Tentang Pendidikan Karakter

Posted on 20 Agustus 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. nonformal. pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi. lingkungan. pelaksanaan.Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan. sesama. peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri. pemberdayaan sarana prasarana. Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut. kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga. jenjang. apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP). proses pembelajaran dan penilaian. penanganan atau pengelolaan mata pelajaran. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). yaitu isi kurikulum. dan jenis satuan pendidikan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan. dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif . Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari. pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik. tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal. Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia. Selebihnya (70%). dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. Olah Pikir (intellectual development). dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah. pengelolaan sekolah. dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Permasalahannya. diri sendiri. pembiayaan. kesadaran atau kemauan. Selama ini. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar. atau kurang dari 30%. Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur. maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME). Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). Dalam pendidikan karakter di sekolah. dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler. pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. kualitas hubungan.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. pembelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. penilaian. Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. dan komponen terkait lainnya. dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. pendidik dan tenaga kependidikan. muatan kurikulum. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. terutama dalam pembentukan karakter peserta didik . Menurut Mochtar Buchori (2007). dan dicari altenatif-alternatif solusinya. penghayatan nilai secara afektif. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji.terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. tetapi menyentuh pada internalisasi. serta potensi dan prestasi peserta didik. waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai. manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. potensi. dilaksanakan. sesuai standar kompetensi lulusan. dieksplisitkan. Dengan demikian. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu. Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. nilai-nilai yang perlu ditanamkan. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi. yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. bakat. Dalam hal ini. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. . Dengan demikian. terpadu. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan.

4. bugar. Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. tradisi. yang antara lain meliputi sebagai berikut: 1. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices. karakter atau watak. pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah. Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. berkarakter mulia. berakhlak mulia. dan kreatif. 3. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis. 12. dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. meliputi para peserta didik. guru. dan inovatif. karyawan administrasi. Budaya sekolah merupakan ciri khas. yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku.Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. . kebiasaan keseharian. budaya. 7. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. ras. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa. sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. 15. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP. dan masyarakat sekitar sekolah. 9. kompetensi akademik yang utuh dan terpadu. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. aman. kreatif. dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. Menghargai karya seni dan budaya nasional. 11. 8. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. kritis. 10. dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. suku. Semua warga sekolah. kritis. 13. Menerapkan hidup bersih. 5. 6. 2. Pada tataran yang lebih luas. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 14. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. Menghargai keberagaman agama. yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya. Menunjukkan sikap percaya diri. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. sehat.

18. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Menghargai adanya perbedaan pendapat. Jakarta Pendidikan Karakter Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. berbicara. 19. dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. 21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. ============= Untuk melihat kajian toeritis tentang Urgensi Pendidikan Karakter bisa dilihat DISINI Contoh ilustrasi langkah-langkah penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran dapat dilihat DISINI ============= Sumber: Kemendiknas. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. Ovide Decroly. Pada tataran sekolah. kebiasaan keseharian. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte. Lebih dari itu. pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède. 17. kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. . yaitu perilaku. 20. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. Memiliki jiwa kewirausahaan. Menunjukkan keterampilan menyimak.16. Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi. 2010. tradisi. membaca.

Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Keempat. Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. koherensi yang memberi keberanian. Ketiga. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. membuat seseorang teguh pada prinsip. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. antara independensi eksterior dan interior. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilainilai bagi pribadi. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. Dari kematangan karakter inilah. kualitas seorang pribadi diukur. Pertama.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Karena itu. Kematangan keempat karakter ini. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Pengalaman Indonesia Di tengah kebangkrutan moral bangsa. memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. otonomi. pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia. antara aku alami dan aku rohani. keteguhan dan kesetiaan. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. maraknya tindak kekerasan. lanjut Foerster. Kedua. Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang dikatakan guru. Pedagogi aktif Deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an. inkoherensi politisi atas retorika politik. dan perilaku keseharian. Bagi Foerster. pendidikan karakter yang menekankan dimensi etisreligius menjadi relevan untuk diterapkan. . Empat karakter Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter.

Pendidikan karakter masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negeri kita. aktualisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan dinamis terus-menerus. apa pun kultur yang melingkupinya. melalui pendidikan karakter manusia mempercayakan dirinya pada dunia nilai (bildung).Dr. Karena itu. dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI. SU. selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa.Fasli Jalal. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini. Di lingkungan Kemdiknas sendiri. Kemampuan membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan ciri hakiki manusia. loncatan sejarah masih bisa terjadi di negeri kita. Prof. A.Loncatan sejarah Apakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita? Mungkinkah pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahap positivisme dan naturalisme lebih dahulu? Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologi eksperimental maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan spontanitas dalam pendidikan anak-anak. tetap agen bagi perjalanan sejarahnya sendiri. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan adalah determinisme dan naturalisme yang mendasari paham mereka tentang manusia.Mahfud. pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar. Sebab. Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah. Ph.dr. Karena itu. bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nilai-nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatasnamakan religiusitas itu sendiri. Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional. Manusia. Doni Koesoema. Written by Yoggi Herdani Thursday. kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasioanal dengan tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”.MD.SH. terlebih karena bangsa kita kaya akan tradisi religius dan budaya.Dr. 03 June 2010 07:46 Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan. Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian. hadir pula menjadi pembicara seperti Prof.D. Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Prof. pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. . Bertentangan dengan determinisme. SH. pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. nilai merupakan kekuatan penggerak perubahan sejarah. mereka mampu menjadi agen perubahan sejarah.Jimly Asshiddiqie. Roma Sumber: Kompas Cyber Media Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa. Tidak kecuali di pendidikan tinggi.

Dr. sehat. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan.Dr.A. mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. berilmu.H. Selain itu mengenai sarana-prasaran.Hum dan Drs. Menbudpar. adalah Menkokesra. Prof.H. DPRRI. Kartadinata. Prihal pengembangannya sendiri.si. Menag. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. Perwakilan Kementerian Dalam Negeri. Wamendiknas. Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05). Menpora.M. di Ruang Rapat Komisi X.Prof. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.Sunaryo Prof. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. M.Pd. Hadir dirapat tersebut selain 25 anggota fraksi. kreatif. mandiri. Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. serta para pejabat eselon 1 . melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter.Djohermansyah Djohan. Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan negara. cakap. M. yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut.” Dari bunyi pasal tersebut. diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Yadi Ruyadi. M. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . berakhlak mulia. Mendiknas. beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.Dr. Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. Wamendiknas pun mengatakan bahwa. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter.Dadan Wildan.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak dan paradigma masyarakat Indonesia. DAMPAK PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP AKADEMI ANAK 3 April Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter.St. perasaan (feeling). tanpa ketiga aspek ini. kewarganegaraan dan semisalnya. maka pendidikan karakter . melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. tapi itu masih sebatas teori dan tidak dalam tataran aplikatif. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. dan tindakan (action). Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya Keppres mengenai pendidikan karakter. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Menurut Thomas Lickona. Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai pendidikan karakter tersebut. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari ketinggalannya. maka indonesia harus merombak istem pendidikan yang ada saat ini. meskipun ada pelajaran pancasila. sementara pada jenjang sekolah dasar dan seterusnya masih sangat-sangat jarang sekali. Louis.Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus. yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive).kementerian terkait. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa saja. Marvin Berkowitz dari University of Missouri. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Tetapi yang masih umum diterapkan mengenai pendidikan karakter ini masih pada taraf jenjang pendidikan pra sekolah (taman bermain dan taman kanak-kanak). Character Educator. kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini.

narkoba. Namun masalahnya. akan mengalami kesulitan belajar. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Artinya sebagian besar anak sekolah (8090 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. sebagai anak yang kurang pandai. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. rasa empati. yaitu rasa percaya diri. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. akan menimbulkan stress berkepanjangan. Maka. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Jadi.al. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. et. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. kemampuan bergaul. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Akibatnya sejak usia dini. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. kemampuan bekerja sama. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. tawuran. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. tetapi pada karakter.tidak akan efektif. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. perilaku seks bebas. dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. putus sekolah. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran. Dengan pendidikan karakter. SMP dan SMU. terlibat kriminalitas. kemampuan berkonsentrasi. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. dan kemampuan berkomunikasi. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Mahatma Gandhi memperingatkan . dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. dan sebagainya. miras. pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan.

pemelitian menunjukkan bahwa pasangan yang secara emosional lebih terampil dalam pernikahannya juga merupakan pasangan yang paling berhasil membantu anak-anaknya menghadapi perubahan emosi. Williams (Jefferson Center For Character Education-USA) Ratna Megawangi (Indonesia Heritage Foundation) Home Artikel Produk Tentang Kami KELUARGA : WADAH PENGGODOKAN KETERAMPILAN EMOSIONAL 6 January Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk mempelajari emosi. dan sebagainya – berakibat mendalam dan permanen bagi kehidupan emosional anak. Ada orang tua yang berbakat sebagai guru emosi yang sangat baik . Dr. dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar bagaimana merasakan perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain menanggapi perasan kita. bagaimana berpikir tentang perasaan ini dan pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi. Cara-cara yang digunakan pasangan suami istri untuk menangani perasaan-perasaan di antara mereka –selain tindakan langsung mereka pada seorang anak– memberikan pelajaran-pelajaran ampuh kepada anak-anak mereka. Tetapi. O leh: • • • • • • Russell T.that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. entah dengan ketidak pedulian atau kehangatan. karena anak-anak adalah murid yang pintar..itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya).tentang salah satu tujuh dosa fatal. Pembelajaran emosi ini bukan hanya melalui hal-hal yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung kepada anak-anaknya. Ada ratusan penelitian yang memperlihatkan bahwa cara orangtua memperlakukan anakanaknya-entah dengan disiplin yang keras atau pemahaman yang empatik. serta bagaimana membaca dan mengungkapkan perasaan. baru belakangan ini terdapat data kuat yang memperlihatkan bahwa mempunyai oran tua yang cerdas secara emosional itu sendiri merupakan keuntungan yang besar sekali bagi seorang anak. harapan dan rasa takut. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). yang sangat peka terhadap transmisi emosi yang paling halus sekalipun dalam keluarga. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). . melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu menangani perasaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul antara suami istri. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. ada yang tidak.

dan kesedihan yang muncul bila sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang yang disayangi anak. membantu anak mencoba sebuah permainan menurut caranya sendiri. kehilangan kesabaran mengahadapi ketidakmampuan anaknya. pada usia 5 tahunan. dan menangani perasaan-perasaan yang muncul dalam hubungan-hubungan mereka. keuntungan bagi . Salah satu pelajaran emosi yang mendasar bagi seorang anak adalah bagaimana membedakan perasaan. dan memanfaatkan perasaan-perasaan. anak-anak ini dapat berkonsentrasi dengan lebih baik. Keuntungan-keuntungan lannya bersifat sosial. mereka harus mempunyai pemahaman-pemahaman yang baik tentang dasar-dasar kecerdasan emosional. akan memiliki angka prestasi lebih tinggi dalam matematika dan membaca saat anakanak tersebut mencapai usia SD (alasan kuat untuk mengajarkan ketrampilan emosional untuk mempersiapkan anak belajar maupun hidup). belajar bagaimana mengenali. dan tidak sering marah. Selain pembedaan ini. terdapat juga pemahaman-pemahaman yang lebih canggih. anak-anak ini lebih populer dan lebih banyak disukai temannya dan oleh para gurunya dianggap anak yang lebih pandai bergaul.Sejumlah orang tua suka memaksa. Secara biologis. pelajaran-pelajaran emosi khusus yang siap mereka terima – dan mereka butuhkan –berubah-ubah. pelajaran dalam hal empati dimulai pada masa bayi. Sewaktu anak-anak tumbuh. bukannya memakasakan kehendak mereka. Terakhir. Selain itu anak-anak ini juga lebih trampil mengelola emosinya. bahkan ada yang mencap anaknya “tolol”–pendek kata. pada artikel yang lain anda bisa melihat ada beberapa gaya mendidik anak yang secara emosional pada umumnya tidak efisien Agar orangtua menjadi pelatih yang efektif dalam bidang pendidikan emosional anak ini. Penenlitian menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan orang tua yang tidak terampil menangani perasaaan. mengelola. Namun orang tua lainnya bersikap sabar terhadap kesalahan yang dibuat anaknya. berempati. serta lebih sedikit bentrok dengan orangtuanya. orangtua yang terampil secara emosional memiliki anak-anak yang pergaulannya lebih baik dan memperlihatkan lebih banyak kasih sayang kepada orangtuanya. Dampak pendidikan keluarga semacam ini terhadap anak-anak sangatlah luas. seperti kasar atau agresif. misalnya amarah seringkali dipicu oleh perasaan sakit hati. anak-anak juga lebih santai dan memiliki kadar hormon stress dan indikator fisiologis pembangkitan emosi yang lebih rendah. misalnya tak mungkin menolong putranya memahami perbedaan antara sedih karena seseorang yang meninggal. menjadi mangsa ke arah kecendrungankecendrungan yang sama ke arah penghinaan dan kebencian yang menggerogoti kehidupan perkawinan.pada masa ini orangtua menyetalakan diri dengan perasaan bayinya. sedih karena menonton film yang mengharukan. seorang ayah yang tidak merasakan kesedihannya sendiri. manfaat-manfaat ini bersifat kognitif. maka anak yang memiliki orang tua yang terampil sacara emosional. orangtua yang terampil secara emosional dapat sangat membantu anak dengan memberi dasar ketrampilan emosional berikut ini . Orangtua dan gurunyapun menilai anak-anak ini tidak banyak mempunyai masalah tingkah laku. meninggikan suara dengan nada mencemooh atau putus asa. Oleh karena itu. lebih efektif menenangkan diri saat marah. Meskipun beberapa ketrampilan emosional diasah dengan teman-teman selama bertahun-tahun. Seandainya IQ nya sama.

.anak-anak yang orangtuanya terampil secara emosional adalah serangkaian manfaat yang menakjubkan. yang mencakup seluruh spektrum kecerdasan emosional bahkan lebih.