P. 1
1

1

|Views: 107|Likes:
Published by Mas Anas

More info:

Published by: Mas Anas on Jun 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2011

pdf

text

original

http://www.pro-ibid.

com/content/view/104/1/
Metode bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam metode simulasi. Menurut Dawson (1962) yang dikutip oleh Moedjiono & Dimyati (1992:80) mengemukakan bahwa simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan menyusun dan mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses perilaku. Sedangkan menurut Ali (1996:83) mengemukakan bahwa metode simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan. Metode pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok seperti yang dikemukakan oleh Ali (1996:83) berikut ini ; (1) Sosiodrama : semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisa situasi sosial tertentu, (2) Psikodrama : hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya. Sosia drama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya dan (3) Role-Playing : role playing atau bermain peran bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau. Sedangkan Moedjiono & Dimyati (1992:80) juga membagi metode pengajaran simulasi menjadi 3 kelompok seperti berikut ini : (1) Permainan simulasi (simulation games) yakni suatu permainan di mana para pemainnya berperan sebagai tempat pembuat keputusan, bertindak seperti jika mereka benar-benar terlibat dalam suatu situasi yang sebenarnya, dan / atau berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan peran yang ditentukan untuk mereka, (2) Bermain peran (role playing) yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat diperkaya atau mengkhayal situasi pada suatu tempat dan/ atau waktu tertentu, dan (3) Sosiodrama (sociodrama) yakni suatu pembuatan pemecahan masalah kelompok yang dipusatkan pada suatu masalah yang berhubungan dengan relasi kemanusiaan. Sosiodrama memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang timbul dan menjadi perhatian kelompok. Berdasarkan kutipan tersebut, berarti metode bermain peran adalah metode pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku pura-pura dari siswa yang terlihat dan/ atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh sejarah sedemikian rupa. Dengan demikian metode bermain peran adalah metode yang melibatkan siswa untuk pura-pura memainkan peran/ tokoh yang terlibat dalam proses sejarah.

Teknik Tanya Jawab Teknik tanya jawab dapat diterapkan pada latihan keterampilan menyimak. teknologi. 4. pedagang.facebook. dokter. Teknik bersifat prosedural. 6. pemilihan ketua kelompok dan memotivasi siswa lainnya agar mau berbicara atau bertanya. sopir. murid juga dapat bertanya pada guru. 5. 7. 2001:1158). Misalkan : museum. Teknik Bermain Peran Teknik ini bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam hubungan sosialnya. 2. dongeng atau informasi tentang ilmu pengetahuan. alam dalam kehidupannya. Teknik Ceramah Pelaksanaan teknik ceramah dikelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan. kebun binatang. Teknik Diskusi Kelompok Teknik ini dapat dilakukan di kelas rendah dengan bimbingan guru. tempat pameran atau tempat karya wisata lainnya.com/topic. 3. Teknik yang baik dijabarkan metode dan serasi dengan pendekatan. bahasa dan seni. dan tumbuhan. Teknik Karya Wisata Teknik ini dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang berkaitan dengan materi pembelajaran. misal: sebagai guru. Teknik Pemberian Tugas Teknik ini bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran dan memiliki keterampilan tertentu. Setelah itu diharapkan siswa dapat menghargai jasa dan peranan orang lain. Berikut sejumlah teknik dalam pembelajaran bahasa Indonesia: 1. Teknik Sinektik Strategi pengajaran sinektik merupakan susatu strategi untuk menjadikan suatau masyarakat intelektual yang menyediakan berbagai siswa untuk bertindak kreatif dan menjelajahi gagasan-gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam. Selain guru bertanya pada murid. berbicara dan menulis. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. hewan. untuk siswa kelas rendah tugas individual seperti membuat catatan kegiatan harian atau disuruh menghafal puisi atau lagu. teknik ini mengacu pada implementasi perencanaan pembelajaraan Bahasa Indonesia di depan kelas. http://www. membaca.http://ian43.com/2010/10/25/teknik-pembelajaran-bahasa-indonesia/ EKNIK PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Teknik diartikan sebagai metode atau sistem mengerjakan sesuatu (KBBI.wordpress. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri sebagai tokoh atau pribadi tertentu.php?uid=24650087449&topic=6922 . Peran guru terutama dalam pemilihan bahan diskusi.

Juga bila kelompok itu terdiri dari orang-orang yang berbeda status. Kita Bisa Melakukan Kesalahan. bermain peran (role play). Permainan peran bisa pula menciptakan suatu rasa kebersamaan dalam kelas. maka kerumitan situasi dalam peran harus diminimalisir. namun ketika kelas mulai belajar saling percaya dan belajar berkomitmen dalam proses belajar. Role play sebagai suatu metode mengajar merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar dan diskusi tentang peran dalam kelompok. tetapi tidak berarti tidak dapat diatasi. Respons yang lembut dari pemain lain dan dialog-dialog berikutnya menciptakan suatu semangat belajar yang tidak akan segera dilupakan. Permainan peran juga memenuhi beberapa prinsip yang sangat mendasar dalam proses belajar mengajar. Kadang-kadang hubungan ini muncul sebagai faktor negatif. drama yang asli biasanya menggunakan naskah. tetapi mereka sangat berbeda dalam gaya. Meskipun pada awalnya permainan peran itu tampak tidak menyenangkan.Hendry Teknik yang terkenal akhir-akhir ini. Di tengah lingkaran. yang diberikan kepada seseorang oleh dirinya sendiri atau orang lain. Salah satu anggota kelompok berperan sebagai seorang pria yang terluka serius karena kecelakaan mobil. Pria muda itu marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi pada dirinya. Permainan peran ini menitikberatkan pada semangat yang dapat disertakan dalam teknik mengajar ini. maka permainan peran juga bisa digunakan dalam mengajar anak-anak prasekolah. Kelompok-kelompok kecil di kelas telah ditunjuk untuk memeragakan berbagai metode mengajar di kelas. termasuk bencana ini. Peran lainnya adalah Tuhan berusaha menjelaskan kepada pemuda yang memberontak ini tentang rencana-Nya. misalnya keterlibatan murid dan motivasi yang hakiki.saran yang tidak konsisten. Kelompok ini kemudian menyusun kursi membentuk lingkaran di dalam kelas.10 menit mungkin bisa membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Pada kesempatan yang lain. Bila seorang guru yang terampil bisa dengan tepat menggabungkan masalah yang dihadapi dengan kebutuhan dalam kelompok. "role play" telah berkembang menjadi berbagai bentuk dan variasi pendidikan dari tingkat pemula di sekolah dasar hingga ke tingkat yang lebih tinggi dalam pelatihan manajerial bisnis eksekutif. Kadang-kadang hasil yang benar-benar bermanfaat dapat dicapai. hasilnya mungkin hanya pengulangan yang dangkal dari apa yang sudah diketahui oleh setiap orang mengenai masalah yang dibahas. mereka mungkin enggan untuk terlibat karena takut direndahkan di depan anggota lain di kelas itu yang lebih pintar dan terkenal. dan penerapannya bisa segera dilakukan. Kesulitan-kesulitan dengan metode ini berat. Dalam Permainan Peran. meskipun anak muda ini sudah masuk ke sekolah Kristen dan memberikan hidupnya untuk pelayanan. salah satu kelas di seminari saya mengadakan permainan peran (role play) dengan cara yang unik. atau terlalu luas . Misalnya. Hubungan antarorang yang ada dalam kelompok merupakan suatu faktor yang penting agar permainan peran bisa berhasil. Meskipun keduanya tampak sama. kesulitan-kesulitan interpersonal yang pernah dialami oleh anggota kelompok bisa muncul di kelas dan merusak suasana permainan peran. sedangkan role play menggunakan unsur spontan atau setidaknya reaksi yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu. Masalah-Masalah dalam Permainan Peran Mungkin kekurangan utama dari pengajaran melalui permainan peran ini adalah ketidakamanan anggota kelas itu. atau penanganan yang salah karena guru tidak mempersiapkannya dengan baik. Di dalam kelas. suatu masalah diperagakan secara singkat sehingga murid-murid bisa mengenali tokohnya. maka "sharing" mengenai analisa seputar situasi yang dimainkan akan membangun persahabatan yang tidak ditemui dalam metode mengajar monolog seperti dalam pelajaran.mengajak kita kembali kepada psikoterapi tahun 1930-an. Nilai-Nilai dari Permainan Peran Role play bisa dipakai untuk murid segala usia. ketidaksesuaian dalam pengenalan peran ditunjukkan sebagai "role conflict" (konflik peran) -. Permainan peran memerlukan waktu. Beberapa anak mungkin memberikan reaksi negatif dalam berpartisipasi mengenai situasi yang akan dibahas dan mungkin dikritik oleh anggota lain di kelas itu. Sejak itu. Peran (role) bisa diartikan sebagai cara seseorang berperilaku dalam posisi dan situasi tertentu. Beberapa tahun yang lalu. maka kita bisa mengharapkan penyelesaian dari masalah-masalah hidup yang realistis. Bila role play digunakan pada anak-anak. karena penampilan yang tidak efektif dari pemainnya. dua kursi saling berhadapan dan dimulailah percakapan yang tidak direncanakan sebelumnya. Kesalahan-kesalahan itu bisa menguji beberapa solusi untuk masalah-masalah yang sangat nyata. Diskusi dalam kelas mengenai permainan peran yang dimainkan selama 5 -. Keterlibatan para peserta permainan peran bisa menciptakan baik perlengkapan emosional maupun intelektual pada masalah yang dibahas. Dalam ilmu manajerial. Suasana yang positif sering kali menyebabkan seseorang bisa melihat dirinya sendiri seperti orang lain melihat dirinya. Mungkin perbedaan yang paling menonjol adalah pada pelaksanaannya. Tetapi bila kita tetap memertahankan kesederhanaannya karena rentang perhatian mereka terbatas. Banyak guru yang tidak bisa membedakan antara "role play" dan drama.

bukan dalam kata-kata atau simbol-simbol.tetapi penting untuk kita perhatikan bahwa semuanya berfokus pada pengalaman kelompok. Konsep diri sangat tepat bila diubah melalui keterlibatan langsung dalam suatu situasi masalah yang realistis dan berhubungan dengan hidup daripada melalui apa yang didengar dari orang lain tentang situasi-situasi itu. Penting untuk mengevaluasi permainan peran dengan tujuan-tujuan yang sudah ditentukan. Salah satu struktur permainan peran yang mungkin bisa sangat membantu adalah sebagaiberikut. hal ini harus dilakukan dengan mengubah konsep diri. Kadang-kadang elemen-elemen ini bertindak sebagai perangsang untuk berpikir. Tekanan dan konflik di dalam kelompok tidak selalu buruk. Memainkan b. dan ini sering kali ditemukan dalam suatu permainan peran ketika semangat dalam kelompok itu mulai muncul. kita terlebih dahulu harus membagikan makna. tetapi spontan bebas memeragakan tokoh yang muncul dalam situasi tersebut. Mengevaluasi Meskipun kita tidak punya waktu untuk menggali setiap detail ini. Dalam bahasa psikologi "phenomenologikal". Pertanyaan kunci yang mungkin ditanyakan oleh pemimpin dan/atau kelompok-kelompok mungkin mulai terbentuk. Guru harus mengenalkan situasinya dengan jelas sehingga baik tokoh maupun penontonnya memahami masalah yang disampaikan. Menghentikan c. Tentukan masalah b. penonton harus memberikan solusi-solusi yang mungkin bisa digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang disampaikan. mendiskusikan hasil. Pilihlah tokohnya e. Dalam memilih tokoh. menjelaskan pemahaman kita atas setiap makna. anggota yang hanya diam saja harus didorong untuk ikut berpartisipasi. Prinsip-Prinsip Supaya Permainan Peran Bisa Efektif Sebagai suatu teknik mengajar. Pada saat menganalisa dan berdiskusi. 1. Dari keseluruhan proses. Ciptakan suasana di mana dia tidak perlu takut untuk membagikan ide-ide. guru yang bijaksana akan mencoba menerima para sukarelawan daripada memberikan tugas. Murid harus menyadari bahwa kemampuan berperan dalam permainan peran ini tidak kaku. Sama seperti para pemainnya. Melibatkan penonton d. bila perlu. Kelompok harus berbagi dalam menentukan masalah. mengubah makna-makna kita. Pertimbangkan latihan 2. Di akhir diskusi. membawakan situasi dalam role play. perlu untuk menghadapi masalah-masalah tertentu yang muncul pada saat permainan peran diadakan. dan kemudian. Peserta yang terlalu memonopoli harus ditegur pada saat diskusi permainan peran supaya dia tidak mendominasi kelompok sehingga justru menghentikan semangat diskusi. Situasi diskusi dan analisa permainan peran tergantung pada seberapa baiknya kita melibatkan penonton. dan mengevaluasi seluruh pengalaman. Bangun suasana d. Teknik permainan peran ini memberikan pendekatan . Mengelompokkan perilaku sering kali dilakukan secara berlebihan dan masuk dalam proses belajar. pertanyaan yang muncul seputar kevalidan tujuan utama. Persiapan a.sehingga kita harus menghindari menggunakan permainan peran. Menciptakan suasana mengajar yang bisa membawa perubahan konsep diri membutuhkan pola pengaturan yang berbeda. Manfaat yang paling besar dari metode ini dengan cepat menyeimbangkan kesulitan-kesulitan yang nampaknya sangat nyata dalam tahap-tahap persiapan awal. Buat persiapan peran c. Evaluasi harus dilakukan pada kedua kelompok dan dalam tingkat-tingkat pribadi. kelompok secara kolektif mengukur keefektivan dalam memberikan solusi terhadap masalah yang diberikan di awal kegiatan. Seluruh anggota kelompok (para pemain dan penonton) seharusnya berpartisipasi. penonton juga terlibat penuh dalam situasi belajar. Memainkan a. permainan peran didasarkan pada filosofi bahwa "makna ada pada orang-orang". Bila filosofi itu akurat. dan reaksi-reaksi pemain mungkin memberi manfaat dibandingkan dengan penonton. percaya bahwa tidak ada seorang pun yang akan menertawakan masukannya atau dengan kasar mengkritik kesimpulannya. Ada hal yang dinamakan "tekanan supaya kreatif". Sebaliknya. Jelaskan dan berikan pemanasan f. bukan pada perilaku unilateral guru.Biarkan kreativitas dari pemainnya berkembang dalam memerankan tokohdan jangan terlalu kaku pada situasinya. Menganalisa diskusi e. Penyelesaian masalah mungkin membutuhkan beberapa konseling pribadi di luar kelas. Para pemain mungkin dilatih di depan umum sehingga penonton tahu apayang diharapkan atau mungkin juga pemain dilatih secara pribadisehingga penonton dapat menafsirkan arti dari perilaku mereka.

Peran dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perasaan. yang dalam hidupnya senantiasa berhadapan dengan manusia lain atau situasi di sekelilingnya.Si A. baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Ia memiliki rasa senang. Perasaan dan sikap terhadap orang lain dan dirinya itu mempengaruhi pola respon individu terhadap individu lain atau situasi di luar dirinya. tidak senang. sikap. M.untuk melibatkan murid-murid dalam proses belajar mereka sendiri terhadap penjelasan konsep diri. sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukkan oleh individu terhadap individu lain. nilai. Abstrak Melalui bermain peran (role playing). Dari dimensi social. Namun perasaan tersebut diarahkan juga pada dirinya. tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton. Tanya jawab antara guru dan peserta didik. melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Karena tidak senang dan curiga ia cenderung menjauh. bermain peran diarahkan pada pemecahan masalah yang menyangkut hubungan antar manusia.blogspot. maka diperlukan metode dan teknik-teknik pembelajaran partisipatif. Pemecahan masalah dilakukan secara demokratis. evaluasi perilaku. Endang Komara. bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan social. Sebagai individu manusia memiliki pola yang unik dalam berhubungan dengan manusia lain. terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.com/2009/03/model-bermain-peran-dalampembelajaran_29. H. Karena senang dan penasaran ia cenderung mendekat. Dalam hal ini. melalui diskusi kelas. Agar pembelajaran partisipatif berjalan efisien dan efektif mencapai sasarannya. Dr. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara. dan ragu terhadap orang lain. Manusia merupakan makhluk social dan individual. Bermain peran merupakan salah satu alternative yang dapat ditempuh. para peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersamasama para peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan. over a year ago http://dahli-ahmad. penemuan dan inkuiri. B. Dari dimensi pribadi model ini berusaha membantu peserta didik menemukan makna dari lingkungan social yang bermanfaat bagi dirinya. Juga melalui model ini para peserta didik diajak untuk belajar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok social yang beranggotakan teman-teman sekelas. percaya. Hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu model yang dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran. terutama masalah yang menyangkut hubungan antar pribadi peserta didik. Dengan demikian melalui model ini peserta didik juga dilatih untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis. Pembelajaran partisipatif merupakan fenomena yang sedang tumbuh dalam pendidikan. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap dirinya dan . Pendahuluan Dalam pembelajaran guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah. daan berbagai strategi pemecahan masalah. ucapan dan tindakan.html MODEL BERMAIN PERAN DALAM PEMBELAJARAN PARTISIPATIF Oleh: Prof. dan meluruskan perilaku tersebut dengan kenyataan. Setiap jenis pembelajaran menggunakan metode dan teknik yang disesuaikan dengan factor-faktor yang ada disekelilingnya. berinterdepedensi dan pengaruh mempengaruhi. Manipestasi tersebut disebut peran. curiga. model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi social. Sebagai suatu model pembelajaran. Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah. Mereka berinteraksi. baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan social.

Prinsip dalam kegiatan belajar adalah bahwa peserta didik memiliki kebutuhan belajar. Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran partisipatif ternyata bermacam ragam. Teknik-teknik pembelajaran dalam setiap metode itu tidak dapat dipisahkan secara mutlak. termasuk teknik kontak social. Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan. Dalam metode pembelajaran kelompok terdapat teknik diskusi. marah. sebagai wujud interaksi dukasi antara pendidik dengan peserta didik dan/atau antar peserta didik. Prinsip-prinsip tersebut dijabarkan dalam langkah operasional kegiatan pembelajaran. Seangkan peserta didik berperan untuk mempelajari. senang. Dalam metode pembelajaran perorangan dikenal teknik pembelajaran yaitu tutorial. sikap dan nilai yang mendasarinya.terhadap orang lain. Untuk kepentingan tersebut. dan membimbing peserta didik supaya peserta didik melakukan kegiatan belajar. B. Pembahasan . Ke dalam metode pembelajaran masal atau pembangunan masyarakat. Bermain peran berusaha membantu individu untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan. Seorang pemeran harus mampu menghayati peran yang dimainkannya. Prinsip dalam kegiatan membelajarkan bahwa pendidik menguasai metode dan teknik pembelajaran. (2) memperoleh wawasan tentang sikap. magang. Hakekat pembelajaran bermain peran terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. serta langkah-langkah identifikasi masalah. setiap pemeranan dapat melatih sikap empati. untuk dapat berperan dengan baik. Pada pembelajaran bermain peran. Pemeranan tenggelam dalam peran yang dimainkannya sedangkan pengamat melibatkan dirinya secara emosional dan berusaha mengidentifikasikan perasaan dengan perasaan yang tengah bergejolak dan menguasai pemeranan. Dengan demikian. pembelajaran individual. peserta didik berinteraksi dengan orang lain yang juga membawakan peran tertentu sesuai dengan tema yang dipilih. seperti metode demonstrasi yang digunakan dalam metode pembelajaran kelompok dapat digunakan pula dalam metode pembelajaran missal/pembangunan masyarakat atau dalam metode pembelajaran perorangan. berdasarkan pengelompokan metode. Pendidik berperan untuk memotivasi. pemecaham masalah kritis. dan peran lainnya. Melalui bermain peran dalam pembelajaran. bimbingan perorangan. yakni perasaan. sedangkan teknik pembelajaran adalah langkah atau cara khusus yang digunakan pendidik dalam masing-masing metode pembelajaran. mempelajari kembali. analisis. memecahkan masalah guna meningkatkan taraf hidup dengan berpikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya. pemeranan. Oleh sebab itu. memahami teknik belajar. Selama pembelajaran berlangsung. Pembelajaran partisipatif memiliki prinsip tersendiri dalam kegiatan belajar dan kegiatan pembelajaran. aksi partisipasi. karena suatu teknik dapat pula digunakan dalam metode yang berbeda. dan diskusi. simpati. dan metode pembelajaran missal atau pembangunan masyarakat (community methods) (Verne dan Knowles. Melalui peran. demontrasi proses dan/atau demontrasi hasil. (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan. yang dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu metode pembelajaran perorangan (individual methods). dan berperilaku membelajarkan peserta didik. tetapi pada factor penentunya. Teknik-teknik pembelajaran partisipatif. simulasi. 1977:13). diharapkan para peserta didik dapat (1) mengeksplorasi perasaannya. situasi hiptetis. dan berperilaku belajar. diperlukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain. menunjukkan. persepsi dan sikap. pemeranan tidak dilakukan secara tuntas sampai masalah dapat dipecahkan. bermain peran dan sebagainya. sejumlah peserta didik bertindak sebagai pemeran dan yang lainnya sebagai pengamat. Penerapan pembelajaran partisipatif mensyaratkan tersedianya berbagai metode dan teknik pembelajaran yang cocok untuk itu. dan (4) mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara. rasa benci. memaham materi atau bahan belajar yang cocok dengan kebutuhan belajar. Metode pembelajaran adalah kegiatan atau cara umum penggolongan peserta didik. beraneka ragam pula. diskusi setelah bermain peran akan berlangsung hidup dan menggairahkan peserta didik. ‘’paksaan sosial’’ (social pressure). demontrasi. kerja kelompok. sorogan. metode pembelajaran kelompok (group methods). Hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa kepenasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan mencari jalan ke luar. nilai. dan persepsinya.

berupa sikap. pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Namun demikian. menarik dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik. d. Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran. menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. (7) pemeranan ulang. (9) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Dengan demikian. bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. nilai. perasaan dan system keyakinan. serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. (2) memilih partisipan/peran. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain. terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Kesembilan tahap tersebut dijelaskan sebagai berikut. Dengan demikian. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut: a. Oleh sebab itu. Masalah dapat diangkat dari kehidupan peserta didik. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran. (2004:141) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social. M. Model Bermain Peran Menurut Dr. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi. (5) pemeranan. c. (3) menyusun tahap-tahap peran. serta memungkinkan berbagai alternative pemecahan. Mulyasa. para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu. yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. yakni (1) kualitas pemeranan. model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. langsung menyangkut kehidupan peserta didik. Denagn demikian. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. sedangkan dalam psikodrama. b. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan . dan memiliki hasrat untuk mengetahui bagaimana masalah yang hangat dan actual. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.1. Kedua. E. (6) diskusi dan evaluasi.Pd. (3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata. menjelaskan masalah. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran. para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. (8) diskusi dan evaluasi tahap dua. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah. para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain. dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual. Tanpa bantuan orang lain. (2) analisis dalam diskusi. Perbedaan lainnya. apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. (4) menyiapkan pengamat. Menurut Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran: (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik. dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. agar dapat merasakan masalah itu hadir dihadapan mereka.

apa yang mereka suka. dan sebagainya. agar pengamat turut terlibat. Diskusi dan evaluasi pembelajaran. sesuai dengan peran masing-masing. kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran. tak perlu memakan waktu yang terlalu lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. mereka perlu diberi tugas. apakah tempat sudah dipersiapkan. pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan. dan apa yang harus mereka kerjakan. hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang. apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Dalam hal ini. Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan. Diskusi dan evaluasi tahap dua. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup. dan mereka siap untuk memainkannya. misalnya di mana pemeranan dilakukan. Merka berusaha memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya. diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran. Para peserta didik menyetujui cara tertentu untuk memecahkan masalah. Diskusi mungkin dimulai dengan tafsirkan mengenai baik tidaknya peran yang dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang ditampilkan. pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan. Menyususn tahap-tahap baru. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak ada cara yang pasti dalam menghadapi masalah kehidupan. baik secara emosional maupun secara intelektual. dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. Guru membantu peserta didik menyiapkan adegan-adegan dengan mengajukan pertanyaan. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan. Persiapan ini penting untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik. guru. Hal ini mengandung implikasi bahwa yang paling penting dalam bermain peran ialah terjadinya saling tukar pengalaman. Proses ini mewarnai seluruh kegiatan bermain peran. tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional dengan temannya. diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam. Misalnya menilai apakah peran yang dimainkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Bagaimana keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran? Apakah pemeran dapat menghayati peran yang dimainkan? Tahap pemeranan. Mungkin proses bermain peran tidak berjalan mulus karena para peserta didik ragu dengan apa yang harus dikatakan akan ditunjukkan. tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan.memperhatikan masalah yang diajukan guru. guru dapat menunjuk salah seorang peserta didik yang pantas dan mampu memerankan posisi tertentu. Adakalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua. Sebaliknya pemeranan dihentikan pada saat terjadinya pertentangan agar memancing permasalahan untuk didiskusikan. tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. teman dan sebagainya. Shaftel dan Shfatel (1967) mengemukakan bahwa pemeranan cukup dilakukan secara singkat. meskipun dimungkinkan adanya peserta didik yang belum menyetujuinya. sesuai tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah peserta didik yang dilibatkan. Pemeranan ulang. dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Menurut Sharfel dan Shaftel (1967). 2. yang ditegaskan lagi pada tahap akhir. dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternative pemeranan. Pembelajaran Partisipatif . Menyiapkan pengamat. Jika para peserta didik tidak menyambut tawaran tersebut. bagaimana mereka merasakan. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya. sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. Mareka bercermin pada orang lain untuk lebih memahami dirinya. Memilih peran dalam pembelajaran. para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi.

dan penilaian pembelajaran. Melalui model pembelajaran bermain peran para peserta didik dapat berlatih untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. memerlukan waktu yang memadai (relative lama). strategi pembelajaran dapat diberi arti sebagai penetapan semua aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran. dan pelatih atau widyaiswara. sedangkan pendidik berfungsi untuk memfasilitasi peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Pendidik dengan penamaan lain baginya seperti pamong belajar.. peserta latihan). belajar dari pengalaman peserta didik dalam kehidupannya. Ph. Ed. peserta didik. Kesimpulan Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas. pendidik hanya berperan sebagai pembantu (fasilitator) peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar. 2. H. Strategi pembalajaran ini memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. pelaksanaan. Strategi pembelajaran yang berpusat pad peserta didik adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk terlibat dalam perencanaan. motivasi belajar relative tinggi. Strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik adalah kegiatan pembelajaran yang menekankan terhadap pentingnya aktivitas pendidik dalam mengajar atau membelajarkan peserta didik. (2) aktivitas dan pembelajaran cenderung akan didominasi oleh peserta didik yang biasa atau senang berbicara sehingga peserta didik lainnya lebih banyak mengikuti jalan pikiran peserta didik yang senang berbicara. pelaksanaan dan penilaian proses. Sudjana S. Strategi ini menekankan bahwa peserta didik adalah pemegang peran dalam proses keseluruhan kegiatan pembelajaran. dan memerlukan dukungan sarana belajar yang lengkap. Sedangkan secara luas. dan pengalaman peserta didik dalam bermain peran. kerumitan masalah. dan (3) pembicaraan dapat menyimpang dari arah pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. C. Ciri lainnya adalah bahwa strategi pembelajaran ini akan cocok untuk pembelajaran lanjutan tentang konsep yang telah dipelajari sebelumnya.D. warga belajar. Strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik memiliki beberapa cirri. Adapun kelemahannya antara lain: (1) membutuhkan waktu yang relative lebih lama dari waktu pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Ciri tersebut adalah bahwa pembelajaran menitikberatkan pada keaktifan peserta didik. Strategi kegiatan pembelajaran dapat ditinjau berdasarkan pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. . Kelas dapat diibaratkan sebagai suatu kehidupan social tempat para peserta didik belajar mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.Pd. Perencanaan. Beberapa factor yang perlu diperhatikan dalam memilih topic masalah dalam bermain peran agar memadai bagi peserta didik. adalah sebagai pemegang utama dalam stiap strategi kegiatan pembelajaran. peserta didik akan dapat merasakan bahwa pembelajaran menjadi miliknya sendiri karena peserta didik diberi kesempatan yang luas untuk berpartisipasi. hasil dan pengaruh kegiatan pembelajaran. latar belakang social budaya. dan penilaian proses serta hasil pembelajaran dilakukan dan dikendalikan oleh pendidik sedangkan peserta didik berperan sebagai pengikut kegiatan yang ditampilkan oleh pendidik. Kedua. kegiatan belajar dilakukan secara kritis dan analitik. yakni pendidik. strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. dapat menambah wawasan pikiran dan pengetahuan bagi pendidik karena sesuatu yang dialami dan disampaikan peserta didik mungkin belum diketahui sebelumnya oleh pendidik. S.D. yaitu kepedulian pendidik dan peserta didik (siswa.. strategi pembelajaran dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik. kepekaan topic yang diangkat sebagai masalah. antara lain usia peserta didik. dan kurikulum yang menjadi kepedulian keduanya. Keunggulannya adalah pertama. pelaksanaan. tumbuhnya suasana demokratis dalam pembelajaran sehingga akan terjadi dialog dan diskusi untuk saling belajarmembelajarkan di antara peserta didik. dan untuk pemecahan masalah yang dihadapi bersama dalam kehidupan. pembimbing.Dalam pembelajaran partisipatif terdapat tiga pihak sebagai pemegang peran seperti diungkapkan oleh Prof. peserta didik memiliki motivasi yang kuat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Secara sempit. Keempat. 1. Ketiga. M. maka dapat dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal berikut.. Berdasarkan kegiatan yang diitimbulkannya. termasuk di dalamnya adalah perencanaan.

Kogan Page . pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 2004. dan penilaian terhadap proses. 4. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. tujuan belajar. Kajian Pendidikan Masa Depan. Educational and The Good Life. Malcolm. 1994. Manajemen Pendidikan Nasional. Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif. Kegiatan pembelajaran partisipatif meliputi pembinaan keakraban.. 1976. John.3. perumusan tujuan belajar. penyusunan program pembelajaran. Skillbeck.A. White. School Based Curriculum Development and Teacher Education. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tilaar. Sudjana S. 1990.R. 2001. waktu dan fasilitas belajar serta factor sarana belajar. identifikasi kebutuhan. London: Educational Studies. hasil serta dampak kegiatan belajar. E. Bandung: Remaja Rosdakarya. D. Bandung: Falah Production. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan teknik pembelajaran partisipatif yakni factor manusia. DAFTAR PUSTAKA Mulyasa. Mimeograph: OECD. bahan belajar. H. sumber dan kemungkinan hambatan.

Belajar bahasa adalah belajar komunikasi. pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V SDN Sebandung II diketahui bahwa hanya 3 orang siswa dari 12 orang siswa (25%) mampu menceritakan kembali isi teks dengan klasifikasi baik. Faktanya berdasarkan pengamatan peneliti dan hasil tes pra tindakan. Skripsi. menceritakan kembali. SD. Universitas Negeri Malang.um.id/index. M. Ada internalisasi moral usai pembelajaran.M. Untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran dengan teknik bermain peran dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan bagaimana hasil penggunaan teknik bermain peran dalam meningkatkan kemampuan menceritakan kembali siswa kelas V SDN Sebandung II peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Penelitian tindakan ini dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas V sebagai observer. Peningkatan Kemampuan Menceritakan Kembali melalui Teknik Bermain Peran pada Siswa Kelas V SDN Sebandung II. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Kecamatan sukorejo Sekolah. Strategi yang dipandang menjanjikan adalah strategi pembelajaran dengan teknik bermain peran.ac. meningkat.http://karya-ilmiah. Suharjo. Materi bacaan yang digunakan oleh guru pada tiap-tiap siklus berbeda. Yang paling menarik dari hasil penelitian ini siswa tidak hanya mampu memahami isi cerita tetapi mampu memahami makna yang terkandung dalam cerita. Penggunaan teknik bermain peran dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V Sebandung II sebatas media pembelajaran untuk membantu siswa mengingat bagian-bagian penting dalam cerita sehingga siswa mampu menceritakan kembali isi cerita secara runtut dan lengkap sesuai dengan isi cerita dengan menggunakan pilihan kata yang tepat baik secara tertulis/lisan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Wiwin. karena itu pembelajaran bahasa harus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi.Pd. Pembimbing: (I) Dr. sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.M. Dengan bermain peran kemampuan . (II) Drs. Kata kunci: bermain peran.php/KSDP/article/view/7336 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENCERITAKAN KEMBALI MELALUI TEKNIK BERMAIN PERAN PADA SISWA KELAS V SDN SEBANDUNG II Wiwin Sumariyati Abstrak ABSTRAK Sumariyati. Muhana Gipayana.S. 2010.A.

Bagi calon pendidik semoga temuan ini dapat memacu semangat belajar untuk gemar meneliti sehingga mampu berperan sebagai guru yang benar-benar profesional. dan menulis dapat berkembang secara seimbang. Penelitian dengan teknik bermain peran dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti dapat meningkatkan kemampuan menceritakan kembali siswa kelas V di SDN Sebandung II. Kemampuan menceritakan kembali siswa Sekolah Dasar merupakan kemampuan proses berbahasa. Frekuensi latihan sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam berbahasa. berbicara.berbahasa seperti menyimak. Bagi Peneliti lain yang ingin mendalami teknik bermain peran. baik secara tertulis/lisan pada pembelajaran bahasa Indonesia. . Dari hasil penelitian ini guru dapat memperoleh gambaran tentang tingkat kemampuan berbahasa siswa. kelebihan dan kekurangan siswa dalam berbahasa. hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menindak lanjuti penelitian ini dengan mengambil populasi yang lebih besar. membaca. Peningkatan ini dibuktikan oleh keberhasilan tindakan mulai dari siklus I sampai dengan siklus III.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->