Bani Abbasiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

‫العباسدين‬ ّ Kekhalifahan Abbasiyah

750–1258

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibu kota Bahasa Agama Pemerintahan Sejarah - Didirikan - Dibubarkan

Bagdad, Kairo Arab(resmi), Aram, Armenia, Berber, Georgia, Yunani, Yahudi, Persia Tengah, Turkik Islam Monarki 750 M 1258 M

Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: ‫ ,العباسدين‬al-Abbāsidīn) adalah ّ kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al-Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.

Daftar isi
[sembunyikan]
• • • • • •

1 Pendahuluan 2 Menuju puncak keemasan 3 Pengaruh Mamluk 4 Pengaruh Bani Buwaih 5 Pengaruh Bani Seljuk 6 Kemunduran
○ ○

6.1 Masa Disintegrasi (1000-1250 M) 6.2 Persaingan antar Bangsa
    

6.2.1 Yang berbangsa Persia: 6.2.2 Yang berbangsa Turki: 6.2.3 Yang berbangsa Kurdi: 6.2.4 Yang berbangsa Arab: 6.2.5 Yang mengaku dirinya sebagai khilafah:

○ ○ ○ ○ ○ • • • • • •

6.3 Kemerosotan Ekonomi 6.4 Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. 6.5 Ancaman dari Luar 6.6 Perang Salib 6.7 Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad

7 Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah 8 Silsilah para khalifah 9 Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo 10 Referensi 11 Sumber Lain 12 Lihat pula

[sunting] Pendahuluan
Pada awalnya Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu al-Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Daulah Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh

Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke-13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan umat Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah mengaku dari keturunan anak perempuannya Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031.

[sunting] Menuju puncak keemasan
Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah sebelumnya dari Bani Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s/d. 656 H (1258 M). Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan

Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki

pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih

dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani

Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah alKubra/Seljuk agung).
5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh

dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu

disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerahdaerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus dan India. Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:

Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)

Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa' al-Rasyiduun. Disamping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai "gelar tahta", seperti al-Manshur, dan belakangan gelar tahta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu alAbbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

lembaga pendidikan dokter. penerjemahan buku-buku asing digalakkan. semuanya dapat dipadamkan. pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat.Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). gerakan Syi'ah. puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani. memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Ia juga banyak mendirikan sekolah. yang membawahi kepala-kepala departemen. dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. pemandian-pemandian umum juga dibangun. lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat: 1. Disamping itu. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Disamping itu. revolusi al-Khawarij di Afrika Utara. Sebelumnya. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. ilmu pengetahuan. kesehatan. dan mendirikan rumah sakit. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dengan demikian. gerakan Zindiq di Persia. Dalam penyelenggaraan negara. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad. . 1. seperti tafsir. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah. dan farmasi. ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah. Ketika itu. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi. dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. misalnya. Maktab/Kuttab dan masjid. pendidikan. Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. hadits. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. khalifah berikutnya (833-842 M). pengganti Harun Ar-Rasyid. belum ada tentara khusus yang profesional. 3. Dalam bidang pendidikan. pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir. lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Kesejahteraan. salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. fiqh dan bahasa. dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. 2. tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan. dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. Al-Ma'mun. Walaupun demikian. sosial. Pada masa pemerintahannya. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. hitungan dan tulisan. dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama. tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Al-Mu'tasim. ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). yaitu lembaga pendidikan terendah. Sebagaimana diuraikan di atas. di awal Islam. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah.

Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi. karena di samping terdapat kitab-kitab. Disamping itu. terutama melalui gerakan terjemahan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. tetapi juga ilmu pengetahuan agama. tafsir bi al-ma'tsur. Tingkat pendalaman. Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. di sana orang juga dapat membaca. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya. Imam Malik Rahimahullah (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. ilmu matematika dan astronomi. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H. 2. bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan terutama dalam ilmu teologi. maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu. Bidangbidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. penafsiran pertama. Pada umumnya. Disamping itu. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah. Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. sejak awal sudah dikenal dua metode. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Imam Abu Hanifah Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Abu Yusuf. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas. juga ditentukan oleh dua hal. Fase pertama. terutama setelah adanya pembuatan kertas. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya. sebagaimana sudah disebutkan. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. yaitu: 1. terutama filsafat. mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. menulis dan berdiskusi. yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. tafsir bi al-ra'yi. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. . (tafsir rasional). dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. filsafat dan sastra. Dalam bidang tafsir.2. yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadits dan pendapat sahabat. menjadi Qadhi alQudhat di zaman Harun Ar-Rasyid. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum. Pengaruh Persia. sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. kemajuan itu paling tidak. Kedua. sangat kuat di bidang pemerintahan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab. Karena itu.

dan Ibnu Rusyd. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat istiadat orang-orang non-Arab. karena Al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. Asy'ariyah. al-Jabr wa al-Muqoibalah. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen. dunia Islam . ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat. Kata aljabar berasal dari judul bukunya. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami. setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran filsafat dan rasionalisme dalam Islam. antara lain al-Farabi. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Aliran-aliran sesat yang sudah ada pada masa Bani Umayyah. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir. logika. yang juga mahir dalam bidang astronomi. kenegaraan. Disamping empat pendiri madzhab besar tersebut. Ini terjadi. sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja. etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Murji'ah dan Mu'tazilah pun ada. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah. aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. seperti Khawarij. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. pemikiranpemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama. terutama di bidang astronomi. Ibnu Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. filsafat. Akan tetapi. yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. terkenal nama Jabir ibn Hayyan. jiwa. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan madzhab-nya pula. karena pengikutnya tidak berkembang. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat. Namun.Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi'i Rahimahullah (767-820 M). Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum. juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes. Al-Farghani. besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah. yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus. menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. kimia dan sejarah. ArRazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Di antara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Di bidang kimia. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat. kedokteran. Penulisan hadits. Sesudahnya. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan alNazzam (185-221 H/801-835M). Pada masa kekhalifahan ini. pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Ibnu Sina. dan Imam Ahmad ibn Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistim madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi serta pemahaman para sahabat Nabi.

tentaratentara budak ini didominasi oleh bangsa Turki tetapi juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan. kejayaan dan kegemilangan. Dibentuk oleh Al-Ma'mun. yang pada mulanya mengambil inisiatif merebut kekuasaan kerajaan Ayyubiyyah yang pada masa itu merupakan kepanjangan tangan dari khilafah Bani Abbas. Tambahan pula. banyak di antara mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. namun setelah periode ini berakhir. [sunting] Pengaruh Bani Buwaih Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Buwayhiyah Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Bani Mamalik ini mendirikan kesultanan sendiri di Mesir dan memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Cairo setelah berbagai serangan dari tentara tartar dan kehancuran Baghdad sendiri setelah serangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. dan ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa.mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Persia. sehingga Islam mencapai masa keemasan. yang kemudian dikenal dengan Bani Mamalik berhasil berkuasa. Bagaimanapun tentara Mamluk membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. dan Hindustan. sastra. pada zaman ini menyaksikan penemuan ilmu geografi. dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas. [sunting] Pengaruh Mamluk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mamluk Kekhalifahan Abbasiyah adalah yang pertama kali mengorganisasikan penggunaan tentaratentara budak yang disebut Mamluk pada abad ke-9. dimana khalifah Abbasiyyah tetap sebagai kepala negara. hal ini disebabkan karena para penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam memimpin kerajaan. Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di bawah kekuasaan (simbolik) kekhalifahan. matematika. Pada masa ini. sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan. Wallahul Musta’an. Banyak golongan pemikir lahir zaman ini. Di antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik. Ilmu-ilmu ini kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti Al-Biruni dan sebagainya. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa. kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah tentara bayaran dari Turki. dan filosofi dari Yunani. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam . karena berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara Mamluk ini. dan astronomi seperti Euclid dan Claudius Ptolemy.

Akan tetapi. terutama di awal berdirinya. [sunting] Masa Disintegrasi (1000-1250 M) Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu. akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. sehingga banyak daerah memerdekakan diri. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. adalah: 1. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. Pada masa pemerintahan Bani Abbas. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. seperti terlihat pada periode kedua dan seterusnya. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada pemerintahan Bani Abbas. kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat . Akan tetapi berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas.sebelumnya. Bersamaan dengan itu. [sunting] Pengaruh Bani Seljuk Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Seljuk Raya Setelah jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Bani Seljuk atau Salajiqah Al-Kubro (Seljuk Agung). [sunting] Kemunduran Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini. posisi dan kedudukan khalifah Abbasiyah sedikit lebih baik. pada masa-masa berikutnya. ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara. Tetapi. meskipun khalifah tidak berdaya. 2. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama dikembalikan bahkan mereka terus menjaga keutuhan dan keamanan untuk membendung faham Syi'ah dan mengembangkan manhaj Sunni yang dianut oleh mereka. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata. daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh kekuasaan Bani Buwaih yang berpaham Syi'ah. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Pada saat kekuatan militer menurun. pada periode ketiga (334-447 H/l055 M). 3. Wilayah kekuasaan Bani Umayyah. tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka. tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. perebutan kekuasaan sering terjadi. mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya.

kedudukannya semakin bertambah kuat. 2. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara: 1. Penguasa Bani Abbas lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran. tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Pada masa . 2. Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah. disamping persoalan-persoalan keagamaan. Hubungannya dengan khilafah ditandai dengan pembayaran pajak. sudah merdeka dan berkuasa kembali. Kekuatan militer Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh. Alasannya adalah : 1.nominal. Ada di antaranya yang cukup besar. seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah. Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan. dalam perkembangan selanjutnya teryata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Para khalifah Abbasiyah. Mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpinpemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka benar-benar independen. sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru seperti diuraikan di atas. tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri. dengan pembayaran upeti itu. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah. Namun pada saat wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut. namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Sebagai gantinya. Bahkan dalam kenyataannya. daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. terutama di bidang politik. propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. seperti daulah Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada periode ini. Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik. sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu'u arabiyah (kebangsaan/anti Arab). Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah. Nampaknya. pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun. banyak daerah tidak dikuasai khalifah. Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu. Secara riil. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. Pengangkatan anggota militer Turki ini. Menurut Ibnu Khaldun. para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan. bahkan ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu.

1. seperti Maroko. Persia. Kecuali Islam. mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat. para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Meskipun demikian. sebagaimana diuraikan terdahulu. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil. masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Keduanya sama-sama tertindas. pada periode ketiga. Akan tetapi. Sementara itu. orang-orang Persia tidak merasa puas. Mesir. mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Setelah al-Mutawakkil. mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. 2. banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur. khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam). disamping fanatisme kearaban. bangsa Persia. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. tetapi jika khalifah lemah. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. naik tahta. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih.inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Selain itu. mereka dianggap sebagai hamba. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Munculnya dinasti-dinasti yang lahir dan ada yang melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah. di antaranya adalah: . seorang khalifah yang lemah. Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Akibatnya. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri. dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat. Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Namun demikian. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. benih-benih itu tidak sempat berkembang. stabilitas politik dapat terjaga. Disamping kelemahan khalifah. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas. Oleh Bani Abbas. masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Turki dan India. yang disebut masa pertengahan. Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah. Irak. Syria. Dengan demikian. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar. hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Menurut Ibnu Khaldun. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: [sunting] Persaingan antar Bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan.

4. Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M). 'Alawiyah di Thabaristan. (254-290 H/868-901 M). Bani Samaniyah di Transoxania. Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil. (266-318 H/878-930 M). 3. 7. Bani Thahiriyyah di Khurasan. (403-545 H/1011-1150 M). e. Idrisiyyah di Maghrib. 8. c. Dari latar belakang dinasti-dinasti itu. Thuluniyah di Mesir.1002 M). bahkan menguasai Baghdad. Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya: a. 6. (210-285 H/825-898 M). (487-511 H/1094-1117 M). (386-489 H/996-1 095 M). ada yang berlatar belakang Syi'ah maupun Sunni. Mazyadiyyah di Hillah. Disamping latar belakang kebangsaan. Ghaznawiyah di Afganistan. Seljuk Syria atau Syam di Syria. 4. didirikan oleh Sulthan Shalahuddin al- ayyubi setelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke III. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). (250-316 H/864-928 M). Dan Sulthan Alib Arselan Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya. d. al-Ayyubiyyah. [sunting] Yang berbangsa Kurdi: 1. Bani Sajiyyah di Azerbaijan. (172-375 H/788-985 M). (205-259 H/820-872 M). 5. 2. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia). (380-489 H/990-1095 M). (254-292 H/837-903 M). Dulafiyah di Kurdistan. nampak jelas adanya persaingan antarbangsa. [sunting] Yang berbangsa Arab: 1. atau Seljuk Agung. (320-560 H/932-1163 M). didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. (351-585 H/962-1189 M). Fatimiyah di Mesir. Ikhsyidiyah di Turkistan. 2. Bani Shafariyah di Fars. 2. Seljuk besar. 3. dinasti-dinasti itu juga dilatar belakangi paham keagamaan.[sunting] Yang berbangsa Persia: 1. al-Barzuqani. 3. 4. Bani Buwaih. (317-394 H/929. 3. [sunting] Yang mengaku dirinya sebagai khilafah: 1. Seljuk Kinnan di Kirman. (470-700 H/10771299 M). 5. [sunting] Yang berbangsa Turki: 1. (564-648 H/1167-1250 M). (320-447 H/ 932-1055 M). (433-583 H/1040-1187 M). 2. Abu 'Ali. Mirdasiyyah di Aleppo. b. (348-406 H/959-1015 M). 2. Umayyah di Spanyol. (414-472 H/1023-1079 M). Persia dan Turki. (511-590 H/1117-1194 M). Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan. (261-389 H/873-998 M). . Ukailiyyah di Maushil. terutama antara Arab.

al-Muntashir (861862 M. dengan menjadikan Mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja. [sunting] Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan. sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Pada masa al-Mutawakkil (847-861 M). sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M). Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni. . diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Namun anaknya. Zoroasterisme dan Mazdakisme. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Tidak tolerannya pengikut Hanbali terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah. misalnya. memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah.). semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salafy. Akan tetapi. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Al-Mansur berusaha keras memberantasnya. Sebaliknya. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma'mun. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. semacam pajak hasil bumi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan Sunni kembali naik daun. pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah. tetapi juga antar aliran dalam Islam. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. kembali memperkenankan orang Syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut.[sunting] Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. bahkan Al-Mahdi merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran. kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. Pada periode pertama. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Al-Mutawakkil. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran.

dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 2. ada pula faktorfaktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Tentara Mongol. telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam .. 2. menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga ” [sunting] Ancaman dari Luar Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Disamping itu. setelah menghancur leburkan pusatpusat Islam. saat Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci. Namun pada masa Dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur..000 prajurit. Namun. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.000 orang. Soal kehendak bebas manusia. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam konon sampai sekarang. namun kerugian yang mereka derita banyak sekali. Sebagaimana sebelumhnya tentara Sulthan Alp Arselan Rahimahullah tahun 464 H (1071 M). panglima tentara Mongol. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. al-Hajr. ikut memperbaiki Yerusalem. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk.. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. Pengaruh perang salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. serta menghambat pengaruh dan invasi dari tentara Muslim atas wilayah Kristen. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam.. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. terdiri dari tentara Romawi.Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib. penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dalam . yang hanya berkekuatan 15.Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah . 1. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. [sunting] Perang Salib Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Salib Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095 M. Perancis dan Armenia.000. Ghuz. karena peperangan itu terjadi di wilayahnya.. Syed Ameer Ali mengatakan: “ Agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti juga agama Isa ‘alaihis salaam. al-Akraj. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah.. peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Manzikert. Pikiranpikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah. Sebagaimana telah disebutkan.

Serangan ke utara Perancis. Pada saat yang kritis tersebut. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana. [sunting] Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dinasti Ilkhanat Pada tahun 565 H/1258 M. 805 .000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. tetapi malah terpecah belah. sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 . putera khalifah. Aljabar diciptakan oleh Al-Khawarizmi. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut. 809 . Dengan demikian. tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.Harun ar-Rasyid menjadi Khalifah. 792 . betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan.kondisi demikian mereka bukan menjadi bersatu. sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara.Pembangunan kota Bagdad. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan. la mengatakan kepada khalifah. Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. 755 . Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. Hulagu Khan akan menjamin posisimu. Khalifah Al-Musta'shim. Apa yang dikatakan wazirnya temyata tidak benar. Walaupun sudah dihancurkan. 786 .wafatnya Harun ar-Rasyid. Pembunuhan Abu Muslim. 800 . termasuk wazir sendiri.Bermulanya Kekhalifahan Bani Abbasiyah. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim. al-Amin dilantik menjadi khalifah. sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir. "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. [sunting] Kronologi Kekhalifahan Bani Abbasiyyah • • • • • • • • • • 750 . 763 . Tetapi.Abd ar-Rahman I mendirikan kerajaan Bani Umayyah di Spanyol. Merebut Pulau Rhodes dan Siprus.Pemberontakan Abdullah bin Ali. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah.1258). Banyak daulah kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad. Khalifah menerima usul itu.Kampanye melawan Byzantium. tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam.Kaidah keilmuan mulai terbentuk. wazir khilafah Abbasiyah. . Kekalahan tentara Abbasiyyah di Spanyol. Mereka semua.Abu al-Abbas al-Saffah menjadi Khalifah pertama Bani Abbasiyah. 752 . 756 . Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun. sebagaimana kakekkakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk".

Nur al-Din merebut Edessa dari tentara Salib. 1236 .000 tentara. Spanyol. dan meneruskan kepungannya terhadap kerajaan Byzantium. 1000 .Perang Salib pertama dimulai. Mereka membunuh semua penduduknya.Sulthan Alp Arselan berhasil menguasai Asia Tengah (Anatolia).Multan dan Ghur ditawan. 1005 . Perang Salib Ketiga dimulai. Sulthan Alp Arselan beserta pasukannya yang hanya berjumlah 15.Bangsa Norman merebut Sisilia. mulai dari Abbas bin Abdul-Muththalib sampai khalifah terakhir dari Bani Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad. Pemerintahan Abbasiyah-Seljuk dimulai sampai sekitar tahun 1258 ketika tentara Mongol menghancurkan Baghdad. India. 1055 . 1091 . Ribuan penduduk terbunuh. 1095 . ABBAS pendiri Bani Abbasiyah Ibnu Abbas Ali Muhammad .000 tentara berhasil mengalahkan gabungan tentara salib yang dipimpim oleh Kaisar Romanus IV yang berjumlah 200. Perang Salib Kedua dimulai.Tentara Salib merebut Baitulmuqaddis.• • • • • 814 . 1071 . 1099 . Kejatuhan Baghdad.Peristiwa Manzikert.Tentara Mongol menyerang dan memusnahkan Baghdad. al-Amin terbunuh dan alMa'mun menjadi khalifah. Tamatnya pemerintahan Kerajaan Bani Abbasiyyah di Baghdad.Baghdad dikuasai oleh tentara Turki Seljuk.Masjid Besar Cordoba dibangun. 1072 . pemerintahan Muslim di sana berakhir.Tentara Kristen menawan Toledo. 1085 .Tentara Muslim merebut Delhi. 1187 . 1194 .Salahuddin Al-Ayubbi merebut Baitulmuqaddis dari tentara Salib. 1144 . • • • • • • • • • • [sunting] Silsilah para khalifah Dibawah ini merupakan silsilah para khalifah dari Bani Abbasiyah. 1258 .Perang saudara antara al-Amin dan al-Ma'mun.Tentara Salib merebut Cordoba. Spanyol.

991-1031) 24. ALMU'TADHID (k. AR-RADHI (k. AL-MU'TASIM (k. 754-775 Musa 3. AS-SAFFAH (k.Ibrahim 1. 775-785) 5. 944-946) 20. AL-QAHIR (k. 866-869) 11. AR-RASYID (k. AL-MANSUR (k. 870-892) 16. ALMUTAWAKKIL (k. AL-AMIN (k. ALMUKTAFI (k. ALMUTTAQI (k. AL-MU'TAZZ (k. 940-944) 23. AL-QADIR (k. 932-934) 22. 809-813) 7. 861-862) al-Muwaffaq 15. ALMUNTASHIR (k. 813-833) 8. AL-WATSIQ (k. AL-MUTHI' (k. 974-991) 26. 833-842 al-Qasim al-Mu'taman 9. 786-809) 4. 902-908) 18. AL-MUSTA'IN (k. 946-974) 25. 785-786 Ibrahim al-Mubarak 6. AL-MUQTADIR (k. AL-MAHDI (k. AL-MA'MUN (k. ATH-THA'I (k. 934-940) Ishaq 21. 908-935) 19. 892-902) 17. AL-QA'IM . 750-754) 2. AL-HADI (k. 847-861) 12. ALMUSTAKFI (k. AL-MU'TAMID (k. ALMUHTADI (k. 842-847) 10. 862-866) 14. 869-870) 13.

AL-MUQTAFI (k. merupakan tahun kekuasaan Angka. AN-NASHIR (k. 1118-1135) 30. 1170-1180) 34. ALMUSTADHI' (k. 1094-1118) 29. ALMUSTANSHIR (k. ALMUSTANJID (k. 1226-1242) 37. 1135-1136) 32. 1075-1094) 28. Nama dengan huruf kapital merupakan khalifah yang berkuasa. ALMUSTANSHIR II Berkuasa di Kairo 36. 1225-1226) 1. AR-RASYID (k. ALMUSTAZHIR (k. 1136-1160) 30. 1180-1225) 35. 1031-1075) 27. AL-MUQTADI (k. ALMUSTARSYID (k. AZH-ZHAHIR (k.(k. ALMUSTA'SHIM (k. 1160-1170) 33. • • . 1242-1258) [1] Catatan: • k. merupakan nomor urut seseorang menjadi khalifah.

secara spesifik akan membahas dan memilah era kemajuan ilmu dan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah.[iii] Periode pertama. dimana pada masa itu Dinasti Abbasiyah memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai ”Era Keemasan” (the Golden Age). yang beberapa saat kemudian menjadi lokus aktivitas ekonomi. 15 November 2009 23:10 Artikel Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab[i] PENDAHULUAN Meski terdapat sejumlah perbedaan. meski diakui oleh beberapa kalangan -seperti Eric Hanne sendiri. dimana mayoritas fokus kajiannya lebih banyak dititikberatkan pada periode pertama. . Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M). budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu.[iv] Yaitu. Era kepemimpinan khalifah kedua. Pertama.[sunting] Kekhalifahan Abbasiyah di Kairo • • • • • • • • • Al-Mustanshir II 1261 Al-Hakim 1262-1302 Al-Mustakfi I 1302-1340 Al-Wathiq I 1340-1341 Al-Hakim II 1341-1352 Al-Mu'tadid I 1352-1362 Al-Mutawakkil I 1362-1383 Al-Wathiq II 1383-1386 Al-Mu'tasim 1386-1389 • • • • • • • • • Al-Mutawakkil I (kembali berkuasa) 1389-1406 Al-Musta'in 1406-1414 Al-Mu'tadid II 1414-1441 Al-Mustakfi II 1441-1451 Al-Qa'im 1451-1455 Al-Mustanjid 1455-1479 Al-Mutawakkil II 1479-1497 Al-Mustamsik 1497-1508 Al-Mutawakkil III 1508-1517 Peradaban Emas Dinasti Abbasiyah: Kajian Ringkas Minggu. ternyata mampu mempengaruhi nature atau gaya studi modern terhadap Dinasti Abbasiyah. LATAR BELAKANG KEMAJUAN PERADABAN Selama beberapa dekade pasca berdirinya pada tahun 132H/750M.[v] Kedua. menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. menyingkirkan para musuh maupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah. Periode Dinasti Abbasiyah ini berakhir pada tahun 1258 M ketika Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol di bawah komando Hulagu Khan. hingga pada level berikutnya yang bersifat negatif yakni menggejalanya gaya hidup bermewahan (taraf). Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai. sekaligus menelisik proses kejatuhannya dilengkapi dengan ulasan sejumlah faktor yang menyebabkannya. Pembagian sejarah Abbasiyah sebagaimana model di atas. Makalah ini. meninggalkan Al-Anbār[vi] dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru. tercapainya kesejahteraan.kurang tepat. pembangunan (`umrān). Akan tetapi periode ini juga sekaligus mencatat munculnya benih-benih kemunduran dan kelemahan politik yang terjadi di paruh akhir masa ini Sedangkan periode kedua (945-1258M) adalah rentang waktu dimana Dinasti Abbasiyah secara faktual mengalami kemunduran politik dan para khalifah kehilangan otoritas kekuasaanya terhadap sejumlah wilayah dibarengi dengan lahirnya negara-negara kecil (duwaylāt) yang memerdekakan diri. Karakteristik lain dari periode ini adalah masih terlihatnya sisa-sisa pengaruh kemajuan peradaban Islam era keemasan yang terwujud dalam perkembangan berbagai disiplin keilmuan (`ulūm). berlangsung antara tahun 750-945M/132-334H. para ahli sejarah banyak yang membagi periodisasi sejarah peradaban Dinasti[ii] Abbasiyah yang berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H) ke dalam dua periode utama. dengan mengenyampingkan periodisasi seperti diatas.

[vii] Selain figur politiknya yang begitu kuat dan dominan.[xiii] Di samping itu.[ix] Demikian dengan gerakan pembukuan (tasnīf) dan kodifikasi (tadwīn) ilmu tafsir. Al-Mansūr juga dikenal memiliki perhatian cukup besar terhadap ilmu pengetahuan. serta pada saat keamanan politik dalam negeri relatif stabil. Para khalifah seperti Al-Mansūr misalnya. Di era Al-Mansūr ini muncul tokoh penerjemah di bidang sastra seperti `Abdullāh Ibn Al-Muqaffa` (757 M).[xxii] Pada era Hārūn al-Rashīd (170-194 H) para cendekiawan dan ilmuwan semakin banyak yang berdiam di Baghdad. Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh Al-Ma’mūn dan mencapai puncaknya pada masa itu dibawah tanggungjawab . didukung oleh para khalifah yang rata-rata memiliki kecenderungan keilmuan dan ketertarikan terhadap pengetahuan dari Yunani maupun Persia.[xvi] Saat itu. Sebagaimana diceritakan oleh para sejarahwan. Not a Monolith.[xi] Namun betapapun pentingnya peranan Al-Mansūr. faktor lain yang secara lebih lanjut turut mempengaruhi kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah adalah interaksi masif kaum muslimin era Abbasiyah dengan komunitas-komunitas masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya telah menjadi pusat warisan pemikiran dan peradaban Yunani seperti Alexandria (Mesir). yang menerjemahkan buku Kalīlah wa Dimnah.[xvii] Selain itu.[xiv] Singkat kata. baik bahasa Pahlavi-Persia. fiqh.[viii] Gerakan penerjemahan yang kemudian menjadi salah satu ’ikon’ kemajuan peradaban Dinasti Abbasiyah juga tidak lepas dari peranan Al-Mansūr sebagai khalifah pertama yang mempelopori gerakan penerjemahan sejumlah buku-buku kuno warisan peradaban pra-Islam. filsafat dan sastra dari bahasa asing ke dalam Bahasa Arab. ke dalam bahasa Arab.[xix] Berbeda dengan upaya penerjemahan di masa Dinasti Umayyah yang berskala kecil atau bahkan bersifat individual. sehingga tidak mengherankan jika Al-Qanūji secara tegas menyebut Al-Mansur sebagai khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu-ilmu kuno pra-Islam. seorang Majusi yang kemudian memeluk Islam. kemajuan peradaban yang dicapai oleh Dinasti Abbasiyah pada hakekatnya tidak datang dari ruang hampa. serta menjamurnya gerakan penerjemahan (harakat al-tarjamah) secara masif. khususnya yang terkait dengan ilmu medis dan kimia.[x] Konon. melainkan pada titik yang paling penting merupakan buah dari pengaruh konsep-konsep dalam ajaran Islam itu sendiri.Langkah-langkah penting yang diambil Al-Mansūr tersebut dan efek besar yang ditimbulkannya terhadap perkembangan Dinasti Abbasiyah pada masa-masa berikutnya menjadikan para sejarahwan kemudian menganggapnya sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah yang sebenarnya (al-muassis al-haqīqi li aldawlah al-`Abbasiyah). [xv] Selain tiga hal di atas dapat ditambahkan pula perkembangan ilmu sains yang melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan legendaris yang diakui tidak saja di dunia Muslim tetapi juga oleh kalangan akademisi Barat. tidak lama setelah berdirinya. serta wilayah Asia Barat. bahkan sejak masa mudanya atau sebelum menjadi seorang khalifah.[xx] serta Hunayn Ibn Ishāq yang menerjemahkan buku-buku medis karya Hippocrates[xxi] dan Galen.[xxiii] laiknya sebuah akademi ilmiah yang menjadi pusat aktivitas keilmuan mulai dari penelitian penerjemahan sekaligus perpustakaan. selalu mendorong para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dengan tanpa membedakan agama maupun bangsa mereka. usai penaklukan besar-besaran yang merambah wilayah-wilayah di tiga benua. untuk menerjemahkan buku-buku sains. Yunani maupun Mesir Kuno ke dalam bahasa Arab.[xii] Kesimpulan tersebut jika ditilik dari perspektif kajian sejarah peradaban berkesesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa semangat yang dibawa oleh konsep keagamaan (al-fikrah al-dīniyyah) merupakan élan vital dan menjadi unsur paling penting terbangunnya sebuah peradaban. Ahmad Shalabi terwujud dalam tiga sektor yaitu menggeliatnya gerakan penulisan buku (harakat al-tasnīf). khususnya Persia. Khālid ibn Yazīd ibn Mu’awiyah pernah memerintahkan dihadirkannya sejumlah filosof Yunani yang bermukim di Mesir dan menguasai bahasa Arab untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Mesir Kuno (Qibti). Dinasti Abbasiyah dengan cepat telah mampu menciptakan sebuah kemajuan ilmu dan peradaban yang menurut Dr. Hal ini diakui pula oleh beberapa penulis Barat semisal Vartan Gregorian dalam bukunya Islam: A Mosaic. para pelajar dan ulama dalam melakukan aktivitas keilmuan hanya menggunakan lembaran-lembaran yang belum tersusun rapi. gerakan penerjemahan di Era Abbasiyah. kodifikasi dan sistematisasi ilmu-ilmu keislaman. Suriah. pada masa `Abdul Mālik ibn Marwān dan AlWalīd ibn `Abdul Malik itu juga telah dilakukan penerjemahan dīwān[xviii] dari bahasa aslinya. sebelum masa itu. hadits. sastra serta sejarah mengalami perkembangan cukup signifikan di era Al-Mansūr pula. Sang Khalifah-pun mendirikan Bayt al-Hikmah. sebuah upaya penerjemahan telah dilakukan meski dalam skala kecil. setelah sebelumnya terabaikan oleh para khalifah Bani Umayyah. GERAKAN PENERJEMAHAN DI ERA ABBASIYAH Berbicara mengenai gerakan penerjemahan yang terjadi di Era Abbasiyah sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari upaya-upaya penerjemahan yang pernah dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah.

Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahāt al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia.[xxviii] Catatan menarik lainnya. Aristoteles. yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga. geografi dan lain-lain dilakukan. 175H) serta Abū Hanīfah. Plato. kemajuan ilmu dan peradaban Era Abbasiyah juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman. 150 H) yang menulis kumpulan haditsnya di Mekah. Plotinus. Muslim (w. Hunayn ibn Ishāq. Al-Awza`i di wilayah Syam. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sisitematis baik di bidang ilmu Tafsir. Bersamaan dengan itu Baghdad juga menjadi kota besar paling kaya dan mempunyai populasi tertinggi mencapai satu juta jiwa.[xxiv] Maka tidak heran jika Philip K.204) dan Ahmad ibn Hanbal (w. Sushruta. Hadits maupun Fiqh. tetapi mulai tenggelam dan mengalami kemunduran pada masa kekuasaan Al-Mutawakkil (847-861M). ilmu Hadits juga mengalami masa penting khususnya terkait dengan sejarah penulisan hadits-hadits Nabi yang memunculkan tokoh-tokoh yang telah disebutkan diatas seperti Ibn Jurayj.[xxx] KEMAJUAN ILMU-ILMU AGAMA Selain gerakan penerjemahan. muncul trend baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan hadits. Menurut catatan Ibn al-Nadīm yang pertama kali melakukan penyusunan tafsir lengkap tersebut adalah Yahya bin Ziyād al-Daylamy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Farrā. kimia. Sufyān al-Tsauri di Kufah. Musaddad ibn Musarhad al-Basri. Aryabhata maupun Brahmagupta. serta Al-Nasā’i (w.[xxxi] Pada masa ini ilmu Tafsir menjadi ilmu mandiri yang terpisah dari ilmu Hadits. seperti dilakukan oleh Banū Al-Munajjim yang berani membayar 500 dinar kepada para penerjemah tiap bulannya sebagai upah penerjemahan penuh waktu (li al-naql wa al-mulāzamah). Mālik ibn Anas (w. Al-Ma'mun juga menambahkan bangunan khusus sebagai sebuah observatorium untuk penelitian astronomi ke Bayt al-Hikmah. Mālik ibn Anas. Tsābit ibn Qarrah al-Sābi’i. Euclid. Ma`mar di Yaman. bahwa gerakan penerjemahan ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah dan para khalifah sahaja.273).[xxix] Keluarga elit lain diceritakan bahkan sangat getol mengeluarkan harta berlimpah untuk membayar para penerjemah mereka. [xxxiv] Perkembangan penulisan hadits berikutnya. zoologi. 151H) yang menulis buku sejarah (Al-Maghāzi).303). seperti buku-buku Pythagoras. Yahya ibn al-Bitrīq. Salībā Ayyūb alRahāwi. Hadits dan Fiqh. Galen. Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak lagi. ilmu sosial dan sains.275). Buku tafsir lengkap dari al-Fātihah sampai al-Nās juga mulai disusun. muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad.[xxvi] Popularitas Bayt al-Hikmah ini terus berlangsung sampai kepemimpinan Al-Mu`tasim (berkuasa 833842M) dan Al-Wātsiq (berkuasa 842-847M). Bayt al-Hikmah-pun menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains. 241H). AlShāfi`i (w.256). Ibn Abi `Urūbah dan Hammād ibn Salāmah di Basrah.[xxxii] Tapi luput dari catatan Ibn al-Nadīm bahwa `Abd al-Razzāq ibn Hammam al-San`āni (w. Hitti menyatakan bahwa Bayt al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. Hubaysh ibn al-A`sam.211 H) yang hidup sezaman dengan Al-Farā juga telah menyusun sebuah kitab tafsir lengkap yang serupa. Khususnya sejak tahun 143 H. meliputi metematika. dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazdhab fiqh hidup pada era tersebut.Hunayn Ibn Ishāq.179H). Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga. [xxxiii] Ilmu Fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting. Era Abbasiyah mencatat dimulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir. Ishāq ibn Hunayn. yaitu Abu Hanīfah (w.160) dan Ibn Al-Mubārak (w. Asad ibn Mūsā al-Amawi dan Nu`aym ibn Hammād al-Khuzā`i. 279). astronomi. Di bidang ilmu-ilmu agama. Tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang dialami oleh ilmu Tafsir dan ilmu Fiqh. melainkan juga oleh para pribadi dari kalangan elit semisal Banū Shākir yang juga mengelola penerjemah-penerjemah handal yang bekerja siang malam untuk mereka. Diantara tokoh yang menulis musnad antara lain Ahmad ibn Hanbal. Charaka. `Ubaydullah ibn Mūsa al`Absy al-Kūfi. kedokteran. Al-Layts ibn Sa’ad (w. Mālik ibn Anas (w.150 H). Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah adalah Ibn Jurayj (w. Muhamad Ibn Ishāq (w. Āwī ibn Ayyub. Abu Dāwud (w.[xxxv] . Hippocrates. Al-Tirmidzi (w.[xxvii] Satu hal yang menarik untuk dicatat bahwa mayoritas para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh. Qustā ibn Lūqā. 181 H). Astufun ibn Bāsīl. masih pada era Abbasiyah. India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. yaitu munculnya kecenderungan penulisan hadits yang didahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan haditshadits sahīh dari yang dla`īf sebagaimana dilakukan oleh Al-Bukhari (w. 171) yang menulis Al-Muwatta' nya di Madinah. Ibn Mājah (w.261).[xxv] Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung. Iqlīdis ibn Nā`imah. juga al-Rabī` ibn Sabīh (w. Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi.

[xli] Pada era Hārūn al-Rashīd dan Al-Ma’mūn sejumlah teori-teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. Hal ini bisa jadi merupakan buah dari kecenderungan bangsa Arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzāt al-atsar al-māddi fī hayātihim) dibanding buku-buku olah pikir (filsafat). geografi. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al-Rāzi[xlvi] yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alkohol. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics. 218). Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemuddian menyebar hingga Fez dan ahirnya masuk ke Eropa melalui Andalusia pada abad 13M. Era Keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia. Selanjutnya muncul pula Muhamad ibn `Umar al-Wāqidi (w. meski isinya masih direkam oleh sejarahwan Al-Tabari (838-923M). setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari Cina yang berhasil ditangkap setelah meletusnya Perang Talas.1274). 207) yang menulis buku berjudul Al-Tārīkh al-Kabīr dan Al-Maghāzi. sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah.279) yang menulis Futūh al-Buldān. Ibn Sina[li] dan lain-lain.Disiplin keilmuan lain yang juga mengalami perkembangan cukup signifikan pada era Abbasiyah adalah ilmu sejarah. Beliau pula yang memegembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (ujicoba). bahwa pada zaman Khalifah Al-Muqtadir Billah (907-932M/295-390H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi debagai dokter. Abu Rayhān al-Biruni (w.230 H) dengan Al-Tabaqāt al-Kubrā-nya serta Ahmad Ibn Yahya al-Balādhuri (w. yang awal penulisannya dilakukan oleh Ibn Ishāq (w. serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana. Buku yang pertama dinyatakan hilang. melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi (`ulūm aqliyah). 152) dan kemudian diringkas oleh Ibn Hisyām (w.[xlvii] Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak belajar. [xl] Penelitian di bidang astronomi oleh kaum muslimin dimulai pada era Al-Mansūr ketika Muhamad ibn Ibrāhīm al-Fazāri menerjemahkan buku "Siddhanta" (yang berarti Pengetahuan melalui Matahari) dari bahasa Sanskerta ke bahasa Arab.1048) serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi (w. [xlii] Sedangkan Ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al-Haytsam[xliii] atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen. arsitektur dan lainnya yang tidak dapat dijeleaskan seluruhnya dalam makalah ini. 929). kemajuan sains di dunia Islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era Abbasiyah.[xxxvi] KEMAJUAN SAINS DAN TEKNOLOGI Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja. ada Muhamad ibn Mūsa al-Khawārizmi[xxxviii] sang pencetus ilmu algebra. Ibn al-Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic.[xlviii] Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindi[xlix] yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi.[liv] . salah satu cabang matematika bahkan juga diambil dari namanya. Disebutkan pula. Dalam bidang matematika misalnya. Al-Khawarizmi. Algoritma.[lii] Di samping kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas umat Islam Era Abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi.[xxxvii] Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahun masa kini. Sejarahwan lain yang datang berikutnya adalah seperti Muhamad ibn Sa’ad (w. Ibn Jābir Al-Battāni (w. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa China berhasil dikembangkan oleh umat Muslim Era Abbasiyah. termasuk perpustakaan peminjaman buku pertama sepanjang sejarah. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain AlKhawārizmi. Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid untuk membuat buku.[liii] Setelah itu kaum Muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad.[l] Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox).[xxxix] Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslim era Abbasiyah dan didukung langsung oleh Khalifah Al-Mansūr yang juga sering disebut sebagai seorang astronom.[xliv] Di bidang ilmu kimia era Abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jābir ibn Hayyān[xlv] (atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern. Salah satu diantaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Bahkan jika dicermati.

Marwan bin Muhammad dapat dikalahkan dan akhrinya tewas mengenasakan di Fustat. [insya Allah to be completed] Senin. telah berhasil menciptakan sebuah peradaban agung yang mampu menampilkan kemajuan-kemajuan baik di bidang ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu sains yang kemudian disumbangkan bagi peradaban manusia dan diwarisi oleh pemegang tampuk peradaban modern yaitu Barat. Tapi dimasa-masa akhir pemerintahan dinasti Bani Umayyah gerakan tersebut semakin menguat seiring banyaknya protes dari masyarakat yang merasa tidak puas atas kinerja dan berbagai kebijakan pemerinatah dinasti Bani Umayyah. serta ruang dan waktu yang mewujud dalam rentang sejarah yang berlaku. Akhirnya pada tahun 132 M H/ 750 M. bangunan kota dan lain . Unsur paling penting dari kemajuan peradaban yang dibangun oleh umat Muslim Era Abbasiyah tersebut adalah al-fikrah al-dīniyah. Dari sekitar 37 orang khalifah yang pernah berkuasa.Saffah dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani. Unsur ini ditopang oleh unsur-unsur penunjang lainnya yaitu sumberdaya manusia yang direpresentasikan utamanya oleh para khalifah serta tokoh-tokoh ilmuan saat itu. Selain itu.PENUTUP Setelah pemaparan singkat mengenai sejarah Dinasti Abbasiyah. sehingga gerakan-garakan kelompok penentang tidak dapat melancarkan serangannya secara kuat. serta berbagai bidang lainnya. hanya saja gerakan tersebut selalu digagalkan oleh kekuatan militer Bani Umayyah. masjid. KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH DALAM BIDANG SOSIAL BUDAYA Sebagai sebuah dinasti. Presia. khususnya terkait kemajuan ilmu dan peradaban serta masa-masa kemunduran dan kehancurannya di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain bahwa sejarah peradaban Islam. melalui Dinasti Abbasiyah. Gerakan Muhammad bin Ali mendapat dukungan dari kelompok Mawali yang selalu ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua. yang dalam konteks ini adalah nilai-nilai dan konsep-konsep yang bermuara kepada sumber agama Islam itu sendiri yaitu wahyu. Keadaan sosial masyarakat yang majemuk itu membawa dampak positif dalam perkembangan dan kemajuan peradaban Islam pada masa ini. dapat dipergunakan untuk memajukan bidang-bidang sosial budaya lainnya yang kemudian menjadi lambang bagi kemajuan bidang sosial budaya dan ilmu pengetahuan lainnya. Diantara kemajuan ilmu pengetahuan sosial budaya yang ada pada masa Khalifah Dinasi Abbasiyah adalah seni bangunan dan arsitektur. didirikan oleh Abul Abbas al. salah seorang keluarga Abbas yang menjadikan kota Khufa sebagai pusat kegiatan perlawanana. Para tokoh tersebut antara lain Muhammad bin Ali. 21 April 2008 Dinasti abbasiyah FAKTOR – FAKTOR MUNCULNYA DINASTI ABBASIYAH Dinasti Abbasiyah yang berkuasa selama lebih kurang enam abad ( 132 – 656 H/ 750-1258 M ). telah banyak memberikan sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. . Gerakan-gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah dilakukan sejak masa-masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah. baik untuk bangunan istana. kekhalifahan Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad. seperti bidang-bidang sosial dan budaya. Sejak itu. Diantara kemjuan dalam bidang sosila budaya adalah terjadinya proses akulturasi dan asimilasi masyarakat. Mesir pada 132 H / 705 M. juga dukungan kuat dari kelompok Syi’ah yang menuntut hak mereka atas kekuasaan yang pernah dirampas oleh dinasti Banui Umayyah. secara resmi Dinasti Abbasiyah mulai berdiri. terdapat beberapa orang khalifah yang benar-benar memliki kepedulian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. seorang jendral muslim yang berasal dari Khurasan. Karna dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Gerakan ini menemukan momentumnya ketika para tokoh dai Bani Hasyim melancarkan serangannya.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam ini. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. Pemerinath Dinasti Bani Umayyah orientasi kebijakan yang dikeluarkannya selalu pada upaya perluasan wilayah kekuasaanya. Pada mas inilah lahir seorang sastrawan dan budayawan terkenal. lebih menfokuskan diri pada upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Al Mutanabby. banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun. Al farabi dan lain-lainnya. pencipta teori musik Islam. ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain. Khalil bin Ahmad. khususnya kemajuan dalam bidang ilmu agama. dicatat sebagai masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. seperti pada istana Qashrul dzahabi. seperti kitab Kalilah wa Dimna. terjadi juga kemajuan dalam bidang pendidikan. yang disebut diwanul jundi.Pembentuka lembaga ini didasari atas kenyataan polotik militer bahwa pada masa pemertintahan Dinasti Abbasiyah. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ).sebagainya. 152 H / 768 M ). pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah memperbaharui sistem politik pemerintahan dan tatanan kemiliteran. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini. Kemajuan juga terjadi pada bidang sastra bahasa dan seni musik. astronomi dan sebagainya. Untuk itu. Karna itu mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah. terletak pada orientasi kebijakan yang dikeluarkannya. sementara banguan kota seperti pembangunan kota Baghdad. banayak terjadi pemebrontakan dan bahkan beberapa wilayah berusaha memisahkan diri dari pemerintahan Dinasyi Abbasiyah KEMAJUAN DALAM BIDANG ILMU PENGETAHUAN Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh. seperti Abu Nawas. Abdullah bin Muqaffa dan lain-lainnya. sehingga masa pemerintahan ini dikenal sebagai masa keemasan peradaban Islam. Sementara tokoh terkenan dalam bidang musik yang kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman. Sementara pemerinath Dinasti Bani Abbasiyah. yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Meskipun begitu. dan Qashrul Khuldi. Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan. Samarra dan lain-lainnya. KEMAJUAN DALAM BIDANG POLITIK DAN MILITER Di antara perbedaan karakteristik yang sangat mancolok anatara pemerinatah Dinasti Bani Umayyah dengan Dinasti Bani Abbasiyah. Selain bidang –bidang tersebut diatas. tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Abu Nasr al-faraby. usaha untuk mempertahankan wilayah kekuasaan tetap merupakan hal penting yang harus dilakukan. KEMAJUAN DALAM ILMU AGAMA ISLAM Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berlangsung lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). Karya buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini. baik . Dengan demikian. mulai dari tingkat dasar hingga tingakat tinggi. Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik. Departemen inilah yamg mengatur semua yang berkaiatan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan. Pada masa-maa awal pemerinath Dinasti Abbasiyah. ilmu bumi. tidak lepas dariperan serta para ulama dan pemerintah yang memberi dukungan kuat. Seni asitektur yang dipakai dalam pembanguanan istana dan kota-kota. Abu Athahiyah. filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). telah banyak diushakan oleh para khalifah untuk mengembangakan dan memajukan pendidikan. seperti Filsafat.

Persoalan lain yang juga memperlemah kekuasaan Bani Abbasiyah adalh konflik internal dikalangan Bani Abbas. para tentara bayaran mendominasi kekuatan.dukungan moral. tidak lagi memiliki kekuatan yang besar. sedikit banyak memperlemah kekuasaan dan wibawa kerajaan Bani Abbas. Sebab paling tidak pemasukan dan pengaruh para khalifah Bani Abbas berkurang. yang kemudian masingmasing mendirikan kekuasaan-kekuasaan lokal. seperti bangsa Turki yang kemudian menguasai sistem pemerintahan Dinastu Abbasiyah. akan membawa kelemahan. Dinasyi Bani Fathimiyah yang didirikan di Tunisia pada tahun 297-323 H / 909-934 M oleh Al Mahdi. ketimbang kepentingan masyarakat umum.Mutawakkil. didirikan oleh Thahir bin Husein ( 205-259 H/ 821-873 M ). Konflik ini dimanfaatkan oleh para pendatang baru. Kemunculan kerajaan-kerajaan ini. kepada para ulama. hingga akhirnya dihancurkan oleh Salahuddin al. didirikan oleh Ahmad bin Thulun ( 254-292 H/868-905 M ). sehingga bangsa Arab dan Persia merasa cemburu. Mereka saling melalaikan tugas-tugas sebagai pemimpin dan kepala negara. akhirnya Dinasti Abbasiyah mengalami masa-masa suram. Pada masa pemerintahan khalifah al. Kenyataan ini dipengaruhui denga situasi politik umat Islam ketika itu. . Bahkan bangsa Turki mendirikan mendirikan kekuasaan di wilayah pemerintahan Bani Abbasiyah dan menguasi Baghdad. Dianatara kekuatan lokal yang sangat berpengaruh dalam proses melemahnay kekuasaan Dinasti Abbasiyah adalah dikarenakan luasnya wilayah kekuasaan sehingga tidak dapat melakukan kontrol pemerintah denga baik ke seluruh wilayahnya. ilmu fiqih dan tasawuf KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH Setelah berkuasa lebih kurang lima abad ( 750-1258 M ). terutama perseteruan antara bangsa Arab dan bangsa Persia dengan bangsa Turki. Dianata ilmu pengetahuan agama Islam yang berkembang dan maju adalah ilmu hadist. Pada akhirnya mereka kehilangan semangat juan untuk menegakan kekuasaan. sebab para khalifah sesudahnya lebih merupakan boneka para amir dan para wajir dinasti Buwaihiyah dan Salajikah.Mu’tashim dan Al-Mutawakkil. bahkan banyak di antara mereka yang lebih memilih hidup bermewah-mewahan. Dinasti Ikhsyidiyah. Konflik antra etnis dan suku bangsa sering terjadi. Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Idris bin Abdullah ( 172-311 H/ 788-932 M ). Perhatian yang serius dari pemeruntah ini membuat para ulama yang ingin mengembangkan ilmu ini mendapat motivasi yang kuat. Dinasti Thuluniyah. Dinasti ini berkuasa cukup lama. Sikap anti Turki ini pada akhirnya menimbulkan gerakan pemberontakan di setiap daerah. kemunduran dan kemudian kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah. Perseteruan ini terjadi ketika bangsa Turki semakin memiliki posisi strategis dipemerintahan dan menggeser posisi bangsa Arab dan Persia. Masa suram ini terjadi ketika para pengusaha setelah AlMakmun. Ketergantungan ini merupakan salah satu faktor penyebab melemahnya kekuasaan Dinasti Abbasiyah. didirikan oleh Hamdan bin Hamdan ( 293-394 H/ 905-1004 M ). Dinasti Hamdaniyah. material dan finansia. Dinasti Thahriyah. Al. yang merupakan dua suku bangsa yang memiliki peran penting didalam proses berdirinya pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Lama kelamaan. Dianatar kerajaan-kerajaan kecil yang dapat melepaskan diri adalah Dinasti Buwaihiyah ( 945-1055 M ). didirikan oleh Saman Khuda ( 261-9-389 H/ 874-999 M ).Ayyubi. didirikan oleh Muhammad bin Tughj ( 323-358 H/ 935-969 M ). ilmu tafsir. sehingga mereka berusaha keras untuk mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan dan perdaban Islam. Dinasti Aghlabiyah didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab ( 184-296 H/ 800-909 M ). pengaruh bangsa Turki semakin kuat. Para khalifah Abbasiyah pada periode terakhir lebih mementingkan kepentingan peribadi. baik secara militer atau ekonomi. sehingga mereka menciptakan ketergantunan khalifah kepada tentara bayaran. Ketika para kalifah semakin lemah. Dinasti Samaniyah. Dinasti Salajiqah ( 1037-1157 M ). sehingga peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pemerintah pusat untuk melepaskan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi). yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Serangan bangsa Mongol ini manandai akhir dari masa kekuasaan dinasti Abbasiyah. sebagaimana juga di Arab dan Barat. manifestasimanifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang.A. maka peradaban terefleksi dalam politik. tidak terkenal. politik. yaitu sekitar lima abad. yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya. latarbelakang berdirinya kekhalifahan Abbasiyah. Sedangkan. dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah. maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan. Peradaban dalam Islam. Dibawah pimpinan hulaghu Khan. Dari segi durasi. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. ekonomi dan teknologi. Islam memang berbeda dari agama-agama lain. . (2) wujud kelakuan. kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah diluluh lantakan pada tahun 1258 m. Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya. kekuatan baru datang dan berusaha menghancurkan Dinasti Abbasiyah. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni. yaitu kekuatan bangsa Mongol.Pada saat semua mengalami kelemahan. it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama. “Islam is andeed much more than a system of theology. Latar Belakang Berdirinya Abbasiyah (750-847 M – 132-232 H) Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah. (1) wujud ideal. Dalam sejarah islam tercatat. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta. agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. rasa dan karsa manusia. dalam islam. nilai-nilai. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. bahwa. dan (3) wujud benda. Di Indonesia. gagasan. kemajuan dan kemunduran pada masa ini. bodoh. kedua istilah itu dibedakan. Jadi. Di satu sisi. dan social. dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain. sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. sebagaimana pernah diungkapkan oleh H. kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama. ia adalah suatu peradaban yang sempurna). para sahabat (Khulafaur Rasyidin). saya akan membahas peradaban islam pada masa Dinasti Abbasiyah dengan topik bahasan diantaranya. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang. ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. menjadi bangsa yang maju. baik dari aspek ekonomi. sastra.dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide. diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim. Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu). kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud. Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab. peraturan dan sebagainya. masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M. sedangkan disisi yang lain.Natsir. norma-norma. religi (agama) dan moral. Padahal. yaitu al-Hadharah alIslamiyyah. Menurut Koentjoroningrat.R. Dalam diskusi kali ini.

Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat. Pada masa pemerintahan. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. emas. Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah. 4. Pada masing-masing bidang memiliki kelebihan dan kekurangan. kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon. lembaga pendidikan. masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Bidang Ekonomi Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector pertanian. Oleh karena itu. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M). Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa kekayaan. melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. Bidang Politik Walaupun demikian. revolusi alkhawarij di Afrika utara. Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah. ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. bekas ibukota Persia. dari tahun 132 H (750 M) s. Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah. Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M). kesejahteraan social. ilmu pengetahuan dan . pendidikan. 2. tembaga dan besi. Bidang Sosial Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. semuanya dapat dipadamkan. gerakan zindik di Persia. 3. 1. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M). Rumah sakit. Pada tahun 762 M. dan farmasi didirikan. baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak. fase pembangunan dan kemajuan. fase kemunduran dan kehancuran. 2. tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad. Gerakangerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas. dokter. disebut periode pengaruh Persia pertama. 5. social dan budaya. bidang ekonomi. kesehatan. gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan. Akan tetapi durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bergantung pada kemampuan penyelenggara pemerintahan yang bersangkutan. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode : 1. disebut masa pengaruh Turki pertama. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M). biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Selama dinasti ini berkuasa. digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium. Kemajuan Dinasti Bani Abbas Setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang dikenal dengan fase pendirian. kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. 3.d 656 H (1258 M). dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas. masing-masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang. pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik.Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M). bidang sosial. masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. diantaranya bidang politik. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain.

Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Harun al-Rasyid (786-809 M). masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. yang disebut masa pertengahan. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Pada periode ini. dan al-Mutawakkil (847-861 M). disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Dari gambaran diatas terlihat bahwa. dan bahwasanya mereka akan mengamalkan alQur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah. khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri Spanyol. Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. demikian pula para rajanya. Kehancuran Dinasti Bani Abbas Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat. benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur. maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya. Para khalifah Abbasiyah. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni. kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi mereka. Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah islam. Dan ketika singgasana itu terjatuh. pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. Disamping kelemahan khalifah. para mentri cenderung berperan sebagai pegawai sipil. Persaingan Antarbangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. hanya khalifah pada saat periode ini sangat kuat. yaitu al-Mahdi (775-785 M). al-Hadi (775-786 M). mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. meliputi wilayah yang amat luas. tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. meskipun ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya. al-Ma’mun (813-833 M). Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali. al-Mu’tashim (833-842 M). walaupun banyak sekali Dinasti islam berdiri. sudah merdeka dan berkuasa kembali.kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Itulah sebabnya belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka. Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah. banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur. obat dan falsafah. al-Wasiq (842-847 M). namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. tetapi jika khalifah lemah. tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah. Ada diantaranya dinasti yang cukup besar. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran. bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw. Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang Baghdad. benih-benih ini tidak sempat berkembang. namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani .

pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai. Zoroasterisme dan Mazdakisme. bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Mu`tazilah yang . sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat. Mesir. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. 3. Kecuali Islam. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. tetapi juga antaraliran dalam Islam. mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak. Selain itu. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas. stabilitas politik dapat terjaga. Kedua.11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Irak. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah. Konflik Keagamaan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri. Keduanya sama-saama tertindas. Pada periode pertama. banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat.Umayyah berkuasa. naik tahta. muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah. Kemerosotan Ekonomi Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Menurut Stryzewska. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih. seperti Maroko. Turki dan India. Pertama. Dengan demikian. pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Akan tetapi. Persia. dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. orang-orang Persia tidak merasa puas.12 Akibatnya. sehingga Bait alMal penuh dengan harta. Pada saat gerakan ini mulai tersudut. pendapatan Negara menurun. dan para pejabat melakukan korupsi. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas. Meskipun demikian. jenis pengeluaran makin beragam. semacam pajak hasil bumi. dominasi tentara turki tak terbendung lagi. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. disamping Fanatisme kearaban. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sementara itu. kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme. Syria. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar. meliputi berbagai bangsa yang berbeda. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj. Setelah AlMutawakkil. karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan. sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. seorang khlaifah yang lemah. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan. khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional. sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya. 2. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri.

Setelah kematian Harun. yang bernama Thahir. Disebutkan bahwa Hulagu Khan. Tentara Mongol. al-Amin . alMakmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan. al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya. al-Amin. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya. Akibatnya pecahlah perang sipil. Pertama. di antara komunitas-komunitas Kristen Timur. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad. perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara . sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orangorang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya. Almakmun berhasil mengalahkan saudara tuanya. panglima tentara Mongol. Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah. tidak membawa hasil dan gagal. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan. ada pula factorfaktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam.cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf. sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak. selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”. sebagaimana yang telah kita lihat. seperti juga Agama Isa as. setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam. Kebijakan ini. hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu. Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama Muhammad Saw. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu. Ancaman dari luar Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. ikut memperbaiki yerussalem. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Namun. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir. Disamping itu. 4. dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik. dan mengklaim khilafah pada tahun 813. terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah. Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur..13 Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Sebagaimana telah disebutkan. Kedua. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah. serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.

konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah Berdirinya bani abbasiyah dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncullah kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani . Dalam makalah ini kami akan membahas tentang sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu beserta ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Abbasiyah. Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besar. 05 April 2010 Sejarah Dinasti Abbasiyah BAB I PENDAHULUAN A. Bagaimana perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah? C. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah b. B. Tujuan Penelitian a. Rumusan Masalah a. Latar Belakang Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam mengembangkan peradaban Islam. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.14 Senin. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah? b. Untuk mengetahui perkembangan ilmu dan ilmuwan yang berpengaruh pada masa dinasti Abbasiyah BAB II PEMBAHASAN A.

social dan budaya. Perkembangan Ilmu dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib. majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya. dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. mereka memusatkan kegiatannya di khurasan. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah. Gerakan ini menghimpun a.. akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw.umayyah. Bani alawiyah pemimpinnya Abu Salamah b. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. Filsafat . Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan bani umayyah. Keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. B. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Bani Abbasiyah pemimpinnya Ibrahim al-AIman c. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain: a.

Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama. Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Abu Nasr alFaraby. Ibnu Sina. b. dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan. Ilmu Kalam Menurut A. c. Ilmu ini berkembang karena . Ilmu Kimia Ilmu kimia juga termasuk kaum salah satu ilmu pengetahuan bidang ini yang dikembangkan oleh muslimin.Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani. Ilmu Kedokteran Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia. Romawi. Sajastani dan lain-lain. d. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’. Ilmu Hisab Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Kedua. Ibnu Thufail. e. Ibnu Bajjah. Ghazali. karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Baqilani. Persia. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina. Asy’ary. Dalam mereka memperkenalkan eksperimen obyektif.

Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad. khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab. b. supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. at-tirmidzi dan al-nasa’i. Selain lain: a. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat. misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim. yang terkenal pada abad ke-9 M. h. Muhammad bin Ishaq g. Ilmu Hadis Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari. ibnu majjah. hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ilmu Tafsir Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. metode tafsir ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara . f. metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran alQur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani. Sejarah Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu. Pertama. Ilmu Bumi Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi. al-biruni. Astronomi Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Kedua. Abdurrahman alSufi. abu daud.kebutuhand asar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat.

imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam alThabary. imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid. Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. imam malik menyusun kitab al-muwatha’. Saran Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut andil dalam penulisan makalah ini. ilmu kedokteran. ilmu bumi dan astronom. tasawuf. ilmu fiqih. Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang pada masa dinasti abbasiyah yaitu filsafat. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din. Bidang-bidang ilmu pengetahuan keagamaan berkembang pada masa ini yaitu: ilmu hadist. Ilmu Tasawuf Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam. d. . imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar. al-sud’a muqatil bin Sulaiman. ilmu kalam. Kesimpulan Dinasti abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H. BAB III PENUTUP A. ilmu tafsir. B. untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami tunggu dan kami perhatikan. c. ilmu hisab. Ilmu Fiqih Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya. sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. ilmu kimia. sejarah.bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits.

ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab.[3] Di bawah pimpinan Imam mereka Muhammad bin Ali Al-Abbasy mereka bergerak dalam dua fase. Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab. Di antara kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan yang dibuat adalah : 1. suku. baik dalam bidang ekonomi. Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut-pengikut Ali RA pada khususnya dan terhadap Bani Hasyim pada umumnya. terjadi kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para Khalifah dan para pembesar negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam. '06 10:54 PM for everyone A. 4. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada berbagai kegiatan keluarga Syiah. dimana mereka mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayah dan membangun Daulah Abbasiyah. Gerakan ini didahului oleh keturunan Bani Abbas. [1] Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Muhammad serta Ibrahim. Politik kepegawaian didasarkan pada klan. kaum dan kawan. Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan. atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. Hal ini memungkinkan mereka dapat mencapai hasil lebih banyak. Propaganda . Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawancendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan.[4] Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia.Sejarah Daulah Abbasiyah Oleh : Mardias Gufron Aug 28.[2] Keturunan Bani Hasyim dan Bani Abbas yang ditindas oleh Daulah Umayah bergerak mencari jalan bebas. 3. golongan. peradaban dan kekuasaan. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan. seperti Ali bin Abdullah bin Abbas. karena landasannya telah dipersiapkan oleh Daulah Bani Umayah yang besar. yaitu fase sangat rahasia dan fase terang-terangan dan pertempuran. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan. Menjelang tumbangnya Daulah Umayah telah terjadi banyak kekacauan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara. sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan. 2. Pengantar Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam.

Tiga Dinasti dalam Daulah Abbasiyah Pada awalnya kekhalifahan Daulah Abbasiyah menggunakan Kufah sebagai pusat pemerintahan. Mereka gemar memelihara budak belian serta istri peliharaan (harem). bahkan juga dari golongan-golongan yang pada mulanya mendukung Daulah Umayah Setelah Imam Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim. Begitu dahsyatnya pembunuhan itu sampai Abu Abbas menyebut dirinya sang pengalir darah atau As-Saffar. Kehidupan lebih cenderung pada kehidupan duniawi ketimbang mengembangkan nilai-nilai agama Islam. Di kota Baghdad ini kemudian akan lahir sebuah imperium besar yang akan menguasai dunia lebih dari lima abad lamanya. dengan Abu Abbas As-Safah (750-754 M) sebagai Khalifah pertama. yaitu Abdurrahman yang baru berumur 20 tahun. terutama dari golongan-golongan yang merasa ditindas. Dalam peristiwa tersebut salah seorang pewaris takhta kekhalifahan Umayah. Semenjak masuknya Abu Muslim ke dalam gerakan rahasia Abbasiyah ini. Kemudian Khalifah penggantinya Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad. Abu Abbas pimpinan gerakan tersebut berhasil menarik dukungan kaum Syiah dalam mengobarkan perlawanan terhadap kekhalifahan Umayah. Seperti yang terjadi pada masa Daulah Umayah. misalnya. pada masanya inilah bergabung seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas dalam gerakan rahasia ini yang bernama Abu Muslim Al-Khurasani. para bangsawan Daulah Abbasiyah cenderung hidup mewah dan bergelimang harta. Tokoh inilah yang kemudian berhasil menyusun kembali kekuatan Bani Umayah di seberang lautan.dikirim ke seluruh pelosok negara. berhasil meloloskan diri ke daratan Spanyol. yang waktu itu dipegang oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad. yaitu di keamiran Cordova. Abu Abbas kemudian memulai makar dengan melakukan pembunuhan sampai tuntas semua keluarga Khalifah. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan. Mesir dan maka resmilah berdiri Daulah Abbasiyah. maka dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan. kemudian cara pertempuran. Namun tidak dapat disangkal sebagian khalifah memiliki selera seni yang tinggi serta taat beragama. Sehingga dapatlah dikelompokkan masa Daulah Abbasiyah . Dalam beberapa hal Daulah Abbasiyah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan Daulah Umayah. Di sana dia berhasil mengembalikan kejayaan kekhalifahan Umayah dengan nama kekhalifahan Andalusia [6] B. Imperium ini dikenal dengan nama Daulah Abbasiyah. dan mendapat pengikut yang banyak. dan akhirnya dengan dalih ingin mengembalikan keturunan Ali ke atas singgasana kekhalifahan.[5] Maka bertepatan pada bulan Zulhijjah 132 H (750 M) dengan terbunuhnya Khalifah Marwan II di Fusthath.

Khalifah Ar-Radi (934-940 M) 21. Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) 4. Khalifah Al-Mufi (946-974 M) 24. [7] a. Khalifah Al-Muktamid (870-892 M) 16. Khalifah At-Tai (974-991 M) 25. Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) 6. Khalifah Al-Kahir (932-934 M) 20.menjadi lima periode sehubungan dengan corak pemerintahan. Khalifah Al-Mustaqi (940-944 M) 22. Kenyataan itu menunjukkan bahwa masa pemerintahan itu diwarnai oleh intrik istana maupun perebutan kekuasaan secara internal. Khalifah Al-Muktazz (866-869 M) 14. Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) 9. Khalifah Al-Amin (809-813 M) 7. Yaitu Bani Abbas. Khalifah Al-Kasim (1031-1075 M) c. Khalifah Al-Kadir (991-1031 M) 26. Khalifah Al-Muktadid (892-902 M) 17. Khalifah Al-Muqtadi (1075-1084 M) . dan Bani Saljuk. Khalifah Al-Hadi (785-786 M) 5. Bani Abbas (750-932 M) 1. Khalifah Al-Muktafi (902-908 M) 18. Khalifah Al-Makmun (813-833 M) 8. Khalifah Al-Muktakfi (944-946 M) 23. Bani Buwaihi. Khalifah Abu Jakfar al-Mansur (754-775 M) 3. Khalifah Al-Muktadir (908-932 M) b. Khalifah Al-Muhtadi (869-870 M) 15. Khalifah Al-Muntasir (861-862 M) 12. Khalifah Al-Mustain (862-866 M) 13. Sedangkan menurut asal usul penguasa selama masa 508 tahun Daulah Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa. Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) 10. Bani Buwaihi (932-1075 M) 19. Khalifah Abu Abbas As-Safah (750-754 M) 2. seperti tersebut di bawah ini. Bani Saljuk (1075-1258 M) 27. Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) 11.

Khalifah Az-Zahir (1224-1226 M) 36.[9] Sehingga akhirnya menimbulkan banyak pemberontakan. sebuah kota indah yang terdapat di tepi aliran sungai Tigris dan Eufrat. Periode pertama (750-847 M) Diawali dengan tangan besi Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abu Abbas As-Safah. Khalifah Al-Mustazhir (1074-1118 M) 29. namun pemberontakan-pemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Abu Abbas. Khalifah Al-Mustafi (1136-1160 M) 32. Khalifah Al-Muktasim (1242-1258 M) C. Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) 37. Khalifah Al-Mustadi (1170-1180 M) 34. dengan cara mengeluarkan jenazah mereka dan membakarnya. serta menggunakan suatu agen rahasia yang berfungsi untuk mengawasi gerak dan gerik keturunan Bani Umayah. bila perlu membunuhnya. adalah makam Muawiyah bin Abi Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz. Namun dialah yang paling berjasa dalam mengkonsolidasikan dinasti Abbasiyah sehingga menjadi kuat dan kokoh.[10] Untuk menunjang langkah menuju masa kejayaan beberapa kebijakan penting yang diambil oleh Al-Mansur yaitu memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad. Setelah Abu Abbas meninggal dia diganti oleh Abu Jakfar Al-Mansur (754-775 M) Abu Jakfar Al-Mansur adalah Khalifah Daulah Abbasiyah yang dikenal paling kejam. Sedangkan makam yang tidak digali. Khalifah Ar-Rasyid (1135-1136 M) 31. Khalifah An-Nasir (1180-1224 M) 35.[8] Perlakuan kejam itu tidak hanya kepada orang-orang Umayah yang masih hidup. maka Abu Abbas menerapkan kebijakan-kebijakan yang cukup tegas. Di awal pemerintahannya untuk mengukuhkan eksistensi kekhalifahan Daulah Abbasiyah. Khalifah Al-Mustasid (1118-1135 M) 30. Koordinator pelenyapan keluarga Bani Umayah itu diserahkan kepada Abdullah pamannya Abu Abbas.28. Sementara itu perbaikan juga dilakukan di bidang administrasi pemerintahan yang disusun secara baik dan pengawasan . melainkan juga kepada mereka yang sudah meninggal. Periodisasi dalam Daulah Abbasiyah a. dia meletakkan dasar-dasar pemerintahan bani Abbasiyah dan tidaksegan-segan melakukan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang mengganggu pemerintahannya. Khalifah Al-Mustanjid (1160-1170 M) 33. kebijakan itu adalah memusnahkan anggota keluarga daulah Bani Umayah.

Cara kedua. Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakkan dan dibangun oleh Abu Abbas As-Safah dan Abu Jakfar Al-Mansur.[11] Pergeseran Kebijakan Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Kota Basra menjadi pelabuhan transit yang penting yang serba lengkap. Akibat kebijakan yang diambil ini. Irigasi yang dibangun membuat hasil pertanian berlipat ganda dibanding sebelumnya. yaitu ketika orang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh Khalifah manjadi sangat kuat. . Pertambangan dan sumber-sumber alam bertambah dan demikian pula perdagangan internasional ke timur dan ke barat dipergiat.terhadap berbagai kegiatan pemerintah diperketat. Kecenderungan orang-orang muslim secara sukarela sebagai anggota milisi mengikuti perjalanan perang sudah tidak lagi terdengar. misalnya beberapa daerah taklukan melepaskan diri. Mesisah. seperti Daulah Aglabiah (Bani Taglib) di Tunisia dan Tahiriyah di Khurasan. Militer Daulah Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat. Petugas pos-pos komunikasi dan suratmenyurat ditingkatkan fungsinya menjadi lembaga pengawas terhadap para gubernur. Tak urung gejala pemberontakan itu memang muncul di mana-mana. Masa itu berlangsung sampai dengan masa Al-Makmun. Ketentaraan kemudian terdiri dari prajuritprajurit Turki yang profesional. Kedua penguasa ini lebih menekankan pada pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam ketimbang perluasan wilayah seperti pada masa Daulah Umayah. perekonomian meningkat. Orientasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur pembeda lainnya antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah yang lebih mementingkan perluasan daerah. Andalusia dan Afrika.[13] Pada zaman Al-Mahdi. Pertama. antara lain ke wilayah Armenia.[12] Ada dua kecenderungan yang terjadi. Sejak masa Khalifah Al-Mahdi (775-785) hingga Khalifah Al-Wasiq (842-847 M). provinsi-provinsi terpencil di pinggiran mulai terlepas dari genggaman mereka. seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan yang berhasil menegakkan kemerdekaan penuh seperti Daulah Umayah di Andalusia (Spanyol) dan Idrisiyah (Bani Idris) di Marokko. maka puncak keemasan dinasti itu berada pada tujuh Khalifah sesudahnya. Namun demikian pemberontakanpemberontakan yang ada dapat dipatahkan oleh Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur. Selain itu salah satu kebijakan Al-Mansur adalah melakukan invasi dan perluasan daerah kekuasaan.[14] Tingkat kemakmuran yang paling tinggi adalah pada zaman Harun Al-Rasyid. Al-Makmun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku dari Yunani. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gerakan separatis dan pemberontakan.

Di masa-masa itu para Khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian. Sebenarnya zaman keemasan Bani Abbasiyah telah dimulai sejak pemerintahan pengganti Khalifah Abu Jakfar Al-Mansur yaitu pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M) dan mencapai puncaknya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid. Pada masa itu perpustakaan-perpustakaan tampaknya lebih menyerupai sebuah universitas ketimbang sebuah taman bacaan. dan berdiskusi. Di samping itu. berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim. perpustakaan ini juga berfungsi sebagai pusat penerjemahan. menulis. Zaman Keemasan Kekhalifahan Bani Abbas biasa dikaitkan dengan Khalifah Harun Al-Rasyid. yang sebenarnya adalah seorang ahli hikmah atau filsuf etika. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran pemikiran muktazilah yang amat mengandalkan kemampuan rasio dan logika dalam dunia Islam. terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan pada umumnya. astronomi dan ilmu alam. tentara itu menjadi sangat dominan sehingga Khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau menjadi boneka mereka.Akibatnya. Abu Nawas. tetapi usaha itu tidak berhasil mengurangi dominasi tentara Turki. Berpartisipasinya unsur-unsur non Arab. Berbagai buku bermutu diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani. Zaman keemasan itu digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban. yang digambarkan sebagai Khalifah yang paling terkenal dalam zaman keemasan kekhalifahan Bani Abbasiyah. Dalam memerintah Khalifah digambarkan sangat bijaksana. filsafat. Orang-orang datang ke perpustakaan itu untuk membaca. Di sinilah letak sumbangan Islam terhadap ilmu dan peradaban dunia. kimia. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Di masa-masa berikutnya para ilmuwan Islam bahkan mampu mengembangkan dan melakukan inovasi dan penemuan sendiri. seorang penyair yang kocak. yang selalu didampingi oleh penasihatnya. terutama bangsa Persia. Salah satu faktor penting yang merupakan penyebab Daulah Abbasiyah pada periode pertama ini berhasil mencapai masa keemasan ialah terjadinya asimilasi dalam Daulah Abbasiyah ini. Dari India misalnya. terutama filsafat etika dan logika. Sebagai respon dari kenyataan tersebut Khalifah Al-Wasiq (842-847 M) mencoba melepaskan diri dari dominasi tentara Turki tersebut dengan memindahkan ibukota ke Samarra. Sedangkan dari . matematika. dalam pembinaan peradaban Baitul Hikmah dan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Makmun. Tercatat kegiatan yang paling menonjol adalah terhadap buku-buku kedokteran.

Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. meminjam istilah Ibnu Rusyd. Ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir. seperti pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Karamitah yang berpusat di Bahrain. Akibat adanya persaingan internal di kalangan tentara Turki. Pemberontakan masih bermunculan pada periode ini. Mereka telah memilih dan mengangkat Khalifah sesuai kehendak mereka. selebihnya. Usaha untuk melepaskan dari dominasi Turki selalu mengalami kegagalan. Meskipun demikian. Geografi. Kimia. Akan tetapi. Kedokteran dan lain sebagainya. dalam bidang sejarah muncul sejarawan besar Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Sementara kehidupan intelektual terus berkembang. yang meninggal pada tahun 750 M. Dan juga berkembang ilmuilmu Aqli seperti Astronomi. Pada masanya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah AlMutawakkil wafat. Al-Jahiz (meninggal 869 M). kalau tidak dibunuh. Namun bukan itu semua yang menghambat upaya mewujudkan kesatuan politik Daulah Abbasiyah. Mulailah Khalifah Ar-Radi menyerahkan kekuasaan kepada Muhammad bin Raiq. keadaan Bani Abbas tidak menjadi lebih baik. meskipun resminya mereka adalah penguasa. Abul Faraj (meninggal 967 M) dan beberapa sastrawan besar lainnya. Khalifah memberinya gelar Amirul Umara (Panglima para panglima). Khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Ilmu-ilmu Naqli dan Ilmu Aqli. Dari dua belas Khalifah pada periode ini. mereka memang mulai melemah. Hadis. Baghdad kembali menjadi Ibukota. Dengan demikian Bani Abbasiyah tidak lagi mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Pada masa itu juga hidup budayawan dan sastrawan masyhur seperti Abu Tammam (meninggal 845 M). Ilmu Alam. Sejarah. mereka mampu mengendalikan unsur-unsur Turki tersebut. Matematika. dalam ilmu bahasa muncul antara lain Ibnu Malik At-Thai seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu malik. Periode kedua (847-945 M)[16] Kebijakan Khalifah Al-Muktasim (833-842 M) untuk memilih unsur-unsur Turki dalam ketentaraan Kekhalifahan Daulah Abbasiyah terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Makmun dan sebelumnya. b. Ushul Fiqh dan lain-lain. Gubernur wasit dari Basra.sastera Persia terjemahan dilakukan oleh Ibnu Mukaffa. Teologi. Di samping itu. Di masa Al-Muktasim (833-842 M) dan Khalifah sesudahnya Al-Wasiq (842-847 M). mereka digulingkan dengan paksa. Pada tahun 892 M.[15] Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang sastra dan seni saja juga berkembang . Fiqih. hanya empat orang yang wafat dengan wajar. Bahasa. .

Berbarengan dengan itu kadar saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyyah yang harus dikendalikan. c. Ibnu Sina (980-1037 M). Madrasah . Ali menguasai wilayah bagian selatan negeri Persia. Seperti halnya pada periode sebelumnya. pertanian. Perdana Menteri pada masa Alp Arselan dan Maliksyah. Hasan menguasai wilayah bagian utara. Kehadiran Bani Saljuk ini adalah atas ’’undangan’’ Khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di baghdad. Sementara itu Bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara. Ketiga. Setelah kekuatan militer merosot. dan pemberontakan tentara. Dalam bidang ilmu pengetahuan. Yang kedua. pertama. dan Ahmad menguasai wilayah Al-Ahwaz. Cabangcabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan. karena telah dipindah ke Syiraz di mana berkuasa Ali bin Buwaihi yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Patut dicatat pula bahwa selama masa Bani Buwaihi berkuasa di Baghdad. Bidang ekonomi. kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. d.Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut. Wasit dan Baghdad. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. paling tidak kewibawaannya dalam bidang agama sudah kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syiah. sementara komunikasi lambat. mesjid dan rumah sakit. Periode Keempat (1055-1199 M) Periode keempat ini ditandai dengan berkuasanya Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. Daulah Abbasiyah masih terus mengalami kemajuan pada periode ini. profesionalisasi tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Al-Biruni (973-1048 M). Keadaan Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya. Khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. Keadaan Khalifah sudah mulai membaik. telah terjadi beberapa kali bentrokan sosial aliran ahlu sunnah dan syiah. Periode Ketiga (945-1055 M) Posisi Daulah Abbasiyah yang berada di bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama dari periode ketiga ini. dan perdagangan juga mengalami kemajuan. Ibnu Misykawaih (930-1030 M) dan kelompok studi Ikhwan As-Safa. mendirikan Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi menjadi pusat pemerintahan Islam. lebih-lebih karena Bani Buwaihi menganut aliran Syiah. Nizam Al-Mulk. ilmu pengetahuan juga berkembang dalam periode ini. Pada masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti Al-Farabi (870-950 M). Kemajuan itu juga diikuti dengan pembangunan kanal.

beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. e. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Madrasah ini telah melahirkan banyak cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Kedua. Keempat. Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Misalnya yang dilahirkan dalam periode ini adalah Az-Zamakhsari. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. pertama. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. yaitu perpustakaan di Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir.ini menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. Ketiga. Dalam bidang politik. dan Umar Khayyam dalam bidang ilmu perbintangan. Persia dan Turki. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Pada masa pusa kekuasaan melemah. Sesudah . terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. AlGhazali dalam bidang ilmu kalam dan tasawuf. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. terutama untuk negeri Irak. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. masingmasing provinsi memerdekakan diri. terutama Arab. Di antara faktor-faktor intern adalah. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. pertama. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. Pada periode ini. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. penulis dalam bidang Tafsir dan Usul ad-dien (Teologi).

Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. . mereka lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. Dalam masa lima abad lamanya. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. baik kekayaan. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. tak ada lagi yang kelihatan. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. Di atas bumi kota Baghdad. kemajuan ataupun kekuasaan. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. Istana dan gedung-gedung yang indah. Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan.itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam.

Sebagian besar penduduk kota itu disembelih laksana binatang saja. Pada masa pusa kekuasaan melemah. adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. madrasah dan mesjid-mesjid yang mengagumkan mereka rusak. munculnya dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan. e. Khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah dinasti tertentu. Dalam bidang politik. Di antara faktor-faktor intern adalah. Persia dan Turki. Buku-buku pengetahuan yang tak ternilai harganya. Khalifah Daulah Abbasiyah yang paling akhir. terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada. yaitu perpustakaan di Baghdad. pertama. Periode Kelima (1199-1258 M) Telah terjadi perubahan besar-besaran dalam kekhalifahan Daulah Abbasiyah dalam periode kelima ini. Kekejaman Bangsa Mongol[17] Khalifah Al-Muktasim. Mereka merdeka dan berkuasa tetapi hanya di baghdad dan sekitarnya. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawarizmisyah pada tahun 1199 M. adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah. Sekalian isi istana dan perbendaharaan negara mereka rampas semuanya. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di antara mereka melemahkan mereka sendiri. terutama Arab. yang berkembang menjadi pertumpahan darah. Keempat. Ketiga. mereka . Sesudah itu mereka merampas harta benda penduduk dan melakukan perbuatan-perbuatan kejam dab ganasnya tiada terperikan. Sempitnya wilayah kekuasaan Khalifah menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 1258 M. dan sedikrit demi sedikit kekuasaan politik Khalifah menguat kembali. Faktor-faktor yang membuat Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. pertama. terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik. Kedua. masing masing provinsi memerdekakan diri. Pada periode ini. terutama untuk negeri Irak. Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah. Istana dan gedung-gedung yang indah. beserta seluruh putra-putranya dan semua pembesar-pembesar kota Baghdad mati dibunuh semuanya oleh tentara Mongol. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi.perbintangan. berlangsungnya perang salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu. pusat kekuasaan juga tidak terletak di kota Baghdad.

Pada masa ini kedaulatan umat Islam telah sampai ke puncak kemuliaan. telah ada 37 orang Khalifah menduduki singgasana Daulah Abbasiyah. Di atas bumi kota Baghdad. karena keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT. berkubur dalam bumi kota Baghdad yang telah hangus di bawah runtuhan gedung-gedung dan istana. baik kekayaan. . Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia. kemajuan ataupun kekuasaan. selain dari tumpukan bara hitam yang masih berasap. Peristiwa kekejaman ini berlaku sampai 40 hari lamanya. tak ada lagi yang kelihatan.lemparkan ke dalam sungai Tigris sehingga hitam lantaran tinta yang luntur. Mereka membakar di sana-sini sehingga api mengamuk di seluruh kota. Dalam masa lima abad lamanya. yakni sejak dari Abu Abbas As-Safah memerintah pada 750 M sampai hari mangkatnya Al-Muktasim pada 1258 M. Hal juga merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit merebut kejayaan Islam yang pernah dirasakan pada masa Daulah Abbasiyah. Daulah Abbasiyah Lenyap Dengan kematian Al-Muktasim lenyaplah Daulah Abbasiyah dari bumi ini. Pada zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Penutup Masa Daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam. Selain itu sumbangan umat Islam bagi peradaban dunia juga dihasilkan oleh para cendikiawan-cendikiawan besar yang hidup di masa Daulah Abbasiyah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful