P. 1
Karakter

Karakter

|Views: 66|Likes:
Published by Erlangga Kumara

More info:

Published by: Erlangga Kumara on Jun 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2011

pdf

text

original

Tentang Pendidikan Karakter

Posted on 20 Agustus 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME). Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. kualitas hubungan. pelaksanaan. sesama. Dalam pendidikan karakter di sekolah. kesadaran atau kemauan. Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development). pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal. dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut. dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. penanganan atau pengelolaan mata pelajaran. dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar. Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur. kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga. apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP). Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan. pengelolaan sekolah. pembiayaan. tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. diri sendiri. pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Olah Pikir (intellectual development). Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari. atau kurang dari 30%. proses pembelajaran dan penilaian. Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia. pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler. termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri. pemberdayaan sarana prasarana. yaitu isi kurikulum. dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif . pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik. Selama ini. Selebihnya (70%). Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu. peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya.Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi. Permasalahannya. dan jenis satuan pendidikan. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. jenjang. dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter. dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah. nonformal. lingkungan.

serta potensi dan prestasi peserta didik. Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Menurut Mochtar Buchori (2007). pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi. waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai. dieksplisitkan. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. penghayatan nilai secara afektif. dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. dan dicari altenatif-alternatif solusinya. terpadu. pendidik dan tenaga kependidikan. dilaksanakan. pembelajaran. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. bakat. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu. penilaian. nilai-nilai yang perlu ditanamkan. muatan kurikulum. pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif. dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan. . Dengan demikian. sesuai standar kompetensi lulusan. Dengan demikian. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. dan seimbang. dan komponen terkait lainnya. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. potensi. terutama dalam pembentukan karakter peserta didik . Dalam hal ini. tetapi menyentuh pada internalisasi. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. Menunjukkan sikap percaya diri.Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. Menunjukkan kemampuan berpikir logis. 6. dan masyarakat sekitar sekolah. meliputi para peserta didik. budaya. kritis. 3. 14. bugar. 4. yang antara lain meliputi sebagai berikut: 1. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. 15. Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan inovatif. kritis. 8. karakter atau watak. tradisi. Menghargai keberagaman agama. Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP. Budaya sekolah merupakan ciri khas. Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. Pada tataran yang lebih luas. kompetensi akademik yang utuh dan terpadu. 13. dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. dan kreatif. yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis. karyawan administrasi. dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah. 9. Menghargai karya seni dan budaya nasional. ras. 12. kebiasaan keseharian. 2. guru. sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. 11. 7. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja. aman. . Semua warga sekolah. 5. Menerapkan hidup bersih. suku. yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. kreatif. sehat. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. 10. berkarakter mulia. berbangsa. dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices. berakhlak mulia.

tradisi. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. Jakarta Pendidikan Karakter Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Memiliki jiwa kewirausahaan. kebiasaan keseharian. 20. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. 21. 17. Ovide Decroly. Menghargai adanya perbedaan pendapat. dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah. Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi.16. 19. pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède. yaitu perilaku. Menunjukkan keterampilan menyimak. membaca. Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat. ============= Untuk melihat kajian toeritis tentang Urgensi Pendidikan Karakter bisa dilihat DISINI Contoh ilustrasi langkah-langkah penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran dapat dilihat DISINI ============= Sumber: Kemendiknas. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama . bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. 18. . Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Lebih dari itu. dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. berbicara. Pada tataran sekolah. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte. 2010.

lanjut Foerster. Ketiga. Karena itu. inkoherensi politisi atas retorika politik. antara aku alami dan aku rohani. kualitas seorang pribadi diukur. Kedua. Bagi Foerster. Kematangan keempat karakter ini. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Pengalaman Indonesia Di tengah kebangkrutan moral bangsa. otonomi. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. pendidikan karakter yang menekankan dimensi etisreligius menjadi relevan untuk diterapkan. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas. Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. keteguhan dan kesetiaan. Empat karakter Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang dikatakan guru. maraknya tindak kekerasan. Pedagogi aktif Deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an. koherensi yang memberi keberanian. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. . dan perilaku keseharian. antara independensi eksterior dan interior. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilainilai bagi pribadi. membuat seseorang teguh pada prinsip.Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Dari kematangan karakter inilah. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya. Keempat.

melalui pendidikan karakter manusia mempercayakan dirinya pada dunia nilai (bildung). dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI. Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian. bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nilai-nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatasnamakan religiusitas itu sendiri.SH. Prof. terlebih karena bangsa kita kaya akan tradisi religius dan budaya. A. Sebab. Pendidikan karakter masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negeri kita. aktualisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan dinamis terus-menerus. 03 June 2010 07:46 Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan.Jimly Asshiddiqie.dr. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini. apa pun kultur yang melingkupinya. SU. Ph. loncatan sejarah masih bisa terjadi di negeri kita.Fasli Jalal. Manusia. Written by Yoggi Herdani Thursday. Karena itu. Kemampuan membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan ciri hakiki manusia. Tidak kecuali di pendidikan tinggi. Bertentangan dengan determinisme. tetap agen bagi perjalanan sejarahnya sendiri. selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah. Doni Koesoema. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan adalah determinisme dan naturalisme yang mendasari paham mereka tentang manusia. Prof.D. . Di lingkungan Kemdiknas sendiri. hadir pula menjadi pembicara seperti Prof.MD. kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasioanal dengan tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”. Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional. pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025.Dr. nilai merupakan kekuatan penggerak perubahan sejarah. Roma Sumber: Kompas Cyber Media Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa.Dr.Mahfud. mereka mampu menjadi agen perubahan sejarah. pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Karena itu. Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat.Loncatan sejarah Apakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita? Mungkinkah pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahap positivisme dan naturalisme lebih dahulu? Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologi eksperimental maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan spontanitas dalam pendidikan anak-anak. pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar. SH.

Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kartadinata. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan. di Ruang Rapat Komisi X.Sunaryo Prof. pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa. Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter.A. Selain itu mengenai sarana-prasaran. M. pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi.M.Djohermansyah Djohan. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. Menag. yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Mendiknas. berilmu. mandiri. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.Prof. Hadir dirapat tersebut selain 25 anggota fraksi. Prof. Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. sehat. DPRRI.Dr. mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas. M. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. Menpora.Dadan Wildan. sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. Prihal pengembangannya sendiri. Menbudpar.si.H.Dr.H.” Dari bunyi pasal tersebut. Wamendiknas. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter. kreatif. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . Perwakilan Kementerian Dalam Negeri.Dr. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05). cakap. adalah Menkokesra. beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Wamendiknas pun mengatakan bahwa. berakhlak mulia. Yadi Ruyadi. Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan negara. melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran.Hum dan Drs. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. serta para pejabat eselon 1 . M.Pd.

Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai pendidikan karakter tersebut. perasaan (feeling). meskipun ada pelajaran pancasila. tapi itu masih sebatas teori dan tidak dalam tataran aplikatif. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Character Educator. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa saja. Marvin Berkowitz dari University of Missouri.kementerian terkait. Louis.St. Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya Keppres mengenai pendidikan karakter. Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak dan paradigma masyarakat Indonesia. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. sementara pada jenjang sekolah dasar dan seterusnya masih sangat-sangat jarang sekali. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari ketinggalannya. kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Menurut Thomas Lickona.Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus. yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). Tetapi yang masih umum diterapkan mengenai pendidikan karakter ini masih pada taraf jenjang pendidikan pra sekolah (taman bermain dan taman kanak-kanak). DAMPAK PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP AKADEMI ANAK 3 April Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter. melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa. dan tindakan (action). maka indonesia harus merombak istem pendidikan yang ada saat ini. kewarganegaraan dan semisalnya. maka pendidikan karakter . tanpa ketiga aspek ini.

Namun masalahnya. SMP dan SMU. perilaku seks bebas. tawuran. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. akan mengalami kesulitan belajar. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. yaitu rasa percaya diri. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. sebagai anak yang kurang pandai. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Artinya sebagian besar anak sekolah (8090 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter. et. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. akan menimbulkan stress berkepanjangan. rasa empati. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. kemampuan bekerja sama. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan.tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter. tetapi pada karakter. Mahatma Gandhi memperingatkan . dan kemampuan berkomunikasi. narkoba. Akibatnya sejak usia dini. dan sebagainya. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. putus sekolah. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Jadi. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Maka. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. terlibat kriminalitas. Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai.al. kemampuan berkonsentrasi. miras. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. kemampuan bergaul. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”.

yang sangat peka terhadap transmisi emosi yang paling halus sekalipun dalam keluarga.. dan sebagainya – berakibat mendalam dan permanen bagi kehidupan emosional anak.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Pembelajaran emosi ini bukan hanya melalui hal-hal yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung kepada anak-anaknya. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar bagaimana merasakan perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain menanggapi perasan kita.that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. baru belakangan ini terdapat data kuat yang memperlihatkan bahwa mempunyai oran tua yang cerdas secara emosional itu sendiri merupakan keuntungan yang besar sekali bagi seorang anak. ada yang tidak. O leh: • • • • • • Russell T. entah dengan ketidak pedulian atau kehangatan. Cara-cara yang digunakan pasangan suami istri untuk menangani perasaan-perasaan di antara mereka –selain tindakan langsung mereka pada seorang anak– memberikan pelajaran-pelajaran ampuh kepada anak-anak mereka. Dr. pemelitian menunjukkan bahwa pasangan yang secara emosional lebih terampil dalam pernikahannya juga merupakan pasangan yang paling berhasil membantu anak-anaknya menghadapi perubahan emosi. . Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. serta bagaimana membaca dan mengungkapkan perasaan. Ada orang tua yang berbakat sebagai guru emosi yang sangat baik . Williams (Jefferson Center For Character Education-USA) Ratna Megawangi (Indonesia Heritage Foundation) Home Artikel Produk Tentang Kami KELUARGA : WADAH PENGGODOKAN KETERAMPILAN EMOSIONAL 6 January Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk mempelajari emosi. karena anak-anak adalah murid yang pintar. Tetapi. harapan dan rasa takut. melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu menangani perasaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul antara suami istri. Ada ratusan penelitian yang memperlihatkan bahwa cara orangtua memperlakukan anakanaknya-entah dengan disiplin yang keras atau pemahaman yang empatik. bagaimana berpikir tentang perasaan ini dan pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi.tentang salah satu tujuh dosa fatal. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).

Salah satu pelajaran emosi yang mendasar bagi seorang anak adalah bagaimana membedakan perasaan. pada artikel yang lain anda bisa melihat ada beberapa gaya mendidik anak yang secara emosional pada umumnya tidak efisien Agar orangtua menjadi pelatih yang efektif dalam bidang pendidikan emosional anak ini. Secara biologis. terdapat juga pemahaman-pemahaman yang lebih canggih. menjadi mangsa ke arah kecendrungankecendrungan yang sama ke arah penghinaan dan kebencian yang menggerogoti kehidupan perkawinan. Terakhir. Orangtua dan gurunyapun menilai anak-anak ini tidak banyak mempunyai masalah tingkah laku.pada masa ini orangtua menyetalakan diri dengan perasaan bayinya. Selain itu anak-anak ini juga lebih trampil mengelola emosinya. bukannya memakasakan kehendak mereka. mengelola. Oleh karena itu. keuntungan bagi . meninggikan suara dengan nada mencemooh atau putus asa. membantu anak mencoba sebuah permainan menurut caranya sendiri. orangtua yang terampil secara emosional dapat sangat membantu anak dengan memberi dasar ketrampilan emosional berikut ini . belajar bagaimana mengenali. orangtua yang terampil secara emosional memiliki anak-anak yang pergaulannya lebih baik dan memperlihatkan lebih banyak kasih sayang kepada orangtuanya. berempati. pelajaran dalam hal empati dimulai pada masa bayi. akan memiliki angka prestasi lebih tinggi dalam matematika dan membaca saat anakanak tersebut mencapai usia SD (alasan kuat untuk mengajarkan ketrampilan emosional untuk mempersiapkan anak belajar maupun hidup). manfaat-manfaat ini bersifat kognitif. anak-anak ini lebih populer dan lebih banyak disukai temannya dan oleh para gurunya dianggap anak yang lebih pandai bergaul. Seandainya IQ nya sama. Dampak pendidikan keluarga semacam ini terhadap anak-anak sangatlah luas. Penenlitian menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan orang tua yang tidak terampil menangani perasaaan. lebih efektif menenangkan diri saat marah. seperti kasar atau agresif. Namun orang tua lainnya bersikap sabar terhadap kesalahan yang dibuat anaknya. sedih karena menonton film yang mengharukan. serta lebih sedikit bentrok dengan orangtuanya. misalnya tak mungkin menolong putranya memahami perbedaan antara sedih karena seseorang yang meninggal. anak-anak juga lebih santai dan memiliki kadar hormon stress dan indikator fisiologis pembangkitan emosi yang lebih rendah. bahkan ada yang mencap anaknya “tolol”–pendek kata. Sewaktu anak-anak tumbuh. kehilangan kesabaran mengahadapi ketidakmampuan anaknya. Keuntungan-keuntungan lannya bersifat sosial. pelajaran-pelajaran emosi khusus yang siap mereka terima – dan mereka butuhkan –berubah-ubah. anak-anak ini dapat berkonsentrasi dengan lebih baik. pada usia 5 tahunan. misalnya amarah seringkali dipicu oleh perasaan sakit hati. Selain pembedaan ini. dan menangani perasaan-perasaan yang muncul dalam hubungan-hubungan mereka. dan tidak sering marah. Meskipun beberapa ketrampilan emosional diasah dengan teman-teman selama bertahun-tahun. dan memanfaatkan perasaan-perasaan. dan kesedihan yang muncul bila sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang yang disayangi anak. mereka harus mempunyai pemahaman-pemahaman yang baik tentang dasar-dasar kecerdasan emosional. maka anak yang memiliki orang tua yang terampil sacara emosional.Sejumlah orang tua suka memaksa. seorang ayah yang tidak merasakan kesedihannya sendiri.

yang mencakup seluruh spektrum kecerdasan emosional bahkan lebih.anak-anak yang orangtuanya terampil secara emosional adalah serangkaian manfaat yang menakjubkan. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->