Sartini Ramidi ‘URF BAB I PENDAHULUAN

11508027 11508028

'Urf merupakan sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan di kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama ushul fiqh, 'urf disebut adat (adat kebiasaan). Secara bahasa “Al-adatu” terambil dari kata “al-audu” dan “al-muaawadatu” yang berarti “pengulangan”, Oleh karena itu, secara bahasa al-’adah berarti perbuatan atau ucapan serta lainnya yang dilakukan berulang-ulang sehingga mudah untuk dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan. Menurut jumhur ulama, batasan minimal sesuatu itu bisa dikatakan sebagai sebuah ‘adah adalah kalau dilakukan selama tiga kali secara berurutan. Jadi arti kaidah ini secara bahasa adalah sebuah adat kebiasaan itu bisa dijadikan sandaran untuk memutuskan perkara perselisisihan antar manusia. BAB II ISI A. Pengertian 'Urf ialah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan di kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama ushul fiqh, 'urf disebut adat (adat kebiasaan). Sekalipun dalam pengertian istilah hampir tidak ada perbedaan pengertian antara 'urf dengan adat, namun dalam pemahaman biasa diartikan bahwa pengertian 'urf lebih umum dibanding dengan pengertian adat, karena adat di samping telah dikenal oleh masyarakat, juga telah biasa dikerjakan di kalangan mereka, seakan-akan telah merupakan hukum tertulis, sehingga ada sanksi-sanksi terhadap orang yang melanggarnya. Seperti dalam salam (jual beli dengan pesanan) yang tidak memenuhi syarat jual beli. Menurut syarat jual beli ialah pada saat jual beli dilangsungkan pihak pembeli telah menerima barang yang dibeli dan pihak penjual telah menerima uang penjualan barangnya. Sedang pada salam barang yang akan dibeli itu belum ada wujudnya pada saat akad jual beli dilakukan, baru ada dalam bentuk gambaran saja. Tetapi karena telah menjadi adat kebiasaan dalam masyarakat, bahkan dapat memperlancar arus jual beli, maka salam itu dibolehkan. Dilihat sepintas lalu, seakan-akan ada persamaan antara ijma' dengan 'urf, karena keduanya sama-sama ditetapkan secara kesepakatan dan tidak ada yang menyalahinya. Perbedaannya ialah pada ijma' ada suatu peristiwa atau kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya. Karena itu para mujtahid membahas dan menyatakan kepadanya, kemudian ternyata pendapatnya sama. Sedang pada 'urf bahwa telah terjadi suatu peristiwa atau kejadian, kemudian seseorang atau beberapa anggota masyarakat sependapat dan melaksanakannya. Hal ini dipandang baik pula oleh anggota masyarakat yang

" ’Urf Adat memiliki makna yang lebih sempit Terdiri dari ‘urf shahih dan fasid ‘Urf merupakan kebiasaan orang banyak . ringkasnya: AI-’Urf adalah sesuatu yang diterima oleh tabiat dan akal sehat manusia. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa makna kaidah ini menurut istilah para ulama adalah bahwa sebuah adat kebiasaan dan urf itu bisa dijadikan sebuah sandaran untuk menetapkan hukum syar’i apabila tidak terdapat nash syar’i atau lafadh shorih (tegas) yang bertentangan dengannya. Lama-kelamaan mereka terbiasa mengerjakannya sehingga merupakan hukum tidak tertulis yang telah berlaku diantara mereka.lain. masyarakat mengerjakannya karena mereka telah biasa mengerjakannya dan memandangnya baik. Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan 'urf Di antara kaidah-kaidah fiqhiyah yang berhubungan dengan 'urf ialah: a. sebenarnya keduanya adalah dua kalimat yang apabila bergabung akan berbeda arti namun bila berpisah maka artinya sama. B. Tabel perbandingan antara ’Urf dengan ’Adah ’Adah Adat memiliki cakupan makna yang lebih luas Adat tanpa melihat apakah baik atau buruk Adat mencakup kebiasaan pribadi Adat juga muncul dari sebab alami Adat juga bisa muncul dari hawa nafsu dan kerusakan akhlak C. Artinya: "Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum (berhuhungan) dengan perubahan masa. lalu mereka mengerjakan pula. Artinya: "Perbuatan manusia yang telah tetap dikerjakannya wajib beramal dengannya." c. Pada ijma' masyarakat melaksanakan suatu pendapat karena para mujtahid telah menyepakatinya. Tabel 1. sedang pada 'urf. Artinya: "Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai hukum. Perbedaan antara Al-‘Adah dengan Al-‘Urf Kata ‘urf dalam bahasa Indonesia sering disinonimkan dengan ‘adat kebiasaan namun para ulama membahas kedua kata ini dengan panjang lebar." b. Meskipun arti kedua kata ini agak berbeda namun kalau kita lihat dengan jeli.

Al-Baqarah[2]: 180). Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf. seperti menetapkan (hukum) dengan dasar nash”. Dengan kaidah tersebut. yaitu dengan kaidah: “Sesuatu yang sudah terkenal (menjadi tradisi) di kalangan pedagang. dalam qa’idah fiqhiyah disebutkan: “Adat kebiasaan dapat dijadikan dasar (pertimbangan) hukum” Qaidah yang lain: “Menetapkan (suatu hukum) dengan dasar (‘urf). seperti syarat yang berlaku diantara mereka” Kaidah-kaidah tersebut memberikan peluang pada kita untuk menetapkan ketentuanketentuan hukum. diwajibkan atas kamu. Lebih jauh. Dalil Al-Qur’an. . 2. Sifat al-Qur’an dan al-Sunnah yang hanya memberikan prinsip-prinsip dasar dan karakter keuniversalan hukum Islam (sebagaimana contoh ayat di atas) dapat dijabarkan kaidah ini dengan melihat kondisi lokal dengan masing-masing daerah. hukum Islam dapat dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan tradisi (adat) yang sudah berjalan. qa’idah fiqhiyah memberikan keluasaan untuk menciptakan berbagai macam bentuk transaksi atau kerja sama. apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut.1. 3. Maksud dan ma’ruf di semua ayat ini adalah dengan cara baik yang diterima oleh akal sehat dan kebiasaan manusia yang berlaku. serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. apabila tidak ada nash yang menjelaskan ketentuan hukumnya. Dalil dari as-Sunnah: Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah ibn Mas’ud disebutkan. dengan kaidah tersebut. jika ia meninggalkan harta yang banyak. maka di sisi Allah pun baik”. Juga firman-Nya: (QS. Qawaid Fiqhiyah yang Berkaitan Berkaitan dengan ’Urf. Bahkan meneliti dan memperhatikan adat (‘urf) untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan suatu ketentuan hukum merupakan suatu keharusan. Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf Dan beberapa ayat lain yang menyebut lafadh ’urf atau ma’ruf yang mencapai 37 ayat. Firman Allah Ta’ala : (QS Al-Araaf[7]:199). Hadis tersebut oleh para ahli ushul fiqh dipahami (dijadikan dasar) bahwa tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan hukum Islam (fiqh). dalam bidang perdagangan (perekonomian). “Apa yang dipandang baik oleh umat Islam.

D. Yaitu ‘urf yang berlaku di seluruh negeri muslim. b.000. yaitu: a. bukan makna lainnya. b. maka orang tersebut tidak dianggap melanggar sumpah. MACAM-MACAM ‘URF 1. Klasifikasi ‘Urf ditinjau berdasarkan ruang lingkupnya. saya hari ini tidak akan makan daging. Para ulama sepakat bawa ‘urf umum ini bisa dijadikan sandaran hukum. ‘Urf Lafzhy (ucapan). karena kata ”daging” dalam kebiasaan masyarakat kita tidak dimaksudkan kecuali untuk daging binatang darat seperti kambing.” Maka yang dimaksud adalah lima puluh ribu rupiah. Ini juga bisa dijadikan sandaran hukum meskipun tidak sekuat ‘urf lafzhy.” Ternyata kemudian dia maka ikan. bukan dolar ataupun riyal.500. Yaitu Sebuah penbuatan yang sudah menjadi ‘urf dan kebiasaan masyanakat tertentu. maka inilah yang berlaku. Yaitu sebuah kata yang dalam masyarakat tententu dipahami bersama dengan makna tertentu. yaitu: a. sapi. Lalu kalau seorang yang melamar pekerjaan menjadi tukang jaga toko dan kesepakatan dibayar setiap bulan sebesar Rp. maka pekerja tersebut berhak berlibur setiap hari Jum’at dan tetap mendapatkan gaji tersebut. ‘Urf Amali (perbuatan). sejak zaman dahulu sampai saat ini. 2) Ada seorang penjual berkata: “Saya jual kitab ini seharga lima puluh ribu. makelar tersebut mendapatkan 2% dari harga tanah yang ditanggung berdua antara penjual dengan pembeli. ‘Urf ini diperselisihkan oleh para ulama apakah boleh dijadikan sandaran hukum ataukah tidak. dan lainnya. Misalnya: 1) Ada seseorang berkata: “Demi Allah. Klasifikasi ‘Urf ditinjau berdasarkan objeknya. ‘Urf ‘am (umum). dan ‘urf yang berlaku di daerah tersebut bahwa nanti kalau tanah laku terjual. ‘Urf ini kalau berlaku umum di seluruh negeni muslim ataupun beberapa daerah saja maka bisa dijadikan sandaran hukum. ada seseorang menyuruh seorang makelar untuk menawarkan tanahnya pada pembeli. Contoh: Di sebuah daerah tertentu. pada hari Jum’at. Misalnya: 1) Dalam masyarakat tertentu ada ’urf orang bekerja dalam sepekan mendapat libur satu hari. 2. ‘Urf khosh (khusus). Yaitu sebuah ‘urf yang hanya berlaku di sebuah daerah dan tidak berlaku pada daerah lainnya. . tidak boleh bagi penjual maupun pembeli menolaknya kecuali kalau ada perjanjian sebelumnya.

E. Klasifikasi ‘Urf ditinjau berdasarkan diterima atau tidaknya. ‘Urf itu sudah berlaku sejak lama. Misalnya: Jika ada seseorang yang mengatakan demi Allah. Artinya. kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya. dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil. Hal ini tidak dapat diterima. telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat dan tidak bertentangan dengan syara’. Yaitu ‘Urf yang selaras dengan nash syar’i. bukan sebuah ‘urf baru yang barusan terjadi. Akan tetapi. baik di semua daerah maupun pada daerah tertentu. karena berlawanan dengan ajaran tauhid yang diajarkan agama Islam. kalau hanya merupakan ‘urf orang-orang tertentu saja. athTholaq [65]:6). saya tidak akan makan daging selamanya. ‘Urf ini harus dikerjakan. yaitu: a. harus memenuhi beberapa syarat. Misalnya: Seperti mengadakan pertunangan sebelum melangsungkan akad nikah. ’Urf itu berlaku umum. 3. tidak bisa dijadikan sebagai sebuah sandaran hukum. Tidak bertentangan dengan nash syar’i. ‘Urf bathil ialah ‘urf yang tidak baik dan tidak dapat diterima. Dan saat dia mengucapkan kata tersebut yang dimaksud dengan daging adalah . Misalnya: Seperti kebiasaan mengadakan sesajian untuk sebuah patung atau suatu tempat yang dipandang keramat. Oleh karena itu. yaitu: 1. ‘Urf shahih ialah ‘urf yang baik dan dapat diterima karena tidak bertentangan dengan syara’. akan tetapi karena dalil tersebut. tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. ‘Urf semacam ini berlaku dan harus dikerjakan. Misalnya: ‘Urf di masyarakat bahwa seorang suami harus memberikan tempat tinggal untuk istrinya.3. karena Alloh Azza wa Jalla berfirman: (QS. dipandang baik. namun bukan karena dia itu ’urf. b. dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik. SYARAT-SYARAT ‘URF Tidak semua ‘urf bisa dijadikan sandaran hukum. karena bertentangan dengan syara’. 2. ‘urf itu dipahami oleh semua lapisan masyarakat.

Contoh: sucinya kotoran merpati sesuai ’urf yang terjadi pada mesjid2 bahkan masjid al-haram. Lalu orang tersebut makan daging ikan.. lalu lima tahun kemudian ‘urf masyarakat berubah bahwa maksud daging adalah semua daging termasuk daging ikan. jual beli rumah yang meliputi bangunanya meskipun tidak disebutkan. Bolehnya jual beli buah yang masih dipohon karena ’urf. F. maka wajib bagi pekerja tersebut untuk masuk Setiap hari maskipun ‘urf masyarakat memberlakukan hari Ahad libur. maka ‘urf itu tidak berlaku. Ini tidak bisa diqiyaskan pada korotan ayam.daging kambing dan sapi.000. PERBANDINGAN DENGAN METODE LAIN ’Urf lebih kuat dari qiyas karena ’urf adalah dalil yang berlaku umum dan bukti bahwa sesuatu memang dibutuhkan (Ibn Abidin). terlebih bila ’urf nya bertentangan dengan dalil syar’i. b. Tidak berbenturan dengan tashrih. 4. Fiqh Hanafy a. Misalnya: Kalau seseorang bekerja di sebuah kantor dengan gaji bulanan Rp. . Dalam akad jual beli. 5. ‘Urf tidak berlaku atas sesuatu yang telah disepakati Hal ini sangatlah penting karena bila ada ’urf yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh para ulama (dalam hal ini ’Ijma) maka ’urf menjadi tidak berlaku. 500.tapi pemilik kantor tersebut mengatakan bahwa gaji ini kalau masuk setiap hari termasuk hari Ahad dan hari libur. maka orang tersebut tidak dihukumi melanggar sumpahnya karena sebuah lafadh tidak didasarkan pada ‘urf yang muncul belakangan. Perbedaan ’Urf dengan ’Ijma Tabel 2. Seperti standar harga. Tabel perbandingan antara ’Ijma dengan ’Urf ’Ijma ’Urf Dasarnya adalah kesepakatan para mujtahid atas suatu Tindakan mayoritas individu baik ’awam hukum syar’i setelah Nabi SAW wafat maupun ulama dan tidak harus dalam bentuk kesepakatan Harus berdasarkan dalil Syara Tidak harus berdasarkan dalil Syara ’Ijma ada yang sampai kepada kita dan ada yang tidak Relatif sama dengan sejarah Merupakan hujjah yang mesti dilakukan Tidak menjadi hujjah yang harus dilakukan karena ’urf ada yang shahih dan ada yang bathil PANDANGAN ULAMA Berikut adalah praktek-praktek ’Urf dalam masing-masing mahzab: 1. Jika sebuah ‘urf berbenturan dengan tashrih (ketegasan seseorang dalam sebuah masalah).

a. Akad sewa atas alat transportasi d. c. maka pemiliknya bisa meminta bagian. Fiqh Hanbali a. e. Imam Syafi’i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Menyewa rumah meskipun tidak dijelaskan tujuan penggunaaannya Bolehnya jual beli barang dengan menunjukkan sample Pembagian nisbah antara mudharib dan sahibul maal berdasarkan ’urf jika terjadi perselisihan 3. Bolehnya mengolah lahan pertanian orang lain tanpa izin jika di daerah tersebut ada kebiasaan bahwa lehan pertanian digarap oleh orang lain. Fiqh Maliki . Para ulama telah sepakat bahwa seorang mujtahid dan seorang hakim harus memelihara ’urf shahih yang ada di masyarakat dan menetapkannya sebagai hukum. Para ulama juga menyepakati bahwa ’urf fasid harus dijauhkan dari kaidah-kaidah pengambilan dan penetapan hukum. b. dan siatuasi (kondisi)”. Abdul Wahab Khalaf berpandangan bahwa suatu hukum yang bersandar pada ’Urf akan fleksibel terhadap waktu dan tempat. Tentu saja ‘urf fasid tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah. Batasan penyimpanan barang yang dianggap pencurian yang wajib potong tangan Akad sewa atas ternak b. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan ‘urf. Jual beli mu’thah Para ulama sepakat bahwa ‘urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah. Keadaan darurat tersebut dapat ditoleransi hanya apabila benar-benar darurat dan dalam keadaan sangat dibutuhkan. d. demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). ’Urf fasid dalam keadaan darurat pada lapangan muamalah tidaklah otomatis membolehkannya. Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah. Akad istishna 4. Fiqh Syafi’i a. tempat. karena Islam memberikan prinsip sebagai berikut: “Suatu ketetapan hukum (fatwa) dapat berubah disebabkan berubahnya waktu. Bolehnya mudharib mengelola harta shahibul maal dalam segala hal menjadi kebiasaan para pedagang. 2.c.

Konsep Aqilah dalam asuransi Jual beli barang elektronik dengan akad garansi Dalam sewa menyewa rumah. puasa. Sedangkan sebagian ulama Hanafiyyah dan Syafi’iyyah membolehkannya.Dengan demikian. Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa suatu ketentuan hukum yang ditetapkan oleh seorang mujtahid mungkin saja mengalami perubahan karena perubahan waktu. menjadi tanggung jawab penyewa. Misalnya. di mana anak yang diadopsi itu statusnya sama dengan anak kandung. CONTOH PRAKTEK ‘URF Berikut adalah akad-akad saat ini yang dapat diterima dengan ’Urf. kebiasaan di zaman Jahiliyah dalam mengadopsi anak. Biaya kerusakan yang kecil-kecil yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik rumah. H. Apabila ‘urf tersebut adalah ‘urf al-lafzhi. seseorang dapat menetapkan hukum atau melakukan perubahan sesuai dengan perubahan waktu (zaman). 3. diartikan dengan makna ‘urf. G. dan adat. para ahli ushul fiqh memerincinya sebagai berikut: 1. kecuali ada indikator yang menunjukkan bahwa kata-kata itu dimaksudkan sesuai dengan arti etimologisnya. 2. 2. yaitu 1. sehingga nash yang umum itu dikhususkan sebatas ‘urf al-lafzhi yang telah berlaku tersebut. Menurut Mushthafa Ahmad al-Zarqa’. Prinsip yang sama dikemukakan dalam kaidah sebagai berikut: “Tidak dapat diingkari adanya perubahan karena berubahnya waktu (zaman)”. Apabila pertentangan ‘urf dengan nash khusus menyebabkan tidak berfungsinya hukum yang dikandung nash. maka ‘urf tidak dapat diterima. Dari prinsip ini. Misalnya. dengan syarat tidak ada indikator yang menunjukkan bahwa nash umum itu tidak dapat dikhususkan oleh ‘urf. Pertentangan ‘urf dengan nash yang bersifat khusus/rinci. ‘Urf seperti ini tidak berlaku dan tidak dapat diterima. sehingga mereka mendapat warisan apabila ayah angkatnya wafat. maka harus dibedakan antara ‘urf al-lafzhi dengan ‘urf al-‘amali. tempat keadaan. maka ‘urf itu bisa diterima. dan inilah pendapat yang shohih karena kalau dalam sebuah negeri terdapat ‘urf tertentu maka akad dan mu’amalah yang terjadi padanya akan mengikuti ‘urf tersebut. Pertentangan ‘urf dengan nash yang bersifat umum. Pertentangan Urf dengan dalil Syara’ ‘Urf yang berlaku di tengah-tengah masyarakat adakalanya bertentangan dengan nash (ayat atau hadits) dan adakalanya bertentangan dengan dalil syara’ lainnya. kata-kata shalat. haji. Dalam persoalan pertentangan ‘urf dengan nash. dan jual beli. memperhatikan waktu dan tempat masyarakat yang akan diberi beban hukum sangat penting. Jumhur ulama tidak membolehkan ’Urf Khosh. . apabila ‘urf telah ada ketika datangnya nash yang bersifat umum.

Akan tetapi. maka hukumnya pun berubah.R. dalam sebuah riwayat Rasulullah saw. Termasuk dalam larangan dalam larangan ini adalah akad istitsna’ (akad yang berkaitan dengan produk suatu industri). maka ‘urf tersebut dapat mengkhususkan hokum nash yang umum. sedangkan ‘urf tidak bisa me-naskh-kan nash.: Nabi melarang menjual sesuatu yang tidak dimiliki manusia dan memberi keringanan dalam jual beli pesanan (H. hanya sebatas al-‘urf al-‘amali yang berlaku.Apabila ‘urf yang ada ketika datangnya nash yang bersifat umum itu adalah ‘urf al‘amali. maka ijtihad para ahli fiqh-termasuk Jumhur Ulama-membolehkannya sesuai dengan ‘urf yang berlaku. maka terdapat perbedaan pendapat ulama tentang kehujjahannya. hukumnya pum berubah. ‘Urf yang terbentuk belakangan dari nash umum yang bertentangan dangan ‘ urf Apabila suatu ‘urf terbentuk setelah datangnya nash yang bersifat umum dan antara keduanya terjadi pertentangan. dalam arit turunnya nash didasarkan atas ‘urf al-amali-sekalipun ‘urf itu baru tercipta-maka ketika ‘illat nash itu hilang. Dengan demkian. di luar itu nash yang bersifat umum tersebut tetap berlaku. bersifat umum dan berlaku untuk seluruh bentuk jual beli yang barangnya belum ada. baik yang bersifat lafzhi (ucapan) maupun yang bersifat ‘amali (praktik). karena pengkhususan nash tersebut tidak membuat nash itu tidak dapat diamalkan. maka diamnya itu menunjukkan kerelaannya. karena sudah tersebut. menurut ulama Hanafi. Akan tetapi. karena akad istitsna’ ini telah menjadi ‘urf dalam masyarakat di berbagai daerah. apabila ayah anak perawan itu mengatakan. Misalnya. .tidak dapat dijadikan dalil dalam menetapkan hukum syara’. Dalam masalah ini para ulama fiqh mengatakan. apabila ‘urf al-‘amali itu bersifat umum. maka seluruh ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa ‘urf seperti ini. apabila ‘illat suatu nash syara’ adalah ‘urf itu sendiri. menurut Abu Yusuf. al. seakan-akan ‘urf itu me-naskh-kan (membatalkan) nash. Pendapat ini dikemukakan Abu Yusuf. Artinya. dalam sebuah hadist dikatakan bahwa tanda-tanda kerelaan anak perawan ketika diminta izinnya untuk dikawinkan oleh wali adalah diamnya. Menurut ulama Hanafiyyah. sekalipun ‘urf itu bersifat umum. Apabila ada ‘urf yang datang setelah ada nash umum dan ‘urf itu bertentangan dengan nash tersebut. Pengkhususan itu. Imam al-Qarafi berpendapat bahwa ‘urf seperti ini tidak dapat mengkhususkan hukum umum yang dikandung nash tersebut. apabila ‘urf yang menjadi ‘illat hukum yang terkandung nash itu berubah. kecuali dalam jual beli pesanan. “Saya akan menikahkan engkau dengan Fulan. 3. karena keberadaan ‘urf ini muncul ketika nash syara’ telah menentukan hukum secara umum.” Akan tetapi.” lalu anak itu diam saja. “ ‘Urf yang datang kemudian dari nash tidak bisa dijadikan patokan. Misalnya.Bukhari dan Abu Daud) Hadits Rasulullah ini.

karena qiyas dan mashlahah al-mursalah bukanlah nash. Akan tetapi. sebagaimana yang dikemukakan Mushthafa ahmad al-Zarqa. karena jual beli seprti ini telah menjadi ‘urf di kalangan masyarakat petani di zaman mereka. tidak dapat lagi diamnya itu diartikan sebagai persetujuan. Dalam hal ini. . dan terong) belum utuh.” Penguatan ‘urf dari qiyas bagi kalangan Hanafiyyah dan Malikiyyah adalah melalui metode istihsan. maka dalam kasus seperti ini terdapat perbedaan pendapat. dan terong. dan mashlahah al-mursalah. Oleh karena itu. ulama Syafi‘iyah dan Hanabilah berpendapat jual beli ini tidak sah. Akan tetapi. menurut ulama Malikiyyah juga sangat dipengaruhi oleh ‘urf. ‘urf para anak gadis saat ini telah berubah. Ulama Syafi‘iyyah dan Hanabilah. Dengan demikian. sekalipun secara prinsip mereka lebih mendahulukan ‘urf dari qiyas apabila terdapat pertentangan antara keduanya. Ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah berpendapat bahwa apabila terjadi pertentangan antara ‘urf dengan qiyas. yang tidak didukung oleh nash secara khusus. secara prinsip juga mendahulukan ‘urf dari qiyas dan mashlahah almursalah. anggur. jual beli seperti ini diperbolehkan. karena objek yang diperjualbelikan (semangka. menurut ulama Malikiyyah dan Hanafiyyah. karena kemaslahatan itu sendiri berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.menjadi tabiat wanita yang suka merasa malu untuk menyatakan kehendak mereka secara terus terang. ‘urf gadis remaja dalam masalah persetujuan yang menyangkut perkawinan mereka telah berubah dari yang tercantum dalam hadist diatas. Perbedaan penerapan ini dapat dilihat dalam kasus menjual buah-buahan yang masih ada di pohonnya. Akan tetapi. sedangkan sebagian lainnya belum muncul. seperti buah semangka. Perubahan ini disebabkan berubahnya ‘urf. apabila diminta izinnya lalu ia diam saja. Jumhur Ulama tidak sependapat dengan Abu Yusuf. anggur. maka hukumnya pun harus berubah. karena menganggap “’urf menempati posisi ijima‘ ketika nash tidak ada. Sang ayah harus menunggu keterusterangan dari anak perawannya ketika akan dinikahkan. istihsan. sebagian buah telah muncul. Menurut Mushthafa Ahmad al-Zarqa. Sesuai dengan kaidah qiyas jual beli ini tidak dibolehkan. sesuai dengan perkembangan zaman. para wanita tidak malu-malu lagi untuk menyatakan kehendaknya untuk kawin dengan seseorang kepada ayahnya. maka yang diambil adalah ‘urf. Sedangkan mendahulukan ‘urf dari mashlahah al-mursalah. tetapi dalam penerapannya terjadi beberapa perbedaan dengan pendapat ulama Hanafiyyah danMalikiyyah. jual beli seperti ini sudah berlangsung di kalangan petani dan telah menjadi ‘urf di kalangan mereka. Akan tetapi. Apabila terdapat pertentangan antara ‘urf dengan hasil ijtihad melalui metode qiyas. untuk menikahkan anak perawan.

Muhammad Baltaji (guru besar syariat Islam di Universitas Kairo. karena ulama Syafi‘iyyah dan Hanabilah tidak menerima kehujjahan istihsan. Adapun hukum-hukum yang bersifat mendasar dan ditetapkan dengan dalil qath’i. Fatwanya ini berdasarkan penelitian dan pengalaman pribadinya setelah mengamati ‘urf yang berlaku di daerah-daerah yang dikunjunginya. zakat. terdapat banyak ketentuan hokum yang didasarkan kepada ‘urf. maka dengan sendirinya mereka lebih mendahulukan ‘urf dari istihsan. tetapi ulama Syafi’iyah dan Hanabilah tidak demikian. istihsan. Bahkan dalam pertentangan ‘urf dengan metode ijtihad lainnya. . Ungkapan ulama bahwa perubahan hukum bisa yterjadi berdasarkan perubahan zaman dan tempat hanya berlaku dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan adat istiadat. Menurut kaidah qiyas. bahkan fatwanya berbeda dengan dengan fatwanya ketika di Hijaz dan Irak. Di kalangan Hanabilah. Mesir) mengatakan bahwa tatkala Imam syafi’i berada di Mesir dan setelah mengamati ‘urf yang berlaku di sana. sekalipun kuantitas penerimaannnya berbeda. banyak sekali mengeluarkan fatwa yang bersdasarkan ‘urf. tidak berubah karena perubahan tempat dan zaman seperti hukum shalat. Imam syafi’i juga meningggalkan qiyas dalam masalah kehamilan maksimal seorang wanita. dan maslahah al-mursalah. kehamilan itu adalah Sembilan bulan. jihad. menurut qiyas (kaisah umum) jual beli seperti ini tidak sah karena buah yang dijual tidak jelas jumlahnya. Oleh sebab itu menurut Muhammad Baltaji dan Musthafa Ahmad al-Zarqa’. kebiasaan manusia dan hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan ijtihad seperti qiyas. Akan tetapi karena jual beli ini telah menjadi ‘urf di masyarakat.Sedangkan dalam pertentangan ‘urf dengan istihsan. para ulama madzab juga menerima ‘urf. hali itu telah menjadi kebiasaan para wanita pada umumnya. tempat. belum matang seluruhnya. Akan tetapi Imam Syafi’i berpendapat bahwa masa kehamilan maksimal seorang wanita itu selama empat tahun. bahkan Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah (ahli ushul fiqh Hanbali) mengatakan bahwa : Suatu fatwa bisa berubah karena perubahan zaman. Oleh sebab itu tidak mengherankan bila Imam Syafi’i banyak mengubah fatwanya yang dikenal dengan qaul qadim dan qaul jaded ( pendapat lama dan pemdapat baru) Imam Syafi’i. dan belum dipetik. Ulama Hanafiyah dan Malikiyyah menerapkan konsep ‘urf secara luas. lingkungan. maka para ulama madzab sepakat mengatakan jual beli ini boleh. niat dan kebiasaan manusia. Dasar dari ungkapan ini adalah ‘urf yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. dan haramnya riba. seluruh ulama madzab menjadikan ‘urf sebagai dalil dalam menetapkan hukum ketika nash yang menentukan hukum tersebut tidak ada.Misalnya dalam masalah menjual buah-buahan di pohon sebelum seluruhnya matang.