Bani Abbasiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

‫العباسدين‬ ّ Kekhalifahan Abbasiyah

750–1258

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibu kota Bahasa Agama Pemerintahan Sejarah - Didirikan - Dibubarkan

Bagdad, Kairo Arab(resmi), Aram, Armenia, Berber, Georgia, Yunani, Yahudi, Persia Tengah, Turkik Islam Monarki 750 M 1258 M

Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: ‫ ,العباسدين‬al-Abbāsidīn) adalah ّ kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al-Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • • •

1 Pendahuluan 2 Menuju puncak keemasan 3 Pengaruh Mamluk 4 Pengaruh Bani Buwaih 5 Pengaruh Bani Seljuk 6 Kemunduran
○ ○

6.1 Masa Disintegrasi (1000-1250 M) 6.2 Persaingan antar Bangsa
    

6.2.1 Yang berbangsa Persia: 6.2.2 Yang berbangsa Turki: 6.2.3 Yang berbangsa Kurdi: 6.2.4 Yang berbangsa Arab: 6.2.5 Yang mengaku dirinya sebagai khilafah:

○ ○ ○ ○ ○ • • • • • •

6.3 Kemerosotan Ekonomi 6.4 Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. 6.5 Ancaman dari Luar 6.6 Perang Salib 6.7 Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad

7 Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah 8 Silsilah para khalifah 9 Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo 10 Referensi 11 Sumber Lain 12 Lihat pula

[sunting] Pendahuluan
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh

Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031.

[sunting] Menuju puncak keemasan
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M). Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan

Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki

pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih

dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani

Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah alKubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh

dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu

disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerahdaerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus dan India. Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:

Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)

Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa' al-Rasyiduun. Disamping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai "gelar tahta", seperti al-Manshur, dan belakangan gelar tahta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu alAbbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

kesehatan. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad. lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: 1. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah. Ketika itu. Dalam bidang pendidikan. Dengan demikian. keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. misalnya. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama. pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. gerakan Zindiq di Persia. Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. hitungan dan tulisan. ilmu pengetahuan. yang membawahi kepala-kepala departemen. 3. ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). hadits. dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). Walaupun demikian. dan farmasi. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. dan mendirikan rumah sakit. khalifah berikutnya (833-842 M). Dalam penyelenggaraan negara. Maktab/Kuttab dan masjid. Pada masa pemerintahannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. lembaga pendidikan dokter. pendidikan. Sebelumnya. ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Ia juga banyak mendirikan sekolah. Al-Mu'tasim. Kesejahteraan. pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. di awal Islam. lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. Disamping itu. . kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. semuanya dapat dipadamkan. pengganti Harun Ar-Rasyid. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. pemandian-pemandian umum juga dibangun. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah. puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. gerakan Syi'ah. fiqh dan bahasa. memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan. Sebagaimana diuraikan di atas. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. revolusi al-Khawarij di Afrika Utara. salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah. Al-Ma'mun. seperti tafsir. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. 2. Akan tetapi. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Disamping itu. pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat. sosial. 1. dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir. belum ada tentara khusus yang profesional. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. yaitu lembaga pendidikan terendah.

Dalam bidang tafsir. di sana orang juga dapat membaca. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu. sebagaimana sudah disebutkan. terutama melalui gerakan terjemahan. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H. pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya. menjadi Qadhi alQudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. Disamping itu. Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. tafsir bi al-ra'yi. . mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. Fase pertama. terutama filsafat. pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Disamping itu. maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.2. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya. Karena itu. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. terutama setelah adanya pembuatan kertas. tafsir bi al-ma'tsur. baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah. ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Bidangbidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. menulis dan berdiskusi. Kedua. juga ditentukan oleh dua hal. bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. yaitu: 1. bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu. Tingkat pendalaman. kemajuan itu paling tidak. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Abu Yusuf. filsafat dan sastra. Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pengaruh Persia. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. penafsiran pertama. 2. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Pada umumnya. ilmu matematika dan astronomi. karena di samping terdapat kitab-kitab. sejak awal sudah dikenal dua metode. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas. kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. (tafsir rasional). sangat kuat di bidang pemerintahan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.

sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. dan Ibnu Rusyd. jiwa. banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat. kedokteran. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami. juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja. etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat. dunia Islam . karena pengikutnya tidak berkembang. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes. Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum. al-Jabr wa al-Muqoibalah. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Murji'ah dan Mu'tazilah pun ada. yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. pemikiranpemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama. Asy'ariyah. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. Penulisan hadits. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan alNazzam (185-221 H/801-835M). yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Namun. yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. seperti Khawarij. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Ini terjadi. besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Akan tetapi. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah. ArRazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. filsafat. Disamping empat pendiri madzhab besar tersebut. terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. kenegaraan. Sesudahnya. Di bidang kimia. antara lain al-Farabi. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi.Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i Rahimahullah (767-820 M). Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Pada masa kekhalifahan ini. terutama di bidang astronomi. Ibnu Sina. Kata aljabar berasal dari judul bukunya. karena Al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. logika. menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. kimia dan sejarah. Al-Farghani. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat. ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir.

[sunting] Pengaruh Bani Buwaih Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Buwayhiyah Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara Mamluk ini.mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu. dan filosofi dari Yunani. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam . matematika. Dibentuk oleh Al-Ma'mun. Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki. sastra. dan Hindustan. Pada masa ini. banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Di antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan. Wallahul Musta’an. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. tentaratentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. Banyak golongan pemikir lahir zaman ini. dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. namun setelah periode ini berakhir. hal ini disebabkan karena para penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam memimpin kerajaan. sehingga Islam mencapai masa keemasan. Persia. pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi. dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik. dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas. yang pada mulanya mengambil inisiatif merebut kekuasaan kerajaan Ayyubiyyah yang pada masa itu merupakan kepanjangan tangan dari khilafah Bani Abbas. Tambahan pula. sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. dimana khalifah Abbasiyyah tetap sebagai kepala negara. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya. yang kemudian dikenal dengan Bani Mamalik berhasil berkuasa. [sunting] Pengaruh Mamluk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mamluk Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentaratentara budak yang disebut Mamluk pada abad ke-9. Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. kejayaan dan kegemilangan. Bani Mamalik ini mendirikan kesultanan sendiri di Mesir dan memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Cairo setelah berbagai serangan dari tentara tartar dan kehancuran Baghdad sendiri setelah serangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan.

Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. posisi dan kedudukan khalifah Abbasiyah sedikit lebih baik. Pada saat kekuatan militer menurun. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan untuk membendung faham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni yang dianut oleh mereka. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka. seperti terlihat pada periode kedua dan seterusnya. [sunting] Kemunduran Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini. akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas. sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya. dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. pada periode ketiga (334-447 H/l055 M). Wilayah kekuasaan Bani Umayyah. meskipun khalifah tidak berdaya. adalah: 1. daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh kekuasaan Bani Buwaih yang berpaham Syi'ah. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. [sunting] Masa Disintegrasi (1000-1250 M) Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu. ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas.sebelumnya. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Akan tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah. Tetapi. Bersamaan dengan itu. Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. pada masa-masa berikutnya. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata. khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat . Akan tetapi. tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. sehingga banyak daerah memerdekakan diri. [sunting] Pengaruh Bani Seljuk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Seljuk Raya Setelah jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Bani Seljuk atau Salajiqah Al-Kubro (Seljuk Agung). Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. 2. tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. perebutan kekuasaan sering terjadi. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. terutama di awal berdirinya. 3.

Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. dalam perkembangan selanjutnya teryata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Nampaknya. 2. Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. Pada periode ini. dengan pembayaran upeti itu. Sebagai gantinya. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan. pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun. daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri. seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. Namun pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. sudah merdeka dan berkuasa kembali. khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru seperti diuraikan di atas. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Bahkan dalam kenyataannya. Pada masa . seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah. Penguasa Bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah. Pengangkatan anggota militer Turki ini. bahkan ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu. Secara riil. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. disamping persoalan-persoalan keagamaan. sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu'u arabiyah (kebangsaan/anti Arab). 2. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpinpemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik. banyak daerah tidak dikuasai khalifah. tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah. Menurut Ibnu Khaldun. kedudukannya semakin bertambah kuat. Para khalifah Abbasiyah. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu.nominal. Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara: 1. propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu. Mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya. Ada di antaranya yang cukup besar. terutama di bidang politik. Alasannya adalah : 1. sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan.

mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. 2. naik tahta. Oleh Bani Abbas. Kecuali Islam. wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar. para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil. Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri. tetapi jika khalifah lemah. yang disebut masa pertengahan. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. stabilitas politik dapat terjaga. benih-benih itu tidak sempat berkembang. banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur. Mesir. seorang khalifah yang lemah. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Keduanya sama-sama tertindas. disamping fanatisme kearaban. seperti Maroko. mereka dianggap sebagai hamba. Meskipun demikian. ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. di antaranya adalah: . dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Akibatnya. Namun demikian. pada periode ketiga. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Akan tetapi. para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. orang-orang Persia tidak merasa puas. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: [sunting] Persaingan antar Bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Munculnya dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah. dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Disamping kelemahan khalifah. Turki dan India. sebagaimana diuraikan terdahulu. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam. Selain itu. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. Setelah al-Mutawakkil. Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah.inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. 1. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Irak. bangsa Persia. faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Dengan demikian. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat. Persia. Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Sementara itu. Syria. masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Menurut Ibnu Khaldun. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam).

Abu 'Ali. didirikan oleh Sulthan Shalahuddin al- ayyubi setelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke III. al-Ayyubiyyah. Mazyadiyyah di Hillah. 2. (348-406 H/959-1015 M). 3. [sunting] Yang berbangsa Turki: 1. Umayyah di Spanyol. 7. Seljuk Kinnan di Kirman. Bani Shafariyah di Fars. dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi paham keagamaan. d. c. . 2. [sunting] Yang berbangsa Kurdi: 1. 3. Idrisiyyah di Maghrib. 2. (403-545 H/1011-1150 M). (317-394 H/929. Persia dan Turki. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia). (320-560 H/932-1163 M). (266-318 H/878-930 M). 'Alawiyah di Thabaristan. Dari latar belakang dinasti-dinasti itu. Seljuk besar. Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M). (380-489 H/990-1095 M).1002 M). al-Barzuqani. Ikhsyidiyah di Turkistan. b. Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil. (172-375 H/788-985 M). nampak jelas adanya persaingan antarbangsa. Seljuk Syria atau Syam di Syria. [sunting] Yang mengaku dirinya sebagai khilafah: 1. Bani Buwaih. bahkan menguasai Baghdad. 4. 4. (564-648 H/1167-1250 M). 2. (261-389 H/873-998 M). 6. (351-585 H/962-1189 M). Mirdasiyyah di Aleppo. terutama antara Arab. didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. (414-472 H/1023-1079 M).[sunting] Yang berbangsa Persia: 1. 5. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan. Thuluniyah di Mesir. (511-590 H/1117-1194 M). (254-290 H/868-901 M). Ghaznawiyah di Afganistan. Disamping latar belakang kebangsaan. Bani Samaniyah di Transoxania. (386-489 H/996-1 095 M). Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). 3. Fatimiyah di Mesir. [sunting] Yang berbangsa Arab: 1. Bani Thahiriyyah di Khurasan. (433-583 H/1040-1187 M). (250-316 H/864-928 M). Dulafiyah di Kurdistan. Ukailiyyah di Maushil. e. 5. 4. Bani Sajiyyah di Azerbaijan. 2. (470-700 H/10771299 M). (487-511 H/1094-1117 M). (254-292 H/837-903 M). 8. (205-259 H/820-872 M). ada yang berlatar belakang Syi'ah maupun Sunni. (210-285 H/825-898 M). atau Seljuk Agung. Dan Sulthan Alib Arselan Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. (320-447 H/ 932-1055 M). 3.

Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Al-Mutawakkil. . khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M). Pada saat gerakan ini mulai tersudut. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran. faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.[sunting] Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. kembali memperkenankan orang Syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. Al-Mansur berusaha keras memberantasnya. tetapi juga antar aliran dalam Islam.). pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Zoroasterisme dan Mazdakisme. sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Akan tetapi. Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salafy. sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. Sebaliknya. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan Sunni kembali naik daun. dengan menjadikan Mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada periode pertama. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M). Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma'mun. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. misalnya. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah. al-Muntashir (861862 M. semacam pajak hasil bumi. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. Namun anaknya. bahkan Al-Mahdi merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. [sunting] Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. Tidak tolerannya pengikut Hanbali terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj.

Namun pada masa Dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni. setelah menghancur leburkan pusatpusat Islam. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. saat Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci. ada pula faktorfaktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib. al-Hajr... Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Manzikert.. terdiri dari tentara Romawi. namun kerugian yang mereka derita banyak sekali. karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga ” [sunting] Ancaman dari Luar Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis.000 orang. Namun. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. Sebagaimana telah disebutkan.. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. al-Akraj. Pengaruh perang salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol.Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. serta menghambat pengaruh dan invasi dari tentara Muslim atas wilayah Kristen. telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam . Pikiranpikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah. Perancis dan Armenia. Disamping itu. [sunting] Perang Salib Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Salib Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095 M. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Soal kehendak bebas manusia. panglima tentara Mongol. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. yang hanya berkekuatan 15. Ghuz. 2. Dalam . di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam konon sampai sekarang. 1. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk. dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 2. Tentara Mongol. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir.000. ikut memperbaiki Yerusalem. Sebagaimana sebelumhnya tentara Sulthan Alp Arselan Rahimahullah tahun 464 H (1071 M). Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam.. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib. Syed Ameer Ali mengatakan: “ Agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti juga agama Isa ‘alaihis salaam.000 prajurit..Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah . Berkenaan dengan konflik keagamaan itu.

wazir khilafah Abbasiyah. Tetapi. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. 756 .Bermulanya Kekhalifahan Bani Abbasiyah. Hulagu Khan akan menjamin posisimu.Abu al-Abbas al-Saffah menjadi Khalifah pertama Bani Abbasiyah.kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu. penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 . 755 . 809 . 792 . Kekalahan tentara Abbasiyyah di Spanyol.Serangan ke utara Perancis. Banyak daulah kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad. Aljabar diciptakan oleh Al-Khawarizmi. karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.Pembangunan kota Bagdad. Walaupun sudah dihancurkan. putera khalifah. Mereka semua. Dengan demikian.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah.Harun ar-Rasyid menjadi Khalifah. sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. 800 . tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. 786 . termasuk wazir sendiri. Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun. tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200. Apa yang dikatakan wazirnya temyata tidak benar. Pada saat yang kritis tersebut. sebagaimana kakekkakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk". permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. tetapi malah terpecah belah. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim.Kaidah keilmuan mulai terbentuk. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Merebut Pulau Rhodes dan Siprus.Abd ar-Rahman I mendirikan kerajaan Bani Umayyah di Spanyol.1258). [sunting] Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Ilkhanat Pada tahun 565 H/1258 M. la mengatakan kepada khalifah.Pemberontakan Abdullah bin Ali. Khalifah Al-Musta'shim. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. al-Amin dilantik menjadi khalifah. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana. la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan. [sunting] Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah • • • • • • • • • • 750 . . 805 .wafatnya Harun ar-Rasyid. la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara. betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan.Kampanye melawan Byzantium. 763 . sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir. Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. Pembunuhan Abu Muslim. "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. 752 . Khalifah menerima usul itu.

1055 . • • • • • • • • • • [sunting] Silsilah para khalifah Dibawah ini merupakan silsilah para khalifah dari Bani Abbasiyah.Nur al-Din merebut Edessa dari tentara Salib. 1005 . 1258 . India. Perang Salib Kedua dimulai. 1071 . ABBAS pendiri Bani Abbasiyah Ibnu Abbas Ali Muhammad . Spanyol.Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma'mun.000 tentara berhasil mengalahkan gabungan tentara salib yang dipimpim oleh Kaisar Romanus IV yang berjumlah 200.Tentara Salib merebut Baitulmuqaddis. Spanyol. 1194 . mulai dari Abbas bin Abdul-Muththalib sampai khalifah terakhir dari Bani Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Kejatuhan Baghdad. Perang Salib Ketiga dimulai.Baghdad dikuasai oleh tentara Turki Seljuk. Sulthan Alp Arselan beserta pasukannya yang hanya berjumlah 15.Salahuddin Al-Ayubbi merebut Baitulmuqaddis dari tentara Salib.Tentara Kristen menawan Toledo.• • • • • 814 . pemerintahan Muslim di sana berakhir. Ribuan penduduk terbunuh.Peristiwa Manzikert. 1095 . 1091 .Perang Salib pertama dimulai. Tamatnya pemerintahan Kerajaan Bani Abbasiyyah di Baghdad.Tentara Muslim merebut Delhi.Masjid Besar Cordoba dibangun. 1187 . 1085 . 1144 . 1236 .Bangsa Norman merebut Sisilia. al-Amin terbunuh dan alMa'mun menjadi khalifah. 1099 . Mereka membunuh semua penduduknya.000 tentara. Pemerintahan Abbasiyah-Seljuk dimulai sampai sekitar tahun 1258 ketika tentara Mongol menghancurkan Baghdad.Multan dan Ghur ditawan. dan meneruskan kepungannya terhadap kerajaan Byzantium. 1000 . 1072 .Tentara Mongol menyerang dan memusnahkan Baghdad.Sulthan Alp Arselan berhasil menguasai Asia Tengah (Anatolia).Tentara Salib merebut Cordoba.

842-847) 10. AL-AMIN (k. AL-MU'TASIM (k. AL-MUTHI' (k. ALMUHTADI (k. ALMUTAWAKKIL (k. AL-WATSIQ (k. 750-754) 2. 940-944) 23. AL-HADI (k. AL-MUQTADIR (k. 861-862) al-Muwaffaq 15. 892-902) 17. 862-866) 14. 934-940) Ishaq 21. 785-786 Ibrahim al-Mubarak 6. 833-842 al-Qasim al-Mu'taman 9. 946-974) 25. 754-775 Musa 3. ATH-THA'I (k. AL-MUSTA'IN (k. AL-MU'TAMID (k. 870-892) 16. 869-870) 13. AL-QA'IM . 974-991) 26. AL-QADIR (k. ALMUKTAFI (k. 902-908) 18. 932-934) 22. 775-785) 5. 847-861) 12. ALMUSTAKFI (k. 786-809) 4. AL-QAHIR (k. AL-MU'TAZZ (k.Ibrahim 1. ALMU'TADHID (k. 813-833) 8. AL-MANSUR (k. ALMUNTASHIR (k. AR-RASYID (k. AR-RADHI (k. 944-946) 20. AL-MA'MUN (k. AS-SAFFAH (k. ALMUTTAQI (k. 908-935) 19. 991-1031) 24. 809-813) 7. AL-MAHDI (k. 866-869) 11.

ALMUSTA'SHIM (k. ALMUSTADHI' (k. ALMUSTARSYID (k. AZH-ZHAHIR (k. AN-NASHIR (k. merupakan tahun kekuasaan Angka. 1094-1118) 29. ALMUSTANSHIR (k. 1160-1170) 33. Nama dengan huruf kapital merupakan khalifah yang berkuasa. • • . AL-MUQTADI (k. 1242-1258) [1] Catatan: • k. 1118-1135) 30. 1180-1225) 35. 1136-1160) 30. merupakan nomor urut seseorang menjadi khalifah. AL-MUQTAFI (k. AR-RASYID (k. 1031-1075) 27. 1170-1180) 34. 1135-1136) 32. 1226-1242) 37. ALMUSTANSHIR II Berkuasa di Kairo 36.(k. ALMUSTANJID (k. ALMUSTAZHIR (k. 1225-1226) 1. 1075-1094) 28.

dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama. meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri. tercapainya kesejahteraan. meninggalkan Al-Anbār[vi] dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru. Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. LATAR BELAKANG KEMAJUAN PERADABAN Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M. Era kepemimpinan khalifah kedua. secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah. Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan.[sunting] Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo • • • • • • • • • Al-Mustanshir II 1261 Al-Hakim 1262-1302 Al-Mustakfi I 1302-1340 Al-Wathiq I 1340-1341 Al-Hakim II 1341-1352 Al-Mu'tadid I 1352-1362 Al-Mutawakkil I 1362-1383 Al-Wathiq II 1383-1386 Al-Mu'tasim 1386-1389 • • • • • • • • • Al-Mutawakkil I (kembali berkuasa) 1389-1406 Al-Musta'in 1406-1414 Al-Mu'tadid II 1414-1441 Al-Mustakfi II 1441-1451 Al-Qa'im 1451-1455 Al-Mustanjid 1455-1479 Al-Mutawakkil II 1479-1497 Al-Mustamsik 1497-1508 Al-Mutawakkil III 1508-1517 Peradaban Emas Dinasti Abbasiyah: Kajian Ringkas Minggu. Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M). 15 November 2009 23:10 Artikel Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab[i] PENDAHULUAN Meski terdapat sejumlah perbedaan.[iii] Periode pertama. yang beberapa saat kemudian menjadi lokus aktivitas ekonomi. Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai.[iv] Yaitu. berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H. budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu. dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). . Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas.[v] Kedua. para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[ii] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama. dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas. Pertama. Makalah ini. menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm). ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah. menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya. pembangunan (`umrān).kurang tepat. hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf).

sebelum masa itu. melainkan pada titik yang paling penting merupakan buah dari pengaruh konsep-konsep dalam ajaran Islam itu sendiri. Suriah. faktor lain yang secara lebih lanjut turut mempengaruhi kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah adalah interaksi masif kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir). tidak lama setelah berdirinya. sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup signifikan di era Al-Mansūr pula. selalu mendorong para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dengan tanpa membedakan agama maupun bangsa mereka. serta pada saat keamanan politik dalam negeri relatif stabil.[xxiii] laiknya sebuah akademi ilmiah yang menjadi pusat aktivitas keilmuan mulai dari penelitian penerjemahan sekaligus perpustakaan. ke dalam bahasa Arab. kodifikasi dan sistematisasi ilmu-ilmu keislaman.[x] Konon. [xv] Selain tiga hal di atas dapat ditambahkan pula perkembangan ilmu sains yang melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan legendaris yang diakui tidak saja di dunia Muslim tetapi juga oleh kalangan akademisi Barat. Khālid ibn Yazīd ibn Mu’awiyah pernah memerintahkan dihadirkannya sejumlah filosof Yunani yang bermukim di Mesir dan menguasai bahasa Arab untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Mesir Kuno (Qibti).[xiii] Di samping itu.Langkah-langkah penting yang diambil Al-Mansūr tersebut dan efek besar yang ditimbulkannya terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li aldawlah al-`Abbasiyah).[xiv] Singkat kata. serta menjamurnya gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah) secara masif. didukung oleh para khalifah yang rata-rata memiliki kecenderungan keilmuan dan ketertarikan terhadap pengetahuan dari Yunani maupun Persia. Yunani maupun Mesir Kuno ke dalam bahasa Arab.[xvii] Selain itu. Ahmad Shalabi terwujud dalam tiga sektor yaitu menggeliatnya gerakan penulisan buku (harakat al-tasnīf). Sang Khalifah-pun mendirikan Bayt al-Hikmah.[xi] Namun betapapun pentingnya peranan Al-Mansūr. Di era Al-Mansūr ini muncul tokoh penerjemah di bidang sastra seperti `Abdullāh Ibn Al-Muqaffa` (757 M). Sebagaimana diceritakan oleh para sejarahwan. bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah. Para khalifah seperti Al-Mansūr misalnya. serta wilayah Asia Barat.[xii] Kesimpulan tersebut jika ditilik dari perspektif kajian sejarah peradaban berkesesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa semangat yang dibawa oleh konsep keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan élan vital dan menjadi unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban. khususnya Persia.[xxii] Pada era Hārūn al-Rashīd (170-194 H) para cendekiawan dan ilmuwan semakin banyak yang berdiam di Baghdad. para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi. filsafat dan sastra dari bahasa asing ke dalam Bahasa Arab. Hal ini diakui pula oleh beberapa penulis Barat semisal Vartan Gregorian dalam bukunya Islam: A Mosaic. kemajuan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah pada hakekatnya tidak datang dari ruang hampa.[viii] Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam. Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan. pada masa `Abdul Mālik ibn Marwān dan AlWalīd ibn `Abdul Malik itu juga telah dilakukan penerjemahan dīwān[xviii] dari bahasa aslinya.[xix] Berbeda dengan upaya penerjemahan di masa Dinasti Umayyah yang berskala kecil atau bahkan bersifat individual. yang menerjemahkan buku Kalīlah wa Dimnah. untuk menerjemahkan buku-buku sains. khususnya yang terkait dengan ilmu medis dan kimia. hadits. fiqh. sebuah upaya penerjemahan telah dilakukan meski dalam skala kecil. GERAKAN PENERJEMAHAN DI ERA ABBASIYAH Berbicara mengenai gerakan penerjemahan yang terjadi di Era Abbasiyah sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari upaya-upaya penerjemahan yang pernah dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. usai penaklukan besar-besaran yang merambah wilayah-wilayah di tiga benua. gerakan penerjemahan di Era Abbasiyah.[xvi] Saat itu. seorang Majusi yang kemudian memeluk Islam. baik bahasa Pahlavi-Persia.[ix] Demikian dengan gerakan pembukuan (tasnīf) dan kodifikasi (tadwīn) ilmu tafsir. Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mūn dan mencapai puncaknya pada masa itu dibawah tanggungjawab .[vii] Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan.[xx] serta Hunayn Ibn Ishāq yang menerjemahkan buku-buku medis karya Hippocrates[xxi] dan Galen. Not a Monolith. sehingga tidak mengherankan jika Al-Qanūji secara tegas menyebut Al-Mansur sebagai khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam. Dinasti Abbasiyah dengan cepat telah mampu menciptakan sebuah kemajuan ilmu dan peradaban yang menurut Dr. setelah sebelumnya terabaikan oleh para khalifah Bani Umayyah.

