P. 1
preskas fistelsaekumvesika

preskas fistelsaekumvesika

|Views: 122|Likes:
Published by olohok_ngacai

More info:

Published by: olohok_ngacai on Jun 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2012

pdf

text

original

BAB I ILUSTRASI KASUS

1.1 IDENTITAS

Nama No. RM Usia Jenis Kelamin Agama Alamat Pekerjaan Tanggal Masuk Ruang Pemeriksaan
1.2. ANAMNESIS

: Tn. S : 812334 : 46 th : laki-laki : Islam : jl.Sarbini I no 19 : Pegawai negri sipil : 9 Maret 2011 : Vip 1 mawar

A. Keluhan Utama

: Keluar sisa makanan dari kemaluan 1 minggu SMRS

B. Keluhan Tambahan : ada benjolan di perut kanan bawah Riwayat Penyakit Sekarang : 1 minggu SMRS pasien mengeluhkan nyeri saat bak yang disertai dengan keluarnya sisa makanan melalui kamaluan saat BAK, sebelumnya BAK dan BAB pasien setelah operasi ESWL baik-baik saja namun seminggu setelah operasi tiba-tiba pasien merasakan nyeri saat BAK dikarenakan keluarnya sisa makanan melalui kemaluannya.pasien juga mengeluhkan adanya benjolan di perut kanan bawah sebesar telur bebek angsa ,benjolan tidak tampak kemerahan, tidak nyeri saat di tekan dan dapat digerakkan .Awalnya pasien tidak mengetahui adanya benjolan di perut kanan bawah, pasien mengetahui adanya bejolan 3 minggu SMRS saat pemeriksaan BNO IVP untuk persiapan operasi batu ginjal. Pasien mengeluhkan berat badan turun drastis,pasien tidak mengeluhkan adanya demam,BAB berdarah(-) BAK berdarah (-)

1

C. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Hipertensi Riwayat Stroke Riwayat batu ginjal Riwayat Kencing manis Riwayat Jantung Riwayat minum alkohol Riwayat Stroke Riwayat Kencing manis Riwayat Jantung Riwayat Hipertensi

: :::+ :::: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga :

1.3. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : Sedang, tampak kesakitan, Kooperatif Kesadaran Vital Sign : Compos Mentis : Tekanan Darah : 120/80 mmHg, isi cukup,regular, equal. Frekuensi Nadi : 84 x/menit Frekuensi Napas : 20 x/menit Suhu : 36,50 c

STATUS GENERALIS Kulit : warna kulit sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor cukup, hiperpigmentasi (-), kulit kendur (-). Kepala Muka Mata : simetris, normochepal, distribusi rambut merata, warna hitam : simetris, tidak ada jejas dan bekas luka. : Alis hitam distribusi merata, ptosis sinistra(+), edem palpebra (-), exopthalmus (-), pupil bulat isokor, conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung+/+, arcus senilis -/-, katarak-/Hidung : deviasi septum(-), discharge (-)

‡

2

-

Mulut

: : Bibir tidak cyanosis, tidak kering, mukosa mulut

&

palatum

tidak hiperemis, lidah tidak tremor, deviasi lidah (-), faring tidak hiperemis, uvula tepat ditengah, tonsil T1T1 tenang Gigi Telinga : gigi lengkap, caries (-) : Normotia, nyeri tekan tragus (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tarik (-), serumen (-), membran tympani intak. Hidung :Deviasi septum (-), nafas cuping hidung (-), cavum nasi lapang, mukosa tidak hiperemis, concha tidak oedem, sekret (-) Pemeriksaan Leher : Inspeksi Palpasi : Trachea di tengah : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe.

Pemeriksaan Thorax Jantung : : Ictus cordis tak tampak : Ictus cordis teraba pada ICS V LMC sinistra : Batas atas Batas kanan Batas kiri : ICS III LPS sinistra : ICS IV LPS dextra : ICS V LMC sinistra

y Inspeksi y Palpasi y Perkusi

y Auskultasi : Bunyi jantung I/II Reguler Normal, Gallop (-),

Murmur(-). Paru :
y Inspeksi

: dinding dada asimetris pada saat statis , bentuk dada dewasa normal, Retraksi tidak ada, ketinggalan gerak tidak ada.

y Palpasi

: asimetris, vokal fremitus kanan = kiri ketinggalan gerak tidak ada, jarak intercosta normal.

y Perkusi

: Sonor kedua lapang paru, batas paru hepar pada SIC VI

dextra
y Auskultasi : suara dasar : vesikuler normal, suara tambahan : tidak ada

3

-

Pemeri

E remi

:

Superi r

: kanan : udem (-), tremor (-), kekuatan motorik 5 kiri : udem (-),tremor (-), kekuatan motorik 5

Inferior

: kanan : udem (-),tremor (-), kekuatan motorik 5 kiri : udem (-),tremor (-), kekuatan motorik 5

T T b

LO

L

men Inspeksi : Perut kanan membuncit, darm countor tidak ada, darm steifung tidak ada, venektasi tidak ada, sikatrik tidak ada skul si : Bising usus (+) normal Palpasi : teraba massa sebesar telur bebek angsa berbatas tegas dengan ukuran diameter sekitar 10-15 cm dengan konsistensi keras,

mobile, permukaan rata tidak berbenjol-benjol, NT (-) Perkusi T : redup di daerah massa : TSA baik, ampula tidak kolaps, NT (-) jam 9-11 mukosa licin, massa (-), kelenjar prostat tidak membesar. T : Feses (-), darah (-), lendir (-)

4

1.4 . PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Darah Rutin (24 Mei 2011, RS Persaha atan) : 21.560 /mm3 Eritrosit 4,83 juta /ul Hemoglobin 9,1 g/dl Trombosit 459 ribu/mm3

Leukosit

Hematokrit 29 % Bt/Ct : 2¶/7¶ Elektrolit : Na : 120 K : 4,17 Cl : 134

Ureum/kreatini:31/0.8

2. CT Scan A domen Kesan : y Massa dikanan abdomen bawah ,proyeksi ileosaekal berukuran 11,34 x 3,28 cm y Yang menyangat hetrogen pasca pemberian kontras disertai fistel dengan buli y Nefrolithiasis kiri multiple dan uretrolithiasis proksimal kiri Kalsifikasi hepar 1.5. RESUME Anamnesis:
y y

pasien laki-laki 46 tahun nyeri pada saat Bak yang disertai keluarnya sisa makanan melalui lubang kemaluan sejak 1 minggu SMRS

y

ada benjolan di perut kanan bawah sebesar telur bebek angsa yang baru diketahui sejak 3 minggu SMRS.

y y

Keluhan lain yang dirasakan oleh pasien adalah berat badan turun drastis. Riwayat operasi batu ginjal

Pemeriksaan fisik: Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign Status Generalis : Sedang, tampak sedikit kesakitan, Kooperatif : Compos Mentis : Dalam batas normal : Dalam batas normal

5

Status Lokalis A domen Inspeksi

:

: Perut kanan membuncit, darm countor tidak ada, darm steifung tidak ada, venektasi tidak ada, sikatrik tidak ada

Auskultasi : Bising usus (+) normal Palpasi : teraba massa sebesar telur bebek angsa berbatas tegas dengan ukuran diameter sekitar 10-15 cm dengan konsistensi keras,

mobile, permukaan rata tidak berbenjol-benjol, NT (-) Perkusi RT : redup di daerah massa : TSA baik, ampula tidak kolaps, NT (-) jam 9-11 mukosa licin, massa (-), kelenjar prostat tidak membesar. ST : Feses (-), darah (-), lendir (-)

1.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG: Leukositosis : 21.560 ribu/mm3 Hemoglobin : 9,1 g/dl

CT Scan Kesan : y Massa dikanan abdomen bawah ,proyeksi ileosaekal berukuran 11,34 x 3,28 cm
y y

Yang menyangat hetrogen pasca pemberian kontras disertai fistel dengan buli Nefrolithiasis kiri multiple dan uretrolithiasis proksimal kiri Kalsifikasi hepar

1.7

DIAGN SIS KERJA Tumor Saekum dengan fistel saekumvesika

1.8

DIAGN SIS BANDING

1.9.

PENATALAKSANAAN Pro Pembedahan ‡ Operasi : Laparotomi explorasi dengan debulking massa tumor dan pro Hemikolektomi kanan dengan partial cystotomi

6

± Puasa ± Sedia FFP dan PRC 500cc ± Infus RL 20 tetes permenit ± Injeksi Ceftriaxon 1 x 2 g ± Vit K 2 x1 amp ± Vit C 1x 5 amp ± Transamin 3x 500 mg ± SIO ± Konsul Anestesi Laporan operasi
y Pasien telentang dlm anestesi Umum y A dan antisepsis daerah operasi dan sekitar y Dilakukan insisi mediana menembus kutis, subkutis dan fascia y Peritoneum dibuka dilakukan explorasi y Massa di temukan di saekum berdiameter 15 cm, massa menempel ke vesica,

dinding posterior abdomen dan sigmoid
y Dilakukan debulking massa tumor lalu dilakukan hemikolektomi dextra. y Explorasi hepar licin rongga abdomen di cuci hingga bersih y Luka operasi ditutup lapis demi lapis dengan meninggalkan drain ke pelvis

deextra dan vesika .
y Setelah bedah digestiv selesai operasi dilanjutkan bedah urologi y Dinding fistel pada buli di eksisi kemudian dilakukan repair dinding fistel

dijahit dengan vicryl test tidak bocor.
y Luka operasi ditutup lapis demi lapis. y Operasi selesai

7

Instruksi post operasi ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Rawat ICU Awasi kesadaranTekanan darah, nadi, suhu, pernafasan Puasa ,alirkan NGT IVFD Kabiven 1000cc /24 jam Transfusi PRC 500 cc FFP 300cc/hari selama 3 hari Albumin 20% 100 cc Ceftriaxon 1x 2 gr iv Metronidazol 3 x 500 mg Rantin 2 x 1 amp iv Vit K 2x1 amp Vit C 1x 5 amp Transamin 3 x 500 mg Kirim jaringan ke PA Cek DPL.Elek,U/C SGOT/PT

Diagnosa Post Operasi Tumor saekum dengan fistel saekumvesika

8

Follow Up Tanggal S 26/05/2011 (13:00) Mual (+),muntah(-) flatus(-) Demam (-) nyeri tempat operasi (+) KU : CM VS : TD: 100/70, N:94x/m, RR : 20/mnt, suhu : 36 C Kepala : Normocephal Mata : CA -/-, SI-/THT : TAK Thorax : gerak napas simetris saat statis & dinamis Paru : vesiculer +/+, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-) Jantung : BJ I&II reguler, Gallop(-), Murmur(-) Abdomen : datar,BU(-) Defans (-) luka postop rembes (- ) Laparotomi explorasi dengan debulking massa tumor dan pro Hemikolektomi kanan dengan partial cystotomi Awasi Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Puasa ,alirkan NGT IVFD Kabiven 1000cc /24 jam Transfusi PRC 500 cc FFP 300cc/hari selama 3 hari Albumin 20% 100 cc Ceftriaxon 1x 2 gr iv Metronidazol 3 x 500 mg Rantin 2 x 1 amp iv Vit K 2x1 amp Vit C 1x 5 amp Transamin 3 x 500 mg ‡ ‡ ‡ ‡ 27/05/2011 Nyeri pada luka post op (-), Demam(-),mengigil (+) kembung (+) KU : CM VS : TD: 100/60, N:100x/m, RR : 25/mnt, suhu : 37,4 Kepala : Normocephal Mata : CA -/-, SI-/THT : TAK Thorax : gerak napas simetris saat statis & dinamis Paru : vesiculer +/+, Ronkhi (/-), Wheezing (-/-) Jantung : BJ I&II reguler, Gallop(-), Murmur(-) Abdomen : datar, lemas,BU (+) lemah,NT(-) Laparotomi explorasi dengan debulking massa tumor dan pro Hemikolektomi kanan dengan partial cystotomi Awasi Tekanan darah, suhu, pernafasan ‡ ‡ Puasa ,alirkan NGT IVFD Kabiven 1000cc /24 jam Transfusi PRC 500 cc FFP 300cc/hari selama 3 hari Albumin 20% 100 cc Pertahankan folly cateter nadi,

O

A

P

9

1.10

PR GN SIS 5 years survival : 60%

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN
Kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga jenis kanker yang paling sering terjadi di dunia. Di seluruh dunia 9,5 persen pria penderita kanker terkena kanker kolorektal, sedangkan pada wanita angkanya mencapai 9,3 persen dari total jumlah penderita kanker.1 Eropa sebagai salah satu negara maju dengan angka insiden kanker kolorektal yang tinggi. Pada tahun 2004 terdapat 2.886.800 insiden dan 1.711.000 kematian karena kanker, kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada angka insiden dan mortalitas.2 Insidens kanker kolorektal di Indonesia cukup tinggi, demikian juga angka kematiannya.3 Pada tahun 2002 kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada kasus kanker yang terdapat pada pria, sedangkan pada wanita kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga dari semua kasus kanker.4 Meskipun belum ada data yang pasti, tetapi dari berbagai laporan di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus, data dari Depkes didapati angka 1,8 per 100.000 penduduk.5 Pada kebanyakan kasus kanker, terdapat variasi geografik pada insiden yang ditemukan, yang mencerminkan perbedaan sosial ekonomi dan kepadatan penduduk, terutama antara negara maju dan berkembang.6 Demikian pula antara Negara Barat dan Indonesia, terdapat perbedaan pada frekuensi kanker kolorektal yang ditemukan. Di Indonesia frekuensi kanker kolorektal yang ditemukan sebanding antara pria dan wanita; banyak terdapat pada seseorang yang berusia muda; dan sekitar 75% dari kanker ditemukan pada kolon rektosigmoid, sedangkan di Negara Barat frekuensi kanker kolorektal yang ditemukan pada pria lebih besar daripada wanita; banyak terdapat pada seseorang yang berusia lanjut; dan dari kanker yang ditemukan hanya sekitar 50% yang berada pada kolon rektosigmoid.3 Letak kanker kolorektal paling sering terdapat pada kolon rektosigmoid.3 Keluhan pasien karena kanker kolorektal tergantung pada besar dan lokasi dari tumor. Keluhan dari lesi yang berada pada kolon kanan dapat berupa perasaan penuh di

11

abdominal, symptomatic anemia dan perdarahan, sedangkan keluhan yang berasal dari lesi pada kolon kiri dapat berupa perubahan pada pola defekasi, perdarahan, konstipasi sampai obstruksi.2

Gambaran histologi merupakan faktor penting dalam hal penanganan dan prognosis dari kanker.7 Gambaran histopatologis yang paling sering dijumpai adalah tipe adenocarcinoma (90-95%), adenocarcinoma mucinous (17%), signet ring cell carcinoma (2-4%), dan sarcoma (0,1-3%).7,8 Prof. K.L. Goh dari departement of medicine University of Malaysia mengatakan bahwa masyarakat di Asia telah mengikuti pola penyakit gastrointestinal yang muncul pada masyarakat di negara Barat beberapa dekade yang lalu, hal ini dikarenakan adanya perubahan pada kondisi sosial ekonomi. Perubahan sosial ekonomi tersebut membawa dua dampak yaitu perubahan gaya hidup dari masyarakat serta peningkatan usia harapan hidup akibat kemajuan pembangunan.9 Perubahan gaya hidup yang diasosiasikan dengan masalah kesehatan adalah diet, merokok, gaya hidup yang sedentari serta obesitas. Peningkatan usia harapan hidup yang ada beserta populasi Indonesia yang menduduki peringkat 4 dunia akan menjadikan Indonesia pada tahun 1990-2025 akan mempunyai jumlah usia lanjut paling tinggi di dunia.10 Jika dilihat dari sudut pandang epidemiologi ada 2 faktor yang menyebabkan suatu penyakit menjadi suatu masalah kesehatan yang penting. Yang pertama adalah frekuensi, ini berkaitan dengan tingginya insiden atau prevalensi, termasuk penyakit yang potensial akan meninggi dalam tingkat insidensi. Adanya faktor- faktor gaya hidup dan populasi diatas memungkinkan kanker kolorektal dimasa yang akan datang potensial meninggi dalam hal insidensi. Yang kedua adalah derajat keparahan atau tingginya mortalitas. Dari data didapatkan 50 persen penderita kanker kolorektal meninggal dikarenakan penyakit ini.1 Hal ini disebabkan karena pada stadium awal seringkali tidak menunjukkan gejala, sehingga pasien baru datang setelah ada gejala yang biasanya sudah pada stadium akhir, yang menyebabkan penanganan kuratif sudah tidak dapat dilakukan lagi

12

BAB II ISI ANAT MI

Usus besar merupakan bidang perluasan dari ileocecal ke anus. Usus besar terdiri dari cecum, colon, rectum, dan lubang anus. Selama dalam colon, chyme diubah menjadi feces. Penyerapan air dan garam, pengsekresian mucus dan aktivitas dari mikroorganisme yang termasuk dalam pembentukan feces, dimana colon menyimpan sampai feces dikeluarkan melalui proses defekasi. Kira-kira 1500 ml dari chyme masuk ke cecum setiap hari, tapi lebih dari 90% dari volume direabsorbsi dan hanya tertinggal 80-150 ml dari feces yang dikeluarkan secara normal melalui defakasi. Cecum merupakan tempat bertemunya usus halus dan usus besar pada ileocecal. Cecum panjangnya kira-kira 6 cm mulai dari ileocecal membentuk kantung tersembunyi. Berdekatan dengan cecum adalah saluran tersembunyi yang kecil kira-kira

13

panjangnya 9 cm disebut appendix (umbai cacing). Dinding dari appendix terdiri beberapa nodul limpatik. Colon kira-kira panjangnya 1,5-1,8 m dan terdiri dari 4 bagian, yaitu colon ascending, colon transversal, colon descending dan colon sigmoid. Colon ascending membujur dari cecum dan berakhir pada fleksur kolik kanan (fleksur hepatik) dekat pinggir bawah kanan dari hati. Colon transversal membentang dari fleksur kolik kanan ke fleksur kolik kiri (fleksur limpa), dan colon descending membentang dari fleksur kolik kiri ke pembukaan atas dari pelvis yang sebenarnya, dimana tempat tersebut menjadi colon sigmoid. Colon sigmoid membentuk saluran S yang membentang sampai pelvis dan berakhir di rectum. Lapisan otot cirkular dari colon lengkap, tapi lapisan otot longitudinal tidak lengkap. Lapisan longitudinal tidak membungkus seluruh dinding usus tapi membentuk tiga berkas otot, yaitu taniae coli, yang terdapat di sepanjang colon. Kontraksi dari tanie coli menyebabkan suatu kantung yang disebut haustra yang terbentuk di sepanjang colon terlihat seperti sebuah lukukan. Jaringan ikat yang berrukuran kecil dan berisi lemak disebut epiploik appendage yang melekat di sepanjang permukaan kolon bagian luar. seperti terlihat pada gambar. Barisan mukosal dari usus besar terdiri dari epitel lajur sederhana. Epitel ini tidak membentuk suatu lipatan-lipatan atau vili seperti pada usus halus tapi memiliki sejumlah kelenjar tubuler yang disebut crypts. Crypts mirip dengan kelenjar usus yang ada di usus halus, dengan tiga jenis sel yang termasuk sel absropsi, sel goblet dan sel granular. Perbedaan utama adalah pada sel goblet usus besar menonjol dan dua jenis sel lain jumlahnya berkurang banyak.

Rektum itu lurus, pipa berotot yang berawal dari pangkal sigmoid kolon dan berakhir pada lubang anus. Deretan membran selaput lendir adalah epitelium lajur yang

14

sederhana,

dan

berlapis

otot

yang

relatif

tebal

dibandingkan

waktu

alat

pencernaan.beristirahat Bagian terakhir dari alat pencernaan yang panjangnya 2-3 cm adalah lubang anus. Lubang anus berawal dari pangkal rektum dan berakhir pada anus. Lapisan otot halus dari lubang anus lebih tebal daripada rektum dan berbentuk internal anal spincter bagian ujung atas dari lubang anus. Otot rangka membentuk external anal spincter pada bagian ujung bawah dari lubang anus. Jaringan Epitel pada bagian atas dari lubang anus adalah lajur yang sederhana dan yang di bagian bawah tersusun squamous. 11

VASKULARISASI Pendarahan dari colon diatur oleh : Arteri Mesenterika Superior ±> yang mempendarahi colon ascenden, sebagian colon transversum, dan caecum.

15

Arteri Mesenterika Inferior ±> yang mempendarahi colon descenden, sigmoid, dan proksimal rectum.

Antara ke-2 sistem pendarahan colon tersebut dihubungkan dengan Arteri Marginalis. Aliran vena dan limfe colon mengikuti aliran darah arteri yang disalurkan ke dalam V.Mesenterika Superior dan V. Mesenterika Inferior. 12

HISTOLOGI
Mukosa usus besar terdiri dari epitel selapis silindris dengan sel goblet dan kelenjar dengan banyak sel goblet, pada lapisan submukosa tidak mempunyai kelenjar. Otot bagian sebelah dalam sirkuler dan sebelah luar longitudinal yang terkumpul pada tiga tempat membentuk taenia koli. Lapisan serosa membentuk tonjolan tonjolan kecil

16

yang sering terisi lemak yang disebut appendices epiploicae. Didalam mukosa dan submukosa banyak terdapat kelenjar limfa, terdapat lipatan-lipatan yaitu plica semilunaris dimana kecuali lapisan mukosa dan lapisan submukosa ikut pula lapisan otot sirkuler. Diantara dua plica semilunares terdapat saku yang disebut haustra coli, yang mungkin disebabkan oleh adanya taenia coli atau kontraksi otot sirkuler. Letak haustra in vivo dapat berpindah pindah atau menghilang. 16

Crypts dari Lieberkühn - (kelenjar usus, usus crypt) Longitudinal | Transverse

17

FISI L GI
Fungsi utama kolon adalah (1) absorbsi air dan elektrolit dari kimus untuk membentuk feses yang padat dan (2) penimbunan bahan feses sampai dapat dikeluarkan. Setengah bagian proksimal kolon berhubungan dengan absorbsi dan setengah distal kolon berhubungan dengan penyimpanan. Karena sebagai 2 fungsi tersebut gerakan kolon sangat lambat. Tapi gerakannya masih seperti usus halus yang dibagi menjadi gerakan mencampur dan mendorong.

Gerakan Mencampur ³Haustrasi´. Gerakan segmentasi dengan konstriksi sirkular yang besar pada kolon, 2.5 cm

otot sirkular akan berkontraksi, kadang menyempitkan lumen hampir tersumbat. Saat yang sama, otot longitudinal kolon (taenia koli) akan berkontraksi. Kontraksi gabungan tadi menyebabkan bagian usus yang tidak terangsang menonjol keluar (haustrasi). Setiap haustrasi mencapai intensitas puncak dalam waktu 30 detik, kemudian

menghilang 60 detik berikutnya, kadang juga lambat terutama sekum dan kolon asendens sehingga sedikit isi hasil dari dorongan ke depan. Oleh karena itu bahan feses dalam usus besar secara lambat diaduk dan dicampur sehingga bahan feses secara bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar, dan cairan serta zat terlarut secara progresif diabsorbsi hingga terdapat 80-200 ml feses yang dikeluarkan tiap hari.

18

Gerakan Mendorong ³Pergerakan Massa´. Banyak dorongan dalam sekum dan kolon asendens dari kontraksi haustra yang lambat tapi persisten, kimus saat itu sudah dalam keadaan lumpur setengah padat. Dari sekum sampai sigmoid, pergerakan massa mengambil alih peran pendorongan untuk beberapa menit menjadi satu waktu, kebanyakan 1-3 x/hari gerakan. Selain itu, kolon mempunyai kripta lieberkuhn tapi tidak ber-vili. menghasilkan mucus (sel epitelnya jarang mengandung enzim). Mucus mengandung ion bikarbonat yang diatur oleh rangsangan taktil , langsung dari sel epitel dan oleh refleks saraf setempat terhadap sel mucus Krista lieberkuhn. Rangsangan n. pelvikus dari medulla spinalis yang membawa persarafan parasimpatis ke separuh sampai dua pertiga bagian distal kolon. Mucus juga berperan dalam melindungi dinding kolon terhadap ekskoriasi, tapi selain itu menyediakan media yang lengket untuk saling melekatkan bahan feses. Lebih lanjut, mucus melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang berlangsung dalam feses, ion bikarbonat yang disekresi ditukar dengan ion klorida sehingga menyediakan ion bikarbonat alkalis yang menetralkan asam dalam feses. Mengenai ekskresi cairan, sedikit cairan yang dikeluarkan melalui feses (100 ml/hari). Jumlah ini dapat meningkat sampai beberapa liter sehari pada pasien diare berat

Absorpsi dalam Usus Besar Sekitar 1500 ml kimus secara normal melewati katup ileosekal, sebagian besar air dan elektrolit di dalam kimus diabsorbsi di dalam kolon dan sekitar 100 ml diekskresikan bersama feses. Sebagian besar absorpsi di pertengahan kolon proksimal (kolon pengabsorpsi), sedang bagian distal sebagai tempat penyimpanan feses sampai akhirnya dikeluarkan pada waktu yang tepat (kolon penyimpanan)

Absorbsi dan Sekresi Elektrolit dan Air. Mukosa usus besar mirip seperti usus halus, mempunyai kemampuan absorpsi aktif natrium yang tinggi dan klorida juga ikut terabsorpsi. Ditambah taut epitel di usus besar lebih erat dibanding usus halus sehingga mencegah difusi kembali ion tersebut, apalagi ketika aldosteron teraktivasi. Absorbsi ion natrium dan ion klorida menciptakan gradien osmotic di sepanjang mukosa usus besar yang kemudian menyebabkan absorbsi air

19

Dalam waktu bersamaan usus besar juga menyekresikan ion bikarbonat (seperti penjelasan diatas) membantu menetralisir produk akhir asam dari kerja bakteri didalam usus besar.

Kemampuan Absorpsi Maksimal Usus Besar Usus besar dapat mengabsorbsi maksimal 5-8 L cairan dan elektrolit tiap hari sehingga bila jumlah cairan masuk ke katup ileosekal melebihi atau melalui sekresi usus besar melebihi jumlah ini akan terjadi diare.

Kerja Bakteri dalam kolon. Banyak bakteri, khususnya basil kolon, bahkan terdapat secara normal pada kolon pengabsorpsi. Bakteri ini mampu mencerna selulosa (berguna sebagai tambahan nutrisi), vitamin (K, B , tiamin, riboflavin, dan bermacam gas yang menyebabkan

flatus di dalam kolon, khususnya CO , H , CH )

Komposisi feses. Normalnya terdiri dari » air dan ¹» padatan (30% bakteri, 10-20% lemak, 10-20%

anorganik, 2-3% protein, 30% serat makan yang tak tercerna dan unsur kering dari pencernaan (pigmen empedu, sel epitel terlepas). Warna coklat dari feses disebabkan oleh sterkobilin dan urobilin yang berasal dari bilirubin yang merupakan hasil kerja bakteri. Apabila empedu tidak dapat masuk usus, warna tinja menjadi putih (tinja akolik). Asam organic yang terbantuk dari karbohidrat oleh bakteri merupakan penyebab tinja menjadi asam (pH 5.0-7.0). Bau feses disebabkan produk kerja bakteri (indol, merkaptan, skatol, hydrogen sulfide). Komposisi tinja relatif tidak terpengaruh oleh variasi dalam makanan karena sebagian besar fraksi massa feses bukan berasal dari makanan. Hal ini merupakan penyebab mengapa selama kelaparan jangka panjang tetap dikeluarkan feses dalam jumlah bermakna.

Defekasi Sebagian besar waktu, rectum tidak berisi feses, hal ini karena adanya sfingter yang lemah 20 cm dari anus pada perbatasan antara kolon sigmoid dan rectum serta sudut tajam yang menambah resistensi pengisian rectum. Bila terjadi pergerakan massa ke

20

rectum, kontraksi rectum dan relaksasi sfingter anus akan timbul keinginan defekasi. Pendorongan massa yang terus menerus akan dicegah oleh konstriksi tonik dari 1) sfingter ani interni; 2) sfingter ani eksternus

Refleks Defekasi. Keinginan berdefekasi muncul pertama kali saat tekanan rectum mencapai 18 mmHg dan apabila mencapai 55 mmHg, maka sfingter ani internus dan eksternus melemas dan isi feses terdorong keluar. Satu dari refleks defekasi adalah refleks intrinsic (diperantarai sistem saraf enteric dalam dinding rectum). Ketika feses masuk rectum, distensi dinding rectum menimbulkan sinyal aferen menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltic dalam kolon descendens, sigmoid, rectum, mendorong feses ke arah anus. Ketika gelombang peristaltic mendekati anus, sfingter ani interni direlaksasi oleh sinyal penghambat dari pleksus mienterikus dan sfingter ani eksterni dalam keadaan sadar berelaksasi secara volunter sehingga terjadi defekasi. Jadi sfingter melemas sewaktu rectum teregang Sebelum tekanan yang melemaskan sfingter ani eksternus tercapai, defekasi volunter dapat dicapai dengan secara volunter melemaskan sfingter eksternus dan

mengontraksikan otot-otot abdomen (mengejan). Dengan demikian defekasi merupakan suatu reflex spinal yang dengan sadar dapat dihambat dengan menjaga agar sfingter eksternus tetap berkontraksi atau melemaskan sfingter dan megontraksikan otot abdomen. Sebenarnya stimulus dari pleksus mienterikus masih lemah sebagai relfeks defekasi, sehingga diperlukan refleks lain, yaitu refleks defekasi parasimpatis (segmen sacral medulla spinalis). Bila ujung saraf dalam rectum terangsang, sinyal akan dihantarkan ke medulla spinalis, kemudian secara refleks kembali ke kolon descendens, sigmoid, rectum, dan anus melalui serabut parasimpatis n. pelvikus. Sinyal parasimpatis ini sangat memperkuat gelombang peristaltic dan merelaksasi sfingter ani internus. Sehingga mengubah refleks defekasi intrinsic menjadi proses defekasi yang kuat Sinyal defekasi masuk ke medula spinalis menimbulkan efek lain, seperti mengambil napas dalam, penutupan glottis, kontraksi otot dinding abdomen mendorong isi feses dari kolon turun ke bawah dan saat bersamaan dasar pelvis mengalami relaksasi dan menarik keluar cincin anus mengeluarkan feses. 13

21

DEFINISI
Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). 14

EPIDEMI L GI
Insidens kanker kolorektal di Indonesia cukup tinggi, demikian juga angka kematiannya.3 Pada tahun 2002 kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada kasus kanker yang terdapat pada pria, sedangkan pada wanita kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga dari semua kasus kanker.4 Meskipun belum ada data yang pasti, tetapi dari berbagai laporan di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus, data dari Depkes didapati angka 1,8 per 100.000 penduduk.5 Pada kebanyakan kasus kanker, terdapat variasi geografik pada insiden yang ditemukan, yang mencerminkan perbedaan sosial ekonomi dan kepadatan penduduk, terutama antara negara maju dan berkembang.6 Demikian pula antara Negara Barat dan Indonesia, terdapat perbedaan pada frekuensi kanker kolorektal yang ditemukan. Di Indonesia frekuensi kanker kolorektal yang ditemukan sebanding antara pria dan wanita; banyak terdapat pada seseorang yang berusia muda; dan sekitar 75% dari kanker ditemukan pada kolon rektosigmoid, sedangkan di Negara Barat frekuensi kanker kolorektal yang ditemukan pada pria lebih besar daripada wanita; banyak terdapat pada seseorang yang berusia lanjut; dan dari kanker yang ditemukan hanya sekitar 50% yang berada pada kolon rektosigmoid.3

PAT FISI L GI
Kanker kolon dan rektum terutama ( 95 % ) adenokarsinoma ( muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati ). Kanker kolorektal dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu : 1.Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih. 2.Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon

22

3.Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal. 4.Penyebaran secara transperitoneal 5.Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain. Prognosis relative baik bila lesi terbatas pada mukosa dan submukosa pada saat reseksi dilakukan, dan jauh lebih jelek bila telah terjadi metastase ke kelenjar limfe. 15

FAKT R RESIK
Berikut adalah faktor-faktor yang meningkatkan resiko seseorang terkena kanker kolon : 1. Usia. Resiko meningkat dengan bertambahnya usia. Kebanyakan kasus terjadi pada usia 60 ± 70 an, dan jarang di bawah usia 50 kecuali dalam sejarah keluarga ada yang terkena kanker kolon ini. 2. Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. Dengan dihilangkannya polip pada saat ditemukan turut mengurangi resiko terjadinya kanker kolon di kemudian hari. 3. Riwayat kanker. Seseorang yang pernah terdiagnosis mengidap atau pernah dirawat untuk kanker kolon beresiko untuk mengidap kanker kolon di kemudian hari. Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium (indung telur), kanker uterus, dan kanker payudara memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena kanker kolorektal. 4. Faktor keturunan : 5. Sejarah adanya kanker kolon khususnya pada keluarga dekat. 6. Penyakit FAP (Familial Adenomatous Polyposis) ± Polip adenomatosa familial (terjadi dalam keluarga); memiliki resiko 100% untuk terjadi kanker kolorektal sebelum usia 40 tahun, bila tidak diobati. 7. Penyakit lain dalam keluarga, seperti HNPCC (Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer) ± penyakit kanker kolorektal non polip yang menurun dalam keluarga, atau sindroma Lynch 8. Penyakit kolitis (radang kolon) ulseratif yang tidak diobati.

23

9. Kebiasaan merokok. Perokok memiliki resiko jauh lebih besar untuk terkena kanker kolorektal dibandingkan bukan perokok. 10. Kebiasaan makan. Pernah di teliti bahwa kebiasaan makan banyak daging dan sedikit buah, sayuran, serta ikan turut meningkatkan resiko terjadinya kanker kolorektal. 11. Sedikit beraktivitas. Orang yang beraktivitas fisik lebih banyak memiliki resiko lebih rendah untuk terbentuk kanker kolorektal. 12. Inveksi Virus. Virus tertentu seperti HPV (Human Papilloma Virus) turut andil dalam terjadinya kanker kolorektal. 14

GEJALA KLINIS
Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagi tiga, yaitu gejala lokal, gejala umum, dan gejala penyebaran (metastasis). Gejala lokalnya adalah : 1. Perubahan kebiasaan buang air 2. Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare) 3. Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal 4. Perubahan wujud fisik kotoran/feses 5. Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar 6. Feses bercampur lendir 7. Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas 8. Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor

24

9. Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita 10. Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara, dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll). Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas

penyebarannya Gejala umumnya adalah :
y

Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan)

y y y y

Hilangnya nafsu makan Anemia, pasien tampak pucat Sering merasa lelah Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang

Gejala penyebarannya adalah :
y y y y y

Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala : Penderita tampak kuning Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar lokasi hati Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter Timbul suatu gejala lain yang disebut paraneoplastik, berhubungan dengan peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker. 14

GAMBARAN HIST PAT L GI
Pada penelitian mengenai gambaran histologi kanker kolorektal dari tahun 19982001 di Amerika Serikat yang melibatkan 522.630 kasus kanker kolorektal. Didapatkan gambaran histopatologis dari kanker kolorektal sebesar 96% berupa adenocarcinoma, 2% karsinoma lainnya (termasuk karsinoid tumor), 0,4% epidermoid carcinoma, dan 0,08% berupa sarcoma. Proporsi dari epidermoid carcinoma, mucinous carcinoma dan carcinoid tumor banyak diketemukan pada wanita. Secara keseluruhan, didapatkan suatu pola hubungan antara tipe histopatologis, derajat differensiasi dan stadium dari kanker kolorektal. Adenocarcinoma sering ditemukan dengan derajat differensiasi

25

sedang dan belum bermetastase pada saat terdiagnosa, signet ring cell carcinoma banyak ditemukan dengan derajat differensiasi buruk dan telah bermetastase jauh pada sa at terdiagnosa, lain pula pada carcinoid tumor dan sarcoma yang sering dengan derajat differensiasi buruk dan belum bermetastase pada saat terdiagnosa, sedangkan small cell carcinoma tidak memiliki derajat differensiasi dan sering sudah bermetastase jauh pada saat terdiagnosa.7

L KASI KANKER K L N Dua pertiga dari kanker kolorektal muncul pada kolon kiri dan sepertiga muncul pada kolon kanan (gambar 2.9).2 Sebagian besar terdapat di rektum (51,6%), diikuti oleh kolon sigmoid (18,8%), kolon descendens (8,6%), kolon transversum (8,06%), kolon ascendens (7,8%), dan multifokal (0,28%).13,14 Data dari kanker statistik di Amerika Serikat terlihat bahwa sekitar 60% dari kanker kolorektal ditemukan pada rektum, hal ini juga terlihat di China yaitu sekitar 80% dari kanker kolorektal ditemukan di rektum, dengan > 60% kanker kolorektal hanya terdapat pada rektum.17 Pada penelitian selama 14 tahun (1982-1995) di Australia yang melibatkan 9673 kasus kanker kolorektal, didapatkan suatu pola hubungan antara lokasi kan dengan ker jenis kelamin, yaitu kanker yang terdapat pada rektum frekuensinya lebih banyak terdapat pada pria dibandingkan wanita (4:1).26 Pola seperti ini juga didapatkan di Indonesia, data yang dikumpulkan dari 13 pusat kanker menunjukkan bahwa kanker yang terdapat pada rektum frekuensinya lebih banyak terdapat pada pria dibandingkan wanita, dengan perbandingan sebesar 2:1.17

26

STAGING
Terdapat beberapa macam klasifikasi staging pada kanker kolon, ada klasifikasi TNM, klasifikasi Dukes, namun yang akan saya jabarkan klasifikasinya adalah sebagai berikut (mirip dengan klasifikasi Dukes) : Stadium 1 : Kanker terjadi di dalam dinding kolon Stadium 2 : Kanker telah menyebar hingga ke lapisan otot kolon Stadium 3 : Kanker telah menyebar ke kelenjar-kelenjar limfa Stadium 4 : Kanker telah menyebar ke organ-organ lain. 14

27

28

Berdasarkan klasifikasi UICC, P : Union Internationale Contre le Cancer = Perserikatan International melawan kanker

29

Tumor : T Tx T0 Tis T1,2,3 Tumor Primer Tumor Primer tidak dapat ditaksir Tidak terdapat bukti adanya tumor primer Karsinoma in situ Dari T1-T3 tumor primer makin besar dan makin jauh infiltrasi di jaringan dan alat yang berdampingan

Nodus: N Nx N0 N1,2,3,4 Kelenjar Limfe Regional Kelenjar limfe tidak dapat ditaksir atau diperiksa Tidak ada bukti penyebaran ke kelenjar limfe regional Menunjukan banyaknya kelenjar regional yang dihinggapi, dan ada/ tidaknya infiltrasi di alat dan struktur yang berdampingan Metastase: M Mx M0 M1 Anak Sebar Jauh (Distant Metastasis) Tidak dapat diperkirakan adanya anak sebar Tidak ada bukti metastasis jauh Ada metastasis jauh. 12

DIAGN SIS a.Anamnesa
y

dapat ditanyakan tentang perubahan pola defekasi, frekuensi dari defekasi, dan konsistensi dari tinja.

y y

Nyeri perut yang hilang timbul (kolik) atau menetap juga perlu ditanyakan. Hal-hal tentang tinja juga perlu ditanyakan seperti warna tinja, ada tidaknya lendir, ada darah atau tidak, bagaimana darah yang ada apakah hitam atau merah segar.

y

Nafsu makan pasien, apakah menurun atau tidak, dan apakah berat badan menurun serta rasa lelah.

30

y

Gejala dan tanda yang dapat ditemukan pada tumor kolon adalah adanya hematoskezia, anemia, benjolan, obstruksi, feces yang kecil-kecil seperti feces kambing, mual, muntah, penurunan berat badan, rasa sakit pada daerah tumor di colon yang terus menerus.

b. Pemeriksaan Fisik
y y

Ditemukan massa di daerah abdomen, gejala ± gejala anemia Pemeriksaan colok dubur ±> Pada pemeriksaan ini akan teraba massa tumor. Pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam), di mana dokter memeriksa keadaan dinding rektum sejauh mungkin dengan jari; pemeriksaan ini tidak selalu menemukan adanya kelainan, khususnya kanker yang terjadi di kolon saja dan belum menyebar hingga rektum.

c. Pemeriksaan Penunjang
Kanker kolorektal dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang, sehingga deteksi dini sangat berpengaruh terhadap kemungkinan sembuhnya. Bila Anda termasuk seseorang yang beresiko untuk terkena, ada baiknya Anda melakukan pemeriksaan screening. Pemeriksaan itu adalah : 1. Pemeriksaan laboratorium : Hb, Ht, feses ( benzidine test ), LFT 2. Pemeriksaan radiologik 3. Ba enema 4. protoskopi (melihat kelainan pada anus, kanalis analis, dan bagian distal rektum) 5. rektosigmoidoskopi (untuk melihat rektum dan sigmoid) 6. colonoskopi (untuk melihat anus sampai dengan ileum terminalis dan dapat juga untuk membiopsi jaringan, evaluasi, dan tindakan terapi). 7. Biopsi 8. Pemeriksaan darah dalam tinja. 9. Endoskopi. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat karena selain melihat keadaan dalam kolon juga bisa bertindak, misalnya ketika menemukan polip endoskopi ini dapat sekaligus mengambilnya untuk kemudian dilakukan biopsi. 10. Pemeriksaan barium enema dengan double contrast. 11. Virtual Colonoscopy.

31

12. Pemeriksaan kadar CEA (Carcino Embryonic Antigent) darah. 13. Whole-body PET Scan Imaging. Sementara ini adalah pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorektal rekuren (yang timbul kembali).12

DIAGN SIS BANDING
Gejala dari tumor kolon dapat menyerupai beberapa penyakit seperti :

1. Divertikulitis Terutama divertikulitis yang terjadi di daerah sigmoid / colon descendens, dimana pada colon dan divertikulitis sama-sama ditemukan feces yang bercampur dengan darah dan lendir.

2. Colitis Ulcerativa Pada colitis ulcerativa juga ditemukan feces yang berdarah dan berlendir, tenesmus, mules dan nyeri perut. Tetapi pada C.U terdapat diare sedangkan pada tumor kolon biasanya feces berbentuk kecil-kecil seperti kotoran kambing.

3. Appendicitis Infiltrat Pada appendicitis infiltrat terasa nyeri dan panas yang mirip dengan tumor caecum stadium lanjut (tumor caecum pada stadium awal bersifat mobile).

4. Haemoroid Pada haemoroid, feces juga bercampur darah namun pada haemoroid darah keluar sesudah feces keluar baru kemudian bercampur. Sedangkan pada tumor colon darah keluar bersamaan dengan feces.

5. Tumor Ovarium

32

Pada tumor ovarium dan tumor colon kiri sama-sama sering ditemukan gangguan konstipasi. Pada tumor ovarium, juga didapati pembesaran abdomen namun tumor ini tidak menyebabkan keluarnya darah bersama feces. Selain itu tumor ovarium menyebabkan gangguan pada miksi berupa peningkatan frekuensi di mana hal ini tidak dijumpai pada tumor colon. 12

PENATALAKSANAAN
Perawatan penderita tergantung pada tingkat staging kanker itu sendiri. Terapi akan jauh lebih mudah bila kanker ditemukan pada stadium dini. Tingkat kesembuhan kanker stadium 1 dan 2 masih sangat baik. Namun bila kanker ditemukan pada stadium yang lanjut, atau ditemukan pada stadium dini dan tidak diobati, maka kemungkinan sembuhnya pun akan jauh lebih sulit. Di antara pilihan terapi untuk penderitanya, opsi Operasi masih menduduki peringkat pertama, dengan ditunjang oleh kemoterapi dan/atau radioterapi (mungkin diperlukan).

1. Pembedahan Tindakan ini dibagi menjadi Curative, Palliative, Bypass, Fecal diversion, dan Open-and-close. Bedah Curative dikerjakan apabila tumor ditemukan pada daerah yang terlokalisir. Intinya adalah membuang bagian yang terkena tumor dan sekelilingnya. Pada keadaan ini mungkin diperlukan suatu tindakan yang disebut TME (Total Mesorectal Excision), yaitu suatu tindakan yang membuang usus dalam jumlah yang signifikan. Akibatnya kedua ujung usus yang tersisa harus dijahit kembali. Biasanya pada keadaan ini diperlukan suatu kantong kolostomi, sehingga kotoran yang melalui usus besar dapat dibuang melalui jalur lain. Pilihan ini bukanlah suatu pilihan yang enak akan tetapi merupakan langkah yang diperlukan untuk tetap hidup, mengingat pasien tidak mungkin tidak makan sehingga usus juga tidak mungkin tidak terisi makanan / kotoran; sementara ada bagian yang sedang memerlukan penyembuhan. Apa dan bagaimana kelanjutan dari kolostomi ini adalah kondisional dan individual, tiap pasien memiliki keadaan yang berbeda-beda sehingga penanganannya tidak sama.

33

Bedah paliatif dikerjakan pada kasus terjadi penyebaran tumor yang banyak, dengan tujuan membuang tumor primernya untuk menghindari kematian penderita akibat ulah tumor primer tersebut. Terkadang tindakan ini ditunjang kemoterapi dapat

menyelamatkan jiwa. Bila penyebaran tumor mengenai organ-organ vital maka pembedahan pun secara teknis menjadi sulit, sehingga dokter mungkin memilih teknik bedah bypass atau fecal diversion (pengalihan tinja) melalui lubang. Pilihan terakhir pada kondisi terburuk adalah open-and-close, di mana dokter membuka daerah

operasinya, kemudian secara de facto melihat keadaan sudah sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dilakukan apa-apa lagi atau tindakan yang akan dilakukan tidak memberikan manfaat bagi keadaan pasien, kemudian di tutup kembali. Tindakan ini sepertinya sudah tidak pernah dilakukan lagi mengingat sekarang sudah banyak tersedia laparoskopi dan radiografi canggih untuk mendeteksi keberadaan dan kondisi kanker jauh sebelum diperlukan operasi. 2. Terapi Non Bedah Kemoterapi dilakukan sebagai suatu tindakan untuk mengurangi terjadinya metastasis (penyebaran), perkembangan sel tumor, mengecilkan ukurannya, atau memperlambat pertumbuhannya. Radioterapi jarang digunakan untuk kanker kolon karena memiliki efek samping dan sulit untuk ditembakkan ke bagian yang spesifik pada kolon. Radioterapi lebih sering pada kanker rektal saja. Imunoterapi sedang dikembangkan sebagai terapi tambahan untuk kanker kolorektal. Terapi lain yang telah diujicoba dan memberikan hasil yang sangat menjanjikan adalah terapi Vaksin. Ditemukan pada November 2006 lalu sebuah vaksin bermerek TroVax yang terbukti secara efektif mengatasi berbagai macam kanker. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan sistem imun penderita untuk melawan penyakitnya. Fase ujicobanya saat ini sedang ditujukan bagi kanker ginjal dan direncanakan untuk kanker kolon. Terapi lainnya adalah pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi metastasisnya (penyebaran tumornya). 11

K MPLIKASI
1.Anemia Anemia pada tumor colon terutama disebabkan akibat adanya perdarahan. Anemia yang terjadi adalah anemia hipokrom mikrositik.

34

2.Perforasi Perforasi terjadi karena adanya sumbatan oleh tumor yang akan mengganggu pasase dari feses. 3.Ileus obstruksi 4.Metastasis Terutama ke hepar, paru, tulang, dan otak.12

PR GN SIS
Prognosis tergantung dari ada atau tidaknya metastasis jauh, yaitu klasifikasi penyebaran tumor dan tingkat keganasan sel tumor. Untuk tumor yang terbatas pada dinding usus tanpa penyebaran, angka kelangsungan hidup 5 tahun adalah 80%, yang menembus dinding tanpa penyebaran 75%, dengan penyebaran kelenjar 32%, dan dengan metastasis jauh 1%. Bila disertai dengan diferensiasi sel tumor buruk, prognosisnya sangat buruk. 12

KESIMPULAN
Usus besar merupakan bidang perluasan dari ileocecal ke anus. Usus besar terdiri dari cecum, colon, rectum, dan lubang anus. Selama dalam colon, chyme diubah menjadi feces. Penyerapan air dan garam, pengsekresian mucus dan aktivitas dari mikroorganisme yang termasuk dalam pembentukan feces, dimana colon menyimpan sampai feces dikeluarkan melalui proses defekasi. Kira-kira 1500 ml dari chyme masuk ke cecum setiap hari, tapi lebih dari 90% dari volume direabsorbsi dan hanya tertinggal 80-150 ml dari feces yang dikeluarkan secara normal melalui defakasi. Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). 14 Insidens kanker kolorektal di Indonesia cukup tinggi, demikian juga angka kematiannya.3 Pada tahun 2002 kanker kolorektal menduduki peringkat kedua pada kasus kanker yang terdapat pada pria, sedangkan pada wanita kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga dari semua kasus kanker.4 Meskipun belum ada data yang pasti, tetapi dari berbagai laporan di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus, data dari Depkes didapati angka 1,8 per 100.000 penduduk.5 Gejala umumnya adalah :

35

y

Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan)

y y y y

Hilangnya nafsu makan Anemia, pasien tampak pucat Sering merasa lelah Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang

Gejala penyebarannya adalah :
y y y y

Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala : Penderita tampak kuning Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar lokasi hati Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter

Dua pertiga dari kanker kolorektal muncul pada kolon kiri dan sepertiga muncul pada kolon kanan (gambar 2.9).2 Sebagian besar terdapat di rektum (51,6%), diikuti oleh kolon sigmoid (18,8%), kolon descendens (8,6%), kolon transversum (8,06%), kolon ascendens (7,8%), dan multifokal (0,28%).13,14 Data dari kanker statistik di Amerika Serikat terlihat bahwa sekitar 60% dari kanker kolorektal ditemukan pada rektum, hal ini juga terlihat di China yaitu sekitar 80% dari kanker kolorektal ditemukan di rektum, dengan > 60% kanker kolorektal hanya terdapat pada rektum.17 Gambaran histologi merupakan faktor penting dalam hal penanganan dan prognosis dari kanker.7 Gambaran histopatologis yang paling sering dijumpai adalah tipe adenocarcinoma (90-95%), adenocarcinoma mucinous (17%), signet ring cell carcinoma (2-4%), dan sarcoma (0,1-3%).7,8 Terdapat beberapa macam klasifikasi staging pada kanker kolon, ada klasifikasi TNM, klasifikasi Dukes, namun yang akan saya jabarkan klasifikasinya adalah sebagai berikut (mirip dengan klasifikasi Dukes) : Stadium 1 : Kanker terjadi di dalam dinding kolon Stadium 2 : Kanker telah menyebar hingga ke lapisan otot kolon Stadium 3 : Kanker telah menyebar ke kelenjar-kelenjar limfa Stadium 4 : Kanker telah menyebar ke organ-organ lain. 14

36

Prognosis tergantung dari ada atau tidaknya metastasis jauh, yaitu klasifikasi penyebaran tumor dan tingkat keganasan sel tumor. Untuk tumor yang terbatas pada dinding usus tanpa penyebaran, angka kelangsungan hidup 5 tahun adalah 80%, yang menembus dinding tanpa penyebaran 75%, dengan penyebaran kelenjar 32%, dan dengan metastasis jauh 1%. Bila disertai dengan diferensiasi sel tumor buruk, prognosisnya sangat buruk. 1

37

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->