QAWAID FIQHIYYAH SEBAGAI LANDASAN PERILAKU EKONOMI UMMAT ISLAM: SUATU KAJIAN TEORETIK

Abstrak
Qawa’id fiqhiyyah sebagai landasan umum dalam perilaku sosial memberikan panduan bagi masyarakat untuk melakukan interaksi dengan sesamanya. Tulisan ini melaporkan hasil penelitian terhadap qawa’id dan implikasinya dalam pemikiran dan perilaku ekonomi dalam masyarakat. Dalam hal ini, pemahaman terhadap qawa’id fiqhiyyah adalah mutlak diperlukan untuk melakukan suatu “ijtihad” atau pembaharuan pemikiran. Para ulama dan fuqaha terdahulu, sejak akhir abad ke-2 Hijriyyah telah merintis batu peletakan qawa’id melalui karya-karya agung mereka, yang sampai kini masih terlihat manfaatnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan modern, termasuk ekonomi. Para ulama/fuqaha dari keempat madzhab fiqh tersebut menyusun qawa’id dalam jumlah yang begitu banyak, sebagiannya sama atau serupa, sehingga susah untuk diketahui jumlahnya secara pasti. Fokus penelitian ini pada 99 (sembilan puluh sembilan) qawa’id yang disusun para ulama pada Dinasti Turki Usmani, yaitu al-majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah pada sekitar awal abad ke-13 Hijriyah atau tepatnya sekitar tahun 1286 H. Dari keseluruhannya, terdapat lebih dari 70 (tujuh puluh) qawa’id yang dapat dijadikan rujukan untuk diturunkan ke dalam pemikiran dan perilaku ekonomi modern.

Keywords: qawa’id (qai’dah) fiqhiyyah, qa’idah asasiyyah¸asybah wan-Nadzair.

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Sebagai landasan aktifitas ummat Islam sehari-hari dalam usaha memahami maksud-maksud ajaran Islam (maqasidusy Syaricah) secara lebih menyeluruh, keberadaan Qawa’id fiqhiyyah menjadi sesuatu yang amat penting, termasuk dalam kehidupan berekonomi. Baik di mata para ahli usul (usuliyyun) maupun fuqaha, pemahaman terhadap qawa’id fiqhiyyah adalah mutlak diperlukan untuk melakukan suatu “ijtihad” atau pembaharuan pemikiran dalam masalah muamalat atau lebih khas lagi ekonomi. Manfaat keberadaan qawa’id fiqhiyyah adalah untuk menyediakan panduan yang lebih praktis yang diturunkan dari nash asalnya yaitu al-qur’an dan al-Hadits kepada masyarakat. Maqasidusy Syaricah diturunkan kepada manusia untuk memberi kemudahan dalam pencapaian kebutuhan ekonomi, yang dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu:

1) Menjaga dan memelihara kepentingan primer atau Dharuriyyat (basic
necessities) yang biasa didefinisikan oleh para ulama dengan 5 (lima) elemen cakupan yaitu: agama, kehidupan (jiwa) akal, keturunan dan kekayaan

2) Memenuhi kebutuhan sekunder atau Hajjiyyat yaitu kebutuhankebutuhan seperti kendaraan dan sebagainya sebagai fasilitas hidup manusia; serta

3) Mencapai kebutuhan tersier atau Tahsiniyyat (kemewahan) untuk
melengkapi kebutuhan manusia dalam hal memperindah kehidupan dengan sedikit kemewahan secara tidak berlebihan, Dengan qawa’id fiqhiyyah ini para ulama dan fuqaha dapat menyiapkan garis panduan hidup bagi ummat Islam dalam lingkup yang berbeda dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat. Sebagaimana diketahui Islam memberi kesempatan kepada ummatnya melalui mereka yang memiliki otoritas yaitu para ulama untuk melakukan ijtihad dengan berbagai caara yang dituntunkan oleh Rasulullah, melalui ijma’, qiyas, istihsan, istishab, istislah (masalihul-mursalah) dan sebagainya untuk mencari kebenaran yang tak ditemukan dalam al-Qur’an maupun Hadts Rasulullah SAW. Demikian pula, dalam kehidupan ekonomi, atau yang dalam khazanah karya para fuqaha terdahulu biasa disebut muamalat, pemakaian qawa’id fiqhiyyah menjadi sesuatu yang amat penting.

2

dan 1. Sumber-sumber pustaka didapatkan dari sumber-sumber berikut: a) Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). maka apabila antara penjual dan pembeli sudah saling memahami akan terjadinya transaksi tersebut. Istilah ini dipakai pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khaththab ketika menunjuk Abu Musa al-‘Asycari menjadi Qadhi di Bashra.1. sebagai bagian dari fatwa mereka.3. kemudian tetapkan qiyas untuk masalah yang serupa. Terdapat sejumlah qawa’id fiqhiyyah yang dirumuskan oleh para ulama/fuqaha. sebagaimana kebiasaan pada masyarakat yang bersangkutan. Sebagi contoh: ‘al-aadah muhakkamah atau kebiasaan dapat menjadi dasar hukum. 1. b) Mengetahui kontribusi dan mengukur relevansi qawa’id fiqhiyyah dalam pemikiran dan perilaku ekonomi ummat. maka proses transaksi yang memberi kemudahan tersebut dianggap sah. Dalam suatu masyarakat. b) Koleksi buku-buku pribadi penulis tentang ekonomi Islam.3. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk a) Mengetahui besarnya kontribusi para fuqaha terdahulu dalam meyusun qawa’id fiqhiyyah.” Para fuqaha sepakat bahwa proses pemahaman dan penurunan qawa’id ini sama dengan proses yang dilakukan oleh para usuliyyun dalam menurunkan panduan hukum berupa Qawa’id al-Usuliyyah berdasarkan metode qiyas. Para fuqaha terdahulu menyusun qawa’id dalam suatu panduan yang disebut al-Asybah wan-Nazhaair. yang menyinggung persoalan perilaku ekonomi umat Islam. Ash-Shiddieqie (1981) memandang qa’idah sebagai sebuah perangkat yang cukup penting sebagai panduan untuk menurunkan kaidah yang memerlukan pembuktian. Sumber Pustaka Penelitian ini berbentuk studi literatur yang berkaitan dengan topik utama yaitu qawa’id fiqhiyyah. METODOLOGI 1.Ratusan atau bahkan mungkin ribuan qawa’id telah dirumuskan oleh para fuqaha dari kalangan empat madzhab. dimana transaksi jual beli dalam skala kecil biasa dilaukan tanpa harus menyebutkan ‘aqadnya. c) Perpustakaan International Islamic University Malaysia (IIUM). dan 3 .2. dengan menyatakan “Fahami tentang penampakan dan kemiripan suatu masalah (al-Asybah wan-Nazhaair).

4 . Maliki. maupun karya-karya para ulama.3. baik dari karya-karya para fuqaha terdahulu dalam bentuk manuskrip. Syafi’ie dan Hanbali).2. cendekiawan atau fuqaha terkemudian dalam bentuk komentar atau hasil penelitian terhadap manuskrip tersebut.d) Sumber-sumber lain yang dirasa perlu. Metode Analisa Literatur yang relevan diteliti secara langsung. 1. Kendala penelitian menghendaki peneliti untuk membatasi analisa hanya berdasarkan 99 (sembilan puluh sembilan) qawa’id yang terdapat dalam Almajallah al-Ahkaam al-cAdliyyah karya para ulama Dinasti Turki Usmani. yang dianggap cukup representative. dan 2) Qawa’id sebagai landasan pemikiran. Qawa’id tersebut selain diklasifikasikan berdasar: 1) Madzhab dalam pemikiran fiqh (Hanafi. gerak dan perilaku ekonomi.

