WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito

SEPULUH MATI BERBARENGAN KETIKA Kelelawar Pemancung Roh memasuki ruang batu kembali kagetnya seperti disambar geledek. Sosok Sinto Gendeng yang sebelumnya tergeletak di atas jalur-jalur kayo besi penutup kolam tak ada lagi! "Jahanam!" Rutuk, makhluk tinggi besar itu sambil kepalkan dua tinjunya hingga mengeluarkan suara berkeretekan. "Kemana lenyapnya tua bangka keparat itu! Dalam keadaan lumpuh mana mungkin dia bisa kabur dari tempat ini. Tak ada jalur kayu yang patah. Tak ada tulang belulang dalam kolam. Berarti Ikan Dajal tidak memangsanya. Lalu kemana meratnya setan tua itu?!" Kelelawar Pemancung Roh bertepuk tiga kali. Pemuda pincang muncul. Rapatkan dua tangan di atas kepala, memberi hormat seraya bungkukkan tubuh. "Pincang! Kau tahu nenek buruk yang sebelumnya ada di sini?!" "Tahu sekali Sang Pemimpin." Jawab si pincang.

"Kau lihat sendiri. Dia tak ada lagi di tempat ini. Kakinya lumpuh. Dia tak mungkin kabur dari sini! Berarti ada yang membawanya keluar dari tempat ini! Jawab! Apa yang kau ketahui! Apa yang kau lihat?!" "Mohon maafmu Sang Pemimpin. Saya tidak mengetahui juga tidak melihat apa-apa. Sejak tadi saya berada di ruang belakang." "Kalau bukan orang luar menyelinap masuk ke tempat ini pasti ada pengkhianat di sini! Pincang! Panggil Tuyul Orok!" "Maaf Sang Pemimpin, Tuyul Orok ada dalam kamar ketiduran ibunya. Dalam keadaan cidera. Dia tak mampu berjalan, apalagi terbang. Apakah saya harus memanggilnya juga?" "Kalau begitu panggil semua kelelawar bintang satu. Suruh mereka menghadapku sekarang juga!" Si pincang keluar. Kelelawar Pemancung Roh duduk di kursi batu. Menunggu dengan penuh rasa tidak sabar. Tak lama kemudian serombongan kelelawar berwajah bayi dengan gambar sebuah bintang di kepalanya masuk ke tempat itu. Berdiri berjejer, rapatkan tangan di atas kepala dan membungkuk berikan hormat pada Sang Pemimpin. Dari atas kursi batu Kelelawar Pemancung Roh menghitung dengan cepat.

"Kalian cuma bersepuluh. Mana saudara-saudara kalian yang lain?!" Salah seorang makhluk kelelawar kepala bayi maju satu tindak, letakkan dua tangan di atas kepala baru menjawab. "Mohon maafmu Sang Pemimpin. Dua puluh saudara kami telah dibantai di Teluk oleh seorang pemuda berambut gondrong berpakaian serba putih." Kelelawar Pernancung Roh terlonjak di atas kursi hatu, bangkit berdiri. Matanya yang sipit membuka lebar. "Tidak bisa kupercaya! Kesaktian apa yang dimiliki pemuda gondrong itu?!" "Kami tidak tahu. Kami melihat dia melepaskan pukulan memancarkan cahaya putih yang panasnya sepuluh kali sinar matahari." "Omong kosong apa ini?!" Bentak Kelelawar Pemancung Roh. "Di atas kolam itu tadi menggeletak seorang nenek. Aku pergi ke Teluk. Begitu kembali si nenek sudah lenyap! Apa yang kalian ketahui? Kalian melihat apa?!" Diam. Kelelawar yang tadi bicara mewakili kawankawannya tidak membuka suara. Beberapa diantara mereka ada yang tundukkan kepala. Sang Pemimpin segera maklum ada sesuatu yang tidak beres. Sepuluh

kelelawar kepala bayi yang merupakan anak-anaknya itu menyembunyikan sesuatu. "Semua kalian dengar baik-baik. Aku tahu kalian mengetahui sesuatu. Kalian melihat sesuatu! Lekas ada yang bicara diantara kalian. Kalau tidak semua kalian bersepuluh akan menerima hukuman sangat berat!" Masih diam. Tak ada yang bergerak atau membuka mulut. "Baik. Kalian memilih mati percuma!" Sang Pemimpin turun dari kursi batu. Dua tangan perlahan-lahan diangkat ke atas. Di antara para kelelawar kepala bayi yang kepalanya ada gambar sebuah bintang terjadi saling bisik. Kelelawar yang tadi bicara akhirnya rapatkan tangan di atas kepala, membungkuk. Suaranya agak gemetar karena takut. "Mohon maaf Sang Pemimpin. Kami bersepuluh hanya menjalankan perintah." "Perintah? Perintah apa? Perintah siapa?!" "Perintah Tuyul Orok." Kelelawar Pemancung Roh kerenyitkan kening dan pandang lekat-lekat kelelawar kepala bayi yang berdiri di depannya. Pandangannya kemudian menjelajah pada sembilan kelelawar lainnya. Sambil meraba dagunya yang ditumbuhi janggut kasar

Kelelawar Pemancung Roh bergumam. "Hemmm Rupanya Tuyul Orok sudah jadi Raja Diraja di tempat ini!" Lalu makhluk bertubuh tinggi besar ini membentak. "Lekas terangkan apa yang terjadi!" "Kami kami diperintahkan membawa nenek itu ke kaki Bukit Jati." Bukit Jati adalah satu bukit kecil terletak tak berapa jauh di utara Teluk Akhirat tempat kediaman Kelelawar Pemancung Roh. Makhluk penguasa Teluk Akhirat ini bergetar tubuhnya, mendenging telinganya mendengar disebutnya Bukit Jati. "Di bagian kaki bukit sebelah mana tua bangka itu kalian tinggalkan?" "Kami memasukkannya ke dalam Goa Air Biru." "Jahanam gila! Benar-benar kurang ajar! Itu goa sumber air minumku! Kalian berani membawanya kesana!" "Mohon maafmu Sang Pemimpin. Kami hanya menjalankan perintah." "Kapan Tuyul Orok berikan perintah membawa nenek itu pada kalian?" "Sewaktu dirinya dalam cidera berat, didukung oleh ibunya menuju kamar ketiduran." Kelelawar Pemancung Roh bantingkan kaki kanannya

Hanya perintahku yang wajib kalian laksanakan! Kalian tahu kalau sudah berbuat kesalahan besar?!" "Mohon maafmu Sang Pemimpin. "Tolol! Saat ini tak ada lagi pengampunan! Kalian harus mampus semua!" Kelelawar Pemancung Roh angkat dua tangannya ke atas. "Tuyul Orok bukan apa-apa di sini. Ampuni dosa kesalahan mereka. Air di dalam kolam menyiprat ke atas. "Sang Pemimpin. saling berangkulan satu sama lain. Jangan dibunuh. Sepuluh kelelawar kepala bayi keluarkan suara ketakutan. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki berlari mendatangi. Lalu seringai tersungging ." Sesaat Kelelawar Pemancung Roh jadi terdiam pandangi delapan perempuan yang kesemuanya adalah istri-istri paksaannya." Sepuluh kelelawar berkepala bayi berucap berbarengan. Ikan Dajal yang ada dalam kolam melompat sampai beberapa kali. Mereka sama keluarkan ratap permohonan.ke lantai. Ruangan batu itu bergetar. jangan dibunuh anak-anak kami. Siap mengeluarkan racun Seribu Hawa Kematian. Dia sama dengan kalian. Sesaat kemudian delapan perempuan muda berwajah rata-rata cantik memasuki ruangan dan jatuhkan diri di depan makhluk tinggi besar.

" Perempuan yang berlutut paling depan berikan jawaban. "Baik. Kelelawar Pemancung Roh menggereng marah. kalau kau membunuh anak-anak kami. Dada amblas atau perut jebol atau kepala pecah. Tubuh mereka mencelat lalu jatuh di lantai batu dalam keadaan tak bernyawa lagi. kalau itu mau kalian! Buka mata kalian lebar-lebar! Saksikan sendiri apa yang akan terjadi. Menyusul suara tawa bergelak. "Kelihatannya semua ini seperti sudah diatur! Perempuan-perempuan goblok! Lekas tinggalkan tempat ini! Atau kalian akan ikut mampus kuhantam dengan Seribu Hawa Kematian!" "Sang Pemimpin. Tangan dan kakinya bergerak tiada henti. "Bukkk!" "Praaak!" "Duuukkk!" "Praakk!" Sepuluh kelelawar kepala bayi berpekikan." Habis berkata begitu Kelelawar Pemancung Roh melompat ke arah sepuluh kelelawar kepala bayi. kami rela ikut mati bersama mereka.dimukanya yang garang. Delapan perempuan menjerit- .

"Tinggalkan tempat ini! Atau kalian mau kubuat seperti itu?!" Delapan perempuan mudaa masih menjerit. "Tuyul Orok! Anak laknat! Kau berani melangkahi kekuasaanku! Aku juga curiga ibumu melakukan sesuatu! Dimana kalian berdua saat ini?!" . Jeritan mereka bertambah keras ketika menyaksikan bagaimana sosok sepuluh kelelawar kepala bayi yang adalah anak-anak mereka sendiri menemui kematian secara mengerikan seperti itu. Salah seorang diantaranya berteriak. Pingsan dengan mulut pecah. Dia hendak duduk di kursi batu tapi tidak jadi.jerit tiada henti. Sepuluh sosok hancur tak bernyawa itu kemudian berubah menjadi asap. Tujuh perempuan lainnya telah leleh nyali masingmasing. Dengan ketakutan mereka menggotong teman mereka yang pingsan meninggalkan tempat itu. "Setan semua! Jahanam semua!" rutuk Kelelawar Pemancung Roh. "Terkutuk kau Sang Pemimpin! Laknat akan jatuh atas dirimu! Kau membunuh anakmu sendiri!" "Plaak!" Satu tamparan kerass membuat perempuan itu melintir dan jatuh terkapar di lantai batu.

Jotosan yang dihantarnkan Kelelawar Pemancung Roh . Dimana terdapat belasan kamar. Apa yang menjadi kecurigaan makhluk penguasa Teluk Akhirat ini ternyata benar.Habis memaki dan merutuk begitu makhluk ini. dia memergoki Pendekar 212 Wiro Sableng di dalam kamar bersama Bintang Malam. *** PERKELAHIAN DI BAWAH TANAH KELELAWAR Pemancung Roh berjalan cepat menuju bangunan di bawah tanah. salah seorang dari dua belas istrinya. lorong yang membawanya ke pintu depan deretan dua belas kamar tidur selusin istrinya. melangkah cepat ke dinding kiri ruangan. Begitu sosok Pendekar 212 muncul keluar dari pintu rahasia. Kecurigaan membuat dia tidak mau menempuh. Di satu tempat dia membelok memasuki jalan rahasia. Kelelawar Pemancung Roh langsung menggebuk dengan pukulan tangan kanan. Di situ ada sebuah pintu batu menuju ke sebuah lorong yang berhubungan dengan satu bangunan di bawah tanah. Seperti diceritakan dalam buku sebelumnya (Nyawa Pinjaman).

"Perempuan celaka! Pasti kau yang memberikan obat penangkal racun Seribu Hawa Kematian pada pemuda itu! Tidak ada satu manusiapun bisa bertahan terhadap racun Seribu Hawa Kematian!" "Sang Pemimpin. Darah mengucur dari sela bibir. Lehernya seolah ada yang mencekik hingga dia sulit bernafas. "Kau berdua-duaan di dalam kamar ini bersamanya! Ada yang melihat kau bicara dengan dia di pantai! Akui . mohon kau ampuni diriku.ke dada Pendekar 212 demikian hebatnya. Selagi Wiro berusaha bangkit dan keluar dari dalam kolam Kelelawar Pemancung Roh melompat ke hadapan Bintang Malam." "Plaakk!" Satu tamparan keras di pipi kirinya membuat Bintang Malam terpekik dan terbanting jatuh di lantai. Aku tidak mengenal pemuda itu. Tidak beda dengan hantaman sebuah batu besar berbobot ratusan kati! Untuk beberapa saat lamanya murid Sinto Gendeng terkapar megap-megap di dalam kolam yang terdapat di kamar besar itu. Darah mengucur. meleleh ke dagu. Dia masuk . Dadanya seperti melesak. Sudut bibir sebelah kiri pecah. langsung menjambak rambut perempuan ini.

Bintang Malam terpekik. Tangan kanan diulurkan. Aku . aku. aku tidak melakukan apa-apa.semua perbuatan yang telah kau lakukan! Atau aku bunuh makhluk tidak berguna ini!" Sekali lompat Kelelawar Pemancung Roh telah mencekik leher Tuyul Orok yang ada di atas tempat tidur. . Bintang Malam menjerit keras. Kelelawar Pemancung Roh keluarkan suara mendengus lalu put-ar tubuhnya ke arah Bintang Malam." Mata sipit Kelelawar Pemancung Roh membuka lebar. "Kreekkk!" Daging dan tulang leher Tuyul Orok berderak hancur. Rahangnya menggembung. "Akui perbuatanmu! Kuampuni nyawa makhluk ini. "Jangan! Jangan bunuh anakku!" teriak perempuan itu. "Sekarang giliranmu!" kertak Kelelawar Pemancung Roh seraya melangkah mendekati Bintang Malam. Tangan kanannya yang mencekik leher Tuyul Orok bergerak. Seringai setan menyungging di mulutnya. Kalau tidak dia dan juga dirimu akan menerima kematian yang sama mengerikan! Akan kuhancurkan batang leher kalian!" "Sang Pemimpin.

Bayangan putih kembali berkelebat. Tangan kanan Kelelawar Pemancung Roh berkelebat. Kelelawar Pemancung Roh kembali terhuyung bahkan hampir jatuh terjungkal kalau tidak cepat mengimbangi diri." Perempuan itu hanya bisa berteriak dengan muka pucat. Bintang Malam kembali terpekik. "Bukkk!" Dua lengan beradu keras. Kelelawar Pemancung Roh putar tubuhnya sambil membabatkan lengan kiri membuat gerakan menangkis."Tidak! Jangan! Ampun . Cekikannya pada leher Bintang Malam terlepas. Dua kakinya tak mampu bergerak. Tulang bahunya serasa remuk tapi tidak diperdulikan. Di bagian lain Pendekar 212 yang barusan melancarkan serangan jatuh terduduk tli lantai. sepasang mata mendelik. "Anakku!" ratap perempuan itu lalu ulurkan tangan . Sesaat lagi lima jari tangan yang kukuh akan mencengkeram leher Bintang Malam. tiba-tiba dari samping berkelebat bayangan putih dan "buukkk!" Kelelawar Pemancung Roh melenguh pendek. Dia berusaha mendekati tempat tidur dimana mayat Tuyul Orok terkapar. Tubuhnya terhuyung-huyung.

"Tidak ada tempat lari bagimu perempuan celaka!" teriak Kelelawar Pemancung Roh. murid Sinto Gendeng yang menderita luka dalam cukup parah akibat jotosan Kelelawar Pemancung Roh tadi segera lepaskan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. maka tubuh perempuan malang itu akan hancur menjadi ratusan serpihan kecil! Melihat bahaya mengancam Bintang Malam.hendak memegang Tuyul Orok yang telah menemui ajal dengan leher hancur. mata mendelik lidah terjulur. berubah jadi asap dan akhirnya lenyap dari pandangan mata. Melangkah mendekati Bintang Malam. Lalu dia lepaskan satu pukulan tangan kosong yang membersitkan cahaya hitam menggidikkan. Kelelawar Pemancung Roh menggereng. Dalam bingungnya perempuan hamil itu masih terus menjerit. "Lari! Bintang! Lari! Tinggalkan tempat ini!" Teriak Wiro. . sosok Tuyul Orok mengepul. Namun kembali sang ibu menjerit keras. Kalau tubuh Bintang Malam sampai terkena. Sebelum dia sempat menyentuh tubuh anaknya. Ini adalah pukulan Seribu Palu Kematian. Pukulan ini memiliki daya jebol dan menghancur luar biasa dahsyat. Bintang Malam memekik sekali lagi.

"Wusss!" Serangkum angin laksana satu gelombang raksasa menderu menghantam ujung sinar hitam pukulan Kelelawar Pemancung Roh yang siap menceraiberaikan tubuh Bintang Malam. Tangan kiri memegangi tangan kanan yang serasa remuk. Tangan kanannya terkulai. Dadanya kembali mendenyut sakit. sakit dan untuk sesaat tak bisa digerakkan. Terhuyung-huyung Kelelawar Pemancung Roh melangkah mendekati Wiro yang tergeletak tak berdaya. Tempat itu diselimuti asap berwarna kelabu. tiba-tiba tubuh Wiro berputar. Dengan mengarahkan ilmu kesaktian bernama Seribu Kati Menginjak Bumi. Hanya sesaat lagi injakan kaki itu akan menghancurkan kepala murid Sinto Gendeng. Bintang Malam menjerit. Di bagian lain. Sosok tinggi besar Kelelawar Pemancung Roh terlempar ke dinding. dia hunjamkan kaki kanannya ke kepala Wiro. Kaki kanannya melesat ke atas. Perlahan-lahan tubuhnya jatuh terguling di lantai batu. Pendekar 212 Wiro Sableng jatuh berlutut. Darah makin banyak meleleh dari sela bibirnya. Satu letusan dahsyat menggelegar di ruang batu begitu dua pukulan sakti saling bertumbukan. .

Kerahkan seluruh tenaga yang ada. Kepala setengah didongakkan. sejuta kesaktian! Seumur hidup kau tak bisa membunuhku! Sekarang terima kematianmu!" Begitu berhasil menendang tulang rusuk Kelelawar Pemancung Roh. "Bukkk!" "Kraaakk!" Jeritan Kelelawar Pemancung Roh menggelegar di seantero ruangan. "Pendekar 212! Kau boleh punya seribu pukulan. Namun dua kakinya mulai terangkat ke atas! "Gila! Ilmu setan apa yang dimiliki bangsat ini!" Rutuk . kumpulkan sisa tenaga yang ada lalu melompat bangkit. Dia berusaha bertahan. Sepasang matanya yang sipit dan seperti terpejam kini mendelik besar dan merah. Murid Sinto Gendeng melengak kaget ketika ada satu hawa luar biasa dahsyat menyedot tubuhnya ke depan. Pada saat itulah di depan sana dilihatnya Kelelawar Pemancung Roh berdiri bertolak pinggang. Tapi anehnya dia kemudian tampak menyeringai. murid Sinto Gendeng. Hidungnya tiba-tiba menghirup menyedot panjang dan dalam. Dua tulang iganya patah.Kelelawar Pemancung Roh masih bisa melihat datangnya serangan kilat itu tapi tak sempat mengelak. Tubuhnya terlempar ke dinding.

Jantungnya laksana mau copot! Dalam keadaan seperti itu sosoknya terhirup.Wiro. Darah! Di saat-saat kematian mengerikan hampir tak dapat dihindari itu Wiro berteriak keras kerahkan seluruh tenaga dalam yang ada. panjang runcing mengerikan karena ujung-ujungnya yang merah berlumuran cairan merah. Makhluk tinggi besar itu terus menghirup tapi dalam menghirup dia juga mampu keluarkan tawa bergelak. Dua tangannya kemudian diangkat ke atas. ke arah Kelelawar Pemancung Roh. Hawa panas seperti mau membuat leleh seantero ruangan. sepasang matanya. Inilah ilmu yang dinamakan Seribu Hawa Penyedot Roh. Sedotan hawah aneh membuat dia tak bisa bernafas. "Sreekk!" "Sreekk!" Sepuluh jari tangan Kelelawar Pemancung Roh berubah menjadi sepuluh cakar besi. pentang tangan kanan latu memukul ke depan! Sinar putih berkibtat. Tulang-tulang kaki dan tangan. Dinding batu di belakang Wiro bergetar hebat seolah hendak terbongkar oleh kekuatan sedotan hidung Kelelawar Pemancung Roh. Air . hidung dan mulut serta perut yang tersedot ke depan seperti mau bertanggalan.

Bukan gagang kapak. Satu ke dada. lalu menghantam hancur dinding karnar di belakang sana. membakar sebagian rambutnya yang kasar awutawutan.kolam bergemericik seperti mendidih. Namun gerakan ini memakan waktu sementara sepuluh jari tangan lawan sudah berada dekat sekali. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Wiro menyentuh sebuah benda di balik pakaiannya. Tapi satu benda lembut. "Keparat jahanam!" rutuk Kelelawar Pemancung Roh. Ternyata benda itu adalah kain sutera hitam ikat kepala berbatu yang pernah diberikan Pelangi Indah padanya beberapa waktu lalu. . bukan batu hitam sakti. Tangan kirinya cepat menyelinap ke balik pinggang pakaian untuk mencabut Kapak Maut Naga Geni 212. "Pukulan Sinar Matahari!" teriak Kelelawar Pemancung Roh Makhluk ini cepat tekuk lutut dan rundukkan kepala. "Jebol jantungku! Amblas perutku!" teriak murid Sinto Gendeng dalam hati. "Wuss!" Pukulan Sinar Matahari menyapu lewat diatas kepalanya. yang lain ke perut Wiro. Gerakan dua tangannya di percepat. Benda apa? Wiro sentakkan benda itu dari pinggangnya.

Dua tangan yang tadi hendak mencakar ganas ke dada dan perut Wiro terpaksa dipergunakan untuk melindungi sepasang matanya. kau bisa melihat bayangan diriku. mudahmudahan bisa menjadi senjata yang bisa melindungi dirimu. Kelelawar Pemancung Roh bukan saja kesilauan tapi seperti ada puluhan jarum halus mencucuk matanya hingga dia keluarkan jeritan keras dan melangkah mundur." Tidak menunggu Iebih lama Wiro segera pukulkan ikat kepala yang terbuat dari kain sutera hitam di tangan kirinya ke arah Kelelawar Pemancung Roh.Wiro ingat ucapan gadis-cantik Ketua Kelompok Bumi Hitam itu. "Simpanlah baik-baik. Srigala jejadian ini meraung panjang. Serangan yang dihadapi Kelelawar Pemancung Roh dari ikat kepala kain sutera ternyata bukan hanya berupa sinar menyilaukan serta tusukan jarum. Besar kepala binatang jejadian ini dua kali ukuran kepala srigala sungguhan. Jika kain itu kau ikatkan di kepalamu. lalu dengan mulut . Didahului satu suara menggereng dahsyat dari dalam batu permata hitam tibatiba melesat keluar kepala seekor srigala putih bermata merah. Jika kain itu kau pergunakan sebagai senjata. Tujuh cahaya pelangi menderu dari batu hitam yang menempel di kain.

menganga melompat menerkam kepala Kelelawar Pemancung Roh. Wiro cepat mengejar tapi sekali berkelebat Kelelawar Pemancung Roh telah lenyap dari tempat itu. Sesaat Kelelawar Pernancung Roh jadi terkesiap. Keningnya robek ditoreh taring srigala jejadian. "Celaka! Jangan-jangan dia dibawa lari makhluk jahanam itu!" pekik Wiro. Bintang Malam tak ada lagi di tempat itu. Tiba-tiba Wiro ingat sesuatu. Raungan keras menggelegar di ruangan itu. Wiro memandang berkeliling. Kelelawar Pemancung Roh menjerit setinggi langit. . Dia juga tidak melihat sosok mayat Tuyul Orok yang sebelumnya masih ada di atas tempat tidur. Namun dilain kejap dia membentak keras. Terhuyung-huyung sosok tinggi besarnya berputar. "Astaga!" Sang pendekar terkejut besar. Dia angkat dan pandangi dengan mata melotot tangan kirinya. "Makhluk jahanam! Kembali ke asalmu!" Sambil membentak Kelelawar Pemancung Roh hantamkan kepalannya ke kepala srigala jejadian. Sosok srigala jejadian ienyap. Darah mengucur membasahi mukanya membuat tampangnya jadi tambah mengerikan.

Sesuai petunjuk yang dikatakan Bintang Malam dia membelok ke kiri lalu berjalan cepat lurus-lurus dalam terowongan bawah tanah hingga akhirnya sampai di satu ruangan yang ada kolam besarnya. Wiro meraba pinggang. selinapkan tangan mencari-cari "Sialan! Keparat jahanam itu pasti telah merampas ikat kepala sutera hitam pemberian Pelangi Indah!" Wiro memaki panjang pendek. .Kain ikat kepala berbatu hitam yang tadi ada di tangan kirinya dan dipergunakan untuk menyerang Kelelawar Pemancung Roh tak ada lagi. *** KAKEK DALAM KERANGKENG BESI SEPERTI diceritakan dalam Bab 1 sewaktu Kelelawar Pemancung Roh memasuki ruangan yang ada kolam ikan. Memaki ketololannya sendiri. Bukan saja dia tidak berhasil membunuh Kelelawar Pemancung Roh. Sinto Gendeng tak ada lagi di tempat itu. tapi benda sakti pemberian Ketua Kelompok Bumi Hitam itu malah disikat lawan! Wiro melompat keluar pintu. Dalam keadaan lumpuh tidak mungkin si nenek melarikan diri. Pasti ada yang menolongnya keluar dari tempat itu.

mengelilingi sosok Sinto Gendeng. "Makhluk-makhluk jahanam. atas perintah Tuyul Orok." desis si nenek begitu melihat berkelebatnya sepuluh kelelawar bermuka bayi. Tapi gagal. Di ubun-ubun makhluk ini tergambar sebuah bintang hitam. Kedua sewaktu dia ditinggal sendirian di tempat itu. Dia telah mencoba sampai dua kali untuk mengeluarkan ilmu Sepasang Sinar Inti Roh dari sepasang matanya. Dia berusaha memusnahkan Ikan Dajal di . Untuk kesekian kalinya secara diam-diam Sinto Gendeng kerahkan tenaga dalam ke kepala. Sinto Gendeng yang terkapar tak berdaya dan dalam keadaan tertotok di atas jalur-jalur kayu besi di perrnukaan kolam buka dua matanya yang terpejam ketika mendengar suara kepak sayap banyak sekali menderu di ruangan batu itu. Pertama ketika. berhadapan dengan Kelelawar Pemancung Roh. bersama sembilan temannya kelelawar muka bayi tadi membawa si nenek ke Goa Air Biru. "Mau apa mereka .Sesuai pengakuan salah seorang kelelawar berwajah bayi yang kepalanya digambari sebuah bintang. Mau menggerogoti tubuhku?" Sepuluh makhluk aneh itu berdiri di atas kayu penutup kolam.

Ketika akhirnya Sinto Gendeng berada di udara terbuka di tepi pantai. Tak ada satupun dari kelelawar bermuka bayi berikan jawaban. Sinto Gendeng tidak mampu memusnahkan walau telah dicoba berulang kali. dibawa ke arah utara. Masih untung dia dapat memutar bola mata hingga bisa melihat ke berbagai jurusan.dalam kolam sebelum ikan itu nanti dipergunakan untuk membantai dirinya. membuat dua matanya bergetar saja tak bisa dilakukannya. Totokan yang dilakukan agaknya bukan totokan biasa. "Makhluk celaka! Kalian mau membawa aku kemana?!" Tetap tak ada yang menjawab. nenek ini masih belum bisa menduga apakah sepuluh makhluk . "Kalian mau apa?!" hardik Sinto Gendeng. Ketika sepuluh makhluk itu menggigit dan mencengkeram pakaiannya lalu perlahan-lahan mulai mengangkat tubuhnya. Sinto Gendeng kembali membentak. Kelelawar Pemancung Roh telah menotok tubuhnya. Inilah penyebab utama dia tidak bisa mengerahkan hawa sakti ke sepasang matanya hingga Sepasang Sinar Inti Roh tidak dapat dikeluarkan. setengah terseret setengah diterbangkan. Namun jangankan mampu mengeluarkan ilmu tersebut.

Tak selang berapa lama Sinto Gendeng dapatkan dirinya diseret memasuki goa batu berwarna biru. jangan-jangan di dalam telaga itu ada makhluk celaka yang bakal membantai diriku seperti Ikan Dajal di kolam batu. Walau masih belum dapat memastikan tapi Sinto Gendeng mulai merasa-rasa bahwa sepuluh kelelawar muka bayi itu mungkin tidak bermaksud jahat terhadapnya. Lalu menerobos semak belukar. Disuruh mandi!" Si neriek mendadak terdiam.kelelawar bermuka bayi itu tengah menolong dirinya atau punya niat jahat untuk mencelakai. . Karena sepuluh kelelawar kepala bayi menggotongnya dengan kaki di sebelah depan maki Sinto Gendeng dapat memperhatikan kemana dirinya dibawa. "Sialan! Rupanya aku dibawa kesini mau diceburkan dalam telaga. Sepanjang lantai goa terdapat dua aliran air berwarna biru. Arah yang ditempuh bukan menuju pantai sebaliknya menjauhi teluk. Matanya mendelik berputar." Si nenek langsung berteriak keras. Begitu melihat telaga ini Sinto Gendeng jadi menggerendeng dalam hati. Di ujung lorong goa ada sebuah telaga. Mereka melewati sebuah pohon kelapa buntung bekas disambar petir. Udara di tempat itu terasa sejuk. "Eh.

hingga tidak menyadari kalau sepuluh kelelewar muka bayi telah meletakkan tubuhnya di lantai batu. Dua mata Sinto Gendeng terpentang lebar menyaksikan satu pemandangan luar biasa di depannya. bening tapi tajam. keadaan kepala si kakek. Mulai dari bagian atas sampai ke leher. Yang luar biasanya adalah. Bagian atas kerangkeng besi ini ada rantai besi yang dikaitkan pada sebuah gelang besi yang menyembul di langit-langit . putih menyentuh dada."Tahan! Tunggu! Turunkan aku di sini!" Sepuluh kelelawar muka bayi tidak bersuara. Dua alis putih menghias sepasang matanya yang berwarna kebiru-biruan. Kakek ini bertubuh kurus tapi mengenakan jubah biru yang sangat besar gombrong dan menjela lantai batu. Tubuhnya digotong melewati telaga lalu masuk ke dalam sebuah cegukan membentuk situ ruangan cukup besar di dinding batu. apa lagi memenuhi perintah. Ternyata si nenek tidak diceburkan ke dalam telaga. Kumis dan janggutnya jadi satu. kepalanya terkurung dalam satu kerangkeng besi berbentuk bulat. hanya dua langkah dari tubuhnya digeletakkan duduk seorang kakek berambut putih menjela bahu. Di dalam cegukan besar di dinding batu.

terima salam hormat kami untukmu. Ki Sepuh Tumbal Buwono. Dia hanya dapat menjulurkan kaki. besar dan amat tajam." Kakek berjubah biru gombrong kedipkan mata. sebagian sudah mengering. Suaranya halus perlahan tapi cukup jelas terdengar ketika dia keluarkan ucapan. Dari panjapg dan tegangnya rantai besi jelas si kakek tidak mungkin bergerak jauh. menggerakkan ke dua tangan. "Sepuluh kelelawar. Kaliankah yang bau pesing . "Gusti Allah.batu. sebagian kelihatannya masih baru. Leher dan kepala tak dapat digeser. Sepuluh kelelawar muka bayi sama letakkan tangan di atas kepala lalu berbarangan berkata. Anehnya walau berada dalam keadaan seperti itu tapi si kakek tampak tenang. Kalau hal itu dilakukan lehernya bisa putus karena bagian bawah kerangkeng besi.yang menjepit lehernya berbentuk mata gergaji. malah tersenyurn kecil sewaktu melihat sosok Sinto Gendeng diletakkan di depannya. siapakah nenek aneh yang kau antar ke hadapanku? Udara di tempat ini mendadak menebar bau tidak enak. azab hukuman apa yang tengah dijalankan manusia satu ini?!" membatin Sinto Gendeng. Pada leher si kakek kelihatan guratanguratan luka.

Tapi dia diam saja karena ingin mendengar apa jawab rombongan kelelawar kepala bayi. Akibatnya lehernya kembali tergores luka oleh bagian bawah kerangkeng besi yang mencengkeram kepalanya . kami tidak tahu siapa adanya nenek ini. Mohon maafmu. Salah seorang dari mereka rapatkan dua tangan di atas kepala." Orang tua bernama Ki Sepuh Tumbal Buwono terdiam sejenak. "Tuyul Orok." "Tuyul Orok?" "Putera Sang Pemimpin dengan seorang perempuan bernama Bintang Malam. Perintah mengatakan agar kami membawa dirinya ke sini.atau nenek ini?" Sepuluh kelelawar muka bayi tak berani menjawab. hanya saling pandang satu sama lain. seperti tengah berpikir dan mengingat-ingat. Sinto Gendeng menahan nafas. Kami hanya menjalankan perintah. Lalu tak sadar dia anggukkan kepala. dalam hati menggerutu mendengar ucapan si kakek. membungkuk lalu berkata." "Kalau begitu siapa yang memberikan perintah?" Bertanya si kakek. "Ki Sepuh Tumbal Buwono.

sama keluarkan seruan tertahan. "Ceburkan nenek bau pesing itu ke dalam telaga!" Sepuluh kelelawar muka bayi tercengang." "Mohon Ki Sepuh memberitahu agar perintah bisa kami laksanakan. "Sebelum pergi ada sesuatu yang harus kalian lakukan. Kami mohon diri. "Ki Sepuh Tumbal Buwono." ujar kelelawar kepala bayi yang barusan minta diri. "Siapa tua bangka satu ini? Siapa pula.sampai ke leher. perintah sudah kami jalankan. Sinto Gendeng sendiri berseru kaget. seharusnya kau tidak pakai mengangguk segala!" kata Sinto Gendeng dalam hati. "O ladalah. yang mengazabnya seperti ini?! Kalau dia orang baik-baik dan keadaanku tidak seperti ini pasti akan aku hancurkan kerangkeng besi di kepalanya!" Salah seorang dari sepuluh kelelawar muka bayi atur hormat letakkan dua tangan di atas kepala. kakek tolol. "Tunggu!" Kakek rambut putih berkata sambil angkat tangan kirinya. Kalau saja tidak dalam keadaan ." Sepuluh kelelawar muka bayi melangkah mundur. memandang mengancam pada sepuluh kelelawar muka bayi. muka tegang membesi mata mendelik marah.

"Sepuluh kelelawar. Jika sampai dicemari . "Bukan kami tidak mau melaksanakan perintah. Lekas kalian ceburkan nenek itu ke dalam telaga atau kalian yang aku ceburkan sebagai gantinya!" Sinto Gendeng heran melihat sepuluh kelelawar muka . Seharusnya dia merasa beruntung. *** SINTO GENDENG DICEBURKAN DALAM TELAGA KARENA tak seorangpun dari sepuluh kelelawar muka bayi bergerak lakukan perintah. Ki Sepuh Tumbal Buwono menegur. Kalian sudah dengar perintahku." Ki Sepuh Tumbal Buwono tertawa. Kini dia mendapat suguhan air kencing seorang tamu. Sekali-sekali Sang Pemimpin perlu diberi minuman istimewa. mohon maafmu.tertotok saat itu mungkin Sinto Gendeng sudah melompat dan mengamuk tak karuan. Tapi telaga adalah sumber air minum Sang Pemimpin." kelelawar muka bayi yang tadi selalu bicara mewakili teman-temannya akhirnya menjawab. "Kalian anak buah yang baik. Mengapa tidak dilaksanakan?" "Ki Sepuh.

siapa saja orang yang masuk ke dalamnya akan mengambang di permukaan telaga. "Hai! Awas kalau kalian berani . tubuh nenek ini mengambang hingga carut marutnya akhirnya . "Eh ?" Sinto Gendeng putar sepasang matanya. Tapi apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Kecuali benda mati tak bernyawa." Sinto Gendeng berteriak. sepuluh kelelawar muka bayi tidak banyak bicara lagi. Sebentar lagi tubuhnya bakal menjadi santapan ikan buas atau binatang buas lainnya yang ada dalam telaga. Namun inilah keanehannya. Begitu juga dengan tubuh Sinto Gendeng. Lalu dilempar.bayi ketakutan mendengar ancaman si kakek. Tertelentang di dalam telaga dia menunggu. Padahal jangankan menceburkan. Mereka gotong tubuh Sinto Gendeng. Tubuh si nenek diayun ke kiri dan ke kanan. Nyatanya. bergerak beringsut sedikit saja dari duduknya kakek itu tidak mungkin. Byuurr! "Kampret kurang ajar!" Maki Sinto Gendeng. Telaga di dalam Goa Air Biru itu selain cukup besar memiliki kedalaman sampai sepuluh kaki. Kecuali kalau mau lehernya putus digorok besi yang melingkari lehernya. Walau dalam keadaan tertotok. menyerupai mata gergaji tajam luar biasa.

Sepuluh kelelawar muka bayi tak ada lagi di tempat itu. Sekilas dia melirik ke tepi telaga. Di bagian dasar air telaga. Keluar sendiri tentu saja tidak bisa. Melirik ke kiri dilihatnya kakek jubah biru gombrong duduk memandang ke arahnya sambil senyumsenyum. Dan si kakek . Sinto Gendeng merasa sudah cukup lama dia berada dalam telaga. Jangan-jangan bangsa kakek-kakek ganjen!" Ucap Sinto Gendeng dalam hati. Di sebelah atas tubuhnya dalam keadaan tertotok. Karena air mengalir terus. Dua saluran ini bersatu lagi. Matanya sampai meram melek. Tubuhnya terasa sangat sejuk dan nyaman. "Tua bangka satu ini. maka dengan sendirinya semua kotoran dan bau yang melekat di pakaian dan tubuh Sinto Gendeng lamalama menjadi bersih.berhenti juga ditelan perasaan heran dan aneh. Di sebelah atas air telaga mengalir keluar melalui dua buah saluran. Dari tadi aku lihat dia senyumsenyum terus. Dua kakinya dalam keadaan lumpuh. ada satu lobang kecil yang menjadi tempat masuknya aliran air baru. di satu tempat dan seterusnya air mengalir menuju bangunan dibawah tanah tempat kediaman Kelelawar Pemancung Roh.

Tentu saja kakek ini tak bisa melakukan hal itu karena lehernya terjerat kerangkeng besi. "Orang tua berjubah biru! Pertama kali kau telah menghinaku. Kau ingin naik sekarang?" "Kalau kau sudah tahu apa perlu aku memerintahkan?" tukas Sinto Gendeng. Bagaimanapun dia mengulurkan tangan. Si nenek kemudian gigit bibirnya sendiri. Tapi ditunggu sampai sekian lama tak ada tanda-tanda dia bakal bisa dikeluarkan dari dalam telaga. kakiku sebelah bawah dalam keadaan lumpuh. Dia sadar kalau kakek itu tak mungkin beranjak untuk mengeluarkannya dari dalam telaga. Nenek ini melirik ke arah si kakek. dengan menceburkan diriku ke dalam telaga. sepertinya tidak ada niat untuk mengeluarkannya dari dalam telaga. Apakah ada seseorang di sekitar sini yang bisa kau panggil untuk tolong . rupanya kau sudah merasa bosan berendam dalam air sejuk.berambut putih jubah biru yang duduk di dalam cegukan batu hanya senyum-senyum saja. Kedua kali apakah kau mau membiarkan aku jadi busuk di dalam telaga ini? "Ah. tangannya tak bakal menjangkau tubuh si nenek yang ada dalam telaga. Dua tanganku kaku kena totok. "Hai dengar. Sinto Gendeng berusaha menyabarkan diri.

Aku harus menolongnya." . "Disini hanya kita berdua. Nanti bakal datang seseorang.mengeluarkan aku dari dalam telaga?" Ki Sepuh Tumbal Buwono tersenyum." "Siapa? Mana orangnya?!" Sinto Gendeng tidak sabaran. "Salah seorang istri Kelelawar Pemancung Roh. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan karena terlalu lama di dalam air. Tak ada orang lain. "Sabar saja. "Sekarang orang itu sedang kebingungan. Aku bisa minta bantuannya mengeluarkan kau dari dalam telaga." "Mengapa berlaku totol menolong istri makhluk jahanam itu?!" "Perempuan itu." Menerangkan Ki Sepuh Tumbal Buwono." "Siapa orang yang kau maksudkan itu?" Sinto Gendeng bertanya. Membimbingnya dari jauh agar dia bisa cepat sampai di tempat ini dalam keadaan selamat. seperti juga sebelas perempuan lainnya adalah korban-korban tak berdaya yang perlu ditolong. kau tak usah kawatir. "O ladalah! Mati celaka aku di tempat ini!" "Nek. Sebentar lagi pasti muncul " jawab Ki Sepuh.

aku yang sudah kedinginan setengah mati kau biarkan. burung dalam celana dilepaskan."Hemmm begitu? Orang yang jauh kau tolong. Ki Sepuh. tapi bagaimanapun juga dia adalah anak darah daging yang dilahirkannya. Hari itu derita mencapai puncaknya dengan kematian anaknya." Sinto Gendeng tertawa cekikikan." Ki Sepuh Tumbal Buwono tersenyum. *** BINTANG Malam lari sambil tiada hentinya menangis. Berbagai cara telah dilaku kannya untuk dapat membebaskan diri. Dalam keadaan seperti itu masih bisa tertawa. Namun selalu sia-sia. Mengharap burung di udara. Hanya bunuh diri saja yang belum pernah dipikirkannya. "Nek. Hari itu dia menyaksikan kematian anak yang malang itu. Benar-benar nenek gendeng. kau pernah mendengar ujar-ujar seperti itu. Sengsara derita hidupnya selama sepuluh tahun menjadi istri paksaan Kelelawar Pemancung Roh tidak terperikan. Walau Tuyul Orok berujud bukan seperti manusia. kurasa kau keliru mengucapkan ujar-ujar tadi. Ujar-ujar yang aku dengar tidak begitu bunyinya. Dibunuh oleh ayahnya sendiri! .

Wiro Sableng. dua puluh di tangan Pendekar 212. Mereka telah mendapat perintah dari Kelelawar Pemancung Roh untuk mengawasi siapa saja yang berada di pantai. Sekali ini Bintang Malam merasa heran. Kalau dulu makhluk ini memandang dengan mata menyorot merah dan keluarkan suara . Belasan ekor diantaranya bergelantungan di cabang pepohonan.Dalam larinya semula Bintang Malam yang tengah hamil itu tidak tahu mau menuju kemana. Dia tahu tiga puluh kelelawar kepala bayi termasuk anaknya telah menemui ajal. Dia berlari sepanjang lorong yang akan membawanya ke tepi pantai. Biasanya begitu dia sampai di pantai puluhan bahkan ratusan kelelawar dan pluhan kelelawar kepala bayi akan terbang berputar-putar mengelilinginya. Saat itu kelelawar-kelelawar yang masih hidup itu hanya terbang kian kemari di atas pantai. Lalu masih ada puluhan kelelawar anak buah Kelelawar Pemancung Roh yang juga telah menemui kematian. Kalau sampai ada yang punya niat melarikan diri maka makhluk-makhluk itu sudah diberi wewenang untuk membunuh. Tak ada yang mendekati atau mengusik Bintang Malam. Sepuluh di tangan Kelelawar Pemancung Roh. Namun masih ada sisa-sisa yang masih hidup sekitar seratusan.

kini semua memperhatikan dengan pandangan sayu. dibunuh oleh ayahnya sendiri! Begitu ingat kata-kata anaknya itu. Masuk ke dalam Goa Air Biru di kaki Bukit Jati. tanpa pikir panjang Bintang Malam segera lari ke arah utara. berusaha sampai ke tempat kediamannya di bawah tanah. dilarikan dari pantai dibawa ke dalam kamar di dalam bangunan di bawah tanah. menggendong Tuyul Orok. Bintang Malam saat itu tidak memperhatikan apa yang diucapkan anaknya." Ucapan Tuyul Orok terputus karena dadanya yang kena dipukul oleh Wiro terasa sesak dan jalan nafasnya tersendatsendat. Mendadak dia ingat akan ucapan anaknya ketika Tuyul Orok digendongnya. Namun . Dia lari sekencang yang bisa dilakukan. "Ibu. selamatkan dirimu. Bintang Malam tidak sempat memikirkan mengapa binatang-binatang itu kini berada dalam keadaan seperti itu. kalau terjadi apa-apa larilah. Bintang Malam tahu dimana letak Bukit Jati dan juga pernah mendengar tentang Goa Air Biru.beringas. menuju Bukit Jati. Siapa menduga kalau sang anak akhirnya justru menemui ajal di kamarnya. Disitu ada seseorang yang bisa menolong Ibu . Dia tengah memikirkan hendak menuju kemana saat itu.

apa lagi dibawa berlari. Perempuan ini jatuhkan diri di tanah. Kukuhkan langkahmu. Kau akan menemui satu pohon kelapa yang hanya. berdirilah. Tiga langkah di belakang pohon itu ada semak belukar." . Sepuluh tahun . Masuk ke dalam goa. "Gusti Allah ." Ucapan Bintang Malam terputus ketika tiba-tiba di telinganya mengiang satu suara. Dua kakinya tak kuasa lagi dilangkahkan. kapan berakhirnya derita ini. "Perempuan malang. Ketika sang surya condong ke barat. Di ujung goa ada sebuah telaga. Berjalan lurus-lurus sampai kau menemukan mulut sebuah goa berbatu biru. Berjalan seratus langkah ke arah kanan kaki bukit. Masuk ke dalam semak belukar. Kuatkan kakimu. Kau akan menemukan diriku di seberang telaga air biru. ikuti jalan berbatu biru yang diapit dua jalur aliran air biru. Tolong. "Kalau Kau ambil nyawaku saat ini juga aku ikhlas Ya Tuhan. tinggal separuh karena disambar petir. megap-megap kehabisan nafas Bintang Malam sampai di kaki Bukit Jati." Bintang Malam menyebut nama Tuhan.dia tidak tahu dimana beradanya goa yang konon airnya merupakan satu-satunya sumber air minum Kelelawar Pemancung Roh.

kawatir orang itu benar-benar Kelelawar Pemancung Roh." Semakin bingung perempuan ini. Lalu menjebakku masuk ke dalam goa kemudian menghabisiku di tempat itu!" Bintang Malam bingung. "Ada orang mengirimkan suara dari jauh. Lekas berjalan kesini ." Setelah memohon dan berdoa seperti itu. Perempuan ini memandang berkeliling." "Ya Tuhan. "Bintang Malam. cepat. buang semua keraguan dihatimu. hatinya merasa ragu.Bintang Malam bangkit berdiri sambil mengusap telinganya. Janganjangan itu suara Kelelawar Pemancung Roh. kalau ini memang pertolongan dariMu. Orang itu menyuruhku masuk ke Goa Air Biru." Suara mengiang kembali memasuki telinga. Kalau aku menjawab dengan ilmu mengirimkan suara. Dia pasti tengah berusaha mencariku. Keselamatanmu lebih terancam jika berada di luar sana. Setahuku hanya aku dan Kelelawar Pemancung Roh memiliki ilmu mengirimkan suara seperti itu. Bintang Malam . Siapa?" Kembali Bintang Malam bertanya-tanya dalam hati. selamatkan diriku sampai ke dalam goa. "Anakku mengatakan ada orang di dalam goa yang akan menolongku. "Bintang Malam.

kulit sepucat mayat. menahan kejut menahan takut. Setelah ragu lagi sejenak akhirnya Bintang Malam menerobos masuk memasuki semak belukar itu. Di seberang telaga dia melihat sosok seorang kakek berjubah biru gombrong. Perempuan ini letakkan dua tangan di atas dada. Beberapa puluh langkah memasuki goa benar saja. Bintang Malam masuk. Berjalan beberapa belas langkah dia menemui mulut goa berbatu biru. Bintang Malam melangkah sepanjang jalan batu ini. Kepala berada dalam kerangkeng besi.seolah mendapat kekuatan baru. duduk di dalam satu cegukan besar di dinding batu. diapit dua aliran air berwarna biru. langkahkan kaki menyusuri kaki Bukit Jati ke arah kanan. Bintang Malam membuka mulut hendak bertanya. namun mulutnya langsung terkancing ketika melihat bagaimana keadaan si kakek. Lalu mulutnya keluarkan seruan tercekat sewaktu melihat . Di dalam goa ada satu jalan kecil dari batu biru. Di satu tempat dia menemui pohon kelapa yang disambar petir. Bintang Malam menemui sebuah telaga cukup besar. mata cekung berwarna biru. di dekat pohon kelapa ini memang ada serumpunan semak belukar lebat. Airnya bening berwarna biru. Seperti petunjuk suara tadi.

Dia telah dibunuh oleh . anakmu sering ke sini. kau kaukah yang tadi mengirimkan suara pada saya?" Bintang Malam beranikan diri bertanya. dilambaikan ke perempuan itu. Dia pernah bercerita tentang dirimu padaku . "Ki Sepuh! Apakah perempuan bunting ini orangnya yang bakal menolong diriku keluar dari dalam telaga?" Sinto Gendeng berseru. *** KALAJENGKING PUTIH DI DALAM telaga Sinto Gendeng memandang tak berkesip pada perempuan yang baru masuk ke dalam goa dan berdiri di tepi telaga dengan wajah takut. "Benar. "Bintang Malam." "Anak itu bernasib malang. Kau berada di tempat yang aman." "Maksud Kakek." "Orang tua. kau tak usah takut. Tuyul Orok?" "Ya.dan baru menyadari bahwa di dalam telaga di depannya mengambang sesosok tubuh. Kemari mendekat . Ki Sepuh perhatikan perut Bintang Malam yang buncit lalu angkat tangan kanannya.

"Kakek edan! Kau kira aku ini binatang buas! Enak saja bilang aku cukup jinak. "Durjana. "Bintang Matam. bawa ke sini. Dia memberi isyarat pada Bintang Malam untuk segera mengeluarkan Sinto Gendeng dari dalam telaga." Kata-kata itu diucapkan dengan tersenyum. tidak menggigit!" Ki Sepuh tertawa. belum mau beranjak melakukan apa yang dikatakan Ki Sepuh. Agak takut-takut perempuan yang tengah hamil muda itu melangkah mendekati telaga." Sinto Gendeng mengerenyit mendengar kata-kata Ki Sepuh itu. Dia cukup jinak dan tidak akan menggigit. Bintang Malam perhatikan wajah dan sosok Sinto Gendeng. "Kau tak usah takut." Sepasang mata Ki Sepuh Tumbal Buwono terpejam. Tapi sebelum kau kutolong harap kau menolong dulu nenek itu. ayahnya sendiri." Perlahan-lahan si kakek buka matanya. betul-betul durjana. Aku akan berusaha menolongmu. masukkan ke dalam jubahku sebelah belakang. Walau demikian Sinto Gendeng tetap saja memaki panjang pendek. Bibirnya bergetar.Kelelawar Pemancung Roh. Keluarkan dia dari dalam telaga. Pegang saja kakinya. tarik ke sini. . Matanya yang cekung berputar melirik. aku Ki Sepuh Tumbal Buwono.

Bintang Malam angkat ke atas jubah gombrong Ki Sepuh lalu masukkan sosok Sinto Gendeng ke dalam jubah." ujar Ki Sepuh. "Sudah. tidak sangka. Beratnya tubuhmu Nek. Bagaimana caranya terserah kamu!" Walau tubuh kurus si nenek tidak berat namun cukup susah bagi Bintang Malam menariknya. Dosanya yang berat. membawanya ke belakang Ki Sepuh. maunya aku ingin menggendongmu. Aku terpaksa. Cepat keluarkan aku dari dalam telaga.Lalu dia pegang dua kaki Sinto Gendeng. "Nek. jangan banyak bicara. "Aduh. "Hai! Kalian berdua pasti sudah edan! Apa-apaan ini! Mengapa aku dimasukkan ke dalam jubah bau apak ini!! Kakek kurang ajar! Kau pasti punya maksud tidak senonoh!" Dari dalam jubah gombrong Sinto Gendeng berteriak. Lagi-lagi sambil tersenyum dan lagilagi membuat Sinto Gendeng mengomel. "Daging dan tulangnya tidak seberapa. menarik kakimu. . Lagi pula aku dalam keadaan hamil. Sesuai yang diperintahkan." Sinto Gendeng merengut. Tapi aku tidak kuat. begitu sampai di belakang si kakek." kata Bintang Malam.

Dan ada satu syarat! Asal kau tidak kentut saja! Kalau sampai kau kentut amblas hidungku! Aku janji tidak akan kentut. Siapa kau adanya?" "Aku tak akan memberitahu sebelum tahu banyak tentang dirimu!" Jawab Sinto Gendeng. Asai kau juga berjanji. Aku tidak bermaksud jahat. Agar kau selamat. Kau dalam keadaan tidak berdaya. Tapi aku tidak mau lama-lama disini. "Baik! Aku tak tahu apa arti dan maksud semua ini. Tanyakan apa yang kau mau tanya. Jadi tak perlu ditanyakan lagi. Aku tak punya kekuatan apaapa. Kau sudah tahu namaku." Berkata Ki Sepuh. "Asal kau tidak kencing!" jawab si kakek. "Begitu? Baik. Tapi sesaat kemudian terdengar ucapannya dari balik jubah. Yang aku lakukan adalah menolongmu sebisaku. Bukankah lebih penting cari selamat dari pada mengomel dan memaki?! Sinto Gendeng terdiam mendengar ucapan Ki Sepuh Tumbal Buwono itu. "Kau kakek-kakek lucu!" "Kau juga nenek-nenek lucu."Itu tempat paling aman bagimu." "Janji apa?" tanya Sinto Gendeng. . Sinto Gendeng terdiam lalu tertawa cekikikan. Sinto Gendeng memaki.

"Nenek jahil! Apa yang kau lakukan?!" "Sekali lagi mulutmu bicara usil. Bukan begitu? Aduh !" Ki Sepuh terpekik. Dalam keadaan di kerangkeng kepala sebelah atas! Aku tidak .Mungkin kau mau menanyakan apa aku punya istri?" "Manusia edan! Siapa yang mau menanyakan hal itu padamu! Buat apa!" Ki Sepuh Tumbal Buwono tertawa mengekeh. akan kugigit lagi punggungmu!" Bintang Malam walau dalam bingung mau tak mau jadi tertawa melihat kelakuan dan mendengar bicara sepasang kakek nenek itu. Aku tidak akan usil lagi. Ingin tahu apa aku masih sendirian atau bagaimana." "Kawasan Teluk Akhirat adalah sarangnya Kelelawar Pemancung Roh. Kau berada di tempat ini. "Siapa tahu kau naksir padaku. "Ba baik. "Kalau seorang nenek mulai memuji seorang kakek." "Amit-amit jabang monyet! Siapa suka padamu. Sekarang ayo tanyakan apa yang hendak kau ketahui. Aku tidak! Walau aku tahu hatimu mungkin baik!" "Nah tepat dugaanku!" "Dugaan apa?" tanya Sinto Gendeng. berarti si nenek ada hati pada si kakek.

Tapi dia tidak tahu siapa adanya dan Tuyul Orok tidak pernah bicara padanya. Jika kakek ini memang benar guru Kelelawar Pemancung Roh musuh besarnya itu.tahu apa kepalamu sebelah bawah juga dikerangkeng . "Ketahuilah. bukankah berarti saat itu sama saja dia berada dalam sarang harimau? Bintang Malam sendiri memang pernah mendengar kabar tentang seorang penghuni aneh di Goa Air Biru. Suaranya perlahan saja tapi membuat kejut bukan alang kepalang pada Sinto Gendeng dan Bintang Malam. Dia meracuni diriku dengan Seribu ." "Nah Nek! Ternyata mulutmu yang bicara usil! Tapi aku tidak akan menggigit punggungmu atau pinggulmu. Dengan suara bergetar Sinto Gendeng berkata." jawab Ki Sepuh. muridmu itulah yang telah membuat aku lumpuh begini rupa. saat itu rasanya hampir terpancar air kencing si nenek. Ha ha ha!" "Tua bangka ganjen! Katakan apa hubunganmu dengan Kelelawar Pemancung Roh!" "Dia muridku. kenapa kau diam? Apa pertanyaanmu cuma satu tadi itu saja?" Ki Sepuh menegur. "Nek. Kalau tidak dapat menahan.

jadi Kelelawar Pemancung Roh yang membungkus kepalamu dengan kerangkeng besi ini?" "Sejak lima tahun yang lalu." "Tidak heran. Tapi tetap saja dia minta yang empat lainnya. Bintang Malam terbelalak. Yakni Ilmu Seribu Hawa Kematian. Aku menyesal seumur-umur telah memberikan ilmu itu padanya. Kek?" tanya Bintang Malam. Mengapa?" Ikut menyambung Sinto Gendeng. "Ya. "Kek. apa yang tidak heran?!" tanya Sinto Gendeng.Hawa Kematian. "Dia memaksaku memberikan beberapa ilmu terlarang. Ketika dia memaksa sambil mengancam akhirnya aku berikan satu dari lima ilmu yang dimintanya. Ketika aku menolak. Apa lagi orang lain. ." "Mengapa dia melakukan kekejaman begini keji terhadapmu. ya. "Aku saja diperlakukannya seperti ini. "Eh." Sahut si kakek. Tapi penyesalan tak ada gunanya." Sinto Gendeng keluarkan suara tercekat. kepalaku dijebloskannya ke dalam kerangkeng besi ini. Aku menolak. Aku benar-benar dibuatnya sengsara . Lebih baik dia membunuhku dari melihat dia mencelakai sekian banyak orang.

"Selama lima tahun dikerangkeng begini. Aku juga tak pernah buang air besar.Semua sudah terjadi. Kelelawar peliharaan murid terkutuk itu setiap hari dua kali datang ke sini untuk menolong memberi aku minum. Air yang ada dalam tubuhku keluar sebagai keringat. Kelelawar Pemancung Roh meracunimu." ujar Sinto Gendeng. bagaimana kau minum Kek?" tanya Bintang Malam. membuat kau lumpuh tentu ada sebabnya. Silang sengketa apa yang ada diantara kalian?" "Empat puluh tahun lalu aku bersama orang-orang Kerajaan menumpas kaum pemberontak di kawasan selatan ini. bagaimana kau makan. "Ya. "Nek. "Aku tak pernah diberi makan. "Luar biasa. Murid murtad!" Rutuk Sinto Gendeng. bagaimana kau berak?" Sinto Gendeng menyambung pertanyaan Bintang Malam." "Aneh " ucap Bintang Malam." "Murid terkutuk. Aku tak pernah kencing. Kalau aku kencing dan buang air besar pasti tempat ini sudah kotor dan busuk. Air dari telaga itu. bagaimana kau kencing. Delapan pentolan pemberontak yang ada .

Dia muncul membalaskan dendam kesumat. apapun yang dibuat muridmu. menggeser kaki. "Terima kasih untuk ucapanmu itu. Keadaan dirinya seperti sekarang satu bukti kau tidak bisa mendidiknya!" Ki Sepuh menarik nafas dalam. mengangkat dua tanganku. Aku telah menerima hukuman atas kebodohanku sendiri. kau harus ikut bertanggung jawab.sangkut paut darah dengan Kelelawar Pemancung Roh aku habisi. makan minum." "Kek. apapun yang jadi pangkal sebabnya. hawa sakti dan sebagian tenaga luarku. Kakek rambut putih. Dengan ilmu itu dia telah menyedot seluruh tenaga dalam. Salah satu diantaranya adalah ilmu Iblis Menyedot Segala Daya. Bahkan sejak lima tahun dirangket seperti ini aku jarang sekali bisa tidur " "Muridmu yang jahanam itu pasti juga telah menotok . Salah seorang diantaranya adalah ayah kandungnya. "Kelelawar Pemancung Roh memiliki ilmu yang membuat lawan tak berdaya secara aneh. Aku tahu nama ilmu itu tapi tidak tahu dari mana dia mendapatkan. dengan kesaktianmu apa kau tidak bisa membebaskan diri?" tanya Bintang Malam. Aku hanya mempunyai kekuatan untuk bicara. Lain dari itu aku tak bisa berbuat apa-apa.

" Ki Sepuh berikan keterangan tambahan. "Kalajengking Putih? Edan! Baru sekali ini aku mendengar ada Kalajengking berwarna putih. Mungkin kau tahu caranya agar aku bisa bebas?" "Nek.jalan darahku hingga. "Mungkin tidak. Namun aku juga mendengar kabar ada beberapa senjata tertentu yang mampu memusnahkan totokan itu. Karena kalau tusuk kondemu itu cukup sakti. pada waktu dirimu ditotok pasti sudah menolak totokan. Kabarnya jarang ada orang sakti yang mampu membebaskan totokan itu. Dimana bisa ditemukan? Ki Sepuh." "Mungkin tusuk konde yang ada di kepalaku!" Kata Sinto Gendeng. Berulang kali aku mengerahkan tenaga dalam untuk membebaskan diri tapi selalu tak berhasil. "Selain Kelelawar Pemancung Roh. kau tahu obat atau apa saja yang bisa menyembuhkan kelumpuhanku akibat racun . aku tidak bisa menggerakkan dua tangan. dia pasti telah menotokmu dengan ilmu totokan yang disebut Totokan Tiga Lapis Jalan Darah." "Sialan!" Maki Sinto Gendeng dalam hati begitu mendengar ucapan Ki Sepuh. hanya sengatan Kalajengking Putih yang bisa membebaskan dirimu dari totokan itu.

" Sepasang mata Sinto Gendeng berputar. "Malam gelap tanpa bulan sama saja dengan gelapnya waktu terjadi gerhana matahari. waktu bulan gelap . Dimana murid murtad itu menyimpannya aku tidak tahu. "Bukan." "Jadi bukan waktu matahari gerhana?" potong Sinto Gendeng." "Obat apa? Bagaimana bentuknya? Dimana disimpannya?" "Obatnya semacam cairan yang dibuat dari minyak bunga matahari langka. Kau tahu dimana dia menyimpannya?" Minyak itu disimpan dalam telur penyu yang sudah kering. Mungkin sekali selalu dibawanya kemanamana "Ada yang mengatakan bunga matahari itu tumbuh di . "Mengenai cairan bunga matahari yang ada pada murid-mu itu. Dia mencurinya dari aku. Yang tumbuh menghadap matahari terbit dan mekar pada tengah malam buta." jawab Ki Sepuh lalu meneruskan keterangannya. Dia menanamkan ucapan si kakek dalam benaknya.Seribu Hawa Kematian?" "Kelelawar Pemancung Roh satu-satunya orang yang memiliki obat itu di muka bumi ini.

puncak Pegunungan Dieng . "Jangan bicara! Bintang. Jangan ada yang bicara. "Tapi beberapa waktu lalu waktu musim kemarau yang sangat panjang. lekas kau masuk ke dalam jubahku di samping si nenek. Jangan ada yang bergerak." "O ladalah. "Aku mendengar suara orang mendatangi tempat ini." Si kakek memotong ucapan Sinto Gendeng. jangan keiuarkan suara. masuk cepat! Mendekam di samping si nenek. Bunga matahari yang tumbuh disana mungkin ikut musnah semuanya bersama pepohonan lain. pernah terjadi kebakaran besar di Pegunungan Dieng. Bintang Malam. "Ki Sepuh ." membenarkan Ki Sepuh. sialnya nasibku! Naga-naganya aku tak bisa sembuh dari kelumpuhan celaka ini!" keluh Sinto Gendeng dalam hati." "Kek ." "Diam. Usahakan menahan nafas!" Mendengar ucapan Ki Sepuh Tumbal Buwono tanpa banyak membantah lagi Bintang Malam segera ." "Betul." "Aku sudah tahu siapa yang datang ." Ucap Sinto Gendeng.

menyelinap masuk ke bagian belakang jubah gombrong si kakek. TAMAT SEGERA TERBIT : DOSA YANG TERSEMBUNYI .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful