P. 1
Coastal Zone Management Ruang Pesisir

Coastal Zone Management Ruang Pesisir

|Views: 1,410|Likes:
Published by Fandi Ahmad

More info:

Published by: Fandi Ahmad on Jun 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.1Maksud
  • 2.2.Tujuan
  • 2.3.Sasaran
  • 3.2Lingkup Kegiatan
  • 4.1.1Potensi Umum Wilayah Pedesaan Pantai
  • 4.1.2Wilayah Pedesaan Pantai Madura – Selatan : Bandaran
  • 4.1.4.Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai
  • 4.1.5.Perkembangan Teknologi Penangkapan Ikan
  • 4.1.6.Teknologi Penangkapan dan Peluang Pengembangannya
  • 4.2.2Tingkat Pendapatan dan Kelayakan Teknologi
  • 4.2.3.Potensi dan Kendala Sumberdaya Manusia dan Sosial Budaya
  • 5.1. Pendahuluan
  • 5.2. Dasar Penyusunan Studi
  • 5.3.Kebijaksanaan Pemukiman
  • 5.4.Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai
  • 5.5.1. Penggunaan Tanah
  • 5.5.2. Gambaran Umum Wilayah Pesisir
  • 5.6.1. Wilayah Peka Bencana Alam Dan Wilayah Kritis
  • 5.6.2.Perkembangan Fungsi Kawasan
  • 5.7. Profil Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan
  • 5.8. Gambaran Umum Wilayah Kota Pasuruan
  • 5.9.1. Profil Kecamatan Bancar
  • 5.9.2. Kecamatan Jenu
  • 5.9.3. Kecamatan Merakurak
  • 5.9.4. Kecamatan Palang
  • 6.1.Ekosistem Pesisir Pantai: Potensi dan Pengelolaannya
  • 6.2. 2. Beberapa problem dan issue pembangunan pantai
  • 6.2. 3. Beberapa Prinsip Penglolaan
  • 6.2. 4. Wilayah Pesisir-Pantai dengan Sistem Perikanan Tangkap
  • 6.2. 5. Arahan Pengelolaan Ekosistem Pesisir-Pantai

1

COASTAL ZONE MANAGEMENT: RESOURCES UTILIZATION
Oleh: Prof Dr Ir Soemarno M.S., dkk. I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Wilayah pesisir didefinisikan sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut; kearah darat, wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin, sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup wilayah dengan ciri-ciri yang dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Definisi diatas memberikan suatu pengertian bahwa ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang beragam dan saling berinteraksi antara habitat tersebut. Selain mempunyai potensi yang besar, wilayah pesisir juga merupakan ekosistem yang paling mudah terkena dampak kegiatan manusia. Umumnya kegiatan pembanguna secara langsung maupun tidak langsung berdampak merugikan terhadap ekosistem pesisir. Dalam sautu wilayah pesisir terdapat satu atau lebih sistem lingkungan (ekosistem) dan sumber daya pesisir. Ekosistem pesisir bersifat alami ataupun buatan. Ekosistem alami yang terdapat di wilayah pesisir antara lain adalah terumbu karang (coral reefs), hutan mangroves, padang lamun, pantai berpasir (sandy beach), formasi pascaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan delta. Sedangkan ekosistem buatan antara lain berupa : tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, kawasan industri, agroindustri dan kawasan pemukiman. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kawasan pesisir pantai merupakan suatu kawasan yang mempunyai kerawanan dan sekaligus potensi strategis ditinjau dari aspek penataan ruang, yaitu suatu kawasan yang secara geografis spasial penting, namun belum banyak dilakukan upaya penataan permanfaatan ruangnya secara terintegrasi/ terpadu, baik antar kawasan dalam suatu wilayah administratif maupun antar wilayah administratif. Kerawanan yang

2

terdapat pada kawasan pesisir berkaitan dengan fungsi lindung/ekologis, dimana posisi geografisnya merupakan peralihan antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan/ lautan, sehingga seringkali dijumpai sumberdaya alam yang spesifik, seperti terumbu karang, hutan bakau, resting area, untuk berbagai satwa dan sebagainya. Potensi strategis yang dimiliki oleh kawasan pesisir berkaitan dengan nilai ekonomis yang terdapat di kawasan ini, baik yang berbasis pemanfaatan sumber daya alam, seperti perikanan budidaya (tambak), kehutanan, pariwisata, dan sebagainya, maupun yang tidak berbasis pada sumber daya alam seperti perhubungan (pelabuhan). Beberapa pemanfaatan yang berhubungan dengan fungsi budidaya ini cenderung bersifat ekspansif sehingga kawasan ini rentan/ rawan terhadap terjadinya perubahan penggunaan lahan, khususnya konflik penggunaan lahan (landuse conflicts) antara fungsi lindung dengan fungsi budi daya Permasalahan Beberapa permasalahan penting yang dapat di ungkapkan dalam penelitianini diantaranya adalah seperti berikut: a) Sumber daya alam dan lingkungan hidup Keadaan geografis perairan pantai dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu wilayah pantai utara dan wilayah pantai selatan. Perairan selat Madura dan pantai utara merupakan daerah selasar benua yang dangkal dan landai,dengan komoditi yang dominan adalah iakan dasar dan ikan permukaan. Perairan pantai selatan merupakan perairan dalam dengan komoditi yang dominan adalah ikan pelagis seperti Lemuru dan Tuna. Perairan pantai utara Jawa Timur masih sangat dipengaruhi oleh “Musim Barat” yang berlangsung sekitar bulan Desember hingga Maret. Selama musim ini gelombang laut sangat besar sehingga aktivitas penangkapan ikan berkurang dan akibatnya produksi ikan rendah. Perairan pantai, khususnya di tempat-tempat pendaratan ikan, telah mengalami pendangkalan dan pencamaran bahan organik yang berasal dari limbah rumah tangga dan limbah industri pengolhan hasil ikan. Situasi perkampungan nelayan pantai umumnya tampak kumuh, rumahrumah penduduk berhempitan satu sama lain. Sumber air bersih relatif terbatas, sehingga memenuhi kebutuhan sehari-hari biasanya penduduk membeli air bersih (air PDAM atau air sumur) dari penjualan air. b) Teknologi Alat Tangkap Dan Penangkapan Sistem perikanan demersal elah berkembang di perairan pantai utara Jawa Timur dengan alat tangkap berupa purse-seine, dogol, gil-nen dan trammel-

3

net. Jenis ikan tangkapan yang dominan adalah iakan layang, llemuru/tembang, udang dan teri. Sistem perikanan samudera telah berkembang di perairan pantai selatan dengan alat tangkap yang dominan berupa purseseine, gillnet permukaan, dan pancing prawe. Jenis ikan tangkapan yang dominan adalah tuna (tongkol), lemuru, cucut. Ditinjau dari kelayakan ekonominya dan dengan mempetimbangkan pendapatan pendeganya, ternyata alat tankap yang layak untuk dikembangkan ialah purse-seine, gillnet, dan payang sangat layak untuk dikembangkan disemua lokasi. Pengenalan tipe alat yang sama dengan desain baru merupakan jalur invasi yang prospektif. Respon nelayan terhadap inovasi teknologi penangkapan umumnya cukup besar, baik terhadap sumber teknololgi pemerintah maupun swasta malaui para pedagang ikan. Dalam proses adopsi tekhnologi diperlukan “efek demonstratif” yang bisa diamati dan dialami lansung oleh nelayan. c) Teknologi Pascatangkap Secara umum teknologi pascatangkap dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (i)tradsional dengan aneka komoditi ikan kering, terasi, ikan asap, ikan pindang, dan (ii) modren dengan komoditi andalannya tepung ikan dan kalengan. Tradisional dilakukukan oleh para pengolah dengan skala kecil hingga menengah, sedangkan tenologi modern dilakukan oleh para pengusah besar. Berkembangnya teknololgi modern di suatu lokasi ternyata sangat ditentukan oleh tesedianya bahan baku. Teknololgi pengawetan ikan dengan menggunakan “proses rantai dingin” dilakukan khusus untuk komoditi ekspor ikan segar. Industri pengolahan ikan dipedesaan pantai umumnya mampu memberikan nilai tambah sekitar 9 – 45% terhadap komoditi ikan basah. Akan tetapi sebagian besar usaha pengolahan ikan oleh nelayan masih belum dilakukan secara baik dan bersifat sambilan. Usaha pengolahan ikan yang mempunyai prospek bagus di wilayah perairan pantai selatan adalah tepung ikan dan minyak ikan, sedanglkan di wilayah perairan pantai utara umumnya adalah ikan kering. d) Sosial Ekonomi Distribusi pendapatan nelayan diwilayah pedesaan pantai umumnya tidak merata diantara kelompok fungsional masyarakat. Pendapatan nelayan pemilik perahu (juragan darat) dengan alat tangkap purse-seine, gillnet, dan payang rata-rata cukup tinggi, jauh berada diatas kriteria garis kemiskinan yang berlaku sekarang. Sementara itu rataan pendapatan nelayan kecil

(2) penguasaan skill. Peranan para kyai dan santri di wilayah pedesaan pantai pada umumnya sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat. (ii) faktor sosial budaya. Beberapa kendala sosial budaya adalah (1) struktur dan poal perilaku sosial budaya yang masih berorientasi kepada kebutuhan “subsisten”. Pada musim paceklik rataan pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan sedangkan pada musim panen raya ikan rataan pendapatannya bisa melonjak diatas garis kemiskinan.(iii) faktor sosial politik.(4) prasarana penunjang perekonomian di pedesaan yang masih terbatas. Beberapa kendala sosial politik adalah (1) partisipasi masyarakat pedesaan pantai di dalam pembangunan belum dapat tersalurkan secara lugas (pendekatan top down masih lebih kuat dibandingkan dengan bottom up). Beberapa kendala yang termasuk faktor ekonomi adalah (1) sektor perekonomian wilayah yang masih didominasi oleh sektor primer penangkapan ikan. Dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan nelayan secara proposional maka usaha penangkapan secara berkelompok yang melibatkan nelayan kecil dan pendega patut direkayasa. (5) hampir seluruh komoditi perikanan yang dihasilkan dipasarkan keluar daerah sehingga sebagian besar nilai tambah komoditi dinikmati oleh lembaga perantara yang terlibat dalam pemasaran.4 pemilik sampan/jukung dan pendega berada pada batas ambang kemiskinan denagn fluktuasi musiman yang sangat besar. Dalam hal pendidikan ini ternyata respon nelayan terhadap lembaga Madrasah sangat besar.(5) kualitas kehidupan rata-rata masih rendah.(4) tingkat pengangguran musiman yang cukup besar. (3) proporsi penduduk usia muda cukup besar dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah. Akses nelayan terhadap fasilitas pendidikan formal diatas tingkat sekolah dasar rata-rata masih sangat terbatas. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan kemampuan lembaga Madrasah tersebut untuk melakukan transfer teknologi kepada anak didik. modal dan teknologi oleh nelayan sangat terbatas. (2) . e) Kendala Perkembangan Wilayah Pesisir Pantai Tiga faktor utama yang menyebabkan lambatnya perkembangan teknologi yang dapat berdampak pada perbaikan kesejahteraan nelayan pendega adalah (i) faktor ekonomi. Rata-rata tingkat pendidikan formal warga pedesaan pantai masih rendah umumnya hanya berpendidikan sekolah dasar atau yang sederajat. (3) distribusi pendapatan yang relatif tidak merata.(2) sarana pelayanan sosial yang masih terbatas. Dalam hubungan ini inovasi kredit disarankan melalui sistem kredit bagi hasil antara nelayan dengan lembaga sumber kredit.

Pendangkalan pantai akiobat tingginya sedimentasi. (2) Tekanan pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi.(3) keterbatasan akses nelayan pendega untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan ekonomi yang lebih luas. Secara ringkas beberapa permasalahan yang dihadapi kawasan pesisir pantai antara lain : (1) Kondisi sumber daya pesisir yang semakin terbatas dan mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. (3) Perkembangan kawasan pesisir saat ini sudah sedemikian pesat namun disisi lain perkembangan tersebut tanpa pedoman pada aspek tata ruang (4) Pendayagunaan sumber daya pesisir dan pantai masih kurang mencerminkan adanya pembagian fungsi kawasan (5) Aktifitas manusia di kawasan pesisir dan pantai telah menimbulkan permasalahan antara lain : a. e. minimum segenap warga masyarakat dan sekaligus melestarikan sumber daya yang tersedia. yang dapat mengancam keberadaan desa-desa pantai dan jaringan jalan regional. Terjadinya abrasi pantai akibat berkurangnya hutang mangrove di sepanjang pantai utara Jawa Timur dan P. b. f. khususnya di wilayah Surabaya dan Gresik. Degradasi kualitas ekossitem mangrove akibat kegiatan budidaya tambak dan kegiatan raklamasi pantai untuk pengembangan kawasan terbangun sebagai perumahan. baik yang terjadi secara alamiah maupun hasil rekayasa masyarakat setempat. c. Madura.5 birokrasi pembangunan masih belum mampu menyentuh kepentingan nelayan pendega dan sektor tradisional. industri dan pelabuhan. sehingga kurang layak untuk dikonsumsi sebagai sumber air bersih. Kerusakan karang laut (terumbu karang) dan biota laut serta kerusakan karena penambangan dan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Pencemaran pantai dari limbah industri dan limbah kota. bahkan beban limbah di perairan pantai Jawa . Berdasarkan kondisi seperti di atas maka diperlukan disaign-disaign khusus untuk mengembangkan pedesaan pantai dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan fisik. dimana tingka pencemaran sungai di Surabaya telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Intrusi air laut akibat pemanfaatan air bawah tanah di kawasan pesisir yang tidak terkendali. d.

Sungai tersebut berperan sebagai tempat pembuangan limbah industri dan rmah tangga ke wilayah pesisir dimana terdapat sumber daya perairan yang penting bagi perikanan dan akua kultur. . 2. Sasaran Adapun sasarannya adalah tersedianya Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai. pembatasan dan pengurangan kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. yang memuat: (1) Macam Bentuk pengelolaan. 2. upaya penataan kawasan ini perlu dilakukan secara terpadu/terintegrasi dengan kontinuitas fisik kawasan tanpa memandang batas wilayah administratif. Tujuan Kegiatan dilakukannya kegiatan ini ialah memberikan arahan pengelolaan pemanfaatan ruang daratan dikawasan pesisir pantai. Oleh karena itu. Memantapkan fungsi lindung kawasan pesisir pantai untuk mengurangi peningkatan dan perluasan dampak lingkungan akibat adanya kegiatan dikawasan pesisir pantai. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyusun suatu pedoman pengarutan ruang di Kawasan Pesisir Pantai. perlu dikembangkan suatu model pengelolaan lingkungan yang terpadu dengan kawasan pesisir pantai sebagai satuan unit pengelolaan. TUJUAN DAN SASARAN PERENCANAAN 2. II. serta memerlukan perlakuan khusus terhadap wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik tertentu.1 Maksud Kegiatan ini dimaksudkan seabagai salah satu upaya untuk menjaga kelestarian di kawasan pesisir dengan merumuskan dan melakukan strategistrategi berupa langkah-langkah pencegahan. dalam upaya mengurangi dan mencegah terjadinya konflik pemanfaatan ruang (land use Conflicts) di kawasan pesisir .6 Timur tergolong sangat tinggi.untuk menghindari pengelolaan yang terpisah-pisah antar instansi yang berkepentingan maupun antar kab/kota.3.2.

seringkali menimbulkan konflik kepentingan antar sektor yang berkepentingan yang melakukan aktivitas pembangunan pada kawasan pesisir yang sama. pelabuhan dan industri minyak. III. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan secara terpadu dengan tujuan .Lokasi studi adalah diwilayah Jawa Timur (Pantura). Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan dibawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Sesuai dengan tujuan dan sasaran tersebut maka kegiatan ini dibatasi pada ruang daratan yang berada di kawasan pesisir. pesisir selat Bali dan pesisir Selatan Jawa Timur. mengingat bahwa dalam usaha pengelolaan kawasan pesisir pantai harus dilakukan secara terintegrasi maka perlu dirumuskan pedoman Pengelolaan kawasan ini. seperti perikanan tangkap. pesisir Selat Madura. tambak.7 (2) Kriteria teknis pengelolaan yang mencakup ukuran-ukuran yang menyatakan bahwa pemanfaatan ruang suatu kawasan pesisir pantai secara teknis sesuai dengan daya dukungnya dan secara ruang bersama-sama dengan kegiatan di sekitarnya memberikan sinergi optimal terhadap pemanfaatan ruang. (3) Kewenangan pengelolaan.2 Lingkup Kegiatan Pengelolaan kawasan pesisir perlu dilakukan secara terpadu Pengelolaan secara sektoral. 3. LINGKUP ANALISIS Ruang Lingkup Wilayah Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa ruang kawasan pesisir merupakan ruang kawasan di antara ruang daratan dengan ruang lautan yang saling berbatasan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk perairan darat dan sisi darat dari sisi darat dari garis laut terendah. pariwisata. Mengingat permasalahan yang timbul akibat penetrasi kegiatan budidaya terhadap kawasan lindung (land use conflict) lebih banyak terjadi di kawasan perumahan dan pengembangan industri maka lingkup studi ini dibatasi pada kawasan permukiman dan kawasan pengembangan industri yang berlokasi di wilayah pesisir pantai.

Mengingat lingkup pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu begitu luas dan melibatkan banyak aspek dan adanya keterbatasan pada penugasan ini maka kegiatan ini dibatasi pada upaya-upaya pengaturan ruang di kawasan pesisir. (2) Mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan dalam pemanfaatan ruang yang dikeluarkan. (3) Melakukan indentifikasi aspek teknis sektoral yang harus diperhatikan dalam setiap langkah pemanfaatan ruang. sehingga tujuan kegiatan ini adalah sebagai upaya untuk mencegah dan mengurangi konflik pemanfaatan ruang dapat tercapai. (5) Melakukan kajian identifikasi teknologi yang perlu diterapkan dalam upaya pengelolaan kawasan pesisir pantai. terutama yang menyangkut pengelolaan kawasan lindung dan budidaya. keterlibatan masyarakat dan pembangunan ekonomi. (6) Menyusun rancangan Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai. pemerintah pusat. pemerintah propinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.8 untuk mengharmoniskan dan mengoptimalkan antara kepentingan untuk melihat lingkungan. Untuk itu lingkup kegiatan yang akan dilakukan ini adalah : (1) Melakukan identifikasi permasalahan pemanfaatan ruang yang timbul sebagai akibat dari pemanfaatan ruang yang belum terarah di kawasan pesisir pantai. baik oleh. . (4) Melakukan kajian terhadap aspek kelembagaan yang mencakup instansi pelaksana dan kaitannya dengan instansi lain.

Peranan tambak di wilayah pedesaan pantai tidak merata dan hampir keseluruhannya telah dikelola sebagai tambak udang intensif. (b) Wilayah Selat Madura (Bandaran-Pamekasan dan Lekok Pasuruan) dan Wilayah Samudra Indonesia (Laut Selatan Jawa Timur.1 Potensi Wilayah Pedesaan Pantai Potensi Umum Wilayah Pedesaan Pantai Wilayah pedesaan pantai Jawa Timur terletak pada tiga wilayah perairan laut.9 IV. (ii) Lingkup Sosial Posisi pendega di dalam bagi hasil lebih tinggi (60 %) bila dibanding denga tempat lain yang sebesar 50 %. yaitu meliputi gambaran umum dan proses perubahan yang terjadi.1 4. pegawai negeri dan jasa. Perpecahan kelompok tersebut terutama diakibatkan oleh perselisihan sesama pendega di dalam menentukan pemilikan alat tangkap tersebut. Desa-desa pantai telah terbuka dari isolasi.1. Pembentukan kelompok antar pendega dalam suatu usaha perikanan sangat lemah. Beberapa isteri pendega membantu bekerja sebagai “bakul” ikan di pasar Bandaran. Muncar Banyuwangi dan Puger Jember. Sebagian besar anggota rumah tangga tidak bekerja.1.2 Wilayah Pedesaan Pantai Madura – Selatan : Bandaran (i) Karakteristik Penduduk Sebagian besar penduduk Bandaran ( ± 95 %) bekerja sebagai nelayan dan sisanya bekerja di bidang pertanian. Sendangbiru Malang) ketiga wilayah laut tersebut pada dasarnya mewakili wilayah penangkapan ikan perairan pantai (Selat Madura). yaitu : (a) Laut Jawa (TP) Bulu Tuban dan Weru Kompleks Lamongan. 4. lepas pantai (Laut Jawa) dan laut dalam (Laut Selatan Jawa Timur). sehingga interaksi antar masyarakat di lokasi dengan masyarakat diluarnya telah cukup lancar. Latar belakang menjadi pendega ini disebabkan oleh ketrampilan yang diajarkan dari orang tuanya. Kelompok pendega yang dibentuk saat menerima kredit telah mengalami bubar. KERANGKA KONSEP 4. Secara umum pendidikan formal nelayan adalah SD atau tidak tamat SD. Berikut ini akan diuraikan secara lebih terperinci masing-masing desa. .

Sejumlah 95-100% nelayan di Lekok berpendidikan formal SD tamat atau tidak tamat. Jumlah tanggungan keluarga responden antara 3 sampai 5 orang. 4. Sedangkan juragan jaring antara tahun 1970 dan 1980. payang alet. Nelayan payang alit mulai mengoperasi alat tangkapnya setelah tahun 1980-an. Juragan jaring dan pancing lebih dari 50% adalah bekas pendega sedangkan yang lain adalah bukan nelayan. terdiri dari 22. bekerja ditambak dan mendirikan warung. (iii) Ketergantungan Ketergantungan nelayan pada pedagang pengumpu ikan basah dan ikan kering cukup besar. petani tambak 136 RTP. Dalam bayak kasus penunggakan hutang kredit nelayan ada kaitannya dengan masalah ini. Didaerah ini terdapat kelompok nelayan dan petani tambak yang anggotanya terdiri dari 15-40 orang. Sebagian besar nelayan payang telah bekerja sebagai nelayan pada tahun 1970-an. Hasil tangkapan nelayan secara umum langsung dibeli oleh pedagang dari desa tetangga (Desa Tanjung) yang berfungsi sebagai pedagang pengumpul. (iii) Lingkungan Sosial-Budaya Nelayan.3 Wilayah Pedesaan Pantai Pasuruan – Situbondo : Lekok (i) Karakteristik Penduduk Jumlah penduduk Kecamatan Lekok 47. Sebagaian kecil isteri mereka (<25%) bekerja sebagai pengolah/pedagang. penyakap 9 RTP dan pengolah 196 RTP.239 orang (12. petani tambak dan pengolahan ikan pada umumnya melakukan usahanya berdasarkan warisan yang diterima dari generasi pendahulunya. Mata pencaharian di sektor perikanan dapat diuraikan sebagai berikut : Nelayan 917 RTP.1. Pekerjaan juragan payang sebelumnya adalah sebagai pendega sedangkan nelayan pyang alet sebelumnya bukan sebagai nelayan.10 Kredit yang diberikan oleh pemerintah kadangkala masih dipandang sebagai barang bantuan atau pinjaman yang tidak harus dikembalikan. Setiap hari Jumat diadakan penarikan dana sosial dari para nelayan secara sukarela dengan jumlah berdasarkan kemampuan. jaring dan pancing. mingguan dan ada yang bulanan.019 wanita. (ii) Karakteristik Responden Responden nelayan juragan di Lekok adalah payang.541 KK). Dana sosial ini . Mereka mengadakan arisan hairan.220 pria dan 25.

tidak memiliki jamban dan di sekitar rumah masih ada yang memiliki comberan karena tidak adanya saluran pembuangna yang sempurna. Perjanjian dibuat secara lisa atas dasar saling mempercayai.11 pada masa paceklik atau muslim laib disumbangkan kepada mereka yang tidak mampu (redistribusi).4. radio. Desa pantai umumnya padat penduduk sebagai nelayan. Perkampungan umumnya merupakan pemukiman kumuh dan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. hanya ada sebagian kecil jalan kampung yang terbuat dari semen (beton). Keadaan jalan desa/kampung kebanyakan masih tanah atau batu (belum aspalan). jadi jarang sekali penduduk yang menyimpan uang. sepeda dan sebagainya.per orang. sehingga penyakit yang sering dialami adalah sakit perut (diare). (i) Kendala Pengelolaan Lingkungan Desa Pantai Beberapa permasalahan yang terjadi pada lingkungna perairan. seperti TV. sekitar 70-80% penduduk lebih suka membuang limbah dan sampah rumah tangga bahkan sampah pasar kelaut atau sungai. 4. biasanya pada desa yang sudah maju atas prakarsa pemerintah desa dengan dana swadaya masyarakat setempat. Keadaan rumah nelayan dan pengolahan ikan umumnya sudah berdinding tembok atau papan.. pengolah ikan dan pedagang. Sumbangan dapat berupa uang. Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai Pada umumnya desa pantai menggambarkan suatu desa yang panas dan gersang serta bau yang kurang sedap. antara lain ialah : . Namun karena rendahnya tingkat pendidikan dan tradisi yang kuat. Sebenarnya di bidang kesehatan dan kebersihan lingkungan hampir 90% penduduk telah mendapatkan penyuluhan tentang rumah sehat. Modal usaha adalah modal sendiri dan sesuai dengan yang dimiliki atau dipinjam dari kerabatnya. beras atau pakaian seharga Rp2. kepada Mantri Kesehatan. Untuk mengatasi penyakit tersebut umumnya mereka berobat ke Puskesmas. karena tidak berventilasi.500. gizi masyarakat dan KB. Hampir semua anak telah mendapatkan imunisasi.1. beratap genting dan berlantai semen. Apabila hasil tangkapan berjumlah banyak langsung dibelikan barang-barang berharga. Alasan mereka adalah kemudahan prosedur dan tidak ada bunga atau sangsi yang lain. Karena kurangnya kebersihan. Keadaan yang demikian sudah dapat dikatakan layak walaupun belum memenuhi syarat sebagai rumah sehat. Para nelayan umumnya tidak suka menabung. bahkan sudah ada yang memanfaatkan dokter.

angin sangat kencang dan ombak sangat besar. yaitu penanaman pohon atau tanaman yang bisa hidup di daerah pantai. musim barat yang terjadi pada bulan Desember-Maret menyebabkan (i) mengalirnya arus yang kuat dari barat ke timur. Karena hutan bakau mempunyai peranan penting bagi perikanan. (c) Kemajuan dan perkembangan teknologi yang pesat seperti di Muncar. sebagai penahan gelombang. Tanaman tersebut di tanam di sepanjang jalan desa maupun di halaman rumah penduduk. dkk (1984). tempat perlindungan (shelter). Untuk mengatasi hal ini dapat diusahakan dengan mengadakan penghijuan. telah membuka peluang terjadinya perubahan lingkungan yang berdampak pada kualitas dan produktivitas perairan. (b) Pertambahan penduduk yang masih relatif besar berdampak pada banyaknya produksi sampah domestik yang dibuang ke perairan pantai. nursery ground. Menurut soedarmo. yaitu sebagai sumber makanan. Dengan adanya pembuangan tinja yang tidak higienik. sehingga kadar garam menjadi rendah. misalnya adanya pencemaran dari limbah industri pengolahan ikan dan limbah tampak intensif.12 (a) Pada musim barat masyarakat nelayan kebanyakan tidak melaut dengan alasan takut terhadap ombak yang besar dan menurunnya produksi perairan. dan (iii) ikan-ikan yang suka pada kadar garam tinggi akan bermigrasi ke timur atau ke lapisan bawah. pengendali banjir dan pelindung terhadap pencemaran. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan perahu yang lebih baik dengan alat tangkap khusus untuk menangkap ikan-ikan yang mungkin bermigrasi vertikal ke lapisan bawah yang lebih dalam. penahanan instrusi laut. tempat berbiak (spawning ground). penahanan erosi tanah. maka gangguan diare dan muntah-berak pada (ii) . Permasalahan Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai (a) Keadaan cuaca di pedesaan pesisir pantai pada umumnya panas. Secara fisik dan kimiawi. (b) Menurunnya produksi nener/benur di pantai utara Jawa dan perairan Selat Madura yang dianggap memiliki potensi yang perlu dikembangkan dapat diatasi dengan penanaman kembali pengaturan jalur hijau hutan bakau. (ii) bagian barat Indonesia curah hujannya tinggi. berdebu dan berbau yang kurang sedap.

Secara ringkas nelayan Jawa Timur berdasarkan pada jangkauan daerah penangkapannya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok. (c) tingkat pendidikan dan ketrampilan juga rendah. sampai saat ini masih didominasi oleh usaha nelayan skala kecil. Ciri teknologi penangkapan oleh nelayan kecil ini adalah nelayan tanpa perahu menggunakan perahu dayung. Perubahan teknologi yang terjadi selama 20 tahun terakhir di perairan laut Jawa Timur berkaitan erat dengan keadaan lingkungan perairan. Beberapa ciri penting dari usaha kecil ini menurut Sawit dan Sumiono (1986) antara lain: (a) kegiatan kerja lebih padat kerja dengan alat tangkap sederhana. Potensi dan Kendala Pengembangan Teknologi Penangkapan Pemanfaatan sumberdaya perairan oleh nelayan telah semakin intensif sejalan dengan penerapan teknologi penangkapan ikan yang lebih modern. Perairan laut utara merupakan wilayah selasar benua (continental shelf) yang dangkal dengan potensi sumberdaya perikanan demersial (dasar) dan pelagis (permukaan). yang kemudian mempengaruhi jenis ikan yang diburu pada masing-masing unit kerja. Dalam hal ini inovasi teknologi meliputi : (a) Peningkatan mutu teknologi alat tangkap dan armada penangkapan. alat tangkap yang dipakai. Sedangkan perairan pantai selatan merupakan wilayah perairan dalam dengan potensi sumberdaya perikanan pelagis dan terpengaruh oleh perairan laut dalam (samudera). daerah-daerah penangkapan ini. yiatu (a) nelayan yang bekerja di pantai. armada penangkapan dan modal kerja yang diperlukan. Pengelompokan ini berkaitan erat dengan kedalaman perairan. Disamping itu. eksploitasi sumberdaya perairan pantai pada umumnya masih terbatas pada perairan yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. (b) lepas pantai. Perahu motor tempel adalah perahu dengan mesin yang dipasang di luar tubuh perahu (out board). dan (c) laut lepas (samudera). Disamping itu. (c) penambahan jumlah unit penangkapan. baik teknologi armada perikanan (perahu/kapal) maupun alat penangkapan (jaring). (b) diversifikasi penggunaan alat tangkap dan. layar dan/atau motor tempel. . Daerah-daerah penangkapan ini pada kenyataaan tidak dapat dipisahkan secara tegas. (b) Teknologi penangkapan yang dipakai masih juga sederhana dan.13 (iii) umumnya merupakan masalah yang sering melanda masyarakat desa pantai.

para nelayan mengatasinya dengan berpindah daerah . Sebagai contoh.14 Selain itu juga terdapat pula usaha penangkapan ikan dengan skala menengah. para nelayan mencoba mengatasinya dengan mengganti alat tangkap lain. biasanya bertepatan dengan musim teduh (laut tidak berombak besar). para nelayan umumnya membagi musim penangkapan menjadi dua. dimana para nelayan yang menggunakan kapal motor dari berbagai ukuran kapal dan kekuatan mesin. di Puger. Bila paceklik terjadi karena sebab “hilangnya ikan” yang menjadi buruan. Sesuai dengan namanya. diantaranya: (a) Kemampuan nelayan. trammel net). yaitu jenis ikan yang sedang musim dan keadaan perairan dan. yaitu musim panen dan musim paceklik. Musim panen dicirikan oleh munculnya jenis ikan buruan pada daerah penangkapan. (c) ketersediaan tenaga kerja yang mampu melaksanakan operasi penangkapan ikan yang tersedia. baik ketrampilan maupun kemungkinan keragaman alat tangkap yang bisa digunakan untuk skala kapal dan mesin yang dimilikinya. sesuai dengan sumberdaya yang ada atau dengan berpindah daerah penangkapan perairan lain. Hal ini berbeda dengan umumnya perahu motor tempel yang berpangkalan di pusat-pusat pendaratan ikan (bukan pelabuhan) yang berada di dekat tempat tinggal mereka. musim panen merupakan saat para nelayan memperoleh puncak penghasilan. Keragaman alat tangkap memungkinkan para nelayan skala kecil untuk berpindah dari satu sistem kerja ke sub sistem kerja lainnya dalam musim yang berbeda sebagai upaya untuk tetap bisa menangkap ikan. kabupaten Jember. Oleh karena itu sub sistem kerja yang ada pada nelayan tidak bisa dianggap sebagai sub sistem yang saling terpisah. Dalam hubungan ini. Adapun bulan paceklik terjadi bila sumberdaya yang menjadi buruan menghilang dari daerah penangkapan atau bila laut berombak besar. Keluwesan seorang nelayan untuk pindah sistem penangkapan tergantung pada berbagai hal. dan di bulan-bulan berikutnya mereka (nelayan) bisa saja mengoperasikan pancing prawe. Sebaiknya musim paceklik merupakan saat para nelayan kurang/tidak berpenghasilan. Kapal motor adalah kapal/perahu dengan pemasangan mesin di dalam tubuh (in board). Bila paceklik terjadi karena musim ombak. Pada umumnya kapal motor ini berpangkalan dikota pelabuhan di sepanjang pantai. pada bulan DesemberPebruari seorang nelayan mengoperasikan jaring gondrong (jaring kantong. (b) kondisi lingkungan.

Disamping program KIK / KMKP untuk eks ABK trawi. Yang selanjutnya diikuti dan diakhiri dengan Kepres No.15 penangkapan (migrasi) ke perairan lain yang tenang dan tersedia sumberdaya yang menjadi sasaran penangkapan. Selanjutnya motorisasi perikanan berupa motor tempel berkembang teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur. 39 tahun 1980 kemudian diikuti dengan program Bimas Perikanan Tahun 1981 dan 1982. 4. Hanya saja pada sisi lain juga membawa implikasi bertambahnya intensitas eksploitasi sumberdaya perikanan laut. seperti Bimas. Kegiatan melakukan migrasi mencari daerah penangkapan lain jauh dari tempat tinggalnya melakukan penangkapan ikan di laut.5. payang (boat seine). telah memungkinkan banyak nelayan memperbaiki mutu perahu dengan menganekaragaman alat tangkapnya. (b) variasi alat tangkap yang dimiliki dan. yang selanjutnya diikuti program kredit purse saine untuk kelompok nelayan di Muncar sebanyak 30 kelompok. konflik terbuka antara nelayan jaring dan nelayan trawi di pantai utara jawa (Laut Utara dan Selat Madura) sepanjang tahun 1975 – 1979. Kegiatan andon bisa diduga hanya dapat dilakukan oleh nelayan yang memiliki perahi baik (baik berlayar jauh mencari daerah penangkapan lain) dan/atau memiliki alat tangkap yang beragam.1. sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kestabilan pendapatnya dalam musim-musim yang berbeda. (c) mutu perahu. Program pemerintah. Alat tangkap yang sudah lama mereka kenal berupa pancing (rawai). Perkembangan Teknologi Penangkapan Ikan Perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur sudah dimulai sejak lama. Dengan demikian strategi eksploitasi penangkapan ikan yang dilakukan para nelayan skala kecil tergantung pada berbagai hal. kredit KIK/KMKP atau bentuk kredit yang lain selama 15 tahun terakhir ini. Pada awal dekade 1970-an dikawasan ini mulai dikenal kapal trawi tipe cungking dari bagansiapi-api yang menggunakan kapal motor. Kedua kejadian tersebut diatas telah berdampak positif terhadap perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur. konflik antara nelayan payang dan purse seine di Muncar pada tahun 1974. atau kemudian menetap di desa nelayan lainnya disebut andon. jaring insang (gill – net) pijer (bottom gill net) dan payang alet (danish seine). masing-masing kelompok terdiri dari 12 orang anggota. b) Kedua. Kejadian pertama . diantaranya : (a) potensi sumberdaya. yaitu : a) Pertama.

sedang diperairan utara cenderung berkembang macam-macam ukuran gil net kecil sesuai dengan jenis . maka perkembangan teknologi yang dimiliki beberapa perbedaan disamping terdapat persamaan. . Sedangkan perbedaannya meliputi hal-hal yang berkenaan dengan sistem penangkapan : (1) Di Wilayah Selatan mengarah pada perluasan alat tangkap untuk perairan Samudera. seperti gearbox. Proses persaingan antara payang dan purse seine di Selat Madura. (2) Di Wilayah Utara (Laut Jawa dan Selat Madura) mengarah pada pengembangan perikanan demersal.Kasus perkembangan gardanisasi jaring dogol (danish seine) di Selat Madura. disamping diterapkannya alat yang lebih efisien. khususnya pengembangan gardanisasi payang dogol (danish seine). telah membuka peluang lain untuk memasuki modernisasi penangkapan ikan lebih luas. terjadi keadaan keduannya bertahan pada lokasi penangkapan yang berdekatan (konsistensi). Perubahan yang ada mengarah pada penggunaan alat yang makin efisien. sehingga motorisasi perikanan berupa motor tempel berkembang sangat pesat dalam dekade 1980-an. c) Mengingat kondisi perairan yang berbeda antara perairan Laut Utara dan Selatan Jawa Timur. seperti gill net dan pancing prawe. Mengingat wilayah Muncar telah dikenakan teknologi sejak tahun 1974/1975. sedangkan di Laut Jawa posisi payang makin marginal.Program pemerintah : kasus pemilihan purse seine oleh nelayan sendiri. mesin dan alat tangkap meningkat. seperti pengenalan kapal penangkapan (kapal purse seine) dan macam-macam gillnet. Dengan diperkenakannya listrik untuk alat bantu penangkapan. Persamaannya adalah : ukuran kapal. bahkan semakin memberi arah pada perubahan-perubahan teknologi yang lain.16 telah mendorong nelayan Muncar mengalihmkan unit kerja penangkapan dari alat payang ke alat tangkap purse seine. maka kecepatan perubahan nampak sangat tinggi. baik melalui kredit maupun tanpa kredit. Gambaran tentang tahap-tahap perbaikan teknologi penangkapan yang pernah dilakukan nelayan Jawa Timur adalah sebagai berikut : a) Pada dasarnya nelayan Jawa Timur secara keseluruhan sangat responsif terhadap perbaikan teknologi b) Perubahan struktur pemilihan alat tangkap atau pengganti alat tangkap lain dapat terjadi karena kemungkinan : . dan purse seine perkembangan alat tangkap gill net. atau peningkatan kemampuan alat bantu seperti lampu dan rumpon. Sedangkan kejadian kedua telah mendorong hampir seluruh wilayah perikanan di Jawa Timur terkena dampak pengenalan teknologi penangkapan baru.

tongkol. Beberapa peluang yang mungkin bisa dimanfaatkan nelayan selanjutnya antara lain : (a) Keberhasilan penerapan teknologi yang ada sekarang menumbuhkan optimisme para nelayan. d) Ditinjau dari segi waktu. Di semua lokasi penelitian diperoleh informasi bahwa KUD masih lebih dikenal sebagai pemungut retribusi saja. maupun di lingkungan lokasi penelitian itu sendiri. maka keadaan teknologi yang ada sekarang telah maju dari gambaran besarnya investasi terlihat besarnya potensi sumber dana milik nelayan. dan kurang mampu mengatasi permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh nelayan. Di bagian utara Jawa Timur banyak berkembang jenis gill net baru. (d) kelembagaan koperasi (KUD) hampir seluruhnya belum berfungsi. khususnya di wilayah perairan selatan.1. rata-rata pendidikan Sekolah Dasar. (b) Kesenjangan ekonomi diantara para nelayan tradisional dengan nelayan maju dilingkungan masyarakat nelayan skala kecil itu sendiri makin besar. Beberapa kelemahan dan ancaman untuk mendorong dan meningkatkan penerapan teknologi maju selanjutnya antara lain adalah : (a) Tingkat pendidikan dan ketrampilan rendah. dari pengalaman selama 20 tahun terakhir. juga masih dimanfaatkan sangat rendah. maupun juga adanya . Sementara itu. (c) kesenjangan ekonomi yang ada juga berdampak terhadap kesenjangan memperoleh informasi teknologi antara jenis alat tangkap maupun antar wilayah masih sangat nampak. dan hanya sebagian kecil nelayan yang telah memperoleh modal dari Bank. dan cucut. 4.17 ikan yang menjadi buruan. maka dekade 1980-an adalah merupakan tahap perbaikan adopsi teknologi secara internal yang telah menyiapkan nelayan Jawa Timur memasuki tahap pengembangan teknologi modern selanjutnya. khususnya pasca larangan penggunaan jaring trawl sejak tahun 1981. Menurut perkiraan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Timur pemanfaatan potensi perikanan di wilayah perairan laut selatan di bawah 10% dari potensi lestari. Adapun di wilayah perairan selatan tersedia potensi sangat besar ikan-ikan pelagis seperti ikan tuna.6. bahkan terkesan lnelayan jauh lebih terampil dari pada para penyuluh yang ada. Kesenjangan nampak antara nelayan purse seine dan payang dengan nelayan gill net. secara geografis potensi sumberdaya alam yang tersedia di wilayah utara tersedia potensi ikan-ikan demerial belum dimanfaatkan secara maksimal. mengingat potensi ikan tuna yang memiliki peluang ekspor. baik antar lokasi penelitian. Teknologi Penangkapan dan Peluang Pengembangannya Setelah melewati perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur selama 20 tahun. Sementara itu peranan penyuluh perikanan masih terasa terlalu rendah. Disamping itu. Pada umumnya sumber dana tersebut merupakan modal sendiri.

kemudian payang dan Glinet. Hal ini disebabkan karena pada wilayah Puger dan musim tersebut terjadi angin barat yang menyebabkan gelombang laut cukup besar.1 Hari Kerja Usaha Penangkapan Ikan Hari kerja usaha penangkapan ikan di Jawa Timur 17-26 hari. udang dan lainnya untuk wilayah perairan utara Jawa Timur. misalnya penerapan lampu bawah air. 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hari kerja menurut jenis kapal maupun alat tangkapnya disebabkan keadaan musim (antara musim paceklik dan bukan). Hasil penelitian bahwa hari kerja nelayan tidak penuh 30 hari.2. Penyebaran teknologi tersebut lebih dipercepat mengingat daya migrasi dan andon para nelayan antar wilayah cukup besar. kelemahan. sehingga perbaikan teknologi yang berhasil disuatu lokasi perikanan akan segera tersebar ke seluruh wilayah. Aspek Ekonomi Usaha Penangkapan Ikan 4. gear box untuk mesin kapal maupun pengembangan alternatif purse seine khususnya di Puger Perhitungan kelayakan ekonomi disajikan di lampiran. udang barong. 4. antara lain : (a) Wilayah Selatan : perluasan usaha perikanan dengan menggunakan alat tangkap gill net dan pancing prawe. Sehubungan dengan adanya faktor kekuatan. dikarenakan memperbaiki alat tangkapnya. Disamping itu pada waktu terang bulan juga nelayan tidak bekerja dikarenakan tidak ada ikan.2. sedangkan pada daerah lain perbedaannya tidak begitu menonjol. sarana komunikasi.2 Tingkat Pendapatan dan Kelayakan Teknologi Tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan ada pada jenis Purse Seine. Hanya lterjadi pada wilayah Puger.2. (c) Baik untuk wilayah utara maupun selatan Jawa Timur untuk dikaji lebih dalam adanya penggunaan teknologi lampu di bawah air. Adanya perbedaan pendapatan berdasarkan wilayah penelitian disebabkan karena adanya perbedan teknologi dan fisling . peluang dan ancaman yang ada. (c) Adanya efek demonstratif dari perbaikan teknologi antar wilayah cukup besar untuk mengurangi adanya wilayah yang belum terjangkau oleh pengenalan teknologi. (b) Wilayah utara perluasan usaha perikanan dengan menggunakan alat tangkap dogol (danish seine) bergardan yang ditujukan untuk memanfaatkan potensi perikanan dasar (demersal) di Laut Jawa dan Selat Madura. (b) Cukup tersedia pilihan teknologi baru. maka pengembangna teknologi penangkapan masa depan di Jawa Timur ada beberapa pilihan layak secara teknis.18 peluang ekspor beberapa jenis ikan dasar seperti ikan kerapu. maupun proyek-proyek pelabuhan yang sedang dibangun oleh pemerintah.

Variasi pendapatan permusim tampaknya terjadi perbedaan.19 gronnd purse seine di Muncar (Banyuwangi) pendapatan tertinggi dibanding lain dengan wilayah lain. Jenis Gilnnet dan Purseine. Namun hasil penelitian menunjukkan juga ditentukan oleh wilayah (Potensi Sumber Daya Ikan). tampaknya relatif lebih stabil. Pendidikan pendega pada umumnya sampai pada tingkat SD atau tidak tamat SD. Jenis Dogol yang dikombinasikan antara pancing perawe permukaan tampaknya dapat dilakukan. yaitu purse seine. Pengetahuan dan ketrampilan nelayan tentang aspek penangkapan ikan rata-rata lebih tinggi dari pada para tugas lapangan dari TPI/KUD dan PPL. yaitu (a) wilayah Timur-selatan (Muncar dan Puger). Potensi dan Kendala Sumberdaya Manusia dan Sosial Budaya Uraian ini akan menggambarkan kondisi umum nelayan dan pengolah serta penduduk lainnya yang terdapat di keenam daerah penelitian. hal ini dikemukakan karena disamping teknologinya semi maju. 4. Pekerjaan istri rata-rata adalah berjualan . pancing dan payang. Sebagian kecil saja yang memanfaatkan waktunya untuk kegiatan produktif. b) Karakteristik Responden Nelayan juragan responden di Muncar terdiri dari empat alat tangkap. sedangkan para juragan darat umumnya memiliki pendidikan yang lebih tinggi. dikenalkan etimologis sudah maju dengan fisling groundnya lebih jauh. (b) Wilayah utara /Selat Madura (Lekok dan Bandaran) dan (3) Wilayah utara/Laut Jawa (Bulu dan Weru). Usaha pembuatan tepung ikan skala rumahtangga dan dijual di pasar muncar. pendapatannya cenderung stabil hal ini banyak dilakukan oleh nelayan di Muncar.3. Keenam daerah tersebut dikategorikan ke dalam tiga satuan wilayah. Rata-rata jumlah keluarga juragan purse seine dan pancing adalah 4 sampai 5 orang. Ditinjau dari segi pendapatan pendega (ABK) Gilnet yang tertinggi. a) Karakteristik Penduduk Alokasi waktu anggota keluarga pendega membantu kegiatan produktif bervariasi.2. Ditinjau dari segi kelayakannya ternyata gill net pantas dikembangkan untuk peningkatan golongan nelayan kecil (pendega). misal pedagang skala kecil. Sedangkan di wilayah utara tampaknya pengembangan pada penggunaan “alet” yang lebih beragam. juga disebabkan jumlah ABK lebih sedikit. gill net. Dengan demikian apabila nelayan dapat mengoperasi diluar wilayah (andon). sedangkan untuk nelayan gill net dan payang antara 6 sampai 8 orang. pembuat ikan olahan (tepung ikan) dan warung makan skala kecil.

tatapi kredit tidak harus dibayar. Hal ini berlangsung pada tahun 1974-1979. Ketika peranan KUD dominan dalam pengelolaan kredit kelompok pendega. Sebagian besar pendidikan mereka adalah SD atau SD tidak tamat. Respon terhadap perkembangan teknologi nelayan Muncar sangat positif. Sebagian besar nelayan Muncar ini bekerja sebagai nelayan pada tahun 1970-an. Penentu respon ini masih selalu dikaitkan dengan keuntungan ekonomi nyata yang diperoleh oleh para pendega. Hutang harus dibayar. Serta Teknologi. maka respon mereka sangat positif. sehingga ada kecenderungan tidak melunasi pinjaman. Pendega berasal dari dalam dan luar desa nelayan. Hal demikian ini tidak diikuti pada pemberian kredit Bimas I dan Bimas II tahun 1981/1982 (gill net dan payang). Kasus konflik di Muncar 1974 berakar pada peranan “juragan yang kuat” dan mereka dirugikan oleh pihak tertentu di masyarakat. Madura. Peranan Camat dan Lurah/Kepala Desa dihadapi secara netral. Probolinggo. bila mereka mempunyai hutang kepada tetangga atau kepada kerabatnya. apalagi kredit kelompok. Demikian pula nelayan sangat setuju bila diadakan lelang murni. d) Respon Masyarakat terhadap Kredit dan Program Pemerintah. Pendega luar desa nelayan ada yang dekat desa nelayan dan biasanya bekerja sebagai buruh tani. Disamping itu juga ada yang digunakan untuk meniti profesi ke arah juragan laut dan kemudian menjadi juragan darat. sebab tidak bisa ditentukan penanggung jawab tunggal. Bondowoso dan Jember. Arahan pejabat ini akan dituruti jika “menguntungkan” dan akan tidak ditanggapi bila “tidak menguntungkan”. Bila kebijaksanaan pejabat tersebut dianggap “merugikan” maka nelayan pendega diorganisir oleh juragan untuk menentangnya. Hal demikian ini menjadi berbeda. Panutan nelayan di Muncar adalah juragan yang sekaligus “mengerti agama”. Nelayan lokal cenderung memilih pendega karena tidak ada alternatif pekerjaan lain.20 “Mracangan”. Alat tangkap tersebut tidak segera menguntungkan nelayan dan pengembaliannya hanya mencapai sekitar 15-25%. terlebih lagi vila alat tangkap mereka cepat mengalami kerusakan. pelabuhan perikanan dan proyek pemerintah lainnya. . dan ada yang asal luar daerah seperti. Hal ini dapat diamati dari hasrat untuk mencari informasi dan memperbaiki teknologi yang dimiliki yang terus berubah semakin intensif. Pengembalian kredit lancar dan bahkan nelayan dapat melunasi pinjamannya kepada KUD. c) Lingkungan Sosial Latar belakang menjadi pendega bervariasi. Secara umum respon masyarakat nelayan pada program pemerintah “positif”. (termasuk TPI) asal para pembeli (Pengolahan Ikan) ikut melakukan lelang di TPI. Masyarakat nelayan menilaikan bahwa “kredit pemerintah” merupakan fasilitas yang menjadi hak mereka.

Pendega dapat pindah ke juragan lain dengan cara melunasi pinjamannya. Hal demikian ini digunakan oleh juragan darat dan juragan laut untuk menurunkan bagian hasil tangkap. 50. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah propinsi. POTENSI SUMBERDAYA DAN PERATURAN PERUNDANGAN 5. dan kecamatan wilayah studi. maksimal Rp. daerah kabupaten dan daerah kota yang berwewenang dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat.. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang bahwa Rencana Tata Ruang berdasarkan hicrarkhi atas Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Rencana Tata Ruang Kawasan Perdesaan dan Rencana Tata Ruang Kawasan Tertentu). kabupaten. Sihingga untuk perencanaan tata ruang yang ada di kabupaten bukan merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi tetapi merupakan sinkronisasi dari Rencana Tata Ruang yang ada di wilayah propinsi. Penyusunan rencana tata ruang bertujuan untuk menumbuhkan ekonomi wilayah dan memeratakan perkembangan ekonomi. Pendahuluan Studi penyusunan pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai pada dasarnya tidak terlepas dari kebijakan pemerintah propinsi Jawa Timur. V. Berdasarkan Undang-Undang No. (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masing-masing berdiri-sendiri dan tidak mempunyai hubungan hicrarkhi satu sama lain. Kebijakan tersebut adalah rencana tata ruang. Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamadia/Kabupaten (Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan. Kedatangan pendega yang andon ke desa nelayan menyebabkan “harga” tenaga kerja menjadi lebih murah. Penerimaan bagi hasil yang rendah ini tidak menggairahkan pada semangat kerja pendega.000. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi.21 e) Ketergantungan Nelayan Untuk mempertahankan pendega agar tetap bekerja kepada juragan maka juragan memberikan pinjaman kepada pendega. Berdasarkan Undang-Undang No. sosial budaya masyarakat di seluruh wilayah. mengintegrasikan wilayah dalam rangka memantapkan ketahanan nasional serta mengoptimalkan pendayagunaan . kebijakan sektoral terkait.1.

2. 4. IV/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara TAP MPR No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan Undang-Undang No. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang No. termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. serta dibentuk oleh endapan lempung hingga pasir yang bersifat lepas. Wilayah pesisir pantai merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Undang-Undang No. Dasar Penyusunan Studi Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai di Jawa Timur adalah : Undang-Undang Dasar 1945 TAP MPR No.22 sumberdaya alam secara serasi dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. Ruang kawasan pesisir merupakan ruang wilauah diantara ruang daratan dengan ruang lautan yang saling berbatasan. 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia Undang-Undang No. Berdasarkan kebijakan dan stategi pembangunan wilayah pesisir dan kelautan. Ditinjau dari garis pantai (coastline). 2. 5. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan PokokPertambangan 1. 6. dengan lebar yang ditentukan oleh kelandaian (% lereng) pantai dan dasar laut. . ditetapkan berdasarkan penentuan batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) kewewenangan Indonesia untuk mengelola wilayah kelautan adalah sejauh 200 mil dari pasang surut terendah. Wilayah pesisir daat diartikan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis laut terendah. 22 Tahun 1999 dijelaskan bahwa wewenang pengelolaan wilayah kelautan bagi propinsi adalah 12 mil. 7. XV1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Undang-Undang No. dan bagi kabupaten/kota kewenangan pegelolaan wilayah kelautannya adalah 4 mil. dan kadang materinya berupa kerikil. 3. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah ermukaan daratan termasuk perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. yaitu: batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang lurus terhadap garis pantai (crosshore). 5. maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries). Secara fisiografis didefinisikan sebagai wilayah antara garis pantai hingga ke arah daratan yang masih dipengaruhi pasang surut air laut.

21 Tahun 1992 tentang Pelayaran 22. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah 24. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup 12. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 31. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan 18. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom . 35 Tahun 1991 tentang Sungai 33. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekslusif Indonesia (ZEE) 13. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 tentang Perikanan 15. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang 23. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya 21. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan 27. Undang-Undang No. 26 Tahun 1985 tentang Jalan 30. 13 Tahun 1980 tentang Jalan 10. 69 Tahun 1996 tentang Peran serta Masyarakat dalam Kegiatan Penataan Ruang 34. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 25. 4 Tahun 1990 tentang Perumahan dan Pemukiman 20. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air 28. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 17. Undang-Undang No. 2 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup 19. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undangundang tahun 1967 Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan 26. 5 Tahun 1967 tentang Landas Kontinen Indonesia 9. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia 11. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa 32.23 8. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian 14. Undang-Undang No. 17 Tahun 1985 tentang Pengeshahan United Nations Convertion on the Law of the Sea (Konversi PBB tentang Hukum Laut) 16. 23 Tahun 1982 tentang Irigasi 29.