1997) atau 37 qa’idah (Jazuli). namun tampaknya tidak tersusun menjadi karya sistematis. agama atau yang semisalnya (al-Nadwi. Berdasarkan penelitian terhadap kitab-kitab dan riwayat hidup para penyusunnya. al-Karkhi mengembangkannya lebih lanjut menjadi 36 qa’idah (an-Nadwi. Menurut Jazuli. oleh seorang ulama madzhab Hanafi lainnya. Sedang dalam pandangan para fuqaha yang lain qa’idah adalah aturan umum yang mencakup sebagian besar (aghlabiyyah) dari bagian-bagiannya (Nadwi). 1991). yang kemudian juga disampaikan kepada seorang ulama madzhab as-Syafii yaitu Abu Sa’id al-Harawi. melainkan secara bertahap (Jazuli. garis panduan. Dalam pengertian yang lebih khas. Sebanyak 17 qa’idah telah disusun oleh ad-Dibasi. basis atau fondasi suatu bangunan atau ajaran agama dan sebagainya. aturan fiqih dalam bentuk qa’idah ini dapat tersusun melalui suatu proses yang panjang dan tidak terbentuk sekaligus sebagai sebuah bangunan pengetahuan (body of knowledge) tentang qa’idah sekaligus. yaitu Abu Thahir ad-Dibasi hidup diakhir abad ke 3 Hijriyah sampai dengan awal abad ke empat. 2006). PENGERTIAN DAN BATASAN Dalam Dictionary of Modern Written Arabic. landasan. qa’idah dapat juga bermakna ajaran. Nadwi (1991) dan juga al-Jurjani (Djazuli. Dari sisi pengertian menurut ilmu fiqh. formula. karya Milton Cowan (ed) kata qa’idah ( ‫)قاعدة‬ atau jama’nya qawa’id (‫ )قواعد‬secara literal berarti: asas. sebelum al-Karkhi dari madzhab Hanafi.1. 2006) mendifinisikan qai’dah sebagai aturan umum atau universal (kuliyyah) yang dapat diterapkan untuk semua yang bersifat khusus atau bagian-bagiannya (juz’iyyah). pola atau metode. Qa’idah memiliki makna yang sama dengan ‘asas’ atau ‘prinsip’ yang mendasari suatu bangunan. Mukhtar dkk (1995b) menyimpulkan qa’idah sebagai aturan umum yang diturunkan dari hukum-hukum furu’ yang sejenis dan jumlahnya cukup banyak. Proses pembentukan qa’idah dilukiskan oleh Jazuli sebagai berikut: 5 . dasar.BAB 2 STUDI TENTANG QAWA’ID FIQHIYYAH 2. sebelumnya telah ada pengumpulan qa’idah. Dari sumber ad-Dibasi.

Tajuddin as-Subki (771 H). Satu karya yang juga tak kalah pentingnya adalah berasal dari madzhab Hanafi yaitu karya Ibnu Nujaim (970 H). Ibnul Mulaqqin (804 H). untuk selanjutnya diverifikasi untuk mendapatkan hasil qawa. maka qa’idah dengan sendirinya dapat diterapkan. dan yang lebih monumental lagi karya Jalaluddin as-Suyuti (911 H). pembedaan antara qa’idah umum atau asas dengan qa’idah khusus atau rinci (detail) dijelaskan secara memadai.Al-Qur’an Al-Hadits Ushul Fiqh Fiqh Qa’idah Fiqhiyyah Verifikasi Qa’idah Fiqhiyyah Qa’idah Fiqhiyyah Fiqh Qanun Gambar 1: Proses penyusunan Qawa’id Fiqhiyyah Qawa’id disusun berdasarkan materi-materi fiqh. yaitu: 1) Artikel-2 Al-umuur bimaqaasidihaa (‫بمقاصدها‬ ditetukan berdasarkan niatnya. Apabila aturan rinci sebagaimana dijumpai pada al-Asybah wan-Nazhair muncul dari kasus yang serupa.id yang lebih sempurna. POSISI QAWA’ID FIQHIYYAH DALAM SYARI’AH ISLAM Proses penerapan aturan syar’i dalam qa’idah menurut Mahmassani (1980) sama dengan penerapan metodologi qiyas dalam memilih aturan yang tepat dalam usul fiqh. melalui karya Ibnul Wakil as-Syafi’i (716 H). kemudian ketentuan-ketentuan hukumnya menjadi hasil akhir dari proses tersebut. 2. yang kemudian disusun dalam al-Majallah yang dikeluaran pada jaman pemerintahan Turki Usmani. Dalam ketiga kitab al-Asybah wan-Nazhair karya Tajuddin as-Subki.2. untuk kemudian tersusun kembali fiqh sebagai kelengkapan dari khazanah fiqh yang telah ada. ‫ )المور‬atau setiap perkara itu 6 . As-Subki dan as-Suyuti merumuskan Lima qa’idah asasiyyah yang dikenal dengan al-AsasiyyatulKhamsah. Nadwi (1991) dan Mahmassani berpendapat bahwa tulisan tentang qawa’id fiqhiyyah tersusun sejak mulai abad ke delapan Hijriyah. Jalaluddin asSuyuti maupun Ibnu Nujaim (970 H).

Disini keberadaan qawa’id fiqhiyyah menjadi lebih jelas maknanya. ahwal as-Syahshiyyah (hal-ikhwal pribadi dan keluarga). al-Fiqh al-Islam fi Tsaubihi at-Tajdid. dan fiqh qadha (hukum acara dan peradilan). nampaknya tidak dapat dihindarkan. 4) Artikel -21Adh-dhararu yuzaalu (‫يزال‬ dihapuskan.3. menyebutkan setidaknya 25 qawa’id yang terkait dengan transaksi muamalah. Seiring perkembangan jaman. Sementara itu Ibnu Nujaim menambah satu lagi qa’idah asas sehingga menjadi enam. Dalam karyanya. Dalam hal lain disebutkan Al-yaqiin laa yazuulu bisy-syakk (‫يزول‬ ‫اليقين ل‬ ‫)بالشك‬ atau sesuatu yang pasti tidak dapat berubah disebabkan oleh keraguan. jinayah (kriminalitas). Dalam penerapannya. siyasah (politik). 7 . terbitan tahun 1963. sebagaimana dikutip oleh Jazuli (2006). 2. Namun demikian penerapan qa’idah untuk bidang mu’amalah tidak banyak menyinggung masalah penerapan untuk perekonomian modern secara umum. Jazuli mengklasifikasikan qawa’id dalam enam bidang. keperluan adanya kaidah yang lebih banyak. yaitu laa tsawaaba illaa bin-niyyah ‫)المشقة تجلب‬ atau kesulitan itu ‫)الضرر‬ atau kemadharatan hendaknya ‫)العادة‬ atau adat kebiasaan dapat ‫ل ثواب ال بالنية‬ atau tidak ada pahala bagi perbuatan yang tidak disertai dengan niat. yang kemudian menjadi qa’idah asas yang berlaku di kalangan madzhab Hanafi. Muhammad Mustafa az-Zarqa. QAWA’ID FIQHIYYAH DALAM MASALAH EKONOMI Beberapa qa’idah fiqhiyyah memberi ruang kepada pemikiran ataupun praktekpraktek ekonomi. yaitu ibadah mahdhah (khusus). qa’idah ini menjadi cabang dari qa’idah al-umuur bimaqaasidihaa. Sementara itu di kalangan madzhab Maliki. 3) Artikel -17Al-musyaqqah tajlibut taysiir (‫التيسير‬ mendatangkan kemudahan. sebagaimana yang juga diklasifikasikan oleh Jazuli (2006). dan 5) Artikel -36 Al-‘aadah muhakkamah (‫محكمة‬ menjadi sumber hukum. mu’amalah (transaksi ekonomi).2) Artikel -4 Al-yaqiin laa yuzaalu bisy-syakk (‫بالشك‬ ‫)اليقين ل يزال‬ yaitu sesuatu yang pasti tidak dapat dihapus oleh keraguan.

‫الصل فى المعاملة الباحة إل أن يدل دليل على تحريمها‬ Segala bentuk muamalah pada dasarnya adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil yang mengharamkannya. dan Ini menjadi menjadi alasan halal bagi setiap jelas bentuk ada transaksi yang perdagangan ekonomi kecuali alasan melarangnya. Diantara qawa’id yang paling mendasar dalam masalah ini adalah al-aslu fi almu’amalah al-ibaahah illaa an-yadull daliil ‘alaa tahriimihaa.Sedangkan Jazuli sendiri menyebutkan 20 qawa’id yang memberi ruang kepada transaksi ekonomi dan muamalah. 8 . Hanya penulis tidak menemukan qawa’id ini dalam al-majallah.

21 dan 36—ditambah dengan 19 (sembilan belas) 9 . Ushuul Al-Karkhi memuat 36 qawa’id yang menurutnya disebut qawa’id al-Asl atau qawa’id asal. 3. dan f) Al-Faraa’id al-Bahiyyah fi al-Qawaacid al-Fawaa’id al-Fiqhiyyah karya Ibn Hamzah al-Husaini (1305 H). e) Al-Majallah c al-Ahkaam al-cAdliyyah oleh Komite ‘Ulama Daulah Usmaniyyah (1286 H). merupakan sebuah karya yang masyhur dari kalngan madzhab Hanafi. AlAsybaah wan-Nazhaa’ir. Majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah terdiri dari 99 qawa’id ditambah dengan sebuah pendahuluan. QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB HANAFI Berdasarkan bahan yang terkumpul dalam penelitian. Majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah merupakan satusatunya karya yang ditulis oleh sebuah tim yaitu para ‘Ulama yang ditunjuk oleh Pemerintah Daulah Usmaniyah di Turki. terdapat enam karya dari kalangan madzhab Hanafi antara lain a) Usuul al-Karkhi karya cUbaidullah ibn Hasan al-Karkhi (260-340 H) b) Ta’siis al-Nadzr karya al-Qadhi. yang tersusun dalam 1851 ayat. ( 1176 H). 17.BAB 3 QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN EMPAT MADZHAB FIQH Berdasarkan sumber-sumber yang diteliti.1. Masing-masing madzhab memiliki setidaknya seorang termasyhur dalam pengembangan qawa’id fiqhiyyah tersebut. karya Ibnu Nujaim. keempat madzhab banyak memberikan kontribusi dalam pengembangan qawa’id fiqhiyyah. cUbaidullah ibn cUmar ad-Dabusi (430 H) c) Al-Ashbaah wa al-Nazhaa’ir oleh Zainudddin ibn Ibrahim Ibn Nujaim (970 H) d) Majaamic al-Haqaa’iq yang ditulis oleh Abu Sa cid al-Khadimi. 4. Pemikiran keempat madzhab dalam qawa. Karya ini terdiri dari 6 (enam) qawa’id dasar (qawa’id alasasiyyah)—5 (lima) diantaranya juga dimuat dalam al-Majallah al-Ahkaam alc Adliyyah ayat-ayat 2.id dipaparkan dalam keempat sub-bab dibawah ini. Diantara keenam karya tersebut. Sementara itu. yang kemudian diberikan komentar atau syarah oleh Najmuddin anNasafi yang juga dari madzhab Hanafi.

d) Al-Iscaaf bit-Thalab Mukhtasar Sharh al-Manhaj al-Muntakhab Tiwani ( 995 H) Karya terakhir. Kitab al-Anwaar wal-Anwaa’. yang lebih dikenal sebagai Ibnu Biri al-Makkati.qawa’id cabang atau al-furu’iyyah. beberapa ulama juga menyumbangkan tulisan tentang qawa’id fiqhiyyah. at-Tujibi Muntakhab calaa Qawaacid al-Madzhab (912 H). atau Kitab al-Anwaar wal-Qawaacid as-Sunniyyah oleh al-Imam Syihabudin cAbdul-Abbas Ahmad as-Sonhaji al-Qarafi (260-340 H). Karya-karya tersebut antara lain adalah: a) Anwaar al-Buruuq fi Anwaar al-Furuuq atau lebih dikenal juga sebagai: AlFuruuq. c) c Umdatu dzawil-Basyaa’ir li-Halli Muhtamaati al-Asybaah wan-Nazhaa’ir (1099H. al-Is’aaf. diulas dengan sajian Abul-Hasan c c alaa Qawaacid al-Madzhab karya as-Syaikh Abul-Qasim ibn Muhammad at- ringkas oleh setidaknya dalam al-Manhaj al- Ali ibn Qasim al-Zaqqaq. Karya dari kalangan madzhab Maliki tidak sebanyak dari madzhab Hanafi dan Syafii. utamanya karya salah seorang faqih besar seperti Jalaludin as-Suyuti yang menulis 10 . dengan ditulisnya beberapa ulasan atau komentar para fuqaha terkemudian. at-Tiwani. empat diantaranya adalah: a) Tanwiir al-Bashaa’ir calal-Asybaah wan-Nazhaa’ir (1005 H) oleh cAbdulQadir Sharif uddin al-Ghazzi. d) cUmdatu an-Naadzir cala al-Asybaah wan-Nazhaa’ir oleh Abu Su cud alHusaini.2. QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB MALIKI Dari mahdzhab Maliki. b) Ghamzu cUyuun al-Bashaa’ir Syarh al-Asybaah wan-Nazhaa’ir (1098 H) oleh Ahmad ibn Muhammad al-Hamawi. Pengaruhnya di Indonesia juga cukup meluas. dan dikomentari oleh Ahmad ibn cAli al-Fasi al-Maghribi Sementara itu madzhab Syafii paling banyak memberikan kontribusi qawa’id fiqhiyyah dalam khazanah fiqh Islam. b) Al-Qawaacid oleh Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Muqarri (758 H). al-Fasi.) karya Ibrahim ibn Hussain. 3. Karya Ibnu Nujaim ini juga mendapat tanggapan luas dari berbagai kalangan madzhab Hanafi.Masaalik ilaa Qawaacid al-Imaam Maalik hasil karya Ahmad ibn Yahya ibn Muhammad at-Tilmisani al-Winsyarinsi (914 H). c) Iidhaah al.

g) Al-Qawaacid oleh Taqiyyuddin Abu Bakr ibn Muhammad ibn cAbdulMu’min. termuat dalam Jilid 3 – 7. h) Al-Ashbaah wa al-Nazhaa’ir oleh Jalaluddin cAbdur Rahman ibn Abi Bakr ibn Muhammad as-Suyuthi (al-Asyuthi) (804 H).3. al-Asybaah wanNazhaa’ir. kitab Majmuu’ul Madzhab karya al-‘Alai jug amendapat perhatian para fuqaha madzhab Syafii. al-Hisni (829 H). termasuk Malaysia dan juga di Timur Tengah. yang cukup masyhudr di kalangan madzhab Syafi’i. seperti ulasan-ulasan yang diberikan dalam kitab Mukhtashar al-Qawaacid al-‘Alai seperti oleh: a) Al-‘Allamah as-Syarkhadi (792 H) yang merupakan kombinasi dengan tulisan al-Isnawi untuk topik yang sama. Di kalangan madzhab Syafii. d) Al-Asybaah wa al-Nazhaa’ir oleh cAbdul-Wahhab ibn cAli Tajuddin as-Subki (771 H).660 H). e) Al-Manthuur fi Tartiib al-Qawaacid al-Fiqhiyyah aw al-Qawaacid fi al-Furuuc oleh Muhammad ibn Bahadur Badruddin az-Zarkashi (794 H). dan i) Al-Istighnaa’ fi al-Furuuq wa al-Istithnaa’ karya Badruddin Muhammad ibn Abi Bakr ibn Sulaiman al-Bakri Di atas telah disinggung sedikit tentang karya as-Suyuthi. Selain karya asSuyuthi. f) Al-Ashbaah wa al-Nazhaa’ir karya Sirajudddin cUmar ibn cAli al-Ansari. yang lebih terkenal dengan pangggilan Ibnul-Mulaqqin (804 H). c) Majmuuc al-Mudzhab fil-Qawaacid al-Madzhab oleh Salahuddin Abi Sa cid al-cAla’i as-Syafi ci (761 H). sedang 20 qawa’id lagi masuk dalam kategori diperselisihkan kedudukannya. 3. bukan saja di indoneisa melainkan juga di wilayah negeri-negeri Muslim lainnya. karya-karya tentang qawa’id fiqhiyyah di kalangan madzhab Syafii berdasarkan urutan sejarahnya antara lain adalah: a) Qawaacid al-Ahkaam fi Masaalih al-‘Anaam oleh cIzzuddin cAbdul cAziz ibn c Abdus Salam ( 577 . QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB SYAFI’I Secara lengkap. kelima qawa’id ini dianggap sebagai qawa’id yang utama. Qawa’id ini juga cukup popular. dan 11 . b) Kitaab Al-Asybaah wan-Nazhaa’ir karya Sadraddin Abi cAbdullah ibn Murahhil. Jilid 1 berisi tentang qawa’id dasar (asas) sebanyak lima buah sebagaimana yang disebutkan dalam al-Majallah di atas.al-Asybaah wan-Nazhaa’ir dalam beberapa jilid. Ibn Wakil al-Syafi ci (716 H). Kitab 2 al-Asybaah wan-Nazhaa’ir berisi tentang qawa’id umum (‘amm) sebanyak 40 qawa’id.

Mereka antara lain: a) Al-Qawaacid al-Nuuraaniyyah al-Fiqhiyyah oleh Taqiyyuddin Abu al-cAbbas Ahmad ibn cAbd al-Halim ibn Taymiyyah (661 . QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN MADZHAB HANBALI Di kalangan madzhab Maliki. d) Al-Qawaacid al-Kulliyyah wa al-Dhawaabit al-Fiqhiyyah (771 H) karya Jamaluddin Yusuf ibn Hasan ibn Ahmad ibn cAbdul-Hadi (1309-1359 H). ibn Qadhi al-Jabal al-Maqdisi (771 H). b) Al-Qawaacid al-Fiqhiyyah oleh Sharifuddin Ahmad ibn al-Hasan.728 H). c) Taqriir al-Qawaacid wa Tahriir al-Fawaa’id (al-Qawaacid) karya c Abdurrahman Shihab ibn Ahmad ibn Abi Rajab (Ibn Rajab) al-Hanbali (795H).b) Al-‘Allamah ibn Khatib ad-Dahsyah yang mengkombinasikan dengan kuliah-kuliah dari al-Isnawi 3. karya tentang qawa’id fiqhiyyah dan para penulis yang memberikan kontribusinya dapat dipaparkan dalam Table 1 berikut ini: Table 1 Qawa’id dalam Karya Empat Madzhab Fiqh Periode Nama/Sebutan Kitab 1) Hanafi Usuul al-Karkhi Ta’siis an-Nadzr Al-Asybaah wan-Nazhaa’ir Majaami al-Haqaa’iq Majallah al-Ahkaam alc c Penulis (Hijriyah ) Jumah Qawaid 36 (asl) 86 6 Asas al-Karkhi Abi Zaid alDabusi Ibn Nujaim al-Khadimi Daulah alc 260-340 430 1176 1286 1305 19 Furu’ 154 99 30 Adliyyah Al-Faraa’id al-Bahiyyah fil- Usmaniyyah Ibn Hamzah al- 12 . sejak karya Ibnu Taymiyyah hingga abad ke-14 Hijriyyah pada periode al-Qari. dan e) (Qawaacid) Majallah al-Ahkaam al-Shar ciyyah calaa Madzhab al-Imaam Ahmad ibn Hanbal oleh Ahmad ibn cAbdullah al-Qari (1309-1359 H) Secara ringkas.4. terdapat setidaknya lima kitab karya para fuqaha mulai dari pertengahan abad ke-7.

260-340 Qarafi 548 al-Muqarri Ahmad alWinsyarinsi at-Tiwani 758 914 912 100 118 alaa Qawaacid al-Madzhab 3) Syafii Qawaacid al-Ahkaam fi Masaalih al-‘Anaam Kitaab Al-Asybaah wanNazhaa’ir Majmuuc al-Mudzhab fi alQawaa id al-Madzhab Al-Asybaah wan-Nazhaa’ir Al-Mantsuur fi Tartiib alQawaa id al-Fiqhiyyah awilQawaacid fil-Furuuc Al-Asybaah wan-Nazhaa’ir Al-Qawaacid c c c Izzuddin c Abd 577-660 - as-Salam Ibn Wakil asSyafii Salahuddiin alc 716 761 20 Ala’i 771 794 60 100 Tajuddin asSubki Badruddin azZarkashi Ibn al-Mulaqqin c Abd alMu’min.Masaalik ilaa Qawaacid al-Imaam Maalik Al-Iscaaf bit-Talab Mukhtasar Syarhul-Manhaj al-Muntakhab c Husaini Syihabuddin al. alHisni as-Suyuthi 804 829 Al-Asybaah wan-Nazhaa’ir 804 5 asas 40 ‘amm 20 ikhtilafi 600 Al-Istighnaa’ fil-Furuuq walIstitsnaa’ 4) Hanbali al-Qawaacid al-Nuuraaniyyah al-Fiqhiyyah al-Qawaacid al-Fiqhiyyah Badruddin alBakri - ibn Taymiyyah Syarifudin al- 661-728 771 - 13 . Kitab al-Anwaar wal-Anwaa’.Qawaacid al-Fawaa’id alFiqhiyyah 2) Maliki Al-Furuuq. or Kitab alAnwaar wal-Qawaacid asSunniyyah Al-Qawaacid Iidhaah al.

penelitian dibatasi pada qawa’id yang terdapat dalam al-Majallah alAhkaam al-cAdliyyah terbitan Daulah Turki Usmani yang disusun sekitar tahun 1286 H. sekalipun tidak dapat dipungkiri.1.Taqriir al-Qawaacid wa Tahriir al-Fawaa’id (al-Qawaacid) al-Qawaacid al-Kulliyyah wa alDhawaabit al-Fiqhiyyah (Qawaacid) Majallah alAhkaam al-Shar ciyyah calaa Madzhab al-Imaam Ahmad ibn Hanbal Maqdisi Ibn Rajab alHanbali ibn cAbd alHadi Ahmad c 795 13091359 13091359 160 160 Abdullah al- Qari BAB 4 APLIKASI QAWA’ID DALAM PEMIKIRAN EKONOMI 4. Oleh sebab beberapa kendala. PENDAHULUAN Analisa dalam baba ini lebih terfokus pada pembahasan qawa’id yang terkait dengan persoalan ekonomi. Cakupan qawa’id dalam al-Majallah qawa’id ini dirasa cukup lengkap oleh dan para merepresentasikan hampir semua yang pernah ditulis fuqaha/ulama dari keempat madzhab. bahwa alMajallah merupakan karya kumpulan qawa’id yang dihasilkan oleh para ulama 14 . termasuk waktu dan pendanaan.

yaitu qa’idah berfungsi sebagai aturan umum atau universal (kuliyyah) yang dapat diterapkan untuk semua yang bersifat khusus atau bagian-bagiannya (juz’iyyah). Qawa’id dalam Pemikiran Ekonomi Dalam aspek transaksi muamalah. Sebagaai konsekwensinya. Akan tetapi perlu dicatat pula bahwa dari 20 qawa’id yang ditulisnya. Apabila diperbandingkan dengan tulisan Jazuli (2006). sebagaimana kesimpulan Mukhtar dkk (1995b) qa’idah sebagai aturan umum yang diturunkan dari hukum-hukum furu’ yang sejenis dan jumlahnya cukup banyak. politik. sekalipun tidak dapat lepas dari perspektif yang lain. Ini sesuai dengan pngertian atau definisinya. seperti social. maka hasil penelitian ini memberi gambaran bahwa jumlah qawa’id yang terkait dengan masalah ekonom ijauh lebih banyak. terdapat sekitar 25 qawa’id menurut Syeh Muhammad Mustafa Zarqa.2. Atau dengan kata lain. sebagaimana telah didiskusikan di atas (Bab 2). hanya ada 8 (delapan) qawa’id yang sama. maka jumlah qawa’id yang dapat diaplikasikan akan menjadi lebih banyak. Dari 99 qawa’id dalam al-Majallah. banyak qawa’id yang tidak dapat diakomodasi dalam penelitian ini.madzhab Hanafi. Namun apabila diperluas cakupannya ke dalam ekonomi secara keseluruhan. sedangkan selebihnya didapatkan dari karya-karya ulama lainnya. Kedelapan qawa’id tersebut dipaparan dalam Tabel 2 berikut: Table 2 Qawa’id sebagai dalam Pemikiran Ekonomi/Muamalat dalam al-Majallah dan dalam kKarya Jazuli (2006) Apabila sesuatu itu batal maka batallah apa 1 2 yang ada didalammnya Tidaklah sempurna ‘aqad tabarru’ ‫إذا بطل الشيء بطل ما فى‬ ‫ضمنه‬ ‫ل يتم التبرع إل بقبض‬ 15 . 4. dari pada jumlah yang terkait dengan transaksi muamalah sebagaimana ditulis karya Jazuli. lebih dari 70 qawa’id dapat diinterpretasikan secara langsung sebagai memiliki implikasi yang bersifat ekonomis. baik dari kalangan madzhab Hanafi sendiri maupun yang lainnya. sebagaimana dikutip oleh Jazuli (2006). dan sebagainya. hukum.

ia juga memberi gambaran betapa keseriusan mereka benarbenar luar biasa. Pada sisi lain.(pemberian) kecuali setelah diserahkan. sehingga generasi terkemudian dapat memanfaatkannya dengan lebih mudah. 3 4 5 6 ‫الخراج بالضمان‬ ‫الجر والضمان ل يجتمعان‬ ‫الغرم بالغنم‬ ‫الجواز الشرعي ينافي الضمان‬ ‫المر بالتصرف فى ملك الغير‬ ‫باطل‬ ‫ل يجوز لحد أن يتصرف فى‬ ‫ملك الغير بل إذنه‬ 7 Ini memberitahukan kepada kita betapa jumlah qawa’id yang disusun para ulama/fuqaha terdahulu jumlahnya cukup banyak dan susah ditentukan secara pasti. (sebelum diminta sudah diberi) Hak mendapat hasil itu sebagai ganti kerugian (yang ditanggung) Pendapatan/upah dengan jaminan itu tidak datang secara bersamaan Risiko itu sejalan dengan keuntungan Hal yang dibolehkan syariat tidak dapat dijadikan beban/tanggungan Perintah menasarufkan (memanfaatkan) barang orang lain (tanpa ijin pemiliknya) adalah batal Tidak boleh bagi seorang pun merubah 8 /mengganti milik orang lain tampa izin pemiliknya. 16 .

apabila dilacak karya-karya diluar al-Majallah. termasuk ekonomi. 5. kebanyakan materi qawa’id juga berlaku sangat umum. Fokus penelitian ini pada 99 (sembilan puluh sembilan) qawa’id yang disusun para ulama pada Dinasti Turki Usmani. Akan tetapi. sebagiannya sama atau serupa. KESIMPULAN Qawa’id fiqhiyyah merupakan landasan umum dalam pemikiran dan perilaku sosial memberikan panduan bagi masyarakat untuk melakukan interaksi dengan sesamanya. politik dan kenegaraan.1. terdapat lebih dari 70 (tujuh puluh) qawa’id yang dapat dijadikan rujukan untuk diturunkan ke dalam pemikiran dan perilaku ekonomi modern. Panduan yang diberikan menyangkuit beberapa aspek kehidupan seperti hukum. ada kemunginan beberapa qawa’id yang dapat diinterpretasikan secara khas untuk setiap masalah atau sector dalam 17 . sejak akhir abad ke-2 Hijriyyah telah merintis batu peletakan qawa’id melalui karya-karya agung mereka.BAB 5 PENUTUP 5. sosial. Dari keseluruhannya. Para ulama/fuqaha dari keempat madzhab fiqh tersebut menyusun qawa’id dalam jumlah yang begitu banyak. SARAN UNTUK PENELITIAN KE DEPAN Oleh sebab keterbatasan waktu dan financial. yang sampai kini masih terlihat manfaatnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan modern. sehingga susah untuk diketahui jumlahnya secara pasti. Para ulama dan fuqaha terdahulu. pemahaman terhadap qawa’id fiqhiyyah adalah mutlak diperlukan untuk melakukan suatu “ijtihad” atau pembaharuan pemikiran. budaya. yaitu al-majallah al-Ahkaam al-cAdliyyah pada sekitar awal abad ke-13 Hijriyah atau tepatnya sekitar tahun 1286 H. Dalam hal ini. dan sebagainya sampai pada masalah pernikahan Penelitian ini memfokuskan pada qawa’id dalam karya-karya para ulama/fuqaha dari kalangan empat madzhab fiqh. dan implikasinya dalam pemikiran dan perilaku ekonomi dalam masyarakat. penelitian ini tidak dapat meneruskan pada masalah implikasi pemikiran dan perilaku ekonomi secara sektoral.2. Selain itu. sehingga hamper dapat diberlakukan secara keseluruhan bagi semua sector dalam ekonomi. ekonomi.

ekonomi. DAFTAR PUSTAKA 18 . Untuk itulah penelitina secara lebih detail untuk setiap aspek perlu dilakukan secara terpisah.

Ali Ahmad al-. By Yusuf Talal DeLorenzo and Anas S. Virginia: International Institute of Islamic Thought. Muhimmatuha. Adallatuha. Mahmassani. LAMPIRAN QAWA’ID FIQHIYYAH DALAM 19 . Dar al-Qalam. Prenada Media Group Kamali. Yogyakarta: Penerbit Dana Bakti Wakaf. Fazlur. Beirut. Islamic Methodology in History. Falsafah al-Tashric fi al-Islam. Muhammad Usman (2000). 1965.Alwani.M. Malaysia. 1987. Dirasatu Mu-allafatiha. Source Methodology in Islamic Jurisprudence: Usul al-Fiqh alIslami.. The original Arabic. Pengantar Hukum Islam. Karachi. Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah Praktis. Petaling Jaya. Shah Alam. Kencana. Penerbitan Hizbi. Islamic Research Institute. 1415/1994. Principles of Islamic Jurisprudence. Taha Jabir al-. Legal Maxim Related to Islamic Economics. Ziadeh. Tatawwuruha. Muqorobin. ash-. Herndon. Yordania: daarul-Furqaan. T. Al-qawacid al-fiqhiyyah: Mafhumuha. Kamal. Al-Shaikh-Ali.G. Tatbiqatuha. English translation by Farhat J. H. Pakistan. 1981. Malaysia. 1980. Islamic Jurisprudence: An International Perspective. Shiddieqy. Weeramantry. (2006). Al-Qawa’id al-Kulliyyah wad-dhawabith alFiqhiyyah. Hampshire and London: The Macmillan Press Ltd. Penerbit Bulan Bintang. Revised English Ed. C.A. Muhammad Hashim. Syabir. 1989. Sobhi. Nadwi. Ushul Fikh (Jilid 1). Pelanduk Publication (M) Sdn Bhd. Jakarta. ISEFID Review 2(1): 131-143. Masyhudi (2003). Hasbi. Nashatuha. Rahman. 1412H/1991M. Djazuli. Dar al-cilm li al-Malayin. Damascus. dkk (1995). Muchtar.

... terdapat pengecualian Artikel No.AL-MAJALLAH AL-AHKAAM AL-CADLIYYAH Artikel.يخصص ويقيد بعضا آخر‬ 2..‫ضابط وجامع لمسائل كثيرة‬ (99) ‫فلذا جمع تسع وتسعون‬ ‫قاعدة فقهية. dan diantara kaidah-kaidah ini.. ..1…Para peneliti dari ahli fiqh mengembalikan persoalan-persoalan fiqh kepada kaidah-kaidah umum. وأن بعض هذه‬ ‫القواعد، وان كانت بحيث إذا‬ ‫انفرد، يوجد من مشتمل ته‬ ‫بعض المستثنيات، لكن ل تختل‬ ‫كليتها و عمومتها من حيث‬ ‫المجموع، لما إن بعضها‬ ‫. jika dilihat secara mufrad (tersendiri). 2 ‫المور بمقاصدها‬ ‫العبرة فى العقود للمقاصد‬ ‫والمعاني ل لللفاظ والمباني‬ ‫اليقين ل يزال بالشك‬ (‫)اليقين ل يزول بالشك‬ ‫الصل بقاء ما كان على ما كان‬ ‫القديم يترك على قدمه‬ ‫الضرر ل يكون قديما‬ ‫الصل براءة الذمة‬ ‫الصل فى الصفات العارضة‬ ‫العدم‬ ‫وما ثبت بزمان محكم ببقائه مالم‬ ‫يوجد دليل على خلفه‬ 3 20 . akan tetapi tidak menutupi keumumannya dari sisi keseluruhan... Sesuatu yang umum maka dikhususkan 3. semuanya itu otentik untuk seluruh permasalahanpermasalahan yang ada. Sesuatu yang menyeluruh maka dikecualikan ‫المادة 1. 1 tertentu diantara kesempurnaannya.…maka dari itu disusun 99 kaidah fiqhiyyah…. . Sesuatu yang banyak maka ditentukan satu (diikat) Setiap perkara (perbuatan) itu tergantung pada tujuannya. Asal dari sifat-sifat yang nyata (terlihat) adalah ketiadaan Sesuatu yang tetap pada zamannya akan 10 dinilai kekal kecuali terdapat dalil yang membuktikan penolakannya. إن المحققين من‬ ‫الفقهاء قد أرجعوا المسائل‬ ‫الفقهية إلى قواعد كليه، كل منها‬ . Patokan dalam akad (Ibrah) diambil dari maksud/tujuan dan maknanya bukan dari ungkapan dan bentuknya Sesuatu yang sudah diyakini tidak dapat 4 5 6 7 8 9 dihapus oleh keragu-raguan Yang menjadi patokan adalah tetapnya sesuatu menurut keadaan semula Sesuatu yang lama akan ditinggalkan sebagaimana asalnya Kemadharatan tidak akan terjadi sejak awal Bebas dari tanggungan adalah prinsip yang mendasar. Keterangan: 1. karena itu sebagiannya mengikat sebagian yang lain.

Sesuatu yang dibolehkan karena uzur. 18 19 20 21 harus diberikan kelonggaran atasnya Madharat tidak bisa diselesaikan dengan kemadharatan juga Kemadharatan itu harus dihilangkan. maka perkataan mesti diartikan secara hakiki) Tidak perlu ambil perhatian terhadap dalil 13 apabila ada pernyataan yang jelas Tidak ada tempat untuk berijtihad jika ada 14 nasth yang menerangkannya (al-Qur’an dan al-Hadits) Sesuatu yang tetap atas penolakan 15 terhadap qiyas maka tidak (boleh dipakai) untuk menetapkan qiyas yang lain. 12 (Artinya jika ada perkataan yang bisa diartikan secara hakiki dan majasi. Kemadharatan yang lebih besar/ berat 27 28 dihilangkan dengan Kemadharatan yang lebih ringan Apabila dua kerusakan bertabrakan maka ‫الصل إضافة الحادث إلى‬ ‫أقرب أوقاته‬ ‫الصل فى الكلم الحقيقة‬ ‫ل عبرة للدللة في مقابلة‬ ‫التصريخ‬ ‫لمساغ للجتهاد فى مورد‬ ‫النص‬ ‫ما ثبت على خلف القياس‬ ‫فغيره ل يقاس عليه‬ ‫الجتهاد ل ينقض بمثله‬ ‫المشقة تجلب التيسير‬ ‫المر إذا ضاق إتسع‬ (‫)إذا ضاق المر إتسع‬ ‫ل ضرر ول ضرار‬ ‫الضرر يزال‬ ‫الضرورات تبيح المحظورات‬ ‫الضرورات تقدر بقدرها‬ ‫ما جاز لعذر بطل بزواله‬ ‫إذا زال المانع عاد الممنوع‬ ‫الضرر ل يزال بمثله‬ ‫يحتمل الضرر الخاص لمنع‬ ‫الضرر العام‬ ‫الضرر الشد يزال بالضرر‬ ‫الخف‬ ‫إذا تعارض مفسدتان روعي‬ 16 17 22 25 26 21 .Asal suatu perubahan pristiwa baru 11 dianggap sebagai peristiwa yang berlangsung dalam waktu terdekat (dari sekarang) Asal dalam perkataan itu adalah hakikat. Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang dilarang Sesuatu yang dibolehkan karena darurat itu mesti disesuaikan dengan kadar kedaruratannya. 23 maka batallah sebab hilangnya uzur tersebut Apa bila hilang penyebab yang melarang 24 sesuatu maka yang dilarang itu boleh dilakukan Kemadharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemadharatan yang semisal Menanggung suatu Kemadharatan khusus untuk menolak Kemadharatan umum. Sebuah ijtihad tidak dapat membatalkan yang semisalnya (ijtihad yang lain) Kesulitan itu akan menarik kemudahan Perkara yang berlaku dalam kesempitan.

maka ia diakui keabsahannya 45 46 47 22 . Kemadharatan itu sedapat mungkin harus ditangkis Kebutuhan bisa menjadi sesuatu kepentingan Sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi tidak membatalkan hak bagi yang lain Sesuatu yang diharamkan mengambilnya maka diharamkan juga memberikannya Sesuatu yang haram mengerjakannya maka haram juga meminta mengerjakannya Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum Jika manusia sudah sepakat dengan sesuatu (kesepakatan umum) maka wajib dikerjakan Larangan adat adalah menjadi larangan sebenarnya (secara hakikat) Tidak dipungkri perubahan hukum dengan adanya perubahan zaman Suatu kenyataan akan ditinggalkan berdasarkan adat Hanya akan dianggap sebagai suatu adat jika apa bila menjadi suatu mayoritas dalam masyarakat Perhatian lebih diberikan pada kejadian 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 yang sering (mayoritas).dilihat/dipilih yang lebih ringan ‫أعظمهما ضررا بارتكاب‬ ‫أخفهما‬ ‫يختار أهون الشرين‬ ‫درء المفاسد أولى من جلب‬ ‫المنافع‬ ‫الضرر يدفع بقدر المكان‬ ‫الحاجة تنزل منزلة الضرورة‬ ‫إن الضطرار ل يبطل حق‬ ‫الغير‬ ‫ما حرم أخذه حرم اعطاؤه‬ ‫ما حرم فعله حرم طلبه‬ ‫العادة محكمة‬ ‫استعمال الناس حجة يجب‬ ‫العمل بها‬ ‫الممتنع عادة كالممتنع حقيقة‬ ‫ل ينكر تغير الحكام بتغير‬ ‫الزمان‬ ‫الحقيقة تترك بدللة العادة‬ ‫إنما تعتبر العادة إذا اضطردت‬ ‫أو غلبت‬ ‫العبرة للغالب الشائع ل للنادر‬ ‫المعروف عرفا كالمشروط‬ ‫شرطا‬ ‫المعروف بين التجار‬ ‫كالمشروط بينهم‬ ‫التعيين بالعرف كالتعيين بالنص‬ ‫إذا تعارض المانع والمقتضى‬ ‫يقدم المانع‬ ‫التابع تابع‬ 29 30 31 32 Memilih yang lebih kecil dari dua keburukan Menolak suatu kerusakan didahulukan dari pada menarik kemaslahatan. bukannya yang jarang (minoritas) Sesuatu yang dikenal akan menjadi adat 43 seperti yang disyaratkan menjadi syarat Sesuatu yang dikenal diantara masyarakat 44 itu seperti menjadi syarat dikalangan mereka Penetapan secara adat seperti penetapan secara nash (teks) Apa bila bercampur suatu larangan dengan perintah maka didahulukan larangan Sesuatu yang terkait dengan sebuah obyek.

(sebelum diminta sudah diberi) Tasharruf (tindakan –pemimpin-) terhadap 56 57 58 rakyat harus dihubungkan dengan kemashlahatan -kepentingan umum-. Meneruskan sesuatu lebih mudah dari pada memulainya Tidaklah sempurna ‘aqad tabarru’ (pemberian) kecuali diberikan/diserahkan. Kewenangan khusus (pribadi) lebih kuat 59 dari pada kewenangan umum (publik) Mengamalkan maksud suatu kalimat.maka asal itu menjadi berubah Tidak diperbolehkannya sesuatu yang 54 terkait dengan barang tidak berarti dilarangnya yang lain yang terkait dengan barang tersebut Sesuatu yang dilarang dengan cara yang 55 baru.48 49 50 Sesuatu yang terkait dengan sebuah obyek tidak dihukumi secara terpisah. Seseorang yang memiliki sesuatu maka ia juga memiliki segala kepentingan atasnya Apabila terputus sesuatu yang dasar maka terputus pula suatu cabangnya Sesuatu yang terputus itu tidak akan kembali seperti sesuatu yang hilang tidak kembali Apabila sesuatu itu batal maka batallah apa ‫التابع ليفرد بالحكم‬ ‫من ملك شيئا ملك ما هو من‬ ‫ضروراته‬ ‫إذا سقط الصل سقط الفرع‬ ‫الساقط ل يعود كما أن المعدوم‬ ‫ل يعود‬ ‫إذا بطل الشيء بطل ما فى‬ ‫ضمنه‬ ‫إذا بطل الصل يصار الى‬ ‫البدل‬ ‫يغتفر التوابع مال يغتفر فى‬ ‫غيرها‬ ‫يغتفر فى البقاء ما ل يغتفر فى‬ ‫البتداء‬ ‫البقاء أسهل من البتداء‬ ‫ل يتم التبرع إل بقبض‬ ‫التصرف على الرعية منوط‬ ‫بالمصلحة‬ ‫الولية الخاصة أقوى من‬ ‫الولية العامة‬ ‫إعمال الكلم أولى من إهماله‬ ‫إذا تعذرت الحقيقة يصار إلى‬ ‫المجاز‬ ‫إذا تعذر إعمال الكلم يهمل‬ ‫ذكر بعض مال يتجزأ كذكر كله‬ ‫المطلق يجري على إطلقه ما‬ 51 52 yang ada didalammnya Apa bila batal suatu yang dasar /asal maka 53 ia merubah menjadi perubahan. lebih 60 utama dari pada mengabaikannya (menyianyiakannya) Apabila maksud hakiki tidak dapat 61 ditangkap. maka pengertian majazi (metaforis) dapat dipakai Apabila perkataan itu lemah dalam pelaksanaan maka abaikan saja Hubungan terhadap bagian-bagian yang takterpisahkan dinilai seperti hubungan terhadap keseluruhan Sesuatu yang mutlaq berjalan dengan kemutlakannya selama tidak ada nash atau 62 63 64 23 . mungkin diperbolehkan dengan cara melanjutkan.

maka sifat yang tidak tampak dapat dipakai Pertanyaan itu diulangi di dalam jawaban Perkataan tidak dapat dinisbatkan kepada orang yang diam. (Artinya orang yang diam ketika berbicara itu menjadi keharusan. sedang sumpah untuk memastikan sesuatu yang asal Bukti adalah kepastian mutlak (bagi fihak 78 79 80 ketiga). maka ia dianggap membuat pernyataan (menyetujui/menolak). tetapi diam adalah sama dengan pernyataan. Tidak di jadikan hujjah sesuatu yang 73 berdasarkan kemungkinan yang berlawanan dengan dalil Tidak bia dijadikan patokan sesuatu yang bimbang/was-was Keputusan dengan bukti yang otentik seperti kepastian melihat dengan mata kepala sendiri Bukti dituntut atas orang yang 76 menggugat/menuduh.dalil yang mengikatnya Sifat yang tampak tidak memiliki nilai 65 66 kebenaran. Seseorang itu terikat oleh pengakuannya Sesuatu yang diperdebatkan tidak bisa dijadikan hujjah. sedangkan sumpah atas yang menolak/ mengingkarinya Bukti adalah untuk memastikan sesuatu 77 yang berlawanan secara lahiriyah. sedang ikrar (pengakuan) hanyalah bukti relatif bagi yang menyatakannya. Tidak dipegangi sesuatu (hukum) yang berdasarkan pada Dhon -persangkaan yang kuat.yang jelas salahnya. ketika bicara 67 diperlukan. tetapi jga tidak dapat ‫لم يقم دليل التقييد نصا أو دلله‬ ‫الوصف فى الحاضر لغو وفى‬ ‫الغائب معتبر‬ ‫السؤال معاد فى الجواب‬ ‫ل ينسب إلى ساكت قول، لكن‬ ‫السكوت فى معرض الحاجة‬ ‫بيان‬ ‫دليل الشيئ فى المور الباطنة‬ ‫يقوم مقامه‬ ‫الكتاب كالخطاب‬ ‫الشارات المعهودة للخرس‬ ‫كالبيان باللسان‬ ‫يقبل قول المترجم مطلقا‬ ‫ل عبرة للظن البين خطؤه‬ ‫ل حجة مع الحتمال الناشئ عن‬ ‫دليل‬ ‫ل عبرة للتوهم‬ ‫الثابت بالبرهان كالثابت بالعيان‬ ‫البينة على المدعي واليمين على‬ ‫من أنكر‬ ‫البينة لثبات خلف الظاهر‬ ‫واليمين لبقاء الصل‬ ‫البينة حجة متعدية والقرار‬ ‫حجة قاصرة‬ ‫المرء مؤاخذ بإقراره‬ ‫ل حجة مع التناقض ولكن ل‬ ‫يختل معه حكم الحاكم‬ 74 75 24 . Bukti atas sesuatu yang tidak jelas 68 69 70 71 72 dikembalikan pada kedudukannya Tulisan seseorang itu seperti halnya perkataan Isyarat yan dikenal karena kebisuan seperti suatu keerangan dengan lisan kata terjemahan diterima secara mutlaq.

pada saat yang sama ia harus mau berkorban).menafikan keputusan hakim Sesungguhnya ditetapkannya cabang itu 81 tidak berarti dengan meniadakan yang asal/pokok Fihak yang dibebani oleh syarat wajib 82 memenuhinya ketika syarat disebutkan. Kenikmatan itu setaraf dengan 88 pengorbanan dan pengorbanan setaraf dengan kenikmatan Perbuatan itu disandarkan pada pelakunya 89 kecuali pada suatu kasus yang belum terjabarkan Apabila terdapat dua orang terlibat suatu perkara. meskipun 92 tanpa sengaja. Perintah menasarufkan (memanfaatkan) 95 barang orang lain (tanpa ijin pemiliknya) adalah batal ‫قد ثبت الفرع مع عدم ثبوت‬ ‫الصل‬ ‫المعلق بالشرط يجب ثبوته عند‬ ‫ثبوت الشرط‬ ‫يلزم مراعة الشرط بقدر‬ ‫المكان‬ ‫المواعيد باكتساء صور التعاليق‬ ‫تكون لزمة‬ ‫الخراج بالضمان‬ ‫الجر والضمان ل يجتمعان‬ ‫الغرم بالغنم . tetap harus menanggung beban Tidak dikenai beban orang yang terlibat 93 dalam sebab suatu kejadian kecuali dengan sengaja ia hendak melakukannya Tidak ada beban yang terkait dengan 94 kecelakaan disebabkan oleh binatang atas kemauanya sendiri.) يعني إن من‬ ‫) ينال نفع شيئ يحتمل ضرره‬ ‫النعمة بقدر النقمة والنقمة بقدر‬ ‫النعمة‬ ‫يضاف الفعل الى الفاعل ل‬ ‫المر مالم يكن مجبرا‬ ‫إذا اجتمع المباشر والمتسبب‬ ‫يضاف الحكم الى المباشر‬ 87 91 ‫الجواز الشرعي ينافي الضمان‬ ‫المباشر ضامن وان لم يتعمد‬ ‫المتسبب ل يضمن ءال بالتعمد‬ ‫جناية العجماء جبار‬ ‫المر بالتصرف فى ملك الغير‬ ‫باطل‬ 25 . maka hukum dibebankan pada orang yang terlibat secara langsung saja Hal yang dibolehkan syariat tidak dapat dijadikan beban/tanggungan Orang yang berbuat sesuatu. yang seorang terlibat langsung 90 dan yang lain hanya terlibat sebab-sebab. Lazimnya pemenuhan syarat itu sesuai 83 kemampuan yang memungkinkan Janji yang diiringi persyaratan adalah lazim 84 85 86 Hak mendapat hasil itu sebagai ganti kerugian (yang ditanggung) Pendapatan/upah dengan jaminan itu tidak datang secara bersamaan Risiko itu sejalan dengan keuntungan (yakni orang yang memperoleh manfaat atas sesuatu.

Tidak boleh bagi seorang pun merubah 96 /mengganti milik orang lain tampa izin pemiliknya. maka ia dibebani atas larangan yang ada didalamnya Barang siapa berusaha menyanggah 100 perbuatannya sendiri. maka usahanya itu tertolak ‫ل يجوز لحد أن يتصرف فى‬ ‫ملك الغير بل إذنه‬ ‫ل يجوز لحد أن يأخذ مال أحد‬ ‫بل سبب شرعي‬ ‫تبدل سبب الملك قائم مقام تبدل‬ ‫الذات‬ ‫من استعجل الشيئ قبل أوانه‬ ‫عوقب بحرمانه‬ ‫من سعى فى نقض ما تم من‬ ‫جهته، فسعيه مردود عليه‬ 26 . Tidak boleh bagi seseorang mengambil 97 milik orang lain tanpa sebab syar’i Perubahan sebab kepemilikan barang 98 adalah setara dengan perubahan pada barang itu sendiri Barang siapa yang mendahulukan sesuatu 99 sebelum waktunya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful