Jurnal Natur Indonesia 5(2): 139-144 (2003) ISSN 1410-9379

Zat hara air poros dan air permukaan Padang Lamun Bintan

139

Kandungan Zat Hara dalam Air Poros dan Air Permukaan Padang Lamun Bintan Timur Riau
Zulkifli, Efriyeldi
Jurusan Ilmu Kelautan, Faperika, Universitas Riau
Diterima 15-02-2003 Disetujui: 21-03-2003

ABSTRACT
Study on the nutrients content of seagrass bed of East Bintan was carried out in July and August 2002. The purpose of this research was to describe the characteristics of nutrients content in porewater and surface water of seagrass bed. Dissolved ammonia, nitrate or nitrite and phosphate in the porewater and surface water in seagrass bed were analyzed. The methods were spectrophotometry. In general, the nutrient in the surface water and porewater in Sungai Jang estuary was lower compared to that of the open coastal. The concentrations of nutrient in the porewater was higher than that surface water of seagrass bed. The ammonia, nitrate/nitrite and phosphate concentrations amongst that area of segrass bed varied. Physicochemical parameters (temperature, current velocity, transparance, salinity, pH, and dissolved oxygen) were also measured. Keywords: nutrient, porewater, seagrass, surface water

PENDAHULUAN
Ekosistem lamun (seagrass) merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan berbagai biota laut serta merupakan salah satu ekosistem bahari yang paling produktif. Ekosistem lamun daerah tropis dikenal tinggi produktivitasnya namun mempunyai kandungan zat hara yang rendah dalam air permukaan dan tinggi dalam air pori sedimen (pore water). Kunci utama untuk mengetahui fungsi sistem lamun terletak pada pemahaman faktor-faktor yang mengatur produksi dan dekomposisi bahan organik. Pertumbuhan, morfologi, kelimpahan dan produksi primer lamun pada suatu perairan umumnya ditentukan oleh ketersediaan zat hara fosfat, nitrat dan amonium yang memainkan peranan penting dalam menentukan fungsi padang lamun (Erftemeijer 1992; Patriquin 1992). Ketersediaan nutrien di perairan padang lamun dapat berperan sebagai faktor pembatas pertumbuhannya (Hillman et al, 1989; Moriarty & Boon 1989; Hemminga et al, 1991; Erftemeijer 1992; Erftemeijer et al, 1994), sehingga efisiensi daur nutrisi dalam sistemnya akan menjadi sangat penting untuk memelihara produktivitas primer lamun dan organisme-organisme autotrofnya (Hillman et al, 1989; Patriquin 1992). Zat hara fosfat, nitrat dan amonium diserap oleh lamun melalui daun dan akarnya, namun Short (1987) mengatakan bahwa penyerapan zat hara melalui daun

lamun di daerah tropis sangat kecil bila dibandingkan dengan penyerapan melalui akar. Di daerah tropis kadar zat hara di air poros lebih besar dibandingkan dengan di kolom air dan air permukaan (Erftemeijer 1993; Muchtar 1994 &1999). Penelitian-penelitian di bidang ini sekarang terus berkembang. Kendati kajian seagrass atau lamun sudah berjalan relatif lama yaitu sejak tahun tujuh puluhan, namun banyak fenomena menarik tentang karakteristik kandungan hara dalam air poros dan air permukaan padang lamun yang belum dimengerti dengan baik. Untuk memperoleh kejelasan ilmiah fenomena di atas perlu dilakukan kajian yang kuantitatif tentang karakteristik kandungan zat haranya (amonium, nitrat, nitrit dan fosfat) dalam air poros dan air permukaan padang lamun yang tumbuh di perairan Bintan Timur. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi ekosistem lamun di perairan Bintan Timur Kepulauan Riau, khususnya yang menyangkut ketersediaan zat hara dalam air poros (air pori sedimen) dan air permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kandungan zat hara (fosfat, amonium, nitrat dan nitrit) dalam air poros (air pori sedimen) dan air permukaan padang lamun yang tumbuh pada substrat yang berbeda di perairan Bintan Timur. Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh informasi penting tentang karakteristik kandungan zat hara di ekosistem padang lamun yang dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan sifat-sifat kimia padang lamun di perairan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol Nansen. salinitas. dan Spektrofotometer merek Spektronik 21. Penentuan lokasi penelitian berdasarkan tempat tumbuh lamun (substrat) yang berbeda.45 µm. Dengan membuat kurva kalibrasi (persamaan garis lurus) dari larutan standar dan memasukkan absorbansi dari contoh ke dalam kurva kalibrasi tersebut. larutan standar nitrat dan fosfat. Contoh diambil dari dua lokasi penelitian yang berbeda (sedimen terigen dan kapur/karbonat) dengan masing-masing tiga titik sampling. pH meter untuk mengukur derajat keasaman. amonium. senyawa ortofosfat yang terdapat dalam contoh air bereaksi dengan amonium molibdat membentuk senyawa kompleks amonium fosfomolibdat. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air laut permukaan dan air poros (air pori sedimen). juga diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan pengelolaan sumberdaya hayati kawasan pesisir. ice box.45 µm dan 0. pH dan oksigen terlarut dilakukan in situ (di lapangan). Perlakuan contoh dilakukan sebagai berikut: Sedimen dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan dalam wadah berisi es. Riau. Contoh air permukaan diambil dengan menggunakan botol Nansen. pipa paralon berdiameter 5 cm. Sedangkan bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menganalisis nitrat dan fosfat adalah larutan standar fosfat. Diambil sejumlah volume tertentu contoh air poros (air pori sedimen) dan air permukaan dan direaksikan dengan pereaksi-pereaksi spesifik. lalu disimpan dalam pendingin sampai waktu analisis. aquades. nitrat dan nitrit dianalisis secara spektrofotometri dengan menggunakan alat Spektrofotometer seperti yang diterangkan dalam Strickland & Parsons (1984). dimana pada masing-masing stasiun penelitian dibagi atas 3 (tiga) titik sampling. Contoh air permukaan langsung disaring dengan menggunakan kertas saring atau membran filter Whattman 0. Dalam suasana asam basa amonium bereaksi dengan natrium hipoklorit membentuk senyawa monokloramin. Sedangkan peralatan yang digunakan untuk pengukuran parameter kualitas air laut adalah thermometer untuk mengukur suhu. kemudian dikonversikan ke kadar amonium. yang dinyatakan dalam satuan mg/l. maka kadar fosfat dalam contoh air dapat diketahui (Strickland & Parsons 1984). Penentuan kadar amonium ditentukan dengan mencari kadar amoniumk air contoh. kantong plastik. BAHAN DAN METODE Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juli dan Agustus 2002 di perairan padang lamun Bintan Timur. kecerahan.2 µm. botol poliethilen. yaitu Lokasi I terletak di sekitar muara sungai Jang dimana padang lamun tumbuh pada substrat terigenous (lumpur dari daratan) dan Lokasi II terletak pada daerah perairan pantai yang terbuka dimana padang lamun tumbuh di rataan terumbu yang tumbuh pada substrat kapur/ karbonat (pasir dan puing karang mati). asam askorbat. asam sulfat. dan DO meter untuk mengukur oksigen terlarut. kemudian dimasukkan ke dalam botol plastik dan disimpan dalam wadah berisi es. Amonium fosfomolibdat mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang 885 nm. paralon yang dibenamkan pada substrat lamun sampai kedalaman 10 cm.2 µm. pereaksi brusin. larutan phenolptalein. timah klorida 25%. kertas aluminium foil. Dalam suasana asam. Selain itu.140 Jurnal Natur Indonesia 5(2): 139-144 (2003) Zulkifli. Contoh air permukaan dan sedimen dianalisis di Laboratorium Ekologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Contoh yang diambil adalah: Sedimen/substrat dan air poros (air pori sedimen). Dengan menggunakan reduktor asam askorbat senyawa kompleks tereduksi. kertas saring Whattman 0. hand refractometer untuk mengukur salinitas. Kandungan fosfat. Pengukuran parameter kualitas air laut seperti suhu. Selanjutnya disaring dengan penyaring Buchner yang menggunakan pompa pengisap. Air poros (air pori sedimen) akan keluar sebagai filtrat dan kemudian disaring lagi dengan membran filter 0. secchi disk untuk mengukur kecerahan. amonium molibdat. Penentuan kadar fosfat dengan metode spektrofotometri didasarkan pada pembentukan senyawa kompleks fosfomolibdat yang berwarna biru. Absorbansi dari senyawa fosfomolibdat tersebut berbanding lurus dengan kadar fosfat. Contoh air pori sedimen ditempatkan dalam botol poliethilen. Penentuan kadar amoniumk dalam air laut dengan metode spektrofotometrik didasarkan pada pembentukan senyawa indofenol yang berwarna biru. kecepatan arus. et al. dan asam sulfat pekat. Senyawa monokloramin yang Bintan Timur. diambil dengan menggunakan pipa . current drogue untuk mengukur kecepatan arus.

Dari nilai-nilai tersebut terlihat bahwa suhu perairan di semua lokasi pengamatan relatif stabil dan masih berada dalam kisaran suhu optimal untuk pertumbuhan lamun yaitu 28-300C (Zimmerman et al. penguapan. Hal ini diduga disebabkan oleh adanya pengaruh aliran massa air dari sungai yang ada di sekitar lokasi tersebut.0 0. 1989).0-8.6 29 8.0 0.1 5. hal ini dimungkinkan karena pantai terbuka ini merupakan daerah yang langsung menghadap ke perairan terbuka yang mempunyai arus yang cukup kuat. kecepatan arus. Nilai ini termasuk kisaran nilai yang cocok untuk kehidupan lamun dan biota yang ada di dalamnya.4 28. salinitas.8 27 7. Sedangkan pada Lokasi II kecepatan arus rata-ratanya adalah 0. Kecerahan di lokasi ini juga dipengaruhi oleh substrat dasar perairan.6 2 29.6 5. sedangkan nilai kecerahan terendah diperoleh di Lokasi I (rata-rata 0. Penentuan kadar nitrat dan nitrit dengan metode reduksi asam askorbat spektrofotometri didasarkan pada reduksi nitrat menjadi nitrit. Faktor yang cukup dominan mempengaruhi gerak arus di perairan Bintan Timur adalah faktor angin. Dengan mengukur absorbansi dari larutan contoh serta membandingkan dengan absorbansi larutan standar. Hasil pengukuran parameter kualitas air laut di perairan Padang Lamun Bintan Timur. Tabel 1.08 1.6 26 7. Senyawa nitrat direduksi menjadi nitrit oleh butiran kadminium yang dilapisi dengan tembaga dalam suatu kolom.2 5. Dengan adanya senyawa fenol dan hipoklorit berlebih menghasilkan senyawa indofenol yang berwarna biru yang dapat mengabsorbsi cahaya maksimum pada panjang gelombang 630 nm.7 0. Nilai derajat keasaman (pH) di kedua lokasi pengamatan berkisar antara 7. pH dan oksegen terlarut.6 m.0 5.2 3 29.02 0. curah hujan dan aliran sungai (Nybakken 1993). 1987. Phillips & Menez 1988. Salinitas pada Lokasi I (muara sungai Jang) nilainya lebih rendah dibandingkan dengan Lokasi II (perairan pantai terbuka). Kisaran nilai salinitas di perairan padang lamun Bintan Timur pada kedua lokasi cukup berbeda.6 m). Hasil pengukuran parameter kualitas air laut tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Berdasarkan hasil pengukuran suhu pada kedua lokasi pengamatan diperoleh nilai rata-rata 28.5 27 7.8 Rata -rata Lokasi II (Pantai terbuka) Ratarata 29.7 7. Kecepatan arus perairan di Lokasi I rata-ratanya adalah 0. yaitu antara 26-30 ‰ (Tabel 1).0 0.0 0.2 (Tabel 1).08 m/det.1 5.08 1. karena substrat yang halus cenderung mempunyai nilai kecerahan yang rendah.0 5.8 Suhu air merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan lamun. Pada umumnya salinitas di perairan pesisir selalu berfluktuasi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Disamping itu. Lokasi Penelitian Para meter Lokasi I (Muara sungai Jang) 1 2 29.6 26. arus (m/det) Kecerahan (m) Salinitas (‰) pH Oksigen terlarut (ppm) o 28. kecerahan.04 0.08 1.7 29 8.6 30 8.8 1 29.0 6.70C (Tabel 1). Rendahnya nilai kecerahan di Lokasi I diduga karena lokasi ini merupakan daerah yang mendapat masukan partikel-partikel tersuspensi dari sungai sehingga menghalangi kemampuan cahaya matahari untuk menembus perairan. Nilai . Parameter kualitas air laut yang diukur meliputi suhu.5 0.2 6. antara lain pola sirkulasi air. Arus ini relatif tenang karena berada di daerah semi tertutup. 141 HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter kualitas air laut merupakan faktor penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan lamun.05 0.09 1. Senyawa kompleks yang berwarna merah tersebut kemudian ditentukan kadarnya dengan Spektrofotometer UV-VIS (Strickland & Parsons 1984). Pertumbuhan lamun membutuhkan salinitas optimum berkisar 24-35 ‰ (Hillman & McComb dalam Hillman et al. Hasil pengukuran kecerahan perairan pada kedua lokasi pengamatan menunjukkan bahwa selama penelitian nilai kecerahan tertinggi terdapat pada Lokasi II dengan kecerahan rata-rata 1.3 8. Nybakken 1993). Senyawa nitrat yang terbentuk kemudian direaksikan dengan amin aromatik membentuk senyawa diazo yang berwarna merah muda.04 0.7 3 29. dangkalnya perairan dan keberadaan komunitas lamun juga mempunyai pengaruh yang besar dalam memperlambat gerak arus.3 0.5 0. maka kadarnya dapat dihitung (Strickland & Parsons 1984).6 29.04 m/det (Tabel 1). Perairan yang dangkal dan kerapatan lamun yang tinggi akan memperkecil arus.2 Suhu ( C) Kec.Zat hara air poros dan air permukaan Padang Lamun Bintan terbentuk ekivalen dengan banyaknya amoniumk yang terdapat dalam air contoh.

1081 0.0321 Amonium 0. dalam Short (1987) melalui penelitian pengikatan fosfat oleh lamun dengan menggunakan teknik perunut 32PO4.0825 0.0951 0.0269-0. Fosfat diambil oleh akar lamun kemudian dialirkan ke daun dan kemudian dipindahkan ke perairan sekitarnya (McRoy et al.0014 0.0032-0. nitrat dan nitrit (mg/l) dalam air poros (air pori sedimen) di perairan Padang Lamun Bintan Timur Lokasi Penelitian Lokasi I (Muara Sei.0301 mg/l dan 0. Kadar fosfat dalam air permukaan di sekitar muara sungai Jang (Lokasi I) lebih tinggi daripada di perairan pantai terbuka (Lokasi II).0090 0. amonium. nitrat dan nitrit (mg/l) Dalam air permukaan di perairan Padang Lamun Bintan Timur Lokasi Penelitian Lokasi I (Muara Sei. Tabel 2.0-8.5.0301 Amonium 0.0666 0.0446 mg/l dan 0. Sedimen merupakan tempat sumber utama untuk mendapatkan nutrisi. Nilai kandungan oksigen terlarut (DO) perairan padang lamun Bintan Timur selama penelitian cenderung berfluktuasi. Penelitian tentang siklus zat hara telah dilakukan di Moreton Bay oleh Iizumi et al. Lamun mempunyai kemampuan mengambil nutrisi melalui daun dan akarnya (Erftemeijer 1992 & 1993.0032 0.4322 0. respirasi biota air dan pemakaian oleh bakteri nitrifikasi dalam proses siklus nitrogen di padang lamun. et al. menyimpulkan bahwa fosfat dalam sedimen adalah sumber utama untuk pertumbuhan lamun. karena dalam sedimen mengandung kadar nutrisi yang lebih tinggi.1520 0.0633 0. Perez-Llorenz et al.0244 0.2732 0. Jang) Titik Sampling 1 2 3 Rata-rata Lokasi II (Pantai terbuka) 1 2 3 Rata-rata Kandungan Hara (mg/l) Fosfat 0. Air poros (air pori sedimen) dan air permukaan. amonium.0270 0. amonium.0364 0.0541-0. Tabel 3.2 mg/l (Tabel 1).0321 mg/l.0073 0. Nilai derajat keasaman (pH) optimum untuk pertumbuhan lamun berkisar 7. nitrat dan nitrit dalam air permukaan di perairan padang lamun Bintan Timur tertera dalam Tabel 3.0758 0. kisaran normal pH air laut adalah 7.1690 Nitrat/Nitrit 0.0964 0.0 (Phillips dalam Burrell & Schubell 1977).1022 0. amonium.2. Kandungan hara fosfat. diduga disebabkan karena daratan yang terkikis menjadi mineral-mineral terlarut dan mengalir ke perairan muara. Disamping itu.0902 Nitrat/Nitrit 0.0666 mg/l serta 0. Kadar fosfat dalam air poros dan air permukaan di perairan padang lamun sekitar muara sungai Jang (Lokasi I) berkisar masing-masing 0.3-9.0835 0.1422 0. sementara air permukaannya umumnya mempunyai kadar nutrisi yang rendah (Erftemeijer 1993.0397 0. 1993) dan dikatakan juga bahwa di daerah tropis pengambilan nutrisi oleh daun sangat kecil bila dibandingkan dengan pengambilan melalui akar. (1982).0140 0.0100 mg/l dan 0.0100 0.0825 mg/l dan padang lamun di perairan pantai terbuka (Lokasi II) berkisar antara 0. Hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut pada kedua lokasi pengamatan berkisar antara 5. Berfluktuasinya kandungan oksigen terlarut di perairan ini diduga disebabkan pemakaian oksigen terlarut oleh lamun untuk respirasi akar dan rimpang.0325 0.0269 0.0147-0.8-8.0527 0.4-6. Hasil analisis kadar fosfat.0298 0. Udy & Dennison 1996).0254 0. Penhale & Thayer dalam Moriarty & Boon 1989).2184 0. Menurut Phillips dan Menez (1988). McRoy et al. Derajat keasaman (pH) perairan sangat dipengaruhi oleh dekomposisi tanah dan dasar perairan serta keadaan lingkungan sekitarnya.0997 0.1166 Hasil analisis kadar fosfat. Brix & Lyngby 1985. Susana (1989) melaporkan bahwa di muaramuara sungai yang mengalir ke Teluk Jakarta kadar .0397 mg/l dengan kadar rata-ratanya masing-masing yaitu 0.0995 0. nitrat dan nitrit dalam air poros (air pori sedimen) di perairan padang lamun Bintan Timur tertera dalam Tabel 2.0446 0.0541 0.0129 0.0205 0.0183 0.Jang) Titik Sampling 1 2 3 Rata-rata Lokasi II (Pantai terbuka) 1 2 3 Rata-rata Kandungan Hara (mg/l) Fosfat 0. Kandungan hara fosfat.0296 tersebut menunjukkan bahwa pH perairan cenderung bersifat basa dan termasuk kisaran normal bagi pH air laut di Indonesia yang pada umumnya bervariasi antara 6. 1982.0310 0.0140 mg/ l dan 0. di sekitar muara sungai Jang juga padat dengan pemukiman penduduk sehingga limbah-limbah rumah tangga akan masuk ke dalam perairan dan memperkaya ketersediaan fosfat di perairan tersebut.142 Jurnal Natur Indonesia 5(2): 139-144 (2003) Zulkifli.0285 0.1865 0.2354 0. hal ini disebabkan karena letak Lokasi I yang berada di sekitar muara sungai Jang.0147 0.0776 0. Sementara kadar fosfat dalam air poros sebaliknya (Tabel 2 dan 3).

P.R. Oksigen mempengaruhi kadar nitrat di dalam sedimen. Tetapi tidak demikian halnya dengan kadar fosfat dalam air poros. Burrell. 1977. Oksigen dapat masuk ke dalam sedimen karena adanya aktivitas biota dasar dan melalui sistem perakaran lamun. Indonesia. 1985. Tentative Final Report Prepared for LIPI and WOTRO.1690 mg/l dan 0. (eds). 1993. KESIMPULAN Kandungan hara (fosfat.0296 mg/l.0776 mg/l dan 0.. Seagrass Ecosystem: a Scientific Perspective. (1982) melalui penelitian penyerapan kinetik nitrogen. Erftemeijer. Konsentrasi nitrat dan nitrit sangat rendah di sedimen dibandingkan amonium. DAFTAR PUSTAKA Brix.02540. P and Mc Millan.A. & Lyngby. Mar. . UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Proyek Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Tahun Anggaran 2002 dengan Nomor Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor: 004/LIT/BPPK-SDM/IV/2002.E.L.0285 mg/l.0364 mg/l dengan kadar rata-ratanya masingmasing adalah 0.0527-0. (1982) melaporkan bahwa kadar amonium dalam air poros dalam sedimen padang lamun Zostera marina dan Halodule wrightii di Beaufort. Kadar amonium dalam air poros di sekitar muara sungai Jang tercatat lebih tinggi daripada di perairan pantai padang lamun yang terbuka. Kenworthy et al. Oksigen yang masuk ke dalam sedimen tersebut dipakai oleh bakteribakteri nitrifikasi dalam proses siklus nitrogen (Iizumi et al.1520-0. Selain itu. Kadar amonium rata-rata air poros dan air permukaan di Lokasi I masing-masing adalah 0. Kadar amonium dalam air poros dan air permukaan di Lokasi I (muara sungai Jang) tercatat antara 0.Zat hara air poros dan air permukaan Padang Lamun Bintan fosfat dalam air permukaannya lebih tinggi daripada dalam air laut. Bull. Rendahnya kandungan nitrat dan nitrit diduga disebabkan kecepatan penggunaan oleh bakteri denitrifikasi dan bakteri anaerob. amonium dan nitratnitrit) dalam air poros (air pori sedimen) di perairan padang lamun Bintan Timur didapatkan lebih tinggi daripada kadarnya dalam air permukaan.C. North California lebih tinggi dari dalam sedimen yang tidak ditumbuhi kedua lamun tersebut. 54: 403-419. 90: 111116. Kadar nitrat dan nitrit dalam air poros dan air permukaan di Lokasi II masing-masing berkisar antara 0.0183 mg/l dengan kadar rataratanya masing-masing sebesar 0. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh kuatnya partikel-partikel sedimen kapur dalam mengikat fosfat.2184 mg/l dan 0. Ujung Pandang. lempung dan bahan organik di padang lamun juga lebih tinggi daripada di tempat-tempat yang tidak ditumbuhi lamun. Sci. C.0995-0.L. Factor limiting growth and production of tropical seagrasses: Nutrient dynamic in Indonesian seagrass beds (Buginesia IV). 1980). tanggal 9 April 2002.4322 mg/l dan 0. D. Differences in nutrient concentration and resources between seagrass communities on carbonate and terigenous sediments in South Sulawesi. J. Biol. Iizumi et al. hal ini disebabkan adanya aktivitas bakteri aerobik yang ada pada sekitar akar lamun yang dapat melarutkannya dalam bentuk kompleks dari unsur hara tersebut ke dalam sedimen. Kadar nitrat dan nitrit dalam air poros maupun air permukaan di Lokasi II lebih tinggi daripada di Lokasi I (Tabel 2 dan 3). 1992.1422 mg/l dan 0. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasig kepada saudara Evi Novita yang telah membantu dalam pengambilan sampel di lapangan dan saudara Elida Septi yang telah membantu dalam penganalisaan sampel di laboratorium. H.A.0758-0.0205-0. P.2732 mg/l dan 0. Kadar nitrat dan nitrit dalam air poros dan air permukaan di Lokasi I berkisar antara 0. kandungan lumpur. J. & Schubel.0325 mg/l dan di Lokasi II (perairan pantai padang lamun terbuka) diketahui sebesar 0.0090 mg/l. New York : Marcel Dekker. menyimpulkan bahwa nitrogen 143 (amonium) untuk pertumbuhan lamun didapatkan lebih banyak berasal dari sedimen sementara untuk nitrat lebih banyak diambil dari air permukaan.0014-0. Sebagian oksigen ini dipakai untuk respirasi akar dan rimpang dan sisanya dikeluarkan melalui dinding sel ke sedimen. Mar. Uptake and translocation of phosphorus in Eelgrass (Zostera marina). sementara yang terdapat di Lokasi II masing-masing adalah 0. Oksigen yang dihasilkan fotosintesis di daun dialirkan ke rimpang dan akar melalui lakunanya. Erftemeijer. Seagrass ecosystem oceanography.0902 mg/l.0997 mg/l.0964 mg/l dan 0. tetapi kadar amonium dalam air permukaan tercatat lebih tinggi di perairan pantai padang lamun yang terbuka (Tabel 2 dan 3).1166 mg/l dan 0. Hal yang sama dijumpai pula di lokasi penelitian (Lokasi I) yang terletak dekat muara sungai Jang.1022-0. Di dalam: McRoy.

Zieman. Walker.E. nitrogen and phosphorus content in Zostera nottii.W. M. A. Di dalam: Soemodihardjo. 1987. P. Di dalam: J. P. Particulate organic carbon.I. Udy. Moosa..C. Dinamika Komunitas Biologis pada Ekosistem Lamun di Pulau Lombok.C. Western Australia. Hattori.J.D. 3rd Ed. 1982. Marine Biology: An Ecological Approach. Phosphate cycling in an Eelgrass (Zostera marina L. E. 1980. G. 41:167-176. 17: 58-67. 1994. O. Zat hara dan kondisi fisik Teluk Kuta.. 1994.. M. Ecol. J.. 167: 1-311. A. Proceedings of an International Workshop.. Strickland. A. & Van Lent. Biol.G. R. 1989. J. Productivity and nutrient limitation of seagrasses. Short. F.W. R. Oceanogr.. 1992. & Kirkman. F. Di dalam: Larkum. Is growth of the Eelgrass nitrogen limited? A numerical simulation of effect of light and nitrogen on the growth dynamics of Zostera marina. Jakarta. Erftemeijer.H.P. Aquat. Progg. & Thayer. Struktur Komunitas Biologi Padang Lamun di Pantai Selatan Lombok dan Kondisi Lingkungannya. & Drosseart. R.. Mar.) Ecosystem. C. S. R.A. Exp. 1987.).P. Kadar fosfat di beberapa muara sungai Teluk Jakarta.H. Netherland: Elsevier Science Publishers. McRoy. Bot.W. Biology of Seagrasses. Mar.Muchtar. Lombok. Seagrass Biology. 1999. W.. J. (eds).A.K.. H. Barsdate. 1989. A practical Hand Book of Sea Water Analysis. Progr.L. Ecol. Indonesia. 54: 152-158. Jakarta: Puslitbang Oseanologi LIPI. Marine Biology. & Nienhuis. Interactions of seagrasses with sediment and water. Biology of Seagrasses. 1991. Ser. & Aswandy. Oecologia. J. Seagrasses. et al. McRoy.D.. I. Hemminga. 66: 59-65. P. Prosiding Seminar Ekologi Laut dan Pesisir I. Patriquin.. A. Walker.H. Mar. Nybakken. M. Kuo. Harper Collins College Publishers. D. & Alberte. Rottnest Island. R. T. Iizumi. 27: 41-57. 71: 85-96. Amonium regeneration and assimilation in Eelgrass (Zostera marina) Beds.. 27-29 November 1989. K. M. Mar.W. Ecol.D. J.A. W. Zimmerman. H. & Boon.A.J.. & McRoy. & Menez. 34: 319-322. . M. Kenworthy. (eds). 1984. McComb.J. A..P. 1982.G.A. di Lombok Selatan. (eds). 1993.W.. Ser.D. Fisheries Research Board of Canada. 25-29 January 1996.T. M. Limnol. Hattori & C..R.J.J. Estimating nutrient availability in seagrass sediments. Muchtar. Iizumi. Larkum. D. Karakteristik dan sifat-sifat kimia Padang Lamun. (eds). Bot. R. 1989. Phillips. Exp. Washington DC: Smithsonian Institution Press. Effects of sediment nutrients on seagrass: literature review and mesocosm experiment. W. Mar. Biol. Mar. Perez-Llorenz. H. McComb.L. D. & Dennison. D. Niel.S.C.I.. P. (eds. Di dalam: Larkum. Smith. Harrison. Nitrate and Nitrite in Interstitial Waters of Eelgrass Beds in Relation to the Rhizosphere. F. Phillips. M. Evidence for the influence of seagrasses on the benthic nitrogen cycle in a coastal plain estuary near Beaufort.E. Smekens. Jakarta: Puslitbang Oseanologi LIPI. & Nebert. & Parsons. 1988. & Hutomo. Arinardi. J. Susana.C. 15: 35-46. 1993. 1982. Indonesia. & Shepherd. The limited effect of in phosphorus and nitrogen addition to seagrass beds in carbonate and terrigenous sediments in South Sulawesi. Netherland: Elsevier Science Publishers. North California (USA).. Biol. Moriarty. T.C. The balance of nutrient losses and gains in seagrass meadows. J. M. C. 1996. & Mc Comb. 47: 191-201.X. The origin of nitrogen and phosphorus for growth of the marine Angiosperm Thalassia testudinium. A. Muchtar.J...A.. Ecol. J. Hillman.144 Jurnal Natur Indonesia 5(2): 139-144 (2003) Zulkifli. S. Stapel. D.W. 182: 123-140. H.G. Di dalam: Kiswara. S.J & Shepherd. M.W.J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful