Bani Abbasiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

‫العباسدين‬ ّ Kekhalifahan Abbasiyah

750–1258

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibu kota Bahasa Agama Pemerintahan Sejarah - Didirikan - Dibubarkan

Bagdad, Kairo Arab(resmi), Aram, Armenia, Berber, Georgia, Yunani, Yahudi, Persia Tengah, Turkik Islam Monarki 750 M 1258 M

Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: ‫ ,العباسدين‬al-Abbāsidīn) adalah ّ kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al-Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • • •

1 Pendahuluan 2 Menuju puncak keemasan 3 Pengaruh Mamluk 4 Pengaruh Bani Buwaih 5 Pengaruh Bani Seljuk 6 Kemunduran
○ ○

6.1 Masa Disintegrasi (1000-1250 M) 6.2 Persaingan antar Bangsa
    

6.2.1 Yang berbangsa Persia: 6.2.2 Yang berbangsa Turki: 6.2.3 Yang berbangsa Kurdi: 6.2.4 Yang berbangsa Arab: 6.2.5 Yang mengaku dirinya sebagai khilafah:

○ ○ ○ ○ ○ • • • • • •

6.3 Kemerosotan Ekonomi 6.4 Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. 6.5 Ancaman dari Luar 6.6 Perang Salib 6.7 Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad

7 Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah 8 Silsilah para khalifah 9 Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo 10 Referensi 11 Sumber Lain 12 Lihat pula

[sunting] Pendahuluan
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh

Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031.

[sunting] Menuju puncak keemasan
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M). Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan

Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki

pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih

dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani

Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah alKubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh

dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu

disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerahdaerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus dan India. Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:

Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)

Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa' al-Rasyiduun. Disamping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai "gelar tahta", seperti al-Manshur, dan belakangan gelar tahta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu alAbbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

gerakan Syi'ah. Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. sosial. Dengan demikian. Al-Ma'mun. Sebelumnya. dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah. penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir. yang membawahi kepala-kepala departemen. 3. pendidikan. dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. fiqh dan bahasa. yaitu lembaga pendidikan terendah. gerakan Zindiq di Persia. salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama. Al-Mu'tasim. Maktab/Kuttab dan masjid. belum ada tentara khusus yang profesional. keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. kesehatan. pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. revolusi al-Khawarij di Afrika Utara. Ketika itu. kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. misalnya. 2. lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: 1. dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. semuanya dapat dipadamkan. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani. hitungan dan tulisan. pemandian-pemandian umum juga dibangun. Pada masa pemerintahannya. Sebagaimana diuraikan di atas. puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Disamping itu. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Dalam bidang pendidikan. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad. pengganti Harun Ar-Rasyid. dan farmasi. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah. . 1. Disamping itu. pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Ia juga banyak mendirikan sekolah. di awal Islam. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Walaupun demikian. dan mendirikan rumah sakit. dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. lembaga pendidikan dokter. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah. Kesejahteraan. ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). ilmu pengetahuan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Dalam penyelenggaraan negara. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. hadits. tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan. Akan tetapi. seperti tafsir. pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat. khalifah berikutnya (833-842 M).

dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya. maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Pengaruh Persia. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Bidangbidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah. sejak awal sudah dikenal dua metode. menjadi Qadhi alQudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. yaitu: 1. Disamping itu. penafsiran pertama. Pada umumnya. mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. 2. karena di samping terdapat kitab-kitab. terutama melalui gerakan terjemahan. filsafat dan sastra. pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu. ilmu matematika dan astronomi. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab. Abu Yusuf. bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Tingkat pendalaman. pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. tetapi juga ilmu pengetahuan agama. dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. . bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Disamping itu. Karena itu. Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi. kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran. sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Fase pertama. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. sebagaimana sudah disebutkan. menulis dan berdiskusi. Kedua. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya. Dalam bidang tafsir. yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. terutama setelah adanya pembuatan kertas. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah. (tafsir rasional). Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas. kemajuan itu paling tidak. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. juga ditentukan oleh dua hal. terutama filsafat. bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum.2. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. tafsir bi al-ra'yi. tafsir bi al-ma'tsur. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. di sana orang juga dapat membaca. sangat kuat di bidang pemerintahan. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Asy'ariyah. etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Sesudahnya. ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja. seperti Khawarij. aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat. Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. jiwa. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat. Disamping empat pendiri madzhab besar tersebut. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum. terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Ini terjadi. dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. ArRazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Penulisan hadits. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah. pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. dan Ibnu Rusyd. Akan tetapi. logika. pemikiranpemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama. terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Pada masa kekhalifahan ini. Kata aljabar berasal dari judul bukunya. Murji'ah dan Mu'tazilah pun ada. terutama di bidang astronomi. kedokteran. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat. karena pengikutnya tidak berkembang. kimia dan sejarah. sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. antara lain al-Farabi. Al-Farghani. al-Jabr wa al-Muqoibalah. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan alNazzam (185-221 H/801-835M). Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. filsafat. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. karena Al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. Di bidang kimia. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. kenegaraan. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen. yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus. Ibnu Sina. Namun. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami. dunia Islam . menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. yang juga mahir dalam bidang astronomi. setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam.Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i Rahimahullah (767-820 M). Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat.

Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik. yang kemudian dikenal dengan Bani Mamalik berhasil berkuasa. sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara Mamluk ini. Dibentuk oleh Al-Ma'mun. dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. tentaratentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya. namun setelah periode ini berakhir. Banyak golongan pemikir lahir zaman ini. dan filosofi dari Yunani. Persia. peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam . sastra. yang pada mulanya mengambil inisiatif merebut kekuasaan kerajaan Ayyubiyyah yang pada masa itu merupakan kepanjangan tangan dari khilafah Bani Abbas. pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi. sehingga Islam mencapai masa keemasan.mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. [sunting] Pengaruh Mamluk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mamluk Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentaratentara budak yang disebut Mamluk pada abad ke-9. banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. kejayaan dan kegemilangan. Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki. dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas. Di antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu. Wallahul Musta’an. karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Pada masa ini. matematika. Tambahan pula. dimana khalifah Abbasiyyah tetap sebagai kepala negara. dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. hal ini disebabkan karena para penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam memimpin kerajaan. [sunting] Pengaruh Bani Buwaih Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Buwayhiyah Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan. dan Hindustan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan. Bani Mamalik ini mendirikan kesultanan sendiri di Mesir dan memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Cairo setelah berbagai serangan dari tentara tartar dan kehancuran Baghdad sendiri setelah serangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan.

Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. [sunting] Masa Disintegrasi (1000-1250 M) Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu. seperti terlihat pada periode kedua dan seterusnya. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. [sunting] Pengaruh Bani Seljuk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Seljuk Raya Setelah jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Bani Seljuk atau Salajiqah Al-Kubro (Seljuk Agung). Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah. adalah: 1. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan untuk membendung faham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni yang dianut oleh mereka. Akan tetapi. pada masa-masa berikutnya. tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. pada periode ketiga (334-447 H/l055 M). dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. meskipun khalifah tidak berdaya. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Tetapi. Bersamaan dengan itu. terutama di awal berdirinya. [sunting] Kemunduran Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata. khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. 2. mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya. posisi dan kedudukan khalifah Abbasiyah sedikit lebih baik. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. sehingga banyak daerah memerdekakan diri. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. perebutan kekuasaan sering terjadi. ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Akan tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah. daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh kekuasaan Bani Buwaih yang berpaham Syi'ah. apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.sebelumnya. tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat . Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua. Pada saat kekuatan militer menurun. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara. 3. akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas.

Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. Menurut Ibnu Khaldun. pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun. mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut. 2. Pada masa . Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu. Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah. Bahkan dalam kenyataannya. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpinpemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. Mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya. dalam perkembangan selanjutnya teryata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. Nampaknya. Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik. bahkan ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu. para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara: 1. sudah merdeka dan berkuasa kembali. Namun pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. banyak daerah tidak dikuasai khalifah. Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah. Para khalifah Abbasiyah. walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Secara riil. seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru seperti diuraikan di atas. seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. disamping persoalan-persoalan keagamaan. daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Penguasa Bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Alasannya adalah : 1. sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan. dengan pembayaran upeti itu. Ada di antaranya yang cukup besar. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. terutama di bidang politik. Sebagai gantinya. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. kedudukannya semakin bertambah kuat. 2. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan. tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah. Pada periode ini. tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri.nominal. sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu'u arabiyah (kebangsaan/anti Arab). Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pengangkatan anggota militer Turki ini. seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah. Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.

faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. di antaranya adalah: . Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun. Sementara itu. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: [sunting] Persaingan antar Bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia.inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Akibatnya. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Akan tetapi. bangsa Persia. dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. 1. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam). para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Meskipun demikian. Disamping kelemahan khalifah. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Setelah al-Mutawakkil. sebagaimana diuraikan terdahulu. Irak. Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam. mereka dianggap sebagai hamba. pada periode ketiga. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Keduanya sama-sama tertindas. seperti Maroko. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. 2. Syria. Mesir. mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Namun demikian. Kecuali Islam. Persia. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. benih-benih itu tidak sempat berkembang. naik tahta. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat. Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. disamping fanatisme kearaban. orang-orang Persia tidak merasa puas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri. Turki dan India. khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional. Munculnya dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah. hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat. banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. stabilitas politik dapat terjaga. mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Oleh Bani Abbas. wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas. yang disebut masa pertengahan. Selain itu. seorang khalifah yang lemah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Dengan demikian. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. tetapi jika khalifah lemah.

(433-583 H/1040-1187 M). (250-316 H/864-928 M). [sunting] Yang berbangsa Turki: 1. 'Alawiyah di Thabaristan. (205-259 H/820-872 M). 5.1002 M). Dulafiyah di Kurdistan. (320-560 H/932-1163 M). Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. (210-285 H/825-898 M). Disamping latar belakang kebangsaan. didirikan oleh Sulthan Shalahuddin al- ayyubi setelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke III. 2. Seljuk Syria atau Syam di Syria. [sunting] Yang berbangsa Kurdi: 1. (470-700 H/10771299 M). Dan Sulthan Alib Arselan Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. nampak jelas adanya persaingan antarbangsa. didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. [sunting] Yang mengaku dirinya sebagai khilafah: 1. Persia dan Turki. (403-545 H/1011-1150 M). e. (320-447 H/ 932-1055 M). Seljuk Kinnan di Kirman. 2. (511-590 H/1117-1194 M). 7. Ghaznawiyah di Afganistan. (317-394 H/929. 2. Dari latar belakang dinasti-dinasti itu. Thuluniyah di Mesir. d. al-Barzuqani. Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M). (386-489 H/996-1 095 M). 4. 4. (348-406 H/959-1015 M). Ukailiyyah di Maushil. dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi paham keagamaan. (487-511 H/1094-1117 M). (266-318 H/878-930 M). 2. Abu 'Ali. bahkan menguasai Baghdad. [sunting] Yang berbangsa Arab: 1. Idrisiyyah di Maghrib. Fatimiyah di Mesir. (254-292 H/837-903 M). Mirdasiyyah di Aleppo. (564-648 H/1167-1250 M). Ikhsyidiyah di Turkistan. (261-389 H/873-998 M). 4. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). Bani Shafariyah di Fars. 3. Bani Samaniyah di Transoxania. 8. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan. 3. (414-472 H/1023-1079 M). . Bani Sajiyyah di Azerbaijan. 3. (351-585 H/962-1189 M). (380-489 H/990-1095 M). 5. Bani Buwaih. 3. (172-375 H/788-985 M). al-Ayyubiyyah. Umayyah di Spanyol. 2. (254-290 H/868-901 M). terutama antara Arab. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia). ada yang berlatar belakang Syi'ah maupun Sunni. Mazyadiyyah di Hillah. Bani Thahiriyyah di Khurasan. 6. Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil. Seljuk besar. c.[sunting] Yang berbangsa Persia: 1. atau Seljuk Agung. b.

khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M). aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan Sunni kembali naik daun. al-Muntashir (861862 M. kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua.).[sunting] Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. Al-Mutawakkil. sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj. dengan menjadikan Mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Tidak tolerannya pengikut Hanbali terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. . Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M). Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salafy. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja. Zoroasterisme dan Mazdakisme. Pada periode pertama. pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. tetapi juga antar aliran dalam Islam. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni. semacam pajak hasil bumi. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Al-Mansur berusaha keras memberantasnya. Akan tetapi. Sebaliknya. Namun anaknya. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. [sunting] Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. bahkan Al-Mahdi merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. kembali memperkenankan orang Syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma'mun. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. misalnya.

Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. al-Hajr.. telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam . karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. ikut memperbaiki Yerusalem. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. terdiri dari tentara Romawi. Disamping itu. ada pula faktorfaktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pengaruh perang salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol.. yang hanya berkekuatan 15. Namun pada masa Dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir.000. Soal kehendak bebas manusia. serta menghambat pengaruh dan invasi dari tentara Muslim atas wilayah Kristen. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Namun.. Dalam . peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Manzikert. Tentara Mongol. saat Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci. dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 2. setelah menghancur leburkan pusatpusat Islam. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. namun kerugian yang mereka derita banyak sekali. Perancis dan Armenia. untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. [sunting] Perang Salib Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Salib Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095 M. panglima tentara Mongol. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam..000 prajurit. Syed Ameer Ali mengatakan: “ Agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti juga agama Isa ‘alaihis salaam. Ghuz. Sebagaimana sebelumhnya tentara Sulthan Alp Arselan Rahimahullah tahun 464 H (1071 M). Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Pikiranpikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah. 1.Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih.. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia.000 orang. al-Akraj. penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis.Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah . Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam konon sampai sekarang. 2.. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib. menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga ” [sunting] Ancaman dari Luar Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Sebagaimana telah disebutkan.

755 . 756 . [sunting] Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah • • • • • • • • • • 750 . Banyak daulah kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad. la mengatakan kepada khalifah. Dengan demikian.kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu. Hulagu Khan akan menjamin posisimu.Kampanye melawan Byzantium.1258).Pembangunan kota Bagdad. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah. la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan. 809 . penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 . sebagaimana kakekkakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk". Mereka semua. 786 . Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. al-Amin dilantik menjadi khalifah. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim. 805 . wazir khilafah Abbasiyah. Pembunuhan Abu Muslim. Aljabar diciptakan oleh Al-Khawarizmi.Abd ar-Rahman I mendirikan kerajaan Bani Umayyah di Spanyol.Harun ar-Rasyid menjadi Khalifah. betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan. Walaupun sudah dihancurkan. putera khalifah. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang.Pemberontakan Abdullah bin Ali. 800 . sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir. . Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun. sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. 763 . Pada saat yang kritis tersebut. Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. 752 .wafatnya Harun ar-Rasyid. "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. 792 . karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut. Tetapi. Kekalahan tentara Abbasiyyah di Spanyol. Merebut Pulau Rhodes dan Siprus. termasuk wazir sendiri. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara. tetapi malah terpecah belah.Bermulanya Kekhalifahan Bani Abbasiyah. Khalifah Al-Musta'shim. tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200. sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. [sunting] Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Ilkhanat Pada tahun 565 H/1258 M.Serangan ke utara Perancis.Kaidah keilmuan mulai terbentuk. Khalifah menerima usul itu. tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Apa yang dikatakan wazirnya temyata tidak benar. dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran.Abu al-Abbas al-Saffah menjadi Khalifah pertama Bani Abbasiyah. permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan.

