P. 1
ilmu pengetahuan lingkungan

ilmu pengetahuan lingkungan

|Views: 4,220|Likes:
Published by dudi_achadiat
Diktat kuliah Ilmu Pengetahuan Lingkungan ini adalah hasil terjemahan cuplikan dari beberapa text book.
Pada awal tahun 2000 pernah dijadikan sebagai bahan bacaan bagi peserta perkulian Ilmu Pengetahuan Lingkungan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat.

Bab 1 membahas permasalahan umum lingkungan hidup, contoh kasus interaksi manusia dengan lingkungan. Dalam bab 1 juga dibahas kecenderungan global, kecenderungan pertambahan penduduk serta kecenderungan dampaknya , degradasi ( semakin memburuknya kualitas ) tanah/lahan , serta perubahan atmosfir global. Semakin miskinnya keragaman hayati akibat ulah manusia serta dampaknya juga dibahas dalam bab ini. Bab 1 diakhiri dengan bahan tentang konsep “sustainable development”, pembangunan yang memperhatikan kepentingan kesinambungan kelestarian kualitas lingkungan hidup untuk kepentingan generasi yang akan datang.
Bab 2 membahas tentang apa yang dimaksud dengan ecosystem , kemudian struktur ecosystem serta implikasi-implikasinya terhadap kehidupan manusia.
Bab 3 membahas tentang Principles of Ecosystem Sustainability, prinsip-prinsip dasar menciptakan kelestarian lingkungan, prinsip-prinsip agar tidak mewariskan kerusakan lingkungan kepada generasi mendatang.
Bab 4 membahas : proses-proses alam yang mendasar yang membuat kita semua dan organisme lain hidup, apakah yang dimaksud dengan ecosystem, dan apakah apa sajakah komponen-komponen hidup dan non-hidup –nya yang utama, apakah yang terjadi pada energi dalam ecosystem, apakah yang terjadi pada zat-zat dalam ecosystem, peran-peran apakah yang dilakukan oleh berbagai macam organisme dalam ecosystem, dan bagaimanakah organisme berinteraksi
Bab 5 berupaya membahas hal-hal yang terkait dengan seberapa cepatkah populasi manusia bertambah banyak, apa saja sumberdaya-sumberdaya penting di dunia ini, akankah sumberdaya-sumberdaya ini ber-degradasi , berkurang atau habis, apakah polusi (pencemaran lingkungan) itu, ada berapa macam kah polusi itu, apakah polusi dapat dihindarkan atau dikendalikan. Disamping itu dalam bab 5 juga dibahas keterkaitan antara ukuran populasi manusia , penggunaan sumberdaya , teknologi , degradasi lingkungan , dan polusi.
Bab 6 berisi bahasan yang dimaksudkan untuk lebih dapat memahami apakah ecosystem itu. Dalam bab ini dibahas pengertian kata sistem, tingkat-tingkat organisasi dalam alam, lingkup ekologi, serta struktur dan fungsi ekosistem.
Bab 7 berisi bahasan tentang : apa yang dimaksud dengan science (ilmu pengetahuan) , apa yang dimaksud dengan environmental science (ilmu pengetahuan lingkungan), apakah bentuk-bentuk prinsip energi, sumberdaya energi apakah yang diandalkan manusia untuk mendukung gaya hidupnya dewasa ini, hal apa yang menjadikan energi bermanfaat bagi manusia sebagai suatu sumberdaya, apakah yang dimaksud dengan perubahan fisik, apakah yang dimaksud dengan perubahan kimiawi, hukum-hukum ilmiah apa sajakah yang menjelaskan perubahan zat , perubahan dari satu bentuk fisik ke bentuk fisik lainnya , atau perubahan dari satu bentuk kimiawi ke bentuk kimiawi lainnya.

Diktat Kuliah yang dapat di-down-load dengan gratis ini sangatlah tidak tepat untuk dikomersilkan atau dibuat hard-copynya secara masal, diktat kuliah ini hanyalah tepat untuk dipakai untuk keperluan personal dan pendidikan.
Diktat kuliah Ilmu Pengetahuan Lingkungan ini adalah hasil terjemahan cuplikan dari beberapa text book.
Pada awal tahun 2000 pernah dijadikan sebagai bahan bacaan bagi peserta perkulian Ilmu Pengetahuan Lingkungan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat.

Bab 1 membahas permasalahan umum lingkungan hidup, contoh kasus interaksi manusia dengan lingkungan. Dalam bab 1 juga dibahas kecenderungan global, kecenderungan pertambahan penduduk serta kecenderungan dampaknya , degradasi ( semakin memburuknya kualitas ) tanah/lahan , serta perubahan atmosfir global. Semakin miskinnya keragaman hayati akibat ulah manusia serta dampaknya juga dibahas dalam bab ini. Bab 1 diakhiri dengan bahan tentang konsep “sustainable development”, pembangunan yang memperhatikan kepentingan kesinambungan kelestarian kualitas lingkungan hidup untuk kepentingan generasi yang akan datang.
Bab 2 membahas tentang apa yang dimaksud dengan ecosystem , kemudian struktur ecosystem serta implikasi-implikasinya terhadap kehidupan manusia.
Bab 3 membahas tentang Principles of Ecosystem Sustainability, prinsip-prinsip dasar menciptakan kelestarian lingkungan, prinsip-prinsip agar tidak mewariskan kerusakan lingkungan kepada generasi mendatang.
Bab 4 membahas : proses-proses alam yang mendasar yang membuat kita semua dan organisme lain hidup, apakah yang dimaksud dengan ecosystem, dan apakah apa sajakah komponen-komponen hidup dan non-hidup –nya yang utama, apakah yang terjadi pada energi dalam ecosystem, apakah yang terjadi pada zat-zat dalam ecosystem, peran-peran apakah yang dilakukan oleh berbagai macam organisme dalam ecosystem, dan bagaimanakah organisme berinteraksi
Bab 5 berupaya membahas hal-hal yang terkait dengan seberapa cepatkah populasi manusia bertambah banyak, apa saja sumberdaya-sumberdaya penting di dunia ini, akankah sumberdaya-sumberdaya ini ber-degradasi , berkurang atau habis, apakah polusi (pencemaran lingkungan) itu, ada berapa macam kah polusi itu, apakah polusi dapat dihindarkan atau dikendalikan. Disamping itu dalam bab 5 juga dibahas keterkaitan antara ukuran populasi manusia , penggunaan sumberdaya , teknologi , degradasi lingkungan , dan polusi.
Bab 6 berisi bahasan yang dimaksudkan untuk lebih dapat memahami apakah ecosystem itu. Dalam bab ini dibahas pengertian kata sistem, tingkat-tingkat organisasi dalam alam, lingkup ekologi, serta struktur dan fungsi ekosistem.
Bab 7 berisi bahasan tentang : apa yang dimaksud dengan science (ilmu pengetahuan) , apa yang dimaksud dengan environmental science (ilmu pengetahuan lingkungan), apakah bentuk-bentuk prinsip energi, sumberdaya energi apakah yang diandalkan manusia untuk mendukung gaya hidupnya dewasa ini, hal apa yang menjadikan energi bermanfaat bagi manusia sebagai suatu sumberdaya, apakah yang dimaksud dengan perubahan fisik, apakah yang dimaksud dengan perubahan kimiawi, hukum-hukum ilmiah apa sajakah yang menjelaskan perubahan zat , perubahan dari satu bentuk fisik ke bentuk fisik lainnya , atau perubahan dari satu bentuk kimiawi ke bentuk kimiawi lainnya.

Diktat Kuliah yang dapat di-down-load dengan gratis ini sangatlah tidak tepat untuk dikomersilkan atau dibuat hard-copynya secara masal, diktat kuliah ini hanyalah tepat untuk dipakai untuk keperluan personal dan pendidikan.

More info:

Published by: dudi_achadiat on Jun 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

Sections

Bagaimanapun keragaman ecosystem-ecosystem yang ada, semuanya mempunyai kesamaan
struktur biotik, ditinjau dari saling keterkaitan makan-memakan (feeding relationship)
(1, pp. 27-28).

Katagori

Organisme.

Katagori utama organisme
adalah sbb. : (1) producers, (2)
consumers dan (3) detritus
feeders dan decomposers.

Secara

bersama-sama,

kelompok-kelompok

ini
menghasilkan makanan, mene-
ruskannya kedalam flood chains
(rantai-rantai makanan) dan
mengembalikan material awal
kembali menjadi bagian abiotik-
abiotik

dari

lingkungan

(1, p. 28).

Producers. Yang tergolong
sebagai producers terutama
tumbuhan-tumbuhan

hijau,
yang menggunakan energi
cahaya yang berasal dari
matahari untuk merubah karbon
dioksida (yang diserap dari
udara atau air) dan air menjadi
zat gula (glucose / glukosa) dan
juga melepaskan oksigen
sebagai

produk

ikutan.
Konversi kimia-wi yang
demikian ini, yang dipacu oleh
energi cahaya (energi surya),
disebut

photo-synthesis

(fotosintesis). Tumbuhan
dapat membentuk semua
molekul-molekul

yang

kompleks

(rumit)

yang
membentuk tubuhnya dari glukosa yang dihasilkan dari proses foto-sintesis, ditambah dengan
beberapa mineral nutrients seperti nitrogen, phosphorus, potasium, dan sulfur yang
diserapnya dari tanah atau dari air (1, p. 28).

**Fig. 2-5, 1, p. 28. Producers dalam seluruh ecosystem
utama adalah tumbuhan hijau, karena tumbuhan tersebut
mengandung pigmen hijau, chlorophyll. Chlorophyll
menyerap energi cahaya, yang kemudian dipakai untuk
menghasilkan glukosa dari karbon dioksida dan air, serta
melepaskan oksigen sebagai produk ikutan.... Glucose,
bersama dengan beberapa mineral nutrient tambahan dari
tanah, dipakai dalam menghasilkan seluruh jaringan
tumbuhan, yang menjadikannya tumbuh.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 24

Molekul tumbuhan yang berfungsi menyerap energi cahaya untuk proses fotosintesis adalah
apa yang disebut sebagai chlorophyll, pigment (zat warna) berwarna hijau. Oleh karenanya,
tumbuhan yang menjalankan fotosintesis dengan mudah dapat dikenali dari warnanya yang
hijau. Dalam beberapa kasus, warna hijau berbaur dengan tambahan warna lain yaitu merah
dan coklat. Itulah sebabnya ganggang merah dan ganggang coklat juga menjalankan
fotosintesis. Producers terdapat dalam rentang keragaman mulai dari yang mikroskopis,
ganggang ber-sel tunggal, tumbuhan berukuran sedang seperti rumput, sampai ke pohon-
pohon berukuran raksasa. Setiap ecosystem utama, baik aquatic maupun terrestrial, memiliki
producers tertentu yang melangsungkan fotosintesis (1, p. 28).

Istilah organic dipakai untuk menyatakan bahwa : keadaannya yang terkait dengan seluruh
material yang membentuk organisme hidup, sebagai contoh misalnya : molekul-molekul
seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Demikian juga, material-material yang merupakan
produk-produk spesifik dari organisme hidup, seperti daun-daun yang mati, kulit, gula dan
kayu, dipandang termasuk organik. Di sisi lain, material-material dan zat-zat kimia yang ada
dalam udara, air , bebatuan dan mineral-mineral, yang ada terpisah dari aktifitas organisme
hidup, dipandang termasuk inorganic. Ciri kunci dari material dan molekul-molekul organik
adalah dalam bagian terbesar terbentuk dari ikatan atom karbon dan hidrogen, yang
merupakan suatu struktur yang tidak dijumpai dalam material-material inorganik. Struktur
karbon-hidrogen bermula dari proses fotosintesis. Atom hidrogen diambil dari molekul
udara dan atom karbon diambil dari karbon dioksida yang dipadukan bersama membentuk
senyawa organik dalam proses fotosintesis. Tumbuhan-tumbuhan hijau mempergunakan
cahaya sebagai sumber energi untuk menghasilkan mulokul-molekul organik yang kompleks

Fig. 2-6, 1, p. 29. Organik dan inorganik. Air dan molekul-molekul sederhana yang dijumpai
dalam udara, bebatuan, dan tanah adalah inorganik. Producers, mempergunakan energi cahaya,
merubah bahan-bahan inorganik menjadi bahan-bahan organik. Material-material organik
kemudian diuraikan kembali menjadi material-material inorganik dengan jalan pembakaran atau
pencernaan, yang juga melepaskan energi. Secara kimiawi, senyawa organik mengandung
ikatan-ikatan karbon-karbon dan karbon-hidrogen yang tidak dijumpai dalam material-material
inorganik.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 25

yang dibutuhkan oleh tubuhnya dari bahan-bahan kimia sederhana (karbon dioksida, air, dan
nutrients minerals) yang terdapat dalam lingkungan. Pada saat konversi dari inorganik
menjadi organik terjadi, sejumlah energi cahaya menjadi tersimpan dalam senyawa-senyawa
organik (1, p. 29).

Seluruh organisme dalam ecosystems selain tumbuhan hijau memakan material-material
organik baik sebagai sumber energi ataupun nutrients. Yang demikian ini tidak hanya
semua binatang, tapi juga fungi (jamur) serta organisme-organisme serupa, kebanyakan
bakteri, dan bahkan beberapa tumbuhan tingkat yang lebih tinggi yang tidak diperlengkapi
dengan chlorophyll yang oleh karena ini tidak dapat melangsungkan fotosintesis(1, pp. 29-
30).

Oleh karena itu, tumbuhan hijau, yang dapat menjalankan proses fotosintesis, mutlak
memegang peran penting untuk seluruh komponen ecosystems. Fotosintesis yang
berlangsung didalamnya dan pertumbuhannya adalah proses menghasilkan material-material
organik yang menunjang seluruh organisme lainnya dapat tetap bertahan hidup dalam
ecosystem-nya yang terkait (1, p. 29).

Seluruh organisme yang ada dalam biosfir dapat dibagi dalam 2 katagori : autotrophs dan
heterotroph , berdasarkan apakah organisme tersebut menghasilkan atau tidak menghasilkan
senyawa-senyawa organik yang dibutuhkannya untuk dapat bertahan hidup dan tumbuh.
Organisme-organisme seperti tumbuhan hijau, yang menghasilkan sendiri material-material
organik dari bahan-bahan inorganik yang terdapat dalam lingkungan dengan mempergunakan
sumber energi eksternal (yang berasal dari luar) disebut autotroph. Seperti telah disebutkan
terdahulu, autotroph yang terpenting dan terkenal sejauh ini adalah tumbuhan hijau (green
plants), yang mempergunakan Chlorophyll untuk menangkap energi cahaya untuk
fotosintesis. Walaupun demikian, beberapa bakteri mempergunakan pigmen warna ungu
untuk fotosintesis, dan beberapa bakteri lainnya mendapatkan energi dari zat-zat kimia
inorganik tertentu yang mengandung banyak energi. Organisme lain yang harus terlebih
dahulu mengkonsumsi material organik untuk memperoleh energi dan nutrients disebut
heterotroph Heterotroph dapat dibagi dalam beberapa sub-katagori, dua sub-katagori
utama adalah : consumer (yang memakan mangsa hidup), detritus feeders, dan decomposers
yang ke-dua-dua-nya mengkonsumsi organisme-organisme mati atau produk-produk-nya
(1, p. 30).

Consumers. Consumers terdiri dari organisme yang sangat bervariasi, mulai dari yang
berukuran mikroskopis seperti bakteri, sampai yang berukuran sebesar ikan paus biru,
termasuk juga dalam kelompok ini ; berbagai jenis protozoa, cacing, ikan dan kerang,
serangga, reptil, binatang amfibi, burung-burung, binatang-binatang menyusui (termasuk
manusia) (1, p. 30).

Untuk dapat memahami struktur ecosystem, consumer dibagi dalam beberapa sub-kelompok
menurut sumber makanan-nya. Binatang-binatang, dari yang sebesar gajah sampai yang
sekecil rayap yang memakan langsung producers disebut sebagai primary consumers, yang
juga sering kali disebut sebagai herbivores (herbivora = pemakan tumbuhan) (1, p. 30).

Binatang-bintang yang memangsa / memakan primary consumers disebut secondary
consumers.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 26

Rusa-rusa besar yang
pemakan tumbuhan adalah
primary consumers, sedang-
kan srigala-srigala pemakan
rusa besar adalah secondary
consumers. Masih ada lagi
third, fourth, atau tingkat
consumers yang lebih
tinggi, dan binatang-
binatang ter-tentu dapat
menempati lebih dari satu
posisi dalam tingkat skala
consumers. Sebagai
contoh misalnya, manusia,
dia

adalah

primary
consumers pada saat dia
makan sayur-sayur-an, na-
mun juga secondary con-sumers pada saat dia makan daging, dan third-level consumer pada
saat dia makan ikan yang hidupnya dari memakan ikan yang lebih kecil yang hidupnya dari
memakan ganggang. Secondary dan consumers dalam urutan selanjutnya disebut carnivores
(karnivora = pemakan daging). Consumers yang memakan baik tumbuhan maupun binatang
disebut omnivores (omnivora = pemakan segala) (1, p. 30).

Dalam suatu hubungan dimana satu binatang menyerang, membunuh, dan memakan binatang
lainnya, binatang penyerang dan pembunuh tersebut disebut predator , dan binatang yang
terbunuh disebut prey. Diantara kedua binatang ini terdapat suatu hubungan yang disebut
sebagai predator-prey relationship (1, p. 30).

Parasit adalah katagori penting lainnya dari kelompok consumers. Parasit adalah organisme,
baik tumbuhan atau binatang, yang menjadi terkait erat dengan mangsanya dan mengambil
makanan dari mangsanya tersebut dalam waktu yang relatif lama, pada umumnya tidak
bersifat membunuh (paling tidak, tidak segera), namun sering kali melemahkan mangsanya
sehingga menjadi lebih rentan untuk dapat terbunuh oleh predator lainnya atau oleh kondisi-

Fig. 2-9, 1, p.31. Macam-macam parasit. Hampir seluruh kelompok besar organisme paling
tidak beberapa anggotanya yang bersifat parasit terhadap anggota lainnya. Diperlihatkan disini
(a) benalu, yang merupakan parasit tumbuhan. Yang seperti tali-tali berwarna oranye adalah
ranting-ranting benalu dengan mana ia mengisap getah-getah tumbuhan yang menjadi
mangsanya, benalu yang diperlihatkan disini tidak mempunyai daun dan tidak juga memiliki
chlorophyll. (b) Cacing-casing Ascaris lumbricoides , parasit terhadap manusia yang terbesar
dapat mencapai panjang sampai 35 cm. (c) Lamprey menyerang ikan salmon. Lamprey
merupakan parasit untuk ikan.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 27

kondisi yang merugikan. Tumbuhan atau binatang tempat dimana parasit mendapat
makanannya disebut host. Jadi yang dibicarakan dalam alinea ini juga tentang adanya suatu
hubungan yang disebut sebagai host-parasites relationship (1, pp. 30-31).

Banyak sekali ragamnya organisme-organisme yang bersifat parasit. Berbagai macam
cacing adalah contoh yang sudah amat dikenal, juga protozoa-protozoa tertentu, serangga,
dan bahkan binatang menyusui tertentu, seperti kelelawar pengisap darah dan juga tumbuhan
tertentu (benalu) termasuk dalam jenis parasit. Banyak dari penyakit tumbuhan dan
beberapa penyakit binatang disebabkan oleh fungi (jamur). Bahkan, sebenarnya setiap
kelompok utama organisme paling tidak memiliki satu anggota yang bersifat parasit. Parasit
dapat hidup didalam atau diluar mangsanya (1, p. 31).

Contoh producers dan consumers, dan feeding relationship diantara ke-dua-nya, diperlihatkan
dalam Fig. 2-10.

fig.2-10, 1-p.32 Common feeding (trohic) relationships among producers and
consumers.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 28

Detritus Feeders dan Decomposers. Material tumbuhan yang mati seperti daun-daun yang
gugur, ranting dan batang pohon yang mati, rumput dan alang-alang yang telah mati, kotoran
bintang, dan tubuh binatang yang mati disebut sebagai detritus (dibaca : di-TRI-tus). Banyak
organisme yang terkhususkan pemakan detritus, yang kemudian consumers jenis ini disebut
sebagai detritus feeders atau detritivores contohnya : cacing tanah, rayap, semut dll....
(1, p. 31).

Kelompok terpenting detritus feeders utama adalah decomposers, yang disebut fungi (jamur)
atau bacteria (bakteri). Organisme-organisme ini mengeluarkan enzim-enzim yang
melancarkan pencernaan yang menyebabkan menjadi hancurnya kayu, sebagai contoh
misalnya, menjadi gula sederhana dimana kemudian jamur atau bakteri menyerapnya untuk
keperluan kelangsungan hidupnya. Walaupun jamur dan bakteri disebut sebagai
decomposers karena kelakuannya yang unik, jamur dan bakteri dikelompokkan dalam
detritus feeders karena fungsinya dalam ecosystem adalah sama. Pada gilirannya,
decomposers akan dimakan oleh semacam secondary detritus feeders seperti protozoa, rayap,
serangga dan cacing. Pada saat jamur atau decomposers lainnya mati, tubuhnya menjadi
bagian dari detritus dan sumber energi serta nutrients untuk yang menjadi detritus feeders dan
decomposers selanjutnya (1, p. 31).

Ringkasnya, walaupun ecosystem tampil dalam satu keragaman, semua memiliki struktur
biotik (biotic structure) yang sama. Semuanya dapat dijelaskan dalam batasan autotrophs
atau producers, yang menghasilkan bahan-bahan organik yang kemudian menjadi sumber
energi dan nutrients untuk heterotrophs, yang dapat kemudian dikelompokkan lagi dalam
berbagai katagori sebagai consumers, detritus feeders dan decomposers (1, p. 31).

Feeding Relationship : Food Chains, Food Webs, and Trophic Levels. Dalam
menjelaskan struktur biotik ecosystem, sangat jelas bahwa interaksi-interaksi utama diantara
organisme yang melibatkan feeding relationships. Kita dapat menyebutkan tak terkira
banyaknya jalur pintasan dimana satu organisme dimakan oleh yang berikutnya, yang
kemudian dimakan lagi oleh yang berikutnya lagi, dst....... Masing-masing jalur pintasan
tersebut disebut food chain (rantai makanan) (1, p. 33).

Suatu populasi herbivora memakan berbagai jenis tumbuhan, dan kemudian herbivora ini
dimangsa oleh beberapa secondary consumer atau omnivora. Sebagai konsekuensinya,
sebenarnya seluruh rantai-rantai makanan saling berkaitan dan membentuk suatu “complex
web of feeding relationship”.
Istilah food web dipakai untuk menyatakan jaringan yang
kompleks dari rantai-rantai makanan yang saling berkaitan (interconnected) (1, p. 33).

Walaupun rantai makanan teoritis jumlahnya banyak dan food webs rumit sifatnya, terdapat
pola keseluruhan yang sederhana : Semua rantai makanan pada dasarnya menjurus pada
serangkaian tahap atau tingkatan, dari producers kepada primary consumer (atau primary
detritus feeders) kemudian ke secondary consumers (atau secondary detritus feeders), dan
seterusnya... Feeding Levels yang semacam ini disebut trophic levels. Seluruh producers
termasuk dalam trophic level 1, seluruh primary consumers (dalam kata lain : herbivora) baik
yang memakan producers yang masih hidup ataupun yang telah mati, termasuk dalam trophic
level 2, organisme yang memakan herbivora-herbivora ini termasuk dalam trophic level 3,
dan seterusnya .... (1, p. 33).

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 29

Fig. 2-11, 1, p. 32. Feeding (Trophic) relationship antara primary detritus feeders, secondary
detritus feeders, dan consumers. Organisme-organisme yang memakan detritus mendukung
banyak organisme lainnya untuk dapat hidup dalam tanah, dan ini, pada gilirannya, akan dimakan
oleh consumers yang lebih besar.

Fig. 2-12, 1-p. 33. Ringkasan tentang bagaimana organisme hidup secara ekologis dikelompokkan
menurut atribut apa yang menjadi makanannya.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 30

Apakah menunjukkan struktur biotik dari suatu ecosystem menurut rantai makanan, food
webs, atau trophic levels, haruslah terlihat, melalui masing-masing feeding step , bahwa
disana ada pergerakan mendasar nutrients kimiawi dan penyimpanan energi yang terkandung
didalam yang dimakan dari satu organisme (atau dari satu tingkat organisme) ke yang
berikutnya. Pembandingan diagramatis dari rantai makanan, food web, dan trophic level
diperlihatkan dalam Fig. 2-13a. Marine food web diperlihatkan dalam Fig. 2-13b (1, p. 33).

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 31

Ada berapa trophic level disana ? Biasanya, dalam suatu ecosystem tidak lebih dari tiga atau
empat. Jawaban yang demikian ini diperoleh dari observasi langsung. Biomass, atau berat
total gabungan (netto kering), semua organisme pada masing-masing trophic level yang dapat
diperkirakan dengan mengumpulkan (atau menangkap) dan menimbang sample yang
diperoleh. Dalam terrestrial ecosystems, biomass kurang lebih 90 – 99 % lebih sedikit pada
masing-masing trophic level yang lebih tinggi. Bila biomass producers di suatu lahan
rumput adalah 10 ton (20 000 pounds) per acre, biomass herbivora tidaklah akan lebih dari
2 000 pounds, kemudian karnivora tidak akan lebih dari 200 pounds. Mengambarkan hal
yang demikian ini secara grafis, maka dihasilkan sesuatu yang disebut sebagai biomass
pyramid
seperti yang diperlihatkan dalam Fig. 2-14 (1, p. 33).

Biomass berkurang demikian banyak pada saat naik ke tingkat berikutnya terutama karena
banyak makanan yang dikonsumsi oleh heterotroph tidak di-konversi menjadi jaringan tubuh
heterotroph tersebut, melainkan diuraikan sehingga energi yang terkandung didalamnya
dilepaskan dan dipergunakan oleh heterotroph tersebut. Sangat jelas untuk diamati bahwa
semua heterotroph tergantung pada masukan menerus bahan-bahan organik segar yang
dihasilkan oleh autotroph (tumbuhan hijau). Tanpa input yang demikian, heterotroph
semuanya akan kehabisan makanan dan menderita kelaparan (1, pp. 33-35).

Fig. 2-14, 1-p. 35. Biomass pyramid (Piramida Biomasa). Representasi grafis biomasa (total
gabungan masa organisme) pada trophic level berurutan membentuk semacam piramida.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 32

Pada saat terjadi penguraian material-material organik, elemen-elemen kimiawi dilepaskan
kembali ke lingkungan dalam keadaan inorganik, yang kemudian akan diserap kembali oleh
autotroph (producers). Jadi, terdapat suatu siklus nutrients dari lingkungan melalui
organisme dan kembali ke lingkungan. Energi yang dipakai, di sisi lain, hilang sebagai
panas yang dilepaskan dari tubuh-tubuh masing-masing (lihat Fig. 2-15).

Seluruh rantai makanan, food webs, dan trophic levels harus dimulai dengan producers ,
dan producers harus mempunyai kondisi lingkungan yang menunjang pertumbuhannya.
Menurut konsep biomass pyramid, populasi semua heterotroph, termasuk manusia, benar-
benar terbatasi oleh apa yang dapat dihasilkan oleh tumbuhan, bila ada faktor yang

Fig. 2-15, 1-p. 36. Gerakan nutrients (panah warna biru) dan gerakan energi (panah warna
merah) dan gerakan ke-dua-dua-nya (panah warna coklat) melalui ecosystem. Nutrients
mengikuti suatu siklus, yang dipakai lagi, dan lagi. Energi cahaya diserap oleh producers

dilepaskan dan hilang sebagai energi panas pada saat ia “dimanfaatkan”.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 33

menyebabkan kapasitas produktif tumbuhan hijau menjadi menurun, maka semua organisme
lain pada trophic level yang lebih tinggi juga akan menjadi berkurang (1, p. 35).

Nonfeeding Relationships. Mutually Supportive Relationship. Struktur keseluruhan dari
ecosystems didominasi oleh feeding relationships. Dalam suatu feeding relationship, kita
umumnya berfikir bahwa satu species memperoleh keuntungan, sementara yang lainnya
menjadi terancam. Sebenarnya, terdapat banyak hubungan-hubungan (relationships) yang
menghasilkan kondisi saling menguntungkan, fenomena ini disebut sebagai mutualism.
Contoh yang sudah dikenal adalah hubungan antara bunga dan serangga. Serangga
diuntungkan dengan menemukan minuman yang sangat lezat dari bunga-bunga dan
tumbuhan diuntungkan dengan
terbantu dalam dapat terjadinya
proses penyerbukan. Contoh
lain dijumpai di laut-laut tropis :
Ikan Badut (Clownfish) kebal
terhadap racun yang terdapat
pada gurita suatu tumbuhan laut,
yang

digunakan

untuk
menghentikan gerak mangsanya,
sehingga ikan-ikan ini dapat
memakan detritus yang terdapat
di sekeliling tumbuhan laut
tersebut, dimana pada saat yang
sama

juga

memperoleh
perlindungan dari serangan
predator yang mungkin ada yang
tidak kebal terhadap racun yang
dikeluarkan tumbuhan laut
tersebut, sementara tumbuhan
laut

diuntungkan

dengan

dilakukannya suatu pembersihan oleh ikan tersebut (1, p. 35).

Dalam beberapa kasus, hubungan mutualistik telah menjadi sedemikian erat sehingga species
yang terlibat tidak mampu lagi hidup sendiri. Contoh klasiknya adalah kelompok tumbuhan
yang disebut lichens. Tumbuhan lichens sebenarnya terdiri dari 2 organisme : jamur dan
ganggang. Jamur memberikan perlindungan terhadap ganggang, membuat ganggang
menjadi dapat bertahan hidup dalam habitat-habitat yang kering, dimana ganggang pada
kondisi demikian tidak dapat hidup menyendiri, dan ganggang, yang termasuk sebagai
producers, menyediakan makanan untuk jamur, yang termasuk jenis heterotroph. Dua
species yang hidup bersama dalam hubungan yang sangat erat disebut mempunyai suatu
hubungan symbiotic . Arti kata symbiosis itu sendiri memang berarti ”hidup bersama” dalam
suatu kesatuan yang erat (sym = bersama, bio = hidup), namun tidak tegas/jelas apakah saling
menguntungkan atau menghasilkan kerugian di satu fihak atau di kedua fihak. Oleh karena
itu, hubungan symbiotic dapat berupa parasitic relationships, namun juga dapat berupa
mutualistic relationships (1, p. 37).

Sementara yang tidak terkatagorikan mutualistik, tak terhitung banyak relationships dalam
suatu ecosystem yang dapat dipandang sebagai pendukung sustainability keseluruhan.
Sebagai contoh, detritus yang berasal dari tumbuhan menjadikan adanya makanan untuk
decomposers dan detritus feeders yang tinggal dalam tanah seperti cacing tanah. Jadi

Fig. 2-16, 1-p. 36. Hubungan mutualistik, dimana kedua
species saling diuntungkan, yang terjadi antara ikan badut
dengan sejenis tumbuhan laut.

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 34

organisme-organisme ini diuntungkan dengan adanya tumbuhan, namun juga tumbuhan
diuntungkan karena aktifitas organisme-organisme ini merupakan alat pelepas nutrients dari
detritus serta mengembalikan nutrients kedalam tanah sehingga nutrients tersebut kembali
menjadi dapat dipakai oleh tumbuhan. Dalam contoh lain, burung-burung pemakan daging
diuntungkan oleh tumbuhan dengan menjadi tersedianya bahan untuk membuat sarang dan
tempat di pepohonan, sementara komunitas tumbuhan diuntungkan karena burung-burung
tersebut memakan dan oleh karenanya menurunkan populasi serangga herbivora. Bahkan
dalam predator-prey relationships, beberapa kondisi saling menguntungkan dapat terjadi.
Terbunuhnya mangsa-mangsa individual yang lemah atau telah terkena penyakit akan
menguntungkan populasinya secara keseluruhan karena menjadi terjaganya tetap sehat.
Predators dan parasites juga dapat mencegah populasi herbivora menjadi demikian berlimpah
yang akan menjadikan lingkungannya menjadi overgraze (rerumputan, semak belukar,
tumbuhan diambil/terambil melampaui batas) (1, p. 37).

Competitive Relationships. Menyimak konsep food webs, dapat terlihat bahwa species
binatang berada dalam kompetisi besar yang “free-for-all” antara satu sama lain. Dalam
kenyataannya kompetisi yang dahsyat jarang sekali terjadi, karena masing-masing species
cenderung untuk mengkhususkan dan menyesuaikan diri pada habitat dan/atau niche – nya
masing-masing (1, p. 37).

Habitat terkait dengan jenis tempat, ditentukan oleh komunitas tumbuhan dan lingkungan
fisik, dimana suatu species secara biologis beradaptasi (menyesuaikan diri) untuk hidup.
Sebagai contoh, hutan deciduous (tumbuhan yang berganti daun), rawa, lahan terbuka ber-
rumput/alang-alang/semak-belukar (an open grassy field) menunjukan tipe-tipe habitat.
Tipe-tipe hutan (misalnya conifer vs. deciduous, conifer = kayu / pohon jarum, deciduous =
tumbuhan yang berganti daun) menyajikan habitat yang jelas dapat di-per-beda-kan dan
mendukung beragam kehidupan liar (wildlife) (1, p. 37).

Walaupun pada mana species yang berbeda mendiami habitat yang sama, kompetisi yang
terjadi jarang terjadi atau sama sekali tidak terjadi, hampir seluruhnya, karena masing-masing
species memiliki niche-nya sendiri-sendiri. Suatu animal’s niche (niche-nya binatang, niche
= ceruk, relung atau tempat) mengacu pada : yang dimakannya, dimana makannya, kapan
makannya, dimana binatang tersebut menemukan tempat bersembunyi/berlindung, dan
dimana bersarang. Terlihat bahwa para pesaing dapat sama-sama berada dalam habitat yang
sama namun mempunyai niches yang berbeda. Sebagai contoh, wood-pecker (pematuk
kayu), yang memakan serangga-serangga yang terdapat dalam kayu yang mati, tidak ber-
kompetisi dengan burung-burung yang makanannya biji-biji-an. Banyak species burung-
bernyanyi (songbirds) sama-sama berada di hutan, namun burung-burung tersebut memakan
serangga dari level yang berbeda pada pohon. Kelelawar dan burung kepinis ke-dua-dua-
nya makanannya serangga terbang, namun mereka tidak berkompetisi, karena kelelawar
makannya malam dan burung kepinis makannya siang (1, p. 37).

Sering kali terjadi kompetisi interspecies dimana terjadi overlap habitat atau niches. Bila
dua species memang bersaing langsung dalam segala hal, sebagaimana kadang-kadang terjadi
bila suatu species dimasukkan (masuk) dari benua lain, satu diantaranya umumnya binasa
dalam kompetisi tersebut, yang demikian ini disebut competitive exclusion principle.
(1, p. 37).

-
Ilmu Pengetahuan Lingkungan

hal. 35

Seluruh tumbuhan hijau membutuhkan air, nutrients, dan cahaya dan dimana mereka tumbuh
pada lokasi yang sama, satu species akan meng-eliminasi yang lainnya melalui suatu
kompetisi. Walaupun demikian, masing-masing species mampu dapat mempertahankan
dirinya melawan kompetisi bila kondisinya sangat cocok untuk itu. Konsep yang sama
berlaku untuk species hidup di aquatic dan marine ecosystems (1, p. 37).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->