P. 1
Bani Abbasiyah

Bani Abbasiyah

|Views: 816|Likes:
Published by Yavi All Gaul

More info:

Published by: Yavi All Gaul on Jun 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

Sections

  • Daftar isi
  • [sunting] Pendahuluan
  • [sunting] Menuju puncak keemasan
  • [sunting] Pengaruh Mamluk
  • [sunting] Pengaruh Bani Buwaih
  • [sunting] Pengaruh Bani Seljuk
  • [sunting] Kemunduran
  • [sunting] Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah
  • [sunting] Silsilah para khalifah
  • [sunting] Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo
  • Peradaban Emas Dinasti Abbasiyah: Kajian Ringkas
  • Senin, 21 April 2008
  • Senin, 05 April 2010

Bani Abbasiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

‫العباسدين‬ ّ Kekhalifahan Abbasiyah

750–1258

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibu kota Bahasa Agama Pemerintahan Sejarah - Didirikan - Dibubarkan

Bagdad, Kairo Arab(resmi), Aram, Armenia, Berber, Georgia, Yunani, Yahudi, Persia Tengah, Turkik Islam Monarki 750 M 1258 M

Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: ‫ ,العباسدين‬al-Abbāsidīn) adalah ّ kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al-Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • • •

1 Pendahuluan 2 Menuju puncak keemasan 3 Pengaruh Mamluk 4 Pengaruh Bani Buwaih 5 Pengaruh Bani Seljuk 6 Kemunduran
○ ○

6.1 Masa Disintegrasi (1000-1250 M) 6.2 Persaingan antar Bangsa
    

6.2.1 Yang berbangsa Persia: 6.2.2 Yang berbangsa Turki: 6.2.3 Yang berbangsa Kurdi: 6.2.4 Yang berbangsa Arab: 6.2.5 Yang mengaku dirinya sebagai khilafah:

○ ○ ○ ○ ○ • • • • • •

6.3 Kemerosotan Ekonomi 6.4 Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. 6.5 Ancaman dari Luar 6.6 Perang Salib 6.7 Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad

7 Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah 8 Silsilah para khalifah 9 Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo 10 Referensi 11 Sumber Lain 12 Lihat pula

[sunting] Pendahuluan
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh

Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031.

[sunting] Menuju puncak keemasan
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M). Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan

Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki

pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih

dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani

Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah alKubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh

dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu

disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerahdaerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus dan India. Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:

Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)

Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa' al-Rasyiduun. Disamping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai "gelar tahta", seperti al-Manshur, dan belakangan gelar tahta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu alAbbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah. pemandian-pemandian umum juga dibangun. 3. sosial. Sebagaimana diuraikan di atas. yang membawahi kepala-kepala departemen. Kesejahteraan. Al-Mu'tasim. hitungan dan tulisan. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. Al-Ma'mun. di awal Islam. lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: 1. semuanya dapat dipadamkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani. Maktab/Kuttab dan masjid. pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. hadits. kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. Disamping itu. Akan tetapi. yaitu lembaga pendidikan terendah. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. pengganti Harun Ar-Rasyid. pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir. pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Dalam penyelenggaraan negara. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah. Ketika itu. Dengan demikian. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama. tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Pada masa pemerintahannya. belum ada tentara khusus yang profesional. dan mendirikan rumah sakit. dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. 1. memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. misalnya. Dalam bidang pendidikan. tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan. Sebelumnya. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. ilmu pengetahuan. dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. lembaga pendidikan dokter. pendidikan. seperti tafsir. ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). khalifah berikutnya (833-842 M). kesehatan. gerakan Zindiq di Persia. Ia juga banyak mendirikan sekolah. pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat. revolusi al-Khawarij di Afrika Utara. fiqh dan bahasa. Walaupun demikian. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad. salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. 2. . keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. dan farmasi. Disamping itu. gerakan Syi'ah. lembaga pendidikan sudah mulai berkembang.

Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. filsafat dan sastra. bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. 2. sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. . Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab. terutama setelah adanya pembuatan kertas. kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu. Disamping itu. Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. terutama melalui gerakan terjemahan. yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. menulis dan berdiskusi. (tafsir rasional). sejak awal sudah dikenal dua metode. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H.2. Abu Yusuf. penafsiran pertama. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya. kemajuan itu paling tidak. Kedua. tafsir bi al-ra'yi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Bidangbidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. Pada umumnya. mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi. ilmu matematika dan astronomi. juga ditentukan oleh dua hal. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas. pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran. baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah. terutama filsafat. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Dalam bidang tafsir. bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum. karena di samping terdapat kitab-kitab. Disamping itu. sangat kuat di bidang pemerintahan. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. sebagaimana sudah disebutkan. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah. di sana orang juga dapat membaca. Karena itu. maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Fase pertama. menjadi Qadhi alQudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Tingkat pendalaman. Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut. tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. tafsir bi al-ma'tsur. Pengaruh Persia. yaitu: 1. ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran.

Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami. yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen. besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi. Namun.Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i Rahimahullah (767-820 M). Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja. juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah. dunia Islam . Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Akan tetapi. banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat. Kata aljabar berasal dari judul bukunya. antara lain al-Farabi. ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ini terjadi. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. karena Al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. Murji'ah dan Mu'tazilah pun ada. dan Ibnu Rusyd. terutama di bidang astronomi. kimia dan sejarah. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. ArRazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. logika. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Asy'ariyah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Farghani. yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. Ibnu Sina. Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah. yang juga mahir dalam bidang astronomi. filsafat. terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Di bidang kimia. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan alNazzam (185-221 H/801-835M). Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Sesudahnya. pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Penulisan hadits. menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. kenegaraan. etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. kedokteran. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. jiwa. pemikiranpemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama. Disamping empat pendiri madzhab besar tersebut. karena pengikutnya tidak berkembang. Pada masa kekhalifahan ini. dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. terkenal nama Jabir ibn Hayyan. setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. al-Jabr wa al-Muqoibalah. yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus. seperti Khawarij. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat. Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum.

Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki. [sunting] Pengaruh Mamluk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mamluk Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentaratentara budak yang disebut Mamluk pada abad ke-9.mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. hal ini disebabkan karena para penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam memimpin kerajaan. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan. Tambahan pula. kejayaan dan kegemilangan. Persia. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan. dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam . Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. Dibentuk oleh Al-Ma'mun. dan filosofi dari Yunani. [sunting] Pengaruh Bani Buwaih Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Buwayhiyah Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. dan Hindustan. Di antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan. dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi. sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik. sehingga Islam mencapai masa keemasan. Pada masa ini. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara Mamluk ini. yang kemudian dikenal dengan Bani Mamalik berhasil berkuasa. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. namun setelah periode ini berakhir. karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. tentaratentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas. dimana khalifah Abbasiyyah tetap sebagai kepala negara. Bani Mamalik ini mendirikan kesultanan sendiri di Mesir dan memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Cairo setelah berbagai serangan dari tentara tartar dan kehancuran Baghdad sendiri setelah serangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Banyak golongan pemikir lahir zaman ini. banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. matematika. yang pada mulanya mengambil inisiatif merebut kekuasaan kerajaan Ayyubiyyah yang pada masa itu merupakan kepanjangan tangan dari khilafah Bani Abbas. Wallahul Musta’an. sastra. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu.

paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan untuk membendung faham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni yang dianut oleh mereka. tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. pada periode ketiga (334-447 H/l055 M). pada masa-masa berikutnya. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. [sunting] Masa Disintegrasi (1000-1250 M) Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu. sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. meskipun khalifah tidak berdaya. tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat . [sunting] Pengaruh Bani Seljuk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Seljuk Raya Setelah jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Bani Seljuk atau Salajiqah Al-Kubro (Seljuk Agung). Akan tetapi. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Akan tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah. ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya. Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua. posisi dan kedudukan khalifah Abbasiyah sedikit lebih baik. dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. adalah: 1. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh kekuasaan Bani Buwaih yang berpaham Syi'ah. akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas. terutama di awal berdirinya. 3. Tetapi. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. 2. Pada saat kekuatan militer menurun. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. [sunting] Kemunduran Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. seperti terlihat pada periode kedua dan seterusnya. perebutan kekuasaan sering terjadi. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata.sebelumnya. khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka. sehingga banyak daerah memerdekakan diri. Bersamaan dengan itu.

Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan.nominal. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah. sudah merdeka dan berkuasa kembali. Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu. Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik. sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu'u arabiyah (kebangsaan/anti Arab). pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara: 1. seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Penguasa Bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Ada di antaranya yang cukup besar. seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran. Pada periode ini. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah. sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan. Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Sebagai gantinya. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan. Alasannya adalah : 1. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu. mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut. Para khalifah Abbasiyah. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Nampaknya. Pengangkatan anggota militer Turki ini. dengan pembayaran upeti itu. Namun pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri. propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. banyak daerah tidak dikuasai khalifah. disamping persoalan-persoalan keagamaan. Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. kedudukannya semakin bertambah kuat. Bahkan dalam kenyataannya. Mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya. 2. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpinpemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. Secara riil. 2. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. bahkan ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu. dalam perkembangan selanjutnya teryata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. terutama di bidang politik. tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Pada masa . khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru seperti diuraikan di atas. daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah. Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. Menurut Ibnu Khaldun.

orang-orang Persia tidak merasa puas. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional. para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Munculnya dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah. Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Menurut Ibnu Khaldun. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. 1. Selain itu. stabilitas politik dapat terjaga. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: [sunting] Persaingan antar Bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Kecuali Islam. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. di antaranya adalah: . dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua.inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. Namun demikian. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat. benih-benih itu tidak sempat berkembang. Oleh Bani Abbas. bangsa Persia. masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Syria. Meskipun demikian. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Keduanya sama-sama tertindas. Dengan demikian. naik tahta. Persia. Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. seorang khalifah yang lemah. wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. sebagaimana diuraikan terdahulu. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. Sementara itu. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. pada periode ketiga. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam). mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah. Turki dan India. yang disebut masa pertengahan. Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Akibatnya. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat. dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur. Disamping kelemahan khalifah. Irak. disamping fanatisme kearaban. para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil. faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. tetapi jika khalifah lemah. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. mereka dianggap sebagai hamba. seperti Maroko. 2. Mesir. Setelah al-Mutawakkil. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara.

Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M). 2. Bani Samaniyah di Transoxania. 4. 8. . Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Dulafiyah di Kurdistan. Idrisiyyah di Maghrib. (487-511 H/1094-1117 M). dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi paham keagamaan. (261-389 H/873-998 M). (403-545 H/1011-1150 M). (317-394 H/929. 3. 5. (564-648 H/1167-1250 M). Fatimiyah di Mesir. (433-583 H/1040-1187 M). (172-375 H/788-985 M). terutama antara Arab. (351-585 H/962-1189 M). (348-406 H/959-1015 M). (320-560 H/932-1163 M). al-Barzuqani. Disamping latar belakang kebangsaan. (511-590 H/1117-1194 M). (386-489 H/996-1 095 M). 2. 6. Mirdasiyyah di Aleppo. ada yang berlatar belakang Syi'ah maupun Sunni. 2. (250-316 H/864-928 M). (254-292 H/837-903 M). Persia dan Turki. nampak jelas adanya persaingan antarbangsa. e. (414-472 H/1023-1079 M). 3. 3. d. c. 2. [sunting] Yang mengaku dirinya sebagai khilafah: 1. Mazyadiyyah di Hillah. 4. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia). Ghaznawiyah di Afganistan. Bani Shafariyah di Fars. Ikhsyidiyah di Turkistan. Dari latar belakang dinasti-dinasti itu. Bani Buwaih. al-Ayyubiyyah. atau Seljuk Agung. b. Bani Sajiyyah di Azerbaijan. Seljuk Syria atau Syam di Syria. (320-447 H/ 932-1055 M). bahkan menguasai Baghdad. Bani Thahiriyyah di Khurasan. 2.1002 M). [sunting] Yang berbangsa Kurdi: 1. Seljuk Kinnan di Kirman. (380-489 H/990-1095 M). Ukailiyyah di Maushil. (254-290 H/868-901 M). (470-700 H/10771299 M). Abu 'Ali. Seljuk besar.[sunting] Yang berbangsa Persia: 1. 3. Dan Sulthan Alib Arselan Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. (266-318 H/878-930 M). 4. Thuluniyah di Mesir. [sunting] Yang berbangsa Turki: 1. Umayyah di Spanyol. 7. didirikan oleh Sulthan Shalahuddin al- ayyubi setelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke III. Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil. (205-259 H/820-872 M). Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. 5. (210-285 H/825-898 M). 'Alawiyah di Thabaristan. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan. [sunting] Yang berbangsa Arab: 1.

Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M). Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran. Namun anaknya. . Akan tetapi. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. Tidak tolerannya pengikut Hanbali terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salafy. faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma'mun. kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua. misalnya. pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah. al-Muntashir (861862 M. Al-Mutawakkil. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. bahkan Al-Mahdi merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja. sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Pada periode pertama. pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. dengan menjadikan Mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M). tetapi juga antar aliran dalam Islam. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan Sunni kembali naik daun. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. semacam pajak hasil bumi. semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.[sunting] Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Al-Mansur berusaha keras memberantasnya.). jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Sebaliknya. Zoroasterisme dan Mazdakisme. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. kembali memperkenankan orang Syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. [sunting] Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme.

ikut memperbaiki Yerusalem. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian.000 prajurit. 2.. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam.. Sebagaimana sebelumhnya tentara Sulthan Alp Arselan Rahimahullah tahun 464 H (1071 M).. Disamping itu. dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 2. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Syed Ameer Ali mengatakan: “ Agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti juga agama Isa ‘alaihis salaam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. Pikiranpikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah.000 orang.. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. terdiri dari tentara Romawi. Sebagaimana telah disebutkan. saat Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci. al-Akraj. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah . peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Manzikert. serta menghambat pengaruh dan invasi dari tentara Muslim atas wilayah Kristen. menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga ” [sunting] Ancaman dari Luar Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Namun.. karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. ada pula faktorfaktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk. Dalam . Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam konon sampai sekarang. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib.Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Ghuz. Soal kehendak bebas manusia. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. [sunting] Perang Salib Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Salib Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095 M. setelah menghancur leburkan pusatpusat Islam.. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. 1. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya.000. al-Hajr. panglima tentara Mongol. Perancis dan Armenia. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib. telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam . Namun pada masa Dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni. Pengaruh perang salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Tentara Mongol. yang hanya berkekuatan 15. namun kerugian yang mereka derita banyak sekali.

Bermulanya Kekhalifahan Bani Abbasiyah. 800 .Harun ar-Rasyid menjadi Khalifah.Serangan ke utara Perancis.1258).000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad.kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu. la mengatakan kepada khalifah. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim. la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan.Abu al-Abbas al-Saffah menjadi Khalifah pertama Bani Abbasiyah. tetapi malah terpecah belah. 752 . Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. Kekalahan tentara Abbasiyyah di Spanyol. Mereka semua. sebagaimana kakekkakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk". 805 . Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah. 755 . Merebut Pulau Rhodes dan Siprus. Aljabar diciptakan oleh Al-Khawarizmi. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana. Tetapi. Dengan demikian. sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir. Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Pembunuhan Abu Muslim. Khalifah menerima usul itu. 792 . permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.Kampanye melawan Byzantium. tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. al-Amin dilantik menjadi khalifah. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad.Pembangunan kota Bagdad. la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara. 763 . Pada saat yang kritis tersebut. Banyak daulah kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad. betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan.Abd ar-Rahman I mendirikan kerajaan Bani Umayyah di Spanyol. Hulagu Khan akan menjamin posisimu.Kaidah keilmuan mulai terbentuk. penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 . Khalifah Al-Musta'shim.Pemberontakan Abdullah bin Ali. 756 . . Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun. [sunting] Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Ilkhanat Pada tahun 565 H/1258 M. "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. 809 . tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200. sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya.wafatnya Harun ar-Rasyid. putera khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya temyata tidak benar. termasuk wazir sendiri. Walaupun sudah dihancurkan. wazir khilafah Abbasiyah. [sunting] Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah • • • • • • • • • • 750 . 786 .

pemerintahan Muslim di sana berakhir. 1095 .Tentara Salib merebut Baitulmuqaddis. 1091 .Masjid Besar Cordoba dibangun. Sulthan Alp Arselan beserta pasukannya yang hanya berjumlah 15.000 tentara. Perang Salib Kedua dimulai. 1236 . 1072 . Mereka membunuh semua penduduknya. Spanyol.Baghdad dikuasai oleh tentara Turki Seljuk. 1085 . Tamatnya pemerintahan Kerajaan Bani Abbasiyyah di Baghdad.Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma'mun. dan meneruskan kepungannya terhadap kerajaan Byzantium. 1194 . 1258 .Salahuddin Al-Ayubbi merebut Baitulmuqaddis dari tentara Salib. Ribuan penduduk terbunuh.• • • • • 814 . al-Amin terbunuh dan alMa'mun menjadi khalifah. 1187 . 1099 .Multan dan Ghur ditawan.Tentara Kristen menawan Toledo.Nur al-Din merebut Edessa dari tentara Salib. Perang Salib Ketiga dimulai.Tentara Mongol menyerang dan memusnahkan Baghdad.Tentara Salib merebut Cordoba. 1144 . ABBAS pendiri Bani Abbasiyah Ibnu Abbas Ali Muhammad . India.Peristiwa Manzikert. Kejatuhan Baghdad. 1005 .Tentara Muslim merebut Delhi. 1071 . • • • • • • • • • • [sunting] Silsilah para khalifah Dibawah ini merupakan silsilah para khalifah dari Bani Abbasiyah.Sulthan Alp Arselan berhasil menguasai Asia Tengah (Anatolia).000 tentara berhasil mengalahkan gabungan tentara salib yang dipimpim oleh Kaisar Romanus IV yang berjumlah 200.Bangsa Norman merebut Sisilia. mulai dari Abbas bin Abdul-Muththalib sampai khalifah terakhir dari Bani Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Spanyol. 1055 . 1000 . Pemerintahan Abbasiyah-Seljuk dimulai sampai sekitar tahun 1258 ketika tentara Mongol menghancurkan Baghdad.Perang Salib pertama dimulai.

AL-MUTHI' (k. AL-QADIR (k. 944-946) 20. AL-MUQTADIR (k. 869-870) 13. AL-MA'MUN (k. 847-861) 12. AL-QAHIR (k. 754-775 Musa 3. 932-934) 22. 813-833) 8. 785-786 Ibrahim al-Mubarak 6. AL-MAHDI (k. 775-785) 5. 974-991) 26. ALMUKTAFI (k. AR-RASYID (k. AL-MU'TASIM (k. 908-935) 19. AL-MU'TAZZ (k. AL-WATSIQ (k. 862-866) 14. AL-QA'IM . ALMUTTAQI (k. AL-MU'TAMID (k.Ibrahim 1. ALMUHTADI (k. 861-862) al-Muwaffaq 15. AL-HADI (k. 809-813) 7. 833-842 al-Qasim al-Mu'taman 9. 991-1031) 24. 750-754) 2. 940-944) 23. ALMUSTAKFI (k. ATH-THA'I (k. 866-869) 11. AL-AMIN (k. 870-892) 16. 842-847) 10. 946-974) 25. 786-809) 4. 934-940) Ishaq 21. AS-SAFFAH (k. AL-MUSTA'IN (k. AR-RADHI (k. ALMUNTASHIR (k. AL-MANSUR (k. 902-908) 18. 892-902) 17. ALMU'TADHID (k. ALMUTAWAKKIL (k.

ALMUSTAZHIR (k.(k. AZH-ZHAHIR (k. AL-MUQTAFI (k. 1075-1094) 28. ALMUSTADHI' (k. AR-RASYID (k. 1136-1160) 30. AL-MUQTADI (k. 1226-1242) 37. 1242-1258) [1] Catatan: • k. 1031-1075) 27. 1135-1136) 32. 1180-1225) 35. 1160-1170) 33. 1225-1226) 1. Nama dengan huruf kapital merupakan khalifah yang berkuasa. • • . AN-NASHIR (k. ALMUSTARSYID (k. ALMUSTANJID (k. 1094-1118) 29. 1170-1180) 34. 1118-1135) 30. ALMUSTA'SHIM (k. ALMUSTANSHIR (k. ALMUSTANSHIR II Berkuasa di Kairo 36. merupakan tahun kekuasaan Angka. merupakan nomor urut seseorang menjadi khalifah.

LATAR BELAKANG KEMAJUAN PERADABAN Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M. secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah. menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah. dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H. Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas. Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai. hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm). meninggalkan Al-Anbār[vi] dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru. . menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri. pembangunan (`umrān).kurang tepat. Pertama. para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[ii] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama. Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M). budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu. ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah. tercapainya kesejahteraan. dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas. Makalah ini. Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. 15 November 2009 23:10 Artikel Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab[i] PENDAHULUAN Meski terdapat sejumlah perbedaan. dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama.[iii] Periode pertama. Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan. Era kepemimpinan khalifah kedua. yang beberapa saat kemudian menjadi lokus aktivitas ekonomi.[sunting] Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo • • • • • • • • • Al-Mustanshir II 1261 Al-Hakim 1262-1302 Al-Mustakfi I 1302-1340 Al-Wathiq I 1340-1341 Al-Hakim II 1341-1352 Al-Mu'tadid I 1352-1362 Al-Mutawakkil I 1362-1383 Al-Wathiq II 1383-1386 Al-Mu'tasim 1386-1389 • • • • • • • • • Al-Mutawakkil I (kembali berkuasa) 1389-1406 Al-Musta'in 1406-1414 Al-Mu'tadid II 1414-1441 Al-Mustakfi II 1441-1451 Al-Qa'im 1451-1455 Al-Mustanjid 1455-1479 Al-Mutawakkil II 1479-1497 Al-Mustamsik 1497-1508 Al-Mutawakkil III 1508-1517 Peradaban Emas Dinasti Abbasiyah: Kajian Ringkas Minggu.[v] Kedua.[iv] Yaitu.

filsafat dan sastra dari bahasa asing ke dalam Bahasa Arab.[xiv] Singkat kata. Para khalifah seperti Al-Mansūr misalnya. Khālid ibn Yazīd ibn Mu’awiyah pernah memerintahkan dihadirkannya sejumlah filosof Yunani yang bermukim di Mesir dan menguasai bahasa Arab untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Mesir Kuno (Qibti). baik bahasa Pahlavi-Persia.[ix] Demikian dengan gerakan pembukuan (tasnīf) dan kodifikasi (tadwīn) ilmu tafsir. serta pada saat keamanan politik dalam negeri relatif stabil. sebelum masa itu. Sebagaimana diceritakan oleh para sejarahwan. khususnya Persia.[xvi] Saat itu.[vii] Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan. khususnya yang terkait dengan ilmu medis dan kimia. faktor lain yang secara lebih lanjut turut mempengaruhi kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah adalah interaksi masif kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir).[x] Konon. kodifikasi dan sistematisasi ilmu-ilmu keislaman. gerakan penerjemahan di Era Abbasiyah. Suriah. sehingga tidak mengherankan jika Al-Qanūji secara tegas menyebut Al-Mansur sebagai khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam.[xxii] Pada era Hārūn al-Rashīd (170-194 H) para cendekiawan dan ilmuwan semakin banyak yang berdiam di Baghdad.[xix] Berbeda dengan upaya penerjemahan di masa Dinasti Umayyah yang berskala kecil atau bahkan bersifat individual. ke dalam bahasa Arab.Langkah-langkah penting yang diambil Al-Mansūr tersebut dan efek besar yang ditimbulkannya terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li aldawlah al-`Abbasiyah). didukung oleh para khalifah yang rata-rata memiliki kecenderungan keilmuan dan ketertarikan terhadap pengetahuan dari Yunani maupun Persia.[xxiii] laiknya sebuah akademi ilmiah yang menjadi pusat aktivitas keilmuan mulai dari penelitian penerjemahan sekaligus perpustakaan. Ahmad Shalabi terwujud dalam tiga sektor yaitu menggeliatnya gerakan penulisan buku (harakat al-tasnīf). seorang Majusi yang kemudian memeluk Islam.[xx] serta Hunayn Ibn Ishāq yang menerjemahkan buku-buku medis karya Hippocrates[xxi] dan Galen.[viii] Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam. Di era Al-Mansūr ini muncul tokoh penerjemah di bidang sastra seperti `Abdullāh Ibn Al-Muqaffa` (757 M). para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi. untuk menerjemahkan buku-buku sains. Yunani maupun Mesir Kuno ke dalam bahasa Arab. Not a Monolith. setelah sebelumnya terabaikan oleh para khalifah Bani Umayyah. hadits. selalu mendorong para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dengan tanpa membedakan agama maupun bangsa mereka. bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah. melainkan pada titik yang paling penting merupakan buah dari pengaruh konsep-konsep dalam ajaran Islam itu sendiri. yang menerjemahkan buku Kalīlah wa Dimnah. serta wilayah Asia Barat. tidak lama setelah berdirinya. sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup signifikan di era Al-Mansūr pula. GERAKAN PENERJEMAHAN DI ERA ABBASIYAH Berbicara mengenai gerakan penerjemahan yang terjadi di Era Abbasiyah sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari upaya-upaya penerjemahan yang pernah dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. [xv] Selain tiga hal di atas dapat ditambahkan pula perkembangan ilmu sains yang melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan legendaris yang diakui tidak saja di dunia Muslim tetapi juga oleh kalangan akademisi Barat.[xiii] Di samping itu.[xvii] Selain itu. pada masa `Abdul Mālik ibn Marwān dan AlWalīd ibn `Abdul Malik itu juga telah dilakukan penerjemahan dīwān[xviii] dari bahasa aslinya. Hal ini diakui pula oleh beberapa penulis Barat semisal Vartan Gregorian dalam bukunya Islam: A Mosaic. serta menjamurnya gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah) secara masif. Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mūn dan mencapai puncaknya pada masa itu dibawah tanggungjawab . usai penaklukan besar-besaran yang merambah wilayah-wilayah di tiga benua. Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan.[xi] Namun betapapun pentingnya peranan Al-Mansūr. Sang Khalifah-pun mendirikan Bayt al-Hikmah. sebuah upaya penerjemahan telah dilakukan meski dalam skala kecil.[xii] Kesimpulan tersebut jika ditilik dari perspektif kajian sejarah peradaban berkesesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa semangat yang dibawa oleh konsep keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan élan vital dan menjadi unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban. Dinasti Abbasiyah dengan cepat telah mampu menciptakan sebuah kemajuan ilmu dan peradaban yang menurut Dr. fiqh. kemajuan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah pada hakekatnya tidak datang dari ruang hampa.

Tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang dialami oleh ilmu Tafsir dan ilmu Fiqh. kemajuan ilmu dan peradaban Era Abbasiyah juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman.[xxix] Keluarga elit lain diceritakan bahkan sangat getol mengeluarkan harta berlimpah untuk membayar para penerjemah mereka. Hitti menyatakan bahwa Bayt al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. Menurut catatan Ibn al-Nadīm yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut adalah Yahya bin Ziyād al-Daylamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farrā. [xxxiii] Ilmu Fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting. Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak lagi. Al-Awza`i di wilayah Syam. Galen. muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad. meliputi metematika. Ishāq ibn Hunayn. Hunayn ibn Ishāq. 171) yang menulis Al-Muwatta' nya di Madinah. seperti buku-buku Pythagoras. Āwī ibn Ayyub. Muslim (w.[xxx] KEMAJUAN ILMU-ILMU AGAMA Selain gerakan penerjemahan. bahwa gerakan penerjemahan ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan para khalifah sahaja.211 H) yang hidup sezaman dengan Al-Farā juga telah menyusun sebuah kitab tafsir lengkap yang serupa. seperti dilakukan oleh Banū Al-Munajjim yang berani membayar 500 dinar kepada para penerjemah tiap bulannya sebagai upah penerjemahan penuh waktu (li al-naql wa al-mulāzamah). Buku tafsir lengkap dari al-Fātihah sampai al-Nās juga mulai disusun. Di bidang ilmu-ilmu agama. Hadits dan Fiqh. Al-Layts ibn Sa’ad (w. Aristoteles. 241H). Abu Dāwud (w. geografi dan lain-lain dilakukan. Bersamaan dengan itu Baghdad juga menjadi kota besar paling kaya dan mempunyai populasi tertinggi mencapai satu juta jiwa. Salībā Ayyūb alRahāwi. Tsābit ibn Qarrah al-Sābi’i.[xxiv] Maka tidak heran jika Philip K. Astufun ibn Bāsīl.256). Hubaysh ibn al-A`sam. ilmu sosial dan sains. juga al-Rabī` ibn Sabīh (w.Hunayn Ibn Ishāq. Al-Ma'mun juga menambahkan bangunan khusus sebagai sebuah observatorium untuk penelitian astronomi ke Bayt al-Hikmah. Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga. Bayt al-Hikmah-pun menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains.[xxxii] Tapi luput dari catatan Ibn al-Nadīm bahwa `Abd al-Razzāq ibn Hammam al-San`āni (w. Charaka.[xxvi] Popularitas Bayt al-Hikmah ini terus berlangsung sampai kepemimpinan Al-Mu`tasim (berkuasa 833842M) dan Al-Wātsiq (berkuasa 842-847M). [xxxiv] Perkembangan penulisan hadits berikutnya. 151H) yang menulis buku sejarah (Al-Maghāzi). Asad ibn Mūsā al-Amawi dan Nu`aym ibn Hammād al-Khuzā`i. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sisitematis baik di bidang ilmu Tafsir.[xxv] Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung.303). Era Abbasiyah mencatat dimulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir.179H). Mālik ibn Anas (w. yaitu munculnya kecenderungan penulisan hadits yang didahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan haditshadits sahīh dari yang dla`īf sebagaimana dilakukan oleh Al-Bukhari (w. Qustā ibn Lūqā. Al-Tirmidzi (w. Plato. Musaddad ibn Musarhad al-Basri. Sufyān al-Tsauri di Kufah.273). masih pada era Abbasiyah. yaitu Abu Hanīfah (w.[xxxi] Pada masa ini ilmu Tafsir menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadits. Mālik ibn Anas (w. zoologi. Muhamad Ibn Ishāq (w. kedokteran. Hippocrates. Khususnya sejak tahun 143 H.150 H). Mālik ibn Anas. Diantara tokoh yang menulis musnad antara lain Ahmad ibn Hanbal. Euclid.275). Aryabhata maupun Brahmagupta. Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi. astronomi. serta Al-Nasā’i (w.[xxviii] Catatan menarik lainnya. tetapi mulai tenggelam dan mengalami kemunduran pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil (847-861M). Ma`mar di Yaman. Ibn Mājah (w. yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga. `Ubaydullah ibn Mūsa al`Absy al-Kūfi.[xxvii] Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa mayoritas para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh. Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah adalah Ibn Jurayj (w. Sushruta. Hadits maupun Fiqh.204) dan Ahmad ibn Hanbal (w.[xxxv] .160) dan Ibn Al-Mubārak (w. 279). Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahāt al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia. India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.261). dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazdhab fiqh hidup pada era tersebut. 150 H) yang menulis kumpulan haditsnya di Mekah. muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadits. 175H) serta Abū Hanīfah. 181 H). Ibn Abi `Urūbah dan Hammād ibn Salāmah di Basrah. kimia. melainkan juga oleh para pribadi dari kalangan elit semisal Banū Shākir yang juga mengelola penerjemah-penerjemah handal yang bekerja siang malam untuk mereka. Yahya ibn al-Bitrīq. AlShāfi`i (w. Plotinus. ilmu Hadits juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadits-hadits Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah disebutkan diatas seperti Ibn Jurayj. Iqlīdis ibn Nā`imah.

[xliv] Di bidang ilmu kimia era Abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jābir ibn Hayyān[xlv] (atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern.[lii] Di samping kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas umat Islam Era Abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi.[xlvii] Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak belajar. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al-Rāzi[xlvi] yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alkohol. termasuk perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemuddian menyebar hingga Fez dan ahirnya masuk ke Eropa melalui Andalusia pada abad 13M. serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana. melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi (`ulūm aqliyah). ada Muhamad ibn Mūsa al-Khawārizmi[xxxviii] sang pencetus ilmu algebra. meski isinya masih direkam oleh sejarahwan Al-Tabari (838-923M). salah satu cabang matematika bahkan juga diambil dari namanya. Sejarahwan lain yang datang berikutnya adalah seperti Muhamad ibn Sa’ad (w. 218).[xxxvi] KEMAJUAN SAINS DAN TEKNOLOGI Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain AlKhawārizmi. yang awal penulisannya dilakukan oleh Ibn Ishāq (w.[xlviii] Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindi[xlix] yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. Disebutkan pula. Al-Khawarizmi. bahwa pada zaman Khalifah Al-Muqtadir Billah (907-932M/295-390H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi debagai dokter. 152) dan kemudian diringkas oleh Ibn Hisyām (w.[xxxvii] Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahun masa kini. Hal ini bisa jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzāt al-atsar al-māddi fī hayātihim) dibanding buku-buku olah pikir (filsafat). Ibn al-Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic. arsitektur dan lainnya yang tidak dapat dijeleaskan seluruhnya dalam makalah ini. [xlii] Sedangkan Ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al-Haytsam[xliii] atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen. [xl] Penelitian di bidang astronomi oleh kaum muslimin dimulai pada era Al-Mansūr ketika Muhamad ibn Ibrāhīm al-Fazāri menerjemahkan buku "Siddhanta" (yang berarti Pengetahuan melalui Matahari) dari bahasa Sanskerta ke bahasa Arab.230 H) dengan Al-Tabaqāt al-Kubrā-nya serta Ahmad Ibn Yahya al-Balādhuri (w. Ibn Jābir Al-Battāni (w. 207) yang menulis buku berjudul Al-Tārīkh al-Kabīr dan Al-Maghāzi. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics. Buku yang pertama dinyatakan hilang. Bahkan jika dicermati.[liii] Setelah itu kaum Muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari Cina yang berhasil ditangkap setelah meletusnya Perang Talas.[liv] .1274). sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah.279) yang menulis Futūh al-Buldān. Selanjutnya muncul pula Muhamad ibn `Umar al-Wāqidi (w. geografi.[xli] Pada era Hārūn al-Rashīd dan Al-Ma’mūn sejumlah teori-teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut.[l] Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox). Algoritma. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. 929). kemajuan sains di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era Abbasiyah. Dalam bidang matematika misalnya. Ibn Sina[li] dan lain-lain. Salah satu diantaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Abu Rayhān al-Biruni (w.1048) serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi (w.[xxxix] Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslim era Abbasiyah dan didukung langsung oleh Khalifah Al-Mansūr yang juga sering disebut sebagai seorang astronom.Disiplin keilmuan lain yang juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada era Abbasiyah adalah ilmu sejarah. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat Muslim Era Abbasiyah. Era Keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia. Beliau pula yang memegembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (ujicoba). Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat buku.

melalui Dinasti Abbasiyah. khususnya terkait kemajuan ilmu dan peradaban serta masa-masa kemunduran dan kehancurannya di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain bahwa sejarah peradaban Islam. Gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah dilakukan sejak masa-masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Gerakan ini menemukan momentumnya ketika para tokoh dai Bani Hasyim melancarkan serangannya. yang dalam konteks ini adalah nilai-nilai dan konsep-konsep yang bermuara kepada sumber agama Islam itu sendiri yaitu wahyu. Diantara kemjuan dalam bidang sosila budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. Selain itu. seperti bidang-bidang sosial dan budaya. Para tokoh tersebut antara lain Muhammad bin Ali. seorang jendral muslim yang berasal dari Khurasan. Gerakan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. Sejak itu. telah berhasil menciptakan sebuah peradaban agung yang mampu menampilkan kemajuan-kemajuan baik di bidang ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu sains yang kemudian disumbangkan bagi peradaban manusia dan diwarisi oleh pemegang tampuk peradaban modern yaitu Barat. secara resmi Dinasti Abbasiyah mulai berdiri. dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. hanya saja gerakan tersebut selalu digagalkan oleh kekuatan militer Bani Umayyah. salah seorang keluarga Abbas yang menjadikan kota Khufa sebagai pusat kegiatan perlawanana. Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini. 21 April 2008 Dinasti abbasiyah FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA DINASTI ABBASIYAH Dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama lebih kurang enam abad ( 132 – 656 H/ 750-1258 M ). Mesir pada 132 H / 705 M.PENUTUP Setelah pemaparan singkat mengenai sejarah Dinasti Abbasiyah. Presia. Unsur paling penting dari kemajuan peradaban yang dibangun oleh umat Muslim Era Abbasiyah tersebut adalah al-fikrah al-dīniyah. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa. juga dukungan kuat dari kelompok Syi’ah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh dinasti Banui Umayyah. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. [insya Allah to be completed] Senin. Akhirnya pada tahun 132 M H/ 750 M. baik untuk bangunan istana. masjid. didirikan oleh Abul Abbas al. bangunan kota dan lain . Unsur ini ditopang oleh unsur-unsur penunjang lainnya yaitu sumberdaya manusia yang direpresentasikan utamanya oleh para khalifah serta tokoh-tokoh ilmuan saat itu. Tapi dimasa-masa akhir pemerintahan dinasti Bani Umayyah gerakan tersebut semakin menguat seiring banyaknya protes dari masyarakat yang merasa tidak puas atas kinerja dan berbagai kebijakan pemerinatah dinasti Bani Umayyah. Marwan bin Muhammad dapat dikalahkan dan akhrinya tewas mengenasakan di Fustat. . serta ruang dan waktu yang mewujud dalam rentang sejarah yang berlaku. kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad. sehingga gerakan-garakan kelompok penentang tidak dapat melancarkan serangannya secara kuat. serta berbagai bidang lainnya. Diantara kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Khalifah Dinasi Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur.Saffah dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani. KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH DALAM BIDANG SOSIAL BUDAYA Sebagai sebuah dinasti.

seperti Abu Nawas. astronomi dan sebagainya. Samarra dan lain-lainnya. tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. dan Qashrul Khuldi. Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik. Dengan demikian. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ). ilmu bumi. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi. lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). Seni asitektur yang dipakai dalam pembanguanan istana dan kota-kota. pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah. terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. seperti Filsafat. Pemerinath Dinasti Bani Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaanya. banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun. 152 H / 768 M ). Khalil bin Ahmad. Pada mas inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal. baik . banayak terjadi pemebrontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasyi Abbasiyah KEMAJUAN DALAM BIDANG ILMU PENGETAHUAN Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh. KEMAJUAN DALAM BIDANG POLITIK DAN MILITER Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok anatara pemerinatah Dinasti Bani Umayyah dengan Dinasti Bani Abbasiyah. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini. yang disebut diwanul jundi. Untuk itu. yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. Al farabi dan lain-lainnya. Al Mutanabby. Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Abu Athahiyah. sementara banguan kota seperti pembangunan kota Baghdad.sebagainya. Meskipun begitu. maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan. Selain bidang –bidang tersebut diatas. seperti pada istana Qashrul dzahabi. usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama. pencipta teori musik Islam. seperti kitab Kalilah wa Dimna. ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain. tidak lepas dariperan serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat. Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman. KEMAJUAN DALAM ILMU AGAMA ISLAM Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah. Abu Nasr al-faraby.Pembentuka lembaga ini didasari atas kenyataan polotik militer bahwa pada masa pemertintahan Dinasti Abbasiyah. Sementara pemerinath Dinasti Bani Abbasiyah. dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

Dianata ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist. baik secara militer atau ekonomi. kemunduran dan kemudian kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah. kepada para ulama.Mu’tashim dan Al-Mutawakkil.Mutawakkil. sehingga bangsa Arab dan Persia merasa cemburu. seperti bangsa Turki yang kemudian menguasai sistem pemerintahan Dinastu Abbasiyah. Masa suram ini terjadi ketika para pengusaha setelah AlMakmun. ketimbang kepentingan masyarakat umum. yang merupakan dua suku bangsa yang memiliki peran penting didalam proses berdirinya pemerintahan Dinasti Abbasiyah. didirikan oleh Hamdan bin Hamdan ( 293-394 H/ 905-1004 M ).dukungan moral.Ayyubi. yang kemudian masingmasing mendirikan kekuasaan-kekuasaan lokal. Bahkan bangsa Turki mendirikan mendirikan kekuasaan di wilayah pemerintahan Bani Abbasiyah dan menguasi Baghdad. Persoalan lain yang juga memperlemah kekuasaan Bani Abbasiyah adalh konflik internal dikalangan Bani Abbas. Pada akhirnya mereka kehilangan semangat juan untuk menegakan kekuasaan. sedikit banyak memperlemah kekuasaan dan wibawa kerajaan Bani Abbas. material dan finansia. Dinasti Ikhsyidiyah. Dinasti Thuluniyah. Dinasti Thahriyah. Konflik antra etnis dan suku bangsa sering terjadi. didirikan oleh Ahmad bin Thulun ( 254-292 H/868-905 M ). Sebab paling tidak pemasukan dan pengaruh para khalifah Bani Abbas berkurang. didirikan oleh Saman Khuda ( 261-9-389 H/ 874-999 M ). Al. Dinasti ini berkuasa cukup lama. bahkan banyak di antara mereka yang lebih memilih hidup bermewah-mewahan. Dinasyi Bani Fathimiyah yang didirikan di Tunisia pada tahun 297-323 H / 909-934 M oleh Al Mahdi. hingga akhirnya dihancurkan oleh Salahuddin al. ilmu fiqih dan tasawuf KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH Setelah berkuasa lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). didirikan oleh Thahir bin Husein ( 205-259 H/ 821-873 M ). sehingga peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pemerintah pusat untuk melepaskan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil. . Konflik ini dimanfaatkan oleh para pendatang baru. Sikap anti Turki ini pada akhirnya menimbulkan gerakan pemberontakan di setiap daerah. para tentara bayaran mendominasi kekuatan. Perseteruan ini terjadi ketika bangsa Turki semakin memiliki posisi strategis dipemerintahan dan menggeser posisi bangsa Arab dan Persia. Dianatara kekuatan lokal yang sangat berpengaruh dalam proses melemahnay kekuasaan Dinasti Abbasiyah adalah dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan sehingga tidak dapat melakukan kontrol pemerintah denga baik ke seluruh wilayahnya. Dianatar kerajaan-kerajaan kecil yang dapat melepaskan diri adalah Dinasti Buwaihiyah ( 945-1055 M ). Kemunculan kerajaan-kerajaan ini. terutama perseteruan antara bangsa Arab dan bangsa Persia dengan bangsa Turki. Dinasti Samaniyah. Pada masa pemerintahan khalifah al. didirikan oleh Muhammad bin Tughj ( 323-358 H/ 935-969 M ). akhirnya Dinasti Abbasiyah mengalami masa-masa suram. Dinasti Hamdaniyah. Mereka saling melalaikan tugas-tugas sebagai pemimpin dan kepala negara. sehingga mereka menciptakan ketergantunan khalifah kepada tentara bayaran. Lama kelamaan. akan membawa kelemahan. sebab para khalifah sesudahnya lebih merupakan boneka para amir dan para wajir dinasti Buwaihiyah dan Salajikah. ilmu tafsir. tidak lagi memiliki kekuatan yang besar. Ketika para kalifah semakin lemah. Dinasti Aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab ( 184-296 H/ 800-909 M ). Para khalifah Abbasiyah pada periode terakhir lebih mementingkan kepentingan peribadi. Dinasti Salajiqah ( 1037-1157 M ). pengaruh bangsa Turki semakin kuat. Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Idris bin Abdullah ( 172-311 H/ 788-932 M ). Ketergantungan ini merupakan salah satu faktor penyebab melemahnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah. sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. Kenyataan ini dipengaruhui denga situasi politik umat Islam ketika itu. Perhatian yang serius dari pemeruntah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat.

Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni. kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama. “Islam is andeed much more than a system of theology. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. Latar Belakang Berdirinya Abbasiyah (750-847 M – 132-232 H) Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). rasa dan karsa manusia.dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. dalam islam. yaitu kekuatan bangsa Mongol. sastra. bahwa. politik. kedua istilah itu dibedakan. dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah. nilai-nilai. tidak terkenal. Dibawah pimpinan hulaghu Khan. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang. (1) wujud ideal. it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama. religi (agama) dan moral. maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan. Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya. bodoh. dan (3) wujud benda. istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Sedangkan. Di satu sisi. peraturan dan sebagainya. Jadi. Islam memang berbeda dari agama-agama lain. Di Indonesia. gagasan. ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. (2) wujud kelakuan. Dari segi durasi. baik dari aspek ekonomi.Natsir. Peradaban dalam Islam. maka peradaban terefleksi dalam politik. Menurut Koentjoroningrat. kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah diluluh lantakan pada tahun 1258 m. sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. yaitu sekitar lima abad.Pada saat semua mengalami kelemahan.A. manifestasimanifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. Dalam sejarah islam tercatat. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang. Dalam diskusi kali ini. kemajuan dan kemunduran pada masa ini. masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. ia adalah suatu peradaban yang sempurna).R. ekonomi dan teknologi. diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim. Serangan bangsa Mongol ini manandai akhir dari masa kekuasaan dinasti Abbasiyah. sebagaimana juga di Arab dan Barat. dan social. Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide. tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi). agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. saya akan membahas peradaban islam pada masa Dinasti Abbasiyah dengan topik bahasan diantaranya. Padahal. dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain. norma-norma. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M. sebagaimana pernah diungkapkan oleh H. para sahabat (Khulafaur Rasyidin). Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah. Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi. Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. sedangkan disisi yang lain. kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud. menjadi bangsa yang maju. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu). . kekuatan baru datang dan berusaha menghancurkan Dinasti Abbasiyah. yaitu al-Hadharah alIslamiyyah. latarbelakang berdirinya kekhalifahan Abbasiyah.

Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M). Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. dokter. Bidang Ekonomi Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector pertanian. bidang sosial. Pada masing-masing bidang memiliki kelebihan dan kekurangan. Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. dari tahun 132 H (750 M) s. kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon. Pada tahun 762 M. Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah. ilmu pengetahuan dan . Rumah sakit. biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. disebut masa pengaruh Turki pertama. Pada masa pemerintahan. Selama dinasti ini berkuasa. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M). Bidang Politik Walaupun demikian. semuanya dapat dipadamkan.Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. masing-masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang. gerakan zindik di Persia. fase kemunduran dan kehancuran. kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. fase pembangunan dan kemajuan. tembaga dan besi. bidang ekonomi. Akan tetapi durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bergantung pada kemampuan penyelenggara pemerintahan yang bersangkutan. masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. emas. pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. lembaga pendidikan. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. 4. disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. social dan budaya. ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. 3. bekas ibukota Persia. 2. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M).d 656 H (1258 M). 5. pendidikan. revolusi alkhawarij di Afrika utara. Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting. Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah. dan farmasi didirikan. Oleh karena itu. 3. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat. gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan. 1. melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak. Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. kesehatan. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Kemajuan Dinasti Bani Abbas Setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang dikenal dengan fase pendirian. masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain. diantaranya bidang politik. tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode : 1. digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas. Bidang Sosial Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). kesejahteraan social. melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M). masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa kekayaan. Gerakangerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. 2.

Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani . Disamping kelemahan khalifah. al-Hadi (775-786 M). Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah islam. Pada periode ini. Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi mereka. Kehancuran Dinasti Bani Abbas Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya. dan al-Mutawakkil (847-861 M). meskipun ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya. yaitu al-Mahdi (775-785 M). khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran. Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. sudah merdeka dan berkuasa kembali. al-Mu’tashim (833-842 M). tetapi jika khalifah lemah. obat dan falsafah. walaupun banyak sekali Dinasti islam berdiri. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. meliputi wilayah yang amat luas. Dari gambaran diatas terlihat bahwa. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur. mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri Spanyol. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. dan bahwasanya mereka akan mengamalkan alQur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah. tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya. Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali. tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. para mentri cenderung berperan sebagai pegawai sipil. hanya khalifah pada saat periode ini sangat kuat. Itulah sebabnya belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka. Ada diantaranya dinasti yang cukup besar. Persaingan Antarbangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba. banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur. Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang Baghdad. pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya. Para khalifah Abbasiyah. al-Ma’mun (813-833 M). demikian pula para rajanya. masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Dan ketika singgasana itu terjatuh. Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah. benih-benih ini tidak sempat berkembang. kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. al-Wasiq (842-847 M). bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah. yang disebut masa pertengahan. Harun al-Rasyid (786-809 M). Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti.

mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak. bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat. Pada periode pertama. Syria. sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya. Pertama. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri. Sementara itu. bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. sehingga Bait alMal penuh dengan harta. wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas. Mu`tazilah yang . dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska. 3. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. Mesir. khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional. 2. Kedua. Irak. Turki dan India. Meskipun demikian. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah. naik tahta. Kemerosotan Ekonomi Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik.11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih.12 Akibatnya. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas. pendapatan Negara menurun. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. jenis pengeluaran makin beragam. dominasi tentara turki tak terbendung lagi. stabilitas politik dapat terjaga. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. Zoroasterisme dan Mazdakisme.Umayyah berkuasa. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja. seperti Maroko. dan para pejabat melakukan korupsi. Setelah AlMutawakkil. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Akan tetapi. orang-orang Persia tidak merasa puas. sementara pengeluaran meningkat lebih besar. disamping Fanatisme kearaban. seorang khlaifah yang lemah. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir. Dengan demikian. Selain itu. Persia. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. semacam pajak hasil bumi. orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. Keduanya sama-saama tertindas. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj. sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. tetapi juga antaraliran dalam Islam. pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah. Kecuali Islam. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya.

Akibatnya pecahlah perang sipil. Setelah kematian Harun. al-Amin . Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan. seperti juga Agama Isa as. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam.13 Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah. Kedua.cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya. sebagaimana yang telah kita lihat. Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya. yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya. selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara . Tentara Mongol. ada pula factorfaktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. panglima tentara Mongol. Namun. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orangorang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. 4. ikut memperbaiki yerussalem. tidak membawa hasil dan gagal. perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun. Pertama.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik. dan mengklaim khilafah pada tahun 813. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Almakmun berhasil mengalahkan saudara tuanya. seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah.. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam. serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. alMakmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan. Sebagaimana telah disebutkan. Ancaman dari luar Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. Kebijakan ini. al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya. Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah. dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur. Disamping itu. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad. al-Amin. Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. yang bernama Thahir.

Dalam makalah ini kami akan membahas tentang sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu beserta ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Berdirinya bani abbasiyah dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncullah kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani . B.14 Senin. Rumusan Masalah a. Tujuan Penelitian a. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Latar Belakang Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Untuk mengetahui perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah BAB II PEMBAHASAN A. 05 April 2010 Sejarah Dinasti Abbasiyah BAB I PENDAHULUAN A. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah b. Bagaimana perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah? C. Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besar. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah? b.konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat.

Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan bani umayyah. dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas.umayyah.. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. Filsafat . majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. Gerakan ini menghimpun a. B. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib. Bani Abbasiyah pemimpinnya Ibrahim al-AIman c. Bani alawiyah pemimpinnya Abu Salamah b. Perkembangan Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. social dan budaya. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah. mereka memusatkan kegiatannya di khurasan. Keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain: a.

al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. b. Kedua. untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Romawi. dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Baqilani. c. karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama. Ibnu Thufail. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan. Abu Nasr alFaraby. Ibnu Bajjah. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani. Sajastani dan lain-lain. Ibnu Sina. Asy’ary.Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Ghazali. e. Ilmu Kimia Ilmu kimia juga termasuk kaum salah satu ilmu pengetahuan bidang ini yang dikembangkan oleh muslimin. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’. Ilmu ini berkembang karena . Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Ilmu Kalam Menurut A. Persia. Ilmu Kedokteran Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia. Ilmu Hisab Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. d. Dalam mereka memperkenalkan eksperimen obyektif.

kebutuhand asar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. h. metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran alQur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Astronomi Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Sejarah Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim. khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab. f. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani. yang terkenal pada abad ke-9 M. Abdurrahman alSufi. Ilmu Bumi Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi. metode tafsir ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara . ibnu majjah. Pertama. abu daud. Selain lain: a. Kedua. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad. Ilmu Tafsir Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu Hadis Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari. al-biruni. at-tirmidzi dan al-nasa’i. Muhammad bin Ishaq g. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat. b.

untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami tunggu dan kami perhatikan. B. ilmu tafsir. sejarah. ilmu kimia. al-sud’a muqatil bin Sulaiman. imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal. tasawuf. ilmu fiqih. Kesimpulan Dinasti abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H. d. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din. Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. imam malik menyusun kitab al-muwatha’.bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. c. ilmu hisab. Saran Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut andil dalam penulisan makalah ini. . Ilmu Fiqih Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya. ilmu bumi dan astronom. ilmu kedokteran. Bidang-bidang ilmu pengetahuan keagamaan berkembang pada masa ini yaitu: ilmu hadist. ilmu kalam. imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam alThabary. BAB III PENUTUP A. imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa dinasti abbasiyah yaitu filsafat. Ilmu Tasawuf Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam.

2.[3] Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase.[2] Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas. yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah. seperti Ali bin Abdullah bin Abbas. peradaban dan kekuasaan. '06 10:54 PM for everyone A. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Muhammad serta Ibrahim. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan. 3. Pengantar Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan.Sejarah Daulah Abbasiyah Oleh : Mardias Gufron Aug 28. terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam. Propaganda . baik dalam bidang ekonomi.[4] Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. golongan. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Gerakan ini didahului oleh keturunan Bani Abbas. Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab. kaum dan kawan. ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. suku. sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawancendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. 4. [1] Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Politik kepegawaian didasarkan pada klan. Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah : 1. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak.

Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbasiyah . Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah. Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam. Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (harem). Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah. yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. dan mendapat pengikut yang banyak. terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas. Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini.[5] Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath. Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia [6] B.dikirim ke seluruh pelosok negara. dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan. maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan. Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah. misalnya. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. yaitu di keamiran Cordova. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffar. berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. kemudian cara pertempuran. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun.

Bani Buwaihi. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal.menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintahan. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) 9. Bani Saljuk (1075-1258 M) 27. [7] a. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M) 23. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M) 26. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) 11. Khalifah Ar-Radi (934-940 M) 21. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M) c. Bani Buwaihi (932-1075 M) 19. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M) 16. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) 4. Khalifah At-Tai (974-991 M) 25. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) 10. dan Bani Saljuk. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) 18. Khalifah Al-Muktazz (866-869 M) 14. Khalifah Al-Mustain (862-866 M) 13. Khalifah Al-Mufi (946-974 M) 24. Khalifah Al-Amin (809-813 M) 7. seperti tersebut di bawah ini. Khalifah Al-Muktadid (892-902 M) 17. Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M) 22. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M) . Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M) 3. Khalifah Al-Makmun (813-833 M) 8. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) 6. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M) 15. Yaitu Bani Abbas. Khalifah Al-Kahir (932-934 M) 20. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M) b. Bani Abbas (750-932 M) 1. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M) 12. Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Khalifah Al-Hadi (785-786 M) 5. Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M) 2.

Khalifah An-Nasir (1180-1224 M) 35. sebuah kota indah yang terdapat di tepi aliran sungai Tigris dan Eufrat. Sementara itu perbaikan juga dilakukan di bidang administrasi pemerintahan yang disusun secara baik dan pengawasan . Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M) 31. namun pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Abu Abbas. serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak dan gerik keturunan Bani Umayah. Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M) 36. Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah a.28. Sedangkan makam yang tidak digali. adalah makam Muawiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz.[9] Sehingga akhirnya menimbulkan banyak pemberontakan. Periode pertama (750-847 M) Diawali dengan tangan besi Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas As-Safah. Di awal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi kekhalifahan Daulah Abbasiyah. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M) 34. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M) 32. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) 37. kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga daulah Bani Umayah. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M) 33.[10] Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad. Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M) 30. Koordinator pelenyapan keluarga Bani Umayah itu diserahkan kepada Abdullah pamannya Abu Abbas. melainkan juga kepada mereka yang sudah meninggal. Setelah Abu Abbas meninggal dia diganti oleh Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abbasiyah yang dikenal paling kejam. dengan cara mengeluarkan jenazah mereka dan membakarnya. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M) C.[8] Perlakuan kejam itu tidak hanya kepada orang-orang Umayah yang masih hidup. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M) 29. dia meletakkan dasar-dasar pemerintahan bani Abbasiyah dan tidaksegan-segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya. maka Abu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas. bila perlu membunuhnya.

Irigasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda dibanding sebelumnya. maka puncak keemasan dinasti itu berada pada tujuh Khalifah sesudahnya.[11] Pergeseran Kebijakan Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). misalnya beberapa daerah taklukan melepaskan diri. Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembeda lainnya antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah yang lebih mementingkan perluasan daerah. Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam ketimbang perluasan wilayah seperti pada masa Daulah Umayah.terhadap berbagai kegiatan pemerintah diperketat. .[13] Pada zaman Al-Mahdi. Ketentaraan kemudian terdiri dari prajuritprajurit Turki yang profesional. Andalusia dan Afrika. Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun. Namun demikian pemberontakanpemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. perekonomian meningkat. Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakkan dan dibangun oleh Abu Abbas As-Safah dan Abu Jakfar Al-Mansur. provinsi-provinsi terpencil di pinggiran mulai terlepas dari genggaman mereka. Akibat kebijakan yang diambil ini.[12] Ada dua kecenderungan yang terjadi. Pertambangan dan sumber-sumber alam bertambah dan demikian pula perdagangan internasional ke timur dan ke barat dipergiat. seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh seperti Daulah Umayah di Andalusia (Spanyol) dan Idrisiyah (Bani Idris) di Marokko. antara lain ke wilayah Armenia. Cara kedua. Petugas pos-pos komunikasi dan suratmenyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur. Kecenderungan orang-orang muslim secara sukarela sebagai anggota milisi mengikuti perjalanan perang sudah tidak lagi terdengar. Tak urung gejala pemberontakan itu memang muncul di mana-mana. yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah manjadi sangat kuat. Sejak masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) hingga Khalifah Al-Wasiq (842-847 M). Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Pertama. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukan invasi dan perluasan daerah kekuasaan. Mesisah. Kota Basra menjadi pelabuhan transit yang penting yang serba lengkap. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separatis dan pemberontakan. seperti Daulah Aglabiah (Bani Taglib) di Tunisia dan Tahiriyah di Khurasan. Militer Daulah Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat.[14] Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun Al-Rasyid.

Di masa-masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan melakukan inovasi dan penemuan sendiri. Abu Nawas. yang sebenarnya adalah seorang ahli hikmah atau filsuf etika. matematika. menulis. Orang-orang datang ke perpustakaan itu untuk membaca. dan berdiskusi. tentara itu menjadi sangat dominan sehingga Khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi boneka mereka. terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. kimia. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani. Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian. Salah satu faktor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan ialah terjadinya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah ini. Dari India misalnya. Berpartisipasinya unsur-unsur non Arab. tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi dominasi tentara Turki. Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana. Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku kedokteran. terutama filsafat etika dan logika. perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan. Pada masa itu perpustakaan-perpustakaan tampaknya lebih menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. Sedangkan dari . Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran pemikiran muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika dalam dunia Islam. seorang penyair yang kocak. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban. Di sinilah letak sumbangan Islam terhadap ilmu dan peradaban dunia. Di samping itu. dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun. Sebagai respon dari kenyataan tersebut Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) mencoba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan memindahkan ibukota ke Samarra. yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. filsafat. Zaman Keemasan Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid. terutama bangsa Persia. yang selalu didampingi oleh penasihatnya. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. astronomi dan ilmu alam.Akibatnya. berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim.

Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq. Khalifah memberinya gelar Amirul Umara (Panglima para panglima). Dan juga berkembang ilmuilmu Aqli seperti Astronomi. Fiqih.sastera Persia terjemahan dilakukan oleh Ibnu Mukaffa. Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa sastrawan besar lainnya. Meskipun demikian. Di masa Al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M). Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Dari dua belas Khalifah pada periode ini. kalau tidak dibunuh. Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu Aqli. Pemberontakan masih bermunculan pada periode ini. seperti pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. b. Akan tetapi. Al-Jahiz (meninggal 869 M). mereka digulingkan dengan paksa. dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Kimia. Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah AlMutawakkil wafat. Gubernur wasit dari Basra. mereka memang mulai melemah. Kedokteran dan lain sebagainya. Sejarah. Geografi. Ilmu Alam. Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki. yang meninggal pada tahun 750 M. Ushul Fiqh dan lain-lain. Pada tahun 892 M. hanya empat orang yang wafat dengan wajar. Periode kedua (847-945 M)[16] Kebijakan Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Makmun dan sebelumnya. Pada masa itu juga hidup budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M). Usaha untuk melepaskan dari dominasi Turki selalu mengalami kegagalan. Matematika.[15] Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni saja juga berkembang . Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. . selebihnya. Teologi. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Hadis. Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalifah sesuai kehendak mereka. dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. meskipun resminya mereka adalah penguasa. mereka mampu mengendalikan unsur-unsur Turki tersebut. Bahasa. Baghdad kembali menjadi Ibukota. meminjam istilah Ibnu Rusyd. Di samping itu.

karena telah dipindah ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. dan pemberontakan tentara. Seperti halnya pada periode sebelumnya. Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya. sementara komunikasi lambat. pertanian. Ketiga. Ibnu Sina (980-1037 M). Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Wasit dan Baghdad. Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama dari periode ketiga ini. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di Baghdad. Daulah Abbasiyah masih terus mengalami kemajuan pada periode ini. Dalam bidang ilmu pengetahuan. Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia. Ibnu Misykawaih (930-1030 M) dan kelompok studi Ikhwan As-Safa. mesjid dan rumah sakit. pertama.Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut. Cabangcabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam. dan perdagangan juga mengalami kemajuan. ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Hasan menguasai wilayah bagian utara. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas ’’undangan’’ Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di baghdad. Bidang ekonomi. mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. d. dan Ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz. Perdana Menteri pada masa Alp Arselan dan Maliksyah. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal. profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Al-Biruni (973-1048 M). luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyyah yang harus dikendalikan. c. Nizam Al-Mulk. Keadaan Khalifah sudah mulai membaik. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara. kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Madrasah . Setelah kekuatan militer merosot. Yang kedua. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Farabi (870-950 M). telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial aliran ahlu sunnah dan syiah. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah.

Madrasah ini telah melahirkan banyak cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Dalam bidang politik. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. e. yaitu perpustakaan di Baghdad. Kedua. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. masingmasing provinsi memerdekakan diri. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah.ini menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. Pada periode ini. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. AlGhazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf. Persia dan Turki. dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Misalnya yang dilahirkan dalam periode ini adalah Az-Zamakhsari. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. penulis dalam bidang Tafsir dan Usul ad-dien (Teologi). pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Ketiga. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Di antara faktor-faktor intern adalah. pertama. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Sesudah . terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. terutama Arab. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. Keempat. Pada masa pusa kekuasaan melemah. pertama. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada.

Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. baik kekayaan. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT.itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. kemajuan ataupun kekuasaan. mereka lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. tak ada lagi yang kelihatan. Istana dan gedung-gedung yang indah. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. . Di atas bumi kota Baghdad. Dalam masa lima abad lamanya. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah.

Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Pada periode ini. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Pada masa pusa kekuasaan melemah.perbintangan. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. terutama untuk negeri Irak. Dalam bidang politik. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. Sesudah itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Di antara faktor-faktor intern adalah. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. pertama. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. mereka . Persia dan Turki. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. terutama Arab. yaitu perpustakaan di Baghdad. e. Istana dan gedung-gedung yang indah. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Ketiga. masing masing provinsi memerdekakan diri. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. pertama. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. Keempat. Kedua. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik.

Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. . Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia.lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Di atas bumi kota Baghdad. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. kemajuan ataupun kekuasaan. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. tak ada lagi yang kelihatan. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. Dalam masa lima abad lamanya. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. baik kekayaan. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->