PERAN IKLIM PERSAINGAN USAHA YANG SEHAT DALAM MEWUJUDKAN SISTEM INOVASI NASIONAL, UMKM YANGKUAT DAN PENGENTASAN

KEMISKINAN
Tresna Priyana Soemardi
Alumni Teknik Mesin ITB Angkatan 1975 Guru Besar Bidang Perancangan Mekanikal dan Pengembangan Produk Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005-saat ini Guru Besar Tamu Bidang Inovasi dan Strategic Management Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2005-saat ini Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Republik Indonesia (KPPU-RI), Januari 2010-saat ini Komisioner Pada Komisi Pengawas Persaingan Usaha Repunlik Indonesia (KPPU-RI), Jamuari 2007-saat ini.

ABSTRAK
1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Republik Indonesia yang merupakan amanat seluruh rakyat ketika memperjuangkan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda selama 350 tahun dan dari penjajahan Jepang selama 3,5 tahun untuk mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang merdeka untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Undang-Undang Dasar negara Indonesia, merupakan dasar dalam menyusun sistem negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Dalam perjalanannya sebagai bangsa yang merdeka, Negara Republik Indonesia baru menganggap penting Persaingan Usaha yang Sehat pada tahun 1999 setelah 54 tahun merdeka, suatu proses belajar yang cukup panjang. Setelah 50 tahun lebih Negara Indonesia merdeka barulah lahir Undang-Undang No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dengan kata lain setelah 50 tahun lebih merdeka, barulah rakyat Indonesia yang bekerja sebagai pelaku usaha atau pebisnis diproklamasikan kemerdekaannya dalam berusaha pada tahun 1999 dengan ditanda tanganinya UU No.5 tahun 1999 oleh Presiden pada saat itu Prof.Dr.ing. B.J. Habibie. Selama 50 tahun lebih praktek monopoli dan praktek anti persaingan tidak diatur secara hukum alias dihalalkan dalam dunia usaha di Indonesia. Persekongkolan antara Pemerintah/Lembaga Negara dengan pelaku usaha/BUMN menciptakan diskriminasi dan Kesempatan berusaha yang tidak sama antara pelaku usaha (besar, menengah dan kecil), dengan menghilangkan persaingan antar pelaku usaha (lessening competition) dan menciptakan konsentrasi kelompok interest atau pasar berbentuk oligopolistik, yang akhirnya mematikan sistem inovasi nasional bahkan berjalan dengan waktu secara sistemik menciptakan pengangguran, inflasi yang tinggi dan kemiskinan di masyarakat. 3. Paper ini berusaha menjelaskan bagaimana fenomena persaingan usaha yang tidak sehat dan praktek monopoli yang ada dalam sistem pembangunan ekonomi nasional dapat menghancurkan sistem inovasi nasional, melemahkan sektor riil UMKM dan menciptakan kemiskinan rakyat Indonesia secara struktural dalam sektorsektor penting seperti pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, kerajinan rakyat, pasar tradisional dsb. 4. Paper ini juga berusaha merumuskan rekomendasi harmonisasi kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum harmonis dengan nilai-nilai persaingan usaha yang sehat.

---PERSAINGAN SEHAT SEJAHTERAKAN RAKYAT---

1. PENDAHULUAN: ERA PEMBANGUNAN NASIONAL TANPA KELEMBAGAAN PERSAINGAN USAHA, 1945-2000 1945-1965: Era Stagnasi Pembangunan Ekonomi dan Inflasi berkepanjangan Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno sampai tahun 1960-an tidak menunjukkan suatu konstruksi kelembagaan negara yang semakin kokoh, tetapi yang terjadi adalah dinamika turbulensi politik, perubahan UUD dari UUD 1945 ke Konstitusi Republik Indonesia Serikat, Undang Undang Dasar Sementara (UUDS) tahun 1950 dan akhirnya kembali ke UUD tahun 1945 melalui Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 sekaligus membubarkan konstituante hasil Pemilu tahun 1955 yang bertugas membuat UUD atau konstitusi baru menggantikan UUDS tahun 1950. Pembangunan ekonomi pada masa itu, tidak kunjung terwujud pembangunan ekonomi secara sistemik dan berkesinambungan menciptakan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan ekonomi yang berazaskan kekeluargaan, gotong royong dan usaha bersama. Perhatian terhadap pembangunan ekonomi juga semakin buruk dengan ³mundurnya´ Wakil Presiden Moh.Hatta pada tahun 1956 yang mengundurkan diri dari kancah perpolitikan Indonesia, yang membuat Soekarno semakin jauh dari memenuhi cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera. Perusahaanperusahaan dan pabrik-pabrik milik Belanda yang diambil alih oleh pemerintah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan tidak dikelola secara terencana strategik dan jangka panjang menghasilkan komoditi kebutuhan pokok masyarakat yang beragam, berkualitas dan terjangkau. Juli 1959 parlemen dibubarkan Soekarno dan menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden. Dinamika partai politik juga menunjukkan suatu perkembangan penguatan partai komunis yang berupaya dekat dan menguasai kekuatan militer. Di sisi lain, Soekarno berusaha mengokohkan konsep pembangunan politik ³demokrasi terpimpin´ nya, dengan mengupayakan penyatuan kekuatan politik dari jalur nasionalis, agama dan komunis yang dinamakan ³nasakom´. Pembangunan politik dan ekonomi pada masa ³demokrasi terpimpin´ ini, PKI yang menjadi demikian kuat dan kaum borjuis nasional, ternyata tidak berhasil menekan pergerakanpergerakan independen buruh dan tani, dan gagal dalam memecahkan masalah-masalah politik dan ekonomi yang perioritas pada saat itu, misal, mengatasi kebutuhan bahan pokok, inflasi terus meningkat yang mencapai 650%, pendapatan ekspor menurun, cadangan devisa (foreign reserves) menurun terus, dan korupsi dikalangan birokrat dan militer menjadi wabah. Tahun 1960 sampai 65, Inflasi yang demikian tinggi membuat harga makanan pokok melambung tinggi,

sejak 1945 sampai 1965. serta bahan makanan yang tidak layak dikonsumsi lainnya. Demikian pula. Industrialisasi telah menciptakan transformasi struktur industri ke sektor modern. Ekonomi tumbuh dari Pelita ke Pelita. Dalam era orde-baru. pertumbuhan nilai tambah sektor industri manufaktur pada periode setelah deregulasi meningkat melebihi rata-rata nasional. pada masa pemerintahan Soekarno. era kepemimpinan Soeharto. . dan berusaha ³berdikari´ berdiri diatas kaki sendiri yang berbeda dengan konsep ³swadesi´ yang diterapkan Gandhi di India. Indonesia menjadi semakin ³terasing´. mulai Pelita-I. 1966-1996: Era rehabilitasi perekonomian Indonesia yang bertumpu pada bantuan dan investasi asing. minyak. Soeharto pada era ini mulai kembali merangkul para teknokrat ekonom (Sumitro Djojohadikusumo. melalui konsep trilogi pembangunan yaitu pertumbuhan-stabilitas dan pemerataan. dimana Soekarno memberi Soeharto kekuasaan tak terbatas yaitu untuk mengambil ³langkahlangkah yang sesuai´ untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawa Soekarno. Boleh dikatakan. Keadaan politik-ekonomi ini mengalami puncaknya pada peristiwa G30S PKI yang merupakan upaya kudeta pengawal istana (cakrabirawa) dan PKI yang berhasil ditumpas oleh Mayjen Soeharto yang kemudian memimpin Negara Kesatuan RI melalui Surat Perintah 11 Maret 1966. Kebijakan pemerintahan Soekarno ini menimbulkan krisis inflasi dan stagnasi ekonomi berkepanjangan. beras bulgur. dan barangbarang kebutuhan pokok lainnya. Banyak rakyat Indonesia yang sehari-hari hanya makan bonggol pisang. Merekalah yang membimbing proses pengintegrasian kembali perekonomian Indonesia dengan perekonomian dunia. dalam pembangunan ekonominya. umbi-umbian. Pembangunan politik dan ekonomi menunjukkan pemantapan secara sistemik lebih baik. Widjojo Nitisastro dkk) untuk membangun ekonomi nasional yang sudah sangat memprihatinkan. dan khususnya sejak deregulasi tahun 1985 sampai tahun 1995 telah menunjukkan hasil yang diharapkan. gaplek.rakyat kelaparan dan terpaksa harus antri untuk memperoleh beras. keluar dari PBB dan tidak menerima bantuan asing untuk pembangunan ekonomi. Untuk sandangpun masyarakat banyak menggunakan kain dari karung/goni sebagai bahan pakaian mereka. gula. yang memperkuat produksi dan penggunaan produk dalam negeri.

sistem ekonomi orde baru tampaknya cenderung pada pendekatan kapital pascakolonial. Indonesia: The Rise of Capital (Sydney: Allen and Unwin. Power in Motion: Capital Mobility and the Indonesian State (Ithaca: Cornell University Press. 1996). negara mendadak mendapat harta kekayaan luar biasa besarnya. 2009).1 sebagai pendulum atau jarum jam yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Prisma-LP3ES tahun 1979 2 Lihat. menurut teknokrat orde baru itu.3 rezeki minyak yang melimpah erfungsi untuk menyisihkan kaum teknokrat-ekonom dari posisi mereka sebagai perancang utama kebijakan ekonomi. Jeffrey A Winters. Peter B Evans. Ian Chalmers dan Vedi R Hadiz (eds). 3 Lihat. 1979). Indonesia mengalami boom minyak pertama. Sebagaimana diamati Richard Robinson dan Jeffrey Winters. Dependent Development: The Alliance of Multinational. sejumlah industri hulu padat modal dibangun atas nama membangun kapasitas perekonomian Indonesia untuk berdiri sendiri. Vedi R Hadiz. University Press. 1997). dari liberal ke sosialis dan ke arah liberal lagi tetapi. Dan akhirnya BJ Habibie muncul dengan model pembangunan melalui 8 wahana industri strategis yang berteknologi tinggi tanpa memperhatikan apa yang disebut oleh para ekonom sebagai faktor comparative advantage perekonomian Indonesia.´ ± mendapat dukungan kuat kelompok teknokrat insinyur (dan banyak ditentang kaum teknokrat ekonom). akhirnya mencapai titik keseimbangan di tengah-tengah yang disebutnya Sistem Ekonomi Pancasila. Dengan meminjam istilah Peter B Evans. yaitu sistem pasar yang dikendalikan melalui intervensi negara. Proyek penjalinan secara struktural dan menyeluruh berbagai sektor ekonomi Indonesia di bawah pimpinan negara-dulu disebut dengan ³Indonesia Incorporation.4 1 Lihat Emil Salim. Perekonomian Indonesia bergantung pada luar negeri dalam hal modal dan teknologi. meminjam istilah Hatta.2 pembangunan yang terjadi adalah pembangunan ketergantungan (dependent development). Krisis Ekonomi Dunia dan Indonesia (Prisma No. 1986). and Local Capital in Brazil (New Jersey: Princenton. Richard Robinson. State. terutama Bab 3 dan Bab 7. bahkan dalam derajat yang lebih parah. tetapi ciri-cirinya tetap sama dengan pendekatan kapital-kolonial. Ekonomi Pancasila. . The Politics of Economic Development in Indonesia: Contending Perspective (London: Routledge.1. 4 Lihat. Dengan dukungan negara. Tahun 1973-1974.Perjalanan kebijakan pembangunan ekonomi yang berlaku atau paling tidak diusahakan pada era orde baru digambarkan oleh Emil Salim. Dari perspektif dua pendekatan kapital dan manusia sebagai modal utama. Dualisme sosial-ekonomi yang merupakan ciri ekonomi kolonial tetap berlangsung.

logam. Konsumen pembeli produk manufaktur di dalam negeri harus membayar lebih tinggi dibandingkan tingkat harga internasional. Perekonomian Indonesia menjadi semakin terproteksi dan tidak efisien. sementara yang lain harus bersaing dengan kemandirian dan daya saingnya. Modal asing dibatasi lewat sejumlah kebijakan yang merintangi masuknya mereka dalam berbagai sektor perekonomian yang mengharuskan investor asing mengikut sertakan mitra dalam negeri. mengandalkan keunggulan komparatif sdm murah dan kekayaan sumberdaya alam. perlu diakui telah menghasilkan kemajuan-kemajuan ekonomi seperti stabilitas moneter. korupsi. Fakta menunjukkan bahwa di dalam sektor manufaktur yang modern hidup berdampingan kelompok yang tidak dilindungi (non-protected industry) dan yang dilindungi (protected industry). Dalam derajat tertentu. kertas. Strategi industrialisasi banyak mengandalkan akumulasi modal.Di sisi lain. Pelaku usaha yang tidak efisien dilindungi oleh tarif impor yang relatif tinggi dan juga perlindungan bukan-tarif. peningkatan pendapatan masyarakat disertai dengan pengurangan derajat kemiskinan dan pembentukan modal masyarakat. atau boleh dikatakan konstan dalam semua perkembangan diuraikan di atas. Dilain pihak. dan sebagainya. Kelompok perusahaan besar dan protektif tumbuh karena fasilitas yang mereka terima. Pada . Industri nasional juga berkarakter pada dikotomi antara pelaku-pelaku usaha berorientasi ekspor yang efisien dan pelaku-pelaku usaha yang tidak efisien dan berorientasi ke dalam negeri. kolusi/persekongkolan dan nepotisme. Sebagai contoh produk-produk yang dilindungi pada era orde-baru seperti besi-baja. dan padat teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembangunan. Suatu hal yang belum banyak berubah dalam pembangunan ekonomi nasional di era orde baru. tidak mampu bersaing dengan produk-produk sejenis dari luar negeri. adalah ketidak berdayaan rakyat dalam mengontrol sumberdaya ekonomi Indonesia supaya tidak dipergunakan untuk memupuk modal pribadi dengan praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat dan cara-cara yang mengakibatkan kemiskinan masyarakat dengan dalih nasionalisme/proteksionisme atau pasar bebas. sehingga sarat dengan praktek Oligopoli dan monopoli. Dualisme dalam sektor manufaktur tersebut tampak nyata jika dilihat dari kinerjanya. pembangunan pada masa orde baru. Pembangunan nasional. perlindungan (proteksi). pada masa Soeharto sangat sentralistik. pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (rata-rata 7 persen per tahun). kelompok pelaku usaha yang dominan didalam negeri yang menikmati perlindungan dari pemerintah. tanpa implementasi UU dan kelembagaan yang mengawasi persaingan usaha yang sehat.

masuknya PT. yang sempat dipuji oleh lembaga-lembaga seperti Bank Dunia. Pada masa orde baru kemitraan pengusaha besar. Kebijakan deregulasi perbankan. Karena praktek anti persaingan dan monopoli melalui kemudahan. Ditambah lagi.masa orde baru itu pula. Dan jika ini terjadi pada kebutuhan bahan pokok masyarakat adalah inflasi . yaitu berakhirnya boom minyak secara mendadak. Yang terjadi justru penunggangan kebijakan deregulasi oleh kepentingankepentingan predatoris dengan berubahnya pola monopoli sektor-sektor tertentu dalam perekonomian dari negara kepada monopoli swasta yang dipegang oleh para pengusaha yang dekat dengan penguasa. sedang dan kecil masih sangat kurang. dengan berakhirnya peran negara dan mereka yang menguasainya. perubahan tersebut tidak menandakan kemenangan mutlak ³pasar bebas´ di Indonesia. Karena itu aktor-aktor ekonomi yang diuntungkan oleh fase proteksionisme. penggabungan cronyism politik dengan keikut sertaan dalam pasar global secara bebas membawa perekonomian Indonesia pada titik nadir baru pada 1997-1998 dan menyebabkan tumbangnya orde baru. Dapat diambil contoh monopoli BPPC dalam distribusi cengkeh. masih menghalalkan praktek monopoli dan perilaku pengusaha yang anti persaingan. Perubahan ini memicu krisis baru atas sumber pendapatan negara yang kemudian memicu terbitnya deregulasi dengan kebijakan-kebijakan yang lebih pro-pasar bebas. memungkinkan para konglomerat memanfaatkan bank-bank baru sebagai sapi perahan-sumber untuk mendapatkan dana murah dari masyarakat tanpa menghiraukan azas perbankan yang sehat. iklim usaha ini menciptakan abuse dari posisi yang dominan atau abuse dari posisi yang dilindungi/disubsidi penguasa yang menciptakan entry-barrier bagi usaha menengah dan kecil yang harus menghadapi konglomerasi atau integrasi vertikal pengusaha besar yang dilindungi. yang semuanya itu menciptakan kondisi ekonomi nasional yang sangat tidak efisien dan ekonomi biaya tinggi. muncul konglomerat-konglomerat raksasa semacam Salim Group. Akhirnya. Namun demikian. iklim usaha pada masa orde baru. kembali mengeruk keuntungan besar setelah krisis ekonomi awal than 1980-an dengan mendesakkan perubahan kebijakan (deregulasi). misalnya. Pada sisi konsumen akhirnya menciptakan harga yang tidak wajar dengan keuntungan eksesif. akibat kebijakn pemberian monopoli serta subsidi dan kredit negara secara sangat tidak transparan.Timor sebagai industri otomotif nasional dengan berbagai fasilitas dan kemudahan. bahkan fasilitas dukungan dana dari pemerintah/penguasa. Tahun 1980-1985. diskriminasi. monopoli industri migas oleh Pertamina dsb. terjadi lagi perubahan penting dalam perekonomian Indonesia.

kolusi dan nepotisme. Investasi yang sudah dilakukan membangun LIPI. sehingga banyak perusahaan besar yang collapse karena ketergantungan yang tinggi pada impor dalam proses produksinya yang akhirnya berdampak pada Industri UMKM terkait. Sistem Inovasi Nasional Yang Semu Jika pasar kental dengan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat maka tidak ada persaingan di sana. melihat praktek korupsi. PUSPIPTEK. yaitu kerjasama antara Academician-Businessman-Government (ABG) tidak akan pernah diarus-tengahkan secara nyata dan alamiah (mainstreaming) dalam pembangunan ekonomi nasional.000 pada Juli 1998 terhadap US$. atau menciptakan inovasi dalam persaingan usaha. yang pada akhirnya menciptakan pengangguran dan kemiskinan yang masif. Kerjasama tripartit ABG yang sering didengung-dengungkan Menristek pada masa orde baru dan pasca orde-baru. saat ini masih belum banyak berubah.14. karena terlilit hutang dan jatuh pada kemiskinan. Perguruan Tinggi dengan lembaga risetnya. Pelaku usaha tidak didorong melakukan inovasi atau R&D untuk mencapai harga yang murah dan kualitas barang yang tinggi karena tidak adanya iklim persaingan usaha yang sehat. serta berpindahnya semua ini kedaerah karena implementasi kebijakan otonomi daerah yang tidak dibarengi oleh kesiapan yang memadai dalam berbagai aspeknya. yang dapat menyebabkan entry barrier bagi sektor riil UMKM sehingga mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan. .Sumitro Djojohadikusumo mengatakan bahwa kebocoran utang pembangunan mencapai 30% adalah hal yang dipercayai semua orang walaupun sampai saat belum ada penelitian yang membuktikannya. harga yang murah dan kualitas produk yang tinggi. Jika Prof. Tingginya praktek monopoli dan persaingan tidak sehat dalam iklim usaha nasional di era orde baru dapat dimodelkan seperti diagram pada gambar 1 dibawah ini.yang tinggi yang akhirnya menciptakan kualitas hidup masyarakat yang semakin buruk. Krisis moneter pada tahun 1998 yang menyebabkan nilai rupiah sangat jatuh dan mencapai Rp. Penulis beranggapan bahwa kebocoran tersebut pada masa orde baru. yang berarti sistem inovasi tidak akan bekerja. tidak berperan signifikan dalam menciptakan efisiensi ekonomi. praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat melalui maraknya persekongkolan dalam tender pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Kalimantan.Bina Citra Mandiri (BCM) yang merupakan perusahaan milik Tommy Suharto. inflasi dan kemiskinan. Pedagang pengumpul hanya boleh menjual sekitar 10% dari total omsetnya.BCM.2. DAN PERSAINGAN UMKM USAHA DAN TIDAK SEHAT MENIADAKAN MELEMAHKAN MENCIPTAKAN KEMISKINAN: TINJAUAN PADA ERA ORDE-BARU DAN TRANSISI ERA UU PERSAINGAN. Bukan Cuma harga jeruk yang ditentukan PT. tetapi quota jeruk juga diberlakukan dengan sangat ketat.BCM. yang berakibat pada peningkatan harga jeruk yang significant dan yang mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut adalah hanyalah PT. Sistem monopoli dalam tata niaga ini melarang petani menjual jeruk hasil produksinya yang melimpah kepada pihak lain di luar PT. Saat ini mulai tahun 2000 dari pohon yang masih tersisa. banyak petani jeruk di Pontianak (dan juga di daerah-daerah lain di Indonesia) membiarkan jeruk mereka membusuk di kebun. Setiap jeruk petani harus dijual kepada PT.BCM. Kasus Petani Jeruk Salah satu masalah serius yang sering dihadapi para petani di Indonesia adalah sistem tata niaga yang merugikan mereka dengan adanya praktek monopoli dalam sistem tersebut. Masalah ini dihadapi oleh petani-petani jeruk Pontianak. tepatnya sekitar awal dekade 90-an ketika diberlakukan tata niaga jeruk yang monopolistik oleh pemerintah. Kini jeruk Pontianak perlahan- . PRAKTEK MONOPOLI INOVASI. 1985-2010 Pada Bagian ini penulis ingin mengangkat berbagai contoh praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat yang berdampak pada efisiensi ekonomi nasional yang buruk. terutama pada era orde baru (era soeharto). Bahkan sejak diterapkan kebijakan tata niaga itu. Ketentuan ini dengan sendirinya membuat pasokan di pasar sedikit. Sistem tata niaga jeruk seperti itu menjadi suatu faktor disinsentif bagi petani untuk meneruskan atau meningkatkan produksinya. Departemen Pertanian bekerjasama dengan Universitas Tanjungpura Pontianak serta berbagai instansi lainnya yang peduli mulai mengembangkan kembali jeruk Pontianak dengan bibit unggulan.

Kemudian rute-rute baru pun bermunculan seiring dengan kemunculan maskapai penerbangan yang baru. Kasus Sektor Penerbangan Melalui saran pertimbangan. kini dengan mudah memilih maskapai dengan tarif yang sangat kompetitif. Pemerintah melakukannya dengan mencabut kewenangan INACA dan pemerintah menetapkan tarif batas atas. Dampak kebijakan adalah terjadinya penurunan tarif mencapai hampir 50 % lebih dalam setiap rute. Dalam hal ini banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat dengan adanya iklim persaingan yang semakin sehat dan adil. Menindaklanjuti temuan tersebut. akan menghilangkan persaingan itu sendiri yang selanjutnya menghilangkan inovasi (R&D) yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap sisi suplai/produksi. Hanya satu yang diinginkan petani. Pada tahun 2000. Terkecuali jika mereka beralih ke komoditas-komoditas lainnya. Para operator penerbangan bersepakat malakukan penetapan harga yang kemudian diajukan untuk dilegalkan oleh pemerintah. Terhadap saran pertimbangan KPPU tersebut.lahan bangkit kembali dan petanipun mulai bergairah kembali menanam jeruk Pontianak. maka dampak negatifnya bisa lebih kecil. penumpang pesawat terbang tercatat mencapai sekitar 38 juta penumpang. KPPU juga berkontribusi terhadap dinamika sektor penerbangan yang makin meningkat. maka total penghematan yang dicapai adalah sebesar Rp 1. jangan ada lagi tata niaga jeruk yang terbukti telah menghancurkan jeruk Pontianak. dapat dibayangkan berapa besarnya peningkatan kemiskinan di daerah-daerah yang merupakan sentra-sentra perkebunan jeruk jika semua pemilik perkebunan jeruk menghentikan produksi mereka. KPPU mengamati adanya indikasi kartel dalam industri penerbangan. yang selanjutnya mengurangi kesempatan kerja dan meningkatkan kemiskinan. Pada tahun 2008 saja. Masyarakat yang tadinya tidak mampu menggunakan moda transportasi penerbangan karena mahal. Salah satu contoh perubahan kebijakan sebagai respon terhadap saran KPPU adalah terkait dengan saran pertimbangan dalam industri penerbangan.000 saja per penumpang. Bila saja ada penghematan sebesar Rp 50. karena penetapan tarif dilakukan oleh INACA (Indonesian National Air Carrier Association). Contoh kasus ini jelas menunjukkan bahwa persaingan yang tidak sehat. Andaikata setiap petani jeruk mengerjakan rata-rata dua orang buruh tani. KPPU kemudian memberikan saran pertimbangan kepada Pemerintah untuk mencabut kewenangan INACA dalam menetapkan tarif. .9 Triliun.

Dalam perkara ini KPPU menemukan dengan bukti-bukti dan analisis ekonominya adanya penetapan harga fuel surcharge antar airline yang eksesif. KPPU menghukum denda mencapai Rp.13. terutama di subsektor perdagangan ritel.84 triliun. Dengan terbuktinya kartel FS ini.02/KPPU-L/2005 dari KPPU tentang pelanggarannya terhadap syaratsyarat perdagangan.Selain kasus kartel tarif oleh maskapai penerbangan nasional. Carrefour memiliki kekuatan tawar terhadap pemasok dalam menegosiasikan item dalam syarat-syarat jual beli dan menggunakan kekuatan tawarnya untuk menekan pemasok. Salah satu kasusnya adalah PT. Seharus penerapan fuel surcharge yang memang diijinkan oleh pemerintah mengantisipasi kenaikan aftur. 505 milyar. Kasus Perdagangan Ritel Modern Sektor perdagangan merupakan salah satu sektor ekonomi di Indonesia yang sangat rawan terhadap praktek-praktek monopoli atau monopsoni. khususnya mengenai listing fee dan minus margin. common assortment cost. yang pada tahun 2005 perusahaan tersebut dihadapkan oleh putusan perkara No. produk rumah tangga. regular discount. menaikkan biaya dan persentase fee.Carrefour. yang di dalamnya memuat syarat-syarat jual beli (yang dapat dinegosiasikan dengan pemasok. opening cost/new store dan penalty). dan elektronik) mengeluh bahwa syarat-syarat jual beli tersebut memberatkan. Banyak pemasok atas produk (makanan dan minuman dalam kemasan siap saji. Hubungan usaha tersebut dituangkan dalam perjanjian tertulis yang dinamakan National Contract. dibebankan kepada konsumen sesuai dengan selisih kenaikannya jadi tidak ada yang tersisa menjadi pendapatan fuel surcharge yang masuk ke maskapai penerbangan. karena setiap tahunnya carrefour melakukan penambahan jenis item. belakangan ini terjadi lagi kasus kartel Fuel Surcharge oleh maskapai penerbangan dengan jalur penerbangan berjadwal domestik. kebutuhan sembilan bahan pokok serta produk segar. Berdasarkan perhitungan KPPU diperkirakan kerugian konsumen dalam bentuk kelebihan FS yang ditarik dari konsumen pada 2006-2009 adalah sekitar Rp. Bentuk tekanan yang dilakukan antara lain berupa penahanan pembayaran yang jatuh . minus margin. antara lain: listing fee. PT.80 milyar dan ganti rugi mencapai Rp.Carrefour melakukan hubungan usaha jual beli berbagai macam produk dengan banyak pemasok menggunakan sistem jual putus. fixed rebate. term of payment.

seperti misalnya modal. pertumbuhan omset dari ritel modern sangat pesat melebihi pertumbuhan omset dari ritel tradisional. Memang bentuk atau pola persaingan yang terjadi hingga saat ini antara ritel modern dengan ritel tradisional sangat baik untuk digunakan sebagai penguji tingkat efektivitas dari pelaksanaan UU nomor 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di lapangan. tahun 1995 perbandingannya 159:249. diantara beberapa bentuk ritel modern seperti supermarket. infrastruktur. minimarket. Tahun 2003 terdapat 43 hipermarket beroperasi di Indonesia. Keputusan KPPU No.500. Potensi persaingan tidak sehat dapat muncul dalam bentuk penyalahgunaan kekuatan pasar. maka jumlah pelaku ritel tradisional akan terus berkurang sedangkan jumlah pelaku ritel modern akan bertambah terus. dapat dikatakan bahwa apabila persaingan yang terjadi di sektor ritel selama ini tidak sehat. antara lain. Atau. sudah tercatat 83 hipermarket di Indonesia. Berdasarkan bukti memberlakukan minus margin tersebut mengakibatkan salah satu pemasok Carrefour menghentikan pasokannya kepada pesaing Carrefour yang menjual dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga jual di gerai Carrefour untuk produk yang sama. pusat grosir. . Tetap. khususnya di Jakarta.000 (satu miliar lima ratus juta rupiah). Hipotesa ini tentu harus didasarkan pada asumsi bahwa faktor-faktor lain yang juga berpengaruh terhadap perubahan jumlah unit usaha (pedagang) atau omset di sektor tersebut. memutuskan secara sepihak untuk tidak menjual produk pemasok dengan tidak mengeluarkan perintah pembelian. Tahun 2005. Menurut survei AC Nielsen (Hidayat. Menurut Data Biro Perekonomian DKI Jakarta. dan hipermarket. Sementara supermarket bertambah dari 896 unit pada tahun 2003 menjadi 961 unit pada tahun 2005. 2007). dan mengurangi jumlah pemesanan jumlah produk pemasok.000. informasi pasar. pada tahun1985 terdapat 156 pasar tradisional versus hanya 42 ritel modern. 1. dan pada tahun 2004 adalah 151:449. jumlah omset atau rata-rata per-unit usaha di kelompok pertama itu menurun sedangkan di kelompok kedua tersebut meningkat. dalam bentuk syarat-syarat jual beli antar peritel dan pemasok seperti dalam kasus Carrefour tersebut. teknologi. Dalam beberapa tahun belakangan ini.02/KPPU-L/2005 menyatakan bahwa terlapor (Carrefour) terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang No. tidak berubah.tempo. dll.5 Tahun 1999 dan menghukum Carrefour membayar denda sebesar Rp. Secara teoritis. pertumbuhan paling cepat dialami oleh hipermarket.

Negara hanya memperoleh penerimaan sebesar Rp. Kasus Indomobil (Persekongkolan Tender) Bahwa dengan adanya persekongkolan dalam tender penjualan saham PT. dan secara agregat. menurut valuasi PT. Ketergantungan tersebut mengakibatkan IPS memiliki posisi dominan sehingga dapat menetapkan standar teknis dan kebijakan harga beli secara sepihak. pasokan maupun harga bahan pakan ternak serta konsentrat (yang secara finansial. kedua pos tersebut mendominasi struktur biaya usaha sapi perah). Memang. dan beresiko besar terhadap kelangsungan peternak sapi perah dalam periode jangka panjang. walau ada peningkatan produktifitas namun tingkatnya masih relatif rendah. karena masih sangat rentan dipengaruhi oleh harga bahan baku susu dunia.00 (enam ratus dua puluh lima miliar rupiah).000 000. Ketiga. Komisi Pengawas Persaingan Usaha. IMSI. tingkat kesesuaian mutu teknis masih rendah. yang dapat diduga (secara empiris belum terbukti) juga disebabkan oleh sistem ketergantungan tersebut. 2008) mengenai persaingan usaha dalam industri susu. yang selanjutnya lewat kekerkaitan bisnis maupun konsumsi dengan sektorsektor lainnya akan berdampak positif terhadap penambahan kesempatan kerja dan pengurangan kemiskinan. banyak masalah hingga saat ini. dari . kenaikan harga bahan baku susu internasional yang sering terjadi belakangan ini membuat permintaan dan harga beli susu domestik naik. Namun kenaikan harga beli susu domestik belum berkesinambungan. Penguatan kekuatan tawar koperasi/peternak tentu akan menambah peningkatan pendapatan peternak jangka panjang. Padahal. Selama ini kekuatan tawar dari koperasi/peternak terhadap IPS masih lemah. Dari sisi koperasi/peternak. 625. jika dilihat dari sisi kesejahteraan peternak.Sektor Industri Susu Berdasarkan evaluasi dan kajian dampak dari kebijakan pemerintah (Direktorat Kebijakan Persaingan. yang menguntungkan peternak. DTT sebagai financial advisor pada tender tersebut. Pertama. pemilikan sapi perah per peternak masih di bawah ambang skala ekonomis. Kedua.000. pola pengembangan peternakan dan jalur distribusi susu sapi ditandai dengan adanya ketergantungan koperasi/peternak terhadap industri pengolahan susu (IPS).dalam kondisi tertentu relatif tidak stabil.

000.000 (seratus delapan puluh milyar Rupiah) ± Rp 504. adalah sebesar 11.000.000 (dua ratus empat juta US Dollar) ± US $ 240.000 (seratus delapan puluh empat juta US Dollar) sedangkan harga pasar VLCC pada saat itu berkisar antara US $ 204.000. berdasarkan return on investment hasil kajian dari Japan Marine.000 (lima ratus empat milyar Rupiah) dengan nilai tukar rupiah sebesar Rp 9.000.000. IMSI ini dapat diharapkan nilai perolehan sebesar Rp.00 (delapan ratus lima puluh tiga miliar rupiah).000. 625 milyar sementara harga yang wajar adalah sebesar Rp.000.000. Selisih antara harga actual dengan harga wajar adalah sebesar Rp. Bahwa dengan demikian terjadi kerugian (opportunity lost) Negara setidaknya sebesar Rp.000.000 (lima puluh enam juta US Dollar) atau setara dengan Rp 180. .000.000. Kasus Divestasi VLCC Pertamina Kasus ini adalah menyangkut penjualan tanker oleh Pertamina. Besaran ganti rugi: Rp. 228 milyar dibebankan ke terlapor (Cipta Sarana Duta Perkasa).000 (dua puluh juta US Dollar) sehingga harga pasar per VLCC milik Pertamina adalah sekitar US $ 110. 853 Milyar (versi financial advisor).000 (seratus sepuluh juta US Dollar) Berdasarkan artikel dari TradeWinds (http://www.000 (seratus dua juta US Dollar)(Bukti C1).000.00 per US $ 1.000. harga pasar VLCC pada saat itu berkisar antara US $ 105.tradewinds.000.000 (seratus dua puluh juta US Dollar) Bahwa nilai penjualan 2 (dua) unit VLCC Pertamina adalah sebesar US $ 184.000. 228. 83% atau sekitar US $ 20.000.000 (dua puluh juta US Dollar) ± US $ 56.000.000.000. maka harga VLCC milik Pertamina yang langsung bisa dipergunakan memiliki nilai yang lebih tinggi.tender penjualan saham PT.000 (seratus lima juta US Dollar) ± 120.000. Sesuai dengan keterangan Ahli.00 (dua ratus dua puluh delapan miliar rupiah) yang diakibatkan terjadinya persekongkolan pada tender ini. DTT). 853.000 (dua ratus empat puluh juta US Dollar) sehingga terdapat potensi kerugian negara antara US $ 20. Harga lelang akibat dari persekongkolan tender adalah Rp.000. Present value dari VLCC Pertamina . Harga pasar VLCC pada saat itu berkisar US $ 90.no per tanggal 14 Juni 2004) harga pasar VLCC pada saat itu adalah sekitar US $ 102.000. Nilai ganti rugi diperoleh dari selisih antara nilai divestasi saham indomobil berdasarkan harga lelang dengan harga yang seharusnya (harga wajar) berdasarkan estimasi yang dilakukan oleh financial adviser (PT.000 (sembilan puluh juta US Dollar). 228 milyar yang dianggap oleh majelis komisi sebagai kerugian negara. Waktu pembuatan VLCC berkisar antara 2 (dua) sampai 3 (tiga) tahun.

100/sms bahkan sudah ada tarif gratis. 5. XL.Besar ganti rugi total adalah Rp. selama kurun waktu 2004 sampai dengan April 2008. Berdasarkan laporan keuangan ke-enam operator yang terkait dalam kartel di atas (Telkomsel. Mobile-8 dan Smart. jika selama 4 tahun tarif sms berada pada kisaran Rp.200 per sms maka penghematan uang pelanggan diperkirakan mencapai Rp. 250 dengan harga estimasi dari pemerintah dan lembaga riset yaitu OVUM yaitu sebesar Rp.100/sms. Kerugian konsumen tersebut berupa (i) hilangnya kesempatan konsumen untuk memperoleh harga SMS yang lebih rendah. Selisih tersebut dikalikan jumlah traffic pemakaian sms dan pangsa pelanggan sehingga diperoleh besaran estimasi kerugian yang diderita konsumen sebesar Rp.350 per sms. (iv) serta terbatasnya alternatif pilihan konsumen. . 180 milyar (Dibebankan ke terlapor yaitu Goldman Rp 60 milyar. dengan asumsi 5 sms per pelanggan per hari dan penurunan tarif sebesar Rp. Dampak dari keputusan KPPU yang menghentikan praktek kartel sms ini adalah terjadinya persaingan yang sehat dan harga yang wajar menuju pada tarif antara Rp. Dalam hal ini KPPU menyampaikan perkiraan biaya SMS berdasarkan penelitian harga interkoneksi yang dilakukan oleh OVUM serta formulasi perhitungan biaya SMS oleh BRTI. 120 milyar) Kasus kartel dan anti persaingan di sektor telekomunikasi Kasus Kartel Tarif SMS Kartel yang terjadi antara operator SMS menimbulkan kerugian yang nyata bagi konsumen. Frontline Rp. Bakrie. ditemukan pendapatan operator-operator tersebut sejak tahun 2004 sampai 2007 adalah sebesar 133. Perhitungan aktual mengenai kerugian-kerugian konsumen tersebut di atas memerlukan analisis ekonomi yang mendalam dengan didukung oleh data yang memadai.300 s/d Rp.75-Rp.885 triliun rupiah Penghitungan ganti rugi atau consumer loss dilakukan berdasarkan selisih harga kartel sms off net terendah yaitu Rp. (iii) kerugian intangible konsumen lainnya. 2. (ii) hilangnya kesempatan konsumen untuk menggunakan layanan SMS yang lebih banyak pada harga yang sama. 114 per sms off net. Jumlah pelanggan mobile phone saat ini telah mencapai 150 juta lebih pelanggan.5 triliun per-tahun.7 trilliun. dan setelah keputusan KPPU turun menjadi Rp. Telkom.

Berdasarkan data KPPU memperkirakan 68% produsen minyak goreng terintegrasi dari hulu sampai hilir. 374 Milyar . harga CPO sebagai bahan baku utama minyak goreng telah mengalami penurunan. tim pemeriksa melakukan estimasi terhadap excess revenue yang dinikmati oleh para terlapor dan juga terhadap potensi penurunan harga yang dapat terjadi.Kasus Temasek (Pemilikan Silang Telkomsel dan Indosat oleh Temasek) Dalam kasus ini KPPU telah menemukan hubungan sebab akibat yang jelas antara kepemilikan silang oleh Temasek dengan kerugian konsumen. sehingga sebagian besar memproduksi CPO sekaligus menjual minyak goreng. Kasus Minyak Goreng Dalam kasus ini ditemukan adanya praktek kartel dan oligopoli di pasar minyak goreng sawit. sehingga Telkomsel semakin memiliki kekuatan untuk menjadi penentu harga yang tinggi sehingga menyebabkan timbulnya kerugian konsumen. sehingga menyebabkan pangsa pasar Telkomsel meningkat dan pangsa pasar Indosat menurun pada kurun waktu 2002-2006. Tingkat ROE yang aktual sebesar 45% 55% selama periode 2003-2006 dianggap sebagai excessive dimana tim pemeriksan memperhitungkan tingkat ROE yang wajar adalah sebesar 20%-35%. dalam analisisnya kerugian konsumen 2007-2008 adalah Untuk Minyak goreng curah mencapai sekitar Rp.8 trilliun rupiah (tidak dibebankan ke para terlapor tetapi masyarakat dapat menuntutnya melalui class action) Pengukuran kerugian konsumen dilakukan atas dasar temuan excessive price yang di proxy kan melalui tingkat ROE aktual diatas ROE yang wajar.7 trilliun sampai 30. tetapi tidak diikuti oleh penurunan harga minyak goreng sehingga menimbulkan kerugian konsumen. Berdasarkan ROE yang excessive tersebut. Dengan struktur pasar yang semakin terkonsentrasi pada Telkomsel telah membuat kekuatan pasar Telkomsel meningkat. Untuk ROE yang wajar sebesar 30% maka estimasi penurunan harga yang potensial adalah 21. Besaran estimasi potensi penurunan harga itu kemudian dikalikan revenue aktual para terlapor untuk memperoleh besaran excessive profit yang merupakan kerugian konsumen. KPPU memperkirakan kerugian konsumen dalam analisisnya sebesar 14.32% dan untuk ROE yang wajar sebesar 35% maka estimasi potensi penurunan harga mencapai 15%. Kelompok Usaha Temasek telah mencegah Indosat untuk bersaing dengan Telkomsel. Pada 2008.

- Untuk Minyak Goreng Kemasan mencapai sekitar Rp. tahun 2009.2 T 5 Lihat .Soemardi. Tresna P. Tahun 2006 2007 2008 Permintaan (juta ton) 30 32 36 Kapasitas 32 34 38 Harga Kartel (Rp. Menurut analisis penulis dalam paper kajian penulis. Tabel Kerugian Konsumen akibat perbedaan harga wajar dan harga kartel semen nasional 20062008. Pada Tabel dibawah ini dapat dilihat selama tahun 2006 sampai 2008 terjadi potensi hilangnya kesejahteraan konsumen dari perbedaan harga yang wajar dengan harga kartel.2 T 7. melihat kecendrungan harga semen yang terus naik disisi lain mengindikasikan turunnya biaya komponen utama produksi semen seperti kebutuhan batu-bara. Edisi 2.41-71). . sebesar lebih dari 10 triliun rupiah.000/ton) 100 200 Loss (Triliun Rp) 3. Kartel Internasional: Fenomena Kartel Internasional dan Dampaknya Terhadap Persaingan Usaha dan Ekonomi Nasional. 1.2 trilliun Dalam kasus ini KPPU menjatuhkan denda kepada kepada produsen terlapor keseluruhan Rp.5 ingin mengetengahkan turunnya efisiensi ekonomi di sektor industri semen nasional akibat adanya kartel sesama pemain besar melalui pengaturan harga dan wilayah pasar. Studi Kasus Industri Semen di Indonesia dan Studi Banding Kartel Industri Kimi di Amerika Serikat. Kasus Kartel Semen Kasus kartel semen saat ini masih dalam proses pemeriksaan di KPPU. Penulis memperkirakan dari kartel semen ini ada kerugian konsumen antara tahun 2006-2008.000/ton) 600 700 800 Delta harga (Rp. Sebagai dampak adalah terjadinya harga tidak wajar dan ketidak sejahteraan masyarakat.290 milyar. Berdasarkan kajian penulis. KPPU. (Jurnal Persaingan Usaha. hal.

dalam usia yang relatif pendek (9 tahun). dan 5 tahun terakhir rata-rata 200 laporan yang masuk. telah memberikan sebuah award sebagai penghargaan kepada KPPU RI atas kinerja dan efektifitasnya yang relatif baik. yakni UNCTAD. PERAN HUKUM. Bahkan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Republik Indonesia memiliki tugas dan kewenangan melakukan pencegahan dan penindakan atas pelanggaran hukum persaingan serta memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dan instansi negara terkait. Sampai saat ini laporan yang masuk telah mencapai 1200 lebih laporan dari tahun 2000 sampai 2009. Berbagai keberhasilan tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut: Pertama. Perkembangan laporan ke KPPU oleh masyarakat terus meningkat. KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN PERSAINGAN USAHA DALAM MEMPERKOKOH SISTEM INOVASI NASIONAL DAN PENGENTASAN KEMISKINAN: 1999-SAAT INI Dipandang dari konteks Pembangunan ekonomi nasional. UMKM yang kuat dan Pengentasan Kemiskinan.5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak sehat serta Pembentukan KPPU-RI. sistem inovasi nasional. kesadaran stakeholder terhadap pentingnya persaingan usaha yang sehat dapat mengalami peningkatan yang ditandai antara lain dengan peningkatan jumlah laporan dari masyarakat. dalam rangka penegakan hukum. Lahirnya Undang-Undang No.3. Perkembangan juga menunjukkan bahwa sebaran pelaporan juga semakin merata dan meningkat. sudah banyak dibuktikan oleh negara-negara maju bahwa implementasi hukum dan kebijakan persaingan usaha yang sehat merupakan suatu iklim dan nilai-nilai yang harus diciptakan oleh suatu negara jika ingin mencapai daya saing yang tinggi dan kesejahteraan rakyat yang hakiki. lembaga PBB. sdm-barang dan jasa unggulan yang mampu bersaing secara global. dari tahun ke tahun. Meskipun menghadapi berbagai kendala. KPPU RI telah melakukan berbagai upaya untuk menegakkan hukum persaingan di Indonesia. hal ini terjadi seiring dengan adanya peningkatan daya jangkau KPPU melalui kehadiran kantor perwakilan di .

Kasus Tender Divestasi Indomobil (2002) b. Saat ini porsi perkara terkait persekongkolan tender mencapai 62. Dari 42 perkara tersebut. beberapa di antaranya diajukan keberatan oleh terlapor ke pengadilan negeri dan selanjutnya kasasi ke mahkamah Agung. Dari perkara yang telah diputus oleh KPPU. dan monitoring pelaku usaha. Pengadilan Negeri telah memutus keberatan terhadap Putusan KPPU sebanyak 47 putusan dimana 55% atau sebanyak 26 Putusan Pengadilan Negeri menyatakan menguatkan Putusan KPPU dan sebesar 45% atau sebanyak 21 Putusan membatalkan Putusan KPPU. Perkembangan ini tentu saja menggembirakan. Dari proses penanganan perkara. Kasus Diskriminasi Cineplex 21 (2002) . Selain bersumber dari laporan. yang dilakukan melalui kegiatan kajian industri. Saat ini terdapat 42 perkara yang diajukan ke Mahkamah Agung.5%. penelitian. Sejumlah perkara yang pernah ditangani KPPU RI yang menarik perhatian publik dan berdampak luas: a. 25 perkara sudah selesai diputus dengan proporsi 18 atau 72 % menguatkan dan 7 atau 28% membatalkan putusan KPPU. Kedua. penanganan perkara juga terus meningkat intensitasnya. sebanyak 52 atau 52% perkara diajukan keberatan ke pengadilan negeri. KPPU telah melakukan proses penanganan perkara yang sampai dengan saat ini jumlahnya telah mencapai 205 (dua ratus lima) perkara (termasuk yang sedang berjalan). karena lembaga Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung telah mengambil peran aktif dalam memberdayakan posisi dan peran KPPU RI dan penegakan hukum persaingan di dalam sistem hukum dan peradilan Indonesia. Dari jumlah tersebut. Dari laporan masyarakat dan hak inisiatif. Perkembangan sebaran laporan dapat dilihat dari grafik berikut ini. KPPU telah melaksanakan sebanyak 110 kegiatan (seratus sepuluh). walaupun telah menurun dari periode awal yang mencapai antara 70%±80%. perkara di KPPU juga berasal dari hak inisiatif KPPU.5 (lima) daerah ditambah dengan upaya advokasi dan sosialisasi ke berbagai daerah. Beberapa pihak yang tidak menerima putusan Pengadilan Negeri. Sejak tahun 2000 sampai 2009. masih mendominasi penanganan perkara di KPPU. sampai dengan bulan Oktober terdapat 100 (seratus) putusan yang menyatakan telah terjadi pelanggaran terhadap UU No 5 tahun 1999. Dari 139 (seratus tiga puluh sembilan) putusan oleh KPPU. kemudian melakukan kasasi ke Mahkamah Agung. terdapat sejumlah perkara yang telah selesai berupa putusan 139 dan penetapan 21 dan sisanya masih sedang ditangani.

Kasus Kartel Minyak Goreng (2010) n.c. Kasus kepemilikan silang Temasek (2007) i. Minyak dan Gas b. Semen g. Kasus Kartel oleh Semen Gresik (2005) g. Kasus Persekongkolan Tender divestasi VLCC Pertamina (2004) d. Transportasi (Darat. Kasus kartel Fuel Surcharge Airlines (2010) m. Kasus Kartel obat (2010) Dari seluruh pelaksanaan tugas dan fungsinya. Ketenagalistrikan e. ‡ Adanya persekongkolan dalam pemberian konsesi/ lisensi (hak monopoli) dari pemerintah serta dalam pengadaan barang/ jasa Beberapa sektor yang telah dan sampai saat ini mendapat perhatian khusus dari KPPU antara lain : a. Air Minum c. Tepung Terigu. Susu. Kasus Persekongkolan tender Tinta KPU (2004) e. Laut dan Udara serta Perkeretaapian) . Kasus diskriminasi Logo Pertamina (2006) h. Minyak Goreng. Kasus kartel tarif SMS (2007) j. Kasus Kartel Semen (2010) o. ‡ Adanya praktek monopoli atau penguasaan pasar oleh pelaku usaha (terutama oleh BUMN/BUMD) dalam sektor pelayanan publik. Kasus Penyalahgunaan posisi dominan oleh Carrefour (2005) f. Kedelai f. KPPU RI memilih prioritas yang menjadi fokus program dan langkah-langkah kegiatan. di antaranya pada sektor/industri/ pelaku usaha dengan indikasi: ‡ Adanya penetapan atau kenaikan harga yang tidak wajar (excessive) ‡ Adanya kelangkaan atau hambatan dalam pasokan pasar. Bahan Pokok : Gula. Beras. Kasus penyelenggaraan hak siar liga Inggris oleh Astro (2008) k. Kasus penyalahgunaan posisi dominan oleh Carrefour (2009) l. Telekomunikasi d.

dari penanganan perkara Temasek. obat-obatan dan .5/1999. para operator telah menurunkan tarif secara signifikan baik tarif bicara maupun tarif SMS. Pada komoditi kebutuhan bahan pokok seperti minyak goreng. Secara keseluruhan disektor telekomunikasi dampak iklim persaingan usaha yang sehat mampu menciptakan income saving di masyarakat sekitar 5-10 triliun pertahun. dan sebagainya Selain itu. bahwa parameter kinerja akan lebih objektif jika dilakukan oleh pihak ketiga yang independen. Kebijakan dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah sering mendapat perhatian KPPU RI dan berujung pada pemberian saran pertimbangan untuk melakukan tindakan korektif jika terdapat potensi pelanggaran terhadap UU No. kinerja KPPU RI dapat diukur dari tingkat efisiensi. Penyiaran j. jumlah dan kualitas saran pertimbangan kepada pemerintah juga mengalami kemajuan. KPPU telah mencatat sejumlah kinerja yang terukur di tengah berbagai kendala dan keterbatasan yang dihadapi. para operator seluler di Indonesia telah menunjukkan tumbuhnya iklim persaingan yang lebih sehat. sejumlah saran pertimbangan dari KPPU telah diakomodasi dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah dengan melakukan perbaikan terhadap kebijakan/regulasi yang diduga menyimpang dari prinsip-prinsip persaingan sehat sesuai UU No. Namun diakui. perkara kartel SMS. Secara kualitatif. kita dapat menjelaskan outcome dari sejumlah perkara dan saran pertimbangan yang ditangani KPPU. Sebagai contoh. Dampak Hukum Persaingan dan Peran Kelembagaan Persaingan dalam Pembangunan Ekonomi Meskipun hanya setitik. Penyelenggaraan Haji i. Perbankan k. dan kesejahteraan masyarakat. Dalam kaitan ini. Tetapi sebagai gambaran kinerja KPPU.h.5/1999. sehingga para pelanggan dapat secara signifikan menghemat pengeluaran atau menabung penghasilannya (income saving). Disektor penerbangan dengan adanya fungsi pengawasan persaingan masyarakat dapat menikmati income saving sekitar 2-5 triliun per tahun dengan tarif yang wajar untuk penumpang yang akan mencapai 50 juta pertahun. Hal ini masih sulit dilakukan akibat keterbatasan dana dan sumberdaya manusia yang kompeten. daya saing. Dengan persaingan yang lebih sehat. Hal ini sangat menguntungkan bagi 150 juta lebih pelanggan.

sistem inovasi nasional yang bekerja karena pelaku usaha ´harus´ menciptakan semakin banyaknya pilihan kualitas dan harga barang dan jasa. termasuk jajaran Mahkamah Agung. tercatat mencapai sekitar 38 juta penumpang.000 saja per penumpang. Berdasarkan data selama tahun 2000-2009. kegiatan inovasi dan R&D yang dimulai dari pasar dan oleh pelaku usaha akan lebih konkrit mewujudkan kerjasamanya dengan unsur-unsur Pemerintah dan Akademisi. Memang iklim persaingan usaha bukan satu-satunya elemen yang ´harus´ ada untuk berjalannya sistem inovasi nasional seperti yang ditunjukan OECD dalam gambar dibawah ini. melainkan sebagai hasil kerjasama keberhasilan lembaga dan pihak terkait membangun kapasitas semua.. maka Penciptaan Iklim Persaingan Usaha yang sehat akan memberikan kontribusi nyata 0. inflasi yang rendah karena harga wajar.987. Bila saja ada penghematan sebesar Rp 50. Perlu mengakui bahwa kinerja sebagaimana disebutkan di atas bukanlah hasil kerja keras sendirian oleh KPPU.691. maka total penghematan yang dicapai adalah sebesar Dalam menjatuhkan hukuman sanksi administratif. sementara anggaran APBN yang telah digunakan oleh KPPU dalam periode 2000-2008 masih sangat terbatas yaitu mencapai sekitar Rp 139 milyar. jumlah denda yang telah dijatuhkan KPPU mencapai sekitar Rp Rp.090.semen dapat memberikan income saving total atau terhindari praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dengan menghindari kerugian konsumen mencapai 15 triliun per tahun. legislatif.dan ganti rugi sekitar Rp 414. pertengahan tahun 2009 telah mendekati 2 triliun. Jika APBN 2010 sekitar 1000 triliun untuk target pertumbuhan ekonomi sekitar 6%.5-1% kepada pertumbuhan ekonomi sebagai implikasi terjadinya harga barang dan jasa kebutuhan pokok masyarakat. KPPU menetapkan di antaranya denda dan ganti rugi yang menjadi potensi penerimaan bagi negara di luar pajak.-. dan paling hakiki dalam pembangunan ekonomi nasional adalah pengentasan kemiskinan dan tercapai kesejahteraan rakyat.129. dan dunia usaha.494. .585. Tahun 2009 Total denda dan ganti rugi telah mencapai sekitar Rp 1.809. yang pada akhirnya mendorong budget kegiatan Riset dan Teknologi lebih baik lagi. Tetapi paling tidak karena ada enforcement harga wajar dengan kualitas yang bersaing maka. pemerintah.0 trilyun lebih.

diffusion National innovation Product market conditions National Innovation Capacity Factor market conditions Macroeconomic and Regulatory Context . Elemen-elemen Sistem Inovasi Nasional menurut konsep OECD Macroeconomic and Regulatory Context Education and Training systems Global innovation Firms Capabilities Research Bodies Supportin g Science Systems Communication system Nati onal Inno vati on Syst Clu ster of Knowledge generation.Gambar.

Berbagai upaya mewujudkan iklim persaingan yang sehat dengan harmonisasi peraturan perundang-undangan dan regulasi dan penegakan hukum persaingan sudah dilakukan. PENUTUP Praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Apalagi pernah berhasil meraup keuntungan supernormal. Perilaku kartel. Masyarakat tentu saja akan lebih sejahtera karena mampu menghemat pengeluaran atau income saving dan melakukan pilihan-pilhan rasional di pasar. pelaku usaha dengan senang hati bersedia mengeluarkan sejumlah dana kepada pihak manapun agar ekspektasi tersebut dapat terealisasi. tanpa diskriminasi. 5 dan lembaga KPPU-RI. Sementara dunia usaha mampu tumbuh . Gerakan Persaingan yang sehat dalam dunia usaha harus menjadi gerakan rakyat secara nasional dan oleh semua lapisan. korupsi dan nepotisme. maka potensi dana yang cukup besar telah tersedia untuk melakukan hal yang sama guna merealisasikan ekspektasi berikutnya. Namun demikian.4. mempertahankan keuntungan atau bahkan melakukan ekspansi pasar. perlakuan. melemahkan sistem inovasi nasional dan menciptakan kemiskinan dan kebodohan. Tidak ada kata lain bagi bangsa Indonesia selain melakukan segala upaya untuk memberantas praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat yang menghancurkan sendi-sendi perekonomian nasiona. terutama dalam kegiatan usaha dan bisnis di Indonesia. korupsi dan nepotisme. sudah menjadi penyakit kronis dan meluas di Indonesia. merger dan akuisisi. penyalahgunaan posisi dominan. Melalui upaya penegakan hukum persaingan usaha yang sehat akan mendorong terwujudnya level playing field. untuk mainstreaming nilai-nilai persaingan dalam seluruh aspek pembangunan eknomi nasional tidak dapat dilakukan hanya dengan penegakan hukum dengan kehadiran UU No. juga terkait erat dengan praktek kolusi. dan kesempatan yang sama bagi pelaku usaha. serta bentuk persekongkolan lainnya oleh pelaku usaha dengan ekspektasi untuk memperoleh keuntungan supernormal. praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat mengandung potensi sangat besar menyuburkan kolusi. Dari sisi ilmu ekonomi. Meskipun hanya ekspektasi. Kebijakan dan regulasi dari pemerintah juga akan lebih memperhatikan aksesibilitas. Demikian seterusnya sehingga pola hubungan korupsi dan persaingan tidak sehat membentuk lingkaran setan (vicious circle) yang makin lama makin susah diputus.

produktifitas. yang selama ini dapat dikatakan tidur dan kegiatankegiatan riset selama ini masih tidak terkait langsung sebagai pendorong keberhasilan produkproduk nasional dalam pembangunan ekonomi nasional untuk kebutuhan dalam negeri maupun produk ekspor yang unggul dan diminati dalam menembus pasar global. iklim persaingan usaha yang sehat. maka semakin kecil potensi bagi pelaku usaha untuk memberikan kick back atau suap kepada pejabat terkait. menjadi lokomotif sistem inovasi nasional untuk bekerja. Semoga! . dengan income saving dan tabungan serta daya beli masyarakat yang tinggi sebagai implikasi harga wajar komoditi kebutuhan pokok masyarakat ditambah dengan kebijakan fiskal pajak maka pembangunan UMKM khusus Usaha Mikro dan Kecil dapat dipacu untuk berkembang menjadi usaha menengah yang tangguh. Selanjutnya. Para pelaku usaha akan tetap memperoleh keuntungan tetapi pada tingkat yang wajar dan sustainable. Sangat diyakini oleh banyak negara maju.menjadi besar jika iklim persaingan semakin sehat karena persaingan akan mendorong peningkatan efisiensi. dan daya saing. Dengan penegakan hukum. dengan keuntungan pada tingkat yang wajar. diseminasi nilai-nilai persaingan dalam seluruh aspek dan sendisendi pembangunan ekonomi nasional secara konkrit seperti yang telah diungkap dalam tulisan ini. menciptakan usaha mikro-kecil lebih banyak lagi dan akhirnya mengentaskan kemiskinan dengan kemandirian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful