Bani Abbasiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

‫العباسدين‬ ّ Kekhalifahan Abbasiyah

750–1258

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibu kota Bahasa Agama Pemerintahan Sejarah - Didirikan - Dibubarkan

Bagdad, Kairo Arab(resmi), Aram, Armenia, Berber, Georgia, Yunani, Yahudi, Persia Tengah, Turkik Islam Monarki 750 M 1258 M

Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: ‫ ,العباسدين‬al-Abbāsidīn) adalah ّ kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al-Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • • •

1 Pendahuluan 2 Menuju puncak keemasan 3 Pengaruh Mamluk 4 Pengaruh Bani Buwaih 5 Pengaruh Bani Seljuk 6 Kemunduran
○ ○

6.1 Masa Disintegrasi (1000-1250 M) 6.2 Persaingan antar Bangsa
    

6.2.1 Yang berbangsa Persia: 6.2.2 Yang berbangsa Turki: 6.2.3 Yang berbangsa Kurdi: 6.2.4 Yang berbangsa Arab: 6.2.5 Yang mengaku dirinya sebagai khilafah:

○ ○ ○ ○ ○ • • • • • •

6.3 Kemerosotan Ekonomi 6.4 Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. 6.5 Ancaman dari Luar 6.6 Perang Salib 6.7 Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad

7 Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah 8 Silsilah para khalifah 9 Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo 10 Referensi 11 Sumber Lain 12 Lihat pula

[sunting] Pendahuluan
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh

Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031.

[sunting] Menuju puncak keemasan
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M). Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan

Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki

pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih

dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani

Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah alKubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh

dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu

disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerahdaerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus dan India. Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:

Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)

Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa' al-Rasyiduun. Disamping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai "gelar tahta", seperti al-Manshur, dan belakangan gelar tahta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu alAbbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

revolusi al-Khawarij di Afrika Utara. pemandian-pemandian umum juga dibangun. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. pendidikan. Al-Mu'tasim. pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam.Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). dan mendirikan rumah sakit. Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan. dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. 2. ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). sosial. belum ada tentara khusus yang profesional. ilmu pengetahuan. misalnya. Pada masa pemerintahannya. gerakan Zindiq di Persia. lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad. pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat. Al-Ma'mun. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. hitungan dan tulisan. di awal Islam. pengganti Harun Ar-Rasyid. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. seperti tafsir. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama. Ketika itu. kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani. khalifah berikutnya (833-842 M). semuanya dapat dipadamkan. Dengan demikian. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. gerakan Syi'ah. yaitu lembaga pendidikan terendah. Akan tetapi. Walaupun demikian. . Disamping itu. lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: 1. hadits. memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Maktab/Kuttab dan masjid. fiqh dan bahasa. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. 1. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir. Sebagaimana diuraikan di atas. dan farmasi. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. Dalam penyelenggaraan negara. lembaga pendidikan dokter. tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. 3. Sebelumnya. yang membawahi kepala-kepala departemen. salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah. Ia juga banyak mendirikan sekolah. kesehatan. dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Kesejahteraan. penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Dalam bidang pendidikan. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Disamping itu. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah.

filsafat dan sastra. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Kedua. di sana orang juga dapat membaca. juga ditentukan oleh dua hal. yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. menulis dan berdiskusi. sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya. 2. kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Tingkat pendalaman. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Disamping itu. bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu. ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. sejak awal sudah dikenal dua metode. (tafsir rasional). Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran. bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. tafsir bi al-ma'tsur. karena di samping terdapat kitab-kitab. tafsir bi al-ra'yi. maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut. mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. menjadi Qadhi alQudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. Dalam bidang tafsir. Pengaruh Persia. terutama setelah adanya pembuatan kertas. terutama filsafat. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi. dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum. tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Disamping itu. pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas. Pada umumnya. kemajuan itu paling tidak. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Karena itu. sangat kuat di bidang pemerintahan. dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. terutama melalui gerakan terjemahan. Bidangbidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah. yaitu: 1. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. penafsiran pertama.2. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah. Abu Yusuf. ilmu matematika dan astronomi. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana. sebagaimana sudah disebutkan. . Fase pertama. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi.

Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. jiwa. banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat. sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja. al-Jabr wa al-Muqoibalah. Pada masa kekhalifahan ini. Murji'ah dan Mu'tazilah pun ada. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir.Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i Rahimahullah (767-820 M). Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen. yang juga mahir dalam bidang astronomi. menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Akan tetapi. Di bidang kimia. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan alNazzam (185-221 H/801-835M). Ibnu Sina. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat. Kata aljabar berasal dari judul bukunya. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi. Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum. terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. dunia Islam . Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. Sesudahnya. antara lain al-Farabi. karena pengikutnya tidak berkembang. Al-Farghani. juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. Asy'ariyah. Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat. filsafat. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Ini terjadi. ArRazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. kimia dan sejarah. terutama di bidang astronomi. dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. kenegaraan. dan Ibnu Rusyd. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits. seperti Khawarij. karena Al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. pemikiranpemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama. yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus. kedokteran. Namun. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. logika. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Disamping empat pendiri madzhab besar tersebut. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes.

Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam . Tambahan pula. sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. tentaratentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. hal ini disebabkan karena para penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam memimpin kerajaan. peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran. kejayaan dan kegemilangan. Di antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. namun setelah periode ini berakhir. Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki. dan Hindustan. Persia. matematika. Pada masa ini. dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya. sehingga Islam mencapai masa keemasan. Bani Mamalik ini mendirikan kesultanan sendiri di Mesir dan memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Cairo setelah berbagai serangan dari tentara tartar dan kehancuran Baghdad sendiri setelah serangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik. Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara Mamluk ini. sastra. Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan. Banyak golongan pemikir lahir zaman ini. Dibentuk oleh Al-Ma'mun. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan. kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Wallahul Musta’an. [sunting] Pengaruh Bani Buwaih Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Buwayhiyah Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan. pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi. dimana khalifah Abbasiyyah tetap sebagai kepala negara. karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. [sunting] Pengaruh Mamluk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mamluk Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentaratentara budak yang disebut Mamluk pada abad ke-9.mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. dan filosofi dari Yunani. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. yang pada mulanya mengambil inisiatif merebut kekuasaan kerajaan Ayyubiyyah yang pada masa itu merupakan kepanjangan tangan dari khilafah Bani Abbas. yang kemudian dikenal dengan Bani Mamalik berhasil berkuasa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim.

Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata. meskipun khalifah tidak berdaya. terutama di awal berdirinya. daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh kekuasaan Bani Buwaih yang berpaham Syi'ah. [sunting] Kemunduran Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. Pada saat kekuatan militer menurun. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka. [sunting] Pengaruh Bani Seljuk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Seljuk Raya Setelah jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Bani Seljuk atau Salajiqah Al-Kubro (Seljuk Agung). Bersamaan dengan itu. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Tetapi. khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya. apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. perebutan kekuasaan sering terjadi. Akan tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah. akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas. dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.sebelumnya. 3. [sunting] Masa Disintegrasi (1000-1250 M) Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu. 2. seperti terlihat pada periode kedua dan seterusnya. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat . sehingga banyak daerah memerdekakan diri. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara. Akan tetapi. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. pada masa-masa berikutnya. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. adalah: 1. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. pada periode ketiga (334-447 H/l055 M). tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan untuk membendung faham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni yang dianut oleh mereka. Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua. posisi dan kedudukan khalifah Abbasiyah sedikit lebih baik.

Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah. Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu. banyak daerah tidak dikuasai khalifah. dalam perkembangan selanjutnya teryata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. 2. dengan pembayaran upeti itu. disamping persoalan-persoalan keagamaan. propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Sebagai gantinya. Secara riil. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah. Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru seperti diuraikan di atas. sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan. sudah merdeka dan berkuasa kembali. Pada masa . Pengangkatan anggota militer Turki ini. Alasannya adalah : 1. Namun pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. kedudukannya semakin bertambah kuat. Nampaknya. para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran. Para khalifah Abbasiyah. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut. Menurut Ibnu Khaldun. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Pada periode ini. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu. terutama di bidang politik. seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan.nominal. Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. bahkan ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu. tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri. sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu'u arabiyah (kebangsaan/anti Arab). Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Penguasa Bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Bahkan dalam kenyataannya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpinpemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun. tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Ada di antaranya yang cukup besar. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara: 1. walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah. daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. 2. Mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya.

dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Turki dan India. mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. bangsa Persia. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. orang-orang Persia tidak merasa puas.inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam. Oleh Bani Abbas. Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. sebagaimana diuraikan terdahulu. Mesir. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. tetapi jika khalifah lemah. yang disebut masa pertengahan. Sementara itu. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah. para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat. masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: [sunting] Persaingan antar Bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. benih-benih itu tidak sempat berkembang. banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. pada periode ketiga. 1. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam). seperti Maroko. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. Namun demikian. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Setelah al-Mutawakkil. Selain itu. mereka dianggap sebagai hamba. Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Menurut Ibnu Khaldun. mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. Meskipun demikian. khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional. hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. stabilitas politik dapat terjaga. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri. Syria. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil. Dengan demikian. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Keduanya sama-sama tertindas. Irak. Akibatnya. disamping fanatisme kearaban. seorang khalifah yang lemah. wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas. Akan tetapi. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Munculnya dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah. dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Kecuali Islam. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. 2. Disamping kelemahan khalifah. naik tahta. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. Persia. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. di antaranya adalah: .

(511-590 H/1117-1194 M). 2. b. Mirdasiyyah di Aleppo. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. 8. Thuluniyah di Mesir. (564-648 H/1167-1250 M). Idrisiyyah di Maghrib. Ghaznawiyah di Afganistan. (487-511 H/1094-1117 M). Bani Buwaih. (433-583 H/1040-1187 M). 3. Fatimiyah di Mesir. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia). 3. 6.[sunting] Yang berbangsa Persia: 1. c. Dan Sulthan Alib Arselan Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. Bani Thahiriyyah di Khurasan. didirikan oleh Sulthan Shalahuddin al- ayyubi setelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke III. (250-316 H/864-928 M). (317-394 H/929. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan. (172-375 H/788-985 M). Seljuk Kinnan di Kirman. 4. (266-318 H/878-930 M). 3. nampak jelas adanya persaingan antarbangsa. (380-489 H/990-1095 M). 'Alawiyah di Thabaristan. . (386-489 H/996-1 095 M).1002 M). 2. Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. Bani Sajiyyah di Azerbaijan. (414-472 H/1023-1079 M). Seljuk besar. (403-545 H/1011-1150 M). 5. Ikhsyidiyah di Turkistan. Disamping latar belakang kebangsaan. 2. 7. Ukailiyyah di Maushil. [sunting] Yang berbangsa Arab: 1. terutama antara Arab. al-Barzuqani. dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi paham keagamaan. al-Ayyubiyyah. Mazyadiyyah di Hillah. 2. (254-290 H/868-901 M). 5. Bani Samaniyah di Transoxania. (320-447 H/ 932-1055 M). Seljuk Syria atau Syam di Syria. (348-406 H/959-1015 M). Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M). atau Seljuk Agung. Dulafiyah di Kurdistan. [sunting] Yang berbangsa Turki: 1. Umayyah di Spanyol. bahkan menguasai Baghdad. 4. (254-292 H/837-903 M). Bani Shafariyah di Fars. d. [sunting] Yang berbangsa Kurdi: 1. (210-285 H/825-898 M). (470-700 H/10771299 M). (320-560 H/932-1163 M). 2. Abu 'Ali. e. (261-389 H/873-998 M). 3. (351-585 H/962-1189 M). Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil. [sunting] Yang mengaku dirinya sebagai khilafah: 1. Dari latar belakang dinasti-dinasti itu. ada yang berlatar belakang Syi'ah maupun Sunni. (205-259 H/820-872 M). Persia dan Turki. 4.

semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salafy. khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M). jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. [sunting] Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. . Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. misalnya. dengan menjadikan Mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M). Namun anaknya. aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan Sunni kembali naik daun. al-Muntashir (861862 M. Zoroasterisme dan Mazdakisme. kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma'mun. Sebaliknya. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. bahkan Al-Mahdi merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Al-Mutawakkil. semacam pajak hasil bumi. Tidak tolerannya pengikut Hanbali terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah. Al-Mansur berusaha keras memberantasnya. pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan.). sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Akan tetapi. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran. Pada periode pertama.[sunting] Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. kembali memperkenankan orang Syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. tetapi juga antar aliran dalam Islam. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah.

peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Manzikert. al-Hajr. serta menghambat pengaruh dan invasi dari tentara Muslim atas wilayah Kristen.000 prajurit. Disamping itu. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur.. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam konon sampai sekarang. Namun. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.. al-Akraj. ada pula faktorfaktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Syed Ameer Ali mengatakan: “ Agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti juga agama Isa ‘alaihis salaam.000 orang. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Perancis dan Armenia. menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga ” [sunting] Ancaman dari Luar Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 2. namun kerugian yang mereka derita banyak sekali. Dalam . Namun pada masa Dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni. karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. Tentara Mongol. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib. yang hanya berkekuatan 15. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. panglima tentara Mongol. Pikiranpikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah. telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam .. terdiri dari tentara Romawi.. Sebagaimana sebelumhnya tentara Sulthan Alp Arselan Rahimahullah tahun 464 H (1071 M). Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. Soal kehendak bebas manusia. untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. setelah menghancur leburkan pusatpusat Islam.. Pengaruh perang salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol.Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. ikut memperbaiki Yerusalem.000. penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Ghuz. saat Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. 2. [sunting] Perang Salib Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Salib Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095 M. 1. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian.Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah . Sebagaimana telah disebutkan..

Tetapi. Hulagu Khan akan menjamin posisimu. betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan. [sunting] Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Ilkhanat Pada tahun 565 H/1258 M. Merebut Pulau Rhodes dan Siprus. la mengatakan kepada khalifah. la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara. al-Amin dilantik menjadi khalifah.1258). sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. 752 . "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. Pembunuhan Abu Muslim.Bermulanya Kekhalifahan Bani Abbasiyah.Harun ar-Rasyid menjadi Khalifah. 800 . la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan. 755 .Pemberontakan Abdullah bin Ali.kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu. permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. . Khalifah Al-Musta'shim. putera khalifah. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad.Abu al-Abbas al-Saffah menjadi Khalifah pertama Bani Abbasiyah. Kekalahan tentara Abbasiyyah di Spanyol. 809 .000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. wazir khilafah Abbasiyah. Pada saat yang kritis tersebut. 763 . 805 . Walaupun sudah dihancurkan. termasuk wazir sendiri. tetapi malah terpecah belah. Dengan demikian. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya.Kaidah keilmuan mulai terbentuk. 786 . sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir.Abd ar-Rahman I mendirikan kerajaan Bani Umayyah di Spanyol. 756 . sebagaimana kakekkakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk".Serangan ke utara Perancis.wafatnya Harun ar-Rasyid. Aljabar diciptakan oleh Al-Khawarizmi. karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut. [sunting] Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah • • • • • • • • • • 750 .Kampanye melawan Byzantium. penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 . Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana. Banyak daulah kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad. Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun.Pembangunan kota Bagdad. Khalifah menerima usul itu. Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. Mereka semua. Apa yang dikatakan wazirnya temyata tidak benar. 792 . tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.

1099 . 1236 .Tentara Kristen menawan Toledo. Pemerintahan Abbasiyah-Seljuk dimulai sampai sekitar tahun 1258 ketika tentara Mongol menghancurkan Baghdad. 1194 . Spanyol. 1187 .Sulthan Alp Arselan berhasil menguasai Asia Tengah (Anatolia).Salahuddin Al-Ayubbi merebut Baitulmuqaddis dari tentara Salib.Nur al-Din merebut Edessa dari tentara Salib. 1005 . 1091 . • • • • • • • • • • [sunting] Silsilah para khalifah Dibawah ini merupakan silsilah para khalifah dari Bani Abbasiyah.Perang Salib pertama dimulai. Sulthan Alp Arselan beserta pasukannya yang hanya berjumlah 15.Tentara Muslim merebut Delhi.Masjid Besar Cordoba dibangun. 1071 . 1055 . India.Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma'mun. 1085 . pemerintahan Muslim di sana berakhir. ABBAS pendiri Bani Abbasiyah Ibnu Abbas Ali Muhammad . Kejatuhan Baghdad.000 tentara. Spanyol. Tamatnya pemerintahan Kerajaan Bani Abbasiyyah di Baghdad. al-Amin terbunuh dan alMa'mun menjadi khalifah.Tentara Salib merebut Baitulmuqaddis. 1144 . mulai dari Abbas bin Abdul-Muththalib sampai khalifah terakhir dari Bani Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Ribuan penduduk terbunuh.Peristiwa Manzikert. Perang Salib Ketiga dimulai.Tentara Mongol menyerang dan memusnahkan Baghdad. Mereka membunuh semua penduduknya.000 tentara berhasil mengalahkan gabungan tentara salib yang dipimpim oleh Kaisar Romanus IV yang berjumlah 200. Perang Salib Kedua dimulai. 1000 .Tentara Salib merebut Cordoba. dan meneruskan kepungannya terhadap kerajaan Byzantium.• • • • • 814 . 1095 .Multan dan Ghur ditawan. 1258 .Baghdad dikuasai oleh tentara Turki Seljuk. 1072 .Bangsa Norman merebut Sisilia.

AL-HADI (k. ALMUSTAKFI (k. AL-MUQTADIR (k. 754-775 Musa 3. AL-MU'TAMID (k. AR-RADHI (k. 892-902) 17. AL-QA'IM . 847-861) 12. 932-934) 22. ALMUKTAFI (k. AL-MANSUR (k. 991-1031) 24. ATH-THA'I (k. 940-944) 23. AL-QADIR (k. ALMU'TADHID (k. ALMUHTADI (k. 946-974) 25. AL-MU'TAZZ (k. 870-892) 16. AL-WATSIQ (k. 861-862) al-Muwaffaq 15. AL-MAHDI (k. 809-813) 7. 786-809) 4. AL-MA'MUN (k. AS-SAFFAH (k. 862-866) 14. 902-908) 18.Ibrahim 1. AL-MU'TASIM (k. 944-946) 20. 833-842 al-Qasim al-Mu'taman 9. 813-833) 8. 866-869) 11. AL-QAHIR (k. AL-MUTHI' (k. AR-RASYID (k. ALMUNTASHIR (k. 908-935) 19. 775-785) 5. 750-754) 2. AL-AMIN (k. 869-870) 13. AL-MUSTA'IN (k. ALMUTAWAKKIL (k. 974-991) 26. 842-847) 10. 785-786 Ibrahim al-Mubarak 6. ALMUTTAQI (k. 934-940) Ishaq 21.

1031-1075) 27. merupakan tahun kekuasaan Angka. AR-RASYID (k.(k. AN-NASHIR (k. Nama dengan huruf kapital merupakan khalifah yang berkuasa. ALMUSTADHI' (k. 1226-1242) 37. 1135-1136) 32. ALMUSTANSHIR (k. ALMUSTA'SHIM (k. 1160-1170) 33. 1242-1258) [1] Catatan: • k. 1118-1135) 30. ALMUSTANJID (k. 1075-1094) 28. ALMUSTAZHIR (k. • • . AZH-ZHAHIR (k. 1170-1180) 34. merupakan nomor urut seseorang menjadi khalifah. 1225-1226) 1. ALMUSTANSHIR II Berkuasa di Kairo 36. 1136-1160) 30. AL-MUQTADI (k. AL-MUQTAFI (k. ALMUSTARSYID (k. 1180-1225) 35. 1094-1118) 29.

tercapainya kesejahteraan. meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri.[iii] Periode pertama.[sunting] Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo • • • • • • • • • Al-Mustanshir II 1261 Al-Hakim 1262-1302 Al-Mustakfi I 1302-1340 Al-Wathiq I 1340-1341 Al-Hakim II 1341-1352 Al-Mu'tadid I 1352-1362 Al-Mutawakkil I 1362-1383 Al-Wathiq II 1383-1386 Al-Mu'tasim 1386-1389 • • • • • • • • • Al-Mutawakkil I (kembali berkuasa) 1389-1406 Al-Musta'in 1406-1414 Al-Mu'tadid II 1414-1441 Al-Mustakfi II 1441-1451 Al-Qa'im 1451-1455 Al-Mustanjid 1455-1479 Al-Mutawakkil II 1479-1497 Al-Mustamsik 1497-1508 Al-Mutawakkil III 1508-1517 Peradaban Emas Dinasti Abbasiyah: Kajian Ringkas Minggu. pembangunan (`umrān). Pertama. Era kepemimpinan khalifah kedua. secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah. meninggalkan Al-Anbār[vi] dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru. dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama. berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H. budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu. Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai. 15 November 2009 23:10 Artikel Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab[i] PENDAHULUAN Meski terdapat sejumlah perbedaan.[iv] Yaitu. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm). sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya. Makalah ini. dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas. dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas. yang beberapa saat kemudian menjadi lokus aktivitas ekonomi.kurang tepat. para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[ii] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama. LATAR BELAKANG KEMAJUAN PERADABAN Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M. Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan. . hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah.[v] Kedua. Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M). menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah.

[xii] Kesimpulan tersebut jika ditilik dari perspektif kajian sejarah peradaban berkesesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa semangat yang dibawa oleh konsep keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan élan vital dan menjadi unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban.[xi] Namun betapapun pentingnya peranan Al-Mansūr.Langkah-langkah penting yang diambil Al-Mansūr tersebut dan efek besar yang ditimbulkannya terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li aldawlah al-`Abbasiyah). melainkan pada titik yang paling penting merupakan buah dari pengaruh konsep-konsep dalam ajaran Islam itu sendiri. yang menerjemahkan buku Kalīlah wa Dimnah. Yunani maupun Mesir Kuno ke dalam bahasa Arab. Ahmad Shalabi terwujud dalam tiga sektor yaitu menggeliatnya gerakan penulisan buku (harakat al-tasnīf).[vii] Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan. kodifikasi dan sistematisasi ilmu-ilmu keislaman.[viii] Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam. faktor lain yang secara lebih lanjut turut mempengaruhi kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah adalah interaksi masif kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir). Di era Al-Mansūr ini muncul tokoh penerjemah di bidang sastra seperti `Abdullāh Ibn Al-Muqaffa` (757 M). [xv] Selain tiga hal di atas dapat ditambahkan pula perkembangan ilmu sains yang melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan legendaris yang diakui tidak saja di dunia Muslim tetapi juga oleh kalangan akademisi Barat. serta pada saat keamanan politik dalam negeri relatif stabil. sehingga tidak mengherankan jika Al-Qanūji secara tegas menyebut Al-Mansur sebagai khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam. tidak lama setelah berdirinya.[ix] Demikian dengan gerakan pembukuan (tasnīf) dan kodifikasi (tadwīn) ilmu tafsir. Para khalifah seperti Al-Mansūr misalnya. sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup signifikan di era Al-Mansūr pula. kemajuan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah pada hakekatnya tidak datang dari ruang hampa. didukung oleh para khalifah yang rata-rata memiliki kecenderungan keilmuan dan ketertarikan terhadap pengetahuan dari Yunani maupun Persia. usai penaklukan besar-besaran yang merambah wilayah-wilayah di tiga benua. ke dalam bahasa Arab. gerakan penerjemahan di Era Abbasiyah. para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi. Dinasti Abbasiyah dengan cepat telah mampu menciptakan sebuah kemajuan ilmu dan peradaban yang menurut Dr. Not a Monolith. Sebagaimana diceritakan oleh para sejarahwan.[xx] serta Hunayn Ibn Ishāq yang menerjemahkan buku-buku medis karya Hippocrates[xxi] dan Galen. Sang Khalifah-pun mendirikan Bayt al-Hikmah. setelah sebelumnya terabaikan oleh para khalifah Bani Umayyah. sebelum masa itu. pada masa `Abdul Mālik ibn Marwān dan AlWalīd ibn `Abdul Malik itu juga telah dilakukan penerjemahan dīwān[xviii] dari bahasa aslinya.[xiii] Di samping itu. Khālid ibn Yazīd ibn Mu’awiyah pernah memerintahkan dihadirkannya sejumlah filosof Yunani yang bermukim di Mesir dan menguasai bahasa Arab untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Mesir Kuno (Qibti).[xvii] Selain itu.[xxiii] laiknya sebuah akademi ilmiah yang menjadi pusat aktivitas keilmuan mulai dari penelitian penerjemahan sekaligus perpustakaan. filsafat dan sastra dari bahasa asing ke dalam Bahasa Arab.[xvi] Saat itu.[x] Konon.[xix] Berbeda dengan upaya penerjemahan di masa Dinasti Umayyah yang berskala kecil atau bahkan bersifat individual. Hal ini diakui pula oleh beberapa penulis Barat semisal Vartan Gregorian dalam bukunya Islam: A Mosaic.[xxii] Pada era Hārūn al-Rashīd (170-194 H) para cendekiawan dan ilmuwan semakin banyak yang berdiam di Baghdad. selalu mendorong para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dengan tanpa membedakan agama maupun bangsa mereka. khususnya yang terkait dengan ilmu medis dan kimia. fiqh. hadits. seorang Majusi yang kemudian memeluk Islam. sebuah upaya penerjemahan telah dilakukan meski dalam skala kecil. untuk menerjemahkan buku-buku sains. baik bahasa Pahlavi-Persia. serta menjamurnya gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah) secara masif. Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan. bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah. serta wilayah Asia Barat. Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mūn dan mencapai puncaknya pada masa itu dibawah tanggungjawab .[xiv] Singkat kata. GERAKAN PENERJEMAHAN DI ERA ABBASIYAH Berbicara mengenai gerakan penerjemahan yang terjadi di Era Abbasiyah sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari upaya-upaya penerjemahan yang pernah dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. Suriah. khususnya Persia.

astronomi. Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi. Hunayn ibn Ishāq. Galen. yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga. Plotinus.[xxvii] Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa mayoritas para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh. Ibn Mājah (w. Hadits dan Fiqh.Hunayn Ibn Ishāq. Iqlīdis ibn Nā`imah. kedokteran. Menurut catatan Ibn al-Nadīm yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut adalah Yahya bin Ziyād al-Daylamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farrā. Euclid. tetapi mulai tenggelam dan mengalami kemunduran pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil (847-861M). Hitti menyatakan bahwa Bayt al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. Musaddad ibn Musarhad al-Basri. Di bidang ilmu-ilmu agama. Tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang dialami oleh ilmu Tafsir dan ilmu Fiqh. 175H) serta Abū Hanīfah. Plato. ilmu Hadits juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadits-hadits Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah disebutkan diatas seperti Ibn Jurayj.211 H) yang hidup sezaman dengan Al-Farā juga telah menyusun sebuah kitab tafsir lengkap yang serupa. 171) yang menulis Al-Muwatta' nya di Madinah.150 H). Mālik ibn Anas (w. juga al-Rabī` ibn Sabīh (w.261).204) dan Ahmad ibn Hanbal (w. Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga. melainkan juga oleh para pribadi dari kalangan elit semisal Banū Shākir yang juga mengelola penerjemah-penerjemah handal yang bekerja siang malam untuk mereka. Aristoteles. [xxxiii] Ilmu Fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting. 151H) yang menulis buku sejarah (Al-Maghāzi). Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah adalah Ibn Jurayj (w. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sisitematis baik di bidang ilmu Tafsir. Ishāq ibn Hunayn. Hubaysh ibn al-A`sam.[xxx] KEMAJUAN ILMU-ILMU AGAMA Selain gerakan penerjemahan. Tsābit ibn Qarrah al-Sābi’i.275). dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazdhab fiqh hidup pada era tersebut. 241H). seperti buku-buku Pythagoras.[xxv] Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung. Khususnya sejak tahun 143 H. kemajuan ilmu dan peradaban Era Abbasiyah juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. Hadits maupun Fiqh. serta Al-Nasā’i (w. `Ubaydullah ibn Mūsa al`Absy al-Kūfi. zoologi. Diantara tokoh yang menulis musnad antara lain Ahmad ibn Hanbal. Āwī ibn Ayyub. Ibn Abi `Urūbah dan Hammād ibn Salāmah di Basrah. Muhamad Ibn Ishāq (w. Sufyān al-Tsauri di Kufah.[xxxv] . Aryabhata maupun Brahmagupta. muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad. Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahāt al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia. yaitu Abu Hanīfah (w. 181 H). geografi dan lain-lain dilakukan. 279).303). AlShāfi`i (w. Buku tafsir lengkap dari al-Fātihah sampai al-Nās juga mulai disusun. Bersamaan dengan itu Baghdad juga menjadi kota besar paling kaya dan mempunyai populasi tertinggi mencapai satu juta jiwa.179H). Abu Dāwud (w. Ma`mar di Yaman. [xxxiv] Perkembangan penulisan hadits berikutnya. Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak lagi. Asad ibn Mūsā al-Amawi dan Nu`aym ibn Hammād al-Khuzā`i. 150 H) yang menulis kumpulan haditsnya di Mekah.[xxix] Keluarga elit lain diceritakan bahkan sangat getol mengeluarkan harta berlimpah untuk membayar para penerjemah mereka. Al-Layts ibn Sa’ad (w. kimia.[xxvi] Popularitas Bayt al-Hikmah ini terus berlangsung sampai kepemimpinan Al-Mu`tasim (berkuasa 833842M) dan Al-Wātsiq (berkuasa 842-847M). Salībā Ayyūb alRahāwi. Bayt al-Hikmah-pun menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains. masih pada era Abbasiyah. Al-Awza`i di wilayah Syam.273). Al-Tirmidzi (w.[xxxi] Pada masa ini ilmu Tafsir menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadits.[xxxii] Tapi luput dari catatan Ibn al-Nadīm bahwa `Abd al-Razzāq ibn Hammam al-San`āni (w. ilmu sosial dan sains. meliputi metematika. yaitu munculnya kecenderungan penulisan hadits yang didahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan haditshadits sahīh dari yang dla`īf sebagaimana dilakukan oleh Al-Bukhari (w.256). Muslim (w.[xxviii] Catatan menarik lainnya. Al-Ma'mun juga menambahkan bangunan khusus sebagai sebuah observatorium untuk penelitian astronomi ke Bayt al-Hikmah. Era Abbasiyah mencatat dimulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir. Mālik ibn Anas (w. Qustā ibn Lūqā. Astufun ibn Bāsīl. India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.160) dan Ibn Al-Mubārak (w. Hippocrates. bahwa gerakan penerjemahan ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan para khalifah sahaja. Charaka. muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadits.[xxiv] Maka tidak heran jika Philip K. Mālik ibn Anas. Sushruta. Yahya ibn al-Bitrīq. seperti dilakukan oleh Banū Al-Munajjim yang berani membayar 500 dinar kepada para penerjemah tiap bulannya sebagai upah penerjemahan penuh waktu (li al-naql wa al-mulāzamah).

Disiplin keilmuan lain yang juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada era Abbasiyah adalah ilmu sejarah. 207) yang menulis buku berjudul Al-Tārīkh al-Kabīr dan Al-Maghāzi.[liv] . 929). Bahkan jika dicermati. 218).[xxxix] Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslim era Abbasiyah dan didukung langsung oleh Khalifah Al-Mansūr yang juga sering disebut sebagai seorang astronom.[xlvii] Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak belajar. Abu Rayhān al-Biruni (w. Ibn al-Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic. [xlii] Sedangkan Ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al-Haytsam[xliii] atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen. sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah. 152) dan kemudian diringkas oleh Ibn Hisyām (w. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemuddian menyebar hingga Fez dan ahirnya masuk ke Eropa melalui Andalusia pada abad 13M. Beliau pula yang memegembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (ujicoba). termasuk perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah.230 H) dengan Al-Tabaqāt al-Kubrā-nya serta Ahmad Ibn Yahya al-Balādhuri (w.[xxxvi] KEMAJUAN SAINS DAN TEKNOLOGI Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja. Sejarahwan lain yang datang berikutnya adalah seperti Muhamad ibn Sa’ad (w. geografi. [xl] Penelitian di bidang astronomi oleh kaum muslimin dimulai pada era Al-Mansūr ketika Muhamad ibn Ibrāhīm al-Fazāri menerjemahkan buku "Siddhanta" (yang berarti Pengetahuan melalui Matahari) dari bahasa Sanskerta ke bahasa Arab. salah satu cabang matematika bahkan juga diambil dari namanya. Ibn Jābir Al-Battāni (w. setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari Cina yang berhasil ditangkap setelah meletusnya Perang Talas.[xxxvii] Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahun masa kini. ada Muhamad ibn Mūsa al-Khawārizmi[xxxviii] sang pencetus ilmu algebra. Selanjutnya muncul pula Muhamad ibn `Umar al-Wāqidi (w. arsitektur dan lainnya yang tidak dapat dijeleaskan seluruhnya dalam makalah ini. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat Muslim Era Abbasiyah.[liii] Setelah itu kaum Muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. bahwa pada zaman Khalifah Al-Muqtadir Billah (907-932M/295-390H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi debagai dokter.279) yang menulis Futūh al-Buldān. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al-Rāzi[xlvi] yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alkohol. serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics. Salah satu diantaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain AlKhawārizmi. meski isinya masih direkam oleh sejarahwan Al-Tabari (838-923M).1274). Algoritma.[xlviii] Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindi[xlix] yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi.[xliv] Di bidang ilmu kimia era Abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jābir ibn Hayyān[xlv] (atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern. Buku yang pertama dinyatakan hilang. kemajuan sains di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era Abbasiyah.[lii] Di samping kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas umat Islam Era Abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi.[xli] Pada era Hārūn al-Rashīd dan Al-Ma’mūn sejumlah teori-teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. Dalam bidang matematika misalnya. Disebutkan pula. melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi (`ulūm aqliyah). Ibn Sina[li] dan lain-lain. Al-Khawarizmi.1048) serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi (w. Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat buku. Hal ini bisa jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzāt al-atsar al-māddi fī hayātihim) dibanding buku-buku olah pikir (filsafat). Era Keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia.[l] Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox). yang awal penulisannya dilakukan oleh Ibn Ishāq (w.

baik untuk bangunan istana.Saffah dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani. Diantara kemjuan dalam bidang sosila budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad. terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. khususnya terkait kemajuan ilmu dan peradaban serta masa-masa kemunduran dan kehancurannya di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain bahwa sejarah peradaban Islam. Gerakan ini menemukan momentumnya ketika para tokoh dai Bani Hasyim melancarkan serangannya. Para tokoh tersebut antara lain Muhammad bin Ali. melalui Dinasti Abbasiyah. didirikan oleh Abul Abbas al. yang dalam konteks ini adalah nilai-nilai dan konsep-konsep yang bermuara kepada sumber agama Islam itu sendiri yaitu wahyu. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. salah seorang keluarga Abbas yang menjadikan kota Khufa sebagai pusat kegiatan perlawanana. seorang jendral muslim yang berasal dari Khurasan. dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. Marwan bin Muhammad dapat dikalahkan dan akhrinya tewas mengenasakan di Fustat. . Mesir pada 132 H / 705 M.PENUTUP Setelah pemaparan singkat mengenai sejarah Dinasti Abbasiyah. Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini. secara resmi Dinasti Abbasiyah mulai berdiri. juga dukungan kuat dari kelompok Syi’ah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh dinasti Banui Umayyah. bangunan kota dan lain . Akhirnya pada tahun 132 M H/ 750 M. Selain itu. Unsur paling penting dari kemajuan peradaban yang dibangun oleh umat Muslim Era Abbasiyah tersebut adalah al-fikrah al-dīniyah. KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH DALAM BIDANG SOSIAL BUDAYA Sebagai sebuah dinasti. telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. seperti bidang-bidang sosial dan budaya. Tapi dimasa-masa akhir pemerintahan dinasti Bani Umayyah gerakan tersebut semakin menguat seiring banyaknya protes dari masyarakat yang merasa tidak puas atas kinerja dan berbagai kebijakan pemerinatah dinasti Bani Umayyah. Gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah dilakukan sejak masa-masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Presia. sehingga gerakan-garakan kelompok penentang tidak dapat melancarkan serangannya secara kuat. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa. telah berhasil menciptakan sebuah peradaban agung yang mampu menampilkan kemajuan-kemajuan baik di bidang ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu sains yang kemudian disumbangkan bagi peradaban manusia dan diwarisi oleh pemegang tampuk peradaban modern yaitu Barat. [insya Allah to be completed] Senin. serta berbagai bidang lainnya. Gerakan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. Unsur ini ditopang oleh unsur-unsur penunjang lainnya yaitu sumberdaya manusia yang direpresentasikan utamanya oleh para khalifah serta tokoh-tokoh ilmuan saat itu. masjid. serta ruang dan waktu yang mewujud dalam rentang sejarah yang berlaku. hanya saja gerakan tersebut selalu digagalkan oleh kekuatan militer Bani Umayyah. Diantara kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Khalifah Dinasi Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur. 21 April 2008 Dinasti abbasiyah FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA DINASTI ABBASIYAH Dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama lebih kurang enam abad ( 132 – 656 H/ 750-1258 M ). Sejak itu.

sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. seperti pada istana Qashrul dzahabi. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini. Khalil bin Ahmad. lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan.sebagainya. filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. pencipta teori musik Islam. Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. seperti Abu Nawas. ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain. Pemerinath Dinasti Bani Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaanya. usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini. yang disebut diwanul jundi. Al Mutanabby. Seni asitektur yang dipakai dalam pembanguanan istana dan kota-kota. ilmu bumi. KEMAJUAN DALAM ILMU AGAMA ISLAM Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). 152 H / 768 M ). baik . Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah. terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. Abu Nasr al-faraby. astronomi dan sebagainya. banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun. pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik.Pembentuka lembaga ini didasari atas kenyataan polotik militer bahwa pada masa pemertintahan Dinasti Abbasiyah. terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. Meskipun begitu. telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. Sementara pemerinath Dinasti Bani Abbasiyah. seperti kitab Kalilah wa Dimna. Al farabi dan lain-lainnya. yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Pada mas inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal. Untuk itu. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ). Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini. Abu Athahiyah. KEMAJUAN DALAM BIDANG POLITIK DAN MILITER Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok anatara pemerinatah Dinasti Bani Umayyah dengan Dinasti Bani Abbasiyah. sementara banguan kota seperti pembangunan kota Baghdad. tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Selain bidang –bidang tersebut diatas. dan Qashrul Khuldi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah. Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman. Samarra dan lain-lainnya. banayak terjadi pemebrontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasyi Abbasiyah KEMAJUAN DALAM BIDANG ILMU PENGETAHUAN Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh. tidak lepas dariperan serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat. Dengan demikian. seperti Filsafat. mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi. maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan.

yang kemudian masingmasing mendirikan kekuasaan-kekuasaan lokal. Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Idris bin Abdullah ( 172-311 H/ 788-932 M ).Mutawakkil. tidak lagi memiliki kekuatan yang besar. ketimbang kepentingan masyarakat umum. seperti bangsa Turki yang kemudian menguasai sistem pemerintahan Dinastu Abbasiyah.dukungan moral. kepada para ulama. Dinasti Thahriyah. Perseteruan ini terjadi ketika bangsa Turki semakin memiliki posisi strategis dipemerintahan dan menggeser posisi bangsa Arab dan Persia. sebab para khalifah sesudahnya lebih merupakan boneka para amir dan para wajir dinasti Buwaihiyah dan Salajikah. Kenyataan ini dipengaruhui denga situasi politik umat Islam ketika itu. didirikan oleh Thahir bin Husein ( 205-259 H/ 821-873 M ). sehingga bangsa Arab dan Persia merasa cemburu. Para khalifah Abbasiyah pada periode terakhir lebih mementingkan kepentingan peribadi. material dan finansia. Pada masa pemerintahan khalifah al. Konflik antra etnis dan suku bangsa sering terjadi. pengaruh bangsa Turki semakin kuat. Kemunculan kerajaan-kerajaan ini. Ketergantungan ini merupakan salah satu faktor penyebab melemahnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Dinasti Samaniyah. Mereka saling melalaikan tugas-tugas sebagai pemimpin dan kepala negara. Dinasti Ikhsyidiyah. Dinasti Aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab ( 184-296 H/ 800-909 M ). Dianatar kerajaan-kerajaan kecil yang dapat melepaskan diri adalah Dinasti Buwaihiyah ( 945-1055 M ). akhirnya Dinasti Abbasiyah mengalami masa-masa suram. ilmu fiqih dan tasawuf KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH Setelah berkuasa lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). hingga akhirnya dihancurkan oleh Salahuddin al. Pada akhirnya mereka kehilangan semangat juan untuk menegakan kekuasaan. didirikan oleh Muhammad bin Tughj ( 323-358 H/ 935-969 M ). Dinasti ini berkuasa cukup lama. bahkan banyak di antara mereka yang lebih memilih hidup bermewah-mewahan. Dinasti Thuluniyah. Dianatara kekuatan lokal yang sangat berpengaruh dalam proses melemahnay kekuasaan Dinasti Abbasiyah adalah dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan sehingga tidak dapat melakukan kontrol pemerintah denga baik ke seluruh wilayahnya.Mu’tashim dan Al-Mutawakkil. Persoalan lain yang juga memperlemah kekuasaan Bani Abbasiyah adalh konflik internal dikalangan Bani Abbas. Sebab paling tidak pemasukan dan pengaruh para khalifah Bani Abbas berkurang. Dianata ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist. ilmu tafsir. didirikan oleh Hamdan bin Hamdan ( 293-394 H/ 905-1004 M ). sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. sehingga mereka menciptakan ketergantunan khalifah kepada tentara bayaran. Perhatian yang serius dari pemeruntah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat. didirikan oleh Saman Khuda ( 261-9-389 H/ 874-999 M ). Bahkan bangsa Turki mendirikan mendirikan kekuasaan di wilayah pemerintahan Bani Abbasiyah dan menguasi Baghdad. Al. Dinasyi Bani Fathimiyah yang didirikan di Tunisia pada tahun 297-323 H / 909-934 M oleh Al Mahdi. terutama perseteruan antara bangsa Arab dan bangsa Persia dengan bangsa Turki. yang merupakan dua suku bangsa yang memiliki peran penting didalam proses berdirinya pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Masa suram ini terjadi ketika para pengusaha setelah AlMakmun. Dinasti Hamdaniyah. para tentara bayaran mendominasi kekuatan. . baik secara militer atau ekonomi. akan membawa kelemahan. Lama kelamaan. Sikap anti Turki ini pada akhirnya menimbulkan gerakan pemberontakan di setiap daerah. Konflik ini dimanfaatkan oleh para pendatang baru. kemunduran dan kemudian kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah.Ayyubi. sehingga peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pemerintah pusat untuk melepaskan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil. didirikan oleh Ahmad bin Thulun ( 254-292 H/868-905 M ). Ketika para kalifah semakin lemah. Dinasti Salajiqah ( 1037-1157 M ). sedikit banyak memperlemah kekuasaan dan wibawa kerajaan Bani Abbas.

kemajuan dan kemunduran pada masa ini. dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah. kekuatan baru datang dan berusaha menghancurkan Dinasti Abbasiyah. politik. kedua istilah itu dibedakan. “Islam is andeed much more than a system of theology. Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya. Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang. kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah diluluh lantakan pada tahun 1258 m. bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta. bahwa. masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. saya akan membahas peradaban islam pada masa Dinasti Abbasiyah dengan topik bahasan diantaranya.R.dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu). diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. dan social. Dibawah pimpinan hulaghu Khan.Natsir. yaitu sekitar lima abad. norma-norma. latarbelakang berdirinya kekhalifahan Abbasiyah. (1) wujud ideal. istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. yaitu al-Hadharah alIslamiyyah. rasa dan karsa manusia. kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama. Sedangkan. gagasan. manifestasimanifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. dan (3) wujud benda. nilai-nilai. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. ekonomi dan teknologi. Dari segi durasi. Di Indonesia. tidak terkenal. sebagaimana juga di Arab dan Barat. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab. Serangan bangsa Mongol ini manandai akhir dari masa kekuasaan dinasti Abbasiyah. ia adalah suatu peradaban yang sempurna). bodoh. Latar Belakang Berdirinya Abbasiyah (750-847 M – 132-232 H) Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Menurut Koentjoroningrat. religi (agama) dan moral. kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud. yaitu kekuatan bangsa Mongol. it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama.Pada saat semua mengalami kelemahan. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. para sahabat (Khulafaur Rasyidin). agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Dalam diskusi kali ini. maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan. . sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. sedangkan disisi yang lain. peraturan dan sebagainya. tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi). yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. Dalam sejarah islam tercatat. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain. Peradaban dalam Islam. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M. Di satu sisi. Islam memang berbeda dari agama-agama lain. menjadi bangsa yang maju.A. Jadi. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide. maka peradaban terefleksi dalam politik. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni. sastra. dalam islam. sebagaimana pernah diungkapkan oleh H. Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi. baik dari aspek ekonomi. (2) wujud kelakuan. Padahal.

ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan. disebut masa pengaruh Turki pertama. melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak. 3. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. Pada masing-masing bidang memiliki kelebihan dan kekurangan. dari tahun 132 H (750 M) s. revolusi alkhawarij di Afrika utara. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode : 1. masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain. Bidang Sosial Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas. Selama dinasti ini berkuasa. Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting.Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). masing-masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M). Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium. Kemajuan Dinasti Bani Abbas Setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang dikenal dengan fase pendirian. emas. kesehatan. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat. Gerakangerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. gerakan zindik di Persia. semuanya dapat dipadamkan. 5. Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah. Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah. diantaranya bidang politik. Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa kekayaan. Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah. tembaga dan besi. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M). Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. 2. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. dan farmasi didirikan. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M). fase pembangunan dan kemajuan. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. Bidang Politik Walaupun demikian. kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon. dokter. Pada tahun 762 M. bidang sosial. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Pada masa pemerintahan. Rumah sakit. social dan budaya. melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. 1. fase kemunduran dan kehancuran. tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw.d 656 H (1258 M). bidang ekonomi. 3. biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. ilmu pengetahuan dan . pendidikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. Oleh karena itu. lembaga pendidikan. Bidang Ekonomi Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector pertanian. 4. 2. Akan tetapi durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bergantung pada kemampuan penyelenggara pemerintahan yang bersangkutan. bekas ibukota Persia. disebut periode pengaruh Persia pertama. masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. kesejahteraan social.

pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran. al-Wasiq (842-847 M). Ada diantaranya dinasti yang cukup besar. Persaingan Antarbangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur. tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat. meliputi wilayah yang amat luas. benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba. Dari gambaran diatas terlihat bahwa. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya. demikian pula para rajanya. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani .kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. meskipun ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya. bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw. pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Pada periode ini. walaupun banyak sekali Dinasti islam berdiri. tetapi jika khalifah lemah. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. yaitu al-Mahdi (775-785 M). Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni. Harun al-Rasyid (786-809 M). Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang Baghdad. hanya khalifah pada saat periode ini sangat kuat. Itulah sebabnya belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka. al-Hadi (775-786 M). banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur. Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. Dan ketika singgasana itu terjatuh. para mentri cenderung berperan sebagai pegawai sipil. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah islam. yang disebut masa pertengahan. Disamping kelemahan khalifah. Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali. tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi mereka. al-Mu’tashim (833-842 M). sudah merdeka dan berkuasa kembali. Para khalifah Abbasiyah. al-Ma’mun (813-833 M). mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri Spanyol. Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. dan bahwasanya mereka akan mengamalkan alQur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah. maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya. benih-benih ini tidak sempat berkembang. masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya. kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. Kehancuran Dinasti Bani Abbas Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah. dan al-Mutawakkil (847-861 M). obat dan falsafah.

Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas. seorang khlaifah yang lemah. Kecuali Islam. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj. Persia. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri. orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Akan tetapi. Pertama. disamping Fanatisme kearaban. jenis pengeluaran makin beragam. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. semacam pajak hasil bumi. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. dominasi tentara turki tak terbendung lagi. Kemerosotan Ekonomi Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah. mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Dengan demikian. Kedua. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. 2. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. pendapatan Negara menurun. pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja. Zoroasterisme dan Mazdakisme. Menurut Stryzewska. sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. dan para pejabat melakukan korupsi. stabilitas politik dapat terjaga. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Mesir. sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah. naik tahta. Keduanya sama-saama tertindas. Irak. Sementara itu. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah.12 Akibatnya.Umayyah berkuasa. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. Setelah AlMutawakkil. 3. sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Turki dan India. Meskipun demikian. orang-orang Persia tidak merasa puas. seperti Maroko. Mu`tazilah yang . khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional. sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat. Syria. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. tetapi juga antaraliran dalam Islam. sehingga Bait alMal penuh dengan harta. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Selain itu. Pada periode pertama. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir.11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab.

tidak membawa hasil dan gagal. seperti juga Agama Isa as. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. dan mengklaim khilafah pada tahun 813. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. Pertama. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. Sebagaimana telah disebutkan. al-Amin . Tentara Mongol. Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Namun. al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. yang bernama Thahir. sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya. Akibatnya pecahlah perang sipil. Kedua. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Disamping itu. alMakmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu. serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Kebijakan ini. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orangorang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya.cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan. yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya.13 Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad. perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Setelah kematian Harun. sebagaimana yang telah kita lihat. terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah. panglima tentara Mongol. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. ada pula factorfaktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun. sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan.. dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. Almakmun berhasil mengalahkan saudara tuanya. 4. untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak. selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara . Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya. setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam. al-Amin. Ancaman dari luar Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. ikut memperbaiki yerussalem.

Untuk mengetahui perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah BAB II PEMBAHASAN A. Tujuan Penelitian a. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah? b. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu beserta ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah. 05 April 2010 Sejarah Dinasti Abbasiyah BAB I PENDAHULUAN A. Rumusan Masalah a.konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besar. Latar Belakang Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. B. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah b. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Berdirinya bani abbasiyah dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncullah kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani .14 Senin. Bagaimana perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah? C.

akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. B. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Bani Abbasiyah pemimpinnya Ibrahim al-AIman c. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H.. Perkembangan Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Bani alawiyah pemimpinnya Abu Salamah b. mereka memusatkan kegiatannya di khurasan. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain: a. majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. Filsafat . Keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik.umayyah. Gerakan ini menghimpun a. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. social dan budaya. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan bani umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib.

Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama. Ilmu ini berkembang karena . b. Persia.Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. e. al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Ilmu Kedokteran Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia. Kedua. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’. Ghazali. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Ilmu Kimia Ilmu kimia juga termasuk kaum salah satu ilmu pengetahuan bidang ini yang dikembangkan oleh muslimin. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. Ibnu Bajjah. dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Ibnu Sina. Ilmu Hisab Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Ibnu Thufail. Baqilani. d. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi. Ilmu Kalam Menurut A. Romawi. karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Dalam mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. c. Sajastani dan lain-lain. Asy’ary. Abu Nasr alFaraby.

f. at-tirmidzi dan al-nasa’i. Abdurrahman alSufi. hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Astronomi Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Pertama. yang terkenal pada abad ke-9 M. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad. Ilmu Tafsir Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab. Kedua. metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran alQur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat. h. metode tafsir ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara . ibnu majjah. Ilmu Hadis Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari. Ilmu Bumi Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi. Muhammad bin Ishaq g.kebutuhand asar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani. abu daud. Selain lain: a. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim. al-biruni. Sejarah Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu. supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. b.

Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa dinasti abbasiyah yaitu filsafat.bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. Kesimpulan Dinasti abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H. BAB III PENUTUP A. imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar. ilmu kimia. imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal. tasawuf. ilmu hisab. ilmu kedokteran. al-sud’a muqatil bin Sulaiman. untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami tunggu dan kami perhatikan. ilmu kalam. Saran Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut andil dalam penulisan makalah ini. d. Bidang-bidang ilmu pengetahuan keagamaan berkembang pada masa ini yaitu: ilmu hadist. imam malik menyusun kitab al-muwatha’. c. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din. Ilmu Tasawuf Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam. Ilmu Fiqih Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya. ilmu bumi dan astronom. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam alThabary. . imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid. Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. ilmu fiqih. B. sejarah. sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. ilmu tafsir.

2. 4. baik dalam bidang ekonomi. kaum dan kawan. seperti Ali bin Abdullah bin Abbas.[4] Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan. ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawancendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah.[3] Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak. Muhammad serta Ibrahim.Sejarah Daulah Abbasiyah Oleh : Mardias Gufron Aug 28. Propaganda . Gerakan ini didahului oleh keturunan Bani Abbas. yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. peradaban dan kekuasaan. Pengantar Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. golongan. 3. Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah : 1.[2] Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas. '06 10:54 PM for everyone A. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. Politik kepegawaian didasarkan pada klan. dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan. suku. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan. [1] Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa.

Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan.[5] Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath. Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun. berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffar. Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah.dikirim ke seluruh pelosok negara. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia [6] B. Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini. dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah. terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas. yaitu di keamiran Cordova. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta. dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan. kemudian cara pertempuran. Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam. maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan. dan mendapat pengikut yang banyak. Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (harem). misalnya. Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbasiyah . yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad.

Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M) 2. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) 9. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M) 26. Khalifah At-Tai (974-991 M) 25. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) 6. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M) . seperti tersebut di bawah ini. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) 4. Khalifah Al-Muktadid (892-902 M) 17. Khalifah Al-Amin (809-813 M) 7. Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M) c. Bani Abbas (750-932 M) 1. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M) 23. Khalifah Ar-Radi (934-940 M) 21. dan Bani Saljuk. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M) b. Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M) 3. Bani Buwaihi (932-1075 M) 19. Bani Buwaihi. Khalifah Al-Hadi (785-786 M) 5. Khalifah Al-Makmun (813-833 M) 8. [7] a. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M) 16. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M) 15. Khalifah Al-Muktazz (866-869 M) 14. Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M) 22. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) 11. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M) 12. Bani Saljuk (1075-1258 M) 27. Khalifah Al-Mustain (862-866 M) 13. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) 10. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) 18.menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintahan. Yaitu Bani Abbas. Khalifah Al-Mufi (946-974 M) 24. Khalifah Al-Kahir (932-934 M) 20.

dengan cara mengeluarkan jenazah mereka dan membakarnya.28. Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M) 31. Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M) 36. Sedangkan makam yang tidak digali. bila perlu membunuhnya. Sementara itu perbaikan juga dilakukan di bidang administrasi pemerintahan yang disusun secara baik dan pengawasan . Setelah Abu Abbas meninggal dia diganti oleh Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abbasiyah yang dikenal paling kejam. adalah makam Muawiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz. serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak dan gerik keturunan Bani Umayah. maka Abu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas. namun pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Abu Abbas. melainkan juga kepada mereka yang sudah meninggal. Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M) 30. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M) 32.[10] Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) 37. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M) C. Koordinator pelenyapan keluarga Bani Umayah itu diserahkan kepada Abdullah pamannya Abu Abbas. dia meletakkan dasar-dasar pemerintahan bani Abbasiyah dan tidaksegan-segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya. sebuah kota indah yang terdapat di tepi aliran sungai Tigris dan Eufrat. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M) 34. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M) 33. Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah a. kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga daulah Bani Umayah.[9] Sehingga akhirnya menimbulkan banyak pemberontakan. Khalifah An-Nasir (1180-1224 M) 35. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh. Periode pertama (750-847 M) Diawali dengan tangan besi Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas As-Safah. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M) 29. Di awal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi kekhalifahan Daulah Abbasiyah.[8] Perlakuan kejam itu tidak hanya kepada orang-orang Umayah yang masih hidup.

Pertama. Tak urung gejala pemberontakan itu memang muncul di mana-mana. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separatis dan pemberontakan. antara lain ke wilayah Armenia. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukan invasi dan perluasan daerah kekuasaan. yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah manjadi sangat kuat. Sejak masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) hingga Khalifah Al-Wasiq (842-847 M).[12] Ada dua kecenderungan yang terjadi. maka puncak keemasan dinasti itu berada pada tujuh Khalifah sesudahnya. Kota Basra menjadi pelabuhan transit yang penting yang serba lengkap. seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh seperti Daulah Umayah di Andalusia (Spanyol) dan Idrisiyah (Bani Idris) di Marokko. perekonomian meningkat. Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakkan dan dibangun oleh Abu Abbas As-Safah dan Abu Jakfar Al-Mansur. seperti Daulah Aglabiah (Bani Taglib) di Tunisia dan Tahiriyah di Khurasan. Petugas pos-pos komunikasi dan suratmenyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur.terhadap berbagai kegiatan pemerintah diperketat. Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam ketimbang perluasan wilayah seperti pada masa Daulah Umayah.[11] Pergeseran Kebijakan Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Kecenderungan orang-orang muslim secara sukarela sebagai anggota milisi mengikuti perjalanan perang sudah tidak lagi terdengar. Akibat kebijakan yang diambil ini. Cara kedua. provinsi-provinsi terpencil di pinggiran mulai terlepas dari genggaman mereka. Ketentaraan kemudian terdiri dari prajuritprajurit Turki yang profesional. Andalusia dan Afrika. . Pertambangan dan sumber-sumber alam bertambah dan demikian pula perdagangan internasional ke timur dan ke barat dipergiat. Namun demikian pemberontakanpemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. Militer Daulah Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat. Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembeda lainnya antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah yang lebih mementingkan perluasan daerah. Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun.[13] Pada zaman Al-Mahdi. Mesisah.[14] Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun Al-Rasyid. Irigasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda dibanding sebelumnya. misalnya beberapa daerah taklukan melepaskan diri.

Sedangkan dari . Pada masa itu perpustakaan-perpustakaan tampaknya lebih menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani. Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku kedokteran. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Abu Nawas. kimia. menulis. terutama filsafat etika dan logika. terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. Orang-orang datang ke perpustakaan itu untuk membaca. Di sinilah letak sumbangan Islam terhadap ilmu dan peradaban dunia. Dari India misalnya. Berpartisipasinya unsur-unsur non Arab. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana. Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid. filsafat. tentara itu menjadi sangat dominan sehingga Khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi boneka mereka. matematika. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban. Salah satu faktor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan ialah terjadinya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah ini. astronomi dan ilmu alam. Di samping itu. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran pemikiran muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika dalam dunia Islam. dan berdiskusi. Zaman Keemasan Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid. yang selalu didampingi oleh penasihatnya. Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian. Di masa-masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan melakukan inovasi dan penemuan sendiri. Sebagai respon dari kenyataan tersebut Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) mencoba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan memindahkan ibukota ke Samarra. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani. yang sebenarnya adalah seorang ahli hikmah atau filsuf etika. tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi dominasi tentara Turki. yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. terutama bangsa Persia. perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan. berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim.Akibatnya. seorang penyair yang kocak. dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun.

sastera Persia terjemahan dilakukan oleh Ibnu Mukaffa. mereka memang mulai melemah. Khalifah memberinya gelar Amirul Umara (Panglima para panglima). Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu Aqli. Akan tetapi. Usaha untuk melepaskan dari dominasi Turki selalu mengalami kegagalan. Kimia. yang meninggal pada tahun 750 M. Bahasa. Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir. Ilmu Alam. Dan juga berkembang ilmuilmu Aqli seperti Astronomi. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalifah sesuai kehendak mereka. Pada masa itu juga hidup budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M). Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuatan dan kekuasaan. keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. Meskipun demikian. . mereka mampu mengendalikan unsur-unsur Turki tersebut. Ushul Fiqh dan lain-lain. Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah AlMutawakkil wafat. Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa sastrawan besar lainnya. Periode kedua (847-945 M)[16] Kebijakan Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Makmun dan sebelumnya. dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik. Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. Matematika. Di masa Al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M). Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq. Kedokteran dan lain sebagainya.[15] Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni saja juga berkembang . Al-Jahiz (meninggal 869 M). Baghdad kembali menjadi Ibukota. Sejarah. b. hanya empat orang yang wafat dengan wajar. Pada tahun 892 M. Gubernur wasit dari Basra. kalau tidak dibunuh. Teologi. Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki. selebihnya. Pemberontakan masih bermunculan pada periode ini. mereka digulingkan dengan paksa. Dari dua belas Khalifah pada periode ini. meskipun resminya mereka adalah penguasa. seperti pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. Geografi. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Fiqih. meminjam istilah Ibnu Rusyd. Hadis. dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Di samping itu.

Perdana Menteri pada masa Alp Arselan dan Maliksyah. Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama dari periode ketiga ini. Seperti halnya pada periode sebelumnya. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara. karena telah dipindah ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Cabangcabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. c. dan Ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz. Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. Bidang ekonomi. Ibnu Misykawaih (930-1030 M) dan kelompok studi Ikhwan As-Safa. dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Madrasah . Daulah Abbasiyah masih terus mengalami kemajuan pada periode ini. Dalam bidang ilmu pengetahuan. mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di Baghdad. Al-Biruni (973-1048 M). profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia. Setelah kekuatan militer merosot. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. Ketiga. dan pemberontakan tentara. pertama. luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyyah yang harus dikendalikan. telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial aliran ahlu sunnah dan syiah. Nizam Al-Mulk. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal. Wasit dan Baghdad. mesjid dan rumah sakit. Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya. Yang kedua. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam. Hasan menguasai wilayah bagian utara. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Farabi (870-950 M). Ibnu Sina (980-1037 M). paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah. pertanian. sementara komunikasi lambat.Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut. d. kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas ’’undangan’’ Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di baghdad. Keadaan Khalifah sudah mulai membaik. lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini.

Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Persia dan Turki. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Di antara faktor-faktor intern adalah. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. Ketiga. yaitu perpustakaan di Baghdad. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. Misalnya yang dilahirkan dalam periode ini adalah Az-Zamakhsari. Sesudah . Madrasah ini telah melahirkan banyak cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. Pada masa pusa kekuasaan melemah. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali.ini menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. Dalam bidang politik. AlGhazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf. pertama. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. terutama untuk negeri Irak. Pada periode ini. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. penulis dalam bidang Tafsir dan Usul ad-dien (Teologi). Kedua. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. terutama Arab. e. masingmasing provinsi memerdekakan diri. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. pertama. Keempat. dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan.

yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. Dalam masa lima abad lamanya. Di atas bumi kota Baghdad. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. mereka lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana.itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. . baik kekayaan. tak ada lagi yang kelihatan. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. kemajuan ataupun kekuasaan. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Istana dan gedung-gedung yang indah.

Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya.perbintangan. terutama untuk negeri Irak. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. masing masing provinsi memerdekakan diri. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. Sesudah itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Dalam bidang politik. Di antara faktor-faktor intern adalah. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. Istana dan gedung-gedung yang indah. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. e. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Keempat. Pada periode ini. terutama Arab. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. pertama. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. Pada masa pusa kekuasaan melemah. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. Kedua. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Ketiga. mereka . adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. pertama. yaitu perpustakaan di Baghdad. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. Persia dan Turki. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah.lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. tak ada lagi yang kelihatan. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. . kemajuan ataupun kekuasaan. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Dalam masa lima abad lamanya. Di atas bumi kota Baghdad. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. baik kekayaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful