wudhu Rukun wudhu ialah : 1) Niat Yang dimaksud dengan niat menurut syara yaitu berkehendak atau sengaja melakukan pekerjaan karena tunduk kepada Allah SWT. Setiap pekerjaan harus disertai dengan niat sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya “Sesungguhnya segala amal itu hendaknya disertai dengan hadist”. (HR. Bukhori dan Muslim). Niat wudhu dilakukan dalam hati. Jika ingin melafadzkannya, kamu ucapkan sebagai berikut:

‫ل َ َالى‬j ‫ا‬Ž h‫ َر‬j َ h‫ َص‬h‫ ا‬j ‫ َد‬h‫ ال‬j h‫رف‬j َ h‫و‬f f h‫ ال‬f h‫َ َي‬ َ ‫ تع‬j ‫نو ت وض ء ل َ ع ح َث ل غر ف ض‬
“Nawaitul wudlhua liraf‘ii hadatsil ashghori fardhaalliulaahi ta’ala”. Artinya : “Aku niat wudhu untuk menghilangkan hadast kecil karena Allah”. 2) 3) 4) 5) 6) Membasuh seluruh muka dengan sempurna Membasuh kedua tangan sampai siku Mengusap/menyapu sebagian kepala Membasuh kedua tapak kaki sampai ke mata kaki Tertib artinya dikerjakan secara berurutan.

Nah, bagaimana sekarang kamu sudah memahami bukan? sekarang kamu akan membahas tentang pengertian tayamum dan dasar hukumnya sebagai berikut : 2. Tayamum a. Pengertian Tayamum Mungkin kamu telah mengetahui tentang pengertian tayamum, bukan? Yang dimaksud dengan tayamum menurut bahasa artinya menyengaja. Sedangkan menurut istilah ialah menyapu muka dan kedua tangan dengan debu, dengan syarat yang telah ditentukan.

b. Sebab-sebab Tayamum Tayamum dilakukan adalah untuk mengganti wudhu atau mandi. Mungkin kamu ingin mengetahui siapa-siapa yang diperbolehkan bertayamum. Baiklah orang yang boleh tayamum adalah: 1) Sakit yang dikhawatirkan akan bertambah sakitnya atau bertambah lama sembuhnya jika terkena air. 2) Tidak ada air. 3) Ada air, tetapi suhu air sangat dingin perkiraan bila menggunakan air akan mendatangkan kemudharatan (sakit). 4) Ada air, jumlahnya tidak mencukupi untuk wudhu. 5) Ada air, tetapi air hanya untuk keperluan minum. 6) Ada air, tetapi tempatnya jauh apabila ke tempat itu habis waktu shalat. 7) Ada air, tetapi bila diambil berbahaya. c. Syarat Tayamum Syarat tayamum adalah: 1) Ada penyebab yang membolehkan mengganti wudhu atau mandi. 2) Sudah masuk waktu shalat. 3) Menghilangkan najis yang melekat di tubuh. 4) Tidak dalam keadaan haid, nifas (bagi perempuan). 5) Menggunakan tanah berdebu yang suci. 6) Sudah diusahakan mencari air, tetapi tidak mendapatkannya. d. Rukun Tayamum Rukun tayamum adalah: 1) Niat 2) Menyapu muka dengan debu 3) Menyapu kedua tangan dengan debu 4) Tertib Nah, sebelum mengerjakan tugas, kamu ulangi dan baca lagi sehingga kamu mudah mengerjakannya. 3. Hal-hal yang membatalkan wudhu dan tayamum a. Yang membatalkan wudhu yaitu: 1) Keluarnya sesuatu dan qubul atau dubur, baik berupa angin maupun cairan ataupun benda padat. Seperti darah, kencing, mani, madzi, nanah, kentut, tinja dan lain-lain. 2) Hilang akal yang disebabkan mabuk, tidur atau gila dan sebagainya. 3) Bersentuhan kulit laki-laki dan kulit perempuan yang bukan muhrimnya tanpa alas (lapis). 4) Menyentuh kubul atau dubur dengan telapak tangan atau jari. b. Yang membatalkan tayamum ialah: 1) Semua yang membatalkan wudhu juga membatalkan tayamum.

2) Menemukan air, jika tayamum dilakukan karena tidak ada air. 3) Dapat menggunakan air, jika tayamum dilakukan dengan sebab terhalang menggunakan air (sakit). 4. Praktik wudhu dan tayamum Kamu pernah melakukan wudhu bukan? Coba sekarang praktekkan bagaimana wudhu dan tayamum. a. Praktek Wudhu Sekarang Kamu perhatikan dan tirukan praktek wudhu pada gambar di bawah ini secara urut. 1. Membersihkan kedua belah tangan dan jari-jari, membersihkan kedua lubang hidung, kemudian berkumur 3 kali. Hukumnya sunnah, maksudnya boleh dilakukan atau boleh ditinggalkan.
Lihat gambar 1, 2, 3

Gb. 1

Gb. 2

Gb. 3

2. Niat berwudhu sambil membasuh muka dengan air sampai merata sebanyak 3 kali. Lihat gambar 4. (Rukun : harus dikerjakan)

Gb. 4

3. Membasuh tangan sampai siku dilakukan tiga kali dimulai dari tangan sebelah kanan kemudian sebelah kiri. Lihat gambar 5. (Rukun : harus dikerjakan)

Gb. 5

4. Menyapu sebagian kepala sebanyak tiga kali. Menyapu sebagian kepala boleh dilakukan di bagian kepala yang dikehendaki, seperti ubun-ubun, di samping kanan atau kiri di belakang kepala. Lihat gambar 6. (Rukun : harus dikerjakan)

Gb. 6

5. Membasuh telinga kanan dan kiri sampai air merata baik telinga bagian luar maupun bagian dalam sebanyak 3 kali. Lihat hambar 7. (Sunnah : lebih baik dikerjakan)

Gb. 7

6. Membasuh kedua kaki sampai dengan dua mata kaki sebanyak 3 kali. Dimulai dari kaki kanan kemudian kaki kiri. (Sunnah : lebih baik dikerjakan) Caranya kaki kanan dan kiri digosok-gosok dan membersihkan pada sela-sela jari kedua kaki dengan tangan. Lihat gambar 8

Gb. 8

7. Dengan selesainya membasuh kaki, maka selesailah mengerjakan wudhu. Kemudian disunnahkan membaca doa wudhu. b. Praktek Tayamum Pernahkah Kamu melakukan tayamum? Baiklah sekarang perhatikan dan tirukan pada gambar di bawah ini. Caranya : 1) Membaca “Basmallah” 2) Meletakkan kedua telapak tangan ke debu yang tersedia dengan meregangkan kedua telapak tangan. Tangan hendaknya ditekan agar debu menempel ke telapak tangan. (Lihat gambar 1)

Gb. 1

3) Mengangkat kedua telapak tangan 4) Niat tayamum seraya menyapukan/mengusapkan debu ke muka dengan merata sebagaimana ketika berwudhu. (Rukun : harus dikerjakan) (Lihat gambar 2)

Gb. 2

5) Membersihkan debu yang tersisa di kedua telapak tangan setelah diusapkan ke muka. 6) Meletakkan kedua telapak tangan kedua kalinya pada debu yang tersedia untuk mengusap tangan. (Rukun : harus dikerjakan) (Lihat gambar 3)

Gb. 3

7) Meniup debu yang ada pada kedua telapak tangan untuk mengusap kedua tangan. 8) Mengusap debu yang ada pada telapak tangan kiri ke tangan kanan. Caranya : telapak tangan kiri ditempelkan ke punggung jari tangan kanan selanjutnya ditarik perlahan ke arah siku, kemudian setelah sampai ke siku tangan berputar sehingga posisinya adalah telapak tangan kiri menempel pada bagian dalam tangan kanan dan terus ditarik pelan-pelan ke arah jari tangan kiri di atas ibu jari tangan kanan. (Lihat gambar 4)

Gb. 4

9) Mengusapkan debu yang ada pada telapak tangan kiri. Caranya ialah seperti tersebut pada gerakan nomor 4 (empat). Nah, setelah mengamati praktek tayamum, Kamu bisa melakukannya bukan? Rangkuman : Alat yang dipergunakan untuk berwudhu adalah air, sedangkan debu tanah untuk tayamum. Cara untuk membersihkan hadast kecil adalah dengan berwudhu. Tayamum adalah untuk orang yang udzur memakai air, karena sakit dan sebagainya. Kegiatan 2 : Mandi besar (wajib) dan perbedaan Hadas dan Najis 1. Standar Kompetensi Memahami ketentuan-ketentuan thaharah (bersuci) 2. Kompetensi Dasar Menjelaskan ketentuan-ketentuan mandi wajib serta perbedaan hadas dan najis 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Siswa dapat menjelaskan : - Pengertian mandi besar (Wajib) - Sebab-sebab mandi besar (Wajib) - Cara melakukan mandi besar (wajib) - Pengertian hadas dan najis - Menyebutkan macam-macam hadas dan najis dan mensucikannya - Menjelaskan perbedaan hadas dan najis 4. Materi Pokok Mandi besar (wajib) dan perbedaan Hadas dan Najis

5. Uraian Materi a. Mandi Wajib 1) Pengertian mandi wajib Yang dimaksud dengan mandi wajib adalah mengalirkan air keseluruh tubuh disertai niat. Mandi wajib diperintahkan kepada orang yang berhadast besar atau orang junub. 2) Adapun sebab-sebab mandi wajib yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) Keluar mani Hubungan kelamin (bersebadan) Terhentinya haid dan nifas Wiladah (Melahirkan) Meninggal dunia, orang Islam yang meninggal dunia wajib dimandikan.

3) Adapun cara melakukan mandi wajib yaitu : Hendaknya didahului dengan niat mandi wajib. Niat mandi wajib dilakukan dalam hati bagi orang yang bisa melafadzkan adalah sebagai berikut:

‫ض ل تع ى‬h ‫ حدث ل بر ف‬j ‫ر‬j h ‫نو ت غ‬ َ ‫ َ َال‬j j ‫ا‬Ž ‫ َر‬j َ h‫ َك‬h‫ ا‬j َ َ h‫ع ال‬h‫سلَ ل َف‬f h‫ ال‬f h‫َ َي‬
Artinya: Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadast besar karena Allah Ta’ala. Setelah itu dibarengi dengan mengalirkan air ke seluruh badan dan jangan ada yang menghalangi sampai air ke kulit seperti cat, lem dan sebagainya dan jangan ada bagian yang tidak terkena air. b. Hadast dan Najis 1) Pengertian hadast dan najis a) Pengertian hadast Hadas menurut bahasa berlaku atau terjadi, sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang terjadi atau berlaku yang mengharuskan bersuci atau membersihkan diri, sehingga sah untuk melaksanakan ibadah. Sabda Nabi Muhammad SAW.

‫ ال َ َة‬f َ h‫ َ َل َ : َ َق‬j h‫ َ َي‬f ‫ ا‬o ‫ ال َل‬f h‫و‬f ‫َا َ ر‬ ‫ صل‬f ‫م ل ي بل‬o‫ ص ى ل عل ه وس‬j ‫ق ل َس ل‬ ‫أ‬o َ َ َ ‫ى‬o َ َ ‫ َا َد‬j h‫م‬f j َ َ ‫احدك اذ ح َث حت يتوض‬
Artinya: “Rasulullah SAW telah bersabda: Allah tidak akan menerima shalat seseorang dari kamu jika berbahas sehingga lebih dahulu berwudhu” (HR. Mutafaq Alaih)”.

‫ا‬h‫و‬f o ‫ا َاط‬Ž f f h‫م‬f h‫ن‬f h‫ن‬jَ ‫هر‬o ‫وا ك ت جنب ف‬
Artinya: “Dan jika kamu junub, maka mandilah kamu”. (QS. Al-Maidah: 6).

Ayat dan hadits diatas menjelaskan bahwa bersuci untuk menghilangkan hadast dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu wudhu dan mandi. b) Pengertian Najis Secara bahasa najis adalah segala sesuatu yang kotor menurut agama. Najis menurut istilah adalah sesuatu yang dipandang kotor atau menjijikkan yang harus diucikan karena penyebabkan tidak sahnya melaksanakan suatu ibadah. Sebelum melakukan suatu ibadah seseorang harus suci, baik anggota badan/pakaian maupun tempat. Firman Allah SWT:

﴾‫ر‬t َ َ َ َ ‫ َا‬j َ ﴿٤﴾ ‫ر‬f h‫ز َاه‬h‫٥﴿ َالرج‬ ‫وثي بك فطه‬ ‫و | ف ج‬
Artinya: “Dan pakaian mu bersihkanlah, dan perbuatan tinggalkanlah” (QS. A-Muddasir: 4-5). Ayat di atas menjelaskan bahwa kita tidak hanya dianjurkan menjaga kebersihan fisik seperti pakaian atau tempat. 2) Macam-macam Najis dan Cara Mensucikannya Najis dibagi menjadi tiga bagian yaitu : a) Najis Mughallazhah (berat/tebal), yaitu najis yang disebabkan karena jilatan anjing atau babi. Cara mensucikannya ialah bagian yang kena najis dibasuh tujuh kali dengan air dan salah satunya dicampur dengan tanah. b) Najis Mukhaffafah (ringan) contohnya kencing anak laki-laki yang belum berumur 2 tahun. Cara membersihkannya cukup dipercikkan saja diatasnya air, sedangkan jika kena najis anak perempuan yang belum makan apa-apa selain air susu ibunya ialah dibasuh dengan air yang mengalir sehingga hilang baunya, zat atau sifatnya sebagaimana mencuci benda yang kena najis kencing orang dewasa. c) Najis Mutawassithah (pertengahan) ialah najis selain daripada najis mughallazhah dan mutawassithah. Najis ini ada dua macam yaitu : 1. Najis Hukmiah yaitu najis yang kita yakini adanya akan tetapi (tidak jelas zatnya, baunya, warnanya dan rasanya seperti air kencing yang sudah lama kering. Cara membersihkannya cukup disiram dengan air yang mengalir. 2. Najis Ainiah yaitu najis yang masih ada zatnya, warnanya, rasanya atau baunya. Cara mensucikan najis ini hendaklah menghilangkan zat, rasa, warna dan baunya terkecuali bila warna atau bau sangat sukar dihilangkan, seperti ini dimaafkan. Apakah Kamu juga pernah melakukan seperti di atas ? Tentunya pernah melakukan, bukan? Bagaimana menurut pendapatmu ?

3) Macam-macam Hadats dan Cara Mensucikannya Hadast dibagi menjadi dua yaitu : 1. Hadast kecil, Cara mensucikannya yaitu dengan berwudhu atau tayamum. 2. Hadast besar, Cara mensucikannya yaitu dengan mandi wajib. Pernahkah Kamu mempunyai hadast kecil, tentu pernah bukan? Seperti keluarnya sesuatu dan salah satu jalan yaitu kubul atau dubur. Begitu juga hadast besar seperti haid, nifas, wiladah, dan junubat (mandi wajib). Rangkuman : Setiap Muslim yang hendak beribadah shalat, wajib bersuci terlebih dahulu, yakni membersihkan diri dan hadast kecil dan besar. Cara untuk membersihkan hadast kecil yaitu wudhu, sedangkan untuk membersihkan hadast besar yaitu mandi wajib (junubat).

C. PENUTUP Saya ucapkan selamat bahwa kamu telah berhasil menyelesaikan kegiatan-kegiatan pada modul ini. Mudah-mudahan keberhasilanmu dapat mendorong semangat untuk terus menerus mempelajari modul demi modul. Setelah kamu selesai mempelajari modul ini semoga kamu memperoleh nilai yang memuaskan dan jangan lupa mintalah Tes Akhir Modul kepada Guru Pamong atau Guru Binamu. Apabila hasil tes kamu mencapai 6.5 atau lebih, maka kamu sudah berhak untuk mempelajari modul berikutnya. Tetapi apabila hasilnya kurang dari 6.5 sebaiknya kamu pelajari kembali modul tentang “Thaharah”, terutama yang belum kamu kuasai. Pelajari terus jangan putus asa, jika perlu dengan temanmu atau Guru Pamong dan Guru Binamu.

ISL.VII.1.3.06

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 1 8 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi Penyelaras : Drs. Muh. Suhandak : Moh.Sofyan S.Ag : Abdul Rozak S.Ag

SHALAT WAJIB

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN

Selamat kamu telah memutuskan memilih belajar di SMP Terbuka. Mudah-mudahan semangat belajarmu dapat mempermudah pelaksanaan kegiatan belajar pada setiap mata pelajaran. Bahan pelajaran yang paling pokok di SMP Terbuka adalah modul. Melalui modul kami dapat mempelajari secara mandiri dan kelompok. Setelah mempelajari modul ini, diharapkan kamu akan mengetahui ketentuan-ketentuan Shalat Fardlu ‘Ain dan Dalil Naqlinya, serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan modul ini adalah 8 x 40 menit. Kegiatan 1 : Tentang pengertian dan hukum shalat Kegiatan 2 : Mempraktekkan Shalat Wajib Ingat jangan lupa sebelum mempelajari modul ini membaca “Basmalah”.

Selamat Belajar !

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Pengertian dan Hukum Shalat Wajib 1. Standar Kompetensi Memahami tata cara sholat 2. Kompetensi Dasar Menjelaskan ketentuan-ketentuan shalat wajib 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Siswa dapat menjelaskan pengertian, hukum, syarat wajib dan syarat sah, sunnah shalat dan yang membatalkan shalat. 4. Materi Pokok Shalat Wajib 5. Uraian Materi Tentunya kamu telah menyelesaikan tugas-tugas pada modul 3 dengan hasil yang memuaskan, bukan? Mudah-mudahan demikian pada modul 4 ini, kamu akan mempelajari tentang : a. Pengertian dan hukum shalat. b. Syarat-syarat wajib shalat, syarat-syarat sah shalat, rukun shalat, hal-hal yang sunat dan yang membatalkannya. c. Dalil naqlinya perintah shalat. Pelajarilah dengan teliti supaya kamu akan lebih berhasil. Selamat atas keberhasilanmu itu semoga kamu mendapatkan nilai tentang arti shalat, bukan? a. Pengertian dan hukum shalat 1) Arti Shalat Shalat menurut bahasa ialah berdoa. Sedangkan arti shalat menurut istilah adalah suatu perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat-syarat tertentu. 2) Hukum Shalat Shalat lima waktu sehari semalam hukumnya wajib dikerjakan oleh setiap orang Islam yang telah akil baligh (dewasa) dan berakal.

Bacalah firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-An Kabut ayat 45 di bawah ini yang berbunyi :

“Wa aqimish shalaata innas shalaata tanha 'anil fahsyaai wal munkari.” Artinya : Dirikanlah shalat, sesungguhya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. (Q.S. Al-An Kabut : 45). Tentunya kamu bisa membacanya, bukan? b. Syarat Wajib Shalat Mungkin kamu tahu yang menyebabkan seseorang wajib mengerjakan shalat, bukan? yaitu : 1) Islam, maksudnya orang-orang yang bukan Islam tidak wajib mengerjakan shalat. 2) Suci dari haid dan nifas. 3) Baliqh, anak-anak tidak wajib shalat. 4) Berakal, orang gila atau mabuk tidak wajib shalat. 5) Telah sampai da'wah Islam padanya, artinya telah diberitahu dan mengerti bahwa shalat itu hukumnya wajib. c. Syarat sah shalat Mungkin Kamu sudah mengetahui tentang sesuatu yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat, yaitu : 1) Suci dari hadast besar dan kecil. 2) Suci badan, pakaian dan tempat dan najis. 3) Menutup aurat (aurat pria antara pusar sampai lutut dan aurat wanita seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka). 4) Mengetahui adanya waktu shalat. 5) Menghadap kiblat. Ka’bah sebagai kiblat bagi orang Islam

d. Rukun Shalat Mungkin Kamu tahu sesuatu yang harus dilakukan dalam shalat yang jika. tidak dilaksanakan tidak sah shalatnya, yakni : 1) Niat 2) Berdiri bagi yang mampu 3) Takbiratul ihrom 4) Membaca Al-Fatihah 5) Ruku disertai tumaninah = berhenti sejenak 6) I'tidal disertai tumaninah 7) Sujud disertai tumaninah 8) Duduk antara dua sujud disertai dengan tumaninah 9) Duduk akhir 10) Membaca tasyahud akhir 11) Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW 12) Salam, menoleh pertama ke kanan dilanjutkan menoleh ke kiri 13) Tertib. e. Hal-hal yang sunat dalam shalat Mungkin Kamu tahu sesuatu jika dikerjakan dalam shalat mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. 1) Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ruku, berdiri dan ruku’, berdiri dan tasyahud awal. 2) Bersedekap, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. 3) Melihat ke tempat sujud, 4) Membaca do'a iftitah. 5) Membaca ta'awudz dan basmalah 6) Membaca amin setelah membaca Al-Fatihah 7) Membaca surat atau ayat Al-Qur'an setelah membaca surat Al-Fatihah 8) Mendengarkan bacaan imam 9) Mengeraskan suara pada rakaat pertama dan kedua shalat maghrib, isya dan subuh 10) Membaca takbir setiap pergantian gerakan kecuali bangkit dan ruku dengan bacaan :

f
"Sami'allahu liman hamidahu” 11) Membaca

f
"Rabbanaa lakal hamdu"

12) Meletakkan kedua tangan di atas lutut ketika ruku. 13) Membaca tasbih ketika ruku 14) Membaca tasbih ketika sujud 15) Membaca do'a ketika duduk antara dua sujud 16) Duduk iftirasy (bersimpuh) yaitu duduk di atas kaki kiri sedangkan telapak kaki kanan ditegakkan dan jari-jarinya ditekuk menghadap kiblat kecuali duduk pada tasyahud akhir 17) Duduk tawarruk pada duduk akhir, kaki kiri keluar dibawah kaki kanan dan kaki kanan tetap seperti duduk iftirasy dan pantat duduk di tempat shalat. 18) Tangan ke tempat shalat (menekan) ketika akan berdiri dan duduk. 19) Memberi salam yang kedua. 20) Menoleh ke kanan pada salam pertama sehingga kelihatan, pipinya. f. Hal-hal yang membatalkan shalat Mungkin Kamu tahu jika dilakukan, shalatnya akan batal yaitu : 1) Meninggalkan salah satu rukun shalat atau melakukan salah satu rukun shalat belum sempurna karena disengaja seperti melakukan ruku belum sempurna, kemudian itidal. 2) Meninggalkan salah satu syarat seperti terbuka aurat, tidak suci pakaian badan dan tempat dan najis. 3) Sengaja berkata-kata. 4) Banyak melakukan gerakan yang bukan gerakan shalat kecuali terpaksa atau darurat. g. Dalil Naqlinya akan perintah shalat Nah, Kamu sudah bisa membaca Al-Qur'an bukan? Coba bacalah ayat di bawah ini Q.S. An-Nisa ayat 103 sebagai berikut :

"Faidzaa qudhoitumush shalaata fadkuruullaha qiyaaman waqu'uudan wa'ala junuubikum faidzathma'nantum fa aqiimush shalaata innash shalaata kaanat'alal mu'minina kitaaban mauquutan". Artinya : “Maka apabila Kamu telah menyelesaikan shalatmu ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila Kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat dan sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Q.S. An-Nisa : 103). Dan ayat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa shalat adalah wajib dikerjakan bagi setiap orang Islam dalam keadaan bagaimanapun.

Rangkuman : • • • • Muslim yang baliqh dan berakal sehat wajib melaksanakan Shalat fardlu lima waktu sehari semalam. Shalat seseorang baru dianggap sah apabila telah memenuhi syarat dan rukunnya. Rukun shalat artinya sesuatu yang harus dilakukan dalam shalat bila tidak dilakukan maka shalatnya tidak sah. Syarat sah shalat artinya syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat.

Kegiatan 2 : Mempraktekkan shalat Wajib 1. Standar Kompetensi Mempraktekkan shalat wajib dihadapan guru. 2. Kompetensi Dasar Siswa mampu mempraktekkan shalat wajib. 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Siswa dapat mempraktekkan shalat wajib secara tertib dan menjelaskan arti bacaan shalat wajib yang pokok. 4. Materi Pokok Gerakan shalat dan arti bacaan dalam shalat 5. Uraian Materi Tentunya Kamu telah menyelesaikan tugas-tugas pada kegiatan 1 dengan hasil yang baik, bukan? mudah-mudahan Kamu mendapat nilai yang memuaskan. Pada kegiatan 2 ini, Kamu akan mempelajari tentang : a. Gerakan shalat dengan urutannya. b. Praktek shalat lima waktu dengan menyesuaikan antara bacaan dan gerakan. c. Arti bacaan dalam shalat. Pelajarilah dengan teliti supaya Kamu akan berhasil. Selamat atas keberhasilanmu itu semoga Kamu mendapatkan nilai yang bagus. Tentu Kamu sudah melakukan shalat setiap hari, bukan ? 1. Gerakan shalat sesuai dengan urutannya Perhatikan dan tirukan gambar berikut ini. a. Berdiri tegak, lurus menghadap kiblat, mata melihat ke tempat sujud dan kedua tangan lurus ke bawah di sisi badan serta jari tangan terbuka. Kaki jangan terlalu rapat atau terlalu renggang. (Perhatikan gambar nomor 1) b. Mengangkat kedua tangan dengan jari-jari terbuka sejajar dengan telinga. Boleh juga jari menyentuh daun telinga bagian bawah. Kedua ketiak di renggangkan bagi laki-laki dirapatkan bagi perempuan. Gerakan ini selalu dilakukan setiap akan ruku’, bangun dari ruku’ dan berdiri setelah tasyahud awal. (Perhatikan gambar nomor 2)

Gambar 1

Gambar 2

c. Setelah takbiratul ihram tangan bersedekap. Telapak tangan kiri diletakkan di atas pusar, sedang telapak tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri. (Perhatikan gambar nomor 3)

Gambar 3

Gambar 4

d. Gerakan ruku’ yaitu badan membungkuk, punggung dan kepala sama datar. Kedua telapak tangan berpegangan/bertumpu kepada kedua lutut, jari-jari mengarah ke bawah. Pandangan ke tempat sujud. (Perhatikan gambar nomor 4) e. Gerakan i’tidal pertama, berdiri dari ruku’sambil mengangkat kedua tangan kemudian tangan kembali lurus ke bawah di sisi badan.(Perhatikan gambar no. 5) f. Sujud pertama yaitu kedua telapak tangan dengan jari-jari terbuka, kedua lutut, dahi, hidung dan kedua jari-jari ditekuk menghadap kiblat. Kedua siku direnggangkan dari badan bagi laki-laki dirapatkan bagi perempuan. Dahi tidak boleh terhalang oleh apapun dengan tempat sujud walaupun sehelai rambut. (Perhatikan gambar nomor 6) g. Gerakan duduk antara dua sujud yaitu pantat di atas telapak kaki kiri sedangkan telapak kaki kanan tegak dan jari-jari ditekuk menghadap kiblat (duduk tawarruk). (Perhatikan gambar nomor 7)

Gambar 5

Gambar 6

Gambar 7

h. Sujud kedua, gerakannya seperti pada sujud pertama. (Perhatikan gambar nomor 6) i. Berdiri kembali untuk melakukan rakaat kedua gerakannya sama seperti gambar nomor 3. j. Ruku’ yang kedua, gerakannya sama dengan gambar nomor 4. k. I’tidal kedua, gerakannya sama dengan nomor 3. l. Qunut (bagi yang biasa melakukannya pada shalat subuh) kedua tangan menengadah dalam keadaan berdo’a. m. Sujud ketiga, gerakannya sama dengan sujud pertama dan kedua. n. Duduk antara dua sujud, gerakannya sama dengan yang pertama dan kedua. o. Sujud keempat, gerakannya sama dengan sujud pertama, kedua dan ketiga. p. Duduk akhir, pantat menduduki tempat shalat, kaki kiri ke luar di bawah kaki kanan, telapak kaki kanan ditegakkan, jari-jari ditekuk menghadap kiblat. Tangan kanan di atas paha kanan jari-jari menggenggam kecuali telunjuk, tangan kiri di atas paha kiri jari-jari di buka dan rapi. (Perhatikan gambar 8) q. Salam, memalingkan (menoleh) ke kanan dan kiri. Ada sebagian setelah salam mengusapkan kedua tangannya ke muka, ada juga yang tidak. (Perhatikan gambar no. 9)

Gambar 8

Gambar 9

Setelah selesai 17 gerakan-gerakan, maka selesailah gerakan shalat shubuh. Gerakan shalat maghrib adalah sama gerakannya dengan shalat subuh, bedanya adalah jumlah rakaatnya tiga. Rakaat shalat subuh hanya dua, maka rakaat kedua lalu duduk iftirasy dan salam.

Shalat maghrib ada tiga rakaat, pada rakaat kedua berhenti duduk tawarruk (membaca tasyaliud awal) kemudian berdiri untuk rakaat ketiga setelah selesai sujud keenam duduk iftirasy untuk membaca tasyahud akhir dan salam. Gerakan Shalat empat rakaat seperti Dzuhur, Ashar, dan Isya adalah sama dengan gerakan shalat subuh dan maghrib. Bedanya adalah pada jumlah rakaat. Pada shalat maghrib rakaat ketika duduk iftirasy; pada shalat empat rakaat untuk rakaat ketiga berdiri pada rakaat keempat sujud kedelapan lalu duduk iftirasy membaca tasyahud akhir dan salam. Semua duduk dalam shalat adalah duduk tawarruk, kecuaIi duduk pada akhir yaitu duduk iftirasy. Nah Kamu sekarang bisa melakukannya, bukan? 2. Kesesuaian Antara Gerakan dengan Bacaan yaitu : a) Niat disertai dengan takbiratul ihrom. Bacaan niat Kamu sesuaikan dengan shalat yang akan Kamu kerjakan. Misalnya shalat subuh. Bagi yang biasa melafadzkan niatnya sebagai berikut :

"Ushalli fardash shubhi rak'ataini mustaqbilal qiblati adaan (mamuman/ imamam) lilllaahi ta'alla, Allaahu Akbar". Begitu pula shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Kamu bisa melakukannya, bukan? b) Iftitah dan do'anya Kamu masih ingat gerakannya, bukan ? Nah, sekarang do'anya :

”Allahu Akbar, kabiiraan walhamdu lillaahi kasiiran wasubhaanaallaahi bukratanwa asila. Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samawati wal ardhi haniifaam muslimaan wamaa anna minal musyrikiin, inna shalaatii wamasukii wamahyaaya wamamatii lillahi rabbil alamiin, laa syariika lahuu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimin”.

Do'a iftitah yang lain :

"Allahumma baa'id baiini wabaina khathaayaaya kamma baa'adta bainal masyriqi wal maghribi. Allahumma naqqinii min khahaayaaya kamma yunaqqastsaubul abyadhu minaddanasi. Allahumaaghsilnii min khaathaaya bil maa'iwas tsalji wal baradi". c) Surat Al-Fatihah Mungkin Kamu sudah hafal, bukan ? Baiklah do'anya :

Bismillahirrahmahirrahiim, Alhamdulillaahi rabbil aalamin, arrahmaanirrahim, maaliki yaumiddiin, iyyakana’ budu waiyyaa kanasta'iin, ihdinash shiraatal mustaqiim, shiraathalladziina an 'amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim walad dhaaliin. d) Ruku' dan do'anya

"Subhaana rabbiyal adziimi wa bihamdih " (3x) e) I'tidal dan do'anya

"Sami'allahu liman hamidah". Ketika I'tidal kedua tangan diluruskan ke bawah dengan membaca :

"Rabbana lakal hamdu mil ussama waati wamil ul'ardi wamil umaa syi'ta min syaiin ba'du".

f) Sujud dan do'anya : .

"Subhaana rabbiyal a'la wabihamdih" (3x) g) Duduk antara dua sujud

"Rabbi firli warhamnii wajburni warfa'nii warzuqnii wahdinii wa'aafini wa'fu'nnii". h) Tasyahud awal (pertama) dan do'anya

"Attahiyyatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillah, assalamu'alaika ayyuhaan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alaina wa'alaa ibaadillaahish shaalihin. Asyahadu alla ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadaar Rasuulullaah. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa'ala ali Muhammaddin". i) Tasyahud akhir dan doanya

"Attahiyyatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillah, assalamu'alaika ayyuhaan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu’alaina wa'alaa ibaadillaahish shaalihin. Asyahadu alla ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadaar Rasuulullaah. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa'ala ali Muhammaddin". Kamma shallaita ‘ala Ibrahim wa'alaa aali Ibrahim. Wabaarik

‘alaa Muhammad, wa'ala ali muhammadin kama baarakta'alla Ibrahim wa 'alaa aali Ibrahim. Fil alamina innaka hammidun majid". j) Salam

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh". k) Qunut dan do'anya (bagi yang biasa melaksanakannya). Qunut dilaksanakan pada shalat subuh setelah raka'at kedua. Nah, bagaimana Kamu sudah hafal, bukan ?

"Allahumah diniii fiiman hadait, wa'aafinii fiman 'aafait, watawallani fiiman tawallait, wa baariklii fiimaa athait, waqiinii birohmatika syarramaa qadhait, fainnaka taqdii walla yuqdha'alaika, wa innahu laa yadzillu maw walait, walaa ya izzu man 'adait, tabaarakta rabbana wata'alait, falakal hamdu 'alaa maa qadhait, astagfiruka wa atuubu'ilaik, washallallaahu'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyi ummiyyi wa'alaa aaliihi washa}ibihi wasalam". 3. Arti Bacaan Shalat Dalam bacaan shalat, Kamu seyogyanya memahami artinya sehingga dapat menghayati makna yang terkandung di dalamnya. a) Arti Takbir Artinya : Allah Maha Besar b) Arti niat (bagi yang hiasa melafalkannya) = menyengaja Artinya : Saya sengaja shalat ... rakaat menghadap kiblat sebagai makmum atau imam karena Allah ta'ala, Allahu Akbar. c) Arti Do'a Iftitah Artinya : Sesungguhnya Maha Besar Allah, segala puji adalah untuk-Nya dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang sepanjang masa. Kuhadapkan mukaku kehadirat Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan ikhlas serta berserah diri kepada-Nya dan bukanlah aku

termasuk golongan orang yanq mempersekutukan. Sesungguhnya shalatku, ibadahku dan matiku milik Allah seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagiNya, demikian itulah aku diperintahkan dan aku termaasuk kaum muslimin. . Artinya : Ya Allah, jauhkanlah antaraku dengan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dengan Barat. Ya Allah! Bersihkanlah aku dari segala kesalahan. Sebagaimana dibersihkan kain yang putih dan kotoran. Ya Allah sucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan embun. d) Arti Surat Al Fatihah Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari kemudian. Hanya kepada-Mu kami mengabdi, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat. Bukanlah jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat. e) Arti Doa Ruku' Artinya : Maha Suci Tuhanku Yang Maha Besar dan Maha Terpuji. f) Arti Do'a I’tidal Artinya : Allah mendengar bagi siapa saja yang menguji-NYa. Artinya : Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mulah segala puji sepenuh langit dan bumi dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudah itu. g) Arti Do'a Sujud Artinya : Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji. h) Arti Duduk diantara Dua Sujud Artinya : Ya Allah, ampunilah dosaku, kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekuranganku, angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku serta maafkanlah kesalahanku. i) Arti Tasyahud Awal Artinya : Segala penghormatan, kebahagiaan dan kebajikan adalah kepunyaan Allah. Keselamatan terlimpah atas-Mu wahai Nabi Muhammad begitu pula rahmat serta berkat Allah semoga keselamatan terlimpah pula atas kami dan juga atas hamba-hamba yang sholeh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad. j) Arti Tasyahud Akhir (Arti bacaan tasyahud awal di atas) Artinya : Ya Allah, Limpahkanlah pula rahmat atas keluarga Nabi Muhammad karena Engkaulah telah melimpahkan rahmat atas Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berilah kiranya keberkahan atas Nabi Muhammad

dan keluarganya karena Engkau telah memberikan atas Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta. Sesungguhnya Engkau yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. k) Arti Salam Artinya : Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah selalu dicurahkan kepada kamu sekalian.. l) Arti Do'a Qunut Artinya : - Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. - Dan sehatkanlah aku sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan. - Dan tolonglah aku sebagaimana orang yang Engkau beri pertolongan. - Dan berilah aku keberkahan sebagaimana orang yang telah Engkau berkahi. - Dan jagalah aku dan rahmat-Mu dan keburukan sesuatu yang telah Engkau pastikan. - Sesungguhnya Engkau Maha Menentukan dan tiada yang dapat menentukan kecuali Engkau. - Sesungguhnya tidak akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan. - Dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. - Maka berkahlah Engkau Maha Luhurlah Engkau. - Segala puji bagimu atas yang Engkau pastikan. - Aku mohon ampun dan kembalilah (taubat) kepada Engkau. - Semoga Allah memberi rahmat, berkah dan salam atas Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya. Nah, sekarang Kamu sudah hafal bukan? Mudah-mudahan Kamu hafal dengan lancar. Kosakata : Tawarruk = duduk di shalat pada tahiyat akhir dengan kaki kiri melintang di bawah kaki kanan, teiapak kaki kanan ditegakkan. Iftitah = bacaan setelah takbir pada awal shalat (permulaan, pembukaan, do'a pembukaan). Rangkuman : Shalat wajib lima waktu harus dikerjatcan karena Allah Ta'ala. Shalat akan lebih sempurna, jika dikerjakan dengan penuh khusyu dan ikhlas serta mengetahui arti bacaan shalat.

C. PENUTUP

Selamat atas keberhasilanmu dalam menyelesaikan modul ini dengan baik. Semoga Kamu mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Setelah menyelesaikan kegiatan-kegiatan pada modul ini, mintalah Tes Akhir Modul kepada Guru Pamong dan Guru Bina. Apabila dalam mengerjakan modul ini Kamu memperoleh nilai 6,5 berarti Kamu dapat meneruskan modul berikutnya yaitu modul ini tentang "Memahami Tata Cara Shalat Jamaah dan Munfarid (sendiri). Akan tetapi kalau nilai kurang dari 6,5 sebaiknya Kamu pelajari modul ini dengan cermat terutama pada bagian-bagian yang belum Kamu kuasai. Dan jangan lupa tanyakan kepada Guru Pamong atau Guru Binamu.

ISL.VII.1.4.07

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 1 4 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi Penyelaras : Drs. H. Murhanuddin, MM H.M. Sholeh M.Yunus : Moh.Sofyan S.Ag : Abdul Rozak S.Ag

SHALAT BERJAMA’AH DAN SHALAT MUNFARID

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN

Kamu telah menyelesaikan modul yang telah lalu, untuk itu selamat atas keberhasilanmu. Mudah-mudahan Kamu akan lebih berhasil menyelesaikan modul ini. Modul ini membahas tentang shalat Berjama’ah yang akan dibagi ke dalam dua kegiatan. Kegiatan 1 : Menjelaskan tentang pengertian, hukum, dalil aqli dan dalil naqli tentang shalat berjama’ah dan munfarid Kegiatan 2 : Mmenjelaskan tentang shalat berjama’ah dan munfarid Setelah mempelajari modul ini diharapkan Kamu dapat mengerjakan shalat berjama’ah dan munfarid dengan benar. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan modul ini adalah 4 x 40 menit. Bacalah buku dan sumber bacaan lain yang berkaitan dengan shalat berjemaah dan munfarid. Selamat belajar dan ingat mulailah dengan berdo’a.

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Pengertian, Hukum, Dalil Aqli dan Dalil Naqli tentang shalat berjama’ah dan munfarid 1. Standar Kompetensi Memahami tata cara shalat berjama’ah dan munfarid (sendiri) 2. Kompetensi Dasar Siswa mampu menjelaskan pengertian shalat berjama’ah dan munfarid (sendiri) 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Siswa dapat : - Menjelaskan pengertian, hukum dan syarat-syarat shalat berjama’ah dan munfarid - Menjelaskan keutamaan shalat berjama’ah atas shalat munfarid - Menjelaskan halangan-halangan shalat berjama’ah 4. Materi Pokok Pengertian, Hukum, Dalil Aqli dan Dalil Naqli tentang shalat berjama’ah 5. Uraian Materi a. Pengertian dan Hukum Shalat Berjama’ah dan Shalat Munfarid Setelah kamu mempelajari modul tentang Shalat Wajib, sekarang kita masuk kepada pembahasan Shalat Berjama’ah dan Shalat Munfarid. Tahukah kamu yang dimaksud Shalat Berjama’ah dan Shalat Munfarid ? Ikutilah dengan teliti uraian berikut ini : 1) Pengertian Shalat berjama’ah adalah shalat yang dilakukan bersama-sama oleh dua orang atau lebih. Salah seorang diantaranya menjadi imam, sedangkan yang lain menjadi makmum. 2) Shalat Munfarid adalah Shalat yang dilaksanakan sendirian, tidak ada imam dan makmum. Pernahkah kamu melakukan shalat sendirian ? Jika sudah pernah berarti kamu sudah melakukan shalat munfarid. b. Hukum Shalat Berjama’ah Bagaimana hukum shalat berjama’ah ? Hukum Shalat berjama’ah menurut sebagian besar ulama adalah sunah muakkadah, yakni sunah yang istimewa atau sunah yang sangat dianjurkan. Pahala Shalat berjema’ah dilipatgandakan sampai 27 kali pahala shalat berjama’ah.

c. Dalil Naqli dan Aqli mengenai Shalat Berjama’ah 1. Dalil Naqli mengenai Shalat Berjama’ah Banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang shalat berjema’ah diantaranya adalah :

Artinya : “Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Kebaikan shalat berjema’ah melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Artinya : “Dari Abu Darda r.a. berkata saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada terdapat tiga orang berkumpul di perkampungan, hutan, atau kota kemudian tidak dilakukan shalat berjema’ah melainkan mereka telah dijajah oleh setan. Karena itu kerjakanlah olehmu shalat berjema’ah. Sesungguhnya serigala itu hanya dapat menerkam kambing yang jauh (menyendiri) dan kawan-kawannya”. (H.R. Abu Dawud). Dari 2 buah hadist Nabi diatas jelaslah bahwa shalat berjama’ah memiliki pahala yang lebih banyak dari pada shalat sendiri, artinya jika mau melaksanakan shalat wajib dengan berjama’ah maka ada dua keuntungan yang kamu dapat, yaitu pahala shalat wajib juga pahala shalat berjama’ah. Agama Islam sangat menjunjung tinggi kebersamaan. Kebersamaan menggambarkan kerukunan dan kedamaian. Kebersamaan itu indah. Dalam kebersamaan sangat kecil kemungkinan terjadi perselisihan dan pertikaian. Nilai-nilai kebersamaan dan kedamaian tersebut dicontohkan dalam pelaksanaan shalat berjama’ah. Itulah pentingnya shalat berjama’ah. Dalam Shalat berjama’ah banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari, seperti saling menghargai, keharusan mematuhi imam karena perintahnya baik dan benar, serta masih banyak lagi teladan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Shalat berjama’ah mempunyai nilai kebersamaan dan persatuan

2. Dalil Naqli mengenai Shalat Berjama’ah Adapun dalil aqli tentang keutamaan Shalat berjama’ah antara lain karena betapa pentinganya umat Islam bersatu, saling mengenal, saling menolong, juga semarak atau syiar Islam akan kelihatan melalui Shalat berjama’ah serta adanya kebersamaan. Jadi, secara nalar bahwa shalat berjama’ah penting dapat kita terima. Bagi laki-laki Shalat berjama’ah di masjid lebih utama, sedangkan wanita lebih baik di rumah. Mengapa ? Secara nalar bagi laki-laki tidak ada masalah untuk menjalankan shalat di masjid. Sementara untuk wanita lebih baik di rumah karena faktor keamanan dan faktor-faktor lain seperti timbulnya mudarat. Dengan demikian nalar kita dapat menerima ketentuan tersebut. Rangkuman : • • • Shalat berjema’ah adalah shalat yang dilakukan oleh lebih dari dua orang secara bersamaan terdiri dari imam dan makmum. Hukum shalat berjema’ah adalah sunah muakad artinya pekerjaan sunah yang sangat dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW. Dengan shalat berjema’ah akan mempererat persatuan dan persaudaraan sesama muslim juga memperlihatkan kebersamaan dan kekompakkan yang dimulai dalam ibadah shalat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan 2 : Tata cara shalat berjama’ah dan munfarid 1. Standar Kompetensi Memahami tata cara shalat berjama’ah dan munfarid (sendiri) 2. Kompetensi Dasar Memperaktikan shalat berjama’ah dan munfarid (sendiri) 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Siswa dapat : - Menjelaskan syarat-syarat mendirikan shalat berjama’ah - Menjelaskan tata cara shalat berjama’ah dan munfarid 4. Materi Pokok Tata cara shalat berjama’ah dan munfarid 5. Uraian Materi Memahami tata cara shalat berjama’ah menjadi penting karena akan menentukan benar tidaknya pelaksanaan shalat berjama’ah yang dilakukan. Tata cara shalat berjama’ah yang akan dibahas dalam uraian ini meliputi: syarat-syarat shalat berjama’ah dan praktek shalat berjama’ah dan munfarid. a. Syarat Shalat Berjama’ah Syarat-syarat shalat berjama’ah terdapat pada syarat-syarat imam dan makmum. Adapun syarat-syarat imam dan makum sebagai berikut : 1) Syarat Syah menjadi Imam Imam adalah orang yang memimpin shalat berjama’ah. Sebagai pemimpin shalat, ia harus memenuhi syarat dan tata cara berikut. a) Imam laki-laki, makmumnya boleh laki-laki dan wanita. Imam wanita, makmumnya hanya boleh wanita, laki-laki tidak boleh makmum kepada imam wanita. b) Imam memiliki kemampuan membaca Al Qur’an lebih bagus dari pada jama’ahnya. c) Imam adalah orang yang mengerti seluk belum shalat. d) Imam bukan orang yang dibenci jama’ah. e) Imam tidak mengikuti yang lain (tidak saling menjadi makmum) f) Imam berdiri paling depan dan seyogyanya mengentahui keadaan makmum. g) Imam memperhatikan shaf (barisan) makmum dan menganjurkan kepada makmum untuk meluruskan dan merapatkan barisan. h) Imam hendaknya berniat menjadi imam.

2) Syarat sah menjadi makmum Makmum adalah orang yang mengikuti shalatnya imam. Seseorang dianggap sah menjadi makmum, bila memenuhi syarat sebagai berikut: Syarat menjadi makmum: a) Makmum berniat mengikuti imam b) Makmum mengikuti imam dalam segala gerakan shalat c) Makmum mengetahui gerakan shalat imam, baik mengetahui langsung atau melihat saf yang di belakang imam. Makmum juga harus mendengar suara imam atau mubalig (penyampai) suara imam. d) Makmum berada dalam satu tempat dengan imam e) Tempat berdiri makmum tidak boleh lebih depan dari imam f) Shalatnya makmum harus sama dengan shalatnya imam, misalnya samasama Shalat Zuhur, sama-sama jamak atau qasar. g) Makmun tidak sah mengikuti imam yang telah diketahuinya batal shalatnya. Untuk itu makmum harus mufarraqah (memisahkan diri) dari shalat imam. h) Makmum tidak boleh mendahului imam dalam takbir, mendahului atau melambatkan lebih dari dua rukun fi’lii (gerakan). Makmum ada dua macam, yaitu makmum muwafiq dan makmum masbuq. Makmum muwafiq adalah makmum yang dapat mengikuti imam secara sempurna, yakni menjadi makmum sejak pertama bersama imam. Makmum masbuq adalah makmum yang tidak sempat membaca surat Surah AlFatihah bersama imam pada rakaat pertama. Makmum masbuq adalah makmum yang terlambat datang, sementara imam sudah melakukan sebagian rukun shalat. Bagaimana hukum makmum masbuq ? Jika ia takbir ketika imam belum rukuk, hendaknya ia membaca surah Al Fatihah sampai ayat terakhir yang mungkin dibaca. Bila imam ruku sebelum membaca surah Al-Fatihah selesai langsung saja mengikuti bersama imam. Apalagi ia mendapati imam sedang ruku maka sesudah takbiratul ihram langsung mengikuti ruku bersama imam tanpa membaca surah Al-Fatihah. Makmum yang demikian itu tetap mendapat satu rakaat bersama imam. Selanjutnya ia tinggal melanjutkan kekurangan rakaatnya sesudah imam salam, bila belum cukup rakaatnya. b. Mempraktikkan Shalat Berjama’ah Ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam mempraktekkan shalat berjama'ah. Bagaimana ketentuan shalat berjama'ah yang baik dan benar itu ? Untuk lebih jelasnya ikuti kegiatan belajar berikut : * Mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan shalat berjama'ah * Mengamati gambar shalat berjama'ah dan memperagakannya Uraian berikut akan memberi penjelasan tentang tata cara melaksanakan shalat berjema'ah, sekaigus dapat dijadikan bahan diskusi. 1) Imam berdiri paling depan 2) Imam mengatur barisan (shaf) jama’ah 3) Barisan (saf) jama’ah, sesuai dengan ketentuans halat berjama’ah

Untuk lebih jelasnya simak gambar berikut : a. Makmum satu orang

b. Makmum dua orang

c. Makmum lebih dari 3 orang

c. Ketentuan Dalam Praktik Shalat Munfarid Berbeda dengan shalat berjama’ah, shalat munfarid dilakukan tanpa adanya imam atau makmum. Adapun syarat, rukun, sunah dan praktik dalam shalat munfarid sama seperti ketika melakukan shalat fardhu. Perbedaan antara bacaan shalat berjama’ah dan munfarid terletak pada nitanya. Perhatikan contoh bacaan niat shalat berjama’ah dan munfarid berikut: 1) Niat shalat berjama’ah a. Bacaan Imam

Artinya : “saya berniat shalat Shubuh dua rakaat menghadap ka’bah sebagai imam karena Allah ta’alaa” b. Bacaan makmum

Artinya : “Saya berniat shalat shubuh dua rakaat menghadap ka’bah sebagai makmum karena Allah ta’ala” 2) Niat shalat munfarid

Artinya: “Saya berniat shalat shubuh dua rakaat menghadap ka’bah karena Allah ta’alaa”. d. Fungsi Shalat Berjama’ah dalam Kehidupan Shalat berjama’ah sangat dianjurkan karena mengandung banyak hikmah dalam kehidupan kita di masyarakat. Beberapa hikmahnya antara lain : 1) Sebagai kewajiban shalat berjama’ah dapat membantu konsentrasi pikiran. 2) Menambah semangat orang yang melakukannya serta menimbulkan perasaan bahwa yang dilakukannya itu penting. 3) Bagi anak-anak akan mendapatkan pengalaman dan pelajaran melalui contoh pelaksanaan dan bacaan imam. Bila dilaksanakan dalam keluarga akan meningkatkan ketaatan dan ketekunan melaksanakan shalat pada seluruh anggota keluarga. 4) Kenangan indah dalam beribadah bersama dengan ibu-bapak, adik, kakak akan terbawa dalam jiwa anak. 5) Membantu pendidikan dan latihan kepatuhan kepada pemimpin. Pemimpin (imam) berlatih pada mendisiplinkan diri dan jujur kepada jama’ah (masyarakat).

6) Dengan shalat berjama’ah, kita semakin kenal dengan tetangga, akrab dengan mereka dan persahabatan serta persaudaraan semakin erat. 7) Dapat saling menolong. Selesai shalat berjama’ah, kita dapat berbincang-bincang dengan jama’ah yang lain. Dari perbincangan itu kita dapat mengetahui keadaan mereka yang mungkin saat itu dalam kesulitan. Saat itulah kita dapat saling menolong. 8) Masing-masing menyadari kesamaan derajat sesama hamba Allah SWT. 9) Menambah semaraknya kegiatan agama yang berarti juga merupakan sarana dakwah Islam. Rangkuman : • • • • Seorang pemimpin shalat (imam) harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Makmum juga harus memenuhi syarat-syarat sah menjadi makmum. Makmum masbuq ialah makmum yang tidak sempat membaca Surat Al-Fatihah bersama imam pada rakaat pertama. Dalam shalat berjama’ah saf (barisan) diatur sedemikian rupa sehingga shalat berjema’ah tertib dan rapi.

C. PENUTUP

Selamat atas keberhasilanmu dalam menyelesaikan modul ini dengan baik, berarti kamu mampu menyelesaikan modul tentang “shalat berjama’ah dan munfarid secara sendiri”. Ingat ! Karena kamu telah mempelajari hingga kegiatan 3 dalam modul ini, maka mintalah tes akhir modul kepada Guru Pamong atau Guru Bina. Apabila hasilnya di atas 6,5 berarti kamu dapat terus mempelajari modul berikutnya. Perlu kamu yakini bahwa dengan belajar penuh rasa percaya diri akan menambah keimanan.

ISL.VII.1.4.08

MODUL SMP TERBUKA
Mata Pelajaran Kelas Semester Waktu : : : : Pendidikan Agama Islam VII 1 4 x 40 menit

KEGIATAN SISWA
Penulis Pengkaji Materi : Abdul Rozak S.Ag : Moh.Sofyan S.Ag

MEMAHAMI SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

A. PENDAHULUAN

Saya ucapkan “Selamat” atas keberhasilanmu menyelesaikan modul yang lalu. Pertahankan keberhasilanmu dan tingkatkan semangat belajarmu untuk mempelajari modul selanjutnya. Modul ini membahas sejarah Nabi Muhammad SAW yang akan dibagi dalam dua kegiatan yaitu : Kegiatan 1 : Menjelaskan sejarah Nabi Muhammad SAW Kegiatan 2 : Menjelaskan misi Nabi Muhammad SAW untuk semua manusia dan bangsa. Waktu yang disediakan untuk mempelajari modul ini 4 x 40 menit. Jangan lupa, bacalah buku lain yang berkaitan dengan materi modul ini utnuk menambah wawasan dan pengetahuanmu. Selamat belajar dan mulailah dengan berdoa.

B. KEGIATAN BELAJAR Kegiatan 1 : Sejarah Nabi Muhammad SAW 1. Standar Kompetensi Memahami Sejarah Nabi Muhammad SAW 2. Kompetensi Dasar Menjelaskan Sejarah Nabi Muhammad SAW 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Diharapkan siswa dapat menjelaskan : - Berbagai peristiwa yang melatar belakangi kelahiran Nabi Muhammad SAW - Sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW - Sejarah pertumbuhan Nabi Muhammad SAW mulai kanak-kanak hingga diangkat menjadi Rasulullah - Da’wah Nabi Muhammad SAW di Kota Makkah - Da’wah Nabi Muhammad SAW di Kota Madinah 4. Materi Pokok Sejarah Nabi Muhammad SAW 5. Uraian Materi a. Berbagai Peristiwa yang Melatar Belakangi Kelahiran Nabi Muhammad SAW Perlu diketahui disini, bahwa Siti Aminah (ibu Muhammad) menerangkan mengenai bayi yang dilahirkan dan keadaan dirinya sewaktu melahirkan bayi itu : “Tat kala saya (Siti Aminah) melahirkan bayi itu (muhammad), maka dari bagian tubuhku memancarkan cahaya yang terang sehingga bersinar kelihatan sampai ke istana negeri Syria. Bayi yang dilahirkan itu suci bersih, tidak membawa kotoran.” Suasana pada waktu itu dilukiskan dalam serangkuman syair gubahan Abbas bin Abdul Muthallib (Paman Nabi Muhammad) yang berbunyi: Di kala Aminah melahirkan bayinya, Dunia terang bermandikan cahaya. Cahaya yang amat kita butuhkan, Petunjuk jalan kebahagiaan. Pada malam menjelang Siti Aminah melahirkan bayinya itu, terjadilah peristiwaperistiwa luar biasa yang mengandung tanda-tanda dan alamat-alamat, yang pada saat itu diartikan orang membawa pengharapan yang baik. Dalam cuaca yang terang benderang pada malam itu meledak dan menggoncang-goncangkan bumi yang hebat, sehingga patung-patung yang bergantungan di dinding Ka’bah berjatuhan dari tempatnya.

Gereja-gereja Nasrani dan kuil-kuil Yahudi mengalami kerusakan. Istana Kaisar di Roma yang sangat kokoh bangunannya tidak luput dari kehancuran; 14 menaramenara pencakar istana itu beruntuhan. Api yang senantiasa menyala-nyala, yang dipuja-puja dan disembah oleh penduduk kerajaan Persi, tiba-tiba padam yang menjadikan penyembah-penyembah api itu merasa sedih dan berduka cita. Di tiap-tiap lorong dan simpang orang ramai memperbincangkan mengenai kejadian itu. Banyak dari kalangan mereka menarik kesimpulan bahwa kejadian itu adalah sebagai alamat akan datangnya satu kejadian besar. Itulah suasana dan peristiwa di saat Siti Aminah melahirkan Muhammad, sebagai calon pemimpin umat seluruh dunia, pembawa rahmatan lil aalamin. Muhammad lahir dari rahim Siti Aminah setelah berada dalam kandungan ibunya, ia dilahirkan dalam keadaan yatim, karena ia tidak bisa menikmati kasih sayang seorang ayah. Ayah Muhammad yang bernama Abdullah bin Abdul Muthallib meninggal dunia ketika ia masih berada dalam kandungan 2 bulan. Ayah Muhammad (Abdullah bin Abdul Muthaalib) meninggal dunia sewaktu pulangnya dari menjalankan perdagangan dari negeri Syria dari negeri Mekkah. Ia dimakamkan di kota Madinah (Yatsrib); dan ia meningglkan 5 ekor unta, beberapa ekor kambing dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman. Abdullah meninggal dunia dalam keadaan yang mengharukan dan memprihatinkan. Tidak ada seorang pun dari keluarganya yang mempersaksikannya dan memperhatikannya dalam menghembuskan nafas terakhirnya, dan tak ada famili yang turut menguburkannya. b. Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW Sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, masyarakat Makkah diketahui dengan sebutan “Kaum jahiliyah” artinya kaum yang bodoh. Pada saat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidup, lahirlah ke dunia dari keluarga yang sederhana beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW lahir di kota Makkah Al Mukarramah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, bertepatan tanggal 20 April 571 M. ibunya bernama Siti Aminah binti Wahab dan ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib yang telah meninggal dunia 6 bulan sebelum Nabi Muhammad SAW, lahir. Kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut Tahun gajah karena adanya penyerangan burung ababil terhadap pasukan bergajah yang akan menghancurkan ka’bah di kota Makkah, pemimpinnya seorang Gubernur dari kerajaan Habsyi bernama Abraha yang akhirnya tewas.

c. Sejarah pertumbuhan Nabi Muhammad SAW mulai kanak-kanak hingga diangkat menjadi Rasulullah Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari Qushai pahlawan suku Quraisy yang telah berhasil menggulingkan kekuasaan Khuza’ah atas kota Makkah. Pada waktu Nabi Muhammad SAW, berusia 6 tahun, ibunya mengajak beliau ke Madinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Najjar serta berziarah ke makam ayahnya. Di Madinah ibunya memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW rumah tempat ayahnya dirawat dan dimakamkan. Ketika Nabi Muhammad SAW bersama ibunya kembali ke Makkah dalam perjalanan pulang sampai di desa Abwa’ (36 km sebelum selatan madinah), Siti Aminah jatuh sakit sehingga wafat kemudian dimakamkan di desa itu juga. Setelah itu. Nabi Muhammad SAW dibawa pulang ke Makkah oleh Ummu Aiman, seorang hamba sahaya sepeninggal ayahnya. Setelah ibunya meninggal Nabi Muhammad SAW, diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Sewaktu dalam asuhan kakeknya, nabi Muhammad SAW, merasa bahagia karena telah mendapat hiburan yang dapat melupakan kesedihan hatinya. Abdul Muthalib adalah seorang pemuda Quraisy yang disegani dan dihormati oleh segenap kaum Quraisy dan penduduk kota Makkah. Selama 2 tahun Nabi Muhammad SAW diasuh kakeknya, orang tua yang baik budi itu meninggal dunia di usia ke 80 tahun sedangkan nabi masih berumur 8 tahun. Setelah meninggalnya Abdul Muthalib, nabi Muhammad SAW, diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Ini sesuai dengan wasiat Abdul Muthalib ketika masih hidup. Sebenarnya Abu Thalib bukanlah paman beliau yang tertua dan terkaya. Paman beliau yang tertua adalah Harits sedangkan yang terkaya adalah Abbas. Meskipun Abu Thalib seorang yang tidak mampu, tetapi beliau berhati mulia dan pemurah serta sangat disayangi dan dihormati oleh segenap penduduk Makkah. Demikian halnya dengan sikap dan kasih sayang yang dicurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. melebihi kecintaannya terhadap anaknya sendiri. Dalam perjalanan hidup bersama pamannya itulah beliau mempunyai banyak pengalaman yang berharga, diantaramya sebagai berikut : a. Berniaga Ketika Nabi Muhammad SAW berusia 12 tahun, beliau mengikuti pamannya berdagang ke Negeri Syam. Di dalam perjalanan ia dapat menyaksikan bekasbekas peninggalan sejarah berupa puing-puing runtuhan kerajaan-kerjaan Arab zaman dahulu, seperti kota Madyan, negeri Tsamud, dan lain-lain. Waktu sampai di Bushra, Abu Thalib bertemu dengan seorang pendeta nasrani bernama Buhaira. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad sehingga Abu Thalib dinasihati agar segera membawa keponakannya pulang ke Makkah.

b. Nabi Muhammad SAW sebagai pengembala Selain turut berniaga dengan pamannya, nabi Muhammad SAW juga pernah menggembalakan kambing. Ia banyak memperoleh kepercayaan untuk menggembala kambing milik keluarga dan sebagian milik penduduk Makkah. Pekerjaan ini banyak memberikan pelajaran yang amat baik pada diri beliau, seperti berlatih sifat ulet, sabar, tabah, tenang dan terampil. Bagi nabi Muhammad SAW pekerjaan menggembala memberikan pengalaman yang berharga kelak sebagai Rasulullah SWT. c. Berusaha Mencari Nafkah Menjelang usia 25 tahun nabi Muhammad SAW mulai dewasa dan berusaha sendiri dengan jalan memperniagakan harga Khadijah, seorang pedagang perempuan yang kaya raya dan dihormati. Pada waktu nabi Muhammad SAW berdagang ke Syam, beliau ditemani oleh pembantu Khadijah bernama Maisaroh. Nabi menjual barang dagangannya dengan cara yang jujur dan penuh dengan kesopanan sehingga laku cepat dan memperoleh keuntungan yang banyak. Maisaroh pun menceritakan tentang kuhurnya pribadi beliau kepada Khadijah. Hal itu menimbulkan rasa ketertarikan Khadijah kepada beliau sehingga dia yang sudah berusia 40 tahun berniat untuk menikahinya. d. Nabi Muhammad SAW Menikah dengan Khadijah Hasrat Khadijah untuk meminang nabi Muhammad SAW. disampaikan melalui saudaranya, Nafsiah binti Munirah. Nafsiah meminta beliau memperistrikan Khadijah. Pada waktu itu usia Nabi Muhammad SAW 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah 40 tahun. Rumah tangga Nabi Muhammad yang penuh berkah dan dikaruniai oleh Allah SWT dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Putra sulungnya adalah laki-laki yang bernama Qasim. Oleh karena itu, nabi Muhammad juga dipanggil Abul Qasim. Empat orang putrinya diberi nama Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, dan Fathimah, serta putra yang keenam bernama ‘Abdullah. e. Menegakkan Keadilan Dan Perdamaian Makin lama nama Muhammad makin popular di kalangan penduduk Makkah. Hal itu disebabkan beliau telah berhasil mendamaikan pemuda-pemuda Quraisy dalam masalah peletakan batu hitam (hajar aswad). Masing-masing merasa berhak dan berebut kehormatan untuk mengembalikan hajar aswad itu ke tempat asalnya. Nabi Muhammad terpilih menjadi hakim, beliau meminta sehelai kain. Kain itu dihamparkan dan diambilnya batu itu lalu diletakkan dengan tangannya sendiri di atas kain. Selanjutnya, nabi Muhammad SAW memerintahkan, “Hendaklah setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini”. Mereka bersama-sama mengangkat kain tersebut ke tempat batu akan diletakkan. Lalu Nabi Muhammad mengangkat batu tersebut dan meletakkannya di tempat semula.

Dengan demikian, perselisihan berakhir dan bencana dapat dihindarkan. Karena semua pihak merasa mendapatkan bagian yang sama dalam tugas terhormat itu, semua golongan merasa puas dengan keputusan Nabi Muhammad SAW. sehingga Nabi Muhammad SAW dijuluki Al-Amin artinya orang yang dapat dipercaya. Karena memberikan keputusan yang adil. d. Da’wah Nabi Muhammad SAW di Kota Makkah Sesudah ditinggal istri dan pamannya, maka kaum Quraisy tidak segan-segan dalam memusuhi Nabi SAW. rasa-rasanya tidak ada halangan yang membendung kebencian dan dendam mereka kepada beliau bila dibandingkan sewaktu masih hidupnya Khadijah dan pamannya Abu Thalib, karena sudah tidak ada lagi orang yang dihormati dan disegani serta yang melindungi beliau. Kurang lebih selama 10 tahun Rasulullah SAW dengan tulus hati dan lembut mengajak kaum Quraisy Makkah untuk memeluk masuk beragama Islam menyembah Allah SWT. Tapi sambutan dan reaksi yang diberikan oleh orang-orang Quraisy terhadap Nabi Muhammad SAW adalah kesombongan dan kecongkakan, perlawanan dan penghadangan terhadap perlawanan penyiaran Islam di Kota Makkah. Maka keluarlah Nabi Muhammad SAW pada tahun yang ke-11 dari kenabian mendatangi kabilah-kabilah yang ada dibangsa Arab Kota Makkah dan beliau mengajak mereka (para kabilah) itu masuk agama Islam. Tapi semua kabilah itu menolaknya, sebagian menolak dengan halus dan sebagian lagi menolak dengan kasar. Diantara kabilah yang paling kasar dan busuk penolakannya ialah kelompoknya Musailamah Al-Kadzdzab. e. Da’wah Nabi Muhammad SAW di Kota Madinah Ketika kaum Quraisy mengetahui tersebarnya Islam sudah sampai Kota Madinah, sejak Baiat Aqobah pertama dan Baiat Aqobah kedua (Aqobah adalah daerah pendakian di pegunungan, Baiat Aqobah pertama terjadi dalam zaman Nabi pada tahun ke-12 dari kenabian Muhammad SAW) Maka kaum Quraisy Makkah meningkatkan gangguan dan penganiayaan kepada kaum muslimin yang berada di Makkah atau para pengikut Rasulullah SAW. Lalu Nabi memerintahkan kepada mereka kaum muslimin Makkah berhijrah ke Madinah untuk menemui dan bergabung dengan saudara-saudara mereka di Madinah. Para sanak saudara di Madinah itu dinamakan kaum Anshar (penolong kaum Muhajirin dari Makkah). Dalam perkembangannya mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar Nabi Muhammad SAW mendirikan masjid (sebagi tempat menyatukan umat Islam). Ditempat baru inilah (Madinah) kaum Muhajirin dan Anshar pada umumnya dapat menjalankan syari’ah Islam dengan aman dan tenteram, ada yang hidup dengan berniaga, dan ada pula yang bertani (seperti Abu Bakar, Usman dan Ali) mengerjakan tanah kaum Anshar.

Beberapa peristiwa atau kejadian yang terjadi di tahun pertama hijrah antara lain : 1. Disyariatkannya Adzan 2. Kaum Yahudi Madinah memusuhi Kaum Muslimin 3. Diizinkannya Perang dalam Islam 4. Meninggalnya Usman Bin Mazh’un dan pertama kalinya Rasululah meletakkan batu nisan diatas makam. Rangkuman: Nabi Muhammad lahir di Kota makkah, Senin 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, Ibunya bernama SitiAminah binti Wahab ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib. Ayah beliau meninggal dunia 6 bulan sebelum nabi Muhammad lahir ibu beliau meninggal dunia karena sakit dalam perjalanan pulang dari Madinah ke Makkah dan dikuburkan di desa Abwa (36 km sebelah selatan Madinah). Kemudian diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib pada usia ke 80 tahun beliau meninggal dunia. Lalu beliau diasuh pamannya Abu Tholib. Olehnya Nabi Muhammad diajarkan cara berniaga dan juga pernah cara menggembala. Ini adalah pelajaran yang amat baik pada diri beliau akan sifat ulet, sabar, tabah, tenang dan terampil. Diusianya yang 25 tahun, nabu Muhammad SAW memperniagakan harta Khadijah yang kemudian menjadi Istri beliau. Rumah tangga Nabi Muhammad SAW penuh berkah dan dikaruniai oleh Allah dua anak laki-laki Qosim dan Abdullah serta 4 anak perempuan Zainab, Ruqoyah, Ummu Qulsum dan Fatimah. Semuanya meninggal dunia sebelum menikah/dewasa kecuali Fatimah yang kemduian menikah dengan Sayyidana Ali bin Abi Thalib. Dalam urusan kemasyarakatan beliau termasuk orang yang sering dimintai memberi keputusan seperti ketika orang Makkah bingung siapa yang harus memutuskan peletakan Hajar Aswad, maka Nabi Muhammad yang menjadi penengah dan mereka sehingga beliau dijuluki Al-Amin orang yang dapat dipercaya. Kegiatan 2 : Misi Nabi Muhammad SAW 1. Standar Kompetensi Memahami Sejarah Nabi Muhammad SAW 2. Kompetensi Dasar Menjelaskan Misi Nabi Muhammad SAW untuk semua Bangsa dan Negara 3. Indikator Pencapaian Kompetensi Diharapkan siswa dapat : - Menjelaskan Misi kehadiran Nabi Muhammad SAW khusus untuk umat Islam - Menjelaskan Misi kehadiran Nabi Muhammad SAW untuk umat manusia dan Bangsa

4. Materi Pokok Misi Nabi Muhammad SAW 5. Uraian Materi a. Misi Nabi Muhammad SAW khusus untuk umat Islam Pada malam 17 Ramadhan tahun 40 dari kelahirannya, bertepatan pada tanggal 6 Agustus 610 M. pada waktu Nabi Muhammad SAW, bertahanus (bertapa) di Gua Hira, datang Malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama, yaitu Surah Al’Alaq berikut ini. (yang artinya) “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(QS. Al ‘Alaq: 1-5)
Bukit Safa

Secara resmi Nabi diangkat menjadi Rasul setelah menerima wahyu yang pertama surat Al ‘Alaq tersebut. Kemudian beliau menerima wahyu kedua yaitu surat Al Muddatsir. (yang artinya) “Dan berilah peringatan keluargamu yang paling dekat” (QS. ASy Syura: 214) Setelah 3 tahun lamanya Nabi Muhammad SAW berdakwah secara sembunyisembunyi, turunlah ayat yang memerintahkan beliau berdakwah secara terangterangan. Firman Allah SWT.(yang artinya) “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (QS. Al Hijr: 94) Sasaran dakwah beliau secara terang-terangan yaitu kepada : 1. Golongan bangsawan 2. Budak 3. Pendatang dari negeri lain 4. Penduduk negeri lain 5. Penduduk Makkah yang beragama Islam. Pertama kali Nabi Muhammad berdakwah secara terang-terangan di Bukit Safa. Dalam dakwah tersebut beliau mengatakan bahwa tidaklah beliau diutus oleh Allah SWT, melainkan untuk mengajak mereka menyembah Allah SWT, dan meninggalkan menyembah berhala. Kaum Quraisy tidak percaya sama sekali, bahkan mereka mendustakannya dan mengejek Nabi Muhammad SAW. di antara yang mendustakan dakwah beliau adalah Abu lahab dan isterinya, Abu Jahal, dan Umar bin Khattab.

Dakwah kedua dilakukan pada keluarga Nabi Muhammad SAW. sendiri dengan cara mengumpulkan seluruh keluarga di Bukit Safa sebanyak 40 orang, termasuk Abu Lahab. Allah menurunkan wahyu surat Al Lahab dikarenakan Abu lahab tidak setuju dengan semua dakwah Nabi Muhammad SAW, sehingga Abu lahab mengusir Nabi dengan cara berteriak-teriak dan melempari Nabi Muhammad SAW dengan batu kehadapan muka beliau. Bunyi surat Al Lahab ayat 1-5: (yang artinya) “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah padanya harta bendanya dan apa yang diusahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula isterinya, pembawa kayu bakar. Yang dilehernya ada tali dari sabut”. (QS. Al Lahab : 1-5) Beberapa hal yang menyebabkan kaum Quraisy menentang dakwah Nabi Muhammad SAW. 1. Takut kehilangan kekuasaan yang mereka perjuangkan. 2. Kafir Quraisy tidak ingin kaum budak disamakan derajatnya dengan kaum bangsawan. 3. Takut dengan Yaumul Jazaa (hari pembalasan) 4. Berat meninggalkan menyembah berhala karena budaya nenek moyang mereka. 5. Takut kehilangan mata pencaharian dari membuat dan menjual berhala sebagai sesembah mereka. Tekanan kepada Nabi semakin banyak yang ingin menggagalkan syiar Islam, dengan berbagai cara yaitu ditawarkan wanita-wanita cantik, kedudukan yang tinggi hingga harta yang melimpah beliau dengan tegar terus melanjutkan dakwahnya, akhirnya upaya kafir quraisy sia-sia, semakin hari semakin banyak yang masuk Islam. Beliau mengajarkan bagaimana berakhlak mulia dan melarang berbuat kemungkaran hal inilah yang menjadi daya tarik yang besar bagi dakwah beliau. Beliau juga mengajarkan ibadah seperti shalat, dengan mengerjakan shalat secara tidak langsung memberantas pemujaan terhadap berhala, sehingga tekanan dan siksaan diluar kemanusiaan, terus mengancam kepada pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW yang lemah. Seperti budak dan kaum miskin hingga akhirnya beliau berhijrah ke Madinah bersama kaum muslimin. Di Kota Madinah beliau lebih leluasa berdakwa hingga hampir seluruh kota Madinah dan menyebar seantero negeri yang langsung dapat dirasakan umat manusia di dunia sebagai agama rahmatal lil alamiin.

b. Misi Nabi Muhammad SAW untuk manusia dan bangsa Dalam kehidupan dan perjuangan Rasulullah, baik sebagi manusia pribadi maupun sebagai pemimpin umat, beliau senantiasa mencerminkan dan memberikan sentuhan kasih sayang yang dirasakan oleh semua pihak, baik terhadap muslimin maupun terhadap lawan politiknya. Beliau selalu menebarkan sentuhan kasih sayang terhadap anak-anak, orang-orang tua dengan mencintai dan menyantuni mereka, terhadap orang-orang lemah kedudukan sosial dan ekonominya, beliau menunjukkan kasih sayangnya dengan membela nasib mereka dari tindakan sewenang-wenang dan kekerasan, dengan memberi hak mereka, menegakkan dasar-dasar keadilan dan lain sebagainya. Belaiu sendiri telah menyatakan dalam haditsnya (yang artinya): “Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang muda yang tidak menghormati orang-orang tua dan orang-orang tua yang tidak kasih sayang kepada anak-anak. (HR.Abu daud dan bukhari). Terhadap lawanpun Rasulullah senantiasa memberikan sentuhan kasih sayang. Ketika kaum msulimin mendapat rintangan dan penghinaan serta penganiayaan dari pihak kaum musyrikin, maka para sahabat mendo’akan kepada Allah supaya orangorang yang menentang dan menghalang-halangi da’wahnya itu dihancurkan oleh Allah SWT. apa jawab Nabi? Belaiu menjawab: Sesungguhnya saya ini diutus bukanlah mengutuk, tapi tugas saya adalah mengajak orang supaya bertaqwa kepada Allah. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara selalu mengedepankan sifat marhamah, tolong menolong sehingga menjadi lebih harmonis. Rangkuman : Misi Nabi Muhammad SAW untuk manusia dan bangsa 1. Mengajarkan kepada manusia tentang akidah dan larangan menyembah selain Allah SWT. 2. Memberi kabar gembira kepada manusia yang mentaati perintah Allah dan kabar duka bagi mereka yang meingkarinya. 3. Mengajarkan manusia berakhlak terpuji dan melarang berbuat kemungkaran. 4. Mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah. 5. Mengajarkan persamaan derajat sesame manusia di hadapan Allah SWT.

C. PENUTUP

Selamat atas keberhasilan dalam menyelesaikan modul ini dengan baik, berarti kamu mampu menyelesaikan modul tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Ingat! Karena kamu telah mempelajari kegiatan dalam odul ini maka mintalah tes akhir modul kepada Guru Pamong dan Guru Bina. Apabila hasilnya di atas 6,5 berarti kamu dapat terus mempelajari modul berikutnya. Tetapi bila hasilnya kurang dari 6,5 sebaiknya kamu pelajari kembali modul ini terutama bagian-bagian yang belum kamu kuasai. Tanyakan kepada Guru Bina pada saat tatap muka di sekolah induk dan belajarlah dengan sungguh-sungguh. Perlu kamu yakini, bahwa dengan belajar penuh percaya diri akan menambah keimananmu. Selamat kamu bias melanjutkan mempelajari modul Agama Islam di kelas VII Semester 2.

KEPUSTAKAAN A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K. L. M. N. O. P. Q. R. S. T. U. V. Departemen Agama RI. (1984). Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta: Departemen Agama RI. M. Quraish Shihab. (1997). Tafsir al-Qur’an al-Karim: tafsir atas surat-surat pendek berdasarkan urutan turunnya wahyu. Jakarta: Pustaka Hidayah. Imam Al-Bukhari. Al-Shahih. Imam Muslim. Al-Shahih. An-Nawawi. (1987). Riadhus shalihin. Alih Bahasa oleh Salim Bahreisy. Bandung: Al-Ma’arif. Cet. Ke-10. Fatchur Rahman. (1985). Ikhtishar musthalahul hadits. Bandung: Al-Ma’arif. Cet. Ke-4. Sayyid Sabiq. (1991). Aqidah Islam (ilmu tauhid). Alih bahasa oleh Moh. Abdai Rathomy. Bandung: C.V. Diponegoro. Cet. X. Nasruddin Razak. (1993). Dienul Islam. Bandung: PT. Al-Ma’arif. Cet. Ke-11. Endang Saifuddin Anshari. (1992). Kuliah al-Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Edisi 2. Cet. Ke-2. Muhammad Daud Ali. (2000). Pendidilkan agama Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Cet. Ke-3. Departemen Agama RI. (2001). Pendidikan agama Islam pada perguruan tinggi umum. Jakarta: Departemen Agama RI. A. Toto Suryana dkk. (1996). Pendidikan Agama Islam untuk perguruan tinggi. Bandung: Tiga Mutiara. Hamzah Ya’qub. (1988). Etika Islam: pembinaan akhlakulkarimah (suatu pengantar). Bandung: CV Diponegoro. Cet Ke-4. Humaidi Tatapangarsa. (1991). Akhlak yang mulia. Surabaya: Bina Ilmu. Marzuki. (2006). Prinsip pokok akhlak mulia. Draf buku belum diterbitkan. Yogyakarta: UPT MKU UNY. Rahmat Djatnika. (1996). Sistem etika Islami (akhlak mulia). Jakarta: Pustaka Panjimas. Cet. Ke-2. Sulaiman Rasjid. (1976). Fiqh Islam (Hukum fiqh lengkap). Jakarta: Penerbit AtTahiriyah. Cet. Ke-17. Sayyid Sabiq. (1992). Fiqh al-sunnah. Beirut: Dar al-Fikr. Muhammad Yusuf Musa. (1988). Islam suatu kajian komprehensif. Alih bahasa oleh A. Malik Madaniy dan Hamim Ilyas. Jakarta: Rajawali Pers. Cet. Pertama. Badri Yatim. (2001). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Cet. Ke-12. A. Hasjmy. (1995). Sejarah kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Cet. V. Joesoef Sou’yb. (1979). Sejarah daulat khulafaur rasyidin. Jakarta: Bulan Bintang. Cet. I.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->