P. 1
DiktatSampah-2010

DiktatSampah-2010

|Views: 756|Likes:
Published by Abdul Kahar

More info:

Published by: Abdul Kahar on Jun 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

DIKTAT KULIAH TL-3104

PENGELOLAAN SAMPAH

Disiapkan oleh Prof. Enri Damanhuri Dr. Tri Padmi

Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Edisi Semester I - 2010/2011

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

Kata Pengantar
Diktat ini pertama kali disusun sebagai bahan kuliah bagi Mahasiswa Program Sarjana, Program Studi Teknik Lingkungan ITB yang mengambil mata kuliah Pengelolaan Sampah pada Semester Ganjil Kurikulum ITB 2003. Edisi pertama diktat ini dikeluarkan pada Semester I - 2004/2005. Sedangkan diktat ini merupakan edisi ke-empat yang merupakan revisi (perbaikan) dari edisi pertama dan diterbitkan pada Semester I - 2010/2011. Bahan kuliah ini merupakan ringkasan dari Buku Ajar yang sedang dalam persiapan dengan judul yang sama, yang merupakan materi wajib bagi mahasiswa peserta Program Sarjana Teknik Lingkungan. Bahan yang terdapat dalam diktat ini merupakan kumpulan pengalaman dan informasi dalam pengelolaan sampah di Indonesia, dilengkapi dengan bahan-bahan yang berasal dari literatur-literatur terkait, serta dari makalah-makalah Penyusun dalam masalah Persampahan di Indonesia. Daftar referensi yang digunakan disusun berdasarkan urutan nomor pengutipannya. Dalam beberapa hal diupayakan agar materi kuliah ini mengacu pada kondisi nyata yang ada di Indonesia, dan mahasiswa dapat membandingkan dengan kondisi yang ada di negara maju melalui referensi yang umumnya berbahasa Inggris. Bahan yang terdapat dalam diktat ini mungkin dapat pula digunakan oleh praktisi dalam pengelolaan persampahan di Indonesia. Penyusun mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang tulus kepada berbagai pihak yang memungkinkan terbitnya diktat ini, khususnya kepada Saudara Ir. I Made Wahyu Widyarsana, MT. yang telah berkontribusi dalam penyiapan diktat ini. Semoga diktat ini bermanfaat bagi yang menggunakan.

Bandung, 30 Agustus 2010 Penyusun Enri Damanhuri dan Tri Padmi

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

2

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

DAFTAR ISI
halaman

KATA PENGANTAR 2 DAFTAR ISI 3 BAGIAN 1 PENDAHULUAN 5
1.1 1.2 1.3 1.4 Terminologi Umum 5 Terbentuknya Limbah Secara Umum 6 Penggolongan Jenis Sampah 7 Permasalahan Persampahan di Indonesia 8

BAGIAN 2

SUMBER, KARAKTERISTIK, DAN TIMBULAN SAMPAH 13
2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 Sumber dan Timbulan Sampah 13 Komposisi Sampah 15 Karakteristik Sampah 17 Metode Pengukuran 18 Sampah Berbahaya dari Rumah Tangga 20

BAGIAN 3

PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI PENGURANGAN 22
3.1 3.2 3.3 3.4 Konsep Minimasi Limbah 22 Konsep Pengurangan 23 Pembatasan Timbulan sampah 25 Guna-Ulang dan Daur-ulang Sampah 28

BAGIAN 4

DAUR ULANG SAMPAH 31
4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 Alasan Daur-Ulang 31 Daur-Ulang Limbah Secara Umum 31 Potensi Daur Ulang Sampah 32 Daur Ulang Sampah di Indonesia 34 Peran Sektor Informal 37

BAGIAN 5

PENANGANAN SAMPAH 41
5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 5.7 Pendahuluan 41 Stakeholders Pengelola Sampah Kota 41 Tingkat Pengelolaan 41 Daerah Pelayanan 42 Teknik Operasional Pengelolaan Sampah 45 Pengelolaan Sampah Terpadu 46 Pengelolaan Sampah Regional 49

BAGIAN 6

PEWADAHAN, PENGUMPULAN DAN TRANSFER 51
6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 Pewadahan Sampah 51 Pengumpulan Sampah 52 Beberapa Kriteria yang Berlaku di Indonesia 56 Pemindahan Sampah 57 Pengumpulan Sampah di Negara Maju 58

BAGIAN VII PENGANGKUTAN SAMPAH 59
7.1 7.2 7.3 7.4 8.1 8.2 Pengangkutan Sampah secara Umum 59 Metode Pengangkutan Sampah 61 Operasional Pengangkutan Sampah 63 Pola Pengangkutan Sampah 63 Pengolahan Sampah Secara Umum 66 Pengomposan (Composting) 66

BAGIAN VIII PENGOLAHAN SAMPAH 66

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

3

1 9.3 8.8 Insinerator 67 Instalasi Waste-to-energy di Negara Industri 72 Pirolisis dan Gasifikasi 72 Proses Termal dengan Gasifikasi Plasma 79 Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Secara Umum 80 Perkembangan Landfilling 80 Jenis Landfil 82 Aplikasi landfill 87 Langkah Kerekayasaan dalam Aplikasi Pengurugan 88 Penyiapan Sarana dan Prasarana 90 Pengoperasian landfill di TPA 92 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Kota di Indonesia 93 BAGIAN IX PENGURUGAN (LANDFILLING) SAMPAH 80 DAFTAR REFERENSI 95 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 4 .5 8.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 8.6 9.4 8.6 9.7 9.5 9.3 9.2 9.4 9.

Penanganan tersebut mencakup cara memindahkan dari sumbernya. kakus (tinja dan air seni). namun bahan tersebut kadang–kadang masih dapat dimanfaatkan kembali dan dijadikan bahan baku .1 Terminologi Umum Limbah [1]: Semua buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan hewan yang berbentuk padat. Pengelolaan limbah: Penanganan limbah secara keseluruhan agar limbah tersebut tidak mengganggu kesehatan. Walaupun dianggap sudah tidak berguna dan tidak dikehendaki. penggolongan sampah serta permasalahan sampah dan kondisi pengelolaanya di Indonesia secara umum 1. lumpur (sludge). Pengelolaan sampah (UU-18/2008): Adalah kegiatan yang sistematis. bagaimana membiayai dan bagaimana melibatkan masyarakat penghasil limbah agar ikut berpartisipasi secara aktif atau pasif dalam aktivitas penanganan tersebut. Catatan: pengertian pengelolaan bukan hanya menyangkut aspek teknis. menyiram. menyeluruh. mengolah. dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Berdasarkan fasanya/bentuknya: Limbah padat Limbah berlumpur (sludge) Limbah cair Limbah padat. estetika. seperti bagaimana mengorganisir. tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Limbah domestik: Limbah yang dihasilkan dari kegiatan rutin (sehari-hari) manusia. tetapi mencakup juga aspek non teknis. cair maupun gas yang dibuang karena tidak dibutuhkan atau tidak diinginkan lagi. seperti : Limbah kegiatan kota (masyarakat) Limbah industri Limbah pertambangan Limbah pertanian. Sampah (UU-18/2008): Definisi sampah menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah [68] adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. umumnya dalam bentuk: Cair: dari kegiatan mencuci pakaian dan makanan. Sampah yang diatur dalam UU-18/2008 • Sampah rumah tangga • Sampah sejenis sampah rumah tangga • Sampah spesifik Sampah rumah tangga (UU-18/2008): Sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga. mandi. Penghasil sampah (UU-18/2008): Setiap orang atau kelompok orang atau badan hukum yang menghasilkan timbulan sampah.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 1 PENDAHULUAN Bagian ini menjelaskan terminologi yang terkait dengan limbah. Pembagian limbah: antara lain dibagi berdasarkan sumbernya. dan kegiatan lain yang menggunakan air di rumah Padat: dikenal sebagai sampah (domestik). Sampah sejenis sampah rumah tangga (UU-18/2008): Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 5 . dan lingkungan. dan mendaur-ulang kembali. bagaimana limbah terbentuk dari sebuah proses produksi. Berdasarkan sifat bahayanya: Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) Limbah domestik : dihasilkan dari aktivitas primer manusia.

Ada produk samping yang harus 2. dsb. Usaha modifikasi proses akan mengurangi terbentuknya limbah jenis ini Limbah yang terbentuk akibat penggunaan bahan baku sekunder. sisa biosida tanaman. dan/atau • Sampah yang timbul secara tidak periodik Timbulan sampah [1]: Banyaknya sampah dalam : Satuan berat: kilogram per orang perhari (Kg/o/h) atau kilogram per meter-persegi bangunan perhari 2 (Kg/m /h) atau kilogram per tempat tidur perhari (Kg/bed/h). fasilitas sosial. misalnya pelarut atau pelumas. Bahan baku sekunder ini tidak ikut dalam reaksi proses pembentukkan produk. maupun aktivitas manusia sehari-hari. Sumber sampah [1]: Berasal dari kegiatan penghasil sampah seperti pasar. sisa bekas pemusnah nyamuk. • Puing bongkaran bangunan • Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah. 1. Banyak cara untuk mengidentifikasi limbah dengan tujuan utama untuk mengevaluasi resiko yang mungkin ditimbulkan dan untuk mengevaluasi cara penanganannya. taman.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Sampah yang berasal dari kawasan komersial. seperti sisa batere. Kota-kota di Indonesia umumnya menggunakan satuan volume. sisa oli/minyak rem mobil. fisika. pertokoan (kegiatan komersial/perdaganan). dan biologis. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 6 . dan/atau fasilitas lainnya Sampah spesifik (UU-18/2008): • Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. penyapuan jalan. • Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun. kawasan khusus. rumah tangga. Limbah ini ada yang dapat menjadi bahan baku bagi industri lain atau sama sekali tidak dapat dimanfaatkan. produk yang dihasilkan dan limbah dari sebuah proses industri. dsb. Limbah ini kadangkala sangat berarti dari sudut kuantitas dan merupakan sumber utama dari industrial waste water. atau karena kesalahan ataupun ketidak-optimuman proses yang berlangsung. atau tempat umum lainnya. penggergajian.1). dan sebagainya. Pada dasarnya semua pengolah limbah tidak dapat mentransfer limbah menjadi 100% non limbah. dsb 2 Satuan volume: liter/orang/hari (L/o/h). dan kegiatan lain seperti dari industri dengan limbah yang sejenis sampah Sampah yang dihasilkan manusia sehari-hari kemungkinan mengandung limbah berbahaya. kawasan industri. liter per meter-persegi bangunan per hari (L/m /h). fasilitas umum. Mekanisme transformasi yang terjadi hanya bersifat fisis semata seperti pemotongan. 4.1 : Proses pembentukan buangan [3] 1. enersi.2 Terbentuknya Limbah Secara Umum Terdapat keterkaitan antara bahan baku. yang dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 1. Teknik daur ulang ataupun penghematan penggunaan bahan baku sekunder banyak diterapkan dalam menanggulanginya Limbah yang berasal dari hasil samping proses pengolahan limbah. Bahan terbuang (limbah) dapat berasal dari proses produksi atau dari pemakaian barang-barang yang dikonsumsi. maka akan lebih mudah mengenal bagaimana limbah terbentuk dan bagaimana usaha penanggulangannya. Limbah kategori ini sangat cocok untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku. Setidaknya ada 5 (lima) kelompok bagaimana limbah terbentuk [3]: Bahan baku sekunder Produk Bahan baku primer Proses Produksi Bahan terbuang Pemakaian produk Gambar 1. • Sampah yang timbul akibat bencana. Limbah yang berasal dari bahan baku yang tidak mengalami perubahan komposisi baik secara kimia maupun biologis. Sampah kota banyak termasuk dalam kategori ini Limbah yang terbentuk akibat hasil samping dari sebuah proses kimia. Limbah yang dihasilkan mempunyai sifat yang berbeda dari bahan baku semula. liter per tempat tidur perhari (L/bed/h). 3. Dengan mengenal keterkaitan tersebut.

anjing. perkantoran. Sampah yang mudah terdekomposisi. dan lain-lain. kayu. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain sisa makanan. limbah berbahaya dan sebagainya Daerah komersial: yang meliputi pertokoan. kertas. ditangani lebih lanjut. taman. daun. kardus. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain rubbish. yaitu [5]: Komponen mudah membusuk (putrescible): sampah rumah tangga. dikelompokkan berdasarkan sumbernya seperti [4]: Pemukiman: biasanya berupa rumah atau apartemen. Bagian organik sebagian besar terdiri atas sisa makanan. plastik. tempat rekreasi. kulit. logam. Limbah jenis ini dapat dimanfaatkan kembali sesuai fungsinya semula atau diolah terlebih dahulu agar menjadi produk baru. Penggolongan tersebut di atas lebih lanjut dapat dikelompokkan berdasarkan cara penanganan dan pengolahannya. debu. dan sebagainya Pertanian: jenis sampah yang dihasilkan antara lain sisa makanan busuk. terutama dalam cuaca yang panas. karet. misalnya kertas. plastik. kertas. rumah makan. kardus. limbah berbahaya dan beracun. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 7 . gelas Sarnpah sisa abu pembakaran penghangat rumah (ashes) Sarnpah bangkal binatang (dead animal): bangkai tikus. dan sampah kebun. pusat pemerintahan. Sampah kota banyak terdapat dalam kategori ini. non metalik. tembikar. dan binatang ternak Sampah sapuan jalan (street sweeping): sisa-sisa pembungkus dan sisa makanan. daun Sampah buangan sisa konstruksi (demolition waste). biasanya dalam proses dekomposisinya akan menimbulkan bau dan mendatangkan lalat. dan sebagainya. kayu. buah-buahan. beton. dan sebagainya Kawasan Industri: jenis sampah yang ditimbulkan antara lain sisa proses produksi. drum dan lain-lain Tabung bertekanan/gas Serbuk dan abu: organik (misal pestisida). buangan non industri. lumpur (misalnya dari unit pengolah limbah cair) atau bahkan limbah cair (misalnya dari lindi sebuah lahan urug) Limbah yang berasal dari bahan samping pemasaran produk industri. dsb Sampah yang berasal dari pemukiman/tempat tinggal dan daerah komersial. Sampah organik bersifat biodegradable sehingga mudah terdekomposisi. dan sebagainya Pengolah limbah domestik seperti Instalasi pengolahan air minum. kain plastik. sisa pertanian. sampah taman. tekstil. kontainer. ikan. gas. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain kayu. kertas. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain kertas. hotel. kaca. Jenis sampah yang ditimbulkan sama dengan jenis sampah pada daerah komersial Konstruksi dan pembongkaran bangunan: meliputi pembuatan konstruksi baru. dan kulit buah-buahan Sampah organik tak rnembusuk (rubbish): mudah terbakar (combustible) seperti kertas. sampah kebun. dan lain-lain. sedangkan sampah anorganik bersifat non-biodegradable sehingga sulit terdekomposisi. logam. penjara. dsb dan tidak mudah terbakar (non-combustible) seperti logam. dan sebagainya Institusi: yaitu sekolah. baik berupa partikulat. drum. dan lain-lain Fasilitas umum: seperti penyapuan jalan. sayuran.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 5. kertas. kulit. kulit dan lain-lain Komponen bervolume besar dan sulit terbakar (bulky noncombustible): logam. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain lumpur hasil pengolahan. kayu. baja. kayu. dan lain-lain Komponen bervolume besar dan mudah terbakar (bulky combustible): kayu. plastik. perbaikan jalan. kaleng. baik organik maupun non organik Puing bangunan Kendaraan tak terpakai Sampah radioaktif. karton. ranting. dan insinerator. dan lain-lain. plastik. mineral. dan debu. dan abu (dari insinerator). selain terdiri atas sampah organik dan anorganik. debu. Instalasi pengolahan air buangan. juga dapat berkategori B3. Penggolongan Jenis Sampah 1. dan lain-lain Komponen bervolume kecil dan mudah terbakar (small combustible) Komponen bervolume kecil dan sulit terbakar (small noncombustible) Wadah bekas: botol. Bagian anorganik sebagian besar terdiri dari kaca. dan lan-lain. plastik. pantai. kaca. sampah sisa sayur. kardus. sisa makanan. bahan amunisi dsb Lumpur. kotoran binatang. rumah sakit. sisa makanan.3 Di negara industri. tabung kosong. Pembagian yang lain sampah dari negara industri antara lain berupa [6]: Sampah organik mudah busuk (garbage): sampah sisa dapur. logam. jenis sampah atau yang dianggap sejenis sampah. barang bekas rumah tangga. bangkai. pasar. logam. logam metalik. tekstil. karet.

yaitu [7]: Sampah dari rumah tinggal: merupakan sampah yang dihasilkan dari kegiatan atau lingkungan rumah tangga atau sering disebut dengan istilah sampah domestik. 1. Dari rumah tinggal juga dapat dihasilkan sampah golongan B3 (bahan berbahaya dan beracun).4 Permasalahan Persampahan di Indonesia Besarnya penduduk dan keragaman aktivitas di kota-kota metropolitan di Indonesia seperti Jakarta. Dari kelompok sumber ini umumnya dihasilkan sampah berupa sisa makanan. taman. daun. kaca. perkantoran. hotel. Dari sumber ini umumnya dihasilkan sampah berupa kertas. kayu. dll. rumah sakit. dan sebagai (b) sampah anorganik. dll. kertas. makanan yang mudah membusuk. seperti sisa makanan. Sampah dari perkantoran / institusi: sumber sampah dari kelompok ini meliputi perkantoran. sehingga muncullah kasus-kasus kegagalan TPA. atau sampah kering yang terdiri atas kaleng. sampah biasanya dapat dibedakan menjadi: Sampah kota (municipal solid waste). penggolongan sampah yang sering digunakan adalah sebagai (a) sampah organik. sampah dibedakan menjadi dua macam : Sampah yang seragam. seperti mebel. Misalnya sampah yang hanya terdiri atas kertas. dan andalan utama sebuah kota dalam menyelesaikan masalah sampahnya adalah pemusnahan dengan landfilling pada sebuah TPA.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Pada suatu kegiatan dapat dihasilkan jenis sampah yang sama. atau daun-daunan saja. Sedangkan bila dilihat dari sumbernya. bagaimana agar sampah yang tidak sejenis sampah kota tersebut tidak masuk dalam sistem pengelolaan sampah kota. Apabila tidak tercampur dengan bahan-bahan lain. dan kadang-kadang sampah berukuran besar seperti dahan pohon. dan lain-lain. plastik. tulang. seperti misalnya baterei. Yang perlu mendapat perhatian adalah. Karena itu berdasarkan komposisinya. kayu. Sampah dari industri dan rumah sakit yang sejenis sampah kota: kegiatan umum dalam lingkungan industri dan rumah sakit tetap menghasilkan sampah sejenis sampah domestik. Dari sumber ini potensial dihasilkan sampah seperti halnya dari daerah komersial non pasar. dll. mengakibatkan munculnya persoalan dalam pelayanan prasarana perkotaan. maupun unit rumah tinggal yang berupa rumah susun. dll. Di Indonesia. Sampah dari daerah komersial: sumber sampah dari kelompok ini berasal dari pertokoan. logam. kasur dll. Kadang kertas dimasukkan dalam kelompok ini. yang terdiri atas daun-daunan. kaca. sisa obat-obatan. besi dan logam-logam lainnya. sekolah. saluran darinase kota. lampu TL. Bila dilihat dari status permukiman. pasar. atau sampah basah. kertas. dan juga sisa makanan. sampah perkotaan yang dikelola oleh Pemerintah Kota di Indonesia sering dikategorikan dalam beberapa kelompok. logam. plastik. Pengelola kota tampaknya beranggapan bahwa TPA yang dipunyainya dapat menyelesaikan semua persoalan sampah. logam. TV bekas. Praktis tidak terdapat sampah yang biasa dijumpai di negara industri. lembaga pemasyarakatan. sampah umum seperti plastik. Tabel 1. kain. plastik. Kelompok ini dapat meliputi rumah tinggal yang ditempati oleh sebuah keluarga. tanpa harus memberikan perhatian yang proporsional terhadap sarana tersebut. Sampah dari kantor sering hanya terdiri atas kertas. sisa-sisa makanan ternak. buah. tempat rekreasi. atau sekelompok rumah yang berada dalam suatu kawasan permukiman. Jarang diperhitungkan sampah yang ditangani masyarakat secara swadaya. pasir / lumpur. Banyaknya sampah yang tidak terangkut kemungkinan besar tidak terdata secara sistematis. yaitu sampah yang dihasilkan di perdesaan. kertas. Khusus dari pasar tradisional. karton dan masih dapat digolongkan dalam golongan sampah yang seragam Sampah yang tidak seragam (campuran). pusat perdagangan. Sampai saat ini paradigma pengelolaan sampah yang digunakan adalah: KUMPUL – ANGKUT dan BUANG [10]. Sampah dari jalan / taman dan tempat umum: sumber sampah dari kelompok ini dapat berupa jalan kota. dll. gelas dan mika. banyak dihasilkan sisa sayur. ataupun sampah yang tercecer dan secara sistematis dibuang ke badan air [9]. sayur. dll.1 merupakan proporsi penduduk yang dilayani oleh Dinas Kebersihan setempat. TPA dapat Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 8 . Diperkirakan hanya sekitar 60 % sampah di kota-kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). karton. oli bekas. Dari daerah ini umumnya dihasilkan sampah berupa daun / dahan pohon. karena biasanya dihitung berdasarkan ritasi truk menuju TPA. kertas. plastik. kayu. seperti masalah sampah. misalnya sampah yang berasal dari pasar atau sampah dari tempat-tempat umum. yaitu sampah yang terkumpul di perkotaan Sampah perdesaan (rural waste). Secara umum sampah dari sumber ini adalah mirip dengan sampah domestik tetapi dengan komposisi yang berbeda. karton / dos. tempat parkir. buah. sehingga komponen penyusunnya juga akan sama. yang operasi utamanya adalah pengurugan (landfilling). Sampah dari kegiatan industri pada umumnya termasuk dalam golongan ini. Pengelola kota cenderung kurang memberikan perhatian yang serius pada TPA tersebut. maka sebagian besar komponennya adalah seragam.

8 232. yaitu dimulai dari sampah di rumah yang telah dipisah.1 Proporsi pelayanan sampah di Indonesia [8] Pulau Sumatera Jawa Bali dan Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi. Konsep ini sempat diuji coba di beberapa kota termasuk di Jakarta. pengoperasiannya mudah dan luwes dalam menerima limbah. terutama dari lindi (leachate) yang dapat mencemari air tanah serta timbulnya bau dan lalat yang mengganggu.0 6. Konsep sejenis sudah dikembangkan di Jakarta yaitu Usaha Daur-ulang dan Produksi Kompos (UDPK) yang dimulai sekitar tahun 1991.3 137. Di negara majupun cara ini masih tetap digunakan walaupun porsinya tambah lama tambah menurun. Gambar 1.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) menjadi bom waktu bagi pengelola kota [11]. gerobak Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 9 .2 130. Tetapi konsep ini tidak berjalan lancar karena membutuhkan kesiapan semua fihak untuk merubah cara fikir dan cara pandang dalam penanganan sampah. termasuk cara pandang Pengelola Kota setempat. Gambar 1. Namun fasilitas ini berpotensi mendatangkan masalah pada lingkungan. dan sekitar 28 % adalah sampah nonhayati yang menjadi obyek aktivitas pemulung yang cukup potensial. maka sebagian besar sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati. Sisanya (sekitar 2%) tergolong B3 yang perlu dikelola tersendiri [12]. Secara teknis keberhasilan cara ini banyak tergantung pada bagaimana memilah dan memisahkan sampah sedini mungkin. Cara penyingkiran limbah ke dalam tanah yang dikenal sebagai landfilling merupakan cara yang sampai saat ini paling banyak digunakan.9 20.2 berikut merupakan skema pengelolaan sampah secara umum di Indonesia. karena biayanya relatif murah. atau secara umum dikenal sebagai sampah organik.6 12.2 : Pengelolaan sampah kumpul – angkut – buang [9] Berdasarkan hal itulah di sekitar tahun 1980-an Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) ITB memperkenalkan konsep Kawasan Industri Sampah (KIS) pada tingkat kawasan dengan sasaran meminimalkan sampah yang akan diangkut ke TPA sebanyak mungkin dengan melibatkan swadaya masyarakat dalam daur-ulang sampah [13]. karena biasanya sarana ini tidak disiapkan dan tidak dioperasikan dengan baik [10].8 6. Cara ini mempunyai banyak resiko. Tabel 1.3 % penduduk dilayani 48 59 47 46 68 56 Penyingkiran dan pemusnahan sampah atau limbah padat lainnya ke dalam tanah merupakan cara yang selalu digunakan.7 Penduduk dilayani (juta-jiwa) 23.0 14. Konsep yang sejenis diperkenalkan oleh BPPT dengan zerowaste nya. Maluku dan Papua Total Penduduk (juta-jiwa) 49. karena alternatif pengolahan lain belum dapat menuntaskan permasalahan yang ada. terutama akibat kemungkinan pencemaran air tanah.5 80. Sampah yang tergolong hayati ini untuk kota-kota besar bisa mencapai 70 % dari total sampah.2 12. Dilihat dari komposisi sampah. mulai dari sumber sampah (dari rumah-rumah) sampai ke TPA.

Timbulan lindi (leachate).59% Non-pengurugan: 9. Beberapa sifat dasar dari sampah seperti kemampuan termampatkan yang terbatas. dan sebagainya. serta kurang terbukanya kemungkinan modifikasi konsep tersebut di lapangan. dapat menimbulkan beberapa kesulitan dalam pengelolaannya. Beberapa permasalahan yang berkaitan dengan keberadaan sampah.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) sampah yang terdiri dari beberapa kompartemen serta truk sampah yang akan mengangkut sampah sejenis menuju pemrosesan [11]. Berdasarkan data tahun 2008. kurangnya kesadaran penghasil sampah merupakan masalah tersendiri dalam pengelolaan sampah. 11]: Masalah estetita (keindahan) dan kenyamanan yang merupakan gangguan bagi pandangan mata. terutama kehidupan manusia. di antaranya [4.19% Open burning: 4. Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran-saluran air buangan dan drainase. khususnya di kota-kota besar. Misalnya tumpukan sampah kertas kering akan mudah terbakar hanya karena puntung rokok yang masih membara. diantaranya [11]: Bertambah kompleksnya masalah persampahan sebagai konsekuensi logis dari pertambahan penduduk kota. begitu juga dengan masalah pemisahan komponen-komponen tertentu sebelum proses pengolahan. terutama yang bertempat tinggal dekat dengan lokasi pembuangan sampah.58% Sampah yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan masalah bagi kehidupan dan kesehatan lingkungan. tikus. Konsep pengelolaan persampahan yang kadangkala tidak cocok untuk diterapkan. Pengembangan perancangan peralatan persampahan yang bergerak sangat lambat. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan bahaya banjir akibat terhambatnya pengaliran air buangan dan air hujan. seperti lalat. misalnya menuju ke pengemas yang tidak dapat terurai seperti plastik. kecoa. anjing liar. Pergeseran teknik penanganan makanan. Misalnya. skala prioritas yang rendah. Pencemaran air tanah oleh lindi merupakan masalah terberat yang mungkin dihadapi dalam pengelolaan sampah. Juga merupakan sumber dari berbagai organisme patogen. Keheterogenan tingkat sosial budaya penduduk kota menambah kompleksnya permasalahan. terutama air tanah di bawahnya. Dari studi dan evaluasi yang telah dilaksanakan di kota-kota di Indonesia.86% Pengomposan: 7. kurangnya kemampuan pendanaan.99% Insinerator skala kecil: 6. diperlukan lahan yang cukup luas dan terletak agak jauh dari pemukiman penduduk. Situasi dana serta prioritas penanganan yang relatif rendah dari pemerintah daerah merupakan masalah umum dalam skala nasional. Sampah yang terdiri atas berbagai bahan organik dan anorganik apabila telah terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar. Pertambahan penduduk yang demikian pesat di daerah perkotaan (urban) telah mengakibatkan meningkatnya jumlah timbulan sampah. Bau yang timbul akibat adanya dekomposisi materi organik dan debu yang beterbangan akan mengganggu saluran pernafasan. Adanya sampah yang berserakan dan kotor. sebagai efek dekomposisi biologis dari sampah memiliki potensi yang besar dalam mencemari badan air sekelilingnya. dan sebagainya. Sampah yang berbentuk debu atau bahan membusuk dapat mencemari udara. Sampah yang kering akan mudah beterbangan dan mudah terbakar. dapat diidentifikasi masalah-masalah pokok dalam pengelolaan persampahan kota. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 10 . sehingga akumulasi sampah merupakan sumber penyakit yang akan membahayakan kesehatan masyarakat. Partisipasi masyarakat yang pada umumnya masih kurang terarah dan terorganisir secara baik. sebagai lokasi pembuangan akhir sampah. atau adanya tumpukan sampah yang terbengkelai adalah pemandangan yang tidak disukai oleh sebagaian besar masyarakat. Volume sampah yang besar merupakan masalah tersendiri dalam pengangkutannya. serta penyakit lainnya. Masalah tersebut dewasa ini menjadi isu yang hangat dan banyak disoroti karena memerlukan penanganan yang serius. Peningkatan kepadatan penduduk menuntut pula peningkatan metode/pola pengelolaan sampah yang lebih baik.79% Dibuang ke sungai: 2. Di negara-negara berkembang. waktu untuk terdekomposisi sempurna yang cukup lama. Keterbatasan sumber daya manusia yang sesuai yang tersedia di daerah untuk menangani masalah sampah. kucing. Kondisi seperti ini akan menimbulkan bahaya kebakaran. jenis penanganan sampah yang berlangsung di Indonesia adalah sebagai berikut [8]: Pengurugan: 68. merupakan sarang atau tempat berkumpulnya berbagai binatang yang dapat menjadi vektor penyakit. keanekaragaman komposisi. seperti Indonesia.

Kelembagaan dan organisasi: Aspek organisasi dan manajemen merupakan suatu kegiatan yang multi disiplin yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspek-aspek ekonomi. pengangkutan. budaya. tetapi mencakup juga aspek non teknis. Masalah pengelolaan sampah perkotaan antara lain adalah keterbatasan peralatan. misalnya Dinas PU terutama apabila dalam struktur organisasi belum ada seksi khusus di bawah dinas yang mengelola kebersihan. harus melibatkan berbagai disiplin ilmu. Oleh karenanya kelima komponen tsb lebih tepat disebut sebagai aspek-aspek penting yang mempengaruhi manajemen persampahan. dan juga terhadap sikap masyarakat [4]. mulai dari pewadahan. dan ilmu bahan. dan kondisi fisik wilayah kota. konservasi. bagaimana lembaga atau organisasi yang sebaiknya mengelola. ekonomi. yaitu [14]: • Peraturan / hukum • Kelembagaan dan organisasi • Teknik operasional • Pembiayaan • Peran serta masyarakat. seperti perencanaan kota. Pengelolaan persampahan di negara industri sering didefinisikan sebagai kontrol terhadap timbulan sampah. Peraturan yang diperlukan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah di perkotaan antara lain adalah yang mengatur tentang: Ketertiban umum yang terkait dengan penanganan sampah Rencana induk pengelolaan sampah kota Bentuk lembaga dan organisasi pengelola Tata-cara penyelenggaraan pengelolaan Besaran tarif jasa pelayanan atau retribusi Kerjasama dengan berbagai fihak terkait. keteknikan/engineering. seperti telah dijelaskan sebelumnya. diantaranya kerjasama antar daerah. proses. komunikasi. misalnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) terutama apabila masalah kebersihan kota masih bisa ditanggulangi oleh suatu seksi di bawah dinas tersebut Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di bawah suatu dinas. Keberhasilan pengelolaan. konsep ini sebetulnya berlaku tidak hanya untuk pendekatan pemecahan masalah persampahan. kesehatan masyarakat. Manajemen persampahan kota di Indonesia membutuhkan kekuatan dan dasar hukum. pengumpulan. demografi. dan sumber daya manusia. bagaimana membiayai sistem tersebut dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana melibatkan masyarakat penghasil sampah dalam aktivitas penanganan sampah. Masalah ini timbul di kota-kota besar ataupun kota-kota kecil. seperti bagaimana mengatur sistem agar dapat berfungsi. lahan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 11 . Namun bila diperhatikan. Peraturan/hukum: Aspek pengaturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Bentuk institusi pengelolaan persampahan kota yang dianut di Indonesia: Seksi Kebersihan di bawah satu dinas. pemindahan. dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum yang berlaku. sosiologi. tetapi untuk sektor lain yang umumnya terkait dengan pelayanan masyarakat. geografi. Perancangan dan pemilihan bentuk organisasi disesuaikan dengan: Peraturan pemerintah yang membinanya Pola sistem operasional yang diterapkan Kapasitas kerja sistem Lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani. sosial. dan memperhatikan pihak yang dilayani yaitu masyarakat kota. Sebelum UU18/2008 dikeluarkan. Kebijakan yang diterapkan di Indonesia dalam mengelola sampah kota secara formal adalah seperti yang diarahkan oleh Departemen Pekerjaan Umum sebagai departemen teknis yang membina pengelola persampahan perkotaan di Indonesia. bukan hanya tergantung aspek teknis semata. dan sebagainya. atau kerjasama dengan fihak swasta.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan peningkatan aktivitas penduduk yang berarti juga peningkatan jumlah timbulan sampah. pemungutan retribusi. Untuk menjalankan sistem tersebut. konservasi. kebijakan pengelolaan sampah perkotaan (yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum) di Indonesia memposisikan bahwa pengelolaan sampah perkotaan merupakan sebuah sistem yang terdiri dari 5 komponen sub sistem. ketertiban masyarakat. dengan prinsip-prinsip terbaik untuk kesehatan. estetika. ekonomi. Pengelolaan persarnpahan mempunyai beberapa tujuan yang sangat mendasar yang meliputi [6]: Meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat Melindungi sumber daya alam (air) Melindungi fasilitas sosial ekonomi Menunjang pembangunan sektor strategis. dan pembuangan akhir sampah. seperti dalam pembentukan organisasi. lingkungan.

Kegiatan pemilahan dan daur ulang diutamakan di sumber. Peran serta masyarakat: Tanpa adanya partisipasi masyarakat penghasil sampah. Permasalahan yang terjadi berkaitan dengan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan. Bentuk penarikan retribusi dibenarkan bila pelaksananya adalah badan formal yang diberi kewenangan oleh pemerintah. pendidikan dan pengembangan serta administrasi Proporsi antara retribusi dengan pendapatan masyarakat Struktur dan penarikan retribusi yang berlaku. Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri atas kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. Kegiatan pemilahan dan daur ulang semaksimal mungkin dilakukan sejak dari pewadahan sampah sampai dengan pembuangan akhir sampah. Pembiayaan / retribusi: Sebagaimana kegiatan yang lain.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) - sehingga lebih memberikan tekanan pada masalah operasional. sehingga efektivitas penarikan retribusi akan lebih menentukan. Sektor pembiayaan ini menyangkut beberapa aspek.Kehawatiran pengelola bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai dengan konsep pengelolaan yang ada. Retribusi persampahan merupakan bentuk konkrit partisipasi masyarakat dalam membiayai program pengelolaan persampahan. maka komponen pembiayaan sistem pengelolaan sampah kota secara ideal dihitung berdasarkan: Biaya investasi Biaya operasi dan pemeliharaan Biaya manajemen Biaya untuk pengembangan Biaya penyuluhan dan pembinaan masyarakat. yaitu di antaranya: Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata Belum melembaganya keinginan dalam masyarakat untuk menjaga lingkungan Belum ada pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan pedoman pelaksanaan Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan penyuluhan dalam programnya . Diharapkan bahwa sistem pengelolaan persampahan di Indonesia akan menuju pada 'pembiayaan sendiri'. Pada prinsipnya perusahaan daerah ini tidak lagi disubsidi oleh pemerintah daerah (pemda). Kegiatan pemilahan dapat pula dilakukan pada kegiatan pengumpulan pemindahan. Teknik operasional: Teknik operasional pengelolaan sampah kota meliputi dasar-dasar perencanaan untuk kegiatan: Pewadahan sampah Pengumpulan sampah Pemindahan sampah Pengangkutan sampah Pengolahan sampah Pembuangan (sekarang: pemrosesan) akhir sampah. Hal ini antara lain menyangkut: Bagaimana merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib dan teratur Faktor-faktor sosial. Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam kebersihan adalah bagaimana membiasakan masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program itu. termasuk disini dengan pembentukan perusahaan daerah. Bentuk ini sesuai untuk kota metropolitan. struktur. Aspek pembiayaan merupakan sumber daya penggerak agar roda sistem pengelolaan persampahan di kota tersebut dapat bergerak dengan lancar. antara retribusi dan biaya pengelolaan sampah Proporsi komponen biaya tersebut untuk gaji. semua program pengelolaan sampah yang direncanakan akan sia-sia. pemeliharaan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 12 . dan lebih mempunyai otonomi daripada seksi Dinas Kebersihan akan memberikan percepatan dan pelayanan pada masyarakat dan bersifat nirlaba. transportasi. seperti: Proporsi APBN/APBD pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah B3 rumah tangga dikelola secara khusus sesuai aturan yang berlaku. Dinas ini perlu dibentuk karena aktivitas dan volume pekerjaan yang sudah meningkat Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan. dan budaya setempat Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini. merupakan organisasi pengelola yang dibentuk bila permasalahan di kota tersebut sudah cukup luas dan kompleks.

60 0.50 .1: Besarnya timbulan sampah berdasarkan sumbernya [15. Bagi negara berkembang dan beriklim tropis seperti Indonesia. untuk sampah yang sejenis sampah permukiman g.0. misalnya limbah dari proses industri. Sampah dari non-permukiman yang sejenis sampah rumah tangga. Sampah dari kedua jenis sumber ini (a dan b) dikenal sebagai sampah domestik. DAN TIMBULAN SAMPAH Bagian ini menjelaskan sumber.10 . Dijelaskan pula secara umum jenis sampah yang berkatagori berbahaya yang dihasilkan oleh rumah tangga. beserta komposisinya.2. daerah komersial dsb. 16] Komponen sumber sampah Satuan Volume (Liter) Berat (kg) Rumah permanen Rumah semi permanen Rumah non-permanen Kantor Toko/ruko Sekolah Jalan arteri sekunder Jalan kolektor sekunder Jalan lokal Pasar /orang/hari /orang/hari /orang/hari /pegawai/hari /petugas/hari /murid/hari /m/hari /m/hari /m/hari /m2/hari 2.50 2. Dalam hal ini. Data mengenai timbulan. Jumlah timbulan sampah ini biasanya akan berhubungan dengan elemen-elemen pengelolaan sampah antara lain [15]: − Pemilihan peralatan.00 0.025 .00 0. 2. dalam pengelolaan sampah kota di Indonesia. 2. Taman-taman.00 . komposisi dan karakteristik sampah. Di samping itu. Guna lebih memahami.020 .0. faktor musim sangat besar pengaruhnya terhadap berat sampah. Permukiman atau rumah tangga dan sejenisnya b.025 0. seperti terlihat dalam standar pada Tabel 2.15 0. misalnya wadah. Berdasarkan hal tersebut di atas.0. yaitu: a.3.0. 5. sumber sampah kota dibagi berdasarkan [14]: a.25 . 1. komposisi.50 .1. 6. Kegiatan dari institusi seperti industri. seperti dari pasar. dalam bahasa Inggeris dikenal sebagai municipal solid waste (MSW).0.0.0. Tabel 2.0.15 0.350 0. Sedang sampah non-domestik adalah sampah atau limbah yang bukan sejenis sampah rumah tangga. Bila sampah domestik ini berasal dari lingkungan perkotaan. timbulan.350 .10 . berat sampah juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya lainnya. mahasiswa diminta mengamati selama seminggu jumlah timbulan sampah di tempat tinggal masing-masing.10 .0. Hotel dan restoran f.100 0. Sampah dari masing-masing sumber tersebut dapat dikatakan mempunyai karakteristik yang khas sesuai dengan besaran dan variasi aktivitasnya.2.2.100 .350 0. yang cukup banyak dijumpai.400 0. Pasar c.300 0. Oleh karenanya.250 . Penyapuan jalan h.0.0.010 .75 2.25 1.005 . alat pengumpulan.300 .0. dan pengangkutan − Perencanaan rute pengangkutan − Fasilitas untuk daur ulang − Luas dan jenis TPA. Data tersebut harus tersedia agar dapat disusun suatu alternatif sistem pengelolaan sampah yang baik. dan karakteristik sampah merupakan hal yang sangat menunjang dalam menyusun sistem pengelolaan persampahan di suatu wilayah.100 0. 8. Dijelaskan bagaimana metode sampling dan pengukuran timbulan sampah. Kegiatan komersial seperti pertokoan d. 3. 10.15 0.150 . tetapi dapat juga berarti musim buah-buahan tertentu. Kadang dimasukkan pula sampah dari sungai atau drainase air hujan.0. atau sampah rumah tangga b. musim bisa terkait musim hujan dan kemarau. 7. Sampah dari permukiman.20 .10 0.0. Demikian juga timbulan (generation) sampah masingmasing sumber tersebut bervariasi satu dengan yang lain. KARAKTERISTIK. 9.0.020 0. sebaiknya evaluasi timbulan sampah dilakukan beberapa kali Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 13 .75 .300 No.0.010 . Kegiatan perkantoran e.1 Sumber dan Timbulan Sampah Secara praktis sumber sampah dibagi menjadi 2 kelompok besar.05 .050 0. rumah sakit. 4.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 2 SUMBER.

04 l/o/h 1. L/bed/hari dan sebagainya. 4.94 24. antara satu daerah dengan daerah lainnya.5 356. Contoh timbulan sampah adalah seperti tercantum dalam Tabel 2. Namun 10 unit wadah yang berisi sampah 100 liter.0 85. yang merupakan rangkuman dari beberapa laporan hasil penelitian sebagai gambaran. Untuk memberikan gambaran tentang timbulan sampah ini.2 yang berasal dari kota Bandung pada tahun 1994. Prakiraan rerata timbulan sampah akan merupakan langkah awal yang biasa dilakukan dalam pengelolaan persampahan. kg/bed/hari dan sebagainya 2 − Satuan volume: L/o/hari. Prakiraan timbulan sampah baik untuk saat sekarang maupun di masa mendatang merupakan dasar dari perencanaan. antara lain [17]: − Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya − Tingkat hidup: makin tinggi tingkat hidup masyarakat.3 (Jakarta tahun 2000 dan 2005).5 di bawah ini. bila air tersebut disatukan dalam wadah yang besar. Penggunaan satuan volume dapat menimbulkan kesalahan dalam interpretasi karena terdapat faktor kompaksi yang harus diperhitungkan. timbulan sampah akan mencapai angka minimum pada musim panas − Cara hidup dan mobilitas penduduk − Iklim: di negara Barat.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) dalam satu tahun. beberapa angka tentang timbulan sampah diberikan dalam Tabel 2. Terdapat faktor kompaksi yaitu densitas. 3. debu hasil pembakaran alat pemanas akan bertambah pada musim dingin − Cara penanganan makanannya. Satuan timbulan sampah ini biasanya dinyatakan sebagai satuan skala kuantitas per orang atau per unit bangunan dan sebagainya.5 0. 7.3 2. Di Indonesia umumnya menerapkan satuan volume. Variasi ini terutama disebabkan oleh perbedaan.3: Jumlah sampah di Jakarta [19] 2000 (Ton/hari) 4169 963 641 640 6413 (%) 65 15 10 10 100 2005 (Ton/hari) 3067 280 308 1583 516 246 6000 (%) 51 5 5 26 9 4 100 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 14 . Tabel 2. 10 unit wadah yang berisi air masing-masing 100 liter.35 516. kg/m /hari. saluran dll Total Tabel 2. 8. Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari. L/m /hari. Sebagai ilustrasi. 1994 [18] Sumber sampah Timbulan Satuan 2. 5. Rumah: Permanen Semi permanen Non permanen Rerata Non pemukiman: 2. dalam hal mengkaji besaran timbulan sampah. perancangan. maka volume sampah akan berkurang karena mengalami kompaksi. 9. Beberapa studi memberikan angka timbulan sampah kota di Indonesia berkisar antara 3 2-3 liter/orang/hari dengan densitas 200-300 kg/m dan komposisi sampah organik 70-80%. bila sampah tersebut disatukan dalam sebuah wadah.54 7.98 l/o/h 5.2: Timbulan sampah kota Bandung. maka akan tetap berisi 1000 liter air. Timbulan sampah ini dinyatakan sebagai [15]: 2 − Satuan berat: kg/o/hari. Pemukiman: 1. dan antara satu negara dengan negara lainnya. agaknya perlu diperhitungkan adanya faktor pendaurulangan sampah mulai dari sumbernya sampai di TPA. dan pengkajian sistem pengelolaan persampahan.14 l/o/h 1. 6. Bagi kota-kota di negara berkembang. Timbulan sampah dapat diperoleh dengan sampling (estimasi) berdasarkan standar yang sudah tersedia. 2.4 dan 2. Pasar Jalan Toko Kantor Rumah makan Hotel Industri Rumah sakit Sources Rumah tangga Pasar Sekolah Komersial Industri/institusi Jalan. Berat sampah akan tetap.86 L/o/h L/o/h L/o/h L/o/h L/m2/h L/km/h L/unit/h L/unit/hari L/unit/h L/bed/h L/pegawai/h L/bed/h No. makin besar timbulan sampahnya − Musim: di negara Barat.77 l/o/h 2.

kulit. kayu. dapat digunakan angka timbulan sampah sebagai berikut: − Satuan timbulan sampah kota besar = 2 – 2. Contoh : Jumlah penduduk sebuah kota = 1 juta orang. maka untuk menghitung besaran sistem.5 L/orang/hari.5 Menurut SNI 19-3964-1995 [21].07 8. atau = 0.0 Total 38. Bila dikonversi terhadap total penduduk.2 Komposisi Sampah Pengelompokan berikutnya yang juga sering dilakukan adalah berdasarkan komposisinya. kulit.3 Kalimantan 2.4: Timbulan Sampah di Beberapa Negara [20] Kota Timbulan (kg/orang/hari) Paris 1. 2.4 – 0. bila pengamatan lapangan belum tersedia. dan produk karet 6.36 Gelas Logam Bahan batu. yang merupakan satuan timbulan ekivalensi penduduk.000.12 0. sehingga asumsi tersebut di atas perlu penyesuaian.7 Jawa 21. maka total sampah yang dihasilkan dari kota 3 tersebut = 2500/0.15 9.58 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 15 . Tabel 2. dan tambah membesar porsi sampah non-permukiman.6: Komposisi sampah domestik [22] Kategori sampah % Berat Kertas dan bahan-bahan kertas 32. Tabel 2.000 /1000 m /hari = 2500 3 m /hari atau setara dengan 500 ton/hari.6 menggambarkan tipikal komposisi sampah pemukiman di kota di negara maju.870 Manila 0.5 3 kg/orang/hari.550 Jakarta 0. makanan. maka tambah mengecil porsi sampah dari permukiman. misalnya dinyatakan sebagai % berat (biasanya berat basah) atau % volume (basah) dari kertas. maka jumlah sampah dari permukiman adalah = 2.650 Tabel 2. dan lain-lain.635 Fes 0. pasar.2 Bali dan pulau-pulau Nusa Tenggara 1. kain. maka untuk perhitungan secara cepat satuan timbulan sampah tersebut dapat dianggap sudah meliputi sampah yang ditimbulkan oleh setiap orang dalam berbagai kegiatan dan berbagai lokasi.625 Rabat 0. Bila satuan timbulan sampah = 2. jalan. atau = 3. plastik.38 Plastik.84 Kain dan produk tekstil 6.1 5. atau = 769 ton/hari.06 5. maka 3 kota tersebut dapat dinyatakan menghasilkan timbulan sampah sebesar 3846 m /har/1 juta orang/hari.31 9.440 Karachi 0. kaca.26 26.3 – 0. Komposisi dan sifat-sifat sampah menggambarkan keanekaragaman aktivitas manusia.65 = 3846 m /hari.74 0. Maluku dan Papua 5. taman.5 – 2 L/orang/hari.5 kg/orang/hari − Satuan timbulan sampah kota sedang/kecil = 1.61 0.5 L/orang/hari atau 0. karet.550 Konakry 0. Bila jumlah sampah dari sektor non-permukiman diasumsi berkontribusi 35% dari total sampah di kota tersebut. Namun tambah besar sebuah kota. atau = 0. pasir Sampah organic 16.5: Jumlah sampah di Indonesia 2008 [19] Jumlah sampah kota Pulau (ribu ton) Sumatera 8. Sedang Tabel 2.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 2.550 Singapura 0.98 Kayu/produk dari kayu 0.100 Damaskus 0.06 10.85 L/orang/hari. seperti contoh di bawah ini.3 Sulawesi.5x1. kantor dsb. hotel. logam.4 kg/orang/hari Karena timbulan sampah dari sebuah kota sebagian besar berasal dari rumah tangga. baik saat di rumah.38 % Volume 62.7 menggambarkan contoh komposisi sampah kota di beberapa tempat di dunia.

kelembaban sampah juga akan cukup tinggi − Frekuensi pengumpulan: semakin sering sampah dikumpulkan maka semakin tinggi tumpukan sampah terbentuk. seperti pembakaran. dihasilkan pula gas-gas hasil dekomposisi. gelas.4 2 6 8 0. seperti ammoniak dan asam-asam volatil lainnya.5 Kaca Tekstil Plastik/Karet Lain-lain 9 3 3 11 1. Lihat uraian butir 2. dan fauna. yang umumnya Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 16 .6 9.3 9. Sampah kering (refuse) sebaiknya didaur ulang.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 2. Di negara beriklim dingin.3 8. kertas.4 74 73.1 32. atau sering pula disebut sebagai sampah anorganik. apabila tidak maka diperlukan proses lain untuk memusnahkannya. Komposisi sampah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor: − Cuaca: di daerah yang kandungan airnya tinggi. logam. Sampah jenis ini sebaiknya dikelola oleh suatu badan yang berwenang dan dikeluarkan ke lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku. dan berpotensi sebagai sumber pencemaran udara yang bermasalah. Kelompok sampah ini dikenal pula sebagai sampah kering. dan yang akan terus bertambah adalah kertas dan dan sampah kering lainnya yang sulit terdegradasi − Musim: jenis sampah akan ditentukan oleh musim buah-buahan yang sedang berlangsung − Tingkat sosial ekonomi: Daerah ekonomi tinggi pada umumnya menghasilkan sampah yang terdiri atas bahan kaleng. Dengan demikian pengelolaannya menghendaki kecepatan. Tambah sederhana pola hidup masyarakatnya. Selama tidak mengandung zat beracun. dsb). maupun pengangkutannya. Kelompok inilah yang berpotensi untuk diproses dengan bantuan mikroorganisme.9 berikut ini. sedangkan negara berkembang seperti Indonesia banyak menggunakan plastik sebagai pengemas. Selain itu.8 di bawah ini. banyak berasal dari penyapuan jalan-jalan umum. pembuangan. Sampah yang membusuk (garbage) adalah sampah yang dengan mudah terdekomposisi karena aktivitas mikroorganisme. abu tidak terlalu berbahaya terhadap lingkungan dan masyarakat. Tambah besar dan beraneka ragam aktivitas sebuah kota. Sampah berbahaya adalah semua sampah yang mengandung bahan beracun bagi manusia. dan sebagainya − Pendapatan per kapita: masyarakat dari tingkat ekonomi rendah akan menghasilkan total sampah yang lebih sedikit dan homogen dibanding tingkat ekonomi lebih tinggi. yang dapat membahaykan keselamatan bila tidak ditangani secara baik. plastik. baik pembakaran bahan bakar untuk pemanas ruangan. Namun pembakaran refuse ini juga memerlukan penanganan lebih lanjut. Tetapi sampah organik akan berkurang karena membusuk. kaca. khususnya bila mengandung plastik PVC. seperti gas metan dan sejenisnya. − Kemasan produk: kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga akan mempengaruhi. untuk menggambarkan komponen sampah yang cepat terdegradasi (cepat membusuk). Sampah jenis ini tidak dapat dicampurkan dengan sampah kota biasa. Dengan mengetahui komposisi sampah dapat ditentukan cara pengolahan yang tepat dan yang paling efisien sehingga dapat diterapkan proses pengolahannya.5 8 9. yang kebanyakan merupakan buangan industri. seperti tampak dalam Tabel 2.6 6. maka tambah kecil proporsi sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga.2 29. misalnya dalam pengomposan atau gasifikasi.1 32.7: Komposisi sampah di beberapa kota (% berat basah) [17] Komponen London Singapura Hongkong Jakarta Bandung Organik 28 4. Sampah ini pada umumnya terdiri atas zat kimia organik maupun anorganik serta logam-logam berat.4 Kertas 37 43.7 9. Tipikal komposisi sampah didasarkan atas tingkat pendapatan digambarkan pada Tabel 2. flora.6 9. terutama yang berasal dari sisa makanan. Suatu penelitian (1989) yang dilakukan di beberapa kota di Jawa Barat menggambarkan hal tersebut dalam skala kota. Negara maju cenderung tambah banyak yang menggunakan kertas sebagai pengemas.5. abu yang berukuran <10 µm dapat memasuki saluran pernafasan dan menyebabkan penyakit pneumoconiosis. sampah berupa debu dan abu banyak dihasilkan sebagai produk hasil pembakaran.7 Logam 9 3 2. Namun.2 2 0.4 1. dan lain-lain.3 6. tambah banyak komponen sampah organik (sisa makanan.1 Pengertian sampah organik seperti tercantum dalam Tabel di atas lebih bersifat untuk mempermudah pengertian umum. Abu debu di negara tropis seperti Indonesia. Sampah yang tidak membusuk atau refuse pada umumnya terdiri atas bahan-bahan kertas. maupun abu hasil pembakaran sampah dari insinerator. Penumpukan sampah yang cepat membusuk perlu dihindari. Sampah kelompok ini kadang dikenal sebagai sampah basah. atau juga dikenal sebagai sampah organik.6 6. Pembusukan sampah ini dapat menghasilkan bau tidak enak. baik dalam pengumpulan.

35 Plastik 6.38 0.69 0.19 1.5 Komersial 17. H.23 82.1 73.10 0.0 Tabel 2.4 17.2 Kantor 3.76 Karet 1.10 menggambarkan contoh komposisi sampah berdasarkan sumbernya.16 1.0 5.52 11.13 Kaca 0. Sampah kota di negara-negara yang sedang berkembang akan berbeda susunannya dengan sampah kota di negara-negara maju.30 3.10 Kayu 0.6 0.31 7.51 1.72 75. Kekhasan sampah dari berbagai tempat/daerah serta jenisnya yang berbeda-beda memungkinkan sifat-sifat yang berbeda pula.35 2. Karakteristik sampah dapat dikelompokkan menurut sifat-sifatnya.15 5.8 1. distribusi ukuran (Gambar 2.51 0.05 29.16 4.6 Lain-lain 5.77 0.4 16.19 0.19 0.06 0.94 4. seperti: Karakteristik fisika: yang paling penting adalah densitas.Karakteristik kimia: khususnya yang menggambarkan susunan kimia sampah tersebut yang terdiri dari unsur C. Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa pemukiman merupakan sumber sampah terbesar dengan komposisi sampah basah atau sampah organik sebesar 73-78%. Karakteristik tersebut sangat bervariasi.80 0.68 9. Tabel 2.16 4.79 0.29 0.8 Jalan 1. kadar air. keramik 1-10 1-10 4-10 Logam 1-5 1-5 3-13 Plastik 1-5 2-6 2-10 Kulit.01 1.80 0.78 basah Daun-daun 1.0 Pasar 16. Dengan kondisi seperti itu disertai kelembaban sampah yang tinggi.10 7.0 Industri 15.25 0.14 2.14 3. Tabel 2.9 1.03 42.07 0. dsb.8: Tipikal komposisi sampah pemukiman (% berat basah) [20] Pemukiman Pemukiman Pemukiman Komposisi low income middle income high income Kertas 1-10 15-40 15-40 Kaca.81 0.41 86.13 0.3 53.5 1.69 0. P. maka karakteristik lain yang biasa ditampilkan dalam penanganan sampah adalah karakteritik fisika dan kimia.Ratu Rumah tangga 49.9 2.91 9.72 1.71 Kulit 0.59 0.0 5.03 0.51 1.28 0.43 1.95 73.18 0. maka densitas sampah akan tergantung pada sarana pengumpul dan pengangkut yang digunakan.53 1.3 Karakteristik Sampah Selain komposisi. maka sampah akan sangat cepat membusuk.45 17.08 0. O. Menurut pengamatan di lapangan.96 0.32 5.70 2.55 0.76 87.20 – 0. karet 1-5 Kayu 1-5 Tekstil 1-5 2-10 2-10 Sisa makanan 40-85 20-65 20-50 Lain-lain 1-40 1-30 1-20 Tabel 2.85 2.60 Tekstil 1.76 Kertas 6.94 0. kadar volatil.29 0.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) didominasi sampah organik.9: Tendensi komposisi sampah di Jawa Barat (%berat basah) [15] Sumber sampah Jakarta Bandung Cirebon Pelab.17 0.96 1.12 Lain-lain 0.77 0. nilai kalor.1 merupakan skematis berat bahan) .85 4. tergantung pada komponenkomponen sampah.20 ton/m 3 − Sampah di gerobak sampah: 0.05 18.2 Sekolah 1. N. S.19 0.1 7.01 – 0.25 ton/m Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 17 . biasanya untuk kebutuhan desain digunakan angka [24] : 3 − Sampah di wadah sampah rumah: 0.4 4.10 Logam 0.36 67.4 77.09 0.67 8.89 0.48 0.10: Komposisi sampah kota Bandung berdasarkan sumber (% berat basah ) 1988 [23] Permukiman Komposisi dengan pendapatan Pasar Pertokoan Sapuan TPS TPA Rendah Sedang Tinggi Sampah 78. kadar abu.8 14.

12 Contoh karakteristik sampah Kadar air Kadar volatil (% berat basah) (% berat kering) 88.11: Karakteristik sampah kota Bandung 1988 [25] Parameter Persentase Kadar air (% berat basah) 64.57 94.4 Metode Pengukuran [15. selama 8 hari berturut-turut.32 68.48 11.52 5. sehingga akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekivalensi penduduk c.45 98.92 1.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 3 − Sampah di truk terbuka: 0.33 88.12 merupakan contoh karakteristik di kota sebuah TPS di kota Bandung pada tahun 2007.1: Posisi bahan pada temperatur pembakaran Tabel 2.00 3.91 0. Kadar air hilang pada 105oC Berat basah Volatil hilang pada 550oC Berat kering Fixed carbon hilang pada 850oC Karbonat Gambar 2.27 Materi organik (% berat basah) 44. Load-count analysis: Mengukur jumlah (berat dan/atau volume) sampah yang masuk ke TPS.69 34.60 ton/m .09 5.30 – 0. 21] Timbulan sampah yang dihasilkan dari sebuah kota dapat diperoleh dengan survey pengukuran atau analisa langsung di lapangan.65 80.21 Abu pada 550oC Komponen Sisa makanan Kertas-tissu Daun Botol kaca Botol/cup plastik Karton Kertas putih Tekstil Plastik macam-macam Kadar abu (% berat kering) 11. 2.52 2. Weigh-volume analysis: bila tersedia jembatan timbang. Tabel 2.50 – 0.241 Kadar abu (% berat kering) 23. maka jumlah sampah yang masuk ke fasilitas penerima sampah akan dapat diketahui dengan mudah dari waktu ke waktu.70 Nitrogen (% berat kering) 1. dimana data Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 18 . yaitu: a.62 96. Mengukur langsung satuan timbulan sampah dari sejumlah sampel (rumah tangga dan non-rumah tanga) yang ditentukan secara random-proporsional di sumber selama 8 hari berturut-turut (SNI 193964-1995 dan SNI M 36-1991-03) b.40 ton/m 3 − Sampah di TPA dengan pemadaran konvensional = 0.08 99.55 20.11 merupakan contoh karakteristik sampah yang sering dimunculkan di Indonesia. Dengan melacak jumlah dan jenis penghasil sampah yang dilayani oleh gerobak yang mengumpulkan sampah tersebut.00 13.03 99. misalnya diangkut dengan gerobak.31 3.79 Informasi mengenai komposisi dan karakteristik sampah diperlukan untuk memilih dan menentukan cara pengoperasian setiap peralatan dan fasilitas-fasilitas lainnya dan untuk memperkirakan kelayakan pemanfaatan kembali sumberdaya dan energi dalam sampah.27 pH 6.70 Karbon (% berat kering) 44.41 86. Jumlah sampah sampah harian kemudian digabung dengan perkiraan area yang layanan.68 1.09 Nilai kalor ( kkal/kg) 1197 Tabel 2.48 6. serta untuk perencanaan fasilitas pembuangan akhir.57 88.56 Posfor (% berat kering) 0.30 0.45 50. Tabel 2.

.. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sampling sampah langsung di sumbernya...... " penduduk 10 6 ! Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 19 ... c.........2) Contoh : .. maka akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekuivalensi penduduk Material balance analysis: merupakan analisa yang lebih mendasar.... terutama karena adanya aktivitas pemulungan atau pemilahan sampah. dengan anggapan bahwa kuantitas dan kualitas sampah dipengaruhi oleh tingkat kehidupan masyarakat. yaitu minimum 500 liter atau sekitar 200 kg. tetapi pengambilan sampel setiap 2 atau 3 hari − Dilakukan dalam 8 hari berturut-turut... Ps . Metode yang umum digunakan untuk menentukan kuantitas total sampah yang akan dikumpulkan dan diangkut ke TPA adalah sebagai berikut: − Rata-rata angkutan per hari dikalikan volume rata-rata pengangkutan dan dikonversikan ke satuan berat dengan menggunakan densitas rata-rata yang diperoleh melalui sampling − Mengukur berat sampel di dalam kendaraan angkut dengan menggunakan jembatan timbang..... sampling sampah di sumber harus dilaksanakan selama satu minggu (umumnya 8 hari berturut-turut). Cd >1 bila kepadatan penduduk padat............ seperti: − Hanya dilakukan 1 hari saja − Dilakukan dalam seminggu... Karena aktivitas domestik bervariasi dari hari ke hari dengan siklus mingguan. Ps .1) Keterangan: 6 Ps= jumlah penduduk bila ≤ 10 jiwa Cd = koefisien Cd = 1 bila kepadatan penduduk normal... dan aliran bahan yang menjadi sampah dari sebuah sistem yang ditentukan batas-batasnya (system boundary) Dalam survey.. misalnya menentukan volume yang dibutuhkan untuk pewadahan sampah atau menentukan potensi daur ulang.... Bila jumlah penduduk ≤ 10 jiwa P = Cd.000 jiwa.(2... ………………………………………………………………… (2.. berapa derajat kepercayaan yang diinginkan..Cd = 1... kemudian rata-ratanya dikalikan dengan total angkutan per hari − Mengukur berat setiap angkutan di jembatan timbang di TPA.. yaitu: a... Metode stratified random sampling: yang biasanya didasarkan pada komposisi pendapatan penduduk setempat. dengan menganalisa secara cermat aliran bahan masuk..Cj.. Dilanjutkan dengan kegiatan bulanan guna menggambarkan fluktuasi dalam satu tahun....... Cd < 1 bila kepadatan penduduk jarang...Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) d. penduduk dan sarana umum terlayani dapat dicari... Jumlah sampah yang sampai di TPA sulit untuk dijadikan indikasi yang akurat mengenai timbulan sampah yang sebenarnya di sumber...... .... Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah di Indonesia biasanya dilaksanakan berdasarkan SNI M 36-1991-03 [21]. Penentuan jumlah sampel sampah yang akan diambil dapat menggunakan formula berikut: a. Penentuan jumlah sampel yang biasa digunakan dalam analisis timbulan sampah adalah adalah dengan pendekatan statistika. dan berapa derajat kepercayaan yang bisa diterima. Cj = 6 ! b..... perlu diupayakan untuk mengukur jumlah sampah di sumber..... Biasanya sampling dilakukan di TPS atau pada gerobak yang diketahui sumber sampahnya.. frekuensi pengambilan sampel sebaiknya dilakukan selama 8 (delapan) hari berturut-turut guna menggambarkan fluktuasi harian yang ada.. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kehilangan sampah di setiap tahapan proses operasional pengelolaan sampah tersebut.. Penerapan yang dilaksanakan di Indonesia biasanya telah disederhanakan............. Untuk keperluan tertentu... b. Pendekatan praktis: dapat dilakukan dengan pengambilan sampel sampah berdasarkan atas jumlah minimum sampel yang dibutuhkan untuk penentuan komposisi sampah.. 6 Bila jumlah penduduk > 10 jiwa P = Cd..... aliran bahan yang hilang dalam system........Jumlah penduduk = 900.... Jumlah sampel minimum: ditaksir berdasarkan berapa perbedaan yang bisa diterima antara yang ditaksir dengan penaksir.

34 l/o/hari.....88%] = 1... seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya.. yaitu : X High income = X→ x160 Medium income = Y→ Low income = Z ! (X +Y +Z ) Y x160 (X +Y +Z ) Z → x160 (X +Y +Z ) Untuk memprediksi timbulan sampah dapat digunakan persamaan sebagai berikut: ! Qn = Qt(1+Cs)n ... seperti pestisida dan insektisida... yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. obat-obatan. shampo anti ketombe.... cairan pmbersih. Contoh:  Timbulan sampah suatu kota saat ini (tahun 2004) = 2......... Cqn = 3... Cp = 0.... termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari..... hairspray...03% Jadi: 1 Q(2005) = 2. gas elpiji..32.000 = 9... spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci.. oli mobil. pembunuh kecoa − di kamar tidur.3) (2.. 37% + 0 ..... Qt: timbulan sampah pada tahun awal perhitungan. kosmetik.. 49%) / 3] [1+1. khususnya di kota. Kegiatan agrowisata. semir.  Ci = 9. 2020? Penyelesaian : Cs = [1+ ( 9 .0103) = 2. asam cuka...88% Berapa besar timbulan sampah pada tahun 2005. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga. seperti parfum.. Cqn: laju peningkatan pendapatan per kapita...... seperti penggunaan pestisida dalam kegiatan pertanian. seperti korek api....... pupuk..  P = 1... soda kaustik.... namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan...32 l/o/hari. Cp: laju pertumbuhan sektor pertanian... P: laju pertumbuhan penduduk. perekat... 16 Q(2020) = 2... tabung bekas pewangi ruangan...5.... ! dimana : Qn: timbulan sampah pada n tahun mendatang....... air freshener..4) !+ (Ci + Cp + Cqn ) / 3] [1 [1+ p ] .... alkohol.... 2....(1+0......(1+0..... seperti pembersih saluran air.(1+0. batere........ kaporit atau desinfektan..0103) = 2. seperti cairan setelah mencukur.... Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 20 ... Ci: laju pertumbuhan sektor industri.32. Setiap 1 rumah diasumsikan terdiri atas 6 jiwa 950 Jumlah rumah = = ± 160 rumah 6 ! Jumlah sampel yang harus diambil dari masing-masing strata pendapatan.... maka bahan tersebut akan menjadi limbah.....5 Sampah Berbahaya dari Rumah Tangga [27] Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini.. 2010..... obat-obatan.. − di garasi/taman....82%........82% + 3..... minyak tanah.. dengan Cs= ! (2. 6 Q(2010) = 2...49%... tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya...........0103) = 2.10 jiwa = 950 jiwa.. kamfer. Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan.. yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya...47 l/o/hari...Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Penyelesaian : 2 P = 1 x 900.........32.73 l/o/hari... Bahan-bahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga... yaitu: − di dapur..... cat dan solven pengencer.... Cs: peningkatan/pertumbuhan kota... pembersih toilet...37%. aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang terlihat asri.

pupuk: toksik − aerosol: mudah terbakar. toksik d. korosif − pembersih saluran air: korosif − pengkilap mebel: mudah terbakar − pembersih kaca: Korosif (iritasi) − pembersih oven: korosif − semir sepatu: mudah terbakar − pengkilap logam (perak): mudah terbakar − penghilang bintik noda: mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain: korosif.13 di bawah ini. iritasi mata atau kulit. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah berbahaya pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. mudah terbakar − herbisida. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. seperti timbulnya gas toksik bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang yang mengandung khlor.1 Cat dan sejenisnya 7. Produk otomotif: − cairan anti beku: toksik − oli: mudah terbakar − aki mobil: korosif − bensin. Tabel 2. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 21 . atau menimbulkan ledakan bila tabung sisa aerosol terbakar di bak sampah. lamban. kepala pusing. misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut. Produk rumah tangga lain: − cat: mudah terbakar. Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif: korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang: toksik. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe): toksik − penghilang cat kuku: toksik.5 Penggunaan rumah tangga lain 6.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian.13: Limbah berbahaya dari rumah tangga [4] Komponen Persen Penggunaan untuk pembersih 40. seperti tertera dalam Tabel 2.4 Produk untuk otomotif 30. seperti kesulitan bernafas. mudah terbakar b.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas: a. toksik − pelarut / tiner: mudah terbakar − baterei: korosif dan toksik − khlorin kolam renang: korosif dan toksik − biosida anti insek: toksik. Oleh karenanya. mudah terbakar − minyak wangi: mudah terbakar − kosmetika: toksik − obat-obatan: toksik c. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain. minyak tanah: mudah terbakar.0 Penggunaan untuk perawatan badan 16.

3. Konsep proses bersih di atas kemudian diterapkan lebih spesifik dalam pengelolaan sampah. yaitu [28]: a. Dijelaskan bahwa 3R (reduce. Langkah 4 Treatment (olah): residu yang dihasilkan atau yang tidak dapat dimanfaatkan kemudian diolah. Langkah 6 Remediasi: media lingkungan (khusunya media air dan tanah) yang sudah tercemar akibat limbah yang tidak terkelola secara baik. b. yaitu konsep yang dianggap perlu diperbaiki. Langkah 2 Reuse (guna-ulang): bila limbah akhirnya terbentuk. fluida dan enersi yang digunakan − Pemakaian kembali bahan baku tercecer yang masih bisa dimanfaatkan − Penggantian bahan baku. perlu direhabilitasi atau diperbaiki melalui upaya rekayasa yang sesuai. reuse dan recycle) merupakan dasar penanganan sampah menurut UU-18/2008. dikenal sebagai pendekatan end-of-pipe. Langkah 5 Dispose (singkir): residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas ke lingkungan secara aman. dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin. kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan. atau agar dapat secara aman dilepas ke lingkungan e. Pendekatan proaktif: yaitu upaya agar dalam proses penggunaan bahan akan dihasilkan limbah yang seminimal mungkin. reuse dan recycle. agar memudahkan penanganan berikutnya. Secara ideal kemudian pendekatan proses bersih tersebut dikembangkan menjadi konsep hierarhi urutan prioritas penanganan limbah secara umum. Konsep pengendalian limbah secara reaktif tersebut kemudian diperbaiki melalui kegiatan pemanfaatan kembali residu atau limbah secara langsung (reuse). Konsep ini secara sederhana meliputi: − Pengaturan yang lebih baik dalam manajemen penggunaan bahan dan enersi serta limbahnya melalui good house keeping − Penghematan bahan baku. Upaya R1. khususnya limbah padat.1 Konsep Minimasi Limbah Dilihat dari keterkaitan terbentuknya limbah. Pendekatan reaktif: yaitu penanganan limbah yang dilakukan setelah limbah tersebut terbentuk Pendekatan proakatif merupakan strategi yang diperkenalkan pada akhir tahun 1970-an dalam dunia industri. Langkah 1 Reduce (pembatasan): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin b. seperti bioremediasi dan sebagainya. fluida dan enesi − Pemodivikasian proses bahkan kalau perlu penggantian proses dan teknologi yang digunakan agar emisi atau limbah yang dihasilkan seminimal mungkin dan dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin − Pemisahan limbah yang terbentuk berdasarkan jenisnya agar lebih mudah penanganannya Pendekatan reaktif. ada 2 (dua) pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan akibat adanya limbah. adalah konsep dengan upaya pengendalian yang dilakukan setelah limbah terbentuk. Selanjutnya. yang dikenal sebagai pendekatan 3R. dan/atau melalui sebuah proses terlebih dahulu sebelum dilakukan pemanfaatan (recycle) terhadap limbah tersebut. Sedangkan penyingkiran limbah bertujuan mengurangi volume dan bahayanya Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 22 . maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung c. Pengelolaan sampah hendaknya bersifat terpadu sesuai dengan karakteristik sampah itu sendiri. yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman seperti menyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan disiapkan secara baik f.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 3 PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI PENGURANGAN Bagian ini menjelaskan konsep utama pengelolaan sampah yang bertumpu pada pengurangan (minimasi) sejak sebelum sampah itu terbentuk. dikenal sebagai proses bersih atau teknologi bersih yang bersasaran pada pengendalian atau reduksi terjadinya limbah melalui penggunaan teknologi yang lebih bersih dan yang akrab lingkungan. R2 dan R3 adalah upaya minimasi atau pengurangan sampah yang perlu ditanganii. usaha pengolahan atau pemusnahan sampah bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan bila residu tersebut dilepas ke lingkungan. Langkah 3 Recycle (daur-ulang): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. agar emisi dan residu yang dihasilkan aman dilepas kembali ke lingkungan. dengan penekanan pada reduce. baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi d. Sebagian besar pengolahan dan/atau pemusnahan sampah bersifat transformasi materi yang dianggap berbahaya sehingga dihasilkan materi lain yang tidak mengganggu lingkungan. yaitu: a. Konsep ini mengandalkan pada teknologi pengolahan dan pengurugan limbah.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) (seperti insinerasi) ataupun pengurugan dalam tanah seperti landfilling (lahan-urug). komposisi. Langkah 3: Penggunaan produk yang dikonsumsi berulang-ulang d. dan jumlah sampah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 23 . guna-ulang (R2) dan daur-ulang (R3) b. Pengurangan sampah (waste minimization). yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah R1). Gambar 3. Langkah 5: Pengembalian residu atau limbah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi melalui disposal di alam secara aman dan sehat Langkah 1: Hemat penggunaan SDA Input SDA bahan baku Proses Produksi Manufaktur. jumlah. Penanganan sampah (waste handling).2 Konsep Pengurangan dalam Pengelolaan Sampah menurut UU-18/2008 Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. yaitu: a. Langkah 1: Penghematan penggunaan sumber daya alam b. dan/atau sifat sampah − Pengumpulan: dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu − Pengangkutan: dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir − Pengolahan: dalam bentuk mengubah karakteristik. yang terdiri dari: − Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis. secara sehat dan aman Gambar 3. terdapat 2 kelompok utama pengelolaan sampah.1: Konsep sound material-cycle society [modifikasi dari 29] 3. Langkah 4b: Pemanfaatan enersi yang terkandung dalam sampah. yang biasanya dilakukan melalui teknologi insinerasi f. yang diperkenalkan di Jepang sebagai Masyarakat Berwawasan Bahan-Daur (Sound Material Material-Cycle Society) dengan langkah sebagai berikut [29]: a. Distribusi Langkah 2: Batasi (reduksi) konsumsi penggunaan bahan Langkah 4a: Daur-ulang bahan yg tidak dapat di-reuse sebagai bahan baku Konsumsi Langkah 3: Gunakan bahan berulang-kali Residu Langkah 4b: Permanfaatan enersi dari bahan yang tidak terdaurulang. Langkah 4a: Pendaur-ulangan bahan yang tidak dapat digunakan langsung e.1 adalah skema umum yang sejenis seperti dibahas di atas melalui pendekatan 3R. dan tidak ada alternatif lain Pengolahan (Recycling. termasuk dalam proses produksi di sebuah industri c. Langkah 2: Pembatasan konsumsi penggunaan bahan dalam kegiatan sehari-hari. Pengomposan Insinerasi) Pemrosesan Akhir Langkah 5: Kembalikan residu yg tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Oleh karenanya. tetapi juga upaya yang sebetulnya biasa diterapkan sehari-hari di Indonesia.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − Pemrosesan akhir sampah: dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. atau sebagai bahan baku untuk produk yang berbeda. Beberapa hal yang diatur dalam UU-18/2008 terkait dengan upaya minimasi (pembatasan) timbulan sampah adalah [2]: a. Guna-ulang (reuse): bila limbah akhirnya terbentuk. dapat didaur ulang. yaitu agar semua kegiatan manusia handaknya berupaya untuk meminimalkan terbentuknya limbah atau meminimalkan tingkat bahaya dari limbah. Pembatasan (reduce): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin b. atau memanfaatkan enersi yang dihasilkan dari proses recycling tersebut. dan sampahnya mudah untuk diguna-ulang dan didaur-ulnag − Menggunakan bahan yang berasal dari hasil daur-ulang limbah − Mengurangi penggunaan bahan berbahaya − Menggunakan eco-labeling Konsep guna-ulang (reuse) mengandung pengertian bukan saja mengupayakan penggunaan residu atau sampah terbentuk secara langsung. Bagian sampah atau residu dari kegiatan pengurangan sampah yang masih tersisa selanjutnya dilakukan pengolahan (treatment) maupun pengurugan (landfilling). yang mempunyai sasaran utama minimasi limbah yang harus dikelola dengan berbagai upaya agar limbah yang akan dilepas ke lingkungan. Gagasan yang lebih radikal adalah melalui konsep kegiatan tanpa limbah (zero waste). yaitu memperbaiki barang ynag rusak agar dapat dimanfaatkan kembali. memproduksi produk yang mempunyai masa-layan panjang sangat diharapkan. dan/atau mudah diurai oleh proses alam. baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi Ketiga pendekatan tersebut merupakan dasar utama dalam pengelolaan sampah. yang masing-masing mempunyai peran utama dalam membatasi sampah yang akan dihasilkan. baik melaui tahapan pengolahan maupun melalui tahan pengurugan terlebih dahulu. dan/atau mudah diurai oleh proses alam d. bahkan kalau muingkin meniadakan. Masyarakat penghasil sampah: − Memahami dampak akibat sampah yang dihasilkan − Mempertimbangkan ulang pola hidupnya Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 24 . Daur-ulang (recycle): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. didaur ulang. Konsep daur-ulang (recycle) mengandung pengertian pemanfaatan semaksimal mungkin residu melalui proses. Pemerintah memberikan: − insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan sampah − disinsentif kepada setiap orang yang tidak melakukan pengurangan sampah Ketentuan tersebut di atas masih perlu diatur lebih lanjut dalam bentuk Peraturan Pemerintah agar dapat dilaksanakan secara baik dan tepat sasaran. Pengurangan sampah melalui 3R menurut UU-18/2008 meliputi: a. gagasan ini lebih ditonjolkan sebagi semangat dalam pengendalian pencemaran limbah. Jepang membagi stakeholders utama dalam pengelolaan sampah yang berbasis 3R dalam 5 kelompok. maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung c. Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan menggunakan bahan produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin. yaitu [29]: a. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan: − menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu − memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan − memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan − memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang − memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang. kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan. UU-18/2008 ini menekankan bahwa prioritas utama yang harus dilakukan oleh semua fihak adalah bagaimana agar mengurangi sampah semaksimal mungkin. dapat diguna ulang. akan menjadi sesedikit mungkin dan dengan tingkat bahaya sesedikit mungkin. Sebagai pembanding. Konsep pembatasan (reduce) jumlah sampah yang akan terbentuk dapat dilakukan antara lain melalui: − Efisiensi penggunaan sumber daya alam − Rancangan produk yang mengarah pada penggunaan bahan atau proses yang lebih sedikit menghasilkan sampah. baik sebagai bahan baku untuk produk sejenis seperti asalnya. gagasan ini dapat dilakukan. b. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah menggunakan bahan yang dapat diguna ulang. c. Bagi prosdusen. Secara teoritis. tetapi secara praktis sampai saat ini belum pernah dapat direalisir.

reusable packaging − Recyclable packaging Bahan buangan berbentuk padat. tingkatan pengemas yang diinginkan adalah [3]: − Tanpa packaging − Minimal packaging − Consumable. yang sulit untuk dipisahkan satu dengan lainnya. Pengemas yang sulit dipisah misalnya bahan polyethylene yang dilapis karton. guna-ulang dan daur-ulang terhadap produk bekas-nya − Mengelola limbah secara berwawasan lingkungan − Mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan − Memberi informasi yang jujur kepada konsumen melalui label dan laporan Pemerintah Daerah: − Memastikan diterapkannya peraturan dan panduan − Menyiapkan rencana tindak − Mendorong ’green purchasing’. Pengemas untuk makanan merupakan residu yang paling banyak dijumpai di tingkat konsumen. tidak mengandung bahan berbahaya. logam. yaitu [3]: − Produk yang tanpa pengemas sama sekali − Pengemas level-1 (primary packaging): pengemas yang kontak langsung dengan produk − Pengemas level-2 (secondary packaging): pengemas suplementar dari primary packaging − Pengemas level-3 (tertiary packaging): pengemas yang dibutuhkan untuk pengiriman. Diestimasi pula bahwa sepertiga dari seluruh produk plastik adalah untuk penggunaan jangka pendek. karena beberapa di antaranya berupa kemasan yang dapat dipakai berulang-ulang. sekitar 30 % sampah kota merupakan bahan pengemas (packaging). yaitu sebagai pengemas produk [2]. serta volume/massanya yang sesedikit mungkin. maka akan mengurangi sampah yang harus ditangani serta akan mengurangi biaya pengangkutan. Dengan demikian dalam konsep reduksi sampah. seperti kertas. plastik adalah bahan yang biasa didaur-ulang. Terdapat berbagai tingkat fungsi pengemasan. Dengan mengurangi pengemas ini. returnable.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) b. dan peningkatan pemahaman masyarakat − Menjamin masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan − Bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan 3R dan fihak bisnis − Bertindak sebagai koordinator lokal dalam pengembangan masyarakat berwawasan daur-bahan − Menyedian ruang dan kesempatan untuk saling bertukar barang-bekas dan informasi antar stakeholders − Promosi kerjasama internasional Pemerintah Pusat: − Mengembangkan sistem. disatukan dengan lem secara kuat dan sebagainya. penelitian dan pengembangan untuk membangun masyarakat yang berwawasan daur-bahan − Memberikan dorongan dan infoirmasi bagi warga dan LSM yang akan melaksanakan kegiatan secara sukarela − Menyiapakan dasar yang dibutuhkan bagi kegiatan seluruh stakeholders − Mempromosikan kerjasama dan dialog internasional terkait dengan kegiatan 3R 3. Beberapa jenis produk kadang membutuhkan kemasan yang komplek. Namun dermikian. Beberapa negara industri telah menerapkan program kemasan yang ramah lingkungan. e. misalnya pemilahan sampah − Berpartsipasi dalam pengembangan pengelolaan sampah berbasis 3R LSM: − Mempromosikan kegiatan-kegiatan positif 3R dalam level masyarakat − Mempromosikan peningkatan kesadaran − Menyiapkan-melakukan training dan sosialisasi − Memantau upaya-upaya yang dilakukan oleh kegiatan bisnis dan pemerintah − Memberikan masukan kebijakan yang sesuai Fihak Swasta: − Menyiapkan barang dan jasa yang berwawasan lingkungan − Melaksanakan kegiatan ’take-back’. − Memilih barang dan pelayanan yang berwawasan lingkungan − Berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah. d. termasuk aspek legal yang dibutuhkan − Memberikan subsidi dan pengaturan pajak untuk fasilitas. terdiri dari beragam komponen dengan pengemasan yang berbeda karena mempunyai fungsi yang berbeda. seperti botol minuman. tidak semua pengemas otomatis akan menghasilkan limbah yang harus ditangani.3 Pembatasan (Reduce) Timbulan Sampah Di Eropa dan USA. Bahan ini bisa saja didaur-pakai secara langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 25 . c. yang mensyaratkan penggunaan kemasan yang kandungan terdaur-ulangnya maksimum. Pengemas yang diinginkan adalah yang mudah dipisahkan satu dengan lain.

biasanya merupakan bahan pengemas produk. Di Indonesia. Gambar 3. termasuk servis bergaransi − Langkah 3: menerima pengembalian produk bekas termasuk pengemas. di beberapa negara maju. UU-18/2008 menggaris bawahi bahwa pengurangan sampah dilakukan sebelum sampah tersebut terbentuk. − Memperpanjang usia TPA.2). juga terhadap kegiatan industri dan pengusaha lainnya. Kewajiban pengurangan sampah ditujukan bukan saja bagi konsumen. tidak terbatas pada produk utamanya. khususnya dalam pengelolaan sampah kota. − Mengurangi potensi pencemaran air dan tanah. maka peran produsen yang menggunakan pengemas untuk memasarkan produknya menjadi mata rantai awal yang diatur oleh UU tersebut. − Menghemat pemakaian sumber daya alam. melalui beberapa langkah: − Langkah 1: penghematan bahan baku di proses produksi − Langkah 2: memproduksi barang yang berumur panjang.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) menjadi bahan baku baru. Jepang termasuk negara dengan kebijakan Pemerintahnya yang sangat mendorong upaya 3R. Di negara industri. Bahan buangan ini banyak dijumpai. biasanya dilipat secara rapi. seperti biaya penangan residu atau limbah yang muncul akibat penggunaan produk tersebut menjadi bagian dari komponen harga produk yang dipasarkan tersebut. Di Jepang. − Mengurangi kebutuhan sarana sistem kebersihan.3 adalah langkah EPR yang diterapkan di Jepang. bukan saja terhadap penghasil sampah rumah tangga. terdapat seni membuat kantong dari kain biasa untuk membawa barang keperluan sehari-hari termasuk barang yang dibeli dari toko atau pasar. Membawa kantong sendiri adalah salah satu upaya yang sangat dianjurkan agar timbulan sampah dapat dikurangi. termasuk upaya pembatasan limbah. dan disimpan dalam tas tangan yang digunakan sehari-hari. menggunakan bahan baku atau menghasilkan produk yang berasal dari hasil daur-ulang serta mengupayakan penggunaan dan pengembangan teknologi daur-ulang Disamping mendorong produsen untuk menerapkan EPR. tetapi termasuk pula pengemas dari produk utama tersebut. melalui penggunaan bahan berulang-ulang.2: Seni Furoshiki dalam pembatasan sampah melalui 3R di Jepang [29] Terkait dengan pengemas produk yang dibahas di atas. Bahan inilah yang pada tingkat konsumen kadang menimbulkan permasalahan. namun sangat sulit dibiasakan di Indonesia khususnya pada masyarakat urban. Dikenal konsep Extended Producer Responsibility (EPR). mendorong reparasi pada barang yang rusak. seperti penggunaan kantong plastik yang secara ’manja’ disediakan secara berlimpah bila kita berbelanja di toko. yaitu strategi yang dirancang dengan menginternalkan biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sebuah produk. Upaya mereduksi sampah sebetulnya akan menimbulkan manfaat jangka panjang seperti: − Mengurangi biaya pengelolaan dan investasi. upaya mereduksi sampah masih belum mendapat perhatian yang baik karena dianggap rumit dan tidak menunjukkan hasil yang nyata dalam waktu singkat. tetapi juga ditujukan pada produsen produk. yaitu Furoshiki (Gambar 3. peran dan tanggung jawab produsen dimasukkan dalam pengelolaan limbah secara menyeluruh yang dikenal sebagai Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 26 . adalah pembatasan adanya sampah sebelum barang yang kita gunakan menjadi sampah. Salah satu upaya sederhana. Gambar 3. pengemas yang mudah didaur-ulang akan menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan nilai saing produk tersebut di pasar. Dengan demikian biaya lingkungan. Kain tersebut sebelum digunakan. misalnya melalui penghematan penggunaan bahan.

Mekanisme yang diterapkan adalah sebagai berikut [30]: − Konsumen membayar biaya pengumpulan barang bekasnya: TV (2. coklat dan hijau) − Botol PET (untuk minuman beralkohol dan non alkohol.2: Kaitan 3R dengan extended producer responsibility (EPR) [29] Bila di Indonesia baru tersedia sebuah UU yang mengatur pengelolaan sampah. berdasarkan UU-tentang peralatan rumah tangga. AC (3. yaitu Undang-undang tentang: − Masyarakat bebasis daur-bahan (material-cycle society) − Pengelolaan limbah dan kebersihan − Penggunaan secara efektif sumberdaya − Recycling wadah dan pengemas − Recycling peralatan rumah tangga − Recycling sisa makanan − Recycling puing bangunan − Recycling end-of-life Kendaraan − Promosi produk hijau 60% sampah kota di Jepang merupakan wadah dan pembungkus. Dengan demikian. Langkah 1: Reduksi di sumber 2. pengembangan teknologi recycling Langkah 3: Pengembalian produk telah terpakai Gambar 3. servis bergaransi REUSE (R2) HULU Produksi Distribusi Konsumsi Pengolahan Disposal HILIR RECYCLING (R3) Langkah 4 Reuse – recycling produk bekas. maka setiap pengusaha yang memproduksi atau menjual mempunyai kewajiban untuk mendaur-ulang paling tidak 60% AC. kulkas (4. pembuatan produk dan bahan baku dari bahan bekas. pemilahan dan penyimpanan. 85 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 27 .830 Yen) dan mesin cuci (2. sedang pengusaha bertanggung jawab untuk biaya recycling dan pemrosesan − Pengusaha bertanggung jawab terhadap pengemas atau wadah yang mereka buat atau mereka jual bersama produknya − Untuk melaksanakan kewajiban tersebut. serta botol saus kedele) − Wadah dan pembungkus dari kertas − Wadah dan pembungkus dari plastik Mekanisme EPR di Jepang untuk wadah dan pengemas adalah sebagai berikut [30]: − Pemerintah kota bertanggung jawab untuk membiaya pengumpulan.675 Yen).520 Y). Langkah 2: Reparasi. Berdasarkan UU-tentang Recycling Wadah dan Pengemas. maka di Jepang tersedia paling tidak 9 (sembilan) UU yang terkait dengan sampah. maka yang diatur untuk didaur-ulang adalah: − Gelas/botol (tidak berwarna.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) internalisasi biaya lingkungan dalam biaya produk. biaya penanganan limbah dan dampaknya sudah termasuk di dalamnya.835 Yen). Kurs 1 Yen = Rp. Pemerintah Jepang menugaskan Japan Containers and Packaging Recycling Association (JCPRA) untuk melaksanakan aktivitas daur-ulang atas nama pengusaha yang membayar recycling-fee kepada JCPRA Dalam hal alat-alat elektronik rumah tangga. 50% refrigerataor dan 50% mesin cuci untuk di-reproduksi. 1. 55% TV set. produk dengan umur layan panjang.

seperti sisa makanan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − Pengusaha retailer yang menjual barang tersebut sebelumnya bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengangkut menuju titik pengumpulan yang telah ditentukan Pabrik dan importir bertanggung jawab mendaur-ulang barang yang mereka buat atau import yang telah dikumpulkan oleh retailer. Sampai saat ini Indonesia belum mempunyai simbol tentang eco-labeling. petugas sampah. seperti pedagang sampah (tukang loak). khususnya di daerah pertanian. ada beberapa pendekatan teknologi.2: Simbol eco-labeling dari beberapa negara [30] (1) Blue Angel (Jerman) (2) European Union Ecolabel (3) Green Seal (USA) (4) Terra Choise (Kanada) (5) China Environmental Labeling (6) Jepang (7) Nordic White Swan (8) Austria (9) Taiwan (10) India (11) Israel (12) Milijeukeur (Belanda) (13) Environment 2000 (Zimbabwe) (14) Korea Selatan (15) Aenor (Spanyol) (16) Green Label (Muangthai) (17) Green Label (Hongkong) 3.000Y. maka bila PC tersebut sudah tidak berfungsi akan bebas biaya recycling. Dalam pengelolaan sampah. yang menandakan bahwa produk tersebut dibuat dengan memperhatikan aspek lingkungan. upaya daur-ulang akan berhasil baik bila dilakukan pemilahan dan pemisahan komponen sampah mulai dari sumber sampai ke proses akhirnya. pengurangan volume dan pengurangan ukuran. pemulung. Penanganan pendahuluan umumnya dilakukan untuk memperoleh hasil pengolahan atau daur-ulang yang lebih baik dan memudahkan penanganan yang akan dilakukan. Di Indonesiapun. walaupun umumnya baru melibatkan sektor informal. Hal lain yang diatur dalam tanggung jawab EPR antara lain [30]: − PC yang mempunyai label.65. Usaha penanganan pendahuluan ini dilakukan dengan tujuan memudahkan dan mengefektifkan pengolahan sampah selanjutnya. di antaranya penanganan pendahuluan. Penanganan pendahuluan yang umum dilakukan saat ini adalah pengelompokan limbah sesuai jenisnya. termasuk upaya daur-ulang. daun-daunan dsb. Dalam usaha mengelola limbah atau sampah secara baik. Salah satu upaya EPR yang biasa diterapkan terhadap produk yang dipasarkan adalah pencantuman eco-labeling. khususnya limbah yang bersifat hayati.000Y untuk setiap kendaraan yang 'dibuang' atau yang menurut inspeksi dianggap tidak layak jalan. sedang yang tidak mempunyai label harus membayar − Pemilik kendaraan bermotor membayar antara 10. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 28 .4 Guna-ulang (Reuse) dan Daur-ulang (Recycle) Sampah Daur-ulang limbah pada dasarnya telah dimulai sejak lama. seperti tercantum dalam Gambar 3. Dalam pengelolaan persampahan di Indonesia. masyarakat sudah mengenal daur ulang limbah. upaya daurulang memang cukup menonjol.3 berikut. Gambar 3. bandar/lapak dsb. tukang servis alat-alat elektronika.

Persoalannya adalah bagaimana meningkatkan keterlibatan masyarakat. Bisa saja terjadi bahwa kualitas produk yang baru sudah mengalami penurunan dibanding produk asalnya. sehingga bisa dimanfaatkan kembali dalam berbagai bentuk. Reuse: upaya yang dilakukan bila limbah tersebut dimanfaatkan kembali tanpa mengalami proses atau tanpa transformasi baru. melalui upaya pengumpulan dan pemisahan yang baik. Mungkin dalam bahasa Indonesia kosa kata yang sepadan adalah daur-ulang.3 berikut ini yang intinya adalah upaya pemanfaatan limbah. reduce. enersi. dan kualitas produk yang dihasilkan. Resources RECYCLING Fluida Raw Material Energi Waste Energy Waste REDUCE Proses Produksi RECLAMATION REUSE Produk ke Konsumen Residual by product Waste RECOVERY / RECUPERATION Gambar 3. seperti yang tercantum dalam Gambar 3. Dari sebuah literatur. − Lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan sarana dan prasarana persampahan. Limbah tersebut diproses terlebih dahulu. − Terciptanya peluang usaha bagi masyarakat dari pengelolaan sampah (usaha daur ulang dan pengomposan). Sebelum terminologi 3R menjadi acuan umum dalam penanganan sampah dikenal beragam terminologi yang menggunakan ”R”. dengan penekanan pada [31]: Reduce: upaya mengurangi terbentuknya limbah. misalnya botol minuman kembali menjadi botol minuman Recycle: misalnya botol minuman dilebur namun tetap dijadikan produk yang berbasis pada gelas. seperti reuse dsb. 31] Semua fihak di Indonesia sepakat bahwa program 3R dinilai sangat bermanfaat. Perlu kemauan semua fihak. Kosa kata inilah yang paling sering digunakan. Pemilahan yang dianjurkan adalah pola pemilahan yang dilakukan mulai dari level sumber atau asal sampah itu muncul. − Adanya pemisahan dan pemilahan sampah baik di sumber timbulan maupun di tempat pembuangan akhir dan adanya pemusatan kegiatan pengelolaan akan lebih menjamin terkendalinya dampak lingkungan yang tidak dikehendaki. refurbishment. sehingga harus selalu dilaksanakan. seolah-olah sumber daya alam yang baru.4 : Konsep daur-ulang sampah [dimodifikasi dari Ref. − Terciptanya jalinan kerjasama antara pemerintah kabupaten/kota dan antara pemerintah dan masyarakat/swasta dalam rangka menuju terlaksananya pelayanan sampah yang lebih berkualitas. Terminologi daur-ulang di Indonesia sudah cukup lama digunakan. sampai kepada rethinking dan masih banyak lagi. tapi digunakan juga untuk menjelaskan aktivitas lain. bukan hanya penghasil sampah. Reclamation: bila limbah tersebut dikembalikan menjadi bahan baku baru.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Upaya pemilahan sangat dianjurkan dan hendaknya diprioritaskan sehingga termasuk yang paling penting didahulukan. tetapi juga stakeholders lainnya. Pilihan daur-ulang hendaknya disertai alasan yang rasional seperti bagaimana aspek biaya. termasuk penghematan atau pemilihan bahan yang dapat mengurangi kuantitas limbah serta sifat bahaya dari limbah Recovery: upaya untuk memberikan nilai kembali limbah yang terbuang. karena sampah tersebut masih murni dalam pengertian masih memiliki sifat awal yaitu belum tercampur atau terkontaminasi dengan sampah lainnya. termasuk pemerintah untuk secara nyata menerapkan konsep ini. recycle. Manfaat dari upaya tersebut dalam jangka panjang antara lain adalah [13]: − Berkurangnya secara drastis ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir. Jadi terminologi ’daur-ulang’ di Indonesia biasanya digunakan untuk seluruh upaya pemanfaatan kembali. dan dihasilkan produk yang mungkin berbeda dibanding produk asalnya. masing-masing kosa kata tersebut mempunya pengertian yang berbeda. repair. sehingga dapat menjadi input baru dari suatu kegiatan produksi. namun selama ini pengertiannya bukan hanya identik dengan recycle. Dari sudut permasalahan sampah di suatu Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 29 . tetapi sampai saat ini upaya-upaya nyata belum terlihat. Daur-ulang limbah tidak selalu harus diartikan bahwa upaya ini adalah yang paling baik. reuse. seperti recovery.

dan hanya sebagian kecil saja yang didaur-ulang atau dikompos. Biasanya. misalnya karena adanya biaya pengangkutan. Jadi aspek biaya dan kualitas perlu menjadi perhatian utama pada saat memutuskan apakah perlu dilakukan direct recycling. Atau dimanfaatkan sebagai sumber enersi (a) memproduksi gas bahan bakar dalam prirolisis atau (b) bahan bakar langsung dalam pabrik semen dalam eco-cement. direct recycling. Bahan yang diproses dengan cara ini kemungkinan mengalami degradasi dari segi kualitas. Jadi sebetulnya landfilling atau insinerasi adalah digunakan sebagai upaya menangani limbah yang telah tidak mempunyai nilai lagi untuk didaur-ulang. sebagian besar penanganannya hanya dengan pengurugan sederhana. indirect recycling: • Reuse: contoh botol minuman. dsb) atau sifat-sifat lain. maka harus dilihat bahwa sekian ratus atau ribu ton sampah harus ditangani setiap tahun. ukurannya akan tambah lama tambah memendek. Bila bahan cullet (bahan kaca) ini ternyata lebih mahal dibandingkan biaya dari bahan baku murni. Reuse adalah opsi yang paling diinginkan. lalu botol tersebut dikirim ke pabrik pembuat botol untuk dilebur untuk dijadikan bahan pembuat botol baru. Biaya yang dibutuhkan akan lebih tinggi dibandingkan reuse. Maka pemanfaatan lanjut adalah. Serat kertas yang diproses berulang-ulang akan mengalami penurunan kualitas. Dikenal terminologi lain. ternyata dari sudut kualitas bahan kurang baik. • Indirect recycling: misalnya botol minuman di atas. maka opsi ini jelas kurang menguntungkan untuk diteruskan. atau repulping yang akan dihasilkan bahan kertas baru. Penanganan akhir dari bahan yang demikian adalah biasanya landfilling atau insinerasi. Proses indirect recycling ini dinilai mempunyai level yang terendah. daur-ulang adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dari sampah. akan sulit dan mahal biayanya bila hendak didaur-ulang kembali. misalnya kertas atau plastik. akan mengalami penurunan derajat. bila sebuah bahan telah mengalami proses indirect recycling. Untuk memisahkan dibutuhkan upaya yang mengakibatkan biayanya menjadi mahal. seperti kertas koran diproses agar tinta-nya disingkirkan (deink). Plastik yang ternyata tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan wadah yang baik. karena enersi dan biaya yang dibutuhkan paling sedikit • Direct recycling: contoh botol minuman. dipakai ber-ulang dari produsen minuman ke konsumen setelah melalui proses pencucian dan pengisian minuman. misalnya digunakan untuk bahan baku barang yang tidak membutuhkan persyaratan estetika (warna. suatu ketika botol tersebut setelah tiba di produsen minuman dianggap kurang layak untuk diteruskan. Secara sederhana. bahan ini digunakan sebagai campuran bahan pelapais dasar pembuatan jalan. seperti reuse. sudah pecah dan bercampur dengan gelas warna lain yang. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 30 . Daur-ulang akan merupakan salah satu solusi bersama solusi yang lain yang perlu dipertimbangkan. serta pengotor lain.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) kota atau daerah. apalagi bila hendak dikembalikan pada posisi sebagai raw-material aslinya.

Dalam beberapa hal alasan-alasan tersebut saling terkait seperti yang lain dan saling mendukung. dapat meminimalkan biaya pengangkutan ke pembuangan akhir. atau pada skala kawasan. khususnya plastik dan kertas di Indonesia. Berdasarkan hal itu. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara manual (dilakukan dengan tangan manusia secara langsung) maupun secara mekanis (dilakukan oleh mesin). yaitu dalam bentuk gas metan Kemungkinan lain dari pemanfaatan limbah misalnya sebagai sumber protein atau bahan lain. Dalam sistem pengelolaan persampahan. Yang lain termasuk dalam katagori tidak terbarukan.1 Alasan Daur-Ulang Daur-ulang (yang dimaksud di sini adalah reuse dan recycling) limbah pada dasarnya telah dimulai sejak lama. Bahan buangan berbentuk padat. Proses daur ulang harus memperhatikan komposisi dan karakteristik limbah yang dominan. maupun sebagai bahan makanan. yaitu [32]: − Sebagai enersi panas seperti yang dikeluarkan dari sebuah insinerator dengan bahan bakar limbah bernilai kalor tinggi. misalnya sebagai pakan ternak atau sebagai pakan cacing. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 31 . Di negara industri. Bahan buangan ini banyak dijumpai. Bentuk lain pemanfaatan limbah dalam daur-ulang adalah kemungkinannya sebagai sumber enersi. khsususnya dari limbah yang berkatagori organik. Bahan ini bisa saja didaur-pakai secara langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk menjadi bahan baku baru. logam. Daur ulang yang dilakukan di sumber maupun penampungan sementara atau di skalab kawasan. atau pemanfaatan bahan. seperti siklus air. plastik adalah bahan yang biasa didaur-ulang. Sebagai bahan makanan pendekatan ini telah banyak digunakan di Indonesia. mahasiswa diminta mengamati aktivitas daur-ulang yang terjadi di lingkungannya. maka hal tersebut akan menjadi pilihan yang cukup menarik. Proses daur ulang juga dilakukan di sumber timbulan dan tempat penampungan sementara. dan umumnya melibatkan sektor informal. seperti sisa makanan. terutama bila daur ulang dilakukan di tempat pembuangan akhir. bagaimana potensi daur-ulang sampah kota.2 Daur-Ulang Limbah Secara Umum Proses daur-ulang pada umumnya membutuhkan rekayasa dalam bentuk [33]: a. upaya daur-ulang memang cukup menonjol. Paling tidak terdapat dua bentuk enersi hasil daur-ulang yang telah biasa dijumpai di lapangan. seperti kertas.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 4 KEGIATAN DAUR ULANG SAMPAH DI INDONESIA Bagian ini menjelaskan mengapa daur-ulang diperlukan. Beberapa alasan mengapa daur-ulang mendapat perhatian [31]: a. Bahan inilah yang pada tingkat konsumen kadang menimbulkan permasalahan. khususnya limbah yang bersifat hayati. Komponen limbah yang dibuang ke lingkungan dalam banyak hal mendatangkan dampak negatif pada lingkungan dengan pencemarannya. Pemanfaatan tersebut dapat dalam bentuk pemanfaatan enersi. baik sebagai bahan utama ataupun sebagai bahan pembantu c. daun-daunan dsb. 4. masyarakat sudah mengenal daur ulang limbah. dan biasanya merupakan bahan pengemas produk. Alasan ketersediaan sumber daya alam: beberapa sumber daya alam bersifat dapat terbarukan dengan siklus yang sistematis. sehingga ketersediaannya di alam menjadi kendala utama. Pengolahan limbah akan menjadi kewajiban. − Sebagai enersi kimia seperti yang dikeluarkan dari sebuah reaktor anaerob atau sebuah landfill limbah organik seperti sampah. Alasan nilai ekonomi: limbah yang dihasilkan dari suatu kegiatan ternyata dapat bernilai ekonomi bila dimanfaatkan kembali. sehingga upaya daur-ulang menjadi lebih terarah dan menarik. maka salah satu alasan daur-ulang adalah ketersediaan sumber-daya alam b. Alasan lingkungan: alasan lain yang paling mendapat perhatian adalah perlindungan terhadap lingkungan. khususnya dalam pengelolaan sampah kota. khususnya di daerah pertanian. Hal lain yang mempengaruhi adalah ketersediaan tenaga operasional agar proses berkelanjutan. Juga dijelaskan tentang peran sektor informal dalam daur-ulang sampah di Indonesia. aplikasi pengemas yang mudah didaurulang akan menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan nilai saing produk tersebut di pasar. Pemisahan dan pengelompokan: yaitu untuk mendapatkan limbah yang sejenis. Sebenarnya sampah mempunyai potensi untuk didaur-ulang. Di Indonesiapun. 4. Namun bila dalam upaya tersebut dapat pula dimanfaatkan nilai ekonomisnya. Guna lebih memahami. baik dengan rekayasa yang sistematis seperti dalam pembuatan alkohol.

sumber.7 % − Buku dan majalah: 8. seperti kertas komputer. biologi. 33] BAHAN YANG DIDAUR-ULANG Alumunium Kertas : • Kertas koran • Corrugated cardboard • Kertas kualitas tinggi • Kertas campuran Plastik dan nomor kelompoknya: • PETE : Kode 1 • HDPE : Kode 2 • PVC : kode 3 • LDPE : kode 4 • PP : kode 5 • PS : kode 6 • Multilayer dan lain-2 : kode 7 • Plastik campuran : 4 % Glass Logam ferrous Metal non-ferrous Limbah bahan bangunan Kayu Oli bekas Ban Batteri accu (Lead-acid) Batteri rumah tangga 4. homogenitas. coklat Tin cans Alumunium. logam Kotak kontainer. hijau. botol • Bungkus tipis. kertas tulis HVS Campuran kertas bersih. plate • Packaging multilayer. Banyak pengolahan limbah (padat. mempunyai serat panjang dengan persentase tinggi. kayu. seperti majalah. Pb Daur-ulang Zn. Pemurnian: yaitu untuk mendapatkan bahan/elemen semurni mungkin. Kadangkala limbah yang terbentuk tersebut. atu residu lain. scrap. karakteristik fisik dan kimia. Beberapa jenis kertas yang dijumpai dalam sampah adalah [4]: − Kertas campuran: kertas beraneka ragam dengan kualitas yang bervariasi. − Karton bergelombang − Kertas kraft putih maupun berwarna yang belum dicetak. kimia. Tabel 4. plastik. kertas pembungkus. atau termal. beberapa botol • Kombinasi di atas Botol dan wadah warna jernih. karton. sisa proyek Proses ulang oli bekas daur ulang : macam-macam Daur-ulang : asam. Botol susu • Pipa.1 % − Packaging kertas: 7. c. cetakan yang ada. Pencampuran: yaitu untuk mendapatkan bahan yang lebih bermanfaat. tembaga. Tabel 4. beer Kardus packaging Kertas komputer. Pengolahan atau perlakuan: yaitu untuk mengolah buangan menjadi bahan yang siap pakai. yang sebetulnya merupakan kegiatan yang mudah dilaksanakan.1: Sampah anoganik dalam sampah [32.9 % − Bahan corrugated: 22. baik melalui proses fisik. film • Botol air. Hg. Kertas berkualitas tinggi. kertas kantor.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) b. arsip kantor. ember. majalah. cair dan gas) menghasilkan residu seperti sludge atau debu. seperti sludge.1 berikut adalah potensi daur-ulang dari sampah. Sasaran utama dari rekayasa tersebut adalah bagaimana mendapatkan bahan yang sebaik mungkin sesuai fungsi dari bahan daur-ulang tersebut. koran. yang pada gilirannya harus ditangani lebih lanjut. Bersama dengan wadah karton gelombang serta boxboard. beton. tableware. tergantung pada jenis serat. Ag Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 32 .6 % − Tissu dan pembersih: 5. aspal. Persentase jenis kertas bekas yang biasa dijumpai di Amerika Serikat adalah [4]: − Kertas koran: 17. Upaya pertama daur-ulang adalah bagaimana memisahkan limbah di sumbernya. casing battery • Packaging komponen listrik/ elektronik.4 % − Kertas kantor: 10. timah Tanah. misalnya sejenis limbah dicampur dengan limbah lain atau dengan bahan lain d. putih/berwarna • • • • Botol soft drink.8 % − Paper non-packaging lain: 10.1 % − Paperboard lain: 10.7 % − Cetakan komersial: 6. lain-lain bahan film bungkus • Label untuk botol/kontainer. jumlahnya sekitar 25 . buku. − Kertas koran: surat kabar Masing-masing mempunyai tingkat kualitas tertentu.40 % berat.7 % JENIS PENGGUNAAN Wadah soft drink. menjadi bermasalah karena berkatagori sebagai limbah berbahaya.3 Potensi Daur Ulang Sampah Daur Ulang Kertas Bekas Di negara maju kertas merupakan komponen sampah yang paling banyak dijumpai.

Gambar 4. kabel listrik. baik sebagai bahan kontainer (wadah) maupun sebagai pembungkus. Sebagian besar berakhir pada sampah dan landfill. pipa plastic. label. sekarang terdapat upaya pembuatan botol depolymerisasi menjadi ethylene glycol dan terephthalic acid. kontainetr makanan. plastik otomotif − Dari daur-ulang konvensional. • Polypropylene (PP/5): biasanya untuk bungkus batere. mainan. bantal. • Setelah tercetak.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Prinsip daur ulang kertas secara sederhana yang banyak dijumpai di Indonesia. kertas yang masih basah dikeluarkan dari cetakan kemudian dikeringkan di terik matahari. Kertas Daur Ulang Siap Dikerin gkan Bubur Kertas di Atas P encetak Alas Pencetak Kertas Motor Penggerak Mesin Daur Ulang Mesin Pembuat Kertas Daur Ulang Gambar 4.1: Mesin pembuat kertas daur ulang Daur Ulang Plastik [4] Walaupun plastik telah dipakai lebih dari 60 tahun yang lalu. Hampir semua plastik packaging akhirnya dibuang. tutup botol. pipa drainage • Low-density polyethylene (LDPE/4): misalnya untuk packaging makanan. film. baju dingin − Post consumer PETE digunakan untuk fiber karpet. • Polystyrene (PS/6) • Lain-lain bahan-bahan plastik multilayer (7) Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 33 . isolasi kabel. pot bunga. selang kebun. namun penggunaannya sebagai packaging meningkat secara tajam dalam 35 tahun terakhir ini. floor tile. dengan uraian ringkas sebagai berikut [4]: • Polyethylene terephthalate (PETE/1): − Didaur ulang sebagai fiber polyester untuk sleeping bag. sehingga jumlahnya dalam sampah meningkat dari 3 % berat (1970-an) menjadi 7 % (1990-an). khususnya pada sektor informal adalah: • Kertas direndam dalam air hingga menjadi lembut untuk memudahkan proses penghancuran menjadi bubur kertas. misalnya coca-cola • High-density polyethylene (HDPE/2): − Sifatnya berbeda satu dengan lain tergantung produk yang akan dihasilkan − Botol susu dari resin dengan indeks leleh rendah − HDPE rigid terbuat dari resin dengan indeks leleh yang tinggi − Misalnya digunakan pada lapis dalam dari botol oli yang terdiri dari 3 lapis • Polyvinyl chloride (PVC/3): − Banyak digunkan untuk packaging makanan.1. • Bubur kertas yang terbentuk diletakkan dalam suatu cetakan dengan ukuran tertentu. digunakan mesin pencetak daur ulang kertas. Penggunaan plastik sebagai packaging mempunyai keunggulan dibanding yang lain. atau kadangkalan untuk kontainer makanan. kemudian repolimerisasi menjadi resin botol soft drink.2 adalah contoh bentuk skema pembuat kertas yang dibuat oleh PPT ITB. karena: − Lebih ringan − Lebih kuat − Lebih mudah dibentuk − Dapat diatur agar fleksibel atau kaku − Merupakan isolator yang baik − Dapat digunakan untuk pengemas makanan dingin atau panas Bahan plastik dijumpai dalam bentuk 7 kelompok seperti yang disebutkan dalam Tabel 4. • Untuk skala besar. ember − Produk daur-ulang lain: kontainer non-makanan.

Beberapa permasalah pemasaran plastik: • Harga plastik daur-ulang relatif murah. • Granulation dan washing: − Botol dipotong-potong. botol air kemasan. kemudian dicuci dengan air panas. biasanya untuk wadah susu.4 Daur-ulang dalam Penanganan Sampah Kota Upaya 3R bukan saja terbatas dilakukan pada sumber sampah. dan dilelehkan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Disamping itu. Secara umum. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 34 . Penanganan sampah tingkat kawasan. sehingga konsumer kesulitan menemukan outletnya • Specific weight yang rendah: rasio volume-ke-berat plastik sangat tinggi. kemudian dipotong kecil-kecil. dibutuhkan adanya survei tentang persentase sampah pada masing-masing sumber. • Terkontaminasi dengan bahan lain seperti makanan. diaduk untuk menghilangkan label.3 di bawah ini. Langkah awal agar upaya kegiatan R2 dab R3 berhasil adalah melakukan pemilahan. Pelet dipasarkan dengan kadar air kurang dari 0. Penanganan sampah tingkat sumber b. diendapkan (PETE) sedang yang ringan (HDPE) mengapung. Plastik yang tidak diinginkan dibuang. karena bahan bakunya juga relatif murah. yang banyak digunakan untuk botol soft drink. Pemilahan sampah di sumbernya paling tidak dilakukan dengan mengelompokkan sampah menjadi dua kelompok besar. lembaran plastik dikeluarkan dari cetakan. Perlu ada insentif untuk pengangkutan • Pengangkutan dan pengolahan plastik bekas belum tersedia secara luas. • Setelah kering. Contoh neraca persentase sampah dari mulai sumber sampai ke TPA adalah seperti terlihat dalam Gambar 4. plastik biasanya diklasifikasi dalam 2 katagori umum. Uraian lanjut tentang penanganan sampah terdapat pada Bagian 5 Diktat ini. Berdasarkan arus pergerakan sampah sejak dari sumber hingga menuju ke pemrosesan akhir. sehingga dapat dibuat neraca alur sampah mulai dari sumber sampai ke TPA. lalu didinginkan dengan air. • Cairan plastik yang terbentuk kemudian didinginkan dengan direndam dalam air. atau pembungkus detergen. yaitu: a. dan pada masing-masing tingkat penanganan sampah. dikeringkan melalui matahari kemudian ditutup dengan ram kawat agar plastik (terutama plastik kresek) tidak beterbangan. • Setelah dingin. Selanjutnya melalui orifice. dan HDPE(2). plastik dimasukkan dalam cetakan kemudian dipanaskan/dibakar di dalam tungku pembakar sampai terbentuk cairan plastik. Penanganan sampah tingkat kota. − Pengeringan: untuk menghilangkan air. detergen.2): • Plastik bekas yang terkumpul. upaya daur-ulang (R2 dan R3) dalam sistem penanganan sampah kota adalah sebagai berikut: Guna menentukan potensi daur-ulang. yaitu sampah hayati (sampah organik) dan sampah non-hayati (sampah nonorganik). dsb yang menyulitkan dalam daur-ulangnya Pengolahan plastik secara profesional meliputi: • Tahap bale breaking dan sorting: − Pemilahan awal (presorted) dipecah kemudian dipilah kembali − Botol PETE misalnya secara manual dipisah berdasarkan warna. Cetakan yang digunakan berupa logam agar plastik cair tidak lengket 4. dikenal sebagai melt filtration • Pelletizing: melt extruder berbentuk seperti spageti.5 %. terutama PS untuk produk busa spons. penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam 3 kelompok utama. yaitu mulai dari TPS sampah ke titik akhir di TPA. kemudian dikeringkan dengan udara panas agar kelembaban mejadi lebih kecil dari 0. lem dan kotoran lainnya − Pemisahan: setelah dicuci. dan c. tetapi sangat dianjurkan untuk dillaksanakan dalam seluruh rangkaian penanganan sampah.5 % − Air classification: pemisahan bagian plastik ringan (missal tutup polypropylene) dengan yang berat − Pemisahan electrostatic: missal memisahkan tutup alumunium − Ekstrusi resin: resin kemudian difluidisasi menggunakan extruder. yaitu: − Clean commercial grade scrape (plastik awal) − Post consumer scrap (plastik limbah) Dua jenis plastik post consumer yang paling sering didaur ulang adalah PETE(1). Pengolahan plastik sederhana di sektor informal di Indonesia (lihat Gambar 4.

2 : Mesin daur ulang plastik [35] SAMPAH 100% Sampah Organik 70% Sampah Anorganik 28% Sampah B 3 2% Pengomposan 30-40% Pemanfaatan lain 2% Residu 28-38% Residu 3-13% Daur-ulang 15-25% Residu 4% Insinerasi Sampah 25% Residu 4% Tempat Pemerosesan Akhir (TPA ) Gambar 4. dsb. di industri.3: Contoh neraca persentase sampah mulai sumber sampai ke TPA Untuk memudahkan penggunaan. Cerobong Asap Tempat Pemasukkan Cetakan Plastik Ruang Bakar P intu Ruang Bakar Tem pat Cetakan Plastik Gambar 4. sangat membantu upaya R2 dab R3 karena akan memperoleh bahan dengan kondisi bersih. yang akan digunakan misalnya sebagai bahan baku kompos o Sampah kering. yang digunakan sebagai bahan daur ulang Teknik-teknik pengolahan dan pemanfaatan sampah antara lain adalah: o Pemotongan sampah o Pengomposan sampah baik dengan cara konvensional maupun dengan rekayasa - Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 35 .Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) - Pemilahan di sumbernya seperti di rumah tangga. maka dibutuhkan pengaturan warna: o Sampah organik: warna gelap o Sampah anorganik: warna terang o Sampah B3 rumah tangga: warna merah (standar internasional) Pemilahan sampah dikelompokkan menjadi beberapa jenis sampah seperti : o Sampah basah. disamping kriteria yang terkait dengan fungsi. di pasar.

restoran. pertokoan. atau wadah belanjaan yang diproduksi oleh swalayan yang bersangkutan sebagai bukti pelanggan setia Gunakan kembali sampah yang masih dapat dimanfaatkkan untuk produk lain.4. sekolah.4 : Contoh pengerjaan 3R pada daerah komersial Penanganan 3R 1 2 R1 3 4 5 6 7 1 R2 2 1 2 3 4 5 Cara pengerjaan Berikan insentif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan kemasan yang dapat digunakan kembali Berikan tambahan biaya bagi pembeli yang meminta kemasan/bungkusan untuk produk yang dibelinya Memberikan kemasan/bungkusan hanya kepada produk yang benar-benar memerlukannya Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah dalam jumlah besar Kenakan biaya tambahan untuk permintaan kantong plastik belanjaan Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada yang memerlukannya Berikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri.2: Contoh pengerjaan 3R pada perumahan dan fasilitas sosial Penanganan 3R R1 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 Contoh Cara Pengerjaan Pilih produk dengan pengemas yang dapat didaur-ulang Hindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill) Kurangi penggunaan bahan sekali pakai Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya Gunakan wadah/kantong yang dapat digunakan berulang-ulang Gunakan baterai yang dapat di-charge kembali Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada pihak yang memerlukan Lakukan penanganan untuk sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai Lakukan penanganan untuk sampah organik menjadi kompos dengan berbagai cara yang telah ada (sesuai ketentuan) atau manfaatkan sesuai dengan kreativitas masing-masing R2 R3 Tabel 4. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 36 . sedang sampah non-hayati (anorganik) diangkut dengan frekuensi seminggu sekali.3: Contoh pengerjaan 3R pada fasilitas umum Penanganan 3R 1 2 3 4 5 6 1 2 1 2 Cara pengerjaan Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi Gunakan alat tulis yang dapat diisi kembali Sediakan jaringan informasi dengan komputer (tanpa kertas) Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali Khusus untuk rumah sakit.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) o Pengomposan sampah secara vermi-kompos o Pemrosesan sampah sebagai sumber gas-bio o Pembakaran dalam Insinerator. Beberapa contoh kegiatan upaya 3R adalah sebagai berikut: Contoh pengerjaan upaya 3-R untuk daerah perumahan dan fasilitas sosial tercantum dalam Tabel 4. minuman) Jual produk-produk hasil daur ulang sampah dengan lebih menarik Berilah insentif kepada masyarakat yang membeli barang hasil daur ulang sampah Olah kembali buangan dari proses yang dilakukan sehingga bermanfaat bagi proses lainnya Lakukan penanganan sampah organik menjadi kompos atau memanfaatkan sesuai dengan kebutuhan Lakukan penanganan sampah anorganik R3 Fungsi pemilahan dapat dilaksanakan dengan pengaturan: − Penyekatan sarana pengumpulan-pengangkutan sesuai dengan jenis sampah − Penjadwalan waktu pengumpulan sampah yang mudah membusuk. hendaknya diangkut paling lama 2 hari sekali. rumah sakit) tercantum dalam Tabel 4.3. Tabel 4. hotel) tercantum dalam Tabel 4.2. gunakan incinerator untuk sampah medis Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill) Kurangi penggunaan bahan sekali pakai Gunakan alat kantor yang dapat digunakan berulang-ulang Gunakan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali Olah sampah kertas menjadi kertas/karton kembali Olah sampah organik menjadi kompos R1 R2 R3 Tabel 4. seperti pakan ternak Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang (minyak. Contoh pengerjaan upaya 3-R untuk daerah fasilitas umum (perkantoran. Contoh pengerjaan upaya 3-R untuk daerah komersial (pasar.

Berdasarkan komposisinya. dengan mengabaikan segi bantuannya terhadap penanganan kebersihan kota. maka angka tersebut akan menjadi tinggi karena faktor densitas. 37] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 37 . Bahan-bahan anorganik yang biasa dipungut oleh para pemulung mencakup jenis kertas. Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga akan berkurang beratnya sesuai dengan perjalanan sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir. maka dapat dikatakan bahwa sampah anorganik yang diserap oleh pemulung merupakan sampah yang belum dapat tertanggulangi oleh Pemerintah Daerah. sampah terbagi dalam dua kategori besar. Namun tingkat daur-ulang di kota-kota di Indonesia baik melalui usaha pemulung maupun usaha daur-ulang di rumah tangga. barang-barang plastik. yaitu mereka yang menganggap bahwa aktivitas ini disamping memberikan kesempatan pada masyarakat tidak mampu untuk berusaha di sektor ini. yaitu sampah organik (atau sampah basah) dan sampah anorganik (atau sampah kering). Berdasarkan cara kerja pemulung yang sebagian besar beroperasi di kawasan-kawasan pemukiman. koran. Barang-barang buangan yang dikumpulkan oleh para pemulung adalah yang dapat digunakan sebagai bahan baku primer maupun sekunder bagi industri tertentu. bantuan kegiatan pemulungan terhadap penaggulangan masalah sampah menjadi tidak nyata terasa manfaatnya. Pendapat lain menganggap bahwa upaya ini dari sudut harga diri bangsa tidaklah baik. Recovered materials Bandar Suppliers and Intermediate Factories Market Bos Lapak Prcocessed Goods Waste Trades Mobile Scavengers Scavengers Temporary Dumping Scavengers Final Disposal Handcart Crews Drivers Team Gambar 4. para pemulung memungut sampah anorganik yang masih bernilai ekonomis dan dapat didaur ulang sebagai bahan baku industri atau langsung diolah menjadi barang jadi yang dapat dijual. terutama oleh pemulung. bahan kompos dan sebagainya. Secara skematis aktivitas pemulungan ini ditunjukkan dalam Gambar 4. misalnya sampah botol. Menurut prakiraan Agenda 21 Indonesia [36] potensi daur-ulang sampah kering adalah 15-25%. dan pengomposan jumlahnya diprakirakan tidak lebih dari 10% (satuan berat). karet. misalnya botol plastik yang mempunyai volume besar. Dari komposisi sampah tersebut. juga akan membantu mengurangi sampah yang harus diangkut. Tetapi metode daur ulang yang dilakukan oleh pemulung terbatas pada pemisahan/pengelompokan. Terdapat pula aktivitas pemilahan sampah sisa makanan dan/atau sampah dapur yang dapat digunakan sebagai makanan ternak. sedang potensi sampah basah yang dapat dikomposkan adalah 30-40%. Sampah yang dipisahkan umumnya adalah sampah yang dapat dimanfaatkan kembali secara langsung. metal/logam. sehingga potensi daur-ulang sampah diprakirakan sebesar 45-65 %. Hal ini di satu sisi menunjukkan bahwa kegiatan pemulungan memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah dalam hal penanganan sampah. dan sebagainya.3 : Alur aktivitas daur-ulang sector informal [modivikasi dari Ref. kardus. seperti terlihat di Denpasar. mulai dari rumah tangga sampai ke TPA. dan lain-lain.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 4. tetapi dengan berat yang rendah. kaca/gelas.3 berikut ini. karena mungkin Pemerintah Daerah menganggap bahwa kegiatan pemulungan merupakan hal yang sudah semestinya terjadi.5 Peran Sektor Informal di Indonesia Daur ulang sampah di Indonesia banyak dilakukan oleh sektor informal. perkantoran maupun di TPS sampai ke TPA. plastik. pasar. Namun di sisi yang lain. Kehadiran kelompok pemulung dalam sistem pengelolaan persampahan menimbulkan dua pendapat controversial yang berbeda. Bila perhitungan yang digunakan berdasarkan volume.

2 berikut menggambarkan pengurangan sampah dari sumber sampai ke TPA. basah. Bahan yang didaur-ulang oleh aktivitas pemulung adalah plastik (PE. Terdapat kehawatiran mereka bahwa upaya ini akan mengganggu sistem operasional yang telah baku yaitu dengan konsep “kumpul – angkut – buang”.5% untuk permukiman menengah ke bawah. memperbesar kemampuan tanah untuk Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 38 . HDPE. Sarana yang terletak di kawasan permukiman ini diproyeksikan menerima dan memilah sampah sesuai jenisnya untuk didaur-ulang [13]. tercecer di tanah Dipilah oleh petugas Tercecer ke tanah Dipulung oleh pemulung Tercecer ke tanah Dipilah petugas Tercecer ke tanah Dipulung pemulung Dikomposkan. juga pemulung. diprakirakan kurang dari 2% dari jumlah sampah yang terkumpul di TPS.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Sampah yang dipisahkan umumnya sudah tidak murni lagi (kotor. kertas koran. kuningan. seng. Secara bertahap konsep pengolahan sampah secara terpadu tersebut telah dicoba diterapkan dalam skala terbatas di beberapa kota di Indonesia. besi. khususnya dari sebagian besar pengelola persampahan. Selain di TPS. dan karet. kertas bekas semen dsb dianggap bukan sampah tetapi barang yang dapat dijual kembali. Oleh karena itu. duplex. Mereka lebih melihat sarana ini sebagai upaya untuk memperoleh penghargaan dari pemerintah. pemulungan sampah juga terjadi di TPA. dsb Dibakar Diurug dalam tanah Bak sampah Gerobak sampah Penampungan sementara Pengangkutan sampah TPA Studi yang dilakukan di Bandung [38] mengungkapkan bahwa sampah kering yang didaur ulang dari lingkungan permukiman besarnya antara 10. tembaga. PS. tercecer di tanah Dipulung oleh pemulung Dibakar.6% untuk permukiman kelas menegah ke atas. bahwa mereka telah memasukkan upaya daur-ulang dalam sistem pengelolaan persampahannya. polyster. dengan melibatkan aktivitas sektor informal lainnya yaitu dari ibu rumah tangga. drum). gelas/kaca (botol bir. koran. Tetapi bila dibandingkan dengan di TPS. akan berfungsi pula untuk memperbaiki struktur tanah. botol obat). arsip. lampu. Hasan Poerbo melalui PPLH ITB dalam upaya membantu pengelola persampahan mengurangi sampah yang perlu diangkut. dan antara 21.26. Konsep ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari pemerintah kota. PP. kertas (warna. Tabel 4. botol bekas. LDPE. yaitu kira-kira 5% dari sampah yang tiba di TPA. plastik kemasan makanan ringan. cone. Seperti halnya pemulungan di TPS. Baju bekas. khususnya dalam upaya memperoleh penghargaan kota terbaik yang secara rutin diberikan oleh pemerintah [9]. penjual barang bekas. Residu sampah yang tidak terdaur-ulang akan diangkut ke pembuangan akhir. Pedagang perantara hadir di pelosok-pelosok kampung di kota-kota di Indonesia untuk membeli barang-barang bekas ini langsung dari rumah ke rumah. HVS). dalam upaya pengurangan sampah yang harus diangkut. Tabel 4.2 : Pengurangan sampah dari sumber ke final disposal [28] Sumber sampah Rumah Perlakuan sampah Dipilah oleh ibu rumah tangga Dipilah oleh pembantu Dibakar. Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah yang mengandung bahan organik biodegradabel (dapat diuraikan oleh mikroorganisme). Daur-ulang sampah kota sudah sejak tahun 1980-an yang lalu telah dirasakan pentingnya. kain (majun.9% . Penyebab lain adalah karena pengelola sampah di kota-kota Indonesia belum secara penuh menganggap bahwa konsep ini sebagai bagian dari sistem penanganan sampah kota. Sampah kering merupakan obyek daur-ulang yang paling banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia. kapas).14.9% . Aktivitas pemulung yang banyak dijumpai di kota-kota dalam mendaur-ulang sampah kering dinilai dapat membantu menurunkan jumlah sampah yang harus diangkut ke final disposal. khususnya melalui aktivitas daur-ulang yang ada di Indonesia. Fungsi kompos adalah selain sebagai pupuk organik. petugas kebersihan. kondisi sampah yang dihasilkan oleh pemulung umumnya memiliki kualitas yang tidak begitu baik dibandingkan dengan yang dipisahkan di sumber sampah. Konsep kawasan industri sampah sudah diperkenalkan sejak tahun 1980-an oleh Prof. hasil pemulungan sampah di TPA juga memiliki kualitas yang rendah atau bahkan lebih rendah dibandingkan di TPS. dan sebagainya) karena sampah tersebut sudah tercampur dengan sampah lainnya dari berbagai sumber. Sedang sampah yang dinilai tidak terdaur-ulang oleh pemulung antara lain adalah sisa makanan. botol kecap. namun umumnya tidak berlangsung lama. pemulungan di TPA memiliki persentase yang lebih besar. PVC dan drum). logam (alumunium. batu batere. Pemisahan sampah oleh pemulung ini relatif masih sedikitl.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

menyerap dan menahan air serta zat hara yang lain. Dilihat dari komposisi, maka sebagian sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik, atau sampah basah. Melihat komposisinya yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan, khususnya sampah dapur, maka jenis sampah ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Bila ini terjadi, massanya akan berkurang dengan besar. Cara inilah yang sebetulnya dikembangkan oleh manusia dalam bentuk pengomposan dan biogasifikasi. Namun bila mekanisme ini berlangsung secara alamiah, khususnya di lingkungan yang sudah jenuh daya dukungnya, maka akan timbullah masalah estetika serta gangguan lainnya terutama karena adanya bau, seperti terjadi di timbunan sampah yang tidak terurus dengan baik. Dengan kondisi kelembaban yang tinggi, serta temperatur yang relatif tinggi seperti di Indonesia ini, maka kecepatan mikroorganisme dalam menguraikan materi-materi sampah yang biodegradabel ini akan lebih baik pula. Cara-cara inilah yang mendorong misalnya untuk: − Pengembangan ‘composter’ individual di rumah-rumah [39, 40] yang sudah diuji cobakan di beberapa permukiman di Indonesia, − Pembuatan kompos di lingkungan permukiman atau di final disposal [39] − Uji coba penggunaan cacing tanah sebagai pemusnah sampah basah [41] Dari penelitian terhadap porsi bagian sampah anorganik yang dianggap mempunyai nilai ekonomis, ternyata bagian sampah yang terdaur-ulang antara 4-6% (berat), sementara sebagian besar yaitu 3234% (berat) tidak mempunyai nilai ekonomis (Tabel 4.3). Nilai ini diperoleh berdasarkan hasil pemilihan bagian sampah yang dilakukan oleh pemulung yang biasa melakukan pemulungan sampah untuk dijual pada lapan atau bandar. Tabel 4.3: Contoh potensi daur-ulang dari sampah kering [19]
Komponen Kertas keras Kertas arsip putih Botol gelas Komponen terdau-ulang Botol air minum Gelas minum plastik Can Plastik PE Plastik lain-lain Alumunium Karton/cardboard Kertas koran Logam Total komponen ter-daur-ulang Sisa makanan Komponen organik Daun dsb Tisu- kertas Tekstil kayu Total komponen organik Lain-lain: an-organik non-daur ulang 5,69 33,90 12,32 11,02 0,89 1,98 60,10 34,21 % berat basah TS-1 0,92 0,14 1,77 0,29 0,17 0,22 0,03 1,63 0,06 0,33 0,13 TS-2 0,95 0,34 0,50 0,19 0,34 0,32 0,42 0,47 0,05 0,31 0,16 0,03 4,08 58,04 2,21 1,78 0,90 0,70 63,62 32,30

Pengomposan secara tradisional telah dikenal di Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia telah menerapkan cara ini. Namun permasalahan utama yang dijumpai adalah masalah pemasaran. Banyak usaha pengomposan tidak dapat berlanjut, karena tidak tersedianya pasar yang dapat menyerap produk yang dihasilkan. Disamping masalah harga yang perlu memperhitungkan ongkos pengangkutan, juga karena kualitas yang dihasilkan belum memenuhi keinginan pasar. Penelitian-penelitian skala laboratorium maupun lapangan terus berlanjut untuk meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan, misalnya mencampur dengan dedak, penggunaan enzim sellulase untuk mempercepat masa pengomposan [39]. Uji coba individual composter telah menunjukkan hasil yang positif. Sebuah composter dengan kapasitas 60 m3 yang rata-rata menerima sampah dapur dari 5 orang perhari, dapat digunakan sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan akan dihasilkan kompos yang kualitasnya cukup baik. Beberapa kota di Indonesia telah mencoba cara ini di beberapa permukiman. Bila cara ini dapat diterapkan dan diterima oleh masyarakat, maka sebagian sampah dari permukiman akan dapat tertangani.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

39

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sampah basah sebagai makanan cacing. Cacing yang digunakan umumnya dari jenis Lumbricus. Masalah utama yang perlu mendapat perhatian adalah pemisahan sampah di sumber, yaitu untuk memperoleh sampah yang cocok untuk makanan cacing. Sampah yang telah dipilah tersebut kemudian dikomposkan selama 2 minggu. Berdasarkan uji coba skala permukiman [41], maka sebanyak 40% sampah basah dari rumah tangga melalui pemilahan manual yang dapat dimanfaatkan untuk makanan cacing. Dari kegiatan ini akan diperoleh casting yaitu bahan sejenis kompos, dengan kualitas yang baik dan dengan ukuran butir yang sudah halus dan siap dijual. Disamping itu dihasilkan biomas cacing yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, misalnya untuk pakan ternak dan ikan.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

40

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

BAGIAN 5 PENANGANAN SAMPAH KOTA
Bagian ini menjelaskan tentang tingkat pengelolaan, tingkat/kualitas pelayanan, daerah / jenis pelayanan dari sistem pengelolaan sampah kota, serta stakeholders yang berperan dalam pengelolaan sampah. Dijelaskan pula komponen teknis operasional dalam pengelolaan. Tugas bagi mahasiswa adalah mengamati sistem pengelolaan sampah di lingkungannya.
5.1 Pendahuluan Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, terdapat 2 kelompok utama pengelolaan sampah, yaitu: c. Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah, gunaulang dan daur-ulang d. Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari: − Pemilahan: pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah − Pengumpulan: pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu − Pengangkutan: membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir − Pengolahan: mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah − Pemrosesan akhir sampah: pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. Dalam terminologi pengelolaan sampah di Indonesia selama ini, penanganan sampah dikenal sebagai teknik operasional persampahan. Dalam bahasan berikut diuraikan beberapa hal penting yang terkait dalam kegiatan penanganan sampah dalam sistem pengelolaan sampah kota di Indonesia, khususnya: − Tingkat pengelolaan − Tingkat dan kualitas pelayanan − Daerah pelayanan − Jenis pelayanan. Di samping sebagai bagian dari infrastruktur sebuah kota, pengelolaan sampah merupakan salah satu dari sekian banyak upaya dalam pengelolaan lingkungan. Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan kadangkala terjadi penyimpangan pengelolaan, sehingga timbul ekses yang mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan itu sendiri. Kelemahan dalam manajemen dan keterbatasan biaya operasional ditambah dengan langkanya tenaga profesional dalam penanganan persampahan merupakan faktor penyebab utama permasalahan tersebut. Permasalahan yang dihadapi dalam teknis operasional penanganan persampahan di antaranya [42]: − Kapasitas peralatan yang belum memadai − Pemeliharaan alat yang kurang − Lemahnya pembinaan tenaga pelaksana khususnya tenaga harian lepas − Terbatasnya metode operasional yang sesuai dengan kondisi daerah − Siklus operasi persampahan tidak lengkap/terputus karena berbedanya penanggungjawab − Koordinasi sektoral antar birokrasi pemerintah seringkali lemah − Manajemen operasional lebih dititikberatkan pada aspek pelaksanaan, sedangkan aspek pengendaliannya lemah − Perencanaan operasional seringkali hanya untuk jangka pendek. 5.2. Stakeholders Pengelola Sampah Kota Dalam pengelolaan persampahan skala kota yang rumit, terdapat beragam stakeholders yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung. Setiap stakeholders berperan sesuai dengan posisinya masingmasing. Dalam skala kota, peran Pemerintah Kota dalam mengelola sampah sangatlah penting, dan pengelolaan sampah merupakan salah satu tugas utamanya sebagai bentuk pelayanan yang merupakan bagian dari infrastruktur kota tersebut. Stakeholders utama yang biasa terdapat dalam pengelolaan sampah di Indonesia antara lain [43]: a. Pengelola kota, yang biasanya bertindak sebagai pengelola sampah b. Institusi swasta (non-pemerintah) yang berkarya dalam pengelolaan sampah

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

41

Pengelolaan Informal: terbentuk karena adanya dorongan kebutuhan untuk hidup dari sebagian masyarakat . misalnya dengan penanganan sampah daerah pedesaan. tukang loak. d. hotel. Pembuangan sampah tahap pertama dilakukan oleh penghasil sampah. atau institusi lain termasuk swasta yang ditunjuk oleh Kota. baik secara langsung maupun tidak langsung.3 Tingkat Pengelolaan [44] Berdasarkan arus pergerakan sampah sejak dari sumber hingga menuju ke pemrosesan atau akhir. dimana sampah diangkut dari bak sampah ke TPS. Penanganan Sampah Tingkat Sumber: Penanganan sampah tingkat sumber merupakan kegiatan penanganan secara individual yang dilakukan sendiri oleh penghasil sampah dalam area dimana penghasil sampah tersebut berada. Tahap berikutnya. khususnya di sebuah kota. dsb − Dapat berkarakter homogen. Di kota-kota. mengenal 3 (tiga) kelompok pengelolaan. dan tidak dapat disejajarkan atau disederhanakan begitu saja. menuju ke tempat penampungan sementara. Penanganan sampah tingkat kawasan. Demikian pula keberhasilan upaya-upaya sektor informal saat ini tidak dapat begitu saja diaplikasikan dalam menggantikan sistem formal yang selama ini ada. kebiasaan dan cara pandang penghasil sampah − Dapat berbentuk individu atau kelompok individu atau dalam bentuk institusi misalnya kantor. pengelolaan ini biasanya dilaksanakan oleh RT/RW. g. Penanganan sampah tingkat sumber e. bandar.yang secara tidak disadari telah ikut berperan serta dalam penanganann sampah kota. Di daerah pemukiman biasanya kegiatan ini dilaksanakan oleh RT/RW. f. dan penjualan sampah untuk didaur-ulang. seperti dari sebuah rumah tinggal. c.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) c. seperti pejalan kaki di keramaian. Dibutuhkan waktu yang lama karena menyangkut juga perubahan perilaku masyarakat serta kemauan semua fihak untuk menerapkannya. Pengelolaan oleh swadaya masyarakat: pengelolaan sampah mulai dari sumber sampai ke tempat pengumpulan. Rangkaian kegiatan ini melibatkan pemulung. atau ke tempat pemrosesan lainnya. seperti produsen yang menggunakan pengemas bagi produknya. termasuk aktivitas daur-ulang. pedagang kaki lima di tempat-tempat umum − Keberhasilan upaya-upaya dalam penanganan sampah sangat tergatung pada tingkat kesadaran masing-masing individu. dengan kegiatan mengumpulkan sampah dari bak sampah di sumber sampah. yaitu: d. Institusi swasta yang terkait secara langsung dengan persoalan sampah. lapak. e. misalnya di rumah-rumah. 5. LSM. termasuk perguruan tinggi. Biasanya anggaran suatu kota belum mampu menangani seluruh sampah yang dihasilkan. Berdasarkan hal di atas. b. Beberapa ciri penanganan sampah di tingkat ini: − Sangat tergantung pada karakter. dsb yang aktivitasnya perlu berkoordinasi dengan pengelola sampah kota Masyarakat yang bertindak secara individu dalam penanganan sampah. penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam 3 kelompok utama tingkat pengelolaan. Pengelolaan sampah dari sebuah kota adalah sebuah sistem yang kompleks. Penanganan sampah tingkat kota. diangkut dengan sarana yang disiapkan sendiri oleh masyarakat. Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat sumber: Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 42 . − Pada level ini peran serta masyakat sebagai penghasil sampah sangatlah dominan. dan industri daur-ulang dalam rangkaian sistem perdagangan. sehingga pendekatan penanganan sampah yang berbasiskan masyarakat penghasil sampah merupakan dasar dalam strategi pengelolaan sampah. Masyarakat atau institusi penghasil sampah yang menggantungkan penanganan sampahnya pada sistem yang berlaku di sebuah kota Institusi non-pemerintah yang bergerak dalam pengelolaan sampah. pengelolaan sampah di Indonesia. atau bersifat heterogen. pemilahan. misalnya kelompok pemulung yang memanfaatkan sampah sebagai sumber penghasil Institusi yang tertarik dan peduli (concern) terhadap persoalan persampahan. pengelola real estate. Pengelolaan formal: biasanya dilaksanakan oleh Pemerintah Kota. yaitu [43]: a. dan f. Sistem informal ini memandang sampah sebagai sumber daya ekonomi melalui kegiatan pemungutan. seperti swasta. sampah dari TPS diangkut ke TPA oleh truk sampah milik pengelola kota atau institusi yang ditunjuk.

yang digunakan sebagai bahan daur ulang o Sampah berbahaya rumah tangga. seperti Ketua RT. Upaya mendaur ulang sampah dapat dilakukan dengan memilah sampah menurut jenisnya Pengomposan sampah. Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat kawasan: − Pengelolaan sampah tingkat kawasan harus mendorong peningkatan upaya minimisasi sampah untuk mengurangi beban pada pengelolaan tingkat kota. atau lainnya. pengangkutan dan pembuangan sampah Penanganan sampah di tingkat sumber diharapkan dapat menerapkan upaya minimasi yaitu dengan cara 3R Minimasi sampah hendaknya dilakukan sejak sampah belum terbentuk yaitu dengan menghemat penggunaan bahan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − − − − Penanganan sampah hendaknya tidak lagi hanya bertumpu pada aktivitas pengumpulan. yang selanjutnya akan dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku. atau dilaksanakan oleh institusi lain yang ditunjuk untuk itu. Penanganan Sampah Tingkat Kawasan: Penanganan sampah tingkat kawasan merupakan kegiatan penanganan secara komunal untuk melayani sebagian atau keseluruhan sampah yang ada dalam area dimana pengelola kawasan berada. − Insinerator skala kecil tidak direkomendasi karena biasanya belum sesuai dengan kondisi sampah yang memiliki kandungan organik tinggi (> 60 %). khususnya yang akan diangkut ke TPA − Pengelolaan sampah kawasan harus mampu melayani masyarakat yang berada dalam daerah pelayanan yang telah ditentukan − Lokasi pengumpulan sementara (TPS) dapat difungsikan sebagai pusat pengolahan sampah tingkat kawasan. sampah berasal dari sumber-sumber yang berbeda − Dalam level ini akan bertemu dan saling berinteraksi stakeholders yang berasal dari tingkat sumber dengan tingkat kota − Keberhasilan upaya dalam penanganan sampah skala ini sangat tergatung pada level kesadaran kelompok pembentuk tingkat kawasan. Ketua RW. atau sebaliknya. kadar air tinggi (> 60 %) dan nilai kalor rendah (< 1200 kkal/kg). atau LSM yang mengorganisir pengelolaan sampah pada tingkat ini sangat penting − Peran serta masyarakat seperti yang diharapkan terjadi pada tingkat sumber. dengan kontrol kualitas pelayanan tetap dibawah kendali Pemerinta Daerah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 43 . Beberapa ciri penanganan sampah di tingkat ini: − Pengelolaan sampah diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan − Bila dikelola langsung oleh Pemerinta Daerah. Kelurahan. membatasi konsumsi sesuai kebutuhan. dsb Upaya memanfaatkan sampah dilakukan dengan menggunakan kembali sampah sesuai fungsinya seperti halnya pada penggunaan botol minuman atau kemasan lainnya. dll) yang secara signifikan akan megurangi sampah pada tingkat berikutnya. Unit Pelayanan Teknis (UPTD) atau sebagai Seksi dari sebuah Dinas. daur ulang. memilih bahan yang mengandung sedikit sampah. baik dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Penanganan Sampah Tingkat Kota: Penanganan sampah tingkat kota merupakan penanganan sampah yang dilakukan oleh pengelola kebersihan kota. misalnya dengan composter. baik keseluruhan pelayanan. Dinas. karena akan menyebabkan tinginya konsumsi bahan bakar tambahan serta menimbulkan pencemaran udara akibat tidak tersedianya fasilitas penanggulangan pencemaran yang memadai. maka peran organisasi pengelola serta dukungan inisiator dan atau stakeholders penentu lainnya. Oleh karena kelompok ini terdiri dari individu-individu yang mungkin mempunyai pemahaman berbeda tentang persampahan. sekolah. diharapkan dapat diterapkan di sumber (rumah tangga. misalnya RT. RW. yang akan digunakan misalnya sebagai bahan baku kompos o Sampah kering. yang berfungsi untuk pemindahan. pada tingkat kawasan akan relatif lebih sulit dibangun − Peran aktif pengelola kota sangat menentukan. yang bertugas untuk melayani sebagian atau seluruh wilayah yang ada dalam kota yang menjadi tanggung jawabnya. Lurah. atau penanganan sampah lainnya dari daerah yang bersangkutan − Pemilahan sampah dikelompokkan menjadi beberapa jenis sampah seperti: o Sampah basah. maupun sebagian dari pelayanan. agar sistem pengelolaan tingkat kawasan ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pengelolaan sampah kota secara menyeluruh. kantor. maka bentuk pengelolaan dapat berupa Perusahaan Daerah. Beberapa ciri penanganan sampah tingkat kawasan: − Bersifat heterogen. − Terdapat kemungkinan bahwa pengelolaan tersebut dilaksanakan oleh fihak luar atau swasta.

maka persentase pelayanan setiap sumber sampah perlu ditentukan. seperti yang tinggal di sekitar TPA. untuk ditangani lebih lanjut − Sampah yang telah terpisah di sarana tersebut siap untuk diangkut ke TPA oleh institusi yang diserahi wewenang untuk pengangkutan sampah − Konsep penanganan sampah di TPA hendaknya bertumpu pada beberapa prinsip. ataupun insinerasi bila memenuhi syarat o Sarana ini berfungsi pula sebagai tempat penyimpanan sementara bahan berbahaya yang terkumpul dari kegiatan kota. perkantoran. Sampah basah sangat dianjurkan untuk diangkut minimum 2 hari sekali. khususnya bagi masyarakat dan lingkungan yang bukan penghasil sampah yang ditangani tersebut. serta estetika hasil pelayanan. Frekuensi pengumpulan dan pengangkutan akan terkait dengan sistem pelayanan yang ada serta jenis sampah yang akan dikelola. sehingga area yang merupakan wajah sebuah kota akan lebih diprioritaskan pelayanannya. Kualitas pelayanan: Kualitas pelayanan meliputi frekuensi pengumpulan dan pengangkutan. paling tidak sampah didaerah tersebut diangkut menuju pengolahan Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 44 . pada sarana pengumpul dan pengangkut. Pengertian penduduk kota yang dilayani biasanya tidak terbatas pada pelayanan dimana penduduk tersebut bertempat tinggal. yaitu [45]: o Penanganan sampah di sarana ini hendaknya terpadu o Bahan yang masih bernilai ekonomis hendaknya diupayakan untuk didaur-ulang sebelum dilakukan upaya terakhir dengan pengurugan sampah ke dalam tanah o Pada lokasi ini dapat dioperasikan beberapa jenis pengolahan sampah. yang didasarkan atas kondisi serta kemampuan sistem itu sendiri. Daerah pelayanan: Daerah pelayanan merupakan daerah yang berada dalam tanggung jawab pengelola sebuah kota. dimana sampah langsung dikumpulkan dan diangkut oleh truk sampah ke tempat pemrosesan akhir − Prinsip pengolahan dan daur-ulang sampah adalah mengedepankan pemanfaatan sampah sebagai sumber daya sehingga sampah yang harus dibuang ke TPA menjadi lebih sedikit − Keberhasilan upaya pengolahan dan daur-ulang sangat tergantung pada adanya pemilahan sampah mulai dari sumber. pasar. pusat perdagangan. namun dasar pemikiran pengolahan dan daur-ulang sampah hendaknya didasarkan atas pendekatan non-profit-center. dukungan dan kondisi prasarana/sarana. dan keluar dari kota tersebut. taman kota. dan 10 tahun ke depan diproyeksikan menjadi 75% − Pelayanan di daerah jalan protokol. Pelayanan tidak terbatas dalam arti hanya menyingkirkan sampah dari lingkungan sumber sampah. Upaya tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah yang akan diurug di landfill − Sarana di tingkat kawasan atau TPS dapat berfungsi untuk pengumpulan sampah berkatagori B3 dari kegiatan rumah tangga. sehingga sampah yang akan diangkut ke lokasi pengolahan telah terpilah sesuai jenis atau komposisinya − Walaupun terdapat kemungkinan mendapatkan nilai tambah dari hasil penjualan produk pengolahan atau daur-ulang. pada wadah komunal. digunakan 2 (dua) indikator utama. Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat kota: − Sumber sampah dari kegiatan kota yang dianggap khusus. baik secara kuantitas maupun kualitas. rumah sakit. yang dilayani pengelolaan sampahnya. hotel. tetapi juga mengandung pengertian bahwa pengelolaan sampah mencakup pelayanan agar sampah yang ditangani tidak mengganggu kesehatan dan lingkungan.4 Daerah Pelayanan Tingkat pelayanan: Tingkat pelayanan merupakan ukuran kemampuan pengelola kota untuk menyediakan pelayanan kebersihan kepada masyarakat. Guna menentukan tingkat pelayanan pengelolaan sampah di kota tersebut. dan sejenisnya dapat dilayani dengan sistem langsung (doorto-door). sehingga tidak mendatangkan pencemaran lingkungan. untuk diangkut ke lokasi pemrosesan yang sesuai o Sarana ini dioperasikan secara bertanggung jawab. biogasifikasi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − Ciri khas dari level ini adalah bagaimana memperlihatkan agar kota itu terlihat bersih. seperti jalan protokol. Maka dalam 5 tahun ke depan diproyeksikan menjadi 50%. yaitu [14]: − Persentase jumlah penduduk kota dan sarana lain yang memperoleh pelayanan dari sistem − Persentase timbulan sampah yang dapat dikelola oleh pengelola sampah tingkat kota Dalam merancang sistem pengelolaan sampah. sedangkan sampah kering dapat dilakukan 1-2 kali seminggu. misalnya: − Pelayanan bagi lingkungan permukiman saat ini baru mencapai 40%. dan fasilitas umum mendapat prioiritas utama misalnya ditargetkan menjadi 100%. seperti pengomposan. tetapi mencakup pula dimana penduduk itu beraktivitas. instansi penting. taman kota. dan tidak mendatangkan permasalahan terhadap kesehatan dan estetika bagi masyarakat sekitarnya 5.

Hasil perencanaan daerah pelayanan berupa identifikasi masalah dan potensi yang tergambar dalam peta-peta sebagai berikut [3] : − Peta problem : minimal menggambarkan kerawanan sampah. kawasan strategis atau kawasan andalan − Pengembangan daerah pelayanan diarahkan dengan menerapkan model “rumah tumbuh” yaitu pengembangan ke wilayah yang berdekatan atau berbatasan langsung dengan wilayah yang telah mendapat pelayanan. yaitu: − Penyapuan jalan − Pengumpulan sampah − Pengangkutan sampah − Penanganan sampah 5.5 Teknik Operasional Penanganan Sampah Teknik operasional penanganan sampah perkotaan meliputi dasar-dasar perencanaan untuk kegiatankegiatan [4]: − Pewadahan sampah − Pengumpulan sampah − Pemindahan sampah − Pengangkutan sampah − Pengolahan dan pendaur-ulangan sampah − Pemrosesan akhir sampah. yang dilakukan berdasarkan pengembangan tata ruang kota. yang dilakukan langsung oleh penghasil sampah untuk kemudian diangkut ke TPA. potensi pendapatan jasa pelayanan serta rute dan penugasan Jenis pelayanan pengelola sampah dapat dibagi seperti terlihat dalam Tabel 5. daerah permukiman baru. misalnya karena lokasinya terlalu jauh. − Prioritas daerah pelayanan dimulai dari daerah pusat kota. meliputi alat dan personel. adalah daerah di jalan protokol. penentuan jenis pelayanan berdasarkan skala kepentingan daerah pelayanan dapat dilihat pada Tabel 5. Daerah yang tidak dilayani diharapkan menangani sampahnya secara mandiri baik secara individu. Sub sistem pengumpulan sampah dikenal dengan beberapa pola seperti: − Pola individual: pada pola ini dilakukan pengumpulan sampah dari rumah ke rumah dengan alat angkut jarak pendek seperti gerobak atau yang lainnya untuk diangkut ke penampungan sementara. Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri atas kegiatan pewadahan sampai dengan pemrosesan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. kepadatan rumah/bangunan. Pola ini dapat dilakukan juga dengan cara door-to-door menggunakan truk sampah untuk langsung diangkut ke pengolahan/pemrosesan sampah. frekuensi pelayanan dapat dibagi dalam beberapa kondisi sebagai berikut [7]: − Kondisi-1: wilayah dengan pelayanan intensif. tata guna lahan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 45 . − Peta pemecahan masalah : menggambarkan pola yang digunakan. Jenis pelayanan: Berdasarkan penentuan skala kepentingan daerah pelayanan. permukiman dengan kepadatan tinggi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) atau pemrosesan akhir. pusat kota. Kegiatan pemilahan dan daur ulang semaksimal mungkin dilakukan sejak dari pewadahan sampah sampai dengan pemrosesan akhir sampah.1. kerapatan timbulan sampah. Beberapa pertimbangan yang biasa digunakan di Indonesia adalah [7]: − Daerah dengan kepadatan rendah dianggap masih memiliki daya dukung lingkungan yang tinggi sehingga dapat menerapkan pola penanganan sampah setempat yang mandiri − Daerah dengan tingkat kepadatan di atas 50 jiwa/ha perlu mendapatkan pelayanan persampahan karena penerapan pola penanganan sampah setempat akan berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan. Skema teknik operasional pengelolaan persampahan dapat dilihat pada Gambar 5. jenis sarana dan prasarana. kapasitas perencanaan. tingkat kesulitan pelayanan. dan belum terjangkau oleh truk pengangkut sampah.1 berikut.1. daerah komersial. − Pola komunal: pada pola ini pengumpulan sampah dari beberapa rumah dilakukan pada satu titik pengumpulan. Lebih lanjut. maupun secara komunal. jumlah penduduk. kawasan pemukiman tidak teratur. dan daerah komersial − Kondisi-2: wilayah dengan pelayanan menengah adalah kawasan pemukiman teratur − Kondisi-3: wilayah dengan pelayanan rendah adalah daerah pinggiran kota − Kondisi-4: wilayah tanpa pelayanan.

selokan Kepadatan penduduk : a. untuk kemudian diangkut ke TPA. yang memanfaatkan kemampuan berproduksi secara massal. 5. lingkungan kotor) d. angka-angka berikut di bawahnya merupakan pelayanan selanjutnya. Sedang (sampah dikelola.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 5. Baik (sampah dikelola. baik dari sudut biaya operasi maupun keselamatan kerja dan lingkungan. Tinggi Topografi : a. pengelolaan limbah berangkat dari fungsi kerekayasaan. Subsistem pemindahan menerima sampah yang berasal dari sumber. Berbukit/curam (kemiringan > 15%) Bobot 3 − − − − − − 3 − − − 3 − − − 2 − − − − 2 − − − 1 − − − Kerawanan sanitasi − 3 3 4 2 3 5 − 1 3 5 − 5 3 1 − 1 2 3 4 − 5 3 1 − 2 3 3 Potensi ekonomi − 4 5 4 4 1 1 − 4 3 1 − 4 3 1 − 4 3 2 1 − 1 3 5 − 4 3 1 2 3 4 5 6 Keterangan : angka total tertinggi dari skor (bobot nilai) merupakan pelayanan tingkat pertama. Buruk sekali (sampah tidak dikelola. lingkungan bersih) b. Hal ini terutama menyangkut pengamanan selama perjalanannya. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 46 . yaitu: − Pengangkutan dari satu lokasi pemindahan ke TPA − Pengangkutan dari kelompok pemindahan menuju ke TPA − Pengangkutan dengan pola door-to-door. Subsistem pemindahan mempunyai sasaran-sasaran sebagai berikut: − Sebagai peredam tingkat ketergantungan fase pengumpulan dengan fase pengangkutan − Pos pengendalian tingkat kebersihan wilayah yang bersangkutan. daerah endemis penyakit menular Tingkatan pendapatan penduduk : a. Daerah di jalan protokol/pusat kota b. taman. Aspek pengangkutan sampah kadang dilupakan dan dianggap dapat berjalan dengan sendirinya sehingga menjadi permasalahan besar apabila sampah harus diangkut ke luar dari sumber asalnya guna diproses lebih jauh. Buruk (sampah tidak dikelola. Subsistem pengangkutan terdiri atas tiga jenis. Jalan. Dikenal dua pola yaitu sistem yang permanen dan yang dapat diangkut (dipindahkan). lingkungan sangat kotor). > 100 jiwa/ha < 300 jiwa/ha (sedang) c.6 Pengelolaan Sampah Terpadu Secara historis. Yang dekat dengan yang sudah dilayani c. Hal ini terkait dengan evolusi masyarakat teknologi. Rendah b. Yang jauh dari daerah pelayanan Kondisi lingkungan : a. Yang sudah dilayani b. Bergelombang (kemiringan 5-15%) c.2 berikut ini. Daerah industri e. > 50 jiwa/ha < 100 jiwa/ha (rendah) b. Aliran bahan baku. Sedang c. dan hutan kota f. Daerah perumahan teratur d. enersi dan fluida dalam masyarakat modern dan produk ikutannya yang berupa limbah ditunjukkan dalam Gambar 5. 1 Parameter Fungsi dan nilai daerah : a. Aspek penyimpanan dan pengumpulan membutuhkan pengetahuan dasar tentang karakteristik masingmasing sampah agar tidak menimbulkan permasalahan. Datar/rata (kemiringan < 5% b. Daerah perumahan tidak teratur.1 : Skala kepentingan daerah pelayanan [7] Nilai No. Daerah komersial c. lingkungan kotor) c. > 300 jiwa/ha (tinggi) Daerah pelayanan : a.

pembuangan akhir (final disposal) sampah yang dihasilkan pada masyarakat tersebut.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Timbulan Sampah Penanganan Sampah : Pemisahan – Pewadahan – Proses di sumber Pengumpulan Pemindahan dan Pengangkutan Pemisahan – Pemerosesan – dan Transformasi Sampah Pembuangan Akhir (Disposal) Pemrosesan akhir Gambar 5.1 : Skema teknik operasional pengelolaan sampah [modifikasi dari Ref. legal. seperti di perdesaan. Termasuk di dalamnya teknologi-teknologi yang terkait dengan bagaimana mengontrol timbulan (generation). seperti aspek adminsitratif. namun secara estetika dan juga secara ekonomi dapat diterima. Seluruh proses tersebut hendaknya diselesaikan dalam rangka bagaimana melindungi kesehatan masyarakat. Beragam pertimbangan perlu dimasukkan. pemindahan (transfer). pengangkutan (transportation). Pengelolaan sampah pada masyarakat modern membutuhkan keterlibatan beragam teknologi dan beragam disiplin ilmu. Pendekatannya tidak lagi sesederhana menghadapi masyarakat non-industri. kerekayasaan. 4] Bahan Proses Residu Bahan Baku Residu Manufacturing Residu Proses dan Recovery 2nd Manufacturing Konsumen (Penggunaan Produk) Final Disposal Gambar 5. pengumpulan (collection). planning.2 : Aliran bahan baku dan limbah dalam masyarakat industri [32] Pengelolaan sampah pada masyarakat modern bertambah lama bertambah kompleks sejalan dengan kekomplekan masyarakat itu sendiri. Semua disiplin ini diharapkan saling berkomunikasi dan berinteraksi satu Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 47 . arsitektural. finansial. pelestarian lingkungan hidup. pemrosesan (processing).

Metan .3 merupakan konsep pengelolaan sampah permukiman secara terintegrasi. Pengelolaan sampah terpadu dapat didefinisikan sebagai pemilihan dan penerapan teknik-teknik. yaitu: a.Plastik . yaitu : a. antara lain ketersediaan lahan untuk pembuangan akhirnya.Karton . Landfilling Negara Bagian Kalifornia mengartikan konsep integrasi tersebut dengan menerapkan secara hierarkhi pilihan teknologi tersebut.Enersi /gas Gambar 5. Persentase pemanfaatan kembali sampah oleh masyarakat masih jauh dari jumlah sampah yang dihasilkan. USEPA di Amerika Serikat [46] mengidentifikasi 4 (empat) dasar pilihan manajemen strategi. Recycling dan pengomposan c. kaleng minuman . Gambar 5. terutama sampah organik yang merupakan jumlah sampah terbanyak. Reduksi sampah di sumber b. guna mengurangi secara kuantitatif sampah. Reduksi sampah di sumber b. Transfer ke enersi (waste-to-energy) d.Besi Landfill . Recycling dan pengomposan c. Landfilling yang artinya transformasi sampah baru dipertimbangkan bila telah dilakukan upaya-upaya recycling atau pengomposan sebelumnya. Untuk mendukung upaya pemerintah dalam strategi pengurangan sampah tentunya pemanfaatan kembali sampah merupakan hal yang sangat penting dan sangat diajurkan.Kertas . Sumber Sampah Permukiman Pemilahan Sampah Pengumpulan Curb side Pengumpulan atau ke produsen Kembali ke Produsen Ke Fasilitas Penampung Sampah Berbahaya Pusat Penerima Pengemas . Pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul-angkut-buang menyisakan banyak permasalahan dan kendala.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) dengan yang lain dalam hubungan interdipliner yang positif agar sebuah pengelolaan persampahan yang terintegrasi dapat tercapai secara baik.Gelas . bahwa penanganan sampah yang terintegrasi bertujuan untuk meminimalkan atau mengurangi sampah yang terangkut menuju pemrosesan akhir.Kompos . Transformasi limbah d. sehingga volume sampah yang belum tertanggulangi masih banyak.Aluminium . untuk mencapai sasaran dan tujuan yang spesifik dari pengelolaan sampah. dan program-program manajemen yang sesuai. Masing-masing kota diperkirakan pada tahun-tahun mendatang akan mengalami penambahan penduduk yang cukup besar sehingga pembuangan sampah akan mengalami peningkatan yang pesat pula. Daur ulang sampah sudah menjadi dasar yang diamanatkan oleh UU-18/2008. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 48 . teknologi.3 Pengelolaan sampah permukiman secara terintegrasi [32] Telah dibahas sebelumnya. dsb TPS atau Pusat Recovery Sampah Fasilitas Transformasi Sampah .

pembukaan lapangan pekerjaan baru. lapak dan bandar perlu diintegrasikan dalam sistem pengelolaan sampah kota yang berpusat pada sarana pengelolaan sampah tersebut. Berdasarkan Peraturan Bersama antara Pemerintah Kota Denpasar. Untuk meningkatkan kondisi lingkungan hidup daerah dan perkotaan di Propinsi Bali. Dengan pengembangan sistem pengolahan sampah terpadu ini. Hal ini berarti masih terdapat sampah yang tertinggal atau tidak tertangani oleh pemerintah daerah disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. khususnya di Bali Selatan yang mengalami pertumbuhan urbanisasi yang sangat pesat.B tahun 2000. bagi kota JAkarta. serta makin banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh sebuah kota. nomor 390. juga memperkuat peranserta masyarakat. Pembangunan. TAngerang dan BEKas. Pembentukkan wadah kerjasama dalam suatu badan pengelola kebersihan Bali bagian Selatan Pembentukan wadah pengawasan independen Pembentukan Peraturan Pemerintah (Perda) yang mendukung pengelolaan sampah. nomor 660.B tahun 2000 tanggal 24 Juli 2000. dan Badan Pengawas Pengelolaan Kebersihan Sarbagita (BP2KS). yaitu pengelolaan sampah bersama.2/2868/Sekret. dikenal dengan konsep Pengolahan Sampah Terpadu. PPT dan PPLH ITB pada tahun 1980-an telah memperkenalkan dan menguji-coba konsep ini sebagai Kawasan Industri Sampah (KIS) [13].7 Pengelolaan Sampah Regional Dengan terbatasnya lahan untuk pemrosesan. Badan Pengelola Kebersihan Sarbagita (BPKS). dan lain-lain. Kabupaten Badung. tentang Pokok-Pokok Kerjasama Pemerintahan. Salah satu skenario kegiatan dan proses dari pengolahan sampah terpadu ini dapat dilihat pada Gambar 5. pengolahan dan kampanye pengurangan sampah terutama sampah non-organik merupakan alternatif yang sangat positif sebagai kerangka untuk menjawab permasalahan persampahan tersebut. daur ulang. akan tetapi juga diterapkan di tempat transit sampah (TPS) yang dapat disebut sebagai pengolahan skala kawasan. pengawasan. Institusi atau badan yang telah disepakati untuk dibentuk adalah : Badan Pengatur dan Pengendalian Kebersihan Sarbagita (BPPKS). Konsep pertama yang muncul adalah berasal dari Denpasar dan sekitarnya. maka idea pengelolaan sampah bersama dari daerah yang saling berdekatan atau beskala regional. yang kemudian disebut Sarbagita. Penerapan program daur-ulang dan proses pengolahannya di tempat pengolahan/pemrosesan akhir. Kabupaten BAdung. dengan konsep pengelolaan sampah bersama antara Kota DenpaSAR. nomor 840. Sektor informal yang selama ini telah aktif dalam upaya daur-ulang sampah kota yaitu pemulung.1/3367/Ek. dan Kabupaten Tabanan. seperti tarif. dan Kemasyarakatan dalam Pengelolaan Sampah antara Pemerintah Kota Denpasar. kegiatan pemanfaatan kembali khususnya sampah an-organik ini banyak sekali manfaatnya bagi warga. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 49 .4 berikut. nomor 658. Kabupaten Gianyar. makin banyak mendapat perhatian di Indonesia. Kabupaten GIanyar dan Kabupaten TAbanan atau SARBAGITA. Pemerintah Pusat mendapat bantuan dari Bank Dunia (IBRD) melalui Program Bali Urban Infrastructure Project (BUIP)-P3KT. khususnya dalam pengadaan TPA. Sektor informal yang berkecimpung dalam masalah pendaur-ulangan barang-barang bekas atau sampah memiliki potensi dalam pengurangan sampah khususnya sampah non-organik yang ada di perkotaan. BOgor. seperti diperolehnya usaha sampingan. perencanaan. Kabupaten Gianyar. Institusi atau badan tersebut mempunyai fungsi dan tugas pokok masing-masing yang sudah ditetapkan melalui Keputusan Bersama Pemerintah Daerah/Kota [47]. Sampai saat ini timbulan sampah yang dapat ditangani oleh pemerintah daerah belum mencapai 100%. dan upaya lainnya agar sampah yang akan diurug menjadi lebih sedikit. Konsep ini prinsipnya menyatukan secara terpadu kegiatan pembuangan akhir dengan kegiatan proses pemilahan. DEpok. Konsep yang sama dicoba dikembangkan di Jakarta dan sekitarnya. fungsi dari tempat pemrosesan akhir sampah pada beberapa tahun mendatang dapat menjadi tidak dominan karena kapasitas sampah yang akan diurug lebih kecil daripada sampah yang dapat diolah atau dimanfaatkan lagi. atau dalam lokasi pengolahan/pemrosesan akhir. dan Kabupaten Tabanan. organisasi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Selain dapat mengurangi timbulan sampah yang berasal dari sumbernya sendiri. Manfaat lain yang mungkin dirasakan oleh pemerintah adalah mengurangi subsidi untuk penanganan sampah. Upaya pemanfaatan kembali. dan komposting. 5. yang di dalam pelaksanaannya khusus menyangkut persampahan ditangani oleh Proyek Pengelolaan Sampah Bali (Solid Waste Menagement in Bali) mulai Tahun Anggaran 1997/1998 sampai dengan 2001/2002. telah disepakati melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tanggal 16 April 2001 di antara keempat Pemerintah Daerah/Kota Sarbagita. ditetapkan 4 (empat) program pokok atau disebut program strategis yang mencakup [47]: Penetapan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah lintas kabupaten/kota. hal ini seiring dengan tahap pengembangan pengelolaan persampahan yang semakin meningkat. Restrukturisasi pembentukan institusi pengelolaan persampahan di Bali Selatan. memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Kabupaten Badung. Program daur-ulang pada dasarnya tidak hanya dilakukan di sumber-sumber timbulan sampah.

atau KARTAMANTUL. Gorontalo dsb. Terdapat perbedaan persepsi dan kepentingan diantara kota dan kabupaten yang terlibat di dalamnya. Sedang Bandung Raya menampilkan idea pengelolaan sampah bersama antara Garut. Hal yang sama dirintis di tempat lain. Kabupaten SleMAN dan dan Kabuoaten BanTUL. dan Kota Cimahi [48] yang telah dirintais sejak tahun 2004. Kabupaten Bandung. seperti di metropolitan Makassar. Konsep sejenis berjalan cukup baik di Yoyakarta. Namun upaya yang mendapat dukungan dari Pemerintah pusat tersebut. yaitu antara Daerah Istimewa YogyaKARTA.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) atau JABODETABEK. Sumber Timbulan Sampah Swadaya Masyarakat Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Proses Pemisahan Proses Pemilahan Sampah Organik Sampah Anorganik Layak Kompos Tak Layak Kompos Tak Layak Daur Ulang Layak Daur Ulang INSTALASI KOMPOS Residu SLF Abu Abu Pilihan Campuran Kompos Insinerator Produk Kompos Produk Lain Bahan Daur Ulang Gambar 5. Kota Bandung.4 : Flow chart pengolahan sampah terpadu [47] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 50 . sampai saat ini belum terlihat realisasinya. Sumedang.

tetapi mudah diangkat dan dibawa ke wadah sampah level-2. 6. bila sistem memang membutuhkan. Idealnya jenis wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dikelola agar memudahkan dalam penanganan berikutnya. Mengingat bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah tersebut. merupakan wadah yang menampung sampah dari wadah level-1 maupun langsung dari sumbernya. PENGUMPULAN DAN PEMINDAHAN Bagian ini menjelaskan aktivitas teknik operasional persampahan. Pada umumnya wadah sampah pertama ini diletakkan di tempat-tempat yang terlihat dan mudah dicapai oleh pemakai. Guna lebih memahami. yang sampai saat ini masih belum berhasil menerapkan konsep pemilahan. misalnya diletakkan di dapur. − Air hujan yang berpotensi menambah kadar air di sampah. Di samping itu. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan: − Pada umumnya wadah sampah individual level-2 ditempatkan di tepi jalan atau di muka fasilitas umum. Melihat perannya yang berfungsi sebagai titik temu antara sumber sampah dan sistem pengumpul. plastik. dan sebaiknya disesuaikan dengan jenis sampah. Sedangkan wadah sampah komunal ditempatkan di tempat terbuka yang mudah diakses.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 6 PEWADAHAN. kulit buah lunak. Namun pada kenyataannya di permukiman permanen. yaitu disesuaikan dengan jenis sampah yang telah terpilah. Level-3 : merupakan wadah sentral. dapat dihindari Berdasarkan letak dan kebutuhan dalam sistem penanganan sampah. maka paling tidak hendaknya wadah tersebut menampung secara terpisah. Sampah anorganik seperti gelas. logam. Dijelaskan pula subsistem ini di Indonesia dan di negara maju. dengan wadah warna terang seperti kuning c. Level-2 : bersifat sebagai pengumpul sementara. maka guna kemudahan dalam pemindahannya. dan lain-lainnya. teratur. serta sistem transfer. seperti daun sisa. tidak dapat dimasuki serangga binatang dan air hujan serta kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung. Level-1 : wadah sampah yang menampung sampah langsung dari sumbernya. Di negara maju adalah hal yang umum dijumpai wadah sampah yang terdiri dari dari beragam jenis sesuai jenis sampahnya. mulai dari pewadahan sampai ke transfer. misalnya: a. dapat diatasi. Sampah organik. wadah sampah ini seharusnya tidak bersifat permanen. kedap air. sedang wadah komunal memungkinkan sampah yang ditampung berasal dari beberapa rumah atau dari beberapa bangunan. yang menambah waktu operasi untuk pengosongannya. sehingga memudahkan para petugas untuk mengambilnya dengan cepat. Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi khusus dan ditempatkan sesuai dengan sistem pengangkutan sampahnya. dengan adanya wadah yang baik. Namun di Indonesia. Wadah individual adalah wadah yang hanya menerima sampah dari sebuah rumah. Sampah bahan berbahaya beracun dari rumah tangga dengan warna merah. dapat kendalikan − Pencampuran sampah yang tidak sejenis. dsb. seperti dalam apartemen bertingkat . maka pewadahan sampah dapat dibagi menjadi beberapa tingkat (level). Wadah sampah hendaknya mendorong terjadinya upaya daur-ulang. seperti yang diarahkan dalam SNI tentang pengelolaan sampah di Indonesia. khususnya dalam upaya daur-ulang. dan higienis. biasanya bervolume besar yang akan menampung sampah dari wadah level-2. dengan wadah warna gelap seperti hijau b. dan wadah sampah komunal terletak di suatu tempat yang tebuka. maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : kuat dan tahan terhadap korosi. Wadah sampah individual umumnya ditempatkan di muka rumah atau bangunan lainnya. akan dijumpai wadah sampah dalam bentuk bak sampah permanen di depan rumah. sayuran. yaitu: a. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 51 . Pewadahan dimulai dengan pemilahan baik untuk pewadahan individual maupun komunal. Sampah diwadahi sehingga memudahkan dalam pengangkutannya. Biasanya wadah sampah jenis ini adalah tidak statis. mahasiswa diminta mengamati aktivitas susb-sistem ini di lingkungannya. dan dianjurkan diberi lambang (label) khusus Di Indonesia dikenal pola pewadahan sampah individual dan komunal. di ruang kerja. sekolah. atau sebuah bangunan. sisa makanan. tidak mengeluarkan bau. b. atau tepi jalan atau dalam ruang yang disediakan. Dijelaskan tentang jenis dan pola pewadahan.1 Pewadahan Sampah Pewadahan sampah merupakan cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal. c. rumah. Wadah sampah level-2 ini diletakkan di luar kantor. maka: − Bau akibat pembusukan sampah yang juga menarik datangnya lalat.

1-10 m3 untuk pemukiman dan pasar. toko besar. Bin plastik. maka: a. volume sesuai yang tersedia di pasaran . plastik. pasar. dapat diangkat.Kantong plastik. yaitu mudah dan cepat untuk dikosongkan. mudah dibersihkan. instansi pengelola. dan dijamin kebersihannya. Contoh wadah dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 6. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air. manual atau mekanik. volume 50–60 Iiter . − Bahan: logam. Aman dari gangguan binatang ataupun dari pemungut barang bekas.Gerobak sampah.Kontainer besar volume 6-10 m .2.Bin/tong sampah. mudah dibersihkan. taman kota. toko kecil. instansi pengelola. . sedang wadah sampah hotel dan sejenisnya ditempatkan di halaman belakang Tidak mengambil lahan trotoar. Tabel 6. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air. panas matahari. − Pengadaan: pribadi. a. volume bervariasi. Bentuk ditentukan oleh pihak instansi pengelola karena sifat penggunaannya adalah umum. taman b.Bin plastik/tong. Pasar 3 . Beberapa jenis wadah berdasarkan sumber sampahnya dapat dilihat pada Tabel 6. Sumber sampah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 52 . frekuensi pengambilan atau pengumpulan sampah dan cara pemindahan sampah. kontainer. rumah makan. volume 1. panas matahari. dengan kriteria: − Bentuk: kotak. taman kota. Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah [7]. volume 120-140 liter dgn roda. ukuran bervariasi. khususnya permukiman yang pernah dibina oleh Dinas Kebersihan . kecuali bagi wadah sampah untuk pejalan kaki Didesain secara indah. volume 120 . biasanya dari Daerah perumahan pasangan .1. − Sifat: tidak bersatu dengan tanah. Bin plastik/tong volume 50-60 Iiter.0 m . khususnya bila terletak di jalan protokol Tidak mengganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya. tahan diperlakukan kasar. tertutup. Pertokoan . sehingga sampah tidak dalam keadaan berserakan. Perkantoran/Hotel 3 . kontainer. dianjurkan tidak di luar pagar. Jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. timbulan sampah per pemakai. − Ukuran: 100-500 liter untuk pinggir jalan. − Ukuran: 10-50 liter untuk pemukiman.Bin plastik/tong. plastik. badan swasta (sekaligus sebagai usaha promosi hasil produksi). dengan tutup. hotel. 100-500 liter untuk kantor. Penentuan ukuran volume biasanya berdasarkan jumlah penghuni tiap rumah/sumber.Bak sampah. Pola pewadahan komunal : diperuntukkan bagi daerah pemukiman sedang/kumuh.Kontainer dari Armroll kapasitas 6–10 m . volume 120-140 Iiter dengan tutup dan memakai roda. silinder. dan permanen. jalan. Bentuk yang dipakai tergantung selera dan kemampuan pengadaan dari pemiliknya. 3 . dengan kriteria: − Bentuk: kotak. tertutup.1: Jenis pewadahan dan sumber sampahnya [7] Jenis pewadahan . . Mudah dijangkau oleh petugas sehingga waktu pengambilan dapat lebih cepat dan singkat.Bin plastik. Mudah untuk pengoperasiannya. Pola pewadahan individual: diperuntukkan bagi daerah pemukiman berpenghasilan menengah-tinggi dan daerah komersial. − Pengadaan: pemilik. volume 50-60 Iiter. jalan. tingkat hidup masyarakat.Kantong plastik/kertas. kantung. yang dipasang secara Tempat umum. swadaya masyarakat. tahan diperlakukan kasar.140 L dengan roda. silinder. − Sifat: dapat diangkat. 3 .Bin plastik. b. sedang persyaratan untuk bahan adalah seperti pada Tabel 6. Tertutup dan tidak mudah rusak dan kedap air.Kontainer volume 1 m beroda.Bak sampah permanen.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − − − − − − − − Wadah sampah dari rumah sebaiknya diletakkan di halaman muka. . − Bahan: logam. volume 40-60 Iiter.3.

3: Contoh wadah dan penggunaannya [7] Umur wadah Wadah Kapasitas Pelayanan (life time) Kantong plastik 10-40 L 1 KK 2-3 hari Bin Bin Bin Kontainer Kontainer Bin 40 L 120 L 240 L 1. 1. dan mudah Ringan. Sampah dari tiap-tiap sumber akan diambil. atau (3) langsung ke tempat pemrosesan akhir tanpa melalui proses pemindahan. 3. Secara tidak langsung (communal): Pada sistem ini. yaitu secara langsung (door to door). atau secara tidak langsung (dengan menggunakan transfer depo/container ) sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS). sampah dari masing-masing sumber dikumpulkan dahulu oleh sarana pengumpul seperti dalam gerobak tangan (hand cart) dan diangkut ke TPS. mudah dipindahkan. 6. bin (tong). rotan. 4. 2. bin Bentuk/jenis semua bertutup. Instansi. kontainer. 5. fiberglass kayu. Secara langsung (door to door): Pada sistem ini proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dilakukan bersamaan. (tong). dan memiliki kriteria persyaratan sebagai berikut: − Mudah dalam loading dan unloading − Memiliki konstruksi yang ringan dan sesuai dengan kondisi jalan yang ditempuh − Sebaiknya mempunyai tutup Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 53 . Tabel 6. Pinggir jalan dan taman = 30–40 L Volume Pemukiman dan toko kecil 10–40 L Untuk pemukiman dan pasar = 100–1000 L Pengadaan Pribadi. dengan penjelasan sebagai berikut [7]: a. dan Sifat dikosongkan.000 L 500 L 30-40 L 1 KK 2-3 KK 4-6 KK 80 KK 40 KK Pejalan kaki. mudah dikosongkan. kayu. silinder. plastik. dapat dilakukan dengan dua cara. 7. Logam. semua bertutup.2. Kotak. Ringan. sebelum diangkut ke tempat pemrosesan. plastik. atau ke tempat pemrosesan akhir. bambu. silinder. Logam. bambu. atau ke tempat pembuangan akhir (lihat Gambar 6. Toko Komunal Komunal 6. mudah dipindahkan.2 Pengumpulan Sampah Jenis Pengumpulan sampah Pengumpulan sampah adalah proses penanganan sampah dengan cara pengumpulan dari masingmasing sumber sampah untuk diangkut ke (1) tempat penampungan sementara atau ke (2) pengolahan sampah skala kawasan. taman 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun No. Keterangan Individual Maksimal pengambilan 3 hari 1 kali. instansi.1). Dalam hal ini. Gerobak tangan merupakan alat pengangkutan sampah sederhana yang paling sering dijumpai di kota-kota di Indonesia. sampah dari masing-masing sumber akan dikumpulkan dahulu dalam gerobak tangan (hand cart) atau yang sejenis dan diangkut ke TPS. 3.2: Pola dan karakteristik pewadahan sampah [7] Pola pewadahan Individual Komunal Karakteristik Kotak.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) No. Dengan adanya TPS ini maka proses pengumpulan sampah secara tidak langsung dapat digambarkan seperti pada Gambar 6. 4. pengelola. Bahan rotan. 1. b. pengelola Tabel 6. TPS dapat pula berfungsi sebagai lokasi pemrosesan skala kawasan guna mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut ke pemrosesan akhir. kertas. dan kantong plastik. fibreglass. Pada sistem communal ini. dikumpulkan dan langsung diangkut ke tempat pemrosesan. Operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah mulai dari sumber sampah hingga ke lokasi pemrosesan akhir atau ke lokasi pemrosesan akhir. 2. 5. kontainer.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Daerah pelayanan Pemero sesan atau TPA Transportasi Koleksi Transportasi Transmisi Gambar 6. Penyapuan jalan sebaiknya dilakukan secara simultan oleh juru sapu.1 : Bagan proses pengumpulan dan pengangkutan secara langsung Daerah pelayanan TPS atau Pemerose san Kawasan Pemrose san atau TPA Transportasi Koleksi Transportasi Transmisi Gambar 6. Bila lokasi ini berfungsi juga sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan. atau di Indonesia dikenal sebagai Tempat Penampungan 2 Sementara (TPS) seperti di atas diperlukan areal tanah minimal seluas 200 m . Penempatan sarana ini juga bermasalah karena sulit untuk memperoleh lahan. Tempat penampungan sementara ini berupa [49. Untuk menjaga kebersihan dan keindahan jalan-jalan. landasan ini tidak disediakan.2: Bagan proses pengumpulan dan pengangkutan secara tidak langsung Tempat penampungan sementara merupakan suatu bangunan atau tempat yang digunakan untuk memindahkan sampah dari gerobak tangan (hand cart) ke landasan. misalnya pagi hingga siang hari. penyapuan jalan dilakukan dengan pembagian kelompok kerja (shift). 3 b. maka perlu diatur kegiatan penyapuan jalan. Transfer station I / transfer depo. yaitu menyapu sampah di jalan. Frekuensi pengumpulan sampah menentukan banyaknya sampah yang dapat dikumpulkan dan diangkut perhari. − Tempat penyimpanan peralatan. c. Untuk suatu lokasi transfer depo. biasanya terdiri dari: − Bangunan untuk ruangan kantor. dan kontainer diletakkan begitu saja di lahan tersedia. Kontener besar (steel container) volume 6 – 10 m : Diletakkan di pinggir jalan dan tidak mengganggu lalu lintas. dahan/ranting dan debu jalan. 50]: a. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 54 . Semakin besar frekuensi pengumpulan sampah. maka frekuensi pengumpulan sampah dapat diatur sesuai dengan jenis sampah yang akan dikumpulkan. Sebaiknya waktu pengumpulan sampah adalah saat dimana aktivitas masyarakat tidak begitu padat. Bila sistem pengumpulan telah memasukkan upaya daur-ulang. semakin banyak volume sampah yang dikumpulkan per service per kapita. Pada umumnya. Dibutuhkan landasan permanen sekitar 2 25-50 m untuk meletakkan kontainer. maka dibutuhkan tambahan luas lahan sesuai aktivitas yang akan dijalankan. − Pelataran parkir. kontainer atau langsung ke truk pengangkut sampah. − Bangunan tempat penampungan/pemuatan sampah. Di banyak tempat di kota-kota Indonesia. mengumpulkannya dalam wadah serta mengangkutnya ke tempat penampungan sementara dengan menggunakan gerobak tangan. Untuk memudahkan pengawasan dan untuk menjaga kebersihan kawasan. Bak komunal yang dibangun permanen dan terletak di pinggir jalan: Hal yang harus diperhatikan adalah waktu pengumpulan dan frekuensi pengumpulan. sampah hasil penyapuan jalan berupa daun-daunan kering. Dalam hal ini sampah kering dapat dikumpulkan lebih jarang. dan belum tentu masyarakat yang tempat tinggalnya dekat dengan sarana ini bersedia menerima.

Peran serta masyarakat tinggi. Pola individual tidak langsung. Terdapat organisasi pengelola pengumpulan sampah dengan sistem pengendaliannya. Pola komunal langsung oleh truk pengangkut dilakukan. Optimasi penggunaan alat. Biasanya daerah layanan adalah pertokoan. dapat digunakan alat pengumpul non-mesin (gerobak. becak) dan bagi kondisi topografi > 5% dapat digunakan cara lain seperti pikulan. Pemukiman tidak teratur. Komunal tidak langsung. Kepadatan penduduk dan tingkat penyebaran rumah. dapat diterapkan bila: Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. lapangan rumput. kawasan pemukiman yang tersusun rapi. Alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah individual (kondisi daerah berbukit. waktu dan petugas. Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah [7]: a. Pengumpulan sampah harus memperhatikan: Keseimbangan pembebanan tugas. Minimasi jarak operasi. daerah elite. Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau oleh alat pengangkut (truk). dan jalan protokol. gang/jalan sempit). Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. dengan persyaratan sebagai berikut : Juru sapu harus mengetahui cara penyapuan untuk setiap daerah pelayanan (diperkeras. sedang alat pengumpul non-mesin akan sulit beroperasi. Petugas pengangkut tidak masuk ke gang. Individual tidak langsung. Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau alat pengumpul. b. c. dengan persyaratan sebagai berikut : Peran serta masyarakat tinggi. Komunal langsung. dapat digunakan alat pengumpul non mesin (gerobak. e. Layanan dapat pula diterapkan pada daerah gang. dan lain-lain). Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pengumpulan sampah: Jumlah sampah terangkut. Harus ada organisasi pengelola pengumpulan sampah. kontainer kecil beroda dan karung. Penyapuan jalan dan taman. a. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 55 . Lebar jalan/gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya. becak). Kondisi sarana penghubung (jalan. Luas daerah operasi. gang). bila : Alat angkut terbatas Kemampuan pengendalian personil dan peralatan relatif rendah.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Pola Pengumpulan Sampah Bersama dengan kegiatan pewadahan. tanah. Kondisi jalan cukup lebar dan operasi tidak mengganggu pemakai jalan lainnya. Pola penyapuan jalan. maka pengumpulan sampah merupakan kegiatan awal dalam rangkaian pengelolaan sampah. misal dengan bunyi-bunyian. Pola individual langsung oleh truk pengangkut menuju ke pemrosesan: Bila kondisi topografi bergelombang (rata-rata > 5%). d. Alat pengumpul masih dapat menjangkau secara langsung.3 m /hari. dengan menggunakan pengumpul sejenis gerobak sampah. hanya alat pengumpul mesin yang dapat beroperasi. Jumlah penduduk. 3 Jumlah timbulan sampah > 0. Panjang dan lebar jalan. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan Kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5%). Pola pengumpulan sampah terdiri atas [7]: Individual langsung. Jarak titik pengumpulan dengan lokasi. Kondisi dan jumlah alat memadai. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan Bagi kondisi topografi yang relatif datar (rata-rata < 5%). hanya akan memberi tanda bila sarana pengangkut ini datang. b. Lebar jalan atau gang cukup lebar untuk dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya. Pola komunal tidak langsung.

− Dilaksanakan untuk titik komunal. hotel. atau maksimal 3 hari sekali. − Pembebanan pekerjaan diusahakan merata dengan kriteria jumlah sampah terangkut. serta sumber sampah besar. satu hari 2 trip. pusat ibadah. dan daerah protokol. 2 hari. Frekuensi pengumpulan ditentukan menurut lokasi pelayanan/pemukiman. − Pengumpulan langsung mengumpulkan sampah dari wadah sampah individual atau wadah sampah komunal dengan kapasitas 120-500 liter. − Bermesin untuk daerah yang berbukit. sampah non organik dilaksanakan 4-8 hari sekali. − Gerobak dengan 2 kontainer terpisah. C-120 (120 L) dan C-240 (240 L). − Himbauan bahwa sampah non organik hanya dikeluarkan pada hari tertentu (misalnya setiap hari sabtu). pasar. dan lain-lain. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 56 . − Mempunyai petugas pelaksana yang tetap dan perlu dipindahkan secara periodik. Penyapuan/kebersihan jalan merupakan tanggung jawab pemilik atau pengguna persil. rumah susun.4 rit per hari. h. bangunan besar. melayani 1000 penduduk untuk radius pelayanan tidak lebih dari 1000 meter. dan restoran besar.000 penduduk. serta kondisi komposisi sampah. − Pengumpulan sampah organik dilaksanakan 1-2 hari sekali. d. 3 − Pengumpulan langsung dengan menggunakan truk kapasitas 6 m . Sedang sampah B3 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. − Untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan. dan jenis sampah yang akan diangkut. Untuk sampah kering. pusat perbelanjaan. Pengumpulan secara terpisah − Pemisahan dengan warna gerobak. jam 10.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) - Penanganan penyapuan jalan untuk setiap daerah berbeda tergantung pada fungsi dan nilai daerah yang dilayani. Jadwal pengumpulan adalah di saat tidak mengganggu aktivitas masyarakat terpadat. Rasio tenaga pengumpulan terhadap jumlah penduduk/volume sampah − Pengumpulan dengan menggunakan gerobak: 2 petugas dengan 1 gerobak kapasitas 1 m3. f. periodisasi pelayanan semakin sering.5 m . − Mempunyai daerah pelayanan tertentu dan tetap. sebelum jam 7. 3 − Bila tidak bermesin disesuaikan dengan kapasitas tenaga kerja maksimal yaitu 1. 6. − Kualitas pelayanan yang diinginkan. − Diatur dengan jadwal dan periode pengumpulan. tetapi perkantoran 3 hari. tidak terkecuali perkantoran (pemerintah/non pemerintah). periode pengumpulannya dapat dilakukan lebih dari 3 hari 1 kali. kualitas kerja. pusat perkantoran. − Kapasitas kerja. − Periodisasi: untuk sampah mudah membusuk maksimal 3 hari sekali namun sebaiknya setiap hari. tergantung dari beberapa kondisi seperti: − Komposisi sampah. b. desain peralatan. tergantung dari kapasitas kerja. maka: a.00. Contoh: untuk pasar 0. 1 truk dengan crew 2 orang dengan wadah sampah berupa tong atau kontainer maksimum 120 liter dapat melayani 10.00 – 15. pada umumnya 2-4 kali sehari. rumah sakit. dan hanya untuk daerah datar. seperti : pasar. atau sesudah jam 17. misalnya sampah organik warna hijau.00. truk dapat dilengkapi dengan alat pengangkat wadah sampah otomatis (lifting unit) yang kompatibel dengan wadah sampah kontainer C-90 (90 L). Kriteria alat pengumpul (ukuran/kapasitas. Pengumpulan langsung − Pengumpulan langsung dilakukan di daerah pemukiman teratur dengan lebar jalan memadai untuk dilalui truk. jenis) − Sesuai dengan kondisi jalan. kondisi daerah. Semakin besar persentase sampah organik. semakin kecil periodisasi pelayanan.3 Beberapa Kriteria yang Berlaku di Indonesia Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (sekarang Departemen Pekerjaan Umum) [14]. c.5-1 hari. g. − Desain peralatannya. Pengendalian personel dan peralatan harus baik. Pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan diangkut ke lokasi pemindahan untuk kemudian diangkut ke pemrosesan akhir. semakin besar persentase organiknya. Perencanaan operasional pengumpulan harus memperhatikan: − Ritasi antara 1 . serta 3 sumber sampah > 1 m . Periodisasi pengumpulan 1 hari. dan sebagainya. e. jarak tempuh.00. − Pengumpulan langsung menggunakan truk dengan kapasitas 6-10 m3. termasuk saluran air hujan.

Jalan pusat kota area perbelanjaan 2x per-hari . Tempat penyimpanan atau kebersihan. Baik sekali untuk daerah yang mudah mendapat lahan.Jalan di area pasar. - - 3 Daerah Pemakai . Kantor Wilayah/ pengendali.Jalan pinggir kota pusat perbelanjaan 2 hari 1x . Tipe pemindahan sampah dapat dilihat pada Tabel 6.Tempat pertemuan peralatan pengumpul dan pengangkutan sebelum pemindahan. jalan utama pusat kota 3x per-hari .Jalan pemukiman pendapatan tinggi 2 hari 1x . − Jalan pemukiman pendapatan tinggi. − Jalan pinggir kota pusat perbelanjaan. − Jalan di area pasar. Kriteria tipe tempat penampungan sementara (tipe landasan kontainer. 6m . 1 2 Uraian Luas lahan Fungsi Transfer Tipe I >= 200 m2 Tempat pertemuan peralatan pengumpul dan pengangkutan sebelum pemindahan.Tempat pemilahan. Tempat pengomposan.5 : Tipe pemindahan (transfer) [7] No. maka: 3 3 3 a.5. Pemrosesan sampah atau pemilahan sampah dapat dilakukan di lokasi ini. − Jalan kolektor pusat kota. Tabel 6.Jalan pemukiman pendapatan rendah 2 hari 1x Rasio kebutuhan personil penyapuan/panjang jalan = 1 orang petugas untuk 1 km jalan 6. Bengkel sederhana.4 Tabel 6. Klasifikasi jalan menurut frekuensi penyapuan seperti dalam Tabel 6. atau kombinasi misalnya pengisian kontainer dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul.Daerah yang sulit mendapat lahan yang kosong dan daerah protokol.Lokasi penempatan kontainer komunal (1.4 Klasifikasi jalan menurut frekuensi penyapuan Klasifikasi jalan Frekuensi penyapuan . Transfer Tipe II 60 . yang dapat dilakukan secara manual atau mekanik. − Pembongkaran titik pemindahan sebaiknya memperhatikan kaidah isolasi pencemaran dan diatur jadwalnya yang tidak mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat pemakai jalan dan sekitarnya b. Tempat pemilahan. Pemindahan sampah dilakukan oleh petugas kebersihan. sehingga sarana ini dapat berfungsi sebagai lokasi pemrosesan tingkat kawasan.20 m2 . .Jalan pusat kota area perbelanjaan 3 x per-hari .200 m2 . − Jalan pemukiman pendapatan rendah. tidak mengganggu arus lalu lintas. Transfer Tipe III 10 . tipe transfer dipo): − Pelataran berdinding: 57 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB . tetap bersih. sedangkan pengangkutan kontainer ke atas truk dilakukan secara mekanis (load haul). . perlu ada penjadwalan pengisian dan pengosongan.4 Pemindahan Sampah Pemindahan sampah merupakan tahapan untuk memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pemrosesan atau ke pemrosesan akhir. .Tempat parkir gerobak. Klasifikasi jalan menurut kerawanan sampah − Jalan pusat kota area perbelanjaan. − Untuk memaksimalkan kebersihan lokasi transfer. atau kenyamanan pejalan kaki.Jalan kolektor pusat kota 2 hari 1x . 10m ) − Dikosongkan setiap hari minimal dengan frekuensi 1 kali. − Mudah dijangkau. Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah [14]. Lokasi pemindahan sampah hendaknya memudahkan bagi sarana pengumpul dan pengangkut sampah untuk masuk dan keluar dari lokasi pemindahan.Tempat pemilahan. − Terisolasi.10 m3).Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) i.Tempat pertemuan gerobak dan kontainer (610 m3). dan tidak jauh dari sumber sampah. jalan utama pusat kota. j. Kriteria Titik Komunal untuk lokasi pengumpulan (1m . .

limbah B3. Sedang bila berbentuk apartemen tinggi. Barang-barang tersebut sesuai jadwal yang ditentukan kemudian diangkut ke tempat pemrosesan lebih lanjut sesuai jenisnya oleh pengelola sampah kota. dengan menggunakan kendaraan pengumpul yang berbeda. biasanya dibawa sendiri oleh penghuni ke kontainer yang lebih besar di lantai dasar. Untuk itu perlu kepastian dan kejelasan jadwal pengumpulan. Dalam kompleks apartemen yang luas. yang dikenal sebagai sistem curb . dsb − Barang-barang yang tidak terpakai lagi. adalah secara langsung-individual (door-to-door). Kontainer muat-hela: Berupa kontainer yang umumnya bervolume 8-10 m3. maka mekanisme transfer sampah ke kontainer pengumpul di tingkat dasar dapat berupa: − Sampah dikumpulkan di tiap tingkat. Terdapat variasi pelayanan yang mirip dengan sistem komunal yang biasa diterapkan di Indonesia. Isolasi bertujuan menghilangkan kesan kotor dari kerja pemindahan. Rumah tinggal yang tidak bertingkat b. dan dimasukkan sendiri ke masing-masing kontainer terpisah atau ruangan khusus bila limbah berbahaya. khususnya bila sampah berasal dari apartemen bertingkat. dijatuhkan melalui sistem yang berada di setiap tingkat. maka pengumpulan sampah juga mempertimbangkan jenis bangunan yang akan dilayani.5 Pengumpulan Sampah di Negara Maju Terminologi pengumpulan (collection) sampah di negara maju adalah mengumpulkan sampah dari beragam sumber sampah. kemudian membawanya ke tempat pemindahan atau ke tempat pemrosesan. menuju kontainer pengumpul di lantai dasar − Sistem pelayanan yang sering dijumpai.. sehingga tumpahan sampah dapat dihindari. dan pengumpulan sampahnya dilakukan oleh organisasi kemanusiaan yang khusus mengumpulkan bahan-bahan tidak terpakai seperti baju bekas. kulkas. Sampah tidak dipilah (commingled wastes) b. dsb dibawa secara sendiri oleh penghasil ke lokasi penampungan sementara. TV. maka tata-cara pengumpulan yang sering dijumpai adalah: − Pengumpulan sampah dilakukan dengan dengan sistem curb. yaitu: a. Sampah dipilah Berdasarkan jenis permukiman yang biasa digunakan. Sistem pemindahan dari kontainer ke truk pengumpul biasanya mekanis. Metode ini membutuhkan biaya modal yang cukup besar karena dibutuhkan truk dengan tipe khusus (load hauled truck). Gerobak langsung menumpahkan muatannya ke dalam kontainer ini. Apartemen sampai tingkat menengah (sampai 7 tingkat) c. Bila bersifat mekanis. 6. penghuni atau penanggung jawab apartemen membawa wadah sampah yang penuh ke pinggir jalan di depan apartemen atau rumahnya. mebel. Seseorang yang berminat dengan barang bekas tersebut secara gratis dapat mengambilnya untuk digunakan kembali. Dinding dibuat cukup tinggi sehingga dapat berfungsi sebagai isolator terhadap daerah sekitarnya. Dibedakan antara sistem pengelolaan untuk [4. sampah dari masing-masing apartemen disalurkan melalui sistem pneumatis menuju ke tempat penampungan komunal. yang terdiri dari beberapa apartemen tingkat tinggi. Bila pengelolaan sampah di daerah tersebut telah mengenal sistem pemilahan berdasarkan jenis sampahnya. 32]: a. atau kendaraan yang sama tetapi dengan jadwal pengumpulan yang berbeda − Pengumpulan sampah terdaur-ulang (biasanya sampah kering) dengan sistem curb. − Sampah. lalu kontainer berisi sampah dari tiap tingkat dibawa ke kontainer pengumpul di lantai dasar. maka kontainer di setiap rumah harus standar.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − Ukuran panjang dan lebar dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan keluar masuk dan pemuatan truk. Apartemen bertingkat tinggal lebih dari 7 tingkat Sampah yang berasal dari masing-masing penghuni rumah tinggal biasa sampai rumah tinggal berbentuk apartemen tingkat menengah. Dengan cara ini. Setelah penuh maka kontainer ini akan dibawa ke lokasi pembuangan akhir. kertas bekas. yang telah tersedia di lokasi tersebut. atau menuju tempat pemrosesan komunal. Bila pemuatan tidak langsung dilakukan dari gerobak maka harus tersedia tempat khusus penimbunan sampah sementara. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 58 . seperti kasur. biasanya telah terbungkus plastik. dan membawa kembali ke halaman apartemen atau rumahnya bila telah diambil sampahnya oleh petugas.

1.9: Contoh kontainer dan truk pengangkut di negara maju Gambar 7. pengangkutan sampah menuju titik tujuan banyak menggunakan alat angkut dengan kapasitas besar. − Sebaiknya ada alat ungkit. − Bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi pengaman air sampah. Walaupun metode transportasi sampah di Indonesia belum berkembang. Persyaratan alat pengangkut sampah antara lain adalah: − Alat pengangkut sampah harus dilengkapi dengan penutup sampah. Pengangkutan sampah merupakan salah satu komponen penting dan membutuhkan perhitungan yang cukup teliti.10: Jenis truk pengangkut multi-loader. atau TPA. dan biaya relatif murah. Dijelaskan pula peralatan serta penentuan rute.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 7 PENGANGKUTAN SAMPAH Bagian ini menjelaskan secara teoritis metode pengangkutan sampah.6 m. yaitu seperti ditampilkan pada Gambar 7. Di negara maju. cepat. 7. Gambar 7. minimal dengan jaring. seperti yang terdapat di Cilincing Jakarta. − Tinggi bak maksimum 1. khususnya bila: Terdapat sarana pemindahan sampah dalam skala cukup besar yang harus menangani sampah Lokasi titik tujuan sampah relatif jauh − Sarana pemindahan merupakan titik pertemuan masuknya sampah dari berbagai area − Ritasi perlu diperhitungkan secara teliti − Masalah lalu-lintas jalur menuju titik sasaran tujuan sampah Dengan optimasi sub-sistem ini diharapkan pengangkutan sampah menjadi mudah. yang digabung dengan pemadatan sampah. Gambar 7.2 dan Tabel 7.1 berikut. mahasiswa ditugaskan untuk mengamati bagaimana sistem transfer sampah dari TPS ke pengangkut serta kendala yang mungkin dihadapi dalam pengangkutan. − Kapasitas disesuaikan dengan kondisi/kelas jalan yang akan dilalui. Beberapa jenis/tipe truk yang dioperasikan pada subsistem pengangkutan ini. arm-roll dan roll-on Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 59 . dengan sasaran mengoptimalkan waktu angkut yang diperlukan dalam sistem tersebut. pola dan operasional pengangkutan sampah.1 Pengangkutan Sampah secara Umum Pengangkutan sampah adalah sub-sistem yang bersasaran membawa sampah dari lokasi pemindahan atau dari sumber sampah secara langsung menuju tempat pemrosesan akhir. serta perhitungan optimasinya.

pemeliharaan lebih .Tidak diperlukan penempatan dan secara hidrolis. . .Praktis dalam sistem door to door. .Estetika baik. hygienis.1 : Peralatan subistem pengangkutan [50.Truk untuk . mengangkat / dalam . sampah ke truk.Estetika baik. mengangkut sampah yang besar (bulky waste). pengangkatan. kerja.Penempatan lebih fleksibel. . pemuatan.Relatif lebih mudah .Kurang sehat peninggian bak kerja pada saat .Biaya investasi dan pemadat sampah banyak.Diperlukan lokasi membawa pengoperasian.Pengoperasian berkarat.Harga relatif mahal. murah. membawa pengoperasian. lebih efisien dan .Kurang estetis.Baik untuk jalanjalan protokol : yang rata. . dan dengan batas jalan yang baik. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 60 . .Harga relatif . pembongkaran. tidak berbatu.Hidrolis sering rusak. . .Memerlukan waktu . kondisi jalan di .Lebih bersih dan mahal. banyak tenaga pengangkatan.Volume sampah . mengangkut dalam .Cocok untuk pengumpulan dan angkutan secara komunall . murah. . jalannya sempit dan .Pengoperasian .Harga lebih mahal. (areal) untuk kontainer-kontainer .Estetis dan Indonesia umumnya. 52] Konstruksi/bahan Kelebihan Kelemahan .Truk untuk .Dump truck dengan banyak tenaga . dengan alat terangkut lebih . .Truk dilengkapi . hygienis.Cocok untuk tidak teratur. .Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Jenis Peralatan Truck biasa terbuka Dump truck/tipper truck Arm roll truck Compactor truck Multi loader Truck with crane Mobil penyapu jalan (street sweeper) Tabel 7.Tidak memerlukan .Diperlukan tenaga lebih banyak.Truk dilengkapi .Tidak diperlukan .Perawatan relatif pengoperasian lebih besi lebih mudah dan lama.Waktu pengumpulan .Diperlukan lokasi banyak.Harga relatif mahal.Sulit digunakan di pengangkat untuk menaikkan daerah yang sampah. .Penempatan lebih fleksibel.Bak konstruksi .Praktis dan cepat . .Pernah digunakan di Makasar. dengan alat banyak tenaga . . .Bak plat baja.Sulit untuk efektif. hidrolis tenaga kerja yang . . (areal) untuk . pengangkutnya. Catatan .Truck yang .Kurang sehat. sampah. . . kayu.Bak konstruksi plat .Hidrolis sering rusak. .Estetika kurang. pengoperasian.Tidak diperlukan lebih mahal.Perlu modifikasi bak. .Lebih bersih dan penempatan dan sehat. .Tidak diperlukan banyak tenaga kerja.Cocok pada lokasilokasi dengan jumlah sampah yang relatif banyak.Hidrolis sering rusak.Sesuai untuk jalanmahal.Belum memerlukan memungkinkan untuk pekerjaan cepat.Cocok pada lokasilokasi dengan produksi sampah yang relatif banyak. . dilengkapi dengan lebih cepat.Biaya perawatan kontainer-kontainer . .Perawatan lebih alat penghisap . .Praktis dan cepat .Telah digunakan di DKI Jakarta.Banyak dipakai di Indonesia. .Tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak. jalan protokol yang . lama bila untuk .Perawatan lebih sulit. .

............... f .. (7..... yaitu: 1)...... P dan S relatif konstan h → tergantung kecepatan dan jarak............... t2 = waktu dari kontainer terakhir ke garasi (jam). a = jam/ritasi.......... yaitu [4]: a.. (7... x = jarak pulang pergi (km)........ 7............ yang pada dasarnya akan tergantung waktu per ritasi sesuai kelancaran lalu lintas........................ (7....................2 Metode Pengangkutan Sampah Bila mengacu pada sistem di negara maju........ (7..... Hauled container system (HCS) Adalah sistem pengumpulan sampah yang wadah pengumpulannya dapat dipindah-pindah dan ikut dibawa ke tempat pembuangan akhir.... S = waktu di tempat (TPS atau TPA) untuk bongkar muat (jam/rit)............1) Keterangan: THCS = waktu per ritasi (jam/rit)....................... c = ukuran rata-rata kontainer (volume/hari)........ Jumlah ritasi per kendaraan per hari untuk sistem HCS dapat dihitung dengan: [ H (1"w )"(t1 +t 2 ) T HCS Nd = ... ! w = off route faktor (waktu hambatan → sebagai friksi)...... kemudian setelah dikosongkan wadah sampah tersebut dikembalikan ke tempatnya semula......2) a dan b = konstanta empiris... (7........ Untuk menghitung waktu ritasi dari sumber ke TPS atau ke TPA: THCS = (PHCS+S+ h) ................. Volume muat sampah 6-8 m . Catatan: pada pelayanan dengan gerobak lain → PHCS = waktu mengambil sampai mengembalikan bin kosong di TPS...3) PHCS = pc + uc + dbc ................. HCS ini merupakan sistem wadah angkut untuk daerah komersial........ pc = waktu untuk mengangkut kontainer isi (jam/rit).....7) ! Keterangan: Vd = jumlah sampah terkumpul (volume/hari).. Nd = Vd c..5) Keterangan: Nd = jumlah ritasi/hari (rit/hari)........4) PHCS = waktu pengambilan/rit.... H = waktu kerja (jam/hari).... maka pengangkutan sampah dapat dilakukan dengan dua metode................... dan pembongkaran sampahnya... (7....... hanya cukup sampai depo container saja............... THCS = waktu pengambilan/ritasi (jam/rit)............. b = jam/jarak...................... f = faktor penggunaan kontainer............................... dbc = waktu untuk menempuh jarak dari kontainer ke kontainer lain (jam/rit).........Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengoperasian sarana angkutan sampah kemungkinan penggunaan stasiun atau depo container layak diterapkan.. atau 3-5 ton................. sehingga: THCS = PHCS + S + a + bx . Jumlah ritasi/hari dapat dibandingkan dengan perhitungan atas jumlah sampah yang terkumpul/hari.. uc = waktu untuk mengosongkan kontainer. 2)......... Konvensional Wadah sampah yang telah terisi penuh akan diangkut ke tempat pembongkaran.................. waktu pemuatan..... Ritasi truk angkutan per hari dapat mencapai 4-5 kali untuk jarak tempuh di bawah 20 km.. sedangkan truk sampah kota (kapasitas kecil) tidak semuanya perlu sampai ke lokasi tersebut.. Dari pusat kontainer ini truk kapasitas besar dapat mengangkut kontainer ke lokasi pemrosesan atau ke TPA..... Stationary container system (SCS) Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 61 ................. yang dapat dihitung dengan : h = a + bx ........ PHCS = waktu pengambilan (jam/rit)............................ t1 = waktu dari pool kendaraan (garasi) ke kontainer 1 pada hari kerja tersebut (jam)......... Dengan demikian jumlah ritasi truk sampah kota dapat ditingkatkan. Hauled container system dapat dilakukan dengan dua cara.................... Usia pakai (lifetime) minimal 3 5-7 tahun....................... dan 2-4 rit untuk jarak tempuh 20-30 km......... h = waktu pengangkutan dari sumber → TPS atau TPA.....................

...21 jam / rit = 5... Jumlah kontainer yang dapat dikosongkan per ritasi pengumpulan: CT = V .. w = 0.1)jam/ritasi = 0..... Dbc = waktu terbuang untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi kontainer lain (jam/lokasi)..4 + 0.....................14 rit/jam Nd → diambil ≈ 5 rit → artinya diperlukan waktu sekitar 7......... Untuk stationary container system (dengan mechanical loaded collection vehicles). Jumlah ritasi per hari : Nd = Vd V .... • Tentukan jumlah kontainer yang dapat dikosongkan per hari..............r c..... Nd = [ 8(1"0..............018(31)] jam = 1....... t1 = 0.15 (pc+ uc) = 0........10) Keterangan : 3 Vd = jumlah sampah yang dikumpulkan/hari (m /hari) ! Waktu yang diperlukan per hari: H= (t +t )+Nd .. R = rasio kompaksi...... Np = jumlah lokasi kontainer yang diambil per rit (lokasi/rit)............21 jam...... Uc = waktu pengosongan kontainer (jam/rit)......016 jam/rit.018 jam/mil...... dengan: H = 8 jam........................... Penyelesaian: a)......................9) Keterangan: CT = jumlah kontainer yang dikosongkan/rit (kontainer/rit).21 jam c)...133 jam/rit... F = faktor penggunaan kontainer......... Stationary container system (SCS) Sistem pengumpulan sampah yang wadah pengumpulannya tidak dibawa berpindah-pindah (tetap)............................11) ! Contoh: Untuk mengangkut sampah dari beberapa lokasi kontainer di suatu daerah digunakan sistem HCS.... (7... 3 ! C = volume kontainer (m /kontainer)............ (7.......33 jam.. b = 0............... SCS merupakan sistem wadah tinggal ditujukan untuk melayani daerah pemukiman............... Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB ! 62 ......15 jam.................. maka: TSCS = (PSCS + s + a + bx) ... (7..... THCS = 1.....Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Wadah sampah yang telah terisi penuh akan diangkut dan tempatnya akan langsung diganti oleh wadah kosong yang telah dibawa..331) ] 1..................(TSCS ) [ 1 2 ] (1"w ) .. 3 V = volume mobil pengumpul (m /rit).25+0..5 jam/rit.4 jam/ritasi • Waktu rata-rata untuk bergerak dari kontainer ke kontainer = dbc = 6’ = 0.... bila jam kerja = 8 jam.........r ........... b........................1 jam......... (7. t2 = 0...... → THCS = [(0.......... Jumlah ritasi/kendaraan dengan rumus (7... THCS = (PHCS + s + a + bx) Asumsi: a = 0..... PHCS = pc + uc + dbc = (0........................... Data yang diberikan: T1 = 15’ T2 = 20’ W = 0.....133 + 0. Wadah pengumpulan ini dapat berupa wadah yang dapat diangkat atau yang tidak dapat diangkat. f ...5 + 0................8) PSCS = CT (Uc) + (np-1)(dbc) Keterangan: CT = jumlah kontainer yang dikosongkan/rit (kontainer/rit).......016 + 0.25 jam...8 jam.....15)"(0... s = 0...5). b)..

4 Pola Pengangkutan Sampah Pengangkutan sampah dengan sistem pengumpulan individual langsung (door to door) adalah seperti terlihat pada sekema Gambar 7.120 ltr Pemeroses an/TPA Gambar 7.5 berikut ini. − Menggunakan kendaraan angkut yang hemat bahan bakar.7. − Setelah terisi penuh. yaitu pengumpulan sekaligus pengangkutan sampah.4: Skema pola pengangkutan secara tidak langsung [4. dan pekerja mengambil sampah serta mengisi bak truk sampah sampai penuh.3: Skema pola pengangkutan sampah secara langsung (door-to-door) [4.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 7. 51] Untuk sistem pengumpulan secara tidak langsung. maka sistem pengangkutan sampah dapat menggunakan pola pengangkutan sebagai berikut (Gambar 7. kendaraan tersebut langsung kembali ke pool.3): − Kendaraan keluar dari pool dan langsung menuju ke jalur pengumpulan sampah. Dan pada ritasi terakhir sesuai dengan yang ditentukan. Kontong Plastik +/.5 : Pola pengangkutan sampah sistem individual langsung [7.30 ltr Dump Truck Sumber timbulan sampah Bin/Tong +/.3 Operasional Pengangkutan Sampah Untuk mendapatkan sistem pengangkutan yang efisien dan efektif maka operasional pengangkutan sampah sebaiknya mengikuti prosedur sebagai berikut: − Menggunakan rute pengangkutan yang sependek mungkin dan dengan hambatan yang sekecil mungkin. Untuk sistem door-to-door.40 ltr Compactor Truck Bin Plastik +/. kendaraan kembali ke TD untuk pengangkutan ritasi berikutnya. 51] 7. kemudian kembali ke pool. kendaraan kembali ke jalur pelayanan berikutnya sampai shift terakhir. 51] 63 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB . dan dari TD sampah-sampah tersebut langsung diangkut ke pemrosesan akhir − Dari pemrosesan tersebut. truk langsung menuju ke tempat pemrosesan atau ke TPA − Dari lokasi pemrosesan tersebut.4): − Kendaraan keluar dari pool langsung menuju lokasi TD. maka pola pengangkutan yang dilakukan adalah sebagai berikut (Gambar 7. Pool Pemerosesan/TPA Sumber Sampah Gambar 7. − Truk sampah berhenti di pinggir jalan di setiap rumah yang akan dilayani. 7. − Menggunakan kendaraan angkut dengan kapasitas/daya angkut yang semaksimal mungkin. − Dapat memanfaatkan waktu kerja semaksimal mungkin dengan meningkatkan jumlah beban kerja semaksimal mungkin dengan meningkatkan jumlah beban kerja/ritasi pengangkutan. Pool TPS/TD Pemerosesan/TPA Gambar 7. yaitu dengan menggunakan Transfer Depo/TD).

Isi Kosong a Kontainer a 4 b b 7 c c 1 Pool 10 ke Pool 3 2 5 6 8 9 Pemero sesan/ TPA Gambar 7.….8 : Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-2 [7. − Sampah diangkut ke lokasi pemrosesan atau ke TPA − Setelah pengosongan sampah di lokasi tersebut. Pemerosesan/TPA Gambar 7. Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula.2. .8): Isi Kontainer 1 Pool 3 2 4 5 6 Pemero sesan/ TPA 7 Ke Lokasi Kontainer Awal Gambar 7. Kembali lagi ke transfer depo untuk rit berikutnya.7) dengan keterangan: Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke pemrosesan atau ke TPA.5) terdapat 3 jenis sistem transfer.10 adalah rute alat angkut. b. Pengumpulan sampah melalui sistem pemindahan di transfer depo Tipe I dan II.7: Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-1 [7. yaitu Tipe I. II dan III.Demikian seterusnya sampai rit terakhir.51] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 64 . Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula. Sebagaimana telah dibahas pada Bagian 6 (lihat Tabel 6. Untuk pengumpulan sampah dengan sistem kontainer (transfer tipe III).6: Pool Kendaraan Transfer Depo Tipe I dan II Pengangkutan sampah. pola pengangkutannya adalah sebagai berikut: a.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Penjelasan ringkas dalam sistem tersebut adalah: − Truk pengangkut sampah berangkat dari pool menuju titik sumber sampah pertama untuk mengambil sampah − Selanjutnya truk tersebut mengambil sampah pada titik-titik sumber sampah berikutnya sampai truk penuh sesuai dengan kapasitasnya. 51] Keterangan gambar: angka 1.6: Pola pengangkutan sistem transfer depo Tipe I dan II [7. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-2 (Gambar 7. pola pengangkutannya dapat dilihat pada Gambar 7. Menuju ke kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke pemrosesan atau ke TPA. 51] Keterangan sistem: − Kendaraan pengangkut sampah keluar dari pool langsung menuju lokasi pemindahan di transfer depo untuk mengangkut sampah langsung ke pemrosesan atau TPA. − Selanjutnya kendaraan tersebut kembali ke transfer depo untuk pengambilan pada rit berikutnya. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-1 (Gambar 7.3. truk menuju kembali ke lokasi sumber sampah berikutnya sampai terpenuhi ritasi yang telah ditetapkan.

untuk kemudian langsung ke pemrosesan atau ke TPA. maka perlu diperhatikan: − Lebar jalan yang akan dilalui. misal pengambilan pada jam tertentu atau mengurangi kemacetan lalu lintas. − Demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir. Kosong Isi Kontainer 1 Pool 2 3 4 5 6 Pemero sesan/ TPA 7 Ke Pool Gambar 7.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Keterangan sistem: − Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke pemrosesan − Dari sana kendaraan tersebut dengan kontainer kosong menuju ke lokasi kedua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa kontainer isi untuk diangkut ke pemrosesan. maka belokan melawan sistem ini seringkali tidak dapat dihindari. − Demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir. Pola pengangkutan sampah dengan sistem kontainer tetap dapat dilihat pada Gambar 7. Pola pengangkutan sampah dengan sistem pengosongan kontainer Cara-3 (Gambar 7.7: Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-3 [7. sampah dituangkan ke dalam truk compactor dan meletakkan kembali kontainer yang kosong. Isi Kosong Kontainer Truk dari Pool Pemero sesan/ TPA Gambar 7. diusahakan agar rute pengangkutan adalah yang sependek mungkin. Untuk menentukan rute pengangkutan ini.10: Kontainer tetap biasanya untuk kontainer kecil serta alat angkut berupa truk compactor. 51] Penentuan rute pengangkutan sampah dimaksudkan agar kegiatan operasional pengangkutan sampah dapat terarah dan terkendali dengan baik. − Kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju ke kontainer isi berikutnya. Untuk Indonesia yang menggunakan peraturan lalu lintas jalur kiri (left way system).10: Pola Pengangkutan dengan sistem kontainer tetap [7. − Peraturan lalu lintas yang berlaku. − Sistem ini diberlakukan pada kondisi tertentu. Pengangkutan sampah hasil pemilahan yang bernilai ekonomi dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. − Demikian seterusnya sampai pada rit terakhir. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 65 . − Waktu-waktu padat. c. namun karena panjangnya rute. − Kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truk penuh.9) dengan keterangan sebagai berikut: − Kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kosong menuju ke lokasi kontainer isi untuk mengganti/mengambil dan langsung membawanya ke Pemrosesan atau ke TPA. − Pada rit terakhir dengan kontainer kosong dari pemrosesan atau TPA menuju ke lokasi kontainer pertama. Keterangan sistem adalah: − Kendaraan dari pool menuju kontainer pertama. maka rute pengangkutan diusahakan untuk menghindari belokan ke kanan. Dengan selalu mengikuti peraturan lalu lintas yang berlaku. 51] d. Akan tetapi diusahakan agar hal tersebut terjadi sesedikit mungkin.

Dalam skala kota. akan dapat ditahan di alat ini karena terjadi pengurangan volume sampah akibat pembusukan. khususnya dalam bentuk teknologi waste-to-energy. sistem operasional pengelolaan sampah mencakup juga sub-sistem pemrosesan dan pengolahan sampah. Sampah yang terbuang. Pemanfaatan enersi merupakan salah satu teknologi yang paling banyak dikembangkan dan diterapkan. yang dihasilkan adalah kompos yang perlu penanganan lebih lanjut. dengan pilihan pemanfaatan enersi panas Melihat komposisi sampah di Indonesia yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan. jenis sampah yang cocok adalah sampah hayati. khususnya sampah yang berasal dari dapur. menangkap gasbio hasil proses degradasi secara anaerobik pada sebuah reaktor (digestor) b. 8. atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Teknologi pengolahan sampah yang saat ini berkembang dan sangat dianjurkan bertujuan bukan hanya untuk memusnahkan sampah tetapi untuk me-recovery bahan dan/atau enersi yang terkandung di dalamnya. Sampah juga merupakan sumber biomas sebagai pakan ternak atau sebagai pakan cacing. menangkap panas yang keluar akibat pembakaran. ternyata sampah dapur khususnya sisa-sisa makanan. misalnya melalui insinerasi. khususnya di negara industri antara lain adalah: − Pemilahan sampah. Namun perlu ditekankan bahwa hasil enersi yang dihasilkan tidak aka pernah dapat menghasilkan uang yang dapat menutup biaya pengembalian modal dan operasipemeliharaan sistem tersebut. Setelah penuh. baik secara langsung. Dengan volume kontainer sekitar 60 Liter. misalnya penggunaan komposter individual. Penjelasan lanjut lebih diarahkan pada pengenalan teknologi pengomposan dan insinerasi. selain memerlukan modal investasi awal yang cukup besar. Cara ini diperkenalkan dan telah diuji coba oleh Puslitbang Permukiman – Departemen Pekerjaan Umum beberapa tahun yang lalu. Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah organik (hayati) yang mudah membusuk. Khusus untuk pakan cacing. yang menghasilkan enersi panas atau gas-bio yang berhasil dikeluarkan untuk kebutuhan enersi terbarukan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 66 . sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi. Sampah yang telah membusuk di sebuah timbunan sampah misalnya di landfill sebetulnya adalah kompos anaerob yang dapat dimanfaatkan pada pasca operasi. Alasan utama utama kegagalan pengomposan selama ini adalah pemasaran. Untuk mewujudkan maksud tersebut dapat dijalin hubungan kerjasama antar daerah dan atau bermitra usaha dengan sektor swasta yang potensial dan berpengalaman. maka sampah jenis ini akan cepat membusuk. dua teknologi yang paling banyak digunakan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 8 PENGOLAHAN SAMPAH Bagian ini menjelaskan beragam jenis pengolahan sampah secara umum. baik secara manual maupun secara mekanis berdasarkan jenisnya − Pemadatan sampah (baling) − Pemotongan sampah − Pengomposan sampah baik dengan cara konvensional maupun dengan rekayasa − Pemrosesan sampah sebagai sumber gas-bio − Pembakaran dalam Insinerator. Hasil penjualan listrik digunakan sebagai upaya menurunkan biaya yang dibutuhkan dalam menjalankan teknologi tersebut. Pemanfaatan enersi sampah dapat dilakukan dengan cara: a. bukan sebagai pembangkit enersi sebagai peran utamanya. sebetulnya menyimpan enersi yang dapat dimanfaatkan. Teknik-teknik pemrosesan dan pengolahan sampah yang secara luas diterapkan di lapangan. Aktivitas daur-ulang sampah dapat dimulai dari rumah-rumah. menangkap gas bio yang terbentuk dari sebuah landfill c. Kompos dapat disebut berkualitas baik bila mempunyai karakteristik sebagai humus dan bebas dari bakteri patogen serta tidak berbau yang tidak enak. dimana sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah masih tercampur.1 Pengolahan Sampah Secara Umum Seperti dibahas pada Bagian sebelumnya. khususnya sampah dapur. Teknologi tersebut tetap diposisikan sebagai pengolah sampah. maka upaya ini sulit untuk tercapai baik. yang perlu dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan pemrosesan yang bertumpu pada pemanfaatan kembali. Dari upaya ini akan dihasilkan vermi-kompos yang berasal dari casting-nya serta bioamas cacing yang kaya protein [11]. juga memerlukan kemampuan manajemen operasional yang baik. Pembangunan sistem persampahan yang lengkap dan dikelola secara terpadu. Tipikal alat ini dapat menerima sampah dari sebuah keluarga selama lebih dari 6 bulan sebelum penuh.

dan yang paling penting adalah bagaimana mengurangi dampak negatif dari pencemaran udara. . termasuk adanya asap. Insinerasi modular juga sering disebut-sebut sebagai alternatif dalam mengurangi massa sampah yang akan diuangkut ke TPA. . telur serangga.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Ide lain yang telah diterapkan di beberapa negara industri seperti Jepang adalah membuat ‘pelet’ sampah sebagai bahan bakar. . . sehingga akan mempersulit untuk terbakar sendiri.Sesuai untuk sampah yang banyak mengandung unsur organik.Tidak memerlukan banyak peralatan. Pengomposan dapat dipercepat dengan mengatur faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga berada dalam kondisi yang optimum untuk proses pengomposan.Volume sampah menjadi sangat berkurang.1 merupakan gambaran umum tentang beberapa pengolahan. maka tampaknya yang paling dikhawatirkan adalah munculnya dioxin. Biaya investasi. Bila prosesnya pembuatannya secara aerob. . Beberapa Dinas Kebersihan di Indonesia juga mempunyai minat yang serius dengan pembakaran sampah di tingkat kawasan sebelum sampah diangkut ke TPA. khususnya PVC. Persoalan yang timbul adalah bagaimana mencari lokasi yang cocok. Memerlukan peralatan yang relatif mahal bila dilaksanakan secara mekanis.Harga kompos yang dihasilkan lebih mahal daripada pupuk kimia.Volume sampah yang terbuang berkurang. Kurang sehat bagi pemulung sampah (informal). Disamping itu. . Pemanfaatan panas dari insinerator dapat dipertimbangkan bila karakteristik dan jumlah sampah yang akan dibakar mencukupi [4].Sistem pembakaran berkesinambungan untuk kapasitas besar (>100 ton/hari). sampah kota di Indonesia dikenal mempunyai kadar air yang tinggi (sekitar 60 %). sebuah insinerator akan dianggap layak bila selama pembakarannya tidak dibutuhkan subsidi enersi dari luar.Volume sampah yang terbuang berkurang.Pemanfaatan kembali bahanbahan (anorganik) yang sudah terpakai. dsb. . operasi. yang dapat diminimalkan bila bahan plastik. Biaya investasi mahal. . Kelemahan Memerlukan peralatan lebih banyak dan kompleks. . Mengubah bahan organik yang biodegradable menjadi bahan yang secara biologi bersifat stabil b. Proses pengomposan lebih lama. angka ini umumnya merupakan ambang tertinggi. bila mempunyai nilai kalor sebesar paling tidak 1200 kcal/kg-kering. Secara umum. . Memerlukan tenaga lebih banyak. Saat ini teknologi insinerator dengan penangkap panas (enersi) dikenal sebagai waste-toenergy.Proses pengomposan lebih cepat. Catatan . dan mikroorganisme lain yang tidak tahan pada temperatur di atas temperatur normal Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 67 . . Dapat menimbulkan polusi udara. Windrow Composting (sederhana) Kelebihan . - Perlu perawatan yang baik dan kontinu. Biaya investasi dan operasi mahal. atau dikenal pula sebagai biomas.Volume sampah yang terbuang dapat dikurangi. Khusus untuk sampah kota. menghemat lahan pembuangan akhir.Biaya operasi lebih tinggi dari harga jual. tidak ikut terbakar di insinerator ini [11]. Tabel 8. Dari sekian banyak jenis pencemaran udara yang mungkin timbul. Salah satu jenis pengolah sampah yang sering digunakan sebagai alternatif penanganan sampah adalah insinerator. Baling (Pemadatan) Incinerator (Pembakaran) - Recycling (Daur Ulang) - Tidak semua jenis sampah bisa didaurulang. bau pembakaran. .Merupakan lapangan kerja bagi pemulung sampah (informal). maka proses ini akan membunuh bakteri patogen. High Rate (modern) 2. Jadi sampah tersebut harus terbakar dengan sendirinya.Dianjurkan pemisahan mulai dari sumber sampahnya.2 Pengomposan (Composting) Proses pengomposan (composting) adalah proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme terhadap bahan organik yang biodegradable.1: Kelebihan dan kelemahan alternatif sistem pengolahan sampah [50] Jenis Pengolahan Composting (Pengomposan): 1.Praktis/efisien dalam pengangkutan ke TPA. . tujuan pengomposan adalah: a. 8. Ada 2 (dua) tipe : .Dianjurkan bila jarak ke pemrosesan akhir lebih dari 25 km. Sejenis sampah akan disebut layak untuk insinerator.Untuk kapasitas besar hasil sampingan dari pembakaran dapat dimanfaatkan antara lain untuk pembangkit tenaga listrik. . dan pemeliharaan relatif mahal. .Volume sampah yang terbuang berkurang. Untuk sampah kota di Indonesia. Hambatan utama penggunaan insinerator adalah kekhawatiran akan pencemaran udara. Penelitian lain khususnya di negara industri seperti Amerika Serikat adalah mencoba membuat alkohol dari sampah organik ini.Hygienis.Biaya investasi lebih murah. . Tabel 8.Sistem pembakaran terputus untuk kapasitas kecil (<100 ton/hari) . Biasanya produk ini digabungkan dengan insinerasi waste-to-energy yang enersinya dimanfaatkan.

suhu.. walaupun dikenal pula sebagai pupuk organik. 6.. 4. biasanya proses anaerob o − Suhu termofilik: berlangsung di atas 40 C..2 berikut ini. kelembaban.nw Bila terjadi reaksi sempurna.. misalnya dalam landfilling yang berlangsung secara alamiah.... Dalam produk akhir..5 (ny + 2s + r –c) O2 → nCwHxOyNz + sCO2 + rH2O + (d-nx) NH 3 ... dsb. 1..... + panas Bila materi organik adalah CaHbOcNd... Proses pembuatan kompos adalah dekomposisi material organik limbah padat (sampah) secara biologis........ maka [4]: C aH bO c N d + 4 a +b"2c"3d 4 ! O2 → aCO2 + (b .nz)NH3 + rH2O . CO2. 2.....5 [b – nx – 3(d – nx)] s = a ... 5. suplai udara. dan bila materi orgnanik belum terdegradasi adalah CwHxOyNz .. maka konsumsi reaksi yang terjadi adalah [4]: CaHbOcNd + 0. Menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tanah Beberapa manfaat kompos dalam memperbaiki sifat tanah adalah: − Memperkaya bahan makanan untuk tanaman − Memperbesar daya ikat tanah berpasir − Memperbaiki struktur tanah berlempung − Mempertinggi kemampuan menyimpan air − Memperbaiki drainase dan porositas tanah − Menjaga suhu tanah agar stabil − Mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara − Dapat meningkatkan pengaruh pupuk buatan Kompos kurang tepat bila disebut sebagai pupuk.. Endotermis..1) Dengan: r = 0.. 40] Karakteristik Aerob Anaerob Reaksi pembentukannya Eksotermis..2) Bila proses berlangsung anaerob. transformasi umum buangan aerob dapat dijelaskan sebagai berikut [4]: Input: Materi organik + O2 + nutrisi + bakteri Materi organik belum terdegradasi + biomass sel bakteri + CO2 + H2O + NH3 + . Oleh karena sampah kota karakteristiknya sangat heterogen dan fluktuatiif maka kualitasnya akan mengikuti karakteristik sampah yang digunakan sebagai bahan kompos setiap saat.. No..... temperatur proses pembuatannya tinggi sehingga dapat membunuh bakteri patogen dan telur cacing.2: Perbandingan pengomposan aerob dan anaerob [4....... sehingga kompos yang dihasilkan lebih higienis.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) c..3) Dengan : s = a – nw – m ! r = c – ny . CH4 Reduksi volume Lebih dari 50% Lebih dari 50% Waktu proses (20-30) hari (20-40) hari Tujuan utama Reduksi volume Produksi energi Tujuan sampingan Produksi kompos Stabilisasi buangan Estetita Tidak menimbulkan bau Menimbulkan bau Karena pertimbangan di atas.. waktu pengomposan lebih cepat.. Teknologi yang digunakan: − Pengomposan tradisional (alamiah) misalnya dengan cara windrow − Pengomposan dipercepat (high rate) yang bersasaran mengkondisikan dengan rekayasa lingkungan proses yang mengoptimalkan kerja mikroorganisme... Ketersediaan oksigen: − Aerob bila dalam prosesnya menggunakan oksigen (udara) − Anaerob bila dalam prosesnya tidak memerlukan adanya oksigen b.. CO2.. Secara umum.... maka biasanya proses pengomposan dilakukan secara aerob.... karena zat hara yang dikandungnya akan tergantung pada karakteristik bahan baku yang digunakan. Adapun perbedaan antara keduanya dapat dilihat pada Tabel 8. Klasifikasi pengomposan antara lain dapat dikelompokkan atas dasar: a.. pencampuran..... seperti pengaturan pH. ! (8.. tidak butuh enersi dihasilkan panas luar. 7... 3. dihasilkan gas-bio sumber enersi Produk akhir Humus... (8. Kondisi suhu: − Suhu mesofilik: berlangsung pada suhu normal. (8.... terjadi pada kondisi aerob c.. materi organik belumlah dapat dikatakan stabil. butuh enersi luar.. bila sel biomas bakteri diabaikan.. Pengomposan aerobik lebih banyak dilakukan karena tidak menimbulkan bau...3d)/2 + H2O + dNH 3 . maka transformasinya adalah : CaHbOcNd → nCwHxOyHz + mCH4 + sCO2 + (d .... Tabel 8.2s Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 68 ... di bawah kontrol kondisi proses yang berlangsung... namun dapat disebut stabil secara biologis. H2O Lumpur..

daundaunan dsb. − Kadang-kadang diperlukan penambahan air ke dalam timbunan setiap 4 – 5 hari sekali. diperlukan udara yang mengandung lebih dari 50% oksigen.8 sampai kompos matang. serta tidak berbau busuk. dan proses pembusukan dapat terganggu. Bila bambu basah dan hangat. Ukuran bahan yang dikomposkan : bila ukuran sampah makin kecil. pH akan turun sampai 5. sehingga bahan-bahan yang mempunyai harga C/N mendekati C/N tanah. Pada saat itu bagian tengah tumpukan dapat menjadi kering. − Timbunan akan berasap bila panas mulai timbul.25 . h. menyebabkan air menguap. Pada rasio yang lebih rendah. − Bila pH terlalu rendah. pembalikan biasanya dilakukan setiap 5 hari sekali. maka timbunan kompos harus dilindungi dari hujan. d. dan matinya bakteri-bakteri patogen yang biasanya hidup pada temperatur mesofilik. Perbandingan C dan N awal yang baik dalam bahan yang dikomposkan adalah 25-30 (satuan beratnkering). − Bila terlalu basah. − Waktu pengomposan dapat direduksi dengan proses pencampuran dengan bagian yang sudah terdekomposisi sampai (1-2)% menurut berat. maka pori-pori timbunan akan terisi air. Temperatur: − Suhu terbaik adalah 50º-55ºC. Namun bila diameter terlalu kecil.2 m. dan oksdigen berkurang sehingga proses menjadi anaerob. g.5. maka proses pengomposan berjalan dengan baik. maka akan makin sulit terurai b. Pada proses konvensional. − Harga C/N tanah adalah 10 – 12. Bulking agent. misalnya makin banyak kandungan kayu atau bahan yang mengandung lignin. tancapkan bambu ke tengah tumpukan. sehingga tumpukan menjadi kering. Secara praktis. kadar air akhir merupakan variabel pengontrol. untuk daerah yang mempunyai curah hujan yang tinggi. sedang pada ratio yang lebih tinggi. Nilai optimum adalah = 55%. sehingga makin baik kontak antara bakteri dan materi organik. Suhu tinggi (60-70)ºC menyebabkan pecahnya telur insek. misalnya diberi tutup plastik atau terpal. Bahan yang dikomposkan: apakah mudah terurai atau sulit terurai. − Dalam proses pengomposan. − Pada pengomposan tradisional. antara lain [4. pH tidak boleh melebihi 8. sedang C/N di akhir proses adalah 12 – 15. kondisi bisa menjadi anaerob karena ruang untuk udara mengecil. sampah kota. − Pada proses mekanis. dapat langsung digunakan. Mikroorganisme: mikroorganisme seperti bakteri. Buangan lumpur dapat juga ditambahkan dalam penyiapan sampah. ragi. bila tumpukan terlalu tinggi. 53]: a. Jika lumpur ditambahkan. perlu penambahan kapur atau abu. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 69 . − Nitrogen (N) adalah komponen utama yang berasal dari protein. Sebaliknya. Kadar air (lihat Tabel 8. Hal ini akan menaikkan temperatur menjadi sangat tinggi. − Untuk mengukur suhu secara mudah. Pembalikan menyebabkan distribusi sampah dan mikroorganisme akan lebih merata. jamur yang sesuai dengan bahan yang akan diuraikan akan dapat menguraikan bahan organik c. batang tebu. Diameter yang baik adalah antara (25-75) mm. Kondisi asam basa (pH): − pH memegang peranan penting dalam pengomposan.3): − Karbon (C ) adalah komponen utama penyusun bahan organik sebagai sumber enersi. terdapat dalam bahan organik yang akan dikomposkan seperti jerami. 2/3 dari karbon digunakan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan mikroorganisme. nitrogen akan menjadi variabel pembatas. Kandungan karbon dan nitrogen (lihat Tabel 8. akibatnya akan makin cepat proses pembusukan.3): − Timbunan kompos harus selalu lembab. sehingga udara dari luar yang kaya oksigen menggantikan udara yang ditarik keluar yang kaya CO2. Suhu rendah. dan oksigen menjadi berkurang. misalnya dalam kotoran hewan. kemudian pH akan naik dan stabil pada pH 7 . − Adanya panas yang terbentuk. f. Ketersediaan oksigen: − Pada proses aerob selalu dibutuhkan adanya oksigen. dan dibutuhkan dalam pembentukan sel bakteri. suplai oksigen dilakukan secara mekanis. Biasanya pengadukan atau pembalikan kompos pada proses konvensional akan mengembalikan kondisi dalam timbunan menjadi normal kembali. dan 1/3 lainnya digunakan untuk pembentukan sel bakteri. e. kurang lebih selembab karet busa yang diperas. ammonia akan dihasilkan dan aktivitas biologi akan terhambat. tersedianya oksigen akan dipengaruhi tinggi tumpukan. dedak atau kompos matang.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan. suplai oksigen dilakukan dengan pembalikan tumpukan sampah. banyak digunakan untuk mempertahankan kadar air agar tidak terlalu lembab. Pada awal pengomposan. Untuk hasil yang optimum. terjadi pemadatan bahan-bahan dan akan terjadi efek selimut. menyebabkan pengomposan akan lama. Tinggi tumpukan sebaiknya 1. Untuk meminimalkan kehilangan nitrogen dalam bentuk gas ammonia. dan akan mencapai (55-60)ºC pada periode aktif. biasanya sekitar nilai 50-60%. akan makin luas permukaan. − Pada pengomposan tradisional. biasanya dengan menarik udara yang berada dalam kompos. seperti zeolit.

3: Perbandingan C/N dan kadar air [4] Jenis Bahan Harga C/N Kadar Air (%) Kayu 200-400 75-90 Jerami padi 50-70 75-85 Kertas 50 55-65 Kotoran ternak 10-20 55-65 Sampah kota 30 50-60 i. sekam padi dan diperkaya dengan pembubuhan urea dan NPK. yang pada pengomposan tradisional (konvensional) membutuhkan waktu sekitar 3 minggu. yang dikembangkan oleh PPT ITB. Pada pengomposan ini. kebutuhan oksigen.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 8. jumlah materi yang dapat didekomposisi. Kompos adalah makanan yang ideal bagi vermikultur sehingga tidak ada biaya tambahan produksi yang diperlukan [41]. Sistem Windrow merupakan teknologi yang relatif paling sederhana melalui penumpukan bahan kompos secara tradisional. dan bagaimana agar mikroorganisme pengurai menjadi lebih aktif dalam menguraikan kompos. − Metode Siloda adalah menggunakan alat yang secara sistematis dan berkala memindahkan kompos ke sisi lain. Di negara industri. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 70 . dan sampah turun ke bawah karena adanya putaran pada reaktor. dikenal dengan metoda EarpThomas. antara lain di Kebun Binatang Ragunan. bersamaan dengan dikembangkannya Kawasan Industri Sampah. Pembibitan mikroorganisme dilakukan dengan resirkulasi air lindi yang terbentuk. Tingkat dekomposisi: dapat diperkirakan melalui pengukuran penurunan suhu akhir. Pada pengomposan ini. dengan pasokan oksigen dan air untuk menjamin kondisi tetap aerob. pertumbuhan jamur. Dengan pemutaran ini. dikenal sebagai pengomposan dipercepat (accelerated composting). Fermentasi dilakukan dalam reaktor bertipe rotary kiln. waktu yang dibutuhkan dipercepat sampai menjadi 1 minggu. dikenal sebagai Vermikultur. Suplai oksigen dari udara bebas dimasukkan dari bawah tumpukan. Fermentasi terjadi selama transport material dari bagian atas sampai ke dasar reaktor yang terdiri dari beberapa tahap. Percepatan ini dilaksanakan pada proses pembuatan kompos setengah matang. Beberapa catatan dalam pengomosan dipercepat adalah [56]: − Bahan yang akan dikomposkan disortir dari logam. Panas terbentuk selain membunuh bakteri patogen juga membantu proses perbaikan dan pengeringan secara perlahan. pembuatan kompos dengan menggunakan cacing dapat pula diterapkan.4 berikut. − Proses pengomposan dilakukan dalam reaktor. Sampah diputar secara perlahan dalam kiln. Cara ini adalah penerapan vermikultur dengan skala yang memadai untuk memproduksi volume cacing yang diperlukan oleh petani untuk mampu mengkonsumsi sekitar 3-5% kompos kasar produksi TPA. Metode sejenis adalah jenis Triga. dsb dapat digunakan juga sebagai indikator tingkat dekomposisi. dimana materi sampah dimasukkan dari atas. dan membutuhkan 3 . Untuk pemisahan bahan tersebut dapat digunakan alat pemisah mekanis atau manual. Beberapa jenis reaktor pengomposan modern adalah [54]: − Vertikal (menara): diperkenalkan pada tahun 1939 di Amerika. Disamping itu dilakukan pembalikan/ pengadukan secara mekanikal. ditambahkan juga kapur .3 minggu untuk mencapai kompos setengah matang. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 2 . disamping penambahan air untuk menjaga kelembaban. Beberapa teknologi menyalurkan uap panas hasil pengomposan pada bagian sampah yang baru masuk. sehingga terjadi pengadukan secara sempurna Dengan sistem reaktor tersebut. kaca. Cara pengomposan ini kemudian diterapkan dibeberapa tempat. Sampah dimasukkan dari bagian atar reaktor. Langkah yang digunakan seperti terlihat dalam Gambar 8. Contoh-contoh pengomposan dipercepat dalam reaktor dapat dilihat dalam Gambar 8. Materi kompos dibiarkan terdekomposisi secara alamiah dan oleh kegiatan bakteri yang menghasilkan panas pada tumpukan kompos. maka variabel yang dapat mempertinggi kerja mikroorganisme diatur secara sistematis dan menerus. Contoh lain dari proses pengomposan sederhana dapat dilihat pada gambar berikut. Sejak awal tahun 1980-an Pusat Studi Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) ITB memperkenalkan pengomposan sederhana. Kenaikan potensial redoks. Prinsip yang digunakan adalah bagaimana agar bahan baku kompos menjadi lebih baik. Disamping itu. plastik dan bahan lain yang tidak dapat dikomposkan. tingkat kapasitas panas. − Horisontal: cara yang paling dikenal adalah metoda Dano.1. pengomposan sampah kota sudah biasa dilaksanakan secara mekanis.2 sampai 8.4 bulan berikutnya untuk menghasilkan kompos matang. Metoda ini berasal dari Denmark (1933). materi asing yang tidak bisa dikomposkan akan terpisahkan di ujung akhir kiln. dengan melengkapi drainase penyalur udara di bawahnya.

1: Pengomposan dengan cetakan model PPLH ITB [55] Gambar 8.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Gambar 8.2: Metode pengomposan Siloda [54] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 71 .

3 Insinerator Insinerator Skala Kota Teknologi insinerasi merupakan teknologi yang mengkonversi materi padat (dalam hal ini sampah) menjadi materi gas (gas buang). Gambar 8. teknologi insinerasi sudah diterapkan dengan kapasitas besar (skala kota). misalnya untuk pembangkitan listrik dan air panas.4 : Skema pengomposan vertikal Triga dan Tower [54] 8. khususnya dengan banyaknya penolakan akan teknologi ini yang dianggap bermasalah dalam sudut pencemaran udara.5 dan 8. Di beberapa negara maju. thermal converter [33] .3 : Metode pengomposan Dano [54] Gambar 8. Salah satu kelebihan yang dikembangkan terus dalam teknologi terbaru dari insinerator ini adalah pemanfaatan enersi. Panas yang dihasilkan dari proses insinerasi juga dapat dimanfaatkan untuk mengkonversi suatu materi menjadi materi lain dan energi. Insinerasi adalah metode pengolahan sampah dengan cara membakar sampah pada suatu tungku pembakaran. yaitu abu (bottom ash) dan debu (fly ash). serta materi padatan yang sulit terbakar.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Gambar 8. sehingga nama insinerator cenderung berubah seperti waste-to-energy. Teknologi insinerator skala besar terus berkembang.6 berikut adalah skema insinerator. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 72 .

Sasaran insinerasi adalah untuk mereduksi massa dan volume buangan. serta memudahkan penanganan limbah selanjutnya. membunuh bakteri dan virus dan meredukdi materi kimia toksik. dibuat bahan campuran kompos. namun teknologi insinerasi membutuhkan biaya investasi.6: Unit-unit pada Insinerator Skala Kota [5] Meskipun teknologi ini mampu melakukan reduksi volume sampah hingga 70%.5: Prinsip proses Insinerasi Udara/gas Cerobong Udara BBM Pemasok Penerima Gas APC Tungku Tungku Udara Pemisah Debu Terbang LIMBAH BBM Landfill Pengolah air Gambar 8. Insinerasi merupakan proses pengolahan buangan dengan cara pembakaran pada temperatur yang sangat tinggi (>800ºC) untuk mereduksi sampah yang tergolong mudah terbakar (combustible). Proses insinerasi berlangsung melalui 3 (tiga) tahap. atau dibuang ke landfill. yang sudah tidak dapat didaurulang lagi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Suplai air pendingin Suplai Buangan Unit Penerima (Ruang Bakar) Air Pollution Control (APC) Suplai udara Unit pemisah Gambar 8. yaitu: Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 73 . ataupun tidak layak untuk diurug. Alat ini harus dilengkapi dengan sistem pengendalian dan kontrol untuk memenuhi batas-batas emisi partikel dan gas-buang sehingga dipastikan asap yang keluar dari tempat pembakaran sampah merupakan asap/gas yang sudah netral. dan pemeliharaan yang cukup tinggi. operasi. Sedangkan residu dari sampah yang tidak bisa dibakar seperti sisa logam bisa didaur ulang. Abu yang dihasilkan dari proses pembakaran bisa digunakan untuk bahan bangunan. Fasilitas pembakaran sampah dianjurkan hanya digunakan untuk memusnahkan/membakar sampah yang tidak bisa didaur ulang. Insinerasi dapat mengurangi volume buangan padat domestik sampai 85-95 % dan pengurangan berat sampai 70-80 %.

sehingga bila seluruh jenis pencemar ini ingin dihilangkan. − Terdapat 3 parameter utama dalam operasi insinerator yang harus diperhatikan.099. Skema insinerator kapasitas besar untuk sampah kota umumnya terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut (lihat Gambar 8. antara lain: − Aspek keterbakaran: menyangkut nilai kalor. yaitu: a.65N13. membutuhkan APC yang sesuai pula. Udara sekunder perlu untuk membakar bagian-bagian gas yang tidak sempurna.603S. akan tambah sedikit limbah tersisa dan gas yang belum sempurna terbakar (seperti CO). Teknologi insinerasi mempunyai beberapa sasaran. Sudah diterapkan untuk limbah non-domestik. gas. dan operasional insinerator. misalnya dengan rumus kimia sampah Indonesia dengan dominasi rata–rata kandungan sampah organik sekitar 60%. − Suplai udara: agar tetap memasok udara sehingga sistem dapat terbakar. Insinerator besar diatur dengan kisi-kisi atau tungku yang dapat bergerak. deteksi logam berat. − Cerobong (stack): semakin tinggi akan semakin baik. − Aspek keamanan: menyangkut titik nyala. sehingga terjadi pembakaran sempurna. Pada insinerator modular yang sering digunakan di kota-kota di Indonesia. dan kadar abu dari buangan padat.63O1. b. yaitu 3-T (Temperature. − Turbulensi: Limbah harus kontak sempurna dengan oksigen. Akan dikeluarkan abu. limbah sisa pembakaran dan abu. o Dioxin o Panas Setiap jenis pencemar. − Time (waktu): Berkaitan dengan lamanya fasa gas yang harus terpapar dengan panas yang telah ditentukan. − Sistem Feeding/Penyuplai: agar instalasi terus bekerja secara kontinu tanpa tenaga manusia. Temperatur ideal o untuk sampah kota tidak kurang dari 800 C. − Tungku pembakar: harus bisa mendorong dan membalik sampah. Mendestruksi komponen berbahaya: insinerator tidak hanya untuk membakar sampah kota. − Dinding insinerator harus tahan panas. sehingga tidak dibutuhkan enersi tambahan dari luar. − APC (Air Pollution Control): terdapat beragam pencemaran yang akan muncul. tetapi tidak berarti tidak mengotori udara. dan tidak menyalurkan panas keluar. Udara yang dipasok akan menaikkan temperature karena proses oksidasi materi organik bersifat eksotermis. hasilnya limbah menjadi kering yang akan siap terbakar. Dengan cerobong yang tinggi maka terjadi pendinginan-pengenceran. seperti dari industri (termasuk limbah B3). sampah plastik 17%.6): − Unit Penerima: perlu untuk menjaga kontinuitas suplai sampah.000 kkal/kg-kering. Biasanya sekitar 2 detik pada fase gas. Insinerator yang bekerja terus menerus akan menghemat bahan bakar.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Mula-mula membuat air dalam sampah menjadi uap air. dan diperoleh pula enersi panas.42H2. dan sampah kertas 16% adalah C351. Nilai kalor sampah Indonesia mencapai 1. sedang insinerator kecil (modular) tungkunya adalah statis. gas toksik. khususnya sampah. NOx . Bila pembakaran sempurna. terutama untuk daerah sekitarnya. Mengurangi massa / volume: proses insinerasi adalah proses oksidasi (dengan oksigen atau udara) limbah combustible pada temperatur tinggi.000 – 2. Agar terjadi proses yang optimal maka ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam menjalankan suatu insinerator. dari kegiatan Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 74 . paling tidak untuk mengurangi partikel-partikel debu yang keluar. yaitu pembakaran tidak sempurna. kadar air. − Kebutuhan udara: tergantung dari jenis limbah − Pembubuhan air: mendinginkan residu/abu dan gas yang akan keluar stack agar tidak mencemari lingkungan. Pasokan udara dari bawah adalah suplai utama. dapat dikatakan sarana ini belum dilengkapi unit APC. − Unit pemisah: memisahkan abu dari bahan padat yang lain. − Selanjutnya terjadi proses pirolisis. Time dan Turbulence) [5]: − Temperature (Suhu): Berkaitan dengan pasokan oksigen (melalui udara). − Aspek pencegahan pencemaran udara : menyangkut penanganan debu terbang.368. dan uap metalik.000 kkal/kg-kering. tekanan uap. khususnya: o Debu atau partikulat o Air asam o Gas yang belum sempurna terbakar: CO o Gas-gas hasil pembakaran seperti CO2. dimana temperatur belum terlalu tinggi − Fase berikutnya adalah pembakaran sempurna. SOx. maka akan dibutuhkan serangkaian unit-unit APC yang sesuai. Dapat dicapai proses insinerasi yang ekonomis bila sampah memiliki nilai kalor paling tidak 2. Kebutuhan oksigen dan nilai kalor yang dikandungnya dapat dihitung berdasarkan metode pendekatan kadar unsur sampah. Panas yang tersedia dari pembakaran limbah sebelumnya akan berpengaruh terhadap jumlah bahan bakar yang dipasok.

sehingga dibutuhkan subsidi bahan bakar dari luar Insinerasi adalah identik dengan combustion. Kapasitas pembakaran biasanya digunakan tidak lebih dari 75%. Dinding insinerator yang baik biasanya berlapis-lapis. timbulnya permasalahan lingkungan yang terlihat nyata secara visual seperti asap dan bau. Kapasitas nominal tungku pembakaran: dinyatakan sebagai Kg/jam. Bila limbahnya combustible maka limbah selanjutnya berfungsi sebagai bahan bakar. e. Pemasokan limbah dapat dilakukan: − Secara manual: khususnya untuk insinerator kecil − Secara mekanis/hidrolis: memperpanjang waktu operasi − Bila pemasokan limbah dilakukan secara kontinu tanpa mematikan dan mendinginkan ruang pembakaran. Tambah besar kapasitas insinerator. yang kemudian dibagi lagi menjadi: − Multi chambre − Multi chambre – starved control-air Insinerator Modular Di Indonesia. ruang pembakaran akan tetap tersedia untuk limbah yang baru. Insinerator tidak hanya untuk membakar limbah padat. medis (untuk limbah infectious). g. Dinding Isolasi panas berfungsi untuk menghemat bahan bakar dan mempertahankan temperatur. − Pengeluarkan abu: bila abu dapat dikeluarkan secara terus menerus. seperti sludge dan limbah cair yang sulit terdegradasi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) c. Insinerator skala modular (skala kecil). banyak dicoba di beberapa kota di Indonesia. Dalam hal ini limbah tidak harus combustible. perlu diperhatikan dalam memilih incinerator. Pengeluaran abu dapat dilakukan: − Secara manual − Secara mekanis: biasanya di atas 20 ton/hari c. sludge. seperti insinerator RS) − Mechanical stoker : biasanya untuk sampah kota − Fluiduized bed : biasanya untuk limbah homogen − Rotary kiln : untuk limbah industri (limbah padat atau cair) − Multiple hearth : untuk limbah industri c. slurry) Masing-masing jenis kemudian berkembang lagi. f. Sudah digunakan untuk limbah non-padat. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah kuantitas dan kontinuitas limbah yang akan dipasok. penggunaan insinerator skala kota baru dilaksanakan di Surabaya. Insinerator dapat dibagi berdasarkan perbedaan: a. Kuantitas harus cukup untuk menghasilkan enersi secara kontinu agar suplai enersi tidak terputus. b. tambah sedikit bahan bakar yang dibutuhkan per satuan limbah yang akan dibakar. Selanjutnya dikenal insinerator kamar-jamak dengan sasaran: − Menghemat bahan bakar − Menghemat enersi untuk suplai udara − Mempertahan temperatur − Kontrol pencemaran udara d. Beberapa informasi di bawah ini menjelaskan secara ringkas tentang insinerator jenis modular dengan: a. akan dihemat bahan bakar dan kontinuitas operasi dapat dijamin. gas. misalnya dalam insenarator modular dikenal insinerator kamar-jamak. Cara penyuplaian limbah: dikaitkan dengan fasa limbah (padat. Syarat utamanya o adalah panas yang tinggi (dioperasikan di atas 800 C). yang terdiri dari: − Lapis luar: baja tahan karat dengan ketebalan tertentu (mis 6 mm). Namun karena permasalahan teknis yang sejak awal telah terjadi. insinerator ini cendererung kurang berfungsi. Jumlah burner. Ton/hari atau m3/jam untuk 8 jam kerja per shift. seperti mahalnya biaya operasi. Pengoperasian: − Pengoperasian secara batch dengan pemasokan manual − Pengoperasian secara batch dengan pemasokan semi kontinu − Pengoperasian secara kontinu: untuk skala di atas 40 ton/hari. dicat dengan cat tahan temperatur tinggi Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 75 . Pasokan oksigen dilakukan dengan memasukkan udara secara: − Manual: untuk insinerator sederhana − Blower: memasok udara dengan debit tetap atau debit yang disesuaikan dengan kebutuhan. walaupun ternyata mengalami beberapa permasalahan. Sasaran utamanya adalah mendestruksi patogen yang berbahaya seperti kuman penyakit menular. yaitu dapat menghasilkan enersi yang dapat dimanfaatkan. Tungku yang digunakan: − Statis (insinerator modular atau kecil. konsumsi dan jenis bahan bakar. Limbah yang baru dimasukkan (dingin) membutuhkan pasokan api melalui burner (pembakar bahan bakar). Insinerator yang paling sederhana adalah 1 kamar. Cara pengoperasian: batch atau kontinu b. Teknologi ini merupakan sarana standar untuk menangani limbah medis dari rumah sakit.

yaitu (a) gas hasil oksidasi tanpa oksigen seperti CH4 dan H2 (b) C2H4 (ethyelene) dan tar dan (c) arang atau karbon. − Apapun teknologinya. Lapis tengah: isolator panas dengan ketebalan tertentu. Debu atau partikulat akan merupakan salah satu permasalahan pencemaran udara yang perlu diperhatikan. Biasanya jalan terakhir yang dilakukan adalah diurug − Dalam proses termal. atau kalsium silikat dsb − Lapis dalam: langsung kontak dengan temperatur tinggi. Akan dihasilkan 3 jenis produk. Merkuri (Hg) pada temperatur kamarpun akan menguap. i. j. maka masalah ini dapat muncul. Tambah tinggi temperatur. maka residu-nya akan tambah sedikit. akan tergantung dari nilai kalor sampah itu sendiri. yang tergantung dari titik uapnya. debu dan residu lain. udara panas yang keluar akan tambah terencerkan dan tersebar secara baik di lingkungan. dsb. Bila sistem tidak tercampur sempurna dan pembakaran menjadi tidak sempurna. dengan baha seperti asbes. k. Panel pengontrol dan petunjuk: digunakan untuk mengetahui debit udara. Agak sulit menangani jenis pencemar ini. − Terdapat serangkaian upaya konversi enersi dalam sistem insinerator penghasil panas. gas yang sangat reaktif ini dengan mudah menangkap uap air menjadi HCl. maka akan dihasilkan gas-gas yang belum terbakar sempurna. dsb). Modivikasi dari pirolisis adalah gasifikasi yang memasukkan sedikit udara dalam proses. serta sistem pewadahan sampah yang tidak tertutup. bukan hanya pada insinerator. − Recovery Panas dan Permasalahan Lingkungan [57. Nilai kalor sampah Indonesia biasanya sulit mencapai angka 1200 Kcal/kg-kering. dioxin. alat untuk mengontrol waktu operasi (timer). Bila terjadi kegagalan dalam mempertahankan panas. bandingkan dengan sampah dimana teknologi insinerator itu berasal. bila yang dikejar adalah nilai kalor tinggi. apalagi bila kertas dan plastiknya dikeluarkan untuk didaur-ulang. maka akan tambah banyak enersi yang dibutuhkan untuk memulai sampah itu terbakar. maka sebetulnya berdasarkan perhitungan yang konvensional akan diperoleh paling sekitar 4 MW per kg sampah-basah. akan teruapkan seperti Zn dan Hg. Dengan kondisi sampah Indonesia yang mempunyai nilai kalor hanya sekitar 1000 kkal/kg-kering. dimana temperatur berada pada level yang rendah. Seperti halnya insinerasi. akan tambah banyak jenis logam berat yang akan menguap. Namun semua proses termal tetap akan menghasilkan residu ( bagian non-combustible) yang tidak bisa terbakar pada temperatur operasi. scruber. beberapa logam berat yang berada dalam sampah. − Proses termal menawarkan destruksi massa limbah secara cepat. Bila sampah yang digunakan adalah sejenis sampah di negara industri. Tambah tinggi panas. seperti: pengontrol partikulat (bag house. maka karena yang digunakan sebagai bahan adalah sampah yang sangat heterogen. serta kadar air yang cukup tinggi. Enersi tersebut berasal dari panas dalam tungku. maka dalam proses oskidasi (pembakaran) akan dihasilkan produk oksidasi. 58] Enersi panas yang dapat dikonversi menjadi listrik dan recovery panas merupakan salah satu keunggulan yang ditawarkan dari insinerator jenis baru. Ini juga perlu diklarifikasi dalam teknologi yang ditawarkan dalam air pollution control. yang sangat berbahaya karena korosif maupun karena toksik. temperatur. Komponen sampah yang dikenal mempunyai nilai kalor tinggi adalah kertas dan plastik. Dilemna yang muncul adalah. maka enersi listrik sebesar 20 MW/1000 ton-kering sampah dapat dicapai. maka biasanya tambah sedikit bahan antara ini. dsb. dan uap air yang terjadi dapat digunakan sebagai penggerak turbin pembangkit listrik. maka proses ini dikenal sebagai pirolisis. pengontrol gas-gas spesifik. yaitu paling tidak 2000-2500 kkal/kg-kering. maka upaya daurulang tidak mendukung teknologi ini. atau pada awal operasi atau di akhir operasi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) h. − Bila material berbasis khlor terbakar. Proporsi produk yang dihasilkan (gas. Ditambah musim hujan. − Dioxin akan muncul sebagai proses antara dalam pembakaran material. residu yang belum dapat terurai. pengontrol uap asam (scruber basa. karena mengandung silikat tinggi. tambah tinggi kadar air. − Bila pemanasan dilakukan tanpa oksigen. Tambah tinggi temperatur. Sampah Indonesia mengandung abu sampai mencapai 30% berat. mulai dari combustor – boiler – steam generator sampai ke electric generator. Bangunan pelindung: untuk melindungi dari hujan dsb Perlengkapan pengendali pencemaran udara: biasanya dijual terpisah dari insinerator. Residu ini berada dalam bentuk abu. yang tidak akan mampu mengkonversi enersi secara mulus 100%. Secara logika. − Sampah Indonesia mengandung banyak sisa makanan (bisa mencapai 70%) yang dikenal mempunyai kadar air tinggi. misalnya dari bahan bata tahan api Tinggi dan bahan cerobong: tambah tinggi cerobong. dsb). maka akan dihasilkan by-product lain seperti gas pencemar. yang biasanya didinginkan dengan air. Dikenal beberapa pengontrol. Namun dengan adanya uap air. guna mengurangi terjadinya hujan asam. Abu biasanya dikenal mempunyai potensi sebagai bahan bangunan. maka akan dihasilkan produk gas khlor. cair atau padat) tergantung dari temperatur dan waktu pembakaran. akan menambah tingginya kadar air. yang diantaranya berupa gas-buang. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 76 . Namun perlu pemahaman bahwa: − Produk panas yang nanti dikonversi menjadi listrik.

penyebab kabut asap (smog). dengan menyemprotkan ammonia atau urea ke dalam tungku panas • Sistem carbon injection: menyemprotkan karbon aktif ke dalam exhaust gas untuk menjerab (sorbsi) logam berat ldan sekaligus mengontrol emisi organik lain seperti dioxin • Abu hasil pembakatan. karena mempunyai sifat seperti mortar yang mengeras bila telah dipakai. Di negara industri dimana sampahnya banyak mengandung kertas dan plastik. Di Jepang misalnya.500 MW listrik.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 8. kertas. dengan peralatan kontrol standar. WTE dianggap sebagai alternatif sumber enersi terbarukan dan US-EPA menyimpulkan bahwa WTE dinilai menghasilkan listrik dengan dampak lingkungan terendah dibandingkan pembangkit listrik dari sumber yang lain. US-EPA telah mengembangkan web-site Clean Energy untuk informasi perbandingan dampak beragam sumber enersi terhadap lingkungan. dan beragam variasi dampak yang dapat ditimbulkan. yaitu sumber gas alam. bukan solar. enersi nuklir. atau bahan plastik mengandung chloride lainnya masuk ke sistem pembakaran. Listrik yang dihasilkan dari WTE Sistem WTE tergantung pada sumber enersi terbarukan. sampah di-unloaded dari truk. yang dapat memutar turbin uap yang menghasilkan listrik. fasilitas WTE memproses sekitar 56 juta ton per-tahun. minyak. yaitusampah yang tidak dapat didaur-ulang atau yang non-B3. WTE bekerja layaknya pembangkit listrik biasa. dirajang. yang merupakan 17% dari total sampah yang dihasilkan. yaitu: • Baghouse: bekerja layaknya vacuum cleaner raksasa. misalnya dengan sistem pelelehan (melting) pada temperatur yang lebih tinggi yang memungkinkan abu direduksi menjadi elemen-elemen pembentuknya. yang membedakannnya adalah bahan bakarnya adalah sampah. yang terdiri dari sisa makanan. karena emisi pencemar yang dihasilkan. dimana sampah dipilah. sehingga enersi yang dapat digunakan tidak bisa disamakan dengan sumber enersi biasa seperti minyak bumi dan batu-bara. hydroelectricity. sampah kota. termasuk bahan non-renewable yang berasal dari bahan bakar fosil seperti plastik dan karet. dan sekaligus mensteril dan mengurangi volume sampah yang dibutuhkan untuk landfill. Data tahun 2007 [59] mengungkapkan bahwa di USA sistem ini digunakan untuk memproses sekitar 95. diperkirakan sekitar 1 ton sampah mempunyai nilai panas sekitar 0. WTE saat ini bukan lagi sekedar membakar mix-waste tanpa pemilahan. sejak tahun 2000 fasilitas WTE sudah disesuaikan dengan standar pengendalian pencemaran dari Clean Air Act Section 129.000 ton sampah perhari atau 35 juta ton per tahun. dan dibuat pelet (briket) bahan bakar.4 Instalasi Waste-to-Energy di Negara Industri [59. menjadi nitrogen. Pada pembangkit listrik. atau sebagai bahan penutup landfill. Prinsip WTE adalah sejalan dengan pembangkit listrik tenaga batubara (coal fire power plant). dan kayu.4. yang memanfaatkan juga uap sebagai pemanas. Namun sampah bukanlan bahan bakar. karena dianggap penurunan panas yang biasa akan berpotensi kembali terbentuknya dioxin. • Sejumlah WTE dirancang/dioperasikan sebagai co-generation.5 ton batu-bara. atau diproses agar memudahkan penanganannya. Di USA instalasi pembangkit listrik diatur oleh peraturan Federal dan Negara bagian. tetapi kehadirannya banyak menimbulkan kontroversi.5 ton batubara. tetapi sistem WTE melalui refused-derived-fuel (FDR). batu-bara atau gas. yaitu: • Bahan bakar dibakar. menghasilkan panas • Panas terbentuk menguapkan air • Uap dengan tekanan tinggi memutar sudu (blade) generator turbin untuk menghasilkan listrik • Listrik yang dihasilkan digunakan untuk berbagai keperluan Di USA. batu-bara. sekitar 10% volume. yang menetralkan gas asam. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 77 . Walaupun sampah termasuk sumber enersi terbarukan. dan non-hydroelectricity-renewable energy seperti terlihat pada Tabel 8. lalu dipasok pada boiler untuk menghasilkan uap. yang selanjutnya dapat direcovery (lihat gasifikasi plasma). Reduksi panas yang akan diemisikan ke luar cerobong juga dirancang berlangsung secara sangat cepat. sehingga sistem ini dianggap lebih unggul dibandingkan pembangkit listrik tradisional. Di Eropa. mereka melarang sampah berbahan PVC. dan menghasilkan sekitar 2. dicacah. sesuai uji pelindian di USA leaching test aman untuk digunakan kembali dan diurug. serta sistem pengumpulan yang tertutup sehingga kadar air sampah lebih kecil. Sampah dianggap sebagai sumber enersi terbarukan. 60] Sistem Waste-to-energy (WTE) membakar sampah kota non-B3 untuk menghasilkan listrik dan/atau uap air. sehingga paling banyak menghasilkan listrik setara 0. Denmark memproses lebih dari 80% sampahnya dengan WTE. sedang di Jepang lebih dari 60%. dan meningkatkan penangkapan merkuri pada udara yang ke luar • Selective non-catalytic reduction: mengkonversi NOx. Sistem WTE yang sekarang banyak digunakan dianggap perlu ditingkatkan. dengan fabric filter bag yang membersihkan udara dari asap dan logam berat • Scrubber: menyemprotkan bubur kapur dan air ke dalam uap panas.

yaitu: • Gas/uap: mengandung hidrogen.973.185 100 Perbandingan emisi pencemar udara Membakar sampah akan menghasilkan NOx dan SOx serta sejumlah pencemar seangin lain.135 0. metan.6). yaitu proses destruksi menggunakan panas tanpa kehadiran oksigen.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Bahan bakar Bahan fosil .249 13 6 1. 3. Eropa di USA.4 Produksi enersi di USA 2003 [59] Ribu MW-hours Persen 2.410 2 21.7 Bahan bakar Sampah kota Batubara Minyak Gas alam 8.Batubara .5 Pirolisa dan Gasifikasi Di luar proses pembakaran sampah dengan insinerator. sehingga dapat dipanaskan tanpa kehadiran oksigen dan akan menghasilkan gas. cair (tar) dan padat (arang): • Pirolisis: berlangsung tanpa kehadiran oksigen sama-sekali. karena pembakaran sampah juga menghasilkan CO2 yang dianggap bukan bagian dari earth’s atmosphere untuk jangka panjang.4 lb NOx/MWh Tabel 8.988 lb/MWh: bila memasukkan CO2 dari emisi kedua jenis sumber yang ada dalam sampah. Oleh karenanya. Disamping itu. dan beraneka ragam gas.Sampah kota Lain-lain Total Tabel 8.8 lbSO2/MWh • 5.185 ….6 13.883. Proses ini bertujuan mengkonversi biomas padat menjadi gas. Produk yang dihasilkan adalah tergantung pada panas yang berlangsung dalam reactor (lihat Tabel 8. karena bukan berasal dari bahan bakar fosil. dan hidrokarbon kompleks.5 Perbandingan emisi udara [60] CO2 SO2 NOx lb/MWh 837 0. liquid.406 3 649. • 0.672 12 4 1.737 51 119.733 21 275. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 78 . dan bahan toksik lain yang terkandung dalam sampah kota. yang tergantung dari • • karakteristik biomasnya Bagian cair: mengandung tar atau oil stream yang mengandung asam asetat. yaitu: • Diabaikan karena dianggap bagian dari siklus karbon bumi (earth’s natural carbon cycle) • Diperhitungkan. maka proses lain yang banyak digunakan dalam konversi biomas secara termal adalah pirolisis dan gasifikasi.Minyak . ban-bekas. sejumlah variasi teknologi pengendali pencemaran udara ketat diterapkan pada WTE sampah kota di negara-negara Jepang.8 5.743. WTE sampah akan menghasilkan CO2. padat. sumber utama green-house gas (GHG). menggunakan sumber enersi dari luar untuk menggerakan reaksi pirolisa yang bersifat endotermis • Gasifikasi bersifat self sustaining. yaitu biomas dan bahan bakar fosil • 837 lb CO2 /MWh: bila CO2 dari emisi biomas sampah diabaikan dalam perhitungan.051 71 1. Emisi rata-rata di USA untuk pembakaran sampah kota adalah sekitar [60]: • 2.908 17 763. aseton. komponen sampah juga mengandung bahan yang berasal dari sumber enersi fosil Variasi komposisi sampah menaikkan perhatian terhadap pembakaran sampah kota.900 0. Terdapat 2 pendapat yang berbeda dalam hal GHG ini.806 7 87. metanol. yang dapat digunakan sebagai bahan bakar Arang (char) yang berupa karbon murni.1 1. CO CO2.4 2. disertai materi-materi solid lain dari biomas asal.Gas alam Nuklir Hydroelectric Terbarukan . karena dapat mengandung batere. seperti senyawa merkuri dan dioxin. menggunakan udara atau oksigen yang terbatas untuk pembakaran sebagian dari biomas Sebagian besar meteri organik secara termal tidak stabil. atau sedikit oksigen.

Temperatur di dalam busur sampai o mencapai 14.000 – 8.6: Contoh pengaruh panas terhadap % produk gasifikasi [33] H2 CH4 CO2 C2 H4 CO 5. Sumber enersi dari busur adalah listrik. berukuran yang relatif homogen. Plasma adalah gas yang terionisasi dalam udara super-panas. yang akan menghasilkan uap bertekanan tinggi yang kemudian dapat diumpankan pada turbin uap untuk menghasilkan enersi listrik. Unsur-unsur logam juga leleh dan membentuk unsure-unsur logam. yang hanya bekerja o dengan temperatur paling tinggi 1.07 Asam-asam dan tar 61. Dengan demikian akan terjadi penurunan sensible heat. selain panas yang dihasilkan. Temperatur tinggi dari busur plasma. Teknologi ini dapat memproses segala jenis bahan. temperatur di luar yang berkontak dengan bahan yang akan didestruksi o akan mempunyai temperatur sampai 4. Industri baja sejak lama menggunakan teknologi ini untuk melelehkan baja.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) (%) 480°C 920°C Tabel 8. Produk tar dan arang tidak terjadi. tampaknya mendekati produk yang dihasilkan melalui proses gasifikasi plasma. dengan suhu berkisar antara o o 2.200 C. tidak membutuhkan pemilahan dan tidak terpengaruh oleh kadar air bahan yang dimasukkan.400 C (5. dan hanya mengandung sangat sedikit elemen-elemen dalam partikulat.43 Karbon 21. Gasifikasi biasa bekerja pada rentang temperatur 370 – 815 C.70 8.77 18. Karena prosesnya destruksi total secara termal. Adanya arang sebagai residu membutuhkan landfill.56 32. Busur (torches) plasma yang terletak di dasar reaktor akan menghasilkan panas. seperti kulkas.4. akan melelehkan seluruh bahan anorganik yang ada. Gas ini merupakan sumber enersi lain. Elemen-elemen pencemar udara yang masih tersisa seperti HCl. Gas buang yang dihasilkan lebih bersih dibanding proses gasifikasi biasa. Tidak terbentuk furan atau dioxin. yang dapat dipisahkan dari residu berbentuk gelas. walaupun mereka sudah menerapkan upaya daur-ulang dengan teknologi canggih. Udara super panas ini akan secara termal mendegradasi material yang kontak dengannya. Produk yang dihasilkan tidak sebersih gasifikasi plasma.000 C. Tanah kaca dsb akan leleh menjadi unsur-unsur membentuk vitrified (molten) glass. yaitu daur-ulang seluruh bahan kembali ke alam atau ke pasar sebagai unsur ekonomi. Limbah medical biasanya diolah terpisah dari sampah.03 1. Permasalahan utama gasifikasi adalah timbulnya tar yang sulit dikeluarkan dari reaktor.43 10. Bila mengadung komponen khlor.6 Proses Termal dengan Gasifikasi Plasma [59] Filosofi Zero-Waste (Tanpa-Limbah). sampah harus cukup kering.36 33. dengan penekanan pada perlindungan kesehatan manusia dan alam. Sebagian besar partikulat dikembalikan kembali ke proses. H2. Gasifikasi plasma menggunakan sumber panas dari luar untuk menggasifikasi material. karena temperatur rendah tidak akan dapat menguraikan seluruhnya. AC dsb. nitrogen dan uap air.31 0. tetapi langsung ditransformasi menjadi gas sebagai CO.71 17. Selain itu. yang sebagian masih mengandung enersi. maka tidak dibutuhkan pemilahan atau pre-treatment sampah terlebih dahulu. Seperti halnya pirolisis dan gasifikasi. Sebuah busur (torch) plasma memanaskan udara secara reguler. sulfur tetap perlu ditangani sebagaimana layaknya seperti dalam proses WTE.000 F). kecuali untuk bahan dasar yang belum mempunyai nilai ekonomi. Barang-barang elektrik-elektronik tersebut merupakan hal yang biasa dijumpai dalam rantai pengelolaan sampah di negara maju. sehingga tidak butuh lagi landfill. pada gasifikasi plasma material organik tidak terbakar seperti di WTE.08 58.45 Gas 12. karena semuanya dikonversi menjadi gas. Akibatnya. Temperatur yang sangat tinggi o tersebut kemudian perlu diturunkan sampai 300 C atau kurang sesuai dengan standar yang berlaku.50 35. Hampir seluruh karbon yang terkandung dari material yang diolah akan dikonversi menjadi bahan bakar gas. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 79 . Gas keluar dari cerobong juga akan menjadi bersih karena tidak dihasilkan partikulat atau fly ash. Teknologi plasma merupakan teknologi yang telah mapan.25 44. maka elemen ini dengan cepat akan bereaksi dengan H+ membentuk HCl. Gasifikasi merupakan partial combustor dimana hanya sebagian karbon yang di-”bakar” untuk mendukung reaksi. Praktis tidak ada abu seperti dalam proses insinerasi/WTE.48 (%) 480°F 920°F 12.750 . kecuali pemotongan untuk menyesuaiakan dengan kebutuhan reactor.76 C2 H6 3.33 24. Perbedaan dasar teknologi gasifikasi plasma dengan gasifikasi biasa adalah pada temperatur yang o digunakan untuk mendestruksi material. Freon pada AC harus dikeluarkan terlebih dahulu.45 2. bandingkan dengan WTE modern yang baik. sehingga dapat bergabung menjadi vitrified glass. Sampah diumpankan ke transformer termal yang dikenal sebagai reaktor atau plasma gasifier.400 C.

kemudian dilakukan pemadatan dengan alat berat. karena murah. jenis landfilling. Cara ini dikenal dengan metode pit atau canyon atau quarry. dengan menyebarkan sampah secara lapis-perlapis pada sebuah site (lahan) yang telah disiapkan. Dikenal sebagai metode slope (ramp). Kadangkala pengupasan site tidak dilakukan sekaligus. 9. terutama dari lindi (leachate) yang mencemari air tanah. Perlu diperhatikan: • tinggi muka air tanah • struktur batuan / tanah keras • peralatan pengupasan / penggalian yang dimiliki Dengan demikian akan diperoleh tanah untuk bahan penutup. – Untuk mengurangi dampak negatif dibutuhkan pemilihan lokasi yang tepat. Cara penyingkiran limbah ke dalam tanah dengan pengurugan atau penimbunan dikenal sebagai landfilling. Landfilling dibutuhkan karena: − Pengurangan limbah di sumber. Terbentuk parit-parit tempat pengurugan sampah (lihat Gambar 9. Cara ini dikenal sejak awal tahun 1900-an. sehingga terminologi sanitary landfill sebetulnya sudah kurang relevan untuk digunakan. aspek engineering yang perlu diperhatikan khususnya dalam pengendalian lindi dan gasbio. termasuk limbah berbahaya. mudah dan luwes. misalnya bekas pertambangan. – Bukan pemecahan masalah limbah yang baik. karena aplikasinya memperhatikan aspek sanitasi lingkungan. yang diterapkan mula-mula pada sampah kota.3 di bawah). daur-ulang. – Digunakan pula untuk menyingkirkan limbah industri. atau sulit untuk dibakar. seperti sludge (lumpur) dari pengolahan limbah cair. Open dumping tidak mengikuti tata cara yang sistematis serta tidak memperhatikan dampak pada kesehatan.1). tetapi dilakukan secara bertahap.2). atau sulit untuk diolah secara kimia Metode landfilling saat ini digunakan bukan hanya untuk menangani sampah kota. maka dilakukan pengupasan site sampai kedalaman tertentu (lihat Gambar 9. serta percepatan degradasi dan sebagainya. penyiapan prasarana yang baik dengan memanfaatkan teknologi yang sesuai. Definisi yang sederhana tentang sanitary landfill adalah [4]: Metode pengurugan sampah ke dalam tanah. dan pada akhir hari operasi. urugan sampah tersebut kemudian ditutup dengan tanah penutup. Dapat mendatangkan pencemaran lingkungan. sehingga lahan tersebut menjadi baik kembali.2 Perkembangan Landfill Berikut ini adalah uraian tentang perkembangan landfilling mulai dari awal keberadaannya sebagai sarana penanganan sampah kota: Mengisi lembah Pada awalnya landfilling sampah dilaksanakan pada lahan yang tidak produktif. 9.1 Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) secara Umum Penyingkiran limbah ke dalam tanah (land disposal) merupakan cara yang paling sering dijumpai dalam pengelolaan limbah. Dengan demikian terjadi reklamasi lahan. atau minimasi limbah. dan dengan pengoperasian yang baik pula. Metode tersebut dikembangkan dari aplikasi praktis dalam peyelesaian masalah sampah yang dikenal sebagai open dumping.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 9 PENGURUGAN (LANDFILLING) SAMPAH Bagian ini menjelaskan metode yang selalu digunakan dalam pengelolaan sampah yaitu TPA. dengan nama yang dikenal sebagai sanitary landfill. tidak dapat menyingkirkan limbah semuanya − Pengolahan limbah biasanya menghasilkan residu yang harus ditangani lebih lanjut − Kadangkala sebuah limbah sulit untuk diuraikan secara biologis. Cara ini dikenal sebagai metode parit (trench) Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 80 . Mengupas site Dengan terbatasnya site yang sesuai . mengisi cekungan-cekungan (lihat Gambar 9. Dijelaskan pula tentang kondisi TPA di Indonesia yang sampai saat ini selalu bermasalah. Metode sanitary landfill kemudian berkembang dengan memperhatikan juga aspek pencemaran lingkungan lainnya. Beberapa hal yang perlu dicatat adalah: – Banyak digunakan untuk menyingkirkan sampah. Dijelaskan tentang peran TPA.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Gambar 9.1 Landfilling mengisi lembah / cekungan Gambar 9.3 Pengupasan serta menimbun sampah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 81 .2 Landfilling dengan mengupas site Gambar 9.

4 Landfilling dengan menimbun ke atas 9. sedang bagian bawah anaerob (tidak ada oksigen) sehingga dihasilkan gas metan − Bagian-bagian sampah yang besar diletakkan di bawah agar tidak terjadi rongga • Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 82 . yaitu: • Pemotongan sampah terlebih dahulu [62]: − Sampah dipotong dengan mesin pemotong 50-80 mm sehingga menjadi lebih homogen.3 Jenis landfill Berdasarkan penanganan sampahnya Dilihat dari bagaimana sampah ditangani sebelum diurug.1. sulit untuk mengupas site.0. Cara ini dikenal sebagai metode area. maka dikenal beberapa jenis aplikasi ini. dapat ditimbun lebih tebal (> 1.6m) sampai ketinggian 1.8 3 ton/m − Membutuhkan penutupan harian 10 .5 M) − Dapat digunakan sebagai pengomposan (aerobik) in-situ dengan ketingian sel-sel 50 cm. maka tidak perlu tanah penutup − Degradasi (pembusukan) lebih cepat sehingga stabilitas lebih cepat − Butuh alat pemotong sehingga biaya menjadi mahal • Pemadatan sampah dengan baling (Gambar 9. lebih 3 padat (0.5): − Banyak digunakan di Amerika Serikat − Sampah dipadatkan dengan mesin pemadat menjadi ukuran tertentu (misalnya bervolume 1 3 3 m ). sehingga memungkinkan proses aerobik yang menghasilkan panas sehingga dapat menghindari lalat − Binatang pengerat (tikus dsb) berkurang karena rongga dalam timbunan berkurang / dihilangkan.5 m − Urugan sampah membentuk sel-sel (Gambar 9. paling tidak dalam 48 jam − Kondisi di lapisan (lift) teratas bersifat aerob (ada oksigen). dengan muka air tanah tinggi.4).8 – 1.2 . Gambar 9. dan timbunan lebih padat − Bila tidak ada masalah bau. dan benbentuk praktis − Pengurugan di lapangan lebih mudah (dengan fork-lift) − Pengaturan sel lebih mudah dan sistematis − Butuh investasi dan operasi alat/mesin.5-0. Kepadatan mencapai 1.0 ton/m ).Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Untuk daerah yang datar.0 ton/m atau lebih − Transportasi lebih murah karena sampah lebih padat.6 .30 cm. Maka cara yang dilakukan adalah menimbun sampah di atas area tersebut (lihat Gambar 9.6) dan membutuhkan ketelitian operasi alat berat agar teratur − Kepadatan sampah dicapai dengan alat berat biasa (dozer atau loader) dan mencapai 0. Biaya menjadi sangat mahal − Dihasilkan lindi hasil pemadatan yang perlu mendapat perhatian Landfill tradisional: − Cara yang dikenal di Indonesia sebagai sanitary landfill − Sampah diletakkan lapis perlapis (0.

serangga dan tikus sulit bersarang − Keuntungan dibanding lahana-urug tradisional adalah tanah penutup menjadi berkurang. dan dicapai densitas timbunan 0.8 . truk mudah berlalu lalang dan masa layan lebih lama − Biaya operasi menjadi meningkat Gambar 9.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) (a) Peletakan sampah di landfill (b) Mesin pengepres sampah Gambar 9.0 ton/m3 − Proses yang terjadi menjadi anaerob − Karena densitas tinggi.50 cm.7 Dozer kaki-kambing Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 83 .6 Pembuatan sel-sel sampah [4] • Landfill dengan kompaksi (Gambar 9.7): − Banyak digunakan untuk lahan-urug yang besar dengan dozer khusus yang bisa memadatkan sampah pada ketebalan 30 .1.5 Landfilling dengan baling [62] Gambar 9.

sebelum diatasnya dilapis sampah lain. • Landfill anaerobik (Gambar 9.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Berdasarkan kondisi site: Dilihat dari kondisi topografi site. Juga bau akan banyak berkurang. pengumpul dan penampung lindi. Oleh karenanya terdapat kemungkinan pembusukan sampah secara aerobik maupun secara anaerobik. tidak dibutuhkan penutup tanah harian.5 m) − Digunakan untuk daerah datar atau sedikit bergelombang − Operasi selanjutnya seperti metode area • Metode pit/canyon/quarry: − Memanfaatkan cekungan tanah yang ada (misalnya bekas tambang) − Pengurugan sampah dimulai dari dasar − Penyebaran dan pemadatan sampah seperti metode area − Kenyataan di lapangan. − Kondisi anaerob menghasilkan gas metan (gas bakar). Dihasilkan pula uap-uap asam-asam organik. − Leachate yang dihasilkan relatif lebih baik dibanding landfill anaerob. Timbunan sampah dilakukan lapis perlapis tanpa memperhatikan ketersediaan oksigen di dalam timbunan. Gambar 4. maka pada dasarnya landfilling adalah pengomposan dalam reaktor yang luas. Berdasarkan ketersediaan oksigen dalam timbunan [66]: Seperti halnya pengomposan. maka literatur USA membagi landfill dalam beberapa kelompok yaitu: • Metode area: − Dapat diterapkan pada site yang relatif datar. Bila perlu dilakukan pembalikan pada lapisan sampah tersebut. − Karena kondisinya anaerob. stabilitas sampah tidak cepat tercapai. Dengan demikian proses pembusukan lebih cepat.8): − Landfill yang banyak dikenal saat ini. − Pencapaian kondisi aerobik dapat dilakukan dengan pendekatan :  lapisan sampah dibiarkan beberapa hari berkontak dengan oksigen. dipadatkan dan ditutup harian − Digunakan bila airtanah cukup rendah sehingga zone non-aerasi di bawah landfill cukup tinggi ( ≥ 1. khususnya di Indonesia. operasi berikutnya seperti metode area • Metode parit (trench): − Site yang ada digali. Disamping itu. seperti halnya pengomposan biasa. Lindi yang tertampung kemudian diolah sebelum dilepas ke lingkungan. cara tersebut dapat berkembang lebih jauh sesuai dengan kondisi yang ada. − Sampah membentuk sel-sel sampah yang saling dibatasi oleh tanah penutup − Setelah pengurugan akan membentuk slope − Penyebaran dan pemadatan sampah berlawanan dengan kemiringan • Metode slope/ram : − Sebagian tanah digali − Sampah kemudian diurug pada tanah − Tanah penutup diambil dari tanah galian − Setelah lapisan pertama selesai.8a Perkembangan landfill : improved sanitary landfill [66] • Landfill aerobik: − Mengupayakan agar timbunan sampah tetap mendapat oksigen. sampah ditebarkan dalam galian. dan dihasilkan lindi (leachate) dengan konsentrasi tinggi − Perkembangan berikunya berkembang improved sanitary landfill Improved Sanitary Landfill • • Sarana dilengkapi dengan sistem drainase air permukaan. dan H2S yang menyebabkan jenis landfill ini berbau bila tidak ditutup tanah. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 84 .

dengan drainase leachate dan ventilasi gasbio yang baik − Tanah penutup tidak terlalu kedap - Gambar 4.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)  Dibutuhkan area yang luas. sehingga proses pembusukan berjalan secara aerob.8b Perkembangan landfill: semi aerobic landfill [18] Sanitary Landfill Aerob • • • Untuk mempercepat proses. udara disuplai ke timbunan sampah Proses berlangsung sepenuhnya secara aerob seperti pengompsoan biasa Bau dan gas metan dihindari. Proses degradasi optimal.8 Perkembangan landfill: aerobic landfill [66] Berdasarkan karakter lahan (site): Di Perancis misalnya. Gambar 9. pembagian landfill saat ini dilakukan berdasarkan jenis limbah yang akan diurug. seperti: • Landfill sampah kota dan sejenisnya • Landfill limbah industri • Landfill yang menerima kedua jenis limbah tersebut. yaitu [62]: • Site landfill kelas 1 : –7 − site kedap dengan nilai permeabilitas (k) < 10 cm/detik − migrasi leachate dapat diabaikan − untuk limbah industri. • Landfill semi-aerobik − Hindari leachate tergenang dalam timbunan. hubungan karakter permeabilitas site dengan limbah dijadikan dasar pembagian landfill. landfill dibagi menjadi [63]: • Landfill sampah domestik (sampah kota) • Landfill industri.Cara lain adalah memasukkan udara ke dalam timbunan secara sistematis. dikenal sebagai co-disposal Di Jepang. termasuk limbah B3 • Site landfill kelas 2 : –4 –7 − site semi-kedap dengan nilai permeabilitas (k) antara 10 sampai 10 cm/detik − migrasi leachate lambat − untuk limbah sejenis sampah kota • Site landfill kelas 3 : –4 − site tidak kedap dengan nilai permeabilitas (k) > 10 cm/detik − migrasi leachate cepat untuk limbah inert dengan pencemaran diabaikan Berdasarkan jenis limbah yang akan diurug Di beberapa negara maju. yang dibagi menjadi : Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 85 .

10). landfill limbah terdegradasi : oli. • Landfill katagori III: untuk limbah B3 yang dianggap tidak begitu berbahaya. karet. asap dan lalat dapat dikurangi. Landfill jenis ini identik dengan landfill sampah kota (sanitary landfill) yang baik. landfill sampah kota dibagi berdarkan aplikasi tanah penutup. plastik. 86 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB .11) Gambar 4. − Penutupan timbunan sampah dilakukan setiap hari.1 : Landfill dengan shut-off [63] Landfill limbah B3 di Indonesia Peraturan Bapedal – Indonesia tentang landfill (untuk limbah B3) membagi katagori landfill limbah B3 menjadi 3 jenis. digunakan untuk limbah yang dinilai sangat berbahaya • Landfill katagori II: seperti katagori I. - Gambar 4. Controlled tipping: − Peningkatan dari open dumping. Pembagian tersebut adalah sebagai berikut [63]: a. dikenal sebagai controlled landfill b. sehingga masalah bau. Sanitary landfill with leachate recirculation: − Masalah lindi (leachate) sudah diperhatikan. namun dengan liner geomembran tunggal. − Lahan penimbunan dibagi menjadi berbagai area.11 : Landfill limbah terdegradasi [63] Berdasarkan aplikasi tanah penutup dan penanganan leachate: Di Jepang. yang dibatasi oleh tanggul ataupun parit. Calon lahan telah dipilih dan disiapkan secara baik. kayu. logam dan keramik (Gambar 9.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − − landfill untuk limbah industri yang stabil : limbah sisa bangunan. − Aplikasi tanah penutup tidak dilakukan setiap hari − Konsep ini banyak dianjurkan di Indonesia. Sanitary landfill with a bund and dailiy cover soil: − Peningkatan controlled tipping. yaitu [19]: • Landfill katagori I: Landfill dengan liner ganda dari geomembran HDPE. serta penanggulangan leachate. diperlukan adanya pengolah lindi (Gambar 9.9: Landfill limbah stabil [63] Gambar 4. Liner yang –7 digunakan adalah clay dengan nilai permeabilitas lebih kecil dari 10 cm/detik. c. kertas.9) landfill dengan shut-off : dengan mengisolasi kontak air dari luar seperti air hujan dan air tanah (Gambar 9. residu hewan / tanaman. yang menjadi keharusan dari sanitary landfill standar.

Sanitary landfill with leachate treatment: − Lindi dikumpulkan melalui sistem pengumpul − Kemudian diolah secara lengkap seperti layaknya limbah cair − Pengolahan yang diterapkan bisa secara biologi maupun secara kimia. terdiri dari langkah-7 sampai langkah 12: • Langkah-7 : desain area pengurugan dan pengembangan • Langkah-8 : pengembangan rencana pengelolaan lindi • Langkah-9 : pengembangan rencana monitoring lingkungan • Langkah-10 : pengembangan rencana pengelolaan gas • Langkah-11 : penyiapan spesifikasi tanah penutup • Langkah-11 : penyiapan panduan pengoperasian • Langkah-12 : analisa dampak lingkungan Fase-3 Tahapan pengoperasian. paling tidak dibutuhkan waktu 2 tahun • Operasi. Disamping permasalahan sosial dan lingkungan yang selalu menyertai aplikasi landfill. baik yang bersifat teknis.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Terdapat sarana untuk mengalirkan lindi dari dasar landfill ke penampungan (kolam) Lindi kemudian dikembalikan ke timbunan sampah melalui ventilasi biogas tegak atau langsung ke timbunan sampah.4 Aplikasi Landfill Pengembangan landfill mencakup berbagai langkah aktivitas. jaminan penutupan dan pasca operasi • Langkah-14 : pengoperasian landfill dan monitoring aktivitas Fase-4 Tahapan pasca-operasi yang terdiri dari langkah-15 sampai langkah-16 • Langkah-15 : Penutupan landfill • Langkah-16 : Pemantauan pasca operasi Data site ini merupakan data utama. Di Indonesia belum ada pengaturan untuk landfill sampah kota. tetapi paling tidak diperlukan monitoring selama 5 tahun. pengembangan landfill membutuhkan investasi dana untuk periode waktu yang cukup lama. monitoring. seperti kesesuaian dengan regulasi terkait. Elemen biaya yang harus menjadi pertimbangan adalah: • Penentuan site. Untuk landfill limbah B3. yang terdiri dari langkah-1 sampai langkah-6. desain. yaitu : • Langkah-1 : estimasi volume landfill yang dibutuhkan • Langkah-2 : investigasi dan pemilihan calon site • Langkah-3 : penentuan regulasi yang terkait • Langkah-4 : penilaian opsi landfill sebagai sumber enersi dan recoveri bahan • Langkah-5 : pertimbangan penggunaan site pasca operasi • Langkah-6 : penentuan kecocokan site Fase-2 Tahap desain dan analisis dampak lingkungan berdasarkan rancangan aktivitas. yaitu: Fase-1 Penentuan site merupakan fase tahapan studi kelayakan. maupun yang sifatnya non-teknis. melintang khususnya rencana jalan akses • Situasi bangunan-2 yg ada. yang antara lain mencakup: Pengukuran topografi • Peta situasi/kontur dengan level 0. analisis dampak lingkungan dan tahap konstruksi. • Situasi jalan eksisting. − − 9. d. Beberapa data harus dikaji (diobservasi) ulang untuk mendukung perancangan nanti. dengan catatan dapat berasal dari studi terdahulu yang dapat dipertanggung jawabkan. dan administrasi : sesuai umur landfill • Aktivitas penutupan : 1 sampai 2 tahun • Monitoring dan pemeliharaan pasca-operasi : tergantung regulasi yang berlaku di sebuah negara. Perencanaan yang mengutamakan kehati-hatian oleh pengelola atau calon pengelola sangat penting dikedepankan. disertai profil memanjang. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 87 .5 m (minimum). dan memang merupakan studi di titik (lokasi) tersebut. • Terdapat beberapa langkah yang dibutuhkan. terdiri dari langkah-13 sampai langkah-14 • Langkah-13 : kajian finansial untuk rencana pengoperasian. regulasi di Indonesia mensyaratkan 30 tahun • Kegiatan remediasi : perlu dilakukan untuk menyehatkan kembali site atau air tanah yang tercemar. yang dapat dikelompokkan menjadi 4 fase.

arah angin. keberadaan para pemulung seringkali menimbulkan masalah terhadap pengelolaan sampah di TPA karena kegiatan pemulung memang belum diatur. Setelah dilakukan penutupan final yang kedap. Landfill bisa dipastikan akan mengemisi gas metan. atau melakukan proses reduksi bahan organik melalui konsep Mechanical Biological Treatment (MBT). maka struktur atap tersebut kemudian dapat dipindahkan ke area atau sel lain yang akan aktif. menyangkut informasi akurat tentang : gradasi butiran. kadar air.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) • • Situasi mata air/badan air lain Situasi tanaman/pohon Data hidrogeologi • Bila tersedia : data geolistrik • Data dari hasil bor tangan dan atau bor mesin tentang jenis tanah/batuan. dan analisa kualitas airnya di lab • Data klimat dari stasiun meteorologi terdekat : data curah hujan lengkap selama paling tidak 10 tahun terakhir. Kegiatan pendaurulangan yang efektif justru banyak terdapat pada lahan TPA. maka isu dampak negatif aplikasi landfilling lebih banyak ditujukan pada pencemaran akibat leachate. Pelakunya adalah para lapak dan pemulung yang mengkonsentrasikan kegiatan di TPA. sifat-sifat fisik. Sebelum isu pemanasan global mencuat luas. Hanya abu insinerasi saja yang boleh diurug dari sebuah landfill. Bila dibandingkan dengan TPS. Produk dari proses MBT ini di negara Eropa dianggap bukan kompos. Dengan adanya isu ini. indeks plastisitas. kedalaman. baru boleh diurug dari sebuah landfill − Sejalan dengan negara Eropa. Untuk area 1 Ha dibutuhkan sekitar 4 titik
 Untuk memperpanjang umur pemakaian TPA. yaitu kira-kira 5% dari sampah yang tiba di TPA. melalui pemotongan. bulk density. karena kualitasnya yang tidak memenuhi persyaratan. dilanjutkan dengan aerasi sampah. − Pembuatan kompos (Composting) − Insinerasi. • Data laboratorium analisa tanah dari hasil bor log di atas. Bab XVI (Peralihan) Ps 44 dari UU tersebut mengamanatkan bahwa: (1) Pemerintah daerah harus membuat perencanaan penutupan TPA sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak berlakunya UU tersebut (2) Pemerintah daerah harus menutup TPA sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak berlakunya UU tersebut. permeabilitas. maka aplikasi landfilling yang digunakan menganut landfilling limbah B3. maka Jepang sangat membatasi aplikasi landfilling. Recycling. jenis mineral. Kalau mungkin geolistrik: untuk menduga akuifer di bawah. maka salah satu solusi adalah pengolahan dan daur-ulang sampah sebelum diurug. yaitu sebagai pretreatment sampah yang akan diurug. Sehingga masih banyak dijumpai bahan/material bernilai guna yang masih terangkut bersama sampah ke TPA. Proses daur ulang berupa pemanfaatan kembali bahan-bahan yang ada pada sampah biasanya dilaksanakan oleh pemulung. porositas. posisi muka air tanah. misalnya [9]: − Pendaurulangan sampah (Reuse. maka sorotan penggunaan landfill untuk sampah yang mengandung bahan organik tinggi mendapat perhatian besar. sehingga keberadaannya dapat mengganggu operasional lahan TPA. Recovery). maka negara-negara maju sangat membatasi kadar organik limbah yang boleh masuk ke landfill: − Negara Eropa membatasi kadar organik yang boleh terkandung dalam limbah yang akan di-landfill yaitu maksimum 5%. yaitu seluruh penimbunan sampah dilaksanakan di dalam area tertutup dengan menggunakan atap. Upaya yang banyak diterapkan di negara-negara tersebut adalah insinerasi limbah. • Data hidrologi dan kualitas air: − lokasi badan air dan sumber air − arah aliran : dapat diperoleh dengan melakukan observasi sumur-sumur penduduk − melakukan sampling air di hulu dan hilir rencana. penanganan sampah di TPA yang selama ini umum diterapkan di Indonesia yaitu dengan open dumping harus diubah secara keseluruhan. yaitu [55]: Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 88 . Di sisi lain. kapasitas sorpsi (KTK). pemulungan sampah di TPA di beberapa kota di Indonesia rata-rata memiliki persentase yang lebih besar. Berdasarkan UU18/2008. yang pada dasarnya adalah proses pengomposan. Produk ini setelah memenuhi batas kadar organik. gas yang dianggap mempunyai potensi gas rumah kaca sebesar 21 kali gas CO2. kesehatan dan estetika lainnya. Karena dalam abu insinerasi tersebut terkonsentrasi logam berat. dan timbulnya bau serta gangguan lingkungan. Proses pendaur-ulangan pada tingkat sumber memiliki tingkat keberhasilan yang relatif rendah. potensi evaporasi dsb • Bila tersedia : data hasil sondir untuk kebutuhan struktur bangunan. termasuk penggunaan closed landfill. melalui reduksi volume sampah yang akan diurug. Ada berbagai dampak merugikan yang dapat ditimbulkan oleh landfilling ini. Sejak isu pemanasan global mendunia. Landfill dianggap sumber utama gas rumah kaca dari kegiatan pengelolaan limbah.

65]: a. Dalam proses ini kriteria digunakan semaksimal mungkin guna proses penyaringan. Tanpa penanganan yang baik gas ini dapat memicu kebakaran di TPA. 9. Berkembangnya berbagai vektor penyakit seperti tikus. Metode lain antaranya adalah Metode Le Grand [65]. yang paling sederhana adalah SNI T-11-1991-03 [64]. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 89 . yaitu [61]: − Pemilihan site agar dampak negatif dapat dikurangi − Perancangan secara rakayasa sarana dan prasarana landfill − Pengoperasian landfill dengan kaidah-kaidah yang benar − Pemantauan sarana baik selama masa operasi. Tidak adanya lapisan dasar dan tanah penutup akan menyebabkan leachate yang semakin banyak dan akan dapat mencemari air tanah Pencemaran udara akibat gas. Resiko kebakaran cukup besar. digunakan beberapa tolok ukur untuk merangkum semua penilaian dari parameter yang digunakan. Berkurangnya estetika lingkungan. d. Karena lahan tidak dikelola secara baik. khususnya untuk site di kota kecil. Ada beberapa metode penilaian calon lokasi yang diterapkan di Indonesia. Gambar 9. Pencemaran air tanah yang disebabkan oleh lindi (leachate). e. Produksi gas yang timbul dari degradasi materi sampah akan menyebabkan bau yang tidak sedap dan juga ditambah dengan debu yang beterbangan. c. maupun pada pasca operasi Pemilihan Calon Lokasi Pengurugan Tahapan dalam proses pemilihan lokasi landrilling adalah menentukan satu atau dua lokasi terbaik dari calon lokasi yang dianggap potensial. Kebakaran selalu terjadi dalam lahan TPA yang menggunakan metode open dumping. Salah satu fungsi dari penutupan sampah dengan tanah adalah mencegah tumbuh dan berkembangbiaknya vektor penyakit tersebut.5 Langkah Kerekayasaan dalam Aplikasi Landfilling Karena metode landfilling sensitif terhadap terjadinya pencemaran. lalat dan nyamuk.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) a. yaitu [64. Guna memudahkan evaluasi pemilihan sebuah lahan yang dianggap paling baik. Tahap regional yang merupakan tahapan untuk menghasilkan peta yang berisi daerah atau tempat dalam wilayah tersebut yang terbagi menjadi beberapa zona kelayakan. maka aplikasi landfilling membutuhkan serangkaian langkah engineering (rekayasa).6 Pengurugan Sampah pada Lahan Tersedia Secara umum pemilihan site landfilling dalam SNI T-11-1991-03 dibagi berdasarkan 3 (tiga) tahapan. maka dalam jangka panjang lahan tidak dapat digunakan kembali secara baik. Berbagai vektor penyakit senang bersarang ditimbunan sampah karena merupakan sumber makanan mereka. yang bersasaran mengurangi dampak tersebut. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara pembobotan. khususnya akibat timbulnya lindi. bau dan debu. b. Ketiadaan tanah penutup akan menyebabkan polusi udara tidak teredam. Degradasi materi organik yang terdapat dalam sampah akan menimbulkan gas yang mudah terbakar seperti metan.

seperti jalan. Langkah 6: catatan tentang kondisi sekitar. Langkah 2: menentukan jarak vertikal (kedalaman) muka air tanah terhadap dasar lahan urug. Sarana untuk perlindungan terhadap lingkungan: − Sistem liner dasar dan dinding yang kedap − Drainase sekeling TPA dan dalam area pengurugan sampah − Sarana penangkap. jembatan timbang. Langkah 5: catatan tentang keakuratan data. − Jenis tanah kedap air. bengkel.10 tahun. Lahan Efektif: merupakan bagian lahan yang digunakan sebagai lokasi pengurugan atau penimbunan sampah. − Tidak membahayakan/mencemarkan sumber air. hanggar. Tahap penetapan yang merupakan tahap penentuan lokasi tepilih sesuai dengan kebijaksanaan instansi yang berwenang setempat dan ketentuan yang berlaku. gudang. Penilaian berdasarkan Metode Le Grand [65] digunakan untuk menilai suatu calon lokasi. − Daerah yang tidak produktif untuk pertanian. Langkah 4: menetukan potensi pencemaran dan kemampuan sorpsi. tempat cuci mobil − Jalan akses dan operasi − Fasilitas pengolahan selain pengurugan : daur ulang. yaitu: Langkah 1: menentukan jarak horizontal antara lokasi dengan sumber air minum. dan lainlain). Sarana dan prasarana di sebuah kegiatan TPA akan terdiri dari: a. rumah penjaga. bangunan pengolah leachate. bangunan pencucian kendaraan. seperti transit sampah. dan lain-lain − Prasarana penunjang (hidrant kebakaran. reservoir penampungan air. Lahan utilitas direncanakan luasnya mencapai sekitar 30% dari lahan yang tersedia. Lahan Utilitas: merupakan bangunan atau sarana lain di TPA khususnya agar pengurugan dan kegiatan lainnya dapat berlangsung. − Jarak dari daerah pusat pelayanan ± 10 km. − Daerah yang bebas banjir. garasi. pengomposan. dan sebagainya. Sarana penunjang: − Pagar dan papan nama site − Jembatan timbang − Pos penjaga.6 Penyiapan Sarana dan Prasarana Lahan di lokasi TPA yang direncanakan biasanya dibagi menjadi: a. dsb Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 90 . Pada tahap ini disusun beberapa parameter penentu disertai bobot dan nilainya. Lahan efektif direncanakan sebesar ± 70% dari luas total keseluruhan TPA b. daerah buffer (pohon-pohon) lingkungan. insinerasi. Tahap penyisihan yang merupakan tahapan untuk menghasilkan satu atau dua lokasi terbaik di antara beberapa lokasi yang dipilih dari zona-zona kelayakan pada tahap regional. Lahan utilitas ini akan mengakomodasi berbagai sarana dan prasarana penunjang yang diperlukan dalam pengelolaan site. Persyaratan umum lokasi pembuangan akhir berdasarkan cara tersebut adalah sebagai berikut: − Sudah tercakup dalam perencanaan tata ruang kota dan daerah. khususnya ditinjau dari sudut hidrogeologi. sumur pemantauan. pengumpul dan pengolah lindi − Sumur pemantau − Ventilasi gasbio − Sarana analisa air − Jalur hijau penyangga − Pengendali vektor b. Terdapat 10 langkah dalam penilaian tersebut. kantor. Langkah 7: penentuan deskripsi hidrogeologi calon lokasi berdasarkan langkah 1 sampai 6 Langkah 8: penentuan kaitan jenis limbah dengan media tanah di bawah site. − Lahan penunjang kegiatan lain. workshop. Langkah 3: menentukan kemiringan hidrolis air tanah dan arah alirannya.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) b. − Dapat dipakai minimal untuk 5 .Peralatan untuk pengoperasian: − Alat berat: trackloader dan bulldozer − Stok tanah penutup − Alat transportasi lokal − Cadangan bahan bakar − Cadangan insektisida − Pelataran pengurugan c. bangunan kantor. Langkah 9: penentuan Protection of Aquifer Rating (PAR) berdasarkan langkah 7 dan langkah 8 Langkah 10: iterasi ulang bila terjadi perbaikan site dengan masukan teknologi 9. c.

− Pemakaian lapisan dasar/liner untuk mencegah lindi berinfiltrasi ke air tanah. antara lain karakteristik dan komposisi sampah. Metan merupakan gas yang eksplosif. termasuk di antaranya pemasangan saluran lindi di lapisan dasar. Pengadaan sistem pengolahan leachate sangat diperlukan untuk mengurangi beban pencemaran terhadap badan air penerima. Produksi gas metan dapat diperkirakan secara stoichiometri. kolam oksidasi. melarutkan dan membilas materi terlarut. Semakin banyak air yang masuk maka semakin banyak pula leachate yang ditimbulkan dan yang harus dikelola. pembentukan gas perlu diperhatikan. baik terhadap sungai maupun air tanah. Sistem Pengelolaan Gas Dekomposisi sampah. ada beberapa cara yang dapat digunakan. terutama berasal dari air hujan.ST Gambar 9. termasuk juga materi organik hasil proses dekomposisi biologis.ET . Diharapkan setelah dilakukan pengolahan tidak terjadi pencemaran terhadap lingkungan sekitar. Kualitas dan kuantitas leachate tergantung dari banyak faktor. karbondioksida (CO2). Presipitasi (P) Evapotranspirasi (ET) Run Off (RO) Moisture Storage (ST) Perkolasi Lindi = P .RO . Gambar 9. Masalah yang dihadapi adalah bahwa debit lindi yang keluar dari timbunan sampah sangat berfluktuasi. Beberapa perangkat lunak tersedia di pasar untuk mempermudah perhitungan tersebut. gas nitrogen (N2). dan lain-lain. dan penerapan pengolah lindi. dapat meledak jika terkonsentrasi hingga 5 sampai 15% di udara. maupun akhir. Gas-gas yang dihasilkan dari proses penguraian antara lain gas metan (CH4). − Penyediaan sarana pengolah lindi yang dihasilkan. Untuk menghilangkan pengaruh negatif yang ditimbulkan maka perlu pengelolaan gas bio yang dihasilkan oleh landfill.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Sistem Pengelolaan Lindi (Leachate) Lindi (Leachate) adalah cairan yang merembes melalui tumpukan sampah dengan membawa materi terlarut atau tersuspensi terutama hasil proses dekomposisi materi sampah atau dapat pula didefinisikan sebagai limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah. Secara umum leachate mengandung zat organik dan anorganik dengan konsentrasi tinggi. antara lain: − Penggunaan lapisan tanah penutup. uap air (H2O). Oleh karena itu dalam pengelolaan sebuah TPA yang baik tidak terlepas dari pengelolaan leachatenya [61]. Lindi yang telah terkumpul diolah terlebih dahulu sehingga mencapai standar aman untuk kemudian dibuang ke dalam badan air penerima. Tanah penutup yang baik dapat mencegah atau meminimasi air yang masuk kedalam lahan urug. yang dipilih berdasarkan kesederhanaan serta tersedianya sinar matahari. Penetrasi air yang masuk merupakan sumber terbentuknya leachate yang merupakan pencemar bagi lingkungan. kondisi kelembaban dalam timbulan sampah serta waktu penimbunan sampah. jenis tanah penutup. Dalam perencanaan suatu landfill. Secara teoritis leachate tidak akan keluar dari timbunan sampah sebelum kapasitas serap air dari sampah terlampaui. Pengolah lindi yang banyak digunakan di Indonesia hingga saat ini adalah kontak stabilisasi. Gas bio ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembantu. khususnya zat organik dalam kondisi anaerobik mengakibatkan produksi gas. Karbondioksida dapat menjadi penyebab peningkatan mineral pada air tanah serta membentuk asam karbonik. terutama pada timbunan sampah yang masih baru. Kondisi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 91 .7 merupakan skema umum dalam memprediksi timbulan lindi. baik lapisan tanah penutup harian. pembangunan saluran drainase. Gas bio adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian materi organik oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerob.7: Neraca Air [61] Untuk meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan lindi. iklim. antara.

Tambah tinggi kapasitas operasi. Demikian pula kepadatan di urugan akan ditentukan oleh aplikasi alat berat serta jenisnya. Di atas kertas memang tidak ada masalah untuk mengupas lahan rencana sampai kedalaman berapapun. maka pengukuran ini membutuhkan dibedakannya kepadatan (bulk density) sampah dalam berbagai keadaan. Angka tersebut masih terlalu tinggi mengingat di sektor inilah biaya operasi sebuah TPA banyak terserap.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) mikroorganisme. jalan akses dan operasi. pengupasan yang kurang sistematis akan mengubah rancangan dari dasar landfill sehingga dapat menimbulkan masalah dalam mengalirkan lindi. Sebelum dimanfaatkan. dan kemampuan pengelola untuk melaksanakan. Secara praktis kepadatan di urugan dapat dihitung berdasarkan angka 3 3 0. yaitu: sistem horizontal.0 meter atau lebih. Aplikasi penangkapan gas bio dari suatu landfill bersasaran ganda. sistem vertikal. Konsekuensinya. Kepadatan sampah pada bak sampah di rumah adalah tidak sama dengan kepadatan sampah di gerobak (yang kadangkala diperpadat dengan penginjakan oleh petugas). Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 92 . Tentunya diinginkan sebuah landfill yang bila telah ditutup akan menyatu dengan lingkungannya serta sesuai dengan fungsinya. Pengamatan di landfill TPA Sukamiskin pada tahun pertama aplikasi lahan-urug saniter dengan tanah penutup harian menghasilkan rasio tanah penutup antara 19-31 % dari volume sampah yang masuk (untuk kapasitas 3 operasi 500-1000 m per hari). struktur geologi. adalah muka air tanah.7 Pengoperasian Landfill di TPA Lahan yang tersedia di sebuah TPA tidak semua dapat digunakan untuk pengurugan atau penimbunan sampah. satuan volume (basah). kepadatan pada alat transportasi akan ditentukan oleh jenis truk dan mekanisme pemadatannya. dan sebagainya. dan memisahkan gas-gas yang tidak diinginkan. Ketinggian maksimum timbunan sampah akan menentukan lanskap akhir dari landfill tersebut kelak. sehingga memungkinkan adanya zone penyangga dari tanah tersebut andaikata lindi dari sampah di -6 atasnya merembes ke bawah. 9. sehingga memudahkan pengelolaan lindi. kepadatan sampah di suatu tempat akan tergantung pada ketinggian sampah tersebut. Sedang kepadatan sampah di truk pengangkut sekitar 0. Pengupasan dinding dan dasar lahan jelas akan menambah kapasitasnya di samping akan diperoleh tanah penutup. dan ketersediaan makro-mikro nutrisi yang dibutuhkan (ratio C/N antara 35-40). jalur hijau/area penyangga. dan sistem gabungan horizontal dan vertikal. Biasanya sebuah landfill yang dirancang secara baik akhimya menjadi open dumping akibat masalah tanah penutup yang tidak diterapkan karena berbagai alasan.65 ton/m .60-0. Keuntungan lain yang diperoleh dengan pengupasan dasar adalah tersedianya slope dasar dengan besar dan arah kemiringan yang diinginkan. temperatur (optimum 35-55ºC). − Terdapatnya lapisan yang tidak diinginkan. antara lain : pH (optimum 6. Pengupasan yang tidak disertai data lapangan akan mengakibatkan masalah misalnya: − Terdapatnya lapisan yang sulit untuk dikupas. Beberapa pertimbangan yang membutuhkan observasi lapangan terlebih dahulu guna menentukan seberapa dalam dasar sebuah TPA boleh dikupas. Lapisan tersebut harus mempunyai kelulusan minimum sebesar 10 cm/detik. namun kenyataan di lapangan mungkin akan berbeda terutama bila pengelola TPA tidak disiapkan untuk itu. khususnya bakteri metanogene. Prasarana lain perlu dipertimbangkan seperti : area pengolah lindi. misalnya tidak tersedianya alat berat untuk melaksanakannya. Proses pemurnian ini mempunyai sasaran untuk menghilangkan uap air dalam gas. namun hendaknya dirancang dari awal disesuaikan dengan kondisi lanskap sekitarnya atau kegunaan lahan tersebut setelah pasca operasi.6).35 ton/m . Dengan demikian estimasi kebutuhan site landfilling yang langsung dihitung dari timbulan di sumber akan menghasilkan prakiraan yang berlebihan bila landfill tersebut dioperasikan secara lapis per lapis dan dipadatkan dengan alat berat. ketinggian maksimurn juga hendaknya mempertimbangkan kemampuan operasi penimbunan sampah serta kestabilan dari timbunan tersebut. Di samping itu. kandungan air (optimum 45-60%). pemanfaatan gas bio pada insinerator dari penelitian yang ada ternyata dapat juga mengurangi potensi terjadinya pencemaran udara pada proses insinerasi. Secara teoritis. Ketersediaan tanah penutup memegang peranan sangat penting agar landfilling tersebut dapat beroperasi secara baik. gas bio harus melalui proses pemurnian agar didapatkan hasil yang memuaskan. Oleh karena pengukuran timbulan sampah yang diterapkan di Indonesia adalah dengan. sehingga dibutuhkan waktu yang relatif lama bagi lindi tersebut untuk mencapai air tanah. Sistem penangkapan gas bio terdiri atas 3 (tiga)jenis.6-7. Selain memiliki nilai ekonomis untuk menghemat pemakaian bahan bakar utama.30-0. Grading final dari sebuah landfill tidak ditentukan secara sembarang. tambah kecil rasio tersebut. Selanjutnya. Struktur geologi (litologi) perlu mendapat perhatian. di luar kebutuhan untuk pengurugan dan penimbunan. yaitu untuk mengontrol emisi gas-gas yang terbuang dan untuk memanfaatkan biogas yang dihasilkan. Jarak yang dipersyaratkan antara dasar landfill dengan muka air tanah adalah 3. Namun pengupasan tanah dasar memerlukan kehati-hatian. Diperkirakan sekitar 20-30 % dari luas lahan yang ada akan terpakai untuk kebutuhan tersebut.

Di samping alasan bahwa landfilling adalah relatif Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 93 . yang terjadi pada minggu pertama. maka tanah penutup disarankan untuk tidak terlalu kedap agar proses penguraian sampah secara aerobik masih bisa berlangsung dengan baik pada sel timbunan teratas. Oleh karena itu. lahan pertanian atau perkebunan. namun pula bagaimana daerah yang kebetulan terpilih untuk lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) tidak mengalami degradasi kualitas lingkungan akibat adanya TPA tersebut. Di samping persoalan bagaimana menyingkirkan sampah secara baik agar kota tersebut menjadi bersih dan tidak mengganggu lingkungan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Penelitian di pilot skala kecil di TPA Bogor menghasilkan angka sekitar 15-20 %. Penelitian yang dilaksanakan di Bogor menunjukkan bahwa populasi lalat akan turun dengan sendirinya di timbunan yang telah berumur lebih dari 7 hari. namun aplikasi pengurugan sampah ke dalam tanah tersebut agaknya akan tetap merupakan pilihan bagi kota-kota di Indonesia pada masa mendatang. Penurunan ini terjadi akibat konsolidasi sampah. dsb. maka Indeks Plastisitas (IP) tanah yang baik adalah lebih kecil dari 40%. kualitas lindi hasil pengolahan. Untuk mendapatkan lokasi TPA yang cocok dari sudut biaya dan teknis memang terasa makin sulit. taman. Bila tidak. Di samping itu. Pemantauan juga perlu dilaksanakan setela pasca operasi. Pemantauan dan Pemanfaatan Lahan TPA Pasca Operasi Selama pengoperasian. penyebaran. karena [65]: Degradasi yang terjadi belurn tentu diikuti oleh settlement. Kegiatan umum yang dilaksanakan di sebuah TPA adalah pengurugan atau penimbunan sampah di lahan yang tersedia. Lahan TPA setelah pengoperasian akan berupa suatu areal kosong yang cukup luas. Adanya penurunan permukaan (settlement) timbunan sampah. air tanah dan sumur-sumur penduduk. dan tanah penutup juga sudah banyak diterapkan sehingga lahannya dapat dijadikan lahan TPA lagi.cm/det cukup baik untuk itu. kuantitas dan kualitas gasbio dan penyebarannya. Penanganan sampah yang baik di area penimbunan akan meningkatkan masa layan lahan.0 meter yang ditutup tanah penutup setebal 20 cm terungkap bahwa timbunan tersebut akan tetap 0 memungkinkan fase aerobik yang ditandai dengan panas timbunan di sekitar 50 C. 9. maka paling tidak aplikasi tanah penutup dilaksanakan setidak-tidaknya sebelum 5 hari. Operasi penambangan kembali sampah yang sudah tua dalam urugan (landfill mining) untuk diolah dijadikan kompos. lahan penghijauan. di sarnping dapat mendata jumlah dan jenis sampah yang masuk ke dalam area kerja tersebut. baik secara mekanis maupun biologis. Keberadaan area ini dapat difungsikan menjadi berbagai macam kegunaan. Masalah ketersediaan liner dan tanah penutup merupakan kendala yang berkaitan dengan biaya OM. fasilitas komersial. kualitas lingkungan lainnya sekitar lokasi TPA. khususnya masalah bau. maka sebaiknya tanah tersebut dicampur dengan tanah tertentu (seperti pasir) agar memperkecil IP tersebut. bila dalam sebuah lahan-urug belum dapat mensyaratkan aplikasi tanah penutup harian. Pembagian lahan menjadi beberapa area kerja akan memudahkan dalam pengelolaan lahan secara keseluruhan. Penelitian pada timbunan sampah setinggi 2. perlu dilakukan pemantauan terus menerus. kuantitasi kualitas lindi yang dihasilkan. Andaikata terjadi akan mernbutuhkan waktu yang sulit diukur. kemungkinan terjadinya longsor. gasbio dan settelement. Peranan pengurugan. khususnya terhadap kualitas sampah yang masuk. sehingga akan mempercepat stabilitas sampah. dan pemadatan sampah secara lapis per lapis akan menambah kepadatan sampah dibandingkan bila dilakukan sekaligus sampai ketinggian tertentu. Berbeda halnya dengan liner. Konsep timbunan aerobik tersebut sebetulnya dapat pula dikembangkan lebih jauh misalnya dengan mengatur agar suatu timbunan sampah dibiarkan sampai sekitar 10-15 hari sebelum di atasnya ditimbun sampah baru. aplikasi timbunan sampah semacarn itu akan memungkinkan berlangsungnya fase aerobik yang lebih larna. Di samping itu agar tanah penutup tidak retak pada saat panas. diantaranya area rekreasi. Pemadatan sampah di timbunan dengan mengandalkan alat berat dozer atau loader yang biasa 3 digunakan di TPA Indonesia akan menghasilkan kepadatan timbunan sampai 0. Nilai -4 5 kelulusan antara 10 sampal 10.70 ton/m . Penelitlan sekala pilot menunjukkan bahwa settlement mekanis maksimum adalah sebesar 15-25% dari tinggi awal. akan menambah kapasitas lahan sehingga memperlama masa layan. Namun sebaiknya asumsi settlement karena proses biologis tidak diperhitungkan dalam perancangan. Angka ini akan mengecil lagi pada lahan urug terkendali yang mengaplikasikan tanah penutup tidak setiap hari [65].8 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Kota di Indonesia [67] Sampah perkotaan akan tetap merupakan salah satu persoalan yang rumit yang dihadapi oleh pengelola kota dalam menyediakan sarana dan prasarana perkotaannya. Tanah penutup antara lain efektif untuk mencegah adanya lalat. air sungai. Setelah itu tinggi permukaan landfill relatif stabil. paling tidak selama 10 tahun terhadap leachate.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

mudah, luwes, dan murah, maka alasan lainnya adalah bahwa cara ini dianggap tuntas dalam menangani sampah. Masyarakat luas di lndonesia agaknya sampai sekarang masih menganggap sebuah TPA yang aktivitas utamanya adalah landfilling selalu identik dengan open dumping, sehingga metode yang lebih baik, semacam sanitary landfill akan dicurigai sebagai open dumping. Hal ini tidak mengherankan, karena sampai saat ini masih banyak pengelola persampahan yang menganggap bahwa sebuah TPA hanyalah sekedar tempat untuk menyingkirkan sampah agar kotanya menjadi bersih. Banyak dijumpai bahwa sebuah TPA hanya dioperasikan oleh seorang sopir bulldozer, atau hanya mengandalkan sopir truk sampah dalam menuang sampahnya. Tidak terdapat rencana pengelolaan lahan yang baik dan sistematis agar TPA tersebut bisa berfungsi dengan baik dan tidak mengganggu Iingkungan. Alasan yang biasa terdengar adalah karena tingginya biaya dari sebuah TPA yang baik. Kontrol terhadap aplikasi inipun masih sangat lemah. Tidak jarang dijumpai, bahwa sebuah TPA sampah kota menerima buangan industri, atau bahkan dari jenis limbah B-3 yang berkatagori infectious misalnya dari rurnah sakit, yang tentunya akan dapat mendatangkan dampak yang tidak diinginkan. Sebuah TPA yang telah dirancang dan disiapkan sebagai lahan-urug saniter akan dengan mudah berubah menjadi sebuah open dumping bila pengelola TPA tersebut tidak secara konsekuen menerapkan aturan-aturan yang berlaku. TPA tersebut akan menjadi semrawut, bau, berasap, dan lindinya menyebar ke arah yang tidak diinginkan. Pencemaran sumber air minum penduduk sekitarnya oleh lindi merupakan salah satu masalah yang paling serius dalam aplikasi pengurugan sampah ke dalam tanah. Pada awal tahun 1990-an metode transisi yaitu lahan-urug terkendali (controlled landfill) diperkenalkan oleh Dept PU terutama untuk kota-kota kecil dan sedang, antara lain dengan menunda kriteria waktu penutupan harian menjadi 5 – 7 hari sesuai dengan siklus lalat. Tetapi ternyata sampai saat ini metode inipun tetap dianggap mahal oleh pengelola kota atau pengelola persampahan. Pilihan lain yang saat ini banyak menarik perhatian adalah mengaitkan pengelolaan sampah yang berada di TPA dengan mekanisme pembangunan bersih, atau dikenal sebagai clean mechanisme development (CDM) yang dikaitkan dengan Kyoto Protocol dalam upaya global mereduksi emisi gas rumah kaca. Indonesia telah meratifikasi protocol ini sehingga dapat memanfaatkan peluang ‘perdagangan’ karbon yang saling menguntungkan. Prinsip umum dalam CDM adalah, negara-negara industri yang termasuk dalam negara ‘Annex’ dari protokol tersebut mempunyai komitmen pengurangan emisi CO2 di negara masing-masing. Namun penurunan CO2 berarti akan terkait dengan upaya peningkatan efisiensi industri di negara tersebut atau melalui pengurangan aktivitas ekonomi yang mungkin sulit dilakukan. Oleh karenya, negara berkembang yang meratifikasi protokol tersebut dapat melaksanakan penurunan emisi gas rumah kaca di negaranya, yang dapat ‘dijual’ kepada negara inustri tersebut. Salah satu kegiatan yang dianggap berpotensi dalam upaya tersebut adalah bila gas metan yang dihasilkan di sebuah TPA tidak dibiarkan terlepas tanpa kontrol ke udara bebas. Dengan perbaikan TPA dan pemasangan sistem penangkap gas, maka gas bio yang dihasilkan akan dapat diarahkan untuk dimanfaatkan, atau paling tidak melalui pembakaran sehingga terkonversi menjadi CO2. Gas CH4 dikenal mempunyai potensi gas rumah kaca 21 kali dibandingkan CO2. Banyaknya CH4 yang dapat dikonversi menjadi CO2 inilah yang di ‘hargai’ dengan harga tertentu oleh negara pembeli. Tentu saja, proses ini membutuhkan sebuah mekanisme verifikasi yang panjang untuk sampai pada kesepakatan perdagangan CO2 tersebut. Sampai saat diktat ini ditulis, maka terdapat 4 TPA di Indonesia yang sedang dalam proses kelayakan teknis yang dilaksanakan oleh calon investor masing-masing untuk mendapatkan sertifikat emisi karbon dari PBB, yaitu: − TPA Suwung di Denpasar: status potensinya telah terdaftar pada badan dunia (UN-FCCC No. 0938), sehingga menunggu persetujuan metodologi dan verivikasi untuk mendapatkan sertifikat − TPA Pontianak, TPA Kota Bekasi dan TPA Palembang: potensinya sedang dalam proses verivikasi secara intensif Secara finansial, bila ‘perdagangan’ emisi gas rumah kaca ini akhirnya disepakati oleh pembeli, maka untuk setiap ton ekivalen CO2 tersebut akan mendapatkan kompensasi, yang menurut perhitungan akan dapat menutup biaya operasional TPA tersebut, disamping adanya keuntungan bagi investor/operator yang melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan kaidah bisnis komersial biasa.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

94

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

DAFTAR
REFERENSI
 
 

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

E.
 Damanhuri
 (Editor):
 Teknik
 Pengelolaan
 Persampahan
 –
 Modul
 A
 dan
 Modul
 B,
 Disiapkan
 untuk
PT
Freeport
Indonesia,
Teknik
Lingkungan
ITB,
Agustus
1999
 Pemerintah
Indonesia:
Undang‐Undang
Pengelolaan
Sampah,
7
Mei
2008
 E.
 Damanhuri:
 Pengelolaan
 Limbah
 
 dalam
 Life
 Cycle
 Analysis
 (LCA)
 ‐
 Tinjauan
 Limbah
 Cair,
 Limbah
Padat
dan
B3,
Pelatihan
Product
Life
Cycle
Analysis,
PPLH
ITBH,
3–15Mei
1999

 G.H.
 Tchobanoglous,
 H.
 Theissen,
 S.A.
 Vigil:
 Integrated
 Solid
 Waste
 Management,
 McGraw
 Hill,
1993

 D.G.
 WILSON
 (Editor):
 Handbook
 of
 Solid
 Waste
 Management,
 Van
 Nostrand
 Reinhold
 Company,
1977


 BPPT:
 Model
 Pengelolaan
 Persampahan
 Perkotaan,
 Deputi
 Pengkajian Kebijakan Teknologi,

Oktober 2002 SK SNI 19-2454-1991 dan SNI 19-3242-1994 : Tata Cara Pengelolaan Sampah Perkotaan Kementrian Lingkungan Hidup: Statistik Pengelolaan Sampah Tahun 2008. E. Damanhuri: Permasalahan dan Alternatif Teknologi Pengelolaan Sampah
Kota
di
Indonesia,
 Seminar Teknologi untuk Negeri – BPPT, Jakarta 20-22 Mei 2003 10. E. Damanhuri: Pembahasan tentang Pedoman Pengelolaan Sampah, Workshop Pembahasan Rancangan Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum 10-8-2001 di Jakarta.
 11. E.
 Damanhuri:
 Pengelolaan
Sampah
 di
Kawasan
Metropolitan
‐
 Minimasi
Sampah
Terangkut


dan
Optimasi
TPA
,
Workshop
Pengelolaan
Sampah
Jakarta,
Jakarta
15‐11‐2001

12. E.
 Damanhuri:
 Solid
 and
 Hazardous
 Waste
 Management
 in
 Indonesia,
 Proceedings
 on


Environmental
Technology
&
Management
Seminar,
January
9‐10,

2002


13. H.
 Poerbo:
 Konsep
 Kawasan
 Industri
 Terpadu
 Sampah
 sebagai
 Sistem
 Pengelolaan
 Sampah


14. 15. 16. 17. 18.

Terpadu,
Seminar
Konsep
Alternatif
Pengelolaan
Sampah
Mencari
Jawaban
untuk
Kota‐kota
di
 Indonesia,
PPT
–
PPLH
ITB,
1991
 Departemen
 Permukiman
 dan
 Prasarana
 Wilayah:
 Pedoman
 Pengelolaan
 Persampahan
 Perkotaan
bagi
Pelaksana,
2003

 E.
 Damanhuri,
 
 T.
 Padmi,
 N.
 Azhar,
 L.T.
 Meilany
 :
 Pengkajian
 Laju
 Timbulan
 Sampah
 di
 Indonesia,
Pus.Lit.Bang.Pemukiman
Dept
PU
‐
LPM
ITB,
1989
 SNI
 S
 04‐1993‐03
 Standar
 Spesifikasi
 Timbulan
 Sampah
 untuk
 Kota
 Kecil
 dan
 Kota
 Sedang
 di
 Indonesia

 E.
Damanhuri
dan
Tri
Padmi:
Probleme
de
Dechets
Urban
en
Indonesie,
TFE
ENTPE
(Perancis),
 1982


 LIPI:
Komposisi
dan
Karakteristik
Sampah
Bandung,
PD.
Kebersihan
Bandung,
LIPI
dan
Jurusan
 TL‐
ITB,
1994



19. E. Damanhuri, W. Handoko, T. Padmi: Municipal Solid Waste Management in Indonesia, in Municipal Solid Waste Management in Asia and the Pacific Islands - Editors: Agamuthu P, Masaru Tanaka, Penerbit ITB, 2010
 20. S.
J.

Cointreau:
Environmental
Management
 of
Urban
Solid
 Wastes
 in
 Developing
 Countries,


the
World
Bank,
June
1982


21. SNI
 19‐3964‐1995
 
 dan
 SNI
 M
 36‐1991‐03
 Metode
 Pengambilan
 dan
 Pengukuran
 Contoh


Timbulan
dan
Komposisi
Sampah
Perkotaan
 nd 22. N.C.
Thanh
(Editor):
Waste
Disposal
and
Resource
Recovery,
Proceedind
2 
Regional
Seminar
 on
Solid
Waste
,
Bangkok,
1979
 23. A.
 Hasbul:
 Pengaruh
 Timbulan
 dan
 Karakteristik
 Sampah
 terhadap
 Sistem
 Pewadahan
 dan
 Pengangkutannya,
Tugas
Akhir
pada
Jurusan
TL
ITB,
1988

24. E. Damanhuri, I Made Wahyu, T. Padmi: Evaluation of waste recycling potential in Bandung Municipal Solid Waste, World Review of Science, Technology and Sust. Development, Vol. 7, No. 3, 2010 , Copyright © 2010 Inderscience Enterprises Ltd., pp 282-295
 25. T.
Padmi,
E.
Rachmawati
:
Timbulan
dan
Karakteristik
Sampah
Kota
Bandung,
Jurusan
Teknik


Lingkungan
ITB
–
PD
Kebersihan
Kodya
Bandung,
1988

26. US‐EPA:
 SWM
 in
 Residential
 Complexes,
 Greenleaf/Teleska
 ‐
 Planners,
 Engineers
 and


Architect,

Washington
DC,
USEPA,
SW
35C,
1971



27. E.
 Damanhuri:
 Diktat
 Kuliah
 Pengelolaan
 Limbah
 B3
 TL‐352,
 
 Teknik
 Lingkungan
 ITB,
 Edisi


Semeter
II
1993/1994



Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

95

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

28. E.
 Damanhuri:
 Minimasi
 Limbah
 Domestik,
 
 Pelatihan
 Minimasi
 Limbah
 B3
 PPLH
 ITB,
 
 4‐11‐ 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38.

39. 40. 41. 42.

43.

44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54.

1997
 Minsitry
of
Environment:
Japan’s
Experience
in
Promotion
of
the
3Rs,
Japan,
April
2005
 CRC
Mohanty:
3R
Initiative
in
Asia
and
Best
Practice,
UNCRD,
6‐7
September
2006,
Jakarta
 A.F.M.
Barton:
Resource
Recovery
and
Recycling,
John
Wiley
&
Sons,
1979

 nd G.
Tchobanoglous,
F.
Kreith:
Handbook
of
Solid
Waste
Management
,
McGrawHill,
2 
Edition;
 2002
 P.A.
 Vesilind,
 A..E.
 Rimer:
 Unit
 Operations
 in
 Resource
 Recovery
 Engineering,
 Prentice‐Hall
 Inc.,1981
 H.F.
Lund:
The
McGraw‐Hill
Recycling
Handbook,
McGraw‐Hill,
1993
 Yayasan
 Waskita
 Dian
 Persada:
Perumusan
 Konsep
 Integrasi
 Sistem
 Informal
 Daur‐ulang
 Sampah
ke
Dalam
Sistem
Manajemen
Persampahan
Formal,
Laporan
Interim,
Bandung,
1998
 State
Ministry
for
Environment
RI:
Agenda
21
Indonesia
‐
A
national
Strategy
for
Sustainable
 Development,
UNDP,
1997
 M.
Oepen:
Waste
Recycling
in
Indonesia,
Seminar
on
Waste
and
Sustainable
Development
‐
a
 Challenge
to
Environmental
Education,
Goethe‐Institut
–
BPPT,
Dec.
1992
 R.
Ismaria:
Studi
 Mekanisme
 dan
 Interaksi
Daur‐ulang
terhadap
Sistem
 Pengelolaan
Sampah
 dengan
 Pengembangan
 Model
 Dinamik
 ‐
 Studi
 Kasus
 Kotamadya
 Bandung,
 Tesis
 Program
 Magister
pada
Teknik
Lingkungan
ITB,
2000
 L.T.
 Meilany
 :
 Studi
 Kinetika
 Degradasi
 Komponen
 Sampah
 Organik,
 Tesis
 Program
 Magister
 pada
Teknik
Lingkungan
ITB,
2000
 E.
Damanhuri,
T.
Padmi
:
Pengolahan
Sampah
Secara
Individual
dan
Kajian
Potensi
Enersi
yang
 Dikandungnya,
Lembaga
Penelitian
ITB,
1993
 Damanhuri
E.
et
al.
:
Uji
Coba
Pemusnahan
Sampah
dengan
Vermi‐Kompos
Skala
Lingkungan,
 LPM
ITB
–
Departemen
Pekerjaan
Umum,
1999
 E.
Damanhuri,
T.
Padmi:
Reuse
and
Recycling
as
a
Solution
to
Urban
Solid
Waste
Problems
in
 Indonesia,
 ISWA
 International
 Symposium
 on
 Waste
 Management
 in
 Asia
 Cities,
 
 
 Hongkong
 23–26
Oktober
2000
 E.
Damanhuri:

Waste
Minimization
as
Solution
of
Municipal
Solid
Waste
Problem
in
Indonesia,

 th the
6 
ASIAN
Symposium
on
Academic
Activities
for
Waste
Management,
Padang
–
Indonesia,
 11‐13
Sept
2004
 W.
Handoko,
E.
Damanhuri,
 E.
Setyaningrum:
Draft
 
Panduan
 Pengelolaan
Sampah,
 Laporan
 untuk
Kementerian
LH,
2004


 E.
 Damanhuri:
 Pedoman
 Aspek
 Teknis‐Operasional
 Pengelolaan
 TPA,
 Usulan
 Draft
 pada
 Penyusunan
SK
MenLH
,
26‐4‐2004
 P.A.
 Vesilind,
 W.
 Worrell,
 D.
 Reinhart:
 Solid
 Waste
 Engineering,
 Brooks/Cole
 –
 Thomson
 Learning,
2002
 I
 .M.
 Wahyu
 Widyarsana:
 Kajian
 Integrasi
 Sistem
 Pembuangan
 Akhir
 Sampah
 di
 Wilayah
 Sarbagita,
Tugas
Akhir,
Departemen
Teknik
Lingkungan
ITB,
2004
 BPLHD
Jawa
Barat:
Rumusan
Workshop‐1
Greater
Bandung
Waste
Management
Corporation,
 BPLHD
–
Jawa
Barat,
Bandung,
28
April
2004
 Departemen
Pekerjaan
Umum:
Petunjuk
Umum
Perencanaan
Tehnis
Persampahan,
Direktorat
 PLP
‐
Direktorat
Jendral
Cipta
Karya
–
PU,
1987
 _________________
 :
Kriiteria
 Perencanaan
 Persampahan,
 Direktorat
 PLP
 –
 Direktorat

 Jendral
Cipta
Karya
–
PU,

1989
 F.
 Flintoff:
 Management
 of
 Solid
 Waste
 in
 Developing
 Countries,
 Regional
 Publication
 South
 East
Asia
Series
no
1,
WHO,
New
Delhi
1976
 Departemen
 Pekerjaan
 Umum:
 Desiminasi
 Petunjuk
 Teknis
 Persampahan,
 Diklat
 PU
 Binamarga,
Kanwil
Jawa
Barat,
1998
 Gotaas
 H.B
 ,:
 Composting
 :
 Sanitary
 Disposal
 and
 Reclamation
 of
 Organic
 Waste,
 WHO,
 Geneve,1973
 R.
 Gillet:
 Traite
 de
 Gestion
 des
 Dechets
 Solides
 –
 et
 son
 Application
 aux
 Pays
 en
 Voie
 de
 Developpement,
WHO
–
UNDP,
Copenhage,
1983


55. Purwasmita, M. et al .: Teknik Pengelolaan Sampah Terpadu dengan Konsep KIS, Pusat Penelitian Teknologi ITB, 1989 56. ANRED
:
 Guide
 pour
 l'Elimination
 de
 Dechets
 Menageres
 et
 la
 Valorisation
 des
 Dechets


Industriels,
Ministere
de
l'Environnement
–
ANRED,
1982

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 96

66.
Inc. Dialog
Publik. 76. 61.
 Seminar
Pengelolaan
Limbah
Padat.
June
1987
 H.
 PusLitBang
Pemukiman
PU
‐
LPM
ITB.
Seoul
Sept.
Second
Asian
‐
 Pasific
Landfill
Symposium. Training Manual.C.A. 68..
4
–
6
Maret
1997
 SK
 SNI
 91
 dan
 SNI
 19‐3241‐1994
 
 Tata
 Cara
 Pemilihan
 Lokasi
 Tempat
 Pembuangan
 Akhir
 Sampah
 H. 64.
Prentice
 Hall
PTR.

the
Royal
Society
of
Chemistry.
Bahan
Kuliah

Jurusan
Teknik
Lingkungan.
WB
 Washington
DC. 2009 
 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 97 .
 Damanhuri
 et
 al:
 Pengkajian
 Pemilihan
 Lokasi
 dan
 Pengelolaan
 TPA
 yang
 Tepat
 Guna.
1989
 Parametrix
Inc
:
Solid
Wastes
Landfill
Design
Manual. the World Bank.. 72.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 57.
2001
 77.
G.
1995

 E.
Studi
Kasus
 Calon
Lokasi
di
 Cinangsi.
 Gunung
 Masigit
 dan
 Cileungsi
–
Bandung.
National
Water
 Well
Association.
 1981
 Ebara
 Hatakeyama
 Memorial
 Fund
 :
 Solid
 Waste
 Landffill
 Sites
 and
 Leachate
 Treatment.

World
Bank
Technical
Guidance
Report.
25
–
27.html:
 The
 complete
 recovery
 of
 energy
 from
 waste
 using
current
technologies
including
plasma
gasification
 Waste‐to‐energy‐‐‐dari:
Integrated
waste
services
association
(IWSA‐USA)
 E. World Bank Technical Guidence Report: Municipal Solid Waste Incineration. 75. 73..
2002
 World
Bank
:
Municipal
Solid

Waste
Incineration.
BHESG..
Jurnal
ITENAS
Vol
.E
:
A
Standardized
System
for
Evaluating
Waste
Disposal
Sites. 62.
24
Desember
2003


 http://recoveredenergy. 71.
H.
 ANRED.
.
Teknik
Lingkungan
ITB
1995/1966
 ANRED
:
 La
 Decharge
 Controlee
 de
 Residus
 Urbains.
Construction
and
Monitoring
of
Landfills.E. Washington.
Inc.
1999

 E. Anonymous: Developing Integrated Solid Waste Management Plant.
F.
Bagchi
:
Design. 65.
JICA.
2002
 T.
 Damanhuri:
 Perbandingan
 antara
 Metode
 Hagerty
 dengan
 Metode
 LeGrand
 dalam
 Penentuan
Lokasi
 Landfill
Limbah. D.
Damanhuri
:

Diktat
Kuliah
TPA.
Marcel
Dekker. 67. Japan..
 Ministere
 de
 l'Environnement.com/seeaplant.
Rovers.
Damanhuri
:
Landfills
as
Mainstay
for
Solid
Waste
Management
in
Indonesia.E.
Washington
State
Department
of
 Ecology. Volume 1: Waste Characterization and Quantification with Projection for Future.
Yayasan
GUS.
BPK
SARBAGITA.
 Harrison
 (Editors):
 Environmental
 and
 health
 impact
 of
 Solid
 Waste
 Management
Activities.
Clean
–
Up
Bali.
JALA
–
SAMPAH.
Alte
:
Materials
Recovery
from
Municipal
Waste.
1980
 Matsufuji:
Semi‐Aerpobic
Landfill
Fukuoka
Methode. 60. 69.
1994
 E.
 Hester
 and
 R. Compiled by UNEP.
Wantilan
 DPRD
Propinsi
Bali.
LeGrand.
 Damanhuri:
 Beberapa
 Catatan
 tentang
 Usulan
 Calon
 Investor
 untuk
 IPST
 Sarbagita
 dalam
 59. 74.
John
Wiley
&
Sons.
2001
 E.
 ITB. Osaka/Shiga.
Padmi
:
Analisa
dan
Pengolahan
Buangan
Padat.
2002
 A. 63.
Farquhar
:
Solid
Waste
Landfill
Engineering
and
Design.
1983
 R.
Teknik
Lingkungan
ITB.M. 1999
 58.A. 70.J. E.
McBean.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->