Ibn Mājah (w. Hunayn ibn Ishāq. Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak lagi. Bayt al-Hikmah-pun menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains. muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad.[xxx] KEMAJUAN ILMU-ILMU AGAMA Selain gerakan penerjemahan. Hadits maupun Fiqh.[xxvi] Popularitas Bayt al-Hikmah ini terus berlangsung sampai kepemimpinan Al-Mu`tasim (berkuasa 833842M) dan Al-Wātsiq (berkuasa 842-847M). dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazdhab fiqh hidup pada era tersebut. Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah adalah Ibn Jurayj (w. seperti buku-buku Pythagoras. Ma`mar di Yaman. zoologi.[xxv] Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung. 151H) yang menulis buku sejarah (Al-Maghāzi). serta Al-Nasā’i (w. masih pada era Abbasiyah. Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi.150 H). Qustā ibn Lūqā. Hadits dan Fiqh. Hitti menyatakan bahwa Bayt al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. Ibn Abi `Urūbah dan Hammād ibn Salāmah di Basrah.160) dan Ibn Al-Mubārak (w. Tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang dialami oleh ilmu Tafsir dan ilmu Fiqh. muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadits.[xxiv] Maka tidak heran jika Philip K. 150 H) yang menulis kumpulan haditsnya di Mekah. Al-Ma'mun juga menambahkan bangunan khusus sebagai sebuah observatorium untuk penelitian astronomi ke Bayt al-Hikmah.[xxxii] Tapi luput dari catatan Ibn al-Nadīm bahwa `Abd al-Razzāq ibn Hammam al-San`āni (w. Muhamad Ibn Ishāq (w. Mālik ibn Anas (w. seperti dilakukan oleh Banū Al-Munajjim yang berani membayar 500 dinar kepada para penerjemah tiap bulannya sebagai upah penerjemahan penuh waktu (li al-naql wa al-mulāzamah). Era Abbasiyah mencatat dimulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir.179H). Abu Dāwud (w. Muslim (w. 241H).211 H) yang hidup sezaman dengan Al-Farā juga telah menyusun sebuah kitab tafsir lengkap yang serupa.303). Mālik ibn Anas. 181 H).275). Buku tafsir lengkap dari al-Fātihah sampai al-Nās juga mulai disusun. Bersamaan dengan itu Baghdad juga menjadi kota besar paling kaya dan mempunyai populasi tertinggi mencapai satu juta jiwa. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sisitematis baik di bidang ilmu Tafsir. India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Musaddad ibn Musarhad al-Basri.[xxviii] Catatan menarik lainnya.256). Galen. kimia. kemajuan ilmu dan peradaban Era Abbasiyah juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. Astufun ibn Bāsīl. Euclid. [xxxiv] Perkembangan penulisan hadits berikutnya. Khususnya sejak tahun 143 H. Yahya ibn al-Bitrīq. 279). Al-Tirmidzi (w. Al-Layts ibn Sa’ad (w. Aryabhata maupun Brahmagupta. Hippocrates. Tsābit ibn Qarrah al-Sābi’i. kedokteran. Charaka. Ishāq ibn Hunayn. meliputi metematika. yaitu munculnya kecenderungan penulisan hadits yang didahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan haditshadits sahīh dari yang dla`īf sebagaimana dilakukan oleh Al-Bukhari (w. Al-Awza`i di wilayah Syam. bahwa gerakan penerjemahan ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan para khalifah sahaja. Sufyān al-Tsauri di Kufah. Plato. tetapi mulai tenggelam dan mengalami kemunduran pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil (847-861M). 175H) serta Abū Hanīfah.[xxvii] Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa mayoritas para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh. Hubaysh ibn al-A`sam.Hunayn Ibn Ishāq.[xxix] Keluarga elit lain diceritakan bahkan sangat getol mengeluarkan harta berlimpah untuk membayar para penerjemah mereka. Asad ibn Mūsā al-Amawi dan Nu`aym ibn Hammād al-Khuzā`i.261). Menurut catatan Ibn al-Nadīm yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut adalah Yahya bin Ziyād al-Daylamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farrā. juga al-Rabī` ibn Sabīh (w.[xxxv] . yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga. Di bidang ilmu-ilmu agama. AlShāfi`i (w.[xxxi] Pada masa ini ilmu Tafsir menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadits. Āwī ibn Ayyub. 171) yang menulis Al-Muwatta' nya di Madinah. Plotinus.204) dan Ahmad ibn Hanbal (w. Sushruta. astronomi. melainkan juga oleh para pribadi dari kalangan elit semisal Banū Shākir yang juga mengelola penerjemah-penerjemah handal yang bekerja siang malam untuk mereka. Iqlīdis ibn Nā`imah. [xxxiii] Ilmu Fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting. ilmu sosial dan sains. `Ubaydullah ibn Mūsa al`Absy al-Kūfi. Diantara tokoh yang menulis musnad antara lain Ahmad ibn Hanbal.273). Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga. geografi dan lain-lain dilakukan. yaitu Abu Hanīfah (w. ilmu Hadits juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadits-hadits Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah disebutkan diatas seperti Ibn Jurayj. Aristoteles. Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahāt al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia. Salībā Ayyūb alRahāwi. Mālik ibn Anas (w.

Sejarahwan lain yang datang berikutnya adalah seperti Muhamad ibn Sa’ad (w. termasuk perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah. kemajuan sains di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era Abbasiyah.1048) serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi (w. 207) yang menulis buku berjudul Al-Tārīkh al-Kabīr dan Al-Maghāzi. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemuddian menyebar hingga Fez dan ahirnya masuk ke Eropa melalui Andalusia pada abad 13M. sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al-Rāzi[xlvi] yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alkohol. Beliau pula yang memegembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (ujicoba). [xlii] Sedangkan Ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al-Haytsam[xliii] atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen.[l] Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox).1274).[xlviii] Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindi[xlix] yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana. Buku yang pertama dinyatakan hilang.[xxxix] Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslim era Abbasiyah dan didukung langsung oleh Khalifah Al-Mansūr yang juga sering disebut sebagai seorang astronom. [xl] Penelitian di bidang astronomi oleh kaum muslimin dimulai pada era Al-Mansūr ketika Muhamad ibn Ibrāhīm al-Fazāri menerjemahkan buku "Siddhanta" (yang berarti Pengetahuan melalui Matahari) dari bahasa Sanskerta ke bahasa Arab. setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari Cina yang berhasil ditangkap setelah meletusnya Perang Talas. salah satu cabang matematika bahkan juga diambil dari namanya. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain AlKhawārizmi. meski isinya masih direkam oleh sejarahwan Al-Tabari (838-923M).Disiplin keilmuan lain yang juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada era Abbasiyah adalah ilmu sejarah. Algoritma. 152) dan kemudian diringkas oleh Ibn Hisyām (w. 218).[liii] Setelah itu kaum Muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. Bahkan jika dicermati. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. Era Keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia.[lii] Di samping kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas umat Islam Era Abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi. Al-Khawarizmi. ada Muhamad ibn Mūsa al-Khawārizmi[xxxviii] sang pencetus ilmu algebra.279) yang menulis Futūh al-Buldān.230 H) dengan Al-Tabaqāt al-Kubrā-nya serta Ahmad Ibn Yahya al-Balādhuri (w. Ibn Jābir Al-Battāni (w. 929). yang awal penulisannya dilakukan oleh Ibn Ishāq (w. Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat buku. Hal ini bisa jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzāt al-atsar al-māddi fī hayātihim) dibanding buku-buku olah pikir (filsafat). Ibn Sina[li] dan lain-lain.[xxxvii] Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahun masa kini.[xliv] Di bidang ilmu kimia era Abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jābir ibn Hayyān[xlv] (atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern. bahwa pada zaman Khalifah Al-Muqtadir Billah (907-932M/295-390H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi debagai dokter. arsitektur dan lainnya yang tidak dapat dijeleaskan seluruhnya dalam makalah ini.[xli] Pada era Hārūn al-Rashīd dan Al-Ma’mūn sejumlah teori-teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. Dalam bidang matematika misalnya. Disebutkan pula. Ibn al-Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic.[xxxvi] KEMAJUAN SAINS DAN TEKNOLOGI Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja.[liv] . geografi. Abu Rayhān al-Biruni (w. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat Muslim Era Abbasiyah.[xlvii] Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak belajar. Selanjutnya muncul pula Muhamad ibn `Umar al-Wāqidi (w. Salah satu diantaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi (`ulūm aqliyah).

hanya saja gerakan tersebut selalu digagalkan oleh kekuatan militer Bani Umayyah. Tapi dimasa-masa akhir pemerintahan dinasti Bani Umayyah gerakan tersebut semakin menguat seiring banyaknya protes dari masyarakat yang merasa tidak puas atas kinerja dan berbagai kebijakan pemerinatah dinasti Bani Umayyah. secara resmi Dinasti Abbasiyah mulai berdiri. serta ruang dan waktu yang mewujud dalam rentang sejarah yang berlaku. Gerakan ini menemukan momentumnya ketika para tokoh dai Bani Hasyim melancarkan serangannya. sehingga gerakan-garakan kelompok penentang tidak dapat melancarkan serangannya secara kuat. Diantara kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Khalifah Dinasi Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur. KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH DALAM BIDANG SOSIAL BUDAYA Sebagai sebuah dinasti. seorang jendral muslim yang berasal dari Khurasan. terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.PENUTUP Setelah pemaparan singkat mengenai sejarah Dinasti Abbasiyah. . bangunan kota dan lain . melalui Dinasti Abbasiyah. telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Akhirnya pada tahun 132 M H/ 750 M. [insya Allah to be completed] Senin. juga dukungan kuat dari kelompok Syi’ah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh dinasti Banui Umayyah. Gerakan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. Presia. Marwan bin Muhammad dapat dikalahkan dan akhrinya tewas mengenasakan di Fustat. Sejak itu. Gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah dilakukan sejak masa-masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Para tokoh tersebut antara lain Muhammad bin Ali. serta berbagai bidang lainnya. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. yang dalam konteks ini adalah nilai-nilai dan konsep-konsep yang bermuara kepada sumber agama Islam itu sendiri yaitu wahyu. masjid.Saffah dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa. Selain itu. Mesir pada 132 H / 705 M. seperti bidang-bidang sosial dan budaya. 21 April 2008 Dinasti abbasiyah FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA DINASTI ABBASIYAH Dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama lebih kurang enam abad ( 132 – 656 H/ 750-1258 M ). Diantara kemjuan dalam bidang sosila budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. baik untuk bangunan istana. Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini. Unsur ini ditopang oleh unsur-unsur penunjang lainnya yaitu sumberdaya manusia yang direpresentasikan utamanya oleh para khalifah serta tokoh-tokoh ilmuan saat itu. khususnya terkait kemajuan ilmu dan peradaban serta masa-masa kemunduran dan kehancurannya di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain bahwa sejarah peradaban Islam. Unsur paling penting dari kemajuan peradaban yang dibangun oleh umat Muslim Era Abbasiyah tersebut adalah al-fikrah al-dīniyah. telah berhasil menciptakan sebuah peradaban agung yang mampu menampilkan kemajuan-kemajuan baik di bidang ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu sains yang kemudian disumbangkan bagi peradaban manusia dan diwarisi oleh pemegang tampuk peradaban modern yaitu Barat. kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad. didirikan oleh Abul Abbas al. salah seorang keluarga Abbas yang menjadikan kota Khufa sebagai pusat kegiatan perlawanana.

pencipta teori musik Islam. Pada mas inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal. KEMAJUAN DALAM BIDANG POLITIK DAN MILITER Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok anatara pemerinatah Dinasti Bani Umayyah dengan Dinasti Bani Abbasiyah. pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Samarra dan lain-lainnya. usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. tidak lepas dariperan serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat. Abu Athahiyah. mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi. astronomi dan sebagainya. Abu Nasr al-faraby. ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain.Pembentuka lembaga ini didasari atas kenyataan polotik militer bahwa pada masa pemertintahan Dinasti Abbasiyah. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Pemerinath Dinasti Bani Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaanya. Khalil bin Ahmad. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. seperti pada istana Qashrul dzahabi. baik . seperti Filsafat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini. seperti kitab Kalilah wa Dimna. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik. Dengan demikian. Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman. KEMAJUAN DALAM ILMU AGAMA ISLAM Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). seperti Abu Nawas. telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini. Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah. banayak terjadi pemebrontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasyi Abbasiyah KEMAJUAN DALAM BIDANG ILMU PENGETAHUAN Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh. dan Qashrul Khuldi. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. yang disebut diwanul jundi. tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. 152 H / 768 M ). lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Sementara pemerinath Dinasti Bani Abbasiyah. Untuk itu. maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan. khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama. sementara banguan kota seperti pembangunan kota Baghdad. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ). Seni asitektur yang dipakai dalam pembanguanan istana dan kota-kota. Al Mutanabby. ilmu bumi. Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Al farabi dan lain-lainnya. sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam.sebagainya. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah. Selain bidang –bidang tersebut diatas. terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun. filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. Meskipun begitu.

kepada para ulama. Al. terutama perseteruan antara bangsa Arab dan bangsa Persia dengan bangsa Turki. kemunduran dan kemudian kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah. material dan finansia. akan membawa kelemahan. Perseteruan ini terjadi ketika bangsa Turki semakin memiliki posisi strategis dipemerintahan dan menggeser posisi bangsa Arab dan Persia. Dinasti Salajiqah ( 1037-1157 M ). pengaruh bangsa Turki semakin kuat. didirikan oleh Muhammad bin Tughj ( 323-358 H/ 935-969 M ). Perhatian yang serius dari pemeruntah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat. Kemunculan kerajaan-kerajaan ini. Lama kelamaan. . Dinasti Ikhsyidiyah. ilmu fiqih dan tasawuf KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH Setelah berkuasa lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). Dinasti Hamdaniyah. Mereka saling melalaikan tugas-tugas sebagai pemimpin dan kepala negara. Ketika para kalifah semakin lemah. Ketergantungan ini merupakan salah satu faktor penyebab melemahnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Para khalifah Abbasiyah pada periode terakhir lebih mementingkan kepentingan peribadi. Masa suram ini terjadi ketika para pengusaha setelah AlMakmun. didirikan oleh Hamdan bin Hamdan ( 293-394 H/ 905-1004 M ). Dinasti Samaniyah. sedikit banyak memperlemah kekuasaan dan wibawa kerajaan Bani Abbas. hingga akhirnya dihancurkan oleh Salahuddin al. yang merupakan dua suku bangsa yang memiliki peran penting didalam proses berdirinya pemerintahan Dinasti Abbasiyah. sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam.Mu’tashim dan Al-Mutawakkil. Konflik ini dimanfaatkan oleh para pendatang baru. Dianatara kekuatan lokal yang sangat berpengaruh dalam proses melemahnay kekuasaan Dinasti Abbasiyah adalah dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan sehingga tidak dapat melakukan kontrol pemerintah denga baik ke seluruh wilayahnya. Sebab paling tidak pemasukan dan pengaruh para khalifah Bani Abbas berkurang.Mutawakkil. Pada akhirnya mereka kehilangan semangat juan untuk menegakan kekuasaan. Persoalan lain yang juga memperlemah kekuasaan Bani Abbasiyah adalh konflik internal dikalangan Bani Abbas. bahkan banyak di antara mereka yang lebih memilih hidup bermewah-mewahan. Konflik antra etnis dan suku bangsa sering terjadi. tidak lagi memiliki kekuatan yang besar. sehingga peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pemerintah pusat untuk melepaskan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil. didirikan oleh Saman Khuda ( 261-9-389 H/ 874-999 M ). sehingga mereka menciptakan ketergantunan khalifah kepada tentara bayaran. yang kemudian masingmasing mendirikan kekuasaan-kekuasaan lokal. ketimbang kepentingan masyarakat umum. sehingga bangsa Arab dan Persia merasa cemburu. sebab para khalifah sesudahnya lebih merupakan boneka para amir dan para wajir dinasti Buwaihiyah dan Salajikah. Dinasyi Bani Fathimiyah yang didirikan di Tunisia pada tahun 297-323 H / 909-934 M oleh Al Mahdi. akhirnya Dinasti Abbasiyah mengalami masa-masa suram. Dianatar kerajaan-kerajaan kecil yang dapat melepaskan diri adalah Dinasti Buwaihiyah ( 945-1055 M ). para tentara bayaran mendominasi kekuatan. Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Idris bin Abdullah ( 172-311 H/ 788-932 M ). ilmu tafsir. Dinasti Thuluniyah. Kenyataan ini dipengaruhui denga situasi politik umat Islam ketika itu. baik secara militer atau ekonomi. Pada masa pemerintahan khalifah al. Dinasti Aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab ( 184-296 H/ 800-909 M ). Sikap anti Turki ini pada akhirnya menimbulkan gerakan pemberontakan di setiap daerah. Dinasti Thahriyah. didirikan oleh Ahmad bin Thulun ( 254-292 H/868-905 M ). didirikan oleh Thahir bin Husein ( 205-259 H/ 821-873 M ).Ayyubi. Bahkan bangsa Turki mendirikan mendirikan kekuasaan di wilayah pemerintahan Bani Abbasiyah dan menguasi Baghdad. Dinasti ini berkuasa cukup lama. Dianata ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist. seperti bangsa Turki yang kemudian menguasai sistem pemerintahan Dinastu Abbasiyah.dukungan moral.

kemajuan dan kemunduran pada masa ini. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M. bahwa. “Islam is andeed much more than a system of theology.Pada saat semua mengalami kelemahan. nilai-nilai. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah. . Dalam sejarah islam tercatat. agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. para sahabat (Khulafaur Rasyidin). kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah diluluh lantakan pada tahun 1258 m. istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. saya akan membahas peradaban islam pada masa Dinasti Abbasiyah dengan topik bahasan diantaranya. yaitu kekuatan bangsa Mongol. tidak terkenal. Dalam diskusi kali ini.A. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni. manifestasimanifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain.dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. sastra. yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.R. (1) wujud ideal. Menurut Koentjoroningrat. Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. (2) wujud kelakuan. yaitu al-Hadharah alIslamiyyah. it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama. Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya. kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama. ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. Serangan bangsa Mongol ini manandai akhir dari masa kekuasaan dinasti Abbasiyah. norma-norma. masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. sebagaimana pernah diungkapkan oleh H. tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi).Natsir. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang. sebagaimana juga di Arab dan Barat. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. maka peradaban terefleksi dalam politik. rasa dan karsa manusia. Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu). Di satu sisi. diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide. sedangkan disisi yang lain. menjadi bangsa yang maju. dan (3) wujud benda. kekuatan baru datang dan berusaha menghancurkan Dinasti Abbasiyah. bodoh. baik dari aspek ekonomi. religi (agama) dan moral. Di Indonesia. bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Dibawah pimpinan hulaghu Khan. kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud. Padahal. yaitu sekitar lima abad. Latar Belakang Berdirinya Abbasiyah (750-847 M – 132-232 H) Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). kedua istilah itu dibedakan. latarbelakang berdirinya kekhalifahan Abbasiyah. sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. politik. dalam islam. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta. gagasan. ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Islam memang berbeda dari agama-agama lain. Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab. Sedangkan. Peradaban dalam Islam. Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi. maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan. ekonomi dan teknologi. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang. dan social. peraturan dan sebagainya. Jadi. Dari segi durasi.

diantaranya bidang politik. Akan tetapi durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bergantung pada kemampuan penyelenggara pemerintahan yang bersangkutan. 3. ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. bidang ekonomi. Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa kekayaan. 2. fase kemunduran dan kehancuran. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. revolusi alkhawarij di Afrika utara. ilmu pengetahuan dan . fase pembangunan dan kemajuan. kesejahteraan social. Bidang Politik Walaupun demikian. 2. gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan. bekas ibukota Persia. pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode : 1. dari tahun 132 H (750 M) s. Oleh karena itu. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat. melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak. lembaga pendidikan. masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M). masing-masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang. bidang sosial. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. Bidang Sosial Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M). kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. 5. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. pendidikan. Bidang Ekonomi Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector pertanian. dokter. Pada masa pemerintahan. tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad. disebut masa pengaruh Turki pertama. melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. tembaga dan besi. Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting.Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Gerakangerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. Pada tahun 762 M. Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah. Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah. Kemajuan Dinasti Bani Abbas Setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang dikenal dengan fase pendirian. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw.d 656 H (1258 M). ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. dan farmasi didirikan. social dan budaya. digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas. 1. Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M). masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. kesehatan. biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). semuanya dapat dipadamkan. Pada masing-masing bidang memiliki kelebihan dan kekurangan. disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium. gerakan zindik di Persia. Selama dinasti ini berkuasa. 4. 3. Rumah sakit. masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain. emas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Itulah sebabnya belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. obat dan falsafah. Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. al-Wasiq (842-847 M). pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. Dari gambaran diatas terlihat bahwa. Persaingan Antarbangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia.kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. dan al-Mutawakkil (847-861 M). hanya khalifah pada saat periode ini sangat kuat. yang disebut masa pertengahan. benih-benih ini tidak sempat berkembang. Pada periode ini. Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. Disamping kelemahan khalifah. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran. al-Hadi (775-786 M). Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni. Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah. maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani . Para khalifah Abbasiyah. para mentri cenderung berperan sebagai pegawai sipil. Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang Baghdad. tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi mereka. Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya. mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri Spanyol. meliputi wilayah yang amat luas. al-Ma’mun (813-833 M). namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba. Ada diantaranya dinasti yang cukup besar. disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 1. al-Mu’tashim (833-842 M). Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya. walaupun banyak sekali Dinasti islam berdiri. Dan ketika singgasana itu terjatuh. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah islam. Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. sudah merdeka dan berkuasa kembali. yaitu al-Mahdi (775-785 M). masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. dan bahwasanya mereka akan mengamalkan alQur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah. Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Harun al-Rasyid (786-809 M). banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. tetapi jika khalifah lemah. kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw. meskipun ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. demikian pula para rajanya. Kehancuran Dinasti Bani Abbas Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima.

semacam pajak hasil bumi. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Pada saat gerakan ini mulai tersudut.Umayyah berkuasa. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. Zoroasterisme dan Mazdakisme. sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj. sementara pengeluaran meningkat lebih besar. wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas. mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Pada periode pertama. khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri. Dengan demikian. Syria. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. Meskipun demikian. pendapatan Negara menurun. Irak. Keduanya sama-saama tertindas. Turki dan India. sehingga Bait alMal penuh dengan harta. Kemerosotan Ekonomi Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. Setelah AlMutawakkil. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. Mu`tazilah yang . banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Kedua. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. stabilitas politik dapat terjaga. sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya. Akan tetapi. Pertama. Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Mesir. bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. dan para pejabat melakukan korupsi. Sementara itu. sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir. jenis pengeluaran makin beragam. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. seperti Maroko.11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. seorang khlaifah yang lemah. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah. 3. dominasi tentara turki tak terbendung lagi. tetapi juga antaraliran dalam Islam. bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat. Menurut Stryzewska. Kecuali Islam. Persia. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas. disamping Fanatisme kearaban. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. naik tahta. orang-orang Persia tidak merasa puas. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. 2. orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah. Selain itu.12 Akibatnya. meliputi berbagai bangsa yang berbeda.

Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”. yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya. al-Amin. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam. alMakmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan. Setelah kematian Harun. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. Disamping itu. Kebijakan ini. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. 4. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu. Namun. untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak. Ancaman dari luar Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. al-Amin . panglima tentara Mongol.13 Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur. perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Pertama.. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah. selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara . sebagaimana yang telah kita lihat. Sebagaimana telah disebutkan. serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Akibatnya pecahlah perang sipil. Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orangorang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. ikut memperbaiki yerussalem. tidak membawa hasil dan gagal. seperti juga Agama Isa as. yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya. Kedua. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. yang bernama Thahir.cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad. ada pula factorfaktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. dan mengklaim khilafah pada tahun 813. Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya. dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun. terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah. Almakmun berhasil mengalahkan saudara tuanya. Tentara Mongol.

Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besar. Bagaimana perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah? C. 05 April 2010 Sejarah Dinasti Abbasiyah BAB I PENDAHULUAN A. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Berdirinya bani abbasiyah dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncullah kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani .konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah b. Latar Belakang Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah? b. B. Tujuan Penelitian a.14 Senin. Untuk mengetahui perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah BAB II PEMBAHASAN A. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu beserta ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah. Rumusan Masalah a.

Keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan bani umayyah. Gerakan ini menghimpun a. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran.. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain: a. B. majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan.umayyah. Bani Abbasiyah pemimpinnya Ibrahim al-AIman c. Filsafat . dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Perkembangan Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. Bani alawiyah pemimpinnya Abu Salamah b. akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah. mereka memusatkan kegiatannya di khurasan. social dan budaya.

karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Ilmu Kedokteran Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia. untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat.Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Sajastani dan lain-lain. Ilmu ini berkembang karena . Ilmu Kimia Ilmu kimia juga termasuk kaum salah satu ilmu pengetahuan bidang ini yang dikembangkan oleh muslimin. b. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan. Ibnu Bajjah. Ilmu Kalam Menurut A. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Ilmu Hisab Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Dalam mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. e. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama. Abu Nasr alFaraby. d. Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani. Persia. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi. Ghazali. c. Baqilani. Asy’ary. dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Ibnu Thufail. Ibnu Sina. Romawi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. Kedua.

f. Abdurrahman alSufi. supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Astronomi Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Kedua.kebutuhand asar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab. at-tirmidzi dan al-nasa’i. Pertama. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad. b. Ilmu Tafsir Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Muhammad bin Ishaq g. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani. hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim. al-biruni. Ilmu Bumi Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi. Sejarah Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu. misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. abu daud. Selain lain: a. Ilmu Hadis Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari. metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran alQur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. metode tafsir ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara . yang terkenal pada abad ke-9 M. h. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat. ibnu majjah. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.

Bidang-bidang ilmu pengetahuan keagamaan berkembang pada masa ini yaitu: ilmu hadist. d. c. al-sud’a muqatil bin Sulaiman. ilmu hisab. ilmu kedokteran. imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal. B. Ilmu Fiqih Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya. BAB III PENUTUP A. . untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami tunggu dan kami perhatikan. ilmu kalam. sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. ilmu bumi dan astronom. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam alThabary. Saran Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut andil dalam penulisan makalah ini. ilmu fiqih. imam malik menyusun kitab al-muwatha’.bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. sejarah. Ilmu Tasawuf Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam. imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar. Kesimpulan Dinasti abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H. Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din. tasawuf. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa dinasti abbasiyah yaitu filsafat. ilmu kimia. imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid. ilmu tafsir.

Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah : 1.[4] Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. [1] Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Propaganda . baik dalam bidang ekonomi.Sejarah Daulah Abbasiyah Oleh : Mardias Gufron Aug 28. 4. sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawancendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. kaum dan kawan. ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. peradaban dan kekuasaan. atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. '06 10:54 PM for everyone A. yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak. Muhammad serta Ibrahim. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. 2. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.[2] Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan. Politik kepegawaian didasarkan pada klan. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara. terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam.[3] Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase. Gerakan ini didahului oleh keturunan Bani Abbas. 3. seperti Ali bin Abdullah bin Abbas. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan. Pengantar Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. suku. golongan.

Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan. yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah. yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun. dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (harem). Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan. kemudian cara pertempuran.dikirim ke seluruh pelosok negara. Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbasiyah . Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah. Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan.[5] Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas. yaitu di keamiran Cordova. Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam. para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini. misalnya. Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani. bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim. Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah. berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffar. dan mendapat pengikut yang banyak. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia [6] B.

Khalifah Al-Muktazz (866-869 M) 14. Khalifah Al-Mustain (862-866 M) 13. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) 9. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M) 16. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M) c. seperti tersebut di bawah ini. Bani Buwaihi. Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M) 23. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) 11. Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M) 2. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M) 26. Yaitu Bani Abbas. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) 10. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) 4. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M) . [7] a. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M) 12. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal. dan Bani Saljuk. Bani Saljuk (1075-1258 M) 27. Khalifah Al-Amin (809-813 M) 7. Khalifah Al-Muktadid (892-902 M) 17. Khalifah Al-Kahir (932-934 M) 20. Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M) 22. Bani Buwaihi (932-1075 M) 19. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) 6. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M) 15. Khalifah Al-Mufi (946-974 M) 24. Khalifah Al-Makmun (813-833 M) 8. Khalifah At-Tai (974-991 M) 25. Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M) 3.menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintahan. Bani Abbas (750-932 M) 1. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) 18. Khalifah Al-Hadi (785-786 M) 5. Khalifah Ar-Radi (934-940 M) 21. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M) b.

Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah a. Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M) 36. serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak dan gerik keturunan Bani Umayah. melainkan juga kepada mereka yang sudah meninggal. dia meletakkan dasar-dasar pemerintahan bani Abbasiyah dan tidaksegan-segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya. Di awal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi kekhalifahan Daulah Abbasiyah. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M) 33.[8] Perlakuan kejam itu tidak hanya kepada orang-orang Umayah yang masih hidup. adalah makam Muawiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz. Periode pertama (750-847 M) Diawali dengan tangan besi Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas As-Safah. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M) C.28. namun pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Abu Abbas. sebuah kota indah yang terdapat di tepi aliran sungai Tigris dan Eufrat. Sementara itu perbaikan juga dilakukan di bidang administrasi pemerintahan yang disusun secara baik dan pengawasan . bila perlu membunuhnya. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M) 32.[9] Sehingga akhirnya menimbulkan banyak pemberontakan. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M) 34. Setelah Abu Abbas meninggal dia diganti oleh Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abbasiyah yang dikenal paling kejam. Khalifah An-Nasir (1180-1224 M) 35. Sedangkan makam yang tidak digali.[10] Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M) 29. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) 37. Koordinator pelenyapan keluarga Bani Umayah itu diserahkan kepada Abdullah pamannya Abu Abbas. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh. Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M) 30. kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga daulah Bani Umayah. dengan cara mengeluarkan jenazah mereka dan membakarnya. Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M) 31. maka Abu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas.

Akibat kebijakan yang diambil ini. misalnya beberapa daerah taklukan melepaskan diri. Pertama. Cara kedua. seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh seperti Daulah Umayah di Andalusia (Spanyol) dan Idrisiyah (Bani Idris) di Marokko. yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah manjadi sangat kuat. antara lain ke wilayah Armenia. Irigasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda dibanding sebelumnya. Kota Basra menjadi pelabuhan transit yang penting yang serba lengkap. Andalusia dan Afrika. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukan invasi dan perluasan daerah kekuasaan. Pertambangan dan sumber-sumber alam bertambah dan demikian pula perdagangan internasional ke timur dan ke barat dipergiat. Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakkan dan dibangun oleh Abu Abbas As-Safah dan Abu Jakfar Al-Mansur. Tak urung gejala pemberontakan itu memang muncul di mana-mana. Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Sejak masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) hingga Khalifah Al-Wasiq (842-847 M). Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembeda lainnya antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah yang lebih mementingkan perluasan daerah. perekonomian meningkat. maka puncak keemasan dinasti itu berada pada tujuh Khalifah sesudahnya. Namun demikian pemberontakanpemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur.[14] Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun Al-Rasyid. provinsi-provinsi terpencil di pinggiran mulai terlepas dari genggaman mereka. Ketentaraan kemudian terdiri dari prajuritprajurit Turki yang profesional.terhadap berbagai kegiatan pemerintah diperketat.[12] Ada dua kecenderungan yang terjadi. . Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun. seperti Daulah Aglabiah (Bani Taglib) di Tunisia dan Tahiriyah di Khurasan.[13] Pada zaman Al-Mahdi.[11] Pergeseran Kebijakan Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam ketimbang perluasan wilayah seperti pada masa Daulah Umayah. Kecenderungan orang-orang muslim secara sukarela sebagai anggota milisi mengikuti perjalanan perang sudah tidak lagi terdengar. Petugas pos-pos komunikasi dan suratmenyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur. Militer Daulah Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separatis dan pemberontakan. Mesisah.

Akibatnya. Di masa-masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan melakukan inovasi dan penemuan sendiri. yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran pemikiran muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika dalam dunia Islam. Zaman Keemasan Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani. Orang-orang datang ke perpustakaan itu untuk membaca. Di sinilah letak sumbangan Islam terhadap ilmu dan peradaban dunia. Berpartisipasinya unsur-unsur non Arab. terutama filsafat etika dan logika. yang selalu didampingi oleh penasihatnya. terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. dan berdiskusi. filsafat. terutama bangsa Persia. Salah satu faktor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan ialah terjadinya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah ini. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban. seorang penyair yang kocak. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Sedangkan dari . matematika. Sebagai respon dari kenyataan tersebut Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) mencoba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan memindahkan ibukota ke Samarra. Dari India misalnya. menulis. Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku kedokteran. Di samping itu. Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid. yang sebenarnya adalah seorang ahli hikmah atau filsuf etika. astronomi dan ilmu alam. Abu Nawas. dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun. perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan. Pada masa itu perpustakaan-perpustakaan tampaknya lebih menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. kimia. tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi dominasi tentara Turki. Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian. tentara itu menjadi sangat dominan sehingga Khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi boneka mereka. berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim.

Fiqih. Geografi. Ushul Fiqh dan lain-lain. Kedokteran dan lain sebagainya. yang meninggal pada tahun 750 M. seperti pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. Dan juga berkembang ilmuilmu Aqli seperti Astronomi. mereka mampu mengendalikan unsur-unsur Turki tersebut. Gubernur wasit dari Basra. Teologi. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Bahasa.[15] Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni saja juga berkembang . dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Pada masa itu juga hidup budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M). mereka digulingkan dengan paksa. Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir. Akan tetapi. meminjam istilah Ibnu Rusyd. Dari dua belas Khalifah pada periode ini. selebihnya. Kimia. dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik. Pemberontakan masih bermunculan pada periode ini. Sejarah. Baghdad kembali menjadi Ibukota. Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu Aqli. meskipun resminya mereka adalah penguasa. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalifah sesuai kehendak mereka. Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah AlMutawakkil wafat.sastera Persia terjemahan dilakukan oleh Ibnu Mukaffa. Hadis. Pada tahun 892 M. mereka memang mulai melemah. Di masa Al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M). hanya empat orang yang wafat dengan wajar. keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. Di samping itu. b. Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq. Usaha untuk melepaskan dari dominasi Turki selalu mengalami kegagalan. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuatan dan kekuasaan. kalau tidak dibunuh. Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki. Ilmu Alam. Meskipun demikian. Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa sastrawan besar lainnya. Periode kedua (847-945 M)[16] Kebijakan Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Makmun dan sebelumnya. Al-Jahiz (meninggal 869 M). Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Matematika. Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. . Khalifah memberinya gelar Amirul Umara (Panglima para panglima).

Ketiga. Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah. Setelah kekuatan militer merosot. Seperti halnya pada periode sebelumnya. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Farabi (870-950 M). Nizam Al-Mulk. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas ’’undangan’’ Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di baghdad. Ibnu Sina (980-1037 M). Keadaan Khalifah sudah mulai membaik. mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam. dan pemberontakan tentara. Daulah Abbasiyah masih terus mengalami kemajuan pada periode ini. Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama dari periode ketiga ini. luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyyah yang harus dikendalikan. karena telah dipindah ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial aliran ahlu sunnah dan syiah. d. Al-Biruni (973-1048 M).Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut. Ibnu Misykawaih (930-1030 M) dan kelompok studi Ikhwan As-Safa. ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Yang kedua. Dalam bidang ilmu pengetahuan. sementara komunikasi lambat. Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal. Madrasah . Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya. Bidang ekonomi. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di Baghdad. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara. Perdana Menteri pada masa Alp Arselan dan Maliksyah. pertanian. Hasan menguasai wilayah bagian utara. mesjid dan rumah sakit. Cabangcabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. dan perdagangan juga mengalami kemajuan. pertama. profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Wasit dan Baghdad. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. c. dan Ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz. kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar.

Pada periode ini. terutama untuk negeri Irak. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. Misalnya yang dilahirkan dalam periode ini adalah Az-Zamakhsari. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. pertama. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Keempat. Madrasah ini telah melahirkan banyak cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu. terutama Arab. yaitu perpustakaan di Baghdad. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Di antara faktor-faktor intern adalah. masingmasing provinsi memerdekakan diri. Ketiga. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi.ini menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. e. Persia dan Turki. Pada masa pusa kekuasaan melemah. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. AlGhazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. Dalam bidang politik. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Sesudah . Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. pertama. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Kedua. penulis dalam bidang Tafsir dan Usul ad-dien (Teologi).

Istana dan gedung-gedung yang indah. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. mereka lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. kemajuan ataupun kekuasaan. tak ada lagi yang kelihatan. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. . baik kekayaan. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M.itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Dalam masa lima abad lamanya. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. Di atas bumi kota Baghdad. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam.

terutama Arab. Kedua.perbintangan. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. Istana dan gedung-gedung yang indah. Pada periode ini. Keempat. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Persia dan Turki. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. pertama. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. terutama untuk negeri Irak. Dalam bidang politik. Pada masa pusa kekuasaan melemah. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Ketiga. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. pertama. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. Di antara faktor-faktor intern adalah. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. yaitu perpustakaan di Baghdad. Sesudah itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. e. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. mereka . masing masing provinsi memerdekakan diri.

telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. tak ada lagi yang kelihatan. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Dalam masa lima abad lamanya. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. baik kekayaan. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. . Di atas bumi kota Baghdad. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota.lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. kemajuan ataupun kekuasaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful