P. 1
Alat bantu dengar

Alat bantu dengar

|Views: 1,409|Likes:
Published by Fakhrul Hidayat

More info:

Published by: Fakhrul Hidayat on Jun 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

Alat bantu dengar telah menolong jutaan orang untuk memperoleh pendengaran yang lebih baik dan menjalankan

kehidupan sosialnya secara aktif. Brosur ini akan menjelaskan berbagai jenis alat bantu dengar yang ada saat ini, bagaimana kinerjanya, pertimbangan apa saja yang diambil saat memilih alat bantu dengar, bagaimana alat bantu dengar anda membantu secara optimal. Jalan menuju pendengara yang lebih baik Apakah alat bantu dengar itu? Alat bantu dengar adalah sebuah alat elektronik yang bekerja menggunakan batere yang dapat memperbesar dan mengubah suara-suara sehingga dapat meningkatkan komunikasi. Suara diterima melalui mikrofon yang mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik kemudian amplifier meningkatkan besarnya sinyal dan mengirimkan suara melalui speaker menuju liang telinga. Jenis-jenis alat bantu dengar Ada 4 jenis alat bantu dengar. Praktisi kesehatan pendengaran akan membantu menentukan jenis alat bantu dengar yang mana yang sesuai untuk gengguan dengar anda :  Behind-the-Ear (BTE) Alat bantu dengar ini dipakai dibelakang telinga dan dihubungkan ke earmould yang dipasang tepat ditelinga luar. Jenis alat bantu dengar belakang telinga ini dapat membantu berbagai jenis gangguan dengar.  In-The-Ear (ITE) Alat bantu dalam telinga ini dikemas didalam sel akrilik atau kesing yang dibuat menurut pesanan customer yang dipasang ditelinga luar. Jenis ITE ini mudah untuk ditangani dan digunakan. Sangat cocok untuk gangguan dengar dengan tingkatan rendah hingga keras.  In-The-Canal (ITC) Berukuran lebih kecil dari ITE, kesingnya dibuat menurut pesanan sehingga disesuaikan dengan liang telinga customer. Bentuknya sangat tersembunyi namun masih dapat terlihat dari bagian luar telinga. Cocok untuk gangguan dengar dengan tingkatan rendah hingga sedang.  Completely-in-the-Canal (CIC) Jenis alat bantu dengar ini berukuran lebih kecil yang diletakan agak kedalam liang telinga. Dilengkapi dengan tangkai mini sehingga memudahkan pemasangan dan pelepasan. Jenis ini cocok digunakan untuk gangguan dengar dengan tingkatan rendah hingga sedang. Earmoould Cetakan telinga merupakan komponen yang sangat penting untuk jenis alat bantu dengar belakang telinga. Earmould mengirimkan suara keliang telinga dan menstabilkan alat bantu dengar baik di atau didalam telinga. dibuat berdasarkan pesanan customer untuk memastikan kesempurnaan saat dipakai. Sebagian earmould dilengkapi ventilasi agar nyaman saat dikenakan dan menghasilkan suara yang lebih alamiah. Komponen Bagian Dalam Alat bantu dengar berisi salahsatu dari tiga jenis sirkuit elektronik yakni digital, programmable analogue atau conventional analogue. DIGITAL Diprogram menggunakan komputer, alat bantu dengar digital ini merupakan salahsatu solusi tercanggih yang ditawarkan pasar audiologi saat ini karena memberikan fleksibelitas yang luarbiasa dalam memenuhi kebutuhan pendengaran setiap orang dan mampu menyaring suara-suara yang tidak dibutuhkan. Performa alat bantu dengar jenis ini dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi lingkungan pendengaran yang beragam. Misalnya kemampuannya yang dapat menganalisa suara-suara sekelilingnya hingga memperbesar suara-suara desahan sambil meminimalisir suara latar yang bising seperti suara lalu lintas atau angin.

PROGRAMMABLE ANALOGUE Sirkuit programmable analogue ini membuat alat bantu dengar dapat memenuhi kenyaman dan keinginan pemakainya. Alat bantu dengar yang dilengkapi dengan sirkuit ini dapat diatur-atur karena dapat diprogram kembali untuk menghadapi kondisi pendengaran yang berubah-ubah. CONVENTIONAL ANALOGUE Jenis sirkuit ini menawarkan sedikit fitur-fitur otomatis dan fleksibelitas yang terbatas. Selain volume yang disetel secara manual, alat bantu dengar ini juga tidak dapat diprogram ulang. sirkuit ini tidak dapat memb edakan suara yang lembut dan keras artinya baik itu suara percakapan ataupun suara latar yang bising sama-sama diperbesar. KELEBIHAN-KELEBIHAN ALAT BANTU DENGAR DIGITAL Pengolahan suara digital menjamin kualitas suara yang bagus dan memungkinkan untuk menciptakan alat bantu dengan fitur pengelolaan suara yang canggih. Berikut ini kelebihan-kelebihan teknologi digital : Directionality Teknologi directionality dilengkapi dengan mikrofon canggih yang dapat mengenali suara berdasarkan sumber arah suara. Suara-suara yang tidak diinginkan dari arah tertentu dapat diredam. Misalnya suara yang berasal dari arah belakang diminimalisir dan suara yang berasal dari arah depan (suara percakapan) dioptimalkan. Teknologi directionality ini telah terbukti secara ilmi ah merupakan salah satu temuan yang paling penting dalam memahami percakapan dalam situasi bising. Peredam Feedback Peredam feedback mengawasi suara-suara denging saat pengguna memakai alat bantu dengarnya. Feedback tadi kemudian diredam atau dilenyapkan sama sekali dengan sistem peredam digital Multi Program Banyak alat bantu dengar yang dilengkapi dengan aneka ragam program pendengaran untuk menghadapi lingkungan suara yang berbeda-beda. Hanya tinggal menekan satu tombol saja atau melalui remote control maka program akan berubah secara cepat, misalnya dari kondisi senyap kepada kondisi bising seperti pada saat menuju jalan yang sangat ramai. Peredam bising Proses peredam bising telah dilengkapi disejumlah alat bantu dengar digital untuk membantu membedakan antara suara latar yang bising dan suara yang mungkin ingin didengar oleh si pemakai misalnya suara percakapan. Peredam suara bising ini juga sangat berguna dilingkungan yang senyap untuk meredam suarasuara yang mengganggu seperti suara derum komputer, sistem ventilasi udara dan perangkat rumah tangga lainnya Satu atau dua alat bantu dengar Mendengar dengan dua telinga disebut ³pendengaran binaural´ yang menawarkan banyak manfaat dibandingkan dengan satu telinga. berikut keuntungan-keuntungannya :  Pendengaran binaural membantu melokalisasi arah datangnya suara dan memberikan informasi seberapa jauhkah jaraknya  Lebih mudah membedakan antara suara percakapan dan suara bising dan fokus terhadap percakapan 

Volume suara lebih besar dibanding dengan satu telinga Memakai dua alat bantu dengar juga merupakan sebuah cara untuk memperbaiki dan mempertahankan kemampuan mendengar. Saat otak kekurangan informasi suara, maka perlahan akan kehilangan kemampuan pula dalam mengintepretasikannya secara optimal. Penelitian menunjukan bahwa seseorang yang hanya memakai satu alat bantu dengar saja menunjukan penurunan pemahaman persepsi mendengarnya. Penggunaan alat bantu yang difitting secara tepat dapat membantu melakukan koreksi atau membalikan semua ini. Faktor-faktor yang dapat dipertimbangkan dalam memilih alat bantu dengar. Sebelum memilih alat bantu dengar, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Praktisi perawatan pendengaran anda dapat membantu memahami kebutuhan unik anda dan menawarkan model yang sesuai. Sebelum membuat pilihan, pertimbangkan hal-hal sebagai berikut : Gaya Hidup Apa pekerjaan dan aktifitas luang anda? Aktifitas apa yang paling terganggu dengan gangguan dengar anda? Adakah hal yang tak dapat anda lakukan akibat gangguan dengar? pahami kebutuhan anda dan buatlah prioritas. Gaya Digital, programable atau analogue kah? Fitur teknologi apa yang memberi manfaat untuk gangguan dengar anda? Volume Control Beberapa alat bantu dengar memiliki volume control yang tersetel secara otomatis dan manual. Mana yang anda inginkan? Physiologi Bentuk dan ukuran telinga luar dan lubang telinga akan menentukan gaya alat bantu dengar apa yang akan anda gunakan Satu atau dua? Jika memiliki gangguan dengar dikedua telinga, anda mungkin dapat memperoleh manfaat optimal dengan memakai dua alat bantu dengar.

Jenis Alat Bantu Dengar Balita
Bagi penderita gangguan pendengaran, alat bantu dengar memang sangat membantu dalam menangkap suara. Dari cara pemakaiannya, alat bantu dengar dibedakan menjadi beberapa jenis, yakni:

y

OTE ( Over The Ear ), BTE (Behind The Ear ), atau PA (Post Auricular) Adalah alat bantu dengar yang amplifiernya (pengeras suaranya) terletak di belakang daun telinga. Alat ini menerima dan mengeraskan suara, kemudian diantarkan melalui tabung kecil yang tercetak di earmold (cetakan lubang telinga yang berfungsi sebagai penyalur suara di telinga) yang terdapat pada telinga.

y

y

y

Body Aids Alat bantu dengar ini menggunakan amplifier, berupa kotak kecil yang ditempelkan di badan, lalu dihubungkan dengan kabel yang menghantarkan suara yang sudah diperkeras itu ke earmold. Bisa ke salah satu telinga atau kedua telinga yang membutuhkannya. Eyeglass Aids Alat bantu dengar yang mirip kacamata ini terdiri dari amplifier, mikrofon, dan baterai. Semua piranti ini terletak ditangkai kacamata. Catatan: Alat ini masih jarang digunakan di Indonesia. ITE (In The Ear) dan ITC (In The Canal) Alat bantu dengar ini jadi sangat populer ketika presiden Amerika Ronald Reagan memakainya. Namun, alat bantu dengar ini bukanlah pilihan yang tepat untuk anak, karena telinganya masih tumbuh dan berubah terus. Kalau harus beli alat baru terus, wah terlalu boros. Harganya kan mahal. Apalagi, alat bantu dengar yang lama tidak mungkin dipakai lagi. Tak cuma longgar, biasanya suaranya juga jadi mendenging serta gampang jatuh.

Sebagai catatan, walau Anda membeli alat bantu dengar yang mahal sekalipun, tapi kalau pembuatan earmold -nya kurang oke, maka suara yang dihantarkan bisa saja mengalami gangguan. Misalnya, mendenging. Balita pun terganggu dan tidak mau memakai alat bantu dengarnya lagi.

Pilihan Alat Bantu Dengar Cocok untuk Balita
Sementara ini, alat bantu dengar yang biasa dipakai anak-anak di Indonesia adalah body aids dan OTE. Apa sih bedanya dengan pilihan yang lain? Body aids Kelebihan:
y y y

Harga ekonomis. Bahkan, paling ekonomis dibandingkan model lain. Tidak mudah hilang. Alat ini memang agak lebih besar dari model yang lain. Sebab, dipakai seperti radio kecil atau walkman. Mikrofon bisa digeser. Jika kurang jelas, alat ini bisa disorongkan ke sumber suara (tak perlu mendekatkan telinga ke sumber suara).

Kekurangan:
y

y

y

Telinga kanan kiri terpaksa menerima suara yang sama kerasnya. Proses penerimaan dan pengeras suara dari alat bantu ini hanya ada di satu tempat dan dikirimkan pada kedua telinga. Jika telinga kanan dan kiri agak berbeda kemampuan dengarnya, maka telinga yang lebih peka jadi tidak nyaman. Tak bisa menentukan lokasi. Penerima dan pengeras suara hanya satu, maka suara yang masuk hanya dari satu arah saja. Akibatnya, anak tak bisa menentukan lokasi orang yang mengajaknya bicara. Kemungkinan adanya suara feedback atau mendengung, jika pembuatan earmold kurang baik.

OTE

Kelebi
y

: nl i Penerimaan dan pengolahan suara di masing -masing telinga Bi menent membuat anak bisa membedakan arah datangnya suara, seperti depan, belakang, kanan atau kiri Dapat diatur sesuai kebutuhan masing-masing telinga. Pemakaian kedua alat di telinga kanan dan kiri membuat kemampuan penerimaan dan pengolahan suaranya dapat dibedakan sesuai dengan kadar gangguan masing -masing telinga. Anak jadi lebih nyaman.

y

Kekurangan:
y

y

Harganya lebih mahal dibandingkan dengan body aids. Semakin c anggih peralatan digitalnya, semakin mahal. Bisa didapat mulai dari harga tiga jutaan sampai sekitar 20 juta rupiah untuk satu telinga. Pada TE yang sederhana, pemakai harus mendekatkan telinganya ke sumber suara kalau merasa kurang jelas.

Memang pemilihan alat bantu dengar tergantung pada kebutuhan anak dan kemampuan Anda. Jika anak (terutama yang masih kecil menolak memakai alat ini, jangan terlalu khawatir. Mungkin saja, ia merasa risih dengan alat barunya. Meski begitu, Anda juga perlu ekstra memberi perhatian jika alat tersebut agak mengganggunya. Jadi, bisa dilakukan perbaikan atau pengaturan suara. Biasanya, begitu bisa menangkap suara yang menyenangkan, anak ingin memakai alat bantu dengar setiap harinya. Bahkan, jika sudah terbiasa memakai alat b antu dengar, ia justru akan rewel begitu alat itu dilepaskan.
Prof. dr. Hel i SpTHT KL (K) :

UNIVERSIT RIA- Edisi Desember 2007 (Vol.7 No.5) OMSK adalah penyebab ketulian utama yang bisa dicegah. Sulit sekali untuk sembuh hanya dengan terapi medikamentosa, sehingga penyembuhan total dengan memerlukan tindakan bedah mastodektomi dan timpanoplasti. Setiap orang berhak mendengar secara optimal. Tapi bagaimana kalau alat pendengaran terganggu? Komunikasi pasti terganggu mirip komedian "bolot" ketika di layar kaca. Gangguan pendengaran bisa mengurangi intensitas suara sampai ke kuping, bahkan tidak dapat mendengar sama sekali atau tuli. Suara dari sumbernya merambat melalui liang telinga, membran timpani, tulang pendengaran maleus-inkusstapes, ke telinga dalam. Lorong suara ini tidak boleh tersumbat, lentur, dan mempunyai daya ampli ikasi energi."Gangguan dari sistem penghantaran itu akan menyebabkan tuli mekanik," kata Prof. dr. Helmi, SpTHT-KL (K) pada upacara pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu THT pada Fakultas Kedokteran Uni ersitas Indonesia, di Aula FKUI, 27 ktober lalu.

¢

¡ 

Ketulian, lanjut Helmi, karena adanya sumbatan pada sistem penghantaran di telinga. Sumbatan ini dapat disebabkan oleh serumen atau atresia liang telinga, kekakuan pada membran timpani dan tulang pendengaran misalnya penebalan atau kalsifikasi membran timpani atau terisinya telinga tengah oleh cairan sehingga mengganggu membran timpani untuk bergetar. Kekakuan bisa pula terjadi pada rantai tulang pendengaran karena fiksasi sendi maleus-inkus-stapes, misalnya pada timpanosklerosis, atau kekakuan pada tapak stapes seperti pada otosklerosis dan timpanosklerosis. Di samping kekakuan dan sumbatan, ketulian juga terjadi akibat gangguan amplifikasi mekanik energi yang disebabkan akibat perforasi membran timpani dan putusnya rantai tulang pendengaran sehingga daya ungkit hilang. Dari beberapa faktor risiko, penyakit yang paling sering menyebabkan ketulian konduktif permanen di Indonesia adalah otitis media supuratif kronis (OMSK). Menurut Prof. Helmi, OMSK adalah radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) tersebut lebih dari dua bulan, baik terus menerus maupun hilang-timbul. Sekret bisa encer atau kental dan bening atau berupa nanah. OMSK adalah penyebab ketulian utama yang bisa dicegah. Penyakit ini masih beban global karena prevalensinya masih tinggi di sebagian besar negara-negara berkembang. Pengobatan total OMSK yaitu menghilangkan peradangan di kavum timpani dan rongga mastoid serta menutup perforasi membran timpani. Pada penyakit ini, karena proses peradangan yang kronis, sudah terjadi perubahan patologik yang menetap sehingga sulit sekali untuk sembuh hanya dengan terapi medikamentosa, sehingga penyembuhan total dengan memerlukan tindakan bedah mastodektomi dan timpanoplasti. Ketulian juga dapat disebabkan karena adanya gangguan sistem saraf pendengaran. Gangguan sistem saraf pada kohlea biasanya terjadi pada organ korti terutama pada sel rambutnya. Kerusakan sel rambut ini secara umum karena degenerasi, yaitu ketulian pada usia lanjut atau presbikusis. Rangsangan suara yang keras juga dapat merusak sel rambut, selain adanya infeksi (labirinitis), trauma, kelainan genetik, gangguan vaskularisasi seperti tuli sensorineural mendadak. Ketulian juga dapat terjadi akibat adanya tumor neurinoma akustik yang menekan saraf pendengaran di kanalis akustikus internus. Tuli akibat gangguan saraf sukar diobati, biasanya permanen. Pada kondisi tertentu ketulian ini dapat ditolong dengan alat bantu dengar. Tapi bila kondisi tidak memungkinkan ditolong dengan alat bantu dengar, maka pasien dibantu dengan implan kohlea atau implan batang otak. Jenis lain dari ketulian adalah ketulian sentral. Gangguan pendengaran ini dahulu dianggap jarang terjadi, namun anggap ini meleset. Belakangan ini, kasus ketulian sentral sering ditemukan. Gejalanya,pasien dapat mendengar nada murni tapi sulit mengerti rangkaian katakata dalam percakapan. Jadi, untuk dapat mengerti percakapan, pasien didukung dengan data visual membaca bibir lawan bicaranya. Sayangnya, ketulian sentral masih sulit ditolong bahkan dengan alat bantu dengar atau implan kohlea dan batang otak. Bedah rekonstruksi pendengaran Pengenalan mikroskop operasi di bidang otologi telah mengubah cakrawala bedah di bidang THT secara dramatis. Di banding bidang kedokteran lain seperti bedah syaraf, vaskuler, ahli bedah telinga merupakan penguna pertama mikroskop ini untuk melihat struktur kecil di dalam telinga tengah selama pembedahan. "Penggunaan mikroskop tak dapat dihindarkan pada operasi telinga tengah. Tanpa pembesaran, operasi tidak dapat dilakukan dengan baik dan aman, bahkan terancam terjadi kerusakan pendengaran permanen," jelas Hilmi. Penggunaan mikroskop sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran di bidang THT. Bedah rekonstruksi telinga tengah (timpanoplasti) pertama kali dilakukan oleh Wullstein ss ski pada 1953. Wullstein menutup perforasi membran timpani dengan split t i graft.Shea pada 1975 menutup perforasi membran timpani dengan dinding vena. Sedangkan

¦

§¦¥¤ £

Stor menggunakan fasia m. temporalis dan melaporkan keberhasilannya menggunakan fasia sebagai tandur. Teknik Stor kemudian dimodifikasi oleh House, Glasscock dan sheehy yang hingga kini masih digunakan. Lebih dari tiga abad fasia m. temporalis dipakai untuk menutup perforasi membran timpani. Untuk rekonstruksi kerusakan tulang pendengaran sering menggunakan bahan autograf inkus. Namun autograf inkus tidak selalu tersedia misalnya pada kasus kolesteatoma, dan sering terjadinya osteitis yang menyebabkan resorpsi tulang. Kemudian pada 1960-an diajukan osikel dan kartilago homograf yang diawetkan dengan diberi radiasi, tapi hampir tak digunakan karena berisiko penularan beberapa penyakit, seperti Aids. Sejak 1950-an beberapa bahan telah digunakan untuk rekonstruksi tulang pendengaran namun belum memberikan hasil yang baik. Pada 1980 diperkenalkan bahan hydroxyapatite berupa kalsium fospat dari komponen anorganik tulang manusia. Saat ini, bahan ini banyak digunakan sebagai bahan implan telinga tengah."Sekarang, rekonstruksi tulang pendengaran menggunakan bahan dari produk bioaktif," kata mantan Kepala Sub Bagian Otologi FKUI/RSCM ini. Bedah rekonstruksi tuli saraf perkembangannya tidak secepat bedah tuli konduktif. Dulu, tuli saraf hanya bisa ditolong dengan alat bantu dengar, tapi saat ini bisa ditolong dengan implan kohlea.Penggunaan implan kohlea baru dapat dilakukan bila kerusakan hanya pada kohlea, dimana alat bantu dengar tidak dapat mengatasinya. Sementara bedah untuk tuli saraf yang tidak dapat ditolong lagi dengan implan kohlea, saat ini perkembangan terapinya sudah mencapai tahap memasang chip pada batang otak di resesus lateralis ventrikel ke IV. Selain terapi pemasangan chip di batang otak, pengobatan lain pun terus dikembangkan. Di antaranya terapi berbasis st cell dengan dilengkapi teknik operasi robotik bertujuan untuk mengobati sel rambut yang terdapat di organ korti. Terapi lainnya, yaitu terapi gen yang juga sedang diselidiki untuk memperbaiki sel rambut. Pada penelitian awal, terapi ini menunjukan titik terang, dimana vektor berupa virus herpes dan adenovirus menunjukan kemampuan mentransfer material genetik ke sel rambut di dalam organ korti. Namun teknik ini masih ada kesulitan misalnya risiko efek samping memasukan virus ke telinga. (Amril, Ika)

Alat bantu dengar tersedia dalam berbagai macam bentuk, ukuran, warna dan tipe. Berikut ini adalah kelebihan dan kelemahan masing-masing jenis alat bantu dengar:

1. Jenis pocket aid ABD jenis ini digunakan pada gangguan dengar sedang, berat sampai sangat berat. Alat ini terdiri dari mikrofon, amplifier, sirkuit yang telah dimodifikasi, dan tempat baterai dengan sebuah kotak yang dapat dijepitkan di baju pemakai atau dimasukkan ke dalam saku atau kantong khusus. Sebuah kabel akan membawa sinyal elektrik ke receiver yang diarahkan pada sepasang cetakan telinga pemakai. Kekurangan alat bantu dengar jenis pocket ini jika dipakai oleh bayi adalah bentuk atau ukuran receiver yang besar. Ketika dipasang untuk bayi, receiver ini bentuknya lebih besar dibanding ukuran telinga bayi sehingga bisa menyebabkan iritasi atau luka pada daun telinga.

©¨

2. Jenis Behind The Ear (BTE) ABD model ini dapat digunakan pada pasien dengan gangguan pendengaran ringan sampai sangat parah. Masalah-masalah yang dijumpai pada alat bantu dengar jenis pocket, seperti suara bising akibat gesekan baju tidak akan ditemukan pada alat bantu dengar jenis BTE ini. Hal ini disebabkan semua bagian alat diletakkan di kepala, termasuk receiver, mikrofon dan amplifier. Alat bantu dengar ini ada yang memiliki amplifikasi yang cukup besar. Bentuknya mengikuti lekukan daun telinga bagian belakang dengan posisi mikrofon ke arah depan. Pemasangan alat bantu dengar jenis belakang telinga ini terkadang masih mengalami kendala pada bayi. Hal ini dikarenakan ukuran alat bantu dengar yang masih terlalu besar dan berat jika dipasangkan pada daun telinga bayi. Akan tetapi, teknologi terbaru saat ini telah menciptakan ala t bantu dengar model belakang telinga dengan desain yang cocok untuk bayi, terutama di bagian ear hooknya.

3. Jenis Custom Made Untuk jenis custom made ini terdiri dari 3 model alat bantu dengar, yaitu in the ear, in the canal dan completely in the canal. Secara umum, keuntungan menggunakan alat bantu dengar model ini yaitu secara kosmetik tidak mencolok dan mikrofon lebih tersembunyi sehingga menghasilkan suara yang lebih alamiah. Sedangkan kekurangannya yaitu jarak mikrofon dan receiver yang berdekatan menyebabkan alat mudah mengalami feedback lebih besar, tidak semua orang dapat memakai alat bantu dengar model custom made ini karena tergantung dari derajat gangguan pendengarannya, karena bentuknya yang kecil maka lebih sulit dalam mengoperasionalkan, mudah hilang, receiver mudah terkena kotoran telinga, baterai yang kecil, dan hanya tersedia ruangan yang kecil untuk venting. a. In The Ear (ITE) Dilihat dari ukurannya, ABD jenis ini punya ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan BTE. Alat bantu dengar ini diletakkan pada konka daun telinga. Biasanya digunakan oleh penderitagangguan pendengaran dengan derajat ringan sampai sedang. b. In The Canal (ITC) Pemakaian ABD ini dipakai pada penderita gangguan dengar derajat sedang. Pemasangan alat ini diletakkan pada liang telinga lebih dalam. Oleh karena itu, biasanya akan mengalami kesulitan pemasangan jika liang telinga pemakai terlalu kecil. Hal ini berbeda dengan alat bantu dengar bentuk ITE yang diletakkan tidak terlalu dalam ke liang telinga. c. Completely In The Canal (CIC) ABD paling kecil ini di letakkan di dalam liang telinga, karena ukurannya paling kecil, maka dalam proses pengeluarannya dibutuhkan tali penarik. Alat bantu dengar ini didesain untuk gangguan pendengaran ringan sampai ke sedang. 4. Jenis hantaran tulang (Bone Conduction Aid) Alat bantu dengar jenis ini digunakan untuk pasien dengan gangguan pendengaran konduktif dan memiliki masalah otologi, misalnya masalah otitis media dan kelainan telinga luar. Saat ini juga

tersedia bone conduction aid yang berbentuk kacamata, sehingga bisa digunakan bersamaan jika pemakai memiliki masalah visual karena pemakai hanya perlu mengganti ukuran lensanya saja yang sesuai.

5. Jenis Middle Ear Implant Sedangkan ABD jenis fully implantable atau middle ear implant adalah alat bantu dengar yang sama sekali tidak terlihat, mengubah bunyi menjadi gerak mekanik yang langsung menstimulasi tulangtulang pendengaran dengan kualitas bunyi yang sangat baik dan digunakan khusus dewasa. Alat bantu dengar ini terdiri dari tiga komponen, yaitu prosesor audio eksternal yang mengirim suara melewati kulit, implant receiver yang kemudian mengirim sinyal elektrik dan sebuah transducer yang dipasang di tulang pendengaran. Keuntungan alat bantu dengar jenis ini adalah meningkatkan kejelasan suara, mengurangi feedback, dan mengeliminasi adanya efek oklusi.

Masalah Pendengaran
Submitted by admin on Tue, 03/06/2008 - 00:00 Tags
y

Fokus C3I Juni 2008 - Menangani Anak dengan Kebutuhan Khusus

Share DEFINISINYA Biasanya dokter memakai ukuran desimal untuk menentukan ketajaman pendengaran seseorang. Angka "0" berarti normal, angka "25" ke bawah menunjukan kurangnya ketajaman pendengaran. Bila angka desibel menunjukkan angka yang lebih besar lagi, berarti orang tersebut mempunyai masalah pendengaran yang cukup serius. Seorang yang tuli mencapai angka tujuh puluh desibel sehingga sekalipun ia dibantu dengan alat bantu dengar, keadaan itu tidak akan banyak menolong. Namun, bila angka desibel mencapai antara 35 ² 69, ia masih dapat dibantu dengan alat bantu dengar. Masalah sakit tuli ada dua jenis, yaitu tuli sebelum berbahasa dan tuli sesudah berbahasa. Tuli sebelum berbahasa adalah tuli sejak lahir atau tuli sebelum belajar bicara, sedangkan tuli sesudah berbahasa terjadi setelah perkembangan berbicara. Orang yang menderita tuli sebelum berbahasa akan jauh lebih sulit dalam belajar. DIAGNOSISNYA Proses diagnosis pendengaran anak sangat rumit sebab ada kemiripan dengan anak yang memiliki masalah intelek atau mental. Dari hasil observasi, Stepens, Blackhurt, dan Magliocca mengusulkan pertanyaan berikut. 1. Apakah ada kekurangan dalam telinganya? Adakah keluhan anak tentang telinganya yang sakit atau merasa kurang enak dalam telinganya, seolah-olah mendengar desisan atau bisikan? Perhatikan apakah ada cairan

2.

3.

4.

5.

6.

7.

yang keluar dari telinganya ataukah ada terlalu banyak kotoran di telinganya. Sering mengalami flu dan tenggorokan sakit bisa menandakan anak diserang virus penyakit telinga. Jelaskah bunyi ucapan anak dalam berbahasa? Kemungkinan anak mengalami masalah dalam pendengarannya bila fonetik bahasanya kurang tepat. Biasanya anak tidak sanggup mendengar nada suara yang tinggi. Apakah ketika mendengar radio atau televisi, volume suaranya perlu dibesarkan? Masalahnya berbeda bila anak memang suka mendengarkan musik dengan suara keras. Guru dapat menyelidiki hal ini dengan memerhatikan apakah anak mendengar suara tape atau suara video dengan jelas. Apakah anak harus melihat kepada si pembicara setiap kali diajak bicara? Kadangkala hal ini ditambah lagi dengan gerakan menaruh tangan di belakang telinga, sekadar mengusahakan suara agar masuk ke dalam telinganya. Guru atau orang tua sering tidak tanggap dan mengira anak hanya ingin mengetahui persoalan orang lain. Apakah anak sering meminta guru atau orang tua mengulangi perkataannya? Bila tindakan demikian sering dilakukan anak, sebaiknya guru atau orang tua menyelidiki keadaan anak secara mendalam. Dengan volume suara yang normal, apakah anak sering tidak menunjukkan reaksi? Biasanya anak yang tidak memerhatikan perkataan guru atau kurang patuh dalam kelas sering dianggap anak yang bermasalah, lalu dihukum. Padahal anak memang tidak jelas dalam mendengar dan informasi yang diterimanya terputus-putus. Apakah anak sering menolak suatu kegiatan yang ada hubungan dengan berbicara? Ada kemungkinan seorang anak bersifat pemalu karena kurang percaya diri sehingga ia menolak untuk berbicara karena takut salah. Tetapi bisa juga hal itu terjadi karena kurangnya pendengaran sehingga anak berusaha untuk menghindari kegiatan yang berhubungan dengan berbicara.

JENISNYA Karena bentuk telinga amat rumit, masalah pendengaran pun menjadi berbeda-beda. Masalah ini umumnya terbagi menjadi dua macam, yaitu pengiriman pendengaran yang kurang normal atau syaraf pendengaran yang kurang normal. 1. Pengiriman pendengaran yang kurang normal Hal ini berarti suara yang disampaikan ke dalam telinga menjadi lemah. Suara mulai diterima oleh telinga luar, lalu getaran masuk melalui tulang-tulang yang ada di telinga tengah untuk mendapat penguatan, kemudian disampaikan ke telinga dalam. Penyampaian getaran mungkin terhambat di salah satu alirannya. Tuli konduksi adalah tuli yang disebabkan oleh kotoran penyumbat telinga. Kemungkinan tulang martil atau tulang sanggurdi pecah sehingga kehilangan daya getar dan menyebabkan telinga tengah tidak berfungsi. Akibat getaran untuk masuk sampai ke telinga dalam terhalang, timbullah kerusakan pendengaran, tetapi tidak sampai kepada gejala tuli. 2. Syaraf pendengaran yang kurang normal Hal ini disebabkan adanya kerusakan di bagian telinga dalam, di mana terdapat alat keseimbangan tubuh yang berhubungan dengan syaraf pendengaran dalam otak. Kerusakan itu mungkin kecil, tetapi mungkin juga cukup serius. Kerusakan yang

terjadi dalam syaraf pendengaran ini biasanya tidak dapat dibantu, sekalipun dengan alat pendengar. PENYEBAB MASALAH Menurut Moores (1982) ada enam unsur yang dapat menjadi penyebab tulinya seorang anak. 1. Unsur keturunan ² gejala kelainan Gejala-gejala kelainan yang disebabkan unsur keturunan akan mengakibatkan tuli pendengaran. Diperkirakan kurang lebih 30²60% anak tuli disebabkan karena turunan. 2. Unsur penyakit ² campak dari ibu Bila wanita yang sedang mengandung tiga bulan terserang penyakit campak atau cacar air, kemungkinan besar hal tersebut akan berdampak pada bayinya. Cacat yang ditimbulkan oleh penyakit campak kepada anak adalah 50% penyakit telinga, 20% penyakit mata, dan 35% penyakit jantung. Campak adalah penyakit yang umum terjadi pada setiap orang. 3. Unsur kelahiran ² lahir prematur Belum terbukti bahwa lahir prematur pasti mengakibatkan pendengaran yang tidak normal. Penyakit campak juga dapat menjadi penyebab kelahiran prematur. Namun, kelahiran prematur bila disebabkan oleh kekurangan oksigen, selain otak akan mengalami luka, pendengaran pun akan mengalami kerusakan. Dalam kondisi demikian, dapat disimpulkan bahwa kelahiran prematur lebih mengakibatkan timbulnya penyakit telinga daripada penyakit lain. 4. Unsur darah ² jenis darah berbeda Jenis darah Rh-Positif tidak dapat berpadu dengan jenis Rh-Negatif. Bila jenis darah ibu adalah Rh-Negatif, sedangkan bayinya memiliki jenis darah Rh-Positif, tubuh si ibu akan menghasilkan antibiotik yang masuk, menyerang, dan merusak sel darah RhNegatif sang bayi. Hal ini dapat mengancam nyawa si bayi; seandainya ia hidup, ia mungkin mengalami kelainan dalam daya pendengarannya. 5. Unsur syaraf ² penyakit pada otak Menurut pendapat Vernon, 8,1% anak yang menjadi tuli setelah lahir disebabkan oleh penyakit otak. Di antara unsur yang mengakibatkan tuli, penyakit otak merupakan masalah yang paling serius. Akan tetapi, penyembuhan melalui pengobatan kimia semakin maju sehingga masalah tuli yang disebabkan oleh penyakit otak sudah banyak berkurang. 6. Unsur infeksi ² infeksi telinga tengah Diperkirakan bahwa di antara delapan anak, ada satu yang akan meng alami infeksi telinga sebelum usia 6 tahun. Mengingat kondisi ini, seorang anak sebaiknya cepat memperoleh perawatan dan jangan diabaikan. GEJALA MASALAH Ada tiga gejala yang menunjukkan anak sedang mengalami kesulitan dalam pendengarannya. 1. Gejala pertumbuhan Perhatikan apakah anak mampu mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya melalui perkataan. Ada dua pendapat yang berbeda mengenai hal ini. Furth (1966) mengutarakan bahwa proses pemikiran intelek tidak membutuhkan sistem tanda bahasa; bahasa bergantung pada inteligensi seseorang. Whorf (1956) berpendapat

bahwa intelek anak ditentukan oleh pengalaman berbahasa. Penyelidikan lain dilakukan oleh Schlesinger Meadow (1972). Anak tuli yang teknik berbahasanya tinggi akan lebih berhasil dalam ekspresinya, sedangkan anak tuli yang mengalami hambatan dalam berbahasa lebih menunjukkan kelemahan atau hambatan dalam berpikir. Pada masa ini, banyak ahli pendidikan mengakui bahwa tanpa sistem bahasa, anak yang tuli pun dapat berpikir secara logis. Tentunya penguasaan berbicara akan banyak menolong dalam menyelesaikan masalah. 2. Gejala hasil belajar Dapat dimengerti bahwa karena kesulitan dalam kemampuan berbahasa, anak yang tuli banyak menemui kesulitan dalam belajar. Jensema (1975), yang menggunakan hasil ujian Stanford, menganalisis hasil laporan dari 6.873 anak tuli yang berusia 6 ² 19 tahun. Ia menemukan bahwa untuk anak usia tersebut yang kehilangan daya mendengar, tingkat kurangnya pendengaran sangat memengaruhi angka belajarnya. Anak yang kehilangan pendengaran pada usia tiga tahun akan lebih berhasil dalam keterampilan membaca daripada anak yang kehilangan daya pendengaran di usia bayi. Bila derajat kehilangan lebih ringan, umumnya hasil belajar akan lebih baik. 3. Gejala penyesuaian pergaulan Masalah pendengaran sering memengaruhi pergaulan anak. Meski tidak menghalangi pergaulan atau pertumbuhan karakternya, tetapi masalah pendengaran mudah menimbulkan masalah. Sebagai contoh, saat bermain bersama, anak yang tuli tak dapat mengatakan, "Sekarang giliran saya!" Yang dapat dilakukannya hanya mendorong anak yang lain. Akibatnya, ia dianggap sebagai anak yang suka berkelahi dan tidak bisa bergaul dengan anak lain. Bila kejadian seperti itu terus terulang, akan menimbulkan masalah dalam penyesuaian pergaulan. PENYELESAIAN MASALAH 1. Memakai alat pendengaran Alat pendengar merupakan penemuan besar bagi mereka yang bermasalah dalam pendengarannya, meskipun alat ini juga dapat mudah rusak atau hasilnya tidak begitu memuaskan. Alat ini akan menolong mengatasi kurangnya tingkat pendengaran dan mengurangi kadar kesulitan dalam penerimaan suara. 2. Memakai cara pergaulan yang sesuai Sekarang ini ada cara dalam pergaulan yang dapat digunakan oleh penderita cacat pendengaran, yaitu sebagai berikut: o Cara Oral-Aural Melalui alat pengeras suara untuk mendapatkan sedikit pendengaran, kemudian memerhatikan ucapan pada bibir dan meningkatkan teknik komunikasi. Cara ini tidak menganjurkan penggunaan isyarat tangan atau isyarat jari sebab dikhawatirkan masyarakat tidak dapat menyesuaikan diri dengan isyarat tangan. o Cara ochester Cara ini ditemukan oleh sebuah sekolah tuna rungu di New York pada tahun 1878, yaitu dengan menggabungkan ucapan bibir dan isyarat tangan. Jadi, berita diterima dan disampaikan dengan cara yang sama. o Cara Auditory Cara yang menekankan perkembangan teknik mendengar dan dikhususkan bagi mereka yang masih dapat dilatih melalui pendengarannya. Cara ini dipakai secara luas untuk anak yang hanya sedikit mengalami gangguan pendengaran.

Cara komunikasi seutuhnya Cara ini menuntut anak dengan serentak menggunakan isyarat tangan/jari, membaca ucapan bibir, berbicara melalui pengeras suara. Cara ini paling umum dan banyak digunakan pada kelas yang lebih tinggi. 3. Melatih keterampilan mendengar Selain cara berkomunikasi, anak yang mengalami hambatan pendengaran membutuhkan teknik lain. o Membaca ucapan Membaca ucapan merupakan teknik penting untuk anak yang tuli atau yang menderita kerusakan pendengaran yang berat. Mereka menerima berita dengan membaca berita yang diterima. Teknik ini bermaksud untuk membangun jembatan komunikasi dengan dunia umum, seperti isyarat tangan yang perlu dipelajari secara khusus. o Metode pendengaran Mendidik anak tuli untuk mampu mendengarkan suara yang berbeda-beda, kemudian membedakan suara itu. Dokter spesialis pendengaran berpendapat bahwa menurut kebutuhannya, selain anak tuli tersebut dilatih untuk meningkatkan pendengarannya, orang tua, anggota keluarga, atau guru juga perlu dilatih untuk menolong si penderita. 4. Memupuk suasana belajar Kita mengetahui bahwa semakin parah penyakit tuli seorang anak, semakin sulit ia menjalani proses belajarnya. Bagi yang sudah parah, ada lembaga pendidikan tuna rungu, di mana ada para ahli yang menolong. Namun, bila telah diketahui anak menderita ketulian, yang terpenting ialah agar sedini mungkin pendidikan diberikan. Bayi dapat belajar melalui ayunan, pelukan, mimik muka, dan gerakan si ibu. Gelengkan kepala untuk mengatakan "tidak" atau "jangan" dan dengan anggukan kepala untuk menyatakan, "ya". Bayi dapat mempelajari gerakan bibir yang disertai dengan gerakan wajah dan sikap. Dengan gerakan-gerakan itu, orang tua berkomunikasi dengan anak, meskipun pada mulanya tidak dimengerti, tetapi sudah memberi kesan mendidik. Peranan orang tua dalam mengatur suasana belajar anak sangat penting. 5. Memakai pertolongan komputer Dewasa ini pendidikan melalui komputer sudah sangat canggih, dimana ketajaman mata menjadi unsur utama dalam menerima atau menyampaikan berita. Pendidikan ini menuntut murid terlibat dengan aktif, selain meminta pertanggungjawaban murid untuk belajar dengan aktif. Diharapkan akan lebih banyak lagi program khusus untuk menolong anak yang rusak pendengarannya supaya mereka pun dapat menerima pendidikan yang sepadan. Pendidikan Kristen sebaiknya juga berusaha untuk mengembangkan program komputer untuk pendidikan agama.
o

Jumat, 19 Maret 2010 Ketika Dunia Si Kecil Menjadi Sunyi

Pugoeh Hati- ati bila si kecil cuek pada dunia sekeliling. Keli atannya, si , memang anteng, tapi bisa jadi dia mengalami gangguan pendengaran. Vira (18 bulan) dikenal sebagai anak yang anteng di rumahnya. Tidak pernah rewel seperti saudaranya yang lain saat seusianya. Tetapi akhir-akhir ini ibunya mulai menyadari, ada yang tak beres di balik antengnya Vira. Soalnya, beberapa kali terjadi, meski sudah dipanggil dengan suara keras, ia cuek. Baru setelah bahunya disentuh, Vira menoleh. "Saya curiga, jangan-jangan kupingnya nggak beres. Saya juga baru memperhatikan, kok, Vira belum bisa bicara dengan jelas," keluh ibunya. Dugaan si ibu benar. Menurut ahli THT, pendengaran Vira terganggu cukup parah meski masih bisa dieliminir. "Untung Ibu segera membawa Vira sebelum terlambat," kata sang ahli. LEBIH AWAL Membawa anak ke ahli sedini mungkin jika kita merasa curiga ada sesuatu yang tak beres, merupakan langkah amat tepat. "Agar sekecil apa pun gangguan itu, bisa terdeteksi lebih awal. Jadi, proses rehabilitasinya bisa lebih optimal hasilnya," tutur dr.S.Faisa Abiratno M.Sc. , ahli THT dari RS Internasional Bintaro. Begitu pula gangguan pendengaran. Pada balita, gangguan itu bisa disebabkan berbagai faktor, entah bawaan (congenital) atau dapatan (acquired) . Faktor bawaan bisa lantaran genetik, tetapi bisa juga bukan. Yang genetik bisa diturunkan dari ibu, ayah, atau yang lain. Bisa juga terdapat kelainan anatomi di daerah kepala sejak lahir, seperti celah langit, daun telinga kecil, atau lubang telinga tertutup. Yang bukan genetik bisa disebabkan karena gangguan berbagai infeksi yang diderita ibu selama kehamilan, seperti toksoplasmosis, rubella, citomegalovirus, atau pengaruh nikotin yang dikonsumsi ibu hamil, obat-obatan, serta usaha-usaha pengguguran kandungan. Faktor dapatan bisa terjadi selama periode persalinan atau setelah anak lahir. Gangguan yang terjadi selama periode perinatal (persalinan) misalnya bayi prematur, tidak langsung menangis (asfiksia/biru-biru dalam waktu lama), bayi kuning dengan kadar bilirubin tinggi sehingga perlu transfusi. Gangguan pun bisa terjadi setelah anak lahir (postnatal). Akibat sakit yang diderita si anak, semisal meningitis, ensefalitis, virus gondongan. Dapat pula disebabkan infeksi telinga tengah dan infeksi saluran napas bagian atas (pilek kronis).   

RESPON BALIK Semakin dini anak diperiksa ahli, akan semakin mudah penanganan gangguan. "Kalau gangguan terdeteksi saat anak berusia bawah 1 tahun, penanganannya pun akan lebih berhasil," kata Faisa. Sejak lahir, bayi sudah mampu mendengar suara-suara di sekitarnya. Salah satu buktinya, kalau mendengar suara berisik, ia terbangun. Hanya karena perkembangan otak dan motoriknya belum sempurna, reaksi yang timbul sebatas tangisan atau membuka matanya. Seiring dengan bertambahnya usia, respon yang diberikan makin beragam, misalnya dengan menoleh, mendekat ke arah suara, dan sebagainya. Selama perkembangan ini, anak tidak cuma mampu mendengar tetapi juga merekam jenisjenis bunyi ke dalam otaknya. Tak heran menginjak usia 8 bulan, ia sudah bisa mengenal suara ibu, ayah, atau pengasuhnya. Rekaman ini suatu saat akan di "recall" pada waktu si kecil belajar bicara. Di sisi lain, orangtua biasanya baru menyadari adanya gangguan pendengaran pada anaknya justru setelah si anak terlambat bicara. "Bahkan ada orangtua yang berpikir, normal-normal saja anak belum bisa bicara padahal umurnya sudah 2 tahun. Padahal, anggapan itu amat keliru," kata dr. Faisa yang juga berkantor di RSPAD Gatot Subroto. Jadi, bagaimana cara kita mendeteksi dengan mudah? Secara sederhana, kita bisa mengetes pendengaran anak melalui permainan bunyi seperti tepuk tangan, batuk, menabuh kaleng, dan lainnya. Bayi normal akan memberi respon terhadap bunyi. Bisa dengan mengedipkan mata, mimik wajahnya berubah, berhenti mengisap ASI/botol, kaget dengan reaksi kaki dan tangannya terangkat. Pada bayi yang lebih besar, respon berbentuk menolehkan kepala pada sumber bunyi. Minimal, ia mencari sumber bunyi tersebut dengan gerakan mata. Nah, kalau si kecil tak bereaksi, jangan tunda lagi, segera bawa ke ahli. Biasanya anak akan menjalani tes audiometri,Visual Orientation Reflex (VOR) atau play audiometry tergantung pada usianya. Dengan alat ini bisa diketahui kualitas dan kuantitas pendengarannya. Cara lain adalah BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) . Cara kerjanya dengan menggunakan komputer dan dibantu sejumlah elektroda yang ditempelkan di permukaan kulit kepala. JENIS GANGGUAN Dari pemeriksaan itulah, akan diketahui jenis gangguan. Seperti kita ketahui, proses mendengar dimulai dengan adanya suara yang dihantarkan melalui liang telinga. Suara itu akan menggetarkan gendang telinga (membrana timpani), juga tulang-tulang pendengaran yang berada di rongga telinga tengah. Tulang-tulang ini akan melanjutkan getaran ke rumah siput, kemudian diteruskan melalui saraf pendengaran ke otak. Proses ini sangat singkat sehingga kita bisa mendengar suara orang bersamaan dengan orang itu berbicara. Jika fungsi pendengaran si kecil terganggu, maka bunyi yang dihantarkan melalui udara ke rumah siput tidak dapat diteruskan ke pusat pendengaran di otak. Akibatnya, dia tidak bisa mendengar.

Gangguan yang terjadi pada pendengaran bisa dibedakan dari jenis dan derajat kerusakannya. Berdasarkan jenisnya, gangguan dibedakan atas tuli hantar yaitu kerusakan gendang telinga dan telinga tengah akibat infeksi jatuh, tertusuk cotton buds waktu membersihkan telinga, atau karena kelainan anatomi telinga. Kemudian tuli saraf, yaitu kerusakan rumah siput akibat penyakit yang diderita ibu sewaktu hamil, gangguan selama persalinan, atau setelah lahir. Kerusakan pada rumah siput sejak lahir derajat gangguan pendengarannya berat. Yang berikut, tuli campur. Umumnya karena infeksi telinga tengah (congek) yang menimbulkan kerusakan berupa gabungan tuli hantar dan tuli saraf. Sedangkan berdasar derajat kerusakan dibedakan atas kehilangan ringan, sedang, berat, dan berat sekali. Ini bisa dilihat dari ukuran satuan kekerasan suara (desibel/db). Yang normal bisa mendengar suara kurang dari 30 db. Kehilangan ringan 30-40 db, sedang 40-70 db, berat 70-80 db, dan kehilangan berat sekali di atas 80 db. ALAT BANTU DENGAR Kita tentu tak mungkin membiarkan si kecil hidup dalam dunia yang sunyi. Kalaupun gangguannya amat berat dan tak bisa disembuhkan, baik dengan obat-obatan maupun operasi, masih ada cara lain yang bisa ditempuh, yaitu memakai alat bantu dengar (hearing aid) . Yang penting, jangan anggap alat bantu tadi sebagai tanda kecacatan, melainkan sebagai sebuah kebutuhan. Sehingga dengan cara ini Anda bisa membantu si kecil mengatasi gangguannya. Banyak pilihan yang ditawarkan. Ada yang berbentuk pocket, di belakang telinga, bisa dimasukkan ke liang telinga luar, dan sebagainya. Apa pun bentuknya, alat bantu dengar berfungsi untuk memperkeras suara yang dihantarkan lewat udara. Gelombang suara akan diterima oleh mikrofon mungil, diperkeras oleh amplifier kecil yang ada di dalam alat bantu dengarnya. Gelombang bunyi tersebut diteruskan ke rangkaian gendang telinga. Lalu dilanjutkan ke rumah siput dengan tujuan suara yang diperkeras tersebut dapat mencapai ambang pendengaran yang cukup tinggi pada si kecil. Untuk gangguan pendengaran yang lebih parah, ada alat yang disebut cochlear implant. Alat ini "ditanam" di belakang telinga lewat cara operasi. Berbeda dengan alat bantu dengar biasa, cochlear implant mempunyai alat pengolah suara yang mengubah suara menjadi kode-kode (speech processor) . Kode suara itu dihantarkan lewat kabel ke alat yang ditempelkan di bagian belakang telinga, lalu dihantarkan langsung ke saraf pendengaran, kemudian ke otak. Dengan begitu, si pemakai bisa mendengar suara dengan kualitas yang lebih baik. Riesnawiati Soelaeman/nakita Curiga Itu Perlu Sebagai orangtua, waspadalah pada setiap kelainan, sekecil apa pun. Masalah pendengaran bukanlah masalah yang bisa dianggap sepele. Sejak bayi, kelainan telinga bisa dideteksi. Sebab itulah kita patut curiga jika bayi kita: * Tidurnya sangat nyenyak. Tidak terganggu oleh suara-suara gaduh di sekitarnya. Jangan percaya omongan orang dengan meletakkan bantal di sekeliling bayi agar tidurnya nyenyak.

Bayi yang terbangun karena suara gaduh adalah wajar. Sebaliknya, jika ia anteng saja, Anda harus curiga. * Jika sudah agak besar, ia bersikap tak acuh saja ketika mendengar suara mainan, bel pintu, atau musik yang dipasang. * Belum bisa mengucapkan kata-kata sederhana, seperti mama, papa, dada, dan sebagainya, di usianya yang ke 12-18 bulan. * Di atas usia 2 tahun, anak cenderung membesarkan suara tape atau televisi. * Baru memberi respon setelah dipanggil berulang-ulang. * Pada waktu bicara, si kecil cenderung melihat gerak bibir kita untuk menangkap apa yang kita utarakan. Jika Ia Harus Pakai Alat Bantu Jangan melindungi anak terlalu berlebihan jika ia menggunakan alat bantu dengar. "Ketegaan" Anda harus menciptakan kemandirian pada si anak. Berikut ada tips buat Anda menghadapi si kecil yang menggunakan alat bantu dengar: * Beri ebebasan

Biarkan ia bergaul seperti anak normal lainnya. Hanya saja beri perhatian lebih saat berkomunikasi dengannya. Misalnya berbicara berhadapan, juga dengan gerak bibir dan artikulasi yang jelas sehingga anak bisa mendengar dengan baik. * Bagian dari Penampilan Tanamkan pada si kecil bahwa alat bantu dengar ini adalah bagian dari penampilan selain berpakaian, bersepatu, dan asesoris lainnya. Sehingga si anak akan terbiasa dan tidak merasa minder. * Fungsinya Lebih Penting Mungkin anak Anda akan merasa risi memakai alat bantu dengar. Tetapi lama kelamaan ia akan terbiasa asalkan Anda menanamkan pengertian bahwa dengan alat tersebut, anak akan mengenal dunia luar jauh lebih banyak dibanding tidak menggunakannya. Misalnya, ia bisa menonton televisi, berbicara dengan ayah, ibu dan anggota keluarga lain. * Meminta Dukungan Jika si anak sudah bersekolah, beri tahu guru tentang alat yang digunakannya. Minta bantuan guru jika ada anak lain yang mengganggunya karena masalah tersebut sehingga si anak tidak akan merasa kecewa dengan keadaan dirinya. * Merawat Alat

Jika si kecil sudah lebih besar, ajari ia tentang perawatan alat tersebut. Misalnya, jangan terkena air dan jatuh. Share

Alternatif Tunarungu, Alat Bantu Dengar Modern Dipasang di Gigi

Alat bantu dengar termutakhir yang disebut S undBite ini bekerja dengan mengantarkan suara le at tulang rahang ke dalam telinga. Alat berukuran kecil ini diletakkan di bagian atas kanan atau kiri geraham. S al ukuran tidak perlu khawatir karena tiap alat didesain khusus (custom) pada tiap pasien.

Ternyata Kawat gigi bisa dijadikan alat bantu penderita tunarungu mendengar. Solusi inovatif bagi mereka yang terganggu penden garannya. Ilmuwan AS bekerjasama dengan perusahaan teknologi Sonitus Medical mengembangkan sebuah perangkat yang bisa membantu para tunarungu. Jika pada umumnya alat bantu pendengaran dipasang di telinga, maka perangkat baru ini dipasang pada gigi seperti memakai kawat gigi. Gadget ini mengantar suara melalui alat yang dijepitkan di gigi dan mengirim suara melalui tulang muka ke pusat indera pendengaran. Berbeda dengan alat bantu dengar konvensional yang dimasukkan ke liang telinga, kini tersedia alat bantu dengar modern yang dipasang di gigi sehingga tidak akan mengganggu penampilan.     

S

19/03/2011 - 14 00

Alat bantu dengar termutakhir yang disebut SoundBite ini bekerja dengan mengantarkan suara lewat tulang rahang ke dalam telinga. Alat berukuran kecil ini diletakkan di bagian atas kanan atau kiri geraham. Soal ukuran tidak perlu khawatir karena tiap alat didesain khusus (custom) pada tiap pasien. Jika alat bantu dengar konvensional menggunakan hantaran udara untuk meningkatkan volume suara yang ada di udara, SoundBite menggunakan pendekatan konduksi tulang. Alat ini akan mengirimkan getaran suara melalui gigi dan tulang secara langsung ke koklea melewati telinga tengah dan dalam. Perusahaan pembuat alat ini, Sonitus Medical, mengatakan, mekanisme penggunaan konduksi tulang ini merupakan yang pertama kali dipakai dalam alat nonbedah. SoundBite kini sudah disetujui badan kesehatan di seluruh Eropa. Walaupun terlihat nyaman, The Royal National Institute for Deaf People, Inggris, mengatakan, alat ini belum tentu cocok untuk semua orang yang memiliki masalah pendengaran. Kawat Gigi Bantu Tunarungu Mendengar Sound-Bite bekerja dengan memanfaatkan teknik konduksi tulang untuk memperbesar suara. Teknik ini mulai sering digunakan untuk membantu tunarungu berkomunikasi. Pasalnya, telah terbukti bahwa tulang sangat baik dalam penyampaian suara dalam tubuh. Demikian keterangan yang diberitakan dari Daily Mail. Alat bantu dengar tradisional umumnya menguatkan suara-suara di udara sebelum disampaikan ke lubang telinga dan mencapai gendang telinga. Saat menyentuh gendang telinga, suara-suara ini akan menimbulkan getaran yang disalurkan melalui tulang kecil ke bagian dalam telinga bernama rumah siput. Cairan di dalam rumah siput lalu bergerak, menstimulasi sel-sel rambut kecil yang kemudian memberi sinyal-sinyal ke saraf pendengaran yang bergerak ke otak. Sayangnya proses ini tidak bisa terjadi pada semua tunarungu. Berbeda dengan Sound-Bite, alat ini terdiri dari alat bantu dengar dalam bentuk klip kecil yang ditempelkan di bagian belakang telinga. Alat ini mengolah suara yang tertangkap dan mengirimkan sinyal ke alat kedua yang dipasang di mulut, menyerupai kawat gigi. Saat mendapatkan sinyal dari perangkat di telinga, kawat di gigi akan mengubahnya menjadi getaran-getaran lembut yang disampaikan ke gigi, lalu ke tulang pipi lalu ke rumah siput di bagian dalam telinga. Getaran ini selanjutnya diterjemahkan oleh saraf pendengaran dan dikirimkan ke otak. Para perancangnya berharap, Sound-Bite bisa menjadi alternatif bagi tunarungu yang tidak bisa menggunakan alat bantu dengar konvensional. (fn/km/lf) www.suaramedia.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->