Kebijaksanaan yang akan dilaksanakan dalam Pembinaan Desa Pantai ialah : a. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Hutan Lindung 37. karena pada tahap ini akan dilakukan pembukaan wilayah dan pengubahan ekosistem (konversi).24 35. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. Konsep pengembangan pemukiman di kawasan pesisir yang dapat diterapkan adalah pengembangan desa pantai. 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau 42. Pemendagri No. Pemendagri No. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. Pembinaan desa pantai tersebut akan dilaksanakan secara terpadu. Pengembangan kawasan pesisir untuk kawasan pemukiman penting memperhatikan keadaan ekosistem sekelilingnya. 8 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Budaya 39. Upaya yang harus dilakukan antara lain adalah membina masyrakat desa pantai untuk lebih aktif dan berperan dalam pembangunan desa. Memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat desa pantai yang kondisinya jauh tertinggal dibandingkan dengan desa-desa lainnya .3. Sedangkan hal yang penting lagi adalah pada tahap konstruksi. 59 Tahun 1990 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Timur 5. Kebijaksanaan Pemukiman Kawasan pemukiman pesisir merupakan suatu lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. dimana dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut dipengaruhi oleh sifat alam kawasan pesisir. 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah 40. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 33 Tahun 1989 tentang Pengelolaan Kawasan Budaya 38. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri 36. Pemendagri No. Dampak penting terhadap ekosistem tergantung pada tipe pemukiman pesisir. Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur No. 2Tahun 1998 tentang Pedoman Penyususnan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Dati II 41.

Rekayasa teknologi tepat guna dan tepat tingkungan untuk daerah desa pantai 5. pariwisata. pertanian.XV/1999. Pengaturan tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi pola pengelolaan raung kawasan pesisir pantai. perikanan. Sedangkan kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan . termasuk dalam pengelolaan sumberdaya alam.25 b. yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan nasional dan regional. Tujuannya adalah untuk memberikan arahan zonasi kawasan budaya dan kawasan lindung. Penyuluhan konservasi lingkungan desa pantai untuk menunjang kelestarian sumberdaya alam dipesisir dan lautan g. Kawasan budaya meliputi kawasan pemukiman.4. Membina kelembagaan desa pantai f. Memperbaiki kualitas pemukiman d. Pedoman pengaturan tersebut merupakan landasan bagi penyusunan perencanaan taktis dan perencanaan operasional. Memperbaiki tingkat pendapatan masyarakat desa pantai melalui upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya laut dengan teknologi siap pakai c. Sehingga keutuhan peranan sumberdaya alam dalam tatanan lingkungan menjadi penting untuk dilestarikan. Pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai secara terpadu yang dimaksud adalah pengelolaan secara terpadu antar lintas sektoral. Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai Sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam TAP MPR No. Pasal 5 TAP MPT No. nyata dan bertanggung jawab kepada pemerintah daerah. bahwa penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan yang laus. Diharapkan faktor keutuhan peranan sumberdaya alam dalam tatanan lingkungan menjadi penting untuk dilestarikan. XV/1999 pasal 1 dan 2. Pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai dilakukan secara terpadu antar sektoral harus ada keterpaduan antar lintas sektoralnya. menyatakan bahwa pemerintah daerah berwenang mengelolan sumberdaya nasional dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan. Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta h. Pedoman kebijakan pemanfaatan ruang kawasan pesisir pantai meruapakan kebijakan penetapan kawasan berdasarkan keseuaian pemanfaatan ruangnya. Penyediaan infrastruktur dan fasilitas sosial e.

Lawang. .030. 5.5. Sumber Pucung. Kondisi Topologi Kondisi Topologi yang dimaksud adalah kondisi kelerengan dan ketinggian. terdiri dari kondisi topografi (keterangan dan ketinggian).26 kawasan bawahannya. a. Kromengan. Sedangkan wilayah laut adalah 4 mil (berdasarkan UU No. curah hujan dan kondisi klimatologi.11” – 80 26’ 34. Kondisi ketingginan Kabupaten Malang berada pada ketinggian 0 – 200 m di atas permukaan laut. yaitu 119. sebagian besar berada pada kelerengan 2 – 15 %. Donomulyo. Tajinan. kawasan rawan bencana. sebagian Kecamatan Singosari. yang terdiri dari wilayah darat.78 Ha dan sebagian kecil berada pada kelerengan 0 – 2 % yaitu 52.625 Km. erosi. Pakis. pantai dan laut.78 Ha.45” LS. kawasan sempadan pantai.607. 22 tahun 1999). Gondanglegi.9”-1120 57’ 0. kondisi jenis tanah. daerah yang berada pada kondisi landai hingga pegubungan berada pada kecamatan Bululawang. Ngajum.030. drainase. Turen. Gedangan. sempadan sungai. kedalaman efektif tanah. Kepanjen dan Pakisaji. kondisi geologi. Karangploso. Pagak. Bantur. antara lain kawasan hutan lindung. dengan garis pantai sepanjang 102.0” BT dan 70 44’ 55. Dampit. Wagir dan Wonosari. Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi kelerengannya. Kabupaten Malang merupakan wilayah yang cukup luas. Dau.787 Ha.78 Ha dan sebagian kecil berada pada kelerengan 0 – 2 % yaitu 119. Kriteria tata cara penetapan kawasan lindung dan kawasan budaya ini telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Ditinjau dari kondisi morfologinya. Luas wilayah darat Kabupaten Malang ialah 334. Kalipare. Gambaran Wilayah Kabupaten Malang Kabupaten Malang ditinjau dari posisi koordinat Bujur dan Lintang berada pada posisi 120 17’ 10. 837/KPTS/UM/1980. Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi fisik dasar. Sedangkan daerah bergelombang berada pada Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Diagram Evaluasi Sumberdaya Lahan .27 Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Lahan Penentuan zona-zona penggunaan lahan Menggunakan unit lahan sebagai unit analisa Karakteristik Lahan Yang Dianalisa Keadaan iklim Kondisis tanah SKOR Kemiringan lahan < 75 kawasan budidaya tanaman semusim/ pemukiman 75 – 125 kawasan budidaya tanaman tahunan 125 – 175 tamanan penyangga < 175 Kawasan lindung Gambar 2.

Adapun uraian masing . miosen facies sediman dan alivium.52 Ha (44.5. kedalaman efektif tanah.masing kondisi fisik tersebut adalah sebagai berikut : . hidrologi. hasil gunung api kwarter tua. Struktur geologi terluas adalah hasil gunung api kwarter muda yaitu 145.25 %). Kawasan terluas kedua berupa hutan seluas 86. d.142. Untuk lahan sawah seluas 48385 Ha (15 %). Sedangkan luas terkecil struktur geologi adalah miosen facies sedimen yaitu 12. Lahan dengan penggunaan lainnya seluas 12. klimatologi. latosol.859 Ha (14 %). tambak 188 Ha (0.160 Ha atau 36 % dari luas keseluruhan.36 Ha (25. mediteran. 5.76 %). tekstur tanah. c.260.28 b. padang rumput 41 (Ha) (0.4. yaitu : Jenis tanah andosol. Kondisi Fisik Kondisi fisik yang mendukung gambaran umum daratan adalah keadaan topografi. Gambaran Umum Wilayah Pesisir A.528 Ha (0.01 %).2. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kabupaten Malang sebagian besar berada pada kedalaman > 90 cm. yaitu 86. 5.834 Ha (3. brown forest. Lahan permukiman 44. litosol.77 %). regosol.186 Ha atau sekitar (26 %) dari luas keseluruhan.220 Ha (4 %).06 %). Kondisi Geologi Kondisi geologi di Kabupaten Malang terdiri dari 5 struktur geologi yaitu hasil gunung api kwarter muda. Jenis tanah terluas adalah latosol. yaitu 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.25 Ha (1. miosen facies gamping.83 %).5. erosi dan bahan galian.56 Ha (83.31 %) dan sebagian kecil berada kedalaman efektif tanah < 30 cm.83 %). yaitu 278. Kondisi Jenis Tanah Jenis tanag di Kabupaten malang terdiri dari 7 jenis tanah. jenis tanah.925.1. Sedangkan yang terkecil luasannya adalah jenis tanah brown forest yaitu 6.152. Penggunaan Tanah Penggunaan tanag di Kabupaten Malang didominasi kawasan tegal/kebun seluas 117. alluvial.

Semakin mendekati daerah pantai umumnya memiliki karakteristik daerah pegunungan kapir dan kemiringannya sangat besar.25 4089 5004. Pasir inilah yang mengakibatkan pasir di pantai Licin yang semula putih menjadi kehitaman.5 Kelerengan Wilayah Pesisir Kecamatan 0–2% 2 – 15 % Ampel Gading 1273.34 6595.5 3942. 15 – 40 % dan 40 %. Bopak dan Sumber bulus. Lenggosono.5 > 40 % 10781.75 Donomulyo 96.25 11097. Wonogoro dan Kondang Merak.33 10929.5 Bantur 316. kali Duron. Untuk kelerengan > 40 % yang sebagian besar meliputi Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo merupakan daerah yang harus dihutankan karena mempunyai fungsi sebagai perlindungan terhadap tanah dan air dan menjaga ekosistem lingkungan hidup. sehingga aliran sungai terhenti di mulut muara dan baru terbuka pada musim penghujan. Sipelot.29 a. Kali Bambang (Kecamatan Sumbermanjing Wetang). Muara sungai yang terletak di pantai licin dipenuhi oleh pasir yang berasal dari Gunung Semeru.5 Gedangan 347. Hal ini bisa diindikasikan bahwa pada wilayah perencanaan kondisi lahannya bergelombang sampai terjal. Tingkat kelerengan wilayah berkisar diantara kelerengan 2 – 15 %.33 Sbermanjing Wetan 987 5437. Tamban. Pantai-pantai yang memiliki sumber air permukaan atau aliran sungai adalah pantai Licin.5 9607.5 5130. Selama Gunung Semeru masih aktif diperkirakan sungai dan muaranya akan terus penuh dengan pasir. Kondisi air permukaan yang dimaksud adalah air sungai dan kondisi air tanah adalah sumber/mata air yang berasal dari dalam tanah.75 1019.75 5090.5 9156 Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Malang 15 – 40 % 5336. Topografi Berdasarkan kondisi topografinya wilayah perencanaan memiliki ketinggian kirang lebih dari 0 – 2000 meter di atas permukaan laut dan keadaan yang bervariasi yaitu kondisi terjal sampai pegunungan. Bopakang. Kali sumberbulus bermuara di . Tabel 5.75 412 1414 b. Kondisi muara sungai pada musim kemarau pada umumnya tertutup pasir. Adapun sungai-sungai yang melewati wilayah perencanaan yaitu kali Giok yang bermuara di Pantai Licin.5 5839.5 Tirtoyudo 230 2996. Hidrologi Kondisi hidrologi yang dilihat di pantai Kabupaten Malang meliputi kondisi air permukaan dan kondisi air tanah.

70. Cara memperoleh dilakukan dengan cara mengebor dengan kedalaman 40 – 60 meter disamping sumber air dalam tanah. tanah dapat diekspresikan sebagai bahan/media tumbuh tanaman yang sangat marginal. Dari jenis tanah ini juga bisa diketahui potensi suatu wilayah untuk pengembangan dalam berbagai sektor. Klimatologi Keadaan cuaca di wilayah perencanaan seperti umumnya cuaca di Kabupaten Malang memiliki iklim tropis dengan suhu 18. Menurut Budi Santoso (1989). Sedangkan tanah . Jenis Tanah Berdasarkan jenis tanah ini dapat diketahui sifat-sifat tanah yang bisa menginformasikan tingkat kesuburan. Pada wilayah dengan curah hujan tinggi terbentuk vegetasi hutan. Dengan pendekatan pengertian tersebut diatas. pendekatan yang dilakukan pada pengertian tanah adalah lapisan dan teratas dari kerak bumi yang terdiri dari tiga fase yaitu bahan padat.25 0C sampai dengan 31. Apabila ketiga bahan tersebut adalam keadaan optimum merupakan media tumbuh bagi tanaman. tanah latosol memiliki merah karena meningkatnya konsentrasi Fe dan Al yang keluar dari solum. Iklim menentukan setiap macam/tipe vegetasi yang terbentuk pada suatu wilayah. sehingga memerlukan pengelolaan teknis dan mekanis dengan sebaik-baiknya. Curah hujan turun antara bulan April – Oktober. Kali Balekambang (Kecamatan Bantur) dan Kali Sumbermanjing (Kecamatan Donomulyo). sedang pada pada suatu wilayah yang mempunyai curah hujan rendah akan terbentuk vegetasi semak belukar ataupun padang rumput. Curah hujan rata-rata per tahun 1. bahan cair dan bahan gas.45 0C (suhu rata-rata dari empat stasiun pengamat cuaca antara 23 0C sampai 25 0C).30 Pantai Wonorogo. tergantung pada panjang bulan basah dan panjang bulan kering. sumber air utama penduduk adalah mata air yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah. kemudahan erosi. Tekanan udara dibawah 1. Dalam suatu kawasan yang terdapat budidaya pertanian. porositas dan sebagainya. Diantara kedua musim tersebut ada musim peralihan antara bulan April – Mei dan Oktober – November.85 per tahun. d.596 mm dan hari hujan 84. c.012. Untuk kawasan pesisir daerah Malang Selatan menurut Tabel Hasil Perhitungan Kemampuan Tanah Kabupaten Malang adalah tergolong jenis Latosol dan Andosol walaupun ada jenis Alluvial akan tetapi jumlahnya relatif lebih sedikit lebih sedikit dibandingkan dengan jenis Latosol dan Andosol. Sumber air tanah sebagai sumber air tawar diperoleh dari dalam tanah.

Terjadinya erosi dipengaruhi oleh lima faktor yaitu : a. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah sangat berkaitan dengan kesuburan dan kesesuian jenis yanaman. Bentuk kewilayahan atau topografi d. Karena tingkat kedalaman efektif tanah berpengaruh pada kedalaman akar. Kesalahan dalam pengelolaan tanah. f. Tanah c. gedangan dan Bantur tingkat erosinya cukup tinggi. Iklim b. Erosi Erosi dapat disebut juga pengikisan atau kelongsoran. e. Pada wilayah perencanaan tingkat erosinya tergolong rendah namun pada Kecamatan Ampelgading. termasuk kelompok tekstur tanah SEDANG HINGGA KASAR. pemilihan jenis tanaman yang kurang tepat atau mungkin tidak dilakukan pengelolaan tanagh sama sekali dan tanah sendiri tidak tertutup vegetasi barangkali menjadi penyebabnya. Kondisi-kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena akibat adanya erosi menyebabkan terjadinya sedimentasi. iklim dan tanah sebenarnya tidak ada masalah. sebenarnya merupakan proses penghayutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin.31 Andosol memiliki ciri tanah subur. Tanaman penutup tanah (vegetasi) e. baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan/perbuatan manusia. Dilihat dari faktor fisik yang meliputi topografi. Tanah dengan tingkat kedalaman yang besar biasanya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman besar dengan perakaran yang dalam. Kegiatan/perlakuan manusia. Kemungkinan besar faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. mudah erosi dan sesuai untuk tanaman tahunan. Tekstur Tanah Tekstur tanah merupakan sifat tanah untuk mengetahui berbagai sifat lainnya. g. .

a. Lokasi sekitar kawasan pemukiman masih didominasi lahan pertanian. Karena secara empiris. Bahan Galian Pada wilayah perencanan mempunyai kekayaan alam berupa sumber mineral yang cukup potensial untuk dikembangkan. Lahan pertanian khusunya untuk . Pemukiman Pemukiman tersebar pada daerah-daerah yang relatif datar dan menyebar pada jalan-jalan yang ada. oker dan batu pasir. Sb. lempung. Sawah Proporsi luas lahan sawah sangat kecil dibandingkan dengan penggunaan tanah untuk jenis pertanian yang lain dan jenis penggunaan tanah pada umumnya. Erosi Tanah Di Wilayah Pesisir Ada Erosi (Ha) 1. batu gamping. jalan dan sebagainya). tegalan. sawah. fosfat. Pemukiman lebih terpusat di ibukota Kecamatan dan sekitarnya. kebun.9. perkebunan. tambak dan lainnya (antara lain makam. mengakibatkan pertanian kurang berkembang. kaolin. tras. b. Tirtoyudo 1753 3. B. Ampel Gading 6698 2. Gedangan 7186 5. Kondisi tanah yang cenderung kering dan padas serta topografi yang relatif terjal. Pemanfaatan lahan di daratan meliputi pemukiman. Bantur 6740 6. hutan. perkebunan. Aksesibilitas umumnya kurang bagus dan prasarana penunjang terbatas dan hampir tidak ada .32 Tabel 5. breksi. terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan lahan di atas dan laut lepas . tegalan serta lahan kosong. Pemanfaatan Lahan Daratan Pemanfaatan dan pengelolaan lahan di daeratan secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi di wilayah pesisir. Donomulyo 3553 Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Malang No Kecamatan Tidak Erosi (Ha) 14636 12443 19590 8879 9175 12118 Jumlah (Ha) 21344 14196 23950 16065 15915 15671 h. Bahan-bahan galian tersebut meliputi : pasir. Manjing Wetan 4360 4.

Sedangkkan pada bagian Timur lebih banyak banyak diusahakan tanaman kebun yaitu kebun kelapa.33 tanaman padi terbatas pada lahan yang relatif datar. Perkebunan Proporsi lahan perkebunan lebih banyak terletak di bagian Timur wilayah perencanaan jenis tanaman yang dikelola adalah cengkeh. Geomorfologi yang kurang subur ini menyebabkan pertanian basah seperti tanaman padi dan sistem gilir tidak bisa berkembang dengan baik. kopi dan coklat semakin berkurang jumlahnya. maka hutan ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi keseluruhan ekonsistem baik di darat maupun di laut. Kondisi ini pada sebagian wilayah terutama di bagian barat makin diperparah dengan sistem irigasi yang juga kurang baik. kopi dan coklat. ketela pohon. Fungsi hutan sendiri terbagi menjadi 2 yaitu hutan produksi dan hutan produksi terbatas. Hutan Hutan memiliki wilayah terluas diantara penggunaan tanah yang lain. e. cengkeh. c. Posisi lahan perkebunan sebagian besar terletak pada kemiringan yang besar. kacang-kacangan. Kawasan hutan yang termasuk dalam hutan produksi terbatas tersebar mulai dari Timur ke Barat yaitu Kecamatan Ampelgading sampai dengan Kecamatan Donomulyo. Jenis-jenis tanaman semusim yaitu jagung. Akibat terjadinya penjarahan pada lahan perkebunan mengakibatkan lahan tegalan dan kebun ini semakin luas. Hutan yang terletak pada kawasan budidaya adalah hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang terletak pada kawasan non budidaya adalah hutan produksi terbatas. d. Beberapa kawasan hutan yang lainnya tidak dapat digunakan sebagai hutan produksi sebab lokasi hutan terletak pada kawasan lindung yaitu sebagai hutan lindung yaitu sebagai hutan lindung terbatas. tales. Kondisi perkebunan pada saat ini sangat memprihatinkan akibat adanya pengrusakan dan penjarah oleh masyarakat. Lahan tegalan banyak diusahakan di bagian barat dari wilayah perencanaan. Mengingat kondisi fisik wilayah terutama topografinya yang cenderung curam. Namun pada saat ini sebagian besar tanaman cengkeh. karet. cabe dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk hutan produksi tetap terdapat di Kecamatan Sumber manjing Wetan dan Kecamatan Bantur. kopi dan coklat. lahan untuk tegalan dan kebun memiliki proporsi yang lebih besar. . Tegalan/Kebun Dibandingkan dengan lahan persawahan.

Keadaan cuaca di wilayah perencanaan seperti umumnya cuaca di Kabupaten Malang memiliki iklim tropis dengan suhu antara 18. Ciri khas laut pantai Selatan merupakan lautan bebas. Arus yang besar di pantai Selatan dikenal dengan nama arus katulistiwa Selatan (Shout eauatorial current) yang sepanjang tahun menuju ke Barat. Kawasan pesisir pantai Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi fisik daratnya menunjukkan.42% dari luas wilayah pesisir Kabupaten Malang). Air naik di sini terjadi kira-kira dari Selatan Jawa hingga ke sebelah Selatan Sumbawa. Kemudian sejauh 2. keadaan gelombang dan arus sangat besar.25° C sampai dengan 31. kondisi lahannya bervariasi yaitu terjal sampai pegunungan. Perairan laut di Kabupaten Malang berada di sebelah Selatan dan merupakan Samudra Indonesia. kemudian memaksanya membelok ke arah Barat Daya. Tetapi pada musim Barat terdapat jalur sempit yang menyusur pantai Selatan Jawa dengan arus menuju ke Timur. Jadi saat itu arus permukaan di daerah ini menunjukkan pola sirkulasi anti siklonik atau berputar ke kiri.34 C.0005 Cm/detik. mempunyai kedalamam mencapai 3000 m.131 Ha. Semakin mendekati daerah pantai umumnya memiliki karateristik daerah pegunungan kapur dan kemiringannya sebagian besar > 40%.1. maka akan terjadi kekosongan yang berakibat naiknya air dari bawah (upwe//ing). Curah hujan rata-rata per-tahun 1.7. Daerah yang memiliki kelerengan >40% adalah Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo. diawali sekitar bulan Mei dan berakhir sekitar bulan September. Kedalaman laut Selatan Jawa sejauh 1. Arus tersebut dikenal dengan arus pantai Jawa (java coastal Current). Jenis upwelling di Selatan Jawa yaitu jenis berkala (periodic tipe) yang terjadi pada musim Timur. Pada musim Timur di atas perairan lautan ini berhembus kuat angin Tenggara yang membuat arus katulistiwa Selatan ini makin melebar ke Utara.625 -4.85 pertahun. sebagian besar wilayahnya berada pada kelerangan 5 -15% (39.012.375 km. Kecepatan air naik ini sekitar 0. berlawanan dengan arus katulistiwa Selatan. bahwa ketinggian wilayah perencanaan berada pada ketinggi 0-2000 meter di atas permukaan laut.45° C (suhu rata-rata dari empat stasiun pengamat cuaca antara 23° C sampai 25° C). Profil Kawasan Pesisir Pantai di Kabupaten Malang Kawasan pesisir pantai di Kabupaten Malang terdiri dari 6 kecamatan dengan luas wilayah perencanaan darat adalah 107. sedangkan luas wilayah perairannya adalah 4 mil.625 km mempunyai kedalam hingga mencapai 200 m.575. yang mempunyai ciri gelombang dan arus yang besar.596 mm dan hari hujan 84. Karena arus ini membawa serta air permukaan ke luar menjahui pantai. Curah hujan turun antara bulan April- . menggeser sepanjang pantai Selatan Jawa hingga Sumbawa. Tekanan udara di bawah 1.2. Gambaran wilayah dapat dilihat pada peta 3.

Selama Gunung Semeru masih aktif diperkirakan sungai dan muaranya akan terus penuh dengan pasir. Karena secara empiris. Sipelot. Pasir inilah yang mengakroatkan pasir di Pantai Licin yang semula putih menjadi kehitaman. tanah latosol memiliki ciri subur. . Sedangkan tanah Andosol memiliki ciri tanah subur. Kali Bambang (Kecamatan Sumbermanjing Wetan). mudah erosi dan sesuai untuk tanaman tahunan. Tamban. berwama merah karena meningkatnya konsentrasi Fe dan AI yang keluar dari solum. Sumber air tanah di wilayah ini diperoleh dengan cara mengebor dengan kedalaman 40. LenggoksonfJ. Disamping sumber air dalam tanah. jalan). Menurut Budi Santoso (1989). pemilihan jenis tanaman yang kurang tepat atau mungkin tidak dilakukan pengelolaan tanah sama sekali dan tanah sendiri tidak tertutup vegetasi barangkali menjadi penyebabnya. Muara sungai yang terletak di Pantai Licin dipenuhi oleh pasir yang berasal dari Gunung Semeru. sehingga aliran sungai terhenti di mulut muara dan baru terbuka pada musim penghujan. Adapun sungai-sungai yang melewati wilayah perencanaan yaitu Kali Giok yang bermuara di Pantai Licin. sumber air utama penduduk adalah mata air yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah. Wonogoro dan Kondang Merak. Dilihat dari faktor fisik yang meliputi topografi. Jenis tanah yang ada di wilayah perencanaan adalah Latosol. Kesalahan dalam pengelolaan tanah. kebun. terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan lahan di atas dan laut lepas. Bopak dan Sumberbulus. hutan.35 Oktober. Gedangan dan Bantur tingkat erosinya cukup tinggi.60 meter. Kondisi muara sungai pada musim kemarau pada umumnya tertutup pasir. Tingkat erosinya tergolong rendah namun pada kecamatan Ampelgading. Pemanfaatan lahan di daratan meliputi pemukiman. dan mudah erosi karena keeratan antara partikel tanah rendah. Andosol dan Aluvial Oumlahnya relatif lebih sedikit). Bopakang. Kali Sumberbulus bermuara di Pantai Wonogoro. Kali Duron. Kemungkinan besar faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. sawah. Diantara kedua musim tersebut ada musim peralihan antara bulan AprilMei dan Oktober-November. Kali Balekambang (Kecamatan Bantur) dan Kali Sumbermanjing (Kecamatan Donomulyo). dan lainnya (misal : makam. tegalan. Kondisi hidrologi di kawasan pesisir Kabupaten Malang meliputi kondisi air permukaan dan kondisi air tanah. Pemanfaatan dan pengelolaan lahan di daratan secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi di wilayah pesisir. Pantai -pantai yang memiliki sumber air permukaan atau aliran sungai dan bermuara sampai lautan adalah Pantai Licin. iklim dan tanah sebenamya tidak ada masalah.

pengembangan desa pantai miskin dan pengembangan wisata bahari. Melakukan pengawasan ekosistem terumbu karang terhadap kegiatan yang dapat mempengaruhinya. Mengingat sumberdaya ikan yang ada di wilayah perairan laut Kabupaten Malang baru dimanfaatan sekitar 15.066. pencegahan dan penanggula'ngan pencemaran laut. baik berupa industri pengolahan maupun penangana ikan segar. pengelolaan dan konservasi ekosistem terumbu karang. Memperhatikan hasil penelitian terhadap kondisi dan pentingnya ekosistem terumbu karang.36 D. Melakukan pengawasan terhadap pembuangan 'imbah pertanian dan tambak. melalui penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi penangkapan.9 % dari potensi lestari sebesar 26. Program Laut Lestari Program laut lestari dijabarkan dalam beberapa bentuk rencana kegiatan yaitu : pengelolaan keanekaragaman hayati laut. Melakukan pengawasan pemanfaatan lahan atas termasuk penebangan hutan yang tidak terkendali. E. kegiatan pasca tangkap atau industri perikanan dan sumberdaya manusia yang ada. khususnya ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. 2. maka kebijaksanaan pembangunan perikanan di kawasan pesisir Kabupaten Malang dapat ditempuh sebagai berikut: (1) Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya ikan. maka kebijaksanaan pembangunan perikanan di kawasan pesisir Malang Selatan dapat ditempuh sebagai berikut: 1.198 ton. (1) Pengelolaan keanekaragaman hayati laut . Kebijakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Malang Memperhatikan hasil penelitian terhadap potensi sumberdaya ikan. kondisi dan pentingnya ekosistem terumbu karang. keberadaan dan pengelolaan tambak. 3. (4) Meningkatkan kua1itas sumberdaya manusia perikanan dan pendapatan nelayan melalui upaya optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kegiatan pasca tangkap dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai serta peningkatan nilai tambah hasil perikanan. pengelolaan ekosistem hutan mangrove. seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan kegiatan 'ain yang dapat mengakibatkan perubahan lingkungan (kekeruhan dan pencemaran). (3) Meningkatkan kualitas penanganan pasca tangkap. (2) Mengoptimalkan pemanfaatan lahan tambak yang sudah ada dan diversifikasi komoditi yang dibudidayakan.

(ii) Pengetolaan Ekosistem Hutan Mangrove Hutan mangrove mempunyai suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. insekta dan lainnya. peningkatan eksport dan keuntungan. dukungan dan peran serta masyarakat melalui peningkatan pajak untuk pengelola produk-produk yang menggunakan binatang dan tumbuhan laut.Undang Lingkungan untuk melindungi spesies laut (dengan cara meningkatkan kepedulian.Pelajari (cari cara-cara untuk memanfaatkan sumberdaya secara berkelanjutan). obat-obatan dan keperluan lainnya). ser1a melibatkan masyarakat setempat dalam proses pengambilan keputusan. ikan dan berbagai biota laut. tapangan pekerjaan. Yaitu dengan mempublikasikan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang relevan secara aktif . Menetapkan pusat data dan informasi keanekaragaman hayati taut dan mengelola pusat data ini bersama-sama dengan pemerintah. Yaitu dengan menetapkan kawasan konservasi laut dan mengelola kawasan ini dengan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai lembaga untuk bekerja sama mendukung pengelolaan kawasan konservasi. LSM dan perguruan tinggi. tempat berlindungnya dan memijah berbagai jenis udang.37 Salah satu modal yang dimanfaatkan untuk pembangunan nasional Indonesia adalah sumberdaya hayati. primata. Strategi nasional dalam pengelolaan keanekaragaman hayati laut di Indonesia adalah rencana penetapan kawasan konservasi laut. . promosikan cara-cara penggunaan tumbuhan dan bjnatang secara berkelanjutan untuk menyediakan gizi. reptilia.Manfaatkan Secara Berkelanjutan (yaitu memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk menyediakan makanan. yang di tingkat internasional dicuatkan permasalahannya dengan gerakan . . meningkatkan penegakan Undang. Tujuan dan sasaran strategi pengelolaan keanekaragaman hayati laut ialah: . untuk mengurangi kerusakan dan memperbaiki sumberdaya hayati.keuntungan lain dari pengelolaan sumberdaya laut. juga sebagai habitat satwa burung. Yaitu dengan memperkuat koordinasi antar lembagajembaga dan badan pemerintah untuk memperbaiki kapasitas dalam mengelola sumberdaya laut dalam pembangunan berkelanjutan. . sehingga secara ekologi dan ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.Selamatkan (lindungi keanekarangan hayati untuk generasi mendatang).biodiversity' (keanekaragaman hayati).

Pemanfaatan kawasan terumbu karang sebagai obyek wisata.Study it. .Program pelatihan dan pendidikan baik formal dan non formal. pariwisata). . (iv) Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Laut . . yaitu mempelajari ekosistem hutan mangrove yang meliputi biologi. komposisi. Pemanfaatan terumbu karang yang kurang bijaksana dapat berakibat menurunnya kualitas terumbu karang. koleksi biota laut untuk hiasan.Terkoordinasinya pengelolaan terumbu karang secara nasional. mengamankan ekosistem hutan mangrove dengan melindungi genetik. . yang mempunyai nilai yang tinggi karena pada kawasan ini terdapat kawasan perikanan yang subur. yaitu : .Terkendalinya dampak kegiatan pembangunan di darat dan di laut terhadap ekosistem terumbu karang.Save it. pestisida dan buangan minyak. spesies dan ekosistem. distribusi dan kegunaannya. penangkapan ikan hias dengan kalium cianida (KCN). limbah industri. maka diperlukan adanya strategi pengelolaan ekosistem terumbu karang yang berwawasan lingkungan. . bahan untuk farmasi. daya tarik bagi pariwisata khususnya (eco marine tourism) yang dapat menambah devisa negara dan secara fisik karang dapat melindungi pantai dari degradasi dan abrasi.Use it. penangkapan ikan dengan muroami. . yaitu memanfaatkan ekosistem hutan mangrove secara lestari dan seimbang. baik yang areal konservasi (taman laut.Identifikasi luas dan lokasi kawasan terumbu karang potensia' dan bermasalah. yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan pemanfaatan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya terumbu karang. penambangan karang. Kegiatan manusia yang dapat merusak terumbu karang antara lain ialah : sedimentasi yang berasal dari penebangan hutan. penggunaan bahan peledak. penelitian dan pendidikan secara maksimal tanpa menggangu kelestariannya. yang meliputi : . (iii) Pengelolaan dan Konservasi Ekosistem Kawasan Terumbu Karang Terumbu karang merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting. Agar ekosistem terumbu karang dapat dimanfaatkan secara maksimal dan lestari. struktur.38 Strategi yang dilakukan untuk melindungi dan melestarikan potensi sumberdaya hutan mangrove dan memanfaatkannya berdasarkan azas pelestarian. pembangunan fasilitas. cagar alam laut) maupun areal non konservasi (perikanan.

sosial dan ekonomi.Memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat desa pantai yang kondisinya jauh tertinggal dibandingkan dengan desa-desa lainnya.Penentuan lokasi pengembangan yang tepat. mampu meningkatkan . Meningkatnya jumlah penduduk dan berbagai kegiatan ekonomi yang berlangsung di darat dan di laut.39 Pencemaran laut di Indonesi antara lain disebabkan oleh : kegiatan-kegiatan di darat dan di laut. kesehatan.Rekayasa teknologi tepat guna dan tepat lingkungan untuk daerah desa pantai. yaitu perlu ditingkatkan pencegahan pencemaran laut melalui pembinaan serta peningkatan pengawasan dan penegakan hukum.Memperbaiki tingkat pendapatan masyarakat desa melalui upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya laut dengan teknologi siap pakai. perhubungan. budaya masyarakat setempat.Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta. Dampak positif pengembangan wisata bahari ialah : dapat meningkatkan devisa negara. Pada umumnya masyarakat desa pantai lebih merupakan masyarakat tradisional dengan kondisi sosial dan ekonomi yang sangat rendah. . perluasan tenaga kerja. (v) Pengembangan Desa Pantai Pengembangan desa pantai di wilayah negara kepulauan Indonesia sangat perlu. . . termasuk kegiatan-kegiatan kapal asing yang menyinggahi dan melewati perairan Indonesia. yang mulai mendapat perhatian dan sangat menarik banyak peminat.Membina kelembagaan desa pantai. . Minimnya sarana dan prasarana (pendidikan. . . komunikasi).Strategi Perlindungan Lingkungan Laut Akibat Pencemaran. (vi) Pengembangan Wisata Bahari Pengembangan wisata bahari di Indonesia merupakan hal baru. maka perlu adanya :. pendidikan formal yang diterima masyarakat desa pantai secara umum jauh lebih rendah dari pendidikan masyarakat non pantai lainnya. dimana kegiatan kapal tanker paling sering mengalami kecelakaan pada waktu melewati perairan Indonesia. Pengembangan wisata bahari secara ideal diharapkan mampu menciptakan saling keterkaitan dan saling menjaga secara harmonis antara unsur-usur lingkungan fisik.Penyuluhan konservasi lingkungan desa pantai untuk menunjang kelestarian sumberdaya alam di pesisir dan lautan. Untuk menunjang keberhasilan program pembinaan desa pantai. Sehingga upaya penanggulangan pencemaran laut sangat perlu dilakukan yaitu dengan menyusun . . karena diperkirakan 60% penduduk hidup dan tinggal di daerah pantai. mendorong pengembangan usaha baru.

Desa Tumpakrejo (Pantai Wonogoro). tentang konservasi sumber daya alam. sehingga dalam pelaksanaanya di lapangan masih belum terarah secara jelas. (vi) Sawah Proporsi luas lahan sawah sangat kecil dibandingkan dengan penggunaan tanah untuk jenis pertanian yang lain dan jenis penggunaan tanah pada umumnya. Lahan pertanian khususnya untuk tanaman padi terbatas pada lahan yang relatif datar. Sedangkan kondisi pemukiman pantai di kawasan pesisir Kabupaten Malang sebagian besar kondisi bangunan dan lingkungannya rendah dan belum mendapatkan infrastruktur yang memadai. Desa inti tersebut antara lain ialah : Desa Pujiharjo (Pantai Sipelot). karena pada desa tersebut beberapa infrastruktur telah terlayani misalnya : listrik dan kebutuhan air bersih. Dampak negatifnya adalah terjadinya degradasi lingkungan (erosi. Geomorfologi yang kurang subur ini menyebabkan pertanian basah seperti tanaman padi dan sistem gilir tidak bisa berkembang dengan baik. Kondisi ini pada sebagian wilayah terutama di bagian Barat makin diperparah dengan sistem irigasi yang juga kurang baik. kerusakan sumberdaya alam. Fungsi hutan sendiri terbagi menjadi . mengakibatkan pertanian kurang berkembang. maka hutan ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi keseluruhan ekosistem baik di darat maupun di laut.jalan yang ada. khususnya kawasan pelestarian alam. perkebunan. Desa Tambakrejo (Pantai Sendangbiru). Lokasi sekitar kawasan pemukiman masih didominasi lahan pertanian.40 (vi) kesadaran masyarakat terutama wisatawan. serta munculnya kesenjangan sosial ekonomi dan perubahan budaya masyarakat setempat. Kondisi tanah yang cenderung kering dan padas serta topografi yang relatif terjal. Kondisi pemukiman yang cukup memadai berada di desa intinya. Sehingga perlu adanya strategi pengembangan wisata bahari berdasarkan pada kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. Mengingat kondisi fisik wilayah terutama topografinya yang cenderung curam. Aksesibilitas umumnya kurang bagus dan prasarana penunjang terbatas dan hampir tidak ada. Pemukiman lebih terpusat di Ibukota Kecamatan dan sekitamya. Desa Pulwodadi (Pantai Lenggoksono). vandalisme. (vii) Hutan Hutan memiliki wilayah terluas diantara penggunaan tanah yang lain. Namun kegiatan pengembangan wisata bahari belum didukung oleh tenaga profesional untuk pengelolaan sumber daya alam dan ekosistemnya. tegalan serta lahan kosong. Permukiman Pemukiman tersebar pada daerah-daerah yang relatif datar dan menyebar pada jalan. dan lainya).

kopi dan coklat. terutama di daerah-daerah yang mempunyai aktifitas perikanan tinggi. Kondisi hutan di kawasan pesisir kondisinya rusak. Kondisi lingkungan yang dimaksud meliputi substrat. Jenis tanaman yang dikelola adalah cengkeh. Kondisi perkebunan pada saat ini sangat memprihatinkan akibat adanya pengrusakan dan penjarahan oleh masyarakat. Lahan tegalan banyak diusahakan di bagian Barat dari wilayah perencanaan. Posisi lahan perkebunan sebagian besar lertelak pada kemiringan yang besar. Terjadinya penggundulan hutan tersebut hampir sebagian tejadi disepanjang kawasan pesisir Kabupaten Malang. tales. Kerapu . Hutan yang terletak pada kawasan budidaya adalah hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang terletak pada kawasan non budidaya adalah hutan produksi terbatas. Sedang habitat perairan ditunjukkan oleh keberadaan terumbu karangnya. kemiringan dan bentuk pantai. Kakap. Sedangkan yang termasuk hutan produksi tetap terdapat di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Bantur. kacang-kacangan. Kondisi terumbu karang saat ini relatif masih bagus. sehingga sebagian besar lahan hutan menjadi gundul. berhubungan erat dengan kondisi lingkungan dan habitat yang melingkupinya. cengkeh. Keadaan dan perkembangan usaha perikanan di pantai Malang Selatan. ketela pohon. lahan untuk tegalan dan kebun memiliki proporsi yang lebih besar. kopi dan coklat. Kawasan hutan yang termasuk dalam hutan produksi terbatas tersebar mulai dari Timur ke Barat yaitu Kecamatan Ampelgading sampai dengan Kecamatan Donomulyo. Kualitas terumbu karang sangat menentukan kuantitas sumberdaya ikan yang ada. akibat penebangan hutan yang tidak terkontrol. cabe. Pada saat ini sebagian besar tanaman cengkeh. (ix) Tegalan/kebun Dibandingkan dengan lahan persawahan.41 2 yaitu hutan produksi dan hutan produksi terbatas. dsb. Akibat teradinya penjarahan pada lahan perkebunan mengakibatkan lahan tegalan dan kebun ini semakin luas. Habitat terumbu karang ditemukan hampir di sepanjang pantai di kabupaten Malang. Jenisjenis tanaman yang diusahakan di atas tanah tegalan adalah jenis-jenis tanaman semusim yaitu jagung. Sedangkan pada bagian Timur lebih banyak diusahakan tanaman kebun yaitu kebun kelapa. Beberapa kawasan hutan yang lainnya tidak dapat digunakan sebagai hutan produksi sebab lokasi hutan terletak pada kawasan lindung yaitu sebagai hutan lindung terbatas. (x) Perkebunan Proporsi lahan perkebunan lebih banyak terletak di bagian Timur wilayah perencanaan. ditandai masih banyaknya ikan-ikan karang yang tertangkap seperti Lobster. kopi dan coklat semakin menuru. karet.

Kondisi Terumbu karang di Kawasan Pesisir Kab.13. 07 . Habitat mangrove di daerah pantai selatan relatif sedikit dan tidak ditemukan di setiap pantai. 09 . 01 . 08 . Pantai . 03 . Tabel 5. 02 . yang disebabkan oleh aktifitas penangkapan Lobster yang tidak ramah lingkungan (menggunakan potas). Malang No . Kondisi terumbu karang untuk masing-masing kawasan perairan pantai dapat dilihat pada Tabel 6. 04 . Sehingga secara ekologis dan ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.13. Pantai Lokasi Baik Licin Sipelot Lenggosono Tamban Sendang Biru Tambaksari Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak V V V V V Sedan g V V V Kondisi Rusa k V V Bom V V V V V Permasalahan Potas V V V V V Bunga karang V V V - Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. pengambi!an bunga karang untuk assesoris dan cemaran minyak dari aktifitas transportasi laut yang menggunakan mesin. 10 . Namun demikian tanda-tanda akan kerusakan Terumbu Karang telah terjadi. 06 .42 dan ikan-ikan hias. 05 . tempat berlindung dan memijah berbagai jenis udangt ikan dan berbagai biota laut.

Wilayah pertambakan di Kabupaten Malang terdapat di beberapa pantai. 10. Luas areal tambak dan tingkat pengoperasiannya di masing-masing lokasi dapat dilihat pada Tabel 5. yaitu Pantai Sipelot dan Lenggoksono berada di Kecamatan Tirtoyudo. 06. 08.) <1 Licin Sipelot Lenggoson o V 13 Jumlah Unit > 3 Avecen nia V Pola Usaha Sonnerat ia Tingkat Operasi Nipah V - . Hal ini dikarenakan substrat berpasir. Pantai Licin Sipelot Lenggosono Tamban Sendang Biru Tambaksari Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak Lokasi <1 1-3 V V V Luasan (Ha) > 3 Avece nnia V V V Sonneratia V V Jenis Nipah V V - Tabel 5. Luas Areal Tambak dan Tingkat Pengoperasian Pantai Luas (Ha. dapat dilihat pada Tabel 5.14. 09. Pantai Tambakasri dan Tamban berada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. salinitas tinggi dan gelombang besar. 03.15. Kondisi dan keberadaan mangrove di masing-masing kawasan pantai.15. dan Pantai Bajulmati dan Wonogoro berada di Kecamatan Gedangan. 01. 04.43 yang mempunyai habitat mangrove adalah Sipelot dan Tamban yang didominasi oleh jenis-jenis pioner yaitu Avicenia dan Sonneratia dan dibelakang rawa ditemukan nipah. Luas dan Jenis Hutan Mangrove di Kawasan Pesisir Kabupaten Malang No. 07. Tabel 5.14. 05. 02.

mendorong pembangunan ekonomi. Kapasitas pelabuhan bisa untuk berlabuh kapal ukuran 5-50 GT sebanyak 20 buah. Memiliki kedalaman laut rata-rata 20 m. Pelabuhan merupakan penghubung kunci dalam sistem perhubungan menyediakan kontak antara transportasi darat dan laut. Sedangkan pada musim penghujan (bulan Oktober sampai Maret) jenis-jenis ikan pelagis jarang ditemukan dan bersamaan dengan itu terjadi musim barat dengan gelombang dan angin besar sehingga nelayan tidak turun ke laut. dengan lebar selat antara 600 m sampai dengan 1500 m dan panjang selat: 4 km. perkapalan dan sistem pelabuhan sangat penting untuk pengembangan sumberdaya alam laut dan pesisir. Kerapu dan lainIain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sepanjang pesisir Kabupaten Malang terdapat satu pelabuhan alam yang terletak di Pantai Sendangbiru. ada beberapa jenis ikan yang muncul pada waktu-waktu yang lain dan ada jenis ikan yang muncul sepanjang tahun. Musim ikan di pantai Malang Selatan adalah musim puncak bulan Mei -Oktober Musim sedang pada bulan Maret -April dan bulan Nopember -Desember dan musim paceklik pada bulan januari -Februari. Keberadaan berbagai jenis ikan di perairan pantai Malang Selatan tidak selalu bersamaan. Kakap merah. Daerah operasi penangkapan ikan di perairan Malang Selatan tergantung kepada musim atau keberadaan jenis ikan yang mau ditangkap. mengurangi biaya perdagangan dan meningkatkan ekspor. Di lain pihak pada saat itu muncul jenis-jenis ikan karang seperti Lobster. pada waktu musim sedang fishing ground berada agak jauh dari pantai dan pada waktu musim paceklik fishing ground jauh dari pantai bahkan sampai ke lepas pantai. Jumlah nelayan di Kabupaten Malang terkonsentrasi di daerah Pantai Sendang Baru. Pada waktu musim puncak ikan. Pelabuhan ini berfungsi sebagai tempat pendaratan ikan untuk Pantai Sendangbiru dan sekitarnya. ada beberapa jenis ikan yang muncul pada waktu-waktu tertentu. Sedangkan di pantai-pantai lain hanya sekitas 5 % dari jumlah penduduk di .44 Tamban Sendang Biru Tambaksar i Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak V V V V V V V - Perkembangan laut sangat penting bagi negara kepulauan. secara umum fishing ground berada di dekat pantai.

masing desa yang ada.6. Ketinggian tempat dari permukaan laiut ikut mempengaruhi jenis suatu tanaman yang dapat tumbuh baik. Sempu. tanaman dataran rendah misalnya tidak akan menghasilkan dengan baik apabila ditanam di dataran tinggi. hal ini membawa konsekwensi pada pola transportasi dan penyediaan sarana transportasi dari dan kearah Kabupaten Banyuwangi dengan jalan darat dan laut. yang mempunyai kontribusi dan pergerakan yang tinggi. 5. juga sebagai salah satu pintu gerbang menuju ke wilayah tersebut. selain sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah Samudera Indonesia dan Selat Bali serta Propinsi Bali. Kabupaten Banyuwangi terletak diwilayah paling ujung (timur) wilayah propinsi Jawa Timur terletak pada koordinat 70430 60460 Lintang Selatan dan 113051 . (2) Ketinggian 100 .714 Ha (38. Topografi Wilayah Kabupaten Banyuwangi rata-rata memiliki keadaan topografi relatif datar. Berdasarkan jumlah armada yang ada di masingmasing pantai. Dataran rendah yang sedikit miring dari arah barat laut ke arah tenggara. Songgon. Profil Ruang Kawasan Pesisir Pantai Kecamatan Muncar dan Purworejo Kabupaten Banyuwangi Wilayah Kecamatan Muncar dan Kecamatan Purworejo Kabupaten Banyuwangi dilihat dari konstelasi regional Banyuwangi mempunyai beberapa keuntungan strategis. kriteria fisik tersebut yang akan menentukan ciri-ciri wilayah yang ada berbagai kawasan Kabupaten Banyuwangi. Dalam lingkup yang lebih luas (regional).114038 Bujur Timur. Kabupaten Banyuwangi terleyak pada ketinggian 0 sampai dengan > 200 meter dpl. Genteng.100 meter dpl meliputi luas wilayah 131. Blenmore dan Kalibaru.01 %) dari luas wilayah kabupaten. Ketinggian tempat tersebut dapat dibedakan atas : (1) Ketinggian 0 . Kondisi ini dipengaruhi oleh adanya beberapa gunung yang seolah-olah membatasi wilayah Banyuwangi dengan wilayah sekitarnya. a. ketinggian ini terdapat diseluruh wilayah kecamatan di kabupaten Banyuwangi kecuali kecamatan Singojuruh.500 meter dpl meliputi luas wilayah 159. ketinggian ini terdapat di seluruh wilayah .10 %) dari luas wilayah kabupaten.45 masing. Kondisi wilayah Kecamatan Muncar dan Kecamatan Purworejo Kabupaten Banyuwangi dilihat dari aspek fisik wilayah dapat diindentifikasi atas beberapa kriteria fisik.056 (46.

Sempu.2 % merupakan wilayah yang datar dan meliputi 35.55 % dari luas wilayah yang berlereng 2 .000 meter dpl meliputi luas wilayah 36.034 Ha atau kurang lebih 18. kedalaman efektif. Yang dinyatakan dalam persen ( % ) dan kemiringan tanah sangat berperan dalam setiap langkah untuk menentukan kemudahan penggunaan tanah. ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo. Genteng. Kemampuan Tanah Kemampuan tanah adalah kualitas unsur-unsur fisik tanah yang berpengaruhnterhadap penggunaan tanah diatasnya.Lereng 2 . tekstur tanah.96 %) dari luas wilayah kabupaten.Lereng 0 . daerah tersebut baik untuk usaha pertanian tanaman semusim.15 %. Giri. Glemore. Giri. (5) Ketinggian 1. drainase dan erosi. Giri. Kalipuro. Genteng.45 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. unsur-unsur tersebut meliputi : lereng. (3) Ketinggian 500 . Kalipuro. Songgon.15 % adalah Kecamatan Muncar dan Cluring. Kecamatan yang memiliki lereng 0 . ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo. .5 Ha (2.56 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi.2 % paling luas adalah kecamatan Bangorejo dan yang tidak memiliki lereng 0 . b.15 % merupakan wilayah yang landai sampai yang bergelombang dan meliputi 26. .000 meter dpl meliputi luas wilayah 5.46 kecamatan di kabupaten Banyuwangi kecamatan Banyuwangi.1. ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo.2. Genteng. Songgon.47 %) dari luas wilayah kabupaten. Sempu. (4) Ketinggian 1. .500 . Glagah.2 % adalah Kecamatan Glagah dan Songgon. Glemore dan Kalibaru. Muncar dan Purwoharjo. Kalipuro.191 (10.226. Sempu. Glemore dan Kalibaru. (1) Lereng Lereng/kemiringan tanah adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal. Songgon. sedangkan wilayah yang tidak memiliki lereng 2 . daerah tersebut baik untuk usaha pertanian dengan tetap memperhatikan usaha pengawetan tanah dan air.000 .075 Ha (1. Glagah.15 % paling luas adalah Kecamatan Glenmore yaitu kurang lebih 17.48 %) dari luas wilayah kabupaten.500 meter dpl meliputi luas wilayah 10. Wilayah kecamatan yang mempunyai lereng 2 . Glagah.1. Oleh sebab itu tindakan pada tanah harus selalu memperhatikan kemiringan tanah.

Kalipuro.260 Ha atau 19. Genteng.500 meter dpl meliputi luas wilayah 2.05 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Cluring. Sedangkan yang paling rendah adalah lapisan andesit yaitu seluas 20. Glenmore dan Kalibaru.Lereng 15 .47 . Songgon.Lereng diatas 40 % merupakan wilayah yang bergelombang sampai berbukit.153 Ha (0. sawah dan permukiman.94 % dari luas wilayah dan tersebar di Kecamatan Pesanggaran.500 meter dpl meliputi luas wilayah 1.Ketinggian lebih dari 2.520 Ha atau 5. sehingga tercapai usaha pengawetan tanah dan air.33 %) dari luas wilayah kabupaten. Kalipuro. Sempu. c.2. Glagah. sedangkan wilayah kecamatan yang tidak memiliki kelerengan diatas 40 % adalah kecamatan Banyuwangi. meliputi 22. perkebunan. Muncar. . daerah tersebut merupakan areal yang harus dihutankan sehingga dapat berfungsi sebagai perlindungan hidrologi serta menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup. Gambiran dan Genteng. tegal. Glagah.000 . Tabel : 5.32 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Wilayah kecamatan yang memiliki kelerengan 15 . bangorejo dan Gambiran.17.235 Ha (0. tanah rusak dan tegal. daerah tersebut sebaiknya untuk usaha pertanian dengan jenis tanaman keras atau tahunan. pada umumnya daerah ini penggunaan tanahnya adalah berupa hutan.67 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi.547 Ha atau 38. Giri. tanah rusak. perkebunan. Muncar.65 %) dari luas wilayah kabupaten. ketinggian ini terdapat di kecamatan Wongsorejo. Wilayah kecamatan yang memiliki kelerengan diatas 40 % paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran. Cluring. Srono. Songgon.40 % merupakan wilayah yang bergelombang dan meliputi 15. Geologi Kondisi geologi di wilayah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan bahwa hasil gunung api kwarter muda memiliki angka yang paling tinggi yaitu seluas 131. Glenmore dan Kalibaru. Glenmore dan Kalibaru.Ketinggian 2. poada daerah tersebut umumnya penggunaan tanahnya adalah berupa hutan.40 % adalah Kecamatan Rogojampi. Kabat. . Lapisan batuan ini paling tinggi terdapat di kecamatan Glenmore yaitu seluas 26. oleh karena disebabkan daerah tersebut sudah terkena erosi. Luas Wilayah Berdasarkan Struktur Geologi Di Kabupaten Banyuwangi .96 % dari luas total hasil gunung api kwarter muda. . ketinggian ini terdapat di kecamatan Wongsorejo.40 % paling luas adalah Kecamatan Tegaldlimo dan wilayah yang tidak memiliki lereng 15 . Rogojampi.

☻ Kedalaman lebih dari 90 cm sebagian besar Kabupaten Banyuwangi memiliki kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm.547 Hasil Gunung Api Kwarter Muda 20.70 38. struktur lepas dilapisan atas dan pejal lapisan bawah terdapat di daerah bergelombang sampai berbukit.Lithosol Bahan induknya berupa batuan beku dan batuan endapan pejal.05 5.50 14.520 Andesit 8.762 Hasil Gunung Api Kwarter Muda 131.23 d. Luas wilayah berdasarkan jenis tanah di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada tabel 5.58 11. yaitu 277.529 Ha atau .414 Miosen Falses Batu Gamping 38. solum tanah dangkal. berbukit hingga bergunung. terdapat pada topografi yang bervariasi dan ketinggian yang berbeda-beda. . podsolik berasal dari bahan tufvulkan asam dan pasir kwarsa pada topografi datar dan ketinggian di bawah 2.17.Podsolik Podsolik berkembang pada musim basah dan curah hujan lebih dari 2.000 meter dpl.772 Sumber : Penjelasan Data Pokok Kabupaten Banyuwangi Jenis Tanah % 27.48 No. Jenis Tanah Jenis yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari : . Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah adalah tebal lapisan tanah dari permukaan sampai bahan induk atau sampai suatu lapisan dimana perakaran tanaman tidak dapat atau tidak mungkin menembusnya. oleh sebab itu kedalaman efektif tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perakaran tanaman. tekstur tanah kasar dan kandungan organik rendah dan kepekaan erosi kasar.654 Miosen Falses 50.Regosol Bahan induknya berupa abu vulkan dan pasir pantai.500 mm/tahun. 1 2 3 4 5 6 Luas Ha Alluvium 95. .95 2. pada umumnya bertekstur agak kasar. biasanya terdapat pada topografi bergelombang. pada umumnya ditumbuhi tanaman berupa hutan belukar dan regosol mempunyai kandungan organik relatif rendah sehingga untuk meningkatkan produktivitasnya harus dengan pengorbanan yang cukup besar.

90 cm paling luas adalah Kecamatan Wongsorejo.29 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. sehingga daerah tersebut tidak menjadi hambatan bagi tumbuhan perakaran tanaman.90 cm seluas 23.667 Ha atau 9.348 Ha atau 6. ☻ Kedalaman kurang dari 30 cm seluas 416 Ha atau 0.49 80.050 Ha atau 89.84 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. pada daerah ini pada umumnya tanahnya cukup baik untuk tanaman semusim dan tanaman keras atau tanaman tahunan. e. Dari kelas tekstur tanah dapat dibedakan dalam beberapa kelas yaitu : ☻ Tanah bertekstur halus seluas 309. terutama dalam mentaur kendungan udara dalam rongga tanah dan persediaan serta kecepatan peresapan air di daerah tersebut. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 30 cm paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran.60 cm paling luas adalah Kecamatan Tegaldlimo. pada daerah ini pada umumnya tanahnya cukup baik untuk tanaman semusim berakar dangkal. sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur sedang adalah Kecamatan Bangorejo sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur halus adalah Kecamatan Tegaldlimo.75 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 30 . Tekstur Tanah Tekstur tanah adalah keadaan kasar dan seharusnya bahan padat organik tanaman yang ditentukan berdasarkan perbandingan fraksi-fraksi pasir. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 60 . tetapi kurang baik untuk tanaman berakar dalam. ☻ Kedalaman antara 30 . teksturtanah ini berperan pula terhadap mudah atau tidaknya lapisan tanah tersebut tererosi. debu dan air.60 cm seluas 44. ☻ Kedalaman antara 60 . tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap pengolahan tanah dan pertumbuhan tanaman. ☻ Tanah bertekstur sedang seluas 31. pada daerah ini tanahnya masih memungkinkan ditanami tanaman semusim dan tanaman dan berakar dangkal. lempung.376 Ha atau 12.41 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi.12 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 90 cm paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran.16 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. . sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur halus adalah Kecamatan Pesanggaran sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur halus adalah Kecamatan Purwoharjo.

43 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Iklim Kabupaten Banyuwangi terletak dibawah equator yang dikelilingi oleh laut Jawa. (b) Musim kemarau pada bulan April sampai Oktober Diantara kedua musim ini terdapat musim peralihan pancaroba yaitu sekitar bulan April/Mei dan Oktober/Nopember. h. sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur kasar adalah Kecamatan Wongsorejo sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur kasar adalah Kecamatan Purwoharjo.50 ☻ Tanah bertekstur kasar seluas 4. kecuali ada beberapa kecamatan yang selalui tergenang yaitu seluas kurang lebih 1. Glagah. Hidrologi Di Kabupaten Banyuwangi terdapat beberapa sungi besar dan sungai kecil. g. Selat Bali dan Samudera Indonesia dengan ilim tropis yang terbagi menjadi 2 musim yaitu : (a) Musim penghujan pada bulan Oktober sampai April.984 Ha atau 0.43 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Drainase Drainase tanah menunjukkan lamanya serta seringnya suatu tanah jenuh terhadap kandungan air atau menunjukkan kecepatan meresapnya air dari permukaan tanah dan pada umumnya daerah ini menunjukkan drainase yang cukup baik sehingga unsur ini dapat diabaikan dalam menentukan kelas kemampuan tanahnya di Kabupaten Banyuwangi. Glenmore dan sebagian Wongsorejo. di Kabupaten Banyuwangi wilayah yang terkena erosi seluas 1. September dan Oktober. sedangkan wilayah lain di Kabupaten Banyuwangi yang dapat digolongkan tidak ada erosi seluas 343.72 % dari luas wilayah kabupaten. Erosi Erosi adalah peristiwa pengikisan atau berpindahnya tanah lapisan atas yang disebabkan oleh adanya aliran air permukaan.952 Ha atau 1. Tegaldlimo. f. Songgon dan Wongsorejo.64 mm/bulan dengan bulan kering yaitu bulan April. Pesanggaran. Pesanggaran.28 % dari luas wilayah kabupaten dan terdapat di kecamatan Genteng. rata-rata curah hujan sebesar 7. Purwoharjo dan Tegaldlimo. Kalipura. Giri. sedangkan kecamatan yang memiliki daerah tergenang adalah Kecamatan Banyuwangi. adapun nama-nama sungai dan panjang sungai dapat diperinci sebagai berikut : . Kalibaru.511 Ha atau 0. Muncar. g.685 Ha atau 99.

Wilayah Peka Bencana Alam Dan Wilayah Kritis Wilayah peka bencana sebagian besar karena adanya wilayah yang mempunyai ketinggian diatas 500 . Kali Baru panjangnya kurang lebih 80. melewati Kecamatan Wongsorejo. Curah hujan di Kabupaten Banyuwangi periode tahun 1994 . Kali Bomo panjangnya kurang lebih 7. Kali bango panjangnya kurang lebih 18 Km. Kali Wagud panjangnya kurang lebih 44.417 Km.818 Km.6 Km. melewati Kecamatan Gambiran. Daerah yang memiliki curah hujan rendah terjadi di wilayah bagian utara dibandingkan dengan wilayah bagian selatan.6. melewati Kecamatan Glagah Kali Sobo panjangnya kurang lebih 13.35 Km. Kali Tambong panjangnya kurang lebih 24.7 Km.1997. Purwoharjo dan Muncar. melewati Kecamatan Genteng. melewati Kecamatan Glagah dan Kabat.279 Km.76 mm. melewati Kecamatan Kalipuro Kali Ketapang panjangnya kurang lebih 10. Kali Bajulmati panjangnya kurang lebih 20 Km.1. melewati Kecamatan Rogojampi. Dengan ketinggian tersebut terdapat daerah-daerah yang rawan terhadap longsoran. melewati Kecamatan Bangorejo dan Pesanggaran. melewati Kecamatan Banyuwangi. Cluring dan Muncar.260 Km.826 Km.826 Km. selain itu terdapat . melewati Kecamatan Pesanggaran. Dengan banyaknya sungai tersebut menyatakan bahwa Kabupaten Banyuwangi mempunyai banyak persediaan air. melewati Kecamatan Rogojampi. Kali Pakis panjangnya kurang lebih 7.000 meter dpl. melewati Kecamatan Genteng. 5. Selain itu keadaan curah hujan sangat berpengaruh terhadap kegiatan usaha khususnya bidang pertanian. dengan rata-rata curah hujan 8.043 Km. Kali Karangtambak panjangnya kurang lebih 25 Km. Kali Binau panjangnya kurang lebih 21. melewati Kecamatan Kalibaru dan Glenmore.51 - Kali Selogiri panjangnya kurang lebih 6. melewati Kecamatan Kalibaru dan Pesanggaran.7 Km. Kali Setail panjangnya kurang lebih 73. Berdasarkan perbandingan antara bulan kering dengan bulan basah. Kali Porolinggo panjangnya kurang lebih 30.1. karena hal ini dipengaruhi oleh banyaknya hari hujan dan besarnya curah hujan. maka tipe iklim daerah ini adalah beriklim sedang yaitu tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. namun demikian tidak semua wilayah ini tersedia air. melewati Kecamatan Kalipuro Kali Sukowidi panjangnya kurang lebih 15.173 Km.347 Km. tertinggi pada tahun 1995 yaitu 1. Kali Kalibarumanis panjangnya kurang lebih 18 Km. melewati Kecamatan Glagah dan Banyuwangi. melewati Kecamatan Kalipuro Kali Bendo panjangnya kurang lebih 15.531 mm.

karena pola penggunaan tanah pada hakekatnya merupakan gabungan antara aktivitas manusia sesuai dengan tingkat teknologi jenis usaha. kolam. waduk dan penangkapan di laut. Secara keseluruhan pola perkembangan perumahan di Kabupaten Banyuwangi masih mengikuti pola perkembangan jaringan jalan khususnya jaringan jalan yang menghubungkan antar Kabupaten serta perkembangannya menyebar ke wilayah luar batas wilayah kota. yang mana masih banyak lahan pertanian yang telah berubah penggunaan pada lahan permukiman. dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan kesejahteraan masyarakat disuatu wilayah tersebut. Kondisi penggunaan tanah yang ada di suatu daerah. perikanan umum.2. B. 5.6. meskipun sampai dengan saat ini belum terjadi banjir atau genangan yang lama. sejalan dengan semakin terbatasnya lahan disekitar jaringan jalan arteri primer tersebut maka masyarakat cenderung untuk menempati lahanlahan disekitar jaringan jalan utama kota yang mempunyai akses yang baik ke pusat kegiatan perdagangan dan kawasan aktifitas lainnya.25 meter dpl. lahan di kawasan perkotaan semakin besar kegunaannya. tambak.52 wilayah yang mempunyai daerah dengan ketinggian 0 . Searah dengan tujuan pembangunan perikanan dalam rangka meningkatkan produuksi dan produktifitas melalui sapta usaha perikanan untuk . Pola Perkembangan Kawasan Pesisir Pantai Pola perkembangan kawasan pesisir pantai banyak dipengaruhi oleh adanya peningkatan potensi sub sektor perikanan di Kabupaten Banyuwangi yang diarahkan I budidaya perikanan air tawar. kondisi fisik serta jumlah manusia yang ada di wilayah tersebut. Pola Perkembangan Kawasan Permukiman Pola perkembangan kawasan permukiman pada mulanya berkembang karena adanya tarikan kegiatan perdagangan dan jasa di sepanjang jaringan jalan arteri primer serta keberadaan kawasan pelabuhan dan industri serta kegiatan disektor perikanan. Saat ini pola perkembangan permukiman cenderung untuk menempati lahan dikawasan pinggiran kota yang tidak terlalu jauh dengan daerah pusat kota. Perkembangan Fungsi Kawasan A. dimana kawasan tersebut rawan terhadap resiko banjir. hal ini sangat berpengaruh terhadap nilai tanah yang ada di kawasan pusat kota. Sejalan dengan perkembangan kota.

395 ton. budidaya ikan kolam dan budidaya tambak.436 ton menjadi 120. Rogojampi. Perkembangan kawasarn pesisir pantai di wilayah Kabupaten Banyuwangi terletak awasan sepanjang pantai selat Bali yang merupakan kawasan Tambak yang terletak di wilayah kecamatan Wongsorejo. Wongsorejo (12. Songgon (1.165 ton sedangkan untuk sektor perikanan budidaya tambak. Singojuruh (16 Ha).014 Ha).200 Ha yang tersebar di beberapa kecamatan antara lain kecamatan Bangorejo (150 Ha).014 Ha). oleh karena itu untuk menjaga hasil produksi aagar tjdak merosot.195 ton menjadi 2.407 ton jadi 118. Bannyuwangi (63 Ha). ditinjau dari sumberdaya alamnya masih banyak digunakan berbagaj kegiatan pertanian maupun perkebunan. . walaupun kegiatan RLKT/penghijauan telah dilaksanakan dari tahun ke tahun upaya pencegahan dan penanggulangan terus ditingkatkan dengan berbagai kegiatan rehabilitasi khususnya diluar kawasan hutan. berdasarkan perkembangan untuk sektor perairan umum produksi perikanannya mengalami penurunan dari tahun 4 sebesar 145. Kabat (620 Ha). sarana produksi dan permodalan harus disukseskan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup danekosistem pantai. Gambiran (9 Ha). G/agah (636 Ha). yang terbesar berada di wilayah kecamatan Muncar dengan produksi sebesar 1.250 Ha). Produksi. maka dengan diikuti udahan segi perkreditan. G1enmore (225 Ha). Pola Perkembangan Kawasan Hutan I Lindung dan Kritis Pembangunan sektor kehutanan masih merupakan sektor yang sangat penting dalam menunjang perekonomian Jawa Timur khususnya Kabupaten Banyuwangi. Rogojampi (1.396.1881Ha).904 ton dan untuk sektor budidaya ikan kolam yang terbesar berada di wilayah kecamatan Muncar dengan produksi sebesar 79.116. sedangkan di wilayah kecamatan Muncar juga terdapat industri pengalengan Jenis produksi perikanan terbagi menjadi 3 bagian yaitu sektor perikanan umum. maka perlu dipertahankan keutuhan kondisi tanah serta menjaga dari meluasnya lahan kritis yang ada saat ini.787 ton pada tahun 1998 sedangkan untuk sektor budidaya tambak juga ngalami penurunan dari tahun 1994 sebesar 2.735 ton C. Banyuwangi.835. perikanan sektor perairan umum yang terbesar berada di wilayah kecamatan Kalibaru dengan produksi sebesar 41. Muncar (19 Ha).53 memenuhi kebutuhan pangan yang lebih merata dan perbaikan gizi masyarakat. Luas lahan kritis di kabupaten Banyuwangi adalah seluas 17. Giri dan Kalipuro (2.106 ton pada tahun 1998 dan untuk sektor idaya ikan kolam mengalami kenaikan dari tahun 1994 sebesar 96. Srono dan Muncar.

5. . Data tersebut dapat berupa data kualitatif maupun data kuantitatif. reboisasi jati (82. taman nasional (68. yaitu dari buku-buku statistik. reboisasi non jati (361.6 Ha).505 Ha).799 Ha yang terdiri dari hutan produksi (72.Malang – Probolinggo/Banyuwangi/Bali Luas wilayah seluruhnya dalah 1. dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara : kabupaten Sidoarjo dan Selat Madura.8 ha) dan tanaman banjar harian jati (186. karena terletak pada simpul pergerakan ekonomi yang intensif. tanaman tumpang sari jati (82.7 Ha).569 Ha).5 Ha). laporan-laporan ataupun kebijakankebijakan yang tertuang dalam buku Repelita daerah. yaitu : .8 Ha) suaka alam (2.7. tanaman tumpang sari non jati (124. dan Sebalah Barat : kabupaten Mojokerto.Surabaya – Probolinggo/Banyuwangi/Bali .474 Km2 atau 3 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Timur.6 Ha).7.54 Kawasan hutan yang ada diwilayah Kabupaten Banyuwangi seluas 132. Profil Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan Gambaran umum Kabupaten Daerah Pasuruan dimaksudkan untuk mendapatkan deskripsi tentang wilayah regional dari kota yang hendak direncanakan. Secara administrasi wilayah kabupaten Pasuruan berada dalam wilayah Pembantu Gubenur di Malang. Letak geografis Kabupaten Pasuruan terletak pada posisi 112030’ – 113030’ Bujur Timur dan 7030’ – 8030’ Lintang Selatan. Data-data regional yang disusun ini diperoleh melalui sumber informasi sekuner. Sebelah Timur : Kabupaten Probolinggo. dengan wilayah Kota bangil yang direncanakan. dilihat dari segi ekonomi sangat strategis.469. Sebelah Selatan : Kabupaten Malang . hutan lindung (38. baik secara langsung maupun tidak langsung. Letak wilayah daerah Kabupaten Pasuruan. Untuk itu informasi dan data-data regional yang dikumpulkan dan disusun akan menyangkut seluruh aspek yangterkait.Surabaya – Malang .1 Kondisi fisik dasar a. 5.420 Ha).

Lereng Lereng yang ada di Kabupaten Pasuruan sebagian besar adalah rendah. c. ♦ Bagian Utara terdiri dari dataran rendah pantai yang tanahnya kurang subur.580 Ha) dan 3 % 15% (seluas 52. d. terutama untuk menentukan jenis-jenis penggunaan tanah yang ada diatasnya. e. drainase dan erosi. yaitu : ♦ Bagian selatan terdiri dari pegunungan dan berbukit dengan ketinggian permukaan tanah antara 186 meter sampai 1. menunjukkan bahwa keadaan dataran Kabupaten Pasuruan miring ke utara. Geologi Dari segi fisiografi. Dataran Kabupaten Pasuruan terbagi menjadi tiga bagian.000 meter diatas permukaan laut. Jenis dan kemampuan Tanah Kemampuan tanah adalah identifikasi unsur-unsur tanah yang sngat berpengaruh. Keadaan ke-tinggian suatu daerah merupakan salah satu faktor yang menentukan jenis kegiatan penduduk. Rejoso. datar dan sedikit bergelombang yaitu 0 % .970 Ha) sedang sisanya adalah berupa bukit dan pegunungan. Jenis tanah yang dibentuk tergolong jenis batuan gunung api kwater muda yang realtif subur dan terdapat banyaj bahan tambang. Unsur-unsur fisik tanah tersebut meliputi lereng. sebagian daratan merupakan hasil gunung berapi. ♦ Bagian tengah terdiri dari dataran rendah yang berbukit dengan ketinggian permukaan tanah antara 6 meter sampai 91 meter. Jika dilihat dari struktur geologi. membentang dari wilayah Kecamatan Grati terus ke barat Gempol. Purwodadi dan Prigen. Kraton. tekstur tanah.+ 1. kedalaman efektif tanah. .2% atau (seluas 45.161 meter di atas permukaan laut. dengan ketinggian oermukaan tanah antara 2 meter sampai 8 meter di atas permukaan laut. Daerah ini umumnya subur (kecuali beberapa daerah yang tanahnya relatif tandus). Topografi Kabupaten Pasuruan terletak berada pada ketinggian 0 meter . Tanah yang nampak minus adalah di Kecamatan Rembang. dan Bangil.55 b. Daerah ini membentang dari wilayah Kecamatan Nguling di sebelah timur ke barat yakni Lekok. membentang dari wilayah Kecamatan Tosari dan Puspo ke arah barat yakni Kecamatan Tutur.

5 15. dan Tutur Pasrepan.801 Ha).Rejoso) sedangkan daerah lainnya yang kdang-kadang tergenang adalah Kecamatan Bangil. i. Hal ini dapat menentukan jenis tanaman yang bisa dibudidayakan di atas tersebut. Drainase Tanah Diwilayah Kabupaten Pasuruan sangat sedikit daerah yang tergenang air. g.04 24. Erosi Sebagimana kecamatan yang terkena erosi adalah Kecamatan Purwodadi. alluvial.799. Kraton. Andosol. Untuk kecamatan yang lainnya tidak erosi. Prigen. Beji dan Gempol Tosari.73 25. Lumbang. Prigen dan Lekok (seluas 18.33 % (seluas 80. 38 Ha atau 43. Tabel 5.Kraton. mediteran dan grumosol. Pasrepan. Sukorejo. Gempol dan deji .080.5 0 35.73 % (65. j. sehingga baik untuk lahan pertanian. 28 % dari seluruh wilayah.56 Kedalaman efektif Tanah Kedalaman efektif tanah yang paling banyak adalah 60 cm – 90 cm seluas 63. 1 2 3 Jenis Tanah Alluvial Andosol Regosol Luas Ha % 23. Pandaan. Puspo. Rejoso. Purwodadi.192.387 Ha) bertekstur kasar.933. Lumbang. h.85 Ha) terdapat di semua kecamatan kecuali Kecamatan Puspo dan Kecamatan Prigen. wonorejo.Grati. regosol.43 Letak/Kawasan Pohjentrek. Prigen.26 Struktur Jenis Tanah di Kabupaten Pasuruan No.711 17.94 % (1. Sedangkan yang bertekstur sedang 44. Tekstur Tanah Tekstur tanah halus menduduki prosentase yang paling tinggi yaitu 54. Struktur jenis Tanah Sebagian besar jenis tanah yan terdapat di Kabupaten Pasuruan adalah litosol. Kejayan. lapisan tanah relatif masih utuh.414. Bangil.65 Ha) dan sisanya 0. hanya terdapat di 4 Kecamatan saja yaitu (Bangil.

5 24. umumnya mengalir ke arah utara dan bermuara di Selat Madura. Kondisi ini akan berpengaruh pada persediaan air untuk irigasi pertanian maupun untuk kebutuhan minum. Di wilayah ini mengalir enam buah sungai besar yang bermuara di selat Madura. Pasrepan. Curah hujan tertinggi selama bulan April (874mm) dan terendah terjadi pada bulan September (1 mm). volume air sebesar 2. yaitu : ♦ Sungai Lawean : bermuara di desa Penunggul Kecamatan Nguling ♦ Sungai Rejoso : bermuara di wilayah Kotamadya Pasuruan ♦ Sungai gombong : bermuara di wilayah Kotamadya Pasuruan ♦ Sungai Welang : bermuara di desa Pulokerto. Purwosari. antara lain Ranu grati (seluas + 190. Kabupaten Pasuruan terletak di daerah equator. Kecamatan Bangil ♦ Sungai kedunglarangan : bermuara di desa Kalianyar. Nguling dan Lekok Grumosol 5.017 14. Purwosari. rata-rata adalah 181 mm tiap bulan dalam satu tahun. Tutur. khususnya dibidang pertanian yaitu mengenai jenis dan pola tanaman. karena keadaan tanah di Kabupaten Pasuruan sebagian besar miring ke utara. Kejayan. Diantara 2 musim tersebut terdapat musim peralihan sekitar bulan-bulan April/Mei dan Oktober/Nopember.57 4 5 6 Purwodadi. dengan sumber airnya dari Gunung penanggungan. Kecamatan Kraton ♦ Sungai Masangan : bermuara di desa Raci. yang berilkim tropis dan terbagi menjadi 2 musim yaitu musim hujan antara bulan Oktober – April dan musim kemarau antara bulan April – Oktober.26 k. Diantara sungai-sungai tersebut yang terpanjang adalah Sungai Kedunglarangan dengan panjang + 15 Km.1 ha.55 Purwodadi. banyubiru (debit air 337 liter/detik).99 Kraton dan Rembang Litosol 36.516. Klimatologi dan Hidrologi Kondisi iklim di Kabupaten Pasuruan. terutama curah hujan sangat besar peranannya terhdap berbagai kegiatan usaha. Kondisi seperti ini merupakan potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan bagi usaha pertanian tanaman pangan dan perikanan. Gempol.882 3. Puspo. Grati. Prigen dan Winongan Sumber : Repelita V Kabupaten Pasuruan Mediteran 21. Selain itu terdapat 310 sumber air yang berupa telaga/danau.000 meter 3 dengan debit air + 250 liter/detik). Lumbang. Semua sungai yang ada. yang berarti akan mempenagruhi pola intensitas penggunaan tanah dan tersedianya air pengairan. Kecamatan Bangil. Curah hujan di Kabupaten Pasuruan. umbulan (debit .183.

Pola penggunaan dominan kedua berupa kawasan hutan (19.93 9 Lain-lain (jalan.7 1.kuburan) 2.4 8. Setiap tahunnya luas perkampungan cenderung berkembang sejalan dengan berkembangnya jumlah penduduk.00 Sumber : Kabupaten Pasuruan Dalam Angka Data Pokok untuk Pembangunan Daerah. Klasifikasi ketiga dari pola penggunaan tanah adalah pemukiman meliputi 8.27 Luas Penggunaan Tanah di Kabupaten Pasuruan Luas Ha % 1 Perkampungan 13. Kedudukan Wialayah Perencanaan . sebagai kawasan penyangga dari daerah yang ada di bawahnya terhdap bencana banjir maupum kekurangan air karena fungsi hidrologisnya.93%).1 32. l.08 3 Tegalan 43. Hal ini berarti sebagian besar wilayah digunakan untuk penyediaan pangan yang merupakan sektor utama dalam perekonomian masyarakat.08 %) yang umumnya dijumpai pada wilayah dengan kemiringan 0 – 15 %. Gambaran Umum Wilayah Kota Pasuruan 1.806. fasilitas yang tersedia dan kemajuan pembangunan itu sendiri.012.25 8 Hutan 29.47 5 Tambak 3.501.3 2.325 liter/detik.58 +5.4 29.72 4 Perkebunan (Swasta/Rakyat) 3. 115 liter/detik diantaranya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum Kotamadya Surabaya dan Pasuruan 40 liter/detik) serta Plitahan (debit air + 250 liter/detik).292.83 2 Sawah 47.634.7 1. pendapatan perkapita penduduk. Pola Penggunaan Tanah Pola penggunaan tanah di Kabupaten Pasuruan mayoritas berupa lahan pertanian (32.7 100. Pemerintah Pasuruan No.1 0.sungai. yang berpengaruh terhdapap berkurangnya luas lahan pertanian.375.401. Tabel 5.849.13 7 Tanah Rusak/Kritis 1. Semua itu berdampak pada peningkatan kebutuhan tanah atau tempat.103.2 2. Jenis Penggunaan Tanah 5.66 Jumlah 147. pada ketinggian 0 – 500 meter diatas permukaan laut.8.6 19.83 % dari luas wilayah.37 6 Danau 190.

Kota Pasuruan memiliki wilayah selauas 3678 Ha. tanah mengembang atau melekat dalam keadaan basah.6 – 7. kadar N rendah. tata erasi kurang lancar. adanya lapisan reduksi di seluruh penampang.Jenis tanah Alluvial mempunyai konsistensi berwarna kelabu tua. Tingkat keasaman tanah netral samapi agak basin dengan kadar unsur hara P. Gondang Wetan Kab. mengembang dan melekat dalam keadaan basah. Pohjentrek Kab. serta bersifat keras.Sebelah Selatan : Kec.55’ bujur timur dan 7 . P2O5 sedang. pH 6. 2. bertekstur liat. Keasaman tanah netral. kedap udara. Ketinggian Wilayah Kota Pasuruan secara keseluruhan mempuna keadaan topografi yang relatif datar. maka tanah ini relatif tidka sesuai untuk lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura. drainase terhambat. Karakteristik Fisik Dasar a. Lahan ini dapat dibudidayakan dengan syarat sistem pembuangan air relatif lancar.5.Jenis tanah Hidromorfik Kelabu merupakan tanah yang terbentuk dari bahan batuan induk campuran endapan baru yang berasal dari sungai dan laut dengan ciri-ciri. dilihat dari ketinggiannya rata-rata mempunyai angkat ketinggian 2 meter diatas permukaan air laut. Sebagian besar tersebar di sepanjang wilayah pantai kota Pasuruan. perkebunan dan kehutanan. . drainase sangat lambat.35’ – 7 . K. dan K2O tinggi sekali.59 Wilayah kota untuk penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah wilayah adminitratif Kota Pasuruan.Sebelah Utara : Selat Madura . b.Sebelah Barat : Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Pasuruan dan Kec. Wilayah kota Pasuruan empunyai letak geografis pada koodinat 112.45’ lintang selatan dengan batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut : . Karena tingginya kadar Na dan Ca. Pasuruan . bertekstur liat berdebu sampai berliat karat. .Sebelah Timur : Kecamatan Rejoso Kabuoaten Pasuruan . namum demikian masih layak untuk budidaya tambak dan penggaraman. kecuali tanaman yang toleran terhadap kadar Na dan Ca tinggi misalnya Bakau. Jenis tanah Tanah di Kota Pasuruan terdiri dari 2 jenis tanah yaitu : . Ca dan Mg yang cukup tinggi. mengerut dan keras dalam keadaan kering.45’ – 112. mengerut dalam keadaan kering.

Geologi wilayah Keadaan geologi tanah di wilayah Kota Pasuruan merupakan dataran Alluvium yang terbentuk dari campuran bahan endapan yang berasal dari daerah Stuf Vulkanis Intermedier Pegunungan Tengger di Kawasan sebelah selatan. e. sungai Gembong di bagian tentah kota. Tekstur tanah di wilayah kota Pasuruan merupakan tekstur tanah sedang samapi kasar meliputi hingga 75 % dari selutuh wilayah kota Pasuruan. sedangkan pada bagian timur mengalir sungai Pelung. demikian juga pada tingkat kelerengannya yang mempunyai rata-rata kemiringan di bawah 3 0. Ketiga sungai yang melintasi wilayah kota Pasuruan ini bermuara di selat Madura. d. f. dan kali Calung di wilayah kecamatan Bugul Kidul. Kedalaman efektif tanah Kondisi kedalaman efektif tanah di wilayah kota Pasuruan berada di bawah angka 90 cm sehingga relatif menggangu terhadap perakaran tanaman dan kegiatan pembangunan gedung.5o C dan minimum 23o C. Kelerengan Selaras dengan apa yang dijelaskan di atas bahwa wilayah kota Pasuruan mempunyai lahan yang relatif datar dan cenderung landai. kali Kepel. Sungai lain yang melintasi wilayah kota Pasuruan yaitu kali Sodo. . Kondisi daerah alirah di ketiga sungai tersebut mempunyai kondisi yang sempit sehingga sering terjadi banjir yang besar. g. Semakin ke arah Selatan mempunyai ketinggian yang paling besar yaitu pada wilayah kelurahan Kebonagung yang mempunyai angkat ketinggian tanah sebesar 4 meter di atas permukaan laut. pada bagian barat terdapat sungai Welang. hal ini karena masih perlu ditingkatkan nya volume saluran-saluran penatusan dalam kota serta saluran penatusan di kanan dan kiri jaringan jalan yang ada.337 mm dengan musim kemarau (100 mm/bulan) selama tujuh bulan yang jatuh pada bulan Mei s/d nopember dan meusim penghujan (200 mm/bulan) selama tiga buan pada bulan Januari sampai bulan Maret dengan iklim agak kering meskipun mash dalam skala iklim tropis dengan suhu rata-rata maksimum 31. Hidrologi Keadaan hidrologi di wilayah Kota Pasuruan yang terletak di Selat Madura.60 c. bukit lipatan dan endapan batuan berkapur raci di bagian barat serta wilayah grati di bagian timur. Klimatologi Keadaan iklim di kota Pasuruan termasuk tipe iklim D2 dengan curah hujan rata-rata pertahun 1.

3.. hal ini didorong oleh ketersefiannya sarana dan prasarana yang terkonsentrasi pada beberapa bagian pusat kota menjadi kawasan dengan tingkat pertumbuhan kegiatan tinggi.61 sisanya merupakan tekstur tanah antara sedang samapi kasar yang sifatnya kurang mampu mengikat air. Keadaan Umum Kecamatan Bancar terletak di pantai utara Jawa Timur. Fisiografi dan Stratigrafi. Malang dan Pasuruan. Formasi Bulu (Tmb). Pola Penggunaan Lahan Wilayah Kota Pasuruan karena posisinya dilewati oleh tiga koridor regional yang menuju pusat SWP seperti Surabaya. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya.9. Perkembangan pola konsentris ini juga karena adanya pemusatan perkampungan nelayan yang tumbuh dan berkembang pada bagian Utara wilayah kota Pasuruan. maka kota Pasuruan dalam petumbuhan wilayahnya cenderung untuk mengikuti oila radial konsentris dengan orientasi kegiatan pada sepanjang jaringan koridor jalan tersebut. Formasi Geologi yang dijumpai adalah: 1). Profil Wilayah Pesisir Kabupaten Tuban 5. 2. kalkarenit . Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 1macam batuan. Kecamatan Bancar termasuk Kabupaten Tuban dan merupakan berada di perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah.9. Secara umum fisiografi Kecamatan termasuk Lajur Rembang. Formasi Tawun (Tmt). Formasi Ngrayong (Tmn). Pada bagian lain berkembang pola konsentris terutama pada kawasan pusat kota. yaitu : Batuan Sedimen. 2).1. Profil Kecamatan Bancar 1. perselingan batupasir dan batuliat berpasir dengan sisipan batuliat karbonan dan setempat batugamping 3). Umur batuan Lajur Rembang adalah Miosen Tengah. batuliat berpasir dengan sisipan batupasir dan batugamping. 5.

10). Sistem dataran. Formasi Wonocolo Tmw). Formasi Lidah (Qtl). Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT. SISTEM KARST 2. 7). wilayah Kecamatan Bancar terdiri atas 5 landsystem (Tabel 5.28. yaitu : 1). setempat batu kapur Formasi Selorejo (Tps). muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. 8). Kabupaten Tuban. SISTEM DATARAN 1. napal dengn sisipan kalkarenit dan batuliat Formasi Ledok (Tml). batupasir dan sisipan napal. Anggota Dander. 5 landsystem tersebut terbagi dalam 2 sistem lahan (Dessaunettes. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Bancar. perselingan kalkarenit. P1112 MKS II. Sistem Karst. Jawa Timur Landsystem I. Tabel 5. AAR. muncul terangkat agak miring Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Ustorthent. Kawasan pantai didominasi oleh landsystem BRN. perselingan batugamping berpasir dan batupasir bergamping. napal Formasi Paciran (Tpp). Batugamping terumbu. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang. Ustropept Teras berkarang yang bergelombang. 5). Calciustoll. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Bancar bagian timur. 1977). dan endapan sungai Fluvaquent. Rendoll . Ustropept Eutropept. setempat bersisipan batupasir dan batugamping. merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. yang dalam klasifikasi lain termasuk landform angkatan mirng dan kompleks cuesta. merupakan dataran agak miring dan bergelombang. 9). dan 2). batuliat. Landsystem BRN (Dataran bergelombang di atas napal) dijumpai di kawasan pantai bagian tengah. 6). terumbu dan batugamping berlapis 3. Formasi Lidah (Qtdl).62 4). K111 AAR 3. KLG Kalung No Landform Deskripsi Tanah Dataran gabungan endapan muara Tropaquent.28). 1989). dan MKS. Formasi Mundu (Tpm).

BRN BRU Bogoran Beru Dataran bergelombang di atas napal Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Haplustalf. kecuali pada dataran pantai di bagian timur wilayah kecamatan ini. topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Dipihak lain. tanah dangkal karena proses . Entisol merupakan tanah-tanah muda.29. terliat dari tebing pantai yang cukup curam pada lahan dataran. Berdasarkan atas landsystem yang ada.29). 5. terlihat bahwa Gelombang di sepanjang pantai tidak terlalu besar (< 100 dari pantai). Tabel 5. Ustropept Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Bancar. tanah yang dijumpai ada 4 ordo. Relief Kecamatan Bancar bervariasi dari datar sampai berbukit kecil. Tanah Tanah di Kecamatan Bancar berkembang sesuai dengan bahan induk. Entisol. tetapi hantaman ombak yang terus menerus tampaknya mengikis pantai secara perlahan. umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. 8 sob ordo dan 13 great group (Tabel 5. 4.63 4. Wilayah pantai umumnya memiliki relief yang datar (0-3%). Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Ustropept Calciustoll. Meskipun tidak begitu besar. dengan lereng datar sampai 30 %. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini. Jenis Tanah (Taksonomi) Ordo Entisol Inceptisol Mollisol Alfisol Sub Ordo Aquent Orthent Tropept Rendoll Ustol Ustalf Great Group Fluvaquent Tropaquent Ustorthent Eutropept Ustropept Rendoll Calciustoll Haplustalf a.

d. Untungnya. perlu penilaian terhadap beberapa parameter. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah. Bahaya alam. e. pemukiman. meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai.. antara lain : . Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. dan d). disamping itu tanaman tahunan berupa mangga atau kayu-kayuan. meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik.64 erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol. Ombak laut tidak terlalu besar. Alfisol. Kawasan pantai didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. b) tegal. Untuk membuat kawasan pemukiman. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. Merupakan tanah yang sudah dewasa. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. lain penyebarananya cukup luas hampir di seluruh wilayah. 7. c). Hutan Jati. 8. khususnya yang memiliki landform dataran bergelombang. batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. 6. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. b. khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). Dijumpai hampir di seluruh wilayah. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. Pemukiman. Meskipun berasosiasi dengan tanah. Inceptisol.. ditandai dengan adanya penumpukan liat pada penampang tanahnya.

3 landsystem tersebut terbagi dalam 3 sistem lahan . Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan. organik dengan fragmen alga. koral dan molusca.2. Secara umum fisiografi Kecamatan Jenu termasuk Lajur Rembang. 1989). Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen.65 a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Bancar tampaknya tidak menjadi masalah. asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal. 3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT. pasir dan lumpur. dan terlalu dekat dengan pantai karena ncaman abrasi air laut. Keadaan Umum Kecamatan Jenu terletak di pantai utara Jawa Timur. putih sampai kemeraan. wilayah Kecamatan Jenu terdiri atas 3 landsystem. kerakal. kerakal berlempung berwarna coklat. Fisiografi dan Stratigrafi. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: Formasi Kalibeng (Tpk). kerikil. batugamping berdolomit dan dolomit.9. Kecamatan Jenu 1. Kecamatan Jenu termasuk Kabupaten Tuban 2. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal). 5.

Jika melihat kejernihan air laut. Jawa Timur No Landform Landsystem Deskripsi Tanah 1 2 M1 I. Landsystem UPG (Beting pantai dan cekungan antara beting pantai) dijumpai di pantai bagian timur dengan luasan yang tidak begitu banyak yaitu dengan lebar seikiat 100 m dan panjang 2 km. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Jenu.30). Relief Kecamatan Jenu umumnya berupa dataran. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini. barangkali karena proses pengendapan bahan yang lebih besar dibanding pantai yang lain. sebagian berupa dataran berombak atau bergelombang. muara dan endapan sungai Fluvaquent. merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. kecuali pada dataran pantai di bagian timur wilayah kecamatan ini. MARIN UPG Beting pantai dan cekungan Ustipsamment antara beting pantai . 2). terangkat agak miring Ustropept I. tampaknya pantai sebelah timur lebih keruh. tetapi hantaman ombak yang terus menerus tampaknya mengikis pantai secara perlahan. Sistem Marin. bergelombang. 1977). (Gambar 9) . Kabupaten Tuban. terlihat dari tebing pantai yang cukup curam pada lahan dataran. Sistem dataran. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang. yaitu : 1). Sistem Karst (Tabel 5. muncul Calciustoll. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. SISTEM KARST K111 AAR 3 Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Jenu. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Jenu bagian timur dan barat. Landystem ini mendominasi wilayah Kecamatan Jenu. dan 3). Tropaquent Dataran gabungan endapan Tropaquent. Meskipun tidak begitu besar. Ustropept Teras berkarang yang Ustorthent.66 (Dessaunettes. Tabel 5. terlihat bahwa Gelombang di sepanjang pantai tidak terlalu besar (< 100 dari pantai).30.

5 sob ordo dan 6 great group. tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol. khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. dimana lereng pemiringan cuesta lbih dominan daripada gawir cuestanya. Entisol. tetapi melihat hasil interpretasi sementara dari foto udara terlihat bahwa pada dasarnya landform di wilayah ini adalah termasuk angkatan miring . Inceptisol.67 Klasifikasi landform belum dilaksanakan secara detil. Entisol merupakan tanah-tanah muda. . 4. meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Ustipsamment Ustropept Calciustoll Inceptisol Mollisol a. Ustorthent. Dipihak lain.31 Jenis Tanah Ordo Entisol Sub Ordo Aquent Orthent Psamment Tropept Ustoll Great Group Fluvaquent. b. Berdasarkan atas landsystem yang ada. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. Endapan baru di wilayah rawa pasang surut memiliki sub ordo aquent (Fluvaquent dan Tripaquent) Endapan pada pesisir pasir termasuk sub-ordo psamment. Tropaquent. Kompleks hogbak juga ditemukan di wilayah ini meskipun tidak terlalu luas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain. Kompleks Cuesta menempati bagian yang lain.. khususnya yang berada dekat dengan pantai. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Dijumpai hampir di seluruh wilayah. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. tanah yang dijumpai ada 3 ordo. khususnya di lahan kering. Tanah Tanah di Kecamatan Jenu berkembang sesuai dengan bahan induk. Tabel 5. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. e.

c). Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah. dan terlalu dekat dengan pantai karena ancaman abrasi air laut. Keadaan Umum . disamping itu tanaman tahunan berupa mangga atau kayu-kayuan. Kawasan pantai sebelah timur tampaknya justru terjadi sedimentasi.9. 5.3. Untuk membuat kawasan pemukiman. b) tegal. Hutan Jati (Gambar 10). 8. antara lain : a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Jenu tampaknya tidak menjadi masalah. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal. Pemukiman. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Ombak laut tidak terlalu besar. dan d).68 6. Kecamatan Merakurak 1. perlu penilaian terhadap beberapa parameter. sehingga pengaruh air laut tidak terlalu besar. 7. pemukiman. Untungnya. meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai. batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. Bahaya alam. Kawasan pantai didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai.

69

Kecamatan Merakurak terletak di pantai utara Jawa Timur. Kecamatan Merakurak termasuk wilayah Kabupaten Tuban 2. Fisiografi dan Stratigrafi. Secara umum fisiografi Kecamatan Merakurak termasuk Lajur Rembang. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan, yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal), kerakal, kerikil, pasir dan lumpur. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: Formasi Kalibeng (Tpk), batugamping berdolomit dan dolomit, putih sampai kemeraan, organik dengan fragmen alga, koral dan molusca, kerakal berlempung berwarna coklat. 3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Merakurak terdiri atas 2 landsystem . 2 landsystem tersebut terbagi dalam 2 sistem lahan (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem dataran, dan 2). Sistem Karst. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. Landystem ini mendominasi wilayah Kecamatan Merakurak. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai di dekat pantai (wilayah Kecamatan Merakurak bagian timur), merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. Hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Merakurak, menunjukkan bahwa kecamatan ini tidak terlalu terpengaruh oleh aktivitas laut (Mungkin batas kecamatan yang telah didapat tidak tepat, perlu dicari yang lebih tepat). Kecamatan ini masih dibatasi oleh Kecamatan Jenu. Wilayah yang paling dekat dengan pantai adalah wilayah kecamatn bagian timur (Desa Sumberrejo dan Bogorejo). Oleh karena itu, pengaruh laut terhadap lingkungan kecamatan ini tidak jelas. Mungkin sebagian masyarakatnya bermatapencaharian di laut (sebagai nelayan). Relief Kecamatan Merakurak umumnya berupa dataran, sebagian berupa dataran berombak atau bergelombang.

70 Tabel 5.32. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur Deskripsi Tanah

No

1

Landsyste m I. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. SISTEM KARST K111 AAR

Landform

Dataran gabungan endapan Tropaquent, muara dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Teras berkarang yang Ustorthent, bergelombang, muncul Calciustoll, terangkat agak miring Ustropept

2

Klasifikasi landform belum dilaksanakan secara detil, tetapi melihat hasil interpretasi sementara dari foto udara terlihat bahwa pada dasarnya landform di wilayah ini adalah termasuk angkatan miring , khususnya yang berada dekat dengan pantai. Kompleks Cuesta menempati bagian yang lain, dimana lereng pemiringan cuesta lebih dominan daripada gawir cuestanya. Kompleks hogbak juga ditemukan di wilayah ini meskipun tidak terlalu luas. Dataran pantai dijumpai di wilayah bagian timur Kecamatan Merakurak. 5. Tanah Tanah di Kecamatan Merakurak berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 3 ordo, 4 sob ordo dan 5 great group. Tabel 5.33. Jenis Tanah (Taksnomi) Ordo Entisol Inceptisol Mollisol Entisol. Sub Ordo Aquent Orthent Tropept Ustoll Great Group Fluvaquent, Tropaquent, Ustorthent, Ustropept Calciustoll

71

Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Endapan baru di wilayah rawa pasang surut memiliki sub ordo aquent (Fluvaquent dan Tripaquent) Endapan pada pesisir pasir termasuk sub-ordo psamment. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah, khususnya di lahan kering. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, dan d). Hutan Jati (Gambar 12). Lahan sawah tadah hujan menempati kawasan / bagian utara Kecamatan Merakurak yang memiliki relief fatar sampai berombak. Lahan tegalan menempati separuh wilayah kawasan sebelah selatan. Kawasan hutan jati berasosisi dengan lahan tegal menempati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu di bagian selatan wilayah kecamatan, dan sedikit di sebelah barat. 7. Bahaya alam. Bahaya alam di wilayah ini belum terdeteksi, tampaknya tidak banyak bencana yang diakibatkan oleh kondisi alam. 8. Pemukiman. Untuk membuat kawasan pemukiman, perlu penilaian terhadap beberapa parameter, antara lain : a. Subsidensi b. Bahaya banjir c. Kondisi air tanah

2. 2). dengans elingan batugamping. batugamping berdolomit dan dolomit. Keadaan Umum Kecamatan Palang terletak di pantai utara Jawa Timur. setempat dijumpai batupasir bergamping berbutir halus. Formasi Kujung. Fisiografi dan Stratigrafi. Formasi Kujung. Kedalaman hamparan batuan h.4. Secara umum fisiografi Kecamatan termasuk Lajur Rembang. pasir dan lumpur. anggauta bawah (Toml). abu-abu-abu-abu kehijauan. organik dengan fragmen alga. setempat bergamping. yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. koral dan molusca. Batuliat. selain kemungkinan kurangnya air tanah. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan. Kelas Unified f. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal).72 d. putih sampai kemeraan. Batuliat. kerakal. Kedalaman padas i. sebagian bergamping dengan selingan batulanau berlempung abu-abu mudam lapisan tipis napal abu-abi muda. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. kerikil. 5. 3). Batu/kerikil dalam penampang tanah j. Kecamatan Palang termasuk Kabupaten Tuban dan merupakan berada di perbatasan dengan Kabupaten Lamongan.9. Formasi Kalibeng (Tpk). napal dan batupasir. kerakal berlempung berwarna coklat. Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Merakurak tampaknya tidak menjadi masalah. Kecamatan Palang 1. anggauta tengah (Tomm). Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: 1).. Potensi mengembang-mengkerut e. . Lereng g.

73

3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Palang terdiri atas 5 landsystem (Tabel 5.33). 5 landsystem tersebut terbagi dalam 3 sistem lahan (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem dataran, dan 2). Sistem Alluvial, dan 3). Sistem Karst. Kawasan pantai didominasi oleh landsystem AAR, dan MKS. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral, dijumpai di wilayah pantai bagian barat. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Palang bagian timur, merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai.

Tabel 5.33. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur
No Landform Landsyste m Deskripsi Tanah

6.

I. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. LEMBAH ALLUVIAL A23 NGR III. SISTEM KARST K111 AAR OMB K BRU

Dataran gabungan endapan Tropaquent, muara dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Dataran banjir pada sungai Tropaquept, kecil di antara perbukitan pada Ustifluvent, daerah kering (A23) Ustropept Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring Dataran berombak di atas napal dan batugamping pada daerah kering Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Ustorthent, Calciustoll, Ustropept Ustropept, Haplustalf Calciustoll, Ustropept

7.

8. 9. 10.

74

Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Palang sebalah timur air laut tampak lebih keruh, menandakan adanya material yang terbawa oleh erosi. Dengan demikian, sedimentasi terjadi di wilayah ini disertai tumbunya hutan bakau di sepanjang pantai ini. Pada sebagian kawasan pantai tampaknya tidak terjadi sedimentasi, air laut tamak lebih jernih dengan gelombang yang tidak begitu besar. Bahaya abrasi air laut meskipun kecil tetap perlu diperhatikan. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini, kecuali pada dataran pantai di bagian barat wilayah kecamatan ini. Relief Kecamatan Palang umumnya datar bervariasi dari datar sampai berbukit kecil, dengan lereng datar sampai lemih darei 60 %. Wilayah pantai umumnya memiliki relief yang datar (0-3%). Wilayah perbukitan dijumpai di bagian tengah dan selatan yang berbatuan batu gamping-dolomitik. 4. Tanah Tanah di Kecamatan Palang berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 4 ordo, 7 sob ordo dan 8 great group (Tabel 5.34).
Tabel 5.34. Jenis Tanah (Taksonomi) Ordo Entisol Sub Ordo Aquent Fluvent Orthent Aquept Tropept Ustoll Ustalf Great Group Fluvaquent Tropaquent Ustifluvent Ustorthent Tropaquept Ustropept Calciustoll Haplustalf

Inceptisol Mollisol Alfisol

a. Entisol. Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik.

75

b. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. d. Alfisol. Merupakan tanah yang sudah dewasa, ditandai dengan adanya penumpukan liat pada penampang tanahnya. Berasosiasi dengan tanah, lain penyebarananya tanah ini menduduki sekitar 50 % dari luas kecamatan, khususnya yang memiliki landform bergelombang – berbukit di bagian selatan wilayah kecamatan. e. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif pada lahan berbahan induk batugamping (lahan hutan atau semak belukar). 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, d). tambak ikan e). padang rumput, dan f). Hutan Jati (Gambar 14). Kawasan pantai yang sebelah barat didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini, disamping itu tanaman tahunan berupa mangga, siwalan atau kayu-kayuan. Kawasan pantai sebelah timur didominasi oleh tambak ikan. Lahan ini merupakan lahan yang terpengaruh oleh pasang surut air laut. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. 7. Bahaya alam. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. Ombak laut tidak terlalu besar, meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai, khususnya di kawasan pantai sebelah barat. Untungnya, batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. Kawasan pantai di sebelah timur tidak terancam oleh abrasi air laut, tetapi ada ancaman bajir atau genangan air pasang.

2. KONSEP PENGATURAN RUANG KAWASAN PESISIR 6. Untuk membuat kawasan pemukiman. mineral.76 8. perlu penilaian terhadap beberapa parameter.1. Pemukiman. pangan. asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal. antara lain : a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Palang tampaknya tidak menjadi masalah. Ekosistem Pesisir Pantai: Potensi dan Pengelolaannya Wilayah perairan pantai di Jawa Timur mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat pantai dan pembangunan ekonomi wilayah secara keseluruhan. dan terlalu dekat dengan pantai karena ncaman abrasi air laut. Selain daripada itu wilayah pantai ini secara ekologis sangat kompleks dan rumit serta peka terhadap berbagai macam gangguan alam dan gangguan oleh manusia. obyek wisata dan geografis yang mendukung jalur lalulintas angkutan laut. Nilai-nilai Sosial Ekonomi . Wilayah ini mengandung berbagai sumberdaya dan potensi ekonomi seperti minyak dan gas bumi. 6. VI.

tempat bersarang dan bereproduksi atau keperluan lainnya. bakau. Hutan bakau tersebar di berbagai lokasi pantai nilai ekonomi dan nilai ekologi dari hutan bakau ini telah banyak dirasakan oleh masyarakat sekitarnya dan secara tidak langsung juga oleh perekonomian wilayah.77 Sumberdaya hutan. terumbu karang. udang. Kondisi ekologis zone pantai juga sangat penting bagi kegiatan wisata. menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sektor ekonomi sangat tergantung pada lingkungan alami yang tidak terganggu. Pemukiman nelayan. hutan bakau dan terumbu karang juga menjadi penyangga alamiah terhadap gelombang laut. Beberapa obyek wisata pantai mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Dune. 2. Terumbu karang mengkonsentrasikan hara untuk mendukung ekosistem tinggi. Perikanan tangkap dan aqua-kultur. Hasil tangkapan ikan di perairan pantai berfluktuasi dari tahun ke tahun. pulau-pulau kecil. Pesisir. Estuartia. petani tambak. Sedangkan produksi perikanan tambak termasuk udang. Nilai keunggulan lokasi pantai in iadalah kemudahan akses terhadap angkutan laut dan ketersediaan air dalam jumlah besar. hamparan lumpur pantai.2. dan feeding grounds bagi berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Beberapa problem dan issue pembangunan pantai . Nilai Ekosistem Pesisir-Pantai Ekosistem pesisr-pantai (tambak ikan.2. dan pendatang. dan garam. baik untuk memenuhi kebutuhan pangan. Obyek wisata. Mineral. Hutan bakau dan estuaria mempunyai signifikansi ekologis yang spesifik sebagai spawning grounds. nursing. Sejumlah aktivitas industri dan pembangkit tenaga listrik berlokasi di kawasan pantai. 6. Sebagian potensi wisata pantai dan wisata bahari masih belum dikembangkan. Hasil mineral yang penting dari perairan pantai adalah garam yang dihasilkan oleh petani tambak garam. Industri. dan lainnya) menyediakan habitat bagi organisme yang berhubungan dengan laut. erosi dan badai.1. Dalam rangka untuk melestarikan hutan bakau ini harus dilaksanakan berbagai program khusus seperti penghijauan kawasan hutan bakau yang telah rusak. Perkampungan di kawasan pantai di huni oleh para nelayan penangkap ikan. 6. Terumbu karang mengkonsentrasikan hara untuk mendukung ekosistem produktif dan produksi ikan yang tinggi di perairan sekitarnya.

Kunjungan wisata ke ekosistem terumbu karang ini juga dapat berdampak buruk melampaui batas kongestinya. industri. Setiap aspek dari kegiatan pengelolaan pantai berhubungan dengan air sehingga memerlukan ltatanan kelembagaan yang spesifik dan rumit. Pencemaran terutama dapat disebabkan oleh pembuangan limbah domestik cair dan padat dari daratan. lokasi industri. Dalam situasi seperti ini habitat dasar dan fungsi ekologisnya akan hilang dan kehilangan ini seringkali nilainya lebih besar dibandingkan dengan nilai yang dihasilkan oleh aktivitas subsitutenya. 6. pelabuhan dan dermaga di sepanjang pantai secara langsung dan tidak langsung juga mempunyai sumbangan terhadap penurunan kualitas ekosistem pantai. Terumbu karang di beberapa lokasi menunjukkan gangguan akibat siltasi dan sedimentasi atau penurunan kualitas air laut akibat aktivitas-aktivitas yang membuang limbah keperairan pantai. Sumberdaya pantai seperti hutan bakau. terumbu karang. 3. .2. (a) Zone pantai adalah unik dan mempunyai kebutuhan khusus untuk managemen dan perencanaan dan perencanaan. mengalami kemerosotan kualitas atau degradasi dan memerlukan penanganan yang serius. Sebagian hutan bakau dikonversi dan sebagian lainnya mengalami degradasi akibat over-eksploitasi. mengorganisir. Statistik menunjukkan bahwa luas hutan bakau ini menunjukkan kecenderungan yang menurun dari tahun ke tahun. Kawasan hutan bakau ini dibuka untuk pemukiman. pesisir. serta problematika yang berhubungan dengan aktivitas pembangunan di sepanjang kawasan pantai yang mengakibatkan berbagai dampak buruk terhadap sumberdaya pantai. over-eksploitasi. Beberapa spesies karang yang eksotik dipanen untuk pasar akuarium. Selain itu meningkatnya kebutuhan kayu bakar juga mendorong over-eksploitasi hutan bakau. Beberapa Prinsip Penglolaan Pengelolaan dan pengembangna sumberdaya pantai mengandung makna mengembangkan. Bentuk-bentuk pengelolaan tradisional berbasis-lahan dan berbasis-laut harus dimodifikasi menjadi bentuk pengelolaan yang efektif bagi daerah transisi laut dan darat. aktivitas penanaman kembali sangat terbatas.78 Problem utama dalam pembangunan wilayah pantai adalah kerusakan sumberdaya pantai oleh destruksi. dan perairan pantai. budidaya tambak dan lainnya. dan mengendalikan penggunaan sumberdaya pantai untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perkembangan perkampungan nelayan. wisata pantai. dan penggunaan yang tidak ekonomis. Aktivitas-aktivitas ini secara tidak langsung juga berdampak pada penurunan produksi perikanan tangkap dan budidaya. (b) Air merupakan gaya integrator utama dalam sistem sumberdaya pantai.

(f) Fokus dari pengelolaan pantai adalah pada sumberdaya common-property. Sumberdaya renewable harus dikelola untuk menyediakan benefit sosial-ekonomi yang optimum.79 (c) Penggunaan lahan dan air di zone pantai harus dilakukan secara terpadu. (e) Manfaat ganda dari sumberdaya pantai yang renewable diperoleh dengan jalan manajemen pantai. . (d) Pembangunan sumberdaya pantai secara berkelanjutan merupakan tujuan utama dari pengelolaan pantai.

: dampak besar. Berbagai sarana fisik penunjang perekonomian telah berhasil dibangun dan diharapkan akan mampu mendorong akselari pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik secara menyeluruh. .2. = : dampak sangat besar 6. yaitu pertumbuhan ekonomi.Trb rnak Gra karn an ss g Pesi Sir Pulau Kecil - - - - Keterangan : .80 Beberapa aktivitas pembangunan yang dapat berdampak buruk terhadap ekosistem pesisir-pantai adalah sebagai berikut : Aktivitas Pembangunan Pertanian/Perika nan Kehutanan Aqua-kutur dan Marikutur Penangkapan Ikan Pengerukan Pelabuhan Pelayaran Pembangkit Listrik Industri Pertambangan Minyak & gas bumi Pemukiman Pembuangan limbah Pemanfaatan air Manajemen garis pantai Penggunaan sumberdaya pantai Rawa Del -ta Estu -aria = = = = Bakau = Tipe Ekosistem Pete Sea. Wilayah Pesisir-Pantai dengan Sistem Perikanan Tangkap Hakekat pembangunan adalah pembangunan manusia seutuhnya dari pembangunan bagi seluruh masyarakat. pemerataan. dan stabilitas nasional. 4. Oleh karena itu strategi pembangunan selama ini bertumpu kepada Trilogi Pembangunan.

Sub-sistem Sumberdaya Perairan Pantai dan Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai Dalam sistem wilayah pedesaan pantai. (ii) dengan merekayasa kelembagaan yang mengatur interaksi antar komponen tersebut sehingga perilakunya dapat lebih baik memanfaatkan input yang ada. B. Di wilayah pedesaan pantai umumnya kegiatan ekonomi di sektor basis sangat dominan. input kebijakan. dan (iii) kombinasi antara (i) dan (ii). Output-output inilah yang pada hakekatnya merupakan tujuan dan sasaran dari upaya-upaya pembinaan/pengembangan wilayah pedesaan pantai. (2) Komponen Sumberdaya manusia (nelayan). produk-produk dari kegiatan ekonomi di sektor ini berupa komoditi primer dan sekunder dari . dan sebagai tempat pembuangan limbah. produsen jasa amenitas bagi manusia. melibatkan banyak faktor yang saling kait-mengkait satu sama lain. (4) Komponen perekonomian pedesaan. A. Sehubungna dengan hal ini maka kegiatan ekonomi dapat dibedakan menjadi kegiatan sektor bisnis yang menghasilkan produk untuk pasar domestik. Wilayah pedesaan pantai dipandang sebagai suatu sistem yang secara struktural terdiri atas lima komponen (sub-sistem) yang saling berinteraksi secara dinamis. Dua macam sasaran akhir dari upaya-upaya pembinaan yang seringkali dikemukakan adalah kesejahteraan masyarakat nelayan dan kelestarian sumberdaya perairan pantai. Perilaku komponen-komponen tersebut diatas. Sistem Pedesaan Pantai. Dalam ketiga hal ini potensi dan kemampuan sumberdaya alam ditentukan oleh karakteristik dan kualitas.81 Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan dapat dipahami bahwa permasalahanyang ada diwilayah pedesaan pantai sangat rumit. yaitu sebagai produsen input bagi sub-sistem ekonomi. (3) Komponen sosial budaya dan kelembagaan pedesaan. sumber perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan mempunyai peranan ganda. yaitu (i) material/teknologi. hingga batas-batas tertentu dapat dikendalikan/ dikelola oleh “manusia” untuk mendapatkan output yang diinginkan upaya pengelolaan ini dapat dilakukan melalui tiga cara. khususnya di wilayah Jawa mempunyai lima macam komponen utama (subsistem) yaitu : (1) Komponen sumberdaya perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan pantai. Sub-sistem Ekonomi Wilayah Pedesaan Perkembangan suatu wilayah ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan domistiknya dan/atau dipasarkan keluar daerah dengan keuntungna kompetitif. dan (5) Komponen sarana dan prasarana fisik. Perilaku interaksi dari subsistem-subsistem ini bersifat dinamis dan menghasilkan outputoutput tertentu. baik secara sendirian maupun interaksinya dengan komponen lain.

82 perikanan tangkap yang dipasarkan ke luar daerah. Besarnya peluang tersebut ditentukan oleh kesiapan kelembagaan yang ada (formal dan nonformal) untuk mengakomodasi gaya-gaya perubahan yang berasal dari dalam dan luar. D. C. Sub-sistem Kelembagaan Sosial Sebagaimana disinggung sebelumnya. dan (iii) hasil tangkapan harus dipasarkan ke luar daerah dalam bentuk segar dan/atau olahan. dan rendahnya nilai tambah yang dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan pantai. pengolah ikan dan pedagang ikan (dari dalam atau luar daerah) kelembagaan operasional penangkapan ini ternyata berdampak pada kelembagaan bagi hasil yang berlaku. Hingga batas-batas tertentu kelembagaan seperti di atas bersama dengan kelembagaan-kelembagaan lainnya akan menentukan peluang-peluang transformasi struktural di wilayah pedesaan pantai. (ii) operasi penangkapan memerlukan tenaga kerja yang banyak dan koperatif. Permasalahan yang sering di jumpai adalah rendahnya keunggulan kompetitif produk dipasaran bebas. Pada kenyataan tingkat . Kelembagaan armada penangkapan ini ditandai oleh eratnya hubungan antara nelayan pendega. Tiga ciri penting dari kegiatan ekonomi sektor basis di pedesaan pantai adalah (i) kegiatan penangkapan memperlakuan yang mahal dan biaya operasi yang banyak. Dengan demikian pembinaan pada sektor ini diharapkan dapat mengangkat sub-sistem perekonomian secara keseluruhan. dan selanjutnya akan menentukan distribusi pendapatan dalam masyarakat pedesaan pantai. Sarana dan prasarana produksi menjadi salah satu prasyarat penting dalam menentukan perilaku sub-sistem ekonomi. Selanjutnya tingkat kesiapan tersebut oleh (i) Efektifitas mekanisme kerja kelembagaan untuk menggalang partisipasi segenap masyarakat secara proposional sesuai dengan kepentingannya. juragan darat. Sub-Sistem Sarana dan Prasarana Fisik Sub-sistem ini secara langsung berkaitan dengan sub-sistem kelembagaan sosial (format dan non formal) secara fungsional sub-sistem ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu (i) sarana dan prasarana ekonomi. Ketiga ciri ini akan menentukan perilaku sektor basis dan pada akhirnya akan berdampak pada bentuk kelembagaan non-format yang berkembang di pedesaan pantai. (ii) sarana dan prasarana penunjang aktivitas kehidupan manusia. diwilayah pedesaan pantai telah berkembang kelembagaan non-formal yang spesifik sebagai akibat dari kegiatan ekonomi yang ada. Suatu teladan bentuk kelembagaan non-formal ini dapat ditemukan dalam hal penangkapan dengan purse seine atau penangkapan dengan payang. juragan laut.

Disamping kaya akan sumberdaya hayati wilayah pesisir dan lautan. Laut sering diperlakukan sebagai penampung sampah.2. Padi sawah sangat sesuai karena tahan terhadap genangan air dan mempunyai toleransi moderat terhadap salinitas. Tampaknya pola perilaku konsumtif di kalangan masyarakat pedesaan pantai menjadi salah satu ciri budaya yang serius dalam rangka pola pembinaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pedesaan pantai. A. Akan tetap berbagai permasalahan dapat muncul oleh pemanfaatan pesisir pantai dan lautan yang mengabaikan prinsip-prinsip lingkungan. Pengguna Pertanian Daerah pesisir pantai sangat menarik untuk dua tipe aktivitas pertanian. 6. 5. Yaitu lahan kering dan sawah. Mereka biasanya terdiri atas jenis-jenis yang toleran salinitas. limbah industri dan limpasan bahan kimia pertanian. (1) Problematik . Sub-Sistem Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia di wilayah pedesaan pantai menjadi subyek/pelaku yang mengendalikan sebagian besari perilaku sistem wilayah. Sebagai subyek manusia lebih berperan sebagai produsen sehingga kualitas ditentukan oleh (i) Peubahpeubah skill manageral dan (ii) peubah-peubah skill ketenaga kerjaan. meningkatnya permintaan sebagai bahan makanan energi dan bahan baku untuk industri dan laitan membawa tekanan tersendiri. Arahan Pengelolaan Ekosistem Pesisir-Pantai Usaha peningkatan pendayagunaan sumberdaya laut berperan ganda.83 penguasaan sarana produksi ini akan menentukan posisi dalam kelembagaan bagi hasil dalam penangkapan. dan (ii) perilaku konsumtifnya. dan sekaligus menjadi obyek/sasaran dari perilaku tersebut. Sebagai objek manusia lebih berperan sebagai konsumen. E. Selain itu. Hal ini selanjutnya ditentukan oleh (i) produktivitas tenaga kerja. Tanaman padi sawah terutama ditanam di kawasan pantai dan estuaria di belakang tambak garam atau tambak udang. juga menyimpan mineral dan energi yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan devisa negara. Di wilayah tertentu telah terjadi kelangkaan sumberdaya ikan akibat penangkapan yang berlebih. yang kualitasnya ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan fisik minum. Di daerah ini biasanya pohon ditanam pada guludan dengan saluran yang lebar diantaranya (semacam sistem surjan).

(b) pengendalian intrusi air salin. (f) Menggunakan pupuk dan pestisida dengan cara yang aman dan akan meminimumkan kehilangan dan transportnya memasuk wilayah pantai kalau mungkin digunakan pestisida non-persisten. Peningkatan input air tawar yang berhubungan dengan penyaluran sungai dapat mengubah regim hidrologis pantai. pembuangan atau penyakuran air tawar untuk penggunaan pertanian secara langsung akan mereduksi input air tawar ke perairan pantai dan menimbulkan problem terus menurunnya produksi ikan dan meningkatnya salintas. (h) Pembukaan lahan pertanian dibatasi pada lahan di atas rataan muka air laut untuk menghindari problem salinitas dan asiditasi. (2) Arahan Pengelolaan (a) Pengembangan varietas tanaman yang toleran salintas (b) Sarana pengendalian air dan drainase harus memenuhi empat fungsi (a) Pengendalian Banjir. Selain itu erosi pada lahan pertanian juga berdampak pada besarnya muatan sedimen yang memasuki perairan pantai.84 (a) Konversi lahan pesisir pantai untuk penggunaan pertanian tentu akan mengganggu aliran air permukaan yang diperlukan bagi kesehatan sistem sumberdaya disekitarnya. (c) Kontrol permukaan air. (e) Merancang pertanian lahan kering untuk meminimumkan altersi pola drainase alamiah. logam yang terakumulasi dalam sedimen bakau dapat meracun tanaman pertanian. (g) Jangan membuka lahan tanah masam dan membiarkan ekosistem hutan bakau. gangguan nama dan penyakit. (b) Pertanian lahan kering. (d) Mengembangkan ekosistem pertanian sawah pada habitat yang sesuai. Problem lain yang berhubungan dengan penggunaan pertanian pada lahan bakau adalah tanah sulfat masam. Selanjutnya akan tinggal sedikit peluang keberhasilan dalam megkon versi sedimen pantai menjadi tanah pertanian karena bahaya genangan dan intrusi garam. (c) Menghindari reklamasi habitat pantai yang penting untuk pertanian lahan kering. (i) Mengembangkan sistem pengelolaan irigasi yang harmonis aliran air tawar mampu melestarikan tanaman pertanian dan mencegah rembesan . menurunkan salintas dan mengakibatkan degradasi ekosistem yang peka salintas. dan (d) kontrol polusi/pencemaran air oleh limbah buangan. (c) Problem lain yang berhubungan dengan pertanian lahan kering berhubungan dengan efek pestisida yang memasuki ekosistem pantai.

Mineral pasir berasal dari pelapukan batuan yang menghasilkan pasir kuarsa dan mineral asosiasinya. Perbedaan bobot memainkan peranan sangat penting dalam konsentrasi material mineral berat di beberapa lokasi tertentu. Aktivitas Sumber energi. Operasi minyak dan gas bumi Eksplorasi dan bongkar-muat bahan bakar minyak dan gas bumi dan kapal tentu akan semakin meningkatkan pencemaran minyak di perairan pantai : (1) Problematik .Kehilangan nilai estetika . dan air irigasi. Semakin tinggi bobot mineral juga membantu ekstraksinya selama penambangan dan pengolahan deposit pasir.Sedimen yang dilepaskan ke perairan laut dan erosi pesisir (beach) . (1) Metode penambangan Penambangan pasir melibatkan tiga tahapan dasar ekskavasi pasir. Dua macam teknis dasar yang lazim digunakan dalam operasinya ialah (a) sistem penambangan kering dan (b) sistem pengeruk-hisapan. (2) Problematik .Pengerukan pasir di sekitar ekosistem terumbu karang akan berdampak negatif terhadap organisme dan komunitas karang. dan pembuangan pasir kuarsa. C. pemisahan mineral dari kuarsa.85 air asin dalam tanah pertanian dan dijaga untuk mencegah intrusi ke dalam groundwater. B. Penambangan Pasir Pasir terdiri atas mineral-mineral dan pasir kuarsa. (3) Arahan pengelolaan (a) Meminimumkan dampak negatif pengerukan terhadap ekosistem zone pantai (b) Larangan terhadap pengerukan di dalam radius 100 m dari terumbu karang (c) Pengakuan pasir karang dari daerah hamparan karang harus dikendalikan dan dibatasi.

perikanan dan hewan-hewan marine. D. rumput laut. Pada tahap pertama sedimen dan partikel besar lainnya disingkirkan melalui setting selama awal evaporasi. Garam dari air laut biasanya mengandung campuran sedimen. terumbu karang. komponen lainnya seperti karbonat disingkirkan melalui presiptasi. (b) Pemerintah harus mampu memformulasikan dan mengamankan peraturan mengenai operasi pengapalan lepas pantai maupun operasi di pelabuhan. dan tumpahan kronis yang berkaitan dengan operasioperasi penyulingan dan lainnya. Kebanyakan tambak garam dibangun pada tanah-tanah yang drainasenya buruk di kawasan pantai. bahan organik dan garam-garam lain yang harus dimurnikan. (d) Semua operasi minyak dan gas dan penempatannya harus tetap memperhatikan integrasi bidang batas darat-laut. (c) Semua operasi pengapaian harus menghindar pembuangan limbah minyak ke perairan pantai/laut. (1) Problematik . Pembangunan Industri Garam Garam (NaCl) merupakan komponen penting dalam diet manusia dan mempunyai berbagai aplikasi lainnya seperti kegunaannya sebgai preservatif (Pengawet) dan suplemen pakan ternak. Kerusakan dapat diderita oleh bakau. (e) Semua aktivitas pemboran dan produksi minyak di laut harus dirancang dan dipantau sedemikian rupa untuk menghindari ledakan dan tumpahan bahan minyak. Garan NaClll murni diekstraks dari air laut dalam tiga tahapan pengendapan. presipitasi dan kristalisasi. pasir pantai. ledakan sumur dan pipa-pipa dasar laut. Lokasi tambak ini biasanya didekat garis pantai sehingga mudah memperoleh air laut yang segar. (2) Arahan (a) Kalau tumpahan minyak dari kapal merupakan sebab utama pencemaran minyak maka harus dilakukan pemantauan dan pengetatan terhadap lalulintas kapal. Operasi produksi tambak garam biasanya pada musim kering. terutama dalam hal pembuangan limbah minyak. Kemudian dalam periode evaporasi yang panjang.86 Dua tipe tumpahan minyak yang mengancam kelestarian sumberdaya pantai adalah tumpahan akut akibat kecelakaan transportasi. Kemudian evaporasi selanjutnya akan menghasilkan kristalisasi gara yang kalau dikeringkan akan menjadi garam murni.

(c) Problematik pembuangan limbah padat (d) Problematik yang timbul akibat pengambilan karang pantai dan kerusakan terumbu karang (2) Arahan pengelolaan (a) Pembangunan obyek wisata pantai harus merupakan bagian integrall dari sistem pembangunan wilayah. menjadi sistem tambak garam. Produksi garam paling baik dilakukan pada lingkungan arid dimana ekosistem hutan pantai jarang ditemukan dalam kaitannya dengan pembangunan kawasa tambak garam. Jawa Timur. kongesti. dengan tetap memperhatikan kepentingan kelestarian lingkungan. termasuk ekosistem bakau. Petani tambak juga harus menyadari adanya manfaat ganda dari tambaknya. (2) Arahan pengelolaan Tambak garam merupakan penggunaan zone pantai yang signifikan di Jawa Timur. sebagian obyek wisata terletak di zone pantai dengan berbagai macam ekosistem yang unik. Dengan semakin meningkatnya pengetahuan maka tambak-tambak garam diperbaiki dengan arahan berikut ini : (a) Pembangunan tambak garam yang baru harus dirancang untuk meminimumkan dampak keseluruhan terhadap ekosistem pantai (b) Pengembangan teknologi penggaraman harus diarahkan untuk mendapatkan teknik-teknik produksi yang efisien. (b) Daerah pantai yang dicadangkan untuk pembangunan obyek wisata harus dilengkapi dengan tataruang yang memadai dengan mempertimbangkan geografis alamiah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitanya . E. Pengembangan wisata-bahari Kegiatan wisata sekarang telah menjadi salah satu sektor ekonomi yang penting di Selat Madura.87 Problematik yang serius sehubungan dengan produksi garam adalah konversi (irreversibel habitat pantai. jarang dipertimbangkan fungsi-fungsi lalami dan nilai-nilai jasa ekologis. pembuangan limbah padat. (c) Kalau tambak garam telah ditinggalkan maka pematang-pematang harus dihancurkan supaya dapat pulih kembali sebagai daerah genangan. (1) Problematik (a) Pencemaran air oleh buangan limbah domestik (b) Problem yang diakibatkan loleh adanya bangunan-bangunan sipil gangguan pemandangan alam. pencemaran air.

. ukuran dan tipe infrastruktur harus tepat dan sesuai (e) Sistem pengelolaan limbah perlu mendapatkan prioritas penanganan. untuk meminimumkan dampak terhadap ekosistem pantai (d) Pembangunan fasilitas akomodasi harus terkonsentrasi dengan mensisakan sebanyak mungkin lingkungan alam tetap tidak terganggu sekala.88 (c) Pembukaan lahan (Kalau diperlukan) harus benar-benar terkendali.

perubahan struktur komunitas perairan. Proses-proses degradasi Gangguan lingkungan perairan dapat berupa meluasnya perkembangan gulma air dan sedimentasi/pendangkalan. . khususnya kebutuhan protein hewani.2. Sumberdaya ini dikelola dengan teknologi yang beraneka ragam dan tingkat intensitas yang berbeda-beda pula salah satu cara untuk mengukur tingkat pengelolaan sumberdaya perikanan adalah penggunaan sarana produksi dan tenagakerja. meliputi perairan umum. Eksosietm Tambak: Potensi dan Pengelolaannya 5. Kondisi Perinakanan Tambak dan Perairan Umum Perairan umum sebagai salah satu sumberdaya perikanan memiliki andil yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk. dan kolam + mina padi. 5. Makna Ekonomis Budidaya Air Tawar dan Ekologis Tambak dan Di kawasan pesisir pantai Jawa Timur terdapat beberapa sumberdaya perikanan yang potensinya cukup besar.3. tambak sawah tambak. misalnya dengan penebaran benih diperairan umum yang dianggap sudah kritis.1. pencemaran oleh limbah industri. dan pestisida.89 5.3. serta gangguan-gangguan alami.3. Untuk mengembalikan fungsi perairan umum sebagai ekosistem akuatik yang seimbang diperlukan upayaupaya penanggulangan berupa rehabilitasi sumberdaya perikanan. 5.3. Dampak negatif dari gangguan-gangguan seperti diatas dapat berupa rendahnya tingkat produksi ikan di perairan umum dan tambak. Intensitas penangkapan di perairan umum menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat demikian juga usaha budidayanya. Pemanfaatan sumberdaya perinakan ini dapat dilakukan dengan jalan usaha penangkapan dan usaha budidaya perikanan. domestik.3. Penurunan populasi biota perairan. dan hilangnya beberapa spesies endemik serta menurunnya daya dukung lingkungan perairan.

Pengelolaan Reservat Salah satu cara pengelolaan sumberdaya perairan umum adalah dengan pembangunan reservat. Program Intensifikasi Tambak (INTAM) Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan produksi dan produktivitas usaha budidaya tambak. 05/SK/MENTAN/Bimas/VI/1984 serta disusul peraturanperaturan yang lain sampai dengan tahun anggaran 1993/1993. Dengan adanya program INTAM sejak tahun 1984/1985 selain dapat meningkatkan penghasilan petani tambak juga akan memperluas lapangan kerja. memijah. dan jenis yang khas (spesies endemik) (6) Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistemnya dengan mengendalikan caracara pemanfaatannya. yaitu kawasan perairan umum yang dilindungi secara terbatas dengan fungsi sebagai penyangga bagi suatu ekosistem akuatik yang sudah kritis atau yang terancam kelestariannya. yaitu : (1) Meningkatkan fungsi dan peranan perairan umum mulau dan pengelolaan hingga pemanfaatnya (2) Mempertahankan dan melestarikan habitat perairan sebagai tempat berlindung asuhan. mencari makan bagi ikan dan biota air lainnya (3) Pengawetan keaneka-ragaman plasma nutfah (4) Sumber cadangan benih ikan bagi pengembangan perikanan dan kawasan perairan umum di sekitarnya (5) Sebagai perlindungan bagi ekosistem akuatik yang memiliki nilai. B. Usaha budidaya udang dan bandeng merupakan salah satu pendapatan pokok masyarakat desa pantai dan melibatkan petani-petani dalam jumlah besar.3. maka produktivitas udang dan bandeng menjadi rendah. sifat. Tujuan pengelola reservat adalah agar supaya fungsi utamanya dapat berjalan. maka mulai tahun 1984/1985 telah diprogramkan Intensifikasi Tambak (INTAM) sebagai tindak lanjut keputusan Menteri Pertanian No.4. Pemanfaatan reservat dilakukan secara terkendali untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan memulihkan kembali daya dukung perairan umum. Dengan adanya beberapa faktor pembatas pada petani tambak. Kebijakan Pengelolahan A. Keterbatasan di atas disebabkan antara lain kurangnya pengetahuan dan ketrampilan serta permodalan untuk mencapai penerapan teknologi budidaya tambak yang dianjurkan. meningkatkan .90 5.

D. mendorong berkembangnya potensial tanah sulfat masam. Tujuan dari program INMINDI ini adalah: (1) Meningkatkan pemanfaatan potensi Sumberdaya alam dan sumberdaya manusia secara optimal dalam rangka meningkatkan kesempatan berusaha dan terciptanya lapangan kerja di pedesaan (2) Meningkatkan pendapatan petani melalui usaha budidaya campuran sehingga diperoleh hasil ganda dalam satu musim yaitu ikan dan padi (3) Penyediaan ikan sebagai bahan pangan sumber protein hewan. sehingga memungkinkan predator tertinggal . C. Program Pengembangan Usaha Budidaya Udang dan Ikan Kegiatan yang telah Dilaksanakan adalah : (1) Pembangunan panti pembenihan udang di Situbondo (2) Pembangunan tambak percontohan di Sidoarjo dan Pasuruan.3.91 konsumsi protein hewani asal ikan dan meningkatkan devisa negara melalui ekspor komoditi non migas yaitu udang. (b) Manajemen tambak Predasi merupakan problem serius kalau tambak tidak betul-betul dibersihkan pada saat panen.5. Aqua Kultur Perairan Pantai Aqua kultur atau manikultur dengan komoditi udang merupakan sektor ekonomi yang penting bagi Jawa Timur. Program Pengembangan INMINDI Intensifikasi Mina Padi (INMINDI) merupakan suatu kegiatan intensifikasi usaha tani terpadu antara perikanan dan padi di lahan sawah yang berpengairan teknis. terutama semenjak dilancarkannya program intensifikasi tambak. flushing tambak yang buruk atau tidak memadai degradasi lokal organisme juvenillle dan larva untuk benih pembukaan hutan bakau mengakibatkan hilangnya fungsi penyangga dan selama hujan lebat tambak ini terancam oleh bahaya banjir. Sejalan dnegan pekembangan sektor usaha budidaya ini ternyata juga timbul berbagai masalah dan secara potensial dapat mengancam kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan perairan pantai. (1) Problematik (a) Tataruang Tambak Secara langsung merusak wetlands. 5.

Fenomena ini dapat mengakibatkan gangguan serius pada pertumbuhan benih. Bruguiera. peningkatan populasi benih biasanya layak. lempung. Ekosistem Hutan Bakau: Potensi dan Pengelolaannya Makna Ekonomis dan Ekologis Hutan Bakau Batasanl pengertian hutan bakau (mangrove) adalah hutan yang terutama tumbuh pada tanah aluvial di daerah pantai dan sekitar muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Exoecaria. Pola aliran air permukaan harus tidak boleh terganggu. estuari. gambut dan pasir. maka hasil maksimum dapat dicapai. dan dicirikan oleh jenis-jenis pohon anggota genera : Avicenia. Dengan demikian. bagian terlindung daru tanjung. (d) Pengaturan tata letak tambak yang melibatkan persyaratan performansi untuk perlindungan habitat alam di sekitarnya tambak. tambak harus ditempatkan jauh di sebelah atas hutan bakau. (c) Kalau sistem tambak akan ditinggalkan maka pematang-pematang harus dibongkar sehingga area dapat pulih kembali seperti semula. (b) Pengembangan aktivitas manikultur harus didasarkan pada perencanaan seksama dengan mempertimbangkan alternatif penggunaan lainnya. Rhizophora. Lumnitzera. (e) Di daerah bakau. Xyloccarpus Aegiceras Scyphyphora dan Nypa. Pengalaman menunjukkan bahwa produktivitas tambah lebih besar dilokasi seperti ini daripada di daerah konversi hutan bakau. (2) Arahan pengelolaan (a) Preferensi harus diberikan kepada usaha marikultur yang dikelola secara intensif profesional dengan menggunakan cages atau pens daripada usaha yang mendorong konversi bakau menjadi sistem tambak lokasi tambak harus sesuai untuk dapat berproduksi secara lestari. 5.4. Kalau ada area yang disebut salt flats atau salt pan harus dipilih. beserta fauna dan habitatnya yang khas. Sonneratia. . (f) Dalam sistem budidaya tambak.1. Tanahnya bervariasi dari lumpur. selat yang terlindung dari ombak serta tempat-tempat lain yang serupa. Lokasi ekosistem bakau ini umumnya adalah pantai-pantai dengan teluk dangkal. Ceriops. ekosistem bakau ialah ekosistem pantai yang komponen tumbuhan ialah hutan.4. Kalau hal ini dibarengi dengan pengaturan kualitas air dan suplai pakan. 5.92 dalam kolam. delta.

limbah domestik. Fungsi ekologis dari ekosistem bakau : a. Karakteristik struktural bakau ini beragam dengan lokasi dan sangat ditentukan oleh kondisi geografis. Secara ekologis hutan bakau mempunyai fungsi penting karena menjadi tempat lindung bagi banyak jenis flora maupun fauna.l.93 Penggunaan ekonomi yang utama :a. Hal ini sering membawa pada pertentangan kepentingan dalam pemanfaatannya. . (b) Kisaran pasang surut merupakan faktor sangat penting bagi hutan bakau karena salinitas akan terintegrasi dalam zone-zone yang mempengaruhi pertumbuhan bakau. tingkat salintas merupakan determinan utama terhadap tipe dan kelimpahan spesies. (c) Pelindung garis pantai. tambak dan perikanan pada umumnya. kontruksi. dl. limbah pertanian/perikanan. Secara rinci peran lindung hutan bakau adalah sebagai berikut : a) Bersifat khas dan strategis untuk menyangga kelestarian kehidupan biota darat dan perairan baik laut maupun tawar. (e) Penyaring dan pembersih air limbah. Hutan bakau mempunyai banyak spesies dan famili yang mana biasanya spesies-spesies Rhizopora berasosiasi dengan pohon dan perdu lainnya. Faktor pengelolaam (a) Input air tawar mengencerkan air laut. kayu bakar. kotak. Di Indonesia dan Jawa Timur khususnya sesungguhnya pertentangan ini dapat terhindari apabila semua pihak dapat menyadari peran lindung hutan bakau tersebut sesungguhnya juga mencakup perlindungan terhadap kualitas lingkungan yang menjamin kelestarian usaha-usaha produksi seperti hasil hutan. (c) Polusi di kawasan pantai sebagai akibat dari buangan limbah industri. (d) Pengendali erosi oleh air laut. mendukung upaya budidaya perikanan. Hasil kayu. relief topografis dan kondisi iklim. bahan penyamak.l. sedimentasi dan dispersi minyak akan mempengaruhi bakau dan sumberdaya lkehidupan akuatik (d) Hutan bakau pantai merupakan sumberkayu yang penting untuk kepentingan domestik dan komersial. (b) kehidupan satwa liar. karton. suplai bahan kertas. dan Pangan. (a) Sebagai sumber energi dan bahan pakan yang sangat penting. hutan bakau merupakan penghasil berbagai bahan baku industri. Tekstil. bahan kayu bakar. (f) Barier melawan ombak pasang dari badai laut. Bakau perupakan ekosistem hutan yang toleran garam di daerah intertidal tropis. Secara ekonomis. tanah dan air.obat dan bahan minuman. Hasil dari hutan bakau menjadi sumber utama material bangunan dan bahan bakar bagi masyarakat pantai Ekosistem hutan bakau sangat unik dan sangat potensial. areng. Ekosistem ini sangat kompleks dan bersifat fragile. tersusun atas banyak varietas tumbuhan dan aneka satwa air dan darat. dan lainlain.

berlumpur dengan ombak yang relatif landai. Selain dari itu. Secara teoritis daya regenerasi hutan bakau cukup kuat. c) Berperan besar untnuk melindungi pantai dan menghambat lepasnya butirbutir tanah ke lautan bebas serta mempercepat pengendapan pantai. Bahkan beberapa jenis flora maupun fauna sering dianggap sebagai jenis langka yang sebaran tempat hidupnya hanya terpusat di kawasan Nusantara. Hal ini dapat dimengerti karena sebagai bagian dari sisi peralihan teritorial benua kuno Gonwana. Kerusakan ekosistem bakau selain merusak ekosistem estuari dan delta serta kawasan pantai.2 Kondisi Hutan Bakau Serta Proses Degradasi Hutan Bakau Pada dasarnya kondisi ekosistem pantai di Jawa Timur dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan atas ciri-ciri fisik pantainya. dan mempunyai bagian arti penting bagi pemeliharaan kualitas lingkungan hidup manusia Jawa Timur baik untuk skala jangka pendek maupun jangka panjang. 1987). berbatu dengan ombak yang besar menghantam pantai setiap saat. kerusakan hutan bakau umumnya berpengaruh luas terhadap ekosistem lainnya yang terkait dengannya. maka upaya konservsai serta pengolaan yang tepat dan terencana dengan baik untuk kawasan hutan bakau di Jawa Timur merupakan suatu keharusan. 5. Indonesia khususnya Jawa Timur mempunyai keragaman jenis fauna maupun flora hutan bakau yang sangat besar. Kondisi fisik seperti inilah yang menjadi alasan mengapa kawasan bakau lebih banyak dipakai di pantai Utara dibandingkan pantai selatan Jawa Timur. kawasan bakau Indonesia mewariskan jenis flora dan fauna hasil perkembangan evolusi yang khas dan tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Atas dasar alasan-alasan tersebut di atas. sehigga sering dapat dengan lebih mudah dipulihkan apabila mengalami kerusahakan terutama bila dibandingkan dengan kawasan ekologis lainnya sepertu terumbu karang. Kelompok pertama umumnya berada di kawasan pantai selatan Jawa Timur yang mempunyai pantai terjal. dengan kriteria fisik seperti tersebut. Namun demikian apabila sampai muncul kerusakan di kawasan hutan bakau yang mungkin sulit dikembalikan adalah hilangnya beberapa jenis flora dan fauna langka dari kawasan hutan yang rusak tersebut. sesuai dengan perannya seperti tersebut di atas. Kelompok kedua umumnya berada di sepanjang pantai utara Jawa Timur yang relatif landai. Sebagai kawasan tropis. pantai utara . Berdasarkan atas nilai indeks sensitivitas lingkungan yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Lingkungan Hidup (Anonymous. berlumpur dengan ombak yang relatif tenang dan arus air lambat.4.94 b) Sebagai penyangga produktivitas wilayah usaha perairan pantai dan laut. pada umumnya juga berpengaruh luas ke kawasan daerah aliran sungai.

menunjukkan bahwa dari kurang lebih 859 km hutan bakau sepanjang pantai Jawa Timur. Dari sini dapat dipahami mengapa banyak kawasan bakau di pantai Utara Jwa Timur yang telah rusak. Hasil penelitian tersebut juga menampakkan secara jelas sekali berdasarkan pengaruh laju tekanan pemukiman penduduk. pertumbuhan budidaya tambak. Situbondo. secara umum kawasan hutan bakau tersebut tidak lagi sebagai hutan lindung melainkan telah bergeser ke fungsi produksi. et. Menurut hasil sigi di Jawa Timur. Hasil pengamatan visual menunjukkan pohon-pohon bakau pada umumnya hanya terdapat pada galengan atau saluran irigasi atau dalam bentuk gerubul-gerumbul kecil di sekitar pemukiman penuduk. 1992). Pada hal justru pantai utara Jawa Timur yang mempunyai perkembangan sosial ekonomi pesat. Hasil pengamatannya dikawasan pantai Probolinggo dan sekitarnya menunjukkan bahwa umumnya hutang mengrove merupakan jalur sempit sejajar dengan jalan raya Surabaya – Banyuwangi yang terputus-putus di berbagai tempat oleh karena pemukiman atau peruntukan lainnya. Hal serupa juga di jumpai di kawasan Blambangan – Banyuwangi (Soebiantoro. Manun demikian. Trenggalek. Malang. tetapi sekedar menghijaukan kawasan bakau dan sering dikaitkan dengan kepentingan pertambakan baik yang modern maupun tradisional. Sumenep dan Bangkalan. dan berubah fungsi seiring dengan pesatnya perkembangan sosial-ekonomi. 1992). Selanjutnya dari hasil survey kasar. perindustrian dan lain-lain kegiatan ekonomi terhadap laju . dengan pemilihan tempat secara acak di kawasan pantai Utara Jawa Timur tida dijumpai hutan bakau (Sumitro. usaha penanaman kembali sering tidak bertujuan untuk menghutankan kembali kawasan bakau.al. Usaha penanaman kembali pohon bakau ternyata telah banyak dilakukan di sepanjang pantai utara dan pantai Madura termasuk Madura Kepulauan umumnya penghijauan dilakukan oleh instansi di bawah Departemen Kehutanan. Blitar. jember. 230 Ha dinyatakan rusak berat dan dari 700 ha rusak ringan. Data tahun 1991 yang berhasil dikumpulkan oleh Marsoedi. Lebar areal hutang paling panjang adalah 175 m dan umumnya berkisar antara 50 – 60 m. Hal ini tentu tidak bersesuaian lagi dengan status mereka yang merupakan hutang lindung milik perum perhutani. Lokasi Penghijauan meliputi beberapa daerah di Kabupatenkabupaten Banyuwangi. Tampaknya kawasan pantai utara Jawa Timur sudah tidak lagi mempunyai kawasan hutan bakau perawan kecuali di kawasan-kawasan konservasi seperti baluran. Pacitan. termasuk perhutani dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Daerah (BKSDA).95 dapat dianggap lebih sensitif terhadap pengaruh faktor pencemaran dibandingkan pantai selatan. total usaha penghijauan di luar usaha konservasi dan pengamanan hutan bakau tersebut telah dilakukan pada kawasan bakau seluas kurang lebih 1250 ha.

data akurat mengenai laju pertambahan daratan baru disertai aktivitas perambahan oleh penduduk tidak pernah ada. produk kayu. erosi dan sedimentasi. Kebijakan Pembangunan/Pengelolaan Bakau a) b) c) d) e) Konflik penggunaan penambangan tin dan pertambakan udang peluang pemanfaatan yang lestari . Sayangnya data rinci dalam skala yang lebih teliti mengenai laju perluasan wilayah tambak dan penyusutan hutan bakau di Jawa Timur sampai saat ini amat sulit didapatkan meskipun dari hasil kuwesener dan wawancara terhadap instansi terkait seperti. Data hasil investarisasi kasar yang telah dilakukan di beberapa kawasan pantai Jawa Timur. 5. penebangan kayu bakau dan lainnya Menjaga topografi dan karakter substrat uhutan bakau dan saluran air tawar Manjaga pola alamiah temmporer dan spatial dari salinitas air permukaan dan ground water Mempertahankan pola alamiah dan siklus aktivitas pasang surut dan run off air tawar Menjaga keseimbangan alamiah antara okresi. suplay fry bebas tindakan pengelolaan yang diperlukan antara lain : Pengendalian pembukaan tambak udang. Seperti halnya laju penyusutan hutan bakau.96 penyusutan kawasan bakau ini disepanjang pantai Utara Jawa Timur dan Madura. Exoecaria dan Acanthus selain itu juga dapat dengan mudah terlihat. Dengan demikian pengelolaan hutan . Kebijakan atau rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pembangunan/pengelolaan hutan bakau di Jawa Timur seyogyanya mempertimbangkan dua kepentingan pokok yaitu kepentingan sosial-ekonomi dan kepentingan konservasi-ekologis dengan mengacu pada landasan kebijakan nasional tentang arah dan kebijakan umum sumber daya alam yang telah ditetapkan dalam GBHN. umumnya mereka mengkategorikan masalah penyusutan luasan hutan bakau dan usaha penghijauan kembali kawasan bakau sebagai masalah yang mendesak untuk ditangani. Avicenia. tannis. Suksesi ekosistem bakau di lahan baru ini terlihat sering terganggu oleh aktivitas perambahan untuk tujuan-tujuan pertambakan atau ladang pembuatan garam. Dinas perikanan.4.2. dinas kehitanan dan Pemerintah Daerah (BAPPEDA) setempat. menunjukkan ada dua puluh tujuh jenis tumbuhan bakau umumnya dari genus Rhizopora. dikawasan pantai utara yang landai adanya kemunculan lahan atau daratan baru seiiring dengan laju sedimentasi di daerah Estuari.

sampai dengan SK Gubernur Pemerintah daerah Jawa Timur. misalnya sering berbentukan dengan Dinas Pariwisata atau pihak Peruhatani maupun Pemda Tk. Pariwisata dan kependudukann yang tidak memperhatikan adanya bahaya kerusakan hutan lindung di Pulau Sempu dan sekitarnya. Mereka umumnya menggarap satu kawasan yang sama dengan program yang erbeda. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. keputusan Menteri. Malang Selatan. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan sampai dengan sederetan Peraturan Pemerintah. Undang-Undang RI No. Program pengembangan fasilitas perikanan. e) Mencermati aliran perdagangan flora maupun fauna langka di hutan bakau. 9 tahun 1985 tentang perikanan. hal ini ternyata masih berlanjut sampai saat ini dan merupakan warna pengelolaan lingkungan hidup di skala nasional. Pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan oleh Dinas Perikanan. II. 5 tahun 1992 tentang penataan ruang. . Hal ini berarti pula berseuaian dengan deklarasi World Conservation Startegy (WCS) tahun 1979 dan strategi konservasi alam Indonesia. UndangUndang RI No. Secara umum hal ini disebabkan oleh lemahnya koordinasi antara instansi serta manajemen pelaksana di setiap instansi yang berwenang. Undang-Undang RI No. Undang-Undang RI No. 5 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan. Tumpang tindih pemanfaatan kawasan bakau seperti itu banyak terjadi di Jawa Timur.97 bakau harus diarahkan agar segala pendaya gunaan sosio-ekonominya tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan serta kelestarian fungsi dan kemampuannya sehingga tetap dapat menjamin kemanfaatannya bagi generasi mendatang. Undang-Undang RI No. Agenda 21 Global Biodiversity Strategy (GBS) than 1992 dan Strategi Nasional Pengelolaan Keanekaragaman hayati sehingga setiap kebijakan yang ditetapkan harus mempunyai makna : a) Perlindungan terhadap proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan dalam ekosistem bakau b) Pelestarian sumberdaya bakau dan keanekaragaman sumber plasma nutfah yang terkandung didalamnya c) Pemanfaatan secara lestari sumber daya bakau dan lingkungannya d) Konsistensi kebijakan dan penanganan keanekaragaman hayati dan masalah ekologis hutan bakau. mulai dari Undang-Undang RI No. keputusan Presiden. Contoh konkrt mengenai hal ini terjadi di kawasan Sendang Biru. Landasan hukum tindakan operasioanal yang berkenaan dengan pengelolaan hutan bakau sudah ada. Permasalahan yang muncul justru pada tingkat operasional pelaksanaan pengelolaan di lapangan. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daa Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Di Jawa Timur data luasan hutan bakau tersebut sering bervariasi menyolok antar instansi terkait satu dengan lainnya. 32 / 1990. Dari sini terlihat bahwa pengelolaan hutan bakau secara lestari harus terkait dengan pendidikan kesadaran berkonservasi. Permasalahan terakhir ini lebih terkait dengan kondisi sosial ekonomis dan budaya masyarakat sekitar hutan bakau secara lestari. permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan bakau di Jawa Timur diduga juga berhubungan dengan terjadinya degradasi hutan bakau akibat pencurian kayu. Bahkan kawasan hutan bakau yang tersisa dengan status sebagai hutan lindung banyak yang tidak memenuhi ketetapan Keputusan Presiden No. 5. Surabaya. Usaha penghijauan yang dilakukan belum dapat diharapkan untuk memulihkan kawasan bakau menjadi kawasan perlindungan dan keseimbangan lingkungan.4. Ciri dari kelemahan manajemen tersebut antara lain adalah data luasan kawasan hutan bakau yang tidak akurat. perencanaan pengorganisasian/pelembagaan. karena lebar lajurnya kurang dari 220 m (Fandeli. Hambatan utama dalam penghijauan ini justru dari bidang sosial ekonomi. Hal ini tentu amat menyulitkan dalam pelaksanaan tata ruang.98 Satu hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum kelemahan manajemen hutan bakau menyangkut banyak hal meliputi sistem sivikultur. Gresik dan Tuban yang mempunyai tingkat pencemaran logam yang cukup tinggi akibat limbah industri. Analisis Dan Evaluasi Secara umum kawasan bakau di Jawa Timur menunjukkan penyusutan dari waktu ke waktu. Sidoarjo. Sebagai contoh misalnya : kawasankawasan pantai Banyuwangi. kesadaran berkonservasi masyarakat sekitar serta lemahnya manajemen (koordinasi) pengelolaan dari pihak yang berwenang atas kawasan bakau ini. 1992). perambahan yang tidak terkendali serta pemanfaatan yang melebihi daya dukung. Bila ditinjau dari kualitas fisik dan kimiawi lingkungan. Probolinggo. peningkatan lapangan kerja dan sarana produksi bagi penduduk di sekitar kawasan bakau dan penduduk Jawa Timur pada umumnya. pemanfaatan maupun rehabilitasinya selain dalam hal manajemen. tentunya lebih bermanfaat bagi orang banyak dan lebih beresiko kecil . Pengelolaan hutan mengrrove hendaknya dimulai dari kesepakatan mengenai pentingnya kawasan ini bagi semua pihak yang disertai dengan analisis untung rugi (analisis resiko dan manfaat).5. sesungguhnya usaha penghijauan masih dapat diharapkan dapat merehabilitasi kawasan bakau menjadi kawasan hutan bakau. pelaksanaan program kerja dan pengawasan. sumberdaya manusis.

a) Peta-Peta Sebagai bahan acuan dalam interpretasi foto udara dan atau pengujian di lapangan digunakan peta besar dan berbagai peta bantu lainnya : • Peta Topogradi Skala 1 : 50. Dengan demikian.000. maka tidak ada pilihan lain bagi Pemda Jawa Timur untuk secara terus menerus menyadarkan masyarakat tentang bahaya pencemaran logam berat sehingga dapat mendorong masyarakat pemilik/petambak merekalnnya untuk dirubah menjadi hutan produksi. Pemetaan ini dilakukan beberapa lokasi contoh di wilayah pesisir pantai propinsi Jawa Timur pada skala 1 : 50.000 oleh karena itu bahan-bahan penunjang (foto udara.000 untuk wilayah Jawa Timr sejumlah 168 lembar hasil pemotretan bulan Agustus sampai September 1983 diperoleh di Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakorsutanal) Cibinong – Bogor.99 apabila dihutankan dibandingkan untuk pertambakan. Analisis dan Interprestasi Peta Pemetaan kondisi pesisir-pantai dilakukan dengan menggunakan pendekatan fisiografik yang mendasarkan pada proses geomorfik di muka bumi. . 5. peta dan data lainnya) yang digunakan adalah yang meliputi seluruh wilayah contoh ini.000 terbitan Bakosurtanal • Peta Penggunaan Lahan sekala 1 : 50.000 • Peta Administrasi. sampai tingkat kecamatan Publikasi BPN Foto udara yang diperlukan untuk pemetaan sumberdaya ini adalah foto udara pankromatik hitam putih skala 1 : 50. Foto udara nfra merah hitam putih berskala 1 : 50. apabila memang telah ditetapkan untuk kawasan industri. untuk kawasan-kawasan bakau di sekitar tempat-tempat tersebut.5. Pengumpulan data dilaksanakan dengan metode survey yang diawali dengan kerja laboratorium untuk mempersiapkan peta kerja lapangan.

L a n d s y s te m 3.100 F o to U d a ra P a n k ro m a t ik H it a m P u t ih S k a la 1 : 5 0 . Diagram Alir interprestasi foto udara untuk mendapatkan peta. . G e o lo g i 2 .0 0 0 P e ta A c u a n : 1 . Laut 4 . P a n ta i P a s ir P ro s e s I n t e rp re t a s i F o to U d a ra T e rh a d a p L a n d f o r m P e t a T o p o g ra f i S k a la 1 : 5 0 . 0 0 0 P lo tt in g H a s il In te rp r e t a s i F o t o U d a ra P e n g u ji a n L a p a n g a n In te rp r e t a s i F o t o U d a r a U la n g a n P E T A A K H IR Gambar 1.

101 b) Penyiapan Peta dasar Peta dasar dibuat berdasarkan format dan isi yang mengacu pada peta topografi skala 1 : 50. Analisis landuse menggunakan analisis elemen dengan menggunakan rona. relief. Analisis klasifikasi parameter peta mengikuti klasifikasi yang berlaku sesuai dengan ciri ekosistem yang dikaji klasifikasi menggunakan proses geomorfik sebagai dasar pengelompokka. situs dan asosianya. Selanjutnya dilakukan orientasi lapangan untuk mendapatkan kunci-kunci interpretasi melalui foto udara. ukuran. misalnya lereng curam singkapan dan sebagainya. Anotasi tambahan yang terkait dengan landform juga digambarkan pada foto udara. Delineasi dilakukan pada foto udara mengikuti sebaran karakteristik foto bagi masing-masing vegetasi dan atau penggunaan yang ada.000. Kuncikunci interpretasi diperoleh melalui orientasi lapangan sebelum dilaksanakan interpretasi. pembagian lebih lanjut menggunakan parameter lainnya. pola. tinggi. Hasil interpretasi foto udara diplot pada peta dasar yang dibuat dari peta topografi skala 1 : 50. bayangan. . Sehingga delineasi pada foto udara menghasilkan keseragaman dalam prose intrepretasi sebelum mendelineasi batas satuan peta perlu mendeteksi mengidentifikasi. tekstur.000. menganalisa dan menklsifikasi prose geometrik. lereng dan torehan sebagai elemen landform. bentuk. Unsur-unsur yang disajikan pada peta dasar merupakan unsur terpilih yang erat kaitannya dengan tujuan pemetaan c) Interpretasi foto udara Sebagai bahan acuan sebelum melaksanakan interpretasi foto udara dilakukan identifikasi skala 1 : 50… dan peta-peta lain yang terkait.

Penetapan berdasarkan pada Undang-undang No. tambak. REKOMENDASI DALAM PENGATURAN KAWASAN PESISIR Dalam rangka pengaturan ruang kawasan pesisir pantai yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut: A. Belum optimalnya pengelolaan wilayah pesisir pantai g. yang menjelaskan bahwa kewenangan pengelolaan wilayah kelautan bagi Kabupaten adalah 4 mill. gelombang stunami) e. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayah pesisir pantai adalah: a. Rencana Pengembangan dan Pengelolaan Ruang Kawasan Pesisir Pantai (a) Rencana Penetapan Zona Kawasan Pesisir dan Kelautan Rencana penetapan zona kawasan pesisir dan kelautan adalah: penetapan kawasan budidaya dan non budidaya di wilayah darat dan perairan laut. berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Penetapan zona kawasan berdasarkan pada kegiatan manusia yang prospek pengembanganya baik dan mempunyai potensi untuk dikembangkan. Ancaman intrusi air laut (masuknya air laut ke areal darat) d. Rawan bencana alam (longsor. Minimnya infrastruktur j. Pencemaran wilayah pesisir pantai c. Arahan penetapan zona kawasan pesisir dan kelautan Kabupaten adalah perlindungan terhadap habitat terumbu karang dan mangrove. 3. pelabuhan pendaratari ikan (PPI). Arahan penetapan zona kawasan pesisir pantai berdasarkan pada : 1. 2. pemukiman nelayan. Minimnya sarana dan prasarana transportasi i.102 VII. Degradasi Habitat wilayah pesisir pantai b. Beberapa kegiatan manusia pada kawasan pesisir dan kelautan. antara lain adalah: pariwisata. perikanan dan pariwisata) h. . daerah penelitian. Kesesuaian pemanfaatan ruang. Kerusakan hutan akibat penebangan hutan secara liar f. 837/KPTS/UM/1980 dan Perda Pemerintah Propinsi Jawa Timur No 11 tahun 1991 tentang Penetapan Kawasan Lindung. Rendahnya penataan dan penegakan hukum B. Rendahnya kualitas sumber daya manusia k.22 Tahun 1999. Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumberdaya alam (baik pertanian.

Besarnya limpasan ini akan mengakibatkan air sebagai sumber kehidupan untuk masa mendatang akan sulit ditemukan karena persediaan air dalam tanah sangat sedikit. (7) Semakin besar air limpasan yang menuju ke pantai akan membawa jutaan ton tanah subur hasil erosi. Pada kawasan ini maka diperlukan pengelolaan tegalan yang mampu memberikan fungsi perlindungan melalui memperbanyak tanaman keras dan tanaman tahunan. (4) Pada wilayah pantai yang memiliki terumbu karang. . Adapun secara garis besar arahan pengelolaan wilayah daratan diarahkan pada: (1) Di wilayah darat mengingat kondisi pantai umumnya merupakan pantai berpasir dan wilayah dengan topografi yang terjal. maka pengelolaannya harus dilakukan secara terpadu. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa di wilayah pesisir telah terjadi perubahan fungsi penggunaan tanah ataupun perusakan terumbu karang karena kesalahan pengelolaan. Akan berakibat: Semakin besar air limpasan permukaan. Pada daerah pesisir yang telah mengalami terjadinya pergeseran fungsj lahan berdasarkan zona fungsional yang telah ditetapkan. hal Ini akan mengakibatkan penimbunan lumpur dl daerah hilir sehingga mengancam rusaknya ekosistim di daerah pantai. (2) Beberapa kawasan yang diperuntukkan sebagai tegalan ternyata menurut kesesuaian lahannya adalah untuk kawasan penyangga. (3) Pada kawasan yang telah bersesuaian peruntukannya. Karena semakin berkurang vegetasi yang berfungsi sebagai penahan laju air limpasan. bahkan harus dipelihara keasriannya.103 4. (6) Pelaksanaan agroforestry pada lahan-Iahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan penyangga. maka diperlukan penyuluhan dan pemberian informasi pada masyarakat tentang manfaat terumbu karang dan upaya pengelolaannya. Pada kawasan hutan yang mengalami kerusakan baik karena penebangan ataupun karena kekurangtepatan dalam pengelolaan maka diarahkan untuk dikelola secara teknis dan vegetatif maupun pengelolaannya bersama masyarakat. maka pada wilayah pantai yang saat ini merupakan kawasan hutan diarahkan untuk tidak diubah pola penggunaan tanahnya. dimana pariwisata yang dikembangkan hanya sebatas menikmati pemandangan alam dan melakukan penelitian saja. (5) Khusus untuk wilayah konservasi yang memi'iki aset wisata. maka semakin kecil air yang merembes ke dalam tanah sebagai air tanah atau air infiltrasi. maka diperlukan peningkatan intensitas kegiatan dengan titik berat peningkatan nilai ekonomi komoditas.

(2) Penyadaran hukum terhadap kegiatan masyarakat yang berdampak terhadap kelangsungan hidup ekosistem dan mata pencaharian. maka di bagian hilir (laut) juga perlu kegiatan serupa sehingga program keberlanjutan pembangunan dapat dilaksanakan secara menerus. Misalnya penebangan hutan di daerah atas. Misalnya penangkapan ikan dengan menggunakan bahan beracun dan bom (3) Memberikan altematif kegiatan terhadap kegiatan yang bersifat merusak lingkungan. Untuk itu maka sangat diperlukan pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan petingnya suatu ekosistem yang memberikan kehidupan sumberdaya peisisir. Berdasarkan kondisi yang ada di wilayah daratan (atas) telah dilakukan upaya pengelolaan untuk mengarahkan pada pemanfatan nilai ekonomis lahan baik pada kawasan lindung maupun kawasan budidaya. . Pengelolaan pesisir pesisir pantai ini pada dasarnya merupakan upaya untuk pemanfaatan dalam jangka panjang yang berlanjut.104 (8) (9) Pengelolaan wiiayah pantai ini pada dasarnya merupakan pengelolaan antara wilayah daratan dan lautan secara terpadu. dengan arahan-arahan yang ditempuh sebagai berikut: (1) Penyadaran hukum terhadap kegiatan masyarakat yang mengakibatkan terjadinya kerusakan berdampak luas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->