Salahuddin Al-Ayubbi merebut Baitulmuqaddis dari tentara Salib. Spanyol.000 tentara. 1236 . 1194 .Tentara Kristen menawan Toledo. 1071 . 1000 . Ribuan penduduk terbunuh.Tentara Mongol menyerang dan memusnahkan Baghdad. Tamatnya pemerintahan Kerajaan Bani Abbasiyyah di Baghdad. 1085 . 1005 .Masjid Besar Cordoba dibangun.Tentara Salib merebut Baitulmuqaddis.Multan dan Ghur ditawan.Tentara Salib merebut Cordoba. 1095 . Mereka membunuh semua penduduknya. ABBAS pendiri Bani Abbasiyah Ibnu Abbas Ali Muhammad .Sulthan Alp Arselan berhasil menguasai Asia Tengah (Anatolia). Sulthan Alp Arselan beserta pasukannya yang hanya berjumlah 15. Spanyol. mulai dari Abbas bin Abdul-Muththalib sampai khalifah terakhir dari Bani Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Perang Salib Kedua dimulai.Peristiwa Manzikert. pemerintahan Muslim di sana berakhir. • • • • • • • • • • [sunting] Silsilah para khalifah Dibawah ini merupakan silsilah para khalifah dari Bani Abbasiyah. Perang Salib Ketiga dimulai. 1099 . 1258 .Perang Salib pertama dimulai. 1091 .Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma'mun.Nur al-Din merebut Edessa dari tentara Salib. al-Amin terbunuh dan alMa'mun menjadi khalifah. Kejatuhan Baghdad. India. dan meneruskan kepungannya terhadap kerajaan Byzantium.Bangsa Norman merebut Sisilia. 1055 . 1144 .• • • • • 814 . Pemerintahan Abbasiyah-Seljuk dimulai sampai sekitar tahun 1258 ketika tentara Mongol menghancurkan Baghdad. 1072 .000 tentara berhasil mengalahkan gabungan tentara salib yang dipimpim oleh Kaisar Romanus IV yang berjumlah 200. 1187 .Tentara Muslim merebut Delhi.Baghdad dikuasai oleh tentara Turki Seljuk.

ATH-THA'I (k. 932-934) 22. AL-HADI (k. 847-861) 12. 861-862) al-Muwaffaq 15. 908-935) 19. ALMUHTADI (k. AL-MA'MUN (k. AL-QAHIR (k. AL-MUSTA'IN (k. 750-754) 2. AL-MANSUR (k. AL-MAHDI (k. 902-908) 18. AL-MU'TAMID (k. 833-842 al-Qasim al-Mu'taman 9. 892-902) 17. ALMUNTASHIR (k. AL-WATSIQ (k. 842-847) 10. AL-MU'TAZZ (k. 813-833) 8. 940-944) 23.Ibrahim 1. 775-785) 5. AL-QA'IM . ALMUSTAKFI (k. AR-RADHI (k. AR-RASYID (k. AL-MUTHI' (k. 754-775 Musa 3. 946-974) 25. AS-SAFFAH (k. 991-1031) 24. AL-MU'TASIM (k. 974-991) 26. 862-866) 14. 934-940) Ishaq 21. ALMUTTAQI (k. ALMU'TADHID (k. 866-869) 11. 870-892) 16. 944-946) 20. AL-QADIR (k. 786-809) 4. AL-AMIN (k. AL-MUQTADIR (k. 869-870) 13. ALMUTAWAKKIL (k. 809-813) 7. ALMUKTAFI (k. 785-786 Ibrahim al-Mubarak 6.

ALMUSTANSHIR (k. 1031-1075) 27. AL-MUQTADI (k. Nama dengan huruf kapital merupakan khalifah yang berkuasa. 1160-1170) 33. AR-RASYID (k. ALMUSTA'SHIM (k. ALMUSTADHI' (k. AL-MUQTAFI (k. 1075-1094) 28. 1094-1118) 29. ALMUSTARSYID (k. 1225-1226) 1. ALMUSTANSHIR II Berkuasa di Kairo 36. merupakan tahun kekuasaan Angka. 1242-1258) [1] Catatan: • k.(k. ALMUSTANJID (k. 1170-1180) 34. 1180-1225) 35. AN-NASHIR (k. 1136-1160) 30. 1118-1135) 30. 1226-1242) 37. merupakan nomor urut seseorang menjadi khalifah. AZH-ZHAHIR (k. ALMUSTAZHIR (k. 1135-1136) 32. • • .

meninggalkan Al-Anbār[vi] dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru. yang beberapa saat kemudian menjadi lokus aktivitas ekonomi. pembangunan (`umrān).kurang tepat. Era kepemimpinan khalifah kedua. dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm).[iv] Yaitu. dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas. meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri. secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah.[v] Kedua. Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai. berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H. Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan.[sunting] Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo • • • • • • • • • Al-Mustanshir II 1261 Al-Hakim 1262-1302 Al-Mustakfi I 1302-1340 Al-Wathiq I 1340-1341 Al-Hakim II 1341-1352 Al-Mu'tadid I 1352-1362 Al-Mutawakkil I 1362-1383 Al-Wathiq II 1383-1386 Al-Mu'tasim 1386-1389 • • • • • • • • • Al-Mutawakkil I (kembali berkuasa) 1389-1406 Al-Musta'in 1406-1414 Al-Mu'tadid II 1414-1441 Al-Mustakfi II 1441-1451 Al-Qa'im 1451-1455 Al-Mustanjid 1455-1479 Al-Mutawakkil II 1479-1497 Al-Mustamsik 1497-1508 Al-Mutawakkil III 1508-1517 Peradaban Emas Dinasti Abbasiyah: Kajian Ringkas Minggu. Makalah ini. Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M). budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu. sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya. menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah. menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. . Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). Pertama.[iii] Periode pertama. para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[ii] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama. ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah. LATAR BELAKANG KEMAJUAN PERADABAN Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M. tercapainya kesejahteraan. 15 November 2009 23:10 Artikel Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab[i] PENDAHULUAN Meski terdapat sejumlah perbedaan. dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas.

Di era Al-Mansūr ini muncul tokoh penerjemah di bidang sastra seperti `Abdullāh Ibn Al-Muqaffa` (757 M). sebelum masa itu. yang menerjemahkan buku Kalīlah wa Dimnah. fiqh. pada masa `Abdul Mālik ibn Marwān dan AlWalīd ibn `Abdul Malik itu juga telah dilakukan penerjemahan dīwān[xviii] dari bahasa aslinya.[viii] Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam. serta pada saat keamanan politik dalam negeri relatif stabil. tidak lama setelah berdirinya. Sebagaimana diceritakan oleh para sejarahwan.[ix] Demikian dengan gerakan pembukuan (tasnīf) dan kodifikasi (tadwīn) ilmu tafsir. Suriah. usai penaklukan besar-besaran yang merambah wilayah-wilayah di tiga benua. hadits.[xix] Berbeda dengan upaya penerjemahan di masa Dinasti Umayyah yang berskala kecil atau bahkan bersifat individual. Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mūn dan mencapai puncaknya pada masa itu dibawah tanggungjawab .[xii] Kesimpulan tersebut jika ditilik dari perspektif kajian sejarah peradaban berkesesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa semangat yang dibawa oleh konsep keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan élan vital dan menjadi unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban. Dinasti Abbasiyah dengan cepat telah mampu menciptakan sebuah kemajuan ilmu dan peradaban yang menurut Dr. setelah sebelumnya terabaikan oleh para khalifah Bani Umayyah. Yunani maupun Mesir Kuno ke dalam bahasa Arab. ke dalam bahasa Arab. Hal ini diakui pula oleh beberapa penulis Barat semisal Vartan Gregorian dalam bukunya Islam: A Mosaic. khususnya Persia. [xv] Selain tiga hal di atas dapat ditambahkan pula perkembangan ilmu sains yang melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan legendaris yang diakui tidak saja di dunia Muslim tetapi juga oleh kalangan akademisi Barat. sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup signifikan di era Al-Mansūr pula.[xi] Namun betapapun pentingnya peranan Al-Mansūr. seorang Majusi yang kemudian memeluk Islam. faktor lain yang secara lebih lanjut turut mempengaruhi kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah adalah interaksi masif kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir). para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi.Langkah-langkah penting yang diambil Al-Mansūr tersebut dan efek besar yang ditimbulkannya terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li aldawlah al-`Abbasiyah). Not a Monolith. didukung oleh para khalifah yang rata-rata memiliki kecenderungan keilmuan dan ketertarikan terhadap pengetahuan dari Yunani maupun Persia.[xxii] Pada era Hārūn al-Rashīd (170-194 H) para cendekiawan dan ilmuwan semakin banyak yang berdiam di Baghdad.[xxiii] laiknya sebuah akademi ilmiah yang menjadi pusat aktivitas keilmuan mulai dari penelitian penerjemahan sekaligus perpustakaan.[xvii] Selain itu. filsafat dan sastra dari bahasa asing ke dalam Bahasa Arab.[xiii] Di samping itu. sebuah upaya penerjemahan telah dilakukan meski dalam skala kecil. Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan. kodifikasi dan sistematisasi ilmu-ilmu keislaman. sehingga tidak mengherankan jika Al-Qanūji secara tegas menyebut Al-Mansur sebagai khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam.[x] Konon. serta wilayah Asia Barat. selalu mendorong para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dengan tanpa membedakan agama maupun bangsa mereka. Para khalifah seperti Al-Mansūr misalnya. khususnya yang terkait dengan ilmu medis dan kimia. baik bahasa Pahlavi-Persia.[xvi] Saat itu. GERAKAN PENERJEMAHAN DI ERA ABBASIYAH Berbicara mengenai gerakan penerjemahan yang terjadi di Era Abbasiyah sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari upaya-upaya penerjemahan yang pernah dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. Ahmad Shalabi terwujud dalam tiga sektor yaitu menggeliatnya gerakan penulisan buku (harakat al-tasnīf). gerakan penerjemahan di Era Abbasiyah. Sang Khalifah-pun mendirikan Bayt al-Hikmah. serta menjamurnya gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah) secara masif.[xiv] Singkat kata. melainkan pada titik yang paling penting merupakan buah dari pengaruh konsep-konsep dalam ajaran Islam itu sendiri.[xx] serta Hunayn Ibn Ishāq yang menerjemahkan buku-buku medis karya Hippocrates[xxi] dan Galen. untuk menerjemahkan buku-buku sains. bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah. kemajuan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah pada hakekatnya tidak datang dari ruang hampa.[vii] Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan. Khālid ibn Yazīd ibn Mu’awiyah pernah memerintahkan dihadirkannya sejumlah filosof Yunani yang bermukim di Mesir dan menguasai bahasa Arab untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Mesir Kuno (Qibti).

Hadits maupun Fiqh. yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga. astronomi. Hadits dan Fiqh. Diantara tokoh yang menulis musnad antara lain Ahmad ibn Hanbal. seperti dilakukan oleh Banū Al-Munajjim yang berani membayar 500 dinar kepada para penerjemah tiap bulannya sebagai upah penerjemahan penuh waktu (li al-naql wa al-mulāzamah).273).204) dan Ahmad ibn Hanbal (w. Abu Dāwud (w. 181 H). yaitu Abu Hanīfah (w.[xxvi] Popularitas Bayt al-Hikmah ini terus berlangsung sampai kepemimpinan Al-Mu`tasim (berkuasa 833842M) dan Al-Wātsiq (berkuasa 842-847M). seperti buku-buku Pythagoras. Bersamaan dengan itu Baghdad juga menjadi kota besar paling kaya dan mempunyai populasi tertinggi mencapai satu juta jiwa. Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahāt al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia.211 H) yang hidup sezaman dengan Al-Farā juga telah menyusun sebuah kitab tafsir lengkap yang serupa. 171) yang menulis Al-Muwatta' nya di Madinah. Sufyān al-Tsauri di Kufah. Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga. Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi. kedokteran. 151H) yang menulis buku sejarah (Al-Maghāzi). muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadits. Astufun ibn Bāsīl. Di bidang ilmu-ilmu agama. Era Abbasiyah mencatat dimulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir.275).303). Ma`mar di Yaman. ilmu Hadits juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadits-hadits Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah disebutkan diatas seperti Ibn Jurayj.[xxvii] Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa mayoritas para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh. Menurut catatan Ibn al-Nadīm yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut adalah Yahya bin Ziyād al-Daylamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farrā.179H). [xxxiv] Perkembangan penulisan hadits berikutnya. Iqlīdis ibn Nā`imah. Al-Tirmidzi (w. Buku tafsir lengkap dari al-Fātihah sampai al-Nās juga mulai disusun. Ishāq ibn Hunayn. Āwī ibn Ayyub. bahwa gerakan penerjemahan ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan para khalifah sahaja. zoologi. Hitti menyatakan bahwa Bayt al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. yaitu munculnya kecenderungan penulisan hadits yang didahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan haditshadits sahīh dari yang dla`īf sebagaimana dilakukan oleh Al-Bukhari (w. Ibn Abi `Urūbah dan Hammād ibn Salāmah di Basrah.Hunayn Ibn Ishāq. Musaddad ibn Musarhad al-Basri. Mālik ibn Anas. Galen.[xxxv] . Qustā ibn Lūqā. Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah adalah Ibn Jurayj (w. Ibn Mājah (w.[xxiv] Maka tidak heran jika Philip K. India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.150 H). Hubaysh ibn al-A`sam. geografi dan lain-lain dilakukan. Tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang dialami oleh ilmu Tafsir dan ilmu Fiqh. Yahya ibn al-Bitrīq. melainkan juga oleh para pribadi dari kalangan elit semisal Banū Shākir yang juga mengelola penerjemah-penerjemah handal yang bekerja siang malam untuk mereka. Tsābit ibn Qarrah al-Sābi’i. dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazdhab fiqh hidup pada era tersebut.[xxviii] Catatan menarik lainnya. 241H). Al-Awza`i di wilayah Syam. muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad. Hunayn ibn Ishāq. [xxxiii] Ilmu Fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting. Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak lagi. Asad ibn Mūsā al-Amawi dan Nu`aym ibn Hammād al-Khuzā`i. Al-Ma'mun juga menambahkan bangunan khusus sebagai sebuah observatorium untuk penelitian astronomi ke Bayt al-Hikmah. kimia. 279). Sushruta.[xxx] KEMAJUAN ILMU-ILMU AGAMA Selain gerakan penerjemahan.[xxxii] Tapi luput dari catatan Ibn al-Nadīm bahwa `Abd al-Razzāq ibn Hammam al-San`āni (w. kemajuan ilmu dan peradaban Era Abbasiyah juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. masih pada era Abbasiyah. Charaka. tetapi mulai tenggelam dan mengalami kemunduran pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil (847-861M). 150 H) yang menulis kumpulan haditsnya di Mekah. Euclid. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sisitematis baik di bidang ilmu Tafsir.[xxxi] Pada masa ini ilmu Tafsir menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadits.[xxv] Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung. Plato. Bayt al-Hikmah-pun menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains. Khususnya sejak tahun 143 H. Aryabhata maupun Brahmagupta. serta Al-Nasā’i (w.160) dan Ibn Al-Mubārak (w. AlShāfi`i (w. Muhamad Ibn Ishāq (w. Muslim (w.256). ilmu sosial dan sains. Salībā Ayyūb alRahāwi. Mālik ibn Anas (w. Plotinus. `Ubaydullah ibn Mūsa al`Absy al-Kūfi. Mālik ibn Anas (w. Aristoteles.[xxix] Keluarga elit lain diceritakan bahkan sangat getol mengeluarkan harta berlimpah untuk membayar para penerjemah mereka. Hippocrates. Al-Layts ibn Sa’ad (w. 175H) serta Abū Hanīfah.261). meliputi metematika. juga al-Rabī` ibn Sabīh (w.

Disebutkan pula.[xlvii] Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak belajar. melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi (`ulūm aqliyah). bahwa pada zaman Khalifah Al-Muqtadir Billah (907-932M/295-390H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi debagai dokter.[xxxvii] Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahun masa kini. geografi. termasuk perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah. Buku yang pertama dinyatakan hilang.[l] Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox). Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat Muslim Era Abbasiyah. meski isinya masih direkam oleh sejarahwan Al-Tabari (838-923M). Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat buku. [xl] Penelitian di bidang astronomi oleh kaum muslimin dimulai pada era Al-Mansūr ketika Muhamad ibn Ibrāhīm al-Fazāri menerjemahkan buku "Siddhanta" (yang berarti Pengetahuan melalui Matahari) dari bahasa Sanskerta ke bahasa Arab.[xli] Pada era Hārūn al-Rashīd dan Al-Ma’mūn sejumlah teori-teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. [xlii] Sedangkan Ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al-Haytsam[xliii] atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen. kemajuan sains di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era Abbasiyah. Ibn Jābir Al-Battāni (w. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics. serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemuddian menyebar hingga Fez dan ahirnya masuk ke Eropa melalui Andalusia pada abad 13M. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. 929). Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al-Rāzi[xlvi] yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alkohol.[xxxvi] KEMAJUAN SAINS DAN TEKNOLOGI Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja. setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari Cina yang berhasil ditangkap setelah meletusnya Perang Talas.[xlviii] Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindi[xlix] yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi.1048) serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi (w. Hal ini bisa jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzāt al-atsar al-māddi fī hayātihim) dibanding buku-buku olah pikir (filsafat). 207) yang menulis buku berjudul Al-Tārīkh al-Kabīr dan Al-Maghāzi.1274). Bahkan jika dicermati. sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah. Algoritma.Disiplin keilmuan lain yang juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada era Abbasiyah adalah ilmu sejarah. yang awal penulisannya dilakukan oleh Ibn Ishāq (w.279) yang menulis Futūh al-Buldān. Dalam bidang matematika misalnya.230 H) dengan Al-Tabaqāt al-Kubrā-nya serta Ahmad Ibn Yahya al-Balādhuri (w.[xxxix] Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslim era Abbasiyah dan didukung langsung oleh Khalifah Al-Mansūr yang juga sering disebut sebagai seorang astronom. arsitektur dan lainnya yang tidak dapat dijeleaskan seluruhnya dalam makalah ini. Sejarahwan lain yang datang berikutnya adalah seperti Muhamad ibn Sa’ad (w. Selanjutnya muncul pula Muhamad ibn `Umar al-Wāqidi (w. Ibn Sina[li] dan lain-lain. Beliau pula yang memegembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (ujicoba). 218). Abu Rayhān al-Biruni (w.[liii] Setelah itu kaum Muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad.[liv] . Salah satu diantaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas.[xliv] Di bidang ilmu kimia era Abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jābir ibn Hayyān[xlv] (atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern. 152) dan kemudian diringkas oleh Ibn Hisyām (w. ada Muhamad ibn Mūsa al-Khawārizmi[xxxviii] sang pencetus ilmu algebra. Era Keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia.[lii] Di samping kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas umat Islam Era Abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi. Ibn al-Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic. salah satu cabang matematika bahkan juga diambil dari namanya. Al-Khawarizmi. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain AlKhawārizmi.

melalui Dinasti Abbasiyah. 21 April 2008 Dinasti abbasiyah FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA DINASTI ABBASIYAH Dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama lebih kurang enam abad ( 132 – 656 H/ 750-1258 M ). Unsur paling penting dari kemajuan peradaban yang dibangun oleh umat Muslim Era Abbasiyah tersebut adalah al-fikrah al-dīniyah. [insya Allah to be completed] Senin. juga dukungan kuat dari kelompok Syi’ah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh dinasti Banui Umayyah. Diantara kemjuan dalam bidang sosila budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. Diantara kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Khalifah Dinasi Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur. Gerakan ini menemukan momentumnya ketika para tokoh dai Bani Hasyim melancarkan serangannya. serta ruang dan waktu yang mewujud dalam rentang sejarah yang berlaku. terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Unsur ini ditopang oleh unsur-unsur penunjang lainnya yaitu sumberdaya manusia yang direpresentasikan utamanya oleh para khalifah serta tokoh-tokoh ilmuan saat itu. Mesir pada 132 H / 705 M. Presia. Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini.PENUTUP Setelah pemaparan singkat mengenai sejarah Dinasti Abbasiyah. secara resmi Dinasti Abbasiyah mulai berdiri. . Selain itu. seperti bidang-bidang sosial dan budaya. sehingga gerakan-garakan kelompok penentang tidak dapat melancarkan serangannya secara kuat. telah berhasil menciptakan sebuah peradaban agung yang mampu menampilkan kemajuan-kemajuan baik di bidang ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu sains yang kemudian disumbangkan bagi peradaban manusia dan diwarisi oleh pemegang tampuk peradaban modern yaitu Barat. serta berbagai bidang lainnya. bangunan kota dan lain . seorang jendral muslim yang berasal dari Khurasan. kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad. Marwan bin Muhammad dapat dikalahkan dan akhrinya tewas mengenasakan di Fustat. didirikan oleh Abul Abbas al. baik untuk bangunan istana. Sejak itu. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.Saffah dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani. KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH DALAM BIDANG SOSIAL BUDAYA Sebagai sebuah dinasti. yang dalam konteks ini adalah nilai-nilai dan konsep-konsep yang bermuara kepada sumber agama Islam itu sendiri yaitu wahyu. khususnya terkait kemajuan ilmu dan peradaban serta masa-masa kemunduran dan kehancurannya di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain bahwa sejarah peradaban Islam. masjid. salah seorang keluarga Abbas yang menjadikan kota Khufa sebagai pusat kegiatan perlawanana. Akhirnya pada tahun 132 M H/ 750 M. telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah dilakukan sejak masa-masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Gerakan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. hanya saja gerakan tersebut selalu digagalkan oleh kekuatan militer Bani Umayyah. Para tokoh tersebut antara lain Muhammad bin Ali. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa. dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. Tapi dimasa-masa akhir pemerintahan dinasti Bani Umayyah gerakan tersebut semakin menguat seiring banyaknya protes dari masyarakat yang merasa tidak puas atas kinerja dan berbagai kebijakan pemerinatah dinasti Bani Umayyah.

yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. yang disebut diwanul jundi. sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. tidak lepas dariperan serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik. Al Mutanabby. pencipta teori musik Islam.sebagainya. dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Seni asitektur yang dipakai dalam pembanguanan istana dan kota-kota. terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah. Meskipun begitu. Selain bidang –bidang tersebut diatas. seperti Abu Nawas. usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. KEMAJUAN DALAM ILMU AGAMA ISLAM Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi. Khalil bin Ahmad. lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Al farabi dan lain-lainnya. baik . Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini. astronomi dan sebagainya. pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. seperti pada istana Qashrul dzahabi. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain. Pemerinath Dinasti Bani Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaanya. banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun. KEMAJUAN DALAM BIDANG POLITIK DAN MILITER Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok anatara pemerinatah Dinasti Bani Umayyah dengan Dinasti Bani Abbasiyah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah. 152 H / 768 M ). Samarra dan lain-lainnya. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. seperti Filsafat. Sementara pemerinath Dinasti Bani Abbasiyah. seperti kitab Kalilah wa Dimna. dan Qashrul Khuldi.Pembentuka lembaga ini didasari atas kenyataan polotik militer bahwa pada masa pemertintahan Dinasti Abbasiyah. terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan. sementara banguan kota seperti pembangunan kota Baghdad. Dengan demikian. Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. Pada mas inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ). Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman. Abu Nasr al-faraby. Untuk itu. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini. tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama. banayak terjadi pemebrontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasyi Abbasiyah KEMAJUAN DALAM BIDANG ILMU PENGETAHUAN Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh. ilmu bumi. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini. filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). Abu Athahiyah.

Perhatian yang serius dari pemeruntah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat. Dianata ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist. Dinasti ini berkuasa cukup lama.Mu’tashim dan Al-Mutawakkil. Dinasti Thuluniyah. akhirnya Dinasti Abbasiyah mengalami masa-masa suram.dukungan moral. Kemunculan kerajaan-kerajaan ini. sedikit banyak memperlemah kekuasaan dan wibawa kerajaan Bani Abbas. Perseteruan ini terjadi ketika bangsa Turki semakin memiliki posisi strategis dipemerintahan dan menggeser posisi bangsa Arab dan Persia. Dinasti Ikhsyidiyah. yang kemudian masingmasing mendirikan kekuasaan-kekuasaan lokal. Mereka saling melalaikan tugas-tugas sebagai pemimpin dan kepala negara. yang merupakan dua suku bangsa yang memiliki peran penting didalam proses berdirinya pemerintahan Dinasti Abbasiyah. didirikan oleh Ahmad bin Thulun ( 254-292 H/868-905 M ). Dianatar kerajaan-kerajaan kecil yang dapat melepaskan diri adalah Dinasti Buwaihiyah ( 945-1055 M ). sehingga mereka menciptakan ketergantunan khalifah kepada tentara bayaran. Kenyataan ini dipengaruhui denga situasi politik umat Islam ketika itu. Ketergantungan ini merupakan salah satu faktor penyebab melemahnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah. pengaruh bangsa Turki semakin kuat. tidak lagi memiliki kekuatan yang besar. sebab para khalifah sesudahnya lebih merupakan boneka para amir dan para wajir dinasti Buwaihiyah dan Salajikah. Sebab paling tidak pemasukan dan pengaruh para khalifah Bani Abbas berkurang. Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Idris bin Abdullah ( 172-311 H/ 788-932 M ). sehingga bangsa Arab dan Persia merasa cemburu. Sikap anti Turki ini pada akhirnya menimbulkan gerakan pemberontakan di setiap daerah. kepada para ulama. kemunduran dan kemudian kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah. sehingga peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pemerintah pusat untuk melepaskan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Dinasti Samaniyah. Masa suram ini terjadi ketika para pengusaha setelah AlMakmun.Mutawakkil. Dinasti Aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab ( 184-296 H/ 800-909 M ). Dianatara kekuatan lokal yang sangat berpengaruh dalam proses melemahnay kekuasaan Dinasti Abbasiyah adalah dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan sehingga tidak dapat melakukan kontrol pemerintah denga baik ke seluruh wilayahnya. Para khalifah Abbasiyah pada periode terakhir lebih mementingkan kepentingan peribadi. didirikan oleh Saman Khuda ( 261-9-389 H/ 874-999 M ). para tentara bayaran mendominasi kekuatan. Pada masa pemerintahan khalifah al. Dinasti Thahriyah.Ayyubi. Konflik ini dimanfaatkan oleh para pendatang baru. ketimbang kepentingan masyarakat umum. Ketika para kalifah semakin lemah. seperti bangsa Turki yang kemudian menguasai sistem pemerintahan Dinastu Abbasiyah. baik secara militer atau ekonomi. ilmu tafsir. . ilmu fiqih dan tasawuf KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH Setelah berkuasa lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). Dinasyi Bani Fathimiyah yang didirikan di Tunisia pada tahun 297-323 H / 909-934 M oleh Al Mahdi. didirikan oleh Muhammad bin Tughj ( 323-358 H/ 935-969 M ). bahkan banyak di antara mereka yang lebih memilih hidup bermewah-mewahan. Lama kelamaan. Persoalan lain yang juga memperlemah kekuasaan Bani Abbasiyah adalh konflik internal dikalangan Bani Abbas. akan membawa kelemahan. Konflik antra etnis dan suku bangsa sering terjadi. material dan finansia. Al. terutama perseteruan antara bangsa Arab dan bangsa Persia dengan bangsa Turki. Dinasti Hamdaniyah. hingga akhirnya dihancurkan oleh Salahuddin al. Pada akhirnya mereka kehilangan semangat juan untuk menegakan kekuasaan. didirikan oleh Hamdan bin Hamdan ( 293-394 H/ 905-1004 M ). sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. Bahkan bangsa Turki mendirikan mendirikan kekuasaan di wilayah pemerintahan Bani Abbasiyah dan menguasi Baghdad. didirikan oleh Thahir bin Husein ( 205-259 H/ 821-873 M ). Dinasti Salajiqah ( 1037-1157 M ).

religi (agama) dan moral. sebagaimana pernah diungkapkan oleh H. para sahabat (Khulafaur Rasyidin). agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. bodoh. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang. sastra. . bahwa. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta. ekonomi dan teknologi. it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama. Padahal. tidak terkenal. Dalam diskusi kali ini. dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah. Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. menjadi bangsa yang maju. politik. norma-norma. latarbelakang berdirinya kekhalifahan Abbasiyah. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M. Dari segi durasi. (1) wujud ideal. Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu). maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan. kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah diluluh lantakan pada tahun 1258 m. nilai-nilai. yaitu al-Hadharah alIslamiyyah. Di Indonesia. sedangkan disisi yang lain. Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. “Islam is andeed much more than a system of theology. ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Dalam sejarah islam tercatat. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang. maka peradaban terefleksi dalam politik. Islam memang berbeda dari agama-agama lain. kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud. saya akan membahas peradaban islam pada masa Dinasti Abbasiyah dengan topik bahasan diantaranya. Di satu sisi. rasa dan karsa manusia. kemajuan dan kemunduran pada masa ini.R.Natsir. Dibawah pimpinan hulaghu Khan. Peradaban dalam Islam. dan social. tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi). Latar Belakang Berdirinya Abbasiyah (750-847 M – 132-232 H) Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah. Menurut Koentjoroningrat. gagasan.dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. (2) wujud kelakuan. kedua istilah itu dibedakan. dalam islam. baik dari aspek ekonomi. kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama. yaitu kekuatan bangsa Mongol.Pada saat semua mengalami kelemahan. sebagaimana juga di Arab dan Barat. Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya. masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. yaitu sekitar lima abad. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni.A. Sedangkan. dan (3) wujud benda. ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. manifestasimanifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Serangan bangsa Mongol ini manandai akhir dari masa kekuasaan dinasti Abbasiyah. Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi. kekuatan baru datang dan berusaha menghancurkan Dinasti Abbasiyah. diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim. dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain. peraturan dan sebagainya. Jadi.

bidang ekonomi. Pada masing-masing bidang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. fase kemunduran dan kehancuran. masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M). dan farmasi didirikan. semuanya dapat dipadamkan. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M). Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. pendidikan. Akan tetapi durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bergantung pada kemampuan penyelenggara pemerintahan yang bersangkutan. 2. dokter. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium. tembaga dan besi. revolusi alkhawarij di Afrika utara. gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan. Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). Pada masa pemerintahan. diantaranya bidang politik. Kemajuan Dinasti Bani Abbas Setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang dikenal dengan fase pendirian. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode : 1. emas. Oleh karena itu. social dan budaya. Pada tahun 762 M. Bidang Politik Walaupun demikian. 5. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Rumah sakit. disebut masa pengaruh Turki pertama. masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Gerakangerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. lembaga pendidikan. kesejahteraan social. melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain. pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. ilmu pengetahuan dan . Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). 2. kesehatan. Selama dinasti ini berkuasa. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat. Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. 1. Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah. tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad. disebut periode pengaruh Persia pertama. gerakan zindik di Persia. bekas ibukota Persia. Bidang Ekonomi Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector pertanian. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. 3. Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa kekayaan. 3. 4. melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak. digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas. Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah. kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. Bidang Sosial Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M).Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon. dari tahun 132 H (750 M) s. bidang sosial. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M). masing-masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang. fase pembangunan dan kemajuan.d 656 H (1258 M). Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri Spanyol. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba. Disamping kelemahan khalifah. Dan ketika singgasana itu terjatuh. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur. Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang Baghdad. disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. hanya khalifah pada saat periode ini sangat kuat. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat. banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur. meliputi wilayah yang amat luas. Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali. Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. obat dan falsafah. dan bahwasanya mereka akan mengamalkan alQur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya. Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah. benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. para mentri cenderung berperan sebagai pegawai sipil. tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran. kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. al-Hadi (775-786 M). yang disebut masa pertengahan. Itulah sebabnya belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi mereka. meskipun ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya. al-Wasiq (842-847 M). demikian pula para rajanya. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni. Harun al-Rasyid (786-809 M). yaitu al-Mahdi (775-785 M). Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya. Ada diantaranya dinasti yang cukup besar. maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya. al-Mu’tashim (833-842 M). tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. dan al-Mutawakkil (847-861 M). Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. sudah merdeka dan berkuasa kembali. pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. walaupun banyak sekali Dinasti islam berdiri. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah islam. Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw. al-Ma’mun (813-833 M). tetapi jika khalifah lemah. masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Pada periode ini. benih-benih ini tidak sempat berkembang. Persaingan Antarbangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Para khalifah Abbasiyah. Kehancuran Dinasti Bani Abbas Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima. Dari gambaran diatas terlihat bahwa. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani .

sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Kecuali Islam. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua. Zoroasterisme dan Mazdakisme. Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. pendapatan Negara menurun. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. 2. naik tahta. Mu`tazilah yang . karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Setelah AlMutawakkil. sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Syria. Menurut Stryzewska. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. stabilitas politik dapat terjaga. Sementara itu.11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. dan para pejabat melakukan korupsi. dominasi tentara turki tak terbendung lagi. wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah.12 Akibatnya. Kemerosotan Ekonomi Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. 3. Turki dan India. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja. Pada periode pertama.Umayyah berkuasa. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri. Mesir. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj. jenis pengeluaran makin beragam. Dengan demikian. pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya. disamping Fanatisme kearaban. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas. sehingga Bait alMal penuh dengan harta. Akan tetapi. Keduanya sama-saama tertindas. khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah. semacam pajak hasil bumi. Meskipun demikian. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak. Pertama. orang-orang Persia tidak merasa puas. tetapi juga antaraliran dalam Islam. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Irak. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir. Persia. seperti Maroko. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Selain itu. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. seorang khlaifah yang lemah. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat.

Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya. sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan. dan mengklaim khilafah pada tahun 813. Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. panglima tentara Mongol. dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. Tentara Mongol. 4. sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Pertama. seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. ikut memperbaiki yerussalem. setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam. Namun. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah. Almakmun berhasil mengalahkan saudara tuanya. terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah. seperti juga Agama Isa as. Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. Ancaman dari luar Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”. yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya. Sebagaimana telah disebutkan. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Setelah kematian Harun. untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban..cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya. selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara . sebagaimana yang telah kita lihat. Kebijakan ini. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orangorang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah. yang bernama Thahir.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. tidak membawa hasil dan gagal. Kedua.13 Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. ada pula factorfaktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. al-Amin . al-Amin. al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Disamping itu. Akibatnya pecahlah perang sipil. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya. alMakmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan.

Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. 05 April 2010 Sejarah Dinasti Abbasiyah BAB I PENDAHULUAN A. Rumusan Masalah a. Untuk mengetahui perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah BAB II PEMBAHASAN A. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu beserta ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah b. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Berdirinya bani abbasiyah dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncullah kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani .14 Senin.konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besar. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah? b. Tujuan Penelitian a. Bagaimana perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah? C. Latar Belakang Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. B.

Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. social dan budaya. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Gerakan ini menghimpun a. Perkembangan Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. mereka memusatkan kegiatannya di khurasan. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah. Filsafat . Bani alawiyah pemimpinnya Abu Salamah b.. B. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain: a. akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan bani umayyah. majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Bani Abbasiyah pemimpinnya Ibrahim al-AIman c. Keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany.umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib.

Ilmu ini berkembang karena . Asy’ary. Kedua. Ilmu Kedokteran Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia. Baqilani. Dalam mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Romawi. Ilmu Kimia Ilmu kimia juga termasuk kaum salah satu ilmu pengetahuan bidang ini yang dikembangkan oleh muslimin. Ibnu Sina. b. Ibnu Bajjah. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Ibnu Thufail. Abu Nasr alFaraby. untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. c. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi. dan juga telah didirikan sekolah farmasi. e. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan. Ghazali. Ilmu Hisab Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama. Ilmu Kalam Menurut A. d. al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Persia. Sajastani dan lain-lain.

al-biruni. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad. b. metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran alQur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. misalnya sejarah hidup nabi Muhammad.kebutuhand asar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Ilmu Bumi Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi. Pertama. Selain lain: a. Muhammad bin Ishaq g. Sejarah Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu. yang terkenal pada abad ke-9 M. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim. Astronomi Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. f. Ilmu Hadis Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari. khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Ilmu Tafsir Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Abdurrahman alSufi. abu daud. metode tafsir ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara . ibnu majjah. at-tirmidzi dan al-nasa’i. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat. Kedua. h.

Ilmu Tasawuf Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam. Bidang-bidang ilmu pengetahuan keagamaan berkembang pada masa ini yaitu: ilmu hadist. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dinasti abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H. Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Ilmu Fiqih Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya. imam malik menyusun kitab al-muwatha’. d. B. . ilmu kedokteran. imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar. tasawuf. ilmu hisab. ilmu bumi dan astronom. Saran Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut andil dalam penulisan makalah ini. ilmu tafsir. ilmu kimia. c. sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. al-sud’a muqatil bin Sulaiman. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa dinasti abbasiyah yaitu filsafat. sejarah. imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid. ilmu kalam.bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. ilmu fiqih. imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal. untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami tunggu dan kami perhatikan. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam alThabary. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din.

Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak.[4] Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. '06 10:54 PM for everyone A. Muhammad serta Ibrahim. terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam. [1] Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan. seperti Ali bin Abdullah bin Abbas. Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah : 1. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawancendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. 4. 3. golongan. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan.[3] Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase. suku. baik dalam bidang ekonomi. peradaban dan kekuasaan. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Pengantar Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam.[2] Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas. Politik kepegawaian didasarkan pada klan. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan. Propaganda . sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.Sejarah Daulah Abbasiyah Oleh : Mardias Gufron Aug 28. kaum dan kawan. Gerakan ini didahului oleh keturunan Bani Abbas. 2. dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan.dikirim ke seluruh pelosok negara. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (harem). Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah. Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia [6] B.[5] Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath. Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah. pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani. bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim. dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan. kemudian cara pertempuran. Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. yaitu di keamiran Cordova. terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas. yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah. misalnya. dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffar. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam. berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. dan mendapat pengikut yang banyak. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan. Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan. Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan. yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun. Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini. Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbasiyah .

Khalifah Al-Muktadid (892-902 M) 17. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) 11. Khalifah Al-Muktazz (866-869 M) 14. Khalifah Al-Hadi (785-786 M) 5. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M) 23. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M) 16. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M) 26. [7] a. Khalifah Al-Amin (809-813 M) 7. Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M) 2. Yaitu Bani Abbas. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) 18. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) 10. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M) b. Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M) 3. Khalifah Al-Makmun (813-833 M) 8. Khalifah Al-Kahir (932-934 M) 20. Bani Saljuk (1075-1258 M) 27. seperti tersebut di bawah ini. dan Bani Saljuk. Khalifah Ar-Radi (934-940 M) 21. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) 6. Khalifah Al-Mufi (946-974 M) 24. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M) 15. Bani Abbas (750-932 M) 1. Bani Buwaihi.menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintahan. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M) 12. Bani Buwaihi (932-1075 M) 19. Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal. Khalifah At-Tai (974-991 M) 25. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) 9. Khalifah Al-Mustain (862-866 M) 13. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) 4. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M) . Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M) 22. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M) c.

Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M) 30. Setelah Abu Abbas meninggal dia diganti oleh Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abbasiyah yang dikenal paling kejam.28. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M) C.[8] Perlakuan kejam itu tidak hanya kepada orang-orang Umayah yang masih hidup. maka Abu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M) 29. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M) 34. Khalifah An-Nasir (1180-1224 M) 35. Koordinator pelenyapan keluarga Bani Umayah itu diserahkan kepada Abdullah pamannya Abu Abbas. melainkan juga kepada mereka yang sudah meninggal. Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah a. Sedangkan makam yang tidak digali. namun pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Abu Abbas. sebuah kota indah yang terdapat di tepi aliran sungai Tigris dan Eufrat. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M) 32. kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga daulah Bani Umayah.[10] Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad. Periode pertama (750-847 M) Diawali dengan tangan besi Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas As-Safah. dengan cara mengeluarkan jenazah mereka dan membakarnya. adalah makam Muawiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz. Di awal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi kekhalifahan Daulah Abbasiyah. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) 37. Sementara itu perbaikan juga dilakukan di bidang administrasi pemerintahan yang disusun secara baik dan pengawasan . Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M) 31. Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M) 36. serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak dan gerik keturunan Bani Umayah.[9] Sehingga akhirnya menimbulkan banyak pemberontakan. dia meletakkan dasar-dasar pemerintahan bani Abbasiyah dan tidaksegan-segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya. bila perlu membunuhnya. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M) 33. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh.

Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakkan dan dibangun oleh Abu Abbas As-Safah dan Abu Jakfar Al-Mansur. Tak urung gejala pemberontakan itu memang muncul di mana-mana. Andalusia dan Afrika. provinsi-provinsi terpencil di pinggiran mulai terlepas dari genggaman mereka. . Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun. Kota Basra menjadi pelabuhan transit yang penting yang serba lengkap. Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam ketimbang perluasan wilayah seperti pada masa Daulah Umayah. Ketentaraan kemudian terdiri dari prajuritprajurit Turki yang profesional. Akibat kebijakan yang diambil ini. antara lain ke wilayah Armenia.[12] Ada dua kecenderungan yang terjadi. Mesisah. Irigasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda dibanding sebelumnya. Sejak masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) hingga Khalifah Al-Wasiq (842-847 M). Kecenderungan orang-orang muslim secara sukarela sebagai anggota milisi mengikuti perjalanan perang sudah tidak lagi terdengar.[14] Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun Al-Rasyid.[11] Pergeseran Kebijakan Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M).[13] Pada zaman Al-Mahdi. Namun demikian pemberontakanpemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. maka puncak keemasan dinasti itu berada pada tujuh Khalifah sesudahnya. Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah manjadi sangat kuat. Petugas pos-pos komunikasi dan suratmenyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur. seperti Daulah Aglabiah (Bani Taglib) di Tunisia dan Tahiriyah di Khurasan.terhadap berbagai kegiatan pemerintah diperketat. seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh seperti Daulah Umayah di Andalusia (Spanyol) dan Idrisiyah (Bani Idris) di Marokko. perekonomian meningkat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separatis dan pemberontakan. Pertambangan dan sumber-sumber alam bertambah dan demikian pula perdagangan internasional ke timur dan ke barat dipergiat. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukan invasi dan perluasan daerah kekuasaan. Pertama. misalnya beberapa daerah taklukan melepaskan diri. Cara kedua. Militer Daulah Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat. Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembeda lainnya antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah yang lebih mementingkan perluasan daerah.

Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Berpartisipasinya unsur-unsur non Arab. Salah satu faktor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan ialah terjadinya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah ini. Zaman Keemasan Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid. berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim. perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan. Di sinilah letak sumbangan Islam terhadap ilmu dan peradaban dunia. dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun. terutama filsafat etika dan logika. filsafat. Dari India misalnya. Orang-orang datang ke perpustakaan itu untuk membaca. dan berdiskusi. Di masa-masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan melakukan inovasi dan penemuan sendiri. Abu Nawas.Akibatnya. tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi dominasi tentara Turki. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana. Sedangkan dari . seorang penyair yang kocak. yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. menulis. tentara itu menjadi sangat dominan sehingga Khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi boneka mereka. yang sebenarnya adalah seorang ahli hikmah atau filsuf etika. terutama bangsa Persia. matematika. Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran pemikiran muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika dalam dunia Islam. astronomi dan ilmu alam. yang selalu didampingi oleh penasihatnya. Pada masa itu perpustakaan-perpustakaan tampaknya lebih menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian. kimia. Di samping itu. Sebagai respon dari kenyataan tersebut Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) mencoba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan memindahkan ibukota ke Samarra. terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban. Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku kedokteran.

Kimia. Ilmu Alam. Dan juga berkembang ilmuilmu Aqli seperti Astronomi. Usaha untuk melepaskan dari dominasi Turki selalu mengalami kegagalan. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Teologi. Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu Aqli. hanya empat orang yang wafat dengan wajar. mereka mampu mengendalikan unsur-unsur Turki tersebut. Hadis. Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuatan dan kekuasaan. dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Al-Jahiz (meninggal 869 M). mereka digulingkan dengan paksa. Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. Fiqih. Matematika. Ushul Fiqh dan lain-lain. yang meninggal pada tahun 750 M. Akan tetapi. Dari dua belas Khalifah pada periode ini. Di samping itu. meskipun resminya mereka adalah penguasa. Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa sastrawan besar lainnya. Sejarah. Kedokteran dan lain sebagainya. Khalifah memberinya gelar Amirul Umara (Panglima para panglima). Mereka telah memilih dan mengangkat Khalifah sesuai kehendak mereka. Di masa Al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M). seperti pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain.[15] Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni saja juga berkembang . meminjam istilah Ibnu Rusyd. Pemberontakan masih bermunculan pada periode ini. Meskipun demikian. Pada masa itu juga hidup budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M). Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq. . Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. mereka memang mulai melemah. keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. Geografi. selebihnya.sastera Persia terjemahan dilakukan oleh Ibnu Mukaffa. b. Pada tahun 892 M. Bahasa. Gubernur wasit dari Basra. Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki. Baghdad kembali menjadi Ibukota. dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik. Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah AlMutawakkil wafat. Periode kedua (847-945 M)[16] Kebijakan Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Makmun dan sebelumnya. kalau tidak dibunuh.

mesjid dan rumah sakit. Madrasah . dan pemberontakan tentara. ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Ibnu Misykawaih (930-1030 M) dan kelompok studi Ikhwan As-Safa. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam. dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Farabi (870-950 M). telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial aliran ahlu sunnah dan syiah. Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia. d. Keadaan Khalifah sudah mulai membaik. Seperti halnya pada periode sebelumnya.Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut. sementara komunikasi lambat. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di Baghdad. Al-Biruni (973-1048 M). Hasan menguasai wilayah bagian utara. Cabangcabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. Bidang ekonomi. mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Setelah kekuatan militer merosot. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal. Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya. c. kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Daulah Abbasiyah masih terus mengalami kemajuan pada periode ini. pertanian. dan Ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara. Dalam bidang ilmu pengetahuan. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Ketiga. profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Yang kedua. pertama. Perdana Menteri pada masa Alp Arselan dan Maliksyah. luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyyah yang harus dikendalikan. Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas ’’undangan’’ Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di baghdad. Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama dari periode ketiga ini. Ibnu Sina (980-1037 M). Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah. Nizam Al-Mulk. Wasit dan Baghdad. karena telah dipindah ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah.

penulis dalam bidang Tafsir dan Usul ad-dien (Teologi). adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. Sesudah . berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Dalam bidang politik. Kedua. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Pada masa pusa kekuasaan melemah. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Misalnya yang dilahirkan dalam periode ini adalah Az-Zamakhsari. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. Ketiga. terutama untuk negeri Irak.ini menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Di antara faktor-faktor intern adalah. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Pada periode ini. pertama. AlGhazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf. terutama Arab. pertama. e. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. yaitu perpustakaan di Baghdad. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Persia dan Turki. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. Madrasah ini telah melahirkan banyak cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Keempat. masingmasing provinsi memerdekakan diri. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi.

selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. . yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. tak ada lagi yang kelihatan. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. baik kekayaan. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. Dalam masa lima abad lamanya. mereka lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. Di atas bumi kota Baghdad.itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. kemajuan ataupun kekuasaan. Istana dan gedung-gedung yang indah. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya.

Pada masa pusa kekuasaan melemah. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. yaitu perpustakaan di Baghdad. terutama untuk negeri Irak. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. pertama. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. masing masing provinsi memerdekakan diri. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. mereka . yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. Ketiga. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. Istana dan gedung-gedung yang indah. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. Dalam bidang politik. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. Di antara faktor-faktor intern adalah. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. pertama. Keempat. Pada periode ini. Sesudah itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Kedua. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi.perbintangan. Persia dan Turki. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. e. terutama Arab.

yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. . Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini.lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. tak ada lagi yang kelihatan. kemajuan ataupun kekuasaan. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Dalam masa lima abad lamanya. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. baik kekayaan. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. Di atas bumi kota Baghdad. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah.