P. 1
lingkungan

lingkungan

|Views: 1,825|Likes:
Published by Reza Aditya

More info:

Published by: Reza Aditya on Jun 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Tujuan dan Sasaran
  • 1.3 Lingkup Kegiatan
  • 1.4 Metodologi
  • 1.5 Keluaran
  • 2.1 Kondisi Dan Sifat Lingkungan Laut
  • 2.2.1 Klasifikasi Wilayah Pesisir
  • 2.2.2 Sumber Pencemaran
  • 2.2.3 Tumpahan Minyak
  • 2.4 Proses Masuknya Bahan Pencemar Ke Dalam Ekosistem Laut
  • 3.1 Kondisi Industri Daerah
  • 4.1 Implementasi dan Penegakan Hukum (law enforcement) Bidang Kelautan
  • 4.3 Permasalahan Ketidakpastian Hukum
  • 5.1 Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah
  • 5.2.1 Efektifitas Pengelolaan dan Pemberdayaan Laut
  • 5.3 Konsep Tata Ruang Terpadu Darat dan Laut
  • 5.4 Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan
  • 5.5 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu
  • 5.6 Governance dalam Pengelolaan Kelautan

1

Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

KATA PENGANTAR
Pencemaran laut diartikan sebagai adanya kotoran atau hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke daerah laut. Sumber dari pencemaran laut ini antara lain adalah tumpahan minyak, sisa damparan amunisi perang, buangan dan proses di kapal, buangan industri ke laut, proses pengeboran minyak di laut, buangan sampah dari transportasi darat melalui sungai, emisi transportasi laut dan buangan pestisida dari pertanian. Namun sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal, pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal. Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut yang selalu menjadi fokus perhatian dari masyarakat luas, karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut. Pada umumnya kegiatan industri di daerah, menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan seperti aktifitas industri di sektor perindustrian, pertambangan dan sumberdaya mineral, pariwisata, kehutanan, pekerjaan umum, perhubungan, pertanian, kelautan dan perikanan, riset dan teknologi, dan perumahan rakyat, serta sektor kesehatan. Untuk lingkup permasalahan pencemarannya terhadap lingkungan terdiri dari bermacam kegiatan seperti kebocoran gas, tumpahan minyak dari tanker (oil spil), limbah pertambangan ke laut, kecelakaan kapal pengangkut bahan tambang mineral, pencemaran PLTN, illegal mining, penambangan tanpa ijin (PETI), pengeboran minyak lepas pantai, penambangan pasir laut untuk reklamasi pantai atau pulau, industri yang berada di pantai/pesisir, penggunaan bahan kimia pada aktivitas usaha tani di hulu, illegal loging, penggunaan kawasan hutan untuk pelabuhan, pengambilan terumbu karang untuk diekspor, pembuatan kapal yang menggunakan kayu, operasional kapal, kecelakaan kapal, kegiatan kepelabuhanan, illegal fishing, industri perikanan, tambak, pembangunan tempat rekreasi di pantai/pesisir, reklamasi pantai, wisata bahari, bahan beracun dari laboratorium, dan limbah domestik. Kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pencemaran lingkungan seperti terangkum di atas menghasilkan limbah yang menyebabkan pencemaran air laut yang memberikan dampak pada kehidupan di laut seperti berdampak pada ekosistem laut kerusakan terumbu karang, mangrove, padang lamun, estuaria dan lain-lain, yang membutuhkan waktu yang sangat lama dan teknologi yang memadai serta dana yang sangat besar dalam menyelesaikan permasalahan pencemaran limbah ini. 2
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

Dalam penyusunan Draft Perumusan Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan pada Aktivitas Industri Maritim, dimaksudkan untuk membuka wawasan kepada masyarakat dan bangsa Indonesia dan pemahaman akan lingkungan hidup khususnya di lingkungan laut yang ramah lingkungan. Laporan pembahasan dari perumusan draft kebijakan ini masih jauh dari sempurna dan mengharapkan saran-saran konstruktif guna penyempurnaannya. Jakarta, Juli 2006 Ketua Tim Penyusun/ Sekretaris Bidang Lingkungan Hidup

Dr. Elly Rasdiani Soedibjo, M.Sc, P.hD

3
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

........... 4. 2....... 4.......... II LINGKUNGAN LAUT .............................................. 4 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim ................. Daftar Gambar............ 2...………………………………………………………………………......................3 Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah……………..........DAFTAR ISI Hal Kata Pengantar......... 3.. 2................…………………………… i ii iii iv 1 1 2 2 3 3 4 7 8 8 11 19 20 27 27 32 35 37 37 39 43 44 47 47 BAB................ BAB..... 4.......................................................1 Pengelolaan Potensi Laut……………………………………………………………………........................…………………………………………………………………………………… Keluaran…....3 1..................... 3............................. III AKTIVITAS INDUSTRI DI DAERAH…………………………………………………………............................. Daftar Tabel ............1 Kondisi Industri Daerah………………………………………………………………........6 Governance dalam Pengelolaan Kelautan…………………………………………………................1..................................................... 2......................................... I 1............1.................................. Lingkup Kegiatan………………………………………………….........1 1..................5 PENDAHULUAN.............. IV PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT…………………………………………………....................................................................... 2..........3 Tumpahan Minyak…………………………………………………………………….1 Batasan dan Sifat – sifat Wilayah Pesisir........................... BAB....………........... Daftar Isi .2 Potensi Konflik Peraturan Perundang – undangan………………………………………… 3.................... Tujuan dan Sasaran……...........………………………………………………………………………............ Metodologi…............3 Konsep Tata Ruang Terpadu Darat dan Laut……………………………………………… 4.......................................…………………………………………………………................................................4 Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan………………………………………….........2 Proses Masuknya Bahan Pencemar ke Dalam Ekosistem Laut……………………….................. 2................................……………………………. Latar Belakang…….............. 4............................4 1.1 Klasifikasi Wilayah Pesisir....................5 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu………………………………....... 4......................2 1......3 Dampak Pencemaran Laut……………………………………………………………..…..................……………………………………......................1............……… BAB.........2 Efektivitas Pengelolaan dan Pemberdayaan Laut......................................2 Sumber Pencemaran ........... ...

..........DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Jenis Dan Sumber Bahan Pencemar Di Laut ..................................... 18 5 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .................................. 10 Beberapa Kasus Tumpahan Minyak Di Perairan Indonesia ................

. Gambar 6.......... 13 Terminal Bongkar Muat……………………………………………………………….............. Pemukiman di pesisir ………………………………………………………………… 9 Tumpahan Minyak di Laut…………………………………………………………….... 16 Pemukiman Padat Penduduk.. Gambar 5............. 25 BAB 1 PENDAHULUAN 6 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .. Gambar 4................. 11 Peta Alur Laut Kepulauan Indonesia………………………………………………… 12 Aktivitas Kapal Tangker………………………………………………………………........DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3...... Gambar 7.. 15 Pengeboran Lepas Pantai……………………………………………………………............

Sampai saat ini sudah cukup banyak undang-undang (UU) maupun peraturan mengenai lingkungan hidup dan kelautan yang sudah dihasilkan. Dalam memajukan pembangunan maritim. Pembangunan maritim Indonesia merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan wilayah perairan Indonesia sebagai wilayah kedaulatan dan yurisdiksi nasional untuk didayagunakan dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan dan ketahanan bangsa Indonesia. dan lingkungan laut juga tergantung pada penanganan lingkungan darat. Namun perhatian dan investasi yang telah dilakukan terhadap potensi laut belum merupakan upaya yang optimal.1 Latar Belakang Pembangunan maritim Indonesia merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkesinambungan. Industri maritim yang saat ini sedang terpuruk harus segera dibangkitkan kembali. Hal ini antara lain disebabkan karena rendahnya koordinasi antar sektor yang berkaitan. Penerapan tata kelola yang baik (good governance) melalui pelaksanaan prinsip-prinsip transparansi. Selain tumpang tindih ada indikasi masih banyak yang tidak saling menunjang. transportasi. Dilihat dari sisi lingkungan hidup. dan partisipatif dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan Hidup (LH) masih belum berjalan dengan baik. wilayah hukum dan lain-lain.1. tetapi masih banyak indikasi tentang terjadinya tumpang-tindih dalam pelaksanaannya. Akan tetapi jika diperhatikan. berbagai jenis komoditi dan usaha yang dapat digali dari sumber daya laut telah dilakukan di antaranya pemanfaatan laut untuk perikanan. Padahal majunya industri maritim sangat tergantung dengan lingkungan. kebijakan pembangunan nasional yang ada lebih berorientasi ke wilayah darat. pertambangan. akuntabilitas. sebagai lapangan kerja. Hal ini tentu saja menyebabkan aktifitas industri maritim yang ada cenderung tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Keharusan membangun kembali potensi kemaritiman didasari oleh kekhawatiran terhadap implikasi negatif pengurasan sumber daya lautan secara besarbesaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sangat kompleks. 7 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . lingkungan laut sangat rentan (vulnerable) dibandingkan dengan lingkungan darat hal ini karena lingkungan laut terdiri dari air sebagai massa yang senantiasa bergerak. pembangkit energi.

perlu dikaji lebih jauh apa yang menjadi tujuan pengkajian juga mengenai dampaknya terhadap industri maritim. 2.3 Lingkup Kegiatan Lingkup kegiatan pekerjaan ini adalah sebagai berikut: 1. 2. Mengkaji peraturan daerah yang berkaitan dengan kebijakan lingkungan di industri martim. baik dari segi jumlah maupun kualitas sumber daya manusia (SDM).Dengan lingkungan hidup serta kualitas aparat penegak hukum dalam bidang lingkungan belum optimal.2 Tujuan dan Sasaran Tujuan dari kegiatan ini adalah: 1. khususnya yang berkaitan dengan sektor lingkungan. dapat diketahui bahwa pengaturan pendayagunaan kelautan telah tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan secara sektoral. Terlaksananya penerapan tata pemerintahan yang baik (good governance) melalui pelaksanaan prinsip-prinsip transparansi. Tersusunnya naskah akademis di lapangan dalam rangka penyempurnaan kebijakan lingkungan di sektor industri maritim. Dalam kegiatan pemanfaatan laut. sehingga tidak tumpang tindih dan dapat diimplementasikan tanpa merugikan salah satu sektor. 1. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah: 1. dan partisipatif dalam pengelolaan SDA dan LH. untuk ditetapkan sebagai Peraturan Pemerintah (PP). Mensinergikan kebijakan-kebijakan antar sektor yang ada. Mengumpulkan data-data dari departemen-departemen dan instansi-instansi terkait diberbagai daerah. 1. Inventarisasi permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan pada aktifitas industri 8 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dengan cara mengisi kuisioner yang merupakan instrumen survei yang dibuat untuk mendapatkan data rill dan masukan. 2. akuntabilitas. Tercapainya keserasian antara peraturan daerah dengan peraturan nasional. Dengan perumusan kebijakan ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan kepada pemerintah pada sektor terkait mengenai permasalahan atau gap kebijakan yang terjadi antar sektor terkait. dimana dalam perumusan kebijakan industri maritim ini yang akan dihasilkan telah mencakup berbagai kepentingan sektor terkait. Oleh karena itu. 3.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Matriks ini berbentuk matriks analisis perbandingan peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan lingkungan dalam bentuk interaktif. dan penyajian hasil secara deskriptif. prasarana dan kelembagaan yang dapat mendukung industri maritim sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. 2. Perguruan Tinggi serta berbagai Asosiasi yang ada di daerah maupun pusat.4 Metodologi 1. 1. analisis kualitatif. Studi pustaka terhadap seluruh peraturan perundang-undangan yang terkait dalam pengelolaan wilayah pesisir.maritim melalui pembuatan matriks. Matriks akan memudahkan para peneliti atau pembaca dalam mencari keterkaitan antar peraturan perundang-undangan yang ada. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survei langsung ke beberapa daerah dan memberikan kuisioner kepada instansi terkait. dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah (Pemda). Melakukan rapat-rapat pertemuan dengan berbagai instansi terkait. 3. 4. seperti konservasi laut dan sanksi yang diatur. atau dapat dibuat suatu kebijakan yang belum mengakomodir masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh industri maritim. serta dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. 9 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . sehingga dapat diketahui kebijakan atau peraturan-peraturan antar sektor yang tumpang-tindih. Matrik ini merupakan materi yang digunakan untuk melakukan kegiatan selanjutnya. 3. Kuisioner ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai aktifitas industri maritim yang ada di daerah tersebut. Matriks akan disusun berdasarkan subyek dan kategori yang berbeda. diambil juga data maupun informasi dari berbagai departemen terkait. Dari data yang diperoleh juga dapat diketahui apakah di daerah yang bersangkutan sudah tersedia kebijakan. serta langkah-langkah apa saja yang telah dilakukan oleh Pemda dalam rangka menangani pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh industri tersebut. Karena dari data-data tersebut dapat diketahui kebijakan atau peraturan-peraturan yang dalam pengimplementasiannya masih tumpang-tindih dan belum sinergis. Selain data dari berbagai daerah. Menganilasa data-data (gap analysis) yang terkumpul. sarana.

5 Keluaran Keluaran yang diharapkan adalah suatu Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim. 6.4. 1. 5. pakar teknis. lembaga nonpemerintah. Membentuk kelompok kerja (pokja) atau tim yang terdiri atas pakar hukum. Diskusi dan konsultasi publik yang mendalam dengan pakar dan pemangku kepentingan untuk mendapatkan konsensus dan penyempurnaan hasil. 10 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . baik melalui pertemuan terbatas maupun dalam skala yang lebih besar. dan tim konsultasi dari berbagai institusi pemerintah terkait. Melakukan penulisan laporan sebagai bentuk rekomendasi publik dalam melakukan reformasi hukum di bidang pengelolaan lingkungan. dan akademisi.

berkembang pusat-pusat pemukiman manusia yang disebabkan oleh kesuburan sekitar muara sungai besar dan tersedianya prasarana angkutan yang relatif mudah dan murah. jadi tampak bahwa sumber daya alam wilayah pesisir indonesia telah dimanfaatkan secara beranekaragam. keadaan. Wilayah pesisir yang meliputi daratan dan perairan pesisir sangat penting artinya bagi bangsa dan ekonomi Indonesia. seperti mineral. Di daratan pesisir. Daerah pesisir merupakan salah satu dari lingkungan perairan laut yang mudah terpengaruh dengan adanya buangan limbah dari darat. daya. perairan pesisir juga penting artinya sebagai alur pelayaran. khususnya manusia dengan lingkungan hidup. dan dengan demikian merugikan perikanan. terutama di sekitar muara sungai besar. Kerusakan lingkungan dapat terjadi karena adanya kegiatan (aktifitas) yang dilakukan oleh manusia maupun karena pengaruh alam. Pada umumnya ekosistem kompleks dan peka terhadap gangguan. 1991).BAB 2 LINGKUNGAN LAUT 2. termasuk manusia dan perilakunya. gas dan minyak bumi serta pemandangan alam yang indah. misalnya limbah industri yang langsung dibuang ke lingkungan pesisir. Salah satu akibat samping dari kegiatan pembangunan diberbagai sektor dan daerah adalah dihasilkannya limbah yang semakin banyak. Namun perlu diperhatikan agar kegiatan yang beranekaragam dapat berlangsung secara serasi. Suatu kegiatan dapat menghasilkan hasil samping yang dapat merugikan kegiatan lain. Wilayah ini bukan hanya merupakan sumber pangan yang diusahakan melalui kegiatan perikanan dan pertanian. dan makhluk hidup. dan pengembangan industri juga banyak dilakukan di daerah pesisir. baik jumlah maupun jenisnya. yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. 1997). Limbah tersebut telah menimbulkan pencemaran yang merusak fungsi lingkungan hidup (Tandjung. Lingkungan pesisir terdiri dari dari berbagai ekosistem yang berbeda kondisi dan sifatnya. Dapat dikatakan 11 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan sebuah benda. tetapi juga merupakan lokasi bermacam sumber daya alam. tanpa mengalami pengolahan tertentu sebelumnya dapat merusak sumber daya hayati akuatik. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup (Bappedal.1 Kondisi Dan Sifat Lingkungan Laut Permasalahan lingkungan hidup adalah merupakan hubungan makhluk hidup.

Dari sudut pandang pembangunan. Pengrusakan ekosistem alamiah. padang lamun dan rumput laut. mulai dari kawasan permukiman (real estate). apabila terjadi konflik antara pemanfaatan sumberdaya untuk tujuan jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. seperti hutan hujan tropis. serta mencegah kerusakan ekosistem di wilayah pesisir. terutama disebabkan oleh konservasi segenap ekosistem menjadi berbagai peruntukan pembangunan.bahwa setiap kegiatan pemanfaatan dan pengembangannya dimana pun juga di wilayah pesisir secara potensial dapat merupakan sumber kerusakan bagi ekosistem di wilayah tersebut. sepanjang masih pada batas-batas yang dapat ditolerir oleh ekosistem alamiah dalam suatu kawasan pembangunan. 12 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . sektor kelautan sepertinya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan dunia swasta. Rusaknya ekosistem berarti rusak pula sumber daya didalamnya. Orientasi keuntungan ekonomi jangka pendek. namun masih terdapat terumbu karang. hutan mangrove. sebagai pengguna sumber daya alam dan jasa lingkungan pesisir. Padahal sumber daya yang dimiliki oleh sektor kelautan tidak hanya hutan mangrove saja. maka seringkali pembangunan yang bertujuan jangka panjang tersisihkan. pengelolaan. Kesadaran akan nilai strategis sumber daya yang dapat diperbaharui dan jasa lingkungan bagi pembangunan ekonomi masih rendah. pemanfaatan dan pengembangan wilayah perlu berlandaskan perencanaan menyeluruh dan terpadu yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekonomi dan ekologi. 2. Selama ini pembangunan yang dilakukan lebih banyak berorientasi untuk meraih keuntungan ekonomi jangka pendek (seperti industri. Dari sisi manusia. Dari sisi nilai strategis sumber daya hayati laut. dan terumbu karang. sebenarnya pengalihan fungsi ekosistem alamiah menjadi peruntukan pembangunan tidak menjadi masalah. karena dianggap nilai strategisnya masih kurang menarik dibandingkan nilai ekonomi jangka pendek dan menengah. pemukiman) tanpa mempertimbangkan keuntungan jangka panjang (konservasi). Akibatnya. seperti yang terjadi pada kasus reklamasi Pantai Indah Kapuk. secara garis besar permasalahan pembangunan pesisir bersumber dari masalah sebagai berikut: 1. hingga tambak. Agar akibat negatif dari pemanfaatan beranekaragam dapat dipertahankan sekecil-kecilnya dan untuk menghindari pertikaian antar kepentingan. kawasan industri. Permasalahan akan timbul bila tidak ada atau ekosistem alamiah yang tersisa dalam suatu kawasan pembangunan terlalu kecil.

ketidaktahuan dan ketidaksadaran bahwa kegiatan yang dilakukan telah mengancam kesinambungan sumberdaya pesisir dan lautan. dan penegakkan hukum masih lemah. erosi. Kerusakan ekosistem di kawasan pesisir. dan lain-lain. dan ketiga adanya peluang untuk melakukan kegiatan yang bersifat destruktif. industri. Meskipun di Indonesia telah banyak hukum dan peraturan yang mengatur tentang pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan yang berkelanjutan. Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran akan implikasi kerusakan lingkungan terhadap kesinambungan pembangunan ekonomi disebabkan karena pelaku kerusakan lingkungan tidak menyadari akan bahaya jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan pembangunan. Namun pada kenyataannya hukum dan peraturan-peraturan tersebut banyak yang tidak diimplementasikan. kedua tidak adanya alternatif matapencaharian. Hal ini disebabkan oleh lemahnya penegakkan hukum (law enforcement). Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya suatu lembaga khusus yang independen dengan otoritas penuh melakukan pengawasan dan penegakan hukum yang mengatur pengelolaan sumberdaya alam.3. egoisme sektoral (sectoral egoism) dan lemahnya koordinasi antara sektor. (3) Aktivitas yang ada di laut bebas seperti tumpah minyak dan pembuangan limbah cair (Bengen 2002). 13 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Tidak adanya alternatif pemecahan masalah lingkungan. Tingkat pengetahuan dan kesadaran tentang implikasi kerusakan lingkungan terhadap kesinambungan pembangunan ekonomi masih rendah. terdapat keterkaitan ekologi (hubungan fungsional) antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan daratan (lahan atas) dan laut lepas. setiap perubahan bentang alam daratan dan dampak negatif lainnya (seperti pencemaran. 4. Pengawasan. dan perubahan secara drastis regim aliran air tawar) yang terjadi di ekosistem daratan (lahan atas) pada akhirnya akan berdampak terhadap ekosistem pesisir. Secara empiris. pengeboman ikan. dan lain-lain. Tindakan destruktif yang dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya pesisir dan lautan disebabkan oleh tiga hal. (2) Aktivitas manusia di dalam ekosistem pesisir itu sendiri seperti konversi mangrove ke tambak. 5. pembinaan. Oleh karena itu. yaitu: pertama. Kurangnya pengawasan dan penegakkan terhadap pelaksanaan hukum baik di tingkat bawah (masyarakat) maupun tingkat atas (pemerintah) membuat kecenderungan kerusakan lingkungan lebih parah. kegiatan pertanian. secara umum bersumber dari: (1) Aktivitas manusia di darat atau lahan atas seperti penebangan hutan.

Wilayah pesisir juga merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas terluar dari daerah paparan benua (continental shelf). Sumber daya pesisir dan lautan memiliki berbagai sumber daya alam di dalamnya.2 Batasan dan Sifat-sifat Wilayah Pesisir Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut. dimana ciri-ciri perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar. yaitu batas sejajar garis pantai (long shore) dan batas tegak lurus terhadap garis pantai (cross shore). kawasan pemukiman serta tempat pembuangan limbah. pasang surut. gas dan mineral. Selain menyediakan dua sumber daya tersebut di atas. Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah yang unik karena merupakan tempat pertemuan pengaruh antara darat. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources). Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline) maka suatu wilayah pesisir memiliki 2 macam batas (boundaries). b. 2. kaya akan unsur hara 14 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Penurunan kualitas lingkungan kawasan pesisir terjadi apabila jumlah limbah telah melebihi kapasitas daya dukungnya. kawasan industri. Kerusakan lingkungan di kawasan pesisir tersebut disebabkan oleh akumulasi limbah yang dialirkan dari daerah hulu melalui Daerah Aliran Sungai (DAS). mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi. seperti: transportasi dan pelabuhan. wilayah pesisir dan laut memiliki berbagai fungsi lainnya. khususnya perairan estuaria. serta bahan tambang lainnya. pariwisata. baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut. yang terbagi atas dua jenis. perembesan air laut yang dicirikan oleh jenis vegetasi yang khas. yaitu: a. misalnya: sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya). misalnya: minyak bumi.Sebagian besar permasalahan lingkungan yang menyebabkan kerusakan kawasan pesisir dan laut merupakan akibat dari kegiatan-kegiatan di darat. laut dan udara (iklim). dan terumbu karang. Pada umumnya wilayah pesisir. agribisnis dan agroindustri. jasa lingkungan. dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan. mangrove. maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources).

dan menjadi sumber zat organik yang penting dalam rangkai makanan di laut. Sedangkan perairan samudera meliputi semua perairan ke arah laut terbuka dari batas paparan benua atau batas teritorial. Perairan estuaria adalah suatu perairan pesisir yang semi tertutup. yang berhubungan bebas dengan laut. pantai lumpur. 2. yang mengarah pada menurunnya kualitas lingkungan wilayah pesisir karena terganggu keseimbangan alami. (2) Hutan 15 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . perlu dipahami bahwa sebagai tempat peralihan antara darat dan laut. Dari segi fungsi. seperti pencemaran minyak hasil kegiatan eksploitasi tambang minyak di lepas pantai serta transportasi minyak. Pengaruh daratan pesisir terhadap perairan pesisir terutama terjadi melalui aliran air (run off). pantai karang. Akibat pengaruh aktifitas manusia yang meningkat. oleh karena itu merupakan wilayah yang peka terhadap gangguan akibat adanya perubahan lingkungan dengan fluktuasi di luar normal. sehingga dengan demikian estuaria dipengaruhi oleh pasang surut.1 Klasifikasi Wilayah Pesisir Wilayah pesisir terbagi menjadi dua subsistem. Apalagi ditambah dengan penangkapan ikan yang berlebihan (over fishing) dan pengrusakan ekosistem koral secara fisik. dan perairan pesisir (coastal water). buangan limbah pemukiman dan industri.2. dan terjadi pula percampuran yang masih dapat diukur antara air laut dengan air tawar yang berasal dari drainasi daratan (Odum. 1971). daratan pesisir sangat kompleks dan mempunyai nilai sumber daya yang tinggi. yaitu daratan pesisir (shoreland). wilayah pesisir ditandai oleh adanya gradient perubahan sifat ekologi yang tajam. Secara ekologis. Namun demikian. dimana keduanya berbeda tapi saling berinteraksi. Namun demikian yang perlu diperhatikan adalah sistem perairan pesisir dan pengaruhnya terhadap perairan pesisir dan pengaruhnya terhadap daya dukung (carrying capacity) ekosistem wilayah pesisir. pantai batu. perairan pesisir akan mengalami tekanan (stress). Klasifikasi wilayah pesisir menurut komunitas hayati yaitu: (1) Ekosistem litoral yang terdiri dari pantai dangkal. Perairan pesisir secara fungsional terdiri dari perairan estuaria (estuaria regime). dan perairan samudera (oceanic regime). wilayah pesisir merupakan zona penyangga (buffer zone) bagi hewanhewan migrasi. Perairan pantai meliputi laut mulai dari batas estuaria ke arah laut sampai batas paparan benua atau batas teritorial.

1991). (3) Vegetasi terna rawa payau. sehingga tidak merusak lingkungan laut. secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan manusia ke dalam lingkungan laut termasuk daerah pesisir pantai.2. 2.payau. dan (5) Hutan rawa gambut. kesehatan manusia. laut memiliki daya asimilasi untuk memproses dan mendaur ulang bahan-bahan pencemar yang masuk kedalamnya. Dampak pencemaran ini mempengaruhi kehidupan manusia. gangguan terhadap kegiatan di laut. Oleh karena itu pencemaran harus dikendalikan secara dini. menurunkan keanekaragaman hayati dan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem laut. 16 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . termasuk perikanan dan penggunaan lain-lain yang dapat menyebabkan penurunan tingkat kualitas air laut serta menurunkan kualitas tempat tinggal dan rekreasi (Kantor Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. sehingga dapat menimbulkan akibat yang merugikan baik terhadap sumber daya alam hayati. organisme lain serta lingkungan sekitarnya. Tetapi konsentrasi akumulasi bahan pencemar yang semakin tinggi mengakibatkan daya asimilatif laut sebagai “gudang sampah” menjadi menurun dan menimbulkan masalah lingkungan.2 Sumber Pencemaran Pencemaran laut adalah masuknya zat atau energi. Laut merupakan tempat pembuangan langsung sampah atau limbah dari berbagai aktifitas manusia dengan cara yang murah dan mudah. Secara normal. sehingga di laut dapat ditemukan berbagai jenis sampah dan bahan pencemar. (4) Hutan rawa air tawar.

Industri meubel. dan lain-lain. botol. Merkuri. Pabrik tekstil. semprotan nyamuk. Jenis dan Sumber Bahan Pencemar di Laut No. raksa.Gambar 1. industri. Pengeboran minyak.suarapublik. 9. cat. dan lain-lain. Erosi. Serbuk gergaji. kulit kayu Lumpur / pasir Tumpahan / buangan minyak Sianida 17 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . kaleng.org) Berdasarkan review dari berbagai sumber. Air pendingin mesin dari Pembangkit listrik Tenaga Diesel / Pembangkit Listrik Tenaga Uap / Kapal / Pabrik Rumah tangga. scelenium. diketahui ada berbagai jenis bahan pencemar di laut beserta sumbernya. 5. 1. Pemukiman di pesisir (Sumber: : www. baterai. insektidsida. tembaga. 4. 6. Rumah tangga. air sisa cucian. Bahan Pencemar Pestisida Sulfaktan Logam – semi logam Buangan thermis Contoh Herbisida. restoran. 3. playwood. 8. arsen. penambangan. kotoran manusia. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1. pasar. dan lain-lain. fungisida Deterjen. 2. Sampah rumah tangga dan industri Limbah organik industri Sedimentasi Minyak Zat kimia Plastik. dan lainlain. dan lain-lain. Penangkapan ikan karang. Air panas Sumber Lahan pertanian. sisa makanan. cadmium. 7. dan lain-lain. kapal (water ballast).

3 Tumpahan Minyak Pencemaran laut diartikan sebagai adanya kotoran atau hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke daerah laut. buangan industri ke laut. 2. merupakan senyawa yang mudah terurai dan berubah bentuk di dalam suatu badan perairan. emisi transportasi laut dan buangan pestisida dari pertanian. limbah pertanian. Non point sources. proses pengeboran minyak di laut.Dahuri dan Damar (1994) menyatakan. yaitu sumber pencemar yang tidak dapat diketahui secara pasti keberadaannya. karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut. buangan sampah dari transportasi darat melalui sungai. ditinjau dari daya uraiannya maka bahan pencemar pada perairan laut dapat dibagi atas dua jenis yaitu: 1. pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal. contoh: pencemar yang bersumber dari hasil buangan pabrik atau industri. dan deterjen. sisa bahan amunisi perang. merupakan senyawa-senyawa yang dapat bertahan lama di dalam suatu badan perairan sebelum akhirnya mengendap ataupun terabsorbsi oleh adanya berbagai reaksi fisik dan kimia perairan. Lebih lanjut Dahuri dan Damar (1994) mengatakan bahwa sumber bahan pencemar perairan laut dapat dibagi atas dua jenis yaitu: 1. 2. buangan dan proses di kapal. contoh: buangan rumah tangga. 18 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Point sources. contoh: logam-logam berat. Senyawa-senyawa non konservatif. sedimentasi serta bahan pencemar lain yang sulit dilacak sumbernya. lemak dan protein yang mudah terlarut menjadi zat-zat anorganik oleh mikroba. yaitu sumber pencemar yang dapat diketahui dengan pasti keberadaannya.2. Sumber dari pencemaran laut ini antara lain adalah tumpahan minyak. Senyawa-senyawa konservatif. Namun sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal. contoh: senyawa-senyawa organik seperti karbohidrat. 2. Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut yang selalu menjadi fokus perhatian dari masyarakat luas. pestisisda.

terutama karena tumpahan minyak di laut nusantara. posisi unik tersebut juga sangat rawan terhadap kerusakan lingkungan. Masalahnya adalah bahwa disamping memberi keuntungan ekonomi karena menjadi daerah lintasan pelayaran internasional. alur laut Selat Lombok terus melintasi Selat Makassar menuju arah Utara. Laut Banda menuju utara sampai Lautan Pasifik. alur laut Selat Sunda.Gambar 2. Indonesia memiliki empat alur laut kepulauan (ALKI).clarkson.edu) Sebagai lintasan pelayaran internasional. 19 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . melintas ke Laut Flores. yaitu alur laut Selat Malaka. Tumpahan Minyak di Laut (Sumber: www. dan yang terakhir alur laut kepulauan yang menerobos Nusa Tenggara Timur.

adalah wilayah yang terdapat pada alur laut kepulauan nusantara. Tumpahan minyak (oil spills) di laut disebabkan oleh aktifitas manusia. Aktifitas Transportasi Tumpahan minyak yang berasal dari pengangkut minyak. Karena lingkungan laut Indonesia beserta segenap sumber daya didalamnya merupakan potensi besar bagi pembangunan. yang paling rawan terhadap tumpahan minyak. Pelayaran kapal-kapal tersebut mengandung resiko terjadinya kecelakaan yang dapat mengakibatkan keadaan darurat tumpahan minyak yang dapat merugikan lingkungan laut. 20 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Selat Malaka memiliki kepadatan tertinggi. sehingga menjadi paling rawan terhadap pencemaran akibat tumpahan minyak. baik yang bersumber dari laut itu sendiri maupun yang bersumber dari daratan. antara lain yaitu: a. kemudian disusul oleh Selat Lombok dan Selat Makassar. maka harus dijaga dari berbagai kerusakan dan pengrusakan. kandas. Hal ini terjadi misalnya karena faktor kesalahan navigasi yang mengakibatkan: tabrakan. karena lalu-lalangnya kapal-kapal niaga termasuk kapal-kapal tanker minyak.Gambar 3. Peta Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Dari keseluruhan perairan Indonesia. biasanya memiliki resiko memiliki resiko yang besar dalam hal pencemaran laut.

Gambar 4.ican. Sebelum kapal berlayar. Disamping itu. Aktivitas Kapal Tangker (Sumber: www. selain memuat minyak kargo. Tidak dapat disangkal buangan air yang dipompakan ke laut masih mengandung minyak dan ini akan berakibat pada pencemaran laut tempat terjadi bongkar muat kapal tanker. proses pembersihan tangki ini ditujukan untuk menjaga agar tangki diganti dengan air ballast baru untuk kebutuhan pada pelayaran selanjutnya. 21 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .tenggelam dan terbakar.jp) Hasil buangan dimana bercampur antara air dan minyak ini pun dialirkan ke dalam tangki slop. Sehingga di dalam tangki slop terdapat campuran minyak dan air. setelah proses bongkar selesai sisa muatan minyak dalam tangki dan juga air ballast yang kotor disalurkan ke dalam tangki slop. Tangki muatan yang telah kosong tadi dibersihkan dengan water jet. kapal pun membawa air ballast (sistem kestabilan kapal menggunakan mekanisme bongkar-muat air) yang biasanya ditempatkan dalam tangki slop.co. sehingga kapal tanker pengangkut minyak itu menumpahkan muatannya dan mencemari laut dan pesisirnya. Sampai di pelabuhan bongkar. bagian air dalam tangki slop harus dikosongkan dengan memompakannya ke tangki penampungan limbah di terminal atau dipompakan ke laut dan diganti dengan air ballast yang baru.ja.

bocor maupun kecelakaan karena kesalahan manusia. Terminal Bongkar Muat Proses bongkar muat tanker bukan hanya dilakukan di pelabuhan.com) 22 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . namun banyak juga dilakukan di tengah laut. Proses bongkar muat di terminal laut ini banyak menimbulkan resiko kecelakaan seperti pipa yang pecah. Dalam aturannya semua galangan kapal harus dilengkapi dengan tangki penampung limbah.500 ton/tahun minyak yang terbuang ke laut akibat proses ini yang menyebabkan kerusakan lingkungan setempat. Dalam proses docking semua sisa bahan bakar yang ada dalam tangki harus dikosongkan untuk mencegah terjadinya ledakan dan kebakaran.b. Docking (Perbaikan / Perawatan kapal) Semua kapal secara periodik harus dilakukan reparasi termasuk pembersihan tangki dan lambung. sehingga buangan minyak langsung dipompakan ke laut.bumn-ri.members. Selain itu juga di Docking dilakukan proses scrapping kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua) ini banyak dilakukan di industri kapal di India dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Akibat proses ini banyak kandungan metal dan lainnya termasuk kandungan minyak yang terbuang ke laut. c. Gambar 5. namun pada kenyataannya banyak galangan kapal tidak memiliki fasilitas ini. Diperkirakan sekitar 1. Terminal Bongkar Muat (Sumber: www.

pemisah minyak dan air. namun pada kenyataannya banyak buangan bilga illegal yang tidak memenuhi aturan Internasional dibuang ke laut. Bilga dan tangki bahan bakar Umumnya semua kapal memerlukan proses ballast saat berlayar normal maupun saat cuaca buruk. Bilga adalah saluran buangan air. jumlah minyak yang mencemari lingkungan laut tidak boleh diabaikan. minyak. e. apalagi jika terjadi kecelakaan di tempat-tempat pengeboran maka jumlah minyak yang masuk mencemari laut menjadi lebih besar.com) 23 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . sehingga ceceran minyak akan langsung masuk ke laut. Aturan internasional mengatur bahwa buangan air bilga sebelum dipompakan ke laut harus masuk terlebih dahulu ke dalam separator. Saat cuaca buruk maka air ballast tersebut dipompakan ke laut sementara air tersebut sudah bercampur dengan minyak. Selain air ballast. Gambar 6. Pengeboran minyak lepas pantai Tumpahan minyak dari pengeboran minyak lepas pantai biasanya disebabkan oleh kebocoran peralatan pengeboran yang kurang sempurna. Bila ceceran minyak ini berlangsung terus-menerus.d.allposter. dan pelumas hasil proses mesin yang merupakan limbah. Pengeboran Lepas Pantai (Sumber: www. juga dipompakan keluar adalah air bilga yang juga bercampur dengan minyak. Karena umumnya tangki ballast kapal digunakan untuk memuat kargo maka biasanya pihak kapal menggunakan juga tangki bahan bakar yang kosong untuk membawa air ballast tambahan.

3. radang paru dan ginjal pada burung-burung tersebut. 4. dan treating process. Kamaluddin. yang disebut dengan breathing roots. 2. lumpur akan tertutup oleh deposit minyak yang dapat merusak sistem akar mangrove. Hutan mangrove yang hidup disepanjang pantai beradaptasi di dalam air laut dengan cara desalinasi melalui proses ultra-filtrasi. yang pada akhirnya akan merugikan kehidupan manusia. Beberapa dampak ekologis akibat dari tumpahan minyak adalah sebagai berikut (Laode M. berfungsi untuk menyerap oksigen melalui suatu jaringan aerasi yang kontak dengan udara. karena air limbah proses pengilangan bercampur minyak.f. 2002): 1. sebagian besar air dibuang kembali ke lingkungan sebagai limbah. Tumpahan minyak dapat mengganggu keseimbangan berbagai organisme aquatik pantai. sehingga difusi oksigen dari udara ke dalam jaringan aerasi terhambat. hutan mangrove dan rusaknya pantai wisata. Akar mangrove. yang tumbuh di dalam lumpur. Tumpahan minyak menghambat atau mengurangi transmisi cahaya matahari ke dalam air laut. sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem di laut. desalter. Lapisan tumpahan minyak mempengaruhi tingkat intensitas fotosintesis fitoplankton yang dapat menurunkan atau memusnahkan populasi fitoplankton. Kondisi ini merupakan bencana besar bagi kehidupan di perairan karena fitoplankton merupakan dasar bagi semua kehidupan perairan. seperti berbagai jenis ikan. memberikan dampak negatif ke berbagai organisme laut. Jika pantai tercemar minyak. Setelah digunakan di kilang. Pengilangan minyak Kegiatan di kilang minyak merupakan sumber yang dapat menimbulkan pencemaran minyak di perairan. Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak. Pencemaran air laut dari tumpahan minyak berdampak pada beberapa jenis burung laut. karena tumpahan minyak tersebut menyebabkan degradasi lemak dalam hati. dimana limbah ini banyak mengandung minyak yang dapat mencemari badan air dan pada akhirnya menuju ke laut. yang disebabkan karena absorpsi minyak bumi (cahaya matahari diserap oleh tumpahan minyak) atau cahaya dipantulkan kembali oleh minyak ke 24 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . pembesaran limpa. kerusakan saraf. misalnya air drain yang berasal dari stripping. terumbu karang.

dan floating boom. pengoperasian slick-lickers. Hal ini berhubungan dengan kemampuan hewan-hewan laut untuk mengakumulasi minyak di dalam tubuhnya. 21 tahun 1992 juga menyebutkan tentang perlengkapan kapal baik dalam operasi maupun penanggulangan kecelakaan (termasuk tumpahan minyak). Para produsen 25 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dalam hal ini mencari dan mengumpulkan data lapangan tentang penyebab terjadinya suatu kasus pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak di laut. maka pencemaran tersebut menurunkan kualitasnya.udara. Akumulasi ini sering menyebabkan daging ikan berbau minyak. Pencegahan pencemaran minyak di perairan ditujukan untuk berbagai sumber penyebab pencemaran. Perlu ada aturan yang jelas untuk diberikan sanksi kepada pemerintah yang memberikan izin tidak sesuai dengan aturan sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Menjadi tugas pemerintah dan seluruh komponen masyarakat untuk menegakan peraturan-peraturan yang ada. Di lain pihak. sehingga merugikan para nelayan karena tidak dapat menjual ikan tangkapan mereka. UU No. 5. Aspek Perlengkapan Beberapa teknik yang dapat direkomendasikan untuk penanggulangan minyak adalah: penggunaan spraying chemical dispersants. b. 6. kedua. Untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan polusi laut akibat tumpahan minyak ini terdapat 3 (tiga) faktor yang dapat dijadikan landasan yaitu: a. karena keindahan laut tertutup oleh lapisan minyak. serta dilaksanakan atau ditegakan dalam kenyataan. Berkaitan dengan perlengkapan kapal. Jika tumpahan minyak tersebut tidak mematikan sumber daya laut. tugas pemerintah ini juga harus diimbangi dengan dua faktor yaitu: pertama. tapi juga dapat menimbulkan rasa keadilan dan kepatuhan. Semakin tebal lapisan minyak maka pelarutan oksigen dari udara semakin terganggu dan akan merugikan biota-biota laut. ketersediaan sumber daya manusia yang memadai. adanya fasilitas yang memungkinkan untuk bergerak dinamis. Aspek Legalitas Suatu peraturan yang baik adalah peraturan yang tidak saja memenuhi persyaratan formal sebagai suatu perturan. Untuk bidang pariwisata. polutan minyak di perairan mengurangi minat wisatawan.

Hal yang penting untuk diperhatikan pada aspek ini adalah pentingnya penguasan prosedur dan teknik-teknik penanggulangan tumpahan minyak oleh pelaksana lapangan. Juli 2003 Palembang 7. tumpahan ini merusak terumbu karang tempat pengasuhan ikan-ikan milik masyarakat sekitar.2005 Kepulauan Seribu 26 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 2. Tergenangnya tumpahan minyak di perairan Kepulauan Seribu. instansi terkait serta masyarakat harus dapat berkoordinasi untuk menanggulangi pencemaran ini.minyak dan gas bumi pun sudah memiliki produsedur kerja dan fasilitas penanggulangan tumpahan minyak yang cukup memadai untuk digunakan dalam penerapan Tier 1 (penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi dalam lingkup pelabuhan) dan Tier 2 (penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi di luar lingkungan pelabuhan) yang dilakukan secara inerconnection di bawah koordinasi Administrasi Pelabuhan (Adpel). Tumpahan Minyak oleh MT Lucky Lady yang memuat Syria Crude Oil sebanyak 625044 barel. September 2004 Cilacap 5. membuat nelayan sekitar tidak dapat melaut dalam beberapa waktu. Tumpahan minyak mentah dari Pertamina UP VI Balongan. Aspek Koordinasi Seluruh departemen. Kapal tanker Vista Marine tenggelam akibat cuaca buruk dan menumpahkan limbah minyak dalam tangki slop sebanyak 200 ton Tabrakan antara tongkang PLTU-I/PLN yang mengangkut 363 kiloliter IDF dengan kapal kargo An Giang. c. Volume minyak yang tumpah ke perairan adalah sekitar 8000 barel dan menyebar 5 km sepanjang pantai. Oktober 2004 Pantai Indramayu 4. 2003 . 3. Beberapa Kasus Tumpahan Minyak di Perairan Indonesia No 1. Juli 2004 Kepulauan Riau 6. Menyebabkan sungai Musi di sekitar kota Palembang tercemar. Beberapa kasus pencemaran laut akibat tumpahan minyak yang terjadi di Indonesia dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini: Tabel 2. Tahun Agustus 2005 2004 Lokasi Teluk ambon Balikpapan Keterangan Meledaknya kapal ikan MV Fu Yuan Fu F66 yang menyebabkan tumpahnya minyak ke perairan. Tumpahan minyak dari Perusahaan Total E dan P Indonesia.

2006 2. 3. pengendapan dan pertukaran ion. 2.No 8.Cirebon Batam Cilacap Tanjung Priok Selat Singapura Natuna Pelabuhan Cilacap Selat Malaka Selat Malaka Pelabuhan Lhokseumawe Pelabuhan Buleleng. Kandasnya kapal tanker Showa Maru yang menumpahkan minyak sebesar 1 juta barel minyak solar. Kandasnya Kapal Tanker Maersk Navigator.4 Proses Masuknya Bahan Pencemar Ke Dalam Ekosistem Laut Secara umum. 9. Robeknya kapal tanker MT King Fisher dengan menumpahkan sekitar 4000 barel. 13. Kapal Orapin Global bertabrakan dengan kapal tanker Evoikos. Oktober 2000 1999 . berasal dari industri dan domestik kemudian dialirkan ke tingkat-tingkat tropik yang terdapat pada lingkungan laut dipicu oleh: 1. 12. 20. Disebarkan melalui adukan atau turbulensi. dan melalui proses fisik dan kimiawi dengan cara absorbsi. Bahan pencemar ini akhirnya akan mengendap di dasar laut. masuknya bahan pencemar ke dalam perairan laut. Kandasnya MT Natuna Sea dan menumpahkan 4000 ton minyak mentah. 18. dan arus laut. 27 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 17. Tabrakan kapal Isugawa Maru dengan Silver Palace. 2001 Tahun Lokasi Tegal . 10. Terbawa langsung oleh arus dan biota laut (ikan). Tabrakan kapal tanker MV Bandar Ayu dengan Kapal Ikan Tanjung Permata III. 16. plankton nabati atau ganggang. Tenggelamnya KM Batamas II yang memuat MFO. 19.2000 1998 Oktober 1997 1996 April 1994 Januari 1993 September 1992 Februari 1979 Desember 1979 Januari 1975 1975 Sumber: Agung Sudrajad. Bocornya kapal tanker Golden Win yang mengangkut 1500 kilo liter minyak tanah. 14. 15. Tabrakan kapal tanker Ocean Blessing dan MT Nagasaki Spirit yang menumpahkan 13000 ton minyak. Kecelakaan kapal tanker Choya Maru pada Desember menumpahkan 300 ton bensin. Kandasnya kapal Pertamina Supply No 27 yang memuat solar. Bali Selat Malaka Selat Malaka Keterangan Tenggelamnya tanker Stedfast yang mengangkut 1200 ton limbah minyak. Dipekatkan melalui proses biologi dengan cara diserap oleh ikan. 11.

perikanan. Pemahaman dalam permasalahan daerah aliran sungai (DAS) dilakukan melalui suatu pengkajian komponen-komponen DAS dan penelusuran hubungan antar komponen yang saling berkaitan. pariwisata. Sedangkan dalam proses fisik dan kimiawi. bahan pencemar biasanya diserap oleh organisme laut seperti ikan. sehingga dapat meminimalkan konsentrasi akumulasinya dalam suatu badan perairan.Sebagian bahan pencemar yang masuk ke dalam ekosistem laut dapat diencerkan dan disebarkan ke seluruh wilayah laut melalui adukan turbulensi dan arus laut. pertambangan. Akan tetapi pada wilayah-wilayah laut yang sempit dan tertutup. Sebagian dari bahan pencemar akan terbawa oleh arus laut atau biota yang sementara melakukan migrasi ke wilayah laut lainnya. Kedua hal tersebut akan mempengaruhi perubahan perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan perilaku yang bersifat negatif akan menimbulkan tekanan 28 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Sedangkan sisa bahan pencemar yang tidak dicencerkan dan disebarkan serta terbawa ke wilayah-wilayah laut yang luas dan terbuka. 2. Peningkatan jumlah penduduk. bahan-bahan pencemar akan terurai dan terbuang ke perairan laut yang lebih luas. maka terjadi pula peningkatan eksploitasi sumberdaya alam yang bersifat multi-use (pertanian. dan akan lebih menguntungkan apabila terbawa ke perairan laut terbuka. sehingga tindakan pengelolaan dan pengendalian yang dilakukan tidak hanya bersifat parsial dan sektoral. dimana dalam proses biologi. sehingga terjadi konflik kepentingan yang memicu kerusakan lingkungan. fitoplankton maupun tumbuhan laut untuk kemudian diserap lagi oleh plankton nabati kemudian akan berpindah ke tingkat-tingkat tropik selanjutnya seperti avertebrata dan zooplankton dan kemudian ke ikan dan mamalia. dan lain-lain). tetapi sudah terarah pada penyebab utama kerusakan dan akibat yang ditimbulkan. bahan pencemar akan mudah sekali terakumulasi di dalam suatu badan perairan.4 Dampak Pencemaran Laut Semakin besar intensitas kegiatan pembangunan. akan dipekatkan melalui proses biologi. industri. bahan pencemar akan diabsorbsi. fisik dan kimiawi. diendapkan dan melakukan proses pertukaran ion. khususnya yang berdomisili di sekitar DAS akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan hidup yang dipenuhi melalui pemanfaatan sumberdaya alam. Untuk wilayahwilayah laut yang luas dan terbuka dengan pola arus dan turbulensi yang aktif.

pengelolan DAS ditujukan untuk memperbesar pemanfaatannya dan sekaligus memperkecil dampak negatifnya. Dalam suatu ekosistem DAS terjadi berbagai proses interaksi antar berbagai komponen yaitu tanah. DAS meliputi semua komponen lahan.terhadap lingkungan fisik. sehingga pencemaran di kawasan hulu akan berdampak pada kawasan hilir. Dalam terminologi ekonomi. Akibat pengelolaan lahan dan hutan yang kurang bijaksana. Hal tersebut selain meningkatkan frekuensi dan luas ancaman kekeringan dan banjir juga meningkatkan sengketa dan persaingan dalam pemanfaatan sumber daya air (Pawitan. pembawa limbah (polutan dari industri. pemukiman dan lain-lain). energi. air. tetapi tidak semuanya dapat dimanfaatkan. industri dan pemukiman. Daerah aliran sungai merupakan penghubung antara kawasan hulu dengan kawasan hilir. vegetasi dan manusia. pertanian. analisis neraca air dan water demand-supply wilayah menunjukkan bahwa ada kecendrungan semakin tidak meratanya sebaran dan ketersediaan air menurut waktu atau musim dan sepanjang antara lokasi sumber dengan pusat-pusat kebutuhan air meningkat. Sungai sebagai komponen utama DAS mempunyai potensi seimbang yang ditunjukkan oleh daya guna sungai tersebut antara lain untuk pertanian. dan lain-lain. Sungai juga mampu mengakibatkan banjir. pembawa sedimentasi. juga berperan sebagai pemelihara keseimbangan ekologis untuk sistem penunjuang kehidupan. air dan sumberdaya biotik yang merupakan suatu unit ekologi dan mempunyai keterkaitan antar komponen. pariwisata. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa aktivitas penggunaan lahan dapat mempengaruhi kualitas lingkungan dalam hal ini adalah kualitas sumber daya air. Secara nasional ketersediaan sumber daya air memang masih sangat besar. Jika tekanan semakin besar maka daya dukung lingkunganpun akan menurun. daerah hulu merupakan faktor produksi dominan yang sering mengalami konflik kepentingan penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian. Kemampuan 29 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Supriadi (2000) menyatakan bahwa kawasan hulu mempunyai peran penting yaitu selain sebagai tempat penyedia air untuk dialirkan ke daerah hilirnya bagi kepentingan pertanian. dkk 1996). pemikiman dan lain-lain. pertambangan. yang memiliki keterbatasan dikenal sebagai daya dukung lingkungan (DDL). Secara fisik sengketa dan persaingan kebutuhan air akan meningkatkan intervensi manusia terhadap tatanan hidrologi dan sumber daya air. serta turunnya kualitas air akibat pencemaran oleh berbagai kegiatan. Akibatnya adalah meningkatnya kepekaan sumber daya air terhadap fluktuasi dan goncangan iklim. Oleh karena itu.

laut juga mengandung berbagai jenis sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Beberapa jenis bahan pencemar yang sering menyebabkan terjadinya pencemaran di laut yaitu limbah domestik dan pertanian. Secara ekologis. Pencemaran laut merupakan salah satu bentuk tekanan terhadap lingkungan laut maupun sumber daya yang didalamnya dapat menyebabkan kerugian bagi sistem alami (ekosistem) maupun bagi manusia yang merupakan bagian dari sistem alami tersebut. hal tersebut berkaitan dengan ekosistem tangkapan air yang merupakan rangkaian proses alami suatu siklus hidrologi yang memproduksi air permukaan dalam bentuk mata air. maka minimal 30 % dari luas wilayah harus diupayakan adanya tutupan tegahan pohon yang dapat berupa hutan lindung. tapi secara tidak langsung dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan manusia. Macam . Air limbah domestik Sumber domestik terdiri dari air limbah yang berasal dari perumahan dan pusat perdagangan maupun perkantoran. a. BOD (biological oxygen demand). aliran air dan sungai. COD (chemical 30 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Menurut Sugandhy 1999. kawasan pengamanan mata air. Konservasi daerah hulu perlu mencakup aspek-aspek yang berhubungan dengan produksi air dan konservasi itu sendiri. Hasil penelitian Deutsch and Busby (2000) menunjukkan bahwa total suspended solid (TSS) dapat meningkat secara tiba-tiba apabila suatu sub daerah aliran sungai mengalami penurunan penutupan hutan dibawah 30% dan apabila terjadi pembukaan lahan pertanian lebih dari 50%. Padahal selain sebagai sumber bahan pangan. kawasan pengamanan sumber air permukaan. hutan wisata. Dengan kata lain. rumah sakit. sehingga kesalahan pemanfaatan akan berdampak negatif pada daerah hilir.pemanfaatan lahan hulu sangat terbatas. Limbah jenis ini sangat mempengaruhi tingkat kekeruhan. karena terakumulasi oleh bahan-bahan pencemar melalui konsumsi bahan pangan laut yang telah terakumulasi sebelumnya. jika dihubungkan dengan penataan ruang wilayah. dll.macam limbah cair terdiri dari: rumah tangga (domestik). maka alokasi ruang dalam rangka menjaga dan memenuhi keberadaan air. kawasan resapan air. tempat rekreasi. pencemaran laut tidak hanya merusak habitat organisme laut serta proses biologi dan fisiologinya saja. hutan produksi atau tanaman keras. dan lain-lain. hotel. industri dan pertanian.

Terdapat beberapa pilihan dalam mengendalikan air limbah industri yaitu: Pengendalian secara end of pipe. tetapi juga mengubah struktur kimia air akibat masuknya zat-zat anorganik yang mencemari. Keadaan ini menunjukan kondisi perairan yang tidak stabil dimana terjadi penurunan kualitas perairan sehingga organisme laut akan mati atau tidak dapat melangsungkan aktifitas hidupnya untuk proses pertumbuhan dan perkembangbiakan. penggilingan dan sedimentasi. organisme makro-zoobenthos yang menjadi indikator lingkungan jarang sekali ditemukan. Limbah jenis ini bukan saja mempengaruhi tingkat kekeruhan. Limbah Industri Sifat-sifat air limbah industri relatif bervariasi tergantung dari sumbernya. Dampak yang diberikan oleh limbah industri akan sangat tergantung dari jenis kegiatan industri dan bahan baku yang digunakan. dan kemudian disaring. di samping metode kimia maupun fisika seperti penyaringan granular dan absorbsi karbon. yaitu pada titik pembuangan dari sumbernya pabrik). di mana metode biologis canggih diterapkan untuk menghilangkan nitrogen. yang meliputi pembersihan grit. COO maupun kandungan organiknya. Misalnya logam Pb (Timbal) dan Hg (Merkuri) 31 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Metoda dasar penanganan limbah domestik pada dasarnya terdiri dari tiga tahap: (1) Pengolahan dasar (primary treatment). dan penanganan sistem pembuangan limbah domestik itu sendiri. BOD. Sedangkan kadar NH3 perairan meningkat dan pH-nya menjadi rendah (asam).oxygen demand) dan kandungan organik sistem pasokan air. penyaringan. (2) Pengolahan kedua (secondary treatment) menyertakan proses oksidasi larutan materi organik melalui media lumpur yang secara biologis aktif. Limbah domestik berupa limbah rumah tangga dan kotoran manusia yang terbuang ke perairan apabila melebihi kemampuan asimilasi perairan sungai dan terbawa ke laut dapat mencemari perairan dan menimbulkan penyuburan berlebihan (eutrofikasi). Kondisi perairan yang mengalami “eutrofikasi”. (3) Penanganan tersier. Gejala ini akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut akibat meledaknya populasi organisme tertentu sehingga dapat menimbulkan kematian beberapa organisme perairan. Penanganan limbah ini diiakukan dengan cara memasang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sebelum dibuang ke lingkungan atau badan air. Penanganan pada proses produksi (penerapan produksi bersih). b.

Dalam jumlah tertentu yang melebihi kapasitas daya asimilatif perairan. Keduanya sudah melebihi ambang batas yang diperbolehkan. fenol. fosfat. Kandungan kimia sludge dapat menurunkan DO dan BOD serta meningkatkan COD. dan timbal (Pb).yang dihasilkan dari penambangan liar (senyawa yang dipakai pada penambangan emas) seperti di daerah Provinsi Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara. Kondisi itu lebih diperburuk lagi dengan adanya pembuangan minyak secara rutin dari kapal dan perahu kecil di kawasan itu. dan Cd (Cadmium) yang dapat terakumulasi dalam organisme perairan tertentu dan secara tidak langsung merupakan acaman bagi kehidupan manusia. Limbah cair domestik dan tinja Secara sederhana. Karena unsur Pb dan Hg merupakan unsur logam berbahaya yang dapat menimbulkan penyakit pada apabila terakumulasi pada organisme perairan yang dimakan manusia. Pb(Timbal). yang merupakan salah satu jenis bahan pencemar di laut.5 ppb. minyak goreng. c. kadmium (Cd). dan industri pengolahan logam di kawasan Pantai Marunda. yang mencapai rata-rata 9 ppb PCB dan 13 ppb DDT. penanganan limbah cair domestik dan tinja dengan membangun septiktank untuk setlap perumahan atau septiktank komunal di pemukiman padat penduduk secara kolektif. juga dapat menimbulkan keracunan. 32 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . termasuk juga limbah rumah tangga dan industri dari 13 sungai yang ada di DKI Jakarta. yaitu maksimum 0. Pencemaran ini diakibatkan pembuangan limbah industri kertas. Cr (Heksavalen). khususnya merkuri dan pestisida. selain dapat menurunkan kualitas dan produktivitas perairan laut. yang ditemukan dalam pencemaan Teluk Jakarta ini. antara lain seng (Zn). Pencemaran logam berat seperti di atas dapat terlihat di kawasan Teluk Jakarta saat ini memang sudah dalam tahap memprihatinkan. Logam berat lain yang kandungannya tinggi dan dinyatakan jauh melebihi batas aman. bagi daerah yang beium mempunyai pengolahan limbah cair domestik secara terpadu. Disamping itu sludge mengeluarkan pula bahan beracun berbahaya seperti sulfida. Limbah industri lainnya yang umumnya terbuang ke badan sungai dan dialirkan ke laut atau yang langsung terbuang ke laut akan terakumulasi. tembaga (Cu). Ini terlihat dari tingginya angka pencemaran. bahan pencemar ini akan menjadi sludge yang menimbulkan bau busuk.

Unsur pencemar ini meliputi balk sedimen dari erosi lahan tanaman perkebunan maupun larutan fosfor dan nitrogen yang dihasilkan oleh limbah hewani serta pupuk.peopleandplanet.Gambar 7. dan sistem pemupukan dan pemberantasan hama/penyakit dengan komposisi yang tepat. unsur kimia limbah hewan atau pupuk (umumnya fosfor dan nitrogen). dan unsur kimia dari pestisida. akumulasi residu dari pestisida terutama bahan kimia beracun chlorine dan organo-chlorine juga dapat menimbulkan keracunan bagi organisme perairan yang pada akhirnya akan membawa kematian. Keadaan ini tidak hanya mengancam kehidupan organisme yang hidup di habitat yang terkena kontaminasi bahan beracun saja. Proses kekeruhan dan 33 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . pengendalian dapat dilakukan dengan membuat penampungan di samping melakukan penanganan baik dalam kolam terbuka maupun tertutup. Sedangkan limbah pertanian selain dapat menimbulkan eutrofikasi yang disebabkan akumulasi bahan-bahan organik sisa tumbuhan yang membusuk. Pemukiman Padat Penduduk (Sumber: www. Air limbah pertanian Berasal dari sedimen akibat erosi lahan. Akibat tidak langsung dari kegiatan pertanian berupa perladangan berpindah dan penebangan hutan secara serampangan juga dapat menimbulkan pencemaran berupa sedimentasi dan pendangkalan sungai yang disebabkan oleh erosi. tetapi dapat mengancam kehidupan organisme lain yang secara ekologis mempunyai kaitan erat dengan organisme tersebut melalui aliran rantai makanan.net) d.

kimia dan biologis. Sedangkan minyak yang terabsorbsi oleh sedimen-sedimen di dasar perairan akan akan menutupi lapisan atas sedimen tersebut sehingga akan mematikan organisme-organisme penghuni dasar laut dan juga meracuni daerah-daerah pemijahan. sedangkan secara biologi adanya buangan atau tumpahan minyak dapat mempengaruhi kehidupan organisme laut.sedimentasi ini bisa mencapai perairan estuaria dan perairan pantai. Minyak yang membentuk lapisan film pada permukaan laut akan menyebabkan terganggunya proses fotosintesa dan respirasi organisme laut. Pengaruh buangan atau tumpahan minyak terhadap ekosistem perairan laut dapat menurunkan kualitas air laut secara fisik. Secara ekologis proses kekeruhan karena sedimentasi dapat menyebabkan terganggunya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Akibat terganggunya proses fotosintesa maka populasi plankton akan menurun yang akan diikuti oleh penurunan populasi organisme pemakan plankton (misalnya: ikan). Hal ini menyebabkan kadar oksigen dalam perairan menjadi menurun diikuti oleh kematian organisme laut. sehingga kegiatan fotosintesa plankton maupun organisme laut lainnya menjadi terhenti. Buangan dan tumpahan minyak bumi akibat kegiatan penambangan dan pengangkutannya dapat menimbulkan pencemaran laut yang lebih luas karena terbawa arus dan gelombang laut. Secara kimia. Tumpahan Minyak Akibat Kegiatan Penambangan dan Pengangkutannya Pengaruh spesifik dari peristiwa tumpahan minyak terhadap lingkungan perairan laut dan pantai tergantung pada jumlah minyak yang tumpah. Kematian organisme laut yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas perairan karena proses pembusukan pada perairan yang telah mengalami pendangkalan dan penumpukan bahan organik akan menimbulkan racun. yang diikuti pula dengan penurunan populasi burung pemakan ikan. Secara fisik dengan adanya tumpahan atau buangan minyak maka permukaan air laut akan tertutup oleh minyak. emulsi atau mengendap dan diabsorbsi oleh sedimen-sedimen yang berada di dasar perairan laut. Tumpahan minyak bumi pada perairan laut akan membentuk lapisan film pada permukaan laut. e. lokasi kejadian dan waktu kejadian. sementara minyak yang teremulsi dalam air akan mempengaruhi epitelial insang ikan sehingga mengganggu proses respirasi. Menurunya populasi burung akan mengakibatkan guano (penghasil fosfat) akan berkurang sehingga akan terjadi penurunan 34 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . karena minyak bumi tergolong senyawa aromatik hidrokarbon maka dapat bersifat racun.

Selain itu. 35 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .hasil perikanan. rusaknya tempat-tempat pemijahan (spawning ground) dari organisme laut. buangan atau tumpahan minyak yang menyebar dengan cepat ke wilayah laut yang lebih luas akan menyebabkan rusaknya ekosistem hutan mangrove sehingga mengakibatkan terjadinya abrasi dan intrusi air laut.

reklamasi pantai. Kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pencemaran lingkungan seperti terangkum di atas menghasilkan limbah yang menyebabkan pencemaran air laut yang memberikan dampak pada kehidupan di laut seperti berdampak pada ekosistem laut kerusakan terumbu karang. penggunaan kawasan hutan untuk pelabuhan. pembangunan tempat rekreasi di pantai/pesisir. Daerah Provinsi Kalimantan Barat Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: 36 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . bahan beracun dari laboratorium. tambak. pengeboran minyak lepas pantai. limbah pertambangan ke laut. pengambilan terumbu karang untuk diekspor. pertambangan dan sumberdaya mineral. kegiatan kepelabuhanan. penambangan pasir laut untuk reklamasi pantai atau pulau. dapat terlihat seperti di bawah ini yang merupakan hasil penelitian yang didapatkan dari pengumpulan data tentang kegiatan industri di daerah-daerah (lihat lampiran 3) seperti dikemukakan sebagai berikut: a. riset dan teknologi. penambangan tanpa ijin (PETI). kelautan dan perikanan. illegal mining. industri yang berada di pantai/pesisir. mangrove. wisata bahari. illegal fishing. yang membutuhkan waktu yang sangat lama dan teknologi yang memadai serta dana yang sangat besar dalam menyelesaikan permasalahan pencemaran limbah ini. pencemaran PLTN. pertanian.BAB 3 AKTIVITAS INDUSTRI DI DAERAH 3. pariwisata. dan perumahan rakyat. Untuk lingkup permasalahan pencemarannya terhadap lingkungan terdiri dari bermacam kegiatan seperti kebocoran gas. perhubungan. dan limbah domestik. kecelakaan kapal pengangkut bahan tambang mineral. tumpahan minyak dari tanker (oil spil).1 Kondisi Industri Daerah Pada umumnya kegiatan industri di daerah. padang lamun. menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan seperti aktivitas industri di sektor perindustrian. Untuk mengetahui pencemaran lingkungan. estuaria dan lain-lain. operasional kapal. penggunaan bahan kimia pada aktivitas usaha tani di hulu. industri perikanan. serta sektor kesehatan. kehutanan. pembuatan kapal yang menggunakan kayu. pekerjaan umum. illegal loging. kecelakaan kapal.

-

Industri perkapalan seperti pembuatan galangan kapal dan kapal nelayan dengan menggunakan bahan baku kayu dan sebagian menggunakan bahan penolong besi. Pada kegiatan industri ini, sejauh ini belum mencemari lingkungan karena industri ini dikerjakan di luar daerah bantaran Sungai Kapuas.

-

Industri perikanan seperti pengambilan hasil laut (ikan, ubur-ubur, dan lain-lain), budidaya perikanan (pengolahan hasil laut: udang air payau dan asin, ikan beku). Aktifitas industri ini mencemari lingkungan, contoh pada industri pengolahan hasil laut tidak memiliki pengolahan limbah dan untuk budidaya perikanan tidak sesuai dengan tata ruang pesisir/laut sehingga merusak ekosistem dan lingkungan.

-

Industri parawisata bahari seperti industri wisata pantai, pulau dan hotel, pada kegiatan industri ini tidak mencemari lingkungan justru rentan terhadap pencemaran, karena jika terjadi pencemaran maka aktifitas pariwisata akan terganggu wisatawan yang berkunjung akan berkurang.

-

Industri kayu seperti kayu hulu dan playwood, kegiatan industri ini menyebabkan pencemaran perairan Sungai Kapuas karena pemakaian bahan kimia dan juga mengakibatkan pendakalan maritim sehingga dapat mengganggu lalu lintas maritim.

-

Industri pertambangan seperti penambangan liar, pada kegiatan ini menyebakan pencemaran perairan karena diakibatkan oleh senyawa kimia (merkuri) yang digunakan oleh penambangan emas. Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi

pencemaran lingkungan seperti: Dinas Perindag Kop dan UKM, Kota Pontianak antara lain: Keputusan Walikota Pontianak No. 446 dan 447 tahun 2002, tentang Pembentukan Komisi AMDAL, UKL dan UPL. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata antara lain: Peraturan Gubernur Kalimantan Barat No. 137 tahun 2004, tentang Rencana Strategis (RENSTRA) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Kalimantan Barat, dan Keputusan Gubernur No. 83 tahun 2006, tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Provinsi Kalimantan Barat.

b. Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur 37
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan seperti usaha perikanan, budidaya mutiara, dan budidaya rumput laut. Pada aktifitas penangkapan ikan masih menggunakan bahan peledak sehingga menyebabkan kerusakan ekosistem dan biota laut. Industri pertanian seperti usaha pertanian, pada kegiatan ini menimbulkan erosi yang mengakibatkan sedimentasi. Industri pariwisata bahari seperti perhotelan dan restaurant di pinggir pantai. Aktifitas dari industri ini menghasilkan limbah domestik dari perhotelan di pinggir pantai, tercemarnya air yang dapat mengakibatkan punahnya ekosistem laut dan juga menghasilkan limbah cair dan padat sehingga menimbulkan dampak yaitu kerusakan hutan bakau. Industri transportasi laut seperti transportasi perhubungan laut. Pada aktifitas industri ini menyebabkan pencemaran walaupun dalam skala kecil, terlihat ada penurunan produktifitas pada masyarakat, seperti: keramba, rumput laut yang berdekatan dengan alur pelayaran. c. Daerah Provinsi Riau Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri kepelabuhanan seperti pelabuhan perikanan (pelabuhan modern dan pelabuhan tangkapan tradisional). Pada aktifitas industri ini menyebabkan kualitas air menurun, dan juga menghasilkan limbah cair yang melebihi standar baku mutu, dan dapat mengakibatkan dampak pada kesehatan manusia, dan biota laut selain itu juga negara dirugikan karena harus merehabilitasi kembali lingkungan yang rusak. Industri pertambangan di lepas pantai seperti minyak dan gas, pertambangan pasir laut. Pada kegiatan industri migas ini menghasilkan limbah berupa tumpahan minyak, buangan air terproduksi (salin water), dan menyebabkan perubahan/kenaikan temperatur air laut di sekitar pembangunan, sedangkan kegiatan pertamabangan pasir di laut menyebabkan kerusakan lingkungan (pulau) yang sangat parah (oleh kegiatan eksport pasir laut) sehingga menyebabkan tenggelamnya pulau. Industri Perkayuan/Perkebunan seperti: pemotongan kayu menyebabkan sedimentasi karena penggundulan hutan dan menyebabkan erosi di darat. Industri perkapalan seperti pembuatan galangan kapal perikanan dan tradisional. Industri Rumah Tangga menghasilkan limbah rumah tangga. 38
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi pencemaran lingkungan seperti: Dinas Budaya Seni dan Pariwisata antara lain: Perda tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata. Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) antara lain: Perda (Naskah Akademik) Pengelolaan Wilayah Pesisir. Dinas Kehutanan antara lain: Perda tentang Baku Mutu Air Sungai Siak

d. Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan, aktifitas industri ini seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak, pada aktifitas ini jelas memberikan dampak terhadap kerusakan dan pencemaran lingkungan sedangkan penangkapan ikan dengan kapal-kapal yang menggunakan pukat cincin dalam operasinalnya tidak/belum memberikan dampak terhadap pencemaran lingkungan. Industri wisata bahari, secara umum kegiatan ini telah mencemari lingkungan, namun besarnya potensi tersebut serta ada tidaknya pencemaran di laut sebagai dampak aktifitas tersebut dan berapa besarnya masih diperlukan penelitian. Industri pertambangan seperti penambangan pasir laut, penambangan terumbu karang, dan pengeboran migas lepas pantai; industri kepelabuhanan seperti pembangunan pelabuhan besar dan kecil; dan industri Pelayaran seperti transportasi kapal nelayan dan kapal kargo. secara umum kegiatan ini telah mencemari lingkungan, namun besarnya potensi tersebut serta ada tidaknya pencemaran di laut sebagai dampak aktifitas tersebut dan berapa besarnya masih diperlukan penelitian. Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi pencemaran lingkungan seperti dari: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata antara lain: Kebijakan tentang aktifitas maritim masih berbentuk naskah akademik/draft.

e. Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Batam) 39
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

Banyaknya aktifitas transportasi laut antar pulau dengan menggunakan speedboat dan kapal ferry. pelumas atau minyak yang berasal dari kapal sehingga menyebabkan pencemaran perairan. bentonite. sehingga mengakibatkan tergganggunya keseimbangan ekosistem seperti rusaknya ekosistem bakau dan terumbu karang yang merupakan tempat bernaung dan hidup berbagai jenis biota laut (ikan. kerang. Daerah Provinsi Sulawesi Utara Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri kepelabuhanan seperti aktivitas pelabuhan kontainer. sehingga masih terjadi penambangan yang berpotensi merusak ekosistem pesisir dan laut. kaolin.Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri transportasi laut. Industri penambangan pasir seperti eksploitasi pasir untuk diekspor. barang elektronik. basal. granit dan gabro) lainnya masih bebas diekspor. Pencemaran masih bisa diatasi. benih-benih ikan. dan belum mencemarkan lingkungan sekitar. g. Selain itu juga pencemaran ini meyebabkan menurunnya kualitas lingkungan wilayah pesisir. alat transportasi laut tersebut menghasilkan air limbah yang banyak mengandung minyak yang sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan perairan. phosphate. f. mika. Pasir laut memang sudah dilarang untuk diekspor. namun pasir darat. andesit. masih di bawah ambang batas. kebutuhan pangan). Industri perikan seperti penangkapan dan pengolahan ikan Industri galangan kapal Pada umumnya kegiatan industri di atas terjadi pencemaran yang ada. pelabuhan kapal pengangkut (minyak. Daerah Provinsi Sumatera Utara Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: 40 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Industri pelayaran seperti aktivitas jasa transportasi laut Industri rumah tangga yang menghasilkan limbah masyarakat (sisa konsumsi rumah tangga). pada aktifitas ini menghasilkan kotoran (kerak). tanah dan golongan C (bahan galian yang tidak termasuk golongan strategis dan vital yaitu: batu kapur. dan lain-lain).

pengalengan. dan untuk operasional kapal-kapal niaga (misalnya: bahan baker. h. menghasilkan sedimentasi oleh muara sungai. dan lain-lain) Industri perkapalan seperti galangan kapal. dan bahan kimia) serta sisa-sisa kegiatan atau limbah dari shore base facilities. Pada aktivitas industri ini menghasilkan sisa-sisa kegiatan operasional kapal-kapal ikan (misalnya: bahan baker dan oli pelumas). Untuk penangkapan ikan di Pantai Barat Sumatera Utara dan Kepulauan Nias sering menggunakan bahan peledak dan racun sehingga merusak terumbu karang. perikanan longline tuna (penangkapan dan pengelohan). - Industri perikanan seperti penangkapan dan pengolahan ikan. Docking kapal-kapal ikan. 41 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . perdagangan hasil laut antar negara (seperti Taiwan. Boating. Bangkai kapal. Lambongan) maupun jarak jauh (Moyo. dan Usaha angkutan laut khusus industri pariwisata dan tambang. - Industri pelayaran. pelayaran penumpang. Industri kepelabuhanan seperti perawatan/perbaikan perahu (boat). Industri pelayaran seperti pelayaran antar pulau/niaga. limbah dari darat yang terbawa melalui aliran sungai. deterjen. Komodo) dan Atraksi wisata (snorkling. diving. Daerah Provinsi Bali Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan tangkap. limbah padat & cair (khusus jenis plastik). Industri wisata bahari seperti Snorkling. Pada kegiatan industri ini salah satunya menghasilkan limbah industri dan juga menyebabkan pencemaran udara (bau) oleh aktifitas pengolahan tepung ikan dan aktifitas kapal-kapal ikan yang belum mempunyai kesadaran dalam hal lingkungan. sisa-sisa muatan minyak. pembuatan perahu nelayan. Paracyling. pada kegiatan industri ini menghasilkan limbah dari kapal yang dibuang langsung ke laut tanpa pengelahan sehingga merusak biota laut dan juga menyebabkan menurunya kualitas air. melihat LumbaLumba dan Pariwisata cruise baik jarak dekat (N. industri tepung ikan) dan pengalengan ikan serta Processing/perikanan (cold storage). perikanan lemuru (penangkapan.- Industri kepelabuhanan seperti pelabuhan niaga. dan lain-lain) - Industri rumah tangga seperti limbah domestik (cair/padat). Fishing.

dan Keputusan Menhub yang menetapkan bahwa setiap Pelabuhan Umum DUICS. menyebabkan peningkatan kekeruhan air. Baku Mutu Pariwisata. Kantor Administrator Pelabuhan Benda antara lain: Keputusan Menhub No. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA) antara lain: Keputusan Gub. antara lain menetapkan baku mutu air laut untuk kegiatan budidaya & industri pariwisata. No. Bali & JaTim ttg Pembatasan Jumlah Purseseine di Selat Bali. pada aktifitas ini menghasilkan kotoran (kerak) dan pelumas yang bersal dari kapal. jumlah biotic dan bakteri sehingga menyebabkan perubahan kualitas perairan dan dapat merusak ekosistem.Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi pencemaran lingkungan seperti: Dinas Perikanan dan Kelautan antara lain: Perda No. 151 thn 2000 ttg Standar Baku Mutu Lingkungan. mengakibatkan menurunya kualitas lingkungan dan menyebabkan rendahnya kesehatan masyarakat setempat dan akan menyebabkan konflik sosial. juga menyebabkan perubahan BOD. 367 & 604 tahun 1992 Gub. & telah dibentuknya AMDAL DepHub di Tingkat Pusat. dan Perda No. Daerah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan seperti cold storage (saat ini tidak beroperasi karena terkena bencana gempa dan tsunami). Pelabuhan Indonesia. Pelsus diwajibkan Pembuatan AMDAL. 42 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 3 thn 1985 ttg Perlindungan Ikan. dan Pengelolaan Lingkungan. COD. dan DO. 3 thn 1985 ttg Perlindungan Ikan. Cabang Benoa antara lain: Perda ttg : Baku Mutu Budidaya. SKB No. i. Industri transportasi laut. 38 thn 1990 ttg Pencegahan Pencemaran oleh Wilayah. Pada kegiatan industri ini menghasilkan limbah tetapi belum mencemari lingkungan karena masih dapat dikelola secara domestik. PT.

Negara dan masyarakat di pesisir dan kepulauan Riau. Langkah yang ditempuh 43 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Selama ini persoalan penegakan hukum dan peraturan di laut senantiasa tumpang tindih dan cenderung menciptakan konflik antar sektor pembangunan. Oleh karenanya dibutuhkan perangkat hukum dan peraturan yang dapat menjamin interaksi antar sektor yang saling menguntungkan. Terdapatnya perangkat hukum membutuhkan aparatur penegak hukum yang memiliki komitmen untuk menegakkan peraturan. institusi dan aparat pemerintah. lingkungan. Polri. Tanpa itu semua. dan politik. merupakan contoh kasus dari persoalan tumpang tindihnya peraturan dan kebijakan. sehingga untuk menyelesaikan permasalahan ini diperlukan suatu badan hukum (badan khusus) yang menangani keselamatan dan keamanan di laut yang terdapat di wilayah yuridis dan untuk wilayah ZEE sudah menjadi tanggung jawab TNI AL. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk meminimalkan sisi kerugian akibat kegiatan penambangan pasir yang tidak terkendali itu. terutama nelayan yang menyandarkan diri pada kegiatan perikanan hampir selama 32 tahun menderita kerugian. Untuk penegakan hukum lingkungan laut belum jelas dan terjadi carut marut . serta konflik horizontal antar masyarakat. kejaksaan.1 Implementasi dan Penegakan Hukum (law enforcement) Bidang Kelautan Harus diakui dalam pengimplementasian dan penegakkan hukum (law enforcement) bidang kelautan di Indonesia masih lemah. Peran aparatur penegak hukum. seperti yang ada di negara USA dan Jepang terdapat suatu badan yang bertugas yaitu Coast Guard yang sesuai dengan aturan internasioanal (TZMKO). Tumpang tindih peraturan itu membuat kegiatan penambangan membawa berbagai implikasi negatif bagi ekonomi. Hal ini mengingat banyak kasus yang terjadi dalam pembangunan kelautan dilatarbelakangi oleh persoalan hukum. Contoh muktahir dari pentingnya peran hukum dalam pembangunan kelautan adalah kasus pencurian pasir laut dan pencurian ikan di wilayah laut Indonesia. sosial. Kasus penambangan ilegal pasir laut.BAB 4 PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT 4. dan pengadilan dalam pembangunan kelautan sangat penting dan strategis. persoalan di laut dan pesisir akan menjadi tumpang tindih dan bermuara pada kerusakan lingkungan dan kemiskinan dalam masyarakat. seperti TNI.

TP4L secara bertahap berhasil meminimalkan praktik ilegal dalam penambangan pasir melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum seperti TNI AL dan polisi.2 Tahun 2002. meski pada tahapan ini. melainkan juga harus melibatkan masyarakat. Pemangkat.KP. proses peradilan belum optimal memberikan sanksi yang berat bagi kegiatan illegal ini. Inpres ini kemudian diperkuat dengan Keppres No. Dalam mengemban tugas yang diamanatkan. mengingat hampir 22 tahun kegiatan ilegal ini tidak tersentuh oleh hukum. Namun kemampuan membawa pelaku ini merupakan langkah yang baik sekali. Pemasangan alat komunikasi dilakukan di pusat-pusat perikanan seperti Pekalongan. Begitu pula halnya dengan masalah praktek penangkapan ikan secara ilegal. Pemerintah telah mengantisipasi praktek tersebut lewat penegakan hukum di wilayah laut. Berkaitan dengan hal itu. Dalam rangka penegakan hukum ini dilakukan koordinasi dengan pihak aparat hukum seperti kepolisian. Kendar yang dihubungkan ke pusat pemantauan Dep. Belitung. Pada tahun 2001. Tugas dari TP4L ini adalah mengawasi dan pengendali pengusahaan pasir laut. Dalam keppres itu disebutkan pula tentang pembentukan Tim Pengendali dan Pengawas Pengusahaan Pasir Laut (TP4L) yang diketuai oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI.oleh pemerintah adalah menerbitkan Inpres No. Proses tersebut selanjutnya dilakukan dengan membawa pelaku pencurian ke pengadilan melalui bekerja sama dengan pihak kejaksaan agar tuntutan hukum atas perkara pelanggaran di bidang perikanan dapat diberikan sanksi yang setimpal dan prosesnya cepat. Sehingga informasi pelanggaran terutama oleh kapal penangkap ikan ilegal dapat diketahui dan diteruskan kepada aparat penegak hukum di laut. telah terpasang 15 set alat 44 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dan TNI-AL. khususnya yang beroperasi di perairan ZEEI. Tentunya kegiatan pengendalian penangkapan ikan tidak dapat dilakukan oleh aparat pemerintah saja.33 Tahun 2002 tentang pengendalian dan pengawasan pengusahaan pasir laut. Garis besar Inpres tersebut menginstruksikan kepada pejabat negara terkait untuk berkoordinasi dalam pengawasan dan pengendalian penambangan pasir. DKP telah mengembangkan Sistem Pengawasan Masyarakat (SISWASMAS) yang disosialisasikan ke beberapa daerah. Kapal-kapal yang ditangkap kemudian dibawa ke pengadilan.

Selain itu akibat kebijakan sektor-sektor perekonomian tersebut tidak berorientasi atau tidak berkoordinasi dengan sektor kelautan. dan nelayan-nelayan asing yang banyak melakukan pencurian ikan di perairan nusantara. Fakta ini merupakan bukti lemahnya penegakan hukum. antara pemanfaatan sumberdaya secara optimal dan lestari dengan pemanfaatan sumberdaya secara maksimal untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Begitu pula sanksi hukum bagi perusak lingkungan terlalu ringan. Beberapa contoh dapat dilihat seperti terjadi benturan kepentingan antara pemanfaatan sumberdaya kelautan dengan kegiatan konservasi lingkungan. permasalahan lain yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya kelautan adalah kurangnya koordinasi dan kerja sama antarpelaku pembangunan dan sekaligus pengelola di kawasan tersebut. Sehingga sektor-sektor perekonomian lain yang terkait tersebut juga tidak tumbuh dan berkemban secara optimal dan berkelanjutan. kegiatan pariwisata yang kurang bertanggungjawab. seperti bagi pengguna bahan-bahan peledak. dan masyarakat. serta perangkat sistem komputer database yang dioperasikan secara Wide dan Local Area Net.komunikasi. Memang. dan juga aktivitas penambangan karang untuk bahan bangunan. Kurangnya koordinasi antar pelaku pengelola terlihat dalam berbagai kegiatan pembangunan di kawasan pesisir dan laut yang dilakukan secara sektoral oleh masing-masing pihak. Masih maraknya kegiatan bersifat destruktif. bahan beracun (cyanida). yang tidak hanya dilakukan oleh nelayan tradisional. sektor kelautan yang memiliki keterkaitan ke depan (forward linkage) dan ke belakang (backward linkange) dengan sektor-sektor perekonomian lainnya tidak tumbuh dan berkembang secara optimal. tetapi juga nelayan-nelayan modern.2 Permasalahan Konflik Pemanfaatan dan Kewenangan 45 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Akibatnya. 4. Lemahnya koordinasi ini diakibatkan oleh belum adanya sistem atau lembaga yang mampu mengkoordinasikan setiap kegiatan pengelolaan sumberdaya kelautan. reklamasi pantai. swasta. baik pemerintah. dan seterusnya.

dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.Dalam banyak kasus. dilakukan observasi di Sulawesi Utara. adalah karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir dan lautan. tetapi makin lama makin banyak jumlahnya dan makin besar skala konfliknya. Perencanaan dari berbagai sektor ini sering tumpang-tindih dan masing-masing berkompetisi memanfaatkan ruang yang sama. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict). Perbedaan tujuan. Pada dasarnya hampir di seluruh wilayah pesisir dan lautan Indonesia terjadi konflik-konflik antara berbagai kepentingan. Sebagai contoh adalah konflik penggunaan ruang yang terjadi di Pantai Indah Kapuk Jakarta yaitu ruang untuk konservasi mangrove dengan pembangunan lapangan golf dan pemukiman mewah. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan. target. pendekatan pembangunan sektoral tidak mempromosikan penggunaan sumberdaya pesisir secara terpadu dan efisien. konflik antara kepentingan untuk konservasi dengan pariwisata di Taman Laut Kepulauan Seribu. masing-masing pihak menyusun perencanaan sendiri-sendiri. Sektor pariwisata bertujuan meningkatkan jumlah wisatawan yang melakukan snorkelling dan scuba diving. Di perairan Taman Nasional Bunaken. untuk melihat apakah ada tumpang tindih 46 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . konflik nelayan tradisional dengan trawl. Tumpang-tindih perencanaan dan kompetisi pemanfaatan sumber ini memicu munculnya konflik pemanfaatan antar berbagai pelaku dan konfik kewenangan antar instansi yang berkepentingan. sementara Balai Pengelola Taman Nasional Laut Bunaken ingin mengkonservasi keanekaragaman hayati lautnya (Manado Post 1997). Penyebab utama dari konflik tersebut. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. sehingga berkembang konflik penggunaan ruang di wilayah pesisir dan lautan karena belum adanya tata ruang yang mengatur kepentingan berbagai sektor yang dapat dijadikan acuan oleh segenap sektor yang berkepentingan. sektor perikanan bertujuan meningkatkan produksi ikan tangkap. Fenomena konflik tersebut sebenarnya sudah lama ada. Pengembang bertujuan membangun kota pantai Manado yang bisa menikmati keindahan Pulau Manado Tua dan Bunaken. Penekanan sektoral hanya memperhatikan keuntungan sektornya dan mengabaikan akibat yang timbul dari atau terhadap sektor lain. Untuk melihat fenomena tersebut menjadi kenyataan.

Sehingga timbul kerancuhan (ambiguity) bahwa disatu sisi SD pesisir dianggap milik kelompok penduduk (common property). Memang belum ada pengalaman bagaimana sanksi dijatuhkan apabila ada di antara nelayan yang melanggar kebiasaan turuntemurun tersebut. Tetapi secara dejure. Secara defacto. Konflik antara pengelola pariwisata. jika konfliknya 47 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .atau kesenjangan antara maksud. segenap responden menjawab bahwa dasar itu adalah kebiasaan turun-temurun. tetapi kebiasaan turuntemurun merupakan sesuatu yang pantang untuk dilanggar. tujuan. Diikuti dengan in depth interview terhadap key respondents. pengelola TNL Bunaken. sasaran dan rencana masing-masing instansi swasta dan masyarakat. Dalam skala tertentu pemerintah membiarkan kelompok masyarakat pesisir untuk mengelolanya. Salah satu masalah mendasar. Demikian juga ketika ditanyakan mengenai cara penyelesaian konflik. penduduk pesisir setempat merasa bahwa lahan dan SDK kelautan disekitarnya adalah milik mereka. Konflik pemanfaatan lain pernah terjadi di Makassar antara nelayan dengan pemerintah kota. baru kemudian melibatkan pihak lain sebagai juru damai. Kerancuan pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir (ambiguity of property regimes) ini mendorong timbulnya konflik kewenangan ( jurisdictional conflict) dan konflik pemanfaatan (user conflict). meskipun tidak ada ketentuan hukum tertulis yang mengatur mereka dalam hubungannya dengan bagang. menyatakan seluruh sumber kekayaan alam yang terdapat dalam perairan Indonesia adalah milik pemerintah pusat. tetapi disisi lain dianggap milik pemerintah (state property). Berdasarkan studi tersebut dapat ditemukan bahwa konflik pemanfaatan SD pesisir dan jasa lingkungan ( marine resources and environmental amenities) muncul di Teluk Manado dan daerah pesisir lainnya di Sulawesi Utara. Ketika kepada mereka diajukan pertanyaan-pertanyaan hipotetis tentang hukum yang akan dijadikan dasar penyelesaian konflik. nelayan serta pengembang reklamasi pantai di Teluk Manado. termasuk pada aktivitas di laut. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. UU No. seperti dikucilkan dari pergaulan hidup sehari-hari. tetapi secara hipotetik mereka yakin si pelanggar kebiasaan akan menerima sanksi dari masyarakat. pihak yang berkepentingan sering kurang jelas dalam menjabarkan konsep pemilikan dan penguasaan SD pesisir dan kurang memperhatikan sistem pengelolaan yang bersifat tradisional. di lokasi yang diperkirakan konflik terjadi dan korelasinya dengan kondisi SD pesisir sekitarnya. yang dikelola secara tradisional turun temurun. Dalam kesadaran nelayan. mereka berpendapat bahwa pertama-tama akan diusahakan diselesaikan di antara mereka yang berkonflik. Konflik antara nelayan tradisional dengan pengusaha budidaya mutiara di perairan Pulau Talise.

Meskipun institusi tradisional sudah runtuh. Jawaban hipotetik tersebut. Dalam kasus ini Pemerintah Daerah merasa bahwa daratan pulau-pulau di perairan Bunaken serta masyarakatnya di bawah kewenangan Pemda Sulut.3 Permasalahan Ketidakpastian Hukum Ketidakpastian hukum sering terjadi karena adanya ambiguitas pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir. paling jauh pada tingkat kedua (melibatkan juru damai). Konflik kewenangan muncul antara pemerintah Pusat c. Jika tidak maka pihak lain (intruders) yang mengangap sumberdaya tersebut open access akan mengeksploitasinya. penyelesaian melalui pengadilan merupakan suatu alternatif yang hampir tak terpikirkan. Lebih jauh. sesuai dengan UU RI No. para responden berkeyakinan bahwa konflik akan selesai. jawaban hipotetik itu dapat juga diberi makna bahwa masyarakat nelayan secara kultural sesungguhnya memiliki cara tersendiri dalam mengelola dan menyelesaikan konflik yang muncul di tengah-tengah mereka. ternyata tidak berarti otomatis dapat tergantikan oleh institusi formal dari negara. sehingga Pemerintah memberikan izin pemanfaatan kepada pihak investor yang memenuhi persyaratan. setelah pulau-pulau Bunaken ditetapkan sebagai Taman Nasional.berlanjut. sedang mediasi melalui pembicaraan tidak langsung atau dengan bantuan pihak ketiga. tetapi berdasarkan UUD 45 pasal 33 menyatakan bahwa semua sumberdaya termasuk sumberdaya perairan Indonesia adalah milik pemerintah (state property). terutama sejak ditetapkannya perairan pulau-pulau Bunaken menjadi Taman Nasional Laut (TNL) tahun 1991. dapat disebut negosiasi dan mediasi. Seterusnya. Tidak 48 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .q. Negosiasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian konflik melalui pembicaraan langsung.q. Namun di pihak lain. mengindikasikan bahwa dalam benak para nelayan. Dinas Pariwisata di TNL Bunaken. 4. maka kewenangan pengelolaan sumberdaya hayati lautnya berada di bawah Departemen Kehutanan. Investor tersebut mengeksploitasi sumberdaya wilayah pesisir ini untuk memenuhi kepentingannya atau mendapatkan keuntungan jangka pendek. Ditjen PHPA dengan Pemerintah Daerah c. Biasanya sumberdaya pesisir dianggap tanpa pemilik (open access property resources). Konflik kewenangan semakin berkembang di propinsi Sulawesi Utara dan derah lainnya. cara penyelesaian konflik yang dikemukakan responden tersebut. Secara konseptual. 5/1974.

konflik antara nelayan Jawa Tengah dan Jawa Timur). Sebaliknya. Selanjutnya dalam pasal 11 penataan ruang menjadi kewenangan wajib pemerintah kabupaten/kota. Di dalam UU No. Ketidakpastian pemilikan dan penguasaan sumberdaya ini melemahkan mekanisme pengelolaan yang bersifat tradisional dan mendorong terjadinya pemanfaatan sumberdaya yang bersifat open access. secara substansial. Sebagai contoh dapat disebut UU No. 24 Tahun 1992. 24 Tahun 1992 dan UU No. Untuk itu pemerintah perlu mengatur mekanisme pemanfaatan sumberdaya pesisir di wilayah yang menjadi state property. 22 Tahun 1999. Di dalam UU No. Bentuk ketidakpastian hukum yang lain adalah peraturan pelaksanaan yang tidak konsisten dan ketiadaan peraturan hukum sama sekali (kekosongan hukum). di antaranya.ada insentif bagi investor untuk melestarikannya. Perubahan yang terlalu ekstrim tersebut berpotensi besar menimbulkan konflik kewenangan baru. Sebaliknya. menganggap sumberdaya di sekitar desanya sebagai hak ulayat (common property) berdasarkan hukum adat yang telah ada jauh sebelum berdirinya Negara Indonesia. Ironisnya pemberlakuan berbagai undang-undang lainnya yang memberikan mandat bagi instansi pemerintah dan izin pengelolaan bagi swasta membuat sumberdaya tersebut diklaim sebagai milik pribadi (quasy private property). 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. 22 Tahun 1999 serta merta menyerahkan kewenangan penataan ruang laut (sejauh 12 mil) sepenuhnya ke daerah (Pasal 10). konflik antara berbagai tingkatan pemerintahan (pusat. yang seharusnya memberikan kepastian bagi instansi-instansi pemerintah dan masyarakat. tetapi juga mengakui hak-hak ulayat (common property) atau memberikan konsesi pengelolaan kepada masyarakat adat yang melestarikan sumberdaya pesisir dan mereka berhak untuk mendapatkan incremental benefit dari upaya mereka melestarikannya. merupakan milik negara (state property). status perairan pesisir dan laut. dan kabupaten/kota) serta konflik pemanfaatan antara pengguna sumberdaya dari daerah yang berbeda (misalnya. Selain itu norma-norma hukum yang ada dalam berbagai undang-undang. Konflik antara UU versus hukum adat terjadi pada persoalan status wilayah perairan pesisir dan laut. kewenangan penataan ruang laut harus diatur dengan UU (Pasal 9) dengan kewenangan terbesar ada pada pemerintah pusat (sentralistik). propinsi. yang terjadi justru sebaliknya. sehingga dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir terjadi the tragedy of commons. Salah satu contoh dari peraturan pelaksanaan yang tidak konsisten itu adalah peraturan yang berkaitan dengan 49 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . masyarakat lokal di berbagai wilayah pesisir. UU No.

sebab selain mempunyai nilai ekonomi yang relatif tinggi juga berkaitan dengan kelestarian sumberdaya wilayah pesisir. 5 Tahun 1960. pada kenyataannya. Padahal. Saat ini masih terlihat ketidakjelasan pengaturan masalah hukum di Indonesia. kekosongan hukum juga telah menyebabkan ketidakpastian hukum. penguasaan bagian-bagian tertentu dari wilayah pesisir untuk usaha budidaya laut dan pengelolaan pulau-pulau kecil.hak ulayat. pada pasal 18 memegang peran yang penting dalam pengelolaan perikanan. Produk peraturan perundang-undangan yang dihasilkan sekarang ini. Perundang-undangan yang ada seperti dapat dikemukakan di bawah ini: a. tetapi peraturan pelaksanaannya justru mengingkarinya (PP No. 24 Tahun 1998). Sebagaimana diketahui dalam pasal 38 ayat (4) UU No. Sementara itu. Disisi lain UU Tentang Pertambangan (UU No. seperti Kepmen 1453 tahun 2001 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum. yang sifatnya masih sentralistik belum dicabut. yang menuangkan tentang tata cara memperoleh perijinan pertambangan di era otonomi. 11 tahun 1967 sebagai dasar hukum. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Kekhawatiran ini sebetulnya tidak perlu terjadi jika konsisten dalam membuat kebijakan-kebijakannya. sementara substansi dari peraturan tersebut adalah desentralisasi pemberian perijinan tambang kepada daerah. Misalnya. masih banyak terdapat over lap/tumpang tindih pada sektor-sektor terkait dalam kewenangannya menjalankan tugas pokok dan fungsinya. kedua kegiatan tersebut sangat memerlukan perlindungan hukum. KepMen tersebut terasa ganjil karena masih menggunakan UU No. sebab KepMen tersebut juga memuat UU No. 22 tahun 1999 sebagai dasar hukum. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dinyatakan bahwa di kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka. yang hingga saat ini belum ada peraturannya sama sekali. 11 tahun 1967) beserta peraturan organik lainnya. Di dalam UU No. hak ulayat (termasuk hak ulayat laut) diakui eksistensinya (Pasal 3). Kemudian dilanjutkan dengan keluarnya PP No No 75 tahun 2001 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No 32 Tahun 1969 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 11 tahun 1967 Tentang 50 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .

41 Tahun 2004 belum menjawab masalah tumpang tindih kegiatan pertambangan terbuka di kawasan hutan lindung. Freeport Indonesia yang ternyata malah bisa ditanami berbagai macam tumbuhan. Mereka menanggapi 51 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . pemilikan. Padahal dengan adanya TAP MPR No IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam telah mengamanatkan perlunya penataan kembali. Ironisnya. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air dan Pengendalian Pencemaran Air Indonesia Mining Association (IMA) mengecam lahirnya PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. b. baik berwujud lumpur atau slurry. ditengah hujan kritik atas keluarnya Perpu itu tiba-tiba pemerintah mengeluarkan Keppres No. Setali tiga uang dengan Kepmen 1453 terdahulu PP ini juga dibuat sebagai tali penyambung antara UU No. Dalam pasal 42 pada PP tersebut dinyatakan bahwa setiap orang dilarang membuang limbah padat. Padahal tailing belum tentu mengandung bahan berbahaya atau beracun. penguasaan. Seperti tailing yang dikeluarkan oleh PT. termasuk tailing ke dalam air dan atau sumber air. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. penggunaan dan pemanfaatan sumber daya agraria. 82 tahun 2001 akan menghambat masuknya investasi di sektor pertambangan. 1 Tahun 2004 dan Keppres No.Ketentuan Pokok Pertambangan. Kebijakan yang dihasilkan saat ini lebih mengedepankan kepentingan investasi sementara keberlanjutan lingkungan diabaikan. Dengan keluarnya Perpu No. dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Keberadaan PP No. 41 tahun 2004.Ketentuan . 11 tahun 1967 dengan UU No 22 tahun 1999. Sebuah kebijakan untuk melegitimasi dan mempercepat investor tambang melanjutkan operasinya yang sempat terganjal oleh UU No. para pelaku tambang yang tergabung dalam Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) menyambut dengan penuh antusias. Keluarnya Keppres tersebut. Kasus terakhir adalah keluarnya Perpu No 1 tahun 2004. Tentu kebijakan-kebijakan kontroversial yang dikeluarkan selama ini sangat bertolak belakang dengan “propaganda” bahwa upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. oleh karena itu IMA mendesak pemerintah segera merevisi PP tersebut.

d. 8/1971 tentang Pertamina. Rancangan Undang-Undang Pertambangan Setelah dikeluarkannya UU No. UU migas baru pun menggantikan satu lagi UU. c. yaitu UU No. 2/1962 tentang Kewajiban Perusahaan Minyak Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri. dimana UU Pertambangan termasuk salah satu yang harus dirubah. ketimpangan dan ketidakadilan sosial ekonomi. Dalam kaitan dengan pengelolaan sumber daya alam. dan UU No. 41/1999 tentang Kehutanan yaitu mendesak untuk dimasukkan klausul diperbolehkannya menambang di kawasan hutan lindung ataupun konservasi. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. "Keppres tersebut membuat iklim investasi di sektor pertambangan kita jadi menggairahkan kembali. Meskipun begitu beberapa pihak menyayangkan karena pada keputusan Rantap PSDA 52 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Paling tidak diperlukan pembentukan banyak peraturan perundangundangan yang bersifat baru maupun penyempurnaan sebagaimana dapat dilihat dalam matriks UU No.positif keluarnya Perpu No. Tap ini dimaksudkan sebagai jawaban untuk mengatasi masalah kemiskinan. maka pemerintah memandang perlu untuk segera membuat RUU Pertambangan Umum. Permasalahan lain juga dapat terlihat pada UU No. 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Migas dan UU No. 15 Tahun 1962 tentang Penetapan PP Pengganti UU No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional. 1/2004 yang ditindaklanjuti dengan Keppres No. Demikian juga masalah kebijakan pengelolaan SDA yang tumpang tindih. 41/2004 itu. 22 tahun 1999 menjadi kebutuhan mendesak karena UU tersebut telah merubah sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik. serta kerusakan sumber daya alam yang selama ini terjadi. 22 Tahun 2001 tentang Migas yang terbit 23 November 2001 membuka pintu liberalisasi bisnis migas di hilir yang selama ini terproteksi oleh privilege Pertamina yang diberikan oleh UU No. Indonesia Mining Association (IMA) juga menentang Pasal 38 UU No. Rantap Rancangan Undang-Undang Pengeloaan Sumber Daya Alam Salah satu keputusan penting yang dihasilkan dalam sidang tahunan MPR RI tanggal 1-10 Nopember 2001 adalah ditetapkannya rantap RUU PSDA melalui Ketetapan MPR No. maka pembuatan peraturan perundangundangan di Indonesia setelah keluarnya UU No. IX/MPR/2001. 8/1971 tentang Pertamina.

pengertian tentang kawasan lindung ditemukan berbeda-beda dalam UU 5/1990. tujuan rencana tata ruang disebutkan untuk meningkatkan penggunaan sumberdaya. Sementara UU 9/1985 pasal 24 menjatuhkan denda sebesar Rp 100 juta atau hukuman penjara 10 tahun untuk segala bentuk pelanggaran pasal 6 ayat 1 atau 7 ayat 1 tentang pelarangan memancing dengan peralatan atau metode yang dapat melukai ikan dan larangan pengerusakan habitat sumberdaya ikan. dan untuk kelalaian dengan hukuman satu tahun atau denda Rp 50 juta. UU 41/1999. Contohnya. Tidak ada integrasi konseptual yang memadai antara keduanya. UU 41/1999 menghalalkan pemanfaatan sumberdaya mangrove. Penafsiran terminologi yang berbeda-beda juga sering ditemukan. UU 5/1994. dengan hukuman sampai 5 tahun penjara atau maksimal Rp 100 juta. konflik peraturan-perundangan juga kerap ditemukan. Pengelolaan tata ruang pun ditemukan tidak konsisten dalam dua peraturan perundangan. Departemen Kehutanan berwenang melakukan pengelolaan pada sebagian besar kawasan lindung dan spesies langka. sedangkan UU 23/1997 pasal 4 menegaskan bahwa tujuan pengelolaan lingkungan hidup adalah melakukan pengawasan terhadap eksploitasi terhadap sumberdaya secara bijaksana. sementara pihak lainnya mengisyaratkan tindakan pengawasan.masih terdapat kekurangan seperti penyatuan Agraria dan PSDA. Hal ini menunjukkan dua hal yang sangat bertolak belakang. Contoh permasalahan lain dapat terlihat dalam kewenangan dan peran institusi dengan jelas dapat ditemukan pada pembagian kewenangan sumberdaya laut dan konservasinya. Di satu pihak. UU 9/1985. UU 5/1990 memberikan serangkaian tindakan untuk pelanggaran yang dilakukan secara sengaja dalam mengambil atau melukai satwa liar. UU 24/1992 pasal 3 ayat 2 menyebutkan bahwa tujuan rencana tata ruang adalah untuk meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam dan buatan. Kekuatan sanksi dalam undangundang ini lebih besar dibandingkan yang dilakukan dalam UU 5/1990. Dalam pengelolaan secara sektoral. 53 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . yaitu UU 23/1997 dan UU 24/1992. sedangkan Departemen Kelautan dan Perikanan bertanggung jawab terhadap keberadaan spesies laut. Ketidakjelasan penegakan hukum yang berbeda juga kerap terjadi. Contohnya. Sebagai contoh. Sementara UU 9/1985 justru melarang pengrusakan habitat yang menjadi sumberdaya ikan ini. dan UU 24/1992.

seperti batasan waktu untuk klaim batas landas kontinen Indonesia. Sumberdaya manusia yang ada belum/tidak sesuai dengan bidangnya. 54 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dalam hal ini pasal-pasal yang perlu dijabarkan adalah pasal-pasal yang mempunyai pengertian khusus atau mensyaratkan jangka waktu untuk dipenuhinya bagi kepentingan negara. Pemerintah Daerah: a. dan belum siap untuk menangani pencemaran lingkungan.1 Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah Faktor yang perlu mendukung dalam menyelesaikan masalah pencemaran ini antara lain perlu keterpaduan dan keselarasan pada kebijakan/peraturan yang sudah ada dan perlu ketegasan dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah kebijakan/peraturan yang over lap atau yang bersinggungan antara instansi-instansi terkait pada pengelolaan sektor kelautan. Pada UNCLOS 1982 terdapat Bab mengenai Negara Kepulauan yang sangat penting bagi Indonesia tetapi tidak disebutkan pada UU RI Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS. Sumberdaya manusia belum mencukupi.BAB 5 KEBIJAKAN STRATEGIS PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT 5. untuk kelembagaan yang terlibat langsung pada penanganan masalah lingkungan (selain Kementerian Lingkungan Hidup) perlu penindakan yang tegas dari pemerintah apabila terdapat suatu lembaga yang tidak menjalankan program kegiatannya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan. untuk memudahkan dan agar dapat dijadikan acuan hukum yang berlaku maka perlu penjabaran Konvensi-konvensi Internasional ke dalam kebijakan atau peraturan nasional. terdapat kendala yang dihadapi oleh Pemerintah Pusat dan Daerah antara lain: I. Selain faktor di atas. Dalam menangani masalah pencemaran lingkungan yang masih terjadi. SDM Sumberdaya manusia dan laboratorium belum memadai Sumberdaya manusia yang ada masih kurang. Masyarakat Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan masih rendah. baik kualitas maupun kuantitasnya. b.

serta fasilitas yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan masih kurang. e. batu bara. nikel. Kegiatan pelayaran / angkutan laut (termasuk wisata bahari / kapal pesiar. Tidak adanya koordinasi antar instansi terkait dalam pengelolaan keanekaragaman hayati laut. seperti taman nasional. d. dan lain-lain. Reklamasi (termasuk pembuatan tempat-tempat rekreasi di wilayah pesisir. c. f. II. atau rawa): KLH: Masih banyak kawasan konservasi yang tidak dikelola dengan baik. Arogansi daerah dalam mengurus perizinan. Pemerintah Pusat: a. masih terjadi dan sulit untuk ditertibkan di kawasan konservasi darat. Sarana dan prasarana.Masyarakat belum mengetahui tentang Perda yang berlaku yang terkait dengan lingkungan. Illegal mining / Penambangan Tanpa Izin (PETI) : Departemen Kehutanan: Kegiatan PETI. walaupun ada sebagian potensi SDA pulau-pulau kecil yang telah 55 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Kurangnya dana yang ada untuk menangani pencemaran lingkungan. Daerah Aliran Sungai / DAS. PAD rendah ini disebabkan karena rendahnya ekonomi masyarakat sehingga banyak nelayan yang mengambil jalan pintas untuk menangkap ikan. pengangkutan limbah B3 dan zat radioaktif / perpindahan lintas batas limbah B3): KLH: Alamat importir & eksportir B3 dan limbah B3 tidak diketahui (illegal) sehingga sulit dilacak Penyimpanan dan pengangkutan B3 tidak mengikuti tata cara dan persyaratan yang diatur Lokasi pengelolaan B3 tidak sesuai dengan persyaratan yang diatur c. cagar alam. Potensi SDA pulau-pulau kecil masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. dan lain-lain. hutan lindung. seperti emas. b. yaitu dengan menggunakan bom.

perkantoran. Kegiatan reklamasi pada daerah pantai yang berstatus kawasan hutan harus mengacu pada UU No. Kegiatan reklamasi pantai tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan konservasi laut dan perlu dikaji secara mendalam karena akan berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. 56 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim Departemen Kehutanan: - . Pemerintah daerah saat ini sedang berambisi untuk membangun kawasan industri perikanan. hotel. sehingga sering berbenturan dengan fungsi konservasi kawasan. Limbah domestik (domestic waste yang masuk ke perairan melalui saluran air atau sungai) yang antara lain berasal dari permukiman. sehingga sering berbenturan dengan DepHut. tapi pembangunan industri tersebut kurang memperhatikan status kawasan konservasi laut. dan limbah industri dan limbah rumah sakit / laboratorium: Departemen Kehutanan: Pembangunan kawasan industri di wilayah pantai umumnya kurang memperhatikan status lahan yang merupakan kawasan hutan. Kegiatan reklamasi pantai untuk perumahan tidak diperbolehkan di kawasan konservasi. restaurant dan tempat rekreasi. d. Taman Wisata Laut.dimanfaatkan (eksploitasi bahan tambang dan mineral) tapi masih sangat kurang memperhatikan pertimbangan unsur pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan pulau Pembangunan infrastruktur ekonomi dan social baik di wilayah pesisir dan khususnya pulau-pulau kecil masih sangat kurang diperhatikan Kurangnya komitmen pemerintah dalam pembangunan pulau-pulau kecil Kegiatan penambangan pasir laut dilarang di dalam kawasan konservasi laut (Taman Nasional Laut. 41 thn 1999. sehingga sering berbenturan dengan DepHut. Suaka Margasatwa Laut dan Cagar Alam Laut). dan Pembangunan kawasan industri di wilayah pantai umumnya kurang memperhatikan status lahan yang merupakan kawasan hutan.

penggunaan kawasan hutan untuk pelabuhan): Departemen Kehutanan: Pembangunan kawasan industri di wilayah pantai umumnya kurang memperhatikan status lahan yang merupakan kawasan hutan. termasuk limbah dari tambak. Departemen Kehutanan: Kegiatan pembangunan tambak kurang memperhatikan status kawasan hutan yang berada di wilayah pesisir (hutan lindung maupun kawasan lindung. pembukaan lahan hutan untuk pertambangan. Kegiatan tambak di dalam kawasan hutan dikembangkan secara silvo fisheries (tambak empang parit). Kawasan konservsi yang berdekatan dengan main land sering mendapat kiriman sampah domestik/sampah seperti Taman Nasional Bunaken dari Kodya Manado.- Kawasan konservasi yang berdekatan dengan main land sering mendapat kiriman sampah domestik/sampah seperti Taman Nasional Bunaken dari Kodya Manado. sehingga sering berbenturan dengan DepHut. termasuk kawasan konservasi lahan basah dan kawasan konservasi laut). sehingga berbenturan dengan konsep konservasi. Kegiatan tambak secara komersial tidak diizinkan di dalam kawasan konservasi. Pembangunan pelabuhan banyak terkait dengan kawasan hutan pantai yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Limbah pertanian / perkebunan (dari penggunaan bahan kimia pada aktifitas tani di hulu). Eksploitasi hutan (Illegal logging. f. 57 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Bahan baku untuk pembuatan kapal masih sering dengan mengambil kayu dari dalam kawasan hutan secara illegal. e. Kawasan konservsi yang berdekatan dengan main land sering mendapat kiriman sampah domestik/sampah seperti Taman Nasional Bunaken dari Kodya Manado.

Di dalam kawasan konservasi tidak diperbolehkan dilakukan izin penangkapan ikan maupun budidaya (komersial). b. Perdagangan hewan dan tumbuhan laut yang langka yang tidak terkendali. Kecepatan laju penurunan hutan mangrove dan kerusakan terumbu karang. Kegiatan reklamasi pantai tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan konservasi laut dan perlu dikaji secara mendalam karena akan berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. Dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan yang terjadi. Perdagangan hewan dan tumbuhan laut yang langka yang tidak terkendali Tidak adanya koordinasi antar instansi terkait dalam pengelolaan keanekaragaman hayati laut. terdapat beberapa strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah: a. Diperlukan penyusunan Undang-undang/peraturan tentang pencemaran lingkungan yang komprehensif. tapi diwajibkan untuk transplantasi koral. Pengambilan terumbu karang untuk ekspor masih dimungkinkan di alam dengan kuota. Taman Wisata Laut. Perlu aparat yang memiliki integrasi dan tanggung jawab. dan Masih didapati izin penangkapan ikan dan penyu di dalam kawasan konservasi oleh pemerintah daerah. penambangan pasir laut: KLH: Masih banyak kawasan konservasi yang tidak dikelola dengan baik.g. 58 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Eksploitasi perikanan (illegal fishing/penangkapan ikan dengan pukat harimau/pemboman ikan/penangkapan ikan dengan racun). Departemen Kehutanan: Pengambilan terumbu karang tidak diperbolehkan di dalam kawasan konservasi laut (Taman Nasional Laut. pengambilan terumbu karang untuk diekspor. Pengambilan soft coral masih untuk diizinkan mangambil di alam karena teknologi transplantasi belum berhasil dengan baik. Suaka Margasatwa Laut dan Cagar Alam Laut).

komunikasi. Perlu adanya pendidikan khusus masalah lingkungan hidup. Perlu deprogram melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk mengatasi pencemaran lingkungan. ketimpangan tingkat pemanfaatan stok ikan antara kawasan satu dengan kawasan lainnya. pendidikan dan perumahan) dan lemahnya market intelligence yang meliputi penguasaan informasi tentang segmen pasar. h. penegakan hukum masih lemah. masih banyaknya praktek illegal. Perlu adanya penetapan zonasi pemanfaatan wilayah laut yang ditatapkan oleh daerah dan sesuai denga RUTW Propinsi / Kabupaten / Kota. harga dan pesaing.terbatasnya sarana prasarana sosial dan ekonomi (transportasi. fiskal dan investasi seperti suku bunga pinjaman dan penyediaan kredit perikanan. Pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan masa depan tentunya harus dapat menjawab 59 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . e. Perlu penerapan industri yang ramah lingkungan f. kesehatan.c. unregulated dan unreported fishing.2 Pengelolaan Potensi Laut Beberapa permasalahan yang selama ini dianggap sebagai faktor penghambat pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Sedangkan faktor eksternal yang ikut mempengaruhi lambatnya pembangunan kelautan dan perikanan adalah khususnya yang terkait dengan kebijakan moneter. g. i. Perlu optimalisasi lembaga atau badan hukum yang ada di daerah berkaitan dengan pengelolaan lingkungan. Perlu ada sosialisasi dari pemerintah kepada semua stakeholders yang terkait dengan indutri maritim. j. sebagian besar struktur armada yang dimiliki masih didominasi struktur skala kecil dan tradisional (berteknologi rendah). Faktor Internal antara lain sebagian besar nelayan merupakan nelayan tradisional dengan karaktersitik sosial budaya yang belum kondusif untuk kemajuan usaha. terjadinya kerusakan lingkungan ekosistem laut yang disebabkan oleh pengeboman dan penambangan pasir. 5. Perlu adanya penegakan hukum / sangsi (law enforcement) bagi para pelanggarnya. k. Perlu adanya koordinasi dengan instansi terkait secara terpadu dan kontinyu. d. Perlu ada peraturan/perundangan kemaritiman di Indonesia yang berpihak kepada masyarakat kecil.

pembangkit energi. Laut di wilayah Indonesia tidak berdiri sendiri namun merupakan bagian laut seluruh dunia. Masih kurang menarik minat penanam modal. pelatihan dan kemampuan khusus SDM. Berbagai jenis komoditi dan usaha yang dapat digali dari sumber daya laut telah dilakukan di antaranya pemanfaatan laut untuk perikanan. karena kita yakin laut menyimpan sumber alam sebagai sumber kehidupan bangsa pada masa mendatang. berkeadilan dan merata. Dihadapkan kepada hambatan-hambatan teknis eksplorasi dan pengelolaannya. 60 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Oleh karena itu Indonesia tidak dapat lepas dari peraturan-peraturan internasional mengenai kelautan. wilayah hukum dan lain-lain. tumpang tindih dan sering tidak searah. investasi besar. transportasi. sarana khusus untuk menghadapi resiko alam dan keterlibatan masyarakat internasional dalam penggunaan laut untuk pemanfaatan ekonomi bersama. Melibatkan berbagai departemen dan instansi secara lintas sektoral yang memerlukan adanya koordinasi yang sebaik-baiknya. kita juga masih menghadapi berbagai kendala dalam melaksanakan pembangunan di sektor kelautan di antaranya adalah: a. masing-masing departemen dan lembaga tersebut mempunyai perencanaan. sebagai lapangan kerja. b.permasalahan permasalahan yang selama ini dianggap sebagai faktor yang menghambat proses pembangunan kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. Di samping belum sebanding perhatian kita terhadap potensi laut yang kita miliki. Terbatasnya sumberdaya manusia yang mampu memanfaatkan dan mendayakan potensi kelautan sesuai dengan perkembangan iptek mutakhir. Pemberdayaan kelautan saat ini dikelola oleh berbagai departemen dan lembaga yang berkaitan dengan potensi kelautan. pertambangan. d. pada pelaksanaannya di lapangan tidak semudah yang direncanakan. c. program dan kebijaksanaan sendiri sehingga terjadi benturan kepentingan. Namun perhatian dan investasi yang telah dilakukan terhadap potensi laut belum merupakan upaya yang optimal. Hal tersebut merupakan kendala dan peluang yang harus kita menangkan untuk kesejahteraan bangsa. baik asing maupun dalam negeri. Pengelolaan dan pemberdayaan laut memiliki ruang lingkup yang luas karena sarana dan prasarana untuk mengelola potensi laut memerlukan teknologi tinggi. Permasalahan lain yang ditemukan dalam pengelolaan potensi laut adalah pada kebijakan pemerintah yang telah dicanangkan.

oleh karena itu untuk menghindari kewenangan sektoral yang mengkotak-kotakkan pembangunan kelautan dan menghindarkan pemborosan yang mungkin terjadi perlu adanya pengelolaan secara terpadu. Manifestasi dari ketidak seimbangan ini diwujudkan dalam pengambilan kekayaan laut yang berlebihan. transportasi laut.1 Efektifitas Pengelolaan dan Pemberdayaan Laut Uraian permasalahan yang ditemukan dalam pengelolaan dan pemberdayaan potensi kelautan wilayah Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut: 61 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . pengrusakan habitat. cara penangkapan ikan yang merusak.Pengelolaan potensi laut yang meliputi pengelolaan hasil penangkapan ikan dan biota laut. Pengelolaan mempunyai pengertian yang berbeda dengan eksploitasi kekayaan laut karena di dalam kegiatan pengelolaan mencakup unsur pelestarian dalam arti bahwa pengambilan kekayaan laut itu dapat dilakukan secara berkesinambungan. Maka kepadatan penduduk sepanjang pantai ini pada gilirannya akan menyebabkan pengambilan kekayaan alam yang intesif dengan tingkat degradasi lingkungan yang tinggi dan masalahnya bertambah parah dengan meningkatkatnya pencemaran baik yang berasal dari darat maupun dari kapal atau kegiatan anjungan lepas pantai. Dengan demikian pengelolaan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri yang mungkin dapat terjadi perbenturan antar instansi dengan instansi lain. karena terletak di sepanjang garis khatulistiwa beriklim tropis yang panas.2. Wilayah laut dengan pantai merupakan kawasan yang sangat menarik tempat konsentrasi hasil produk hasil bumi/daratan dan hasil laut yang paling produktif. sumber daya alam. industri maritim dan jasa maritim mempunyai ciri-ciri kelautan yang sama yaitu kegiatan bermedia kelautan yang seyogyanya mempunyai landasan kebijaksanaan yang saling mengait dan mendukung. lembab dengan curah hujan yang tinggi menjadikan pertemuan darat dan laut yaitu disepanjang pantai nusantara terbentang terumbu karang dan hutan bakau yang luas. Kawasan pantai dengan desa pesisir adalah kawasan dengan degradasi lingkungan yang tinggi perlu dipertahankan kelestarian lingkungan laut dan pesisirnya agar tetap bisa mendukung pengambilan kekayaan laut secara berkesinambungan. Disini terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan untuk pembangunan di satu pihak dengan keperluan untuk melindungi kelestarian lingkungan di pihak lain. 5. konservasi dari pada jenis makhluk laut yang langka dan terancam serta pencemaran laut. Dengan ekosistem laut yang relatif terjaga kelestariannya menjadikan kawasan pantai menjadi kaya akan sumber daya untuk kehidupan manusia dan membawa manfaat ekonomi kepada penduduknya.

b. d. peluang dan ancaman dapat diuraikan sebagai berikut: a. kegiatan pembangunan laut menjanjikan terbukanya lapangan kerja bagi penduduk Indonesia yang jumlah tenaga kerjanya cukup besar sekali sekaligus diberdayakan untuk mengelola potensi laut untuk kesejahteraan bangsa. d. Bila tidak dikelola dengan baik akan berbalik menjadi media yang penuh dengan ancaman khususnya media Hankam sebagai jalan masuknya infiltrasi dan kerusakan lingkungan laut. industri dan jasa maritim. c. e. opportunities (peluang) dan threats (ancaman) maka kelompok-kelompok pengelolaan potensi kelautan tersebut dapat diantisipasi effektifitasnya sebagai berikut: a. weakness (kelemahan). c. b. Pengelolaan sumber daya minyak bumi dan mineral. Kelemahan. Ancaman.a. Sehingga perairan nusantara menjadi pengamatan / perhatian banyak negara karena kepentingan lalu lintas perdagangan dan ekonominya maka landas benua untuk menentukan batas wilayah laut juga merupakan sumber konflik di masa mendatang. Pengelolaan sumber daya ikan dan biota laut. Berdasarkan analisis terhadap permasalahan yang timbul dalam pembangunan kelautan dihadapkan kepada strengths (kekuatan). pemukiman pantai pesisir dan penelitian ilmiah kelautan. posisi silang geografi negara kepulauan nusantara Indonesia menjadi lalu lintas komoditi kebutuhan manusia hidup didunia. 62 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . laut Indonesia mengandung kekayaan alam beraneka ragam yang belum dikelola secara optimal untuk dimanfaatkan sebagai lahan mata pencaharian dan sumber kehidupan bangsa Indonesia pada masa mendatang. Pengelolaan laut untuk pertahanan dan keamananan negara (hankamneg). Pengelolaan transportasi laut. Peluang. Pengelolaan sumberdaya ikan dan biota laut dilakukan dengan: 1) Memanfaatkan sumber daya penghasilan ikan dari usaha penangkapan maupun budidaya tidak melampaui kapasitas (overfishing). Pengelolaan laut untuk pelestarian lingkungan. untuk mengelola laut sebagai perekat persatuan bangsa membutuhkan sarana dan prasarana berteknologi dan SDM dengan biaya tinggi. kelemahan. Sejauh mana potensi laut merupakan kekuatan. Kekuatan.

ukuran komoditas. sehingga sering ditolak oleh konsumen. 6) Mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan pasar dan pesaing ikan untuk memperinci kebutuhan pasar domestik dan global menurut jenis. 3) Mengfokuskan usaha penangkapan ikan dan budidaya tidak hanya pada komoditas konvensional seperti jenis ikan tuna. waktu dan lokasi untuk menetukan daya saing dalam sistem perdagangan dunia. pancing. konservasi daerah terumbu karang dan mencegah serta memperbaiki lingkungan yang telah tercemar. 8) Meningkatkan kemampuan industri pembuat peralatan penangkap ikan seperti pembuat jaring alat tangkap ikan. untuk menghindari perairan yang telah melampaui daya dukung lingkungan guna menjaga kelestarian sumberdaya ikan dari ancaman kepunahan. karena perairan nusantara Indonesia memiliki ribuan spesies biota laut seperti jenis kerang-kerang laut.2) Mengalihkan operasional penangkapan ikan dan budidaya ikan ke daerah yang masih sama sekali belum dimanfaatkan. pelampung dan tali temali yang masih kalah bersaing dengan produk luar negeri mengakibatkan ketergatungan hasil penangkapan terhadap luar negeri. rumput laut dan biota laut lainnya yang permintaan dunia semakin meningkat untuk bahan baku industri bioteknologi laut pembuat obatobatan. 5) Menggunakan teknologi pengawetan ikan atau pengalengan ikan dan lemari pendingin penyimpan ikan agar tetap segar karena ikan merupakan bahan makanan yang mudah busuk. 7) Meningkatkan kemampuan galangan kapal penangkap ikan nasional agar bersaing dipasaran global. 63 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 10) Meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) perikanan dan sumber daya manusia dan memperpendek birokrasi perijinan penangkapan ikan. kosmetika termasuk pangan. cakalang dan udang. 9) Meningkatkan kinerja dan manajemen pelabuhan ikan nasional dalam kualitas pelayanan. 4) Memperbaiki kondisi lingkungan yang telah rusak kelestariannya seperti menghidupkan kembali (reboisasi) hutan bakau yang telah punah.

modal kerja. 2) Mempertahankan tingkat suku bunga pada sekitar 18% pertahun sehingga dapat memperkuat daya saing kapal nasional Indonesia dan menambah investasi armada nasional. industri dan jasa maritim dilaksanakan dengan: 1) Memanfaatkan potensi pelayaran nasional dalam percaturan muatan dalam negeri dengan menggunakan kapal nasional yang memiliki daya saing dan efisiensi tinggi termasuk harga kapal. beban pajak dan bea pabean. Pengelolaan transportasi laut. keagenan dan pengenaan jasa pelabuhan. jual beli kapal. sarana dan prasarana penunjang. data based yang lengkap dengan akurasi yang tinggi.b. 2) Menyelesaikan batas landas yang belum mendapat kesepakatan dengan negara tetangga yang potensial menjadi konflik masa mendatang. 4) Membatasi pendirian perusahaan pelayaran yang selama ini dapat diperoleh dengan mudah tetapi tidak diimbangi dengan penambahan armada yang mengakibatkan timbulnya persaingan yang tajam karena pemenuhan kebutuhan jasa pelayaran cederung lebih besar dari permintaannya. keterbatasan dalam permodalan. Perlakuan single tax tariff terhadap penghasilan pengangkutan orang dan atau barang termasuk penyewaan tetap dilaksanakan. c. biaya operasi. Pengelolaan sumberdaya tambang minyak dan mineral dilakukan dengan: 1) Melaksanakan pendidikan tenaga ahli yang terampil dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan untuk menghadapi resiko tinggi ekploitasi / ekploirasi. charter kapal. 3) Mengharapkan kebijaksanaan pemerintah untuk menyederhanakan tata cara pengadaan dan pendaftaran kapal serta mempertahankan secara konsisten mengenai ditanggungnya oleh pemerintah atas pajak pertambahan nilai (PPN) impor kapal. 5) Menambah fasilitas dermaga pelabuhan untuk mengimbangi kunjungan kapal yang pada waktu-waktu tertentu kekurangan tempat bersandar beserta 64 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 3) Melakukan intensifikasi terus menerus dalam menawarkan proyek-proyek pertambangan dan energi ke negara maju (sebagai investor) terhadap suasana kompetitif dari negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin yang menawarkan kondisi kontrak dan sistem insentif yang lebih baik dari Indonesia.

meningkatnya penggunaan kapal berbendera asing untuk angkutan dalam negeri disebabkan “azaz cabotage” yang merupakan prinsip yang dianut oleh sebagian besar negara maritim dunia yang menyatakan bahwa angkutan di dalam suatu negara hanya dapat diangkut oleh kapal yang berbendera dari negara yang bersangkutan ternyata di Indonesia tidak berjalan. cuci. Sebagai infomasi. 7) Pembangunan industri perkapalan untuk membuat kapal-kapal baru sangat diperlukan untuk pengembangan armada nasional guna melaksanakan “azaz cabotage” dengan lebih efektif. 3) Melaksanakan sosialisasi tentang pentingnya lingkungan hidup di pantai dan pesisir untuk dipahami oleh masyarakat Indonesia. kakus / MCK). 23 tahun 1997. Pengelolaan laut untuk pelestarian lingkungan laut. pemukiman pantai penelitian ilmiah dilakukan dengan: 1) Pelaksanaan dan pengawasan secara konsisten UU No. dukungan aksesibilitas dari pelabuhan ke gudang atau sebaliknya untuk menghindari biaya operasional tidak effektif. treatment (pengolahan) limbah cair agar limbah layak dibuang ke laut. pembuangan sampah / limbah padat di darat. 2) Mengevaluasi masalah lingkungan hidup di lapangan untuk mendapatkan solusi penyelesaiannya. Hal tersebut mengantisifasi laju pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang baik dalam negeri maupun luar negeri atas pertumbuhan kemampuan / kapasitas angkut armada pelayaran nasional yang ada. 5) Melengkapi sarana dan prasara pemukiman untuk kelestarian lingkungan seperti tersedianya air bersih (mandi. 4) Menetapkan tata ruang pantai dan pesisir khususnya pada daerah yang padat penduduknya. dan penjabarannya ke daerah / lapangan. tentang pengelolaan Lingkungan Hidup. 6) Menambah fasilitas dok dan galangan perbaikan kapal yang tidak merata dikota-kota pelabuhan di Indonesia khususnya di luar Pulau Jawa untuk mengindari lamanya perbaikan kapal sehingga menyebabkan tidak tercapainya commision days kapal.dukungan peralatan bongkar muat. pencegah banjir karena pasang surut air laut (pintu air dan 65 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . d.

pipa air. dan kualitas pemanfaatan ruang. yaitu memadukan perencanaan dari berbagai sektor. 5.penahan ombak). mengisyaratkan pentingnya pengelolaan wilayah tersebut secara terpadu demi keberlanjutan sumber daya untuk masa yang akan datang. 2000). e. seperti sektor pertanian dan sektor konservasi yang berada di hulu. kabel telepon dan lain-lain. 5) Menentukan posisi tiga Alur Laut utama Kepulauan Indonesia (ALKI) dan mensosialisasikan kepada dunia pelayaran. 6) Membuat suatu lembaga atau institusi yang khusus menangani pembangunan kelautan mencakup didalamnya untuk menyelenggarakan pengawasan dan penelitian ekosistem dengan disiplin (ilmiah). perencanaan ruang adalah suatu proses penyusunan rencana tata ruang untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. serta mengikat semua pihak (Darwanto. Perencanaan tata ruang tersebut dilakukan melalui proses proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. manusia. 3) Meningkatkan pembangunan industri maritim dan galangan kapal karena kemampuan Hankamneg di laut tidak dapat lepas dari kemampuan industri maritim dan galangan kapal di Indonesia. Integrasi Perencanaan Sektor Secara Horisontal. 4) Menyelesaikan dan segera batas landas benua yang belum disepakati melalui diplomasi luar negeri dan melaksanakan evaluasi hukum laut internasional sesuai perkembangan globalisasi. penataan kabel listrik. 66 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .3 Konsep Tata Ruang Terpadu Darat dan Laut Secara umum. Pengelolaan Laut untuk Hankamneg dilakukan dengan: 1) Mempertahankan kemampuan tempur TNI AL melalui komponen Sistem Senjata Armada Terpadu untuk dapat beroperasi di perairan Indonesia sepanjang tahun. Keterpaduan (integrated) yang dimaksud meliputi (DKP 2002): 1. Keunikan wilayah pesisir serta beragam sumber daya yang ada. saluran pembuangan. 2) Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan Hankamneg di laut secara bertahap sesuai dengan kemampuan ekonomi negara.

dan terumbu karang. meliputi integrasi kebijakan dan perencanaan mulai dari tingkat Desa. mangrove. seperti kegiatan pertanian dan industri perlu diperhitungkan dalam pengelolaan pesisir. dan wilayah administratif propinsi.4 Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Pemanfaatan sumber daya pesisir dan lautan sudah selayaknya dikelola dengan baik dan optimal untuk menunjang pembangunan ekonomi nasional sehingga dapat menjadikan negara Indonesia makmur. Integrasi kebijakan ataupun perencanaan antar negara antara lain mengendalikan faktor-faktor penyebab kerusakan sumberdaya pesisir yang bersifat lintas negara. 5. tetapi wilayah pesisir dan lautan belum menjadi prioritas utama bagi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Pengelolaan Pesisir Terpadu perlu didasarkan pada input data dan informasi ilmiah yang valid untuk memberikan berbagai alternatif dan rekomendasi bagi pengambil keputusan dengan mempertimbangkan kondisi. seperti di antar Pulau Batam dengan Singapura. pertambangan lepas pantai. konservasi laut. Integrasi Perencanaan Secara Vertikal. Karena meskipun pemanfataan sumber daya pesisir dan lautan telah dilakukan berabad-abad lamanya.perikanan. Integrasi antar Negara. Sehingga dampak dari suatu kegiatan di DAS. yang terbagi atas dua jenis. pariwisata. Provinsi. karakteristik sosial-ekonomi budaya. kabupaten/kota. Sumber daya pesisir dan lautan memiliki berbagai sumber daya alam didalamnya. Pengelolaan wilayah pesisir yang berbatasan dengan negara tetangga perlu mengintegrasikan kebijakan dan perencanaan pemanfaatan sumberdaya pesisir masing-masing negara. 67 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Integrasi Sains dengan Manajemen. sampai Nasional. 5. adil dan sejahtera. Kabupaten/Kota. Kondisi ini mendorong timbulnya disparitas antar wilayah yang semakin luas. 4. industri maritim. misalnya: sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya). 3. Kecamatan. dan sektor pengembangan kota. Integrasi Ekosistem Darat dengan Laut. yaitu: 1. Perencanaan pengelolaan pesisir terpadu diprioritaskan dengan menggunakan kombinasi pendekatan batas ekologis misalnya daerah aliran sungai (DAS). dan kecamatan sebagai basis perencanaan. kelembagaan dan bio-geofisik lingkungan setempat. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources). 2. perhubungan laut. karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang cukup berlimpah.

pemijahan dan mencari makan. 2. wilayah pesisir memiliki beberapa karakteristik yang khas. 5. agribisnis dan agroindustri. Tempat bertemunya berbagai kepentingan pembangunan baik pembangunan sektoral maupun regional. pariwisata. kawasan industri. serta bahan tambang lainnya. Selama ini pembangunan wilayah pesisir dan laut masih dilihat seperti pembangunan wilayah terestrial lainnya dengan kondisi yang analogi dengan wilayah perdesaan. laut dan udara. 3. 68 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Selain menyediakan dua sumber daya tersebut di atas. wilayah pesisir dan laut memiliki berbagai fungsi lainnya. Wahyuningsih Darajati. 2. dan dapat dikategorikan ke dalam faktor internal (berkaitan dengan kondisi internal sumber daya masyarakat pesisir dan nelayan) dan eksternal (Dra. sehingga bentuk wilayah pesisir merupakan keseimbangan dinamis dari proses pelapukan (weathering) dan pembangunan. karena menurut RUU Pesisir. seperti: transportasi dan pelabuhan. Memiliki gradian perubahan sifat ekologi yang tajam dan pada kawasan yang sempit akan dijumpai kondisi ekologi yang berlainan. 3.2. Wilayah pertemuan antara berbagai aspek kehidupan yang ada di darat. Pola usaha tradinsional dan subsistem (hanya cukup memenuhi kehidupan jangka pendek). gas dan mineral. Hal ini tidak sepenuhnya benar. teknologi dan manajemen usaha. yaitu: 1. 2004). kawasan permukiman serta tempat pembuangan limbah. jasa lingkungan. tapi memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan sumber zat organik penting dalam rantai makanan dan kehidupan darat dan laut: 4. Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pesisir dan nelayan. Jika diamati dengan seksama. mamalia laut. dan unggas untuk tempat pembesaran. Rendahnya tingkat pemanfaatan sumber daya. persoalan pemanfaatan sumber daya pesisir dan lautan selama ini tidak optimal dan berkelanjutan disebabkan oleh beberapa factor kompleks yang saling berkaitan. serta mempunyai dimensi internasional. Berfungsi sebagai habitat dari berbagai jenis ikan. Keterbatasan kemampuan modal usaha. Wilayahnya sempit. a. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources). Faktor internal: 1. misalnya: minyak bumi. 4.

4. karena: 1. bersifat sektoral. parsial dan kurang memihak nelayan tradisional. 5. eksploitasi dan perusakan terumbu karang. 4. Kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat. Belum adanya kondisi kebijakan ekonomi makro (political economy). Sulit memberikan tapal batas sehingga ikan-ikan tidak mengenal pemilikan Negara. dan birokrasi yang beretos kerja rendah serta sarat KKN. habitat ikan. Merupakan muara dari sungai yang menampung buangan dan berbagai aktifitas darat. Perilaku pengusaha yang hanya memburu keuntungan dengan mempertahankan sistem pemasaran yang menguntungkan pedagang perantara dan pengusaha. Merupakan milik umum (common property) sehingga sulit diberikan hak pemilikan dan sulit diawasi. serta belum adanya program kredit lunak yang diperuntukan bagi sektor kelautan. Jika dilihat dari sudut lingkungan hidup. b. disertai implementasinya yang lemah. c. 6. pencemaran yang berasal dari darat. Memiliki sifat penggunaan ganda (multipurpose) laut untuk angkutan. Pencemaran laut akibat pembuangan balast oleh kapal. dan lain-lain. Kebijakan pembangunan pesisir dan lautan yang lebih berorientasi pada produktifitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. 2. Faktor eksternal: 1. pariwisata. serta penggunaan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan. Sistem hukum dan kelembagaan yang belum memadai. Rendahnya kesadaran akan arti penting dan nilai strategis pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa. pembuangan minyak oleh eksploitasi minyak lepas pantai. praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi oleh laut karena memiliki potensi penggunaan secara berganda adalah: a.b. Lingkungan laut terdiri dari air sebagai massa yang senantiasa bergerak. 2. 3. tenaga energi gelombang. pertambangan minyak lepas pantai. Eksploitasi secara berlebihan sumber daya hayati ikan. 3. Pelumpuran (sedimentasi) yang berasal dari darat dan dibawa sungai ke muara. 5. 69 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . lingkungan laut lebih rentan (vulnerable) daripada lingkungan darat. suku bunga yang masih tinggi.

6. diperlukan suatu penataan ruang pesisir laut terpadu. prosedur. 4. 3. Keterpaduan multi-disiplin ilmu. Keterpaduan antar sektor pembangunan terkait. 2. 2. Keterpaduan hukum dan penegakkannya. Keterpaduan wilayah garapan. serta beraneka sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan sebagai potensi pembangunan. Keterpaduan produk dan teknologi. harus segera diwujudkan. Keterpaduan antar Pemerintah Pusat dan Daerah.5 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu Upaya pengelolaan sumber daya pesisir dan laut di Indonesia cenderung bersifat sektoral dan terkesan ekslusif. 3. Ini terjadi karena pelaksanaan pengelolaannya selama ini dilakukan secara terpisah oleh instansi-instansi berwenang. dan lain-lain. Dalam kaitannya dengan pengendalian wilayah pesisir dan laut. dan mekanisme kerja. Reklamasi laut untuk memperoleh lahan bagi pembangunan dan perubahan pulau kecil bagi kepentingan pariwisata. Oleh karena itu konsep perencanaan mengenai pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara terpadu. yaitu: 1. Pembuangan air panas dari tenaga listrik dan industri yang merubah suhu laut dengan berbagai dampaknya pada habitat laut. dan dinamik (interaksi obyek di laut) pesisir dan laut. 5. 70 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Aspek keterpaduan yang perlu dipertimbangkan adalah: 1. Bidang fisik (geologi/geografi/geomorfologi laut). Bidang ekosistem. 5. yang berbasis pengorganisasian. terdapat tiga bidang utama dapat dijadikan dasar melaksanakan pengelolaan wilayah pesisir dan laut berkelanjutan. Bidang kewilayahan. Padahal karakteristik dan alamiah ekosistem pesisir dan lautan saling terkait satu sama lain secara ekologis dengan ekosistem lahan atas.d. diperlukan suatu keseimbangan ekosistem di laut. e. Sedangkan dalam pelaksanaannya diperlukan keterpaduan dalam melaksanakan pengendalian pengelolaan sumber daya kelautan.

pada dasarnya disebabkan karena paradigma dan praktek pembangunan yang selama ini diterapkan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). sesungguhnya Indonesia memiliki potensi pembangunan yang masih besar dan terbuka lebar untuk berbagai pilihan pembangunan. diyakini akan berlipat ganda di masa-masa mendatang. dan penyerapan tenaga kerja). Kecenderungan pembangunan sumberdaya pesisir ke arah yang tidak berkelanjutan (unsustainable development). Keterpaduan pelaksanaan dan kewenangan. dan ekosistem pesisir dan lautan. Sementara itu. 71 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Indonesia juga dikenal sebagai negara mega-biodiversity dalam hal keanekaragaman genetik. 5. yaitu: jumlah penduduk dunia yang terus meningkat. Oleh karena itu. dari sisi permintaan kebutuhan manusia akan produk dan jasa pesisir dan lautan. kepentingan ekonomi pusat lebih diutamakan daripada ekonomi masyarakat setempat (pesisir). dan semakin berkurangnya sumberdaya alam di darat bagi keperluan pembangunan. Kecenderungan ini tercermin pada praktek pengaturan penyelenggaraan pembangunan sumber daya pesisir dan lautan yang jauh dari kebaikan (good governance). dan penuh kesenjangan. Pengalaman bangsa Indonesia membangun sumber daya pesisir dan lautan selama kurun waktu Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I telah menghasilkan sejumlah keberhasilan (seperti dalam bentuk peningkatan perolehan devisa.508 dan garis pantai sepanjang 81. kesadaran umat manusia akan arti penting produk makanan laut (seafood) bagi kesehatan dan kecerdasan.000 km. yang antara lain seharusnya bersifat partisipatif.6 Governance dalam Pengelolaan Kelautan Dengan jumlah pulau sekitar 17. Akan tetapi peningkatan devisa melalui melalui sumberdaya pesisir dan lautan tersebut juga menyisakan berbagai permasalahan mendasar yang dikhawatirkan dapat mengancam kesinambungan (sustainability) pembangunan itu sendiri. spesies.7. dari sisi kemampuan memproduksi (supply capacity) barang dan jasa pesisir dan lautan. pendapatan asli daerah. Dengan perkataan lain. jika dikelola dengan tepat dan benar. sumberdaya pesisir dan lautan sesungguhnya dapat merupakan tumpuan dan sumber pertumbuhan baru bagi pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan guna mewujudkan masyarakat yang maju dan mandiri serta adil dan makmur. Hal ini berdasarkan pada beberapa alasan utama. Pola pembangunan pesisir dan lautan dalam kurun PJP I cenderung bersifat ekstraktif.

72 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . sedikitnya. Namun di sisi lain. efisiensi dan efektifitas dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang kelautan. efisiensi dan efektifitas dalam pemanfaatan anggaran pembangunan pesisir dan lautan. dan mendukung supremasi hukum. sedangkan kriteria berdasarkan lingkungan mempunyai porsi penilaian sangat kecil. seperti DPR. terdapat sejumlah instansi pemerintah sesuai dengan sektornya melakukan berbagai kebijakan pengelolaan. yaitu: a. Dalam praktek pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan yang telah dan kini sedang berlangsung di Indonesia. berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya daya alam. Efisiensi dan efektifitas merupakan salah satu karakteristik good governance dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan. Pertama. pelaksanaan dan evaluasi kebijakan tersebut.transparan. Untuk sampai kepada suatu good governance dalam sektor kelautan harus ada perubahan yang mendasar dalam beberapa hal. prinsip partisipasi sebagaimana dikehendaki oleh good governance tidak berjalan dengan baik. Kedua. efektif dan efisien. pemerataan. implementasi peraturan dan perundang-undangan. pemerataan (equity) dan tanggung jawab (accountibility). effektivitas dan efisiensi. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Berkaitan dengan karakteristik ini. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). transparansi. di sisi lain ada pihak-pihak yang mestinya terlibat dalam pengelolaan tersebut justru tidak diikutsertakan secara proporsional. masing-masing instansi sektoral terkesan tidak peduli dengan pihak-pihak lain. Instansi-instansi tersebut merupakan instansi sektoral utama yang paling banyak berkecimpung dan berkepentingan dengan sumberdaya pesisir dan lautan. tidak diikutsertakan. yang seharusnya juga ikut terlibat dalam berbagai pengambilan. Pemerintah Daerah (Pemda). dapat dipertanggungjawabkan (accountable). Kriteria keberhasilan pembangunan. Perubahan tata aturan (governance) dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan merupakan suatu keharusan. Bahkan. Di satu sisi. selama ini kriteria keberhasilan pembangunan suatu wilayah masih berdasarkan pada pertumbuhan ekonominya. ada tiga hal yang perlu dicermati. Analisis kualitas governance dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan di Indonesia mengacu pada karakteristik umum good governance yang dikembangkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) yaitu. partisipasi. Ketiga.

sehingga perlu dipelihara kelestariannya perlu terus disebarluaskan ke berbagai kalangan.b. Pengetahuan. dan kepedulian akan arti penting dan strategis sumber daya pesisir dan lautan bagi pembangunan nasional. efisien dan bertanggung jawab. Pemerintah harus memiliki keberanian politik melakukan dan membuat berbagai kebijakan secara transparan. i. adil. Perubahan peraturan dan perundang-undangan yang lebih memihak kepada kepentingan rakyat kebanyakan. dimana peran media juga sangat penting. 73 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Hukum sebagai institusi tertinggi harus benar-benar ditegakan dan semua pihak harus tunduk dan berada di bawah hukum tersebut. Perlu UU Pemda yang memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah dalam hal pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut. f. pemahaman. Komponen bangsa lainnya. dan peraturan mengenai pengendalian pencemaran serta pengendalian perusakan fisik habitat pesisir. Perlu dibangun sistem informasi kelautan yang terpercaya dan sesuai dengan kebutuhan para pengguna (users’ needs). g. Masing-masing daerah harus membuat suatu rencana tata ruang untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan. peraturan tentang pemanfaatan sumberdaya hayati secara optimal dan lestari. bukan hanya melindungi kepentingan segelintir orang atau pengusaha. khususnya para anggota legislatif. yaitu masyarakat. d. c. serta memberikan perimbangan keuangan yang adil. h. kalangan pengambil keputusan di pemerintahan maupun swasta. sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. e. swasta dan pihak-pihak yang berkepentingan harus berperan aktif dan terlibat dalam segenap proses kebijakan yang dilindungi oleh UU.

2. UU SDA. seperti UU Perkebunan. Kriminalisasi atas kebebasan berekspresi bagi masyarakat korban yang menuntut hakhak keadilan sosial dan ekologi. B. UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta UU perkebunan. Kesimpulan 1. Keterlibatan aparat militer dalam bisnis Sumberdaya Alam. ada tiga peraturan dan perundangundangan yang akan menambah parahnya kerusakan lingkungan hidup di Indonesia. Kebijakan yang dijalankan masih tumpang tindih dan bersifat egosentrisme. b. yaitu Perpu No 1/ 2004 pengganti undang-undang tentang pertambangan di hutan lindung. juga disebabkan oleh: a. karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat dan penyangkalan hak lingkungan rakyat. Rekomendasi 74 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Perpu 1/2004. Wacana dan praktek pertumbuhan dan pembangunan. Krisis ekologi dan kerusakan lingkungan yang mengarah pada ecocide di Indonesia. sekalipun telah dibungkus dengan berbagai konsep yang partisipatif dan karitatif dari perusahaan telah memicu sejumlah kasus lingkungan di level masyarakat dalam dua dekade belakangan ini. d. Lahirnnya Kebijakan-kebijakan.IX/2001 tentang Reforma Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Paling tidak. UU Perikanan. Indikator lain adalah banyaknya persoalan dan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia. Pengelolaan lingkungan hidup untuk kehidupan kenyataannya lebih didominasi oleh kepentingan mendapatkan keuntungan dan meletakkan kepentingan publik dan generasi mendatang dalam urutan terakhir. kelahirannya karena kepentingan politik serta didominasi oleh semangat liberalisasi dan privatisasi. Banyak orang berpandangan pesimistik melihat sejumlah kebijakan yang telah disahkan oleh parlemen periode 1999-2004. c. karena tidak adanya prinsip pengelolaan yang berkesinambungan serta sikap yang mengingkari TAP MPR No.

seperti yang pernah diajukan pada tahun 1994 di PBB. sebagaimana pula dapat terimplementasikan sampai pada tahap pelaksanaan. regional. yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam. kemiskinan struktural serta kejahatan lingkungan di Indonesia. agar menjadi norma baru dalam penegakan HAL sebagai hak asasi rakyat. Perlu juga ada aturan yang jelas. 3. 4. 6. HAL (Hak Atas Lingkungan) penting dimasukan sebagai prisip di dalam semua kebijakan dan perundang-undang di tingkat internasional.1. Diperlukan suatu badan hukum (badan khusus) yang menangani keselamatan dan keamanan di laut yang terdapat di wilayah yuridis. 75 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dan nasional. untuk diberikan sanksi kepada pemerintah yang memberikan izin tidak sesuai dengan aturan sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. 5. 2. Perlu diperjuangkan dan diupayakan pengesahan deklarasi HAM dan Lingkungan hidup. yang sifatnya ad hoc bagi para penjahat lingkungan yang selama ini telah menyebabkan berbagai bencana. Diperlukan peradilan lingkungan hidup yang independen dan berkeadilan. Pemerintah harus membuat visi dalam bentuk cetak biru lingkungan hidup sebagai pijakan praksis dalam pengimplementasian pembangunan lingkungan hidup yang dapat diakses oleh rakyat.

Program Pasca Sarjana/S3: Pencemaran Laut. Jakarta. Jogja. Karakteristik dan Dinamika Sumberdaya Fisik dan Lingkungan Pesisir dan Lautan. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Homepage Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Zamani.go. Institut Pertanian Bogor. Gramedia Pustaka Utama. Materi Kuliah pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Program Pascasarjana IPB. 2004. PT. dkk. 2002. Laode M. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 2002. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. PT. 2003. http://www. Rokhmin. 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut. 2001. Dampak dan Penanggulanggannya. 2000. Buku 2: Makalah Utama dan Makalah Penunjang. Tresna. Jakarta.id Direktorat Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Kupang dan Bapedal Kupang. Sastrawijaya dan A. N. Bengkulu Utara. Kamaluddin. 1994.DAFTAR PUSTAKA Bengen. B. D. Wiryawan. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. Kerjasama PSL-Undana. Departemen Kelautan dan Perikanan. Gramedia Pustaka Utama. G. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia.depnakertrans. Pencemaran Lingkungan. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu. dalam Kumpulan Makalah Kursus Amdal Tipe B. 1996. Pradnya Paramita.P dan Darmawan. 1990. Pembangunan Ekonomi Maritim di Indonesia. Sekretariat Dewan Maritim Indonesia. Bengkulu. Rokhmin. Gadjah Mada University Press. Rencana Strategi Pembangunan Jangka Menengah Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Laura. Damar. Kupang. Dahuri. 76 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .G. Jakarta. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu Berbasis Masyarakat. 2004. Laut dan Pulaupulau Kecil. Jakarta. F. Dalam Prosiding Pelatihan untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Metode dan teknik Analisis Kualitas Air. 1991. D. dan A. Dahuri. Jakarta. Penentuan dan Pengelolaan Kawasan Lindung di Pesisir. 2000. Jakarta. R. 2001. Rineka Cipta. Siahainenia.G. Laporan Penyelenggaraan Sarasehan Nasional Dewan Maritim Indonesia. Bengen. Dahuri. Makalah Falsafah Sains. PT. Suratmo. Rencana Aksi Terpadu Pengembangan Pulau Enggano Kab.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->