P. 1
23408338353

23408338353

|Views: 328|Likes:

More info:

Published by: Setyawan Eriyanto Perdana on Jun 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2014

pdf

text

original

Anima.

Indonesian Psychological Journal
2008, Vol. 23, No.4, 338-353

Psikologi Forensik: Tantangan Psikolog sebagai Ilmuwan dan Profesional
Yusti Probowati
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya ~ yprobowati@ubaya.ac.id
Abstract. In addressing various legal issues and problems, psychology has much to contribute. Psychological expertise is needed, for instance, in legal cases involving children experiencing domestic violence; in creating criminal profiles of terrorists; in the process of psychological rehabilitation; and in trials which involve judgements about mental health. The psychological study of legal issues/problems is caIled forensic psychology. This article describes the contributions that forensic psychologists can make and have made, both as researchers/scientists and as practitioners. This article also presents the challenges faced by forensic psychology, along with reflections on the future of this important field in Indonesia. Key words: forensic psychology, forensic practitioner, forensic scientist

Abstrak. Ada berbagai kontribusi yang dapat diberikan psikologi kepada penanganan masalah hukum. Misalnya, keahlian psikologi diperlukan dalam penanganan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga; dalarn pembuatan profil kriminal teroris: daIam proses rehabilitasi psikologis di lembaga pemasyarakatan; serta dalam persidangan yang menyangkut penilaian kesehatan mental. Kajian psikologis atas berbagai masalah hukum ini disebut sebagai psikologi forensik. Artikel ini memaparkan kontribusi yang dapat dan telah disumbangkan oleh psikolog forensik, baik dalam kapasitas sebagai peneliti/ilmuwan maupun sebagai praktisi. Artikel ini juga mendiskusikan tantangan yang dihadapi psikologi forensik, beserta refleksi mengenai masa depan bidang penting ini di Indonesia. Kata kunci: psikologi forensik, praktisi forensik, ilmuwan forensik

Pennasalahan Psikologi Forensik di Indonesia
Berbagai permasalahan terkait dengan proses peradilan pidana akhir-akhir ini semakin banyak terjadi di Indonesia. Permasalahan tersebut seringkali belum diperhitungkan sebagai permasalahan psikologi, rnelainkan sebagai permasalahan hukum. Sesungguhnya banyak pennasalahan hukum yang memerlukan peran serta psikologi. Berikut beberapa permasalahan hukum yang terkait dengan psikologi,

Kasus

Kriminal

Artikel ini adalah sebagian orasi ilmiah pada pengukuhan Prof. Dr. Yusti Probowati sebagai Guru Besar dalam Psikologi Hukum pada Fakultas Psikologi Universitas Surabaya pada 19 Apri1200S. Korespondensi tentang artikel ini dapat disarnpaikan kepada Prof. Dr. Yusti Probowati, Laboratorium Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, JI. Raya Kalirungkut, Surabaya 60293.

Berita ibu yang mernbunuh anaknya, terjadi di Malang, Bandung dan Pekalongan ("lbu Bunuh", 2008). Pad a kasus di Malang, si ibu akhimya mengakhiri hidup bersama 4 orang anaknya (berita Metro TV, 23 Maret 2008 pukul 12:00 Di Surabaya, anak, menantu dan cucu tega rnembunuh neneknya ("Ibu Bunuh," 2008). Seorang perempuan bemarna "NO. terpaksa membunuh bekas kekasihnya yang melakukan kekerasan selama 6 tahun ("Nila Bebas,"2007). Kasus kriminal yang melibatkan anak juga makin bertambah. Jumlah anak binaan di lembaga pemasyarakatan anak Blitar berkisar antara 110-220 anak'(Probowati, 2007). Di Kediri, seorang anak berusia 14 tahun membunuh ternan mainnya yang berumur 5 tahun gara-gara berebut buah chery. Korban dibunuh dengan cara ditenggelarnkan dan disiDatajumlah anak binaan di lapas anak Blitar tahun 2006-2007.

1

338

2008 3 Sumber wawancara petugas Japas krobokan Bali. Lapas Wirogunan. Ada yang memutuskan terdakwa bertanggungjawab dan ada yang diputus lepas (tidak bertanggung jawab). kalaupun ada tugas mereka kurang menyentuh aspek psikologis. hakim dapat memWawancara dengan pelaku dan petugas lapas anak Blitar. Istilah kesehatan mental yang digunakan antar-hakim tampak tidak selaras. 2005 4 Sumber diskusi dengan HUMANIA (kelornpok psikoJog yang bekerja di Lapas Indonesia di Kantor Dirjcn Lapas Jakarta. Lapas Anak Tangerang.PSIKOLOGI FORENSIK 339 let-silet 2. psychology of court room. 2008). Lapas Wan ita Malang. ada hakim yang menyatakan terdakwa dalam kondisi tertekan/stres. Tulisan ini mencoba mernbahas mengapa hal tersebut terjadi. sehingga menjadi wajar jika saat mendekati masalah dilakukan dengan pendekatan yang berbeda-beda dan penyebutannyajuga berbeda (Meliala. Semakin banyak permasalahan di masyarakat yang menuntut psikologi forensik untuk memberikan sumbangan penyelesaian. Kita dibuat terheran-heran. 2006 2 .). Permasalahan Penanganan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Lapas teroris tidak memiliki penanganan khusus terhadap teroris. banyak belajar agama (dalam kasus ini agama Islam) dapat tega rneledakkan born di berbagai tempat di Indonesia. dkk. namun pengernbangan psikologi forensik sendiri di tanah air masih lambat. hakim lain menyatakan terdakwa depresi. Hampir dapat dikatakan bahwa Lapas (apalagi Rutan) jarang yang memiliki psikolog. Hal ini disebabkan tidak berimbangnya jumlah psikolog dengan narapidana yang ada (misalnya di Lapas Porong I : 250. psychology and criminology. Penelitian Probowati (200]) menemukan pada kasus yang sarna. Hal ini karena psikologi memperlakukan masalah kontribusi psikologi dalam peradilan sebagai sesuatu yang konvensional. tidak adanya deskripsi tugas psikolog secara jelas di Lapas dan minimnya pengetahuan untuk melakukan asesmen. Pada kasus Imam Samudra. 2002) mendefinisikan psikologi forensik Permasalahan terkait dengan Pengadilan Permasalahan disparitas putusan hakim makin banyak terjadi. Rehabilitasi para krimina! dari aspek psikologis di Lapas Indonesia hampir dikatakan minim dan nyaris belum ada seperti di Lapas yang pernah peneliti kunjungi. Sang ibu merasa tidak dapat menerima putusan hakim atas terdakwa yang akibat kelalaiannya menimbulkan kematian putrinya semata wayang. seperti Lapas Anak Blitar. Permasalahan tersebut menjadi tantangan psikologi khususnya psikologi forensik untuk membantu menuntaskannya. dan masih banyak istilah lain. petugas Lapas sempat bingung karena dai yang memberikan terapi agama justru dicerarnahi balik oleh para teroris'. selain terapi agama. Lapas Krobokan Bali. The committee on ethical Guidelines for Forensik Psychology (Putwain & Sammons. Definisi Psikologi Forensik Istilah psikologi forensik sering dipertukarkan dengan istilah lain seperti psychology in law. bagaimana mungkin seorang yang mengaku muslim. Majelis hakim menolak kesaksian ahli ini dan si ibu tetap diputus bertanggungjawab atas perbuatan pidana yang dilakukannya dan bersaIah. Lapas Porong. Pernah seorang ibu di Bandung menusuk hakim saat persidangan. investigative psychology. Kasus ini menunjukkan tidak adanya kesepakatan terkait dengan istilah sehat menta] antara psikiater/psikolog dengan aparat hukum (Pariaman. dan menimbulkan korban tidak berdosa yang tidak sedikit. apalagi rumah tahanan (Rutan) seperti Rutan Gresik dan Rutan Tulungagung. terapi dan konseling yang khas pada narapidana 4. berikan putusan berbeda terkait dengan bertanggung jawab atau tidak terhadap perbuatan pidana yang diIakukan terdakwa. 2005 dan wawancara dengan psikolog Lapas Porong. seperti melakukan konseling atau terapi. 1983) Gambaran permasalahan tersebut terdahulu merupakan permasalahan peradilan pidana yang membutuhkan penanganan psikologi. Kasus born (Bali I dan born-born lain) merupakan pennasalahan di Indonesia. Psikiater menyatakan ibu tersebut dalam kondisi depresi berat sehingga ia menjadi kalap dan menusuk hakim. Lebih jauh.

Hubungan hukum dan psikologi lebih abstrak. Psikologi Forensik: Ilmuwan dan Praktisi (Profesional) Bartol & Bartol (sitat dalam Weiner & Hess. jaksa. Kajian psikolog forensik yang meliputi psychology of law. Contohnya kajian tentang kepatuhan hukum. Dalam hubungan psikologi dan hukum tidak ada yang lebih tinggi.340 PROBOWATl sebagai semua bentuk layanan psikologi yang dilakukan di dalam hukum. Kapardis. lni merupakan aplikasi praktis psikologi dalam bidang hukum seperti psikolog diundang menjadi saksi ahli dalam menentukan kondisi mental terdakwa. Sepanjang pengetahuan peneliti. Weiner dan Hess (2005) menjelaskan psikologi forensik sebagai layanan psikologi dalam sistem hukum. psychology in law. 3 November 2007 6 5 Weiner & Hess (2005) menyebutnya dengan istilah psycholo- gy bylaw . hukum sebagai penentu perilaku. Pertimbangannya adalah hukum pidana lebih mengenai kepentingan Pertemuan pembentukan Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia di Santika Jakarta. pengacara. 1994. atau apakah hukuman mati dapat mencegah masyarakat untuk tidak melanggar hukum. melakukan kajian/penelitian terkait dengan hukum pidana. Bahasan ini menjadi penting karena untuk menjadi praktisi psikologi forensik dibutuhkan keterampilan. 1997. Meliala (2008) menyatakan psikologi forensik merupakan istilah yang dapat memayungi Iuasnya cakupan keilmuan psikologi forensik. di luar negeri psikologi forensik lebih banyak. Topik penelitian/kajian psikologi forensik. Begitu luasnya bidang kajian psikologi hukum/ forensik sehingga Blackburn (dalam Bartol & Bartol. yang tugasnya memberikan bantuan profesional berkaitan dengan permasalahan hukum. Luasnya bidang psikologi forensik dan penggunaan istilah yang beragam membuat seringkali masyarakat menjadi bingung akan tugas psikolog forensik serta istilah yang paling tepat digunakan. Ilmuwan Psikologi Forensik Bidang kajian ilmuwan psikolog forensik meliputi kajian/penelitian terkait dengan proses peradiIan pidana (criminal justice system) dapat dikategorikan sebagai psychology and law (Bartol & Bartol. Isu yang dikaji antara lain bagaimana masyarakat memengaruhi hukum dan bagaimana hukum memengaruhi masyarakat. Berikut akan dipaparkan perbedaan antara keduanya secara lebih rinei. Psychology of law. 2005) membagi bidang tersebut menjadi tiga bidang. serta melakukan riset pada permasalahan hukum yang melibatkan proses psikologi. Ini meliputi bidang psycho-legal research yaitu penelitian tentang individu yang terkait dengan hukum seperti hakim. Tidak semua ilmuwan dapat menjadi praktisi psikologi forensik dan sebaliknya. 2005. Psychology in law. Bidang kajianipenelitian dalam psikologi forensik sendiri sangat luas. Oleh karena itu tulisan ini menggunakan istilah psikologi forensik. psikolog melakukan pengembangan pengetahuan spesifik tentang isu hukum. waJaupun bidang yang dibahas sarna. 1994). mengkaji hukum sebagai penentu perilaku. Kedudukan hukum lebih tinggi dibanding psikologi. menentukan hak perwaiian anak dalam perkara perceraian. Psychology and law. Wrightsman. Psikologi dipandang sebagai suatu disiplin ilmu yang mengevaluasi dan menganalisis berbagai komponen hukum dari kaca mata dan perspektifpsikologi. antara komunitas psikologi forensik dengan HIMPSI Pusat. Definisi ini tampaknya cukup mewadahi unit kerja psikologi forensik itu sendiri. Isu yang dikaji antara lain bagaimana masyarakat memengaruhi hukum dan bagaimana hukum memengaruhi masyarakat. ) dan psychology of law. terdakwa. 2001) menyatakan individu yang berkecimpung pada psikologi forensik dapat dibedakan menjadi (a) ilmuwan psikologi forensik yang tugasnya melakukan kajian/penelitian yang terkait dengan aspek-aspek perilaku manusia dalam proses hukum dan (b) praktisi (profesional) psikologi forensik. psychology and law. dan sedikit tentang hukum perdata. Weiner & Hess. artinya psikolog barn akan dipanggil jika hukum memerlukan-nya. Komunitas psikologi forensik di Indonesia juga menyepakati istilah psikologi forensik dengan membentuk komunitas minat di bawah HIMPSI dengannama Asosiasi Psiko- logi Forensik Indonesia 6.

Audubon & Kirwin (1982) meneliti mekanisme pertahanan diri pada narapidana yang mengaku mengalami gangguan jiwa. No. Widyaningsih (2004) meneliti proses pemulihan pada korban perkosaan. Putwain & Sam- mons. yang disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. (b) kepribadian hakim. & Wrights. (c) alasan melakukan kriminalitas (Howells. pengadilan negeri maupun di lembaga pemasyarakatan.1995) 2) Karakteristik jaksa: kepribadian otoritarian jaksa diperkirakan berpengaruh terhadap berat ringannya rekuisitur jaksa (Probowati. yang dilarang. (c) jenis kelamin hakim. 1994. 3) Korban. (b) pengambilan putusan. adanya sanksi atas peianggaran norma itu berupa ancaman hukuman pidana. 4) Polisi. kejaksaan. 2006). (b) membuat profil kriminal (Constanzo. yaitu suatu larangan atau suruhan (kaidah).PSIKOLOGI FORENSIK 341 masyarakat luas. Topik di pengadilan. saksi yang mengalami trauma (Kapardis. Probowati (2008) meneliti hubungan kepribadian otoritarian dengan pemidanaan hakim. Kapardis. Sutrisno (2007) meneliti perbedaan . Topik-topik dapat terkait dengan: I) Hakim. 2) Terdakwa. (e) tanggungjawab dan kegilaan (Bartol & Bartol. topik dapat dibahas dari sisi (a) kepribadian (Putwain & Sammons. cara ini disebut sebagai hukum acara pidana. Widaningrum (2004) meneliti alas an narapidana perempuan membunuh suaminya. Sesuai dengan UURI.1997). 2002). (b) menentukan kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan. Probowati (2004) meneliti proses kognitif hakim dalam pengambilan keputusan perkara pidana. Projodikoro (2003) menyatakan ada dua unsur pokok dalam hukum pidana. Kynan. persidangan di pengadilan negeri dan rehabilitasi terpidana di lembaga pemasyarakatan. Berikut akan dijelaskan bidang kajian/penelitian ilmuwan psikolog forensik secara garis besar. 1994. Kapardis. antara lain saksi anak-anak. Zubaidah. Westcott. 1997). 1994. Putwain & Sammons. & Few (2006) meneliti upaya peningkatan kualitas investigasi pada pelaku kekerasan anak. Pertama adalah adanya suatu norma. (a) penggalian informasi dad korban anak-anak.8 tahun 198 1(Departemen Kehakiman Republik Indonesia. 2006. Constanzo. (a) proses pengambilan putusan hakim (Bartol & Bartol. 2006. 1994. Probowati. kejaksaan. (b) korban yang mengalami trauma (Kapardis. Constanzo. 2002. Probowati & Sutrisno (2007) meneliti perbedaan jenis kelamin hakim pada berat ringannya pemidanaan. Topik dapat terkait: I) Pelaku tindak pidana (a) interograsi (Bartol & Bartol. dan (c) menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan itu. Probowati (2008) membahas peran psikologi dalam investigasi saksi pada kasus tindak pidana. Oleh karena itu tulisan ini lebih banyak membahas psikologi forensik dalam penerapannya yang terkait dengan hukum pidana di Indonesia. 2002). yang mengadakan dasardasar dan aturan-aturan untuk (a) menentukan perbuatan mana yang boleh dilakukan. 1997). Topik dapat terkait: 1) Penggalian informasi: gaya bertanya jaksa diperkirakan berpengaruh terhadap akurasi informasi (Ancok. 2006. dewasa. Moeljatno (1982) memberi pengertian hukum pidana sebagai bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara. (a) metode penggalian kesaksian (Bartol & Bartol. 1997). Putwain & Sammons. penuntutan oleh jaksa penuntut umum. Day. 2004). Gudjonsson. Amriel (2008) mengkaji anak korban kekerasan seksual. (b) karakteristik saksi. 2003. Probowati (2005) membahas peran psikolog perkembangan dalam permasalahan kekerasan seksual dengan korban Anak-anak. Kedua. 2002). Proses penyelesaian perkara pidana dimulai dari penyelidikan dan penyidikan di kepolisian. baik di kepolisian. 1995). Guna melaksanakan hukum pidana diperlukan cara yang harus ditempuh agar ketertiban hukum dalam masyarakat dapat ditegakkan. 2) Saksi. Constanzo. 1982) sistern peradilan pidana di Indonesia terdiri atas komponen kepolisian. Putra (2000) meneliti Otoritarianisme dan Pelaksanaan Diskresi Kepolisian Pada Anggota Satuan Fungsi Lalu Lintas Topik di kejaksaan. Topik di kepolisian. 1994). pengadilan negeri dan lembaga pemasyarakatan sebagai aparat penegak hukum. Psikologi forensik dapat melakukan kajian/penelitian terkait dengan permasalahan di setiap proses perkara pidana. (d) mendeteksi kebohongan (Bartol & Bartol. (a) jenis kelamin terdakwa. Zubaidah.

Hal kedua yang membedakan hukum dan psikologi adalah metodenya. Putwain & Sammons. Adapun menurut Weiner & Hess (2005). Stinger. Dalam ruang sidang. 1994. 1994). (b) etnik. Stringer. Jika manusia berperilaku seperti yang dilarang oleh hukum maka hukum memberi hukuman untuk itu. 2005). (c) daya tarik fisik terdakwa. Dalam kacamata psikologi. Psikologi lebih berorientasi di masa yang akan datang. Hukum lebih ke advokasi sementara psikologi ke arah objektivitas. 2002. Hukum berbicara otoritas. tampak bahwa psikologi dan hukum memiliki perbedaan secara budaya (Constanzo. 2005. Probowati (1995) meneliti perbedaan pemidanaan hakim pada terdakwa menarik dan tidak menarik. Pemahaman tentang manusia harus terus direvisi dengan data dan temuan baru. 1995). & Beech (2005) meneliti penyebab residivis melakukan kejahatan seksual. Browne. Berdasarkan uraian terdahulu. Di Indonesia. (b) rehabilitasi pada pelaku (Bartol & Bartol. Farr. 3) Jaksa. teori disusun untuk diruntuhkan. sedang tujuan hukum adalah mengatur perilaku manusia. (2006) meneliti pengaruh pelatihan sikap pad a narapidana kejahatan sekgoal. psikologi berdasarkan empirisme. Artiawati & Pudjibudojo (2002) meneliti analisis profil kepribadian pegawai lembaga pemasyarakatan wanita Malang untuk efektifitas peningkatan pemecahan masalah interpersonaL Probowati & Widaningrum (2008) meneliti pengaruh pelatihan petugas lapas terhadap perubahan sikap petugas pada anak binaan di LP A Blitar. 2) Petugas tapas. Craig. Hossack. Jadi tujuan psikologi menjelaskan perilaku manusia secara lengkap dan akurat. & Carey (2004) meneliti upaya memberikan pertolongan pada penderita pedofilia. Topik dapat terkait dengan: 1) Narapidana. & Beech. Pemahaman terhadap perbedaan budaya psikolcgi dan hukum. seorang ilmuwan psikologi forensik harus memahami psikologi dan hukum. 1995) Topik di /embaga pemasyarakatan. Weiner & Hess (2005) menyatakan psikologi dan hukum berbeda secara epistemologi dalam hal berikut ini (lihat Tabel 1). Constanzo (2006) menyatakan hukum dan psikologi berbeda dalam 3 hal. Psikologi tertarik untuk menemukan kebenaran.342 PROBOWATI pemidanaan hakim pada terdakwa dengan jenis kelamin yang berbeda. masalah daya tarik fisik. Payle.yaitu tujuan. psikologi menjelaskan bagaimana orang berperilaku secara faktual. sementara kemajuan psikologi diperoleh melalui akumulasi penelitian para ilmuwannya. Topik-topik tersebut masih dapat dikembangkan ilmuwan sesuai dengan permasalahan yang ingin diselesaikan. Hukum sangat menghargai putusan yang sudah dibuat sebeIumnya. hukum menjelaskan bagaimana orang seharusnya berperilaku. 2005). Constanzo (2006) menyebut hukum dan psikologi memiliki budaya yang berbeda. and Bechet (2004) meneliti perbedaan empati dan maskulinitas antara narapidana dewasa laki-laki pelaku kejahatan seksual dengan orang dewasa laki-laki normal. Spencer. Hal ketiga yang membedakan psikologi dan hukum adalah gaya inkuirinya. Asesmen dapat diberikan psikolog sebagai rekomendasi untuk pembebasan bersyarat pada narapidana (Weiner & Hess. (a) masalah asesmen (Bartol & Bartol. Nee dan Farman (2005) meneliti upaya memberikan intervensi pada narapidana perempuan dengan IQ rendah. Kemajuan hukum akan dicapai dari akumulasi putusan yang pemah dibuat oleh pengadilan. Tantangan Sebagai Ilmuwan Psikologi Forensik Untuk dapat melakukan kajian dan penelitian psikoiogi forensik. kebenaran akan dicapai oleh ahli hukum dengan advokasi sementara psikologi berupaya mencapainya dengan objektivitas. Weiner & Hess. Brown. masalah pengaruh rekuisitur jaksa terhadap putusan hakim (Probowati. Data temuan akan dianalisis secara objektif oleh ahli psikologi sementara ahli hukum akan berupaya dengan penuh semangat dalam batas hukum untuk memenangkan perkara. hukum berusaha memberikan keadilan. Artinya. performance (Probowati. 2006) atau epistemologi (Weiner . metode dan gaya inkuiri. psikologi dikatakan bersifat deskriptif dan hukum bersifat preskriptif. Probowati & Rueffler. kajian dan penelitian psikologi forensik masih terbuka luas. 2002) 4) Pengacara. Browne. Craig. dapat memunculkan pemahaman mengapa psikologi dan hukum satu sarna lain menjadi merasa frustrasi ketika bekerja bersama. Perbedaan pemidanaan hakim pada terdakwa dengan etnik Cina dan pribumi (Probowati.

Empiris: Didasarkan atas Nomotetik atau pada data yang normatif yang diperoleh melalui metode penelitian yang sesuai untuk dapat menyim-pulkan suatu penemuan. & Hess. Psikolog forensik dalam melakukan kajian keilmuan juga wajib memahami sistem hukum yang berlaku. 43-44. Tabel ini rnerupakan bagian yang penulis pilih dari Tabel Weiner & Hess. Tidak terbatas : Hukum memiliki ruang gerak yang lebih tidak terbatas. MisaJ tipe kepribadian yang cocok bekerja sebagai olisi. pengetahuan. Misalnya kasus anak berusia 10 tahun yang secara sadis membunuh temannya yang berusia 5 tahun. menyatakan ketentuan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Pengetahuan Metodologi Ruang gerak di peradilan Terbatas : Ruang gerak psikologi sangat dibatasi. kritik dan persaingan teori secara terus menerus Deskriptif: Penelitian dinyatakan berdasarkan sesuatu yang natural atau hubungan antar variabel yang secara ideal disadari sebagai suatu konsep.PSIKOLOGI FORENSIK 343 Tabell Perbedaan Epistemologi Psikologi dan Hukum Dimensi Epistemologi Psikologi Objektif: Psikologi didasari oleh usaha terus menerus untuk mencapai kebenaran. Rasional: dasamya idiographik atau berda-sarkan detail kasus dibandingkan dengan kasus lain. pp. Komunikasi keilmuan (psikologi dan hukum) menjadi sesuatu yang penting. metodoIogi. Eksperimen : Kontrol melalui design eksperimen dan statistik. Penelitian Probowati (2004) tentang proses hakim dalam memutuskan perkara pidana di Indonesia. Moeljatno (1982) menyatakan . kemudian disusun logika dengan dukungan argumen hukum Metode kasus : Analisis pada suatu kasus tertentu mengijinkan peneliti untuk memberikan gambaran yang pararel pada kasus lain atau peneliti dapat menyusun suatu narasi yang mencakup hal detail sampai tersusun keseluruhan. Yang membatasi adalah aturan dan prosedur di pengadilan. Hukum Advokasi: Kebenaran diten-tukan oleh advokasi yang penuh sernangat tentang fakta yang kuat dan sesuai dengan hukum yang berlaku Premis dasar Preskriptifi'ketentuan Hukum menentukan perilaku. sebagai saksi ahli Keterangan. 2005. Perbedaan ini memberi dampak pada saat ilmuwan melakukan kajianipenelitian psikologi forensik. membutuhkan pemahaman sisi hukum tentang bagaimana langkah-langkah hakim dalam mengambil putusan. mengijinkan ilmuwan menarik simpulan menerima hipotesis penelitian sehingga simpulan diturunkan dari variabel utama yang diteliti. premis dasar. Bias yang terjadi pada teori diasumsikan akan menjadi kebenaran jika dilakukan penelitian replikasi. Komunikasi terkait dengan epistemologi. Anak tersebut menurut hukum melakukan tindak pidana. 2005). Kolaborasi dua ilmu terse but dalam kasus di atas akan memperkaya pengembangan keilmuan psikologi forensik yang terkait dengan klinis anak dan juga bagi perkembangan hukum pidana yang menyangkut pelaku anak. disertai sikap saling memahami antar-ilmu akan memberikan arti penting bagi perkembangan psikologi maupun hukum itu sendiri. namun psikologi dapat memberikan penjelasan tentang penyebab anak melakukan tindakan ter- sebut. sehingga hukum dapat memberikan keadilan dalam memutuskan kasus ini. serta memiliki otoritas untuk menghukum agar mematuhi ketentuan.

Pemahaman peneliti psikologi diperlukan agar kajian yang dilakukan dapat mengena dengan permasalahan hukum. Tujuannya agar hukum memahami pentingnya peranan psikologi dalam proses hukum. ia merupakan ahli psikologi klinis yang merupakan konsultan kepolisian. Richard Frederic. lembaga swadaya masyarakat (LSM). jaksa. Sebelum perkara masuk ke pengadilan. hakim memutuskan dalam dua tahap. Di kepolisian dan lembaga pemasyarakatan dapat dikatakan belum semua psikolognya menjalankan tugas profesi psikolog forensik. 1997. Pertama. Tanpa unda- . Ilmuwan psikologi forensik ditantang untuk dapat memberikan sumbangan dengan melakukan kajianlpenelitian pada permasalahan hukum. Di Amerika. Bukankah ilmu ada uotuk menyelesaikan permasalahan manusia. adalah ahli rehabilitasi narapidana atau dikenal se-bagai psikolog lembaga pemasyarakatan (Wrightsman. Beberapa tugas profesi psikolog forensik dilakukan oleh psikolog yang bekerja di kepolisian. atau sebagai akademisi. John Stap adalah psikolog sosial. di rumah sakit. petugas lembaga pemasyarakatan). jaksa. di lembaga pemasyarakatan. profesi ini sudah sangat maju perkembangannya. profesi psikolog forensik masih kurang dikenal. sehingga dalam kasus-kasus pidana. Spesialisasinya adalah menentukan penyebab kematian seseorang karena dibunuh atau bunuh diri. 2005). psikologi forensik sudah sejajar berdiri dengan keilmuan forensik yang lain. Tugas mereka membantu polisi. Praktisi (Profesional) Psikologi Forensik Psikolog forensik adalah psikolog yang mengaplikasikan ilmunya untuk membantu penyelesaian masalah hukum. Gerak psikolog dalam peradilan terbatas dibanding dengan ahli hukum (Weiner & Hess). karena membutuhkan us aha untuk mempelajari ilmu lain di luar keilmuannya sebagai psikolog. Weiner & Hess. Hal ini kadang menimbulkan keengganan pada psikolog. di kejaksaan. Contoh lain adalah penelitian Putra (2000) tentang hubungan kepribadian otoritarian dengan diskresi polisi. dan psikologi forensik menjadi bagian yang terlibat dalam asosiasi tersebut. Tugasnya sebagai konsultan peradilan. hakim. Seperti di uraikan di awal. Kapardis. Oleh karena itu. Tanpa pemahaman aspek hukum maka psikologi akan berada dalam dunia keilmuannya sendiri tanpa pemah diakui oleh hukum. hakim biasanya menyuruh orang yang berperkara ke Gray untuk dapat memediasi perkara mereka. 2001) Akibat kurang dikenalnya profesi psikolog forensik di Indonesia. di pengadilan maupun ketika terpidana berada di lembaga pemasyarakatan. Pertemuan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 12 Januari 2008 mendeklarasikan berdirinya asosiasi forensik science Indonesia. Tugas profesi psikolog forensik pada proses peradilan pidana adalah membantu pad a saat pemeriksaan di kepolisian. selain kedokteran forensik. Di Indonesia. ia bekerja pada pengacara. hakim maupun membantu di lembaga pemasyarakatan). baik di kalangan psikolog maupun di kalangan aparat hukum (polisi. Artinya di Indonesia. 2000). Di Indonesia. artinya psikologi akan berperan ketika dibutuhkan oleh hukum (Bartol & Bartol. Contohnya seperti Theodore Blau. terdakwa melakukan perbuatan pidana atau tidak. Gray adalah psikolog yang bertugas melakukan mediasi terutama pada perkara perdata. ahli hukum mengundang psikolog untuk memberikan kontribusinya. Kedua. ia akan merancang hal-hal yang akan dilakukan pengacara maupun kliennya agar dapat memenangkan perkara. hampir tidak ada psikolog di Indonesia yang menyatakan dirinya berprofesi sebagai psikolog khusus forensik. pada saat ini semakin ban yak permasalahan yang membutuhkan sumbangan pemikiran psikologi forensik. Diskresi didefinisikan sebagai kebijaksanaan petugas polisi untuk mengambil putusan dalam rangka menghadapi masalah yang dihadapi dengan tetap berpegang pada peraturan (Mabes Polri dalam Putra. dan akuntansi forensik. Oleh karena itu promosi kepada bidang hukum akan pentingnya psikologi dalam pennasalahan hukum menjadi satu kebutuhan yang urgent and important. Tugas profesi psikolog forensik dapat dikategorikan sebagai psychology in law. psikologi forensik sendiri diakui oleh komunitas forensic science. jika terdakwa melakukan perbuatan pidana maka ia akan dievaluasi arakah bertanggung jawab atau tidak. 1994. membutuhkan pemahaman peneliti tentang diskresi di kepolisian. pengacara. Ericka B.344 PROBOWATI bahwa sesuai dengan sistem hukum di Indonesia. ini memberikan tantangan bagi ilmuwan psikologi forensik untuk terus melakukan kajian dan penelitian yang berkualitas. pengacara. kedokteran gigi forensik.

& Haryanto. terutama dalam kasus yang melibatkan korban/pelaku anak-anak atau mengalami permasalahan mental. 2006). Masukan dari psikiafer dan psikolog menjadi pertimbangan bagi polisi. 1982). psikolog dapat masuk dalam proses peradilan pidana di pengadilan sebagai saksi ahli. dan prevensi (Prawitasari. Contoh berikut menggambarkan suatu kasus yaitu kasus "N" di Surabaya. 3) Pada korban. dan bukan sebagai psikolog forensik profesional. Inti kompetensi profesi psikolog adalah asesmen. 2002). Gudjonsson & Haward. N melakukan pembunuhan karena pembelaan terpaksa (pasal 49 KUHP). Constanzo. karena berada dalam konteks hukum maka wajib bagi psikolog forensik untuk memahami hukum. Di kepolisian. Seorang ibu di Bandung membunuh 2 anaknya. Korban tindak pidana seringkali mengalami trauma sehingga sulit untuk digali informasi darinya (Kapardis. Psikolog forensik dapat membantu polisi dalam meIakukan penggalian informasi terhadap korban. Putwain & Sammons. alat polygraph yang dikombinasi dengan metode bertanya dapat menjadi bantuan psikolog forensik dalam mendeteksi kebohongan pelaku. korban dan saksi. 2006. 1994. Walau akhirnya di ajukan kembali oleh pihak lawan ("Nila Bebas. 2004). Ia membunuh dengan alasan takut masa depan anaknya tidak jelas. teknik ini banyak mendapatkan kecaman karena orang yang tidak bersalah dapat mengakui kesalahan akibat tidak tahan akan kekerasan fisik yang diterimanya. maka psikologi akan tetap berada di luar sistem dan kebanyakan menjadi ilmuwan psikologi forensik. 2) Pada pelaku. Psikolog forensik dapat membantu polisi melacak pelaku dengan menyusun profil kriminal pelaku (Constanzo. "N" terpaksa membunuh karena selama 6 tahun ia mendapatkan kekerasan dari bekas kekasihnya tersebut. Berikut akan dipaparkan tugas profesi psikolog forensik di setiap tahap proses peradilan pidana. intervensi. Me1alui asesmen psikolog dan psikiater. ia seorang wanita yang membunuh bekas kekasihnya. psikolog forensik dapat membantu polisi dalam melakukan interograsi (Bartol & Bartol. 2000). Dalam penggalian kesaksian pada anak-anak atau wanita korban kekerasan dibutuhkan keterampilan agar korban . Misalnya pada kasus perkosaan/kekerasan pada anak dan wan ita dewasa. Psikolog fo-rensik menerapkan kompetensi asesmen intervensi. Dan. disitat dalam Supratiknya. Faturochman. Sebuah kasus lain dapat disimak sebagai berikut. mendeteksi kebohongan (Constanzo. Kasus ini akhirnya didiskresikan oleh kepolisian." 2007). Psikolog dapat membantu melakukan penggalian keterangan korban untuk lebih memperoleh informasi yang akurat. bertujuan agar ia mengakui kesalahannya. 1998. Constanzo. Tugas profesi psikolog forensik. Ibu tersebut diperiksa psikolog dari kepolisian Bandung untuk mendapatkan gambaran kondisi mentalnya (sumber: berita Metro TV 23 Maret 2008). 2006). 2006). Dalam kasus-kasus tertentu psikolog dapat diminta bantuannya agar informasi yang diperoleh mendekati kebenaran. misaI pacta kasus pembunuhan berantai atau kasus perkosaan yang terus menerus. karena ia dan suaminya merasa tidak mampu memberikan kehidupan yang layak. I997).2006). 1994. yang dapat digunakan polis! dalam melakukan penyidikan. Dalam proses peradilan pidana. 8eberapa kasus dengan trauma yang berat menolak untuk menceritakan kejadian yang dialaminya (Constanzo.PSIKOLOGI FORENSIK 345 ngan ahli hukum. Psikolog forensik juga dapat membantu polis! dengan melakukan asesmen untuk memberikan gambaran tentang kondisi mental pelaku (Bartol & Bartol. Psikolog forensik dapat memberi pelatihan kepada polisi tentang teknik interograsi yang menggunakan prinsip psikologi. Psikolog forensik dapat membantu penyelidikan polisi pada pelaku. Psikolog forensik dapat memberikan deskripsi kondisi psikologis pelaku. Teknik lama yang digunakan polisi adalah dengan melakukan kekerasan fisik. Teknik interograsi dengan menggunakan teori psikologi dapat digunakan misaInya dengan teknik maksimalisasi dan rninimalisasi (Kassin & McNall disitat dalam Constanzo. membuat criminal profiling. 1. Yang membedakan profesi psikolog forensik dengan profesi psikolog lainnya (misalnya psikolog klinis atau psikolog sosial) adalah konteks tempat ia bekerja. seperti telah diuraikan terdahulu tugas polisi dalam peradilan pidana adalah menyelidik dan menyidik (Departemen Kehakiman Republik Indonesia. Criminal profiling dapat disusun dengan bantuan teori psikologi. dan prevensinya dalam konteks permasalahan hukum. Bantuan psikolog forensik dalam interograsi pada orang yang diduga pelaku. Deteksi kebohongan juga menjadi bagian dari interograsi.

Loftus. data yang diperoleh dari ternan. dan mengatakan ia lupa. Geiselman. dan kemudian melepaskan korban setelah mendapatkan liang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan proses retrieval yang akan meningkatkan kuantitas dan kualitas infonnasi dengan cara membuat saksilkorban merasa rileks. 1 . Memori saksi sangat terbatas. Teknik interview investigasi yang sering dibicarakan adalah (Constanzo. ia dapat mengingat nomor plat kendaraan pelaku. Ketika dilakukan teknik hipnosis pada supir bis. Contoh dalam penggalian korban perkosaan pada anak yang masih sangat belia clapat digunakan alat bantu boneka (Probowati. Tujuan otopsi psikologi adalah merekonstruksi keadaan emosional. karena baik polisi. ]989. 2000). California (Costanzo. Seperti suatu kejadian di Chowcilla. 2004). 1989) menemukan bahwa teknik wawancara kognitif menghasilkan 2535 % lebih banyak dan akurat dibanding teknik wawancara standar kepolisian. 2004. Pada kasus KDRT dengan kondisi korban mengalami trauma psikis yang berat. Brigham dan Wolfskeil (sitat dalam Brigham. Proses peradilan pidana sangat tergantung pada hasil investigasi pada saksi. Mantwill. ia merasa bebas dan dapat memunculkan ingatannya kembali (Kebbell & Wagstaff. Dan ketika dilacak pihak kepolisian temyata benar. namun Probowati (2001) menemukan bahwa hakim Indonesia dalam membuat putusan terpengaruh oleh jaksa penuntut umum. 4) Pada saksi. PROBOWATI merasa nyaman dan· terbuka. 1997. namun masih digunakan ketika informasi tentang suatu kejadian tidak ada kemajuan yang berarti.). Pada kasus yang diragukan korban bunuh diri atau clibuunuh. Bantuan psikolog forensik dalam informasi kondisi psikologis korban maupun pelaku akan membantu jaksa dalam menyusun tuntutannya. Hahn. Artinya tuntutan jaksa merupakan sesuatu yang penting. pikiran dan gaya hidup almarhum. Amador. Milne & Bull. Psikolog forensik dapat membantu jaksa dengan memberikan keterangan terkait dengan kondisi psikologis pelaku maupun korban. sehingga perlu dilakukan teknik investigasi saksi yang tepat. Milne & Bull. marah) sering juga menghilangkan memorinya. Kapardis. Kohnken & Ascennann (1995) menemukan wawancara kognitif lebih menghasilkan banyak infonnasi dibanding wawancara terstruktur. & Geiselman. Otopsi psikologi akan membantu polisi dalam menyimpulkan kemungkinan korban dibunuh atau bunuh diri (Constanzo. Tidak banyak bahasan terkait dengan jaksa penuntut umum.2005a) . jaksa dan hakim tidak melihat langsung kejadian perkara. Teknik hipnosis ini walau tidak selalu digunakan pada tiap saksi. Geiselman (sitat dalam Fisher. Saksi-saksi yang ada (supir bus dan 26 anak) tidak memberikan infonnasi yang berarti tentang kejadian sehingga tidak dapat dilacak pelaku kejadian ini. & Yarmey dsitat dalam Fisher. 2004) ketika terjadi penyanderaan bus sekolah oleh sekelompok orang bertopeng. psikolog forensik dapat melakukan 0topsi psikologi. laksa penuntut umum melakukan penuntutan dengan menggunakan data yang ditulis dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) yang ditulis pihak kepolisian. Psikolog forensik dapat melakukan pelatihan pada polisi agar dapat menggali kesaksian secara akurat dengan menggunakan teknik wawancara kognitif 5) Di kejaksaan. keluarga korban atau ternan kerja.2006). Ancok (1995) menengarai bahwa gaya bertanya jaksa yang salah akan mem- . Sanders & Warnick.346 . Wawancara kognitif merupakan teknik yang diciptakan oleh Ron Fisher dan Edward Geiselman pada 1992. 2000) hipnosis dan wawancara kognitif. padahal banyak penelitian yang membuktikan bahwa kesaksian yang diberikan saksi banyak yang bias (Goodman.· Seorang psikolog dapat menyusun otopsi psikologis berdasarkan sumber bukti tidak langsung yaitu catatan yang ditinggalkan oleh almarhum. Psikolog forensik yang menguasai teknik hipnosis dapat membantu polisi menemukan informasi dalam memori saksi yang tidak dapat ditemukan dengan teknik lain. dan kooperatif (Costanzo. korban maupun pelaku. Psikolog forensik dapat juga memberikan pelatihan terhadap jaksa terkait dengan gaya bertanya kepada saksi. 1983. keterangan psikolog forensik tentang kondisi psikis korban dapat digunakan sebagai dasar melakukan penuntutan terhadap pelaku. Misalnya pad a kasus di Malang ketika seorang ibu yang membunuh 4 anaknya dan ia akhirnya bunuh diri. disitat dalam Costanzo. Saksilkorban yang sangat emosional (malu.. Dengan teknik hipnosis.. disitat dalam Sanders & Simmons. 2004. 1991) meneliti bahwa hakim dan juri di Amerika menaruh kepercayaan 90 % terhadap pemyataan saksi. & Amador. karena dapat mempengaruhi putusan hakim. kepribadian.

Lembaga Pemasyarakatan Psikolog forensik sangat diperlukan di lembaga pemasyarakatan. 9 Seminar pentingnya peran psikologi forensik di Indonesia. 2001). psikolog yang bekerja di kepolisian masih lebih banyak menangani bidang sumber daya manusia (seperti melakukan seleksi). baik yang khusus anak-anak. 6) Pengadilan. 3 November 2007 10 Diskusi dengan Humania (kelompok Psikolog Lembaga Pemasyarakatan) di Kantor Dirjen Lapas Jakarta. psikolog akan merancang kalimat. Jika ada yang bekerja di lembaga tersebut. diselenggarakan oleh Deputi Sumber Daya Manusia POLRI. 2004). seperti pembunuhan serial. Sebelum persidangan yang sesungguhnya. perkosaan pada anak. Misal pada kasus percobaan bunuh diri narapidana tidak tertangani secara baik karena tidak setiap lapas rnemiliki psikolog. sehingga diperlukan penanganan psikologis (Probowati. Namun. belum sebagai psikolog 8Sumber data dari kasus di Lembaga Pemasyarakatan Anak BIHar. Atau dalam kasus pidana pembunuhan sadis. Kasus KDRT. melainkan juga menjadi hakim pada kasus-kasus dengan muatan psikologis yang berat. atau adanya kemungkinan pembelaan kegilaan (insanity defense). mengakibatkan kurangnya pemahaman lembaga terhadap fungsi psikolog forensik. Misalnya di kepolisian. Misalnya dalam perebutan hak asuh. 2008). Psikolog yang baru rnasuk bekerja di lembaga pemasyarakatan hanya diakui sebagai sarjana. 2005. mereka mengeluhkan jumlah psikolog dan narapidana di Indonesia tidak berimbang'".PSIKOLOGl FORENSIK 347 bawa pada informasi yang keliru. 2008 . Selain itu juga belum adanya pengakuan terhadap profesi psikologi. pengacara meminta agar psikolog memberikan keterangan terkait dengan kelekatan (attachment) anak pada orang tua yang mana (ayah/ ibu). kasus ketika korban di bawah umur (misalnya kekerasan pada anak. narapidana maupun petugas lapas. pelaku mengalami perrnasalahan psikologis (misal IQ di bawah rata-rata." Di lembaga pemasyarakatan tugas psikolog forensik juga tidak berjalan baik. Biro Psikologi.penculikan anak). berbohong. pedophilia. di Hotel Santika Jakarta. Psikolog forensik juga dapat bekerja untuk pengacara dalam memberikan masukan terkait dengan jawaban-jawaban yang harus diberikan kliennya agar tampak meyakinkan. Misalnya dalam kasus KDRT. kejaksaan. Banyak kasus psikologi yang terjadi pada 7 Sumber data klien Pusat Konsultasi dan Layanan Psikologi Universitas Surabaya. Yang sudah mulai ada adalah pengacara meminta psikolog agar memberikan keterangan yang menguntungkan kliennya. Praktisi (profesional) psikologi forensik dibutuhkan dalam rangka melakukan asesmen terkait dengan penentuan intervensi psikologis yang akan dilakukan pada narapidana. pengadilan dan lapas jumlahnya terbatas. maIas belajar/bekerja). atau psikopat). Psikolog forensik diharapkan tidak hanya berperan sebagai saksi ahli. Peran psikolog forensik dalam peradilan pidana di pengadilan. seorang psikolog diminta untuk memberikan keterangan korban mengalami trauma psikologis atau tidak. menimbulkan pemahaman bahwa psikolog sangat dibutuhkan di Lapas. maupun yang dewasa. Narapidana adalah individu dengan permasalahan psikologi. Pengalaman peneliti mendampingi Lapas anak Blitar sejak 2003." Petugas lapas pemahamannya kurang baik terkait dengan rehabilitasi psikologis sehingga mereka sering kali memberikan hukuman dengan tujuan dapat mengurangi perilaku negatif narapidana (berkelahi. Tantangan Profesi Psikolog Forensik Kurang berkembangnya profesi psikologi forensik di Indonesia.' Meliala (2008) bahkan melontarkan ide bahwa psikolog forensik dapat menjadi hakim adhoc. merekajuga belum melaksanakan tugas-tugas sebagai psikolog forensik. ekspresi dan gaya yang akan ditampilkan terdakwa agar ia tidak mendapat hukuman yang berat (Wrightsman. hal ini di Indonesia masih jarang. dapat sebagai saksi ahli dalam kasus yang terkait dengan aspek psikoIogis (Meliala. Sabtu. Probowati & Widaningrum (2008) menemukan bahwa ada perubahan pada aspek psikologis pada kelompok anak-anak binaan di lembaga pemasyarakatan Blitar yang mendapatkan pendampingan psikologis selama setahun. wanita. Darnpaknya jurnlah psikolog yang bekerja di lernbaga-Iembaga seperti kepolisian. psikolog diminta keterangannya pelaku terkategori psikopat atau bukan.

Salah satu yang berperan penting dalam pengembangan psikologi forensik adalah sistern pendidikan psikologi di Indonesia. psikologi perkembangan. termasuk psikologi forensik. diunduh 9 april 2008. psikologi forensik. dan psikologi kognitif. psikologi sekolah. org/about/division 13 Career in Forensic Psychology. psikologi forensik barn sebatas dikenalkan agar mahasiswa memiliki pemahaman dan berminat menekuni psikologi forensik. Pada jenjang S-1 di Indonesia masih tak terlalu bermasalah karena jenjang S-l psikologi masih bersifat sains belum menjadi psikolog. termasuk psikologi forensik. 2006. kejaksaan. Padahal bahasannya juga berisi materi psikologi perkembangan. Banyaknya masalah di masyarakat memerlukan pengembangan keilmuan. divisi psikologi agama dan spiritual. Pada saat ini dengan makin banyaknya permasalahan di masyarakat yang membutuhkan penanganan psikologi forensik. Kurangnya pemahaman psikolog pada tugas psikologi forensik mengakibatkan mereka juga kurang memiliki keahlian yang khas forensik. Contoh lain adalah intervensi di lembaga pemasyarakatan. maka psikolog forensik ditantang untuk dapat menjawab permasalahan tersebut. wcupa. Masalahnya pengembangan psikologi forensik di Indonesia belum menggembirakan. HIMPSI juga telah memiliki 13 asosiasi antara lain psikologi Islami. dari www.htm 11 Diskusi dengan Psikolog di Lembaga Pernasyarakatan rong. dari www. Divisi merupakan ternpat bergabungnya psikolog yang tertarik minat kajian yang sarna. dan lembaga pemasyarakatan) yang kurang mendukung. yaitu psikologi umum dan eksperimen. psikologi pendidikan. dengan melakukan kajianipenelitian (sebagai ilmuwan) maupun membantu penanganan permasalahan hukum yang membutuhkan bantuan psikolog forensik (sebagai praktisi). psikologi klinis. Kurangnya pemahaman dan kualifikasi sebagai psikolog forensik disertai dengan sistem lembaga masing-masing (kepolisian.I psikologi di Indonesia masih membagi bidang psikologi menjadi enam bidang (selanjutnya akan disebut pembagian 6 bidang). psikologi klinis. Po- . Munculnya banyak divisi di APA atau asosiasi di HIMPSI selain terkait dengan minat para psikolog. tidak banyak psikolog yang merniliki kemampuan intervensi pada kriminal. Di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. pengadilan. menyebabkan perkembangan psikologi forensik menjadi lamban sebagai profesi.eduJ ACADEMICAfsch _pas. rnata kuliah psikologi hukum kurikulum S-l dimasukkan pada mata kuliah di bawah koordinasi Laboratoriun Psikologi Sosial. apakah asesmen yang mendeskripsikan kondisi mentalnya (pasal 44 KUHAP) atau untuk hal lain misal pembelaan terpaksa (pasal 49 KUHAP). psikologi perkembangan. divisi psikologi sekolah. Sementara kurikulum S. Selain itu psikolog forensik perlu tahu aspek hukum yang terkait dengan asesmen yang dilakukannya. psikologi kognitif. diunduh 14 Februari 2008. divisi psikologi hukum 12. banyak psikolog yang ahli asesmen namun yang khusus kriminalitas mungkin tidak banyak yang dapat melakukan. Pembagian enam bidang psikologi sedikit banyak menghambat pengembangan peminatan psikologi yang ada di HIMPSI (yang jumlahnya lebih banyak dari enam bidang). dan psikologi sosial". Materi psikologi yang banyak terkait dengan psikologi forensik adalah psikologi klinis. Tantangan permasalahan psikologi forensik di awal tulisan ini perlu disikapi profesi psikologi forensik di Indonesia. psy/career _pathlforen sic/career08. Menjadi sulit untuk mernasukkan psikologi forensik menjadi bidang psikologi klinis atau sosial saja misainya. dan psikologi sosial). Pendidikan magiuster (S-2) terbagi menjadi dua 12 Division of APA. Misalnya dalam asesmen pada pelaku di kepolisian. Beberapa divisi APA adalah divisi psikolog militer.348 PROBOWATI (profesi) 11. Apakah sistern pendidikan psikologi mendukung pengembang- an profesi psikologi forensik baik sebagai ilmuwan maupun praktisi? AP A (Arnertiean Psychological Association) rnembagi peminatan psikologi menjadi 55 divisi. psikologi indisutri dan organisasi. Pada beberapa fakultas psikologi di Indonesia. Pengembangan Psikologi Forensik di Indonesia Tantangan permasalahan yang ada di masyarakat memberikan tuntutan terhadap ilmu.APA. juga untuk menjawab tantangan perrnasalahan yang ada di masyarakat.

melakukan investigasi pada anak dan remaja yang menjadi korban kriminalitas. Interaksi di ruang pengadilan sebenamya salah satu bentukinteraksi sosial (Brigham.psy/career_path/foren sic/subfield 1.eduiACADEMICS/sch_pas. Sebagian mahasiswa dengan semangat tinggi akan belajar menekuni ilmu hukum sendiri.htm 14 peminatan klinis. Psikolog perkembangan yang bekerja di bidang hukum dapat menangani kasus anak dan remaja yang berkonflik dengan hukum. diunduh 9 April 2008. 2005). maka tidak ada tempat bagi pengembangan ilmu dengan peminatan yang spedifik seperti psikologi forensik. dari www. dari www. Mernpelajari hukum sendiri bukan hal mudah mengingat hukum dan psikologi memiliki epistemologi yang beda secara keilmuan (Weiner & Hess. perkembangan dan kognitif. juga anak korban perceraian (terkait dengan hak asuh terhadap anak). hal-hal yang berpengaruh dalam pengambilan putusan hakiml8• Jadi untuk menjadi psikolog forensik [5 Career in Forensic Psychology. mampu menentukan siapa yang menjadi ahli warisnya".wcupa. Psikolog klinis yang bekerja di bidang forensik (clinical forensic psychology) harus memiliki keahlian antara lain seperti rnelakukan asesmen terhadap peJaku yang mengalami permasalahan psikologis (misalnya kegilaan)" . namun beberapa mahasiswa akhimya meneliti/rnengkaji permasalahan hukum namun enggan menyinggung sisi hukumnya dan Iebih condong ke perspektif psikologinya. Psikolog sosial yang bekerja di bidang hukum akan bekerja sebagai konsultan pengacara dan pengadilan. industri dan organisasi. pelaku. maka bahasan penelitian tentang pengambilan putusan dan memori saksi banyak terkait dengan psikologi kognitif'". dan terdakwa terkait psikologi sosial.) Dengan pembagian peminatan yang mengarah ke en am bidang.htm 18 Social Psychology and The Law.psy/career _path/fo rensic/subfield4.psy/career_pathiforen sic/career08.PSIKOLOGI FORENSIK 349 yaitu jalur keilmuan (magister sains) dan jalur profesi (magister profesi). Magister sains psikologi di Indonesia juga mengarah pada pembagian enam bidang. Ia juga harus memiliki kemampuan asesmen dan rehabilitasi psikologi di lembaga pemasyarakatan. dari www. 1991). Di Universitas Gadjah Mada materi psikologi forensik masuk menjadi psikologi sosial. Bahasan tentang korban. diunduh 9 April 2008. Jika ada mahasiswa yang berminat terhadap psikologi forensik ia dapat mempelajari dan mengembangkan penelitian dan kajian terkait dengan psikologi forensik. pendidikan. wcupa.htm 17 Developmental Psychology and the Law.eduiACADEMICS/sch_pas. padahal bidang kajian psikologi forensik merupakan perpaduan psikologi klinis. Mahasiswa psikologi magister sains yang berminat dengan psikologi forensik harus belajar ilmu hukum secara mandiri. Bahasan tentang abnormalitas (pedophilia. diunduh 9 April 2008. dan saksi anak melibatkan psikologi perkembangan. diunduh 9 April 2008.wcupa. atau psikolog sosial generalis. Bahasan tentang interaksi hakim. Bahkan juga melakukan asesmen terhadap lansia. Pembagian enam bidang psikologi akan semakin bennasalah pada jenjang S-2.htm 16 Clinical Forensic Psychology.edu/ ACADEMI CS/sch _pas. dan s08ia115• Tidak banyak materi kuliah yang membahas materi psikologi forensik. Pada jenjang S-2 ini mulai ditentukan seseorang akan menjadi ilmuwan atau menjadi profesional dalam bidang psikologi forensik. karena dengan sistem pembagian enam bidang akan jarang diundang ahli hukum untuk memperkaya wawasan (dianggap tidak relevan dengan pernbagian enam bidang tersebut). asesmen dan intervensi terkait psikologi klinis. Magister profesi psikologi di Indonesia memiliki Cognitive Psychology and The Law. Hal ini juga terjadi pada program magister profesi di universitas lain (artinya mated psikologi forensik hanya dititipkan dan diajarkan beberapa kali pertemuan atau bahkan samasekali tidak diajarkan. Isu yang ditangani seputar kredibilitas saksi. pengacara.psy/career _pathlforensic/subfield2.wcupa. Tidak ada peminatan psikologi forensik. Padahal untuk menjadi praktisi forensik diperlukan lebih dari sekadar lulusan sebagai psikolog klinis. sosial.edu/ACADEM[CS/sch_pas. diunduh 9 April 2008. apakah ia masih rnampu mengelola keuangannya sendiri. jaksa. dari . Kalaupun ada hanya sedikit yang dibahas pada satu atau dua pertemuan (misalnya mated forensik dibahas pada 3 kali pertemuan pada psikologi klinis anak dan remaja di kurikulum magister profesi psikologi (Ubaya) dan sarna sekali tidak ada materi dari sisi hukumnya. ketika mahasiswa seharusnya sudah memiliki keilmuan atau profesinya secara lebih spesifik. dari www. psikopat). Jika ditelaah lebih lanjut topik penelitianlkajian psikologi forensik.

namun kerugiannya ia hanya belajar secara permukaan saja. Beberapa universitas yang membuka program psikologi forensik adalah University of Melbourne (fokusnya kriminologi dan lulusan diarahkan menjadi pekerja sosial). karena tidak ada tempat bagi individu untuk belajar psikologi forensik secara khusus. diunduh 9 April 2008. Pada standar yang berbasis isi. Hanya saja pada saat ini penyelenggara pendidikan psikologi jenjang magister di Indonesia menetapkan kompetensi yang terlalu umum. Langkah ini akan menghasilkan alumni sesuai dengan kompetensi yang lebih spesialistis dan diharapkan lebih dapat menjawab kebutuhan permasalahan di masyarakat. Penggunaan standar berdasar kompetensi sebenamya lebih membuka peluang mengarah kepada kompetensi alumni yang hendak dihasilkan oleh penyelenggara program pendidikan psikologi di Indonesia. Ia menjadi tidak siap pakai jika harus bekerja di rumah sakit. Peminat-peminat psikologi forensik harus berjuang sendiri untuk belajar psikologi forensik di Indonesia. dan psychology and law)19.wcupa.edU!ACADEMICS/8Ch_pas. namun mengembangkan menjadi profesi psikolog forensik ini lebih sulit. 2005). Di satu sisi. kurikulum disusun berdasarkan penilaian bidang isi www. Pada standar berbasis kompetensi kurikulum disusun berdasarkan penilaian tentang berbagai kompetensi yang akan dicapai alumninya. industri (Prawitasari. kurikulum disusun berdasar pertimbangan struktur organisasi yang harus dimiliki oleh program studio Kurikulum pendidikan psikologi saat ini disusun berdasarkan standar kompetensi.htm yang harus dimasukkan sebagaimana tercermin dalam daftar mata kuliah dan silabi. psy/career _path/foren sic/subfield3. Pengetahuan. hal ini menguntungkan namun di sisi lain akan merugikan. misalnya untuk rnemiliki kompetensi sebagai psikolog di lembaga pemasyarakatan dibutuhkan mated terkait dengan asesmen dan intervensi) dan hukum (sesuai dengan sistem hukum yang berlaku di negara tersebut).psY/career_path/ forensic/subfield5. standar berdasarkan structural (structuralbased standards). agar clapat berprofesi sebagai psikolog forensik dibutuhkan pendidikan dan pelatihan khusus. Mengingat profesi membutuhkan lebih banyak keterampilan dibanding sebagai ilmuwan. Dan misalnya ketika mahasiswa lulus magister profesi klinis maka ia menjadi psikolog klinis umum.edu! ACADEMICS/sch _pas.350 PROBOWATI dibutuhkan kemampuan yang lebih spesialistis dari lulusan yang dihasilkan magister profesi psikologi saat ini yang sifatnya masih generalis. 20 Weiner & Hess. correctional psychology. 2000). Agar ilmuwan dan profesi psikologi forensik lebih banyak dihasilkan maka ada dua saran langkah yang dapat dilakukan. Pada standar berbasis struktural. pengembangan sumber daya manusia dan psikologi konseling. Saran Ada tiga macam standar penyusunan kurikulum (Weiss dalam Supraktiknya. kemampuan dan keterampilan yang diajarkan terkait dengan psikologi (materi psikologi disesuaikan dengan bidang terkait. standar berdasarkan kompetensi (competency-based standards). Dari sisi keilmuan psikologi forensik ini masih lebih memungkinkan. Juli 2007) sudah menetapkan kompetensi yang dicapai melalui pendidikan psikologi jenjang S 1 dan S2 (magister profesi dan sains). Dengan kondisi sistem pendidikan magister science dan magister profesi psikologi seperti saat ini tampaknya pengembangan psikologi forensik (baik untuk mencetak ilmuwan atau profesional psikologi forensik) kurang diuntungkan.htm 19 Criminal Investigative Psychology. pendidikan dan PIO. 2005 . atau di lembaga pemasyarakatan misalnya. (a) Diperlukan langkah berani institusi untuk memilih menjadi lebih spesialis dalam kompetensinya. Castleton State College (programnya menekankan pada psikologi polisi. Misalnya program magister profesi psikologi kebanyakan menetapkan minat klinis. Di luar negeri. yaitu standar berdasarkan isi (content-based standards). Kolokium XVII di Semarang 2007 (Pokja kolokium di Bandung. Kompetensi psikologi kognitif menyiapkan lulusan bekerja sebagai perancang di berbagai bidang seperti teknologi informasi. Keuntungannya mahasiswa akan belajar banyak hal. wcupa. Contoh seperti University of Melbourne menawarkan psikologi forensik dengan spesialisasi kriminologi'" atau University Malaysia Sarawak menawarkan pendidikan profesi jenjang S 1 dengan kompetensi psikologi kognitif. dari www.

Dua langkah tersebut akan membantu pengembangan psikologi forensik baik aspek keilmuan maupun aspek profesionalnya melalui jalur pendidikan.K. peneliti mencoba mengaitkan seluruh mata kuliah yang peneliti ambil dengan psikologi hukum/forensik. Demikian juga pada pendidikan magister sains. Laporan Penelitian. (1991). jika kedua langkah ini tidak dilakukan. Contoh pad a mata kuliah kasuistika.304-3] 1. Psychology and law. Saat ini ada 13 asosiasi dan asosiasi psikologi forensik rnenjadi asosiasi ke 13 . dan sebaliknya. perkembangan psikologi forensik dipastikan akan berjalan lamban. karena rnasih memerlukan tambahan materi hukum. maka lebih baik bila diberikan arahan karier dengan minat yang lebih spesifik. Misalnya ada mahasiswa yang berminat di psikologi klinis. 4. Tugas mata kuliah genetika perilaku peneliti kaitkan dengan agresivitas (relevansinya dengan agresivitas pada kriminal). A.PSIKOLOGI FORENSIK 351 Magister profesi psikologi forensik perlu dipikirkan untuk dibentuk. minornya psikologi pendidikan atau psikologi industri dan organisasi. Jadi minor yang dipilih mahasiswa masih bersifat umum karena kembali lagi pada pembagian 6 bidang tadi. Pasicif Grove. Tugas pada mata kuliah psikologi rehabilitasi peneliti kaitkan dengan rehabilitasi kriminal. (1995). Ancok. HIMPSI mengharapkan asosiasi dapat memberikan pelatihan bagi anggotanya dan memberikan sertifikat yang jika diakumulasikan akan memenuhi syarat sertifikasi untuk memperoleh pengakuan profesiona". beban kerja asosiasi menjadi lebih ringan dalam mempercepat gerak perkembangan psikologi forensik Indonesia. M.. Social Psychology. R. Beban tugas pengembangan ada pada asosiasi psikologi forensik Indonesia. demikian juga dengan mata kuliah lain seperti intervensi. Setiap program magister profesi yang ada diharapkan menghasilkan lulusan dengan kompetensi spesialisasi yang berbeda-beda sesuai keahlian sumber daya pengajarnya. Modifikasi dapat dilakukan pada program majoring dan minoring di program pendidikan profesi. D. Agar dapat membuat Iebih sejalan dengan kebutuhan masyarakat (dan sejalan dengan asosiasi peminatan di HIMPSI). New 21 Arahan ketua HIMPSI Pusat pada Asosiasi Psikologi di bawah naungan HIMPSI. Journal of PersonalityAssesment. (b) Jika Iangkah pertama dianggap terlalu sulit karena berbagai pertimbangan. LPPM Universitas Surabaya Audubon. (I994). HIMPSI akan melakukan sertifikasi bagi psikolcg terkait sesuai dengan asosiasinya. Bagaimanapun sinergi institusi pendidikan psikologi dengan HIMPSI akan lebih dapat menghasilkan psikolog-psikolog yang sesuai dengan kehutuhan masyarakat. & Bartol. Tugas-tugas yang diberikan mengarah materi yang terkait dengan kompetensi psikologi forensik. B. misalnya menjadi psikolog forensik di kepolis ian. Anak-anak korban kekerasan seksual. Kompetensinya juga disusun sesuai dengan kebutuhan di rnasyarakat. (1982).. l.C. & Kirwin. (2002). Defensiveness in the criminal insane. karena tantangan pennasalahan di masyarakat sudah semakin banyak. Bartol. mahasiswa yang berminat menjadi ilmuwan psikologi forensik difasilitasi agar melakukan kajian/meneliti permasalahan psikologi forensik pad tugas mata kuliahnya. J. maka institusi (khususnya pendidikan magister profesi) dalam proses pembelajarannya memodifikasi pendidikan yang selama ini telah dilakukan. R. Jawa Post. Analisis profit kepribadian pegawai lembaga pemasyarakatan wan ita Malang untuk efektivitas peningkatan pemecahan masalah interpersonal. C. Dengan dukungan institusi pendidikan psikologi. 21 Februari 2008 di Yogyakarta. J . h. maka ia diarahkan mengambil minor di bidang psikolog forensik. mahasiswa diarahkan mengambil klien dengan kasus forensik. Bimbingan karier dosen dalam mengarahkan mahasiswanya menjadi suatu hal yang sangat penting. J. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Namun. J. Artiawati. California: Brooks/Cole Publishing Company Brigham..Pengalaman peneliti kuliah 8-2 dan S-3 (Sains) di Universitas Gadjah Mada. 46(3). (2008. namun palking tidak sudah ada sinergi antara institusi pendidikan dengan asosiasi yang ada di HIMPSI. atau psikolog forensik di lembaga pemasyarakatan. dan ia berminat di bidang psikologi forensik. Walau langkah kedua ini belum semaksimal langkah pertama. Pustaka Acuan Amriel. 9 April). & Pudjibudoyo. Nuansa psikologi pembangunan. Selama ini mahasiswa yang mengambil majoringnya psikologi klinis.

29. Stringer. Y ogyakarta: Yayasan Pembina Fakultas Psikologi UGM. and Law.2-16. Disertasi. Tantangan psikologi menghadapi mlenium baru.D. Soetjipto & S. P.. S. Brown. Journal of Sexual Aggression. Prawitasari. (2004a). 1 Desember).352 PROBOWATI York: Harper & Collins. Thesis. Forensic psychology: A guide to practice. G. (1997).. & Geiselman. M. (2008.. Probowati. 15. (2000). 13. Kolokium Psikologi Indonesia. Constanzo. Ability to empathise and masculinity levels: Comparing male adolesence sex offenders with a nonnative sample of non-offender adolescence. M. Criminal Behaviour and Mental Health. Ibu bunuh dua balitanya. Psikologi Nusantara: Kesanakah kita menuju? Pidato Lustrum VIII. A. Browne. P. A. J. Spencer. K. L.. 155 -167. Y ogyakarta : Program Doktor Psikologi Universitas Gadjah Mada. Kohnken. (2004). him. D. Hasil rapat pokja komisi C tentang kompetensi magister profesi dan sains. R.132. Stringer. (2005).(2001). E. Kontribusi psikologi dalam dunia peradilan: Dimana dan mau kemana? Indonesian Journal-Legal and Forensic Sciences. Nila bebas. Hossack. G.59. Tidak diterbitkan. L. 68-78. A. & Bechet. The impact of training on attitude towards sex offenders. R. Probowati. A. E. (2006). (1982). S. Kapardis. (2006). A. 183 -194. Y. R. Helpline: Accesible help inviting active or potential paedophiles. Presentated at the 28th International Congress of Psychology. Amador. A.. 56 . Aplikasi psikologi dalam sistem hukum (H. Beijing. J. Y.(2007. R. Journal of Applied Psychology. Journal of Sexual Agression. 11(2). emotion and sex offending. and general offenders. (2007). 197-207.. The process of judge' decision making (A qualitative research). Beech. and actuarial predictors. Perlunya pembinaan psikologis narapidana ditinjau dari pemenuhan HAM .. H. 722 -727. & Farman. Haryanto (Eds. Day. tidak diterbitkan. Rekuisitur jaksa penuntut umum dan kepribadian otoritaritarian hakim dalam Pemidanaan di Indonesia. Meliala. Craig. (2007). I. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. & Carey. R. Crime. (1998).10(2). 65-84. LTD Moeljatno (1982). Psychology and law. London: Routledge.175-195. B. 74 (5).M. Dalam Supratiknya. Pengalih bhs. S. Cambridge: Cambridge University Press. Jawa Post. K. H. dynamic. (1995). Female offenders with borderlines personality disorders: Some promising treatment developments. violence. 26-27 Juli 2007. (1983). Nee. Pengaruh etnik dan daya tarik fisik terdakwa terhadap pengambilan keputusan hakim. Departemen Kehakiman Republik Indonesia. Crime.. and Law. Y. S. Craig. Semarang. Pariaman. J .. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. & S. Costanzo..Y (2004b). Jakarta: Ghalia Indonesia. (2005). Prawitasari. Investigative interviewing: Psychology and practice. (1995). Journal of Sexual Aggression. A (2004). (1989). R. June 2004. E. hlm. Y ogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Soetjipto. C. M. Azas-azas hukum pidana. Gudjonsson. C. Singapore: John Wiley & Sons.. 1 (1). 123 .& Haward. Psychology applied to law.& Beech. & Wrights.. Program profesi dalam sistern pendidikan psikologi: Pengalaman di Fakultas Psikologi UGM. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada. 80(1). Journal of Applied Psychology. Playle. Criminal Behavioral and Mental Healt. Psikiater dan pengadiIan: Psikiatri Forensik Indonesia. Kolokium Psikologi Indonesia. C. Psychology. Probowati. Hasil rapat kolokium psikologi Indonesia. I.. Affect. (2000). 10(1). Farr. Bandung. 10(2). Singapore: Thomson Wadsworth. 16. Ascherrnann. (2005). Milne.. A. Probowati.A.). Psychology. 25-26 Mei. K. A (2008). S. Browne.E. pp. Effect of cognitive interview on the recall of familiar and unfimiliar events. & Bull.. Faturochman.). L. Craig. Pedoman pelaksanaan kitab undang-undang hukum acara pidana.. Jakarta: Yayasan Pengayoman. Howells. Fakultas Psikologi UGM. Sexual recidivism: A review of static. A. L. 24 Maret). Different in personality and risk characteristic in sex. (2004). Mantwill. (2004). 11(1).. Jawa Post. (2005). S. Fisher. Field test of the cognitive interview: Enhancing the recollection of actual victims & witnesses of crime. M.

Probowati. Probowati. disampaikan pada sosialisasi HAM tentang perlindungan dan pemenuhan HAM bagi Narapidana. Surabaya. D. Otoritarianisme dan pelaksana- an diskresi kepolisian pada anggota satuan fungsi lalu lintas di lingkungan POLDA DIY. Probowati. Probowati. S. Zubaidah. J. Supratiknya (2000) Kurikulum program sarjana psikologi 1994 dan scientist-practitioners split dalam psikologi. Y. Putra.26-31. Hubungan kepribadian otoritarian dengan pernidanaan hakim. 77-96. L.. S. The handbook of forensic psychology (3rd ed. 68(1). W.Y. Improving the quality of interviews for suspect of child abuse: A case study. Skripsi. Y. Psychology and crime.i. Prodjodikoro. 23(1). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. A. Ef feet of sex defendant on judge decision making. & Widaningrum. C. 13 Oktober.. Y. Presented at Psychology and Law Conference. Dibalik putusan hakim: Kajian psikologis hukum dalam perkara pidana. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya Widyaningsih. L. Adelaide. tidak diterbitkan. Weiner. & Hess. & Simmons. Inc. Skripsi. 7(1). Faturochman. H. Anima. R. & Few.. Peran psikologi dalam investigasi kasus tindak pidana. (2008). (2007). r. 68-77. (1983). (2004). (2002). Australia. New York: Routledge. Surabaya: EADP Universitas Surabaya. Probowati.PSIKOLOGI FORENSIK 353 Makalah. Kynan. C. Probowati.(2006). (2000).S. Diselenggarakan oleh Dirjen Lapas bekerja sarna dengan Plan Indonesia. Marginalized society in the city of Surabaya: A proposal for effective solution.). Indonesian Psychological Journal. W. B. (2005). Dalam Supratiknya.. (2007). Psychology. 12 (7). Makalah. disampaikan pada Workshop Lapas Anak yang Ramah Anak. Probowati. di Cisarua.29-35. Bandung: Refika Utama. Y.T. Putwain. Widaningrum.. & S. Y..).. Diselenggarakan oleh Departemen Kehakiman & HAM Jatim. Wrightsman.. Singapore: Wad worth Thomson Learning. & Sammons. Jurnal Psikodinamik-The Indonesian Journal of Psychology. Asas-asas hukum pidana di Indonesia. Wescott. Studi kasus proses pemulihan pada korban perkosaan. (2008). Psikologika Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikolog. XII (24).91-105. New York: John Wiley & Sons. Rehabilitation youth criminality. (2005). A. Jawa Barat. Forensic psychology. G. Crime. Tantangan Psikologi Menghadapi Milenium Baru. Peran psikolog perkembangan dalam permasalahan kekerasan seksual dengan korban anak-anak. (2001). (2003). W. & Rueffier. W. Probowati. L. Skripsi. (2004).. Haryanto (Eds. Laporan Penelitian. tidak diterbitkan. Use of hypnosis to enhance eyewitness testimony: Does it work ? Journal of Applied Psychology. and Law. K. Kekerasan melahirkan kekerasan: Studi kasus terhadap perempuan korban kekerasan. Contoh rehabilitasi (psikologis) pada anak binaan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. . 1(1). (2005b). Indonesian JournalLegal and Forensic Sciences. Y. & Sutrisno (2007). 70-77. (2005a). M. tidak diterbitkan. Y. Sanders. Yogyakarta: Yayasan Pembina Fakultas Psikologi UGM. Surabaya: Srikandi. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->