http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/04/panggih-temanten-dalam-perkawinanadat.html. A.

Pra Wacana Perkawinan merupakan hak dan sunnah kehidupan yang harus dilalui oleh seseorang dalam kehidupan "normalnya". Setiap manusia dewasa yang sehat secara jasmani dan rohani pasti membutuhkan teman hidup yang berlainan jenis kelaminnya. Teman hidup itu diharapkan dapat memenuhi hasrat biologisnya, dapat dikasihi dan mengasihi, serta dapat diajak bekerja sama mewujudkan sebuah rumah tangga yang tentram, dan sejahtera. Dalam Bahasa Arab perkawinan disebut dengan nikah yang berarti berkumpul menjadi satu. Karena itu nikah secara istilah seringkali diartikan sebagai suatu aqad yang berisi pembolehan melakukan hubungan seksual dengan menggunakan lafal inkahin (menikahkan) atau tazwijin (mengawinkan) (Rasjid: 2004, 174). Peristiwa hukum berupa pernikahan dalam agama Islam dianjurkan dengan berbagai bentuk, mulai penyebutan sebagai sunnah para nabi dan rasul yang harus diikuti oleh setiap insan beriman atau sebagai bentuk ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah. Diantara bukti telah sahnya sebuah hubungan perkawinan adalah diselenggarakannya acara resepsi perkawinan atau walimah. Pesta perkawinan ini mengambil bentuk atau formatnya sendiri yang berbeda-beda di setiap daerah. Di Ponorogo, yang paling populer adalah resepsi perkawinan yang menggabungkan budaya jawa dan Islam sekaligus sebagai bukti telah terjadinya “dialog budaya”, adaptasi, dan akulturasi (peleburan) di dalamnya. Pembahasan tentang resepsi perkawinan di Ponorogo dapat dianggap penting mengingat belum pernah dilakukannya penelitian tentang hal ini disamping terjadinya perkembangan dan dinamika dalam penyelenggaraan resepsi perkawinan adalah fenomena menarik untuk dicermati. Pembahasan difokuskan pada resepsi perkawinan model Islam-Jawa terutama pada acara Panggih/Temu Temanten, dinamika bentuk resepsi, hiasan, simbol-simbol yang digunakan serta pemaknaan terhadap semua hal yang berkaitan dengannya. B. Prosesi Perkawinan dan Perkembangannya Panggih temanten atau temu adalah resepsi pernikahan yang dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Dalam resepsi dengan basis budaya Jawa-Islam, susunan acaranya secara berurutan dapat dibedakan dalam 2 kegiatan pokok, yaitu: 1. Ritual adat a. Jemuk (Temu) Manten Dalam ritual ini, susunan acaranya berupa: a) Balangan Balangan adalah kegiatan saling lempar antar pengantin yang hendak dipertemukan pada saat jarak mereka sekitar tiga meter. Dalam balangan, bungkusan yang dilemparkan berisi daun sirih, dan jadah (makanan dari ketan) yang ditali dengan benang putih. Mereka saling melempar dengan penuh semangat dan tertawa. Dengan melempar daun sirih satu sama lain, menandakan bahwa mereka adalah manusia, bukan makhluk jadi-jadian yang menyamar jadi pengantin. Selain itu, jadah --yang kenyal dan lengket-- dalam ritual ini melambangkan keeratan cinta kasih dan kesetiaan.

Ibu terlebih dahulu meminumkan parem kepada keduanya lalu dilanjutkan oleh bapak. Perkawinan adalah proses memilih pasangan hidup yang telah berlangsung lama. Lewat perkenalan ini. Minum parem memberikan makna bahwa kedua penganten hendaknya marem (puas) dengan pasangan yang dipilihnya. penganten wanita berjalan memutari pasangannya selama tiga kali di sekitar pasangan sapi (rangkaian bambu untuk 2 sapi yang diletakkan di depan kereta untuk memudahkan tarikan) yang telah disediakan. e) Minum parem Kedua mempelai lalu diberi minum oleh kedua orang tua mempelai wanita. kembar mayang biasanya berjumlah empat buah dan diletakkan di sebelah kanan dan kiri dekor/rono. sedangkan dua kembar mayang yang lain dibawa oleh dua orang putri domas mengiringi penganten putri. c) Ubengan Dengan panduan perias. f) Gendong manten (pakai sindur) menuju pelaminan Setelah acara wiji dadi (injak telur). Kegiatan ini dapat diartikan sebagai kesiapan pengantin pria untuk menjadi kepala rumah tangga dan kesediaan pengantin wanita untuk melayani suaminya. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk “perkenalan” antara kedua pengantin. Prosesi ini juga memberikan peringatan kembali tentang pentingnya peran kedua orang tua dalam membesarnya anak-anaknya. Kedua kembar mayang dari luar . dan kelebihannya diharapkan dapat menutup kekurangannya. Ketika upacara panggih akan dimulai. ayahanda pengantin putri mendahului berjalan dimuka menuju kursi pengantin. dua buah kembar mayang dikeluarkan oleh dua orang manggolo (yang ditunjuk untuk menjemput pengantin pria). dua buah kembar mayang yang mengiringi pengantin pria (dari luar) ditukarkan dengan dua kembar mayang yang mengiringi pengantin putri. Di dalam rumah tangga yang baru dibentuk ini diharapkan juga akan diperoleh hasil yang baik pula termasuk anak keturunan. Penganten putri juga mencium tangan suaminya sebagai bentuk penghormatan. g) Tukar kembang mayang Dalam upacara Panggih. diharapkan masing-masing saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangannya . Fokus dalam melihat pasangan hidup. kewajiban berbakti kepada mereka hendaknya mendapatkan perhatian bahkan setelah para anak berkeluarga dan mendapatkan keturunan. Mereka adalah orang yang pertama “menyuapi” anak-anak. d) Injak telur (wiji dadi) Pengantin pria melepaskan sandalnya dan menginjak telor ayam dengan telapak kakinya. lewat kegiatan meminumkan parem kepada kedua pengantin. acara ini juga memberikan lambang bahwa kedua orangtua pengantin perempuan telah ngentaske atau menyelesaikan tugas/kewajiban mereka kepada anaknya lewat menikahkannya dengan pengantin pria. Selain itu.b) Salaman Sebagai ungkapan kedatangan. lalu mereka bersalaman. Selendang berisi kedua mempelai lalu ditarik oleh ayahanda dan didorong oleh ibu. Saat ritual adat berlangsung dalam jemuk pengantin. penganten pria mengucapkan salam dan disambut penganten wanita. Pengantin putri lalu membasuh kaki pengantin pria dengan air kembang dari bokor (bejana) yang sudah disiapkan. Karenanya. Gendong manten mengandung makna bahwa ayahanda pengantin seharusnya menunjukan jalan kehidupan bagi kedua putranya sedang ibunda mendukung dari belakang. ibu pengantin putri memasang selendang (sindur) menutupi pundak kedua pengantin.

e. beras. Kacar kucur Acara ini juga sering disebut dengan Tampa Kaya. sedangkan tangan kiri mengelus kepala pengantin. Sungkeman Kedua pengantin haruslah minta doa restu dari kedua orang tua. Ini melambangkan bahwa kedua mempelai menikmati kebersamaan mereka. . dan selanjutnya kepada orang tua pengantin pria. Para orang tua menerima sungkem kedua mempelai mengan mengulurkan tangan kanan untuk dijabat dan dicium.tersebut selanjutnya mengiringi kedua mempelai hingga pelaminan. Selama sungkeman. hemat dan juga teliti. Kemudian pasangan orang tua pria ini duduk disamping kanan kursi pengantin. kacang tanah. Kedua pengantin berjongkok dan (seakan) menyembah orang tua mereka. bersikap peduli. jagung disertai rempah-rempah. b. kedua orang tua pengantin wanita menjemput kedua orang tua pengantin pria dipintu rumah dan mereka berjalan bersama menuju tempat upacara. kedua orang tua mempelai pria tidak mengikuti ritual tersebut dan sebaliknya berada di luar ruang resepsi. Acara dulangan ini diakhiri minum teh manis. pertama kepada orang tua pengantin wanita. Pertukaran kembang mayang memberikan arti telah “ditukarnya” kedua mempelai dan bergabungnya mereka dalam keluarga baru mertuanya sehingga menjadi ibarat anak sendiri. pasangan pengantin berjalan bergandengan pada jari kelingking menuju ke sebuah kursi yang telah diletakkan didepan rono/dekorasi manten. Lalu setelah jemuk selesai. Kegiatan memohon doa restu ini disebut sungkeman. d. seorang pengantin wanita haruslah siap menjadi istri yang baik dalam menerima pemberian suami. Kacar kucur melambangkan bahwa seorang suami harus memberikan penghasilannya kepada sang istri. (Hasil wawancara dengan Modin Ibn Batutah dan Perias Ibu Lia ). Prosesi ini menandakan bentuk penghormatan tuan rumah kepada kadang besan (saudara) mereka. Sedangkan dua kembar mayang yang lain dibawa keluar dari tempat resepsi dan biasanya dibuang di atas genting tuan rumah (orang tua pengantin wanita). bunga dan mata uang logam dengan berbagai nilai. Dulangan Sega Punar (Dahar Kembul) Pasangan pengantin makan bersama dan saling menyuapi. Sebaliknya. Sedangkan orang tua pengantin putri duduk disebelah kiri dari kursi pengantin. Perias memimpin upacara ini dengan memberikan piring berisikan nasi kuning dan lauk pauk. Pengantin wanita menerima itu dengan selendang kecil setelah itu kemudian dilipat. kemudian pasangan pengantin ini mengambil sesendok kecil nasi dengan lauk pauknya dan pertama kali pengantin wanita menyuapi pengantin pria dan selanjutnya pengantin pria menyuapi pengantin wanita. Pengantin pria menuangkan campuran kedele. Mapag Besan Ketika ritual jemuk berlangsung. Dengan dipandu perias. beras ketan. c. Para ibu di depan dan para bapak mengikuti di belakang. Kehidupan keluarga juga diharapkan selalu berakhir “manis” meskipun kegetiran dan perjuangan merupakan hal yag nyata dalam perkawinan. perias mengambil dan menyimpan keris yang dipakai pengantin pria dan dipakaikan kembali setelah sungkeman selesai.

tetangga. Menyadari hal tersebut. Diantara ayat-ayat yang sering dibaca oleh seorang qari’ dalam sebuah resepsi adalah QS. ada kiat untuk membungkus telur di plastik. Atur pasrah pinanganten Sambutan ini disampaikan oleh wakil keluarga penganten pria dan para pengiringnya. Juru bicara keluarga besan (orang tua pengantin pria) ini menyerahkan pengantin pria dan “pendidikan”nya untuk dapat menjadi suami yang baik. gendongan. sehingga mengurangi bau amis dan menghindari praktek mubadzir. Acara kemudian dilanjutkan dengan mapag besan. Sedangkan balangan. e. ubengan. Dalam perkawinan Panggih Temanten antara Listia Puspitorini. perias pengantin. serta memohon maaf atas segala kekurangan dan tingkah laku para pengiring selama resepsi berlangsung. dan diakhiri dengan keluarga pengantin wanita sendiri sebagai tuan rumah. Sedangkan injak telur (wiji dadi) disederhanakan menjadi wijik suku atau membasuh kaki suami saja. Alasan yang sering digunakan adalah menghemat waktu. Menurut Ibu Lia. 34. karena telur yang pecah masih bisa dimanfaatkan sesudah itu dengan digoreng atau dimasak. minum parem. al-Nisa : 1. ritual adat hanya berupa salaman. wijik suku. dan dahar kembul. Prosesi balangan dan kacar kucur ditiadakan. kacar kucur. para undangan terpilih. Acara resepsi perkawinan Dengan dipandu seorang pembawa acara a. Dalam banyak kasus. Kegiatan photo diawali dari keluarga pengantin pria (sebagai bentuk kehormatan). Selebihnya ia menyampaikan undangan untuk acara sepasaran (resepsi di rumah pengantin pria) dan memohon pamit untuk diri sendiri dan rombongannya. (wawancara dengan modin Ibn Bathutah). Pembukaan b. Tedhak sungging (Photo) Acara pengambilan photo (tedhak sungging) disisipkan diantara acara resepsi pernikahan sejak awal. ST dan Beny Sukanto. ritual tersebut berlangsung tidak lengkap dan disederhanakan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an Untuk mengharapkan berkah dari Allah Swt. gendongan. sungkeman. Selain itu disampaikan pula ucapan terima kasih terhadap kerabat. dan dulangan atau dahar kembul. sungkeman.. Sambutan meliputi ucapan selamat datang kepada para tamu. dan Tukar kembang mayang. Injak telur (wiji dadi) misalnya. dan segenap pihak yang membantu terselenggaranya resepsi. prosesi ritual adat dalam banyak perkawinan lain sangat sederhana dan hanya berupa salaman. SS . c. dan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan resepsi pernikahan. d. al-Rum: 21. Pembawa acara mengambil peran penting dalam kesuksesan acara dokumentasi perkawinan ini. dan mapag besan sering ditinggalkan.Prosesi ritual adat tersebut merupakan “versi lengkap” dari sebuah adat pernikahan Islam-Jawa. injak telur atau wiji dadi. 2. ketika pengantin pria menginjak telur di geneman (bungkusan) kembang setaman. (Observasi dan wawancara dengan perias Ibu Lia) Sementara itu juga muncul usaha-usaha “islamisasi” ritual adat tersebut. ucapan terima kasih atas kehadiran mereka. . Ia juga menyampaikan terima kasih atas segala keramahan tuan rumah dan hidangannya. telur langsung pecah dan biasanya menyebabkan bau yang amis. dan Qs. setelah acara dibuka maka dilanjutkan dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Atur mangayu bagya (ucapan selamat datang) Kegiatan ini merupakan sambutan oleh tuan rumah yang diwakili oleh seorang juru bicara.

Hiasan. g. Ketika pengantin duduk. Penutup Sebelum acara resepsi ditutup. Diantara hal tersebut adalah: 1. Dengan pemampatan dan pengaturan acara sedemikian rupa. ucapan terima kasih kepada seluruh pengiring pengantin. Sehingga wakil tuan rumah dan orang tua pengantin wanita cukup berdiri memberikan sambutan sekali saja. Dalam prakteknya. di dalamnya disampaikan kesediaan keluarga untuk menerima anak menantu dan mendidiknya ke arah kebaikan. diharapkan resepsi dapat berlangsung lebih cepat dengan durasi waktu maksimal tidak lebih dari dua jam. Sebagai penyela dan penghangat suasana. Penggabungan ini dimaksudkan untuk menghemat waktu. Dalam keadaan tertentu. Bacaan Do’a Untuk mendapatkan barokah dari pada tamu undangan.f. Mau’idzah hasanah atau khutbah walimah juga disampaikan secara ringkas dan jelas. dan Maknanya Budaya Jawa dikenal sangat dipengaruhi oleh tradisi kratonnya. pembawa acara meminta perias temanten untuk memandu kedua pengantin dan rombongannya menuju pintu keluar (masuk). Bahkan untuk bacaaan do’a. . Latar belakang budaya Islam yang diusung dalam sebuah perkawinan turut pula menyumbangkan pengaruhnya. Atur panampi Atur panampi merupakan jawaban tuan rumah atas seluruh isi sambutan juru bicara pengantin pria. Simbol-simbol. Mau’idzah hasanah (pesan/nasehat perkawinan) Mau’idzah hasanan adalah pesan/nasehat pernikahan yang disampaikan oleh seorang muballigh atau pemuka agama sebagai “bekal” bagi kedua mempelai untuk mengarungi kehidupan rumah tangga. Pembawa acara mengendalikan sepenuhnya acara hiburan sesuai dengan situasi dan kondisi resepsi yang sedang berlangsung. Para penyanyi tidak jarang yang menyapa dan menyanyi di tengah para tamu undangan. Acara ditutup dan para tamu undangan menyalami pengantin dan keluarga sambil berjalan pulang. Karenanya. menurut modin Ibn Batuthah. tren yang berkembang adalah diletakkan di awal acara setelah bacaan ayat suci al-Qur’an. Selain itu disampaikan pula kesediaan keluarga pengantin putri untuk memenuhi undangan sepasaran keluarga pengantin pria. CD. acara sambutan atur mangayu bagya saat ini sering digabung dengan atur panampi. Patah Patah adalah dua anak kecil putri yang berjalan di depan pengantin. Lagu demi lagu diperdengarkan di sela-sela acara “resmi” resepsi berlangsung. mereka bertugas untuk mengipasi keduanya. maka keluarga pengantin memohon doa restu dari mereka lewat bacaan do’a yang dipandu oleh seorang atau beberapa orang kyai. dan ungkapan “sama-sama” atas permohonan maaf mereka. h. (wawancara dengan modin Ibn Bathutah) C. dan MP3 lagu-lagu maupun elekton dan seni hadrah secala live. i. do’a sering dipanjatkan oleh lebih dari satu orang kyai. Dalam perkawinan yang berlatar belakang budaya ini banyak sekali simbol-simbol budaya dan hiasan yang memiliki makna tertentu yang berasal dari tradisi kraton tersebut. diadakan acara hiburan berupa pemutaran kasset. Hal ini merupakan “siasat” tuan rumah agar acara do’a yang dipanjatkan lebih berjalan khidmat dengan tamu undangan yang masih utuh.

6. Putri domas dalam pernikahan ibarat dayang-dayang bagi seorang ratu. gondoroso. Lebih diutamakan jika buah pisang yang dipasang tersebut telah matang. manukan. Ornamen seperti keris memberikan makna bahwa pasangan pengantin hendaknya berberhati-hati dalam kehidupan. taman dan air mancur seringpula ditambahkan di depan rono. Domas dan Manggolo Domas atau putri domas adalah dua orang gadis muda yang mengiringi pengantin wanita. dan pecut. sejahtera dan rukun dengan lingkungan sekitarnya. pintar dan bijaksana laksana sebuah keris. Sedangkan manggolo adalah dua orang anak muda yang mengiringi pengantin pria. 5. 3. Jika memungkinkan. Sedangkan ornamen seperti burung melambangkan motivasi tinggi untuk kehidupan. uler-uleran. Pohon pisang lengkap dengan buah dan ontong-nya Pohon pisang diletakkan di sebekah kiri kanan gapura/pintu masuk tempat resepsi. andong. 4. Diantara makna yang dikandung adalah bahwa suami hendaknya menjadi kepala keluarga ditengah kehidupan bermasyarakat. Seperti pohon pisang yang bisa tumbuh baik dimanapun dan rukun dengan lingkungan. 7. dan mayang jambe. pengalaman dan kesabaran. diharapkan keluarga baru yang dipimpin suami ini juga akan hidup bahagia. . Ornamen seperti pecut memberikan dorongan untuk sikap energik. Janur juga dapat dimaknai dengan “jalarane nur” atau bahwa rumah tangga sebagai sarana untuk menghadirkan cahaya “pepadang” dalam sebuah kehidupan. keris. Dari pemasangan ini diharapkan akan hilang kemungkinan yang tidak diinginkan dan sebagai tanda bahwa adanya pernikahan yang akan berlangsung dirumah tersebut. cepat berpikir dan mengambil keputusan untuk menyelamatkan keluarga. Pemilihan bentuk dekorasi dan warnanya turut menentukan corak dan warna pakaian yang akan dikenakan oleh pengantin dan keluarganya dalam resepsi perkawinan. Hiasan bunga hidup atau palsu melengkapi keindahan rono yang ada. Janur kuning Rangkain janur/bleketepe kuning dipasang di gerbang atau pintu masuk tempat acara resepsi. sehingga diharapkan kedua mempelai akan dengan sungguh-sungguh terikat dalam kehidupan bersama yang saling mencinta. Sementara macam daun yang digunakan adalah daun beringin. Ornamen berbentuk tugu atau gunung melambangkan simbol sosok laki laki yang (harus) penuh pengetahuan. Masing-masing domas dan manggolo membawa kembar mayang dan saling menukarkannya ketika prosesi jemuk berlangsung. Cengkir gading Cengkir gading atau kelapa kecil berwarna kuning. Dari janur dibuat ornamen berbentuk tugu-tuguan/gunungan. meskipun sesungguhnya berasal dari keluarga pengantin wanita. Dekorasi (kwade) pengantin Dekorasi atau background hiasan pernikahan adalah sebuah kwade yang terdiri dari sebuah rono (krobongan) dengan lebar sesuai dengan kapasitas ruangan. Sedangkan para manggala adalah ibarat para punggawa kerajaan.2. Ornamen uler-uleran merupakan simbol keajegan bergerak dalam hidup terutama dalam keluarga dan lingkungan. melambangkan kencang dan kuatnya pikiran baik. Kembar mayang Kembar mayang merupakan rangkaian yang dibuat dari bermacam daun dan banyak ornamen dari janur yang dirangkai dan ditancapkan pada potongan pohon anak pisang.

Menutut perias Ibu Lia. (Wawancara dengan M. Disamping itu. Pengantin wanita juga memakai baju bludru solo putri dengan gelungan dan hiasan rangkaian bunga melati di rambut dan tiba dada (roncen melati yang menjuntai dari gelungan rambut terus ke dada) di dada sebelah kiri. para ibu pengantin. Nuansa gebyar. Para wanita selain pengantin wanita memakai kerudung dengan rambut tetap di-gelung. semua itu hanyalah “pelengkap” yang tidak perlu ditolak dan juga tidak perlu dipaksakan keberadaannya. tren pakaian pengantin dan “keluarga” nya saat ini adalah busana jawa muslim. domas. kalung dan bros dari roncen bunga melati. hiasan pada pernikahan juga memiliki landasan agamis. Seluruh “rombongan” yang terdiri dari patah. Musik kebogiro dan syrakalan Dengan lantunan musik kebogiro yang dipergunakan mengiringi keseluruhan prosesi ritual adat diharapkan menambah kehidmatan dan kesakralannya. dan mewah biasanya sangat nampak untuk membedakan pengantin dengan yang lainnya. (Wawancara dengan Modin Ibn Batutah. sabuk. musik syrakalan sering pula diperdengarkan untuk menggantikan kebogiro atau diperdengarkan sebelum kebogiro. Pengantin wanita memakai jilbab melati dengan daleman (lapisan di bawah jilbab) berwarna hitam seperti rambut atau warna kuning. Pemilihan musik “kebogiro kedu” merupakan “bedah rangkah” atau pembuka acara selamatan/resepsi. Hanya saja lanjut Khalil. Dengan mengutip kitab alSab’iyyat yang merupakan hamisy kitab al-Majalis al-Saniyyah halaman 111. selain memiliki akar pada budaya jawa. Khalil.8. Yang lebih penting imbuhnya adalah sosialisasi “makna-makna” tersebut agar dapat dipahami lebih baik oleh masyarakat. yakni motif truntum. dan kedua pasang bapak-ibu turut berganti pakaian dan menyesuaian dengan corak yang dipakai kedua pengantin. Pakaian orang tua (ayah) kedua pengantin adalah pakaian kejawen berupa beskap lengkap dengan angkin. Khalil) Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa aspek simbol-simbol dan hiasan pada perkawinan memiliki makna yang cukup kaya dan mendalam. kedua penganten mengenakan pakaian kebesaran kanalendran solo seperti layaknya seorang raja dan ratu. atau jika terpaksa –seperti tinggi badan yang lebih dan tidak seimbang dengan pengantin wanita-. dan domas. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hanya orang-orang . Hiasan tambahan yang dikenakannya adalah dasi kupu-kupu. Kekayaan budaya ini hanya akan berupa simbol dan hiasan kosong jika tidak ada upaya untuk mensosialisasikannya. Pengantin pria memakai baju hitam beskap bludru lengkap dengan keris dan kuluk (topi tinggi khas raja jawa) nya. dan kerisnya. Ibu Lia. manggolo. “menyala” (warna mencolok). dan M. Pakaian ibu pengantin adalah kebaya dengan angkin slindur.maka ia menggunakan blangkon. Khalil ) Simbol-simbol dan hiasan dalam pernikahan Jawa-Islam merupakan kekayaan budaya yang kaya makna. Kain yang dipakai sama dengan para bapak. patah. Kain (jarit) adalah motif truntum yang bermakna harapan masa depan yang cerah. Khalil menunjukkan hadith yang menyebutkan bahwa Allah memerintah para malaikat untuk menghias surga ketika Adam dan Hawa hendak menikah. Menurut praktisi dekorasi M. 9. Pakaian Pada saat acara Jemuk penganten berlangsung. Ketika acara resepsi berlangsung dilakukan kirab temanten dan selanjutnya rombongan berjalan menuju ruang ganti untuk lukar busana (ganti pakaian) yang bernuansa mataraman dan lebih santai. Tren ini sangat nampak pada pengantin wanita.

. dan praktisi dekor yang memahami makna-makna tersebut. Penutup Panggih Temanten dalam perkawinan dengan adat Jawa-Islam memiliki “pakem” tertentu baik dalam ritual adat. Simbol-simbol dan hiasan perkawinan yang kaya makna juga mengalami hal yang sama.tertentu saja seperti perias. modin. Pemahaman yang baik ini pada gilirannya akan memberikan tuntunan yang cukup bagi kedua mempelai dan masyarakat dalam mengarungi kehidupan keluarga. disamping mengarahkan dan mengendalikan upaya-upaya modernisasi dan “penyederhanaan” terhadap kekayaan budaya dalam panggih temanten agar tidak terkesan “lepas” dan sekenanya. Wallahu a’lam. Penyesuaian terhadap mode dan efisiensi acara turut mempengaruhi penampilannya. Dalam perkembangan terakhir didapati adanya upaya penyesuaian terhadap kemajuan zaman dan efisiensi waktu dalam penyelenggaraan. susunan acara resepsi. Sedangkan penyederhanaan dalam resepsi dilakukan dengan penggabungan antara beberapa acara seperti atur mangayu bagya (sambutan selamat datang) dengan atur panampi menjadi satu acara . Disamping itu upaya islamisasi turut mempengaruhi pemaknaan dengan sudut pandang berbeda disamping juga menghadirkan paduan baru dalam bentuk dan corak. Upaya-upaya kontemporer untuk menyederhakan ritual dan resepsi pernikahan juga akan tidak menjadi lepas sekaligus begitu saja meninggalkan budaya ini jika makna-makna tersebut dipahami dan tersosialisasi dengan baik. Penyederhanaan ritual adat dilakukan dengan “pemangkasan” ritual. Makna dalam simbol-simbol dan hiasan dalam perkawinan adalah kekayaan budaya yang memberikan banyak pelajaran hidup. Upaya untuk menggali dan mensosialisasikannya merupakan hal urgen untuk melestarikan budaya tersebut. maupun hiasan dan simbol yang digunakan.