Bani Abbasiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

‫العباسدين‬ ّ Kekhalifahan Abbasiyah

750–1258

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibu kota Bahasa Agama Pemerintahan Sejarah - Didirikan - Dibubarkan

Bagdad, Kairo Arab(resmi), Aram, Armenia, Berber, Georgia, Yunani, Yahudi, Persia Tengah, Turkik Islam Monarki 750 M 1258 M

Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: ‫ ,العباسدين‬al-Abbāsidīn) adalah ّ kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al-Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • • •

1 Pendahuluan 2 Menuju puncak keemasan 3 Pengaruh Mamluk 4 Pengaruh Bani Buwaih 5 Pengaruh Bani Seljuk 6 Kemunduran
○ ○

6.1 Masa Disintegrasi (1000-1250 M) 6.2 Persaingan antar Bangsa
    

6.2.1 Yang berbangsa Persia: 6.2.2 Yang berbangsa Turki: 6.2.3 Yang berbangsa Kurdi: 6.2.4 Yang berbangsa Arab: 6.2.5 Yang mengaku dirinya sebagai khilafah:

○ ○ ○ ○ ○ • • • • • •

6.3 Kemerosotan Ekonomi 6.4 Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. 6.5 Ancaman dari Luar 6.6 Perang Salib 6.7 Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad

7 Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah 8 Silsilah para khalifah 9 Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo 10 Referensi 11 Sumber Lain 12 Lihat pula

[sunting] Pendahuluan
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh

Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031.

[sunting] Menuju puncak keemasan
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M). Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan

Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki

pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih

dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani

Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah alKubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh

dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu

disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerahdaerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus dan India. Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:

Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)

Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa' al-Rasyiduun. Disamping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai "gelar tahta", seperti al-Manshur, dan belakangan gelar tahta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu alAbbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

Pada masa pemerintahannya. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah. yang membawahi kepala-kepala departemen. puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas.Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). kesehatan. lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: 1. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. 3. dan mendirikan rumah sakit. Walaupun demikian. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. Ketika itu. misalnya. seperti tafsir. pemandian-pemandian umum juga dibangun. dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah. Sebelumnya. semuanya dapat dipadamkan. revolusi al-Khawarij di Afrika Utara. dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Al-Ma'mun. Dalam bidang pendidikan. gerakan Syi'ah. Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani. sosial. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. belum ada tentara khusus yang profesional. lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Disamping itu. Dalam penyelenggaraan negara. pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad. Ia juga banyak mendirikan sekolah. memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. penerjemahan buku-buku asing digalakkan. ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama. lembaga pendidikan dokter. ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah. khalifah berikutnya (833-842 M). 2. Akan tetapi. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Kesejahteraan. pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. pendidikan. tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir. hitungan dan tulisan. Disamping itu. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. 1. hadits. dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. gerakan Zindiq di Persia. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. dan farmasi. Dengan demikian. di awal Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah. ilmu pengetahuan. keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. fiqh dan bahasa. yaitu lembaga pendidikan terendah. pengganti Harun Ar-Rasyid. Sebagaimana diuraikan di atas. Al-Mu'tasim. Maktab/Kuttab dan masjid. .

menjadi Qadhi alQudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. menulis dan berdiskusi. bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. sejak awal sudah dikenal dua metode. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. tafsir bi al-ra'yi. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Dalam bidang tafsir. sebagaimana sudah disebutkan. yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. Fase pertama. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu. Pada umumnya. Karena itu. ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Disamping itu. kemajuan itu paling tidak. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran. dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya. baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah. terutama filsafat. Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut. yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. . tetapi juga ilmu pengetahuan agama.2. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. 2. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. penafsiran pertama. karena di samping terdapat kitab-kitab. Disamping itu. Abu Yusuf. tafsir bi al-ma'tsur. Bidangbidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Tingkat pendalaman. filsafat dan sastra. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas. terutama melalui gerakan terjemahan. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab. Pengaruh Persia. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. di sana orang juga dapat membaca. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H. kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana. maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah. (tafsir rasional). Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. sangat kuat di bidang pemerintahan. yaitu: 1. dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum. sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. juga ditentukan oleh dua hal. ilmu matematika dan astronomi. Kedua. terutama setelah adanya pembuatan kertas. Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi. pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing.

setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. dunia Islam . kedokteran. logika. etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah. al-Jabr wa al-Muqoibalah. pemikiranpemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama. yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus. kenegaraan. Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami. terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat. Kata aljabar berasal dari judul bukunya. ArRazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah. Murji'ah dan Mu'tazilah pun ada. seperti Khawarij. Al-Farghani. yang juga mahir dalam bidang astronomi. jiwa. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat. Ibnu Sina. Di bidang kimia. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi. karena Al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi. terutama di bidang astronomi. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja. yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. Disamping empat pendiri madzhab besar tersebut. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ini terjadi. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat. juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. terkenal nama Jabir ibn Hayyan. besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. filsafat. karena pengikutnya tidak berkembang. sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan alNazzam (185-221 H/801-835M). Namun. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Asy'ariyah. Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. kimia dan sejarah.Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i Rahimahullah (767-820 M). ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir. Akan tetapi. dan Ibnu Rusyd. Pada masa kekhalifahan ini. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. antara lain al-Farabi. Penulisan hadits. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. Sesudahnya.

kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas. kejayaan dan kegemilangan. matematika. Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy. Persia. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam . [sunting] Pengaruh Mamluk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mamluk Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentaratentara budak yang disebut Mamluk pada abad ke-9. tentaratentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. dan filosofi dari Yunani. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan. karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara Mamluk ini. sehingga Islam mencapai masa keemasan. Bani Mamalik ini mendirikan kesultanan sendiri di Mesir dan memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Cairo setelah berbagai serangan dari tentara tartar dan kehancuran Baghdad sendiri setelah serangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. namun setelah periode ini berakhir. yang pada mulanya mengambil inisiatif merebut kekuasaan kerajaan Ayyubiyyah yang pada masa itu merupakan kepanjangan tangan dari khilafah Bani Abbas. sastra. Banyak golongan pemikir lahir zaman ini. [sunting] Pengaruh Bani Buwaih Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Buwayhiyah Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan.mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Wallahul Musta’an. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya. pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi. Tambahan pula. dan Hindustan. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. hal ini disebabkan karena para penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam memimpin kerajaan. karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu. Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. Dibentuk oleh Al-Ma'mun. dimana khalifah Abbasiyyah tetap sebagai kepala negara. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik. peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran. sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan. dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. yang kemudian dikenal dengan Bani Mamalik berhasil berkuasa. Pada masa ini. Di antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan.

Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. perebutan kekuasaan sering terjadi. akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas. ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. sehingga banyak daerah memerdekakan diri. seperti terlihat pada periode kedua dan seterusnya. 3. [sunting] Masa Disintegrasi (1000-1250 M) Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan untuk membendung faham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni yang dianut oleh mereka. tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. pada masa-masa berikutnya. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. pada periode ketiga (334-447 H/l055 M). meskipun khalifah tidak berdaya. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat . daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh kekuasaan Bani Buwaih yang berpaham Syi'ah. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara. 2. tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. adalah: 1. [sunting] Kemunduran Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini. dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. Akan tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah. sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Bersamaan dengan itu. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. terutama di awal berdirinya.sebelumnya. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka. Tetapi. Akan tetapi. khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. posisi dan kedudukan khalifah Abbasiyah sedikit lebih baik. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Pada saat kekuatan militer menurun. [sunting] Pengaruh Bani Seljuk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Seljuk Raya Setelah jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Bani Seljuk atau Salajiqah Al-Kubro (Seljuk Agung). apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata. mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya.

Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Bahkan dalam kenyataannya. Alasannya adalah : 1. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpinpemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Namun pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. bahkan ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu. para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran. Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. banyak daerah tidak dikuasai khalifah. Pada masa . daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. Secara riil. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah. sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu'u arabiyah (kebangsaan/anti Arab). dalam perkembangan selanjutnya teryata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. sudah merdeka dan berkuasa kembali. seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. terutama di bidang politik. Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah. tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Penguasa Bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru seperti diuraikan di atas. seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. Para khalifah Abbasiyah. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Nampaknya. mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah. 2. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah. Sebagai gantinya. Menurut Ibnu Khaldun. Pada periode ini. Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik. dengan pembayaran upeti itu. 2. Mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya. disamping persoalan-persoalan keagamaan. walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada di antaranya yang cukup besar. kedudukannya semakin bertambah kuat. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara: 1. Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu. Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan. Pengangkatan anggota militer Turki ini. sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan.nominal.

masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. disamping fanatisme kearaban. naik tahta. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat. banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar. para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil. khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional. dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat. ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. stabilitas politik dapat terjaga. Munculnya dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri. mereka dianggap sebagai hamba. sebagaimana diuraikan terdahulu. 1. Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Menurut Ibnu Khaldun.inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Syria. wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas. pada periode ketiga. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Selain itu. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Sementara itu. Turki dan India. seperti Maroko. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. benih-benih itu tidak sempat berkembang. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Kecuali Islam. mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Irak. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. Oleh Bani Abbas. di antaranya adalah: . faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. tetapi jika khalifah lemah. Keduanya sama-sama tertindas. Akibatnya. dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam. Namun demikian. Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Meskipun demikian. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Persia. para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Akan tetapi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: [sunting] Persaingan antar Bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Disamping kelemahan khalifah. seorang khalifah yang lemah. Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. Dengan demikian. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. Setelah al-Mutawakkil. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam). Mesir. 2. bangsa Persia. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat. yang disebut masa pertengahan.

Dari latar belakang dinasti-dinasti itu. 2. 6. (470-700 H/10771299 M). (210-285 H/825-898 M). (250-316 H/864-928 M). Idrisiyyah di Maghrib. Mirdasiyyah di Aleppo. Seljuk besar. (564-648 H/1167-1250 M). [sunting] Yang mengaku dirinya sebagai khilafah: 1. 3. didirikan oleh Sulthan Shalahuddin al- ayyubi setelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke III. e. (433-583 H/1040-1187 M). 2. Disamping latar belakang kebangsaan. Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M). Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil. (511-590 H/1117-1194 M). didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk Syria atau Syam di Syria. al-Ayyubiyyah. [sunting] Yang berbangsa Kurdi: 1. Ghaznawiyah di Afganistan. 2. Thuluniyah di Mesir. Dan Sulthan Alib Arselan Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. Bani Buwaih. Abu 'Ali.1002 M). 4. (487-511 H/1094-1117 M). bahkan menguasai Baghdad. (205-259 H/820-872 M). 5. c. 5. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan. 2. 8. 2. al-Barzuqani. Seljuk Kinnan di Kirman. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). Dulafiyah di Kurdistan. 3. (380-489 H/990-1095 M). d. Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. (348-406 H/959-1015 M). 3. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia). (254-292 H/837-903 M). (254-290 H/868-901 M). (317-394 H/929. dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi paham keagamaan. (414-472 H/1023-1079 M). Bani Shafariyah di Fars. (320-560 H/932-1163 M). b. Persia dan Turki. 3. [sunting] Yang berbangsa Arab: 1. atau Seljuk Agung. Fatimiyah di Mesir. (386-489 H/996-1 095 M). ada yang berlatar belakang Syi'ah maupun Sunni. Bani Thahiriyyah di Khurasan. (172-375 H/788-985 M). (403-545 H/1011-1150 M). (261-389 H/873-998 M). (266-318 H/878-930 M). (351-585 H/962-1189 M). . Bani Samaniyah di Transoxania. 7. (320-447 H/ 932-1055 M). Mazyadiyyah di Hillah. Ukailiyyah di Maushil. Umayyah di Spanyol. nampak jelas adanya persaingan antarbangsa. 'Alawiyah di Thabaristan. Ikhsyidiyah di Turkistan.[sunting] Yang berbangsa Persia: 1. [sunting] Yang berbangsa Turki: 1. 4. 4. Bani Sajiyyah di Azerbaijan. terutama antara Arab.

memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. kembali memperkenankan orang Syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. Sebaliknya. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma'mun. Namun anaknya. tetapi juga antar aliran dalam Islam. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. Zoroasterisme dan Mazdakisme. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. bahkan Al-Mahdi merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. [sunting] Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Pada periode pertama. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Tidak tolerannya pengikut Hanbali terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar.[sunting] Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj. semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah.). . faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M). semacam pajak hasil bumi. sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M). Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Al-Mansur berusaha keras memberantasnya. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni. pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. dengan menjadikan Mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Al-Mutawakkil. sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah. misalnya. al-Muntashir (861862 M. Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salafy. sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan Sunni kembali naik daun. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Akan tetapi. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi.

terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam . 2. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. saat Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci. Syed Ameer Ali mengatakan: “ Agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti juga agama Isa ‘alaihis salaam.000 orang. al-Hajr. Disamping itu. peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Manzikert. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. [sunting] Perang Salib Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Salib Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095 M. Tentara Mongol. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam konon sampai sekarang. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu.. Ghuz. karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. serta menghambat pengaruh dan invasi dari tentara Muslim atas wilayah Kristen. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib.000. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. terdiri dari tentara Romawi.Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Pikiranpikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah.Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah .. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. panglima tentara Mongol. yang hanya berkekuatan 15. Dalam . ada pula faktorfaktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. setelah menghancur leburkan pusatpusat Islam. untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk. Sebagaimana telah disebutkan.000 prajurit. Sebagaimana sebelumhnya tentara Sulthan Alp Arselan Rahimahullah tahun 464 H (1071 M). Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam.. namun kerugian yang mereka derita banyak sekali. Pengaruh perang salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 2. Namun. Perancis dan Armenia... 1. Disebutkan bahwa Hulagu Khan.. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia. penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Namun pada masa Dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib. ikut memperbaiki Yerusalem. al-Akraj. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga ” [sunting] Ancaman dari Luar Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.

Apa yang dikatakan wazirnya temyata tidak benar.Pemberontakan Abdullah bin Ali.Kaidah keilmuan mulai terbentuk. Hulagu Khan akan menjamin posisimu. 786 . 755 . Kekalahan tentara Abbasiyyah di Spanyol. 809 . Khalifah Al-Musta'shim. la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara. Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Tetapi. Aljabar diciptakan oleh Al-Khawarizmi. wazir khilafah Abbasiyah. termasuk wazir sendiri.Kampanye melawan Byzantium. "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Walaupun sudah dihancurkan. . karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.1258). betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan.Serangan ke utara Perancis. al-Amin dilantik menjadi khalifah. sebagaimana kakekkakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk". Banyak daulah kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad. Mereka semua. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah. permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. 805 . 800 . Pembunuhan Abu Muslim. penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 .000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. 752 . la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang.Pembangunan kota Bagdad.Bermulanya Kekhalifahan Bani Abbasiyah.Abd ar-Rahman I mendirikan kerajaan Bani Umayyah di Spanyol. putera khalifah. Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun. Pada saat yang kritis tersebut. Khalifah menerima usul itu. 792 . la mengatakan kepada khalifah. 763 . 756 . Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim. tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam.kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. [sunting] Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah • • • • • • • • • • 750 . Merebut Pulau Rhodes dan Siprus. sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200. sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. Dengan demikian.Abu al-Abbas al-Saffah menjadi Khalifah pertama Bani Abbasiyah. tetapi malah terpecah belah. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir.Harun ar-Rasyid menjadi Khalifah. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana. [sunting] Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Ilkhanat Pada tahun 565 H/1258 M.wafatnya Harun ar-Rasyid.

Salahuddin Al-Ayubbi merebut Baitulmuqaddis dari tentara Salib. • • • • • • • • • • [sunting] Silsilah para khalifah Dibawah ini merupakan silsilah para khalifah dari Bani Abbasiyah. 1194 . 1000 . Mereka membunuh semua penduduknya. 1258 . Tamatnya pemerintahan Kerajaan Bani Abbasiyyah di Baghdad. Sulthan Alp Arselan beserta pasukannya yang hanya berjumlah 15. Kejatuhan Baghdad. Perang Salib Ketiga dimulai.Tentara Mongol menyerang dan memusnahkan Baghdad. Spanyol. 1099 . 1187 . 1085 . India. mulai dari Abbas bin Abdul-Muththalib sampai khalifah terakhir dari Bani Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Perang Salib Kedua dimulai. 1055 .Tentara Muslim merebut Delhi.Peristiwa Manzikert.Bangsa Norman merebut Sisilia.Tentara Kristen menawan Toledo.• • • • • 814 .Tentara Salib merebut Baitulmuqaddis. 1005 . 1236 .Nur al-Din merebut Edessa dari tentara Salib. 1071 . pemerintahan Muslim di sana berakhir.Tentara Salib merebut Cordoba. Pemerintahan Abbasiyah-Seljuk dimulai sampai sekitar tahun 1258 ketika tentara Mongol menghancurkan Baghdad.Baghdad dikuasai oleh tentara Turki Seljuk. 1091 . 1072 . 1144 .Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma'mun.000 tentara berhasil mengalahkan gabungan tentara salib yang dipimpim oleh Kaisar Romanus IV yang berjumlah 200.000 tentara. ABBAS pendiri Bani Abbasiyah Ibnu Abbas Ali Muhammad . Ribuan penduduk terbunuh.Perang Salib pertama dimulai.Masjid Besar Cordoba dibangun. dan meneruskan kepungannya terhadap kerajaan Byzantium.Sulthan Alp Arselan berhasil menguasai Asia Tengah (Anatolia). al-Amin terbunuh dan alMa'mun menjadi khalifah. 1095 . Spanyol.Multan dan Ghur ditawan.

AR-RADHI (k. 902-908) 18. 946-974) 25. AL-MU'TASIM (k. 833-842 al-Qasim al-Mu'taman 9. 870-892) 16. 908-935) 19. 775-785) 5. AL-WATSIQ (k. 754-775 Musa 3. AL-MA'MUN (k. 991-1031) 24. ALMUSTAKFI (k. 944-946) 20. AL-MU'TAMID (k. 869-870) 13. ALMUNTASHIR (k. AL-MUSTA'IN (k. AR-RASYID (k. ALMUKTAFI (k. AL-QAHIR (k. 813-833) 8. ALMUTTAQI (k. AS-SAFFAH (k. 785-786 Ibrahim al-Mubarak 6. AL-AMIN (k. AL-MAHDI (k. ALMU'TADHID (k. 940-944) 23. AL-MUTHI' (k. AL-MANSUR (k. 866-869) 11. AL-QADIR (k. 861-862) al-Muwaffaq 15. 862-866) 14. ATH-THA'I (k. 750-754) 2. AL-MUQTADIR (k. AL-HADI (k. AL-MU'TAZZ (k. 932-934) 22. 974-991) 26. 847-861) 12. 786-809) 4. ALMUTAWAKKIL (k. AL-QA'IM . 892-902) 17. ALMUHTADI (k.Ibrahim 1. 934-940) Ishaq 21. 842-847) 10. 809-813) 7.

1225-1226) 1. ALMUSTA'SHIM (k. 1242-1258) [1] Catatan: • k. Nama dengan huruf kapital merupakan khalifah yang berkuasa. 1226-1242) 37. merupakan nomor urut seseorang menjadi khalifah. • • . ALMUSTADHI' (k. AL-MUQTADI (k. ALMUSTANSHIR II Berkuasa di Kairo 36. ALMUSTANSHIR (k. 1135-1136) 32. merupakan tahun kekuasaan Angka. ALMUSTARSYID (k. AN-NASHIR (k.(k. 1180-1225) 35. AZH-ZHAHIR (k. ALMUSTAZHIR (k. 1031-1075) 27. 1160-1170) 33. 1136-1160) 30. ALMUSTANJID (k. 1170-1180) 34. 1118-1135) 30. AR-RASYID (k. 1075-1094) 28. 1094-1118) 29. AL-MUQTAFI (k.

Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan. meninggalkan Al-Anbār[vi] dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru. Makalah ini. dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). Pertama. berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H. LATAR BELAKANG KEMAJUAN PERADABAN Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M.[sunting] Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo • • • • • • • • • Al-Mustanshir II 1261 Al-Hakim 1262-1302 Al-Mustakfi I 1302-1340 Al-Wathiq I 1340-1341 Al-Hakim II 1341-1352 Al-Mu'tadid I 1352-1362 Al-Mutawakkil I 1362-1383 Al-Wathiq II 1383-1386 Al-Mu'tasim 1386-1389 • • • • • • • • • Al-Mutawakkil I (kembali berkuasa) 1389-1406 Al-Musta'in 1406-1414 Al-Mu'tadid II 1414-1441 Al-Mustakfi II 1441-1451 Al-Qa'im 1451-1455 Al-Mustanjid 1455-1479 Al-Mutawakkil II 1479-1497 Al-Mustamsik 1497-1508 Al-Mutawakkil III 1508-1517 Peradaban Emas Dinasti Abbasiyah: Kajian Ringkas Minggu. menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. yang beberapa saat kemudian menjadi lokus aktivitas ekonomi. Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas. para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[ii] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama. menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah. pembangunan (`umrān). Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M). dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama.[v] Kedua. hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah. meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri. 15 November 2009 23:10 Artikel Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab[i] PENDAHULUAN Meski terdapat sejumlah perbedaan. budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu. . Era kepemimpinan khalifah kedua. dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas.[iii] Periode pertama. ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri.kurang tepat. sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya.[iv] Yaitu. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm). tercapainya kesejahteraan.

bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah. baik bahasa Pahlavi-Persia.[xx] serta Hunayn Ibn Ishāq yang menerjemahkan buku-buku medis karya Hippocrates[xxi] dan Galen. Ahmad Shalabi terwujud dalam tiga sektor yaitu menggeliatnya gerakan penulisan buku (harakat al-tasnīf). Sang Khalifah-pun mendirikan Bayt al-Hikmah.[xxii] Pada era Hārūn al-Rashīd (170-194 H) para cendekiawan dan ilmuwan semakin banyak yang berdiam di Baghdad.Langkah-langkah penting yang diambil Al-Mansūr tersebut dan efek besar yang ditimbulkannya terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li aldawlah al-`Abbasiyah).[xix] Berbeda dengan upaya penerjemahan di masa Dinasti Umayyah yang berskala kecil atau bahkan bersifat individual.[xii] Kesimpulan tersebut jika ditilik dari perspektif kajian sejarah peradaban berkesesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa semangat yang dibawa oleh konsep keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan élan vital dan menjadi unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban. khususnya yang terkait dengan ilmu medis dan kimia. gerakan penerjemahan di Era Abbasiyah.[xvii] Selain itu. Sebagaimana diceritakan oleh para sejarahwan.[viii] Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam. hadits. fiqh. serta pada saat keamanan politik dalam negeri relatif stabil. sebelum masa itu. Hal ini diakui pula oleh beberapa penulis Barat semisal Vartan Gregorian dalam bukunya Islam: A Mosaic. Para khalifah seperti Al-Mansūr misalnya.[xiii] Di samping itu.[vii] Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan. sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup signifikan di era Al-Mansūr pula. melainkan pada titik yang paling penting merupakan buah dari pengaruh konsep-konsep dalam ajaran Islam itu sendiri. yang menerjemahkan buku Kalīlah wa Dimnah. para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi. Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mūn dan mencapai puncaknya pada masa itu dibawah tanggungjawab . kemajuan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah pada hakekatnya tidak datang dari ruang hampa. Yunani maupun Mesir Kuno ke dalam bahasa Arab. setelah sebelumnya terabaikan oleh para khalifah Bani Umayyah.[xiv] Singkat kata.[x] Konon. seorang Majusi yang kemudian memeluk Islam. untuk menerjemahkan buku-buku sains. selalu mendorong para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dengan tanpa membedakan agama maupun bangsa mereka. khususnya Persia. didukung oleh para khalifah yang rata-rata memiliki kecenderungan keilmuan dan ketertarikan terhadap pengetahuan dari Yunani maupun Persia. serta wilayah Asia Barat. Not a Monolith. GERAKAN PENERJEMAHAN DI ERA ABBASIYAH Berbicara mengenai gerakan penerjemahan yang terjadi di Era Abbasiyah sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari upaya-upaya penerjemahan yang pernah dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. [xv] Selain tiga hal di atas dapat ditambahkan pula perkembangan ilmu sains yang melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan legendaris yang diakui tidak saja di dunia Muslim tetapi juga oleh kalangan akademisi Barat. Dinasti Abbasiyah dengan cepat telah mampu menciptakan sebuah kemajuan ilmu dan peradaban yang menurut Dr. filsafat dan sastra dari bahasa asing ke dalam Bahasa Arab.[ix] Demikian dengan gerakan pembukuan (tasnīf) dan kodifikasi (tadwīn) ilmu tafsir. kodifikasi dan sistematisasi ilmu-ilmu keislaman. Suriah.[xi] Namun betapapun pentingnya peranan Al-Mansūr. faktor lain yang secara lebih lanjut turut mempengaruhi kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah adalah interaksi masif kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir). ke dalam bahasa Arab. sebuah upaya penerjemahan telah dilakukan meski dalam skala kecil. Khālid ibn Yazīd ibn Mu’awiyah pernah memerintahkan dihadirkannya sejumlah filosof Yunani yang bermukim di Mesir dan menguasai bahasa Arab untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Mesir Kuno (Qibti). serta menjamurnya gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah) secara masif.[xxiii] laiknya sebuah akademi ilmiah yang menjadi pusat aktivitas keilmuan mulai dari penelitian penerjemahan sekaligus perpustakaan. Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan. usai penaklukan besar-besaran yang merambah wilayah-wilayah di tiga benua. pada masa `Abdul Mālik ibn Marwān dan AlWalīd ibn `Abdul Malik itu juga telah dilakukan penerjemahan dīwān[xviii] dari bahasa aslinya. sehingga tidak mengherankan jika Al-Qanūji secara tegas menyebut Al-Mansur sebagai khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam. tidak lama setelah berdirinya. Di era Al-Mansūr ini muncul tokoh penerjemah di bidang sastra seperti `Abdullāh Ibn Al-Muqaffa` (757 M).[xvi] Saat itu.

yaitu munculnya kecenderungan penulisan hadits yang didahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan haditshadits sahīh dari yang dla`īf sebagaimana dilakukan oleh Al-Bukhari (w. Musaddad ibn Musarhad al-Basri. Aristoteles. juga al-Rabī` ibn Sabīh (w. Hubaysh ibn al-A`sam. yaitu Abu Hanīfah (w. Tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang dialami oleh ilmu Tafsir dan ilmu Fiqh.179H). Al-Tirmidzi (w. Euclid.[xxxi] Pada masa ini ilmu Tafsir menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadits. Al-Awza`i di wilayah Syam. masih pada era Abbasiyah. Abu Dāwud (w. 151H) yang menulis buku sejarah (Al-Maghāzi). Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah adalah Ibn Jurayj (w. Sushruta.273). kemajuan ilmu dan peradaban Era Abbasiyah juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. meliputi metematika. Ibn Abi `Urūbah dan Hammād ibn Salāmah di Basrah. India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Era Abbasiyah mencatat dimulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir. `Ubaydullah ibn Mūsa al`Absy al-Kūfi.275). seperti dilakukan oleh Banū Al-Munajjim yang berani membayar 500 dinar kepada para penerjemah tiap bulannya sebagai upah penerjemahan penuh waktu (li al-naql wa al-mulāzamah). zoologi. Plato. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sisitematis baik di bidang ilmu Tafsir. seperti buku-buku Pythagoras.160) dan Ibn Al-Mubārak (w. Astufun ibn Bāsīl. muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadits. dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazdhab fiqh hidup pada era tersebut. geografi dan lain-lain dilakukan. ilmu sosial dan sains. Charaka. Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak lagi. kedokteran. 171) yang menulis Al-Muwatta' nya di Madinah. Āwī ibn Ayyub. astronomi. serta Al-Nasā’i (w. Sufyān al-Tsauri di Kufah. Asad ibn Mūsā al-Amawi dan Nu`aym ibn Hammād al-Khuzā`i. Di bidang ilmu-ilmu agama. Buku tafsir lengkap dari al-Fātihah sampai al-Nās juga mulai disusun.[xxiv] Maka tidak heran jika Philip K. Qustā ibn Lūqā. Galen. Bersamaan dengan itu Baghdad juga menjadi kota besar paling kaya dan mempunyai populasi tertinggi mencapai satu juta jiwa.211 H) yang hidup sezaman dengan Al-Farā juga telah menyusun sebuah kitab tafsir lengkap yang serupa. Al-Layts ibn Sa’ad (w. yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga. Hunayn ibn Ishāq. Mālik ibn Anas (w. bahwa gerakan penerjemahan ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan para khalifah sahaja. Hitti menyatakan bahwa Bayt al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahāt al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia. 181 H). Salībā Ayyūb alRahāwi. Ishāq ibn Hunayn.261). Diantara tokoh yang menulis musnad antara lain Ahmad ibn Hanbal. Muhamad Ibn Ishāq (w. Khususnya sejak tahun 143 H.[xxviii] Catatan menarik lainnya. Plotinus.[xxxv] . Ma`mar di Yaman.[xxv] Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung. Tsābit ibn Qarrah al-Sābi’i. kimia. 241H). Al-Ma'mun juga menambahkan bangunan khusus sebagai sebuah observatorium untuk penelitian astronomi ke Bayt al-Hikmah. Hippocrates.[xxxii] Tapi luput dari catatan Ibn al-Nadīm bahwa `Abd al-Razzāq ibn Hammam al-San`āni (w. 150 H) yang menulis kumpulan haditsnya di Mekah. Hadits maupun Fiqh.150 H). Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi. muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad. Bayt al-Hikmah-pun menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains. AlShāfi`i (w.[xxx] KEMAJUAN ILMU-ILMU AGAMA Selain gerakan penerjemahan.204) dan Ahmad ibn Hanbal (w. 279). Mālik ibn Anas (w. Mālik ibn Anas. 175H) serta Abū Hanīfah.Hunayn Ibn Ishāq. Hadits dan Fiqh. [xxxiii] Ilmu Fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting.303). tetapi mulai tenggelam dan mengalami kemunduran pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil (847-861M). Menurut catatan Ibn al-Nadīm yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut adalah Yahya bin Ziyād al-Daylamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farrā.[xxix] Keluarga elit lain diceritakan bahkan sangat getol mengeluarkan harta berlimpah untuk membayar para penerjemah mereka. melainkan juga oleh para pribadi dari kalangan elit semisal Banū Shākir yang juga mengelola penerjemah-penerjemah handal yang bekerja siang malam untuk mereka.[xxvii] Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa mayoritas para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh. Iqlīdis ibn Nā`imah. Yahya ibn al-Bitrīq. Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga.256). [xxxiv] Perkembangan penulisan hadits berikutnya. Ibn Mājah (w. ilmu Hadits juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadits-hadits Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah disebutkan diatas seperti Ibn Jurayj. Aryabhata maupun Brahmagupta.[xxvi] Popularitas Bayt al-Hikmah ini terus berlangsung sampai kepemimpinan Al-Mu`tasim (berkuasa 833842M) dan Al-Wātsiq (berkuasa 842-847M). Muslim (w.

1048) serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi (w. 929). geografi. bahwa pada zaman Khalifah Al-Muqtadir Billah (907-932M/295-390H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi debagai dokter. melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi (`ulūm aqliyah).[l] Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox). [xl] Penelitian di bidang astronomi oleh kaum muslimin dimulai pada era Al-Mansūr ketika Muhamad ibn Ibrāhīm al-Fazāri menerjemahkan buku "Siddhanta" (yang berarti Pengetahuan melalui Matahari) dari bahasa Sanskerta ke bahasa Arab. Ibn al-Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic. Sejarahwan lain yang datang berikutnya adalah seperti Muhamad ibn Sa’ad (w.[xlvii] Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak belajar. Selanjutnya muncul pula Muhamad ibn `Umar al-Wāqidi (w.[liii] Setelah itu kaum Muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. salah satu cabang matematika bahkan juga diambil dari namanya.[xlviii] Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindi[xlix] yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al-Rāzi[xlvi] yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alkohol.[xxxvii] Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahun masa kini.[xxxvi] KEMAJUAN SAINS DAN TEKNOLOGI Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja. meski isinya masih direkam oleh sejarahwan Al-Tabari (838-923M).1274). termasuk perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah.Disiplin keilmuan lain yang juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada era Abbasiyah adalah ilmu sejarah. sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah. Al-Khawarizmi. Beliau pula yang memegembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (ujicoba).[xli] Pada era Hārūn al-Rashīd dan Al-Ma’mūn sejumlah teori-teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut.279) yang menulis Futūh al-Buldān. setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari Cina yang berhasil ditangkap setelah meletusnya Perang Talas. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain AlKhawārizmi. serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana. 207) yang menulis buku berjudul Al-Tārīkh al-Kabīr dan Al-Maghāzi.[liv] . Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. Dalam bidang matematika misalnya. ada Muhamad ibn Mūsa al-Khawārizmi[xxxviii] sang pencetus ilmu algebra. Salah satu diantaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat buku.[xxxix] Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslim era Abbasiyah dan didukung langsung oleh Khalifah Al-Mansūr yang juga sering disebut sebagai seorang astronom. Abu Rayhān al-Biruni (w. Ibn Sina[li] dan lain-lain. kemajuan sains di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era Abbasiyah. Ibn Jābir Al-Battāni (w. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics.230 H) dengan Al-Tabaqāt al-Kubrā-nya serta Ahmad Ibn Yahya al-Balādhuri (w.[xliv] Di bidang ilmu kimia era Abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jābir ibn Hayyān[xlv] (atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern. 152) dan kemudian diringkas oleh Ibn Hisyām (w. [xlii] Sedangkan Ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al-Haytsam[xliii] atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen. Era Keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia.[lii] Di samping kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas umat Islam Era Abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi. arsitektur dan lainnya yang tidak dapat dijeleaskan seluruhnya dalam makalah ini. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemuddian menyebar hingga Fez dan ahirnya masuk ke Eropa melalui Andalusia pada abad 13M. yang awal penulisannya dilakukan oleh Ibn Ishāq (w. Hal ini bisa jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzāt al-atsar al-māddi fī hayātihim) dibanding buku-buku olah pikir (filsafat). 218). Buku yang pertama dinyatakan hilang. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat Muslim Era Abbasiyah. Bahkan jika dicermati. Algoritma. Disebutkan pula.

Akhirnya pada tahun 132 M H/ 750 M. telah berhasil menciptakan sebuah peradaban agung yang mampu menampilkan kemajuan-kemajuan baik di bidang ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu sains yang kemudian disumbangkan bagi peradaban manusia dan diwarisi oleh pemegang tampuk peradaban modern yaitu Barat. salah seorang keluarga Abbas yang menjadikan kota Khufa sebagai pusat kegiatan perlawanana. seorang jendral muslim yang berasal dari Khurasan. Tapi dimasa-masa akhir pemerintahan dinasti Bani Umayyah gerakan tersebut semakin menguat seiring banyaknya protes dari masyarakat yang merasa tidak puas atas kinerja dan berbagai kebijakan pemerinatah dinasti Bani Umayyah. hanya saja gerakan tersebut selalu digagalkan oleh kekuatan militer Bani Umayyah. terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.PENUTUP Setelah pemaparan singkat mengenai sejarah Dinasti Abbasiyah. kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad. bangunan kota dan lain . seperti bidang-bidang sosial dan budaya. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa. Diantara kemjuan dalam bidang sosila budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. Gerakan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. melalui Dinasti Abbasiyah. KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH DALAM BIDANG SOSIAL BUDAYA Sebagai sebuah dinasti. Gerakan ini menemukan momentumnya ketika para tokoh dai Bani Hasyim melancarkan serangannya. yang dalam konteks ini adalah nilai-nilai dan konsep-konsep yang bermuara kepada sumber agama Islam itu sendiri yaitu wahyu. Selain itu. sehingga gerakan-garakan kelompok penentang tidak dapat melancarkan serangannya secara kuat. masjid. Sejak itu. . Mesir pada 132 H / 705 M. serta berbagai bidang lainnya. Presia. [insya Allah to be completed] Senin. Gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah dilakukan sejak masa-masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah. secara resmi Dinasti Abbasiyah mulai berdiri. baik untuk bangunan istana. 21 April 2008 Dinasti abbasiyah FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA DINASTI ABBASIYAH Dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama lebih kurang enam abad ( 132 – 656 H/ 750-1258 M ). Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini. juga dukungan kuat dari kelompok Syi’ah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh dinasti Banui Umayyah.Saffah dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani. didirikan oleh Abul Abbas al. dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. Unsur ini ditopang oleh unsur-unsur penunjang lainnya yaitu sumberdaya manusia yang direpresentasikan utamanya oleh para khalifah serta tokoh-tokoh ilmuan saat itu. Para tokoh tersebut antara lain Muhammad bin Ali. Unsur paling penting dari kemajuan peradaban yang dibangun oleh umat Muslim Era Abbasiyah tersebut adalah al-fikrah al-dīniyah. telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. khususnya terkait kemajuan ilmu dan peradaban serta masa-masa kemunduran dan kehancurannya di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain bahwa sejarah peradaban Islam. Marwan bin Muhammad dapat dikalahkan dan akhrinya tewas mengenasakan di Fustat. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Diantara kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Khalifah Dinasi Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur. serta ruang dan waktu yang mewujud dalam rentang sejarah yang berlaku.

Untuk itu. Sementara pemerinath Dinasti Bani Abbasiyah. seperti pada istana Qashrul dzahabi. khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama. Seni asitektur yang dipakai dalam pembanguanan istana dan kota-kota. Pada mas inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal. sementara banguan kota seperti pembangunan kota Baghdad. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. banayak terjadi pemebrontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasyi Abbasiyah KEMAJUAN DALAM BIDANG ILMU PENGETAHUAN Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh.sebagainya. terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. Dengan demikian. tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. KEMAJUAN DALAM ILMU AGAMA ISLAM Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). ilmu bumi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah. Al Mutanabby. Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini. astronomi dan sebagainya. lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. Selain bidang –bidang tersebut diatas. pencipta teori musik Islam. maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan. Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman. 152 H / 768 M ). Al farabi dan lain-lainnya. Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah. dan Qashrul Khuldi. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini. ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ). usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. yang disebut diwanul jundi. Khalil bin Ahmad. Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. Meskipun begitu. KEMAJUAN DALAM BIDANG POLITIK DAN MILITER Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok anatara pemerinatah Dinasti Bani Umayyah dengan Dinasti Bani Abbasiyah. sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun. Abu Nasr al-faraby. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini. Pemerinath Dinasti Bani Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaanya.Pembentuka lembaga ini didasari atas kenyataan polotik militer bahwa pada masa pemertintahan Dinasti Abbasiyah. seperti Abu Nawas. Abu Athahiyah. dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. baik . mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi. seperti kitab Kalilah wa Dimna. Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. seperti Filsafat. pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Samarra dan lain-lainnya. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. tidak lepas dariperan serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat.

Perseteruan ini terjadi ketika bangsa Turki semakin memiliki posisi strategis dipemerintahan dan menggeser posisi bangsa Arab dan Persia. pengaruh bangsa Turki semakin kuat. Persoalan lain yang juga memperlemah kekuasaan Bani Abbasiyah adalh konflik internal dikalangan Bani Abbas. Dianatara kekuatan lokal yang sangat berpengaruh dalam proses melemahnay kekuasaan Dinasti Abbasiyah adalah dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan sehingga tidak dapat melakukan kontrol pemerintah denga baik ke seluruh wilayahnya. Dinasti ini berkuasa cukup lama. yang kemudian masingmasing mendirikan kekuasaan-kekuasaan lokal.dukungan moral. baik secara militer atau ekonomi. Konflik antra etnis dan suku bangsa sering terjadi. Mereka saling melalaikan tugas-tugas sebagai pemimpin dan kepala negara.Ayyubi. sedikit banyak memperlemah kekuasaan dan wibawa kerajaan Bani Abbas. ilmu fiqih dan tasawuf KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH Setelah berkuasa lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). akhirnya Dinasti Abbasiyah mengalami masa-masa suram. didirikan oleh Hamdan bin Hamdan ( 293-394 H/ 905-1004 M ). sehingga peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pemerintah pusat untuk melepaskan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Sebab paling tidak pemasukan dan pengaruh para khalifah Bani Abbas berkurang. Masa suram ini terjadi ketika para pengusaha setelah AlMakmun. sebab para khalifah sesudahnya lebih merupakan boneka para amir dan para wajir dinasti Buwaihiyah dan Salajikah. Kemunculan kerajaan-kerajaan ini. para tentara bayaran mendominasi kekuatan. didirikan oleh Thahir bin Husein ( 205-259 H/ 821-873 M ). . Dianatar kerajaan-kerajaan kecil yang dapat melepaskan diri adalah Dinasti Buwaihiyah ( 945-1055 M ). Dinasti Hamdaniyah. sehingga bangsa Arab dan Persia merasa cemburu. Dinasti Salajiqah ( 1037-1157 M ). hingga akhirnya dihancurkan oleh Salahuddin al. Pada akhirnya mereka kehilangan semangat juan untuk menegakan kekuasaan. Konflik ini dimanfaatkan oleh para pendatang baru. tidak lagi memiliki kekuatan yang besar. terutama perseteruan antara bangsa Arab dan bangsa Persia dengan bangsa Turki. Sikap anti Turki ini pada akhirnya menimbulkan gerakan pemberontakan di setiap daerah. Lama kelamaan. kemunduran dan kemudian kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah. Dinasti Thuluniyah. didirikan oleh Ahmad bin Thulun ( 254-292 H/868-905 M ). Para khalifah Abbasiyah pada periode terakhir lebih mementingkan kepentingan peribadi. akan membawa kelemahan. Dianata ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist. sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. seperti bangsa Turki yang kemudian menguasai sistem pemerintahan Dinastu Abbasiyah. Al. bahkan banyak di antara mereka yang lebih memilih hidup bermewah-mewahan. Dinasti Samaniyah. ketimbang kepentingan masyarakat umum. Kenyataan ini dipengaruhui denga situasi politik umat Islam ketika itu. didirikan oleh Saman Khuda ( 261-9-389 H/ 874-999 M ).Mu’tashim dan Al-Mutawakkil. Bahkan bangsa Turki mendirikan mendirikan kekuasaan di wilayah pemerintahan Bani Abbasiyah dan menguasi Baghdad. Ketergantungan ini merupakan salah satu faktor penyebab melemahnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah. yang merupakan dua suku bangsa yang memiliki peran penting didalam proses berdirinya pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Dinasti Ikhsyidiyah. Dinasti Aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab ( 184-296 H/ 800-909 M ). Perhatian yang serius dari pemeruntah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat. Dinasyi Bani Fathimiyah yang didirikan di Tunisia pada tahun 297-323 H / 909-934 M oleh Al Mahdi. Dinasti Thahriyah. material dan finansia. ilmu tafsir. Ketika para kalifah semakin lemah. sehingga mereka menciptakan ketergantunan khalifah kepada tentara bayaran. didirikan oleh Muhammad bin Tughj ( 323-358 H/ 935-969 M ). Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Idris bin Abdullah ( 172-311 H/ 788-932 M ). Pada masa pemerintahan khalifah al.Mutawakkil. kepada para ulama.

Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. dalam islam. norma-norma. saya akan membahas peradaban islam pada masa Dinasti Abbasiyah dengan topik bahasan diantaranya. sedangkan disisi yang lain. yaitu kekuatan bangsa Mongol. Menurut Koentjoroningrat. tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi). dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain. gagasan. Sedangkan. yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. yaitu sekitar lima abad. kedua istilah itu dibedakan. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M. diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim. dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide.R. Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu). it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama. bodoh. (2) wujud kelakuan. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Dalam sejarah islam tercatat. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni. Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. dan (3) wujud benda. Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya. peraturan dan sebagainya. “Islam is andeed much more than a system of theology. bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah. masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Di Indonesia. kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah diluluh lantakan pada tahun 1258 m.A. Serangan bangsa Mongol ini manandai akhir dari masa kekuasaan dinasti Abbasiyah. ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. yaitu al-Hadharah alIslamiyyah. dan social. kekuatan baru datang dan berusaha menghancurkan Dinasti Abbasiyah. para sahabat (Khulafaur Rasyidin). baik dari aspek ekonomi. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. Di satu sisi. maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan. Dari segi durasi. Dalam diskusi kali ini. kemajuan dan kemunduran pada masa ini. manifestasimanifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Dibawah pimpinan hulaghu Khan. menjadi bangsa yang maju. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta. politik.dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. nilai-nilai. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang. latarbelakang berdirinya kekhalifahan Abbasiyah.Natsir. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Islam memang berbeda dari agama-agama lain. agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. ia adalah suatu peradaban yang sempurna). tidak terkenal. kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama. Latar Belakang Berdirinya Abbasiyah (750-847 M – 132-232 H) Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). bahwa. rasa dan karsa manusia. Peradaban dalam Islam. Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab. Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud. maka peradaban terefleksi dalam politik. .Pada saat semua mengalami kelemahan. ekonomi dan teknologi. Jadi. Padahal. sebagaimana pernah diungkapkan oleh H. sastra. religi (agama) dan moral. sebagaimana juga di Arab dan Barat. (1) wujud ideal. istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah.

Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa kekayaan. pendidikan. dokter. masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. lembaga pendidikan. emas. diantaranya bidang politik. masing-masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M). Pada tahun 762 M. Bidang Politik Walaupun demikian. social dan budaya. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. 5. ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. 3. disebut masa pengaruh Turki pertama. disebut periode pengaruh Persia pertama. Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. 3. dari tahun 132 H (750 M) s. Pada masa pemerintahan.d 656 H (1258 M). bidang ekonomi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode : 1. ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Bidang Ekonomi Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector pertanian. Pada masing-masing bidang memiliki kelebihan dan kekurangan. 2. bidang sosial. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M). gerakan zindik di Persia. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M). Akan tetapi durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bergantung pada kemampuan penyelenggara pemerintahan yang bersangkutan. bekas ibukota Persia. biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. semuanya dapat dipadamkan. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. Oleh karena itu. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat. kesejahteraan social. kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon. 4. kesehatan. revolusi alkhawarij di Afrika utara. Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting. masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain. 1. melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). Rumah sakit. Selama dinasti ini berkuasa. Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium. fase kemunduran dan kehancuran. Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Bidang Sosial Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad. Kemajuan Dinasti Bani Abbas Setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang dikenal dengan fase pendirian. masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah. gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan. melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. Gerakangerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. dan farmasi didirikan. fase pembangunan dan kemajuan.Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. 2. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. tembaga dan besi. ilmu pengetahuan dan . digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas. kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social.

Para khalifah Abbasiyah. yang disebut masa pertengahan. Ada diantaranya dinasti yang cukup besar. tetapi jika khalifah lemah. namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba. al-Wasiq (842-847 M). Dari gambaran diatas terlihat bahwa. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. al-Mu’tashim (833-842 M). Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur. Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran. tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani . mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri Spanyol. kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. meliputi wilayah yang amat luas. tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur. obat dan falsafah. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah islam. Kehancuran Dinasti Bani Abbas Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima. benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi mereka. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni. yaitu al-Mahdi (775-785 M).kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. meskipun ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya. al-Ma’mun (813-833 M). Pada periode ini. walaupun banyak sekali Dinasti islam berdiri. sudah merdeka dan berkuasa kembali. hanya khalifah pada saat periode ini sangat kuat. Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. Dan ketika singgasana itu terjatuh. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya. demikian pula para rajanya. Harun al-Rasyid (786-809 M). bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. para mentri cenderung berperan sebagai pegawai sipil. masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. Itulah sebabnya belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang Baghdad. dan bahwasanya mereka akan mengamalkan alQur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah. al-Hadi (775-786 M). Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali. Disamping kelemahan khalifah. benih-benih ini tidak sempat berkembang. dan al-Mutawakkil (847-861 M). Persaingan Antarbangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat. Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah.

Pada saat gerakan ini mulai tersudut. khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional. wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas. bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. seperti Maroko. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri. stabilitas politik dapat terjaga. tetapi juga antaraliran dalam Islam. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah. Dengan demikian.11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. Persia. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. jenis pengeluaran makin beragam. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. Turki dan India. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. Pada periode pertama. Kecuali Islam. Irak. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. pendapatan Negara menurun. sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya. Zoroasterisme dan Mazdakisme. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai.Umayyah berkuasa. pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah. mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. dominasi tentara turki tak terbendung lagi. sementara pengeluaran meningkat lebih besar. bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Pertama. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj. Menurut Stryzewska. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. semacam pajak hasil bumi. Mu`tazilah yang . Mesir. sehingga Bait alMal penuh dengan harta. Selain itu. 2. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. disamping Fanatisme kearaban. seorang khlaifah yang lemah. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. dan para pejabat melakukan korupsi. Sementara itu. sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Kedua. Akan tetapi. sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. Keduanya sama-saama tertindas. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah. orang-orang Persia tidak merasa puas. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. Setelah AlMutawakkil. Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. 3. Meskipun demikian. Syria. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. naik tahta. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas.12 Akibatnya. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir. Kemerosotan Ekonomi Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik.

selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara . sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Namun. alMakmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan. 4. ikut memperbaiki yerussalem. sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Sebagaimana telah disebutkan. Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. al-Amin . Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. tidak membawa hasil dan gagal. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orangorang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. ada pula factorfaktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. yang bernama Thahir. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. Kebijakan ini.13 Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Pertama. seperti juga Agama Isa as. Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya. dan mengklaim khilafah pada tahun 813. Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya. Tentara Mongol. sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. Almakmun berhasil mengalahkan saudara tuanya. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. Akibatnya pecahlah perang sipil.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik. dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya. Disamping itu. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan.. sebagaimana yang telah kita lihat. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu. Setelah kematian Harun. Kedua. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Ancaman dari luar Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah. untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad. al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. al-Amin. panglima tentara Mongol. perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam. dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun.cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya.

Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah? b.14 Senin. Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besar. 05 April 2010 Sejarah Dinasti Abbasiyah BAB I PENDAHULUAN A. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu beserta ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah. Latar Belakang Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Tujuan Penelitian a. Untuk mengetahui perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah BAB II PEMBAHASAN A.konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah b. Bagaimana perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah? C. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Berdirinya bani abbasiyah dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncullah kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani . B. Rumusan Masalah a.

Bani Abbasiyah pemimpinnya Ibrahim al-AIman c. social dan budaya. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain: a. Keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan bani umayyah. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. Bani alawiyah pemimpinnya Abu Salamah b. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah. akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw. Gerakan ini menghimpun a. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib.umayyah. B. Perkembangan Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan.. mereka memusatkan kegiatannya di khurasan. Filsafat . majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya.

Dalam mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Ilmu Kalam Menurut A. Ilmu ini berkembang karena . Ilmu Kedokteran Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Romawi. karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Asy’ary. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan. Ibnu Thufail.Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Abu Nasr alFaraby. Ilmu Kimia Ilmu kimia juga termasuk kaum salah satu ilmu pengetahuan bidang ini yang dikembangkan oleh muslimin. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani. Ibnu Sina. Kedua. b. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’. Persia. Baqilani. Ghazali. Ibnu Bajjah. Sajastani dan lain-lain. untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. c. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. dan juga telah didirikan sekolah farmasi. d. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi. Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. e. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama. Ilmu Hisab Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika.

f. at-tirmidzi dan al-nasa’i. Abdurrahman alSufi. misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. abu daud. Muhammad bin Ishaq g. khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab. metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran alQur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani. Sejarah Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu. al-biruni. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim.kebutuhand asar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Pertama. Kedua. b. hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad. Astronomi Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain lain: a. Ilmu Bumi Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi. h. ibnu majjah. Ilmu Tafsir Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. metode tafsir ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara . yang terkenal pada abad ke-9 M. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat. Ilmu Hadis Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari.

ilmu kedokteran. imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid. sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. . ilmu kimia. ilmu kalam. ilmu bumi dan astronom.bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. BAB III PENUTUP A. imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar. ilmu hisab. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa dinasti abbasiyah yaitu filsafat. d. Ilmu Tasawuf Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam. tasawuf. imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal. untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami tunggu dan kami perhatikan. sejarah. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din. imam malik menyusun kitab al-muwatha’. Bidang-bidang ilmu pengetahuan keagamaan berkembang pada masa ini yaitu: ilmu hadist. Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Ilmu Fiqih Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya. Kesimpulan Dinasti abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H. al-sud’a muqatil bin Sulaiman. c. B. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam alThabary. ilmu tafsir. Saran Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut andil dalam penulisan makalah ini. ilmu fiqih.

[1] Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa.[4] Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan. atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. 2. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan.[3] Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase. baik dalam bidang ekonomi. Pengantar Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Propaganda . Gerakan ini didahului oleh keturunan Bani Abbas. ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah : 1. seperti Ali bin Abdullah bin Abbas. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara. kaum dan kawan. peradaban dan kekuasaan. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawancendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. 3. Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab. suku. 4. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak. Politik kepegawaian didasarkan pada klan. golongan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan. terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam. dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah.Sejarah Daulah Abbasiyah Oleh : Mardias Gufron Aug 28. '06 10:54 PM for everyone A. Muhammad serta Ibrahim. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah.[2] Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas.

dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas. yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun. bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. dan mendapat pengikut yang banyak. Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. yaitu di keamiran Cordova. dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan. Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (harem). Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffar. Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan. Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah.[5] Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini. Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam. pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani. Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbasiyah . kemudian cara pertempuran. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah. Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah. yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta.dikirim ke seluruh pelosok negara. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia [6] B. maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan. misalnya.

Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) 6. Khalifah Ar-Radi (934-940 M) 21. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M) b. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) 9. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) 11. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M) . Khalifah Al-Hadi (785-786 M) 5. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) 18. [7] a. Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M) 22. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M) 26. Khalifah Al-Mustain (862-866 M) 13. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M) 15. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M) c.menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintahan. Bani Abbas (750-932 M) 1. Khalifah Al-Makmun (813-833 M) 8. Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M) 2. Khalifah Al-Mufi (946-974 M) 24. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M) 16. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M) 12. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) 10. Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M) 3. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) 4. Khalifah Al-Muktazz (866-869 M) 14. Bani Buwaihi. Khalifah Al-Amin (809-813 M) 7. Bani Saljuk (1075-1258 M) 27. Yaitu Bani Abbas. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M) 23. Bani Buwaihi (932-1075 M) 19. Khalifah Al-Muktadid (892-902 M) 17. seperti tersebut di bawah ini. dan Bani Saljuk. Khalifah At-Tai (974-991 M) 25. Khalifah Al-Kahir (932-934 M) 20.

Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M) 34. Setelah Abu Abbas meninggal dia diganti oleh Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abbasiyah yang dikenal paling kejam. Khalifah An-Nasir (1180-1224 M) 35. Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M) 36. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) 37. Di awal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi kekhalifahan Daulah Abbasiyah. bila perlu membunuhnya. serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak dan gerik keturunan Bani Umayah. dia meletakkan dasar-dasar pemerintahan bani Abbasiyah dan tidaksegan-segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya. kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga daulah Bani Umayah. maka Abu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas.[10] Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M) 29.28.[8] Perlakuan kejam itu tidak hanya kepada orang-orang Umayah yang masih hidup. Sementara itu perbaikan juga dilakukan di bidang administrasi pemerintahan yang disusun secara baik dan pengawasan . Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh. dengan cara mengeluarkan jenazah mereka dan membakarnya. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M) C.[9] Sehingga akhirnya menimbulkan banyak pemberontakan. Periode pertama (750-847 M) Diawali dengan tangan besi Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas As-Safah. Koordinator pelenyapan keluarga Bani Umayah itu diserahkan kepada Abdullah pamannya Abu Abbas. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M) 32. Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M) 31. namun pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Abu Abbas. Sedangkan makam yang tidak digali. sebuah kota indah yang terdapat di tepi aliran sungai Tigris dan Eufrat. Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah a. melainkan juga kepada mereka yang sudah meninggal. Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M) 30. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M) 33. adalah makam Muawiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz.

yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah manjadi sangat kuat. misalnya beberapa daerah taklukan melepaskan diri. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separatis dan pemberontakan. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukan invasi dan perluasan daerah kekuasaan.[11] Pergeseran Kebijakan Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun.[14] Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun Al-Rasyid. Militer Daulah Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat. Cara kedua. Petugas pos-pos komunikasi dan suratmenyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur. Akibat kebijakan yang diambil ini. seperti Daulah Aglabiah (Bani Taglib) di Tunisia dan Tahiriyah di Khurasan. Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembeda lainnya antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah yang lebih mementingkan perluasan daerah. . seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh seperti Daulah Umayah di Andalusia (Spanyol) dan Idrisiyah (Bani Idris) di Marokko. Andalusia dan Afrika. Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Namun demikian pemberontakanpemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. Kota Basra menjadi pelabuhan transit yang penting yang serba lengkap. antara lain ke wilayah Armenia. maka puncak keemasan dinasti itu berada pada tujuh Khalifah sesudahnya.[12] Ada dua kecenderungan yang terjadi.[13] Pada zaman Al-Mahdi. Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam ketimbang perluasan wilayah seperti pada masa Daulah Umayah. Mesisah. Tak urung gejala pemberontakan itu memang muncul di mana-mana.terhadap berbagai kegiatan pemerintah diperketat. Ketentaraan kemudian terdiri dari prajuritprajurit Turki yang profesional. Pertambangan dan sumber-sumber alam bertambah dan demikian pula perdagangan internasional ke timur dan ke barat dipergiat. Pertama. perekonomian meningkat. Sejak masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) hingga Khalifah Al-Wasiq (842-847 M). provinsi-provinsi terpencil di pinggiran mulai terlepas dari genggaman mereka. Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakkan dan dibangun oleh Abu Abbas As-Safah dan Abu Jakfar Al-Mansur. Kecenderungan orang-orang muslim secara sukarela sebagai anggota milisi mengikuti perjalanan perang sudah tidak lagi terdengar. Irigasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda dibanding sebelumnya.

Dari India misalnya. astronomi dan ilmu alam.Akibatnya. Di samping itu. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Zaman Keemasan Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid. terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. Di sinilah letak sumbangan Islam terhadap ilmu dan peradaban dunia. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani. Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran pemikiran muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika dalam dunia Islam. Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku kedokteran. terutama filsafat etika dan logika. Sedangkan dari . kimia. seorang penyair yang kocak. Di masa-masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan melakukan inovasi dan penemuan sendiri. Pada masa itu perpustakaan-perpustakaan tampaknya lebih menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. Abu Nawas. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani. filsafat. dan berdiskusi. tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi dominasi tentara Turki. dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun. tentara itu menjadi sangat dominan sehingga Khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi boneka mereka. Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid. yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana. Berpartisipasinya unsur-unsur non Arab. Orang-orang datang ke perpustakaan itu untuk membaca. yang sebenarnya adalah seorang ahli hikmah atau filsuf etika. Sebagai respon dari kenyataan tersebut Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) mencoba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan memindahkan ibukota ke Samarra. terutama bangsa Persia. Salah satu faktor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan ialah terjadinya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah ini. matematika. yang selalu didampingi oleh penasihatnya. perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan. menulis. berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim.

Periode kedua (847-945 M)[16] Kebijakan Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Makmun dan sebelumnya. dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Di masa Al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M). Gubernur wasit dari Basra. Baghdad kembali menjadi Ibukota. Kedokteran dan lain sebagainya. Bahasa. meminjam istilah Ibnu Rusyd. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. hanya empat orang yang wafat dengan wajar. Matematika. Geografi. Hadis. Kimia. Sejarah. Al-Jahiz (meninggal 869 M). Pada tahun 892 M.sastera Persia terjemahan dilakukan oleh Ibnu Mukaffa. Dan juga berkembang ilmuilmu Aqli seperti Astronomi. Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki. kalau tidak dibunuh. Pemberontakan masih bermunculan pada periode ini. Meskipun demikian. Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq. mereka mampu mengendalikan unsur-unsur Turki tersebut. Usaha untuk melepaskan dari dominasi Turki selalu mengalami kegagalan. keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. selebihnya. Dari dua belas Khalifah pada periode ini. seperti pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. Akan tetapi. Fiqih. Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah AlMutawakkil wafat. . yang meninggal pada tahun 750 M. Khalifah memberinya gelar Amirul Umara (Panglima para panglima).[15] Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni saja juga berkembang . Ilmu Alam. Pada masa itu juga hidup budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M). mereka memang mulai melemah. Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu Aqli. Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. mereka digulingkan dengan paksa. Teologi. Ushul Fiqh dan lain-lain. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa sastrawan besar lainnya. dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalifah sesuai kehendak mereka. Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir. meskipun resminya mereka adalah penguasa. b. Di samping itu.

Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam. Perdana Menteri pada masa Alp Arselan dan Maliksyah. Yang kedua. Dalam bidang ilmu pengetahuan. mesjid dan rumah sakit. d. sementara komunikasi lambat. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Setelah kekuatan militer merosot. Cabangcabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyyah yang harus dikendalikan. Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. Hasan menguasai wilayah bagian utara. telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial aliran ahlu sunnah dan syiah. Keadaan Khalifah sudah mulai membaik. kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia. Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama dari periode ketiga ini. Ibnu Sina (980-1037 M). Bidang ekonomi. Ibnu Misykawaih (930-1030 M) dan kelompok studi Ikhwan As-Safa. dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Al-Biruni (973-1048 M). paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah. Ketiga. Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal. dan pemberontakan tentara. Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya. Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. Seperti halnya pada periode sebelumnya. c. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Farabi (870-950 M). Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara. Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. pertama. lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. Wasit dan Baghdad. pertanian. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas ’’undangan’’ Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di baghdad. Madrasah . karena telah dipindah ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. dan Ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz. profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad.Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut. ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Nizam Al-Mulk. Daulah Abbasiyah masih terus mengalami kemajuan pada periode ini. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di Baghdad.

yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. Ketiga. AlGhazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf. Di antara faktor-faktor intern adalah. Sesudah . berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. pertama. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. Madrasah ini telah melahirkan banyak cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu. terutama untuk negeri Irak. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik.ini menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. terutama Arab. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. pertama. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Kedua. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. Pada masa pusa kekuasaan melemah. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Persia dan Turki. Pada periode ini. Dalam bidang politik. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. yaitu perpustakaan di Baghdad. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. Misalnya yang dilahirkan dalam periode ini adalah Az-Zamakhsari. penulis dalam bidang Tafsir dan Usul ad-dien (Teologi). Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. e. masingmasing provinsi memerdekakan diri. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Keempat. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah.

Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini.itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Istana dan gedung-gedung yang indah. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. kemajuan ataupun kekuasaan. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. baik kekayaan. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. mereka lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Di atas bumi kota Baghdad. tak ada lagi yang kelihatan. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. Dalam masa lima abad lamanya. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. .

Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. masing masing provinsi memerdekakan diri. terutama Arab. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. mereka . yang berkembang menjadi pertumpahan darah. Persia dan Turki. Sesudah itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Dalam bidang politik.perbintangan. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. yaitu perpustakaan di Baghdad. terutama untuk negeri Irak. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Kedua. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. e. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. Ketiga. Di antara faktor-faktor intern adalah. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Pada periode ini. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. pertama. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Pada masa pusa kekuasaan melemah. Keempat. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. Istana dan gedung-gedung yang indah. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. pertama.

berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. kemajuan ataupun kekuasaan.lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. tak ada lagi yang kelihatan. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. Di atas bumi kota Baghdad. . selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. baik kekayaan. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Dalam masa lima abad lamanya. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful